The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI
MATERI KETENTUAN IBADAH QURBAN KELAS V
SD MUHAMMADIYAH 1 TENGGARONG
TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Siti Aminah, 2023-06-30 10:45:08

PTK Siti Aminah

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI
MATERI KETENTUAN IBADAH QURBAN KELAS V
SD MUHAMMADIYAH 1 TENGGARONG
TAHUN PELAJARAN 2020/2021

i PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI MATERI KETENTUAN IBADAH QURBAN KELAS V SD MUHAMMADIYAH 1 TENGGARONG TAHUN PELAJARAN 2020/2021 OLEH : SITI AMINAH, M.Pd KTAM. 1080825 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2021


ii HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan “Ar-Rasyiid” di SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara hasil karya dari: Nama : SITI AMINAH, M.Pd KTAM : 1080825 Judul : Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2020/2021 Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan “Ar-Rasyiid” SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Tenggarong, 30 Juni 2021 Pustakawan MAULIDA DWI PURNAWATI KTAM. 266189 Kepala Sekolah ARQAM KADIR LAMAHU, S.Pd KTAM. 1231091


iii ABSTRAK Siti Aminah. 2021. Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2020/2021 Kata Kunci: Problem Based Leraning, Prestasi Belajar, dan PAI Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Pembelajaran Agama Islam tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain melalui model pembelajaran problem based learning. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggrong Tahun Pelajaran 2020/2021? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa Model Pembelajaran Problem Based learning dapat meningkatkan prestasi belajar PAI Materi Ketentuan Ibadah Qurban kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggrong Tahun Pelajaran 2021/2022?” Model yang digunakan peneliti yaitu model Kurt Lewin yang menyatakan bahwa PTK terdiri atas beberapa siklus , setiap siklus terdiri atas empat langkah yaitu perencanaan, aksi atau tindakan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Pelajaran 2020/2021. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa Penerapan model problem based learning pada mata pelajaran PAI materi ketentuan ibadah qurban dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Peningkatan tersebut terlihat dari nilai rata-rata posttest siklus I yaitu 70 dengan nilai ketuntasan mencapai 65 %. Sedangkan nilai rata-rata posttest siklus II yaitu 90 dengan nilai ketuntasan mencapai 80%. Dengan demikian penerapan model problem based learning dianggap berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa SD Muhammadiyah 1 Tenggarong dalam


iv materi ketentuan ibadah qurban karena telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75%.


v KATA PENGANTAR Segala puji adalah milik Allah Subhanahuwata’ala. Dia-lah dzat yang telah memberikan kita segala nikmat karunia yang tak terhingga. Ucapan syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah Sang Penggenggam jagat raya yang telah memberikan rahmat dan ridha-Nya sehingga penelitian tindakan kelas ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada idola utama umat Islam yaitu Nabi Muhammad Saw beserta keluarga. Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Materi Ketentuan Ibadah Qurban Kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2021/2022” ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Tersusunnya laporan penelitian tindakan kelas ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Karena itulah penulis mengucapkan banyak terima kasih. Pertama-tama ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara 2. Yth. Ketua PD II PGRI Kabupaten Kutai Kartanegara 3. Bapak Arqam Kadir Lamahu, S.Pd selaku kepala sekolah SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kutai Kartanegara yang telah memberi izin penelitian, dorongan, semangat dan bantuannya kepada penulis 4. Semua guru-guru SD Muhammadiyah 1 Tenggarong yang telah memberi dukungan serta doa baik materil maupun non materil 5. Ibu Mahisti Fitri Lestari, S. Pd selaku Wali Kelas V Al-Haliim yang telah memberikan izin penulis dalam pelaksanaan praktek mengajar. 6. Siswa kelas V Al- Khabiir SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Kutai Kartanegara Tahun Pelajaran 2021/2022 yang bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini. 7. Keluargaku tercinta yang telah memberikan dukungan, doa, semangat yang tiada terkira untuk kelancaran pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini hingga tuntas.


vi 8. Semua pihak yang telah membantu sampai terselesaikannya Penelitian Tindakan Kelas hingga selesai Jazakumullahu khairu jaza. Semoga segala kebaikan dan keberkahan mengiringi setiap niat, langkah, dan perjuangan yang telah diberikan, serta mendapatkan balasan terbaik dari-Nya. Semoga penelitian tindakan kelas ini bermanfaat, dapat dijadikan referensi ilmiah, dan menambah khazanah pengetahuan tentang dunia pendidikan. Tenggarong, 30 Juni 2021 Penulis


vii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………… i LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN ……………………….. ii ABSTRAK ………………………………………………………………….. iii KATA PENGANTAR ………………………………………………………. v DAFTAR ISI ………………………………………………………………… vii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang …………………………………………… 1 B. Perumusan Masalah ……………………………………… 5 C. Tujuan Penelitian …………………………………………. 5 D. Manfaat Penelitian ………………………………………. 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA/KAJIAN TEORI A. Model Pembelajaran Problem Based Learning ………….. 6 B. Prestasi Belajar …………………………………………… 11 C. Pendidikan Agama Islam …………………………………. 12 D. Penelitian Terdahulu Yang Relevan ……………………… 13 E. Hipotesis Tindakan …………………………………… 14 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Peneletian ……………………………………. 16 B. Lokasi, Waktu, dan Subjek Penelitian …………………. 18 C. Prosedur Penelitian ………………………………………. 18 D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………. 28 E. Teknik Analisis Data …………………………………….. 30 F. Indikator Keberhasilan PTK ……………………………… 33


viii G. Instrumen PTK …………………………………………… 34 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pra Siklus ……………………………………… 39 B. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I ………………. 40 C. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II ……………… 58 D. Analisis Data dan Pembahasan …………………………… 74 BA V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………………………………………………. 77 B. Saran ……………………………………………………… 77 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 79 LAMPIRAN …………………………………………………………………. 81


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan bukan hanya memberi bekal kemampuan intelektual dalam membaca, menulis, dan berhitung saja melainkan juga sebagai proses mengembangkan kemampuan peserta didik secara optimal dalam aspek intelektual, sosial, dan emosional. Pendidikan adalah proses meningkatkan kualitas manusia baik dari segi pengetahuan, sikap, dan tertentu agar dapat bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi pendidikan tidak hanyamengembangkan kemampuan intelektual saja namun juga bagaimanamengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat dengan menanamkan nilai-nilai moral. Pendidikan merupakan proses interaksi antara peserta didik dan tenaga pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Disamping itu, guru sebagai pendidik profesional memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar.


