JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 95 pokoknya ataupun isi bagiannya tercantum pula isi yang tertulisan serta yang tersirat e. Pengajaran Membaca Pemahaman Dalam praktiknya, pengajaran membaca pemahaman hampir tidak berbeda dengan pengajaran membaca dalam hati. f. Pengajaran Membaca Bahasa Pengajaran membaca ini pada dasarnya merupakan alat dari pengajaran bahasa. Guru memanfaatkannya untuk membina kemampuan bahasa murid g. Pengajaran Membaca Teknik Pengajaran membaca teknik memusatkan perhatiannya kepada pembinaan-pembinaan kemampuan murid menguasai teknik-teknik membaca yang dipandang patut. Dalam pelaksanaannya pengajaran membaca teknik sering kali berimpit dengan pengajaran membaca nyaring dan pengajaran membaca permulaan. Secara teoretis tujuan membaca di SD kelas rendah adalah untuk membina kemampuan murid dalam halhal berikut ini: a. Mekanisme membaca, yaitu mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya (yang dilatih adalah membaca teknik dan nyaring). b. Membina gerak mata membaca dari kiri ke kanan. c. Membaca kata-kata dan kalimat-kalimat pendek. Menurut Tarigan H.G. (1983) ada dua apek yang penting dalam membaca, yaitu:
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 96 a. Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah (lower order) yang mencakup: 1. pengenalan bentuk huruf; 2. pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem, kata, frase, pola klause, kalimat, dan lain-lain); 3. pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan bahan tertulis atau to bark at print); 4. kecepatan membaca bertaraf lambat. b. Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order) yang mencakup aspek: 1. memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal); 2. memahami signifikansi atau makna (antara lain maksud dan tujuan pengarang relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca); 3. evaluasi atau penilaian (isi, bentuk); 4. kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan. Tujuan pengajaran membaca di SD kelas rendah adalah: 1. Membina kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi (pengenalan bentuk huruf). 2. Membina membaca kata-kata dan kalimat sederhana (pengenalan unsur linguistik). b. Tujuan Pembelajaran Membaca di Kelas Tinggi Kalau tujuan membaca di kelas rendah bersifat mekanis, yang biasanya di sebut Membaca Permulaan, maka tujuan membaca di kelas tinggi merupakan kelanjutan dari membaca
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 97 di kelas rendah yang biasanya disebut Membaca Lanjut yang penekanannya pada pemahaman. Menurut Tarigan membaca di kelas tinggi ini melatih murid dalam keterampilan yang bersifat pemahaman (Comprehension Skills) yang mencakup aspek-aspek berikut ini: 1. Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal). 2. Memahami signifikansi atau makna (antara lain maksud dan tujuan pengarang relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca). 3. Evaluasi atau penilaian (isi, bentuk). 4. Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan. Selanjutnya Tarigan menjelaskan bahwa membaca di kelas rendah masih bersifat mekanis (mechanikal skills) maka aktivitas yang paling sesuai adalah membaca nyaring (bersuara), sedangkaan untuk kelas tinggi ditekankan pada pemahaman (comprehension skills) dan aktivitas yang tepat adalah membaca dalam Membaca dalam hati (silent reading) dibagi menjadi dua, yaitu (a) membaca ekstensif (extensive reading) dan (b) membaca intensif (intensive reading). Membaca ekstensif mecakup (1) membaca survei (survey reading), (2) membaca sekilas (skimming), dan (3) membaca dangkal (superficial reading). Menurut Rohana (2017) membaca intensif mencakup (1) membaca telaah isi (content study reading) yang terdiri dari (i) membaca teliti (close reading), (ii) membaca pemahaman (comprehension reading), (iii) membaca kritis (critical reading), dan (iv) membaca ide (reading for ideas); (2) membaca telaah
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 98 bahasa (language study reading) yang terdiri dari (i) membaca bahasa asing (foreign language reading) dan (ii) membaca sastra (literary reading). Berdasarkan aspek-aspek membaca serta jenis-jenis membaca di menurut, maka membaca yang perlu dilatihkan ataupun dibesarkan guna anak didik SD kasta atas amat permukiman yang melingkupi membaca bersuara serta membaca dalam hati. Membaca bersuara dicocokkan dengan keperluan serta dipentingkan pada teknik membaca yang pas karna pada hakikatnya membaca bersuara ini membaca guna orang lain. Jadi, orang mengindahkan pustaka itu gampang membekuk ataupun memahami apa yang didengarnya. Yang tercantum membaca bersuara dalam kemahiran dasar guna SD kasta tinggi merupakan membacakan teks, membacakan dongeng, membacakan syair, membacakan pemberitahuan, membacakan teks sambutan/pidato terdaftar, serta membacakan narasi lama yang sedang terkenal. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, baik membaca permulaan maupun membaca lanjut (membaca pemahaman). Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca permulaan menurut Lamb dan Arnold (1976) ialah: a. Faktor Fisiologis Faktor ini mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Keterbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 99 menyebabkan murid gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka. b. Faktor Intelektual Istilah intelegensi didefinisikan oleh Heinz sebagai suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang 84 esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat (Page dkk., 1980). Terkait dengan penjelasan Heinz tersebut, Wechster (dalam Harris dan Sipay, 1980) mengemukakan bahwa intelegensi ialah kemampuan global individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan, berpikir rasional, dan berbuat secara efektif terhadap lingkungan. Secara umum intelegensi murid tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil tidaknya dalam membaca permulaan. c. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca murid. Lingkungan dapat membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri dalam masyarakat. Kondisi itu pada gilirannya dapat membantu, dan dapat juga menghalangi belajar membaca. d. Faktor Psikologis Faktor lain yang juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri (Syamsuddin, 2021).
