The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dalim al-gilbariey, 2023-02-12 21:44:34

Biografi KH. Abdul Mughni

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Keywords: KH. Abdul Mughni

131 menjadi visi K.H. Muchtar Thobroni kala itu dapat kita saksikan fenomenanya saat ini. C. PNS Bukanlah Segalanya Sikap K.H. Muchtar Thobroni yang “melarang” beliau turut serta dalam seleksi pegawai pemerintah memberikan kesan akan tiga hal. Pertama, umat Islam haruslah tampil ke depan untuk mengisi berbagai bidang kehidupan. Tentu saja, semua disesuaikan dengan bakat serta potensi yang dimiliki. K.H. Abdul Mughni misalkan, karena K.H. Muchtar Thobroni melihat kompetensi beliau dalam bidang dakwah dan pengajaran maka beliau diarahkan untuk menekuni kedua bidang tersebut. Kedua, kesungguhan dalam menekuni suatu bidang pekerjaan, fokus dan konsentrasi dalam mengurus tiap-tiap lahan pekerjaan. Tidak mendua yang berakibat pada ketidakmaksimalan dalam menjalankan suatu bidang. Apatah lagi bila bidang yang hendak diterjuni bukanlah bidang yang dikuasai. Ketiga, merubah pola pikir dan paradigma dari berharap pekerjaan dari pemerintah, menjadikan PNS sebagai tujuan, menjadi sanggup menciptakan lapangan kerja sendiri, dan PNS bukanlah sebuah orientasi. Visi K.H. Muchtar Thobroni ini seakan menyadarkan kita akan fenomena hari ini, di mana untuk mendapatkan jatah di kursi pemerintahan, terekrut dalam berbagai posisi di jajaran aparatur negara, banyak orang menghalalkan berbagai cara. Kebanyakan orang seakan telah menjadi tumpul pikirannya dan kering perasaannya. Seakan-akan


132 bila bukan PNS bukanlah pekerjaan, jika tidak menjadi PNS akan suram masa depan. Inilah yang hendak disampaikan oleh K.H. Muchtar Thobroni kepada santri kinasihnya, K.H. Abdul Mughni, bahwa PNS bukanlah segalanya sehingga ia layak didapatkan dengan berbagai macam cara. Masih banyak medan lain yang juga menuntut perhatian dan dapat dikerjakan serta diusahakan. Dan di atas itu semua, medan masyarakat dan pembinaan umat merupakan medan serta arena yang patut untuk mendapatkan perhatian. Mendidik mereka mengenal Alloh dan Rosul-Nya, serta memperkenalkan ajaran-ajaran Islam yang suci ke tengah-tengah pergolakan hidup di masyarakat, agar cahaya Islam tetap hidup di bumi ini, agar menara Islam tetaplah tinggi dan tidak ada yang melampaui.


133 BAB 6 KEPEDULIAN K.H. ABDUL MUGHNI PADA HAL-HAL KECIL “Bila engkau membaca Amma Ba’d, itu tanda engkau tidak konsekuen. Apakah yang engkau kehendaki Amma Ba’du, Amma Ba’da ataukah Amma Ba’dan.” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ Eksistensi sebuah bangsa di masa depan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya, selain tentu saja sumber daya alam sebagai pendukung. Maka tidak mengherankan bila bangsa-bangsa di dunia berlomba berusaha melakukan berbagai hal untuk meningkatkan sumber daya mereka, terutama dalam hal sumber daya manusia, tidak terkecuali dengan bangsa kita, bangsa Indonesia. Upaya membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Bila kita sepakat bahwa pendidikan merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dapatlah kita mengetahui model apa karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki oleh bangsa Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, dikatakan,


134 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut dapat kiranya diketahui bahwa karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki oleh bangsa Indonesia adalah manusia yang: 1. Beriman kepada Tuhan YME. 2. Memiliki akhlak yang mulia. 3. Sehat (baik jasmani maupun rohani). 4. Menguasai ilmu pengetahuan. 5. Memiliki keterampilan, cakap, mandiri, kreatif, dan inovatif. 6. Sanggup menjadi warga negara yang demokratis. Semua karakter utama yang digariskan di atas diyakini akan terbentuk melalui pendidikan, baik pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Dengan catatan, pendidikan yang digelar benar-benar merupakan pendidikan yang tangguh dan pas dengan karakter dasar bangsa Indonesia. Salah satu komponen pendidikan yang utama dalam pendidikan, selain murid, adalah guru. Kehadiran seorang guru dalam sebuah proses pendidikan atau kegiatan belajar sangatlah penting, kalau tidak mau dikatakan sebagai ruhnya, apalagi dalam terminologi pendidikan


135 Islam. Urgensi kehadiran dan bimbingan guru dalam proses belajar ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Kholdun dalam Mukaddimahnya (2011, hal. 1009): Perjalanan mencari ilmu dan bertemu langsung dengan para syaikh menambah kesempurnaan belajar. Hal ini disebabkan karena manusia mendapatkan pengetahuan, akhlak, dan segala sesuatu yang dapat diambil dari ajaran dan keutamaan. Kadang hal ini berasal dari ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kadang pula dari pengajaran secara langsung. Namun, hasil yang didapatkan dari pertemuan secara langsung (dengan guru) lebih kuat dan lebih baik. Makin banyak guru, makin baik pula hasil yang akan dicapai. Peristilahanperistilahan ilmu juga kadang rancu bagi seorang pelajar. Hal ini harus membuat mereka belajar langsung kepada para guru. Sebab metode yang dipakai para pengajar berbeda-beda. Bertemu langsung dengan orang-orang kompeten di bidang ilmu tertentu dan banyaknya guru sangat bermanfaat untuk memahami peristilahan yang mereka pakai, didasarkan pada apa yang ia lihat dari perbedaan cara yang mereka pakai. Dengan begitu, sang pelajar mampu membedakan antara ilmu dan istilah. Ia tahu bahwa hal tersebut adalah lingkup pengajaran dan sebagai jalan untuk membangkitkan kekuatannya sehingga makin mantap dan dapat meluruskan pengetahuannya dan membedakannya dengan yang lainnya. Juga untuk menguatkan nalurinya dengan


136 cara bertemu langsung dan mempunyai banyak guru. Hal ini bagi orang yang dimudahkan oleh Alloh dalam mencari ilmu dan hidayah. Demikian juga yang dikatakan oleh al-Jarnuzi di atas, bahwa dari enam syarat memperoleh ilmu, salah satunya adalah adanya petunjuk atau bimbingan guru (wa bi Irsyadi Ustadzin). Bahkan, bagi mereka yang dalam proses belajarnya tanpa disertai adanya kehadiran guru, dianggap telah berguru kepada setan. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Yazid al-Bustami: ُن ْطَا ال َّشي ُ ْ ُخه ْ ٌخ فَ َشي ُ َشي لَه ْ ُكن َ ي ْ ََل ْ َن م “Barangsiapa tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.” Namun juga harus disadari, bahwa urgensi guru yang diharapkan kehadiran dan bimbingannya adalah guru-guru yang benar-benar mumpuni, atau dalam istilah Stanley Aronowitz dan Henry A. Giroux, dalam Barnadib (1996, hal. 49), adalah guru intelek yang transformatif, yaitu seorang guru yang bukan hanya menerima dan menjalankan kurikulum yang ada, melainkan secara kritis dapat menghubungkan relevansi materi kurikulum itu dengan masyarakat.


137 Sumber foto: Dokumen keluarga Gambar 10. Ijazah kitab Syaikh Wahbah Zuhaili kepada K.H. Abdul Mughni Sebagai seorang guru yang transformatif, K.H. Abdul Mughni tidak pernah lepas memberikan kasuskasus faktual yang dijumpai oleh beliau–dan mungkin juga oleh si murid juga–di tengah-tengah masyarakat kepada murid-muridnya untuk kemudian beliau bahas dan dudukan pada posisi yang sebenarnya. Beliau memberikan bekal kelak terjun ke masyarakat dengan bekal yang benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. Dalam tataran ini, apa yang dilakukan oleh beliau adalah menunjukkan relasi dan relevansi antara


138 pengetahuan yang terdapat dalam kitab-kitab yang dipelajari dengan fakta kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya. Di antara fakta-fakta dalam masyarakat yang mungkin oleh sebagian orang dianggap kecil dan tidak penting yang sering kali dibawa dan dijadikan contoh oleh beliau cukuplah beragam dan hampir semuanya berpangkal pada ketidaktahuan atau kekurangpahaman terhadap bahasa Arab dan ilmu-ilmunya. Fakta-fakta91 tersebut antara lain sebagai berikut. A. Salam Pembuka dalam Pidato atau Ceramah Didahului Lafazh Basmalah Dalam satu kesempatan pengajian di kediaman beliau, K.H. Abdul Mughni mengatakan bahwa beliau beberapa hari yang lalu menghadiri satu acara di mana beliau didaulat untuk memimpin pembacaan doa penutup acara. Sebelum acara ditutup doa, mata acara diisi oleh seorang penceramah. Si penceramah memulai ceramahnya dengan mengucapkan salam: Bismillahirrohmanirrohiim. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh...dan seterusnya. Pernyataan beliau direspon oleh beberapa murid pengajian. Ada yang mengaminkan, bahwa ia pun sering menemukan kasus yang sama. Ada yang menanggapi hampir sama dengan kasus tersebut, hanya saja ini si 91 Kami sebut fakta karena memang kasus ini banyak terjadi di tengah masyarakat, bukan sebatas contoh. Bahkan bukan saja beliau yang menjumpai kasus tersebut, namun kami beserta murid-murid yang lain pun sering melihat adanya kasus tersebut.


139 pembicara hanya mengucapkan: Bismillahi, Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada dua kasus dalam masyarakat di mana terjadi seorang penceramah atau pembicara memulai pembicaraan dengan: pertama, mengawali dengan lafazh basmalah secara lengkap. Kedua, ada juga yang memulai dengan basmalah, hanya saja tidak secara lengkap (hanya ucapan: bismillah). Sontak suasana pengajian menjadi hangat dengan diskusi terkait hal tersebut. Menanggapi hal tersebut, KH. Abdul Mughni memberikan penjelasan bahwa tidak sepantasnya ucapan salam tersebut didahului dengan pembicaraan. Bahkan lafazh basmalah yang diucapkan diawal tersebut tergolong sebagai pembicaraan, sehingga ia tidak perlu dibaca untuk memulai salam. Namun sayangnya, hari ini banyak sekali kita dapati gaya penceramah yang demikian, terutama ustadz-ustadz atau kyai-kyai muda, memulai salam dengan dimulai lafazh basmalah.92 Kalaupun ia mau memulai dengan basmalah, jelas beliau, maka tidak perlu salam, namun langsung tahmid (alhamdulillah dan seterusnya). Jadi susunannya: Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahi robbil ‘alamin...dan seterusnya. Kalau ia ingin menggunakan salam, maka susunannya: Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. Alhamdulillahi robbil ‘alamin...dan seterusnya tanpa didahului basmalah. Jadi sebenarnya, lengkapnya 92 Bagaimana bila penceramah memulai dengan kata-kata selain basmalah sebelum ia mengucapkan salam, seperti kata-kata yang mendatangkan gelak tawa. Tentu lebih tidak diperbolehkan lagi.


