The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Bunga Rampai Pemikiran Insan Pattimura Cares for Sustainability ini dibuat sebagai community reminder bahwa eksistensi Universitas Pattimura akan terus dilanjutkan demi memberi dampak yang lebih baik bagi masyarakat maluku.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penerbit.bcs, 2022-09-14 04:32:45

Bunga Rampai Pemikiran Insan Pattimura Care for Sustainability

Buku Bunga Rampai Pemikiran Insan Pattimura Cares for Sustainability ini dibuat sebagai community reminder bahwa eksistensi Universitas Pattimura akan terus dilanjutkan demi memberi dampak yang lebih baik bagi masyarakat maluku.

Keywords: penelitian,universitas,sains,Ekonomi,Budaya

Bunga Rampai Pemikiran
Insan Pattimura Care for

Sustainability

Teddy Christianto Leasiwal
Yusthinus Thobias Male dan Amanda Reichelt-Brushett

Salakory Melianus dan Risqa Novita
Marcy Lolita Pattiapon dan Esther Kembauw

La Ode Angga
Falantino Eryk Latupapua
Esther Kembauw, Aphrodite M. Sahusilawane, Michel J.
Matatula, dan Heryanus Jesajas
Aphrodite M. Sahusilawane

[i]

Bunga Rampai Pemikiran
Insan Pattimura Care for Sustainability

Tim Penulis: Falantino Eryk Latupapua
Teddy Christianto Leasiwal Esther Kembauw,
Yusthinus Thobias Male dan Aphrodite M.
Amanda Reichelt-Brushett Sahusilawane, Michel
Salakory Melianus dan Risqa J. Matatula, dan
Novita Heryanus Jesajas
Marcy Lolita Pattiapon dan Aphrodite M. Sahusilawane
Esther Kembauw
La Ode Angga Shielda Joris, S.Si, M.Si
Mirella F. Maahury, S.Si, M.Si
Tim Editor:
Dr. I Wayan Sutapa, M.Sc
Mirtha Y.S. Risakotta, M.Sc
Salmon Notje Aulele, S.Si, M.Si

Desain Cover: Layouter:
Lexy Janzen Sinay, S.Si, M.Si Sri Wiliany

Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

PENERBIT:
CV Banyubening Cipta Sejahtera

Alamat: Jl. Sapta Marga Blok E No. 38 RT 007 RW 003
Guntung Payung, Landasan Ulin, Banjarbaru 70721
E-mail: [email protected]

Ukuran: viii + 180 hlm, 15.5 x 23 cm
Cetakan Pertama: Juni 2022
ISBN: 978-623-5774-47-3
Keanggotaan IKAPI: 006/KSL/2021

[ii]

KATA PENGANTAR

DEKAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM

UNIVERSITAS PATTIMURA

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
penyertaan-Nya maka kegiatan Dies Natalis Universitas
Pattimura yang ke-57 telah berlangsung dengan baik.
Pada perayaan ke-57 tahun eksistensi Universitas Pattimura Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dipercayakan sebagai panitia
pelaksana kegiatan dies natalis. Tema perayaan Unpatti Cares for
Sustainability menunjukan semangat Universitas Pattimura untuk
mengawal kelangsungan pemberdayaan potensi Universitas Pattimura
untuk pembangunan masyarakat.
Buku Bunga Rampai Pemikiran Insan Pattimura Cares for
Sustainability ini dibuat sebagai community reminder bahwa eksistensi
Universitas Pattimura akan terus dilanjutkan demi memberi dampak
yang lebih baik bagi masyarakat. Ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu pelaksanaannya. Ucapan terima kasih juga
kepada tim yang telah membantu merampungkan dan menerbitkan
buku ini.
Semoga dengan adanya buku Bunga Rampai Pemikiran Insan
Pattimura Cares for Sustainability dapat memperkaya khazanah
berpikir dan semangat para akademisi dalam membangun sumber daya
manusia dan sumber daya alam Maluku.
Hotumese.

Ambon, April 2020
DEKAN FMIPA
Universitas Pattimura

Prof. Dr. Pieter Kakisina, S.Pd, M.Si

[iii]

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................i
KATA PENGANTAR ................................................................iii
DAFTAR ISI...............................................................................iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................vi
DAFTAR TABEL......................................................................vii

BAB I Strategi Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas Bagi
Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat
Maluku ............................................................................ 1

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 24

BAB II Bahaya Penggunaan Merkuri Oleh Penambangan Emas
Tanpa Ijin (Peti) Dan Peluang Minimisasi Dampaknya:
Studi Kasus Tambang Emas Di Pulau Buru, Provinsi
Maluku .......................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 59

BAB III Strategi Penanggulangan Soil Transmitted Helminths
(Sth) Di Daerah Endemis Berbasis Kearifan Lokal
(Menggali Bahan Obat Yang Menjanjikan Dari Bumi
Pulau Ambon) ............................................................... 65

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 82

BAB IV Pemanfaatan Daging Pala Pada Usaha Kecil Menengah
(Ukm) Hunilai Di Dusun Toisapu Desa Hutumuri 89

DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 105

[iv]

BAB V Formulasi Pengaturan Pengawasan Dan Evaluasi
Penataan Ruang Sebagai Bagian Dari Instrumen Prinsip
Kehati-Hatian Dalam Peraturan Daerah Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi Maluku ................................ 107

DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 123
BAB VI Perlukah Ada Fakultas Ilmu Budaya Unpatti Sebagai

Garbah Studi Kebudayaan (Maluku) Yang
Berkelanjutan? ............................................................ 127
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 148
BAB VII Potensi Pertanian Dalam Peningkatan Perekonomian Di
Provinsi Maluku.......................................................... 149
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 169
BAB VIII Perempuan Pulau Menjaga Pangan .......................... 173
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 179

[v]

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peningkatan Agregat Supply Akibat Peningkatan
Kurva Produksi ....................................................... 7

Gambar 1.2 Growth rate of capital ............................................ 9
Gambar. 1.3 Fungsi Produksi (Output) Dengan Kemajuan

Teknologi.............................................................. 10
Gambar 1.4 Teori Pertumbuhan baru ....................................... 11
Gambar 1.5 Diagram Gambaran Makro Provinsi Maluku

Periode 2011-2019................................................ 13
Gambar 1.6 Permasalahan Ekonomi Maluku........................... 14
Gambar 1.7 Ketimpangan Utama di Maluku ........................... 20
Gambar 2.1 Peta Pulau Buru dan lokasi penambangan emas.. 31
Gambar 2.2 Ribuan tenda penambang di Gunung Botak …… 31
Gambar 2.3 Diagram alir proses amalgamasi........................... 36
Gambar 2.4 Salah satu unit tromol (gelundung) di area Gunung

Botak..................................................................... 37
Gambar 2.5 Bayi terlahir cacat pada tragedi Minamata ……. 40
Gambar 2.6 (a) Lubang tambang dan (b) aktifitas transport

material ................................................................. 48
Gambar 2.7 Hasil analisis merkuri pada biota laut di P.Buru.. 52
Gambar 2.8 Baliho pelarangan aktifitas PETI di Pulau Buru.. 55
Gambar 2.9 Pohon sagu mati akibat sedimentasi..................... 55
Gambar 3.1 Distribusi Kelas Risiko Populasi Telur dan Larva

Soil Transmitted Helminths di Tanah Berdasarkan
Satuan Lahan ........................................................72
Gambar 3.2 Distribusi Kelas Risiko Infeksi Soil Transmitted
Helminths Pada Penduduk Perdesaan Pulau Ambon
Berdasarkan Satuan Lahan ................................... 72

[vi]

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Pengamatan Tingkah Laku Hewan Coba (Gejala
Klinis).........................................................................76

Tabel 3.2 Pengamatan Kematian Hewan Uji Pada 24 Jam ........77
Tabel 3.3 Pengamatan Tingkah Laku Hewan Coba (Gejala

Klinis).........................................................................78
Tabel 3.4 Pengamatan Kematian Hewan Uji Pada 24 Jam … 79
Tabel 4.1 Komposisi kimia daging buah pala segar dalam 100
gram............................................................................98
Tabel 4.2 Kuantitas Pembelian Bahan Baku, Biaya Pemesanan,

dan Biaya Penyimpanan Daging Buah Pala .............102

[vii]

[viii]

BAB I GStrategi Pertumbuhan Ekonomi Yang

GBerkualitas Bagi Peningkatan

GKesejahteraan Ekonomi Masyarakat
GMaluku

Teddy Christianto Leasiwal
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Pattimura

PENDAHULUAN

Pada konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana
yang menonjol adalah mengenai pertumbuhan ekonomi.
Meskipun ada juga wacana lain seperti pengangguran,
inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan,
kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan
ekonomi menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara
karena dapat menjadi salah satu ukuran dari pertumbuhan atau
pencapaian perekonomian bangsa tersebut.
Menurut Harrod Domar, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi
diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok modal. Semakin
banyak tabungan yang kemudian diinvestasikan, maka semakin cepat
terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil, tingkat
pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasi
tergantung dari tingkat produktivitas investasi tersebut (M.P. Todaro,
1993). Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia
menunjukkan perkembangan yang positif dari tahun 1984-1997. Pada
tahun 1998 menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi, yaitu -
13,12 %, hal ini disebabkan karena krisis moneter dan krisis ekonomi
yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, yang berlanjut menjadi
krisis multidimensi, sehingga membawa dampak pada pertumbuhan
ekonomi di Indonesia pada tahun 1998, pada tahun 1999-2019 baru

[1]

dapat tumbuh lagi pertumbuhan ekonominya walaupun tidak sepesat
pada tahun-tahun sebelumnya.

Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik dan
lebih stabil selama periode 2003-2019 sebagaimana yang tercermin
pada pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Walaupun ada sedikit
ketidakstabilan ekonomi baik pada tingkat nasional. Regional maupun
global, namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi masih
belum memadai untuk menyerap tambahan angkatan kerja sehingga
jumlah pengangguran masih mengalami kenaikan. Aktivitas
perdagangan dunia yang masih lesu mengakibatkan pertumbuhan
volume ekspor Indonesia, khususnya komoditas nonmigas, relatif
rendah. Dalam situasi demikian, kinerja ekspor secara nominal sangat
terbantu oleh meningkatnya harga komoditas migas dan nonmigas di
pasar internasional sehingga secara keseluruhan nilai ekspor pada 2003-
2019 masih mengalami kenaikan yang signifikan dan menjadi
penopang utama terjadinya surplus transaksi berjalan.

