KATA PENGANTAR
E-Modul ini merupakan bahan ajar yang dipersiapkan untuk digunakan
dalam mata kuliah Ketrampilan Dasar Pendidikan Sekolah Dasar di FIP Unimed.
Penyusunan materi E-Modul ini diupayakan sesuai dengan silabus mata kuliah dan
diperoleh dari berbagai sumber baik dari buku cetak maupun daring. Dengan adanya
keterbatasan waktu dalam penyusunannya, maka isi dalam E-Modul ini masih dalam
bentuk kompilasi.
Kami mengharapkan bagi para pembaca khususnya mahasiswa yang
menggunakan E-Modul ini kiranya dapat lebih mudah memahami materi perkuliahan
dan selanjutnya mencapai kompetensi yang diharapkan. E-Modul ini juga berbasis
kearifan Lokal Sumatera Utara.
Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam E-Modul ini baik dalam
bentuk penulisan maupun substansi. Untuk itu kepada berbagai pihak yang ingin
memberi saran dalam rangka perbaikan akan kami terima dengan sangat senang
hati. Kepada para pihak yang tulisannya kami sertakan dalam E-Modul ini, kami
sampaikan terima kasih yang tak terhingga. Akhir kata harapan kami ini dapat
memberi manfaat bagi yang menggunakannya.
Medan, 10 Agustus 2020
Tim Penyusun
2
DAFTAR ISI
halaman
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA..................................................................... 5
A. Pengertian Pendidikan Dasar.......................................................................................... 5
B. Tujuan Pendidikan Dasar................................................................................................ 8
C. Landasan-Landasan Pendidikan Dasar ......................................................................... 10
D. Latar Belakang Dan Arah Pendidikan Dasar............................................................... 16
E. Kurikulum Sekolah Dasar............................................................................................. 18
F. Jenis-Jenis Sekolah Dasar ............................................................................................. 24
G. Karakteristik Pendidikan Dasar Di Indonesia .............................................................. 26
H. Cara Belajar Anak ........................................................................................................ 31
I. Pendidikan Dasar Berbasis Budaya ............................................................................. 26
J. Karakteristik Pendidikan berbasis budaya Di Indonesia ............................................. 31
BAB II KETERAMPILAN BELAJAR DI SD........................................................................ 40
A. Pengertian Keterampilan Belajar .................................................................................... 40
B. Hakikat Keterampilan Belajar......................................................................................... 40
C. Tujuan Penerapan Keterampilan Belajar ........................................................................ 41
D. Aspek-aspek Keterampilan Belajar ................................................................................ 41
E. Urgensi Keterampilan Belajar berbasis kearifan Lokal ................................................. 46
F. Penerapan Keterampilan berbasis kearifan lokal sumatera utara .................................... 48
BAB III KETERAMPILAN MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR ........................................ 51
A. Konsep Mengajar........................................................................................................... 52
B. Delapan Keterampilan Dasar Mengajar Di Sd .............................................................. 60
C. Tuntutan Keterampilan Guru Di Masa Mendatang ....................................................... 62
D. Keterampilan Mengajar Berbasis Kearifan Lokal Derah .............................................. 66
E. Pengembangan Keterampilan Mengajar Berbasis Kearifan Lokal ............................... 71
3
BAB IV PROSES PEMBELAJARAN DI SD.......................................................................... 73
A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran ............................................................................. 73
B. Belajar sebagai proses terpadu........................................................................................ 79
C. Perkembangan Anak Sekolah Dasar............................................................................... 81
D. Kharakteristik Belajar Anak Sekolah Dasar............................................................... 100
E. Hubungan Kharakteristik Siswa Sekolah Dasar Dengan Kearifan Lokal.................... 100
F. Penanaman Kharakter Pada Siswa Terhadap Kearifan Lokal Sumatera Utara ............ 100
BAB V KEARIFAN LOKAL SUMATERA UTARA............................................................ 114
A. Peraturan Mengenai Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal............... 114
B. Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal .................................................... 116
C. Keunggulan Pendidikan Kearifan Lokal Terhadap Anak Sekolah Dasar.................... 119
D. Contoh Keunggulan Kearifan Lokal Sumatera Utara................................................. 120
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 124
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) ............................................................. 129
KONTRAK DAN SAP ............................................................................................................ 129
4
BAB I PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA
Standar Kompetensi :
Mahasiswa mampu mendeskripsikan konsep pendidikan dasar dan dasar-dasar pendidikan
meliputi filsafat pendidikan, tujuan pendidikan, landasan pendidikan, dan latar belakang
pendidikan serta karakteristik pendidikan dasar di Indonesia.
Kompetensi Dasar :
Setelah menyelesaikan Bab I ini mahasiswa dapat:
1. Memiliki wawasan tentang pendidikan dasar di Indonesia.
2. Menguasai dasar-dasar pendidikan agar bertanggungjawab untuk berpartisipasi di
dalam dunia pendidikan.
3. Mengenal karakteristik pendidikan dasar di Indonesia.
Indikator :
Setelah menyelesaikan Bab ini, mahasiswa dapat menjelaskan pendidikan dasar di Indonesia.
Secara lebih khusus mahasiswa dapat:
1. Menjelaskan pengertian pendidikan dan pendidikan dasar.
2. Menjelaskan landasan-landasan pendidikan, tujuan pendidikan, landasan pendidikan
dan latar belakang pendidikan.
3. Menjelaskan karakteristik pendidikan dasar di Indonesia.
Materi :
1. Pendidikan Dasar di Indonesia.
2. Dasar-Dasar Pendidikan Dasar.
3. Karakteristik Pendidikan Dasar di Indonesia.
A. Pengertian Pendidikan Dasar
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia.
Dimanapun dan kapanpun didunia, dalam aktivitas manusia tersebut selalu berhubungan
dengan pendidikan. Pada hakikatnya pendidikan merupakan usaha manusia untuk
memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk membudayakan manusia.
5
Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan
masyarakat, perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa
atau masyarakat dan bahkan individu menyebabkan perbedaan penyelenggaraan kegiatan
pendidikan tersebut. Dengan demikian selain dari bersifat universal, pendidikan juga bersifat
nasional. Sifat nasionalnya akan mewarnai penyelenggaraan pendidikan bangsa itu.
Urusan utama pendidikan adalah manusia. Perbuatan pendidik diarahkan kepada
manusia untuk mengembangkan potensi-potensi dasar manusia agar menjadi nyata.
Perubahan tuntutan yang terjadi dalam masyarakat, menghendaki peningkatan peranan
pendidikan selanjutnya. Dengan demikian wajarlah kiranya batasan atau konsep mengenai
pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan keadaan akibat dari
perkembangan kehidupan manusia atau perkembangan peradaban manusia dan
perkembangan masyarakat.
Pembahasan tentang pendidikan di Indonesia tidak ada habis-habisnya. Pendidikan
adalah salah satu hal yang sangat penting di dalam kehidupan kita saat ini. Pendidikan
merupakan konsumsi yang saat ini banyak di geluti oleh masyarakat Indonesia. Khususnya
pendidikan dasar, dimana pendidikan tersebut menjadi tonggak pertama yang berperan dalam
melahirkan insan-insan penerus untuk melanjutkan kehidupan bangsa dan negara di masa
mendatang. Pendidikan adalah hal yang mutlak selalu menjadi sorotan publik untuk melihat
apakah suatu negara tersebut maju atau tidak, berperan atau tidak, dan dapat menjadi negara
yang mampu bersaing di kancah dunia.
Pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi antara pendidik dengan subjek
didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu berlangung dalam lingkungan tertentu
dengan menggunakan berbagai macam tindakan yang disebut alat pendidikan.
Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk
memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Pendidikan ialah
pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam
pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat.
(Purwanto, 2007:11). Dalam pergaulannya dengan anak-anak, orang dewasa menyadari
bahwa tindakan yang dilakukannya terhadap anak itu mengandung maksud, ada tujuan untuk
menolong anak yang masih perlu di tolong untuk membentuk dirinya sendiri.
Sagala (2009) mengatakan bahwa pendidikan dapat dimaknai sebagai proses
mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri
dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada.
6
Pendidik tidak hanya mencakup intelektualitas saja, akan tetapi lebih ditekankan pada proses
pembinaan kepribadian anak didik secara menyeluruh sehingga anak menjadi lebih dewasa.
Sedangkan Hamdani (2011) mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah sistem yang
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar
peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif sehingga memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari beberapa pengertian pendidikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-
anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) menggunakan sebuah sistem yang
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar
peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif sehingga memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat.
Pendidikan saat ini seharusnya membentuk siswa yang dapat menghadapi era
globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan
teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri kreatif dan budaya,
pergeseran kekuatan ekonomi dunia, serta pengaruh dan imbas teknologi berbasis sains.
Kerusakan lingkungan merupakan permasalahan yang berpengaruh dalam kehidupan dan
harus dihadapi oleh siswa sehingga mereka perlu dibekali dengan kemampuan untuk menjaga
lingkungan dan mengatasi permasalahan lingkungan. Siswa harus memiliki kemampuan
berkomunikasi yang memadai serta menguasai teknologi informasi dalam kancah globalisasi
dan persaingan dalam bekerja. Keterampilan berfikir kreatif dan inovatif dibutuhkan dalam
upaya mengembangkan ilmu, teknologi, dan seni menurut Sani ( 2014).
Begitu juga pada pendidikan sekolah dasar. Pendidikan dasar bertujuan ganda yaitu
untuk mempersiapkan peserta didik untuk hidup di masyarakat dan mempersiapkan ke
jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan dasar berhubungan dengan pengetahuan dasar.
Pengetahuan dasar yang dimaksud adalah pengetahuan tentang konsep bidang ilmu yang
membuka awal suatu bidang ilmu tertentu sehingga peserta didik mendapatkan pengetahuan
baru. Pengetahuan tersebut berguna untuk mengingat serta memahami informasi dan ide,
pengetahuan dasar yang diperlukan supaya dapat mempelajari hal penting yang lain.
Peraturan Pemerintah RI dalam Tilaar (2004: 56-57) Nomor 28 tahun 1990 tentang
Pendidikan Dasar Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1 menyatakan pendidikan dasar adalah
pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di
7
Sekolah Dasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan
sederajat. Pasal 1 ayat 2 mengatakan bahwa pendidikan dasar adalah bentuk satuan
pendidikan dasar yang menyelenggarakan program enam tahun. Pasal 3 menyatakan
pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik
untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara
dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan
menengah.
Sedangkan menurut Arbi dan Syahrun (1991) pendidikan dasar adalah pendidikan
umum yang diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar (SD). Pendidikan dasar ini
dimaksudkan akan mampu memberikan wadah yang lebih mantap bagi diselenggarakannya
program wajib belajar yang telah berhasil dilaksanakan oleh pemerintah. Seluruh anak usia
sekolah diatas usia enam tahun mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk
memperoleh pendidikan. Satuan pendidikan dasar ini selain didirikan oleh pemerintah, dapat
didirikan oleh masyarakat asal memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan yang meliputi
jumlah murid, tempat belajar, kurikulum yang digunakan, sumber dana, sarana penunjang
serta persyaratan teknis lainnya. Ketetapan mengenai hal ini selanjutnya akan diatur oleh
menteri.
Undang-Undang No.2 Tahun 1989 dalam (murniramli.wordpress.com) menyatakan
bahwa pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta
memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam
masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti
pendidikan menengah. Sedangkan UU No. 20 Tahun 2003 mengatakan bahwa pendidikan
dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang pendidikan dasar sebelumnya dapat ditarik
kesimpulan bahwa pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang diselenggarakan selama
enam tahun untuk mengembangkan sikap dan kemampuan peserta didik serta memberikan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta
mempersiapkan peserta didik yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
B. Tujuan Pendidikan Dasar
Setiap kegiatan yang direncanakan oleh seseorang pasti memiliki tujuan yang ingin
dicapai. Bukan hanya kegiatan di bidang ekonomi dan teknologi, dalam dunia pendidikan,
termasuk pendidikan dasar juga memiliki tujuan akhir yang dicita-citakan. Tujuan umum
pendidikan sekolah dasar (SD) menurut Hamdani, (2011:.152) adalah agar lulusan memiliki
8
sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik; sehat jasmani dan rohani; serta memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran,
bekerja dimasyarakat, serta mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur
hidup dalam Tujuan khusus pendidikan sekolah dasar yaitu agar lulusan:
a. Bidang pengetahuan
1) Memiliki pengetahuan dasar fungsional tentang:
a) Dasar-dasar kewarganegaraan dan pemerintahan sesuai dengan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945;
b) Agama yang dianutnya;
c) Bahasa Indonesia dan penggunaannya sebagai alat komunikasi;
d) Prinsip-prinsip dasar matematika;
e) Gejala dan peristiwa yang terjadi disekitarnya;
f) Gejala dan peristiwa sosial, baik pada masa lampau maupun pada masa
sekarang.
