dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan
lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak
mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara
objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang
unsurunsur secara serentak, (2) mulai berpikir secara operasional, (3) mempergunakan cara
berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan
mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan
hubungan sebab akibat, dan (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar,
luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia
sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang
dapat dilihat, didengar, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan
hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan
keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih
bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini
melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke khusus.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari
halhal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut,
maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan
keluasan serta kedalaman materi
Belajar dan Pembelajaran Bermakna
101
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah
laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak
dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi
bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa
aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar
terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi
baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya
hubungan antara aspekaspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-
komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar
menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan
menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga
konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan
demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan
menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara
harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Dengan
kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya
dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan guru menjelaskan.
Pembelajaran yang diberikan kepada siswa sekolah dasar adalah pembelajaran tematik.
Pengertian Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar
dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya
dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu
yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan
pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan
akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
102
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar
antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain
dengan pengalaman pribadi siswa;
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam
konteks tema yang jelas;
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk
mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari
matapelajaran lain;
7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat
dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya
dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat
yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme
memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian
sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai
kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau
bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek,
fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja
dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing
siswa.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus
menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam
perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi
keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
103
Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi
perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan
terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa
agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran
tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau
peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan
yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan
bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya
(pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa
setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan
sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara
aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung
dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.
Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari
dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini
dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa
pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan
sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang
pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman
belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran
lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema,
sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan
penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai
dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu
keutuhan (holistik).
104
Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) pengalaman dan kegiatan belajar
sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2)
kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat
dan kebutuhan siswa; 3) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa
sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) membantu mengembangkan keterampilan
berpikir siswa; 5) menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) mengembangkan
keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap
gagasan orang lain.
Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa
manfaat yaitu: 1) dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi
mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi
bahkan dihilangkan, 2) siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab
isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, 3)
pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan
materi yang tidak terpecah-pecah. 4) dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka
penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar
sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-
kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. 2. Memberikan pengalaman
langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct
experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata
(konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
105
3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan
dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut
secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari
satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan
kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan
minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
Adapun rambu-rambu pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:1) Tidak semua mata
pelajaran harus dipadukan,2) dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas
semester,3) kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk,
dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara
tersendiri,4)kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan
baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri,5) kegiatan pembelajaran
ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai
moral,6) Tematema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan,
dan daerah setempat.http://uptdpendidikan3.blogspot.com/2010/01/karakteristik-
perkembangan-anakusia.htm
106
5.Implikasi Proses Pembelajaran Anak Sekolah dasar
Perbuatan belajar tidak hanya diorientsikan kepada pembentukan dan peningkatan salah satu
aspek individu saja, melainkan juga keseluruhan aspek individu. Dengan demikian kurikulum
yang dikembangkan diharapkan hendaknya memberi kemungkinan yang seluas-luasnya untuk
pengembangan semua bidang pengembangan fisik, emosi, sosial, dan kognitif melalui
pendekatan terpadu. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah adanya kejelasan tentang
kesesuaian-kesesuaian antara isi kurikulum usia dan tingkat kemampuan anak. Dalam
implementasi dan pengembangan kurikulum di kelas guru harus benar-benar memanfaatkan
hasil observasi dan catatan tentang heteroginitas kemampuan, minat dan tingkat kemajuan
perkembangan anak. Informasi ini sangat bermanfaat bagi guru, ketika guru mendisain
rencana pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan anak, sebab materi yang dikembangkan
dalam format yang demikian, sangat memungkinkan lebih mampu menjaga relevensinya
dengan kebutuhan siswa. Materi pembelajaran yang relevan sangat mendukung terciptanya
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa.
Kebutuhan pengembangan anak yang tidak dibatasi oleh pencapaian prestasi
akademik saja, tetapi juga aspek sosial dan emosional, mendorong guru untuk menjadikan
belajar sebagai proses interaktif. Proses interaktif diharapkan tidak hanya dibatasi oleh
adanya kontak dengan teman, orang dewasa, melainkan juga dengan lingkungan sosial dan
fisik secara luas. Kondisi dan situasi ini menuntut siswa untuk mengerahkan semua aspek
dirinya untuk terlibat secara total memanfaatkan interaksi sosial dalam mencapai pemecahan
masalah. Keberhasilan kegiatan ini sangat menuntut adanya keterlibatan diri secara intensif
dan total serta memerlukan adanya keberanian sosial kreatif. Bahan-bahan untuk semua
bidang studi yang dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran di kelas hendaknya benar-
benar disesuaikan dengan tingkat perkembangan seluruh aspek individu serta kehidupan anak-
anak, terutama latar belakang sosial dan ekonominya. Perlu disadari bahwa heteroginitas
anak-anak di lapangan yang tersebar di Indonesia merupakan realita yang tidak dapat
dihindari, sehingga guru seharusnya mampu mengakomodasikan segala perbedaan dengan
menciptakan materi pembelajaran yang relevan, sehingga kegiatan pembelajaran lebih
menarik bagi anak dan dapat mencapai keberhasilan, terutama yang diinginkan oleh sebagian
besar anak SD. Pembelajaran perlu diperbaiki bagi keseluruhan kelas di SD, guru hendaknya
terus-menerus melakukan pemantuan secara langsung di kelas dan di luar kelas, karena bisa
jadi banyak umpan balik yang ditemukan. Hasil pemantuan dan umpan balik dari siswa
107
seringkali sangat bermanfaat bagi pengembangan program, yang pada akhirnya dapat
mengoptimalkan proses pembelajaran.
Ada beberapa model pembelajaran yang dapat dipilih untuk mengembangkan
kegiatan pembelajaran, apakah itu model behavioral,model kognitif, ataupun model
pemrosesan informasi. Pada dasarnya tidak ada satu-satunya model yang sangat efektif yang
dapat dipilih untuk semua jenis pembelajaran, sebab pada prakteknya model yang dipilih itu
bersifat kontekstual. Namun mengingat tujuan pendidikan nasional itu diharapkan dapat
membentuk manusia seutuhnya, maka model pembelajaran yang dipilih hendaknya
benarbenar mengarahkan kepada pengakuan keberadaan individu sebagai manusia utuh, dan
arah peningkatannya tidak hanya dibatasi pada salah satu aspek saja, melainkan semua aspek
individu. Selain model pembelajaran, jenis aktivitas yang dirancang oleh guru hendaknya
tidak berwujud kegiatan yang kurang menantang, melainkan kegiatan yang benar-benar
memiliki nuansa yang menantang anak untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
moralnya. Kegiatan ini tentunya bukanlah berwujud kegiatan yang rutin, melainkan kegiatan
yang memiliki variasi yang bermakna, terutama kegiatan yang mampu merangsang anak
untuk mengembangkan kreativitasnya.
Guru sangat diharapkan selalu siap memposisikan dirinya sebagai fasilitator dan motivator
dalam kegiatan pembelajaran Sebab peran yang sedemikian akan terus dapat menjaga
keasikan siswa dalam kegiatan pembelajaran Kesempatan yang seluas-luasnya hendaknya
tetap diberikan kepada siswa untuk memilih kegiatan dan materi, serta fasilitas yang tersedia
guna tercipta kegiatan pembelajaran yang efektif. Untuk mencapai kebermaknaan dalam
berbagai kegiatan siswa, kegiatan siswa yang diciptakan hendaknya melibatkan seluruh aspek
mental, fisik, sosial, dan moral siswa. Dengan demikian guru hendaknya siap menyediakan
materi yang kaya akan variasi kegiatannya.
E. Hubungan Karakteristik siswa Sekolah Dasar dan Kearifan Lokal
Karakteristik siswa sekolah dasar yang relevan dangn kearifan lokal yakni, Menurut teori
Ausubel dalam (Trianto, 2009) menyatakan bahwa pembelajaran bermakna merupakan suatu
proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur
kognitif seseorang. Melalui pembelajaran bermakna konsep-konsep baru tersebut benar-benar
terserap oleh siswa yang sesuai dengan kehidupan siswa saat ini.
108
Aka tetapi, Kehidupan siswa saat cenderung dengan kehidupan maya atau social media ,
seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan setiap individu maka
terciptalah ponsel yang memiliki fungsi lebih dari sekedar perangkat komunikasi, belakangan
ponsel jenis ini diberi nama smartphone. Smartphone memiliki kegunaan yang lebih
bervariasi, selain fungsi utamanya sebagai alat komunikasi juga bisa digunakan untuk
membaca artikel di website, membuka dokumen, bermain game, menonton video, dan masih
banyak kegunaan lainnya yang bisa dilakukan oleh perangkat smartphone.