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 100 F. Teknik-teknik Membaca Pada umumnya, untuk menemukan informasi fokus dengan efisien ada beberapa teknik membaca yang digunakan, antara lain: a. Baca-pilih (selecting) Teknik membaca ini dilakukan dengan cara memilih bahan/bagian bacaan yang dianggap relevan dengan kebutuhan pembacanya. b. Baca-lompat (skipping) Teknik memebaca ini dipakai untuk menemukan bagian bacaan relevan dengan kebutuhan pembacanya, dilakukan dengan cara melompati bagian-bagian yang tidak diperlukan. c. Baca-layap (skimming) Teknik membaca ini merupakan membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan (Rahim, 2007:52). Seseorang membaca layap jika ingin membaca artikel di surat kabar dan majalah, kulit buku di toko buku (dilakukan untuk membeli buku),dan buku-buku pustaka (seseorang bisa menemukannya pustaka tersebut mempunyai informasi yang dibutuhkan). d. Baca-tatap (scanning) Membaca tatap (scanning) disebut juga membaca memindai (scanning) ialah membaca sangat cepat. Menurut Mikkulecky & Jeffries (1998), membaca memindai penting untuk meningkatkan kemampuan membaca. Membaca memindai umumnya digunakan untuk daftar isi buku atau majalah, indeks dalam buku
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 101 teks, jadwal, advertensi dalam surat kabar, buku petunjuk telepon, dan kamus. Sebaliknya, membaca memindai tidak digunakan untuk membaca cerita misteri, buku teks untuk suatu kursus yang penting,surat- surat penting dari ahli hukum, denah untuk menemukan jalan pulang, pertanyaan tes, dan puisi. G. Metode Pengajaran keterampilan membaca di SD Pengajaran ketrampilan membaca pada murid SD ada beberapa cara yang dilakukan guru yaitu dengan menggunakan berbagai macam metode diantaranya: 1. Metode Abjad Metode abjad memulai pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan langkah : 1. Mengenalkan / membaca beberapa huruf , Contohnya b, u, d, i 2. Merangkai huruf menjadi suku kata 3. Menggabungkan suku kata yang sudah dilafalkan 4. Merangkai kata menjadi kalimat 2. Metode Bunyi Metode bunyi sebenarnya sama dengan metode abjad. Bedanya terletak pada cara pelafalan atau mengeja huruf. 3. Metode Suku Kata Metode suku kata memulai pengajaran membaca permulaan dengan menyajikan kata – kata yang sudah dikupas menjadi suku kata. Kemudian suku – suku kata itu dirangkaikan menjadi kata, dan langkah terakhir kata menjadi kalimat. 4. Metode Kata
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 102 Lembaga Metode kata lembaga mulai mengajar membaca permulaan dengan langkah – langkah : 1. Mengenalkan Kata , misalnya : mina 2. Menguraikan kata menjadi suku kata , Contonya : mi-na 3. Menguraikan suku kata atas huruf – huruf, Contohnya: m – i – n – a 4. Menggabungkan huruf menjadi suku kata, misalnya : mi – na 5. Menggabungkan suku kata menjadi kata, Contohnya : mina 5. Metode Global ( metode kalimat ) Membaca kalimat secara utuh yang ada dibawah gambar 6. Metode Struktural Analitik dan Sintetik ( SAS ) SAS merupakan salah satu jenis metode yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi murid pemula.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 103 H. Essay 1. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan membaca? • Yaitu dengan melakukan strategi PQ4R, dengan cara sebagai berikut: Preview, Question, Read, Reflect, Review 2. Jelaskan hubungan antara membaca dengan menyimak, berbicara dan menulis? Menyimak dan membaca merupakan keterampilan reseptif. Keduanya memungkinkan seseorang menerima informasi dari orang lain. Baik dalam menyimak maupun dalam membaca dibutuhkan penyandian simbol-simbol menyimak bersifat lisan sedangkan membaca bersifat tertulis. Berbicara dan menulis merupakan keterampilan ekspresif atau produktif. Keduanya digunakan untuk menyampaikan informasi. Dalam berbicara dan menulis dibutuhkan kemampuan menyandikan simbol – simbol, simbol lisan dalam berbicara dan simbol tertulis dalam menulis 3. Bagaimana cara yang efektif untuk meningkatkan ketrampilan membaca pada anak? • Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan membaca pada anak, yang pertama adalah ajaklah anak membaca bersama, lalu tetapkan tujuan tujuan, mencari tema umum, mencatat sambil membaca dan ajukan pertanyaan tentang apa yang dibaca
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 104 4. Bagaimana membaca dapat dikatakan sebagai keterampilan berbahasa? • Membaca merupakan keterampilan berbahasa untuk memahami ide, gagasan serta perasaan dalam teks, pembaca yang baik akan memperhatikan kecepatan dan pemahaman saat membaca. Membaca pemahaman adalah suatu proses untuk mengenali atau mengidentifikasi teks, kemudian mengingat kembali isi teks. 5. Apa saja aspek aspek dalam membaca? • Aspek sensori, yakni kemampuan untuk memahami simbol-simbol tertulis. • Aspek perseptual, yaitu aspek kemampuan untuk menginterpretasi apa yang dilihatnya sebagai simbol atau kata. • Aspek sekuensial, yaitu kemampuan mengikuti pola-pola urutan, logika, dan gramatikal teks.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 105 DAFTAR PUSTAKA Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya. Harianto, E. (2020). “Keterampilan Membaca dalam Pembelajaran Bahasa.” Jurnal Didaktika, 9(1), 2. https://jurnaldidaktika.org/ Syamsuddin, R. (2021). Buku keterampilan berbahasa indonesia. Universitas Negeri Makassar, May, 64. Haryadi. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta : Depdikbud Ikawati, Erna. "Upaya meningkatkan minat membaca pada anak usia dini." Logaritma: Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan dan Sains 1.02 (2013).Nurgiyantoro, B. (2012). Penilaian pembelajaran bahasa berbasis kompetensi. Yogyakarta: BPFE YOGYAKARTA Nurhadi. (1989). Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: YA3 Soedarsono. (1993). Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Rahim, F. (2008). Pengajaran membaca di sekolah dasar. Jakarta: Sinar Grafika. Soedarsono. (1993). Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Sumardi, Muljanto. 1996. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta : PT. Midas surya Grafindo. Tarigan, Henry Guntur. (1985). Membaca dalam Kehidupan. Bandung: Angkasa. Tarigan, H.G. (2008). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 106 Warsidi, Edi.2007. Menjadi Ghostwriter. Bandung : Karya Mandiri Patiung, Dahlia. "Membaca sebagai sumber pengembangan intelektual." Al Daulah: Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan 5.2 (2016): 352-376.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 107 BAB IX PROBLEMATIKA DAN SOLUSI DALAM KETERAMPILAN MEMBACA A. Capaian kompetensi Untuk memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai problematika dan solusi dalam keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa. Adapun subpokok pembahasan pada bab ini yaitu. A. Kendala-kendala dalam Membaca B. Solusi dan Cara Mengatasi Kendala-kendal dalam Membaca B. Kendala-kendala dalam Membaca Membaca merupakan salah satu kebutuhan, sebab dengan membaca akan meningkatkan potensi keterampilan berbahasa dan kegiatan berbahasa kita. Keterampilan membaca mempunyai beberapa dimensi dalam kehidupan kita, yaitu dimensi sosial, intelektual, dan spiritual yang perlu dikerjakan secara berkelanjutan dan serius selaras dengan pola dan teknik yang sesuai. Dengan membaca, akan berperan sebagai sarana utama dalam mengaktulisasikan serta mengepresikan diri secara personal. Namun, membaca sebaiknya pula dilakukan secara sengaja dan berencana untuk mendapatkan tujuan yang optimal. Membaca bukan hanya sekadar mencari informasi akan tetapi mendapatkan pemahaman serta ilmu pengetahuan yang terdapat pada objek bacaan. Hal itu merupakan hasil dari proses.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 108 Kegiatan membaca tidak juga akan selalu berlangsung dengan baik, namun tentunya harus didukung berbagai hal yaitu. 1. Bahan bacaan (reading matter), yaitu meliputi buku yang merupakan objek yang akan dibaca dan tentunya sesuai keinginan, selera, dan tujuan pembacanya. 2. Situasi atau tempat (place and situation), hal ini merupakan keadaan lingkungan sekitar dan tempat berlangsungnya kegiatan membaca. Situasi yang dimaksud di sini seperti keadaan sepi, ramai, atau hingar-bingar. Sedangkan tempat sperti, di kelas, di taman, di perpustakaan, dll. Kedua hal ini sangat terpengaruh berlangsung baik dan tidak baiknya kegiatan membaca. Jadi, pembaca mestinya menyesuaikan. 3. Keadaan pelaku itu sendiri (situation of personality), yaitu berkenaan dengan kemauan dan semangat pembaca, dan kesiapan berkonsentrasi pembaca terhadap bacaan. Lain halnya yang diuraikan Saddhono dan Slamet (2012:82), mengenai beberapa kendala-kendala membaca, yaitu sebagai berikut. 1. Sikap mental yang menganggap bahwa banyak membaca tidak ada bedanya dengan sedikit membaca, tidak ada pengaruhnya dalam berbagai kegiatan hidup. 2. Sikap asing orang-orang tertentu terhadap mereka yang rajin membaca dengan menyebut mereka sebagai kutu buku, sebagai kelompok orang-orang bermental priayi yang kurang mempunyai etos kerja. 3. Langkanya buku-buku, mahalnya harga buku sehingga tidak terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah, ketidaklengkapan buku-buku perpustakaan, prosedur peminjaman yang rumit, pelayanan perpustakaan yang kurang simpatik. 4. Rendahnya kompetensi bahasa dan tingkat pemahaman membaca.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 109 5. Budaya santai dan mental menerabas, orang berambisi cepat sukses tanpa mau bersusah payah. Akibatnya jalan yang ditempuh bukanlah ketekunan belajar dan bekerja keras melainkan politik Machiavelli (menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan). Sedangkan Nurhadi (1987:28-30), mengemukakan beberapa pandangan yang salah terhadap membaca, yaitu. 1. Pandangan yang menganggap bahwa membaca meru- pakan kegiatan reseptif, yaitu membaca hanya sekadar menerima sesuatu dari penulis bacaan namun tidak mengutamakan proses pemahaman informasi dan pesan penting terhadap bacaan. 2. Membaca sebagai proses mengingat, yaitu membaca hanya sebatas mengingat saja, tetapi tidak menjadikannya sebagai proses kerja otak yang melibatkan aspek-aspek berpikir kritis dan kreatif. 3. Kurangnya perhatian terhadap membaca lanjut, yaitu beranggapan bahwa membaca hanya dilakukan sejak duduk di bangku sekolah atau perkuliahan saja. 4. Membaca hanya bila perlu saja, yaitu membaca apabila ada penekanan dan perintah untuk membaca atau membaca. sesuai keahlian. Contohnya, seorang insinyur mesin, ia hanya membaca buku-uku yang berhubungan dengan mesin sedangkan buku umum lainnya ditinggalkan. Hal ini merupakan salah satu wujud keterbatasan pengetahuan dan dapat ketinggalan informasi lain (out) of others information). Sedangkan Tarigan (1989:192-193), mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan membaca, yaitu sebagai berikut. 1. Lingkungan sekolah 2. Gangguan emosional
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 110 3. Keluarga dan hubungan masyarakat 4. Gangguan pendengaran 5. Kejenuhan/kemalasan 6. Gangguan fisik C. Solusi dan Cara Mengatasi Kendala-kendala dalam Membaca Segala kendala-kendala dan permasalahan pada kegiatan membaca sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya, berikut ini merupakan solusi dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi dan kendala-kendala dalam mebaca baik prabaca (pra reading), membaca (processing), dan setelah membaca (pasca reading). Untuk lebih jelasnya akan diuraikan seperti berikut. 1. Prabaca (pra reading), yaitu meliputi keinginan untuk membaca, tahu tujuan membaca (motivasi), persiapan mental fisik, tempat dan keadaan sebagai pendukung, dan ketersediaannya bahan bacaan yang sesuai minat atau keinginan pembaca. 2. Membaca (processing), pada bagian ini lebih diutamakan daya konsentrasi pembaca serta keterlibatan penalaran pembaca. 