The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-04-07 23:28:07

Gaya Ragam Hias Batik

Gaya Ragam Hias Batik

a**$s<*_*d ". e r*/ 3'I**{"*g Y r=* j jg. #{t.& { & Gt:4i !ai4r.eE)Erl'l

ii.!,+a tr I t4l,*1*'1' 4' 6{

tlid i
-#4ffi*r
{

+

,0 i:s" Sra*3an

&I terat l4*t . .H*rx+

-{rfnE

[.cce[ t 4l a.&

r{ L.. : rr * r ri r t :i$r *t$Sffi
'j*
.

I 1 tI$t
1

i !r 's

i 4" ;o*xn rrl; i.:. Iyl

r. Ifio$:f t ii*

*$

6, *l**

'f" €eftS

iri" l{sB*Xl iI Orrifry"*t"i a

I t* " r
I
'J' $ :t i
ts ; *$*
ie&" i
87
+{

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

iB* t :tid9 iir y*s.*&
st { '\ t
e iS* i&Lax:*t<
15* E**sd.

l"la B*l,ih t#*i,*4 t4- i
&3rr $ietir r%*
r s**$. ry&#A

'i l,;n ;.io-I.+r',x

! *?
t{ {i!A I,e#"
;4\ to i
i1
a

*{ rt :*6r &;iig I

e! *,*sil.'t***

hffi**r#.s*s 5*

r! i

! tfu#* i

{$ i

g. ri +i
.
t*}S"?rlt*h

rf

88 Gaya RagamHias Batik (Titjauat Sinbol ilan Makta)

Bentuk-bentuk isen yang masih banyak dijumpai sampai
sekarang antara lain:

. ;i t-,": '

- , ,'ll .
I ll : , !

, L1 ltt

- L .!:

Motif
pada kain

bcrikut:

Garnbar:22

Batik Pribumi

{

Sumber : Museum Jawa Tengah Ronggowarsito 89
1. Kepala. 2. Badan 3. Tumpal4. Papan. 5. Pinggir.

Goya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Berdasarkan bentuk susunan motif maka dapat dibagi dua
jenis yaitu: Motif geometris dan Motif Non Geometris.

Motif Geometris yaitu motif hias dengan pola dasar

gambar-gambar ilmu ukur dalam bentuk garis-garis, lingkaran
kecil, segitiga, bujur sangkar, swastika, spiral unfu walang d11.

Motif non geometris yaitu motif-motif selain jenis motif
geomekis dan bentuknya dapat dikelompokan menjadi empat.
Empat kelompok tersebut yaitu Motif flora, motif fauna, Motif

alam.

Selain dikenal dua jenis motif, terdapat pula motif

perpaduan antara motif Geometris dan Non Geometris.

B. Deskripsi Data Koleksi Batik

Data batik yangdijadikan pengkajian ini adalah batik yang
ada di Museum Ronggowarsito, dan beberapa batik yang ada
di sekitar daerah penghasil batik seperti Batang, Pekalongan.
Lasem, Surakarta, Klaten, dan Banyumas

Jumlah data batik di masing-masing objek pengkajian

cukup banyak sehingga diambil secara sampling acak untuk

dideskripsikan ke dalam laporan pengkajian ini. Untuk itu
diambil beberapa batik yang mewakili asal batik. Kriteria
pengambilan sampel adalah batik yang dapat mewakili

keragaman gaya ragam hias atau motif batik dan warnanya dari
populasi batik yang ada di kedua kelompok asal batik.

Guna mempermudah dalam penganalisisan data gaya
ragam hias batik yang berasal dari koleksi Museum ]awa
Tengah Ronggowarsito dan beberapa motif batik yang dij umpai
di daerah penghasil batik seperti Pekalongan, Batang, Lasem,
Banyumas, Klaten maupun Surakarta maka ragam hias batik
yang ada dikelompokkan berdasarkan asal batik tersebut
dibuat, sebagai berikut:

90 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

L. Gaya ragam hias batik pesisiran

Gaya ragam batik daerah pesisiran adalah batik dengan
berbagai motif yang dibuat di daerah pesisir utara Pulau Jawa
seperti Pekalongan, Batang, Lasem (Rembang).

Temuan beberapa batik pesisiran dalam pengkajian ini
yang menggambarkan motif-motif batik pesisiran adalah :

a. Batik Pekalongan

1). Motif Largemak

Largemak berasal dari kata lar yang berarti sayap dan
gemak yaitu sejenis burung puyuh. Arti keseluruhan adalah
sayap burung puyuh.

Motif dominan yang tampak pada kain ini adalah sayap-
sayap dari burung puyuh. Motif ini memiliki ciri warna latar
hijau dengan hiasan motif setangkai bunga berwarna merah,
orange, biru dan hijau, bagian tepi kain bermotif untu walnng

Batik Motif Largemak

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito 9'1,
Gaya Ragam Hias Batik (Titjauan Sinfuol dat Makna)

Motif isen-isen berupa : blnrak snk imit, cecek renteng,

dan kembang lombok Ragam hias dominan pada kain burung
hong dan bunga.

2). Motif seno

Senoberasal dari kata Jawa Kuno yang berarti anak. Seno
kemungkinan juga diambil darinama tokoh duniapewayangan

yaitu Onto-seno. Onto- Seno dalam dunia pewayangan

merupakan seorang tokoh ksatria yang sakti mandraguna.
Tubuhnya dilukiskan dengan kulit yang berwarna gelap. Oleh
karena itu kain batik motif ini memiliki ciri warna gelap seperti
latar biru tua, warna pelengkap biru muda dan hitam, Ragam
hias dominan parang Motif isen-isen berupa belah ketupat dan
cecekrenterzg. Motif seperti ini biasanya dipakai oleh kalangan
ningkrat.

3). Motif boketnn pohon

Motif boketan dari asal katabouquet, daribahasa Perancis
yang berarti rangkaian bunga besar dalam bentuk satu ikat
bunga. (Kompas Minggu, 17 September 2000: 15).