Bagi sebuah bangsa atau negara, pencapaian tingkat pertumbuhan
ekonomi seperti yang direncanakan atau diperkirakan, keberhasilan
mengurangi angka pengangguran dan menciptakan stabilisasi inflasi
merupakan suatu ukuran keberhasilan kebijakan dalam perekonomian
negara tersebut. Oleh karena hal tersebut, maka negara-negara berusaha
untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal dengan
cara melakukan berbagai kebijakan dalam perekonomian. Dalam
rangka pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan
tentunya akan ada sektor-sektor yang akan menjadi motor penggerak
bagi pertumbuhan ekonomi.

Ada beberapa komponen pembentuk Gross Domestic Product
(GDP) yang dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan
ekonomi atau peningkatan GDP, diantaranya Investasi. Oleh karena itu
kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah suatu negara
tentunya diupayakan untuk menciptakan situasi dan kondisi yang
mampu membuat beberapa hal atau komponen, yang diyakini dapat

[2]

menjadi motor penggerak bagi peningkatan GDP, mencapai kondisi
optimal sehingga pertumbuhan ekonomi yang diingin-kan dapat
dicapai. Lipsey dan Sjoholm (2002) studi tentang, apakah Investor
asing di sektor manufaktur membayar lebih murah upah pekerja
daripada investor local yang menanamkan modal di Indonesia, hasil
studi ini menemukan bahwa perusahaan asing membayar harga lebih
tinggi dalam memberikan peningkatan pendidikan tenaga kerja
daripada investor domestic. Borenzstein, Gregorio, Lee pada tahun
(1995) mengadakan penelitian dengan menggunakan model panel data
tentang bagaimana FDI dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Dengan menggunakan variabel seperti FDI yang diukur sebagai
proporsi dari GDP, pengeluaran pemerintah, human capital stock,
mereka men-dapatkan hasil bahwa FDI mempunyai dampak yang
positif pada pertumbuhan ekonomi meskipun dampak tersebut
tergantung pada human capital stock yang terdapat pada Negara tujuan
investasi.

FOREIGN DIRECT INVESTMENT DI INDONESIA

Investasi terbagi dua, yaitu Investasi yang dilakukan oleh pihak
asing, yang dikenal dengan Investasi Asing atau Penanaman Modal
Asing (PMA) dan Investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak
didalam negeri, yang dikenal sebagai PMDN (Penanaman Modal
Dalam Negeri). Menurut para ahli dan beberapa penelitian yang ada,
Penanaman Modal Asing dalam bentuk Investasi Asing Langsung
(FDI) terbukti memberikan efek multiplier, sehingga dapat memacu
pertumbuhan ekonomi pada negara penerima. Kondisi Indonesia
khususnya dalam memanfaatkan PMA dalam hal ini FDI maupun
PMDN dalam satu dekade terakhir ini mengalami banyak perubahan
yang cukup signifikan dari segi komposisinya. Setelah krisis 1998
jumlah proyek baru PMA, paling tidak berdasarkan data persetujuan
dari BKPM, sempat mengalami peningkatan. Namun setelah tahun
2000, jumlahnya menurun dan cenderung akan berkurang terus.

Satu hal yang menarik dari data BKPM tersebut adalah bahwa
sejak krisis, jumlah proyek baru PMA rata-rata per tahunnya lebih besar

[3]

daripada jumlah proyek baru PMDN (penanaman modal dalam negeri).
Ini menandakan bahwa perkembangan investasi langsung atau jangka
panjang di dalam negeri, khususnya dalam periode pasca krisis, peran
PMA jauh lebih penting daripada PMDN (Namun demikian, dilihat dari
nilai netonya (arus investasi FDI masuk–arus keluar), gambarannya
setelah krisis lebih memprihatinkan, walaupun pada tahun 2002 dan
2004 sampai dengan 2008 sempat kembali positif , namun lebih banyak
PMA keluar daripada masuk mencerminkan buruknya iklim investasi di
Indonesia.

Pengalokasian Investasi pada umumnya didasari dua sektor pokok
yaitu, pada sektor manufaktur dan sektor sumber daya alam. Kedua
sektor ini masih menjadi tujuan utama jika investor asing ingin
melakukan Foreign Direct Investment di suatu wilayah. Mengingat
kedua sektor ini memiliki keunggulan masing-masing, maka daya tarik
maupun efek multiplier yang dihasilkan oleh keduanya memiliki nilai
yang berbeda pula.

Investasi di Indonesia, terbagi menjadi dua bagian, utama yaitu
pada sektor manufaktur dan sumber daya alam. Penyebaran Investasi
khususnya investasi asing langsung pun terbagi pada pulau-pulau yang
ada di Indonesia Pada kawasan barat Indonesia, khususnya pulau Jawa
dan lebih berfokus pada sektor manufaktur. Hal ini ditunjang dengan,
diantaranya infrastruktur yang cukup memadai tersedia di pulau Jawa,
tenaga kerja banyak, upah murah serta tingkat pendidikan yang baik.
Dengan demikian FDI dapat memberi efek multiplier, secara langsung
maupun tidak langsung yang memacu pertumbuhan ekonomi di
kawasan barat Indonesia ini. Ini berbeda dengan provinsi-provinsi yang
ada di kawasan timur, seperti provinsi di pulau Sulawesi, Papua dan
Maluku yang lebih bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam.

Provinsi-provinsi yang ada pada pulau-pulau di Indonesia
memiliki karekteristik FDI yang berbeda, namun pada umumnya, masih
terkonsentrasi pada pemanfaatkan sektor yang potensial yang
bersumber pada natural resource (BKPMN, 2008 ). Dalam beberapa
tahun terakhir ini pemodal asing kurang tertarik menanamkan
modalnya diIndonesia karena tidak stabilnya kondisi ekonomi dan
politik. Kini muncul tanda-tanda bahwa situasi ini berubah. Ini terlihat

[4]

pada data yang menunjukkan nilai investasi pada pulau-pulau besar di
Indonesia.

HUBUNGAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN FOREIGN
DIRECT INVESTMENT

Studi empiris yang dilakukan oleh beberapa ahli telah memperkuat
argumen bahwa peranan FDI relatif besar dalam pembangunan suatu
negara. Hasil penelitian Panayotou (1998) menyebutkan bahwa lebih
dari 80% modal swasta dan 75% dari FDI sejak tahun 1990 mengalir ke
negara-negara dengan pendapatan menengah (middle income
countries). Penelitian Terpstra dan Yu (1988) menemukan bahwa
ukuran pasar (market size) yang diukur dengan GDP perkapita, faktor
kedekatan geografis negara penerima dan penanam modal, besarnya
perusahaan, reaksi oligopolistik merupakan faktor penentu masuknya
modal asing ke suatu negara. Penelitian Rana dan Dowling (1988)
mengenai pengaruh penanaman modal asing terhadap pertumbuhan
ekonomi khususnya di negara-negara sedang berkembang,
menyimpulkan bahwa modal asing memiliki pengaruh positif terhadap
per-tumbuhan dan tabungan domestik negara-negara berkembang di
Asia.

Sumber pembiayaan FDI oleh sebagian negara, merupakan sumber
pembiayaan luar negeri yang paling potensial dibandingkan dengan
sumber yang lain. Panayotou (1998) menjelaskan bahwa FDI lebih
penting dalam menjamin kelangsungan pembangunan dibandingkan
dengan aliran bantuan atau modal portofolio, sebab terjadinya FDI
disuatu negara akan diikuti dengan transfer of technology, know-how,
management skill, resiko usaha relatif kecil dan lebih profitable. Salah
satu aspek penting lainnya dari FDI adalah bahwa pemodal bisa
mengontrol atau setidaknya punya pengaruh penting terhadap
manajemen dan produksi dari perusahaan. Hal ini berbeda dari
portofolio atau investasi tak langsung, dimana pemodal asing membeli
saham perusahaan lokal tetapi tidak mengendalikannya secara
langsung.

[5]

Dampak dari Investasi asing langsung terhadap pertumbuhan
ekonomi masih merupakan kajian yang sangat kontrovesial dalam
ekonomi pembangunan. Menurut pandangan modernization hypothesis,
FDI (Foreign Direct Investment) dapat memacu pertumbuhan ekonomi
dengan menyediakan modal dari luar dan menyebarkan manfaat bagi
seluruh kegiatan ekonomi. Dengan kata lain adanya investasi asing
sangat penting, bukan dari mana investasi itu berasal. Lebih dari itu
Foreign Direct Investment pada umumnya membawa teknologi dan
manajemen yang lebih baik. Faktanya, dengan kata lain Foreign direct
investment adalah salah satu ”Mesin” lain dalam memacu pertumbuhan
ekonomi di negara-negara berkembang. Hal ini berlawanan dengan
Dependency hypothesis, yang mengatakan bahwa selama itu dalam
jangka waktu pendek (Short-term) maka arus FDI memberikan dampak
yang positif bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan jelas ditegaskan disini
bahwa untuk jangka panjang FDI mengganggu pertumbuhan ekonomi,
ini dicerminkan dengan adanya hubungan yang negatif antara persedian
FDI dan laju pertumbuhan sedangkan untuk jangka waktu pendek,
memungkinkan untuk peningkatan investasi FDI serta peningkatan
konsumsi, dengan demikian akan secara langsung menciptakan
pertumbuhan ekonomi (Obwona, 1996).

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi merupakan masalah makro
ekonomi jangka panjang dimana disetiap periode masyarakat suatu
negara akan berusaha menambah kemampuannya untuk memproduksi
barang dan jasa. Sasarannya berupa kenaikan tingkat produksi riil
(pendapatan nasional) dan taraf hidup (pendapatan riil perkapita)
melalui penyediaan dan pengerahan proses faktor-faktor produksi.
Economic growth adalah fungsi produksi neoklasik dengan asumsi
bahwa semua input untuk produksi dapat dikelompokkan secara
keseluruhan dalam tiga faktor, yaitu kapital, labor, dan teknologi.
Fungsi produksi menjelaskan bagaimana perekonomian meng-

[6]

kombinasikan ketiga faktor input tersebut untuk menghasilkan output
yang diukur melalui Produk Domestik Bruto PDB).

