145 (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu sebagaimana yang diharapkan (KBBI, 2024). Pemilihan kata dalam puisi bermaksud menghadirkan suasana hati (mood), menghimbau tanggapan pembaca, dan menyampaikan gagasan (pesan) tersirat. Diksi dalam puisi tersebut bermaksud menghadirkan suasana hati yang sedih, mengundang tanggapan pembaca dengan perasaan sedih dan kebingungan yang bercampuraduk, serta menyampaikan gagasan tersirat bahwa benar adanya gundah gulana dan kehilangan arah yang selalu datang di setiap akhir momen hingga alam mengingatkan bahwa ada tempat untuk pulang sejenak. Selanjutnya, pada analisis objektivasi atas kefiguratifan bahasa. Bahasa figuratif dalam puisi ini melibatkan jenis bahasa figuratif simile. Simile diartikan sebagai majas pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa, dinyatakan secara eksplisit dengan kata-kata seperti, bagai, laksana, adakalanya bermorfem se-, dan lain sebagainya (KBBI, 2024). Bahasa figuratif simile terdapat pada baris puisi “Jangkung, hitam, seperti kabut, terlihat selayaknya manusia”. Selanjutnya, analisis objektivasi atas citraan (imagery), yang mana citraan diartikan sebagai cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat; merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi (KBBI, 2024). Citraan bagi pengarang di sini bertujuan untuk menyampaikan pengalaman indera dan akhirnya mampu membangun komunikasi estetik dengan pembacanya. Sumber citraan dari pengarang di sini adalah mimpi. Citraan yang disajikan oleh pengarang di antarnya terdapat citra visual, pada baris “Aku jumpa orang mendorong kereta tanpa awak”; citra termal (rabaan), pada baris “Desir halus, menyuruhku untuk membantunya”; dan citra kinestetik (sesuatu tampak bergerak) “Demikian, kereta tanpa awak dan berkarat ini maju”. Analisis makna simbolisasi yang berkaitan dengan pengarang, aspek referensial pengarang, dan disiplin ilmu lain yang relevan dengan pengarang sehingga mampu menciptakan puisi Sungai Timur Mars (2022). Puisi ini memiliki simbolisasi atas momenmomen yang mana pengarang sedang dalam meragukan keeksistensiannya di kehidupan realitanya, pengarang dalam hal ini memaknainya dengan positif bahwa ‘momen ini
146 perlahan akan muncul di kehidupannya’ dan merasa bukan hal yang perlu ‘dikeluarkan’ ke dalam realita. Namun, karena ditahan secara batin, hal ini kemudian terungkap/tersalurkan dalam bentuk mimpi yang kemudian menjadi aspek referensial pengarang dalam menciptakan puisi Sungai Timur Mars (2022). Disiplin ilmu lain yang relevan dengan hal ini adalah psikologi, pada teori psikoanalisis Freud dikenal tentang konsep personalitas yang terdiri atas kesadaran, prakesadaran, dan alam bawah sadar. Menurutnya, pikiran bawah sadar sulit diakses, demikian hal-hal yang sebenarnya ditahan oleh batin kita, secara perlahan alam bawah sadar akhirnya merespons. Respons tersebut diluar kehendak manusia itu sendiri terutama-ia tidak bisa mengendalikannya, dan bentuk umumnya berupa mimpi dan slip tongue (kondisi ketidaksengajaan dalam mengatakan suatu hal). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, benar adanya hermeneutik Ricoeur dapat dinyatakan sebagai alat untuk memahami persoalan makna dan simbol kehidupan dengan cara merenungkannya/merefleksikannya, dibantu dengan piramida terbalik yang memuat metodologi pengkajian hermeneutiknya. Piramida terbalik tersebut terdiri dari seni/objek, dalam hal ini puisi; objektivasi struktur, dalam hal ini diksi, kefiguratifan bahasa (simile), dan citraan (citra visual, termal, dan kinestetik); simbolisasi; seniman dan aspek referensial (mimpi); disiplin ilmu lain yang relevan (psikologi: psikoanalisis Freud), serta akhirnya makna yang merupakan puncak analisis/hasil dari analisis makna yang dimaksud, yaitu tentang permasalahan yang umumnya terjadi di dalam kehidupan manusia tentang keraguan atas eksistensinya. Sumber: Britannica, The Editors of Encyclopedia. "Paul Ricoeur". Encyclopedia Britannica, 16 May. 2024, https://www.britannica.com/biography/Paul-Ricoeur. Hanifa, Astri. (2022). Sungai Timur Mars. Diakses dari https://drive.google.com/file/d/1pcUWKZ2eAP_zsrpyUp3o9YU9nF6XE7hj/view?us p=sharing. Hardiman, F. Budi. 2015. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. PT Kanisius. Hasil pencarian - KBBI VI daring. (n.d.). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/diksi.
147 Hasil pencarian - KBBI VI daring. (n.d.). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/simile. Hasil pencarian - KBBI VI daring. (n.d.). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/citraan. Materi perkuliahan Pengantar Psikologi. (2023). Psikoanalisis. Diakses dari https://drive.google.com/file/d/1MDYTWtJqbDOM6IlzV7Wo3HcwJqzjFD07/view? usp=sharing. Materi perkuliahan Puisi. (2022). Diksi, Citraan, dan Bahasa Kias. Diakses dari https://drive.google.com/drive/folders/1dKcpetCkbQaqnliSQ_9Yy2OG5Z3f97Vt?usp =sharing. Saidi, Acep Iwan. (2008). Hermeneutika, Sebuah Cara untuk Memahami Teks. Sosioteknologi. Vol. 7, No. 13, pp. 76-382. Diunduh dari https://www.neliti.com/id/publications/41529/hermeneutika-sebuah-cara-untukmemahami-teks.
148 Memahami Sajak Nuansa Sang Tugu Dalam Buku Doea Roeang Karya Januar Adam Prasetiya Dengan Pendekatan Hermeneutika Shinta Nuha Mathovany (21210141039) Karya sastra menjadi salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari penulis kepada pembaca. Setiap makna yang terkandung didalam sebuah teks sastra harus dapat dipahami oleh penulis maupun pembaca. Dengan memahami makna teks baik itu makna dari maksud penulis, ataupun makna berdasarkan hasil interpretasi atau pandangannya sendiri, akan memberikan pengaruh terhadap yang membaca, mendengar, atau melihatnya. Proses pemahaman tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teori hermeneutika. Hermeneutika merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Banyak ahli yang berpendapat untuk mengemukakan atau menememukan teori hermeneutika untuk memahami sesuatu hal. Seperti halnya Scheiermacher, Dilthey, Heidegger, Habermas, Ricoeur, dll. Dalam esai ini, pembahasan akan lebih berfokus pada teori Ricoeur dan hermeneutik simbol dalam memahami sebagai merenungkan. Teori tersebut akan digunakan untuk memahami sajak Nuansa Sang Tugu dalam buku Doea Roeang karya Januar Adam Prasetya. Paul Ricoeur membangun jembatan untuk menghubungkan kesamaan dengan yang lain, sebagai bukti kepiawaiannya dalam hermeneutik. Ia berusaha menghubungkannya dengan makna hidup. Ricoeur mempertahankan refleksi untuk interpretasi, sehingga hermeneutiknya merupakan upaya untuk menyingkap intensi yang tersembunyi dibalik teks. Sasaran hermeneutiknya yaitu pada teks-teks sakral dan simbolisme mitos-mitos. Lingkaran hermeneutic Ricoeur terdiri atas dua hal, yaitu percaya supaya memahami berarti bahwa iman merupakan presuposisi pemahaman, dan memahami supaya percaya berarti intepretasi membantu orang beriman untuk memahami atau orang modern untuk beriman (Hadirman, 2015: 236-248). Hermeneutika Ricoeur bertujuan untuk menyingkap intensi tersembunyi dibalik simbol-simbol. Ia membiarkan isi pesan mitos itu menimbulkan pemikirannya. Terdapat empat tipe golongan mitos, yaitu mitos penciptaan, mitos visi “tragis” eksistensi, mitos
149 kejatuhan manusia, dan mitos yang terbuang. Hermeneutik membiarkan mitos-mitos tersebut berbicara dan menyampaikan kepada orang-orang masa kini (Hadirman, 2015: 248-259). Distansi memungkinkan pembaca dalam menafsirkan teks sesuai dengan pandangannya, tanpa harus menyesuaikan maksud penulisnya. Pemahaman teks juga memerlukan penjelasan untuk menghasilkan pemahaman kritis. Hermeneutik Ricoeur menempatkan “memahami” dan “menjelaskan”, distansi teks dan partisipasi teks dalam hubungan dialektis, sehingga hermeneutik bertujuan untuk merekonstruksi dan mencurigai makna dalam kritik ideologi ((Hadirman, 2015: 259-263). Proses penafsiran menurut Paul Ricoeur (Saidi, 2008: 378-379) sebagai berikut. 1. Teks ditempatkan sebagai objek yang diteliti dan sebagai pusat otonom. 2. Teks dipahami dengan mengobjektivasi strukturnya. 3. Lapis simbolisasi. 4. Penafsiran kode-kode simbolik. 5. Mengaitkan kode-kode simbolik tersebut dengan hal-hal lain diluarnya. 6. Pemaknaan teks. Berikut sajak Nuansa Sang Tugu karya Januar Adam Prasetiya pada bukunya yang berjudul Doea Roeang yang akan dibahas menggunakan pendekatan hermeneutik Paul Ricoeur. Hirukpikuk kendaraan. Lalulalang aktivis. Para pekerja pulang membawa rejeki yang terang. Langit memerah di barat sana. Kita (pernah) memiliki impian yang sama. Menikmati Tugu Pal Putih di kala senja. (Prasetiya, 2020: 38). Pada bait tersebut menunjukkan bahwa keramaian digambarkan melalui “hirukpikuk kendaraan” dan “lalulalang aktivis”. Diksi yang digunakan pada kalimat tersebut menggunakan pancaindera pengelihatan untuk memberikan kesan yang dapat dirasakan oleh pembaca. Lalu pemilihan diksi warna dan cahaya sebagai simbol untuk menggambarkan suasana, seperti pada kata “terang”, “memerah”, dan “senja.” Lalu terdapat kata dalam tanda kurung pada kalimat tersebut, “(pernah)” hal itu digunakan untuk
150 memperjelas kalimat tersebut. Bait pertama tersebut menggambarkan tentang sebuah kenangan di sebuah tempat, Tugu Pal Putih menjadi sebuah simbol. Kala itu kita turuti mitos foto di Tugu. Ia akan membawa kenangan dan menghadirkan rindu. Kala itu mungkin Sang Tugu jeli siapa yang sedang menghampiri. Mungkin ia juga tahu apakah engkau terus singgah dengan ikhlas atau sebentar kandas. (Prasetiya, 2020: 38). Pada bait tersebut, membawa sebuah mitos mengenai Tugu. Mitos foto di Tugu dianggap dapat membawa kenangan dan menghadirkan kembali rasa rindu. Hal tersebut juga memberikan simbol atau ciri khas mengenai kota Jogja yang sering meninggalkan banyak kenangan. Pemilihan diksi “singgah dengan ikhlas atau sebentar kandas” bermaksud untuk menunjukkan adanya dilema yang sedang dirasakan. Bait tersebut menunjukkan adanya perasaan rindu pada kenangan-kenangan yang pernah dilaluinya. Sehingga kita juga bisa tahu bahwa sebuah kenangan tetap saja hanya menyisakan perasaan yang tertinggal dan kerinduan yang lebih besar. Tugu itu adalah saksi dua hati yang memiliki jarak terbatas. Terima kasih untukmu wahai perempuan yang telah mengucapkan janji dan mengingkarinya sendiri. Engkau Tugu yang selalu cantik dan menarik. Engkau Tugu yang selalu dirindukan. Namun engkau, Nona. Perempuan yang layak untuk ditinggalkan. Pada bait pertama sajak tersebut “Tugu” dijadikan sebagai sebuah simbol. Segala hal yang terjadi akan selalu meninggalkan kenangannya. Pada kalimat “perempuan yang telah mengucapkan janji dan mengingkarinya sendiri” menunjukkan adanya rasa kecewa pada seseorang. Hal tersebut seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari, begitu mudah membuat janji, tetapi sangat sulit untuk melakukannya, sehingga berujung mengingkari. Pada beberapa kalimat, “Tugu” juga dijadikan sebagai simbol untuk menggambarkan seseorang. Bait tersebut menunjukkan adanya rasa kecewa pada seseorang. Setiap kalimatnya dapat terlihat dan terasa seberapa besar perasaan kecewa tersebut. Tidak semua hal bisa sesuai dengan apa yang diharapkan, terkadang kekecewaan juga ikut andil didalamnya. Sajak Nuansa Sang Tugu dalam buku Doea Roeang karya Januar Adam Prasetiya tersebut dapat dipahami menggunakan hermeneutika. Sehingga dapat terlihat berbagai
151 simbol-simbol didalamnya yang digunakan untuk menggambarkan suasana, situasi, ataupun perasaan. Sajak tersebut berisi tentang kenangan, perasaan rindu, dan rasa kecewa yang begitu mendalam. Daftar Pustaka Dewi, Dina, dkk. (2022). Pemaknaan Dalam Puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” Karya Rustam Effendi Dengan Menggunakan Pendekatan Hermeneutika. Journal of Social Humanities and Education. Vol 1 No 3. https://journalstiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept/article/view/67/65 Hardiman, Budi. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Penerbit PT Kanisius. Prasetiya, Januar. (2020). Doea Roeang. Ziqron Studio.