Hal ini menjadikan remaja asyik dengan dunianya dan dirinya sendiri dengan
mengabaikan lingkungan di sekitar. Ia fokus pada permainan game, menonton video, atau
membuka akses lain di internet. Remaja menjadi kecanduan gadget yang bukan sebatas pada
alat komunikasi semata. Menengarai persoalan atas fenomena perilaku remaja yang kurang
baik di atas, berbagai penyebab dapat diidentifikasi akibat pengaruh gadget, lingkungan,
ataukah pendidikan di sekolah yang kurang menumbuhkan karakter positip bagi anak. Untuk
itu, pendidikan karakter perlu dikuatkan dalam upaya mencegah tumbuhnya karakter yang
kurang baik bagi generasi muda, khususnya melalui pengenalan nilai-nilai budaya berkearifan
lokal.
Nilai yang tumbuh dalam masyarakat dan diterima dengan baik akan menjadi suatu
pedoman dalam menjalani kehidupan bersama. Adisusilo (2012:56) mengartikan nilai
sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat, dan paling benar menurut keyakinan
seseorang atau sekelompok orang. Karena nilai dianggap memberi manfaat dan dianggap
baik, maka menjadikan nilai tersebut dihargai, dihayati dan diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Nilai yang dihargai dan dijunjung tinggi oleh masyarakat akan
mewarnai kehidupan masyarakat yang menjalaninya. Tentu saja hal ini menjadikan nilai
bukan sekedar keyakinan, namun merupakan urat nadi dalam menjalani kehidupan. Nilai
yang diyakini dan menjadi petunjuk bagi setiap orang selalu berkaitan dengan hal-hal yang
positif, keluhuran budi, dan kebaikan.
Untuk itu, Esteban (1990) menganggap nilai sangat dekat dengan moral. Menurutnya,
nilai selalu berhubungan dengan kebaikan, kebajikan, dan keluhuran budi yang akan selalu
dikejar oleh seseorang agar ia menjadi manusia yang sebenarnya; yakni manusia yang
mampu memberi kebaikan pada orang lain. Berbicara tentang nilai, maka setiap masyarakat
memilikinya. Selanjutnya nilai ini akan mengatur sistem kehidupan berdasarkan sistem nilai
yang diberlakukan. Keadaan inilah yang melahirkan kearifan lokal di setiap masyarakat yang
memiliki sistem nilai yang berbeda. Setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang berbeda.
109
Keraifan lokal dibangun dan ditumbuhkan dari pandangan hidup dan nilai-nilai yang menjadi
pedoman masyarakat dalam menyelenggarakan kehidupannya.
Oleh karena itu, kearifan lokal merupakan salah satu bentuk budaya. Kearifan lokal oleh
Akhmar dan Syarifudin (2007) diartikan sebagai tata nilai atau perilaku hidup masyarakat
lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat hidupnya secara arif bijaksana. Secara
substantif kearifan lokal merupakan nilainilai yang berlaku dalam tatanan masyarakat, yang
kebenarannya menjadi pedoman dalam bertingkah laku sehari-hari (way of life). Penguatan
Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal diajarkan secara turun temurun dan
diwariskan dari generasi ke generasi, dimulai dari kelauarga hingga di dalam masyarakat.
Adapun kearifan lokal dapat diwujudkan dalam bentuk benda (tangible) dan tak benda
(intangible), misalnya bahasa, sastra, kesenian, upacara, adat istiadat, keris, dan sebagainya.
Pengenalan terhadap kearifan lokal, seperti berupa benda keris berdasarkan nama, bentuk,
fungsi, manfaat, serta maknanya sejak kecil yang ditumbuhkan dari keluarga akan
menjadikan anak mengenal, memahami dan mencintai benda yang dimaksud. Demikian
halnya pengenalan terhadap kesenian, tari misalnya. Dengan mengenalkan anak pada sebuah
kesenian tari tertentu akan membangun karakternya.
Landasan dibutuhkannya kearifan lokal pada siswa sekolah dasar merujuk pada hasil
penelitian, Iryanti (2017) menunjukkan bahwa siswa yang dikenalkan dan diajarkan terhadap
sebuah kesenian tari, seperti Tari Manggala Yudha yang mengandung nilai filsafat nasionalis
akan terbawa dalam kehidupannya. Menurut penciptanya Tari Maggala Yudha
menggambarkan para pasukan perang yang sedang menjalankan perintah raja untuk
berperang mempertahankan keraton. Gerakan terian sangat menggambarkan sikap sesuai
karakter cerita, yakni tegas. Jadi karakter dalam Tari Manggala Yudha memiliki nilai-nilai
seperti kepatriotan, tanggung jawab serta kewibawaan. Kearifan lokal juga dapat berupa
bahasa. Berbahasa bukan sebatas berkatakata untuk menyampaikan maksud dan pesan yang
diwadahinya. Berbahasa juga mengandung maksud berinteraksi dan bersosialisasi antar
individu, dengan kelompok dan masyarakat. Untuk itu, dalam berbahasa juga dimaksudkan
untuk menjaga keharmonisan hubungan dalam bertetangga, dalam keluarga, dan sistem
kemasyarakatan yang berlaku.
Nilai-nilai pendidikan tersebut ditumbuhkan selama berlangsungnya komunikasi, baik
dari aspek religi, sosial, moral, emosional, intelektual, dan kultural pada mitra tutur,
khususnya dalam keluarga (Iswatiningsih, 2016). Mengingat masyarakat Indonesia yang
majemuk/ multikultural, maka pemahaman masyarakat terhadap kearifan lokal dalam
menguatkan kebersamaan dan persatuan bangsa ini perlu dipahamkan, diwariskan, dan
110
diajarkan dalam pendidikan, baik formal maupun informal. Keluarga, masyarakat, dan
sekolah mampu menyosialisasikan serta menginternalisasikan kearifan lokal secara nyata
melalui tindak berbahasa santun dan edukatif.
F. Penanaman Karakter Pada Siswa Terhadap Kearifan Lokal Sumatera Utara
Implementasu dalam kearifan lokal berfungsi untuk melestarikan kearifan lokal dalam
perspektif keberlanjutan budaya dan aset kebudayaan daerah setempat (Respandi, 2009)
dimaksudkan untuk:
1) menjaga kelestarian kearifan lokal dengan menjaga norma adat dan tradisi budaya sebagai
bagian dari peraturan perundangan,
2) proses perencanaan penataan lingkungan hunian dan kawasan produktif lainnya,
3) menetapkan kawasan pusaka budaya sebagai kawasan strategis untuk kepentingan
sosialbudaya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan,
4) mendorong berkembangnya kegiatan yang dapat menunjang karakter dan kualitas kawasan
pusaka.
Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal pengelompokan
kearifan lokal berdasarkan jenisnya, dibedakan menjadi lima kategori, yakni (a) makanan, (b)
pengobatana (c), teknik produksi, (d) industri rumah tangga, dan (e) pakaian. Untuk itu, tujuan
melestarikan kearifan lokal pada kategori iniadalah mengembangkan dan mendayagunakan
untuk kepentingan masyarakat. Dalam lingkup budaya, dimensi fisik dari kearifan lokal lebih
komprehensif, yakni meliputi aspek: (1) upacara adat, (2) cagar budaya, (3) pariwisata alam,
(4) makanana tradisional, (5) permainan tradisional, (6) prasarana budaya, (7) pakaian adat, (8)
warisan budaya, (9) museum, (10) desa budaya, (11) kesenian dan kerajinan,(Wagiran, 2012).
Gambar 1. Kearifan lokal dan 1p1o1tensi budaya Sumatera Utara
Untuk itu, tujuan melestarikan kearifan lokal adalah upaya menjaga, melestarikan, dan
mengembangkan aspekaspek rincian budaya tersebut. Tujuan secara hakiki dari upaya
pelestarian budaya kearifan lokal adalah memberikan nilai pendidikan dan pegetahuan pada
generasi selanjutnya. Selain itu, juga mendukung nilai kebudayaan dan pariwisata apabila
dapat mengelola dan mempromosikan dengan baik.
Beberapa kearifan lokal yang sampai saat ini masih dipertahankan di masingmasing
masyarakat adalah bercocok tanam/ bertani secara tradisional. melakukan tradisi saat akan
memulai bercocok tanam. Mereka berharap untuk keselamatan dan hasil padi yang melimpah
(Novella, 2018). Salah satunya yakni suku batak yang terdapat di beberapa Kota/Kab yaitu
Kab.Mandailing Natal (Madina), Kota Padangsidimpuan, Kab. Padang Lawas Sumatera Utara.
