f. Komponen 6, Arah dan Lokasi
Pada komponen ini siswa diharapkan mampu mengenal arah dan lokasi dan
mengenal preposisi, di depan, di belakang, di bawah, di samping. Kearifan lokal yang
ditonjolkan pada unit ini adalah tempat wisata di Sumatera Utara. Pada unit ini siswa
akan mendeskripsikan arah dan lokasi sampai ke tempat wisata. Salah contohnya
tempat wista yang terkenal di daerah Sumatera Utara, Gundaling Atau biasa dikenal
Puncak Gundaling merupakan salah satu tempat hits dikarenakan suasana sangatlah
sejuk dan pemandangan alam yang sangat mempesona seperti Panoraman Gunung
Sibayak dan Gunung Sinabung juga terdapat Di Gundaling Farmstead ini dapat
melihat tempat pemerasan sapi sekaligus bisa digunakan sebagai tempat nongkrond
sambil mengkonsumsi produk-produk olahan dari susu sapi seperti es krim atau susu
segar. Disini siswa dapat membuat rute tempat wisata awal hingga akhir pada saat
mengujungi tempat wisata ini.
Sumber:wikipedia.com
Coba Dekskripsikan Nama, tempat dan lokasi tempat
wisata di atas !
…………………………………………………………
“Siswa Dan Peserta Didik Adalah Warisan Yang Harus Kita
Kembangkan Dan Lestarika”
51
BAB III KETERAMPILAN MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR
Standar Kompetensi :
Mahasiswa menguasai konsep mengajar, keterampilan mengajar di sekolah dasar meliputi
delapan keterampilan dan tuntutan keterampilan guru di masa mendatang.
Kompetensi Dasar :
Setelah menyelesaikan Bab ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Mengimplementasikan konsep mengajar di dalam pembelajaran.
2. Mengkomunikasikan delapan keterampilan mengajar secara lisan.
3. Menjelaskan tuntutan keterampilan guru dimasa mendatang.
Indikator :
Setelah mempelajari Bab ini, mahasiswa dapat:
1. Menjelaskan konsep mengajar di sekolah dasar.
2. Menjelaskan delapan keterampilan mengajar di sekolah dasar.
3. Menjelaskan tuntutan keterampilan guru di masa mendatang.
Materi :
1. Konsep Mengajar
2. Delapan Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar.
3. Tuntutan Keterampilan Guru di Masa Mendatang.
A. KONSEP MENGAJAR
Mengajar bagi sebagian orang (atau mungkin bagi banyak orang) adalah sebuah
aktivitas yang membosankan, menjenuhkan, dan tidak menantang. Mengajar mungkin juga
adalah suatu momok yang menakutkan membuat tubuh gemetar saat berhadapan dengan
orang banyak dengan berbagai karakter dan sifat, membuat diri menjadi minder karena
mungkin merasa orang yang diajar lebih hebat darinya, merasa grogi karena diperhatikan oleh
yang diajarnya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, atau mungkin saja membuat
gelisah karena merasa bahwa orang-orang sedang menilai dirinya selama ia berdiri di depan
kelas menurut Suparman (2010: 11).
52
Hall, Quinn, dan Gollnick (2008: 298) menyatakan bahwa ketika tujuan pendidikan
tercapai melalui praktik pengajaran, maka mereka akan menemui pertanyaan-pertanyaan
tentang mengetahui, belajar, dan mengajar. Pada diskusi Plato tentang epistemologi, dia
menentang bahwa untuk mendapatkan realitas atau mengetahui, setiap individu menggunakan
pemahaman, alasan, persepsi, dan imajinasi. Para guru mengimplementasikan gagasan Plato
ketika mereka merencanakan dan menyusun pelajaran, dan memutuskan metode mana yang
paling sesuai dengan tugas pelajaran tertentu.
Menurut Fathurrohman (2015: 12) mengajar berasal dari kata dasar ajar. Kata ajar
bermakna memberi pertunjuk atau menyampaikan informasi, pengalaman, pengetahuan, dan
sejenisnya kepada subjek tertentu untuk diketahui atau dipahami. Dan mengutip pengertian
mengajar dari tokoh lain, yaitu:
1. Danim & Khairil
Mengajar bermakna tindakan seseorang atau tim dalam memberi petunjuk atau
menyampaikan informasi, pengalaman, pengetahuan, atau sejenisnya kepada subjek
didik tertentu agar mereka mengetahui dan memahaminya sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki .
2. Nasution
Mengajar ialah suatu aktivitas mengatur organisasi/lingkungan sebaik-baiknya dan
menghubungkan dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar mengajar.
3. Mahmud
Mengajar adalah memasuki dunia siswa untuk mengubah persepsi dan perilaku
mereka. 4. Hasibuan & Moedjiono
Mengajar adalah penciptaan sistem yang memungkinkan terjadinya proses belajar
mengajar. System lingkungan terjadi komponen-komponen yang saling memengaruhi
yakni tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang akan diajarkan guru-guru
kepada siswa, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar yang
tersedia.
Selain itu Darmadi (2012: 17) menyatakan bahwa mengajar merupakan suatu seni
untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai pendidikan, kebutuhan-
kebutuhan individu siswa, kondisi lingkungan, dan keyakinan yang dimiliki oleh guru.
Dalam proses belajar mengajar, guru adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas
bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya
dalam batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Sekaligus guru akan berperan
sebagai model bagi para siswa. Kebesaran jiwa, wawasan dan pengetahuan guru atas
53
perkembangan masyarakatnya akan mengantarkan para siswa untuk dapat berpikir melewati
batas-batas kekinian, berpikir untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dalam
melaksanakan tugas tersebut guru akan dihadapkan pada perbagai problem yang muncul dan
sebagian besar problem tersebut harus segera dipecahkan serta diputuskan pemecahannya
oleh guru itu sendiri pada waktu itu pula. Sebagian konsekuensinya, yang akan dan harus
dilakukan oleh guru tidak mungkin dapat dirumuskan dalam suatu prosedur yang baku.
Dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan, bahwa mengajar adalah Mengajar
bermakna tindakan seseorang untuk mengatur organisasi/lingkungan, suatu aktivitas,
penciptaan sistem, dalam memberi petunjuk atau menyampaikan informasi yang
sebaikbaiknya, pengalaman, pengetahuan, atau sejenisnya kepada subjek didik tertentu agar
mereka mengetahui dan memahaminya serta menghubungkan dengan anak didik sehingga
terjadi proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
Keunggulan mengajar dikemukakan oleh Hall, Quinn, dan Gollnick (2008: 234) yaitu
berusaha terus menggali kemampuan siswa sehingga mereka menghasilkan kemampuan yang
terbaik. Seorang guru harus melihat anak secara keseluruhan. Untuk membantu semua siswa
agar dapat belajar, seorang guru harus mempunyai pengetahuan, keahlian, dan pengaturan
untuk dapat mengajar secara efektif. Para siswa yang sedang belajar berarti secara aktif
terlibat dalam tugas-tugas mereka dan mampu memberitahu guru tentang apa yang mereka
sedang kerjakan.
Mereka juga mampu memperlihatkan pengetahuan mereka dengan menerapkannya
pada situasi yang baru. Diantara kata-kata favorit saya adalah “ Mengajar sama dengan
menyentuh sebuah kehidupan untuk selamanya” dan “ Anak adalah yang utama”.
1. Karakteristik Kerja Guru
Pekerjaan seorang guru sekolah dasar menurut Santrock (2007: 27) ialah mengajar
satu atau lebih mata pelajaran, menyiapkan kurikulum, memberi ujian, memberi nilai,
memantau kemajuan murid, melakukan konferensi orang tua-guru, dan menghadiri seminar-
seminar yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Menjadi guru sekolah dasar
memeelukan minimal gelar sarjana. Pendidikannya meliputi beragam perkuliahan dengan
konsentrasi pada pendidikan serta menyelesaikan program magang guru praktik dengan
pengawasan.
Semua diantara kita sudah akrab dengan guru, baik sering berhubungan, membawahi
ataupun jadi guru sendiri. Tetapi berapa banyak diantara kita yang pernah merenungkan
sesungguhnya bagaimana kerja guru itu?. Pemahaman akan hakekat kerja guru ini sangat
pentingsebagai landasan dalam mengembangkan program pembinaan dan pengembangan
54
guru. Kalau direnungkan secara mendalam, maka kita akan dapat menemukan beberapa
karakteristik kerja guru, yang dikemukan oleh Darmadi (2012: 25) antara lain:
a. Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang bersifat individualistis non collaboratif.
Bahwa guru dalam melaksanakan tugas-tugas pengajarannya memiliki
tanggungjawab secara individual, tidak mungkin dikaitkan dengan tanggungjawab
orang lain. Pekerjaan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dari
waktu ke waktu dihadapkan pada pengambilan keputusan dan tindakan itu harus
dilaksanakan oleh guru secara mandiri. Sebagai contoh di tengah proses belajar
mengajar berlangsung terdapat siswa yang tertidur sehingga siswa yang lain
berisik. Guru harus mengambil keputusan dan menentukan tindakan saat itu, dan
tidak mungkin meminta pertimbangan teman guru yang lain. Oleh karena itulah,
wawasan dan kecermatan sangat penting bagi seorang guru.
b. Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang dilakukan dalam ruang yang terisolir dan
menyerap seluruh waktu.
Hal ini sudah diketahui bersama bahwa hampir seluruh waktu guru dihabiskan di
ruang-ruang kelas bersama para siswanya. Implikasi dari hal ini adalah bahwa
keberhasilan kerja guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi
juga oleh motivasi dan dedikasi guru untuk terus dapat hidup dan menghidupkan
suasana kelas.
c. Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang kemungkinan terjadi kontak akademis antar
guru rendah.
Bisa dicermati, setiap hari berapa lama guru bisa berinteraksi dengan sejawat
guru. Dalam interaksi ini apa yang paling banyak dibicarakan. Banyak bukti
menunjukkan bahwa interaksi akademik antar guru sangat rendah. Kalau dokter
ketemu dokter yang paling banyak dibicarakan adalah tentang penyakit, penemuan
teknik baru dalam pengobatan. Tetapi apabila guru ketemu guru, apa yang
dibicarakan? Rendahnya kontak akademi guru ini di samping dikarenakan soal
waktu guru yang habis diserap di ruang-ruang kelas, kemungkinan juga karena
kejenuhan guru berinteraksi akademik dengan para siswanya.
d. Pekerjaan guru tidak pernah mendapatkan umpan balik.
Umpan balik adalah informasi baik berupa komentar ataupun kritik atas apa yang
telah dilakukan dalam melaksanakan proses belajar mengajar, yang diterima oleh
guru. Berdasarkan umpan balik inilah guru akan dapat memperbaiki dan
meningkatkan kualitas proses belajr mengajarnya.
55
e. Pekerjaan guru membutuhkan waktu untuk mendukung waktu kerja di ruang
kelas. Waktu kerja guru tidak terbatas hanyadi ruang-ruang kelas saja. Dalam
banyak hal, justru waktu guru untuk mempersiapkan proses belajar mengajar di
ruang kelas lebih lama. Berkaitan dengan padatnya waktu guru itu.
2. Keterampilan Komunikasi Mengajar
Didalam mengajar dibutuhkan keterampilan yang harus dilaksanakan untuk
berhasilnya pengajaran tersebut. Seorang guru tidak bisa dikatakan guru jika tanpa
keterampilan mengajar yang memadai. Mengajar juga butuh keahlian dalam berkomunikasi.
Dimana mengajar tidak lepas dari yang namanya komunikasi antara siswa dan guru. Dari
berkomunikasilah pesan materi tersampaikan.
Untuk menjadi seorang komunikator yang efektif, diperlukan tiga keterampilan yang
berkaitan menurut Evertson & Emmer (2011: 203-219) yaitu sebagai berikut:
a. Keasertifan Yang Konstruktif
Gambarkan perhatian Anda dengan jelas, yakinkan bahwa perilaku yang buruk dapat
diperbaiki, dan bertahanlah dalam keadaan dipaksa dan dimanipulasi. Keasertifan
adalah keterampilan menegakkan hak seseorang yang sah dalam cara-cara yang
membantu memastikan bahwa orang lain tidak dapat mengabaikan atau mengakali
mereka. Kata sifat konstruktif berarti bahwa guru yang asertif tidak mengejek atau
menyerang siswa. Keasertifan merupakan cirri atau sifat umum yang kami gunakan
dalam berbagai situasi atau sebagai sekumpulan keterampilan yang lebih spesifik pada
situasi tertentu. Beberapa individual bersifat asertif dalam berbagai situasi (misalnya,
berinteraksi dengan orang lain, di pekerjaan, di pesta, di sekolah), sementara yang
lainnya kurang asertif dalam banyak situasi sosial. Unsur-unsur dari keasertifan
meliputi: (1) Pernyataan yang jelas mengenai masalah atai isu, (2) Bahasa tubuh yang
tidak ambigu, (3) Mempertahankan perilaku yang sesuai dengan dan penyelesaian
masalah. Keasertifan bukanlah: (1) Sikap bermusuhan, (2) Penuh perdebatan, (3)
Tidak luwes.
Aspek berikut ini dari keasertifan yang konstruktif memiliki arti penting yang khusus
bagi para guru.
1) Menyatakan Masalah atau Keprihatinan
Perilaku buruk siswa biasanya menyebabkan masalah bagi para guru karena
menyulitkan untuk menyelenggarakan mata pelajaran, memperlambat kegiatan,
merusak kebiasaan yang membantu kelas berjalan lancar, dan mengalihkan
perhatian para siswa lainnya dari tugas mereka. Ketika perilaku yang buruk terus
muncul, guru harus memberitahukan siswa apa masalahnya, dan dari sudut
56
pandang guru. Terkadang penjelasan sederhana dari masalah ini mengakibatkan
para siswa mengubah perilaku mereka karena mereka lebih menyadari dan mulai
mengawasi diri mereka secara lebih baik. Menyatakan masalah memiliki dua
bagian: (1) mengidentifikasi perilaku tersebut, dan (2) menjelaskan efeknya.
2) Bahasa Tubuh
Keasertifan konstruktif dengan para siswa membutuhkan penegasan visual berupa
bahasa tubuh yang sesuai di tiga wilayah. Yang pertama ialah melakukan kontak
mata ketika memanggil siswa, terutama ketika menjelaskan masalah dan ketika
mengharuskan perubahan perilaku. Perhatikan bahwa terdapat perbedaan antara
kontak mata yang mengkomunikasikan keseriusan dan mencari penyelesaian
dengan mendelikkan mata yang marah dan bermusuhan. Melakukan kontak mata
dari waktu ke waktu mengurangi ketegangan. Wilayah kedua dari bahasa tubuh
yang asertif ialah menjaga postur dan orientasi tubuh yang siap siaga kearah iswa
tersebut (tetapi jangan sedekat seperti sikap yang mengancam). Menjaga postur
yang tegak dan menghadap ke siswa mengomunikasikan perhatian dan
keterlibatan Anda dalam percakapan. Wilayah ketiga ialah menyesuaikan ekspresi
wajah Anda dengan konten dan nada pernyataan Anda (misalnya, tidak tersenyum
ketika memberikan pernyataan yang serius).
