Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Kela Kompetensi Dasar Indikator Materi
s
1 ....................................... ....................................... .............................
... ... ..
2 ....................................... ....................................... .............................
... ... ..
Dst ....................................... ....................................... .............................
... ... ..
51
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
BAB II
KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan aktivitas dan proses yang sistematis dan sistemik
yang terdiri dari beberapa komponen yaitu : guru, kurikulum, anak didik, fasilitas
dan administrasi. Masing-masing komponen tidak bersifat parsial (terpisah) atau
berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung,
komplementer dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan rancangan dan
pengelolaan belajar yang baik yang dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.Pendidikan adalah pemberian arahan yang dilakukan dengan
sengaja baik yang bersifat jasmani maupun rohani kepada peserta didik agar
kiranya kelak berguna bagi masyarakat ( Purwanto, 2002. Hlm 10). Dalam arti
lain pendidikan adalah proses membuat seseorang menjadi lebih dewasa, sehingga
berkembang segala kemampuannya serta prestasi belajarnya.
Pada sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi
dalam proses pembelajaran. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-
alat atau media yang digunakan dalam pembelajaran, disamping itu guru mampu
menggembangkan ketrampilan membuat media pembelajaran yang akan
digunakannya apabila media tersebut belum tersedia di sekolah.Kenyataannya di
atas menuntut guru di dalam melaksanakan tugasnya sebagai perancang maupun
pengelola pembelajaran untuk memiliki ketrampilan dalam menyusun rencana
pengajaran maupun melakukan interaksi dengan anak didik, mengelola kelas,
menggunakan sumber belajar termasuk didalamnya menggunakan media
pembelajaran. Untuk itu guru yang profesional memerlukan pemahaman
mengenai ilmu yang mendasari profesinya. Guru setidak-tidaknya memiliki
pengetahuan tentang karakteristik anak didik, mengetahui teori belajar, rancangan
pembelajaran, penyajian bahan ajar, penguasaan terhadap penggunaan media
pembelajaran dan melakukan penilaian hasil belajar.
Selanjutnya efektivitas pembelajaran juga berhubungan dengan
kompetensi yang berupa kemampuan menggunakan media pembelajaran yang
52
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
yang menunjang persiapan serta pelaksanaan tugas sebagai pendidik. Anak didik
belajar dari gurunya bukan saja dari apa yang secara langsung diajarkan, tetapi
juga dari media pembelajaran yang terlihat saat yang bersangkutan melaksanakan
proses belajar mengajar.Guru yang mengharapkan proses dan hasil pembelajaran
supaya efektif, efisien dan berkualitas, semestinya memperhatikan faktor media
pembelajaran yang keberadaannya memiliki peranan sangat penting. Media
pembelajaran memiliki nilai praktis dan fungsi yang besar bagi pelaksanaan
pembelajaran.
Hasil belajar yang baik dan optimal merupakan harapan dan dambaan dari
sebuah lembaga pendidikan. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal
tersebut, memerlukan tenaga pendidik yang memiliki profesionalisme dan yang
dapat berperan ditengah lingkungan sekolah dan masyarakat (Heinich et.al. 2002).
Konsep ingkungan belajar meliputi tempat dimana proses belajar mengajar
berlangsung, metode yang dipakai guru, media pembelajaran yang mendukung,
system penilaian yang dipakai guru, serta sarana dan prasarana yang dipakai oleh
guru dalam mengemas sebuah proses pembelajaran di dalam kelas.
B. DEFENISI, POSISI DAN FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
1. Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media
adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Media atau teaching aids atau audio visual aids (A.V.A) adalah alat – alat
dalam menolong dalam pembelajaran. Guru menggunakan alat – alat tersebut
waktu menerangkan pelajarannya untuk mencegah verbalisme(hafalan atai
tidak memahami makna yang jelas) Menurut Blake dan Horalsen (dalam
Arindawati,2004), media adalah saluran komunikasi yang digunakan untuk
menyampaikan pesan antara sumber (pemberi pesan) dengan penerima pesan.
Mc.Luhan, mengemukan bahwa media adalah saluran (channel), karena
menyampaikan pesan (informasi) dari sumber informasi itu kepada penerima
informasi.
53
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Hamidjo, media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh
manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide sehingga ide atau pendapat
atau gagasan yang dikemukan untuk sampai kepada penerima Dalam arti luas
media adalah setiap orang, materi atau peristiwa yang memberi kesempatan
kepada pembelajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampulan dan sikap.
Dalam pengertian ini guru, buku teks, lingkungan sekolah termasuk
didalamnya.
Dalam arti sempit, media adalah dibatasi pada bahan cetak, foto,
barang elektronik, alat- alat mekanis, gambar yang disusun dan informasi
verbal. Dari berbagai pandangan, disimpulkan bahwa media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
siswa sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadi proses belajar.
2. Posisi Media Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah proses komunikasi yang dilakukan oleh
beberapa orang dan terjadi dalam sebuah system. Dalam proses komunikasi
media pembelajaran menempati posisi yang sangat penting guna terjadi
komunikasi yang efektif. Tanpa media, proses komunikasi yang terjadi tidak
akan optimal dan informasi yang disampaikan tidak akan dapat diterima
dengan baik. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang integral pada
sebuah proses pembelajaran. Posisi media pembelajaran sebagai komponen
komunikasi ditunjukkan pada gambar berikut:
IDE PENGKODEAN MEDIA PENAFSIRAN MENGERTI
KODE
GANGGUAN
UMPAN BALIK
54
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Posisi Media dalam Sistem Pembelajaran
3. Fungsi Media Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran media mempunyai fungsi membawa
pesan informasi dari sumber pesan ( guru ) menuju ke penerima pesan (
siswa). Sedangkan metode pembelajaran adalah prosedur yang dilakukan
untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam sebuah proses belajar
mengajar di dalam kelas.Memperhatikan penjelasan diatas, maka secara
khusus media pemebelajaran memiliki fungsi dan berperan untuk:
a. Mengangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu.
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat di
abadikan dengan foto, film,atau direkam melalui video atau audio,
kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala
diperlukan. Guru dapat menjelaskan roses terjadinya gerhana matahari
yang langka melalui hasil rekaman video. Atau, bagaimana roses
perkembangan ulat enjadikupu-kupu; proses perkembangan bayi dalam
rahim dari mulai sel telur dibuahi hingga menjadi embrio dan berkembang
menjadi bayi. Demikian juga dalam pelajaran IPS guru dapat menjelaskan
bagaimana terjadinya peristiwa proklamasi melalui tayangan film dan lain
sebagainya.
b. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pemelajaran, guru dapat menyajikan bahan
pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipelajari
dan dapat mengilangkan verbalisme. Misalkan untuk menyampaikan
bahan pelajaran tentang system peredaran darah pada manusia dapat
disajikan melalui film.Selain itu, media pembelajaran juga bias membantu
menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak mungkin dapat
ditampilkan di dalam kelas, atau menampilkan objek yang terlalu kecil
yang sulit dilihat dengan menggunakan mata telanjang. Benda atau objek
yang terlalu besar misalkan alat-alat perang, berbagai binatang buas,
benda-benda langit, dan lain sebagainya. Untuk menampilakan objek
55
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
tersebut guru dapat memanfaatkan film slide, foto-foto, atau gambar.
Benda-benda yang terlalu kecil, misalkan bakteri, jamur, virus dan lain
sebagainya. Untuk mempelajari objek tersebut dapat memanfaatkan
mikrosekop, atau microprojector.
Untuk memanipulasi keadaan, juga media pembelajaran dapat
menampilkan suatu proses atau gerakan yang terlalau cepat yang sulit
diikuti seperti gerakan mobil, gerakan kapal terbang, gerakan-gerakan
pelari atau gerakan yang sedang berolah raga; atau sebaliknya dapat
mempercepat gerakan-gerakan yang lambat, seperti ger akan pertumbuhan
taman, perubahan warna zat, dan lain sebagainya.
c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa
sehingga perhtian siswa terhadap materi pemebelajaran dapat lebih
meningkat. Sebagai contoh sebelum menjelaskan materi pelajaran tentang
polusi, untuk dapat menarik pethatian siswa terdapat topik tersebut, maka
guru memutar film terlebih dahulu tentang banjir atau tentang kotoran
limbah industri dan lain sebagainya.