Para wanita Indo-Eropa memilih motif bunga yang khas

Eropa pada setiap musim untuk mewakili setiap tahap
kehidupan mereka. Warna bungapun menentukan siapa
pemakainya. Warna biru untuk seorang gadis yang belum
menikah. Warna putih untuk pengantin, warna merah

menggambarkan cinta sehingga dipakai untuk wanita yang
sedang melakukan upacara pernikahan, sedangkan warna ungu
dianggap mewakili kesederhanaan sehingga diperuntukkan
bagi seorang janda. (Kompas Minggu, 29 Februari 2004, hal.

2s).

Motif-motif ini banyak menghiasi gambar dari berbagai
benda hasil kerajian di negara Eropa atau Belanda dan tidak

Gaya Ragam Hias Batik (Titjauan Simbol ilat Makta)

I

ketinggalan pula motif hias pada sebuah kain.
Bunga buket yang menghiasi kain batik merupakan ciri

utama bagi batik Belanda. Motif bunga buket atau lebih

dikenal sebagai boketan dipandang pula sebagai esensi batik
peslslr.

Deskripsi motif boketan pohon sebagai berikut: Warna
latar merah, warna pelengkapan hijau, ungu, putih dan hitam.
Motif ise-isen berupa blarak sak imit, mrutu setau dan kembnng

jeruk.

Ragam hias dominan burung kecil Lok Can dan bunga
Krisan, serta cecek sebagai motif latar kain.

Batik museum Rongowarsito dengan motif seperti

boketan terlihat dalam motif motif buntal trumtum. Motif

Buntal trumtum bercirikan warna latar putih, warna

pelengkap biru muda dan biru tua, dengan latar tanahan.

Garnbar 24

Batik Motif Boketan Pohon

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito 93

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna)

Gambar:25
Batik Motif Buntal Truntum

Sumber:Museum ]awa Tengah Ronggowarsito

Motif boketan lain terdapat pula dalam motif batik
boketan angsa. Motif Boketan Angsa merupakan motif non

geometris.

Batik motif boketan angsa yar.g dimiliki oleh Museum

Jawa Tengah Ronggowarsito mempunyai ragam hias dominan
yaitu angsa yang sedang berenang dengan motif pelengkap
kupu-kupu, daun danbunga motif boketan. Warna latar hitam,
dan wama pelengkap biru, hitam serta coklat.

Angsa dalam mitologi Cina simbol dari kemurnian dan
kesucian (Sumarah, L993: 223).

94 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Gambar:26
Batik Motif Boketan Angsa

Sumber: Museum jawa Tengah Ronggowarsito

4).Motif ttrmpnl

Ra gam hias t ump n/ adalah berbentuk segi tiga. Pada ra gam

hias ini ada bidangyang membentuk segi tiga. Pembentukan
segi tiga ini dapat dari sulur-suluran daun yang digayakan

sehingga membentuk bidang segi tiga. Bentuk segi tiga lain lagi
yaitu berasal dari ragam hias dengan bentuk lidah api.

Ragam hias tumpal di daerah Sumatera Barat disebut

pucuakrabuang atau pucuk rebung berupa kesafuan ragam hias
ikal daun yang membentuk ragam hias tumpal. Apabila dilihat
secara keseluruhan dapat disebut ragam hias lidah api. Rebung
adalah pohon bambu yang masih muda. Rebung mempunyai
banyak manfaat. Sewaktu masih muda dapat dibuat sayur dan
setelah tua atau jadi bambu sangat bermanfaat bagi keperluan
hidup manusia. Maka ragam hias puumk rabuang mempunyai
makna agar setiap orang dapatbelajar kepada setiap pemberian
alam.

Gaya Ragam Hias Batik ('Iinjauan Sinfuol dan Maknn) 95

Penyebutan ragam hias pucuak rnbuang tersebar cukup
luas seperti di wilayah Aceh, Sumatera lJtara,sumatera Selatan,
Jawa, dan lain-lain.

Pemakaian tumpal yang paling terkenal adalah terdapat
pada tenun atau batik. Pada batik terdapat lajur yang melintang.

Lajur ini disebut kepala, biasanya dihiasi dengan dua baris
tumpal, yar.g ujung-ujungnya menuju masing-masing atau
pada bagian kepala kain saja. Tumpal-tumpal itu diisi dengan

ragam hias tumbuhan.
ltagam hias tumpal banyak dijumpai pada kain selendang,

kain panjang pada bagian kepala.
Deskripsi motif tumpal pada kain batik koleksi Museum

Jawa Tengah Ronggowarsito sebagai berikut: Warna latar putih,
warna pelengkap biru tua dan hitam. Motif isen-isen berupa :
grompol, blarak sak imit, cecek renteng dan sraTDeyan. Ragam hias
dominan tumpal, motif pelengkap burung Phoenix atau Merak
dan Sulur.

Gambar:27
Batik Motif Tumpal

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

96 Gaya Ragam Hias Batik (Tifiatan Sinbol dan Makna)

;,). Motif tnnahan krokotan

Tanahan berarti latar, krokotan adalah tanaman Krokot
yang tumbuhnya menjalar dan termasuk tanaman liar serta
rr.rudah tumbuh di sembarang tempat.

Ragam hias dominan burung dengan bentuk yang unik,
tlengan ciri-ciri hampir sama dengan burung Phoenix jambul
tlan ekornya panjang bergelombang, sedangkan pada bagian
sayap bentuknya biasa seperti pada umumnya burung.
l'emberian motif ini digambarkan di atas motif latar tanahan
pada kain batik. Ragam hias pelengkap berupa daun dengan
lrerrtuk menyerupai daun singkong berjari-iari tujuh. Bagian
tcpi bergerigi antara daun satu dengan lainnya dihubungkan
lratang merambat dan berduri.

Gambar: 28

Batik Motif Tanahan Krokotan

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Cnyn Ragam Hias Bntik (Tinjatan Siltbol dnn Msknn) 97

Motif batik tanahan krokotan yar.g dimiliki oleh museum
Ronggowasrito warna latar coklat muda, warna pelengkap biru,

hitam, ungu, dan merah bata.
Motif isen-isen berupa : kembang lcrokot, cecek renteng dan

uler-uleran Ragam hias dominan burung Cendrawasih

Warna latar kuning gading, warna pelengkap coklat..

muda, coklat tua, merah bata, biru muda, biru tua, ungu, hijau,
dan hitam.

