181 murid-murid beliau akan kondisi umat dengan para alim ulamanya. Dengan sikap ini, diharapkan para muridnya– dan umat ini–tidak terjebak dalam persoalan perbedaan pendapat yang adakalanya hanya bersifat cabang (furu’) dan tidak substantif. Sikap seperti ini yang saat sekarang sudah mulai hilang, bahkan dari dalam hati orang-orang yang disebut ulama. Sehingga dengan mudahnya mereka mengkafirkan atau menyesatkan orang-orang yang memiliki pemahaman yang tidak sama dengannya. Alangkah indahnya judul sebuah kitab yang dikarang oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdurrohman asy-Syafi’i adDimasyqi: Rohmatul Ummah fi Ikhtilafil Aimmah. 122 Manfaat lain dari adanya variasi model ini adalah menyegarkan perhatian dan kesungguhan para pendengar, dan tentunya pembaca. Karena sama dimaklumi, bila suatu bacaan telah menjadi rutinitas dan sesuatu hal yang telah biasa, maka perhatian dan kesungguhan pendengar dan pembaca akan berkurang. Sehingga daya sensitivitas telinga, hati dan rasa pun turut pula menurun, lalai karena telah terbiasa membaca atau 122 Ini merupakan kitab fikih yang merangkum pendapat dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Disusun berdasarkan bab-bab fikih standar dengan tanpa menyertakan dalil, diskusi, maupun pandangan penulisnya. Kitab ini hanya merangkum saja fikih empat madzhab tersebut, tidak lebih. Dengan demikian, kitab ini hanya berfungsi membantu pembacanya dalam hal memberikan informasi adakah perbedaan pendapat dalam satu permasalahan (kasus). Dari judulnya, menyiratkan pesan bahwa perbedaan pendapat dikalangan para imam madzhab itu merupakan rahmat bagi umat Islam.
182 mendengar bacaan tersebut. Inilah mungkin salah satu hikmah kenapa dalam banyak hal, doa-doa yang dibaca oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan dengan redaksi atau lafazh yang berbeda-beda. Ambil contoh, doa iftitah saja diriwayatkan dengan redaksi yang cukup beragam. Belum lagi doa atau bacaan-bacaan yang lain. Dari sisi ini, maka dapat disimpulkan, K.H. Abdul Mughni selain mumpuni dalam hal pengajaran dan dakwah, ternyata juga sangat memahami psikologi manusia serta hikmah dan tujuan-tujuan syariat. Beliau sanggup mengembangkan kesan-kesan psikologis yang biasa terdapat dalam diri manusia ke dalam sebuah metode pengajaran. Sungguh, sebuah perpaduan yang hari ini jarang kita jumpai.
183 Bab 8 PENUTUP “Ilmu itu luas, terkadang yang mempersempit adalah kebodohan manusia itu sendiri.” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ Setelah kami mengumpulkan serpihan-serpihan dari kehidupan guru dan ulama kita yang mulia, K.H. Abdul Mughni, yang diberkahi dan membentangkannya di hadapan pembaca yang budiman. Maka dapatlah kiranya disimpulkan di sini beberapa hal terkait kehidupan dan perjuangan beliau. 1. Beliau merupakan orang yang gigih dalam menuntut ilmu. Hal tersebut tergambar dari bagaimana usaha beliau dalam mencari ilmu kepada guru-guru yang berada bukan saja di wilayah Bekasi, namun juga wilayah luar Bekasi. Kegigihan tersebut juga terlihat dari ketekunan beliau melakukan muthola’ah kitab-kitab turots yang mu’tabar, khususnya dalam madzhab Imam Syafi’i, madzhab terbesar yang dipegang bukan saja di Indonesia, namun negara-negara Islam lainnya. 2. Beliau adalah tipikal santri yang sangat mematuhi arahan dan petunjuk sang guru, teristimewa guru beliau yang utama, yakni K.H. Muchtar Thobroni.
184 Bukan saja dalam hal menuntut ilmu, tetapi juga dalam beberapa hal kehidupan yang beliau jalankan. Sikap beliau yang demikian menjadikan beliau mendapatkan keberkahan hidup dan ilmu dari sang guru, ilmu yang bermanfaat bukan saja bagi diri dan keluarga beliau, tapi juga bagi orang banyak dan kemaslahatan umat; hidup yang bukan saja hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga tetapi juga memberikan kehidupan bagi orang lain. 3. Kegigihan beliau dalam menuntut ilmu berbanding lurus dengan kegigihan beliau dalam menyebarkannya ke tengah-tengah masyarakat. Beliau dengan senang hati akan mengajarkan kepada siapapun yang datang kepada beliau untuk menimba ilmu. Bahkan beliau sendiri berkenan mendatangi orang-orang yang membutuhkan pengajaran. Hal tersebut terlihat dari kegigihan beliau dalam mendirikan dan membina majelismajelis taklim hingga ke pelosok-pelosok kampung sekitarnya. 4. Beliau termasuk seorang kyai yang ahli dalam ilmu nahwu dan shorof. Keahlian tersebut beliau gunakan dalam melakukan pendekatan untuk memecahkan beberapa masalah yang dihadapkan kepada beliau ataupun beliau temui di tengah-tengah masyarakat. Kemampuan mengaplikasikan disiplin ilmu tersebut dengan ilmu-ilmu yang lain menunjukkan kematangan dan kemapanan pengetahuan, sikap dan pola pikir beliau. Bentuk pengakuan atas
185 keilmuan beliau di antaranya datang dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU) cabang Kota Bekasi yang dalam beberapa kesempatan memplot beliau masuk dalam dewan bahtsul masail setiap perhelatan muktamar organisasi Islam terbesar di dunia ini. 5. Beliau adalah figur ulama yang sederhana, zuhud, ahli ibadah, tidak mengejar populeritas dan ketenaran dunia. Setidaknya hal tersebut tercermin dari pola penampilan dan pandangan-pandangan hidup beliau. 6. Dalam bidang pendidikan, beliau memiliki kiprah dan peran yang sangat signifikan bagi perkembangan pendidikan di Bekasi. Hal tersebut terlihat dari kiprah beliau dalam bidang pendidikan, baik formal maupun nonformal. Kegiatan pendidikan nonformal melalui usaha membina dan menghidupkan majelis-majelis taklim, bukan saja di kampung beliau namun juga di kampung-kampung sekitarnya, khutbah-khutbah Jum’at, dan acaraacara atau kegiatan masyarakat lainnya. Dalam bidang pendidikan formal, beliau merupakan pendiri Yayasan Pendidikan Islam Bidayatul Hidayah yang concern (fokus) terhadap bidang pendidikan melalui usaha pendirian lembagalembaga pendidikan Islam secara berjenjang, mulai dari jenjang pendidikan dasar dengan mendirikan Roudhotul Athfal (TK) hingga jenjang menengah (SMP dan SMA). Semua jejak pendidikan yang beliau tinggalkan hingga hari ini masih dapat kita
