Mubtada dan Khabar Halaman 100
6. ﴾ ﴿ أُوْلَٰئِكَ مَأْوَاهم الَنّارMereka itu tempatnya ialah neraka.
َ أُوْلَٰئِك: Isim isyarah, mabniy atas kasrah didalam kedudukan rafa' sebagai mubtada
awal; dan kaf adalah huruf khathab.
مَأْوَاهم: Kata مَأْوَىadalah mubtada kedua, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah
muqaddarah atas alif yang udzur sehingga menghalangi penampakan (harakat)nya,
dan dia juga sekaligus mudhaf; Ha adalah dhamir muttashil, mabniy atas dhammah
didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih, dan mim sebagai tanda jamak.
الَنّار: Khabar dari mubtada kedua, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.
Mubtada kedua dan khabarnya didalam kedudukan rafa' sebagai khabar pada
mubtada awal.
7. ﴾ ﴿ اللهُ يَبْسطُ الرِزْقAllah meluaskan rejeki.
ُالله: Lafadz jalaalah: mubtada, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.
ُيَبْسط: Fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir
diakhirannya; dan fa'il adalah dhamir mustatir jawaazan dengan takdirnya adalah
()ه َو.
َالرِزْق: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir diakhirannya.
Jumlah fi'liyyah dengan fi'il dan fa'il didalam kedudukan rafa' sebagai khabarnya
mubtada.
8. ﴾ ِ ﴿ الحَمْد لِلٰهSegala puji bagi Allah.
الحَمْد: Mubtada marfu' dengan permulaan dan tanda rafa'nya dhammah yang nampak.
ِلِلٰه: Huruf lam ( )اللاَمhuruf jar dan lafadz jalaalah isim majrur dan tanda jarnya kasrah
yang nampak, dan jar dan majrur keduanya dihubungkan sebagai idhofah khabar
mubtada
9. ﴾ ْ ﴿ وَٱال َرّكْب أَسْفَلَ مِنْكُمSedang kafilah itu berada dibawah kamu.
ال َرّكْب: Mubtada marfu' dan tanda rafa'nya dhammah yang nampak.
َأَسْفَل: Dzaraf makan (keterangan tempat) manshub dan tanda nashobnya fathah dan
dia dihubungkan sebagai idhofah khabar mubtada.
مِنْكُ ْم: Jar dan majrur keduanya dihubungkan sebagai idhofah sifat dari ()أَسْفَل
Nawasikh Halaman 102
Bab Nawaasikh / Perusak
Berkata al mushannif tentang 'aamil-'aamil yang masuk pada mubtada dan khabar:
'Aamil-'aamil tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu: َكا َنdan yang semisalnya, إِ َّنdan
yang semisalnya dan َظ َن ْن ُتdan yang semisalnya.
*note: terjemahan langsung dari أَ ْخ َواتُ َهاadalah saudara-saudaranya; tetapi kami
gunakan yang semisalnya agar sesuai konteks.
Penjelasan: Mubtada dan khabar itu keduanya marfu', akan tetapi terkadang masuk
kepadanya 'aamil lafadz sehingga mengubah dan merusak/membatalkan hukum
sebelumnya. Hal ini dinamakan sebagai 'aamil nawasikh (faktor perusak).
Nawasikh merupakan jamak dari kata ( َنا ِسخperusak). Dari segi bahasa, kata perusak
memiliki beberapa makna yang diantaranya memiliki makna 'menghilangkan'. Bila
dikatakan : "matahari merusak/menghapus bayangan", maka berarti (matahari)
menghilangkan (bayangan). Secara istilah, artinya adalah membatalkan hukum
mubtada dan khabar.
Nawasikh terdiri dari tiga macam:
1. Yang merafa'kan mubtada' dan menashabkan khabar, yaitu: َكا َنdan yang
semisalnya, dan semuanya adalah fi'il. Dinamakan yang pertama dari dua ma'mul
( ) َكا َنitu isimnya dan yang kedua dinamakan sebagai khabarnya. Contoh: َكا َن َز ْيد نَ ِش ْي ًطا
(Zaid itu rajin).
2. Yang menashabkan mubtada dan merafa'kan khabar, yaitu ِإ َّنdan yang
semisalnya, dan semuanya adalah huruf. Yang pertama dari dua ma'mul ( )إِ َّن
dinamakan isimnya dan yang kedua dinamakan khabarnya. Contoh: إِ َّن َز ْي ًزا نَ ِش ْيط
(sungguh Zaid itu rajin).
3. Yang menashabkan mubtada dan khabar, yaitu َظ َّنdan yang semisalnya, dan
semuanya adalah fi'il. Yang pertama dari dua ma'mul ( ) َظ َّنdinamakan maf'ul awwal
dan yang kedua dinamakan maf'ul tsaani. Contoh: ( َظ َن ْن ُت َز ْيدًا َن ِش ْي ًطاsaya mengira si Zaid
itu rajin).
إِنdan yang contoh : إِ َّن َزي ًدا َن ِشي ٌط An Nawaasikh contoh : َكا َن َزي ٌد َن ِشي ًطا . َكانdan yang
semisalnya Menashabkan isim, Merafa'kan isim, semisalnya
merafa'kan khabar Menashabkan isim menashabkan khobar.
dan khabar
Contoh : ظَنَنتُ زَ يدًا
نَشِ يطًا
َظنdan yang
semisalnya.
Nawasikh Halaman 103
Pertama : Kaana dan yang Semisalnya
Berkata al mushannif mengenai َكا ٌَنdan yang semisalnya :
Sesungguhnya َكا ٌَنdan yang semisalnya merafa'kan isim dan menashabkan khabar.
Dan dia adalah: ( َك َناada, terjadi) , ( أَ ْم َسىwaktu sore), ( أَ ْص َب ٌَحwaktu subuh), ( أَ ْض َحىwaktu
dhuha), ٌ( َظ َّلwaktu siang), ( َبا ٌَتwaktu malam), ( َصا ٌَرmenjadi), ( َل ْي ٌَسtidak), dan ٌٌ َما-ٌَماٌ َزا ٌَل
ٌ َماٌ َدا َما-ٌٌ َماٌبَ ِر َح-ٌٌ َماٌفَ ِت َئ-ٌ( أَ ْن َف َّكsemuanya berarti senantiasa), serta penurunan atau tashrif
darinya, seperti ٌ َو ُك ٌْن-ٌٌ َي ُك ْو ُن-ٌ َكا َن, dan ٌأَ ْص ِب ٌْح-ٌٌيُ ْص ِب ُح-ٌَ أَ ْص َبح. Anda mengatakan : َكا َنٌ َز ْيدٌ َقا ِئ اما
(Zaid itu berdiri), ( لَ ْي َسٌ َع ْمرٌشاَ ِخ اصاAmar tidak naik), dan sejenisnya.
Penjelasan: ٌ َكا َنdan yang semisalnya adalah : ( َكنَاada, terjadi) , ( أَ ْم َسىwaktu sore), ٌأَ ْصبَ َح
(waktu subuh), ( أَ ْض َحىwaktu dhuha), ٌ( َظ َّلwaktu siang), ٌ( َبا َتwaktu malam), ٌَصا َر
(menjadi), ٌ( لَ ْي َسtidak), ٌ َماٌ َدا َما-ٌٌ َماٌ َب ِر َح-ٌٌ َماٌ َف ِت َئ-ٌٌ َماٌأَ ْنفَ َك-ٌ( َماٌ َزا َلsemuanya berarti senantiasa).
Fungsinya : merafa'kan isim dan menashabkan khabar.
Contoh : ( َكا َنٌ َز ْيدٌ َقا ِئ اماZaid itu berdiri).
I'rabnya : ٌَ َكان: fi'il madhi, naasikh (perusak), merafa'kan isim dan menashabkan
khabar.
Kata (ٌ ) َز ْيد: isim kaana, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir di
akhirnya.
Kata ( ) َقائِ اما: khabar kaana, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir di
akhirnya.
Dan ٌ َكا َنdan yang semisalnya dibagi menjadi tiga macam:
Pertama: Apapun yang beramal yang tidak membutuhkan syarat.
Kelompok ini meliputi 8 kata yaitu: ٌٌ َكا َن,ٌأَ ْم َسى,ٌأَ ْصبَ َح,ٌأَ ْض َحى,ٌ َظ َّل,ٌ َبا َت,ٌ َصا َرdan َل ْي ٌَس.
َكا ٌَن: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada masa lampau (telah terjadi).
أَ ْم َسى: Contoh: ٌ ( َكا َنٌال َب ْر ُدٌ َش ِد ْي ادdingin itu sangat terasa).
Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu sore. Contoh:
( أَ ْم َسىٌ َز ْيدٌذَا ِك اراpada sore hari Zaid berdzikir).
أَ ْص َب ٌَح: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada pagi hari. Contoh: ٌأَ ْص َب َحٌال َب ْر ُد
( َش ِد ْي اداdi pagi hari dingin itu sangat terasa).
Nawasikh Halaman 104
أَ ْضحَى: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu dhuha. Contoh: أَضْخَى
( زَيْد نَشِيْطًاpada waktu dhuha Zaid rajin).
ّظَــ َل:
Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada
waktu siang, contoh: ( ظ َلّ زَيْد صَائِمًاpada waktu siang Zaid berpuasa).
َ بَــات: Dia berfungsi menyifati isim dengan khabar pada waktu malam, contoh:
( بَاتَ زَيْد مصَِلّيًاpada waktu malam Zaid shalat).
صَــا َر: Dia berfungsi mengubah keadaan isim ke keadaan yang ditunjukkan oleh
khabar, contoh: ( صَــارَ العَجِيْن خبْزًاadonan telah menjadi roti).
لَيْـ َس: Dia berfungsi menafikan khabar dari isim, contoh
pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ( ﴿ وَلَيْسَ ال َذّكَر كَالْأُنْثَىdan tidaklah lelaki itu seperti
perempuan) (1).
Kedua: Apapun yang beramal dengan syarat didahului oleh penafiy.
Kelompok ini meliputi empat kata : (زَا َل, وَبَرِ َح, َوَفَتِئ, ّ) وَانْفَ َك. Ia memiliki fungsi mengulang-
ulang, seperti sabda Nabi ﷺ:》 ِ(》مَا زَا َل جِبْرِيْلُ يوصِيْنِي بِالخَارJibril senantiasa menasehatiku
mengenai tetangga) (2). Dan seperti perkataanmu: ( مَا بَرِحَ زَيْد قَارِئًاZaid senantiasa berdiri),
( َمَا فَتِئَ عَ ْمرو ذَاكِرًاAmar senantiasa berdzikir), dan ( َمَا انْفَ َكّ بَكْر مصَِلّيًاBakri senantiasa shalat).
Ketiga : Apapun yang beramal dengan syarat didahului oleh ( )مَاmashdariyah
dzarfiyah:
yaitu kata ( )دَا َمdan tiada lainnya, dan ia berfungsi untuk menjelaskan kontinuitas,
seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ( ﴿ وَأَوْصَانِى بِال َصَّلوٰةِ وَال َزّكٰـوةِ مَا دمْت حًَيّاDia mewasiatkan
kepada saya [mendirikan] shalat dan [menunaikan] zakat selama saya hidup) (3).
Maksudnya : membiasakan selama hidup.
Makna perkataan al-Mushannif rahimahullah pada kalimat : {dan apa-apa yang
ditashrif darinya} yaitu: dari َ كَانdan yang semisalnya maka ia beramal seperti (fi'il)
madhi, sama saja apakah ia fi'il mudhari atau fi'il amr atau lainnya. Anda katakan:
( كَانَ زَيْد قَائِمًاZaid telah berdiri), ( يَكُ ْونُ زَيْد قَائِمًاZaid sedang berdiri), dan ( كُ ْن قَائِمًاberdirilah!).
__________________________
(1) QS Ali Imran ayat 36
(2) Hadits muttafaq 'alaih dari Ibnu Umar dan Aisyah (semoga Allah meridhai mereka)
(3) QS Maryam ayat 31
Nawasikh Halaman 105
Sabda Rasulullah ﷺ: 《 ّ( 》 لَا يَزَرلُ لِسَانكَ َرطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَ َزّ َو جَ َلHendaklah lisanmu tiada
berhenti dari dzrikrullah 'azza wa jalla) (1).
__________________________
(1) Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Abdullah bin Busra radhiyAllahu 'anhu.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting:
1- Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata mengenai firman Allah Ta’ala ﴾﴿وَ كَانَ الَلّه سَ ِميْعًا َبصِْيرًا
(sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat) dan yang serupa dengan itu : hal
ini bukanlah bermakna bahwa kejadian tersebut telah berlalu, akan tetapi tidak berhenti (berlanjut
terus menerus).
Tasir alqur'an oleh Ibnu 'Utsaimin bab 1 halaman 124.
2- Isim َ َكانdan yang semisalnya mempunyai bentuk yang berbeda-beda, diantaranya berupa
• isim dzahir, contoh: ( َكانَ عَلِ ُيّ قَائِمًاAli itu berdiri),
• dhamir muttashil, contoh: ( كُنْت قَائِمًاsaya berdiri),
• dhamir mustatir, contoh: ( م َح َمّد كَانَ َقائِ ًماMuhammad adalah yang berdiri),
• dhamir munfashil, contoh: َ( مَا كَانَ َقائِمًا إَِلّا أَنْتtidak ada yang berdiri kecuali kamu).
3- Khabar َ كَانdan yang semisalnya, contoh: khabarnya mubtada ditinjau dari jenis dan
pembagiannya,
• terkadang mufrad, contoh: كَا َن محَ َّمد مذَاكِرًا
• terkadang berupa jumlah fi'liyah, contoh: كَانَ م َح َمّد ي َذاكِر ال َدّرْ َس
• atau berupa jumlah ismiyah, contoh: ٌكَانَ محَ َمّد مذَا ِكرَاته جَِيّ َدة
•terkadang berupa syibhu jumlah dari jar dan majrur, contoh: ِكَانَ محَ َمّد فِيْ الْبَيْت
• atau dzaraf, contoh: َكانَ محَ َّمد فَوْقَ الَْبيْ ِت.
Dan ketahuilah bahwa: Khabar َ كَانapabila berupa mufrad maka keadaannya manshub ; dan jika
berupa jumlah atau syibhu jumlah maka keadaannya 'didalam kedudukan nashab'.
4- Kata َكا َنdan yang semisalnya dinamakan sebagai fi'il naqish, karena tidak cukupnya ia dengan
marfu'nya (isim )كَا َنterhadap manshubnya (khabarnya). Jika anda katakan: كَانَ زَيْدtanpa
mengatakan َقاِئمًاsebagai contoh, maka kalimat tersebut kurang sempurna, tidak menghasilkan
faedah (tidak difahami) bagi pendengarnya. Dilihat di kitab AlKawakib bab 1 halaman 195.
5- Bisa terjadi pada ( أَ ْضحَى،َ أَصْبَح، أَمْسَى,َ كَانdan ّ )ظَ َلbermakna َ( َصارmenjadi), contoh pada firman Allah
Ta’ala: ﴾ ﴿ وَ كَا َن مِنَ الْكَاِفرِيْ َن, ﴾ ﴿ فَأَ ْصَبحْت ْم بِنِعْمَِتهِ إِخْوَانًا, dan ﴾ ﴿ظَلَ َوجْهه مسْ َو ًدّا. Dilihat di kitab Syarah al-Mufashshal
bab 6 halaman 106 dan kitab Qathru an-Nada halaman 186, dan kitab Hasyiya Abi Annaja halaman
85.
6- Terdapat ( )َبا َتpada satu ayat dalam al-Qur'an pada firman-Nya ﴾ ﴿ اَلّذِيْ َن َيبِيْتوْ َن لِرَِّبهِمْ س َجّدًا َو قِيَٰمًا.
7- Tidak ditemui ( )أمْسَىsebagai fi'il nasikh dalam al-Qur'an al-Karim. Begitupun ( )أَ ْضحَىjuga tidak ada
sama sekali. Dilihat di kitab Ma'aniy Nahwi Lissamraa'i bab 1 halaman 217.
8- Disyaratkan masuknya nafiy pada َ زَالdan yang semisalnya karena ia bermakna penafiyan.
Sehingga bila masuk padanya penafiy terbalik buktinya berfungsi sebagai pengulangan
(kontinuitas).
Dilihat di kitab Alhasyiyah Abi Annaja halaman 85.
9- Kata ( )مَاyang masuk pada (َ ) َدامdinamakan mashdariyah karena ia ditakdirkan bersama fi'il
setelahnya sebagai mashdar, selalu, dan sebagai dzarfiyah karena ia biasanya menggantikan
dzaraf.
Nawasikh Halaman 109
Kedua: Inna dan yang Semisalnya
Pengarang berkata: Adapun إِ َّنdan yang semisalnya: maka ia menashabkan isim dan
merafa'kan khabar, yaitu: َ لَيْت,ّ كَأَ َن,ّ لَكِ َن,ّ أ َن,ّإِ َن, dan لَعَ َّل. Anda katakan: إِ َنّ زَيْدًا قَائِم
(sesungguhnya Zaid itu berdiri) ,( ََلْي َت عَ ْم ًرا شاَخِصseandainya Amar hadir), dsb.
Dan makna ّ إِ َنdan ّ أَ َنuntuk penegasan/taukid, لَكِ َّنuntuk mempertentangkan/istidrak
bermakna “akan tetapi”, ّ كَأَ َنuntuk penyerupaan/tasybih yang bermakna “seperti”,
َ لَيْتuntuk angan-angan/tamanniy yang bermakna “pengandaian”, ,ّ لَعَ َلuntuk
pengharapan / tarajjiy dan khawatir /tawaqqu'.
Penjelasan: Anda telah mengenal َ كَانdan yang semisalnya.
Sekarang anda akan mengenal jenis nawasikh yang kedua, yaitu:
ّ إِ َنdan yang semisalnya, ada enam huruf yaitu: َ لَيْت,ّ كَأَ َن,ّ لَكِ َن,ّ أَ َن,ّإِ َن, dan ّلَعَ َل
Amalnya: Menashabkan isim dan merafa'kan khabar.
Contohnya: ( إِ َنّ زَيْدًا قَائِمsesungguhnya Zaid itu berdiri).
I'rabnya: ّ إِ َن: huruf nasikh menashabkan isim, merafa'kan khabar. زَيْدًا, isim ّإِ َن
manshub, tanda nashabnya fathah dzahirah di atas huruf akhirnya. قَائِم: khabar ّإِ َن
marfu', tanda rafa'nya dhammah dzahirah di atas huruf akhirnya.
Adapun maknanya: ( وَ أَ َّن،ّ )إِ َنmaknanya penegasan. Anda katakan زَيْد قَائِم, kemudian
masuk ( )إِ َّنuntuk menegaskan khabar dan menjelaskannya, maka anda katakan: ( ّإِ َن
( )زَيْدًا قَائِمsesungguhnya zaid yang berdiri)(1), dan contoh firman Allah Ta’ala: ﴾ َإِ َنّ ٱللٰه
( ﴿ لَطِيْف خَبِيْرsesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui) (2) dan ﴾ ْاِعْـلَموْا
ِ( ﴿ أَ َنّ ٱللٰهَ شَدِيْد الْعِقَابketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya) (3).
__________________________
(1) Syarah al-Qathr halaman 205
(2) QS Al-Hajj ayat 63
(3) QS Al-Maidah ayat 98
Nawasikh Halaman 110
Dan (ّ )لَ ِك َن: maknanya istidraak (mempertentangkan), yaitu menghilangkan apa yang
dikesankan dari kalimat sebelumnya, contoh: ( زَيْد غَنِي لَكَِنّه بَخِيْلZaid itu kaya tetapi dia
pelit), maka sesungguhnya gambaran tentang Zaid yang kaya kesannya bahwa dia
dermawan, maka sirnalah kesan tersebut dengan perkataan ( لَكَِنّه بَخِيْلakan tetapi dia
pelit)(¹).
Dan ()كَأَ َّن: Maknanya tasybih (penyerupaan), contoh: ( كَأَ َنّ زَيْدًا أَسَدZaid seperti singa),
dan firman Allah ﴾ ( ﴿ كَأََنّهَا كَوْكَبSeakan² ia bintang) (²).
Dan (َ)لَيْت: Maknanya attamanniy (angan-angan): Yaitu tuntutan yang mustahil -
biasanya - atau mungkin berhasil (³), Mustahil, contohnya: ( لَيْتَ الشابَابَ عَائِدseandainya
masa muda itu kembali). Mungkin, contohnya: ( لَيْتَ محَ َمّدًا حَضِرseandainya Muhammad
hadir).
Dan (ّ)لَ َع َل: Maknanya: tarajjiy (pengharapan) dan tawaqqu'iy (khawatir), tarajjiy untuk
hal yang disukai, contoh: ( لَعَ َلّ ٱللٰهَ يَرْحَمنَاsemoga Allah merahmati kita), dan tawaqqu'iy
untuk hal tidak disukai, contoh: ( لَعَ َلّ العَد َوّ قَادِمjangan-jangan musuh tiba)*
__________________________
(1) Kitab al-Qawa'id al-Asaasiyyah hal. 159 dan dilihat di kitab Mujibunnidaa hal. 235.
(2) QS An-Nuur ayat 35
(3) Dilihat di kitab al-Mughniy halaman 375
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Diantara perbedaan antara ( )إِ َّنyang hamzahnya dikasrahkan dengan yang difathahkan. (ّ )إِ َنyang
difathahkan tidak diletakkan di awal kalimat, ia harus didahului dengan kalimat, seperti ْبََلّغَنِي أَوْ أَعْجَبَنِي
(disampaikan kepada saya atau membuat saya kagum) dan yang semisal. Dilihat di kita Syarah Qathru
an- Nada halaman 205.