'6).Motif Cendrawasih

Burung Cendrawasih hanya terdapat di Papua. Burung
ini termasuk langka memiliki ciri khas bulu-bulu yang sangat
indah dan warn a y artg mencolok.

Ciri khas warna kain berlatar krem, warna pelengkap
putih dan hitam. Ragam hias dominan burung Cendrawasih

dan dan ceplok bunga. Motif isen-isen berupa : Cecek, sraweyan,

uler-uleran
Gambar:29

BatikMotif Burung Cendrawasih

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

98 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Gambar 30: Batik Motif Burung Cendrawasih

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Bentuk lain dari kain batik motif Cenderwasih yang
dimiliki oleh Museum Jawa Tengah Ronggowarsito bercirikan
sebagai berikut: Warna latar hitam, warna pelengkap ungu,

putih dan coklat sogan.
Ragam hias dominan burung Cendrawasih, sulur dan

bunga kecubung. Motif isen-isen berupa : odo-odo, cecek, blarak
snk imit dan uler-uler an
7). Motif Parang lago

Di Eropa ragam hias ayam 1'ago atau ayam jantan

dihubungkan dengan matahari, atau sebagai lambang matahari
(Hoop, 7949: 774). Ayamjantan berkokok memperdengarkan
suaranya dipagi hari menandakan fajar matahari akan terbit.

Ragam hias ayam jantan disebut juga sebagai lambang

keberanian, karena kebiasaan ayam jantan yang bertemu

sesamanya untuk pertama kali pasti berlaga mengadu kekuatan.
Di Jawa ayam jantan disebutpula ayam jago. ]ago adalah unggas

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Mnkna)

yangdibanggakan dalam suatu adu kekuatan, kompetisi, lomba
dan sejenisnya. Kebiasaan mengadu ayam jantan di Bali bukan

suatu perbuatan kejahatan, karena ada hubungan dengan

upacara keagamaan.

Di sisi lain, ayam jantan dapat dipandang dari segi
ekonomi karena memiliki nilai tinggi apabila dijual. Selain itu

apabila dilihat dari sisi religi ayam jantan dapat dipergunakan
sebagai kurban.

Ragam hias ayam jantan dapat pula disebut lambang
keindahan, karena ayam jantan memiliki bentuk tubuh yang
gagah dan bulu yang indah (Hamzuri,20001.52).

Gambar:31
Batik Motif Parang Jago

Sumber: Museum Jawa tengah Ronggowarsito

Deskripsi motif parang jago pada kain batik koleksi

Museum Jawa Tengah Ronggowarsito sebagai berikut: Warna
latar abu-abu warna pelengkap coklat, dan biru tua.

100 Gaya Rngam Hias Batik (Tinjarnt )infuol dmt Mnkrn)

Ragam hias dominan motif ayam jago, kupu-kupu, burung
Cendrawasih. Motif isen-isen berupa : uler-uleran, cecek sawut,
cecek, dan setangkai bunga

8). Motif Salak Tejo

Tejo memiliki arti pelangi, sinar, dan bianglala. Warna

yang ada pada motif ini adalahberlatar coklat,warnapelengkap
hitam, biru tua dan putih tulang.

Ragam hias dominan segerombol salak terdiri 3 buah
Iengkap dengan daun. Bentuk daun melebar seperti daun

palem.

Motif isen-isen berupa : sisik, ra?oan ,kembang krokot, cecek
dan blaruk sak imit

9). Motif Bledak

Bledak berasal dari Bahasa ]awa berarti dermawan.

Dermawa adalah orang yang suka memberi tanpa meminta
balasan..Kain ini berlatar putih atau crdme yaitu istilah di daerah
Solo dan Yogyakarta, warna pelengkap hitam, biru'fua, dan
coklat.

Ragam hias dominan burung Cendrawasih dengan bulu
panjang dan berjambul, motif hias sulur dan bunga dalam
untaian flora. Motif isen-isen : mrutu ssu)u, sisik melik, ukel, blarak
sak imit dan cecek

Gaya Ragan Hias Batik (Tittiauan Simbol ilat Makna) 101

Cambar:32
Batik Motif Bledak

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
10. Motif Mega Mendung

Bentuk ragam hias ini diilhami oleh munculnya gejala
alam yaitu hujan. Pada saat akan hujan di angkasa terlihat
adanya mendung. Oleh karena itu dalam pelukisannya dalan

sebuah kain batik diberi warna biru.

Ragam hias awan atau mega yang bern arna biru tua
dalam sebuah kain batik menggambarkan awan gelap yang

mengandung air hujan. Air hujan ini akan memberi

penghidupan bagi mahkluk hidup.
Dalam motif ini terlihat pula perubahan nuansa ke arah

warna biru muda. Arti perubahan ini adalah melambangkan

semakin cerahnya kehidupan.

L02 Garla Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dar Makra)

I

Gambar:33
Batik Motif Mega Mendung

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Dalam perwujudannya ragam hias ini diberi warna biru
tua - biru muda sampai mencapai empat warna berlapis-lapis,
warna putih merupakan warna lapis terakhir.

Pemberian warna seperti ini merupakan pengaruh

budaya Cina dan mendapat pengaruh dari batik Cirebon.

Pada koleksi batik Museum Jawa Tengah
Ronggowarsito, memiliki Warna latar biru tua, warna

pelengkap biru tua, biru muda,biru lebih muda dan putih

berlapis-lapis membentuk mega atau awan.

11). Motif Kawung Sulur

Ragam hias Kawung terdiri dari lingkaran-lingkaran

yangsaling berpotongan sesamanya secara beraturan. Di Jawa
nama Kawung berarti Enau atau Aren yaitu Kolang-Kaling.

Kalau buah aren dipotong melintang menjadi empat

bagian bentuknya bundar lonjong (elips, oval).