2 Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Pembelajaran Agama Islam tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain melalui model pembelajaran problem based learning. Namun pada kenyataannya proses pembelajaran yang dilakukan guru masih belum berjalan secara maksimal khususnya pada mata pendidikan agama Islam (PAI). Salah satu penyebabnya adalah cara guru mengajar yang masih konvensional dengan ceramah, menjelaskan materi di depan kelas, dan melakukan tanya jawab dengan peserta didik yang bisa atau aktif di dalam kelas. Hal ini membuat proses pembelajaran didominasi oleh guru dan beberapa peserta didik saja. Sedangkan bagi peserta didik yang pasif, tidak memiliki banyak peran dalam proses pembelajaran. Hasil observasi pra siklus terhadap kelas V Al-Halim SD Muhammadiyah 1 Tenggarong dengan proses pembelajaran metode ceramah yang digunakan guru dalam menyampaikan materi ketentuan ibadah qurban dapat membuat pembelajaran menjadi membosankan. Peserta didik kurang diberi kesempatan untuk menyusun pengetahuannya sendiri dalam proses pembelajaran. Keadaan tersebut membuat peserta didik berpikir bahwa apa yang mereka pelajari di kelas tidak bermakna bagi kehidupannya kelas. Hal ini berdampak pada minat belajar anak yang berkurang pada pelajaran pendidikan agam Islam. Selain itu, karena kurangnya peran peserta didik dalam pembelajaran akan membuat peserta didik pasif, jenuh, dan bosan


3 sehingga berimbas kepada hasil belajar yang belum mencapai yang sesuai direncanakan. Adapun hasil dari proses pembelajaran tersebut di kelas V Al-Haliim standar ketuntasan adalah 75 melalui penugasan, masih banyak yang dibawah standar ketuntasan dari 20 peserta didik hanya 10 anak yang sudah memenuhi standar ketuntasan. Artinya baru sekitar 50% yang sudah memenuhi standar. 1 Dari sini penulis tergerak ingin meneliti dan melakukan penerapan model pembelajaran problem based learning dalam pembelajaran materi ketentuan ibadah qurban untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2020/2021. Peran aktif peserta didik sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Seseorang dapat dikatakan kreatif apabila ia secara konsisten dan terus-menerus menghasilkan sesuatu yang kreatif, yaitu hasil yang asli dan sesuai dengan kebutuhan saat ini. 2 Kreativitas siswa dapat dilihat dalam kemampuannya mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan, selain itu kreativitas siswa juga dapat dilihat dalam kecekatannya mengikuti proses belajar mengajar. Untuk menghindari penafsiran yang berbeda yang dapat ditimbulkan dari pembahasan judul penelitian yang penulis buat, maka ada beberapa kata dan istilah yang perlu penulis tegaskan antara lain : 1. Penerapan Penerapan adalah proses, cara, perbuatan menerapkan.3 2. Model Model adalah pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan.4 3. Problem Based Learning 1 Observasi tanggal 17 Maret 2021. 2 E. Mulyasa, Menjadi guru profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), 50. 3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses dari https://www.kbbi.web.id/terap-2/tanggal 22 Maret 2021 4 Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses dari https://www.kbbi.web.id/terap-2/tanggal 22 Maret 2021


4 Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik (bersifat kontekstual) sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.5 4. Meningkatkan Meningkatkan adalah menaikkan (derajat, taraf, dsb.); mempertinggi; memperhebat (produksi, dsb.)6 5. Prestasi Belajar Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru7 6. Materi Ketentuan Ibadah Qurban Merupakan yang terdapat dalam buku pendidikan Al-Islam yang disusun sesuai dengan spirit untuk mewujudkan prinsip-prinsip pendidikan holistik (holistik care) di lingkungan Muhammadiyah. Buku pendidikan Al-Islam ini disusun berdasarkan standar isi yang ditetapkan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat Muhamamdiyah Tahun 2018, yang telah dikembangkan sesuai dengan spirit Kurikulum 2013. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penerapan model problem based learning dalam pembelajaran materi ketentuan ibadah qurban untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2020/2021 adalah penelitian ilmiah yang meneliti hasil perubahan dan peningkatan prestasi belajar siswa setelah dilakukannya penerapan pendekatan Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan dengan dilihat dari hasil peningkatan prestasi belajar siswa melalui uji beberapa siklus yang dilihat dari penilaian sikap 5 Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran (Bandung: Refika Aditama.2009), 41 6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses dari https://www.kbbi.web.id/terap-2/tanggal 22 Maret 2021 7 Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses dari https://www.kbbi.web.id/terap-2/tanggal 22 Maret 2021


5 spritual (KI-1), penilaian sikap (KI-2), penilaian pengetahuan (KI-2), dan penilaian keterampilan (KI-4). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut : “Apakah melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggrong Tahun Pelajaran 2020/2021? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa Model Pembelajaran Problem Based learning dapat meningkatkan prestasi belajar PAI Materi Ketentuan Ibadah Qurban kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggrong Tahun Pelajaran 2020/2021?” D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu : a) Secara teoritis : memberikan sumbangsih tentang penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran Materi Ketentuan Ibadah Qurban. b) Secara praktis : bagi peneliti merupakan sebuah bekal pengalaman yang bermanfaat dalam mengaplikasikan model Problem Based Learning dalam pembelajaran di sekolah, karena sudah dipelajari dan diterapkan di Universitas. c) Bagi sekolah : dapat dijadikan sebagai bahan penelitian guna menambah pemahaman keilmuan khususnya bagi guru-guru ISMUBA yang lainnya, dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan bagi pengembangan pembelajaran di SD Muhammadiyah 1 Tenggarong.


6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Problem Based Learning 1. Pengertian Model Pembelajaran Secara umum, model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif. Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik (learning style) dan gaya mengajar guru (teaching style).8 Sedangkan Soekanto, dkk. mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar.9 Senada dengan Soekanto, dkk. Trianto mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. 10Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pendekatan dalam rangka mencari solusi untuk perubahan perilaku peserta didik melalui kerangka konseptual yang sistematis yang mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 2. Model Pembelajaran Problem Based Learning Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam 8 Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran (Bandung: Refika Aditama.2009), 41 9 Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran (Bandung: Refika Aditama.2009), 41 10 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori Dan Praktek (Jakarta: Prestasi Pusaka, 2007), 3.


7 kehidupan sehari-hari peserta didik (bersifat kontekstual) sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Problem Based Learning (PBL) menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. 3. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Based Learning Mengorientasi peserta didik pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang dilakukan oleh siswa maupun guru, serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu: a) Mengorientasi peserta didik pada masalah (1) Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi siswa yang mandiri. (2) Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan. (3) Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, sedangkan siswa harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya.


