The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dalim al-gilbariey, 2023-02-12 21:44:34

Biografi KH. Abdul Mughni

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Keywords: KH. Abdul Mughni

81 masyarakatnya untuk kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, meninggalkan praktik-praktik yang menyimpang dan bertentangan dengan syariat Islam yang suci. Dengan pendekatan ini pula beliau menjawab segala persoalan yang muncul di masyarakat, teristimewa persoalan-persoalan terkait dengan problematika agama. Semua pengajaran, arahan dan didikan beliau sampaikan dengan penuh hikmah. Bila pun terkadang harus berdebat karena adanya perbedaan paham dan pandangan, maka beliau melaksanakannya dengan baik dan santun, bukan dengan cara-cara anarkisme dan kesombongan. Itulah sebabnya, dakwah beliau dengan mudah mendapatkan pengaruh di hati masyarakat. Dakwah beliau mengena di perasaan mereka sehingga akhirnya mereka mau mendengarkan segala arahan serta perkataan beliau. 2. Dakwah dengan tulisan Pendekatan lain yang juga terkadang beliau gunakan dalam berdakwah adalah melalui media tulisan. Meskipun beliau tidak sampai menulis buku atau kitab seperti guru-guru beliau, namun pernah pada beberapa kali beliau memperbanyak (mengkopi) materi-materi yang bersumber dari kitab-kitab yang telah beliau salin atau tulis ulang. Materi yang beliau tulis dan perbanyak tersebut beragam, mulai dari ayat-ayat al-Qur’an, hadits,


82 hingga dzikir-dzikir tertentu.66 Naskah yang telah diperbanyak tersebut selanjutnya beliau bagikan kepada jamaah beliau di majelis-majelis taklim. Dengan metode ini jamaah yang tidak memiliki banyak waktu untuk menghadiri kegiatan taklim dapat juga mendapatkan materi tersebut. Cara ini juga berhasil memudahkan jamaah yang memiliki kemampuan berbeda-beda untuk menghafal materimateri tertentu yang mereka inginkan. Apalagi mereka tidak memiliki buku atau kitabnya, sehingga dengan adanya salinan ini meringankan mereka dalam menghafal dan memahami materi pelajaran bila dibandingkan dengan hanya mendengarkan atau menguping saja. 3. Dakwah dengan perbuatan Adakalanya pengajaran dengan lisan dan tulisan menemui jalan buntu. Dibutuhkan cara lain untuk memahamkan jamaah terhadap materi yang disampaikan. Untuk mengatasi hal tersebut maka beliau menjadikan diri beliau sebagai contohnya sehingga masyarakat atau jamaah dapat langsung melihatnya dari beliau. Dan memang beliau bukanlah tipe ulama yang hanya pandai merangkai kata, cuma pintar bicara, tetapi beliau adalah model ulama yang langsung mempraktikkan apa yang beliau ajarkan. Maka tidak mengherankan bila ajaran-ajaran beliau diterima dan dituruti 66 Kami pun pernah mendapatkan kopian yang berisi beberapa dzikir terkait shalat witir.


83 masyarakat dan jamaahnya. Hal ini disebabkan beliau merupakan orang yang konsisten antara perkataan dengan perbuatan. Dan harus diakui, modeling (pemodelan) merupakan salah satu faktor keberhasilan dakwah beliau di masyarakat. Karena sejatinya, bila dibandingkan dengan lisan maupun tulisan, maka modeling ini merupakan pola pendekatan yang paling epektif dalam dakwah dan pengajaran. 4. Dakwah dengan organisasi Pendekatan berikutnya yang beliau lakukan dalam rangka memperkuat dakwah dan pengajaran di masyarakat adalah dengan menggabungkan diri dalam organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Nampaknya beliau terinspirasi dan mengikuti jejak sang guru, K.H. Muchtar Thobroni, yang merupakan seorang pendiri (muassis) NU Bekasi dan merupakan Rois Syuriyah pertama PCNU Kota Bekasi jauh sebelum kemerdekaan. Sikap beliau ini selain untuk memperkuat dukungan atas dakwah beliau juga sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Alloh, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104). Dan beliau ingin termasuk dalam golongan tersebut, golongan yang beramar makruf nahi mungkar, golongan yang


84 menyeru kepada jalan Alloh serta mengajak orang lain menyambut seruan tersebut. Dengan masuknya beliau dalam organisasi ini, dakwah beliau semakin mantap, kian terarah dan terorganisir, sehingga sanggup menghantarkan beliau kepada keberhasilan dakwah yang diidam-idamkan. Demikianlah beberapa metode atau pendekatan yang dipergunakan oleh K.H. Abdul Mughni dalam berdakwah mengajak masyarakatnya mengenal Islam dan ajaranajarannya, membimbing mereka menuju masyarakat yang berada dalam naungan cahaya Islam yang paripurna. Meskipun setiap metode seakan berdiri sendiri, namun sebenarnya metode dan pendekatan ini saling terkait dan saling menguatkan. Sehingga dengan melaksanakan keempat metode atau pendekatan ini secara bersamaan, maka dakwah yang dilaksanakan akan lebih membekas dalam pikiran dan perasaan serta lebih mengena di hati. D. Media Dakwah Dakwah tidak bisa berjalan dengan sendirinya, kalaupun bisa, dakwah tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Dibutuhkan perancanaan dan strategi dakwah yang mumpuni agar dakwah meraih kesuksesan. Itulah sebabnya, dalam dunia dakwa modern dikenal istilah manajemen dakwah. Selain membutuhkan perencanaan dan strategi, dakwah juga memerlukan media yang dapat menghantarkan pesan-pesan dakwah dari da’i kepada subjek dakwah (mad’u).


85 Hal ini juga disadari oleh K.H. Abdul Mughni, oleh sebab itu beliau menciptakan ataupun menjadi inisiator dalam pembentukan media-media dakwah yang akan membantunya menyampaikan pesan-pesan dakwah. Di antara media atau sarana dakwah yang dipergunakan beliau dalam memperkenalkan ajaran Islam di masyarakat antara lain: 1. Membangun Masjid Dalam Islam peran masjid bukanlah ringan, namun ia memiliki fungsi serta peran yang sangat substansial, sebagaimana dikatakan oleh Maulana Muhammad Ali (2001, hal. 393): Namun demikian, kedudukan masjid dalam agama Islam lebih penting daripada kedudukan tempat-tempat ibadah dalam agama lain. Ayat alQur’an yang menerangkan bahwa kaum Muslimin wajib membela dan melindungi semua tempat ibadah agama apa saja, namun al-Qur’an memberi keistimewaan kepada yang satu ini (masjid) sebagai tempat ibadah yang paling banyak diingat nama Allah. Al-Qur’an berfirman, “Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh” (al-Hajj: 40). Menyadari arti penting masjid bagi sebuah komunitas Muslim, K.H. Abdul Mughni dan teman-


86 teman beliau menginisiasi pembangunan Masjid Jami’ as-Su’ada. Ide pembangunan masjid ini lantas segera menyebar dan mendapatkan sambutan positif dari segenap masyarakat. Sebenarnya, ide mendirikan masjid kebanggaan masyarakat Kampung Rawa Bugel ini pada awalnya kurang mendapatkan persetujuan dari guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni, namun berkat kedekatan serta kemampuan beliau meyakinkan sang guru dengan pendapat-pendapat ulama dalam kitab-kitab fikih yang beliau bacakan di hadapan guru beliau tersebut akhirnya sang guru mengizinkan, bahkan bersedia menjadi ulama yang melakukan prosesi peletakkan batu pertama. Dengan berdirinya Masjid Jami’ as-Su’ada, gerak langkah beliau dalam dakwah kian terfokus meskipun tidak selalu berjalan mulus. Tetap saja aral serta rintangan seringkali menghadang jalan beliau, namun dengan kesungguhan hati dan mental yang telah teruji, akhirnya lambat tapi pasti dakwah beliau di kampung halamannya ini kian berkembang dan mendapatkan sambutan hangat. Apalagi mengingat masyarakat juga telah merindukan sosok yang dapat membimbing mereka menuju masyarakat yang utama serta menjadi panutan dalam meraih keridhaan Alloh. Masjid beliau jadikan media dakwah dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi dengan cara mendorong pemakmuran masjid dengan kegiatankegiatan keagamaan yang bermakna bagi segenap masyarakatnya. Dengan kegiatan keagamaan


87 bermakna diharapkan nilai-nilai Islam (Islamic values) dapat diketahui dan dikenal oleh masyarakat luas untuk kemudian secara perlahan atau bertahap dapat mereka aplikasikan dalam segi kehidupan mereka. 2. Membangun lembaga-lembaga pendidikan Islam Dengan pembangunan masjid, mungkin nilai-nilai ajaran Islam dapat dikenal oleh masyarakat secara luas, terutama kaum bapak dan kaum ibu, namun dibutuhkan juga satu wadah dakwah yang bisa mewadahi kebutuhan anak-anak mereka sesuai dengan jenjang serta usia perkembangan mereka. Bila ini tidak segera dipenuhi, maka ia akan menjadi lubang yang menganga dan menghambat gerak dakwah beliau. Oleh sebab itu, untuk menutup lubang dan celah tersebut beliau berinisiatip membangun lembaga pendidikan Islam dalam berbagai jenjang. Di tengah kesederhanaan beliau maka berdirilah Madrasah Diniyah, kemudian berubah menjadi Roudhotul Athfal, yang beliau dedikasikan bagi anakanak usia dini. Kemudian berturut-turut mengusahakan berdirinya pondok pesantren, SMP dan SMA Islam. Semua lembaga pendidikan tersebut menjadi wadah dan media dakwah beliau dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Islam yang suci kepada siswa dan siswi secara formal. Selain itu, pendirian lembaga pendidikan Islam tersebut juga guna membekali mereka dengan ilmu-ilmu dunia, serta keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh


88 mereka kelak dalam rangka menjalankan hidup dan kehidupannya. 3. Membentuk majelis-majelis taklim Jauh sebelum usaha beliau berdakwah dengan memanfaatkan media pendidikan formal, beliau telah menginisiasi pembentukan lembaga-lembaga pendidikan Islam nonformal dalam bentuk majelismajelis taklim. Bahkan boleh dikata, kegiatan inilah yang pada awalnya menjadi sentral kegiatan dakwah beliau untuk mengajak masyarakatnya kepada mengenal dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Dengan berbekal majelis-majelis taklim yang beliau bina, hidupkan dan jaga syiar Islam di kampung beliau menjadi lebih semarak. Masyarakat kampung beliau yang bersahaja sedikit demi sedikit mulai melek ibadah dan menyerap ajaran-ajaran Islam. 4. Menginisiasi amal bakti masyarakat Sebagai orang yang paham dinamika masyarakat, K.H. Abdul Mughni pun merasa perlu juga mendorong terbentuknya amal bakti masyarakat yang didirikan secara swadaya oleh masyarakat. Selain bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya anak-anak yatim, pendirian Yayasan Yatim Piatu Assu’ada wal Atqiya ini juga dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dakwah yang selama ini telah beliau laksanakan dalam bentuk aplikasi nilai-nilai ajaran Islam berupa berkasih sayang kepada anak-anak yatim. Dan alhamdulillah, sedikit banyak, dengan


89 berdirinya amal bakti masyarakat dalam bentuk Yayasan Yatim Piatu Assu’ada wal Atqiya mengindikasikan bahwa dakwah yang beliau lakukan selama ini tidak seperti menyiram air ke atas pasir, hilang tanpa bekas, namun laksana menyiram air ke atas bibit tumbuhan, yang dengan perawatan beliau tumbuh menjadi tunas-tunas muda hingga menjadi sebatang pohon yang mendatangkan manfaat. Inilah di antaranya empat media dan sarana yang digunakan oleh K.H. Abdul Mughni dalam menjalankan visi dan misi dakwah beliau. Dengan hadirnya empat hal tersebut juga sekaligus menjadi bukti bahwa dakwah yang beliau lakukan dalam hampir seluruh hidup beliau yang diberkahi membuahkan hasil yang manis. Dakwah yang beliau kembangkan dengan menerapkan berbagai metode dan pendekatan ternyata bukan saja mendapatkan sambutan positif namun juga menghasilkan dukungan masyarakat kepada beliau untuk mengembangkan hal-hal tersebut di atas. Dengan kata lain, selain sebagai media dakwah, empat hal tersebut merupakan bukti dan indikasi keberhasilan dakwah yang diretas oleh beliau sekaligus menunjukkan ketokohan dan kharisma beliau di masyarakat. Karena tanpa adanya pengakuan ketokohan dan kharisma atas diri beliau oleh masyarakat, rasanya mustahil beliau dapat mendorong dan menginisiasi program-program masyarakat yang demikian prestisius. Sebagaimana dikatakan oleh Sztompka (2011, hal. 313- 314):


90 Manusia unggul sekalipun memerlukan “tanah subur” untuk menyesuaikan gagasan, temuan, dan tindakan mereka. Mereka harus memenuhi kebutuhan sosial yang berkembang secara bebas dalam kebutuhan, harapan, dan aspirasi rakyat. Bila mereka mampu memenuhinya, maka keunggulannya diakui dan sebagai imbalannya kemampuannya akan makin besar untuk memengaruhi dan memimpin orang lain, dalam arti memengaruhi perubahan sosial dan mengubah jalan sejarah. Mereka berpengaruh karena diikuti orang lain. Dapat disimpulkan di sini bahwa K.H. Abdul Mughni memiliki andil yang signifikan dalam dakwah Islam di Bekasi. Metode-metode dan pendekatan yang beliau terapkan dalam berdakwah di masyarakat ternyata sangat mengena sehingga beliau berhasil membumikan ajaran-ajaran Islam ke tengah-tengah masyarakat. Dan tidak bisa dikesampingkan begitu saja, bahwa di atas semua metode, pendekatan dan media dakwah tersebut penentu akhirnya adalah akhlak dan perilaku yang beliau tampilkan di tengah-tengah masyarakat sesuai dan sejalan dengan segala ajaran yang beliau sampaikan, selaras antara ucapan dan perbuatan, tidak menunjukkan paradoks dan pertentangan. Di saat mungkin kebanyakan juru dakwah hanya pandai beretorika, cuma pintar mengolah kata menjadi sebuah semangat yang meletupletup saat berada di atas mimbar dan podium, namun realitas kehidupannya jauh dari nilai-nilai yang ia perjuangkan, beliau tampil sebagai pribadi teladan.


91 Kepribadian beliau semakin kokoh dengan diperkuat keberhasilan beliau dalam membina keluarga dan mendidik putra-putri beliau. Semuanya seakan mengkonfirmasi akan segala ajaran serta didikan yang beliau berikan dalam kesempatan majelis-majelis taklim dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Keberhasilan beliau menampilkan diri sebagai teladan, panutan dan contoh bagi jamaah dan masyarakatnya merupakan faktor terkuat bagi keberhasilan dakwah yang beliau lakukan. Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 6. Masjid Jami’ as-Su’ada Hasil-hasil dakwah beliau hingga hari ini masih dapat kita saksikan, baik yang berupa pemikiranpemikiran, ide dan gagasan maupun berupa bangunan


92 fisik semisal masjid serta lembaga-lembaga pendidikan Islam yang beliau bangun. Semuanya menjadi saksi bagi keberhasilan dakwah beliau dan sebagai jejak-jejak (atsar) bagaimana perjuangan dakwah beliau membawa serta mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam yang rohmatan lil ‘alamin dapat kita runut dan telusuri. Dengan keberhasilan dakwah beliau, masyarakat Kampung Rawa Bugel, dan kampung-kampung sekitarnya, diharapkan menjadi satu kampung yang religius, baik religiusitas agama, sosial, maupun budaya. Sehingga dengan terbentuknya nilai-nilai religiusitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, Kampung Rawa Bugel dan sekitarnya akan menjadi kampung yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.


93 BAB 3 KIPRAH K.H. ABDUL MUGHNI DALAM BIDANG PENDIDIKAN “Kemana pun engkau belajar ilmu nahwu, kalam itu akan selalu terbagi tiga: isim, fi’il, dan huruf” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Islam, pendidikan mendapatkan perhatian yang istimewa. Syariat Islam mendorong kegiatan pembelajaran dalam bentuk menuntut ilmu sebagai sebuah perkara wajib yang harus dilakukan oleh setiap pemeluknya. Karena berhukum wajib, maka konsekuensinya, siapa yang melaksanakan akan mendapatkan pahala dan yang meninggalkan serta tidak melaksanakan akan memperoleh dosa. Bahkan di awal-awal perkembangannya, para tawanan perang dari pihak musuh dapat membebaskan dirinya setelah melakukan pengajaran kepada anak-anak dari kalangan kaum Muslimin dalam waktu yang telah ditentukan dan


94 sepakati. Dengan ilmu yang diperoleh maka hal tersebut menjadi sebab bagi terangkatnya derajat seseorang. Alloh berfirman: ۚ هج ٍت َ َر د َ لْم ِ ُوا الْع ت ْ ُو ا َ ْن ي َّذِ ال َ ۚ و ْ ْ ُكم ن ِ ا م ْ ُو ن َ هام َ ْن ي َّذِ ال ُ َّلله فَ ِع ا ْ ر َ ي “...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (al-Mujadalah: 11). Sebagai seorang ulama yang telah menceburkan dirinya dalam medan masyarakat untuk membimbing mereka ke arah kehidupan yang disinari cahaya Islam dan kegiatan ilmiah dalam dunia pendidikan sedari muda hingga menjelang wafatnya, K.H. Abdul Mughni jelas memiliki kiprah yang signifikan dalam turut mencerdaskan masyarakat Bekasi, baik dengan jalur pendidikan formal maupun nonformal. Meskipun mungkin beliau bisa saja memilih jalan lain dalam menjalani kehidupannya, namun beliau lebih memilih membaktikan seluruh hidup beliau dalam membangun dan membentuk akhlak masyarakat dengan siraman ilmu, iman, dan amal. Bila kita hendak menilik kiprah beliau dalam bidang pendidikan, khususnya dunia pendidikan di Bekasi, maka setidaknya kita bisa menyimpulkan kiprah tersebut dari dua sisi yang berbeda namun saling terkait. Pertama, dari sisi diri beliau sebagai seorang pendidik. Dan kedua, dari sisi lembaga pendidikan yang beliau dirikan. Dengan mencermati dan mempelajari kedua sisi terpenting ini maka akan terbentang di hadapan kita sebuah kiprah yang tidak kecil terhadap pertumbuhan dan perkembangan


95 dunia pendidikan di Bekasi. Bahkan, dengan mempelajari dua sisi tersebut akan terbuka bagi kita perikehidupan beliau, karena keduanya tidaklah terpisah dengan kehidupan beliau yang diberkahi. A. Kiprah Sebagai Pendidik Dalam dunia pendidikan, entah pendidikan klasik maupun pendidikan modern, kehadiran dan bimbingan seorang pendidik sangatlah penting. Bahkan ia menjadi faktor dominan dan penentu bagi tercapainya tujuantujuan pendidikan yang diharapkan. Kehadiran seorang guru dalam aktivitas ilmiah murid-muridnya bukan saja sebagai sarana untuk transfer ilmu pengetahuan tetapi lebih jauh lagi adalah membentuk karakter seorang hamba yang memiliki kesadaran akan kehadiran dirinya di dunia serta peran yang dapat mereka mainkan dalam segala dimensi kehidupannya. Selepas beliau belajar kepada K.H. Muchtar Thobroni, serta dengan dorongan sang guru, beliau mulai membaktikan diri beliau dalam bidang pendidikan dengan mengembangkan pendidikan formal. Usaha tersebut beliau lakukan di awal tahun 1960 an, dimulai dengan membina sebuah langgar (musholla) dan madrasah tempat pengajian al-Qur’an bagi anak-anak kampung. Beliau terpanggil untuk membina anak-anak kampungnya, Kampung Rawa Bugel, dan sekitarnya agar mereka tidak buta membaca al-Qur’an. Bermodalkan ilmu yang beliau dapat dari guru-guru beliau, terutama sang guru, K.H. Muchtar Thobroni, beliau dengan gigih,


