The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dalim al-gilbariey, 2023-02-12 21:44:34

Biografi KH. Abdul Mughni

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Keywords: KH. Abdul Mughni

31 semenjak muda hingga beliau memasuki usia senja.35 Ya, kegiatan ilmiah beliau berupa mengajar di majelis-majelis taklim harus terhenti ketika beliau ditimpa penyakit berupa tidak dapat melihat. Penyakit ini, sebagaimana disampaikan kepada kami, beliau rasakan saat beliau hendak mengerjakan sholat Shubuh. Mendadak semuanya gelap dan tidak terlihat. Mendengar cerita beliau ini, kami langsung teringat kepada kisah Imam Ibnu Katsir yang juga harus kehilangan penglihatannya dan menghentikan aktivitas ilmiahnya. Ibnu Katsir menceritakan sendiri hal tersebut, dalam az-Zahrani (2011, hal. 121) pada saat beliau sedang menulis hadits, “Aku masih menulisnya pada suatu malam di depan lampu minyak yang cahayanya terus bergerak perlahan, hingga penglihatanku sirna bersamanya.” K.H. Abdul Mughni menerima dengan sabar kondisi tersebut meskipun dalam waktu yang cukup lama. Dalam beberapa kali penulis bertemu dengan beliau, tidak pernah terdengar sedikitpun keluh kesah beliau atas penyakit yang menimpa beliau. Demikian pula istri dan putra-putri beliau. Semua seakan tidak ada apa-apa, semua seakan baik-baik saja. Semoga kesabaran beliau ini akan berbuah surga yang dijanjikan oleh Alloh. Sebagaimana hal ini ditegaskan dalam hadits qudsi yang bersumber dari Anas 35 Dalam sedikit kata-katanya sebelum memimpin doa dalam acara takziyah (tahlilan) di kediaman beliau pada malam ketiga, Prof. Dr. K.H. Abdul Manaf Abdul Jalil, M.A, ketua MUI Bekasi Utara, mengatakan, bahwa K.H. Abdul Mughni sudah menjadi kyai sejak muda.


32 bin Malik, aku mendengar Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ا َ ُم ْه ن ِ م ُ ه ُ ََّو ْضت ع َ ر َ َصب فَ ِ ه ْ ي َ ت َ يب ِ ب َ ْدِى ِبِ ب َ ْ ُت ع لَي َ ت ْ ِذَا اب قَا َل إ ِ َّن ا ََّّللَ نَّةَ إ َ ا ْْل “Sesungguhnya Alloh berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.’”36 b. Menyulap Tempat Tinggal Menjadi Halaqoh Ilmu Semangat K.H. Abdul Mughni untuk menyebarkan ilmu (tahammul ‘ilmi) yang beliau miliki tidak berhenti pada pembukaan serta pembinaan majelis-majelis taklim yang ada di pelosok Bekasi Utara, namun semangat itu beliau teruskan dengan menyulap tempat tinggal beliau menjadi halaqoh-halaqoh ilmu bagi para penuntut ilmu yang datang dari segenap kampung. Mereka yang datang pun beragam, baik latar belakang pendidikan maupun pemahaman. 36 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: al-Maridh, Bab: Fadhli Man Dzahaba Basharuhu, hlm. 936, hadits no. 5653. Perawi hadits ini menjelaskan, yang dimaksud (dengan habiibataih, pen) adalah kedua matanya (‘ainaih). Hadits Shohih.


33 Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 3. Kediaman K.H. Abdul Mughni merangkap halaqah ilmu beliau Apa yang beliau lakukan bukanlah hal baru dalam tradisi penyebaran ilmu sepanjang sejarah Islam dan kebangkitannya. Beliau hanya melanjutkan tradisi yang telah dimulai oleh ulama-ulama terdahulu, yaitu menjadikan rumah-rumah mereka memiliki fungsi ganda selain sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat diseminasi ilmu-ilmu keislaman. Tak jarang, selepas para penuntut ilmu belajar di madrasah-madrasah maka mereka akan melanjutkan pembelajarannya di rumahrumah sang guru.


34 Bahkan di rumah sang gurulah waktu belajar yang lebih lama dan lebih luas, karena sang guru memiliki kebebasan yang lebih bila dibandingkan saat mengajar di ruang kelas madrasah. Sebagaimana dikatakan oleh Hasan Langgulung (2000, hal. 124): Sebagian istana khalifah, seperti istana khalifah alMakmun misalnya, di situ diadakan pertemuan ilmiah yang teratur, dihadiri oleh orang-orang ahli dalam salah satu cabang ilmu, tidak kurang dari ceramah-ceramah ilmiah profesional yang diadakan di universitas-universitas hari ini. Sebagaimana sebagian rumah-rumah itu itu merupakan lembagalembaga ilmiah profesional yang dikunjungi oleh penuntut-penuntut ilmu profesional diberbagai cabang ilmu dimana-mana. Di antara rumah-rumah penting yang dikunjugi oleh murid dan guru-guru, dimana mereka memperoleh manfaat besar adalah rumah Imam al-Ghazali. Dimana ia menerima muridmuridnya, sesudah beliau meninggalkan pekerjaan Nizamiyah Nisapur, dan sesudah ia bepergian untuk menunaikan fardu haji dan beri’tikaf di masjid Umawi di Damaskus, dimana beliau menulis bukunya yang terkenal: Ihya ‘Ulum al-Din. Berdasarkan pengalaman kami yang pernah datang kepada beliau untuk belajar–dan berdasarkan pengakuan beliau, ini pun beliau lakukan juga kepada yang lainnya yang datang kepada beliau untuk menimba ilmu dari beliau–maka mereka yang datang kepada beliau untuk


35 memulai belajar akan ditanya dengan lembut dan wajah berseri: kitab apa yang mau dibaca dan dipelajari? Sebuah pertanyaan ringkas mungkin, namun memiliki makna yang dalam. Menurut penulis, setidaknya ada tiga pemaknaan yang dapat diberikan atas pertanyaan ringkas tersebut kepada setiap orang yang datang untuk memulai belajar kepada beliau. 1. Menunjukkan sikap demokratis Pertanyaan di awal pertemuan tersebut menunjukkan kalau beliau merupakan sosok ulama yang demokratis, yang memberikan kesempatan kepada para calon muridnya untuk mempelajari kitabkitab yang mereka sukai atau ingin perdalam. Kenyataan ini juga menujukkan pengertian dan perhatian beliau kepada para penuntut ilmu yang memang datang dari latar belakang yang berbeda. Bila yang datang adalah mereka yang memiliki latar belakang pesantren, biasanya mereka telah memiliki niat tersendiri saat datang ke rumah beliau, yaitu ingin mempelajari atau mendalami kitab tertentu yang mereka inginkan. Dan tentunya, beliau akan menyambut dengan senang hati dan tengan terbuka serta siap akan berbagi ilmu dalam kitab tersebut. Apa yang beliau lakukan ini tidak akan dijumpai kecuali pada sosok ulama demokratis, yang melihat dan menghargai jenjang keilmuan serta continuitas akademik ilmu-ilmu keislamaan yang terkandung dalam kitab-kitab klasik yang menjadi ciri khas ulama-


36 ulama di nusantara, terutama ulama-ulama yang berafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). 2. Menunjukkan keluasan ilmu Selain menunjukkan sikap demokratis, apa yang beliau lakukan tersebut pada hakikatnya menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Karena hanya mereka yang memiliki ilmu yang luas dan dalam saja yang bisa “menantang” kepada siapa saja yang datang kepadanya dengan pertanyaan: Mau belajar apa? Mau membaca kitab apa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan menghilangkan sekat keterbatasan seseorang atas ilmu yang dia kuasai. Dan hal ini tidaklah mengherankan, karena tokoh yang memberikan penilaian atas kemampuan beliau adalah guru beliau sendiri,37 yaitu K.H. Muchtar Thobroni. 3. Peran bimbingan atau konseling Sebelum kami datang kepada beliau untuk belajar –sekitar tahun 2005 –kami dihadapkan pada dua pilihan. Apakah belajar dengan seorang kyai muda yang belum lama pulang mondok dari salah satu pesantren terkenal di Jawa Timur (Kediri) ataukah kepada beliau, seorang kyai sepuh yang hanya mondok di kampung sendiri (Bekasi). Kebimbangan ini sempat singgah di hati kami, hingga akhirnya 37 Beliau pernah beberapa kali bercerita kepada kami selesai belajar, bahwa guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni mengatakan kepadanya, “Mughni, luh mah dah bisa baca kitab, tinggal banyakin muthola’ah aja.”