8 (4) Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. 11 b) Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran Disamping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa, masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini, misalnya: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.Setelah siswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar, selanjutnya guru menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. c) Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betulbetul memahami dimensi situasi permasalahan. 12 11 Modul teori belajar PPG Daljab 2022. UINSI Samarinda. Hal 82-83. 12 Ibdi Modul Terori Belajar PPG Daljab 2022. UINSI Samarinda hal. 83-84


9 Tujuannya adalah agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Guru membantu siswa mengumpulkan informasi sebanyakbanyaknya dari berbagai sumber, dan mengajukan pertanyaan pada siswa untuk berpikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. Setelah siswa mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan, dan pemecahan. Selama pembelajaran pada fase ini, guru mendorong siswa untuk menyampaikan ide-idenya dan menerima secara penuh. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta kualitas informasi yang dikumpulkan. d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artefak (hasil karya) dan pameran. Artefak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa berupa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artefak sangat dipengaruhi tingkat berpikir siswa. Langkah selanjutnya adalah memamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pameran ini melibatkan siswa lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik. Misalnya, hasil karya siswa dengan tulisan indah (kaligrafi dengan kertas biasa atau kanvas). e) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase


10 ini guru meminta siswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.13 Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. 4. Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Learning Sebagai suatu strategi pembelajaran, problem based learning memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: 1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran 2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa 3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa 4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dan kehidupan nyata 5) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajar 6) Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja. 7) Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa 8) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk 13 Ibid. Hal 85.


11 menyesuaikan dengan pengetahuan baru 14 9) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswam Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. Disamping keunggulan, problem based learning juga memiliki kelemahan, diantaranya: 1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba 2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan 3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.15 Adapun kekurangan lain sebagai berikut: 1) Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. 2) Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3) Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini B. Prestasi Belajar Definisi prestasi belajar menurut para ahli diantaranya : a) Menurut WS Winkel prestasi belajar adalah keberhasilan usaha yang dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu.16 14 M. Taufiq Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 73-79. 15 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, hlm. 221 16 Winkel WS, “ Bimbingan dan Konseling di Institusi pendidikan.”(Jakarta:Gramedia, 1987), 12


12 b) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yangdiberikan oleh guru. c) Menurut Djalal prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.17 d) Hamalik berpendapat bahwa prestasi belajar adalah perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu. 18 e) Saifudin Azwar mengatakan prestasi belajar merupakan dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan. 19 Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukkan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. Sedangkan prestasi belajar hasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kevakapan dari usaha yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukkan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif. Dalam sebuah pembelajaran yang terdiri dari dua orang yang saling membutuhkan yaitu guru dan murid, maka dibutuhkan dalam sebuah pembelajaran agar transfer ilmu tersampaikan dengan baik kepada para siswa,seorang guru harus memiliki keterampilan dalam menyampaikan pembelajaran dengan dilengkapi model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan. Guru dituntut dapat menguasai materi yang akan diajarkan kepada muridnya, karena jika guru tidak mempunyai strategi dalam menerapkan model pembelajaran maka kegiatan belajar mengajar tidak akan berjalan dengan maksimal.20 17 Djalal, MF “Penelitian dalam Pengajaran Bahasa Asing.” (Malang: P3T IKIP Malang, 1986). 3. 18 Hamalik Oemar, “Proses Belajar Mengajar.” (Bandung: Bumi Aksara,2001), 8. 19 Saifudin Azwar, “Pengantar Psikologi Intelegensi.” (Yogyakarta:Pustaka pelajar, 1996), 12. 20 Ulin Nuha, Ragam Metodologi & Media Pembelajaran (Yogyakarta: Diva Press, 2016) 145.


13 C. Pendidikan Agama Islam Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap peserta didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. Pendidikan agama islam mempunyai banyak definisi, diantaranya Tadjab mengemukakan. pendidikan agama islam adalah pendidikan yang berlandaskan ajaran islam. Muhamad Arifin juga mengemukakan bahwa, “ Pendidikan Agama Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) peserta didik melalui ajaran islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian pendidikan agama islam mengandung makna suatu upaya pendidikan yang dilaksanankan menurut ketentuan islam menyangkut penyesuaian materi, metode, dan berbagai komponen pendidikan lainya, serta memperbaiki potensi manusia untuk meningkatkan pengabdian diri kepada Allah SWT. Pendidikan agama islam merupakan pendidikan yang ditujukan untuk membentuk perilaku manusia yang mengabdi kepada Allah SWT. Apabila pendidikan dilaksanankan bertentangan dengan konsepsi Islam, maka bukanlah pendidikan agama islam atau dapat dikatagorikan sebagai proses pendidikan agama islam D. Penelitian Terdahulu Yang Relevan Adapun sebagai bahan perbandingan dengan penelitian yang terdahulu tentang Penerapan model Problem Based Learning atau pembelajaran


14 berbasiskan masalah yakni yang pertama, Jurnal Ilmiah yang ditulis oleh Hadits Awalia Fauzia tahun 2018 dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika SD” yang menyimpulkan bahwa Pemilihan model pembelajaran yang tepat adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan proses dan hasil belajar peserta didik. Salah satu model yang dapat digunakan adalah model problem based learning. Kedua Skripsi yang ditulis oleh Eko Suherman tahun 2019 dengan judul Penerapan Metode Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Pada Materi Perilaku Penyanyang Terhadap Lingkungan di Kelas III SD Negeri 3 Larangan Kecamatan Pangadegan Kabupaten Purbalingga Tahun 2018/2019 yang menyimpulkan bahwa penerapan model problem based learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung, aktif, mandiri, kreatif, berpikir kritis selama pembelajaran serta pembentukan suatu konsep yang real dan sistematis. Sehingga pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan dan meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, melalui model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi penyayang terhadap lingkungan. Hubungan kedua penelitian terdahulu tersebut karena sama-sama membahas tentang penerapan model pembelajara problem based learning untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Akan tetapi, perbedaan keduanya adalah selain mata pelajaran yang berbeda sebagai fokus penelitian juga jenis karya ilmiah juga berbeda sehingga prosedur dan metode penelitian juga berbeda. E. Hipotesis Tindakan Berdasarkan tujuan dan kegunaan penelitian sebagaimana yang telah diuraikan diatas, maka dapat diperoleh hipotesis sebagai berikut, Penerapan model Problem Based Learning dapat berjalan dengan baik dan efisien dalam pembelajaran Materi Ketentuan Ibadah Qurban SD Muhammadiyah 1 Tenggarong Tahun Pelajaran 2021/2022 dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sesuai dengan KKM yang telah ditentukan.