2. Kata (ّ )لَكِ َنharus didahului dengan kalimat, jika nun tidak ditasydid maka harus diabaikan, ia tidak
beramal dan maknanya tetap yaitu istadrak (mempertentangkan), contoh firman Allah Ta’ala ﴾ وَمَا
( ﴿ َظلَمْنٰهمْ وَلٰكِنْ كَانواْ أَنْفُسَهمْ يَظْلِموْنKami tidak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi
diri mereka sendiri) dan firman-Nya Ta’ala: ﴾ ِ( ﴿ لٰكِنِ ٱلرٰ سِحوْ َن فِي العِلْمtetapi orang-orang yang mendalam
ilmunya). Dilihat di kitab syarah al-Qathr halaman 212, dan Mujiibun Nadaa halaman 235.
3. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang ( )َلعَ َّل: Hanya membandingkannya makna tarajjiy jika
ia dari makhluq, adapun pada hak orang yang tidak boleh pada haknya tarajjiy maka ia untuk
menjelaskan sebab (ta'lil) saja. Seperti firman Allah Ta’ala: ﴾ َ( ﴿ َلعََلّكُمْ تََتّ ُقوْنagar kamu bertaqwa), Dan
pengharapan yang terkait dengan orang yang bicara kutipan dari "Syifa'ul 'alil" halaman 328. Dilihat
di kitab ash-Shaban bab 1 halaman 404.
4. Jika ( )مَاhuruf tambahan bersambung dengan (ّ )ِإ َنdan yang semisalnya, ia akan menyelamatkan
amal jumlah ismiyah yang ia masuk padanya, kalimat yang tersusun dari mubtada' dan khabar tetap
seperti semula sebagaimana sebelum masuknya huruf nasikh, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ إَِنّمَا
ٌ( ﴿ َلعََلّكُمْ تََتّقُوْ َن ٱلمُؤْمِنوْ َن إِخْوَةsesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) kecuali ( )لَْي َتmaka boleh
mengabaikannya dan boleh mengamalkannya. Dilihat di syarah al-Qathr halaman 207
Nawasikh Halaman 113
Ketiga : Dzhanna dan yang Semisalnya
Berkata al mushannif mengenai َظنَنْتdan yang semisalnya :
Sesungguhnya ظَنَنْتdan yang semisalnya menashabkan mubtada' dan khabar, atas
dasar keduanya merupakan maf'ulnya. Dan dia adalah : ( ظَنَنْتsaya telah menyangka),
( حَسِبْتsaya telah mengira), ( ِخلْتsaya telah membayangkan), ( زَعَمْتsaya telah
menduga), ( رَأَيْتsaya telah melihat), ( َعلِمْتsaya telah mengetahui), ( وَجَدْتsaya telah
mendapati), ( اَتّخَذْتsaya telah menjadikan), ( جَعَلْتsaya telah menjadikan), ( سَمِعْتsaya
telah mendengar). Anda mengatakan : ( َظنَنْت زَيْدًا منْطَلِقًاsaya telah menduga Zaid itu
pergi), ( ِخلْت عَمْرًا شَاخِصًاsaya telah menduga 'Amer itu hadir), dan yang serupa dengan
contoh-contoh tersebut.
Penjelasan : Pengarang rahimahullah_menyebutkan jenis ketiga dari nawasikh:
Yaitu : ّ( َظ َنmenyangka), ( حَسِبmengira), َ( خَالmembayangkan), َ( زَعَمmenduga), رَأَى
(melihat), ( َعلِمmengetahui), ( وَجَدmendapati), َ( اَتّخَذmenjadikan), ( جَعَلmenjadikan).
Fungsinya : menashabkan isim dan khabar, atas dasar keduanya merupakan
maf'ulnya.
Contoh : ( ظَنَنْت زَيْدًا منْطَلِقًاsaya menyangka Zaid berangkat).
I'rabnya : ظَنَنْت: fi'il madhi nasikh, ta: dhamir muttashil pada posisi rafa' sebagai fa'il.
زَيْدًا: maf'ul bih pertama, manshub, dan مْنطَلِقًا: maf'ul bih kedua, manshub.
Dan ظَ َّنdan yang semisalnya dikelompokkan kedalam tiga jenis :
Fi'il-fi'il yang ditujukan sebagai perkiraan, yaitu : ظَ َّن, dan َحَسِب, dan َخَال, dan َزَعَم.
Kata ( ظَ َّنmenyangka), contoh : ( ظَنَنْت الفَجْرَ قَرِيْبًاsaya menyangka fajar itu dekat/segera
datang).
Dan ( حَسِ َبmengira), contoh : ( حَسِبْت العَمَلَ شَاقًاsaya mengira pekerjaan itu sulit).
Dan َ( خَـالmembayangkan), contoh: ً( خِلْت ال َشّجَرَةَ مثْمِرَةsaya membayangkan pohon itu
produktif).
Dan َ( زَعَمmenduga/mengira), contoh : ( زَعَمْت ال َسّفَرَ سَهْلًاsaya menduga perjalanan itu
mudah).
Fi'il-fi'il yang ditujukan sebagai kepastian, yaitu : رَأَى, dan َعَلِم, dan َوَجَد.
Kata ( رَأَىmelihat), contoh : ( رَأَيْت الحَ َّق منْتَصِرًاsaya melihat kebenaran itu menang).
Dan ( عَلِ َمmengetahui), contoh : ( َعلِمْت ال ِصّدْقَ منَ ِجّيًاsaya mengetahui kejujuran itu
menyelamatkan).
Dan َ( وَجَدmendapati), contoh : ِ( وَجَدْت ال َصّلَاحَ سِ َرّ الَنّجَاحsaya mendapati kebaikan itu
rahasia kesuksesan).
Nawasikh Halaman 114
Fi'il-fi'il yang berfaedah untuk tahwil (mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain),
yaitu: َ اتَّ َخٌذdan َج َع ٌَل.
Kata ٌَ( اتَّ َخذmenjadikan), contoh: ( اتَّ َخ ْذ ُتٌالأَ ِم ْي َنٌ َصا ِح اباsaya menjadikan orang yang jujur
itu sahabat).
Dan ٌ( َجعَ َلmenjadikan), contoh: ( َجعَ ْل ُت ٌال َخ َش َب ٌبَا اباsaya menjadikan kayu sebagai
pintu).
Dan menurut Ibnu Ajjurum mengenai fi'il-fi'il yang menashabkan mubtada dan
khabar ini (ٌ َس ِم ْع ُت, mendengar) menurut sebagian ulama nahwu, contohnya: ٌَس ِم ْع ُتٌ َز ْي ادا
( يَقُ ْو ٌُلsaya mendengar Zaid berkata), dan pendapat ini dhaif. Dan yang diakui oleh
jumhur adalah bahwa semua fi'il yang berkaitan indera seperti: ٌ( َس ِم َعmendengar), ٌذَا َق
(merasakan), ٌ( أَ ْب َص َرmelihat), ٌ( َل ِم َسmenyentuh), ٌ( َش َّمmencium), tidaklah memberi
pengaruh kecuali kepada maf'ul pertama. (1) *
__________________________
(1) Bisa dilihat pada Al Mutammimah dengan Al Kawakib (jilid 1/hal 321) dan Syarah Al
Kafrawiy (hal 102-103).
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Selain fi’il madhi dari َظ ٌَّنdan yang semisalnya (juga) beramal seperti fi’il madhi.
Contohnya pada firman Allah Ta’ala : ٌ﴾ٌ( ﴿ٌ َوٌ َماٌأَ ُظ ُّنٌال َّسا َع َةٌ َقا ِئ َمةاdan saya tidak mengira hari
kiamat itu akan datang), dan ﴾ ( ﴿ ٌ َو ٌ َن َراهُ ٌ َق ِر ْي اباsedangkan Kami memandangnya dekat
[mungkin terjadi]).
2. Maf'ul kedua: kata tersebut aslinya adalah khabar mubtada, terkadang dia datang dalam
keadaan : mufrad, contoh: ( َرأَ ْي ُتٌال ِع ْل َمٌ َنافِ اعاsaya melihat ilmu itu bermanfaat), kalimat,
contoh: ﴾ ( ﴿ َرأَ ْي ُت ٌالذُّنُ ْو َب ٌتُ ِم ْي ُت ٌالقُلُ ْو ٌَبsaya melihat dosa itu mematikan hati), syibhu
jumlah/yang menyerupai kalimat, contoh pada firman Allah Ta’ala: ٌ﴿ٌ َوٌ َجعَ َلٌ ِم ْن ُه ُمٌال ِق َر َد َةٌ َو
ٌ﴾ٌ( ا ْل َخنَا ِز ْي َرdi antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi).
3. Terkadang (ٌ ) َظ َّنdiletakkan untuk kepastian/yakin, contoh pada firman Allah Ta’ala ﴾ ٌٌإِنِى
ٌٌ( ﴿ َظنَ ْن ُتٌأَ ِنىٌ ِح َسابِيَ ْهsesungguhnya saya yakin, bahwa sesungguhnya saya akan menemui
hisab terhadap diriku). Maka ( ) َظ ّنَ ْن ٌُتadalah fi’il madhi bermakna yakin, ta adalah fa'il,
sesungguhnya dia hadir dan mempengaruhi kedua maf'ulnya. Bisa dilihat pada al Durr
al Madhūn (1/333), dan al-Kawākibu ad-Darriyyah (1/293).
4. Jika َراَىbermakna ً بَصَرِّيَةyaitu melihat dengan mata maka sesungguhnya ia hanya
memerlukan satu maf’ul. Contoh : ( َرأَ ْي ُتٌ َز ْي اداsaya melihat Zaid). Jika setelahnya ada yang
dianggap sebagai maf'ul kedua, maka di i’rab sebagai Haal. Contoh : ( َرأَ ْي ُتٌ َز ْي اداٌقَائِ اماsaya
melihat Zaid berdiri), قَائِمًاsebagai haal bukan maf’ul bih.
5. Ada banyak fi'il yang menashabkan dua maf'ul dan bukan termasuk kedalam semisal ٌ َظ َّن.
Contoh : ( َك َساmemakaikan) dan ( أَ ْع َطىmemberi).
6. Al Mushannif menyebutkan bahwa ٌ َظ َّنdan yang semisalnya masuk pada bab marfu’at
(yang merafa’kan) untuk menyempurnakan penjelasan ‘aamil nawasikh (perusak)
Tawabi’ Halaman 117
Tawabi’
Pertama : Na'at ( Sifat )
Berkata Pengarang pada bab na'at : Na'at itu mengikuti kata yang disifati dalam hal
rafa, nashab, khafadh, ma'rifat dan nakirahnya. Anda katakan : ُ( قَامَ زَيْد العَاقِلZaid yang
berakal telah berdiri), َ( رَأَيْت زَيْدًا العَاقِلsaya melihat Zaid yang berakal), ِ( مَرَرْت بِزَيْدٍ العَاقِلsaya
berpapasan dengan Zaid yang berakal).
Penjelasan: Inia adalah permulaan bagi Pengarang dalam membicarakan apa yang
dii’rab dengan mengikuti selainnya, yang terdiri dari 4 jenis. Yaitu: Na’at, Taukid,
Badal, Athaf. Dan yang memulai dengan na’at, dinamakan sifat (1).
Na'at (Kata Sifat)
Pengertiannya : Na’at adalah kata yang mengikuti (tabi’) yang menyempurnakan
yang yang diikuti dengan menjelaskan sifat dari sifat-sifatnya (2).
Contohnya : ُ ( قَامَ زَيْد العَاقِلZaid yang berakal telah berdiri ), ( رَأَيْت زَيْدًا العَاقِ َلsaya melihat
Zaid yang berakal) , ِ( مَرَرْت بِزَيْدٍ العَاقِلsaya berpapasan dengan Zaid yang berakal).
Irabnya : yang berakal (ِ )العَاقِل: sifatnya mengikuti yang disifatinya ( )زَيْدًاpada i'rabnya,
yaitu pada contoh pertama : na'at (sifatnya) marfu, karena man'ut (yang disifatinya)
marfu. Dan pada contoh kedua : Na'atnya manshub, karena man'utnya manshub,
dan pada contoh ketiga : na'atnya majrur ; karena man'utnya majrur.
Na'at (kata sifat) mengikuti man'utnya (yang disifatinya), baik i'rab, nakirah, ma'rifat,
mudzakar, muannats, dan adadnya.
Dan contoh na'at dalam al-Qur'an al-Karim, Allah berfirman :
﴾ ( ﴿ هَٰذَا صِرَاطٌ مسْتَقِيمInilah jalan yang lurus) ,(3) ﴾ َ( ﴿ اهْدِنَا ال ِصّرَاطَ الْمسْتَقِيمtunjukilah kami jalan
yang lurus), dan ﴾ ٍ( ﴿ هَدَانِي رَِبّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مسْتَقِيمtelah ditunjuki oleh Tuhanku ke jalan yang
lurus) .(4)
Dan contoh-contoh na'at dari Hadits, Rasulullah ﷺbersabda:》 》الْكَلِمَةُ ال َطِّيّبَةُ صَدَقٌَة
(kalimat yang baik adalah sedekah) .(5)
__________________________
(1) Na'at, faedahnya antara lain: penjelasan. Apa bila anda katakan (umpama) «" » َقا َم َزي ٌدZaid
telah berdiri", dan di sana ada Zaid lainnya, maka pada kondisi ini memerlukan identifikasi
Zaid dengan salah satu sifatnya yang khusus, maka anda katakan «" » َقا َم َزي ٌد ال َعاقِ ُلZaid yang
berakal telah berdiri", maka lafadz ( )ال َعاقِ ُلdan sebagainya dinamakan na'at (atau sifat) dan
saat itu ia wajib rafa' mengikuti lafadz ( ) َزي ٌدyang marfu' karena dia fa'il.
(2) Ibnu Aqil, 3/190 (3) QS. Ali Imran, ayat 51 (4) QS. Al-An’am, ayat 6
(5) Hadits Riwayat Bukhari Muslim Abi Hurairah Ra
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 120
Bab Ma’rifat dan Nakirah
Berkata al mushannif, isim ma'rifah (kata yang objek pembicaraannya telah
ditentukan) ada lima, yaitu : isim dhamir/kata ganti, seperti ( أَنَاsaya) dan َ( أَنْتkamu
[pr]); isim 'alam/nama, seperti ( زَيْدZaid) dan ُ( مَ َكّةMekkah); isim mubham (atau isim
isyarah/kata tunjuk), seperti ( هَذَاini, tunggal [lk]) dan ِ( هَذِهini, tunggal [pr]) dan ِ( َهؤلَاءini,
jamak); isim yang dilekati alif dan lam, seperti ُ( ال َرّجلseorang lelaki) dan ِ( الغلَامseorang
anak lelaki); serta isim yang di- idhafah-kan (disandarkan) kepada salah satu dari
keempat isim tersebut.
Penjelasan : Ketika Al-Mushannif sang pengarang menjelaskan tentang na'at yang
mengikuti man'ut, beliau belum menjelaskan dalam hal ma’rifat dan nakirahnya.
Maka pengarang kitab ini menjelaskanna untuk menyempurnakan faedahnya.
Nakirah : isim yang menunjukkan atas sesuatu yang tidak / belum ditentukan.
Contoh : ٍ( رَجلseorang lelaki), ( إِمْرَأٍَةseorang perempuan), ٍ( َمدِيْنَةsebuah kota).
Ma'rifah : isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah ditentukan.
Contoh : ( زَيْدZaid), ُ'( َعاءِشَةAisyah), ٌ( مَ َكّةMekkah).
Ma'rifah ada 6 macam¹:
Dhamir (kata ganti), isim 'alam (nama), isim isyarah (kata tunjuk), isim maushul
(kata sambung), isim yang dilekati ( الalif dan lam), dan isim yang disandarkan
pada isim ma'rifah.
Dhamir : isim yang menetapkan seseorang yang dinamai dengan media orang
pertama (mutakallim) atau orang kedua (mukhattab) atau orang ketiga (ghaib).
Contoh : ( أَنَاsaya), َ( أَنْتkamu [lk]), َ( هوdia [lk]).
Anda berkata : ( أَنَا حَاضِرsaya hadir), maka dhamir ( )أَنَاmenunjukkan pembicara (kata
ganti orang pertama) yang spesifik melalui media berbicara.
Isim alam: isim yang menetapkan orang yang diberi nama tanpa perantara.
Contoh: ( زَيْدZaid), ٌ( مَ َكّةMekkah), ٍ( أَبِي بَكْرAbu Bakar), dan ( الفَروْقal Faruq).
Maka isim alam menunjukkan atas sesuatu yang spesifik tanpa media lain yang
muncul selain lafadznya.
__________________________
(1) Dan sungguh Pengarang menganggap bahwa isim ma’rifat ada lima, dan boleh jadi
beliau memasukkan isim maushul di bawah isim mubham, dan ia menjauhkan diri,
dengan memberi contoh isim isyarah saja.
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 121
Isim isyarah: isim yang menunjukkan sesuatu yang diberi nama dengan perantara
kata tunjuk.
Dan isim isyarah tersebut adalah:
'Ini', هَذَا: digunakan untuk mengisyaratkan mufrad mudzakkar. Contoh: هَذَا طَالِب
(ini siswa) (1).
'Ini', ِهَذِه: digunakan untuk mengisyaratkan mufrad muannats. Contoh: ٌهَذِهِ طَالِبَة
(ini siswi).
'Ini', هَذَا ِن: digunakan untuk mengisyaratkan mutsanna mudzakkar. Contoh:
ِ( هَذَانِ طَالِبَانini dua siswa).
'Ini', ِهَاتَان: digunakan untuk mengisyaratkan mutsanna muannats. Contoh: ِهَاتَان
ِ( طَالِبَتَانini dua siswi).
'Ini', هَؤلَِء: digunakan untuk mengisyaratkan jamak mudzakkar atau muannats.
Contoh: ( هَؤلَِء طُلَّابini para siswa) dan ( َهؤلَءِ طَالِبَاتini para siswi).
Maka isim isyarah menunjukkan atas sesuatu yang tidak ditetapkan dengan
perantaraan pemberian isyarat kepadanya. Anda berkata seraya memberi isyarat
dengan jari tanganmu kepada seorang siswa, contoh: ( هَذَاini)(2). Maka lafadz/kata
)( )هَذَا3) menunjukkan atas siswa yang telah ditetapkan dengan perantara isyarat/
penunjukan kepadanya.
Isim maushul: isim yang menunjukkan sesuatu yang diberi nama dengan
perantara kalimat yang ada setelahnya yang disebut sebagai silah.
Dan isim maushul tersebut adalah:
• Kata ْ اَلّذِي: untuk mufrad mudzakkar contoh: َ( جَاءَ اَلّذِيْ عََلّمَكtelah datang seorang
[lk] yang mengajarmu) (4).
• Kata اَلّتِ ْي: untuk mufrad muannats contoh: َ( جَاءَتِ اَلّتِيْ عََلّمَتْكtelah datang wanita
yang mengajarmu).
__________________________
(1) (Kata ) َهذَاMaka هَاadalah untuk huruf tanbih, dan ذَا: isim isyarah, mabniy atas sukun didalam
kedudukan rafa' sebagai mubtada. Dan َطالِبadalah khabar, marfu', dan tanda rafa'nya adalah
dhammah.
(2) Huruf ( )هَاdalam kata َهذَاbukan isim isyarah, dan sesungguhnya ia adalah huruf yang didatangkan
untuk memberi perhatian ke lawan bicara untuk orang yang ditunjuk. Dilihat di "asy-Syujuur" (hal
140).
(3) Faedah: jika anda mendapati masalah dalam mengi'rab isim isyarah, maka letakkan/tempatkan
pada tempat isim dzahir dan juga i'rabnya. Contoh : ( رَأَيْت َهذَاsaya telah melihat ini), anda katakan
didalamnya: َرَأَْيت ال َطّاِلب, maka َ ال َطّالِبadalah maf'ul bih, dan begitupun dalam mengi'rab isim maushul.
(4) Pada kalimat ،َ َجاَء اَلّذِ ْي عََلّمَكkata ( )جَاَءadalah fi'il madhi; dan (ْ )اَلّ ِذيadalah isim maushul, mabniy atas
sukun didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il; dan pada (َ )عََلّمَكkamu telah mempelajari, عََلّ َمadalah
fi'il madhi dan fa'ilnya dhamir mustatir taqdirnya ،ه َوdan ( )الكَافadalah dhamir muttashil,
menempati kedudukan nashab sebagai maf'ul bih. Dan jumlah fi'liyyah merupakan shilah mausul
yang tidak menempati kedudukan didalam i'rabnya.
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 122
• Kata ال َّلذَا ٌِن: untuk mutsanna mudzakkar, contoh: ( َجا َءٌال ّلَذَا ِنٌ َع َّل َما ٌَكtelah datang
dua lelaki yang mengajarmu).
• Kata اللَّتَا ٌِن: untuk mutsanna muannats, contoh: ٌ( َجا َء ِتٌال َّلتَا ِنٌ َعلَّ َمتَا َكtelah datang
dua perempuan yang mengajarmu).
• Kata الَّ ِذ ْي ٌَن: Untuk jamak mudzakkar, contoh: ٌ( َجا َء ٌا ّلَ ِذ ْي َن ٌ َع َّل ُم ْو َكtelah datang
beberapa lelaki yang mengajarmu).