C. PRINSIP PEMILIHAN MEDIA
Prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam penggunaan media pada
setia kegiatan belajar mengajar adaalah bahwa media digunakan dan diarahkan
untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami ateri pelajaran.
Dengan demikian, penggunaan media harus dipandang dari sudut kebutuhan
siswa. Hal ini perlu ditekankan sebab sering media dipersiapkan hanya dilihat dari
sudut kepentingan guru. Contohnya, oleh karena guru kurang menguasai bahan
pelajaran yang akan diajarkan, maka guru persiapkan media OHT, dan oleh sebab
OHT digunakan untuk kepentingan guru, maka transparansi tidak didesain dengan
menggunakan prinsip-prinsip media pembelajaran, melainkan seluruh pesan yang
ingin disampaikan dituliskan pada transparan hingga menyerupai koran.
Kejadian lain yang sering terjadi adalah ketika guru menggunakan media
film atau melakukan karyawisata. Oleh karena media digunakan tidak diarahkan
untuk mempermudah belajar, maka baik film maupun karyawisata sering hanya
56
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
dijadikan sebagai media hiburan saja. Agar media pembelajaran benar-benar
digunakan untuk membelajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus
diperhatikan, di antaranya:
1. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Media tidak digunakan sebagai alat
hiburan, atau tidak semata-mata dimanfaatkan untuk mempermudah guru
menyampaikan materi, akan tetapi benar-benar utuk membantu siswa
belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
1. Media yang akan digunakanharuys sesuai dengan materi pembelajaran.
Sesuai dengan materi pembelajaran. Setiap materi pelajaran memiliki
kekhasan dan kekompksan. Meida yang akan digunakanharus sesuai
dengan kompleksitas materi pemelajaran. Contohnya untuk
membelajarkan siswa memahami pertumbuhan jumlah pandduduki di
Indonesia, maka guru perlu mempersiapkan semacam grafik yang
mencerminkan pertumbuhan itu.
3. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi
siswa. Siswa yang memiliki kemampuan mendengarkan yang kurang baik,
akan sulit memahami pelajaran manakala digunakan media yang bersifat
auditif. Demikian juga sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan
penglihatan yang kurang. Akan sulit menangkap bahan pemebelajaran
yang disajikan melalui media visual. Setiap siswa memiliki kemampuan
dan gaya yang berbeda. Guru perlu memerhatikan setiap kemampuan dan
gaya tersebut.
4. Media yang akan diguanakan harus memerhatikan efektivitas dan efisiensi.
Media yang memerlukan peralatan yang mahal belum tentu efektif untuk
mencapai tujuan tertentu. Demikian juga media yang sangat sederhana
belum tentu tidak memiliki nilai. Setiap media yang dirancang guru perlu
memerhatiakn efektivitas penggunanya.
5. Media yang diguanakn harus sesuai dengan kemampuan guru dalam
engoperasikannya. Sering media yang kompleks terurama media-media
mutakhir seperti media computer, LCD, dan media elektronik lainnya
memerlukan kemampuan khusus dlam mengoperasikannya. Media
57
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
secanggih apapun tidak akanbisa menolong tanpa kemampuan teknis
mengoperasikan dan memanfaatkan media yang akan digunakan. Hal ini
perlu ditekankan, sebab sering guru melakukan kesalahan-kesalahan yang
prinsip dlam menggunakan media pembelajaran yang pada akhirnya
penggunaan media bukan menambah kemudahan siswa belajar, malah
sebaliknya mempersulit siswa.
6. Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan. Suatu
media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin
tidak cocok untuk pembelajaran yang lain.
D. KARAKTERISTIK PEMILHAN MEDIA DUA DAN TIGA DIMENSI
Media pembelajaran yang beraneka ragam jenisnya tentunya tidak akan
digunakan seluruhnya secara serentak dalam kegiatan pembelajaran, namun hanya
beberapa saja. Untuk itu perlu di lakukan pemilihan media tersebut. Agar
pemilihan media pembelajaran tersebut tepat, maka perlu dipertimbangkan
faktor/kriteria-kriteria dan langkah-langkah pemilihan media. Kriteria yang perlu
dipertimbangkan guru atau tenaga pendidik dalam memilih media pembelajaran
menurut (Sudjana, 2005, hlm. 4-5) yakni (1) ketepatan media dengan tujuan
pengajaran; (2) dukungan terhadap isi bahan pelajaran; (3) kemudahan
memperoleh media; (4) keterrampilan guru dalam menggunakannya; (5) tersedia
waktu untuk menggunakannya; dan (6) sesuai dengan taraf berfikir anak. Sepadan
dengan hal itu (Degeng, 1997, hlm. 26-27) menyatakan bahwa ada sejumlah
faktor yang perlu dipertimbangkan guru/pendidik dalam memilih media
pembelajaran, yaitu: (1) tujuan instruksional; (2) keefektifan;(3) siswa; (4)
ketersediaan; (5) biaya pengadaan; (6) kualitas teknis.
Berkaitan dengan pemilihan media ini, (Arsyad, 2011, hlm. 76-77)
menyatakan bahwa kriteria memilih media yaitu: 1) sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai; 2) tepat untuk mendukung isi pelajaran; 3) praktis, luwes, dan
tahan; 4) guru terampil menggunakannya; 5) pengelompokan sasaran; dan 6) mutu
teknis. Selanjutnya (Brown, 1983, hlm. 76-77) menyatakan bahwa dalam memilih
media perlu mempertimbangkan kriteria sebagai berikut: 1) content; 2) purposes;
58
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
3) appropriatness; 4) cost; 5) technical quality; 6) circumstances of uses; 7)
learner verification, and 8) validation.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa pada prinsipnya
pendapat-pendapat tersebut memiliki kesamaan dan saling melengkapi.
Selanjutnya menurut hemat penulis yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
media yaitu tujuan pembelajaran, keefektifan, peserta didik, ketersediaan, kualitas
teknis, biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya serta
alokasi waktu yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hal
ini akan diuraikan sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang
pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya,
mungkin ada sejumlah alternatif yang dianggap cocok untuk tujuan-
tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok. Kecocokan
banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan yang akan dicapai
dengan karakteristik media yang akan digunakan.
2. Keefektifan. Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih, mana
yang dianggap paling efektif untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3. Peserta didik. Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ketika kita
memilih media pembelajaran berkait dengan peserta didik, seperti:
apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan karakteristik peserta
didik, baik itu kemampuan/taraf berpikirnya, pengalamannya, menarik
tidaknya media pembelajaran bagi peserta didik? Digunakan untuk
peserta didik kelas dan jenjang pendidikan yang mana? Apakah untuk
belajar secara individual, kelompok kecil, atau kelompok besar/kelas?
Berapa jumlah peserta didiknya? Di mana lokasinya? Bagaimana gaya
belajarnya? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh? Pertanyaan-
pertanyaan tersebut perlu dipertimbangkan ketika memilih dan
menggunakan media dalam kegiatan pembelajaran.
4. Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalu
belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk
tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu
59
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
membuat sendiri, membuat bersama-sama dengan peserta didik,
meminjam menyewa, membeli dan mungkin bantuan.
5. Kualitas teknis. Apakah media media yang dipilih itu kualitas baik?
Apakah memenuhi syarat sebagai media pendidikan? Bagaimana
keadaan daya tahan media yang dipilih itu?
6. Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media,
apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang
dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang
mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
7. Fleksibilitas (lentur), dan kenyamanan media. Dalam memilih media
harus dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat digunakan dalam
berbagai situasi dan pada saat digunakan tidak berbahaya.
8. Kemampuan orang yang menggunakannya. Betapapun tingginya nilai
kegunaan media, tidak akan memberi manfaat yang banyak bagi orang
yang tidak mampu menggunakannya.
9. Alokasi waktu,waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran akan
berpengaruh terhadap penggunaan media pembelajaran. Untuk itu ketika
memilih media pembelajaran kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan
seperti; apakah dengan waktu yang tersedia cukup untuk pengadaan
media, apakah waktu yang tersedia juga cukup untuk penggunaannya.