96 kesabaran, dan daya juang yang tinggi membimbing murid-murid beliau yang datang dari berbagai pelosok Kampung Rawa Bugel, Bulak Macan, Bulak Sentul dan sekitarnya untuk belajar al-Qur’an dan ilmu-ilmu seperti fikih, tafsir, hadits, tauhid, akhlak, nahwu, shorof dan lainnya. Sejak itulah beliau membangun madrasah diniyah nonformal dan membina serta mengasuh majelis-majelis taklim yang berada di Kampung Rawa Bugel dan yang tersebar di kampung-kampung sekitarnya dalam rangka mengamalkan ilmu yang beliau miliki serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta memberantas kepercayaan-kepercayaan animisme dan dinamisme yang saat itu masih mengakar serta melekat dalam berbagai gerak kehidupan masyarakat kampungnya. Berkat kiprah beliau yang gigih dalam mendidik anak-anak melalui pendidikan nonfomal, di arena-arena pengajian langgar dan musholla, serta mendidik masyarakat lewat majelis-majelis taklim yang beliau hidupkan dan bina sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Bayang-bayang buta al-Qur’an dari anak-anak kampungnya perlahan-lahan mulai pergi, mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bukan saja terlepas dari kebutaan terhadap al-Qur’an namun juga memiliki pengetahuan ilmu-ilmu keislaman. Demikian pula masyarakat kampungnya serta masyarakat sekitarnya, pelan-pelan mereka mengenal ajaran Islam dan meninggalkan segala praktik kepercayaan animisme dan dinamisme yang selama ini mereka lakukan. Semua hal tersebut terwujud


97 disebabkan kegigihan beliau dalam membina dan mendidik masyarakatnya. Dalam hal ini peran lembagalembaga pendidikan nonformal yang beliau bangun ternyata sangat membantu dan menentukan langkah serta keberhasilan beliau dalam melakukan internalisasi atau penanaman ilmu-ilmu keislaman serta nilai-nilai ajaranajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Faktor lain yang menjadi penentu keberhasilan internalisasi nilai-nilai Islam dan ilmu-ilmunya di tengahtengah masyarakat adalah karena metode yang digunakan beliau dalam pendidikan dan dakwah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Mereka secara antusias menyambut ide-ide pendidikan yang beliau sodorkan. Bahkan bukan saja menyambut dengan antusias, namun lebih dari itu beliau mendapatkan dukungan yang cukup luas atas ide-ide yang hendak atau telah beliau laksanakan. Dengan adanya dukungan tersebut semakin membuka jalan bagi tercapainya keberhasilan ide-ide pendidikan yang beliau jalankan. Dalam mendidik, beliau mengedepankan sikap keteladanan yang tinggi. Konsisten dan berkomitmen terhadap apa yang beliau ajarkan merupakan sikap yang membuat beliau mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Padahal praktik animisme dan dinamisme yang telah dilakukan masyarakat saat itu bukanlah praktik yang terjadi setahun dua tahun, namun telah dipraktikkan selama puluhan tahun. Namun dengan ketulusan, beliau sanggup menyentuh masyarakatnya, dan masyarakat sekitarnya, untuk mau meninggalkan apa-apa yang telah


98 mereka wariskan dari orang-orang tua mereka, serta telah menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 7. Komplek lembaga pendidikan Bidayatul Hidayah Tidak berhenti pada tataran pendidikan nonformal, beliau juga tercatat pernah menjadi pendidik dalam dunia pendidikan formal. Sekitar tahun 1980an, beliau menjadi staff pengajar di Madrasah Aliyah (MA) Annur, Kaliabang Nangka, Bekasi. Saat itu beliau dipercaya untuk mengampu mata pelajaran yang terkenal sulit, yakni Bahasa Arab dan ilmu nahwu. Dua mata pelajaran yang memang menjadi salah satu spesialisasi beliau, dan masyarakat kampung beliau serta sekitarnya telah mengakui hal tersebut.


99 Cukuplah diterimanya beliau di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, sebuah lembaga milik pemerintah Saudi Arabia dan di bawah naungan Universitas Islam Muhammad bin Su’ud Riyadh menjadi bukti kelebihan beliau dalam kedua bidang tersebut (bahasa Arab dan ilmu nahwu). Karena sebagaimana diketahui, bahwa lembaga pendidikan milik negara petro dolar tersebut bukanlah lembaga pendidikan ecek-ecek yang dengan mudah begitu saja menerima mahawasiswa serta terkenal sulit dan ketat. Disebut sulit karena dua alasan. Pertama, lembaga pendidikan tersebut diperebutkan oleh ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia yang notabene mereka datang dengan bekal keilmuan yang mapan. Kedua, bahasa pengantar yang digunakan dalam perkualiahan adalah bahasa Arab. Para dosen yang mengajar langsung didatangkan dari negeri-negeri Arab dengan kultur Arab mereka. Kalaupun ada dosen dari dalam negeri, sudah dipastikan mereka merupakan orang-orang yang telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari. Dan K.H. Abdul Mughni telah membuktikan diri dengan lolos masuk ke dalamnya. Selain berkiprah di Pesantren Annur, beliau juga tercatat sebagai pendidik atau guru di Madrasah Aliyah Agus Salim,67 bahkan beliau termasuk salah seorang yang turut membesarkannya. Bersama-sama dengan teman67 Madrasah ini adalah cikal bakal Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bekasi.


100 teman beliau, membangun pendidikan di Bekasi lewat jalur pendidikan formal. Belum lagi peran beliau dalam pendidikan nonformal, yakni dalam bentuk kegiatan majelis-majelis taklim yang telah beliau bina dan hidupkan semenjak usia mudanya. Pendek kata, kehidupan beliau disibukkan dengan kegiatan mengajar dan mendidik masyarakat dalam berbagai tingkatan usia, dalam berbagai jenjang pendidikan, dan dengan beraneka ragam status lembaga pendidikannya. Berdasarkan paparan singkat tersebut dapat kiranya disimpulkan, bahwa kiprah K.H Abdul Mughni dalam bidang pendidikan tidaklah kecil, bahkan sebaliknya patut diperhitungkan. Kiprah tersebut bukan saja beliau kembangkan di kampung beliau dan sekitarnya, namun juga dalam tataran yang lebih tinggi yaitu kota dan kabupaten Bekasi.68 Beliau turut membangun masyarakat Bekasi yang berpendidikan, khususnya masyarakat yang bebas dari buta al-Qur’an dan keyakinan yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Adakah lagi sebuah kiprah yang lebih besar dari kiprah seperti ini? Mengeluarkan masyarakat dari kebodohan dan kejahilan? Yakni kebodohan intelektual dan kejahilan keyakinan. 68 Sekitar tahun 2005 saat kami belajar kepada beliau, di kediaman beliau telah ada beberapa orang santri menginap yang datang dari beberapa daerah pelosok Kabupaten Bekasi. Ini menunjukkan bahwa beliau bukan hanya dikenal sebatas kota Bekasi, tetapi juga hingga Kabupaten Bekasi. Fakta ini menambah bukti atas keulamaan serta keilmuan beliau.


101 B. Kiprah Lembaga Pendidikan yang Didirikan Kehadiran lembaga pendidikan dalam sejarah Islam tidaklah terjadi begitu saja, ia berevolusi dari bentuknya yang paling bersahaja hingga menjadi satu lembaga modern yang lengkap fungsi-fungsinya. Dimulai dari masjid-masjid, pendidikan Islam dimulai. Melalui halaqoh-halaqoh kecil yang diikuti oleh puluhan pelajar pendidikan Islam bergeliat dan pada gilirannya akan mengambil peran yang signifikan. Kegiatan pembelajaran selanjutnya bergeser, bukan saja menjadikan masjidmasjid sebagai lembaga pendidikan namun juga rumahrumah sang guru dan istana-istana para raja serta pangeran. Rumah-rumah dan istana-istana menjadi ajang pertemuan intelektual guru dengan murid-muridnya, atau guru dengan para putra dan putri raja dan pangeran. Hingga akhirnya berevolusi menjadi sebuah lembagalembaga pendidikan formal dalam bentuk yang lebih komplek yaitu madrasah-madrasah dan perguruanperguruan tinggi Islam. Hanya saja, meskipun perkembangan lembaga pendidikan Islam telah mencapai bentuknya yang paling modern seperti dapat kita saksikan dewasa ini, peran masjid dan rumah sebagai lembaga pendidikan nonformal tetap berlanjut. Demikian juga halnya dengan perjuangan K.H. Abdul Mughni dalam masyarakat. Tidak mencukupkan diri sebagai pendidik dalam rangka membangun masyarakat yang berwibawa, beliau pun mulai meluaskan kiprahnya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal. Karena biar bagaimanapun, dengan


102 memiliki lembaga pendidikan formal maka usaha mencerdaskan masyarakatnya akan semakin besar dan terbuka lebar. Orang-orang yang tercerdaskan tidak lagi sepuluh dua puluh orang, namun bisa hingga ratusan. Dengan demikian, semakin banyak orang tercerahkan maka akan semakin cepat masyarakat utama akan terbentuk, yakni masyarakat yang berada di bawah cahaya Islam. Itu sebabnya kehadiran lembaga pendidikan Islam formal benar-benar dibutuhkan. Pemikiran-pemikiran inilah yang kemudian mendorong beliau membentuk dan mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Bidayatul Hidayah. Sebuah yayasan yang concern terhadap pendidikan Islam sebagai bagian dakwah Islam. Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 8. Bangunan SMP Bidayatul Hidayah Pada tahun 1983, beliau mendirikan sekolah formal pertama sebagai basis baru perjuangan dan kiprah beliau dalam bidang pendidikan. Pada tahun tersebut beliau