• Kata ال َّلتِيdan ال َّلئِي: untuk jamak muannats, contoh: َجا َء ِتٌال َّلتِيatau ٌال َّلئِيٌ َع َّل ْم َن َك
(telah datang beberapa perempuan yang mengajarmu).
Isim maushul : menunjuk pada hal yang tertentu dengan perantara shilah, anda
mengatakan: ٌ( َجا َء ٌالَّ ِذي ٌ َع ّلَ َم َكtelah datang seseorang yang mengajarmu), maka isim
maushul ( )ا َّل ِذيtidak akan menentukan tanpa perantara shilah dan dia berupa
jumlah/kalimat () َعلَّ َم ٌَك, dan tanpa shilah dia rancu (tidak jelas) (1).
Ma'rifah dengan ٌ أَ ْل: isim yang masuk padanya (ٌ ٌ(أَ ْلmaka ia berfungsi
menjadikannya ma'rifah.
Contoh : ٌا ْلقَ َل ٌُم,ٌ ا ْل ِكتَا ُب, dan ال َّطا ِل ٌُب. Maka isim² ini ketika belum kemasukanٌ ٌِأَ ْلdia
merupakan isim nakirah yang belum jelas, tidak menunjukkan sesuatu yang
tertentu, misal anda katakan: ٌ( ِا ْشتَ َر ْي ُتٌ ِكتَابااٌ َف َق َرأْ ُتٌا ْل ِكتَا َبsaya telah membeli sebuah buku
kemudian saya membaca kitab tersebut), maka kata ( ) ِكتَابااadalah nakirah, akan
tetapi ketika anda masukkan padanya (ٌ )أَ ْلdia menjadi ma'rifah (ٌ)ا ْل ِكتَا َب.
Mudhaf (bersandar) kepada isim ma'rifah : Isim nakirah yang disandarkan kepada
salah satu isim ma'rifah maka ia menjadi ma'rifah dengan bersandar padanya.
Contoh: ٌ( ِكتَابِ ْيkitab saya) - ( ِكتَا ُبٌ َز ْيٌدkitab Zaid) - ( ِكتَا ُبٌ َهذَاkitab ini) -ٌِكتَا ُبٌالَّ ِذ ْيٌ َزا َر َنا
(kitabnya orang yang mengunjungi kami) dan ( ِكتَا ُبٌال َّطا ِل ٌُبkitabnya siswa itu).
Maka kata ( ) ِكتَابasalnya adalah nakirah, akan tetapi ia menjadi ma'rifah dengan
bersandar kepada isim ma'rifah.
__________________________
(1) Faedah: Di antara isim² maushul ( َم ٌْنdan ) َماkeduanya untuk semua yang telah disebutkan
selain bahwasanya (ٌْْ ) َم ْنkhusus untuk yang berakal (lil 'aqil) dan ( ) َماuntuk yang tidak
berakal (li ghairil 'aqil), contoh: ٌُا ْحفَ ْظٌ َماٌتَعَ َّل ْمتَ ٌه-ٌٌ َجا َءٌ َم ْنٌ َعلَّ َم َك, maksudnya ٌٌا ْح َف ْظٌالَّ ِذ ْي-ٌَجا َءٌالَّ ِذ ْيٌ َعلَّ َم َك
ُتَعَ َّل ْمتَ ٌه
Ketahuilah bahwa shilah maushul tidak ada posisinya dalam i'rab, maka dia tidak sebagai
khabar dan tidak juga sebagai sifat dan tidak lainnya.
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 123
Nakirah
Pengarang berkata:
Nakirah adalah setiap isim yang umum pada jenisnya tidak terkhusus satu di antara
yang lainnya, dan pendekatannya: setiap kata yang bisa dimasuki alif dan lam, seperti
: ال َّر ُج ٌُلdan ا ْل َف َرس.
Penjelasan:
Setelah menyelesaikan pembahasan Ma'rifah, Pengarang melanjutkan pembahasan
Nakirah.
Nakirah: Yaitu setiap isim yang umun pada jenisnya tidal terkhusus satu di antara
yang lainnya.
Contoh kata (ٌ ) َر ُجلdari firman Allah Ta’ala: ﴾ ٌ( ﴿ َو َجآ َءٌ ِم ْنٌأَ ْق َصاٌا ْل َم ِد ْينَ ِةٌ َر ُجلٌ َي ْسعَىdan telah
datang dari ujung kota seorang lelaki dengan tergesa-gesa) (1).
Maka kata (ٌ ) َر ُجلtidak dimaksudkan pada seseorang tertentu, karena sesungguhnya
kata ٌ َر ُجلitu memungkinkan penggunaanya kepada semua lafadz ٌ َر ُجلtanpa ada
pengkhususan.
Dikenal Nakirah juga karena sesungguhnya ia adalah:
isim yang menerima masuknya (ٌ )أَ ْلdi awalnya dan mempengaruhi kema'rifahannya.
Contoh: ( َر ُج ٌلseorang lelaki), ٌ( ِكتَابsebuah kitab),( َش َج َرٌةsatu pohon) dan ( َف َر ٌسseekor
kuda): karena sesungguhnya masuk padanya (ٌ )أَ ْلdia menjadi ma'rifah, maka anda
katakan: ٌ( ال َّر ُج ُلlelaki itu), ( ا ْل ِكتَا ٌُبkitab itu), ُ( ال َّش َج َرٌةpohon itu) dan ٌ( ال َف َر ُسkuda itu) (2).
__________________________
(1) QS Yasin ayat 20
(2) Adapun apabila isim menerima ( ألakan tetapi ia tidak menjadikannya ma'rifah, maka ia
bukanlah nakirah, sebagaimana pada isim² 'alam, contoh: ( َح َس ٌنHasan)' ( َع َّبا ٌسAbbas), نُ ْع َما ٌُن
(Nu'man), jika masing² isim tsb dimasuki ()أل, anda katakan:( ٌَا ْل َح َس ٌُنHasan), ا ْل َعبَّا ٌُس
(Abbas), ٌ( ال ّنُ ْع َما ُنNu'man) ini semua ma'rifah baik sebelum maupun setelah masuknya
()أل. Dilihat di: Syarah Ibnu 'Aqil bab 1 halaman 86
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 124
Kedua: Athaf
Pengarang berkata: [Bab athaf: Huruf athaf ada sepuluh, yaitu: ( َوdan), ( َفkemudian)
, ( ثُ َّمkemudian) , ْ( َأوatau) , ْ( أَمataukah) , ( إَِمّاada kalanya) , ( بَ ْلtetapi/bahkan) , ( َلاtidak) ,
ْ( لَكِنakan tetapi) , ( حََتّىsehingga) pada sebagian posisi]
Penjelasan : Tawabi' jenis kedua : Athaf (1)
Definisi : Yaitu tabi' (yang mengikuti) yang berada di tengah² antaranya dengan
matbu' (yang diikuti)nya ada satu huruf athaf.(2)
Contoh: ( جَاءَ زَيْد َو عَمْروZaid dan Amar telah datang)
I'rabnya: َ جَاء: fi'il madhi, Zaid: fa'il marfu' dan dia ma'thuf 'alaih, َو عَ ْمرو: Huruf wawu
() َو: huruf athaf, عَمْرو: ma'thuf atas Zaid, marfu' juga, tanda rafa'nya dhammah
dzahirah atas huruf akhirnya.
Huruf athaf menurut pendapat yang shahih ada sembilan (3)
1. Huruf wawu ( ) َوberfungsi sebagai penggabung tidak berurutan, contoh: َجاَء زَيْد َو عَ ْمرو
2. Huruf َف: untuk urutan dan ta'qib (4), contoh: جَاءَ زَيْد فَعَمْرو
3. Huruf ثُ َّم: untuk urutan dan tarajiy (5), contoh: َجاَء َزيْد ثُ َّم عَ ْمرو
4. Huruf ْ أَو: untuk menunjuk salah satu dari dua hal, contoh: جَاءَ َزيْد َأ ْو عَ ْمرو
5. Huruf ْ أَم: untuk meminta penentuan setelah huruf hamzah istifham ()أ, contoh
: َأزَيْد َجاَء َأ ْم عَمْرو ؟
__________________________
(1) Jika anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan Zaid ( )زَيْدdan Amar ()عَمْرو,
kemudian mengganti penyebutan dua kalimat « »جَاءَ زَيْدdan « » َجاءَ عَمْرو, cukup dengan
menyebut fi'il satu kali kemudian dua isim yang dipisahkan dengan huruf () َو, anda
katakan: «» َجاءَ زَيْد وَ عَمْرو, kata setelah huruf ( ) َوdinamakan ma'thuf 'alaih.
(2) Syarah Alqthri halaman 427; dan Syarah Ibnu 'Aqil bab 3 halaman 224.
(3) Dengan meninggalkan ( )ِإَمّا. Dilihat di Ibnu 'Aqil bab 3 halaman 234 , Syarah Alqatr
halaman 438 dan Al-Kawakib bab 2 halaman 554.
(4) Urutan : Yaitu meletakkan yang kedua setelah yang pertama. Atta'qib: mengikutinya
dengan tidak dibatasi waktu.
(5) Attarakhi : Yaitu meletakkan yang kedua setelah yang pertama dengan dibatasi waktu.
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 125
6. Huruf (ْ )َبل: untuk Ishrab, yaitu berpaling dari yang sebelumnya,
contoh: َجاَء عَمْرو َبلْ زَيْد
7. Huruf ( )لَا: Untuk nafiy, menafiykan hukum dari ma'thuf,
contoh: جَاَء َزيْد لَا عَ ْمرو
8. Huruf ( )لَكِ ْن: Untuk Istidrak, contoh: مَا َجاَء عَمْرو لَكِ ْن زَيْد
9. Huruf ( ) َحَّتى: Untuk menggabungkan antara ma'thuf dan ma'thuf 'alaih, contoh:
ُيَموْت الَنّاس حََتّى اْلأَْنبَِياء
Ibnu Ajurum menambahkan huruf ( )إَِّماpada huruf2 athaf, contoh: َجاءَ إَِّما َزيْد َو ِإَمّا عَمْرو. Pendapat
yang shahih tentang ( )ِإَّماbahwa ia bukanlah huruf nashab, dia hanya huruf tafshil dan
athafnya adalah wawu (( ) َو1). *
__________________________
(1) Suhaili berkata: Ketika anda melihat satu huruf dari huruf2 athaf bersama wawu (َ)و, maka huruf
wawu ( ) َوitulah athafnya bukan yang lainnya. Kutipan Nataijul fikri halanm 202.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Dari Hudzaifah radhiyAllahu 'anhu, Nabi ﷺtelah berkata: "Jangan kalian katakan مَا شَاَء الَّله َو شَاَء
ُفَلانtapi katakanlah "مَا َشاءَ الَلّه ُث َمّ شَاءَ ُفلَان
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: Karena sesungguhnya ّ )*ثُ َمlittartib (urutan) dan littarakhi
sehingga berfungsi bahwa ma'thuf lebih kecil derajatnya dibanding ma'thuf 'alaih.
Kutipan "Alqaulu almufid" bab 2 halaman 103.
2. Huruf athaf (ّ )ثُ َمuntuk isim mufrad tidak ada di alqur'an, yang ada hanya untuk jumlah.
Kutipan "Dirasaat al-uslub alqur'an" bab 1 halaman 18.
3. Disyaratkan pada (huruf2 ْ َأم, َلكِ ْن, لَاdan ) َحَّتىma'thufnya dengan isim mufrad. Ibnu Hisyam berkata
: Dan huruf بَ ْلmenurut pendapat yang shahih. "Almughniy" halaman 250.
4. Dalam alqur'an tidak ada huruf athaf َحَّتى-pendapat yang shahih- demikian pula ()َلكِ ْن.
Dilihat di "Dirasaat al-uslub alqur'an" bab 1 halaman 487 dan bab 2 halaman 115.
5. Di antara syarat2 ma'thuf dengan ( ) َحَّتىmenjadi bagian dari ma'thuf 'alaih, misalnya أ َكْلت ال َّسمْكََة َحَّتى
( َرأ َسهَاSaya makan ikan sampai kepalanya) dan pada perkataan Pengarang : [ حََتّىpada sebagian
kedudukan], isyarat bahwa athaf dengan ( )حََتّىitu sedikit, dan ia ( ) َحَّتىdii'rab sebagai huruf jar
apabila masuk kepada isim majrur, atau mudhari' manshub karena ia berlaku utk masdhar yang
dita'wil dari an yang tersembunyi (ِ ) َأنْ الْم ْضمَرَةdan fi'il mudhari' contohnya seperti firman Allah
Ta’ala { } َسلَام ِه َي حََّتى مَطْلَ ِع اْلَفجْ ِرdan firman Allah Ta’ala {َ } َو كُُلوْا وَ اشْ َربوْا حََّتى يَتََبَيّنdan ia ( )حََّتىdii'rab sebagai
huruf ghayah dan ibtida' jika masuk kepada fi'il madhi, contohnya seperti firman Allah Ta’ala :
{َ}حََّتى زرْتم اْلمَقَابِر.
Ma’rifat dan Nakirah Halaman 126
Hukum Ma'thuf dengan Huruf Athaf:
Pengarang berkata : Jika yang disambungkan dengannya Marfu di Rafa'kan. Atau jika
manshub dinashabkan, atau khafadh di khafadhkan, atau jika majzum di Jazmkan.
Lalu dia berkata: ( قَامَ زَيْد وَعَمْروtelah berdiri Zaid dan Amar), وَرَأَيْت زَيْدًا وَعَمْرًا, (saya melihat
Zaid dan Amar), َورَأَيْت زَيْدًا وَعَمْرًا, (saya melihat dengan Zaid dan Amar), dan ْوَزَيْد لَمْ يَقُمْ وَلَم
ْ ( يَقْعدZaid tidak berdiri dan tidak duduk). *
Penjelasan: Pengarang menyebut setelah huruf athaf yang mengikutinya dihukumi
sebagai Ma'thuf, dan yang diikuti disebut ma'thuf alaihi.
Jika ma'thuf alaihnya marfu, maka ma'thufnya marfu, seperti ﴾ (﴿وَصَدَقَ اللهُ وَرَسوْلَه1) maka
kata : ( )رَسوْلُهma'thuf atas apa sebelumnya, yaitu lafdhzul jalalah ( )اللُهdan ma'thuf
mengikuti ma'thuf alaih didalam i’rabnya, mengikuti didalam rafa'nya, dan tandanya
dhammah.
Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan manshub, ada ma'thuf dalam keadaan
manshub, contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ ( ﴿ وَمَنْ يطِعِ اللهَ َورَسوْلَه2) maka kata : ( )رَسوْلَهma'thuf
atas apa sebelumnya, mengikuti didalam nashabnya, dan tanda nashabnya fathah
dhzahir di akhirannya.
Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan majrur, ada ma'thuf dalam keadaan majrur,
contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ِ( ﴿ءاَمِنواْ يطِعِ اَلٰلهَ َورَسوْلِه3) maka kata : ( )رَس ْولِِهma'thuf atas apa
sebelumnya, mengikuti didalam jarnya, dan tanda jarnya kasrah dhzahir di
akhirannya.
Dan jika ada ma'thuf alaih dalam keadaan majzum, ada ma'thuf dalam keadaan
majrur, contoh firman Allah Ta’ala : ﴾ ْ( ﴿وَإِ َنّ تؤْمِنواْ وَتََتّقُوا4) maka kata : ( )تََتّقُواma'thuf atas apa
sebelumnya yaitu )ْ(تؤْمِنوا, dan ma’thuf yang mengikuti ma’thuf alaihi pada ‘irabnya,
mengikutinya pada jazmnya, dan tanda jazmnya hafdzu nun (hapus huruf nun).
__________________________
Berkata Pengarang : ( زَيْد لَمْ يَقِم وَ لَمْ يَقَعِدZaid tidak berdiri dan tidak duduk), dan tidak di jazm
pada ) (يقَعِدdengan athaf, sesungguhnya itu dengan ( )لمdan contoh yang dibenarkan seperti
( زَيْد لَمْ يقَمَ وَيَقَعِدZaid tidak berdiri dan duduk), atau yang sesuai dengan berkata ْزَيْد لَمْ يَأْكُلْ وَيسْرِب
(Zaid tidak makan dan minum).
(1) QS Al-Ahzab ayat 22 (2) QS An-Nisa ayat 31 (3) QS An-Nisa ayat 136
(4) QS Muhammad ayat 37, pada potongan ayat ﴾ ْ﴿يؤْنِكُمْ أُجرَكُمْ وَلَ يَسْءَلُكُمْ أَمْراَلَكُم
Ketiga : Taukid Halaman 129
Ketiga : Taukid /keterangan penguat :
Pengarang menjelaskan di dalam bab taukid : taukid adalah pengikut/yang
mengikuti muakkad didalam keadaan rafa', nashab dan khafadh, dan ma'rifatnya,
dan terwujud dengan menggunakan lafadz tertentu yaitu : ( الَنّفْسdiri, sendiri), ( العَْينdiri,
sendiri), ( كُلseluruh, semua) dan ( أَجْمَعseluruh, semua), dan pengikut-pengikut أَجْمَع
yaitu : ( َأ ْكتَعsemua), ( َأبْتَعsemua), dan ( َأبْصَعsemua). Anda katakan : ( َقا َم زَيْد نَفْسهZaid telah
berdiri, dirinya), dan ْ( رََأْيت الَقوَْم ُكَّلهمsaya telah melihat kaum, seluruhnya) dan َِم َر ْرت ِبالَقوْم
َ( أَجْمَعِيْنsaya berpapasan dengan kaum, semuanya).
Penjelasan : dari penjelasan yang dijadikan alat bantu orang Arab dalam
perkataannya : taukid, menjaga keraguan dan ketidak-jelasan dan kerancuan,
memperkuat makna yang pembicara mau, dan kepastian dalam pikiiran yang diajak
bicara.
Dan taukid menurut dua ulama ahli nahwu: adalah lafadz yang bermakna.
Maka salah satu bentuk taukid dengan lafadz: dengan melakukan pengulangan
lafadz awal, contohnya: ( َقاَم زَيْد َزيْدtelah berdiri Zaid, Zaid).
Maka َزيْدyang pertama adalah fa'il dan yang kedua adalah lafadz taukid.
Dan sabda Nabi ﷺ: 》 (》 ال َصّلاََة ال َصّلاََةsholat, sholat) (1), maka َ ال َصّلاَةpertama adalah
maf'ul bih dari fi'il yang dihapus, takdirnya: telah mengerjakan sholat, dan yang
kedua adalah lafadz taukid.
Dan taukid menurut makna: menunjukkan secara lisan beberapa kata diantaranya:
( الَنّفْ َسdiri), dan ( العَيْ َنdiri), dan ّ( كُلَاseluruh, semua), dan ( أَجْمَ َعseluruh, semua), dan yang
menyerupainya.
Dan lafadz-lafadz ini perlu dihubungkan dengan dhamir yang sesuai untuk
muakkad, kecuali أَجْمَعdan pengikut-pengikutnya, dan perinciannya sebagai berikut :
- ( الَّنفْسdan )العَْين: contoh : ( قا َم َزيْد نَفْسهZaid telah berdiri, dirinya) atau ( قَا َم َزيْد عَيْنهZaid
telah berdiri, dirinya).
- ( ُك ُّلdan )أَجْمَع: contoh firman Allah ta'ala: ﴾ ( ﴿ فَ َسجَ َد المَلآِئكَةُ ُكُّلهمْ أَجْمَعوْ َنmaka
bersujudlah para malaikat yang seluruhnya bersama-sama). (2)
Dan terkadang didatangkan setelah ( )أَجْمَعdengan pengikut-pengikutnya, yaitu: ,َأ ْكتَع
َأبْصَعdan ; َأْبتَعuntuk menambah penguatan taukid, contoh: ََجاَء القوم أَ ْجمَع ْو َن َأكَْتعوْ َن َأبْصَع ْونَ أبَْتع ْون
(kaum itu datang seluruhnya).
__________________________
(1) Riwayat Ahmad dari hadits Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha.
(2) QS Al-Hijr ayat 30
Ketiga : Taukid Halaman 130
Dan hukum taukid : sesungguhnya disesuaikan dengan yang diikuti - ditaukidkan -
mengikuti i'rabnya/kata yang mengikuti i'rab sebelumnya sebagai penguat.
- seperti pada firman Allah Ta’ala :
﴾ ( ﴿ وَإَِليِْه ترْجَع اْللأَمْ ِر ُكُلّهdan kepadanya dikembalikan urusan2 semuanya) (1).
-dan firmannya :﴾ ِ( ﴿ ِإ َنّ الَأ ْم َر ُكَّله ِلَلّهsesungguhnya urusan itu seluruhnya ditangan Allah)
(2) .
-dan firmannya :﴾ ( ﴿ َوت ْؤمِنونَ بِاْل ِكَتابِ ُكِلِّهdan kamu beriman kepada kitab2 semuanya) (3) . *
__________________________
(1) QS Hud ayat 123. (2) QS Ali Imran ayat 154. (3) QS Ali Imran ayat 119.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Taukid secara bahasa berarti penekanan. Dan taukid secara lafadz berarti pengulangan dari
kata pertama itu sendiri atau dengan persamaan katanya, baik berupa isim dzahir seperti
pada : ( جَاءَ المُعَِّلم المُعَِلّمguru itu telah datang, guru itu) atau dhamir seperti ( ِجئْت َأنَاsaya telah
datang, saya), atau fi'il seperti ( جَاءَ جَاَء الُمعَِلّمtelah datang, guru itu telah datang), atau huruf
seperti ْ( َنعَ ْم َنعَمya, ya), atau berupa kalimat, seperti ( َجاَء الُمَعِلّم جَاءَ المُعَِلّمguru telah datang, guru
telah datang).
