95 ini disimbolkan dengan diksi “jangan”, dan selanjutnya dilengkapi dengan “rencanarencana besar masa depan” dan “kecemasan” yang dilengkapi dengan “jangan bawakan” . Karena pada dasarnya diksi “jangan” itu menyimbolkan sesuatu yang ditentang, begitupun dengan diksi “kecemasan” yang menyimbolkan sesuatu yang buruk. “Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur di tempat yang bersih dan tenang.” Pada bait ini menunjukkan bahwa kebahagiaan disimbolkan dengan diksi “lebih senang”, karena pada dasarnya diksi senang itu sudah melambangkan kebahagiaan sendiri untuk seseorang. Senang bisa diartikan dalam KBBI juga sebagai rasa puas dan lega, tanpa rasa susah dan kecewa. Lalu diksi “bersih” menyimbolkan merupakan salah satu kebahagiaan yang dirasakan sebagian orang, orang-orang ini biasanya disebut dengan Ablutophile. Sedangkan diksi “tenang” juga menyimbolkan kebahagiaan yang didambadambakan banyak orang. Karena ketenangan itu banyak dicari, hal ini dicontohkan dengan beberapa orang yang sudah menua dan ingin menjalani hidup di daerah pedesaan yang pada dasarnya merupakan tempat yang tidak banyak kebisingan dari pabrik sekitar dan kendaraan yang melintas. Puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Surat Malam untuk Paska” adalah salah satu respresentasi dari kebahagiaan yang dirasakan oleh JokPin. Kebahagiaan-kebahagiaan tersebut dituliskan untuk mengingat masa kecil yang penuh dengan kesenangan, kecerian, dan kepolosan terhadap hal-hal disekitar kita. Karya tersebut dapat dipahami dengan menggunakan hermeneutik Paul Ricoeur. Simbol-simbol yang diberikan dapat terpecahkan dan kita dapat melihat makna aslinya. DAFTAR PUSTAKA B.S., A. W. (2006). Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur dalam Memahami Teks-Teks Seni. Jurnal Imaji, Vol. 4, No.2, Agustus 2006, 198-209. Isnaini, H. (2021). Konsep Memayu Hayuning Bawana: Analisis Hermeneutika pada Puisi Puisi Sapardi Djoko Damono. Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 11(1), 8-17. Pinurbo, J. (2016). Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Gramedia Pustaka Utama.
96 Saidi, A. I. (2008). Hermeneutika, sebuah cara untuk memahami teks. Jurnal sosioteknologi, 7(13), 376-382.
97 MAKNA PUISI “SENJA” DI PELABUHAN KECIL KARYA CHAIRIL ANWAR MELALUI TEORI HERMENEUTIKA WILHELM DILTHEY Yasmin Hana Nafisa (21210141014) Karya sastra adalah sebuah ciptaan oleh penulis yang disampaikan secara komunikatif dengan tujuan estetika. Ciri khas dari karya sastra adalah keaslian, keindahan, serta terdapat nilai artistik. Adapun gaya bahasa yang digunakan dalam menciptakan karya sastra adalah menggunakan bahasa kiasan dan sistem tanda untuk memberikan makna bagi pembaca. Penulisan suatu karya sastra tercipta karena adanya pengalaman dari penulis yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan atau karya. Selain itu, suatu karya sastra dapat dimaknai dengan menggunakan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu hermeneutika. Hermeneutika adalah cabang filsafat yang mempelajari mengenai interpretasi makna. Kata hermeneutika adalah bahasa inggris yaitu hermeneutik serta jika dari bahasa Yunani adalah hermeneuein yang memiliki arti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Istilah hermeneutika dalam bahasa Arab adalah tafsir yaitu ta’wil, syarh, dan bayan (Muzairi, 2003:54 via Habibi & Hadi, 2023:31). Adapun pengertian hermeneutika adalah kata kerja yang diambil dari nama Hermes yang memiliki arti utusan dewa-dewa untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada manusia. Di sisi lain, objek dari hermeneutika adalah teks yang dianggap mengandung yang harus dipahami sesuai dengan kepentingan serta hubungan yang diharapkan. Dengan demikian, teks tersebut dapat dijadikan sebuah alat untuk menyampaikan pesan-pesan kepada orang lain tetapi seseorang yang menyampaikan pesan tetap terlibat dalam penyampaian pesan agar tercapai makna sesungguhnya. Secara historis, hermeneutika merupakan teori penafsiran yang digunakan untuk berbagai ilmu, seperti ilmu humaniora serta ilmu sosial. Salah satu tokoh hermeneutika yang mempelajari mengenai hermeneutika ilmu sosial, kemanusiaan adalah Wilhelm Christian Ludwig Dilthey. Wilhelm Dilthey lahir pada 19 November 1833 di kota Biebrich. Dilthey bersekolah di Universitas Heidelberg untuk belajar teologi, namun karena mersa kurang cocok Dilthey memutuskan untuk belajar filsafat dan berhasil lulus di tahun 1856.
98 Di sisi lain, di Indonesia memiliki berbagai macam jenis karya sastra salah satunya adalah karya sastra puisi. Adapun sastrawan Indonesia yang berpengaruh dalam dunia sastra di bidang puisi adalah Chairil Anwar. Karya-karya Chairil Anwar banyak dinikmati oleh pembaca karena memiliki gaya penulisan yang mampu dipahami oleh pembaca. Selain itu, dalam penciptaan karya Chairil Anwar yang memiliki makna mendalam sehingga memiliki daya tarik bagi pembaca. Salah satu karya puisi miliki Chairil Anwar yang menarik adalah puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil menceritakan mengenai keikhlasan manusia ketika mengalami kesedihan dan kehilangan dalam hidup agar selalu bangkit serta mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia tidak bersifat kekal. Menaggapi hal tersebut, untuk megetahui makna dalam puisi berjudul Senja di Pelabuhan kecil tersebut, maka teori hermeneutika Wilhelm Dilthey dapat digunakan karena teori hermeneutika Wilhelm Dilthey memiliki aspek historis yang terkenal dan dapat dipakai untuk memaknai puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. A. HERMENEUTIKA WILHELM DILTHEY Pada hermeneutika Dilthey memiliki tiga metode metode yaitu metode Erlebnis (Pengalaman), Ausdruck (Ekspresi), dan verstehen (Pemahaman), sebagai berikut. • Puisi Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, dan cerita Tiang serta temali Kapal, perahu tiada berlaut Menghembuskan diri dalam percaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menghina muram Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendirian.
99 Berjalan menyisir semenanjung Masih pengap harap Sekali tiba di ujung Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat Sedu penghabisan bisa terdekap 1. Metode Erlebnis dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar Metode Erlebnis berasal dari kata Jerman, Menurut Palmer kata Erlebnis tersebut adalah sumbangan dari Dilthey dalam kamus bahasa Jerman. Metode Erlebnis memiliki arti yang mengacu pada sesuatu yang spesifik yaitu pengalaman milik seseorang serta dirasakan sebagai suatu hal yang bermakna atau jika dalam bahasa Inggris ‘’lived experience’’ yang memiliki arti pengalaman hidup (Hadirman, 2015:83). Pengalaman-pengalaman tersebut berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan dan memiliki makna mendalam bagi seseorang (Farah, 2019:5) Berdasarkan penjelasan metode Erlebnis tersebut, dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar tersebut memiliki makna dalam hal (a) pengalaman hidup Chairil Anwar dan (b) latar belakang terciptanya puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. a. Pengalaman Hidup Chairil Anwar Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 di Medan Sumatera Utara dan merupakan seorang anak tunggal. Chairil Anwar memulai pendidikan di Hollandsche School (HIS) dan melanjutkan pendidikan di Meer Uitgereid Lager Onderwijs (MULO). Tetapi, pada usia 19 tahun Chairil Anwar mengalami peristiwa memilukan yaitu orang tua Chairil Anwar bercerai dan ia harus mengikuti Ibunya. Selain itu, Chairil Anwar pun tidak dapat melanjutkan sekolahnya, namun Chairil Anwar tetap mengisi waktunya dengan membaca buku-buku tersebut sangat berpengaruh terhadap karya di bidang sastra. Pada usia 20 tahun Chairil Anwar mulai dikenal di dunia sastra. Puisi-puisi yang ditulisnya banyak dimuat di majalaj, salah satunya majalah Pandji Pustaka.