3. Pascabaca (pasca reading), yaitu hasil dari kegiatan membaca yang meliputi, adanya manfaat setelah membaca, evaluasi diri pembaca, dan kode etik. Sedangkan Saddhono dan Slamet (2012:83), mengemukakan tentang hal-hal atau langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mengatasi kendala-kendala membaca. Adapun langkahlangkah penting yang ditempuh yaitu dengan cara, yaitu : 1. Mengubah sikap mental dengan menunjukkan diri sendiri dan orang lain dengan banyak membaca, kita bisa meningkatkan kualitas intelektual, spritual, dan sosialitas kita.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 111 2. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sehingga kita memiliki daya beli buku yang kuat. Dianjurkan kepada pihak yang berwenang untuk menciptakan keadaan tersedianya buku yang relatif lengkap di perpustakaan dan harga-harga buku bacaan yang terjangkau oleh orang awam. 3. Kita mempelajari bahasa dan seluk-beluknya, baik struktur, kosakata, semantik maupun penerapannya, sehingga kita bisa meningkatkan kompetensi bahasa kita. Dengan tingginya kompetensi bahasa kita, maka proses pemahaman terhadap suatu bacaan relatif lebih cepat dan tepat. Dengan banyak membaca, kompetensi bahasa kita pun bisa ditingkatkan. 4. Tidak henti-hentinya membina minat baca dengan berbagai upaya yang memungkinkan kita selalu bergaul akrab dengan buku-buku, dan bila kita sudah membaca buku-buku, maka harus pusatkan perhatian, pemikiran, perenungan terhadap buku-buku tersebut. 5. Terus-menerus membina etos studi, dengan cara banyak mengadakan observasi lingkungan, berbagai penelitian, aktif dalam dunia tulis menulis dan karang-mengarang, memiliki citacita untuk meraih prestasi tertentu. Semua itu sudah pasti akan memotivasi kita untuk lebih giat membaca.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 112 D. ESSAY 1. Jelaskan hal hal yang mendukung keberlangsungan kegiatan membaca yang baik 2. Jelaskan pandangan yang salah terhadap hal membaca menurut Nurhadi (1987)! 3. Jelaskan Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan membaca 4. Jelaskan 3 bagian penting dalam proses membaca 5. Uraikan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengatasi kesulitan dan kendala dalam membaca Jawaban : 1. Kegiatan membaca tidak juga akan selalu berlangsung dengan baik, namun tentunya harus didukung berbagai hal yaitu. Bahan bacaan (reading matter), yaitu meliputi buku yang merupakan objek yang akan dibaca dan tentunya sesuai keinginan, selera, dan tujuan pembacanya. Situasi atau tempat (place and situation), hal ini merupakan keadaan lingkungan sekitar dan tempat berlangsungnya kegiatan membaca. Situasi yang dimaksud di sini seperti keadaan sepi, ramai, atau hingar-bingar. Sedangkan tempat sperti, di kelas, di taman, di perpustakaan, dll. Kedua hal ini
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 113 sangat terpengaruh berlangsung baik dan tidak baiknya kegiatan membaca. Jadi, pembaca mestinya menyesuaikan. Keadaan pelaku itu sendiri (situation of personality), yaitu berkenaan dengan kemauan dan semangat pembaca, dan kesiapan berkonsentrasi pembaca terhadap bacaan. 2. Nurhadi (1987:28-30), mengemukakan beberapa pandangan yang salah terhadap membaca, yaitu. 1. Pandangan yang menganggap bahwa membaca meru- pakan kegiatan reseptif, yaitu membaca hanya sekadar menerima sesuatu dari penulis bacaan namun tidak mengutamakan proses pemahaman informasi dan pesan penting terhadap bacaan. 2. Membaca sebagai proses mengingat, yaitu membaca hanya sebatas mengingat saja, tetapi tidak menjadikannya sebagai proses kerja otak yang melibatkan aspek-aspek berpikir kritis dan kreatif. 3. Kurangnya perhatian terhadap membaca lanjut, yaitu beranggapan bahwa membaca hanya dilakukan sejak duduk di bangku sekolah atau perkuliahan saja. 4. Membaca hanya bila perlu saja, yaitu membaca apabila ada penekanan dan perintah untuk membaca atau membaca. sesuai keahlian. Contohnya, seorang insinyur mesin, ia hanya membaca buku-uku yang berhubungan dengan mesin sedangkan buku umum lainnya ditinggalkan. Hal ini
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 114 merupakan salah satu wujud keterbatasan pengetahuan dan dapat ketinggalan informasi lain (out) of others information). 3. Tarigan (1989:192-193), mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan membaca, yaitu sebagai berikut. Lingkungan sekolah Gangguan emosional Keluarga dan hubungan masyarakat Gangguan pendengaran Kejenuhan/kemalasan Gangguan fisik 4. Prabaca (pra reading), yaitu meliputi keinginan untuk membaca, tahu tujuan membaca (motivasi), persiapan mental fisik, tempat dan keadaan sebagai pendukung, dan ketersediaannya bahan bacaan yang sesuai minat atau keinginan pembaca. Membaca (processing), pada bagian ini lebih diutamakan daya konsentrasi pembaca serta keterlibatan penalaran pembaca. Pascabaca (pasca reading), yaitu hasil dari kegiatan membaca yang meliputi, adanya manfaat setelah membaca, evaluasi diri pembaca, dan kode etik. 5. Saddhono dan Slamet (2012:83), mengemukakan tentang hal-hal atau langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mengatasi kendala-kendala membaca. Adapun langkah- langkah penting yang ditempuh yaitu dengan cara.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 115 1. Mengubah sikap mental dengan menunjukkan diri sendiri dan orang lain dengan banyak membaca, kita bisa meningkatkan kualitas intelektual, spritual, dan sosialitas kita. 2. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi, sehingga kita memiliki daya beli buku yang kuat. Dianjurkan kepada pihak yang berwenang untuk menciptakan keadaan tersedianya buku yang relatif lengkap di perpustakaan dan harga-harga buku bacaan yang terjangkau oleh orang awam. 3. Kita mempelajari bahasa dan seluk-beluknya, baik struktur, kosakata, semantik maupun penerapannya, sehingga kita bisa meningkatkan kompetensi bahasa kita. Dengan tingginya kompetensi bahasa kita, maka proses pemahaman terhadap suatu bacaan relatif lebih cepat dan tepat. Dengan banyak membaca, kompetensi bahasa kita pun bisa ditingkatkan. 4. Tidak henti-hentinya membina minat baca dengan berbagai upaya yang memungkinkan kita selalu bergaul akrab dengan buku-buku, dan bila kita sudah membaca buku-buku, maka harus pusatkan perhatian, pemikiran, perenungan terhadap buku-buku tersebut. 5. Terus-menerus membina etos studi. dengan cara banyak mengadakan observasi lingkungan, berbagai penelitian, aktif dalam dunia tulis menulis dan karang-mengarang, memiliki cita-