37 waktu itu kami teringat sebuah nasihat dalam mencari dan memilih guru yang kami baca saat itu dari terjemahan Ta’lim Muta’allim karya al-Jarnuzi (hal. 16). Dalam buku tersebut al-Zarnuji berpesan: َ ْخ وأَ َّما ا ِ ت َ ي ُ ار اْلُ ْ َ ست ِ اذ، فَ َ ي ْ ن َ ب ِ غ ْ َ َ ى أَ ْن َيْت ْع ار اْلَ لَ َ م َ ْ واْلَ و َ َ َعر واْلَ َ س َّن “Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, wara’ dan juga tua usianya.” Akhirnya dengan kemantapan hati, kami memilih beliau untuk dijadikan guru. Seorang ulama yang dalam ilmunya dan memiliki usia yang telah matang. Ternyata, apa yang kami pilih telah sesuai dengan adab-adab dalam pemilihan guru. Ibnu Quthoibah, dalam Abdul Karim (2006, hal. 36-37) mengatakan: Manusia akan terus berada dalam kebaikan selama ulama-ulama mereka adalah orang-orang yang berusia tua, bukan orang-orang yang muda umurnya. Karena seorang yang sudah tua telah hilang darinya kesenangan pemuda, emosi pemuda, ketergesagesaannya, kebodohannya, dan banyak pengalaman dan pengetahuan, tidak masuk syubhat dalam ilmunya, tidak dikuasai oleh hawa nafsu, tidak dicondongkan oleh suatu pamrih. Sedangkan anak muda terkadang dimasuki perkara-perkara yang tidak masuk atas seorang syaikh (orang tua), maka jika perkara-perkara ini telah masuk kepadanya,


38 kemudian dia berfatwa, dia akan binasa dan membinasakan.38 Demikianlah, adakalanya yang datang kepada beliau adalah para penuntut ilmu yang datang dari jenjang nol, yang datang tidak membawa bekal apa-apa, namun memiliki keinginan yang besar untuk belajar ilmu-ilmu keislaman dari kitab-kitab klasik Islam ala pesantren. Tentu saja menghadapi orang-orang seperti ini berbeda dengan tipikal orang-orang yang pertama, yaitu yang datang sudah dengan bekal yang cukup, namun membutuhkan pendalaman lebih lanjut. Kepada orang-orang tipologi kedua ini, maka beliau akan memberikan masukan dan saran agar memulai dari kitab-kitab dasar. Misalkan dalam fiqh, dimulai dari Safinatun Najah atau Matan Abu Syuja’ atau Fathu al-Qarib. Sedangkan dalam bidang tata bahasa Arab (Nahwu) bisa dimulai dari al-Ajurumiyyah atau Mukhtashar Jiddan. Baru setelah selesai dilanjutkan dengan kitab-kitab yang lebih tinggi, dan diteruskan dengan kitab-kitab yang paling 38 Menurut syaikh Abdussalam bin Barjas Abdul Karim (2006, hal. 38) hukum ini tidak secara mutlak pada orang-orang yang umurnya muda. Sekumpulan dari shohabah dan tabi’in telah memberikan fatwa dan memberikan pelajaran dalam usia mereka yang muda, dengan kehadiran orang-orang tua, namun jarang ada yang semisal dengan mereka pada orang-orang yang sesudah mereka. Maka apabila ditemukan dan diketahui kebaikan mereka, dalamnya ilmu mereka, nampak kekokohannya, tidak ditemukan seorang pun dari orangorang tua yang bisa diambil ilmu darinya, padahal ilmu itu ada pada orang-orang yang muda, dan aman dari fitnah, maka ambillah dari mereka.


39 tinggi. Apa yang dilakukan beliau ini menujukkan fungsi konseling yang harus dimiliki oleh seorang guru. Yang memiliki kemampuan untuk memberikan saran terbaik kepada murid-muridnya untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Tidak membiarkan murid berada dalam kebimbangan atau ketidaktahuan. Dalam hal ini Ibnu Jama’ah (2019, hal. 69) mengatakan: Hendaknya syaikh tidak menganjurkan murid belajar sesuatu yang pemahaman atau usianya tidak kuasa memikulnya, atau sebuah kitab yang akalnya tidak menjangkau pemahamannya. Jika seseorang meminta pendapat syaikh dalam urusan membaca sebuah kitab atau belajar sebuah ilmu, namun syaikh tidak mengetahui keadaannya dari sisi pemahaman dan kemampuan hafalannya, maka syaikh tidak boleh menganjurkan apapun sebelum menjajaki pemahamannya dan mengetahui keadaannya. Jika keadaan tidak memungkinkan untuk menunda, maka syaikh mengarahkannya ke satu kitab yang mudah dalam disiplin ilimu yang dimaksud. Jika syaikh melihat akal murid mampu dan pemahamannya bagus, maka syaikh mengalihkannya ke sebuah kitab yang layak baginya. Dari apa yang dikatakan oleh Ibnu Jama’ah tersebut dapat diketahui fungsi konseling yang bisa dilakukan oleh seorang guru terhadap muridnya, terutama murid yang baru datang untuk belajar. Ibnu Jama’ah tidak sendirian dalam menyatakan pentingnya bertahap-tahap dalam


40 memberikan materi pelajaran serta memberikan konseling kepada murid-muridnya, terutama bagi murid-murid di awal-awal tahun pelajarannya. Ibnu Kholdun, dalam Mukaddimahnya (2011, hal. 994), juga memberikan pernyataan yang hampir sama dengan Ibnu Jama’ah, dimana ia berkata saat menjelaskan cara yang benar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan metode penerapannya, yang merupakan pasal ke-29 dari karyanya tersebut. Ketahuilah, mendiktekan atau menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para penuntut ilmu sangat bermanfaat jika dilakukan secara bertahap, berangsurangsur, dan sedikit demi sedikit, dengan memulai mengajarkan masalah-masalah mendasar dalam setiap bab dari ilmu pengetahuan. Yakni, pokokpokok pembahasan bab tersebut, mendekatkan pemahaman dan menjelaskannya secara global. Yang perlu diperhatikan oleh pengajar adalah memahami daya pikiran dan kesiapan pelajar untuk menerima pelajaran yang disampaikan kepadanya, hingga sampai pada pembahasan akhir dari cabang ilmu tersebut. jika strategi ini ditempuh, maka ia akan mendapatkan insting dalam bidang ilmu tersebut. Bisa kita lihat, baik Ibnu Jama’ah maupun Ibnu Kholdun sama-sama menyarankan pentingnya pemberian materi pelajaran secara selangkah demi selangkah, setahap demi setahap, dan tidak langsung menjejali murid pemula dengan materi atau istilah-istilah yang sulit di luar


41 kemampuan dan daya nalarnya. Dan apa yang dilakukan oleh K.H. Abdul Mughni telah sesuai dengan kaidahkaidah yang dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Jama’ah dan Ibnu Kholdun tersebut. Bahkan, jelas Ibnu Qudamah (2018, hal. 33), sikap yang demikian merupakan peran dan kewajiban seorang pendidik dan pembimbing. Ibnu Qudamah mengatakan, “Hendaknya (seorang guru) memperhatikan kemampuan pemahaman dan kadar akal penuntut ilmu, tidak menyampaikan kepadanya apa yang belum dia pahami dan belum dikuasai oleh akalnya. Diriwayatkan dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ْ م ِِ ِل ْ ُُقو لَى قَ ْدِر ع َ َس ع َب النَّا َخاطِ ْ ُت أَ ْن أُ ر ِ أُم “Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akalnya.”39 Sikap yang ditampilkan oleh K.H. Abdul Mughni tersebut, yang membimbing murid-muridnya tahap demi tahap (step by step) dari hal-hal yang mudah ke perkaraperkara sulit, dari ilmu-ilmu dasar meningkat dan beranjak menuju ilmu-ilmu yang lebih tinggi serta sulit merupakan salah satu dari sifat orang-orang (baca: ulama) Robbani yang difirmankan oleh Alloh: 39 HR. ad-Dailami dengan sanad dhaif sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani yang kemudian dari beliau dinukil oleh asSakhawi dalam al-Maqoshid, no. 180.


42 ا َ بِ َ َب و هت َن الْكِ ْ و ُ م ِ ل َ ُع ت ْ ُم ت ْ ا ُكن ِبَ َ ّي ِ ِ َِّبن َ ا ر ْ ُو ن ْ ُكو ْ ن هكِ ل َ و َّللهِ ا ْنِ ُو د ْ ن ِ م ْ ا ِ ّل ً اد َ ب ا عِ ْ ُو ن ْ ُكو َن ْ و ُ ُس َ ْدر ت ْ ُم ت ْ ُكن “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Alloh, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya” (Ali Imran: 79).40 Imam al-Bukhari menjelaskan makna ayat: “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Alloh (Kuunuu Robbaaniyyiin)”, dengan mengatakan: اِر َ ِ ِصغ َس ب َ ّب ِ النَّا ر ُ َّذِي ي َّرَِّبِِنُّ ال ال ِ اِره َ ب كِ َ ْل لِْم قَ ب ِ الْع “Bahwa kata Robbani (maksudnya) adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu yang tinggi.”41 Semakna dengan yang dikatakan al-Bukhari di atas, as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rohman (2002, hal. 143) menjelaskan makna Robbani dalam ayat di atas dengan mengatakan: 42 أي: ولكن أيمرهم أبن يكونوا رِبنيّي، أي علماء حكماء حلماء معلمّي للناس ومربيهم، بصغار العلم قبل كباره، عاملّي بذلك “Yaitu: memerintahkan mereka agar menjadi orang-orang yang Robbani, yaitu ulama, hakim, orang yang lembut (sabar) yang 40 Semua terjemahan ayat al-Qur’an dalam tulisan ini merujuk pada terjemahan online departemen agama yang dapat diakses pada https://quran-kemenag.go.id 41 Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Shohih al-Bukhari (Dar alHadits: Qahirah, 2011), hlm. 34. 42 Dalam Tafsir Taisir al-Karim ar-Rohman yang diterbitkan oleh penerbit ad-Dar al-Alamiyyah, Mesir, tahun 2016 penjelasan ini tidak kami temukan.