100 Pada 6 Agustus 1946 Chairil Anwar menikah dengan Hapsah dan memiliki anak bernama Evawani Alissa. Tetapi, pernikahan dengan Hapsah tidak bertahan lama, mereka memutuskan bercerak pada tahun 1948. Dapat diketahui Chaiaril Anwar memiliki permasalahan pada kesehatannya, sejak usia muda Chairil Anwar memiliki kondisi Kesehatan yang kurang baik. Hingga pada 28 April 1949 Chairil Anwar meninggal di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. b. Latar Belakang terciptanya Puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar Puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar tersebut ditulis pada tahun 1946. Dapat diperkirakan yang menjadi latar belakang Chairil Anwar menulis puisi tersebut adalah adanya perasaan kehilangan ketika orang tuanya harus bercerai saat ia kecil. Pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil tersebut Chairil Anwar menggambarkan rasa kehilangan, namun harus tetap ikhlas karena penulis yakin tidak ada satu pun yang abadi di dunia. Melalui puisi Senja di Pelabuhan Kecil Chairil Anwar ingin menyampaikan pembelajaran ikhlas bagi manusia agar dapat bangkit lagi dari perasaan kehilangan dan kesedihan. 2. Metode Ausdruck dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar Metode Ausdruck Dilthey berasal dari kata Jerman yang memiliki arti “ungkapan” atau “ekspresi”. Dithey memahami metode Ausdruck yaitu suatu ungkapan ekspresi dalam hidup yaitu ide, bahasa, kebudayaan, hingga bentuk sosial. Adapun pengertian Ausdruck dalam konsep Dilthey adalah uangkapan pengejewanyahan diri manusia dalam bentuk produk budaya, gaya hidup,artefak, ilmu pengetahuan (Hardiman, 2015:85). Metode Ausdruck Dilthey dibagi menjadi tiga bagian yaitu, (1) eskpresi tetap dan memiliki hubungan identic dengan apapun, (2) ekspresi yang memiliki hubungan dengan bentuk bahasa, (3) ekspresi jiwa secara spontan (Farah, 2019:12). Berdasarkan hal tersebut, dalam puisi Chairil Anwar berjudul Senja di Pelabuhan Kecil ini mengandung dua bagian yaitu (1) ekspresi tetap dan memiliki hubungan
101 identik dengan apapun dan (2) ekspresi yang memiliki hubungan dengan bentuk bahasa. Pada bagian pertama bentuk analisis dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa kiasan dan diksi. Kemudian, pada bagian kedua bentuk analisis yaitu subjek Aku yang menyatakan perasaan penulis. 1. Bahasa Kiasan yang terkandung dalam puisi Chairil Anwar a. Majas Personifikasi Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menghina muram Pada potongan puisi di baris eman dan tujuh tersebut mengandung majas personifikasi. Dalam hal ini, gerimis diberi majas personifikasi karena berdampingan dengan kata kerja mempercepat yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Begitu pun dengan elang diberi majas personifikasi karena berdampingan dengan kata kerja menghina yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. b. Majas Hiperbola Menghembuskan diri dalam percaya mau berpaut Pada kata menghembuskan bisa menggunakan dengan kata menenangkan dan kata berpaut bisa menggunakan kata berpisah. Tetapi karena menggunakan majas hiperbola, maka dalam kalimat tersebut memiliki makna mendalam. 2. Subjek Aku pada puisi Chairil Anwar berjudul Senja di Pelabuhan Kecil yang menggambarkan bahwa Aku adalah Chairil Anwar serta mengungkapkan perasaan penulis. Tiada lagi. Aku sendirian Pada bait tersebut menggambarkan bahwa subyek aku hanya sendirian dan kesedihan serta kehilangan hanya dirasakan sendiri. Hal tersebut menggambarkan Chairil Anwar selalu merasakan kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Menghembuskan diri dalam percaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam
102 Menghembuskan diri memiliki makna sebuah perasaan lega. Gerimis mempercepat kelam memiliki makna bahwa suatu perasaan yang ingin cepat melupakan perasaan sedih. Hal tersebut menggambarkan bahwa Chairil Anwar ingin cepat bangkit dalam perasaan kesedihan. 3. Metode Verstehen dalam puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar Metode Verstehen metode yang memusatkan diri pada “sisi dalam” obyek penelitiannya, yaitu dunia mental atau penghayatannya, dengan demikian sesuai bagi masyarakat dan kebudayaan. Pemahaman Verstehen pada konsep Dilthey adalah sebuah cara untuk mengetahui keadaan batin seseorang melalui pengalaman seseorang tersebut. Target penelitian pada metode Verstehen ini adalah mengetahui sisi dalam obyek yaitu dunia mental orang lain, kemudian berdasarkan hal tersebut sikap peneliti yang harus dimiliki dalam metode Verstehen adalah mengambil bagian dalam dunia mental orang lain, Setelah memahami metode pada target penelitian dan sikap penelitian, metode yang perlu dikuasai adalah metode pemerolehan pengetahuan yaitu dengan cara memaknai makna (Hardiman, 2015:77). Di sisi lain Dilthey mendasarkan motode Verstehen sebagai metode ilmuilmu sosial kemanusiaan. Pada puisi berjudul Senja Di Pelabuahn Kecil Karya Chairil Anwar ini didapatkan metode Verstehen sebagai ilmu sosial yaitu pengalaman kehilangan Chairil Anwar. Pada kehidupan Chairil Anwar, ia mengalami fase kehilangan dalam hidupnya. Ketika berusia 19 tahun orang tua Chairil Anwar bercerai dan harus ikut dengan sang Ibu. Saat itu, Chairil tetap mendapatkan nafkah dari ayahnya tetapi ayah Chairil menafkahinya untuk biaya sekolah. Tetapi kiriman uang tersebut akan dihentikan jika Chairil berhenti sekolah. Setelah itu Chairil Anwar menikah dengan seorang wanita bernama Hapsah dan memiliki seorang anak perempuan, namun pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Chairil dan Hapsah bercerai, namun penyebab perceraian tersebut tidak diketahui. Dengan demikian, peristiwa tersebut menyebabkan Chairil Anwar merasakan kehilangan mendalam dan mengalami luka batin.
103 DAFTAR PUSTAKA Farah, N. (2019). Analisis Hermeneutika Dilthey Terhadap Puisi Doa Karya Amir Hamzah. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama, dan Kemanusiaan. Vol. 5 no. 1. Habibi, H & Hadi, R. (2023). Refleksi Pendekatan Hermeneutika dalam Pengembangan Pendidikan Islam. Vol. 17, No. 1. Hadirman, F. B. (2015). Seni Memahami Hermeneutik dari Schleimacher sampai Derrida. PT. Kanisius. Ensiklopedia.Kemendikbud.goid. Chairil Anwar. Diakses pada 8 Juni 2024 pukul 14.00. Diperoleh dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Chairil_Anwar
104 MEMAHAMI SEBAGAI EKSPRESI SEJARAH DALAM PUISI “PERINGATAN” KARYA WIJI THUKUL MELALUI TEORI HERMENEUTIKA DILTHEY Meisya Dina Tri Kartika Sari (21210141015) Karya sastra pada dasarnya tidak terpisahkan oleh sejarah. Karya sastra mempunyai karakteristik yang menjadikannya cerminan dari masa lampau yang mendokumentasikan sekaligus mengambarkan dinamika sosial, budaya, politik, dan ekonomi dari suatu periode tertentu. Melalui karya sastra, pembaca selaku penafsir mampu mengetahui perjalanan yang terjadi dari waktu ke waktu sebagai bagian dari pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah puisi. Karya sastra seperti puisi memberikan ekspresi pemikiran pengarang dalam bahasa yang emosional dan berirama sebagaimana kehadiran puisi memiliki kekuatan untuk membangkitkan panca indera pembaca melalui susunan diksi yang indah penuh makna dan bersifat imajinatif. Puisi tidak sedakar berisi kata-kata indah, tetapi juga mengandung peristiwa sejarah yang dialami pengarang. Wiji Thukul, tokoh penyair Indonesia asal kota Solo, mengemukakan pemikiran, perasaan, dan gagasan miliknya terhadap dunia yang ditangkapnya lewat puisi ‘Peringatan’ yang dibuat. Ia mencoba menuliskan dan menuangkan hal-hal yang terjadi di sekitarnya sebagai landasan sekaligus bentuk cerminan masa lampau yang dirasakannya sebagai insan yang tinggal dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, hermeneutika Dilthey kemudian digunakan untuk memahami makna lebih mendalam. Dilthey (via Susanto, 2016:47) menganggap makna yang perlu dipahami dari ilmu humaniora (geisteswissenschaften) sebagai makna teks dalam konteks kesejarahannya, yang bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah, bukan ekspresi mental atau kejiwaan penggagas, sehingga yang perlu direkonstruksi dari teks adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks. Ia melihat peristiwa sejarah sebagai sarana untuk memahami manusia sebagai makhluk yang berpikir, berkehendak, merasa, dan mencipta yang hidup di dalam arus kehidupan. Dilthey (via Farah, 2019:4) memberikan formula hermeneutika yang terdiri dari tiga konsep, yaitu erlenbiz (pengalaman), eusdruck (ekspresi), dan verstehen (pemahaman), yang dipakai untuk menginterpretasi suatu teks
105 sebagaimana hermeneutika dipahami sebagai seni menafsirkan tulisan-tulisan dengan memusatkan pada persoalan ‘pemahaman pada pemahaman’ terhadap teks yang datang dari kurun waktu yang asing bagi penafsir. Teks Puisi “Peringatan” Karya Wiji Thukul Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: Lawan! ―1986 Konsep Erlenbiz dalam Puisi “Peringatan” Karya Wiji Thukul Erlenbiz mengacu pada pengalaman hidup. Pengalaman-pengalaman hidup yang dihayati menekankan keunikan pengalaman setiap individu sebagai pengalaman yang penuh makna yang meninggalkan kesan dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini,
106 terdapat dua konsep pengalaman yang terkait dengan puisi ‘Peringatan’ karya Wiji Thukul, yaitu pengalaman hidup pengarang dan latar belakang terciptanya puisi. a. Pengalaman Hidup Wiji Thukul Tokoh penyair Indonesia, Wiji Thukul, merupakan seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) yang ikut melawan penindasan pada masa rezim Orde Baru. Ia lahir 26 Agustus 1963 di Kampung Jagalan, Kota Solo, yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai tukang becak dan buruh. Berasal dari keluarga tukang becak, Wiji Thukul dikenal sebagai penyair yang mulai menulis puisi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia tertarik dengan dunia teater ketika masuk ke bangku SMP, lulus sekolah pada tahun 1979 yang kemudian memasuki SMKI Jurusan Tari namun drop-out di tahun 1982. Pada tahun 1988, ia pernah menjadi wartawan Masa Kini selama tiga bulan. Sajak-sajaknya diterbitkan dalam media cetak, seperti Suara Pembaharuan, Bernas, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda), dan penerbitan mahasiswa, seperti Politik (Universitas Nasional, Jakarta), Pijar (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), dan Keadilan (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta). Selain menulis sajak, ia juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi. Adapun tiga sajak yang paling dikenal adalah ‘Peringatan’, ‘Sajak Suara’, dan ‘Bunga dan Tembok’, yang menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa. Wiji Thukul semasa hidupnya aktif menyelenggarakan teater dan melukis dengan anak-anak kampung tempat ia dan istrinya tinggal, Dyah Sujirah alias Sipon, yang ia nikahi di tahun 1989. Namun pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi. Wiji Thukul memimpin massa dan orasi, ia ditangkap dan dipukuli oleh aparat militer. Ia juga aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER) sebagai ketua di tahun-tahun berikutnya hingga pada peristiwa 27 Juli 1996, peristiwa serangan pasukan pemerintah Indonesia terhadap kantor pusat PDI, dan kerusuhan Mei 1998, peristiwa kerusuhan massa karena demokrasi antipemerintah dan pembangkangan sipil di Indonesia, menyeret beberapa nama aktivis ke dalam daftar pencarian aparat Kopassus Mawar yang menyebabkan mereka menghilang. Wiji Thukul kemudian berpindah-pindah tempat untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu, Wiji Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi, salah satu di antaranya berjudul Para ‘Jendral Marah-Marah’. Kontak terakhir antara Wiji Thukul
107 dengan istrinya, Sipon, terjadi pada Februari 1998, dan sejak saat itu Wiji Thukul menghilang. Setelah kondisi membaik pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Wiji Thukul ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), namun suaminya belum ditemukan hingga saat kini. b. Latar Belakang Puisi “Peringatan” Puisi ‘Peringatan’ merupakan salah satu puisi yang terdapat dalam antologi puisi Mencari Tanah Lapang oleh Wiji Thukul yang diterbitkan di tahun 1994. Diperkirakan puisi ini ditulis sebagai wadah gagasan yang ia rasakan dan alami di masa Orde Baru. Melalui puisinya, Wiji Thukul memberikan dorongan positif kepada para rakyat yang menerima ketidakadilan dari pemerintah sekaligus ‘peringatan’ tegas kepada pihak berkuasa. Masyarakat pada masa itu banyak dibungkam opini-opininya oleh pemerintah, tidak mendapatkan kelayakan dan kesejahteraan hidup, sehingga membuat Wiji Thukul lewat puisinya ikut andil dalam memperjuangkan HAM mereka. Konsep Ausdruck dalam Puisi “Peringatan” Karya Wiji Thukul Ausdruck mengacu pada ekspresi hidup. Ekspresi-ekspresi hidup sebagai segala sesuatu yang merefleksikan produk kehidupan dalam manusia yang menekankan pada pemahaman diri dan keberadaan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarahnya, baik pengalaman atau dinamika kehidupannya, yang menjadi ungkapan hidup dalam membentuk cara seseorang memandang dunia dari sudut pandangnya. Dalam hal ini, Dilthey (via Farah, 2019:12) mengungkapkan bahwa konsep ekspresi hidup dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu ekspresi yang isinya tetap identik dengan kaitan manapun, ekspresi yang dituangkan dalam bahasa, dan ekspresi jiwa secara spontan. Ekspresi-ekspresi tersebut kemudian dapat dilihat melalui kata-kata yang terdapat pada puisi ‘Peringatan’ yang ditulis oleh Wiji Thukul, sehingga ditemukan bahwa hanya adanya dua dari tiga bentuk ekspresi hidup yang dikemukakan oleh Dilthey dalam puisi ini, yakni pada bentuk ekspresi pertama lewat susunan diksi dan bahasanya, dan bentuk kedua pada subyek ‘kita’ yang mengungkapkan perasaan lewat bahasa dalam puisinya. Adapun bentuk ekspresi ketiga tentang ungkapan jiwa secara spontan tidak ditemukan dalam puisi ‘Peringatan’ oleh Wiji Thukul.