186 saksikan bersama, baik yang berbentuk personal, komunal, ide dan pemikiran, dan tentu saja lembagalembaga pendidikan. Dengan brand “Bidayatul Hidayah” beliau turut berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa, mengajak dan membimbing putra-putri bangsa untuk mempersiapkan diri mereka dengan ilmu, amal, dan keterampilan sehingga masa depan yang cemerlangpun dapat kiranya di raih. Lebih jauh lagi, kebahagiaan dunia dan akhirat akan dapat dijemput. 7. Dalam bidang dakwah pun demikian pula halnya. Beliau memiliki andil yang tidak kecil dalam usaha memperbaiki masyarakatnya dengan dakwahdakwah beliau. Menunjukkan mereka jalan yang sesuai dengan cahaya Islam. Meskipun beliau bukanlah seorang orator ulung, “singa podium”, atau istilah-istilah mentereng lainnya yang biasa disematkan kepada ahli-ahli pidato dan ceramah, tapi tak urung dakwah beliau tetap diterima di masyarakat dan mendapatkan sambutan hangat. Itu semua berkat metode dan pendekatan yang beliau gunakan saat melaksanakan tugas dakwah beliau di tengah-tengah masyarakat (subjek dakwah). Beliau menjadikan diri dan keluarga beliau sebagai objek dakwah, dengan segala tindakan yang dijadikan bahan percontohan. Sebagaimana dalam bidang pendidikan dan pengajaran, karya-karya beliau dalam bidang dakwah ini pun dapat kiranya kita
187 saksikan hari ini, baik yang berbentuk kebendaan maupun pemikiran dan pemahaman. 8. Sebagai seorang guru, beliau memiliki metodemetode pembelajaran konstruktif dan aplikatif, yang mengajak murid untuk lebih mengembangkan dirinya dalam hal-hal yang positif terkait dengan penguasaan dan pemahaman pengetahuan. Bukan itu saja, beliaupun mendidik murid-murid beliau untuk memikul tanggung jawab di tengah-tengah masyarakat dengan ikut memberikan pencerahanpencerahan. 9. Sebagai kepala keluarga beliau sukses membentuk sebuah keluarga atau rumah tangga ideal yang bisa menjadi role model bagi keluarga-keluarga yang lain. Keberhasilan beliau dalam membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rohmah ini setidaknya datang dari dua hal. Pertama, fakta bahwa putra-putri beliau merupakan sosok-sosok yang berhasil dalam kehidupan mereka masing-masing. kedua, pengakuan dari pemerintah dalam bentuk piagam keluarga sakinah mawaddah wa rohmah yang didapatkan oleh keluarga beliau saat menjuarai lomba dalam tema tersebut untuk tingkat kota Bekasi dan menghantarkan keluarga beliau dalam lomba yang sama untuk tingkat provinsi Jawa Barat. 10. Beliau adalah sosok yang berani menunjuk dan menjadikan keluarga sendiri sebagai model percontohan dalam pembentukan keluarga sakinah mawaddah wa rohmah, pada saat yang lain hanya
188 berani memberikan contoh keluarga orang lain. Sungguh, ini merupakan sikap dan keberanian yang jarang ditemui saat ini. 11. Beliau termasuk ulama yang menganggap pentingnya kehadiran sebuah organisasi dalam rangka melakukan internalisasi nilai-nilai Islam dan ajarannya. Anggapan dan pandangan beliau tersebut nampaknya yang mendorong beliau berpartisipasi aktif dalam organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi salah seorang pengurusnya. Berjuang bersama NU dalam membentengi masyarakat dari hal-hal yang menyimpang serta membimbingnya ke jalan yang diridhai Alloh. Demikian beberapa hal yang dapat disimpulkan di sini terkait dengan perikehidupan beliau yang penuh berkah. Kami katakan demikian karena hidup dan kehidupan beliau bukan saja bermanfaat untuk diri beliau sendiri, ataupun hanya demi keluarga beliau pribadi, tetapi hidup dan kehidupan beliau ternyata sangat bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, membawa maslahat untuk masyarakat Islam, bahkan bagi perkembangan agama Alloh. Membawa obor Islam ke tengah masyarakat agar ia bisa terus bersinar dan survive di tengah-tengah derasnya arus perkembangan dan perubahan zaman. Di tengah ancaman budaya postmodernisme yang dapat mengikis keimanan. Ibarat sebuah menara suar yang berdiri kokoh memberikan
189 petunjuk kepada setiap kapal yang lewat, demikianlah beliau adanya. Menjadi suar yang terus memberi pedoman dan panduan setiap kafilah yang tersesat jalan, begitulah beliau kiranya. Bukan saja bagi generasi saat ini, tetapi juga generasi-generasi yang akan datang. Cahaya datang dan pergi menghilang Sergap hati kami dalam gelagapan Bagimu, duhai generasi mendatang Jadikan beliau pandu di masa depan Di kaki-kaki Sumarecon nan kapitalis Jangan pernah engkau kalah meringis Meski beliau pergi kita menangis Segala ajaran janganlah kikis
190 DAFTAR PUSTAKA Buku Abdul Karim, Abdussalam bin Barjas. (2006). 10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu. (A. Ibnu Hamzah, Penerj.) Yogyakarta: Al-Haura'. Al-Anshori, Ibnu Hisyam. (2009). Syaroh Qothr an-Nada wa Ball ash-Shoda. Beirut: Dar al-Fikr. Al-Asqolani, Ibnu Hajar. (2015). Fath al-Bari bi Syarhi Shohih al-Bukhori (Vol. 2). Qohirah: ad-Dar Alamiyyah. Al-Asqolani, Ibnu Hajar. (2011). Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori (Vol. 24). (A. I. al-Atsari, & R. Nurhadi, Penerj.) Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi'i. Al-Baijuri, Ibrahim bin Ismail. (t.thn.). Fathu Robbu alBariyyah 'ala ad-Duroti al-Bahiyyati Nazhmi alAjurumiyyah. Indonesia: Dar Ihya Kutub alArabiyyah. Al-Bantani, Muhammad Nawawi bin Umar. (t.thn.). Tanqih al-Qoul al-Hatsits fii Syarh Lubab al-Hadits. Semarang: al-Barakah. Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail. (2011). Shohih alBukhori. Qohirah: Dar al-Hadits. Al-Dimasyqi, Abul Fida' Ismail bin Umar bin Katsir. (2001). Tafsir al-Qur'an al-Azhim (Vol. 1 ). Qohirah: Maktabah al-Tsaqafi. Ali, Maulana Muhammad. (2001). Islamologi. (R. Kaelan, & HM. Bachrun, Penerj.) Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah.