140 kalimat pembuka ceramah atau pidato bisa dipilih salah satunya sebagai berikut. 1. Diawali dengan salam, kemudian langsung disambung tahmid. 2. Diawali dengan basmalah, kemudian langsung disambung dengan tahmid (tanpa salam). 3. Diawali dengan istighfar, kemudian langsung disambung dengan tahmid (tanpa salam). Demikianlah, begitu besarnya perhatian K.H.Abdul Mughni terhadap perkara yang mungkin bagi sebagian orang dianggap hal sepele, hal kecil, dan remeh. Namun bagi beliau, seberapapun kecilnya bila memang keliru dan perlu diluruskan maka beliau akan luruskan. Beliau juga berpesan kepada kami murid-murid beliau agar tidak ikutikutan melakukan hal tersebut, tidak menjadikan contoh, meskipun mungkin yang melakukan hal itu penceramah kondang; ataupun karena dilakukan oleh banyaknya orang. Bahkan dengan “agak keras” beliau mengatakan, bahwa bila mendengar ada penceramah atau orang berpidato dengan gaya demikian, yaitu dengan mendahulukan pengucapan basmalah baru salam, untuk tidak perlu dijawab. Beliau berargumen dengan hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam: َّس ال َ ْل قَ ب ِِبلْ َكَلمِ ََدأَ ب ْ َن ُ م ه ْ ُو ب ْ ي فََل ُُتِ َلمِ “Barangsiapa yang memulai dengan kalam (pembicaraan) sebelum salam maka janganlah dijawab (salamnya).”93 93 HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath dan Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Aulia dari Ibnu Umar. Dimuat oleh as-Suyuthi dalam


141 B. Waqaf (berhenti) dalam Pembukaan Pidato atau Ceramah: Amma Ba’d Contoh faktual lain yang juga beberapa kali beliau berikan kepada kami adalah mengenai perilaku sebagian orang saat ini dalam berceramah, pidato dan sebagainya. Entah yang dipanggil kyai atau ustadz, entah yang ceramah di kampung atau di kota, entah yang ditempattempat sederhana seperti tempat tahlilan, pernikahan, dan yang semisalnya ataupun yang ditempat-tempat mewah, seperti televisi dan radio. Dan mirisnya, tak jarang yang mempraktikkannya adalah ustadz atau kyai yang sudah demikian terkenal. Persoalan yang satu ini tak luput dari sorotan K.H. Abdul Mughni dengan ilmu beliau. Kebiasaan yang sama-sama kita lihat dan dengar dari gaya mereka dalam berceramah atau berpidato saat ini adalah mereka me-waqaf-kan (menghentikan) kalimatkalimat pembukaan ceramah atau pidato ketika telah sampai kata Amma Ba’du ( د عَ ْب ماَّ َ أ ( menjadi Amma Ba’d (huruf dal tidak dihidupkan), layaknya membaca al-Qur’an yang bila berhenti di akhir ayat me-waqaf-kan huruf terakhir. Bagi kebanyakan kita mungkin cara membaca demikian sah-sah saja dan tidak ada bedanya. Namun tidak demikian halnya dengan K.H. Abdul Mughni. Model dan cara membaca seperti ini, menurut beliau, merupakan cara membaca yang tidak konsisten. Kenapa? Karena cara membaca kalimat Amma Ba’du, jelas beliau, ada tiga cara. َّما بَ ْع د ) du’Ba Amma, Pertama َ َّما بَ ْعَد ) da’Ba Amma, kedua ); أ ;( اَ al-Jami’ ash-Shagir min Ahaditsi al-Basyiri an-Nadzir, Harfu: al-Mim, hlm. 570, hadits no. 8556.


142 dan ketiga, Amma Ba’dan ( م َّداًعَ ْب اَ ا .( Nah, bila dibaca dengan di-waqaf-kan, menjadi Amma Ba’d (dengan me-waqaf-kan huruf dal), maka sebenarnya bacaan mana yang mau dipilih? Apakah Amma Ba’du, Amma Ba’da, ataukah Amma Ba’dan. Di sinilah letak ketidakkonsekuenan model membaca yang demikian. Padahal, cara membaca dengan ketiga cara seperti itu juga memiliki konsekuensi makna dan lafazh.94 Bila membaca Amma Ba’du, terang K.H. Abdul Mughni, berarti pembicara menghendaki membuang mudhof ilaih-nya dan hanya meniatkan maknanya saja. Sedangkan bila membaca Amma Ba’da, berarti pembicara menghendaki membuang mudhof ilaih-nya dan hanya meniatkan lafazhnya saja. Dan bila membaca Amma Ba’dan, berarti pembicara hendak membuang mudhof ilaihnya dan tidak meniatkan maknanya dan lafazhnya. Sekali lagi, mungkin ini merupakan hal yang remehtemeh, hal kecil dan masih dalam tataran pelajaran dasar ilmu nahwu. Namun kenyataannya, dalam hal yang kecil serta remeh saja terlihat seperti itu, bila demikian maka kita akan tahu di mana kelas kyai atau ustadz tersebut. Bisa saja mereka adalah kyai atau ustadz terkenal, namun bukan terkenal karena keilmuannya, tidak karena kefaqihannya, melainkan karena wajahnya kerap nongol di acara-acara keagamaan televisi atau radio. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, bila keterkenalannya hanya karena kelucuannya. 94 Kami dapati pembahasan ini dalam Ibnu Hisyam al-Anshari, Qothr an-Nada wa Balli ash-Shoda (Beirut: Dar al-Fikr, 2009), hlm. 24


143 C. Imam Sholat Wajib Mengucapkan: ash-Sholatu Jami’ah Dalam sebuah kesempatan pengajian Ahad pagi, saat kami berkesempatan ikut dalam pengajian Kitab alMuhadzdzab yang bertempat di kediaman beliau dan diikuti oleh para asatidz yang datang dari beberapa kampung yang berbeda. Di ujung pengajian, seorang ustadz bertanya perihal imam dalam sholat fardhu yang jahriyyah di masjidnya mengucapkan: ash-Sholatu jami’ah ( ال َّص َجا م ََلة ةَع , marilah sholat berjamaah ). Dengan enteng beliau menjawab, bahwa itu hanya kelakuan orang yang tidak pernah mengaji. Karena kalau dia rajin ngaji, dia pasti tahu, kalau ucapan tersebut hanya diucapkan untuk sholat-sholat sunnah yang disunnahkan dikerjakan secara berjamaah yang memang tidak ada adzan dan iqomatnya.95 Yang dimaksud oleh beliau adalah perkataan alMalibari dalam kitabnya, Fathu al-Mu’in (hal. 30) bahwa seruan ash-Sholatu jami’ah berfungsi sebagai pengganti ا َم ة ) iqomah dan adzan ن َواْْل قَ ا ذَ .( ليَ كْو َن نَائ بًا َع ن اْْلَ Dalam pemahaman kami, nash tersebut bisa dipahami dengan dua pemahaman. Pertama, bahwa seruan tersebut (ash-Sholatu jami’ah) merupakan pengganti adzan dan iqomah pada saat waktu itu memang belum ada 95 Seperti sholat ‘Id, tarawih, witir yang dikerjakan secara menyendiri (dengan adanya jeda) dengan tarawih pada bulan Romadhon, kusuf (gerhana bulan atau gerhana matahari). Lihat alMalibari, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrata al-‘Ain (Surabaya: Karya Toha Putra, t.t.p), hlm. 30.


144 syariat untuk adzan dan iqomah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani.96 Kedua, setelah turunnya syariat adzan dan iqomah, seruan tersebut tetap dipergunakan, tetapi fungsinya bukan lagi untuk menyerukan masuknya waktu sholat dan ajakan mendirikannya (sebagaimana fungsi adzan dan iqomah), namun seruan tersebut digunakan untuk mengajak jamaah mengerjakan sholat sunnah yang disunnahkan untuk dikerjakan secara berjamaah,97 sebagaimana yang dikatakan oleh K.H. Abdul Mughni di atas. Satu lagi kepedulian beliau terhadap kondisi umat saat ini. Di mana kebanyakan orang sudah mulai tidak peduli dengan hal-hal kecil. Sehingga sesuatu yang keliru tersebut tumbuh subur di tengah masyarakat karena dianggap benar. Saking merasa benarnya, tanpa ragu mereka mengucapkan seruan tersebut dengan menggunakan pengeras suara (lound speaker). Benar, apa yang diungkit oleh beliau di atas tidak terkait dengan sholat, tidak membatalkan sholat, ataupun dilarang (dalam artian makruh apalagi haram). Namun harus juga disadari bahwa kita diperintahkan untuk ittiba’, dan mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) merupakan salah satu bukti cinta kepada-Nya. Alloh berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu 96 Lihat Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih alBukhari (Qohirah: ad-Dar al-Alamiyyah, 2015), jilid 2, hlm. 365. 97 Sebagaimana kita telah sama tahu, bahwa dalam sholat sunnah yang disunnahkan dikerjakan dengan berjama’ah tidak ada seruan adzan maupun iqomah. Maka dalam kondisi inilah seruan tersebut digunakan.


145 mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Ali Imran: 31). D. Cara Baca: Wahdahuu laa syariikalah Dalam suatu kesempatan pengajian yang dilaksanakan sore hari bertempat di kediaman beliau, beliau menyampaikan satu permasalahan yang masih banyak terjadi dan seringkali beliau temukan. Permasalahan yang dimaksud adalah perihal kebiasaan khathib yang dalam membaca kata: ُ ْ َك لَه ُ َال َشِري ْ َده َح َِّال هللاُو إ َ لَه ِ َ ُد أَ ْن َال إ ْشه أَ pada pembukaan khutbahnya dengan cara memendekkan bacaan huruf “ha”nya. Padahal huruf “ha” tersebut berbaris dhammah terbalik, bukan dhammah biasa, sehingga mestinya dibaca dua ketukan atau dua harakat atau bila kita bawa ke medan ilmu tajwid hukumnya adalah Mad Shilah Qoshirah. Betul, cara baca yang demikian, yakni dengan memendekkan huruf “ha”, mungkin tidak sampai merusak makna atau menimbulkan makna baru, namun bagi orang yang tertib dalam bacaan pasti akan merasa terganggu dengan cara baca seperti itu. Apalagi hal tersebut dilakukan saat khutbah Jum’at yang menuntut kerapihan dan ketepatan bacaan si khathib. Dan menurut pengakuan beliau, beliau sangat tidak suka bila ada khathib yang berbuat demikian saat khutbah Jum’at. Itu sebabnya, beliau mewanti-wanti kami dan murid-murid beliau untuk tidak mencontoh perbuatan tersebut.


