The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.sadali.7, 2020-12-22 09:49:36

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Isim-isim yang Majrur Halaman 187

Bab Isim-isim yang Majrur

Pengarang berkata: (Bab isim-isim yang dikhafadhkan/majrur: Isim majrur itu

ada tiga kelompok: Majrur dengan huruf, Majrur dengan idhafah, dan yang

mengikuti (tabi') pada isim majrur.
Adapun majrur dengan huruf yaitu: Isim dijarkan denganْ‫( ِمِن‬dari), ‫( إِلَى‬ke/kepada), ْ‫َعن‬
(dari), ‫( َعلَى‬di atas), ‫( ِفي‬di/pada), ّ‫( ر َب‬banyak sekali), ‫( اْلَباِء‬dengan), ِ‫( الْكَاف‬bagai/seperti),
‫( الَّلاِم‬bagi), dan dengan huruf qasam (sumpah) yaitu: ‫ الَْباُء‬,‫اْلوَاو‬, dan ‫( الَتّاُء‬demi), dan dengan
‫ م ْذ‬,ّ‫ُِوَاوِ ر َب‬dan ‫( منْ ُذ‬sejak).

Penjelasan: Dengan penelitian dan memperhatikan perkataan Arab, didapati bahwa

isim majrur itu ada tiga macam:

- Majrur dengan huruf jar

- Majrur dengan idhafah

- Majrur karena mengikuti apa yang sebelumnya (1)
Dan terkumpul ketiganya pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ِ‫( ﴿ بِسْمِ الَلّهِ ال َرّحْمَنِ ال َرّحِيْم‬dengan nama
Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang). Maka ِ‫ اِسْم‬: isim majrur dengan huruf
jar (‫)الَْباُء‬, lafadz aljalaalah : majrur dengan mudhaf, (‫ )ال َرّحْمَنِ ال َرّحِيْ ِم‬dua isim yang

mengikut/tabi' pada isim majrur sebelumnya karena kedua kata tersebut adalah

sifat/na'at dari lafdzhul Aljalaalah. Dan untuk jelasnya mengenai isim-isim majrur

kami sebutkan - dengan pertolongan Allah Ta’ala - sebagai berikut:

Pertama: Majrur dengan huruf jar (2)

Definisinya: Isim yang terletak setelah salah satu huruf jar.

Hukumnya: Jar dengan kasrah atau penggantinya.
Contoh: Firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫(﴿ ه َو اَلّ ِذ ْي َأنْزَ َل ِمنَ ال َسّمَآءِ مَآًء لَكُم‬3). Maka pada ayat yang mulia
kata (‫ )ال َسّمَآِء‬dijarkan dengan huruf jar (ْ‫ ) ِمن‬dan tanda jarnya adalah kasrah, dan dhamir
muttashil : ‫ الْكَاف‬pada (‫ )لَكُ ْم‬adalah isim majrur dengan huruf jar (‫ )الَّلام‬, namun karena ia

dhamir, padahal dhamir tidak berubah yakni mabniy maka dikatakan "fii mahalli jar"

(pada kedudukan/posisi jar).
__________________________

(1) Ini kelompok terakhir telah dijelaskan sebelumnya pada bab tawaabi'

(2) Dan pemilik "alfiyah" telah menggabungkannya (semua huruf jar pada baitnya):
‫َها َك حروْفَ الْجَ َِّر وَ ْهيَ مِنْ إَلى َحّتَى َخلَا حَاشَا َعدَا ِفي عَ ْن عََلى‬

Ambillah sebagai Huruf Jar yaitu : ْ‫( ِمن‬dari), ‫( إَلى‬ke/kepada), ‫( َحّتَى‬hingga), َ‫( خَلا‬kecuali), ‫حَاشَا‬
(kecuali), ‫( َعدَا‬kecuali), ‫( ِفي‬pada/di), ْ‫( عَن‬dari), ‫( عََلى‬di atas) ‫( م ْذ‬sejak), ُ‫( منْذ‬sejak), َ‫( ر ّب‬banyak
sekali), ‫( اّلَلام َكي‬supaya)‫ َواو‬,)ِ‫( ل‬demi),‫( َتَا‬demi),‫( َاْلكَاف‬seperti/bagai),‫( َاْلبَا‬demi),َ‫( ََلعَ ّل‬semoga),
‫( َمَتى‬bilamana/kapan)

(3) QS An-Nahl ayat 10.

Isim-isim yang Majrur Halaman 188

Makna huruf-huruf jar :

- Huruf (ْ‫) ِمن‬: di antara maknanya adalah ‘al-ibtida'’ (permulaan).
- Huruf (‫)إلَى‬: di antara maknanya adalah ‘intihaa’ (sampai/akhir).

Makna keduanya (ْ‫ مِن‬dan ‫ )إلَى‬terkumpul pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫سبْ ٰح َن اَلّ ِذ ۤيْ اَ ْس ٰرى ِبعَبْدِه‬
‫( ﴿ لَْيلًا ِّم َن الْ َمسْجِ ِد الْحَـ َراِم اِلَى الْمَسْجِدِ اْلَاقْصَا‬Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-

Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa) .(1) Yakni:

Dimulainya isra' (perjalanan) Muhammad (shalawat dan salam atasnya) dari Masjid

alharam dan akhir perjalanannya sampai ke Masjid al-aqsha.
- Huruf (‫) َع ْن‬: di antara maknanya ‘mujaawizah’ (penyelewengan/diluar batas), contoh

firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ وَ َمنْ َيّرْغَب َع ْن ِّمَلّةِ ِاْبرٰه َم‬dan orang yang membenci agama Ibrahim)

.(2) Yakni: meninggalkannya.
- Huruf (‫) َعَلى‬: Di antara maknanya adalah ‘isti'laa'’ (meninggikan/naik), contohnya

firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ َال َرّحْمٰن َعَلى الْعَ ْر ِش اسَْت ٰوى‬Yang Maha Pengasih, yang bersemayam

di atas 'Arsy) .(3) Yakni: Tinggi ke atas 'Arsy (4).
- Huruf (‫)فِي‬: di antara maknanya adalah ‘dzarfiyah’ (keterangan tempat), contohnya

firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ ِفْيهِمَا َفا ِكهٌَة َّونَ ْخلٌ َّورَّما ٌن‬di dalam kedua surga itu ada buah-buahan,

kurma, dan delima) (5). Yakni didalam dua surga ada buah-buahan, kurma dan

delima.
- Huruf (‫ )ر َّب‬di antara makna-maknanya adalah ‘littaqlil’ (sedikit/jarang), contohnya

perkataan mereka: ( ‫( ) ر َّب رَمْيٍَة مِ ْن غَْي ِر َراٍم‬terkadang ada orang yang memanah (tepat

sasaran) tetapi dia bukan seorang pemanah). Yakni: Terkadang ditemukan seorang

yang memanah mengenai sasaran tapi dia bukan ahli pemanah, namun ini sedikit

dan jarang.
- Huruf (ُ‫)الْبَاء‬: Di antara maknanya adalah ‘sababiyah’ (sebab), contohnya firman Allah

Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿ ُادْخُلوا اْلجَـَنَّة بِ َما كُْنت ْم َتعْ َمُل ْون‬masuklah ke dalam surga karena apa yang telah

kamu kerjakan) (6). Yakni: dengan sebab amalmu.
- Huruf (‫) الْكَاف‬: Diantara maknanya adalah ‘tasybih’ (penyerupaan), contohnya firman

Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ ُاوۤلْٰئِكَ َكاْلَاْن َعا ِم‬Mereka seperti hewan ternak) (7).
- Huruf (‫)الَلّام‬: di antara maknanya adalah ‘milku’ (kepemilikan), seperti firman Allah

Ta’ala: ﴾ ِ‫( ﴿ ا وَِللِٰه مْلك ال َسّ ٰموٰتِ َواْلَا ْرض‬dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi) (8).