15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian dalam suatu penelitian ilmiah digunakan sebagai pedoman peneliti untuk melakukan penelitian.Penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian denganjenis PTK partisipan yaitu suatu jenis penelitian yang mana peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencatat, dan mengumpulkan data lalu menganalisa data yang diakhiri dengan laporan hasil penelitian. Disini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.21 Model yang digunakan peneliti yaitu model Kurt Lewin yang menyatakan bahwa PTK terdiri atas beberapa siklus , setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu : 23 a) Perencanaan, disini meliputi data-data yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh peneliti seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pem belajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus, selanjutnya menyiapkan pedoman observasi, instrumen penilaian. b) Aksi atau tindakan, yang meliputi serangkaian kegiatan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, untuk tahap pertama melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan acuan didalam RPP. c) Observasi, adalah kegiatan pengumpulan data melalui pengamatan atas gejala, fenomena, dan fakta empiris yang terkait dengan masalah penelitian. Dalam kegiatan observasi peneliti bisa membawa check list, instrumen penilaian, atau catatan berkala sebagai instrumen saat observasi berlangsung. 21 Muallimin dan Rahmat Arofah Hari Cahyadi, “Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktik” (Depok: Ganding Pustaka, 2014), 18.


16 Sehingga dalam kegiatan observasi ada check list yang telah disusun oleh peneliti. Disini peneliti melakukan observasi saat pembelajaan Materi ketentuan ibadah qurban berlangsung dan mencocokkannya dengan RPP sesuai dengan materi/tema yang sedang diajarkan, dan mengisi daftar check list, penilaian dan catatan berkala, dari sini peneliti dapat menyimpulkan hasil observasi untuk dijadikan bahan penelitian lebih lanjut untuk menerapkan model problem based learning dalam pembelajaran materi ketentuan ibadah qurban dari sini peneliti dapat melihat pengaruh, perubahan dan peningkatan dari penguasaan materi setelah diterapkannya model problem based learning. d) Refleksi, merupakan kegiatan untuk melihat secara keseluruhan dari hasil yang dicapai. Refleksi tidak hanya melihat pada sisi keberhasilan saja, namun juga melihat ketidakberhasilan. Melalui reflekesi, guru akan dapat menetapkan apa yang telah dicapai dan apa yang belum dicapai, serta apa yang perlu diperbaiki lagi dalam pembelajaran berikutnya. disini peneliti melakukan refleksi dari penerapan model problem based learning dalam pembelajaran materi ketentuan ibadah qurban dengan cara mengadakan penilaian sikap spriritual, penilaian sosial, penilian keterampilan untuk peningkatan prestasi belajar siswa yang dilihat dari nilai hasil beberapa penilaian diatas tadi. Melihat dari beberapa siklus yang sudah dipaparkan, maka penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian lapangan atau penelitian “kancah” (field research), yaitu sebuah penelitian yang menggunakan satu lokasi tertentu sebagai proses untuk memperoleh sumber-sumber data. 22 Sehingga dalam hal ini peneliti mengambil lokasi penelitian di SD Muhammadiyah 1 Tenggarong, siswa kelas V pada Tahun Pelajaran 2021/2022 yang mana saya sendiri yang meneliti perkembangan dan keberhasilan belajar siswa di sekolah tempat saya mengajar. 22 M. Musfiqon, “Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan.” (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2012), 120.


17 B. Lokasi, Waktu dan Subjek Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas V Al-Khabiir SD Muhammadiyah 1 Tenggarong. Sekolah Dasar ini terletak di Jalan Danau Aji No. 57 RT. 33 Keluharan Melayu Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan penelitian ini akan dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2020/2021. Setting dalam penelitian tindakan kelas ini adalah setting di dalam ruang kelas dan diluar ruang kelas V Al-Khabiir yaitu pada waktu kegiatan belajar mengajar pendidikan agama islam berlangsung di SD Muhammadiyah 1 Tenggarong. C. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini dirancang dalam dua siklus terdapat empat tahapan dalam masimg-masing siklus yang terdiri: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Keempat langkat ini merupakan langkah yang berurutan; artinya langkah pertama harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum langkah kedua dilaksanakan, demikian seterusnya. Langkah pertama dan kedua merupakan kegiatan awal dari merencanakan perbaikan, sedangkan langkah yang ketiga merupakan prasyarat untuk langkah yang keempat. Adapun tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada bagan berikut.


18 Adapun rincian kegiatan yang dilakukan oleh penulis pada setiap tahapan adalah sebagai berikut: SIKLUS I 1. Perencanaan a. Menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk menentukan materi yang diajarkan dengan model PBL yang berpedoman pada Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi. b. Pembuatan perangkat pembelajaran yang diperlukan (pemetaan, silabus, RPP) yang berpedoman pada Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. c. Menyiapkan perangkat pembelajaran berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan alat peraga yang akan digunakan selama proses pembelajaran di kelas. d. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. e. Menyusun instrumen tes untuk setiap siklus 2. Tindakan Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada skenario pembelajaran yang telah dirancang yaitu melalui pembelajaran dengan model PBL kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL terdiri atas beberapa tahap, yaitu: Tabel 3.1 Langkah-langkah Pembelajaran NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU 1. PENDAHULUAN 10 menit Guru mengucapkan salam Guru menyiapkan peserta didik secara fisik dan mental serta memotivasi siswa Guru Membuka pembelajaran dengan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat


19 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU do’a sebelum belajar. Guru mengarahkan kesiapan diri peserta didik dan kehadiran peserta didik dengan mengisi lembar kehadiran. Guru menanyakan kesiapan peserta didik untuk belajar (mengecek alat tulis dan sumber belajar) Guru memotivasi siswa dengan kata-kata penyemangat. Guru menyampaikan apersepsi Guru menyampaikan apersepsi materi yang lalu dan mengarahkan peserta didik untuk mengamati, menyimak dan menanya (bagian dari saintifik) Guru menyampaikan tujuan dan indikator sesuai dengan KD Guru menyebutkan dengan jelas dan tegas tujuan pembelajaran dan IPK sesuai dengan KD Guru menyampaikan tahapan kegiatan yang meliputi kegiatan Mengamati, menyimak, menanya, berdialog, mengkomunikasikan dengan menyampaian, menanggapi dan membuat kesimpulan hasil pembelajaran. 2. KEGIATAN INTI 50 menit Guru Pendekatan Guru menerapkan


