195 manusia, yaitu kelahiran sampai kematian. Dan dalam kehidupan ini tentu saja kita akan dihadapkan dengan berbagai masalah atau ujian, baik itu yang mudah atau yang rumit untuk kemudian bisa dicari tahu bagaimana penyelesaiannya. Setelah berusaha keras untuk menyelesaikannya, kita kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Apapun nanti hasil akhirnya, setidaknya kita sudah mengusahakan yang terbaik. DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2005). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta. Penerbit PT Kanisius.
196 MAKNA CINTA DALAM LIRIK LAGU “ASMARA” KARYA SILVER (HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR) Selina Wulandari (21210141004) Pada saat ini, banyak orang yang sangat suka untuk mendengarkan lagu untuk menemani dalam melakukan pekerjaan ataupun lainnya. Tidak heran bahwa semakin berkembangnya zaman, maka semakin banyak sekali berbagai jenis genre lagu yang diciptakan. Lagu merupakan salah satu karya sastra yang mempunyai tujuan salah satunya untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakan oleh penulis, atau mendeskripsikan orang lain. Adanya faktor penyampaian emosi dalam sebuah apresiasi karya sastra seperti lagu, karena sebuah lagu dapat dirasakan emosi dan perasaan jika diiringi dengan adanya penghayatan dalam menyampaikan dan iringan lagu yang membantu dalam menyampaikan pesan. Lagu yang banyak disukai oleh kalangan remaja yaitu lagu yang mempunyai makna cinta di dalamnya. Saat sedang jatuh cinta, jika mendengarkan lagu cinta hati akan terasa senang dan akan sangat berbunga-bunga. Seperti pada lagu Asmara yang diciptakan oleh ‘Silver’, lirik pada lagu ini mempunyai makna cinta, bahwa penulis sedang jatuh cinta pada seseorang. Penulis yakin terhadap dirinya sendiri, akan tetap tenang dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan seseorang yang disukai olehnya. Lagu ini sangat cocok sekali didengar ketika kita sedang jatuh cinta, dan lirik lagu yang ada di dalamnya sangat mudah untuk dihafalkan. Lagu ini dapat didengarkan oleh siapapun. Hermeneutika adalah seni memahami yang merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang interpretasi makna suatu teks. Hermeneutika menurut Paul Ricoeur ini merupakan teori mengenai aturan penafsiran terhadap teks tertentu atau sekumpulan tanda atau simbol yang dianggap sebagai sebuah teks. Maka dari itu, kajian ini akan mengkaji mengenai makna yang terdapat dalam lirik lagu Asmara karya Silver. Ragam rupa rasa berbeda Sejuk indah bila bersama
197 Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa ada banyak manusia seperti seseorang yang disukainya, tetapi penulis merasakan rasa yang berbeda kepada perempuan itu. Maka apa yang dilakukan oleh penulis akan sangat indah dan berwarna jika ia mendapatkan perempuan yang disukainya, dan bersama-sama. Terhanyut dalam nada-nada asmara Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa semakin lama penulis sangat jatuh cinta dengan perempuan yang disukainya itu. Semua yang telah ada Perlahan akan nyata Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa dengan hati-hati penulis menjaga perasaan dengan penuh kesabaran, dan penulis sangat yakin dengan proses untuk mendapatkan cinta perempuan yang disukainya dengan tenang dan tidak terburu-buru. Sejumlah rasa kian menjulang Rasa sejuk makin tak tertahan Warnai indah-indah karsa dunia Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa rasa cinta yang ada semakin nyata dan semakin tak tertahan, ia telah merasakan jatuh cinta kembali terhadap perempuan yang disukainya sehingga ia menganggap bahwa perasaannya sangat indah terhadap perempuan itu. Seakanakan dunia terasa berwarna kembali semenjak merasakan jatuh cinta kepada perempuan yang disukainya. Cita cinta kita Tak akan pernah sirna Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa rasa cinta yang dimiliki untuk perempuan itu tidak akan pernah hilang, ia akan terus memperjuangkan cinta yang telah muncul yang ada pada dirinya. Aku tak tau mengapa Cintaku bersemi Di malam ini
198 Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa ia tidak tahu mengapa rasa cinta muncul pada saat malam itu, perasaan cinta yang hilang telah muncul kembali dan membuat perasaan yang sangat indah dan membuat perasaan yang sangat berbunga-bunga. Wahai cinta yang indah Datang jangan menghilang Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa ia mengharapkan bahwa perasaan cinta yang telah datang tidak akan pernah menghilang, dan akan tetap ada di dalam hatinya. Ia merasakan perasaan cinta yang mendalam sehingga tidak ingin semuanya usai dan mengharapkan yang terbaik nantinya. Jalani kisah-kisah asmara denganku Kita kan bersama selama-lamanya Lirik lagu diatas memiliki arti bahwa ia ingin menjalankan kisah cintanya bersama perempuan yang disukainya, ia akan memastikan bahwa akan terasa indah dan akan sangat berwarna jika perempuan itu ingin bersamanya dan menjalani kehidupan yang indah bersama selama-lamanya. DAFTAR PUSTAKA Fitrianto, F. (2022). Memaknai Lagu “Andaikan Kau Datang Kembali” dengan Hermeneutika Paul Rucoeur. Diakses pada 10 Juni 2024. https://www.kompasiana.com/ferry53514/62ab2d94fdcdb4499146cd12/memaknailagu-andaikan-kau-datang-kembali-dengan-hermeneutika-paul-ricoeur Permatasari, G. R. (2024). Silver Sampaikan Hangatnya Perjalanan Cinta Lewat Single Perdananya “Asmara”. Diakses pada 10 Juni 2024. https://megalife.media/2024/02/01/sliver-sampaikan-hangatnya-perjalanan-cintalewat-single-perdananya-asmara/ Rokhmah, F. N. (2014). Syair Lagu Religi Wali Band Sebagai Media Transformasi Nilai Pendidikan Islam: Kajian Hermeneutika dalam Teks Sastra. Vol.3, No. 2. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/admin,+Journal+manager,+raushan+fikr+vol+3+n o+2+2014_9%20(1).pdf
199 Syafruddin Pohan, dkk. (2023). Analisis Hermeneutika Perempuan dalam Lagu Rayuan Perempuan Gila. Vol. 4, No. 2. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. Universitas Sumatera Utara. https://www.journal.bungabangsacirebon.ac.id/index.php/communicative/article/view /1338/940