3) Menjalankan Perilaku yang Pantas
Menjadi seorang guru yang asertif berarti Anda mengizinkan para siswa
mengetahui perhatian dan keinginan anda dengan cara yang menarik perhatian
mereka dan mengomunikasikan niat Anda untuk melaksanakannya dengan
konsekuensi dan untuk terus menangani sampai situasi tersebut terselesaikan.
Anda tidak harus sampai kehilangan selera humor Anda atau memerlakukan para
siswa dengan tidak sopan. Sedikit humor dapat meredakan ketegangan, dan
memperlakukan para siswa dnegan kesopanan menjadi contoh bagi jenis perilaku
yang Anda harapkan dari mereka. Mengembangkan tingkat keasertifan yang
nyaman bagi anda dan memahami bagaimana perilaku anda dirasakan oleh orang
lain merupakan hal penting; bekerja lewat kegiatan-kegiatan di akhir bab ini akan
membantu.
b. Respons yang Empati
Keterampilan komunikasi penting lainnya ialah merespons secara empati kepada para
siswa. Keterampilan ini menunjukkan bahwa Anda memahami dan menerima
perspektif siswa, serta berusaha mengupayakan klarifikasi daari masalah ini jika
57
diperlukan. Respons yang empati membantu menjaga jalur komunikasi tetap terbuka
antara Anda dan para siswa Anda sehingga masalah dapat dipahami dan diselesaikan
dalam cara yang sama-sama dapat diterima. Keterampilan ini sangat pas ketika
seorang siswa terlihat sangat gelisah, sedang stress, atau malah kecewa. Sebagai
seorang guru, Anda harus dapat merespons dengan cara membantu siswa menangani
berbagai emosi ini secara konstruktif atau setidaknya menghindari ketidaknyamanan
atau kesedihan yang berkelanjutan. Respons yang empati dapat juga digunakan
sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah ketika berurusan dengan siswa yang
harus mengubah perilaku mereka. Dalam situasi ini, para siswa tetap membandel dan
mengekspresikan perasaan negatif; respons empati guru dapat membantu meredakan
reaksi ini dan meningkatkan penerimaan sebuah rencana bagi perubahan.
Respons yang empati memiliki dua komponen yaitu:
1) Keterampilan Mendengar
Keterampilan mendengar mengerti atau menerima perasaan atau gagasan siswa.
Paling tidak, pendengar cukup memperlihatkan perhatian. Terkadang raut muka
yang tertarik mendorong siswa untuk terus bicara. Contoh lain dari perilaku
mendengar non verbal adalah mengangguk, melakukan kontak mata dengan
pembicara, dan bahasa tubuh lainnya yang mengomunikasikan keterbukaan pada
diskusi. Dorongan verbal ditandai dengan ucapan seperti “um hm,” “saya
mengerti,” “teruskan,” “itu menarik,” dan yang sejenis. Lain waktu, sedikit
dorongan mungkin diperlukan. Seorang anak yang mengekspresikan perasaan
ditolak atau keputusasaan dan yang membutuhkan penguatan mungkin
membutuhkan pelukan atau tempat bersandar di bahu. Melampaui respons seperti
itu, guru bisa mengajak diskusi dengan pernyataan seperti, “ceritakan lagi,” “saya
tertarik mendengar gagasanmu mengenai hal ini,” “maukah kamu memberikan
komentar?” “bagaimana menurutmu?,” dan “kamu telah mendengar pendapat
saya.
Sekarang saya ingin mendengar pendapatmu.”
2) Keterampilan Proses
Keterampilan memproses memungkinkan Anda untuk menegaskan atau
mengklarifikasi persepsi Anda mengenai pesan yang disampaikan oleh siswa.
c. Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah merupakan proses yang digunakan untuk menangani dan
menyelesaikan konflik. Sebuah percakapan untuk menyelesaikan masalah
58
mengandung tiga tahap: (1) Mengidentifikasi masalah, (2) Pilih sebuah solusi, (3)
Mendapatkan sebuah komitmen.
d. Berbicara dengan Orang Tua
Keasertifan konstruktif, respons yang empati, dan pemecahan masalah dapat
merupakan strategi yang bermanfaat dalam interaksi Anda dengan para siswa, dan
mereka bisa efektif dalam bekerja sama dengan orang tua. Saran-saran berikut ini
untuk membantu pembicaraan dengan orang tua berjalan lebih lancar:
1) Ekspresikan apresiasi Anda atas usaha orang tua untuk mengatur kembali jadwal
mereka dengan Anda. Gunakan waktu mereka dengan bijak dengan bersiap-siap
dan dalam keadaan segera menyambut.
2) Sekolah dan guru mungkin mengintimidasi orang tua yang memiliki kesulitan
dengan sekolah. Kecemasan mereka mungkin tampak dalam bentuk kemarahan,
menghindar, bersikap defensive, jadi mengertilah bahwa reaksi dari orang tua
mungkin lebih dari pada sebuah refleksi dari keadaan pikiran orang tua ketimbang
sesuatu yang Anda telah katakana atau lakukan.
3) Orang tua yang anaknya menampilkan masalah perilaku atau akademik terutama
sensitif saat disalahkan. Pertahankan fokus pada pilihan-pilihan yang diambil
siswa tersebut dan apa yang dapat dilakukan untuk mendorong menghasilkan
keputusan yang lebih baik.
4) Dekatilah orang tua sebagai anggota tim. Anda dan mereka memiliki tujuan yang
sama.: memiliki kepentingan yang terbaik terhadap anak mereka. Inti dari
percakapan tersebut adalah menemukan cara-cara untuk bekerja sama.
5) Kapan saja dimungkinkan, dokumentasikan keprihatinan Anda. Milikilah
contohcontoh dari pekerjaan siswa yang ada atau milikilah cattan terkait dengan
catatan perilaku. Jika siswa tidak mengumpulkan tugas-tugas, berikan lembaran
tugas yang menunjukkan tanggal pengumpulan.
6) Tetaplah pada penjelasan mengenai perilaku ketimbang pada karakterisasi para
siswa (misalnya, “Barbara memanggil siswa dengan nama lain.” ketimbang
“Barbara adalah seorang penggertak.”). Karakterisasi lebih mungkin
menempatkan orang tua dalam sikap defensif.
7) Hormatilah pengetahuan orang tua mengenai anak mereka. Orang tua sering kali
memiliki wawasan mengenai perilaku apa yang khas bagi siswa tersebut dan
mungkin dapat menganjurkan cara-cara alternatif menangani sebuah masalah.
59
B. DELAPAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR DI SD
1. Keterampilan Bertanya (questioning skills)
Teknik bertanya adalah sejumlah cara yang dapat digunakan oleh kita sebagai guru
untuk mengajukan pertanyaan kepada peserta didiknya dengan memperhatikan karakteristik
dan latar belakang peserta didik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
menantang, menurut Darmadi (2012: 2) peserta didik akan terangsang untuk berimajinasi
sehingga dapat mengembangkan gagasan-gagasan barunya. Pertanyaan yang baik memiliki
kriteria-kriteria khusus seperti: jelas, informasi yang lengkap, terfokus pada satu masalah,
berikan waktu yang cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa,
berikan respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terakhir tuntunlah jawaban
siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.
Dalam proses belajar mengajar menurut Usman (2010 :74) bertanya memainkan
peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang
tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang
dihadapi atau dibicarakan.
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri
sesungguhnya adalah bertanya.
d. Menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa
agar dapat menentukan jawaban yang baik,
e. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
2. Keterampilan Memberikan Penguatan (reinforcement skills)
Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan
kemungkinan berulangnya kembali perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan
berulangnya kembali perilaku itu. Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran
dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan verbal merupakan penghargaan yang
dinyatakan dengan lisan sedangkan penguatan non verbal dinyatakan dengan mimic, gerakan
tubuh, pemberian sesuatu, dan lain-lainnya. Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal
penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif bertujuan untuk
mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan
penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak
menyenangkan.
60
Manfaat penguatan bagi siswa untuk meningkatnya perhatian dalam belajar,
membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri, dan memelihara
iklim belajar yang kondusif.
3. Keterampilan Mengadakan Variasi (variations skills)
Variasi mengandung makna perbedaan. Dalam kegiatan pembelajaran, pengertian
variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan,
yang dimaksudkan untuk memacu dan mengikat perhatian siswa selama pelajaran
berlangsung. Tujuan utama guru mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran untuk
mengurangi kebosanan siswa sehingga perhatian mereka terpusat pada pelajaran.
4. Keterampilan Menjelaskan (explaning skills)
Pengertian menjelaskan dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran mengacu
kepada perbuatan mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana dan
sistematis sehingga dalam penyajiannya siswa dengan mudah dapat memahaminya.
Pentingnya penguasaan keterampilan menjelaskan bagi guru adalah dengan
penguasaan ini memungkinkan guru dapat meningkatkan efektivitas penggunaan waktu dan
penyajian penjelasannya, mengestimasi tingkat pemahaman siswa, membantu siswa
memperluas cakrawala pengetahuannya, serta mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana
dan sumber belajar.
Kegiatan menjelaskan dalam kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membantu
siswa memahami berbagai konsep, hukum, prosedur, dan sebagainya secara obyektif,
membimbing siswa memahami pertanyaan, meningkatkan keterlibatan siswa, memberi siswa
kesempatan untuk menghayati proses penalaran sert memperoleh balikan tentang pemahaman
siswa.
5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran (set inductionand closure)
Membuka pelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk mengaitkan
pengalaman siswa dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk menciptakan prakondisi agar mental dan perhatian siswa tertuju pada materi pelajaran
yang akan dipelajari mereka. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan pada awal
pelajaran saja melainkan juga pada awal setiap penggal kegiatan, misalnya, pada saat
memulai kegiatan Tanya jawab, mengenalkan konsep baru, memulai kegiatan diskusi,
mengawali pengerjaan tugas, dan lain-lainnya.
Kegiatan menutup pelajaran dilakukan dengan maksud untuk memusatkan
perhatian siswa pada akhir pengal kegiatan atau pada akhir pelajaran, misalnya merangkum
atau membuat garis besar materi yang baru saja dibahas, mengkonsolidasi perhatian siswa
61
pada hal-hal pokok dalam pelajaran yang sudah dipelajari, dan mengorganisasikan semua
kegiatan ataupun pelajaran yang sudah dipelajari, dan mengorganisasikan semua kegiatan
ataupun pelajaran yang telah dipelajari menjadi satu kebulatan yang bermakna untuk
memahami esensi pelajaran itu.
6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu format pembelajaran yang
mempunyai ciri-ciri : (1) melibatkan 3-9 orang siswa setiap kelompoknya. (2) mempunyai
tujuan yang mengikat, (3) berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal, dan (4)
berlangsung menurut proses yang sistematis.
Diskusi kelompok kecil bermanfaat bagi siswa untuk (1) mengembangkan
kemampuan berpikir dan berkomunikasi (2) meningkatkan disiplin, (3) meningkatkan
motivasi belajar, (4) mengembangkan sikap saling membantu, dan (5) meningkatkan
pemahaman.
7. Keterampilan mengelola kelas
Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah
laku
siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang diinginkan, dengan
hubungan-hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta
mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yagn efektif.
8. Keterampilan mengajar mengajar kelompok kecil dan perseorangan
Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan bentuk mengajar klasikal
biasa yang memungkinkan guru dalam waktu yang sama menghadapi beberapa kelompok
kecil yang belajar secara kelompok dan beberapa orang siswa yang bekerja atau belajar
secara perorangan. Format mengajar ini ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang
lebih akrab dan dan sehat guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar
sesuai dengan kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya
keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi guru
untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran.
Setiap keterampilan mengajar yang telah diuraikan di atas dapat digunakan pada
saat pembelajaran micro teaching. Merupakan salah satu materi yang harus dikuasai oleh
mahasiswa agar bisa melanjut ke PPL (Praktek Pengalaman Lapangan).
C. TUNTUTAN KETERAMPILAN GURU DI MASA MENDATANG
Guru adalah seseorang yang memiliki keahlian dan kemampuan mengajar. Guru juga
memiliki tuntutan dalam profesinya agar diakui menjadi guru yang layak dan baik, serta
62
untuk pantas disebut sebagai guru atau pendidik. Sehingga banyak sekali tuntutan yang harus
dipenuhi sebagai guru. Mulai dari penguasaan materi, keterampilan, bahkan sikap seorang
guru juga menjadi sorotan utama publik saat ini. Darmidi (2012) menjelaskan di dalam
bukunya kemampuan dasar mengajar tentang profil guru masa depan, tantangan dunia
pendidikan, dan mempersiapkan guru masa depan, yaitu sebagai berikut:
1. Profil Guru Masa Depan
Pendidikan menurut Darmadi (2012:16) merupakan suatu rekayasa untuk
mengendalikan learning guna mencapai tujuan yang direncanakan secara efektif dan efisien.
Dalam proses rekayasa ini peranan teaching amat penting. Karena merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh guru untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai kepada siswa
sehingga apa yang ditransfer memiliki makna bagi diri sendiri, dan berguna tidak saja bagi
dirinya tetapi juga bagi masyarakatnya.
Mengajar hanya dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang yang telah
melewati pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk mempersiapkan guru. Dengan
kata lain mengajar merupakan suatu profesi. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
muncul dan masyarakat berada dalam kecenderungan: Pertama, proses mengajar menjadi
sesuatu kegiatan yang semakin bervariasi, kompleks, dan rumit. Kedua, ada kecenderungan
pemegang otoritas struktural, ingin memaksakan kepada guru untuk mempergunakan suatu
cara mengajar yang kompleks dan sulit. Sebagai akibat munculnya dua kecenderungan diatas,
maka guru dituntut untuk menguasai berbagai metode mengajar dan diharuskan
menggunakan metode tersebut. Misalnya, mengharuskan mengajar dengan CBSA. Untuk itu,
guru harus dilatih dengan berbagai metode dan perilaku mengajar yang dianggap canggih.
Demikian pula, di lembaga pendidikan guru, para mahasiswa diharuskan menempuh berbagai
mata kuliah yang berkaitan dengan mengajar. Namun sejauh ini perkembangan mengajar
yang semakin kompleks dan rumit belum memberikan dampak terhadap mutu siswa secara
signifikan. Tidaklah mengherankan kalau kemudian pertanyaan mengapa mengajar menjadi
sedemikian kompleks dan rumit?.
2. Tantangan Dunia Pendidikan
Proses globalisasi merupakan keharusan sejarah yang tidak mungkin dihindari, dengan
segala berkah dan mudhoratnya. Bangsa dan Negara akan dapat memasuki era globalisasi
dengan tegar apabila memiliki pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan, terutama
ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Dalam
proses belajar mengajar tersebut guru memegang perann yang penting. Guru adalah creator
proses belajar mengajar. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi
63
siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan
kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Sekaligus
guru akan berperan sebagai model bagi anak didik. Kebesaran jiwa, wawasan dan
pengetahuan guru atas perkembangan masyarakatnya akan mengantarkan para siswa untuk
dapat berfikir melewati batas-batas kekinian, berfikir untuk menciptakan masa depan yang
lebih baik.
