The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA KELOMPOK 3

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jongsukclo5, 2023-09-25 21:48:59

JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA KELOMPOK 3

JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA KELOMPOK 3

Keywords: sastra

JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 45 Memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan; Memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri; Pembaca dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri; 5. Ciri keterbacaan Bahasa yang digunakan dapat dimengerti oleh anak, artinya anak mengetahui kosa kata yang digunakandan struktur kalimatnya sederhana sehingga anak dapat memahaminya; Pesan yang terkandung dalam puisi dapat dibaca dan dipahami oleh anak karena tidak terselubung (tersembunyi) melainkan transparan dan jelas. Ciri kesesuaian Disesuaikan dengan usia anak, anak sekolah dasar menyukai puisi tentang kehidupan sehari-hari, petualangan, dan kehidupan keluarga yang realistis; Kesesuaian dengan lingkungan sekitar tempat anak. Artinya, anak-anak yang tinggal di dekat pantai akan senang jika puisi yang perlu dipelajarinya adalah puisi tentang pantai. Atau pada saat musim kemarau, puisi yang dijadikan bahan ajar adalah puisi yang berbicara tentang kemarau.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 46 DAFTAR PUSTAKA https://dosenbahasa.com/jenis-jenis-sajak https://www.brilio.net/cinta/8-puisi-cinta-karya-sastrawan-tanah-airini-bakal-buatmu-klepek-klepek-1612197.html https://bukubiruku.com/contoh-puisi-pendek/ https://hidupsimpel.com/kata-kata-bijak/ Nur Latifah, Robiatul Munajah. 2021. Pembelajaran Bahasa Indonesia. Tangerang: Penerbit Universitas Trilogi.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 47 BAB V APRESIASI PUISI A. Capaian Kompetensi Ada pula yang wajib mahasiswa pahami merupakan 1. Menguasai Penafsiran dari Apresiasi Puisi 2. Mengenali Unsur- Unsur yang wajib diapresiasi dalam puisi 3. Mengenali Tingkatan dalam Mengapresiasi Puisi 4. Sanggup memahami Khasiat dari Mengapresiasi Puisi B. Capaian Kompetensi Ada pula yang wajib mahasiswa pahami merupakan 1. Menguasai Penafsiran dari Apresiasi Puisi 2. Mengenali Unsur- Unsur yang wajib diapresiasi dalam puisi 3. Mengenali Tingkatan dalam Mengapresiasi Puisi 4. Sanggup memahami Khasiat dari Mengapresiasi Puisi C. Latar Belakang Modul yang hendak dibahas terdapat 4 perihal, ialah: 1. Penafsiran Apresiasi puisi 2. Unsur- Unsur Puisi 3. Tingkatan Mengapresiasi puisi 4. Khasiat Apresiasi Puisi Perihal inilah yang sangat berarti dipahami karena keseluruhannya hendak menolong proses pengapresiasian puisi di kelas bukan cuma itu perihal ini pula bisa jadi acuan dalam


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 48 apresiasi puisi serta kita jadi ketahui khasiat dari mengapresiasi puisi. D. Penafsiran Apresiasi Puisi Apresiasi umumnya berhubungan dengan aktivitas seni. Bagi Herman J. Waluyo( 2002: 44) apresiasi puisi berkaitan dengan aktivitas yang terdapat sangkut pautnya dengan puisi, ialah mendengar ataupun membaca puisi dengan penghayatan yang serius, menulis puisi, mendeklamasikan puisi, serta menulis resensi puisi. Dalam Kamus Sebutan Sastra, Abdul Rozak Zaidan( 1991) menghalangi penafsiran apresiasi puisi selaku" penghargaan puisi selaku hasil pengenalan, atas uraian, pengertian, penghayatan, serta penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai- nilai yang tercantum dalam puisi itu". Sumardi serta Zaidan( 2008: 7) berkata kalau apresiasi puisi merupakan perilaku jiwa memperlakukan sajak cocok dengan kandungan seni serta isi isinya. Bagi Zaidan semacam yang dilansir Waluyo( 2002: 44) menghalangi penafsiran apresiasi puisi selaku“ penghargaan atas puisi selaku hasil pengenalan, uraian, pengertian, penghayatan, serta penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai- nilai yang tercantum dalam puisi itu.” Bagi para pakar di atas dengan demikian bisa dismpulkan kalau Apresiasi puisi merupakan apresiasi puisi ialah penafsiran, uraian, evaluasi, serta penghargaan yang mendalam serta serius terhadap puisi. E. Unsur- Unsur Puisi 1. Struktur Fiksi Puisi a) Diksi( opsi kata)


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 49 Diksi merupakan opsi kata pada puisi. Guna diksi dalam puisi terdapat 2, ialah guna estetis serta guna ekspresif. Guna estetis berarti diksi bermanfaat selaku faktor yang memperindah puisi. Sebaliknya guna ekspresif berarti diksi bermanfaat selaku faktor yang menolong penyair mengatakan ekspresi yang dipunyai. b) Kata Konkret Perkata dalam puisi yang diperjelas( dikonkretkan) oleh penyair artinya supaya perkata itu bisa mengarah makna yang merata. Oleh sebab itu, diseleksi perkata yang membuat seluruh perihal terkesan bisa dijamah serta dibayangkan. c) Pengimajian Penyair pula kerap menghasilkan pengimajian ataupun pencitraan dalam puisinya. Imaji merupakan kata ataupun rangkaian kata yang bisa memperjelas apa iktikad serta tujuan penyair. Pengimajian dicoba supaya puisi sanggup menggugah imajinasi pembaca lewat penginderaan. d) Bahasa Figuratif Ialah bahasa yang digunakan penyair buat berkata suatu dengan metode yang tidak biasa, ialah secara tidak langsung mengatakan arti kata ataupun bahasa bermakna kias ataupun bermakna lambang. e) Verifikasi Ialah faktor pembuat keelokan suatu puisi. Kala membaca puisi pasti saja kita hendak menikmati rima, ritma, serta metrum yang ada dalam puisi tersebut. f) Tipografi Tipografi merupakan bentuk estetik pada wujud penyusunan puisi. Secara universal, kerap ditemui puisi dalam wujud baris, namun terdapat pula puisi yang disusun dalam wujud fragmen- fragmen. Apalagi terdapat pula puisi


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 50 yang ditulis dengan wujud yang menyamai apel, wujud zigzag, maupun model yang lain. 2. Struktur Batin Puisi a) Tema Tema merupaka arti utuh yang dimaksudkan dengan totalitas puisi merupakan memiliki totalitas arti. Tema dalam puisi ialah sumber dari pengungkapan gagasan pokok suatu puisi( Pradopo, 2017) b) Perasaan Dalam menghasilkan puisi, atmosfer perasaan penyair turut diekspresikan serta bisa dihayati oleh pembaca. Buat mengatakan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair yang lainnya c) Nada serta Suasana Nada ialah ungkapan penyair terhadap pembaca ataupun pendengar, atmosfer ialah jiwa pembaca sehabis membaca puisi tersebut yang ditimbulkan terhadap pembaca. Nada serta atmosfer pada puisi silih berkaitan sebab nada puisi memunculkan atmosfer terhadap para pembaca( Agustinus, 2020) d) Amanat Amanat yang di informasikan penyair bisa dialami sehabis menguasai tema, rasa, serta nada dalam puisi. Amanat bisa membuat penyair dalam penciptakan puisinya. Amanat di informasikan penyair, tetapi lebih banyak pembaca tidak sadar dengan amanat yang diberikan( Waluyo, 2010).