191 Al-Kalabadzi, Abu Bakar Muhammad. (1985). AjaranAjaran Sufi. (N. Yusuf, Penerj.) Bandung: Pustaka. Al-Khubawi, Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir. (t.thn.). Durrotun Naashihiin. Singapura: Nur Asia. Al-Malibari, Zainuddin bin Abdul Aziz. (t.thn.). Fathu alMu'in bi Syarhi Qurrota al-'Ain. Surabaya: Karya Toha Putra. Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah. (2018). Mukhtashor Minhajul Qoshidin. (I. Karimi, Penerj.) Jakarta: Darul Haq. Al-Mundziri, Abdul Qoyyim bin Abdul Qowi. (2004). atTarghib wa at-Tarhib (Vol. 1 & 2). Qohirah: Dar alHadits. Al-Qozwiini, Muhammad bin Yazid bin Majah. (2017). Sunan Ibni Majah. Qohirah: al-Dar al-Alamiyyah. Al-Qusyairi, Abul Hasan Muslim bin al-Hajaj. (2010). Shohih Muslim. Qohirah: Dar al-Hadits. Al-Syaibany, Omar Mohammad Toumy. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. (H. Langgulung, Penerj.) Jakarta: Bulan Bintang. Al-Taftazani, Abul Wafa' al-Ganimi. (2008). Tasawuf Islam Telaah Historis dan Perkembangannya. (S. Anshori, Penerj.) Jakarta: Gaya Media Pratama. Al-Utsaimin, Muhammad bin Sholih. (2005). Syarhu alAjurumiyyah. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd. Al-Zarnuji. (2006). Ta'lim al-Muta'allim. Indonesia: alHaramain. Al-Zarnuji. (t.thn.). Ta'lim Muta'allim Bimbingan bagi Penuntut Ilmu. (A. As'ad, Penerj.) Kudus: Menara Kudus.
192 Ash-Shobuni, Muhammad Ali. (2001). Rowaihul Bayan Tafsir Ayat Ahkam Minal Qur'an (Vol. 1). Jakarta: Darul Kutubil Islamiyyah. Ash-Shobuni, Muhammad Ali. (2016). at-Tibyan fi 'Ulumi al-Qur'an. Mekah: Dar al-Mawahib al-Islamiyyah. As-Sa'di, Abdurrahman bin Nashir. (2002). Taisir al-Karim ar-Rohman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Dar asSalam. As-Sa'di, Abdurrahman bin Nashir. (2016). Taisir al-Karim ar-Rohman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Qohirah: ad-Dar al-Alamiyyah. As-Sijistani, Abu Daud Sulaiman bin al-Asy'ats. (2017). Sunan Abi Daud. Qohirah: al-Dar Alamiyyah. As-Suyuthi, Jalaluddin. (2016). al-Jami'ush Shogir Min Ahadits al-Basyir an-Nadzir. Qahirah: Dar al-Hadits. Asy-Syirazi, Abu Ishaq. (t.thn.). al-Luma' fi Ushul Fiqh. Surabaya: Dar Ihya' al-Kutub al-Arabiyyah. At-Tirmidzi, Muhamamd bin Isa bin Saurah. (2017). alJaami'u ash-Shohiih Sunan at-Tirmidzi. Qahirah: al-Dar al-Alamiyyah. Az-Zahrani, Muhammad. (2011). Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits. (M. Rum, Penerj.) Jakarta: Darul Haq. Barnadib, Imam. (1996). Dasar-Dasar Kependidikan Memahami Makna dan Perspektif Beberapa Teori Pendidikan. Bogor: Ghalia Indonesia. Budiningsih, Asri C. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
193 Ibnu Jama'ah, Badruddin. (2019). Tadzkiratu as-Sami' wa alMutakallim fi Adabi al-'Alim wa al-Muta'allim. (I. Karimi, Penerj.) Jakarta: Darul Haq. Ibnu Kholdun, Abdurrahman bin Muhammad. (2011). Mukaddimah. (M. Irham, M. Supar, & A. Zuhri, Penerj.) Jakarta: Pustaka al-Kautsar. Kartanegara, Mulyadhi. (2003). Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan. Komara, Endang. (2011). Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Bandung: Refika Aditama. Langgulung, Hasan. (2000). Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: ALHUSNA ZIKRA. Natsir, Muhammad. (2000). Fiqhud Da'wah. Jakarta: Media Da'wah. Rahman, Fazlur. (2000). Islam. (A. Mohammad, Penerj.) Bandung: Pustaka. Ruslan, Muhammad Sa'id. (2018). Fadhlu al-'Ilmi wa Adabahu Thalabatihi wa Thuruqu Tahshilihi wa Jam'ih. Qahirah: ad-Dar al-Alamiyyah. Sztompka, Piötr. (2011). Sosiologi Perubahan Sosial. (Alimandan, Penerj.) Jakarta: Prenada. Dokumen H. Humaidi Abdul Mughni. 2020. Biografi Singkat K.H. Abdul Mughni bin H. Hasbi Rawa Bugel Kota Bekasi. Bekasi. Tidak diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Pemberian Gelar Kehormatan
194 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Internet Ainul Yaqin, Nurul. (2020, Januari, Sabtu). Mengenal Silsilah Imam asy-Syafi'i Ra Hingga Nabi Ibrahim As. Dipetik: Januari, Sabtu, 2021, dari Bincang Syariah.com: https://bincangsyariah.com/khazanah/mengenalsilsilah-imam-syafii-ra-hingga-nabi-ibrahim/ Hosein, Nadirsyah. (2019, Juni Minggu). Puasa Syawal Menurut Madzhab Maliki Perspektf Hadis, Fiqh dan Usul Fiqh. Dipetik: Januari, Kamis, 2021, dari Khazanah GNH: https://nadirhoden.net/tsaqofah/syariah/puasasyawal-menurut-madzhab-maliki-perspektif-hadisfiqh-dan-usul-fiqh/ Kiki, Rakhmad. Zailani. (2017, Mei, Senin). Mengenal Sosok K.H. Mochtar Tabrani, Ulama Berpengaruh asal Kaliabang. Dipetik: Februari, Selasa, 2021, dari BEKASIMEDIA.COM: https://bekasimedia.com/2017/05/15/mengenalsosok-kh-mochtar-tabrani-ulama-berpengaruh-asalkaliabang/ laduni.id. (t.thn.). Biografi Syaikh K.H. Muhajirin Amsar adDary. Dipetik: Februari, Selasa, 2021, dari laduni.id: https://www.laduni.id/post/read/54649/biografisyaikh-kh-muhajirin-amsar-ad-dary
195 Muntaha AM, Ahmad. (2017). 4 Syarat Perumus Bahtsul Masail. Dipetik Februari Selasa, 2021, dari aswajamuda.com: https://aswajamuda.com/syarat-perumus-bahtsulmasail/ Nur Baits, Ammi. (t.thn.). Tata Cara Puasa Syawal. Dipetik Januari Kamis, 2021, dari KonsultasiSyariah.com: https://konsultasisyariah.com/7319-tata-carapuasa-syawal.html PCNU Kota Bekasi. (2018). Inilah Susunan Pengurus PCNU Kota Bekasi 2018-2023. Dipetik Februari Kamis, 2021, dari nubekasi.id: https://nubekasi.id/p/inilahsusunan-pengurus-pcnu-kota-bekasi-2018-2023/ quran.kemenag.go.id Tuasikal, Muhammad Abduh. (2011, Januari, Sabtu). Cahaya Allah akan Jauh dari Pelaku Maksiat. Dipetik Februari Sabtu, 2021, dari Rumaysho.com: https://rumaysho.com/2062-cahaya-allah-akanjauh-dari-pelaku-maksiat.html
196 Apendiks I MELANJUTKAN PERJUANGAN K.H. ABDUL MUGHNI Ada kehilangan yang mendalam saat kita mendengar salah seorang ulama kembali di panggil Alloh Subhanahu wa Ta’ala ke hadirat-Nya.123 Dan kita akan senantiasa merasakan hal tersebut manakala peristiwa itu terulang dan memang akan terus berulang, karena setiap orang termasuk ulama pasti akan mati. Hari ini, 11 Juni 2021 tepat dua tahun meninggalnya salah seorang ulama Bekasi, yakni K.H. Abdul Mughni.kesedihan masih sangat terasa jelas, manakala kita mengingat bagaimana kiprah beliau dalam menyebarkan ilmu-ilmu keislaman di tengah-tengah masyarakat Bekasi. Dan kesedihan itu kian dalam dan semakin dalam, manakala kita sadar bahwa dengan wafatnya K.H. Abdul Mughni maka habis sudah daftar ulama-ulama dan guru-guru yang belajar langsung kepada seorang ulama Bekasi kenamaan, yaitu K.H. Muchtar Thobroni. Mengingat K.H. Abdul Mughni adalah satu-satunya murid beliau yang tersisa dan masih hidup. Bahkan yang tersisa ini merupakan murid kesayangan dari 123 Di antara ulama yang meninggal disepanjang tahun 2019 adalah: (1) K.H. Fadli Badjuri (Maret), (2) K.H. Tolchah Hasan (Mei), (3) K.H. Abdul Mughni (Bekasi, Juni), (4) K.H. Maimoen Zubair (Agustus), (5) K.H. Abdurrahman Nawi (November), dan (5) K.H. Hilman Wajdi. Sumber: https://www.nu.or.id dengan penambahan dari kami.