2) Memiliki pengetahuan dasar tentang kesejahteraan tentang
keluarga, kependudukan, dan kesehatan.
3) Memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai bidang pekerjaan yang terdapat di
masyarakat sekitarnya.
b. Bidang Keterampilan
1) Menguasai cara-cara belajar yang baik.
2) Terampil menggunakan bahasa Indonesia lisan dan tulisan.
3) Mampu memecahkan masalah sederhana secara sistematis dengan menggunakan
prinsip Ilmu pengetahuan yang telah diketahuinya.
4) Mampu bekerja sama dengan orang lain dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
masyarakat.
5) Memiliki keterampilan berolahraga.
6) Memiliki keterampilan sekurang-kurangnya dalam satu cabang kesenian.
7) Memiliki keterampilan dasar dalam segi kesejahteraan keluarga dan usaha
pembinaan kesehatan.
8) Menguasai sekurang-kurangnya satu jenis keterampilan khusus yang sesuai dengan
minat kebutuhan lingkungannya sebagai bekal untuk mencari nafkah.
9
c. Bidang nilai dan sikap
1) Menerima dan melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa yang dianutnya serta menghormati ajaran agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianut orang lain.
2) Menerima dan melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
3) Mencintai sesama manusia, bangsa, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
4) Memiliki sifat demokratis dan tenggang rasa.
5) Memiliki rasa tanggung jawab.
6) Dapat menghargai kebudayaan dan tradisi nasional termasuk bahasa Indonesia.
7) Percaya pada diri sendiri.
8) Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan.
9) Memiliki kesadaran akan disiplin dan patuh pada peraturan yang berlaku, bebas
dan jujur.
10) Memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan objektif dalam
memecahkan persoalan.
11) Memiliki sikap hemat dan produktif.
12) Memiliki minat dan sikap positif dan konstruktif terhadap olahraga dan hidup
sehat.
C. Landasan-Landasan Pendidikan Dasar
a. Landasan Filosofis pendidikan di Indonesia
Landasan filosofis merupakan salah satu dasar yang harus dipegang dalam
pelaksanaan pendidikan. Landasan ini berkenaan dengan sistem nilai. Sistem nilai
merupakan pandangan seseorang tentang sesuatu terutama berkenaan dengan arti
kehidupan. Pandangan lahir dari kajian seseorang terhadap sesuatu masalah atau
norma-norma agama dan sosial yang dianutnya. Perbedaan pandangan dapat
menyebabkan timbulnya perbedaan arah pendidikan yang diberikan kepada anak didik
menurut Arbi & Syahrun (1991:34).
Pandangan hidup sebagai sistem nilai yang dipegang bukan semata-mata terdapat
pada individu, melainkan juga pada sekelompok masyarakat atau suatu bangsa.
Berkenaan dengan itu secara Nasional pandangan hidup bangsa Indonesia adalah
Pancasila. Oleh karena itu kaidah dan norma sosial maupun sistem nilai yang dianut
secara nasional harus berdasarkan kepada Pancasila. Dengan demikian pendidikan
10
haruslah berlandaskan pada Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia
Indonesia yang ber-Pancasila.
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia atau falsafah Negara
Republik Indonesia. Pancasila merupakan norma tertinggi dalam Negara kita. Dengan
demikian Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa, pandangan hidup yang
menjiwai sistem kenegaraan dan kemasyarakatan Indonesia. Dengan demikian
wajarlah kiranya Pancasila dijadikan landasan filosofis pendidikan kita.
Dasar kedua dari pendidikan nasional adalah Undang-Undang Dasar 1945,
sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab,
Hamdani (2011:64).
Mengapa Pancasila dijadikan sebagai pandangan dan cara hidup bangsa
Indonesia? Pancasila sebagai filsafat Negara Republik Indonesia diangkat dari realitas
sosial budaya dan tata nilai dasar masyarakat Indonesia. Nilai nilai dasar ini telah
menjiwai dan merupakan perwujudan kepribadian bangsa. Hal itu juga bersumber dari
keyakinan atau pandangan hidup yang benar, baik, dan unggul.
Adapun nilai-nilai dasar didalam sosial budaya Indonesia yang berkembang sejak
awal peradaban terutama meliputi: (a) Adanya kesadaran ke-Tuhanan dan kesadaran
keagamaan, (b) musyawarah mufakat dalam menentukan dan memecahkan masalah
bersama, (d) Kesadaran gotong royong atau tolong menolong, dan (e) Kesadaran
tenggang rasa dan tepa selera.
Nilai-nilai diatas tumbuh dan berkembang didalam kehidupan awal sosial budaya
kita, sepanjang sejarah bangsa. Oleh karena nilai-nilai dasar tersebut, teruji dalam
kehidupan, sehingga meyakinkan kita bahwa nilai-nilai dasar menjamin kekeluargaan,
kesatuan, kebersamaan, kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan yang bertujuan
untuk kebahagiaan hidup.
Bangsa Indonesia memanfaatkan dan memilih nilai-nilai sosial budaya tradisional
yang terbaik. Nilai ini dijadikan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara dijaman
sekarang. Nilai-nilai budaya tradisional yang bersifat universal telah terintegrasi
dalam kesatuan yang utuh berupa sistem nilai budaya yang dijadikan pandangan hidup
11
bangsa. Pandangan hidup adalah pandangan tentang nilai-nilai hidup yang dijunjung
tinggi oleh suatu bangsa. Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia pada hakikatnya
bersifat religius, suka damai, menjunjung tinggi asas musyawarah dan mufakat,
kekeluargaan, gotongroyong dan keadilan sosial.
Nilai nilai inilah yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia, yang mengkristal
dalam tata urutan dan kebulatan sila-sila Pancasila sebagai ciri khas filosofinya.
Sistem nilai atau pandangan hidup yang dikandung filsafat pendidikan seseorang atau
suatu negara akan mempengaruhi pelaksanaan pendidikan dan tujuan pendidikan
suatu negara dapat kita amati dari contoh-contoh yang dikemukakan Arbi & Syahrun
(2011:
36-37) yaitu:
1) Di Sparta (Yunani Kuno)
Sparta adalah Negara yang banyak mengalami peperangan. Oleh karena itu
perlu dipersiapkan warga negara yang mempunyai tubuh yang kuat untuk
mempertahankan negaranya. Tujuan pendidikan ialah pembentukan warga
negara yang kuat fisiknya. Pendidikan yang utama diberikan ialah untuk
membentuk jasmani yang sehat, karena pada tubuh yang sehat terdapat jiwa
yang sehat. Jelas bahwa system nilai yang menjunjung tinggi aspek jasmani
telah memberi corak tersendiri kepada sistem pendidikan di Sparta.
2) Di Eropa Barat
Sebelum dan pada abad kesembilan belas, pengaruh reasionalisme sangat kuat.
Pandangan ini menyatakan manusia adalah makhluk berpikir atau berakal
(Homo Sapiens). Orang sangat menjunjung tinggi akal, akal teoritis maupun
akal praktis. Akal adalah alat untuk berpikir dan menimbang buruk baiknya.
Akal manusia menghasilkan pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia dapat
berbuat baik dalam pengertian sempurna. Pandangan ini berpendapat, bahwa
akal dan pengetahuan maha kuasa. Implikasi pandangan ialah, bahwa
pendidikan sangat menjunjung tinggi pengaruh pengetahuan dan peranan akal.
Nilai ini merupakan norma bagi pelaksanaan pendidikan.
3) John Dewey dari Amerika Serikat
Terkenal dengan pragmatisme, suatu filsafat Pendidikan yang mengutamakan
pengalaman. Pandangan ini mempunyai norma, bahwa kebenaran terletak
pada kenyataan praktis. Apa yang benar ialah apa yang berguna bagi
kehidupan dan sesuai dengan praktek. Metode enkuiri dan memberi latihan
12
adalah metode yang tepat digunakan, pengalaman adalah yang utama.
Pandangan inilah yang mendasari pendidikannya.
b. Landasan Psikologis Pendidikan
Apa yang dimaksud dengan psikologis pendidikan? Kenapa harus diketahui oleh
para calon guru sekolah dasar?. Istilah psikologi dialihbahasakan dari psyche dan
logos. Psyche dapat diartikan sebagai jiwa, roh, mental. Logos, berarti studi atau
kajian ilmiah atau ilmu. Dengan demikian psikologi adalah kajian ilmiah atau ilmu
tentang jiwa, roh atau mental.
Menurut Arbi dan Syahrun (1991: 51-52), Pendidikan dapat diartikan sebagai
suatu proses penyampaian pesan kepada murid, maka proses dan hasil belajar yang
diharapkan tidak akan tercapai sebagaimana mestinya. Bila prinsip-prinsip itu tidak
dijadikan landasan usaha dalam penyampaian pesan kepada murid, maka proses dan
hasil belajar yang diharapkan tidak akan tercapai sebagaimana mestinya. Sebagai
contoh dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila si penyampai pesan (guru)
menyamaratakan semua muridnya dalam hal kecerdasan umum (intelegensi) seperti
halnya dalam sistem klasikal, maka akan ada dua kelompok murid yang akan merugi.
Kelompok murid yang intelegensinya tinggi dan ada dua kelompok murid yang akan
merugi. Kelompok murid yang intelegensinya tinggi akan memandang pengajaran
biasa sebagai tidak atau kurang memuaskan kebutuhannya. Pesan yang disampaikan
oleh guru dirasakan terlalu ringan. Kelompok murid yang memiliki intelegensi rendah
juga akan mengalami ketidakpuasan, karena pesan (materi pelajaran) yang diberikan
secara umum (biasanya didasarkan pada intelegensi rata-rata atau normal),
dirasakannya sebagai terlalu berat atau sukar.
Berdasarkan prinsip perbedaan individual, maka guru hendaklah mempersiapkan
pesan (dalam bentuk persiapan mengajar) yang berbeda sesuai dengan tingkatan
kecerdasan murid-muridnya. Persiapan untuk murid-murid yang mempunyai
kecerdasan tinggi ialah berupa pengayaan (enrichment) dan untuk murid yang tingkat
kecerdasannya rendah dengan program perbaikan (remedial), sementara murid-murid
yang normal digunakan persiapan biasa (satuan pelajaran biasa). Demikian ilustrasi
contoh perbedaan kecerdasan, kita para guru harus mempertimbangkan perbedaan
aspek-aspek psikologis lainnya seperti sifat, minat, bakat, karakter, dan temperamen.
Selanjutnya, bila prinsip-prinsip belajar tidak dijadikan landasan dalam
membelajarkan murid, maka proses dan hasil belajar yang diharapkan tidak akan
13
tercapai. Sebagai contoh, bila pesan (materi poelajaran) terus menerus disajikan sesuai
dengan jadwal (program), tanpa mengecek apakah pelajaran sebelumnya sudah
dikuasai oleh anak, maka usaha ini akan banyak mengalami kegagalan. Kegagalan itu
ialah tidak utuhnya bangunan pesan yang disampaikan kepada murid, yaitu bila
pengetahuan baru (pelajaran baru). Praktek seperti ini memungkinkan pengetahuan
murid menjadi terpisah-pisah satu sama lain. Murid tidak akan pernah mempunyai
pengetahuan (hasil belajar) yang utuh, sehingga sukar untuk diaplikasikan atau
diamalkan.
c. Landasan Sosial Budaya
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan berlangsung dalam
pergaulan atau interaksi antara pendidik dan siswa. Pendidik disini yang dimaksud
adalah orang dewasa yang bertugas atau bekerja di dalam dunia pendidikan.