152 MAKNA SIMBOL DAN KRITIK SOSIAL DALAM PUISI “KARANGAN BUNGA” KARYA TAUFIK ISMAIL (PENDEKATAN PAUL RICOEUR) Shanty Dwi Rachmawati (21210141045) Perasaan, ide, gagasan, dan emosi dapat disampaikan oleh setiap individu melalui berbagai bentuk, salah satunya melalui karya puisi. Puisi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan beberapa genre sastra lainnya. Puisi dibuat dengan menggunakan bahasa yang tinggi agar bisa merepresentasikan beragam makna yang terkandung di dalamnya. Puisi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan, kritik, dan perasaan penulis. Puisi dibentuk dari berbagai unsur yang saling berhubungan dan dapat memanifestasikan suatu makna untuk disampaikan kepada pihak tertentu, baik individu, kelompok, maupun masyarakat secara umum (Wahyuni, 2017). Salah satu fungsi dari puisi adalah sebagai representasi gagasan penyair dalam menyampaikan kebenaran dan nilai kebajikan kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut kemudian dikemas dalam bentuk karya sastra yang indah melalui puisi. Ganie (2015) menyatakan bahwa salah satu fungsi puisi adalah menyampaikan nilai moral dan sosial yang dapat memengaruhi pembacanya untuk memahami konsep tertentu. Contohnya, dalam situasi sosial dan politik di mana perebutan kekuasaan dianggap sebagai hal yang tak terhindarkan, puisi Taufik Ismail yang berjudul "Karangaan Bunga" berupaya menyampaikan kritik sosial kepada masyarakat terkait bagaimana pergolakan yang terjadi di akhir masa pemerintahan Soekarno. Puisi karya Taufik Ismail bukan hanya hasil dari imajinasi, ide, atau gagasan yang mengandung kata-kata indah, tetapi juga menggambarkan fenomena realitas sosial. Dari puisi "Karangan Bunga" karya Taufik Ismail dapat dianalisis melalui aspek kritik sosial yang terkandung di dalamnya. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah hermeneutika Paul Ricoeur. Paul Ricoeur (1981) berpendapat bahwa hermeneutika adalah metode yang berhubungan dengan aturan penafsiran teks atau kumpulan tanda dan simbol. Pemahaman yang mendalam mengenai teks sebenarnya dapat dicapai melalui metode penafsiran. Hermeneutika bertujuan untuk menemukan makna yang ada dalam teks
153 dan simbol dengan cara terus menerus dengan menggali makna-makna tersembunyi atau yang belum diketahui dalam suatu teks. Ricoeur memperkenalkan konsep interpretasi dalam pendekatan hermeneutika. Makna Simbol Karangan Bunga dan Pita Hitam dalam Puisi yang Berjudul “Karangan Bunga” Karya Taufik Ismail Simbol karangan bunga dalam puisi yang berjudul “Karangan Bunga” menggambarkan perjuangan dan pengorbanan seorang mahasiswa yang bersedia mengorbankan nyawanya demi memperjuangkan hak-hak rakyat. Mahasiswa melakukan aksi demonstrasi dan memboikot pelantikan menteri-menteri baru. Dalam aksi tersebut, terjadi penembakan yang mengakibatkan seorang mahasiswa meninggal oleh pasukan Resimen Tjakrabirawa. Hal ini dapat terlihat dari penggalan berikut: Tiga anak kecil Dalam langkah malu-malu Datang ke Salemba Sore itu Pada bait pertama “Tiga anak kecil” memiliki makna simbol yang berbeda dari pengertiannya secara harfiah. Tiga anak kecil menggambarkan Tritura yang diserukan oleh rakyat. “Dalam langkah malu-malu” melambangkan rakyat Indonesia yang terlalu lama tunduk pada masa pemerintahan Soekarno. “Datang ke Salemba Sore Itu” berarti Salemba adalah simbol perjuangan rakyat Indonesia, yang mana pada masa itu Salemba menjadi markas organisasi KAMI dan juga tempat dimakamkannya jenazah Arif Rahman Hakim. Ini dari kami bertiga Pita hitam pada karangan bunga Sebab kami ikut berduka Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi! Pada bait kedua ini lebih bersifat asosiatif, mampu membangkitkan pikiran dan perasaan pembaca. “Pita hitam pada karangan bunga” melambangkan suasana atau perasaan duka yang ada. Penggunaan kata “Pita hitam” dalam puisi tersebut dipilih karena warna hitam melambangkan kesedihan, kehilangan, dan kepedihan.
154 Kritik Sosial dalam Puisi “Karangan Bunga” Karya Taufik Ismail Taufik Ismail dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah dalam puisinya yang berjudul "Karangan Bunga". Kritik ini ditujukan pada kelalaian dan sikap yang kurang tegas dalam menangani masalah-masalah sosial di Indonesia pada masa itu. Kritik tersebut dapat ditemukan dalam bait: Tiga anak kecil Dalam langkah malu-malu Datang ke Salemba Sore itu Dalam puisi "Karangan Bunga" Taufik Ismail menyampaikan kritik sosial yang mencerminkan situasi Indonesia pada masa itu, di mana negara sedang menghadapi krisis politik dan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Puisi ini berfungsi sebagai sindiran terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya ketika terjadi konfrontasi yang menimbulkan ketimpangan sosial dan kerusakan moral. Kritik ini juga ditujukan kepada aparat keamanan, di masa itu, aparat keamanan menembak salah satu mahasiswa yang sedang melakukan aksi demonstrasi dan menyebabkan mahasiswa tersebut tewas. Pada lirik: Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi! Dalam lirik puisi tersebut, secara garis besar diceritakan bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh PKI membuat rakyat memohon kepada pemerintah untuk segera membubarkan PKI beserta organisasi-organisasinya. Taufik Ismail menggambarkan bahwa dalam konteks puisi tersebut, kata "kakak" merujuk pada mahasiswa yang merupakan bagian dari organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), yang bernama Arif Rahman Hakim. Mahasiswa ini ditembak oleh pasukan pengawal khusus Presiden, yaitu Resimen Cakrabirawa, dalam aksi demonstrasi yang menuntut penghapusan Tritura. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa makna simbol dan kritik sosial dalam puisi “Karangan Bunga” karya Taufik Ismail digambarkan sebagai 1) Puisi yang menjadi sejarah perjuangan para pahlawan; 2) Cerminan situasi negara Indonesia pada masa itu. Kritik sosial dalam puisi “Karangan Bunga” karyaTaufik Ismail, yaitu 1) Pemberontakan
155 yang dilakukan oleh PKI sehingga menimbulkan ketimpangan sosial dan kerusakan moral; 2) Banyaknya orang yang saling berebut kuasa. Daftar Pustaka Ricoeur, Paul. 1981. Hermeneutics & The Human Sciences. New York. The Press Syndicate of The University of Cambridge Wahyuni, L. (2017). Pembentukan Citra Diri dalam Puisi Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana Karya KH. A. Mustofa Bisri. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2(2), 187-194
156 PEMAKNAAN DALAM PUISI “AKU” KARYA CHAIRIL ANWAR MELALUI PENDEKATAN HERMENEUTIKA Faza Rizqi Baraka (21210141059) Karya sastra merupakan sebuah bentuk karya yang imjinatif. Umumnya karya sastra terdiri dari prosa, puisi, dan drama, ketiga jenis tersebut mempunyai bentuk yang berbeda. Puisi sendiri menurut (H.B Jassin,) mendefinisikan bahwa puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian tertentu. Berbeda dengan cerpen atau cerita pendek menurut Suroto (Saipul Rahmah, 2020) cerpen adalah karya sastra yang dituangkan dalam bentuk cerita rekaan yang singkat. Sedangkan novel sendiri (Prawiro, 2018) merupakan suatu karya sastra berbentuk prosa naratif yang panjang, dimana di dalamnya terdapat rangkaian cerita tentang kehidupan seorang tokoh dan orang-orang di sekitarnya. Puisi merupakan sebuah luapan ekspresi dari sebuah emosional jiwa. Puisi biasanya terwujud stanza (paragraf) dan cantos (chapter) yang didalamnya terdapat macam-macam struktur variasi seperti rhyme, metter, imagery, allegory, figurative, language dan lain sebagainya. Dari keragaman itu puisi dikenal dengan kata defamiliarization atau ketidak biasaan dalam penggunaan struktur kalimat yang biasa digunakan sehari-hari. Puisi dikatakan sebagai karya sastra yang paling unik karena tercipta dari kontemplasi terdalam penyairnya. Akan tetapi, dalam memahami maknanya, kita mesti mengkaitkan puisi dengan riwayat pengarang serta kondisi yang menjadi konteks penciptaan karya. Selain itu puisi juga biasanya tanda-tanda yang dapat ditafsirkan sendiri oleh pembacanya. Ricoeur memahami teks sebagai sebuah diskursus yang ditulis, dan simbol sebagai struktur penandaan yang langsung merujuk pada makna lain yang tidak langsung. Dalam pandangannya, teks dan simbol memiliki makna yang kompleks dan memerlukan interpretasi yang lebih dalam untuk dipahami. Puisi "Aku" karya Chairil Anwar adalah sebuah karya sastra yang berisi makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tema, diksi, nada, suasana, majas, dan amanat. Puisi ini menceritakan tentang perjuangan seseorang yang berjuang melawan hambatan dan
157 kesakitan, serta memiliki keyakinan hati atas pilihannya dan kesetiaan dalam berjuang. Berikut adalah puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Aku”: Aku Oleh : Chairil Anwar Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Akan tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih baik tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Dalam puisi Aku karya Chairil Anwar gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa kiasan menjadikan puisi bersifat prismatik, artinya memancarkan banyak makna atau menjadi kaya makna. Gaya bahasa disebut juga idiom. Kata-kata yang digunakan dalam puisi tersebut mempunyai konotasi. Artinya, kata-kata bisa mempunyai makna ganda. Pada bait puisi “Aku ini binatang jalang”, menunjukkan adanya gaya bahasa simbolik yang menggambarkan suatu hal tertentu dengan menggunakan simbol atau tanda untuk mengungkapkan makna. Kalimat ini memperjelas bahwa pengarang sendiri seolah-olah sudah menjadi ukuran masyarakat pada masanya. Namun jika bait ini digabungkan dengan bait berikutnya “Dari kumpulannya terbuang”, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