200 ANALISIS MAKNA CINTA PADA LIRIK LAGU “KAU RUMAHKU” KARYA RAISSA ANGGIANI MENURUT KAJIAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Rolla Adindya Kusuma (21210141010) Hermeneutika adalah cabang filsafat yang berfokus pada teori dan metodologi interpretasi, terutama interpretasi teks. Istilah ini berasal dari kata Yunani "hermeneuein," yang berarti "menafsirkan" atau "menjelaskan," dan berkaitan dengan dewa Hermes yang bertindak sebagai utusan dan penafsir pesan-pesan dewa. Hermeneutika memiliki aplikasi yang luas, mencakup bidang teologi, hukum, sastra, dan ilmu sosial. Hermeneutika merupakan teori yang membahasa bagaimana kita memahami dan menafsirkan teks, simbol, dan makna. Ini melibutkan metode dan prindip yang digunakan untuk menafsirkan teks-teks tertulis, ucapan dan bahkan tindakan sosial. Hermeneutika bermula dari penafsiran teks-teks agama, terutama dalam tradisi Yahudi dan Kristen, seperti penafsiran Alkitab. Seiring berjalannya waktu, hermeneutika berkembang menjadi disiplin yang lebih luas, mencangkup penafsiran teks-teks hukum, sastra, dan akhirnya segala bentuk komunikasi manusia. Perkembangan hermeneutic modern dipengaruhi oleh pemikiran filsuf-filsuf seperti Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, Friedrich Schleiermacher dan Paul Ricoeur. Paul Ricoeur merupakan seorang filsuf adalah Prancis yang terkenal dengan kontribusinya dalam hermeneutika, khususnya dalam analisis teks sastra. Konsep utama dari hermeneutika Paul Ricoeur yang relevan untuk analisis teks sastra ialah Tindakan simbolis, distansiasi, lingkaran hermeneutik, kedalaman makna, metafora dan narasi serta hermeneutika kecurigaan. Paul Ricoeur memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami kedalaman makna cinta dengan memanfaatkan konsep-konsep seperti tindakan simbolis, lingkaran hermeneutic, dan kedalaman makna dapat diterapkan untuk memahami makna cinta secara mendalam. Lagu “Kau Rumahku” karya Raissa Anggiani adalah sebuah karya yang menggambarkan perasaan cinta dna hubungan yang mendalam antara dua individu. Dengan menggunakan konsep-konsep hermeneutika dari Paul Ricoeur sebagai berikut:
201 Lirik Lagu "Kau Rumahku" Bagaikan sungai yang tak punya malu Mengalir meskipun terancam surut Lalu kakimu melangkah ke rumahku Setengah melirik, mencoba rayu Apa yang kauinginkan Dari senyumku, ya Tuan? Gemar s'kali kaulukiskan bintang untukku Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati Yang hampir mati 'Kan kuletakkan hangat di tengah dekap kita Jangan biarkan ku pulang Ke rumah yang bukan engkau Du-du-du Ah-du-du-du-du-oh Bicarakan tentang seisi dunia Perlahan mendekat, bisikkan cinta Membuatku terlena Ke dalam pesona sukma yang begitu indah Apa yang kauinginkan Dari senyumku, ya Tuan? Oh Gemar s'kali kaulukiskan bintang untukku Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati Yang hampir mati 'Kan kuletakkan hangat di tengah dekap kita Jangan biarkan ku pulang Ke rumah yang bukan engkau Jika mampu ku menjelajahi langit 'Kan kupetik pelangi 'tuk warnai harimu
202 Jangan khawatir, masih ada aku Jangan khawatir, masih ada aku Gemas s'kali kaulukiskan bintang untukku Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati Yang hampir mati 'Kan kuletakkan hangat di tengah dekap kita 'Kan aku persilahkan kau menetap di sini 1. Tindakan Simbolis Paul Ricoeur menekankan bahwa setiap tindakan manusia adalah simbolis dan membawa makna yang lebih dalam. Dalam lirik “Kau Rumahku” terdapat banyak Tindakan simbolis yang menggambarkan cinta dan hubungan: Bagaikan sungai yang tak punya malu Mengalir meskipun terancam surut Cinta diibaratkan sebagai sungai yang terus mengalir meskipun mengahdapi rintangan. Ini menunjukkan ketekunan dan keberanian dalam cinta. Gemas s'kali kau lukiskan bintang untukku Melukiskan bintang adalah tindakan simbolis yang menggambarkan usaha pasangan untuk membawa kebahagiaan dan keajaiban dalam kehidupan pasangannya. Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati Yang hampir mati Tindakan pasangan yang menyembuhkan dan membangun kembali hati yang hampir mati menunjukkan kekuatan penyembuhan dan dukungan dalam cinta. 2. Lingkaran Hermeneutik Lingkaran hermeneutika adalah proses dinamis antara keseluruhan dan bagian. Untuk memahami makna cinta dalam lagu ini, perlu melihat bagian-bagian lirik dan bagaimana kontribusi pada pemahaman keseluruhan: a. Bagian Lirik Lalu kakimu melangkah ke rumahku
203 Menggambarkan tindakan fisik mendekati seseorang, symbol dari keintiman dan kedekatan. Jangan biarkan ku pulang Ke rumah yang bukan engkau Menunjukkan keinginan untuk tetap bersama pasangan, menganggap pasangan sebagai rumah sejati. Perlahan mendekat, bisikan cinta Membuatku terlena Ekspresi kelembutan dan keintiman dalam cinta b. Keseluruhan Makna Keseluruhan makna lirik lagu “Kau Rumahku” menggambarkan cinta sebagai tempat perlidungan dan kenyamanan, di mana pasangan adalah “rumah” yang memberikan rasa aman dan kehangatan. Lingkaran hermeneutika membantu kita memahami bagaiaman setiap Tindakan dan symbol dalam lirik yang berkontribusi pada tema utama cinta sebagai tempat berlindung. 3. Kedalaman Makna Hermeneutik Paul Ricoeur percaya bahwa interpretasi yang mendalam harus menggali lapisanlapisan makna yang lebih dalam dari teks. Dalam lirik “Kau Rumahku” kedalaman makna dapat diekplorasi melalui berbagai lapisan: a. Lapisan Metaforis Dalam lirik lagu “Kau Rumahku” terdapat lapisan Metafora seperti beberapa lirik lagu dibawah “cinta adalah sungai” “kau rumahku” Lirik ini menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang mengalir terus menerus dan memberikan perlindungan. Metafora ini membantu pendengar merasakan kedalam dan kekuatan cinta yang digambarkan dalam lagu ini. b. Lapisan Emosional Dalam lirik lagu “Kau Rumahku” ada beberapa lapisan emosional yang bisa kita liat.