Dan contoh pengulangan kata dengan persamaan katanya, seperti ( َجاَء لَيْ ٌث َأسَدsinga telah
datang, singa), dan ( ََقعَ َد جَلَسَ زَيْدtelah datang, Zaid telah datang), Dilihat di catatan kaki
'Asymawi pada Ajurrumiyyah hal. 240.
2. Kata ِكلَاdan ( ِكْلَتاkedua-duanya) menegaskan kata ganda seperti : ( جَاَء ال َّزيْدَانِ كِلَاهمَاdua Zaidan
keduanya telah datang), dan ( جَاءَتْ الِنْ َدانِ كِْلتَاهمَاdua Hindun keduanya telah datang). Tidak
boleh kata كِلَاdan ِكلْتَاini digunakan untuk taukid kecuali sebagai mudhaf bagi dhamir.
3. Al Mushannif tidak menyebutkan bahwa taukid adalah yang mengikuti muakkad didalam
bentuk jazm dan nakirah (umum); maka sesungguhnya taukid disini ditujukan sebagai
taukid secara makna, dan lafadz-lafadz isim yang ma'rifat (khusus). Al Kafrawiy
menyebutkan : Lafadz-lafadz taukid seluruhnya adalah ma'rifah/khusus, dan dia menjadi
mudhaf karena didefinisikan dengan idhafah, dan tidak didefinisikan secara ilmiah.
Syarah Al-Kafrawiy hal 114 dengan tashrif.
4. Kata ( َأبْتَع، أَبْ َصع، )أَ ْكَتعkeluar untuk menambah penekanan dan melebihkan. Dan semuanya
bermakna : seluruhnya ( ) أَجْ َمع ْو َن. Karena kata َأكَْت َعdiambil dari perkataan mereka, hati
berkumpul jika bertemu ( َ) َت َكَتّ َع الخَلد إِذَا إِ ْجَتمَع, dan kata َأْبَتعdari ِ الَبتْعyaitu panjang leher, dan
sebuah kaum jika mereka berkumpul maka panjanglah leher-leher mereka, maka mereka
menjadikannya sebagai kiasan untuk sebuah pertemuan. Kata َأبْ َصعdiambil dari البَصْع
(kumpulan / masyarakat) yaitu asal masyarakat ; maka jadilah bermakna seluruhnya. Kata
- kata ini menjadi umum setelah أَجْ َمعdisebut tawwabi' ajma'u. Dilihat di kitab Al - Kawakib
(jilid 2/hal 567), dan Syarah kitab Kafrawiy (hal 115).
5. 'Izz ibnu 'Abd al-Salam berkata didalam kaidah-kaidah yang disusunnya: banyak
Pengarang menyetujui bahwa taukid didalam lisan Arab yang berupa pengulangan adalah
tidak menambahkan hingga tiga kali. Al-Kawakib (2/562).
6. Taukid dengan الَنّ ْفسdan العَيْنtidak terdapat didalam al-Qur'anul Karim. Merujuk kepada
catatan-catatan pada Uslub al-Qur'an (9/5).
Keempat : Badal Halaman 133
Keempat : Badal
Pengarang berkata pada bab badal : apabila isim digantikan dengan isim, atau fi'il
dengan fi'il, maka pengikut akan mengikuti seluruh i'rabnya.
Penjelasan : Badal
Pengertian : Isim tabi' yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum dengan tanpa
perantara. (1)
Contohnya : ( عَدَلَ الخَلِيْفَةُ عمَرKhalifah Umar berlaku adil).
I'rabnya: َ عَدَل: fi’il madhi, ُ الخَلِيْفَة: fa'il, عمَر: badal dari ُالخَلِيْفَة, yang mengikuti i'rabnya,
dan pasti hadir tafsir dan penjelasannya, dan itu adalah penyebutan hukum dan
seimbang, dan sesungguhnya penyebutan lafadz ُ الخَلِيْفَةyang merupakan mubdal
minhu(yang digantikan) merupakan pengantar.(2).
Macam-macam badal:
Berkata al-mushannif : badal itu dibedakan menjadi empat: badal keseluruhan dalam
keseluruhan ( ِ ;) شَيْءِ مِنَ ال َشّيْءbadal sebagian dari keseluruhan ( ; ) بَعْضِ مِنَ الكُ ِّلbadal isytimal
( ِ ;) اِشْتِمَالdan badal al ghalath ( ) الَغَلط. Contoh pada ucapanmu : َ( قَامَ زَيْد أَخوْكZaid
saudaramu telah berdiri), ( َأكَْلت ال َرّغِيْفَ ثُلُثَهsaya makan roti sepertiganya), ( نَفَعَنِيْ زَيْد عِلْمهZaid
bermanfaat untukku, ilmunya), dan َ( رَأَيْت زَيْدًا الفَرَسsaya melihat Zaid (maksudnya)
kuda), anda hendak mengatakan "kuda", lalu anda salah ucap, maka anda ganti kata
Zaid dengan kata kuda.
Penjelasan: kemudian al-mushannif mulai menjelaskan tentang badal: badal
dibedakan menjadi 4 kelompok:
Pertama: Badal Keseluruhan dari Keseluruhan
Dan ia menunjukkan badal (pengganti) adalah sama dengan yang digantikannya:
Contohnya pada firman Allah swt: ﴾) صِرَٰطَاَلّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِ ْم٦( َ﴿إِهْدِنَا ال ِصّرَٰ َط المُسْتَقِيْم. (Tunjukilah
kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Anda beri nikmat). Maka
kalimat َ صِرَاطkedua adalah badal keseluruhan dari ال ِصّرَا َطyang pertama. Karena 'jalan
yang Allah berikan nikmat kepada mereka' adalah sama dengan 'jalan lurus'. Seperti
perkataanmu ( قَامَ زَيْد أَخوْكZaid, saudaramu telah berdiri) kata saudaramu adalah badal,
dan ketika setiap kalimat yang menunjukkan apa yang menunjukkan atasnya yang
lain, maka badal ini disebut badal muthobiq ( َ ) البَدَحلَ المُطَابِقatau badal kulli min kulli (
ّ) بَدَلَ ُك ٍلّ مِ ْن كُ ٍل.
__________________________
(1) Artinya diantara kata tersebut (isim tabi') dengan yang diikutinya; tidak terdapat ma'thuf
terhadap huruf athaf. Ibnu Malik mengungkapkan di dalam kitab al-Alfiyya : "Isim tabi'
yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum tanpa perantara - demikian itu dinamakan
badal."
(2) Terkadang fi'il digantikan dengan fi'il yang lain, seperti pada firman Allah Ta’ala :
﴾ ) ي َٰضعَفْ َله اْلعَذَاب٢٨( ( ﴿ َومَن َي ْفعَ ْل ذَٰلِكَ يَلْ َق َأَثامًاbarangsiapa yang melakukan yang demikian itu,
niscaya dia mendapatkan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya).
Keempat : Badal Halaman 134
Kedua : Badal Bagian Dari Keseluruhan () َب ْعضٍ مِنْ ُك ٍّل
Yaitu badalnya merupakan sebagian dari mubdal minhu, contoh:
﴾ ٙ,) ِّنصْفَه٢( ( ﴿ قُمِ ٱَّلْي َل ِإَلّا َقلِْيلًاbangunlah pada malam hari kecuali sedikit. (Yaitu)
setengahnya).
Maka kata ( ) نِصْفَهadalah badal sebagian dari ( ُ ) اللَيْلkarena setengahnya ( ) نِصْفَهitu
adalah sebagian dari malam hari ( ُ) اللَيْل.
Misal perkataanmu: ( َأكَلْت ال َرّغِيْفَ ثُلُثَهsaya makan roti sepertiganya).
Dan contoh lainnya: ( أَعَجَبَنِيْ زَيْد يَدهZaid membuatku senang, yakni tangannya).
Ketiga: Badal Isytimaal
Yaitu sesuatu antara badal dan mubdal minhu ada hubungannya yang bukan bagian
dan bukan pula keseluruhan, contoh perkataanmu: ( نَفَعَنِي زَيْد ِعلْمهZaid bermanfaat
bagiku, ilmunya) dan kalimat: ( أَعْجَبَنِيْ بَكَر ثَوْبهBakr menyenangkanku, yakni bajunya).
Maka kata ِعلْمهdan ثُ ِوّبهadalah badal isytimaal, dan badal di sini bukanlah ia mubdal
minhu sebagaimana pada badal muthabiq, dan bukan bagian yang hakiki dari
mubdal minhu sebagaimana pada badal sebagian dari keseluruhan.
Keempat: Badal Ghalath
Yaitu apa yang disebutkan adalah pengganti dari kesalahan/keliru mengucapkan,
misal perkataanmu: َ( رَأَيْت زَي ٌْدًا الفَرَسsaya melihat Zaid, kuda).
Anda ingin mengatakan ( رَأَيْت الفَرَسsaya melihat kuda) kemudian anda keliru, anda
mengatakan زَيْدًاlalu anda mengatakan yang benar َالفَرْس. Tetapi dalam hal ini lebih baik
ditambahkan kata ( بَ ْل/ tetapi), maka diucapkan َرَأَيْت زَيَدًا بَ ِل الفَرَس. (saya melihat Zaid, tetapi
kuda).
__________________________
(1) QS Al-Muzammil ayat 2-3.
(2) Maka ( )بَ ْلsebagai huruf athaf, dan َ الفَرَسma'thuf manshub, Dilihat di kitabnya Almakudiy mengenai
Al-ajurumiyah halaman 42.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Badal kulli min kulli, Ibnu Malik menamakannya badal muthabiq untuk posisi nama Allah Ta’ala,
contoh ﴾ ِ) الَّله١( " ﴿ إِلَى صِ ٰرطِ ٱل َع ِزْيزِ ٱلحَ ِمي ِدKepada jalan Al'aziz Alhamid" pada Allah, yaitu badal dari
Al'aziz ( ِ) ال َع ِزْيز, yaitu badal muthabiq bukan badal kulli min kulli. Dilihat di kitab Badai'ul fawa'id
bab 4 halaman 1650, kitab Alfakihi bab 2 halaman 251, dan kitab Ashshaban bab 3 halaman 124.
2. Di antara posisi badal syai' minasysyai' (badal muthabiq):
Isim dzahir (ma'rifah dengan "al") setelah isim isyarah, contoh firman Allah Ta’ala:
﴾ َ"﴿ وَلَا تَقْرََبا هَ ِذهِ ٱل َّشجَ َرةDan janganlah kam(berdua) mendekati pohon ini"
Isim setelah kuniyah (nama keluarga), contoh : رَضِيَ اللٰه عَنْ أَبِي حَفْصٍ عمَ َر بْ ِن الخَ َطّا ِب. (semoga Allah
meridhai Abu Hafsyah, yaitu Umar bin Khaththab).
Isim setelah laqab (nama gelar) : ِرَ ِحمَ اللٰه زَيْنَ العَابِدِيْ َن عَلِ ِىّ بْنِ الحُسَيْن. (semoga Allah merahmati Zainal
Abidin yaitu Ali bin Husain) .
Abu Hafsyah adalah kuniyahnya Umar bin Khaththab.
Zainal Abidin adalah laqabnya Ali bin Husain
Isim-isim yang Manshub Halaman 137
Isim-isim yang Manshub
Pengarang berkata mengenai bab isim-isim yang manshub :
Isim-isim yang manshub terdiri dari lima belas kedudukan*, yaitu maf'ul bih
/obyek, mashdar, dzaraf zaman / keterangan waktu, dzaraf makan / keterangan tempat,
haal / keterangan kondisi, tamyiz / keterangan obyek, mustatsna / pengecualian, isim
laa, munaada / yang diseru, maf'ul min ajlih / keterangan tujuan, maf'ul ma'ah /
keterangan penyertaan, khabar kaana dan yang semisalnya, isim inna dan yang
semisalnya, dan pengikut yang manshub yang terdiri atas empat macam, yaitu na'at
/ keterangan sifat, athaf / kata yang disambungkan, taukid / keterangan penguat, dan
badal / kata pengganti.
Penjelasan: Seperti ketika Pengarang kitab ini yaitu Ibnu Ajurum Ashshonhaji
Rahimahullah menjelaskan mengenai isim-isim yang marfu', maka beliau memulai
penjelasan mengenai isim-isim yang manshub didalam berbagai jenisnya dan
penjelasannya. Yang dimaksud dengan isim yang manshub adalah : semua isim yang
hukumnya nashab, yang meliputi: maf'ul bih, mashdar, dzaraf zaman, dzarah makan,
haal, tamyiz, mustatsna, isim laa, munaada, maf'ul min ajlih, maf'ul ma'ah, dan
seterusnya (seperti yang dijelaskan diatas). Maka kapan sajakah berlaku setiap isim
yang kedudukan hukumnya manshub tersebut, akan dijelaskan satu persatu, insyaa
Allah Ta’ala.
__________________________
* Akan tetapi dalam hal ini tidak disebutkan seluruhnya kecuali 14. Dan penjelasannya
berbeda pada pembahasan yang 15, apakah itu? Ibnu Haji berkata: yang benar secara
akurat adalah sesungguhnya yang ke-15 itu disebut sebagai maf'ul dzhonna, dan dia
adalah berhubungan dengan pemisalan khabar kaana dan isim inna ; yang diyakini bahwa
Pengarang buku melupakannya. Telah dsebutkan sebagian penjelasan didalam
pendahuluan ini bahwa sesungguhnya yang ke-15 itu telah didapati sebagai maf'ul
dzhonna dalam tulisannya di catatan Pengarang. Dan Pengarang menambahkan setelah
naskah ini dan saat akhir memasukkan naskah. Dilihat di catatan kaki Ibnu Haji (hal. 108).
Hal ini juga merujuk kepada Syekh Ibnu 'Atsiimiin dalam syarahnya Ajurumiyyah.
Isim-isim yang Manshub Halaman 138
Pertama : Maf'ul bih
Berkata al-mushannif sang Pengarang mengenai bab maf'ul bih : Maf'ul bih adalah
isim manshub yang terkena fi'il, contoh : ( َضرَبْت زَيْدًاsaya memukul Zaid) danََركِبْت الفَرَس
(saya menunggangi kuda). Maf'ul bih dibedakan atas 2 bagian : dzahir/tampak dan
dhamir/ implisit berupa dhamir (kata ganti). Contoh yang dzahir adalah seperti yang
disebutkan di awal. Dhamir dibedakan atas 2 bagian : muttashil dan munfashil.
Muttashil terdiri atas 12 , yaitu : ْ( ضَرَبَنِيdia memukulku), ( َضرَبَنَاdia memukul kami) َضرَبَ َك
, (dia memukulmu {lk}), ( َضرَبَ ِكdia memukulmu {pr}), ( ضَرَبَكُمَاdia memukul kalian
berdua), ( ضَرَبَكُ ْمdia memukul kalian {lk}),ّ( ضَرَبَكُ َنdia memukul kalian {pr}), ( َضرَبَهdia
memukulnya {lk}), ( َضرَبَهَاdia memukulnya {pr}), ( ضَرَبَهمَاdia memukul mereka berdua),
( ضَرَبَه ْمdia memukul kalian {lk}), ( َضرَبَه َّنdia memukul mereka {pr}).
Penjelasan : Maf'ul bih
Definisi : merupakan isim manshub yang terkenai fi'il/perbuatan.
Contoh : ( ضَرَبْت زَيْدًاsaya memukul Zaid), dan َ( َركِبْت الْفَرَسsaya menaiki kuda).
I'rab : kata زَيْدًاdan َ الْفَرَسmasing-masing adalah maf'ul bih, yang dikenai fi'il/perbuatan
oleh fa'il/subjek.
Jenis-jenisnya : Isim dzahir dan isim dhamir.
Pertama : Dzahir
Dinashabkan dengan fathah atau penggantinya
Menashabkan dengan Fathah, jika berupa isim mufrad, seperti Firman Allah berikut
ini: ﴾َ( ﴿ َوقَتَلَ دَاوود جَالُوتdan Daud membunuh Jalut) (1). Atau jika berupa jamak taksir,
seperti Firman Allah berikut ini: ﴾( ﴿ وَبَ َثّ مِنْهمَا رِجَالًاdan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan lelaki) (2).
Menashabkan dengan Kasrah, jika berupa jamak muannats salim, seperti firman
Allah berikut ini: ﴾ِ( ﴿ َخلَقَ ال َسّمَاوَاتDia menciptakan langit) (3).
Menashabkan dengan Ya’ , jika berupa jamak mudzakkar salim, seperti firman Allah
berikut ini: ﴾َ ( ﴿لَا تََتّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءjanganlah kamu mengambil orang-orang kafir
menjadi wali) (4). Atau jika berupa mutsanna, seperti firman Allah berikut ini:
﴾َ( ﴿وَاجْعَلْنَا مسْلِمَيْنِ لَكdan jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada
Anda) (5).
Menashabkan dengan Alif, jika berupa jamak mudzakkar salim, seperti Firman Allah
berikut ini: ﴾(( ﴿آوَ ٰى إِلَيْهِ أَخَاهYusuf) membawa saudaranya ke tempatnya) (6).
__________________________
(1) QS Al-Baqoroh Ayat 251 (2) QS. An-Nisa Ayat 1 (3) QS at-Thagobun Ayat 3
(6) QS. Yusuf Ayat 69
(4) QS An-Nisa Ayat 144 (5) QS. Al-Baqarah Ayat 128
Isim-isim yang Manshub Halaman 139
Kedua: Dhamir
Dhamir terbagi atas dua jenis: muttashil (kata ganti yang bersambung) dan munfashil
(kata ganti yang tidak bersambung).
A. Muttashil: ia bersambung dengan fi'il, yaitu: ya' mutakallim, naa mutakallim, kaf
mukhathab, dan ha' ghaib.
1. Ya' Mutakallim: untuk orang pertama (si pembicara) tunggal, contoh: ْ َضرَبَنِي.
2. Naa: untuk orang pertama (si pembicara) dan bersamanya ada orang-orang lain
atau orang yang banyak bersamanya, contoh: ضَرَبَنَا.
3. Kaf Mukhathab:
● Digunakan dengan berharakat fathah untuk orang kedua, mufrad,
mudzakkar. Contoh: َضَرَبَك.
● Dan digunakan dengan berharakat kasrah untuk orang kedua, mufrad,
muannats. Contoh: ضَرَبَ ِك.
● Bersambung dengan mim dan alif untuk menunjukkan orang kedua,
mutsanna secara mutlak. Contoh: ضَرَبَكُمَا.
● Bersambung dengan mim untuk menunjukkan orang kedua, jamak,
mudzakkar. Contoh: ضَرَبَكُ ْم.
● Bersambung dengan nun untuk menunjukkan orang kedua, jamak, muannats.
Contoh: ّضَرَبَكُ َن.
4. Ha' Ghaib:
● Digunakan untuk orang ketiga, mufrad, mudzakkar. Contoh : ضَرَبَه.
● Digunakan untuk orang ketiga, mufrad, muannats. Contoh : ضَرَبَهَا.
● Bersambung dengan mim dan alif untuk menunjukkan orang ketiga,
mutsanna secara mutlak. Contoh : ضَرَبَهمَا.
● Bersambung dengan mim untuk menunjukkan orang ketiga, jamak,
mudzakkar. Contoh : ْضَرَبَهم.
● Bersambung dengan nun untuk menunjukkan orang ketiga, jamak, muannats.
Contoh : ّضَرَبَه َن.
Maf'ul bih pada contoh-contoh tersebut adalah dhamir muttashil (kata ganti yang
bersambung), mabniy yang tidak terpengaruh oleh i'rab, yang ditetapkan
berdasarkan apa yang didengar atasnya. Maka disebutkan dalam i'rabnya, contoh :
ضَرَبَنِي، َ ضَرَب: fi'il madhy, dan nun untuk wiqaayah. Ya adalah dhamir muttashil, mabniy
atas sukun pada kedudukan nashab sebagai maf'ul bih. Fa'ilnya adalah dhamir
mustatir.
Isim-isim yang Manshub Halaman 140
B. Munfashil
Al-mushannif sang pengarang buku menyebutkan: munfashil terdiri dari 12, yaitu: َ إَِيّاي,
dan إَِيّانَا, dan إَِيّا َك, dan ِإَيّا ِك, dan إَِيّاكُمَا, dan إَِيّاكُ ْم, dan ّ إَِيّاكُ َن, dan إَِيّاه, dan إَِيّاهَا, dan إَِيّاهمَا, dan ْ إَِيّاهم, dan
ّإَِيّاه َن.
Penjelasan: munfashil (kata ganti yang tidak bersambung) adalah kata yang dipisahkan dari
fi'il yang mendahuluinya (1). Kata ganti ini berjumlah 12 lafadz, yaitu : untuk kata ganti orang
pertama: ( إَِيّا َي, dan ; )إَِيّانَاkata ganti orang kedua: ( ٌَْإَِيّاك, dan إَِيّا ِك, dan إَِيّاكُمَا, dan ْ إَِيّاكُم, dan ّ; ) إَِيّاكُ َن
kata ganti orang ketiga: ( إَِيّاه, dan إَِيّاهَا, dan إَِيّاهمَا, dan ْ إَِيّاهم, dan ّ) إَِيّاه َن.
Maka (َ )إَِيّايadalah kata ganti orang pertama (si pembicara) baik mudzakkar ataupun
muannats. Contoh : (َ( )إَِيّايَ أَكْرَمْت2) (kamu telah memuliakanku).
Dan ( )إَيّانَاuntuk orang pertama yang bersamanya ada orang selainnya, atau terdapat sesuatu
yang diagungkan pada dirinya. Contoh : ( إِيَانَا أَكْرَمْ َتkamu telah memuliakan kami).