Dan termasuk huruf jar juga adalah huruf-huruf qasam (huruf sumpah) yaitu ada

tiga: wawu, ba' dan ta'. Dinamakan huruf qasam karena ia masuk pada yang
disumpah dengannya, contohnya ucapanmu: ِ‫ َتالَلّه‬،ِ‫ بِالَلّه‬، ‫َو الَلِّه‬

__________________________

(1) QS al - Isra' ayat 1 (2) QS al-Baqarah ayat 130 (3) QS Thaha ayat 5

(4) Imam Bukhari berkata: Telah berkata mujahid ( ‫ ) اِ ْسَتوَى عَلَى اْل َع ْر ِش‬naik ke 'Arsy. [cukup] Ibnu Qayyim

menukil dari Ibnu Al-A'rabi - yaitu seorang imam besar di bidang bahasa - katanya: "Orang Arab
itu tidak mengenal kata istawa dengan makna istawla (menduduki)". Dilihat di kitab Al-Fath bab
13 halaman 496-500 dan kitab Mukhtashar ashshawa'iq halaman 320 serta percakapan orang
Arab.
(5) QS ar-Rahman (68) (6) QS an-Nahl (32) (7) QS al-A'raf (179) (8) QS Ali Imran (189)

Isim-isim yang Majrur Halaman 189

Huruf (‫ )وَاو ر َّب‬: contohnya perkataan seorang penyair (1).
‫ وَ َليْ ٍل َك َموْجِ الْبَحْ ِر أَرْ َخى سدوَْله‬... "Malam bagaikan gelombang samudera, yang menyelimutkan tirainya
padaku... " Yakni ٍ‫ ر َّب َلْيل‬, dihapus (ّ‫ )ر َب‬dan digantikan dengan wawu (‫ ) َو‬, maka dijarkan
sebagaimana halnya (ّ‫ )ر َب‬menjarkan, ini berdasarkan perkataan Pengarang sebagai kebiasaan
orang-orang Kuffah, dan benar bahwa khafadh/jar dengan (ّ‫ )ر َب‬yang dihapus, bukan dengan

wawu. (2)
Huruf ْ‫ مذ‬dan ُ‫ منْذ‬: Keduanya mengkhafadhkan/menjarkan isim zaman, contoh: ‫َما‬

‫( َرأَيْته منْذُ يَ ْوِمنًا‬Saya tidak melihatnya semenjak hari ini), contoh: ‫( مَا َرَأْيته مذْ َي ْومِ الْجمعَِة‬Saya tidak
melihatnya sejak hari Jum'at), dan kedua lafadz ( ْ‫ مذ‬dan ُ‫ )منْذ‬ini bermakna (‫فِي‬/di) jika terjadinya
pada waktu sekarang sebagaimana pada contoh yang pertama, dan bermakna (ْ‫مِن‬/dari) jika

terjadi pada waktu yang telah lewat sebagaimana pada contoh kedua. *
__________________________

(1) Bait syair Umrul qois, selanjutnya berbunyi : "saya di rundung banyak kesedihan sebagai ujian". Segi
pendalilan dari bait ini : (‫ )وَ َليْ ٍل‬, yaitu isimnya keadaan jar dengan wawu (ّ‫ ) َواو ر َب‬sebagaimana

perkataan Pengarang.

(2) Wawu adalah huruf athaf, Dilihat di kitab mughni labib hal 473.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Huruf ba dalam bahasa arab mempunyai makna yang banyak, diantaranya : mushohabah (bersama)

dan permintaan tolong, sababiyah (sebab) dan muqabalah (berkumpul)....

Huruf ba' dalam firman Allah ﴾ ‫ ﴿ بِ ْسمِ الَّلهِ ال َّر ْحمَا ِن ال َرّ ِحي ِم‬lil-isti'anah (untuk meminta tolong), dan imam

Azzamakhsyari merajihkan makna huruf ba (dalam bismillah) hanya untuk menunjukkan bersama/

berbarengan; karena orang mu'tazilah berpandangan bahwa manusia beramal sendiri dan tidak

butuh bantuan. Dilihat di muqoddimah kitab Syarah Baiquniyah milik Syaikh 'Utsaimin

rahimahullah.

Dan huruf ba' dalam firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ ادْخلُوا اْل َجَنُّة ِبمَا ُكنْت ْم َت ْعمَلُ ْو َن‬masuklah ke dalam surga karena

apa yang telah kamu kerjakan). Makna huruf ba untuk sababiyah (penyebab) dan bukan

lilmuqabalah (berkumpul) atau iwadl (pengganti/imbalan). Berkata Imam Ibnu Qoyyim

rahimahullahu : huruf ba dalam ayat ini sebagai bantahan terhadap golongan qodariyah dan

jabariyah - cukup - ref. Madariju Assalikin bab 1 hal 156
2. Terdapat surat-surat yang dimulai dengan wawu qosam , misalnya : ( ، ‫ َو الَّليْ ِل‬، ِ‫ َو الْ َف ْجر‬، ‫ َو اْلمرْسََلا ِت‬، ‫ َو الَّنجْ ِم‬...

dan lain-lain ), dan dia adalah sumpah dari Allah bagi makhluk-Nya.

3. Tidak ada dalam Al Qur'an (ّ‫ )ر َب‬sendirian akan tetapi lafadz ‫ ر َّب‬digandeng dengan (‫ )ما) >> (رَّب َما‬dan

seperti dalam firman Allah : ﴾ َ‫( ﴿ رَبمَا َي َو ُّد ٱَّل ِذيْنَ كََفر ْوا َل ْو َكانواْ مسِْل ِمْين‬Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di

akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang muslim). dan ini takhfif

(meringankan) secara bahasa dan itu di dalam ayat sangat banyak. Al Mughni hal. 148
4. Lafadz ‫ مذ‬dan ‫منذ‬: adalah huruf jar jika datang setelah keduanya isim majrur dan dzaraf zaman jika

datang sesudah keduanya fi'il atau isim marfu'. Dan ‫ مذ‬dan ‫ منذ‬tidak terdapat dalam Al Qur'an.

5. Ketahuilah bahwa jar majrur keduanya harus berkaitan yaitu kata yang menghubungkannya dari

sisi makna. Dan keduanya berhubungan dengan fi’il atau apa2 yang beramal sebagai fi'il. Apabila
anda katakan : ‫( َكتَْبت بِالقََل ِم‬Saya menulis dengan pena), maka perkataanmu ‫ ِبِالْقََلم‬adalah jar majrur yang
berhubungan dengan fi’il yaitu َ‫ َكَتب‬karena tulisan hanyalah dengan pena.

6. Jika setelah jar dan majrur diletakkan isim marfu', maka jar dan majrur berhubungan dengan khabar

muqoddam yang dihapus dan isim marfu' menjadi mubtada' muakhor, begini kebanyakannya,

contoh firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫﴿ لَِّلِه ٱلَأ ْمر‬

Isim-isim yang Majrur Halaman 193

Yang kedua : Majrur dengan Idhafah :

Telah berkata al-mushannif sang Pengarang: Dan adapun yang

dikhafadhkan/dijarkan dengan idhafah yaitu seperti ucapanmu : ٍ‫ ُغلَام زَيْد‬budaknya

Zaid. Bagian ini dibedakan menjadi dua jenis : yang dikira dengan lam (peruntukan),
dan yang dikira dengan ‫( مِ ْن‬dari, sumber). Maka yang dikira dengan lam contohnya :
ٍ‫( ُغلَام زَيْد‬budaknya Zaid), dan yang dikira dengan ْ‫ مِن‬contohnya : ‫( َث ْوب َخ ٍّز‬baju dari sutra),
ٍ‫( َباب َساج‬pintu dari kayu), dan ٍ‫( َخاتَم حَدِيْد‬cincin dari besi).

