The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yona Elya, 2024-06-12 20:14:06

Kumpulan Esai Apresiasi Sastra melalui Hermeneutika

Hermeneutika (A)_Sastra Indonesia

45 yang taat beribadah, tetapi akhirnya dilempar ke neraka di hari pengadilan. Hal ini dikarenakan Haji Saleh hanya memprioritaskan dirinya dengan fokus beribadah. DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermarcher sampai Derrida. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius. Navis, A. A. (2010). Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


46 Makna dan Referensi Kemiskinan dalam Cerita Pendek “Mendekati Ajal” karya Putri Oktaviani : Hermeneutika Paul Ricoeur Salna Debby Putriyan (21210141025) Pendahuluan Kemisikinan merupakan salah satu masalah besar yang belum dapat diatasai di banyak negara, termasuk Indonesia. Kemiskinan bukan hanya masalah biasa, namun menrupakan masah komplek yang sulit diuraikan, bahkan di Indonesia beredar keyakinan bahwa kemiskinan di Indonesia bersifat struktural. Kemiskinan adalah masalah yang berlapis-lapis dan rumit dari segala aspeknya, bahkan setelah banyak upaya dan program yang ditujukan untuk memberantas kemiskinan masih belum menunjukkan hasil yang signifikan (Ferezagia, 2018). Di Indonesia masih menggenggam angka kemiskinan yang tinggi menurut badan pusat statistik pada bulan maret 2023 mencapai 9,36% , angka yang cukup tinggi di negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Di indonesia kenyataan kasus kemiskinan adalah masalah krusial yang tidak hanya dipengaruhi oleh kenyataan lingkungan ekonomi turun menurun penduduk namun juga oleh masalah sosial dan politik di negeri ini (Pratama, 2014). Salah satu sarana mendokumentasikan masalah sosial di Indonesia, khususnya kemiskinan adalah dengan melaui karya sastra. Karya sastra merupakan sebuah teks berupa produk dari kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya terjadi namun dikemas dengan imajinasi penulis. Karya sastra tidak jatuh dari langit atau lahir dari kekosongan budaya ,namun dilahirkan untuk menjadi penjelas eksistensi manusia, realitas zaman, corak kehidupan, dan perlikau manusia melalui perenungan dan krearivitas imajinasi yang disampaikan lewat bahasa sebagai sarana sesuai dengan pendapat Teeuw (1986) melalui (Suratno, 2016); (Purwahida, 2017);dan (Ahyar, 2019). Salah satunya adalah cerita pendek karya Putri Oktaviani dengan judul Mendekati Ajal yang terbit melalui Kedaulatan Rakyat pada 22 September 2023. Karya sastra sebagai sebuah teks juga dapat dilihat secara mandiri atau otonom, terpisah dari peristiwa atau konteks semula, teks tersbut dapat mencapai keluasan yang lebih dari apa yang disajikan oleh pengarang.


47 Dunia teks dapat melampaui apa yang ditulis oleh pengarangnya, dan menyentuk makna dan pemahan baru tergantung pembacanya (Abidin, 2016). Teks sebagai suatu yang otonom, analisis makna hanya difokuskan pada teks itu secara utuh. hal ini sesuai dengan langkah awal penafsiran dalam perspektif Paul Ricoeur, yaitu menempatkan teks sebagai sebuah objek pusat yang berdiri sendiri. Selanjutnya teks ditinjau berdasarkan strukturnya untuk dipahami. Kemudia teks ditinjau berdasarkan simbolisasi,penafsiran kode simboliknya hingga mengaitkan kode tersebut dengan hal-hal di luar teks dan berakhir sampai di pemaknaan teks tersebut. dari langkat tersebut tiga inti pembahasan yang akan didapatkan dengan menggunakan hermeneutika perspektif Paul Ricoeur adalah sense, reference, dan genre dari teks yang dalam analisis ini adalah teks sastra cerita pendek Mendekati Ajal karya Putri Oktaviani. Pembahasan A. Sense dalam Cerpen Mendekati Ajal karya Putri Oktaviani Sense atau makna merupakan hal mengacu pada apa yang dikatakan teks berupu, ide, gagasa, dan pesan yang terkandung didalamnya. Makna dalam hal ini ditemukan pada gabungan kata, kalimat, atau struktur teks tersebut. Paul Ricoeur mengatakan bahwa makna dari sebuah teks tergantung pada relasi-relasi kecenderungan dan tindakan penilaian dalam sebuah teks yang sifatnya proposional (Abidin, 2016). Dalam analisis ini makna diperoleh dari cerita pendek Mendekati Ajal sebagai teks karya sastra. Cerita pendek Mendekati Ajal ini bercerita tentang seorang laki-laki bernama Oji. “Sudah seminggu Oji dan Bapak tidak mengumpulkan botol-botol plastik, besi berkarat, atau paku-paku yang masih bisa dijual.” Kutipan tersebut menunjukkan pekerjaan Oji dan bapaknya sebagai seorang pemuling. Kutipan itu juga menunjukkan bahwa kondisi sosial Oji dan Bapak yang berada dalam kekurangan. Bau busuk menusuk hidung Oji di rumahnya. Wajah kusamnya menatap jendela teralis besi. Melihat orang-orang baru pulang mengaji tujuh harian kematian tetangga dermawan di kampungnya. Perutnya keroncongan, karena sejak lima hari lalu tak diisi nasi. Dia hanya berharap salah satu tetangga berkunjung ke rumahnya, mengetuk pintu, dan memberikan besek berisi makanan hasil pengajian. Tetapi harapannya selalu pupus dari


48 hari pertama hingga ketujuh. Orang- orang tidak mau mampir ke rumahnya yang dipenuhi sampah dan lalat. Kutipan di atas memperjelas bagaimana kondisi rumit yang dialami oleh Oji dan Bapak. Pada cerpen ini Oji seakan berbincang pada bapaknya yang sedang terbaring, padahal nyatanya ia sedang berbicara dengan mayat bapaknya, “Tubuhnya sudah terbujur kaku. Mulutnya yang sedikit terbuka dikerubungi dua lalat. Matanya terpejam sejak tiga hari lalu. Kedua tangannya seperti orang salat.” Kutipan ini menggambarkan bahwa bapak Oji sebenarnya sudah meninggal. Oji sebenarnnya juga dalam keadaan sekarat dikarekan kondisinya yang sangat kekurang, hal ini juga dikarenakan salah satu orang dermawan yang biasa memberinya makan telah tiada ““Pak Sobirin sudah meninggal, Pak. Tidak ada lagi yang memberi kita makan seperti biasa,” ujar Oji tanpa menatap bapaknya.” Kutipan ini dapat menjelaskan. Fakta sosial ditemukan dalam cerpen ini adalah permasalahan tentang proses pemakaman yang juga memungut biaya yang besar, yang tentunya menyulitkan bagi orangorang miskin seperti Oji dan Bapaknya. ““Pak, Oji dengar, biaya orang mati mahal sekali. Keranda dua ratus, memandikan jenazah lima ratus, kalau tenda katanya gratis dari RT. Tapi tanah kuburan serta papan nisan tujuh ratus ribu, Pak,”” dari kutipan tersebut ada fakta sosial yang cukup menyedihkan terjadi. B. Reference dalam Cerita Pendek Mendekati Ajal karya Putri Oktaviani Referensi dalam sebuah teks mengacu pada sesuatu di luar teks tetapi menjadi rujukan teks tersebut dalam bentuk objek, peristiwa, maupun konsep. Fungsi dari referensi ini adalah untuk menjembatani makna teks dengan dunia nyata. Ricoeur mengatakan bahwa sebuah teks merupakan sebuah entitas utuh dan memiliki struktur yang terbuka (Abidin, 2016). Dalam analisis ini ditemukan referensi dari cerita pendek Mendekati Ajal karya Putri Oktaviani. 1. Fakta kemiskinan di Indonesia Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks di Indonesia. Kemiskinan di Indonesia adalah masalah dasar yang sangat krusial yang berkaitan dengan kehidupan banyak penduduknya (Hermawati, 2017). Dapat dilihat dari pemberitaan yang menyoroti


49 kondisi masyarakat miskin, salah satunya yang dipublikasi oleh Kompas.id mengatakan bahwa setidaknya ada 25,9 juta penduduk miskin di Indonesia. Berita dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2024/01/14/menanti-pemerintah-buka-bukaan-datakemiskinan-yang-sebenarnya?loc=comment. Dalam cerpen ini di gambarkan melalui kondisi Oji dan Bapaknya yang dalam keadaan benar-benar sulit. Pada pemberitaan berdasarkan berita tersebut juga dikatakan tidak adanya tranparasai terkait jumlah penduduk miskin, serta proses pendataan yang masih menggunakan metode pada tahun 1998. Hal ini menjadi salah satu indikasi mengapa banyak warga miskin yang tidak mendapatkan bantuan sosial karena tidak terhitung. Dalam hal ini Oji dan Bapaknya merupakan gambaran warga miskin yang tidak tersentuh bantuan sosial dari pemerintah. 2. Fakta Biaya Pemakaman yang Mahal Kenyataan pemakaman yang maha ini sudah lumrah terjadi pada daerah pada penduduk. Menurut pemberitaan Kompas.id yang berjudul “Hidup Sulit di Jakarta, Saat Mati Pun Lahan Makan Sulit Didapat. Hal ini relevan dengan yang terjadi pada cerita pendek Mendekati Ajal. Pemakaman faktanya juga memakan biaya cukup besar sehingga mempersulit keluarga jenazah yang ingin memakamnya sanak saudaranya. Faktanya di beberapa daerah pada penduduk biaya pemakaman sampai menyentuh belasan juta, hal ini tentunya salngat menyulitkan warga miskin untuk memakamnya sanak saudaranya. Berita dapat diakses melalui tautan berikut : https://m.radarnonstop.co/read/40691/Warga-MiskinTangsel-Kesulitan-Dapat-TPU-Tak-Berbayar-Ingat-Pejabat-Juga-Bakal-Mati dan https://www.kompas.id/baca/metro/2023/06/10/hidup-sulit-di-jakarta-mati-pun-tak-mudahdimakamkan . Kesimpulan Cerita pendek "Mendekati Ajal" karya Putri Oktaviani dalam hal ini sebagai sebuah teks berhasil merepresentasikan realitas kemiskinan struktural yang kompleks di Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh berbagai literatur dan data statistik. Melalui kisah Oji dan bapaknya, cerpen ini menggambarkan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar,


50 termasuk makanan dan biaya pemakaman yang mahal, yang menjadi beban tambahan bagi kaum miskin. Pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur mengungkap sense dan reference, menunjukkan bagaimana karya sastra dapat mengangkat isu sosial secara mendalam dan membuka ruang bagi pemahaman serta refleksi baru bagi pembacanya. REFERENSI Abidin, A. (2016). Sense, Reference, dan Genre Novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang (Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur). Jurnal Retorika, 9(1), 10-18. Ahyar, J. (2019). Apa itu Sastra Jenis-Jenis Karya Sastra dan Bagaimakah Cara Menulis dan Mengapresiasikan Sastra. Yogyakarta: Deepublish. Ferezagia, D. V. (2018). Analisis Tingkat Kemiskinan di indonesia. Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 1(1), 1-6. Hermawati, I. (2017). Pengukuran Konstrak Kemiskinan di Indonesia. Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial, 41(3). Pratama, Y. C. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kmiskinan di Indonesia. Esensi Jurnal Bisnis dan Manajemen, 4(2), 210-22. Purwahida, R. (2017). Interaksi Sosial pada Kumpulan Cerpen Potongan Cerita di Kartu Pos Karangan Agus Noor dan Implikasinya Terhadap Pembelajran Satra di SMA. AKSIS Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1 (1), 118-134. doi:doi.org/10.21009/AKSIS.010107 Suratno, P. (2016). Bahasa-Sastra sebagai Representasi Pemikiran-Kekuasaan. Prasasti:Coference Series, 38-45. doi:doi.org/10.20961/pras.v0i0.1440


51 Lingkaran Hermeneutis Paul Ricoeur dalam Cerpen “Perihal Pulang” Karya Beatrix Polen Aran Alna Putri Rahayu (21210141026) A. Memahami Simbol Lingkaran hermeneutis Ricoeur terdiri dari beberapa konsep utama yakni memahami merupakan upaya untuk menyingkap, dialektika kehidupan antara kesengajaan (volonte) dan ketidaksengajaan (involonte), lingkaran percaya dan memahami, kenaifan kedua, dan upaya dalam menyingkap mitos-mitos. Setiap karya sastra pasti memiliki latar belakang dialektika kehidupan berdasarkan fenomenologis yang tercermin dari realitas kehidupan yang diketahui oleh penulis karya sastra tersebut. Seperti halnya, pada cerpen “Perihal Pulang” karya Beatrix Polen Aran yang dimuat di laman Kompas pada tanggal 7 April 2024 pun memiliki latar fenomenologi berupa pencerminan manusia beragama yang memiliki rekam jejak melanggar aturan agamanya. Hal tersebut, sesuai dengan pandangan hermeneutik Ricoeur bahwasanya terdapat dialektika dalam kehidupan, seperti manusia dan agama. Keduanya, saling mempengaruhi antara kesengajaan (volonte) karena manusia dengan sengaja memeluk suatu agama dan perilaku-perilaku manusia tersebut secara tidak sengaja (involonte) dipengaruhi oleh kepercayaan serta pemahaman terhadap agamanya. Tokoh utama dalam cerpen “Perihal Pulang” yang disebut sebagai “Aku” sebagai bentuk simbolisasi manusia yang memeluk suatu agama namun tidak memahami ajaran agamanya. Kondisi tersebut termuat dalam penggalan cerpen berikut ini. “Membunuh akan menciptakan ketenangan batin yang lain, dan itu membuatku teramat baik. Setidaknya untuk hari ini aku telah merencanakan yang terbaik.” Monolog tokoh “Aku” tersebut, dapat ditafsirkan sebagai seseorang yang memiliki keimanan yang tergolong cukup rendah karena ia menganggap bahwasanya membunuh saudaranya yang bernama Petrus dapat menciptakan ketenangan batin. Simbolisasi dari kutipan tersebut menyimpan intensi di dalamnya, salah satunya ialah ketika manusia dilanda masalah dan ia tidak memiliki keimanan yang tinggi maka akan kehilangan arah.