Menurut Arbi dan syahrun (1991: 66) Interaksi antara guru (pendidik) dengan
murid (peserta didik) disekolah berlangsung dalam suatu proses yang disebut proses
belajar-mengajar. Dengan demikian proses belajar-mengajar pada dasarnya
merupakan kegiatan sosial. Itulah sebabnya, kegiatan belajar-mengajar itu tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan masyarakat dimana kegiatan tersebut berlangsung. Sekolah
sebagai salah satu institusi pendidikan pada dasarnya juga merupakan salah satu
institusi sosial karena ia merupakan masyarakat kecil diantara system sosial lainnya.
Sebagai masyarakat kecil sekolah pun mempunyai kebudayaan (kultural) tertentu.
Kebudayaan sekolah dan system interaksi individu di dalamnya akan melahirkan
suasana (iklim) sosial yang akan mempengaruhi proses belajar mengajar tersebut.
Proses belajar mengajar disekolah, juga mendapat pengaruh dari institusi lain di
luarnya, seperti teman sebaya, keluarga dan masyarakat dalam arti yang luas.
Sosiobudaya dari institusi-institusi ini akan mempengaruhi sosiokultural yang ada
disekolah. Tetapi juga sebaliknya, sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap
institusi sosial di luarnya. Sekolah berfungsi sebagai pewarisan, pemeliharaan dan
pembaharuan kebudayaan dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang dan
penerus. Jadi, antara sekolah dengan institusi sosial diluarnya mempunyai hubungan
timbal balik.
d. Landasan Hukum
Pendidik dalam hal ini adalah seorang guru, sebagai orang yang bertanggung
jawab dalam menyelenggarakan pendidikan, perlu memahami landasan hukum
penyelenggaraan pendidikan. Dengan memahami landasan hukum tersebut, guru lebih
14
siap menerima penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilakukan dan kemungkinan
dapat diadakan inovasi dalam bidang pendidikan. Pancasila seperti yang tercantum
dalam pembukaan UUD 1945, merupakan kepribadian, tujuan dan pandangan hidup
bangsa Indonesia. Oleh karena itu acuan yang harus menjadi dasar landasan hukum
sistem pendidikan nasional adalah Pancasila.
Mengapa penyelenggaraan pendidikan memerlukan landasan hukum? Kenyataan
menunjukkan bahwa dalam penyusunan kebijaksanaan, pemerintah tidak hanya
membatasi diri berkenaan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara secara umum.
Namun pengaturan itu juga menyangkut aspek khusus lain seperti aspek
perekonomian, hak milik, perkawinan, dan pendidikan. Kebijaksanaan pemerintah
berupa ketentuanketentuan itu baik bersifat umum maupun khusus tidak hanya tersirat
didalam kebiasaan dan adat istiadat. Akan tetapi dituangkan berupa Surat Keputusan,
Ketetapan Peraturan Pemerintah, dan Undang-Undang.
Menurut Arbi & Syahrun (1991: 82) guru sebagai pelaksana pendidikan
seyogyanya menaruh perhatian lebih pada kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah
tersebut. Oleh karena itu tugas guru baik langsung maupun tidak langsung harus
menunjang semua kebijaksanaan pemerintah, yakni mempersiapkan manusia
Indonesia bagi kehidupan di masa depan. Untuk itu guru harus mampu mengikuti
perkembangan dan perubahan kebijaksanaan pemerintah. Tidak hanya yang berkenaan
langsung dengan bidang pendidikan, bahkan dari berbagai aspek kehidupan yang
memungkinkan mereka mengantarkan anak didik untuk memahami hak dan
kewajiban.
Tentu saja perhatian guru yang utama lebih diarahkan pada kebijaksanaan
pemerintah di bidang pendidikan dna pengajaran. Dengan memahami berbagai
ketentuan yang mengandung kebijaksanaan pemerintah sesuai dengan tugasnya,
disamping guru dapat mewujudkan kegiatan pendidikan secara tepat, juga
memungkinkan mereka melakukan inovasi dalam pendidikan, seperti mencobakan
berbagai metode mengajar sehingga mereka menemukan kelemahan dan kekuatan dari
masing-masing metode itu. Hal ini akan besar pengaaruhnya terhadap proses
belajarmengajar selanjutnya.
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan melalui pemahaman tentang
kebijaksanaan atau ketentuan-ketentuan pemerintah, guru memiliki pedoman dan
acuan dalam melaksanakan tugasnya sehingga penyimpangan-penyimpangan dapat
dihindari. Kebijaksanaan pemerintah dituangkan dalam berbagai bentuk ketetapan,
15
merupakan landasan hukum bagi para guru dalam mewujudkan tugasnya. Ketetapan
tersebut harus dipahami oleh guru. Guru tidak hanya terbatas memahami ketentuan
berupa undangundang pokok di bidang pendidikan melainkan juga ketentuan lain
seperti UUD, Tap MPR, Kepres, PP, bahkan kurikulum yang ditetapkan dengan
keputusan Menteri dan kode etik guru yang ditetapkan melalui suatu kongres.
Ketentuan-ketentuan itulah yang merupakan landasan hukum atau
perundangundangan untuk mewujudkan kegiatan pendidikan. Hukum sebagai norma
mengatur kehidupan dalam suatu masyarakat, karena didalamnya terdapat batas-batas
baik dan buruk yang menjadi ukuran tetap benar atau tidak benar. Ini berarti bahwa
hukum sebagai petunjuk tentang sesuatu yang boleh dilakukan. Hukum sebagai norma
mengandung perintah dan larangan yang harus ditaati, agar tata tertib dapat
diwujudkan dan dipelihara. Jadi, hukum mengandung unsur mendasar tentang sesuatu
yang harus dilakukan atau harus ditaati dan yang tidak perlu ditaati. Dengan demikian
jelaslah landasan hukum diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan terutama bagi
orangorang yang langsung terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan.
D. Latar Belakang Dan Arah Pendidikan Dasar
Menurut Sani (2013) Pendidikan yang gagal membentuk moral pendidik akan
menghasilkan peserta didik yang kurang menghargai orang lain, menghalalkan segala cara
untuk mencapai tujuan, dan hanya mementingkan kebutuhan individu. Pendidikan yang gagal
dalam mengahasilkan lulusan yang kompeten akan membuat mereka tidak mampu bekerja
secara efisien dan efektif, serta tidak memiliki daya saing. Gejala ini kita amati dalam
kehidupan berbangsa dimana lulusan sekolah dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi
banyak yang tidak kompeten dan bingung ketika diminta untuk menyelesaikan suatu tugas
atau pekerjaan. Guru yang merupakan ujung tombak pendidikan seharusnya selalu berupaya
melaksanakan yang terbaik dalam mendidik anak bangsa dengan ikhlas dan menguasai
pembelajaran yang efektif dalam melaksanakan tugas mulia tersebut.
Untuk itu kita akan membahas apa sebenarnya faktor-faktor yang menyebabkan
diperlukannya pendidikan bagi manusia yang dapat kita lihat dari sejarah kehidupan manusia
itu sendiri. Irianto (2011:190-192) mengatakan pada zaman berburu diawali dengan
penemuan kapak dan peralatan purba. Dilanjutkan dengan era beternak dan bercocok tanam,
mereka membuat alat-alat pertahanan peternakannya dan alat-alat pertanian. Di zaman
perdagangan, mereka mengembara lebih jauh untuk menemukan pasar baru yang lebih luas
dengan ditandai penemuan banyak benua dan tanah baru. Lalu revolusi industri menggilas
16
segalanya, yang terkenal dengan capital intensive yang mengganti konsep labor intensive.
Perubahan sosial masyarakat berubah total dari kekerabatan menjadi individualisme secara
radikal.
Perang dunia menjadikan penemuan teknologi mengalami percepatan yang tak
terbayangkan sebelumnya. Lalu lahirlah era teknologi informasi dengan kemunculan internet
yang jauh lebih dahsyat pengaruhnya dewasa ini. Dunia semakin sempit rasanya, karena
kejadian dimanapun dan kapanpun dapat diakses secara cepat dari mana pun. Komunikasi
tidak lagi harus bertatap muka langsung, karena dengan computer mereka dapat berbicara
dengan saling melihat video masing-masing. iPod, YouTube, widget, Google, blogging
merupakan istilah baru yang menguasai dunia anak muda saat ini. Celakanya, konsumen
yang potensial namun kritis adalah anak muda, terutama dari kalangan generasi yang tadinya
luput dari antisipasi penjajahan dunia maya.
Pendidikan dewasa ini merupakan era baru yaitu era yang lebih dahsyat, yakni era
INDUSTRI KREATIF. Industri kreatif adalah sebuah iklim dunia bisnis yang potensi
ekonomisnya berada di tangan para personal yang kreatif, nyeni, inovatif, dan dahulu belum/
tidak diperhitungkan sebagai industri arus utama (mainstream). Industri ini tidak perlu
memiliki karyawan yang banyak, tetapi produktif dan efisien kinerjanya. Dunia kreatif bukan
lah komoditas yang menyediakan kebutuhan primer manusia, namun justru lebih cenderung
memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Karena gaya
hidup dan perkembangan pengaruh arus kapitalisme, maka industri kreatif ini bahkan dapat
hidup dan mendominasi dunia.
Bourne dalam Irianto (2011) mengatakan bahwa untuk membuat generasi muda agar
berhasil untuk masa depannya perlu perubahan sikap dan perilakunya untuk mengahadapi
dunia kini yang penuh dengan perubahan. Sikap dan perilaku ini sangat penting sebagaimana
yang dikemukakan Nelson Mandela : “A vision without action is just a dream; an action
without vision just passes time, a vision with an action change the world”. (Untuk itu mari
kita berbuat dengan dasar visi sebagai contoh terhadap anak didik kita agar dikemudian hari
dapat mengembangkan bakat dan minatnya untuk mengubah dunia dan mendapatkan manfaat
dari perubahan itu). Jika kita peduli terhadap apa yang akan dikerjakan generasi muda, maka
kita harus perduli terhadap dunia dimana mereka hidup sekarang dan dunia masa depan
mereka. Jika kita peduli terhadap dunia, maka kita harus peduli terhadap nilai-nilai dan
perbuatan generasi muda sebagai warga negara kini dan masa depannya.
Setiap tahun ajaran baru tiba, banyak anak lulusan sekolah di tingkat SD yang melihat
apakah mereka diterima di sekolah yang mereka idamkan atau tidak. Dalam hal ini banyak
17
anak sekolahan mempertaruhkan masa depan mereka dalam sebuah ritual yang disebut
pendaftaran murid baru. Pertanyaan yang mendasar untuk bahan diskusi ialah: Benarkah
sekolah memberikan masa depan yang lebih baik? Bikankah banyak pengangguran
intelektual di negara kita ini? Untuk apa sekolah kalau nanti menganggur juga. Bahkan
banyak orang bekerja yang tidak sesuai dengan jenjang dan jurusan atau program studi yang
telah mereka tempuh. Fakta ini menunjukkan bahwa sertifikat atau ijazah yang diterima
lulusan masih banyak yang tidak dihargai di dunia kerja.
Kembali kemasalah semula, banyak orang menganggap pendidikan sebagai gerbang
emas untuk perbaikan nasib di masa depan, hal ini hanyalah masalah persepsi. Jika semua
orang menganggap demikian, jadilah ia sebuah kebenaran. Kenyataannya tidak sesederhana
itu. Pendidikan tidak berkorelasi secara langsung dengan masa depan yang lebih. Untuk kasus
Indonesia, masih ada faktor lain yang harus diperhatikan. Faktor ini antara lain kepemilikan
modal (dari orang tua atau keluarga besar), relasi, usaha keras dan tentu saja nasib baik.