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 116 cita untuk meraih prestasi tertentu. Semua itu sudah pasti akan memotivasi kita untuk lebih giat membaca.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 117 Daftar Pustaka : Muhsyanur. (2014)._Membaca (Suatu Keterampilan berbahasa Reseptif) . Yogyakarta: Buginese Art.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 118 BAB X KETERAMPILAN MENULIS A. Capaian Kompetensi Adapun kompetensi yang harus dicapai mahasiswa : 1. Mampu mengetahui tentang keterampilan menulis baik itu berupa pengertian juga tentang menulis sebagai proses , tujuan maupun manfaat , jenis , teknik , tahapan dalam menulis , masalah dalam menulis sebagainya 2. Mampu menerapkan keterampilan menulis 3. Mampu menerapkan teknik pembelajaran menulis 4. Mampu memberi tahu mengenai tahapan dalam menulis dan masalah apa yang sering dihadapi dalam menulis B. Latar Belakang Akan dibahas 3 hal, yakni: 1. Pengertian menulis 2. Menulis sebagai proses 3. Tujuan dan manfaat menulis 4. Jenis – jenis tulisan 5. Teknik pembelajaran menulis 6. Tahapan dalam menulis 7. Masalah dalam menulis Hal- hal yang dibahas diatas sangat penting untuk kuasai sebab keseluruhannya akan membantu dalam proses belajar-
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 119 mengajar di kelas bukan hanya itu anda juga dapat memacu minat menulis peserta didik nantinya. Ketidakberhasilan siswa SD dalam kemampuan menulis, salah satu penyebabnya guru kurang menguasai kemampuan menulis itu sendiri dan tidak tahunya guru dalam memacu peserta didik untuk menulis. C. Pengertian Menulis Menurut pendapat Suparno dan Yunus menyatakan bahwa menulis ialah suatu kegiatan dalam penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. (Dalman , 2012). Marwoto juga berpendapat jika menulis ialah mengungkapkan ide maupun gagasan dalam suatu bentuk karangan yang lebih luas. (Dalman , 2012). Dikatakan pula oleh Murray “bahwa menulis adalah proses berfikir yang berkesinambungan, mulai dari mencoba, dan sampai dengan mengulas kembali”. (Syamsuddin, 2021) Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa menulis ialah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyalurkan suatu ide ataupun gagasan yang dimiliki dalam bentuk karangan yang dalam proses pembuatannya berkesinambungan dari mulai mencoba-coba hingga mengulas hal yang telah ditulis. Keterampilan adalah kemampuan manusia dalam menggunakan pikiran, gagasan, dan kreatifitasnya untuk mengubah atau menambah nilai lebih terhadap sesuatu sehingga mempunyai nilai lebih berarti. Maka dapat dikatakan keterampilan menulis adalah kemampuan manusia dalam menuangkan setiap ide atau gagasan dan mengkreasikannya sehingga menambah nilai dari tulisan tersebut.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 120 1) . Menulis Sebagai Proses Menulis dapat diartikan pula sebagai proses dalam penyampaian mengenai suatu informasi tentang suatu hal secara tertulis. Dalam menulis setiap kata , kalimat maupun paragraph diproses agar dapat saling terkait satu sama lainnya . Menulis juga dapat dikatakan kegiatan yang memproses setiap ide maupun gagasan penulis hingga tertuang dalam tulisan yang diolah secara kreatif dan juga inovatif oleh penulis itu sendiri . Dalam menulis kedua belah otak digunakan untuk memproses setiap tulisan kata yang dituliskan agar menarik juga informatif bagi para pembacanya . 2) Unsur – Unsur Dalam Menulis Dalam menulis terdapat beberapa unsur didalamnya , yaitu : 1. Gagasan Gagasan berisi tentang pendapat , ide , maupun pengetahuan dari penulis 2. Ekspresi Ekspresi ini merupakan ungkapan dari gagasan yang dimiliki oleh penulis sehingga dapat dipahami oleh para pembaca. 3. Tatanan Tatanan ini berupa alur dalam penyusunan maupun pengembangan dari gagasan yang berlandaskan berbagai aturan,teknik dan
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 121 sebagainya hingga nanti pada tahap perencanaan kerangka juga langkah . 1. Wahana Wahana ialah sarana yang digunakan dalam penyampaian gagasan, di mana hal yang dimaksudkan adalah tentang bahasa tulisan (kosa kata , dramtika, dan sebagainya untuk pemakaian bahasa yang efektif) . Bahasa tulisan merupakan sarana yang dipakai untuk penyampaian gagasan oleh penulis agar dimengerti para pembaca. Maka dari itulah pentingnya bagi penulis dalam memiliki keterampilan menulis yang baik dan benar juga termasuk didalamnya pengolahan kata agar gagasan maupun informasi yang disampaikan mudah dimengerti oleh pembaca. D. Tujuan dan Manfaat Menulis Tujuan seorang penulis menulis suatu tulisan menurut Hugo Hartig (Syamsuddin, 2021) ialah sebagai berikut : 1) Tujuan penugasan, di mana dalam tujuan ini sang penulis tidak memiliki tujuan dalam menulis hal ini dikarenakan penulis menulis hal tersebut untuk penugasan, bukan karena keiinginannya sendiri 2) Tujuan altruistik di mana tujuan ini adalah untuk menghibur maupun menyenangkan pembaca juga untuk menolong pembaca dalam menghargai lalu memahami setiap penalarannya. 3) Tujuan persuasif di mana tujuannya yaitu meyakinkan pembaca mengenai kebenaran pendapat yang dituliskan. 4) Tujuan informatif/penerangan yaitu tujuan yang memberikan keterangan/pemahaman kepada para pembacanya.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 122 5) Tujuan personal statement yang bertujuan memperkenalkan maupun menyatakan diri sang penulis terhadap para pembaca. 6) Tujuan kreative di mana tujuan ini melampaui kepercayaan diri dan terlibat dalam keinginan untuk mencapai nilai-nilai seni, atau seni yang baik, seni impian. 7) Tujuan pemecahan dimana penulis ingin menjelaskan secara cermat pemikiran dan gagasannya sendiri agar pembaca dapat memahami dan menerimanya. Menurut Suparno dan Yunus (Syamsuddin, 2021), manfaat menulis adalah: 1) Menjadi lebih cerdas 2) Pengembangan metode dan penemuan, 3) Rasa percaya diri tumbuh, dan 4) Mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi E. Jenis – Jenis Tulisan Jenis – jenis tulisan dapat berupa : 1. Tulisan Karya Ilmiah Tulisan yang ditulis dengan memperhatikan sistematika juga kaidah-kaidah yang berlaku . Jadi, dalam penulisan ini tidak boleh sembarangan . Tulisan ini juga dapat dikategorikan sebagai tulisan akademik, contohnya seperti makalah, proposal, skripsi, buku mata kuliah, tesis, dan lain-lainnya. 2. Tulisan Non-Ilmiah