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna) 103

Ragam hias ini terdapat dalam berbagai bentuk y
masing-masing memiliki nama sendiri-sendiri misalnya

kawung beton, kawung picis dan kawung pijetan.
Pada batik koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsi

memiliki ciri sebagai berikut: Warna latar coklat sogan dan
pula yangberwarna putih ecrlt,warna pelengkap ungu,
tua, hijau, kuning dan biru tua.

Motif isen-isen berupa : cecek, blarak sak imit, dan odo-odo.
Ragam hias dominan motif kawung sebagai motif la
dengan ragam hias pelengkap burung Cendrawasih
setangkai bunga dilengkapi daun, bagian tepi kain
ukel dan untu walang

Gambar:34
Batik Motif Kawung Sulur

704 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

L2). Motif |awa Hokokaido
Batik lawa Hokokai adalah batik dengan ragarn hias dan

tata warna yang mirip ragam hias pakaian jerisKimono |epang.
Keberadaaa Batik Hokokai terkait dengan |epang masuk

ke Indonesia sekitar tahun 1942-1945. Pada waktu itu, Jepang
mengkampayekan bahwa ]epang pelindung Asia. Akibat hal

ini segala aktivitas kehidupan bernuansa Jepang, termasuk

pula batik-batik di pesisir utara Jawa Tengah. Batik-batik yang

bernuansa motif Belanda berusaha diganti dengan motif
Jepang. Untuk meirdukung aktivitas ini, pemerintah Jepang

memaksa pengusaha batik Belanda di Pekalongan untuk

membuat batik dengan selera masyarakat Jepang. Kejadian ini
merupakan suatu keistimewaan bagi daerah Pekalongan

bahwa para pembatiknya selalu mengikuti perubahan jaman.

Pada umumnya kain batik lauta Hokokai mertpakan kain
motif pagi-sore.Kainbatik motif pagi sore itu sendiri adalah dua
jenis motif yang dibatikkan padaselembarkain;antara

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) L05

setengah bagian kain dengan bagian lainnya mempunyai motif
yangberbeda dan kontras warnanya.

Munculnya batik motif pagi-sore, tampaknya tidak

sekedar menuruti perintah ]epang akan tetapi juga disebabkan

pada zarr.att Jepang kondisi ekonomi masyarakat serba
kekurangan sehingga muncul pemikiran membuat dua motif

dalam satu lembar kain yang dapat dipergunakan dalam waktu
yangberbeda dengan motif yang berbeda pula.

Sebenarnya batik dengan motif pagi sorebukanmerupakan

ciri khas batik lawa Hokokai, akan tetapi gaya batik ini sering

banyak berisi detail yang menghubungkan ciri motif pagi sore,
motif terang bulan dan motif tanahan.

Adapun motif terang bulan bercirikan dominan gambar
bunga, burung dan serangga atau kupu yang terdapat pada
bagian badan. Pada bagian pinggir bermotif gayaBropa serta
motif tumpal. Bagian papan terdapat motif arabes

Dalam pemakaian motif jenis pagi sore, permukaan kain
yang memiliki tatawarna gelap dipakai pada sore hari dan pada
sisi lain yaitu warna muda atau terang untuk dipakai pada pagi
hari.

Batik motif Hokokiado yang dimiliki Museum Jawa

Tengah Ronggowarsito memiliki ciri sebagai berikut: Warna
latar krem, warna pelengkap biru laut, ungu, hijau dan coklat

soSan

1.05 Gaya Ragan Hias Batik (Tinjauat Simbol dan Makna)

Gambar:35

Batik Motif Terang Bulan

Sumber: Koleki Dudung
Gambar: 36 Batik Motif Hokokai

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarasito

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 107

Ragam hias dominan bunga boketan di atas berlatar motif

Parang menang. Menang berarti unggul tidak terkalahkan.
Motif parang berada di antara dua deret ragam hias belah
ketupat. Motif pelengkap lainnya setangkai bunga beserta

dengan daunnya. Ragam hias pelengkap ini banyak

ditempatkan di bagian sudut bawah kanan dan kiri kain.

L3). Motif Wijaya Kusuma
Motif Wij aya Kusuma, biasanya disebut jug al ay akusuma,

suatu bunga i\aib, senjata kresna dalam cerita pewayangan,

bunga itu dapat menghidupkan orang r4ati. Pada dasarnya
pemberian nama Wijaya Kusuma merupakan khayalan si

pembatik

Bunga ini hanya terdapat di pulau Majeti dekat Pulau
Nusakambangan, suatu pulau penuh mitos. Menurut

kepercayaan bahwa jika sesorang mengetahrri saat mekarnya
bunga tersebut akan tercapai cita-citanya, biasanya bunga itu
mekar waktu tengah malam pada saat orang terlelap tidur
kemudian sudah layu di pagi hari.

Batik Motif Batik Wijaya Kusuma yang dimiliki Museum
lawa Tengah Ronggowarsito memiliki ciri sebagai berikut:
warna latar hitam, warna pelengkap merah fua, biru fua, coklat
sogan, hijau daun, hijau tua.

Ragam hias dominan bungaWljaya Kusuma, sulur dan
daun. Motif isen-isen berup a uler-uleran, mru.tu seu)u, blarak sak
imit, cecek pitu, galaran,dan odo-odo.

L08 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna)

Gambar:37
Batik Motif W ljay a Kusuma

Sumber: Museum lawa Tengah
Ronggowarsito

14.Motif truntum

Motif Truntum atau bunga Tanjung ini, dalam upacara

perkawinan sering dipakai oleh orang tua pengantin.

Truntum mengandung makna menunfury sebagai orang tua
berniat unfuk menuntun kedua mempelai untuk memasuki
hidup baru berumah tangga yang banyak lika-likunya.