158 majas fable. Yang menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. “Biar peluru menembus kulitku” terdengar ungkapan yang memang sudah tidak asing lagi untuk diperdengarkan. Maka gaya bahasa yang tertorehkan pada bait tersebut adalah majas alusio. Yang dimana majas ini menyatakan bahwa pemakaian ungkapan pada “Menembus kulitku” yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Demikian juga pada bait “Aku tetap meradang menerjang “ istilah ini menggunakan majas sinestesia. Yang menyatakan berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya dengan cara merelakan rasa sakitnya dengan pasrah. Pada bagian terakhir dapat dilihat bagaimana penggunaan majas pada bait puisi tersebut. Gaya bahasa yang digunakan dalam bait “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” adalah majas alegori. Yang mana majas ini menyatakan dengan cara lain, kiasan, dan penggambaran tentang sesuatu. Istilah “Aku igin hidup seribu tahun lagi” menyatakan bahwa penulis ingin merasakan kehidupan yang lebih lama lagi dari sisa masa hidupnya sekarang. “Tak perlu sedu sedan itu“ dalam bait puisi tersebut, dikatakan bahwa unsure majas yang terkandung di dalamnya adalah majas hiperbola. Yang mana hiperbola itu suatu majas yang bisa disebut juga sebagai ungkapan pengeras. Bahasa ini menggantikan kata sederhana menjadi luar biasa kedengarannya. Selanjutnya terdapat pada kalimat “Hingga hilang pedih perih”. Majas yang terkandung dalam bait puisi tersebut adalah majas simbolik. Dengan membandingkan benda yang sesungguhnya dengan benda lain sebagai lambang sifatnya sebagai maksud. Kata “Pedih” yang berarti melambangkan mata sebagai tujuan maksud dari bait tersebut, dan kata “Perih” yang berarti melambangkan indra peraba. Perih dilambangkan sebagai lambang perasaan seseorang ketika menggunakan indra perabanya.
159 Hermeneutika Dilthey dalam Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar Shintya Paramita (21210144001) Karya sastra merupakan hasil dari pemikiran dan perasaan yang dituangkan melalui bahasa. Pengalaman seseorang mempengaruhi isi dan makna dari karya sastra yang diciptakannya.Karya sastra sering kali terinspirasi dari peristiwa yang dialami oleh penulisnya sendiri (Farah, 2019). Perkembangan sastra di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan bangsa, seperti sejarah, politik, sosial, dan budaya. Chairil Anwar adalah salah satu penulis berpengaruh yang karyanya terus menginspirasi pembaca hingga saat ini dan di masa depan. Salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Aku”. Puisi "Aku" karya Chairil Anwar merupakan simbol semangat dan individualisme. Karya ini terus menginspirasi banyak orang untuk berani melawan, berjuang, dan mempertahankan jati diri mereka.. Untuk mengetahui makna dari puisi tersebut, maka kita akan menggunakan teori hermeneutika Wilhelm Dilthey. Hal ini dikarenakan hermeneutika Dilthey sangat terkenal dengan riset historisnya, sehingga makna dari puisi tersebut dapat dipahami berdasarkan aspek historis. Formula hermeneutika Dilthey terdiri dari tiga poin yaitu pengalaman (erlebniz), ekspresi (ausdruck) dan pemahaman (verstehen). Pengalaman (erlebniz) yaitu Pengalaman (erlebniz) diartikan sebagai pengalaman yang hidup yaitu pengalaman-pengalaman yang penuh makna dan meninggalkan kesan dalam kehidupan seseorang. Pengalaman yang hidup tidak statis, ia senantiasa berhubungan dengan masa lalu dan menggapai masa depan. Pengalaman yang bermakna berhubungan dengan keseluruhan hidup seseorang. Sumaryono (1993) menjelaskan Ekspresi (ausdruck) yaitu gagasan-gagasan dari jiwa pengarang, bukan ekspresi sebuah perasaan sebagaimana yang dipahami secara umum. Ausdruck bisa dikatakan sebagai objektifikasi atas pemikiran yang mencakup pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia. Pentingnya objektivitas dalam hermeneutika yaitu karena
160 pemahaman memfokuskan dirinya pada hal-hal yang sudah difiksasi untuk menghindari introspeksi. Pemahaman (verstehen) yaitu suatu cara untuk mengetahui kondisi batiniah seseorang melalui pengalaman dan ekspresi-ekspresi yang diungkapkan oleh seseorang tersebut. hal ini telah dijelaskan oleh Dilthey melalui konsep erlebniz, ausdruck dan verstehen. 1. Konsep Erlebniz Erlebniz memiliki arti pengalaman yang hidup yaitu pengalaman-pengalaman yang penuh makna dan meninggalkan kesan dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini, terdapat dua konsep pengalaman yang terkait dengan puisi “Aku” karya Chairil Anwar yaitu: a. Pengalaman hidup Sejak usia dini, Chairil mengalami perceraian orang tuanya yang tentu meninggalkan dampak emosional. Ini mungkin menjadi pengaruh individualisme dan pencarian jati diri yang kerap muncul dalam puisinya. Perpindahan ke Jakarta pada masa remaja membawa Chairil ke lingkungan yang baru dan asing. Ini mungkin turut memicu pencarian identitas dan pemberontakan terhadap norma-norma yang ada. Masa penjajahan Jepang menjadi latar belakang sosial yang kelam. Namun, disisi lain, semangat perlawanan dan pencarian kebebasan mungkin turut mempengaruhi semangat dan daya juangnya dalam berpuisi. Sekitar tahun 1942, Chairil mulai menulis puisi dan terlibat dengan komunitas sastra di Jakarta. Gaya puisinya yang lugas, berani, dan penuh semangat individualisme segera mendapat perhatian. Di masa penjajahan Jepang, sensor terhadap karya sastra cukup ketat. Namun, Chairil bersama para sastrawan lainnya terus berupaya mengekspresikan diri dengan bebas. Perjuangan ini mungkin turut membentuk sikap pemberontakan dan penolakan terhadap aturan yang kaku dalam puisinya. Chairil meninggal dunia karena penyakit TBC pada usia 27 tahun. Meskipun sudah meninggal, karya-karyanya seperti "Aku," "Kerawang," dan "Diponegoro" meninggalkan jejak penting dalam sejarah sastra Indonesia (Jassin, 1983). b. Latar Belakang terciptanya Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar diterbitkan pada tahun 1943. Bertepatan pada masa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945) yang menjadi periode yang kelam dan penuh
161 penindasan. Kondisi ini kemungkinan mendorong Chairil untuk menulis puisi yang mengekspresikan semangat perlawanan dan keinginan untuk merdeka. Selain itu, di masa penjajahan Jepang sastrawan mengalami pembatasan dalam berkarya. Chairil bersama para sastrawan lainnya berjuang melawan sensor dan mengekspresikan diri dengan bebas. Semangat ini mungkin tercermin dalam puisi "Aku" yang berani menentang aturan dan norma (Sutjianingsih, 2014) 2. Konsep Ausdruck Ausdruck adalah ekspresi yang membuka jalan menuju pemahaman. Ausdruck dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; pertama, ekspresi yang tetap dan selalu identik dengan kaitan manapun. Kedua, ekspresi yang dituangkan dalam bentuk bahasa. Ketiga, adalah ekspresi jiwa secara spontan. Untuk menganalisis ekspresi bentuk pertama dalam sebuah puisi adalah melalui diksi dan bahasa kiasan. Sedangkan bentuk yang kedua adalah subjek Aku mengungkapkan perasaannya melalui bahasa. a. Metafora Aku ini binatang jalang Metafora ini membandingkan penyair dengan binatang jalang yang bebas dan liar. Hal ini menunjukkan semangat individualisme dan pemberontakan penyair terhadap norma dan aturan yang ada. Luka dan bisa kubawa berlati Metafora ini menunjukkan bahwa penyair telah mengalami banyak luka dan rintangan dalam hidupnya. Namun, ia tetap teguh dan tidak menyerah b. Hiperbola meradang menerjang Hiperbola ini menggambarkan semangat dan tekad penyair yang sangat kuat. Ia tidak pernah berhenti berjuang untuk mencapai tujuannya. Tak perlu sedu sedan itu Hiperbola ini menggambarkan bahaya dan kekerasan yang dihadapi penyair. Hal ini menunjukkan bahwa ia hidup di masa yang penuh gejolak dan penuh rintangan. c. Tautologi
162 Aku ini Pengulangan kata "aku" ini menunjukkan penekanan pada jati diri dan individualisme penyair. Luka dan bisa Pengulangan kata "luka" menunjukkan bahwa penyair telah mengalami banyak luka dan rintangan. Kata "bisa" menunjukkan bahwa luka tersebut telah menjadi bagian dari dirinya dan membuatnya semakin kuat. Penggunaan gaya bahasa kiasan yang tepat dalam puisi "Aku" membantu penyair untuk mengekspresikan jiwanya dengan berani dan lugas. Gaya bahasa kiasan ini membuat puisi menjadi lebih hidup, menarik, dan mudah dipahami. 3. Konsep Verstehen Dilthey menekankan bahwa pemahaman sebuah karya seni memerlukan pemahaman intuitif yang lebih dalam daripada pemahaman rasional. Dalam puisi Aku analisis hermeneutika Dilthey akan mendorong pembaca untuk meresapi makna-makna tersembunyi di balik kata-kata dan simbol-simbol yang digunakan dalam puisi ini. Misalnya, dalam bait "Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang," Chairil Anwar mengekspresikan semangat pemberontakan dan keberanian yang menghadapi bahaya atau penindasan. Dengan menggunakan konsep-konsep tersebut dan tambahan kutipan puisi, analisis hermeneutika Dilthey terhadap puisi "Aku" karya Chairil Anwar dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman pribadi, ekspresi sastra, dan makna filosofis yang terkandung dalam karya ini. Daftar Pustaka Sumaryono. (1993). Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, cet.ke-1 Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, ter. Masur Hery & Damanhuri Muhammad, (Yogyakarta: Pustaka Pelaar, cet.ke-1, 2003), hlm. 125 Sutjianingsih. (2014). Hasil Karya dan Pengabdian Chairil Anwar. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
163 H.B. Jassin. (1983). Pengarang Indonesia dan Dunianya. Jakarta: PT Gramedia. Farah, Naila. "Analisis Hermeneutika Dilthey Terhadap Puisi Doa Karya Amir Hamzah." JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan 5.1 (2019): 1-15.