E. Kurikulum Sekolah Dasar
Ada beberapa definisi yang menegaskan pengertian kurikulum. Ada wawasan sempit,
yaitu mengartikan kurikulum sebagai rencana pelajaran yang berisikan sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan murid guna mencapai suatu tingkatan atau
ijazah. Wawasan yang luas menyatakan kurikulum menyangkut semua kegiatan yang
dilakukan dan dialami siswa dalam perkembangan, baik yang sengaja direncanakan maupun
tidak atau baik yang formal maupun informal untuk mencapai tujuan pendidikan. Banyak ahli
yang mengemukakan batasan atau rumusan kurikulum. Rumusan yang dikemukakan itu
mengikuti zaman dan orientasi masing-masing. Mohamad Ali dalam Arbi & Syahrun (1991)
menyirikan:
a. Kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran.
b. Kurikulum ialah pengalaman belajar yang didapat murid dari sekolah.
c. Kurikulum diartikan sebagai rencana belajar murid.
Struktur kurikulum dalam Abdul Majid & Chaerul Rochman (2014: 19-24)
menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi
konten/ mata pelajaran dalam kurikulum, distribusi konten/mata pelajaran dalam satu
semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk
setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian
konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran.
Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan
18
datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem
pembelajaran berdasarkan jam pelajaaran per semester.
Struktur kurikulum adalah juga gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum
mengenai posisi seorang siswa dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau
jenjang pendidikan. Dalam struktur kurikulum menggambarkan ide kurikulum mengenai
posisi belajar seorang siswa yaitu apakah mereka harus menyelesaikan seluruh mata pelajaran
yang tercantum dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan kepada siswa untuk
menentukan berbagai pilihan. Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban
belajar, dan kalender pendidikan. Struktur kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut:
a. Struktur kurikulum SD/MI Final (yang diujicobakan)
Mata Pelajaran Alokasi Waktu Belajar Per
Minggu
I II III IV V VI
Kelompok A 44444 4
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 56644 4
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 8 8 10 7 7 7
56666 6
Bahasa Indonesia - - -33 3
Matematika - - -33 3
Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelompok B
19
Seni Budaya dan Prakarya 44466 6
(termasuk muatan lokal)* 44433 3
30 32 34 36 36 36
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan
(termasuk muatan lokal)*
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu
Keterangan: = Pembelajaran terintegrasi
Muatan Lokal dapat memuat Bahasa Daerah
Kegiatan Ekstrakurikuler SD/MI antara lain:
-Pramuka (wajib)
-UKS
-PMR
Kelompok A adalah mata pelajaran yang memberikan orientasi kompetensi lebih
kepada aspek kognitif dan afektif, sedangkan kelompok B adalah mata pelajaran yang lebih
menekankan pada aspek afektif dan psikomotor. Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS
didasarkan pada kedekatan makna dari konten kompetensi dasar IPA dan IPS dengan konten
pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKN, Bahasa Indonesia, Matematika, serta pendidikan
Jasmani, Olahraga dan kesehatan yang berlaku untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan untuk
kelas IV, V, dan VI, Kompetensi Dasar IPA dan IPS berdiri sendiri, yang kemudian
diintegrasikan ke dalam tema-tema yang ada untuk kelas IV, V dan VI.
b. Beban Belajar
Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar selama
satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30,32, 34 sedangkan
untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Jam belajar SD/ MI adalah
35 menit.
Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar,
guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang
berorientasi siswa aktif. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih
panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan
untuk mengamati, menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang
dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik peserta didik sehingga mereka
20
menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa yang sudah mereka pelajari di
lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya. Selain itu bertambahnya jam belajar
memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar.
c. Organisasi Kompetensi Dasar dalam Mata Pelajaran
Mata pelajaran adalah unit organisasi Kompetensi Dasar yang terkecil. Untuk
kurikulum SD/MI organisasi Kompetensi Dasar kurikulum dilakukan melalui pendekatan
terintegrasi (integrated curriculum). Berdasarkan pendekatan ini maka terjadi reorganisasi
Kompetensi Dasar mata pelajaran, yang mengintegrasikan konten mata pelajaran IPA dan IPS
di kelas I, II, dan III ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn,
Bahasa Indonesia, Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Dengan
pendekatan ini maka struktur kurikulum SD/MI menjadi lebih sederhana karena jumlah mata
pelajaran berkurang.
Prinsip pengintegrasian IPA dan IPS di kelas I, II, dan III diatas dapat diterapkan
dalam pengintegrasian muatan lokal. Kompetensi dasar muatan lokal yang berkenaan dengan
seni, budaya, dan keterampilan, serta bahasa daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
Selain melalui penyederhanaan jumlah mata pelajaran, penyederhanaan dilakukan
juga terhadap Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran. Penyederhanaan dilakukan dengan
menghilangkan Kompetensi Dasar yang tumpang-tindih dalam satu mata pelajaran dan satu
antar mata pelajaran, serta Kompetensi Dasar yang dianggap tidak sesuai dengan usia
perkembangan psikologis peserta didik.
Di kelas IV, V, dan VI nama mata pelajaran IPA dan IPS tercantum dan memiliki
Kompetensi Dasar masing-masing. Untuk proses pembelajaran Kompetensi Dasar IPA dan
IPS, sebagaimana Kompetensi Dasar mata pelajaran lain, diintegrasikan ke dalam berbagai
tema. Oleh karena itu proses pembelajaran semua Kompetensi Dasar dari semua mata
pelajaran terintegrasi dalam berbagai tema.
d. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Kompetensi Inti (KI) merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam bentuk
kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan
pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu , gambaran mengenai kompetensi utama
yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, keterampilan (afektif, kognitif, dan
psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata
pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian
hard skills dan soft skills.
21
Kompetensi inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organizing element)
kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk
organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertical
Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang
pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu
akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal
adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam
satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.
Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait, yaitu
berkenaan dengan sikap keagamaan (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan
penerapan pengetahuan (KI 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar,
dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi
yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung
(indirect teaching) pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (KI kelompok 3)
dan penerapan pengetahuan (KI kelompok 4). Tabel Kompetensi Inti SD/MI
KOMPETENSI INTI KELAS I DAN KOMPETENSI INTI KELAS III
KELAS II
Menerima dan menjalankan ajaaran agama Menerima dan menjalankan ajaran agama
yang dianutnya yang dianutnya
Memiliki perilaku jujur, disiplin, Memiliki perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, dan guru. teman, tetangga, dan guru.
Memahami pengetahuan faktual dengan Memahami pengetahuan faktual dengan
cara mengamati (mendengar, melihat, cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca) dan menanya berdasarkan rasa membaca) dan menayakan berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya makhluk ciptaan ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan
Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda
yang dijumpainya dirumah dan disekolah. yang dijumpainya dirumah, sekolah, dan
tempat bermain.
22
Menyajikan pengetahuan faktual dalam Menyajikan pengetahuan faktual dalam
gerakan yang mencerminkan anak sehat, bahasa yang jelas, logis, dan sistematis,
dan dalam tindakan yang mencerminkan dalam karya yang estetis dalam gerakan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia. yang mencerminkan anak sehat, dan dalam
tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.
KOMPETENSI INTI KELAS IV KOMPETENSI INTI KELAS V DAN VI
Menerima, menghargai, dan menjalankan Menerima, menghargai, dan menjalankan
ajaran agama yang dianutnya ajaran agama yang dianutnya.
Memiliki perilaku jujur, disiplin, Memiliki perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya tanggungjawab, santun, peduli, percaya diri,
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, dan cinta tanah air, dalam berinteraksi
teman, tetangga, dan guru. dengna keluarga, teman, tetangga, dan guru.
/memahami pengetahuan faktual dengan Memahami pengetahuan faktual dan
cara mengamati (mendengar, melihat, konseptual dengan cara mengamati dan
membaca) dan menanya berdasarkan rasa mencoba (mendengar, melihat, membaca)
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan serta menanya berdasarkan rasa ingin tahu
Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda secara kritis tentang dirinya, makhluk
yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan
tempat bermain. bendabenda yang dijumpainya di rumah,
sekolah, dan tempat bermain.
Menyajikan pengetahuan faktual dalam Menyajikan pengetahuan factual dan
bahasa yang jelas, logis, dan sistematis, konseptual dalam bahasa yang jelas , logis,
dalam karya yang estetis dalam gerakan dan sistematis, dalam karya yang estetis
yang mencerminkan anak sehat, dan dalam dalam gerakan yang yang mencerminkan
tindakan yang mencerminkan perilaku anak anak sehat, dan dalam tindakan yang
beriman dan berakhlak mulia mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia.
Sumber: Kemendikbud, Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013
e. Kompetensi Dasar
23
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas
yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi
yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang bersumber pada Kompetensi Inti
yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memerhatikan
karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Mata
pelajaran sebagai sumber dari konten untuk menguasai kompetensi bersifat terbuka dan tidak
selalu diorganisasikan berdasarkan ilmu yang sangat berorientasi hanya pada filosofi
essensialisme dan perenialisme. Mata pelajaran dapat dijadikan organisasi konten yang
dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu atau non disiplin ilmu yang diperbolehkan menurut
filosofi rekonstruksi sosial, progresif, atau pun humanisme. Karena filosofi yang dianut dalam
kurikulum adalah adalah ekletik seperti dikemukakan dibagian landasan filosofi maka nama
mata pelajaran dan isi mata pelajaran untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu
terikat pada kaidah filosofi essensialisme dan perenialisme.
f. Pendekatan Pembelajaran Tematik Integratif di SD
Kurikulum SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari
kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke
dalam berbagai tema.
Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan
dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang
berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar
konsep dasar secara parsial. Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang
utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia.
Dalam pembelajaran tematik integratif, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan
kehidupan manusia. Untuk kelas I, II, dan III, keduanya merupakan pemberian makna yang
substansial terhadap mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya dan
Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Disinilah Kompetensi Dasar
yang diorganisasikan dalam pembelajaran tematik. Dari sudut pandang transdiciplinarity,
maka pengotakan konten kurikulum secara terpisah ketat tidak memberikan keuntungan bagi
kemampuan berfikir selanjutnya.
F. Jenis-Jenis Sekolah Dasar
Sekolah dasar di Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang tertentu
menurut Suharjo (2006). Dilihat dari segi pengelolaannya, dapat dibedakan: sekolah dasar
negeri dan sekolah dasar swasta. Sekolah dasar negeri merupakan sekolah dasar milik
24
pemerintah yang dikelola oleh pemerintah. Sekolah dasar swasta merupakan sekolah dasar
yang dikelola oleh masyarakat sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya
untuk kepentingan masyarakat.
Selanjutnya dilihat dari segi system penyelenggaraan proses belajar mengajarnya,
sekolah dasar di Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Sekolah Dasar Konvensial/Reguler, merupakan sekolah dasar yang
menyelenggarakan pendidikan dengan sistem guru kelas dan pembelajaran tatap muka
antara siswa dengan guru dalam hari dan jam-jam pelajaran efektif yang telah
ditetapkan.
b. Sekolah Dasar Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), sekolah dasar ini
memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: proses pembelajarannya
menggunakan system modul, yang dapat dipelajari sendiri oleh siswa; menggunakan
prinsip belajar tuntas; pembelajarannya menggunakan system maju berkelanjutan,
yang memungkinkan siswa dapat maju sesuai dengan kecepatannya.
c. SD Pamong, tujuan penyelenggaraannya adalah untuk memberikan alternatif sistem
penyampaian pendidikan dasar yang bersifat merata, efektif, dan ekonomis sesuai
dengan keadaan kebanyakan daerah di Indonesia, serta untuk memberikan alternatif
bagi perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan pelaksanaan wajib belajar
sekolah dasar. SD ini memiliki cirri-ciri pokok sebagai berikut: melayani pendidikan
dasar bagi anak-anak yang bersekolah maupun yang belum dapat bersekolah karena
alasan-alasan tertentu; bahan pendidikan yang diberikan kepada siswa adalah
kurikulum SD yang berlaku, sebagian besar bahan belajar disajikan dlam bentuk
modul yang dapat dipelajari oleh siswa; pembelajaran lebih ditekankan keaktifan
belajar siswa, dan bukan kegiatan guru mengajar di dalam kelas; peran utama guru
adalah sebagai pengelola proses belajar mengajar; proses belajar berlangsung secara
individual, kelompok, dan/ atau klasikal; menggunakan tutor sebaya, artinya siswa
yang lebih maju (mampu) membantu belajar temannya yang kurang mampu; belajar
dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja; anggota masyarakat membantu proses
belajar mengajar sesuai dengan kemampuannya; masyarakat, orangtua, dan guru
bekerja sama bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan.
d. SD Kecil, merupakan sekolah yang diselenggarakan di tempat permukaan terpencil
yang sulit dicapai karena adanya hambatan geografis, transportasi, dan komunikasi,
serta di pemukiman yang jumlah penduduk usia 7-12 tahun relatif sedikit.