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 51 F. Tingkatan Mengapresiasi Puisi 1. Tingkatan Menggemari Tingkatan awal ataupun tingkatan bawah dalam apresiasi puisi ialah menggemari. Seorang yang terletak pada tingkatan menggemari, keterlibatan batinnya belum kokoh. Pada tingkatan ini batin apresiator tergetar serta timbul kemauan buat membagikan atensi terhadap puisi serta ingin mengosongkan waktu buat membaca, mengakrabi, serta menggauli puisi. Bila kita membaca puisi setelah itu timbul perasaan bahagia terhadap puisi tersebut, berarti kita telah mulai masuk ke sesi awal dalam mengapresiasi puisi, ialah menggemari. Tingkatan menggemari dengan kata lain dapat diucap pula dengan tingkatan simpati. 2. Tingkatan Menikmati Tingkatan kedua dalam apresiasi puisi, ialah tingkatan menikmati. Seorang yang terletak pada tingkatan menikmati, keterlibatan batin apresiator terhadap puisi terus menjadi mendalam. Pada tingkatan ini batin apresiator mulai dapat turut merasakan apa yang ada dalam puisi. Apresiator turut merasakan pilu, terharu, senang, serta sebagainya kala membaca puisi. Tidak hanya itu, pada tingkatan ini apresiator sanggup menikmati keelokan yang terdapat dalam puisi secara kritis. Jika tingkatan awal baru pada sesi simpati, pada tingkatan kedua ini apresiator terletak pada tingkatan empati. 3. Tingkatan Mereaksi Tingkatan ketiga dalam apresiasi puisi, ialah tingkatan mereaksi. Pada tingkata ini, seseorang apresiator tidak cuma hanya tergetar( simpati), ataupun bisa merasakan( empati) saja. Namun bisa melaksanakan refleksi diri atas nilai- nilai yang tercantum dalam puisi. Seorang yang terletak pada tingkatan mereaksi, perilaku kritis terhadap puisi lebih menonjol sebab


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 52 sudah sanggup menafsirkan dengan saksama serta sanggup memperhitungkan baik- buruknya suatu puisi. Penafsir puisi sanggup melaporkan keelokan puisi serta menampilkan letak keelokan serta kekurangan tersebut. Dengan kata lain, pada tingkatan ketiga ini seseorang apresiator bisa memetik nilai- nilai selaku fasilitas buat berrefleksi ataupun berkaca diri selaku wujud respon terhadap puisi yang dibaca. 4. Tingkatan Memproduksi Tingkatan keempat ataupun tingkatan paling tinggi dalam apresiasi puisi, ialah tingkatan produktif. Seorang yang terletak pada tingkatan produktif, apresiator puisi sanggup menciptakan( menulis), mengkritik, mendeklamasikan, ataupun membuat resensi terhadap suatu puisi secara tertulis. Dengan kata lain, terdapat produk yang dihasilkan oleh apresiator berkaitan dengan puisi. G. Khasiat Apresiasi Puisi 1. Dulce et utile. Sebutan tersebut diistilahkan oleh seseorang filsuf Yunani bernama Horatio.Khasiat sastra di mari selaku hiburan. Perihal itu terjalin sebab dari cerita rekaan/ prosa- fiksi orang menemukan hiburan. 2. Menolong pembaca buat lebih menguasai kehidupan serta memperkaya pandangan- pandangan kehidupan. Dalam karya prosa, sebetulnya pengarang menyuguhkan kembali hasil pengamatan serta pengalamannya kepada pembaca. Pengalaman yang disuguhkannya itu merupakan pengalaman yang telah lewat proses perenungan serta uraian yang lebih tajam serta dalam. Dengan demikian, tatkala pembaca membaca karya prosanya, dia memperoleh sesuatu pemikiran baru tentang


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 53 kehidupan yang memperkaya pengamatannya terhadap kehidupan yang dia tahu tiap hari. Dalam kaitan ini, karya prosa sebetulnya menolong pembaca buat lebih menguasai kehidupan serta memperkaya pandangan- pandangan tentang kehidupan. Memperkaya serta mempertajam kepekaan sosial, budaya, religi, serta batin Keseriusan dalam membaca karya prosa. Pada gilirannya hendak mempertajam kepekaan siswa, kepekaan sosial, kepekaan religi, kepekaan budaya, serta lain- lain. Kepekaan ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan. 3. Mengasah karakter serta memperhalus budi pekerti. Terdapatnya kaitan moral dengan karya sastra ikut menyumbangkan khasiat dalam berapresiasi. Dalam karya sastra tercantum nilai- nilai moral. Nilai- nilai moral tersebut ialah gambaran kehidupan tiap hari. 4. Memperkaya keahlian berbahasa Media pengungkapan karya prosa merupakan bahasa. Dalam menyajikan cerita dalam karyanya, pengarang berupaya menyuguhkannya dalam bahasa yang bisa memegang jiwa pembacanya. Buat menggapai perihal itu, para pengarang berupaya mencerna bahasa dengan sabaik- baiknya serta sedalam- dalamnya supaya apa yang disampaikannya kokoh mengena di hati pembaca. Mereka mencari kosakata- kosakata yang pas yang bisa mewakili apa yang mereka mau. Tidak hanya itu, mereka pula menghasilkan ungkapan- ungkapan baru, menvariasikan struktur kalimat, berikan penggambaranpenggambaran yang hidup dengan bahasa, serta seterusnya. Dengan membaca karya yang sudah memiliki bahasa yang terolah tersebut, pembaca diperkaya bahasanya, diperkaya rasa bahasanya, serta sebagainya. Demikianlah ulasan menimpa penafsiran apresiasi puisi serta khasiat apresiasi sastra yang tepat