146 Minimal ada dua pelajaran yang bisa kita petik dalam kasus ini. Pertama, beliau adalah tipikal ulama yang sangat memperhatikan ketertiban bacaan, sangat teliti bahkan dalam urusan yang sangat kecil sekalipun. Kedua, seseorang yang akan membaca kalimat atau teks-teks berbahasa Arab hendaklah terlebih dahulu memastikan kebenaran harakatnya sehingga saat ia membacanya maka ia akan dapat membacanya dengan tepat dan benar. Apalagi bila membacanya pada momen sakral semisal khutbah Jum’at. E. Cara Mewashal Surat al-Ikhlas Menyambung bacaan (washal), terang K.H. Abdul Mughni suatu kali, boleh-boleh saja asalkan menyambungnya dengan benar. Namun bila tidak benar, maka jangan disambung, waqaf saja ayat per ayat. Sebagaimana yang beliau temukan dalam beberapa kesempatan acara yang beliau hadiri di mana ada ustadz mewashal surat al-Ikhlas dengan keliru. Ketidaktahuan terhadap tata bahasa Arab lagi-lagi menjadi biang keladinya. Ayat yang dimaksud adalah ayat pertama dan kedua surat al-Ikhlas yang banyak diwashal namun dengan washal yang tidak tepat. َ ُد ال َّصم َ ٌد # هللاُ أَح َ هللاُ ُو ه ْ قُل Si ustad membacanya dengan dua susunan berikut. 1. Qul Huwallohu Ahadu Lillahush Shomad َ ُد ال َّصم ُ َ ُد # َِّللَّ أَح َ هللاُ ُو ه ْ قُل 2. Qul Huwallohu Ahadul Lillahush Shomad َ ُد ال َّصم ُ َّ َ ٌد # َّلل ِ أَح َ هللاُ ُو ه ْ قُل


147 Bacaan pertama dengan men-dhammah-kan huruf akhir ayat pertama, kemudian diwashalkan dengan ayat kedua dengan mengkasrahkan huruf “lam” pada kata pertama dari ayat kedua. Sedangkan pada bacaan kedua dengan tetap men-tanwin-kan huruf akhir ayat pertama, namun dibaca idgham (bilaghunnah) dengan kata permulaan ayat kedua. Ada dua kesalahan, terang beliau, dalam cara baca dengan susunan di atas. Pertama, mengganti tanda baca dhamma ta’in (un) dengan dhammah (u). Kedua, membaca dhammah lafazh Jalalah (lafazh: Alloh) padahal lafazh tersebut didahului huruf jar98 (huruf yang mengharuskan kasrah, kecuali pada kata-kata tertentu sebagaimana dibahas dalam ilmu nahwu). Bila dibaca dengan susunan seperti itu, jelas beliau, mestinya lafazh Jalalah berakhiran kasrah ( لِل ( َّdan bukan tetap berakhiran dhammah ( .( َّلِل Demikian juga membaca dengan meng-idgham-kan, karena menyangka tanwin bertemu huruf “lam”, ini merupakan kesalahan fatal. Lantas yang benar bagaimana membacanya? Sumber masalahnya adalah ditanwin (un), jelas beliau. Oleh sebab itu, kita harus tahu apa itu tanwin. Kemudian beliau memberikan sebuah defini berikut. ا ًّ لَْفظًا َال َخط َ ر َ ُق اْْلخِ َلْح َةٌ ت ن اكِ َ َدةٌ س ِ ائ َ ٌن ز ْ ُو ن َ ُو ه َ و ُ ْن ِوي ْ التَّ ن 98 Yakni huruf “lam” (ل )


148 “Tanwin adalah nun mati yang berada di akhir kalimat, yang ada dalam ucapan dan tidak dalam tulisan.”99 Beliau kemudian mencontohkan, kata Zaidun ( د ي ْز .(َ Huruf “dal”nya, jelas beliau, terdapat nun mati ( ن ( ْyang ada dalam ucapan (terdengar suara nun mati, pen) tetapi tidak ada dalam tulisannya (yang tertulis adalah tanwin [un], pen). Dengan demikian, beliau memberikan kesimpulan, bila kita ingin mewashal ayat tersebut maka seharusnya bunyi susunannya adalah sebagai berikut. Qul Huwallohu Ahadunillaahush Shomad ( َ ُدنِ هللاُ أَح َّللُ ا َ ُو ه ْ قُل َ ُد 100).ال َّصم Lagi-lagi mungkin dalam pikiran kita hal ini urusan kecil dan sepele oleh sebab itu banyak diremehkan oleh sebagian kita. Atau bisa juga karena kita terlalu biasa mendengar ayat tersebut sehingga saking biasanya kita tidak bisa membedakan mana bacaan yang benar dan tidak benar, telinga kita tidak dapat menangkap kejanggalan tersebut. Atau karena memang dalam urusan kecil ini pun ilmu kita belum dan tidak sampai. Jika demikian, belajarlah kembali, belajarlah banyak-banyak. Dan ingat! Harus belajar mulai dari yang dasar dan mudah 99 Kami dapati definisi ini dalam Ibnu Hisyam al-Anshari, Syarah Qothr an-Nada wa Balli ash-Shoda (Beirut: Dar al-Fikr, 2009), hlm. 24. 100 Pada sebagian cetakan penerbit mushhaf al-Qur’an, sebenarnya telah ada tanda huruf nun kecil tersebut untuk membantu mereka yang akan mewashal ayat tersebut. Demikian juga pada ayat-ayat lain dalam al-Qur’an yang memiliki kasus yang sama.


149 dahulu, jangan baru belajar langsung belajar tafsir. Bukan ilmu yang didapat, bingung yang justru akan dituai. F. Membaca Apa Adanya Pernah juga beliau dalam suatu pertemuan pengajian dengan kami para murid-murid beliau mengeluhkan mudahnya seseorang menambahkan atau mengganti kata dalam suatu bacaan. Alasannya cukup beragam, dari yang tidak tahu hingga perbedaan pendapat dan pemahaman. 101 Beliau mengingatkan kami untuk tidak gampang melakukan hal seperti itu. Karena biar bagaimanapun bahasa Arab merupakan bahasa yang unik dan berbeda dengan bahasa lainnya. Selain itu, pengarang karya tersebut merupakan orang yang lebih tahu maksud dari tulisannya serta makna apa yang ia inginkan dari tulisannya tersebut. Oleh sebab itu, beliau meminta kami murid-murid beliau ketika membaca suatu bacaan, baik dalam bentuk prosa (natsar) maupun syair (nazhom), hendaklah dibaca sesuai teksnya, apa adanya, tidak perlu improvisasi, kecuali memang ada keterangan shohih yang mengharuskan mengubah atau memperbaiki bacaan (teks) tersebut. 101 Alasan yang terakhir ini membuat sebagian kalangan tidak mau, bahkan melarang, ketika membaca salah satu bagian dari sholawat Burdah, yaitu: Ya Rabbi bil Mushthofa, balligh maqooshidana. Mereka mengatakan bolehnya kalimat tersebut dibaca namun dengan terlebih dahulu menghilangkan kata: bil Mushthafa (dengan berkat alMushthafa, yakni Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam) karena dianggap termasuk wasilah yang terlarang.


150 Beberapa contoh perubahan bacaan yang ditemui dalam beberapa acara yang dihadiri beliau dan disampaikan kepada kami murid-murid beliau agar tidak mengikuti hal tersebut meskipun mungkin orang yang mengubah bacaan tersebut termasuk kyai atau ustadz besar, ulama yang terkenal. Pada beberapa acara, cerita beliau, ada yang dengan mudah mengubah kata-kata dalam sholawat Burdah karya al-Bushiri (w. 694 H) berikut. ِ م َ الْ َكر َ ع اسِ َ و َ َ َضى َي ا م َ ا م َ لَن ْ ر ِ اغْف َ ِصَدََن # و َقا َ ْغ م ِ ل َ ُ ْصطََفى ب َ بِ ِِبلْم ر َ َي “Wahai Tuhanku, dengan berkat al-Mushthofa, sampaikanlah tujuan kami, dan ampuni kami dari apa-apa yang telah lalu, wahai yang Mahaluas kemurahan-Nya.” Diubah menjadi: ِ م َ الْ َكر َ ع اسِ َ و َ ا َي َ ن َ ْب ا ذَن َ لَن ْ ر ِ اغْف َ ِصَدََن # و َقا َ ْغ م ِ ل َ ُ ْصطََفى ب َ بِ ِِبلْم ر َ َي “Wahai Tuhanku, dengan berkat al-Mushthofa, sampaikanlah tujuan kami, dan ampuni dosa-dosa kami, wahai yang Mahaluas kemurahan-Nya.” Sebagaimana telah diketahui bahwa sholawat Burdah, dan sholawat-sholawat atau bacaan sejenis, merupakan karya sastra dalam bahasa Arab berbentuk syair. Dalam karya sastra berbentuk syair, penulis biasanya menggunakan diksi bahasa yang sangat kuat dan dalam serta merupakan curahan dari segala perasaan si penulis, dan hal ini juga berlaku dalam penulisan karya sastra dalam bahasa Indonesia, terutama yang berbentuk puisi.