108 a. Diksi dan Bahasa Kiasan dalam Kuisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul. • Metafora Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Pada penggalan puisi di atas diketahui bahwa Wiji Thukul menggunakan pemilihan kata ‘penguasa’ sebagai metafora kepada pemerintah. Ia memandang jikalau pemerintah pada masa rezim Orde Baru yang dirasakannya seakan berdiri di tahta tinggi selayaknya penguasa yang mengendalikan dan mendominasi segalanya tanpa memandang perasaan rakyat di negaranya sendiri. Wiji Thukul menyamakan sikap mereka dalam sindiran pada puisinya dengan sebutan penguasa. Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Kata ‘suara’ juga termasuk metafora yang digunakan Wiji Thukul untuk mewakili semua pendapat, gagasan, atau kritikan sebagai opini milik rakyat yang ingin disampaikan kepada pemerintah namun dibungkam dan tidak didengarkan. Ia menyamakan bahwa segala kata-kata yang keluar dari mulut rakyat adalah suara mereka dalam memperjuangan keadilan terhadap pemerintah. • Eufimisme Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Penggalan puisi di atas menggarisbawahi kata ‘subversif’ sebagaimana Wiji Thukul menggunakan pemilihan istilah tersebut bertujuan untuk menggantikannya menjadi kata yang lebih halus. Dikarenakan kata ‘subversif’ berarti suatu upaya pemberontakan atau tindakan yang dinilai akan melakukan kejahatan, ia memakai istilah tersebut agar terkesan tidak terlalu frontal. b. Subyek Kita dalam Puisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul yang Mengungkapkan Perasaan Lewat Bahasa. Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato
109 Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Pada penggalan puisi di atas diketahui bahwa subyek ‘kita’ memiliki hubungan pertentangan kepada ‘penguasa’. Subyek ‘kita’ dalam puisi ‘Peringatan’ mewakili para rakyat sekaligus pengarang sendiri, Wiji Thukul, sebagai pihak yang melakukan perlawanan atas kekejaman yang dilakukan pemerintah. Padahal pemerintah barangkali berputus asa bilamana rakyat pergi meninggalkan mereka, dan tidak ada siapapun lagi yang memberikan dukungan untuk menuruti ambisi mereka dikarenakan rakyat telah berbalik, Wiji Thukul menyematkan ‘kita’ untuk para rakyat agar waspada sebab bisa saja pidato yang dilakukan oleh pemerintah tidaklah tulus dan hanya sekadar omong kosong belaka untuk menarik simpati rakyat. Wiji Thukul dalam penggalan puisinya ingin menyampaikan pada mereka, para rakyat, untuk berhati-hati terhadap tipu daya pemerintah. Konsep Verstehen dalam Puisi “Peringatan” Karya Wiji Thukul Verstehen mengacu pada memahami makna. Pemahaman ini menekankan bahwa hubungan antara manusia dan masyarakat muncul sebagai suatu realitas dan orisinalitas yang hidup. Menurut Dilthey (via Susanto, 2016:47), pemahaman bertujuan untuk untuk menemukan makna obyek, karena di dalam pemahaman, terjadi percampuran antara pemahaman dengan pengalaman yang teoritis. Ekspresi-ekspresi yang hidup yang tertuang pada suatu teks oleh pengarang tentu saja juga mampu digunakan sebagai sarana untuk melihat ‘sisi dalam’ obyek dalam proses pemahaman sebagaimana obyek ‘sisi dalam’ yang dimaksud adalah dunia mental atau penghayatan manusia sebagai makhluk historis. Proses pemahaman ini dilakukan untuk mengetahui dunia mental seseorang dalam dunia sosialhistoris yang dihayati bersama dengan cara menjadi bagian dunia mental orang lain. Dilthey (via Susanto, 2016: 21) juga mengungkapkan bahwa proses pemahaman merupakan pemahaman subyektif yang dipakai sebagai metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subyektif tindakan sosial. Dalam hal ini, pemahaman tentang Wiji Thukul diketahui melalui pengalaman dan ekspresi-ekspresi hidup dalam puisi ‘Peringatan’ yang ia tulis.
110 a. Kekecewaan dan Kemarahan terhadap Pemerintah Pada masa Orde Baru, segala suara rakyat dibungkam selama rezim tirani kala itu. Rakyat diposisikan begitu rendah, dikuasai, dan didominasi oleh pemerintah, yang seakan bertindak sebagai penguasa, yang tidak memiliki kekebasan dengan segala hak dan suara yang mereka miliki. Pemerintah yang seharusnya mengatur kesejahteraan hidup para rakyatnya sebaliknya justru melakukan penindasan. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki pemerintah, apalagi dengan militer yang mendukung mereka di belakang, menjadikan mereka melakukan berbagai hal yang sewenang-wenang, bahkan pembunuhan atas perlawaanan rakyat yang menginginkan kehidupan yang layak pun menjadi hal biasa di masa tirani saat itu. Kekecewaan dan kemarahan yang dirasakan Wiji Thukul terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah akhirnya membuatnya berdiri untuk melawan. Pemerintah tidak boleh selamanya tirani dan memegang kendali atas kehidupan rakyat sebagaimana rakyat adalah manusia yang memiliki hati dan pikiran. Ia tidak ingin nilai rakyat dianggap tidak lebih dari sekadar budak yang harus mendengarkan semua omong kosong pemerintah. Dengan berpegang teguh menuju kehidupan yang layak, Wiji Thukul bersama rakyat menolak untuk mengikuti rezim tirani pemerintah. b. Pengalaman Ketidakadilan Mendorong Perjuangan HAM Ketidakadilan pada masa rezim Orde Baru sangatlah kental. Pemerintah yang tirani melakukan segala yang diinginkan dengan ideologi mereka sendiri tanpa memperhatikan rakyat. Wiji Thukul, yang telah melihat dan mengalami ketidakadilan secara langsung, tidak ingin rakyat selamanya menerima ketidakadilan tersebut. Ia mengajak rakyat agar tidak berpasrah diri di bawah kekejaman pemerintah. Karena ketika rakyat pergi, pemerintah akan resah, dan ketika rakyat berbalik, pemerintah harus belajar untuk mendengarkan suara rakyatnya sendiri. Dengan demikian, apabila segala bentuk opini dibungkam dan tidak didengarkan oleh pemerintah, maka satusatunya jalan adalah melawan. Wiji Thukul diikuti dengan rakyat akhirnya
111 melakukan perlawanan pada rezim kala itu untuk memperjuangkan HAM yang seharusnya mereka dapatkan sebagai manusia. REFERENSI Farah, N. (2019). Analisis Hermeneutika Dilthey Terhadap Puisi Doa Karya Amir Hamzah. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan. Vol. 5(1). DOI: 10.24235/jy.v5i1.4512. Susanto, E. (2016). Studi Hermeneutika (Kajian Pengantar). Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri. Thukul, W. (1994). Mencari Tanah Lapang. Belanda: Manus Amici. Wikipedia. Wiji Thukul. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Widji_Thukul pada 8 Juni 2024.
