The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.sadali.7, 2020-12-22 09:49:36

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

BAHAN AJAR MAPEL NAHWU KLS 7 SMST 2 2020

Mu’rab dengan Harakat Halaman 41

Ketiga : Jamak Muannats Salim

Definisi: Yaitu adanya tambahan huruf alif dan ta’ pada mufradnya. (1)

Hukumnya: Rafa’ dengan dhammah, nashab dan jarnya dengan kasrah.
Contohnya: ‫ سَمَوَات‬- ‫ زَينَبَات‬- ‫المُؤمِنَات‬
Contoh jamak muannats salim marfu’, firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿إِذَاجَآءَكَ المُؤْمِنَات‬2)
Maka ‫ المُؤْمِنَات‬: jamak muannats salim marfu’ karena ia fa’il dan tanda rafa’nya adalah

dhammah dzahir pada akhirnya.
Contoh jamak muannats salim manshub, firman Allah Ta’ala: ﴾ ِ‫( ﴿إِذَا نَكَحْتم المُؤْمِنَات‬3)
Maka ِ‫ المُؤْمِنَات‬: jamak muannats salim manshub karena ia maf’ul bih dan tanda

nashabnya adalah kasrah dzahir pada akhirnya.
Contoh jamak muannats salim majrur, firman Allah Ta’ala: ﴾‫( ﴿وَقُلْ ِلّلْمؤْمِنَا ِت‬4)
Maka ‫ المُؤْمِنَات‬: isim majrur karena ia didahului dengan huruf jar yaitu Lam, dan tanda
jarnya adalah kasrah dzahir. 

__________________________

(1) Kitab al-Hudud an-Nahwiyah, hal 281
(2) QS al-Mumtahanah ayat 12. ‫ إِذَا‬: dzaraf zaman, َ‫ جَاءَك‬: ‫جَاء‬: fi’il madhi mabniy dengan fathah.

Huruf kaf: dhamir muttashil mabniy dengan fathah, pada posisi nashab maf’ul bih
muqaddam. ‫ المُؤمِنَات‬: Fa’il muakhkhar marfu’ dan tanda rafa’nya dhammah dzahir di akhirnya.
(3) QS al-Ahzab ayat 49. ‫ إذَا‬: dzaraf zaman, ‫ نَكَحتم‬: fi’il madhi mabniy dengan sukun, dan ta
adalah dhamir mabniy dengan dhammah pada posisi rafa’, fa’il. Mim: tanda bagi jamak
mudzakkar. ٌ‫ ال ُم ْؤ ِمنَا ِت‬: maf’ul bih manshub dan tanda nashabnya adalah kasrah sebagai
ganti dari fathah karena ia adalah jamak muannats salim.
(4) QS Nuur ayat 31. ٌ‫ قُ ْل‬: fi’il amr mabniy dengan sukun, fa’ilnya dhamir tersembunyi secara
wajib taqdirnya َ‫أَنت‬. ِ‫ لِلمؤمِنَات‬: Lam - huruf jar; ِ‫ المُؤمِنَات‬isim majrur dengan lam dan tanda
jarnya adalah kasrah dzahir di akhirnya.

 Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Jamak ini dinamakan dengan salim karena selamatnya struktur mufradnya dari
perubahan secara umum. Dilihat dari syarah al-Azhari atas kitab al-Ajurrumiyyah.
2. Ibnu Malik berkata dalam kitab Alfiyahnya:
“‫ يكْسَر ِفي اْلجَ َّرِ َوِفي الّنَ ْص ِب َمعَا‬¤ ‫” َومَا بَِتـــا وََألِــفٍ َقــ ْد جمِــعَا‬
Dan apa yang dijamak dengan tambahan alif dan ta’ (maksudnya : jamak muannats
salim), ia dikasrahkan ketika jar dan juga ketika nashab.
3. Yang berikut ini bukan jamak muannats salim: ‫ َأصوَات‬- ‫ أَوقَات‬- ‫ َأَبيَات‬karena huruf ta’nya
asli ada pada mufradnya.
Aslinya: ‫ وَقت – َصوت‬- ‫بَيت‬, Sedangkan ta’ jamak muannats salim hanyalah tambahan.
Dilihat di kitab Qathru an-Nada halaman 69.

Mu’rab dengan Harakat Halaman 43

Keempat : Fi’il Mudhari’

Dii’rabnya fi’il mudhari’ dengan harakat apa bila fi’il mudhari’nya tidak bersambung
akhirnya dengan sesuatupun.

 Dirafa’kan dengan dhammah jika tidak masuk padanya penashab atau penjazm.
Contoh, firman Allah Ta’ala: ﴾ْ‫( ﴿يَغْفِراللٰه لَكُم‬Allah mengampuni) (1)

 Dinashabkan dengan fathah bila masuk padanya penashab. Contoh, firman Allah
Ta’ala: ﴾‫( ﴿لَنْ يَغْفِرَ اللٰه لَهم‬Kamu tidak memintakan ampun bagi mereka) (2)

 Dijazmkan dengan sukun apa bila masuk padanya penjazm. Contoh, firman Allah
Ta’ala: ﴾ْ‫( ﴿وَإِنْ تَغْفِرْ لَهم‬dan jika Anda mengampuni mereka) (3)

 Keluar dari hukum ini mudhari’ mu’tal akhir majzum, maka ia dijazmkan
dengan hapus huruf ‘illat (alif atau wawu atau ya’). Contoh : ‫ لَم‬- ‫ لَم يَدع‬- َ‫لَم يَسْع‬
ِ‫( يَمش‬4)

 Keluar dari hukum ini juga mudhari’ apabila bersambung padanya alif

tatsniyah atau wawu jamak atau ya’ mukhathabah, maka ia dii’rab dengan

huruf sebagaimana akan dijelaskan nanti, in syaa Allah.
 Keluar dari hukum ini juga mudhari’ apabila bersambung dengannya nun

taukid atau nun inats (nun niswah), maka ia mabniy sebagaimana akan

dijelaskan nanti, in syaa Allah, pada bab “Fi’il”.
__________________________

(1) QS Yusuf ayat 92
Yaghfiru (‫)َيغفِر‬: fi’il mudhari’ marfu’ dan tanda rafa’nya dhammah dzahir di akhirnya.
AllahU (‫)الَلّه‬: lafadz aljalaalah, fa’il marfu’ dan tanda rafa’nya dhammah.
Lakum (ْ‫)َل ُكم‬: Lam, huruf jar; Kaaf, dhamir muttashil mabniy dengan dhammah pada

posisi jar dengan huruf jar.

(2) QS Munafiquun ayat 6.
Lan yaghfira(َ‫ ;)لَن يَغفِر‬Lan, huruf nashab; Yaghfira (‫)يَغفِ َر‬, fi’il mudhari’ manshub dengan ‫لَن‬
dan tanda nashabnya adalah fathah; Allahu (‫)الَلّه‬, lafadz aljalaalah, fa’il marfu‘ dan tanda
rafa’nya dhammah; Lahum (‫ ;)لَهم‬lam, huruf jar; ha’, dhamir muttashil mabniy dengan

dhammah pada posisi jar dengan huruf jar.

(3) QS Al-Maidah ayat 118.
Wa in taghfir (‫ ) َو ِإ ْن َتغفِر‬Wa in (ْ‫ ;)وَ ِإن‬wawu: tergantung apa yang sebelumnya; ْ‫ِإن‬, huruf syarat

dan jazm;
Taghfir (‫)تَغِفر‬, fi’il mudhari’ fi’il syarat majzum dengan ‫ ِإ ْن‬dan tanda jazmnya sukun, dan
fa’ilnya dhamir mustatir wujuban, taqdirnya َ‫ َأنت‬.Lahum (‫ ;)لَهم‬lam, huruf jar; HA’: dhamir

muttashil mabniy dengan dhammah [pada posisi jar dengan huruf jar.
(4) Lam yas’a (َ‫)َلم يَسْع‬

Lam, huruf jazm; yas’a, fi’il mudhari’ majzum dengan (ْ‫ )لَم‬dan tanda jazmnya buang

huruf ‘illah yaitu alif, dan harakat fathah (pada huruf ‘ain) itu petunjuknya.

Mu’rab dengan Huruf Halaman 44

Mu’rab dengan Huruf

Berkata al-Mushannif :
Yang dii'rabkan dengan huruf ada empat jenis, yaitu tatsniyyah, jamak mudzakkar
salim, isim-isim yang lima, dan fi'il-fi'il yang lima seperti ِ‫َيفْعَلاَن‬, dan ِ‫تَ ْفعَلاَن‬, dan ‫يَ ْفَعُل ْو َن‬, dan
َ‫تَ ْفَعُلوْن‬, serta ‫تَفَْعلِْي َن‬.

Perihal tatsniyyah : dirafa'kan dengan alif, dinashabkan dan dijarkan dengan ya.

Dan perihal jamak mudzakkar salim : dirafa'kan dengan wawu, dinashabkan dan
dijarkan dengan ya.

Dan perihal isim-isim yang lima : dirafa'kan dengan wawu, dinashabkan dengan alif,
dan dijarkan dengan ya.

Dan perihal fi'il-fi'il yang lima : dirafa'kan dengan nun, dinashabkan dan dijazmkan
dengan pembuangan huruf.

Penjelasan :
Setelah anda mengenal berbagai mu'rab dengan harakat, selanjutnya adalah
mengidentifikasi berbagai mu'rab dengan huruf.

Keempat Jenis Mu'rab dengan Huruf

Macam-macam mu'rab dengan Pada Kedudukan
Huruf
Rafa Nashab Jar Jazm
1. Mutsanna Alif
2. Jamak Mudzakkar salim Wawu Ya Ya Buang
3. Isim-isim yang lima Wawu Ya Ya Nun
Alif Ya
4. Fi'il-fi'il yang lima Nun Buang
Nun

Mu’rab dengan Huruf Halaman 45

Pertama : Mutsanna

Definisinya: Dia menunjukkan jumlah dua/ganda baik mudzakkar maupun

muannats dengan penambahan alif dan nun atau ya dan nun terhadap bentuk

mufradnya. (1)
Contohnya: Dua lelaki (‫ رَجلَا ِن‬dan ‫)رَجلَْي ِن‬, dua perempuan (ِ‫ ا ْمرَأَتَان‬dan ‫)اِ ْمرََأتَْي ِن‬, dan dua buku
(ِ‫ ِكتَابَان‬dan ِ‫) ِكَتاَبيْن‬.

Hukumnya : dirafa'kan dengan alif ; dinashabkan dan dijarkan dengan ya.
Contoh mutsanna marfu' : Firman Allah Ta’ala : ‫( َقالَ رَجَلا ِن‬telah berkata dua orang
lelaki)(2). Maka ِ‫ رَجلَان‬adalah mutsanna marfu', karena dia sebagai fa'il, dan tanda
rafa'nya alif (‫ )ا‬sebagai ganti dari dhammah.
Contoh mutsanna manshub: Firman Allah Ta’ala : ِ‫( َفوَجَ َد ِفْيهَا رَجلَْين‬mereka menemukan
didalamnya dua orang lelaki) (3). Maka ‫ رَجلَيْ ِن‬adalah mutsanna manshub, karena dia
sebagai maf'ul bih, dan tanda nashabnya ya (‫ )ي‬sebagai ganti dari fathah. *
Contoh mutsanna majrur: Firman Allah Ta’ala : ِ‫( يَمْشِى َعلَى رِ ْجَليْن‬dua orang lelaki sedang
berjalan) (4). Maka ِ‫ رِ ْجَليْن‬mutsanna majrur karena dia didahului oleh huruf jar, dan
tanda jar nya adalah ya (‫ )ي‬sebagai ganti dari kasrah.
__________________________

(1) Dan penambahan ini mencukupi kebutuhan terhadap wawu athaf dan pengulangan
isim, maka perubahan dari perkataan : ‫ جَاَء َزيْد َوزَيْد‬menjadi ِ‫جَاَء ال َّزْيدَان‬, ini lebih ringkas dan

lebih baik.
(2) QS Al-Maidah ayat 23. َ‫ قَال‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah; dan ‫رَجَلا ِن‬: fa'il marfu' dan

tanda rafa'nya adalah alif sebagai ganti dari dhammah karena dia mutsanna.
(3) QS Al-Qoshosh ayat 15. ‫َفوَجَ َد‬: huruf ‫ َف‬: tergantung apa yang sebelumnya, َ‫ َوجَد‬: fi'il madhi,

mabniy atas fathah, dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir yang tersembunyi taqdirnya
َ‫هو‬, dan ‫ِفيْهَا‬, kata ‫ ِفي‬adalah huruf jar, dan ‫ هَا‬dhamir pada kedudukan jar. ِ‫ َرجلَْين‬: maf'ul bih,
manshub, dan tanda nashabnya adalah ya (‫ )ي‬sebagai ganti dari fathah karena dia

mutsanna.
(4) QS An Nur ayat 34. ‫ َيمْ ِشي‬: Fi’il mudhari' marfu', dan tanda rafa'nya dhammah muqaddarah

yang terhalang penampakan (dhammah) karena berat diucapkan. Dan fa'il : dhamir
mustatir yang tersembunyi taqdirnya ‫ه َو‬. Frasa ِ‫ َعلَى رِجَْليْن‬: maka ‫ عََلى‬adalah huruf jar, dan
‫ رِ ْجلَيْ ِن‬adalah isim majrur dengan ‫ عََلى‬dan tanda jarnya adalah ya karena dia mutsanna.

* Faedah : Nun yang ada pada mutsanna dan jamak mudzakkar salim adalah sebagai ganti

atas tanwin yang terdapat pada isim mufrad, dan nun ini menjadi kasrah pada mutsanna

; menjadi fathah pada jamak. Ibnu Malik berkata:
✓ Fathahkanlah harakat 'nun' pada kalimat yang dijamak (mudzakkar salim) dan mulhaqnya!
✓ Ada segelintir orang yang bercakap-cakap dengan mengkasrahkannya.
✓ Adapun 'nun' pada kalimat yang ditatsniyyahkan dan mulhaqnya, adalah terbalik

(harakatnya menjadi kasrah).
✓ Semuanya mengamalkan demikian, maka perhatikanlah!

Mu’rab dengan Huruf Halaman 47

Kedua : Jamak Mudzakkar Salim (¹)

Definisinya : Kata tersebut menunjukkan jumlah lebih dari dua, dengan penambahan huruf

wawu dan nun atau ya dan nun terhadap bentuk mufradnya. (²)
Contohnya: ‫ المُؤمِنو َن‬dan ‫( المُؤمِنِي َن‬para mukmin), ‫ ال َزّيدو َن‬dan ‫( ال َزّيدِي َن‬para Zaid), serta َ‫ ال َصّادِقُون‬dan َ‫ال َصّادِقِين‬

(orang-orang yang jujur).

Hukumnya: dirafa'kan dengan wawu ; dinashabkan dan dijarkan dengan ya.

Contoh jamak mudzakkar salim marfu':
Firman Allah Ta’ala: ﴾َ‫( ﴿ قَدْ اَفْلَحَ المُؤْمِنوْن‬sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman)(3), maka َ‫ المُؤْمِنوْن‬adalah jamak mudzakkar salim, marfu', karena ia fa'il, dan tanda

rafa'nya adalah wawu sebagai ganti dari dhammah.

Contoh jamak mudzakkar salim manshub:
Firman Allah Ta’ala: ﴾َ‫( ﴿ وَبَ ِشّـــرِ المُؤْمِنِيْن‬dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman)
(4), Maka َ‫ المُؤمِنِيْن‬adalah jamak mudzakkar salim, manshub, karena ia maf'ul bih, dan tanda

nashabnya adalah ya' sebagai ganti dari fathah.

Contoh jamak mudzakkar salim majrur :
Firman Allah Ta’ala : ﴾ َ‫( ﴿ رَضِىَ اللٰه عَنِ المُؤْمِنِيْن‬Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin)(5),
Maka َ‫ المُؤمِنِين‬adalah jamak mudzakkar salim, majrur, karena ia didahului huruf jar, dan tanda

jarnya adalah ya sebagai ganti dari kasrah.
__________________________

1) Dinamakan dengan "salim" karena mufradnya selamat dari perubahan ketika jamak, yakni tetap

keadaan aslinya dan hanya ditambahkan padanya huruf wawu dan nun atau ya dan nun ketika
jamak. Disebutkan, pada jamak maka bentuk mufrad (‫ )مسلِم‬menjadi ‫ مسْلِموْ َن‬pada keadaan rafa' , dan
َ‫ مسْلِ ِميْن‬pada keadaan nashab dan jar.

2) Tambahan ini (wawu dan nun, ya dan nun) mencukupi pada kebutuhan akan wawu 'athaf dan
pengulangan isim, maka sebagai ganti ‫ جَاءَ زَيد وَ زَيد َو زَيد‬, maka dikatakan َ‫( َجاءَ ال َزّيدون‬beberapa Zaid

datang).
3) QS al-Mu'minūn ayat 1. ‫ َق ْد‬huruf tahqiq ; ‫ َأفلَ َح‬: fi'il madhi, mabniy atas fathah ; َ‫ المُؤمِنون‬: fa'il, marfu',

dan tanda rafa'nya adalah wawu sebagai ganti dari dhammah karena ia jamak mudzakkar salim.
4) QS al-Baqarah ayat 223. ‫ بَ ِشّر‬: fi'il amr, mabniy atas sukun, hanya saja dikasrahkan karena bertemunya

dua sukun, fa'ilnya dhamir mustatir wujuban, taqdirnya ‫ المُؤمِنِي َن‬.َ‫ أَنْت‬: maf'ul bih, manshub, dan tanda

nashabnya ya sebagai pengganti dari fathah karena ia jamak mudzakkar salim.
5) QS al-Fath ayat 18. َ‫ رَضِي‬:fi'il madhi, mabniy atas fathah; lafadz jalalah: fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya

adalah dhammah, ْ‫ عَن‬: huruf jar; َ‫ المُؤ ِمنِيْن‬: isim majrur dengan ‫ عَ ْن‬dan tanda jarnya adalah ya sebagai

ganti dari kasrah karena ia jamak mudzakkar salim.

 Faedah faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Tidak dijamakkan menjadi jamak mudzakkar salim kecuali isim-isim yang menunjukkan lelaki
yang berakal. Maka tidak dapat dikatakan ْ‫( َن َص ْحت الِنّسَاء المُتَزَ َّوجِي‬saya menasehati kaum wanita yang
menikah). Tidak juga َ‫( رَفَعْت الكُت َب المَوضوعِيْن‬saya mengangkat buku-buku yang diletakkan). Akan tetapi
dikatakan ‫ الِنّسَاُء المُتَ َز ِوّجَات‬dan ُ‫ال ُكتب الَموْضوْعَة‬
2. Bukan termasuk jamak mudzakkar salim kata berikut: ‫ شَيَاطِيْن‬dan ‫مَسَاكِيْن‬. Keduanya adalah jamak
taksir, karena huruf nun keduanya adalah asli yang memang terdapat pada mufradnya yaitu ُ‫ َشيْطَان‬dan
‫مِسْكِيْن‬. Nun pada jamak mudzakkar salim pasti merupakan tambahan yang diberikan, seperti pada
firman Allah Ta’ala: ﴾‫( ﴿ إَِّنمَا ال َّصدَقَات لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا‬sedekah hanyalah untuk kaum faqir, kaum

miskin dan para 'amilnya). Halaman 49

Mu’rab dengan Huruf

Ketiga : Isim-Isim yang Lima

Definisinya: Isim-isim yang lima adalah ‫( أَبو َك‬ayahmu), َ‫( أَخوك‬saudara lelakimu), َ‫حَموك‬
(iparmu), ‫( ُفوك‬mulutmu) dan ‫( ذُو مَا ٍل‬yang memiliki harta).
Hukumnya: dirafa'kan dengan wawu, dinashabkan dengan alif, dijarkan dengan ya.