25
G. Karakteristik Pendidikan Dasar Di Indonesia
1. Karakteristik dan Kebutuhan Siswa Sekolah Dasar
Ada beberapa karakteristik anak di usia sekolah dasar yang perlu diketahui para
guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya di tingkat Sekolah Dasar
(SD). Seorang guru harus dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan
keadaan siswanya, maka sangat penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik
siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan juga adalah kebutuhan peserta
didik. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan
anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan
untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan
kebutuhan perkembangan anak itu sendiri. Secara ideal dalam rangka pencapaian
perkembangan diri siswa, sekolah dan guru seyogyanya dapat menyediakan dan
memenuhi berbagai kebutuhan siswanya. Dalam rangka pencapaian perkembangan diri
siswa. Seperti pemenuhan kebutuhan kasih sayang atau penerimaan, pemenuhan
kebutuhan harga diri, pemenuhan kebutuhan akatualisasi diri.
Disamping memerhatikan karakteristik anak, menurut Sumantri (2015: 153-159)
implikasi pendidikan dapat juga bertolak dari kebutuhan peserta didik. Pemaknaan
kebutuhan siswa SD dapat diidentifikasi dari tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas
perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari
kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa
arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan
dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh
masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Anak sekolah dasar memiliki kecenderungan dalam belajar, yang memiliki tiga
ciri yaitu:
a. Bentuk-Bentuk Karakteristik Siswa SD 1) Senang bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang
bermuatan permainan lebih-lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di
dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pembelajaran yang serius tapi
santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang-seling antara mata
pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung
unsure permainan seperti Pendidikan Jasmani, atau Seni Budaya dan
Keterampilan dan dapat dilakukan secara terpadu.
26
2) Senang bergerak.
Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan
tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu , guru hendaknya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.
Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak
sebagai siksaan.
3) Anak senang bekerja dalam kelompok.
Dari pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang
penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan
kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya
lingkungan, belajar menerimanya, tanggungjawab, belajar bersaing dengan orang
lain (sportif), mempelajari olahraga dan membawa implikasi bahwa guru harus
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau
belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini
membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat
meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang
untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
4) Senang merasakan atau melakukan/ memperagakan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional
konkret. Dari apa yang dipelajari disekolah, ia belajar menghubungkan
konsepkonsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasarkan pengalaman ini,
siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi
badan, jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru
tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri,
sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat
langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami
tentang konsep IPa jika langsung dengan praktiknya.
b. Kebutuhan Siswa SD
Bertolak dari kebutuhan peserta didik. Pemaknaan kebutuhan siswa SD dapat
diidentifikasikan dari tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan adalah
“tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu,
yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa arah keberhasilan
dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan
27
tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan
dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya”.
Tugas-tugas perkembangan yang bersumber dari kematangan fisik di antaranya
adalah belajar berjalan, belajar melempar, menangkap dan menendang bola, belajar
menerima jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya. Beberapa tugas perkembangan
terutama bersumber dari kebudayaan seperti belajar membaca, menulis, dan berhitung,
belajar tanggungjawab sebagai warga Negara. Sementara tugas-tugas perkembangan
yang bersumber dari nilai-nilai kepribadian individu diantaranya memilih dan
mempersiapkan untuk bekerja.
Anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan keluar yang besar, yaitu (1)
kepercayaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya (2)
kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memperlakukan
keterampilan fisik, dan (3) kepercayaan mental untuk memasuki dunia, konsep, logika,
simbolis, dan komunikasi orang dewasa. Dengan demikian pemahaman terhadap
karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik
awal untuk menentukan tujuan pembelajaran di SD, dan untuk menentukan waktu yang
tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu
sendiri.
c. Aplikasi Pemenuhan Kebutuhan Siswa di Sekolah
1) Pemenuhan kebutuhan fisiologis
a) Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis.
b) Menyediakan ruang kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperature yang
tepat.
c) Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang.
d) Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representative.
2) Pemenuhan kebutuhan rasa aman.
a) Sikap guru menyenangkan, mamopu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya,
dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
b) Adanya ekspektasi yang konsisten.
c) Mengendalikan perilaku siswa di kelas/ sekolah dengan menerapkan system
pendisiplinan siswa secara adil.
d) Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinformance) melalui
pujian/ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman
atas perilaku negatif siswa.
28
3) Pemenuhan kebutuhan kasih sayang atau penerimaan.
a) Hubungan guru dengan siswa:
(1) Guru dapat menampilkan cirri-ciri kepribdian: empatik, peduli, dan interes
terhadap siswa, sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
(2) Guru dapat menerapkan pembelajaran individu dan dapat memahami siswanya
(kebutuhan, potensi, minat, karakteristik kepribadian dan latar belakangnya).
(3) Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari
pada yang negatif.
(4) Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat dan
keputusan setiap siswanya.
(5) Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan
kepercayaan terhadap siswanya.
b) Hubungan siswa dengan siswa:
(1) Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerjasama
mutualistik dan saling percaya diantara siswa.
(2) Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum,
seperti olahraga atau kesenian.
(3) Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan
pembelajaran.
(4) Sekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstrakurikuler yang beragam.
4) Pemenuhan kebutuhan harga diri.
a) Mengembangkan harga diri siswa
(1) Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang
dimiliki siswanya (scaffolding).
(2) Mengembangkan system pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
(3) Memfokuskan pada kekuatan dan asset yang dimiliki setiap siswa.
(4) Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi.
(5) Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan.
(6) Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipasi dan bertanggungjawab.
(7) Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mungkin dilakukan secara pribadi,
tidak didepan umum.
b) Penghargaan dari pihak lain
(1) Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa
dapat saling menghormati dan mempercayai, tidak saling mencemoohkan.
29
(2) Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha dan prestasi
yang diperoleh siswa.
(3) Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap siswa untuk
memiliki sikap empatik dan menjadi pendengar yang baik.
(4) Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang
terkait dengan kepentingan para siswa itu sendiri.
c) Pengetahuan dan pemahaman
(1) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi
bidangbidang yang ingin diketahuinya.
(2) Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui
pendekatan discovery-inquiry.
(3) Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam.
d) Estetik
(1) Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik.
(2) Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di
dalamnya menampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik.
(3) Ruangan di cat dengan warna-warna yang menyenangkan.
(4) Memelihara sarana dan prasarana yang ada disekeliling sekolah.
(5) Ruangan yang bersih dan wangi.
(6) Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah.
e) Pemenuhan kebutuhan akatualisasi diri
(1) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan hal yang
terbaiknya.
(2) Memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah
kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
(3) Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitka dengan kehidupan nyata.
(4) Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif
siswa.
Seorang guru harus dapat menerapkan suatu metode pembelajaran yang sesuai dengan
keadaan siswanya, maka sangat penting bagi seorang guru mengetahui karakteristik siswanya.
Selain karakteristik yang perlu diperhatikan juga adalah kebutuhan peserta didik. Pemahaman
terhadap karakteristik siswa dan tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik
awal untuk menentukan tujuan pembelajaran di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat
dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.
30
Secara ideal, dalam rangka pencapaian perkembangan diri siswa, sekolah dan guru
seyogyanya dapat menyediakan dan memenuhi berbagai kebutuhan siswanya dalam rangka
pencapaian perkembangan diri siswa. Seperti pemenuhan fisiologis, pemenuhan kebutuhan
rasa aman, pemenuhan kebutuhan kasih sayang atau penerimaan, pemenuhan kebutuhan
harga diri, pemenuhan kebutuhan akatualisasi diri.
H. Cara Belajar Anak
Kecenderungan belajar anak usia SD berbeda dengan usia yang lainnya. Anak SD
umumnya masih suka cara belajar yang masih dihiasi dengan bermain. Untuk itu guru
sekolah harus memiliki kemampuan meramu metode, model, ataupun strategi pembelajan di
sekolah tersebut dengan menyenangkan. Cara belajar anak di sekolah dasar itu memiliki tiga
ciri dalam Panduan Lengkap KTSP (2008: 252-253), yaitu:
1) Konkret
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni
yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan
pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan
menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa
dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami,
sehingga lebih nyata, lebih factual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan.
2) Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu,
hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian
demi bagian.
3) Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai
dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan
cakupan keluasan serta kedalaman materi.
31
I . Pendidikan Dasar Berbasis Budaya
Kurikulum 2013 merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan
mutu pendidikan tingkat dasar dan menengah. Kurikulum 2013 bertujuan untuk
mempersiapkan peserta didik agar menjadi generasi yang beriman, produktif, kreatif,
inovatif, dan berkarakter. Berdasarkan Permendikbud No. 24 Tahun 2016 tentang
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar, pembelajaran dalam Kurikulum 2013 diterapkan
menggunakan pendekatan tematik integratif.
Hal ini sejalan dengan pendapat Mawardi (2014:109) menjelaskan bahwa pembelajaran
tematik integratif merupakan pembelajaran yang memadukan beberapa muatan pelajaran
dalam suatu tema tertentu sebagai pemersatu. Pembelajaran tematik integratif mendorong
peserta didik untuk menemukan sendiri pengetahuan yang akan dipelajari dan dikaitkan
dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya dengan cara memanfaatkan masalah-
masalah sosial dalam lingkungan masyarakat yang majemuk lengkap di kehidupan sehari-
hari peserta didik yang berkaitan erat dengan keariafan lokal yang berada di tempat tinggal
siswa.
Dipertegas kembali oleh Sumayana (2017:23) menjelaskan bahwa kearifan lokal
merupakan pandangan hidup dan strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah untuk pemenuhan
kebutuhan mereka. Kearifan lokal merupakan identitas masyarakat sebagai suatu kekayaan
daerah yang dapat berupa pandangan hidup, ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan
kebudayaan (Utari dan Degeng, 2016). Oktavianti (2018:10) menyebutkan bahwa
pendidikan di Indonesia perlu menerapkan pembelajaran yang berbasis kearifan lokal agar
peserta didik dapat menjaga dan mewujudkan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan penerapan
Learning berbasis kearifan lokal diharapkan dapat membantu peserta didik untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Hal ini dikarenakan pembelajaran berbasis
masalah membantu peserta didik dalam berpikir kritis untuk membangun sendiri
pengetahuannya berdasarkan pengalaman belajar.
Definisi kearifan lokal demikian, paling tidak menyiratkan beberapa konsep, yaitu:
(1) kearifan lokal adalah sebuah pengalaman panjang, yang diendapkan, sebagai
petunjuk perilaku seseorang,
(2) kearifan lokal tidak lepas dari lingkungan pemiliknya,
(3) kearifan lokal itu bersifat dinamis, lentur, terbuka, dan senantiasa menyesuaikan
dengan jamannya. Konsep demikian juga sekaligus memberikan gambaran
32
bahwa kearifan lokal selalu terkait dengan kehidupan manusia dan
lingkungannya. Kearifan lokal muncul sebagai penjaga atau filter (tameng) iklim
global yang melanda kehidupan manusia.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipertegas bahwa kearifan lokal merupakan
sebuah budaya kontekstual. Kearifan selalu bersumber dari hidup manusia. Ketika hidup
itu berubah, kearifan lokal pun akan berubah pula. Dari sisi filosofi dasarnya, kearifan
dapat dikategorikan dalam dua aspek, yaitu:
(a) gagasan, pemikiran, akal budi yang bersifat abstrak, dan
(b) kearifan lokal yang berupa hal-hal konkrit, dapat dilihat.
