The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.sadali.7, 2020-12-22 09:49:36

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Mubtada dan Khabar Halaman 100

6. ﴾ ‫ ﴿ أُوْلَٰئِكَ مَأْوَاهم الَنّار‬Mereka itu tempatnya ialah neraka.

َ‫ أُوْلَٰئِك‬: Isim isyarah, mabniy atas kasrah didalam kedudukan rafa' sebagai mubtada

awal; dan kaf adalah huruf khathab.

‫مَأْوَاهم‬: Kata ‫ مَأْوَى‬adalah mubtada kedua, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah

muqaddarah atas alif yang udzur sehingga menghalangi penampakan (harakat)nya,
dan dia juga sekaligus mudhaf; Ha adalah dhamir muttashil, mabniy atas dhammah
didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih, dan mim sebagai tanda jamak.

‫الَنّار‬: Khabar dari mubtada kedua, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.

Mubtada kedua dan khabarnya didalam kedudukan rafa' sebagai khabar pada
mubtada awal.

7. ﴾ ‫ ﴿ اللهُ يَبْسطُ الرِزْق‬Allah meluaskan rejeki.

ُ‫الله‬: Lafadz jalaalah: mubtada, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.
ُ‫يَبْسط‬: Fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir

diakhirannya; dan fa'il adalah dhamir mustatir jawaazan dengan takdirnya adalah
(‫)ه َو‬.

َ‫الرِزْق‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir diakhirannya.

Jumlah fi'liyyah dengan fi'il dan fa'il didalam kedudukan rafa' sebagai khabarnya
mubtada.

8. ﴾ ِ‫ ﴿ الحَمْد لِلٰه‬Segala puji bagi Allah.

‫الحَمْد‬: Mubtada marfu' dengan permulaan dan tanda rafa'nya dhammah yang nampak.
ِ‫لِلٰه‬: Huruf lam (‫ )اللاَم‬huruf jar dan lafadz jalaalah isim majrur dan tanda jarnya kasrah

yang nampak, dan jar dan majrur keduanya dihubungkan sebagai idhofah khabar
mubtada

9. ﴾ ْ‫ ﴿ وَٱال َرّكْب أَسْفَلَ مِنْكُم‬Sedang kafilah itu berada dibawah kamu.

‫ال َرّكْب‬: Mubtada marfu' dan tanda rafa'nya dhammah yang nampak.
َ‫أَسْفَل‬: Dzaraf makan (keterangan tempat) manshub dan tanda nashobnya fathah dan

dia dihubungkan sebagai idhofah khabar mubtada.

‫مِنْكُ ْم‬: Jar dan majrur keduanya dihubungkan sebagai idhofah sifat dari (‫)أَسْفَل‬

Nawasikh Halaman 102

Bab Nawaasikh / Perusak

Berkata al mushannif tentang 'aamil-'aamil yang masuk pada mubtada dan khabar:
'Aamil-'aamil tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu: ‫ َكا َن‬dan yang semisalnya, ‫ إِ َّن‬dan
yang semisalnya dan ‫ َظ َن ْن ُت‬dan yang semisalnya.
*note: terjemahan langsung dari ‫ أَ ْخ َواتُ َها‬adalah saudara-saudaranya; tetapi kami

gunakan yang semisalnya agar sesuai konteks.

Penjelasan: Mubtada dan khabar itu keduanya marfu', akan tetapi terkadang masuk

kepadanya 'aamil lafadz sehingga mengubah dan merusak/membatalkan hukum

sebelumnya. Hal ini dinamakan sebagai 'aamil nawasikh (faktor perusak).

Nawasikh merupakan jamak dari kata ‫( َنا ِسخ‬perusak). Dari segi bahasa, kata perusak

memiliki beberapa makna yang diantaranya memiliki makna 'menghilangkan'. Bila

dikatakan : "matahari merusak/menghapus bayangan", maka berarti (matahari)

menghilangkan (bayangan). Secara istilah, artinya adalah membatalkan hukum

mubtada dan khabar.

Nawasikh terdiri dari tiga macam:
1. Yang merafa'kan mubtada' dan menashabkan khabar, yaitu: ‫ َكا َن‬dan yang

semisalnya, dan semuanya adalah fi'il. Dinamakan yang pertama dari dua ma'mul
(‫ ) َكا َن‬itu isimnya dan yang kedua dinamakan sebagai khabarnya. Contoh: ‫َكا َن َز ْيد نَ ِش ْي ًطا‬

(Zaid itu rajin).

2. Yang menashabkan mubtada dan merafa'kan khabar, yaitu ‫ ِإ َّن‬dan yang
semisalnya, dan semuanya adalah huruf. Yang pertama dari dua ma'mul ( ‫)إِ َّن‬
dinamakan isimnya dan yang kedua dinamakan khabarnya. Contoh: ‫إِ َّن َز ْي ًزا نَ ِش ْيط‬

(sungguh Zaid itu rajin).
3. Yang menashabkan mubtada dan khabar, yaitu ‫ َظ َّن‬dan yang semisalnya, dan
semuanya adalah fi'il. Yang pertama dari dua ma'mul ( ‫ ) َظ َّن‬dinamakan maf'ul awwal
dan yang kedua dinamakan maf'ul tsaani. Contoh: ‫( َظ َن ْن ُت َز ْيدًا َن ِش ْي ًطا‬saya mengira si Zaid

itu rajin).

‫ إِن‬dan yang contoh : ‫إِ َّن َزي ًدا َن ِشي ٌط‬ An Nawaasikh contoh : ‫َكا َن َزي ٌد َن ِشي ًطا‬ . ‫ َكان‬dan yang
semisalnya Menashabkan isim, Merafa'kan isim, semisalnya

merafa'kan khabar Menashabkan isim menashabkan khobar.
dan khabar

Contoh : ‫ظَنَنتُ زَ يدًا‬
‫نَشِ يطًا‬

‫ َظن‬dan yang
semisalnya.

Nawasikh Halaman 103

Pertama : Kaana dan yang Semisalnya

Berkata al mushannif mengenai ‫ َكا ٌَن‬dan yang semisalnya :
Sesungguhnya ‫ َكا ٌَن‬dan yang semisalnya merafa'kan isim dan menashabkan khabar.
Dan dia adalah: ‫( َك َنا‬ada, terjadi) , ‫( أَ ْم َسى‬waktu sore), ‫( أَ ْص َب ٌَح‬waktu subuh), ‫( أَ ْض َحى‬waktu
dhuha), ٌ‫( َظ َّل‬waktu siang), ‫( َبا ٌَت‬waktu malam), ‫( َصا ٌَر‬menjadi), ‫( َل ْي ٌَس‬tidak), dan ٌ‫ٌ َما‬-ٌ‫َماٌ َزا ٌَل‬
‫ٌ َماٌ َدا َما‬-ٌ‫ٌ َماٌبَ ِر َح‬-ٌ‫ٌ َماٌفَ ِت َئ‬-ٌ‫( أَ ْن َف َّك‬semuanya berarti senantiasa), serta penurunan atau tashrif
darinya, seperti ‫ٌ َو ُك ٌْن‬-ٌ‫ٌ َي ُك ْو ُن‬-ٌ‫ َكا َن‬, dan ‫ٌأَ ْص ِب ٌْح‬-ٌ‫ٌيُ ْص ِب ُح‬-ٌَ ‫أَ ْص َبح‬. Anda mengatakan : ‫َكا َنٌ َز ْيدٌ َقا ِئ اما‬
(Zaid itu berdiri), ‫( لَ ْي َسٌ َع ْمرٌشاَ ِخ اصا‬Amar tidak naik), dan sejenisnya.

Penjelasan: ٌ‫ َكا َن‬dan yang semisalnya adalah : ‫( َكنَا‬ada, terjadi) , ‫( أَ ْم َسى‬waktu sore), ٌ‫أَ ْصبَ َح‬
(waktu subuh), ‫( أَ ْض َحى‬waktu dhuha), ٌ‫( َظ َّل‬waktu siang), ٌ‫( َبا َت‬waktu malam), ٌ‫َصا َر‬
(menjadi), ٌ‫( لَ ْي َس‬tidak), ‫ٌ َماٌ َدا َما‬-ٌ‫ٌ َماٌ َب ِر َح‬-ٌ‫ٌ َماٌ َف ِت َئ‬-ٌ‫ٌ َماٌأَ ْنفَ َك‬-ٌ‫( َماٌ َزا َل‬semuanya berarti senantiasa).

Fungsinya : merafa'kan isim dan menashabkan khabar.
Contoh : ‫( َكا َنٌ َز ْيدٌ َقا ِئ اما‬Zaid itu berdiri).

I'rabnya :‫ ٌَ َكان‬: fi'il madhi, naasikh (perusak), merafa'kan isim dan menashabkan
khabar.

Kata (ٌ‫ ) َز ْيد‬: isim kaana, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir di
akhirnya.
Kata (‫ ) َقائِ اما‬: khabar kaana, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir di
akhirnya.

Dan ٌ‫ َكا َن‬dan yang semisalnya dibagi menjadi tiga macam:

Pertama: Apapun yang beramal yang tidak membutuhkan syarat.
Kelompok ini meliputi 8 kata yaitu: ٌ‫ٌ َكا َن‬,ٌ‫أَ ْم َسى‬,ٌ‫أَ ْصبَ َح‬,ٌ‫أَ ْض َحى‬,ٌ‫ َظ َّل‬,ٌ‫ َبا َت‬,ٌ‫ َصا َر‬dan ‫ َل ْي ٌَس‬.
‫ َكا ٌَن‬: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada masa lampau (telah terjadi).

‫ أَ ْم َسى‬: Contoh: ٌ‫ ( َكا َنٌال َب ْر ُدٌ َش ِد ْي اد‬dingin itu sangat terasa).

Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu sore. Contoh:
‫ ( أَ ْم َسىٌ َز ْيدٌذَا ِك ارا‬pada sore hari Zaid berdzikir).
‫ أَ ْص َب ٌَح‬: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada pagi hari. Contoh: ٌ‫أَ ْص َب َحٌال َب ْر ُد‬

‫ ( َش ِد ْي ادا‬di pagi hari dingin itu sangat terasa).

Nawasikh Halaman 104

‫أَ ْضحَى‬: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu dhuha. Contoh: ‫أَضْخَى‬

‫( زَيْد نَشِيْطًا‬pada waktu dhuha Zaid rajin).
ّ‫ظَــ َل‬:
Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada

waktu siang, contoh: ‫( ظ َلّ زَيْد صَائِمًا‬pada waktu siang Zaid berpuasa).

َ‫ بَــات‬: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu malam, contoh:

‫( بَاتَ زَيْد مصَِلّيًا‬pada waktu malam Zaid shalat).

‫ صَــا َر‬: Dia berfungsi mengubah keadaan isim ke keadaan yang ditunjukkan oleh

khabar, contoh: ‫( صَــارَ العَجِيْن خبْزًا‬adonan telah menjadi roti).

‫ لَيْـ َس‬: Dia berfungsi menafikan khabar dari isim, contoh

pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ وَلَيْسَ ال َذّكَر كَالْأُنْثَى‬dan tidaklah lelaki itu seperti

perempuan) (1).

Kedua: Apapun yang beramal dengan syarat didahului oleh penafiy.
Kelompok ini meliputi empat kata : (‫زَا َل‬, ‫وَبَرِ َح‬, َ‫وَفَتِئ‬, ّ‫) وَانْفَ َك‬. Ia memiliki fungsi mengulang-

ulang, seperti sabda Nabi ‫ ﷺ‬:》 ِ‫(》مَا زَا َل جِبْرِيْلُ يوصِيْنِي بِالخَار‬Jibril senantiasa menasehatiku
mengenai tetangga) (2). Dan seperti perkataanmu: ‫( مَا بَرِحَ زَيْد قَارِئًا‬Zaid senantiasa berdiri),
‫( َمَا فَتِئَ عَ ْمرو ذَاكِرًا‬Amar senantiasa berdzikir), dan ‫( َمَا انْفَ َكّ بَكْر مصَِلّيًا‬Bakri senantiasa shalat).

Ketiga : Apapun yang beramal dengan syarat didahului oleh (‫ )مَا‬mashdariyah

dzarfiyah:
yaitu kata (‫ )دَا َم‬dan tiada lainnya, dan ia berfungsi untuk menjelaskan kontinuitas,
seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ وَأَوْصَانِى بِال َصَّلوٰةِ وَال َزّكٰـوةِ مَا دمْت حًَيّا‬Dia mewasiatkan

kepada saya [mendirikan] shalat dan [menunaikan] zakat selama saya hidup) (3).

Maksudnya : membiasakan selama hidup.

Makna perkataan al-Mushannif rahimahullah pada kalimat : {dan apa-apa yang
ditashrif darinya} yaitu: dari َ‫ كَان‬dan yang semisalnya maka ia beramal seperti (fi'il)
madhi, sama saja apakah ia fi'il mudhari atau fi'il amr atau lainnya. Anda katakan:
‫( كَانَ زَيْد قَائِمًا‬Zaid telah berdiri), ‫( يَكُ ْونُ زَيْد قَائِمًا‬Zaid sedang berdiri), dan ‫( كُ ْن قَائِمًا‬berdirilah!).

__________________________
(1) QS Ali Imran ayat 36
(2) Hadits muttafaq 'alaih dari Ibnu Umar dan Aisyah (semoga Allah meridhai mereka)
(3) QS Maryam ayat 31

Nawasikh Halaman 105

Sabda Rasulullah ‫ ﷺ‬: 《 ّ‫( 》 لَا يَزَرلُ لِسَانكَ َرطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَ َزّ َو جَ َل‬Hendaklah lisanmu tiada

berhenti dari dzrikrullah 'azza wa jalla) (1).

__________________________

(1) Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Abdullah bin Busra radhiyAllahu 'anhu.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting:
1- Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata mengenai firman Allah Ta’ala ﴾‫﴿وَ كَانَ الَلّه سَ ِميْعًا َبصِْيرًا‬

(sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat) dan yang serupa dengan itu : hal

ini bukanlah bermakna bahwa kejadian tersebut telah berlalu, akan tetapi tidak berhenti (berlanjut

terus menerus).

Tasir alqur'an oleh Ibnu 'Utsaimin bab 1 halaman 124.
2- Isim َ‫ َكان‬dan yang semisalnya mempunyai bentuk yang berbeda-beda, diantaranya berupa

• isim dzahir, contoh: ‫( َكانَ عَلِ ُيّ قَائِمًا‬Ali itu berdiri),
• dhamir muttashil, contoh: ‫( كُنْت قَائِمًا‬saya berdiri),
• dhamir mustatir, contoh: ‫( م َح َمّد كَانَ َقائِ ًما‬Muhammad adalah yang berdiri),
• dhamir munfashil, contoh: َ‫( مَا كَانَ َقائِمًا إَِلّا أَنْت‬tidak ada yang berdiri kecuali kamu).
3- Khabar َ‫ كَان‬dan yang semisalnya, contoh: khabarnya mubtada ditinjau dari jenis dan

pembagiannya,
• terkadang mufrad, contoh: ‫كَا َن محَ َّمد مذَاكِرًا‬
• terkadang berupa jumlah fi'liyah, contoh: ‫كَانَ م َح َمّد ي َذاكِر ال َدّرْ َس‬
• atau berupa jumlah ismiyah, contoh: ٌ‫كَانَ محَ َمّد مذَا ِكرَاته جَِيّ َدة‬
•terkadang berupa syibhu jumlah dari jar dan majrur, contoh: ِ‫كَانَ محَ َمّد فِيْ الْبَيْت‬
• atau dzaraf, contoh: ‫ َكانَ محَ َّمد فَوْقَ الَْبيْ ِت‬.
Dan ketahuilah bahwa: Khabar َ‫ كَان‬apabila berupa mufrad maka keadaannya manshub ; dan jika

berupa jumlah atau syibhu jumlah maka keadaannya 'didalam kedudukan nashab'.
4- Kata ‫ َكا َن‬dan yang semisalnya dinamakan sebagai fi'il naqish, karena tidak cukupnya ia dengan

marfu'nya (isim ‫ )كَا َن‬terhadap manshubnya (khabarnya). Jika anda katakan: ‫ كَانَ زَيْد‬tanpa
mengatakan ‫ َقاِئمًا‬sebagai contoh, maka kalimat tersebut kurang sempurna, tidak menghasilkan

faedah (tidak difahami) bagi pendengarnya. Dilihat di kitab AlKawakib bab 1 halaman 195.
5- Bisa terjadi pada ( ‫ أَ ْضحَى‬،َ‫ أَصْبَح‬،‫ أَمْسَى‬,َ‫ كَان‬dan ّ‫ )ظَ َل‬bermakna َ‫( َصار‬menjadi), contoh pada firman Allah

Ta’ala: ﴾ ‫﴿ وَ كَا َن مِنَ الْكَاِفرِيْ َن‬, ﴾ ‫﴿ فَأَ ْصَبحْت ْم بِنِعْمَِتهِ إِخْوَانًا‬, dan ﴾ ‫﴿ظَلَ َوجْهه مسْ َو ًدّا‬. Dilihat di kitab Syarah al-Mufashshal

bab 6 halaman 106 dan kitab Qathru an-Nada halaman 186, dan kitab Hasyiya Abi Annaja halaman

85.
6- Terdapat (‫ )َبا َت‬pada satu ayat dalam al-Qur'an pada firman-Nya ﴾ ‫﴿ اَلّذِيْ َن َيبِيْتوْ َن لِرَِّبهِمْ س َجّدًا َو قِيَٰمًا‬.
7- Tidak ditemui (‫ )أمْسَى‬sebagai fi'il nasikh dalam al-Qur'an al-Karim. Begitupun (‫ )أَ ْضحَى‬juga tidak ada

sama sekali. Dilihat di kitab Ma'aniy Nahwi Lissamraa'i bab 1 halaman 217.
8- Disyaratkan masuknya nafiy pada َ‫ زَال‬dan yang semisalnya karena ia bermakna penafiyan.

Sehingga bila masuk padanya penafiy terbalik buktinya berfungsi sebagai pengulangan

(kontinuitas).

Dilihat di kitab Alhasyiyah Abi Annaja halaman 85.
9- Kata (‫ )مَا‬yang masuk pada (َ‫ ) َدام‬dinamakan mashdariyah karena ia ditakdirkan bersama fi'il

setelahnya sebagai mashdar, selalu, dan sebagai dzarfiyah karena ia biasanya menggantikan

dzaraf.

Nawasikh Halaman 109

Kedua: Inna dan yang Semisalnya

Pengarang berkata: Adapun ‫ إِ َّن‬dan yang semisalnya: maka ia menashabkan isim dan
merafa'kan khabar, yaitu: َ‫ لَيْت‬,ّ‫ كَأَ َن‬,ّ‫ لَكِ َن‬,ّ‫ أ َن‬,ّ‫إِ َن‬, dan ‫لَعَ َّل‬. Anda katakan: ‫إِ َنّ زَيْدًا قَائِم‬

(sesungguhnya Zaid itu berdiri) ,‫( ََلْي َت عَ ْم ًرا شاَخِص‬seandainya Amar hadir), dsb.

Dan makna ّ‫ إِ َن‬dan ّ‫ أَ َن‬untuk penegasan/taukid, ‫ لَكِ َّن‬untuk mempertentangkan/istidrak
bermakna “akan tetapi”, ّ‫ كَأَ َن‬untuk penyerupaan/tasybih yang bermakna “seperti”,
َ‫ لَيْت‬untuk angan-angan/tamanniy yang bermakna “pengandaian”, ,ّ‫ لَعَ َل‬untuk

pengharapan / tarajjiy dan khawatir /tawaqqu'.

Penjelasan: Anda telah mengenal َ‫ كَان‬dan yang semisalnya.

Sekarang anda akan mengenal jenis nawasikh yang kedua, yaitu:

ّ‫ إِ َن‬dan yang semisalnya, ada enam huruf yaitu: َ‫ لَيْت‬,ّ‫ كَأَ َن‬,ّ‫ لَكِ َن‬,ّ‫ أَ َن‬,ّ‫إِ َن‬, dan ّ‫لَعَ َل‬

Amalnya: Menashabkan isim dan merafa'kan khabar.

Contohnya: ‫( إِ َنّ زَيْدًا قَائِم‬sesungguhnya Zaid itu berdiri).
I'rabnya: ّ‫ إِ َن‬: huruf nasikh menashabkan isim, merafa'kan khabar. ‫زَيْدًا‬, isim ّ‫إِ َن‬
manshub, tanda nashabnya fathah dzahirah di atas huruf akhirnya. ‫قَائِم‬: khabar ّ‫إِ َن‬

marfu', tanda rafa'nya dhammah dzahirah di atas huruf akhirnya.

Adapun maknanya: (‫ وَ أَ َّن‬،ّ‫ )إِ َن‬maknanya penegasan. Anda katakan ‫زَيْد قَائِم‬, kemudian

masuk (‫ )إِ َّن‬untuk menegaskan khabar dan menjelaskannya, maka anda katakan: ( ّ‫إِ َن‬
‫( )زَيْدًا قَائِم‬sesungguhnya zaid yang berdiri)(1), dan contoh firman Allah Ta’ala: ﴾ َ‫إِ َنّ ٱللٰه‬
‫( ﴿ لَطِيْف خَبِيْر‬sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui) (2) dan ﴾ ْ‫اِعْـلَموْا‬
ِ‫( ﴿ أَ َنّ ٱللٰهَ شَدِيْد الْعِقَاب‬ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya) (3).

__________________________

(1) Syarah al-Qathr halaman 205
(2) QS Al-Hajj ayat 63
(3) QS Al-Maidah ayat 98

Nawasikh Halaman 110

Dan (ّ‫ )لَ ِك َن‬: maknanya istidraak (mempertentangkan), yaitu menghilangkan apa yang

dikesankan dari kalimat sebelumnya, contoh: ‫( زَيْد غَنِي لَكَِنّه بَخِيْل‬Zaid itu kaya tetapi dia

pelit), maka sesungguhnya gambaran tentang Zaid yang kaya kesannya bahwa dia

dermawan, maka sirnalah kesan tersebut dengan perkataan ‫( لَكَِنّه بَخِيْل‬akan tetapi dia

pelit)(¹).

Dan (‫)كَأَ َّن‬: Maknanya tasybih (penyerupaan), contoh: ‫( كَأَ َنّ زَيْدًا أَسَد‬Zaid seperti singa),
dan firman Allah ﴾ ‫( ﴿ كَأََنّهَا كَوْكَب‬Seakan² ia bintang) (²).