Gambar 1. 1 Peningkatan Agregat Supply Akibat Peningkatan Kurva
Produksi (Sumber: Dornbusch, Fischer, dan Startz, 2004).

Keterangan :
Y = Produksi
N = Tenaga kerja
K = Kapital
T = Teknologi
SDM = Sumber daya manusia
NS = Penawaran tenaga kerja
W = Tingkat upah
ND = Permintaan tenaga kerja

NS-ND = L (W/P)
∂Y/∂N > 0, ∂Y/∂ND > 0, ∂Y/∂SDM > 0, ∂Y/∂T > 0

[7]

TEORI HARROD-DOMAR (H-D)

Teori pertumbuhan ekonomi ini dikembangkan oleh Evsey Domar
dan Sir Roy F. Harrod. Teori ini pada dasarnya berusaha memadukan
pandangan kaum Klasik yang dianggap terlalu menekankan pada sisi
penawaran (Supply Side) dan pandangan Keynes yang lebih
menekankan pada sisi permintaan (demand side). Harrod-Domard
mengatakan bahwa investasi memainkan peran ganda. Disatu sisi
investasi akan meningkatkan kemampuan produktif (productive
capacity) dalam perekonomian, sementara di sisi lain investasi juga
akan menciptakan permintaan (demand creating) di dalam
perekonomian. Oleh kerena itu, H-D menyatakan bahwa investasi
merupakan faktor penentu yang sangat penting terhadap pertumbuhan
ekonomi. Aspek yang dikembangkan adalah aspek yang menyangkut
peranan investasi (I) dalam jangka panjang.

TEORI PERTUMBUHAN: MODEL NEO-KLASIK

Berbeda dengan model Harrod-Domar, model-model neoklasik
memungkinkan terjadinya substitusi antar faktor modal dengan tenaga
kerja. Teori pertumbuhan neoklasik dimulai dengan model Solow-Swan
yang dikembangkan oleh Solow (Solow, 1956) dan T.W. Swan (Swan,
1956) dengan menggunakan fungsi produksi dari Cobb Douglas, secara
matematis dinyatakan sebagai berikut: Y=F(Kt, At, Lt), ini menyatakan
bahwa output adalah fungsi dari sejumlah faktor input berupa modal,
tenaga kerja dan faktor produktivitas teknologi yang ada. Dari
persamaan ini dapat dikatakan bahwa kenaikan output barang dan jasa,
yang dicerminkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) dapat terjadi
melalui kenaikan penawaran tenaga kerja, kenaikan modal fisik dan
peningkatan produktivitas sepanjang waktu.

[8]

TEORI PERTUMBUHAN SOLOW
Solow Swan Model

Teori pertumbuhan Solow menggunakan pendekatan fungsi
produksi yang telah dikembangkan oleh Charles Cobb dan Paul
Douglas yang dikenal dengan sebutan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Model Solow memfokuskan pada empat variabel: output (Y), modal
(K), tenaga kerja (L) dan "pengetahuan" atau "efektivitas tenaga kerja"
(A). Pada waktu tertentu, ekonomi memiliki sejumlah modal, tenaga
kerja, dan pengetahuan yang kombinasinya menghasilkan output.
Model Solow mengidentifikasi ada dua sumber keragaman baik
terhadap waktu atau antar bagian di dunia untuk output per tenaga
kerja, yaitu perbedaaan modal per tenaga kerja (KL) dan perbedaan
pada efektivitas tenaga kerja (A). Hanya pertumbuhan pada tenaga
kerja efektif yang dapat menyebabkan pertumbuhan permanen pada
output pertenaga kerja. Akibatnya, hanya perbedaan pada tenaga kerja
efektif yang dapat digunakan untuk menghitung perbedaan ke-
sejahteraan antar waktu dan ruang.

Gambar 1. 2 Growth rate of capital (Sumber : Dornbusch, fisher &
Starz).

[9]

TEORI PERTUMBUHAN ENDOGEN DAN TOTAL
FAKTOR PRODUCTIVITY (TFP)

Teori pertumbuhan endogen dikemukakan oleh Lucas dan Romer.
Menurut Lucas, akumulasi modal manusia, sebagaimana akumulasi
modal fisik, menentukan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan menurut
Romer, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh tingkat modal manusia
melalui pertumbuhan teknologi. Fungsi produksi agregat dimodifikasi:
Y = A.F (K, H, L), H sumberdaya manusia merupakan akumulasi dari
pendidikan dan pelatihan.

Tingkat pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) adalah
jumlah dimana output akan meningkat sebagai hasil dari perbaikan
dalam metode produksi, dengan seluruh input tidak berubah.

Gambar 1. 3 Fungsi Produksi (Output) Dengan Kemajuan Teknologi
(Sumber: Dornbusch, Fischer dan Startz, 2004).

TEORI PERTUMBUHAN BARU (NEW GROWTH
THEORY) ATAU TEORI MODERN

Dilihat dari kerangka pemikiran teori modern, ada sejumlah
perbedaan mendasar dengan teori neoklasik. Dalam teori modern,
kualitas L lebih penting dari pada kuantitasnya. Kualitas L tidak hanya
dilihat dari tingkat pendidikan, tetapi juga dari kualitas kesehatannya.
Sekarang ini tingkat pendidikan dan kondisi kesehatan menjadi dua

[10]

variabel bebas yang penting di dalam analisis-analisis empiris dengan
pendekatan ekonometris mengenai pertumbuhan ekonomi (Faisal,
2002). Tingkat pendidikan biasa-nya diukur berdasarkan persentase L
yang berpendidikan tinggi terhadap jumlah L atau penduduk yang
terdaftar dalam suatu tingkat pendidikan tertentu, misalnya pendidikan
dasar. Sedangkan tingkat kesehatan biasanya diukur berdasarkan
tingkat harapan hidup. Demikian juga halnya dengan K, kualitas (yang
mencerminkan progress T) lebih penting dari pada kuantitas (akumulasi
K). Juga Kw, termasuk juga kemampuan seseorang untuk melakukan
inovasi, merupakan salah satu faktor krusial bagi pertumbuhan
ekonomi.

Gambar 1. 4 Teori Pertumbuhan Baru
Gambar diatas menjelaskan bahwa:
1. Foreign Dircet Investment, masih merupakan salah satu

sumber yang penting bagi Indonesia, untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. Sumbangan FDI masih diperlukan,
karena keterbatasan modal dan teknologi membuat FDI
merupakan salah satu pilihan penting,sehingga dapat
mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi.
2. Ketergantungan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
khsususnya 6 kepulauan besar di Indonesia terhadap
pemanfaatan sektor potensial sebagai faktor pendorong
pertumbuhan, masih tinggi, khususnya pada sumber daya alam.

[11]

Jika dilihat lebih jauh lagi, Pemanfaatan sektor potensial, masih
lebih banyak mengandalkan sektor sumber daya alam, padahal
kita ketahui bahwa sumber daya alam tidak akan memberikan
dampak yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi
dalam jangka panjang, karena, sektor ini tidak dapat
diperbaharui. Sehingga dengan demikian perlu adanya
reorientasi pemanfaatan sumber daya yang ada bagi
pertumbuhan ekonomi di Indonesia khususnya 6 kepulauan
besar.
3. Faktor Stabilitas Politik dan Keamanan (STAB). Kondisi
Indonesia khususnya 6 kepulauan besar, cukup rentan terhadap
gejolak keamanan, membuat faktor ini sangat memiliki
pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika
stabilitas politik dan keamanan dapat dijaga atau dikontrol
dengan baik, maka semua faktor yang lain akan lebih mudah
digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
4. Secara umum dapat menjelaskan, bahwa Faktor Pendidikan
(PDDK), yang harapkan, ternyata belum mampu memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Keadaan ini tentunya membawa konsekuensi kepada
Pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan sektor
pendidikan. Mengacu pada negara-negara maju baik di Asia,
Eropa maupun Amerika, faktor pendidikan dijadikan dasar
untuk melakukan lompatan dalam meningkatkan pertumbuhan
Ekonomi yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Peningkatan kualitas pekerja dari sisi pendidikan
dan pelatihan nampaknya akan mendorong skill dan
produktivitas pekerja. Sehingga kemampuan kerja yang lebih
kompeten dapat meningkatkan daya tawar pekerja tersebut.
Selain itu dengan pendidikan yang baik, maka pekerja akan
memiliki ekspektasi yang lebih rasional.

[12]

KONDISI UMUM EKONOMI MALUKU

Secara keseluruhan dalam skala Provinsi, pertumbuhan ekonomi
naik dengan rasio pertumbuhan di atas 5% yang menunjukan bahwa
daerah-daerah di provinsi Maluku secara merata memiliki kondisi
makro ekonomi yang baik. Pertumbuhan ekonomi kota Ambon, masih
tertinggi diantara 10 kabupaten lainnya. Ini menunjukkan bahwa kota
Ambon masih menjadi pusat kegiatan ekonomi Maluku. Dengan jumlah
penduduk yang besar, pendapatan perkapita yang tinggi serta konsumsi
rumah tangga yang tinggi juga mengindikasikan kota Ambon, sangat
kuat dalam mendorong akselerasi ekonomi Maluku.

Data diolah, 2018
Gambar 1. 5 Diagram Gambaran Makro Provinsi Maluku Periode
2011-2019*
Di provinsi Maluku sendiri dapat dilihat bahwa disparitas

Pendidikan antar wilayah cukup tinggi. Kota Ambon selain sebagai
pusat pemerintahan dan pusat perekonomian memiliki komposisi
demografi dari sisi Pendidikan yang cukup baik di mana 45.24%
masyarakatnya telah menamatkan Pendidikan sekolah menegah atas,
serta 15.5 % merupakan masyarakat dengan Pendidikan tinggi (D1, D2,
D3, D4, S1, S2, S3), sementara pada 10 kabupaten/kota lainnya tidak

[13]

ada yang memiliki penduduk yang memiliki Pendidikan tinggi lebih
dari 10%.

Hal ini secara langsung akan mempengaruhi rendahnya kualitas
pembangunan wilayah tersebut sekaligus kualitas pendapatan
individunya di wilayah tersebut karena kecenderungan seseorang untuk
mendapatkan pekerjaan serta pendapatan yang layak adalah tingkat
pendidikannya. Tingkat Pendidikan yang rendah juga memberikan
sumbangan terhadap peningkatan angka kemiskinan di Maluku.
Pendidikan yang tidak merata, baik dari sisi infrastruktur, sisi
ketersediaan guru serta kualitas guru juga memberikan pengaruh pada
kualitas dan kuantitas tenaga kerja terdidik di Maluku.