Disini penjabaran Kearifan lokal kategori (a) mencakup:
berbagai pengetahuan, pandangan, nilai serta praktek-praktek dari sebuah komunitas baik
yang diperoleh dari generasi-generasi sebelumnya dari komunitas tersebut, maupun yang
didapat oleh komunitas tersebut di masa kini, yang tidak berasal dari generasi sebelumnya,
tetapi dari berbagai pengalaman di masa kini, termasuk juga dari kontaknya dengan
masyarakat atau budaya lain.
Kearifan lokal kategori (b) mencakup benda nyata yakni:
biasanya berupa benda-benda artefak, yang menghiasi hidup manusia, dan bermakna
simbolik. Dalam setiap jengkal hidup manusia selalu ada kearifan lokal. Paling tidak, kearifan
dapat muncul pada: pemikiran, sikap, dan perilaku. Ketiganya hampir sulit dipisahkan. Jika
ketiganya itu ada yang timpang, maka kearifan lokal tersebut semakin pudar. Dalam
pemikiran, Siswa sekolah dasar diharapkan memiliki sikap atau akhlak mulia, berbudi luhur,
tetapi kalau mobah musik, solah bawa, tidak baik juga dianggap tidak arif, apalagi kalau
tindakannya serba tidak terpuji.
Selain itu terdapat lima dimensi penyajian tentang kearifan lokal, yaitu:
1) pengetahuan lokal, yaitu informasi dan data tentang karakter keunikan lokal serta
pengetahuan dan pengalaman masyarakat untuk menghadapi masalah serta
solusinya;
2) Budaya lokal, yaitu yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang telah
terpola sebagai tradisi lokal, yang meliputi sistem nilai, bahasa, tradisi, teknologi;
3) Keterampilan lokal, yaitu keahlian dan kemampuan masyarakat setempat untuk
menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki;
4) Sumber lokal, yaitu sumber yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya dan melaksanakan fungsi-fungsi utamanya; dan
33
5) proses sosial lokal, berkaitan dengan bagaimana suatu masyarakat dalam
menjalankan fungsi- fungsinya, sistem tindakan sosial yang dilakukan, tata
hubungan sosial serta kontrol sosial yang ada (Keraf, 2010).
Pada aspek jangka panjang diharapkan melalui pembelajaran berbasis kearifan lokal ini
siswa mencintai budaya yang ada di lingkungan sekitarnya sehingga siswa mampu
melestarikan budayanya dan sebagai pembentuk identitas bagi dirinya. Menurut Rahyono
(2009) pembelajaran kearifan lokal memiliki posisi yang strategis antara lain:
1) kearifan lokal sebagai pembentuk identitas,
2) bukan merupakan nilai asing bagi pemiliknya,
3) keterlibatan emosional masyarakat dalam penghayatan kearifan lokal yang kuat,
4) mampu menumbuhkan harga diri, dan
5) meningkatkat martabat bangsa.
Berhubungan dengan pendapat Hadi (2017) menyatakan bahwa bahan ajar berbasis
kearifan lokal bertujuan untuk memberikan pembelajaran nyata melalui proses pembelajaran.
Dari pemaparan diatas Aspek-aspek kearifan lokal yang menuntun siswa untuk terciptanya
pembelajaran berbasis kearifan lokal dan disajikan atau dikemas oleh guru menjadi
pengetahuan lokal yang berisi tentang sumber daya alam daerah setempat baik darat, laut dan
udara dikaitkan dengan budaya lokal tentang adat atau tradisi yang dipercaya dan berkembang
di daerah siswa dan yang terakhir adalah nilai – nilai kearifan yang berkembang di daerah
siswa.
J. Pendidikan Berbasis karakter Dan Kearifan Lokal Sumatera Utara
Sistem Pendidikan Indonesia saat ini sangat menitikberatkan pada pendidikan karakter.
Pada hakikatnya, pendidikan karakter merupakan suatu sistem pendidikan yang berupaya
menanamkan nilai-nilai luhur pancasila yang dijabarkan dalam enam (6) Profil Pelajar
Pancasila yaitu: Beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia,
Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong Royong dan Berkebhinekaan global. Dengan
profil pelajar Pancasila ini siswa Indonesia diharapkan mampu untuk mengolah rasa, karsa dan
raganya.
a) Pengembangan Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa berwawasan Kearifan
Lokal
Kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan,
dan tindakan merupakan perwujudan nilai-nilai yang tertuang dalam profil pelajar
pancasila sebagai ruh dari pendidikan Indonesia saat ini. Dalam pelaksanaan pendidikan
karakter di sekolah, semua komponen sekolah harus dilibatkan, yaitu isi kurikulum, proses
34
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan
sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana dan
prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah.
Dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa kita saat ini dan masa yang akan datang,
segala sesuatu yang dilakukan guru harus mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru
merupakan pemeran utama dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan
karakter dan kognisi peserta didik. Sebagai pembentuk watak peserta didik, guru harus
menunjukkan keteladanan. Segala hal tentang perilaku guru hendaknya menjadi contoh bagi
peserta didik. Misalnya, cara guru berbicara atau menyampaikan materi dalam proses
pembelajaran, cara guru berinteraksi atau menyampaikan ide, dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan keteladanan yang diberikan dan dilakoni oleh seorang guru.
Hal tersebut bertujuan untuk membentuk pribadi siswa atau peserta didik agar menjadi
manusia yang baik, serta bermanfaat untuk masyarakat dan negaranya. Kriteria manusia yang
baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau
bangsa, secara umum didasarkan pada nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh
budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dan budaya
bangsa dalam konteks pendidikan adalah pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari
budaya bangsa, dalam rangka membina kepribadian generasi muda Indonesia. Pendidikan
karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai-nilai moral universal.
b) Konteks Pendidikan Karakter Yang Berbasis Kearifan Lokal.
Konteks Pendidikan Karakter yang berbasis kearifan lokal dan budaya pada saat ini
sangat diperlukan. Hal ini didasarkan pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan
yaitu “Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-
anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik
sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat”. Di sisi lain bahwa pendidikan
karakter yang berbasis kearifan lokal dan budaya merupakan perpaduan yang harmonis dari
“Budi pekerti, watak, karakter sehingga antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau
kemauan dapat menimbulkan tenaga atau semangat”, contoh konkritnya dapat diwujudkan
dalam tarian (fera, danding, caci), menabuh gendang atau gong, dan lain sebagainya.
Peserta didik sebagai manusia yang utuh memiliki potensi diri, baik sebagai pribadi
maupun anggota masyarakat. Potensi diri tersebut akan dapat berkembang dengan baik jika
diupayakan secara optimal melalui proses pendidikan. Melalui pendidikan ini, peserta didik
akan dapat diarahkan menjadi sosok pribadi yang memiliki kompetensi majemuk sehingga
35
dapat tumbuh dan berkembang menjadi anggota masyarakat yang mampu memecahkan
persoalan hidupnya. Dalam hal ini, kunci utamanya adalah aktivitas pembelajaran di sekolah.
Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui belajar tidak hanya terjadi di bangku
sekolah yang terbatas oleh dinding-dinding kelas.
Namun, proses pembelajaran bagi peserta didik dapat terjadi pula di lingkungan sekitar,
yakni aktivitas peserta didik di luar kelas. Pembelajaran yang dikungkung di dalam kelas
sering menciptakan kejenuhan pada diri peserta didik karena mereka merasa berada di dunia
lain yang bukan dunianya. Di dalam kelas, peserta didik merasa kebebasannya dirampas,
kesenangannya dibatasi, tertawanya semu, keinginannya dihambat. Akibatnya, kreativitas
mereka terbatas pada upaya memenuhi dan menuruti kemauan sistem belajar yang dituntut
sekolah. Peserta didik merindukan kembali ke lingkungannya yang telah menyatu sejak dini
dalam keutuhan pribadi yang telah lama membentuknya. Pembelajaran berbasis lingkungan
dapat menjembatani peserta didik untuk menemukan kembali harapannya.
Beranjak dari pemikiran tersebut maka seyogianya pendidikan adalah tempat persemaian
segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kita saat ini. Pendidikan dan
kebudayaan merupakan satu kesatuan. Untuk mencapai kebudayaan dan peradaban bangsa
yang dicita-citakan maka pendidikan merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa dan
dunia. Dengan kata lain, pekerjaan kita sebagai pendidik atau guru bukan hanya pekerjaan
melayani saat anak belajar di sekolah, memberikan tugas-tugas pembelajaran, transfer ilmu
pengetahuan, berupaya agar nilai siswa hasilnya baik, dan sebagainya.
Tetapi lebih dari itu bahwa pekerjaan kita sebagai guru merupakan pekerjaan untuk
menjemput kebudayaan yang kita cita-citakan. Ini sungguh luar biasa karena ini adalah
pekerjaan untuk membangun sebuah peradaban. Untuk itu sebagai pendidik kita harus
melakukan upaya terbaik, dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk kita curahkan pada proses
pendidikan anak-anak bangsa.
Pendidikan dan kebudayaan adalah hal yang dinamis, selalu berubah dan bergerak sesuai
kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan tidak boleh statis karena pendidikan harus dapat
menjawab tuntutan zaman. Kita sebagai guru juga harus berani berubah. Kita tidak boleh
merasa nyaman dengan apa yang sudah kita lakukan terhadap anak didik kita. Kita harus
selalu mencari hal yang baru, belajar hal yang baru untuk kita persembahkan kepada anak
didik kita. Kita harus menjadi guru yang transformatif, bergerak dan tidak menjadi guru jadul.
Zaman sudah berubah. Guru pun harus memberikan pelayanan pendidikan sesuai tuntutan
zaman.
36
c) Pendidikan Karakter yang berbasis kearifan lokal Sumatera Utara
Berikut adalah contoh kearifan lokal yang didalamnya mengandung nilai-nilai
pendidikan kararkter, yang dapat diajarkan pada Siswa Sekolah Dasar.
1. Mangokkal Holi
Sumber: Wikipedia.com
Tradisi turun-temurun masyarakat Batak yakni Mangokkal Holi berarti mengambil
tulang belulang dari leluhur mereka dari dalam kuburan. Semua etnis Batak melaksanakan
tradisi Mangokkal Holi, meski nama dari tradisi ini berbeda-beda tiap etnis, yaitu etnis Toba
dan Simalungun menyebutnya Mangokkal Holi, pada etnis Karo disebut dengan Nampakken
Tulan, serta etnis Pakpak mengenalnya tradisi Mengkurak Tulan.Namun, inti dan tujuan dari
tradisi ini sama, untuk mempertahankan silsilah garis keturunan marga, dan juga menunjukkan
eksistensi dan taraf hidup keluarga yang melaksanakannya.
2. Tarian Sigale-gale
Sumber: jojorlamrias.co.id
Sigale-gale adalah boneka kayu menyerupai manusia, dan biasanya patung ini berada
di rumah adat Batak Desa Tomok. Boneka ini digerakkan oleh manusia yang berada di
37
belakang patung Sigale-gale. Menurut legenda masyarakat suku Batak, Sigale-gale adalah
putra tunggal kesayangan dari raja Rahat. Namun Sigale-gale meninggal karena sakit. Raja
merasa sangat kehilangn anaknya, kemudian demi mengobati kesedihan raja, maka dibuatlah
sebuah boneka kayu yang menyerupai Sigale-gale.Kemudian diadakan ritual memanggil
arwah Sigale-gale, sehingga boneka itu bisa menari-nari dengan iringi musik adat Batak. Kini,
tarian boneka kayu ini menjadi daya tarik wisata, dan boneka digerakkan oleh 2 atau 3 orang.
3. Lompat Batu
Sumber : beautifully-indonesia.co.id
Lompat batu atau hombo batu berasal dari Desa Bawo Mataluo Nias, Kabupaten Nias
Selatan. Desa ini kaya dengan situs megalitik atau batu besar berukir, dan di dalamnya
terdapat Omo Hada yaitu perumahan tradisional khas Nias. Tradisi ini merupakan ritual
khusus buat para pemuda suku Nias.Tradisi ini untuk menentukan apakah seorang pemuda
sudah dewasa dan telah memenuhi syarat untuk menikah atau belum. Mereka akan melompati
batu yang tingginya lebih dari 2 meter, melalui sebuah batu kecil untuk pijakan ketika
melompati batu. Ada ritual khusus sebelum melompati batu, dengan memakai pakaian adat
mereka akan bersemangat agar bisa melompati batu.