52 Tak hanya itu, simbolisasi lain yang merefleksikan manusia-manusia di kehidupan nyata terdapat dalam monolog tokoh “Aku” yang sedang mengingat pesan atau wejangan dari istrinya. “Ia ingin aku bertobat sebelum semuanya terlambat.” Kutipan tersebut, memiliki nilai representatif dalam kehidupan nyata yang disimbolisasikan melalui karya sastra yaitu manusia telah melakukan banyak dosa dan sebaiknya segera bertobat sebelum dia meninggal dan berakhir tidak ada pengampunan dari Tuhan. Kondisi yang dialami oleh tokoh “Aku” linier dengan pandangan Ricoeur bahwa refleksi pada karya sastra bukan sekedar menjustifikasi moral melainkan untuk menyadarkan manusia memiliki eksistensi melalui proses memahami makna hidupnya dengan bertobat. A. Lingkaran Percaya dan Memahami Ricoeur memiliki metode utama dalam menyingkap isi teks yaitu lingkaran hermeneutis yang terdiri dari memahami dan percaya. Proses pengungkapan intensi yang terimplisitkan dalam cerpen tersebut menggunakan lingkaran hermeneutis Ricoeur sebagai berikut. Penafsir berhasil memahami cerpen “Perihal Pulang” karena penafsir telah percaya dengan cerita yang ditampilkan yang merupakan representatif dari realitas kehidupan. Cerpen tersebut mengisahkan sudut pandang seorang laki-laki yang telah meninggal dan bertemu dengan para malaikat yang menghukumnya karena semasa hidup ia telah membunuh adik kandungnya karena ingin menguasai warisan orang tua mereka. Hal tersebut, dapat dilihat melalui penggalan cerpen berikut ini.


53 “Hidup ini singkat, kata Thomas suatu hari ketika aku baru dibebaskan dari penjara gara-gara membunuh adik kandungku. Ya, hanya alasan hasil yang terberi di tanah warisan.” Penafsiran karya sastra sebagai upaya untuk menyingkap yang dimulai dari pemahaman terhadap konteks cerita. Cerpen “Perihal Pulang” tersebut mengindikasikan bahwa mengandung unsur kritik yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca terkait orang-orang yang tamak terhadap warisan, fanatisme manusia beragama yang ingin masuk surga tapi tidak didukung dengan budi pekerti yang baik, dan memperkenalkan tradisi yang terdapat di Lamaholot, Flores Timur, NTT. Nilai kritik terhadap orang-orang yang tamak disimbolisasikan melalui tokoh “Aku” yang sangat mudah tersinggung dan impulsif ketika adik kandungnya tidak langsung setuju dengan pendapatnya terkait hasil panen yang dibagi dua. “Bagaimana kalau umpamanya hasil perdana dibagi dua saja.” “Tapi…,. Ia tak sanggup melanjutkan pembicaraan.” “Ah, aku tahu. Kau tak setuju hasilnya dibagi dua, kan?” Sementara itu, kritik terhadap fanatisme seseorang yang yakin masuk surga padahal tidak memiliki budi pekerti yang baik juga turut dihadirkan dalam penggalan cerpen berikut ini. “Begitu naifnya, memang sedikit tersirat pikiranku itu, mati lebih cepat. Lebih cepat masuk surga!” “Masuk surga? Eittss, tunggu dulu!” “Lucifer menjulurkan lidahnya bagai akar pohon mencengkeram tubuh dedaunan layu.” Kenaifan dan fanatisme manusia yang berpikiran bahwa kematian dapat selalu mengantarkannya pada surga menjadi titik awal kesombongan manusia yang disimbolisasikan melalui tokoh “Aku”. Pemikirannya yang terlampau positif bahwa tokoh “Aku” yakin masuk surga meskipun sudah melakukan hal keji pun mencerminkan keangkuhan manusia yang dapat dengan mudah ditemukan di era sekarang.


54 Kepercayaan yang hadir karena proses memahami cerpen tersebut membuat penafsir mampu menyingkap intensi-intensi yang terkandung dalam cerpen “Perihal Pulang karya Beatrix Polen Aran melalui proses presuposisi memahami (simbol) – memahami – percaya. B. Kenaifan Kedua Berbagai nilai, simbol, dan tafsir yang terkandung dalam cerpen “Perihal Pulang” memicu munculnya kenaifan kedua atau penghayatan intensi dalam kehidupan si penafsir. Proses penghayatan intensi tersebut dapat dilakukan melalui pemahaman nilai-nilai moralitas yang kemudian diasimilasikan dengan realitas yang ada. Seperti halnya, pada cerpen tersebut dieksplisitkan bahwa tokoh utama diminta istrinya untuk segera bertobat sebelum terlambat dan ketika tokoh “Aku” telah meninggal mendapatkan siksa kubur karena ia melakukan perbuatan tercela. Hal tersebut, dapat dihayati sebagai pengingat bagi pembaca dan penafsir bahwasanya kita harus menjadi manusia yang hidup dengan berpedoman pada agama, berperilaku baik, dan tentunya mempelajari sekaligus mengamalkan ajaran-ajaran baik serta menghindari larangan agamanya. DAFTAR PUSTAKA Aran, B. P. (2024, April 7). Perihal Pulang. Retrieved Juni 6, 2024, from Kompas.id: https://www.kompas.id/baca/sastra/2024/04/05/perihal-pulang. Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: PT KANISIUS. Wachid, A. (2006). HERMENEUTIKA SEBAGAI SISTEM INTERPRETASI PAUL RICOEUR DALAM MEMAHAMI TEKS-TEKS SENI. Imaji, 4(2), 208.


55 Representasi Permasalahan Dunia Pendidikan Melalui Cerpen “Guru Honorer” Karya Abdul Hadi dengan Pendekatan Hermeneutika Paul Ricoeur Marcelino Yesha Nino (21210141029) Pendahuluan Jika berbicara mengenai dunia pendidikan, pembahasan tidak akan jauh-jauh pada sistem pendidikan seperti penerapan kurikulum, serta para pelaku pendidikan seperti guru dan siswa. Baik antara sistem pendidikan dan pelaku pendidikan, pasti memiliki permasalahan yang menjadi fokus perhatian masing-masing. Pada kesempatan ini, yang akan menjadi fokus pembahasan adalah pelaku pendidikan itu sendiri yakni guru. Guru merupakan profesi yang sangat disegani karena telah dipercayai oleh banyak pihak untuk mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Dalam hakikatnya, guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, dan melakukan evaluasi kepada peserta didik (Safitri, 2019). Guru juga termasuk dalam profesi yang berarti mampu atau ahli dalam bidang tertentu. Guru dalam menjalankan amanahnya menjadi seorang tenaga kependidikan, juga diharuskan untuk memiliki kompetensi yang berorientasi pada peserta didik, kegiatan pembelajaran, sikap sosial, dan kepribadian. Semua tersebut diperlukan oleh para guru bertujuan untuk melancarkan proses belajar mengajar yang pada akhirnya ilmu yang diberikan dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh para peserta didik juga dapat dijadikan panutan orang banyak. Dalam realitanya tidak semua guru di Indonesia memiliki nasib yang sama walaupun tugas mereka adalah sama-sama mengajar dan mendidik peserta didik dengan tujuan mencerdaskan generasi penerus bangsa. Di Indonesia, guru dapat digolongkan menjadi beberapa kategori, yakni guru tetap dan guru honorer. Yang termasuk dalam golongan guru tetap adalah guru yang menerima gaji setiap bulannya dan biasanya karena termasuk menjabat sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Guru honorer atau guru tidak tetap, menurut KBBI adalah guru yang tidak digaji sebagai guru tetap, tetapi menerima honorarium berdasarkan jumlah jam


56 pelajaran yang diberikan. Berdasarkan kedua pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan singkat jika guru tetap lebih sejahtera dan terjamin karena mendapatkan gaji tetap sedangkan guru honorer kurang sejahtera karena tidak adanya jaminan gaji tetap yang diterima. Yang kurang menjadi perhatian dari dunia kependidikan adalah salah satunya nasib guru honorer yang cukup memprihatinkan Tokoh Budi dalam cerpen Guru Honorer karya Abdul Hadi yang ditulis tahun 2019, juga termuat dalam laman ruangsastra adalah tokoh yang digambarkan berprofesi sebagai guru honorer. Menjadi guru honorer yang hanya bermodalkan pengetahuan ilmu agama, tokoh Budi harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dengan istri dan anaknya kurang sejahtera. Dengan gaji yang hanya berkisar 700 ribu, keluarga kecil Budi dihadang berbagai permasalahan seperti biaya membeli susu untuk anaknya yang berusia empat bulan, tagihan kredit motor yang belum lunas, biaya sewa rumah yang menunggak selama dua bulan yang terancam rumah tersebut akan disewakan ke orang lain, dan pekerjaannya sebagai honorer direnggut paksa karena kebijakan sekolah yang baru. Bersamaan dengan potret kehidupan Budi sebagai guru honorer yang penuh cobaan, dalam cerpen ini juga terdapat memuat keresahan Budi terhadap sistem pendidikan yang ada saat ini dan terhadap guru-guru yang sudah menduduki posisi ASN, tidak menjaga profesionalitas mereka dengan datang terlambat saat rapat. Berdasarkan kasus yang digambarkan dalam cerpen Guru Honorer karya Abdul Hadi terkait dengan nasib guru honorer, sistem pendidikan, dan ketidakprofesionalan guru, dapat dianalisis lebih lanjut dengan menerapkan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Dalam hermeneutika Ricoeur yang secara garis besar membahas tentang hermeneutika simbol yang dari bukunya The Symbolism of Evil, Paul Ricoeur melihat hermeneutika sebagai metode untuk menafsirkan simbol-simbol. Kemudian ia meluaskan hermeneutika sebagai diskursus tafsir yang menyeluruh tidak terbatas pada simbol semata. Hermeneutika menjadi teori tentang teks. Diawali dengan teks, pada akhirnya Ricoeur akan melihat dunia keseluruhan sebagai suatu teks. Perencanaan tak pasti (wacana) secara lebih jelas dikemukakan oleh Naufal (dalam Musfikasari, dkk) yaitu adalah definisi memberi tanda atau kemauan untuk mengatakan sesuatu yang melampaui kejadian kenyataannya. Ricoeur