151 Dengan mengganti kata: ضى َم َما) َapa-apa yang telah lalu) menjadi kata: اَنَنبَ ْذ)dosa-dosa kami), jelas beliau, berarti orang yang mengganti telah menyempitkan makna dari apa-apa yang awalnya luas maknanya. Dapat kiranya dipahami dari penjelasan beliau tersebut, bahwa bila dengan kata yang awal (maa madhoo), maka yang dimaksudkan dan diinginkan permohonan ampunan oleh penulis adalah apapun bentuk kesalahan dan dosa yang terjadi pada masa-masa lalu, sedangkan bila dengan kata yang baru (dzanbanaa) hanya memintakan ampunan atas dosa. Padahal, bisa jadi kesalahan itu bukan saja dalam bentuk dosa namun juga hal-hal lain yang di hadapan Alloh mendatangkan murka dan kemarahanNya, meskipun mungkin perbuatan tersebut dalam penilaian manusia benar. Apalagi tingkat perbuatan baik manusia bertingkat-tingkat nilai dan kualitasnya, akan sangat tergantung pada siapa yang melakukan. Sebagaimana dikatakan oleh al-Junaid al-Baghdadi. ُت ا َ ن َ ُت َس ا َ ئ ح ِ ي َ ا ِر س َ ْر َّْي اْلَب َقَّربِ ُ الْم “Kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang abror (orang baikbaik) merupakan keburukan di sisi orang-orang muqorrobin (yang dekat kepada Alloh).” Fakta lain juga yang pernah beliau jumpai kemudian disampaikan kepada kami murid-murid beliau adalah pengubahan kata dalam bagian qosidah Ya ‘Alima Sirri Minna yang merupakan bagian dari Ratib al-Hadad karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (w. 1132 H). Dalam teks aslinya tertulis sebagai berikut.


152 نَّا َ ع َ ْر ت ِ ِ ِك الس ت ْ َه نَّا َال ت ِ ِ م ر ِ الس َ ِ اَل َ ع َ َي “Wahai Dzat Yang Mengetahui segala rahasia yang ada pada diri kami, jangan Kau rusak/hancurkan penutup aib dan cela kami.” Diubah menjadi: نَّا َ َّر ع ِ ِ ِك الس ت ْ َه نَّا َال ت ِ ِ م ر ِ الس َ ِ اَل َ ع َ َي “Wahai Dzat Yang Mengetahui segala rahasia yang ada pada diri kami, jangan Kau rusak/hancurkan rahasia aib dan cela kami.” Terasa bukan rasa dan perbedaan maknanya? Bila dengan susunan awal, yang sesuai dengan apa yang ditulis oleh sang pemilik qosidah, kalimat tersebut berisi permohonan kepada Alloh agar Dia tidak membuka segala rahasia, aib, dan cela dengan cara tidak merusak atau menghancurkan penutup (satir)nya. Karena bila penutup tersebut rusak atau dihancurkan, maka segala rahasia di dalamnya yang berisi aib dan cela akan berhamburan kemana-mana. Ia akan diketahui oleh siapa saja, oleh setiap orang. Sedangkan dalam susunan kedua, maknanya menjadi permohonan kepada Alloh agar Dia tidak merusak atau menghancurkan rahasia, aib, dan cela. Artinya, sama saja kita meminta kepada Alloh agar segala aib dan cela kita Alloh biarkan seperti itu, tanpa pengampunan. Demikian penjelasan yang diberikan oleh K.H. Abdul Mughni terkait maknanya, sebelum dan sesudah adanya pengubahan dalam susunannya. Memang agak rumit memahami persoalan tersebut, kecuali mereka yang memang telah terlatih dalam bahasa


153 Arab serta segala filsafatnya, karena sebagaimana telah maklum, setiap bahasa memiliki nilai rasa dan filsafatnya masing-masing. bukan semata hanya yang tertulis (manthuq) namun juga pemahaman sisi-sisi batin yang terdapat dibalik susunan kalimat (mafhum). Secara moral, minimal terdapat dua pelajaran dan pesan yang hendak disampaikan dari sikap beliau ini. 1. Menghargai karya orang lain, salah satunya, dengan cara memperlakukan karya tersebut apa adanya,102 tidak mengubah atau merusaknya dengan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan sang penulis, apalagi sampai memalingkan tujuan penulis dari penulisan karya tersebut. 2. Bersikap tawadhu dengan tidak memandang diri lebih tahu dan paling benar dari si penulis karya sendiri. Bila pun benar memang terdapat kekeliruan tetap tidak diperkenankan mengubah karya orang lain. Namun, buatlah karya yang menurutnya benar, itu pun kalau sanggup. Dan ini termasuk dalam moral akademis yang harus dikedepankan. G. Memperhatikan Makna Bacaan Sebagaimana telah jelas di atas, bahwa K.H. Abdul Mughni merupakan sosok ulama yang sangat berhati-hati dalam membaca atau menukil bacaan. Beliau juga senantiasa mengingatkan kepada kami murid-murid 102 Sekali lagi, kecuali ada petunjuk shohih yang memang mengharuskan adanya koreksi atas teks tersebut.


154 beliau agar bersikap cermat saat membaca suatu bacaan, jangan sampai bacaan yang dibaca mengalami perubahan makna yang seharusnya memohon kebaikan, namun karena salah mengucapkan menjadi meminta keburukan. Itulah sebabnya, beliau menyarankan dalam menghafal harus melihat teksnya, bukan semata-mata hasil pendengaran. Ataupun hasil pendengaran, tapi tetap dikonfirmasi dengan merujuk pada teksnya. Dan terakhir, tentu saja diperhatikan kecocokan makna yang terkandung di dalamnya. Beliau tak bosan mengingatkan ini kepada kami murid-murid beliau karena pernah terjadi seorang ustadz di hadapan beliau dalam suatu acara “terpeleset”–entah tidak mengerti maknanya atau memang seperti itu hafalannya–membaca doa bagi ahli kubur yang sebenarnya sudah sangat masyhur di kalangan kita. Doa yang dimaksud adalah sebagai berikut. ُ اه َ ْو ث َ نَّةَ م َ ِل ا ْْل َ ع ْ اج َ ُ و ْه ن َ ْع ُف ع ا َ و ِ ه ِ اف َ ع َ ُ و ْ ََحْه ار َ ُ و لَه ْ ر ِ ُ َّم اغْف َلله ا “Ya Alloh, ampunilah dia, sayangilah dia, maafkanlah dan ampunilah dia, dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya.” Terpeleset membacanya menjadi: ُ اه َ و اسِ َ نَّةَ م َ ِل ا ْْل َ ع ْ اج َ ُ و ْه ن َ ْع ُف ع ا َ و ِ ه ِ اف َ ع َ ُ و ْ ََحْه ار َ ُ و لَه ْ ر ِ ُ َّم اغْف َلله ا “Ya Alloh, ampunilah dia, sayangilah dia, maafkanlah dan ampunilah dia, dan jadikanlah surga untuk selain dia.” Perhatikanlah bagaimana pentingnya mengetahui dan memahami makna dari kalimat-kalimat yang dibaca, bila tidak, akibatnya ternyata sangatlah fatal. Niat hati


155 hendak mendoakan agar si mayat atau ahli kubur mendapatkan surga, namun karena keselip lidah maka justru meminta agar surga hanya diberikan untuk orang lain, tidak untuk dia. Untuk menghindari kesalahan makna yang fatal tersebut, beliau menyarankan kepada kami dan muridmurid beliau agar mengganti kata tersebut dengan kata yang semakna namun lebih mudah diucapkan dan kemungkinan terhindar dari kesalahan karena adanya “kemiripan” bunyi dari kalimat tadi. Beliau menyarankan mengganti kata: tempat tinggalnya ( واه َ ْ مث ( َmenjadi: tempat َوه ) tinggalnya ْ مأ ,( َsehingga susunannya menjadi: ُ ه َ أْو َ نَّةَ م َ ِل ا ْْل َ ع ْ اج َ ُ و ْه ن َ ْع ُف ع ا َ و ِ ه ِ اف َ ع َ ُ و ْ ََحْه ار َ ُ و لَه ْ ر ِ ُ َّم اغْف َلله ا “Ya Alloh, ampunilah dia, sayangilah dia, maafkanlah dan ampunilah dia, dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggalnya.” H. I’rob Basmalah Di lingkungan ulama yang ada di Bekasi, terutama yang ada di Bekasi Utara, K.H. Abdul Mughni dikenal sebagai seorang kyai yang pakar dalam ilmu nahwu. Kepakarannya dalam ilmu nahwu serta pemahamannya terhadap kitab-kitab klasik ini mungkin menjadi salah satu pertimbangan PCNU Kota Bekasi yang beberapa kali mengutus beliau dalam forum bahsul matsail pada setiap perhelatan Muktamar NU. Keahliannya dalam membaca kitab-kitab kuning telah diakui oleh mereka-mereka yang juga pandai membaca kitab kuning, bukan pengakuan


156 yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak mengerti akan fan ilmu ini. Cukuplah pengakuan itu datang dari guru beliau sendiri, yaitu K.H. Muchtar Thobroni berdasarkan yang diceritakan oleh K.H. Abdul Mughni sendiri kepada kami. Dengan mata berkaca-kaca–karena terkenang masa lalu saat beliau belajar dengan K.H. Muchtar Thobroni dan rindunya kepada sang guru–beliau mengatakan, bahwa K.H. Muchtar Thobroni pernah mengatakan kepada beliau, “Elu mah udah bisa baca kitab, tinggal banyakin aja muthola’ah.” Dalam cerita beliau yang lain, beliau pernah mendatangi guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni, untuk menunjukkan alasan beliau serta warga kampung Rawa Bugel103 mendirikan Masjid as-Su’ada karena sepertinya guru beliau kurang menyetujui pendirian masjid tersebut dengan alasan tertentu. Beliau datang sambil membawa sebuah kitab fikih. Tiba dihadapan gurunya, sang guru yang melihat sang murid membawa sebuah kitab langsung berkata, “Iya, mentang-mentang udah pinter baca kitab.”104 103 Dahulu, kampung Rawa Bugel merupakan kampung yang terisolasi dengan bentangan sawah yang cukup luas. Bentangan sawah ini menjadi pemisah antara kampung Rawa Bugel dengan Kaliabang Nangka, kampung dimana guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni tinggal. Demikian juga dengan kampung-kampung lain disekitar kampung Rawa Bugel. 104 Meskipun awalnya K.H. Muchtar Thobroni tampaknya kurang setuju dengan pendirian Masjid As-Su’ada, tapi K.H. Muchtar Thobroni merupakan tokoh yang melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan masjid tersebut. Tentu saja, hal tersebut tak lepas dari


157 Dari dua peristiwa yang disampaikan oleh K.H. Abdul Mughni tersebut nyata sekali kepada kita, bahwa kepandaian K.H. Abdul Mughni dalam membaca kitab kuning telah mendapatkan pengakuan dari orang yang memang layak menentukan bisa atau tidaknya seseorang membaca kitab. Pengakuan dari seorang ulama yang “benar-benar ulama”, bukan ulama sebutan atau dipaksakan menjadi ulama. Dan harus disadari, penilaian “bisa” dari K.H. Muchtar Thobroni bukan hanya sekadar bisa membaca, namun sanggup membaca benar serta alasan dari hasil bacaannya. Hal ini terungkap dari cerita K.H. Abdul Mughni kepada kami, bahwa beliau pernah diminta membaca sebuah kitab oleh guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni. Tidak berhenti sampai membaca saja, namun juga harus di i’rab (dijelaskan kedudukan kalimatnya) semua kalimat yang telah dibaca. Dan beliau melakukannya dengan lancar dan benar. Kalaupun beliau membaca dengan bacaan yang berbeda dengan bacaan pada umumnya, tapi saat ditanyakan oleh guru beliau kenapa bisa membaca begitu, maka beliau dapat menjelaskan dengan benar sebab dan letak perbedaan tersebut. Penguasaan K.H. Abdul Mughni secara paripurna atas ilmu yang luar biasa sulit serta menjadi primadona bagi mereka yang belajar di pesantren ini tidak lepas dari sistem K.H. Muchtar Thobroni dalam mengajarkan ilmu usaha “murid kesayangan” beliau yang memintanya melakukan, yaitu K.H. Abdul Mughni.