38
4. Tradisi Kenduri Laut
Sumber: Wikipedia co.id
Tradisi ini berasal dari Tapanuli Tengah. Kenduri Laut dilaksanakan setahun sekali,
pada bulan Oktober. Biasanya, tradisi ini berlangsung di pantai pada malam hari dan berlanjut
ke siang hari. Upacara seremonial ini melibatkan semua elemen dari 11 kecamatan yang ada di
Tapanuli Tengah.Setiap perwakilan dari masing masing kecamatan membawa hasil pertanian
dan juga ternak, lalu menunjukkannya di atas panggung (parade) secara bergantian. Selain itu
di adakan berbagai lomba, seperti perahu naga, layang-layang dan lain lain.Ada juga hiburan
berupa pertunjukkan seni baik oleh seniman setempat, ataupun dari luar daerah yang sengaja
diundang untuk memeriahkan suasana. Tradisi ini sebagai ungkapan terima kasih masyarakat
Tapanuli Tengah kepada Tuhan atas melimpahnya hasil laut dan pertanian.
“Akhirnya Selamat Menjadi Guru Dan Bersedia Membangun
Kebudayaan Dan Peradaban Lokal Guna Mewujudkan Cita-Cita Mulia
Para Peserta Didik”
„‟
39
BAB II
KETERAMPILAN BELAJAR DI SD
A. Pengertian Keterampilan Belajar
Definisi tentang keterampilan belajar seringkali didasarkan pada daftar keterampilan
yang spesifik seperti mengorganisasi, memproses, dan menggunakan informasi yang
diperoleh dari aktivitas membaca (Salinger, 1983). Barangkali definisi paling baik digunakan
untuk menjelaskan keterampilan belajar adalah suatu keterampilan yang dapat
mengembangkan kemandirian siswa dalam belajar (Dean, 1977 dalam Maher & Zins, 1987)
Moh. Surya (1992 : 28) mengungkapkan bahwa keterampilan merupakan kegiatan-kegiatan
yang bersifat neuromuscular, artinya menuntut kesadaran yang tinggi. Dibandingkan dengan
kebiasaan, keterampilan merupakan kegiatan yang lebih membutuhkan perhatian serta
kemampuan intelektualitas, selalu berubah dan sangat disadari oleh individu. Secara
khusus, keterampilan belajar merupakan suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh,
mempertahankan, serta mengungkapkan pengetahuan dan merupakan cara untuk
menyelesaikan persoalan (Marshak & Burkle, 1981 dalam Maher & Zins, 1987). Dalam
memperoleh keterampilan belajar, siswa akan menyadari bagaimana cara belajar yang
terbaik sehingga menjadi lebih bertanggungjawab terhadap kegiatan belajarnya.
B. Hakikat Keterampilan Belajar
Hakikat keterampilan belajar meliputi empat unsur utama yaitu: Transformasi Persepsi
Belajar Dalam berbagai hal guna meningkatkan keahlian belajar dalam basic skills
(membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam menangani rasa takut dan kecemasan.
Transformasi ini tidak hanya melatih kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi
domain afektif dan psikomotorik dari setiap orang. Sehingga mampu menunjukkan
pemahaman tentang keterampilan dan strategi belajar yang diperlukan untuk sukses di
sekolah.
1. Keterampilan Manajemen Pribadi
Kemampuan menerapkan pengetahuan keterampilan belajar dan kekuatan (potensi)
belajar yang dimilikinya untuk mengembangkan strategi guna memaksimalkan dan
meningkatkan pembelajaran sehingga dapat meraih kesuksesan belajar di sekolah
menengah.
2. Interpersonal dan Keterampilan Kerjasama Tim
Kemampuan mengidentifikasi dan menjelaskan pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk sukses dalam hubungan interpersonal dan kerjasama tim. Selain
itu, juga menunjukkan kemampuan yang tepat untuk menerapkan keterampilan
interpersonal dan kerjasama tim dalam berbagai lingkungan belajar.
3. Kesempatan Eksplorasi
40
Mengembangkan portofolio dokumen yang terkait dengan penilaian diri, penelitian,
dan ekplorasi karir yang diperlukan untuk merencanakan jalur untuk keberhasilan
sekolah menengah.
Keempat unsur itu merupakan ciri keterampilan belajar yang utuh yang sebenarnya
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran keterampilan belajar
keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami
proses internalisasi keterampilan belajar di dalam sikap belajarnya secara utuh dan
sempurna sehingga dapat mengurangi kemungkinan kebuntuan dalam belajar (learning
shutdown).
C. Tujuan Penerapan Keterampilan Belajar
Tujuan penerapan keterampilan belajar adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
2. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
3. Membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar.
D. Aspek-aspek Keterampilan Belajar
1. Keterampilan Membaca
Tampubulon (1993) menjelaskan bahwa pada hakikatnya membaca adalah kegiatan
fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi
proses pengenalan huruf – huruf. Sedangkan menurut Poerwodarminto (1976) membaca yaitu
melihat sambil melisankan suatu tulisan dengan tujuan ingin mengetahui isinya. Menurut
Tarigan, membaca adalah pemerolehan pesan yang disampaikan oleh penulis melalui tulisan
(1983).
Ada banyak metode membaca, metode ini merupakan hasil riset dari para ilmuwan
tentang cara membaca yang efektif. Salah satunya adalah metode SQ3R (Survey, Question,
Read, Recite, Review). Metoda SQ3R memberikan strategi yang diawali dengan membangun
gambaran umum tentang bahan yang dipelajari, menumbuhkan pertanyaan dari
judul/subjudul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban dari
pertanyaan.
Ada lima tahapan proses dalam membaca dengan metode SQ3R ini, yaitu:
a. Survey atau meninjau
Baca Judul - Baca Pendahuluan – Baca Kepala Judul/Subbab – Perhatikan Grafik,
Diagram – Perhatikan Alat Bantu Baca.
b. Question atau bertanya
Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh, mulai perhatikan kepala judul/subbab
yang biasanya dicetak tebal. Perhatikan kepala judul ini satu per satu dan ubah kepala
41
judul ini jadi beberapa pertanyaan. Tulislah pertanyaan-pertanyaan itu pada suatu kolom
dengan lebar 1/3 halaman kertas dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh
selama membaca. Misalkan kita membaca buku tentang “Belajar di SMA” dan kepala
judulnya adalah “Manfaatkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahmu”.
Pertanyaan yang dapat kita mundulkan adalah “Mengapa kita harus memanfaatkan
kegiatan ekstrakurikuler?” dan “Bagaimana caranya kita bisa ikut terlibat dalam kegiatan
ekstrakurikuler?”.
c. Read atau membaca
Bacalah suatu subbab dengan tuntas jangan pindah ke subbab lain sebelum kita
menyelesaikannya. Pada saat membaca, kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita
buat pada Question. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan dengan kata-kata sendiri di
kertas yang pada 2/3 kolom yang disiapkan. Dan jangan membaca di tempat tidur. d. Recite
atau menuturkan
Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat
sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa
melihat buku.
e. Review atau mengulang
Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab, melengkapi catatan
atau berdiskusi dengan teman. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan
menjelaskan kepada orang lain.
2. Keterampilan Menulis
Menulis merupakan keterampilan berfikir yang tidak dapat dipisahkan dan turut
berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar siswa. Aktifitas ini berkenaan dengan bagaimana
seorang siswa mengikat informasi pembelajaran dan menyajikannya kembali dalam bentuk
tulisan. Jika metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis
untuk mencapai tujuan pembelajaran, teknik menulis dapat diartikan sebagai cara yang
dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode melalui aktifitas menulis.
DePorter (2000:57) mengatakan bahwa, “Menulis yang efektif adalah salah satu
kemampuan terpenting yang pernah dipelajari orang. Bagi pelajar, hal ini seringkali berarti
perbedaan antara mendapatkan nilai tinggi atau rendah pada saat ujian”.
42
Selanjutnya ia (1999: 145) mengemukakan beberapa bentuk keterampilan menulis
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Mencatat Standar/Linier
Teknik Mencatat Standar merupakan teknik pencatatan yang lazim dan telah lama
digunakan. Teknik mencatat ini adalah bentuk catatan dengan pola memanjang kebawah
mengikuti alur garis pada kertas.Beberapa gaya pencatatan standar diantaranya :
1) gaya kalimat/naratif yang terdiri dari tulisan apapun yang akan dikomunikasikan
dalam bentuk naratif
2) gaya daftar yang menyertakan menuliskan ide ketika ide itu muncul
3) gaya garis besar/alpabet yang terdiri dari membuat catatan dalam urutan hierarki yang
terdiri dari kategori utama dan subkategori
b. Catatan TS
Catatan TS adalah singkatan dari Catatan : Tulis dan Susun. Bentuk catatan ini
membantu siswa berkonsentasi dengan memanfaatkan tulisan-tulisan tentang pikiran-
pikiran dan menyadarinya sebagai bagian dari proses belajar serta menyertakan asosiasi
yang terkait dengan emosi yang bermanfaat dalam proses pengingatan.
Secara anatomis Catatan TS membagi kertas dengan garis menjadi 2 kolom, yaitu kolom
kiri dan kolom kanan. Kolom kiri dibuat lebih luas yang berfungsi untuk daerah menulis
catatan. Pada kolom ini siswa dapat menulis tanggal, nama, dan informasi penting
lainnya selama mendengarkan penjelasan guru, merangkum, membaca dan sebagainya.
Sedangkan kolom kanan dibuat lebih sempit yang berfungsi untuk menyusun catatan.
Pada kolom ini siswa dapat menuliskan pemikiran asosiasi yang muncul dalam benak
mereka. Bisa berupa pendapat, reaksi dari apa yang didengar, pertanyaan, perasaan, dan
sebagainya.
c. Mind Map (Peta Pikiran)
Peta Pikiran merupakan salah satu dari bentuk pencatatan dalam bentuk organijer grafik.
Teknik ini lahir dari ide tentang sifat kerja otak yang memiliki karakteristik dan pola
tertentu dalam memproses setiap informasi. Peta pikiran merekam informasi ke dalam
bentuk kata kunci, gambar, simbol dan sebagainya membetuk pola informasi yang
memetakan.
3. Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal.
Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai hal-hal yang merupakan hasil
43
pertimbangan. Jadi, bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan
berfikir.
Dalam proses belajar mengajar , bertanya memainkan peranan penting sebab
perrtanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan
dampak positif terhadap siswa , yaitu :
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam dalam kegiatan belajar mengajar
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang
dihadapi atau dibicarakan
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri
sesungguhnya adalah bertanya
d. Menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar
menentukan jawaban yang baik
e. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
Dasar- dasar pertanyaan yang baik
a. Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa
b. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
c. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
d. Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan
e. Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata
f. Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siwa untuk
menjawab atau bertanya
g. Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan jawaban yang benar Fungsi
pertanyaan di dalam kegiatan pembelajaran antara lain :
a. Mendorong siswa untuk berfikir
b. Meningkatkan keterlibatan siswa
c. Merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan
d. Memusatkan perhatian siswa pada satu masalah
e. Membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik
4. Keterampilan Mengatur Waktu dan Lingkungan
Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan
pengawasan produktivitas waktu. Manajemen waktu bertujuan kepada produktifitas yang
berarti rasio output dengan input.
44
Cara-cara mengatur waktu:
a. Membuat daftar “kerjaan”.
b. Membuat jadwal harian/mingguan.
c. Merencanakan jadwal yang lebih panjang (bulanan).
d. Belajarlah dengan rutin setiap hari tetapi degan frekuensi waktu yang tidak terlalu lama.
e. Atur waktu belajar sekitar 5-10 menit saja.
f. Dahulukan pelajaran yang dianggap sulit.