197 K.H. Muchtar Thobroni. Kini yang tersisa itu pun telah jalan mendahului kita. Namun, terbenam dalam lumpur kesedihan bukanlah hal yang baik. Apalagi bila keterbenaman tersebut sampai ke dasarnya, sehingga melupakan bahwa hidup mesti terus dan harus berjalan. Jalan terbaik adalah dengan menjadikan beliau yang telah pergi sebagai motivasi untuk melanjutkan perjuangan serta meneruskan apa yang telah dimulai oleh beliau, dengan menjadikan segala amal usaha yang beliau tinggalkan sebagai panduan dan pedoman. Karena pada prinsipnya, jasad beliau terbujur dan terkubur di dalam tanah, tetapi semangat, cita-cita, dan tujuan-tujuan perjuangan beliau masih terus hidup hingga hari ini, dan mungkin akan terus hidup hingga masa yang kita tidak tahu. Segala pengajaran beliaupun masih jelas terdengar dan terngiang dalam setiap telinga, hati dan pikiran kita. Pertanyaan yang sekarang mendesak untuk dijawab adalah siapakah gerangan yang siap menyambut seruan itu? Seruan yang meneriakkan estapeta keulamaan dan keilmuan K.H. Abdul Mughni. Manfaatnya jelas, agar citacita dan perjuangan beliau akan terus berlanjut, tidak mogok apalagi terhenti. Supaya segala ilmu beliau tetap hidup dan tidak mati. Agar masyarakat tetap mendapatkan pancaran sinar ilahi. Jasadnya boleh akan terkubur tanah Karena memang dari sana ia berasal Tapi semangatnya dan segala muru’ah Kan terus membuat tangan kita terkepal
198 Dalam hemat kami, ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam rangka melanjutkan perjuangan yang telah dirintis dan dimulai oleh K.H. Abdul Mughni. Adapun cara tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, luruskan niat karena Alloh, karena biar bagaimanapun, niat merupakan pangkal awal bertolak. Dengannya maka semua yang akan dikerjakan akan terasa indah karena menghasilkan pahala dan keridhoannya. Kedua, memelihara semangat dan ghiroh yang telah diwariskan oleh K.H. Abdul Mughni, terutama dalam hal menuntut dan menyebarkan ilmu. Karena hanya dengan merawat semangat dan ghiroh tersebut maka tugas yang berat ini akan terasa ringan, perjalanan yang sempat terhenti itu akan bisa terus berjalan. Ketiga, melanjutkan dakwah-dakwah dan kegiatankegiatan ilmiah K.H. Abdul Mughni. Tentunya hal ini akan dapat berjalan dengan baik bila kita mengenali metodemetode serta pendekatan-pendekatan yang selama ini beliau gunakan. Baik itu metode dan pendekatan terkait dengan aktivitas dakwah maupun aktivita pengajaran. Tanpa mengetahui dan mengenal bagaimana metode beliau, bagaimana beliau bergaul dengan jamaah dan masyarakatnya maka akan terasa sulit melanjutkan kedua sisi perjuangan beliau tersebut. Keempat, berhubungan dengan hal di atas, maka dibutuhkan sebuah elaborasi nilai-nilai yang diajarkan oleh K.H. Abdul Mughni serta yang beliau praktikkan. Salah satu bentuk elaborasi tersebut ialah dengan melakukan studi-studi atau penelitian-penelitian yang
199 lebih mendalam tentang beliau dengan melibatkan sumber-sumber yang lebih kaya dan beragam. Hanya dengan cara ini sajalah kiranya kita dapat mengetahui segala hal yang dibutuhkan terkait dengan tugas tersebut. Kelima, mengenal dan mengetahui berbagai bentuk warisan ilmiah beliau, baik dalam bentuk material (fisik) maupun ide (pendapat dan pemahaman). Untuk itu dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dalam menggali potensi kekayaan khazanah pemikiran beliau. Lagi-lagi, hanya dengan melakukan studi yang mendalam sajalah semua khazanah pemikiran beliau akan bisa diketahui, bahkan bila perlu dikumpulkan. Karena sebagai seorang ulama yang memiliki kiprah yang signifikan dalam bidang dakwah dan pendidikan hampir dapat dipastikan beliau memiliki pemikiran-pemikiran bernilai yang masih tersebar dalam hati dan perasaan sahabatsahabat beliau, serta tertanam dalam pusat intelegensi murid-murid dan jamaah-jamaah beliau. Oleh sebab itu diperlukan kerja ekstra keras untuk “menguras” semuanya dan menyimpannya dalam sebuah wadah milik bersama yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang ingin mengetahuinya. Memilah dan memilih bilah-bilah pemikiran beliau yang berserakan dalam belantara masyarakat serta relung-relung hati dan pikiran yang terdalam dari murid dan sahabat beliau. Kemudian diikat menjadi satu sehingga ia lebih mudah dibawa, gampang dinikmati, serta menjadi rujukan para pencari ilmu. Keenam, melanjutkan tugas regenerasi ulama dengan terus menghidupkan halaqah-halaqah ilmiah