Penjelasan : Setelah al- mushannif menyelesaikan pembahasan isim yang

dikhafadhkan dengan huruf jar, beliau memulai pembahasan mengawali

pembahasan isim yang dikhafadhkan dengan idhafah. (1)

Idhafah :

Definisinya : Idhafah adalah nisbah (keterkaitan) diantara dua isim atas perkiraan

huruf jar, yang menjadikan isim kedua wajib jar selamanya. (2)

» «Contohnya : sabda Nabi ‫ﷺ‬: ِ‫( ال ُّطه ْور َش ْطر الِإيمَان‬kebersihan itu sebagian dari iman). (3)

I'rab nya : ‫ ال ُّطه ْور‬: mubtada', ‫ شَ ْطر‬: khabarnya dan ia mudhaf, dan ‫ الِإيمَا ِن‬: mudhaf ilaih

majrur.
Maka kedua kata (‫ ) َش ْطر الِإيمَا ِن‬adalah dua isim, dimana isim pertama yaitu kata (‫) َش ْطر‬
terhubung ke kata (ِ‫)الِإيمَان‬.

Kata yang pertama dinamakan mudhaf, dan kata yang kedua : mudhaf ilaih.

Maka didalam pemberian i'rabnya, isim yang pertama - mudhaf - menerima i'rab yaitu

: dii'rab sesuai dengan kedudukannya, sementara isim yang kedua : mudhaf ilaih,

maka dimajrurkan selamanya.

Bentuk idhafah ini dibedakan atas dua jenis :
1. Idhafah yang bertakdir lam, dan ini mayoritas. Contoh : ‫( هَذَا ُغلَام زَيْ ٍد‬ini budak Zaid)

(4), yang diartikan budak milik Zaid.
__________________________
(1) Jika anda berkata : ٍ‫( هَذَا ِكتَاب َزيْد‬ini buku Zaid), maka kata buku dihubungkan dengan kata

Zaid - yang berarti untuk (kepemilikan), dan jika anda berkata ٍ‫( هَذَا خَاتَم َح ِديْد‬ini cincin besi),

maka kata cincin dihubungkan dengan kata besi - yang berarti yang dibuat darinya.

Kedua isim ini dihubungkan antra yang awal dengan yang kedua, dan dikenal dalam

ilmu nahwu dengan nama _idhafah_.

(2) Dari kitab 'Jaami'u ad-Duruus' bab 3 halaman 549.

(3) Riwayat Muslim, dari al-Harits al-Asy'ari radhiyAllahu 'anhu.
(4) Kata ‫ هَذَا‬: ha untuk tanbih (perhatian), dan ‫ ذَا‬: isim isyarah, mabniy atas sukun didalam

kedudukan rafa' sebagai mubtada. ‫ غَُلام‬: khabar untuk mubtada, marfu', dan tanda
rafa'nya adalah dhammah, dan ia mudhaf. ٍ‫ زَيْد‬adalah mudhaf ilaih, majrur, dan tanda

jarnya adalah kasrah dzahir pada akhirannya.

Isim-isim yang Majrur Halaman 194

2. Idhafah yang bertakdir (‫)مِن‬/dari, yaitu idhafah yang mudhafnya termasuk
bagian dari mudhaf ilaih (1). Contoh : ‫( َثوْب َخ ٍّز‬baju sutera) dan ٍ‫( بَاب سَاج‬pintu kayu
jati) (2), dan ٍ‫( خَاتَم حَدِيْد‬cincin besi). Artinya : baju dari sutera; pintu dari kayu jati;

dan cincin dari besi.

Contoh-contoh idhafah di al-Qur'an al-Kariim:
Firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ ِإ َذا َجأَء َن ْصر اللهِ َو الفَتْح‬apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan), dan firman-Nya : ﴾ ٍ‫( ﴿ َتَّب ْت يَ َدأ َأِبى لَهَب‬binasalah kedua tangan Abu Lahab),
dan firman-Nya ﴾ ‫) صحفِ إِبْرٰهِيْمَ َو موْسَى‬١٨( ‫( ﴿ ِإ َّن هٰذَا لَفِى ال ُصّحفِ الُأولَى‬sesungguhnya ini terdapat

dalam kitab-kitab terdahulu (18) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.) *
__________________________
(1) Dan dibenarkan menjadikan khabarnya mudhaf dengan mudhaf ilaih, contoh: ‫خَاتَم َح ِديْ ٍد‬

(cincin besi), dan anda katakan padanya : ‫( الخاََتم حَدِْيد‬cincin itu besi).
(2) Sutera ّ‫ الخَ ُز‬adalah jenis sutera. Dan jati adalah jenis pohon.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1 - Perkataan Pengarang : (Apa yang dikhafadhkan/dijarkan dengan idhafah) merupakan

ungkapan bangsa Kuffah, mereka berpendapat bahwa 'amil dalam mudhaf' ilaih itu

idhafah, namun yang benar adalah pendapat Sibawayh dan jumhur (mayoritas ulama)

bahwa 'amal jar dalam mudhaf ilaihi adalah mudhaf bukan idhafah, maka dikatakan
dalam i' rab. Contoh : ، ٍ‫غُلَام َزْيد‬kata ‫ غُلَام‬: mudhaf dan ‫ زَيْ ٍد‬: mudhaf ilaihi majrur dengan

mudhaf, Dilihat di : Syarah Ibnu 'Aqil (3/43), Al Kawakib (2/457), Sabilul Huda dari Syarah

Qathru an-Nada hal. (352).
2 - Mudhaf tidak boleh bertanwin maka tidak dikatakan pada contoh : ‫ كِتَاب زَْي ٍد‬menjadi ٍ‫ِكَتاب َزيْد‬

dalam idhafah.
3 - Alif lam (‫ )ال‬tidak dimasukkan kedalam mudhaf, kecuali didalam kondisi-kondisi tertentu

yang diperlukan dalam meringkaskan.

4 - Jika terdapat mudhaf yang berupa mutsanna atau jamak mudzakkar salim, maka
dihapuskan nun untuk idhafah, contoh pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ٍ‫﴿ تََّبتْ يَدَأ أَِبى لَ َهب‬
(binasalah kedua tangan Abu Lahab), dan ﴾ ‫( ﴿ ِإَنّا م ْرسِلُ ْوا الَنّاَقِة‬sesungguhnya Kami

mengirimkan unta betina).

5 - Ketahuilah sesungguhnya idhafah adalah kekhasan isim-isim yang mu'rab, maka mudhaf

ilaih tidak datang setelah fi'il, dan tidak setelah huruf, dan tidak setelah isim mabniy

seperti : dhamir, isim isyarah, isim maushul, isim syarat, isim istifham (kata tanya); kecuali
(‫ )كم‬berupa khabar dan (‫ )اي‬maushul dalam beberapa kondisinya.

6 - Isim-isim yang datang setelah kata berikut maka akan menjadi mudhaf ilaih selamanya,
dan kata tersebut ialah : ‫ غَيْر‬dan ‫( ِسوًى‬selain), ‫ ِكلَا‬dan ‫( كِْلتَا‬keduanya), ‫( َبعْض‬bagian), ‫( كُل‬seluruh),
َ‫( سبْحَان‬Maha Suci), ‫ ذُ ْو‬dengan makna pemilik, dan setelah dzaraf makan/keterangan tempat

- yaitu isim "arah" yang enam - pada umumnya. Dilihat di : al-Kawakib bab 2 halaman 455-

456, dan al-Qawaid al-Asasiyah halaman 275

7 - Dhamir-dhamir yang terletak setelah isim menjadi didalam kedudukan jar sebagai
mudhaf ilaih selamanya, contoh : ‫ كِتَاِبي‬bukuku, ‫ ِكتَابه‬bukunya, ‫ ِكتَابنَا‬buku kami, .‫ ِكتَاب َك‬bukumu.