Ada sebuah tradisi gotong royong yang dikenal dengan istilah marsiadapari atau ada juga yang
menyebutnya marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa. Marsiadapari artinya kumpulan
beberapa orang yang bergotong royong memberikan bantuan tenaga atau jasa dalam sebuah
kegiatan, salah satunya saat penanaman padi. Mulai dari mencangkul hingga masa panen tiba.
Masyarakat melakukannya bersama secara bergiliran di ladang masing-masing.
Di beberapa wilayah pedesaan, masyarakat yang masih berprofesi sebagai etani akan
melakukan tradisi saat akan memulai bercocok tanam. Mereka berharap untuk keselamatan
dan hasil padi yang melimpah (Novella, 2018). Salah satunya yakni suku batak yang terdapat
di beberapa Kota/Kab yaitu Kab.Mandailing Natal (Madina), Kota Padangsidimpuan, Kab.
Padang Lawas Sumatera Utara. Ada sebuah tradisi gotong royong yang dikenal dengan istilah
marsiadapari atau ada juga yang menyebutnya marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa.
Marsiadapari artinya kumpulan beberapa orang yang bergotong royong memberikan bantuan
tenaga atau jasa dalam sebuah kegiatan, salah satunya saat penanaman padi. Mulai dari
mencangkul hingga masa panen tiba. Masyarakat melakukannya bersama secara bergiliran di
ladang masing-masing.
Gambar 2. Adat Suku Batak Marsiadapari dalam menanam padi
di masyarakat Tarutung.
112
Tradisi ini memungkinkan masyarakan berhemat uang dan mempercepat pekerjaan yang
dilakukan pada saat menanam padi tentunya. Marsiadapari juga dilakukan saat ada kegiatan
adat, seperi mendirikan rumah (pajongjong jabu sibagandingtua), kemalangan (marsitaonon),
pesta unjuk dan lain sebagainya. Itu sebabnya ada sebutan “Si solisoli do uhum, si adapari do
gogo” artinya, kau beri maka kau akan diberi, baik sikap ataupun tenaga juga materi. Dengan
hukum ini, sesuatu yang berat akan terasa ringan, dan yang ringan terasa tak masalah
“tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Melalui tradisi anak tidak hanya belajar nilai
katrakter tanggung jawab, gotong–royong dan toleransi tetapi, perhitungan, kebahasaan dan
ikut melestarikan langsung kebudyaan batak mandailing khas Kabupaten Mandailing Natal,
Provinsi Sumatera Utara.
Hal ini diperkuat dengan pedapat, Lickona (2013) memaparan dengan terinci dan jelas
pentingnya karakter bagi anak, keluarga serta sistem yag dibangun dalam sekolah. Secara luas
dan teknis, Lickona menjelaskan materi atau konten karakter yang penting dikembangkan di
sekolah dan keluarga. Tentu saja dibutuhkan kesungguhan dan pendampingan yang terus
menerus kepada anak dalam menguatkan pendidikan karakter agar benar-benar
terinternalisasikan dalam kehidupan seharihari.
“Guru sejati adalah yang mampu menghidupkan cinta daalam
sanubari murid-muridnya untuk mencintai seluruh yang ada
disekitarnya baik hidup maupun yang tak bernyawa”
113
BAB V
KEARIFAN LOKAL SUMATERA UTARA
A. Peraturan Mengenai Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Pendidikan merupakan wahana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana
diamanatkan dalam UUD 1945. Dalam rangka itu, pemerintah telah berupaya membangun
sektor pendidikan secara terencana, terarah, dan bertahap serta terpadu dengan keseluruhan
pembangunan kehidupan bangsa, baik ekonomi, iptek, sosial, maupun budaya. Pasal 3
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan
bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU No. 20
Tahun 2003).
Kurikulum pendidikan di Indonesia meskipun telah mengalami beberapa kali perubahan
kurikulum, pembelajaran diharapkan memuat konten etnopedagogi dimana kegiatan
pembelajaran diharuskan menekankan kearifan lokal peserta didik. Kearifan lokal menurut
Zulkarnain dan Febriamansyah (2008: 72) merupakan prinsip-prinsip dan cara-cara tertentu
yang dianut, dipahami, dan diaplikasikan oleh masyarakat lokal dalam berinteraksi dan
berinterelasi dengan lingkungannya dan ditransformasikan dalam bentuk sistem nilai dan
norma adat.
Kearifan lokal pada kurikulum 2013 dilandaskan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 menjelaskan bahwa pembelajaran
baik ditingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah sampai pada sekolah menengah atas/sekolah
menengah kejuruan harus bermuatan lokal yang merupakan bahan kajian atau mata pelajaran
pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan
keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap
keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya.
Tilaar (2015: 24) menjelaskan bahwa kearifan lokal mempunyai nilai pedagogis untuk
mengatur tingkah laku yang bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Kajian ini
sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79
Tahun 2014 pasal 2 ayat (2) menjelaskan bahwa muatan lokal diajarkan dengan tujuan
114
membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan spiritual di daerahnya. Tujuan
lainnya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang
berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Pembelajaran yang berorientasi etnopedagogi sangat penting diterapkan mengingat
Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnis yang
tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda. Kedua, globalisasi dan perkembangan
teknologi dapat menyebabkan perubahan budaya pada masyarakat Indonesia. Jika
pembelajaran berorientasi pada etnopedagogi tidak diterapkan sejak dini, maka masa yang
akan datang globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat dapat menggeser
kearifan lokal dalam masyarakat. Pergeseran ini terjadi karena tidak adanya batasan yang
jelas antara budaya lokal dan budaya asing.
Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia perlu menerapkan
pembelajaran yang berorientasi pada kearifan lokal. Sularso (2016:74) menyebutkan bahwa
proses pendidikan dengan menjadikan kearifan lokal penting untuk direalisasikan sebab
kearifan lokal sudah mulai terabaikan yang terlihat dari perilaku kehidupan sehari-hari yang
tidak mewujdukan nilai-nilai kearifan lokal dan lokalitas tergerus oleh tatanan gaya hidup
yang di dalamnya mengandung nilai pragmatiskapitalistik. Sementara itu, Syaifulloh dan
Wibowo (2017) menyatakan Syair Gulung sebagai kearifan lokal masyarakat Melayu
Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat memiliki nilai pendidikan kebencanaan.
Permasalahannya yang masih muncul, penyelenggaraan pembelajaran berorientasi pada
kearifan lokal belum berjalan optimal.
Ridwan (2014: 102) menjelaskan bahwa selama ini pendidikan dan nilai kearifan lokal
belum sepenuhnya melebur menjadi satu kekuatan baru yang tangguh di tubuh pendidikan
Indonesia. Di sekolah dasar, pembelajaran yang berorientasi kearifan lokal belum diterapkan
secara optimal meskipun sudah diterapkannya pembelajaran tematik yang dalam
pengajarannya harus memuat kearifan lokal. Temuan di lapangan, kurang optimalnya
pembelajaran berorientasi kearifan lokal disebabkan karena tidak mendukungnya sarana dan
prasarana. Oleh sebab itu, kajian ini membahas tentang media pembelajaran berbasis kearifan
lokal sebagai sarana dan prasarana yang mendukung implementasi pembelajaran berbasis
kearifan lokal khususnya di sekolah dasar.
115
B. Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
a). Pengertian Kearifan Lokal
Secara etimologi, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata, yakni kearifan
(wisdom) dan lokal (local). Sebutan lain untuk kearifan lokal diantaranya adalah kebijakan
setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) dan kecerdasan setempat
(local genious) (Shufa, 2018). Sedangkan menurut Taylor dan de Leo dalam Chaipar (2013)
menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah tatanan hidup yang diwarisi dari satu generasi ke
generasi lain dalam bentuk agama, budaya, atau adat istiadat uang umum dalam sistem sosial
masyarakat (Chaiphar, 2013).