Dan ( )إَِيّا َكuntuk orang kedua (yang diajak bicara), mufrad, mudzakkar. Contoh : ( إَِيّا َك أَكْرَمْتsaya
telah memuliakanmu {lk}).
Dan (ِ )إَِيّاكuntuk orang kedua, mufrad, muannats. Contoh : ( إَِيّاكِ أَكْرَمْتsaya telah memuliakanmu
{pr}).
Dan ( )إَِيّاكُمَاuntuk orang kedua yang berjumlah dua orang (mutsanna), mudzakkar ataupun
muannats. Contoh : ( إٍَيّاكُمَا أَكْرَمْتsaya telah memuliakan kalian berdua).
Dan (ْ )إَِيّاكُمuntuk orang kedua, jamak, mudzakkar. Contoh : ( إَِيّاكُمْ أَكْرَمْتsaya telah memuliakan
kalian {lk}).
Dan (ّ )إَِيّاكُ َنuntuk orang kedua, jamak, muannats. Contoh : ( إَِيّاكُ َنّ أَكْرَمْتsaya telah memuliakan
kalian {pr}).
Dan ( )إَِيّاهuntuk mufrad, mudzakkar, orang ketiga. Contoh: ( إَِيّاه أَكْرَمْتsaya telah memuliakannya
{lk}). (3)
Dan ( )إَِيّاهَاuntuk mufrad, muannats, orang ketiga. Contoh : ( إَِيّاهَا أَكْرَمْتsaya telah memuliakannya
{pr}).
Dan ( )إَِيّاهمَاuntuk mutsanna, muannats, orang ketiga baik mudzakkar ataupun muannats.
Contoh: ( إَِيّاهمَا أَكْرَمْتsaya telah memuliakan mereka berdua).
Dan (ْ )إَِيّاهمuntuk jamak, mudzakkar, orang ketiga. Contoh: ( إَِيّاهمْ َأكْرَمْتsaya telah memuliakan
mereka {lk}).
Dan (ّ )إَِيّاه َنuntuk jamak, muannats, orang ketiga. Contoh : ( إَِيّاه ّنَ َأكْرَمْتsaya telah memuliakan
mereka {pr}).
__________________________
(1) Maka anda berkata didalam contoh: ( ) َضرََبنِيsama dengan ( إَِيّا َي َضرَ َبdia telah memukulku) ; dan (َ) َضرَبَك
sama dengan َ( إَِيّاكَ َضرَبdia telah memukulmu) ; dan ( ) َضرَبَهsama dengan َ( إَِيّاه َضرَبdia telah
memukulnya).
(2) Kata ِإَيّاmerupakan dhamir munfashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan nashab sebagai
maf'ul bih muqaddam / yang didahulukan, dan ya' adalah huruf dhamir untuk orang pertama,
dan أَ ْكرَمadalah fi'il madhi, mabniy atas sukun; dan ta adalah dhamir muttashil, mabniy atas fathah
didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.
(3) Kata إَِيّاadalah dhamir munfashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul
bih muqaddam / yang didahulukan dan ha adalah huruf dhamir untuk orang ketiga.
Isim-isim yang Manshub Halaman 141
Maf'ul bih pada contoh ini adalah dhamir munfashil, ia mabniy dan tidak masuk
i'rab padanya, ia hanya dibina berdasarkan apa yang ia didengar.
Maka kau katakan pada i'rab misal firman Allah Ta’ala: ﴾ ﴿ إَِيّاكَ نَعْبد وَإَِيّاكَ نَسْتَعِينadalah
dhamir munfashil mabniy dengan sukun pada posisi nashab ia adalah maf'ul bih
muqaddam, dan ( ) الكَافlil khithab (orang kedua/yang diajak bicara), maka ( ) إَِيّاsendiri
adalah dhamir dan mengikutinya huruf²: ya' mutakallim, ha' orang ketiga (lil
ghaibah) dan kaaf orang kedua (lil khithab). *
__________________________
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Tanda maf'ul bih itu sahnya dijadikan mukhbar 'anhu dengan isim maf'ul dari lafadz
fi'ilnya, misal kau katakan: ( ضَرَبْت زَيْدًاsaya telah memukul Zaid) : Zaid yang dipukul ()مَضْروْب
dan ( شَرِبْت الَلّبَنsaya telah minum susu): Susu yang diminum ()مَشْروْب
2. Nun wiqayah (Nun penjaga): dinamakan demikian karena ia menjaga fi'il yang kasrah yang
masuk padanya yang serupa pada isim yang kasrah disebabkan ya' mutakallim; karena ia
saudaranya jar maka fi'il dilindungi darinya , sebagaimana dilindungi dari jar. Adapun
kasrah yang tidak seperti ini, maka tidak membutuhkan pengamanan darinya seperti
kasrah sebelum ya' mukhathabah dan kasrah untuk menyelamatkan dari bertemunya dua
sukun. Hasyiyah Ashshaban bab 1 halaman 178, dan dilihat di Hasyiyah Alhamidiy atas
Kafrawiy (hal 71).
3. Almuta'ajjab minhu setelah shighah atta'ajjub - ما أفْعَلَه- dii'rab dengan maf'ul fih, contoh: مَا
َ( ! أَحْسَنَ ال َسّمَاءalangkah bagusnya langit itu!).
4. Dhamir ( ) نَاadalah dhamir mutakallim satu atau banyak jika bersambung dengan fi'il
mudhari' atau fi'il amr selalu dii'rab sebagai maf'ul bih, contoh: ( لَا تؤَاخِذْنَاjanganlah Kau ambil
dari kami) dan ( ارْحَمْنَاrahmatilah kami), apabila bersambung dengan fi'il madhi dii'rab
sebagai maf'ul bih jika sebelumnya - yakni akhir fi'il difathahkan, contoh: ( زَارَنَاtelah
mengunjungi kami) - atau alif - seperti: ( دَعَانَاia telah memanggil kami), apabila sebelumnya
sukun yang bukan alif, seperti: ( مَشَيْنَاkami telah berjalan), ( زِدْنَاkami telah menambah) dan
(َُدَعَوْنَاkami telah memanggil), maka ia dii'rab sebagai fa'il.
ref. AlKawakib addurriyyah bab 1 halaman 155.
5. Dhamir setelah fi'il dii'rab "fii mahalli nashbin maf'ul bih" (pada posisi nashab sebagai
maf'ul bih), contoh: ( عَلمَنِيdia telah mengajari saya), ( عََلّمَنَاdia telah mengajari kami), َ( عََلّمَكdia
telah mengajarimu) dan ( عََلّمَهdia telah mengajarinya).
6. Jika lafadz jalaalah pada posisi maf'ul bih, maka dii'rab "sebagai manshub untuk
mengagungkan" sebagai adab.
Isim-isim yang Manshub Halaman 142
Isim-isim yang Manshub Halaman 146
Kedua : Maf’ul Muthlaq
Pengarang berkata:
(Bab Mashdar : Mashdar adalah isim, manshub, tashrif ketiga dari fi'il, contoh: - ََض َرب
َض ْربًا- َيضْرِب. ).
Penjelasan :
Sesuatu yang orang Arab menggunakannya untuk penekanan (taukid) perkataannya:
mashdar (¹)
Mashdar : Yaitu isim manshub berasal dari tashrif fi'il yang ketiga.
Yang dimaksud dengan tashrif fi'il adalah : Perubahan dari satu shighah kepada satu
shighah lainnya yang dimulai dari (shighah) fi'il madhi - misal - kemudian
(shighah) fi'il mudhari' kemudian (shighah) isim yaitu mashdar.
Kemudian kau katakan: يَضْ ِرب – َضرْبًا- َض َر َبMaka َض ْربًا: mashdar dan dinamakan maf'ul
muthlaq
Maf’ul Muthlaq
Definisi: Yaitu mashdar yang manshub yang sesuai 'amilnya secara lafadz dan
maknanya.
Contohnya: ﴾ ( ﴿ َو َكَلّ َم ٱلَلّه م ْو ٰسى َت ْكلِْيـ ًما2)
I'rabnya: َ َكَلّم- fi'il madhi. الَلّه- fa'il, موْ ٰسى- maf'ul bih dan َت ْكِليْمًا- maf'ul muthlaq yang
sesuai 'amilnya ( ) َكَلّ َمpada lafadz dan maknanya.
Macam-macam Maf'ul Muthlaq:
Pengarang berkata: Maf’ul Muthlaq ada dua macam : Lafdzhiy dan Maknawiy. Maka
jika sesuai lafadznya dengan lafadz fi'ilnya itu adalah Lafdzhiy, contoh: َقَتلْته قَْتًلا. Dan
jika sesuai makna fi'ilnya akan tetapi lafadznya tidak, maka itulah maknawiy َجلَ ْست
ُقع ْودًاdan َقُ ْمت وُق ْوًفاdan sebagainya.
__________________________
(1) Apabila dikatakan ( َقتَلَ الحَارِس الِلّ َّصsatpam itu telah membunuh pencuri). Orang yang
mendengar terkadang membesar-besarkan makna "membunuh", maka ia
membayangkan bahwa yang dimaksud adalah "memukulnya" bukan membunuhnya.
Maka untuk menolak anggapan ini digunakanlah mashdar ( )َقْتلًاuntuk menguatkan
makna fi'il, maka mereka mengatakan: قَتَ َل الحَارِس الِلّ َّص َقَتلًا.
(2) QS An-Nisa' ayat 164
Isim-isim yang Manshub Halaman 147
Penjelasan : Maf'ul muthlaq itu ada dua macam:
A. Maf’ul Muthlaq Lafdzhiy : Yaitu yang sesuai fi'il yang menashabkan maf'ul
mutlaknya pada lafadz dan maknanya, dengan gambaran mencakup huruf-
hurufnya, contoh: ( فَرِ ْحت َفرَحًاsaya benar-benar bahagia), sungguh huruf-huruf fi'il ( ََف ِرح
) itu adalah huruf-huruf mashdar ()الفَرَ ِح, di antaranya firman Allah Ta’ala : ﴾ َصُّلواْ َعلَيِْه َو
( ﴿ َسِلّم ْوا تَ ْسِليْمًاbershalawatlah kalian dan berilah benar² salam kepadanya). (¹)
B. Maf’ul Muthlaq Maknawiy : Yaitu yang sesuai fi'il yang menashabkan maf'ul
mutlaknya pada maknanya tapi tidak pada lafadznya, dengan demikian huruf²
mashdar bukan (tidak sama dengan) huruf² fi'ilnya, contoh: ( قُ ْمت َوقَ ْوفًاsaya benar² telah
berdiri). Sungguh makna fi'il ( ) قَا َمadalah makna mashdar ( ِ ) الوُقوْفtetapi huruf²nya
berbeda. Contoh lain: ( فَرِ ْحت سر ْورًاsaya benar² telah berbahagia). Sungguh makna fi'il (
َ )َف ِرحadalah makna mashdar ( ) ال ُسّر ْو ِرakan tetapi huruf²nya berbeda.
__________________________
(1) QS Al-ahzab ayat 56
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Yang dimaksud Pengarang dengan mashdar di sini adalah isim yang manshub pada posisi
maf'ul muthlaq, bukan mashdar secara muthlaq, karena mashdar bisa marfu' juga bisa
majrur, maka dalam hal ini bukan mashdar secara muthlaq.
ref. Hasyiyah Ibn Haaj halaman 111.
2. Dinamakan Maf'ul muthlaq secara muthlaq, karena ia tidak disyaratkan dengan
menyebutkan sesuatu setelahnya, untuk menyelisihi maf'ul-maf'ul lainnya karena
sesungguhnya ia (maf'ul lain) tidak menjadi maf'ul kecuali disyaratkan dengan huruf jar
atau yang semisalnya, seperti maf'ul bih, maf'ul fiih, maf'ul ma'ah dan maf'ul lahu (li ajlih).
ref. Syarah Ibnu 'Aqiil bab 2 halaman 169 dan Annahwu alwaafiy bab 2 halaman 204
3. Di sini mashdar² dan isim mashdar-isim mashdar dii'rab dimana saja posisi sebagai maf'ul
muthlaq, dan di antaranya: َ( لََبّيْكsaya datang karena panggilan-Mu) حَاشَ لِله، (semoga Allah
melindungi) َمعَا َذ اللٰه، (semoga Allah melindungi) ، dan َ(َسبْحَانMaha Suci...)
Dan pada setiap fi'il mahdzuf dan maf'ul muthlaqnya ada sebagaimana populernya banyak
ungkapan² ditulis dari fi'il muthlaq yang dibuang fi'ilnya, contoh: ( شكْرًاterima kasih) َع ْفوًا،
(maaf), ( رَجَاًءsemoga), ( َعجَبًاwow), ( أَيْضًاjuga), ( خَا َصٌّةspesial), ( َمرْحَبًاselamat datang).... dan lain-
lain.
ref. AlKawakib bab 2 halaman 351.
4. Maf'ul muthlaq berfungsi selalu sebagai penguat, terkadang kosong untuk itu, contoh: ضَرَبْت
( ضَرْبًاsaya benar-benar telah memukul), terkadang berfungsi bersamanya sebagai penjelasan
macam/jenis apabila disifati atau dimudhafkan, contoh: ( ضَ َربْت ضَ ْربًا شَدِْيدًاsaya telah memukul
dengan pukulan yang kuat) atau ( ضَرَْبت ضَرْبَ الُمؤَ ِدّبsaya telah memukul untuk mendidik), atau
menjelaskan jumlah ('adad), contoh: ِ( ضَرَبْت ضَ ْرَبَتيْنsaya telah memukul dua kali).
Ref. Attashrih bab 1 halaman 324.
Isim-isim yang Manshub Halaman 150
Ketiga dan Keempat : Dzaraf Zaman / Keterangan Waktu dan Dzaraf
Makan / Keterangan Tempat (Maf'ul Fiih ):
Al-mushannif sang Pengarang buku menjelaskan pada bab dzaraf zaman/keterangan
waktu dan dzaraf makan/keterangan tempat : Dzaraf zaman adalah isim zaman yang
dinashabkan dengan takdir فِي/pada , contoh : َ( الَي ْومdi hari ini),( َالّلَْيلَةdi malam hari),ًغُ ْدوَة
(di pagi hari), ( َُب ْكرَةdi pagi hari), ( سَحَرًاdi waktu sahur), ( غَدًاbesok), ( َعَتمًَةdi waktu
malam), ( َصَباحًاdi waktu subuh), ً( مَسَاءdi sore hari), ( َأبَدًاselamanya), ( حُِْينًاsuatu ketika),
dan yang semacamnya.
Penjelasan: Pengertian dzaraf menurut bahasa adalah wadah/bejana. (1)
Pengertian secara istilah, dzaraf dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dzaraf
zaman dan dzaraf makan.
A. Keterangan Waktu (Dzaraf Zaman)
Definisi: Ia adalah isim zaman/isim yang menunjukkan waktu, manshub dengan takdir ()ِفي.
Contoh: َ( ِجْئت الَي ْومsaya datang pada hari ini).
Maka ()الَي ْوَم: dzaraf zaman, manshub, dan dia menunjukkan atas waktu kejadian
kedatangannya. Dan yang sejenis dengan َ( الَي ْومpada hari ini) adalah : ً( لَيْلَةdi malam hari), ًغُ ْدوَة
(di pagi hari), ً( بكْرَةdi pagi hari), ( سَ َحرًاdi waktu sahur), ( َغدًاbesok), ( عَتَمًَةdi waktu sepertiga malam
pertama), ( َصَباحًاdi waktu shubuh), ً( مَسَاءdi sore hari), ( أََبدًاselamanya), ( َأَمدًاbesok-besok), dan حِْينًا
(suatu ketika) (2). Dari firman Allah Ta’ala ﴾( ﴿سََي ْعلَم ْونَ غَ ًداkelak mereka akan mengetahui) (3) ;
﴾( ﴿وَسَِّبحوْه بكْرَةً َو َأ ِصْيلًاdan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang) (4); dan ﴿ َو لَ ْن يََت َمَنّوْه
﴾( أََب ًداdan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya) (5). Maka
dzaraf zaman adalah diibaratkan seperti malam-malam dan hari-hari, dan yang menyerupai
dengan nama-nama waktu, contoh : tahun, bulan dan era/masa.
__________________________
(1) Dikatakan : waktu dan tempat memiliki keterangan. Oleh karena terdapat suatu pekerjaan terjadi
didalamnya, maka setiap kata kerja haruslah terjadi pada suatu waktu dan suatu tempat. Ketika
anda berkata : ( َق َرَأ زَيْد الُق ْرآ َن َصَباحًاZaid telah membaca Al Qur'an saat subuh), maka anda telah
menjelaskan waktu kejadian pembacaan tersebut yaitu pada waktu subuh. Ketika anda berkata :
( َقرََأ َزْيد الُق ْرآ َن َأ َما َم ال َشّْي ِخZaid telah membaca Al-Quran di depan seorang Syeikh), maka anda telah
menjelaskan tempat kejadian pembacaan yaitu di tempat hadapan seorang Syeikh. Maka kata َصبَا ًحا
disebut dengan dzaraf zaman/ keterangan waktu, dan kata َ أَ َمامdisebut dzaraf makan/keterangan
tempat.
(2) Kata ( الَي ْو َمhari ini) dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari ; kata ( اَلّيَْلَةmalam ini) dari
terbenamnya matahari hingga terbit fajar ; kata ( ُغ ْد َوًةdi pagi hari) dari shalat fajar hingga terbitnya
matahari ; kata (ً ب ْكرَةdi pagi hari) yakni awal siang hari ; kata ( َس َح ًراdi waktu sahur) yakni di akhir
malam sebelum fajar ; kata (ً َغدbesok) yakni nama hari satelah hari yang anda berada di dalamnya
; kata ( َعَت َمًةdi waktu malam) yakni sepertiga malam pertama ; kata ( َصَباحًاdi waktu subuh) yakni awal
siang hari ; kata (ً مَ َساءdi sore hari) yakni mulai turunnya matahari hingga sebagian malam ; kata
( َأَب ًداdan أَ َم ًداbesok-besok) yakni setiap nama dari waktu yang akan datang; dan kata ( حِيًْناsuatu ketika)
nama dari waktu yang tidak jelas.
(3) QS Al-Qamar : 26 (4) QS Al-Ahzab : 42 (5) QS Al-Baqarah : 95
Isim-isim yang Manshub Halaman 151
B. Keterangan Tempat (Dzaraf Makan)
Al Munshannif sang Pengarang buku menyebutkan: keterangan tempat adalah isim
yang menyebutkan nama tempat, manshub dengan takdir ()في. Contoh : َ( أَمَامdi depan),
َ( َخلْفdi belakang), ( قَ َدّاَمdi hadapan), ( َو َراَءdi belakang), َ( َفوْقdi atas), ( َت ْح َتdi bawah), َ( ِعنْدdi
sisi), َ( مَعbersama), ( ِإ َزاَءdi depan), َ( حِ َذاءdi depan), َ( َِتلْقَاءdi depan), ( هَناdisini), ّ( ثَ َمdisana),
dan semacamnya.
Penjelasan: Jenis yang kedua dari dzaraf adalah dzaraf makan/ keterangan tempat.
Definisi: Ia adalah isim makan/isim yang menunjukkan tempat, manshub dengan
takdir ()في.
Contoh: ِ( َجلَ ْست تَ ْح َت ال َش َجرَةsaya duduk di bawah pohon).
I'rabnya: تَ ْح َتadalah dzaraf makan, dan dia isim manshub yang menunjukkan tempat
terjadinya tindakan tersebut.
Dan al-mushannif sang Pengarang menjelaskan lafadz yang termasuk ke dalam
dzaraf makan ada 13, yaitu: َأَماَمyang bermakna di depan, contoh: ِ( َجلَ ْست أَ َما َم ال َّشيْخsaya
berjalan di depan syekh). Dan َخلْ َفyang maknanya berkebalikan dengan ََأمَام,
contohnya: ( َصَّلْيت َخلْ َف الِإَماِمsaya shalat di belakang imam). Dan َقُ َدّام, contohnya
perkataanmu: ِ( مَشَْيت قُ َّدامَ الَجيْشsaya berjalan di depan tentara). Dan َ َو َراءdengan makna di
belakang, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ( ﴿ َفنََبذُوْه َورَآَء ُظه ْورِهِمlalu mereka melemparkan
janji itu ke belakang punggung-punggung mereka) (1). Dan ( َفوْ َقdi atas) adalah isim
makan untuk tempat yang tinggi , contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ﴿ وَهوَ القَاهِر َفوْ َق عَِبادِِه
(dan Dia-lah penguasa mutlak atas semua hambaNya) (2). Dan ََت ْحت, isim makan yang
berarti di bawah, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ( ﴿ يَبايِعوْنَكَ َت ْحتَ ال َشّ َجرَِةmereka berjanji
setia kepadamu (di Hudaibiyah) di bawah pohon (yaitu Baiat Ridwan))(3). Dan ِعنْ َدisim
makan yang berarti berdekatan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ ﴿ فَآ ْذكُر ْوا اللَه ِعنْدَ المَ ْش َعرِ الحَ َرا ِم
(maka berdzikirlah kalian (kepada) Allah di Masjidil Haram (sebuah tempat di
Mudzalifah)) (4). Dan مَ َع, isim makan kebersamaan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾
( ﴿ َأرْ ِسلْه مَ َعَناbiarkanlah dia pergi bersama kami) (5). Dan ِإزَاَءseperti berhadapan, contohnya
perkataanmu: ( َوقَ ْفت ِإ َزاءَ المَ ْكتَبَِةdan saya berdiri di depan perpustakaan). Dan َ حِ َذاءdengan
makna berdekatan, contohnya perkataanmu: ِ( َجلَ ْست حِذَاَء الَمسْجِدsaya duduk di depan
dekat masjid). Dan َ ِتلَْقاءseperti berdekatan, contohnya firman Allah Ta’ala: ﴾ وَلَ َّما َتوَ َجَّه
( ﴿ ِتْلقَآَء مَدَْي َنdan ketika (Musa) menuju ke arah/jurusan (negeri) Madyan) (6).