164 KRITIK SOSIAL DALAM PUISI “BAGAIMANA KALAU” KARYA TAUFIK ISMAIL: ANALISIS HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Arvinda Titania Maharani (21210144008) PENDAHULUAN Karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai media untuk mengekspresikan atau menuangkan perasaannya, salah satu bentuk karya sastra tersebut adalah puisi. Karya sastra khususnya puisi telah lama menjadi medium untuk mengekspresikan perasaan manusia yang kaya akan makna dan emosi. Puisi merupakan karya sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima serta kata-kata kiasan yang terdapat dalam larik dan baitnya. Menurut Waluyo (2005:1) juga menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra dengan menggunakan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama serta pemilihan katakata kias atau imajinatif. Teeuw (dalam Pradopo 2010) juga menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang dapat dianalisis dari berbagai aspek atau sudut pandang. Karya sastra memiliki fungsi sosial yang banyak di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Semi (1989:56) menyatakan bahwa fungsi karya sastra banyak melibatkan kehidupannya ditengah-tengah masyarakat, dalam aspek sosial juga memiliki rasa toleransi dalam lingkungan masyarakat. Karya sastra hadir dalam kehidupan masyarakat dengan melibatkan hal apapun untuk menjadikannya sebuah karya sastra. Salah satunya puisi sebagai media untuk mengkritik kehidupan sosial yang ada di tengah masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman. Kritik sosial merupakan bentuk komunikasi pengarang sebagai anggota atau bagian dari masyarakat dengan tujuan sebagai alat kontrol terhadap jalannya sebuah sistem. Kritik sosial ada sebagai wujud pengekspresian kekecewaan sebab kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan. Dalam usaha, memahami kedalaman dan kompleksitas makna kritik sosial yang terkandung dalam puisi, berbagai pendekatan analisis sastra telah dikembangkan. Salah satunya adalah hermeneutika yang berfokus pada interpretasi teks dan pemahaman makna dibaliknya. Di antara banyak tokoh hermeneutika, Paul Ricoeur
165 menawarkan pandangan yang kaya dan komprehensif, yang dapat memberikan wawasan mendalam mengenai analisis puisi. Hermeneutika Paul Ricoeur dengan konsep “Lingkaran Hermeneutik” dan “Tiga Tahap Mimesis” memungkinkan analisis puisi tidak hanya melihat teks sebagai entitas yang statis, tetapi juga sebagai proses dinamis yang melibatkan pembaca dalam penciptaan makna. Paul Ricoeur memandang teks sastra sebagai wadah dialogis, dimana pembaca dan teks berinteraksi dalam mencari makna yang lebih dalam dan kontekstual. Dalam konteks analisis puisi hermeneutika Paul Ricoeur mengajak kita untuk melampaui pemahaman literal dan menggali lapisan-lapisan makna simbolik dan tematik yang tersembunyi. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya membantu dalam mengungkap makna tersembunyi dalam puisi, tetapi juga membuka ruang bagi interpretasi yang kaya dan beragam, sesuai dengan pengalaman dan latar belakang pembaca. Pendekatan ini sangat relevan dalam kegiatan analisis kritik sosial yang terdapat dalam karya sastra puisi. Dengan menggunakan kerangka hermeneutika Paul Ricoeur, kita dapat menelusuri bagaimana simbol, metafora, dan struktur naratif dalam puisi bekerja sama untuk menciptakan sebuah teks yang hidup dan bermakna. Melalui proses interpretasi ini, pembaca dapat memahami dan menghidupkan kembali makna yang terkandung dalam puisi, menjadikannya sebagai pengalaman estetika dan intelektual yang mendalam. Hubungan masyarakat dengan karya sastra adalah salah satu hubungan yang bisa dituangkan melalui tulisan maupun media lainnya. Masyarakat mempunyai hubungan erat dengan karya sastra dan kehidupan. Karya sastra hadir dalam kehidupan masyarakat dengan melibatkan hal apapun untuk menjadi karya sastra. Pengarang sebagai bagian dari masyarakat mengekspresikan kritik sosialnya melalui puisi “Bagaimana Kalau” yang diciptakan oleh Taufik Ismail. Taufik Ismail merupakan penyair dan tokoh sastrawan angkatan 66 yang menciptakan puisi dengan bahasa yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Menurut Teeuw (1989: 58) ungkapan yang disampaikan pengarang melalui sebuah puisi untuk pemusatan perhatian pada pesan-pesan itu sendiri. Peranan sastra dalam kehidupan masyarakat banyak memberikan manfaat untuk para pembaca. Sapardi Djoko Damono (dalam Pradopo, 2001:157) menyatakan bahwa sastra juga
166 mempunyai gambaran tentang kehidupan masyarakat yaitu memiliki suatu kenyataan sosial. Sastra sebagai penggambaran kehidupan masyarakat untuk mengungkapkan gagasan, ide atau sebuah pikiran dalam masyarakat. Ricoeur (1981) menyatakan bahwa hermeneutika adalah pendekatan yang berkaitan dengan kaidah penafsiran pada teks atau sekumpulan tanda maupun simbol. Pemahaman terhadap teks dapat dicapai melalui proses penafsiran. Hermeneutika bertujuan untuk menemukan makna dalam teks dan simbol dengan cara terus menerus mengeksplorasi makna-makna tersembunyi atau yang belum terungkap. Paul Ricoeur memperkenalkan konsep interpretasi dalam pendekatan hermeneutika. Teks terdiri dari berbagai bentuk simbol yang menjadi fokus dalam pendekatan hermeneutika. Kata-kata yang penuh makna, baik dalam karya sastra maupun tulisan ilmiah, merupakan simbolsimbol yang tak terpisahkan dari teks tersebut. Simbol dan interpretasi adalah konsep dengan pluralitas makna yang terkandung di dalam bahasa. Setiap interpretasi berupaya untuk mengungkap makna yang tersembunyi. Dalam konteks karya sastra, setiap interpretasi berusaha untuk membuka lapisan makna yang terdapat di dalamnya. Hermeneutika bertujuan untuk menghilangkan misteri dalam simbol dengan mengungkap kekuatan-kekuatan tersembunyi yang belum diketahui. Dengan demikian, hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol - simbol (Bleicher, 2003) Terdapat tiga langkah dalam memahami teks, yaitu 1) Langkah objektif (penjelasan), yaitu menganalisis aspek semantik pada simbol berdasarkan tataran linguistiknya; 2) Langkah refleksif (pemahaman), yaitu menghubungkan dunia objektif teks dengan dunia yang diacu (reference) yang pada aspek simbolnya bersifat non linguistik, dan 3) Langkah filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan metafora dan simbol sebagai titik tolaknya (Faiz, 2003). Analisis ini penting dilakukan untuk mengetahui kritik sosial yang disampaikan pengarang dalam puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail dan memberikan informasi kepada pembaca bahwa di dalam tersebut terdapat kritik sosial yang tajam akan keadaan Indonesia saat itu. Berikut adalah puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail.