57 dalam wacana, membagi dan membedakan arti (sense) dan rujukan (reference). Sense diproduksi oleh hubungan-hubungan teks sendiri atau hubungan-hubungan dalam teks dan reference diproduksi oleh hubungan-hubungan teks dengan dunia luar teks (Abidin, 2016) Pembahasan A. Unsur Sense dalam cerpen Guru Honorer karya Abdul Hadi 1. Jumlah gaji Budi yang terhitung kecil sebagai guru honorer Dalam cerpen, pada awal mula penceritaan oleh penulis secara jelas disebutkan seberapa besar jumlah gaji Budi sebagai guru honorer, yaitu sebesar Rp 700.000,00. Baginya, jumlah Rp700.000.00 itu terlalu sedikit untuk membiayai atau memenuhi kebutuhan keluarganya yang disebabkan oleh harga kebutuhan sehari-hari yang mahal. Budi dengan susah payah mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan yang keluarga Budi punyai. Terdapat pada kutipan berikut: “Apalah arti uang sejumlah Rp700 ribu yang Budi terima setiap bulannya dengan kebutuhan sehari-hari yang sangat mahal” “Dengan jumlah uang sekecil itu, ia susah-payah untuk mengatur perbelanjaan yang harus dikeluarkan bulan demi bulan untuk setiap kebutuhan yang mereka punya” 2. Sistem pendidikan yang dianggap oleh Budi sebagai mainan politik Mengenai sistem pendidikan, Budi menyinggung bahwa pergantian kurikulum dapat dijadikan lahan korupsi bagi pejabat yang berwenang. Ia juga membahas soal kurikulum yang terus berganti seiring dengan rezim pemerintahan. Menganggap sistem pendidikan selama ini hanyalah mainan politik. Terdapat pada kutipan berikut ini: “Selanjutnya pergantian kurikulum malah dijadikan laha koupsi bagi pejabat yang berwenang…….” “Belum lagi kurikulum yang terus berganti seiring perguliran rezim pemerintahan” “Seolah-olah sistem pendidikan hanyalah mainan politik” 3. Guru-guru ASN yang kurang disiplin Kepala Sekolah mengumumkan jika akan diadakan rapat sepuluh menit lagi. Rapat menjadi mundur dikarenakan menunggu dua orang guru yang terlambat. Budi sangat


58 menyayangkan hal tersebut dapat terjadi pada beberapa guru yang sudah mendapat posisi sebagai ASN. Terdapat pada kutipan berikut ini: “…..beberapa guru juga kerap datang terlambat dan tidak profesional, padahal mereka menduduki posisi sebagai ASN…….” B. Unsur Reference pada cerpen Guru Honorer karya Abdul Hadi 1. Jumlah gaji yang diterima oleh kebanyakan guru honorer sangatlah kecil Jika menengok kembali realitas yang ada di Indonesia berkaitan dengan guru honorer, tak jauh pasti dari pembahasan soal besaran gaji. Gaji yang diterima oleh guru honorer jika dibandingkan dengan gaji guru tetap, akan terdapat kesenjangan yang begitu tinggi. Dengan gaji yang katakanlah tidak mencapai UMP ditambah dengan biaya hidup yang kini semakin mahal. Bahkan tak jarang juga dalam media berita online, terliput ada beberapa pihak yang memohon kepada pemerintah yang berwenang untuk menaikkan jumlah gaji guru honorer di berbagai daerah. Seperti yang dilansir pada media berita online Tempo dengan judul Anggota DPRD DKI Desak Kenaikan Gaji Guru Honorer Setara UMP yang dapat diakses melalui https://nasional.tempo.co/read/1843588/anggota-dprd-dki-desak-kenaikan-gajiguru-honorer-setara-ump 2. Ditemukannya kasus korupsi akibat perubahan kurikulum Dalam artikel berita pada laman Aktual dengan judul Perubahan Kurikulum Picu Korupsi, Pengamat LIPI: Laporkan ke KPK, dijelaskan oleh Titik Handayani sebagai pengamat pendidikan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahwa kurikulum pendidikan yang kerap berganti dapat membuka peluang terjadinya korupsi. Salah satu kasus yang temukan oleh ICW adalah adanya penggelembungan anggaran modul pelatihan guru pengawas kurikulum 2013 di daerah Malang dengan nilai sebesar Rp983 juta dengan potensi kerugian negara Rp786 juta yang kemudian kasus tersebut dilaporkan ke Kemdikbud untuk ditindaklanjuti. Menurut Titik, hal tersebut masih saja terjadi karena kurangnya pengawasan dan mudahnya penggelembungan harga. Selengkapnya dapat disimak dalam link berikut https://aktual.com/perubahan-kurikulum-picu-korupsipengamat-lipi-laporkan-ke-kpk/


59 3. Guru-guru yang berstatus ASN tidak sepenuhnya memenuhi kriteria yang layak disebut profesional Seperti yang termuat dalam laman berita The Conversation dengan judul “Proses Rekrutmen Sebagai ASN Membuat Guru di Indonesia Berkualitas Rendah” proses rekrutmen ASN tidak sepenuhnya menghasilkan guru-guru yang pantas dan berkompeten. Malah sebaliknya dalam rekrutmen ASN, terkadang ada beberapa guru yang tidak kompeten yang berkualitas rendah. Hal tersebut dapat terjadi atas beberapa faktor salah satunya adalah tidak melihat kebutuhan di lapangan. Jika dikaitkan dengan cerpen Guru Honorer, contoh tindakan yang mencerminkan rendahnya kualitas guru ASN adalah dengan sering terlambat yang sekaligus menunjukkan ketidakprofesionalan mereka sebagai pengajar yang harusnya memberi contoh yang baik kepada siswa. Artikel diatas dapat diakses melalui link berikut https://theconversation.com/proses-rekrutmen-sebagai-asnmembuat-guru-di-indonesia-berkualitas-rendah-143443 DAFTAR PUSTAKA Abidin, A. (2016). Sense, Reference, dan Genre Novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang (Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur). Retorika, 10-18. B.S, A. W. (2006). Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur Dalam Memahami Teks-Teks Seni. Imaji, 198-209. Indraningsih. (2011). Hermeneutika Paul Ricoeur dan Penerapannya Pada Pemaknaan Simbol Dalam Roman "Rafilus" karya Budi Darma . Filsafat, 120-133. Jannah, W. (2019). Menjadi Guru Profesional: Memahami Hakikat dan Kompetensi Guru. Riau: PBSI Universitas Riau.


60 Menilik Sisi Gelap Kata “Harga” dalam Cerpen “Harga Seorang Perempuan” Karya Oka Rusmini Tofikoh Hidayati (21210141038) Harga dan perempuan, dua kata yang tidak dapat dipungkiri sudah berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat kita. Namun, pertanyaannya adalah, apakah benar kedua kata tersebut pantas dijadikan sebagai satu frasa yang disusun bergandengan? Apakah benar perempuan dapat dinilai dengan penyebutan bilangan-bilangan harga yang menjadikan perempuan satu berbeda dengan perempuan lainnya? Lalu, bagaimana patokan harga bagi seorang perempuan yang menjadi titik nilai keberhargaannya? Bagaimanakah interpretasi makna kata harga yang dihadirkan secara bersusun dengan perempuan? Hal tersebutlah yang akan coba disajikan dalam tulisan esai ini dengan menggunakan pembacaan hermeneutis melalui perspektif hermeneutika Paul Ricoeur. Karya sastra kerap kali dinyatakan sebagai cerminan dari realitas kehidupan manusia. Pernyataan tersebut bukanlah hanya sebuah kalimat yang melebih-lebihkan atas karya sastra. Namun, pernyataan itu memang benar adanya ketika karya sastra dibaca melalui pembacaan hermeneutik. Hermeneutika sendiri merupakan sebuah teori penafsiran dalam memahami makna teks yang berkaitan dengan permasalahan umum (Palmer, 2005). Sedangkan pembacaan hermeneutik dapat diartikan sebagai pembacaan yang dilakukan secara menyeluruh dan mendetail terhadap sebuah teks untuk mendapatkan tafsirnya. Melalui pembacaan tersebut, karya sastra dapat memberikan isi dan makna tak terduga. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik sangatlah diperlukan ketika kita membaca sebuah karya sastra. Teori hermeneutika telah banyak dikaji oleh beberapa ahli di masa silam. Salah satu ahli di bidang hermeneutika adalah Paul Ricoeur. Paul Ricoeur yang merupakan seorang filosof aliran pemikiran Thomisistis, memberikan sumbangsih terhadap perkembangan teori hermeneutika. Menurutnya, hermeneutika merupakan teknik interpretasi yang menaruh perhatian kepada teks dan bukan sekadar interpretasi simbol saja. Interpretasi dipandang


61 Paul Ricoeur dapat diperoleh dari penguraian makna-makna yang tersembunyi. Hal tersebut tidak terkecuali dari interpretasi karya sastra. Cerpen Harga Seorang Perempuan karya Oka Rusmini ini sangat cocok dikaji menggunakan perspektif hermeneutika Paul Ricoeur karena dalam menguraikan penafsirannya melalui wacana dialektika yang menghadirkan sense dan reference. Wacana dialektika tersebut terjadi dalam teks karya sastra melalui makna teks sebagai sense dan peristiwa sebagai reference. Dialektika antara sense dan reference dalam cerpen Harga Seorang Perempuan karya Oka Rusmini ini dimulai dari pemaknaan simbol harga yang melekat pada diri perempuan dalam teks cerpen tersebut. Cerpen Harga Seorang Perempuan menceritakan mengenai seorang gadis yang dititipkan ibunya kepada seorang Ibu Pembesar untuk menjadi seorang Pelayan Muda di kediamannya. Setiap berjalannya waktu, kehidupan sang Ibu Pembesar dan Pelayan Muda tidak lepas dari sebuah harga yang membelenggu diri mereka. Makna kata harga dalam cerpen ini memiliki sisi gelap yang apabila ditangkap menggunakan pembacaan hermeneutik. Melalui telaah hermeneutik Paul Ricoeur, ada tiga makna dari simbol harga pada seorang perempuan dalam cerpen tersebut, yaitu pertama harga sebagai wujud tuntutan perempuan untuk bergerak di ruang yang terbatas dan tidak bebas berekspresi, kedua harga membawa perempuan menjadi pribadi yang kehilangan kepercayaan dirinya, dan ketiga harga menjadikan perempuan pribadi yang sering berbohong. Interpretasi harga sebagai sense yang pertama adalah bagaimana harga diperlihatkan sebagai wujud tuntutan perempuan untuk bergerak di ruang terbatas dan tidak bebas berekspresi. Tokoh Ibu Pembesar yang selaku bangsawan dituntut untuk bergerak di ruang kebangsawanannya yang mengharuskan ia memakai barang-barang mewah, bermerk, dan memiliki kelas tinggi. “Kau taruh di mana sepatu bermerek dari Italia, hadiah Nyonya Dubes minggu lalu?” Penggalan kutipan teks dialog di atas diucapkan oleh Ibu Pembesar ketika ia akan menghadiri sebuah acara besar. Ibu Pembesar memiliki harga seorang bangsawan, seorang yang dianggap memiliki kelas sosial tinggi yang mengharuskan ia menggunakan barang


62 yang senilai dengan harga seorang bangsawan. Bukti lain dari pemaknaan simbol harga sebagai wujud tuntutan perempuan untuk bergerak di ruang yang terbatas dan tidak bebas berekspresi juga ditampilkan oleh beberapa kutipan di bawah ini “Bagus! Berarti kosmetikku sudah mencerminkan bau Indonesia. Kau tahu, aku sedang berusaha meningkatkan kecintaan pada produksi dalam negeri. Sebagai orang nomor satu di daerah ini, aku harus memberi contoh agar rasa cintaku kepada produksi dalam negeri benar-benar menjadi cermin masyarakat. Parfum yang kupakai harus benarbenar mencerminkan buatan Indonesia.” Kutipan di atas terlihat dengan jelas bagaimana harga seorang bangsawan atau pemangku kuasa dilihat dari citranya dalam menunjukkan rasa cinta terhadap negerinya. “Perempuan bernama Ibu Pembesar itu sangat lucu. Tubuhnya tinggi besar, pipinya tembam, dan rambutnya selalu disasak tinggi-tinggi. Kata pelayan-pelayan di rumah besar itu, sasak dan makeup tebal itu mencerminkan bahwa dia adalah seorang perempuan kalangan atas.” “Sudahlah. Kau tidak akan mengerti. Peranku dan peranmu sebagai perempuan berbeda. Hargamu dan hargaku juga jauh berbeda. Tugasmu hanya menyiapkan pakaianku. Itu sudah cukup.” Kutipan di atas menegaskan bahwa harga antara perempuan menjadikan mereka memiliki batas kelas sosial yang menyebabkan tiap individu bergerak sesuai dengan ruangnya. Pelayan Muda dianggap memiliki nilai dan harga yang lebih rendah dari Ibu Pembesar dan harus bergerak dan berekspresi sesuai dengan jobdesk pekerjaannya saja. Makna kata harga pada seorang perempuan yang kedua adalah membawa ketidakpercayaan pada dirinya. Pelabelan akan nilai dan harga perempuan yang digambarkan dalam cerpen Harga Seorang Perempuan berpijak penting setidaknya pada dua hal, yaitu kekuasaan/kekayaan dan kecantikan. Tolak ukur tersebut setelah ditelaah lebih dalam memiliki makna sebagai pembawa ketidakpercayaan diri seorang perempuan. Bagaimana bisa perempuan diperlakukan sesuai dengan standar kaya, cantik atau tidaknya mereka? Bagaimana bisa kehormatan dinilai secara materialistis dan beauty dari sampul saja? Namun dalam cerpen ini harga-harga tersebut ditampilkan sebagai bentuk kritik sosial