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 54 H. Essai 1. Gimana metode buat mengapresiasi puisi. Metode buat mengapresiasi puisi ialah mendengar ataupun membaca puisi dengan penghayatan yang serius, menulis puisi, mendeklamasikan puisi, serta menulis resensi puisi. 2. Apa Khasiat dari Aktivitas Mengapresiasi Puisi? Seorang menguasai puisi secara mendalam( dengan penuh penghayatan), merasakan apa yag ditulis penyair, sanggup meresap nilai- nilai yang tercantum di dalam puisi, serta menghargai puisi selaku karya seni dengan keelokan ataupun kelemahannya? 3. Tuliskan serta Jelaskan unsur- unsur apa saja yang wajib dikenal di dalam mengapresiasi puisi? a) Tema Tema merupakan pokok benak utama dalam suatu puisi. Watak dari tema ini dapat objektif, spesial, ataupun lugas. b) Perasaan ataupun imaji Puisi ialah karya sastra yang muat cerminan ataupun ekspresi diri dari perasaan penyairnya. c) Diksi ataupun opsi kata Perkata pada puisi hendaknya diseleksi kata dengan teliti dengan memikirkan banyak aspek, pulai dari arti, keselarasan rima serta nada ataupun irama, dan konteks utuh dalam puisi. d) Nada serta suasana Lewat suatu puisi, penyair wajib sanggup membangun nada serta atmosfer sehingga isi pesan di dalamnya bisa tersampaikan kepada pembaca. e) Majas ataupun style Bahasa Faktor pembuat puisi selanjutnya merupakan majas. Puisi identik dengan bahasa figuratif ialah bahasa yang dipakai penyair buat mengatakan suatu dengan metode yang tidak biasa ataupun bermakna kiasan.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 55 f) Rima Rima merupakan persamaan bunyi ataupun perulangan bunyi dalam puisi yang bertujuan buat memunculkan dampak keelokan. g) Amanat Amanat merupakan wujud pesan ataupun wejangan. Umumnya amanat hendak ditulis cocok dengan kemauan penyair. 4. Jika hingga waktuku Ku ingin tidak seseorang kan merayu Tidak pula kau Tidak butuh sedu sedan itu Saya ini fauna jalang Dari kumpulannya terbuang Supaya peluru menembus kulitku Saya senantiasa meradang menerjang Cedera serta dapat kubawa berlari Berlari Sampai lenyap pedih peri Serta saya hendak lebih tidak peduli Saya ingin hidup seribu tahun lagi ( Kerikil Tajam. 1964) Bila dilihat secara totalitas, apa yang lagi dirasakan oleh tokoh“ Saya”? Kesakitan Psikis(Hati) 5. Diksi( opsi kata) dalam sebuah puisi mempunyai kedudukan yang sangat berarti bagi keelokan puisi. Kenapa demikian? Sebab Diksi ialah dasar bangunan tiap puisi karena perkata merupakan segala- galanya dalam puisi. Aktivitas ini menimbulkan


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 56 seorang menguasai puisi secara mendalam( dengan penuh penghayatan), merasakan apa yag ditulis penyair, sanggup meresap nilai- nilai yang tercantum di dalam puisi, serta menghargai puisi selaku karya seni dengan keelokan ataupun kelemahannya.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 57 DAFTAR PUSTAKA Waluyo, H. J. (2010). Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari Press. Imas Juidah, 2015 Apresiasi Puisi Teori dan Penerapannya Zaidan, Abdul Rozak, Anita K. Rustafa, dan Hani’ah, 2007. Kamus Istilah Sastra, Jakarta:Balai Pustaka. Waluyo, Herman J. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama Sumardi dan Zaidan, Abdul Rozak 2008.Pedoman Pengajaran Apresiasi Puisi SLTP & SLTA untuk Guru dan siswa.Jakarta :Balai Pustaka. Kamilah, dkk. 2016. Puisi Siswa Kelas VIII A MTs Al-Khairiyah Tegalinggah: Sebuah Analisis Struktur Fisik dan Batin Puisi. EJurnal JPBSI. Universitas Pendidikan Ganesha. No 2 Vol 4 Hal 1- 10. Wahyuni Y, Sri dan Mohd. Harun. 2018. Analisis Struktur Fisik dan Struktur Batin Puisi Anak dalam Majalah Potret Anak Cerdas. Jurnal Master Bahasa. No. 2 Vol 6 Hal 115-125.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 58 BAB VI EVALUASI DALAM KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA A. Capaian Kompetensi Adapun kompetensi yang harus dicapai mahasiswa: 1. Mampu dan menegtahui mengenai pengertian evaluasi dalam pembelajaran. 2. Mampu dan mengetahui pelaksanaan evaluasi. 3. Mampu dan mengetahui alat-alat dalam evaluasi. 4. Mampu dan mengetahui evaluasi dalam membaca dan menulis. 5. Mampu dan mengetahui evaluasi dalam berbicara dan menyimak. 6. Mampu dan mengetahui rubrik penilaian keterampilan berbahasa Indonesia. B. Latar Belakang Evaluasi dalam pembelajaran merupakan salah satu unsur yang tidak kalah bernilai dalam proses pembelajaran. Saat proses pembelajaran dilihat sebagai proses perubahan tingkah laku siswa, peran evaluasi proses pembelajaran menjadi sangat bernilai. Evaluasi merupakan suatu teknik guna mengakulasi, menganalisa serta menginterpretasi data guna mengerti tingkatan pencapaian tujuan pembelajaran oleh peseta didik. Sistem evaluasi yang bagus bakal bisa memberikan gambaran perihal mutu pembelajaran maka pada gilirannya bakal bisa mendorong mentor mengagendakan strategi pembelajaran. Untuk peserta didik sendiri, sistem penilaian


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 59 yang bagus bakal bisa memberikan implus guna kerap menaikkan keterampilannya. Dalam bagian ini bakal dikupas perihal perlengkapan-perlengkapan penilaian spesialnya dalam keterampilan berbahasa Indonesia yang mencakup membaca, menulis, berbicara serta menyimak. C. Pengertian Evaluasi/Penilaian Dalam Pembelajaran Evaluasi/penilaian yaitu bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar-mengajar spesialnya, serta dalam sisi pembelajaran pada biasanya. Dalam perihal ini, penilaian berfungsi selaku penyumbang data aktual perihal teknik serta hasil pembelajaran. Penilaian dilihat selaku teknik sistematik guna mengakulasi, menganalisa dan juga memaknakan data demi memastikan keberhasilan anak didik demi mendekati tujuan berlatihnya. Penilaian kerap dikorelasikan dengan pengukuran serta uji. Dalam perihal ini, evaluasi ialah sesuatu usaha guna meninjau sepanjang mana anak didik pernah menjalani pertumbuhan berlatih maupun pernah mendekati tujuan berlatih serta pembelajaran (Schwartz dalam Hamalik 2007: 157). Tindakan penilaian bakal menanggapi persoalan perihal mutu pencapaian hasil apakah telah memuaskan, layak, serta berjalan dengan bagus. Kegiatan penilaian dalam prosesnya memanfaatkan pemberian kualitatif atau kuantitatif yang dilaporkan dalam poin ataupun dengan pemaparan oral. D. Pelaksanaan Evaluasi Pelaksananaan evaluasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan 3 metode ialah: 1. Pelaksanaan penilaian selaku klasikal, ialah anak didik bersamasama di dalam kelas di evaluasi serta membuntuti penilaian uji pada saat yang bersamaan. Penilaian klasikal dikenakan guna