E. RANGKUMAN
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga
memungkinkan terjadi proses belajar.
Media pemebelajaran memiliki fungsi dan berperan untuk:
a. Mengangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu.
b. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan
siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan, di antaranya:
60
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
a. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan
untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b. Media yang akan digunakanharuys sesuai dengan materi
pembelajaran. Sesuai dengan materi pembelajaran
c. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan
kondisi siswa
d. Media yang akan diguanakan harus memerhatikan efektivitas dan
efisiensi
e. Media yang diguanakn harus sesuai dengan kemampuan guru
dalam engoperasikannya.
f. Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu tujuan
pembelajaran, keefektifan, peserta didik, ketersediaan, kualitas teknis,
biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya serta
alokasi waktu yang tersedia.
F. LATIHAN II
Latihan 1:
1. Jelaskan pengertian media pembelajaran !
2. Jelaskan perbedaan anatara alat peraga dan media pembelajaran !
3. Mengapa media pembelajaran dikatakan dapat memanipulasi keadaan,
peristiwa atau objek terntu?
4. Bandingkan hasil pembelajaran antara kelas yang proses pembelajarannya
dengan menggunakan media pembelajaran dan yang tidak!
5. Bandingkan perbedaak media dua dimensi dan tiga dimensi!
61
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
BAB III
MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A. PENGAJARAAN MATEMATIKA MEMERLUKAN MEDIA
Dalam proses pengajaran matematika , guru tidak bisa hanya memberikan
contoh dengan menuliskan di papan tulis dan meminta siswa untuk mengerjakan
soal berdasarkan contoh yang diberikan guru. Guru sangan membutuhkan media
pembelajaran sebagai alat bantu untuk mentransfer ilmu dan penanaman konsep.
Hal yang menyebabkan pengajaran matematika sangat memerlukan media
pembelajaran , yaitu :
1. Objek matematika itu abstrak sehingga memerlukan peragaan
Dengan alat pembelajaran matematika, materi matematika yang abstrak
disajikan kedalam pendekatan yang lebih konkret, ada visualisasinya, serta
manfaat dalam mempelajari materi tersebut dalam kehidupan sehari-
hari.Sementara itu untuk membelajarkan pembelajaran matematika secara
benar dan efektif pada siswa mutlak harus menggunakan alat peraga untuk
memudahkan siswa mengenal konsep-konsep matematika.
2. Materi matematika tidak mudah dipahami
Materi dari matematika bersifat abstrak, hal ini menjadikan materi
matematika tidak mudah dipahami oleh kebanyakan siswa. Maka dari itu
dengan alat pembelajaran matematika siswa diharuskan berpartisipasi lebih
aktif, mereka tidak hanya melihat, mendengar, dan memperhatikan saja, tetapi
mereka juga harus melakukan/latihan, sehingga pembelajaran minds on dan
hands on bisa tercapai, konsep dibangun oleh siswa sendiri. Contohnya :
dalam metode eliminasi, apabila disajikan dalam alat peraga maka tiap
langkah yang harus dilakukan tidak dihapal oleh siswa tetapi dipahami,
mereka membangun konsep sendiri dan mereka tahu alasan melakukan tiap
langkah tersebut.
3. Hirarki matematika ketat dan kaku.
Dalam matematika terdapat materi prasyarat yang diperlukan untuk
dapat menginjak ke materi selanjutnya.Hirarki belajar menurut Gagne harus
62
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
disusun dari atas ke bawah atau up down . Dimulai dengan menempatkan
kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu
tujuan dalam proses pembelajaran di puncak dari hirarki belajar tersebut,
diikuti kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan prasyarat (prerequisite)
yang harus mereka kuasai lebih dahulu agar mereka berhasil mempelajari
keterampilan atau pengetahuan diatasnya. Hirarki matematika bersifat ketat
dan kaku artinya dalam pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip
dan konsep-konsep terdefinisi sebagai prasyaratnya, yang membutuhkan
konsep konkret sebagai prasyarat berikutnya lagi.Jadi diperlukan media agar
dapat menuntun untuk terbiasa dalam belajar matematika yang tatanannya
bersifat siatematis dan cenderung kaku.
4. Aplikasi matematika kurang nyata
Dapat dirasakan oleh siswa bahwa aplikasi matematika itu kurang
nyata, bahkan siswa hanya menganggap bahwa matematika adalah kumpulan
angka dan simbol-simbol.Oleh karena itu diperlukan media agar matematika
dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.Dengan begitu siswa juga
dapat dengan mudah dalam mempelajari konsep-konsep dalam matematika.
5. Belajar matematika perlu fokus
Matematika memang tidah mudah dipahami, serta hirarkinya yang kaku
sehingga membuat siswa menjadi kesulitan dalam mempelajari
matematika.Maka dari itu siswa harus fokus ketika guru sedang menerangkan
materi matematika, sedangkan kebanyakan guru menggunakan metode
ceramah dalam pembelajarannya.Akibatnya siswa menjadi cepat lelah dan
bosan dalam belajar matematika, oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki
kreatifitas dalam pembelajaran matematika.Alat peraga dapat membatu guru
untuk menyampaikan ide atau gagasannya dalam pembelajaran matematika
agar siswa lebih aktif dan tidak bosan.
6. Citra pembelajaran matematika kurang baik
63
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Pandangan siswa saat ini terhadap matematika memang kurang baik,
mereka berpandangan bahwa pembelajaran matematika itu menakutkan,
tegang, bosan dan banyak PR. Hal ini disebabkan karena guru kurang dapat
mengkomunikasikan materi matematika yang bersifat kaku tersebut agar
dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Pembelajaran
matematika di sekolah sampai saat ini umumnya dimulai dari penyampaian
definisi atau pengertian dari suatu objek secara intuitif, dilanjutkan dengan
pengoperasian terhadap objek tersebut, serta diakhiri dengan pemberian
contoh kemudian pemberian tugas atau PR yang banyak sebagai
latihan.Dalam pembelajaran matematika yang notabennya banyak siswa yang
menganggap bahwa matematika itu sulit, penuh dengan rumus-rumus dan
angka-angka, sehingga sebelum kegiatan pembelajaran dimulai siswa sudah
menyerah dan merasa tidak akan mampu menguasai materi pelajaran yang
akan disampaikan, hal ini mengakibatkan siswa menjadi tidak dapat
berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Maka dari itu alat peraga
dapat membantu guru untuk mengubah paradigma yang selama ini
berkembang pada masyarakat pada umumnya dan siswa khususnya.
7. Kemampuan kognitif siswa masih konkret
Pada dasarnya kemampuan kognitif siswa itu konkret, sedangkan materi
matematika itu bersifat abstrak. Hal ini akan menjadi hambatan bagi siswa
dalam pembelajaran matematika. maka untuk memahami konsep dan prinsip
masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkret (Soedjadi, 1995, hlm. 1)
Suatu konsep diangkat melalui manipulasi dan observasi terhadap obyek
konkret, kemudian dilakukan proses abstraksi dan idealisasi. Jadi dalam
proses pembelajaran matematika, peranan media/alat peraga sangat penting
untuk pemahaman suatu konsep atau prinsip.
8. Motivasi belajar siswa tidak tinggi
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan
mengembangkan daya pikir manusia.Perkembangan pesat di bidang teknologi
64
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
informasi dan komunikasi dewasa ini, dilandasi oleh perkembangan
matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan
matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan
diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Atas dasar hal
tersebut, maka pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta
didik mulai dari sekolah dasar (SD) hingga dewasa untuk membekali peserta
didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan
kreatif, serta kemampuan bekerjasama.Kompetensi tersebut diperlukan agar
peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan
memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu
berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Menyelenggarakan proses pembelajaran matematika di sekolah yang lebih
baik dan bermutu adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Sudah
bukan zamannya lagi matematika menjadi momok yang menakutkan bagi siswa di
sekolah.Jika selama ini, matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak dan
kering, melulu teoretis dan hanya berisi rumus-rumus, soal-soal, maka sudah
saatnya bagi siswa untuk menjadi lebih akrab dan familier dengan
matematika.Oleh karena itu, seorang guru harus dapat menghadirkan
pembelajaran matematika yang humanis.