200 beliau. Tugas ini bisa diambil oleh penerus biologis beliau dalam rangka melanjutkan perjuangan beliau meregenerasi ulama. Menyiapkan generasi-generasi mendatang dengan bekal pengetahuan kegamaan yang mumpuni, kecakapan dalam menghadapi kehidupan global dan instan, serta keterampilan hidup yang dibutuhkan di tengah derasnya tantangan zaman saat ini. Ketujuh, memaksimalkan peran lembaga-lembaga pendidikan Islam formal yang telah dirintis dan diusahakan berdirinya oleh beliau sebagai tempat internalisasi nilai-nilai Islam pada umumnya, khususnya pemikiran-pemikiran beliau dalam dakwah dan pendidikan. Dengan berbagai cara-cara kreatif dan inovatif, usaha memperkenalkan beliau sebagai figur “pahlawan tanpa tanda jasa” dalam ilmu-ilmu keislaman dapat mulai diusahakan, setidaknya ia menjadi sebuah proyek di masa datang. Bukankah beliau, K.H. Abdul Mughni, telah mencontohkan kepada siapapun yang sadar agar menjadi guru yang transformatif, yaitu yang bukan saja mengajarkan dan mengandalkan seonggok dokumen yang bernama kurikulum, namun lebih jauh lagi mampu membawa perubahan-perubahan yang transformatif dari bahan-bahan yang ada dalam kehidupan nyata bagi kepentingan pendidikan. Semua muaranya hanya satu, yaitu untuk kemajuan para peserta didik. Kedelapan, tetap dan senantiasa menjadikan masyarakat sebagai medan perjuangan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan ajaran-ajarannya yang tinggi lagi suci. Oleh sebab itu, siapapun yang berhasrat
201 untuk melanjutkan kiprah beliau dalam dakwah dan pengajaran maka jangan pernah jauh dari masyarakatnya, terpinggir dari lingkungan sosial (mileu)nya. Karena masyarakat merupakan ladang tempat menyemai seluruh nilai-nilai Islam yang selama ini menjadi fokus perjuangan beliau hingga menjelang wafatnya. Siapapun yang ingin menyambut seruan ini harus siap menjadi agen-agen perubahan sosial (agent social of change) yang mengarahkan serta membimbing masyarakat dalam kehidupan sosial yang lebih baik, sesuai dengan tatanan masyarakat yang digariskan dan ditentukan oleh ajaran-ajaran Islam, sebuah masyaraka dengan kondisi sosial yang diidambakan bersama, sejahtera dalam sinaran cahaya Islam. Demikian mungkin beberapa hal yang dapat dilakukan oleh siapa pun yang ingin melanjutkan kiprah K.H. Abdul Mughni dalam dakwah dan pengajaran. Tentu saja, tantangan ini diarahkan kepada murid-murid dan jamaah beliau, atau siapapun yang mengetahui dan mengenal berbagai pemikiran beliau dalam kedua bidang tersebut. Bidang yang butuh pemikiran, perhatian dan garapan kita bersama, bila tidak, ia akan digarap oleh “saudara-saudara” kita yang berbeda kepentingan, tujuan, dan keyakinan. Apa yang kami sebutkan di atas merupakan hal yang penting–lagi-lagi bagi mereka yang mencintai beliau dan berharap agar nilai dan ajaran beliau tidak hilang tergerus arus pemikiran yang saat ini memang demikian derasnya–karena bila tidak segera dilakukan maka jangan harap segala pemikiran beliau bisa terjaga
202 lestari di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, apa yang kami sebutkan di atas merupakan hal yang mendesak untuk menjadi bahan pemikiran ke depan. Sebagai pemandu dan kompas penunjuk jalan bagi derap langkah kaki bersama, dalam melestarikan apa-apa yang telah beliau tinggalkan, dan melanjutkan apa-apa yang telah beliau mulai. Ingatlah selalu, saat sang guru telah tiada, saat yang dicinta telah wafat, maka murid-muridnyalah yang bergerak. Karena berapa banyak pemikiran seorang guru mendunia karena kerja keras murid-muridnya, dan betapa banyak ajaran-ajaran, pendapat, dan pemahaman seorang guru menyebar melintasasi batasan wilayah dan peradaban karena peran besar yang diambil oleh muridnya. Oleh sebab itu, ambillah peran itu sekecil apapun. Agar segala pemikiran, pemahaman,dan ajaran dari guru yang kita cintai tidak surut oleh zaman, tidak lekang oleh waktu, dan ia akan tetap hidup sepanjang yang Alloh kehendaki.
203 Apendiks II DOA BIRUL WALIDAIN124 (BAKTI KEPADA ORANG TUA)125 ِن ْ َدي ِ ال َ ِ الْو ر ِ ب ُ اء َ ُع د يسم هللا الرَحن الرحيم Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang126 أ هِ ُد َِّلل ْ م َ ْل َ ى َ ذِ ال لَى َّ َ َ ع ثَّنا َ َح ا، و َ ِهم ْ لَي ِ إ انِ َ ْس اْْلِح َ ِن و ْ َدي ِ ال َ ُش ْك ِر الْو ِ َا ب ن َ ر َ أَم ا َ ن ِ اغْت َ اِع الْم َ ن ْصطِ ا َ ا و َ ِ ُهِ ر ِ ب ِ َ م ا ن َ ََدب ن َ ا، و َ ِهم ْ َدي ِف لَ ْ و ُ ع ََل ْر ِ إ ِ ة َّرَْحَ ال َ ن ِ ا ِح م َ ن َ َخْف ِض ا ْْل ً ار َ ْكب ِ ا َّوإ ً ْعظَام ِ ا إ َ ُم ْ َص َِل ا، ا َو ا َ و ا ً ار َ ََن ِصغ ا َ بَّ ي َ ا ر َ ا َكم َ ِهم ْ لَي َ ُّحِم ع َ ََن ِِبلتَّ ر Segala puji bagi Alloh, Tuhan yang memerintahkan kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada kedua orang 124 Doa ini merupakan susunan dari asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Abil Hubb al-Hadhromi at-Tarimi, seorang ulama asal Hadhromaut (Yaman) yang wafat pada bulan Dzul Hijjah tahun 611 H. 125 K.H. Ishomuddin Muchtar ath-Thabroni, al-Adzkar (Bekasi: Pondok Pesantren al-Muchtar, 2015), hlm. 131-135. 126 Kami sertakan arti doa ini–karena dalam buku susunan K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc tidak menyertakan artinya–yang kami ambil dari doa yang sama yang diterjemahkan oleh Majlis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah, yang dapat diakses dalam: https://riyadluljannah.org/2014/02/doa-birrul-walidain/ dengan sedikit perubahan. Penyertaan arti dari doa ini bertujuan agar pembaca dapat memahami maknanya dan lebih menghayati saat membacanya.