20 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU menggunaka n model PBL (aktif/ pembelajara n abad 21) dan menggunaka n pendelatan Saitifik Saitifik, meliputi: 1.Mengamati 2.Menyimak 3.Menanya 4.Mengekplorasi/ menalar. 5.Mengasosiasi/ mencoba. 6.Komunikasi/ demonstrasi/ Networking pembelajaran berbasis saintifik (6 M) sejak awal sampai akhir pembelajaran, termasuk kegiatan literasi. Materi tentang ketentuan ibadah qurban (PPT) Guru mempersiapkan materi dengan menggunakan fase atau tahap-tahap sesuai sintak PBL yang mengintegrasikan TPACK Guru menguasai konsep materi Guru mempersiapkan materi dengan konsep yang jelas 1. Materi pembelajaran berupa Power Point : ketentuan ibadah qurban 2. Materi diskusi dalam pembelajaran tentang ketentuan ibadah qurban berupa video dari youtube. 3. Materi penunjang pembelajaran tentang ketentuan ibadah qurban berupa website. 4. Memanfaatkan media infokus dan laptop Guru menjelaskan dan memperkenalkan bahwa pembelajaran ini akan mengunakan model Problem Based Learning (PBL) Tahap 1: Orientasi peserta didik pada masalah Peserta didik mengamati gambar untuk yang berkaitan dengan ibadah qurban.


21 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU Peserta didik menyimak video pembelajaran entang ketentuan ibadah qurban. Peserta didik bersama guru melakukan tanya jawab berhubungan dengan materi ketentuan ibadah qurban. Guru menjelaskan materi ketentuan ibadah qurban menggunakan media pembelajaran (Power Point). Guru memulai penjelasan materi secara urut, lengkap dan logis Guru menanamkan karakter, pesan moral, sikap positif terkait materi ketentuan ibadah qurban. Guru menyampaikan masalah yang akan dipecahkan secara kelompok. Tugas Kelompok: 1. Simaklah video pembelajaran ketentuan ibadah qurban melalui link berikut ini! https://youtu.be/BfLg-QL JD80 2. Diskusikan hal-hal berikut ini: 1) Setelah mengamati


22 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU dan menyimak video tentang ketentuan ibadah qurban, analisislah video tersebut, kemudian tunjukkan dan bacakan salah satu dalil qur’an/hadis tentang perintah berqurban sesuai dengan syari’at Islam! 2) Setelah mengamati dan menyimak video tentang ketentuan ibadah qurban, tentukan kriteria hewan yang dapat dijadikan qurban sesuai dengan ketentuan syari’at Islam! 3) Setelah mengamati dan menyimak video tentang ketentuan ibadah qurban, simpulkan waktu penyembelihan hewan qurban menurut ketentuan syari’at Islam! 3. Catatlah hasil diskusi kalian bersama kelompokmu! 4. Presentasikan hasil diskusimu di depan kelas! 5. Kalian boleh memberikan tanggapan dari hasil presentasi kelompok lainnya. Tahap 2: Mengorganisasika n peserta didik untuk belajar. Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang peserta didik


23 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU Guru memastikan setiap peserta didik/anggota kelompok memahami tugas masing-masing. Guru menerapkan pembelajaran aktif Guru menggunakan dan memanfaatkan media pembelajaran yang digunakan (PPT/ Video Youtube) Guru memanfaatkan media interaktif berbasis TIK yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan materi: Guru membuat dan menggunakan kuis yang sangat menarik bisa melalui platform online Guru menggunaka n sumber belajar yang bervariasi Tahap 3: Membimbing penyelidikan indiv idu maupun kelompok . Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data/ bahan selama proses penyelidikan. Guru memberikan kebebasan peserta didik untuk memberikan solusi dan tangapan sesuai bahan diskusi kelompok (sebagai pembelajaran konstruktivistik) Guru melaksanaka n pemantauan kemajuan belajar siswa selama proses pembelajara Tahap 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru memantau diskusi dan membimbing pembuatan laporan sebagai karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Guru menerapkan proses pembelajaran berbasis HOTs pada aspek HOTs:


24 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU n C4 (menganalisis) dengan kata kerja yang jelas dan tepat. Menganalisis video (C4) Menunjukkan dalil ketentuan ibadah qurban (C4) Menafsirkan dalil perintah ibadah qurban (C5). Menyimpulkan (C5) hasil diskusi Tahap 5: Menganalisis dan mengevaluasi pros es pemecahan masala h Guru membimbing presentasi dan mendorong kelompok memberikan penghargaa n serta masukan kepada kelompok lain. Guru mengamati dan memberikan evaluasi terhadap hasil pembelajaran. 3. PENUTUP 10 Menit Guru menyimpulkan materi pelajaran Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi. Guru melaksanakan penilaian otentik berbasis HOTs Guru melaksanakan penilaian berbasis HOTs secara tepat dan memberikan feedback Guru melakukan refleksi dan tindak lanjut dengan melibatkan siswa Refleksi dengan mengajukan pertanyaan atau tanggapan peserta didik dari kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai bahan masukan untuk perbaikan langkah selanjutnya; Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan


25 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU berikutnya. Membaca do’a penutupan “Alhamdulillah” Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Guru menutup dengan Salam 3. Pengamatan Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan untuk memperoleh data yang akurat untuk perbaikan pada siklus selanjutnya 4. Refleksi Peneliti bersama guru melakukan refleksi untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Hal-hal yang dianalisis adalah hasil belajar dan kinerja guru siswa. Analisis tersebut sebagai acuan perbaikan kinerja guru dan digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam rangka mencapai tujuan PTK. Hasil analisis juga digunakan sebagai bahan perencanaan pada siklus berikutnya dengan membuat rencana tindakan baru agar menjadi lebih baik lagi. SIKLUS II Pada akhir siklus I telah dilakukan refleksi oleh peneliti dan guru untuk mengkaji proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai acuan dalam pelaksanaan siklus II. Adapun pelaksanaan pada siklus II ini meliputi: 1. Perencanaan Perencanaan siklus II ini dengan membuat rencana pembelajaran secara kolaboratif antara peneliti dan guru seperti siklus sebelumnya berdasarkan refleksi pada siklus I, pada siklus II ini, peneliti melakukan perencanaan dengan langkah-langkah sebagai berikut.


26 1) Mendata masalah dan kendala yang dihadapi pada proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus I. 2) Merancang perbaikan untuk proses pembelajaran di siklus II berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. 3) Menyiapkan perangkat pembalajaran yang akan digunakan selama proses pembelajaran di kelas. 4) Menyiapkan susunan skenario pembelajaran yaitu rencana perbaikan pembelajaran 2. Tindakan Siklus II ini dilakukan tindakan atau perlakuan, berdasarkan rencana pembelajaran dari hasil refleksi pada siklus I. 3. Pengamatan Peneliti mengamati kinerja guru diperoleh dengan memberi tanda checklist pada kolom angka 1-5. 4. Refleksi Peneliti melaksanakan refleksi terhadap siklus ke II dan menganalisisnya untuk menentukan kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model PBL dalam meningkatkan hasil belajar siswa D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau keterangan-keterangan atau karakteristik-karakteristik sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan menunjang atau pendukung penelitian.Metode-metode yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data tersebut adalah sebagai berikut: 1) Tes Pengertian tes sebagai metode pengumpulan data adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes merupakan suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk


27 memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Tes ini digunakan untuk mengetahui keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, serta kemampuan atau bakat yang dimiliki individu. Dalam penelitian ini, tes diberikan kepada peserta didik guna mendapatkan data kemampuan peserta didik tentang materi pelajaran PAI. Tes yang digunakan adalah soal pilihan ganda atau uraian yang dilaksanakan pada saat pra tindakan maupun pada akhir tindakan, yang nantinya hasil tes ini akan diolah untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran yang menerapkan metode problem based learning. Tes yang dilakukan pada penelitian ini adalah : a. Tes pada awal penelitian (pretest), dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang materi yang akan diajarkan. Pre test ini mempunyai banyak kegunaan dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, oleh karena itu pre test memegang peranan yang penting dalam proses pembelajaran. b. Tes pada setiap akhir tindakan (post test), tes ini diberikan setiap akhir tindakan untuk mengetahui pemahaman siswa dan ketuntasan belajar siswa pada masing-masing pokok bahasan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa terhadap materi yang diajarkan setelah pemberian tindakan dengan metode problem based learning. 2) Observasi Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Dalam penelitian ini, observasi merupakan alat bantu yang digunakan peneliti ketika pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis dan terencana terhadap fenomena yang diselidiki. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya


28 kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta untuk menjaring data aktifitas siswa. 3) Catatan Lapang Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka penyimpulan data refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Catatan ini berupa coretan seperlunya yang sangat dipersingkat, berisi kata-kata kunci, frasa, pokok - pokok isi pembicaraan atau pengamatan. Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam instrumen pengumpul data yang ada dari awal tindakan sampai akhir tindakan. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini. 4) Dokumentasi Dokumentasi yaitu mengumpulkan data dengan melihat atau mencatat suatu laporan yang sudah tersedia. Metode ini dilakukan dengan melihat dokumen-dokumen resmi seperti monografi, catatan-catatan serta buku-buku peraturan yang ada. Untuk lebih memperkuat hasil penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto-foto pada saat peserta didik melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran problem based learning. E. Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipahami oleh peneliti. Hasil analisis masih harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, apa saja yang tersirat dari hasil penelitian tersebut. Hasil dan interpretasi data nantinya digunakan untuk menarik kesimpulan untuk menjawab masalah yang telah


29 dirumuskan sebelumnya. 23Disini peneliti menggunakan dua teknik analisis data diantaranya : 1. Teknik analisis data kuantitatif Analisis kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan berbagai dinamika kemajuan kualitas hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan materi yang diajarkan guru. Data kuantitatif merupakan data hasil belajar model PBL pada siklus I .Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes yang dikerjakan siswa pada siklus I. Data kuantitatif penelitian ini didapatkan dengan menghitung nilai rata-rata kelas dari hasil tes yang diberikan kepada siswa dengan rumus: a. Menghitung nilai hasil belajar kognitif siswa secara individual digunakan rumus : NK = X 100 Keterangan: NK = nilai siswa (nilai yang dicari) R = jumlah skor/item yang dijawab benar N = skor maksimum dari tes 100 = bilangan tetap Analisis ini dilakukan pada tahap refleksi. Hasil analisis ini digunakan untuk melakukan perencanaan lanjutan dalam siklus selanjutnya, sebagai bahan refleksi dalam memperbaiki pembelajaran. Tabel 3.2 Kategori Tingkat Keberhasilan Belajar Kognitif Siswa.24 Interval Nilai Kategori 76-100 AB = Amat Baik 51-75 B = Baik 26-50 C = Cukup 23 Marzuki, “Metodologi Riset”. (Yogyakarta: EKONISA, 2005), 29. 24 Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 78.


30 Interval Nilai Kategori 01-25 D = Kurang Berdasarkan persentase yang dicapai, akan diketahui tingkat keberhasilan belajar siswa secara klasikal sesuai kriteria sebagai berikut. Tabel 3.3 Kriteria keberhasilan belajar siswa secara klasikal No Skor Tingkat Keberhasilan Kategori 1 5 81 % - 100 % Sangat Tinggi 2 4 61 % - 80 % Tinggi 3 3 41 % - 60 % Sedang 4 2 21 % - 40 % Rendah 5 1 0 % - 20 % Sangat Rendah Tabel 4.5 Kriteria ketuntasan belajar siswa Tingkat Keberhasilan Kategori ≥ 75 Tuntas ≤ 75 Belum Tuntas Teknik analisis data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini digunakan untuk mengetahui apakah siswa mengetahui peningkatan pemahaman dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan setelah diberikan tindakan. Teknik analisa data secara bertahap yaitu reduksi data paparan data dan penarikan kesimpulan.25 a. Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas 25 Susilo, Penelitian Tindakan Kelas (Yoyakarta: Pustaka Book Publisher, 2006 ), hlm. 12.


31 dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang jelas, sehingga peneliti dapat menarik simpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. b. Paparan Data Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara narasi sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi, sehingga dapat memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Dalam melakukan penyajiian data selain dengan teks yang naratif, juga dapat berupa grafik, matrik, network dan chart. c. Penarikan Kesimpulan Pada tahap penarikan ini kegiatan yang dilakukan adalah memberi kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi kegiatan ini mencakup pencarian makna data serta memberi penjelasan. Selanjutnya apabila penarikan kesimpulan dirasakan tidak kuat, maka perlu adanya verifikasi dan peneliti kembali mengumpulkan data lapangan. 2. Teknik analisis data kualitatif Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang menunjukkan dinamika proses dengan memberikan pemaknaan secara nyata dan mendalam sesuai dengan permasalahan penelitian, yaitu data tentang kinerja guru. Data kualitatif ini diperoleh dari data non tes yaitu observasi kinerja guru selama proses pembelajaran melalui penerapan model PBL .Nilai kinerja guru diperoleh dengan rumus : NK Keterangan: NK = nilai kinerja yang dicari atau diharapkan R = skor mentah yang diperoleh SM = skor maksimum