204 Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati Yang hampir mati Jangan khawatir, masih ada aku Lirik ini mengungkapkan perasaan mendalam dari kepercayaan, penyembuhan, dan dukungan emosional dalam hubungan cinta. c. Lapisan Kritikal Dengan hermeneutika kecurigaan, dapat dilihat apakah ada makna yang tersembunyi di balik ekpresi cinta ini. Misalnya. Apakah ada ketakutan kehilangan atau ketergantungan emosional yang kuat yang tersembunyi di balik kata-kata yang penuh cinta dan komitmen. DAFTAR PUSTAKA Ricoeur, Paul (1967)[1960]. The Symbolism of Evil. terj. Emerson Buchanan. Boston: Beacon. Ricoeur, Paul (2016) [1981]. Hermeneutics & the Human Science. ed. dan trans. John B. Thompson. New York: Cambridge University Press. Syafruddin Pohan, dkk. (2023). Analisis Hermeneutika Perempuan dalam Lagu Rayuan Perempuan Gila. Vol. 4, No. 2. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. Universitas Sumatera Utara.
205 Representasi Perempuan dalam Lagu “Rayuan Perempuan Gila” Karya Nadin Amizah Ina Aula Mualifah (21210141032) Lagu merupakan salah satu karya sastra yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Lagu menjadi salah satu pilihan dari banyaknya jenis karya sastra untuk menjadi wadah bagi para musisi dalam mengekspresikan diri. Selain karena memiliki irama yang indah, lagu juga memiliki lirik yang menjadi salah satu tujuan untuk mengekspresikan diri, baik bagi penciptanya sendiri maupun bagi penikmat atau pendengarnya. Lirik yang dimiliki lagu juga dapat menjadi sarana bagi pencipta dan penikmatnya untuk dapat melupakan emosi yang serupa. Sekarang, sudah ada banyak jenis genre lagu yang diciptakan dan dapat dinikmati untuk berbagai kalangan, salah satunya yaitu lagu pop. Strinati (dalam Djito, dkk, 2020:4) menegaskan bahwa musik populer merupakan musik yang easy listening dan bisa didengarkan tanpa menggunakan banyak perhatian khusus. Musik pop menjadi salah satu alternatif bagi banyaknya orang untuk dapat mendengarkan musik dengan lirik yang santai, apalagi, masyarakat sekarang mendengarkan musik untuk mendukung momen-momen tertentu yang sedang dialami. Lirik yang terdapat dalam lagu merupakan salah satu bentuk ungkapan perasaan layaknya puisi. Lirik lagu diciptakan untuk mengungkapkan rasa yang dilihat dan dimiliki pengarang untuk disampaikan kepada penikmat lagu atau pendengar. Di Indonesia sendiri, sudah banyak lirik lagu yang merepresentasikan perasaan atau ungkapan rasa yang dimiliki penciptanya. Salah satu musisi tanah air yang terkenal dengan lirik lagunya yang indah dan puitis, yaitu Nadin Amizah. Nadin Amizah merupakan salah satu musisi Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri dalam membawakan lagu-lagunya. Suaranya yang indah dan lirik lagu yang memiliki diksi-diksi bagus membuat para pendengarnya betah dan terus menanti karyanya yang lain. Salah satu lagu Nadin yang banyak digemari di kalangan remaja yaitu Rayuan Perempuan Gila. Lagu yang berjudul Rayuan Perempuan Gila atau RPG merupakan salah satu lagu yang terdapat pada album terbaru Nadin yaitu Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya. Lagu RPG tentu sangat menarik
206 untuk dibahas atau dimaknai, karena selain irama dalam lagu yang indah, diksi yang terdapat dalam lirik lagu ini juga memiliki makna tersendiri bagi setiap pendengarnya. Ricoeur (2015: 240) berpendapat bahwa hermeneutika merupakan upaya untuk menyingkap maksud dari sebuah teks. Ricoeur menyebutkan hermeneutika bertugas untuk memahami makna yang terdapat pada teks-teks dan juga memahami dunia dan kehidupan melalui teks tersebut. Dalam lingkar hermeneutika Ricoeur, terdapat dua hal utama yaitu percaya dan memahami. Dalam hal ini, Ricoeur menegaskan bahwa dalam memaknai, kita harus percaya untuk mengerti atau memahami dan kita juga harus mengerti atau memahami untuk percaya. Penulis memahami lirik lagu yang terkandung dalam lagu Rayuan Perempuan Gila merupakan representasi kehidupan perempuan dalam ketakutannya menghadapi perasaan cinta. Dalam proses memahami, penulis menemukan bagaimana ketakutan dan kekhawatiran perempuan tergambar jelas dalam lirik lagu tersebut. “Menurutmu, berapa lama lagi kau kan mencintaiku?” “Menurutmu, apa yang bisa terjadi dalam sewindu?” Dalam penggalan dua lirik lagu tersebut, dapat terlihat bahwa ketakutan dan kekhawatiran pencipta lagu tentang pasangan yang dimiliki tergambar melalui lirik. Kata “berapa lama” dalam lirik seakan menunjukkan bahwa pencipta lagu takut tentang rasa cinta yang dimiliki pasangannya tidak akan bertahan lama. Lirik kedua, mempertanyakan kejadian yang akan terjadi dalam sewindu seolah merepresentasikan bahwa semua hal bisa terjadi dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan karena kita tidak tahu tentang apa yang akan terjadi kedepannya. “Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu aku takut” “Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu” “Yang terjadi sebelumnya” “Semua orang, takut padaku” Lirik ini seolah “aku” menempatkan dirinya untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk yaitu tidak dicintai lagi karena rasa tidak percaya dirinya, atau bisa saja karena