63 yang memperlihatkan bagaimana label harga yang melekat pada diri perempuan membawa diri mereka pada jurang ketidakpercayadirian. Makna tersebut dapat dibuktikan setidaknya melalui beberapa kutipan data berikut ini. “Sudah, sudah. Sudah cukup! Coba sekarang kau berdiri di depan pintu. Aku akan berdiri di dekat jendela. Apa kau masih mencium bau alami dari tubuhku?” “Apa aroma alamnya terasa?” “Kau rasakan bau akar-akaran?” Beberapa penggalan dialog di atas sebagai beberapa landasan kata harga memiliki interpretasi tentang cerminan hilangnya rasa percaya diri perempuan. Pertanyaan yang menjurus pada satu jawaban yang sama terus dilontarkan oleh Ibu Pembesar yang memiliki harga sebagai seorang bangsawan. Ia benar-benar ragu dan cemas apabila aroma yang melekat pada tubuhnya tidak mencerminkan bau akar khas tanah air. Dalam kutipan narasi lain juga disajikan bagaimana sesungguhnya Ibu Pembesar ingin merasakan dibalut pakaian-pakaian sederhana yang tidak memperdulikan posisi kelas sosialnya, namun pakaian sederhana tersebut tidak cukup untuk memberikan rasa aman dan percaya diri pada dirinya yang seorang bangsawan. Kemudian tersaji pula ketika Ibu Pembesar dihadapkan dengan perempuan-perempuan lain yang memiliki kekuasaan jauh di atasnya, maka lenyaplah sudah kepercayaan diri Ibu Pembesar dan harga bangsawannya turun ke kelas yang lebih bawah dibanding dengan pemangku kekuasaan di atasnya. Interpretasi simbol harga yang ketiga adalah harga memberikan peluang bagi perempuan untuk pandai berbohong. Kebohongan tersebut tidak hanya dilakukan kepada orang lain, tetapi termasuk membohongi diri mereka sendiri. Bagaimana tokoh Ibu Pembesar yang harus berlagak seolah cinta tanah air dengan menggunakan wewangian khas Indonesia padahal minyak tersebut dari Prancis. Bagaimana tokoh Ibu Pembesar membohongi dirinya dengan rasa iri akan kebahagiaan yang Pelayan Muda tampilkan meskipun dengan harga kelas sosial di bawahnya, yang sebenarnya bentuk cerminan dari rasa inginnya untuk kembali hidup sederhana. Ibu Pembesar dengan harga tinggi dalam tolak ukur kelas sosial tidak dapat terhindar dari sikap bohong kepada dirinya sendiri dan masyarakat. Demikian pula sosok Pelayan Muda yang memiliki harga di bawah Ibu


64 Pembesar harus turut berbohong mengatakan tentang hal-hal indah kepada Ibu Pembesar untuk menyenangkan hatinya. Lalu, setelah membahas mengenai makna harga yang merupakan sense dari bagian dialektika ini, bagaimana dengan referencenya? Referensi interpretasi makna harga yang penuh dengan sisi gelap rupanya tidak jauh-jauh dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar bahkan hal tersebut pun kerap menyergap dan merundung diri penulis esai ini. Bagaimana penulis kerap takut menjalani kesehariannya yang bersumber pada penilaian orang lain? Hal tersebut juga banyak dialami oleh orang-orang di sekitarnya. Ketika kita amati lebih jauh lagi, maka mata kita akan melihat bagaimana para ibu pejabat sedemikian dihargai dan dihormati, sedangkan ibu-ibu di pasar atau di rumah sering kali mendapatkan perilaku yang tidak menunjukkan tanda-tanda hormat. Kemudian, banyak perempuan yang memoles dan berdandan ria untuk mendapatkan nilai kecantikan agar lebih bisa dihargai. Tidak dapat dipungkiri memang masyarakat Indonesia suka mencemooh dan menjauhi perempuan-perempuan yang tidak berada pada standar kecantikan mereka. Sehingga hal tersebut menyebabkan rasa ketidakpercayadirian kaum perempuan. Para sosialita, selebgram, tiktoker yang berlomba-lomba terlihat fashionable untuk medapatkan label harga perempuan cantik. Berita-berita yang bertaburan mengenai KDRT yang dialami perempuan karena pasangannya merasa tidak cukup dengan nilai yang diberikannya. Atau bahkan berita mengenai pemangku-pemangku kekuasaan yang berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan cara menunjukkan rasa kecintaan mereka terhadap Indonesia dan masyarakatnya yang padahal hanya ucapan belaka dan berujung korupsi. Pembacaan hermeneutik Paul Ricoeur di atas memberikan interpretasi makna bagaimana sesungguhnya pelabelan harga pada diri perempuan hanya memberikan warnawarna kegelapan pada diri mereka. Cerpen Harga Seorang Perempuan karya Oka Rusmini rupanya bermaksud untuk menyajikan kritik sosial terhadap cara berpikir masyarakat dalam memandang perempuan dan sebagai upaya penyadaran untuk melepaskan tabir-tabir yang tak terlihat mengenai standar-standar harga dan nilai perempuan. Sebagai penutup esai ini, sekali lagi ingin penulis tegaskan, kata “harga” dan “perempuan” dalam satuan gramatikal


65 memang dapat berdiri beriringan sebagai sebuah frasa. Namun, apakah sudah benar patokan masyarakat dalam memberikan kriteria penilaiannya? Apakah harga seorang perempuan benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat? Mari kita renungkan dan perdalam dengan lebih lanjut dengan memperhatikan perempuan-perempuan di sekitar kita dan lihatlah bagaimana label harga memang benar dipenuhi kegelapan yang perlu segera disingkirkan. DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermarcher sampai Derrida. Yogyakarta : PT Kanisius. Palmer, Richard E. (2005). Hermeneutika. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Rusmini, Oka. (2017). Sagra. Jakarta : Kompas Gramedia.


66 Memahami Simbol Durhaka dalam Cerpen “Pendurhaka” Karya NH.Dini Melalui Pendekatan Hermeneutika Paul Ricoeur Rizka Setyaningrum (21210141040) Dunia sastra tak bisa lepas dari sifat imajinatif seorang pengarang. Semi (1988:8) berpendapat bahwa sastra adalah hasil pekerjaan seni kreatif dengan memakai objek manusia dan kehidupan melalui bahasa sebagai perantaranya. Proses ide kreatif dan imajinatif ini dapat dikembangkan terlebih dahulu untuk mematangkan setiap gagasangagasan yang telah diperoleh. Setelah itu, barulah gagasan tersebut dikemas melalui bahasa untuk menghasilkan suatu makna. Dengan demikian, karya sastra adalah hasil proses kreatif dari pikiran dan imajinasi yang didalamnya memuat nilai-nilai kehidupan. Hermeneutika Paul Ricoeur memandang bahwa makna-makna tidak mengacu pada simbol dalam teks, tetapi juga berkaitan dengan konteks makna secara luas terutama mencakup makna-makna hidup. Memahami tak hanya berputar pada kegiatan menafsirkan maknanya saja karena memahami di sini turut merefleksikannya dalam makna kehidupan. Dengan demikian, memahami menurut pemikiran Paul Ricoeur tidak hanya meliputi batasan-batasan hal yang tertuang dalam tulisan teks, tetapi mencakup aktivitas mengungkap makna-makna tersebut dengan cara merefleksikannya. Cerpen dengan judul Pendurhaka karya Nh. Dini ini menggambarkan kehidupan seorang anak perempuan yang selalu dianggap rendah dibandingkan dengan anak laki-laki dalam keluarganya. Keberadaan norma dan tradisi membawa pengaruh terhadap pemberian peran dan tanggung jawab yang telah disesuaikan berdasarkan gender. Dalam masyarakat, peran dan tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga, merawat anak, memasak, dan tugas domestik lainnya lebih banyak dilimpahkan kepada perempuan sedangkan laki-laki cenderung diharapkan bertugas sebagai pencari nafkah utama. Kemudian, adanya upaya sosialisasi sejak kecil terkait tanggung jawab masing-masing gender dapat memberikan persepsi yang salah apabila diberikan terlalu berlebihan. Ketika perempuan didorong untuk belajar mempersiapkan diri sebagai istri dan ibu serta laki-laki difokuskan dengan kegiatan yang dipandang lebih maskulin maka akan memunculkan ketidakseimbangan rumah tangga


67 dalam keluarga. Ketidakseimbangan tersebut akan melahirkan stereotip bahwa laki-laki tidak cocok untuk berurusan dengan pekerjaan domestik karena pekerjaan-pekerjaan tersebut lebih melekat ditangan perempuan. Dengan menggunakan karya cerpen berjudul Pendurhaka karya Nh. Dini, penulis mencoba menganalisis simbol durhaka untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam cerpen tersebut dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Berikut analisis cerpen Pendurhaka melalui hermeneutika Paul Ricoeur: Cerpen ini dimulai dengan perdebatan kakak laki-laki yang meminta Yati untuk kembali pulang ke rumah. 1. “Kau sudah cukup meremukkan hati Ibu.” Dalam kutipan di atas, simbol meremukkan dalam cerpen memiliki makna bahwa Yati telah mengecewakan hati ibunya. Yati sebagai anak bungsu yang sudah dianggap besar oleh kakaknya, tidak sepantasnya membantah omongan orang yang lebih tua. Dalam kehidupan sehari-hari, masih sering dijumpai stereotip seorang anak yang tidak boleh melawan dan membantah perkataan orang tua, sekalipun perkataan atau perbuatan itu memang salah. Hal ini menjadikan terbatasnya ruang bagi anak untuk menyampaikan sesuatu yang dirasa sudah tak selaras dengan prinsip dan pemikirannya sehingga menimbulkan pemberontakkan untuk bisa keluar dari zona tersebut. Menengok kembali dalam cerpen ini, alasan dibalik pemberontakkan Yati (tidak mau kembali pulang) disebabkan karena dirinya sudah sangat muak dengan perlakuan rendah ibunya terhadap anak-anak perempuannya. Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan di keluarganya hingga dipaksa untuk menikah menjadi alasan kuat Yati untuk tak kembali pulang ke rumah. 2. “Kau anak yang melangkahkan kaki dari adat.” Dalam kutipan di atas, simbol durhaka melangkahkan kaki dari adat dalam cerpen ini bermakna bahwa Yati telah dianggap tidak menuruti aturan-aturan keluarganya. Di dalam sebuah keluarga biasanya telah memiliki aturan tersendiri baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Akan tetapi, tak jarang aturan yang dibuat oleh orang tua tersebut dipakai tanpa mempertimbangkan kesanggupan dan perasaan dari anggota keluarganya. Di dalam cerpen


68 ini, posisi Yati sebagai anak perempuan sangat ditekan dengan aturan keluarganya, terutama aturan untuk tidak boleh bekerja sebab perempuan hanya memiliki tenaga yang lemah dan aturan yang mendesakknya segera menikah saja dibanding menikah. 3. “Aku tak hendak menyanjung jasa itu.” Dalam kutipan di atas, simbol durhaka tak hendak menyanjung jasa dimaksudkan Yati untuk tidak merasa bahwa jasa yang diberikan orang tua tidak memerlukan pujian yang berlebihan sebab baginya membesarkan anak dan mengusahakan pertumbuhan anak merupakan kewajiban orang tuanya sehingga tidak ada hal istimewa dari hal itu. Dalam kehidupan sekitar, jasa orang tua seringkali digunakan sebagai alat untuk mendorong anak agar mau menuruti perkataan atau tindakan orang tua karena akan timbul dorongan rasa tidak enak atau rasa bersalah. Akan tetapi, dalam konteks cerpen ini menekankan bahwa Yati tetap berpegang teguh untuk tidak goyah terhadap prinsipnya, yakni perempuan tak layak untuk direndahkan dan dijadikan boneka, sekalipun dibujuk dengan jasa-jasa orang tuanya karena baginya itu bukanlah hal yang istimewa. 4. “Tapi cuma kau yang membelot bikin aturan sendiri.” Dalam kutipan di atas, simbol durhaka membelot bikin aturan sendiri dalam cerpen ini bermakna bahwa Yati yang tak mau menuruti aturan keluarga telah dianggap membuat aturan sendiri, yang tentunya sangat berlawanan dengan aturan keluarganya. Sering dijumpai ketika seorang anak tidak selaras dengan aturan yang berlaku di keluarganya, tak jarang anak tersebut mencoba membangun aturan sesuai dengan prinsip yang dipegang. Akan tetapi, tidak semua orang bisa membedakan apakah membangun aturan baru tersebut termasuk sesuatu hal yang baik atau menjadi hal yang buruk sehingga mencari tahu seluk beluk alasan mengapa seseorang memutuskan membuat aturan sendiri dalam hidupnya adalah hal yang penting. Sebelumnya, perlu digaris bawahi jika dalam konteks cerpen ini, membelot yang dilakukan oleh Yati didasari karena alasan tak pantasnya seorang perempuan direndahkan. Oleh karena itu, tindakan membelot dalam lingkup cerpen ini memerlukan kunci keberanian hati yang kuat karena Yati sadar bahwa keputusannya ini tentu bertolak belakang dengan ibu dan keluarganya. 5. “Aku juga bosan dengan sanjunganmu terhadap tundukan perintah orang tua.”