Ragam hias truntum dapat pula merupakan lambang
cinta yar.g bersemi. Menurut sebuah kisah terjadinya

penciptaan ragam hias ini sebagai berikut: S*g Ratu yang

selama ini sangat dicintai dan dimanja Sang Raja merasa telah
dilupakan semenjak SangRaja mempunyai kekasih baru. Untuk
melupakan kepedihan hati serta mengisi kesepian, Sang Ratu
membatik. Secara tidak sadar Sang Ratu membuat ragam hias
berbentuk bintang-bintang di langityangkelam, yarrg selama

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 109

ini menemaninya dalam kesepian. Ketekunan Sang Ratu

membatik menarik perhatian Sang Raja dan kemudian
menghampiri Sang Ratu untuk melihat pembatikannya. Sang
Raja bertanya mengenai nama ragam hias yang dibuat Sang

Rafu, namun Sang Ratu belum tahu apa nama ragam hiasnya.
Sejak itu Sang Raja terus mengikuti perkembangan pembatikan
Sang Ratu. Sedikit demi sedikit kasih sayang Sang Raja terhadap
Sang Ratu timbul kembali. Berkat ragam hias ini cinta Sang Raja
mulai bersemi kembali atau tumbuh kembali dan menyebabkan
bahagia hati sang Ratu. Kemudian ragam hias inipun diberi
nama Truntum yang merupakan lambang cinta yang bersemi
kembali.

Kain batik motif Truntum yang dimiliki Museum Jawa
Tengah Ronggowarsito di antaranya bercirikan warna latar
hitam, warna lain putih dan coklat sogan, bagian tengah
berbentuk belah ketupat lebar dengan latar putih bermotif

modang
Gambar:38

Batik Motif Truntum

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

110 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Ragam hias dominan bunga tanjung dan sayap burung
garuda. Motif isen-isen berupa : cecek pitu, cecek dan sraweynn.

15). Motif lokcantalki

Di daerah pesisir Pulau jawa, sejak dahulu sudah terdapat

pengaruh yang kuat dari Tiongkok. Hal ini antara lain dapat
dilihat pada kain batik.

Secara harfiah Lo berarti biru, chan berarti sutera, sehingga
kemungkinan pertama kalinya kain ini dibuat dari sutera yang
didatangkan dari Cina danberwarna biru. Motif.Loc Chan terdiri
dari berbagai ragam hias seperti burung Hong, Banji, Kupu-

Kupu, dan lain-lain. Di Pekalongan disebut dengan nama

Pangsi.

Burung Merak atau Hong bagi masyarakat Cina

merupakan simbol kebahagian. Pewarnaannya biasanya

penggabungan warna gelap dan terang.

Batik motif lokcantalki yang dimiliki Museum Jawa

Tengah Ronggowarsito bercirikan warna latar merah anggur,

warna pelengkap hitam dan coklat sogan.
Motif isen-isen berupa: uler-uler, blnrak sak imit, cecek pitu.

Gaya Ragam Hias Batik (Tifiauan Sintbol ilar Makna) 1L1

Gambar:39
Batik Motif Locantalki

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Ragam hias dominan burung Phoenix, sulur dan bunga.

Burung Phoenix digayakan dengan bulu ekor bercabang-

cabang. Kain Loc ChanPekalongan banyak mendapat pengaruh
dari Tiongkok.

L6). Motif Gribigan

Gribigan memiliki arti kerai atau bidai. Kerai adalah tirai
yang terbuat dari kayu atau bambu yang berfungsi sebagai
penutup pintu atau jendela.

Menurut Nian motif batik ini disebut pularnonf Ang Saang

dan berasal dari Madura. Secara umum, batik Madura

pengerjaanya tidak sehalus batik ]awa. Umumnya beragam hias
besar, kuat dan tegas sejalan dengan alamnya yang keras dan
watak orang Madura yang berani dan tegas. Motif latar pada

batik Madura dtsebul Guri atau oret-oretan. Motif guri

t12 Gaya Ragam Hias Batik (Tiniauan Shnbol ilat Maknn)

merupakan khas batik Madura dan sangat memegang peranan

dan penentuan mutu sehelai batik jumlah ragam Guri yang
banyak dan merupakan lukisan benda-benda yang akrab
dengan kehidupan sehari-hari seperti berbagai jenis tumbuh-
tumbuhan atau flora dan hewan atau fauna (1986: 78-82).

Motif dan pewamaan tersebut telah mempengaruhibatik

motif Gribigan asal Pekalongan seperti yang dimiliki oleh

Museum Jawa Tengah Ronggowarsito dengan ciri zrrarna latar
krem, warna pelengkap hitam dan coklat tanah. Ragam hias
dominan berupa garis-garis belah ketupat memusat atau

membentuk kotak-kotak atau disebut nam tikar. Warna

pelengkap hitam dan coklat tanah.

Gambar:40
Batik Motif Gribigan

Sumber: Museum |awa Tengah Ronggowarsito

17). Motif Kupu Seberang
Ragam hias kupu-kupu sangat digemari orang Jepang,

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjatat Sinfuol ilat Makna) 113

meskipun ragam hias kupu-kupu dianggap bukan merupakan
pengaruhlepang. Akan tetapi pengaruh kebudayaan dari Cina.
Kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi seperti dalam
sebuahkisahcinta " SamPekEngTay ". (Nian, 1986:61)

Ragam hias dominan kupu-kupu besar dan kecil, ragam
hias lain berupa burung kecil, kuncup bunga dalam tangkai
dan beberapa ceplok bunga lepas tanpa tangkai.

Gambar:41
Batik Motif Kupu Seberang

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

18). Motif llamprang

Motif llamprang merupakan ragam hias khas Pekalongan,
yang pada dasarnya merupakan ragam hias nitik dengan tata

warna beraneka ragam. Motif ini memiliki ciri warna latar

hitam, warna pelengkap merah, biru, hijau dan kuning gading.

Ragam hias llamprang termasuk jenis ragam hias
geometris, berbentuk lingkaran-lingkaran berjejer secara

tt4 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makta)

horisontal dan vertikal serta bersinggungan secara teratur. Kata

llamprang berarti gagah. Ragam hias jlnmprang apabila
diperhatikan pada bidang bujur sangkar yang setiap sisinya
melengkung, terbentuk dari persinggungan empat buah
lingkaran dan ragam hias pengisi bidangnya berbentuk

lingkaran yang posisinya berpotongan di pusat dan

mengembang keluar, sehingga secara kesatuan atau

keseluruhan akan menimbulkan kesan gagah.
Ragam hias jlamprang dan kawung terdapat perbedaan

dan persamaan lingkaran. Perbedaannya yaitu lingkaran pada

ragam hias kawung saling berpotongan, sedangkan lingkaran
pada ragam hias jlamprang saling bersinggungan. Perbedaan
lain ragam hias pengisi bidang pada jlamprang mempunyai

peranan penting untuk menentukan keindahannya, sedangkan
ragam hias pengisi bidang pada kawung kurang penting.