Gambar 1. 6 Permasalahan Ekonomi Maluku (Sumber :Teddy, 2020).

[14]

SEKTOR INDUSTRI MALUKU

Sektor industri yang berkembang di Maluku sampai saat ini masih
didominasi oleh industri padat karya, yang biasanya memiliki mata
rantai relatif pendek, sehingga penciptaan nilai tambah juga relatif
kecil. Akan tetapi karena besarnya populasi unit usaha maka kontribusi
terhadap perekonomian tetap besar. Untuk itu Pemerintah daerah
maupun pusat hendaknya membuat suatu strategi dan kebijakan yang
berpihak kepada sub sektor sektor industri. Penyiapan Tenaga kerja
baik dari sisi kuantitas maupun kualitas harus didorong oleh pemerintah
secara maksimal, mengingat bahwa tenaga kerja sangat memberi peran
yang cukup besar dalam sub sektor industri terhadap peningkatan
PDRB di Maluku.

Untuk mengembangkan sektor industri di Maluku, sehingga dapat
memberikan manfaat riil bagi kesejahteraan masyarakat, maka perlu
dilakukan beberapa hal, yaitu:

1. Pengembangan industri kecil dan menengah yang berbasis pada
karakteristik sumber daya lokal dan struktur tenaga kerja di
Maluku.

2. Melakukan Pelatihan dan peningkatan skill tenaga kerja.
Tujuannya untuk menciptakan tenaga kerja yang siap pakai pada
sektor industri.

3. Penataan regulasi yang memberikan ruang kepada industri
berkembang tanpa mengabaikan hak-hak dari tenaga kerja serta
mem-perhatikan kondisi lingkungan hidup.

4. Pemanfaatan dan peningkatan kemampuan teknologi industri. Hal
ini mengingat, secara umum pengelola industri di Maluku belum
memandang kegiatan pengembangan dan penerapan teknologi
layak dilakukan karena dianggap memiliki eksternalitas yang
tinggi berjangka panjang dan dengan tingkat kegagalan yang
tinggi.

5. Pemetaan dan penataan struktur industri yang berbasis
karakteristik Lokal. Tujuannya adalah untuk memperbaiki struktur
industri Maluku.

[15]

INVESTASI DI MALUKU

Investasi atau penanaman modal menjadi hal yang penting bagi
suatu daerah dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonominya. Di
Maluku sendiri investasi yang ada pada umumnya berbentuk investasi
langsung (direct investment), yaitu investasi dalam bentuk
pembangunan infrastruktur fisik baik dalam bentuk penanaman modal
dalam negeri (Local Direct Investment) atau penanaman modal asing
(Foreign Direct Investment). Berdasarkan data, realisasi investasi
dalam negeri di provinsi Maluku masih sangat rendah dan cenderung
mengalami penurunan hal ini antara lain disebabkan melambatnya
penyerapan belanja modal Pemerintah Daerah yang bersumber dari
APBN ikut mempengaruhi tren perlambatan pada investasi bersih di
Maluku. Nilai belanja modal yang bersumber dari APBN lebih besar
daripada nilai belanja modal yang bersumber dari APBD sehingga
belanja modal APBN lebih besar pengaruhnya kepada kinerja investasi
pada perekonomian Maluku.

Sementara itu nilai investai asing di Maluku juga mengalami hal
yang sama di mana cenderung mengalami penurunan hingga tahun
2018, hal ini dapat diidentifikasikan sebagai rendahnya tingkat
kepercayaan investor asing terhadap kinerja pelaku ekonomi daerah
Maluku sehingga juga turut mempengaruhi nilai investasi, selain itu
belum memadainya infrastruktur daerah sebagai penunjang
pertumbuhan ekonomi juga dapat di kategorikan sebagai faktor yang
menghambat perkembangan investasi di Maluku apalagi kondisi
geografis Maluku yang berbentuk kepulauan.

Salah satu yang menyebabkan investasi menjadi mahal di Maluku
adalah bahwa aksesibilitas dan konektifitas transportasi antar wilayah
atau pulau yang masih kurang, baik dari sisi frekuensi maupun jumlah
alat transportasi ke suatu wilayah. Ini juga yang menjadi salah satu
faktor hasil produksi menjadi mahal sehingga membuat daya saing
Maluku menjadi rendah dari sisi harga. Selain itu terdapat juga
beberapa faktor yang mengakibatkan investasi di Maluku kurang ber-
kembang. Pertama, iklim investasi di Maluku belum baik dari sisi

[16]

regulasi investasi maupun kepastian hukum. Kedua, dukungan struktur
tenaga kerja yang belum baik, seperti rendahnya tingkat Pendidikan dan
skill. Ketiga, belum tersedianya infrastruktur dasar penunjang untuk
memenuhi kapasitas indutri secara baik seperti listrik dan jalan raya.

TENAGA KERJA DAN UPAH DI MALUKU

Secara teoritis permintaan tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh
tingkat upah. Secara umum pertumbuhan tingkat upah di provinsi
Maluku relatif terus meningkat namun jika di break down lebih jauh
maka pertumbuhan tingkat upah di Maluku pada setiap tahunnya berada
di bawah rata-rata nasional, padahal di sisi lain harga kebutuhan
masyarakat di Maluku relatif lebih tinggi daripada wilayah bagian barat
Indonesia hal ini juga berkorelasi dengan kecepatan rata-rata variabel
makro ekonomi lainnya. Dalam pasar kerja Maluku, terdapat semacam
mismatch antara lulusan pendidikan dan dunia kerja. Implikasinya
antara lain, ketimpangan upah meningkat, permintaan dan kelangkaan
tenaga kerja tidak terpenuhi dan yang mengherankan adalah angka
penganggur terdidik relatif tinggi, terutama di daerah perkotaan. Aspek
lain mengenai upah buruh yang perlu dicermati adalah bahwa
perbedaan tingkat upah antara pekerja formal dan informal cenderung
melebar.

Jumlah angkatan kerja di Provinsi Maluku sampai dengan tahun
2017 mengalami pertambahan. Pertambahan jumlah angkatan kerja,
memberikan dampak terhadap peningkatan angka pengangguran di
Maluku, karena tidak diimbangi dengan pertambahan lapangan
pekerjaan. Untuk tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Maluku
berkisar sebesar 50%-63,71%. Peningkatan ini, mengindikasikan
terjadinya peningkatan pada penawaran tenaga kerja di Maluku.
Sedangkan tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku juga
mengalami kenaikan berkisar antara 5%-6,7%.

[17]

DAMPAK BAGI MALUKU

Saat ini propinsi Maluku sedang mengalami akselerasi ekonomi
yang kurang baik selama periode tahun 2017, daya beli yang menurun,
ketimpangan yang masih tinggi, serta angka kemiskinan yang masih
tinggi di Maluku, namun secara umum kondisi ekonomi Maluku baik,
ini ditandai dengan indikator-indikator makro yang perkembangannya
positif, seperti pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan angka
inflasi yang juga cenderung stabil. Ketimpangan yang terjadi ini
mengakibatkan jumlah orang miskin di Maluku semakin bertambah dan
memiliki pendapatan sangat rendah, dimana rata-rata pendapatan orang
miskin di Maluku berkisar antara Rp.700.000 - Rp.1.000.000 perbulan
(Riset 2017, Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Maluku).

Strategi dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat diberbagai daerah, dalam hal demikian, maka
pemerintah Maluku diharapkan siap dan mampu menerapkan strategi
perencanaan pembangunan yang berorientasi kepada peningkatan
kapasitas sumber daya ekonomi orang miskin agar tercapainya
peningkatan kesejahteraan yang tinggi dengan penekanan pada
pentingnya memacu pengembangan sektor-sektor yang dipandang
potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, dalam arti dapat diharapkan
menjadi lokomotif bagi pengembangan sektor-sektor lainnya. Untuk itu
pentingnya dilakukan pemetaan potensi sumber daya ekonomi dari
masing-masing Kabupaten/Kota, sehingga pemerintah daerah mampu
merencanakan dan mengimplementasikan program dengan baik dan
tepat sasaran untuk menaikkan daya beli masyarakat yang pada
akhirnya akan menekan angka kemiskinan.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan atau memicu terjadi-
nya disparitas pembangunan wilayah di Maluku tersebut adalah:
1. Faktor geografis dan Karakteristik Wilayah. Suatu wilayah atau

daerah yang sangat luas akan terjadi variasi pada keadaan fisik alam
berupa topografi, iklim, curah hujan, sumberdaya mineral dan
variasi spasial lainnya.

[18]

2. Faktor politik dan keamanan. Instabilitas politik akan
menyebabkan orang ragu untuk berusaha atau melakukan investasi
sehingga kegiatan ekonomi suatu wilayah tidak akan berkembang.
Maluku masih belum keluar dari stigma instabilitas keamanan,
faktor ini masih menjadi pertimbangan yang signifikan bagi investor
untuk berinvestasi langsung di Maluku.

3. Faktor Kebijakan Publik. Kebijakan yang diambil sering
berdasarkan skala prioritas pada daerah yang maju atau daerah yang
memiliki akselerasi ekonomi lebih baik, akibatnya tanpa sengaja
terjadi perlambatan pembangunan ekonomi pada wilayah yang lain.
Dengan kata lain, Strategi pembangunan dengan efek trickle Down
tidak memberikan efek yang kuat dan riil bagi pengembangan
ekonomi regional, sehingga perlu dilakukan strategi pengembangan
ekonomi dari wilayah terluar untuk mempercepat akselerasi
ekonomi secara riil.

4. Faktor Administratif. Kesenjangan wilayah dapat terjadi karena
adanya perbedaan kemampuan pengelola administrasi. Wilayah
yang dikelola dengan administrasi yang baik cenderung lebih maju.
Sehingga dapat dikatakan wilayah yang ingin maju harus
mempunyai administrator yang jujur, terpelajar, terlatih yang berarti
sama dengan mempunyai sumberdaya manusia yang lebih baik.
Faktor ini berkaitan dengan kualitas SDM dan kualitas dari sistem
administrasi publik yang dimiliki oleh pemerintah Maluku.