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 123 Penulisan dalam tulisan ini lebih bebas dibandingkan dengan tulisan karya ilmiah. Tulisan ini dapat dikatakan pula sebagai tulisan fiksi, rekaysa maupun rekaan . Tulisan ini berasal dari imajinasi penulisnya. Walaupun terkesan bebas tulisan ini memerlukan tingkat kesensitivanjuga kepekaan dari penulisnya agar menghasilkan karya yang disukai para pembaca. Contohnya seperti novel , cerpen, dan sebagainya 3. Tulisan semi-ilmiah Tulisan yang merupakan perpaduan dua tulisan diatas yaitu ilmiah dan non-ilmiah.Hal yang melatarbelakangi penulisan tulisan ini salah satunya ialah objek yang ingin dicapai penulis . Di mana tulisan ini memadukan kedua jenis tulisan lainnya . Penggunaan tata bahasa yang dimiliki juga sederhana, ringkas, dan singkat. Dengan demikian pemakaian dari diksi juga ringan, para pembaca dengan latar belakang berbeda dari penulis juga tetap tertarik dalam membaca tulisan tersebut. F. Teknik Pembelajaran Menulis Berikut beberapa teknik menulis (Syamsuddin, 2021) , yaitu : 1. Menulis dari gambar Memiliki tujuan agar siswa dapat menulis dengan mudah dari gambar yang dilihatnya.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 124 Penerapan: 1) guru melakukan perkenalan, 2) guru menempelkan banyak gambar di depan kelas, 3) setelah siswa melihat gambar, siswa mulai mengenal gambar tersebut dan melalui identifikasi tersebut siswa menulis secara bersama-sama dan rasional, 4) guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang mengapa mereka menulis apa yang mereka tulis, dan guru melakukan refleksi pendidikan. 2. Menulis secara langsung Memiliki tujuan: Sehingga siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan apa yang dilihatnya. Penerapan : 1) guru melakukan perkenalan, 2) guru banyak mendemonstrasikan di depan kelas, 3) setelah siswa melihat benda tersebut, siswa mulai mengeksplorasi benda tersebut; 4) siswa menulis secara bersama-sama dan rasional, 5) guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang apa yang memotivasi mereka dalam menulis, dan 6) guru melakukan refleksi pembelajaran. 3. Evaluasi langsung terhadap objek Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menulis perbandingan berdasarkan apa yang dilihatnya.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 125 Penerapan : 1) Guru melakukan perkenalan, 2) guru menampilkan dua benda (benda) yang sejenis di depan kelas tetapi berbeda warna, fungsi, bentuk, dan lain-lain. berbeda, 3) setelah siswa melihat benda tersebut, siswa mulai mengeksplorasi benda tersebut; 4) siswa menulis perbandingan logis, 5) guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang alasan mereka menulis. 6) guru melakukan refleksi pembelajaran. 7) Teruslah menulis Saat melakukan teknik ini: 1. guru memberikan wawasan atau pengenalan, 2. untuk grup (jika diterapkan sebagai grup), 3. guru memberi nilai pelaksanaan, 4. Guru memberikan lembar gambar kepada siswa, 5. Setelah mendapat waktu dan petunjuk, siswa menyelesaikan pekerjaan rumahnya secara tidak tuntas dan tetap menggunakan pemikirannya sendiri. 6. Setelah waktu yang ditentukan, siswa melaporkan hasilnya kepada kelas, 7. Guru bertanya kepada siswa mengapa mereka menulis dan melakukan refleksi
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 126 G. Tahapan Menulis Berikut tahapan menulis (Helaluddin & Awalludin, 2020) : 1. Tahapan awal (pramenulis) Kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai media , dapat dilakukan juga dengan membaca, melihat, mendengar, maupun berdiskusi. Menyusun rencana atau kerangka penulisan setelah memperoleh informasi Mengembangkan poin-poin yang berdasarkan topik yang diambil 2. Tahapan menulis Pada bagian ini, penulis mulai menguraikan poin-poin utama format teks utama. Ada 3 bagian di kertas, awal, tengah dan akhir. Pengarang harus mampu mengelompokkan tulisannya menjadi tiga bagian . Dari awal hingga subjek atau pembahasannya berbeda membuat pembaca tertarik untuk membaca bagian tersebut berikut. Di bagian tengah atau isi, diperlukan seorang penulis Mampu menjelaskan isi tulisan dengan baik dan ringkas menjaga keinginan dan keinginan pembaca untuk menyelesaikannya membacanya. Kemudian penulis dapat mengeditnya tulislah pada tahap terakhir semenarik mungkin Tulisan yang mereka baca akan menarik bagi pembacanya 3. Tahap Pascamenulis Pada bagian ini ,penulis dengan cermat mengedit dan mengedit tulisannya. Reformasi Kontennya ditulis oleh penulis atau isi teksnya. Dalam penerbitan karya, penulis harus meningkatkan fungsionalitas teks, baik tampilannya, kamus, struktur kalimat, bentuk bahasa dan banyak lagi.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 127 H. Masalah Dalam Menulis Menurut pendapat Kaswan Darmadi (Trismanto, 2017) yaitu takut dalam memulai , tidak tahu kapan harus memulai, masalah pengorganisasian, dan masalah bahasa dapat. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut. : 1. Takut dalam Memulai Ada banyak hal yang menjadi alasan dalam ketakutan menulis , alasannya tersebut dapat berupa tuntutan dari berbagai pihak , dapat pula berupa kita yang tidak memiliki acuan model tulisan yang representatif yang nantinya dijadikan ukuran dalam menilai hasil dari tulisan yang telah dibuat. Apapun alasan yang ada jikalau kita memang ingin menulis maka kita tidak boleh bersikap takut melainkan harus memotivasi diri lagi untuk lebih memantapkan diri dalam menulis , lalu jangan pula semangat hanya diawal tetapi kita harus memunculkan semangat itu agar tetap sampai akhir . 2. Tidak Tahu Kapan Harus Memulai Hal ini adalah hal yang paling sering dikeluhkan dalam menulis . Di mana penulis tidak tahu kapan ia harus memulai menulis , apa yang harus ditulis , kapan mulai mengerjakannya , lalu bagaimana menulisnya , dan sebagainya . Jika hanya terus menerus memikirkan hal tersebut kita hanya menunda nunda hal yang ada . Namun hal yang seharusnya dilakukan adalah jika permasalahan tentang apa yang harus ditulis kita dapat memulainya dengan membaca , mendengar , melihat ataupun menonton dari berbagai media atau referensi lainnya . Setelah hal itu ide maupun gagasan yang muncul kita dapat langsung