Isim Ghairu Munsharif Halaman 197

Isim Ghairu Munsharif

Isim mu'rab ditinjau dari penerimaannya pada tanwin atau tidaknya itu dibagi
dalam dua bagian :

1. Isim yang huruf akhirnya dapat menerima tanwin, seperti: ( ‫ زَيْ ٍد‬- ‫ َزيْدًا‬- ‫ ) زَيْد‬dan
dinamakan munsharif.

2. Isim yang huruf akhirnya tidak menerima tanwin dan dinamakan mamnu'
minashsharf atau ismu laa yunsharif (isim ghairu munsharif) yaitu yang akan kita
rinci di sini - dengan pertolongan Allah Ta’ala - pada bab ini. (1)

IGM / Isim Ghairu Munsharif.
Definisi: yaitu isim mu'rab yang huruf akhirnya tidak menerima harakat kasrah
dan tidak juga tanwin.
Hukumnya: dirafa'kan dengan dhammah, dinashabkan dan dijarkan dengan
fathah. (2)
IGM/Isim ghairu munsharif ada dua macam:
• Pertama isim yang menjadi mamnu' minashshuruf disebabkan satu 'illat.
• Kedua isim yang menjadi mamnu' minashshuruf disebabkan dua 'illat.

Pertama: Isim yang menjadi IGM disebabkan satu 'illah, dibagi menjadi dua:
1. Isim yang disempurnakan dengan alif ta'nits: maqshurah, contohnya: (... - ‫لَْيَلى‬

‫ جَرْحَى‬- ‫)حْبلَى‬, atau mamdudah, contohnya: (‫ علَمَاَء‬- َ‫ بَيْضَاء‬- َ‫ َصحْ َراء‬...)
Jenis ini antara lain terbukti didalam al-Qur'an yang mulia, firman Allah Ta’ala:
﴾ ‫( ﴿ َلا تَ ْسَئُل ْوا عَ ْن أَ ْشَياَء‬janganlah kamu menanyakan beberapa hal). *
__________________________
(1) Pada asalnya isim itu munsharif (bertanwin dan dijarkan dengan kasrah), namun

terkadang ada isim yang tidak munsharif (ghairu munsharif), pada masalah ini para
nahwiyyun mendengar dari (percakapan) orang Arab, maka mereka menyebutkan
hukumnya dan pembagiannya, dan menjadikannya satu bab yang khusus yaitu "bab
mamnu' minashsharf".
(2) Berlawanan i'rabnya dengan jamak muannats salim yang dinashabkan dan dijarkan
dengan kasrah, maka ingatlah.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Terkadang alif ta'nits mamdudah terdapat pada isim yang mufradnya (tunggalnya)
mudzakkar, contoh: ُ‫( علْمَاء‬para 'alim), ُ‫( شعَرَاء‬para penyair), ‫( ح َك َماُء‬para hakim), ‫( أَصْدِقَاُء‬teman-
teman).

2. Alif ta'nits mamdudah tidak menghalangi dari perubahan isim kecuali sebagai alif zaidah
(tambahan). dan kaidahnya : Alif ta'nist mamdudah itu terletak setelah tiga huruf asli atau
lebih. Alif maqshurah dan alif mamdudah adalah wazan-wazan yang sudah dikenal
masyhur, yakni dipanjangkan. Dilihat di kitab Hasyiyah Yasiin 'ala alfaakih

Isim Ghairu Munsharif Halaman 198

2. Shighah muntahal jumu' (1): Yaitu semua jamak setelah alif jamak taksirnya
ada dua huruf, atau ada tiga huruf yang tengah sukun, seperti: (َ‫ َأ َسا ِور‬- jamak dari
‫ ِسوَار‬/gelang; َ‫ َمصَابِيْح‬- jamak dari ‫مِصَْباح‬/lampu/pelita;َ‫ َ َم َحا ِرْيب‬- jamak dari ‫ ِم ْح َراب‬/mihrab; ... ).
Jenis ini antara lain sebagaimana firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫﴿ َلقَدْ َن َصرَكُم اللُه ِفي َموَاطِ َن كَِثيرٍَة‬

(sesungguhnya Allah telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak)
(2), dan ﴾ َ‫( ﴿ وََلقَ ْد َزَّيَنّا ال َسّمَآءَ ال ُدّْنيَا ِبمَ ٰصبِيح‬sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia

dengan pelita-pelita) (3).

Kedua: Isim yang menjadi IGM disebabkan dua 'illah:

Baik isim 'alam maupun sifat:
 Isim 'alam: isim 'alam yang termasuk mamnu' minashshuruf ada enam

tempat:
1 - Muannats, contoh: [ ‫( حَ ْمزََة‬Hamzah); ‫( َمرْيَ َم‬Maryam); ‫( َعائِشََة‬Aisyah); ... ] (4).
2 - Nama 'Ajam (nama non Arab) yang tersusun lebih dari tiga huruf, contoh: [ َ‫ِإْبرَا ِهيْم‬

(Ibrahim); َ‫( إِ ْسحَاق‬Ishaq); ‫( يَعُْقو َب‬Ya'qub); ...] (5).
__________________________

(1) Yakni puncaknya, maka tidak dijamak dengan jamak taksir sekali lagi setelah bentuk

shighah ini - cukup - kitab Alhamidiy halaman 46.

(2) QS At-Taubah ayat 25

(3) QS Al-Mulk ayat 5

(4) Isim alam muannats ada tiga macam:
1. Muannats pada lafadz dan makna, contoh: َ‫( َفاطِمَة‬Fatimah); َ‫( َم َّكة‬Mekah).
2. Muannats lafadznya saja, contoh: ‫( حَمْزََة‬Hamzah); َ‫( َطْلحَة‬Thalhah). Keduanya muannats

pada lafadznya saja, karena keduanya diakhiri dengan salah satu tanda ta'nits yaitu

ta' marbuthah.
3. Muannats pada maknanya saja, contoh: َ‫( مَ ْريَم‬Maryam); َ‫( َزْينَب‬Zainab), karena tidak

adanya tanda ta'nits yang tiga (1) ta', (2) alif ta'nits mamdudah dan (3) alif ta'nits

maqshurah.

Isim 'alam muannats termasuk isim ghairu mnsharif kecuali nama Arab yang tersusun
dari tiga huruf yang tengah sukun, contoh: ‫( ِهنْد‬Hindun) maka boleh bertanwin dan

boleh tidak bertanwin.

(5) Ke'ajaman dari sebuah nama diindikasi dari beberapa hal, yaitu: keluar nama itu dari
susunan kata orang Arab, seperti: َ‫( إسْمَاعِيْل‬Ismail), di antaranya mengutip pendapat para

imam nahwu antara lain: "jika berkumpul padanya apa-apa yang tidak berkumpul
dalam percakapan orang Arab, seperti huruf jim dan shad, seperti َ‫ َصوَْل َجان‬, atau huruf jim
dan qaf, seperti َ‫مَنْجَنِيْق‬, atau jim dengan kaf, seperti َ‫ سكُ ُرّجَة‬dan semua nama para nabi
shalawat dan salam atas mereka, kecuali yang empat ‫( م َح َّم ًدا‬Muhammad); ‫( صَاِلحًا‬Saleh); ‫شَعْيبًا‬
(Syu'aib) dan ‫( هودًا‬Hud), termasuk munsharif ‫( نوْح‬Nuh) dan ٌ‫( لُ ْوط‬Luth) untuk meringankan
keduanya, dan digabung menjadi (‫”)ص ْن َشمْلَه‬.

Dilihat di: Al-Fakihi 'ala alqathri bab 2 halaman 267 dan Al-Kawakib bab 1 halaman 98.