Tugas utama guru adalah mengembangkan potensi siswa secara maksimal lewat
penyajian mata pelajaran. Setiap mata pelajaran, dibalik materi yang dapat disajikan secara
jelas, memiliki nilai dan karakteristik tertentu yang mendasari materi itu sendiri. Oleh karena
itu, pada hakekatnya setiap guru dalam menyampaikan materi pelajaran, ia harus pula
mengembangkan watak dan sifat yang mendasari mata pelajaran itu sendiri.
Materi pelajaran dan aplikasi nilai-nilai terkandung dalam mata pelajaran tersebut
senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Agar guru senantiasa
dapat menyesuaikan dan mengarahkan perkembangan, maka guru harus memperbaharui dan
meningkatkan ilmu pengetahuan yang dipelajari secara terus-menerus. Dengan kata lain,
diperlukan adanya pembinaan yang sistematis dan terencana bagi para guru.
3. Mempersiapkan Guru Untuk Masa Depan
Sungguhpun sudah begitu banyak upaya dan kegiatan untuk meningkatkan mutu guru,
hasil-hasil evaluasi tahap akhir siswa menunjukkan bahwa nilai mereka belum mengalami
kenaikan yang berarti. Kalau kita menggunakan pola pikir linier:
Penataan Guru Mutu Guru Meningkat
Kualitas Kerja Guru Meningkat
Out Put Meningkat Mutu Siswa Meningkat
Indonesia Cerdas
Gambar 1 : Pola Pikir Linier
Sudah barang tentu dapat disimpulkan bahwa penataran yang telah dilaksanakan telah
berhasil meningkatkan mutu guru, tetapi belum berhasil meningkatkan mutu kerja guru,
sehingga mutu siswa belum meningkat. Barangkali dilihat dari semboyan PKG: Dari Guru,
Oleh guru, Untuk Guru, tujuan PKG sudah dicapai. Mungkin semboyannya perlu diubah,
menjadi: Dari Guru, Oleh Guru, Untuk Guru dan Siswa. Mengapa mutu guru telah berhasil
ditingkatkan tetapi kemampuan kerja guru belum meningkat?. Salah satu jawaban bisa kita
64
kembalikan pada salah satu karakteristik kerja guru, yakni guru adalah pekerjaan yang tidak
pernah mendapatkan umpan balik. Hal ini logis, karena tanpa umpan balik guru tidak tahu
kualitas apa yang dikerjakan, tidak tahu dimana kelemahan dan kelebihannya, dan akibatnya
guru tidak tahu mana yang perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, nampaknya di samping meneruskan kegiatan pembinaan yang telah ada
selama ini, pembinaan guru diarahkan untuk mengembangkan suatu sistem dan teknik bagi
guru untuk bisa mendapatkan umpan balik dari apa yang dikerjakan dalam proses
belajarmengajar. Dua model peningkatan mutu yang perlu dipertimbangkan adalah a)
memperkuat hidden curriculum dan b) mengembangkan teknik refleksi diri (self-reflection).
1) Hidden Curriculum
Hidden curriculum adalah proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri siswa.
Proses ini dilaksanakan lewat perilaku guru selama melaksanakan proses belajar mengajar.
Untuk menanamkan sikap disiplin, guru harus memberikan contoh bagaimana perilaku
mengajar yang disiplin. Misalnya memulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya.
Kalau guru bertujuan menanamkan kerja keras pada diri siswa, maka guru memberikan
tugastugas yang memadai bagi siswa dan segera diperiksa dan dikembalikan kepada siswa
dengan umpan balik. Pengembalian tugas-tugas siswa tanpa ada umpan balik pada kertas
pekerjaan secara langsung akan menanamkan sifat tidak usah kerja keras. Karena siswa
beranggapan kerja mereka tidak dibaca guru. Kegiatan pembinaan yang diperlukan adalah:
a) Mengkaji secara lebih dalam makna hidden curriculum.
b) Secara sadar merancang pelaksanaan hidden curriculum.
c) Mengidentifikasi momen untuk melaksanakan hidden curriculum.
2) Self-reflection
Self-reflection adalah suatu kegiatan untuk mengevaluasi proses belajar mengajar
yang telah dilaksanakan untuk mendapatkan umpan balik dari apa yang telah dilakukan.
Umpan balik tersebut antara lain berupa: a) pemahaman siswa tentang apa yang telah
disampaikan, b) perilaku guru yang tidak efisien dan efektif, c) perilaku guru yang efisien dan
efektif, d) perilaku yang perlu diperbaiki, e) perilaku yang diinginkan oleh siswa dan, f)
perilaku yang seharusnya dikerjakan. Berdasarkan self-reflection inilah guru akan
memperbaiki perilaku dalam proses belajar mengajar.
Paling tidak ada dua cara bagi guru untuk melakukan self reflection, yakni: a) guru
menampung pendapat siswa pada setiap akhir kuartal dan, b) guru melaksanakan action
research. Cara yang pertama dilakukan lewat cara guru mengembangkan
65
pertanyaanpertanyaan yang mengungkapkan bagaimana perilaku selama mengajar, dan
memberikan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk dijawab oleh siswa. Berdasarkan jawaban
tersebut guru akan mendapatkan gambaran diri pada waktu melaksanakan proses belajar
mengajar.
Selain itu guru juga diharapkan memiliki kemampuan dalam bidang teknologi
informasi dan komunikasi. Dimana pada hakikatnya kurikulum teknologi informasi dan
komunikasi menyiapkan siswa agar dapat terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia
kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan dan perubahan dalam variasi
penggunaan teknologi. Siswa menggunakan perangkat TIK untuk mencari, mengeksplorasi,
menganalisis dan saling tukar informasi secara kreatif dan tanggung jawab. Sehingga bukan
hanya dapat belajar konsep dan sikap serta keterampilan, tetapi dapat juga belajar teknologi
informasi dan komunikasi dari gurunya.
D. URGENSI KETERAMPILAN MENGAJAR BERBASIS KEARIFAN LOKAL
DAERAH
1. Pentingnya Keterampilan Mengajar Kearifan Lokal
Perenialisme memandang bahwa masa lalu adalah sebuah mata rantai kehidupan umat
manusia yang tidak mungkin diabaikan. Wagiran (2011) juga melakukan penelitian mengenai
pengembangan model pembelajaran berbasis kearifan local. Dalam penelitiannya ditemukan
hasil bahwa pendidikan berbasis kearifan sangat perlu diterapkan. Data yang diperoleh
menunjukkan bahwa sebagian besar guru (51,2 %) menyatakan bahwa pendidikan kearifan
lokal sangat penting diterapkan, 46,4 % guru menyatakan penting dan hanya 3 guru (0,9) yang
menyatakan pendidikan kearifan lokal tidak penting. Alasan terbesar yang dikemukakan adalah
agar siswa mengetahui, mengenal dan mampu melestarikan budaya bangsa. Alasan lain antara
lain:
1) melestarikan dan membentuk kepribadian jawa,
2) untuk menggali potensi daerahnya sehingga anak mampu berkreasi,
3) mengembang-kan budaya lokal,
4) melestarikan budaya bangsa,
5) mengenal dan membudidayakan potensi lokal,
6) membekali generasi muda dengan kepribadian yang kuat,
7) nilai-nilai yang baik tidak akan luntur,
8) siswa perlu mengetahui/menerapkan sopan santun dan perlu punya ketrampilan,
66
9) kita harus mengetahui budaya sendiri agar tidak diklaim negara lain,
10) memberikan contoh yang baik,
11) dapat menambah wawasan yang bermanfaat untuk lingkungan,
12) relevan dengan program sekolah,
13) supaya tidak hanya pengembangan iptek saja,
14) mengembangan pengetahuan, ketrampilan, membentuk kepribadian. Pernyataan
tentang penting-nya pembelajaran berbasis kearifan lokal tersebut sesuai dengan tujuan
pendidikan sebagai salah satu upaya pewarisan budaya.
Pernyataan tersebut didukung oleh (Daryanto, 2014:1) bahwa melalui pendidikan, nilai-
nilai luhur kebudayaan hendaknya dapat diperkenalkan kepada peserta didik serta dapat
dikembangkan sehingga peserta didik mampu menjadi pewaris yang bangga serta mampu
mengembangkan budaya bangsa. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
kearifan lokal bukan hanya tepat diterapkan dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk
meningkatkan pengetahuan siswa serta sebagai penanaman karakter dan membekali siswa
untuk menghadapi segala permasalahan diluar sekolah.
Dikarenakan penyelenggaraan pendidikan memiliki peran strategis dalam pengenalan
serta pewarisan budaya maka pembelajaran berbasis kearifan lokal sangat tepat diterapkan
disekolah. Khusunya sekolah dasar karena sekolah dasar adalah adalah tahap awal peserta
didik memperoleh pengetahuan dan sebagai dasar sebelum melangkah menuju pengetahuan
seterusnya dalam tingkatan yang lebih tinggi. Guru sebagai ujung tombak keberhasilan
pendidikan diharapkan dapat merancang atau mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan
lokal.
Padahal kearifan lokal sangat penting terintegrasi dalam pembelajaran mengingat
keberadaan nilai-nilai lokal semakin terkikis akibat pengaruh globalisasi. Menggali dan
menanamkan kembali kearifan lokal melalui pembelajaran merupakan bagian dari upaya
membangun identitas bangsa dan dapat dijadikan Meningkatkan Keterampilan Pemecahan
Masalah sebagai sarana dalam menyeleksi pengaruh budaya yang datang dari luar.
2. Landasan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Landasan yuridis kebijakan Nasional tentang pendidikan berbasis keunggulan lokal
/kearifan lokal, di antaranya:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 BAB XIV Pasal 50 ayat 5
menegaskan bahwa pemerintahkabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan menengah,
serta satuan pendidikan yang berbasis pendidikan lokal.
67
b. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 pasal 34, bahwa “Pendidikan berbasis
keunggulan lokal adalah pendidikan yang diselenggarakan setelah memenuhi Standar
Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan keunggulan kompetitif dan/atau komparatif
daerah”.
c. Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 17 Tahun 2010 pasal 35 ayat 2, bahwa “Pemerintah
kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan
pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk
dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau
berbasis keunggulan lokal”.
d. Renstra Kemendiknas 2010-2014 bahwa: Pendidikan harus menumbuhkan pemahaman
tentang pentingnya keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem, yaitu pemahaman bahwa
manusia adalah bagian dari ekosistem. Pendidikan harus memberikan pemahaman tentang
nilai-nilai tanggung-jawab sosial dan natural untuk memberikan gambaran pada peserta
didik bahwa mereka adalah bagian dari sistem sosial yang harus bersinergi dengan manusia
lain dan bagian dari sistem alam yang harus bersinergi dengan alam beserta seluruh isinya.
3. Tujuan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Pendidikan berbasis kearifan lokal tentu memiliki tujuan yang bersifat positif bagi
peserta didik, seperti dikatanakan oleh Jamal Ma‟mur Asmani (2012: 41) yang menyebutkan
beberapa tujuan pendidikan berbasis kearifan lokal yaitu:
a. Agar siswa mengetahui keunggulan lokal daerah tempat tinggal, memahami berbagai
aspek yang berhubungan dengan kearifan lokal tersebut.
b. Mampu mengolah sumber daya, terlibat dalam pelayanan/jasa atau kegiatan lain yang
berkaitan dengan keunggulan, sehingga memperoleh penghasilan sekaligus melestarikan
budaya, tradisi, dan sumber daya yang menjadi unggulan daerah, serta mampu bersaing
secara nasional dan global.
c. Siswa diharapkan mencintai tanah kelahirannya, percaya diri menghadapi masa depan, dan
bercita-cita mengembangkan potensi lokal, sehingga daerahnya bias berkembang pesat
seiring dengan tuntutan era globalisasi dan informasi.
4. Langkah Implementasi Kearifan Lokal
Di Dalam Pendidikan Sekolah berbasis kearifan lokal tidak serta merta muncul begitu
saja, melainkan terdapat proses dan langkah-langkah, sehingga suatu sekolah dapat dikatakan
berbasis kearifan lokal. Langkah-langkah tersebut mulai dari mengumpulkan berbagai jenis
68
kearifan lokal sampai pada penerapannya dalam pendidikan baik terintegrasi dalam mata
pelajaran maupun menjadi mata pelajaran pengembangan diri. Kemendiknas (2011)
menguraikan hasil analisis tentang penentuan jenis keunggulan lokal dalam implementasinya
di sekolah dalam pembelajaran, yang meliputi: inventarisasi aspek potensi keunggulan lokal,
analisis kondisi internal sekolah, analisis lingkungan eksternal sekolah, dan strategi
penyelenggaraan sekolah berbasis kearifan lokal (Zuhdan K. Prasetyo,2013:4). Penjabaran
langkah-langkah tersebut antara lain:
1. Inventarisasi aspek potensi keunggulan lokal, dilakukan dengan:
a. Mengidentifikasi semua potensi keunggulan daerah pada setiap aspek potensi (SDA,
SDM, Geografi, Sejarah, Budaya),
b. Memperhatikan potensi keunggulan lokal di kabupaten/kota yang merupakan
keunggulan kompetitif dan komparatif.
c. Mengidentifikasi dan mengumpulkan informasi melalui dokumentasi, observasi,
wawancara, atau literatur dan ;
d. Mengelompokkan hasil identifikasi setiap aspek keunggulan lokal yang saling terkait.
2. Menganalisis kondisi internal sekolah, dengan
a. Mengidentifikasi data riil internal sekolah meliputi peserta didik, diktendik, sarpras,
pembiayaan dan program sekolah,
b. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah yang dapat mendukung
pengembangan potensi keunggulan lokal yang telah diidentifikasi dan,
c. Menjabarkan kesiapan sekolah berdasarkan hasil identifikasi dari kekuatan dan
kelemahan sekolah yang telah dianalisis
3. Melakukan analisis lingkungan eksternal sekolah dengan,
a. Mengidentifikasi data riil lingkungan eksternal sekolah meliputi komite sekolah, dewan
pendidikan, dinas/instansilain,
b. Mengidentifikasi peluang dan tantangan yang ada dalam pengembangan potensi
keunggulan lokal yang telah diidentifikasi,
c. Menjabarkan kesiapan dukungan pengembangan Pendidikan berbasis kearifan lokal
berdasarkan hasil identifikasi dari peluang dan tantangan sekolah yang telah dianalisis.
Disamping itu, dalam melakukan analisis lingkungan eksternal sekolah perlu
memperhatikan tiga hal yaitu tema keunggulan lokal, penetapan jenis keunggulan lokal,
dan kompetensi keunggulan lokal.