112 PERJUANGAN MAHASISWA DALAM PUISI “KETIKA SEBAGAI KAKEK DI TAHUN 2040, KAU MENJAWAB PERTANYAAN CUCUMU” MELALUI HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Ghina Tsabitah (21210141021) Pendahuluan Penyair sering disebut sebagai ‘pelukis handal’ dalam menggunakan kata-kata di dalam sebuah media tersendiri, yakni tulisan. Tulisan yang menjadi wadah para penyair menyuarakan suara yang tidak terdengar sering kali menjadi konflik tersendiri. Pemilihan kata dan tema yang diusung menjadi salah satu faktor utama sebuah tulisan menjadi sorotan utama. Salah satu jenis tulisan yang menyita banyak perhatian adalah puisi. Puisi mempunyai posisi yang cukup strategis untuk mengungkap nilai-nilai kehidupan. Eksistensi puisi di tengah-tengah masyarakat mampu memberikan kontribusi yang sangat besar untuk menjadi hiburan sekaligus pendidikan masyarakat. Dari aktifitas membaca puisi, masyarakat dapat memahami dan menganalisis sebuah nilai-nilai kehidupan dunia nyata yang disampaikan oleh penyair. Ganie (2015) menyampaikan bahwa salah satu fungsi puisi adalah menyampaikan nilai moral dan sosial yang mampu memengaruhi pembaca untuk memahami suatu konsep tertentu. Misalnya, dalam situasi sosial dimana mahasiswa Indonesia menginginkan perubahaan kekuasaan terjadi, puisi Taufiq Ismail yang berjudul “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2024, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu” mencoba menyampaikan kritik sosial pada pemerintah tentang perjuangan para mahasiswa meminta keadilan yang selama ini tidak didapatkan. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutika teori Paul Ricoeur yakni to read/to say, to understand, to explain, to translate/to interpret (Palmer, 2005: 15–36). Terdapat tiga langkah dalam memahami teks menurut Ricoeur, yaitu 1) Langkah objektif (penjelasan), yaitu menganalisis aspek semantik pada simbol berdasarkan tataran linguistiknya; 2) Langkah refleksif (pemahaman), yaitu menghubungkan dunia objektif teks dengan dunia yang diacu (reference) yang pada aspek simbolnya bersifat nonlinguistik, dan 3) Langkah
113 filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan metafora dan simbol sebagai titik tolaknya (Faiz, 2003). Untuk mencapai tingkat pemahaman tersebut dalam puisi “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2024, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu” karya Taufiq Ismail digunakan analisis metafora dan simbol. Pertama, pada teori metafora analisisnya bergerak (1) dari metafora penjelasan; (2) dari teks ke metafora sebagai representasi interpretasi atau pemahaman. Kedua, pada teori simbol analisisnya bergerak pada (1) pemaknaan simbol sebagai momen semantik; (2) pemaknaan simbol sebagai suatu momen nonsemantik. Pembahasan Berikut pembahasan kritik sosial pada puisi karya Taufiq Ismail melalui analisis metafora dan analisis simbol. Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu Bersama beberapa ribu kawanmu Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju Bersama-sama membuka sejarah halaman satu Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu Sampai kini sejak kau lahir dahulu Inilah pengakuan generasi kami, katamu Hasil penataan dan penataran yang kaku Pandangan berbeda tak pernah diaku Daun-daun hijau dan langit biru, katamu Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
114 Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu Maka kami bergeraklah kini, katamu Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu. 1998 Pada judul puisi terdapat sebuah metafora “sebagai kakek di tahun 2040” yang menunjukkan bahwa pembaca yang telah menjalani kehidupan berada di satu titik dimana menjadi seorang kakek pada tahun 2040. Dilanjutkan dengan “kau menjawab pertanyaan cucumu” berarti seorang cucu bertanya mengenai bagaimana kehidupan kakek saat masih muda dahulu. Hal ini wajar karena seorang kakek pasti akan menceritakan bagaimana kisah hidupnya kepada anak cucunya agar tidak melupakan sejarah yang telah terjadi. Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu Bersama beberapa ribu kawanmu Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju Sajak di atas memiliki arti metafora bahwa ketika ‘kakek’ masih muda, dirinya bermalam suntuk berada di depan gedung DPR bersama para ribuan mahasiswa lainnya untuk menyuarakan kegelisahan mereka terhadap para pemimpin. Simbol “mengepalkan tinju” memiliki arti menjadikan kepalan tangan untuk bersiap dalam sebuah ring pertarungan. Namun, dalam puisi ini memiliki makna kobaran semangat para mahasiswa dalam mempertahankan suara mereka. Bersama-sama membuka sejarah halaman satu Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
115 Sajak di atas mengandung sebuah metafora para mahasiswa yang berkumpul membuat sejarah baru di Indonesia secara bertindak langsung dan mencoret spanduk penuh omong kosong dengan kata-kata menuntut keadilan. Simbol dari kata “mengguratkan” dalam KBBI tidak ada namun dapat kita maknai sebagai guratan atau coretan pada buku sejarah dilakukan oleh para mahasiswa dalam demo penuntutan keadilan. Diikuti dengan simbol “seraya mencat spanduk dengan teks seru” secara harfiah melakukan coretan pada spanduk tertentu dan menutupinya dengan kata-kata yang tidak satu topik dengan yang ada di spanduk. Namun, makna dalam sajak ini ialah salah satu bentuk protes yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap sistem pemerintahan dengan menutupi segala omong kosong mereka dengan sebuah kata-kata perlawanan. Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu Pada sajak ini memiliki makna lebih dalam lagi, banyak mahasiswa yang mengikuti demo ditembak oleh oknum, dikejar untuk ditangkap, bahkan ketika para mahasiswa sudah balik ke dalam kampus pun masih dikejar hingga mereka berjatuhan di jalanan. Tidak hanya berhenti disini, pihak mahasiswa dijadikan ‘kambing hitam’ dalam surat kabar yang sudah ada campur tangan kuasa agar terlihat seperti pemberontak bagi masyarakat yang mendukung pemerintah tersebut. Sampai kini sejak kau lahir dahulu Inilah pengakuan generasi kami, katamu Hasil penataan dan penataran yang kaku Pandangan berbeda tak pernah diaku Sajak ini memberitahukan kepada kita bahwa sejak lahir hingga masa kini masih terjadi adanya sistem pemerintahan yang kaku, tidak sesuai dengan kemajuan dunia bahkan pandangan yang berbeda tidak pernah diakui dalam sistem pemerintahan ini. Pengakuan generasi ‘kakek’ menjadi salah satu sakti bahwa pemerintah tidak menerima adanya perbedaan. Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
116 Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu Majas metafora “daun-daun” pada sajak di atas diartikan sebagai suatu hal yang sama seperti daun, yakni benda yang bertebangan ketika tertiup oleh angin. Simbol warna yang digunakan dalam “daun-daun” ini mengarah kepada warna bendera yang digunakan oleh partai tertentu. Daun-daun hijau dan langit biru tentu merupakan arti yang sebenarnya, dimana daun berwarna hijau dan langit berwarna biru. Namun, pada kenyataannya daundaun kuning dan langit kuning yang memiliki arti semua kekuasaan berada dalam satu tangan. Pada dua baris terakhir, “kekayaan alam untuk bangsaku, kekayaan alam untuk nafsuku” memiliki arti yang bertolakbelakang. Para mahasiswa memikirkan bahwa SDA milik bangsa dan dinikmati untuk seluruh rakyat, namun bagi para kuasa, SDA milik bangsa namun dinikmati untuk memenuhi nafsu mereka sendiri. Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu Maka kami bergeraklah kini, katamu Nasib rakyat disamakan dengan mata dadu menjadi sebuah metafora. Nasib rakyat tidak ada bedanya dengan mainan dadu yang digenggam oleh para kuasa. Segala kekuasaan yang ada dipegang sepenuhnya oleh para kuasa sehingga apapun hasil yang keluar merupakan keinginan para kuasa. Namun, mahasiswa mengetahui hal tersebut dan memutuskan untuk bertindak dahulu sebelum ada keputusan lain yang keluar dari para kuasa. Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu Semua mahasiswa berbondong-bondong menuju ke satu titik dengan segala cara, baik berjalan kaki ataupun menaiki bis. Tidak peduli dengan bagaimana pakaian mereka, urusan
117 mereka di kampus, dengan yakin dan tekat membara mereka memiliki satu tujuan yang sama, menegakkan keadilan. Pada kalimat “berdiri di atap bis yang melaju” memiliki arti bahwa mereka rela menaruhkan nyawa demi dapat mengikuti teman-teman mahasiswa lainnya untuk menuntut keadilan. “Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu” dalam keadaan sesungguhnya sangatlah hal yang mengganggu dan tidak bisa ditinggalkan. Kemeja basah keringat tentu membuat badan terasa lengket dan mengharuskan untuk mandi membilas badan agar lebih segar. Ujian semester merupakan hal penting dalam dunia perkuliahan karena merupakan salah satu faktor agar dapat melanjutkan ke semester berikutnya. Namun, para mahasiswa tidak peduli dengan hal itu dan tetap berpegang teguh untuk menuntut keadilan. Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu. “Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu” menunjukkan bahwa Kumpulan para mahasiswa tidak memiliki seorang ‘pemimpin’ dalam rombongannya menuntut keadilan. “Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu” mengutarakan bahwa ‘pemegang bedil’ merupakan polisi, yang seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat namun pihak polisilah yang membantu para kuasa untuk ‘meredakan’ para mahasiswa. Para mahasiswa pun memutuskan untuk tetap maju walau mereka tidak memiliki pimpinan dan tidak memiliki dukungan dari pihak berwajib. “Kita percayakan nasib pada Yang Satu itu” bisa memiliki dua arti. Yang pertama, para mahasiswa menyerahkan segala keputusan yang mereka lakukan dengan meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walau mereka tidak memiliki dukungan dari pihak polisi dan menantang para kuasa, setidaknya para mahasiswa berjuang dan memohon kepada Tuhan akan hasil yang mereka perjuangkan. Kedua, memiliki makna bahwa para mahasiswa sudah tidak peduli lagi dengan hidup mereka yang kemungkinan tidak akan selamat oleh para kuasa karena menantang mereka.
118 Kesimpulan Puisi “Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2024, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu” karya Taufiq Ismail memiliki nilai sejarah dan kritik sosial yang tinggi. Taufiq menceritakan bagaimana perjuangan mahasiswa dilihat dari sudut pandang mahasiswa yang berjuang menegakkan keadilan terhadap pemimpin negara pada bulan Mei tahun 1998. Bukan rahasia umum bahwa pada saat itu, negara Indonesia mengalami perubahan besarbesaran yang sangat berdampak pada Indonesia sekarang ini. Puisi ini menyuguhkan suasana ketegangan yang terjadi secara baik dan tidak menggunakan kata-kata yang terlalu frontal. Daftar Pustaka Faiz, Fakhruddin. (2003). Hermeneutika Al-Qur'an. Yogyakarta: Qolam, Cet.III. Ganie, T. N. (2015). Buku Induk Bahasa Indonesia: Pantun, Puisi, Syair, Peribahasa, Gurindam, dan Majas. Yogyakarta: Araska. Palmer, R. (2005). Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
119 Analisis Hermeneutik Teori Reoucer dalam Puisi “Dukamu Abadi” karya Supradi Djoko Damono” Dewi Rirys Jati (21210141022) Hermeneutika adalah sebuah pendekatan interpretatif yang digunakan untuk memahami teks atau fenomena manusia secara mendalam. Istilah ini berasal dari kata Yunani "hermeneuein", yang berarti "menerjemahkan" atau "menafsirkan". Hermeneutika awalnya diterapkan dalam konteks keagamaan untuk memahami teks-teks suci, tetapi kemudian berkembang menjadi sebuah metode yang digunakan dalam berbagai bidang, termasuk sastra, filsafat, ilmu sosial, dan sejarah. Prinsip dasar hermeneutika adalah bahwa sebuah teks atau fenomena manusia memiliki banyak lapisan makna yang dapat diungkap melalui proses interpretasi yang mendalam. Interpretasi tersebut tidak hanya terbatas pada makna harfiah dari kata-kata atau tindakan, tetapi juga mencakup konteks sosial, budaya, dan sejarah di mana teks atau fenomena itu muncul. Selain itu, hermeneutika mengakui bahwa setiap pembaca atau penafsir memiliki pengalaman, latar belakang, dan perspektif yang unik, yang mempengaruhi cara mereka memahami dan menafsirkan teks atau fenomena tersebut. Oleh karena itu, interpretasi hermeneutika cenderung bersifat subjektif dan kontekstual. Dengan demikian, hermeneutika bukan hanya sekadar mencari makna yang "benar" atau "sempurna" dari suatu teks atau fenomena, tetapi lebih kepada menggali berbagai lapisan maknayang tersembunyi di dalamnya dan memperkaya pemahaman kita tentang dunia dan diri kita sendiri. Teori Ricoeur memberikan simbol-simbol itu tidak hanya untuk interpretasi melainkan juga untuk refleksi filosofis. Setiap karya sastra, terutama puisi, pasti menyimpan makna yang tersirat di dalam penggunaan simbol-simbolnya. Simbol-simbol tersebut membawa latar belakang kejadian atau hal-hal yang mengilhami penciptaan karya sastra tersebut. Sumber inspirasi seringkali berasal dari realitas di sekitar, seperti sejarah
120 atau peristiwa nyata. Seperti contoh dalam puisi "Dukamu Abadi" karya Sapardi Djoko Damono. Saat membaca puisi "Dukamu Abadi" karya Sapardi Djoko Damono, saya sebagai pembaca dengan cepat menyadari bahwa makna yang tersembunyi dalam puisi tersebut mengisahkan perasaan yang sedang dukacita dan larut dalam kesedihan dalam sebuah hubungan. Melalui bahasa yangdigunakan metafora yang indah, penulis menggambarkan bagaimana perasaan duka yang abadimampu mempengaruhi kehidupan seseorang. Dukamu Abadi Karya : Sapardi Djoko Damono Dukamu adalah dukaku. Air matamu adalah air matakuKesedihan abadimu Membuat bahagiamu sirna Hingga ke akhir tirai hidupmuDukamu tetap abadi. Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup iniBerbekalkan sejuta dukamu Mengiringi setiap langkahku Menguji semangat jituku Karena dukamu adalah dukaku Abadi dalam duniaku! Namun dia datang Meruntuhkan segala penjara rasaMembebaskan aku dari
121 derita ini Dukamu menjadi sejarah silam Dasarnya 'ku jadikan asas Membangunkan semangat baru Biar dukamu itu adalah dukaku Tindakanku biarkan ia menjadi pemusnahku! Bait 1 Dukamu adalah dukaku. Air matamu adalah air mataku Kesedihan abadimu Membuat bahagiamu sirna Hingga ke akhir tirai hidupmu Dukamu tetap abadi. Pada bait pertama, simbol duka dan air mata mencerminkan penderitaan kesedihan yang dialami penulis. Ungkapan kesedihan abadi mengandung makna yang dalam penderitaan yangdirasakan itu dalam jangka waktu yang panjang atau bahkan selamanya. Simbol bahagia yang digunakan berbeda di sini menggambarkan bagaimana kesedihan yang abadi subjek telah mengahancurkan atau merusak kebahagiannya. Tirai hidupmu yang digunakan dalam puisi ini mengandung metaforis sebagai simbil akhir dari kehidupan. Melalui analisis simbol-simbol ini saya dapat memahami bagaimana penulis menggunakan bahasa untuk menggambarkan tema-tema seperti penderitaan, kebahagiaan, dankematian dalam puisis ini. Simbol-simbol tersebut membantu membentuk makna dan pesan yang mendalam, karena penderitaan kesedihan yang dialami oleh penulis ini penderitaan yang didapat karena terpengaruhi dari penderitaan kesedihan dari seseorang yang sangat dicintainya.