__________________________ (3) QS Al-Fath ayat 18.
(1) QS Āli `Imrān ayat 187. (2) QS Al-An`am ayat 18. (6) QS Al-Qaşaş ayat 22.
(4) QS Al-Baqarah ayat 198. (5) QS Yūsuf ayat 12.
Isim-isim yang Manshub Halaman 152
Dan ( )هنَاadalah isim isyaroh yang menunjukkan keterangan tempat dekat, contohnya
perkataanmu ( جَلَسْت هنَاsaya duduk disini). Dan ( )ثَ َّمadalah isim isyaroh yang
menunjukkan keterangan tempat jauh, contohnya perkataanmu ّ( جَلَسْت ثَ َمsaya
duduk disana). Artinya anda disana. Dan isim isim isyarah lainnya seperti َيَمِيْن
(kanan), dan َ( شِمَالkiri).
__________________________
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1 - Berkata Pengarang (dengan pada) apa saja taqdir bersama نا هاtidak pada lafadznya,
contohnya َقدٔ لَ يَصِحtaqdir هاsebelum dzaraf dan dzalika.
contoh : َ( سَرَت َقْبَله َو َصلَيْ ِت َمعَه وََن ْحو هماsaya berjalan didekatnya dan sholat bersamanya berdua).
Kitab Al-Kawakib (2/325).
2 - ( ّ ) ثَمdengan fathah الثاءisim makan dengan kesempatan ( ّ ) ُث َمdengan dhammah الثاءmaka
sesungguhnya ia huruf 'athaf.
3 - Jika tdk mengandung makna isim zaman (waktu) yang bermakna (ْ )ِفي-di dalam, maka
dia bukan zhorof, Bahkan dia seperti isim yang lainnya, yang diirob sesuai keadaannya
dalam kalimat. Bisa menjadi mubtada seperti : َيوْ ِمنَا َسِعْيد, atau menjadi khabar : ِهَذَا يَ ْوَم العَْيد
Atau menjadi fail, seperti : ِ هَذَا َي ْومَ الَعْيدatau mafhulun bih seperti Firman Allah Ta’ala :
﴾ِ( ﴿وَأَنْذِرْهمْ يَوْمَ الْآزِفَةberilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat)), dan
begitu juga ketika masuk huruf jar pada isim zaman atau makan maka dia menjadi isim
majrur bukan berupa zhorof, seperti firman Allah Ta’ala :
﴾ِ( ﴿وَأَنْذِرْهمْ يَوْمَ الْآزِفَةdalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun). Dan firman Allah
Ta’ala : ﴾( ﴿يَخَافُونَ رََبّهمْ مِنْ فَوْقِهِ ْمmereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka).
Dilihat di kitab Jami’u Durush (3/44)
4 – Dari kata-kata yang sering digunakan pada umunya untuk dharaf : ْ إِذdan وَإِذَا
Dilihat di kitab al Mughny halaman (111) dan (127)
Isim-isim yang Manshub Halaman 156
Kelima : Haal
Pengarang berkata : Bab Haal : Haal adalah isim yang dinashabkan (manshub) yang
menjelaskan kondisi atau keadaan yang belum jelas. Contohnya : ( جَاءَ َزيْد رَا ِكبًاZaid telah
datang dengan berkendaraan), ( َر ِكْبت َالْفَرَسَ م ْسرَ ًجاsaya menunggangi kuda yang
berpelana) dan ( َلقِيت عَبْدَ اَلّلَهِ رَا ِكًباsaya menjumpai ‘Abdullah berkendaraan), dsb.
Penjelasan: Haal (1)
Definisi: Yaitu isim yang dinashabkan (manshub) yang menjelaskan kondisi atau
keadaan yang belum jelas. (2)
Contohnya: ( جَاءَ زَيْد رَاكِبًاZaid telah datang dengan berkendaraan) (3), َر ِكْبت اَلْ َفرَسَ م ْس َرجًا
(saya menunggangi kuda yang berpelana) (4) .
I'rabnya: رَاكِبًا: haal yang menjelaskan kondisi Zaid ketika datang, yakni
keadaannya yang datang atasnya. Dan م ْسرَ ًحا: haal yang menjelaskan keadaan kuda
ketika anda mengendarainya.
Tandanya: Sebenarnya posisi haal pada jawaban "bagaimana", maka jika ditanya
: ( كَيْفَ جَاَء زَيْد ؟bagaimana datangnya Zaid?) , anda harus menjawab : ( رَاكِبًاberkendara).
Dan contoh dari ayat-ayat al-Qur'an yang mulia, firman Allah Ta’ala: ﴾﴿ َو خِل َق اْلإنِسَانُ ضَعِْيفًا
(Manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah) (5) , ﴾﴿وَ هوَ اَلّ ِذي أَْن َز َل ِإلَْيكُم الْكِتَا َب مفَ َّصًلا
(Dialah yang telah menurunkan kepada kalian alkitab secara berangsur-angsur) (6),
dan firman Allah Ta’ala: ﴾( ﴿ ِإلَيِْه مَرْجِعكُمْ َجمِْيعًاkepada-Nya lah tempat kembali kalian
semuanya) (7).
Dan contoh dari as-Sunnah, sabda Nabi ﷺ:》( 》 يحْ َشر الَنّاس َيوَْم اْلفِيَامَِة ح َفاًة عرَاًة غُ ْزلًاmanusia
dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian
dan belum dikhitan)(8). Kata berikut ( ُغزًْلا، عرَاًة،ً ) حفَاة: semuanya haal yang dinashabkan.
__________________________
(1) Jika kau katakan :( َ َشرِ َب َزْيد الَماءZaid telah meminum air) kalimat ini sudah sempurna, kecuali bahwa
tidak diketahui keadaan subyek pada saat melakukan pekerjaan tersebut, ataupun keadaan
obyeknya. Maka apabila kau katakan : ( َشرِ َب زَْيد اْل َماءَ جَالِ ًساZaid telah meminum air dalam keadaan
duduk), maka kau sungguh telah menjelaskan keadaan Zaid saat ia minum. Dan bila kau katakan:
( َش ِربَ زَْيد المَاءَ َبا ِر ًداZaid telah meminum air dalam keadaan dingin/air dingin), maka kau sungguh juga
telah menjelaskan keadaan air ketika diminum. Maka lafadz ( )جَالِسًاatau ( )َبا ِر ًداdinamakan haal , dan
wajib nashabnya.
(2) Istabhama ( )اِ ْسَتْب َه َمyakni ( َخفِ َيtersembunyi). Istilah istabhama lebih pas ketimbang inbahama ( )ِانَْب َه َم.
lafadz ( ) الَْيَئا ِتadalah jamaknya ِ َهْيَئةyaitu sifat dan gambaran .
(3) Kedudukan جَاَء زَْيد: fi'il dan fa'il, َراكًِبا: haal yang dinashabkan dan tanda nashabnya adalah fathah
dzahirah/nampak.
(4) Kedudukan َر ٍكْبت: fi'il dan fail, َ ال َف ْرس: maf'ul bih manshub, مسْ َر ًجا: haal yang dinashabkan dan tanda
nashabnya adalah fathah dzahirah/nampak. Kata ( ال َسّ ْرجpelana) adalah nama suatu benda yang
diletakkan di atas punggung kuda untuk alas duduknya penunggang kuda
(5) QS An-Nisa' ayat 28 (6) QS Al-An'am ayat 114 (7) QS Yunus ayat 4
(8) Muttafaq 'alaih dari 'Aisyah (semoga اللهmeridhainya)
Isim-isim yang Manshub Halaman 157
Syarat Haal dan Syarat-syarat Shahibul Haal :
Pengarang berkata: (Haal harus nakirah, haal harus terletak setelah kalimat
sempurna, shahibul haal harus ma'rifah)
Penjelasan: Kemudian Pengarang mulai menyebutkan sebagian syarat-syarat haal,
dan beliau menyebutkan dua syarat:
1. Haal harus nakirah: apabila kau katakan : جَاءَ َزيْد المَ ْسر ْور, maka tidak benar المَ ْسروْر
sebagai haal karena ma'rifah, hanya benar jika kau katakan : ( جَاَء زَيْد مَسْر ْورًاZaid telah
datang dalam keadaan senang).
2. Haal harus didahului kalimat yang lengkap, yaitu setelah fi'il dan fa'ilnya dan
setelah mubtada' dan khabarnya; maka jika kau katakan : َزيْد مَسْر ْو ًرا, tidak benar ( مَ ْسر ْورًا
) sebagai haal karena ia berada sebelum lengkapnya kalimat , yang benar jika kau
katakan : ( جَاَء َزيْد مَسْروْرًاZaid telah datang dalam keadaan senang).
Adapun shahibul haal (¹), Pengarang menyebutkan satu syaratnya, yaitu shahibul
haal harus ma'rifah. Maka tidak benar jika kau katakan : جَاَء رَج ٌل مَ ْسر ْو ًراkarena shahibul
haal ( ) رَج ٌلnakirah dan haal hanya untuk ma'rifah, maka jika kau katakan : جَاءَ ال َرّج ُل
، مَ ْسر ْو ًراini benar. *
__________________________
(1) Yaitu apa yang disifati secara makna oleh haal
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Kata ( َ ) َكيْفadalah isim istifham yang dii'rab - umumnya - sebagai haal terletak setelahnya
fi'il yang bukan penasikh, contoh: ( كَيْفَ ِنمْتَ؟bagaimana anda tidur?). Adapun bila
setelahnya adalah fi'il penasikh atau isim; maka ia dii'rab sebagai khabar muqaddam,
contoh: ( َكيْفَ َأ ْصبَ ْحتَ؟bagaimana anda di waktu shubuh?) dan ( كَيْ َف حَالُكَ؟bagaimana
keadaanmu). Ref. AlKawakib bab 2 halaman 516.
2. Imam Nawawuiy rahimahullah berkata: lafadz ( ً ) كَاَّفةdigunakan sebagai haal. Adapun
yang terjadi pada banyak kitab para mushannif (Pengarang kitab), mereka
menggunakan lafadz ( ً ) كَاَفّةini sebagai mudhaf dan dima'rifahkan, contohnya seperti « هَذَا
( »َقوْ ُل كَاَفةِ العَلمَاَء َو َمذْ َهب الكَاَفِةini adalah perkataan semua ulama dan pendapat semuanya) dan
ini merupakan kesalahan yang banyak terjadi pada lahn awam dan perubahan yang
mereka lakukan. Ref. Syarah Muslim bab 13 halaman 142.
Terkadang haal dalam format kalimat, contoh : (ُُرَأَْيت َزيْ ًدا يَضْحَكsaya melihat Zaid sedang
tertawa), يَ ْضحَكfi'il mudhari' marfu', fa'ilnya dhamir mustatir, taqdirnya (dikira) ه َو,
kalimat (fi'il+fa'il) pada posisi nashab sebagai haal (keadaannya) Zaid, sama saja kau
katakan جَاَء َزيْد َضا ِحكًاmaka kalimat setelah isim ma'rifah itu adalah haal, dan yang setelah
isim nakirah maka itu sifat (na'at), contoh : ( جَاءَ رَجلٌ يَ ْضحَ َكtelah datang seorang lelaki yang
tertawa).
Isim-isim yang Manshub Halaman 160
Keenam : Tamyiz
Sang Pengarang berkata mengenai bab tamyiz :
Tamyiz adalah isim manshub yang menjelaskan kesamaran pada dzat-dzat. Contoh
pada ucapanmu: ( تَ َصَّب َب زَيْد َع َرقًاZaid itu mengalir keringatnya), ( َتفََقَّأ َب ْكر شَحْ ًماBakr itu
berlapis-lapis lemaknya), ( طاَبَ محَ َمّد نَفْسًاMuhammad itu wangi tubuhnya), اِ ْشَترَْيت عِ ْشرِْي َن غُلاَمًا
(saya membeli 20 orang budak), ( َمَلكْت تِسْعِْينَ َن ْعجَةsaya memiliki sembilan puluh biri-biri
betina), ( زَيْد َأ ْكرَم ِمنْكَ أَبًاbapaknya Zaid lebih mulia darimu), dan( َأَجْمَ ُل مِنْكَ وَ ْجهًاwajahku
lebih tampan darimu).
Penjelasan : Tamyiz (1).
Definisinya : Ia adalah isim manshub yang menjelaskan kesamaran dari dzat atau
perbandingan.
Contohnya: ( اِ ْشتَرَْيت عِ ْش ِريْ َن غُلاَمًاsaya membeli 20 orang budak) , dan طاَ َب محَ َمّد نَ ْفسًا
(Muhammad itu wangi tubuhnya).
I'rabnya : ُغَلامًا: tamyiz untuk dzat, ia menjelaskan kata yang mufrad yaitu َعِ ْش ِريْن.
Dan نَفْ ًسا: tamyiz untuk perbandingan, ia menjelaskan kalimat () َطابَ م َح َمّد.
Macam-macamnya : terdapat dua macam tamyiz, yaitu tamyiz untuk mufrad dan
tamyiz untuk kalimat.
1. Tamyiz untuk mufrad: Tamyiz ini menghilangkan kesamaran pada satu kata (2).
Tamyiz mufrad hadir setelah :
● 'adad (bilangan), seperti ucapanmu ( َمَلكْت تِسْعِْينَ َنعْجًَةsaya memiliki 90 ekor biri-biri
betina).
● wazan (timbangan), seperti ucapanmu ( اِ ْشتَرَْيت َر ْطلًا عَ َسلًاsaya membeli satu pon madu).
● kayl (takaran), seperti ucapanmu ( تَصَ َدّقْ"ت بِصَاعٍ تَمْرًاsaya menetapkan takaran kurma).
● misaahah (area), seperti ucapanmu ( َزرَ ْعت فَ َّداًنا َقمْ ًحاsaya menanam satu hektar
gandum).
__________________________
(1) Isim-isim 'adad /bilangan, wazan /timbangan, kayl /takaran, misaahah /area, adalah
lafadz2 yang samar, karena jika anda katakan: َ( ِاشْتَرَيْت ِعشْرِيْنsaya membeli dua puluh)
kemudian anda diam, maka yang mendengar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan
"dua puluh", namun jika anda katakan : ( ِاشْتَرَْيت عِ ْشرِيْ َن َقَلمًاsaya membeli dua puluh pena),
maka sungguh anda telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan "dua puluh" dengan
ucapan ( قَلَمًا/ pena), maka َقَل ًماadalah tamyiz. Terkadang terjadi ketidak-jelasan /kesamaran
pada sebagian lafadz, dan sesungguhnya ia terjadi pada sebagian kalimat, contoh : ََطاب
( م َح َّمد َنفْسًاMuhammad itu wangi tubuhnya). Maka nisbah kata ( طابmenjadi baik) kepada
Muhammad terdapat kesamaran, bisa saja membahas dari sisi ilmu atau badan atau
pendapatan, maka penyebutan tamyiz - َنفْسًا- menghilangkan kesamaran. Maka seluruh
bentuk seperti ini dinamakan tamyiz.
(2) Atau posisinya seperti menghitung jumlah, seperti pada firman Allah Ta’ala : ِإِّن ْي رَأَيْت عَشَ َر
( كَوْ َكبًاsesungguhnya saya melihat 11 bintang).
Isim-isim yang Manshub Halaman 161
2. Tamyiz untuk Kalimat: Tamyiz ini menghilangkan ketidak-jelasan didalam
kalimat.
Contoh pada perkataanmu: ( تَ َصَبّ َب َزيْد عَرَقًاZaid mengalir keringatnya), ( َتَفَّقأَ َبكْر َشحْمًاBakr
berlapis-lapis lemaknya), ( زَْيد أَكْ َرم ِمنْ َك َأبًاZaid itu lebih mulia darimu, bapaknya = bapaknya Zaid
lebih mulia darimu). Seluruh contoh tamyiz pada kalimat tersebut ( عَ َرقًاdan َشحْمًاdan )َأبًاadalah
manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir.
Contoh-contoh tamyiz untuk kalimat didalam al-Qur'an al-Karim adalah : Firman Allah
Ta’ala : ﴾( ﴿وَاشَْتعَلَ ال َّرأْس َشيْبًاdan kepala saya telah ditumbuhi uban) (1), ﴾( ﴿ َوفَ َجّرْنَا الَأرْضَ عي ْونًاdan Kami
jadikan bumi memancarkan mata air) (2), dan ﴾( ﴿أَنَاَأكْثَر ِمنْكَ مَالًاharta saya lebih banyak daripada
hartanya) (3).
Al-Mushannif sang Pengarang berkata : dan tidaklah menjadi tamyiz kecuali nakirah, dan
tidaklah menjadi tamyiz kecuali setelah sempurna kalimatnya.
Penjelasan: Dengan pengkajian oleh para ahli ilmu nahwu, dan kita mengikuti mereka
untuk bahasa arab, maka sesungguhnya tamyiz itu tidak akan terbentuk kecuali (kata itu
adalah) nakirah dan tidak terbentuk kecuali setelah kalam sempurna, yang berarti setelah fi'il
mendapatkan fa'ilnya dan mubtada mendapatkan khabarnya. *
__________________________
(1) QS Maryam ayat 4. (2) QS Al-Qamar ayat 12. (3) QS Al-Kahfi ayat 34.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Pengarang menyebutkan bahwa sesungguhnya tamyiz berfungsi untuk menjelaskan dzat atau objek
yang masih samar yang ada sebelumnya, dan tidak menyebutkannya (atau rasio); hanya
mencukupkan dengan contoh-contoh, seperti yang dikatakan oleh al-Hamdi. Dan makna perkataan
Pengarang tentang ال َذّ َوا ِتadalah jamak dari kata ( َذاتdzat), dan dzat adalah sesuatu yang sesuai
dengan hakikatnya.
2. Tidak setiap 'adad/angka maka tamyiznya menjadi manshub. Angka-angka dari 3 sampai 10, 100
dan kelipatannya, 1000 .... maka isim setelah angka-angka tersebut menjadi majrur karena dia adalah
mudhaf ilaih, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ٍ( ﴿ َفأَمَاَته اللِه ِماَئَة َعامmaka Allah mematikan orang itu
seratus tahun).
3. Perkataan al-Mushannif sang Pengarang mengenai pernyataan [dan tidak menjadi (tamyiz) kecuali
nakirah] ini adalah mengikuti madzab para ulama Bashroh. Adapun para ulama Kuffah
membiarkan adanya tamyiz yang datang berupa ma'rifat, dan hal tersebut berdasar dari firman-Nya
: ﴾ ( ﴿ إِ َّل مَنْ َسِفَه َنفْ َسهkecuali orang memperbodoh dirinya sendiri), dan firman-Nya yang lain: ﴾ بَ ِط َر ْت
( ﴿ َم ِعيْشََتهَاtelah bersenang-senang dalam kehidupannya).
Dan juga begitu banyak bukti catatan dari perkataan orang Arab. Ibn Taymiyyah rahimahullah berkata
: hal ini yang dikatakan oleh para ulama Kuffah dalam pengertian secara bahasa dan makna.
Merujuk pada kitab Majmu' al-Fatawa (442/14).
4. Isim manshub setelah isim tafdhil maka dii'rab sebagai tamyiz, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾
ِ( ﴿ َواَّل ِذي َن آمَنوا أَ َش ُّد ح ًَّّبًُا للهdan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah).
5. Isim manshub setelah kata ( ِن ْع َمsebaik-baiknya) dan َ( ِبْئسseburuk-buruknya) dii'rab sebagai tamyiz,
contoh: ( ِن ْع َم خُل ًقا ال ِّصدْق وَ ِبْئسَ خُلقًا ال َكذِبsebaik-baik akhlak adalah jujur, dan seburuk-buruk akhlak adalah
dusta).
6. Menurut para ahli nahwu, perbedaan antara haal dan tamyiz disebutkan berikut:
• Haal menjelaskan tentang kondisi, sedangkan tamyiz menjelaskan tentang dzat atau rasio.
• Haal datang dengan غَالًِباsebagai isim musytaq, sedangkan tamyiz datang dengan - غَالِبًا- sebagai isim
jamid.
• Haal dapat hadir sebagai isim mufrad, atau kalimat, atau sibhul jumlah (yang menyerupai kalimat),
sedangkan tamyiz tidak dapat hadir kecuali ia mufrad.
Isim-isim yang Manshub Halaman 164
Ketujuh: Mustatsna
Sang Pengarang mengatakan pada bab istitsna /pengecualian : Huruf isititsna
terdiri dari delapan, yaitu : ِإَلا, dan غَْير, dan ٌ َسوَاء- س ًوى- ِس ًوى, dan َخَلاdan عَدَا, dan حَاشَا.
Penjelasan :
Mustatsna (1):
Definisinya : Ia merupakan isim yang disebutkan setelah إَِلاatau salah satu yang
sejenisnya, yang bertentangan secara hukum setelah kalimat sebelumnya.