69
4. Penentuan jenis keunggulan lokal adalah dengan melakukan strategi penyelenggaraan
pembelajaran berbasis keariafan lokal, yaitu bahwa yang menjadi acuan dalam menentukan
strategi penyelenggaraan pembelajaran berbasis keariafan lokal, adalah:
a. Untuk kompetensi pada ranah kognitif (pengetahuan) maka strateginya adalah
dengan cara mengintegrasikan pada mata pelajaran yang relevan atau melalui muatan
lokal,
b. Untuk kompetensi pada ranah psikomotor (keterampilan) maka strateginya adalah
dengan menetapkan Mata Pelajaran Keterampilan,
c. Untuk kompetensi pada ranah afektif (sikap) dapat dilakukan dengan cara
Pengembangan Diri, Mata Pelajaran PKn, Mata Pelajaran Agama atau Budaya
Sekolah dan,
d. Strategi penyelenggaraan yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan kemampuan
masing masing sekolah
Singkatnya langkah yang dapat dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
berbasis kearifan lokal adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi keadaan dan potensi daerah Mengidentifikasi potensi daerah
dipandang sangat penting untuk mengetahui potensi atau keberagaman seperti apa
saja yang berkembang dalam daerah tersebut kemudian nantinya dapatkah
diintegrasikan dalam materi pelajaran yang dilaksanakan. Kearifan lokal dapat
ditinjau dari potensi alam daerah tersebut, kepercayaan, potensi sejarah, potensi
budaya, dan lain sebagainya.
2. Menentukan fungsi dan tujuan Untuk merancang guru harus menentukan fungsi dan
tujuan apa yang hendak dicapai dalam pembelajaran berbasis kearifan lokal sebagai
batasan dan panduan. Fungsi dan tujuan ini harus dapat mengembangkan
pengetahuan, sikap serta keterampilan bagi peserta didik.
3. Menentukan kriteria dan bahan kajian Kriteria dan bahan kajian dapat meliputi
kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa, kesediaan sarana dan prasarana
yang mendukung, tidak bertentangan dengan nilai luhur kearifan lokal yang ada serta
kelayakan apabila diterapkan
4. Menyusun rencana pembelajaran Langkah yang dapat dilakukan adalah penentuan
topik keunggulan lokal yang dipilih sesuai kompetensi inti, kompetensi dasar, dan
indikator yang dikembangkan. Menelaah kompetensi inti, kompetensi dasar, dan
indikator untuk memastikan bahwa inovasi penyajian konsep sesuai dengan
70
kompetensi yang telah ditetapkan. Pengorganisasian materi atau kompetensi muatan
keunggulan lokal ke pembelajaran dan menentukan evaluasi pembelajaran untuk
mengetahui kelayakan pembelajaran.
5. Langkah tersebut adalah salah satu cara mengintegrasikan kearifan lokal dalam
pembelajaran di Sekolah Dasar. Melalui integrasi kearifan lokal ini diharapkan siswa
akan memiliki pemahaman tentang kerifan lokalnya sendiri, sehingga menimbulkan
kecintaan terhadap budayanya sendiri dan meningkatnya nilai nasionalisme siswa
terhadap budaya lokalnya akan dapat ditumbuhkan, bahkan ditingkatkan
Potensi
Daerah
fungsi dan Kearifan Kriteria dan
tujuan Lokal evaluasi
Melalui
integrasi
kearifan lokal
Gambar 2. Langkah-langkah impelementasi kearifan lokal
E. PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENGAJAR BERBASIS KEARIFAN
LOKAL
Pengembangan Keterampilan Berbasis Kearifan Lokal Jamal Ma‟mur Asmani (2012: 70)
menjelaskan beberapa alternatif kiat sukses pengembangan Sekolah berbasis Kearifan lokal
antara lain:
a. Membuat Teamwork Sekolah berbasis kearifan lokal membutuhkan konsentrasi besar,
sehingga tidak bisa dianggap sepele dan sekedar sampingan. Oleh karena itu, kepala
sekolah sangat perlu membuat team work yang khusus menangani sekolah berbasis
kearifan lokal. Tim inilah yang menggodok secara matang semua hal yang terkait
71
dengan program ini baik itu materinya, sarana prasarananya, tenaga pengajarnya,
prospek masa depannya, dan tindak lanjut ke depan.
b. Bekerja sama dengan Aparat Desa dan Tokoh Masyarakat Untuk lebih memantapkan
dan mengefektifkan program sekolah berbasis kearifan lokal, sekolah harus
mengikutsertakan aparat dan tokoh masyarakat dalam proses perencanaan, kajian, uji
coba, dan mengambil keputusan.
c. Studi Banding Studi banding ke lembaga pendidikan yang sudah sukses menerapkan
sekolah berbasis kearifan lokal bias mempercapat proses perencanaan, palaksanaan, dan
penentuan target. Studi banding dapat melahirkan imajinasi dan ide-ide segar dalam
mengembangkan sekolah berbasis kearifan lokal.
d. Membuka Pasar Kearifan/keunggulan lokal identik dengan peluang ekonomi yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dibutuhkan menajemenprofessional untuk
mengurusi hal ini. Sekolah setidaknya membuka divisi khusus untuk menangani bidang
pemasaran ini atau bekerja sama dengan pihak tertentu yang sudah professional dalam
membidangi masalah pemasaran ini.
e. Mempersiapkan Siswa-Siswi yang Terampil. Untuk menjangkau masa depan yang
kompetitif, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu, siswa-
siswi belajar di lembaga pendidikan harus mempersiapkan untuk menguasai berbagai
keterampilan.
f. Melibatkan Masyarakat Sekitar Kesuksesan sekolah berbasis kearifan lokal harus
dirasakan oleh masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, program ini harus melibatkan
partisipasi masyarakat sekitar dalam konteks perencanaan, kajian, perumusan,
penetapan, pelaksanaan, evaluasi, serta pengembangan secara intensif dan ekstensif,
sesuai dengan bidangnya masing-masing.
“Guru adalah tombak pendidikan yang menancapkan ilmu-ilmunya
yang bermanfaat bukan hanya disekolah namun di segala aspek
kehidupan siswa-siswinya”
72
BAB IV PROSES PEMBELAJARAN DI SD
A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhannya. Menurut Sardiman belajar merupakan proses
aktif dari si subjek belajar untuk merekontruksi makna, sesuatu entah itu teks, kegiatan
dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Berkaitan dengan pendapat di atas belajar merupakan
proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan untuk memperoleh pengalaman individu
dari apa yang dilihat, didengar, alami dan rasakan dalam interaksi lingkungannya yang
menyangkut pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkh laku sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Belajar merupakan kegiatan yang melekat pada diri manusia sejak lahir. Manusia
pada dasarnya berusaha belajar untuk memenuhi kebutuhan hidup agar dapat bertahan hidup
dengan cara mengembangkan semua potensi yang dimiliki. Menurut Kingsley dalam
(Djamarah, 2011:13) mengatakan Learning is the proses by which behavior is originated or
changed thrugh practiceor training. Sesuai dengan pendapat di atas belajar adalah
perubahan tingkah laku melalui praktek dan latihan. Belajar merupakan proses perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Menurut Slameto (2010:54) mengatakan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi
belajar yaitu:1) Faktor internal, adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang
belajar, yaitu faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, dan kesiapan), dan faktor kelelahan, 2) faktor eksternal, adalah
faktor yang ada di luar individu yaitu faktor keluarga (cara orang tua mendidik, suasana
rumah, keadaan ekonomi), faktor sekolah (metode belajar, kurikulum, relasi guru dengan
siswa) dan faktor masyarakat. Belajar merupakan proses perubahan yaitu perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungnnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perubahanperubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
73
Belajar adalah pemerolehan pengalaman baru oleh seseorang dalam bentuk
perubahan perilaku yang relatif menetap, sebagai akibat adanya proses dalam bentuk interaksi
belajar terhadap suatu objek (pengetahuan), atau melalui sesuatu penguatan (reinforcement)
dalam bentuk pengalaman terhadap suatu objek (pengetahuan), atau melalui suatu objek yang
ada dalam lingkungan belajar.
Menurut Slameto (2010:2) “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sabagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkungnya.” Perubahan yang di
maksud adalah perubahan yang dilakukan secara sadar, bersifat berkelanjutan, positif dan
aktif, bukan bersifat sementara, bertujuan dan terarah, mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Uno (2012:23) juga menyatakan bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif
permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced
practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Sama halnya dengan pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli diatas
yang menyatakan belajar adalah usaha mengubah tingkah laku, menurut Suryono dan
Haryanto (2012:9) “belajar adalah aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh
pengetahuan, meningkatkan keterampilan memperbaiki perilaku, sikap, dan mengkokohkan
sikap kepribadian.” Sedangkan menurut Yamin (2010:96) “belajar merupakan proses orang
memperoleh kecakapan, keterampilan dan sikap.” Menurut Hamalik (2010:27) “belajar
adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the
modification or stregthening of behaviour trough experiencing)”. Menurut pengertian ini
belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar
bukan hanya mengigat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan
suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat sisimpulkan bahwa faktor-faktor
yang menpengaruhi hasil belajar terdiri dari dua faktor yaitu: faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal adalah faktor faktor yang berasal dari dalam diri individu yang
sedang belajar yaitu fisikologis atau jasmani. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang
belajar dari luar individu seperti faktor social, budya dan lingkungan.
Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam penyelengaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian
tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan
74
lingkungan sekitarnya. Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh
pemahaman guru tentang hakikat belajar. Fungsi pemahaman guru terhadap hakikat belajar
adalah supaya dalam pelaksanaannya guru dapat mengelolah dan membimbing proses
pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar serta dapat memberikan tindak lanjutan
dalam belajar. Menurut Cronbach (dalam Suprijono 2014:2), “learning is shown by a change
in behavior as a result of experience.” Jadi, belajar adalah perubahaan perilaku sebagai hasil
dari pengalaman.
Sejalan dengan pendapat di atas Hamalik (dalam Susanto 2015:3) mengemukakan
“learning is defined as the modificator or strengthening of behavior trough experiencing.”
Maksudnya, belajar adalah memodifikasi atau memperteguh perilaku melalui pengalaman.
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan bukan merupakan suatu hasil atau
tujuan. Dengan demikian, belajar itu bukan sekedar mengigat atau menghafal saja, namun
lebih luas dari itu merupakan mengalami. Hamalik juga menegaskan bahwa belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya, yang
mencakup perubahan dalam kebiasaan (habit), sikap (afektif), dan keterampilan
(psikomotorik). Menurut Slameto (dalam Hamdani 2011:20), “belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, bahwa belajar adalah suatu proses usaha
untuk memperoleh dari interaksi dengan lingkungan maupun pengalamannya sendiri yang
mencakup pengetahuan, sikap dan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Anita E. Woolfolk(1993) menegaskan bahwa belajar terjadi ketika pengalaman
menyebabkan sesuatu perubahan pengetahuan dan prilaku yang relatif permanen pada
individu. Abin Syamudin (1981) mendefinisikan bahwa belajar adalah perbuatan yang
menghasilkan perubahan prilaku dan pribadi Santrock and Yuaen (1994) menegaskan bahwa
learning is defined as a relatively permanent change in behaviour that occurs trough
experinces. Dari ketiga definisi, ada empat kata kunci dibalik definisi kata belajar, yaitu
perubahan, pengetahuan-perilaku-pribadi, permanen, dan pengalaman. Jika dirumuskan
secara komprehensif bahwa belajar merupakan aktivitas atau pengalaman yang menghasilkan
perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat permanen. Perubahan itu dapat
bersifat penambahan atau pengayaman pengetahuan, perilaku, dan kepribadian.
75
Disamping itu ada sejumlah karasteristik perbuatan belajar yang perlu diketahui,
yaitu: pertama, perubahan yang terjadi harus bertujuan, dalam arti disengaja atau disadari,
bukan bersifat kebetulan. Kedua, perubahan itu bersifat positif, artinya bahwa perubahan itu
menjadi lebih baik sebagai mana yang dikehendaki, sesuai dengan kriteria yang telah
disepakati, baik oleh siswa (bakat, kecerdasan, atau minat), maupun guru (tuntutan
masyarakat atau kurikulum). Ketiga, untuk dapat dikatakan sebagai belajar, perubahan itu
harus benarbenar hasil pengalaman- yaitu interaksi antara individu dengan orang lain
(lingkungan), sedangkan perubahan yang diakibatkan karena kematangan, bukanlah dapat
dikatakan sebagai belajar, misalnya anak-anak dari waktu ke waktu menjadi lebih tinggi
badanya atau lebih berat timbangannya. Demikian juga perubahan yang bersifat temporer,
karena sakit, kelelahan atau lapar. Keempat, perubahan itu bersifat efektif, artinya bahwa
belajar itu menghasilkan perubahan yang berarti secara fungsional baik pemecahan masalah
akademik (ujian, tes) maupun persoalan kehidupan sehari-hari bagi kelangsungan hidup
individu.
Pada dasarnya kalau lebih dispesifikkan, bahwa perubahan yang dihasilkan dari
belajar itu adalah pengetahuan atau perilaku atau pribadi individu. Hanya saja semua
tergantung pada pandangan atau filosofi asumsi yang digunakan oleh para ahli psikologi. Para
ahli psikology kognitif menekankan bahwa perubahan yang terjadi akibat perbuatan belajar
adalah perubahan kognitif dan mereka menyakini bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental
yang tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu mereka lebih tertarik pada
kegiatankegiatan yang tidak dapat diamati, seperti berpikir,mengingat, menciptkan, dan
memecahkan masalah.
Sementara para ahli psikologi behaviour lebih setuju bahwa perubahan yang terjadi
dari hasil aktivitas belajar adalah perubahan perilaku dan penekanan adanya faktor eskternal
terhadap individu. Oleh karenanya, perubahan individu seharusnya dapat diamati.segala
perubahan yang tidak dapat dilihat dan diamati itu tidaklah dapat digolongkan segala hasil
dari aktivitas belajar.
Selanjutnya para ahli psikologi gestal lebih menekankan bahwa perubahan yang
dihasilkan dari perbuatan belajar adalah perubahan pribadi secara keseluruhan, dalam arti lain
bahwa belajar itu tidak hanya dapat dilihat akibatnya hanya dari satu aspek saja, melainkan
dari seluruh aspek individu, misalnya pikiran,emosi, perilaku dan kepribadiannya secara total.
Berdasarkan pandangan ketiga kelompok para ahli tersebut, kiranya dapat dipahami
bahwa hasil perbuatan belajar itu dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan pengetahuan
76
(knowledge), penguasaan pribadi (kognitif, afektif, psikomotorik) dan perbaikan keseluruhan
pribadi.
2. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan, yang di dalamnya ditunjang oleh
berbagai unsur-unsur pembelajaran seperti tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, sarana
dan prasarana, situasi atau kondisi belajar, media pembelajaran, model pembelajaran serta
evaluasi. Pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang kompleks yang melibatkan semua
unsur-unsur tersebut. Semua unsur-unsur pembelajaran tersebut sangat mempengaruhi
keberhasilan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa dan
untuk membantu mengembangkan potensi pada diri siswa. Pembelajaran adalah suatu
aktivitas yang dilakukan oleh guru yang telah terprogram dalam desain instruksional yang
menekankan pada penyediaan sumber belajar sehingga membuat siswa belajar secara aktif.
Proses interaksi yang dilakukan guru sebagai seorang pendidik dan murid sebagai peserta
didik dalam sebuah lingkungan belajar dinamakan dengan kegiatan pembelajaran. Guru yang
kompeten dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan membuat pembelajaran
menjadi lebih berarti bagi peserta didik.