122 Bait 2 Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup iniBerbekalkan sejuta dukamu Mengiringi setiap langkahku Menguji semangat jituku Karena dukamu adalah dukaku Abadi dalam duniaku! Pada bait kedua, perjalanan hidup sering kali digunakan sebagai metafora untuk pengalaman manusia. Sejuta duka merupakan simbol dari penderitaan dan kesedihan yang dialami mencerminkan kesulitan rintangan yang dihadapi dalam perjalanan hidup. Simbol “mengiringi setiap langkah” menunjukkan bahwa penderitaan dan kesedihan yang dialami tidakpernah meninggalkannya, selalu hadir dalam setiap langkah dalam hidupnya. Abadi dalam duniaku sudah diketehui bahwa duka penderitannya selalu akan ada atau abadi dalam hiduo, berati ini penderitaan dengan jangka waktu selamanya selama hidup. Melalui analasis simbol-simbol ini, saya dapat memahami bagaimana penulis menggunakan bahasa dan imajinasi untuk menggambarkan pengalaman hidup yang terus dihantui oleh rasa penderitaan duka yang mendalam untuk selamanya atau abadi dalam hidupnya. Bait 3 Namun dia datang Meruntuhkan segala penjara rasa Membebaskan aku dari derita ini Dukamu menjadi sejarah silam Dasarnya 'ku jadikan asas Membangunkan semangat baru Biar dukamu itu adalah dukaku Tindakanku biarkan ia menjadi pemusnahku! Pada bait ketiga atau terakhir,dapat dimaknai sebagai simbol yang memiliki harapan
123 atau pembebasan dari “dia”. Karena pada “penjara rasa” menyimbolkan dari kondisi emosional yang menyiksa. Sehingga berharapnya adanya pembebasan dari penderitaan dengan berharap adanya kehadiran “dia”. Namun penulis lebih memilih untuk dukamu dijadikan sejaraha saja atau bisa disimbolkan sebagai memutuskan untuk meninggalkan masal lalunya yang ikut terpengaruh oleh penderitaannya dan memutuskan untuk memulai lembaran baru. Pemusnahku yang ada dalam bait ini simbol sebagai tekad penulsi untuk melangkah tetap berani maju memulai lembaran barunya dan tekad tidak akan terjebak kembali dari penderitaan ini. Melalui analisis simbol-simbol ini, kita dapat memahami bagaimana penulis menggunakan bahasa dan imajinasinya untuk menggambarkan perubahan dalam kehidupannya. Perubahan untuk memutuskan meninggalkan penderitaan yang dialami karena terpengaruh dariseseorang dan memutuskan untuk memulai hidup baru. Dapat disimpulkan secara keseluruhan bait, analisis simbol-simbol yang digunakan merupakan mengisahkan penderitaan dan tekad penulis. Penderitaan, penderitaan yang didapat atau terpengaruhi dari penderitaan seseorang sehingga merasa terjebak dan hidupnya sangat tidak tenang. Namun akhir dari puisi ini memiliki tekad, yaitu tekad untuk meninggalkan penderitaan itu sebagai sejarah atau pelajaran sehingga penulis memililih maju untuk memulailebaran baru dalam hidupnya. Mengaitkan simbol-silmbol dengan teori dari Ricoeur, yaitu adanya refleksi filosofisdan interpretasi. Memahami teks bukan hanya memahami makna yang terkandung di dalam teks itu, melainkan juga lewat teks itu merefleksikan makna hidup kita, karena teks mengacu kepada kehiupan, yaitu kehiudupan dunia di luar teks seperti pembaca atau peneliti. Makna teks itu menimbulkan permenungan fiolofis. Makna dari teks dengan makna di luar dunia teks, yaitu sama. Ketika ada seseorang baik dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, dan pertemanan yang sangat dicintai, akan merasa seperti terjebak sehingga saat menjalani hidup tidak tenang. Namun pendertitaan itu tidak akan mungkin terlalu berlalut-larut dalam hidup saya karena saya
124 juga ingin membuat orang yang membuat saya kehilangan akan bangga karena saya melanjutkan hidup saya tanpa pendertitaan lagi.
125 ANALISIS HERMENEUTIKA DILTHEY TERHADAP PUISI “PAHLAWAN TAK DIKENAL” KARYA TOTO SUDARTO BACHTIAR Tyas Nirmalasari (21210141024) Wilhelm Christian Ludwig Dilthey (1833-1911) lahir di Wiesbaden, Biebrich Jerman pada tanggal 19 November 1833. Ia berasal dari keluarga Protestan dan memiliki basic ilmu teologi. Dilthey berada pada titik temu antara positivisme dan idealisme, sehingga pemikirannya berada dalam ketegangan antara kedua aliran pemikiran tersebut. Pertama, penafsiran terjadi antara hermeneutika dan sejarah, mencari keterkaitan sejarah antara teksteks yang dikaji. Kedua, sebagaimana pemikir adalah anak pada masanya, positivisme mau tidak mau menjadikan historisisme agar sesuai dengan logika sejarah. Rumusan hermeneutika Dilthey terdiri dari tiga pokok bahasan, yaitu pengalaman (erlebniz), ekspresi (ausdruck) dan pemahaman (verstehen). Pengalaman (erlebniz) diartikan sebagai pengalaman yang dialami, yaitu pengalaman-pengalaman penuh makna dan meninggalkan kesan pada kehidupan seseorang. Ekspresi (ausdruck) merupakan gagasan yang berasal dari jiwa pengarangnya, bukan ekspresi perasaan seperti yang dipahami secara umum. Ausdruck dapat dikatakan sebagai objektifikasi pemikiran yang meliputi pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia. Pemahaman (verstehen) adalah salah satu cara mengetahui keadaan batin seseorang melalui pengalaman dan ungkapan yang diungkapkan seseorang tersebut. Pemilihan teori ini berdasarkan tujuan hermeneutika Dilthey sebagai geisteswissenschaften yaitu dasar bagi ilmu-ilmu sosial humanistik yang memahami ekspresi kejiwaan manusia, dengan tidak hanya melihat dari aspek psikologis sang pengarang namun juga menyertakan variabel sejarah. Maka tujuan dari penggunaan teori hermeneutika Dilthey dalam penelitian ini yaitu dapat memahami Puisi yang pilih sebagai objek kajian. Karya Sastra yang akan digunakan dalam objek kajian ini adalah Puisi karya Toto Sudarto Bachtiar dengan judul “Pahlawan Tak Dikenal. Puisi tersebut ditulis pada tahun 1953, dimuat dalam buku kumpulan puisi berjudul “Suara: Kumpulan Sajak”. Puisi
126 Pahlawan Tak Dikenal berisi tentang ungkapan penulis yakni Toto Sudarto sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan yang tidak dikenal dalam sejarah. Fokus penelitian ini adalah analisis hermeneutika Dilthey yaitu konsep erlebniz, ausdruck dan verstehen dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar. 1. Konsep Erlebniz Hermeneutika Dilthey dalam Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” Karya Toto Sudarto Bachtiar Erlebniz memiliki arti pengalaman yang hidup yaitu pengalaman-pengalaman yang penuh makna dan meninggalkan kesan dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini, pengalaman yang akan dikaji adalah latar belakang terciptanya puisi Pahlawan Tak Dikenal. Toto Sudarto Bachtiar memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial dan politik di sekitarnya pada masa itu. Ia memperhatikan betapa banyak pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang tidak dikenal atau dihormati secara individual. Kesadaran ini mendorongnya untuk menulis puisi seolah sebagai bentuk apresiasi dan mengenang pengorbanan mereka. Saat itu, semangat nasionalisme yang kuat menjadi inspirasi utama beberapa penulis, termasuk Toto Sudarto Bachtiar. Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan atas jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban semaksimal mungkin demi kemerdekaan negara. 2. Konsep Ausdruck Hermeneutika Dilthey dalam Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” Karya Toto Sudarto Bachtiar Ausdruck adalah ekspresi yang membuka jalan menuju pemahaman. Ausdruck dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; pertama, ekspresi yang tetap dan selalu identik dengan kaitan manapun. Kedua, ekspresi yang dituangkan dalam bentuk bahasa. Ketiga, adalah ekspresi jiwa secara spontan. Dalam analisis ini diperoleh hasil ekspresi dalam kaitannya poin pertama yaitu melalui diksi dan bahasa kiasan. a. Majas eufemisme Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang
127 Terdapat pada bait pertama dan terakhir dengan kalimat yang sama, memiliki makna ‘meninggal/gugur’ bagi para pahlawan di medan perang, namun kata itu diganti dengan kata/kalimat yang lebih halus untuk menghindari konfrontasi. b. Majas personifikasi Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang Dunia tambah beku ditengah derap dan suara menderu Terdapat majas personifikasi pada bait 3, pada baris-baris tersebut menunjukkan bahwa seolah-olah menyamakan dunia sebagai makhluk hidup. 3. Konsep Verstehen Hermeneutika Dilthey dalam Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” Karya Toto Sudarto Bachtiar Pemahaman (verstehen) adalah salah satu cara mengetahui keadaan batin seseorang melalui pengalaman dan ungkapan yang diungkapkan seseorang tersebut. Dalam hal ini poin yang akan diungkap adalah kondisi kehidupan Toto Sudarto Bachtiar pada era perjuangan kemerdekaan. Toto Sudarto Bachtiar lahir pada tahun 1929, sehingga ia tumbuh dengan menyaksikan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pengalaman hidupnya di masa penjajahan dan perjuangan kemerdekaan memberikan pemahaman mendalam tentang pengorbanan para pejuang. Toto Sudarto Bachtiar hidup pada masa yang penuh dengan perubahan dan gejolak politik Indonesia, termasuk masa perjuangan kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan. Pengalaman hidupnya selama ini tercermin dalam karya-karyanya yang kerap mengkritik ketidakadilan sosial dan politik, termasuk kajian puisi “Pahlawan Tak Dikenal”. Berikut merupakan bukti kutipan puisi yang menunjukkan suasana kesedihan setelah gugurnya pahlawan-pahlawan tak dikenal karena berperang memperjuangkan kemerdekaan. Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri tak dikenalnya
128 DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta. Penerbit PT Kanisius. Farah, N. (2019). Analisis Hermeneutika Dilthey Terhadap Puisi Doa Karya Amir Hamzah. JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan, 5(1), 1- 15.