204 tua, yang telah mendorong kami untuk meraih kemuliaan berbakti dan berbuat baik di hadapan mereka, yang telah menganjurkan kami untuk merendahkan diri kepada mereka dengan penuh kasih sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, serta mewasiatkan kami untuk memohonkan kasih sayang Alloh bagi mereka sebagaimana mereka mendidik dan membimbing kami sewaktu kecil دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا ه َلل ا، ا َ ن ْ ي ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. ُ َِل ْ ر ِ اغْف َ و ، ْ م ْ ُم ْ ََحْه ار و َك َ ِ ان َ ِر ْضو َ ع ِ ام َ َو ْ ج ِهم ْ لَي َ ع ِ ه ِ ُّل ب ًضا ُُتِ ِر ْ ُم ْه ن َ ْ َض ع ار َ و ، َك، ِ ان َ غُ ْف ر َ َ ْف ِوَك و ع َ ن اطِ َ َ و م َ َك، و ِ ان َ أَم َ َك و ِ ت َ ام َ َك ر َ ار َ د ِ ه ِ ب ْ ُم ه ُّ ل ُُتِ َ و َّر َدِ ا َ و ِ ه ِ ب لَطَ ا ْ ِهم ْ لَ ي َ ِ َف ب ع ِ ئ ْ ِح إ َ َك و ِ َك ر ِ ان َ س Ampuni, rahmati, dan ridhoilah mereka dengan keridhoan yang mengantarkan mereka pada semua jenis keridhaanMu, serta meletakan mereka di negeri yang mulia dan aman (surga), membawa mereka ke tempat-tempat yang mendatangkan maaf dan ampunan-Mu, kemudian hidangkanlah kepada mereka berbagai kebaikan dan kedermawanan-Mu ، ْ م اِرهِ َ ْصر ِ إ َ ِء َي َس ، و ْ م اِرهِ َ ز ْ َف أَو ِ ال َ ا س َ ْ ِبِ ُو ةً ََتْح َ ع ِ ام َ ةً ج َ ر ِ ف غْ َ م ْ ُم َِل ْ ر ِ ُ َّم اغْف ه ه َلل ا ُ ةً ت َْحَ َ ر ْ ُم ْ ََحْه ار َ ْض ِج و َ ا الْم َ ِبِ ْ ُم َِل ُ ْر ي ِ ن َ ع ِ ْؤم ُ ت َ ، و ْ م ِرهِ ْ ُو قُب ْ ا ِِف َ م ْ و َ ا ي َ ه ِ ب ْ ُم ه ن لْ ِع ُ َ َفز ْ م ِرهِ ْ ُ ُشو ْ َد ن ن ِ ع Ya Alloh, ampunilah mereka dengan pengampuan menyeluruh yang menghapus dosa-dosa mereka
205 terdahulu dan keburukan yang selalu mereka lakukan, dan rahmatilah mereka dengan rahmat yang mampu menerangi pembaringan mereka di dalam kubur, serta menyelamatkan mereka pada saat kebangkitan di hari yang menakutkan. ُ َّم ه ه ا لَى َلل َ ْ ع نَّن َ َُت ا َ َكم ْ ِهم ِ ف ْ َض ى ع لَ َ ا ع ْ و ُ َكان ْ ُم َه طَاع ِ ْ ق ِم ان َ ْح ار َ َّْي، و ِ ن ِ ن َ َح ت ُ ا م َ ن ِ ف ْ َضع ِ إ ْ لَي ا ْ و ُ ا َكان َ َك َكم ِه ْ لَي َ ْف ع َطَّ ع َ ت َ َِِحَّْي، و ا َ ر ْ ِهم ْ لَي ِ ا إ َ ن طَاعِ ِ ْق ِل ان ا َ ْ ح ا ِِف ْ و ُ ا َكان َ َكم ْ م ْ ِِف َّْي ِ ف ِ َط ع َ ت ُ ََن م ِر َ ِل ِصغ ا َ ح Ya Alloh, sayangilah (maklumilah) kelemahan mereka sebagaimana mereka dahulu menyayangi (memaklumi) kelemahan kami, dan hargailah usaha mereka untuk beribadah kepada-Mu sepanjang waktu sebagaimana mereka dahulu juga menghargai usaha kami untuk berbakti kepada mereka sepanjang masa, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu kami kecil. ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. ُ َّم ه ه َلل ا ْ ُم اح ى ْ َف ْظ َِل َّذِ َّد ال ُ َك الْو ِ ذَال ا َ َت ِبِ ََلْ َ م ْ ِِت َّ َةَ ال ان َ ن َ ا ْل َ ، و ْ ُم ه َ ب ْ قُ لُو ُ ه َ ت ْ ب َ ْشر أَ ُ ه َ ر ْ ُدو ُص ى ذِ َّ َف ال طْ ُّ ال ل َ ، و ْ م ِ ه ِ َت ب َلْ ج َك َ َش غ ِ ذَال ْ ُم َِل ْ ْش ُكر ا َ ، و ْ ُم ه َ اِرح َ و ا ْ و ُ َّذِى َكان ال َ اد َ ه ا ْْلِ َ ن ْ ي ِ ا ُُمَ ف ا ْ ي دِ ه ى ِ ذِ َّ ال َ اد َ ه ِ ت ْ َك اْالِج ِ ذَال ْ ُم َِل ْ ِ ع ُ َض ي َال ت َ ، و َ ْ ن ُو َكان ا ْج ُ ا م َ ن ْ ي ِ ف ا ْ و ُ َّذِى َكان ِي ال ْ َّس ع َك ال ِ لَى ذَال َ ع ْ م اِزهِ َ َج ، و َ ن ْ ي ِهدِ َ ت ِ َّْي ف ، اعِ َ ا س َ ن ْ ي
206 َّْي، أَفْ اعِ َ ا ر َ ن ْ ي ِ ا ف ْ و ُ َّذِى َكان ْع ِي ال َّر ال َ َ و ا اج َ م َ َضل ِ ِحَّْي، ُ ْصل اةَ الْم َ ُّسع ال ِ ه ِ ْ َت ب ي َ ز ِص ِحَّْي اةَ النَّا َ رع ُّ ال َ و Ya Alloh, peliharalah rasa cinta yang Engkau letakan dalam hati mereka kasih sayang yang Engkau penuhi dada mereka dengannya, dan kelembutan yang Engkau sibukkan anggota tubuh mereka dengannya. Karuniailah mereka dengan pahala atas perjuangan mereka dahulu dalam mendidik kami, jangan sia-siakan perjuangan mereka tersebut. Balaslah usaha mereka untuk menghidupi dan memelihara kami dengan sebaik-baik balasan yang Engkau berikan kepada mereka yang suka berbuat baik dan memberi nasihat. ُ َّر ه ِ ُ َّم ب ه ه َلل ا ِ ب ُ ا ي ْ ُو ا َكان َ ا َف م َ ْضع أَ ْ م ا َك َ َكم ِ ة َّرَْحَ ال َّْيِ ع ِ ب ْ ِهم ْ لَي ِ إ ْ ْظُر ان َ ا، و َ ن َ ن ْ رو ُّ ا ْ ُو ان ا َ ن َ ن ْ و ُ ظُر ْ ن َ ي Ya Alloh, berbuat baiklah kepada mereka dengan kebaikan yang jauh lebih banyak dari semua kebaikan mereka kepada kami, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sebagaimana dahulu mereka memandang kami. ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. ا َ م ْ ُم َ ْب َِل ُ َّم ه ه ه َلل ا ا ْ ُو يَّع َض َ ي بِ ْ ر َ َ قِ ت ِ ِِف ح ه ِ ا ب ْ َلُو غ َ ْشت ا ا َ ْم ي ِ َك ف ِ يَّ ت ِ ب ْ و ُ ب ُ َ قِ ر ْ ح ن ِ َ م ا، ن ِ ت ْ ي ِ ا ف ْ و ُ ا قَ َّصر َ م ْ ُم ه ْ ن َ ْ ع ز َ او َُتَ َ و َ قِ خِ ْ ح ن ِ م ِ ه ْ ن ِ م ِ ه ْ ي ِ ْ ََن ف و ُ َ ر ا آث َك ِبَ ِ ت َ ْدم ا، َ ن ِ ت َ ْدم َ قِ خِ ح َ ن ِ ا م ْ و ُ َ َكب ت ْ ا ار َ م ْ ُم ه ْ ن َ ْع ُف ع ا َ َ و ا، ن ِ ل ْ أَج ْ ن ِ ا م ْ و ُ ب َ َس ا ا ْكت َ ِل م ْ أَج ْ ن ِ ِت م ا َ ه ُ ش ب ال ُّ ِ إ ْ ُم ه ْ ت َ َع ا د ِبَ ْ ُم ْذه َؤاخِ ُ َالت َ و َ َو ا ِْل َ ن ِ يَّةُ م َمِ ا ْل ِ ه ْ لَي ا َ م َعلَى ِ َب ى ل غَلَ ِ م ْ ِهم ِ ب ْ قُ لُ و ْ ن
207 ِت َّ ِت ال ا َ َلم الظَّ ُ ُم ه ْ ن َ ع ْ َُتََّمل َ ا، و َ ن ِ بَّ ت ََمَ ِ ا ف َ ه ْ و ُ َ َك ب ت ْ ار َ ا ع ْ َو ع َ َس ا و َ ا لَن ْ ُو َح ر َ ت ْ ا اج َ ْم ي ا، َ ن ْ لَي لَى َ ْ ُد ع لُطًْفا يَِّزي ِ َلء َ ِج ِع الْب َ َضا ِِف م ْ م الْطُ ْف ِبِِ َ َ و أَََّيمِ ح ْ ِِف ْ ِهم ِ لُطْف ا َ ن ِ ب ْ م اِتِِ َ ي Ya Alloh, berilah mereka pahala beribadah kepada-Mu yang tidak sempat mereka lakukan karena sibuk mendidik kami, dan maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu karena sibuk melayani kami, dan ampunilah mereka atas hal-hal syubhat yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan jangan siksa mereka karena rasa cinta mereka kepada kami yang menggelora, dan selesaikanlah permasalahan-permasalahan mereka dengan sesama manusia yang mereka lakukan demi menghidupi kami, dan bersikap lembutlah kepada mereka dipembaringan kubur dengan kelembutan yang melebihi sikap lembut mereka kepada kami di masa hidup mereka dahulu. ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. َ ُ َّم و ه ه َلل ا َ ت ْ َ َدي ا ه َ ِت م ، ا َ ن َ َس ا ْل َ ن ِ ا م َ لَن ُ َه ت ْ َ َّسر ي َ ِت، و ا َ اع الطَّ َ ن ِ م ُ ا لَه َ ن ُ الَه َ ن َ ْق ت فَّ َ و َ و ِص َ ا َّون ًّ َظ ا ح َ ه ْ ن ِ م ْ ُم َِل َ َل ُ َّم أَ ْن َُتْع ه ه َك الل أَلُ ْ َس ِت، فَ ن َ ِب ُ الْ ُقر َ ن ِ م ا َ م َ ا، و ً ب ْ ي ُ اه َ فْ ن َ َ ر اقْ ت َّم َُتَ َ ِت، و ا َ ئ ْ ي ا ْْلَطِ َ ن ِ ُ م اه َ ن ْ ب َ َس ا ْك ت َ ِت، و ا َ ئ ِ َّس ي ال َ ن ِ م َ ن ِ ُ م اه َ لْن التَّ ْ َل َال َُتْع َ ، و ً ِْب ُو َك ح ِ َذال ِ نَّا ب ِ م ْ ُم ِحْقه ُلْ ِت، فََل ت ا َ ع ِ ب ً ِْب و ُ ا ذُن َ ن ِ ب ْ ُو ذُن ْ ن ِ م ْ ِهم ْ لَي َ ع Ya Alloh, atas setiap ketaatan yang Engkau hidayahkan kepada kami, kebaikan yang Engkau mudahkan kami untuk melakukannya, dan amal sholeh yang Engkau beri kami taufik untuk mengerjakannya, kami mohon Engkau
208 beri mereka pahala pula, dan jika ada keburukan yang kami lakukan, kesalahan yang kami perbuat, dan permasalahan dengan sesama manusia yang harus kami pertanggung jawabkan, jangan Engkau bebani mereka dengannya dan jangan tambahkan dosa kami ke dalam catatan dosa mereka. َّر ُ ، فَس ِ اة َ ي َ ا ِِف ا ْل َ ن ِ ب ْ ُم َه ت ْ ر َ ر َ ا س َ َكم َ ُ َّم و ه ه َلل ا ِ فَاة َ ْ َد الْو ع َ ا ب َ ن ِ ب ْ ُم ه Ya Alloh, sebagaimana Engkau senangkan mereka dengan kami semasa hidup, maka senangkan pula mereka dengan kami setelah mati. َ ا ْ ُم غْه لَّ َ ب ُ َال ت َ ُ َّم و ه ه لل ْ ن ِ م أَ ْ ُم ه ُ ء ْ و ُ ن َ اي َ ََن م اِر َ ز ْ أَو ْ ن ِ م ْ ُم لْه ِ َال ُُتَم َ ، و ْ ُم ه ُ ء ْ و ُ َس ا ي َ ََن م اِر َ ْخب ، ى ِ ا ف َ ن ِ ب ْ م ِزهِ َال َُّتْ َ اُنْ ِت و ِبَ ا َ ْو َكِراْلَم ْ ع ُث َس أِْت ِ َ د ن َ ِت و َ ْخِزَي ُ الْم َ ن ِ م َ ن ِ م َّر أَ ُ َس ِت، و ا َ ْ َكر ن ُ ِِف الْم ا َ ن ِ ال َ ْعم ِأبَ ْ ُم ه َ اح َ ْو ر لْ ُ م َق ت ال َّص َ ُ ْل َّر أَه ُ ِذَا س ا ِح، إ َ ْو ى اْلَر َل ِح، َضا ِح ِ ِ ِف اْْلِقْت ق ْ َو لَى م َ نَّا ع ِ م ْ ُم ْفه ِ ق َ ُو َال ت َ ِْل اْ و ِبَ ِ ء ْ و ُ ْ س ن ِ م ُ ا ََن ا ِح ََْتِح َ َِت ْ ج Ya Alloh, jangan sampaikan berita-berita tentang diri kami yang akan membuat mereka kecewa, dan jangan bebankan kesalahan kami kepada mereka, dan jangan hinakan mereka di hadapan orang-orang yang sudah meninggal dunia dengan perbuatan-perbuatan hina dan mungkar yang kami lakukan, dan senangkanlah ruh mereka dengan amal-amal baik kami di tempat pertemuan para arwah, ketika orang-orang yang sholeh bergembira (dengan putra-putra mereka), dan jangan jadikan mereka ternoda oleh perbuatan-perbuatan buruk yang kami lakukan. ُ َّم ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح فَار