69 “Kau terlalu mendewakan segala aturan keluarga.” Dibandingkan dengan empat kutipan sebelumnya, kutipan di atas cenderung sebagai simbol tokoh Yati untuk merespon balik perkataan-perkaatan yang telah dilontarkan kakak laki-lakinya. Simbol ini memiliki makna bahwa rasa muak yang dialami tokoh Yati dituangkan dengan sindiran halus sebab Yati sendiri masih berusaha untuk menyadarkan kakaknya bahwa prinsip keluarga terutama ibu sejatinya hanya mengekang kehidupan anak-anak perempuannya hingga salah satu anak perempuan tersebut menyerah dan memilih bunuh diri (Sul, kakak perempuan Yati). Tak jarang dalam keluarga sering terjadi ketimpangan dan keterbatasan dalam memutuskan jalan hidup, terutama anak perempuan yang tidak dibebaskan dalam memilih jalan hidupnya sebab masih dianggap lemah oleh orangtua. Keterbatasan meliputi tidak didengarnya pendapat-pendapat anak perempuan ketika ingin menyampaikan hal yang dirasa tidak selaras dengan prinsip dan persepsi yang dimilikinya. Ketika anak perempuan mencoba untuk menegakkan prinsipnya, terkadang orangtua menganggapnya sebagai tindakan pelanggaran, pemberontakkan, atau lebih seringnya disebut durhaka. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakuan, cerpen Pendurhaka karya Nh. Dini memiliki simbol-simbol durhaka, yakni: meremukkan hati, melangkahkan kaki dari adat, tak hendang menyanjung jasa orang tua, membelot membuat aturan sendiri, bosan dengan tundukan perintah orang tua, dan terlalu mendewakan aturan keluarga. Simbol tersebut menggambarkan berbagai bentuk ketidakpatuhan dan pemberontakan dari aturan maupun prinsip dalam sebuah keluarga. Makna dalam simbol tersebut menyiratkan bahwa di setiap ketidakpatuhan, penolakkan, perlawanan, pemberontakkan yang dilakukan oleh seseorang di dasari oleh latar belakang, alasan, dan penyebab mengapa ketidakpatuhan itu ada dan mengharuskan seseorang tersebut dicap sebagai sosok yang durhaka. Dalam kehidupan, begitu banyak persepsi hidup yang dipegang oleh masing-masing individu dan keberagaman persepsi tersebut seringkali bertolak belakang satu sama lain yang tentunya tak mengenal batas usia. Dalam konteks cerpen Pendurhaka ini, persepsi yang bertolak belakang terjadi antara keluarga dan anak perempuannya. Keluarga yang memandang bahwa perempuan adalah sosok yang lemah sudah seharusnya tidak perlu berkecimpung


70 dengan dunia kerja dan lebih baik menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan anak perempuan menganggap bahwa perempuan juga berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Dengan demikian, membelot yang dilakukan oleh Yati didasari karena alasan tak pantasnya seorang perempuan direndahkan meskipun dirinya rela dianggap sebagai anak durhaka.


71 PEMAKNAAN TOKOH HANA DALAM CERPEN “KAPOTJES DAN BATU YANG TERAPUNG” KARYA FAISAL ODDANG DENGAN MENGGUNAKAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Defry Nanda Pristyawan (21210141060) Kapotjes dan Batu yang Terapung merupakan cerpen karya Faisal Oddang yang mengisahkan seorang perempuan muda bernama Suriani atau Hana nama panggilannya ditangkap oleh tentara Jepang dan dijadikan seorang Jugun Ianfu atau perempuan pemuas Birahi. Pada hari pertamanya di kompleks pelacuran Hana bertemu dengan seorang bocah lelaki tukang bersih-bersih, Kama namanya. Kama mengingatkan Hana dengan adiknya Suda. Bahkan ketika hendak bunuh diri, Hana mengurungkan niatnya karena melihat Kama berdiri di hadapannya. Namun, rupa-rupanya Kama menyukai Hana. Ia terangsang bahkan melakukan masturbasi ketika mengintip Hana disetubuhi oleh orang-orang yang datang ke pelacuran tersebut, sampai seorang tentara memergokinya. Tentara yang sedang bersama Hana mendengar hal itu dan menyuruh Kama untuk menyetubuhi Hana. Kama tidak bisa melakukannya, yang terjadi selanjutnya Kama membunuh tentara tersebut dengan bayonet. Kama lalu melarikan diri disuruh oleh Hana dengan membawa uang dan batu hitam jimat keselamatan pemberiannya. Beberapa bulan setelahnya, saat Hana dibebaskan ia baru mengetahui dari Kazumi temannya bahwa Kama telah mati dan dikuburkan di tempat pembuangan sampah. Hana menggalinya dan membawa tulangnya untuk dikuburkan di sebelah kampungnya. Dalam esai ini, tokoh Hana pada cerpen yang mengangkat peristiwa kelam pada masa penjajahan Jepang tersebut akan dianalisis dengan menggunakan hermeneutika Paul Ricoeur. Siklus hermeneutis versi Paul Ricoeur menggabungkan “interpretasi” dan “pemahaman” (Hardiman, 2015: 245). Interpretasinya bersifat analitis dan empiris, yaitu berbagai peristiwa dijelaskan dalam arti pola antara bagian-bagian yang diamati. Pemahamannya bersifat komprehensif, yaitu menjelaskan peristiwa dalam arti interpretasi umum. Dalam hermeneutika, kedua proses tersebut harus dilakukan. Teks tersegmentasi untuk menemukan pola, kemudian dikembalikan dan dinilai secara subjektif makna dari


72 keseluruhan teks. Berpindah dari pemahaman ke penjelasan, dan kemudian kembali ke pemahaman dalam dialektika yang kompleks. Dengan menafsirkan paragraf teks, kita akan membebaskan kepentingan pribadi kita dari makna internal yang terkandung dalam teks penelitian. Kemudian kita akan menerapkan makna ini pada situasi pribadi kita. (Daryanto dan Rahardjo, 2016: 300-301). Tokoh Hana dalam cerpen Kapotjes dan Batu yang Terapung mengalami trauma yang berat akibat diculik paksa oleh tentara Jepang dan dijadikan budak seks. Dia mengatakan bahwa Suriani (nama aslinya) telah mati. Hal ini menunjukkan bahwa Hana telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang manusia dan perempuan. Dia tidak mempunyai kehendak bebas akan tubuhnya sendiri. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini. Nama saya Hana, bukan nama yang sebenarnya. Saya menyukai nama ini bukan karena lebih bagus dari Suriani, nama pemberian Ibu. Bagi saya Suriani telah mati. Saya telah mengubur nama itu pada hari kedua saya menjadi jugun ianfu—ketika tentara itu memberi nama Jepang untuk memudahkan saya melupakan masa lalu dan kampung asal. Mereka tidak mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar mampu merebut ingatan dan masa lalu seseorang. Impian Hana adalah untuk menikah dengan Hammud. Pernikahan yang begitu, ia idam-idamkan sebagai seorang wanita untuk bersama laki-laki pilihannya. Ia dengan bahagia juga merawat tubuhnya agar terlihat cantik. Namun, semuanya sirna saat ia menjadi jugun ianfu. Semua laki-laki bebas menyetubuhinya tanpa persetujuannya. Tubuh yang selama ini dirawatnya, kini hanya dipandang sebagai barang pemuas nafsu. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut. Tubuh yang berbulan-bulan saya rawat; saya lumuri bubuk sangraian ketan hitam yang ditumbuk dan mandi dengan air rebusan beras—persiapan pernikahan dengan Hammud. Sekarang, saya seperti tak mengenali tubuh ini setelah beberapa tentara Jepang menjemput paksa di rumah. Tekanan fisik dan batin yang terus menimpa Hana membuatnya putus asa. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Dia berpikir bahwa lebih baik mati daripada terus


73 hidup dalam penyiksaan dan derita. Namun, pada saat dia akan mengakhiri hidupnya, ia bertemu Kama. Seorang bocah laki-laki yang mengingatkannya pada adiknya. Kama inilah yang menjadi satu-satunya harapan bagi Hana untuk bertahan hidup. Agar suatu saat dapat keluar dari pelacuran tersebut dan bertemu kembali dengan adiknya yang sangat ia cintai. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini. Minggu pertama, saya mencoba mengakhiri semuanya dengan mengakhiri hidup saya—tetapi, Kama memergoki dan niat saya jadi urung karena merindukan Suda ketika melihat wajah Kama. Rasa sayang Hana yang tulus pada Kama ditunjukkan dengan jelas pada bagian klimaks cerpen ini, yaitu pada saat Kama membunuh tentara Jepang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyuruh Kama untuk melarikan diri dan membiarkan dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas kematian tentara tersebut. Hanya karena mengingatkannya pada adiknya, Hana sampai pasrah untuk disiksa dan harus melayani lebih banyak laki-laki dari biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah, Hana tetap mencoba untuk melindungi Kama dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik baginya. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan berikut ini. “Pokoknya lari,” suara Hana meninggi. “Ini uang buatmu. Dan juga jimat keselamatan, simpanlah. Pergi dan temui adik saya di kampung, uang itu untuk kalian berdua. Jadikan dia saudara. Bilang bahwa saya baik-baik saja dan segera pulang. Yang di sini, biar saya yang urus.” Hari itu, ketika tentara yang lain menemukan tubuh temannya tak bernyawa—mereka menyeret saya ke lapangan, saya disiksa dan hampir saja digantung. Saya masih muda, masih baru, dan rugi membunuh seseorang yang bisa menghasilkan uang banyak bagi mereka, itu yang buat saya masih hidup. Sebagai hukuman, saya dipaksa harus melayani lebih banyak dari biasanya. Kisah Hana dalam cerpen ini berakhir dengan kemalangan. Kemalangan pertama, yaitu Ketika Hana mengetahui bahwa Kama mati dan tidak berhasil menyelamatkan diri. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Hana karena sebelumnya ia berekspektasi bahwa Kama akan selamat dan bertemu dengan adiknya. Kemalangan kedua, yaitu pada saat Hana


74 sudah keluar dari komplek pelacuran dan berjalan pulang, tetapi dia tahu bahwa penduduk kampungnya pasti akan menolak kehadirannya. Hal ini menjadi ironis sebab Hana menjadi jugun ianfu bukan karena keinginannya sendiri melainkan karena dipaksa. Hana juga adalah korban yang seharusnya dilindungi dan mendapat pengobatan atas luka fisik dan psikisnya selama di kompleks jugun ianfu. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan berikut. —saya menggali sebuah gundukan tanah di tempat pembuangan sampah kompleks. Di sana, aku disuruh menguburnya, aku terpaksa rahasiakan darimu, kata Kazumi meyakinkan saya. Dan benar, saya menemukan tulang berserakan serta batu hitam di sana—tulang dan batu yang kini berada di tas jinjing saya. Saya akhirnya menuju pulang, gontai sambil menangis tanpa suara, saya tahu, besar kemungkinan ditolak kampung sendiri. Cerpen Kapotjes dan Batu yang Terapung mengangkat tema cerita tentang perempuan korban Jugun Ianfu. Hana merupakan perempuan muda tak bersalah yang dipaksa harus melayani nafsu birahi tentara Jepang. Namun, ia memiliki tekad yang kuat untuk bertahan hidup, tak ingin kalah oleh ketidakadilan yang menimpanya. Pada akhirnya ia dapat bebas walaupun dengan luka yang masih dirasakannya. Hana yang membawa pulang tulang belulang Kama yang gagal melarikan diri, seorang bocah laki-laki yang sudah ia anggap adik sendiri. Kapotjes dan Batu yang Terapung karya Faisal Oddang memberikan gambaran pada pembaca betapa sakit dan pahitnya penderitaan para korban perang negara yang dijajah. Terutama para perempuan yang sudah seperti halnya barang yang dapat diperjualbelikan. DAFTAR PUSTAKA Daryanto., Muljo Rahardjo. (2016). Teori Komunikasi, Yogyakarta: Gava Media. Hardiman, F budi. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik Dari Schleiermacher Sampai Derrida. Yogyakarta: PT Kanisius. Oddang, Faisal. (2019). Kapotjes dan Batu yang Terapung. Dalam Sawerigading Datang dari Laut. Yogyakarta: Diva Press.