Guru yang memandang matematika sebagai produk yang sudah jadi akan
mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang
sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan sesuatu yang
sudah jadi. Sementara, guru yang memandang bahwa matematika merupakan
suatu proses akan lebih menekankan aspek proses daripada aspek produk dalam
pembelajaran matematika. Akhirnya, yang menjadi permasalahan psikologis
adalah bahwa pendidikan matematika di negeri ini sudah terlanjur dan banyak
“luka psikologis” yang diderita siswa berkaitan dengan pendidikan
matematika.Untuk dapat menyembuhkan luka psikologis tersebut maka peran
seorang guru sangat besar dalam hal ini, sehingga minat siswa terhadap
matematika tumbuh subur kembali.
B. JENIS DAN MEDIA MATEMATIKA
65
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
1. OPUNG HANS
OPUNG HANS merupakan singkatan dari Operasi Hitung Pecahan.
Salah satu materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa Sekolah Dasar
(SD) kelas tinggi, tepatnya kelas V. Pecahan (Fraksi) adalah istilah dalam
matematika yang terdiri dari pembilang dan penyebut. Hakikat transaksi
dalam bilangan pecahan adalah bagaimana cara menyederhanakan pembilang
dan penyebut. Tetapi justru hal inilah yang menjadi kendala bagi siswa.
Kebanyakan siswa mengalami kesalahan dalam mengoperasikan pecahan,
contohnya operasi perkalian, untuk mengoperasikannya siswa terlebih dahulu
menyamakan penyebut dari kedua pecahan. Padahal seharusnya konsep
tersebut diterapkan dalam operasi hitung penjumlahan bukan perkalian.
Melihat permasalahan tersebut, peran media pembelajaran sebagai alat
bantu belajar sangat dibutuhkan, karena dalam hal ini media pembelajaran
dapat mempermudah siswa memahami konsep operasi hitung pecahan. Hal
ini juga relevan dengan teori perkembangan kognitif Piaget yang menyatakan
bahwa siswa SD berada pada tahap perkembangan operasional konkret yang
artinya untuk dapat memahami sesuatu dibutuhkan benda konkret yang dapat
mempermudah siswa memahami sesuatu tersebut.
Dalam kelas tinggi yaitu kelas IV, V, dan VI mata pelajaran
Matematika dan PJOK atas pertimbangan tertentu dipisahkan dari
Pembelajaran Tematik Terpadu, atau tidak termasuk didalam sebuah tema
maupun subtema. Keputusan pemisahan mata pelajaran tersebut ada berbagai
alasan, di antaranya adalah muatan materi dan pembahasan.
Untuk mata pelajaran Matematika, pada buku Tematik Terpadu
kedalaman materinya terasa dangkal. Oleh karena itu, siswa tidak
mendapatkan pemahaman konsep matematika secara mendalam. Dengan
demikian, perlu digunakan buku Matematika secara terpisah. Alasan tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Matematika memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang
berbeda dengan mata pelajaran lain. Objek kajian matematika bersifat
abstrak, metode untuk melakukan kajian terhadap objek matematika
bersifat deduktif, tentunya dengan tidak mengabaikan pengembangan
66
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
kecakapan 4C (Critical Thinking, Creative, Colaboratif,
Communication).
2. Kebermaknaan pembelajaran matematika di SD/MI salah satunya
dapat ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dalam konteks
dunia nyata siswa.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (KEMDIKBUD) sudah menetapkan buku teks pelajaran yang
layak digunakan dalam proses pembelajaran Matematika yang disajikan
secara terpisah dari buku Tematik Terpadu.
2.3 KOMPETENSI INTI (KI):
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
3. Memahami pengetahun faktual dengan cara mengamati mendengar,
melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahun tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda
yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman
dan berakhlak mulia.
2.4 KOMPETENSI DASAR :
3.1 Menjelaskan dan 4.1 Menyelesaikan
melakukan penjumlahan dan masalah yang berkaitan
pengurangan dua pecahan dengan penjumlahan
dengan penyebut berbeda dan pengurangan dua
pecahan dengan
penyebut berbeda
3.2 Menjelaskan dan 4.2 Menyelesaikan
67
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
melakukan perkalian dan masalah yang berkaitan
pembagian pecahan dan dengan perkalian dan
desimal pembagian pecahan dan
desimal
2.5 INDIKATOR PEMBELAJARAN :
3.2.1 Menjelaskan operasi penjumlahan dua pecahan dengan penyebut
berbeda
3.2.2 Menjelaskan operasi pengurangan dua pecahan dengan penyebut
berbeda
3.2.3 Menjelaskan operasi perkalian pecahan
3.2.4 Menjelaskan operasi pembagian pecahan
4.2.1 Mengoperasikan penjumlahan dua pecahan dengan penyebut
berbeda
4.2.2 Mengoperasikan pengurangan dua pecahan dengan penyebut
berbeda
4.2.3 Mengoperasikan perkalian pecahan
4.2.4 Mengoperasikan pembagian pecahan
2.6 TUJUAN PEMBELAJARAN :
1. Dengan mengamati, siswa mampu menjelaskan operasi
penjumlahan dua pecahan dengan penyebut berbeda dengan tepat.
2. Dengan mengamati, siswa mampu menjelaskan operasi
pengurangan dua pecahan dengan penyebut berbeda dengan tepat.
3. Dengan mengamati, siswa mampu menjelaskan operasi perkalian
pecahan dengan benar.
4. Dengan mengamati, siswa mampu menjelaskan operasi pembagian
pecahan dengan benar.
5. Dengan menggunakan media, siswa mampu mengoperasikan
penjumlahan dua pecahan dengan penyebut berbeda dengan tepat.
6. Dengan menggunakan media, siswa mampu mengoperasikan
pengurangan dua pecahan dengan penyebut berbeda dengan tepat.
68
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
7. Dengan menggunakan media, siswa mampu mengoperasikan
perkalian pecahan dengan benar.
8. Dengan menggunakan media, siswa mampu mengoperasikan
pembagian pecahan dengan benar.
2.7 MATERI:
A. Konsep Pecahan
Ibu Rita mempunyai satu buah pizza utuh, lalu Ibu Rita akan
membagikan pizza tersebut pada 5 orang anggota keluarganya. Ibu Rita
membagi pizza tersebut menjadi 6 bagian sama besar. Berapa bagiankah
yang dimiliki Ibu Rita dan 5 orang anggota keluarga yang lainnya? Ibu
Rita memiliki bagian dari keseluruhan pizza, begitupun 5 anggota keluarga
yang lainnya. atau dibaca 1/6 merupakan bilangan pecahan. Apakah kamu
tahu apa itu bilangan pecahan? Apa maksud dari angka 1 dan 6? Untuk
mempelajari lebih lanjut mari kita sama-sama belajar mengenai pecahan.
Pecahan adalah suatu bilangan yang terdiri dari pembilang dan
penyebut. Pembilang adalah bagian yang dimiliki sedangkan penyebut
adalah keseluruhan bagian. Coba perhatikan gambar di bawah ini!
Berapakah bagian yang diarsir?
Bagian yang diarsir yaitu 1 dan jumlah bagian
keseluruhannya adalah 3 bagian. Sehingga
bentuk pecahan bagian yang diarsir adalah
1/3. Dimana 1 adalah pembilang dan 3 adalah
penyebut.
B. Operasi Hitung Pecahan
1. Penjumlahan Pecahan
Perhatikan gambar di bawah ini. Perhatikan daerah yang diarsir
pada lingkaran-lingkaran tersebut. Pada gambar tampak bahwa 2/6 dari
69
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
keseluruhan lingkaran ditambah dengan 3/6 bagian daru keseluruhan
lingkaran menghasilkan 5/6 dari keseluruhan lingkaran (perhatikan daerah
yang diarsir).
Secara matematis kita dapat menulisnya dengan bentuk 2/6 + 3/6 = 5/6.
Bentuk umum operasi penjumlahan pecahan adalah sebagai berikut.