Mu’rab dengan wawu ketika rafa': contoh firman Allah Ta’ala:
﴾ْ‫(﴿ قَالَــــــــ أَبوْهْم‬1) , ﴾ْ‫(﴿ قَالَ لَهمْ أَخوْهم‬2), dan ﴾ٍ‫(﴿ لِينْفِقْ ذُوْ سَعَة‬3)

Mu’rab dengan alif ketika nashab, contoh pada firman Allah Ta’ala:
﴾‫(﴿ وَنَحْفَظُ أَخَانَا‬4), ﴾ْ‫( ﴿ جَآءُ ْو أَبَاهم‬5), dan ﴾‫(﴿ وَءَاتِ ذَا اَلْقُرْبَي حَ َقّه‬6)

Mu’rab dengan ya ketika jar, contoh pada firman Allah Ta’ala:
﴾ْ‫(﴿ رَجَغوْا إلىَ أَبِيْهِم‬7), ﴾َ‫(﴿ سَنَش ُدّ عَضدَكَ بِأَخِيْك‬8), dan ﴾ ٰ‫(﴿ وَلِذِى الْقُرْبَى‬9)

Ketahuilah bahwa isim-isim yang lima itu tidak dii'rab dengan huruf, kecuali jika
terpenuhi empat syarat, sebagai berikut:

__________________________

(1) QS Yusuf ayat 94 (2) QS asy-Syu'arā ayat 106 (3) QS ath-Thalāq ayat 7
(4) QS Yusuf ayat 16 (5) QS Yusuf ayat 65 (6) QS al-Isra ayat 26
(7) QS Yusuf ayat 63 (8) QS al-Qashash ayat 35 (9) QS al-Anfal ayat 41

 Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting:
1. Kata ‫( الحَمو‬ipar) ; Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‫ الحَم ْو‬adalah

saudaranya istri seseorang, suatu panggilan kepada kerabat istri. Kitab Qathru an-Nada
halaman 62. Anda mengatakan: ‫( جَاءَ حَمو ِك‬iparmu telah datang), ِ‫( َرأَيْت حَمَاك‬saya telah melihat
iparmu),dan ‫( سََلّمت عَلَى حَمِيك‬aku telah memberi salam kepada iparmu). Dilihat di kitab ash-

Shobān bab 1 hal 69.
2. Kata ْ‫( فُو‬mulut), terdapat syarat yaitu tidak boleh yang menggunakan mim ( ‫) الفَم‬. Contoh

: ‫( ُفوْكَ نَظِيْف‬mulutmu bersih), ‫( نَ ِظّفْ فَاك‬bersihkan mulutmu!), dan ‫( نَظَرْت إِلَى ِفيْك‬saya telah melihat

mulutmu).
3. Kata ‫ ذُو‬berarti yang memiliki, tetapi terbatas hanya ‫( ذُوْ مَا ٍل‬pemilik harta), bukan َ‫ذُوْك‬

(pemilikmu) karena kata ‫ ُذ ْو‬tidak diidhafahkan dengan dhamir, tapi dia didhafahkan
dengan isim jenis seperti ‫ المَال‬.

4. Kata yang terletak setelah isim yang lima selalu dii'rab sebagai mudhaf ilaih, sama saja
apakah ia isim dzahir, seperti: ‫( رَضِيَ اللٰه عَنْ أَبِيْ بَكْر‬Allah meridhai Abu Bakar), atau dhamir,
seperti: ‫( سَِلّمْ عَلَى أَبِيْ َك‬berilah salam kepada ayahmu!).

Mu’rab dengan Huruf Halaman 50

Hukum-Hukum I'rab dengan Huruf pada Isim-Isim yang Lima

1. Dalam keadaan mufrad.

Jika ganda/dua, maka ia dii’rab seperti i’rab pada mutsanna.
Contoh : ِ‫( جَاءَ الأَخَوَان‬kedua saudara telah datang), ِ‫( رَأَيْت الأَخَوَيْن‬saya melihat kedua saudara),
dan ‫( وَسََلّمت عَلَى الأَخَوَيْن‬saya memberi salam kepada kedua saudara) (1).

Jika dijamakkan, maka ia dii'rab seperti i’rabnya jamak.
Contoh: ُ‫ ( جَاءَ الآبَاء‬para ayah telah datang), َ‫( رَأَيْت الآبَاء‬saya melihat para ayah), dan ‫سََلّمْت عَلَى الآبَاء‬

(saya memberi salam kepada para ayah) (2).

2. Dalam keadaan mukabbirah (bukan tashghir).
Jika tasghir ( seperti , ‫ َوأُبَي‬،‫ ( كَأُخَي‬, maka dii'rab dengan harakat dzahirah.
Contoh : َ‫( جَاءَ أُخَُيّك‬saudara lelakimu telah datang), َ‫( رَأَيْت أُخََيّك‬saya melihat saudara lelakimu),
َ‫( وَسََلّمْت عَلَى أُخَِيّك‬saya memberi salam kepada saudara lelakimu) (3).

3. Menjadi mudhaf.

Jika tidak dimudhafkan maka dii'rab dengan harakat dzahirah.
Contoh: ‫( جَاءَ أَب‬seorang ayah telah datang), ‫( رَأَيْت أَبًا‬saya telah melihat seorang ayah), ‫سََلّمْت‬
‫( عَلَى أَ ٍب‬saya telah menyalami seorang ayah) (4).

4. Dalam keadaan idhafah kepada selain ya'.
Jika diidhafahkan kepada ya' maka dii'rab dengan harakat muqaddarah, contoh: ْ‫جَاءَ أَخِي‬
(telah datang adik lelaki saya), ْ‫( رَأَيْت أَخِي‬saya telah melihat adik lelaki saya), ْ‫سََلّمْت عَلَى أَخِي‬

(saya telah menyalami adik lelaki saya) (5).
__________________________

(1) Kata ‫ اْلأَخَ َوا ِن‬Pada contoh pertama merupakan fa’ilyang marfu dan tanda rafa' - nya adalah alif. Pada
contoh kedua ِ‫ الْأَخَ َويْن‬merupakan maf'ul bih yang mansub dan tanda nashobnya adalah ya. Pada
contoh ketiga ‫ الْأَخَوَيْ ِن‬merupakan isim majrur dan tanda jar - nya adalah ya.

(2) Kata ُ‫ الَْأبَآء‬Pada contoh pertama merupakan fa’ilyang marfu dan tanda rafanya adalah dhammah
dzahirah. Pada contoh kedua ِ‫ الْأَبَآء‬merupakan maf'ul bih yang mansub dan tanda nashobnya adalah
fathah dzahirah. Pada contoh ketiga ِ‫ الْأَبَآء‬merupakan isim majrur dan tanda jar - nya adalah kasrah

dzahirah.
(3) Kata ‫ َأخَيْ َك‬di contoh pertama merupakan fa'il marfu' dan tanda rafa'nya dhammah dzahir, dan di

contoh kedua merupakan maf'ul bih, manshub dan tanda nashabnya fathah dzahir, dan di contoh

ketiga merupakan isim majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah dzahir, isim majrur dan tanda
jarnya adalah kasrah dzahir. Dan kaf (‫ )ك‬semuanya sebagai dhamir didalam kedudukan jar-

mudhaf ilaih.
(4) Kata ‫ َأب‬pada contoh pertama merupakan fa'il, marfu', dan tanda rafanya adalah dhammah dzahirah.

Pada contoh kedua ِ‫ اْلأَبَآء‬merupakan maf'ul bih, mansub dan tanda nashobnya adalah fathah
dzahirah. Pada contoh ketiga ِ‫ الَْأبَآء‬merupakan isim majrur dan tanda jar - nya adalah kasrah dzahirah.
(5) Kata ْ‫ َأخِي‬pada contoh pertama merupakan fail, marfu dan tanda rafanya adalah dhammah

muqaddarah yang ditakdirkan atas apa yang sebelum ya’ mutakallim karena berebut tempat

dengan harakat yang sesuai. Pada contoh kedua merupakan maf'ul bih, mansub dan tanda

nashobnya adalah fathah muqaddarah; sedangkan pada contoh ketiga merupakan isim majrur dan

tanda jarnya adalah kasrah muqaddarah. Dan huruf ya’ secara keseluruhan sebagai dhamir didalam

kedudukan jar-mudhaf ilaih.

Mu’rab dengan Huruf Halaman 51

I'rab

1. ﴾ ْ‫﴿ قَالَـــــــــــــــ أَبوْهم‬
‫ قَا َل‬:Fi'il madhi, mabniy atas fathah, dia tidak menempati posisi dari i'rab.
ْ‫ أَبوْهم‬:Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah wawu sebagai ganti dari dhammah,
karena kata ini termasuk isim-isim yang lima.
ُ‫ الَاء‬Dhamir muttashil, mabniy atas dhammah, didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih;
dan mim sebagai tanda jamak.

2. ﴾ٍ‫﴿ لِينْفِقْ ذُوْ سَعَة‬
ْ‫لِينْفِق‬: Lam : lam amr, huruf, mabniy atas kasrah; ْ‫ ينْفِق‬: fi'il mudhari', majzum dengan lam

amr, dan tanda jazm-nya adalah sukun.
ْ‫ذُو‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah wawu sebagai pengganti dari dhammah,

karena kata ini termasuk isim-isim yang lima.
ٍ‫سَعَة‬: Mudhaf ilaih, majrur, dan tanda jar-nya adalah kasrah dzahir di akhirannya.

3. ﴾ْ‫﴿ جَآءُوْا أَبَاهم‬
‫ جَآءُوْا‬: Fi'il madhi, mabniy atas dhammah; dan wawu dari kelompok itu adalah dhamir,

mabniy di dalam kedudukan rafa' - fa'il.
ْْ‫ أ أَبَاهم‬: Kata ‫ أَبَا‬: maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah alif karena kata ini

termasuk isim-isim yang lima; dan ha: dhamir, mabniy di dalam kedudukan jar -

mudhaf ilaih; dan mim untuk (tanda) jamak.

4. ﴾‫﴿ وَنَحْفَظُ أَخَانَا‬
َ‫ وَنَحْفَظ‬: Wawu dii'rab dengan mempertimbangkan kalimat yang sebelumnya; ‫ نَحْفَ ُظ‬: fi'il

mudhari, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir, dan failnya adalah
dhamir mustatir dan takdirnya ‫( نَحْن‬kami).
‫ أَخَانَا‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah alif sebagai pengganti dari
fathah karena kata ini termasuk isim-isim yang lima, dan ‫نا‬: dhamir muttashil, mabniy

atas sukun didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.

Mu’rab dengan Huruf Halaman 52

5. ﴾‫﴿ َو ءَاتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حََقّه‬
‫آ ِت‬: Fi'il amr, mabniy dengan membuang huruf illat ya dan kasrah adalah bukti
atasnya, dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir dan takdirnya َ‫( أَنْت‬kamu).
‫ ذَا‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah alif sebagai pengganti dari

fathah karena kata ini termasuk isim-isim yang lima.
‫ القُرْبَى‬: Mudhaf ilaih, majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah muqaddarah atas alif yang

udzur (tidak nampak perubahannya).
‫ حََقّه‬: Maf'ul bih kedua, dan ha' adalah dhamir muttashil mabniy atas dhammah

didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.

6. ﴾ْ‫﴿ رَجَعوْأ إِلَى أَبِيْهِـــــم‬
‫رَجَعوْأ‬: Fi'il madhi, mabniy atas dhammah, dan wawu dari kelompok itu adalah dhamir,

mabniy didalam kedudukan rafa' - fa'il.
ْ‫ إِلَى أَبِيْهِم‬: Kata ‫ إِلَى‬: huruf jar, ْ‫ أَبِيْهِم‬: isim majrur dengan (‫)إِلَى‬, dan tanda jarnya adalah ya'

karena kata ini termasuk isim-isim yang lima, dan ha': dhamir, mabniy atas kasrah

didalam kedudukan majrur - mudhaf ilaih.

7. ﴾َ‫﴿ سَنَش ُدّ عَضدَكَ بِأَخِيْك‬
‫ سَنَشد‬: Sin: huruf istiqbal, dan ّ‫نَش ُد‬: fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'nya adalah
dhammah, dan failnya dhamir mustatir dan taqdirnya ‫( نَحْن‬kami).
َ‫عَضدَك‬: Kata ‫عَض َد‬: maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah. Dan kaf:

dhamir muttashil, mabniy atas fathah didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.
َ‫بِأَخِيْك‬: Ba: huruf jar, dan َ‫أَخِيْك‬: isim majrur dengan ba, dan tanda majrurnya adalah ya

karena dia termasuk isim-isim yang lima. Dan kaf: dhamir, mabniy atas fathah

didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.

8.﴾‫﴿ وَ لِذِى القُرْبَٰى‬
‫ لِذِي‬: Lam: huruf jar ; dan ‫ ذِ ْي‬: isim majrur dengan lam, dan tanda jarnya adalah ya

karena kata ini termasuk isim-isim yang lima.
‫ القُرْبَى‬:Mudhaf ilaih, majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah muqaddarah atas

akhirannya yang udzur (tidak nampak perubahannya).

Mu’rab dengan Huruf Halaman 54

Keempat: Fi'il-Fi'il yang Lima

Definisinya : setiap fi'il mudhari yang bersambung dengannya alif tatsniyah atau

wawu jamak atau ya mukhathabah.
Yaitu: َ‫ تَفعَلِين‬،َ‫ تَفعَُلون‬،َ‫ يَفعَلُون‬،ِ‫ تَفعَلَان‬،ِ‫يَفعَلَان‬

Hukumnya: dirafa'kan dengan tsubutun nun/tetap nun, dinashabkan dan dijazmkan

dengan hadzfun nun /buang nun.

Contoh pada keadaan rafa':
Firman Allah Ta’ala: ﴾ ِ‫( ﴿ تؤمِنونَ بِالَلّه‬kalian beriman kepada Allah) (1), ﴾ ِ‫َو الَنّجم وَ ال َشّجَر يَسجدَان‬
﴿ (dan bintang dan pepohonan, keduanya bersujud) (2), dan ﴾ِ‫( ﴿ أَ تَعجَبِينَ مِن أَمرِ الَلّه‬apakah
kamu merasa heran tentang ketetapan Allah) (3).

Pada ayat yang pertama, kata (َ‫ )تؤمِنون‬adalah dari fi'il yang lima, yaitu fi'il mudhari'
yang bersambung akhirnya dengan wawu jamak, marfu' karena bersih dari penashab
dan penjazm, dan tanda rafa'nya adalah tsubutun nun (tetap nun) sebagai ganti dari
dhammah.

Kata (‫ )يَسجدَا ِن‬pada ayat kedua adalah dari fi'il yang lima, yaitu fi'il mudhari' yang
bersambung akhirnya dengan alif tatsniyah, marfu' karena bersih dari penashab dan
penjazm, dan tanda rafa'nya adalah tsubutun nun (tetap nun) sebagai ganti dari
dhammah.

Kata (َ‫ )تَعجَبِين‬pada ayat ketiga adalah dari fi'il yang lima, yaitu fi'il mudhari' yang
bersambung akhirnya dengan ya mukhathabah, marfu' karena bersih dari penashab
dan penjazm, dan tanda rafa'nya adalah tsubutun nun (tetap nun) sebagai ganti dari
dhammah.

Contoh fi'il yang lima pada kedudukan nashab dan jazm:
Firman Allah Ta’ala : ﴾‫( ﴿فَإِن لَم تَفعَلُوا َو لَن تَفعَلُوا‬maka jika kami tidak dapat membuatnya,
dan kamu (pasti) tidak dapat membuatnya) (4). Pada ayat tersebut, kedua fi'il ( ،‫لَم تَفعَلُوا‬
‫ )وَ لَن تَفعَلُوا‬adalah dari fi'il yang lima. Keduanya merupakan fi'il mudhari yang
bersambung dengan wawu jamak; yang pertama majzum dengan ‫لَم‬, tanda jazmnya

adalah hadzfun nun (buang nun) sebagai ganti dari sukun, dan yang kedua manshub
dengan ‫ لَن‬dan tanda nashabnya adalah hadzfun nun (buang nun) sebagai ganti dari

fathah.
__________________________

(1) QS ash-Shaf ayat 11 (2) QS ar-Rahman ayat 2
(3) QS Hud ayat 73 (4) QS al-Baqarah ayat 24

Mu’rab dengan Huruf Halaman 55

Skema Fi'il-Fi'il yang Lima

Fi'il-fi'il yang lima adalah:
Semua fi'il mudhari' yang bersambung dengannya alif tatsniyah, atau wawu jamak,
atau ya mukhathabah.

Fi'il mudhari' alif tatsniyah wawu jamak ya
mukhathabah

َ‫تَفْعَـــــــلُوْن‬ َ‫تَ ْفعَـــــــــِـْينَ يَ ْفعَـــــــلُوْن‬
ِ‫يَ ْفعَـــــــلَانِ تَ ْفعَـــــلَان‬
ُ‫يَ ْفعَـــــــــــــــل‬

ْ‫لَنْ تَ ْفعَلِي َلنْ يَفَْعلُوْا لَنْ َتفَْعلُوْا َلنْ يَفَْعلَا لَــنْ تَ ْفعَلَا لَــن‬
َ‫يَ ْفعَــل‬

ْ‫لَمْ تَفَْعلِيْ لَمْ يَ ْفعَلُوا لَمْ تَفَْعلُوْا لَمْ يَ ْفعَلَا لَمْ تَفْعَـــلَا لَمْ يَ ْفعَــــل‬

I'rab:

1. ﴾ِ‫﴿تؤْمِنوْنَ بِالله‬
َ‫تؤْمِنوْن‬: Fi'il mudhari, marfu', dan tanda rafa'nya adalah tsubutun nun (tetap nun)

sebagai ganti dari dhammah karena kata ini termasuk fi'il-fi'il yang lima, dan
wawu jamak : dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan rafa'-
fail.
ِ‫ بِالله‬: Ba adalah huruf jar, ‫الله‬: lafadz jalaalah, isim majrur dengan ‫ب‬, dan tanda jarnya
adalah kasrah dzahir ; dan jar majrur terhubung dengan fi’il.

2. ﴾ِ‫﴿وَالَنّجْم وَال َشّجَر يَسْجدَان‬
ُ‫اَلَنّجْم‬: Mubtada, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir diakhirannya.

‫ وَال َشّجَر‬: Wawu adalah huruf athaf, ‫ ال َشّجَر‬: ma'thuf ke ‫الَنّجْم‬, marfu', dan tanda rafa'nya
adalah dhammah dzahir.

Mu’rab dengan Huruf Halaman 56

ِ‫ يَسْجدَان‬: Fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'nya adalah tsubutun nun (tetap nun)
sebagai ganti dari dhammah, karena kata ini termasuk fi'il-fi'il yang lima.
Dan alif kedua : dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan
rafa' - fa'il. Kalimat/ jumlah fi'il fa'il ini menempati kedudukan rafa' - khabar
mubtada.

3. ﴾ ‫﴿ أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ ألَلِّه‬
َ‫ أَتَعْجَبِيْن‬: Hamzah ( ‫ ) أ‬adalah huruf istifham, ‫ تَعْجَبِيْ َن‬: fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'

nya adalah tsubutun nun /tetap nun karena kata ini termasuk fi'il-fi'il yang lima

; dan ya mukhathabah : dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam

kedudukan rafa'-fa'il.
ِ‫ مِنْ أَمْر‬: Kata ‫ مِ ْن‬adalah huruf jar, ‫ أَمْ ِر‬: isim majrur dengan ْ‫مِن‬, dan tanda jarnya adalah

kasrah dzahir.
ِ‫ الله‬: Lafadz jalaalah, mudhaf ilaih, majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah dzahir.