129 ANALISIS MAKNA KEHIDUPAN PADA PUISI “ULAR-ULARAN” WAKTU KARYA SINDHUNATA (KAJIAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR) Ryan Sadhi (21210141027) Tentang makna atau hikmah hidup dapat ditemukan dimana saja termasuk dalam karya sastra bergenre puisi. Meskipun terkesan singkat dan multi interpretasi namun puisi selalu digemari selain karena bahasa dan gaya yang estetik juga karena pesan yang tidak terduga-duga dan luar biasa untuk pembaca. Salah satu puisi yang kental akan makna hidup adalah puisi Ular-ularan Waktu karya Romo Sindhunata. Puisi ini termuat dalam antologi puisi Air Kata-kata karya Romo Sindhunata yang terbit pada tahun 2012. Benang merah dalam puisi Ular-ularan Waktu adalah tentang penerimaan yang ada saat ini. Agar dapat memahami secara utuh dan komprehensif melalui esai akan diulas makna yang ada dalam puisi Ular-Ularan Waktu dengan menerapkan salah satu pendekatan sastra yaitu hermeneutika. Kajian hermeneutika telah berkembang pesat dari zaman Schleiermacher hingga Derrida, semua memiliki konsepnya masing-masing utamanya tentang memahami suatu teks. Dalam esai ini akan mengulas lebih jauh pemaknaan puisi Ular-ularan Waktu menggunakan teori Hermeneutika Paul Ricoeur. Memahami sebagai merenungkan itulah yang dipaparkan Bapak Budi Hardiman untuk menggambarkan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Teori Ricoeur adalah sebuah usaha untuk mengungkap apa yang tersembunyi dari teks dengan mempertahankan refleksi untuk interpretasi (Hardiman, 2015:204). Sehingga dapat dipahami bahwa dalam memahami sebuah teks perlu mengaitkannya dengan makna hidup, dan cara untuk mengaitkan teks dengan makna hidup adalah lewat refleksi tersebut. Maka dari itu teori dari Ricoeur cukup cocok untuk mengulas lebih dalam puisi Ularularan Waktu terlebih garis besar puisi ini bersentuhan dengan makna atau hikmah dari hidup. Metode yang digunakan Ricoeur dalam mengungkap makna teks adalah jalan melingkar dengan menggunakan sebuah metodologi (Hardiman, 2015:244). Saidi (2008:378-379) menjelaskan metode Ricoeur tersebut untuk kaitanya dengan karya sastra,
130 yaitu: Pertama, teks diposisikan sebagai sebuah objek dan subjek yang otonom. Kedua, teks dipahami lewat cara mengobjektivasi strukturnya. Ketiga, pemahaman meluas ketika membahas lapis simbol. Keempat,simbol kemudian ditafsirkan. Kelima, simbol dikaitkan dengan persoalan luar. Keenam, Pemaknaan dari teks tersebut. Berikut puisi Ular-ularan Waktu karya Romo Sindhunata. Ular-ularan Waktu Ular-ularan waktu Waktuku berjalan berular-ularan, nasib hidupku ulang-mengulang Harapan akan masa depanku, ditelan kekejaman masa laluku. Apa yang menyelamatkanku kini, hanyalah apa yang menghancurkanku nanti, dan semuanya tadi, sudah kuketahui di masa lalu sebelum ini. Dengan sepatu koyak, aku mengejar masa laluku yang telah hilang. Ternyata aku terbawa terbang ke langit tinggi masa depan, dan kembali aku kehilangan apa yang seharusnya kudapatkan. Hidupku menjadi layang-layang, benangnya putus, dan aku terlempar. Kini tak ingin aku
131 terbunuh lagi oleh waktu. Kugigit ekor ular-ularannya, dan masa laluku pun mengucurkan darah Kupatahkan kepalanya, dan terbebas aku dari impian masa depannya. Aku hidup dari waktuku, lega, kendati kini berada aku dalam gelap kekinian, aku berjalan dengan perut ular mengelengsar-gelengsar tanpa kemajuan, terhenti di masa kini, di dunia ini. Baru sekarang aku rasakan keabadian adalah kekinian yang kekal di dalamnya masa laluku tertelan dan masa depanku terkandungkan aku bahagia, di sini dan sekarang (Sindhunata, 2012:136-137) Puisi yang terdiri dari tujuh bait ini memiliki satu kata yang terus disebutkan dan menjadi kunci dari puisi ini yaitu kata ular. Pada baris dua dan tiga di bait pertama yang merupakan satu kalimat menjelaskan tentang ular tersebut secara langsung. Ular merupakan sebuah simbol dari waktu dan kata ular-ularan menyimbolkan waktu yang terus berulangulang. Berikut kutipannya: Waktuku berjalan berular-ularan, nasib hidupku ulang-mengulang Selanjutnya pada bait pertama baris empat dan lima serta bait dua hingga bait empat baris satu dan dua menjelaskan keadaan tokoh aku. Waktu yang berulang-ulang tersebut
132 merupakan keadaan tokoh aku yang harus berhadapan dengan keadaan yang kurang menguntungkan karena ketakutan tentang hilangnya masa depan yang cerah sebagai akibat dari kesalahan dimasa lalu. Meskipun tokoh aku selalu berusaha untuk memperbaiki hal tersebut namun hanya kenyataan pahit yang didapatkan karena masa lalunya sudah tidak mungkin untuk dikejar kembali dan masa depannya sudah tidak mungkin tercapai dan kini hidupnya terombang-ambing. Keadaan tokoh yang demikian disimbolkan seperti layanglayang yang putus. Berikut kutipannya: Hidupku menjadi layang-layang, benangnya putus, dan aku terlempar. Hingga pada bait empat baris tiga dan empat menggambarkan lebih lanjut tindakan yang diambil tokoh aku. Tokoh aku berupaya tidak ingin lagi terjebak dalam kondisi yang tidak berkesudahan karena terlalu memikirkan tentang masa lalu dan masa depan. Akhirnya tokoh aku memutuskan untuk menghentikan siklus yang berulang-ulang dengan tidak memperdulikan lagi masa lalu dan masa depan. Hal ini disimbolkan pada bait kelima dengan tokoh aku yang menggigit ekor dan mematahkan kepala ular tersebut agar masa lalu dan masa depan tidak menghantuinya. Berikut kutipannya: Kugigit ekor ular-ularannya, dan masa laluku pun mengucurkan darah Kupatahkan kepalanya, dan terbebas aku dari impian masa depannya. Berikutnya pada bait keenam menjelaskan kondisi tokoh aku setelah melupakan masa lalu dan masa depan. Tokoh aku menjadi lebih lega meskipun hidupnya gelap karena kesalahan masa lalu yang tidak mungkin bisa hilang dan masa depan yang masih abu-abu. Keadaan tokoh yang demikian disimbolkan pada bait ke enam baris empat hingga enam dengan tokoh aku yang berjalan hanya dengan perut ular yang mengelesar-gelesar tanpa ada kemajuan. Berikut kutipannya: aku berjalan dengan perut ular mengelengsar-gelengsar tanpa kemajuan, terhenti di masa kini, di dunia ini.
133 Pada bait terakhir dijelaskan tokoh aku sudah menerima keadaannya kini sepenuhnya dengan rasa senang tanpa terbebani kesalahan dimasa lalu dan kecemasan apa yang akan terjadi dimasa depan yang masih banyak tanda tanya. Berikut kutipannya: Baru sekarang aku rasakan keabadian adalah kekinian yang kekal di dalamnya masa laluku tertelan dan masa depanku terkandungkan aku bahagia, di sini dan sekarang Puisi Ular-ularan Waktu memberi sebuah makna hubungan yang selalu berkelanjutan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam sebuah perjalan manusia. Untuk itu tidak berlebihan jika mengatakan kehidupan adalah perjalanan yang berulang karena apa yang dilakukan di masa lalui pasti akan memberi dampak pada masa kini dan masa depan.Disini seolah menjadi peringatan kembali bahwa segala perbuatan yang sudah kita pernah perbuat pasti akan mendapat buahnya di masa nanti, maka dari itu selalu berpikir sebelum bertindak adalah hal yang bijak. Selanjutnya meskipun pernah melakukan kesalahan di masa lalu, manusia diharapkan segera merenung dan melakukan evaluasi bukan hanya larut dalam kesalahan tersebut. Menerima apa yang ada saat ini dan melanjutkan hidup lebih penting karena itu kunci kebahagian tanpa harus terjebak masa lalu dan terjerat akan apa yang terjadi di masa depan. REFERENSI Hardiman, F. B. (2015). Seni memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. PT Kanisius. Saidi, A. I. (2008). Hermeneutika, sebuah cara untuk memahami teks. Jurnal sosioteknologi, 7(13), 376-382. Sindhunata. (2012). Air kata kata. Galang Press dan Bayu Media.