167 Bagaimana Kalau Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tapi buah alpukat Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, salju turun di Gunung Sahari Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin dan Ali Wardhana ternyata pengarang‐pengarang lagu pop Bagaimana kalau hutang‐hutang Indonesia dibayar dengan pementasan Rendra Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi serta suara‐suara percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan margasatwa Afrika Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil mempertimbangkan protes itu Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita pelihara ternak sebagai pengganti Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi. (1971) METODE Analisis ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis suatu fenomena menggunakan data ilmiah yang berhubungan dengan konteks yang terjadi. Moleong (2000) memaparkan bahwa analisis kualitatif mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya 1) analisis kualitatif berkaitan dengan suatu fenomena, peristiwa, atau kenyataan; 2) analisis kualitatif memaparkan data yang sebenarnya berhubungan
168 antara analisis dengan sumber data; dan 3) analisis kualitatif lebih peka terhadap data dan perubahan-perubahannya. . Sumber data pada analisis ini adalah bait-bait puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail. Hal yang akan diteliti dalam puisi tersebut adalah kritik sosial pengarang yang terdapat di dalamnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam analisis ini yaitu dengan model analisis konten (analisis isi). Analisis isi berkaitan dengan pengkajian isi teks secara mendalam. Endraswara (2008) memaparkan bahwa analisis konten adalah penganalisisan dan pengkajian sastra yang mengungkapkan dan menguraikan pesan dan nilai dalam sebuah karya sastra. Tujuan dari analisis tersebut adalah untuk menyusun inferensi yang didapatkan dan diperoleh melalui identifikasi dan penaksiran. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail mengungkapkan gambaran tentang kegelisahan dan kekhawatiran tentang masa depan bangsa dan generasi muda. Dalam puisi tersebut, Taufik Ismail menyoroti berbagai macam masalah sosial, budaya dan moral yang dihadapi masyarakat Indonesia. Taufik Ismail sebagai pengarang mengajak pembaca untuk merenungkan konsekuensi dari tindakan dan pilihan yang diambil saat ini, serta mempertanyakan arah dan tujuan bangsa ke depan. Kritik Sosial dalam Puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail Puisi karya Taufik Ismail berjudul "Bagaimana Kalau" mengandung sindiran atau kritik terhadap masyarakat yang diekspresikan melalui bait-baitnya. Hal tersebut dapat dilihat pada penggalan bait berikut. Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia dibayar dengan pementasan Rendra. Melalui penggalan bait puisi tersebut dapat terlihat kekesalan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia akibat utang Negara Indonesia yang tidak kunjung selesai. Pengarang dalam hal ini menggambarkan seolah-olah masyarakat ingin membayar utang Negara Indonesia dengan pementasan yang dilakukan oleh W.S Rendra. Soekanto (1992: 79) menyatakan bahwa setiap masalah sosial yang meresahkan masyarakat dan memiliki perubahan suatu saat akan terjadi apabila kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat berbeda dengan apa yang diharapkan. Setuju dengan pendapat
169 Soekanto bahwa masalah sosial yang memicu kritik dari masyarakat akan muncul ketika ada permasalahan di lingkungan atau negara mereka. Kritik ini disampaikan dalam karya sastra berbentuk tulisan sosial, baik fiksi maupun nonfiksi, termasuk prosa dan puisi. KESIMPULAN Setiap puisi pada dasarnya mengandung kesan yang ingin disampaikan oleh pengarang, seperti rasa kecewa atau kekesalan. Masyarakat sebagai pembaca sastra adalah kelompok manusia yang bekerja sama dalam jangka waktu lama. Hubungan antara masyarakat dan sastra dapat diwujudkan melalui tulisan atau bentuk lain, menunjukkan keterkaitan erat antara karya sastra dan kehidupan mereka. Puisi sering digunakan sebagai media estetis untuk mengungkapkan ekspresi, baik mengenai aspek sosial maupun kritik sosial terhadap situasi di sekitar pengarang. Melalui bait-bait sajak, puisi menyampaikan perasaan dengan jujur dan tulus. Puisi “Bagaimana Kalau” karya Taufik Ismail berisi kritik sosial yang ditujukan untuk masyarakat Indonesia. Puisi tersebut berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kritik mengenai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Melalui puisi tersebut pengarang menyampaikan kritik sosial dan ajakan untuk introspeksi, dengan harapan agar generasi mendatang tidak mengalami kemunduran akibat kelalaian atau ketidakpedulian generasi sekarang. DAFTAR PUSTAKA Bleicher, Josef. (2005). Hermeneutika Kontemporer, Hermeneutika Sebagai Metode, Filsafat, dan Kritik. Yogyakarta: Penerbit Fajar Pustaka. Faiz, Fakhruddin. (2003). Hermeneutika Al-Qur'an. Yogyakarta: Qolam. Pradopo, Djoko Rachmat, dkk. (2008). Puisi. Jakarta: Universitas Terbuka. Ricoeur, Paul. (1981). Hermeneutics & The Human Sciences. New York: The Press Syndicate of The University of Cambridge. Soekanto, S. (1992). Kamus Sosiologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo persada. Semi, A. (1989). Kritik Satra. Bandung: Angkasa. Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya. Waluyo, Herman J. (2005). Pengkajian Sastra Rekaan. Salatiga: Widyasari Press.
170 HERMENEUTIKA PAUL RICOUER DALAM PUISI “BALOHAN” KARYA ACEP ZAMZAM NOOR Fanisha Dian Wulan S (21210144032) Puisi adalah sebuah karya sastra yang tidak asing lagi terutama dalam bidang kesusastraan. Dalam KBBI, puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya diputar oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Banyak orang yang menuangkan segala perasaan dan angan atau imajinasi melalui puisi. Namun, kesulitan memahami makna yang dapat dirasakan beberapa pembaca. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan atau analisis dalam sebuah puisi. Puisi (sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu dijelaskan sehingga dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Analisis yang bersifat dikhotomis, yaitu pembagian dua bentuk dan isi belum lah dapat memberikan gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek dan Warren, 1968: 140) Di indonesia sendiri memiliki banyak penyair dengan gaya penulisan yang ciamik, salah satunya adalah Acep Zam Zam Noor. Penyair kelahiran Tasikmalaya, 28 Februari 1960 tersebut telah menciptakan banyak puisi yang seringkali dijadikan sebagai objek penelitian. Hal itu tidak lain karena puisinya mengandung gaya bahasa, narasi, simbol, dan majas yang khas. Sebagai contoh adalah puisinya yang berjudul “Balohan” pada puisi tersebut, Acep mengemas peristiwa ‘kepergian’ dengan perumpamaan yang dalam dan padat. Oleh karena itu, puisi “Balohan” karya Acep Zam Zam Noor ini sudah sepantasnya untuk dikaji lebih dalam, agar makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi tersebut lebih dapat tersampaikan secara akurat. Banyak pendekatan untuk menganalisis puisi, contohnya analisis Hermeneutika. Mengkaji dan memahami puisi tidak lepas dari analisis hermeneutika. Menganalisis puisi adalah menangkap makna sajak. Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukan sematamata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan.
171 Paul Ricouer (dalam Rafiek) menyampaikan bahwa hermeneutika adalah teori mengenai bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan proses menguraikan atau memisahkan isi dan makna khususnya makna terpendam dan tersembunyi. Dalam hermeneutika yang menjadi objek kajian atau interpretasi adalah symbol sastra dan simbol sampai mitos masyarakat. Hermeneutika juga diartikan sebagai proses mengubah situasi atau sesuatu, secara singkat, hermeneutika membahas mengenai interpretasi makna. Hermeneutika adalah teori yang bekerja mengenai pemahaman dalam penafsiran teks. Kuncinya ada pada teks dan pemahaman makna suatu karya sastra. Dapat disimpulkan bahwa hermeneutik merupakan suatu pendekatan karya sastra yang dilakukan dengan cara menerjemahkan atau menafsirkan makna-makna yang ada di dalam sebuh karya sastra, baik makna yang tersirat maupun yang tersurat. Acep Zamzam Noer nama lengkapnya ialah Muhammad Zamzam Noor Ilyas adalah anak sulung K.H. Ilyas. Dia dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960. Penyair yang berasal dari etnis Sunda dan dibesarkan dalam lingkungan kehidupan pesantren itu memiliki latar belakang pendidikan yang cukup beragam. Pendidikan yang pernah dilaluinya, antara lain, adalah Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, SMA di Jakarta (tamat 1980), menjadi santri di Pondok Pesantren As-Syafi'iyah, Jakarta, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB (tamat 1987), serta Universita' Italiana per Stranieri, Perugia, Italia (1991—1993). Sebelum berkuliah di ITB, ia pernah tercatat sebagai mahasiswa STSRI "ASRI" Yogyakarta, jurusan seni lukis, tetapi mengundurkan diri. Dia pernah bekerja di berbagai media massa cetak, antara lain harian Pikiran Rakyat. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa cetak, antara lain Pikiran Rakyat, Horison, Kalam, Dewan Sastra, Republika, Kompas, dan Media Indonesia. Selain menulis sajak, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa sunda, ia juga menulis esai sastra. Dia mulai menulis sajak tahun 1976. Dia mengembangkan dunia kepenyairannya sejak tinggal di Bandung. Sejumlah sajaknya telah diterbitkan dalam bentuk kumpulan sajak, yaitu Tamparlah Mukaku! (1982), Aku Kini Doa (1986), Kasidah Sunyi (1989), Dari Kota Hujan (1996), Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbira (1999), serta Dayeuh Matapoe (1993, kumpulan sajak
172 dalam bahasa Sunda). Selain itu, beberapa sajaknya hadir dalam antologi bersama penyair lain, seperti Tonggak 4 (1987), Dari Negeri Poci (1994), dan Ketika Kata Ketika Warna (1995). Beberapa esai telah ditulisnya, antara lain "Pesantren, Santri, dan Puisi" yang dimuat dalam Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Sajak-sajak berbahasa Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk masuk dalam antologi puisi Sunda berbahasa Inggris Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poems Soundanais: Anthologie Bilingue (Pustaka Jaya,2001). Analisis Puisi Balohan Karya Acep Zamzam Noor Kajian Hermeneutika. Kepergianku mungkin angin lalu Angin yang berasal entah dari mana Mengalir entah ke mana. Kepergianku Sekedar goresan pada lapisan udara Aku mengikuti saja ke mana perahu Harus melaju. Menghayati setiap detik Yang berdetak di kedalaman waktu Menghitung napas satu demi satu Kepergianku mungkin resonansi Dari kerinduan yang pecah di utara Memantul ke selatan. Kepergianku Hanya gema yang terbawa angin lalu Di awal puisi, Acep menaruh kesan menarik dengan dipilihnya “Balohan” sebagai judul. Balohan sendiri merupakan nama sebuah desa di kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, Aceh, Indonesia. Fakta ini bisa menjadi acuan latar tempat puisi ini. Lantas apa yang
173 melandasi pemilihan judul, dan relevansinya dengan isi ? hal itu akan terjawab dengan meneliti setiap baitnya. Bait pertama Kepergianku mungkin angin lalu Angin yang berasal entah dari mana Mengalir entah ke mana. Kepergianku Sekedar goresan pada lapisan udara Kata kunci dari puisi ini adalah kata “Pergi” yang dituliskan secara berulang hampir di setiap baitnya. Pada kalimat ‘Kepergianku mungkin angin lalu, angin yang berasal entah dari mana mengalir kemana’ merujuk kepada makna kepergian akulirik yang tidak berarti bagi siapapun. Makna kepergian akulirik tersebut ditekankan di kalimat berikutnya, yaitu ‘Kepergianku Sekedar goresan pada lapisan udara’. Pada kalimat tersebut, metafora pada ‘sekedar goresan pada lapisan udara’ merujuk pada kepergian akulirik yang tidak tanpa tujuan. Pada bait pertama ini ada sesuatu yang ambigu dimana pada kalimat ‘angin yang berasal entah dari mana mengalir kemana’ akulirik seakan-akan ingin merubah sifat dari udara yang secara kita tahu udara tidak bisa ‘mengalir’. Bait kedua Aku mengikuti saja ke mana perahu Harus melaju. Menghayati setiap detik Yang berdetak di kedalaman waktu Menghitung napas satu demi satu Kalimat pertama pada bait kedua tersebut kembali menekankan tujuan dari akulirik yang tidak jelas. Kalimat ‘Aku mengikuti saja kemana perahu ini harus melaju’ Kata “perahu” merupakan simbol dari ‘tubuh’ akulirik. Lalu pada kalimat berikutnya ‘Menghayati setiap detik Yang berdetak di kedalaman waktu’ merujuk pada sebuah penghayatan hidup. Frasa ‘kedalaman waktu’ merupakan metafor dari umur akulirik. Kata “kedalaman” pada frasa tersebut menyimbolkan umur akulirik yang tidak lagi muda. Hal
174 tersebut disiratkan dalam kalimat kedua ‘Menghitung napas satu demi satu’. Kalimat tersebut memperjelas bahwa sisa umur dari akulirik seakan-akan sudah bisa dihitung. Bait ketiga Kepergianku mungkin resonansi Dari kerinduan yang pecah di utara Memantul ke selatan. Kepergianku Hanya gema yang terbawa angin lalu Pada kalimat pertama di bait ketiga, kata ‘resonansi’ merupakan metafor dari kerinduan akulirik yang teramat besar, dimana kerinduan tersebut menjadi sebuah getaran yang pecah, sebagaimana yang akhirnya ditekankan dalam frasa ‘kerinduan yang pecah di utara”. Kata ‘utara’ tersebut dapat menjadi acuan keberadaan akulirik. Dilanjut dengan kalimat berikutnya ‘Kepergianku Hanya gema yang terbawa angin lalu’. Kalimat kedua pada bait ketiga tersebut menjadi pungkasan dari puisi ini. Kalimat ini kembali mengingatkan pembaca akan kepergian akulirik yang berarti bagi siapapun, dan dengan begitu mudah dilupakan. Dapat disimpulkan bahwa Kata ‘pergi’ yang secara berulang dituliskan menjadi sebuah misteri yang harus dikuak dalam penelitian ini. Setelah meneliti secara keseluruhan. Dapat disimpulkan bahwa ‘kepergian’ di dalam puisi ini memiliki arti ‘kematian’. Puisi ini menceritakan akulirik yang pergi meninggalkan kampung halamnya ‘balohan’. Kepergian akulirik tersebut merupakan cara akulirik dalam mempersiapkan kematiannya. Hal itu dapat dilihat dari sikap akulirik yang pasrah, mempercayai takdir, dan melepas segala yang ada di dunia dengan cara menganggap bahwa kepergianya sama sekali tidak berarti. Puisi ‘Balohan’ karya Acep Zamzam Noor ini perlu dibaca berulang-ulang agar mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, puisi ini menggunakan pemilihan diksi yang seringkali mengecoh pembaca, atau justru menghadirkan ambiguitas makna. Namun, dengan ini membuktikan penyair di Indonesia mempunyai keragaman gaya penulisan yang patut untuk dibanggakan. DAFTAR PUSTAKA Suminto Sayuti. (2010). Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
175 Wallek, Rene dan Austin Warren. (2014). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia. Wachid, Abdul. (2022). Hermeneutika dalam Sistem Interpretasi Paul Ricoeur. Badan Pengambangan dan Pembinaan Bahasa.
176 ANALISIS SIMBOL DALAM PUISI “AKU INGIN” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO MELALUI PENDEKATAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Ainaya Neilin Mitsalia (21210144033) A. PENDAHULUAN Puisi dibentuk dari berbagai unsur yang berhubungan dan memanifestasikan suatu makna untuk disampaikan pada pihak tertentu, baik perorangan, golongan, maupun Masyarakat secara umum (Wahyuni, 2017). Puisi sendiri memiliki peran sebagai representasi gagasan penyair dalam menyampaikankebenaran dan nilai kebijakan serta perasaan seorang penulis kepada pembaca. (Ganie, 2015) juga menyampaikan bahwa salah satu fungsi puisi adalah menyampaikan nilai moral dan sosial yang mampu memengaruhi pembaca untuk memahami suatu konsep tertentu. Puisi juga merupakan bentuk karya sastra yang termasuk paling tua menurut sejarahnya. Puisi memiliki empat hakikat, yaitu sebagai berikut: 1. Tema Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair, pikiran atau pokok persoalan yang mendesak dalam jiwa penyair yang kemudian dapat dijadikan sebagai landasan utama pengucapannya. 2. Sikap penyair terhadap pembaca Berisiskan gaya dan pikiran penyair yang akan ditampilkan ke dalam puisi tersebut. Puisi ini harus berkaitan denga nisi pikiran yang didasari oleh sikap tertentu yang harus dipahami oleh pembaca. 3. Perasaan penyair Dalam hal ini perasaan dari sang penyair diikutsertakan dalam hasil sebuah karyanya, sebab hal ini berkaitan denga nisi perasaan dan/atau suasana hati penyair, sehingga mampu menghasilkan sebuah puisi dengan kesesuaian penulis. 4. Amanat Amanat merupakan tujuan penulis puisis Dimana inti dari sebuah puisi itu berada.
177 Puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono ini ditulis pada tahun 1989. Pada puisi ini Sapardi Djoko Damono menceritakan tentang cinta. Jika diteliti lebih dalam lagi Sapardi ingin menyatakan perasaan cintanya kepada sang pujaan hati dengan kesederhanaan dan tidak memaksa untuk dicintai kembali. Dalam essay penelitian ini akan membahas mengenai puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono dengan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Ricoeur (1981) menyatakan bahwa hermeneutika adalah pendekatan yang berkaitan dengan kaidah penafsiran pada teks atau sekumpulan tanda maupun simbol. Pemahaman tentang teks yang sebenarnya akan diperoleh dengan penafsiran. Teks sendiri terdiri atas berbagai bentuk dan simbol. Simbol ini yang menjadi fokus dalam pendekatan hermeneutika. Hermeneutika memiliki tujuan untuk menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan membuka selubung dayadaya yang belum diketahui. Dengan begitu, hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol (Bleicher, 2003). Dalam memahami teks terdapat tiga langkah yang perlu diketahui, yaitu 1) Langkah objektif (penjelasan), yaitu menganalisis aspek semantik pada simbol berdasarkan tataran linguistiknya; 2) Langkah refleksif (pemahaman), yaitu menghubungkan dunia objektif teks dengan dunia yang diacu (reference) yang pada aspek simbolnya bersifat nonlinguistik, dan 3) Langkah filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan metafora dan simbol sebagai titik tolaknya (Faiz, 2003). Pada essay penelitian inii akan menjelaskan mengenai simbol yang terdapat pada puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono. B. METODE Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif menganalisis suatu fenomena dengan data ilmiah yang berhubungan konteks dari yang terjadi (Ratna, 2008). Menurut Moleong (2000) memaparkan bahwa penelitian kualitatif mempertimbangakan beberapa aspek, di antaranya 1) penelitian kualitatif berkaitan dengan suatu fenomena, peristiwa, atau kenyataan; 2) penelitian kualitatif
178 memaparkan data yang sebenarnya berhubungan antara penelitian dengan sumber data; dan 3) penelitian kualitatif lebih peka terhadap data dan perubahanperubahannya. Pengumpulan data ini dengan menggunakan pengumpulan data sekunder, yaitu menurut Istasari, (2009) dalam penelitian dengan sumber data sekunder yaitu sumber data yang diambil melalui artikel, jurnal, skripsi, sumber dari internet, serta buku-buku yang relevan dengan fokus penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini juga mengambil beberapa data yang dapat ditemui melalui artikel, jurnal, skripsi, sumber dari internet, serta bukubuku yang relevan dengan fokus penelitian. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum membahas lebih lanjut mengenai hasil dari analisis penelitian ini, maka akan dilampirkan isi dari pusisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono itu sendiri. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikan abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (1989) 1. Makna dari simbol “sederhana” pada bait pertama Pada bait pertama yang berbunyi: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” Kata “sederhana” ini menyiratkan bahwa melakukan sesuatu hal dengan seadanya dan semampunya. Kata sederhana ini penyair mengharapkan bahwa cinta yang ia berikan kepada seseorang yang ia cintai secara secukupnya tidak memaksakan kehendak satu sama lain.
179 2. Makna dari simbol “abu” pada bait ke empat Pada bait keempat yang berbunyi: “kayu kepada api yang menjadikan abu” Kata “abu” ini menyiratkan suatu hal yang telah terbakar dan hilang. Hal ini seperti seolah-olah penyair tidak memiliki cara lain untuk mampu mengungkapkan apa yang penyair rasakan. 3. Makna dari simbol “tiada” pada bait keenam Pada bait keenam yang berbunyi: “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” Kata “tiada” ini menyiratkan suatu hal yang sirna atau tidak ada lagi. Hal ini memperlihatkan bahwa melalui cinta kita harus rela dan Ikhlas untuk melakukan segala hal dan pengorbanan untuk orang yang kita cintai. D. KESIMPULAN Melalui uraian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa makna simbol yang terdapat di dalam puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono ini mampu digambarkan sebagai kisah cinta seseorang yang tulus dan ikhlas tanpa paksaan serta tidak mengharap balasan yang setimpal. DAFTAR PUSTAKA Kholiq, A., Tjahjono, T. (2021). Kritik Sosial dalam Puisi Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian itu Karya Mustofa Bisri (Pendekatan Hermeneutika Paul Ricoeur). Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra 8(2). Hasan, Y., Nuraeni, R. (2022). Makna Motivasi pada Lirik “Lagu Pejalan” Karya “Sisir Tanah” (Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur). E-Proceeding of Management 8(6).
180 ANALISIS HERMENEUTIKA MENURUT PANDANGAN PAUL RICOEUR DALAM PUISI BERJUDUL “YANG INGIN KUKATAKAN JIKA AKU CINTA PADAMU” KARYA THEORESIA RUMTHE Shabrina Aulia Firyal Safitri (21210144034) Theoresia Rumthe adalah salah satu penulis perempuan asal Maluku yang lahir di Ambon. Ia sempat menetap di kota Bandung sebelum kembali ke kota kelahirannya. Karyakarya puisinya mulai dibaca ketika ia membuat buku kumpulan puisi bersama temantemannya lewat buku “Rona Kata” pada tahun 2010. Buku kumpulan puisinya “Tempat Paling Liar di Muka Bumi”, yang ditulis bersama kekasihnya, Weslly Johannes, terbit pada September 2016, dan kini cetakan keduanya sudah hadir di toko-toko buku. Puisi Theoresia Rumthe yang berjudul “Yang Ingin Kukatakan Jika Aku Cinta Padamu” ini adalah salah satu puisi dari bukunya yang berjudul “Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang”. Buku tersebut masuk dalam lima besar buku puisi terbaik yang terbit pada tahun 2023 oleh Tempo. Gaya bahasa yang sering digunakan oleh Theo menjadi daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Topik-topik tentang cinta dan kehidupan yang berdampingan yang dapat membuat penulis mudah diserap ketertarikannya. Hermeneutika modern yang diasaskan oleh Paul Ricoeur merupakan kelanjutan dari proyeksi F.E.D. Schleiermacher tentang bahasa. Paul Ricoeur menyatakan bahwa bahasa identik dengan pikiran. Setiap makna yang dijumpai dalam wacana tulis pasti memiliki konteks dengan kenyataan di luar bahasa tersebut. Pandangan ini merujuk pada hermeneutika yang dikemukakan oleh Paul Ricoeur. Dalam bukunya yang berjudul The Rule of Metaphore (1978) Paul Ricoeur berpendapat bahwa pemahaman dan penafsiran bukan hanya kegiatan yang berkenaan dengan bahasa, tapi juga sebagai tindakan pemaknaan dan penafsiran. Dengan mengutip Nietzsche, Paul Ricoeur menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. Bila terdapat pluralitas makna, maka interpretasi juga dibutuhkan. Apalagi jika simbol-simbol dilibatkan, interpretasi menjadi penting, sebab terdapat makna yang multilapis.
181 Paul Ricoeur mengatakan bahwa keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi. Oleh karena itu, filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik, yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan (Sumaryono, 2003:105). Simbol membuat kita sebagai pembaca berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya makna dan kembali kepada maknanya yang asli. Demikian pandangan Paul Ricoeur yang kemudian mengarahkan filsafatnya kepada hermeneutika, terutama pada interpretasi, yaitu penafsiran dan pemahaman terhadap teks (textual exegesis). Yang Ingin Kukatakan Jika Aku Cinta Padamu cintaku padamu seumpama kuku kaki. serajin apapun engkau memotong, ia tumbuh dengan kepala batu. cintaku padamu menjalar seperti labu. merenggut tanah kosong di hatimu, di matahari paling terik sepanjang tahun. cintaku padamu seramai bumbu di blender. lengkuas, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, begitu hancur dan mewangi. cintaku padamu gosong. kue kelamaan dipanggang, bubur dengan api terlalu besar. cintaku padamu adalah pukul sembilan pagi.
182 waktunya bangun dan menjerang air, mencuci piring kotor semalam. cintaku padamu adalah lantai kamar mandi. kiranya aku setia, menyikatmu sampai mati. cintaku padamu seumpama kuku kaki. serajin apapun engkau memotong, ia tumbuh dengan kepala batu. Pada bait di atas, mengungkapkan kondisi di mana saat seseorang jatuh cinta namun cintanya akan selalu tumbuh meskipun dipotong secara rutin. “kepala batu” dalam bait tersebut mengartikan bahwa ia akan mencintai secara keras kepala dan akan terus mencintainya, meskipun ia kerap “dipotong”. cintaku padamu menjalar seperti labu. merenggut tanah kosong di hatimu, di matahari paling terik sepanjang tahun. Pada bait di atas, mengungkapkan situasi kekosongan hati seseorang tersebut dapat diisi atau dipenuhi oleh perasaan cintanya. Perasaan cinta tersebut akan terus tumbuh dan menjalar sepanjang matahari terbit. Maka cinta tersebut akan tumbuh juga tanpa henti. cintaku padamu seramai bumbu di blender. lengkuas, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, begitu hancur dan mewangi. Pada bait di atas, mengungkapkan kondisi di mana ia dapat memberikan banyak rasa tersembunyi dan beragam ketika ia sudah diterima dan diolah. Maka barulah perasaanperasaan tersebut dapat hadir membawa kebahagiaan untuk membumbui hubungan tersebut. cintaku padamu gosong.
183 kue kelamaan dipanggang, bubur dengan api terlalu besar. Berbeda dari bait sebelumnya, bait ini mengungkapkan kondisi di mana hubungan pun akan ada situasi yang akan membuat kita sedih ataupun berapi-api. Akan ada situasisituasi yang membuat kita hancur, gosong, dan tidak sesuai dengan harapan kita kedepannya. Namun hal itu yang akan tetap membuat hubungan semakin dalam. cintaku padamu adalah pukul sembilan pagi. waktunya bangun dan menjerang air, mencuci piring kotor semalam. Pada bait ini digambarkannya kondisi di mana kita memulai hari dengan mempersiapkan dan membersihkan kejadian di hari kemarin. Maksud dari bait ini adalah kita perlu untuk menyelesaikan atau merapikan hal berantakan yang terjadi hari kemarin, namun kita juga harus tetap mempersiapkan hari kita dengan baik di hari tersebut. cintaku padamu adalah lantai kamar mandi. kiranya aku setia, menyikatmu sampai mati. Pada bait penutup, di akhiri dengan keinginan tokoh “aku” untuk setia. Apabila sang kasih berbentuk lantai kamar mandi ia pun akan tetap setia membersihkannya sampai mati. Bait ini mengungkapkan kesiapan tokoh “aku” dalam menemani dan membersamai kasihnya sampai mati. DAFTAR PUSTAKA Perempuan Sore. (2020). “Theoresia Rumthe dan Project-nya. https://perempuansore.blogspot.com/p/profile.html. Diakses pada 10 Juni 2024. Wachid, Abdul. (2022). Hermeneutika dalam Sistem Interpretasi Paul Ricoeur. https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/881/hermeneutika-dalam-sisteminterpretasi-paul-ricoeur. Diakses pada 10 Juni 2024.
184 Makna Sosial dalam Puisi “Mei” Karya Joko Pinurbo Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur Muhammad Daviq Fayaliq Azri (21210144038) Mei, 1998 bulan yang diingat oleh rakyat Indonesia sebagai bulan yang bersejarah dan bulan yang bermakna. Lengsernya pemerintahan Soeharto yang telah menjadi mimpi buruk rakyat Indonesia selama 32 tahun terjadi pada bulan itu. Tumpah ruah mahasiswa dan rakyat sipil di jalanan mendemonstrasi agar Soeharto sang mimpi buruk Indonesia jatuh dari tahtanya. Akan tetapi, selain adanya peristiwa besar tersebut ada juga peristiwaperistiwa kelam yang menghiasinya. Terjadi penculikan oleh tim mawar yang dipimpin oleh Prabowo Subianto yang bahkan korban penculikan tersebut sampai kini masih belum kembali ke pangkuan ibunya dan terjadi penembakan sehingga empat mahasiswa Trisakti menjadi korban pada kala itu. Selain itu, terjadi juga penjarahan toko-toko dan rumah yang kebanyakan menjadi korbannya adalah masyarakat Tionghoa, bahkan juga terjadi tindak kekerasan seksual yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyasar kepada masyarakat Tionghoa. Rakyat Tionghoa menjadi kambing hitam atas kemarahan masyarakat kepada Soeharto, padahal rakyat Tionghoa tidak terlibat sama sekali. Mereka menjadi korban hanya karena warna kulit dan ciri fisik yang berbeda dengan masyarakat asli Indonesia. Kebencian masyarakat hanya berdasarkan perbedaan ciri fisik sehingga hal ini menjadi pembelajaran dan perhatian yang serius dimasa-masa setelahnya. Puisi berjudul Mei karya Joko Pinurbo adalah salah satu karya sastra yang mengangkat peristiwa tersebut. Joko Pinurbo dikenal dengan puisinya yang apa adanya akan tetapi dengan arti yang mendalam. Puisi tersebut dimuat dalam buku kumpulan puisi berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang terbit pada tahun 2016. Buku tersebut memuat puisi-puisi Joko Pinurbo dalam kurun waktu 1992-2012 dan salah satunya adalah puisi Mei. Berikut adalah puisi Mei karya Joko Pinurbo. Mei Jakarta, 1998 Tubuhmu yang cantik, Mei
185 telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna, yang cuma kulit, yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. (2000) Disini penulis akan memaknai puisi tersebut menggunakan kajian hermeneutika Paul Ricoeur. Menurut Ricoeur jika makna teks mau diungkap, seorang penafsir akan menghadapi dua alternatif: pertama, jalan langsung yang ditempuh Heidegger yang
186 kemudian diikuti oleh Gadamer atau jalan melingkar yang dihadapi oleh Husserl. Jalan langsung berarti penafsir langsung mengartikan/memahami teks secara langsung tanpa metodologi, Sedangkan jalan melingkar ditempuh oleh penafsir melalui metodologi terlebih dahulu. Ricoeur memilih untuk menempuh jalan melingkar untuk menyingkap intensi tersembunyi teks. Tahapan hermeneutika Paul Ricoeur adalah sebagai berikut: 1. Puisi ditempatkan sebagai teks yang otonom. 2. Mengklasifikasikan lapis simbol pada teks. 3. Mengaitkan simbol dengan sesuatu di luar teks. 4. Memaknai teks secara keseluruhan. Puisi Mei karya Joko Pinurbo kental sekali dengan penggunaan gaya bahasa metafora. Terdapat pemilihan diksi seperti Mei, cantik, persembahkan, api, mengucup, dusta, mencintai, dan maya. Dalam puisi tersebut terdapat dua simbol besar yang menjadi kunci makna dari puisinya yaitu diksi “Mei” dan “api”. Latar belakang puisi tersebut mengambil kejadian sejarah, yaitu peristiwa reformasi Indonesia yang ditandai dengan turunnya presiden Soeharto pada bulan Mei. Kata Mei sendiri dalam puisi tersebut memiliki dua makna simbol. Pertama, Mei sebagai penanda orang. Kedua, Mei sebagai penanda bulan. Mei sebagai penanda orang dapat dilihat pada penggalan puisi berikut ini: “Tubuhmu yang cantik, Mei” Mei disini sebagai penanda orang dikarenakan terdapat kata sifat “cantik” yang menggambarkan bentuk fisik seorang perempuan. Selain itu Mei sebagai penanda orang, dan lebih spesifik lagi menunjukan bahwa Mei disini adalah seorang wanita Tionghoa ditunjukan pada penggalan akhir puisi sebagai berikut: “ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.” Nama Mei sendiri sebenarnya sudah mencirikan seseorang Tionghoa, akan tetapi dalam diksi “tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.” Terdapat makna yang lebih mendalam yang merujuk pada korban tragedi 1998 dan korban-korban diskriminasi lainnya. Saat tragedi 1998 orang Tionghoa rumah dan tokonya banyak yang
187 dijarah, diburu bak hewan, dan bahkan diperkosa. Oknum-oknum kejahatan manusia tersebut mempersekusi korbannya berdasarkan warna kulit dan juga namanya, oleh karena itu sebelum masa reformasi banyak orang Tionghoa yang mengubah namanya demi bisa berbaur dan menyatu dengan masyarakat lokal. Mei sebagai penanda bulan dapat dilihat pada judul yang kemudian diikuti dengan tempat dan tanggal. Judul puisi ini adalah “Mei” kemudian diikuti dengan keterangan tempat dan tahun “Jakarta, 1998”. Hal tersebut menandakan keterangan waktu dan tempat yang terjadi pada isi puisi. Latar waktu tersebutlah yang menjadi konteks untuk pembaca dalam memahami isi puisi. Berikutnya adalah simbol “api”. Diksi “api” pada puisi ini digunakan berulang kali sebagai metafora dan personifikasi. Simbol api pada puisi digunakan sebagai penanda perubahan dan pengorbanan. Yang akan penulis jelaskan di bawah ini: Tubuhmu yang cantik, Mei telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api. Bait pertama pada puisi “Mei”, diksi “api” digunakan sebagai bentuk persembahan atau ritual. Dibuktikan dengan kalimat “kaupersembahkan kepada api”. Mei disini diceritakan sebagai seseorang yang mengkurbankan dirinya demi suatu hal. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna, yang cuma kulit, yang cuma ilusi. Bait kedua dalam puisi tersebut menceritakan api yang sangat suka pada Mei. Yang ditunjukan dengan kalimat “Api sangat mencintaimu, Mei.” Bait tersebut seolah menceritakan bahwa Api dan Mei seperti pasangan yang sedang bermesraan. Seolah Mei memang ditakdirkan bersama Api.