Kearifan lokal dapat dipandang sebagai identitas bangsa, terlebih dalam konteks
Indonesia yang memungkinkan kearifan lokal bertransformasi secara lintas budaya yang pada
akhirnya melahirkan nilai budaya nasional. Di Indonesia, kearifan lokal adalah filosofi dan
pandangan hidup yang mewujud dalam berbagai bidang kehidupan (tata nilai sosial dan
ekonomi, arsitektur, kesehatan, tata lingkungan, dan sebagainya (Romadi dan Kurniawan,
2017). Dari pendapat para ahli di atas, dapat diambil benang merah bahwa kearifan lokal
merupakan gagasan yang timbul dan berkembang secara terus-menerus di dalam sebuah
masyarakat berupa adat istiadat, nilai, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, dan
kebiasaan sehari-hari.
b). Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Pendidikan, dapat disimpulkan betapa pentingnya mengenyam suatu pendidikan dalam
kehidupan. Karena melalui pendidikan seseorang dapat mengembangkan pengetahuan,
wawasan, nilai dan karakter bahkan sebagai upaya pewarisan kebudayaan. Maka pendidikan
dipandang sebagai kebutuhan penting diantara kebutuhan penting lainnya. Sebagaimana yang
tertuang dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 tentang fungsi pendidikan
bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari suatu kebudayaan yang terdapat dalam suatu
masyarakat. UU Republik Indonesia tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab
1 Ketentuan Umum pasal 1 ayat 16 menyebutkan bahwa “Pendidikan berbasis masyarakat
116
adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan
potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Selanjutnya yang tertuang dalam undang-undang tersebut Bab 3 tentang prinsip
penyelenggaraan pendidikan pasal 4 ayat 3 yang berbunyi bahwa pendidikan diselenggarakan
sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat. Undang-undang di atas dengan jelas menguraikan bahwa pendidikan pada
hakekatnya tidak hanya bertujuan untuk menciptakan manusia Indonesia yang cerdas, tetapi
juga membentuk manusia Indonesia yang berbudaya. Pendidikan tidak hanya menjadi sarana
transfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga menumbuhkan sikap cinta terhadap
budaya sendiri. Sehingga sekolah yang merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan,
memiliki peranan penting dalam proses pelestarian budaya.
Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Sudarwan Danin (2008) yang mengatakan bahwa
fungsi penyandaran atau disebut juga fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah
bertanggungjawab untuk memperhatikan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk
kesejatian diri sebagai manusia. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ribuan pulau
dari Sabang sampai Merauke yang dihuni oleh berbagai macam masyarakat atau suku yang
mempunyai bahasa dan budayanya yang khas. Budaya atau kearifan lokal di setiap daerah
membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki tingkat kemajemukan yang tinggi.
Keragaman yang terdapat dalam kehidupan sosial manusia melahirkan masyarakat majemuk
(Herimanto, 2010).
Kemajemukan ini haruslah tetap dilestarikan untuk menjaga khasanah budaya di negara
ini. Kearifan lokal merupakan segala sesuatu yang menjadi ciri khas suatu daerah, baik berupa
makanan, adat istiadat, tarian, lagu maupun upacara daerah. Jamal Ma‟mur (2012:45)
mengartikan kearifan lokal atau keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang menjadi ciri khas
kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi, komunikasi,
ekolago, dan sebagainya.
Kearifan lokal merupakan akumulasi pengetahuan dan kebijakan yang tumbuh dan
berkembang dalam sebuah komunitas yang merangkum perspektif teologis, kosmologis dan
sosiologis. Kearifan lokal bersandar pada filosofi, nilai-nilai, etika, dan perilaku yang
melembaga secara tradisional untuk mengelola sumber daya alam dan manusia, dirumuskan
sebagai formulasi pandangan hidup (worldview) sebuah komunitas mengenai fenomena alam
dan sosial yang mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Pandangan hidup tersebut menjadi
identitas komunitas yang membedakannya dengan kelompok lain (Musanna, 2012).
117
Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik
untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi. Hal ini selaras dengan pendapat
Suwito dalam Wagiran (2012) yang mengemukakan pilar pendidikan kearifan lokal meliputi:
1) membangun manusia berpendidikan harus berdasarkan pada pengakuan eksistensi
manusia sejak dalam kandungan;
2) pendidikan harus berbasis kebenaran dan keluhuran budi, menjauhkan dari cara
berpikir tidak benar;
3) pendidikan harus mengembangkan ranah moral, spiritual (ranah efektif) bukan
sekedar kognitif dan ranah psikomotorik;
4) sinergitas budaya, pendidikan dan pariwisata perlu dikembangkan secara sinergis
dalam pendidikan yang berkarakter. Pendidikan berbasis kearifan lokal dapat digunakan
sebagai media untuk melestarikan potensi masing-masing daerah.
Kearifan lokal harus dikembangakan dari potensi daerah (Wagiran, 2012). Namun
dalam kenyataannya banyak guru yang belum mengintegrasikan kearifan lokal dalam
pembelajaran sehingga tujuan pendidikan belum tercapai selain itu belum mengenal kearifan
lokal di lingkungannya. Berdasarkan paparan yang telah dikemukan diatas, penulis tertarik
untuk mengkaji lebih dalam tentang betapa pentingnya pengintegrasian kearifan lokal dalam
pembelajaran di Sekolah sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang bukan hanya
membekali siswa pengetahuan saja tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap keberagaman
lokal dilingkungannya, dampak dari pelaksanaan pembelajaran berbasis kearifan. Serta
bagaimana langkah guru dalam mengintegrasikan kearifan kearifan lokal. Melalui kajian ini
diharapkan bermanfaat bagi guru untuk ikut serta merancang dan melaksanakan pembelajaran
berbasis kearifan lokal di Sekolah Dasar.
118
C. Keunggulan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Terhadap Siswa Sekolah Dasar
Salah Satu Keunggulan pendidikan berbasis kearifan lokal adalah dapat menciptakan
masyarakat yang berwawasan global atau yang biasa disebut sebagai global citizen, dimana
kearifan lokal atau budaya suatu daerah dapat diperkenalkan baik di kancah nasional maupun
internasional. Pada saat ini, global citizen education menjadi topik sebagai bahan
perbincangan di kalangan banyak orang. Menurut wikipedia bahasa Indonesia, bahwa global
citizen education sendiri adalah pendidikan tentang kewarganegaan dalam keikutsertaan
pelajar dalam proyek dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan lingkungan global.
Kewarganegaraan global atau global citizen sendiri merupakan praktik sukarela yang
mempunyai orientasi pada keadilan sosial, hak asasi manusia dan lingkungan baik di tingkat
lokal maupun global.
Hal-hal terpenting dari kegiatan global citizen education adalah tindakan yang bersifat
sukarela yang dilakukan oleh masyarakat lokal maupun internasional dengan praktik yang
berempati pada budaya dan keterlibatan aktif di dalam kehidupan sosial dan politik baik
tingkat lokal maupun global. Budaya Indonesia akan tergali dengan adanya pendidikan
berbasis kearifan lokal dimana banyak sekali variasi potensi budaya yang ada di Indonesia
dapat diangkat dan ditunjukkan pada dunia sebagai upaya untuk pembangunan Indonesia yang
berwawasan kelestarian lingkungan.
Untuk membangun Indonesia yang mempunyai wawasan kelestarian lingkungan maka
budaya yang ada di Indonesia harus dilestarikan dengan cara menggunakan budaya setempat
seperti menggunakan pakaian adat tradisional yang dimaksudkan agar budaya kita tidak
direbut dan diakui oleh bangsa lain selain itu juga melestarikan budaya lingkungan juga akan
membuat kita percaya diri bahwa Indonesia kaya sekali akan keragaman dan potensi budaya
yang dimiliki oleh setiap daerah. Pembangunan berwawasan lingkungan sendiri adalah upaya
dalam menggunakan dan mengelola sumber daya yang ada secara bijak dalam rangka
pembangunan yang berkelanjutan dan terencana untuk meningkatkan mutu kehidupan. Tujuan
dari pengelolaan lingkungan hidup sendiri yaitu untuk memanfaatkan sumber daya alam
secara bijak serta terselenggaranya pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Menurut Endarswara (2003:1), bahwa budaya tidak sekedar berbagai fenomena yang
acak atau kebiasaan yang sering ditemukan tetapi budaya juga tertata dengan rapi dan
memiliki makna. Kearifan lokal sangat identik dengan sastra, misalnya saja kearifan lokal
dalam sebuah karya sastra yamg menceritakan tentang bahasa, status sosial atau panggilan
seseorang. Berbagai ungkapan yang dapat ditemukan dalam suatu sastra dan bahasa dapat
menjadi jembatan penghubung antara nilai sosial dan budaya dalam masyarakat.
119
Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang
mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-
lain. Sumber lain mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi,
budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi
keunggulan suatu daerah (Dedi Dwitagama, 2007).
Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Keunggulan Lokal (KL)
adalah suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga menjadi
produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan
komparatif. Keunggulan lokal harus dikembangkan dari potensi daerah. Potensi daerah adalah
potensi sumber daya spesifik yang dimiliki suatu daerah. Sebagai contoh potensi Danau Toba
Sumatera Utara Jawa, memiliki potensi budi daya pertanian dan pariwisata. Pemerintah dan
masyarakat kota Samosir dapat melakukan sejumlah upaya dan program, agar potensi tersebut
dapat diangkat menjadi keunggulan lokal kota Samosir sehingga ekonomi di wilayah kota
samosir dan sekitarnya dapat berkembang dengan baik.
D. Contoh Keunggulan Kearifan Lokal Sumatera Utara
1. Adat Mangulosi dalam budaya pernikahan Batak
Penghormatan khas suku Batak menggunakan ulos (Sumber: Flickr.com)
Mangulosi berasal dari kata ulos. Ulos merupakan jenis kain yang menjadi busana khas
masyarakat Batak. Ulos memiliki makna harfiah yang artinya kain. Cara membuat ulos kurang
lebih sama dengan cara pembuatan kain songket khas Palembang, yakni tidak menggunakan
mesin melainkan menggunakan alat tenun tradisional.Mangulosi merupakan adat memberikan
kain ulos kepada orang lain sebagai persembahan. Biasanya tradisi satu ini dilakukan pada saat
acara pernikahan. Namun tidak sembarang orang yang bisa melaksanakan adat mangulosi ini.
Hanya orang-orang yang dituakan oleh sukunya yang diperbolehkan untuk melakukan ini.
120
2. Masyarakat Batak senang melakukan Martarombo
Perbincangan atau martarombo oleh masyarakat Batak (Sumber: Flickr.com)
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, budaya kekeluargaan sangatlah erat dalam adat
istiadat dan keseharian masyarakat Batak. Dalam hal ini, masyarakat Batak sendiri memiliki
adat yang disebut martarombo, yakni sebuah tradisi bercengkrama satu sama lain guna mencari
hubungan saudara satu sama lain.Biasanya dalam sebuah martarombo, tetua keluarga akan
menanyakan silsilah dari keluarga lainnya guna mencari kekerabatan dalam marga mereka guna
mengeratkan tali persaudaraan.
3. Budaya Mandok Hata menjelang pergantian tahun
Warga Batak melakukan budaya mandok hata menjelang tahun baru (Foto: Flickr)
Mandok hata artinya adalah bercakap-cakap atau bercengkrama menjelang pergantian
tahun. Kebiasaan ini biasanya dilakukan saat berkumpulnya keluarga besar. Biasanya tema
obrolan mencakup refleksi tahun-tahun sebelumnya serta rencana di tahun-tahun berikutnya,
dan dilanjutkan dengan saling meminta maaf. Kurang lebih sama dengan budaya sungkeman di
Islam saat Idul Fitri.
121
4. Tarian anak muda mencari jodoh, Gondang Naposo
Warga Batak melakukan budaya mandok hata menjelang tahun baru (Foto: Flickr)
Gondang Naposo merupakan tradisi mencari jodoh dalam adat Batak yang diikuti muda-
mudi. Dahulu – untuk beberapa anak mudah yang lama mendapatkan jodoh akan digelarkan
Gondang Naposo. Para anak muda dari kampung lain akan datang untuk melihat calon
kekasihnya. Festival ini biasanya digelar pada saat bulan purnama setelah upacara Mangsar
Taon yang biasanya dilaksanakan setelah panen raya.
5. Balimau Kasai
Upacara Tradisional Riau (Sumber: kuansing.go.id)
Balimau kasai merupakan sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat
Kampar di provinsi Riau untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadhan.Biasanya acara ini
dilakukan sekali setahun yaitu sehari sebelum masuknya bulan puasa, upacara ini di lakukan
sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa juga merupakan symbol
penyucian diri. Kata balimau memiliki arti yakni mandi dengan menggunakan air yang di
campur jeruk atau yang sering masyarakat Kampar sendiri sebut limau. Dan jeruk yang biasa di
gunakan yakni jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-
wangian yang biasanya dipakai kewajah dan tangan atau semacam lulur.
122
6. Belian
Upacara Adat Belian Tolak Bala Suku Petalangan (Sumber: Budaya-indonesia.org)
Upacara belian merupakan ritual tolak bala yang dilakukan suku petalangan di Riau.
Biasanya upacara ini digelar malam hari di rumah orang yang sakit atau rumah adat besar
sehingga dapat menampung banyaknya orang yang menghadiri upacara ini. Belian dilakukan
untuk mengobati orang sakit, membantu orang sakit, menolak wabah penyakit, serta mengobati
luka dari binatang buas.Pengobatan ini dilakukan oleh seorang kemantan atau dukun dengan
menyayikan suatu mantra untuk memanggil para roh. Kata belian berasal dari kata bolian yang
berarti persembahan.
7. Batobo
Batobo, "Arisan Tani" dari Melayu Deli - (Sumber: Budaya-indonesia.org)
Batabo adalah sebutan untuk kegiatan bergotong royong dalam mengerjakan sawah,
ladang, dan sebagainya, yang biasa dilakukan oleh suku ocu bangkinang. Batabo ini dilakukan
unruk meringankan pekerjaan peranian seseorang, dengan itu perkerjaan akan lebih cepat
selesai dan lebih mudah. Serta menajadi penyemangat dalam melakukan pekerjaan. Batobo
memiliki arti yakni berarti berkelompok, bersama-sama atau berkawan-kawan. Batobo
menjunjung tinggi perinsip kebersamaan dan kekeluargaan. Akan tetapi, hanya sebatas
pengelolaan dan tidak berlaku terhadap hasil dari pertanian itu sendiri. Batobo ini terdapat di
daerah Kampar dan kuantan.
123
DAFTAR PUSTAKA
.2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Arbi, Sutan Z & Syahrun, Syahniar. 1991. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Adityah Pramana, M. E. dan Trihantoyo, S. (2021) “Pembentukan Karakter Siswa Melalui
Budaya Sekolah Di Jenjang Sekolah Dasar,” Jurnal Inspirasi Manajemen
Pendidikan, 9(3), hal. 764–774.
Ayu, D. K. dan Sinaulan, J. H. (2019)
Budiarti, I. dan Airlanda, G. S. (2019) “Penerapan Model Problem Based Learning Berbasis
Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis,” Jurnal Riser
Teknologi dan Inovasi Pendidikan, 2(1), hal. 167–183.
Bredekamp, Sue,Ed.1992. Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood
programs, Washington: NAEYC
Darmadi, Hamid. 2012. Kemampuan Dasar Mengajar Landasan Konsep dan Implementasi.
Bandung: Alfabeta
Dasar, S. et al. (2021) “Dinas Pendidikan hal. 1–21.
Demasya (2018) “UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Poliklinik UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA,” Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 1(3), hal. 82–91.
Dewi, Y., Waruwu, A. H. dan Basyaruddin (2019) “Implementasi Kearifan Lokal Sumatera
Utara pada Buku BIPA Medan KataTingkat A1 dan A2,” Prosiding Seminar Nasional
PBSI II, hal. 28–34.
Dini Siswani, M. dan Suwarno (2016) “PTK (Penelitian Tindakan Kelas) Dengan Pembelajaran
Berbasis Kearifan Lokal Dan Penulisan Artikel Ilmiah Di SD Negeri Kalisube,
Banyumas,” Khazanah Pendidikan Jurnal Ilmiah Kependidikan, IX(2), hal. 11.
Djamarah. 2011. Psikolagi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Evertson, Carolyn M. & Emmer, Edmund T. 2011. Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah
Dasar. Jakarta: Kencana
Farida Nur Kumala, P. S. (2017) “Pengembangan Bahan Ajar Ipa Berbasis Kearifan Lokal.”
124
Fathurrohman, Muhammad. 2015. Model-Model Pembelajaran Inovatif (Alternatif Desain
Pembelajaran Yang Menyenangkan). Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Gaol, R. L. dan Simarmata, E. J. (2019) “Efektivitas Bahan Ajar Tematik Sekolah Dasar
Berbasis Budaya Lokal Melalui Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching
and Learning (CTL) Terhadap Aktivitas Belajar Siswa,” Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, 3(4), hal. 1032–1035.
Iswatiningsih, D. (2019) “Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal
di Sekolah,” Jurnal Satwika, 3(2), hal. 155. doi: 10.22219/satwika.vol3.no2.155-164.
Hall, Gene. E. Quinn, Linda. F. & Gollnick, Donna. M. 2008. Mengajar Dengan Senang
(Menciptakan Perbedaan Dalam Pembelajaran Siswa). Indonesia: Indeks.
Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Hamalik,Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Bandung:Bumi Aksara
Hamdani. 2011. Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Harbonneu, M.P.and Reider, B,E. 1995 The Integrated Elementary Clasroom : A
Developmental model Of Education for the 21 st Century, Boston: Allyn and Bacon.
http://uptdpendidikan3.blogspot.com/2010/01/karakteristik-perkembangan-anak-usia.html
https://murniramli.wordpress.com/2008/06/23/pendidikan-dasar-dan-pendidikan-menengah.
(diakses tanggal 04 agustus 2016).