75 HERMENEUTIKA PADA PUISI


76 MELANKOLIA KEPUTUSASAAN DALAM PUISI “LENYAP” KARYA EMHA AINUN NADJIB (HERMENEUTIKA WILHELM DILTHEY) Nabila Viosta Ekaningtyas (21210141005) Sebagaimana fitrahnya, manusia dibekali oleh sisi emosional yang ada dalam diri masing-masing. Contoh sederhananya, emosi dapat juga memantik semangat dan tekad yang berkobar-kobar, atau justru emosi dapat muncul berupa kesedihan dan keputusasaan yang mendalam, dan puisi menjadi salah satu kendaraan sastra yang membawa pengalaman emosional serta ekspresi pemikiran manusia. Adapun untuk mengupas puisi dalam studi kajian sastra, hermeneutika dapat menjadi salah satu pendekatan yang sesuai. Terdapat salah satu tokoh dalam hermeneutika, yakni Wilhelm Dilthey (1833-1911). Dalam pandangan Dilthey, hermeneutika adalah sebuah teknik memahami ekspresi mengenai kehidupan dalam wujud tulisan, sehingga hal itu menegaskan akan keberadaan dari apa yang disebut pengalaman hidup (Sitorus, et al., 2022:209). Hal itu menunjukkan bahwa penting untuk merangkul relevansi historis seorang manusia dalam memahami dan menginterpretasi sebuah teks yang dibuatnya. Terdapat tiga konsep yang menjadi kunci dari hermeneutika Dilthey. Adapun ketiganya meliputi pengalaman hidup (Erlebnis), ungkapan (Audstruck), dan pemahaman (Verstehen) (Hadi, 2008:92). Berdasarkan pemaparan sebelumnya, peneliti tertarik untuk mengkaji puisi “Lenyap” karya Emha Ainun Nadjib dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey. Puisi tersebut termaktub dalam antologi puisi “M” FRUSTASI dan Sajak Jatuh Cinta yang terbit kembali pada tahun 2021 (diterbitkan ulang dari tahun 1975) oleh Pabrik Tulisan. Penulis tertarik untuk mengambil puisi “Lenyap” sebagai objek penelitian, sebab di dalamnya sarat akan ungkapan-ungkapan melankolis yang menyiratkan keputusasaan seorang manusia. Sebagai penopang penafsiran dan interpretasi makna puisi tersebut, peneliti memanfaatkan tiga konsep hermeneutika Wilhlem Dilthey, antara lain [1] konsep Erlebnis, [2] konsep Ausdruck, dan [3] konsep Verstehen pada analisis puisi. • Konsep Erlebnis dalam Puisi “Lenyap” karya Emha Ainun Nadjib


77 Erlebnis merujuk pada pengalaman yang dimiliki seseorang dan dirasakan sebagai sesuatu yang bermakna (Hardiman, 2015:83). Dalam bagan yang dibuat oleh Sitorus, et al (2022:212), erlebnis dalam karya sastra mencakup tentang sejarah pengarang (biografi) dan sejarah karya sastra. Oleh karenanya, pada bagian ini akan dipaparkan mengenai biografi dari Emha Ainun Nadjib selaku penulis puisi “Lenyap” Emha Ainun Nadjib merupakan seorang sastrawan, budayawan, pelukis kaligrafi, dan penulis lagu kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia dikenal memiliki sentuhan kritis, spiritual, serta religius dalam karya-karyanya. Tulisan-tulisan Emha kebanyakan mengangkat persoalan sosial, mencakup budaya, ekonomi, dan politik yang aktual dan kontekstual. Ia sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo dan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada meski tidak pernah selesai. Emha pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Yogyakarta dan aktif di Yayasan Pengembangan Masyarakat Al-Muhammady di Jombang (bergerak di bidang pendidikan, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya). Selain itu, ia pernah menjadi redaktur kebudayaan Harian Masa Kini (sampai 1 Januari 1977), mengemban tugas di ruang budaya Harian Berita Nasional, dan berkecimpung di Yayasan Ababil Yogyakarta (menyediakan tenaga advokasi pengembangan masyarakat dan penciptaan tenaga kerja). Dalam kiprahnya di komunitas diskusi dan studi sastra, pada tahun 1970 ia bergabung dalam Persada Studi Klub (PSK) di bawah naungan Mingguan Pelopor Yogyakarta dan pada tahun 1995 ia membentuk Komunitas Padhang Mbulan sebagai kelompok pengajar serta aktif dalam dunia teater di komunitas Kiai Kanjeng. Selayaknya sastrawan pada umumnya, Emha dikenal sebagai sastrawan yang aktif dalam berkarya. Beberapa karyanya, antara lain [1] antologi puisi, yakni "M" Frustasi dan Sajak-Sajak Cinta (1975), Nyanyian Gelandangan (1982), 99 Syair untuk Tuhan (1980); [2] antologi esai, yakni Markesot Bertutur Lagi (1994), Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), Tuhan pun “Berpuasa” (1997); [3] karya di majalah, yakni cerpen “Ambang” (Horizon, 1978), cerpen “Jimat” (Horison 1980), cerpen “Luber” (Horison, 1981), puisi "Seperti Mimpi-Mimpi Abstraksi" (Pandji Masyarakat, 1971), puisi “Kubakar Cintaku” (Budaya Jaya, 1974); [4] Drama, yakni Geger


78 Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, Doktorandus Mul, Ampas, Keajaiban Lik Par, Sidang Para Setan, dan banyak lainnya. • Konsep Ausdruck dalam Puisi “Lenyap” karya Emha Ainun Nadjib Konsep ausdruck yang dimaksud oleh Dilthey adalah dunia mental sosial-historis yang berasal dari pikiran manusia yang diungkapkan ke luar dari dunia tersebut atau dengan kata lain merupakan perwujudan dari manusia dalam bentuk produk kebudayaan (Hardiman, 2015:85). Dalam bagan yang dibuat oleh Sitorus, et al (2022:211), ausdruck dalam karya sastra mencakup tentang unsur teks, ungkapan tingkah laku manusia melalui bahasa, dan ungkapan jiwa. Oleh karenanya, pada bagian ini akan dipaparkan mengenai makna ungkapan atau ekspresi emosional yang terkandung dalam puisi “Lenyap”. 1. kalau bisa aku ingin lenyapUngkapan pada bait (1) mengekspresikan keinginan dari ‘aku’ untuk lenyap. Kata lenyap di dalam bait tersebut, jika dirunut dari KBBI berarti tidak kelihatan lagi; tidak ada lagi; hilang. Selain itu, kata kalau sebagai pembuka bait juga menyiratkan sebuah bentuk pengandaian. Maka bait (1) mengungkapkan situasi di mana si ‘aku’ mengandaikan dan atau berkeinginan untuk menghilang atau menarik diri dari sesuatu kondisi yang bisa jadi membuatnya muak. Lantas gagasan yang tertuang pada bait (1) tersebut terdorong oleh alasan apa? 2. letih berkisar mengikuti jejak angin dan akhirnya takut, Takutmemandang warna-warni Berdasarkan apa yang tertulis di bait (1), ungkapan pada bait (2) dapat dikatakan sebagai alasan mengapa gagasan pada bait (1) dan juga (3) ada. Bait (2) mengungkapkan bahwa si ‘aku’ merasa lelah berputar-putar mengikuti jejak angin. Dalam hal ini, angin dapat merujuk pada tujuan atau arah yang tidak jelas. Selanjutnya pada larik ketiga dan keempat semakin ditegaskan bahwa rasa lelah akan ketidakjelasan arah tersebut membuat si ‘aku’ takut untuk melihat hal-hal baru. Maka dapat ditangkap makna bahwa bait (2)


79 mengungkapkan si ‘aku’ yang dikungkungi ketakutan dan kepesimisan oleh dirinya yang kelelahan sebab mengikuti ketidakjelasan tujuan atau arah. 3. kalau bisa aku ingin lenyapUngkapan pada bait (3) merupakan bentuk repetisi atau pengulangan dari bait (1). Repetisi tersebut sekaligus mengungkapkan sebuah penguatan terhadap gagasan bahwa si ‘aku’ pada bait (1) semakin berkeinginan untuk menghilang. 4. hidupku sudah jelas tak bisa mencontoh gerak burung yang polos 5. dan jernih kicaunya kenapa bisa losAkibat dari bentuk penguatan keinginan menghilang si ‘aku’ dalam bait (3), muncul gagasan yang semakin sarat akan emosional putus asa terlihat pada bait (4) dan bait (5). Dapat dicermati bahwa bait (4) mengungkapkan si ‘aku’ telah membulatkan pemikiran bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi mencontoh atau mengikuti gerak burung yang polos. kalimat /gerak burung yang polos/ di dalam bait tersebut dapat merujuk kepada penggambaran di mana seseorang belum mengetahui segala hal yang kompleks pada kondisi yang dimaksud si ‘aku’ (lih. bait (1)). Dengan kata lain, kalimat tersebut mengungkapkan bahwa mereka yang dapat mencontoh /gerak burung yang polos/, menjalani hidupnya tanpa beban ketakutan dan kekhawatiran terhadap kondisi yang ditakutkan oleh si ‘aku’. Selanjutnya bait (5) semakin menguatkan gagasan si ‘aku’ yang tertuang dalam bait (4). Tidak adanya kekhawatiran atau beban ketakutan terhadap suatu kondisi yang dimaksud oleh si ‘aku’, menjadikan orang lain dapat bersuara dengan bebas mengenai pemikirannya. Kalimat /jernih kicaunya kenapa bisa los/ merujuk pada suatu potret kebebasan menyuarakan pendapat atau pemikirannya. Maka dapat ditarik simpulan bahwa bait (4) dan (5) mengungkapkan bentuk penegasan atau penguatan dari ekspresi keputusasaan yang timbul dari kepesimisan dan kekhawatiran tokoh aku yang lelah mengikuti sesuatu hal yang tidak tentu sebagaimana termaktub dalam bait (2). Bait (4) dan