103 mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bidayatul Hidayah yang tujuannya adalah agar murid-murid yang kebanyakan anak kampung selain mereka belajar ilmu agama (ilmu akhirat) mereka juga mendapatkan ilmu-ilmu umum dan keterampilan serta mendapatkan ijazah untuk bekal dikemudian hari. Terdorong keinginan untuk terus berkiprah dalam dunia pendidikan, beliau berkeinginan untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang dimiliki ke jenjang yang lebih tinggi sehingga pada tahun 1991 beliau membuka sekolah Taman Kanak-Kanak al-Qur’an (TK alQur’an) yang kemudian berubah menjadi Roudhotul Athfal (RA) dan pada tahun 1994 mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bidayatul Hidayah setelah membangun tambahan lokal tempat belajar. Tidak berhenti sampai di sini, pada tahun 2000 didirikan SMA Islam Bidayatul Hidayah bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah. Perluasan dan pengembangan ini didasari oleh kenyataan semakin tingginya minat belajar para siswa yang ingin melanjutkan belajarnya di lingkungan Lembaga Pendidikan Bidayatul Hidayah. Saat ini, Lembaga Pendidikan Bidayatul Hidayah yang berlokasi di Kampung Rawa Bugel, Harapan Jaya, Bekasi Utara ini terus berkembang dan berbenah diri. Dan kini, telah memiliki gedung permanen 3 lantai dan 2 lantai dengan fasilitas dan sarana prasarana yang cukup memadai meskipun masih jauh dari kata sempurna.


104 Sesuai dengan namanya, Bidayatul Hidayah69 yang artinya “Awal petunjuk”, diharapkan Bidayatul Hidayah adalah “tempat pertama” untuk mendapatkan hidayah dan ilmu dari Alloh bagi para siswanya. Dan siswa yang belajar di Lembaga Pendidikan Bidayatul Hidayah benarbenar mendapatkan petunjuk/hidayah ilahi untuk menjadi manusia-manusia yang berakal, berpengetahuan dan berbudi luhur serta berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Sebagaimana telah digariskan dalam visi sekolah ini, yaitu terwujudnya peserta didik yang beriman, cerdas, terampil, mandiri dan berwawasan global. Pendirian lembaga pendidikan dengan berbagai jenjang tersebut serta sambutan masyarakat yang antusias terhadap apa yang dilakukan oleh beliau ini sekali lagi semakin menunjukkan dan mengokohkan besarnya peran yang diambil oleh K.H. Abdul Mughni dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mencerahkan kehidupan masyarakat serta membawa mereka ke dalam dunia yang terang benderang dengan disinari cahaya ilmu, iman, dan amal. Dari dua sisi perjuangan beliau ini sudah nampak jelas bahwa kiprah K.H. Abdul Mughni dalam bidang pendidikan di Bekasi sudah tidak perlu diragukan 69 Menurut pengakuan K.H. Abdul Mughni kepada kami, ihwal penamaan tersebut beliau ambil dari nama sebuah kitab, yaitu Kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H). Kitab ini membicarakan seputar proses awal seorang hamba mendapatkan hidayah dari Alloh. Dan juga menjelaskan tentang etika dalam berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan tata cara dan adab yang benar. Di sinilah letak filosofi penamaan lembaga tersebut dengan kitab ini.


105 lagi, bahkan sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya. Meskipun kita yakin beliau tidak berharap akan itu semua, tetapi sebagai orang yang tahu bersyukur, tahu berterima kasih, maka sudah sepatutnya kita berterima kasih dan menghargai kiprah beliau dalam bidang pendidikan ini. Dengan berterima kasih atas kiprah beliau, maka pada hakikatnya kita berterima kasih kepada sang pemilik sebenarnya dari pujian itu. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ْش ُك َ َس َال ي النَّا ُ ْش ُكر َ َال ي ْ َن م ُ هللاَ ر “Tidak dikatakan bersyukur kepada Alloh bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.”70 Belum lagi dengan kiprah pendidikan dalam bidang keagamaan melalui pembukaan dan pembinaan majelismajelis taklim yang tersebar di beberapa pelosok kampung halaman beliau dan sekitarnya. Dan beliau telah berkiprah dalam kegiatan menghidupkan majelis taklim sebagai sebuah institusi nonformal tempat menyemaikan nilainilai ajaran Islam semenjak beliau muda hingga hari ini beliau telah sepuh dan berusia senja. Hampir semua usia beliau didedikasikan bagi perkembangan pendidikan Islam, menyebarkan ilmu-ilmu terkait keislaman, dan 70 HR. al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad, Bab: Man lam Yasykur li an-Naas, hlm. 63, hadits no. 218; Abu Daud dalam Sunannya, Kitab: al-Adab, Bab: Fi Syukri al-Ma’ruuf, hlm. 631, hadits no. 4811 dan atTirmidzi dalam Sunannya, Kitab: al-Birri wa ash-Shilah, Bab: Maa Jaaa fi asy-Syukri liman Ahsana ilaik, hlm. 378, hadits no. 1954. Hadits Shohih.


106 usaha mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan cahaya ajaran Islam. Demikian juga dengan khutbah-khutbah di masjidmasjid, ceramah-ceramah dalam acara-acara kemasyarakatan, tempat tahlilan dan pernikahan, nasihatnasihat yang bernas disela beliau menjalankan aktivitas. Semunya merupakan puzzle-puzzle dari satu gambaran utuh usaha pendidikan dan pengajaran yang beliau lakukan sepanjang hidup beliau yang diberkahi. Lengkap sudah rasanya apa yang beliau perjuangkan dalam bidang pendidikan ini. Bukan saja pendidikan formal, namun nonformal pun beliau berkipah. Tidak hanya berusaha membangun dan mencerdaskan masyarakat dengan ilmu-ilmu dunia serta bekal keterampilan, namun juga membangun jiwa, hati, dan rasa keagamaan dengan sinaran ilmu-ilmu keagamaan. Dengan kata lain, beliau ingin masyarakat cerdas lahir dan batin, seimbang antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.


107 BAB 4 EPISTEMOLOGI ILMU K.H. ABDUL MUGHNI “Meskipun seorang habib, kalau tidak belajar, maka dia tidak akan bisa” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ Bagi pembaca yang pernah belajar filsafat, maka dapat menyimpulkan bahwa secara umum dalam filsafat ada tiga hal pokok yang menjadi bahan pembahasan (objek kajian). Pertama: ontologi, kedua: epistemologi, dan ketiga: aksiologi. Ontologi, jelas Endang Komara (2011, hal. 7) menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana, dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk apa. Tentang bagaimana (how) cara mendapatkan ilmu atau epistemologi ilmu merupakan kajian yang selalu dibicarakan dalam dunia akademis, dan setiap orang mungkin memiliki epistemologinya masing-masing. Membicarakan epistemologi berarti membicarakan metode atau cara, dan ini perkara penting. Karena berapa banyak orang gagal–atau sekurang-kurangnya telat dan lambat–dalam cita-cita dan tujuannya karena salah dalam menerapkan metodenya. Kenneth A. Strike, dalam Barnadib (1996, hal. 24) mengatakan, “Epistemologi menunjukkan bahwa pengetahuan dapat dicapai atau


108 diraih melalui berbagai cara, setidak-tidaknya melalui kemampuan akal murni deduktif dan empiris rasionalinduktif. Berhubung dengan pandangan itu, yang dimaksud dengan belajar tidak lain adalah proses empiris dan mental.” A. Perintah Menuntut Ilmu Dalam Islam menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting. saking pentingnya, hingga ia dihukumi fardhu atau wajib.71 Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang menjelaskan hal tersebut. Demikian juga keutamaan-keutamaan yang didapat bagi para penuntut ilmu sangatlah banyak dijelaskan oleh Alloh dan RosulNya, dan bukan di sini tempatnya bagi kami untuk menjelaskan semua itu. bahkan para ulama telah menulis kitab-kitab khusus untuk mengupas panjang lebar terkait dengan tema yang sangat penting tersebut. Di antaranya dapat kami sebutkan, yaitu Kitab Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlih karya al-Qurthubi. Selama kami belajar kepada K.H. Abdul Mughni, disela-sela belajar atau di akhir pembelajaran saat ngobrol 71 Dalam perspektif madzhab asy-Syafi’i, wajib, fardhu dan maktubah dihukumi sama (wal waajibu wal fardhu wal maktuubatu waahidun); sedangkan dalam perspektif madzhab Hanafi istilah-istilah tersebut berbeda. Wajib, jelas mereka, adalah segala sesuatu yang kewajibannya ditetapkan berdasarkan dalil-dalil ijtihad seperti shalat witir dan udhiyah (sembelihan) sedangkan fardhu segala sesuatu yang ditetapkan kewajibannya berdasarkan dalil qathi’ seperti shalat lima waktu dan zakat fardhu. Lihat asy-Syirazi, al-Luma’ fi Ushuli al-Fiqh (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, t.t.p), hlm. 12.