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 60 mengukur keseluruhan pandangan keterampilan yang berujar pada ranah kognitif serta afektif. 2. Pelaksanaan penilaian selaku individual digunakan seperti program pengajaran dengan sistem modul. Uji yang dikenakan berwujud uji ujaran yang berstruktur. 3. Pelaksanaan penilaian di laboratorium, anak didik dituntut menanggapi masalah dengan menulis maupun mengisi lembar jawaban. Penilaian ini sanggup berkarakter netralitas serta kedayagunaan yang lebih mulia, perihal itu disebabkan anak didik mendapat masalah yang sama dengan saat pengerjaan yang sama. E. Alat Evaluasi Dalam Pengajaran Bahasa Alat yang dikenakan dalam pengajaran bahasa terdiri berlandaskan alat ukur maupun tes yaitu: 1) Tes menyimak, 2) Tes berbicara, 3) Tes membaca, 4) Tes kosa kata, 5) Tes struktur, 6) Tes menulis, serta 7) Tes pragmatik. F. Evaluasi Dalam Pembelajaran Membaca serta Menulis Dari hasil penilaian dalam kegiatan belajar mengajar, tidak cuma hasil belajar anak didik yang diketahui, namun keberhasilan belajar anak, maupun kekandasan program pembelajaran juga terpantau. Dalam kaitanya dengan KBM, penilaian mesti dilakoni oleh guru, paling utama merupakan (1). Evaluasi kepada hasil belajar anak


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 61 (guna mengerti pertumbuhan anak), serta (2) penilaian kepada program pembelajaran. a) Evaluasi dalam Pembelajaran Membaca Pembelajaran membaca disekolah dasar yaitu pembelajaran membaca permulaan. Tujuan pembelajaran ini paling utama di tekankan pada keterampilan membaca cara pada kewajaran ucapan serta aksen. Di dalam kurikulum tujuan pembelajaran membaca permulaan yaitu anak sanggup memahami, membaca kata-kata dengan ucapan serta aksen yang umum. Metode penilaian yang sanggup dikenakan guna mengukur keterampilan membaca dipaparkan sebagai berikut. 1) Membaca dengan ucapan serta aksen yang pas. 2) Menjawab pesoalan-persoalan. 3) Menyimpulkan tema serta unsur-unsur yang lain dari sejarah yang dibaca. 4) Mengindentifikasi, mengkategorikan, serta mengikhtisarkan materi pustaka. 5) Menentukan kata kompleks, lumrah serta spesial, homonim, homofon, hiponim, sinonim, serta antonim. 6) Melengkapi bagian-bagian tertentu dari pustaka yang terencana dihilangkan (cara klose). 7) Menyusun lagi rangkaian data yang kurang tepat dari suatu bacaan dalam bahasa arah. b) Evaluasi dalam Pembelajaran Menulis Evaluasi keahlian menulis bertujuan mengerti keterampilan pembelajar dalam menyampikan gagasan, perasaan, serta pikirannya, dan juga memanfaatkan perangkat bahasa arah selaku tulis. Metode penilaian yang sanggup dikenakan dipaparkan berikut.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 62 1. Menulis huruf, nama, kasus, serta status yang diperdengarkan, diperlihatkan, serta dibicarakan. 2. Menyampaikan kembali secara tertulis suatu cerita, tanya jawab, kasus yang didengar maupun dibaca. 3. Menuliskan cerita menurut lukisan maupun rantaian lukisan. 4. Melaporkan pengalaman, kasus, profesi, maupun perjalanan secara tertulis. 5. Menjawab persoalan simpel maupun komplek secara tertulis. 6. Membuat karangan menurut tema tertentu. 7. Menggunakan ejaan serta simbol baca secara tetap. G. Evaluasi Dalam Pembelajaran Berbicara dan Menyimak 1. Evaluasi Dalam Pembelajaran Berbicara Evaluasi keahlian berbicara dilaksanakan guna mengerti kemampuan pembelajar dalam memanfaatkan bahasa arah selaku ujaran guna menyatakan pikiran, perasaan, serta keberadaannya. Metode penilaian yang sanggup dikenakan dipaparkan sebagai berikut. 1) Mengucapkan huruf, nama, status dalam bahasa target. 2) Menceritakan kembali tanya-jawab, cerita, kasus yang didengar maupun yang dibaca. 3) Menceritakan gambar. 4) Melakukan wawancara. 5) Menyampaikan pengalaman, kasus, ilmu wawasan secara lisan.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 63 6) Menjawab pertanyaan simpel serta komplek. 7) Bermain kedudukan. 2. Evaluasi Dalam Pembelajaran Menyimak Menyimak yaitu keterampilan berujar yang pertama kali dipahami anak saat sebelum menguasai keahlian berbicara, membaca, serta menulis. Penguasaan menyimak pada hakikatnya lebih berkarakter kognitif dengan pandangan yang lebih mulia. Keahlian ini melingkupi menerima, menganalisa, memahami, serta mengikhtisarkan data lisan yang dituturkan dalam bahasa target. Metode penilaian yang sanggup dilakukan dipaparkan sebagai berikut. 1) Menyebutkan/menuliskan lagi suatu data simpel (alfabet, nama sesuatu, jumlah, keadaan sesuatu, kasus, dan lainlain). 2) Menyebutkan/menuliskan lagi uraian maupun penjelasan suatu kasus, entitas, status, lantaran efek, dan lain-lain. 3) Menyebutkan/menuliskan lagi suatu perihal (kelahiran, pengalaman kawankawan, dan lain-lain). 4) Menyebutkan/menuliskan lagi suatu cerita. 5) Menyimpulkan suatu obrolan. 6) Menjawab suatu pertanyaan dari suatu masalah (adil, esai berstuktur, maupun esai bebas). 7) Menyimpulkan tema dan unsur-unsur yang lain dari suatu cerita. 8) Memperbaiki ucapan-ucapan yang salah yang tidak serupa dengan bahasa target.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 64 H. Rubrik Penilaian Keterampilan Berbahasa Indonesia a. Rubrik Penilaian Keterampilan Membaca No . Nama Aspek yang dinilai Jumlah Skor 1 2 3 4 5 6 1. 2. 3. ds t. Keterangan: 1. Kejelasan ucapan. 3. Pelafalan. 5. Sikap 2. Intonasi. 4. Suara. 6. Penampilan b. Rubrik Penilaian Keterampilan Menulis No . Nama Aspek yang dinilai Jumlah Skor 1 2 3 4 5 1. 2. 3. ds t. Keterangan: 1. Sistematika. 4. Pemilihan kata. 2. Penggunaan ejaan dan tanda baca. 5. Penggunaan kalimat. 3. Kerapian. c. Rubrik Penilaian Keterampilan Berbicara No . Nama Aspek yang dinilai Jumlah Skor 1 2 3 4 5