32 100 = bilangan tetap Tabel 3.2 Kategori Kinerja Guru. Nilai yang diperoleh Kualifikasi 81-100 Sangat Baik 61-80 Baik 41-60 Cukup 21-40 Kurang 0-20 Sangat Kurang 3) Interpretasi data Setelah selesai melakukan analisis data, selanjutnya peneliti melakukan interpretasi data, yaitu suatu usaha untuk mendapatkan arti dan makna yang lebih jelas, luas dan mendalam terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan berdasarkan pemahaman peneliti. Pembahasan dari hasil penelitian dapat dilakukan dengan cara meninjau maupun mengamati kembali hasil penelitian secara kritis dengan melihat teori yang cocok serta informasi yang akurat yang didapatkan dari lapangan.26 Disini peneliti melakukan interpretasi data dengan menguraikan secara deskripsi dari hasil analisis data yang sudah dilakukan sebelumnya. F. Indikator Keberhasilan PTK Keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain: 1. Jumlah siswa yang mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal dengan nilai KKM 75 adalah 75% dari seluruh siswa yang ada di kelas. 2. Peningkatan nilai rata-rata kelas pada setiap siklusnya. 3. Nilai kinerja guru meningkat pada setiap siklusnya. G. Instrumen Penelitian 26 Lexy J. Moleong, “Metodologi Penelitian Kualitatif.”, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011),


33 Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penenlitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu: 1. Instrumen Tes Tes tertulis ini berupa tes awal (pretest) dan tes akhir (post test). Tes awal (pretest) adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi yang akan diajarkan. Sedangkan tes akhir (pos test) adalah bahan-bahan pelajaran yang telah di ajarkan kepada para peserta didik dan biasanya naskah tes akhir ini dibuat sama dengan naskah tes awal. Tes hasil belajar yaitu untuk menjaring data mengenai peningkatan hasil belajar kognitif siswa khususnya mengenai penguasaan terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan model PBL. Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data berupa nilai-nilai untuk melihat kemajuan hasil belajar kognitif siswa. Pengujian teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dari tiap siklus dan dengan menggunakan N-Gain untuk melihat selisih antara pre test dan post test pada setiap siklus, untuk melihat perbedaan hasil belajar pada setiap siklus. Penelitian ini berhasil jika setelah dilakukan tindakan terjadi peningkatan hasil belajar pada materi. Gain adalah selisih antara nilai pre test dan post test, gain menunjukan peningkatan atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan oleh guru. Untuk perhitungan N-Gain. Uji normal gain digunakan untuk menghindari bias pada penelitian dan menggunakan rumus menurut Meltzer. N-Gain = Dengan kategorisasi perolehan : g tinggi : nilai (g) > 0,70 g sedang : 0,70 > (g) >0,3 g rendah : nilai (g) < 0,3 2. Instrumen Non Tes


34 Dalam instrumen non tes ini digunakan instrumen yaitu lembar observasi. Observasi adalah kegiatan pengamatan untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. 27Lembar observasi yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dan lembar observasi kegiatan guru yang diamati ketika proses pembelajaran disesuaikan dengan sintaks model problem based learning. Tabel 3.1 Observasi Kegiatan Guru Mengajar No Aspek Yang Dinilai Rentang Nilai 1 2 3 4 5 I Kegiatan Pendahuluan A Apersepsi dan Motivasi 1) Mengaitkan materi pelajaran sekarang dengan 2) pengalaman belajar atau materi sebelumnya 3) Mengajukan pertanyaan yang memancing keaktifan siswa 4) Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran. B Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1) Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai siswa 2) Menyampaikan rencana kegiatan misalnya, individual, kerja kelompok, dan melakukan observasi II Kegiatan Inti A Penyampaian Materi Pembelajaran 1) Menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran. 2) Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, perkembangan IPTEK, dan kehidupan nyata 27 Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 143.


35 No Aspek Yang Dinilai Rentang Nilai 1 2 3 4 5 3) Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat 4) Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari abstrak ke konkrit) B Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. 2) Memfasilitasi kegiatan yang memuat komponeneksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. 3) Melaksanakan pembelajaran secara runtut. 4) Memantau kelas. 5) Melaksanakan pembelajaran bersifat Kontekstual 6) Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif 7) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan C Penerapan pendekatan Scientific 1) Memancing siswa untuk mengamati 2) Memfasilitasi siswa untuk menanya. 3) Memfasilitasi siswa untuk mengumpukan Informasi 4) Memfasilitasi siswa untuk mengolah Informasi 5) Memfasilitasi siswa untuk mengkomunikasikan. D Penerapan Model PBL dalam Pembelajaran 1) Menunjukkan keterampilan dalam mengorientasikan siswa pada masalah 2) Menunjukkan keterampilan dalam mengorganisasikan siswa untuk siap belajar 3) Membimbing pengalaman individu dan kelompok 4) Memfasilitasi siswa dalam mengembangkan dan menyajikan hasil karya. 5) Memfasilitasi siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah


36 No Aspek Yang Dinilai Rentang Nilai 1 2 3 4 5 E Pelibatan Siswa dalam Pembelajaran 1) Menumbuhkan partisipasi aktif siswa melalui interaksi guru, siswa, sumber belajar 2) Merespon positif partisipasi siswa 3) Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa. 4) Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif 5) Menambahkan keceriaan atau antusiasme siswa dalam belajar F Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran 1) Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar 2) Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar III Penutup 1) Melaksanakan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 2) Memberikan tes lisan atau tulisan 3) Mengumpulkan hasil kerja sebagai Portofolio 4) Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan JUMLAH SKOR MAKSIMAL NILAI KATEGORI Keterangan: Berikan tanda cek list pada kolom sesuai dengan kriteria: 1 = sangat kurang ; 2 = kurang ; 3 = cukup; 4 = baik; 5= sangat baik Nilai = jumlah skor perolehan dibagi skor maksimal dikali 100 Tabel 3.2. Keterangan Skor28 28 Kemendikbud, Materi Pelatihan Guru Implementasikan Kurikulum 2013. hlm. 332


37 Skor Kategori Indikator 5 Sangat Baik Setiap indikator dalam aspek yang diamati dilaksanakan oleh guru dengan sangat baik tanpa kesalahan. 4 Baik Setiap indikator dalam aspek yang diamati dilaksanakan oleh guru dengan baik dan guru hanya melakukan satu kesalahan 3 Cukup Setiap indikator dalam aspek yang diamati dilaksanakan oleh guru dengan cukup dan guru melakukan dua kesalahan 2 Kurang Setiap indikator dalam aspek yang diamati dilaksanakan oleh guru dengan kurang dan guru melakukan lebih dari dua kesalahan 1 Sangat Kurang Setiap indikator dalam aspek yang diamati tidak dilaksanakan oleh guru. Tabel 3.3 Kategori Nilai29 Nilai yang diperoleh Kualifikasi 81-100 Sangat Baik 61-80 Baik 41-60 Cukup 21-40 Kurang 0-20 Sangat Kurang BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pra Siklus 29 Aqib, Zainal, Penelitian Tindakan Kelas (Bandung: CV. Yrama Widya, 2010), hlm. 41.