2. Pengurangan Pecahan
Pada gambar di bawah ini diperhatikan bahwa 4/5 dari keseluruhan
persegi panjang dikurangkan dengan 3/5 dari keseluruhan persegi panjang
menghasilkan 1/5 bagian dari keseluruhan persegi panjang. Secara
matematis kita dapat menulisnya dalam bentuk 4/5 – 3/5 = 1/5.
Bentuk umum operasi pengurangan pecahan adalah sebagai berikut.
3. Perkalian pecahan
Untuk melakukan operasi perkalian pecahan, kalikan kedua
bilangan tersebut seperti biasa, dimana pembilang dikalikan dengan
pembilang, dan penyebut dengan penyebut. Contoh:
4. Pembagian pecahan
Untuk melakukan operasi pembagian pecahan, balik bilangan
pecahan kedua, sehingga pembilang menjadi penyebut dan juga
sebaliknya, kemudian kalikan kedua bilangan tersebut dengan cara
70
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
perkalian pecahan. Contoh: :
ALAT DAN BAHAN
ALAT :
8. Palu 5. Kertas pasir
9. Pisau 6. Penggaris
10. Gunting 7.Kuas
11. Gergaji
BAHAN :
1. Triplek putih berukuran 80 x 60 cm
2. Kayu balok 4x 6 cm
3. Papan 9mm 2 lembar
4. Kaca 30x 20 cm dan 5 x 50 cm
5. Paku secukupnya
6. Cat pernis kayu
7. Plastik kaca 5 lusin
8. Kertas jeruk berwarna merah 1 lusin
9. Kertas jeruk berwana biru 1 lusin
10. Kertas hvs secukupnya
11. Sticker logo
12. Spidol hitam, biru, dan merah
2. MUZAX (Multifunctional Zahlen Box)
MUZAX merupakan singkatan dari Multifunctional Zahlen Box yang
artinya box bilangan bulat yang multifungsi. Zahlen berasal dari bahasa
prancis, pada tahun 1890 bilangan bulat dikenal dari prancis dengan sebutan
zahlen dan dilambangkan dengan huruf “Z”. Bilangan bulat identik dengan
tanda bilangan yaitu tanda negatif (-), hal ini yang menjadi permasalahan bagi
siswa Sekolah Dasar saat mengoperasikan penjumlahan ataupun pengurangan
bilangan bulat. Siswa sering bingung saat harus mengoperasikan bilangan
71
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
yang bertanda negatif dengan bilangan yang bertanda positif, padahal
penjumlahan dan pengurangan adalah dasar yang harus dikuasai siswa untuk
menyelesaikan soal-soal matematika. Alhasil,masih ditemukan hasil belajar
matematika siswa yang rendah.
Oleh sebab itu dibutuhkan alat bantu pembelajaran yang mempermudah
siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Sesuai dengan teori kogntif Piaget yang menyatakan bahwa siswa Sekolah
Dasar berada pada tahap perkembangan operasional kongkret yang artinya
untuk dapat memahami sesuatu dibutuhkan benda konkret yang dapat
mempermudah siswa memahami sesuatu tersebut. Disinilah, peran media
pembelajaran dibutuhkan.
MUZAX adalah media pembelajaran penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat yang didesain berdasarkan teori belajar Brunner. Sesuai
dengan pernyataan Brunner bahwa untuk mengajarkan konsep matematika
kepada siswa harus dilakukan tiga tahap belajar yaitu pertama, enaktif atau
belajar dengan benda konkret, ikonik atau belajar dengan ikon, dan simbolis
atau belajar dengan simbol-simbol.
Untuk kelas tinggi yaitu kelas IV, V, dan VI mata pelajaran
Matematika dan PJOK atas pertimbangan tertentu dipisahkan dari
Pembelajaran Tematik Terpadu, atau tidak termasuk didalam sebuah tema
maupun subtema. Keputusan pemisahan mata pelajaran tersebut ada berbagai
alasan, di antaranya adalah muatan materi dan pembahasan.
1. Untuk mata pelatajan Matematika, pada buku Tematik Terpadu
kedalaman materinya terasa dangkal. Oleh karena itu, siswa tidak
mendapatkan pemahaman konsep matematika secara mendalam.
Dengan demikian, perlu digunakan buku Matematika secara terpisah.
Alasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
2. Matematika memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang
berbeda dengan mata pelajaran lain. Objek kajian matematika bersifat
abstrak, metode untuk melakukan kajian terhadap objek matematika
bersifat deduktif, tentunya dengan tidak mengabaikan pengembangan
kecakapan 4 C (Critical, Creative, Colaboratif, Dan Communication).
72
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
3. Kebermaknaan pembelajaran matematika di SD/MI salah satunya
dapat ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dalam konteks
dunia nyata siswa.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan (KEMDIKBUD) sudah menetapkan buku teks pelajaran yang
layak digunakan dalam proses pembelajaran Matematika adalah yang
disajikan secara terpisah dari buku Tematik.
2.3 KOMPETENSI INTI :
KI 1 : Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,teman
dan guru.
KI 3 : Memahami penhetahun faktual dengan cara mengamati
mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin
tahun tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan
benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan factual dalam bahasa yang jelas dan
logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.
2.4 KOMPETENSI DASAR :
KD 3.2 Menjelaskan dan melakukan operasi penjumlahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian yang melibatkan bilangan bulat
negatif.
KD 4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang melibatkan
bilangan bulat negatif dalam kehidupan sehari-hari.
2.5 INDIKATOR PEMBELAJARAN :
73
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
3.2.1 Menjelaskan operasi penjumlahan yang melibatkan bilangan bulat
negatif.
3.2.2 Menjelaskan operasi pengurangan yang melibatkan bilangan bulat
negatif.
4.2.1 Melakukan penjumlahan yang melibatkan bilangan bulat negatif.
4.2.2 Melakukan pengurangan yang melibatkan bilangan bulat negatif.
2.6 TUJUAN PEMBELAJARAN :
1. Melalui kegiatan mengamati, peserta didik mampu menjelaskan
operasi penjumlahan yang melibatkan bilangan bulat negatif dengan
tepat.
2. Melalui kegiatan mengamati, peserta didik mampu menjelaskan
operasi pengurangan yang melibatkan bilangan bulat negatif dengan
tepat.
3. Melalui kegiatan penggunaan benda konkret, peserta didik mampu
melakukan penjumlahan yang melibatkan bilangan bulat negatif
dengan benar.
4. Melalui kegiatan penggunaan benda konkret, peserta didik mampu
melakukan pengurangan yang melibatkan bilangan bulat negatif
dengan benar.
2.7 MATERI
Penjumlahan bilagan bulat
Pengurangan bilangan bulat
2.8 ALAT DAN BAHAN 5. Korek api
ALAT : 6. Kertas pasir
1. Palu 7. Rol
2. Pisau 8. Kuas
3. Gunting
4. Gergaji
BAHAN :
74
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
1. Triplek 2 buah masing-masing berukuran 40 cm x 30 cm
2. Triplek 2 buah masing-masing berukuran 20 cm x 30 cm
3. Triplek putih 1 buah berukuran 20 cm x 15 cm
4. Kayu berukuran : 40 cm (2 buah) , 30 cm ( 7 buah) , 30 cm ( 2
buah), 15 cm ( 2 buah).
5. Pipa diameter 10 secukupnya.
6. Paku besar 1 kotak
7. Paku payung 2 kotak
8. Engsel 2 buah
9. Cat
10. Lem fox 1 botol
11. Lem tembak 3 buah
12. Kertas origami
13. Stiker
14. Kartu bilangan bulat
15. Pengeras suara
16. Tali batak 3m.
2.9 CARA PEMBUATAN
1) Potong triplek dengan ukuran dan bentuk seperti berikut :
70 cm
15 cm
30 cm 30 cm
25 cm
40 cm 15 cm
25 cm
20 cm
2) Susunlah kayu-kayu yang sudah dipotong sesuai ukurannya
menjadi rangka berbentuk :
75
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
3) Pakukan triplek pada rangka kayu sesuai dengan bentuk di setiap
sisinya.
4) Lem kayu yang sudah dipotong seperti gambar berikut
5) Pasang triplek yang sudah dipotong sesuai plat menggunakan
engsel , sehingga bentuknya seperti pintu yang bisa di buka-tutup,
didalamnya pasangkan triplek putih. Dan lemkan kotak music
disamping pintu.