4. ﴾ ‫﴿ فَإِنْ َلّمْ تَفْعَلُوْا وَ لَنْ تَفْعَلُوْا‬
‫ فَإِ ْن‬: Fa dii'rab dengan mempertimbangkan kata yang sebelumnya, ْ‫ إِن‬: huruf syarat

dan jazm.
‫ لَمْ تَفْعَلُوْا‬: Kata ْ‫ لَم‬adalah huruf nafiy, jazm dan qalb. ‫ تَفْعَلُوْا‬: fi'il mudhari', majzum dengan

‫لَ ْم‬, dan tanda jazmnya adalah hadzfun nun /buang nun karena termasuk fi'il-

fi'il yang lima, dan wawu penanda jamak : dhamir muttasil, mabniy atas
sukun didalam kedudukan rafa'-fa'il, dan ‫ لَ ْم تَفْعَلُوْا‬menempati posisi jazm
dengan ْ‫إِن‬.
‫ وَ لَنْ تَفْعَلُوْا‬: Wawu: Penyela (menyela antara syarat dan jawabnya, yaitu ﴾‫﴿ فَاََتّقُوْا الَنّا َر‬, ْ‫لَن‬:
huruf nafiy dan nashab dan istiqbal (waktu akan datang) . ‫تَفْعَلُوْا‬: fi'il mudhari'
manshub dengan )ْ‫ (َلن‬dan tanda nashabnya buang nun karena dia termasuk

dari fi'il yang lima; wawu jamak: dhamir muttashil mabniy atas sukun pada

posisi rafa' sebagai fa'il.

Mu’rab dengan Huruf Halaman 58

Tabel yang menjelaskan berbagai macam i'rab dan tandanya, serta
keadaan (berlaku)nya pada isim dan fi'il

Jenis I'rab Tanda Pada Isim Pada Fi'il

Dhammah Isim mufrad, jamak taksir, Fi'il mudhari
dan jamak muannats salim.
Fi'il-fi'il yang lima
Rafa' Wawu Jamak mudzakkar salim, Fi'il mudhari
Dhammah dan isim-isim yang lima.
Alif Fi'il-fi'il yang lima
Tsubutun Mutsanna
Nun (tetap Fi'il mudhari yang
Isim mufrad, dan jamak shohih akhirnya
nun) taksir. Fi'il mudhari yang
mu'tal akhirnya
Fathah Isim-isim yang lima. Fi'il-fi'il yang lima
Jamak muannats salim.
Alif Mutsanna, dan jamak
Kasrah
mudzakkar salim
Ya

Hadzfun Nun
(buang nun)

Kasrah Isim mufrad, jamak taksir,
dan jamak muannats salim

Isim-isim yang lima,
Jar Ya mutsanna, dan jamak

mudzakkar salim

Fathah Tidak digunakan dalam
ilmu shorof

Sukun

Jazm Membuang
huruf 'illat

Hadzfun nun
(buang nun)

Fi’il Halaman 59

Fi’il

Pengarang berkata: Bab Fi'il: fi'il itu ada tiga: madhi, mudhari dan amr. Contoh: َ‫ضَرَب‬,
dan ‫يَضْرِب‬, dan ‫ ; اِضْرِ ْب‬maka fi’il madhi difathahkan akhirannya selamanya.
Penjelasan: Fi'il itu dibagi kepada: madhi, mudhari dan amr. Contoh fi'il madhi : َ‫َضرَب‬
; fi'il mudhari : ‫ ; يَ ْضرِب‬dan fi'il amr : ْ‫اِضْرِب‬
Tiap-tiap fi'il ini memiliki hukumnya yang khusus.

Pertama : Fi'il Madhi

Hukumnya: selalu mabniy, dan mabniy itu ada tiga keadaan :
1. Mabniy atas Fathah. Jika tidak bersambung dengannya sesuatupun, seperti pada
firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ قَا َل رَُبّ َك‬Tuhanmu berkata)(1) ; atau bersambung dengannya ta
ta'nits sukun, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ٌَ‫( ﴿ قَالَتْ نَمْلَة‬seekor semut berkata)(2);
atau bersambung dengan alif tatsniyah, seperti pada firman Allah Ta’ala: ِ‫﴿ َوقَالَا الحَمْد لَِلّه‬
﴾ (dan keduanya berkata “segala puji bagi Allah)(3).
2. Mabniy atas Dhammah, yaitu ketika bersambung dengannya wawu jamak,
seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ َو قَالُوْا سَمِعْنَا‬dan mereka berkata, “kami dengar”)(4)
.
3. Mabniy atas Sukun, yaitu jika bersambung dengan ta fa'il, seperti pada firman
Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫( ﴿ مَاقُْلت لَهم‬saya tidak pernah mengatakan kepada mereka)(5); atau (‫)نَا‬
fa'il, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫( ﴿ وَُقلْنَا لَهم‬dan Kami berkata kepada mereka)(6);
atau nun niswah, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ِ‫( ﴿ وَقُْلنَ حٰ َش لِلٰه‬dan mereka berkata,
“Maha sempurna Allah”)(7).
__________________________

(1) QS Al-Baqarah : 30 (2) QS An-Naml: 18 (3) QS An-Naml : 15 (4) QS Al-Baqarah : 285
(5) QS Al-Maidah : 117 (6) QS An-Nisa : 154 (7) QS Yusuf : 31

 Faedah faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Diantara ulama nahwu, ada yang berpendapat bahwa fi'il madhi itu mabniy dengan fathah
pada segala keadaannya, akan tetapi fathahnya itu ada kalanya dzahir seperti ‫ ضَرَ َب‬atau
muqaddarah litta'adzdzur (karena uzur) seperti ‫ ; رَمَى‬atau litstsiqal (karena berat) seperti
ِ‫ضَرَبت‬/َ‫ ; ضَرَبْت‬atau karena penyesuaian seperti ‫ ضَرَبوْا‬. Pengarang sungguh telah mengikuti
pendapat/madzab ini sebagaimana terlihat pada perkataannya: (‫)المَاضِي مَفْتوْح الآخِرِ أَبَدًا‬. Fi'il madhi
difathahkan akhirnya selamanya. Akan tetapi yang kami sebutkan dalam syarah (penjelasan)
adalah lebih mudah bagi pemula, karena itu kami telah memilihkan yang demikian.
2. Kata berikut (‫ وَتَوَاصَوْا‬،‫ وَ دَعَوْا‬،‫ )رَمَوا‬adalah fi'il-fi'il madhi, mabniy dengan dhammah muqaddarah,
terlihat pada kitab Jami'uddurus halaman bab 2 halaman 167.

Fi’il Halaman 60

Kedua: Fi'il Amr

Pengarang berkata bahwa fi'il amr itu majzum selamanya.

Penjelasan Fi'il Amr:

Hukumnya: selalu mabniy, dan terdapat empat keadaan :

1. Mabniy atas sukun, jika shahih akhirannya, dan tidak bersambung akhirnya

dengan sesuatupun ataupun bersambung dengannya nun niswah, seperti pada
firman Allah Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿ وَا ْذكُر َرَّبّك‬dan ingatlah Tuhanmu)(1)dan juga ﴾‫( ﴿ وَ اذْكُرنَ مَايتْلَى‬dan

ingatlah apa yang dibacakan)(2).

2. Mabniy atas hadzfu hurufil 'illati (buang huruf 'illat), apabila akhirannya
terdapat huruf 'illat, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾َ‫( ﴿ٱُدْع إِلَى سَبِيْلِ رَِبّك‬serulah kepada
jalan Tuhanmu)(3), ﴾َ‫( ﴿ٱَتّقِ ٱلله‬bertaqwalah kepada Allah)(4) dan ﴾ِ‫( ﴿وَ ٱنْهَ عَنِ المُنْكَر‬dan

cegahlah dari yang munkar)(5).

3. Mabniy atas hadzfun nun (buang nun), jika bersambung dengannya alif tatsniyah,
atau wawu jamak, atau ya mukhathabah ; seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾‫﴿ َوكُلَا مِنْهَا‬
(dan makanlah dengannya)(6), ﴾ْ‫( ﴿ ُكلُوْا وَٱشْرَبوا‬makan dan minumlah kalian)(7), dan ‫﴿فَكُلِى‬
﴾‫( وَٱشْرَبِى‬maka makan dan minumlah kamu)(8).

4. Mabniy atas fathah, apabila bersambung dengannya nun taukid, seperti َ‫اشكرَ َّن اللٰه‬.

__________________________

(1) QS Al-Kahfi : 24 (2) QS Al-Ahzab: 34 (3) QS An-Nahl : 125 (4) QS Al-Baqarah: 206
(5) QS Luqman : 17 (6) QS Al-Baqarah : 35 (7) QS Al-Baqarah : 60 (8) QS Maryam : 26

 Faedah faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Disini ditolak perkataan Pengarang bahwa "fi'il amr itu majzum", dijawab bahwa

Pengarang memilih pendapat ulama Kufah yang mengatakan bahwa fi'il amr itu
merupakan bagian dari fi'il mudhari yang majzum yang dijazmkan dari mudharinya,
kitab Futuuhaat al-Qayumiyah halaman 89.
2. Haruslah bagi orang yang mengi’rab ketika ia mengi’rab hendaklah mengatakan seperti:
﴾‫ ﴿ وَ اغْفِرْلَنَا‬maka ْ‫ اِغْفِر‬adalah fi'il yang menunjukkan makna do'a dan tidak dikatakan sebagai
fi'il amr, sebagai bentuk adab.
3. Taukid fi'il amr dengan nun tidak ada didalam al-Qur'an al-Karim. Catatan pada Usluubil
Qur'an bab 1 halaman 17.

Fi’il Halaman 61

Ketiga: Fi'il Mudhari'

Pengarang berkata: Fi'il mudhari' yaitu fi'il yang diawali dengan salah satu huruf

yang empat yang dikumpulkan menjadi (‫)أَنَيت‬. Dia selamanya marfu' sampai dengan

masuknya penashab atau penjazm.

Penjelasan Fi'il Mudhari' (1)

Hukumnya: Terdapat dua hukum ; hukum dengan memperhatikan keadaan
awalnya dan hukum dengan memperhatikan keadaan akhirnya. Pada hukum yang
memperhatikan keadaan awalnya, maka awalannya adalah salah satu dari huruf
yang empat, yaitu hamzah, nun, ya dan ta ; yang jika digabungkan maka disebut

dengan (‫)أَنَيْت‬, contoh: ‫ َتقُوم‬،‫ َيقُوم‬،‫ َنقُوم‬،‫أَقُوم‬.

Sedangkan yang memperhatikan keadaan akhirnya, maka sebagiannya mabniy dan
sebagian lagi mu'rab ; dan (keadaan) ini lebih banyak.

Adapun yang mabniy ada dua keadaan:
¤ Mabniy dengan sukun, apabila bersambung dengannya nun niswah, seperti pada

firman Allah Ta’ala: ﴾َ‫( ﴿وَ الوَالِدَات يرْضِعْن‬dan para ibu (hendaklah) menyusukan)(2).
¤ Mabniy dengan fathah, apabila bersambung dengannya nun taukid, seperti pada

firman Allah Ta’ala: ﴾َ‫( ﴿لَنخْرِجََنّك‬sesungguhnya kami akan mengusir kamu)(3).

 Fi'il mudhari' yang mu'rab: Jika tidak bersambung akhirnya dengan nun niswah
atau nun taukid.
Fi'il mudhari' yang mu'rab ada dua bagian: mu'rab dengan harakat dan mu'rab
dengan huruf
 Mu'rab dengan harakat, jika tidak bersambung akhirnya dengan alif tatsniyah

atau wawu jamak atau ya mukhatabah, contoh: ‫يَذ َهب‬, dan َ‫لَن يَذهَب‬, dan ْ‫َلم يَذهَب‬

.
 Mu'rab dengan huruf, jika bersambung akhirnya dengan alif tatsniyah atau

wawu jamak atau ya mukhatabah, contoh: ‫ تَذهَبِي َن‬, َ‫ يَذهَبون‬, ِ‫ يَذهَبَان‬.

__________________________

1). Dinamakan dengan "mudhari'" karena kesamaannya sebagaimana dengan isim dalam hal
mu'rab, maka mudhari' didalam bahasa yang serupa.

2). QS Al-Baqarah ayat 233
3). QS Al-A'raf ayat 88

Fi’il Halaman 62

* Fi’il-Fi’il yang Bersambung dengan Dhamir dan Huruf Huruf
Dhamir-Dhamir

Fi'il-Fi'il (ٌ‫)تَا ُء‬ (‫ ) َنا‬Alif Nun Wawu Ya Nun Ta
Fa’il Fa’il Isnain Niswah Jamak
Mukhatabah Taukid Ta'nits

Madhi ‫كَتَبوا كَتَبْنَ كَتََبا كَتَبْنَا كَتَْبت‬ ْ‫كَتََبت‬

Mudhari' ِ‫تَكْتبَ َنّ تَكْتبِيْنَ يَكْتبوْنَ يَكْتبْنَ يَكْتبَان‬

Amr ‫اكْتَبَ َنّ اكْتبِيْ اكْتبوا اكْتبْنَ اكْتبَا‬

* Perbedaan antara Ta Fa’ildan Ta Ta’nits Ta Ta'nits
Ta Fa’il Huruf yang tidak ada
kedudukannya di dalam i'rab
Dhamir didalam kedudukan rafa'
sebagai fa'il Sukun
Berharakat
sebelumnya fathah
Sebelumnya sukun ٌٌٌmisalٌ:‫ِه َيٌ َكتَ َب ْت‬
ٌmisalٌ:ٌ‫ٌأَنَاٌ َكتَ ْب ُت‬

* Perbedaan antara Nun Niswah dan Nun Taukid

Nun Niswah Nun Taukid

Dhamir didalam kedudukan rafa' Huruf yang tidak ada kedudukannya
sebagai fa'il di dalam i'rab

Berharakat fathah Berharakat fathah dan tasydid

Sebelumnya sukun Sebelumnya fathah
misal : ٌ‫ال َّطا ِل َبا ُتٌيَ ْكتُ ْب َن‬ misal : ‫ََلٌتَ ْكتُ َب ٌَّن‬

Fi’il Halaman 63

Bagan yang Menjelaskan Hukum-Hukum Fi'il
Madhi mabniy

atas Fathah atas Dhammah atas Sukun

َ‫ذَ َهب‬ ‫ذَهَبوْا‬ ‫ذَهَْبت‬
َ‫ذَهََبت‬ ‫ذَهَبْنَا‬
‫ذَهَبَا‬ Amr Mabniy َ‫ذَهَبْن‬

Atas Sukun Atas Fathah Atas
khafadh/kasrah
‫ِاذْ َه ْب‬ ّ‫ِاذْ هََب َن‬
‫ِا ْذهَْب َن‬
Buang Buang Nun

huruf illat ‫ا ْذهَبوا‬
‫اذْهَبَا‬
‫اسْ َع ادْع‬ ْ‫اذْهَبِي‬
‫ادْع‬
ِ‫ا ْرم‬

Mudhari


Mu’rab Mabniy

dengan dengan 1. Atas fathah bersama nun
taukid
ha‫ ُب‬ra‫ َه‬k‫ ْذ‬aَ‫ ي‬t ‫ن تَ ْذ َهبِ ْي َن‬hَ ‫و‬uْ ُ‫ب‬r‫ َه‬u‫َي ْذ‬f ‫َي ْذ َه َبا ِن‬
‫لَ ْن يَ ْذ َه َب‬ ‫َل تَ ْخ ُر َج َّن‬
‫َل ْم َي ْذ َه ْب‬ ‫َل ْن َي ْذ َه َبا َو َل ْن يَ ْذ َهبُ ْوا َو َل ْن تَ ْذ َهبِ ْي‬
‫َي ْم ِش ْي‬ ‫َل ْم يَ ْذ َه َبا َو َل ْم يَ ْذ َهبُ ْوا َو لَ ْم تَ ْذ َهبِ ْي‬ 2. Atas sukun bersama nun
niswah
‫لَ ْم يَ ْم ِش‬
‫َي ْخ ُر ْج َن‬

Fi’il Halaman 64

1. ﴾ َ‫ ﴿ قَالَ رَُبّك‬Telah berkata Tuhanmu.

‫ قَا َل‬: Fi’il madhi, mabniy atas fathah .
‫ رَُبّ َك‬: Fa'il, marfu, dan tanda rafa'nya adalah dhammah. Dan kaf adalah dhamir,

mabniy didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.

2. ﴾ِ‫ ﴿ وَ قَالَا الحَمْد لله‬Dan dia berkata segala puji bagi Allah.

‫ وَقَالَا‬: Wawu (i'rabnya) tergantung pada (kata) sebelumnya : ‫ ; َقالَا‬fi'il madhi, mabniy

atas fathah ; dan alif kedua adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam
kedudukan rafa' - fa'il.

‫ الحَمْد‬: Mubtada, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.
‫ لِلٰ ِه‬: Lam adalah huruf jar, dan lafadz jalaalah adalah isim majrur, dan tanda jarnya

adalah mengkasrahkan huruf ha' nya. Jar majrur keduanya merupakan khabar
mubtada (khabar ghairu mufrad.)

3. ﴾ ‫ ﴿ وَقَالُوْا سَمِعْنَا‬Dan mereka berkata, "kami mendengar."

‫ قَالُوْا‬: Fi'il madhi, mabniy atas dhammah yang bersambung dengan wawu jamak ;dan

wawu jamak adalah dhamir muttashil, mabniy didalam kedudukan rafa' - fa'il.

‫ َسمِعْنَا‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun yang bersambung dengan )‫ (نا‬sebagai subjek,
dan ‫ نا‬adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan rafa' - fa'il.

4. ﴾ ِ‫ ﴿ وَُقلْنَ حَاشَ لِلٰه‬Dan mereka berkata, "Maha sempurna Allah"

َ‫ قُلْن‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun yang bersambung dengan nun muannatsah; dan

nun muannatsah adalah dhamir, mabniy didalam kedudukan rafa' - fa'il.

َ‫ َحاش‬:Isim, mabniy atas fathah didalam kedudukan nashab - maf'ul mutlaq.
ِ‫لِلٰه‬: Lam adalah huruf jar ; dan lafadz jalaalah adalah isim majrur dengan lam, dan

tanda jarnya adalah kasrah.

Fi’il Halaman 65

5. ﴾ َ‫ ﴿ َو اذْكُر َرَّبّك‬Dan ingatlah Tuhanmu.

ْ‫اذْ ُكر‬: Fi'il amr, mabniy atas sukun ; dan fa'il dhamir mustatir tersirat (takdir) nya (‫)أَنْ َت‬.
‫ رََبّ َك‬: Kata ‫ رَ َّب‬: maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah; dan kaf
dhamir mabniy atas fathah didalam kedudukan jar - mudhaf ilaih.

6. ﴾ ‫ ﴿ َو اذْكُرْنَ مَا يتْلَٰى‬Dan ingatlah apa yang dibacakan.

‫ اذْ ُكرْ َن‬: Fi'il amr, mabniy atas sukun dan nun penanda muannats dhamir mabniy atas
fathah didalam kedudukan rafa' - fa'il.
‫ مَا‬: Isim maushul, mabniy atas sukun didalam kedudukan nashab - maf'ul bih.
‫ يتْلَٰى‬: Fi'il mudhari yang berubah bentuk, marfu', dan tanda rafa'nya dhammah
muqaddarah ; dan naibul fa'ilnya dhamir mustatir tersirat (takdir) nya ‫ه َو‬. Dan kalimat
fi'il dan naibul fa'il shilah maushul yang tidak berkedudukan di dalam i'rab.

7. ﴾ َ‫ ﴿ اَتّقِ الله‬Bertaqwalah kepada Allah.

‫ اَتّ ِق‬: Fi'il amr, mabniy atas hadzfu hurufil 'illati (membuang huruf illat) ; dan fa'il
dhamir mustatir tersirat (takdir) nya adalah (َ‫)أَنْت‬. ِ‫ الله‬: Lafadz jalaalah, maf'ul bih,
manshub atas penghormatan, dan tanda nashabnya fathah.