38 Deskripsi Pra Siklus Kegiatan pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data awal mengenai keadaan sekolah, kelas dan siswa yang akan menjadi objek penelitian. Kegiatan pra penelitian yang dilakukan meliputi kegiatan wawancara dengan guru dan siswa serta kegiatan observasi di dalam kelas. Adapun kegiatan observasi peneliti pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Tenggarong pada proses pembelajaran PAI. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi siswa saat proses pembelajaran PAI dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi ketentuan ibadah qurban . Kegiatan observasi pra siklus sebagai berikut: Tabel 4.1 Hasil Belajar Sebelum Tindakan No Nama Siswa Nilai Keterangan 1 65 Belum Tuntas 2 75 Tuntas 3 70 Belum Tuntas 4 60 Belum Tuntas 5 70 Belum Tuntas 6 65 Belum Tuntas 7 60 Belum Tuntas 8 70 Belum Tuntas 9 65 Belum Tuntas 10 75 Tuntas 11 65 Belum Tuntas 12 75 Tuntas 13 75 Tuntas 14 70 Belum Tuntas 15 60 Belum Tuntas 16 65 Belum Tuntas 17 70 Belum Tuntas 18 75 Tuntas


39 No Nama Siswa Nilai Keterangan 19 75 Tuntas 20 70 BelumTuntas Nilai Rata-rata 68,75 Persentase Ketuntasan Belajar 30 % Kegiatan observasi pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk mengamati proses pembelajaran PAI di kelas. Berdasarkan kegiatan pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa guru masih menggunakan model pembelajaran yang terpusat pada guru. Hal tersebut terlihat dari keseluruhan proses yang dilakukan, dimana pembelajaan PAI cenderung didominasi oleh guru. Metode pembelajaran yang diterapkan pun masih berupa metode pembelajaran konvensional, yaitu metode ceramah dan tanya jawab. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran akan terlihat hanya ketika guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kejenuhan dalam belajar. Terlebih banyak konsep menghafal sehingga siswa kurang memperoleh pengalaman belajar. Padahal, sebenarnya karakteristik sebagian besar siswa di kelas bersifat aktif. B. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I 1. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus ini dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang terdapat disekolah. Kemudian menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk menentukan materi yang diajarkan dengan model PBL yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Selanjutnya RPP yang telah dibuat didiskusikan dengan guru kolaborator serta sehubungan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan soal test awal (pretest) dan soal test akhir (post test), membuat instrumen penelitian, membuat lembar observasi siswa, membuat lembar observasi guru, dan catatan lapangan.


40 Penelitian dilaksanakan di kelas V yang berjumlah 20 siswa , siswa di bentuk menjadi 4 kelompok dengan jumlah masing-masing anggota kelompok berjumlah 5 orang. Penentuan kelompok dilakukan secara bersama-sama oleh guru agar tercipta kerjasama dan tidak saling iri. Pengelompokan ini dipergunakan pada saat siswa melakukan diskusi kelompok pada saat diskusi berlangsung di dalam kelas.Pada tahap ini, peneliti ingin mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dalam proses pelaksanaannya mampu meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada skenario pembelajaran yang telah dirancang. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL terdiri atas beberapa tahap, yaitu: Tabel 4.2 Langkah-langkah tindakan pada siklus I NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU 1. PENDAHULUAN 10 menit Guru mengucapkan salam Guru menyiapkan peserta didik secara fisik dan mental serta memotivasi siswa Guru Membuka pembelajaran dengan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat do’a sebelum belajar. Guru mengarahkan kesiapan diri peserta didik dan kehadiran peserta didik dengan mengisi lembar kehadiran. Guru menanyakan kesiapan peserta didik untuk belajar (mengecek alat tulis dan sumber belajar) Guru memotivasi siswa


41 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU dengan kata-kata penyemangat. Guru menyampaikan apersepsi Guru menyampaikan apersepsi materi yang lalu dan mengarahkan peserta didik untuk mengamati, menyimak dan menanya (bagian dari saintifik) Guru menyampaikan tujuan dan indikator sesuai dengan KD Guru menyebutkan dengan jelas dan tegas tujuan pembelajaran dan IPK sesuai dengan KD Guru menyampaikan tahapan kegiatan yang meliputi kegiatan Mengamati, menyimak, menanya, berdialog, mengkomunikasikan dengan menyampaian, menanggapi dan membuat kesimpulan hasil pembelajaran. 2. KEGIATAN INTI 50 menit Guru menggunaka n model PBL (aktif/ pembelajara n abad 21) dan menggunaka n pendelatan Saitifik Pendekatan Saitifik, meliputi: 1. Mengamati 2. Menyimak 3. Menanya 4. Mengekplorasi/ menalar. 5. Mengasosiasi/ mencoba. 6. Komunikasi/ demonstrasi/ Networking Guru menerapkan pembelajaran berbasis saintifik (6 M) sejak awal sampai akhir pembelajaran, termasuk kegiatan literasi. Materi tentang ketentuan ibadah qurban (PPT) : Guru mempersiapkan materi dengan Guru mempersiapkan materi dengan konsep yang jelas


42 NO. LANGKAH KERJA FASE/TAHAP MODEL PEMBELAJARAN AKTIVITAS GURU WAKTU menggunakan fase atau tahap-tahap sesuai sintak PBL yang mengintegrasikan TPACK Guru menguasai konsep materi 1. Materi pembelajaran berupa Power Point : ketentuan ibadah qurban 2. Materi diskusi dalam pembelajaran tentang ketentuan ibadah qurban berupa video dari youtube. 3. Materi penunjang pembelajaran tentang ketentuan ibadah qurban berupa website. 4. Memanfaatkan media infokus dan laptop Guru menjelaskan dan memperkenalkan bahwa pembelajaran ini akan mengunakan model Problem Based Learning (PBL) Tahap 1: Orientasi peserta didik pada masalah Peserta didik mengamati gambar untuk yang berkaitan dengan ibadah qurban. Peserta didik menyimak video pembelajaran entang ketentuan ibadah qurban. Peserta didik bersama guru melakukan tanya jawab berhubungan dengan materi ketentuan ibadah qurban. Guru menjelaskan materi ketentuan ibadah qurban menggunakan media


Click to View FlipBook Version