5. Faktor Ekonomi. Beberapa faktor ekonomi yang menyebabkan
kesenjangan antar wilayah adalah perbedaan kuantitas dan kualitas
dari faktor produksi yang dimiliki seperti lahan, infrastruktur, tenaga
kerja, modal dan manajemen pengelolaan. Wilayah yang
mempunyai faktor-faktor ekonomi yang baik, mendorong untuk
menjadi daerah yang lebih maju, dan menjadi pusat kegiatan
ekonomi, sedangkan daerah lainnya akan tertinggal.
Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas

dan dapat memberikan efek multipiler riil terhadap peningkatan
kesejahteraan di Maluku, maka, terdapat 5 (Lima) ketimpangan yang
perlu diatasi oleh pemerintah, yaitu :

[19]

• Ketimpangan pasar kerja. Ketersedian pasar kerja yang tidak
merata pada tiap kabupaten kota. Selain itu pasar kerja juga
yang masih sedikit, hal ini turut menyumbang angka
pengangguran dan kemiskinan. Masih besarnya pekerja di
sektor informal dengan tingkat pendapatan yang rendah dan
tiadanya jaminan kepastian usaha di masa depan.

• Ketimpangan produktifitas. Kesenjangan produktifitas antara
tenaga kerja maupun produkifitas tenaga kerja pada tiap
wilayah juga menyebabkan kenapa Maluku masih memiliki
daya saing yang lemah jika dibandingkan dengan provinsi lain.

• Ketimpangan Pendapatan.
• Ketimpangan Pendidikan.
• Ketimpangan dalam distribusi asset. Ketimpangan tersebut

terlihat sangat parah terutama di sektor pertanian. Lahan yang
sempit tentu tidak mencukupi bagi petani untuk memperoleh
tingkat pendapatan yang layak.

Gambar 1. 7 Ketimpangan Utama di Maluku (Sumber : Teddy, 2020).

DAMPAK TERHADAP PENYERAPAN TENAGA
KERJA

Di provinsi Maluku Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
angkanya masih relatif tinggi bila dibanding dengan daerah lain di
Kawasan Indonesia Timur (KTI). Tingkat pengangguran yang cukup
tinggi di Maluku, diakibatkan karena beberapa faktor seperti,

[20]

terbatasnya penyerapan tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan
volume pencari kerja yang terus meningkat. Rendahnya penyerapan
tenaga kerja itu terjadi akibat kurangnya kesempatan kerja di Maluku
ini terlihat pada minimnya investasi baik investasi asing langsung
maupun investasi dalam negeri, faktor keamanan, sering masih menjadi
alasan utama bagi investor untuk menanamkan modalnya di Maluku.
Upaya pemerintah untuk mengarahkan para penganggur agar menekuni
sektor wiraswasta tampaknya terhambat oleh faktor sosio-budaya
masyarakat Maluku umumnya yang kurang men-dukung (cenderung
ingin menjadi orang PNS atau orang yang bekerja di perkantoran,
karena dipandang memiliki status sosial yang lebih baik). Namun
seiring dengan semakin sempitnya peluang kerja dan serta semakin
tinggi tuntutan untuk dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan
sehari–hari, membuat tumbuh suburnya lapangan kerja sektor informal
di Maluku, terutama di Kota Ambon.

Untuk dapat menekan angka pengangguran di Maluku, maka peran
sektor swasta khususnya investasi asing langsung, sangatlah diperlukan,
mengingat terbatasnya pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja.
Untuk itu faktor keamanan perlu diperhatikan, kemudian penyediaan
infrastruktur pendukung oleh pemerintah dan sistem birokrasi yang
tidak berbelit–belit, ini akan mempermudah tejadinya investasi baik
PMA maupun PMDN (Investasi asing langsung). Karena seperti kita
ketahui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, seharusnya yang
menjadi motor adalah investasi karena dapat memberikan efek
multiplier yang lebih besar. Jika ini dapat dilaksanakan dengan baik,
tanpa mengenyampingkan faktor–faktor non ekonomi seperti kondisi
sosial budaya masyarakat setempat, maka kita semua akan dapat
merasakan efek yang dihasilkan oleh investasi (FDI).

PENUTUP

Kondisi Ekonomi Indonesia yang sangat dinamis, karena
dipengaruh oleh berbagai macam faktor, juga turut mempengaruhi
kondisi ekonomi Maluku. Permasalahan Ekonomi Maluku seperti

[21]

Investasi pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang belum
berkualitas perlu di perhatikan dan diperbaki. Sehingga ekonomi
Maluku menjadi lebih baik. Mengamati kecenderungan saat ini dan
kemungkinan ke depan, maka diperkirakan pengangguran dan
Pertumbuhan Ekonomi Maluku akan dipengaruhi beberapa shock klasik
terhadap permintaan maupun penawaran kesempatan kerja,sebagai
berikut:

1. Laju pertumbuhan angkatan kerja yang cukup tinggi
2. Realisasi Investasi Langsung yang rendah.
3. Masuknya tenaga kerja dari Luar
4. Serapan lapangan kerja Formal yang rendah (PNS)
Shock ini masih akan mempengaruhi tingkat pengangguran dan
Pertumbuhan Ekonomi di Maluku untuk beberapa tahun kedepan.
Dengan didasarkan data time series untuk melihat tren pengngguran di
Maluku, maka diproyeksi bahwa angka TPT di Maluku pada rentang
2016-2018 akan berada pada kisaran 6,00-7,00 persen. Hal ini
dikarenakan pertumbuhan ekonomi secara nasional pun sampai saat ini
melambat dan diperkirakan juga masih terus melambat sampai tahun
depan. Untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan
ekonomi di Maluku, maka terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan,
antara lain.
1. Mendorong peningkatan sektor informal, seperti dengan
memberi penambahan modal usaha yang disertai dengan
pengawasan dan regulasi yang dapat mempercepat pengembangan
sector informal sehingga pelaku usaha kecil pada sektor ini bisa
berkembang secara maksimal bahkan bisa menyerap tenaga kerja
jika terjadi perluasan usaha.
2. Mendorong regulasi yang lebih “ramah” (menyederhanakan
3. izin investasi baik ditingkat nasional, propinsi maupun kabupaten)

[22]

terhadap investasi langsung yang berbasis pada karakteristik lokal
dan yang sesuai dengan strukutur tenaga kerja di Maluku.
Tujuannya agar terbukanya lapangan pekerjaan.
4. Melakukan pengembangan sentra-sentra industri yang berada
pada wilayah kabupaten yang potensial.
5. Mendorong sektor perikanan, pertanian dan pariwisata kearah
industri, sehingga akan memberikan multiplier efek yang kuat bagi
penyerapan tenaga kerja.
6. Menciptakan iklim investasi yang kondusif tanpa mengabaikan
struktur sosial dan lingkungan hidup yang ada.

[23]

DAFTAR PUSTAKA

Atrayee Ghosh Roy and Hendrik F. Van den Berg, 2006. Foreign
Direct Investment and Economic Growth: A Time-Series
Approach, Global Economy Journal, 6(1), 1-19.

Aziz, Iwan Jaya, 1985. Pembangunan Daerah dan Aspek Alokasi
Investasi Antar Daerah, PRISMA, Edisi Mei 1985, Jakarta.

Bhandari, Rabindra, Dharmendra Dhakal, Gyan Pradhan, and Kamal
Upadhyaya, 2007. Foreign Aid, FDI and Economic Growth in
East European Countries. Economics Bulletin, 6(13),1-9.

Barro, Robert J., and Xavier Sala-i-Martin. 1995. Economic Growth.
McGraw-Hill Inc., New York,

Barro, R. J, 1996. Determinant of Economic Growth; A Cross Country
Emperical Study. NBER Working Paper 5698

Bank Indonesia, 2004, Data Makro Ekonomi dan Statistik, Laporan
Triwulanan, Bank

Blomstrom, Magnus, Robert E. Lipsey, and Mano Zejan 1993. Is
Fixed Investment the Key to Economic Growth?, National
Bureau of Economic Research working paper no. 4436.

Blomström Magnus and Ari Kokko, 2003. The Economics of Foreign
Direct Investment Incentives. NBER, Working Paper 168.

Carkovic, Maria and Ross Levine. 2022. Does Foreign Direct
Investment Accelerate Economic Growth?, Working Paper,
University of Minnesota.

Cline, W.R and R. Dornbusch, 1986. International Debt Problems.
International Trade and Finance, Little Brown Company,
Toronto Boston.

Corden, W.M. 1990. Macroeconomic Policy and Growth: Some
Lesson of Experience. Proceeding of the World Bank Annual
Converence on Developing Economic. World Bank

Delaly Accolley, 2001.The Determinants and Impacts of Foreign
Direct Investment. Economics Dissertation London
Metropolitan University

[24]

Deperindag, 2004. Perkembangan Ekonomi Indonesia. Departemen
Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, Jakarta

Dickkey, D. A dan W.A.Fuller 1981. Likelihood Ratio Statistiks for
autoregressive Time Series with a Unit Root . Econometrica,
49(4) 1057-1072.

Domowitz, I and L. Elbadawi, 1987. An Error Correction Approach to
Money Demand : The case For Sudan. Journal Of
Development Economics, 5(2), 257-275

Dornbusch, R, 1990. Policies to Move From Stabilization to
Growth. Proceeding of the World Bank Annual Conference on
Development Economic. World Bank Economic Development
and Cultural Change. Worth Publisher, United States of
Amerika.

Granger, C.W.J and Newbold, Paul, 2002. Forecasting Economic
Time Series. .Academic Press, New York San Francisco
London.

Granger C. W. J. 1986. Development in the Studies of Cointegrated
Economics Variabels. Oxford Bulletin of Econometrics and
Statistiks.

Haryadi ,2005, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia : Pengaruh Internal
dan Eksternal serta Prospek 2005 , Institut Pertanian Bogor

Hill, Hal. 1996. Indonesian Economy since 1966: Shoutheast Asian
Emerging Giant. Cambridge University Press,Hong Kong

Holland, D and Pain, N 1999. The Diffusion of Innovations in Central
and Eastern Europe: A Study of the Determinants and the
Impacts of Foreign Direct Investment. National Institute of
Economic and Social Research, London,

Insukindro, 2003. Ekonometrika Dasar. Terbitan BI dan Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Kubo, Yuji and Lee Yong-Sun, 1995. A Model of Endogeneous
Growth with a Trade off between Investment in Phisycal and
Human Capital” Asian Economic Journal. 9(2), 137-152

Kuznet, Simon .1955. Economic Growth and Income Inequality. The
American Economic Review, XLV(1). 2-10.