209 Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. ا َ ُ َّم و ه ه لل َ ْ َ ََن َلَو ا ت َ ُ م ه َ َلو ِ ت ْ ن ِ َص م لَ ا َ م َ ا، و َ َه ت ْ َّكي َ فَ ز ٍ ة ا َ ن ْ ي ُ ه ا، َ َه َقبَّ لْت َ فَ ت ٍ ْ َصَلة ن ِ م َ َ و ا ه َ ت ْ ِضي َ فَ ر ٍ ة َ َصالِ ٍل ا َ ْعم أَ ْ ن ِ ا م َ لْ ن َمِ ع َ َ و ا ه َ ت ْ َ َّم ي فَ ن ٍ ْ َصَدقَة ن ِ ا م َ َصَّدقْ ن َ ت ، ُ َّم أَ ْن َُتْ ه ه َك الل أَلُ ْ َس فَ ن َ َل ع ُ َظَّه َ ح ا ه ْ ن ِ م ْ ُ م ظُ ْ ح ن ِ م َ ر َ أَ ْكب ا َ ه ْ ن ِ م ْ ُم ه َ م ْ ِس ق َ ا ، و َ ن ْظِ و َ َس ا، و َ ن ِ ام َ أَقْس ْ ن ِ َل م َ ْز أَج ا َ ه ِ اب َ َ و ث ْ ن ِ م ْ ُم ه َ ْم َك ه نَّ ِ ا، فَإ َ ن ِ ام َ ه ْ سِ ن ِ م َ فَ ر ْ ْ َص أَو أَو ا َ ن َ ت ْ ي َ ت ْ ََدب ن َ ، و ْ م ِهِ ر ِ ب ِ ب ، فَ ْ م ََل ُش ْكِرهِ ِ ا إ َ أَن ََل ْ َت ن ْ أَو ِ َّق ِِبلِْب َ أَح َ ، و َ ْن ي ِ آر َ الْ ب َ ن ِ م َ ن ِ َ ْصِل م ِِبلْو َ ْن ِري ْ ُو أْم َ الْم Ya Alloh, bagi setiap ayat suci yang kami baca, shalat kami yang Engkau terima, amal saleh kami yang Engkau ridhai, serta sedekah kami yang Engkau lipat gandakan pahalanya, tolong ya Alloh, berilah mereka bagian yang lebih banyak dari bagian kami, dan pahala yang jauh lebih besar dari pahala kami sebab Engkaulah yang mewasiatkan agar kami berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih pantas untuk berbuat baik kepada mereka dari semua yang berbakti kepada orang tuanya, dan Engkaulah yang lebih berhak untuk melakukan kebajikan tersebut daripada mereka yang Engkau perintahkan. َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. ُ َّم ا ه ه لل َ ُ ا َِل َ َ َ لْن ع ْ َّر اج ةَ قُ ْ ُّي م ٍ ْع َد أَ ا ِ َ َب الن نَّ ا أَطْ ي ِ م ْ ُم ْه ع ْْسِ أَ َ ، و ُ اد َ ْشه اْلَ ُ م ْ ُقو َ ي َ م ْ يَّ و ِ ء ال َ م ْ َو ي َ ِط اْْلِب َ أَغْب ْ ن ِ م ْ ُم لْه َ ع ْ اج َ ، و ادِ َ تَّ ن َالدِ ْ ِِبْلَو ِ ء
210 Ya Alloh, jadikanlah kami penyejuk hati mereka di hari para saksi berdiri sebagai saksi, dan perdengarkanlah kepada mereka sebaik-baik seruan ketika sang penyeru berseru, dan jadikanlah mereka sebagai ayah yang merasa paling senang dengan anak-anaknya. الْ َ و ْ م ُ يَّ اه ِ إ َ ا و َ ن َ ع َ م َّت َُتْ َ ْ ح ي َّْي ََجِ مِ ِ ل ْ ُس ِِف ً م ا اِر ع َك َ د ِ َ َق ر ت ْ ُ س م َ َك، و ِ ت َ ام َ ر َ م ْ َح ر ا َ ي ِ ل ْ ِ أَو َ ل ح َ م َ َك، و ِ َّْي ت ِ ق ْ ي دِ صِ ال َ َّْي و ِ ي ِ النَّ ب َ ن ِ م ْ ِهم ْ لَي َ ْ َت ع َم ْع أَن َ ْن ي َّذِ ال َ َع َك، م ِ ئ َ َدا شه ال ُّ َ و ُ س َ َح ِحَّْي، و ِ ال َّصال َ و ِ ء َ َك ر ِ هئ أُولَ َ ْ ن ًقا، ذَا ي ِ َك ف َف ل ى ِ َك َ ِهللا و َ ن ِ م ُ ْضل الْ َف ا ً ْم ي ِ ل َ ِِب ِهلل ع Kemudian pertemukanlah kami dengan mereka dan seluruh kaum muslimin di negeri yang mulia, di tempat curahan rahmat-Mu, dan kediaman para wali-Mu bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan sholihin. Merekalah sebaikbaik teman. Itulah karunia Alloh dan cukuplah Alloh sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui. ل َ ع َ و ََن َُمَ َّمدٍ ِدِ ي َ هى س ل َ َ َصلَّى هللاُع َ و ا ْل َ و َ لَّم َ َس و ِ ه ِ َ َص ْحب و ِ ه ِ هى آل َ بِ ْ ُد ِهلل ر م َّْي الَمِ َ الْع Semoga sholawat dan salam Alloh selalu tercurah kepada Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau. Dan segala puji bagi Alloh, Tuhan seluruh alam. ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و ْ َم ْح ُ َّم فَار ه ه َلل ا، ا َ ن ْ ي دِ ِ ال َ و Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami. Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami.
211 Biodata Penulis Penulis dilahirkan di Bekasi, pada tanggal 02 Juli tahun 1979 dari seorang ibu yang bernama Saodah dan bapak bernama Rinan (Alm). Penulis menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan lulus tahun 2005. Kemudian pada tahun 2014 penulis berkesempatan melanjutkan studi pada Program Pascasarjana STKIP Pasundan Cimahi, Bandung, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) dan lulus pada tahun 2016. Selain pendidikan formal, penulis juga belajar dan menekuni kitab kuning dengan sistem sorogan di bawah bimbingan K.H. Abdul Mughni, Rawa Bugel, Bekasi. Prestasi yang pernah diraih penulis adalah juara 3 lomba guru SMP berprestasi tingkat Kota Bekasi pada tahun 2015. Buku-buku yang pernah ditulis: Perang-Perang yang Diabadikan al-Qur’an, Studi Tematis Peperangan Rasulullah SAW dalam al-Qur’an (2017), K.H. Noer Ali Seorang Da’i dan Pendidik (2017), Mencari Lailatul Qadr (2018), Pada Sebuah Nisan (Novel, 2017), dan I’tiraf (Novel, 2019). Semuanya diterbitkan oleh Penerbit Harfeey, Yogyakarta.
212