6) Tempelkan stiker
76
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
7) Hiaslah media menggunakan tali batak dan kertas origami
8) Siapkan kartu bilbul (bilangan bulat).
C. TEKNIK PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN MEDIA
PEMBELAJARAN
1. Penggunaan Media Oppung Hans
CARA PEMBUATAN
Berikut ini adalah cara pembuatan media OPUNG HANS:
1) Potonglah triplek putih hingga ukuranya 80 x 60cm.
2) Potonglah kayu balik menjadi 10 batang dengan ukuran panjang 80
cm 4 batang, 60 cm 6 batang, 50 cm 1 batang, 10 cm 3 batang .
3) Potonglah papan menjadi beberapa bagian dengan ukuran 80x 60
cm 1 lembar, 30x 1 5cm 1 lembar,
4) Pasangkan kaca pada bagian berwarna kuning.
5) Setelah itu, rangkailah menjadi media dengan bentuk seperti
berikut ini:
Gambar 1. Desain OPUNG HANS
6) Setelah badan media selesai, buatlah pelengkap media yaitu kartu
soal yang terbuat dari kertas jeruk, kartu operasi hitung yang
terbuat dari kertas hvs, serta plastik kaca yang digaris sesuai
dengan nilai pecahan.
77
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
CARA PENGGUNAAN MEDIA
Berikut ini adalah aturan yang terlebih dahulu harus dipahami dalam
menggunakan media OPUNG HANS:
1. Plastik kaca yang memiliki arsiran merah posisinya horizontal
Garis Merah
Horizontal
2. Plastik kaca yang memiliki arsiran biru posisinya vertikal
Garis Biru
Vertikal
Berikut adalah langkah-langkah penggunaan plastik kaca dari media
OPUNG HANS:
a. Pilihlah soal dengan mengambil satu kertas berwarna merah dan
satu kertas berwarna biru.
b. Masukkan soal pada kotak kaca yang tersedia.
78
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
c. Pilihlah operasi hitung ( x, :, +, -)
d. Letakkan operasi hitung pada bagain yang telah disediakan.
e. Ambillah plastik kaca sesuai dengan nilai pecahan pada kartu soal
berwana merah dan biru yang telah dipilih sebelumya, plastik kaca
tersedia dibagian belakang media.
f. Letakkan plastik kaca pada kotak jawaban yang tersedia.
79
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Berikut ini adalah cara menghitung jawaban dari media plastik kaca:
1. Operasi penjumlahan
Contoh: + =
Penyelesaian:
Double di
hitung dua
kali
Pembilang : Jumlah semua kotak yang berisi arsiran dan kotak
yang berisi arsiran double dihitung dua kali.
Maka pembilangnya berjumlah 26.
Penyebut : Jumlah semua kotak
Maka penyebutnya berjumlah 28.
2. Operasi pengurangan
Contoh: – =
Penyelesaian :
80
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Pembilang : Jumlah semua kotak yang berisi arsiran pada
bilangan pecahan terbesar dikurangi dengan
jumlah semua kotak yang berisi arsiran pada
bilangan pecahan terkecil
Maka pembilangnya adalah 14 – 12 = 2
Penyebut : Jumlah semua kotak
Maka penyebutnya berjumlah 28
3. Operasi perkalian
Contoh: x =
Penyelesaian:
Pembilang : Jumlah kotak yang berisi arsiran double
Maka pembilangnya berjumlah 6
81
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Penyebut : Jumlah semua kotak
Maka penyebutnya berjumlah 28
4. Operasi pembagian
Contoh: : = x =
Penyelesaian:
Pembilang : Jumlah kotak yang berisi arsiran pada bilangan
terbesar dan kotak yang berisi arsiran double
dihitung satu kali
Maka pembilangnya berjumlah 14
Penyebut : Jumlah semua kotak yang berisi arsiran dikurangi
dengan jumlah kotak yang kosong
Maka penyebutnya adalah 20-8 = 12
2. Penggunaan Media Muzax
CARA PENGGUNAAN MEDIA
Kartu
Kartu ratusan bernilai positif
82
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Kartu ratusan bernilai negatif
Kartu puluhan bernilai positif
Kartu puluhan bernilai negatif
Kartu satuan bernilai positif
Kartu satuan bernilai negatif
Keterangan :
Setiap kartu memiliki nomor yang ada disisi belakangnya, dan setiap
nomor tersebut memiliki pertanyaan dan tantangan yang harus
diselesaikan siswa.
NOMOR
TANTANGAN ATAU PERTANYAAN
KARTU
Jika kamu melihat temanmu jatuh dari
1
sepeda, apa yang kamu lakukan?
Jika kamu mendapatkan uang 2000 rupiah
2
dijalan, apa yang akan kamu lakukan?
Saat guru sedang keluar kelas, apa yang
3
kamu lakukan didalam kelas?
83
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
4 Sebutkan perkalian 9 !
5 Nyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa !
6 Sebelum makan, kamu harus…
Sebutkan kegiatan yang kamu lakukan
7
sebelum tidur !
8 Tampilkan bakat yang kamu miliki !
Saat temanmu sedang beribadah, apa yang
9
kamu lakukan?
10 Jika kamu tersesat, maka kamu harus…
11 Nyanyikan lagu daerah yang kamu hafal !
Ketika pulang sekolah, apa yang kamu
12 lakukan saat melihat rumahmu sangat
berantakan ?
Hari ini ibumu memberi uang jajan lebih
13
banyak, akan kamu apakan uang tersebut?
Jika hari ini ibu guru memberikan
14 pekerjaan rumah, kapan kamu akan
menyelesaikan PR tersebut?
Nyanyikan lagu Potong Bebek Angsa
15 dengan huruf vokal “O”!
16 Sebutkan perkalian 5 !
Apa yang harus kamu lakukan untuk
17
menggapai cita-citamu?
18 Sebutkan 5 sila pada Pancasila !
Sebutkan kegiatan yang kamu lakukan saat
19
hari libur!
Jika kamu diejek oleh temanmu, maka
20 kamu akan…
Apa yang kamu lakukan saat kamu melihat
21
temanmu di olok-olok ?
22 Sebutkanlah isi sumpah Pemuda !
84
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
23 Nanyikan lagu Himne Guru !
Jika kamu berpapasan dengan gurumu saat
24
dijalan, maka kamu akan..
Apa yang kamu lakukan jika kamu melihat
25
temanmu mencontek saat ujian?
26 Lakukan dance marina !
Apa yang kamu lakukan saat ibumu atau
27
ayahmu sakit?
Jika kamu tidak mengetahui jawaban soal
28
ujian, maka kamu akan..
29 Lakukan dance baby shark !
Jika kamu tidak mendapatkan izin dari
30
orangtua untuk bermain, maka kamu akan..
Langkah-Langkah Penggunaan Media MUZAX
A. SISI DEPAN (Tujuan : Memotivasi dan mengasah
psikomotorik anak)
1. Sebelum memulai pembelajaran , guru memutar musiK dan
mengajak peserta didik menyanyi bersama.
2. Setelah itu, peserta didik diperbolehkan memilih salah satu
soal penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yang ada
pada lingkaran soal.
B. SISI BELAKANG (Tujuan : Mengimplementasikan teori
belajar Brunner tahap enaktif )
Untuk menyelesaikan soal yang telah dipilih, peserta didik
dapat menggunakan sisi belakang media. Contoh soal : -
100 + 25 = ….
Peserta didik dapat meletakkan kartu pada setiap kolom
kartu yang tersedia.
1. Kemudian, peserta didik dapat mengeliminasi kartu yang
memiliki pasangan. Dengan syarat , kartu yang memiliki
85
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
warna yang sama dan tanda yang berbeda adalah
pasangan.
2. Jika peserta didik tidak menemukan pasangan kartunya ,
maka peserta didik harus menjabarkan salah satu kartu yang
nilainya besar. Dengan syarat, kartu puluhan dapat
dijabarkan menjadi kartu satuan sebanyak sepuluh kartu
atau 1 kartu puluhan = 10 kartu satuan.
3. Setelah kartu dijabarkan , maka peserta didik dapat mencari
pasangan kartu.