8. ﴾ َ‫ ﴿ اُدْع إِلَى سَبِيْلِ رَِبّك‬Serulah kepada jalan Tuhanmu

‫ ادْع‬: Fi'il amr, mabniy atas hadzfu hurufil 'illati (buang huruf 'illat) ; dan fa’ildhamir
mustatir wajib tersirat (takdir)nya adalah (‫)َأنْ َت‬.
ِ‫ إِلَى سَبِيْل‬: Jar dan majrur, muta'alliq dengan fa'il (‫)ُُادع‬.
‫ رَِبّ َك‬: Kata ّ‫ رَ ِب‬adalah mudhaf ilaih, majrur, dan tanda jarnya adalah kasrah, dan dia
juga sekaligus mudhaf ; dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy atas fathah
didalam kedudukan jar-mudhaf ilaih.

9. ﴾ِ‫ ﴿ وَانْهَ عَنِ الْمنْكَر‬Dan cegahlah dari yang mungkar

َ‫ انْه‬: Fi'il amr, mabniy atas hadzfu hurufil 'illati (buang huruf 'illat) ; dan fa’ildhamir
mustatir wajib tersirat (takdir)nya adalah (َ‫)َأنْت‬.
ِ‫ عَنِ المُنْكَر‬: Jar dan majrur, muta'alliq dengan fa'il (‫)انَْه‬.

10. ﴾ ‫ ﴿ َو كُلَا مِنْهَا‬Dan makanlah darinya

‫ ُكلَا‬:Fi'il amr, mabniy atas hadzfun nun (buang nun) ; dan alif kedua adalah dhamir
muttashil, mabniy didalam kedudukan rafa'-fa'il.
‫ منها‬: Kata ْ‫ مِن‬adalah huruf jar ; dan ‫ ها‬dhamir muttashil, mabniy didalam kedudukan
jar ; serta jar dan majrur adalah muta'alliq dengan fa'il.
Fi’il Halaman 66

11. ﴾ ‫ ﴿ كُلُوْا وَ اشْرَبوْا‬Makan dan minumlah kalian.

‫ كُلُوْا‬: Fi'il amr, mabny atas hadzfun nun (buang nun) ; dan wawu jamak adalah

dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan rafa'-fa'il.

‫ وَاشْرَبوْا‬: Wawu adalah huruf 'athaf : ‫ ; اشْرَبوْا‬seperti ‫ كُلُوا‬dalam i'rabnya.

12. ﴾ ْ‫ ﴿ فَكُلِيْ وَ اشْرَبِي‬Maka makanlah dan minumlah (kamu)

‫ فَكُلِي‬: Fa (dii'rab) tergantung pada (kata) sebelumnya : ‫ ; كُِلي‬fi'il amr, mabniy atas

hadzfun nun (buang nun) ; dan ya mukhathabah adalah dhamir muttashil, mabniy
atas sukun didalam kedudukan rafa' - fa'il.

‫ وَاشْرَبِي‬:Wawu adalah huruf 'athaf : ‫ ; اشْرَبوْا‬seperti ‫ كُلِي‬dalam i'rabnya.

13. ﴾ ‫ ﴿ اشْكُرَ َنّ الله‬Bersyukurlah (sungguh-sungguh, kamu) kepada Allah.
‫ اشْكُرَ َّن‬: Wawu adalah huruf 'athaf : ّ‫ اشْكُ َر َن‬,fi'il amr, mabniy atas fathah yang

bersambung dengan nun taukid. Nun taukid : huruf yang tidak berkedudukan

didalam i'rab, fa'il, dhamir mustatir tersirat (takdir)nya adalah.)‫(َأْن َت‬
‫ الله‬: Lafadz jalaalah, manshub atas penghormatan.

14. ﴾ َ‫ ﴿ وَ الوَالِدَات يرْضِ ْعن‬Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya

‫الوَالِدَات‬: Mubtada, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.
‫يرْضِعْن‬: Fi'il mudhari, mabniy atas sukun yang bersambung dengan nun penanda

muannats; dan nun penanda muannats adalah dhamir muttashil, mabniy didalam
kedudukan rafa'-fa'il. Dan kalimat fi'il dan fa'il didalam kedudukan rafa'- khabar
mubtada.

15 . ﴾ ‫ ﴿ لَنخْرِجََنّك‬Sungguh Kami akan mengeluarkanmu
َ‫ لَنخْرِجََنّك‬: Lam fakta (penekanan) didalam jawab sumpah yang dihilangkan.
َ‫ نخْ ِرج‬: fi'il mudhari, mabniy atas fathah yang bersambung dengan nun taukid ; dan

nun taukid adalah huruf yang tidak berkedudukan di dalam i'rab. Fa'il : dhamir
mustatir tersirat. Dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy atas fathah didalam
kedudukan nashab-maf'ul bih.

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 69

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari'

Pengarang berkata : 'aamil penashab itu ada sepuluh, yaitu: ‫( َأ ْن‬bahwa), ْ‫( َلن‬tidak akan),
ْ‫( إذَن‬kalau begitu), ‫( كَ ْي‬supaya), ْ‫ ( لَام كَي‬lam yang artinya supaya), ِ‫ ( لَام الْجحوْد‬lam
pengingkaran), ‫( حََتّى‬hingga), dan kalimat jawab dengan fa (‫ َف‬, maka), wawu (‫ َو‬, dan)
dan au (‫أَ ْو‬, atau).

Penjelasan : Tanda asli nashab pada fi’il mudhari' itu adalah fathah, dan tanda

tersebut diganti dengan ‘buang nun’ pada fi'il yang lima.

Fi’il mudhari dinashabkan jika terletak setelah salah satu dari huruf yang sepuluh :
Pertama : ‫ َأ ْن‬: seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ يرِيد الَلّه أَ ْن يخَِفّفَ عَنْكُ ْم‬Allah hendak

memberi keringanan pada kalian) (1).
Kedua : ْ‫ َلن‬: seperti pada firman Allah Ta’ala :﴾ ‫ ( ﴿ وَلَنْ يخْلِفَ الَلّه وَعْدَه‬padahal Allah

sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya) (2).
Ketiga : ‫ إِذَ ْن‬: seperti perkataanmu : ‫( إِذَنْ أكْرِمَ َك‬kalau begitu saya akan

memuliakanmu) ; sebagai jawaban pada orang yang berkata : ‫" أُرِيْد أ ْن أَزوْرَ َك‬Saya

ingin mengunjungimu."
Keempat : ‫كَ ْي‬: seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ فَرَ َددْنٰه إِلَىٰ أُِمّهِ كَيْ تَقَ َرّ عَيْنهَا‬maka kami

kembalikan Musa kepada ibunya,supaya senang hatinya) (3).

Kelima : Lam ta'lil (lam dengan arti supaya) (4): seperti pada firman Allah Ta’ala :
﴾ ِ‫( ﴿ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ ال ِذّكْ َر لِتبَِيّنَ ِللَنّاس‬dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu

menerangkan pada umat manusia) (5).
Keenam : Lam juhud (lam pengingkaran) (6): yang tandanya didahului (َ‫ )مَا كَان‬atau

(‫ )لَمْ يَكُ ْن‬seperti pada firman Allah Ta’ala:﴾ ْ‫( ﴿ وَمَا كَا َن الَلّه لِيضِيعَ إِيمَانَكُم‬dan Allah tidak
akan menyia-nyiakan imanmu) (7);dan seperti pada firman Allah Ta’ala: ِ‫﴿ لَمْ يَكُن‬
﴾ ‫( الَلّه لِيَغْفِرَ لَه ْم‬Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka) (8).
__________________________

(1) QS An-Nisaa ayat 28.

(2) QS Al-Hajj ayat 47.

(3) QS Qashash ayat 13.

(4) Disebut demikian karena ia berfungsi untuk memberikan alasan (ta'lil), yaitu kata yang
setelahnya merupakan alasan dari kata yang sebelumnya. Dan disebut juga dengan َ‫لَام‬
ْ‫كَي‬.

(5) QS An-Nahl ayat 44.

(6) Berkata al-fakih: dinamakan demikian karena keumumannya (sebagai) pengingkaran,

yaitu penafiy. lihat : kitab Al-Kawakib bab 2 halaman 478.

(7) QS Al-Baqarah ayat 143

(8) QS An-Nisaa ayat 137.

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 70

Ketujuh: ‫( حََتّى‬1): seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ وَاصْبِرْ حََتّىٰ يَحْكُمَ الَلّه‬dan bersabarlah

(kamu) hingga Allah memberi keputusan) (2).

Kedelapan : fa' sababiyyah (3): yang terletak pada jawaban penyangkalan/penafian atau

permintaan/perintah (4).
Contoh pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫ ( ﴿ وَاصْبِرْ حََتّىٰ يَحْكُمَ الَلّه‬mereka tidak dibinasakan hingga

mereka mati ). (5)
Dan adapun pada jawaban permintaan, contoh: َ‫( تَعََلّ ِم العِلْ َم فَيَْنفَعَك‬pelajarilah ilmu niscaya

ia akan memberi manfaat padamu ).

Kesembilan : Wawu ma'iyyah (6): yang terletak pada jawaban penyangkalan/penafian

atau permintaan/perintah.
Contoh penyangkalan seperti pada perkataanmu: ‫( لَا نَنْهَى عَنْ خلُقٍ وَنَأِْتيَ مِثْلَه‬kami tidak

mencegah penciptaan dan kami datangkan yang semisalnya).
Dan contoh permintaan seperti pada perkataanmu :‫( زرْنِي َوأُكْرِمَ َك‬kunjungi saya dan saya

muliakan anda).
Kesepuluh : (ْ‫ )أَو‬: yang bermakna kecuali (ّ‫ )ِإ َل‬atau ke (‫)ِإلَى‬. Misalkan : ‫اِضْرِبِ المُذنِبَ أَوْ يَتوْب‬

(pukullah orang yang berdosa atau ia bertaubat). Artinya kecuali (‫ )إِ َّل‬dia bertaubat,
atau ke (‫ )إِلَى‬dia bertaubat (maknanya hingga dia bertaubat).

Ini adalah pendapat Ibnu Ajurrum mengikuti pendapat orang-orang Kuffah, bahwa

sepuluh ini semuanya penashab bagi fi'il mudhari'. Dan pendapat orang-orang Bashrah dan

sekelompok muhaqqiqin /peneliti (7), bahwa penashab bagi mudhari' itu adalah empat yang
pertama saja, yaitu: ‫( أَ ْن‬bahwa), ْ‫( لَن‬tidak akan), ْ‫( إِذَن‬kalau begitu), dan ‫( كَ ْي‬supaya).

Adapun selebihnya – yang enam – maka yang menashabkan adalah yang setelahnya,
dengan ‫ أَ ْن‬muqaddarah jawazan atau muqaddarah wujuban. Jawazan adalah setelah lam ta'lil (8),

dan wujuban setelah yang lainnya.

__________________________

(1) Kata ‫ حََّتى‬adalah huruf ghayah/tujuan dan ta’lil ; dia menjadi ghayah yaitu ketika untuk bagian akhir
/penghabisan, dan bila dia bermakna ‫( إِلَى‬ke/sampai), seperti pada firman Allah Ta’ala ﴾ ‫َوكُلُوا وَاشْرَبوا‬
ِ‫( ﴿ َحَتّىٰ يََتبََيّنَ لَ ُكم الْخَْيطُ اْلأَبْيَض مِنَ الْ َخيْ ِط الْأَ ْسوَدِ مِنَ الْفَجْر‬dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih
dari benang hitam, yaitu fajar). Dan sebagai ta’lil apabila bermakna ْ‫( كَي‬supaya), contoh: ‫أَسْلَ َم حََتّى‬
‫( َتدْخ َل الجََنَّة‬ia islam sehingga ia akan masuk surga) . Umumnya (kata ini) digunakan sebagai huruf

ghayah. Dilihat di al-Kawabib bab 3 halaman 479.

(2) QS Yunus ayat 109.

(3) Fa sababiyyah, yaitu fa yang berfungsi sebagai sebab dan ia berfaedah bagi kata yang sebelumnya

sebagai sebab untuk kata (yang disebut) setelahnya.

(4) Permintaan dengan perintah, do’a, larangan, pertanyaan, usul (proposal), dorongan/anjuran,

angan-angan dan harapan. (5) QS Fathir ayat 36.

(6) Wawu ma’iyyah, yaitu wawu yang berfungsi untuk kebersamaan dan ia menyertai, berguna

untuk kata yang sebelumnya menyertai kata yang setelahnya.

(7) Di antaranya Ibnu Malik dan Ibnu Hisyam. Dilihat di At-Tashrih bab 2 halaman 357.
(8) Karena boleh menampakkannya, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿ وَأُمِرْت ِلأَنْ أَكُونَ أَ َوّلَ الْمسِْلمِين‬dan

saya diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri).

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 71

Contoh-contoh fi’il mudhari’ yang manshub dengan ‫ أَ ْن‬dhamir wujuban:
Setelah ‫ حََتّى‬: ‫( لَا تَأْكُلْ حََتّى تَجوْ َع‬janganlah kamu makan hingga kamu lapar), َ‫لَا تَدْخلْ حََتّى يؤْذَنَ لَك‬

(janganlah kamu masuk hingga diijinkan).
Setelah fa’ sababiyyah : ‫( لَا تهْمِلْ فَتَنْدََم‬janganlah kamu lalai maka kamu akan menyesal), ‫لَيْتَ لِي مَالًا‬
ِ‫( َفأَح َجّ بِه‬seandainya saya punya harta maka saya akan berhaji dengannya).
Setelah Au (ْ‫ )أَو‬: ‫( لَأَنْتَظِرَ َنّ زَيْدًا اَوْ يَجِيْ َئ‬sungguh saya akan menunggu Zaid hingga dia datang), ّ‫لَأَسْتَسْهِلَ َن‬
‫( ال َصّعْبَ أَوْ أُدْرِكَ الْمنَى‬sungguh saya akan mempermudah kesulitan hingga saya mencapai cita-cita).
Setelah lam juhud : ‫( مَاكُنْت لِأُخْلِفَ الوَعْد‬saya tidak akan mengingkari janji), َ‫( وَلَمْ أَكُنْ لِأَنْقُضَ ال َعهْد‬dan saya

tidak akan pernah melanggar janji).
Setelah wawu ma’iyyah : ‫( لَا تَأَمرْ بِا ِصّدْقِ وَ تكَ ِذّب‬janganlah kamu menyuruh jujur sedangkan kamu
berdusta), َ‫( لَاتَْأكُلِ ال َسّمَكَ وَتَشْرَبَ الَلّبَن‬janganlah kamu makan ikan bersamaan minum susu).
__________________________

Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting:
1. An )‫ (َأ ْن‬adalah huruf mashdar, nashab dan istiqbal. Huruf mashdar; karena ia mentakwil yakni ْ‫أَن‬

bersama i’il yang ada setelahnya menjelaskan dengan mashdar, maka makna )َ‫ (أُرِيْد أَ ْن أَزوْرَ ال َصّ ِديْق‬sama
dengan )‫( (أُ ِريْد زِيَارَتَه‬saya ingin mengunjunginya). Dinamakan huruf istiqbal, karena ia )‫ ( أَ ْن‬di awal fi’il

mudhari’ menjadikan fi’il mudhari’ tersebut hanya untuk zaman mustaqbal (yang akan datang)

saja, yang asalnya fi'il mudhari' itu bisa untuk menunjukkan hal (saat ini) dan bisa juga untuk

menunjukkan waktu yang akan datang (istiqbal). Dan begitu juga huruf-huruf penashab yang lain
dihukumi sama. Dilihat di kitab Qawaidu al asasiyah halaman 337.
2. Lan : )ْ‫ (لَن‬adalah huruf nafiy, nashab dan istiqbal, bukan sebagai penafiyan selamanya.Imam
Zamakhsyari beranggapan bahwa )‫ (لن‬itu bermakna/berfungsi sebagai ta'bid (untuk selamanya).

Ibnu Hisyam mengatakan : “ini adalah dakwaan/tuduhan tanpa bukti”. Dan Ibnu Malik
mengatakan: “Yang membawakan makna selamanya dengan i’tiqad (keyakinan)nya pada ْ‫﴿لَن‬

﴾‫(َترَىٰنِى‬kamu tidak akan dapat melihat-Ku) ; bahwasanya Allah tidak dapat dilihat. Maka ia
(pengertian selama-lamanya) adalah batal (tidak dapat digunakan). Firman Allah Ta’ala ‫﴿وجوْه َّيوْمَئِ ٍذ‬
﴾ )٢٣(‫) إِلٰى رَِبّهَا نَاظِرٌَة‬٢٢( ٌ‫( َنّاضِرَة‬wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannyalah mereka melihat). Dan telah tetap pada hadits:»ْ‫( « إَِنّ ُكمْ سَتَ َروْنَ رََبّ ُكم‬sungguh kalian akan

melihat Rabb kalian) yang konsisten dengan pernyataan itu. Adapun contoh pada firman Allah
Ta’ala ﴾‫( ﴿لَنْ يَخْلُقُواْ ُذبَـابًا‬sekali-kali mereka tidak dapat menciptakan seekor lalat pun). Maka difahami
bahwa abadinya tidak dari kata )‫ (َلن‬tetapi sungguh hanyalah dari dalil-dalil . Dilihat di kitab Syarah

Aththahawiyah bab 1 halaman 174, dan kitab Almughniy allabib halaman 374, dan kitab Attashrih
bab 2 halaman 357.
3. Kay : )‫ (كَ ْي‬Huruf mashdar, nashab dan istiqbal, misal )‫ (أَ ْن‬dan disyaratkan padanya agar didahului
dengan lam ta’lil baik secara lafadz ataupun taqdir. Secara lafadz misal )‫ ( ِجْئت لِكَيْ أَْقرََأ‬: atau secara
taqdir missal )َ‫ (جِئْت كَ ْي أَقْرَأ‬: Syarah Mula‘isham atas kitab al-aajurumiyah halaman 47.
4. Idzan : )ْ‫ (إِ َذن‬Huruf jawab dan jaza’, terdapat dalam alqur’an huruf jawab bukan penashab, dan
ditulis nunnya dengan alif dan supaya menyerupai ‫ ِإذَ ْن‬diharakati dengan mentanwinkan
manshubya seperti firman Allah Ta’ala ﴾َ‫( ﴿وَِإذًا َلّا يَلَْبثُوْن‬dan kalau terjadi demikian). Dan hanya menjadi

penashab dengan tiga syarat: Pertama: terjadi di awal kalam ; Kedua: pada fi’il yang ada setelahnya

menjadi mustaqbal ; Ketiga: tidak terpisah diantara keduanya dengan pemisah selain qasam atau
la nafiyah . Dilihat di Syarah Alkafiyah bab 2 halaman 118 dan Al-Mughniy halaman 31.

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 72

Bagan Posisi 'Aamil-'Aamil Penashab Fi'il Mudhari
beserta Contohnya

'Amil-'amil penashab fi'il mudhari' :

ْ‫ أَن‬، ْ‫ ِإذَن‬، ْ‫ كَي‬، ْ‫لَن‬

Dhamir (tersembunyi) Dzahir (nampak)

َ‫ي ْعجِبنِيْ أَنْ تَقْرَأ‬

Jawaazan (boleh/mungkin) Wujuuban (wajib)

Setelah lam ta'lil : 1. Setelah lam juhud : ْ‫مَا كُنْ َت لِتَفْهَمَ مَقَالَتِي‬
َ‫اِقْرَْأ لِتَسْتَفِيْد‬. 2. Setelah ‫ حََتّى‬:َ‫اِقْرَأْ حََتّى تَسْتَفِيْد‬
3. Setelah fa' sababiyyah: ‫زرْنِيْ فَأُ ْكرِمَ َك‬
4. Setelah wawu ma'iyyah: َ‫زرْنِيْ فَأُكْرِمَك‬
5. Setelah ‫ أو‬: َ‫لَأُقَاتِلُ َنّ الْكَافِ َر أَوْ يسْلِم‬

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 73

I'rab:

1. ﴾ ‫( ﴿ وَلَنْ يخْلِفَ الَلّه وَعْدَه‬dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya).