Banyak ragamhias kawung tidak mempunyai tambahan ragam

hias lain, tetapi dapat menampilkan keindahan. Penambahan
ragam hias pada motif jlamprang tidak akan mempengaruhi

nama.

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjntan Sinfuol dan Makta) 115

Gambar:42
Batik Motif Jlamrang

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Masyarakat pada umumnya menyebut bahwa motif
Jlamprang identik dengan daerah Pekalongan, mereka

beranggapan bahwa ragam hias tersebut asli dari Pekalongan.

Dudung Alih Syahbana seorang perancang busana di

Pekalongan berpendapat lain. Menurutnya sebetulnya hal itu
merupakan penafsiran yang tidak benar, karena ragam hias
jlamprang sebenarnya berasal dari Gujarat, India. Kemudian
dikembangkan di Indonesia terutama di daerah Pekalongan.

Ragam hias ini termasuk kuno, hal ini dapat dilihat pada

pakaian yang dikenakan pada arca batu maupun perunggu
pada masa Hindu-]awa.
1-9. Motif bulung Phoenix

Motif burung banyak dijumpai dalam ornamentasi di

Indonesia salah satunya adalah burung Phoenix, ragam hias
ini berasal dari Tiongkok.

1L6 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauar Simbol ilan Makta)

Burung Phoenix dapat dikenali melalui ekornya yarrg
panjang dan bergelombang, demikian pula pada sayapnya,

ciri khas lain kepala berjambul dan bergelombang.

Pemakaian motif burung Phoenix terdapat di daerah-
daerah pembatikan pantai utara lawa; seperti Lasem,
Pekalongan, Tegal, dan Cirebon. Di daerah-daerah ini yan1

mempunyai pengaruh sangat kuat dari Tiongkok.

Motif batik ytrrg dimiliki oleh Museum |awa Tengah
Ronggowarsito bercirikan dengan ragam hias dominan
burung Phoenix, motif pelengkap ceplok bunga dan daun

secara terpisah. Warna latar coklat muda kekuningan, warna

pelengkap merah, ungu, biru mud+ biru tua, coklat, merah
jambu danhitam.

Gambar:43
Batik Motif Burune Phoenix

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Gay a Ragam Hias B atik (Tinj auan Simbol ilar Makna) 117

20). Motif Pribumi

Penyebutan motif pribumi dikarenakan batik tersebut
banyak dibuat oleh penduduk pribumi atau rakyat jelata atau

pula warga masyarakat pedesaaan. Pembuatannya terl<adang
tidakberorientasi pada motif ekonomi tetapi untuk mencukupi
kepentingan pembatik sendiri terhadap kebutuhan sandang.

Motif dominan batik yang dijumpai dalam pengkajian di
Pekalongan adalah tumbuhan atau bunga dengan ciri warna
hijau, biru, dan coklat muda. Motif ini mendapat pengaruh
Rivaiyah atau suku bangsa Arab yaitu terlihat pada binatang
burung yang dihilangkan kepalanya. Pada bagian pinggir
bermotif gaya Eropa dan terdapat pula motif tumpal.

Gambar 44
Batik Motif Pribumi

Sumber: Koleksi Dudung

1L8 Gaya Ragam Hias Batik (Tiniauan Simbol dan Makna)

27). Motif Krisan

Bunga krisan banyak tumbuh di Eropa. Bunga krisan

tersebut terlukiskan dalam kain batik hasil kreatif pengusaha

batik Oey Soe Tjoen di daerah Kedungwuni, Kabupaten

Pekalongan. Gambar bunga krisan berbentuk mahkota bunga
berwarna biru dan hijau dengan kelompok berwarna coklat dan
merah bata. Daun fumbuhan berwarna hijau dan kecoklatan.
Latar kain berwarna hijau kecoklatan.

Gambar:45
Batik Motif Bunga Krisan

Sumber: Koleksi Oey Soe Tjoen

22). Slendang motif N aga

Motif pokok adalah naga dan bunga. Terdapat di dua

bagian papan dengan motif dua naga yang salingberhadapan.

Ujung pinggir terdapa titik-titik membentuk garis dengan

warna merah biru, kuning.

Gaya Ragan Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makra) 11':9

Pada bagian badan terdapat dua naga dan bunga. Warna
latar dari badan kain ini adalahwarna merah tua. dari Seluruh

pinggir dan badan pada kain terdapat motif bunga. Secara

keseluruhan warna yang dominan adalah warna merah. Warna
merah dan binatang naga mendapat pengaruh dari Cina.

Gambar:46
Batik Motif Naga

Sumber: Museum fawa Tengah Ronggowarsito

b. Batik Lasem, Rembang

1). Motif Laseman

Batik motif laseman ini merupakan jenis batikuntuk selera

pribumi, yang bercirikan warna latar putih ecru, warna

pelengkapnya merah, biru tua, hijau, kuning, dan krem.
Ragam hias dominan burung dalam bentuk stilitasi flora.

Motif pelengkapnya ceplok bunga, sulur dan daun. Isennya
bermotif mrutu sewu sebagai motif latar kain.

120 Gaya Ragan Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makta)

Gambar:47
Batik Motif Laseman

Sumber: Mubeum ]awa Tengah Ronggowarsito

2). Motif Bang Biru
Secara geografis wilayah Lasem, merupakan daerah yang

putih ecru, atauputih kecoklatan. Dengan ragam hias berwarna
merah. Motif hias berbentuk burung phoenik dan tumbuh-
tumbuhan. Pada sebagian daun dan ekor dari burung berwama
biru tua. Bagian pinggir bermotif untu walang dan garis tegak
pendek-pendek. Bentuk motif tersebut termasuk ienis batik

Laseman unfuk selera Cina.