43 mengajarkan manusia dan membimbing mereka dengan (dimulai) ilmu-ilmu dasar dahulu sebelum ilmu-ilmu yang sulit (lanjutan), dan mereka mengamalkannya. 43” Hal lain yang terungkap, dengan perlakuan demikian kepada para murid-muridnya ditingkat pemula yang menyarankan memulai dari kitab-kitab dasar untuk selanjutnya beralih ke kitab-kitab yang lebih luas dan dalam pada pembahasannya, bahwa K.H. Abdul Mughni memahami benar bagaimana cara memperlakukan muridmurid pemula dan menguasai perihal kurikulum dalam dunia pendidikan, yakni memberikan pembelajaran secara sistematis. Itulah sebabnya, murid-murid yang datang kepada beliau untuk belajar tidaklah dijadikan satu seperti biasanya yang berlaku di sekolah-sekolah formal, yang mengelompokkan murid berdasarkan tahun ajaran kemudian melabeli mereka dengan label “murid baru.” Yang beliau lakukan adalah membentuk dan membagi murid-murid tersebut ke dalam halaqoh-halaqoh kecil (small grouping). Pembagian ini berdasarkan tingkatan kitab yang mereka pelajari dan dalami. Murid yang mempelajari kitab-kitab dasar beliau kelompokkan ke dalam satu halaqah,44 demikian pula mereka yang mengaji 43 Ibnul Arabi mengatakan, “Seorang alim tidak disebut robbani hingga ia menjadi sorang ‘alim (berilmu) sekaligus mu’allim (mengajarkan ilmunya) dan ‘amil (mengamalkan ilmunya). Lihat Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari (Qohirah: ad-Dar al-Alamiyyah, 2015), jilid 1, hlm. 247. 44 Istilah halaqoh berarti bulatan, dimana murid-murid duduk mengelilingi guru atau syaikh tertentu untuk mempelajari ilmu tertentu. Menurut informasi Hasan Langgulung (2000, hal. 125) sistem


44 kitab-kitab sedang sampai tinggi juga dikelompokkan dalam halaqoh masing-masing. Dengan demikian, pengelompokkan murid bukan berdasarkan waktu kedatangan mereka, namun lebih dititik beratkan pada tingkatan kitab yang mereka kaji. Walhasil, ada halaqoh yang berisi tiga sampai empat orang; ada halaqoh yang terdiri atas dua sampai tiga orang; bahkan ada juga yang hanya terdiri atas satu orang murid. Hebatnya, meski hanya terdiri atas satu orang murid, beliau tetap semangat mengajarkan dan memberikan waktu serta jam beliau yang berharga di tengah-tengah kesibukan beliau mengurus umat. Dan “anehnya” semua halaqoh tersebut terkafer dengan baik. Perlu diketahui, setiap halaqoh itu memiliki waktu belajar yang berbeda, baik hari maupun waktunya. Kecuali beliau ada halangan (udzur) atau keperluan yang tidak dapat ditinggalkan, biasanya dalam kondisi seperti ini kegiatan pengajian diliburkan. Dan apa yang beliau lakukan ini semuanya bukanlah tanpa alasan, bukan tanpa ada teorinya. Dalam dunia pendidikan modern, baik di Barat maupun di Timur, dikenal salah satu teori yang dijadikan dasar atau landasan dalam penyusunan kurikulum yaitu teori psikologi kognitif oleh J. Piaget. Menurut teori ini, dalam Asri Budiningsih (2012, hal. 35) perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang (halaqoh) ini masih berjalan di al-Azhar sampai tahun 1950 an. Sesudah 1960 sistem ini sudah tidak wujud lagi, sebab segalanya sudah berjalan menurut sistem universitas Barat.


45 didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Sebagaimana telah mafhum dan berlaku dalam manajemen pendidikan modern, bahwa kurikulum yang baik adalah model kurikulum yang sistematis, dimulai dari hal-hal yang mudah menuju hal-hal yang lebih sulit; dari hal-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak. Kurikulum ini selanjutnya lebih dikenal dengan model kurikulum berbentuk spiral (a spiral curriculum). Ide ini juga datang dari seorang penganut psikologi kognitif, yaitu Jerome Bruner yang mengatakan, dalam Asri Budiningsih (2012, hal. 42), “Perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan orang tersebut.” Satu lagi teoretis Barat yang bisa disebutkan ide atau teorinya adalah David Ausubel. Penganut Psikologi kognitif berkebangsaan Amerika Serikat ini mengemukakan ide (teori), dalam Asri Budiningsih (2012, hal. 44) bahwa pengetahuan dapat diorganisasikan dalam ingatan seseorang dalam struktur hierarkis. Sehingga perlu mengurutkan materi pelajaran dari umum ke khusus, dari keseluruhan ke rinci. Teori yang dikenal


46 dengan teori subsumptive sequence ini diyakini akan membuat belajar lebih bermakna bagi siswa. Semua yang dilakukan oleh K.H. Abdul Mughni dengan segenap perlakuan beliau terhadap mereka yang datang tersebut juga sesuai dengan ciri-ciri pada umumnya kurikulum pendidikan Islam modern sebagaimana dijabarkan oleh Mohammad al-Toumy alSyaibani45 dalam bukunya yang terkenal: Falsafatu atTarbiyyati al-Islamiyyah. 46 Dalam bukunya tersebut, al-Syaibani menyebutkan adanya lima ciri umum dalam kurikulum pendidikan Islam, di antaranya: 1. Kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran, dan ajaran-ajarannya adalah kurikulum yang luas dan menyeluruh dalam perhatian dan kandungannya. Di samping itu, dia juga luas dalam perhatiannya. Ia memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial dan spiritual. Di samping menaruh perhatian kepada pengembangan dan bimbingan terhadap aspek spiritual bagi pelajar dan pembinaan akidah yang betul padanya, menguatkan hubungan dengan Tuhannya, menghaluskan akhlaknya, melalui kajian terhadap ilmu-ilmu agama, latihan 45 Beliau adalah guru besar dalam Falsafah Pendidikan di Universitas Tripoli, Libya. 46 Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasan Langgulung menjadi: Falsafah Pendidikan Islam dan diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang, Jakarta.


47 spiritual dan mengamalkan syiar-syiar agama dan akhlak Islam.47 2. Kurikulum pada pendidikan Islam di satu segi berkaitan rapat dengan kesediaan-kesediaan, minat, keterampilan, keinginan-keinginan, dan kebutuhankebutuhan pelajar; sehingga murid-murid tidak mempelajari sesuatu kecuali kalau ia merasa sedia, berminat, ingin, dan butuh padanya, dan juga merasakan manfaatnya pada masa sekarang dan masa depan hidupnya di dunia dan di akhirat. Setiap murid diperlakukan sesuai dengan tahap pelajarannya, dan diberi peluang baginya untuk memilih mata pelajaran yang sesuai dengannya. Begitu juga dengan memilih guru dan kitab yang ingin diikutinya dalam mempelajari mata pelajaran. Pembagian murid-murid kepada kelompokkelompok adalah berdasar pada prinsip bahwa setiap pelajaran diajarkan diajarkan secara perseorangan (individuallized instruction) merupakan penemuan paling baru tentang penggolongan murid-murid (grouping) dalam ilmu pendidikan.48 Perhatikan bagaimana uraian yang dijelaskan oleh seorang pakar pendidikan sekaliber al-Syaibany memiliki persamaan hampir pada semua sisinya dengan apa yang dipahami dan dipraktikkan oleh K.H. Abdul Mughni. Demikian juga dengan para teoretis Barat semisal Piaget, Bruner, dan Ausubel. Hanya seorang guru yang mumpuni 47 Dalam bukunya, ini merupakan ciri kedua. 48 Dalam bukunya, ini merupakan ciri kelima.


48 saja yang dipastikan dapat memahami serta mengaplikasikan apa yang digariskan oleh sebuah kurikulum secara benar. Dengan demikian dapat disimpulkan, meskipun K.H. Abdul Mughni hanyalah seorang “kyai kampung,” namun pemikiran dan kiprahnya telah melampaui batas-batas sekat kebangsaan (nationality) dan sejalan dengan apa yang digariskan oleh tokoh-tokoh pendidikan transnasional. Beliau adalah seorang guru sejati yang sangat paham bagaimana memperlakukan murid-muridnya serta mengolah segala potensi yang ada di dalam diri mereka. Membimbing dan mengarahkan mereka menaiki tangga ilmu pengetahuan tahap demi tahap hingga mereka dapat meraih puncak ilmu yang mereka idam-idamkan, bukan saja untuk menikmati manisnya buah-buah ilmu namun lebih dari itu untuk mengenal diri mereka sendiri sehingga mereka dapat menjadi hamba-hamba Alloh yang mengetahui posisi dan tugasnya, serta tentu saja tujuan hidupnya sebagai manusia. Karena sebagaimana dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr, dalam Kartanegara (2003, hal. 132), “Tak ada seorang ilmuwan Muslim yang menuntut ilmu hanya karena rasa ingin tahu tetapi mereka menuntut ilmu dalam rangka mencari jejak ilahi (Véstigia Dei).” E. Membina Rumah Tangga Bagi seseorang yang sedang berjuang dalam dakwah, dan umumnya laki-laki, kehadiran sosok pendamping sangatlah utama. Selain menjaga marwah, ia bisa menjadi pendorong yang membakar semangat juang


49 pasangannya. Apatah lagi, kehadiran seorang pendamping menjadi pelengkap bagi nilai ibadah seseorang, ia merupakan separuh agama. Tentunya beliau menyadari hal tersebut, sebagaimana disabdakan oleh Nabi junjungan kita, Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam: ْ ُد فَ َقدِ ب َ الْع َ َّوج َ َز ِذَا ت إ ِ ن َ َل ْكم َ ت تَِّق هللاَ س ِِف ْ َ فَ لْي َ ْن ي دِ ْص َف ي ال ِ اق َ ْص ِف الْب ِ الن “Apabila seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka bertakwalah kepada Alloh pada separuh yang lainnya.”49 Setelah menginjak usia siap menikah, pada tahun 1964 Abdul Mughni muda pun menjalankan sunnah para rosul, 50 khususnya sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam51 dengan menikahi seorang gadis yang bernama Maqbulah, putri dari pasangan Muhammad dan Aryani 49 HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman hadits nomor 5487. Dimuat oleh al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib, Kitab: an-Nikah wa maa Yata’alluqubihi, at-Targhiibu fi an-Nikaahi Siimaa bidzaati adDiini al-Waluud, Jilid 3, hlm. 99, hadits no. 2885. Hadits Hasan bi Syawahid. 50 Diriwayatkan dari Abu Ayyub, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu sifat malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: an-Nikah, Bab: Maa Jaa-a fi Fadhli at-Tazwiiji wa al-Hatstsi ‘alaih, hlm. 219, hadits no. 1080. At-Tirmidzi berkata, “Hadits Abu Ayyub ini hadits hasan ghorib.” 51 Diriwayatkan dari Aisyah, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (pada hari kiamat).” HR. Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab: an-Nikah, Bab: Maa Jaa-a fi Fadli an-Nikaah, hlm. 207, hadits no. 1846. Hadits Hasan.