207 kejadian masa lalu yang membuat dia tidak percaya diri jika dia dicintai. Kekhawatiran dan ketakutan tergambar jelas dari kata “takut” yang disampaikan di lirik tersebut. “memang tidak mudah” “mencintai diri ini” “namun, aku berjanji” “Akan mereda seperti semestinya” Penggalan lirik tersebut menunjukkan bahwa “aku” berusaha untuk mempercayai dan berusaha untuk menjadi “perempuan” yang semestinya. Dalam lirik ini, pencipta lagu seakan menjelaskan, meskipun tidak mudah untuk terus mencintai, tetapi dia berusaha untuk terus melakukan banyak hal agar dia layak untuk dicintai. “Menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku?” “Menurutmu, apa yang bisa dicinta dari diriku?” Lirik di atas, pencipta lagu seakan memberitahu bahwa “perempuan” mempertanyakan mengenai rasa cinta pasangannya terhadap dirinya. dia juga mempertanyakan tentang apa yang bisa dicintai dari dirinya karena banyaknya kekurangan yang dimilikinya. Ketakutan dan rasa tidak percaya diri tergambar jelas dalam penggalan lirik tersebut. “Panggil aku, perempuan gila” “hantu berkepala, keji membunuh kasihnya” Dalam lirik lagu tersebut, pengambilan kata “perempuan” yang disandingkan dengan kata “gila” seakan menunjukkan representasi dari seberapa takutnya “aku” di dalam hubungan tersebut. Gila yang dimaksud buka dalam artian gila yang sebenarnya, tetapi tentang bagaimana “perempuan” tersebut terus membombardir pasangannya dengan banyaknya pertanyaan keraguan dan pertanyaan atas kekurangan yang dimilikinya. Dalam lanjutan lirik tersebut, kata “hantu” dan “membunuh” bermaksud untuk memberitahukan bahwa “perempuan” menghantui atau terus mempertanyakan semua hal sehingga dia membuat hubungan yang sebelumnya tidak berhasil. “penuh ganggu, di dalam jiwanya” “sambil penuh cinta, diam-diam berusaha”
208 Dalam lirik sebelumnya, penulis lagu menandai bahwa dirinya gila dan pada lirik berikutnya, dia menyandingkan dirinya dengan kata “ganggu” seolah jiwanya memang terganggu atau gila. Meskipun beranggapan bahwa jiwa yang dimilikinya terganggu, dia secara tidak langsung berusaha untuk sembuh. “selalu tahu, akan ditinggalkan” “namun, demi Tuhan, aku berusaha” Sekali lagi, kata “berusaha” ditekankan penulis lagu dalam lirik terakhir karena ingin memberitahu, bahwa, meskipun dia tahu dia memiliki banyak kekurangan dan merasa bahwa pada akhirnya dia akan ditinggalkan, dia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk merasa pantas bersanding dengan pasangannya. Secara keseluruhan, penulis dapat memahami bahwa lirik lagu RPG ini merepresentasikan seorang perempuan yang memiliki banyak ketakutan, kekhawatiran, kekurangan dengan menganggap bahwa dia “gila”. Hal tersebut ditunjukkan dengan bagaimana penulis menulis banyak pertanyaan-pertanyaan yang umumnya memang banyak ditanyakan perempuan pada pasangannya. Perempuan dalam lagu ini menyadari bahwa meskipun hubungan sebelumnya selalu gagal karena pertanyaan-pertanyaan keraguan tersebut, dia tetap berusaha untuk terlihat lebih baik dan layak untuk dicintai. Melalui pemahaman tersebut, penulis percaya bahwa lirik yang terdapat pada lagu Rayuan Perempuan Gila ini merupakan representasi seorang perempuan pada umumnya yang terus merasa bahwa dirinya kurang dan terus mempertanyakan kepada pasangannya tentang seberapa cinta dan apa yang dapat dicintai dari dirinya. REFERENSI Djito, Sumartini, N., & Mudiani, N. M. (2020). Lagu-lagu populer Indonesia. Jakarta:Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Derida. PT Kanisius. Musixmatch. (2023, Juni). Rayuan Perempuan Gila. Diakses pada 10 Juni 2024 melalui https://www.musixmatch.com/lyrics/Nadin-Amizah/Rayuan-Perempuan-Gila.
209 Selvyanti, R. & Lestari, V., E. (2022). Analisis Makna dalam Lirik Lagu ”Rehat. Sulung. Dan Pilu Membiru: Karya Kunto Aji: Analisis Hermeneutika. Ta’rim: Jurnal Pendidikan dan Anak Usia Dini. Vol 3, (3) pp. 18-25. https://doi.org/10.59059/tarim.v3i3.19
210 ANALISIS HERMENEUTIKA TERHADAP LAGU “TARUH“ MILIK NADIN AMIZAH Tia Aprilita (21210141033) Karya sastra adalah salah satu cabang seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra berarti karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan isi dan ungkapannya. Karya sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menuangkan ide, gagasan, serta imajinasi penulisnya. Dalam penulisan karya sastra banyak menggunakan kiasan atau mengandung metafora. Metafora biasanya banyak terdapat dalam puisi ataupun lirik lagu. Lagu termasuk ke dalam jenis karya sastra. Lagu adalah karya sastra yang dilengkapi dengan faktor-faktor penyampian emosi (Wulandari, 2023). Sebuah lagu akan bisa dirasakan emosi dan perasaannya apabila diiringi dengan penghayatan, selain itu lagu juga membantu dalam proses penyampaian pesan. Lagu menjadi salah satu karya sastra yang diminati oleh banyak masyarakat dari masa ke masa. Lagu adalah sarana untuk meluapkan emosi iri, baik tentang sindiran, opini, rasa cinta, kecewa, kesedihan, keputusasaan, dan sebagainya (Wulandari, 2023). Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Subagiharti, dkk (2022) bahwa puisi lirik dengan bentuk lagu dapat berupa pengungkapan kisah hati dari penulis itu sendiri maupun penggambaran tentang suatu hal lainnya seperti fenomena yang sedang terjadi pada suatu masa. Di Indonesia sendiri banyak lagu yang terkenal dan memiliki diksi yang indah. Salah satunya adalah lagu berjudul “Taruh” yang dinyanyikan oleh Nadin Amizah. Lagu ini terdapat dalam album “Selamat Ulang Tahun”. Lagu ini diciptakan oleh Nadin Amizah, Dissa Kamajaya, dan Doni Manarung yang dirilis pada tahun 2020. Setiap lirik dalam lagu ini ditulis dengan rapih dan sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Lagu ini begitu digemari oleh masyarakat, respon masyarakat begitu positif terhadap lagu ini. Hal ini bisa dilihat dari antusias masyarakat dalam mendengarkan lagu ini di berbagai platform, di Spotify lagu ini memiliki 8,4 juta pendengar bulanan dan 9,7 juta kali ditonton di YouTube.