Menurut Sagala (2009:61) “pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah,
mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh
peserta didik atau murid”. Winkel (dalam Siregar, 2010:12) mendefinisikan “Pembelajaran
adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan
memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian
kejadiankejadian intern yang berlangsung dialami siswa”.Isjoni (2011:11) mengatakan
“Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik
melakukan kegiatan belajar”. Sedangkan menurut Rusman (2012:3) “Pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana
secara efektif dan efisien”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang telah dirancang oleh guru sebagai pendidik untuk
membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar dengan menekankan penyediaan
sumber belajar dan lingkungan belajar sehingga membuat siswa belajar aktif dan dapat
terlaksana secara efektif dan efisien. Saat proses pembelajaran sedang berlangsung, dapat
77
terjadi berbagai hambatan dalam pembelajaran. Untuk dapat mengetahui dan mengatasi
hambatan-hambatan tersebut maka kita harus mengerti faktor apa sajakah yang bisa
mempengaruhi suatu proses pembelajaran. Menurut Sanjaya (2008:197) “Terdapat beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya 1) faktor
guru. Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi
pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu
tidak mungkin bisa diaplikasikan; 2) faktor siswa. Siswa adalah organisme yang unik yang
berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah
perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan
masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama; 3) faktor sarana dan prasarana.
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses
pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah, dan
lain sebagainya sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat
mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan
sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya; 4)faktor lingkungan. Dilihat dari dimensi
lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor
organisasi kelas dan faktor iklim sosialpsikologis.
Sumiati (2013:5) mengatakan “situasi pembelajaran itu sendiri banyak dipengaruhi
oleh faktor-faktor sebagai berikut: a)faktor guru. Setiap guru memiliki pola mengajar
sendirisendiri. Pola mengajar ini tercermin dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan
pembelajaran; b) faktor siswa. Setiap siswa mempunyai keberagaman dalam hal kecakapan
maupun kepribadian; c) faktor kurikulum. Secara sederhana arti kurikulum dalam kajian ini
menggambarkan pada isi atau pelajaran dan pola interaksi pembelajaran antara guru dan
siswa untuk mencapai tujuan tertentu; d) faktor lingkungan. Lingkungan ini meliputi keadaan
ruangan, tata ruang, dan berbagai situasi fisik yang ada di sekitar kelas atau sekitar tempat
berlangsungnya proses pembelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi pembelajaran yaitu diantaranya faktor guru, faktor siswa, faktor lingkungan,
faktor sarana dan prasarana dan faktor kurikulum. Faktor-faktor tersebut harus diperhatikan
demi kelancaran proses pembelajaran.
78
B. Belajar sebagai proses terpadu
Belajar sebagai proses terpadu dipahami sebagai proses yang memungkinkan
semua aspek, yang meliputi aspek fisik,sosial, emosional,intelektual, dan moral dapat
terlibat secara aktif ketika kegiatan belajar itu berlangsung. Oleh karenanya akibat
dari kegiatan belajar ini tidak hanya terhadap perubahan salah satu aspek, tiga aspek,
atau seluruh aspek. Belajar yang demikian lebih memungkinkan sekali dapat
memberikan sumbangan terhadap tujuan pendidikan nasional, yaitu manusia yang
utuh. Untuk dapat menampakkan belajar sebagai proses terpadu, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan.
Pertama, belajar dapat berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan
individu seutuhnya. sesuai dengan irama perkembanganya. Kedua, belajar sebagai
aktivitas pemerolehan pengalaman menempatkan individu sebagai pusat
segalagalanya. Dengan demikan kebermaknaan pengalaman yang ada dilingkungan
sangat tergantung pada sejauh mana pengalaman itu diapresiasiakan secara positif
oleh individu sebagai subjek belajar. Pemenuhan segala kebutuhan dan minat setiap
individu merupakan suatu yang esensial dalam kegiatan belajar. Dalam suasana yang
demikian kegiatan belajar merupakan aktivitas yang menyenamgkan dan
mengairahkan, sebab sangatlah mungkin semua aspek diri individu terundang untuk
terlibat secara total dalam proses pembelajaran. Ketiga, belajar dalam hal ini lebih
menuntut kepada terciptanya suatu aktivitas yang memungkinkan adanya lebih
banyak keterlibatan siswa secara aktif dan intensif. Upaya yang dapat dilakuakan
untuk memberikan kesempatan siswa adalah pemberian tugas proyek dan pendirian
pusat-pusat belajar yang berperan sebagai pusat sumber belajar.
Keempat, belajar menempatkan individu pada posisi yang terhormat dalam suasana
kebersamaan di dalam penyelesaian persoalan yang dihadapinya. Untuk itu dipandang
perlu belajar kooperatif menjadi bagian yang tak terpisahkan sebagai sub sistem dari
sistem pengajaran dan pendidikan.
Belajar kooperatif tidak hanya merangsang setiap individu mengoptimalkan dirinya
dalam perkembangan intelektual, karena dia di tuntut untuk berpartisipasi secara total
dalam mengiplementasikan penalarannya, melainkan juga dalam peningkatan
keterampilan sosial, karena dia selalu dituntut untuk saling membagi-bagikan
pengalamannya untuk memecahkanya. Pada kesempatan ini keterampilan
berorganisasi dipacu terus, sehingga sangat, memungkinkan anak-anak terhindar dari
kegiatan berkompetisi secara tidak sehat. Kelima, belajar sebagai proses terpadu
79
mendorong setiap siswa untuk terus menerus belajar. Dalam konteks yang demikian
siswa belajar tidak hanya sebatas berusaha untuk mendapatkan informasi, melainkan
juga yang lebih penting berusaha memproses informasi. Keenam, belajar sebagai
proses terpadu memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya pada siswa untuk
memilih tugasnya sendiri, mengembangkan kecepatan belajarnya sendiri dan bekerja
berdasarkan standart yang di tentukan sendiri. Dalam suasanya yang demikian, tidak
ada suatu penekanan sedikit pun dari luar diri siswa. Siswa sepenuhnya mendapatkan
kebebasan untuk menentukan posisinya da langkah yang tepat dan sesuai dengan
kondisi objektif dirinya. Siswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap
penggalaman belajarnya sendiri. Upaya pemberdayaan siswa mendapatkan kedudukan
yang sangat tinggi. Pada akhirnya sangatlah tergantung pada siswanya sendiri, sejauh
mana mereka mengapresiasikan dirinya.
Ketujuh, belajar sebagai proses terpadu dapat berfungsi dan berperan secara efektif
bila dapat diciptkan lingkungan belajar secara total yang tidak memberikan dukungan
fasilitas terhadap peningkatan pertumbuhan dan pengembangan salah satu aspek saja,
melainkan semua juga aspek. Dengan kata lain, lingkungan belajr yang tercipta
hendaknya sangat kondusif bgi pengembangan semua aspek individu. Hal ini jangan
di pandang bahwa keberadaan lingkungan lebih penting dari pada diri siswa,
melainkan kehadiran lingkungan yang kondusif diharapkan dapat memberikan
kebebasan siswa untuk melakukan berbagi eksplorasi dan kegiatan yang lebih berarti.
Kedelapan, belajar sebagi proses terpadu memungkinkan pembeljaran bidang study
tidak harus dilakukan secar terpisah, melainkan dilaksanakan secara terpadu.
Keterpaduan dapat dilakukan antar komponen dalam suatu studi bidan tertentu dan
antar bidang studi. Demikian pula dapat dilakukan pembelajaran terpadu dengan
bertumpu pada suatu bidang studi tertentu dan bidang studi yang lainnya hanya di
kaitkan sepanjang ada sentuhan dengan bidang studi utama. Penciptaan suasan
keterpaduan ini diharapkan sekali mampu membekali siswa kemampuan memecahkan
masalah secara holostik, karena disadari sepenuhnya bahwa pada hakekatnya bahwa
sering kali persoalan kehidupan kita tidak bersifat sederhana yang hanya bisa
diselesaikan dengan pendekatan satu disiplin tertentu, melaikan membutuhkan
keterpaduan satu disiplin dengan disiplin lainya yang sering disebut multidisipliner.
Kesembilan, belajar sebagai proses terpadu memungkikan adanya hubungan antar
sekolah dan keluarga. Kedua guru dan orangtua sama-sama memandang pentingnya
pengembangan potensi anak secara optimal. Untuk pengembangan potensi, orang tua
80
dirasa tidak cukup hanya dengan memiliki biaya pendidikan saja, akan tetapi lebih
jauh dari itu, yaitu orangtua seyongyanya perperan sebagai partner sekolah dalam
membantu pendidiakn anaknya. Dewasa ini peran akademik dan edukatif sangat
dituntut. Karena disadari bahwa keberhasilan keseluruhan aspek anak tidak cukup
hanya dengan sentuhan guru disekolah yang hanya terbatas waktunya. Anak dapat
berhasil pendidikan apabila proses pendidikan itu berlangsung secara terus menerus,
baik disekolah maupun diluar sekolah, terutama didalam keluarga, bahkan waktu
yang lama untuk setiap anak SD ketika mereka berada dirumah. Dengan demikian
sangatlah tidak diragukan bahwa keterlibatan orang tua sangat berarti bagi
keberhasilan pendidikan anak-anaknya.
C. Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Proses psikologis belajar anak
Proses psikologis belajar anak merupakan sesuatu yang tidak selalu mudah dipahami
oleh orang lain, termasuk juga guru. Begitu misterinya, sehingga tidak pernah
dijumpai satu penjelasan yang sama. Oleh karenanya berkembanglah sejumlah teori
belajar yang berusaha memahami proses psikologis belajar anak ini berdasarkan
filosofisnay masiang-masing dalam memandang keberadaan anak. Adapun teori-teori
yang akan dibahas dalam bagian ini, yaitu teori belajar behavioral, teori belajar sosial,
teori belajar kognitif, dan teori pemrosesan informasi.
a) Teori belajar behavioral
Dalam teori belajar ini ada sejumlah prinsip yang perlu dikaji lebih mendalam, yaitu
clasical conditioning, operant conditioning, pembentukan kebiasaan (habituation),
dan peniruan (imitation).
a) Clasical conditioning
Yang dimaksud dengan clasical conditioning adalah asosiasing respon yang
otomatic dengan stimulus baru. Dengan kata lain sebagai kemampuan menghasilkan
respon terhadap stimulus baru berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya
berualang-ulang. Oleh karena itulah contiguity memainkan peranan yang sangat
penting dalam clasical conditioning. Prinsip contiguity menegaskan bahwa
kapanpun dua pengindraan terjadi secara bersama-sama dan berulang kali, maka
keduanya akan menjadi terkait. Yang akhirnaya, bila hanya satu dari sensasi
(stimulus) terjadi, maka yang lainyan akan teringat pula (respon). Sebagai
81
perwujudannya terjadilah suatu jawaban yang otomatis. Edwin Guthri (Woolfolk,
1993) menyatakan “if you do something in a given situation, the next time you are in
that situation you will tend to do the same thing again” (jika anda melakukan
sesuatu dalam suatu situasi, kemudian kamu dalam situasi yang sama, maka anda
akan cenderung berbuat yang sama juga). Kondisi ini memang secara alamiah terjadi
pula pada anak-anak.
Kita semua telah belajar beberapa fakta disekolah melalui pasangan stimulus dan
respon yang benar secara berualang-ulang. Belajar mengeja, menghafalkan
kabupaten atau provinsi, dan mengigt-ingat perbendaharaan kata bahasa asing
merupakan contoh kotiguitas-belajar melalui assosiasi. Adanya suatu bukti suasana
keseharian dalam kehidupan anak, bahkan anda semua, yaitu ketika kita mendengar
kata “Jawa” atau “Barat”. Situasi ini terjadi disebabkan oleh seringnya kata-kata ini
di dengar dalam pergaulan sosial setiap harinya.
Selanjutnya bahwa melalui proses classical conditioning, manusia dan binatang
dapat belajar merespon secara otomatic tehadap suatu stimulus yang sebelumnya
tidak memiliki efek atau memiliki efek yang sangat berbeda. Respon sebagai hasil
belajar dapat merupa reaksi emosional, seperti : takut atau senang, atau respon
fisiologis, seperti :ketegangan otot.
Untuk memahami classical conditioning dapat di ikuti eksperimen Ivan Pavlov
sebagai pengembangnya. Pavlov mulai dengan membunyikan dan mencatat respon
anjing. Sebagai mana yang diharapkan, tidak ada air liur. Kemudian dia memberi
makan anjing. Terjadilah respon air liur pada anjing itu. Dalam potensi ini makanan
dianggap sebagai stimulasi tak bersyarat, unconditional stimulus, selama makanan
itu menyebabkan respon otomotik terhadap air liur. Air liur sebagai respon yang tak
bersyarat (unconditional respons), ketika itu terjadi secara otomatis. Pada situasi ini
tidak ada belajar atau “conditioning” yang diperlukan sebelumnya untuk
menegakkan hubungan yang alamiah antara makanan dan air liur. Suara ketukan
garpu, disisi lain, berada pada posisi netral, sebab garpu itu pada dasarnya tidak
mengundang respon.
Menggunakan tiga elemen ini-makanan, air liur, dan ketukan garpu tala-
Povlov mendemontrasikan bahwa seekor anjing dapat dikondisikan untuk
mengeluarkan liur setelah mendengar garpu diketukan. Beliau melalkukan aksi ini
denga pembuatan pasangan kaitan antara suara denga makanan. Pada permulaian
82
eksperimen, dia membunyikkan garpu tala dan kemudian memberikan makanan
dengan cepatnya kepada anjing. Setelah Pavlov mengulagi kegiatan ini berulang
kali, anjing mulai mengeluarkan air liur setelah medengar suara, tetapi belum
menerima makanan. Sekarang suara telah menjadi stimulus bersyarat (conditioned
stimulus) yang dapat menyebabkan keluarnya air liur dengan sendirinya. Respon
mengeluarkan air liur setelah suara sekarang merupakan respon bersyarat
(conditioned responses).
Generalisasi, Diskriminisasi, dan Penghilangan (Extinction)
Karya Povlov juga mengidentifikasi tiga proses lainya dalam classical
conditioning, yaitu: Generalisasi,Diskriminisasi, dan Penghilangan (Extinction)
Setelah anjing belajar mengeluarkan liur dalam merespon bunyian suara
tertentu , meraka akan juga mengeluarkan air liur setelah mendengar suara yang
lebih keras dan lemah. Proses ini disebut Generalisasi, sebab respon bersyarat untuk
mengeluarkan air luar digenerelasasikan terhadap sesuatu yang sama. Povlov juga
anjingnya deskriminasi-respon berbeda terhadap stimulus yang sama dengan
menyakinkan bahwa makanan selalu di ikuti hanya dengan satu suara, tidak dengan
suara lainya. Belajar mendiskriminasikan tergantung pada proses lainya, yang
disebut dengan penghilangan (extinction). Penghilangan (extinction) terjadi ketika
stimulus bersyarat (suatu suara tertentu) dimunculkan berulang kali, tetapi tidak
diikuti oleh stimulus tak bersyarat (makanan). Respon besyarat (air liur) hilang
secara berangsurangsur dan akhirnya hilang sama sekali.