50 (Kaliabang Nangka). Hasil pernikahannya dengan Hj. Maqbulah tersebut beliau dianugerahi 3 putra dan 3 putri. Putra-putri beliau adalah: 1. Drs. H. Mahdum, M.Si 2. Dra. Hudriah 3. Marwiyah (meninggal dunia saat kecil) 4. Habib (meninggal dunia saat kecil) 5. Ulfah Yulyanah, S.Ag 6. H. Humaidi Mughni, Lc Kehidupan rumah tangga beliau dengan istri tercinta bersama-sama dengan putra-putri beliau berjalan dengan harmonis. Sebagai kepala keluarga, beliau paham benar apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Demikian juga dengan istri dan putra-putri beliau. Kesadaran akan hak dan kewajiban dari masing-masing anggota keluarga, ditambah dengan keteladanan yang diberikan oleh beliau sebagai kepala keluarga, telah menghantarkan keluarga beliau menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah, keluarga yang diliputi cahaya cinta, iman, ilmu, dan amal. Boleh dikata, keluarga beliau merupakan keluarga panutan dan percontohan bagi keluarga-keluarga lainnya.


51 Sumber foto: Dokumen keluarga Gambar 4. Bersama istri saat lomba keluarga sakinah tingkat povinsi Pengakuan keluarga beliau sebagai role model (keluarga percontohan) tidaklah berlebihan. Setidaktidaknya hal tersebut dapat disimpulkan dari prestasi keluarga beliau yang berhasil menyabet juara 1 lomba keluarga sakinah tingkat Kota Bekasi dan berhak mewakili lomba serupa untuk tingkat provinsi Jawa Barat yang digelar di Bandung pada tahun 2004. Dan harus diakui, sangat jarang ada tokoh agama maupun masyarakat yang berani menyertakan keluarganya dalam sebuah lomba keluarga sakinah seperti ini. Namun beliau dengan meyakinkan mengikutsertakan keluarga beliau dalam kegiatan lomba tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana beliau sangat mengenal keluarga beliau dan meyakini bahwa keluarga beliau


52 adalah keluarga sakinah ma waddah wa rohmah yang pantas untuk menjadi model bagi keluarga-keluarga lainnya. Beliau tidak menunjuk kelurga lain, melainkan keluarga beliau sendiri. Sungguh, sebuah percontohan yang patut diacungkan jempol, menjadikan diri dan keluarga sendiri sebagai role model. Sekali lagi, hanya orang yang yakin telah mendidik keluarga dengan benar sajalah yang berani menjadikan keluarga sendiri sebagai contoh. Hanya orang yang telah merasakan sendiri ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan dalam keluarga dan rumah tangganya yang bisa berbuat seperti itu. Harus diakui, apa yang beliau lakukan ini juga termasuk dalam metode dakwah, yaitu dengan menjadikan keluarga sendiri sebagai teladan kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, maka masyarakat akan termotivasi untuk membentuk rumah tangga yang tenang, damai dan bahagia. Melalui keikutsertaan beliau dan keluarga, seakan beliau hendak memberikan pesan kepada siapapun bahwa: “Rumahku adalah surgaku (Baitii Jannatii).” Namun kebersamaan beliau dengan istri tercinta harus terhenti. Jiwa yang telah menyatu mesti berpisah. Remuk redam rindu harus putus selamanya. Pada tahun 2005, tepatnya hari Senin, 17 Januari 2005, setelah 41 tahun menemani beliau dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan perjuangan beliau dengan segala suka dukanya, segala tangis dan tawanya, istri tercinta beliau, Hj. Maqbulah, meninggal dunia disebabkan penyakit yang dideritanya. Innalillaahi wa inna ilaihi roji’un.


53 Sungguh, sebuah kehilangan besar dirasakan bukan saja oleh beliau, putra-putri dan keluarga besar beliau, namun juga oleh masyarakat sekitar tempat tinggal beliau, khususnya oleh jamaah kaum ibu yang merupakan asuhan sang istri tercinta. Biar bagaimanapun, sang istri telah rela, tulus dan ikhlas menemani beliau dalam kurun waktu yang cukup lama. Menerima dengan sabar segala kehidupan yang beliau jalani bersama, segala susah senangnya, manis getirnya. Tetapi, kehidupan terus dan harus berjalan, perjuangan belum selesai, masyarakat luas masih membutuhkan bimbingan dan dampingan. Maka setelah berlalu seratus hari dari wafatnya istri tercinta, beliau menikah lagi dengan seorang janda yang bernama Hj. Marhanih binti Segun, Kaliabang Bungur. Karena beliau butuh pendamping, teman berbagi, teman melanjutkan perjuangan, dan di atas itu semua adalah teman menjaga marwah dan ‘iffah. F. Sakit dan Wafatnya Aktivitas beliau dalam mengajar majelis-majelis taklim yang telah beliau bangun dalam sebagian besar usianya yang diberkahi dan keasyikan menelaah kitabkitab turots dalam berbagai cabang ilmu keislaman mulai terhenti saat beliau kehilangan penglihatannya direntang tahun 2017-2019. Beliau kehilangan penglihatannya sebanyak dua kali. Ketika kehilangan penglihatan yang pertama, kemudian agak membaik, dan beliau sempat melaksanakan umroh bersama keluarga besar beliau. Sepulangnya dari menunaikan umroh, tidak berselang


54 lama penyakit itu datang kembali hingga Alloh memanggil beliau kehadirat-Nya. Rupa-rupanya Alloh mengangkat penyakitnya untuk sementara berkehendak agar beliau menjadi tamu-Nya, berkujung ke Rumah-Nya, dan menziarahi maqom Rosul-Nya. Bila demikian halnya, sungguh amat sangat berarti dan berharganya nilai kesembuhan yang Allah berikan tersebut, karena dengan kesembuhan tersebut beliau terpilih menjadi tamu Alloh (wafdulloh). Sungguh, sebuah kesempatan yang tidak sembarang orang merasakan, dan tidak semua orang terpilih untuk menemui-Nya. Beberapa kali kami bertemu beliau dalam kondisi hilang penglihatannya, namun tidak tampak sedikitpun keluh kesah terdengar dari mulut beliau, atau pun wajah murung dalam menghadapi penyakitnya tersebut. Beliau tetaplah terlihat seperti seorang tua yang tampak manis, lembut dalam bicara, dan tetap memberikan hikmah serta nasihat kepada siapa saja yang mengunjunginya. Tidak sedikitpun kehilangan penglihatan tersebut menjadi beban baginya, atau menghentikannya memberikan manfaat kepada orang lain. Mengingat beliau kehilangan penglihatannya di tengah-tengah aktivitas ilmiahnya, kami teringat dengan kisah al-Imam Ibnu Katsir yang juga mengalami kehilangan penglihatan di akhir hayatnya. Ibnu Katsir menceritakan sendiri hal tersebut, dalam az-Zahrani (2011, hal. 121) pada saat beliau sedang menulis hadits, “Aku masih menulisnya pada suatu malam di depan lampu


55 minyak yang cahayanya terus bergerak perlahan, hingga penglihatanku sirna bersamanya.” Subhanalloh, demikianlah sikap para ulama dalam berkhidmat terhadap agama ini. Mencurahkan semua waktu, tenaga, dan pikiran mereka demi tegaknya agama Alloh ini, demi terjaganya agama ini dari anasir-anasir buruk yang bisa saja memadamkan cahayanya. Bila Imam Ibnu Katsir kehilangan penglihatannya saat menulis hadits di malam hari, sementara K.H. Abdul Mughni di tengah kesibukan beliau menjaga dan menghidupkan majelismajelis taklim kedua cahaya beliau pun diambil oleh Alloh. Meskipun aktivitas keduanya mungkin berbeda, namun tujuan yang hendak dicapai adalah sama, yaitu sama-sama bertujuan menyebarkan ilmu Alloh dan mengeluarkan kaum Muslimin dari segala bentuk kejahilan serta hendak meninggikan kalimat Alloh, menjaga agar agama ini tidak redup, padam dan pudar. K.H. Abdul Mughni menerima dengan sabar kondisi tersebut meskipun dalam waktu yang cukup lama. Dalam beberapa kali penulis bertemu dengan beliau, tidak pernah terdengar sedikitpun keluh kesah beliau atas penyakit yang menimpa beliau. Demikian pula istri dan putra-putri beliau. Semua seakan tidak ada apa-apa, semua seakan baik-baik saja. Semoga kesabaran beliau ini akan berbuah surga yang dijanjikan oleh Alloh. Sebagaimana hal ini ditegaskan dalam hadits qudsi yang bersumber dari Anas bin Malik, aku mendengar Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:


56 نَّةَ َ ا ا ْْل َ ُم ْه ن ِ م ُ ه ُ ََّو ْضت ع َ ر َ َصب فَ ِ ه ْ ي َ ت َ يب ِ ب َ ْدِى ِبِ ب َ ْ ُت ع لَي َ ت ْ ِذَا اب قَا َل إ ِ َّن ا ََّّللَ إ “Sesungguhnya Alloh berfirman, ‘Apabila Aku menguji hambaKu dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.’”52 Dalam hadits qudsi yang lain, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُقوُل َ ي َ و َ ر َ َصب فَ ِ ه ْ ي َ ت َ يب ِ ب َ ْ ُت ح ب َ أَ ْذه ْ َن َ َّل م َج َّز و َ ُ ع ُوَن ا ََّّلل ا د ً اِب َ َو ث ُ ْ َض لَه أَر ْ َ َب ََل َس ت ْ ح ِ نَّة َ ا ْْل “Alloh berfirman, ‘Siapa yang Aku hilangkan dua kekasihnya (kedua matanya) lalu bersabar dan mengharap pahala, maka aku tidak ridha memberikan pahala kepadanya selain surga.’”53 Hingga akhirnya, Selasa pagi, 11 Juni 2019 bertepatan dengan tanggal 7 Syawal 1440 H, saat adzan Shubuh berkumandang dari Masjid Agung Al-Barkah, ruh beliau–yang saat itu dirawat di RSUD Kota Bekasi– dipanggil menghadap Alloh ‘Azza wa Jalla. Ternyata, gema adzan Shubuh yang merupakan sarana untuk memanggil tiap-tiap orang beriman untuk datang mendirikan shalat, untuk K.H. Abdul Mughni suara adzan tersebut merupakan panggilan bagi beliau untuk menghadap Sang Kholiq, Alloh Jalla wa ‘Ala. Dan ruh beliau pun menghadap Alloh diiringi oleh senandung adzan Shubuh nan syahdu bukan saja dari masjid kebanggaan orang Bekasi, Masjid Agung Al-Barkah, namun juga masjid-masjid lain di 52 Lihat takhrijnya di atas. 53 HR. at-Tirmidzi dalam Kitab Sunannya, Kitab: az-Zuhd, Bab: Maa Jaa-a fii Dzahaabi al-Bashari, hlm. 453, hadits no. 2401. Hadits Shohih.