C. SISI KANAN ( Tujuan : Mengimplementasikan teori belajar
Brunner tahap ikonik )
Setelah belajar dengan benda konkret, peserta didik dapat
belajar dengan gambar atau ikon. Dalam hal ini, peserta
didik diajarkan tentang penjumlahan dan pengurangan
dengan menggunakan gambar buah.
Selain itu, guru juga dapat mengajarkan penjumlahan dan
pengurangan menggunakan garis bilangan yang ada pada
sisi atas media kepada peserta didik.
D. SISI DEPAN ( Tujuan : Melaksanakan teori belajar Brunner
tahap simbolis)
Pada sisi ini ,peserta didik akan menyelesaikan operasi
hitung bilangan bulat khususnya penjumlahan dan
pengurangan secara abstrak, dengan cara langsung
menuliskan soal penjumlahan atau pengurangan bilangan
bulat secara simbolis sesuai dengan soal awal yang
diperoleh dari lingkaran soal. Contoh,
-100 + 25 = ….
D. RANGKUMAN
Hal yang menyebabkan pengajaran matematika sangat memerlukan media
pembelajaran , yaitu :
a. Objek matematika itu abstrak sehingga memerlukan peragaan
86
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
b. Materi matematika tidak mudah dipahami
c. Hirarki matematika ketat dan kaku.
d. Aplikasi matematika kurang nyata
e. Belajar matematika perlu focus
f. Citra pembelajaran matematika kurang baik
g. Kemampuan kognitif siswa masih konkret
h. Motivasi belajar siswa tidak tinggi
Jenis dan macam media matematika :Manual dan Elektronik
Karakteristik media manual yaitu :
a. penyampaian pesan lewat simbol-simbol visual
b. bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu
c. dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja
dan pada tingkat usia berapa saja
d. mengandung pesan yang bersifat interpretativecontoh dari media
manual.
Karakteristik dari media elektronik (microsoft power point/macro media
flash) diantaranya:
a. Media ini menarik untuk digunakan sebagai alat presentasi adalah
berbagai kemampuan pengolahan teks, wana, dan gambar, serta
animasi-animasi yang bisa diolah sendiri sesuai kreatifitas
penggunanya.
b. Pada prinsipnya program ini terdiri dari beberapa unsur rupa, dan
pengontrolan operasionalnya.
Berdasarkan tempat penggunaan media pembelajaran dipergunakan,
terdapat beberapa teknik penggunaan media pembelajaran:
a. Penggunaan Media di dalam Kelas
b. Penggunaan media di Luar Kelas
variasi penggunaan media yang dapat dilakukan oleh guru di dalam
pembelajaran di kelas:
a. Media dapat dipergunakan secara perorangan
b. Media dapat digunakan secara kelompok
c. Media dipergunakan secara masal
87
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
E. LATIHAN III
Latihan 1:
1. Tuliskan dan jelaskan mengapa media sangat diperlukan dalam proses
pengajaran !
2. Bandingkan hasil pembelajaran dengan menggunakan media manual
dan elektronik!
3. Jelaskan 2 perbedaan karakteristik media manual dan elektronik !
4. Jelaskan 3 perbedaan teknik penggunaan pembelajaran didalam kelas !
5. Tuliskan 3 variasi penggunaan media yang dapat dilakukan oleh guru di
dalam pembelajaran!
88
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
BAB IV
PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
Dalam pembelajaran matematika SD, agar bahan pelajaran yang diberikan
lebih mudah dipahami oleh siswa, diperlukan bahan-bahan yang perlu disiapkan
guru, dari barang-barang yang harganya relatif murah dan mudah diperoleh,
misalnya dari karton, kertas, kayu, kawat, kain, untuk menanamkan konsep
matematika tertentu sesuai dengan keperluan. Bahan-bahan itu dapat dipegang,
dipindah-pindah dipasang, dibolak-balik, diatur/ditata, dilipat/dipotong oleh siswa
sehingga dapat disebut sebagai bahan manipulative, yaitu bahan yang dapat
“dimain-mainkan” dengan tangan. Bahan ini berfungsi untuk menyederhanakan
konsep yang sulit/sukar, menyajikan bahan yang relatif abstrak menjadi lebih
nyata, menjelaskan pengertian atau konsep secara lebih konkret, menjelaskan
sifat-sifat tertentu yang terkait dengan pengerjaan (operasi) hitung dan sifat-sifat
bangun geometri, serta memperlihatkan fakta-fakta.
Dengan semakin banyaknya kesempatan dan keleluasaan guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar, agar siswa benar-benar menguasai
kompetensi yang dituntut, maka guru dapat berkreasi secara dinamis, tanpa harus
menunggu pemberian orang lain atau “dropping” dari atas, untuk mampu
menyiapkan bahan manipulatif dalam pembelajaran matematika SD. Bahan-bahan
ini tidak harus mahal, atau dapat menjadi murah, karena dibuat dari barang
bekas/buangan/tak terpakai, misalnya dari berbagai karton bungkus makanan,
bungkus berbagai rokok, plastik-plastik bekas dan potongan-potongan kayu tak
terpakai.
A. BAHAN MANIPULATIF DARI KERTAS
Bahan kertas ini mudah diperoleh, dengan warna yang beragam, dari
kertas manila yang dibeli dari toko, atau dari bekas berbagai sampul tak terpakai
(buku, map), dari macam-macam bungkus rokok yang berwarna-warni, dari karton
pembungkus makanan/minuman. Manfaat dari bahan manipulative kertas/karton
ini antara lain adalah : Untuk menjelaskan pecahan (konsep sama/senilai, operasi)
89
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Konsep pecahan m/n sebagai m bagian dari n bagian yang sama, dapat
didemonstrasikan guru, atau dipraktikan siswa, dengan menggunakan berbagai
bangun geometri, misalnya persegi, persegi panjang, jajargenjang, belah ketupat,
segitiga, lingkaran.
AB CD
E
Gambar 4.1
ditunjukkan dengan satu bagian dari empat bagian yang sama.
ABC
D
Gambar 4.2
ditunjukkan dengan satu bagian dari empat bagian yang sama.
Pecahan-pecahan senilai juga dapat ditunjukkan dengan potongan
kertas memanjang atau potongan kertas dalam bangun-bangun geometris,
misalnya, dengan menggunakan potongan kertas memanjang, dapat
ditunjukkan pecahan-pecahan senilai, misalnya :
dan
90
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
1/2 ½
1/3 1/3 1/3
1/4 1/4 1/4 1/4
1/6 1/6 1/6 1/6 1/6 1/6
1/8 1/8 1/8 1/8 1/8 1/8 1/8 1/8
Dengan menggunakan pola, dapat dikembangkan bentuk-bentuk
pecahan senilai, yaitu:
Perkalian pecahan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara sebagai berikut.
2/3 2/3 2/3 2/3
111
4 dapat juga ditunjukkan menggunakan luas daerah sebagai berikut.
11 1 1
1 satuan = 3 bagian bertitik.
4 = 8 bagian bertitik.
4.
Pada akhirnya, dengan berbagai kasus, dapat diketahui bahwa :
91
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Selanjutnya, perkalian dapat dilakukan dengan menggunakan luas
daerah sebagai berikut :
Dengan menggunakan makna :
2: ...
Sebagai mencari banyaknya perpaduan dalam 2, maka dapat ditentukan
bahwa 2 : 4.
1 1
1/2 1/2 1/2 1/2
Terdapat empat daun dalam 2.
Jadi: 2 : 4.
Dengan menggunakan makna
92
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
=...
Sebagai mencari banyaknya perpaduan dalam , maka dapat ditentukan
bahwa: 1
1
2/3
1/2
lebihnya
menghasilkan perpaduan sebanyak 1 dan lebihnya .