188 Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei Bait ketiga terdapat kalimat yang menarik, yaitu: “Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami.” Diksi “tubuh kami” yang mengartikan bahwa tubuh Mei adalah tubuh kami juga, menunjukan bahwa Mei adalah harapan dan kurban yang dipersembahkan kepada api sebagai pertukaran dengan suatu kebaikan yang dijelaskan pada kalimat berikutnya “Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar tubuhmu yang cantik, Mei.” Disini terlihat bahwa ternyata Mei dipersembahkan kepada api untuk membersihkan tubuh maya dan dusta orang-orang. Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. Bait keempat menceritakan bahwa api sudah membakar seluruh tubuh Mei hingga habis. Pada kalimat “Api telah mengungkapkan rahasia cintanya” dapat dimaknai dengan persembahan Mei sudah selesai dan sekarang adalah waktunya kebaikan yang muncul sebagai bentuk balasan dari pengorbanan Mei. Selanjutnya pada kalimat “ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.” Menunjukan bahwa pengorbanan Mei adalah sesuatu yang tulus dan ikhlas. Tubuhnya sudah bersatu dengan bumi dan pengorbanannya dapat dirasakan oleh generasi berikutnya yang bahkan tak perlu ada lagi yang menanyakan nama dan warna kulitnya karena dia tulus dan ikhlas dalam melakukannya.
189 Dapat disimpulkan berdasarkan penjelasan di atas api dalam puisi Mei adalah sebagai suatu simbol perubahan demi kebaikan. Api sendiri biasanya direpresentasikan sebagai bentuk perjuangan atau perubahan oleh karena itu kita tidak asing mendengar kata “api perubahan” yang biasa digaungkan oleh politisi atau pidato/jargon seseorang yang ingin merubah suatu hal. Puisi Mei mengambil latar waktu Mei, 1998 yang dimana waktu itu terjadi reformasi yang terjadi di Indonesia. Diksi “api” pada puisi ini dapat disimpulkan sebagai simbol perubahan atau reformasi yang dibuktikan dengan penjelasan di atas. Makna sosial dalam puisi Mei karya Joko Pinurbo yang penulis tafsirkan melalui cara hermeneutika Paul Ricoeur didapati terdapat dua makna di dalamnya. Makna sosial pertama, puisi Mei menceritakan peristiwa reformasi Indonesia. Melalui diksi Mei dan api dalam puisi dapat dipahami Mei yang dimaksud merupakan bulan, dan api yang dimaksud adalah perubahan. Puisi tersebut mengingatkan kita pada kejadian Mei, 1998 bahwa peristiwa tersebut tidak hanya sekedar tentang turunnya Soeharto dari tahtanya, akan tetapi juga agar kita mengingat bahwa inti dalam peristiwa tersebut terdapat harapan orang-orang dan pengorbanan orang-orang yang turun ke jalanan demi Indonesia yang lebih baik. Selanjutnya makna sosial kedua. Peristiwa Mei, 1998 memang menandakan sesuatu perubahan yang baik, akan tetapi melalui penggalan kalimat terakhir dari puisi Mei “ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.” Bermakna bahwa meskipun Mei, 1998 merupakan peristiwa yang baik bagi rakyat Indonesia, tetapi kita juga harus belajar dan tidak boleh lupa bahwa pada peristiwa tersebut juga terdapat kejadian yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Melalui penggalan kalimat tersebut kita diingatkan bahwa kita juga harus belajar, karena ada kejadian diskriminasi, penjarahan, dan kekerasan seksual yang juga menyasar kepada etnis Tionghoa. Kita diingatkan bahwa kita ini Indonesia, darahmu, keturunanmu, namamu, budayamu meskipun berbeda-beda tetapi kita ini tetaplah satu. Seperti semboyan yang kita junjung selama berpuluh-puluh tahun Indonesia berdiri. Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Puisi Mei mengingatkan kita kepada peristiwa reformasi pada Mei, 1998 puisi tersebut mencoba mengingatkan kita akan harapan, pengorbanan, dan pembelajaran yang terjadi pada peristiwa tersebut. Semoga puisi tersebut bisa menjadi
190 jembatan agar masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda tidak lupa dan tetap menjunjung nilai-nilai yang diperjuangkan pada peristiwa tersebut.
191 HERMENEUTIKA PADA LAGU
192 ANALISIS HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR DALAM LIRIK “JIWAKU SEKUNTUM BUNGA KEMBOJA” KARYA PANJI SAKTI Anggraeni Sekar Pangestu (21210141002) Hermeneutika merupakan seni memahami dan objek dari hermeneutika adalah teks. Hermenutika juga dapat diartikan sebagai cara menafsirkan dan memahami teks. Teks tidak hanya sebatas tulisan, ia juga bisa berupa tindak, perilaku, norma, mimic, tata nilai, isi pikiran, percakapan, objek sejarah, dan lain-lain. Dalam proses memahami dibutuhkan adanya keterlibatan yang tidak hanya sekedar mencari data tetapi juga mencari makna yang ada di dalamnya. Hermeneutika bertujuan untuk menghilangkan misteri yang ada dalam sebuah simbol dengan membuka tabir-tabir yang menutupinya sehingga mengurangi banyaknya makna dari simbol-simbol tersebut. Hermeneutik Ricoeur merupakan suatu penafsiran mengenai otonomi teks. Ada tiga macam bentuk otonomi, yaitu otonomi yang berhubungan dengan maksud pengarang, otonomi yang berhubungan dengan situasi kebudayaan dan kondisi sosiolgis dalam penciptaan teks, dan otonomi dalam hubungannya dengan pembaca pertama. Paul Ricoeur lebih menyetujui pada konsep otonomi yang terakhir, yaitu otonomi dalam hubungannya dengan pembaca pertama, karena menurutnya dunia teks dapat melebihi dunia pengarangnya sehingga teks mempunyai dunianya sendiri dan terbebas dari pengaruh penciptanya. Lirik lagu merupakan salah satu bentuk karya sastra. Seperti halnya karya sastra, lirik juga dapat digunakan untuk menyampaikan ide, gagasan, kritik atau nilai-nilai yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca atau pendengarnya. Lirik-lirik tersebut secara sadar maupun tidak sadar dapat mempengaruhi sikap, membentuk pola pikir serta gaya hidup seseorang. Dalam kajian ini digunakan lirik lagu “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja“ karya Panji Sakti sebagai objeknya. Berikut lirik lagu “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja“ karya Panji Sakti
193 Jiwaku sekuntum bunga kemboja Dihempas angin, didera hujan Disengat matahari, dicekam cerita Dan aku 'kan mengingatnya Sebagai cinta yang memahami Bagaimanapun akhir cerita kita Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu Pada Dia, Pemilik semesta Lirik-lirik dari lagu “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja“ ini mengarah pada nilai religuitas serta mengandung emosi spiritual yang cukup tinggi. Lirik dari lagu ini tidak begitu banyak tetapi makna yang ingin disampaikan oleh pengarang cukup mendalam. Peneliti menempatkan diri sebagai pembaca pertama seperti teori hermeneutik Paul Ricouer sehingga hasil pemaknaan yang peneliti lakukan bisa saja berbeda dengan pengarang atau pembaca lainnya. Jiwaku sekuntum bunga kemboja Dari kutipan lirik di atas, diri manusia disimbolkan sebagai sekuntum bunga kemboja. Sekuntum dapat diartikan setangkai atau dapat menyimbolkan diri manusia (tunggal). Kemudian, mengapa penulis memilih bunga kemboja untuk dijadikan simbol diri manusia?, mengapa bukan bunga-bunga lain saja? Tentu hal ini juga menjadi pertanyaan bagi peneliti. Setelah dicari tahu, ternyata bunga kemboja ini melambangkan kelahiran dan kematian. Seperti halnya manusia yang pasti mengalami kelahiran dan juga kematian. Dihempas angin, didera hujan Disengat matahari, dicekam cerita Dari kutipan di atas, diri manusia ini digambarkan mengalami banyak masalah. Namun penulis tidak secara langsung menyebutkannya. Masalah atau ujian ini disimbolkan melalui fenomena alam, seperti dihempas angin, didera hujan, disengat matahari, dan dicekam cerita. Masalah atau ujian ini wajar dialami oleh setiap manusia, entah itu ujian yang rumit atau ujian yang mudah untuk kemudian dicari tahu solusi serta penyelesaian dari permasalahan tersebut.
194 Dan aku ‘kan mengingatnya Kutipan di atas, kata “mengingatnya“ merujuk pada Tuhan. Manusia tidak dapat memperkirakan masalah apa yang akan dialaminya. Bahkan ketika sekarang sedang bahagia tidak ada jaminan bahwa satu detik atau menit berikutnya ia akan tetap bahagia, bisa saja setelahnya ia mengalami masalah yang tak terduga. Dan ketika kita mengalami kondisi seperti itu, kita hanya dapat terus mengingat Tuhan karena hanya Tuhan lah yang dapat dijadikan sandaran. Sebagai cinta yang memahami Bagaimanapun akhir cerita kita Kutipan di atas, kata ”cinta“ menjadi simbol kasih sayang. Ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, kita akan cenderung memahami apapun yang dia lakukan. Dalam hal ini, sebagai cinta yang memahami memiliki makna bahwa sebagai manusia yang mencintai Tuhan-Nya akan memahami bagaimanapun takdir yang sudah digariskan olehNya. Manusia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menghampirinya namun ia juga harus menyiapkan ruang ikhlas untuk menerima apapun nanti hasil akhirnya. Manusia hanya mampu berencana dan berusaha sebaik-baiknya, tetapi untuk hasil akhirnya itu sudah di luar kendali manusia. Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu Pada Dia, pemilik semesta Dari kutipan di atas, kata “menyerukan rindu“ menyimbolkan doa-doa atau dzikir. Dan pada kata “Pada Dia, pemilik semesta“ menyimbolkan Tuhan karena Tuhan adalah pemilik semesta raya ini. Setelah melewati banyak masalah dan sudah berusaha sebaikbaiknya untuk menyelesaikannya, ia kemudian berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Berdoa juga menjadi sarana untuk menyalurkan rasa rindu yang mendalam, memohon diberikan kemudahan, hasil yang terbaik dan bercerita tentang perasaan yang dialaminya. Dan yang terakhir adalah berserah diri, berserah diri kepada takdir yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Melalui lirik lagu ini, kita seolah diajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagaimana lirik lagu ini mencoba menggambarkan kehidupan yang dialami oleh diri