57 Bekasi, bahkan di Indonesia. Qoddasahullohu ruuhahu (semoga Allah mensucikan ruh beliau). Kesedihan yang demikian besar mungkin tidak saja kami alami, namun juga dirasakan oleh setiap santri dan murid beliau, jamaah-jamaah beliau, serta setiap orang yang mengenal keulamaan beliau. Demikian juga bagi setiap orang yang pernah belajar kepada beliau akan merasakan semua kesedihan itu, kecuali orang-orang munafik. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah riwayat: ٌق قاِلا ثلث مرات ِ اف َ ن ُ ٌق م ِ اف َ ن ُ ٌق م ِ اف َ ن ُ م َ ُو ِ، فَ ه ِ اَل َ ِت الع ْ و َ م ِ ْن ل َ ْز ََي ْ ََل ْ َن م “Barangsiapa yang tidak bersedih dengan kematian orang alim (ulama), sesungguhnya ia adalah seorang munafik, munafik, munafik. Beliau mengucapkannya tiga kali.”54 Sebuah hadits yang juga dikutip oleh K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc dalam kata sambutannya selepas mensholatkan jenazah55 K.H. Abdul Mughni di Masjid AsSu’ada –masjid yang beliau sendiri menjadi ketua DKM54 Dimuat dalam Tanqih al-Qoul al-Hatsits fii Syarh Lubab al-Hadits, al-Bab as-Saabi’u wa ats-Tsalaatsuuna: fii Fadhiilati Dzikri al-Mauti, hlm. 93, Hadits no.9 55 Sholat Jenazah dilaksanakan ba’da shalat Zhuhur yang diimami oleh K.H. Ishomuddin Mukhtar, Lc. Segenap jamaah yang hadir di antaranya: Dr. K.H. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A (Ketua Mustasyar PCNU Kota Bekasi), K.H. Mutawakil ‘Alallah, K.H. Zainuddin Qasim, M.A, para asatidz serta murid-murid beliau dari berbagai kampung, dan jamaah umum; sedangkan dari usur pimpinan antara lain: Camat Bekasi Utara, Kapolsek Bekasi Utara, Lurah Marga Mulya, Lurah Harapan Jaya, Lurah Harapan Baru, para penghulu kantor KUA Bekasi Utara. Jenazah dimakamkan di komplek madrasah yang beliau bangun, di Kampung Rawa Bugel, Bekasi Utara. Qoddasahullohu ruuhahu (Semoga Allah mensucikan ruh beliau).


58 nya –, bahkan beliau menambahkan dengan hadits yang menegaskan, “Matinya orang alim (ulama) merupakan kematian alam (Mautul ‘Aalim Mautul ‘Aalam).”56 Meninggalnya K.H. Abdul Mughni, jelas K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc merupakan cara Alloh mencabut ilmu dari dunia, karena Alloh tidak akan mencabut ilmu dengan menghilangkannya dari dada-dada para ulama namun dengan cara mewafatkan mereka. Kemudian K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc mengutip hadits: ِ ْت ان َ لْم ِ ُض الْع ِ ْقب َ ِ َّن هللاَ الَ ي إ َ ُ ز ُه ِزع َ ت ْ ن َ ا ي اع ِض ً ْ َقب ِ ب َ لْم ِ ُض الْع ِ ْقب َ ي ْ ن لَكِ َ ، و ادِ َ ب ِ الْع َ ن ِ م و ُ ء ُ ُس ر ََّّتََذ النَّا ا ا ً م ِ ال َ ْ َق ع ب َ ي ْ ِذَا ََل تَّ ى إ َ ح ِ اء َ لَم ُ َْْي الْع ِ غ ِ ا ب ْ َو لُوا، فَأَفْ ت ِ ئ ُ َّهاالً فَس ُ ا ج ً س وا ُّ َضل أَ َ وا و ُّ َضل لٍْم فَ ِ ع “Sesungguhnya Alloh tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Alloh mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.”57 Sungguh! Bila kita seorang muslim yang sadar akan tugas seorang ulama maka tidak ada alasan untuk kita tidak bersedih dengan berpulangnya keharibaan Alloh, alMarhum Rohmatal Abror K.H. Abdul Mughni. Karena dengan wafatnya beliau, maka kita akan kehilangan 56 Dimuat dalam al-Khubawi, Durrotu an-Nasihin (Singapura: Sinar Asia, t.t.p), hlm. 16 57 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: al-Ilmi, Bab: Kaifa Yuqbadhu al-Ilmu?, hlm. 30, hadits no. 100, dan Muslim dalam Shohihnya, Kitab: al-Ilmi, Bab: Raf’i al-Ilmi wa Qobdhihi wa Zhuhuuri al-Jahli wa al-Fitan fii Aakhiri az-Zamaan, hlm. 846, hadits no. 2673. Ini merupakan redaksi Imam al-Bukhori.


59 tuntunan. Padamnya pelita yang menerangi jalan kehidupan kita. Untuk siapa saja yang sadar, sudah barang tentu hal tersebut akan mendatangkan risau dan kegelisahan. Maka tetes air mata adalah sebuah keharusan atas hilangnya sesuatu yang sangat berharga ini. Bagaimana mungkin kita tidak akan bersedih dan tidak merasa kehilangan, sedangkan penduduk langit dan bumi menangisi kepergiannya. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits, “Ketika seorang alim meninggal maka menangislah penduduk langit dan bumi selama 70 hari.”58 Meskipun kita benar-benar merasa kehilangan atas kepergian K.H. Abdul Mughni, namun tidak ada yang dapat kita katakan kecuali seperti kata-kata Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika wafatnya putra beliau, Ibrahim: َ َك َي ِ اق َ ر ِ ف ِ ا، َوإََّن ل َ ِضي َربَّ ن ْ ر ُ ا ي َ َُقوُلِإَّال م ْزُن، َوَال ن والَقلب ََي ُ َع َ ْدم ََّْي ت إَّن الع ُوَن ُون َحز لَم ُ يم اهِ َ إبر “Air mata berlinang, hatipun bersedih, namun kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Alloh, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim.”59 58 Dimuat dalam Tanqih al-Qaul al-Hatsits fii Syarh Lubab al-Hadits, al-Bab as-Saabi’u wa ats-Tsalaatsuuna: fii Fadhiilati Dzikri al-Mauti, hlm. 93, Hadits no.9 59 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: al-Janaaiz, Bab: Qouli anNabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam (Innaa bika Lamahzuunuun), hlm. 216, hadits no. 1303, dan Muslim dalam Shohihnya, Kitab: al-Fadhooil, Bab: Rohmatihi Shollallohu ‘alaihi wa sallam ash-Shibyaana wa al- ‘Iyaala wa Tawaadhu’ihi wa Fadhli Dzaalik, hlm. 746, hadits no. 2315. Redaksi ini milik Imam al-Bukhori.


60 ۚ امِ َ ْكر اْالِ َ ِل و له َ َك ذُو ا ْْل ِ ب َ ُ ر ه ْ َج هقى و ْ ب َ ۚ َّوي ا فَانٍ َ ْه لَي َ ْ ع َن ُك ُّل م “Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal” (arRahman: 26-27). G. Kezuhudan K.H. Abdul Mughni Sebagaimana hal yang biasa berlaku dalam tradisi kyai-kyai tradisional, baik yang termasuk dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU) maupun tidak, selain memperdalam dan menguasai ilmu alat dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, ada juga yang senantiasa mereka pelajari, ikuti dan praktikkan, yakni tasawuf atau irfan.60 Tujuannya, agar selain memiliki ilmu yang mumpuni, juga memiliki kebagusan akhlak serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengawasi. Demikian pula halnya yang berlaku bagi K.H. Abdul Mughni. Meskipun mungkin beliau tidak ikut atau menisbatkan diri dengan thariqatthariqat tertentu yang ada dan tumbuh berkembang di Indonesia, namun dalam tingkah laku dan pikiran serta bagaimana beliau mengambil keputusan ada juga “rasa itu.” 60 Dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama (NU), pasal 5 tentang Pedoman, Aqidah da Asas organisasi, dikatakan: Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.


61 Salah satu ajaran dalam tasawuf atau irfan yang sangat ketat dan asketis adalah zuhud61 atau gaya hidup yang tidak menjadikan dunia sebagai prioritas utama. Setidaknya ada dua peristiwa yang kami temui langsung dan dipraktekkan oleh beliau dalam ucapan dan tindakan beliau yang dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk kezuhudan beliau. a. Menolak menjadi muthawwif Hal pertama yang dalam pandangan kami merupakan sebuah tindakan dan keputusan yang dilandasi kezuhudan adalah saat beliau menolak untuk dimasukkan dan direkrut sebagai seorang pembimbing haji atau umrah (muthawwif) oleh sebuah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan Umrah yang sedang naik daun. Membludaknya jamaah serta keinginan untuk memperbesar KBIHnya, sang pimpinan meminta beliau untuk menjadi salah seorang muthawwifnya. Tentunya, sikap sang pimpinan ini didasari selain untuk mengatasi jamaah yang kian banyak juga untuk mengokohkan KBIHnya. Karena dengan merekrut beliau, sebagai seorang ulama yang cukup terkenal, maka akan menjadi magnet dan daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk 61 Zuhud dalam perspektif para ahli tasawuf, jelas al-Kalabadzi (1985, hal. 118) memiliki banyak arti. Di antaranya, yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib saat beliau ditanya tentang zuhud, beliau menjawab, “Zuhud ialah hendaklah kamu tidak terpengaruh dan iri hati terhadap orang-orang yang serakah terhadap keduniawian, baik dari orang mukmin maupun dari orang kafir.”