Isim Ghairu Munsharif Halaman 199

3- Apabila lafadz merupakan susunan "mazjiy" (1) yang akhirnya tidak diimbuhi (ِ‫)وَيْه‬

(2), contohnya: ّ‫ َب ْعَلبَ َك‬/ba'labakka (3) ‫ َحضْ َر َم ْو َت‬/Hadhramaut (4) dan َ‫ َمعْدِيْ َك ِرب‬/Ma'dikariba (5)...

4- Apabila berakhiran alif dan nun zaidah (tambahan) (6), contoh: َ‫عثْمَان‬/Utsman,

‫مَ ْروَا َن‬/Marwan, َ‫عَدَْنان‬/'Adnan,...

5- Apabila berwazan fi'il, contoh: ‫أحْمَ َد‬/Ahmad, َ‫َيزِيْد‬/Yazid, َ‫تَ ْغِلب‬/Taghlib,... (7)

6- Apabila ma'dul, contohnya: ‫( عمَر‬Umar), َ‫( ز َحل‬Zuhal), ‫( هبَ َل‬Hubal),... (8)

Di antara bukti isim 'alam mamnu' minashshuruf dalam alqur'an yang mulia, firman-
NyaTa’ala: ﴾ ‫( ﴿ اَ ْل ٰقٮهَۤاْ ِاٰلى َم ْريَ َم‬Dia menyampaikannya kepada Maryam) (9), ﴾ ‫َوَاوْحَيَْنۤاْ ِا ٰلٔى‬
‫( ﴿ ِاْبرٰ ِهيْ َم‬dan Kami wahyukan kepada Ibrahim) .(10)

__________________________

(1) Ibnu Ya'isy berkata: Tarkib/susunan Mazjiy itu dibentuk dari dua isim menjadi satu isim...

Syarah almufashshil tulisan Ibnu Ya'isy bab 2 halaman 69.
Dinamakan Mazjiy karena ia menggabungkan (‫ )يَ ْمَت ِزج‬satu isim dengan isim lainnya setelah

digabung menjadi satu kata.
(2) Karena susunan mazjiy yang berakhiran (‫) َوْيِه‬, seperti (ِ‫) ِسْيَب َوْيه‬, keadaannya mabniy atas kasrah (ini

yang masyhur) dan boleh juga mamnu' minashshuruf; karena sima'i. Dilihat di kitab Al-Kawakib

bab 1 halaman 97)
(3) Yaqut al Hamawiy berkata: ّ‫بَعَْلَب َك‬/Ba'labakka adalah nama kota tua yang jaraknya dengan

Damaskus adalah tiga hari perjalanan. Nama itu adalah isim yang tersusun dari (ٌ‫ )َبعْل‬yaitu nama
satu berhala, dan (‫ )بَ َّك‬asalnya dari ‫ َب َكّ عن َقه‬yakni menghancurkannya; adapun

menisbatkan/menghubungkan berhala tersebut kepada bakka yaitu nama seorang lelaki, atau

yang menjadikan leher-lehernya hancur...cukup... Mu'jam albuldan bab 1 halaman 453.
(4) Hadramaut (َ‫ ) َح ْضرََموْت‬adalah nama satu kota yang termasyhur di Yaman yaitu isim 'alam yang

tersusun dari kata َ‫ َح َضر‬dan ‫َموْت‬
(5) Ma'dikariba (‫) َم ْع ِدي َك ِر َب‬: nama orang, yaitu isim 'alam yang tersusun dari ‫ َم ْعدِي‬dan َ‫ َكرِب‬. Dilihat di

kitab Al-Kawakib bab 1 halaman 97
Catatan: Sebagian dari para pemula salah mengharakati dengan (َ‫ ;) َم ْع ِدي ْك ِرب‬karena terpautnya ya'

dengan kaf kemudian mereka menambah huruf ya' dan berkata Ma'diyukriba

(6) Tambahan alif dan nun; sebelumnya ada tiga huruf asli atau lebih.
(7) Ibnu Ya'isy berkata: Wazan fi'il, contohnya: ‫( َي ِزْيد‬Yazid); ‫( َتغْلِب‬Taghlib); ‫( يَشْ ُكر‬Yasykur); ‫( ي ْع َمر‬Yu'mar),

jika diberi nama dengannya. Yang demikian ini mamnu' minashshuruf...cukup...Syarah

Almufashshil bab 1 halaman 96. Dan Ibnu 'Aqil berkata: Wazan yang dikhususkan untuk fi'il,
tidak didapati selainnya kecuali hanya sedikit. Yang demikian itu seperti ‫ فََعّ َل‬dan ‫ُفعِ َل‬, maka jika
seseorang dinamakan (‫ )ض ِر َب‬atau (‫ )كََّل َم‬maka ia termasuk isim ghairu munsharif... (bab 3 halaman

333)
(8) Makna ‫ الْ َعدْ ُل‬yang dihubungkan dengan isim 'alam ini adalah setiap yang berwazan (‫ )فَاعِل‬kemudian

berubah menjadi wazan ‫ ُف َع َل‬seperti ‫ ع َم َر‬alma'dul (berubah) dari ‫ ; عَاِمر‬dan (‫ )زحَ َل‬dari ٌ‫ َزاحِل‬. Para ahli
nahwu menemukan ada empat belas isim 'alam yang berwazan (‫)فُعَل‬. Orang-orang Arab

melafadzkannya sebagai ghairu munsharif, dan padanya hanya ada satu penghalang (satu 'illah),

mereka memperkirakannya adalah penghalang yang lain yang dikategorikan "alma'dul/dirubah"
dari ‫فَعِل‬. Dilihat di Al-Kawakib bab 1 halaman 94.

(9) QS An-Nisa ayat 171 (10) QS An-Nisa ayat 163

Isim Ghairu Munsharif Halaman 200

Kata Sifat: Kata sifat yang termasuk sebagai isim ghairu munsharif ada di tiga

tempat:
1. Yang mengikuti wazan fi'il (1), contoh: ‫( أَخْ َض َر‬hijau), َ‫( َأكْ َرم‬paling mulia), َ‫( أَحْسَن‬paling

baik), dll.
2. Yang berakhiran alif dan nun sebagai tambahan, contoh: َ‫( َعطْشَان‬haus), َ‫( َجوْعَان‬lapar),
َ‫( غَ ْضبَان‬marah), dll.
3. Berupa ma'dulah/yang berubah (2), contoh : ْ‫( َن َمث‬dua-dua), َ‫( ثُلاَث‬tiga-tiga), ‫( رَبا َع‬empat-

empat), dll.
Bukti keberadaan kata sifat sebagai isim ghairu munsharif, firman Allah Ta’ala : ﴾

‫( ﴿ فَ َح ُّيوا ِبأَ ْح َس َن ِم ْْنَأ‬maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya) (3).

Ketahuilah, jika isim ghairu munsharif di idhafah_kan atau dilekatkan Al kepadanya,

maka sesungguhnya ia kembali ke asalnya yaitu dijarkan dengan kasrah (4), contoh

pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ْ‫( ﴿ ي ْق ِو َت أ ْحسَنِ ِف اُلْنْسَٰنَ َخلَقْنَا َلقَد‬sungguh telah Kami ciptakan
manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya) (5), maka kata ِ‫ أحْسَن‬diidhafahkan kepada
yang setelahnya yaitu ‫ ي ْقوِ َت‬, maka dijarkan dengan kasrah. Dan contoh firman Allah
Ta’ala :﴾ ‫( ﴿ فِاْلمَ َساجِ ِد عَاكُِفوْ َن ت ْم أنْ َو‬sedangkan kamu beri'tikaf didalam masjid) (6); maka kata
‫ الْ َمسَاجِ ِد‬dijarkan dengan kasrah karena masuk Al kepadanya. *
__________________________

(1) Wazan tidak menjadi penghalang bagi sifat selain wazan ْ‫ عَل أف‬terlepas dari wazan yang kita pelajari.