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 65 1. 2. 3. ds t. Keterangan: 1. Lafal. 3. Jeda. 5. Gerak-gerik (kinestetik). 2. Irama. 4. Mimik. d. Rubrik Penilaian Keterampilan Menyimak No . Nama Aspek yang dinilai Jumlah Skor 1 2 3 4 1. 2. 3. ds t. Keterangan: 1. Sikap tubuh santun saat menyimak sebuah teks yang sedang dibacakan. 2. Instruksi lisan yang baik. 3. Menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan teks dengan tepat. 4. Menceritakan ide pokok dari teks tersebut.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 66 I. Essai 1. Jelaskan pengertian evaluasi dalam pembelajaran? 2. Bagaimana pelaksanaan evaluasi pembelajaran? 3. Apa tujuan yang hendak di capai dalam pembelajaran menulis ? 4. Aspek apa yang digunakan dalam pembelajaran berbicara ? 5. Bagaimana cara evaluasi pembelajaran menyimak ? Kunci Jawaban: 1. Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dalam menentukan sejauh mana dan bagaimana pembelajaran yang telah berjalan agar dapat membuat penilaian dan perbaikan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan hasilnya. 2. Pelaksananaan evaluasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara klasikal, secara individual, dan evaluasi di laboratorium. 3. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran menulis permulaan adalah sebagai berikut: anak dapat menggambar/mencontoh huruf-huruf, anak dapat menggambar/mencontoh suku kata atau katakata, dan anak dapat menggambar/mencontoh kalimat sederhana. 4. Aspek-aspek yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran berbicara yaitu sebagai berikut : Pengulangan, digunakan melalui rekaman yang diperdengarkan pada kalimat pendek dan siswa diminta untuk mengulang. Hafalan, siswa mengucapkan suatu sajak yang sudah dihafalkan. Guru menilai dengan menggunakan pedoman penilaian yang sudah dipersiapkan. Percakapan terpimpin, guru menceritakan situasi percakapan, misalnya antara guru dan siswa. Dua orang


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 67 siswa diminta melakukan percakapan, untuk membatu ingatan. Penilaian diberikan terkait lafal, urutan kata, struktur kalimat, kelogisan, dan lain sebagianya. Percakapan bebas/wawancara, penilaian jenis ini berbentuk percakapan antar siswa dan guru atau dengan pewawancara. Guru berada di belakang pewawancara agar dapat menilai siswa secara objektif dan cermat. 5. Kemampuan menyimak dapat dievaluasi dengan cara sebagai berikut : Menyebutkan/menuliskan lagi suatu data simpel (alfabet, nama sesuatu, jumlah, keadaan sesuatu, kasus, dan lainlain). Menyebutkan/menuliskan lagi uraian maupun penjelasan suatu kasus, entitas, status, lantaran efek, dan lain-lain. Menyebutkan/menuliskan lagi suatu perihal (kelahiran, pengalaman kawankawan, dan lain-lain). Menyebutkan/menuliskan lagi suatu cerita. Menyimpulkan suatu obrolan. Menjawab suatu pertanyaan dari suatu masalah (adil, esai berstuktur, maupun esai bebas). Menyimpulkan tema dan unsur-unsur yang lain dari suatu cerita. Memperbaiki ucapan-ucapan yang salah yang tidak serupa dengan bahasa target.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 68 DAFTAR PUSTAKA Dr. Hj. Sulastriningsih Djumingin, M. (2017). Penilaian Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Teori dan Penerapannya). Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar. Dr. Supriyadi, M. (2013). Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Gorontalo: UNG Press Gorontalo. Gronlund, N. E. (1976). Measurement and Evaluatio in Teaching. New York: Macmillan Publishing Co. Hamalik. (2007). Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju. Masta Marselina Sembiring, S. M. (2023). Keterampilan Berbahasa Indoensia dan Apresiasi Sastra. Medan: LKMP.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 69 BAB VII TANDA BACA A. Capaian Kompetisi 1. Mampu mengetahui pengertian dari tanda baca 2. Mampu mengetahui jenis jenis tanda baca 3. Mampu memahami penggunaan dari setiap jenis tanda baca 4. Mampu membedakan intonasi suara pada tanda baca yang di gunakan B. Latar Belakang Materi yang akan dibahas yaitu: 1. Pengertian Tanda Baca 2. Jenis-jenis Tanda Baca 3. Contoh-contoh penggunaan Tanda Baca Penggunaan tanda baca adalah hal yang sangat penting untuk dikuasai,karena keterampilan menggunakan tanda baca ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan seharihari.Diharapkan dengan adanya materi ini,pembaca dapat menggunakan tanda baca dengan baik. C. Pengertian Tanda Baca Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 70 adalah suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis. Pengertian tanda baca secara umum adalah tanda yang digunakan dalam sistem ejaan. Adapun pengertian tanda baca menurut pakar, yaitu : 1. Menurut Drs. Abdullah, tanda baca adalah tanda yang digunakan untuk menjelaskan maksud penulis agar informasi disampaikan tanda serah terima oleh pembaca. 2. Menurut Dr. Gorys Keraf dalam buku komposisi, sebuah pengantar kemahiran Berbahasa Indonesia halaman 13, bahwa tanda baca adalah tanda – tanda atau gambar – gambar yang menggambarkan unsure - unsure suprasemental dalam tutur untuk memudahkan pembaca mengikuti jejak bahasa lainnya. 3. Menurut Prof. Dr. Dp.Tampubolon dalam bukunya yang bejudul Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien, halaman 33 mengemukakan bahwa tanda baca ialah lambang – lambang tulisan yang dipergunakan oleh penulis untuk melambangkan berbagai aspek bahasa lisan yang bukan bunyi – bunyi bahasa (fonem – fonem). 4. Menurut Fachruddin, A.G. dalam buku bahasa Indonesia (buku Pegangan Mata Kuliah Dasar Umum) halaman 33 tanda baca adalah tanda yang digunakan untuk melambangkan bahasa. 5. Menurut KBBI, tanda baca adalah tanda yang digunakan dalam sistem ejaan seperti titik, koma dan lain sebagainya. Tanda baca adalah yang tidak berhubungan dengan fonem pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan. D. Jenis-Jenis Tanda Baca dan Contoh Penggunaannya 1. Tanda Titik (.) a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 71 Contoh: - Saya suka makan kue. - Ibuku tinggal di Surabaya. - Ibu membeli ikan di pasar. Kemudian ibu memasaknya. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. b. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang. Contoh: - Irwan S. Gatot - George W. Bush - Budi U. Apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan. Contoh: Dwiki Halla c. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan. Contoh: - Dr. (doktor) - S.E. (sarjana ekonomi) - Kol. (kolonel) - Bpk. (bapak) d. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik. Contoh: - dll. (dan lain-lain) - dsb. (dan sebagainya) - tgl. (tanggal) - hlm. (halaman) e. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu. Contoh: - Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik) - 1.20.30 jam (1 jam, 20 menit, 30 detik)