Cara-cara mengatur lingkungan:
a. Sebelum kegiatan belajar dimulai, lingkungan fisik hendaknya ditata sehingga tampak
menyenangkan.
b. Buku, jurnal, majalah, surat kabar, atau media lain, yang hendak dijadikan sebagai
sumber belajar perlu ditempatkan di dekat kegiatan belajar peserta didik.
5. Keterampilan Mengikuti Ujian
Agar seorang siswa dapat mengerjakan ujian dengan baik, maka dia harus
mempersiapkan diri, baik itu persiapan secara psikologis, maupun untuk melakukan review
sebelumnya. Persiapan tes dapat dilakukan dengan persiapan mental, menjaga kesehatan
tubuh, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
a. Belajar-Pasca Belajar
Beberapa hal yang dapat dilakukan selama maupun setelah belajar, diantaranya
1) Review catatan segera setelah pembelajaran di kelas,
2) Review catatan dengan singkat sebelum masuk pembelajaran di kelas berikutnya
3) Jadwalkan waktu yang agak lama untuk review catatan tersebut secara periodic
b. Mengantisipasi Soal Ujian
Siswa dapat mengantisipasi soal ujian dengan mengira-ngira soal yang akan keluar
dengan:
1) Perhatikan setiap pedoman belajar (poin utama, bab, subbab, handsout, dll.)
2) Pelajari soal-soal ujian sebelumnya atau dapat mempelajari soal-soal Latihan
Mandiri
(LM)
3) Berdiskusilah dengan teman untuk menebak kira-kira soal apa yang akan keluar
dalam ujian.
c. Tips Saat Ujian
Saat pelaksanaan ujian dapt dilakukan:
1) Datang dengan persiapan yang matang dan lebih awal
45
2) Tenang, percaya diri, sudah siap sedia, dan akan mengerjakan ujian dengan baik
3) Preview soal-soal ujian dulu (terutama untuk soal uraian atau yang memiliki waktu
yang cukup banyak), luangkan 10% waktu untuk membaca soal lebih mendalam
4) Jawab soal-soal ujian secara stretegis, dengan mulai menjawab pertanyaan yang
mudah, kemudian dengan soal-soal yang sukar
5) Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, etahuilah jawaban mana yang harus
dipilih/ditebak.
6) Ketika mengerjakan soal ujian esai/uraian, pikirkan dulu jawabannya sebelum
menulis.
7) Sisihkan 10% waktu ujian untuk memerikasa ulang jawaban yang telah dikerjakan.
8) Analisa hasil ujian, setiap ujian dapat membantu dalam mempersiapkan diri untuk
ujian selanjutnya
E. Keterampilan Belajar Berbasis Kearifan Lokal
Ketrampilan belajar berbasis kearifan lokal sangat relevan denngan kebutuhan proses
belajar disekolah saat ini, Hal ini sejalan dengan pendapat Anchard (dalam Susilo Ningsih,
Wahyu, 2016) mengatakan bahwa keterampilan belajar berbasis kearifan lokal atau
kontekstual merupakan konsep belajar dan mengajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarganya, warga negara, dan pekerja. Situasi dunia nyata siswa
dalam hal ini adalah budaya lokal dengan kata lain konten materi pelajaran akan dikaitkan
dengan lingkungan siswa baik dari tempat-tempat umum, tempat bersejarah, keadaan sosial
ekonomi masyarakat dan lain sebgainya. Secara filosofis, kearifan lokal dapat diartikan
sebagai sistem pengetahuan masyarakat lokal/pribumi (indigeonus knowladge systems) yang
bersifat empirik dan pragmatis.
Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara lokal berangkat dari fakta-fakta
yang terjadi disekeliling kehidupan mereka. Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang
terbangun sebagai hasil olah pikir dalam sistem pengetahuan itu bertujuan untuk pemecahan
masalah sehari-hari (daily problem solving). Budaya lokal oleh sebahagian orang sering
didefinisikan sebagai budaya asli yang berkembang pada masyarakat tertentu di suatu daerah
atau ciri khas budaya msyarakat lokal.
46
Budaya lokal juga merupakan nilai-nilai hasil budaya masyarakat suatu daerah yang
terbentuk secara alami dan diperoleh melalui suatu hasil proses belajar dari waktu-ke waktu.
Ada berbagai bentuk budaya lokal, seperti seni tradisi, pola pikir masyarakat, mata
pencaharian setempat, hukum adat masyarakat, lingkungan fisik yang menjadi keunikan
lokal. Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan unsurunsur yang
terdiri atas sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi masyarakat, sistem
pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.
Kearifan lokal merupakan bagian dari masyarakat untuk bertahan hidup sesuai dengan
kondisi lingkungan, sesuai dengan kebutuhan, dan kepercayaan yang telah berakar dan sulit
untuk dihilangkan (Sufia, Sumarmi, dan Amiruddin, 2016).
Berdasarkan pengertian kearifan lokal yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa
kearifan lokal segala sesuatu yang merupakan potensi dari suatu daerah serta hasil pemikiran
manusia maupun hasil karya manusia yang mengandung nilai yang arif dan bijaksana serta
diwariskan secara turun temurun sehingga menjadi ciri khas daerah tersebut. Pengintegrasian
kearifan lokal dalam pembelajaran sebagai untuk meningkatkan rasa cinta kearifan lokal
dilingkungannya serta sebagai upaya menjaga eksistensi kearifan lokal ditengah derasnya
arus globalisasi.
Maka dalam dalam buku ini dihadirkan bagaimana keterampilan belajar berbasis budaya
lokal melalui penerapan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL).
Kemudian diintegrasikan dengan 4 aspek keterampilan belajar yakni membaca, menulis,
bertanya dan mengatur waktu lingkungan pembelajaran yang berbasis kearifan lokal yang
bertujuan:
1. Mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),
bertanya (questioning), (inquiry), masyarakat belajar (learning community),
pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penelitian sebenarnya (authentic
assessment).
2. Sebagai bentuk apresiasi atau wahana yang dapat membina dan mengembangkan
kecerdasan emosi siswa perlu ditata secara optimal. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan adalah melalui kegiatan apresiasi sastra tulisan daerah dengan pendekatan
area isi (content area)” sedangkan karya sastra lisan adalah cerita atau teks yang
bersifat kelisanan, dan diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya
47
secara turun menurun. Teks lisan yang terkenal dalam masyarakat adalah cerita rakyat
daerah setempat.
3. Keterampilan belajar berbasis kearifan lokal dalam menyelesaikan masalah juga
terdapat dalam serangkaian aktivitas belajar siswa yang dapat meningkatkan
kemandirian siswa dalam belajar, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab serta dapat
mengambil keputusan yang tepat ketika menyelesaikan permasalahan yang terdapat di
ruang lingkup atau daerah setempat siswa.
F. Impelementasi Belajar Berbasis Kearifan Lokal Sumatera Utara
Implementasi Kearifan Lokal Sumatra Utara pada pembelajaran disekolah dasar
dengan tahap awal yakni perkenalan terdiri atas 6 komponen. Komponen tersebut yaitu,
perkenalan diri, benda di sekitar kita, ciri-ciri fisik, keluarga, aktivitas, arah dan lokasi.
Implementasi kearifan lokal pada buku terseut akan dibahas pada tiap unit.
a. Komponen 1, Perkenalan Diri
Pada unit ini siswadiharapkan memiliki kecakapan dalam memperkenalkan diri
sendiri, memperkenalkan orang lain, dan mengenal pronomina saya, anda, dan dia.
Kearifan lokal yang terlihat pada unit ini adalah nama-nama khas kearifan lokal
Sumatra Utara. Buku ini memberikan pendekatan budaya kepada siswamelalui nama-
nama khas kearifan lokal Sumatra Utara lebih dahulu. Sehingga, diharapkan
siswaterbiasa mendengar dan menyebut nama-nama tersebut. Kearifan lokal melalui
nama-nama seseorang dipercaya tepat untuk dilakukan pada unit satu ini, sebab pada
unit ini siswadiminta memperkenalkan diri sendiri dan orang lain di lingkungannya.
Tentu lingkungan yang paling dekat dengan siswaadalah budaya Sumatra Utara.
Berikut nama-nama bernuansa kearifan lokal Sumatra Utara yang digunakan pada
unit satu.
Tabel 1.1 Nama-Nama Bernuansa Kearifan Lokal Sumatera Utara
Nama Suku
Antonius Harefa Nias
Gembira Ginting Karo
Tiurmaida Siregar Batak Angkola
Tengku Halimah Melayu
Sahat Manik Batak Toba
48
b. Komponen 2, Benda di Sekitar Kita
Pada Komponen ini, Siswa akan mampu mengenal angka, mengenal nama-nama
tempat wisata di Sumatra Utara, mengenal kuliner khas sumatra utara, dan
menggunakan kalimat tanya. Siswa tidak mengenal angka dengan menggunakan
bahasa daerah, tetapi kearifal yang ditonjolkan pada unit ini terletak pada wisata dan
kuliner khas. siswaakan belajar mendeskripsikan benda melalui rasa dan warna. Pada
pembelajaran ini diperkenalkan kuliner khas Sumatra Utara. Kuliner tersebut
dideskripsikan pada tabel berikut ini.
Tabel 1.2. Kuliner Khas Sumatera Utara
Nama Kuliner Asal Suku Deskripsi Kuliner
Ikan Arsik Batak Toba Ikan Arsik berwarna oranye
dan rasanya pedas.
Bubur Pedas Melayu Bubur Pedas Melayu
Rasanya pedas dan
berwarna hijau dan
coklat.
Dodol Sumpit Agkola Batak Angkola Rasanya Manis khas
memakai sumpit anyaman
angkola
Ombus-Ombus Batak Toba Rasanya manis dan berwarna
putih dan coklat.
c. Komponen 3, transportasi dan wisata
Pada komponen ini juga diperkenalkan transportasi kearifan lokal yaitu becak
motor dan angkot. Transportasi diperkenalkan guna mengajarkan kepada siswa
bagaimana melakukan dialog dengan supir atau tukang becak untuk mengantarkan
mereka ke tempat wisata. Lalu, siswa juga mengerjakan perlatihan membuat dialog.
Dialog tersebut masih sama seperti yang dicontohkan, yakni bagaimana cara mereka
pergi ke suatu tempat wisata. Deskripsi tersebut diantaranya akan pergi kemana,
dengan apa mereka pergi, jumlah ongkos dan sebagainya. Pada bagian ini siswa
diperkenakan dengan wisata lokal Sumatra Utara.
49
Tabel 1.3. Wisata Lokal Sumatera Utara
Tempat Wisata Lokasi
Istana Maimun Medan
Danau Toba Samosir
Desa Lingga Karo
Candi Bahal Portibi
Gunungtua Pantai Nias Selatan
d. Komponen 4, Keluarga Siswa
Siswa akan mengenal nama-nama kekerabatan dalam keluarga Indonesia,
menuliskan pohon keluarga, dan mengenal pronomina kami, kita, Anda, dan kalian.
Tetapi, pada unit ini tidak diperkenalkan istilah kekerabatan dalam suatu suku di
Sumatra Utara. Hanya istilah nasional seperti paman, bibi, kakek, kakak, dan
sebagainya. Nama-nama yang digunakan untuk mendeskripsikan pohon keluarga
masih menggunakan nama bernuansa kearifal lokal Sumatra Utara. Kearifan lokal
yang menonjol pada unit ini adalah deskripsi silsilah keluarga berdasarkan suku atau
etnis siswa.
e. Komponen 5, Informasi aktivitas dalam keluarga
Pada komponen ini tidak menonjolkan jenis atau karakter yang bernuansa kearifan
lokal. Pada unit ini siswa akan dituntut mampu memberikan informasi mengenai
waktu, hari, tanggal, bulan dan tahun. Semua aktivitas yang dideskripsikan pada unit
adalah aktivitas keseharian yang biasa dilakukan. Seperti bangun tidur, mandi,
menyiapkan makanan, makan, mencuci piring, menyapu lantai, belajar di rumah, dan
sebagainya. Seharusnya pada unit ini, dapat diperkenakan hari-hari besar keagamaan,
ataupun perayaan adat istiadat di Sumatra Utara. Kemudian aktivitas yang biasa
dilakukan pada perayaan tersebut.
50