Contohnya : ( َقامَ الَقوْم إَِلّا زَْيدًاKaum itu telah berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya: َقاَم: fi'il madhi ; الَقوْم: fa'il, marfu', dan ia adalah mustatsna minhu, ِإَلّا:
huruf istitsna, َزيْدًا: mustatsna, manshub, dan ia adalah yang dikecualikan secara
hukum dari kata sebelum ; ِإَّلاkarena sesungguhnya kalimat tersebut menjelaskan
bahwa kaum itu berdiri, dan Zaid tidak ikut berdiri.
Dan agar menjadi jelas dari sebelumnya, pengecualian memiliki tiga pilar :
Pertama: Mustatsna minhu / patokan pengecualian :
Ia merupakan isim yang disebutkan setelah ِإَّلا, yang dii'rab bergantung pada
kedudukannya didalam kalimat.
Kedua: Adaatul istitsna:
Ia adalah : ِإلَا, dan غَيْر, dan ِس ًوىbeserta yang sebahasa dengan itu, dan َخلَا, dan عَ َدا, dan
َحاشَا.
Ketiga: Mustatsna /yang dikecualikan:
Ia adalah isim yang disebutkan setelah adatul istitsna, dan hukum i'rab pengecualian
ini bergantung pada jenis adaat, dimana sang Pengarang menyebutkannya
sebagai berikut:
__________________________
(1) Apabila pembicara (yang merupakan orang pertama) berkata : ( َقاَم الَق ْومkaum itu berdiri),
maka pendengar akan membayangkan bahwa sesungguhnya mereka (kaum itu) berdiri
seluruhnya, dan apabila ditambahkan ( إَِلّا زَيْدًاkecuali Zaid), maka pendengar mengetahui
bahwa sesungguhnya pembicara tidak bermaksud memasukkan Zaid kedalam kaum,
akan tetapi mengeluarkannya.
* Perhatian : Adalah shohibul mutammimah, Pengarang kitab mutammimah ( yaitu kitab
penyempurnaan dri al aajurrimiyyah, maksudnya buku almumti') mengganti istilah
huruf istisna dengn adatul istisna dan ini lebih baik. Karena adat ini meliputi isim, fi'il
dan huruf ; sedangkan penyebutannya oleh sang Pengarang sebagai huruf tidak
melingkupi seluruhnya sehingga mungkin akan membingungkan para pemula. Dan
dijawab bahwa sesungguhnya sang Pengarang mengatakan dominannya penggunaan ; ِإَلّا
dan ia adalah istitsna yang umum dipakai dan ia merupakan huruf. Dilihat di Syarah Al-
Kafrawiy (hal 132).
Isim-isim yang Manshub Halaman 165
I'rab isim yang bertempat setelah ( )ِإ َّل:
Sang Pengarang berkata: Mustatsna dengan ِإ َّلdinashabkan jika kalimatnya
sempurna dan positif, contoh : ( قَامَ ال َقوْم ِإ َلّ َزيْ ًداsuatu kaum telah berdiri kecuali Zaid), dan
( خَ َر َج الَنّاس ِإ َّل عَ ْم ًراmanusia telah keluar kecuali Amr).
Dan jika kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menjadi badal dan boleh
dinashabkan karena menjadi ististna, contoh : َما قَا َم الَق ْوم ِإ َلّ زَيْدdan ( ِإ َّل زَيْدًاsuatu kaum tidak
berdiri kecuali Zaid).
Dan jika kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka i'rab nya mengikuti 'amil-
'amilnya, contoh : ( مَا قَامَ ِإ َلّ َزيْدtidak berdiri kecuali Zaid), ( مَا ضَرَْبت ِإ َّل َزيْدًاsaya tidak
memukul kecuali Zaid), dan ( َما مَ َر ْرت ِإ َّل ِب َزيْ ٍدsaya tidak bertemu kecuali dengan Zaid).
Penjelasan : Untuk mustatsna setelah ِإَلّاmempunyai tiga ketetapan:
Pertama : Wajib nashab/manshub : apabila kalimat sebelum ( )إَِلّاsempurna dan
positif.
Sempurna : disebutkan mustatsna minhu nya.
Positif : kalimat yang tidak diawali oleh huruf nafi.
Contohnya : ( قام القَوْم إَِّلا َزيْدًاsuatu kaum telah berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya : َزيْدًا: mustatsna, wajib nashab.
Kedua : Boleh nashab atau badal : apabila kalimat sebelum ( )ِإَّلاsempurna dan
negatif.
Contohnya : مَا َقاَم الَق ْوم ِإ َّل َزيْدًاatau ِإ َّل َزيْد.
I'rabnya : َزْيدًا: mustatsna yang boleh manshub,
dan زَيْدadalah badal yang mengikuti sebagai mustatsna dalam
i'rabnya, mengikuti dalam kondisi rafa'.
Ketiga: I'rabnya mengikuti 'amil-'amilnya : jika kalimatnya tidak sempurna dan
negatif.
Tidak sempurna : yang tidak disebutkan mustatsna minhu nya.
Negatif : kalimat yang diawali oleh huruf nafi.
Contohnya : ( مَا َقاَم ِإ َلّ َزيْدtidak berdiri kecuali Zaid).
I'rabnya : َزيْد: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.
Isim-isim yang Manshub Halaman 166
Allah Ta’ala berfirman : ﴾( ﴿ فَ َش ِربوا ِمنْه ِإَلّا َقلِيلًاkemudian mereka meminumnya kecuali
beberapa orang di antara mereka) (1).
Allah Ta’ala juga berfirman : ﴾ٌ( ﴿ مَا فََعلُوه إَِلّا َقلِيلniscaya mereka tidak akan melakukannya
kecuali sebagian kecil dari mereka) (2).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman : ﴾( ﴿ وَ َما آمَنَ َمعَه إَِّلا َقلِي ٌلdan tidak beriman bersama dengan
Nuh itu kecuali sedikit) (3). *
Diagram penjelasan rukun istitsna dan jenisnya beserta hukum setiap jenisnya.
Istitsna
mustatsna إِ َّّل mustatsna
minhu
Kalimat jenis Istitsna Hukum Mustatsna
▪ِإَّلا القَ ْوم َقامَ الَق ْوم ِإَلّا زَيْ ًدا زَْي ًداsempurna dan positif wajib nashab
▪ِإَلّا القَ ْوم َما َقاَم القَوْم ِإَلّا َزيْدًا زَيْدًاsempurna dan negatif boleh nashab / sebagai badal
▪ َما قَاَم ِإَّلا َزْيد --- ِإَّلا زَْيدtidak sempurna dan negatif dii'rab sesuai kedudukannya
__________________________
(1) QS Al-Baqarah ayat 249. (2) QS An-Nisa ayat 66. (3) QS Hūd ayat 40.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Bentuk i'rab setelah ِإَلّاpd ucapanmu: مَا َقامَ القَ ْوم ِإَلّا َزْيدًاatau ; مَا َقامَ القَ ْوم ِإَلّا زَْيدbentuk rafa' ( ) َزْيدsebagai
badal adalah yang lebih diutamakan. Dan ia merupakan badal bagian dari keseluruhan
(ba'dhu min kullin). Dilihat di : Syarah Qathru an-Nada halaman 341-343.
2. Agar memudahkan untuk anda dalam mengi'rab suatu isim yang terdapat setelah ِّإ َل,
sebagai contoh : ; مَا قَامَ ِإ َلّ َزْيدkosongkan kalimat ini dari dari penafian dan dari adatul istitsna,
menjadi ()قَامَ َزْيد. Dan jenis tersebut dinamakan istitsna mufarrogh (yang dihilangkan) ;
karena مَاsebelum ِإ َّلbenar2 menghilangkan 'amil setelahnya.
Dilihat di : Syarah Qathru an-Nada halaman 346, dan Al-Kawakib bab 2 halaman 397.
Isim-isim yang Manshub Halaman 169
Hukum Mustatsna dengan Lafadz غَيْرdan سِوَى
Pengarang berkata: (Mustatsna dengan lafadz س َوى، ِسوَى، َغيْرdan ٌ َسوَاءadalah dijarkan)
Penjelasan: Dipakai dengan makna (إَِّلا/kecuali) pada penggunaan yang menunjukkan
pengecualian.
Diantaranya: َغْيرdan ِس ًوىdengan bahasanya, keduanya adalah isim.
Hukum mustatsna dengan َغْيرdan ِس ًوى: Senantiasa jar dan dii'rab sebagai mudhaf ilaih.
Hukum غَْيرdan ِس ًوى: Dalam i'rab seperti hukum isim yang terletak setelah إَِّلا.
Contoh: ٍ جَاءَ اْلقَوْم غَيْ َر زَيْدatau ٍ( ِس َوى زَيْدKaum itu telah datang selain Zaid)
Wajib nashab atas istitsna: Apabila kalimat taam dan mutsbat (sempurna dan positif).
Contoh: )ٍ( )قَامَ الْ َقوْم غَْي َر زَيْد1)
Boleh sebagai badal atau nashab atas istitsna': Jika kalimatnya taam dan manfiy
(sempurna dan negatif).
Contoh: )ٍ( (مَا َقا َم الْ َقوْم غَْيرَ زَيْدkaum itu tidak datang kecuali Zaid) (2)
Keduanya dii'rab sesuai 'amil²: Jika kalimatnya naqish dan manfiy.
Contoh: ) ( )مَا َقاَم غَْير زَيْ ٍدtidak ada yang berdiri selain Zaid) (3)
) ( )مَا رَأْيت غَيْ َر زَيْ ٍدtidak ada yang saya lihat selain Zaid) (4)
) ( )مَا مَ َررْت بِ َغيْ ِر زَيْ ٍدsaya tidak berpapasan dengan selain Zaid) (5)
Dan setiap apa yang dikatakan pada lafadz ( ) َغْيرdikatakan semisalnya pada ( ) ِس َوىmaka
keduanya sama saja pada makna dan i'rabnya.
__________________________
(1) َقامَ اْلَق ْوم: fi'il dan fa'il, َغَيْر: isim manshub atas istitsna' dan ٍزَيْد: mudhaf ilaih, majrur
(2) مَا: مَا َقامَ اْلقَ ْوم َغيْ َر َزيْ ٍد: nafiyah, غَيْ َر: boleh dii'rab dua macam : yaitu manshub atas istitsna'
atau sebagai badal dari الْقَ ْومdimarfu'kan juga.
(3) مَا: ٍمَا َقامَ َغيْر زَيْد: nafiyah, قَاَم: fi'il madhi mabniy dengan fathah, غَيْر: fa'il yang dimarfu'kan
dan tanda rafa'nya adalah dhammah dan dia sekaligus menjadi mudhaf, ٍ َزيْد: mudhaf
ilaih yang dijarkan dan tanda jarnya adalah kasrah.
(4) مَا: ٍ مَا َرأْيت َغيْرَ زَيْدnafiyah, رَأيْت: fi'il dan fa'il, َ َغيْر: maf'ul bih manshub, زَيْ ٍد: mudhaf ilaih
majrur.
(5) مَا: مَا مَ َررْت ِبغَيْرِ زَيْ ٍد: nafiyah, مَ َر ْرت: fi'il dan fa'il,ِ ُ ِبغَْير: huruf ba' adalah huruf jar, ِ َغيْر: isim
majrur dengan ba'
Peringatan! ( )غَيْرadalah lafadz yang harus diidhafahkan baik dalam bentuk lafadz atau
taqdir (pengiraan) maka masuknya AL (ْ )َالpada lafadz ( )غَيْرitu adalah suatu kesalahan.
Dilihat di Albahru almuhith pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ﴿ َغيْرِ الْ َمغْضوْبِ َعَلْيهِم
Isim-isim yang Manshub Halaman 170
Mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa
Pengarang berkata: (Mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa maka
boleh kita menashabkannya atau menjarkannya). Contohnya :
َقاَم اَلَْقوْم َخلَا َزيْدًا, ( قَامَ َالْقَوْم َخَلا زَيْ ٍدsemua orang berdiri kecuali Zaid)
َقاَم اَْلقَوْم عَ َدا عَ ْم ًرا, ( قَاَم اَْلَق ْوم عَ َدا عَمٍْروsemua orang berdiri kecuali ‘Amr)
قَامَ َاْلَقوْم َحاشَا بَكْرًا, ( قَاَم َالَْق ْوم َحاشَاَبَكْ ٍرsemua orang berdiri kecuali Bakr)
Syarah (penjelasan): Pengarang (semoga Allah merahmatinya) menyebutkan bahwa
mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa, boleh padanya dua macam:
1. Nashab karena ia maf'ul bih; demikian itu karena ia dianggap fi'il.
Contoh: َقامَ اَلَْق ْوم َخَلا َزيْ ًدا, َقامَ َالَْق ْوم عَدَا عَمْ ًرا, َقا َم اَلْ َقوْم َحاشَا َب ْك ًرا
i'rabnya: قَاَم َاْلَق ْوم: fi'il dan fa'il
َخَلا: َخلَا َزيْدًا: fi'il madhi mabniy atas fathah muqaddar, dan fa'ilnya dhamir
mustatir wujuban, َزيْ ًدا: maf'ul bih manshub, tanda nashabnya adalah fathah
dzahir.
demikian pula i'rab kalimat : َقا َم اَْلَقوْم عَدَا عَ ْم ًرا, قَا َم اَلْقَوْم حَاشَا َب ْكرًا
2. Jar karena ia isim majrur; hal ini jika dianggap bahwa ia adalah huruf jar.
Contoh: قَامَ اَْلَقوْم خَلَا َزيْ ٍد, َقا َم اَلَْقوْم عَدَا عَمْ ٍرو, ٍَقا َم َالَْقوْم َحاشَاَبَ ْكر
I'rabnya: َقاَم َاْلَق ْوم: Fi'il dan fa'il
َخلَا: ٍ َخلَا َزيْد: huruf jar, ٍزَيْد: isim majrur dengan khalaa dan tanda jarnya adalah
kasrah dzahir. Begitu juga i'rab kalimat2 َقامَ َاْلَق ْوم عَ َدا عَ ْم ٍرو, * َقامَ اَلَْق ْوم حَاشَاَبَ ْك ٍر
__________________________
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Jika anda meletakkan ( )َماmashdariyah sebelum ( خَلَاdan ) عَ َدا, contoh:
َقاَم القَ ْوم مَا خَلَا زَيْدًاatau مَا َعدَا زَْيدًاmaka tidak boleh tidak setelah kedua kata ini harus manshub,
tidak boleh jar, karena ( ) مَاmashdariyah hanya masuk ke fi'il. Adapun ( ) حَاشَاmaka
tidak didahului ( ) مَاmashdariyah. ref. Al-Kawakib (jilid 1/ hal 402).
2. Kata ( خَلَا, عَدَاdan ) حَا َشاadalah fi'il dhim jamid, tidak ada mudhari' dan amrnya. Dilihat
di ref. sebelumnya.
Isim-isim yang Manshub Halaman 172
Kedelapan : Isim Laa Nafiyah Lil Jinsi
Pengarang berkata: [Bab َلا: Ketahuilah bahwa ( )َلاmenashabkan isim nakirah tanpa
tanwin, jika لَاbertemu langsung dengan nakirah dan َلاtidak diulang-ulang.
Contohnya: ( لَا رَج َل فِي ال ّدَا ِرtidak ada seorang pria di dalam rumah)
Jika laa tidak bertemu langsung dengan nakirah maka laa wajib diulang-ulang.
Contohnya : ٌ( لَا ِفي اَل ّدَارِ رَجلٌ وََلا ِا ْمرَأَةTidak ada seorang pria di dalam rumah, tidak pula
wanita)
Penjelasan: Laa An-Nafiyah lil jinsi
Definisinya: Yang dimaksud dengan annafiyah lil jinsi yaitu penafiyan kabar dari
semua individual jenis yang terletak setelahnya (setelah )َلا.
Jika anda mengatakan -misal- ِ لَا رَج َل فِي ال ّدَار- maka maknanya "tidak ada seorang
lelakipun di situ"
Amalnya: Laa ( )لَاnafiyah lil jinsi mengamalkan amalan ( )ِإ َّنyaitu memashabkan isim
dan merafa'kan khabar.
Contohnya: Sabdanya »ِ «لَا أحَدَ أَغْيَر ِمنَ الَّله: ( صلى الله عليه و على آله وسلمTidak ada seorangpun yang
lebih cemburu dari Allah) (1)
I'rabnya: لَا: nafiyah lil jinsi, أحَ َد: isim لَاmabniy atas fathah, أَ ْغَير: khabar َلاmarfu' dan
tanda rafa'nya adalah dhammah.
Syarat-syarat amalnya:
1. Isim dan khabar keduanya nakirah (4)
2. Isimnya bertemu langsung dengannya. (5)
Beberapa contoh ( )َلاnafiyah lil jinsi pada alqur'an yang mulia:
Firman Allah Ta’ala ﴾(﴿لَا ِإلََه إَّلا الَّله2) dan ﴾( ﴿ َلا َش ِرْي َك لَه3)
Dan ketahuilah bahwa ( )لَاketika memenuhi persyaratan dan tidak diulang-ulang
maka wajib mengamalkan amalan (ّ)ِإ َن. Adapun jika memenuhi persyaratan namun
diulang-ulang maka berlaku hukum lainnya. Ibnu Ajurrumiyyah memberikan isyarat
padanya:
__________________________
(1) Hadits muttafaq 'alaih dari Ibnu Mas'ud radhiyAllahu 'anhu
(2) QS ash-Shaffaat ayat 35
(3) QS al-An'am ayat 163
(4) Apabila setelahnya adalah isim ma'rifah, maka ia tidak beramal, dan wajib
mengulangnya. Contoh: ( لَا َزيْد َموْجوْد وَ لَا َعمْروtidak ada Zaid dan tidak ada Amar).
(5) Apabila tidak bertemu langsung dengannya, maka tidak beramal, dan wajib
mengulangnya. Contoh: لَا ِفي ال َدّا ِر رَج ٌل َولَا ِامْرَأٌَة
Isim-isim yang Manshub Halaman 173
Jika ( )َلاdiulang, boleh mengamalkannya dan boleh juga membatalkan amalnya. Maka
jika anda hendak mengatakan: َ لَا رَجلَ فِي ال َدّارِ وَ َلا امْرَأَةDan jika anda hendak mengatakan:
ٌ( لَا رَج ٌل ِفي ال َدّا ِر َو َلا امْرَأَةtidak ada lelaki di rumah dan tidak ada perempuan).
Penjelasan: Pengarang menyebutkan bahwa ( )لَاnafiyah lil jinsi jika diulang maka ada
dua hukumnya.
Pertama: Mengamalkan لَا, yaitu mengamalkan amalan ( )إِ َّنisim setelahnya
difathahkan.
Contoh: لَا رَجلَ فِي ال َدّا ِر وَ َلا امْرَأََة
I'rabnya: لَا رَج َل: Laa ()َلا: nafiyah lil jinsi, َرَجل: isim ( )َلاmabniy dengan fathah pada posisi
nashab. فِي ال َدّا ِر: jar dan majrur yang keduanya terkait dengan khabarnya yang dihapus.
َ َو لَا امْرَأَة: wawu ( )الوَاوhuruf 'athaf, لَا: nafiyah lil jinsi , َا ْمرَأَة: isim َلاmabniy dengan fathah,
khabarnya dihapus, yaitu: َو َلا امْرَأََة فِي ال َدّار
Kedua: Membatalkan amal َلا: amal لَاdiabaikan, isim setelahnya dirafa'kan.
Contoh: لَا رَجلٌ فِي ال َدّارِ َو َلا ا ْمرَأٌَة.
I'rabnya: ٌ رَجل:Laa ()َلا: nafiyah lil jinsi mulghah (dibatalkan amalnya), رَج ٌل: mubtada'
marfu'. ِفِي ال َدّار: jar dan majrur yang keduanya terkait dengan khabar mubtada'nya yang
dihapus, ٌ َو لَا ا ْمرَأَة: wawu ( )الوَاوhuruf 'athaf, َلا: nafiyah lil jinsi yang diabaikan, امْرَأٌَة:
mubtada' marfu', khabarnya dihapus taqdirnya ِفي ال َدّا ِر.
Pada alqur'an, amal ( )لَاnafiyah lil jinsi ini sungguh telah diamalkan juga diabaikan.
Contoh firman Allah Ta’ala yang mengamalkannya:
﴾ ّ( ﴿ َفَلا َرَفثَ َولَا فُسوْ َق ٔ َولَا جِ َدالَ فِى اْلحَ ِجmaka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat
maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji) (1).
Dan yang mengabaikannya dalam firman Allah Ta’ala:
﴾ ( ﴿ َّلا بَيْع ِفيْهِ وََلا خَلٌّة َّوَلا َشفَاعٌَةtidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak
ada lagi syafaat) (2).
__________________________
(1) QS Al-Baqarah ayat 197 (2) QS Al-Baqarah ayat 254
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
Pemilik (Pengarang) kitab Al-Kawakib telah berkata: « Kebanyakan khabar لَاyang dihapus
adalah لَاbersama » ِإَلّا،contoh: ﴾ ﴿ لَا إِلََه ِإَلّا الَّلهdan taqdirnya لَا ِإَلهَ ِفي اْلوجوْ ِد ِإَلّا الَلّهatau لَا ِإلََه ِفي َموْجوْدٍ إَِلّا الَلّه
(Tidak ada ilah pada wujudnya kecuali Allah)...cukup....