Jadi: 1
Dalam perkembangan kognitif Piaget, konversi luas merupakan tahapan
perkembangan kognitif yang dapat digunakan dalam pembelajaran mateatika
SD. Jika suatu bangun datar dipotong-potong dan disusun menjadi bangun-
bangun yang lain yang berbeda, maka luas dari bangun-bangun itu sama
meskipun bentuknya berubah. Misalnya, jika bangun jajaran genjang ABCD
mempunyai luas L, lihat Gambar 2.3 A dan 2.3 B, kemudian dipotong pada
tepi-tepi sisi AB, BC, CD, dan DA, serta pada diagonal BD, maka akan
diperoleh dua potong bangun segitiga. Dua bangun segitiga ini daapt disusun
menjadi bangun-bangun lain, sesuai dengan krativitas masing-masing
penyusun, antara lain akan diperoleh bangun-bangun seperti dibawah, yang
mana luas setiap bangun sama (tetap, tidak berubah) yaitu sama dengan L.
DC
93
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
A B B
A Gambar 4.3.
AB C
DE
Gambar 4.4.
Model penyusunan potongan-potongan kertas (karton) seperti di atas dapat
membangun kreativitas, dan memantapkan konversi luas, dan pada akhirnya dapat
digunakan untuk menjelaskan konsep matematika. Model lain yang terkenal
disebut tangram, antara lain meliputi tangram 3, tangram 5, dan tangram 7.
Tangram 3 Tangram 5 Tangram 7
94
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Dengan banyak latihan tentang konservasi luas, para siswa menjadi siap untuk
menggunakannya dalam pembahasan tentang topik-topik matematika yang sesuai
, misalnya penentuan luas bangun jajar genjang dan trapesium,serta penentuan
hubungan Teorema Pythagoras dalam segitiga siku-siku, luas jajar genjang
dijelaskan sebagai berikut :
t
t
a a
Luas = axt
Luas trapesium dijelaskan seperti di bawah
95
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Luas = (a+b) .1/2 t
Teorema Pythagoras dijelaskan sebagai berikut:
ab ab
b b2
c
b b
c2 a2
a
ab ab
i ii
Luas I + Luas II
C2+ 4(1/2ab)= a2+b2+4(1/2ab)
C2 = a2+b2
3 2 12
5 43
54
1
abc
21 35 4
43 5
L1 + L2+ L3 = b2 21
L4 + L5 =a2 L1 + L2 +L3 + L4 + L5 = b2
L1 + L2 +L3 + L4 + L5 = c2 L5 = a2
L1 + L2 +L3 + L4 + L5 = c2
96
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
c2 = a2 + b2 c2 = a2 + b2
Jaring bangun-bangun ruang tertentu dapat di tunjukkan dengan
kertas/karton, dan sebaliknya bangun-bangun ruang itu dapat di bangun dari
jaringnya ( jaring atau rebahan ) . Bangun-bangun itu antara lain kubus , balok,
Parallepipidum,tetrahedron,oktahedron, ikosahedron, dan dodekahedron.Bangun-
bangun tersebut merupakan bangun-bangunyang konveks, yaitu bangun-bangun
ruang yang perpanjangan rususknya, atau perluasan bidangnya tidak memotong
dirinya sendiri, dengan menampilkan secara fisik model-model bangun ruang
konveks, siswa mempunyai kesempatan untuk “ mempraktekkan” berlakunya
Teorema Euler yaitu:
B+T=R+2
B = Banyaknya bidang datar ( Face )
T = Banyaknya titik ( Vertex )
R = Banyaknya sisi ( edge )
Tetrahedron / Piramid Kubus
Oktahedron Ikosahedron
97
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Dodekahedron
Dari model- model bangun ruang tersebut dapat di temukan lebih lanjut bahwa
untuk:
S= Banyaknya sisi dari setiap bidang
B= Banyak bidang dari setiap titik
Terdapat hubungan :
bT = 2R
sB = 2R
Sehingga : = =
B. MODEL STIK (Lidi: dari rangka daun kelapa, dari bambu, atau dari
plastic)
Model ini dapat dipakai untuk menjelaskan konsep satuan, puluhan, dan
ratusan untuk siswa-siswa SD kelas rendah. Lidi-lidi tersebut dalam bentuk lepas
(sebagai satuan), bentuk ikatan (dengan tali/karet) sepuluhan, dan bentuk ikatan
dari sepuluhan (dan disebut seratusan). Model-model stik ini dapat digunakan
untuk menjelasakan konsep numeral (lambing bilangan), kesamaan bilangan,
operasi (penjumlahan, pengurangan, perkalian) bilangan bulat, misalnya:
234 = 2 ratusan + 3 puluhan + 4 satuan
= 2 ikatan ratusan + 3 ikatan puluhan + 4 lepas
98
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
35 = 30 + 5 = 20 + 15 = 10 + 25
= 23 + 12 = 18 + 17 = 9 + 26
3 x 6 = 6 + 6 + 6 = 18
5 x 10 = 10 + 10 + 10 + 10 + 10 = 50
2 x 100 = 100 + 100 = 200
46 – 23 = (40 + 6) – (20 + 3) = (40 – 20) + (6 – 3) = 20 + 3 = 23
35 – 19 = (30 + 5) – (10 + 9) = (20 + 10 + 5) – (10 + 9)
= (20 – 10) + (10 + 5 – 9) = 10 + 6 = 16
C. MODEL PERSEGI DAN STRIP DARI KAYU/TRIPLEKS
Model ini terdiri dari potongan persegi kayu/tripleks, strip-strip sepanjang
sepuluh persegi, dan daerah seluas sepuluh strip. Kegunaan model persegi dan strip
serupa dengan kegunaan model stik, yaitu untuk menjelaskan konsep numeral,
kesamaan bilangan, dan operasi bilangan bulat. Bahan kayu/tripleks dapat diganti
dengan karton yang relatif tebal.
D. MODEL KERTAS BERTITIK/BERPETAK
Kertas bertitik dapat bersifat persegi atau bersifat isometrik. Model ini
dapat digunakan untuk menjelaskan banyak hal yang terkait dengan geometri
(bangun datar dan sifat-sifatnya, hubungan antar bangun datar, dan luas bangun
datar). Berbagai posisi datar, tegak, miring bangun datar (segitiga, persegi, persegi
panjang, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium) dapat
diperagakan dengan model kertas bertitik (pengerjaannya menggunakan pensil
sehingga bisa dihapus). Dengan perkembangan ketersediaan bahan saat ini, kertas
bertitik/berpetak ini dapat menggunakan white board (dengan titik/petak
menggunakan spidol permanen), dan pengerjaannya dengan spidol white board
yang dapat dihapus.
E. RANGKUMAN
99
Pengembangan Pembelajaran Matematika DI SD
Bahan manipulatif, yaitu bahan yang dapat “dimain-mainkan” dengan
tangan. Bahan ini berfungsi untuk menyederhanakan konsep yang
sulit/sukar, menyajikan bahan yang relatif abstrak menjadi lebih nyata,
menjelaskan pengertian atau konsep secara lebih konkret, menjelaskan
sifat-sifat tertentu yang terkait dengan pengerjaan (operasi) hitung dan
sifat-sifat bangun geometri, serta memperlihatkan fakta-fakta.
Manfaat dari bahan manipulatif kertas/karton salah satunya yaitu untuk
menjelaskan pecahan (konsep sama/senilai, operasi
Model Stik (lidi: dari rangka daun kelapa, dari bambu, atau dari plastic)
dapat dipakai untuk menjelaskan konsep satuan, puluhan, dan ratusan
untuk siswa-siswa SD kelas rendah.
Model persegi dan strip dari kayu/tripleks dapat dipakai untuk
menjelaskan konsep numeral, kesamaan bilangan, dan operasi bilangan
bulat. Bahan kayu/tripleks dapat diganti dengan karton yang relatif tebal
Model kertas bertitik/berpetak dapat bersifat persegi atau bersifat
isometrik. Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan banyak hal yang
terkait dengan geometri (bangun datar dan sifat-sifatnya, hubungan antar
bangun datar, dan luas bangun datar)
F. LATIHAN IV
Latihan 1:
Untuk memperdalam pemahaman anda mengenai materi di atas, kerjakanlah
latihan berikut!
1. Jelaskan pengertian bahan manipulatif dalam pembelajaran
matematika!
2. Apa fungsi utama dari bahan manifulatif dalam pembelajaran
matematika?
3. Sebutkan model-model matematika yang merupakan bahan
manifulatif matematika!
4. Jelaskan perbedaan utama antara media dan bahan manifulatif dalam
pembelajaran matematika!
100