Temuan Povlov dan orang lain yang telah mempelajari classical conditioning
mempunyai implikasi bagi guru-guru. Adalah mungkin bahwa beberapa reaksi
emosional kita terhadap berbagai situasi dipelajari melalui classical conditioning.
Misalnya, respon cemas siswa ketika dia melihat pengawas ujian dikaitkan dengan
pengalaman masa lalunya yang tidak menyenangkan dengan dia. Sekarang
keberadaan dia membuatnya cemas. Atau mungkin dia dipermalukan dengan hasil
evaluasi sebelumnya atau hasil kerja tesnya, nah sekarang ketika sedang diawasi ia
menjadi cemas. Ingat emosi dan sikap sama kedudukanya dengan fakta dan ide yang
dapat dipelajari didalam ruang kelas belajar emosional ini kadang-kadang dapat
menterfensi belajar akademik. Dengan prosedur yang sama berdasarkan classical
conditioning dapt digunakan membantu orang lain untuk belajar menciptakan respon
emosional yang lebih adaptif, sebagaimana beberapa petunjuk berikut.
83
Ada beberapa petunjuk untuk menggunakan prinsip-prinsip classical
conditioning. Pertama, kaitkanlah kejadian yang positif dan menyengkan dengan
tugas belajar. Misalnya, menekankan kompetisi dan kerja sama lebih penting dari
pada kompetisi individual, sebab beberapa siswa memiliki respon emosi yang
negatif terhadap kompetisi invidual dalam berbagai bidang studi; buatlah latihan
pembagian yang menyenangkan dengan menyuruh siswa untuk membagi kue secara
sama, kemudian memakannya dari hasil pembagian itu; dan buatlah tugas membaca
secara sukarela dengan menciptakan tempat untuk membaca yang menyenangkan
dilengkapi dengan bantal, tempat pemajangan buku dengan warna yang menarik,
dan buku-buku bacaan yang menentang.
Kedua, memberikan bantuan kepada siswa untuk menghadapi situasi yang
penuh dengan kecemasan secara sukarela, misalnya berikan tanggung jawab kepada
seorang siswa yang pemalu untuk mengajar 2 siswa lainya tentang cara
mendistribusikan baha-bahan yang berarti untuk aktivitas belajar, usahankan
menetukan langkah-langkah kecil hingga tujuan yang lebih besar, misalnya, berikan
ulang harian yang tidak nilai kemudian mingguan, untuk siswa-siswa mengalami
ganguan emosi ketika dalam situasi tes; dan jika ada seorang siswa yang takut bicara
sebelum kelas dimulai, maka berikan kesempatan siswa untuk membaca laporan
dihadapan sekelompok kecil siswa ketika sedang duduk dan berikan sekedar catatan
singkat untuk dibacanya. Setelah itu berikan kesempatan kepadanya untuk kegiatan
yang sama didepan kelas.
Ketiga, bantulah siswa mengenal perbedaan dan kesamaan di antara situasi yang
mereka dapat mendeskriminasikan dan mengeneralisasikan secara tepat. Misalnya,
jelaskn bahwa itu adalah kesempatan yang tepat untuk menolak orang asing yang
memberi hadiah, tetapi tidklah menjadi apa sekiranya pada saat itu orang itu ada, dan
yakinlah kepada siswa yang merasa cemas ketika mengambil tes ketika masuk
sekolah lanjutan dan nyatakn tes itu seperti tes prestasi belajar lainya.
b) Operant conditioning
Sejauh ini kita telah menkosentrnasikan kepada kondisi respon yang otomatik,
seperti mengeluarkan air liur dan rasa takut. Tindakan otomatik inilah yang sering
disebut sebagai respondent. Jelasnya, bahwa tidak semua belajar manusia itu bersifat
otomatik dan tak bertujuan. Pembelajar secara sadar terlibat dalam belajarnya sendiri.
Orang-orang secara aktif bertindak (“operate”) dilingkunganya untuk mencapai
tujuan tertentu atau efek tertentu pula.tindakan yang dikendalikan oleh tujuan disebut
84
operants. Proses belajar yang terlibat didalam mengubah prilaku operant disebut
operant conditioning (intrumental conditioning). Dengan demikian yang dimaksud
dengan operant conditioning (Santrock and Yussen, 1992) adalah belajar dalam hal
mana prilaku otomatis diperkuat atau diperlemah oleh consequence atau
antecendence.
Perilaku seperti respon atau tindakan, secara sederhana sebagai kata yang
seeorang lakukan didalam situasi tertentu. Secara konsektual, kita mengira bahwa
suatu perilaku terjadi melalui dua perangkat pengaruh lingkungan, pengaruh-pengaruh
yang mendahului disebut antecedent-nya dan mengikuti disebut consequencesya.
Hubungan ini secara sederhana dapat ditunjukkan dengan anticedence-perilaku-
consequence, atau A B C. Sebagai perilaku yang berlangsung terus, suatu
konsekuensi tertentu dapat menjadi antecendent dari perilaku berikutnya.
Penelitian operant conditioning menunjukkan bahwa perilaku dapat diubah
melalui perubahan ancedencent, consequences, atau keduanya. Karya yang paling
awal lebih difokuskan pada consequences.
Santrock and Yussen (1992) menjelaskan bahwa ada perbedaan utama antara
rasikal conditioning dengan operant conditioning. Pertama, perlu diketkahui bahwa
operant conditioning selalu lebih baik dari pada classical conditioning dalm
menjelaskan respon yang volumtair (otomatis), sebaliknya classical conditioning
lebih baik dalam menjelaskan respon yang tak-otomatis. Kedua, stimulus menguasai
perilaku dalam classical conditioning mendahului perilaku, sementara stimulus yang
menguasai perilaku dalam operant conditioning mengikuti perilaku. Misalnya, jika
kita mengajar seeokor anjing suatu trik, seperti belajar berguling-guling, dalam
classical conditioning kita akan menunjukkan stimulus bersyarat (seperti suara
sepajang bel dengan daging (unconditioned stimuli = UCS) sebelum anjing
menunjukan trik dalam oprant conditioning kita akan menujukkan stimulus hadiah
(daging diatas kepala, misalnya) setelah anjing mampu menampilkan trik.
Sebagai mana ada kesempatan yang terdahulu bahwa skinner menjelaskan
operant conditioning sebagai bentuk belajar yang memungkinkan consequence
perilaku mengarahkan perubahan kemungkinan kejadian perilaku. Consequences-
hadiah atau hukuman-dapat menyebabkan perilaku organisme. Pengukuhan
(reinforcement) untuk hadiah adalah suatu consequence yang meningkatkan
85
kemungkinan suatu perilaku itu terjadi. Sebaliknya, hukuman merupakan
consequence yang menurunkan kemungkinan suatu perilaku itu terjadi. Misalnya, jika
seorang dewasa tersenyum pada seorang anak dan dia terus mengajak bicara untuk
beberapa waktu, maka senyuman itu dapat memperkuat pembicaraan dengan anak.
Akan tetapi, jika seorang dewas bertemu dengan seorang anak dan mengertaknya, dan
anak itu cepat-cepat ingin meningglkan situasi itu, maka ejekan itu merupakan
hukuman terhadap anak.
Pada dasarnya, pengukuhan itu kompleks. Pengukuhan itu dapat berbentuk
positif, dapat pula berbentuk negatif. dalam pengukuhan yang bersifat positif,
frekuensi dalam suatu respon meningkatkan karena respon itu dikuti oleh stimulus
yang menyenangkan, sebagimana pada contoh tentang senyum yang meningkatkan
dan memperkuat aktiviatas bicara. Sebaliknya, pengukuhan negatif, frekuensi suatu
respon meningkat disebabkan oleh respon menghindar dari stimulus yang tidak
menyenangkan atau menbiarkan anak untuk menolak stimulus.
Secara sederhana kedua pengukuhan dapat juga dibedakan,yaiutu dalam
pengukuhan positif,sesuatu ditambahkan atau diperoleh.dalam pengukuhan
negatif,sesuatu dikurangin,ditolak,atau dijauh.Misalnya,jika seseorang anak menerima
sebuah baju dari orang tuanya karena mendapatkan nilai yang baik
disekolahnya,sesuatu telah dinaikan untuk meningkatkan perilaku prestasinya. Tetapi,
pertimbangan situasi ini, orang tua mengkritik anaknya karena tidak belajar dengan
keras. Anak itu belajar lebih keras lagi, mereka berhenti mengkritik
anaknyakritikannya telah berkurang.
Antara pengukuhan positif dan negatif mudah membingungkan, karena keduanya
melibatkan stimulus yang berlawanan dan tidak menyenangkan, seperti menampar
muka. Perlu diingat konteks ini pengukuhan negatif dapat meningkatkan
kemungkinan munculnya perilaku,semetara itu hukuman menurunkan kemungkinan
munculnya respon. Dengan kata lain bahwa penerapan pengukuhan pada hakikatnya
sangat konstekstual, tergantung situasinya. Ekstrimnya, dapata juga pengukuhan
postif yang diberikan pada situasi yang kurang tepat dapat juga justru menurunkan
kemungkinan munculnya perilaku, demikian juga pengukuhan negatif justru mampu
meningkatkan kemungkinan perilaku, jika situasi tepat sekali. Ada beberapa susunan
pengukuhan yang dapat meningkatkan efektifitas pengukuhan, diantaranya: interval
waktu, pembentukan, penjadwalan pengukuhan, dan pengukuhan primer dan
86
sekunder. Pertama, belajar adalah efisien dalam operant conditioning ketika interval
stimulus dan responnya sangat sinkat. Secara dengan aturan, bahwa belajar itu lebih
memungkinkan ketika interval stimulus dan respon lebih berdasarkan detik daripada
menit daripada jam.
Kedua, pembentukan (shaping) adalah proses menghadiahi perkiraan perilaku
yang dikehendaki. Dengan kata lain bahwa shaping itu diharapkan untuk
mengembangkan perilaku yang dikehendaki. Jelasnya, anak yang baru memasuki hari
pertama disekolah, biasanya mengalami masalah dalam mencari tempat duduk yang
cocok. Pada hari yang pertama, seorang anak masuk kelas dengan enaknya, berjalan
kesana kemari,padahal aturannya bahwa begitu masuk sekolah setiap anak diharapkan
cepat mengambil tempat duduk dan duduk dengan tenang.
Dalam suasana yang demikian, anak belajar secara berangsur-angsur di
bangkunya. Selanjutnya untuk supaya anak-anak dapat duduk dengan baik, diberikan
pengukuhan secara bertahap. Di awali dengan mendekati dan duduk disampingnya,
kemudian membrikan respon lebih dekat dengan duduk dengan waktu yang
secukupnya, dan seterusnya sampai perilaku yang dikehendaki itu nampak.
Ketiga, penjadwalan pengukuhan adalah penjadwalan pengukuhan parsial dengan
aturan-aturan yang menetukan kejadian ketika suatu respon akan dikukuhkan.
Penjadwalan didasarkan sepenuhnya atas interval waktu dan frekuensi perilaku
spesifik (penjadwalan rasio). Pengukuhan parsial (partial reinforcement or
intermittent reinforcement) adalah suatu penjadwalan pengukuhan dalam hal mana
suatu respon tidak dikukuhkan setiap waktu ketika respon terjadi. Teknik yang biasa
dalam operant conditioning adalah memulai conditioning dengan membentuk suatu
perilaku, kemudian pengukuhan perilaku secara terus menerus dan akhirnya
mengadopsi suatu intermittent schedule. Intermittent schedule pengukuhan sering kali
menghasilkan suatu perubahan, perilaku yang lebih stabil dan jangkau waktu yang
lama.
Keempat, pengukuhan primer dan sekunder. Pengukuhan positif dapat
diklasifikasikan kedalam dua kategori, yaitu pengukuhan primer dan sekunder.
Pengukuhan primer itu melibatkan penggunaan mengukuhkan yang dapat memuaskan
sendirinya tanpa melalui belajar dan lingkungannya. Misalnya, makanan, air,
kepuasan seksual. Adapan pengukuhan sekunder mendapat nilai positifnya melalui
87
pengalaman, dengan demikian pengukuhan sekunder itu dapat dipelajari atau bersifat
kondisional.
Selanjutnya perlu dimaklumi bahwan penggunaan hukaman masih terus menjadi
kontroversi, karena hukuman dapat berarti positif dan negatif. Dalam prakteknya
bahwa semuanya tergantung pada konteks penggunaannya. Walaupun demikian, para
psikolog ( Santrock and Yussen ,1992) sempat memberikan rekomendasi sebagai
berikut, pertama, hukuman dapat mengarahkan kepada perilaku melarikan diri atau
menghindar. Kedua, ketika suatu respon dikurangi dan dieliminer secara berhasil oleh
hukuman dan tidak ada perilaku alternatif yang sesuai diperkuat, maka perilaku yang
tidak disukai akan mengganti perilaku yang kena hukuman. Ketiga, seorang yang
menjalankan hukuman yang berperan sebagai suatu model perilaku agresif. Keempat,
perilaku yang disukai mungkin dapat dieliminer sepanjang perilaku itu tidak disukai.
Misalnya, seorang anak akan menghentikan hubungannya dengan orang lain ketika
dia ditampar ketika menggigit anak lainnya. Lepas dari itu semua, hukuman memiliki
beberapa sisi lain yang tidak kalah penting. Kapan hukuman itu sangat diperlukan.
Ada beberapa situasi bahwa hukuman itu bermanfaat. Misalnya, ketika pengukuhan
itu dipandang postif tidak dapat berfungsi efektif, maka hukuman dapat
dipertimbangkan dan ketika perilaku yang dihukum itu dianggap lebih distruktif
daripada hukumannya sendiri, maka proses mungkin dapat dijustifikasi. Misalnya ada
seorang anak yang memukul kepala temannya dengan penggaris meteran dari kayu,
perilaku anak ini dapat menciderai kepala anak, bahkan mungkin otaknya. Perilaku
yang membahyakan ini dapat saja diberi hukuman dengan memukul kakinya dengan
benda yang dpat menimbulkan rasa sakit, untuk supaya anak itu menjadi jera. Tentu
saja hukuman itu diharapkan tidak sampai membuat luka dan cidera pada kakinya
tindakan ini masih dapat diterima.
c) Pembentukan Kebiasaan ( habituation)
Santrock and Yussen (1992) menegaskan bahwa pembentukan kebiasaan
(habituation) adalah prestasi suatu stimulus yang terjadi berulang-ulang yang dapat
menyebabkan kurangnya perhatian terhadap stimulus. Sebaliknya dishabituation
adalah suatu minat baik yang terbaharui terhadap suatu stimulus.