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 128 mencatatnya dan mulai menggali lebih dalam tentang hal tersebut . 3. Masalah Pengorganisasian Penulis profesional sangat menyadari pentingnya masalah ini. Banyak penulis pemula yang sulit dalam melakukan hal ini. Hal tersebut dapat dimaklumi karena masalah pengorganisasian merupakan ekspresi bentuk dan pola berpikir dari pengarang. Ada pula yang menganggap bahwa permasalahan ini adalah permasalahan utama. Oleh karena itu, para pemula harus banyak belajar dari penulis profesional, termasuk membaca bukunya sebanyakbanyaknya. Semakin banyak mereka membaca, semakin banyak pengalaman yang mereka peroleh, terutama dalam jenis proses berpikir yang sering mereka gunakan. 4. Masalah Bahasa Hampir semua penulis bisa menghadapi masalah bahasa. Hal ini terjadi karena bahasa terus berubah dari waktu ke waktu. Istilah, kosa kata, idiom terus berubah dari waktu ke waktu. Mengetahui cara menggunakan bahasa (membuat kalimat tidak sesuai EYD, kalimat tidak nyambung, dan sebagainya), bukan sekedar kesalahan bahasa. Kesalahan seperti ini juga merupakan kesalahan logis. Perbedaan kesatuan tampak dalam cara kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Di sisi lain, bahasa yang salah juga merupakan wujud logika yang buruk. Oleh karena itu, kebenaran kesalahan kebahasaan harus dikaitkan dengan kebenaran dari sudut pandang logika.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 129 I. ESSAY Soal : 1. Tuliskan hakikat menulis menurut Suparno dan Yunus! Jawaban : Menurut pendapat Suparno dan Yunus menyatakan bahwa menulis ialah suatu kegiatan dalam penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya 2. Sebutkan 4 manfaat menulis menurut Suparno dan Yunus ! Jawaban : Manfaat dalam menulis yaitu menurut (Suparno dan Yunus, 2007: 4) ialah : Peningkatan kecerdasan Pengembangan daya inisiatif dan kretivitas, Penumbuhan keberanian, dan Pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi 3. Menurut pendapatmu tujuan menulis mana yang paling banyak dilakukan peserta didik terkhususnya di era saat ini ?
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 130 Jawaban : Menurut pendapat saya pada jaman sekarang tujuan menulis yang banyak dilakukan peserta didik adalah tujuan penugasan dimana dalan tujuan ini peserta didik tidak mempunyai tujuan sama sekali dikarena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri. Seharusnya peserta didik menulis atas dasar tujuan kreatif atau segala macamnya bukan karena ditugaskan . Apalagi jika peserta didik tersebut menganggap menulis merupakan suatu beban bagi mereka ( jawaban optional berdasarkan hal pendapat dari penjawab karena bersifat pendapat pribadi ) 4. Sebutkan 3 teknik pembelajaran menulis ! Jawaban : Teknik Pembelajaran Menulis a. Menulis dari Gambar b. Menulis Objek Langsung c. Evaluasi Objek Langsung 5 . Buatlah suatu tulisan singkat mengenai objek yang kamu lihat disekitarmu ! Jawaban : Gitar Gitar merupakan alat bermain music yang dipetik . Gitar menghasilkan nada – nada yang indah saat dipetik . Dalam bermain gitar seseorang dapat merasa terhibur hanya dengan memainkannya. ( jawaban optional berdasarkan hal pendapat dari penjawab karena bersifat pendapat pribadi )
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 131 Daftar Pustaka Dalman , H. (2012). Keterampilan Menulis. Jakarta: PT.RAJAGRAFINDO PERSADA. Helaluddin, & Awalludin. (2020). Keterampilan Menulis Akademik. Serang: Media Madani Publisher. Siregar, R. A., & Mahrani, E. (2022). Keterampilan Menulis. Penerbit Yayasan Cendekia Muslim. doi:https://doi.org/10.31219/osf.io/usdct Syamsuddin, R. (2021). Keterampilan Bahasa Indonesia Pendidikan Dasar. Makassar. Trismanto. (2017, April). KETERAMPILAN MENULIS DAN PERMASALAHANNYA. Bangun Rekaprima, 3.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 132 Rencana Pembelajaran Semester (RPS)Semester Genap 2022/2023 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER(RPS) KETERAMPILAN BERBAHASA DAN APRESIASISASTRA INDONESIA SD (3 SKS)
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 133 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASARFAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2023
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA FAKULUNIVERA. RENCANA PEMBEKode Mata Kuliah Nama Mata Kuliah (MK) Rumpun MK B3GSD49021 Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra Indonesia SD MKIBS Otorisasi Pengembang RPS Koordinator MKFaisal, S.Pd., M.Pd., dkk Faisal, S.Pd., M.PCapaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Prodi yang Dibebankan Pada MK Sikap CPL 7 : Menunjukkan sikap bertanggunPengetahuan CPL 3 : Menguasai pengetahuan bidang sdan PJOK. CPL 4 : Menguasai konsep kurikulum, peinovatif sebagai guru kelas di sekCPL 5 : Menguasai konsep dan teknik evCPL 8 : Menguasai pengetahuan lintas bidKeterampilan Umum CPL 1 : Mampu menerapkan pemikiran ilmu pengetahuan dan teknologkeahlian (IPA, IPS, Bahasa IndoKeterampilan Khusus CPL 3 : Mampu menerapkan pengetahuanSBdP, dan PJOK melalui perancaCapaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) CPMK 1 : Mahasiswa Mampu MembandinDasar CPMK 2 : Mahasiswa Mampu MemecahkCPMK 3 : Mahasiswa Mampu MemecahkCPMK 4 : Mahasiswa Mampu MemecahkCPMK 5 : Mahasiswa Mampu MemecahkCPMK 6 : Menelusuri Perkembangan Sastr