ْ‫وَلَن‬: Wawu tergantung pada apa yang mendahuluinya, dan ْ‫ لَن‬huruf Nafi dan nashib

dan Istiqbal.

َ‫يخْلِف‬: Fi'il mudhari, manshub, dan tanda nashabnya dengan fathah dzahir

diakhirannya.

‫اللُه‬: Fa’ilmarfu, dan tanda rafanya dengan dhammah dzahir diakhirannya.
‫وَ ْعدَه‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah, dan ha (‫ )ه‬adalah

dhammir, mabniy didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih.

2. ﴾ ‫( ﴿ كَيْ تَقَ َرّ عَيْنهَا‬agar matanya sejuk).

ْ‫كَي‬: Huruf masdhar , nashab dan istiqbal.
ّ‫ تَقَ َر‬: Fi’il mudhari masnshub dengan (‫ ) َكي‬dan tandanya nashab dengan fathah.
‫ عَيْنهَا‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah, dia juga sekaligus mudhaf ;

dan ha (‫ )ه‬adalah dhammir muttasil, mabniy didalam kedudukan jar sebagai mudhaf
ilaih. Mashdar muawwal (ْ‫ )كَي‬dan kata yang sesudahnya didalam kedudukan jar
terhadap lam muqaddarah. ‫أَ ْي‬: maka ditentukan dengan yang setara dengannya.

3. ﴾ ْ‫( ﴿ يرِيد الَلّه أَنْ ي َخ ِفّ َف عَنْ ُكم‬Allah hendak memberikan keringanan kepada kalian).

‫يرِيد‬: Fi'il mudhari', marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir diakhirannya.
‫ الَلّه‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir diakhirannya.

ْ‫ أَن‬: Huruf masdhar dan nashab dan istiqbal..

َ‫يخَ ِفّف‬: Fi'il mudhari', manshub dengan ‫أَ ْن‬, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir

; dan mashdar muawwal ( ‫ ) أَ ْن‬dan kata yang sesudahnya didalam kedudukan nashab

sebagai maf'ul bih.

ْ‫عَنْكُم‬: )ْ‫ (عَن‬Huruf ‫ َعن‬adalah huruf jar ; kaf adalah dhammir muttashil, mabniy atas

dhammah didalam kedudukan jar dengan huruf jar. Jar dan majrur berhubungan
dengan fa'il (‫) ُي َخ َّف َف‬.

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 74

4. ﴾ ِ‫( ﴿ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ ال ِذّكْرَ لِتبَِيّنَ لِلَنّاس‬dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an agar kamu

menerangkan kepada manusia).

‫وَأَنْزَلْنَا‬: Wawu tergantung pada apa yang mendahuluinya. َ‫ أَنْ َزل‬: fi'il madhi, mabniy atas
sukun, dan ‫ نَا‬adalah dhamir muttashil mabniy atas sukun pada posisi rafa' sebagai

fa'il.

َ‫ إِلَيْك‬:Huruf ‫ إِلَى‬adalah huruf jar ; dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy atas fathah

didalam kedudukan jar terhadap huruf jar ; jar dan majrur berhubungan dengan fa'il

(‫)أَنْزَلنَا‬.

‫ ال ِذّكْ َر‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir.

‫ لَتبَِيّ َن‬: Huruf lam adalah lam ta'lil ; َ‫ تبَِيّن‬adalah fi'il mudhari', manshub dengan ‫ أن‬yang

dibolehkan tersembunyi setelah lam ta'lil.

ِ‫ لِلَنّاس‬: Huruf lam adalah huruf jar ; ِ‫ الناس‬adalah isim majrur dengan lam, dan tanda
jarnya adalah kasrah dzahir ; jar dan majrur berhubungan dengan fa'il (َ‫)تبَِيّن‬.

5. ﴾ ْ‫( ﴿ وَمَا كَانَ الَلّه لِيضِيعَ إِيمَانَكُم‬dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu).
َ‫ مَا كَان‬: Kata ‫ ما‬: naafiyah (penafian /peniadaan), ‫ كَا َن‬: fi'il madhi, naasikh (perusak)

yang merafa'kan isim dan menashabkan khabar.
ُ‫ الله‬: Lafadz jalaalah : isim kaana, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.

َ‫ لِيضِيْع‬: Huruf lam adalah lam juhuud (penyangkalan), َ‫ يضِيْع‬: fi'il mudhari', manshub

dengan ‫ أن‬yang wajib tersembunyi setelah lam juhuud, dan fa'il adalah dhamir
mustatir wajib tersiratnya adalah َ‫هو‬, dan khabar kaana dihilangkan.
ْ‫ إيْمَانَكُم‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah ; dan kaf adalah

dhamir, mabniy didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih ; dan mim untuk

(penanda) jamak.

6. ﴾ ‫( ﴿ وَاصْبِرْ حََتّىٰ يَحْكُمَ الَلّه‬dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan).

‫ اصْبِ ْر‬: Fi'il amr, mabniy atas sukun ; dan fa'il nya adalah dhamir mustatir wajib

taqdirnya adalah ‫أَنْ َت‬.

‫ حََتّى‬: Huruf ghooyat.

َ‫ يَحْكُم‬: Fi'il mudhari', manshub dengan ‫ أن‬wajib tersembunyi setelah ‫حََتّى‬.

‫ اللٰه‬: Lafadz jalaalah, fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.

‫يخْلِ َف‬: Fi'il mudhari, manshub, dan tanda nashabnya dengan fathah dzahir

diakhirannya.

ُ‫الله‬: Fa’ilmarfu, dan tanda rafanya dengan dhammah dzahir diakhirannya.

'Aamil-'aamil Penashab Fi’il Mudhari' Halaman 75

7. ﴾ ‫( ﴿ لَا يقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَموتوا‬tidak diputuskan atas mereka lalu mereka mati).
‫ لَا يقْضَٰى‬:Huruf َ‫ ل‬adalah huruf nafi, dan ‫يقْضَى‬: fi'il mudhari' yang bentuknya

bermodifikasi, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah muqaddarah.

‫ عَلَيْهِ ْم‬: Kata ‫ عَلَى‬adalah huruf jar, dan ha adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun

; jar dan majrur didalam kedudukan rafa' sebagai na'ibul fa'il.

ْ‫ فَيَموْتوا‬: Fa adalah fa sababiyyah, ْ‫ يَموْتوا‬: fi'il mudhari', manshub dengan ‫ أن‬yang wajib

tersembunyi setelah fa sababiyyah, dan tanda nashabnya adalah hadzfun nun (buang

nun) karena dia termasuk dalam fi'il-fi'il yang lima. Wawu jamak adalah dhamir

muttashil, mabniy atas sukun didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

8. َ‫( تَعََّلمِ العِلْ َم فَيَنْ َفعَك‬pelajarilah ilmu maka anda akan beruntung).

ِ‫ تَعََلّم‬: Fi'il amr, mabniy atas sukun, dan kasrah karena pertemuan dua sukun ; fa'ilnya

dhamir mustatir (tersirat).
َ‫العِلْم‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir (yang nampak)

pada akhirnya.

َ‫فَيَنْفَعَك‬: Fa adalah sababiyah (penyebab), ‫يَنْفَ َع‬: fi'il mudhari', manshub dengan ‫ أن‬yang

wajib tersembunyi ; dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy didalam kedudukan

nashab sebagai maf'ul bih ; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir yang jelas takdirnya

adalah ‫ه َو‬.

9. َ‫( زرْنِيْ وَ أُكْرِمك‬kunjungilah saya dan saya akan memuliakanmu).

ْ‫ زرْنِي‬: Fi'il amr, mabniy atas sukun ; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir ; nun untuk
penyeimbang ; dan ya adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam
kedudukan nashab sebagai maf'ul bih.

َ‫ َو أُكْرِمك‬: Wawu adalah wawu maiyyah ; fi'il mudhari', manshub dengan ‫ أن‬yang wajib
tersembunyi ; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir wajib taqdirnya adalah ‫ ; أنا‬dan kaf

adalah dhamir, mabniy didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul bih.

10. ‫( اِضْرِبِ اْلمُذْنِبَ أَوْ يَتوْب‬pukullah orang berdosa atau bertaubat).
َ‫ اِضْرِبِ اْلمُذْنِب‬: I'rabnya seperti pada َ‫( تَعََلّمِ العِلْم‬di no 8).
‫ أَ ْو‬: Huruf athaf, dengan makna kecuali (‫ )إل‬atau ke (‫)إلى‬.
‫ يَتوْب‬: Fi'il mudhari, manshub dengan ‫ أن‬yang wajib tersembunyi , dan fa'ilnya adalah

dhamir mustatir.

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 77

'Aamil-'Aamil Penjazm Fi’il Mudhari’

Pengarang berkata: 'aamil-'aamil jazm ada 18, yaitu: ‫( لَ ْم‬tidak), ‫( لَ َمّا‬belum), ْ‫أَلَم‬
(tidakkah?), ‫( أَلَ َمّا‬belumkah?), ‫( لَام الأَمْرِ وَال ُدّعاَء‬lam untuk perintah dan permohonan), ِ‫( لَا فِي الَّنهْىِ وَال ُدّعَاء‬
laa untuk larangan dan permohonan), ‫( إِ ْن‬jika), ‫( مَا‬apa), ْ‫( مَن‬siapa), ‫( مَهْمَا‬apapun), ‫( إِذْمَا‬kalau), ‫أَي‬
(yang mana), ‫( مَتَى‬kapan), َ‫( َأَيّان‬dimana), َ‫( أَيْن‬dimana), ‫( أََنّى‬bagaimana), ‫( حَيْثُمَا‬dimanapun), ‫كَْيفَمَا‬
(bagaimanapun), dan ‫( إِذَا‬jika) pada sya'ir.

Penjelasan: Setelah Pengarang rahimahullah menyelesaikan pembahasan 'aamil-
'aamil nashab, maka ia memulai pembahasan 'aamil-'aamil jazm.
Asalnya didalam bentuk jazm fi'il mudhari' adalah sukun, dan berubah menjadi buang nun
pada fi'il-fi'il yang lima, dan buang huruf 'illat pada fi'il yang mu'tal pada akhirannya, dan ia
(fi'il) dijazmkan jika salah satu dari 'aamil-'aamil jazm mendahuluinya.
'Aamil jazm ada dua bagian:
1. Yang menjazmkan satu fi'il, yaitu: ْ‫لَم‬, ‫لَ َمّا‬, ‫لَام الَأمْ ِر َو ال ُدّعاَء‬, dan ِ‫ لَا فِي الَنّهْ ِى وَال ُدّعَاء‬. (1)
2. Yang menjazmkan dua fi'il, yaitu sisanya.

Pertama: Yang menjazmkan satu fi'il, yaitu:
Huruf ْ‫ لَم‬: yaitu huruf nafiy, jazm dan qalb, seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ْ‫لَمْ يَـلِدْ وَ لَم‬
ْ‫( ﴿ يولَـد‬Dia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan).
Dan ‫لَ َمّا‬: yaitu huruf nafiy, jazm dan qalb (2), seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ْ‫لَ َمّا يَلْحَقُوا بِهِم‬
﴿ (Mereka (suatu kaum) belum bertemu dengan kaum yang lain) (3)
Dan ِ‫ لَام الأَمْر‬yaitu yang diminta dengannya suatu perbuatan, seperti pada firman Allah
Ta’ala: ﴾ ٍ‫( ﴿ لِينْفِ ْق ذُوْ سَعَة‬hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah) (4),

dan membuat do'a yang berupa permintaan kepada Allah, seperti pada firman Allah
Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿لِيَقْضِ عَلَيْهَا رَُبّك‬hendaklah Tuhanmu mengakhiri kami) (5).
Dan ُ‫ لَاالنَاهِيَة‬yaitu yang diminta dengannya untuk meninggalkan suatu perbuatan, seperti
pada firman Allah Ta’ala ﴾ ْ‫( ﴿لَا تَحْــزَن‬janganlah kamu bersedih) (6); dan ada untuk doa,
seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾‫( ﴿ رََبّنَـا لَا تؤَاخِذْنَـآ‬ya Tuhan kami, janganlah Anda

menghukum kami) (7)

__________________________

(1) Adapun (ْ‫ أَلَم‬dan ‫ )أَلَ َمّا‬maka asalnya adalah (ْ‫ َلم‬dan ‫)لَ َمّا‬, dan ditambahkan hamzah istifham pada

keduanya.
(2) Contohnya adalah (ْ‫)َلم‬, yang memisahkannya didalam sebagian perkara, melaluinya: terdapat

penyangkalan dengannya dan mengharapkan hasilnya.

(3) QS Al-Jumu'ah ayat 3 (4) QS Aţ-Ţalāq ayat 7 (5) QS Az-Zukhruf ayat 77

(6) QS At-Taubah ayat 40 (7) QS Al-Baqarah ayat 286

* Perkataan Pengarang: Lam untuk perintah dan doa, dan Laa untuk larangan dan doa merupakan

isyarat - yang menunjukkan dua perangkat bersama Allah Ta’ala - yang tidak menjadi tepat sekalipun

merupakan doa, karena Allah tidak diperintah dan juga tidak dilarang. Dan bila digunakan untuk

selain Allah, bila dari yang lebih dekat kepada yang lebih tinggi, maka kami namakan keduanya

sebagai "permintaan" bukan "doa". Dilihat di Syarah Ibnu 'Utsaimin pada al Aajurumiyah, dan juga

syarahnya pada ilmu 'ushul.

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 78

Kedua : Yang menjazmkan dua fi'il

Fi'il pertama disebut sebagai fi'il syarat dan (fi'il) kedua disebut jawab syarat dan
balasannya. Dan kata-kata (yang menjazmkan) tersebut adalah : ْ‫( إِن‬jika), ‫( مَا‬apa), ْ‫مَن‬
(siapa), ‫( َمهْمَا‬apapun), ‫( إِذْمَا‬jika), ‫( أَي‬mana saja), ‫( مَتَى‬kapan), َ‫( أََيّان‬kapan), ‫( أَيْ َن‬dimana), ‫أََنّى‬
(bagaimana), dan ‫( َحيْثُمَا‬dimanapun).

Huruf (‫ )ِإن‬seperti pada firman Allah Ta’ala: ﴾ ‫( ﴿ إِنْ يَشَأْ يذْحِبْكُم‬jika Dia menghendaki
niscaya Dia memusnahkan kalian) (1). Dan (‫)مَا‬, seperti pada firman Allah Ta’ala : ‫﴿وَمَا‬
﴾‫(تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْه اللٰه‬dan apa saja yang kamu kerjakan niscaya Allah mengetahuinya) (2).
Dan (ْ‫)مَن‬, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾ ‫( ﴿ َو مَنْ يََتّقِ اللٰهَ يَجْعَلْ لَه مَخْرَجًا‬dan barang siapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan berikan jalan keluar)(3). Dan (‫) َمهْمَا‬
seperti pada perkataanmu : ْ‫( مَهْمَا يحَاوِلِ المُبْطِلُ ْونَ طَمْسَ الحَقِيْقَةِ تَظْهَر‬apapun upaya para pelaku

kebathilan untuk menghilangkan kebenaran, niscaya kebenaran akan nampak). Dan
(‫ )ِإذْمَا‬seperti pada perkataanmu : ‫( ِإذْمَا تَقُمْ أَقُ ْم‬jika anda berdiri maka saya berdiri). Dan (‫)أَي‬
seperti pada perkataanmu : ْ‫( َأ ُيّ طَالِبٍ يَجْتَهِدْ يَتَقَ َدّم‬pelajar mana saja yang berusaha keras
maka dia akan maju). Dan (‫)مَتَى‬, seperti pada perkataanmu : َ‫مَتَى يَصْلُحْ قَلْبكَ جَوَارِحك‬
(kapanpun hatimu baik, anggota-anggota tubuhmu baik). Dan (َ‫)اَيَاّن‬, seperti pada
perkataanmu : َ‫( اَيَاّنَ تطِعِ اَللهَ يعِنْك‬kapanpun anda menaati Allah, Ia akan menolongmu). Dan
(‫) أَيْ َن‬, seperti pada firman Allah Ta’ala : ﴾‫( ﴿أَيْنَمَا تَكُوْنوْا يدْرِك ُكّمْ المَوْت‬dimanapun kalian berada,
kematian akan mendapatkan kalian) (4). Dan (‫)أََنّى‬, contoh : ْ‫( أَنّى يَجْلِسِ اْلعَاِلمُ يحَتَرَم‬bagaimana
orang berilmu duduk, dia dihargai). Dan (‫) َحيْثُمَا‬, contoh : ْ‫( حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ تفْلِح‬dimanapun kamu

bersikap lurus [berkelakuan baik], kamu berhasil).

Al-Mushonnif sang pengarang mengingatkan didalam 'aamil-'aamil jazm,
tentang (‫)كَيْفَمَا‬, contoh : ‫( كَيْفَمَا تَفْعَلْ أفْعَل‬bagaimanapun kamu mengerjakan, saya

mengerjakan), menurut orang-orang Kuffah.

Dan boleh dijazmkan dengan (‫ )ِإذَا‬didalam kebutuhan (pemakaiannya pada) syair,
seperti perkataan di dalam syair (5) : ... ِ‫( وَاِذَا تصِبْكَ خَصَاصَةٌ فَتَجَ َمّل‬dan jika kamu dijaga dalam
kemiskinan maka berhiaslah).*

__________________________

(1) QS an-Nisā' ayat 133 (2) QS al-Baqarah ayat 197

(3) QS ath-Tholāq ayat 2 (4) QS an-Nisā' ayat 78

(5) Bait ciptaan abdul qais, dan permulaannya : "dan mintalah kecukupan selama kamu
dicukupi oleh Tuhanmu dengan kekayaan-Nya", dan kutipan dalam bait itu adalah : (‫)إِذَا‬,
dimana anda menjazmkan dalam keadaan darurat untuk sya'ir (َ‫ )تصِبْك‬. Dan makna dari
‫ الخَصَاصَة‬: kefakiran Dan ‫ تَجَ َمّل‬: maksudnya : jangan menunjukan kehinaan dan kemiskinan
pada dirimu.

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 79

Bagan yang Menjelaskan 'Aamil Penjazm Fi'il Mudhari' Beserta Contoh

'Aamil Penjazm

Yang menjazmkan satu fi'il Yang menjazmkan dua fi'il

|ِ‫| لَمْ| لَ َمّا| لَام الأَمْرِ| لَ الَنّاهِيَة‬ |‫|إِنْ| مَا| مَنْ| مَهْمَا‬

• ‫َلمْ يهْمِلْ زَيْد دَرْسَه‬ |َ‫| إِذْمَا|أَي | مَتَى| أََيّان‬
|‫| أَيْنَ| أََنّى| حَيْثُمَا| كَيْفَمَا‬
Zaid tidak melalaikan pelajarannya • َ‫إِنْ تَحْتَرِمْ إِخْوَانَكَ يَحْتَرِموْك‬.

• ْ‫زَيْد بَدَأَ ال َدّرْسَ وَ لَ َمّا يَحْضر‬

Pelajaran telah dimulai Jika kamu menghormati saudaramu mereka akan menghormatimu
dan Zaid belum datang
• ْ‫فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لَيَصْمت‬

Maka hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam

• ِ‫لَاتؤَ ِخّرْ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَد‬

Janganlah menunda amalan hari ini sampai besok

• ‫مَا تَفْعَلْ مِنْ شَيْءٍ تحَاسِب عَلَيِْه‬.