Syarah asy-Syudzur hal 453.
Anda katakan : Dikehendaki olehnya yang terdapat pada kata sifat berwazan ْ‫ عَل أف‬seperti pada
isim-isim warna, contoh: ‫( يَض أَ ْب‬putih), ‫( أ َْحُر‬merah), ‫( َُْود أ ْس‬hitam), dan warna lainnya, sebagaimana
kita temukan pula pada isim tafdhil, contoh : ‫( أ ْك َرم‬paling mulia), ‫( أحْسَن‬paling baik), ‫( أعْ َظم‬paling
agung), ‫ أ ْشرَف‬dan sifat-sifat lainnya.
(2) Dan ia adalah yang berada sebagai 'adad/ bilangan, contoh: ‫( نَ َم ْث‬dua-dua), َ‫( ثُلاَث‬tiga-tiga), َ‫ربَاع‬

(empat-empat). Dan ini merupakan ma'dul/yang berubah dari lafadz bilangan asal yang diulang.
Maka ‫ نَ مَ ْث‬merupakan pengganti dari ‫ يُِْ نَ ِاث ِيُْ نَ ِا ْث‬, dan َ‫ ثُلَاث‬pengganti dari ‫ ثََلاثَة ثََلاَثة‬, demikian pula

sisanya.

(3) QS An-Nisa' ayat 86.

(4) Ibnu Malik memberikan isyarat hal ini dengan perkataannya: "Setiap isim ghairu munsharif

dijarkan dengan (harakat) fathah, selama tidak diidhafahkan dan tidak berada setelah AL.

(5) QS At-Tin ayat 4. (6) QS Al-Baqarah ayat 187.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Nama qabilah (suku) dan nama kota ; jika dengannya bermaksud qabilah atau tanah atau 'ibu' adalah

merupakan isim ghairu munsharif; jika dengannya bermaksud yang hidup (orangnya) atau tempat

atau 'ayah' maka merupakan munsharif ; kecuali jika didapati padanya sebab lain sebagai syarat

IGM. Dilihat di : al Ham'u bab 1 hal 115, al Fakihi 'ala al Qathr bab 2 hal 266, dan an Nahwu al Wafaa

bab 4 hal 239.
2. Ibnu Malik berkata: ‫صرِ ْف ب نَُاس ت َأ ْو ر َولضْ ِط َرا‬

Isim ghairu munsharif itu boleh diperlakukan sebagai munsharif, ketika keadaan darurat atau
tanasub (menyesuaikan) ‫ َنُْ َصرِ ْف ي ل َقدْ َوالْ َم ْصروف اْلمَنْ ِع ُذو‬begitu juga isim munsharif boleh diperlakukan
seperti ghairu munsharif ketika keadaan darurat.

Isim Ghairu Munsharif Halaman 201

__________________________
=
Al Mushannif sang pengarang menghendaki bahwa isim ghairu munsharif diperlakukan

seperti munsharif karena sebab darurat yang tertahan atau menyesuaikan kalimat
sebagaimana munsharif diperlakukan seperti ghairu munsharif ketika darurat.
Isim-isim yang sedang dijelaskan diatas tidak diperbolehkan bertanwin dan tidak akan
dilekati oleh tanwin karena merupakan isim ghairu munsharif, bahkan oleh suatu sebab
lain. Dan isim-isim itu tidak ditanwin kecuali pada keadaan darurat (diperlukan) : mabniy,
dilekati Al, menjadi mudhaf, nama sifat pada nama manusia yang menjadi mudhaf
terhadap isim alam. Dilihat di : al-Ham'u (1/121), dan al-Asybah wa al-Nadza'ir oleh imam
Suyuti (2/140).

Definisi Kata yang Terdapat pada Buku Ini Halaman 206

Definisi Kata yang Terdapat pada Buku ini

1. Kalam: yaitu merupakan susunan lafadz yang memiliki makna, yang tersusun
dalam kaidah bahasa Arab.

2. Isim: yaitu merupakan kata yang memiliki makna dan tidak berkaitan dengan
waktu.

3. Fi’il adalah: yaitu Kata yang mengandung makna yang ada pada dirinya dan
berkaitan dengan waktu.

4. Fi’il Madhi: yaitu yang menunjukan atas peristiwa dan menandakan pada waktu
yang lalu.

5. Fi’il Mudhari: yaitu yang menunjukan atas peristiwa terjadi pada waktu
sekarang atau yang akan datang.

6. Fi’il amar: yaitu sesuatu yang menunjukkan atas ucapan yang meminta hasilnya
pada waktu yang akan datang.

7. Huruf: yaitu kata yang menunjukkan makna pd selainnya
8. I'rab: yaitu berubahnya akhir kalimat karena perbedaan amil yang masuk

kepadanya baik secara lafzh atau pun taqdirnya.
9. Bina : yaitu keadaan akhir kata selalu dalam satu kondisi (tetap).
10. Isim mufrad : yaitu yang bukan mutsanna , bukan jamak , bukan pula dari isim-

isim yang lima.
11. Jamak taksir: yaitu yang menunjukkan kepada lebih dari dua (mudzakkar atau

muannats) dengan perubahan pada bentuk mufradnya.
12. Jamak muannats salim: Adanya penambahan alif ( ‫ ) ا‬dan ta (‫ )ت‬pada bentuk

mufradnya.
13. Mutsanna : yaitu yang menunjukkan makna dua atau ganda, dengan adanya

penambahan alif ( ‫ ) ا‬dan nun ( ‫ ) ن‬atau ya ( ‫ ) ي‬danvnun (‫)ن‬.
15. Asma'ul Khomsah / Isim yang lima : yaitu ‫( أَب ْو َك‬bapakmu), َ‫( أَخ ْوك‬saudaramu), ‫وَحَموْ َك‬

(pamanmu), ‫( ُف ْو َك‬mulutmu), ٍ‫( ُذ ْو َمال‬yang mempunyai harta).
16. Af'alul Khamsah /Fi'il yang lima : yaitu semua fi'il mudhari yang bersambung alif

itsnain, atau wawu jamak, atau yaa mukhatabah,
17. Fa’il / Pelaku: yaitu isim marfu yang disebutkan sebelumnya fi’ilnya

(perbuatannya).

Definisi Kata yang Terdapat pada Buku ini Halaman 207

18. Na'ibul fa'il : ia adalah isim marfu' yang tidak disebutkan bersamanya
fa'il/pelakunya.

19. Mubtada: ia adalah isim marfu' yang terbebas dari 'amil- 'amil lafadz.
20. Khabar : ia adalah isim marfu' yang merupakan penjelasan terhadap mubtada'.
21. Na'at : ia adalah salah satu taabi'un/pengikut yang melengkapi kata yang diikuti

dengan salah satu sifat dari sifat kata yang diikuti.
22. Athaf : ia adalah tabi' /pengikut yang antara kata tersebut dengan yang

diikutinya dihubungkan dengan salah satu huruf athaf.
23. Badal : ia adalah tabi'/pengikut yang mengikuti maksudnya dengan hukum

tanpa menggunakan perantara.
24. Maf'ul bih : ia adalah isim yang dinashabkan yang berlaku fi'il atasnya.
25. Maf'ul Muthlaq : ia adalah isim mashdar yang dinashabkan sesuai dengan

'amilnya dalam lafadz atau maknanya
26. Dzaraf zaman : ia adalah isim yang menunjukkan waktu yang dinashabkan

dengan takdir yang mengandung makna ‫ِفي‬.

27. Dzaraf makan : ia adalah isim yang menunjukkan tempat yang dinashabkan

dengan takdir yang mengandung makna ‫ِفي‬.

28. Haal : ia adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan sesuatu yang belum
jelas mengenai kondisi/keadaan.