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 72 f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Contoh: Desa Maju berpenduduk 1.156 orang. g. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Contoh : - III. Departemen Pendidikan Nasional A. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi B. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah 1. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini 2. … - 1. Patokan Umum 1.1 Isi Karangan 1.2 Ilustrasi 1.2.1 Gambar Tangan 1.2.2 Tabel 1.2.3 Grafik - 2. Patokan Khusus 2.1 … 2.2 … h. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit. Contoh: - Sucipto. Adi. 2014. Cara Belajar yang Benar. Cirebon: Gramedia. - Republik Indonesia. 2003. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretariat Negara. i. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh: Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak dengan huruf tebal. Nomor Giro 033983 telah saya berikan kepada Mamat.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 73 j. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat. Contoh: DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) SMA (Sekolah Menengah Atas) PT (Perseroan Terbatas) WHO (World Health Organization) UUD (Undang-Undang Dasar) SIM (Surat Izin Mengemudi) Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) RAPIM (rapat pimpinan) k. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang. contoh: Cu (tembaga) 52 cm l (liter) l. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. contoh: - Belajar Berbahasa Indonesia - Tabel hasil pertanian Desa Makmur m. Tanda titik tidak dipakai pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik. Contoh: - Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A. - Dia memerlukan meja, kursi, dsb. - Dia mengatakan, “kaki saya sakit.” n. Tanda titik tidak dipakai di belakang 1) nama dan alamat penerima surat, 2) nama dan alamat pengirim surat, dan 3) di belakang tanggal surat. Contoh: - Yth. Sdr. Moh. Hasan Jalan Arif Rahmad 43 Palembang


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 74 - Adinda Jalan Diponegoro 82 Jakarta - 21 April 2008 2. Tanda Koma (,) a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi. [Catatan: dengan koma sebelum "dan"] Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan. [Catatan: tanpa koma sebelum "dan"] b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan. Contoh: - Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kau yang memilihnya. - Ini bukan buku saya, melainkan buku ayah saya. - Dia senang membaca cerita pendek, sedangkan adiknya suka membaca puisi. c. 1) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya. Contoh: - Kalau hari hujan, saya tidak akan datang. - Karena sibuk, ia lupa akan janjinya. - Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku. 2) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat. Contoh: - Saya tidak akan datang kalau hari hujan. - Ia lupa akan janjinya karena sibuk - Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang lulus.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 75 d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, dengan demikian, dan meskipun begitu. Contoh: - Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri. - Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar. - Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada siapapun e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat. Contoh: - O, begitu. - Wah, indah sekali bunga mawar di rumahmu. - Hati-hati, ya, jalannya licin. - Mas, kapan pulang ? - Mengapa kamu diam, Dik ? - Kue ini enak, Bu. f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Contoh: - Kata ibu, “Saya gembira sekali.” - “Saya gembira sekali,” kata ibu,”karena lulus ujian.” g. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Contoh: - "Di mana Ani tinggal?" tanya Ali. - “Masuk ke kelas sekarang!” perintahnya. h. Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagianbagian alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Contoh: - Sir. Abdullah, Jl. Toddopuli Raya Timur Dl-24, Makassar - Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, JL. Tidung 5, Makassar


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 76 - Surabaya 2 Januari 1992 - Tokyo, Jepang i. Tanda koma dipakai untuk memisahka bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Contoh: - Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung. - Halin, Amran (Ed.) 1976. Politk Bahasa Nasional. Jakarta : Pusat Bahasa. - Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia. j. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir. Contoh: - Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm.25. - Hilman, Hadikusuma, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12. - Poerwadarminta, W.JS. Bahasa Indonesia untuk Karangmengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4. k. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Contoh: - Dian Ekawati, S.Pd. - Siti Khadija, M.A l. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Contoh: - 33,5 m - 27,3 kg - Rp500,00 m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Contoh: - Dosen kami, Dr. Syamsuddin, disiplin sekali. - Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang lakilaki yang makan sirih - Semua murid baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 77 n. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Contoh: -Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini. -Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. Bandingkan dengan: Kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini dalam pengembangan kosakata. Kami ucapkan terima kasih atas perhatian saudara. 3. Tanda Titik Koma (;) a. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung. Contoh: - Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju celana, dan kaos; pisang, apel, dan juruk. - Agenda rapat ini meliputi pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara; penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; pendataan anggota, dokumentasi, dan asset organisasi. b. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalmat majemuk setara. Contoh: - Hari sudah malam; anak-anak masih membaca bukubuku yang baru dibeli ayahnya. - Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar c. Tanda titik koma (;) digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan. Contoh: Syarat-syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini: 1) Berkewarganegaraan Indonesia; 2) Berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya; 3) Berbadan sehat;


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 78 4) Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. Tanda Titik Dua (:) a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau perincian. Contoh: - Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari. - Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan. - Sifat benda saat menghantarkan listrik ada dua: isolator dan konduktor b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerincian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Contoh: - Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. - Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan. c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerincian. Contoh: - Ketua : Ali Sekretaris : Rijal Bendahara : Khaedar - Tempat : Gedung AC 105 Pascasarjana UNM Pembawa Acara : Citra Sufiani Alamsyah Hari, tanggal : Senin, 7 Desember 2015 Waktu : 09.00-10.30 d. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Contoh: Ibu : "Jangan lupa sebelum tidur, kamu haus mengosok gigi dan cuci kaki! " Fitri : "Siap, Bu!" e. Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan serta nama kota dan penerbit buku dan acuan dalam karangan. Contoh: - Tempo, I (1971), 34:7


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 79 - Surah Yasin: 9 - Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit. - Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa. f. Tanda titik dua dipakai untuk menandakan perbandingan. Contoh: - Perbandingan murid laki-laki terhadap perempuan adalah 2:1. - Perbandingan anak yang senang belajar matematika dan tidak senang adalah 1:3 5. Tanda Hubung (-) a. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang. Contoh: - anak-anak, - berulang-ulang, - kemerah-merahan Tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan. b. Tanda hubung dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal. Contoh: - p-e-n-g-u-r-u-s - 25-10-1991 c. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagianbagian ungkapan. Perhatikan perbedaannya: - ber-evolusi dengan berevolusi - duapuluhlima-ribuan(20×5000) dengan dua-puluhlimaribuan (1×25000). - Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah - Anak-ibu yang pintar dengan anak ibu-yang pintar d. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan. 1) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital Contoh : se-Indonesia 2) ke- dengan angka Contoh : anak ke-3


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 80 3) angka dengan –an contoh : tahun 200-an 4) Singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata Contoh : KTP-nya, dan sinar-x 5) Nama jabatan rangkap. Contoh : Menteri-Sekretaris Negara e. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Contoh: - di-smash - pen-tackle-an - men-scan f. Tanda hubung dipakai menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Contoh: - Di samping cara lama diterapkan juga ca-ra baru. - Sebagaimana kata peribahasa, tak ada ga-ding yang tak retak. 6. Tanda Pisah (–, —) a. 1) Tanda pisah em (—) dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat. Contoh: - Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar. - Desa maju—saya harapkan—akan menjadi desa yang sejahtera. 2) Tanda pisah (—) dipakai untuk menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas. Contoh: - Rangkaian penemuan ini—teori evolusi dan teori atom—telah mengubah pandangan kita tentang alam semesta. - Gerakan pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus ditingkatkan. b. 1) Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke' atau 'sampai'. Contoh: - 1919–1921 –