Apa yang kamu lakukan terhadap sesuatu, kamu bertanggung jawab atasnya

• ‫مَنْ يَعْمَلْ خَيْرًا يلْقِ خَيْرًا‬.

Siapa yang mengerjakan kebaikan, akan menerima kebaikan

•.ِ‫مَهماَ تَبْطَن يظْهِرْ مَعَ الْأَيّاَم‬.

Apapun yang kau rahasiakan akan terungkap suatu hari nanti

•.ْ‫إِذْ ماَ تَتَعََلّمْ تَتَقَ َدّم‬

Barang siapa mau belajar, maka akan berilmu

•.ْ‫أَ ُيّ يَوْم تَصْم أَصْمَ مَعَكُم‬.

Hari apapun kau berpuasa, saya akan berpuasa bersamamu

•.َ‫مَتَى تَساَفِر أَساَفِر‬.

Kapanpun kau bepergian, saya pun bepergian

•.َ‫أََيّانَ تَأتَنِيْ أُكْرِمْك‬

Kapanpun kau datang pada saya, saya akan memuliakanmu

•.ْ‫أَيْنَماَ يَذْهَبْ طاَلِب الْعِلْمِ يَنْفَع‬

Kemanapun perginya penuntut ilmu akan bermanfaat

•.‫أِنّى تَجِدْ ماَءً تَلَقَ ناَسًا‬.

Dimana saja kau menemukan air, kau akan menjumpai manusia

•.ْ‫حَيْثُماَ تَنْتَظِرْ أَحْضَرْ إِلَيْكُم‬.

Dimana saja kau menunggu, saya hadir padamu

•.َ‫كَيْفَماَ تعَامِلْ الَنّاسَ يعَامِلُوْك‬

Bagaimanapun kau beramal kepada orang, begitu pula mereka beramal kepadamu

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 78 & 79

__________________________

 Faedah faedah dan Catatan-catatan Penting :
1. Ibnu Hisyam berkata: [ ‫لَ ْم‬: adalah huruf jazm untuk menafikan fi'il mudhari' dan
membalikkannya ke zaman madhi: anda katakan: (‫)َيقُوْم زَيْد‬, maka fi'ilnya marfu'
karena ketiadaan penashab dan penjazm. dan mengandung zaman haal (sekarang)
dan zaman istiqbal (yang akan datang). Maka apabila masuk pada fi'il mudhari' (ْ‫)لَم‬
yang menjazmkannya dan membalikkannya kepada makna yang lalu (madhi)].
(Penjelasan dicukupkan sekian). Syarah Syudzuriy karya adz-Dzahabi, halaman 24.

2. Huruf ‫ لَ َمّا‬yang masuk pada fi'il madhi bukan merupakan nafiy penjazm, dan
sesungguhnya dia adalah dzaraf yang bermakna suatu saat yang diumumkan, dan
huruf syarat menurut Sibaway, seperti pada firman Allah Ta’ala : ْ‫﴿ فَلَ َمّا نَ َجّاكُمْ إِلَى الْبَ ِرّ أَعْرَضْتم‬
﴾(maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling).

Dilihat di Syarah al-Qathar halaman 55 dan an-Nahwu al-Waafi bab 4 halaman 420.

3. Ibnu Alhajj berkata: "Maa (َ‫ )م‬itu bisa menjazmkan dua fi'il", maksudnya asli ( ٌ‫)أصَالَة‬.

"Maa (َ‫ )م‬itu 'amil jazm asli tanpa ditakwil dengan huruf yang lain". Dan jika tidak,
maka terkadang 'jawab'nya selain fi'il, seperti jawaban dengan )‫ )ِ(فَمَا نَحْن‬seperti pada
firman Allah Ta’ala: ﴾ َ‫( ﴿ مَهْمَا تَأتِنَا بِهِ مِنْ ءَايَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْن لَكَ بِمؤْمِنِيْن‬apapun yang kalian
datangkan dari ayat untuk menyihir kami dengannya, kami tidak akan beriman
kepadamu); maka adanya fa pada jawaban dinamakan rabithah (penghubung) jawab
syarat. (Penjelasan dicukupkan sekian). Kutipan dari kitab Hasyiyah karya Ibnu
Alhajj halaman 61.

4. Tanda perangkat syarat yang menjazmkan dua fi'il : pantasnya in syartiyah menempati
tempatnya. (perangkat jawazim) karena ia adalah induknya bab.

5. Jika fi'il syarat berupa fi'il madhi, maka ia adalah mabniy pada kedudukan jazm,
contoh: ﴾ ‫( ﴿ وَ إنْ عدْتمْ عدْنَا‬dan jika kalian kembali, Kami kembali).

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 80

I'RAB

1. ﴾ْ‫ ﴿ لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يوْلَد‬Dia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan.
‫ لَم‬: Huruf nafiy dan jazm dan qalb.
‫ يَلِد‬: Fi'il mudhari', majzum dengan , ْ‫ لَم‬dan tanda jazmnya adalah sukun; dan fa'ilnya

adalah dhamir mustatir, taqdirnya )‫ (ه َو‬.
ْ‫ وَ لَم‬: Wawu adalah huruf 'athaf :‫ لَ ْم‬,huruf nafiy dan jazm dan qalb.
ْ‫ يوْلَد‬: Fi'il mudhari' yang berubah bentuknya, majzum dengan , ‫َِل ْم‬dan tanda jazmnya

adalah sukun; na'ibul fa'ilnya adalah dhamir mustatir jawazan, taqdirnya )َ‫ (هو‬.
2. ﴾ ْ‫ ﴿ لَ َمّا يَلْحَقُوْا بِهِم‬Mereka (kaum) belum bertemu dengan mereka (kaum yang lain).
‫ لَ َمّا‬: Huruf nafiy dan jazm dan qalb.
‫ يَلْحَقُوْا‬: Fi'il mudhari', majzum dengan ,ّ‫ َل َم‬dan tanda jazmnya adalah buang nun, dan

wawu jamak adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun didalam
kedudukan rafa' sebagai fa'il.

ْ‫ بِهِم‬: Ba adalah huruf jar ; dan ha adalah dhamir muttashil, mabniy atas kasrah

didalam kedudukan jar dengan huruf jar. Jar dan majrur terkait dengan fi'il.

3. ﴾ ِ‫ ﴿ لِينْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِه‬Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah

menurut kemampuannya.
I'rabnya sudah pernah dibahas pada pokok bahasan isim-isim yang lima .

4. ﴾َ‫ ﴿لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَُبّك‬Hendaklah Tuhanmu mengakhiri (mematikan) kami.
‫ لِيَقْض‬: Lam adalah huruf jazm yang menunjukkan akan doa : ِ‫ يَقْض‬,fi'il mudhari',

majzum dengan lam untuk doa/permintaan, dan tanda jazmnya adalah
buang huruf 'illat .

‫ عَلَيْنَا‬: Jar dan majrur : ‫ ; عَلَى‬huruf jar, alifnya berubah menjadi ya' karena tersambung
dengan dhamir ; dan ‫ نَا‬adalah dhamir muttashil, mabniy didalam kedudukan

jar dengan huruf jar. Jar dan majrur terkait dengan fi'il.

َ‫ رَُبّك‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir dan dia juga mudhaf;

kaf : dhamir muttashil, mabniy atas fathah didalam kedudukan jar sebagai
mudhaf ilaih.

5. ﴾ ْ‫ ﴿ لَا تَحْزَن‬Janganlah kamu bersedih.
ْ ‫ لَا تَحْزَن‬: Laa adalah huruf nahiy :ْ‫ ; تَحْزَن‬fi'il mudhari', majzum dengan laa nahiy , dan

tanda jazmnya adalah sukun ; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir wujuban,

taqdirnya )َ‫ (أَنْت‬.

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 81

6. ﴾‫﴿ رََبّنَا لَا تؤَاخِذْنَا‬Ya Tuhan kami, janganlah Anda menghukum kami.
‫ رََبّنَا‬: )‫ (يَا رََبّنَا‬Munada dengan huruf nida', yang dihilangkan, dan taqdirnya adalah dia

manshub karena mudhof. Dan ‫ نَا‬adalah dhamir muttashil, mabniy atas sukun

didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih.

‫ لَا تؤَاخِذْنَا‬: Huruf ‫ لَا‬menunjukkan doa (permohonan : ‫ ت َؤاخِذْنَا‬,)fi'il mudhari', majzum
dengan Laa permohonan, dan tanda jazmnya adalah sukun. Dan Naa (‫)نَا‬

adalah dhamir muttashil, mabny atas sukun didalam kedudukan nashab

sebagai maf'ul bih. Fa'ilnya adalah dhamir mustatir wujuban, takdirnya.َ‫أَنْت‬

7. ﴾ ْ‫﴿ إِنْ يَشَأْ يذْهِبْكُم‬Jika Dia (Allah) menghendaki, Dia akan memusnahkan kalian.

ْ‫ إِن‬: Huruf syarat dan penjazm, yang menjazmkan dua fi'il, yang pertama fi'il syarat

dan kedua adalah jawaban dan balasannya.

ْ‫ يَشَأ‬: Fi'il mudhari', fi'il syarat, majzum dengan ,)‫ (إِ ْن‬dan tanda jazmnya adalah sukun
; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir jawaazan, taqdirnya )َ‫(هو‬.

ْ‫ يذْهِبْكُم‬: Kata ْ‫ يذْهِب‬adalah fi'il mudhari', jawab syarat, majzum dengan ,)ْ‫ (إِن‬dan tanda

jazmnya adalah sukun ; dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy atas

dhammah didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul bih ; dan mim adalah

tanda jamak mudzakkar ; dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir jawaazan,

taqdirnya )َ‫(هو‬.

8. ﴾ُ‫﴿وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْه الله‬Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah

mengetahuinya.

‫ وَمَا‬: Wawu dii’rab sesuai yang ada sebelumnya ‫ مَا‬.isim syarat penjazm.
‫ تَفْعَلُوْا‬: Fi'il mudhari', fi'il syarat, majzum dengan ,‫ مَا‬dan tanda jazmnya adalah buang

nun, karena dia sebagai fi'il yang lima. Dan wawu jamak adalah dhamir
muttashil, mabniy didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

ٍ‫ مِنْ خَيْر‬: Huruf ْ‫ مِن‬adalah huruf jar : ٍ‫ ; خَيْر‬isim majrur dengan ,ْ‫ مِن‬dan tanda jarnya adalah

kasrah.

‫ يَعْلَمْه‬: Fi'il mudhari' jawab syarat, majzum dengan ,‫ َما‬dan tanda jazmnya adalah

sukun. Dan ha adalah dhamir, mabniy didalam kedudukan nashab sebagai
maf'ul bih.

ُ‫ الله‬: Lafadz jalalaah, fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah yang terlihat.

'Aamil-'aamil Penjazm Fi’il Mudhari' Halaman 82

9. ﴾ ‫ ﴿ وَمَنْ يََتّقِ اللهَ يَجْعَل َلّه مَخْ َر ًجا‬Dan barangsiapa yang bertakwa (kepada) Allah niscaya Dia

akan membukakan jalan keluar baginya.
‫ مَ ْن‬: Isim syarat penjazm, menjazmkan dua fi’il, yang pertama adalah fi'il syarat, dan yang

kedua adalah jawaban dan balasannya.
ِ‫ َيَتّق‬: Fi'il mudhari, fi'il syarat, majzum dengan , ْ‫ مَن‬dan tanda jazmnya adalah buang huruf

illatnya; sedangkan failnya adalah dhamir mustatir (disembunyikan) jawaazan.
‫ اللَه‬: Lafadz jalalaah, manshub atas pengagungan, dan tanda nashabnya fathah dzahir.
ْ‫ يَ ْجعَل‬: Jawab syarat, fi'il mudhari', majzum dengan ‫ مَ ْن‬dan tanda jazmnya adalah sukun ; failnya

adalah dhamir mustatir jawaazan, takdirnya )‫(ه َو‬.
‫ لَه‬: Jar dan majrur terkait dengan fi'il )‫(يَجْعَل‬.
‫ مَخْرَجًا‬: Maf'ul bih, manshub, dan tanda nashabnya adalah fathah dzahir.

10. ﴾‫﴿أَيْنَمَا تَكُوْنواْ يدْرِك ُكّم الْمَوْت‬Dimanapun kalian berada, kematian akan mendapati kalian.

‫أَيْنَمَا‬ : Isim syarat penjazm, dan : ‫ ما‬shilah (pengikat) dan taukid.
ْ‫تَكُوْنوا‬ : Fi'il mudhari, fi'il syarat, majzum dengan , ‫ أَيْ َن‬dan tanda jazmnya adalah buang nun.
‫يدْرِك ُكّم‬
Wawu adalah dhamir muttashil didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.
‫الْمَوْت‬ : Fi'il mudhari, jawab syarat, majzum dengan ,َ‫ أَيْن‬dan tanda jazmnya adalah sukun ;

kaf yang kedua adalah dhamir muttashil, mabniy didalam.kedudukan nashab
sebagai maf'ul bih, muqaddam ; dan mim adalah tanda jamak.
: Fa'il (untuk fi'il ,)‫ (يدْرِك‬marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah.

11. ‫ َو إِذَا تصِبْكَ خَصَاصَةٌ فَتَجَ َمّ ِل‬Dan jika kamu dijaga dalam kemiskinan maka berhiaslah.

‫َو إِذَا‬ : Wawu tergantung pada apa yang mendahuluinya; dan : ‫ إِذَا‬isim syarat penjazm.
َ‫تصِبْك‬ : Fi'il mudhari, fi'il syarat, majzum dengan , ‫ إِذَا‬dan tanda jazmnya adalah sukun ;

ٌ‫خَصَاصَة‬ dan kaf adalah dhamir muttashil didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul bih.
ِ‫فََتجَ َمّل‬ : Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.
: Fa : penghubung untuk menjawab syarat : ‫ ; تَجَ َمّ ِل‬Fi'il amr, mabniy atas sukun, dan

diberi tanda dengan kasrah di waktu terakhir sajak ; dan fa'il adalah dhamir
mustatir wujuuban, takdirnya .َ‫ أَنْت‬Kalimat )ِ‫ (تَجَ َمّل‬didalam kedudukan jazm sebagai

jawab syarat.

Bab Isim-Isim yang Marfu' Halaman 84

Isim-Isim yang Marfu’

Berkata al mushonnif tentang isim-isim yang marfu': Isim-isim yang marfu ada
tujuh macam yaitu: fa'il, maf'ul yang tidak menyebutkan fa'ilnya (=naibul fa'il),
mubtada dan khabarnya, isim kaana dan yang semisalnya, khabar inna dan dan yang
semisalnya, dan tabi'/pengikut yang marfu', dan tabi' ini ada empat: na'at, athaf,
taukid, dan badal.

Penjelasan : Isim-isim yang marfu' adalah: fa'il, maf'ul yang tidak menyebutkan
fa'ilnya (=naibul fa'il), mubtada dan khabarnya, isim kaana dan yang semisalnya,
khabar inna dan yang semisalnya, dan tabi'/pengikut yang marfu' : maka ketika isim
berada pada salah satu posisi berhukum rafa', yang akan dijelaskan secara rinci bab
per bab, dengan ijin Allah Ta’ala.

Fa’il

Berkata al-mushannif mengenai bab fa'il :

Fa'il adalah isim marfu' yang disebutkan sebelumnya fi'ilnya; dan fa'il dibedakan

atas dua bagian ; dzahir/nampak, dan dhamir/implisit.

Contoh fa'il yang nampak seperti pada perkataanmu : ‫( قَامَ زَيْد‬Zaid telah berdiri),
‫( يَقُوْم زَيْد‬Zaid sedang berdiri), ‫( قَامَ ال َزّيْدَا ِن‬dua orang bernama Zaid telah berdiri), ِ‫يَقُوْم ال َزّيْدَان‬
(dua orang bernama Zaid sedang berdiri), ‫( َقامَ ال َزّيْدوْن‬beberapa orang bernama Zaid
telah berdiri), ‫( َيقُوْم ال َزّيْدوْ َن‬beberapa orang bernama Zaid sedang berdiri), ُ‫قَامَ ال ِرّجَال‬
(beberapa lelaki telah berdiri), ُ‫( يَقُوْم ال ِرّجَال‬beberapa lelaki sedang berdiri), ‫قَامَتْ هِنْد‬
(Hindun telah berdiri), ‫( تَقُوْم هِنْد‬Hindun telah berdiri), ‫( َقامَتِ الْهِنْدَان‬dua wanita bernama
Hindun telah berdiri), ‫( تَقُوْم الْهِنْدَا ِن‬dua wanita bernama Hindun sedang berdiri), ‫قَامَ ِت‬
‫( الْهنوْد‬banyak Hindun telah berdiri), ‫( تَقُوْم الْهنوْد‬banyak Hindun sedang berdiri), َ‫قَامَ أَخوْك‬
(saudara lelakimu telah berdiri), ‫( وَ يَقُوْم أَخوْ َك‬saudara lelakimu sedang berdiri), ْ‫َقا َم غُلَامِي‬
(anak lelakiku telah berdiri), ‫( يَقُوْم غُلَامِي‬anak lelakiku sedang berdiri); dan yang

menyerupainya.

Penjelasan tentang Fa'il :

Definisinya : Secara bahasa, fa'il diartikan sebagai orang yang melakukan sebuah

perbuatan. Secara istilah, fa'il adalah isim marfu' yang disebutkan sebelumnya

fi'ilnya.

Contohnya: ‫( قَامَ زَيْد‬Zaid telah berdiri).
I'rabnya: ‫ = قَا َم‬fi'il madhi, ‫ = َزيْد‬fa'il ; dan dia adalah isim marfu', disebutkan

sebelumnya fi'il yang berlangsung karenanya.

Fa’il Halaman 85

Jenis-jenis fa'il : dzahir/tampak dan dhamir/implisit.

Pertama : Fa'il yang dzahir/tampak

Yang dirafa'kan dengan dhammah : Apabila fa'il tersebut mufrad, contoh firman
Allah : ﴾َ‫( ﴿ وَجَآءَ رَُبّك‬dan datanglah Tuhanmu) (1).
Atau jamak muannats salim, contoh firman Allah : ﴾‫( ﴿ إِذَا جَآءَ كُم المُؤْمِنَات‬jika datang
kepada kalian perempuan-perempuan beriman) (2).
Atau jamak taksir, contoh firman Allah ﴾‫( ﴿قَالَتِ الأَعْرَاب‬orang-orang Arab badui
berkata) (3).

Yang dirafa'kan dengan wawu: Apabila fa'il tersebut jamak mudzakkar salim,
contoh firman Allah : ﴾َ‫( ﴿قَالَ الحَوَارُِيّوْن‬para sahabat-sahabat setia berkata) (4).
Atau isim yang lima, contoh firman Allah : ﴾ْ‫ ( ﴿ قَا َل أَبوْهم‬berkata ayah mereka) (5).

Yang dirafa'kan dengan alif: Apabila fa'il tersebut mutsanna, contoh pada firman
Allah : ﴾ِ‫( ﴿ قَالَ رَجلَان‬berkata dua orang pemuda) (6).

Kedua : Fa'il berupa dhamir/ implisit

Pengarang berkata : fa'il berupa dhamir ada 12 , seperti pada perkataanmu : ‫( ضَرَبْت‬saya
telah memukul), ‫( َضرَبْنَا‬kami telah memukul), ‫( ضَرَبْ َت‬kamu lelaki telah memukul), ِ‫ضَرَبْت‬
(kamu perempuan telah memukul), ‫( َصرَبْتمَا‬kamu berdua telah memukul) , ‫( َضرَبْت ْم‬kalian
lelaki telah memukul), ّ‫( ضَرَبْت َن‬kalian perempuan telah memukul), َ‫( ضَ َرب‬dia lelaki telah
memukul), ْ‫( َضرَبَت‬dia perempuan telah memukul), ‫( ضَرَبَا‬dia berdua lelaki telah
memukul), ‫( َضرَبوا‬mereka lelaki telah memukul), dan ‫( َضرَبْ َن‬mereka perempuan telah
memukul).