80 (5) memproyeksikan keputusasaan si ‘aku’ yang yakin tidak bisa berkelana dengan bebas tanpa beban ketakutan maupun kekhawatiran dan tidak bisa bebas menyuarakan pendapatnya. • Konsep Verstehen dalam Puisi “Lenyap” karya Emha Ainun Nadjib Verstehen diartikan sebagai pemahaman. Di dalam konsep verstehen, konsep pengalaman hidup (erlebnis) dan ungkapan (ausdruck) saling berhubungan satu sama lain. Jika ditarik pada konteks sastra, Sitorus, et al., (2022:212) mengemukakan cara kerja verstehen adalah dengan menyingkap makna dari benang merah antara sejarah pengarang (erlebnis) dan ungkapan atau ekspresi dalam karya pengarang tersebut (ausdruck). Oleh karenanya pada bagian ini akan dipaparkan mengenai hubungan jejak perjalanan Emha Ainun Nadjib sebagai sastrawan dengan ungkapan atau ekspresi emosional yang terkandung dalam puisi “Lenyap”. Emha Ainun Nadjib telah berkiprah sebagai sastrawan yang menghasilkan banyak karya sastra dan sebagai seorang manusia, sudah barang tentu dalam fitrahnya Emha memiliki sisi emosional sebagaimana yang lainnya. Seorang sastrawan dapat memproyeksikan kondisi-kondisi, baik mental maupun fisik, baik yang ada dalam diri sastrawan maupun sekitarnya ke dalam wujud karya sastra yang dibuatnya. Begitu pula dengan Emha dalam karya-karya yang diciptakannya. Contohnya pada puisi “Lenyap” yang menjadi topik pembicaraan dalam esai ini. Melalui “Lenyap” Emha mengungkapkan ekspresi emosional seorang manusia yang sarat dengan keputusasaan, ketakutan, serta pesimistis terhadap suatu kondisi dalam hidup seseorang itu. Si ‘aku’ dalam puisi tersebut boleh jadi tidak akan terlepas dari entitas pengarangnya, yakni diri Emha sendiri. Jika ditarik relevansi antara pengarang dan karyanya, Emha berusaha mengungkapkan pengalaman kebatinan, seperti merasa putus asa, takut, ataupun pesimis yang dialaminya dalam bentuk puisi “Lenyap”. Menilik pengantar yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (2021:7-13) dalam antologi puisi “M” FRUSTASI dan Sajak Jatuh Cinta, SGA memberikan gambaran sedikit banyaknya hiruk-pikuk dunia seni di masa Orde Baru. Demikian para seniman saat itu terlibat dalam peristiwa-peristiwa unjuk rasa atau gerakan yang dicurigai mendorong


81 makar. Karya sastra seperti puisi atau drama berada pada kondisi riskan disisir aparat. Jika dilihat dari tahun puisi “Lenyap” tercipta, yakni 1976 dan bagaimana Emha dikenal sebagai sastrawan yang aktif dalam ranah sosial, tidak melepaskan bahwa lingkungan hiruk-pikuk Orde Baru saat itu menjadi latar belakang terciptanya puisi “Lenyap”. Selain memproyeksikan si ‘aku’ sebagai manusia yang terkungkung dalam keputusasaan dan pesimisme dengan hal-hal yang belum pasti arah tujuannya, puisi “Lenyap” mengungkapkan kondisi lain si ‘aku’; atau boleh jadi Emha mengenai gagasannya dengan hal-hal yang tidak sejalan dengan pemikirannya, yakni kondisi hiruk-pikuk Orde Baru. Sebagaimana Emha sebagai sastrawan yang menyuarakan kritik persoalan dunia sosial politik, ekonomi, dan budaya melalui puisi, cerpen, drama, dan esai. Ia berusaha menyampaikan setitik kritik terhadap keadaan sosial pada saat puisi “Lenyap” dibuat. Akan tetapi dalam “Lenyap”, Emha tidak pula melepaskan apa yang hendak ia sampaikan sebagai pokok utama. Adapun hal itu berkenaan dengan sisi keputusasaan seorang manusia sebagai pelaku sosial dalam menghadapi sesuatu kondisi kompleks yang ada di sekitarnya dan berdampak pada dirinya. DAFTAR PUSTAKA DAPOBAS Kemdikbud. Emha Ainun Nadjib. Dapobas,kemdikbud.go.id. URL: https://dapobas.kemdikbud.go.id/home?show=isidata&id=1235 Hadi, A. (2008). Hermeneutika Sastra Barat dan Timur. Jakarta: Pusat Bahasa Hardiman, F.B (2015). Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius. Nadjib, E.A. 2021. “M” FRUSTASI dan Sajak Jatuh Cinta. Yogyakarta: Penerbit Pabrik.Tulisan. Sitorus, H.J.C. (2022). Hermeneutika Wilhelm Dilthey Sebagai Alat Interpretasi Karya Sastra. RIKSA BAHASA. Vol 16 pp208-213.


82 Filosofi Kehidupan dalam Puisi “Ziarah” Melalui Hermeneutika Paul Ricoeur Kaila Afifa (21210141006) Pendahuluan Puisi adalah salah satu bentuk seni sastra yang dapat menggambarkan dan menyampaikan pesan mendalam dengan bahasa yang imajinatif dan kreatif. Puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk singkat, dan padat yang dituangkan dari isi hati, pikiran, dan perasaan penyair dengan segala kemampuan bahasa yang pekat, kreatif, dan imajinatif Suroto, 2001:40). Karena susunan kata-katanya, sifat imajinatif dalam puisi menjadi ciri khas yang kuat. (Waluyo, 2003: 25) Puisi sebagai bentuk ekspresi dari diri pribadi sering mengajak pembacanya untuk melakukan interpretasi dan refleksi yang berbeda. Puisi adalah jenis seni tulisan di mana perasaan, ide, dan perasaan diungkapkan dengan bahasa yang indah dan imajinatif. Terdapat beberapa jenis dari puisi: puisi naratif adalah puisi yang menceritakan suatu kisah, puisi deskriptif adalah puisi yang menggambarkan objek atau keadaan, puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan perasaan dan pengalaman pribadi, dan puisi reflektif adalah puisi yang mengajak pembaca untuk berpikir. Sobur (Adri, 2011, hlm. 106) mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam puisi merupakan tanda sistem yang terikat. Setiap tanda mewakili makna bunyi yang ditetapkan secara sosial. Jadi puisi memiliki hubungan dengan makna terkait. Puisi tentu memiliki arti dan makna tersendiri untuk setiap kata yang merujuk terhadap suatu pandangan. Maka puisi akan mengundang reaksi pembaca yang berbeda satu sama lain terhadap makna serta penyair. Setiap kata memiliki makna dan terkait erat dengan tandanya. Arti dari kata-kata yang selalu kita gunakan sehari-hari tidak pernah hilang. Esai ini mengangkat makna kepergian dalam konteks kehidupan. Puisi ini menunjukkan perjalanan spiritual dan ikatan dengan leluhur. Penulis memberikan gambaran yang menghantui tentang perasaan takut, tidak aman, dan kebingungan yang disebabkan oleh warisan abstrak orang tua mereka selama perjalanan ini. Selain itu, puisi ini


83 menampilkan nenek moyang sebagai identitas yang misterius dan ambigu, menunjukkan pengaruh budaya dan mitologi. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutika perspektif Paul Ricoeur untuk melakukan penafsiran atau pemaknaan perjalanan spiritual dari Sapardi Djoko Damono yang bertajuk Ziarah. Metode ini, seperti yang dijelaskan Ricoeur dalam langkah kerjanya (Palmer, 2003: 15-36; Wachid BS, 2006: 198-209), to read / to say, to understand, to explain, to translate/ to interpret. Hermeneutika dalam memahami. Sebagai interpretasi menurut Paul Ricoeur refleksi untuk interpretasi, sehingga hermeneutiknya merupakan upaya untuk menyingkap intensi yang tersembunyi dibalik teks, maka dapat dikatakan memahami bagi Ricoeur adalah menyingkap. Memahami dalam pengertian Ricoeur tidak terbatas pada hal yang tertulis dalam teks, melainkan melibatkan sebuah diskursus filosofis yang ditimbulkan oleh teks. Dalam arti ini memahami adalah merenungkan makna, yaitu menyingkap makna itu lewat refleksi. Isi Puisi ini menggambarkan seseorang atau sekelompok orang yang berziarah menuju sebuah makam. Puisi yang memiliki judul ‘Ziarah’ ini menyajikan realitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan kata atau diksi di dalam kalimat ini konotatif dan sangat sederhana namun puitis serta penuh perumpamaan yang sarat akan makna. Dengan diksi dan pemilihan kata sederhana itu yang membuat puisi ini bisa ditafsirkan beragam. Puisi ini menggambarkan akan rasa sunyi dan sepi ketika mendatangi makam untuk berziarah yang digambarkan melalui beberapa repetisi pada /Tak ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga; mereka telah tidur sejak abad pertama, semenjak Hari Pertama itu./,/Tak ada tulang-benulang tak ada sisa-sisa jasad mereka./ . Kata tak ada melambangkan suatu non-eksistensi yang menimbulkan rasa kesepian. Selain itu, puisi ini juga menyajikan banyak aspek-aspek citraan, yaitu citraan penciuman dan visual melalui kalimat /Tak ada bau kemenyan dan tak ada bunga-bunga/ serta citraan peraba dapat ditemui dalam /Di tangan kita berkas-berkas rencana,.../. Puisi ini ingin pembaca merasakan apa yang sedang terjadi di dalamnya melalui citraan yang bisa membuat pembaca membayangkan.


84 Puisi merupakan sarana penyair untuk mengungkapkan dan mengekspresikan sebuah ide yang idealis. Melalui puisi Ziarah memberikan gambaran bagaimana sebuah makam yang merupakan kehidupan makhluk hidup setelah kematian. Puisi ini mengandung makna peringatan bahwa makhluk yang bernyawa pasti akan menghadapi kematian dan berakhir di sebuah rumah yang bisa disebut makam. Makam merupakan tempat yang sangat sunyi dan sepi. Setelah kematian, mereka yang mati hanya akan menjadi kenangan dan angan-angan bagi mereka yang mengenal maupun tidak mengenal. Ziarah sendiri merupakan kegiatan mengunjungi makam, pemilihan judul yang tepat karena kata tersebut sudah menggambarkan seluruh maksud dan makna yang disampaikan melalui puisi tersebut. Bahasa yang digunakan sebenarnya sederhana namun sangat kias, sehingga bisa mengalami multi-tafsir. Tetapi yang jelas adalah puisi Ziarah karya Sapardi Djoko Damono memiliki tema kematian. Kesimpulan Puisi ini jika ditelaah melalui hermeneutika Paul Ricoeur yang mengarahkan memahami karya sastra sebagai refleksi filosofi kehidupan, Sapardi mengajak kita untuk merenungkan kembali apa itu roda kehidupan yang berputar. Kehiduan akhirat dan dunia berotasi pada kelahiran-kehidupan-kematian. Selain itu, puisi ini juga menggambarkan perjalan spiritual disertai dengan refleksi hubungan kehidupan kita dengan leluhur. Mereka ada, namun kita menganggap bahwa mereka tidak ada. Puisi ini juga mengangkat isi ketidaktahuan generasi terkini tentang keberadaan nenek moyang. Kita hanya mengenal mereka melalui cerita dan dongeng yang diceritakan oleh orang tua kita, tetapi kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka secara pribadi. Atau, pada masa kini, terdapat istilah ‘kacang lupa akan kulitnya’, mungkin pepatah tersebutlah yang akhirnya mengangkat terciptanya puisi ini. Dalam puisi "Ziarah" digambarkan perjalanan ke makam nenek moyang, merenungkan interaksi dengan mereka, dan menegaskan pengetahuan tentang kehidupan mereka. puisi ini mengundang kita untuk mempertimbangkan warisan orang tua dan kewajiban kita dalam melanjutkan perjalanan kehidupan.


85 DAFTAR PUSTAKA Andri. (2011). Jurnal Analisis Puisi “jika pada Akhirnya” karya Husni Djamaluddin dengan Pendekatan Semiotika. Balai Bahasa Ujung Pandang. Makassar. Hardiman, F budi. (2015). Seni Memahami : Hermeneutik Dari Schleiermacher Sampai Derrida. Yogyakarta: PT Kanisius, Suroto. (2001). Apresiasi Sastra Indonesia : Teori dan Bimbingan (untuk SMU). Jakarta: Erlangga. Waluyo, Herman J. (2003). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.