211 Mendengarkan sebuah lagu tentu akan menghasilkan suatu tindakan atau reaksi dari pendengarnya ketika bisa memahami makna dari lagu tersebut. Salah satu cara untuk dapat memahami makna dalam karya sastra khususnya lagu dapat menggunakan hermeneutika Paul Ricoeur. Menurut Ricoeur (Ricoeur, 2021: 40) konstruksi makna benar-benar dapat dihasilkan oleh lebih dari satu interpretasi terhadap sebuah teks. Menurutnya interpretasi dikaitkan dengan struktur simbol autentik (Ricoeur, 2021: 39). Ricoeur memiliki teknik interpretasi lingkaran hermeneutik melalui model penjelasan dan pemahaman. Penjelasan berarti merefleksikan atau mengnalisis, sedangkan memahami berarti menafsirkan. Berikut adalah interpretasi lagu Taruh: Ku sudah tahu dari awal, Mencintai bukan perkara kebal, Jauh dari kata mudah dan asal, Kupelajari sedari kecil Kata kebal berarti kuat, tidak akan terluka oleh senjata. Kebal yang dimaksud dalam lirik ini adalah kemampuan untuk bertahan dari rasa sakit akibat percintaan. Kemudian kata asal berarti bukan hal yang mudah. Kata asal di sini maksudnya adalah membutuhkan banyak waktu untuk dapat belajar dan mengerti agar bisa menikmati dan memaknai percintaan. Dalam lirik ini, sosok ‘aku’ telah memahami kalau mencintai bukan suatu hal yang tahan dengan rasa sakit, mncintai bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut telah ia ketahui sejak kecil, contohnya dari pengalaman yang ia lihat pada kedua orang tuanya. Berteriak di atas tenggorokan, Hujan serapah dan makian, Hancur lebih mudah dari bertahan, Kupelajari sedari kecil Kata serapah berarti kutuk, sebuah ucapan yang tidak baik akibat melihat hal yang tidak disenangi. Contohnya menyumpahi orang lain dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam lirik ini maksud kata serapah adalah merujuk pada tindakan orang lain yang mengomentari percintaan seseorang, hingga hal tersebut bisa membuat hubungan seseorang menjadi hancur. Aku sudah tahu dari awal, Rasa takut masih kugenggam nyaman, Cinta dan jenisnya seperti seram, Kupelajari sedari kecil Kata genggam berarti kepalan atau cengkeraman tangan pada waktu memegang. Pada lirik Rasa takut masih kugenggam nyaman di sini maksudnya adalah rasa takut yang masih
212 disimpan dan belum bisa hilang. Hal ini bisa merujuk pada peristiwa traumatis yang dialami seseorang (sosok aku), contohnya hubungan yang gagal sebelumnya. Hal ini bisa merujuk pada hubungan sosok ‘sku’ sendiri atau hubungan kedua orang tuanya. Pengalaman tersebut membuat seseorang merasa bahwa hubungan percintaan bukanlah hal yang menyenangkan. Dan dari situ cara pandangku, Melihat cinta berwarna keruh, Seperti bertaruh apa kau dan aku, Akan jadi sama seperti itu Kata keruh dalam lirik tersebut berarti buram karena kotor, tidak jernih, atau kacau. Lirik sini berkaitan dengan pengalaman percintaan traumatis yang dialami seseorang di masa lalu yang membuatnya merasa bahwa percintaan adalah suatu yang kacau. Pengalaman masa lalu membuatnya merasa takut dan khawatir mengenai hubungannya yang baru apakah akan berakhir gagal atau tidak. Aku punya harapan untuk kita, Yang masih kecil di mata semua, Walau takut kadang menyebalkan, Tapi sepanjang hidup ‘kan kuhabiskan Kata kecil di ini berarti kurang besar atau tidak besar. Kemudian kata habiskan berarti tidak ada yang tersisa. Hal ini merujuk pada sosok ‘aku’ yang mulai semangat untuk menjalani hidup atau hubungan barunya. Walaupun masih dianggap anak kecil dan belum dewasa, tapi ia paham dengan apa yang harus dilakukan. Meskipun perasaan takut masih sering mengganggunya ia tetap akan melanjutkan hidupnya. Walau tak terdengar masuk akal, Bagi mereka yang tak percaya, Tapi kita punya kita, Yang akan melawan dunia Lirik lagu tersebut masih berkaitan makna dengan lirik sebelumnya, setelah timbul perasaan optimis dan yakin maka sosok ‘aku’ akan mengabaikan perkataan orang lain karena dia merasa bahwa hidupnya/hubungannya adalah miliknya yang ditandai dengan lirik Tapi kita punya kita. Sementara lirik melawan dunia di sini maksudnya adalah melawan perkataan orang-orang, maksdunya membuktikan bahwa ucapan buruk dari orang lain tidak akan mepengaruhinya. Berdasarkan keseluruhan makna dari lirik lagu “Taruh” di atas, maka tak mengherankan jika lagu ini akan memberikan efek kepada pendengarnya. Bahwa seperti
213 apapun ucapan buruk dari orang lain tidak boleh menyurutkan semangat. Selain itu, pengalaman buruk di masa lalu memang ada kalanya membuat seseorang merasa takut, tapi rasa takut tersebut harus dihadapi. Selain itu, bagi pendengar yang memiliki permasalahan seperti makna dari lagu tersebut akan menimbulkan reaksi berupa perasaan optimis pada kehidupannya atau hubungannya. DAFTAR PUSTAKA Ricoeur, P. (2021). HERMENEUTIKA DAN ILMU-ILMU HUMANIORA. Yogyakarta: IRCiSoD. Subagiharti, H., Handayani, D. S., Herawati, T., Rambe, A. A., & Astuti, D. (2022). Analisis Gaya Bahasa dalam Lagu-Lagu Karya Fiersa Besari Berdasarkan Kajian Hermeneutika. AFoSJ-LAS, Vol. 2, No. 2, pp. 93-100. Wulandari, D. (2023). ANALISIS HERMENEUTIKA DALAM LIRIK LAGU SLANK “NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG”. JUKIM, Vol. 2, No. 1.