Penjelasannya : setelah selesai membahas perkataan fa'il yang dzahir/tampak, lalu
melanjutkan (untuk membahas) fa'il berupa dhamir/implisit.

Dan fa’ilyang implisit atau dhamir : merupakan isim yang menempati kedudukan
fa'il dzahir/tampak.
Fa’ilberupa dhamir terbagi atas dua macam : dhamir bariz /jelas dan dhamir mustatir
/tersembunyi.
__________________________

(1) QS Al-Fajr ayat 22
(2) QS Al-Mumtahanah ayat 10
(3) QS Al-Hijaroot ayat 14
(4) QS Ali 'Imron ayat 52
(5) QS Yusuf ayat 94
(6) QS Al-Maaidah ayat 23

Fa’il Halaman 86

Fa'il dhamir bariz (yang jelas/nampak) :

Pengarang telah memberikan contoh untuk fa'il ketika dalam keadaan dhamir bariz
(yang jelas/nampak) yang bersambung dengan fi'il nya.
Yaitu : Ta' fail, Naa (‫ )نَا‬fail, alif tatsniyah, wawu jamak dan nun niswah.

Ta' fa’il:
 Keberadaannya untuk menunjukkan atas : orang yang berbicara/mutakallim
tunggal lelaki atau perempuan, contohnya : ‫أَنَا ضَرَبْت‬
 Seorang lelaki lawan bicara/mukhathab, contoh : َ‫أَنْ َت ضَرَبْت‬
 Seorang perempuan lawan bicara/mukhathabah, contoh : ِ‫أَنْتِ َضرَبْت‬
 Dua orang lawan bicara/mukhathab, contoh : ‫أَنْتمَا ضَرَبْتمَا‬
 Lebih dari dua orang lelaki lawan bicara/mukhathab, contoh :ْ‫أَنْتمْ ضَرَبْتم‬
 Lebih dari dua orang perempuan lawan bicara/mukhathabah, contoh :ّ‫أَنْت َنّ ضَرَبْت َن‬

Dan naa (‫ )نَا‬fa'il (subjek) : digunakan untuk menunjukkan orang yang berbicara

(mutakallim ) jamak atau seorang diri yang mengagungkan dirinya. Contohnya :
‫نَحْن ضَرَبْنَا‬

Dan alif tastniyah : digunakan untuk menunjukkan dua orang yang dibicarakan
lelaki (ghaib), contoh : ‫ال َزّيْدَانِ ضَرَبَا‬

Dan digunakan untuk menunjukkan dua orang yang dibicarakan perempuan
(ghaibah), contoh : ‫الْهِنْدَانِ َضرَبَتَا‬

Dan wawu jamak : digunakan untuk menunjukkan lebih dari dua orang yang
dibicarakan lelaki (ghaib) , Contoh : ‫ال َزّيْدونَ ضَرَبوا‬

Dan nun niswah : digunakan untuk menunjukkan orang yang dibicarakan jamak
perempuan (ghaibah), contoh : ‫الْهِنْدَات ضَرَبْ َن‬

Maka tiap-tiap yang disebutkan dalam dhamir yang dii’rab sebagai ‘dalam
kedudukan rafa' sebagai fail’, karena dia mabny dan mabninya (harakat) menurut
apa yang didengar: ‘atas dhammah’ jika dia didhammahkan, ‘atas fathah’ jika
berharakat fathah dan ‘atas kasrah’ jika berharakat kasrah serta ‘atas sukun’ jika
berharakat sukun (1).

Di dalam i’rab, contohnya : ‫ضَرَبْت‬.

(Maka i’rabnya) fi’il madhi mabny atas sukun dan ta' (‫ )ت‬adalah dhamir muttasil
mabny
atas dhammah dalam kedudukan sebagai fail.
__________________________

(1) Begitulah dikatakan pada isim mabny lainnya apabila terletak pada posisi fa’il.

Fa’il Halaman 87

Fa’il Dhamir Mustatir

Jika fa’il bukan isim dzahir /yang tampak dan bukan juga dhamir bariz (tampak
wujud dhamirnya) maka dia adalah dhamir mustatir (tersembunyi) yang tidak
nampak wujudnya pada kalimat. Hanya saja dhamir mustatir itu ditakdirkan (dikira-

kira) tergantung dari maknanya contohnya : َ‫( زَيْد ذَهَب‬Zaid pergi) dan ْ‫( هِنْد ذَهَبَت‬Hindun

pergi).

Yaitu : (َ‫ ) هو‬:َ‫ زَيْد ذَهَب‬dan (‫ ) ِه َي‬: ْ‫هِنْد ذَهَبَت‬

Fa’ilnya dhamir mustatir/tersembunyi taqdirnya (‫ )ه َو‬kembali ke Zaid pada fi'il yang
pertama, dan dhamir mustatir/tersembunyi taqdirnya (‫ )هِ َي‬kembali ke Hindun pada

fi’il ke-dua.

Dan tidak keluar taqdirnya dhamir mustatir dari dua ini pada setiap fi'il madhi.*

__________________________

 Faedah faedah dan Catatan-catatan Penting :

1. Apabila fa'il mendahului fi'ilnya (fa'il di depan fi'il), maka dia keluar dari keadaannya

sebagai fa'il menjadi mubtada'
contoh: َ‫( زَيْد ذَهَب‬Zaid telah pergi)

2. Wawu jamak: khusus bagi mudzakkar yang berakal (manusia), termasuk kesalahan umum
perkataan mereka di kalangan orang-orang Arab: َ‫ الِنّسَاءُ غَسَلُوْا الِثّيَاب‬yang benar perkataan: ُ‫الِنّسَاء‬
َ‫غَسَلْنَ الِثّيَاب‬

3. Dhamir mustatir pada fi'il madhi taqdirnya selalu (َ‫ )هو‬atau (‫ )هِ َي‬, mustatir jawazan.
4. Dhamir mustatir pada fi'il amr, taqdirnya: selalu (َ‫ )أَنْت‬, mustatir wujuban

5. Dhamir mustatir pada fi'il mudhari' dibedakan dengan berbedanya huruf mudhara'ah
• Yang didahului dengan hamzah, contoh: ‫ أَضْرِب‬, taqdirnya (‫ )أَنَا‬, mustatir wujuban.
• Yang didahului dengan nun, contoh: ‫ نَضْرِب‬taqdirnya‫ )ُ(نَحْن‬, mustatir wujuban
• Didahului dengan Ya', contoh: ‫ يَضْرِب‬taqdirnya (َ‫ )هو‬, mustatir jawazan
• Didahului dengan Ta' ta'nits, contoh: ‫ نَضْرِب‬taqdirnya (َ‫ )هِي‬, mustatir jawazan
• Didahului dengan ta' mukhaththab, contoh: َ‫ أُحِ ُبّ أَنْ نَضْرِب‬taqdirnya (َ‫ )أَنْت‬mustatir

wujuban

Fa’il Halaman 88

Bagan yang menjelaskan jenis-jenis fa'il
beserta contoh menurut apa yang telah Pengarang sebutkan

Fa'il

Dhamir/ Dzahir/
Implisit
Tampak
Mustatir/ Muttashil /
Tersembunyi Bersambung ‫قَامَ زَيْد‬

(Zaid telah berdiri)

ِ‫قَامَ ال َزّيْدَان‬

)Dua orang bernama Zaid telah berdiri(

‫قَامَ ال َزّيْدوْن‬

)Beberapa orang bernama Zaid telah berdiri(

)…( ‫زَيْد ضَرَ َب‬ Ta' fa'il
Zaid telah memukul
)saya telah memukul( ‫ضَرَبْت‬
)…( ‫هِنْد ضَرَبَ ْت‬
Hindun telah memukul Naa fa'il :

(kami telah memukul) ‫ضَرَبْنَا‬

Alif itsnain (kedua):

(mereka berdua telah memukul) ‫ضَرَبَا‬

Wawu jamak :

(mereka telah memukul) ‫ضَرَبوا‬

Nun niswah :

(mereka [perempuan] telah memukul) َ‫ضَرَبْن‬

Fa’il Halaman 89

I'rab :

1. ﴾ َ‫ ﴿ وَجَاءَ رَُبّك‬Dan Tuhanmu telah datang

‫ جَا َء‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah.
‫ رَُبّ َك‬: Kata ‫ َر ُّب‬adalah fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir di

akhirannya. Dan huruf kaf adalah dhamir, mabniy didalam kedudukan jar sebagai
mudhaf ilaih.

2. ﴾‫ ﴿ إِذَا جَآَءكُم الْمؤْمِنَٰت‬Apabila telah datang kepada kalian wanita-wanita yang beriman

‫ إِذَا جَاءَكُم‬: Kata ‫ إِذَا‬: Dzaraf yang menunjukkan keterangan waktu ; َ‫جَاء‬: Fi'il madhi,

mabniy atas fathah ; dan kaf adalah dhamir muttashil, mabniy atas dhammah
didalam kedudukan nashab sebagai maf'ul bih, muqqaddam (yang diawalkan) ; dan
mim yang menunjukkan jamak.

‫ الْمؤْمِنَات‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafanya dengan dhammah dzahir diakhirannya.

3. ﴾ ‫ ﴿ قاَلَتِ اْلأَعْراَب‬Orang-orang Arab Badui berkata

‫ قاَلَ ِت‬:Fi'il madhi, mabniy atas fathah ; dan ta adalah ta ta'niits, huruf, yang tidak

berkedudukan didalam i'rab.

‫ اْلأَعْراَب‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah dhammah dzahir.

4. ﴾ َ‫ ﴿ قَا َل الْحَوَارُِيّوْن‬Pengikut-pengikut yang setia telah berkata

َ‫ قَال‬: Fi’il madhi, mabni atas sukun.
َ‫ الْحَوَارُِيّوْن‬: Fa'il, marfu dengan wawu sebagai ganti dari dhammah, karena dia jamak

mudzakkar salim.

5. ﴾ ْ‫ ﴿ قَا َل أَبوهم‬Berkata ayah mereka

َ‫ قَال‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah.
ْ‫ أَبوهم‬: Fa'il, marfu' dengan wawu sebagai ganti dari dhammah karena dia termasuk

isim-isim yang lima, dan dia juga mudhaf. Ha' : dhamir muttashil, mabniy atas
dhammah didalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih ; Dan mim adalah tanda
jamak.

6. ﴾ ِ‫ ﴿ قَا َل رَجلَان‬Dua lelaki berkata

َ‫ قَال‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah.
ِ‫ رَجلَان‬: Fa'il, marfu', dan tanda rafa'nya adalah alif sebagai ganti dari dhammah karena

dia mutsanna.

Fa’il Halaman 90

Aplikasi I'rab Fa'il yang Dhamir/Implisit :

1. ‫ضَرَبْت‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun karena bersambung dengan ta' fa'il. Dan ta'

adalah dhamir muttashil, mabniy atas dhammah didalam kedudukan rafa' sebagai

fa'il.

2. ‫ضَرَبْنَا‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ‫ نَا‬adalah dhamir muttashil, mabniy atas

sukun didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

3. َ‫ضَرَبْت‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ta' adalah dhamir muttashil, mabniy

atas fathah didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

4. ِ‫ضَرَبْت‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ta' adalah dhamir muttashil, mabniy

atas kasrah didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

5. ‫ضَرَبْتمَا‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ta' adalah dhamir muttashil, mabniy

atas dhammah didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il, dan mim dan alif untuk

tatsniyah.

6. ‫ضَرَبْت ْم‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ta' adalah dhamir muttashil, mabniy

atas dhammah didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il, dan mim tanda atas jamak

mudzakkar.

7. ّ‫ ضَرَبْت َن‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan ta' adalah dhamir muttashil, mabniy

atas dhammah didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

8. َ‫ ضَرَب‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah, dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir

jawaazan, taqdirnya huwa (‫)ه َو‬.

9. ْ‫ ; ضَرَبَت‬Fi'il madhi, mabniy atas fathah, dan fa'ilnya adalah dhamir mustatir

jawaazan, taqdirnya hiya ( َ‫) هِي‬.

10. ‫ ضَرَبَا‬:Fi'il madhi, mabniy atas fathah, dan alif itsnain adalah dhamir muttashil,

mabniy didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

11. ‫ ضَرَبَتَا‬: Fi'il madhi, mabniy atas fathah, dan ta' adalah huruf ta'niits, dan alif itsnain

adalah dhamir muttashil, mabniy didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

12. ‫ ضَرَبوْا‬: Fi'il madhi, mabniy atas dhammah, dan wawu jamak adalah dhamir

muttashil, mabniy didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

13. َ‫ ضَرَبْن‬: Fi'il madhi, mabniy atas sukun, dan nun niswah adalah dhamir muttashil,

mabniy didalam kedudukan rafa' sebagai fa'il.

Na’ibul Fa’il Halaman 92

Naibul Fa’il

Pengarang berkata: Bab maf'ul yang tidak disebut fa'ilnya : yaitu isim yang
dirafa'kan yang tidak disebut bersamanya fa'ilnya. Jika fi'il madhi, maka huruf
pertamanya di dhammahkan dan satu huruf sebelum huruf terakhir di kasrahkan.
Jika fi'il mudhari' , huruf pertamanya di dhammahkan dan satu huruf sebelum huruf
terakhir difathahkan.

Penjelasan : setelah menyelesaikan bab fa'il Pengarang rahimahullah memulai
menjelaskan Naibul fa'il (pengganti fa’il), karena sesungguhnya hukumnya seperti
hukum fa'il dalam banyak sisi. Dan dinamakannya (maf’ul yang tidak disebutkan
failnya), yakni : Pelaku/failnya tidak disebutkan karena naibul fa’il sudah
menggantikan kedudukannya. (1)

Naibul Fail: Pengertian: Isim marfu yang tidak disebutkan bersamanya failnya.
Contohnya : Nabi ‫ ﷺ‬bersabda:《ٍ‫(》 بنِيَ الْإسْلَام عَلَى خَمْس‬Islam dibangun atas lima
perkara) (2).
I’rabnya : َ‫ بنِي‬: fi’ill madhi yang mughairu sigho ; ‫ الْإ ْسَلام‬: Naibul Fa’ilyang marfu.
Asalnya adalah َ‫( بَنَى الَلّه الْإِسْلَام‬Allah telah membangun Islam), maka dihapus
fail/pelakunya yaitu Lafdzul jalalah-Allah- karena telah diketahui, maf’ul (َ‫)الْإِسْلَام‬
menduduki kedudukan fail, maka berubah menjadi marfu setelah sebelumnya
manshub. Dan diubah juga bersamanya bentuk dari fi’ilnya menjadi ‫( بنِيَ الْإسْلَام‬Islam
telah dibangun).

Cara mengubah bentuk fi’il bersama naibul fa’il:
Apabila fi’ilnya fi’il madhi, maka didhammahkan huruf yang pertama dan di
kasrahkan satu huruf sebelum huruf yang terakhir. Contoh: َ‫ ضرِب‬telah di pukul, َ‫ُكتِب‬
telah di tulis, َ‫ ُأكْرِم‬telah di muliakan.
Apabila fi’ilnya fi’il mudhari', maka didhammahkan huruf yang pertama dan
difathahkan satu huruf sebelum huruf yang terakhir, contoh: ‫ يضْرَب‬sedang atau akan
di pukul, ‫ يكْتَب‬sedang atau akan di tulis, ‫ ي ْكرَم‬sedang atau akan dimuliakan.

__________________________
1. Apabila anda melihat Zaid sedang memotong dahan dari sebuah pohon,dan anda ingin

mengabarkan yang demikian itu, anda katakan: ‫( قَطَعَ زَيْد الْغصْ َن‬Zaid telah memotong dahan).
Maka (‫ )زَيْد‬fa'il yang di rafa’kan, (َ‫ ) الْغصْن‬maf'ul bih yang di nashabkan. Adapun jika anda
tidak mengetahui siapa yang memotong dahan tersebut, atau anda mengetahuinya tetapi
anda tidak ingin menyebutkannya dengan suatu sebab, maka anda katakan : ‫قُطِعَ الْغصْن‬
(dahan telah dipotong). Fa'il dihapus kemudian di tempatnya diletakkan maf'ul dan
dinamakan naibul fa'il, dan dia wajib rafa'.
2. Riwayat Bukhari dan Muslim dari ibnu Umar ( semoga Allah meridhai mereka berdua).

Na’ibul Fa’il Halaman 93

Pembagian Naibul fa'il :

Berkata Al Mushannif, naibul fa’ilada dua kelompok : ada yang dzahir/nampak dan
ada yang dhamir. Maka naibul fa’ilyang dzahir seperti perkataanmu ٌ‫ ( ُض ِر َبٌ َز ْيد‬Zaid
telah dipukul), ٌ‫ ( يُ ْض َر ُبٌ َز ْيد‬Zaid sedang dipukul), ‫ ( أُ ْك ِر َمٌ َع ْمرو‬Amr telah dimuliakan),
dan ٌ‫ ( يُ ْك َر ُمٌ َع ْمر‬Amr sedang dimuliakan).

Penjelasan : pembagian naibul fa’ilsama dengan pembagiannya fi’il , kepada naibul

fa’ildzahir dan naibul fa’ildhamir.
Isim Dzahir/Nampak : Contoh naibul fa’ilseperti pada firman-Nya : ﴾ٌ‫ ( ﴿ضرِبَ مَثَل‬telah
dijadikan suatu perumpamaan) (1), dan ﴾ ٌ‫ ( ﴿ يُ ْع َر ُفٌا ْل ُم ْج ِر ُم ْو َن‬orang-orang yang berdosa
itu diketahui)(2). Naibul failnya ( ٌ،‫ َمثَل‬dan ٌ‫ )اٌ ْل ُم ْج ِر ُم ْو َن‬merupakan isim marfu. Dalam
firman-Nya (‫ ) َمثَ ٌل‬marfu dengan dhamah dikarenakan isim mufrad. Marfu dalam
firman-Nya ( ٌ‫ )ا ْل ُم ْج ِر ُم ْو َن‬dengan wawu karena isim jamak mudzakar salim.
Berkata: Dhamir ada dua belas, contoh perkataanmu : ‫( ضرِبْت‬saya telah dipukul), ‫ضرِبْنَا‬
(kami telah dipukul), ‫( ضرِبْ َت‬kamu [lelaki] telah dipukul), ِ‫( ضرِبْت‬kamu [perempuan]
telah dipukul), ‫( ضرِبْتمَا‬kamu berdua telah dipukul), ‫( ضرِبْتمَا‬kalian [lelaki] telah dipukul),
ّ‫( ضرِبْت َن‬kalian [perempuan] telah dipukul), ‫( ضرِ َب‬dia [lelaki] telah dipukul), ‫( ضرِبَ ْت‬dia
[perempuan] telah dipukul), ‫( ضرِبَا‬dia dua orang [lelaki/perempuan] telah dipukul),
‫( ضرِبوْا‬mereka [lelaki] telah dipukul), َ‫( ضرِبْن‬mereka [perempuan} telah dipukul).

Penjelasan :Jenis kedua dan pembagian Naibul fa’il :

Dhamir : Dan sungguh Pengarang telah memberikan contoh dengan berbagai

bentuk yang berbeda yang ada padanya, dan kami menyebutkan untukmu contoh-

contoh dari Al-Qur’an al-Karim yang ada padanya naibul fa’il berupa dhamir, seperti
pada firman Allah : ﴾‫( ﴿وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا‬kami dikeluarkan dari rumah-rumah kami) (3),
maka perkataan : ‫( أُخْرِجْنَا‬kami telah dikeluarkan), fi’ill madhi mughairu sighat mabny
atas sukun. Dan ‫( نَا‬kami) adalah dhamir muttasil mabny atas sukun didalam

kedudukan rafa’ sebagai naibul fail.