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 81 -Medan–Jakarta - 10–13 Desember 1999 2) Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama tanda kurang (−). Contoh: - dari halaman 45 sampai 65, bukan dari halaman 45–65 - antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara tahun 1492–1499 – −4 sampai −6 °C, bukan −4–−6 °C 7. Tanda Elipsis (...) a. Tanda Elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk menuliskan naskah drama. Contoh: - Kalau begitu ... , marilah kita laksanakan. - Jika saudara setuju dengan harga itu ..., pembayarannya akan segera kami lakukan. b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Contoh: - Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut. - Pengetahuan dan pengalaman kita … masih sangat terbatas Catatan: Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan cermat …. 8. Tanda Tanya (?) a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Contoh: - Kapan ia berangkat? - Saudara tahu, bukan? b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Contoh: - Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?). - Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang. 9. Tanda Seru (!)


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 82 Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Contoh: - Alangkah mengerikannya peristiwa itu! - Bersihkan meja itu sekarang juga! - Sampai hati ia membuang anaknya! - Merdeka! Oleh karena itu, penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan ilmiah atau Ensiklopedia. Hindari penggunaannya kecuali dalam kutipan atau transkripsi drama. 10. Tanda Kurung (( )) a. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan. Contoh: - Bagian keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala. - Anak itu tidak memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) - Dia tidak membawa SIM (Surat Izin Mengemudi) b. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Contoh: - Satelit Palapa (pernyataan sumpah yang dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit domestik di Indonesia. - Pertumbuhan penjualan tahun ini (lihat Tabel 9) menunjukkan adanya perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri. c. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. Contoh: - Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a) - Pembalap itu berasal dari (kota) Medan. d. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Contoh: - Pemasaran itu menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (d) promosi.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 83 - Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran, (2) ijazah terakhir, dan (3) surat keterangan kesehatan. Catatan : Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi angka atau huruf yang menyatakan perincian yang disusun ke bawah. Contoh :Dia senang dengan mata pelajaran a) Fisika b) Kimia c) Biologi 11. Tanda Kurung Siku ([...]) a. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Contoh: - Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik. - Ia memberikan uang [kepada] anaknya. b. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Contoh: - Persamaan kedua proses ini (lihat pada materi sebelumnya [halaman 34-35]) perlu dijelaskan lagi. 12. Tanda Petik ("...") a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah atau bahan tertulis lain. Contoh: - "Saya belum siap," kata dia, "tunggu sebentar!" - Pasal 36 UUD 1945 menyatakan, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia." b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul syair/puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Contoh: - Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. - Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 84 - Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu. c. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Contoh: - Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja. - Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai". d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Contoh: - Kata Tono, "Saya juga minta satu." - Dia bertanya, "Apakah saya boleh ikut? " e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Contoh: - Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam". - Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya. 13. Tanda Petik Tunggal ('...') a. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain. Contoh: - Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?" - "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan. b. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan. Contoh : - Terpandai 'paling pandai' - Retina 'dinding mata sebelah dalam' c. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing. Contoh: - feed-back 'balikan' - dress rehersal 'gladi bersih' - tadulako 'panglima'


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 85 14. Tanda Garis Miring (/) a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun ajaran. Contoh: - No. 7/PK/1973 - Jalan Kramat III/10 - tahun anggaran 1985/1986 b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun. Contoh: - Dikirimkan lewat darat/laut - Harganya Rp1.500,00/lembar - Tindakan penipuan dan/atau penganaiyaan. Catatan : Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah. 15. Tanda Penyingkat (Apostrof)(') Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Contoh: - Ali 'kan kusurati. ('kan = akan) - Malam 'lah tiba. ('lah = telah) - 1 Januari '88 ('88 = 1988) Sebaiknya bentuk ini tidak dipakai dalam teks prosa biasa. C.Kesimpulan Fungsi-fungsi tanda baca adalah tanda-tanda yang dipakai didalam sistem ejaan. Tanda baca adalah salah satu dari sekian jenis Ortografi. Tanda baca banyak sekali jenis dan tipenya yang masingmasing mempunyai fungsi yang tidak sama. Fungsi tanda baca secara umum adalah untuk menjaga keefektifan komunikasi.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 86 E. ESSAY SOAL 1.Apakah pengertian dari tanda baca menurut Dr. Gorys Keraf? 2.Tuliskan minimal 4 jenis-jenis dari tanda baca! 3.Untuk apakah biasanya dipakai tanda seru? 4.Tuliskan contoh tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang! 5.Tuliskan penggunaan tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat! KUNCI JAWABAN 1. Menurut Dr. Gorys Keraf dalam buku komposisi, sebuah pengantar kemahiran Berbahasa Indonesia halaman 13, bahwa tanda baca adalah tanda – tanda atau gambar – gambar yang menggambarkan unsure - unsure suprasemental dalam tutur untuk memudahkan pembaca mengikuti jejak bahasa lainnya. 2.Jenis-jenis tanda baca : a. Tanda Titik (.) b. Tanda Titik Dua (:) c. Tanda Petik ("...") d. Tanda Seru (!) e. Tanda Garis Miring (/),dll 3. Tanda seru biasanya dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. 4. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang. Contoh: - Irwan S. Gatot - George W. Bush - Budi U. 5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 87 Contoh: - Kata ibu, “Saya gembira sekali.” - “Saya gembira sekali,” kata ibu,”karena lulus ujian.”