Diantara peneliti perilaku biasa melakukan studi tentang kebiasaan yang terjadi,
yaitu perilaku memasukkan tangan ke mulut (perilaku memasukkan tangan ke mulut
akan berhenti ketika anak bayi itu sudah menemukan benda aslinya), kecepatan gerak
88
jantung dan pernapasan, dan ketahanan lama melihat suatu benda. Bayi yang baru
lahir dapat membiasakan stimulus yang berulang dalam setiap modalitas stimulus
penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan sebagainya. Akan tetapi pembiasaan akan
lebih sejak tiga bulan sejak pertama kelahiran. Penilaian pembiasan yang ekstensif
pada tahun-tahun terakhir telah berhasil penggunaannya sebagai ukuran kemtangan
bayi dan kesempurnaan manusia. Bayi yang memiliki gangguan otak atau menderita
sejak lahir, seperti ketidakadaan oksigen, tidak dapat melakukan kebiasaan yang baik
dan mungkin memiliki masalah perkembangan dan belajar pada akhirnya.
Pengetahuan habituation dan dishabituation dapat bermanfaat bagi interaksi
orangtua dan bayinya. Bayi itu merespon terhadap perubahan dalam stimulasi. Jika
orangtua sering mengulangi suatu stimulasi, maka respon akan turun sampai ketitik
saat kapan bayi itu sudah tidak akan merespon lagi. Dalam interaksi orangtua-bayi,
adalah penting bagi orangtua untuk melakukan suatu yang asli dan mengulanginya
sampai bayi itu merespon. Orangtua yang bijak seharusnya peka ketika bayinya
menunjukan minat dan menyadari pengulangan stimulus itu perlu baginya untuk
memproses informasi. Orangtua berhenti atau mengubah perilakunya ketika bayi itu
mengarahkan perhatiannya.
d) Peniruan ( imitation)
Albert Bandura ( Santrock and Yussen,1992) adalah salah seorang tokoh
psikologi yang sangat terkenal dalam mengenalkan konsep imitasi. Beliau
berpendapat bahwa imitasi atau modeling terjadi ketika anak-anak belajar perilaku
baru dengan melihat orang lain bertindak. Kemampuan belajar pola-pola perilaku
dengan mengobservasi dapat menghilangkan perilaku belajar yang trial dan error.
Dalam beberapa hal, imitasi membentukan waktu kurang dari operant conditioning.
Disamping itu operant conditioning, termasuk juga teori behavioral sebelumnya,
hanya memberikan penjelasan tentang belajar yang sangat terbatas, serta mengabaikan
situasi aspek yang penting, terutama pengaruh sosial terhadap belajar. Beliau
memandang bahwa faktor internal dan eksternal adalah sama-sama pentingnya.
Kejadian lingkungan faktor pribadi ( misalnya berpikir dan motifasi), dan perilaku
dapat dilihat sebagai aspek yang saling berinteraksi, dan masing-masing aspek saling
mempengaruhi dalam proses belajar.
89
Eksperimen Bandura lainnya menggambarkan bagaimana belajar observasi terjadi
dengan melihat suatu perilaku model baik yang dikuatkan dengan hadiah maupun
hukuman. Satu-satunya syarat belajar adalah bahwa individu itu dikaitkan dengan
model pada saat itu dan ditempat itu. Dalam eksperimennya, semua anak belajar
dengan melihat perilaku model, tetapi beberapa anak yang mendapatkan pengukuhan
yang menunjukan perilaku itu. Jadi dapat dipahami bahwa imitasi tidak akan terjadi
secara otomatis terjadi pada setiap individu hanya dengan mengamati model perilaku
tertentu. Tetapi perilaku yang disertai pengukuhan cenderung memberikan pengaruh
yang berarti bagi individu yang mengamati perilaku.
Ada beberapa proses spesifik yang mempengaruhi perilaku pengamat yang
mengikuti perilaku model, yaitu perhatian (attention), ingatan (retention), reproduksi
motor. Dan kondisi pengukuhan atau hadiah (incentive). Pertama, etensi ke model
sangat dipengaruhi oleh karasteristik pelaku perilak model, misalnya individu yang
menarik, hangat, dan kuat, dan unik cenderung lebih menarik perhatian daripada
individu yang dingin, lemah, dan kurang menarik.
Kedua, ingatan individu. Bahwa untuk menghasilkan perilaku model. Anda harus
mengkap informasi dan menyimpannya baik-baik dalam ingatan, sehingga pada suatu
saat dapat dengan mudah dimunculkan atau diingat kembali. Perubahan diskripsi
verbal secara sederhana sungguh dapat membantu upaya retensi.
Ketiga, reproduksi motorik. Individu yang menghadiri suatu perilaku model dan
mengingatnya baik-baik apa yang ia amati, tetapi karena keterbatasan dalam
perkembangan motorik, maka mereka tidak mampu menghasilkan perilaku model.
Keempat, kondisi pengukuhan atau intensif. Dalam beberapa hal, kita mungkin
tahu apa yang didapatkan dengan sebaik-baiknya, dan memiliki kemampuan motorik
untuk melakukan hal yang sama, tetpai kita mungkin gagal mengingat perilaku karena
tidak ada pengukuhan yang tepat.
b) Teori Kognitif
Sejak tahun 60-an dan 70-an para ahli psikologi pendidikan sudah mulai
memalingkan mukanya dari teori belajar behavioristik. Hal ini disebabkan bahwa
semakin banyak bukti emperik bahwa orang-orang itu bertindak lebih dari sekedar
merespon pengukuhan dan hukuman. Misalnya, banyak orang menggunakan sistem
90
untuk membantunya mengingat dan mengorganisasikan materi yang mereka telah
pelajari dengan caranya sendiri. Akhirnya sampai materi kesadaran bahwa belajar
merupakan suatu proses mental yang aktif, yang berkenaan dengan mendapatkan,
mengingat, dan menggunakan pengetahuan.
a) Perbedaan Pandangan Kognitif dan Behavioral
Pada dasarnya pandangan koqnitif berbeda dengan pandangan behavioral dalam
asumsinya tentang apa yang dipelajari. Pandangan kognitif meyakini bahwa pengetahuan
itu dipelajari dan perubahan dalam pengetahuan menyebabkan adanya perubahan
perilaku. Sementara itu pandangan behavioristik menyebabkan adanya perubahan
perilaku itu sendiri yang dipelajari. Keduanya meyakini bahwa para tokoh behavioristik
dan kognitif memandang bahwa pengukuhan itu penting dalam belajar, tetap kedua
memiliki alasan yang berbeda. Tokoh behavioristik menyatakan bahwa pengukuhan
memperkuat respon, sedang tokoh kognitif melihat bahwa pengukuhan sebagai sumber
umpan balik (feedback). Umpan balik ini memberikan informasi tentang apa yang
mungkin terjadi jika perilaku itu diulangi. Dalam pandangan kognitif, pengukuhan
berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian mengarahkan kepada rasa memahami dan
mendalami (sense of understanding and mastery). Misalnya, nilai A yang anda dapatkan
dari belajar keras suatu tes menceritakan kepada anda bahwa anda mengetahui cara
mengatasi materi untuk pelajaran tertentu, sehingga anda lebih yakin tentang cara anda
belajar dan anda merasa lebih menguasai materi.
Perbedaan antara pandangan kognitif dan behavioristik juga nampak pada metode yang
setiap kelompok gunakan untuk melakukan studi tentang belajar. Sebagian besar karya
yang berdasarkan prinsip belajar behavioral telah dilakukan dengan menggunakan
binatang yang dikontrol dalam laboratorium. Adapun tujuannya adalah
mengindentifikasikan aturan-aturan belajar yang bersifat umum yang akan diterapkan
untuk organisme yang lebih tinggi ( mencakup manusia dengan mengabaikan usia,
inteligensi,atau perbedaan invidual lainnya). Tokoh behavioristik yakin benar bahwa
aturan-aturan ini memprediksi dan mengontrol perubahan perilaku setiap organisme.
Tentu saja dalam prakteknya cukup potensial dipertanyakan, karena dalam batas tertentu
manusia dengan segala cirinya tidak dapat diperlakukan sama dengan binatang.
Disisi lain, tokoh kognitif memfokuskan studinya ke rentangan situasi belajar yang lebih
luas. Karena fokusnya dalam perbedaan invidual dan perkembangan dalam kognitifnya,
91
maka mereka belum mencari aturan belajar yang bersifat umum yang dapat diterapkan
baik untuk binatang maupun manusia dalam semua situasi. Inilah salah satu alasa bahwa
tidak satu model atau teori belajar kognitif tunggal yang mengwakili seluruh bidang.
b) Pengetahuan dan Pandangan Kognitif
Woolfolk ( 1993) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil belajar. Fakta, nama,
aturan, dan sebagainya, maka ketika itu kita mengetahui suatu yang baru. Pengetahuan
pada dasarnya lebih banyak dari apa yang diperoleh melalui belajar yang baru saja
berlangsung; pengetahuan juga membimbing belajar yang baru. Pendekatan kognitif
menyarankan bahwa salah satu elemen yang sangat penting dalam proses belajar adalah
apa yang individu bahwa dalam situasi belajar. Apa yang telah kita tahu menentukan
sekali terhadap apa yang akan kita pelajari, ingat dan lupa. Pengetahuan menciptakan
persepsi kita, memfokuskan perhatian kita, dan merupakan penompang ingatan.
Pada dasarnya pengetahuan itu penting sekali untuk memahami dan mengingat
informasi yang baru. Studi Recht dan Leslie (Woolfolk,1993) menyatakan bahwa
pembaca yang lemah mengetahui baseball mengingat lebih banyak daripada pembaca
yang baik dengan sedikit pengetahuan baseball. Dari hasil studi ini dapat dikatakan
bahwa memiliki dasar pengetahuan yang lebih penting daripada memiliki strategi belajar
yang baik dalam memahami dan mengingat.
c) Teori Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan anak pada kesempatan ini menekankan pada pikiran rasional
anak yang sedang berkembang dan tahap-tahap pikiran. Dalam bahasa sebelumnya,
proses kognitif dipandang sebagai mediator penting dalam mengaitkan pengalaman
lingkungan dengan perilaku anak. Sementara itu dalam bagian ini, pandangan piaget,
pikiran dipandang lebih penting sebagai mediator hubungan lingkungan dan perilaku.
Oleh karena itu pikiran sebagai fokus sentral perkembangan yang lebih daripada penentu
pelaku anak.
Dalam teori perkembangan piaget,ada beberapa komsep kunci yang perlu dipahami
yaitu, proses adaptasi ( assimilasi dan akomodasi) organisasi, dan keseimbangan.
Pertama, jika anda berkembang secara normal, mereka harus berinteraksi secara efektif
dengan lingkungannya. Adaptasi merupakan konsep piaget yang berkenanaan dengan
interaksi yang efektif anak dengan lingkungannya. Interaksi disini bersifat kognitif dan
92
melibatkan assimilasi dan akomodasi yang selalu bekerjasama. Assimilasi terjadi ketika
anak-anak itu berusaha untuk menyatukan informasi baru kepengetahuan yang sudah
ada. Sementara itu akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan diri kepada
informasi baru.
Kedua, untuk memahami dan memaknai keberadaan dunia, anak-anak secara kognitif
harus mengorganisasi pengalamannya. Organisasi merupakan konsep piaget yang
menggelompokan perilaku terpisah kedalam suatu aturan yang lebih tinggi, sistem
kognitif yang berfungsi lebih tinggi. Setiap level pikiran itu diorganisasikan. Organisasi
terjadi dalam fase-fase perkembangan dan terjadi pula pada silang fase, sesuai dengan
konteksnya.
Akhirnya, keseimbangan adalah suatu mekanisme dalam teori piaget yang
menjelaskan anak berubah dari satu fase pikiran ke fase berikutnya. Perubahan terjadi
ketika anak-anak mengalami konflik atau ketidakseimbangan dalam mencoba memahami
dunia. Akhirnya, anak memecahkan konflik dan mencapai keseimbangan pikiran.
d) Tahap Perkembangan Pikiran Piaget
Pada dasarnya tahapan perkembangan pikiran terdiri atas: tahap sensomotorik (0-
2:th), tahap preoperasional ( 2 -7 ), tahap operasional kongkrit (7-11 ), dan tahap
operasional formal (11-ke atas ). Di antara tahapan ini, yang akan diuraikan lebih detail
adalah tahap ketiga dan keempat. Hal ini disebabkan oleh relevansinya materi ini dengan
penggunanya.
Pertama, tahap sensomotorik, selama fase ini bayi mengembangkan kemampuan
untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi dan presepsi dengan gerakan
fisik dan perilakunya. Koordinasi sensasi dengan tindakan ini merupakan sumber
sensomotor. Fase ini bermula dari saat kelahiran, ketika bayi sedikit memiliki
kemampuan dalam mengkoordasikan indera dengan tindakan. Sedangkan fase ini
berakhir pada usia dua tahun ketika dia mempunyai pola-pola sensormotorik yang
kompleks dan dimulai mengadopsi simtem simbol yang primitif.
Kedua, fase preoperasiona, bahwa pada masa-masa ini konsep-konsep stabil di
bentuk, penalaran mental muncul, keakuian mulai secara menguat kemudian melemah,
dan kepercayaan magic dibangun. Fase preoperasional, tidaklah berarti banyak, tetapi
fase ini merupakan periode menunggu yang menyenangkan untuk datangnya fase
93
operasional kongkrit. Yang dimaksud dengan operasi adalah seperangkat tindakan yang
terinternalisasi, yang memungkikan anak dapat berbuat secara mental tentang sesuatu
sebelumnya telah dilakukan secara fisik. Operasi itu diorganisasikan sangat rapi dan
menyesuaikan dengan aturan-aturan dan prinsip-prinsip logika tertentu. Operasi
nampaknya dalam salah satu bentuk dalam pikiran operasional kongkrit dan dalam
bentuk lainya yaitu pikiran operasional formal. Fase preoperasional adalah pemulaan
kemampuan untuk mengkonstruk pada level pikiran yang telah mapan dalam bentuk
perilaku. Fase preoperasional juga mencakup suatu transisi dari penggunaan simbol-
simbol yang primitif sampai yang lebih canggih.
Secara ringkas dapat dirumuskan bahwa karasteristik fase preoperasional, yaitu
diantara: lebih banyak muncul pikiran simbolik dari pada sensomotorik;
ketidakmampuan untuk terlibat dalam operasi, tidak mampu membalik tindakan secara
mental, dan kurangnya keterampilan berbicara; egosentrik atau ketidakmampuan
membedakan antara perseptif dirinya sendiri dengan perseptif orang lain; dan tindakan
yang lebih bersifat intuatif dari pada logic.
Ketiga, fase operasional kongkrit. Operasi kongkrit adalah suatu tindakan yang dapat
diputar balikkan berdasarkan objek yang real dan kongkrit. Operasi kongkrit
memungkinkan anak-anak untuk mengkordinasikan beberapa karasteristik dari pada
memfokuskan satu sifat tunggal atau suatu objek tertentu. Misalnya, contoh tentang batu
bata, anak yang berada pada fase preoperasional memungkinkan untuk memfokuskan
kepada panjang, lebar, dan tinggi; anak yang berpikir operasional kongkrit selalu
berusaha mengkoordinasikan informasi tentang ketiga dimensi. Untuk memahami pikiran
operasional kongkrit sangat diperlukan ide tentang konversasi dan klasifikasi.