Dan (َ‫)لَيْت‬: Maknanya attamanniy (angan-angan): Yaitu tuntutan yang mustahil -

biasanya - atau mungkin berhasil (³), Mustahil, contohnya: ‫( لَيْتَ الشابَابَ عَائِد‬seandainya
masa muda itu kembali). Mungkin, contohnya: ‫( لَيْتَ محَ َمّدًا حَضِر‬seandainya Muhammad

hadir).
Dan (ّ‫)لَ َع َل‬: Maknanya: tarajjiy (pengharapan) dan tawaqqu'iy (khawatir), tarajjiy untuk

hal yang disukai, contoh: ‫( لَعَ َلّ ٱللٰهَ يَرْحَمنَا‬semoga Allah merahmati kita), dan tawaqqu'iy
untuk hal tidak disukai, contoh: ‫( لَعَ َلّ العَد َوّ قَادِم‬jangan-jangan musuh tiba)*

__________________________

(1) Kitab al-Qawa'id al-Asaasiyyah hal. 159 dan dilihat di kitab Mujibunnidaa hal. 235.
(2) QS An-Nuur ayat 35
(3) Dilihat di kitab al-Mughniy halaman 375

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Diantara perbedaan antara (‫ )إِ َّن‬yang hamzahnya dikasrahkan dengan yang difathahkan. (ّ‫ )إِ َن‬yang
difathahkan tidak diletakkan di awal kalimat, ia harus didahului dengan kalimat, seperti ْ‫بََلّغَنِي أَوْ أَعْجَبَنِي‬

(disampaikan kepada saya atau membuat saya kagum) dan yang semisal. Dilihat di kita Syarah Qathru

an- Nada halaman 205.
2. Kata (ّ‫ )لَكِ َن‬harus didahului dengan kalimat, jika nun tidak ditasydid maka harus diabaikan, ia tidak

beramal dan maknanya tetap yaitu istadrak (mempertentangkan), contoh firman Allah Ta’ala ﴾ ‫وَمَا‬
‫( ﴿ َظلَمْنٰهمْ وَلٰكِنْ كَانواْ أَنْفُسَهمْ يَظْلِموْن‬Kami tidak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi
diri mereka sendiri) dan firman-Nya Ta’ala: ﴾ ِ‫( ﴿ لٰكِنِ ٱلرٰ سِحوْ َن فِي العِلْم‬tetapi orang-orang yang mendalam

ilmunya). Dilihat di kitab syarah al-Qathr halaman 212, dan Mujiibun Nadaa halaman 235.

3. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang ( ‫)َلعَ َّل‬: Hanya membandingkannya makna tarajjiy jika

ia dari makhluq, adapun pada hak orang yang tidak boleh pada haknya tarajjiy maka ia untuk

menjelaskan sebab (ta'lil) saja. Seperti firman Allah Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿ َلعََلّكُمْ تََتّ ُقوْن‬agar kamu bertaqwa), Dan

pengharapan yang terkait dengan orang yang bicara kutipan dari "Syifa'ul 'alil" halaman 328. Dilihat

di kitab ash-Shaban bab 1 halaman 404.

4. Jika (‫ )مَا‬huruf tambahan bersambung dengan (ّ‫ )ِإ َن‬dan yang semisalnya, ia akan menyelamatkan

amal jumlah ismiyah yang ia masuk padanya, kalimat yang tersusun dari mubtada' dan khabar tetap

seperti semula sebagaimana sebelum masuknya huruf nasikh, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫إَِنّمَا‬
ٌ‫( ﴿ َلعََلّكُمْ تََتّقُوْ َن ٱلمُؤْمِنوْ َن إِخْوَة‬sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) kecuali (‫ )لَْي َت‬maka boleh

mengabaikannya dan boleh mengamalkannya. Dilihat di syarah al-Qathr halaman 207

Nawasikh Halaman 113

Ketiga : Dzhanna dan yang Semisalnya

Berkata al mushannif mengenai ‫ َظنَنْت‬dan yang semisalnya :
Sesungguhnya ‫ ظَنَنْت‬dan yang semisalnya menashabkan mubtada' dan khabar, atas
dasar keduanya merupakan maf'ulnya. Dan dia adalah : ‫( ظَنَنْت‬saya telah menyangka),
‫( حَسِبْت‬saya telah mengira), ‫( ِخلْت‬saya telah membayangkan), ‫( زَعَمْت‬saya telah
menduga), ‫( رَأَيْت‬saya telah melihat), ‫( َعلِمْت‬saya telah mengetahui), ‫( وَجَدْت‬saya telah
mendapati), ‫( اَتّخَذْت‬saya telah menjadikan), ‫( جَعَلْت‬saya telah menjadikan), ‫( سَمِعْت‬saya
telah mendengar). Anda mengatakan : ‫( َظنَنْت زَيْدًا منْطَلِقًا‬saya telah menduga Zaid itu
pergi), ‫( ِخلْت عَمْرًا شَاخِصًا‬saya telah menduga 'Amer itu hadir), dan yang serupa dengan
contoh-contoh tersebut.

Penjelasan : Pengarang rahimahullah_menyebutkan jenis ketiga dari nawasikh:
Yaitu : ّ‫( َظ َن‬menyangka), ‫( حَسِب‬mengira), َ‫( خَال‬membayangkan), َ‫( زَعَم‬menduga), ‫رَأَى‬
(melihat), ‫( َعلِم‬mengetahui), ‫( وَجَد‬mendapati), َ‫( اَتّخَذ‬menjadikan), ‫( جَعَل‬menjadikan).

Fungsinya : menashabkan isim dan khabar, atas dasar keduanya merupakan
maf'ulnya.

Contoh : ‫( ظَنَنْت زَيْدًا منْطَلِقًا‬saya menyangka Zaid berangkat).

I'rabnya : ‫ ظَنَنْت‬: fi'il madhi nasikh, ta: dhamir muttashil pada posisi rafa' sebagai fa'il.
‫ زَيْدًا‬: maf'ul bih pertama, manshub, dan ‫ مْنطَلِقًا‬: maf'ul bih kedua, manshub.

Dan ‫ ظَ َّن‬dan yang semisalnya dikelompokkan kedalam tiga jenis :

Fi'il-fi'il yang ditujukan sebagai perkiraan, yaitu : ‫ظَ َّن‬, dan َ‫حَسِب‬, dan َ‫خَال‬, dan َ‫زَعَم‬.
Kata ‫( ظَ َّن‬menyangka), contoh : ‫( ظَنَنْت الفَجْرَ قَرِيْبًا‬saya menyangka fajar itu dekat/segera
datang).
Dan ‫( حَسِ َب‬mengira), contoh : ‫( حَسِبْت العَمَلَ شَاقًا‬saya mengira pekerjaan itu sulit).
Dan َ‫( خَـال‬membayangkan), contoh: ً‫( خِلْت ال َشّجَرَةَ مثْمِرَة‬saya membayangkan pohon itu
produktif).
Dan َ‫( زَعَم‬menduga/mengira), contoh : ‫( زَعَمْت ال َسّفَرَ سَهْلًا‬saya menduga perjalanan itu
mudah).

Fi'il-fi'il yang ditujukan sebagai kepastian, yaitu : ‫رَأَى‬, dan َ‫عَلِم‬, dan َ‫وَجَد‬.
Kata ‫( رَأَى‬melihat), contoh : ‫( رَأَيْت الحَ َّق منْتَصِرًا‬saya melihat kebenaran itu menang).
Dan ‫( عَلِ َم‬mengetahui), contoh : ‫( َعلِمْت ال ِصّدْقَ منَ ِجّيًا‬saya mengetahui kejujuran itu
menyelamatkan).
Dan َ‫( وَجَد‬mendapati), contoh : ِ‫( وَجَدْت ال َصّلَاحَ سِ َرّ الَنّجَاح‬saya mendapati kebaikan itu
rahasia kesuksesan).

Nawasikh Halaman 114

Fi'il-fi'il yang berfaedah untuk tahwil (mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain),
yaitu: َ‫ اتَّ َخٌذ‬dan ‫ َج َع ٌَل‬.

Kata ٌَ‫( اتَّ َخذ‬menjadikan), contoh: ‫( اتَّ َخ ْذ ُتٌالأَ ِم ْي َنٌ َصا ِح ابا‬saya menjadikan orang yang jujur
itu sahabat).

Dan ٌ‫( َجعَ َل‬menjadikan), contoh: ‫( َجعَ ْل ُت ٌال َخ َش َب ٌبَا ابا‬saya menjadikan kayu sebagai
pintu).

Dan menurut Ibnu Ajjurum mengenai fi'il-fi'il yang menashabkan mubtada dan
khabar ini (ٌ‫ َس ِم ْع ُت‬, mendengar) menurut sebagian ulama nahwu, contohnya: ٌ‫َس ِم ْع ُتٌ َز ْي ادا‬
‫( يَقُ ْو ٌُل‬saya mendengar Zaid berkata), dan pendapat ini dhaif. Dan yang diakui oleh
jumhur adalah bahwa semua fi'il yang berkaitan indera seperti: ٌ‫( َس ِم َع‬mendengar), ٌ‫ذَا َق‬
(merasakan), ٌ‫( أَ ْب َص َر‬melihat), ٌ‫( َل ِم َس‬menyentuh), ٌ‫( َش َّم‬mencium), tidaklah memberi
pengaruh kecuali kepada maf'ul pertama. (1) *

__________________________

(1) Bisa dilihat pada Al Mutammimah dengan Al Kawakib (jilid 1/hal 321) dan Syarah Al
Kafrawiy (hal 102-103).

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Selain fi’il madhi dari ‫ َظ ٌَّن‬dan yang semisalnya (juga) beramal seperti fi’il madhi.
Contohnya pada firman Allah Ta’ala : ٌ﴾ٌ‫( ﴿ٌ َوٌ َماٌأَ ُظ ُّنٌال َّسا َع َةٌ َقا ِئ َمةا‬dan saya tidak mengira hari
kiamat itu akan datang), dan ﴾ ‫( ﴿ ٌ َو ٌ َن َراهُ ٌ َق ِر ْي ابا‬sedangkan Kami memandangnya dekat
[mungkin terjadi]).

2. Maf'ul kedua: kata tersebut aslinya adalah khabar mubtada, terkadang dia datang dalam
keadaan : mufrad, contoh: ‫( َرأَ ْي ُتٌال ِع ْل َمٌ َنافِ اعا‬saya melihat ilmu itu bermanfaat), kalimat,
contoh: ﴾ ‫( ﴿ َرأَ ْي ُت ٌالذُّنُ ْو َب ٌتُ ِم ْي ُت ٌالقُلُ ْو ٌَب‬saya melihat dosa itu mematikan hati), syibhu
jumlah/yang menyerupai kalimat, contoh pada firman Allah Ta’ala: ٌ‫﴿ٌ َوٌ َجعَ َلٌ ِم ْن ُه ُمٌال ِق َر َد َةٌ َو‬
ٌ﴾ٌ‫( ا ْل َخنَا ِز ْي َر‬di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi).

3. Terkadang (ٌ‫ ) َظ َّن‬diletakkan untuk kepastian/yakin, contoh pada firman Allah Ta’ala ﴾ ٌ‫ٌإِنِى‬
ٌٌ‫( ﴿ َظنَ ْن ُتٌأَ ِنىٌ ِح َسابِيَ ْه‬sesungguhnya saya yakin, bahwa sesungguhnya saya akan menemui
hisab terhadap diriku). Maka (‫ ) َظ ّنَ ْن ٌُت‬adalah fi’il madhi bermakna yakin, ta adalah fa'il,
sesungguhnya dia hadir dan mempengaruhi kedua maf'ulnya. Bisa dilihat pada al Durr
al Madhūn (1/333), dan al-Kawākibu ad-Darriyyah (1/293).

4. Jika ‫ َراَى‬bermakna ً‫ بَصَرِّيَة‬yaitu melihat dengan mata maka sesungguhnya ia hanya
memerlukan satu maf’ul. Contoh : ‫( َرأَ ْي ُتٌ َز ْي ادا‬saya melihat Zaid). Jika setelahnya ada yang
dianggap sebagai maf'ul kedua, maka di i’rab sebagai Haal. Contoh : ‫( َرأَ ْي ُتٌ َز ْي اداٌقَائِ اما‬saya
melihat Zaid berdiri), ‫ قَائِمًا‬sebagai haal bukan maf’ul bih.

5. Ada banyak fi'il yang menashabkan dua maf'ul dan bukan termasuk kedalam semisal ٌ‫ َظ َّن‬.
Contoh : ‫( َك َسا‬memakaikan) dan ‫( أَ ْع َطى‬memberi).

6. Al Mushannif menyebutkan bahwa ٌ‫ َظ َّن‬dan yang semisalnya masuk pada bab marfu’at
(yang merafa’kan) untuk menyempurnakan penjelasan ‘aamil nawasikh (perusak)

Tawabi’ Halaman 117

Tawabi’

Pertama : Na'at ( Sifat )

Berkata Pengarang pada bab na'at : Na'at itu mengikuti kata yang disifati dalam hal

rafa, nashab, khafadh, ma'rifat dan nakirahnya. Anda katakan : ُ‫( قَامَ زَيْد العَاقِل‬Zaid yang
berakal telah berdiri), َ‫( رَأَيْت زَيْدًا العَاقِل‬saya melihat Zaid yang berakal), ِ‫( مَرَرْت بِزَيْدٍ العَاقِل‬saya

berpapasan dengan Zaid yang berakal).
Penjelasan: Inia adalah permulaan bagi Pengarang dalam membicarakan apa yang
dii’rab dengan mengikuti selainnya, yang terdiri dari 4 jenis. Yaitu: Na’at, Taukid,
Badal, Athaf. Dan yang memulai dengan na’at, dinamakan sifat (1).

Na'at (Kata Sifat)

Pengertiannya : Na’at adalah kata yang mengikuti (tabi’) yang menyempurnakan

yang yang diikuti dengan menjelaskan sifat dari sifat-sifatnya (2).

Contohnya : ُ‫ ( قَامَ زَيْد العَاقِل‬Zaid yang berakal telah berdiri ), ‫( رَأَيْت زَيْدًا العَاقِ َل‬saya melihat
Zaid yang berakal) , ِ‫( مَرَرْت بِزَيْدٍ العَاقِل‬saya berpapasan dengan Zaid yang berakal).
Irabnya : yang berakal (ِ‫ )العَاقِل‬: sifatnya mengikuti yang disifatinya (‫ )زَيْدًا‬pada i'rabnya,

yaitu pada contoh pertama : na'at (sifatnya) marfu, karena man'ut (yang disifatinya)

marfu. Dan pada contoh kedua : Na'atnya manshub, karena man'utnya manshub,

dan pada contoh ketiga : na'atnya majrur ; karena man'utnya majrur.

Na'at (kata sifat) mengikuti man'utnya (yang disifatinya), baik i'rab, nakirah, ma'rifat,

mudzakar, muannats, dan adadnya.

Dan contoh na'at dalam al-Qur'an al-Karim, Allah berfirman :
﴾ ‫( ﴿ هَٰذَا صِرَاطٌ مسْتَقِيم‬Inilah jalan yang lurus) ,(3) ﴾ َ‫( ﴿ اهْدِنَا ال ِصّرَاطَ الْمسْتَقِيم‬tunjukilah kami jalan
yang lurus), dan ﴾ ٍ‫( ﴿ هَدَانِي رَِبّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مسْتَقِيم‬telah ditunjuki oleh Tuhanku ke jalan yang
lurus) .(4)
Dan contoh-contoh na'at dari Hadits, Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:》 ‫》الْكَلِمَةُ ال َطِّيّبَةُ صَدَقٌَة‬
(kalimat yang baik adalah sedekah) .(5)

__________________________

(1) Na'at, faedahnya antara lain: penjelasan. Apa bila anda katakan (umpama) «‫" » َقا َم َزي ٌد‬Zaid

telah berdiri", dan di sana ada Zaid lainnya, maka pada kondisi ini memerlukan identifikasi
Zaid dengan salah satu sifatnya yang khusus, maka anda katakan «‫" » َقا َم َزي ٌد ال َعاقِ ُل‬Zaid yang
berakal telah berdiri", maka lafadz (‫ )ال َعاقِ ُل‬dan sebagainya dinamakan na'at (atau sifat) dan
saat itu ia wajib rafa' mengikuti lafadz (‫ ) َزي ٌد‬yang marfu' karena dia fa'il.

(2) Ibnu Aqil, 3/190 (3) QS. Ali Imran, ayat 51 (4) QS. Al-An’am, ayat 6

(5) Hadits Riwayat Bukhari Muslim Abi Hurairah Ra

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 120

Bab Ma’rifat dan Nakirah

Berkata al mushannif, isim ma'rifah (kata yang objek pembicaraannya telah
ditentukan) ada lima, yaitu : isim dhamir/kata ganti, seperti ‫( أَنَا‬saya) dan َ‫( أَنْت‬kamu
[pr]); isim 'alam/nama, seperti ‫( زَيْد‬Zaid) dan ُ‫( مَ َكّة‬Mekkah); isim mubham (atau isim
isyarah/kata tunjuk), seperti ‫( هَذَا‬ini, tunggal [lk]) dan ِ‫( هَذِه‬ini, tunggal [pr]) dan ِ‫( َهؤلَاء‬ini,
jamak); isim yang dilekati alif dan lam, seperti ُ‫( ال َرّجل‬seorang lelaki) dan ِ‫( الغلَام‬seorang
anak lelaki); serta isim yang di- idhafah-kan (disandarkan) kepada salah satu dari
keempat isim tersebut.

Penjelasan : Ketika Al-Mushannif sang pengarang menjelaskan tentang na'at yang
mengikuti man'ut, beliau belum menjelaskan dalam hal ma’rifat dan nakirahnya.
Maka pengarang kitab ini menjelaskanna untuk menyempurnakan faedahnya.

Nakirah : isim yang menunjukkan atas sesuatu yang tidak / belum ditentukan.
Contoh : ٍ‫( رَجل‬seorang lelaki), ‫( إِمْرَأٍَة‬seorang perempuan), ٍ‫( َمدِيْنَة‬sebuah kota).

Ma'rifah : isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah ditentukan.
Contoh : ‫( زَيْد‬Zaid), ُ‫'( َعاءِشَة‬Aisyah), ٌ‫( مَ َكّة‬Mekkah).

Ma'rifah ada 6 macam¹:

Dhamir (kata ganti), isim 'alam (nama), isim isyarah (kata tunjuk), isim maushul
(kata sambung), isim yang dilekati ‫( ال‬alif dan lam), dan isim yang disandarkan
pada isim ma'rifah.

Dhamir : isim yang menetapkan seseorang yang dinamai dengan media orang

pertama (mutakallim) atau orang kedua (mukhattab) atau orang ketiga (ghaib).
Contoh : ‫( أَنَا‬saya), َ‫( أَنْت‬kamu [lk]), َ‫( هو‬dia [lk]).
Anda berkata : ‫( أَنَا حَاضِر‬saya hadir), maka dhamir (‫ )أَنَا‬menunjukkan pembicara (kata
ganti orang pertama) yang spesifik melalui media berbicara.

Isim alam: isim yang menetapkan orang yang diberi nama tanpa perantara.

Contoh: ‫( زَيْد‬Zaid), ٌ‫( مَ َكّة‬Mekkah), ٍ‫( أَبِي بَكْر‬Abu Bakar), dan ‫( الفَروْق‬al Faruq).
Maka isim alam menunjukkan atas sesuatu yang spesifik tanpa media lain yang
muncul selain lafadznya.

__________________________
(1) Dan sungguh Pengarang menganggap bahwa isim ma’rifat ada lima, dan boleh jadi
beliau memasukkan isim maushul di bawah isim mubham, dan ia menjauhkan diri,
dengan memberi contoh isim isyarah saja.

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 121

Isim isyarah: isim yang menunjukkan sesuatu yang diberi nama dengan perantara

kata tunjuk.

Dan isim isyarah tersebut adalah:

'Ini', ‫هَذَا‬: digunakan untuk mengisyaratkan mufrad mudzakkar. Contoh: ‫هَذَا طَالِب‬

(ini siswa) (1).

'Ini', ِ‫هَذِه‬: digunakan untuk mengisyaratkan mufrad muannats. Contoh: ٌ‫هَذِهِ طَالِبَة‬

(ini siswi).

'Ini', ‫هَذَا ِن‬: digunakan untuk mengisyaratkan mutsanna mudzakkar. Contoh:

ِ‫( هَذَانِ طَالِبَان‬ini dua siswa).

'Ini', ِ‫هَاتَان‬: digunakan untuk mengisyaratkan mutsanna muannats. Contoh: ِ‫هَاتَان‬

ِ‫( طَالِبَتَان‬ini dua siswi).

'Ini', ‫هَؤلَِء‬: digunakan untuk mengisyaratkan jamak mudzakkar atau muannats.

Contoh: ‫( هَؤلَِء طُلَّاب‬ini para siswa) dan ‫( َهؤلَءِ طَالِبَات‬ini para siswi).

Maka isim isyarah menunjukkan atas sesuatu yang tidak ditetapkan dengan

perantaraan pemberian isyarat kepadanya. Anda berkata seraya memberi isyarat
dengan jari tanganmu kepada seorang siswa, contoh: ‫( هَذَا‬ini)(2). Maka lafadz/kata
)‫( )هَذَا‬3) menunjukkan atas siswa yang telah ditetapkan dengan perantara isyarat/

penunjukan kepadanya.

Isim maushul: isim yang menunjukkan sesuatu yang diberi nama dengan

perantara kalimat yang ada setelahnya yang disebut sebagai silah.

Dan isim maushul tersebut adalah:
• Kata ْ‫ اَلّذِي‬: untuk mufrad mudzakkar contoh: َ‫( جَاءَ اَلّذِيْ عََلّمَك‬telah datang seorang

[lk] yang mengajarmu) (4).
• Kata ‫اَلّتِ ْي‬: untuk mufrad muannats contoh: َ‫( جَاءَتِ اَلّتِيْ عََلّمَتْك‬telah datang wanita

yang mengajarmu).
__________________________

(1) (Kata ‫ ) َهذَا‬Maka ‫ هَا‬adalah untuk huruf tanbih, dan ‫ ذَا‬: isim isyarah, mabniy atas sukun didalam
kedudukan rafa' sebagai mubtada. Dan ‫ َطالِب‬adalah khabar, marfu', dan tanda rafa'nya adalah

dhammah.
(2) Huruf (‫ )هَا‬dalam kata ‫ َهذَا‬bukan isim isyarah, dan sesungguhnya ia adalah huruf yang didatangkan

untuk memberi perhatian ke lawan bicara untuk orang yang ditunjuk. Dilihat di "asy-Syujuur" (hal

140).

(3) Faedah: jika anda mendapati masalah dalam mengi'rab isim isyarah, maka letakkan/tempatkan
pada tempat isim dzahir dan juga i'rabnya. Contoh : ‫( رَأَيْت َهذَا‬saya telah melihat ini), anda katakan
didalamnya: َ‫رَأَْيت ال َطّاِلب‬, maka َ‫ ال َطّالِب‬adalah maf'ul bih, dan begitupun dalam mengi'rab isim maushul.

(4) Pada kalimat ،َ‫ َجاَء اَلّذِ ْي عََلّمَك‬kata (‫ )جَاَء‬adalah fi'il madhi; dan (ْ‫ )اَلّ ِذي‬adalah isim maushul, mabniy atas
sukun didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il; dan pada (َ‫ )عََلّمَك‬kamu telah mempelajari, ‫ عََلّ َم‬adalah
fi'il madhi dan fa'ilnya dhamir mustatir taqdirnya ،‫ه َو‬dan (‫ )الكَاف‬adalah dhamir muttashil,

menempati kedudukan nashab sebagai maf'ul bih. Dan jumlah fi'liyyah merupakan shilah mausul

yang tidak menempati kedudukan didalam i'rabnya.

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 122

• Kata ‫ ال َّلذَا ٌِن‬: untuk mutsanna mudzakkar, contoh: ‫( َجا َءٌال ّلَذَا ِنٌ َع َّل َما ٌَك‬telah datang
dua lelaki yang mengajarmu).

• Kata ‫ اللَّتَا ٌِن‬: untuk mutsanna muannats, contoh: ٌ‫( َجا َء ِتٌال َّلتَا ِنٌ َعلَّ َمتَا َك‬telah datang
dua perempuan yang mengajarmu).