Gaya Ragam Hias Batik (Tiniouan Simbol ilan Makna) 121

Gambar:48
Batik Motif Bang

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

c. Batik Batang

1). Motif Cocohan

Motif cocohan merupakan titik halus yang didapat setelah
kain yang telah diberi malam ditusuk-tusirk dengan sisir jarum
halus atau complongan kemudian dicelup dalam warna. Motif
ini tergolong baru di Batang dan keberadaannya hampir sama
dengan batik cocohan yang ada di Tasikmalaya.

Ciri motif cocohan yang ditemukan di daerah pengkajian
berwarna latar putih, dengan pelengkap warna ungu muda dan
ungu tua. Ragam hias berupa anak burung Merak dan motif
non geometris dalam untaian flora atau bunga dan sulur.

Pada bagian kepala kain atau pinggiran berunotlf untu
wnlang. Kecil-kecil berwarna ungu tua.

122 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauar Sinfuol dar Makta)

Garnbar 49
Batik Cocohan

Sumber: Koleksi Fauzan

2).MotifKal,t)ung
Motif Kawung yang ada di Batang berjenis Kawung beton.

Bentuk kawung tersebut banyak dihasilkan di daerah

pedalaman. Perbedaan motif kawung Batang dan pedalaman
terletak pada warnanya. Warna motif Kawung yang ada di

Batang berwarna biru keputih-putihan sedangkan warna

Kawung yanlg ada di pedalaman berwarna latar coklat muda
dan motifnya berwana coklat tua. Warna - warna Kawung yang
lain dibatang yaitu warna merahmuda agakkeputih-putihan.

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 123

Gambar:50
Batik Kawung Batang

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

2. Gaya ragam hias batik pedalaman.

Gaya ragam batik daerah pedalaman adalah batik dengan

berbagai macam motif tertentu yang dibuat di daerah

pedalaman seperti, Banyumas, Klaten maupun Surakarta.

a. Batik Banyumas

1). motif truntum laar

Warna yarrg terdapat pada kain batik ini berlatar hitam,
warna pelengkap coklat, kuning gading, dan hitam. Ragam isen-
isen berupa z mrutu seTDLt, bunga tanjung dan burung garuda.
Bunga tanjung merupakan ragam hias dominan, ragam hias
pelengkap sayap garuda.

124 Gaya RagamHias Batik (Tinjauan Simbol danMakna)

Gambar:5L
Batik Motif Truntum Lar

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

2).MotifKopiSusu

Arti Kopi Susu mewakili dua warna gelap dan terang.

Kain ini memiliki warna latar hitam, warna pelengkap coklat,
putih, dan krem. Ragam hias dominan antara dua Parang
yangditengahtersisipimotif bungadandaun.
I

MenurutNian (L986 :29-30)parang jenis tersebut disebut

pula motif parang wenang yang mendapat pengaruh ragam

hias dariYogyakarta.

Gay a Ragam Hias Batik (Iinj ruan Simbol ilan Makna) 1.2l,

Gambar:52
Batik Motif Kopi Susu

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

3). Motif Gambang Sulung

Motif ini merupakan bilah-bilah Gambang. Gambang

merupakan salah satu alat musik tradisional yang terbuat dari

bambu dan kayu. Ciri warna latar putih, warna pelengkap

coklat dan hitam.
Berdasarkan ciri tersebut menurut Nian (1986: 57 ) motif

Gambang Sulung sama sama dengan motif Lereng Dokter yarrg
ada di daerah Garut ]awa Barat dan tidak mempunyai arti
simbolis. Motif tersebut diambil menurut si pemakai.

Dinamakan motif lereng dokter karena menurut, cerita motif

ini pertama kalinya dibuat atas pesanan seorang istri dokter.

L26 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

Gambar:53

Batik Motif Gambang Sulung

Sumber: Museum fawa Tengah Ronggowarsito

Q.MotifBlaburanKantil I

Blaburan berarti melimpah sedangkan Kantil nama

sebuah bunga. Motif ini memiliki arti bunga Kantil memenuhi

seluruh permukaan kain. Dengan ciri warna latar kuning,

warna pelengkap hitam, coklat.

Ragam hias terdiri atas burung Merak, bunga, daun dan

sulur-suluran. Burung Merak bisa disebut motif Peksi Makuta,

artinya burung bermahkota.

Dalam cerita pewayangan baik manusia ataupun hewan

yang memakai mahkota adalah lambang kepemimpinan.

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makta) r27

Gambar:54
Batik Motif Blaburan Kantil

Sumber: Museum jawa Tengah Ronggowarsito
5). Motif Sido-luhur

Motif Sido-luhur mengandung makna sido artinya terus-
menerus,luhur berarti berbudi luhur. Motif tersebut diciptakan
untuk melambangkan harapan, pesan, niat dan itikat yang baik
serta luhur.

Bercirikan warna latar putih, warna pelengkap coklat

dan hitam. Ragam hias dominan sayap garuda dalam bidang
yarrg terbentuk dari tangkai-tangkai bunga berwarna coklat.

Sido-luhur salah satu motif tradisional yang dipakai pada
kesempatan atau peristiwa tertentu, dalam hal ini pada uPacara
perkawinan, dikenakan oleh temanten pria dan wanita. Sido-
luhur mengandung makna bahagia,mendapat kedudukan atau
penghargaan. Pada awalnya kain bermotif parang hanya

diperkenankan bagi kalangan ningrat, tetapi dalam
perkembangan jaman motif parar.g juga dipakai oleh

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

masyarakatumum.
Gambar:55

Batik Motif SidoJuhur Banyumasan

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

6). Motif ParangKusuma
Ragam hias dominan Parang Kusuma; kusuma berarti

bunga yan g sedang mekar.

Warna latar coklat sogan, warna pelengkap putih dan

hitam.

Pemakaian kain parang kusuma biasanya dikenakan
seorang gadis saat melakukan pertunangan atau tukar cincin.
Ragam hias parang kusuma merupakan lambang atau
ungkapan isi hati yarrg sedang mekar atau berbunga-bunga

yang mengandung madsud suatu kebahagiaan.