86 MAKNA CINTA DALAM PUISI “IBU” KARYA ZAWAWI IMRON MELALUI HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Yona Elya (21210141007) Puisi cinta dalam karya sastra selalu menarik perhatian para penyair. Sejak masa Pujangga Baru, tema cinta menjadi salah satu tema yang sangat menarik untuk diekspresikan. Ekspresi cinta oleh para penyair bervariasi, tergantung pada proses kreatif yang mereka alami dan menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan puisi-puisi cinta mereka. Sayuti (2010: 39) (2015: 30–31) menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mendasari proses kreatif seorang penyair, yaitu kehidupan individu, sosial, dan agama. Dengan kata lain, setiap puisi selalu berkaitan dengan Tuhan, diri sendiri, alam semesta, dan masyarakat. Lebih lanjut, Sayuti (2010: 41) (2015: 32) juga menjelaskan bahwa kehidupan individu dan sosial berkaitan dengan kehidupan pribadi sang penyair serta interaksinya dengan masyarakat atau orang lain, sedangkan dalam kehidupan keagamaan, hal ini terkait dengan bentuk pengabdian seseorang kepada Tuhan. Analisis ini akan berfokus pada aspek kehidupan pribadi. Hal ini didasarkan pada kehidupan pribadi penyair sebagai pencipta. Namun, dalam proses pemaknaannya tidak menutup kemungkinan bahwa puisi yang berasal dari kehidupan pribadi juga dapat mencakup aspek sosial dan religius. Ini terjadi karena ketiga aspek tersebut bisa terungkap bersamaan dalam satu puisi, meskipun penyair mungkin hanya menonjolkan satu aspek ekspresi. Adapun puisi yang akan dianalisis berjudul Ibu karya Zawawi Imron. Berdasarkan pembacaan awal, puisi Ibu karya Zawawi Imron cenderung mengedepankan ranah individual yang juga tetap memasuki ranah sosial dan agama. Tak hanya itu, dorongandorongan individual yang terdapat dalam puisi tersebut lebih spesifik mengarah pada dorongan cinta. Oleh karena itu, puisi ini perlu untuk dianalisis untuk mengetahui pemaknaan cinta yang diekspresikan Zawawi Imron. Dorongan cinta yang dieksplor oleh Zawawi Imron dituangkan dalam lapis kemanusiaan dan kefalsafahan. Lapis kemanusiaan diartikan sebagai sebuah lapisan jiwa yang hanya bisa dicapai oleh manusia, misalnya rasa simpati dan solidaritas. Oleh karena


87 itu, puisi yang didasarkan pada cinta kasih ataupun simpati tentunya berkaitan dengan renungan batin. Sedangkan pada lapis kefalsafahan merupakan puisi yang berkaitan antara manusia dengan Tuhan (Sayuti, 2010: 43). Berdasarkan dorongan-dorongan cinta tersebut, ditemukan dua objek cinta yaitu cinta pada orang tua dan cinta kepada Tuhan. Kedua objek tersebut termasuk dalam dorongan-dorongan individual. Hal itu dikarenakan setiap manusia memiliki dorongan untuk mencintai dan dicintai, serta dorongan untuk berbakti kepada orang tua maupun Tuhan. Dengan demikian, penafsiran pemaknaan cinta pada puisi Ibu karya Zawawi Imron akan menggunakan metode hermeneutika Paul Ricoeur, yakni to read/to say, to understand, to explain, to translate/to interpret (Palmer, 2005: 15–36). Berikut puisi Ibu karya Zawawi Imron beserta analisisnya. Ibu kalau aku merantau lalu datang musim kemarau sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir bila aku merantau sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan lantaran utangku padamu tak kuasa kubayar ibu adalah gua pertapaanku dan ibulah yang meletakkan aku di sini saat bunga kembang menyemerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi aku mengangguk meskipun kurang mengerti bila kasihmu ibarat samudera sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh


88 lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala sesekali datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku • Bait 1 “kalau aku merantau lalu datang musim kemarau sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting” Meski lingkungan dan kondisi mengalami kekeringan (simbolik dari kesulitan atau tantangan dalam hidup), cinta ibu kepada “Aku-lirik” tetap mengalir tanpa henti. Hal ini menunjukkan bahwa cinta seorang ibu tidak tergantung pada situasi eksternal, tetapi akan selalu ada dan tetap abadi. “hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir” Di sini, air mata ibu melambangkan kasih sayang yang tulus dan mendalam. Walau sering diasosiasikan dengan kesedihan, air mata ibu pada baris puisi tersebut lebih menonjolkan pada kepedulian dan pengorbanannya. • Bait 2 “bila aku merantau sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku”


89 “Aku-lirik” mengenang kenakalan masa kecil dan susu ibu yang memberinya kekuatan, serta mencerminkan kedekatan fisik dan emosional antara ibu dan anak. Susu ibu bukan hanya nutrisi fisik tetapi juga simbol cinta dan pemberian hidup. “di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan lantaran utangku padamu tak kuasa kubayar” Pengakuan “Aku-lirik” bahwa utang kepada ibu tak yang terbayar menunjukkan rasa hormat dan kesadaran akan besarnya pengorbanan ibu. Ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan yang mendalam terhadap ibu. • Bait 3 “ibu adalah gua pertapaanku dan ibulah yang meletakkan aku di sini” Ibu adalah gua pertapaannya “Aku-lirik” yang berarti sebagai tempat perlindungan dan introspeksi. Ibu memberikan tempat aman bagi “Aku-lirik” untuk menemukan jati dirinya sendiri. “saat bunga kembang menyemerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi” Pada baris tersebut mengartikan bahwa ibu memberikan bimbingan spiritual dan moral. Ini menunjukkan peran ibu dalam memberikan nilai-nilai kehidupan dan arah yang benar. • Bait 4 “aku mengangguk meskipun kurang mengerti bila kasihmu ibarat samudera” Kasih ibu digambarkan seluas samudera, mencakup semua aspek kehidupan anak. Ini menunjukkan bahwa cinta ibu memberikan ruang bagi “Aku-lirik” untuk tumbuh dan berkembang. “sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh”


90 Lautan teduh sebagai tempat mandi dan mencuci lumut menggambarkan peran ibu dalam membersihkan dan menyucikan anak dari kesalahan serta memberikan kesempatan untuk memulai kembali. • Bait 5 “lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku” Lokan, mutiara, dan kembang laut melambangkan kekayaan dan keindahan yang diberikan ibu kepada “Aku-lirik”. Hal ini bisa diartikan sebagai bentuk-bentuk kasih sayang, nasihat, dan nilai-nilai kehidupan yang diterima dari ibu. “kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu” Menyebut ibu sebagai pahlawan menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi. Ibu diakui sebagai sosok yang memberikan pengaruh besar dan positif dalam kehidupan “Aku-lirik.” • Bait 6 "lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu" “Aku-lirik” menegaskan hubungan fundamental antara ibu dan anak. Ini mencerminkan kesadaran dan penerimaan penuh terhadap ikatan yang mendalam dan tidak terpisahkan antara mereka. Hubungan ini adalah dasar dari eksistensi dan identitas “Aku-lirik.” "bila aku berlayar lalu datang angin sakal" “Aku-lirik” menggambarkan situasi sulit dan tantangan hidup dengan metafora angin sakal (angin buruk). Dalam kondisi ini, perlindungan dan petunjuk dari ibu menjadi sangat penting. Ibu adalah sumber kekuatan dan ketenangan saat menghadapi kesulitan. "Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal" Ibu bukan hanya memberikan kasih sayang fisik dan emosional, tetapi juga spiritual. Melalui ibu, “Aku-lirik” mengenal dan dapat mencintai Tuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa ibu adalah mediator penting yang menghubungkan “Aku-lirik dengan spiritualitas dan nilai-nilai agama. “ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala


91 sesekali datang padaku” Ibu digambarkan sebagai sosok ideal yang hampir mistis, seperti bidadari yang indah dan penuh warna (bianglala) yang berarti menunjukkan penghargaan dan kekaguman mendalam terhadap ibu, serta melihatnya sebagai figur inspiratif dan penuh keajaiban. Tak hanya itu, meskipun mungkin tidak selalu hadir secara fisik, pengaruh dan bimbingan ibu tetap terasa dan datang pada saat-saat penting dalam kehidupan “Akulirik”. Hal ini menunjukkan kehadiran yang abadi dan pengaruh yang terus-menerus dari ibu. "menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku" Ibu memberikan dorongan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri melalui kreativitas, dalam hal ini menulis puisi. Langit biru melambangkan kebebasan, kedamaian, dan aspirasi tinggi. Ibu mendorong “Aku-lirik” untuk mencapai potensi tertingginya dan menyuarakan isi hatinya. DAFTAR PUSTAKA Palmer, R. (2005). Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Sayuti, S. A. (2010). Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media. Sayuti, S. A. (2015). Puisi: Sebuah Pengantar Apresiasi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.


92 MEMAHAMI MAKNA KEBAHAGIAN DALAM PUISI JOKO PINURBO “SURAT MALAM UNTUK PASKA” MENURUT PANDANGAN HERMENEUTIK PAUL RICOEUR Majid Kurniawan (21210141012) Tulisan ini dituliskan untuk mengenang kematian Joko Pinurbo pada 27 April 2024 kala itu. Joko Pinurbo adalah salah satu penulis yang menggunakan kata-kata sederhana untuk mengungkapkan apa yang dirasakan pada hidupnya. Puisi-puisi yang dituliskan mengartikan semua perasaan dalam diri, mulai dari perasaan sedih, perasaan bahagia, atau perasaan hampa yang dirasakannya. Semua perasaan itu juga sama pentingnya bagi seseorang. Namun, perasaan bahagia itu yang menjadikan seseorang dapat melangkah lebih maju. Joko Pinurbo menuliskan perasaan bahagia itu agar dapat dirasakan oleh orang yang membaca karyanya. Maka dari itu, untuk melihat kebahagian yang dituliskan kita dapat menggunakan salah satu pandangan hermeneutika Paul Ricoeur. Hermeneutik yang dibawakannya berfokus untuk menyingkap intensi tersembunyi di balik teks dari simbolsimbol yang ada. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dijelaskan Aristoteles bahwa (via B.S., 2006: 199) kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental dan katakata yang ditulis adalah simbol dari kata-kata yang diucapkan. Paul Ricoeur (Saidi, 2008: 378-379) menjelaskan dalam proses penafsiran, langkah-langkah yang dapat digunakan adalah sebagai berikut. 1. Teks ditempatkan sebagai objek yang diteliti sekaligus sebagai objek atau pusat yang otonom. 2. Teks dipahami dengan cara mengobjektivasi strukturnya. 3. Lapis simbolisasi. 4. Penafsiran kode-kode simbolik. 5. Mengaitkan kode-kode simbolik dengan hal-hal di luar dirinya. 6. Pemaknaan teks. Salah satu puisi yang mengungkapkan kebahagian yang dirasakan oleh Joko Pinurbo yaitu, “Surat Malam untuk Paska” dalam buku kumpulan puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Surat Malam untuk Paska Masa kecil kaurayakan dengan membaca. Kepalamu berambutkan kata-kata.


93 Pernah aku bertanya, “Kenapa waktumu kausia-siakan dengan membaca?” Kaujawab ringan, “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.” Kau memang suka menyimak hujan. Bahkan dalam kepalamu ada hujan yang meracau sepanjang malam. Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang, “Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius maupun yang ringan. Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan. Jangan bawakan saya kecemasan.” Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan, kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca, bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri. Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau lebih suka tidur di antara buku-buku dan berkas-berkas yang berantakan. Seakan mereka mau bicara, “Bukan kau yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.” Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas. Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras di tengah hutan. Aku gelisah saja sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.


94 (1999) (Pinurbo.J. 2016:39-40) “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.” Pada bait tersebut menunjukkan bahwa kebahagian digambarkan dengan frasa “aku ingin”. Frasa tersebut menjelaskan ketika seseorang yang sedang memiliki keinginan untuk melakukan hal baru dan hal itu sedang dilakukannya. Lalu diksi “tetes air hujan” melambangkan benda cair yang dapat berada diseluruh tempat. Jadi dapat disimpulkan bahwa seseorang yang melakukan hal sederhana seperti sesuatu yang baru itu memberikan kebahagian bagi sebagian orang. “Kau memang suka menyimak hujan.” Pada baris ini terdapat kata “suka”, kata tersebut menyimbolkan kebahagian seseorang. Karena pada dasarnya kebahagian seseorang itu berawal dari hal yang ia sukai. Lalu diksi “hujan” dapat menyimbolkan dengan kesedihan, hal ini juga dapat diartikan dengan hal lain pula. Kata “suka” dan “hujan” bisa juga diartikan bahwa kebahagian pada akhirnya tercapai dengan kita mengikhlaskan suatu hal yang awalnya memang menjadi hal yang membuat kita bersedih. “Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius maupun yang ringan. Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan. Jangan bawakan saya kecemasan.” Pada bait tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang menginginkan sebuah hal yang ia sukai dengan disimbolkan dengan potongan puisi “kasih saja saya beragam bacaan”. Potongan tersebut menjelaskan jika keinginan yang diungkapkan akan lebih mudah tercapai, karena dengan itu orang yang tau akan hal itu akan lebih mudah membantu tercapai tujuan temannya. Setelah itu, penulis juga memberikan batasan jika ingin kebahagian itu ada jangan terlalu memikirkan hal rumit serta kecemasan yang berlebih. Hal


Click to View FlipBook Version