117 LTAS ILMU PENDIDIKAN RSITAS NEGERI MEDAN ELAJARAN SEMESTER Bobot (SKS) Semester Tanggal Penyusunan 3 Ganjil 2023/2024 17 Agustus 2023 K Ketua Prodi d. Elvi Mailani, S.Si., M.Pd ng jawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri. studi di sekolah dasar meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PPKn, SBdP, endekatan, strategi, model, metode, teknik, bahan ajar, media dan sumber belajar yang kolah dasar. valuasi proses dan hasil pembelajaran di sekolah dasar. dang ilmu yang sesuai perkembangan IPTEKS dengan memperhatikan kearifan lokal logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi i yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan 5 bidang onesia, IPS, dan PKn) n bidang studi di sekolah dasar meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn, angan dan pelaksanaan pembelajaran. ngkan Teori Keterampilan Berbahasa Indonesia SD dengan Penerapannya di Sekolah an Masalah Keterampilan Menyimak SD an Masalah Keterampilan Berbicara SD an Masalah Keterampilan Membaca SD an Masalah Keterampilan Menulis SD ra Anak
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA CPMK 7 : Mahasiswa Mampu merancang MBerbahasa Indonesia SD CPMK 8 : Mahasiswa Membandingkan TeCPMK 9 : Menelusuri Perkembangan SastrCPMK 10 : Menelusuri Kontibusi Sastra TraCPMK 11 : Mengapresiasi Puisi Anak-anak CPMK 12 : Mengapresiasi Prosa Fiksi AnakCPMK 13 : Mengapresiasi Drama Anak-anaCPMK 14 : Mahasiswa Mampu merancang MSastra Indonesia SD Deskripsi Singkat MK Mata kuliah ini memuat kajian Mahasiswa Mampu merancangBerbahasa dan Apresiasi Sastra Indonesia SD. Setelah memberikut: RPP Bahasa Indonesia SD, sebagai hasil Tugas Rutisekolah dasar, sebagai hasil penugasan CBR, CJR, dan Repenugasan Mini Riset dan Project Bahan Kajian (Materi Pembelajaran) 1. Sejarah Sastra Indonesia 2. Hakikat Keterampilan Berbahasa Indonesia 3. Apresiasi Karya Sastra 4. Penerapan Apresiasi Puisi 5. Evaluasi Dalam Keterampilan Berbahasa Indonesi 6. Tanda Baca 7. Keterampilan Membaca 8. Problematika Dan Solusi Dalam Keterampilan Memba9. Keterampilan Berbicara 10. Keterampilan Menulis
118 Model, Rencana Pembelajaran, Melaksanakan dan Menyusun Evaluasi Keterampilan ori dengan Teknik Mengapresiasi Sastra di Sekolah ra Anak adisional terhadap Perkembangan Sastra Anak-anak k-anak ak Model, Rencana Pembelajaran, Melaksanakan dan Menyusun Evaluasi Apresiasi g Model, Rencana Pembelajaran, Melaksanakan dan Menyusun Evaluasi Keterampilan mperoleh pengetahuan, dosen bersama mahasiswa akan menghasilkan luaran sebagai n. Laporan pemahaman mahasiswa tentang pembelajaran matematika kelas tinggi di ekayasa ide. Buku Saku dan Video pembelajaran berdasarkan materi, sebagai hasil aca
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA Pustaka Utama: 1. Dalman , H. (2012). Keterampilan Menulis. Jakarta: PT2. Helaluddin, & Awalludin. (2020). Keterampilan Menuli3. Siregar, R. A., & Mahrani, E. (2022). Keterampilan Men4. Syamsuddin, R. (2021). Keterampilan Bahasa Indonesia5. Trismanto. (2017, April). KETERAMPILAN MENULI6. Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar.7. Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan8. Harianto, E. (2020). “Keterampilan Membaca dalam Pem9. Syamsuddin, R. (2021). Buku keterampilan berbahasa in10. Haryadi. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa In
119 .RAJAGRAFINDO PERSADA. is Akademik. Serang: Media Madani Publisher. nulis. Penerbit Yayasan Cendekia Muslim. doi:https://doi.org/10.31219/osf.io/usdct a Pendidikan Dasar. Makassar. S DAN PERMASALAHANNYA. Bangun Rekaprima, 3. . Jakarta: Gramedia n Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya. mbelajaran Bahasa.” Jurnal Didaktika, 9(1), 2. https://jurnaldidaktika.org/ ndonesia. Universitas Negeri Makassar, May, 64. ndonesia. Yogyakarta : Depdikbud
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA 11. Ikawati, Erna. "Upaya meningkatkan minat membaca pa12. Nurgiyantoro, B. (2012). Penilaian pembelajaran bahasa13. Nurhadi. (1989). Membaca Cepat dan Efektif. BandunPustaka Utama. 14. Rahim, F. (2008). Pengajaran membaca di sekolah dasar15. Soedarsono. (1993). Sistem Membaca Cepat dan Efektif16. Sumardi, Muljanto. 1996. Berbagai Pendekatan dalam PPendukung: 1. Mulyati, Yeti. 2015. Keterampilan Berbahasa Indonesia SD2. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru dan YA3ketiga. Yogyakarta: BPFE Nurhayatin, T. (2009). 3. Penilaian Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berbas4. Analisis Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak Odazzander. N.http://odazzander.blogspot.co.id/2011/11/caraMeningkatkaPendekatan Keterampilan Proses. Jakarta. Gramedia. Soeda5. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif.Jakarta
120 ada anak usia dini." Logaritma: Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan dan Sains 1.02 (2013). a berbasis kompetensi. Yogyakarta: BPFE YOGYAKARTA ng: YA3 Soedarsono. (1993). Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia r. Jakarta: Sinar Grafika. f. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta : PT. Midas surya Grafindo. D. Tangerang Selatan: Modul Universitas Terbuka. Nurhadi. 1989. 3Malang. Nurgiyantoro, Burhan. 2011. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Edisi sis Kelas.Bandung: Prisma Press ProdaktamaPT Remaja Rosdakarya. Nyoman, Suaka. (2014). November, 2011. Cara meningkatkan keterampilan menyimak an-keterampilanmenyimak.html diakses pada 08 November 2017 Semiawan, Conny. 1987. arso. 2001. : Gramedia Pustaka Utama.
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA Dosen Pengampu 1. Dr. Halimatussakdiah, S.Pd., M.Hum.
121
JEJAK KIPRAH SASTRA INDONESIA Minggu KeSub-CPMK (Kemampuan Akhir yang Direncanakan) Bahan Kajian (Materi Pembelajaran) Bentuk dan Metode Pembelajaran Beban Waktu Pembelajaran PengalaBelajMahas1 2 Mampu - Keterampilan Menyimak di Sekolah Dasar Bentuk: 3 x 50 Menit MembaMembandingkan Teori Keterampilan Daring buku dajurnal, Berbahasa Indonesia SD dengan Penerapannya di Sekolah Dasar Metode Pembelajaran: Tanya Jawab, Diskusi, case method dan berbasis team based project observamerangkmenyusmakalahdiskusi konstruk