Para pencipta ragam hias batik pada jaman dahulu

terutama daerah Solo, seseor:u:rg menciptakan batik tidak hanya
sekedar indah untuk dipandang mata saja, tetapi mereka juga

memberi makna atau arti yang erat hubungannya dengan

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 729

falsafah hidup yang mereka hayati. Mereka menciptakan

sesuatu ragam hias untuk mennyampaikan pesan dan harapan

yang tulus dan luhur, semoga membawa kebaikan serta
kebahagiaan bagi si pemakai, ini semua dilukiskan secara

simbolis.

Gambar:56

Batik Motif Parang Kusumo

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

7). Motif Kau)ung Kembang

Warna latar coklat sogan, warna pelengkap putih dan

hitam.
Ragam hias kawung terdiri dari lingkaran-lingkaran y arrg

saling berpotongan sesamanya secara beraturan.

Berbeda dengan motif kawung yang prinsipnya belah
empat, Kawung Kembang potongannya terdiri dari delapan

bagSan,sehingga bentuk secara keseluruhan menyerupai ceplok
bunga.

L30 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dar Makna)

Penamaan motif kawung disesuaikan dengan bentuk
dari motif kawung itu sendiri. Misalnya Kawung Kembang

karena bentuk Kawung seperti Kembang.

Gambar:57
Batik Kawung Kembang

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

8 ) . Mo tif Gon do suli P u tih
Gondosuli adalah suatu jenis tumbuhan heduchium koen

yar.g merupakan. jenis .keluarga tumbuh-tumbuhan
Scitamineae. Bentuk bunga seperti buah anggur berderet

teratur.

Motif ini memiliki ciri warna latar putih, warna

pelengkap coklattua.

Ragam hias dominan gondosuli. Meskipun bentuk parang
tidak tampak, namun benfuk deretan yang teratur dalam garis

diagonal atau menyerong pada arah memanjangnya kain,
sehingga tetap tampil ciri khususragamhiasparangkusuma.

Gaya RagamHias Batik (Tinjauan Simbol ilanMakna) L31

Gambar:58
Batik Motif Gondosuli putih

Sumber: Museum ]awa Tengah Ronggowarsito

9). Motif Puger

Puger adalah sebutan nama jenis ayam. (Hamzuri, \982:
73). Bercirikan wama latar krem, warna pelengkap coklat muda,
coklat tua, hitam, Ltttgrt, biru dan hitam.

Ragam hias dominan ayam di atas latar motif belah

ketupat berpilin, motif pelengkap berupa bunga dan daury serta
beberapa bunga dengan ukuran sedang berada di tengah pada
tiap bidang belah ketupat.

132 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilat Makna)

Gambar: 59

Batik Motif Puger

Sumber: Museum ]awa Tengah Ronggowarsito

Gambar: 60 Batik Motif |ago

Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makra) L33

Motif bercorak ayam terlihat pula dalam kain bentuk motif
jagoyang dimiliki oleh Museumlawa Tengah Ronggowarsito
dengan ciri latar kuning gading, warna pelengkap coklat tua,
putih dan hitam. Ragam hias berupa ayam, kurungan ayam,
dan beberapa motif segitiga serta motif geometris lainnya.

Warna kuning gading adalah merupakan ciri khas batik
Garut, kebanyakan warna latar kain Garut adalah kuning.
Ragam hias batik Garut yang termasuk batik pesisir bersifat
naturalistik dan banyak mengambil motif fl o r a, fawta dari alam

sekitarnya, selain itu terdapat pula ragam hias yang ada

persamaannya atau pengaruh ragam hias daerah Solo-Yogya,
daerah tetangganya Cirebon, Indramayu, Pekalongan dan
ragam hias Cina yang tentunya disesuaikan dengan gaya dan
selera Garut. (Ni an, 1987 : 51)

b. Batik Klaten

1. Motif Grinsing

Nama gringsing dapat dihubungkan dengan penemuan
sebuah arca Budha Vasudara yar.g mengenakan kain dengan

motif Gringsing. Sejak itu daerah tersebut dinamakan

Gringsing, sampai sekarang menjadi sentra perajin batik dengan
mempopulerkan motif Gringsing.

Kain ini bercirikan warna latar coklat sogan, warna

pelengkap, hitam, coklat muda, coklat tua dan putih.
Ragam hias bunga dengan kepala putik sampai ke ujung

merucing, burung akan hinggap pada kuntum bunga untuk
menghisap madu.

Motif isen-isen berupa : kembang lombok, dele kecer, cecek

pitu, dan grompol.

134 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)

2).Motif Sidomukti
Ragam hias Sidomukti biasanya dipakai oleh pengantin

wanita dan pria pada saat upacara perkawinan dinamakan
Sawitan atau sepasang. Sido berarti terus-menerus, dan mukti
berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. ]adi

dapat disimpulkan bahwa ragam hias ini melambangkan

harapan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan dan

.kesejahteraan yang kekal.

Gambar:6l
Batik Motif Sidomulyo

Sumber: Museum jawa Tengah Ronggowarsito

Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) L35

Garnbar:62

Batik wtotif Sidomukti

Sumber: Museum ]awa Tengah Ronggowarsito

Motif yanghampir sama dengan motif sido mukti adalah
sidoluhur yang berarti mempelai berdua nantinya diharapkan
memperoleh jabatan kedudukan yang luhur dalam masyarakat.

Motif sido mukti yang dimiliki Museum Jawa Tengah

Ronggowarsito bercirikan Warna latar putih kecoklatan atau
putih euu danwarna pelengkapnya coklat tua, hitam.

6. Motif Tambal

Ragam hias tambal dari pengertian mennmbal, biasanya
orang menambal kain yang sobek menggunakan kain bekas
seadanya yang penting kain yang tersobek dapat tertutup,
sehingga motifnya lerlihat beraneka ragam. Menurut Hamzuri

(1987:50) ragam hiasTambal merupakan lambang penolak bala.
Ragam hias tambal berbentuk bidang segi empat yang

bervariasi, masing-masing bidang terbagi menjadi bentuk-

136 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)


Click to View FlipBook Version