Syaikh bin Baz rahimahullah berkata « Taqdir (perkiraan) khabar dengan kata ( )ِفي اْلوجوْدtidak
benar... Kecuali dengan taqdir khabar apa yang telah disebutkan oleh para ahli ilmu nahwu
yaitu kata ( ; ) َحقkarena ia yang memperjelas pembatalan seluruh ilah (sesembahan)...cukup...
penjelasan atas Syarah Aththahawiyah bab 1 halaman 74 dengan tahqiq oleh Syu'aib
Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata: Barangkali image perkataan ini dengan wihdatul
wujud. cukup... Syarah Al-Ajurrumiyyah halaman 367
Isim-isim yang Manshub Halaman 176
Kesembilan: Munada
Sang Pengarang berkata pada bab munada/panggilan : Munada terdiri dari lima
macam, yaitu : isim alam kata tunggal, isim nakirah yang ditentukan (nakirah
maqshudhah), isim nakirah yang tidak ditentukan (nakirah ghairu maqshudah) ,
mudhaf, dan yang menyerupai mudhaf. Untuk isim alam kata tunggal dan nakirah
maqshudah, maka keduanya didhammahkan tanpa tanwin, contoh : ( َيا َزيدwahai Zaid)
dan ُ( َيا رَجلwahai seorang laki laki). dan ketiga jenis lainnya dimanshubkan tanpa
terkecuali.
Penjelasan: gaya bahasa panggilan adalah bagian dari berbagai gaya bahasa yang
digunakan dalam kalimat sehari-hari, karena sesungguhnya kita sering ingin
memanggil seseorang untuk menyuruh atau meminta sesuatu perkara, maka kita
memanggilnya dengan namanya, contoh: ( يَا َزيْدwahai Zaid), atau kita memanggil
dengan salah satu sifat dari bermacam sifatnya, maka kita katakan: ُ( يَا رَجلwahai
lelaki).
Dan unsur panggilan ini dibedakan menjadi 2 hal:
Pertama: Huruf Panggilan: Huruf nida adalah hamzah, dan َأ ْي, dan يَا, dan ( َأَيا1).
Yang kedua: Munada : Munada adalah nama yang dipanggil kehadirannya dengan
adanya salah satu huruf nida.
Munada - yang jika dilihat dari pembentukan i'rabnya, ada 2 jenis - mabniy dan
mu'rab.
Pertama: Mabniy: terdiri dari 2 macam:
A. Isim 'Alam Kata Tunggal
Definisinya: merupakan yang bukan mudhaf dan yang tidak menyerupai mudhaf.
Contohnya: firman Allah Ta’ala : ﴾ ( ﴿ َٰيئَا َدمwahai Adam), dan firman-Nya : ﴾ ﴿ يَٰمَرْيَم
(wahai Maryam).
I'rabnya: يَا آدَم: huruf يَا: huruf panggilan, dan آدَم: munada, mabniy atas dhammah
karena merupakan isim 'alam kata tunggal.
B. Munada nakirah maqshudah
Definisinya : merupakan yang ditentukan dengan panggilan yang spesifik.
Contohnya: sabda Nabi ﷺ: 》َ(》 يَا ُغَلام سَ ِّم اللهwahai anak lelaki, sebutlah (nama)
Allah) (2).
I'rabnya : ياَ ُغلَام: huruf ياmerupakan huruf nida', ُغَلام: munada, mabniy atas
dhammah karena merupakan isim nakirah yang ditentukan.
__________________________
(1) Contoh : ْ( َأزَْيد أْقبَلwahai Zaid, mendekatlah!), ( َأ ْي َر ِّبwahai Rabb), ( يَا الَّلهyaa Allah), ( أَيَا َغافِلًا َتَنَّب ْهwahai
pelanggar, perhatikan!).
(2) Diriwayatkan oleh Umar bin Abu Salamah.
Isim-isim yang Manshub Halaman 177
Kedua : Munada yang Mu'rab : dan dia ada tiga macam :
A. Nakirah ghairu maqshudah
Definisinya : merupakan objek yabg dipanggil yang tidak ditentukan dengan
panggilannya yang spesifik, tetapi mencakup semua individu yang mengarah
kepadanya.
Contohnya : Perkataan pengkhutbah : ( يَا غَاِفلًا تَنََبّ ْهwahai pelanggar, perhatikan!).
I'rabnya : يَا غَاِفًلا, huruf يَاadalah huruf nidaa, غَاِفلًاmunada, manshub karena isim
nakirah yang tidak ditentukan.
B. Munada Mudhaf :
Definisinya : merupakan yang disebutkan dari susunan kata dan kata kedua
senantiasa majrur.
Contohnya : firman Allah Ta’ala : ﴾ ( ﴿ يَا أَ ْه َل الكَِتا ِبwahai ahli kitab)(1) dan ﴾ ﴿ يَا َقوْ َمَنآ
(wahai kaum kami) (2).
I'rabnya : يَاhuruf nida, أَ ْه َل: munada, manshub, karena sebagai mudhof, ِ الكِتَاب:
mudhaf ilaih.
C - Munada Syibhul Mudhaf (menyerupai mudhaf)
Definisinya : merupakan munada yang berupa lafal yang membutuhkan kata
lainnya agar sempurna maknanya. (3)
Contohnya : َ( َيا َطاِلعًا الجَبَلwahai pendaki gunung).
I’rabnya : يَا: huruf nida' , طَاِلعًا: munada manshub, karena menyerupai mudhaf dan
dia adalah isim fa'il yang beramal seperti amal fi'ilnya. Seakan-akan anda
mengatakan : ( يطلع الجبلdia sedang mendaki gunung), َالجبل: maf'ul bih manshub. *
__________________________
(1) QS Ali Imran ayat 24
(2) QS Al-Ahqaf ayat 31
(3) Dilihat di syarah Qathru an-Nada hal 282.
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Tidak terdapat nida' didalam Al Quran selain ya' ( )َياdari berbagai adat. Mughniy Al Labiib
hal. 181.
2. Pembuangan huruf nida' itu sering terjadi dan disetujui dalam bahasa Arab, dan seperti
pada firman Allah Ta’ala : ﴾ (( ﴿ ي ْوسف أَعْ ِرضْ عَنْ هَٰ َذاhai) Yusuf, berpalinglah dari ini), dan
firman-Nya : ﴾(( ﴿رَ ِّب ا ْغفِ ْرِلىwahai) Tuhanku, ampunilah saya). Artinya : يَا ي ْوسف, dan ّ يَا رَ ِب,
maka ia merupakan munada yang bersandar pada ya' mutakallim. Dilihat di kitab Jaami'
Ad-duruus (3/514).
Isim-isim yang Manshub Halaman 178
__________________________
3. Munada tidak akan terbentuk kecuali oleh isim, maka apabila yang mengikuti huruf
nidanya berupa huruf seperti pada firman-Nya Ta’ala : ﴾( ﴿يَٰلَيْتَ َق ْوِمى َي ْعَلم ْو َنalangkah
baiknya sekiranya kaumku mengetahui), atau berupa fi'il seperti pada contoh
perkataanmu : ( يَا رَ َعا َك اللهsemoga Allah melindungimu), maka huruf ( )ياtersebut tidak
dipandang sebagai panggilan, dan ini adalah pandangan mayoritas. Dan pertimbangan
Abu Hayyan dan Ibnu Malik, dan disebutkan : sesungguhnya munada terhapuskan dan
ditetapkan pada setiap kalimat yang sesuai, dan Allah maha mengetahui. Dilihat di
Syudzur adz-Dzahab hal (18), dan catatan-catatan pada Uslub Al-Qur'an (3/569).
4. Terdapat banyak jenis munada didalam Al-Qur'an al-Karim, yaitu munada mudhaf dan
juga munada isim alam, dan juga terdapat munada nakirah maqshudah didalam
firman Allah Ta’ala: ﴾ُ( ﴿ َو يَاسَمَآءdan wahai langit), dan ﴾( ﴿يَاأَ ْرضwahai bumi), ﴾ُ﴿َياجِبَال
(wahai gunung), ﴾( ﴿ يَانَارwahai neraka), dan ﴾( ﴿يَا بشْ َرىoh kabar gembira). Kemudian
terdapat pula dengan panggilan (ّ )َأ ُيdalam kebanyakan ayat, contoh : ﴾( ﴿يَا َأُّيهَاالَنّاسwahai
manusia) dan ia adalah panggilan pertama didalam Al-Qur'an al-Karim, maka kata ّأَ ُي
: munada nakirah maqshudah, dan huruf ha : untuk perhatian, dan َالَنّاسna'at atau badal.
Dan adapun munada nakirah ghairu maqsudah dan munada yang menyerupai
mudhaf, keduanya tidak disebutkan dalam al-Qur'an al-Karim kecuali pada satu ayat
yang berkemungkinan sebagai mereka ataupun tidak, dan ayat itu berada di firman
Allah Ta’ala: ﴾( ﴿ يَا َحسْ َرةً َعَلى الِْعبَا ِدalangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba
itu). Sungguh dikatakan bahwa munada disitu dihilangkan, dan perkiraan : يَا هَؤلَاءِ تَ ْحسِروْا
ً( َحسْرَةwahai (kalian yang) menyesal sebenar-benarnya), maka di kalimat tersebut ًحَسْ َرة
adalah maf'ul mutlaq. Dilihat di : catatan-catatan Uslub Al-Qur'an (bab 3 halaman 522-
523).
Isim-isim yang Manshub Halaman 181
Kesepuluh: Maf'ul li Ajlih / min Ajlih
Maf’ul min ajlih termasuk isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan
sebab-sebab terjadinya suatu perbuatan. Contohnya :
َقاَم َزيْد إِ ْجلَالًا لِعَ ْم ٍروZaid telah berdiri untuk memuliakan ‘Amr
َقَصَدْتكَ ِابْتَِغاَء مَ ْعروِفك. Saya mendekatimu karena mengharapkan kebaikanmu
Penjelasan: Maf'ul li Ajlih/min Ajlih (1)
Definisi: Yaitu isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sebab-sebab
terjadinya suatu
Contoh: ِ( )َقا َم زَيْد إِ ْجَلالًا ِلَلّه2) dan ( قَصَ ْدت َك ابْتِغَاءَ مَعْر ْوِف َك3)
I'rabnya: إِ ْجلَالًا: maf'ul min ajlih manshub, disebutkan untuk menjelaskan sebab
terjadinya fi'il yaitu ( اْلِقَيامberdiri). َ ابْتَِغاء: maf'ul min ajlih manshub, disebutkan untuk
menjelaskan sebab terjadinya fi'il yang sebelumnya yaitu ( اْلقَصْدmendekat)
Tanda maf'ul min ajlih: Untuk membuktikan/membenarkan terjadinya sebagai
jawaban pertanyaan: َ( لِمuntuk apa?)
Misal anda katakan: ِ( ِجئْت رَ ْغبَةً فِي اْلِعلْمsaya datang karena meninginkan ilmu), maka ()رَغْبًَة:
maf'ul min ajlih; karena ia membenarkan terjadinya fi'il sebagai jawaban pertanyaan:
"( لِ َم جِْئ َتuntuk apa kamu datang?).
Contoh maf'ul min ajlih dalam al-Qur'an al-Karim, firman Allah Ta’ala: ﴾ ّوَ لَا تمْسِ ُكوْه َن
( ﴿ ضِرَارًاJanganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan) (4) dan ﴾ َينْفُِق ْون
( ﴿ أَ ْموَاَلهم ابْتِغَآءَ مَرْضَا ِت الَلِّهmereka yang menginfaqkan harta mereka untuk mencari
keridhaan Allah) (5).
__________________________
(1) Lafadz maf'ul min ajlih harus dari fi'il tersebut, maka jika kau katakan: ( ضَرَبَ اْلوَالِد ابَْنهayah
telah memukul anaknya), sungguh yang mendengar ucapan tersebut tidak mengetahui
sebab/alasan dilakukannya pemukulan. Jika kita ingin mengetahui alasannya, maka kita
katakan: " َتأْدِيْبًا/ sebagai pelajaran" yakni ( ِلأَجْ ِل الَّتأْدِْي ِبkarena alasan pengajaran), maka َتأْ ِديْبًا
dinamakan maf'ul min ajlih.
(2) Kalimat َقاَم زَيْد: fi'il dan fa'il, إِ ْجلَاًلا: maf'ul min ajlih, ِ لَِلّه: jar dan majrur yang terkait dengan
إِجْلَالًا. (demikian yang dikatakan Al-Azhary)
(3) Kalimat َ قَصَدْتك: Fi'il, fa'il dan maf'ul bih, َ اِْبِتَغاء: maf'ul min ajlih manshub, dan dia mudhaf
(dan telah diketahui bahwa mudhaf ilaih itu majrur), Kaaf (َ )ك: dhamir muttashil mabniy
pada posisi jar sebagai mudhaf ilaih.
(4) QS Al-Baqarah ayat 231 (5) QS Al-Baqarah ayat 265
* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1- Maf'ul li ajlih/min ajlih harus dalam bentuk mashdar akan tetapi tidak semua mashdar itu
bisa menjadi maf'ul li ajlih/min ajlih, dan umumnya yang sesuai itu adalah mashdar yang
bermakna perbuatan hati atau perasaan dan kesadaran =
Isim-isim yang Manshub Halaman 182
__________________________
= contoh: ( َخوْفًاtakut), ( طَ َمعًاserakah), ( َاعْتِ َرافًاpengakuan), ً( رَ ْحمَةkasih sayang), ً( خَ ْشيَةkhawatir), حزْنًا
(sedih) dan ( إِعْجَابًاkagum), ... dan sebagainya.
Dan mashdar tidak dipakai sebagai maf'ul min ajlih, seperti: ( جُل ْوسًاduduk), ( قَِيامًاberdiri),
( َ ِكتَابًاmenulis) dan ( قِرَاءًَةmembaca) ... dan sebagainya.
Dilihat di Kitab Jami'u addurus bab 3 halaman 40.
2. Perbedaan antara Haal dengan Maf'ul min ajlih:
• Haal menggunakan kata sifat. Maf'ul min ajlih menggunakan mashdar.
• Haal menjelaskan sikap/keadaan, Maf'ul min ajlih menjelaskan sebab/alasan
dilakukannya pekerjaan.
• Haal menyatakan keberadaan (keadaan fisik), Maf'ul min ajlih menyatakan
keadaan hati (alasan)
Perbedaan antara Tamyiz dan Maf'ul min ajlih:
• Tamyiz menggunakan isim jamid, Maf'ul min ajlih menggunakan mashdar.
• Tamyiz dikira-kira denganْ ِ( مِن/dari ), Maf'ul min ajlih dikira-kira dengan laam () ِل,
contohnya:
تَ َص َّدَقت بِصَاعٍ َتمْرًا. yakni ( مِنْ تَمْرsaya bersadaqah dengan satu sha' kurma)
َوز ْرت َك اِ ْط ِمْئنَانًاyakni : ِللِْا ْطمَِئنَا ِن. (saya mengunjungimu untuk kedamaian).
Isim-isim yang Manshub Halaman 184
Sebelas: Maf’ul Ma’ah
Sang Pengarang berkata dalam bab maf'ul ma'ah/ keterangan penyertaan: maf'ul
ma'ah adalah isim, manshub, yang disebutkan ; sebagai penjelasan mengenai siapa
yang menyertai saat suatu pekerjaan dilakukan, contoh pada perkataanmu: َجَاءَ الأَمِيْر و
َ( الجَيْشpemimpin datang bersama tentara) ،dan ( اسْتَوَى المَاءُ َو الخَشَبَةair mengalir bersama
kayu).
Penjelasan: Maf'ul Ma'ah (1)
Definisinya: Ia adalah isim, manshub, yang disebutkan, sebagai penjelasan mengenai
siapa yang menyertai saat suatu pekerjaan dilakukan.
Contohnya : sabda Nabi ﷺ: 》َ(》بعِثْت َو ال َسّاعَةsaya diutus dan waktu) (2), berarti :
bersama waktu.
I'rabnya : بعِثْت: fi'il dan naibul fa'il. َ َو ال َسّاعَة: wawu : wawu maiyah, َ ال َسّاعَة: maf'ul ma'ah,
manshub, yang disebut untuk menjelaskan siapa yang menemani Nabi ﷺpada
pengutusan.
Macam-macamnya : maf'ul ma'ah dibedakan atas dua jenis:
1 - Yang diwajibkan nashabnya sebagai maf'ul ma'ah :
Yaitu maf'ul ma'ah yang tidak menunjukkan kebersamaan (kepada isim) sebelum
wawu didalam hukumnya, contoh : َ( سَ ِه َر زَيْد وَالْكِتابZaid berjaga malam dan buku),
maksudnya : bersama buku, maka kata الكِتَا َبmerupakan maf'ul ma'ah yang wajib
manshub; karena tidak menunjukkan kebersamaannya bagi Zaid dalam 'berjaga
malam', maknanya bukanlah: Zaid berjaga malam dan buku berjaga malam. Pada
jenis ini, sang Pengarang menyebutkan : َ( اسْتَوَى المَاءُ وَالخَشَبَةair telah menjadi setara dan
kayu) (3), artinya: bersama kayu, maka 'menjadi setara' disini bermakna naik. (4)
__________________________
(1) Jika anda berkata : ( اِسَْتيْ َق َظ زَيْد َو َع ْمروZaid dan Amr bangun), maka pendengar memahaminya bahwa
mereka bangun bersama-sama, maka wawu disitu huruf 'athaf/kata sambung, bermakna bersekutu
dalam perbuatan, dan Amir sebagai ma'thuf/mengikut ke Zaid.
Tetapi jika anda berkata : َ( اِ ْسَتْيقَ َظ َزْيد َو الفَ ْجرZaid telah bangun dan waktu fajar), maka pendengar
memahaminya bahwa hanya Zaid yang telah bangun, sementara wawu ma'iyyah menandakan
semata-mata kebersamaan, karena sesungguhnya 'waktu fajar' tidak bersekutu dengan Zaid dalam
hal 'bangun'. Maka artinya Zaid telah bangun bersama terbitnya fajar. Oleh karena itu, padanan ini
disebut maf'ul ma'ah yang wajib nashab.
(2) Diriwayatkan oleh Bukhori, dengan lafadz dari Muslim, hadits dari Sahl bin Sa'ad.
(3) [I'rab] ا ْسَت َوى: fi'il madhi, mabniy atas fathah muqaddar. الَماَء: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah
dhammah dzahir. َو الجَشَبَة: wawu (َ )وadalah wawu ma'iyyah, الخَشََبَة: maf'ul ma'ah, manshub dan tanda
nashabnya adalah fathah dzahir.
(4) Yaitu : Naiknya air yang terhubung dengan kayu sampai ia mencapai akhir kayu tersebut. Dan
kayu adalah kriteria yang ditetapkan yang dikenal oleh orang-orang Mesir, sebagai ukuran
meningkatnya air pada periode kenaikan sungai Nil. Catatan kaki dari Ibn Al-Haj, halaman 129.
Isim-isim yang Manshub Halaman 185
2. Yang dibolehkan nashabnya sebagai maf'ul ma'ah :
Yaitu maf'ul ma'ah yang menunjukkan kebersamaan (kepada isim) sebelum
wawu di dalam hukumnya, contoh : ( َسهِ َر َزيْد َو َعلِ ًّيًَُّاZaid telah berjaga malam, dan Ali),
maksudnya : ّ( َس ِهرَ زَيْد مَ َع َعلِ ٍيZaid telah berjaga malam bersama Ali).
Dan yang dibolehkan rafa'nya karena ia ma'thuf dengan yang diutarakan
sebelumnya, seperti anda katakan: َس ِه َر زَيْد وَ عَِلي, maksudnya : ( َسهِ َر َزيْد َو َسهِ َر َعلِيZaid telah
berjaga malam dan Ali telah berjaga malam). Wawu pada saat itu menjadi athaf/kata
sambung, dan dalam keadaan ini posisinya sebagai athaf menjadi yang utama karena
itulah bentuk asalnya. Dan untuk menunjukkan jenis maf'ul ma'ah ini, perkataan sang
Pengarang : َ( َجاَء الأَمِْير َو الَجيْشpemimpin telah datang bersama tentara) (1).
Apabila anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan keduanya, maka
bentuk rafa' yang benar, oleh karena itu anda katakan : ( جَاءَ ْالَأمِْير وَ الْجَيْشpemimpin dan
tentara telah datang). Dan apabila anda hendak mengabarkan mengenai kedatangan
seorang pemimpin dan tentara bersamanya, maka bentuk nashab yang benar, oleh
karena itu anda katakan : ( جَاَء ْالَأمِْير َو الْجَيْ َشpemimpin telah datang bersama tentara).
Bentuk Isim-isim Manshub Lainnya :
Telah berkata sang Pengarang : dan adapun khabar كَا َنdan yang semisalnya serta
isim إِ َّنdan yang semisalnya telah disebutkan penjelasan keduanya pada pembahasan
isim-isim yang marfu, dan begitu juga dengan tawabi' (kelompok i'rab yang
perubahannya mengikuti kata yang diikuti) telah disebutkan penjelasannya pada
pelajaran sebelumnya.
Penjelasan : termasuk kedalam isim-isim yang manshub : (khabar َ كَانdan yang
semisalnya), (isim ّ ِإ َنdan yang semisalnya), dan taabi' (kata pengikut) pada kata yang
manshub. Penjelasan materi ini telah disebutkan penjelasannya pada bab-babnya
masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi untuk membahasnya kembali.
__________________________
(1) Kata جَاَء: fi'il madhi, mabny atas fathah dzahir. الَأِميْر: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah
dhammah dzahir diakhirannya. َ وَالْ َجيْش: huruf wawu : wawu ma'iyyah, dan اَلْجَْي َش: maf'ul
ma'ah, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir, dan diperbolehkan bentuk
rafa untuknya : isim ma'thuf pada kata yang dinyatakan sebelumnya dengan
mempertimbangkan wawu sebelumnya sebagai huruf athaf.