29. Tamyiz : ia adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan sesuatu yang belum
jelas dari dzat atau nasab.

30. Mustatsna : ia adalah isim yang disebutkan setelah ‫ إِ َّل‬atau salah satu dari yang
serupa dengan itu untuk membedakan sesuatu yang sebelumnya berdasar
hukum.

31. La an-nafiyatu lil-jinsi : ia adalah isim yang menunjukkan dengannya penafian
jenis khabar dari semua yang jatuh setelahnya.

32. Munada : ia adalah isim yang digunakan untuk memanggil dengan
menggunakan salah satu huruf nida.

33. Maf'ul li ajlih : ia adalah isim manshub yang disebutkan setelah fi'il untuk
menjelaskan penyebab terjadinya fi'il .

34. Maf'ul ma'ah : ia adalah isim manshub yang disebutkan ; sebagai penjelasan
mengenai siapa yang menyertai saat suatu pekerjaan dilakukan.

35. Idhafah : ia adalah nisbah (keterkaitan) diantara dua isim atas perkiraan huruf
jar, yang menjadikan isim kedua wajib jar selamanya.

36. Al mamnu' min sharaf/ Isim Ghairu Munsharif: ia adalah isim mu'rab yang
akhirannya tidak dibenarkan kasrah dan tanwin.

Definisi Kata yang Terdapat pada Buku Ini Halaman 208

Daftar yang Menjelaskan
Kelompok Marfu’, Manshub, Majrur dari Isim dan Fi’il

Pedoman dalam Mengi’rab Halaman 209

Pedoman dalam Mengi’rab

Pertama: Fahami makna kalimat sebelum mengi'rab
Kedua: Tentukan jenis kata yang ingin anda i'rab, apakah isim atau fi’il ataukah

huruf. Jika isim, misalnya, teliti posisinya, apakah mubtada’ atau fa’il
atau maf’ul ataukah lainnya.
Ketiga: Jika kata tersebut membutuhkan khabar maka carilah khabarnya, jika
membutuhkan fa'il atau naibul fa'il, maka carilah fa'il atau naibul
fa'ilnya.
Keempat: Jangan anda mengi'rab kata yang di depan hingga anda mengetahui i'rab
kata sebelumnya.
Kelima: Hafalkan definisi-definisi i'rabm dan hadirkan ketika mengi'rab.
Keenam: Sebutkan syarat-syarat dan bagian-bagian yang disebutkan pada setiap
kasus dan bab.
Ketujuh: Harakati kalimat berdasarkan perkiraan perasaan dan apa yang anda
anggap sesuai bagi kedudukannya.
Kedelapan: Hafalkan setiap pelajaran misalnya bersama i'rabnya, kemudian taksir
apakah yang anda gunakan sebagai contoh itu serupa dengannya.
Terakhir: Ketahuilah bahwa banyak berlatih mengi'rab dan membaca kalimat-
kalimat yang berharakat akan membantu anda dalam mengi'rab dan
mengharakati secara benar.

Kitab-kitab Rujukan Halaman 216

Kitab-kitab Rujukan

 (Al-Qur'an al-Karim)
 (Irsyad dzawi alfathan) : Syaikh Muqbil Alwadi'i, cetakan pertama,
 Maktabah al-atsriyah 1408 H
 (I'rab tigapuluh surat alqur'anul karim): Ibnu Halawayh, Darul kutub, Beirut,

1970 M.
 (I'rab alqur'an): Abu Ja'far Annahhas, pentahqiq Zuhair, 'alimul kutub, cetakan

kedua,1405 H
 (I'rab alqur'an wa bayanuhu): Muhammad Muhyiddin Addarwisy, Dar ibn

Katsir, 1977 M
 (Adhwa'ul bayan): Syinqity, 'alimul kutub, Beirut
 (Imla' maa man bihi arrahman): Akbary, Darul fikri, Beirut, cetakan pertama,

1986 M
 (Inbahurrawah 'ala anbahinnuhah): Qifthi, pentahqiq Muhammad Abu Alfadhli

Ibrahim, Muassasah alkutub Atstsaqafiyah, Beirut, cetakan pertama, 1986 M
 (Badai'ul fawaid): Ibnu Qayyim dengan pengawasan Bakr Abu Zaid, Darul'alim

alfawaid, cetakan pertama, 1425 H
 (Baghiyah alwi'ah): Syuyuthi, pentahqiq Muhammad Abu Fadli Ibrahim, cetakan

pertama, Mathba'ah Alhalabi
 (Tajul 'Urus): Zubaidi, Maktabah Darulhayah, Beirut
 (Jami' addurus al'arabiyah): Musthafa alghulayiini, Maktabah Al'ashriyah, 1423

H
 (Aljadwalu fii'rab alqur'an wa shurufuhu): Mahmud Shofi, Dar Arrasyid, cetakan

pertama, 1986 M
 (Hasyiyah ibn Alhajj 'ala al-Ajurrumiyyah): Ibn Alhajj, Darul fikri, 1421 H
 (Hasyiyah Al-asymawi 'ala al-Ajurrumiyyah): Asymawi, Dar addhiya', Mesir,

cetakan pertama.
 (Hasyiyah asshoban atas al-Asymawi): Asshoban, Maktabah 'Ashriyyah, 1425 H
 (Hasyiyah Syarah Syudzuri Adzahabi): Muhammad 'Ibadatil Al'adawi, Daru

Ilhya' alkutub al'arabiyah, Alhalabi
 (Hasyiyah Alfakihi atas Syarah Qathru an-Nada): Mathba'ah Albabay Alhalabi,

cetakan kedua
 (Dirasaat li uslub Al-Qur'an al-Karim): Muhammad Abdil Khaliq 'Adhimah,

Darul hadits, Kairo

Kitab-kitab Rujukan Halaman 217

 (Addurus Annahwiyah): Hifni Nashif dan lain-lain, Darul aqidah
 (Addurrul mashun): Samin Alhalabi, tahqiq: Alkharrath, Darul qalam
 (Syadzaraat adzahabi): Ibn 'Imad Alhanbali, Darul Maisaroh, Beirut, cetakan

kedua.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah « Alfutuhaat alqayyumiyah»)~ Muhammad Amin,

Ethiopia Hurari.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah): Ibn Utsaimin, Maktabah Islamiyah di Kairo, cetakan

pertama,1422 H.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah), Tuhfatu assunniyah, Muhyiddin, Maktabah Al-

irsyad, cetakan pertama.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah): Azhari, bersamanya Hasyiyah Abinnajaa, Mathba'ah

alhalabi, 1343 H.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah), Alfakihi, tahqiq: 'Iwadh, Maktabah Ibn 'Abbas

Almanshurah.
 (Syarah al-ajurumiyah), Al-Kafrawiy, dan bersamanya (Hasyiyah Alhamidi),

Darul Fikri, Beirut.
 (Syarah Al-Ajurrumiyyah): Almakudi, Maktabah Abdil Mashuri, Kairo, cetakan

pertama, 1425 H.
 (Syarah al-Ajurrumiyyah): Mulla 'Isham, Daru Ibn Hazm, Beirut, cetakan

pertama
 (Syarah Al-azhariyah): Al-azhari, dan bersamanya Hasyiyah 'Atthar, Alhalabi,

cetakan kedua, 1374 H
 (Syarah Ibn 'Aqil), Maktabah Darutturats, Kairo, cetakan ke duapuluh
 (Syarah Attashrih 'ala Attaushih): Al-azhari, tahqiq Muhammad Basil, Darul

kutub al'ilmiyah
 (Syarah Alhudud Annahwiyah): Alfakihi, tahqiq Shalih Al-A'id Mansyuraat

Univ Muhammad Ibn Su'ud
 (Syarah syudzuri Adzahabi): Ibn Hisyam, tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul

Hamid
 (Syarah Athohawiyah): Ibn Abi Al-'izz, tahqiq: Syu'aib, Muassasah Arrisalah,

cetakan pertama
 (Syarah Qathru an-Nada waballa shada): Ibn Hisyam, dan bersamanya kitab

(Sabilul huda bi tahqiq syarh qathrunnada), Muhammad Muhyiddin Abdul

Hamid, Darul fikri, Beirut
 (Syarah Muslim): Annawawui, yang dinamakan Alminhaj, Darul Ma'rifah,

Libanon.
 (Syarah almufasshil): Ibn Yu'aisy, 'alimul kutub, Beirut

Kitab-kitab Rujukan Halaman 218

 (Syarah Mulhah al-i'rab): Hariri, tahqiq: Habud, Almaktabah al-'Ashriyah,

Libanon, 2000 M.
 (Addhau'u allami' li ahli alqarni attasi'): Assakhawi, Maktabah Alhayah, Beirut,

Libanon.
 (Dhiya'u assalik ila awdhahi almasalik): Muhammad Abdul 'Aziz Annajar,

cetakan kedua, Mesir, 1981 M.
 (Fathul Bari): Ibn Hajar, Darus salam, Riyadh.
 (Alqaulu almufid 'ala kitab attauhid): Ibn 'Utsaimin, tahqiq: Alhajj, cetakan

kedua, Maktabah al'ilmi.
 (Alqawaidul asaasiyah): Hasyimi, Muassasah Alma'arif, Beirut, Libanon, 1420 H.
 (Al-Kawakib addurriyah syarhu almutammimah al-Ajurrumiyyah): Ahdal,

Muassasah alkutubi atsaqafiyah.
 (Majmu' alfatawa): Ibn Taimiyah, Maktabah Alma'arifah, Arribath, Almaghrib.
 (Mukhtashar asshawaiq almursalah): Ibn Mushili, Darunnadwah aljadidah.
 (Mudariju assalikiin): Ibn Qayyim, tahqiq: Ibad, Maktabah Arrusydi, 1426 H.
 (Almishbah Almunir): Alfayumi, Maktabah Libanon Beirut, 1987 M.
 (Mu'jam Al-adba'): Yaqut Alhamawi, Mesir, cetakan kedua, 1923 M.
 (Mu'jam Albuldan): Yaqut Alhamawi, Beirut, 1984 M.
 (alMu'jam almufahras li alfadzi al-Qur'an al-Karim): Muhammad Fu'ad Abdi

albalqi, Daru Ihya'i atturats al'arabiy, Beirut, Libanon.
 (Mughni Allabib): Ibn Hisyam, tahqiq: Doktor/Mazin Almubarak dan Muhammad

Ali Hamdullah , Darul fikri, Beirut, Libanon, cetakan keenam, 1985 M.
 (Mushil atthullab ila qawaid al-i'rab): Azhari, tahqiq: Doktor/Abdul Karim

Mujahid, Muassasah Arrisalah, cetakan pertama, 1996 M.
 (Nataijul fikri): Suhaili, Darul kutub al'ilmiyah, Beirut.
 (Annahwu Alwafi): 'Abbas Hasan, Darul ma'arif, Kairo, cetakan ke delapan.
 (Hama' al-Hawami'): AsSuyuti, tahqiq: Ahmad Syamsuddin, Darul kutub

al'ilmiyah.

Daftar Isi Halaman 221

Daftar Isi

Kata Pengantar Imam Muhaddits Mukbil bin Hadi al-Wadi’iy Rahimahullah ….... 3
Kata Pengantar Cetakan Terbaru ……………………………………….……………….. 4

Metode Syarah ……………………………………………………………………………... 8
Petunjuk-Petunjuk dalam Metode Syarah ………………………………………………. 9
Pengenalan dengan Ibnu Ajurrum dan Pendahuluan ……………………………....... 10
Pengertian Kalam ………………………………………………………………………….12
Bagian-bagian Kalam …………………………………………………………....……….. 14
Tanda-tanda Isim …………………………………………………………………………. 17
Tanda-tanda Fi’il …………………………………………………………………………. 20
Tanda-tanda Huruf ………………………………………………………..…………….. 22
Irab dan Bina’……………………………………..……………………………………… 23
Macam-macam I’rab ………………………………………..…………………………… 26
Pembagian Isim Menjadi Mufrad, Mutsanna, dan Jamak ……………………..……. 29
Mengenal Tanda-tanda I’rab …………………………………………………………….. 30
Berbagai Mu’rab …………………………………………………….……………………. 37
Mu’rab dengan Harakat : Isim Mufrad ………………………………………………… 38
Jamak Taksir ………………………………………………….…………………………… 39
Jamak Muannats Salim ………………………………………………………….………. 41
Fi’il Mudhari’ ………………………..……………………………………………………. 43
Mu’rab dengan Huruf ………………………………………..…………………………. 44

Daftar Isi Halaman 222

Mutsanna …………………………………………………………………………………. 45
Jamak Mudzakkar Salim ……………………………………………………………….. 47
Isim-Isim yang Lima …………………………………………………………………….. 49
Fi’il-Fi’il yang Lima ………………………………………..…………………………….. 54
Fi’il ……………………………….………………………………………………………… 59
‘Aamil-‘Aamil Penashab Fi’il Mudhari’ …………………………………………..…… 69
‘Aamil-‘Aamil Penjazm Fi’il Mudhari’ ……..…………………………………………. 77
Isim-Isim yang Marfu’ ……………………………..……………………………………. 84
Fa’il …………………………………..……………………………………………………. 84
Naibul Fa’il ……………………….………………………………………………………. 92
Mubtada dan Khabar …………………………………………………………………….. 95
Kaana dan yang Semisalnya ………………………………………..…………………. 103
Inna dan yang Semisalnya …………….……………………………………………… 109
Dzhonna dan yang Semisalnya ……………………………………………………….. 113
Na’at (Sifat) ………………………………………..……………………………………. 117
Bab Ma’rifat dan Nakirah ……………………………………………….…………….. 120
Athaf ………………………………………………………..……………………………. 124
Taukid ……………………………………………………………………………………. 129
Badal ………………………..……………………………………………………………. 133
Isim-Isim yang Manshub ……………………………………………..……………….. 137
Maf’ul Bih ……………………………..………………………………………………… 138
Maf’ul Muthlaq ………………………………………………………………………… 146

Daftar Isi Halaman 223

Dzaraf Zaman dan Dzaraf Makan ………………………………………………….. 150
Haal ……………………..……………………………………………………………… 156
Tamyiz …………………………………………………………………………………. 160
Mustatsna …………………….………………………………………………………… 164
Isim Laa Nafiyah Lil Jinsi ………………….…………………………………………. 172
Munada ………………………….……………………………………………………... 176
Maf’ul li Ajlih …………………………….……………………………………………. 181
Maf’ul Ma’ah …………………………..………………………………………………. 184
Isim-Isim yang Majrur …………………………….………………………………….. 187
Isim Ghairu Munsharif ………………………….…………………………………….. 197
Definisi Kata yang Terdapat pada Buku ini …………………………….………….. 206
Daftar yang Menjelaskan Kelompok Marfu’, Manshub, dan Majrur …………….. 208
Pedoman dalam Mengi’rab …………………….…………………………………….. 209
I’rab Surat Al-Fatihah ………………………………………………………………….. 210
I’rab Surat An-Nashr ……………………………………….…………………………. 211
I’rab Surat Al-Lahab …………………………………..……………………………….. 212
I’rab Surat Al-Ikhlas ……………………………………………………………………. 213
I’rab Surat Al-Falaq …………………………………………………..………………… 214
I’rab Surat An-Nas …………………………………….……………………………….. 215
Kitab-kitab Rujukan ……………………..…………………………………………….. 216
Daftar Isi ……………………………………………………………….……………….. 221


Click to View FlipBook Version