• Kata ‫ الَّ ِذ ْي ٌَن‬: Untuk jamak mudzakkar, contoh: ٌ‫( َجا َء ٌا ّلَ ِذ ْي َن ٌ َع َّل ُم ْو َك‬telah datang
beberapa lelaki yang mengajarmu).

• Kata ‫ ال َّلتِي‬dan ‫ ال َّلئِي‬: untuk jamak muannats, contoh: ‫ َجا َء ِتٌال َّلتِي‬atau ٌ‫ال َّلئِيٌ َع َّل ْم َن َك‬
(telah datang beberapa perempuan yang mengajarmu).

Isim maushul : menunjuk pada hal yang tertentu dengan perantara shilah, anda
mengatakan: ٌ‫( َجا َء ٌالَّ ِذي ٌ َع ّلَ َم َك‬telah datang seseorang yang mengajarmu), maka isim
maushul (‫ )ا َّل ِذي‬tidak akan menentukan tanpa perantara shilah dan dia berupa
jumlah/kalimat (‫) َعلَّ َم ٌَك‬, dan tanpa shilah dia rancu (tidak jelas) (1).

Ma'rifah dengan ٌ‫ أَ ْل‬: isim yang masuk padanya (ٌ‫ ٌ(أَ ْل‬maka ia berfungsi

menjadikannya ma'rifah.
Contoh : ‫ ٌا ْلقَ َل ٌُم‬,ٌ ‫ ا ْل ِكتَا ُب‬, dan ‫ال َّطا ِل ٌُب‬. Maka isim² ini ketika belum kemasukanٌ‫ ٌِأَ ْل‬dia
merupakan isim nakirah yang belum jelas, tidak menunjukkan sesuatu yang
tertentu, misal anda katakan: ٌ‫( ِا ْشتَ َر ْي ُتٌ ِكتَابااٌ َف َق َرأْ ُتٌا ْل ِكتَا َب‬saya telah membeli sebuah buku
kemudian saya membaca kitab tersebut), maka kata (‫ ) ِكتَاباا‬adalah nakirah, akan
tetapi ketika anda masukkan padanya (ٌ‫ )أَ ْل‬dia menjadi ma'rifah (ٌ‫)ا ْل ِكتَا َب‬.

Mudhaf (bersandar) kepada isim ma'rifah : Isim nakirah yang disandarkan kepada

salah satu isim ma'rifah maka ia menjadi ma'rifah dengan bersandar padanya.
Contoh: ٌ‫( ِكتَابِ ْي‬kitab saya) - ‫( ِكتَا ُبٌ َز ْيٌد‬kitab Zaid) - ‫( ِكتَا ُبٌ َهذَا‬kitab ini) -ٌ‫ِكتَا ُبٌالَّ ِذ ْيٌ َزا َر َنا‬
(kitabnya orang yang mengunjungi kami) dan ‫( ِكتَا ُبٌال َّطا ِل ٌُب‬kitabnya siswa itu).
Maka kata (‫ ) ِكتَاب‬asalnya adalah nakirah, akan tetapi ia menjadi ma'rifah dengan

bersandar kepada isim ma'rifah.

__________________________
(1) Faedah: Di antara isim² maushul (‫ َم ٌْن‬dan ‫ ) َما‬keduanya untuk semua yang telah disebutkan

selain bahwasanya (ٌْْ ‫ ) َم ْن‬khusus untuk yang berakal (lil 'aqil) dan (‫ ) َما‬untuk yang tidak
berakal (li ghairil 'aqil), contoh: ُ‫ٌا ْحفَ ْظٌ َماٌتَعَ َّل ْمتَ ٌه‬-ٌٌ‫ َجا َءٌ َم ْنٌ َعلَّ َم َك‬, maksudnya ٌ‫ٌا ْح َف ْظٌالَّ ِذ ْي‬-ٌ‫َجا َءٌالَّ ِذ ْيٌ َعلَّ َم َك‬
ُ‫تَعَ َّل ْمتَ ٌه‬

Ketahuilah bahwa shilah maushul tidak ada posisinya dalam i'rab, maka dia tidak sebagai
khabar dan tidak juga sebagai sifat dan tidak lainnya.

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 123
 Nakirah

Pengarang berkata:

Nakirah adalah setiap isim yang umum pada jenisnya tidak terkhusus satu di antara

yang lainnya, dan pendekatannya: setiap kata yang bisa dimasuki alif dan lam, seperti
: ‫ ال َّر ُج ٌُل‬dan ‫ا ْل َف َرس‬.

Penjelasan:
Setelah menyelesaikan pembahasan Ma'rifah, Pengarang melanjutkan pembahasan
Nakirah.

Nakirah: Yaitu setiap isim yang umun pada jenisnya tidal terkhusus satu di antara

yang lainnya.
Contoh kata (ٌ‫ ) َر ُجل‬dari firman Allah Ta’ala: ﴾ ٌ‫( ﴿ َو َجآ َءٌ ِم ْنٌأَ ْق َصاٌا ْل َم ِد ْينَ ِةٌ َر ُجلٌ َي ْسعَى‬dan telah

datang dari ujung kota seorang lelaki dengan tergesa-gesa) (1).
Maka kata (ٌ‫ ) َر ُجل‬tidak dimaksudkan pada seseorang tertentu, karena sesungguhnya
kata ٌ‫ َر ُجل‬itu memungkinkan penggunaanya kepada semua lafadz ٌ‫ َر ُجل‬tanpa ada
pengkhususan.

Dikenal Nakirah juga karena sesungguhnya ia adalah:
isim yang menerima masuknya (ٌ‫ )أَ ْل‬di awalnya dan mempengaruhi kema'rifahannya.
Contoh: ‫( َر ُج ٌل‬seorang lelaki), ٌ‫( ِكتَاب‬sebuah kitab),‫( َش َج َرٌة‬satu pohon) dan ‫( َف َر ٌس‬seekor
kuda): karena sesungguhnya masuk padanya (ٌ‫ )أَ ْل‬dia menjadi ma'rifah, maka anda
katakan: ٌ‫( ال َّر ُج ُل‬lelaki itu), ‫( ا ْل ِكتَا ٌُب‬kitab itu), ُ‫( ال َّش َج َرٌة‬pohon itu) dan ٌ‫( ال َف َر ُس‬kuda itu) (2).

__________________________

(1) QS Yasin ayat 20

(2) Adapun apabila isim menerima (‫ أل‬akan tetapi ia tidak menjadikannya ma'rifah, maka ia
bukanlah nakirah, sebagaimana pada isim² 'alam, contoh: ‫( َح َس ٌن‬Hasan)' ‫( َع َّبا ٌس‬Abbas), ‫نُ ْع َما ٌُن‬
(Nu'man), jika masing² isim tsb dimasuki (‫)أل‬, anda katakan:‫( ٌَا ْل َح َس ٌُن‬Hasan), ‫ا ْل َعبَّا ٌُس‬
(Abbas), ٌ‫( ال ّنُ ْع َما ُن‬Nu'man) ini semua ma'rifah baik sebelum maupun setelah masuknya
(‫)أل‬. Dilihat di: Syarah Ibnu 'Aqil bab 1 halaman 86

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 124

Kedua: Athaf

Pengarang berkata: [Bab athaf: Huruf athaf ada sepuluh, yaitu: ‫( َو‬dan), ‫( َف‬kemudian)
, ‫( ثُ َّم‬kemudian) , ْ‫( َأو‬atau) , ْ‫( أَم‬ataukah) , ‫( إَِمّا‬ada kalanya) , ‫( بَ ْل‬tetapi/bahkan) , ‫( َلا‬tidak) ,
ْ‫( لَكِن‬akan tetapi) , ‫( حََتّى‬sehingga) pada sebagian posisi]

Penjelasan : Tawabi' jenis kedua : Athaf (1)
Definisi : Yaitu tabi' (yang mengikuti) yang berada di tengah² antaranya dengan
matbu' (yang diikuti)nya ada satu huruf athaf.(2)

Contoh: ‫( جَاءَ زَيْد َو عَمْرو‬Zaid dan Amar telah datang)
I'rabnya: َ‫ جَاء‬: fi'il madhi, Zaid: fa'il marfu' dan dia ma'thuf 'alaih, ‫ َو عَ ْمرو‬: Huruf wawu
(‫) َو‬: huruf athaf, ‫ عَمْرو‬: ma'thuf atas Zaid, marfu' juga, tanda rafa'nya dhammah
dzahirah atas huruf akhirnya.

Huruf athaf menurut pendapat yang shahih ada sembilan (3)
1. Huruf wawu (‫ ) َو‬berfungsi sebagai penggabung tidak berurutan, contoh: ‫َجاَء زَيْد َو عَ ْمرو‬
2. Huruf ‫ َف‬: untuk urutan dan ta'qib (4), contoh: ‫جَاءَ زَيْد فَعَمْرو‬
3. Huruf ‫ ثُ َّم‬: untuk urutan dan tarajiy (5), contoh: ‫َجاَء َزيْد ثُ َّم عَ ْمرو‬
4. Huruf ْ‫ أَو‬: untuk menunjuk salah satu dari dua hal, contoh: ‫جَاءَ َزيْد َأ ْو عَ ْمرو‬
5. Huruf ْ‫ أَم‬: untuk meminta penentuan setelah huruf hamzah istifham (‫)أ‬, contoh
: ‫َأزَيْد َجاَء َأ ْم عَمْرو ؟‬

__________________________

(1) Jika anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan Zaid (‫ )زَيْد‬dan Amar (‫)عَمْرو‬,
kemudian mengganti penyebutan dua kalimat «‫ »جَاءَ زَيْد‬dan «‫ » َجاءَ عَمْرو‬, cukup dengan
menyebut fi'il satu kali kemudian dua isim yang dipisahkan dengan huruf (‫) َو‬, anda
katakan: «‫» َجاءَ زَيْد وَ عَمْرو‬, kata setelah huruf (‫ ) َو‬dinamakan ma'thuf 'alaih.

(2) Syarah Alqthri halaman 427; dan Syarah Ibnu 'Aqil bab 3 halaman 224.
(3) Dengan meninggalkan (‫ )ِإَمّا‬. Dilihat di Ibnu 'Aqil bab 3 halaman 234 , Syarah Alqatr

halaman 438 dan Al-Kawakib bab 2 halaman 554.
(4) Urutan : Yaitu meletakkan yang kedua setelah yang pertama. Atta'qib: mengikutinya

dengan tidak dibatasi waktu.
(5) Attarakhi : Yaitu meletakkan yang kedua setelah yang pertama dengan dibatasi waktu.

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 125

6. Huruf (ْ‫ )َبل‬: untuk Ishrab, yaitu berpaling dari yang sebelumnya,
contoh: ‫َجاَء عَمْرو َبلْ زَيْد‬

7. Huruf (‫ )لَا‬: Untuk nafiy, menafiykan hukum dari ma'thuf,
contoh: ‫جَاَء َزيْد لَا عَ ْمرو‬

8. Huruf (‫ )لَكِ ْن‬: Untuk Istidrak, contoh: ‫مَا َجاَء عَمْرو لَكِ ْن زَيْد‬
9. Huruf (‫ ) َحَّتى‬: Untuk menggabungkan antara ma'thuf dan ma'thuf 'alaih, contoh:

ُ‫يَموْت الَنّاس حََتّى اْلأَْنبَِياء‬

Ibnu Ajurum menambahkan huruf (‫ )إَِّما‬pada huruf2 athaf, contoh: ‫ َجاءَ إَِّما َزيْد َو ِإَمّا عَمْرو‬. Pendapat
yang shahih tentang (‫ )ِإَّما‬bahwa ia bukanlah huruf nashab, dia hanya huruf tafshil dan
athafnya adalah wawu (‫( ) َو‬1). *

__________________________

(1) Suhaili berkata: Ketika anda melihat satu huruf dari huruf2 athaf bersama wawu (َ‫)و‬, maka huruf
wawu (‫ ) َو‬itulah athafnya bukan yang lainnya. Kutipan Nataijul fikri halanm 202.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Dari Hudzaifah radhiyAllahu 'anhu, Nabi ‫ ﷺ‬telah berkata: "Jangan kalian katakan ‫مَا شَاَء الَّله َو شَاَء‬
‫ ُفَلان‬tapi katakanlah ‫"مَا َشاءَ الَلّه ُث َمّ شَاءَ ُفلَان‬
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: Karena sesungguhnya ّ‫ )*ثُ َم‬littartib (urutan) dan littarakhi
sehingga berfungsi bahwa ma'thuf lebih kecil derajatnya dibanding ma'thuf 'alaih.

Kutipan "Alqaulu almufid" bab 2 halaman 103.
2. Huruf athaf (ّ‫ )ثُ َم‬untuk isim mufrad tidak ada di alqur'an, yang ada hanya untuk jumlah.

Kutipan "Dirasaat al-uslub alqur'an" bab 1 halaman 18.
3. Disyaratkan pada (huruf2 ْ‫ َأم‬,‫ َلكِ ْن‬,‫ لَا‬dan ‫ ) َحَّتى‬ma'thufnya dengan isim mufrad. Ibnu Hisyam berkata

: Dan huruf ‫ بَ ْل‬menurut pendapat yang shahih. "Almughniy" halaman 250.
4. Dalam alqur'an tidak ada huruf athaf ‫ َحَّتى‬-pendapat yang shahih- demikian pula (‫)َلكِ ْن‬.

Dilihat di "Dirasaat al-uslub alqur'an" bab 1 halaman 487 dan bab 2 halaman 115.
5. Di antara syarat2 ma'thuf dengan (‫ ) َحَّتى‬menjadi bagian dari ma'thuf 'alaih, misalnya ‫أ َكْلت ال َّسمْكََة َحَّتى‬

‫( َرأ َسهَا‬Saya makan ikan sampai kepalanya) dan pada perkataan Pengarang : [ ‫ حََتّى‬pada sebagian
kedudukan], isyarat bahwa athaf dengan (‫ )حََتّى‬itu sedikit, dan ia (‫ ) َحَّتى‬dii'rab sebagai huruf jar
apabila masuk kepada isim majrur, atau mudhari' manshub karena ia berlaku utk masdhar yang
dita'wil dari an yang tersembunyi (ِ‫ ) َأنْ الْم ْضمَرَة‬dan fi'il mudhari' contohnya seperti firman Allah
Ta’ala {‫ } َسلَام ِه َي حََّتى مَطْلَ ِع اْلَفجْ ِر‬dan firman Allah Ta’ala {َ‫ } َو كُُلوْا وَ اشْ َربوْا حََّتى يَتََبَيّن‬dan ia (‫ )حََّتى‬dii'rab sebagai
huruf ghayah dan ibtida' jika masuk kepada fi'il madhi, contohnya seperti firman Allah Ta’ala :
{َ‫}حََّتى زرْتم اْلمَقَابِر‬.

Ma’rifat dan Nakirah Halaman 126

Hukum Ma'thuf dengan Huruf Athaf:

Pengarang berkata : Jika yang disambungkan dengannya Marfu di Rafa'kan. Atau jika
manshub dinashabkan, atau khafadh di khafadhkan, atau jika majzum di Jazmkan.
Lalu dia berkata: ‫( قَامَ زَيْد وَعَمْرو‬telah berdiri Zaid dan Amar), ‫وَرَأَيْت زَيْدًا وَعَمْرًا‬, (saya melihat
Zaid dan Amar), ‫ َورَأَيْت زَيْدًا وَعَمْرًا‬, (saya melihat dengan Zaid dan Amar), dan ْ‫وَزَيْد لَمْ يَقُمْ وَلَم‬
ْ‫ ( يَقْعد‬Zaid tidak berdiri dan tidak duduk). *
Penjelasan: Pengarang menyebut setelah huruf athaf yang mengikutinya dihukumi
sebagai Ma'thuf, dan yang diikuti disebut ma'thuf alaihi.

Jika ma'thuf alaihnya marfu, maka ma'thufnya marfu, seperti ﴾ ‫(﴿وَصَدَقَ اللهُ وَرَسوْلَه‬1) maka
kata : (‫ )رَسوْلُه‬ma'thuf atas apa sebelumnya, yaitu lafdhzul jalalah (‫ )اللُه‬dan ma'thuf
mengikuti ma'thuf alaih didalam i’rabnya, mengikuti didalam rafa'nya, dan tandanya
dhammah.

Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan manshub, ada ma'thuf dalam keadaan
manshub, contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ وَمَنْ يطِعِ اللهَ َورَسوْلَه‬2) maka kata : (‫ )رَسوْلَه‬ma'thuf

atas apa sebelumnya, mengikuti didalam nashabnya, dan tanda nashabnya fathah

dhzahir di akhirannya.

Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan majrur, ada ma'thuf dalam keadaan majrur,
contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ِ‫( ﴿ءاَمِنواْ يطِعِ اَلٰلهَ َورَسوْلِه‬3) maka kata : (‫ )رَس ْولِِه‬ma'thuf atas apa
sebelumnya, mengikuti didalam jarnya, dan tanda jarnya kasrah dhzahir di
akhirannya.
Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan majzum, ada ma'thuf dalam keadaan
majrur, contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ ْ‫( ﴿وَإِ َنّ تؤْمِنواْ وَتََتّقُوا‬4) maka kata : (‫ )تََتّقُوا‬ma'thuf atas apa

sebelumnya yaitu )ْ‫(تؤْمِنوا‬, dan ma’thuf yang mengikuti ma’thuf alaihi pada ‘irabnya,

mengikutinya pada jazmnya, dan tanda jazmnya hafdzu nun (hapus huruf nun).

__________________________

Berkata Pengarang : ‫( زَيْد لَمْ يَقِم وَ لَمْ يَقَعِد‬Zaid tidak berdiri dan tidak duduk), dan tidak di jazm
pada )‫ (يقَعِد‬dengan athaf, sesungguhnya itu dengan (‫ )لم‬dan contoh yang dibenarkan seperti
‫( زَيْد لَمْ يقَمَ وَيَقَعِد‬Zaid tidak berdiri dan duduk), atau yang sesuai dengan berkata ْ‫زَيْد لَمْ يَأْكُلْ وَيسْرِب‬
(Zaid tidak makan dan minum).
(1) QS Al-Ahzab ayat 22 (2) QS An-Nisa ayat 31 (3) QS An-Nisa ayat 136
(4) QS Muhammad ayat 37, pada potongan ayat ﴾ ْ‫﴿يؤْنِكُمْ أُجرَكُمْ وَلَ يَسْءَلُكُمْ أَمْراَلَكُم‬

Ketiga : Taukid Halaman 129

Ketiga : Taukid /keterangan penguat :

Pengarang menjelaskan di dalam bab taukid : taukid adalah pengikut/yang

mengikuti muakkad didalam keadaan rafa', nashab dan khafadh, dan ma'rifatnya,
dan terwujud dengan menggunakan lafadz tertentu yaitu : ‫( الَنّفْس‬diri, sendiri), ‫( العَْين‬diri,
sendiri), ‫( كُل‬seluruh, semua) dan ‫( أَجْمَع‬seluruh, semua), dan pengikut-pengikut ‫أَجْمَع‬
yaitu : ‫( َأ ْكتَع‬semua), ‫( َأبْتَع‬semua), dan ‫( َأبْصَع‬semua). Anda katakan : ‫( َقا َم زَيْد نَفْسه‬Zaid telah
berdiri, dirinya), dan ْ‫( رََأْيت الَقوَْم ُكَّلهم‬saya telah melihat kaum, seluruhnya) dan ِ‫َم َر ْرت ِبالَقوْم‬
َ‫( أَجْمَعِيْن‬saya berpapasan dengan kaum, semuanya).

Penjelasan : dari penjelasan yang dijadikan alat bantu orang Arab dalam
perkataannya : taukid, menjaga keraguan dan ketidak-jelasan dan kerancuan,
memperkuat makna yang pembicara mau, dan kepastian dalam pikiiran yang diajak
bicara.

Dan taukid menurut dua ulama ahli nahwu: adalah lafadz yang bermakna.

Maka salah satu bentuk taukid dengan lafadz: dengan melakukan pengulangan
lafadz awal, contohnya: ‫ ( َقاَم زَيْد َزيْد‬telah berdiri Zaid, Zaid).
Maka ‫ َزيْد‬yang pertama adalah fa'il dan yang kedua adalah lafadz taukid.

Dan sabda Nabi ‫ﷺ‬: 》 ‫(》 ال َصّلاََة ال َصّلاََة‬sholat, sholat) (1), maka َ‫ ال َصّلاَة‬pertama adalah

maf'ul bih dari fi'il yang dihapus, takdirnya: telah mengerjakan sholat, dan yang

kedua adalah lafadz taukid.

Dan taukid menurut makna: menunjukkan secara lisan beberapa kata diantaranya:
‫ ( الَنّفْ َس‬diri), dan ‫( العَيْ َن‬diri), dan ّ‫( كُلَا‬seluruh, semua), dan ‫( أَجْمَ َع‬seluruh, semua), dan yang

menyerupainya.

Dan lafadz-lafadz ini perlu dihubungkan dengan dhamir yang sesuai untuk
muakkad, kecuali ‫ أَجْمَع‬dan pengikut-pengikutnya, dan perinciannya sebagai berikut :

- (‫ الَّنفْس‬dan ‫)العَْين‬: contoh : ‫( قا َم َزيْد نَفْسه‬Zaid telah berdiri, dirinya) atau ‫( قَا َم َزيْد عَيْنه‬Zaid

telah berdiri, dirinya).

- (‫ ُك ُّل‬dan ‫ )أَجْمَع‬: contoh firman Allah ta'ala: ﴾ ‫( ﴿ فَ َسجَ َد المَلآِئكَةُ ُكُّلهمْ أَجْمَعوْ َن‬maka

bersujudlah para malaikat yang seluruhnya bersama-sama). (2)
Dan terkadang didatangkan setelah (‫ )أَجْمَع‬dengan pengikut-pengikutnya, yaitu: ,‫َأ ْكتَع‬
‫ َأبْصَع‬dan ‫ ; َأْبتَع‬untuk menambah penguatan taukid, contoh: َ‫َجاَء القوم أَ ْجمَع ْو َن َأكَْتعوْ َن َأبْصَع ْونَ أبَْتع ْون‬

(kaum itu datang seluruhnya).

__________________________

(1) Riwayat Ahmad dari hadits Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha.
(2) QS Al-Hijr ayat 30

Ketiga : Taukid Halaman 130

Dan hukum taukid : sesungguhnya disesuaikan dengan yang diikuti - ditaukidkan -

mengikuti i'rabnya/kata yang mengikuti i'rab sebelumnya sebagai penguat.

- seperti pada firman Allah Ta’ala :
﴾ ‫( ﴿ وَإَِليِْه ترْجَع اْللأَمْ ِر ُكُلّه‬dan kepadanya dikembalikan urusan2 semuanya) (1).
-dan firmannya :﴾ ِ‫( ﴿ ِإ َنّ الَأ ْم َر ُكَّله ِلَلّه‬sesungguhnya urusan itu seluruhnya ditangan Allah)

(2) .
-dan firmannya :﴾ ‫( ﴿ َوت ْؤمِنونَ بِاْل ِكَتابِ ُكِلِّه‬dan kamu beriman kepada kitab2 semuanya) (3) . *

__________________________

(1) QS Hud ayat 123. (2) QS Ali Imran ayat 154. (3) QS Ali Imran ayat 119.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Taukid secara bahasa berarti penekanan. Dan taukid secara lafadz berarti pengulangan dari

kata pertama itu sendiri atau dengan persamaan katanya, baik berupa isim dzahir seperti
pada : ‫( جَاءَ المُعَِّلم المُعَِلّم‬guru itu telah datang, guru itu) atau dhamir seperti ‫( ِجئْت َأنَا‬saya telah
datang, saya), atau fi'il seperti ‫( جَاءَ جَاَء الُمعَِلّم‬telah datang, guru itu telah datang), atau huruf
seperti ْ‫( َنعَ ْم َنعَم‬ya, ya), atau berupa kalimat, seperti ‫( َجاَء الُمَعِلّم جَاءَ المُعَِلّم‬guru telah datang, guru

telah datang).
Dan contoh pengulangan kata dengan persamaan katanya, seperti ‫( َجاَء لَيْ ٌث َأسَد‬singa telah
datang, singa), dan ‫( ََقعَ َد جَلَسَ زَيْد‬telah datang, Zaid telah datang), Dilihat di catatan kaki

'Asymawi pada Ajurrumiyyah hal. 240.
2. Kata ‫ ِكلَا‬dan ‫( ِكْلَتا‬kedua-duanya) menegaskan kata ganda seperti : ‫( جَاَء ال َّزيْدَانِ كِلَاهمَا‬dua Zaidan

keduanya telah datang), dan ‫( جَاءَتْ الِنْ َدانِ كِْلتَاهمَا‬dua Hindun keduanya telah datang). Tidak
boleh kata ‫ كِلَا‬dan ‫ ِكلْتَا‬ini digunakan untuk taukid kecuali sebagai mudhaf bagi dhamir.

3. Al Mushannif tidak menyebutkan bahwa taukid adalah yang mengikuti muakkad didalam

bentuk jazm dan nakirah (umum); maka sesungguhnya taukid disini ditujukan sebagai

taukid secara makna, dan lafadz-lafadz isim yang ma'rifat (khusus). Al Kafrawiy

menyebutkan : Lafadz-lafadz taukid seluruhnya adalah ma'rifah/khusus, dan dia menjadi

mudhaf karena didefinisikan dengan idhafah, dan tidak didefinisikan secara ilmiah.

Syarah Al-Kafrawiy hal 114 dengan tashrif.
4. Kata (‫ َأبْتَع‬،‫ أَبْ َصع‬،‫ )أَ ْكَتع‬keluar untuk menambah penekanan dan melebihkan. Dan semuanya

bermakna : seluruhnya ( ‫) أَجْ َمع ْو َن‬. Karena kata ‫ َأكَْت َع‬diambil dari perkataan mereka, hati
berkumpul jika bertemu ( َ‫) َت َكَتّ َع الخَلد إِذَا إِ ْجَتمَع‬, dan kata ‫ َأْبَتع‬dari ِ‫ الَبتْع‬yaitu panjang leher, dan

sebuah kaum jika mereka berkumpul maka panjanglah leher-leher mereka, maka mereka
menjadikannya sebagai kiasan untuk sebuah pertemuan. Kata ‫ َأبْ َصع‬diambil dari ‫البَصْع‬

(kumpulan / masyarakat) yaitu asal masyarakat ; maka jadilah bermakna seluruhnya. Kata
- kata ini menjadi umum setelah ‫ أَجْ َمع‬disebut tawwabi' ajma'u. Dilihat di kitab Al - Kawakib

(jilid 2/hal 567), dan Syarah kitab Kafrawiy (hal 115).

5. 'Izz ibnu 'Abd al-Salam berkata didalam kaidah-kaidah yang disusunnya: banyak

Pengarang menyetujui bahwa taukid didalam lisan Arab yang berupa pengulangan adalah

tidak menambahkan hingga tiga kali. Al-Kawakib (2/562).
6. Taukid dengan ‫ الَنّ ْفس‬dan ‫ العَيْن‬tidak terdapat didalam al-Qur'anul Karim. Merujuk kepada

catatan-catatan pada Uslub al-Qur'an (9/5).

Keempat : Badal Halaman 133

Keempat : Badal

Pengarang berkata pada bab badal : apabila isim digantikan dengan isim, atau fi'il

dengan fi'il, maka pengikut akan mengikuti seluruh i'rabnya.

Penjelasan : Badal

Pengertian : Isim tabi' yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum dengan tanpa

perantara. (1)

Contohnya : ‫( عَدَلَ الخَلِيْفَةُ عمَر‬Khalifah Umar berlaku adil).
I'rabnya: َ‫ عَدَل‬: fi’il madhi, ُ‫ الخَلِيْفَة‬: fa'il, ‫ عمَر‬: badal dari ُ‫الخَلِيْفَة‬, yang mengikuti i'rabnya,

dan pasti hadir tafsir dan penjelasannya, dan itu adalah penyebutan hukum dan

seimbang, dan sesungguhnya penyebutan lafadz ُ‫ الخَلِيْفَة‬yang merupakan mubdal

minhu(yang digantikan) merupakan pengantar.(2).

Macam-macam badal:

Berkata al-mushannif : badal itu dibedakan menjadi empat: badal keseluruhan dalam
keseluruhan ( ِ‫ ;) شَيْءِ مِنَ ال َشّيْء‬badal sebagian dari keseluruhan ( ‫ ; ) بَعْضِ مِنَ الكُ ِّل‬badal isytimal
( ِ‫ ;) اِشْتِمَال‬dan badal al ghalath ( ‫) الَغَلط‬. Contoh pada ucapanmu : َ‫( قَامَ زَيْد أَخوْك‬Zaid
saudaramu telah berdiri), ‫( َأكَْلت ال َرّغِيْفَ ثُلُثَه‬saya makan roti sepertiganya), ‫( نَفَعَنِيْ زَيْد عِلْمه‬Zaid
bermanfaat untukku, ilmunya), dan َ‫( رَأَيْت زَيْدًا الفَرَس‬saya melihat Zaid (maksudnya)

kuda), anda hendak mengatakan "kuda", lalu anda salah ucap, maka anda ganti kata

Zaid dengan kata kuda.

Penjelasan: kemudian al-mushannif mulai menjelaskan tentang badal: badal

dibedakan menjadi 4 kelompok:

Pertama: Badal Keseluruhan dari Keseluruhan

Dan ia menunjukkan badal (pengganti) adalah sama dengan yang digantikannya:
Contohnya pada firman Allah swt: ﴾‫) صِرَٰطَاَلّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِ ْم‬٦( َ‫﴿إِهْدِنَا ال ِصّرَٰ َط المُسْتَقِيْم‬. (Tunjukilah

kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Anda beri nikmat). Maka
kalimat َ‫ صِرَاط‬kedua adalah badal keseluruhan dari ‫ ال ِصّرَا َط‬yang pertama. Karena 'jalan

yang Allah berikan nikmat kepada mereka' adalah sama dengan 'jalan lurus'. Seperti
perkataanmu ‫( قَامَ زَيْد أَخوْك‬Zaid, saudaramu telah berdiri) kata saudaramu adalah badal,

dan ketika setiap kalimat yang menunjukkan apa yang menunjukkan atasnya yang
lain, maka badal ini disebut badal muthobiq ( َ‫ ) البَدَحلَ المُطَابِق‬atau badal kulli min kulli (
ّ‫) بَدَلَ ُك ٍلّ مِ ْن كُ ٍل‬.
__________________________

(1) Artinya diantara kata tersebut (isim tabi') dengan yang diikutinya; tidak terdapat ma'thuf

terhadap huruf athaf. Ibnu Malik mengungkapkan di dalam kitab al-Alfiyya : "Isim tabi'

yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum tanpa perantara - demikian itu dinamakan

badal."

(2) Terkadang fi'il digantikan dengan fi'il yang lain, seperti pada firman Allah Ta’ala :
﴾ ‫) ي َٰضعَفْ َله اْلعَذَاب‬٢٨( ‫( ﴿ َومَن َي ْفعَ ْل ذَٰلِكَ يَلْ َق َأَثامًا‬barangsiapa yang melakukan yang demikian itu,

niscaya dia mendapatkan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya).

Keempat : Badal Halaman 134

Kedua : Badal Bagian Dari Keseluruhan (‫) َب ْعضٍ مِنْ ُك ٍّل‬

Yaitu badalnya merupakan sebagian dari mubdal minhu, contoh:
﴾ ٙ,‫) ِّنصْفَه‬٢( ‫( ﴿ قُمِ ٱَّلْي َل ِإَلّا َقلِْيلًا‬bangunlah pada malam hari kecuali sedikit. (Yaitu)

setengahnya).
Maka kata ( ‫ ) نِصْفَه‬adalah badal sebagian dari ( ُ‫ ) اللَيْل‬karena setengahnya ( ‫ ) نِصْفَه‬itu
adalah sebagian dari malam hari ( ُ‫) اللَيْل‬.
Misal perkataanmu: ‫( َأكَلْت ال َرّغِيْفَ ثُلُثَه‬saya makan roti sepertiganya).
Dan contoh lainnya: ‫( أَعَجَبَنِيْ زَيْد يَده‬Zaid membuatku senang, yakni tangannya).

Ketiga: Badal Isytimaal

Yaitu sesuatu antara badal dan mubdal minhu ada hubungannya yang bukan bagian
dan bukan pula keseluruhan, contoh perkataanmu: ‫( نَفَعَنِي زَيْد ِعلْمه‬Zaid bermanfaat
bagiku, ilmunya) dan kalimat: ‫ ( أَعْجَبَنِيْ بَكَر ثَوْبه‬Bakr menyenangkanku, yakni bajunya).
Maka kata ‫ ِعلْمه‬dan ‫ ثُ ِوّبه‬adalah badal isytimaal, dan badal di sini bukanlah ia mubdal

minhu sebagaimana pada badal muthabiq, dan bukan bagian yang hakiki dari

mubdal minhu sebagaimana pada badal sebagian dari keseluruhan.

Keempat: Badal Ghalath

Yaitu apa yang disebutkan adalah pengganti dari kesalahan/keliru mengucapkan,
misal perkataanmu: َ‫( رَأَيْت زَي ٌْدًا الفَرَس‬saya melihat Zaid, kuda).
Anda ingin mengatakan ‫( رَأَيْت الفَرَس‬saya melihat kuda) kemudian anda keliru, anda
mengatakan ‫ زَيْدًا‬lalu anda mengatakan yang benar َ‫الفَرْس‬. Tetapi dalam hal ini lebih baik
ditambahkan kata ( ‫ بَ ْل‬/ tetapi), maka diucapkan َ‫رَأَيْت زَيَدًا بَ ِل الفَرَس‬. (saya melihat Zaid, tetapi

kuda).
__________________________

(1) QS Al-Muzammil ayat 2-3.
(2) Maka (‫ )بَ ْل‬sebagai huruf athaf, dan َ‫ الفَرَس‬ma'thuf manshub, Dilihat di kitabnya Almakudiy mengenai

Al-ajurumiyah halaman 42.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Badal kulli min kulli, Ibnu Malik menamakannya badal muthabiq untuk posisi nama Allah Ta’ala,
contoh ﴾ ِ‫) الَّله‬١( ‫" ﴿ إِلَى صِ ٰرطِ ٱل َع ِزْيزِ ٱلحَ ِمي ِد‬Kepada jalan Al'aziz Alhamid" pada Allah, yaitu badal dari
Al'aziz ( ِ‫) ال َع ِزْيز‬, yaitu badal muthabiq bukan badal kulli min kulli. Dilihat di kitab Badai'ul fawa'id

bab 4 halaman 1650, kitab Alfakihi bab 2 halaman 251, dan kitab Ashshaban bab 3 halaman 124.

2. Di antara posisi badal syai' minasysyai' (badal muthabiq):

Isim dzahir (ma'rifah dengan "al") setelah isim isyarah, contoh firman Allah Ta’ala:
﴾ َ‫"﴿ وَلَا تَقْرََبا هَ ِذهِ ٱل َّشجَ َرة‬Dan janganlah kam(berdua) mendekati pohon ini"
Isim setelah kuniyah (nama keluarga), contoh : ‫رَضِيَ اللٰه عَنْ أَبِي حَفْصٍ عمَ َر بْ ِن الخَ َطّا ِب‬. (semoga Allah

meridhai Abu Hafsyah, yaitu Umar bin Khaththab).
Isim setelah laqab (nama gelar) : ِ‫رَ ِحمَ اللٰه زَيْنَ العَابِدِيْ َن عَلِ ِىّ بْنِ الحُسَيْن‬. (semoga Allah merahmati Zainal

Abidin yaitu Ali bin Husain) .

Abu Hafsyah adalah kuniyahnya Umar bin Khaththab.

Zainal Abidin adalah laqabnya Ali bin Husain

Isim-isim yang Manshub Halaman 137

Isim-isim yang Manshub

Pengarang berkata mengenai bab isim-isim yang manshub :

Isim-isim yang manshub terdiri dari lima belas kedudukan*, yaitu maf'ul bih
/obyek, mashdar, dzaraf zaman / keterangan waktu, dzaraf makan / keterangan tempat,
haal / keterangan kondisi, tamyiz / keterangan obyek, mustatsna / pengecualian, isim
laa, munaada / yang diseru, maf'ul min ajlih / keterangan tujuan, maf'ul ma'ah /
keterangan penyertaan, khabar kaana dan yang semisalnya, isim inna dan yang
semisalnya, dan pengikut yang manshub yang terdiri atas empat macam, yaitu na'at
/ keterangan sifat, athaf / kata yang disambungkan, taukid / keterangan penguat, dan
badal / kata pengganti.

Penjelasan: Seperti ketika Pengarang kitab ini yaitu Ibnu Ajurum Ashshonhaji
Rahimahullah menjelaskan mengenai isim-isim yang marfu', maka beliau memulai
penjelasan mengenai isim-isim yang manshub didalam berbagai jenisnya dan
penjelasannya. Yang dimaksud dengan isim yang manshub adalah : semua isim yang
hukumnya nashab, yang meliputi: maf'ul bih, mashdar, dzaraf zaman, dzarah makan,
haal, tamyiz, mustatsna, isim laa, munaada, maf'ul min ajlih, maf'ul ma'ah, dan
seterusnya (seperti yang dijelaskan diatas). Maka kapan sajakah berlaku setiap isim
yang kedudukan hukumnya manshub tersebut, akan dijelaskan satu persatu, insyaa
Allah Ta’ala.

__________________________

* Akan tetapi dalam hal ini tidak disebutkan seluruhnya kecuali 14. Dan penjelasannya
berbeda pada pembahasan yang 15, apakah itu? Ibnu Haji berkata: yang benar secara
akurat adalah sesungguhnya yang ke-15 itu disebut sebagai maf'ul dzhonna, dan dia
adalah berhubungan dengan pemisalan khabar kaana dan isim inna ; yang diyakini bahwa
Pengarang buku melupakannya. Telah dsebutkan sebagian penjelasan didalam
pendahuluan ini bahwa sesungguhnya yang ke-15 itu telah didapati sebagai maf'ul
dzhonna dalam tulisannya di catatan Pengarang. Dan Pengarang menambahkan setelah
naskah ini dan saat akhir memasukkan naskah. Dilihat di catatan kaki Ibnu Haji (hal. 108).
Hal ini juga merujuk kepada Syekh Ibnu 'Atsiimiin dalam syarahnya Ajurumiyyah.

Isim-isim yang Manshub Halaman 138

Pertama : Maf'ul bih

Berkata al-mushannif sang Pengarang mengenai bab maf'ul bih : Maf'ul bih adalah
isim manshub yang terkena fi'il, contoh : ‫( َضرَبْت زَيْدًا‬saya memukul Zaid) danَ‫َركِبْت الفَرَس‬
(saya menunggangi kuda). Maf'ul bih dibedakan atas 2 bagian : dzahir/tampak dan
dhamir/ implisit berupa dhamir (kata ganti). Contoh yang dzahir adalah seperti yang
disebutkan di awal. Dhamir dibedakan atas 2 bagian : muttashil dan munfashil.
Muttashil terdiri atas 12 , yaitu : ْ‫( ضَرَبَنِي‬dia memukulku), ‫( َضرَبَنَا‬dia memukul kami) ‫َضرَبَ َك‬
, (dia memukulmu {lk}), ‫( َضرَبَ ِك‬dia memukulmu {pr}), ‫( ضَرَبَكُمَا‬dia memukul kalian
berdua), ‫( ضَرَبَكُ ْم‬dia memukul kalian {lk}),ّ‫( ضَرَبَكُ َن‬dia memukul kalian {pr}), ‫( َضرَبَه‬dia
memukulnya {lk}), ‫( َضرَبَهَا‬dia memukulnya {pr}), ‫( ضَرَبَهمَا‬dia memukul mereka berdua),
‫( ضَرَبَه ْم‬dia memukul kalian {lk}), ‫( َضرَبَه َّن‬dia memukul mereka {pr}).

Penjelasan : Maf'ul bih

Definisi : merupakan isim manshub yang terkenai fi'il/perbuatan.
Contoh : ‫( ضَرَبْت زَيْدًا‬saya memukul Zaid), dan َ‫( َركِبْت الْفَرَس‬saya menaiki kuda).
I'rab : kata ‫ زَيْدًا‬dan َ‫ الْفَرَس‬masing-masing adalah maf'ul bih, yang dikenai fi'il/perbuatan
oleh fa'il/subjek.
Jenis-jenisnya : Isim dzahir dan isim dhamir.

Pertama : Dzahir
Dinashabkan dengan fathah atau penggantinya
Menashabkan dengan Fathah, jika berupa isim mufrad, seperti Firman Allah berikut

ini: ﴾َ‫( ﴿ َوقَتَلَ دَاوود جَالُوت‬dan Daud membunuh Jalut) (1). Atau jika berupa jamak taksir,
seperti Firman Allah berikut ini: ﴾‫( ﴿ وَبَ َثّ مِنْهمَا رِجَالًا‬dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan lelaki) (2).
Menashabkan dengan Kasrah, jika berupa jamak muannats salim, seperti firman
Allah berikut ini: ﴾ِ‫( ﴿ َخلَقَ ال َسّمَاوَات‬Dia menciptakan langit) (3).
Menashabkan dengan Ya’ , jika berupa jamak mudzakkar salim, seperti firman Allah
berikut ini: ﴾َ‫ ( ﴿لَا تََتّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء‬janganlah kamu mengambil orang-orang kafir
menjadi wali) (4). Atau jika berupa mutsanna, seperti firman Allah berikut ini:
﴾َ‫( ﴿وَاجْعَلْنَا مسْلِمَيْنِ لَك‬dan jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada
Anda) (5).
Menashabkan dengan Alif, jika berupa jamak mudzakkar salim, seperti Firman Allah
berikut ini: ﴾‫(( ﴿آوَ ٰى إِلَيْهِ أَخَاه‬Yusuf) membawa saudaranya ke tempatnya) (6).

__________________________

(1) QS Al-Baqoroh Ayat 251 (2) QS. An-Nisa Ayat 1 (3) QS at-Thagobun Ayat 3
(6) QS. Yusuf Ayat 69
(4) QS An-Nisa Ayat 144 (5) QS. Al-Baqarah Ayat 128

Isim-isim yang Manshub Halaman 139

Kedua: Dhamir
Dhamir terbagi atas dua jenis: muttashil (kata ganti yang bersambung) dan munfashil
(kata ganti yang tidak bersambung).

A. Muttashil: ia bersambung dengan fi'il, yaitu: ya' mutakallim, naa mutakallim, kaf

mukhathab, dan ha' ghaib.

1. Ya' Mutakallim: untuk orang pertama (si pembicara) tunggal, contoh: ْ‫ َضرَبَنِي‬.

2. Naa: untuk orang pertama (si pembicara) dan bersamanya ada orang-orang lain
atau orang yang banyak bersamanya, contoh: ‫ضَرَبَنَا‬.

3. Kaf Mukhathab:
● Digunakan dengan berharakat fathah untuk orang kedua, mufrad,
mudzakkar. Contoh: َ‫ضَرَبَك‬.
● Dan digunakan dengan berharakat kasrah untuk orang kedua, mufrad,
muannats. Contoh: ‫ضَرَبَ ِك‬.
● Bersambung dengan mim dan alif untuk menunjukkan orang kedua,
mutsanna secara mutlak. Contoh: ‫ضَرَبَكُمَا‬.
● Bersambung dengan mim untuk menunjukkan orang kedua, jamak,
mudzakkar. Contoh: ‫ضَرَبَكُ ْم‬.
● Bersambung dengan nun untuk menunjukkan orang kedua, jamak, muannats.
Contoh: ّ‫ضَرَبَكُ َن‬.

4. Ha' Ghaib:
● Digunakan untuk orang ketiga, mufrad, mudzakkar. Contoh : ‫ضَرَبَه‬.
● Digunakan untuk orang ketiga, mufrad, muannats. Contoh : ‫ضَرَبَهَا‬.
● Bersambung dengan mim dan alif untuk menunjukkan orang ketiga,
mutsanna secara mutlak. Contoh : ‫ضَرَبَهمَا‬.
● Bersambung dengan mim untuk menunjukkan orang ketiga, jamak,
mudzakkar. Contoh : ْ‫ضَرَبَهم‬.
● Bersambung dengan nun untuk menunjukkan orang ketiga, jamak, muannats.
Contoh : ّ‫ضَرَبَه َن‬.

Maf'ul bih pada contoh-contoh tersebut adalah dhamir muttashil (kata ganti yang
bersambung), mabniy yang tidak terpengaruh oleh i'rab, yang ditetapkan
berdasarkan apa yang didengar atasnya. Maka disebutkan dalam i'rabnya, contoh :
‫ ضَرَبَنِي‬، َ‫ ضَرَب‬: fi'il madhy, dan nun untuk wiqaayah. Ya adalah dhamir muttashil, mabniy
atas sukun pada kedudukan nashab sebagai maf'ul bih. Fa'ilnya adalah dhamir
mustatir.

Isim-isim yang Manshub Halaman 140

B. Munfashil

Al-mushannif sang pengarang buku menyebutkan: munfashil terdiri dari 12, yaitu: َ‫ إَِيّاي‬,
dan ‫ إَِيّانَا‬, dan ‫إَِيّا َك‬, dan ‫ ِإَيّا ِك‬, dan ‫ إَِيّاكُمَا‬, dan ‫إَِيّاكُ ْم‬, dan ّ‫ إَِيّاكُ َن‬, dan ‫ إَِيّاه‬, dan ‫ إَِيّاهَا‬, dan ‫ إَِيّاهمَا‬, dan ْ‫ إَِيّاهم‬, dan
ّ‫إَِيّاه َن‬.

Penjelasan: munfashil (kata ganti yang tidak bersambung) adalah kata yang dipisahkan dari

fi'il yang mendahuluinya (1). Kata ganti ini berjumlah 12 lafadz, yaitu : untuk kata ganti orang
pertama: (‫ إَِيّا َي‬, dan ‫ ; )إَِيّانَا‬kata ganti orang kedua: (‫ ٌَْإَِيّاك‬, dan ‫إَِيّا ِك‬, dan ‫ إَِيّاكُمَا‬, dan ْ‫ إَِيّاكُم‬, dan ّ‫; ) إَِيّاكُ َن‬
kata ganti orang ketiga: (‫ إَِيّاه‬, dan ‫ إَِيّاهَا‬, dan ‫ إَِيّاهمَا‬, dan ْ‫ إَِيّاهم‬, dan ّ‫) إَِيّاه َن‬.
Maka (َ‫ )إَِيّاي‬adalah kata ganti orang pertama (si pembicara) baik mudzakkar ataupun

muannats. Contoh : (َ‫( )إَِيّايَ أَكْرَمْت‬2) (kamu telah memuliakanku).
Dan (‫ )إَيّانَا‬untuk orang pertama yang bersamanya ada orang selainnya, atau terdapat sesuatu

yang diagungkan pada dirinya. Contoh : ‫( إِيَانَا أَكْرَمْ َت‬kamu telah memuliakan kami).
Dan (‫ )إَِيّا َك‬untuk orang kedua (yang diajak bicara), mufrad, mudzakkar. Contoh : ‫( إَِيّا َك أَكْرَمْت‬saya

telah memuliakanmu {lk}).
Dan (ِ‫ )إَِيّاك‬untuk orang kedua, mufrad, muannats. Contoh : ‫( إَِيّاكِ أَكْرَمْت‬saya telah memuliakanmu

{pr}).
Dan (‫ )إَِيّاكُمَا‬untuk orang kedua yang berjumlah dua orang (mutsanna), mudzakkar ataupun

muannats. Contoh : ‫( إٍَيّاكُمَا أَكْرَمْت‬saya telah memuliakan kalian berdua).
Dan (ْ‫ )إَِيّاكُم‬untuk orang kedua, jamak, mudzakkar. Contoh : ‫( إَِيّاكُمْ أَكْرَمْت‬saya telah memuliakan

kalian {lk}).
Dan (ّ‫ )إَِيّاكُ َن‬untuk orang kedua, jamak, muannats. Contoh : ‫( إَِيّاكُ َنّ أَكْرَمْت‬saya telah memuliakan

kalian {pr}).
Dan (‫ )إَِيّاه‬untuk mufrad, mudzakkar, orang ketiga. Contoh: ‫( إَِيّاه أَكْرَمْت‬saya telah memuliakannya

{lk}). (3)
Dan (‫ )إَِيّاهَا‬untuk mufrad, muannats, orang ketiga. Contoh : ‫( إَِيّاهَا أَكْرَمْت‬saya telah memuliakannya

{pr}).
Dan (‫ )إَِيّاهمَا‬untuk mutsanna, muannats, orang ketiga baik mudzakkar ataupun muannats.

Contoh: ‫( إَِيّاهمَا أَكْرَمْت‬saya telah memuliakan mereka berdua).
Dan (ْ‫ )إَِيّاهم‬untuk jamak, mudzakkar, orang ketiga. Contoh: ‫( إَِيّاهمْ َأكْرَمْت‬saya telah memuliakan

mereka {lk}).
Dan (ّ‫ )إَِيّاه َن‬untuk jamak, muannats, orang ketiga. Contoh : ‫( إَِيّاه ّنَ َأكْرَمْت‬saya telah memuliakan

mereka {pr}).
__________________________

(1) Maka anda berkata didalam contoh: (‫ ) َضرََبنِي‬sama dengan ‫( إَِيّا َي َضرَ َب‬dia telah memukulku) ; dan (َ‫) َضرَبَك‬
sama dengan َ‫( إَِيّاكَ َضرَب‬dia telah memukulmu) ; dan (‫ ) َضرَبَه‬sama dengan َ‫( إَِيّاه َضرَب‬dia telah

memukulnya).
(2) Kata ‫ ِإَيّا‬merupakan dhamir munfashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan nashab sebagai

maf'ul bih muqaddam / yang didahulukan, dan ya' adalah huruf dhamir untuk orang pertama,
dan ‫ أَ ْكرَم‬adalah fi'il madhi, mabniy atas sukun; dan ta adalah dhamir muttashil, mabniy atas fathah

didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.
(3) Kata ‫ إَِيّا‬adalah dhamir munfashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul

bih muqaddam / yang didahulukan dan ha adalah huruf dhamir untuk orang ketiga.

Isim-isim yang Manshub Halaman 141

Maf'ul bih pada contoh ini adalah dhamir munfashil, ia mabniy dan tidak masuk

i'rab padanya, ia hanya dibina berdasarkan apa yang ia didengar.

Maka kau katakan pada i'rab misal firman Allah Ta’ala: ﴾‫ ﴿ إَِيّاكَ نَعْبد وَإَِيّاكَ نَسْتَعِين‬adalah

dhamir munfashil mabniy dengan sukun pada posisi nashab ia adalah maf'ul bih

muqaddam, dan ( ‫ ) الكَاف‬lil khithab (orang kedua/yang diajak bicara), maka ( ‫ ) إَِيّا‬sendiri

adalah dhamir dan mengikutinya huruf²: ya' mutakallim, ha' orang ketiga (lil

ghaibah) dan kaaf orang kedua (lil khithab). *

__________________________

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Tanda maf'ul bih itu sahnya dijadikan mukhbar 'anhu dengan isim maf'ul dari lafadz
fi'ilnya, misal kau katakan: ‫( ضَرَبْت زَيْدًا‬saya telah memukul Zaid) : Zaid yang dipukul (‫)مَضْروْب‬
dan ‫( شَرِبْت الَلّبَن‬saya telah minum susu): Susu yang diminum (‫)مَشْروْب‬

2. Nun wiqayah (Nun penjaga): dinamakan demikian karena ia menjaga fi'il yang kasrah yang

masuk padanya yang serupa pada isim yang kasrah disebabkan ya' mutakallim; karena ia

saudaranya jar maka fi'il dilindungi darinya , sebagaimana dilindungi dari jar. Adapun

kasrah yang tidak seperti ini, maka tidak membutuhkan pengamanan darinya seperti

kasrah sebelum ya' mukhathabah dan kasrah untuk menyelamatkan dari bertemunya dua

sukun. Hasyiyah Ashshaban bab 1 halaman 178, dan dilihat di Hasyiyah Alhamidiy atas

Kafrawiy (hal 71).
3. Almuta'ajjab minhu setelah shighah atta'ajjub - ‫ ما أفْعَلَه‬- dii'rab dengan maf'ul fih, contoh: ‫مَا‬

َ‫( ! أَحْسَنَ ال َسّمَاء‬alangkah bagusnya langit itu!).
4. Dhamir ( ‫ ) نَا‬adalah dhamir mutakallim satu atau banyak jika bersambung dengan fi'il

mudhari' atau fi'il amr selalu dii'rab sebagai maf'ul bih, contoh: ‫( لَا تؤَاخِذْنَا‬janganlah Kau ambil
dari kami) dan ‫( ارْحَمْنَا‬rahmatilah kami), apabila bersambung dengan fi'il madhi dii'rab
sebagai maf'ul bih jika sebelumnya - yakni akhir fi'il difathahkan, contoh: ‫( زَارَنَا‬telah
mengunjungi kami) - atau alif - seperti: ‫( دَعَانَا‬ia telah memanggil kami), apabila sebelumnya
sukun yang bukan alif, seperti: ‫( مَشَيْنَا‬kami telah berjalan), ‫( زِدْنَا‬kami telah menambah) dan
‫(َُدَعَوْنَا‬kami telah memanggil), maka ia dii'rab sebagai fa'il.
ref. AlKawakib addurriyyah bab 1 halaman 155.

5. Dhamir setelah fi'il dii'rab "fii mahalli nashbin maf'ul bih" (pada posisi nashab sebagai
maf'ul bih), contoh: ‫( عَلمَنِي‬dia telah mengajari saya), ‫( عََلّمَنَا‬dia telah mengajari kami), َ‫( عََلّمَك‬dia
telah mengajarimu) dan ‫( عََلّمَه‬dia telah mengajarinya).

6. Jika lafadz jalaalah pada posisi maf'ul bih, maka dii'rab "sebagai manshub untuk

mengagungkan" sebagai adab.

Isim-isim yang Manshub Halaman 142

Isim-isim yang Manshub Halaman 146

Kedua : Maf’ul Muthlaq

Pengarang berkata:
(Bab Mashdar : Mashdar adalah isim, manshub, tashrif ketiga dari fi'il, contoh: - َ‫َض َرب‬

‫ َض ْربًا‬- ‫َيضْرِب‬. ).

Penjelasan :

Sesuatu yang orang Arab menggunakannya untuk penekanan (taukid) perkataannya:

mashdar (¹)

Mashdar : Yaitu isim manshub berasal dari tashrif fi'il yang ketiga.

Yang dimaksud dengan tashrif fi'il adalah : Perubahan dari satu shighah kepada satu

shighah lainnya yang dimulai dari (shighah) fi'il madhi - misal - kemudian

(shighah) fi'il mudhari' kemudian (shighah) isim yaitu mashdar.
Kemudian kau katakan: ‫ يَضْ ِرب – َضرْبًا‬- ‫ َض َر َب‬Maka ‫ َض ْربًا‬: mashdar dan dinamakan maf'ul

muthlaq

Maf’ul Muthlaq

Definisi: Yaitu mashdar yang manshub yang sesuai 'amilnya secara lafadz dan

maknanya.
Contohnya: ﴾ ‫( ﴿ َو َكَلّ َم ٱلَلّه م ْو ٰسى َت ْكلِْيـ ًما‬2)
I'rabnya: َ‫ َكَلّم‬- fi'il madhi. ‫ الَلّه‬- fa'il, ‫ موْ ٰسى‬- maf'ul bih dan ‫ َت ْكِليْمًا‬- maf'ul muthlaq yang

sesuai 'amilnya ( ‫ ) َكَلّ َم‬pada lafadz dan maknanya.

Macam-macam Maf'ul Muthlaq:

Pengarang berkata: Maf’ul Muthlaq ada dua macam : Lafdzhiy dan Maknawiy. Maka
jika sesuai lafadznya dengan lafadz fi'ilnya itu adalah Lafdzhiy, contoh: ‫َقَتلْته قَْتًلا‬. Dan
jika sesuai makna fi'ilnya akan tetapi lafadznya tidak, maka itulah maknawiy ‫َجلَ ْست‬
‫ ُقع ْودًا‬dan ‫ َقُ ْمت وُق ْوًفا‬dan sebagainya.

__________________________
(1) Apabila dikatakan ‫( َقتَلَ الحَارِس الِلّ َّص‬satpam itu telah membunuh pencuri). Orang yang

mendengar terkadang membesar-besarkan makna "membunuh", maka ia

membayangkan bahwa yang dimaksud adalah "memukulnya" bukan membunuhnya.
Maka untuk menolak anggapan ini digunakanlah mashdar (‫ )َقْتلًا‬untuk menguatkan
makna fi'il, maka mereka mengatakan: ‫قَتَ َل الحَارِس الِلّ َّص َقَتلًا‬.

(2) QS An-Nisa' ayat 164

Isim-isim yang Manshub Halaman 147

Penjelasan : Maf'ul muthlaq itu ada dua macam:

A. Maf’ul Muthlaq Lafdzhiy : Yaitu yang sesuai fi'il yang menashabkan maf'ul

mutlaknya pada lafadz dan maknanya, dengan gambaran mencakup huruf-
hurufnya, contoh: ‫( فَرِ ْحت َفرَحًا‬saya benar-benar bahagia), sungguh huruf-huruf fi'il ( َ‫َف ِرح‬
) itu adalah huruf-huruf mashdar (‫)الفَرَ ِح‬, di antaranya firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫َصُّلواْ َعلَيِْه َو‬
‫( ﴿ َسِلّم ْوا تَ ْسِليْمًا‬bershalawatlah kalian dan berilah benar² salam kepadanya). (¹)

B. Maf’ul Muthlaq Maknawiy : Yaitu yang sesuai fi'il yang menashabkan maf'ul

mutlaknya pada maknanya tapi tidak pada lafadznya, dengan demikian huruf²
mashdar bukan (tidak sama dengan) huruf² fi'ilnya, contoh: ‫( قُ ْمت َوقَ ْوفًا‬saya benar² telah
berdiri). Sungguh makna fi'il ( ‫ ) قَا َم‬adalah makna mashdar ( ِ‫ ) الوُقوْف‬tetapi huruf²nya
berbeda. Contoh lain: ‫( فَرِ ْحت سر ْورًا‬saya benar² telah berbahagia). Sungguh makna fi'il (
َ‫ )َف ِرح‬adalah makna mashdar ( ‫ ) ال ُسّر ْو ِر‬akan tetapi huruf²nya berbeda.
__________________________

(1) QS Al-ahzab ayat 56

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Yang dimaksud Pengarang dengan mashdar di sini adalah isim yang manshub pada posisi

maf'ul muthlaq, bukan mashdar secara muthlaq, karena mashdar bisa marfu' juga bisa

majrur, maka dalam hal ini bukan mashdar secara muthlaq.

ref. Hasyiyah Ibn Haaj halaman 111.

2. Dinamakan Maf'ul muthlaq secara muthlaq, karena ia tidak disyaratkan dengan

menyebutkan sesuatu setelahnya, untuk menyelisihi maf'ul-maf'ul lainnya karena

sesungguhnya ia (maf'ul lain) tidak menjadi maf'ul kecuali disyaratkan dengan huruf jar

atau yang semisalnya, seperti maf'ul bih, maf'ul fiih, maf'ul ma'ah dan maf'ul lahu (li ajlih).

ref. Syarah Ibnu 'Aqiil bab 2 halaman 169 dan Annahwu alwaafiy bab 2 halaman 204

3. Di sini mashdar² dan isim mashdar-isim mashdar dii'rab dimana saja posisi sebagai maf'ul
muthlaq, dan di antaranya: َ‫( لََبّيْك‬saya datang karena panggilan-Mu) ‫ حَاشَ لِله‬، (semoga Allah
melindungi) ‫ َمعَا َذ اللٰه‬، (semoga Allah melindungi) ، dan َ‫(َسبْحَان‬Maha Suci...)

Dan pada setiap fi'il mahdzuf dan maf'ul muthlaqnya ada sebagaimana populernya banyak
ungkapan² ditulis dari fi'il muthlaq yang dibuang fi'ilnya, contoh: ‫( شكْرًا‬terima kasih) ‫ َع ْفوًا‬،
(maaf), ‫( رَجَاًء‬semoga), ‫( َعجَبًا‬wow), ‫( أَيْضًا‬juga), ‫( خَا َصٌّة‬spesial), ‫( َمرْحَبًا‬selamat datang).... dan lain-

lain.

ref. AlKawakib bab 2 halaman 351.
4. Maf'ul muthlaq berfungsi selalu sebagai penguat, terkadang kosong untuk itu, contoh: ‫ضَرَبْت‬

‫( ضَرْبًا‬saya benar-benar telah memukul), terkadang berfungsi bersamanya sebagai penjelasan
macam/jenis apabila disifati atau dimudhafkan, contoh: ‫( ضَ َربْت ضَ ْربًا شَدِْيدًا‬saya telah memukul
dengan pukulan yang kuat) atau ‫( ضَرَْبت ضَرْبَ الُمؤَ ِدّب‬saya telah memukul untuk mendidik), atau
menjelaskan jumlah ('adad), contoh: ِ‫( ضَرَبْت ضَ ْرَبَتيْن‬saya telah memukul dua kali).

Ref. Attashrih bab 1 halaman 324.

Isim-isim yang Manshub Halaman 150

Ketiga dan Keempat : Dzaraf Zaman / Keterangan Waktu dan Dzaraf

Makan / Keterangan Tempat (Maf'ul Fiih ):

Al-mushannif sang Pengarang buku menjelaskan pada bab dzaraf zaman/keterangan

waktu dan dzaraf makan/keterangan tempat : Dzaraf zaman adalah isim zaman yang
dinashabkan dengan takdir ‫فِي‬/pada , contoh : َ‫( الَي ْوم‬di hari ini),‫( َالّلَْيلَة‬di malam hari),‫ًغُ ْدوَة‬
(di pagi hari), ‫( َُب ْكرَة‬di pagi hari), ‫( سَحَرًا‬di waktu sahur), ‫( غَدًا‬besok), ‫( َعَتمًَة‬di waktu
malam), ‫( َصَباحًا‬di waktu subuh), ً‫( مَسَاء‬di sore hari), ‫( َأبَدًا‬selamanya), ‫( حُِْينًا‬suatu ketika),

dan yang semacamnya.

Penjelasan: Pengertian dzaraf menurut bahasa adalah wadah/bejana. (1)

Pengertian secara istilah, dzaraf dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dzaraf

zaman dan dzaraf makan.

A. Keterangan Waktu (Dzaraf Zaman)

Definisi: Ia adalah isim zaman/isim yang menunjukkan waktu, manshub dengan takdir (‫)ِفي‬.
Contoh: َ‫( ِجْئت الَي ْوم‬saya datang pada hari ini).
Maka (‫)الَي ْوَم‬: dzaraf zaman, manshub, dan dia menunjukkan atas waktu kejadian
kedatangannya. Dan yang sejenis dengan َ‫( الَي ْوم‬pada hari ini) adalah : ً‫( لَيْلَة‬di malam hari), ً‫غُ ْدوَة‬
(di pagi hari), ً‫( بكْرَة‬di pagi hari), ‫( سَ َحرًا‬di waktu sahur), ‫( َغدًا‬besok), ‫( عَتَمًَة‬di waktu sepertiga malam
pertama), ‫( َصَباحًا‬di waktu shubuh), ً‫( مَسَاء‬di sore hari), ‫( أََبدًا‬selamanya), ‫( َأَمدًا‬besok-besok), dan ‫حِْينًا‬
(suatu ketika) (2). Dari firman Allah Ta’ala ﴾‫( ﴿سََي ْعلَم ْونَ غَ ًدا‬kelak mereka akan mengetahui) (3) ;
﴾‫( ﴿وَسَِّبحوْه بكْرَةً َو َأ ِصْيلًا‬dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang) (4); dan ‫﴿ َو لَ ْن يََت َمَنّوْه‬
﴾‫( أََب ًدا‬dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya) (5). Maka

dzaraf zaman adalah diibaratkan seperti malam-malam dan hari-hari, dan yang menyerupai

dengan nama-nama waktu, contoh : tahun, bulan dan era/masa.
__________________________

(1) Dikatakan : waktu dan tempat memiliki keterangan. Oleh karena terdapat suatu pekerjaan terjadi

didalamnya, maka setiap kata kerja haruslah terjadi pada suatu waktu dan suatu tempat. Ketika
anda berkata : ‫( َق َرَأ زَيْد الُق ْرآ َن َصَباحًا‬Zaid telah membaca Al Qur'an saat subuh), maka anda telah

menjelaskan waktu kejadian pembacaan tersebut yaitu pada waktu subuh. Ketika anda berkata :
‫( َقرََأ َزْيد الُق ْرآ َن َأ َما َم ال َشّْي ِخ‬Zaid telah membaca Al-Quran di depan seorang Syeikh), maka anda telah
menjelaskan tempat kejadian pembacaan yaitu di tempat hadapan seorang Syeikh. Maka kata ‫َصبَا ًحا‬
disebut dengan dzaraf zaman/ keterangan waktu, dan kata َ‫ أَ َمام‬disebut dzaraf makan/keterangan

tempat.
(2) Kata (‫ الَي ْو َم‬hari ini) dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari ; kata (‫ اَلّيَْلَة‬malam ini) dari

terbenamnya matahari hingga terbit fajar ; kata (‫ ُغ ْد َوًة‬di pagi hari) dari shalat fajar hingga terbitnya
matahari ; kata (ً‫ ب ْكرَة‬di pagi hari) yakni awal siang hari ; kata (‫ َس َح ًرا‬di waktu sahur) yakni di akhir
malam sebelum fajar ; kata (ً‫ َغد‬besok) yakni nama hari satelah hari yang anda berada di dalamnya
; kata (‫ َعَت َمًة‬di waktu malam) yakni sepertiga malam pertama ; kata (‫ َصَباحًا‬di waktu subuh) yakni awal
siang hari ; kata (ً‫ مَ َساء‬di sore hari) yakni mulai turunnya matahari hingga sebagian malam ; kata
(‫ َأَب ًدا‬dan ‫ أَ َم ًدا‬besok-besok) yakni setiap nama dari waktu yang akan datang; dan kata (‫ حِيًْنا‬suatu ketika)

nama dari waktu yang tidak jelas.

(3) QS Al-Qamar : 26 (4) QS Al-Ahzab : 42 (5) QS Al-Baqarah : 95

Isim-isim yang Manshub Halaman 151

B. Keterangan Tempat (Dzaraf Makan)

Al Munshannif sang Pengarang buku menyebutkan: keterangan tempat adalah isim
yang menyebutkan nama tempat, manshub dengan takdir (‫)في‬. Contoh : َ‫( أَمَام‬di depan),
َ‫( َخلْف‬di belakang), ‫( قَ َدّاَم‬di hadapan), ‫( َو َراَء‬di belakang), َ‫( َفوْق‬di atas), ‫( َت ْح َت‬di bawah), َ‫( ِعنْد‬di
sisi), َ‫( مَع‬bersama), ‫( ِإ َزاَء‬di depan), َ‫( حِ َذاء‬di depan), َ‫( َِتلْقَاء‬di depan), ‫( هَنا‬disini), ّ‫( ثَ َم‬disana),

dan semacamnya.

Penjelasan: Jenis yang kedua dari dzaraf adalah dzaraf makan/ keterangan tempat.

Definisi: Ia adalah isim makan/isim yang menunjukkan tempat, manshub dengan
takdir (‫)في‬.

Contoh: ِ‫( َجلَ ْست تَ ْح َت ال َش َجرَة‬saya duduk di bawah pohon).

I'rabnya: ‫ تَ ْح َت‬adalah dzaraf makan, dan dia isim manshub yang menunjukkan tempat

terjadinya tindakan tersebut.

Dan al-mushannif sang Pengarang menjelaskan lafadz yang termasuk ke dalam
dzaraf makan ada 13, yaitu: ‫ َأَماَم‬yang bermakna di depan, contoh: ِ‫( َجلَ ْست أَ َما َم ال َّشيْخ‬saya
berjalan di depan syekh). Dan ‫ َخلْ َف‬yang maknanya berkebalikan dengan َ‫َأمَام‬,
contohnya: ‫( َصَّلْيت َخلْ َف الِإَماِم‬saya shalat di belakang imam). Dan َ‫قُ َدّام‬, contohnya
perkataanmu: ِ‫( مَشَْيت قُ َّدامَ الَجيْش‬saya berjalan di depan tentara). Dan َ‫ َو َراء‬dengan makna di
belakang, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫( ﴿ َفنََبذُوْه َورَآَء ُظه ْورِهِم‬lalu mereka melemparkan
janji itu ke belakang punggung-punggung mereka) (1). Dan ‫( َفوْ َق‬di atas) adalah isim
makan untuk tempat yang tinggi , contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫﴿ وَهوَ القَاهِر َفوْ َق عَِبادِِه‬
(dan Dia-lah penguasa mutlak atas semua hambaNya) (2). Dan َ‫َت ْحت‬, isim makan yang
berarti di bawah, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ يَبايِعوْنَكَ َت ْحتَ ال َشّ َجرَِة‬mereka berjanji
setia kepadamu (di Hudaibiyah) di bawah pohon (yaitu Baiat Ridwan))(3). Dan ‫ ِعنْ َد‬isim
makan yang berarti berdekatan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫﴿ فَآ ْذكُر ْوا اللَه ِعنْدَ المَ ْش َعرِ الحَ َرا ِم‬

(maka berdzikirlah kalian (kepada) Allah di Masjidil Haram (sebuah tempat di
Mudzalifah)) (4). Dan ‫مَ َع‬, isim makan kebersamaan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾
‫( ﴿ َأرْ ِسلْه مَ َعَنا‬biarkanlah dia pergi bersama kami) (5). Dan ‫ ِإزَاَء‬seperti berhadapan, contohnya
perkataanmu: ‫ ( َوقَ ْفت ِإ َزاءَ المَ ْكتَبَِة‬dan saya berdiri di depan perpustakaan). Dan َ‫ حِ َذاء‬dengan
makna berdekatan, contohnya perkataanmu: ِ‫( َجلَ ْست حِذَاَء الَمسْجِد‬saya duduk di depan
dekat masjid). Dan َ‫ ِتلَْقاء‬seperti berdekatan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫وَلَ َّما َتوَ َجَّه‬
‫( ﴿ ِتْلقَآَء مَدَْي َن‬dan ketika (Musa) menuju ke arah/jurusan (negeri) Madyan) (6).

__________________________ (3) QS Al-Fath ayat 18.
(1) QS Āli `Imrān ayat 187. (2) QS Al-An`am ayat 18. (6) QS Al-Qaşaş ayat 22.
(4) QS Al-Baqarah ayat 198. (5) QS Yūsuf ayat 12.

Isim-isim yang Manshub Halaman 152

Dan (‫ )هنَا‬adalah isim isyaroh yang menunjukkan keterangan tempat dekat, contohnya
perkataanmu ‫( جَلَسْت هنَا‬saya duduk disini). Dan (‫ )ثَ َّم‬adalah isim isyaroh yang
menunjukkan keterangan tempat jauh, contohnya perkataanmu ّ‫( جَلَسْت ثَ َم‬saya
duduk disana). Artinya anda disana. Dan isim isim isyarah lainnya seperti َ‫يَمِيْن‬
(kanan), dan َ‫( شِمَال‬kiri).

__________________________

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1 - Berkata Pengarang (dengan pada) apa saja taqdir bersama ‫ نا ها‬tidak pada lafadznya,
contohnya ‫ َقدٔ لَ يَصِح‬taqdir ‫ ها‬sebelum dzaraf dan dzalika.
contoh : َ‫( سَرَت َقْبَله َو َصلَيْ ِت َمعَه وََن ْحو هما‬saya berjalan didekatnya dan sholat bersamanya berdua).
Kitab Al-Kawakib (2/325).

2 - ( ّ‫ ) ثَم‬dengan fathah ‫ الثاء‬isim makan dengan kesempatan ( ّ‫ ) ُث َم‬dengan dhammah ‫ الثاء‬maka
sesungguhnya ia huruf 'athaf.

3 - Jika tdk mengandung makna isim zaman (waktu) yang bermakna (ْ‫ )ِفي‬-di dalam, maka
dia bukan zhorof, Bahkan dia seperti isim yang lainnya, yang diirob sesuai keadaannya
dalam kalimat. Bisa menjadi mubtada seperti : ‫َيوْ ِمنَا َسِعْيد‬, atau menjadi khabar : ِ‫هَذَا يَ ْوَم العَْيد‬
Atau menjadi fail, seperti : ِ‫ هَذَا َي ْومَ الَعْيد‬atau mafhulun bih seperti Firman Allah Ta’ala :

﴾ِ‫( ﴿وَأَنْذِرْهمْ يَوْمَ الْآزِفَة‬berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat)), dan

begitu juga ketika masuk huruf jar pada isim zaman atau makan maka dia menjadi isim
majrur bukan berupa zhorof, seperti firman Allah Ta’ala :

﴾ِ‫( ﴿وَأَنْذِرْهمْ يَوْمَ الْآزِفَة‬dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun). Dan firman Allah
Ta’ala : ﴾‫( ﴿يَخَافُونَ رََبّهمْ مِنْ فَوْقِهِ ْم‬mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka).

Dilihat di kitab Jami’u Durush (3/44)

4 – Dari kata-kata yang sering digunakan pada umunya untuk dharaf : ْ‫ إِذ‬dan ‫وَإِذَا‬

Dilihat di kitab al Mughny halaman (111) dan (127)

Isim-isim yang Manshub Halaman 156

Kelima : Haal

Pengarang berkata : Bab Haal : Haal adalah isim yang dinashabkan (manshub) yang
menjelaskan kondisi atau keadaan yang belum jelas. Contohnya : ‫( جَاءَ َزيْد رَا ِكبًا‬Zaid telah
datang dengan berkendaraan), ‫( َر ِكْبت َالْفَرَسَ م ْسرَ ًجا‬saya menunggangi kuda yang
berpelana) dan ‫( َلقِيت عَبْدَ اَلّلَهِ رَا ِكًبا‬saya menjumpai ‘Abdullah berkendaraan), dsb.

Penjelasan: Haal (1)

Definisi: Yaitu isim yang dinashabkan (manshub) yang menjelaskan kondisi atau

keadaan yang belum jelas. (2)
Contohnya: ‫( جَاءَ زَيْد رَاكِبًا‬Zaid telah datang dengan berkendaraan) (3), ‫َر ِكْبت اَلْ َفرَسَ م ْس َرجًا‬

(saya menunggangi kuda yang berpelana) (4) .
I'rabnya: ‫ رَاكِبًا‬: haal yang menjelaskan kondisi Zaid ketika datang, yakni

keadaannya yang datang atasnya. Dan ‫ م ْسرَ ًحا‬: haal yang menjelaskan keadaan kuda

ketika anda mengendarainya.

Tandanya: Sebenarnya posisi haal pada jawaban "bagaimana", maka jika ditanya
: ‫( كَيْفَ جَاَء زَيْد ؟‬bagaimana datangnya Zaid?) , anda harus menjawab : ‫( رَاكِبًا‬berkendara).
Dan contoh dari ayat-ayat al-Qur'an yang mulia, firman Allah Ta’ala: ﴾‫﴿ َو خِل َق اْلإنِسَانُ ضَعِْيفًا‬
(Manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah) (5) , ﴾‫﴿وَ هوَ اَلّ ِذي أَْن َز َل ِإلَْيكُم الْكِتَا َب مفَ َّصًلا‬

(Dialah yang telah menurunkan kepada kalian alkitab secara berangsur-angsur) (6),
dan firman Allah Ta’ala: ﴾‫( ﴿ ِإلَيِْه مَرْجِعكُمْ َجمِْيعًا‬kepada-Nya lah tempat kembali kalian

semuanya) (7).
Dan contoh dari as-Sunnah, sabda Nabi ‫ ﷺ‬:》‫( 》 يحْ َشر الَنّاس َيوَْم اْلفِيَامَِة ح َفاًة عرَاًة غُ ْزلًا‬manusia

dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian

dan belum dikhitan)(8). Kata berikut (‫ ُغزًْلا‬،‫ عرَاًة‬،ً‫ ) حفَاة‬: semuanya haal yang dinashabkan.
__________________________

(1) Jika kau katakan :‫( َ َشرِ َب َزْيد الَماء‬Zaid telah meminum air) kalimat ini sudah sempurna, kecuali bahwa

tidak diketahui keadaan subyek pada saat melakukan pekerjaan tersebut, ataupun keadaan
obyeknya. Maka apabila kau katakan : ‫( َشرِ َب زَْيد اْل َماءَ جَالِ ًسا‬Zaid telah meminum air dalam keadaan

duduk), maka kau sungguh telah menjelaskan keadaan Zaid saat ia minum. Dan bila kau katakan:
‫( َش ِربَ زَْيد المَاءَ َبا ِر ًدا‬Zaid telah meminum air dalam keadaan dingin/air dingin), maka kau sungguh juga
telah menjelaskan keadaan air ketika diminum. Maka lafadz (‫ )جَالِسًا‬atau (‫ )َبا ِر ًدا‬dinamakan haal , dan

wajib nashabnya.
(2) Istabhama (‫ )اِ ْسَتْب َه َم‬yakni ‫( َخفِ َي‬tersembunyi). Istilah istabhama lebih pas ketimbang inbahama (‫ )ِانَْب َه َم‬.

lafadz ( ‫ ) الَْيَئا ِت‬adalah jamaknya ِ‫ َهْيَئة‬yaitu sifat dan gambaran .
(3) Kedudukan ‫ جَاَء زَْيد‬: fi'il dan fa'il, ‫ َراكًِبا‬: haal yang dinashabkan dan tanda nashabnya adalah fathah

dzahirah/nampak.
(4) Kedudukan ‫ َر ٍكْبت‬: fi'il dan fail, َ‫ ال َف ْرس‬: maf'ul bih manshub, ‫ مسْ َر ًجا‬: haal yang dinashabkan dan tanda

nashabnya adalah fathah dzahirah/nampak. Kata ‫( ال َسّ ْرج‬pelana) adalah nama suatu benda yang

diletakkan di atas punggung kuda untuk alas duduknya penunggang kuda

(5) QS An-Nisa' ayat 28 (6) QS Al-An'am ayat 114 (7) QS Yunus ayat 4

(8) Muttafaq 'alaih dari 'Aisyah (semoga ‫ الله‬meridhainya)

Isim-isim yang Manshub Halaman 157

Syarat Haal dan Syarat-syarat Shahibul Haal :

Pengarang berkata: (Haal harus nakirah, haal harus terletak setelah kalimat

sempurna, shahibul haal harus ma'rifah)

Penjelasan: Kemudian Pengarang mulai menyebutkan sebagian syarat-syarat haal,

dan beliau menyebutkan dua syarat:

1. Haal harus nakirah: apabila kau katakan : ‫ جَاءَ َزيْد المَ ْسر ْور‬, maka tidak benar ‫المَ ْسروْر‬
sebagai haal karena ma'rifah, hanya benar jika kau katakan : ‫( جَاَء زَيْد مَسْر ْورًا‬Zaid telah
datang dalam keadaan senang).

2. Haal harus didahului kalimat yang lengkap, yaitu setelah fi'il dan fa'ilnya dan
setelah mubtada' dan khabarnya; maka jika kau katakan : ‫ َزيْد مَسْر ْو ًرا‬, tidak benar ( ‫مَ ْسر ْورًا‬
) sebagai haal karena ia berada sebelum lengkapnya kalimat , yang benar jika kau
katakan : ‫( جَاَء َزيْد مَسْروْرًا‬Zaid telah datang dalam keadaan senang).

Adapun shahibul haal (¹), Pengarang menyebutkan satu syaratnya, yaitu shahibul
haal harus ma'rifah. Maka tidak benar jika kau katakan : ‫ جَاَء رَج ٌل مَ ْسر ْو ًرا‬karena shahibul
haal ( ‫ ) رَج ٌل‬nakirah dan haal hanya untuk ma'rifah, maka jika kau katakan : ‫جَاءَ ال َرّج ُل‬
،‫ مَ ْسر ْو ًرا‬ini benar. *
__________________________
(1) Yaitu apa yang disifati secara makna oleh haal

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Kata ( َ‫ ) َكيْف‬adalah isim istifham yang dii'rab - umumnya - sebagai haal terletak setelahnya

fi'il yang bukan penasikh, contoh: ‫( كَيْفَ ِنمْتَ؟‬bagaimana anda tidur?). Adapun bila
setelahnya adalah fi'il penasikh atau isim; maka ia dii'rab sebagai khabar muqaddam,
contoh: ‫( َكيْفَ َأ ْصبَ ْحتَ؟‬bagaimana anda di waktu shubuh?) dan ‫( كَيْ َف حَالُكَ؟‬bagaimana
keadaanmu). Ref. AlKawakib bab 2 halaman 516.
2. Imam Nawawuiy rahimahullah berkata: lafadz ( ً‫ ) كَاَّفة‬digunakan sebagai haal. Adapun
yang terjadi pada banyak kitab para mushannif (Pengarang kitab), mereka
menggunakan lafadz ( ً‫ ) كَاَفّة‬ini sebagai mudhaf dan dima'rifahkan, contohnya seperti « ‫هَذَا‬
‫( »َقوْ ُل كَاَفةِ العَلمَاَء َو َمذْ َهب الكَاَفِة‬ini adalah perkataan semua ulama dan pendapat semuanya) dan
ini merupakan kesalahan yang banyak terjadi pada lahn awam dan perubahan yang
mereka lakukan. Ref. Syarah Muslim bab 13 halaman 142.
Terkadang haal dalam format kalimat, contoh : ‫(ُُرَأَْيت َزيْ ًدا يَضْحَك‬saya melihat Zaid sedang
tertawa), ‫ يَ ْضحَك‬fi'il mudhari' marfu', fa'ilnya dhamir mustatir, taqdirnya (dikira) ‫ ه َو‬,
kalimat (fi'il+fa'il) pada posisi nashab sebagai haal (keadaannya) Zaid, sama saja kau
katakan ‫ جَاَء َزيْد َضا ِحكًا‬maka kalimat setelah isim ma'rifah itu adalah haal, dan yang setelah
isim nakirah maka itu sifat (na'at), contoh : ‫( جَاءَ رَجلٌ يَ ْضحَ َك‬telah datang seorang lelaki yang
tertawa).

Isim-isim yang Manshub Halaman 160

Keenam : Tamyiz

Sang Pengarang berkata mengenai bab tamyiz :

Tamyiz adalah isim manshub yang menjelaskan kesamaran pada dzat-dzat. Contoh
pada ucapanmu: ‫( تَ َصَّب َب زَيْد َع َرقًا‬Zaid itu mengalir keringatnya), ‫( َتفََقَّأ َب ْكر شَحْ ًما‬Bakr itu
berlapis-lapis lemaknya), ‫( طاَبَ محَ َمّد نَفْسًا‬Muhammad itu wangi tubuhnya), ‫اِ ْشَترَْيت عِ ْشرِْي َن غُلاَمًا‬
(saya membeli 20 orang budak), ‫( َمَلكْت تِسْعِْينَ َن ْعجَة‬saya memiliki sembilan puluh biri-biri
betina), ‫( زَيْد َأ ْكرَم ِمنْكَ أَبًا‬bapaknya Zaid lebih mulia darimu), dan‫( َأَجْمَ ُل مِنْكَ وَ ْجهًا‬wajahku

lebih tampan darimu).

Penjelasan : Tamyiz (1).

Definisinya : Ia adalah isim manshub yang menjelaskan kesamaran dari dzat atau

perbandingan.
Contohnya: ‫( اِ ْشتَرَْيت عِ ْش ِريْ َن غُلاَمًا‬saya membeli 20 orang budak) , dan ‫طاَ َب محَ َمّد نَ ْفسًا‬

(Muhammad itu wangi tubuhnya).
I'rabnya : ‫ ُغَلامًا‬: tamyiz untuk dzat, ia menjelaskan kata yang mufrad yaitu َ‫عِ ْش ِريْن‬.
Dan ‫ نَفْ ًسا‬: tamyiz untuk perbandingan, ia menjelaskan kalimat (‫) َطابَ م َح َمّد‬.

Macam-macamnya : terdapat dua macam tamyiz, yaitu tamyiz untuk mufrad dan

tamyiz untuk kalimat.

1. Tamyiz untuk mufrad: Tamyiz ini menghilangkan kesamaran pada satu kata (2).

Tamyiz mufrad hadir setelah :
● 'adad (bilangan), seperti ucapanmu ‫( َمَلكْت تِسْعِْينَ َنعْجًَة‬saya memiliki 90 ekor biri-biri

betina).
● wazan (timbangan), seperti ucapanmu ‫( اِ ْشتَرَْيت َر ْطلًا عَ َسلًا‬saya membeli satu pon madu).
● kayl (takaran), seperti ucapanmu ‫( تَصَ َدّقْ"ت بِصَاعٍ تَمْرًا‬saya menetapkan takaran kurma).
● misaahah (area), seperti ucapanmu ‫( َزرَ ْعت فَ َّداًنا َقمْ ًحا‬saya menanam satu hektar

gandum).
__________________________

(1) Isim-isim 'adad /bilangan, wazan /timbangan, kayl /takaran, misaahah /area, adalah
lafadz2 yang samar, karena jika anda katakan: َ‫( ِاشْتَرَيْت ِعشْرِيْن‬saya membeli dua puluh)

kemudian anda diam, maka yang mendengar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan
"dua puluh", namun jika anda katakan : ‫( ِاشْتَرَْيت عِ ْشرِيْ َن َقَلمًا‬saya membeli dua puluh pena),

maka sungguh anda telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan "dua puluh" dengan
ucapan (‫ قَلَمًا‬/ pena), maka ‫ َقَل ًما‬adalah tamyiz. Terkadang terjadi ketidak-jelasan /kesamaran
pada sebagian lafadz, dan sesungguhnya ia terjadi pada sebagian kalimat, contoh : َ‫َطاب‬
‫( م َح َّمد َنفْسًا‬Muhammad itu wangi tubuhnya). Maka nisbah kata ‫( طاب‬menjadi baik) kepada

Muhammad terdapat kesamaran, bisa saja membahas dari sisi ilmu atau badan atau
pendapatan, maka penyebutan tamyiz - ‫ َنفْسًا‬- menghilangkan kesamaran. Maka seluruh

bentuk seperti ini dinamakan tamyiz.
(2) Atau posisinya seperti menghitung jumlah, seperti pada firman Allah Ta’ala : ‫ِإِّن ْي رَأَيْت عَشَ َر‬

‫( كَوْ َكبًا‬sesungguhnya saya melihat 11 bintang).

Isim-isim yang Manshub Halaman 161

2. Tamyiz untuk Kalimat: Tamyiz ini menghilangkan ketidak-jelasan didalam
kalimat.

Contoh pada perkataanmu: ‫( تَ َصَبّ َب َزيْد عَرَقًا‬Zaid mengalir keringatnya), ‫( َتَفَّقأَ َبكْر َشحْمًا‬Bakr
berlapis-lapis lemaknya), ‫( زَْيد أَكْ َرم ِمنْ َك َأبًا‬Zaid itu lebih mulia darimu, bapaknya = bapaknya Zaid
lebih mulia darimu). Seluruh contoh tamyiz pada kalimat tersebut (‫ عَ َرقًا‬dan ‫ َشحْمًا‬dan ‫ )َأبًا‬adalah

manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir.

Contoh-contoh tamyiz untuk kalimat didalam al-Qur'an al-Karim adalah : Firman Allah
Ta’ala : ﴾‫( ﴿وَاشَْتعَلَ ال َّرأْس َشيْبًا‬dan kepala saya telah ditumbuhi uban) (1), ﴾‫( ﴿ َوفَ َجّرْنَا الَأرْضَ عي ْونًا‬dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata air) (2), dan ﴾‫( ﴿أَنَاَأكْثَر ِمنْكَ مَالًا‬harta saya lebih banyak daripada

hartanya) (3).

Al-Mushannif sang Pengarang berkata : dan tidaklah menjadi tamyiz kecuali nakirah, dan

tidaklah menjadi tamyiz kecuali setelah sempurna kalimatnya.

Penjelasan: Dengan pengkajian oleh para ahli ilmu nahwu, dan kita mengikuti mereka

untuk bahasa arab, maka sesungguhnya tamyiz itu tidak akan terbentuk kecuali (kata itu

adalah) nakirah dan tidak terbentuk kecuali setelah kalam sempurna, yang berarti setelah fi'il

mendapatkan fa'ilnya dan mubtada mendapatkan khabarnya. *
__________________________

(1) QS Maryam ayat 4. (2) QS Al-Qamar ayat 12. (3) QS Al-Kahfi ayat 34.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Pengarang menyebutkan bahwa sesungguhnya tamyiz berfungsi untuk menjelaskan dzat atau objek

yang masih samar yang ada sebelumnya, dan tidak menyebutkannya (atau rasio); hanya

mencukupkan dengan contoh-contoh, seperti yang dikatakan oleh al-Hamdi. Dan makna perkataan
Pengarang tentang ‫ ال َذّ َوا ِت‬adalah jamak dari kata ‫( َذات‬dzat), dan dzat adalah sesuatu yang sesuai

dengan hakikatnya.

2. Tidak setiap 'adad/angka maka tamyiznya menjadi manshub. Angka-angka dari 3 sampai 10, 100

dan kelipatannya, 1000 .... maka isim setelah angka-angka tersebut menjadi majrur karena dia adalah
mudhaf ilaih, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ٍ‫( ﴿ َفأَمَاَته اللِه ِماَئَة َعام‬maka Allah mematikan orang itu

seratus tahun).

3. Perkataan al-Mushannif sang Pengarang mengenai pernyataan [dan tidak menjadi (tamyiz) kecuali

nakirah] ini adalah mengikuti madzab para ulama Bashroh. Adapun para ulama Kuffah

membiarkan adanya tamyiz yang datang berupa ma'rifat, dan hal tersebut berdasar dari firman-Nya
: ﴾ ‫( ﴿ إِ َّل مَنْ َسِفَه َنفْ َسه‬kecuali orang memperbodoh dirinya sendiri), dan firman-Nya yang lain: ﴾ ‫بَ ِط َر ْت‬
‫( ﴿ َم ِعيْشََتهَا‬telah bersenang-senang dalam kehidupannya).

Dan juga begitu banyak bukti catatan dari perkataan orang Arab. Ibn Taymiyyah rahimahullah berkata

: hal ini yang dikatakan oleh para ulama Kuffah dalam pengertian secara bahasa dan makna.

Merujuk pada kitab Majmu' al-Fatawa (442/14).

4. Isim manshub setelah isim tafdhil maka dii'rab sebagai tamyiz, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾
ِ‫( ﴿ َواَّل ِذي َن آمَنوا أَ َش ُّد ح ًَّّبًُا لله‬dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah).

5. Isim manshub setelah kata ‫( ِن ْع َم‬sebaik-baiknya) dan َ‫( ِبْئس‬seburuk-buruknya) dii'rab sebagai tamyiz,
contoh: ‫( ِن ْع َم خُل ًقا ال ِّصدْق وَ ِبْئسَ خُلقًا ال َكذِب‬sebaik-baik akhlak adalah jujur, dan seburuk-buruk akhlak adalah

dusta).

6. Menurut para ahli nahwu, perbedaan antara haal dan tamyiz disebutkan berikut:

• Haal menjelaskan tentang kondisi, sedangkan tamyiz menjelaskan tentang dzat atau rasio.
• Haal datang dengan ‫ غَالًِبا‬sebagai isim musytaq, sedangkan tamyiz datang dengan - ‫ غَالِبًا‬- sebagai isim

jamid.

• Haal dapat hadir sebagai isim mufrad, atau kalimat, atau sibhul jumlah (yang menyerupai kalimat),

sedangkan tamyiz tidak dapat hadir kecuali ia mufrad.

Isim-isim yang Manshub Halaman 164

Ketujuh: Mustatsna

Sang Pengarang mengatakan pada bab istitsna /pengecualian : Huruf isititsna
terdiri dari delapan, yaitu : ‫ِإَلا‬, dan ‫غَْير‬, dan ٌ‫ َسوَاء‬- ‫ س ًوى‬- ‫ ِس ًوى‬, dan ‫ َخَلا‬dan ‫عَدَا‬, dan ‫حَاشَا‬.

Penjelasan :
Mustatsna (1):
Definisinya : Ia merupakan isim yang disebutkan setelah ‫ إَِلا‬atau salah satu yang
sejenisnya, yang bertentangan secara hukum setelah kalimat sebelumnya.
Contohnya : ‫( َقامَ الَقوْم إَِلّا زَْيدًا‬Kaum itu telah berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya: ‫ َقاَم‬: fi'il madhi ; ‫ الَقوْم‬: fa'il, marfu', dan ia adalah mustatsna minhu, ‫ ِإَلّا‬:
huruf istitsna, ‫ َزيْدًا‬: mustatsna, manshub, dan ia adalah yang dikecualikan secara
hukum dari kata sebelum ‫ ; ِإَّلا‬karena sesungguhnya kalimat tersebut menjelaskan
bahwa kaum itu berdiri, dan Zaid tidak ikut berdiri.
Dan agar menjadi jelas dari sebelumnya, pengecualian memiliki tiga pilar :
Pertama: Mustatsna minhu / patokan pengecualian :
Ia merupakan isim yang disebutkan setelah ‫ ِإَّلا‬, yang dii'rab bergantung pada

kedudukannya didalam kalimat.
Kedua: Adaatul istitsna:
Ia adalah : ‫ِإلَا‬, dan ‫غَيْر‬, dan ‫ ِس ًوى‬beserta yang sebahasa dengan itu, dan ‫ َخلَا‬, dan ‫عَ َدا‬, dan

‫ َحاشَا‬.
Ketiga: Mustatsna /yang dikecualikan:
Ia adalah isim yang disebutkan setelah adatul istitsna, dan hukum i'rab pengecualian

ini bergantung pada jenis adaat, dimana sang Pengarang menyebutkannya
sebagai berikut:
__________________________

(1) Apabila pembicara (yang merupakan orang pertama) berkata : ‫( َقاَم الَق ْوم‬kaum itu berdiri),
maka pendengar akan membayangkan bahwa sesungguhnya mereka (kaum itu) berdiri
seluruhnya, dan apabila ditambahkan ‫( إَِلّا زَيْدًا‬kecuali Zaid), maka pendengar mengetahui
bahwa sesungguhnya pembicara tidak bermaksud memasukkan Zaid kedalam kaum,
akan tetapi mengeluarkannya.

* Perhatian : Adalah shohibul mutammimah, Pengarang kitab mutammimah ( yaitu kitab
penyempurnaan dri al aajurrimiyyah, maksudnya buku almumti') mengganti istilah
huruf istisna dengn adatul istisna dan ini lebih baik. Karena adat ini meliputi isim, fi'il
dan huruf ; sedangkan penyebutannya oleh sang Pengarang sebagai huruf tidak
melingkupi seluruhnya sehingga mungkin akan membingungkan para pemula. Dan
dijawab bahwa sesungguhnya sang Pengarang mengatakan dominannya penggunaan ‫; ِإَلّا‬
dan ia adalah istitsna yang umum dipakai dan ia merupakan huruf. Dilihat di Syarah Al-
Kafrawiy (hal 132).

Isim-isim yang Manshub Halaman 165

I'rab isim yang bertempat setelah (‫ )ِإ َّل‬:
Sang Pengarang berkata: Mustatsna dengan ‫ ِإ َّل‬dinashabkan jika kalimatnya

sempurna dan positif, contoh : ‫( قَامَ ال َقوْم ِإ َلّ َزيْ ًدا‬suatu kaum telah berdiri kecuali Zaid), dan
‫( خَ َر َج الَنّاس ِإ َّل عَ ْم ًرا‬manusia telah keluar kecuali Amr).

Dan jika kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menjadi badal dan boleh
dinashabkan karena menjadi ististna, contoh : ‫ َما قَا َم الَق ْوم ِإ َلّ زَيْد‬dan ‫( ِإ َّل زَيْدًا‬suatu kaum tidak

berdiri kecuali Zaid).

Dan jika kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka i'rab nya mengikuti 'amil-
'amilnya, contoh : ‫( مَا قَامَ ِإ َلّ َزيْد‬tidak berdiri kecuali Zaid), ‫( مَا ضَرَْبت ِإ َّل َزيْدًا‬saya tidak
memukul kecuali Zaid), dan ‫( َما مَ َر ْرت ِإ َّل ِب َزيْ ٍد‬saya tidak bertemu kecuali dengan Zaid).

Penjelasan : Untuk mustatsna setelah ‫ ِإَلّا‬mempunyai tiga ketetapan:

Pertama : Wajib nashab/manshub : apabila kalimat sebelum (‫ )إَِلّا‬sempurna dan
positif.

Sempurna : disebutkan mustatsna minhu nya.

Positif : kalimat yang tidak diawali oleh huruf nafi.
Contohnya : ‫( قام القَوْم إَِّلا َزيْدًا‬suatu kaum telah berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya : ‫ َزيْدًا‬: mustatsna, wajib nashab.

Kedua : Boleh nashab atau badal : apabila kalimat sebelum (‫ )ِإَّلا‬sempurna dan

negatif.
Contohnya : ‫ مَا َقاَم الَق ْوم ِإ َّل َزيْدًا‬atau ‫ِإ َّل َزيْد‬.
I'rabnya : ‫ َزْيدًا‬: mustatsna yang boleh manshub,
dan ‫ زَيْد‬adalah badal yang mengikuti sebagai mustatsna dalam

i'rabnya, mengikuti dalam kondisi rafa'.

Ketiga: I'rabnya mengikuti 'amil-'amilnya : jika kalimatnya tidak sempurna dan

negatif.

Tidak sempurna : yang tidak disebutkan mustatsna minhu nya.

Negatif : kalimat yang diawali oleh huruf nafi.
Contohnya : ‫( مَا َقاَم ِإ َلّ َزيْد‬tidak berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya : ‫ َزيْد‬: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.

Isim-isim yang Manshub Halaman 166

Allah Ta’ala berfirman : ﴾‫( ﴿ فَ َش ِربوا ِمنْه ِإَلّا َقلِيلًا‬kemudian mereka meminumnya kecuali

beberapa orang di antara mereka) (1).
Allah Ta’ala juga berfirman : ﴾ٌ‫( ﴿ مَا فََعلُوه إَِلّا َقلِيل‬niscaya mereka tidak akan melakukannya

kecuali sebagian kecil dari mereka) (2).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman : ﴾‫( ﴿ وَ َما آمَنَ َمعَه إَِّلا َقلِي ٌل‬dan tidak beriman bersama dengan

Nuh itu kecuali sedikit) (3). *

Diagram penjelasan rukun istitsna dan jenisnya beserta hukum setiap jenisnya.

Istitsna

mustatsna ‫إِ َّّل‬ mustatsna
minhu

Kalimat jenis Istitsna Hukum Mustatsna

▪‫ِإَّلا القَ ْوم َقامَ الَق ْوم ِإَلّا زَيْ ًدا‬ ‫ زَْي ًدا‬sempurna dan positif wajib nashab

▪‫ِإَلّا القَ ْوم َما َقاَم القَوْم ِإَلّا َزيْدًا‬ ‫ زَيْدًا‬sempurna dan negatif boleh nashab / sebagai badal

▪ ‫َما قَاَم ِإَّلا َزْيد‬ --- ‫ِإَّلا‬ ‫ زَْيد‬tidak sempurna dan negatif dii'rab sesuai kedudukannya

__________________________

(1) QS Al-Baqarah ayat 249. (2) QS An-Nisa ayat 66. (3) QS Hūd ayat 40.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Bentuk i'rab setelah ‫ ِإَلّا‬pd ucapanmu: ‫ مَا َقامَ القَ ْوم ِإَلّا َزْيدًا‬atau ‫ ; مَا َقامَ القَ ْوم ِإَلّا زَْيد‬bentuk rafa' (‫ ) َزْيد‬sebagai

badal adalah yang lebih diutamakan. Dan ia merupakan badal bagian dari keseluruhan

(ba'dhu min kullin). Dilihat di : Syarah Qathru an-Nada halaman 341-343.
2. Agar memudahkan untuk anda dalam mengi'rab suatu isim yang terdapat setelah ّ‫ِإ َل‬,

sebagai contoh : ‫ ; مَا قَامَ ِإ َلّ َزْيد‬kosongkan kalimat ini dari dari penafian dan dari adatul istitsna,
menjadi (‫)قَامَ َزْيد‬. Dan jenis tersebut dinamakan istitsna mufarrogh (yang dihilangkan) ;
karena ‫ مَا‬sebelum ‫ ِإ َّل‬benar2 menghilangkan 'amil setelahnya.

Dilihat di : Syarah Qathru an-Nada halaman 346, dan Al-Kawakib bab 2 halaman 397.

Isim-isim yang Manshub Halaman 169

Hukum Mustatsna dengan Lafadz ‫ غَيْر‬dan ‫سِوَى‬

Pengarang berkata: (Mustatsna dengan lafadz ‫ س َوى‬، ‫ ِسوَى‬، ‫ َغيْر‬dan‫ ٌ َسوَاء‬adalah dijarkan)
Penjelasan: Dipakai dengan makna (‫إَِّلا‬/kecuali) pada penggunaan yang menunjukkan

pengecualian.
Diantaranya: ‫ َغْير‬dan ‫ ِس ًوى‬dengan bahasanya, keduanya adalah isim.
Hukum mustatsna dengan ‫ َغْير‬dan ‫ ِس ًوى‬: Senantiasa jar dan dii'rab sebagai mudhaf ilaih.
Hukum ‫ غَْير‬dan ‫ ِس ًوى‬: Dalam i'rab seperti hukum isim yang terletak setelah ‫إَِّلا‬.
Contoh: ٍ‫ جَاءَ اْلقَوْم غَيْ َر زَيْد‬atau ٍ‫( ِس َوى زَيْد‬Kaum itu telah datang selain Zaid)

Wajib nashab atas istitsna: Apabila kalimat taam dan mutsbat (sempurna dan positif).
Contoh: )ٍ‫( )قَامَ الْ َقوْم غَْي َر زَيْد‬1)

Boleh sebagai badal atau nashab atas istitsna': Jika kalimatnya taam dan manfiy

(sempurna dan negatif).
Contoh: )ٍ‫( (مَا َقا َم الْ َقوْم غَْيرَ زَيْد‬kaum itu tidak datang kecuali Zaid) (2)

Keduanya dii'rab sesuai 'amil²: Jika kalimatnya naqish dan manfiy.
Contoh: ) ‫( )مَا َقاَم غَْير زَيْ ٍد‬tidak ada yang berdiri selain Zaid) (3)
) ‫( )مَا رَأْيت غَيْ َر زَيْ ٍد‬tidak ada yang saya lihat selain Zaid) (4)
) ‫( )مَا مَ َررْت بِ َغيْ ِر زَيْ ٍد‬saya tidak berpapasan dengan selain Zaid) (5)

Dan setiap apa yang dikatakan pada lafadz (‫ ) َغْير‬dikatakan semisalnya pada (‫ ) ِس َوى‬maka

keduanya sama saja pada makna dan i'rabnya.
__________________________

(1) ‫ َقامَ اْلَق ْوم‬: fi'il dan fa'il, َ‫غَيْر‬: isim manshub atas istitsna' dan ٍ‫زَيْد‬: mudhaf ilaih, majrur
(2) ‫ مَا‬: ‫مَا َقامَ اْلقَ ْوم َغيْ َر َزيْ ٍد‬: nafiyah, ‫ غَيْ َر‬: boleh dii'rab dua macam : yaitu manshub atas istitsna'

atau sebagai badal dari ‫ الْقَ ْوم‬dimarfu'kan juga.
(3) ‫ مَا‬: ٍ‫مَا َقامَ َغيْر زَيْد‬: nafiyah, ‫قَاَم‬: fi'il madhi mabniy dengan fathah, ‫غَيْر‬: fa'il yang dimarfu'kan

dan tanda rafa'nya adalah dhammah dan dia sekaligus menjadi mudhaf, ٍ‫ َزيْد‬: mudhaf

ilaih yang dijarkan dan tanda jarnya adalah kasrah.
(4) ‫ مَا‬: ٍ‫ مَا َرأْيت َغيْرَ زَيْد‬nafiyah, ‫ رَأيْت‬: fi'il dan fa'il, َ‫ َغيْر‬: maf'ul bih manshub, ‫زَيْ ٍد‬: mudhaf ilaih

majrur.
(5) ‫ مَا‬: ‫مَا مَ َررْت ِبغَيْرِ زَيْ ٍد‬: nafiyah, ‫مَ َر ْرت‬: fi'il dan fa'il,ِ‫ ُ ِبغَْير‬: huruf ba' adalah huruf jar, ِ‫ َغيْر‬: isim

majrur dengan ba'
Peringatan! (‫ )غَيْر‬adalah lafadz yang harus diidhafahkan baik dalam bentuk lafadz atau

taqdir (pengiraan) maka masuknya AL (ْ‫ )َال‬pada lafadz (‫ )غَيْر‬itu adalah suatu kesalahan.
Dilihat di Albahru almuhith pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫﴿ َغيْرِ الْ َمغْضوْبِ َعَلْيهِم‬

Isim-isim yang Manshub Halaman 170
Mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa

Pengarang berkata: (Mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa maka

boleh kita menashabkannya atau menjarkannya). Contohnya :
‫ َقاَم اَلَْقوْم َخلَا َزيْدًا‬, ‫( قَامَ َالْقَوْم َخَلا زَيْ ٍد‬semua orang berdiri kecuali Zaid)
‫ َقاَم اَْلقَوْم عَ َدا عَ ْم ًرا‬, ‫( قَاَم اَْلَق ْوم عَ َدا عَمٍْرو‬semua orang berdiri kecuali ‘Amr)
‫ قَامَ َاْلَقوْم َحاشَا بَكْرًا‬, ‫( قَاَم َالَْق ْوم َحاشَاَبَكْ ٍر‬semua orang berdiri kecuali Bakr)

Syarah (penjelasan): Pengarang (semoga Allah merahmatinya) menyebutkan bahwa

mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa, boleh padanya dua macam:

1. Nashab karena ia maf'ul bih; demikian itu karena ia dianggap fi'il.
Contoh: ‫َقامَ اَلَْق ْوم َخَلا َزيْ ًدا‬, ‫َقامَ َالَْق ْوم عَدَا عَمْ ًرا‬, ‫َقا َم اَلْ َقوْم َحاشَا َب ْك ًرا‬
i'rabnya: ‫ قَاَم َاْلَق ْوم‬: fi'il dan fa'il
‫ َخَلا‬: ‫ َخلَا َزيْدًا‬: fi'il madhi mabniy atas fathah muqaddar, dan fa'ilnya dhamir
mustatir wujuban, ‫ َزيْ ًدا‬: maf'ul bih manshub, tanda nashabnya adalah fathah

dzahir.
demikian pula i'rab kalimat : ‫ َقا َم اَْلَقوْم عَدَا عَ ْم ًرا‬, ‫قَا َم اَلْقَوْم حَاشَا َب ْكرًا‬

2. Jar karena ia isim majrur; hal ini jika dianggap bahwa ia adalah huruf jar.
Contoh: ‫ قَامَ اَْلَقوْم خَلَا َزيْ ٍد‬,‫ َقا َم اَلَْقوْم عَدَا عَمْ ٍرو‬, ٍ‫َقا َم َالَْقوْم َحاشَاَبَ ْكر‬
I'rabnya: ‫َقاَم َاْلَق ْوم‬: Fi'il dan fa'il
‫ َخلَا‬: ٍ‫ َخلَا َزيْد‬: huruf jar, ٍ‫زَيْد‬: isim majrur dengan khalaa dan tanda jarnya adalah
kasrah dzahir. Begitu juga i'rab kalimat2 ‫َقامَ َاْلَق ْوم عَ َدا عَ ْم ٍرو‬, ‫* َقامَ اَلَْق ْوم حَاشَاَبَ ْك ٍر‬

__________________________

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Jika anda meletakkan (‫ )َما‬mashdariyah sebelum ( ‫ خَلَا‬dan ‫) عَ َدا‬, contoh:
‫ َقاَم القَ ْوم مَا خَلَا زَيْدًا‬atau ‫ مَا َعدَا زَْيدًا‬maka tidak boleh tidak setelah kedua kata ini harus manshub,
tidak boleh jar, karena ( ‫ ) مَا‬mashdariyah hanya masuk ke fi'il. Adapun ( ‫ ) حَاشَا‬maka
tidak didahului (‫ ) مَا‬mashdariyah. ref. Al-Kawakib (jilid 1/ hal 402).

2. Kata ( ‫ خَلَا‬, ‫ عَدَا‬dan ‫ ) حَا َشا‬adalah fi'il dhim jamid, tidak ada mudhari' dan amrnya. Dilihat
di ref. sebelumnya.

Isim-isim yang Manshub Halaman 172

Kedelapan : Isim Laa Nafiyah Lil Jinsi

Pengarang berkata: [Bab ‫َلا‬: Ketahuilah bahwa (‫ )َلا‬menashabkan isim nakirah tanpa
tanwin, jika ‫ لَا‬bertemu langsung dengan nakirah dan ‫ َلا‬tidak diulang-ulang.
Contohnya: ‫( لَا رَج َل فِي ال ّدَا ِر‬tidak ada seorang pria di dalam rumah)

Jika laa tidak bertemu langsung dengan nakirah maka laa wajib diulang-ulang.
Contohnya : ٌ‫( لَا ِفي اَل ّدَارِ رَجلٌ وََلا ِا ْمرَأَة‬Tidak ada seorang pria di dalam rumah, tidak pula

wanita)

Penjelasan: Laa An-Nafiyah lil jinsi

Definisinya: Yang dimaksud dengan annafiyah lil jinsi yaitu penafiyan kabar dari
semua individual jenis yang terletak setelahnya (setelah ‫)َلا‬.
Jika anda mengatakan -misal- ِ‫ لَا رَج َل فِي ال ّدَار‬- maka maknanya "tidak ada seorang

lelakipun di situ"
Amalnya: Laa (‫ )لَا‬nafiyah lil jinsi mengamalkan amalan (‫ )ِإ َّن‬yaitu memashabkan isim

dan merafa'kan khabar.

Contohnya: Sabdanya »ِ‫ «لَا أحَدَ أَغْيَر ِمنَ الَّله‬: ‫( صلى الله عليه و على آله وسلم‬Tidak ada seorangpun yang

lebih cemburu dari Allah) (1)
I'rabnya: ‫ لَا‬: nafiyah lil jinsi, ‫أحَ َد‬: isim ‫ لَا‬mabniy atas fathah, ‫أَ ْغَير‬: khabar ‫ َلا‬marfu' dan

tanda rafa'nya adalah dhammah.

Syarat-syarat amalnya:

1. Isim dan khabar keduanya nakirah (4)

2. Isimnya bertemu langsung dengannya. (5)
Beberapa contoh (‫ )َلا‬nafiyah lil jinsi pada alqur'an yang mulia:
Firman Allah Ta’ala ﴾‫(﴿لَا ِإلََه إَّلا الَّله‬2) dan ﴾‫( ﴿ َلا َش ِرْي َك لَه‬3)

Dan ketahuilah bahwa (‫ )لَا‬ketika memenuhi persyaratan dan tidak diulang-ulang
maka wajib mengamalkan amalan (ّ‫)ِإ َن‬. Adapun jika memenuhi persyaratan namun

diulang-ulang maka berlaku hukum lainnya. Ibnu Ajurrumiyyah memberikan isyarat

padanya:

__________________________

(1) Hadits muttafaq 'alaih dari Ibnu Mas'ud radhiyAllahu 'anhu

(2) QS ash-Shaffaat ayat 35

(3) QS al-An'am ayat 163

(4) Apabila setelahnya adalah isim ma'rifah, maka ia tidak beramal, dan wajib
mengulangnya. Contoh: ‫( لَا َزيْد َموْجوْد وَ لَا َعمْرو‬tidak ada Zaid dan tidak ada Amar).

(5) Apabila tidak bertemu langsung dengannya, maka tidak beramal, dan wajib
mengulangnya. Contoh: ‫لَا ِفي ال َدّا ِر رَج ٌل َولَا ِامْرَأٌَة‬

Isim-isim yang Manshub Halaman 173

Jika (‫ )َلا‬diulang, boleh mengamalkannya dan boleh juga membatalkan amalnya. Maka
jika anda hendak mengatakan: َ‫ لَا رَجلَ فِي ال َدّارِ وَ َلا امْرَأَة‬Dan jika anda hendak mengatakan:
ٌ‫( لَا رَج ٌل ِفي ال َدّا ِر َو َلا امْرَأَة‬tidak ada lelaki di rumah dan tidak ada perempuan).
Penjelasan: Pengarang menyebutkan bahwa (‫ )لَا‬nafiyah lil jinsi jika diulang maka ada

dua hukumnya.
Pertama: Mengamalkan ‫لَا‬, yaitu mengamalkan amalan (‫ )إِ َّن‬isim setelahnya

difathahkan.
Contoh: ‫لَا رَجلَ فِي ال َدّا ِر وَ َلا امْرَأََة‬
I'rabnya: ‫لَا رَج َل‬: Laa (‫)َلا‬: nafiyah lil jinsi, َ‫رَجل‬: isim (‫ )َلا‬mabniy dengan fathah pada posisi
nashab. ‫فِي ال َدّا ِر‬: jar dan majrur yang keduanya terkait dengan khabarnya yang dihapus.
َ‫ َو لَا امْرَأَة‬: wawu (‫ )الوَاو‬huruf 'athaf, ‫ لَا‬: nafiyah lil jinsi , َ‫ا ْمرَأَة‬: isim ‫ َلا‬mabniy dengan fathah,
khabarnya dihapus, yaitu: ‫َو َلا امْرَأََة فِي ال َدّار‬
Kedua: Membatalkan amal ‫َلا‬: amal ‫ لَا‬diabaikan, isim setelahnya dirafa'kan.
Contoh: ‫لَا رَجلٌ فِي ال َدّارِ َو َلا ا ْمرَأٌَة‬.
I'rabnya: ٌ‫ رَجل‬:Laa (‫)َلا‬: nafiyah lil jinsi mulghah (dibatalkan amalnya), ‫رَج ٌل‬: mubtada'
marfu'. ِ‫فِي ال َدّار‬: jar dan majrur yang keduanya terkait dengan khabar mubtada'nya yang
dihapus, ٌ‫ َو لَا ا ْمرَأَة‬: wawu (‫ )الوَاو‬huruf 'athaf, ‫ َلا‬: nafiyah lil jinsi yang diabaikan, ‫امْرَأٌَة‬:
mubtada' marfu', khabarnya dihapus taqdirnya ‫ ِفي ال َدّا ِر‬.
Pada alqur'an, amal (‫ )لَا‬nafiyah lil jinsi ini sungguh telah diamalkan juga diabaikan.

Contoh firman Allah Ta’ala yang mengamalkannya:
﴾ ّ‫( ﴿ َفَلا َرَفثَ َولَا فُسوْ َق ٔ َولَا جِ َدالَ فِى اْلحَ ِج‬maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat

maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji) (1).