Irianto, Agus. 2011. Pendidikan Sebagai Investasi Dalam Pembangunan Suatu Bangsa.
Jakarta: Kencana.
Isojoni.2011.Cooperative Learning .Bandung: Alfabeta.
Kartono, G., Sugito, S. dan Azis, A. C. K. (2021) “Pengembangan Bahan Ajar Bermuatan
Lokal Batak Untuk Sekolah Menengah Di Kota Medan,” Gorga : Jurnal Seni Rupa,
10(1), hal. 215. doi: 10.24114/gr.v10i1.25971.
Majid, Abdul & Rochman, Chaerul. 2014. Pendekatan Ilmiah Dalam Implementasi
Kurikulum 2013.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Moeis, I. & R. F. (2020) “Social Studies : Generasi Millennial dan Kearifan Lokal Contents
Contents Contents,” Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, 13(1), hal. 55–
66. Tersedia pada: www.journals.mindamas.com/index.php/sosiohumanika.
125
Munirah, K., Ramdiah, S. dan Prayitno, B. (2020) “Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Melalui Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Kalimantan Selatan Untuk
Meningkatkan Keterampilan Metakognitif Dan Berpikir Kritis Peserta Didik Konsep
Klasifikasi Makhluk Hidup,” Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 7(2).
Nasir, A. dan Andriani, A. (2020) “Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa Inggris: Sarana
Meningkatkan Keterampilan Pelajar Bahasa Inggris Dewasa,” Pepatudzu : Media
Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan, 16(2), hal. 133. doi:
10.35329/fkip.v16i2.1769.
Nur Afinni Dwi Jayanti, U., Susilo, H. dan Suarsini, E. (2017) “Analisis Kebutuhan Bentuk
Sumber Belajar dan Media Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal untuk Kelas
X SMA di Provinsi Lampung,” Prosiding Seminan Pendidikan IPA Pascasarjana UM,
2, hal. 591–599.
Oktavianti, I. dan Ratnasari, Y. (2018) “Etnopedagogi Dalam Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Melalui Media Berbasis Kearifan Lokal,” Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah
Kependidikan, 8(2). doi: 10.24176/re.v8i2.2353.
Pingge, H. D. (2017) “Kearifan Lokal Dan Penerapannya Di Sekolah,” Jurnal Edukasi Sumba
(JES), 1(2), hal. 128–135. doi: 10.53395/jes.v1i2.27.
Prastowo, A. (2018) “Permainan Tradisional Jawa Sebagai Strategi Pembelajaran Berbasis
Kearifan Lokal Untuk Menumbuhkan Keterampilan Global Di Mi/Sd,” JMIE (Journal
of Madrasah Ibtidaiyah Education), 2(1), hal. 1. doi: 10.32934/jmie.v2i1.55.
Putra, A. P. et al. (2021) “Pembelajaran STEM Berbasis Kearifan Lokal di Bantaran Sungai
Barito,” hal. 121.
Purwanto, Ngalim. 2007. Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Rasyid, R. E. (2017) “Pendidikan karakter melalui kearifan lokal,” Seminar Nasional Kedua
Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan, hal. 279–286.
Rusman.2012.Model- model Pembelajaran.jakarta: Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Sagala,Syaiful.2009. Konsep dan makna pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina..2008.Kurikulum dan pembelajaran.Bandung : Kencana.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga.
126
Sardiman.2011.Interaksi dan motivasi Belajar Mengajar.Jakarta Rajawali Press
Septianti, N. dan Afiani, R. (2020) “Pentingnya Memahami Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
di SDN Cikokol 2,” As-Sabiqun, 2(1), hal. 7–17. doi: 10.36088/assabiqun.v2i1.611.
Siregar, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.Bogor: Ghalia Indonesia.
Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta:Rineka Cipta
Slameto. 2010.Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta Rineka Cipta.
S., L. A. (2011) “Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik,” Digilib.Uns.Ac.Id,
hal. 1–23.
Shufa, N. K. F. (2018) “Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar: Sebuah
Kerangka Konseptual,” INOPENDAS: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1), hal. 48–53.
Tersedia pada: https://jurnal.umk.ac.id/index.php/pendas/article/view/2316.
Sumayana, Y. (2017) “Pembelajaran Sastra Di Sekolah Dasar Berbasis Kearifan Lokal (Cerita
Rakyat),” Mimbar Sekolah Dasar, 4(1), hal. 21–28. doi: 10.23819/mimbar-
sd.v4i1.5050.
S,Suparman. 2010. Gaya Mengajar Yang Menyenangkan Siswa. Yogyakarta: Pinus Book
Publisher.
Sumantri, Mohammad S. 2015. Strategi Pembelajaran Teori dan Praktik Di tingkat
Pendidikan Dasar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sunarto. 2006. Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar Teori dan Praktek. Departemen
Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi Direktorat Ketenagaan.
Suprijono, Agus. 2014. Cooperative learning Teori dan Aplikasi Pakem. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Suryono dan Haryanto.2011. Desain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:Kencana
Susanto, Ahmad. 2015. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
Jakarta:Prenamedia group.
Tilaar, H.A.R. 2004. Manajemen Pendidikan Nasional (Kajian Pendidikan Masa Depan).
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tim Pustaka Yudistira. 2008. Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan). Jakarta: PT Buku Kita.
Thoriq Maulana, M. et al. (2015) “Laporan Akhir Laporan Akhir,” Laporan Akhir,
1(201310200311137), hal. 78–79.
127
Titin dan Yokhebed (2018) “Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah ( Problem
Solving ) Calon Guru Biologi Melalui,” Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA, 9(1),
hal. 77–86.
Uno,Hamzah.2011.Teori Moivasi dan Pengukurannya. Jakarta:Bumi Aksara
Usman, Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Widiastuti, U., Sembiring, A. S. dan Mukhlis, M. (2020) “Pengembangan Media Pembelajaran
Berbasis Etnis Sumatera Utara,” Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik,
3(2), hal. 84. doi: 10.26740/vt.v3n2.p84-88
Yamin,Martinis. 2010. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta:Gaung Persada Press.
128
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)
KONTRAK DAN SAP
DENGAN SISTEM PENILAIAN OTENTIK
DILENGKAPI DENGAN FORMAT DAN RUBLIK PENILAIAN
Nama Matakuliah : Konsep Dasar Pendidikan SD
Semester/TA
SKS/Status Matakuliah : Ganjil (1)/ 2019– 2020
Dosen Pengampu : 2 SKS / Wajib
: Dr. Naeklan Simbolon,M.Pd
Program Studi Dra. Eva Betty Simanjuntak, M.Pd
Drs. Robenhart Tamba, M.Pd Drs.
Elvi Mailani S.Si., M.Pd
: PGSD,BK,PLS, PAUD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
129
A
130
A. Identifikasi Mata Kuliah
Nama/Kode Matakuliah : Konsep Dasar Pendidikan SD
Jumlah SKS : 2 SKS
Semester/TA : Ganjil (1) / TA. 2018-2019
Status Mata Kuliah : Wajib
Program Studi : PGSD,BK,PLS,PAUD
Hari Perkuliahan / Jam :,
Tempat Perkuliahan :
Dosen Pengampu : Dr Naeklan Simbolon, M.Pd
Dra. Eva Betty Simanjuntak, M.Pd
Drs. Robenhart Tamba, M.Pd
Elvi Mailani S.Si., M.Pd
Alamat : Jln Bahagia By Pass No 1 Medan
Telp./Hp. 081376719245
Email
: naeklan. Simbolon @yahoo.com
B. Pernyataan Kesepakatan
Pada hari ini, ........... tanggal......... bulan Agustus tahun 2018, mahasiswa Prodi
PGSD,BK,PLS,PAUD Unimed menyatakan memenuhi seluruh kesepakatan dengan Tim
Dosen pengampu dalam pelaksanaan perkuliahan tersebut di atas.
C. Hak dan Kewajiban Hak Mahasiswa
Mengontak mata kuliah sesuai dengan
Hak Dosen yang direncanakannya
Mendapat pengakuan dari jurusan atas Mendapat nilai yang diberikan/diukur
kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh dosen
Memberikan skor penilaian berdasarkan Mengikuti perkuliahan sesuai dengan
kemampuan mahasiswa yang direncanakan oleh dosen
Mengelola kegiatan pembelajaran untuk Meminta perkuliahan diganti, apabila
mencapai tujuan yg optimal dosen tidak datang tanpa alasan
Mengeluarkan mahasiswa apabila tidak Meminta penjelasan atas tugas yang
mematuhi kontrak yang disepakati diberikan oleh dosen
Memberikan tugas kepada mahasiswa
untuk membantu memahami materi
Kewajiban Dosen Kewajiban Mahasiswa
Menyampaikan/mengelola pembelajaran Hadir dalam setiap kegiatan perkuliahan
sesuai dengan jadwal yg disepakati sesuai kesepakatan
Membimbing mahasiswa untuk Berusaha untuk mememahami materi
memahami materi yang disajikan yang disampaikan/diberikan
Memberikan nilai sesuai dengan Menyerahkan tugas untuk dinilai dosen
kemampuan mahasiswa yang bersangkutan
131
D. Perjanjian dan komitmen
1. Mahasiswa harus masuk ke dalam kelas sebelum perkuliahan di mulai
2. Mahasiswa boleh masuk ke dalam untuk kelas mengikuti perkuliahan,
maksimum terlambat selama 15 menit setelah dosen memberikan kuliah.