Dan begitu pula cara meng’irab sisa dhamir yang telah disebutkan oleh Pengarang.

Dan sesungguhnya saya telah menyebutkan petunjuk setiap dhamir di dalam bab

fail.*
__________________________

(1) QS Al-Hajj ayat 73

(2) QS Ar-Rahman ayat 41

(3) QS Al-Baqarah ayat 246

* Faedah-faedah dan Catatan-catatan Penting:

1. Pengarang diam (tidak membahas) fi'il amr, karena fi'il amr itu tidak ada bentuk majhulnya.

2. Perkataan mughairu shighat lebih baik daripada perkataan kita mabniy majhul / mabniy

sesuatu yang tidak diketahui), karena terkadang fa'ilnya itu ma'lum (diketahui).

Firman Allah Ta’ala ﴾ ‫( ﴿ خلِقَ الْإِنْسَا ُن‬manusia telah diciptakan), fa'ilnya telah diketahui yaitu (‫ )الَلّه‬akan

tetapi dia tidak disebutkan. Dilihat di syarah al-aajurumiyah tulisan Ibnu 'Utsaimin (semoga Allah

merahmatinya)

Mubtada dan Khabar Halaman 95

Mubtada dan Khabar

Pengarang berkata: (Bab mubtada' & khabar: Mubtada': adalah isim yang

dirafakan marfu' yang terbebas dari amil-amil/faktor yang bersifat lafadz (verbal);

Sedangkan khabar : adalah isim marfu’ yang disandarkan kepada mubtada’ (musnad).
Contoh perkataanmu: ‫( زَيْد قَائِم‬Zaid telah berdiri), ِ‫( ال َزّيْدَانِ قَائِمَان‬dua Zaid telah berdiri),
َ‫( ال َزّيْدوْنَ قَائِموْن‬banyak Zaid telah berdiri).

Penjelasan: Setelah menyelesaikan pembahasan mengenai fa'il dan naibul fa'il,

beliau melanjutkan dengan pembahasan mengenai mubtada' dan khabar dan

mengumpulkan keduanya dalam bab yang sama, karena khabar senantiasa

menyertai mubtada' , dan khabar bersama mubtada’ tersusun menjadi

kalimat/jumlah ismiyyah. Bagian pertama dinamakan mubtada' (yang di awal)

karena jumlah (kalimat) dimulai dengannya; rukun keduanya dinamakan "khabar"

(penjelasan) karena khabar mengkabarkan mubtada.

Mubtada' definisinya: yaitu isim yang dirafakan yang terbebas dari amil-amil amil

lafaz (amil yang merubah keadaan mubtada).

Khabar definisinya: yaitu sesuatu yang disandarkan (predikat) yang dengannya

bersama mubtada itu menjadi sempurna faedahnya.

Contoh keduanya: Sabda Nabi ‫ﷺ‬: 《 ‫(》 ال َصّلَاةُ نوْر‬shalat adalah cahaya)(1). Maka kata
ُ‫ ال َصّلَاة‬adalah mubtada' ; karena ia isim marfu' yang kosong dari amil-amil lafzhiy (2),
dan kata (‫)نــور‬: adalah khabar karena ia mengabarkan mubtada' yang dengannya

kalimat menjadi sempurna.

Hukum mubtada' dan khabar: (Keduanya) rafa' dengan dhammah atau dengan

yang menggantikannya. Karena rafa' itu dapat ditandai dengan dhammah
sebagaimana perkataanmu: ‫( زَيْد قَائِم‬Zaid telah berdiri)(3), atau rafa' dengan alif,
seperti perkataanmu: ِ‫( ال َزّيْدَا ِن قَائِمَان‬dua orang Zaid telah berdiri)(4), atau rafa' dengan
wawu, seperti perkataanmu: ِ‫( ال َزّيْدَانِ قَائِمَان‬beberapa Zaid telah berdiri) (5).
__________________________

(1) Hadits dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari Harits Al-asy'ariy semoga Allah

meridhainya.
(2) Dikecualikan dengannya dari dikaitkannya dengan ‘amil lafadz seperti fi’il. contoh: ِ‫قَامَت‬

‫ ال َصّلَاة‬tidaklah dikatakan kata ‫ ال َصّلَاة‬itu mubtada' tetapi ia fa'il.
(3) Kata ‫ زَيْد‬: mubtada' marfu', tanda rafa'nya adalah dhammah, ‫ قَائِم‬: khabar marfu', tanda

rafa'nya adalah dhammah.
(4) Kata ِ‫ ال َزّيْدَان‬: mubtada' marfu', tanda rafa'nya adalah huruf alif karena ia mutsanna, ِ‫قَائِمَان‬

: khabar marfu', tanda rafa'nya adalah huruf alif karena ia mutsanna.
(5) Kata َ‫ ال َزّيْدوْن‬: mubtada' marfu', tanda rafa'nya adalah huruf wawu karena ia adalah jamak

mudzakkar salim. َ‫ قَائِموْن‬: khabar marfu', tanda rafa'nya adalah huruf wawu.

Mubtada dan Khabar Halaman 96

Macam-Macam Mubtada

Pengarang telah berkata: (Mubtada' itu ada dua macam: Dzahir dan dhamir. Yang

dzahir adalah apa yang telah disebutkan terdahulu, dan dhamir ada dua belas, yaitu:
‫ ه َّن‬، ْ‫ هم‬، ‫ همَا‬، ‫ هِ َي‬، َ‫ هو‬، ّ‫ أَنْت َن‬، ْ‫ أَنْتم‬، ‫ أَنْتمَا‬، ِ‫ أنَت‬، َ‫ أَنْت‬، ‫ نَحْن‬، ‫ أَنَا‬seperti perkataanmu: ‫أَنَا قَائِم‬, ‫نَحْن قَائِموْ َن‬, dsb.

Penjelasan: Mubtada' itu ada dua macam, dzahir dan dhamir, yang dzahir sudah
dijelaskan sebelumnya. Adapun dhamir, maka posisinya sebagai mubtada' ada dua
belas dhamir, semuanya dhamir munfashil, yaitu:

Dhamir ‫ أَنَا‬dan ‫َنحْن‬: Dhamir ‫ أَنَا‬untuk mutakallim / orang yang bicara yang tunggal, dan ‫ََنحْن‬
untuk mutakallim jamak, atau satu dalam bentuk pengagungan dirinya, anda katakan: ‫أَنَا قَائِم‬
(saya adalah yang berdiri), َ‫( نَحْن قَائِموْن‬kami adalah yang berdiri).
Dhamir َ‫ أَنْت‬dan ِ‫ أَنْت‬untuk mukhathab (yang diajak bicara) mufrad / tunggal; َ‫أَنْت‬: untuk
mudzakkar dan ِ‫ أَنْت‬untuk muannats. Anda katakan (arti anda adalah yang berdiri): ‫أَنْتَ قَائِم‬
[lk] dan ‫[ أنْتِ قَائِمَة‬pr].
Dhamir ‫ أَنْتمَا‬untuk mukhathab mutsanna /orang kedua ganda mudzakkar maupun muannats.
Anda katakan (arti kalian berdua adalah yang berdiri): ‫[ أَنْتمَا قَائِمَان‬lk] dan ‫[ أَنْتمَا قَائِمَتَان‬pr].
Dhamir ْ‫ أَنْتم‬dan ّ‫ أنْت َن‬untuk mukhathab jamak / orang kedua jumlah lebih dari dua, ْ‫أَنْتم‬: untuk
mudzakkar dan ّ‫ أنْت َن‬untuk muannats. Anda katakan (arti kalian adalah yang berdiri): ‫أَنْتمْ قَائِموْن‬
[lk] dan ‫[ أنْت َنّ قَائِمَات‬pr].
Dhamir ‫ ه َو‬dan َ‫ هِي‬untuk ghaib mufrad /orang ketiga tunggal, ‫ ه َو‬untuk mudzakkar dan َ‫ هِي‬untuk
muannats. Anda katakan (arti dia adalah yang berdiri) : ‫[ هوَ قَائِم‬lk] dan ‫[ هِيَ قَائِمَة‬pr].
Dhamir ‫ همَــا‬untuk ghaib mutsanna /orang ketiga ganda mudzakkar ataupun muannats.
Anda katakan (arti mereka berdua adalah yang berdiri): ‫[ همَا قَائِمَان‬lk] dan ِ‫[ همَا قَائِمَتَان‬pr].
Dhamir ْ‫ هم‬dan ّ‫ ه َن‬untuk ghaib jamak / orang ketiga jumlah lebih dari dua, ْ‫ هم‬untuk mudzakkar
dan ‫ ه َّن‬untuk muannats. Anda katakan (arti mereka adalah yang berdiri): ‫[ همْ قَائِموْن‬lk] dan
‫[ ه َنّ قَائِمَات‬pr].

Dan mubtada' dhamir pada contoh tersebut tidak lain merupakan dhamir munfashil,

dan ia mabniy - tidak masuk padanya i'rab (perubahan), dan ia hanya dimabniykan

atas apa yang didengar atasnya (sama'iy), dikatakan dalam mengi'rabnya: "pada
posisi rafa' sebagai mubtada”. Maka anda katakan pada i'rabnya: ‫أَنَا قَائِم‬: ‫ أَنَا‬dhamir
munfashil mabniy atas sukun pada posisi rafa' sebagai mubtada'. *
__________________________

* Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa dhamir pada perkataanmu :( ‫ َو َأنْت َّن‬،ْ‫ وَ أَْنتم‬،‫ وَ أَنْتمَا‬،ِ‫ َو َأنْت‬،َ‫ )أَْنت‬adalah: ‫أَن‬
saja dan adapun ُ‫ الَتّاء‬adalah huruf khithab, dan perkataannya ini disandarkan kepada pendapat jumhur
(mayoritas), Dilihat di kitab Almughniy halaman 41. Dan dhamir pada (ّ‫ وَه َن‬،ْ‫ وَهم‬،‫ )همَا‬adalah Ha' saja

Mubtada dan Khabar Halaman 97

Macam-Macam Khabar

Pengarang berkata: (Khabar itu ada dua macam: Mufrad dan ghairu mufrad.
Mufrad, contohnya: ‫ زَيْد قَائِم‬. Ghairu mufrad ada empat macam, Jar dan Majrur, Dzaraf,
Fi'il beserta fa'ilnya, Mubtada' beserta khabarnya. Contoh pada perkataanmu: ‫زَيْد فِي‬
‫( ال َدّار‬Zaid di rumah), ‫( زَيْد عِنْدَك‬Zaid di sisimu) , ‫( زَيْد قَامَ أَبوْه‬Zaid, ayahnya telah berdiri), ‫زَيْد‬
ٌ‫( جَارِيَته ذَاهِبَة‬Zaid, budak perempuannya pergi).

Penjelasan: Khabar ada dua macam, mufrad dan ghairu mufrad

Khabar mufrad : yaitu bukan berupa jumlah/kalimat bukan pula syibhu jumlah
(yang menyerupai kalimat)
Contoh perkataanmu: ‫" زَيْد قَائِم‬Zaid berdiri", ‫" ال َزّيْدَانِ قَائِمَان‬Dua orang Zaid berdiri" , َ‫ال َزّيْدوْن‬
‫" قَائِموْن‬Beberapa orang Zaid berdiri".

Khabar ghairu mufrad ada dua macam, Jumlah dan Syibhu jumlah

Jumlah ada dua macam, ismiyah dan fi'liyah

 Jumlah ismiyah yaitu kalimat yang diawali dengan isim, contoh :
ٌ‫( زَيْد جَارِيَته ذَاهِبَة‬Zaid, budak perempuannya pergi) (1).

 Jumlah fi'liyah yaitu kalimat yang diawali dengan fi'il, contoh:
‫( زَيْد قَامَ أَبوْه‬Zaid, ayahnya berdiri) (2).

Syibhu jumlah ada dua macam: Jar dan majrur, dan dzaraf:
 Jar dan majrur, contoh: ‫( زَيْد قَائِم‬Zaid di rumah) (3).
 Dzaraf, contoh: َ‫( زَيْد عِنْدَك‬Zaid di sisimu) (4).

Kesimpulan: Khabar secara rinci ada lima macam: Mufrad, Jumlah ismiyah,

Jumlah fi'liyah, Jar dan majrur , Dzaraf *
__________________________
(1) Kata ‫ زَيْد‬: mubtada' pertama, ‫ جَارِيَته‬: mubtada' kedua dan mudhaf, dan Ha' (ُ‫)الْهَاء‬: dhamir

muttashil pada posisi jar sebagai mudhaf ilaih ٌ‫ ذَاهِبَة‬: khabar mubtada' kedua, dan jumlah
ismiyah (‫ )جَارِيَته ذَاهِبَة‬pada posisi rafa' sebagai khabar dari mubtada' pertama (‫)زَيْد‬
(2) Kata ‫ زَيْد‬: Mubtada', َ‫ قَام‬: fi'il madhi, ‫ أَبوْه‬: fa'il, dan jumlah fi'liyah (‫ )قَامَ أَبوْه‬pada posisi rafa'
adalah khabar bagi mubtada' (‫)زَيْد‬
(3) Kata ‫ زَيْد‬: Mubtada', ِ‫ فِي ال َدّار‬: jar dan majrur, dan syibhu jumlah (ِ‫ )فِي ال َدّار‬pada posisi rafa'
adalah khabar bagi mubtada' (‫)زَيْد‬
(4) Kata ‫ زَيْد‬: Mubtada', َ‫ عِنْدَك‬: dzaraf makan, dan syibhu jumlah (َ‫ )عِنْدَك‬pada posisi rafa' adalah
khabar bagi mubtada' (‫)زَيْد‬

* Catatan penting:

Ketahuilah bahwa ada perselisihan pendapat para ulama nahwu dalam perkara khabar,

apakah dzaraf dan jar dengan majrur merupakan khabarnya langsung ; ataukah khabarnya

mahdzuf (yang dibuang), sementara dzaraf dan jar dengan majrur dinisbatkan dengannya.
Maka apabila anda mengatakan: ِ‫( َزيْد ِفي ال َدّار‬Zaid di rumah) dan ‫( زَيْد عِنْدَك‬Zaid di sisimu) , maka
taqdir ‫زَيْد (كَائِن) فِي ال َدّار‬.=

Mubtada dan Khabar Halaman 98

Bagan yang menjelaskan Khabar dan Contohnya

Khabar

Ghairu Mufrad Mufrad

Syibhu Jumlah / menyerupai kalimat ‫زَيْد قَائِم‬

(Zaid telah berdiri)

Jumlah / kalimat

Dhorof Jar Majrur Fi'liyah Ismiyah
) َ‫زَيْد ( عِنْدَك‬ ) ِ‫زَيْد ( فِى ال َدّار‬ ) ‫زَيْد ( جَارِيَته ذَاهِبَةٌ ) زَيْد ( قَامَ أَبوْه‬

Zaid disisimu Zaid di dalam rumah Zaid, berdiri ayahnya Zaid, pembantu(pr)nya pergi

Contoh:

Untuk khabar mufrad: ‫( َخ ْير ال ُّص ْل ُح‬Hakim yang baik), ‫الله آَ َيا ِت ِم ْن آَ َيتَا ِن َوالقَ َم ُر ال َّش ْم ُس‬
(Matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah).

Untuk khabar jumlah ismiyyah: ‫( ال َغ َض ُب آَ ِخ ُرهُ نَدَم‬Kemarahan berakhir penyesalan)
‫( ال ِكتَا ُب َن ْفعُهُ َع ِظ ْيم‬Buku ini manfaatnya besar).

Untuk khabar jumlah fi'liyyah: ُ‫( ال ِص ْد ُق َي ْن ُج ْو َقائِلُه‬Pengarang yang jujur akan bertahan)
ُ‫( ال ُم َؤدَّ ُب يُ ِح ُّبهَ ِإ ْخ َوانُه‬Mencintai saudara adalah kesopanan).

Untuk khabar sibghul jumlah: ‫( البَ َر َكةُ فِ ْي البُ ُك ْو ِر‬Keberkahan ada di awal), ‫النَّ ِم ْي َمةُ ِم َن الذَّ ِم ْي َم ِة‬
‫( ال ِخ َصا ِل‬Namimah (adu domba) adalah ciri orang munafik), ‫( ال َّسفَ ُر َغدًا‬Bepergian
besok).
__________________________

= (Zaid [ada] di rumah) dan ‫زَيْد (كَائِن) عِنْدَك‬, (Zaid [ada] di sisimu) khabarnya (‫ )كَائِن‬mahdzuf/
dihilangkan. Tetapi Pengarang berpegang pada pendapat pertama (bahwa jar+majrur dan
dzaraf adalah khabar) padahal pendapat kedua adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama),
shahih... dan Allah Maha Mengetahui.

Mubtada dan Khabar Halaman 99

I'rab :

1. ﴾ ‫ ﴿ اللهُ رَُبّنَا‬Allah Tuhan kami.

‫ اللُه‬: Lafdzul jalalah: mubtada marfu' dengan ibtida' dan tanda rafa'nya dhammah

dzahir diakhir katanya.

‫ رَُبّنَا‬: Kata ّ‫رَ ُب‬: khabar mubtada marfu' dan tanda rafa'nya dhammah dzahir diakhir

katanya dan sekaligus mudhaf.

‫ وَنَا‬: Dhamir muttashil mabniy menempati posisi jar mudhaf ilaih.

2. ﴾‫ ﴿ ءَأَنتمْ أَشَ ُدّ خَلْقًا‬Apakah penciptaanmu yang lebih hebat.

ْ‫أَأَنْتم‬: Hamzah (‫ )َء‬merupakan kata tanya, antum (‫ )أنتم‬adalah dhamir muttashil mabni

atas sukun yang menempati posisi rafa' mubtada, dan ta' (‫ )ت‬adalah huruf
khatob/orang yang diajak bicara dan mim (‫ )م‬menunjukan jamak.

‫أَشَ ُّد‬: khabar mubtada marfu' tanda rafa'nya dhammah dhohir diakhirnya.
‫خَلْقًا‬: Tamyiz manshub dan tanda nashobnya fathah dhohir diakhirnya.

3. ﴾ ِ‫ ﴿ نَحْن أَنْصَار الَلّه‬Kamilah penolong agama Allah.

‫ نَحْن‬: dhamir muttashil mabni atas fathah yang menempati posisi rafa' mubtada.
‫أَنْصَار‬: khabar mubtada marfu' dan tanda rafa'nya dhammah dhohir diakhirnya.

‫الَلِّه‬: Lafdzul jalalah mudhof ilaih majrur dan tanda jarnya kasrah dhohir.

4. ﴾ َ‫ ﴿ هِىَ عَصَاى‬Ini adalah tongkatku.

َ‫هِى‬: Dhamir munfashil mabni dengan fathah, pada kedudukan rafa' sebagai mubtada.
‫عَصَا َى‬: Khabar mubtada marfu' dan tanda rafa'nya dhammah muqoddaroh, yang

ditakdirkan atas alif karena dia mudhof.
Dan ‫ يَاء‬mutakalim adalah dhamir muttashil mabni menempati tempat jar sebagai
mudhof ilaih.

5. ﴾َ‫ ﴿ وَهمْ فِيْهَا خَلِدوْن‬Mereka kekal di dalamnya.

‫ الَاء‬:ْ‫هم‬: Dhamir munfashil mabni dengan dhammah menempati isim yang rafa' yaitu

mubtada, dan mim adalah tanda jamak.

‫فِيْهَا‬: Jar majrur terkait dengan isim fa'il َ‫خَالِدوْن‬
َ‫خَالِدوْن‬: Khabar mubtada marfu dan tanda rafa'nya adalah wawu sebagai ganti dari

dhammah, karena jamak mudzakkar salim.


Click to View FlipBook Version