Dan yang mengabaikannya dalam firman Allah Ta’ala:
﴾ ‫( ﴿ َّلا بَيْع ِفيْهِ وََلا خَلٌّة َّوَلا َشفَاعٌَة‬tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak

ada lagi syafaat) (2).
__________________________

(1) QS Al-Baqarah ayat 197 (2) QS Al-Baqarah ayat 254

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

Pemilik (Pengarang) kitab Al-Kawakib telah berkata: « Kebanyakan khabar ‫ لَا‬yang dihapus
adalah ‫ لَا‬bersama ‫ » ِإَلّا‬،contoh: ﴾‫ ﴿ لَا إِلََه ِإَلّا الَّله‬dan taqdirnya ‫ لَا ِإَلهَ ِفي اْلوجوْ ِد ِإَلّا الَلّه‬atau ‫لَا ِإلََه ِفي َموْجوْدٍ إَِلّا الَلّه‬

(Tidak ada ilah pada wujudnya kecuali Allah)...cukup....
Syaikh bin Baz rahimahullah berkata « Taqdir (perkiraan) khabar dengan kata (‫ )ِفي اْلوجوْد‬tidak

benar... Kecuali dengan taqdir khabar apa yang telah disebutkan oleh para ahli ilmu nahwu
yaitu kata (‫ ; ) َحق‬karena ia yang memperjelas pembatalan seluruh ilah (sesembahan)...cukup...

penjelasan atas Syarah Aththahawiyah bab 1 halaman 74 dengan tahqiq oleh Syu'aib

Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata: Barangkali image perkataan ini dengan wihdatul

wujud. cukup... Syarah Al-Ajurrumiyyah halaman 367

Isim-isim yang Manshub Halaman 176

Kesembilan: Munada

Sang Pengarang berkata pada bab munada/panggilan : Munada terdiri dari lima
macam, yaitu : isim alam kata tunggal, isim nakirah yang ditentukan (nakirah
maqshudhah), isim nakirah yang tidak ditentukan (nakirah ghairu maqshudah) ,
mudhaf, dan yang menyerupai mudhaf. Untuk isim alam kata tunggal dan nakirah
maqshudah, maka keduanya didhammahkan tanpa tanwin, contoh : ‫( َيا َزيد‬wahai Zaid)
dan ُ‫( َيا رَجل‬wahai seorang laki laki). dan ketiga jenis lainnya dimanshubkan tanpa
terkecuali.

Penjelasan: gaya bahasa panggilan adalah bagian dari berbagai gaya bahasa yang
digunakan dalam kalimat sehari-hari, karena sesungguhnya kita sering ingin
memanggil seseorang untuk menyuruh atau meminta sesuatu perkara, maka kita
memanggilnya dengan namanya, contoh: ‫( يَا َزيْد‬wahai Zaid), atau kita memanggil
dengan salah satu sifat dari bermacam sifatnya, maka kita katakan: ُ‫( يَا رَجل‬wahai
lelaki).

Dan unsur panggilan ini dibedakan menjadi 2 hal:

Pertama: Huruf Panggilan: Huruf nida adalah hamzah, dan ‫َأ ْي‬, dan ‫يَا‬, dan ‫( َأَيا‬1).
Yang kedua: Munada : Munada adalah nama yang dipanggil kehadirannya dengan
adanya salah satu huruf nida.
Munada - yang jika dilihat dari pembentukan i'rabnya, ada 2 jenis - mabniy dan
mu'rab.

Pertama: Mabniy: terdiri dari 2 macam:

A. Isim 'Alam Kata Tunggal

Definisinya: merupakan yang bukan mudhaf dan yang tidak menyerupai mudhaf.
Contohnya: firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ َٰيئَا َدم‬wahai Adam), dan firman-Nya : ﴾ ‫﴿ يَٰمَرْيَم‬

(wahai Maryam).
I'rabnya: ‫ يَا آدَم‬: huruf ‫ يَا‬: huruf panggilan, dan ‫ آدَم‬: munada, mabniy atas dhammah

karena merupakan isim 'alam kata tunggal.

B. Munada nakirah maqshudah

Definisinya : merupakan yang ditentukan dengan panggilan yang spesifik.

Contohnya: sabda Nabi ‫ﷺ‬: 》َ‫(》 يَا ُغَلام سَ ِّم الله‬wahai anak lelaki, sebutlah (nama)

Allah) (2).
I'rabnya : ‫ ياَ ُغلَام‬: huruf ‫ يا‬merupakan huruf nida', ‫ ُغَلام‬: munada, mabniy atas

dhammah karena merupakan isim nakirah yang ditentukan.
__________________________

(1) Contoh : ْ‫( َأزَْيد أْقبَل‬wahai Zaid, mendekatlah!), ‫( َأ ْي َر ِّب‬wahai Rabb), ‫( يَا الَّله‬yaa Allah), ‫( أَيَا َغافِلًا َتَنَّب ْه‬wahai

pelanggar, perhatikan!).

(2) Diriwayatkan oleh Umar bin Abu Salamah.

Isim-isim yang Manshub Halaman 177

Kedua : Munada yang Mu'rab : dan dia ada tiga macam :

A. Nakirah ghairu maqshudah
Definisinya : merupakan objek yabg dipanggil yang tidak ditentukan dengan
panggilannya yang spesifik, tetapi mencakup semua individu yang mengarah
kepadanya.
Contohnya : Perkataan pengkhutbah : ‫( يَا غَاِفلًا تَنََبّ ْه‬wahai pelanggar, perhatikan!).
I'rabnya : ‫يَا غَاِفًلا‬, huruf ‫ يَا‬adalah huruf nidaa, ‫ غَاِفلًا‬munada, manshub karena isim
nakirah yang tidak ditentukan.

B. Munada Mudhaf :
Definisinya : merupakan yang disebutkan dari susunan kata dan kata kedua
senantiasa majrur.
Contohnya : firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ يَا أَ ْه َل الكَِتا ِب‬wahai ahli kitab)(1) dan ﴾ ‫﴿ يَا َقوْ َمَنآ‬
(wahai kaum kami) (2).
I'rabnya : ‫ يَا‬huruf nida, ‫ أَ ْه َل‬: munada, manshub, karena sebagai mudhof, ِ‫ الكِتَاب‬:
mudhaf ilaih.

C - Munada Syibhul Mudhaf (menyerupai mudhaf)
Definisinya : merupakan munada yang berupa lafal yang membutuhkan kata
lainnya agar sempurna maknanya. (3)
Contohnya : َ‫( َيا َطاِلعًا الجَبَل‬wahai pendaki gunung).
I’rabnya : ‫ يَا‬: huruf nida' , ‫ طَاِلعًا‬: munada manshub, karena menyerupai mudhaf dan
dia adalah isim fa'il yang beramal seperti amal fi'ilnya. Seakan-akan anda
mengatakan : ‫( يطلع الجبل‬dia sedang mendaki gunung), َ‫الجبل‬: maf'ul bih manshub. *

__________________________
(1) QS Ali Imran ayat 24
(2) QS Al-Ahqaf ayat 31
(3) Dilihat di syarah Qathru an-Nada hal 282.

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Tidak terdapat nida' didalam Al Quran selain ya' (‫ )َيا‬dari berbagai adat. Mughniy Al Labiib
hal. 181.

2. Pembuangan huruf nida' itu sering terjadi dan disetujui dalam bahasa Arab, dan seperti
pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫(( ﴿ ي ْوسف أَعْ ِرضْ عَنْ هَٰ َذا‬hai) Yusuf, berpalinglah dari ini), dan
firman-Nya : ﴾‫(( ﴿رَ ِّب ا ْغفِ ْرِلى‬wahai) Tuhanku, ampunilah saya). Artinya : ‫ يَا ي ْوسف‬, dan ّ‫ يَا رَ ِب‬,
maka ia merupakan munada yang bersandar pada ya' mutakallim. Dilihat di kitab Jaami'
Ad-duruus (3/514).

Isim-isim yang Manshub Halaman 178

__________________________

3. Munada tidak akan terbentuk kecuali oleh isim, maka apabila yang mengikuti huruf
nidanya berupa huruf seperti pada firman-Nya Ta’ala : ﴾‫( ﴿يَٰلَيْتَ َق ْوِمى َي ْعَلم ْو َن‬alangkah

baiknya sekiranya kaumku mengetahui), atau berupa fi'il seperti pada contoh
perkataanmu : ‫( يَا رَ َعا َك الله‬semoga Allah melindungimu), maka huruf (‫ )يا‬tersebut tidak

dipandang sebagai panggilan, dan ini adalah pandangan mayoritas. Dan pertimbangan

Abu Hayyan dan Ibnu Malik, dan disebutkan : sesungguhnya munada terhapuskan dan

ditetapkan pada setiap kalimat yang sesuai, dan Allah maha mengetahui. Dilihat di

Syudzur adz-Dzahab hal (18), dan catatan-catatan pada Uslub Al-Qur'an (3/569).

4. Terdapat banyak jenis munada didalam Al-Qur'an al-Karim, yaitu munada mudhaf dan

juga munada isim alam, dan juga terdapat munada nakirah maqshudah didalam
firman Allah Ta’ala: ﴾ُ‫( ﴿ َو يَاسَمَآء‬dan wahai langit), dan ﴾‫( ﴿يَاأَ ْرض‬wahai bumi), ﴾ُ‫﴿َياجِبَال‬
(wahai gunung), ﴾‫( ﴿ يَانَار‬wahai neraka), dan ﴾‫( ﴿يَا بشْ َرى‬oh kabar gembira). Kemudian
terdapat pula dengan panggilan (ّ‫ )َأ ُي‬dalam kebanyakan ayat, contoh : ﴾‫( ﴿يَا َأُّيهَاالَنّاس‬wahai
manusia) dan ia adalah panggilan pertama didalam Al-Qur'an al-Karim, maka kata ّ‫أَ ُي‬
: munada nakirah maqshudah, dan huruf ha : untuk perhatian, dan ‫َالَنّاس‬na'at atau badal.

Dan adapun munada nakirah ghairu maqsudah dan munada yang menyerupai

mudhaf, keduanya tidak disebutkan dalam al-Qur'an al-Karim kecuali pada satu ayat

yang berkemungkinan sebagai mereka ataupun tidak, dan ayat itu berada di firman
Allah Ta’ala: ﴾‫( ﴿ يَا َحسْ َرةً َعَلى الِْعبَا ِد‬alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba
itu). Sungguh dikatakan bahwa munada disitu dihilangkan, dan perkiraan : ‫يَا هَؤلَاءِ تَ ْحسِروْا‬
ً‫( َحسْرَة‬wahai (kalian yang) menyesal sebenar-benarnya), maka di kalimat tersebut ً‫حَسْ َرة‬

adalah maf'ul mutlaq. Dilihat di : catatan-catatan Uslub Al-Qur'an (bab 3 halaman 522-

523).

Isim-isim yang Manshub Halaman 181

Kesepuluh: Maf'ul li Ajlih / min Ajlih

Maf’ul min ajlih termasuk isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan

sebab-sebab terjadinya suatu perbuatan. Contohnya :
‫ َقاَم َزيْد إِ ْجلَالًا لِعَ ْم ٍرو‬Zaid telah berdiri untuk memuliakan ‘Amr
َ‫قَصَدْتكَ ِابْتَِغاَء مَ ْعروِفك‬. Saya mendekatimu karena mengharapkan kebaikanmu

Penjelasan: Maf'ul li Ajlih/min Ajlih (1)

Definisi: Yaitu isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sebab-sebab

terjadinya suatu
Contoh: ِ‫( )َقا َم زَيْد إِ ْجَلالًا ِلَلّه‬2) dan ‫( قَصَ ْدت َك ابْتِغَاءَ مَعْر ْوِف َك‬3)
I'rabnya: ‫ إِ ْجلَالًا‬: maf'ul min ajlih manshub, disebutkan untuk menjelaskan sebab
terjadinya fi'il yaitu ‫( اْلِقَيام‬berdiri). َ‫ ابْتَِغاء‬: maf'ul min ajlih manshub, disebutkan untuk
menjelaskan sebab terjadinya fi'il yang sebelumnya yaitu ‫( اْلقَصْد‬mendekat)

Tanda maf'ul min ajlih: Untuk membuktikan/membenarkan terjadinya sebagai
jawaban pertanyaan: َ‫( لِم‬untuk apa?)
Misal anda katakan: ِ‫( ِجئْت رَ ْغبَةً فِي اْلِعلْم‬saya datang karena meninginkan ilmu), maka (‫)رَغْبًَة‬:

maf'ul min ajlih; karena ia membenarkan terjadinya fi'il sebagai jawaban pertanyaan:
"‫( لِ َم جِْئ َت‬untuk apa kamu datang?).
Contoh maf'ul min ajlih dalam al-Qur'an al-Karim, firman Allah Ta’ala: ﴾ ّ‫وَ لَا تمْسِ ُكوْه َن‬
‫( ﴿ ضِرَارًا‬Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan) (4) dan ﴾ َ‫ينْفُِق ْون‬

‫( ﴿ أَ ْموَاَلهم ابْتِغَآءَ مَرْضَا ِت الَلِّه‬mereka yang menginfaqkan harta mereka untuk mencari

keridhaan Allah) (5).
__________________________
(1) Lafadz maf'ul min ajlih harus dari fi'il tersebut, maka jika kau katakan: ‫( ضَرَبَ اْلوَالِد ابَْنه‬ayah

telah memukul anaknya), sungguh yang mendengar ucapan tersebut tidak mengetahui

sebab/alasan dilakukannya pemukulan. Jika kita ingin mengetahui alasannya, maka kita
katakan: "‫ َتأْدِيْبًا‬/ sebagai pelajaran" yakni ‫( ِلأَجْ ِل الَّتأْدِْي ِب‬karena alasan pengajaran), maka ‫َتأْ ِديْبًا‬

dinamakan maf'ul min ajlih.
(2) Kalimat ‫ َقاَم زَيْد‬: fi'il dan fa'il, ‫ إِ ْجلَاًلا‬: maf'ul min ajlih, ِ‫ لَِلّه‬: jar dan majrur yang terkait dengan

‫إِجْلَالًا‬. (demikian yang dikatakan Al-Azhary)
(3) Kalimat َ‫ قَصَدْتك‬: Fi'il, fa'il dan maf'ul bih, َ‫ اِْبِتَغاء‬: maf'ul min ajlih manshub, dan dia mudhaf

(dan telah diketahui bahwa mudhaf ilaih itu majrur), Kaaf (َ‫ )ك‬: dhamir muttashil mabniy

pada posisi jar sebagai mudhaf ilaih.

(4) QS Al-Baqarah ayat 231 (5) QS Al-Baqarah ayat 265

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :

1- Maf'ul li ajlih/min ajlih harus dalam bentuk mashdar akan tetapi tidak semua mashdar itu

bisa menjadi maf'ul li ajlih/min ajlih, dan umumnya yang sesuai itu adalah mashdar yang

bermakna perbuatan hati atau perasaan dan kesadaran =

Isim-isim yang Manshub Halaman 182

__________________________

= contoh: ‫( َخوْفًا‬takut), ‫( طَ َمعًا‬serakah), ‫( َاعْتِ َرافًا‬pengakuan), ً‫( رَ ْحمَة‬kasih sayang), ً‫( خَ ْشيَة‬khawatir), ‫حزْنًا‬
(sedih) dan ‫( إِعْجَابًا‬kagum), ... dan sebagainya.
Dan mashdar tidak dipakai sebagai maf'ul min ajlih, seperti: ‫( جُل ْوسًا‬duduk), ‫( قَِيامًا‬berdiri),
‫( َ ِكتَابًا‬menulis) dan ‫( قِرَاءًَة‬membaca) ... dan sebagainya.
Dilihat di Kitab Jami'u addurus bab 3 halaman 40.

2. Perbedaan antara Haal dengan Maf'ul min ajlih:
• Haal menggunakan kata sifat. Maf'ul min ajlih menggunakan mashdar.
• Haal menjelaskan sikap/keadaan, Maf'ul min ajlih menjelaskan sebab/alasan
dilakukannya pekerjaan.
• Haal menyatakan keberadaan (keadaan fisik), Maf'ul min ajlih menyatakan
keadaan hati (alasan)

Perbedaan antara Tamyiz dan Maf'ul min ajlih:
• Tamyiz menggunakan isim jamid, Maf'ul min ajlih menggunakan mashdar.
• Tamyiz dikira-kira denganْ‫ ِ( مِن‬/dari ), Maf'ul min ajlih dikira-kira dengan laam (‫) ِل‬,
contohnya:
‫تَ َص َّدَقت بِصَاعٍ َتمْرًا‬. yakni ‫( مِنْ تَمْر‬saya bersadaqah dengan satu sha' kurma)
‫ َوز ْرت َك اِ ْط ِمْئنَانًا‬yakni : ‫ِللِْا ْطمَِئنَا ِن‬. (saya mengunjungimu untuk kedamaian).

Isim-isim yang Manshub Halaman 184

Sebelas: Maf’ul Ma’ah

Sang Pengarang berkata dalam bab maf'ul ma'ah/ keterangan penyertaan: maf'ul
ma'ah adalah isim, manshub, yang disebutkan ; sebagai penjelasan mengenai siapa
yang menyertai saat suatu pekerjaan dilakukan, contoh pada perkataanmu: َ‫جَاءَ الأَمِيْر و‬
َ‫( الجَيْش‬pemimpin datang bersama tentara) ،dan ‫( اسْتَوَى المَاءُ َو الخَشَبَة‬air mengalir bersama
kayu).
Penjelasan: Maf'ul Ma'ah (1)
Definisinya: Ia adalah isim, manshub, yang disebutkan, sebagai penjelasan mengenai
siapa yang menyertai saat suatu pekerjaan dilakukan.
Contohnya : sabda Nabi ‫ﷺ‬: 》َ‫(》بعِثْت َو ال َسّاعَة‬saya diutus dan waktu) (2), berarti :
bersama waktu.
I'rabnya : ‫ بعِثْت‬: fi'il dan naibul fa'il. َ‫ َو ال َسّاعَة‬: wawu : wawu maiyah, َ‫ ال َسّاعَة‬: maf'ul ma'ah,

manshub, yang disebut untuk menjelaskan siapa yang menemani Nabi ‫ ﷺ‬pada

pengutusan.
Macam-macamnya : maf'ul ma'ah dibedakan atas dua jenis:
1 - Yang diwajibkan nashabnya sebagai maf'ul ma'ah :

Yaitu maf'ul ma'ah yang tidak menunjukkan kebersamaan (kepada isim) sebelum
wawu didalam hukumnya, contoh : َ‫( سَ ِه َر زَيْد وَالْكِتاب‬Zaid berjaga malam dan buku),
maksudnya : bersama buku, maka kata ‫ الكِتَا َب‬merupakan maf'ul ma'ah yang wajib
manshub; karena tidak menunjukkan kebersamaannya bagi Zaid dalam 'berjaga
malam', maknanya bukanlah: Zaid berjaga malam dan buku berjaga malam. Pada
jenis ini, sang Pengarang menyebutkan : َ‫( اسْتَوَى المَاءُ وَالخَشَبَة‬air telah menjadi setara dan
kayu) (3), artinya: bersama kayu, maka 'menjadi setara' disini bermakna naik. (4)

__________________________

(1) Jika anda berkata : ‫( اِسَْتيْ َق َظ زَيْد َو َع ْمرو‬Zaid dan Amr bangun), maka pendengar memahaminya bahwa
mereka bangun bersama-sama, maka wawu disitu huruf 'athaf/kata sambung, bermakna bersekutu
dalam perbuatan, dan Amir sebagai ma'thuf/mengikut ke Zaid.
Tetapi jika anda berkata : َ‫( اِ ْسَتْيقَ َظ َزْيد َو الفَ ْجر‬Zaid telah bangun dan waktu fajar), maka pendengar
memahaminya bahwa hanya Zaid yang telah bangun, sementara wawu ma'iyyah menandakan
semata-mata kebersamaan, karena sesungguhnya 'waktu fajar' tidak bersekutu dengan Zaid dalam
hal 'bangun'. Maka artinya Zaid telah bangun bersama terbitnya fajar. Oleh karena itu, padanan ini
disebut maf'ul ma'ah yang wajib nashab.

(2) Diriwayatkan oleh Bukhori, dengan lafadz dari Muslim, hadits dari Sahl bin Sa'ad.
(3) [I'rab] ‫ ا ْسَت َوى‬: fi'il madhi, mabniy atas fathah muqaddar. ‫ الَماَء‬: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah

dhammah dzahir. ‫ َو الجَشَبَة‬: wawu (َ‫ )و‬adalah wawu ma'iyyah, ‫ الخَشََبَة‬: maf'ul ma'ah, manshub dan tanda
nashabnya adalah fathah dzahir.
(4) Yaitu : Naiknya air yang terhubung dengan kayu sampai ia mencapai akhir kayu tersebut. Dan

kayu adalah kriteria yang ditetapkan yang dikenal oleh orang-orang Mesir, sebagai ukuran

meningkatnya air pada periode kenaikan sungai Nil. Catatan kaki dari Ibn Al-Haj, halaman 129.

Isim-isim yang Manshub Halaman 185
2. Yang dibolehkan nashabnya sebagai maf'ul ma'ah :

Yaitu maf'ul ma'ah yang menunjukkan kebersamaan (kepada isim) sebelum
wawu di dalam hukumnya, contoh : ‫( َسهِ َر َزيْد َو َعلِ ًّيًَُّا‬Zaid telah berjaga malam, dan Ali),
maksudnya : ّ‫( َس ِهرَ زَيْد مَ َع َعلِ ٍي‬Zaid telah berjaga malam bersama Ali).

Dan yang dibolehkan rafa'nya karena ia ma'thuf dengan yang diutarakan
sebelumnya, seperti anda katakan: ‫ َس ِه َر زَيْد وَ عَِلي‬, maksudnya : ‫( َسهِ َر َزيْد َو َسهِ َر َعلِي‬Zaid telah

berjaga malam dan Ali telah berjaga malam). Wawu pada saat itu menjadi athaf/kata

sambung, dan dalam keadaan ini posisinya sebagai athaf menjadi yang utama karena

itulah bentuk asalnya. Dan untuk menunjukkan jenis maf'ul ma'ah ini, perkataan sang
Pengarang : َ‫( َجاَء الأَمِْير َو الَجيْش‬pemimpin telah datang bersama tentara) (1).

Apabila anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan keduanya, maka
bentuk rafa' yang benar, oleh karena itu anda katakan : ‫( جَاءَ ْالَأمِْير وَ الْجَيْش‬pemimpin dan

tentara telah datang). Dan apabila anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan

seorang pemimpin dan tentara bersamanya, maka bentuk nashab yang benar, oleh
karena itu anda katakan : ‫( جَاَء ْالَأمِْير َو الْجَيْ َش‬pemimpin telah datang bersama tentara).

Bentuk Isim-isim Manshub Lainnya :
Telah berkata sang Pengarang : dan adapun khabar ‫ كَا َن‬dan yang semisalnya serta

isim ‫ إِ َّن‬dan yang semisalnya telah disebutkan penjelasan keduanya pada pembahasan
isim-isim yang marfu, dan begitu juga dengan tawabi' (kelompok i'rab yang
perubahannya mengikuti kata yang diikuti) telah disebutkan penjelasannya pada
pelajaran sebelumnya.

Penjelasan : termasuk kedalam isim-isim yang manshub : (khabar َ‫ كَان‬dan yang
semisalnya), (isim ّ‫ ِإ َن‬dan yang semisalnya), dan taabi' (kata pengikut) pada kata yang
manshub. Penjelasan materi ini telah disebutkan penjelasannya pada bab-babnya
masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi untuk membahasnya kembali.
__________________________

(1) Kata ‫ جَاَء‬: fi'il madhi, mabny atas fathah dzahir. ‫ الَأِميْر‬: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah
dhammah dzahir diakhirannya. َ‫ وَالْ َجيْش‬: huruf wawu : wawu ma'iyyah, dan ‫ اَلْجَْي َش‬: maf'ul
ma'ah, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir, dan diperbolehkan bentuk
rafa untuknya : isim ma'thuf pada kata yang dinyatakan sebelumnya dengan
mempertimbangkan wawu sebelumnya sebagai huruf athaf.


Click to View FlipBook Version