214 Nilai Pendidikan Islam dalam Lirik Lagu Letto “Lubang Hati” Pebrianur Yuliana (21210141035) Lirik lagu merupakan salah satu bentuk karya sastra. Lirik lagu berisi sekumpulan kata yang membentuk makna tertentu, yang digunakan pencipta lagu untuk menyampaikan visi misi kemanusiaan dan kehidupan. Berbeda dengan novel atau cerita pendek, lirik lagu harus menggunakan bahasa yang cukup singkat dan padat sebab penggunaannya terbatas dan harus disesuaikan dengan musiknya. Karena terbatasnya panjang bahasa yang digunakan, bahasa dalam lirik lagu seringkali menggunakan bahasa kiasan, sehingga penikmat lagu perlu menelaah lebih dalam untuk dapat memahami makna sesungguhnya dari lagu yang mereka dengar. Salah satu lirik lagu yang memuat makna mendalam tentang kehidupan adalah lagu Letto yang berjudul “Lubang Hati”. Lagu ini menceritakan tentang ucapan syukur hamba kepada Tuhannya atas nikmat yang diberikan. Untuk menganalisis makna yang ada dibalik lagu ini, dapat menggunakan pendekatan hermeneutik. Hermeneutika adalah ilmu untuk memahami dan menafsirkan sebuah teks. Salah satu tokoh hermeneutik yang terkenal adalah Paul Ricoeur. Menurut Ricoeur, hermeneutika adalah penafsiran tentang tanda atau simbol yang dianggap sebagai teks. Tujuannya untuk menghilangkan misteri dari simbol atau tanda tersebut dari sesuatu yang menutupinya sehingga pembaca suatu teks dapat menafsirkan dan menemukan makna sesungguhnya dari simbol dan tanda yang digunakan dari sebuah teks. Analisis lagu “Lubang Hati” menggunakan pendekatan Hermeneutik Paul Ricoeur akan dilakukan dengan tiga tahapan. Yang pertama dengan mencatat simbol atau tanda yang digunakan dalam lirik lagu “Lubang Hati”. Langkah kedua yaitu dengan menggali makna simbol atau tanda yang telah didapatkan dalam lirik lagu. Ketiga, simbol yang sudah ditemukan maknanya akan digunakan sebagai analisis lanjut terkait nilai pendidikan islam yang ada dalam lirik lagu “Lubang Hati”. Dalam lirik lagu “Lubang Hati”, ditemukan beberapa simbol atau tanda, antara lain anugerah cintanya, lubang dalam hati, obat, dan perjalanan. Simbol-simbol tersebut
215 menjadi poin penting dalam proses penafsiran lirik lagu secara keseluruhan. Setelah dianalisis lebih lanjut, hasil tafsir dari tanda atau simbol tersebut adalah sebagai berikut. Kubuka mata dan kulihat dunia T’lah kuterima anugerah cintanya Lirik tersebut menjadi pembuka dalam lagu “Lubang Hati”. Kubuka mata dan kulihat dunia menggambarkan ketika manusia memulai kehidupannya. Hal ini dapat berarti ketika manusia pertama kali dilahirkan, atau ketika manusia membuka mata untuk pertama kalinya. T’lah kuterima anugerah cintanya menunjukkan bahwa manusia telah mendapatkan anugerah cinta dari sang penciptanya. Anugerah cinta di sini dapat ditafsirkan sebagai nikmat sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepada hambanya. Tuhan telah memberikan nikmat kepada manusia bahkan sesaat manusia baru saja membuka matanya. Tak pernah aku menyesali yang kupunya Tapi kusadari ada lubang dalam hati Lirik tak pernah aku menyesali yang kupunya menunjukkan bahwa manusia bersyukur dengan menerima dengan baik nikmat yang diberikan kepadanya. Kemudian lirik tapi kusadari ada lubang dalam hati menunjukkan bahwa ada kejanggalan dan ketidaktahuan terhadap siapa yang telah memberikan mereka nikmat. Lubang di dalam hati dapat ditafsirkan sebagai ketidaktahuan manusia kepada yang maha pemberi nikmat, sehingga manusia merasa ada sisi kosong dari dalam dirinya. Kumengira hanya dialah obatnya Tapi kusadari bukan itu yang kucari Kata obat dalam lirik di atas dapat dimaknai sebagai jawaban atas pertanyaan siapa yang memberikan nikmat kepada manusia selama ini. Hal itu juga merupakan jawaban dari simbol lubang hati yang terdapat pada lirik sebelumnya. Lirik tapi kusadari bukan itu yang kucari menunjukkan bahwa sebenarnya lubang hati yang dimaksud pada lirik sebelumnya bukan hanya sebatas bertanya siapa yang telah memberikan kenikmatan kepada manusia, tetapi juga menunjukkan bahwa rasa syukur yang dilakukan manusia bukan terbatas pada pengetahuan tentang siapa Tuhannya, melainkan juga hubungan kerohanian dengan
216 Tuhannya. Manusia perlu mengikat ruh kepada Tuhan untuk bisa benar-benar mengenal Tuhannya. Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan Dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti Perjalanan panjang pada lirik tersebut dapat ditafsirkan sebagai kehidupan manusia di dunia. Perjalanan kehidupan manusia digambarkan sebagai perjalan kehidupan yang panjang dan melelahkan dengan rintangan dan ujian. Namun, di lirik selanjutkan dijelaskan bahwa Tuhan tidak ingin manusia menyerah dengan ujian dan rintangan yang akan dilewati. Secara garis besar, lirik lagu “Lubang Hati” dapat dianalisis maknanya melalui petunjuk simbol-simbol teks yang ada di dalam lirik lagu tersebut. Lagu “Lubang Hati” menceritakan tentang perjalanan rohani manusia untuk mencari siapa pemberi nikmat yang selama ini mereka dapat dari pertama kali manusia menjalani kehidupan. Judul lagu “Lubang Hati” juga menjadi simbol utama yang menggambarkan bahwa manusia tidak ada apa-apanya tanpa sang maha pencipta dan sang maha pemberi. Adapun melalui hasil tafsir pemaknaan lirik lagu “Lubang Hati”, dapat diperoleh nilai-nilai pendidikan islam, antara lain agar manusia bisa senantiasa bersyukur, meningkatkan hubungan kerohanian dengan Tuhannya, selalu berusaha, dan tidak mudah menyerah. Nilai-nilai tersebut menjadi makna penting yang dapat diimplementasikan di kehidupan manusia. Melalui lirik lagu “Lubang Hati”, pencipta menyelipkan pesan-pesan mendalam tentang kehidupan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Pendekatan hermeneutik Paul Ricoeur dapat digunakan untuk menafsirkan lirik lagu ini, sesuai dengan tujuan hermeneutik Ricoeur yakni untuk menafsirkan teks-teks salah satunya lirik lagu. DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. B. (2015). Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta. Penerbit PT Kanisius.