[25]

Landau, D. 1986. Governemnt and Economic Growth in the Less
Developed Countries. AN Empirical Study 1960-
1980. Economic Development and Cultural Change. 35(1) 35-
75.

Li Gang liu and Edward Graham, 1998. The Relationship between
Trade and Foreign Investment : Emperical result for Taiwan
and South Korea. Oxford University Press, USA.

Lipsey, R E., 2000. Interpreting Developed Countries‟ Foreign Direct
Investment. Working Paper 7810, National Bureau of
Economic Research, Cambridge, Massachusetts.

Lipsey, R., 2000. Interprecting Developed Countries Foriegn Direct
Investment. Nber Working Paper 7810

--------- 2001. Foreign Direct Investment and the Operations of
Multinational firms: Concepts, History, and Data, Working
Paper 8665, National Bureau of Economic Research,
Cambridge, Massachusetts.

Mankiw, N.G., David Romer, and David Weil. 1992. A Contribution
to the Empirics of Economic Growth. Quarterly Journal of
Economics, 107(2), 407-437.

Mankiw, N. Gregory, David R., and David N. W. 1992. A
Contribution to the Empirics of Economic Growth, Journal of
Political Economy, 94(5) ,407-437.

Miguel D. Ramirez, and Nader N., 2003. Public Investment and
Economic Growth in Latin America: An Empirical
Test”. Review of Development Economics, 7(1),115-126

Obwona, Marios B., 2001. Determinants of FDI and their impact on
economic growth in Uganda. Economic Policy Research
Centre. 13(1), 46-81.

Papanek, and Gustav F. 1973. AID, Foreign Private Investment,
Savings and Growth in Developed Countries. Journal of
Political Economy, 81(1),120-130.

Panayotou, T,. 1998. Investments of Change: Motivating and
Financing Sustainable Development, Earthscan Publications,
London.

[26]

Rana, P.B, and J.M, Dowling 1988. Foreign Capital and Asia
Economic Growth, Asia Development Review. 8(1), 54-79..

----------1988. The Impact of Foreign Capital on Growth. The
Developing Economics, 26(1), 3-11.

Ramirez, A., G. Ranis, and F. Stewart. 1998. Economic Growth and
Human Capital . QEH Working Paper No. 18.

Robert S Pindyck and Rubinfeld D. L, 1991. Econometric Models and
Economic Forecasts. Third edition, McGraw Hill, New York

Romer, Paul M. 1986. Increasing Returns and Long–Run Growth.
Journal of Political Economy, 94(5), 1002-1037.

Schneider and Frey. 1986. Economic and Political Determinants of
Foreign Direct Investment in Developing Country. World
Development, 13, 161-175.

Solow, and Robert M. 1987. Growth Theory:An Exposition, Oxford
University Press,

Stoneman, C. 1975. Foreign capital and economic growth. World
Development, 3(1), 11-26

Theodore H. Moran. 1998. Foreign Direct Investment and
Development. Institute for International Economics,
Washington D. C.

Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi Di Dunia
Ketiga. Edisi Keenam (terjemahan oleh Burhanuddin
Abdullah dan Harris Munandar), Penerbit Erlangga, Jakarta.

Wooldrige, J.,1991. On The application of Robust regression-rooted
Diagnostic to Model of Conditional Means and Conditional
Variables. Journal of Econometrics, 47(1), 5-46.

[27]

[28]

BAB II Bahaya Penggunaan Merkuri Oleh
Penambangan Emas Tanpa Ijin
(Peti) Dan Peluang Minimisasi
Dampaknya: Studi Kasus Tambang
Emas Di Pulau Buru, Provinsi
Maluku

Yusthinus Thobias Male1, Amanda Reichelt-Brushett2
1Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences,

Pattimura University, Ambon, Indonesia.
2Marine Ecology Research Centre, School of Environment, Science and

Engineering, Southern Cross University, Lismore NSW, Australia

PENDAHULUAN

Tingginya permintaan emas dunia dalam memenuhi
berbagai kebutuhan manusia membuat harga emas menjadi
mahal sehingga pencarian terhadap cadangan emas terus
dilakukan. Banyaknya cadangan emas yang ditemukan awalnya
dikelola secara tradisional oleh masyarakat yang disebut Wilayah
Pertambangan Rakyat (WPR) atau Penambangan Emas Tanpa Ijin
(PETI). Proses pengolahan emas umumnya dilakukan menggunakan
metode sianidasi dan metode amalgamasi. Pada metode sianidasi
prosesnya memerlukan teknik dan ilmu yang tidak relatif sederhana
dibandingkan metode amalgamasi, sehingga umumnya pada WPR,
proses pengolahan dilakukan menggunakan metode amalgamasi.
Metode amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara
men-campurkan bijih emas dengan merkuri (Hg) (Sudarsono, 2003).
Penggunaan metode amalgamasi berdampak terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia melalui akumulasi logam merkuri di
lingkungan. Penambangan emas secara tradisional umumnya dilakukan
di daerah Asia, Afrika dan Amerika Latin misalnya di Mindanao,

[29]

Filipina (Appleton, dkk., 1999), Colombia (Cordy, dkk., 2011), Chili
(Higueras dkk., 2005); Sub-sahara, Africa (Childs, 2008); Zimbabwe
(Metcalf and Veiga, 2012). Masalah yang sama juga terjadi pada
beberapa WPR di Indonesia seperti, di Sulawesi Utara (Kambey dkk.,
2001), Palu-Sulawesi Tengah (Mirda, dkk., 2013).

Cadangan emas di Gunung Botak, Kecamatan Wae Apo, Pulau
Buru, tanpa sengaja ditemukan tahun 2011 (Male dkk., 2013). Sejak
saat itu ribuan penambang ilegal (PETI) menggunakan metode
amalgamasi dan sianidasi untuk mengekstrak emas di daerah Gunung
Botak dan Gogrea, Pulau Buru (Gambar 2. 1). Limbah yang dihasilkan
dibuang ke lingkungan secara langsung tanpa proses pengolahan
sehingga sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Tanpa ada
upaya untuk mengurangi dan menghilangkan pemakaian merkuri dan
sianida, penduduk di daerah sekitar pertambangan terancam
kesehatannya. Mengingat sifat merkuri yang berbahaya maka
penyebaran logam ini perlu diawasi agar penanggulangannya dapat
dilakukan sedini mungkin secara terpadu.

Banyak penambang skala kecil yang terlibat dalam proses
ekstraksi emas dari bijih (ore) menggunakan merkuri. Teknologi
amalgamasi dengan merkuri tidak membutuhkan keterampilan khusus,
bahan baku mudah diperoleh secara ilegal dan ekstraksi bijih emas
dapat dilakukan dalam jumlah besar sehingga secara ekonomis dapat
meningkatkan kehidupan para penambang (Spiegel, dkk., 2006). Emisi
merkuri yang signifikan menghasilkan sejumlah masalah yang
berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan (Veiga, dkk., 2004).
Karena kurangnya pengetahuan dan alternatif pengolahan emas, ribuan
penambang dan masyarakat mengalami berpotensi terkontaminasi
limbah B3 (Swain, dkk., 2007). Gambar 2. 2 memperlihatkan situasi
Gunung Botak yang dipenuhi tenda-tenda penambang emas tanpa ijin
(PETI).

[30]

Gambar 2. 1 Peta Pulau Buru dan lokasi penambangan emas (Male
dkk., 2013).

Gambar 2. 2 Ribuan tenda penambang memenuhi Gunung Botak (Dok.
Pribadi).

Limbah merkuri akan terdistribusi ke sampai ke laut melalui aliran
sungai (Sungai Wae Apu, Sungai Waelata dan Sungai Anahoni). Sungai
Waeapo digunakan untuk mengairi ribuan hektar sawah yang dijadikan
lumbung pangan nasional. Sungai-sungai yang telah tercemari merkuri
mengalir melalui beberapa desa/kampung sepanjang bantaran sungai

[31]

dan bermuara di Teluk Kaiely. Pesisir Teluk Kaiely ditumbuhi beragam
mangrove dengan kerapatan sangat tinggi. Ekosistem mangrove sangat
ideal sebagai tempat memijah (spawn) berbagai biota laut (ikan, udang,
kerang, cumi dsb) juga dijadikan pusat budidaya rumput laut (sea
grass). Teluk Kaiely terhubung dengan Laut Banda, yang merupakan
pusat pemijahan (spawning) dari berbagai jenis tuna dari seluruh dunia.
Wilayah Maluku juga akan ditetapkan sebagai Lumbung Ikan Nasional.
Tidak terbayangkan potensi pencemaran merkuri pada lingkungan
maupun toksisitasnya terhadap manusia melalui rantai makanan (padi,
hortikultura dan biota laut).

TEKNIK PEMURNIAN ATAU EKSTRAKSI
LOGAM EMAS

Proses ekstraksi logam dari bijihnya sampai saat ini dapat
dilakukan dengan menggunakan metode metalurgi. Metode metalurgi
terbagi menjadi tiga teknik pemisahan, yaitu pirometalurgi,
hidrometalurgi, dan elektrometalurgi. Proses pemisahan dengan
metode pirometalurgi membutuhkan waktu yang relatif singkat, namun
harus dilakukan pada suhu tinggi yang bisa mencapai 2000°C. Biasanya
bahan bakar yang digunakan untuk proses ini berupa logam cair dan
garam leleh. Yang paling penting jika menggunakan teknik
pirometalurgi untuk memisahkan logam seperti emas, yaitu harus
dilakukan pada bijih emas dengan kadar yang tinggi. Jika dilakukan
pada bijih emas yang berkadar rendah maka penggunaan teknik ini
tidak efektif dan efisien. Hidrometalurgi merupakan teknik pemisahan
yang menggunakan larutan atau reagen kimia untuk menangkap atau
melarutkan logamnya. Teknik ini dapat diterapkan untuk memisahkan
logam emas dari bijih emas yang berkadar rendah. Hidrometalurgi
dilakukan karena semakin sulitnya ditemukan bijih emas kadar tinggi,
disamping itu bertujuan untuk mengurangi polusi dari proses
pirometalurgi (Habashi, 1997). Teknik lain, yaitu dengan
elektrometalurgi yang memanfaatkan teknik elektrokimia (elektrolisis)

[32]

untuk memperoleh logamnya. Untuk skala besar teknik ini tidak efisien
karena membutuhkan energi listrik yang sangat besar.