158 tersebut. Menurut pengakuan K.H. Abdul Mughni kepada kami, beliau belajar ilmu-ilmu alat tersebut mulai dari kitab kecil yang paling dasar hingga kitab-kitab besar yang rumit dan sulit. Dengan kata lain, dari kitab yang paling dasar sampai kitab yang paling tinggi, yang sudah tidak ada lagi kitab dalam fan ilmu tersebut yang dipelajari di pesantren. Cerita yang disampaikan oleh K.H. Abdul Mughni ini menunjukkan bahwa beliau mempelajari ilmu-ilmu alat ini dengan sangat sistematis dan selesai semua kajian kitab-kitab tersebut. Maka tidak mengherankan bila penguasaan beliau atas ilmu ini sangat paripurna dan komperehensif. Dan tidak berlebihan rasanya bila beliau dikenal sebagai kyai nahwiyyiin, yaitu kyai ilmu nahwu, kyai yang menguasai ilmu nahwu secara mendalam. Dan hari ini, sangat sulit mencari ustadz atau kyai yang memiliki kedalaman ilmu tersebut seperti beliau, meskipun kyai atau ustadz tersebut lulusan dari perguruan-perguruan tinggi Islam di luar negeri. Untuk sekadar mengukur keluasaan beliau dalam ilmu nahwu, selain contoh yang telah penulis singgung di atas, berikut kami berikan satu contoh lain, yaitu mengenai i’rob lafazh basmalah. Sebagai bahan pembanding, penulis sampaikan i’rob basmalah dari dua kitab tafsir, yakni Tafsir al-Qur’an al-Azhim karya Ibnu Katsir (w. 774 H) dan Tafsir Ayat Ahkam karya ash-Shobuni. Perbandingan ini bukan untuk membandingkan ilmu kedua ulama tersebut dengan ilmu K.H Abdul Mughni, bukan, sekali lagi bukan. Namun lebih bertujuan kepada untuk saling melengkapi.


159 Karena sudah lazim, ketika kita membaca beberapa kitab maka kitab-kitab tersebut akan saling melengkapi informasi. Dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim (2001, hal. 22), Ibnu katsir hanya membahas i’rob basmalah secara umum, bahwa dikalangan ulama ilmu nahwu terdapat dua pendapat mengenai muta’allaq (keterhubungan) huruf “ba” pada kata ‘Bismillah”. Ada yang mengatakan ism dan ada yang mengatakan fi’il. Dan kedua-duanya, menurut Ibnu Katsir, merupakan pendapat yang saling berdekatan (mutaqoriban) atau pendapat yang sama-sama benar. Bagi pendapat yang mengatakan isim, maka taqdir (perkiraan) kalimatnya adalah: “Bismillahi Ibtadaa-ii” dan hal ini, jelas Ibnu Katsir, memiliki contoh dalam al-Qur’an. Sedangkan yang menganggap fi’il amr atau khobar contohnya: “Abdau Bismillahi” atau “Ibtada’tu Bismillahi”, dan ini pun terdapat contohnya dalam al-Qur’an. Demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir, hanya menjelaskan i’rob awal lafaz basmalah saja. Penjelasan yang mendekati sama juga disampaikan oleh ash-Shobuni (2001, hal. 34-35) dalam tafsirnya. Beliau mengatakan, lafazh “Bismillaahirrohmaanirrohiim” adalah jar majrur (dibaca kasrah karena ada amil yang menyebabkan harus membaca kasrah, pen). Sedangkan untuk lafazh “Bismillahi” terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama nahwu (nahwiyyiin) ke dalam dua pendapat. Pertama, mazhab ulama-ulama Basrah (mazhab al-Bashariyyiin) yang mengatakan bahwa lafazh tersebut berkedudukan sebagai rafa’, karena ia statusnya adalah


160 khobar bagi mubtada’ yang dibuang (khobaru mubtada’ mahzuuf), asalnya (taqdirnya) adalah “Ibtadaa-ii Bismillahi”. Kedua, mazhab ulama-ulama Kufah (mazhab al-Kuufiyyiin) yang mengatakan bahwa lafazh tersebut berkedudukan nashab karena adanya fi’il yang diperkirakan (fi’il muqoddar), asalnya (taqdirnya) adalah “Ibtada’tu Bismillahi.” Demikian penjelasan ash-Shobuni yang bila kita cermati hampir mendekati penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Katsir. Setiap memulai pengajian membaca kitab, K.H. Abdul Mughni pun memberikan penjelasan mengenai i’rob basmalah yang terdapat di awal setiap kitab. Selain juga memberikan penjelasan pada umumnya penjelasan ahli tafsir, sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir dan ashShobuni di atas, beliau juga menambahkan penjelasan lainnya, yaitu perihal cara membaca lafazh tersebut. Beliau menjelaskan, lafazh basmalah bisa dibaca dengan 9 (sembilan) jalan. Dari sembilan jalan ini dikelompokkan menjadi tiga: 1. Yang boleh dibaca dan boleh dii’rob, terdiri atas satu jalan. ِم ْ 1 ي َّرحِ ِن ال َّرَْحَ ِم هللا ال ْ ِس ب 2. Yang boleh dii’rob dan tidak boleh dibaca, terdiri atas enam jalan. 1 َ ْم ي َّرحِ ال َ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب 2 ُ ْم ي َّرحِ ال َ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب 3 َ ْم ي َّرحِ ال ُ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب


161 4 ُ ْم ي َّرحِ ال ُ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب 5 َ ْم ي َّرحِ ِن ال َّرَْحَ ِم هللا ال ْ ِس ب ْ 6ِ م هللا ِس ب ُ ْم ي َّرحِ ِن ال ال َّرَْحَ 3. Yang tidak boleh dii’rob dan tidak boleh dibaca, terdiri atas dua jalan. ِم ْ 1 ي َّرحِ ال َ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب ِم ْ 2 ي َّرحِ ال ُ َّرَْحَن ِم هللا ال ْ ِس ب Demikian penjelasan K.H. Abdul Mughni mengenai i’rob dan cara membaca lafazh basmalah. Sungguh sebuah pengetahuan berharga yang sukar didapat dari kyai atau ustadz yang lain. Dan lagi-lagi, dengan mengetahui mana i’rab basmalah yang boleh dan yang tidak maka seseorang akan terhindar dari kesalahan membacanya saat menyambung (washol) antara basmalah dengan surat berikutnya. I. Pendekatan Puasa Syawal Membicarakan K.H. Abdul Mughni beserta dengan ilmu beliau tentu akan banyak cerita yang dapat digali dari sahabat atau murid-murid beliau. Salah satu hal yang bisa kami sampaikan di sini adalah perihal tata cara puasa 6 hari di bulan Syawal dan bagaimana beliau mendasari pendapatnya dalam permasalahan ini. Bila kita mencermati pembahasan tentang tata cara pelaksanaan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal, baik yang tertulis di buku-buku pelajaran agama maupun situssitus internet maka akan kita dapati pembahasan tersebut


162 hanya seputar pembahasan secara riwayat, fikih dan ushul fikih. Ambil satu contoh pembahasan dari Nadirsyah Hosen dalam makalahnya yang berjudul “Puasa Syawal Menurut Mazhab Maliki (Perspektif Hadits, Fikih, dan Ushul al-Fikih).”105 Dalam makalahnya tersebut, Rois Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia ini, selain memaparkan seputar hukum puasa sunnah 6 hari dibulan Syawal juga tentang tata cara pelaksanaannya berdasarkan hadits, pendapat ulama-ulama fikih –yang dielaborasi dari kitab-kitab fikih, terutama fikih mazhab Maliki sesuai dengan tujuan penulisannya –serta dari sudut pandang ushul fikih sebagai salah satu ilmu yang mendasari lahirnya hukum fikih. Dalam tulisannya tersebut, Gus Nadir mengutip pendapat Syaikh Wahbah Zuhaili yang menyebutkan, “(Mazhab Maliki) juga memakruhkan puasa 6 hari di bulan Syawal jika nyambung dengan Idul Fitri, tapi kalau dipisahkan atau diakhirkan dengan keyakinan bahwa ini bukan puasa wajib, maka tidak makruh.” Berdasarkan penjelasan Syaikh Zuhaili, sebagaimana dikutip Gus Nadir, bahwa menurut mazhab Maliki pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawal itu dipisahkan dengan puasa Romadhon (tidak berurutan dengan puasa Romadhon). Dan bila dilaksanakan secara berurutan dengan disertai niat atau keyakinan puasa tersebut merupakan bagian dari puasa Romadhon yang 105 Dimuat dalam: https://nadirhosen.net/tsaqofah/syariah/ puasa-syawal-menurut-madzhab-maliki-perspektif-hadis-fiqh-danusul-fiqh/


163 hukumnya wajib maka hukumnya menjadi makruh. Bahkan menurut Yahya al-Laitsi,106 sebagaimana juga dikutip oleh Gus Nadir, perbuatan tersebut bisa jadi bid’ah karena tata cara yang demikian tidak pernah dilakukan oleh para ulama (ahli ilmu dan fiqh) dan tidak juga ulama salaf. Dengan demikian menurut mazhab Maliki, ‘illat (alasan hukum) pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawal dilaksanakan secara terpisah adalah niat atau keyakinan dari orang yang melaksanakannya. Bila berkeyakinan bahwa puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan bagian puasa Romadhon yang hukumnya wajib maka puasa tersebut makruh untuk dikerjakan. Bila tidak berkeyakinan demikian, maka sunnah dikerjakan. Demikian juga bila kita baca pembahasan Abdul Aziz bin Bazz tentang pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawal ini.107 Beliau berkata, “Puasa enam hari di bulan Syawal telah shohih dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan boleh mengerjakannya secara berurutan (mutatabi’ah) atau secara terpisah-pisah (mutafarriqoh). Karena Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlak dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah.” Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa Abdul Aziz bin Bazz mendasari pendapatnya tentang pelaksanaan 106 Beliau adalah salah satu perawi yang meriwayatkan kitab karangan Imam Malik, al-Muwatha’. 107 Dimuat dalam: https://konsultasisyariah.com/7319-tata-carapuasa-syawal.html