Konversasi itu melibatkan pengalaman bahwa panjang, jumlah, berat, luas kualiatas
dan volume objek dan subtansinya tidak berubah oleh transformasi yang berubah
penampilanya. Satu hal penting yang dibuat tentang konversasi yaitu bahwa anak-anak
tidak mengkonversasi semua kualitas atau semua tugas secara simultan. Horizontal
decalage adalah konsep piaget yang menjelaskan tentang bagaimana kemampuan yang
sama yang tidak nampak pada waktu yang sama dalam satu perkembangan. Sebagaimana
yang telah kita lihat selama fase operasional kongkrit bahwa konversasi jumlah yang
selalu nampak pertama, dan konversasi volume selalu yang terahir. Anak yang berusia 8
tahun selalu mungkin tahu bahwa sebuah tongkat panjang dapat diputar balikkan ke bola,
94
tetapi mereka tidak memahami bahwa bola dan tongkat itu beratnya sama. Pada usia
sekitar 9 tahun, anak mengenal bahwa antara bola dan tongkat beratnya sama..
Beberapa operasi kongkrit diidentifikasikan oleh piaget yang menfokuskan pada cara
yang digunakan anak-anak untuk mengajukan alasan tentang sifat-sifat objek. Salah satu
keterampilan penting sebagai karasteristik anak-anak pada fase operasional kongkrit
adalah kemampuan mengklasifikasi atau membagi sesuatu kedalam himpunan atau sub
himpunan dan mempertimbangkan saling keterhubungnya. Walaupun pikiran operasional
kogkrit itu lebih tinggi dari pada pikiran praoperasional, tetapi pikiran pada level ini
memiliki keterbatasan. Penalaran logik dapat mengganti pikiran intuitif sepanjang
prinsipprisnip yang diterapkan ke contoh-contoh yang lebih spesifik. Misalnya, anak
yang pada level operasional kongkrit tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang
diperlukan untuk menyempurnakan persamaan aljabar, yang terlalu abstrak yang berpikir
pada fase perkembangan kognitif.
Keempat, fase operasional formal memungkinkan kekuatan berpikir dapat
mengembangkan wawasan kognitif baru dan sosial. Pikiran anak-anak pada fase ini
menjadi lebih abstrak, logic, dan idealistis; lebih mampu mengkaji pikirankan tentang
dirinya, dan lebih memungkinkan dapat menginterpretasikan dan memantau dunia sosial.
Pada fase ini pula anak mulai berpikir lebih sebagai ilmuan berpikir dalam merencanakan
pemecahan masalah dan menguji alternatif penyelesaian lebih sistematis.
e) Teori perkembangan kognitif Vygotsky
Vygotsky (Santrock and Yussen:1992) menegaskan bahwa perkembangan kognitif
anak tidak akan terjadi dalam tempat yang bebas dari kehidupan sosial. Zone of proximal
development (ZPD) adalah terminologi Vygotsky untuk rentangan tugas yang terlalu
sulit bagi anak untuk dikuasai sendiri, tetapi tugas ini dapat dikuasai bila mendapatkan
bimbingan dan bantuan orang dewasa atau anak-anak yang sangat pandai. Sedangakan
tingkat tertinggi adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima anak-anak
dengan bantuan instruktur yang memimpin. Penekanan teori Vygotsky adalah pentingnya
pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitig dan peranan pengajaran terhadap
perkembangan anak.
Dalam konteks ini, praktek pembelajaran memungkinkan anak-anak dapat mencapai
tujuan melalui kolaborasi yang akrab dengan instukturnya. Instruktur akan berfungsi lebih
efektif sebagai fasilitator anak-anak, jika ia memberikan bimbingan secara terus menerus
95
dan Vygotsky berpendapat bahwa struktur mental dan kognitif anak terbentuk melalui
hubungan antara fungsi-fungsi mental. Hubungan antara bahasa dan pikiran dalam hal ini
dipandang sangat penting. Selanjutnya dianyatakan pada awalnya bahasa dan pikiran
berkembang sendiri-sendiri, namun pada akhirnya bergabung bersama-sama.
Ada dua prinsip yang mempengaruhi bergabungnya bahasa dan pikiran. Pertama,
semua fungsi mental berasal dari lingkungan eksternal dan sosial. Anak-anak harus
menggunakan bahasa dan berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka
memfokuskan dirinya keproses mentalnya sendiri. Kedua anak-anak harus berkomunikasi
secara internal dan menggunakan bahasa untuk sepanjang waktu sebelum transisi dari
percakapan eksternal ke internal. Masa transisi ini terjadi antara 3 sampai 7 tahun dan
melibatkan berbicara dengan dirinya sendiri. Setelah itu percakapn sendiri menjadi alam
kedua bagi anak anak dan mereka dapat bertindak tanpa verbalisasi. Ketika kejadian ini,
anak-anak menginternalisaikan percakapan yang egosentrik dalam bentuk berbicara dalam
hati, pada hakikatnya menjadi pikiranya. Vygotsky yakin bahwa anak-anak yang
bergabung pada jumlah percakapan yang terbuka cenderung lebih kompeten secara sosial
dari pada yang tidak pernah menggunakan bahasa secara ekstensive. Anak-anak yang lebih
banyak berpeluang mengembangkan percakapanya dengan orang yang lebih komunikatif
secara sosial.
Walapun percakapan pada anak terhadap dirinya sendiri itu dalam batas tertentu dapat
mengembangkan kemampuan berpikir anak, tetapi anak-anak yang masih berusia dini
mengembangkan percakapan dengan dirinya sendiri melebihi dari toleramsinya, maka
kondisi ini dapat mendefinisikan ketidakmatangan sosial dan kognitif anak.
Beberapa ahli dibidang perkembangan anak, terutama yang berkecambung dalam
bidang budaya dan pemkembangan, merasa sangat senang menghadapi teori Vigotsky
yang memfokuskan pada konteks sosial kultikural perkembangan anak. Beliau
menegaskan bahwa perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sosial dan
kultural. Selanjutnya beliau juga menekankan bagaimana perkembangan proses mental
yang lebih tinggi, seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan belajar
menggunakan penemuan masyarakat, seperti bahasa, sistem matimatika dan instrument
untuk mengigat. Dia juga menekankan bagaimana anak-anak itu dibantu
perkembangannya melalui bimbingan oleh individu-individu yang telah memiliki
kektkekrampilan dibidang ini.
96
Vygotsky menekankan tingkat intutisional dan interpersonal dalam konteks sosial
pada tingkat instutisional, sejarah budaya memberikan organisasi dan alat yang berguna
untuk kegiatan kognitif melalui institusi, seperti sekolah dan penemuan-penemuan, seperti
komputer dan bacaan. Interaksi insttutional memberi anak-anak norma-norma perilaku dan
sosial yang luas untuk membimbing kehidupan.
Tingkat interpersonal memiliki pengaruh yang lebih langsung terhadap fungsi mental
anak. Vygotsky (Santrock and Hussen, 1992) menegaskan bahwa keterampilan fungsi
mental berkembang melalui interaksi sosial yang bersifat segera. Dengan demikian
interaksi sosial termasuk hubungan antara guru-siswa, orangtua-anak memiliki makna
yang besar bagi pengembangan pikiran anak.
3. Pemprosesan informasi
Pemprosesan informasi anak berkenan dengan proses dasar, seperti: persepsi, perhatian,
ingatan, dan berpikir. Dalam bagian ini akan dibahas tentang hakekat pemprosesan informasi,
proses informasi dasar, proses informasi tingkat yang lebih tinggi, dan peranan pengetahuan.
Pertama, pendekatan pemprosesan informasi adalah suatu kerakangka dasar untuk
memahami cara anak belajar dan berpikir. Diasumsikan bahwa untuk memahami belajar dan
berpikir anak, kita perlu menganalisis tentang cara anak-anak mendapatkan informasi,
menyimpan informasi, dan mengevaluasi, untuk tujuan tertentu. Prinsip belajar tradisional
sedikit sekali menaruh perhatian terhadap peran mental dan pikiran anak, tetapi teori piaget
justru lebih banyak menekankan pentingnya mental dan pikiran dalam belajar. Walaupun
demikian teori piaget belum lengkap, karena deskriptipsinya hanyalah bersifat umum.
Demikian juga dia tidak menceritakan banyak tentang bagaimana anak membaca,
memecahkan masalah matematika, belajar fakta ilmiah baru atau menyusun essay.
Kerangka pikir pemproses informasi mencoba untuk mengkoreksi pendapat teori belajar
tradisional dan teori piaget tentang perkembangan. Kerkangka ini menjelaskan proses mental
dan memberikan detel yang lebih spesifik tentang proses belajar dalam situasi kongkrit.
Dimana mungkin, deskripsi-deskripsi ini mencakup analysis semua langkah yang diperlukan
untuk menyelesaian suatu tugas, proses mental yang spesifik diperlukan untuk
menyempurnakan langka-langkah ini, dan estematis matematis yang tepat tentang berapa
kerasnya dan betapa lamanya pikiran itu harus bekerja untuk menuntaskan langka-langkah
ini. Para ahli psikologis memproses informasi sering kali mencoba untuk menulis program
97
komputer untuk menampilkan langka-langkah yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
Model komputer tentang bagaimana sesuatu itu dilakukan oleh ilmuan secara tepat.
Komputer pada dasarnya adalah mesin yang “bodoh”. Komputer-komputer itu akan bekerja
tergantung pada apa yang dipeprintahkan oleh programnya. Akhirnya dapat dikatkakan pada
pemprosesan informasi telah menjabarkan secara deteil tentang proses mental yang melandasi
belajar dan berpikir dalam situasi yang sangat spesifik dan mencontohkan langkah-langkah
yang spesifik diperlukan untuk menyempurnakan suatu tugas yang menggunakan program
komputer dan estimasi matematis tentang aktivitas mental.
Kedua, pada dasarnya ada dua proses yang diperlukan bagi anak untuk memproses informasi
tentang dunianya, yaitu perhatian dan ingatan. “coba perhatikan” merupakan frase yang
sering didengar anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian (attention) adalah
konsentrasi dalam pemusatan kegiatan mental. Perhatian juga bersifat selektif dan berubah.
Maksudnya bahwa perhatian itu akan tetap bertahan lama apa bila yang menjadi pusat
perhatian itu sesuatu yang selektif. Demikian juga, perhatian itu dapat dengan perpindah dari
satu stimulus ke stimulus lainya, terutama stimulus yang kedua iti bersifat lebih penting.
Ingatan (memory) adalah bekerja dengan setiap kata yang diucapkan. Untuk belajar dan
penalaran yang sukses, anak-anak perlu memengaggang erat-erat informasi yang telah
didapatkan mencari kembali informasi yang telah disimpan lama. Ada dua sistem ingatan
yang penting, yaitu ingatan jangka pendek dan jangka panjang.
Ketiga pada dasarnya ada tiga tema dalam proses kognitif tingkat tinggi,yaitu pemecahan
masalah (problem solving), pemantauan kognitif (cognitif monitoring), dan berpikir krisis
(critical thinking). Pemecahan masalah merupakan upaya menemukan suatu cara yang sesuai
untuk mencapai suatu tujuan ketika tujuan itu tak tersedia. Pemantauan kognitif (cognitive
monitoring) adalah proses pengambilan bahan tentang apa yang baru saja dilkukan, apa yang
akan dilaksanakan berikutnya, dan sejauhmana efektivitas kegiatan itu dilaksanakan.
Kemudian, berpikir kritis (critical thinking) adalah mencoba mencari makna yang lebih
mendalam tentang persoalan, menjaga keterbukaan atau kebebasan dalam merumuskan
pendekatan dan perseptif yang berbeda, dan berpikir reflektif dari pada menerima pernyatan
serta melaksanakn prosedur tanpa pemahaman yang berarti.
Keempat, untuk memahami kehidupan anak sehari-hari sangatlah tergantung pada
pengetahuan anak tentang orang, tempat, sesuatu lainya. Efisiensi dan efektivitas kegiatan
anak sangatlah tergantung atas pengetahuan awal yang dimiliki oleh anak tentang aktivitas
98
itu. Apabila anak memiliki pengetahuan yang terbatas, maka sangatlah mugkin individu
mengalami kesulitan menghadapi persoalan kehidupannya.
Ada beberapa aspek yang sangat penting dalam memahami peranan pengetahuan dalam
aktivitas kognitif anak, yaitu konsep, jaringan semantik, skema, dan pengetahuan
metakognitif. Konsep merupakan suatu kategori yang digunakan untuk mengelompokan
objek, peristiwa, dan karkasteristik berdasarkan sifat-sifat umum. Konsep dipandang penting,
karena konsep memungkinkan untuk mengaitkan pengalaman dengan objek.
Selanjutnya, jaringan semantik adalah penyimpanan informasi umun yang diorganisasikan
dalam ikatan. Jaringan semantik secara beransur-ansur tumbuh menjadi lebih besar dan
komplek sebagaimana anak berkembang. Seiring dengan anak-anak menjadi bertanbah usia,
besar dan kompleksitas jaringan membantu anak-anak menghubungkan beberapa idenya
secara tepat dan semua ide yang ada harus diwujudkan untuk memenuhi apapun tugas yang
dianggap perlu.
Skema adalah informasi-konsep, peristiwa,pengetahuan yang telah ada dalam jiwa individu.
Skema mempengaruhi bagaimana seorang anak yang menginterprestasi informasi baru.
Skema berasal dari pertemuan terdahulu dari lingkungan dan mempengaruhi cara anak-anak
membuat kode, membuat kesimpulan dan menelusuri informasi. Anak-anak telah memiliki
skema untuk cerita, lay-out ruangan, dan kejadian-kejadian umum.
Berikut, pengetahuan metakognitif adalah segmen pengetahuan dunia yang diperoleh yang
melibatkan masalah-masalah kognitif. Ini adalah pengtahuan anak-anak akumulasikan
melalui pengalaman dan dikumpulkan dalam memori jangka panjang yang berkenan dengan
pikiran manusia dan pekerjaannya. Berdasarkan salah satu tokoh psikologi perkembangan
kognitif, John Flavell (Santrock and Yussen, 1992) bahwa pengetahuan kognitif dapat dibagi
kedalam pengetahuan tentang orang (dirinya sendiri dan semua manusia), tugas dan strategi.
Kelima, perbedaan individu dalam pemrosesan informasi, adalah disadari bahwa terjadi
perbedaan individu dalam suatu kelas tentang kemampuannya memproses informasi. Ada
anak-anak yang begitu cepat menyesuaikan diri di dalam ruang kelas, demikian juga terhadap
bidang akademiknya. Perbedaan individu dalam konteks ini dapat juga sangat besar
bergantung pada gaya kognitif (cognitive styles), yaitu cara-cara individu yang secara umum
konsisten untuk memproses informasi. Gaya kognitif sangat ditentukan tidak hanya oleh
perhatian individu terhadap tugas, keterampilan organisasional, dan strategi kognitif, tetapi
juga kepribadian dan motivasi seseorang.
99
D. Kharakteristik Belajar Anak Sekolah Dasar
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa
usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi
kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu
didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat
mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi
tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu,
perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah
dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan
teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi
terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua
dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak
usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi,
mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan
kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap
ruang dan waktu. Cara Anak Belajar
Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan
dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap
anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam
pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman
tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan
konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep
dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus
menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan
cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan
lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh
aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin
100