217 Ausdruck dalam Lagu “Setapak Sriwedari” karya Maliq & D’Essentials Annisa Nastiti (21210141036) Air di hulu akan mengalir ke sungai, hilir, kemudian laut. Jika mengikuti sumber air di laut, hal yang akan ditemui adalah hilir, sungai, kemudian hulu. Hulu seumpama penulis dan laut seumpama karya sastra. Pencipta karya mengekspresikan gagasan dan pengalamannya ke dalam karya-karya sastra. Dengan metode yang tepat, karya sastra dapat dijadikan medium untuk mengenal dan memahami penciptanya. Hermeneutika menawarkan sebuah teori yang mampu membantu penafsir untuk mengenal dan memahami pencipta, karya, dan pemahaman. Teori tersebut dicetuskan oleh Willhelm Dilthey, seorang filsuf Jerman. Poin utama dari teori Dilthey adalah erlebnis (pengalaman hidup), ausdruck (ekspresi), dan verstehen (pemahaman) Dilthey memusatkan model gagasannya pada hubungan timbal balik dari erlebnis, ausdruck, dan verstehen (Hardiman, 2015). Hubungan ketiga poin tersebut dapat digambarkan dengan grafis berikut. Gambar 1 Konsep Tiga Kunci Utama Dilthey (Hardiman, 2015) Analogi hulu, sungai, dan hilir berikut dapat menjelaskan konsep-konsep Dilthey dengan cara yang lebih mudah dipahami. Erlebnis (Pengalaman Langsung) bisa diibaratkan sebagai hulu. Hulu adalah sumber air yang murni dan belum terkontaminasi, sama seperti pengalaman langsung yang masih segar dan asli sebelum diproses oleh pikiran dan refleksi. Erlebnis adalah momen-momen
218 pengalaman hidup yang dialami langsung oleh individu, seperti perasaan, sensasi, dan emosi yang belum terdistorsi. Ausdruck (Ekspresi) bisa diibaratkan sebagai sungai. Sungai mengalir membawa air dari hulu melalui berbagai lanskap, menghubungkan pengalaman langsung dengan dunia luar. Ausdruck adalah cara pengekspresian dan pengungkapan pengalaman langsung melalui tindakan, kata-kata, seni, atau perilaku. Ini adalah cara pencipta karya menunjukkan atau mengomunikasikan pengalamannya kepada penikmat karya. Verstehen (Pemahaman) bisa diibaratkan sebagai hilir. Hilir adalah tempat sungai bermuara, membawa semua air yang telah melalui perjalanan panjang. Verstehen adalah proses interpretasi dan pemahaman pengalaman yang telah diekspresikan. Di sini, penikmat karya menganalisis dan menafsirkan ekspresi untuk memahami makna yang mendasarinya. Untuk mencapai verstehen yang mendalam dan akurat terhadap makna tindakan atau ekspresi, memperhatikan dan mempertimbangkan Erlebnis sangatlah penting. Tanpa ini, pemahaman kita bisa menjadi dangkal atau bahkan salah kaprah. Dalam analogi ini, pengalaman langsung (hulu) mengalir melalui ekspresi (sungai) dan akhirnya diinterpretasi dalam pemahaman (hilir). Setiap tahap penting untuk menghubungkan pengalaman pribadi dengan pemahaman yang lebih luas dalam konteks sosial dan historis. Erlebnis, ausdruck, dan verstehen memang akan menciptakan pemahaman tafsir yang kuat dan mendalam apabila diaplikasikan secara runtut dan lengkap. Meski begitu, dalam kajian hermeneutik, memang ada berbagai pendekatan yang bisa dipilih untuk diaplikasikan sendiri. Sebagai contoh, pendekatan hermeneutik seperti ausdruck (ekspresi) dan verstehen (pemahaman) sering digunakan tanpa harus melibatkan erlebnis (pengalaman langsung). Esai ini akan menganalisis lagu Setapak Sriwedari karya Maliq and D’Essential menggunakan pendekatan hermeneutik ausdruck dengan metode analisis teks. Analisis teks adalah metode yang digunakan jika sasaran analisisnya berupa tulisan atau ucapan, seperti puisi, novel, atau pidato, kita bisa menggunakan analisis teks. Ini melibatkan memeriksa bahasa, gaya, tema, dan struktur untuk memahami makna dan maksud di balik kata-kata tersebut.
219 Lagu “Setapak Sriwedari” berasal dari album berjudul "Sriwedari" yang dirilis pada tahun 2013. Lagu ini memiliki nuansa yang khas dengan aransemen musik yang kaya dan lirik yang mendalam. Maliq & D'Essentials adalah salah satu band Indonesia yang terkenal dengan musik mereka yang menggabungkan unsur-unsur jazz, soul, dan pop. "Setapak Sriwedari" adalah salah satu lagu yang populer dari album tersebut dan sering kali mendapat pujian karena melodi yang catchy dan lirik yang puitis. Keunggulan “Setapak Sriwedari” membuat lagu ini terus populer meski sudah berusia 11 tahun. Berikut adalah lirik lagu "Setapak Sriwedari" dari Maliq & D'Essentials Setapak Sriwedari Lihat langit di atas selepas hujan reda Dan kau lihat pelangi Seperti kau di sini hadirkan Sriwedari Dalam suka duniawi Dan kita berpijak lalu Kau merasakan yang sama sepertiku Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara Lihat fajar merona memandangi kita Seakan tahu cerita Tentang semua rasa yang ingin kita bawa Tanpa ada rahasia Dan kita melangkah untuk Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
220 Setapak di taman sriwedari Setapak sriwedari denganmu Dan kita berpijak lalu Dan kita melangkah untuk Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada Melagu tanpa berkata Irama hati kita bernada, merayu tanpa bicara Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu Setapak sriwedari denganmu Seperti itu aku padamu Setapak sriwedari denganmu Seperti itu aku padamu Penulis menemukan 21 gaya bahasa dalam utuhan lirik lagu “Setapak Sriwedari” karya Maliq & D’Essentials. Kedua puluh satu gaya bahasa tersebut antara lain: alusi budaya, alegori, anafora, antitesis, asonansi, asosiasi, elipsis, eufemisme, hiperbola, kontradiksi, metafora, oksimoron, onomatope, paralelism, paranomasia, personifikasi, polisidenton, repetisi, simile, sinekdoke, dan sinestesia. Lebih lanjut mengenai gaya bahasa dalam lirik lagu “Setapak Sriwedari” karya Maliq & D’Essentials dapat ditelusur melalui tabel di bawah ini. Sedikit catatan: tabel di bawah ini tidak mengulang penulisan bait yang berbunyi sama. No. Lirik Majas Keterangan 1 Lihat langit di atas selepas hujan reda Asosiasi Asosiasi antara langit yang cerah setelah hujan dengan perasaan
221 No. Lirik Majas Keterangan kegembiraan dan harapan setelah masa sulit atau tantangan, menciptakan gambaran yang positif dan optimis 2 Dan kau lihat Pelangi seperti kau di sini Metafora menggambarkan kehadiran seseorang sebagai pelangi simile membandingkan kehadiran seseorang dengan keindahan pelangi, 3 hadirkan Sriwedari Metafora Menggambarkan perjalanan cinta sebagai "setapak di taman Sriwedari" Alusi budaya merujuk pada budaya dan tradisi Jawa, menambahkan dimensi budaya dan kontekstual pada lirik Alegori Penggunaan "sriwedari" sebagai alegori untuk keindahan dan kebahagiaan dalam hubungan, menunjukkan bahwa kehadiran seseorang bisa membawa kebahagiaan yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari. 4 Dalam suka duniawi oksimoron Penggunaan kontras antara "surga" yang merupakan konsep surgawi dan "duniawi" yang merupakan konsep dunia ini menunjukkan keunikan dan kedalaman hubungan yang dijelaskan dalam lagu 5 Dan kita berpijak lalu
222 No. Lirik Majas Keterangan 6 Kau merasakan yang sama sepertiku 7 Suara hati kita bergema melantunkan nadanada parallelism Penggunaan struktur kalimat yang mirip untuk mendeskripsikan dua aspek ekspresi emosi yang berbeda memberikan keseimbangan dan harmoni pada lirik. onomatope Penggunaan kakta yang menirukan bunyi seperti “bergema” menambah dimensi sensorik sinestesia Menggabungkan indra pendengaran ("suara") dengan indra pendengaran ("nada-nada") menciptakan gambaran sensorik yang kaya tentang ekspresi emosi dalam lirik. Personifikasi memberikan sifat manusiawi pada benda-benda alam, menciptakan hubungan yang lebih emosional antara manusia dan alam antitesis Kontras antara "bergema" dan "tanpa berkata" menyoroti dua aspek yang berbeda dari ekspresi emosi: suara hati yang kuat dan puisi yang tanpa katakata. 8 Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara 9 Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku Oksimoron menggambarkan keunikan hubungan yang tidak terikat oleh aturan atau
223 No. Lirik Majas Keterangan padamu batasan yang kaku, tetapi tetap indah dan harmonis. Paranomasia Penggunaan kata "rima" yang berarti aturan dalam puisi dengan konotasi yang berbeda, yaitu "hubungan romantis", menciptakan permainan kata yang menarik dan memperkaya makna lirik. 10 Lihat fajar merona memandangi kita Personifikasi Elipsis Dalam baris ini, ada penghilangan kata kerja "mengerti" atau "mendengar", memberikan kesan bahwa fajar memiliki pemahaman dan kecerdasan seperti manusia 11 Seakan tahu cerita 12 Tentang semua rasa yang ingin kita bawa 13 Tanpa ada rahasia Kontradiksi Pernyataan ini bertentangan dengan banyak lirik lagu cinta lainnya yang sering kali menyoroti elemen rahasia atau misteri dalam hubungan. Ini menunjukkan ketulusan dan kejujuran dalam hubungan yang dijelaskan dalam lagu 14 Dan kita melangkah untuk
224 No. Lirik Majas Keterangan 15 Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi hiperbola menekankan tekad dan keinginan untuk terus maju dalam hubungan, menciptakan kesan yang kuat dan penuh semangat. Epifora memberikan penekanan dan intensitas yang kuat pada tema atau gagasan yang diungkapkan 16 Irama hati kita bernada, merayu tanpa bicara paralelisme Penggunaan struktur kalimat yang mirip untuk mendeskripsikan dua aspek ekspresi emosi yang berbeda memberikan keseimbangan dan harmoni pada lirik. Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara 17 Setapak di taman sriwedari Eufemisme Istilah "setapak" mungkin merupakan eufemisme untuk menyampaikan perjalanan atau hubungan yang kaya akan pengalaman dan kenangan. 18 Setapak sriwedari denganmu Sinekdoke Penggunaan kata "setapak" untuk merujuk pada perjalanan atau hubungan secara keseluruhan, mewakili bagian dari keseluruhan yang lebih besar. repetisi Frasa setapak sriwedari diulang beberapa kali untuk memberikan penekanan pada tema utama lagu asonansi Penggunaan bunyi huruf "s" yang berulang memberikan efek fonetis
225 No. Lirik Majas Keterangan yang menarik dan memperkuat kesan tentang kehalusan dan kelembutan hubungan. 19 Dan kita berpijak lalu Anafora dan polisidenton Anafora → Penggunaan pengulangan frasa "Dan kita" memberikan ritme dan penekanan pada keputusan bersama untuk terus maju dalam hubungan. Polisidenton → Penggunaan pengulangan kata "dan" untuk menyatukan frasa-frasa yang berbeda memberikan kesan ritme dan intensitas yang kuat pada lirik. 20 Dan kita melangkah untuk 21 Seperti itu aku padamu Tabel 1 Gaya Bahasa dalam Liirik Lagu “Setapak Sriwedari” Karya Maliq & D’Essentials Lagu "Setapak Sriwedari" adalah contoh yang bagus tentang bagaimana penggunaan majas dapat memperkaya dan memperdalam makna sebuah karya seni. Setiap majas memberikan warna dan dimensi tambahan pada lirik, menciptakan pengalaman mendengar yang tak terlupakan. Bukan mustahil apabila masih ada banyak gaya bahasa dalam lirik lagu “Setapak Sriwedari” karya Maliq & D’Essentials yang belum ditemukan oleh penulis. Banyaknya lapisan majas yang bisa ditemukan dalam satu baris lirik cukup menunjukkan kepiawaian penyair atau pencipta lagu dalam menyusun kata-kata yang kaya akan makna dan nuansa. Dengan memanfaatkan berbagai jenis majas, mereka mampu menciptakan karya yang indah dan mendalam, serta memberikan pengalaman mendengar yang memikat bagi pendengar.
226 DAFTAR PUSTAKA Hardiman, F. Budi. 2015. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta. Penerbit PT Kanisius
227