164 puasa Syawal berdasarkan keumuman hadits tentang puasa Syawal dan pelaksanaannya boleh berurutan atau terpisah-pisah. Lantas bagaimana dengan K.H. Abdul Mughni? Dalam beberapa kesempatan silaturahmi Idul Fitri, K.H. Abdul Mughni senantiasa mengingatkan kepada kami, dan jamaah yang bersilaturahmi kepada beliau, untuk mengerjakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Karena itu merupakan puasa sunnah yang pahalanya sangat besar. Kemudian beliau membacakan dalil kesunnahan puasa Syawal tersebut. َن ٍل َكا ْ َشَّوا ن ِ ًّا م ت ُ سِ ه َ ع َ ْب َن ُُثَّ أَت َ َضا م َ ر َ ْ َصام َن ْ م ِر ال َّده امِ َ َك ِصي “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.”108 Hal ini menunjukkan sikap beliau sebagai guru sekaligus orang tua yang sangat sayang pada anakanaknya. Yang mengajari dan menasihati mereka akan segala kebaikan, jangan melewatkan amalan-amalan yang mendatangkan keutamaan yang besar meskipun amal tersebut sebatas amalan sunnah. 108 HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitab: ash-Shiyaam, Bab: Istihbaabi Shoumi Sittati Ayyaamin min Syawwaalin Itbaa’an li Romadhon, hlm. 355, hadits no. 1164; at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: ash-Shoum, Bab: Maa Jaa-a fii Shiyaami Sittati Ayyaamin min Syawwaalin, hlm. 161, hadits no. 759; Abu Daud dalam Sunannya, Kitab: ash-Shoum, Bab: fii Shoumi Sittati Ayyaamin min Syawwaalin, hlm. 326, hadits no. 2433; Ibni Majah dalam Sunannya, Kitab: ashShiyaam, Bab: Shiyaami Sittati Ayyaamin min Syawwaalin, hlm. 192 hadits no. 1716. Hadits Shohih. Redaksi ini milik Muslim.


165 Beliau juga mengatakan, bahwa pelaksanaannya tidak mesti berurutan tapi boleh diseling-selingi asalkan masih dalam bulan Syawal. Pendapat beliau ini juga didasarkan pada hadits shohih tersebut. Hanya saja ada yang berbeda dari beliau dalam menetapkan kebolehan pelaksanaan puasa Syawal secara tidak berurutan ini. Bila kebanyakan ulama menetapkan berdasarkan keumuman hadits, pendekatan fikih dan ushul fikih, maka beliau memiliki pendekatan yang berbeda, yakni pendekatan ilmu nahwu (gramatikal bahasa Arab). Beliau menjelaskan bahwa kebolehan berpuasa Syawal dengan tidak berurutan adalah karena huruf athof (konjuksi) dalam hadits tersebut yang digunakan adalah َّم ) tsumma“ ث ,“( yaitu “tsumma atba’ahu (kemudian mengikutinya).” Huruf athof “tsumma” jelas beliau, adalah untuk menunjukkan tertib tapi juga boleh diselingi (li at-tartiibi wa at-taroohii). Seandainya huruf athof yang digunakan adalah huruf “fa (fa-atba’ahu)” maka wajib mengerjakan puasa Syawal tersebut secara berurutan, yakni setelah Idul Fitri langsung disambung dengan puasa Syawal. Hal ini karena huruf athof “fa” adalah selain untuk menunjukkan tertib juga menujukkan beriringan (li at-tartiibi wa at-ta’qiibi). 109 Inilah salah satu kelebihan beliau. Saat yang lain tidak melihat celah yang kecil ini, beliau sanggup bukan saja melihat namun mengambil hukum berdasarkan celah yang sempit tersebut. Apa yang beliau jadikan sisi 109 Kami dapati pembahasan ini dalam al-Ahdal, al-Kawaakib adDuriyyah (Beirut: Dar al-Fikr, 2005), hlm. 508.


166 pendalilan ini merupakan dasar (basic) bagi sisi yang lain. Bukankah ushul fiqh dibangun salah satunya dengan ilmu tata bahasa Arab (nahwu)? Dan bukankah salah satu syarat seorang dikatakan fakih bila ia menguasai keilmuan dalam bidang tata bahasa Arab dengan mumpuni? Dan hari ini, nyata di depan kita begitu banyak orang digelari ulama, kyai, ustadz, namun lalai dalam penguasaan ilmu ini. Mungkin Anda, apalagi yang telah menyelesaikan bacaan dan hafalannya atas kitab Alfiyah, akan mengatakan bahwa apa yang dijelaskan oleh K.H. Abdul Mughni tersebut merupakan pelajaran dasar dan awal dalam ilmu nahwu. Namun haruslah diingat bahwa justru dalam perkara yang terlihat kecil, dalam soal yang tampak remeh-temeh banyak orang yang tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Kami teringat dengan katakata beliau pada saat kami sedang mengaji disuatu sore dengan beliau, dan ini tidak hanya sekali dua kali beliau sampaikan kepada kami. Beliau mengatakan, “Banyak orang tidak jatuh dengan lumpang, namun jatuh dengan kerikil”. Artinya, berapa banyak ulama, kyai, ustadz, dapat menjelaskan masalah-masalah yang pelik dan sulit tapi justru tidak sanggup menerangkan persoalanpersoalan yang sederhana dan mudah. J. Nah, Ini Baru Benar Tidak semua fakta sosial yang beliau bawa ke majelis ilmunya berupa bentuk-bentuk kekeliruan yang beliau temui di tengah-tengah masyarakat, namun juga


167 terkadang beliau membawa fakta sosial “yang benar” dan sesuai dengan kaidah keilmuan. Beliau membawa fakta sosial tersebut agar kami murid-murid beliau dapat mencontoh hal yang baik dan benar tersebut. Dari sikap beliau ini kita bisa simpulkan, bahwa beliau memiliki kejujuran ilmiah. Bila memang benar beliau akan katakan benar, tidak membantahnya apalagi menolaknya. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita agar bersikap jujur dalam memberikan penilaian ilmiah. Meskipun mungkin kebenaran itu tidak sepaham dengan kita, maka sikap kita adalah menerima dan mengambil kebenaran tersebut. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin dalam mengambil sebuah hikmah dan kebenaran. Sebagaimana dihikayatkan dalam hadits: ا َ ق ِبِ ُّ َ أَح َ ُو ا فَ ه َ َ َده َج ْ ُث و ي َ ِن فَح ِ ْؤم ُ ةُ الْم َّ ةُ َضال َ ْكم ةُ ا ْلِ َ م ِ الْ َكل “Kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang Mukmin, maka dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya.”110 Pada suatu waktu, cerita beliau kepada kami selepas pengajian selesai, beliau pernah ikut dalam rombongan besan ke daerah yang cukup jauh, yaitu daerah di pelosok Jawa Barat. Sesampainya di sana dan acara akad nikah akan dimulai, seorang penghulu maju ke depan untuk 110 HR. Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab: az-Zuhd, Bab: alHikmah, hlm. 464, hadits no. 4169 dan at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: al-Ilm. Bab: Maa Jaa-a fi Fadhli al-Fiqhi ‘ala al-‘Ibadah, hlm. 501, hadits no. 2687. Redaksi ini miliki at-Tirmidzi. Beliau berkata, “Ini adalah hadits ghorib yang aku tidak mengetahuinya kecuali dalam bentuk redaksi seperti ini.” Hadits Dhoif Jiddan.


168 memimpin proses akad nikah. Dengan menjabat tangan mempelai laki-laki, ia memulai atau mengawali bacaan akad nikah dengan ucapan: ُ ر ِ غْف َ ت ْ ، أَس َ ْم ي َظِ الْع ُ هللاَ ر ِ غْف َ ت ْ َِّال أَس إ َ لَه ِ َّذِي َال إ ، ال َ ْم ي َظِ الْع ُ هللاَ ر ِ غْف َ ت ْ ، أَس َ ْم ي َظِ الْع هللاَ ِ ه ْ لَي ِ ْ ُب إ ُو أَت َ َ و م ْ ُّ و َ َّي الَْقي ا ْل َ ُو ه Mendengar hal tersebut, dalam hati beliau berkata, “Nah, ini baru benar.” Kenapa dalam hati beliau sampai terlempar kata demikian? Karena seringnya beliau mendengar orangorang, baik ustadz maupun kyai, membaca kalimat tersebut dengan merafa’kan (membaca dhammah) kata: وَ ه َح ي ْال ,padahal, menurut beliau, seharusnya dibaca nashab (dibaca fathah: Huwal Hayyal Qoyyuuma, bukan rafa’: Huwal Hayyul Qoyyuumu) karena sebagai sifat bagi lafzhul jalalah (yakni lafazh: Alloh). Itulah sebabnya, ketika beliau mendengar sang penghulu membaca kata tersebut dengan menashabkan, beliau membenarkan bacaan sang penghulu. Sebuah kejujuran intelektual yang jarang kita temui saat ini. Syaikh Bin Idrus Alaydrus ketika mentahqiq Kitab alAdzkar an-Nawawi, 111 saat menjelaskan cara baca kalimat tersebut, beliau mengatakan, “Ucapan beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘al-Hayyal Qoyyum’, diriwayatkan dengan nashab (memfathahkan) (berkedudukan) sebagai sifat bagi lafazh: Alloh. Ada juga yang merafa’kan (membaca dengan dhammah: al-Hayyul Qoyyuum) mungkin menganggapnya sebagai penjelasan bagi ucapan 111 Lihat an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyyah (Jakarta: Dar alKutub al-Islamiyah, 2004), hlm. 51 dengan tahqiq beliau.


169 sebelumnya, ‘Huwa’.112 Pendapat pertama (yakni yang menashabkan) merupakan pendapat mayoritas ulama (aktsar) dan pendapat yang masyhur (asyhar).” Bila kita perhatikan benar-benar, hampir seluruh fakta sosial yang keliru tersebut diluruskan oleh K.H. Abdul Mughni melalui pendekatan ilmu nahwu. Pendekatan yang paling mendasar dalam memecahkan sebuah masalah. Bila akar masalah yang mendasarnya telah benar, in sya Alloh ke atasnya, dengan pendekatan ilmu apapun, akan juga menjadi benar. Mengembalikan permasalahan kepada pendekatan nahwu ini bukanlah hal baru, namun telah dipraktikkan oleh ulama-ulama ikutan kita, di antaranya oleh Imam asy-Syafi’i. Dalam hal ini Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Demi Alloh, aku tidak pernah ditanya tentang permasalahan fikih kecuali aku jawab dengan kaidah nahwu.” Mengapa? Karena dengan ilmu nahwu semua akan terasa mudah dipahami. Itulah sebabnya, para ulama senantiasa mendorong orang yang berminat untuk terjun dalam kancah dakwah dan ilmuilmu keislaman untuk belajar ilmu yang mulia ini, tentunya setelah ia mempelajari dan berusaha menghafal al-Qur’an. Imam asy-Syafi’i berkata: ِ ََل ُكل ِ َ َدى إ ت ْ ْح ِو اه َّر ِِف النَّ َ َح ب َ ت ْ َن م ِ م ْ لُو ُ الْع “Barangsiapa yang menguasai ilmu nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu (syar’i).” 112 Menurut K.H. Abdul Mughni, kata: Huwa di sini mulghoh, tidak memiliki fungsi apa-apa (mulghotun laa ‘amalalahaa minal i’rab). Oleh sebabitu, mengembalikan kata: al-Hayyu kepada kata: Huwa merupakan sebuah kekeliruan.


170 Hal terakhir yang dapat kami bagikan di sini adalah pesan beliau kepada murid-muridnya, dan kita semua, untuk memperhatikan, membetulkan, dan memperbagus bacaan al-Qur’an. Karena beliau juga terkadang menemukan kenyataan di masyarakat seseorang yang dalam membaca kitab terampil, namun ketika membaca al-Qur’an justru keliru. Memperdalam ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu yang lain adalah sangat baik–karena dengannya kita bisa mengenal ajaran Islam–tetapi hendaklah tidak dengan melupakan untuk mempelajari al-Qur’an secara benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Karena idealnya, sebelum seseorang terjun dalam ilmu-ilmu keislaman, mendalami dan memperluaskan pengetahuan dengannya, maka mempelajari dan menghafal al-Qur’an merupakan hal pertama yang harus dikerjakan. Dan ini merupakan cara ulama-ulama salaf dalam mempelajari ilmu, memulai dengan al-Qur’an baru kemudian ilmuilmu yang lain. Sampai sini, kami telah cukup banyak membicarakan tentang kehidupan K.H. Abdul Mughni serta sekelumit spesialisasi keilmuan yang beliau miliki sepanjang yang kami ketahui dan alami selama kami belajar kepada beliau. Bisa jadi yang kami tidak ketahui lebih banyak lagi. Pada intinya, hari ini kita kehilangan bukan saja seorang guru yang roosikhun dan tabahur (yang mendalam ilmunya), namun juga kehilangan orang tua tempat kita meminta nasihat. Semoga kepergian beliau, alMarhum Rohmatal Abror K.H. Abdul Mughni, dapat segera tergantikan, hingga musibah yang besar ini dapat disingkirkan, dan kebocoran ini dapat segera tertambal.


171 BAB 7 MENANTANG ADRENALIN ILMIAH PARA MURID “Janganlah engkau gampang meniru, meskipun perbuatan itu banyak dikerjakan orang.” ~K.H. Abdul Mughni (1937-2019)~ Pendidikan bukanlah hanya sebatas bagaimana mentransfer ilmu kepada murid, namun juga dibutuhkan adanya evaluasi untuk menguji dan memastikan bahwa ilmu yang ditransfer kepada murid telah berhasil mereka kuasai dan pahami dengan baik. Itulah sebabnya, dalam sekolah-sekolah formal ada istilah ujian sekolah dengan berbagai bentuk dan namanya. Jika telah jelas bahwa satu ilmu telah dipahami dengan baik, maka guru bisa melanjutkan atau pindah kepada masalah yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Kholdun dalam Mukaddimahnya (2011, hal. 996): Seorang pengajar tidak diperbolehkan mencampuradukkan masalah yang satu dengan yang lain hingga pelajar memahaminya mulai dari awal hingga akhir, mencapai tujuan-tujuannya dan menguasai nalurinya. Jika sudah dikuasai, barulah diberikan permasalahan yang lain. Sebab apabila seorang pelajar telah memperoleh naluri dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, maka ia akan siap untuk menerima sisa pengajaran yang ada. Dengan begitu ia


172 akan tekun dan giat untuk menambah pemahamannya hingga mendalam dan menguasai tujuan ilmu tersebut. Perihal tersebut ternyata juga telah sangat dipahami oleh K.H. Abdul Mughni. Karena biar bagaimanapun, selain sebagai seorang guru pendidikan nonformal, beliau juga pernah terjun dalam dunia pendidikan formal. Di antaranya dengan menjadi staff pengajar di Pondok Pesantren Annur, pada tingkat Madrasah Aliyah (MA) dan pengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Bekasi di awal-awal pendiriannya, bahkan beliau termasuk ke dalam salah seorang tokoh yang ikut serta mendukung membesarkan lembaga tersebut. Berbeda dengan evaluasi yang diadakan di sekolahsekolah formal dalam bentuk ujian, baik lisan maupun tulisan. Evaluasi yang diberikan K.H. Abdul Mughni kepada murid-muridnya adalah berupa tantangan yang cukup memacu adrenalin. Memacu adrenalin, karena evaluasi tersebut berupa tantangan melakukan sesuatu yang berlainan dengan apa yang telah dikenal masyarakat pada umumnya, mempraktikkan hal-hal yang berbeda dengan praktik dalam masyakat umum. Untuk memotivasi hal tersebut, beliau berkata, “Berbedalah maka engkau akan dikenal (khulif ‘urif).” A. Memberi Tantangan Sebagaimana telah disinggung di atas, salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh K.H. Abdul Mughni kepada kami murid-murid beliau adalah dalam bentuk pemberian tantangan-tantangan kepada kami para murd.


173 Di antara bentuk tantangan yang memacu adrenalin kepada murid-muridnya tersebut adalah sebagai berikut. 1. Sesekali Membaca Amma Ba’da atau Amma Ba’dan Salah satu parameter keberhasilan pidato atau ceramah adalah pidato atau ceramah yang terus menjadi pembicaraan meskipun pidato atau ceramah itu telah selesai dan berlalu. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menyampaikan sesuatu yang “tidak biasa” saat berpidato atau berceramah. Dengan demikian, bukan saja menjadi pembicaraan, namun juga akan selalu diingat oleh pendengarnya. Menimbulkan kontroversi, iya. Namun untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat tentunya tidaklah mengapa. Karena kontroversi itu ketika masih dalam tataran ketidaktahuan pendengar, tapi ketika telah diketahui alasannya maka ia tidak lagi akan menjadi sebuah kotroversi, melainkan berubah menjadi sebuah pengetahuan umum. Dalam beberapa kesempatan mengaji, beliau “seakan memberikan tantangan” untuk sesekali melakukan hal yang berbeda dengan hal yang biasa dilakukan pada umumnya. Beliau mencontohkan, ketika berpidato, kultum, khutbah, atau ceramah sekali-kali ucapkan: Amma Ba’da atau Amma Ba’dan, jangan yang biasa-biasa saja, yakni: Amma Ba’du, apalagi: Amma Ba’d. Tantang beliau sambil tersenyum. Tantangan yang beliau berikan ini sudah barang tentu tidak begitu saja disambut oleh kami murid-murid beliau sebelum kami mengetahui duduk persoalannya


174 dari kalimat-kalimat tersebut. Karena kami tidak ingin melakukan sesuatu yang kami tidak tahu ilmunya, apalagi yang dilakukan berbeda dengan apa yang telah biasa dilakukan masyarakat pada umumnya. Dengan adanya tantangan demikian, maka akhirnya kami termotivasi untuk melakukan penyelidikan terkait letak perbedaan dan persamaan dari lafazh-lafazh tersebut. Dengan demikian, secara tidak sadar kami terpacu meningkatkan keilmuan dan pemahaman dalam hal gramatikal bahasa Arab. Renungkanlah, bagaimana beliau memberikan sebuah instruksi yang bukan hanya mendatangkan “kontroversi” tetapi juga sanggup melecut muridmuridnya untuk berpikir ulang tentang sebuah makna, kemudian tergerak untuk mencari jawabannya. Dan pada wilayah pemahaman yang luas, ia akan memberikan pencerahan pada masyarakat, pada umat, terkait dengan sebuah perbedaan yang bisa jadi akan ditemui oleh mereka (masyarakat). Jika begitu, apa yang dilakukan oleh beliau bukan saja memberikan ilmu kepada murid-murid beliau, tetapi juga kepada masyarakat secara umum. 2. Sesekali Variatif Saat Membaca Ayat 56 Surat al-Ahzab Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (sab’ati ahruf) atau dialek.113 Ia memiliki cukup banyak cara baca 113 Menurut ash-Shobuni dalam at-Tibyan (2016, hal. 239-240), hikmah al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf ini adalah: (1) mempermudah umat Islam, khususnya bangsa Arab yang diturunkan al-Qur’an sedangkan mereka memiliki beberapa dialek meskipun (secara umum) mereka dapat disatukan oleh sifat kearabannya; dan (2) menyatukan umat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan


175 (qiro’at), 114 mulai dari yang mutawatir, ahad, maupun syadz.115 Ada juga cara baca (qiro’at) yang tujuh,116 sepuluh,117 dan empat belas.118 Semua menunjukkan keistimewaan al-Qur’an dari sisi bahasa yang tidak akan mungkin tertandingi oleh kitab-kitab suci atau yang dianggap suci oleh umat dan agama lain. Tantangan lain yang juga beliau lontarkan adalah sesekali mendemonstrasikan bacaan al-Qur’an yang variatif tersebut. Beliau mencontohkan, dalam membaca bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan di kalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Mekah pada musimmusim haji dan lainnya. Oleh karena itulah al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf yang terpilih dari bahasa qabilah-qabilah Arab yang mewakili bangsa-bangsa Quraisy. 114 Secara bahasa, al-Qiro’at merupakan jamak dari kata: qiro’ah, yang berasal dari kata: qora’a–yaqro’u–qiro’atan. Secara istilah, qiro’ah adalah salah satu aliran dalam mengucapkan al-Qur’an yang dipakai oleh salah seorang imam ahli qurro’ yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan al-Qur’an al-Karim. Qiro’ah ini berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lihat ash-Shobuni, at-Tibyan fi ‘Ulumi al-Qur’an, hlm. 251. 115 Menurut Jalaluddin al-Bulqini, dalam ash-Shobuni (2016, hal. 253-254), qiro’ah yang mutawatir adalah qiro’ah yang tujuh (al-qiro’ah as-sab’ah) yang mayshur. Yang ahad adalah qiro’ah yang tiga (qiro’ah ats-tsalatsah) yang menjadi pelengkap qiro’ah sepuluh (qiro’ah alasyroh), yang semuanya dipersamakan dengan qiro’ah para Sahabat. Sedangkan qiro’ah syadz adalah qiro’ah para tabi’in seperti qira’ah A’masy, Yahya bin Watsab, Ibnu Jubair, dan lain-lain. 116 Dinisbatkan kepada tujuh imam ahli qiro’at yang terkenal, yaitu: Nafi, ‘Ashim, Hamzah, Abdulloh bin ‘Amir, Abdulloh bin Katsir, Abu ‘Amr bin al-‘Ala’, dan ‘Ali al-Kisa-iy. 117 Tujuh imam qiro’at di atas ditambah dengan: Abu Ja’far, Ya’qub, dan Kholaf. 118 Sepuluh imam qiro’at di atas ditambah dengan: qiro’ah al-Hasan al-Bashri, Ibnu Mahish, Yahya al-Yazidi, dan asy-Syanbudzi.


176 ayat ke-56 dari surat al-Ahzab. Dalam ayat tersebut, yang telah biasa dibaca adalah dengan bacaan: Innallooha wa Malaaikatahuu Yusholluuna ‘alan Nabiy, Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu Sholluu ‘alaihi wa Sallimuu Tasliimaa. Namun beliau “menantang” membacanya dengan bacaan: Innallooha wa Malaaikatuhuu Yusholluuna ‘alan Nabiy, Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu Sholluu ‘alaihi wa Sallimuu Tasliimaa. Kenapa ayat ini yang beliau pilih? Mungkin karena ayat ini begitu familiar di kalangan umat Islam dan hampir seluruh umat Islam, hatta sampai yang awam, hafal akan ayat yang mulia ini. Kenyataan tersebut karena memang ayat ini sangat sering sekali dibaca dalam berbagai momen dan kesempatan. Kami yang mendapat tantangan demikian, lagi-lagi harus berpikir ulang. Jangan sampai menyambut tantangan tersebut tanpa terlebih dahulu sebabmusababnya, kenapa sampai bisa berbeda. Jangan sampai hanya pandai berbeda, tapi ketika menimbulkan masalah tidak pandai juga menyelesaikannya. Sebagaimana pernah terjadi kehebohan terkait dengan hal tersebut di tengahtengah masyarakat. Beliau menceritakan kepada kami, dahulu ada murid beliau dari Rawa Kalong. Ia mempraktikkan tantangan dari sang guru untuk sesekali berbeda dalam membaca ayat tersebut. Dicobalah olehnya saat khutbah atau ceramah hingga akhirnya masyarakat yang mendengarkan hal itu geruh. Seturunnya ia dari khutbah atau ceramah, mereka (jamaah) pun bertabayun kepadanya. Namun, alih-alih menjelaskan alasannya, ia


177 hanya berkata, “Ente ngaji aja yang daleman.” Mendapat jawaban demikian, sontak jamaah malah ribut, karena merasa tidak terpuaskan dengan jawaban tadi. Meski terus didesak, ia hanya memberikan jawaban yang hampir sama; sama alasannya, sama tidak memuaskannya. Apalah daya, maksud hati mungkin mau menjelaskan, namun ilmu belum di tangan. Akhirnya, dibawalah olehnya perwakilan jamaah tersebut menghadap K.H. Abdul Mughni guna mendapatkan “ilmu” dan pencerahan, kemudian beliau jelaskan sebab serta alasannya mengapa sampai terjadi perbedaan tersebut.119 Mendapatkan jawaban yang memuaskan dari beliau, akhirnya gelegak masyarakat yang sempat naik turun lagi, gelombang yang telah mulai meninggi reda menjadi. Semuapun tenang kembali. 3. Sesekali Bervariasi Ketika Membaca Lafazh Tahlil Salah satu kalimat dzikir yang seringkali dibaca oleh masyarakat dalam berbagai kesempatan, entah sesudah sholat wajib ataupun pada momen-momen tertentu dan di 119 Kami mendapati penjelasan tersebut dalam Tafsir Ayat Ahkam karya ash-Shobuni, jilid 2, ketika menjelaskan segi qiro’at (bacaan) dari ayat tersebut (al-Ahzab: 56). Di sana dikatakan, jumhur ulama membaca: Innallooha wa Malaaikatahu, dengan nashob (membaca fathah). Kata: al-Malaaikatu berkedudukan sebagai athof atas lafzhul jalalah (lafazh: Alloh). Sedangkan Abdul Warits dari Abu ‘Amr membaca: wa Malaaikatuhu, dengan rafa (membaca dhommah) sebagai khobar yang dibuang (khobar mahdzuf), taqdirnya: Innallooha Yusholli, wa Malaaikatuhu Yusholluuna. Lihat ash-Shobuni, Rowaihu al-Bayan Tafsir Ayati al-Ahkam minal Qur’an (Jakarta: Dar al-Kutub alIslamiyyah, 2001), Jilid 2, hlm. 292.


178 acara khusus, adalah kalimat tauhid: Laa ilaaha illallooh ( لََ ََّل للا إَ ه َل إ .(Dengan rata-rata bila secara tertulis atau dibaca maka akan tertulis atau terdengar sebagaimana disebutkan sebelumnya, yaitu dengan mendhommahkan lafazh terakhirnya (Laa ilaaha illalloohu). Dalam beberapa kesempatan, beliau pun memberikan semacam tantangan kepada kami muridmurid beliau untuk sesekali mencoba membaca dengan menashobkan bunyi akhirnya, menjadi: Laa ilaaha illallooha ََّل للاَ ) إَ هَل إ ل.(ََ120 Beliau mempersilahkan kami murid-murid beliau untuk mempraktikkan bacaan yang berbeda tersebut. Dalam kesempatan-kesempatan yang kami punya. Lagi-lagi kami murid-murid beliau tidak serta-merta menerima ajakan beliau tersebut. Sekali lagi dengan dalih, belum ada ilmu di dada. Bila kelak telah ada pengetahuan itu, sekali-kali bolehlah. Meskipun mungkin tidak lazim. B. Hikmah Sebenarnya Demikianlah K.H. Abdul Mughni memberikan dorongan dan ajakan kepada kami murid-murid beliau untuk sekali-kali mencoba hal yang berbeda. Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh beliau dengan memberikan tantangan-tantangan tersebut bukanlah hanya asal beda 120 Bila dibaca rofa’ (didhommahkan) berkedudukan sebagai badal, bagi khobar “laa” yang dibuang (bimahzuufin khobarin “laa”) dengan makna: Ma’buudun. Taqdirnya: Laa ilaaha ma’buudun illalloohu; sedangkan bila dibaca nashob (difathahkan) maka sebabnya adalah manshub oleh huruf itstitsna (yaitu huruf: illa).


179 atau pun keinginan menjadi orang yang terkenal dengan melawan arus masyarakat, bukan, dan bukan hanya itu. Namun, tindakan beliau memiliki tujuan dan maksud yang lebih luas. Dalam pandangan kami, setidaknya ada dua maksud yang tersembunyi (implisit) dari sikap beliau ini. Pertama, memberikan pesan dan kesan bahwa hendaklah mendasari tindakan dan perbuatan dengan ilmu. Artinya, sebelum seseorang melakukan sesuatu, terutama sebuah amalan, hendaklah ia mengetahui terlebih dahulu dasar ataupun ilmu yang menjadi sumber rujukannya. Hal ini senada dengan salah satu judul bab dalam Shohih al-Bukhori, yaitu Bab: al-‘Ilmu Qobla al-Qouli wa al-‘Amal (Berilmu sebelum berkata dan beramal).121 Kedua, memberikan pemahaman kepada masyarakat umumnya, khususnya kepada para penuntut ilmu, bahwa ilmu itu luas. Oleh sebab itu, jangan terburuburu untuk menyalahkan orang lain ketika melihat atau mendengar ada orang lain yang berbeda dengannya. Tidak mudah menyesatkan orang lain, membid’ahkan orang lain hanya karena amalan orang itu berbeda dan tidak sama dengannya, ataupun tidak sepahaman dengan pemahamannya. Telusuri dahulu sumber-sumber serta referensi-referensi ilmu yang demikian luasnya. Jangan karena ketidaktahuan langsung menjudge (mengakimi) ini dan itu. 121 Lihat Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Shohih al-Bukhori (Qohirah: Dar al-Hadits, 2011), hlm. 34.


180 Dalam suatu pertemuan pengajian di Sabtu sore, beliau pernah berkata kepada kami bahwa ilmu itu luas dan kebodohan manusialah yang menyempitkannya. Ketidaktahuan manusialah yang menjadikan sesuatu yang luas itu menjadi sempit. Dengan demikian, evaluasi yang dilakukan oleh K.H. Abdul Mughni kepada murid-murid beliau dalam bentuk tantangan-tantangan lebih maju beberapa langkah daripada evaluasi yang dilakukan pada umumnya. Hal ini disebabkan karena evaluasi yang beliau lakukan bukan saja menguji kemampuan serta kepahaman namun juga mampu melahirkan dua hal. Pertama, kemampuan murid untuk terus melakukan peningkatan kemampuan pengetahuannya. Kedua, menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menyebarkan ilmu tersebut serta keikutsertaan memberikan pencerahan di tengah-tengah umat tentang kemungkinan adanya perbedaan dalam halhal tertentu. Sekaligus memberikan pemahaman bahwa selama perbedaan tersebut memiliki dasar keilmuan serta referensi ilmiah yang jelas maka perbedaan tersebut bukan menjadi sebab dan alasan perpecahan. Justru seharusnya menjadi sebab dan alasan untuk saling berkasih sayang, karena ternyata ajaran Islam memiliki beberapa keragaman pemikiran dari para imam yang dapat memberikan keluasan. Lihatlah, bagaimana bijaknya K.H. Abdul Mughni dalam menyikapi perbedaan yang memang terdapat dalam tubuh umat Islam, dalam lingkungan para ulama. Bagaimana beliau mendidik dan memberikan pemahaman


Click to View FlipBook Version