3. Apabila dosen tidak hadir, setelah 15 menit dari jadwal, mahasiswa
menghubungi dosen tersebut via telp/hp untuk kepastian perkuliahan.
4. Mahasiswa minimal hadir 75% dari jumlah perkuliahan yang direncanakan
untuk dapat mengikuti ujian final.
5. Apabila mahasiswa tidak hadir, harus ada pemberitahuan kepada dosen
melalui surat tertulis.
6. Mahasiswa dilarang merokok sewaktu perkuliahan (dalam kelas)
7. Mahasiswa dan dosen memakai pakaian yang rapi dan sopan (tidak memakai
jean) sewaktu pelaksanaan perkuliahan.
8. Sewaktu mulai perkuliahan, mahasiswa telah menyiapkan perangkat/sarana
yang dibutuhkan untuk kelancaran perkuliahan, seperti papan tulis sudah
dalam keadaan bersih, proyektor, dll.
9. Setelah selesai perkuliahan, mahasiswa menyelesaiakan/merapikan semua
peragkat/sarana kuliah yang dipakai, misal: memulangkan infokus, merapikan
kursi perkuliahan,dll.
10. Mahasiswa harus memiliki komitmen untuk mengikuti perkuliahan dengan
baik dan melaksanakan semua tugas yang disepakati secara optimal.
11. Mahasiswa harus mengerjakan semua tugas yang sudah disepakati secara
optimal.
12. Mahasiswa harus menyerahkan tugas sesuai dengan kesepakatan bersama.
13. Penilaian dilaksanakan atas dasar tugas, partisipasi, dan tes yang dilakukan
selama proses belajar.
14. Masih dimungkinkan dalam perkuliahan timbul perjanjian/komitmen baru,
untuk mendukung keberhasilan pelaksanakan perkuliahan.
E. Ikatan batin antara dosen dan mahasiswa
1. Dosen dan mahasiswa secara bersama-sama bertanggungjawab untuk
terjalinnya kegiatan pembelajaran yang baik
2. Dosen dan mahasiswa memiliki komitmen yang sama untuk optimalnya
pencapaian kompetensi mahasiswa sesuai dengan yang digariskan.
3. Apabila terjadi kekurangpahaman dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa
secara terbuka mau bertanya kepada dosen untuk meminta penjelasan.
4. Tidak tertutup kemungkinan komunikasi terjalin antara dosen dan mahasiswa
di luar waktu perkuliahan, untuk membicarakan yang berhubungan dengan
materi kuliah.
132
5. Tidak terjadi jarak secara batin antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan
perkuliahan.
6. Terbuka beberapa ikatan lainnya, agar isi kontrak kuliah dapat berjalan dengan
baik.
Demikian Kontrak Kuliah ini kami buat bersama tanpa ada paksaan oleh pihak manapun.
Kontrak kuliah ini akan dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan perkuliahan dan
bilamana ada hal-hal yang belum termuat dalam kontrak ini tetapi dianggap perlu, maka dapat
dilaksanakan atas kesepakatan bersama.
Dosen pengampu, Pihak yang bersepakat:
Perwakilan mahasiswa,
Dr. Naeklan Simbolon. M.Pd ( )
Mengetahui:
Ketua Prodi Pendidikan Dasar
Dr. Irsan, M.Pd, M.Si
133
134
SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)
A. Identifikasi Mata Kuliah
Nama/Kode Matakuliah : Keterampilan Dasar Pendidikan SD
Jumlah SKS :2 SKS
Semester/TA : Ganjil (1) / TA. 2016-2017
Status Mata Kuliah : Wajib
Program Studi : PGSD,BK,PLS,PAUD
Dosen Pengampu : Dr. Naeklan Simbolon, M.Pd
Dra. Eva Betty Simanjuntak, M.Pd
Drs. Robenhart Tamba, M.Pd
Elvi Mailani S.Si., M.Pd
B. Capaian Pembelajaran
Mahasiswa memiliki kemampuan dalam menjabarkan konsep,teori dan aplikasi
keterampilan dasar pendidikan SD
C.Indikator Capaian Pembelajaran :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep pendidikan dasar
2. Mahasiswa mampu menjelaskan dasar- dasar pendidikan
3. Mahasiswa mampu menjelaskan karakteristik pendidikan
dasar
4. Mahasiswa mampu menjelaskan Hakikat keterampilan
5. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi keterampilan untuk
siswa SD
6. Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip keterampilan
belajar SD
7. Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan keterampilan
belajar
8. Mahasiswa mampu menjelaskan kharakteristik siswa yang
memilikiketerampilan belajar
9. Mahasiswa mampu menjelaskan jenis- jenis keterampilan
belajar
10. Mahasiswa mampu menjelaskan delapan keterampilan
mengajar
11. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian proses
pembelajaran
12. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan anak SD
13. Mahasiswa mampu menjelaskan Cara belajar anak SD
135
14. Mahasiswa mampu menjelaskan kharakteristik
pembelajaran anak
D Bahan Kajian
Bahan kajian dan materi yang disajikan dalam matakuliah keterampilan dasar
pendidikan SD didasarkan atas aktivitas yang dilakukan pada pembelajaran. Secara
umum bahan kajian matakuliah ini mencakup:
- konsep pendidikan dasar
- dasar- dasar pendidikan
- khrakteristik pendidikan dasar
- Hakikat keterampilan
- fungsi keterampilan untuk siswa SD
- prinsip keterampilan belajar SD
- tujuan keterampilan belajar
- kharakteristik siswa yang memiliki keterampilan belajar
- jenis- jenis keterampilan belajar
- delapan keterampilan mengajar
- pengertian proses pembelajaran
- perkembangan anak SD
- Cara belajar anak SD
- kharakteristik pembelajaran anak
136
Konsep Pendidikan Karakteristik Cara Belajar anak SD
Dasar Pembelajaran Anak
Dasar – Dasar Pendidikan Perkembangan Anak
SD
Karakteristik Pendidikan
Dasar Keterampilan Dasar Pengertian Proses
Pendidikan SD Pembelajaran
Hakikat Keterampilan
8 Keterampilan Mengajar
Fungsi Keterampilan
Untuk Siswa SD Jenis-Jenis Keterampilan
Belajar
Prinsip Keterampilan
Belajar SD
Karakteristik Siswa yang
Memiliki Keterampilan Belajar
Tujuan Keterampilan Belajar
137
138
Mgu Sub- C PMK (sebagai Penilaian
ke kemampuan Akhir yang di
Indikator
harapkan
Kriteria &
12 Penilai
Mahasiswa mampu 3 4
memahami kontrak
perkuliahan dan capaian • Kesesuaian pendapat Kriteria ketepa
perkuliahan perkembangan tentang Kontrak penguasaan ben
peserta didik dengan sangat perkuliahan nontest:
baik
• Ketepatan mendaptkan Tampil secara p
penjelasan Sistem Pengenalan Dir
perkuliahan
2 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
menjelaskan konsep konsep pendidikan dasar, kesesuaian dan
pendidikan dasar, dan dan menjelaskan dasar- sistematika
menjelaskan dasar- dasar dasar pendidikan • Presentasi m
penidikan • Presentasi T
(Tugas Ruti
13
Bentuk Pembelajaran; Bobot
Metode Pembelajaran; Penilaian
Penugasan; (Estimasi
%
Waktu)
Materi Pembelajaran
Tatap Daring (Pustaka
Muka/
Bentuk
ian Luring
5
atan dan Kuliah & Akses kontrak perkuliahan dan 5
ntuk Diskusi kontrak SAP
TM: 1x (2 X kuliah
personal 50) melalui • Aturan
ri • Tugas
Google • Penilaian
Classroom • Hak
• Kewajiban
atan, Kuliah & Pengumpu konsep pendidikan
n Diskusi lan tugas dasar, dan menjelaskan
TM: 1x (2 X melalui dasar- dasar pendidikan
makalah 50) Google
Tugas Classroom
in)
39
3 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
menjelaskan khrakteristik khrakteristik pendidikan kesesuaian dan
pendidikan dasar dasar sistematika
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
4 Mahasiswa mampu mampu Kriteria ketepa
menjelaskan fungsi menjelaskan fungsi kesesuaian dan
keterampilan untuk siswa keterampilan untuk siswa sistematika
SD SD Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
5,6 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
menjelaskan Hakikat Hakikat kesesuaian dan
keterampilan,Mahasiswa
keterampilan,Mahasiswa sistematika
mampu menjelaskan fungsi mampu Presentasi m
keterampilan untuk siswa menjelaskan fungsi
SD keterampilan untuk siswa Presentasi Tuga
SD (Tugas Rutin)
14
atan, Kuliah & Pengumpu menjelaskan
n Diskusi lan tugas khrakteristik pendidikan
TM: 1x (2 X melalui dasar
makalah 50) Google
as Classroom
atan, Kuliah & Pengumpu fungsi keterampilan
n Diskusi lan tugas untuk siswa SD
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
as Classroom
atan, Kuliah & Pengumpu Hakikat
n Diskusi lan tugas keterampilan,Mahasisw
TM: 1x (2 X melalui a mampu menjelaskan
makalah 50) Google fungsi keterampilan
as Classroom untuk siswa SD
40
7 Hakikat mampu menjelaskan Kriteria ketepa
kesesuaian dan
keterampilan,Mahasiswa fungsi keterampilan sistematika
mampu menjelaskan fungsi belajar SD Presentasi m
keterampilan untuk siswa Presentasi Tuga
SD (Tugas Rutin)
8 Evaluasi Tengah Semester : Melakukan Validasi Hasil Penilaian, Evaluasi
9 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
menjelaskan tujuan tujuan keterampilan kesesuaian dan
keterampilan belajar. belajar sistematika
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
10 Mahasiswa mampu Mahasiswa mampu Kriteria ketepa
menjelaskan karakteristik menjelaskan karakteristik kesesuaian dan
siswa yang memiliki siswa yang memiliki sistematika
ketrampilan belajar ketrampilan belajar Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
14
atan, Kuliah & Pengumpu fungsi keterampilan
n Diskusi lan tugas belajar SD
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
Classroom
as
Dan Perbaikan Proses Pembelajaran Berikutnya
atan, Kuliah & Pengumpu Mahasiswa mampu
n Diskusi lan tugas menjelaskan tujuan
TM: 1x (2 X melalui ketrmpilan belajara
makalah 50) Google
as Classroom
atan, Kuliah & Pengumpu Karakteristik siswa
n Diskusi lan tugas yang memiliki
TM: 1x (2 X melalui ketrampilan belajar
makalah 50) Google
as Classroom
41
11 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
menjelaskan jenis- jenis jenis- jenis keterampilan kesesuaian dan
keterampilan belajar belajar sistematika
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
12 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
kesesuaian dan
menjelaskan pengertian pengertian proses sistematika
proses pembelajaran pembelajaran
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
13 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
kesesuaian dan
menjelaskan perkembangan perkembangan anak SD sistematika
anak SD
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
14
atan, Kuliah & Pengumpu Jenis- jenis keterampilan
n Diskusi lan tugas belajar
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
as Classroom
atan, Kuliah & Pengumpu proses pembelajaran
n Diskusi lan tugas
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
as Classroom
atan, Kuliah & Pengumpu perkembangan anak SD
n Diskusi lan tugas
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
as Classroom
42
14 Mahasiswa mampu mampu menjelaskan Kriteria ketepa
kesesuaian dan
menjelaskan Cara belajar Cara belajar anak SD sistematika
anak SD
Presentasi m
Presentasi Tuga
(Tugas Rutin)
15 Review Mahasiswa dan dosen melakuakan review
semester
16 Evaluasi Akhir Semester
14
atan, Kuliah & Pengumpu Cara belajar anak SD
n Diskusi lan tugas
TM: 1x (2 X melalui
makalah 50) Google
as Classroom
materi dan proses perkuliahan yang sudah dilaksanakan selama satu
43
E. Model/Pendekatan/Metode Pembelajaran
Adapun metode pembelajaranyang digunakan dalam perkuliahan ini mengacu
pada prinsip Learning By Doing yaitu belajar melalui perlakuan/perbuatan atau
latihan secara langsung dengan objek yang dipelajari. Dalam pembelajaran diterapkan
beberapa kombinasi metode pembelajaran seperti Latihan; Metode Toturial dan
Bimbingan ; Metode Pengamatan (Observasi); atau Metode Tanya Jawab dan Diskusi
Kelompok. Metode dalam setiap kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan materi
yang dikaji. Adapun skenario setiap kegiatan pembelajaran akan disesuaikan dengan
metode yang digunakan.
Mata kuliah ini diberi bobot sks sebesar 2 sks. Waktu yang dibutuhkan dalam
pembelajaran direncanakan sebanyak 16 kali pertemuan, dan setiap pertemuan
dilakukan Tatap Muka selama 2 x 50 Menit. Untuk Tatap Muka dilakukan pada setiap
hari sesuai jadwal. Lebih lanjut untuk mengerjakan tugas Terstruktur dan tugas
Mandiri dibutuhkan waktu selama 4 x 120 Menit per minggu yang dilaksanakan
selama 16 minggu (pertemuan)
F. Tagihan Pembelajaran
Pada perkuliahan ini mahasiswa melakukan tugas yang berkaitan dengan materi
ajar, yaitu sebagai berikut:
1. Tugas I : Critical book report. Buku .......( buku- buku yang relevan )
2. Tugas II : Pembuatan Makalah tentang keterampilan dasar pendidikan SD
(Tugas I + Tugas II Merupakan Nilai Formatif 1)
3. Tugas III : Membuat project tentang keterampilan dasar pendidikan SD
4. Tugas IV : Melakukan critical jurnal dengan menelusuri jurnal penelitian
dibidang lewat internet (tugas keterampilan dasar pendidikan SD III dan IV
merupakan nilai NF 2)
5. Tugas V. Melakukan mini riset dibidang keterampilan dasar pendidikan SD
6. Tugas VI. Membuat gagasan tentang (Tugas III + Tugas IV keterampilan dasar
pendidikan SD Merupakan Nilai Formatif 3)
7. Tugas I dan Tugas III : Dikerjakan Secara Individual. Tugas II dan Tugas IV :
/Dikerjakan Secara Kelompok (1 Kelompok berjumlah 2 – 3 orang mahasiswa)
G. Bentuk dan Kriteria Penilaian Tugas:
8. Tugas I: (Individual) : . Buku dari ....
Bentuk Tugas : Laporan hasil critical books report (Hardcopy dan softcopy) Struktur
: Terdiri atas 4 bagian/bab, yaitu:
Bab I. Pendahuluan (Latar belakang, Tujuan, Manfaat
Bab II. Isi Buku (Ringkasan Buku Setiap Bab)
144
Bab III. Pembahasan (Perbedaan: Keunggulan, Kelemahan)
Bab IV. Penutup (Kesimpulan dan Saran)
Keterangan: Tugas I Dikumpul Minggu ke- 8
Tugas II: (Kelompok 2 – 3 orang)
Bentuk Tugas: Pembuatan Makalah tentang keterampilan dasar pendidikan SD (Tugas I
+ Tugas II Merupakan Nilai Formatif 1)
Struktur : I. Latar Belakang Masalah
II. Pembahasan
III. Kesimpulan
Keterangan: Tugas I Dikumpul Minggu 8 sebelum
Tugas III. (Individual)
Bentuk Tugas : IV : Membuat project tentang pembelajaran tematik
.
Struktur : A. Pendahuluan
B. Analisis Jurnal
1. Sajian Materi/Topik 1
2. Komentar (Komparasi atau hubungan dengan buku, bahan
bacaan lain : Minimal ½ halaman diketik dengan 1,5
spasi,denga ukuran pont 12)
1. Sajian Materi/Topik 2, dst.
2. Komentar Topik 2, dst
C. Kesimpulan Analisis Jurnal
Keterangan: Tugas III dikumpul Minggu ke 16 (Sebelum Final Tes)
Tugas IV. (Kelompok 2 – 3 orang)
1) Bentuk Tugas : Melakukan critical jurnal dengan menelusuri
jurnal penelitian dibidang keterampilan dasar pendidikan SD
lewat internet (tugas III dan IV merupakan nilai NF 2
Struktur :
a. Pendahuluan
a. Tujuan
b. Alat dan bahan yang digunakan
c. Kajian Putaka, Dukungan Data dan Informasi Awal
d. Prosedur/cara kerja (langkah-langkah kegiatan)
e. Hasil kegiatan
f. Simpulan dan rekomendasi
145