Sampai saat ini metode pemisahan yang paling sering digunakan
adalah metode hidrometalurgi (metode ekstraksi pelarut) karena
efektifitas dan efisiensinya dibandingkan metode pemisahan yang lain.
Di antara beberapa metode isolasi logam-logam yang mempunyai nilai
ekonomis, metode ekstraksi pelarut adalah suatu metode yang telah
banyak aplikasinya di dalam bidang industri. Teknik ini umumnya
diaplikasikan pada bijih emas berkadar rendah (Habashi, 1997).
Beberapa keuntungan dari metode hidrometalurgi, yaitu bijih tidak
harus dipekatkan melainkan cukup dihancurkan menjadi bagian yang
lebih kecil. Pemakaian kokas dalam jumlah besar untuk pemanggangan
bijih dapat dihilangkan, polusi atmosfer dapat dihindarkan, suhu
prosesnya relatif lebih rendah, reagen yang digunakan relatif murah dan
mudah didapatkan, produk yang dihasilkan mempunyai kemurnian
tinggi, dan masih banyak kelebihan-kelebihan lain dibandingkan
dengan teknik pemisahan yang lain.

Proses amalgamasi mempunyai resiko terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan sianidasi khususnya
limbah merkuri baik dalam bentuk cair maupun gas. Senyawa merkuri
relatif lebih sulit untuk dihancurkan dibandingkan dengan senyawa
sianida. Senyawa sianida relatif mudah dihancurkan dengan cara
pemanasan di bawah sinar matahari (sinar ultraviolet) atau dioksidasi
oleh oksidator kuat seperti hidrogen peroksida, gas klor, atau gas
belerang dioksida. Lain halnya dengan sianida, senyawa merkuri, lebih
sulit untuk dihancurkan karena itu merkuri di dalam tailing harus
diisolasi agar tidak menyebar ke lingkungan.

Mengingat sifatnya yang tidak dapat dihancurkan maka
perusahaan pertambanga biasanya tidak memilih merkuri sebagai media
penangkap logam emas, tetapi memilih senyawa sianida untuk proses
pengolahan bijih emas. Proses pengolahan bijih emas menggunakan
senyawa sianida memerlukan teknologi yang relatif tidak sederhana
serta memerlukan latar belakang pendidikan yang memadai
dibandingkan dengan pengolahan dengan merkuri yang relatif lebih
sederhana, akibatnya para penambang rakyat lebih memilih pengolahan

[33]

dengan merkuri dengan resiko dampak negatif yang lebih besar, dan
usaha pengelolaan tailing yang lebih besar pula (Sudarsono, 2003).

Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara
mencampur bijih emas dengan merkuri (air raksa). Produk yang
terbentuk adalah ikatan antara emas-perak dan merkuri yang dikenal
sebagai amalgam (AuHg2, Au2Hg, Au3Hg). Merkuri tidak membentuk
amalgam dengan silika dan mineral-mineral pengotor lainnya seperti
pirit sehingga mineral-mineral pengotor tersebut dapat dipisahkan
sebagai residu yang masuk ke dalam tailing Sebelum dilakukan proses
amalgamasi, perlu dilakukan proses pra-pengolahan agar proses
amalgamasi dapat berlangsung dengan efisien.

Proses pra-pengolahan meliputi tahap penghilangan partikel halus
berupa lumpur (desliming), dan penggerusan (grinding). Pembuangan
slime ini bertujuan untuk mengurangi jumlah material tidak berharga
yang ikut masuk dalam proses amalgamasi. Terhadap bijih (dari tempat

penyimpanan sementara) dilakukan desliming untuk menghilangkan
slime yang menempel pada permukaan bijih setelah dilakukan

penggerusan. Slime kemudian dibuang ke kolam pengendapan yang
digunakan untuk penampungan tailing hasil amalgamasi (Gambar 2. 3).

Proses pengerusan (grinding) dan amalgamasi dilakukan di dalam
suatu drum amalgamator yang biasa disebut gelendung. Untuk proses
penggerusan, gelendung diputar selama kurang lebih 6 jam. Pada tahap

ini, ke dalam gelendung dimasukkan bahan-bahan sebagai berikut:
bijih, air secukupnya sehingga diperoleh persen solid 40-50%, bahan
pengatur pH, batang penggerus (rod).

Ukuran butir bijih yang masuk ke unit penggerusan seyogyanya
berukuran lebih kecil dari 1,5 cm, karena itu harus dilakukan preparasi,
yaitu peremukan dan pengayakan, sebagaimana yang dilakukan pada
proses preparasi bijih dalam skala industri. Hal ini harus dilakukan agar
proses penggerusan di dalam gelendung berlangsung tidak terlalu lama
selain batang penggerus dan gelendungnya sendiri tidak cepat rusak
(Sudarsono, 2003).

Setelah penggerusan selesai, batang-batang penggerus dikeluarkan
dan lumpur-lumpur halus yang terapung dibuang. Proses berikutnya
adalah amalgamasi yang dilakukan di dalam gelendung yang sama

[34]

sesudah batang-batang penggerus dikeluarkan dan proses desliming
selesai. Merkuri ditambahkan ke dalam gelendung sebanyak ± 0,1%
dari berat total bijih yang diolah. Pemutaran gelendung untuk proses
amalgamasi ini dilakukan selama ± 2 jam. Setelah pemutaran
gelendung selesai, gelendung dibuka dan semua isinya dikeluarkan.
Akan diperoleh dua produk, yaitu amalgam basah dan tailing.
Amalgam basah ditampung di dalam baskom yang selanjutnya didulang
untuk pemisahan merkuri dan amalgam.

Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan ini
kemudian dilakukan pemerasan (squeezing) dengan menggunakan kain
parasut untuk memisahkan merkuri dari amalgam (filtrasi). Merkuri
yang diperoleh dapat dipakai kembali pada proses amalgamasi
selanjutnya. Produk dari kegiatan ini berupa amalgam kering yang
banyak mengandung emas dan siap untuk dilakukan retorting dan
peleburan. Tailing dari proses amalgamasi yang dianggap masih banyak
mengandung emas dilewatkan pada bak pengendap.

Tailing yang ditampung ini kemudian diamalgamasi lagi di dalam
gelendung selama ± 2 jam. Tailing akhir dari proses amalgamasi ini
selanjutnya dibuang ke tempat penampungan akhir. Gambar salah satu
unit tromol yang digunakan untuk proses amalgamasi di daerah Gunung
Botak ditampilkan pada Gambar 2. 4. Setelah diperoleh amalgam
kering, proses berikutnya adalah retorting. Tujuan proses retorting
adalah memisahkan merkuri yang berikatan dengan emas-perak dalam
amalgam. Amalgam kering dimasukkan ke dalam retort dan dipanaskan
pada temperatur 300-400°C. Pada temperatur ini diharapkan sebagian
besar merkuri sudah menguap.

[35]

Gambar 2. 3 Diagram alir proses amalgamasi (Sudarsono, 2003).
Pada prinsipnya retort merupakan tempat untuk memanaskan

amalgam dan harus dilengkapi dengan instalasi untuk mengembunkan
kembali uap merkuri (destilasi). Air pendingin dialirkan ke dalam
tabung pendingin dari atas ke bawah. Di dalam tabung pendingin uap
merkuri akan menjadi cair kembali lalu mengalir ke bawah ke
penampungan merkuri. Merkuri harus disimpan di dalam air, agar tidak
menguap.

[36]

Gambar 2. 4 Salah satu unit tromol (gelundung) di area Gunung Botak
(Dok. Pribadi).

Produk proses retorting adalah residu yang terdiri dari campuran
emas, perak, sebagian kecil logam-logam pengotor dan merkuri sisa.
Residu ini selanjutnya dilebur, sedangkan merkuri dapat dipakai
kembali untuk proses amalgamasi. Merkuri yang tersisa harus
diupayakan seminimal mungkin, karena saat dilakukan peleburan, sisa
merkuri ini akan mengotori udara. Tahap peleburan merupakan tahap
terakhir pengolahan emas menjadi produk akhir, yaitu bullion.
Peleburan harus dilakukan di dalam ruang tertutup agar uap merkuri
tidak tersebar ke udara bebas (Sudarsono, 2003).

MERKURI (Hg)

Merkuri ditulis dengan simbol kimia Hg atau hydragyrum yang
berarti perak cair (liquid silver) adalah jenis logam berat yang
berbentuk cair pada temperatur kamar, berwarna putih-keperakan,
memiliki sifat konduktor listrik yang cukup baik, tetapi sebaliknya
memiliki sifat konduktor panas yang kurang baik. Merkuri membeku
pada temperatur -38.9°C dan mendidih pada temperatur 357°C
(Stwertka, 1998).

Kelimpahan Hg di bumi menempati urutan ke-67 di antara unsur
lainnya pada kerak bumi. Merkuri jarang didapatkan dalam bentuk

[37]

bebas di alam, tetapi berupa bijih cinnabar atau dalam bahasa Indonesia
disebut sinabar (HgS). Untuk mendapatkan Hg dari sinabar, dilakukan
pemanasan bijih sinabar di udara sehingga menghasilkan logam Hg
(Widowati, dkk., 2008). Hg mudah membentuk alloy (amalgam)
dengan logam lainnya, seperti emas (Au), perak (Ag), platinum (Pt),
dan timah (Sn). Garam merkuri yang penting antara lain HgCl2 yang
bersifat sangat toksik. HgCl2 digunakan dalam bidang kesehatan,
Hg(ONC)2 digunakan sebagai bahan detonator yang eksplosif,
sedangkan HgS digunakan sebagai pigmen cat berwarna merah terang
dan bahan antiseptik (Widowati, dkk., 2008). Air raksa dalam kondisi
temperatur kamar berbentuk zat cair, bila terjadi kontak dengan logam
emas akan membentuk larutan padat.