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 88 DAFTAR PUSTAKA Syamsuddin, R. (2021). Buku keterampilan berbahasa indonesia. Universitas Negeri Makassar, May, 64. Hasrianti, A. (2021). Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda Baca dalam Karangan Peserta Didik. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 7(1), 213-222. Adiningsih, Y. (2019). Tanda baca penanda kalimat dalam buku ajar bahasa indonesia sekolah dasar. TéKSTUAL, 17(2), 56-61.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 89 BAB VIII KETERAMPILAN MEMBACA A. Capaian Kompetensi Adapun yang harus mahasiswa pahami adalah mengenai keterampilan membaca, yang dimana harus dipahami adalah 1. Memahami apa yang ditujukan dengan Memabaca 2. Mengetahui apa saja tujuann yang diterima dari membaca 3. Mengetahui manfaat menekuni membaca di kelas ringan ataupun di kelas atas 4. Diharapkan mahasiswa sanggup memahami teknik membaca dengan baik B. Latar Belakang Materi yang akan dibahas yaitu : 1. Pengertian membaca 2. Tujuan membaca 3. Teknik membaca 4. Metode pengajaran Membaca merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai, karena keterampilan ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari hari, diharapkan dengan adanya materi ini, kita dapat meningkatkan keterampilan membaca kita.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 90 C. Pengertian Membaca Membaca selaku salah satu perspektif kepiawaian berbincang yakni sebuah permasalahan yang meraih banyak atensi dalam kehidupan individu. atensi ini menghunjam pada pemahaman hendak utamanya definisi, harga, serta peranan membaca dalam kehidupan berpublik. tentang inilah yang mengakibatkan bermacam-macam ragamnya pengertian membaca. Membaca merupakan pengujaran ujar-ujar serta penghasilan ujar dari materi nomor. aktivitas ini menyertakan analisa serta pengorganisasian bermacam kepiawaian yang permukiman, tercantum di dalamnya pelajaran, filsafat, evaluasi, perpadanan, serta resolusi permasalahan yang berdefinisi mengundang klarifikasi data buat pembaca (Harianto, 2020). Menurut Tarigan (1985: 32) membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata/ bahan tulis atau memetik serta memahami arti yang terkandung di dalam bahan yang tertulis. Selanjutnya Soedarsono (1993: 4) mengemukakan bahwa membaca adalah “aktivitas yang kompleks dengan mengarahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi: orang harus menggunakan pengertian, khayalan, dan mengamati dan mengingat-ingat.” Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca. Menurut Burns (Haryadi, 1996 : 32) “membaca sebagai proses merupakan semua kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu”. Proses tersebut berupa penyandian kembali dan penafsiran sandi. Anderson (Haryadi , 1996 :32) menyatakan bahwa kegiatannya dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana,


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 91 serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya. Bahkan menurut Ulit (Haryadi :1996 ) pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses berpikir yang termasuk di dalamnya memahami, menceritakan menafsirkan arti dari lambanglambang tertulis dengan melibatkan penglihatan, gerak mata, pembicaraan batin, dan ingatan (Harianto, 2020). Menurut Klien,dkk (dalam Rahim, 2008, p.3) mengemukakan bahwa pengertian membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca merupakan suatu strategis (3) membaca merupakan interaktif ”. Berbeda halnya dengan pendapat Tarigan (2008, p.7) yang mendefinisikan pengertian “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”. Senada dengan pendapat sebelumnya, Nurgiyantoro (2012, p.368) menyatakan bahwa “ kegiatan membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulisan”. Berdasarkan beberapa pendapat yang ada, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan bahan bacaan. Pembaca yang baik harus dapat mengenali unsur-unsur bacaan (huruf, suku kata dan kata serta kalimat), kemudian melafalkannya serta memahami maknanya. D. Tujuan Membaca Menurut Akhadiah, dkk (Siahaan :1991) secara umum tujuan membaca dibedakan menjadi : (a) membaca untuk mendapatkan informasi, (b) membaca dengan tujuan 76 agar


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 92 citra dirinya meningkat, (c) membaca untuk melepas diri dari kenyataan, (d) membaca untuk rekreatif, (e) membaca yang tinggi ialah untuk mencari nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut : a. Membaca guna mendapati data. data yang ditujukan merupakan melingkupi data mampu mengenai hakikat serta insiden sehari-hari hingga data jenjang atas mengenai filosofi-teori dan penemuan serta penemuan objektif yang berkembang. b. Membaca dengan tujuan biar cermin dirinya memuncak. serupa membaca ciptaan para calon ekspeditor, bukan karna berperhatian kepada ciptaan itu melainkan biar orang memberikan nilai positif kepadanya c. Membaca guna melepas diri dari kebenaran, misalnya p terlihat kali merasa jemu, lara, malahan putus asa. Dalam perihal ini membaca yakni submilasi ataupun pembagian yang positif d. Untuk mendapati keriangan ataupun hiburan. referensi yang diseleksi guna tujuan ini yaitu pustaka yang ringkas ataupun tipe pustaka yang disukainya. e. Membaca yang tinggi ialah untuk mencari nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis, dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Dalam hal ini bacaan yang dipilih adalah karya yang bernilai sastra. Pada dasarnya membaca dilakukan sebagai upaya memperoleh informasi yang mencakup isi dan memahami makana bacaan. Makna bacaan sangat ditentukan oleh pengalaman pembaca terhadap keadaan yang dijelaskan dalam bacaan.


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 93 Sedangkan Menurut Nurhadi dalam Dalman (2014:13) ada beragam tujuan membaca, yaitu : 1. Memahami secara detail dan menyeluruh isi bacaan. 2. Menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat. 3. Mendapatkan informasi tentang sesuatu. 4. Mengenali makna kata-kata sulit. 5. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia. 6. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar. 7. Ingin memperoleh kenikmatan dari karya fiksi. 8. Ingin memperoleh informasi tentang lowongan kerja. 9. Ingin mencari barang-barang atau produk yang cocok untuk dibeli. 10. Ingin menilai kebenaran gagasan pengarang/penulis. 11. Ingin mendapatkan alat tertentu. 12. Ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan tentang definisi suatu istilah. E. Tujuan Membaca di Sekolah Dasar a. Tujuan Pembelajaran Membaca di Kelas Rendah Sebelum guru mengajar di depan kelas dengan sendirinya dia harus mengetahui terlebih dahulu tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan bersama muridnya. Adapun tujuan membaca di SD kelas rendah dapat ditentukan atau dicari guru melalui pemahaman Tujuan Pembelajaran berdasarkan


JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 94 standar kompetensi pada kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Yang termasuk SD kelas rendah adalah kelas 1 dan 2, sedangkan SD kelas tinggi mulai kelas 3 sampai dengan kelas 6. Di samping guru harus memahami kompetensi dasar apa yang akan dicapai dan dikembankan dalam pembelajaran membaca yang tertera dalam kurikulum yang berlaku harus memahami teori membaca yang berhubungan dengan jenisjenis membaca dan tujuan membaca setiap jenis membaca tersebut. Secara teoretis macam-macam pengajaran membaca seoperti yang dikemukakan oleh I Gusti Ngurah Oka (1983), adalah sebagai berikut: a. Pengajaran Membaca Permulaan Pengajaran membaca permulaan ini disajikan kepada murid tingkat permulaan Sekolah Dasar. Tujuannya adalah membinakan dasar mekanisme membaca, seperti kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya, membina gerakan mata membaca dari kiri ke kanan, membaca kata-kata dan kalimat sederhana. b. Pengajaran Membaca Nyaring Pengajaran membaca nyaring ini di satu pihak dianggap merupakan bagian atau lanjutan dari pengajaran membaca permulaan, dan di pihak lain dipandang juga sebagai pengajaran membaca tersendiri yang sudah tergolong tingkat lanjut, seperti membaca sebuah kutipan dengan suara nyaring. c. Pengajaran Membaca dalam Hati d. Pengajaran membaca ini membina anak didik biar mereka sanggup membaca tanpa suara serta sanggup memahami isi cerita terdaftar yang dibacanya, positif isi


Click to View FlipBook Version