62 ikut bergabung dengan KBIH ini saat ingin menunaikan ibadah haji atau umrah. Saat mungkin ustadz atau kyai lain sangat ingin untuk terjun dalam dunia ini, namun dengan segala kerendahan hati, dengan cara yang sangat halus, beliau malahan menolaknya. Menolak datangnya dunia dengan segala keuntungannya, menghindari kunjungan dunia dengan segala ketenarannya. Dalam suatu kesempatan, beliau menyampaikan kepada kami sebab beliau menolak untuk bergabung menjadi mutawwif. Dalam pandangan dan penilaian beliau, sudah banyak sekali hari ini KBIH, meskipun mungkin tidak seluruhnya, yang bergeser dari tujuannya semula. Yang awalnya bertujuan memberikan bantuan berupa kemudahan dan pelayanan kepada para jamaah calon haji dan jamaah umrah kini telah bertujuan mencari keuntungan materi. Kalaupun beliau mau menjadi muthawwif, itu adalah pada saat ia dapat mengontrol dan memastikan tujuannya berjalan dengan benar. Memang, kalau kita berani jujur, KBIH yang awalnya bersifat agamis saat ini bisa jadi telah berubah menjadi kapitalis, karena kini ia telah menjadi sebuah industri, yaitu industri jasa. Perubahan tersebut terjadi karena banyaknya keuntungan duniawi yang mereka harapkan dan dapatkan. Maka tak heran bila dalam masyarakat kita temukan “perang KBIH” lewat iklan-iklan yang menggiurkan. Tujuannya, jelas merekrut jamaah sebanyak-banyaknya. Bila mereka mencari jamaah yang banyak agar bisa membantu sebanyak-banyaknya–dan


63 semoga ini tetap menjadi niat mereka–sudah tentu hal itu merupakan hal yang baik. Namun, kenyataan terkadang berbicara lain. Jauh panggang daripada api. Apa yang beliau lakukan tersebut, dalam pandangan kami, menunjukkan dua hal. Pertama, kezuhudan beliau. Dengan tidak mau menjadikan dunia sebagai landasan dalam bertindak, ataupun ikut serta dalam pusaran kegiatan yang hanya menjadikan dunia sebagai tujuan. Kedua, sebagai bentuk kritik sosial atas apa yang oleh sebagian orang menjadi sesuatu yang telah biasa. Kritik yang dilakukan terhadap kemapanan yang “menyimpang” dalam masyarakat merupakan tujuan utama dari lahirnya organisasi tasawuf dan merupakan peran utama dari para sufi dan zahid-zahid awal. Sebagaimana dikatakan oleh Fazlur Rahman (2000, hal. 185): Kesalehan asketis ini selanjutnya memperoleh dorongan yang kuat dari dua arah, (salah satunya); lingkungan yang mewah dan kenikmatan duniawi yang pada umumnya merata di kalangan masyarakat Islam dengan kemantapan dan konsolidasi kerajaan baru Daulat Umaiyyah yang luas. Khususnya sebagai reaksi yang tajam terhadap sikap hidup yang sekular dan sama sekali tak saleh dari para penguasa dinasti baru Umaiyyah di istana mereka, yang sebagian besar bertingkah laku sama sekali bertentangan dengan kesalehan dan kesederhanaan empat khalifah yang mula-mula.


64 Sekali lagi, walaupun beliau mungkin tidak terafiliasi dengan satu organisasi tasawuf atau menjadi sufi dalam artian sesungguhnya, tetapi dari apa yang tergambar di atas beliau telah menunjukkan akhlak tasawuf yang cukup kental serta pengamalan nilai-nilai yang biasa dipegang oleh mereka yang larut dalam aktivitas ribath-ribath atau zawiyah-zawiyah sufi. Saat kami asyik mengupas kezuhudan beliau, tibatiba ada yang menyeletuk: tapi K.H Abdul Mughni memiliki mobil, motor, rumah yang cukup nyaman, lembaga pendidikan, dan lain-lain “kemewahan” dunia? Kalau benar beliau adalah seorang zahid, mengapa masih memiliki semua itu. Mengapa beliau tidak meninggalkan semua keduniawian yang akan memberatkannya. Harus diketahui, wahai saudaraku, bahwa zuhud dalam Islam sangatlah berbeda dengan kerahiban dalam agama lain. Bila dalam agama lain kerahiban (zuhud) dimaknai sebagai sebuah “penyiksaan diri” tidak demikian halnya dalam pandangan Islam. Zuhud dalam Islam adalah sebagaimana yang digambarkan oleh alTaftazani (2008, hal. 67): Islam mempunyai pemahaman tersendiri terhadap zuhud. Zuhud dalam Islam bukan sebuah bentuk kerahiban atau memutuskan diri dari dunia. Ia tak lain adalah sebuah nilai yang dilaksanakan oleh manusia, yang menjadikan pelakunya mempunyai pandangan tersendiri terhadap kehidupan dunia, bertindak di dalamnya, namun tidak menjadikannya sebagai penguasa di dalam hati, dan juga tak mampu memalingkan diri si pelaku dari Tuhannya. Oleh


65 karena itu, zuhud dalam Islam tak harus disertai dengan kemiskinan. Bahkan terkadang terdapat pada diri seseorang sebuah kekayaan yang beriringan dengan kezuhudan. Jadi jelas sudah, zuhud berbeda dengan kerahiban, ia juga tidak identik dengan kemiskinan. Namun, zuhud merupakan sebuah nilai dan kemampuan jiwa seseorang dalam memperlakukan dunia dengan segala kenikmatannya secara benar dan sesuai dengan nilai-nilai ruhani Islam. b. Jarang mau menerima undangan Sebagai seorang ulama yang disegani adalah hal yang wajar bila beliau mendapatkan banyak tawaran dan undangan dari masjid-masjid lain, terutama untuk khutbah dan menjadi imam. Dan undangan tersebut akan berlipat jumlahnya bila memasuki bulan-bulan Romadhon. Namun, dengan halus beliau seringnya menolak. Padahal secara ekonomis, bila beliau memenuhi undangan tersebut hampir dapat dipastikan beliau akan mendapatkan sumber-sumber finansial baru. Apalagi kebiasaan yang berlaku, besar kecilnya nilai finansial yang diberikan juga ditentukan oleh “nama besar” sang tokoh. Tetapi beliau tidak sedikitpun tergiur dengan itu semua. Beliau lebih suka memberikannya kepada orangorang muda, sedangkan beliau memilih “jaga kandang” dengan mengimami atau menjadi makmum di masjid yang beliau bina sendiri, yaitu masjid As-Su’ada, Rawa Bugel. Beliau tidak ingin masjid yang beliau bina dan perjuangkan bersama masyarakat tersebut menjadi sepi,


66 jamaah kehilangan tokohnya, laksana anak ayam kehilangan induknya. Beliau lebih memilih tetap mengayomi masyarakat yang memang telah dibina dihampir sepanjang usia beliau. Meskipun untuk itu beliau hanya mendapatkan keuntungan finansial hanya sedikit, bahkan bisa jadi tidak sama sekali. Dan beliau juga memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk mulai berkiprah dalam masyarakat, mengenal keragaman praktik beragama yang kemungkinan mereka temui di tempat-tempat yang berbeda, dan memperkaya khazanah ilmu dan pengalaman mereka. Dengan demikian, pada hakikatnya beliau telah mempersiapkan generasi-generasi mendatang, generasi yang siap terjun ke masyarakat membawa obor dakwah dan pengajaran. Hal lain yang mungkin dapat disimpulkan terkait sikap beliau di atas, dan yang tersebar dalam halamanhalaman tulisan ini, adalah keengganan beliau untuk populer, untuk terkenal. Itu sebabnya beliau tidak begitu tertarik untuk menonjolkan diri. Gaya pakaian beliau sederhana, tidak menampilkan kesan seorang yang mendalam dalam ilmu. Jarang sekali beliau menggunakan “pakaian kebesaran” yang seringkali menjadi “ciri khas” seorang ulama. Sufyan ats-Tsauri berkata dalam Siyar A’lamin Nubala, dalam Anton Abdillah (2021): َف َ ْر ُع َّب أَ ْن ت ِِف أَ ْن َال ُُتِ ةُ َ َّسَلم ال “Keselamatan (kebahagiaan, ketenangan, keamanan, dan lainlain) di dalam engkau tidak cinta kepopuleran (ketenaran).” Kalaupun hari ini beliau terkenal, populer dan dikenal banyak orang bukan karena beliau bertujuan ingin


67 terkenal, atau keterkenalan menjadi cita-cita beliau; namun itu adalah efek dari apa yang ada pada beliau– berupa ilmu dan pemahaman–dan dari segala tindakantindakan yang beliau lakukan–berupa dakwah dan pengajaran–dan bukan karena lahir dari tujuan-tujuan yang diusahakan. Dengan adanya itu semua, Alloh berkehendak agar beliau dikenal. Alloh meninggikan kedudukan beliau, beliau banyak disebut di kalangan manusia, dan Alloh meletakkan di hati para hamba-Nya kecintaan kepada beliau. H. Akhlak dan Ibadah K.H. Abdul Mughni Sebagaimana layaknya seorang guru kepada muridmuridnya, orang tua kepada anak-anaknya, sesepuh dan tokoh agama bagi masyarakatnya, kehidupan beliau yang penuh berkah menjadi teladan yang tak ternilai, baik dalam urusan akhlak, ibadah, dan aktivitas pencarian ilmu. Mengutip tulisan putra beliau, H. Humaidi (2020), berikut ini beberapa keteladanan K.H. Abdul Mughni bagi kita yang masih hidup. 1. Beliau adalah seorang yang rajin ibadah, sholat berjamaah dan sholat malam. Senang membaca alQur’an setiap hari terutama setelah sholat Shubuh dan sholat Ashar. 2. Beliau adalah orang yang cinta dengan ilmu agama dan senang mengajar. Siapa saja yang ingin belajar kepada beliau pasti beliau ajarkan. Barangkali beliau mengamalkan hadits, “Tuntutlah ilmu dari buaian


68 sampai masuk liang lahat,”62 dan hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat.”63 3. Beliau orang yang senang bersilaturrahmi. Di mana pun beliau diundang beliau akan hadir, selama tidak ada halangan, meskipun kondisi fisik beliau sudah tua dan lemah. Dapat kami tambahkan di sini, bahwa beliau adalah orang yang sangat menjaga diri, akhlak dan kehormatan. Beliau bukan saja melakukan hal tersebut untuk diri sendiri, namun juga mewasiatkannya kepada kami muridmurid beliau. Beliau senantiasa berpesan kepada kami murid-murid beliau agar senantiasa menjaga diri dan perilaku dimana saja berada. Karena adakalanya orangorang yang tidak kita kenal pada kenyataannya malah mengenal kita. Apalagi buat seorang yang terjun dalam medan dakwah dan seorang pengajar yang seringkali bertemu dengan orang lain. Sangat besar peluangnya, kita tidak mengenal mereka namun mereka mengenal kita 62 Ini adalah ucapan yang sangat terkenal, namun sebenarnya ini bukanlah hadits sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (w. 1417 H) dalam kitabnya: Qimah az-Zaman inda al- ‘Ulama, “Perkataan ini, yaitu ‘Menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat’, dan disampaikan juga dengan ungkapan, ‘Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat’, bukanlah hadits Nabi. Ia hanyalah perkataan manusia biasa.” Walaupun demikian, makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah shohih (benar). 63 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: Ahaditsi al-Anbiya’, Bab: Maa Dzukira ‘an Bani Israil, hlm. 566, hadits no. 3461 dan at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: al-‘Ilm, Bab: Maa Jaa-a fi al-Hadits ‘an Bani Israil, hlm. 498, hadits no. 2669. Hadits Shohih.


69 karena suatu waktu pernah melihat kita di atas podium misalnya, di depan jamaah berceramah, dan kegiatankegiatan lain yang kita lakukan dihadapan publik yang kita tidak kenal semua publik yang hadir itu. Oleh sebab itulah beliau berpesan, akhlak dan kelakuan hendaklah dijaga dimanapun berada. Beliau juga merupakan sosok yang teguh memegang janji dan mendahulukan orang yang lebih dahulu mengikat janji dengan beliau. Ketika beliau mendapatkan undangan dari jama’ah dalam waktu yang sama serta berbarengan, maka beliau akan melakukan dua hal. Pertama, meminta pengundang kedua merubah waktunya, selama itu bisa dan mungkin. Kedua, bila tidak memungkinkan dirubah dan tidak mungkin untuk dihadiri keduanya, maka beliau akan mendahulukan undangan orang pertama, meskipun mungkin orang yang mengundang kedua adalah orang yang secara ekonomi dan finansial berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Bagi beliau, siapa yang pertama hadir ke rumahnya untuk mengundang beliau, maka ia yang lebih berhak untuk didahulukan. Dengan sikap beliau ini, selain akan menjaga janji yang telah terucap juga menghindari jamaah dari sakit hati dan menyelamatkan mereka dari mengidap penyakit hati seperti dengki, hasad, dan lainnya, baik kepada beliau maupun kepada orang yang kedua yang beliau datangi undangannya.


70 Sumber foto: TEROPONGINDONESIA.COM Gambar 5. Jamaah mengantarkan KH. Abdul Mughni ke peristirahatan terakhir Demikian beberapa akhlak dan ibadah K.H. Abdul Mughni. Kami tuliskan di sini bukan karena motif membanggakan dan menyombongkan diri, namun lebih kepada berusaha menjadikan beliau sebagai figur panutan bagi setiap kaum Muslimin, teristimewa bagi yang mengenal beliau, murid-murid beliau dan masyarakat di mana dahulu beliau mengabdikan seluruh umurnya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan kedudukan dan keutamaan beliau kelak pada hari kiamat, namun beliau mengingatkan bahwa apa yang beliau lakukan itu bukan untuk membanggakan diri. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:


71 ُد ِ ي َ ََن س أَ َ َ ولَ ا ْل ُ اء َ و ِ َدِى ل ي ِ ، ب َ َال فَ ْخر َ و ِ ة َ ام َ ي ِ الْق َ م ْ َو ي َ َم آد ْ دِ ن ِ ا م َ م َ ، و َ َال فَ ْخر َ و ْدِ م َ فَم ُ َم آد ذٍ ِ ئ َ م ْ َو ٍ ي ِب ن َال َ َ ْ ُض و اْلَر ُ ْه ن َ ق ع ْ َش ُّ ن َ ت ْ َن ََن أََّوُل م أَ َ ِى، و ائ َ و ِ َِّال َُتْ َت ل إ ُ اه َ و ْ سِ ن َ فَ ْخر “Aku adalah penghulu (sayyid) anak Adam pada hari kiamat tanpa membanggakan diri, di tanganku terletak panji pujian tanpa membanggakan diri. Tidak ada seorang nabi pun di hari itu, mulai dari Nabi Adam hingga nabi-nabi yang lain kecuali berada di bawah panjiku. Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah karena aku keluar dari dalamnya tanpa membanggakan diri.”64 64 HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: Tafsiri al-Qur’an, Bab: Wa min Suroti Bani Israil, hlm. 580, hadits no. 3148 dan Kitab: al-Manaqib, Bab: Fi Fadhli an-Nabiyyi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, hlm. 666, hadits no. 3615; Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab: az-Zuhd, Bab: Dzikri asySyafa’ah, hlm. 478, hadits no. 4308 dengan terdapat redaksi, “Dan aku adalah orang pertama yang dapat memberi syafaat, serta aku adalah orang pertama yang diperbolehkan memberi syafaat tanpa membanggakan diri”. Hadits Shohih. Redaksi ini milik at-Tirmidzi.


72 BAB 2 KIPRAH K.H. ABDUL MUGHNI DALAM BIDANG DAKWAH “Jagalah perbuatanmu dimana saja kamu berada. Karena adakalanya orang yang tidak kamu kenal justru ia mengenalmu” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ Islam merupakan agama risalah dan dakwah. Bila kita cermati sejarah perkembangannya, maka nyatalah bahwa kedua hal tersebut memang bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari bangunan yang bernama Islam. Maka tidak mengherankan bila salah satu kewajiban seorang Muslim terhadap agamanya adalah mendakwahkannya. Begitu penting artinya dakwah bagi pertumbuhan dan perkembangan agama yang suci ini sampai-sampai salah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang panglima perang saat akan memasuki perkampungan musuh ialah mendakwahkan terlebih dahulu mereka. Bila mereka menerima dakwah Islam, maka perangpun batal, sedangkan bila mereka menolak apalagi menghinakan Islam maka perang akan dikobarkan. Dakwah sebagai salah satu kewajiban yang harus diemban seorang Muslim juga dipahami dengan sangat baik oleh K.H. Abdul Mughni. Karena kesadarannya


73 itulah maka ia membulatkan tekat untuk turut memikul tanggung jawab menyebarkan Islam dan segala ajarannya yang suci ke dalam segenap sendi-sendi masyarakat, meskipun beliau tahu untuk itu beliau harus menempuh jalan yang menanjak dan berduri. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri dan dihindari karena saat itu medan yang akan beliau terjuni merupakan medan berat, mengingat sebagian masyarakat telah memiliki “kepercayaan lain” meskipun bila dilihat dari permukaan hanya Islam yang tampak. Namun bila niat telah dipasang pantang langkah surut ke belakang. Maka jalanlah beliau menempuh jalan yang dipilih, melebarkan dakwah Islam ke tengah-tengah masyarakatnya. Dalam sub judul ini kita akan mencoba melihat peran dan kiprah dakwah dari K.H. Abdul Mughni dalam tiga fase: persiapan dakwah, pelaksanaan dakwah, dan hasil-hasil yang dicapai oleh dakwah beliau. Dengan melihat fase persiapan dakwah kita bisa memberikan penilaian, apakah beliau layak atau tidak terjun dalam dunia dakwah;65 dengan mempelajari fase pelaksanaannya 65 Bila kita cermati benar-benar hari ini, banyak sekali mereka yang mengaku da’i dan menceburkan diri dalam dakwah tidak memiliki persiapan yang cukup, terutama dalam hal persiapan ilmiah. Mereka berdakwah hanya berbekal semangat karena didorong oleh hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sampaikanlah daripadaku walaupun satu ayat.” Hasilnya, bukan memberikan pencerahan namun malah memperkeruh suasana, mereka malah ngeribetin. Apalagi kalau da’i yang tidak memiliki kompetensi tersebut latah dengan ikut bersuara dalam medan perbedaan pendapat para ulama. Mereka “mencekoki” umat dengan fatwa-fatwa tanpa ilmu yang berakibat menimbulkan benih-benih permusuhan di kalangan umat Islam. Maka


74 kita bisa belajar bagaimana menjadi da’i yang benar, yang berhasil membentuk umat sesuai dengan tuntunan dan pedoman ajaran Islam; dan dengan melihat hasil kita dapat membandingkan serta mengukur sejauh mana kiprah beliau dalam bidang dakwah tersebut. A. Persiapan Mental Medan dakwah bukanlah sesuatu yang beku (jumud) dan statis, sebaliknya ia merupakan medan yang bergerak secara dinamis. Ia memiliki ruh yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemauan mereka. Ya, medan dakwah tersebut adalah masyarakat. Sebuah komunitas yang terdiri dari beraneka ragam pemahaman dan pengalaman. Sudah barang tentu, “menjinakkan” dan “mengendalikan” medan yang seperti itu untuk ikut sesuai dengan kemauan pendakwah bukanlah perkara mudah dan enteng. Oleh sebab itu dibutuhkan mental baja serta jiwa-jiwa tangguh yang dapat menghadapi segala kesusahan, kesulitan, bahkan penderitaan yang bakal datang saat ia berdakwah. K.H. Abdul Mughni bukan tidak mengetahui dan menyadari konsekuensi tersebut. Itulah sebabnya beliau telah mempersiapkan diri, mental, dan spiritual sebelum beliau memastikan diri terjun dalam masyarakat. Salah satu persiapan mental dan spiritual tersebut adalah dalam bentuk mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara mengaplikasikan ibadah-ibadah yang diperintahkan-nya, tidak mengherankan bila kita liat saat ini fenomena saling takfir dan ta’dzir berkembang pesat.


75 baik yang bernilai sunnah apalagi wajib. Dengan usaha mendekatkan diri kepada Alloh, berserah diri kepada qudrat dan irodat-Nya diharapkan akan memperkuat mental dan spiritual beliau yang pada gilirannya pertolongan dan perlindungan Alloh akan datang. Karena bagi seorang Mukmin, bila bukan meminta pertolongan dan perlindungan Alloh kepada siapa lagi akan memohon perlindungan dan pertolongan? Beliau telah menggembleng jiwa, mental dan spiritual ini mulai dari saat beliau masih belajar dan di bawah bimbingan K.H. Muchtar Thobroni dan terus dilanjutkan seiring dengan kematangan jiwa dan mental beliau karena semakin berkembangnya ilmu dan pengalaman. Karena sebagaimana telah maklum, peran pondok pesantren bukan saja sebagai lembaga yang menularkan ilmu-ilmu keislaman, namun juga lembaga yang mempersiapkan calon-calon da’i yang akan terjun di masyarakatnya masing-masing kelak saat mereka kembali. Maka tak mengherankan, bila santri digembleng bukan saja akal dan daya intelektualnya, tetapi juga mental, jiwa dan perasaannya. Persiapan ini beliau lakukan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan masyarakat yang akan beliau hadapi. Tentu saja arahan dan bimbingan sang guru, K.H. Muchtar Thobroni, semakin memantapkan pilihan dan kesiapan beliau mengaruhi medan dakwah. Sehingga ketika beliau menginjakkan kakinya dalam masyarakat untuk yang pertama kali, tiada ragu dan gentar sedikitpun yang akan menghalangi.


76 B. Persiapan Ilmiah Selain mempersiapkan mental dan spiritual sebelum terjun dalam hiruk-pikuk masyarakat, beliaupun melakukan persiapan ilmiah. Hal ini disebabkan tugas seorang da’i adalah mengajak dan membina setiap pribadi serta membangun umat menuju arah yang diridhai Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Menurut Mohammad Natsir (2000, hal. 148-150), ada empat persiapan yang harus dilakukan oleh seseorang yang akan terjun dalam medan dakwah. (1) tafaqquh fid din (2) tafaqquh fin nas, (3) menguasai bahasa alQur’an, dan (4) menguasai bahasa pengantar. Keempat persiapan inilah yang juga dipersiapkan oleh K.H. Abdul Mughni sebelum beliau terjun dalam medan dakwah (masyarakat). 1. Memahami agama (tafaqquh fi ad-din) dengan segala ilmu-ilmunya Persiapan ini rasanya tidak perlu diragukan lagi karena sebagaimana telah dibahas dalam banyak tempat pada tulisan kecil ini tentang bagaimana keilmuan beliau dalam ilmu-ilmu keislaman. Semua itu berkat bimbingan dan gemblengan K.H. Muchtar Thobroni serta takdir Alloh yang menghendaki beliau mendapatkan kebaikan berupa tafaqquh fi addin. Dan semua yang beliau peroleh dari guru-guru beliau, khususnya dari K.H. Muchtar Thobroni sangat bermanfaat dan membantu beliau dalam usaha dakwahnya di masyarakat yang heterogen pemahamannya dalam urusan agama. Bekal keilmuan memang menjadi satu hal yang telah


77 dipersiapkan oleh K.H. Muchtar Thobroni kepada murid-muridnya untuk berdakwah di daerah maing-masing. Tak terkecuali untuk K.H. Abdul Mughni. 2. Memahami kondisi masyarakat (tafaqquh fi an-nas) Sebagai putra asli Bekasi, dan anak kampung sendiri, hampir dapat dipastikan beliau mengetahui lika-liku masyarakatnya. Apa yang terjadi dalam tubuh masyarakatnya serta apa kebutuhan yang paling mendesak untuk dibenahi beliau telah menyadarinya. Pemahaman atas kondisi faktual dan aktual masyarakatnya saat itu merupakan salah satu faktor keberhasilan dakwah beliau serta antusiasme masyarakat dalam menerima dan menyambut dakwah beliau. Apa yang menyebabkan beliau memahami masyarakatnya? Jawabnya, karena beliau hidup bersama mereka di tengah-tengah medan masyarakat. Bercampur baur dengan mereka dan membuka diri bagi mereka. Beliau adalah pribadi yang supel dan terbuka, bukan pribadi yang intropet dan menutup diri, sehingga dengan sikap yang demikian beliau berhasil menyelami jiwa masyarakatnya. Dalam hal ini, apa yang dikatakan dikatakan oleh Sztompka (2011, hal. 314) sangatlah relevan, di mana ia berkata, “Untuk menjadi pemimpin orang harus mempunyai pengikut. Untuk menjadi penulis terkenal, orang harus mempunyai pembaca. Untuk dihargai masyarakat, orang harus bergaul, tidak menyendiri.


78 3. Penguasaan bahasa al-Qur’an Ini merupakan persiapan yang amat penting karena materi yang akan didakwahkan adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang keduanya berbahasa Arab. Dengan demikian, menguasai bahasa Arab bagi seorang da’i yang akan terjun ke medan dakwah merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ada yang mengatakan batasannya minimal pasif. Sedangkan kemampuan bahasa Arab beliau sudah melebihi batas minimal karena beliau tergolong dalam orang yang dapat berbahasa Arab aktif, hal tersebut dapat dimaklumi mengingat beliau pernah belajar di LIPIA yang bahasa pengantarnya dalam belajar adalah bahasa Arab, demikian juga bahasa pergaulannya selama berada di kampus. Kelebihan lainnya, beliau pun sangat menguasai ilmu-ilmu yang terkait dengan gramatikal bahasa Arab. Dengan demikian, persiapan beliau dari sisi ini telah sangat siap untuk menghantarkan beliau dalam medan dakwah serta terjun ke masyarakat guna membimbing mereka menjemput hidayah Alloh. 4. Penguasaan bahasa pengantar Medan dakwah tempat beliau berkiprah merupakan masyarakat yang memiliki bahasa ibu yang sama dengan beliau. Sudah tentu dalam hal ini beliau diuntungkan karena dakwah yang beliau laksanakan sudah tidak terhalang dengan sekat bahasa pengantar. Bahkan, dengan penguasaan


79 bahasa pengantar yang baik serta didukung oleh akhlak yang mulia dakwah beliau mendapatkan sambutan dari masyarakat tempat di mana beliau berdakwah. Dengan demikian tampaklah bahwa dalam fase persiapan, beliau telah sangat siap untuk terjun ke masyarakat guna membimbing mereka ke arah jalan Alloh. Beliau sangat layak untuk menyandang gelar sebagai seorang da’i dan menjalankan misi dakwahnya. Persiapan ilmu-ilmu keislaman serta penguasaan bahasa Arab dengan perangkat ilmu-ilmunya beliau telah mumpuni. Demikian juga dengan penguasaan bahasa pengantar, karena medan dakwah beliau adalah masyarakat beliau sendiri, sehingga beliau tidak mengalami kesulitan dalam hal bahasa pengantar untuk bergaul dengan masyarakat. Buah dari pergaulan tersebut mendatangkan pengetahuan yang berharga tentang kondisi sebenarnya dari masyarakat sehingga beliau sangat mengenal masyarakat di mana beliau berdakwah. C. Metode dan Pendekatan Dakwah Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i tidak akan mendapatkan penerimaan dengan baik bila dakwah disampaikan tanpa metode serta pendekatan yang tepat. Bahkan yang dituai adalah penolakan-penolakan dari masyarakat yang menjadi subjek dakwah. Bila demikian, bagaimana mungkin dakwah yang merupakan jalan mulia akan mendapatkan hasil yang diharapkan. oleh sebab itu, bagi para da’i Alloh telah memberikan bimbingan dan


80 bekal mereka terjun dalam masyarakat sebagai medan dakwah. Dalam hal ini Alloh memberikan pedoman dengan firman-Nya: ُ ن َ ْس َح ا َ ي هِ ْ ِِت َّ ِِبل ْ ُم ِْل ادِ َ َج و ِ َة ن َ َس ا ْل ِ ظَة عِ ْ و َ الْم َ و ِ ة َ ْكم َك ِِب ْلِ ِ ب َ ِل ر ْ ي ِ ب َ هَل س ِ ا ْعُ ُد ا “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl: 125). Sebagai seorang da’i yang telah siap bekal dakwahnya, K.H. Abdul Mughni paham benar ramburambu tersebut itu sebabnya dakwah beliau dapat diterima oleh masyarakat. Guna memperlancar dakwahnya agar mendapatkan hasil yang diharapkan, ada beberapa pendekatan serta metode yang beliau gunakan dalam berdakwah membimbing masyarakatnya kepada jalan Alloh yang lurus. 1. Dakwah dengan lisan Salah satu pendekatan dakwah yang digunakan oleh K.H. Abdul Mughni adalah melalui media ceramah (lisan). Meskipun beliau bukanlah tipikal orator ulung, ulama “singa podium”, ulama yang berapiapi saat ceramah, namun beliau tetap memanfaatkan ceramah sebagai pendekatan dakwahnya, terutama saat mengisi majelis-majelis taklim yang beliau asuh dan tersebar bukan saja di kampung beliau namun juga di kampung-kampung sekitarnya. Demikian juga dalam khutbah-khutbah Jum’at yang beliau berikan. Dengan metode ini, beliau menjelaskan dan memperkenalkan ajaran-ajaran Islam, mengajak


Click to View FlipBook Version