134 IMAJI KEHIDUPAN DALAM PUISI “DEWA TELAH MATI” KARYA SUBAGIO SASTROWARDOYO Maria Ulfah Sunardja (21210141028) Imaji – imaji kehidupan yang tergambar pada sebuah karya sastra, terutama karya sastra puisi pastinya digambarkan dengan kiasan yang mengandung makna-makna simbolik. Menurut Riffatere (1978, melalui Pradopo, 1999: 77), puisi merupakan ekspresi tidak langsung yang menyatakan hal lain. Ekspresi tidak langsung disebabkan oleh (a) pengganti arti; (b) penyimpangan atau pemencongan arti; dan (c) penciptaan arti. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata-kata dalam puisi mengandung makna yang disampaikan secara tidak langsung. Imaji kehidupan itu juga terkandung dalam puisi “Dewa Telah Mati” karya Subagio Sastrowardoyo. Puisi ini memancarkan imaji-imaji mendalam, yang dapat dijelajahi melalui pendekatan pemikiran hermeneutika menurut Paul Ricoeur. Hermeneutika dapat diartikan sebagai seni memahami. Studi hermeneutika merupakan cabang ilmu yang mempelajari interpretasi dan pemahaman teks, terutama teksteks yang kompleks dan memiliki banyak lapisan makna, seperti teks agama, sastra, filsafat, dan bahkan teks ilmiah. Menurut Ricoeur, memhami teks bukan hanya memahami makna yang terkandung dalam teks saja, melainkan teks itu dapat merefleksikan makna hidup, karena teks mengacu pada kehidupan diluar teks tersebut. Oleh karena itu, hermeneutika bagi Riceour merupakan upaya untuk menyingkap intensi yang tersembunyi dibalik teks, maka dapat dikatakan bahwa memahami menurut Ricoeur adalah menyingkap. Ia menekankan pentingnya interpretasi dalam memahami makna kehidupan. Sejalan dengan hal itu, puisi “Dewa Telah Mati” karya Subagio Sastrowardoyo merupakan puisi yang dipenuhi dengan diksi-diksi yang menggambarkan interpretasi imaji kehidupan dengan diumpamakan menggunakan simbol-simbol analogi atau metafora. Puisi ini memiliki judul “Dewa Telah Mati”, namun dalam mitologi Yunani, dewa merupakan entitas yang dihormati, dianggap suci, dan memiliki kekuatan super, hingga mustahil untuk mati. Hal ini tentu jika dihubungkan dengan judul tersebut memiliki
135 kontradiksi. Hal ini sejalan dengan interpretasi Ricoeur mengenai hubungan antara mitos dan kebenaran. Dalam konteks puisi "Dewa Telah Mati", imaji-imaji seperti "dewa" mungkin merujuk pada mitos spirtual atau naratif simbolis yang menggambarkan pencarian manusia akan kebenaran atau makna yang lebih dalam tentang kehidupan dan eksistensi manusia. Puisi ini mungkin menjadi refleksi tentang bagaimana manusia berusaha untuk memahami diri mereka sendiri dan tempat mereka dalam dunia. Maka, jika dihubungkan dengan hal itu, entitas “dewa” yang sangat diagung-agungkan dan bahkan disembah karena memiliki kekuatan super itu mati, maka mungkin saja terjadi kerusakan dan kekacauan di dalam tatanan kehidupan atau diri manusia itu sendiri. Tak ada dewa di rawa-rawa ini Pada kalimat tersebut jika ditafsirkan bahwa “rawa-rawa” merupakan tempat yang lembab dan pengap, lalu jika dewa telah tiada pula, akan semakin sumpek gambaran yang dapat dilihat pada kalimat tersebut. Sehingga, dari simbol - simbol tersebut dapat dimaknai bahwa penyair menyoroti kekosongan spiritual dan kehilangan makna yang menggantung di sekitar lingkungan alam yang tidak bersahabat. Hanya gagak yang mengakak malam hari Dan siang terbang mengitari bangkai pertapa yang terbunuh dekat kuil Pada bait diatas, menyiratkan imaji – imaji kegelapan. Simbol “gagak” yang merupakan burung dengan berbagai makna simbolis dan banyak direpresentasikan dalam takhayul atau kepercayaan yang mengandung konotasi negatif. Simbol “malam hari” yang jika ditafsirkan merupakan keadaan pergantian hari setlah matahari terbenam, sehingga langit terlihat gelap. Tafsiran itu menggambarkan adanya ketidakseimbangan alam yang mengerikan. Hal tersebut di tegaskan kembali dengan simbol “bangkai”, “pertapa yang terbunuh” yang menegaskan betapa mengerikannya tempat itu. Dewa telah mati di tepi-tepi ini Hanya ular yang mendesir dekat sumber Lalu minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri.
136 Pada bait di atas, dapat menggambarkan kekosongan spiritual yang menggantikan kehadiran dewa-dewa yang telah mati. Kesendirian dan kehampaan spiritual terasa melalui gambaran ular yang minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. Simbol “ular” berhubungan erat dengan “pelacur” yang jika disandingkan sama-sama memiliki konotasi negatif, sebagai mana presepsi mengenai sifat ular yang beracun dan mematikan. Bumi ini perempuan jalang yang menarik laki-laki jantan dan pertapa ke rawa-rawa mesum ini dan membunuhnya pagi hari. Pada bait ini, terdapat simbol “perempuan jalang” sebagai penggambaran bumi sebagai cerminan kegilaan dan kegelapan yang mewarnai hubungan manusia dengan alam dan spiritualitasnya. Jika ditafsirkan secara keseluruhan pada bait ini, dimulai dari simbol “perempuan jalang”, “laki-laki jantan”, sebagai hubungan antar manusia, lalu “rawa-rawa” menjadi alam yang menggambarkan kehidupan yang gelap, lalu “pertapa” interpretasikan dengan spiritualitas. Puisi ini merupakan sebuah puisi yang menyoroti kehampaan spiritual dan kegelapan yang melingkupi alam dan kehidupan manusia. Penyair menggunakan alam sebagai metafora untuk menggambarkan kehidupan manusia dan kondisi spiritualnya. Pemikiran Ricoeur tentang interpretasi, narasi, mitos, dan pengalaman memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami kompleksitas makna dalam karya sastra ini. Melalui kajian ini, kita dapat menggali pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan manusia dan pencarian akan makna yang terkandung dalam karya sastra. Puisi ini menjadi sebuah jendela yang terbuka lebar bagi pembaca untuk memahami perjalanan manusia dalam mencari makna kehidupan dan eksistensi mereka di dunia ini. DAFTAR PUSTAKA Hardiman,F. B. (2015) SENI MEMAHAMI Hermeneutika dari Scleiermarcher sampai Derrida. Yogyakarta: PT Kanisius.
137 Pradopo, R. D. (1999). Semiotika: teori, metode, dan penerapannya dalam pemaknaan sastra. Humaniora, 11(1), 76-84. Ratmanto, T. (2004). Pesan: Tinjauan Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika. MediaTor (Jurnal Komunikasi),5(1), 29-37.
138 REFLEKSI PERJALANAN HIDUP MANUSIA PADA PUISI “AKU DILAHIRKAN DI SEBUAH PESTA YANG TAK PERNAH SELESAI” KARYA WIJI THUKUL: KAJIAN HERMENEUTIKA RICOEUR Muhammad Ziadatul Khoir (21210141034) Dalam sejarahnya, karya sastra di Indonesia seringkali menjadi refleksi atas fenomena-fenomena yang terjadi dalam dinamika kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut dikemas dalam baluran uraian kalimat demi kalimat yang disusun menjadi sebuah kerangka cerita yang utuh. Tanpa disadari bahwa cerita-cerita yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra mengandung berjuta-juta makna yang dapat diinterpretasikan melalui pendekatan hermeneutika. Hermeneutika adalah cabang filsafat yang berfokus untuk mempelajari metodologi interpretasi teks. Istilah hermeneutika berasal dari dari bahasa Yunani kuno, yakni hermeneuein yang berarti "menerjemahkan" atau "menafsirkan". Suatu teks tidaklah semata-mata uraian kalimat yang berupa data atau fakta yang “dijlentrehkan” begitu saja, teks mengandung sebuah pesan atau makna tersembunyi yang dapat ditelisik lebih dalam dan diinterpretasikan kepada segala hal yang berkaitan dengan teks tersebut. Dalam teorinya, Ricoeur berusaha mempertahankan refleksi sebagai bagian dalam interpretasi. Hal ini karena hermeneutika merupakan upaya untuk menyingkap intensi yang tersembunyi di balik sebuah teks (Hardiman, 2015). Salah satu teks yang mengandung banyak interpretasi makna adalah teks karya sastra. Menurut Ricoeur, sebuah teks terbuka terhadap kegiatan “menjelaskan”. Hubungan antara memahami dan menjelaskan adalah hubungan dialektis (Hardiman, 2015). Oleh karena itu, sebuah karya sastra memerlukan pencarian makna yang tersembunyi di balik manifestasi dari suatu teks atau fenomena dalam sebuah bidang ilmu sehingga hermeneutika dapat dikatakan menjadi interdisiplin ilmu dari bidang ilmu sastra. Paul Ricoeur merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan hermeneutika modern. Ricoeur merupakan seorang filsuf Perancis yang berjasa mengembangkan pendekatan hermeneutik modern secara mendalam dan komprehensif. Ricoeur tidak hanya membahas rekonstruksi makna dalam teks, tetapi juga mencurigai adanya simbol yang