109 sebelum pembelajaran benar-benar diakhiri, beliau banyak berbicara serta memotivasi kami para penuntut ilmu untuk terus belajar dan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas belajar seperti membaca, menulis dan menghafal. Hal ini merupakan sebuah jalan utama untuk memperoleh ilmu. Beliau acapkali menyampaikan sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam: َِّّنَ َِّّنَ إ ا ا إ َ ُِّم و ل ِِبلتَّ ع ُ لْم ِ الْع ا ْل ِم ِ ُّ حل ِِبلتَّ ُ لْم “Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar dan kelembutan hanya didapat dengan cara berusaha.”72 Apa yang hendak disampaikan oleh K.H. Abdul Mughni dari hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang singkat tersebut, yang seringkali beliau sampaikan kepada murid-muridnya? Menurut hemat kami ada dua pesan yang hendak beliau sampaikan. Pesan pertama, belajar merupakan sebuah cara untuk mendapatkan ilmu. Dan ini merupakan hal yang mau tidak mau harus ditempuh seseorang bila ingin menjadi seorang yang ‘alim. Itulah sebabnya, beliau pernah berkata kepada kami: “Biar kata habib, kalau tidak belajar, maka dia tidak akan bisa.” Perhatikan diksi yang beliau pilih,73 yaitu kata: habib (jamaknya: habaib), yang notabene merupakan keturunan 72 HR. ad-Daraquthni dalam Sunannya dari Abu Hurairah dan alKhothobi dalam kitab Tarikhnya dari Abu Darda’. Dimuat oleh asSuyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir min Ahaditsi al-Basyir an-Nadzir, Harfu: al-Hamzah, hlm. 180, hadits no. 2577. 73 Di sini jelas terlihat kecerdasan beliau. Beliau tidak memilih diksi lain, namun memilih diksi yang nilainya paling tinggi. Seakan mengajak


110 (dzuriyat) Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, sebuah jalur keturunan yang suci dan mulia. Namun, garis keturunan yang demikian suci dan mulia pun bila ia tidak menempuh jalan-jalan yang biasa ditempuh serta dilalui oleh para penuntut ilmu maka ia tidak akan memiliki ilmu. Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang garis keturunannya (nasabnya) jauh dari garis keturunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang suci tersebut, dan ia tidak mau belajar? Sudah tentu lebih jauh lagi untuk mendapatkan ilmu! Contoh terbaik dalam hal ini adalah Imam asySyafi’i. Bila kita runut nasab beliau, maka akan sampailah kita pada kenyataan bahwa beliau adalah keturunan dari paman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dimana dari jalur ayah bersambung ke Muththolib dan dari jalur nenek moyang bersambung ke Hasyim. 74 Namun, nasab atau garis keturunan yang demikian hebat tidak lantas membuat beliau berpangku tangan. Beliau telah menempuh jalan panjang yang terjal dan berliku, berjalan dari satu negeri Islam ke negeri Islam yang lainnya guna berlogika, bila yang nilainya tinggi saja tidak mampu, maka apalagi yang nilainya lebih rendah. 74 Nasab beliau: Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Udda bin Udad bin al-Humaisa bin Nabayut bin Ismail bin Ibrahim, Khalil arRahman a.s. Nasrullah Ainul Yaqin (2020), Mengenal Silsilah Imam asySyafi’i Ra Hingga Nabi Ibrahim As. Dalam: bincangsyariah.com. dapat diakses pada: https://bincangsyariah.com/khazanah/mengenalsilsilah-imam-syafii-ra-hingga-nabi-ibrahim/


111 mendapatkan ilmu sehingga beliau mencapai derajat sebagai seorang yang alim. Menjadi salah seorang kebanggaan umat, pedoman dan hujjah umat Islam dari semenjak zamannya hingga hari ini, dan mungkin sampai nanti. Maka benarlah apa yang Alloh firmankan dalam alQur’an: ۚ ا ْ لُو َمِ َّا ع ِ هج ٌت ُم َ َر ٍ د ُكل ِ ل َ و “Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan” (al-An’am: 132) Demikian juga, benarlah apa yang disabdakan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam: ُ لُه َ َم ع ِ ه ِ أَب َطَّ ب ْ َن م َ ْ و ََل ُ ه ُ ب َ َس ن ِ ه ِ ْع ب ِر ْ ُس ي “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mendahuluinya.”75 Dan ingat selalu dengan pesan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dan ath-Thobroni dari hadits Mu’awiyah: َخ ِ ه ِ ب ِردِ هللاُ ُ ي ْ َن م َ ، و ِ قه ُّ َف ِِبلتَّ ُ ْقه ِ الْف َ ُِّم، و ل َ ِِبلتَّ ع ُ لْم ِ َِّّنَا الْع ا، إ ْ و ُ لَّم َ َع ُس ت ا النَّا َ ُّ ه أَي َ َي ا ً ْر ي ِن ْ ي دِ ِِف ال ُ ْه ه ِ َف ق ُ ي “Wahai manusia, tuntutlah ilmu! Sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan belajar, dan pemahaman hanya dapat diperoleh dengan mendalaminya. Siapa saja yang Alloh 75 HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitab: adz-Dzikri wa ad-Du’aa-i wa at-Taubati wa al-Istighfaar, Bab: Fadhli al-Ijtimaa’i ‘ala Tilaawati alQur’aani wa ‘ala adz-Dzikr, hlm. 854, hadits no. 2699. Hadits Shohih.


112 kehendaki kebaikan baginya, niscaya Alloh beri ia pemahaman dalam bidang agama.”76 Pada kesempatan lain, biasanya di awal-awal belajar, K.H. Abdul Mughni selalu mengingatkan kami dengan sebuah syair–ada yang mengatakan syair ini berasal dari Ali bin Abi Tholib–yang sudah sangat terkenal di kalangan para penuntut ilmu, yaitu: أََال َال ِ ا ُل الْع َ ن َ ت اذٍ َ ت ْ أُس ْ َشادِ ِر إ َ و ٍ َة لْغ ُ ب َ اٍر و َ ب ْصطِ ا َ ٍص و ْ ر َحِ و ٍ : ذََكاء ٍ ِ ِستَّة َِّال ب إ َ لْم انٍ َ َم ِل ز ْ َطُو و “Ketahuilah, Tak bisa kau raih ilmu, kecuali dengan enam perkara: cerdas, rajin, sabar, memiliki modal, mengikuti petunjuk guru, dan menempuh waktu yang lama (dalam belajar).”77 Dari syair ini dapat diambil pelajaran, bahwa untuk mendapatkan ilmu membutuhkan sebuah proses dan faktor-faktor yang menyertainya. Semua faktor tersebut saling mendukung dan melengkapi dalam perjalanan belajar yang ditempuh seseorang. K.H. Abdul Mughni mengutip syair tersebut agar murid-murid yang belajar kepada beliau untuk bersabar, karena proses belajar yang berujung membuahkan ilmu membutuhkan waktu yang lama dan panjang, oleh sebab itu membutuhkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan disaat menempuh jalan panjang tersebut, sekaligus mengingatkan faktor-faktor lain yang menunjang 76 Dalam Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih alBukhari (Qohirah: ad-Dar al-Alamiyyah, 2015), jilid 1, hlm. 246. Hadits ini dihasankan oleh al-Asqolani. 77 Dalam al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, (Indonesia: al-Haramain, 2006), hlm. 15.


113 kesuksesan dalam proses pembelajaran untuk meraih ilmu. Imam asy-Syafi’i berkata, sebagaimana dikutip oleh as-Suyuthi dalam Tadribur Rowi, dalam Anton Abdillah (2021), “Tidaklah mungkin penuntut ilmu yang mudah bosan dan merasa puas jiwanya lantas ia akan berhasil meraih keberuntungan. Akan tetapi penuntut ilmu dengan kerendahan jiwa, kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu maka dialah yang akan beruntung.” Pesan kedua, hendaknya para murid-murid beliau memiliki sifat lembut (al-hilm). Dan ini merupakan salah satu sifat yang lahir dari seseorang yang memiliki ilmu, karena sejatinya sifat tersebut tidak akan hadir kepada seseorang kecuali ia telah memenuhi dua persyaratan. Pertama, kemampuan akal yang luas; dan kedua, kebesaran jiwa. Dan kedua syarat utama ini hanya akan tumbuh secara sempuna manakala seseorang memiliki ilmu. Dengan kemampuan akal yang luas menjadikannya manusia yang berpandangan jauh ke depan. Sebelum bertindak, ia akan menimbang terlebih dahulu maslahat dan mudharat yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Sedangkan dengan kebesaran jiwa, ia mampu menahan emosinya ketika ia ingin melampiaskan amarahnya kepada orang lain. Sungguh, hari ini akan sulit sekali mencari orang dengan tipikal tersebut: mau terus belajar dan memiliki sifat kelembutan, yang mendahulukan ilmu atas amarahnya, yang bersikap lembut dan menghindari nafsunya. Duhai, sungguh sangatlah penting hal tersebut hari ini disampaikan kepada setiap pelajar, bahkan setiap orang, oleh sebab itu


114 pesan beliau ini akan senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Renungkanlah bagaimana mulianya pesan yang diselipkan oleh K.H. Abdul Mughni kepada murid-murid beliau. Sebagai seorang guru, tugas beliau bukan sekadar melakukan transfer ilmu, namun juga akhlak. Karena dengan ilmu yang terbungkus akhlak barulah seseorang akan menjadi seorang alim yang bisa menjadi panutan kelak, yang bisa memberikan tuntunan dalam kehidupannya. Kenapa hal ini beliau sampaikan? Karena kelak murid-murid beliau akan terjun ke dalam masyarakat dan menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menjaga agamanya, meneruskan citacita Islam dan semangatnya. Maka kedua hal tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi masyarakat. Sebagaimana dikatakan oleh John Dewey, William H. Kilpatrick, Boyd H. Bode, dan Helen Parkhust, dalam Barnadib (1996, hal. 23) mereka semua sepakat bahwa sekolah–termasuk madrasah dan institusi pendidikan lainnya (pen)–adalah masyarakat kecil dan pendidikan menyiapkan mereka untuk menyesuaikan diri dan bereksperimen dalam masyarakat. Lebih dari itu, kedua sifat tersebut, yakni manusia pembelajar yang memiliki sifat lembut bukan saja dicintai Alloh dan Rosul-Nya, namun juga dicintai serta dihormati oleh para malaikat. Diriwayatkan dari Abu Darda’, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ِب الْ ِ طَال ِ ًضا ل ا ِر َ َه ت َ ِح ت ْ أَج ُ َ َضع َكةَ لَت ِ َلئ َ ِ َّن الْم إ َ و لِْم ِ ع


115 “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada para penuntut ilmu.”78 Bagi mereka yang memiliki sifat al-hilm (lemahlembut) Alloh dan Rosul-Nya pun amatlah suka. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang Sahabat beliau, yakni Asyajj Abdu al-Qois: ََنةُ اْلَ َ و ُ لْم ، ا ْلِ ا هللاُ َ ُم ُّ ه ب َُيِ َ ّْيِ ْ َك َخ ْصلَت ي ِ ِ َّن ف إ “Sesungguhnya engkau memiliki dua akhlak yang sangat dicintai Alloh (dan Rosul-Nya), yaitu sifat al-hilm (lembut, mampu menahan emosi) dan al-anah (sifat tenang dan tidak tergesa-gesa).”79 B. Dua Jalan Mendapatkan Ilmu Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa ilmu tidaklah didapat dengan begitu saja. Ia membutuhkan sebuah proses yang panjang sehingga bisa meresap ke 78 HR. Abu Daud dalam Sunannya, Kitab: al-‘Ilmi, Bab: al-Hatstsi ‘ala Tholabi al-‘Ilm, hlm. 482, hadits no. 3641; Ibnu Majah dalam Sunannya, Bab: Fadhli al-‘Ulamaa-i wa al-Hatstsi ‘ala Tholabi al-‘Ilm, hlm. 35, hadits no. 223; Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: al-‘Ilmi, Bab: maa Jaaa fi Fadhli al-Fiqhi ‘ala al-‘Ibaadah, hlm. 501, hadits no. 2682. Hadits Shohih. 79 HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitab: al-Iman, Bab: al-Amri bin alIimaani billahi Ta’ala wa Rosuulihi Shollallohu ‘alaihi wa sallam wa Syaraa-i’i ad-Diini wa ad-Du’aa-i ilaihi wa as-Su-aali ‘anhu wa Hifzhihi wa Tabliighihi man lam Yablughhu, hlm. 32, hadits no. 17 (25); Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab: az-Zuhd, Bab: al-Hilm, hlm. 465, hadits no. 4188; at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab: al-Birri wa ash-Shilah, Bab: maa Jaa-a fi at-Ta-anni wa al-‘Ajalah, hlm. 385, hadits no. 2011; al-Bukhori dalam al-Adabu al-Mufrad, Bab: at-Tuadatu fi al-Umur, hlm, 156, hadits no. 586. Hadits Shohih.


116 dalam hati-hati para pelajar dan penuntut ilmu. Ia tidak instan, namun harus dilalui bertahap selangkah demi selangkah sehingga mahkotanya dapat diraih. Dalam dunia pendidikan modern dikenal banyak sekali metode dan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam menyampaikan ilmu secara epektif. Berbagai cara dan gaya juga dipraktikkan oleh seorang pendidik untuk membentuk murid-muridnya sesuai dengan tujuan pendidikan, sesuai dengan maksudmaksud serta kemauan sang guru. Tak terkecuali K.H. Abdul Mughni. Sebagai seorang guru beliau pun memiliki metode dan pendekatan sendiri yang beliau gunakan untuk menghantarkan murid-murid beliau ke tangga pencapaian ilmu, sehingga mereka dapat meraih dan merasakan manisnya buah-buah ilmu. Ilmu yang menjadi amal dan terbingkai indah dalam bingkai akhlak yang mulia. Berdasarkan apa yang kami rasakan saat belajar kepada K.H. Abdul Mughni, setidaknya ada dua jalan mendapatkan ilmu. Pertama, jalan thoriqoh, yaitu jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang ingin memiliki ilmu. Jalan ini dilakukan dengan melakukan aktivitas akademis pada umumnya, seperti belajar kepada guru, membaca, menelaah, diskusi, menghafal, dan mengajarkan serta mengamalkan apa yang telah didapatkan. Semua hal tersebut hanya akan dapat berjalan dengan baik bila didasari dengan kesungguhan. Karena pada hakikatnya, mencari dan mendapatkan ilmu itu merupakan sebuah pekerjaan yang teramat berat. Bila


117 tanpa adanya kesungguhan, rasanya mustahil ilmu akan didapatkan, meskipun perjalanan jauh telah ditempuh. Dalam sebuah kesempatan beliau berkata kepada kami, bahwa belajar tidak perlu jauh. Kalau di tempat yang dekat, di kampung sendiri masih ada yang bagus, yang terpenting adalah kesungguhan. Kemanapun pergi belajar dan mengaji kalau tidak serius, tidak sungguh-sungguh, juga tidak akan berhasil. Kemudian beliau mencontohkan diri beliau sendiri yang boleh dibilang hanya belajar di pesantren kampung sendiri, namun karena beliau sungguh-sungguh, dan didukung oleh kemumpunian sang guru, alhamdulillah ilmu itu pun didapatnya. Kedua, jalan i’anah dan inabah, yaitu jalan mendekatkan diri kepada Alloh. Jalan kedua ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, dengan banyak berdoa, memohon pertolongan kepada al-‘Alim. Banyak orang yang pernah belajar dengan beliau mungkin tidak akan asing dengan salah satu doa yang beliau ijazahkan kepada para murid-murid beliau, atau pun orang-orang yang berkunjung kepada beliau untuk meminta nasihat. Doa atau wirid80 yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 100 kali dalam sehari ini, berbunyi: 80 Menurut pengakuan beliau, doa ini beliau dapatkan saat beliau masih muda bersama dengan dua orang sahabatnya, yaitu H. Abdul Rasyid dan satu orang lagi yang kami lupa namanya, berziarah (mengunjungi) K.H. Tubagus Muhammad Falak atau biasa dipanggil Kyai Falak (Bogor) yang merupakan seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan pendiri Pesantren Al-Falak, Pagentongan, Bogor. Masih menurut cerita beliau, saat berkunjung ke rumah Kyai Falak, mereka yang datang bertiga dipanggil menghadap satu persatu,


118 ْ ه َّزا ُق َ ْب ِّل َ ر َ ي َي ِ ْق ِّل ِرز َ ةً # و َ ْكم َحِ ا و ً لْم ُب عِ َّها َ و َ ًل َي ِ ه َ ُس م ْ ِّل ْ ُكن “Berilah untukku ya Alloh yang Maha Memberi akan ilmu dan hikmah. Dan berikanlah untukku rizki ya Alloh yang Maha Memberi rizki jadikanlah untukku kemudahan.”81 Kandungan yang terdapat dalam doa, atau bacaan wirid, yang diijazahkan oleh K.H. Falak82 ini kepada beliau, kemudian beliau ijazahkan kepada murid-murid beliau, adalah permohonan hamba kepada Alloh agar diberikan dan dimudahkan dalam dua hal, yaitu diberi dan dimudahkan dalam ilmu dan hikmah; serta diberikan kemudahan dalam rizki. Dua hal ini bagi seorang pelajar merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam studinya, karena keduanya saling mendukung. Al-Zarnuji (hal. 56) mengatakan, “Dengan harta yang dimiliki, hendaknya hingga akhirnya sampai giliran beliau. Dihadapan Kyai Falak, beliau ditanya tentang maksud dan tujuannya. Maka beliau mengatakan, bahwa beliau ingin diberikan kemudahan dalam belajar dan memahami ilmu serta rizki. Maka Kyai falak meminta beliau mendekat, kemudian meniup ubun-ubun beliau sambil berdoa, kemudian memberikan doa atau wirid tersebut sebelum pulang. 81 Demikian arti doa atau wirid tersebut yang langsung diberikan oleh K.H. Abdul Mughni, sebagaimana tampak terlihat dalam gambar tulisan tangan beliau atas wirid tersebut. 82 Beliau adalah K.H. Tubagus Muhammad Falak. Lahir di Pandeglang, 0 Desember 1842 dan meninggal di Bogor, 19 Juli 1972 dalam usia 130 tahun. Dibesarkan dalam lingkungan pesantren, karena ayahnya, K.H. Tubagus Abbas, seorang pemimpin pesantren yang juga keturunan Sunan Gunung Jati. Dalam usia 15 tahun beliau sudah mahir ilmu seperti akidah, fiqh, dan bahasa Arab. Selain itu, beliau juga terkenal menguasai ilmu bela diri. Selanjutnya pergi ke Mekah bersama K.H. Abdul Karim al-Bantani, yang juga guru beliau, untuk belajar sekaligus menuntut ilmu. Selama 21 tahun beliau belajar di Mekah. Wikipedia (2021).


119 suka membeli kitab dan menggaji penulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan bertafaqquh (memahami pelajaran).” Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 9. Tulisan Tangan Wirid K.H. Abdul Mughni Kedua, berusaha membersihkan diri dengan jalan taubat atas segala dosa yang mungkin telah dikerjakan. Hal ini dapat diidentifikasikan dari pesan beliau yang pada beberapa kesempatan mengutip perkataan–atau lebih tepatnya disebut keluhan–Imam asy-Syafi’i kepada guru beliau, Imam Waki’: ِص فَأَ ي ا َ ع َ الْم ْكِ َر ََل ت ِ ْ َش َدِِن إ ي ر ْفظِ َ حِ ء ْ و ُ ٍع س ْ ي كِ َ ََل و ِ ْ ُت إ َش َكو ِصي ا َ ع ِ ْ َدى ل ه ُ ِهللا َال ي ُ ر ْ ُو ن َ ٌ و ر ْ ُو ن َ لْم ِ ِِن ِأبَ َّن الْع َ ر َ ْخب أَ َ و Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau juga memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Alloh tidaklah mungkin diberikan kepada para pelaku maksiat. 83 83 Dikutip oleh Muhammad Syaththa’ ad-Dimyati dalam I’anatu ath-Tholibin, jilid 2, hlm. 190. Dikutip juga oleh Muhammad Ali ash-


120 Perhatikan bagaimana sebuah kemaksiatan merusak kekuatan hafalan, padahal dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, hafalan merupakan ujung tombak. Dan lihatlah siapa yang terkena penyakit tersebut, Imam asy-Syafi’i yang memiliki kekuatan hafalan di atas rata-rata. Bagaimana tidak, beliau telah hafal al-Qur’an ketika berusia 7 tahun, menghafal kitab al-Muwaththo’ karya Imam Malik ketika berusia 10 tahun, dan sudah diperbolehkan mengeluarkan fatwa dalam usia 15 tahun. Dan malangnya, maksiat yang dikerjakan oleh asy-Syafi’i itu hanya berupa ketidaksengajaan.84 Bagaimana bila maksiat dan dosa tersebut dilakukan dengan sengaja? Tentu lebih dahsyat lagi efeknya. Sa’id Ruslan mengatakan dalam Fadhlu al-‘Ilmi wa Adabu Tholabatihi (2018, hal. 265): Shabuni, at-Tibyan fi ‘Ulumi al-Qur’an (Qohirah: Dar al-Mawahibi alIslamiyyah, 2016), hlm. 179. 84 Lengkapnya cerita begini, ketika itu Imam asy-Syafi’i mengadukan kepada gurunya, Imam Waki’. Beliau berkata, “Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Imam Waki’ lantas bertanya, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkan kembali.” Imam asy-Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya. Apakah gerangan dosa yang telah ia perbuat. Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya (ada yang mengatakan yang terlihat adalah mata kakinya). Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya. Kemudian keluarlah sya’ir di atas. Dikutip dari: Rumaysho.com. Dapat diakses dalam: https://rumaysho.com/2062-cahaya-allah-akan-jauh-dari-pelakumaksiat.html


121 ِب َال ْ ُو ذن ُن ِِبل ُّ ْ ُو ْشح َ ُب الْم الَقلْ َكا ٌن َ م ِ ه ْ ي ِ َقى ف ْ ب َ َال ي َ لِْم و ِ ا َل الْع َ ْقب ِ ت ْ اس ُ ْع ي َطِ ت ْ َس ي َ ُو َّذِي ه لِْم ال ِ لْع ِ َّْي ل ال َّصالِِ ِ ه ادِ َ ب ْ عِ ن ِ َ م اد َ أَر ْ َن ِِف قَ لْ ِب م ُ هللاُ فُه ْقذِ َ ي ٌ ر ْ ُو ن “Hati yang dipenuhi dosa tidak akan mampu menerima ilmu karena tidak tersisa lagi tempat bagi ilmu, yang merupakan cahaya yang Alloh berikan bagi siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya yang sholih.” Pesan yang hendak disampaikan oleh K.H. Mughni dengan menyampaikan syair Imam asy-Syafi’i ini jelas dan terang sekali, yaitu agar murid-murid beliau berusaha sedapat mungkin menjauhi dan meninggalkan berbagai bentuk dosa dan kemaksiatan. Apalagi di saat mereka sedang dalam kondisi belajar, satu kondisi yang membutuhkan konsentrasi pikiran, kebagusan amal perbuatan dan kedekatan kepada Alloh. Dan bila terlanjur jatuh dalam dosa dan kemaksiatan, maka jalan satusatunya adalah bertaubat. Dengan melakukan pertaubatan atas dosa dan maksiat yang terlanjur dikerjakan, harapannya sang murid bisa kembali ke jalan yang benar, jalan yang lurus, hingga cahaya ilmu pun kembali dengan mudah disinari ke dalam relung hati dan perasaannya. Tidak berhenti sampai di situ, ilmu yang telah masuk dalam hati dan perasaan tersebut juga diharapkan bisa menyinari pemiliknya, dan pada gilirannya juga menyinari orang-orang sekelilingnya. Bentuk lain dari inabah, beliau juga senantiasa berpesan kepada kami murid-murid beliau agar tidak menampakkan kesombongan dalam bentuk gaya berpakaian yang berlebihan. Menampilkan diri secara


122 sederhana, sedang-sedang saja. Tidak berpakaian gayanya ulama-ulama besar. Padahal ilmu di dada belumlah seberapa.85 Namun juga tidak terlampau merendahkan diri dengan gaya pakaian kusut dan menghinakan diri. Beliau juga menasihati kami murid-murid beliau agar tidak gampang memberikan pujian dan sanjungan kepada seseorang sebelum diketahui kadar ilmunya; ataupun memberikan sanjungan atau gelaran yang tidak sesuai dengan kemampuan ilmu yang ada padanya. Beliau juga menasihati kami murid-murid beliau agar dalam memberikan sanjungan tidak berlebih-lebihan kepada seseorang kecuali bagi mereka yang memang telah teruji untuk itu dan pantas serta layak mendapatkannya. Pesan implisit dari nasihat beliau minimal ada dua hal. Pertama, menjaga anggota badan dari berbuat kesombongan, yang dalam hal ini dinterpretasikan dengan gaya berpakaian yang berlebihan. Berlebihan dalam hal paling menonjol karena berbeda dengan pakaian pada umumnya, ataupun berlebihan dalam menampakkan kelusuhan. Baik berlebihan dalam hal menonjolkan pakaian yang berbeda dengan masyarakat umum maupun berlebihan dalam hal kelusuhan merupakan dua hal yang dilarang. Dikhawatirkan keduanya masuk dalam katagori pakaian syuhroh (Libasu Syuhroh) atau pakaian ketenaran. 85 Bila ini dilakukan, maka berarti dia telah melakukan dua kebohongan, yaitu kebohongan pada diri sendiri dengan mengaku memiliki ilmu padahal tidak; dan membohongi orang lain dengan menampilkan seakan-akan dirinya adalah salah seorang ahli ilmu, padahal bukan. Tentu saja sifat seperti ini sangatlah tercela.


123 Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٍ ة َ ْر ْ َب ُشه َو ث َ ِس لَب ْ َن م ِ ة َ ام َ ي ِ الْق َ م ْ َو ي ٍ ة َّ َذل َ ْ َب م َو ث ُ هللاُ ه َ َس ا أَلْب َ ْي دن ِِف ال ُّ “Barangsiapa yang mengenakan pakaian syuhroh (pakaian ketenaran) di dunia, maka Alloh akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.”86 Kedua, menjaga lisan agar tidak “latah” dalam memberikan penilaian tanpa terlebih dahulu melakukan penelitian. Akibat lisan yang latah, bagi orang yang dipuji akan mendatangkan kesombongan, kecuali bila yang dipuji sanggup mengendalikan hawa nafsunya; bagi yang memuji akan jatuh pada pengagungan yang bukan pada tempatnya, tertipu dengan tampilan luar atau tersesat oleh sebutan orang, dan menyesatkan orang yang mendengarkan pujian tersebut. Sehingga orang yang tersesat dalam menyanjung itu pun akan memberikan pula sanjungan yang kemungkinan akan didengar orang, dan seterusnya secara berantai. Dan ini termasuk dalam penyakit lisan. Maka ketika ia telah dapat mengusainya, maka ia akan terhindar dari bahayanya. 86 HR. Abu Daud dalam Sunannya, Kitab: al-Libaas, Bab: Fi Lubsi asy-Syuhroh, hlm. 527, hadits no. 4029; Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab: al-Libaas, Bab: Man Labisa Syuhrotan min ats-Tsiyaab, hlm. 399, hadits no. 3606. Hadits Hasan.


124 BAB 5 MENGIKUTI TES PEGAWAI NEGERI DAN NASIHAT SINGKAT SANG GURU “Sabarlah dalam menuntut ilmu, karena dia panjang jalannya.” ~K.H. Abdul Mughni (1937-2019)~ Salah satu perbedaan terbesar antara negara-negara maju dan berkembang dalam hal orientasi pekerjaan adalah peminatan warganya dalam mengejar status sebagai pegawai pemerintah. Bila di negara-negara maju warganya lebih menggandrungi lahan pekerjaan pada sektor swasta, dengan menjadi wiraswasta atau pengusaha, maka di negara kita tercinta ini menjadi pegawai negeri merupakan impian sebagian besar warganya. Tentu saja mereka memiliki segudang alasan untuk itu, mulai dari alasan status sosial, kemapanan, masa depan, hingga harapan tunjangan pensiun kala senja dan tidak lagi sanggup berusaha.87 Semua alasan tersebut 87 Data yang dirilis oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) menunjukkan bahwa hingga tahun 2019 tercatat sebanyak 4.286.918 warga Indonesia berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Jumlah tersebut mengalami peningkatan sekitar 100.000 pegawai dari bulan Desember 2018. Badan Kepegawaian Negara. 2018. Statistik


125 dibenarkan dan manusiawi karena biar bagaimanapun, kenyamanan akan masa datang atau masa depan merupakan harapan semua orang. Sebagai seorang tokoh agama (baca: ulama) yang disegani K.H. Abdul Mughni muda pernah disarankan untuk mengikuti rekrumen Pengawai Negeri Sipil (PNS) oleh salah seorang sahabat beliau yang telah berstatus sebagai PNS di lingkungan Departemen Agama (Depag), sekarang Kementerian Agama (Kemenag). Sahabat beliau tersebut memberikan jaminan kepada beliau “asal ikut tes” pasti lulus. Asalkan beliau terdaftar dalam peserta tes PNS dan asal mengikuti tes saja–sebagai syarat formalitas– maka beliau dijamin lulus. Jaminan yang menggiurkan sesungguhnya, apalagi juga tanpa disertai adanya “katabelece” ataupun uang pelicin. Berdasarkan cerita beliau kepada kami, atas dorongan sahabatnya tersebut beliau akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti tes seleksi penerimaan PNS dilingkungan Departemen Agama selama dua hari. Hari pertama beliau ikuti tes dengan baik. Tinggal menyisakan satu hari lagi sebagai “syarat formalitas” dari sahabatnya. Bila esok hari beliau datang lagi untuk tes, maka dipastikan beliau akan lulus menjadi seorang PNS Depag. Selesai tes hari pertama, beliau bersilaturahmi ke rumah sang guru, K.H. Muchtar Thobroni. Selain PNS per Desember 2018: Tenaga Guru dan Kesehatan Menjadi Fokus Pemenuhan Kebutuhan ASN. Siaran Pers.


126 bersilaturahmi beliau juga menceritakan dan memohon doa restu kepada K.H. Muchtar Thobroni perihal keikutsertaannya dalam seleksi pegawai negeri. Namun bukan doa restu yang didapat melainkan ucapan keras K.H. Muchtar Thobroni kepada beliau, “Eluh segala begituan dipengenin. Urusin aja majelis taklim. Gedean mana sih gaji dari Allah ama dari manusia”. Sebagai seorang murid, K.H. Abdul Mughni sadar betul makna ucapan dari guru beliau tersebut. Dan dikalangan santri, pilihan dari seorang guru merupakan pilihan yang terbaik dan telah teruji dari sisi ilmu dan pengalaman. Terkait dengan hal tersebut, al-Zarnuji berkata dalam Ta’lim Muta’allim (hal. 19): لٍْم ْ َع عِ َو ن َ ار َ لِْم أَ ْن َال َيْت ِ ِب الْع ِ طَال ِ ى ل ِ غ َ ب ْ ن َ ي َ و اذِ َ ت ْ ََل اْلُس ِ إ ُ ه َ ْر ُض أَم ِ َّقو ُ ي ْ َل ب ِ ِسه َ ْف ن ِ ب َك ِ ُ ُب ِِف ذَل ار َ التَّج ُ لَه َ َ َصل اذَ قَ ْد ح َ ت ْ ِ َّن اْلُس فَإ ا َ م َ َ و َدٍ ِ أَح ُكل ِ ى ل ِ غ َ ب ْ ن َ ا ي َ َف م َ َر ع َ و ِ ه ِ ت َ ع ْ ي ِ ِطَب ْ ُق ب ي ِ ل َ ي “Hendaknya sang murid jangan menentukan pilihan sendiri terhadap ilmu yang akan dipelajari. Hal ini dipersilahkan sang guru untuk menentukannya, karena dialah yang telah berkalikali melakukan percobaan serta dia pula yang mengetahui ilmu apa yang sebaiknya diajarkan kepada seseorang dan sesuai dengan tabiatnya.” Relasinya? Seorang guru lebih memahami potensi yang dimiliki seorang murid dan lebih jauh pandangannya ke depan. Maka sudah sewajarnya seorang murid tidak lepas dari pendapat dan pandangan sang guru dalam


127 memilih ilmu, apalagi memilih hal yang terkait dengan jalan kehidupan. Merasa tidak mendapatkan restu sang guru, beliau akhirnya membatalkan niatnya menjadi seorang pegawai negeri. Maka keesokan harinya, beliau tidak datang mengikuti tes PNS di hari kedua, hari terakhir yang akan menentukan statusnya. Mengetahui hal tersebut, sahabat beliau bertanya kepada beliau perihal ketidakhadirannya dalam tes hari kedua. Kemudian diceritakan oleh beliau bagaimana sikap guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni setelah mengetahui perihal keikutsertaannya dalam seleksi pegawai negeri. Meskipun awalnya sahabatnya tersebut menyayangkan, tapi ia akhirnya menghormati sikap dan keputusan yang diambil oleh beliau, apalagi sikap dan keputusan tersebut awalnya lahir dari pertimbangan seorang ulama yang waskita, yakni K.H. Muchtar Thobroni. Hanya berdasarkan nasihat singkat tersebut, akhirnya K.H. Abdul Mughni batal jadi pengawai negeri. Sebuah pekerjaan yang banyak diimpikan oleh orang-orang dari semenjak dulu hingga sekarang. Tetapi beliau meyakini, mungkin ada hikmah dibalik sikap dari guru beliau tersebut. Memetik Hikmah Kehidupan Bagi kita yang saat ini sedang membaca fragmen kehidupan K.H. Abdul Mughni serta berusaha menggali dan mengeluarkan mutiara yang terpendam dalam bentangan panjang dari kehidupan beliau yang diberkahi, adakah mutiara hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik


128 dari peristiwa tersebut? Dari sebaris nasihat sang guru kepada muridnya? Dalam nazhar (pandangan) kami yang dhoif, rangkaian peristiwa tersebut bukanlah hanya sebatas peristiwa kehidupan biasa. Biar bagaimanapun, dalam peristiwa singkat tersebut pasti menyimpan butiran hikmah dan pelajaran. Apalagi sejatinya inti dari fragmen tersebut masih ada di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, bahkan ia menjadi tujuan hidup bagi sebagian orang. Di antara hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari cerita pendek tersebut adalah sebagai berikut. A. Regenerasi Ulama Sebagaimana telah diungkit sebelumnya, bahwa K.H. Abdul Mughni merupakan seorang murid yang teramat dekat dengan sang guru, K.H. Muchtar Thobroni, dan merupakan murid beliau yang nomor satu. Segala ilmu terkait dengan Islam telah diberikan dan dapat diterima dengan baik. Sebagai seorang guru yang linuwih, K.H. Muchtar Thobroni mengetahui potensi yang terdapat dalam diri muridnya tersebut. Apalagi sekarang ia telah berbekalkan ilmu juga. Dan beliau tidak ingin segala potensi itu hancur oleh urusan duniawiyah. Bahkan sesungguhnya beliau telah mempersiapkan murid kesayangannya itu sebagai penerus estapeta keilmuan beliau.88 88 Beliau pernah bercerita kepada kami perihal motif K.H. Ishomuddin Muchtar Lc yang memerintahkan putrinya mengaji kepada beliau, yaitu agar sang cucu mendapatkan juga keberkahan ilmu sang kakek, yakni K.H. Muchtar Thobroni, lewat beliau.


129 Itulah sebabnya, K.H. Muchtar Thobroni tidak merestui sang murid “menyimpang” dengan cara menjadi pegawai negeri. Beliau berharap agar muridnya itu menjadi penerus yang membawa obor dakwah dan pengajaran di masyarakat. Oleh sebab itu, dalam nasihat pendek itu sebenarnya memuat dua hal sekaligus. Pertama, ketidaksetujuan K.H. Muchtar Thobroni atas pilihan sang murid; dan kedua, solusi atau pilihan yang lebih baik dari sang guru.89 Dan ternyata apa yang dipilihkan sang guru tidaklah meleset, namun memberikan dampak yang sangat baik bagi kehidupan sang murid ke depannya.90 Peristiwa ini juga mengajarkan kepada umat ini agar senantiasa melakukan regenerasi ulama, mempersiapkan mereka sedini mungkin. Karena mencetak kader ulama tidaklah mudah dan gampang. Butuh “orang-orang pilihan” sebagai bahan untuk mencetak lahirnya seorang ulama. Sehingga ketika seorang ulama wafat maka umat ini tidak sampai kehilangan pelita penerang dan penunjuk jalan kehidupan mereka. Dikhawatirkan bila ulama yang benar-benar “oelama” sudah habis stoknya maka umat 89 Dari sebaris nasihat tersebut nyatalah dihadapan kita kualitas K.H. Muchtar Thobroni. Hanya dengan satu kalimat pendek, beliau sanggup mengumpulkan dua permasalahan dalam satu kalimat. Pertama adalah tegahan (larangan) dan kedua pilihan atau persetujuan. Sebagaimana dalam kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah, ringkas namun memuat dua hal. Pertama, penafian dan kedua penetapan (itsbat). 90 Beliau pernah bercerita kepada kami soal pilihan K.H. Muchtar Thobroni ini, dan beliau sangat bersyukur atas pilihan yang diberikan oleh sang guru karena pilihan tersebut mendatangkan keberkahan besar dalam hidup beliau.


130 akan mengangkat orang-orang jahil menduduki posisi ulama. Bila itu terjadi, sungguh hanya kesesatan yang akan tersebar di tengah-tengah umat. B. Menjaga Mentalitas Alasan lain yang kami dapati dari sikap sang guru terhadap beliau adalah K.H. Muchtar Thobroni menghendaki agar mental sang murid tetap terjaga dari kemungkinan anasir-anasir tidak baik yang akan menumbuhkan sikap cinta dunia. Sedangkan beban sang murid untuk meneruskan dakwah dan pengajaran beliau di masyarakat teramat berat serta membutuhkan mental dan daya juang yang ekstra. Di antara mentalitas yang hendak ditumbuhkan oleh K.H. Muchtar Thobroni kepada sang murid, terkait dengan tugas beratnya kelak, antara lain sabar, qona’ah, ‘iffah dan wara’. Kesemua sikap yang mulia tersebut akan tumbuh dengan baik bila sang murid berada di luar lingkaran kekuasaan. Tidak dekat dengan sumber-sumber kekuasaan. Dengan “melarang” beliau ikut masuk dalam jajaran aparatur pemerintah K.H. Muchtar Thobroni juga secara implisit hendak membentuk kader ulama mandiri yang tidak bergantung pada uluran tangan pemerintah. Dan memang seharusnya demikian, bila seseorang ingin menjadi ulama-ulama yang wara’, yang dapat menjaga diri dan hatinya, menjaga kelurusan pendapat dan fatwanya, maka janganlah berharap kepada pemberian pemerintah. Konsistensi seseorang sebagai ulama salah satunya sangat ditentukan oleh hal tersebut. Dan apa yang


Click to View FlipBook Version