Hg adalah unsur yang sangat beracun karena sifat akumulatif
secara terus-menerus ke lingkungan dan biota. Toksisitas selalu
tergantung pada bentuk kimia. Senyawa Hg organik, seperti metil
merkuri (CH3-Hg), larut dalam air dan memiliki kemampuan
bioakumulasi yang kuat ke dalam rantai makanan. Secara umum Hg
Organik lebih beracun untuk organisme daripada bentuk anorganiknya.
Namun dalam kondisi tertentu, bentuk anorganik dapat diubah menjadi
bentuk organik dan menjadi perhatian utama mengenai Hg adalah
konversi dari Hg anorganik menjadi metil merkuri. Kasus keracunan
Hg terhadap manusia yang paling akut dan kronis, yaitu penyakit
Minamata. Hg adalah logam beracun, dan sedimen dianggap jalur
utama untuk Hg di lingkungan perairan. Umumnya Hg anorganik [Hg
(II)] merupakan spesies Hg dominan dalam sedimen (Hammerschmidt,
dkk., 2004).

Hg merupakan unsur beracun yang dapat menyebabkan kerusakan
sistem saraf pada manusia. Metil merkuri (CH3Hg) merupakan bentuk
yang paling beracun, organ target yang diserang adalah otak, terutama
pada tahap awal perkembangan, ketika otak sangat rentan karena
kemampuan metil merkuri dengan mudah melintasi menembus
plasenta. Metil merkuri (CH3Hg) dapat mempengaruhi perkembangan
otak, terutama pada janin dan anak-anak (Clarkson, 2002). Oleh karena
itu, merkuri telah digolongkan sebagai salah satu dari dua belas bahan

[38]

kimia berbahaya besar bagi kesehatan anak-anak oleh World Health
Organization (WHO, 2004).

Kemungkinan resiko ditentukan oleh paparan (exposure) bentuk
merkuri (beberapa bentuk yang lebih beracun daripada yang lain), dan
faktor-faktor geokimia dan ekologi yang mempengaruhi cara merkuri
bergerak dan berubah bentuk di lingkungan. Kehadiran senyawa Hg
yang berlebihan ke lingkungan baik dalam bentuk senyawa anorganik
ataupun organik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dalam
jangka panjang dan gangguan kesehatan (Kales dan Goldman, 2002).

Perubahan kondisi lingkungan, seperti: pH, potensial redoks, atau
adanya kelat organik dapat mengakibatkan remobilisasi logam dari
padat ke fase cair dan mendukung transformasi kontaminan menjadi
bentuk yang lebih bio-available atau beracun (Gleyzes, dkk., 2002).
Oleh karena itu, perlu untuk mengukur dan membedakan berbagai
bentuk logam dalam sedimen untuk memprediksi mobilitas, bio-
availbilitas dan potensi toksisitas logam.

Perpindahan suatu senyawa toksik melalui rantai makanan ke
suatu makhluk hidup disebut biomagnifikasi. Dengan demikian
perpindahan senyawa toksik dari biota air tingkat tropik rendah ke biota
air tingkat tropik lebih tinggi dalam lingkungan perairan dapat
digambarkan sebagai bio-magnifikasi. Paparan utama CH3Hg, yaitu
melalui konsumsi ikan, kerang dan mamalia laut (Sakamoto, dkk.,
2004). Insiden paling terkenal dari keracunan Hg pada manusia terjadi
di Teluk Minamata (Gambar 2. 5) dan Sungai Agano Jepang pada tahun
1960, dimana CH3Hg dan senyawa merkuri lainnya dibuang oleh
sebuah pabrik industri dalam jangka waktu yang lama. Konsumsi ikan
yang terkontaminasi Hg menghasilkan 2217 kasus-kasus keracunan Hg
pada tahun 1989. Penyakit ini kemudian disebut sebagai penyakit
Minamata (WHO, 1996).

[39]

Gambar 2. 5 Bayi terlahir cacat pada tragedi Minamata (Sumber: W.
Eugene Smith, Tomoko Uemura in Her Bath, Minamata, 1972).

Umumnya merkuri masuk ke perairan sungai dalam bentuk Hg
unsur (Hg0) dengan densitas yang tinggi. Merkuri akan tenggelam ke
dasar perairan atau terakumulasi di sedimen pada kedalaman 5-15 cm
di bawah permukaan sedimen. Merkuri unsur dapat berubah menjadi
merkuri organik oleh aktivitas bakteri, yaitu menjadi metil merkuri
(CH3Hg), yang memiliki sifat racun dan daya ikat yang sangat kuat
serta kelarutannya yang tinggi terutama dalam tubuh hewan air
misalnya ikan. Di laut, merkuri merupakan bahan kimia toksik yang
tidak dapat didegradasi secara alamiah sehingga akan mengganggu
kehidupan biota laut.

EFEK TOKSIK

Logam berat bersifat toksik karena tidak bisa dihancurkan (non-
degradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan sehingga
logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama
mengendap di dasar perairan dan membentuk senyawa kompleks
bersama bahan organik dan anorganik (Widowati, dkk., 2008).
Absorpsi metil merkuri di tubuh mencapai 95%. Kontaminasi Hg pada
manusia bisa terjadi melalui makanan, minuman, dan pernafasan, serta

[40]

kontak kulit. Paparan jalur kulit biasanya berupa senyawa HgCl2 atau
K2HgI4. Jumlah Hg yang diabsorpsi tergantung pada jalur masuknya,
lama paparan, dan bentuk senyawa merkuri. Apabila gas merkuri
terhirup, akan mengakibatkan penyakit bronkhitis. Sebagian besar
logam merkuri akan terakumulasi dalam ginjal, otak, hati, dan janin
(Widowati, dkk., 2008).

Keracunan akut oleh Hg bisa terjadi pada konsentrasi Hg uap
sebesar 0,5-1,2 mg/m3. Keracunan akut oleh Hg uap menunjukkan
gejala faringitis, sakit pada bagian perut, mual-mual dan muntah yang
disertai darah, dan shock. Apabila tidak segera diobati, akan berlanjut
dengan terjadinya pembengkakan kelenjar ludah, nefritis, dan hepatitis.
Keracunan akut karena terhirupnya uap Hg berkonsentrasi tinggi
menimpa pekerja dalam industri pengolahan logam Hg serta
penambangan emas (Klaassen, dkk., 1986). Merkuri akan diekskresikan
dari tubuh melalui usus, ginjal, kelenjar mamae, kelenjar saliva, dan
kelenjar sudoriferos. Sebagian besar diekskresikan melalui feses atau
urin. Perbandingan ekskresi lewat feses dan urin dipengaruhi oleh
besarnya dosis, cara paparan /pemberian, bentuk senyawa Hg, serta
spesies hewan. Ekskresi merkuri organik sebagian besar terjadi dengan
ekskresi feses daripada ekskresi urin. Eliminasi merkuri organik lebih
lambat dibandingkan merkuri anorganik (Bartik dan Piskac, 1981).

Senyawa merkuri anorganik, seperti Hg(NO3)2, HgCl2 dan HgO
akan diakumulasi pada berbagai organ hati, ginjal, dan otak. Senyawa
merkuri anorganik yang dapat diabsorpsi tubuh tidak lebih dari 2%,
sedangkan senyawa merkuri organik tubuh mampu menyerap 95%.
Sementara itu, uap merkuri bisa diabsorpsi sebesar 70-90% melalui
jalur pernafasan (Klaassen, dkk., 1986). Toksisitas kronis dari merkuri
anorganik meliputi gejala gangguan sistem syaraf, antara lain berupa
tremor, terasa pahit di mulut, gigi tidak kuat dan rontok, anemia,
albuminuria, dan gejala lain berupa kerusakan ginjal, serta kerusakan
mukosa usus (Widowati, dkk., 2008). Senyawa merkuri organik, seperti
metil merkuri (CH3Hg) dan alkil merkuri (C2H5Hg), banyak di-gunakan
sebagai bahan pestisida. Senyawa CH3Hg merupakan senyawa
penyebab keracunan merkuri. Lebih dari 95% metil merkuri terabsorpsi
dan ditransportasikan ke dalam sel darah merah yang diedarkan ke

[41]

seluruh jaringan tubuh dan hanya sejumlah kecil yang terakumulasi
dalam plasma protein. Metil merkuri pada umumnya terakumulasi
dalam sistem syaraf pusat dan ditemukan paling banyak pada bagian
kortek dan serebelum (Palar, 1994).

Gejala toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem syaraf
pusat berupa anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan mata
yang bisa mengakibatkan kebutaan, gangguan pendengaran, konvulsi,
paresis, koma, dan kematian (Widowati, dkk., 2008). Peristiwa
keracunan Hg di seluruh dunia yang terjadi pada tahun 1960-an
(Widowati, dkk., 2008) adalah :

1. Kasus di Minamata, Jepang, yang terjadi pada tahun 1955–1960,
mengakibatkan kematian 110 orang.

2. Kasus di Irak yang terjadi tahun 1961 mengakibatkan kematian 35
orang dan 321 orang cidera.

3. Kasus di Pakistan barat yang terjadi tahun 1963 mengakibatkan
kematian 4 orang dan 34 orang cidera.

4. Kasus di Guatemala yang terjadi tahun 1966 mengakibatkan
kematian 20 orang dan 45 orang cidera.

5. Kasus di Nigata, Jepang, yang terjadi tahun 1968 mengakibatkan
kematian 5 orang dan 25 orang cidera.

Kadar normal Hg di dalam berbagai jenis bahan pangan, tanah, dan
perairan, yaitu pada biji-bijian 1-20 ppb; berbagai jenis bahan pangan
mencapai 0,1 ppm; telur 0,004-0,007 ppb; sungai dan air laut 0,08-0,12
µg/L; air minum dan air tanah 0,01-0,07 µg/L; tanah 0,05 ppm; serta
udara 0,02 µg/m3. Kadar maksimum Hg yang diizinkan dan boleh
dikonsumsi pada berbagai jenis pangan secara umum 0,01 ppm; ikan
0,1 ppm, ikan laut 0,5 ppm; organ hewan potong 0,5 ppm; dan air
minum 0,001 ppm. Kadar Hg pada makanan ternak yang diizinkan
tidak boleh melebihi 0,1 ppm; konsentrasi tertinggi Hg pada
daerah/wilayah kerja sebesar 0,1 mg/m3, sedangkan uap Hg anorganik
dan Hg organik sebesar 0,01 mg/m3 (Widowati, dkk., 2008).

[42]


Click to View FlipBook Version