139 menjadi refleksi atas makna yang tersembunyi di dalam sebuah teks tersebut. Bagi Ricoeur, refleksi bukan sekadar alat untuk justifikasi sains atau moral, melainkan sebuah proses yang lebih kaya dan kompleks untuk memahami eksistensi manusia dalam seluruh dimensinya (Hardiman, 2015). Seiring perjalanan berpikirnya, Ricoeur berusaha menguak sebuah pemikiran yang berkaitan dengan adanya simbol pada sebuah teks, yang senantiasa akan membuka jalan pemikiran atas rasionalitas dan realitas yang lebih luas lagi. Salah satunya dapat berupa adanya refleksi yang mencerminkan kritik dalam sebuah teks sastra dan simbol akan memainkan peran yang penting atas lahirnya sebuah pemahaman dari teks tersebut. Simbol dapat dikatakan menjadi awal dari sebuah gerbang pemikiran yang sedemikian kuat untuk membuka gudang makna yang tersimpan di baliknya. Dalam hal ini, simbol dapat menggugah proses berpikir dan melihat perspektif dalam sebuah pemikiran yang lebih kuat dan komprehensif. Simbol memberikan sebuah makna, makna akan menghasilkan berbagai sisi dan objektivitas dari sebuah pemikiran dan memang harus dipikirkan (Indraningsih, 2011). Di samping itu, sudah menjadi kewajiban hermeneutik untuk menginterpretasikan sebuah makna dalam teks demi terciptanya pemahaman yang menyeluruh. Terdapat salah satu tokoh sastrawan besar yang pernah lahir di Indonesia dengan banyak karya-karyanya yang mengangkat tentang isu dan fenomena akbar di tanah air. Karya-karya yang diciptakannya kental dengan nuansa perlawanan atas ketidakadilan bagi rakyat kelas bawah. Beliau adalah Wiji Thukul. Perjuangan, perlawanan, dan keberanian kerap menghiasi puisi-puisi yang diciptakannya. Hal tersebut tentu mengandung banyak simbol dan makna tersembunyi di dalamnya. Sayangnya, simbol-simbol perlawanan tersebut dianggap terlalu agresif oleh pemerintah Indonesia kala itu. Salah satu puisi Wiji Thukul yang terkenal berjudul “Aku dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai”. Puisi ini sedikit berbeda dengan puisi-puisi Wiji Thukul lainnya yang kaya akan unsur perlawanan. Puisi tersebut menggambarkan perjalanan hidup manusia di dunia yang penuh dengan lika-liku hingga kematian datang, serta melukiskan realitas setiap manusia yang senantiasa memiliki permasalahannya masing-masing. Terdapat perasaan haru dan makna yang mendalam pada setiap baris puisinya karena pada dasarnya puisi ini cukup melekat
140 dengan kehidupan manusia yang penuh dinamika. Berikut adalah puisi “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai” karya Wiji Thukul. AKU DILAHIRKAN DI SEBUAH PESTA YANG TAK PERNAH SELESAI aku dilahirkan di sebuah pesta yang tak pernah selesai selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana mereka dapat memandang dan merasakan kesedihan dan kebahagiaan tak ada menjadi miliknya ada potret penuh debu, potret mereka yang pernah hadir dalam pesta itu entah sekarang di mana setelah mati ada yang merindukan kubur bagi angannya sendiri yang melukis waktu sebagai ular ada yang ingin tidur sepanjang hari bangun ketika hari penjemputan tiba agar tidak merasakan menit-menit yang menekan dan berat di sana ada meja penuh kue aneka warna, mereka menawarkannya padaku, kuterima kucicipi semua, enak! itulah sebabnya aku selalu lapar sebab aku hanya punya satu, kemungkinan! Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik puisi aku dilahirkan di sebuah pesta yang tak pernah selesai memiliki interpretasi bahwa tokoh aku ini merupakan penjelmaan sosok manusia biasa yang dilahirkan pada sebuah pesta. Kata ‘pesta’ sendiri dapat menjadi simbol dari dunia semesta
141 dengan segala gemerlap keriuhannya. Layaknya sebuah pesta dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni menjadi simbol menandakan bahwa dunia ini penuh dengan keragaman, ada yang kaya–miskin, tua–muda, perempuan–laki-laki, dan sebagainya. Lampu yang berkedipkedip dalam sebuah pesta menandakan adanya simbol bahwa kehidupan manusia akan selalu berkaitan dengan terang dan redupnya keadaan sehingga manusia dituntut untuk bersyukur atas apa yang sedang terjadi padanya. Seperti yang sudah ditakdirkan pada setiap manusia, kata ‘tak pernah selesai’ pada larik tersebut masih sangat relevan untuk menjadi simbol adanya konsep kelahiran–kematian pada manusia. Setiap harinya selalu terjadi kematian di belahan dunia manapun. Di sisi lain, angka kelahiran seorang bayi masih terus bertambah. Hal ini tentu menggambarkan kenyataan dalam kehidupan, bahwa setiap kepergian akan diiringi oleh pergantian yang terus berulang. Tak pernah selesai.. Dalam puisi tersebut, larik ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana mereka dapat memandang dan merasakan kesedihan dan kebahagiaan tak ada menjadi miliknya mengandung tafsir bahwa setiap manusia yang memiliki hati dan jiwa senantiasa merasakan asmara yang tersemai dalam dirinya–disimbolkan oleh kata ‘bunga putih’. Jatuh cinta kepada seseorang tentu akan membuahkan kebahagiaan yang tak tertandingi, yang perlu dijaga dan dirawat supaya dapat memilikinya hingga akhir hayat. Namun, kelak setiap orang akan mengalami kematian dan cinta yang telah dirawat sedemikian rupa pada akhirnya tidak pernah dimiliki selamanya. Mungkin cinta tersebut masih tersemai, namun sosok yang dicintainya tersebut kelak pergi dipanggil pencipta-Nya. Pada akhirnya, anggapan bahwa asmara itu abadi menjadi sirna–yang disimbolkan oleh kata ‘bunga ungu’. Selanjutnya, pada larik ada yang merindukan kubur bagi angannya sendiri yang melukis waktu sebagai ular mengandung makna layaknya seseorang yang menginginkan kematian karena merasa bahwa hidupnya penuh ketertindasan dan ketidakadilan. Kata ‘ular’ pada larik tersebut menjadi simbol negatif karena seekor ular memiliki kemampuan untuk melilit mangsa. Hal ini sama persis dengan seseorang yang hidupnya penuh dengan kesengsaraan sehingga memandang waktu layaknya lilitan seekor ular. Larik di sana ada meja penuh kue aneka warna, mereka menawarkannya padaku, kuterima kucicipi semua, enak! itulah sebabnya aku selalu lapar, sebab aku hanya punya
142 satu, kemungkinan! mengandung makna yang mendalam. Dalam perjalanan hidup, manusia senantiasa mencoba untuk melakukan hal-hal baru. Kadang hal-hal tersebut dapat menjerumuskan ke dalam hal negatif. Namun, hal negatif itulah yang biasanya mengandung banyak kesenangan semu–layaknya aneka kue di atas meja–sehingga manusia lupa bahwa ia memiliki tanggung jawab kelak di akhirat. Kata ‘lapar’ pada larik tersebut dapat diinterpretasikan menjadi sebuah perasaan menggebu-gebu untuk mendapatkan halhal yang membuat kepuasan tersendiri. Adakalanya manusia perlu untuk mengejar hal-hal dunia agar dapat mencapai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Manusia memiliki segala kemungkinan di dunia untuk mendapatkan apa yang dituju sebagai perayaan atas rasa lapar yang mendidih, karena pada dasarnya manusia dapat menjadi apa saja sesuai yang mereka inginkan, tanpa mengetahui hal itu baik atau buruk. Uraian sebelumnya juga berkaitan pada larik terakhir dalam puisi ini. Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik tersebut memberikan makna bahwa manusia senantiasa kelak mengalami kesalahan dengan melanggar perintah Sang Pencipta. Di samping itu, manusia kelak juga menyadari akan kesalahan yang diperbuat akibat terlena oleh keindahan Tuhan yang hanya bersifat semata-mata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebuah teks karya sastra dapat menjadi refleksi atas segala makna dan simbol dalam kehidupan, tentu menggunakan ilmu hermeneutika sebagai kendaraan untuk menginterpretasikan dan mengembangkan pemahaman yang sedemikian luas. Puisi “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai” karya Wiji Thukul dapat menjadi refleksi atas kehadiran simbol dan makna yang memberikan segala pemahaman filosofis tentang perjalanan hidup manusia. Puisi ini dapat menjadi pengingat bahwa segala sesuatu yang ada di dunia hanya bersifat sementara, sebagai manusia hendaknya tidak boleh terlena atas kesenangan semu dan senantiasa bertanggung jawab atas segala perilaku kepada pencipta-Nya. DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Penerbit PT Kanisius.
143 Indraningsih. (2011). Hermeneutika Paul Ricoeur dan Penerapannya pada Pemaknaan Simbol Dalam Roman “Rafilus” Karya Budi Darma. Jurnal Filsafat, Vol.21, No.2. Thukul, W. (2014). Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai. Jendela Sastra. Diakses melalui https://www.jendelasastra.com/dapur-sastra/dapur-jendelasastra/lain-lain/puisi-puisi-wiji-thukul pada tanggal 8 Juni 2024.
144 Hermeneutik Paul Ricoeur: Memahami dan Merenungkan Melalui Puisi Sungai Timur Mars (2022) Astri Hanifa (21210141037) Esai ini membahas tentang analisis makna berdasarkan perspektif hermeneutik Paul Ricoeur. Analisis makna terhadap genre teks sastra dengan menggunakan perspektif hermeneutik Ricoeur. Dalam analisis ini, dibantu dengan metodologi pengkajian hermeneutik yang berupa piramida terbalik. Piramida terbalik tersebut dari dasar terdiri dari seni/objek, objektivasi struktur, simbolisasi, seniman dan aspek referensial, disiplin ilmu lain yang relevan, serta akhirnya makna yang merupakan puncak analisis/hasil dari analisis makna yang dimaksud (Saidi, 2008: 378-379). Genre teks sastra yang digunakan adalah puisi yang bertajuk Sungai Timur Mars (2022) karya Astri Hanifa. Mula-mula, mari mengenal Paul Ricoeur. Ia dikenal sebagai filsuf sekaligus sejarawan dari Prancis, bernama lengkap Jean Paul Gustave Ricoeur. Ia lahir di Valence, Prancis pada 27 Februari 1913 dan meninggal pada 20 Mei 2005 di Châtenay-Malabry, Prancis (Britannica, 2024). Hermeneutik Ricoeur, perspektif hermeneutik Ricoeur dikenal dengan konsep memahami persoalan makna dan simbol kehidupan yang kemudian direnungkan/direfleksikan (Hardiman, 2015: 269-270). Tugas hermeneutika dalam pandangannya ialah upaya menafsirkan makna dan pesan seobjektif mungkin, sesuai dengan jalannya teks. Teks di sini, dapat dipahami sebagai hal yang tidak terbatas pada fakta otonom yang tertulis/terlukis (visual), penulis, dan berbagai hal lain yang menyangkut dirinya, melainkan juga selalu berkaitan dengan konteks. Di dalam konteks itu, tiga hal tersebut (teks, penulis, dan berbagai hal yang berkaitan dengannya) turut serta merunutkan keutuhan pemaknaan (Saidi, 2008: 377). Analisis makna dengan piramida terbalik puisi Sungai Timur Mars (2022). Mulamula puisi disini posisinya sebagai seni/objek sekaligus subjek yang otonom dan merupakan fakta ontologis (Rohidi, 2006 via Saidi, 2008: 378). Selanjutnya, puisi sebagai fakta ontologi dipahami dengan cara mengobjektivasi strukturnya. Mula-mula tentang diksi puisi Sungai Timur Mars (2022), diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras