Seri Wacana Sinema
EKKY IMANJAYA
MFeinlcmari
Madani
Sinema dan Dunia Islam
FMeinlcmari
Madani
Sinema dan Dunia Islam
Seri Wacana Sinema
EKKY IMANJAYA
MFeinlcmari
Madani
Sinema dan Dunia Islam
Seri Wacana Sinema
Komite Film Dewan Kesenian Jakarta
Direktur Penerbitan: Hikmat Darmawan
Editor Seri: Ekky Imanjaya
Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam
© Ekky Imanjaya 2019
Editor: Ifan Adriansyah Ismail
Penyelaras Bahasa: Christy Ratna Gayatri
Desain: Ardi Yunanto & Andang Kelana
Sampul: Adegan lm Dua Garis Biru (Ginatri S. Noer, 2019).
© Starvision Plus≠ Wahana Kreator
Cetakan pertama, Oktober 2019
i ñ xxxii + 158 hlm, 15 x 22 cm
ISBN: 978≠ 979≠ 1219≠ 08≠ 2
Dicetak oleh GAJAH HIDUP
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Diterbitkan oleh
Dewan Kesenian Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73
Jakarta Pusat 10330
www.dkj.or.id
Pengantar Komite Film Dewan Kesenian Jakarta viii
Sekapur Sirih xi
Pengantar: Lebih Sedikit Berceramah, Lebih Sedikit Simbol,
Lebih Baik: Film sebagai Teologi Diam oleh Haidar Bagir xiv
Pengantar Wacana: Mengapa Film? Mengapa Film Madani? xix
1 Semesta Film dan Dunia Islam
1. Sinema, Isu Agama, dan Dunia Islam 3
2. In the Name of God: Pernyataan Politik
yang Keras tapi Menghibur 6
3. East is East: Isu Pembauran dan Jalan tengah 10
4. Kegigihan Jafar Panahi 15
5. A Separation: Rollercoaster tanpa Laga 20
6. Tentang Berperang di Medan Juang 23
7. Muallaf: Brian dan Sepasang Gadis Ronin 30
8. Never Leave Me: Pengungsi Suriah
dalam Layar Film 33
9. Aida Begić, Sineas Bosnia Pembela
Anak Yatim Piatu 37
2 Film Madani dan
Representasi Muslim Indonesia
10. Posisi Ideologis dan Representasi
Perempuan Berkalung Sorban:
Membela atau Merusak Nama Islam? 43
11. 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta:
Bukan Sekadar Film Cinta Beda Agama 52
12. 3 Doa 3 Cinta: Jendela Dunia Bernama Pesantren 55
13. Film Genre Rasa Islam 58
14. Festival Film Santri 2013:
Kartu Pos dari 10 Pesantren 64
15. Dua Garis Biru dan Bagaimana Jikalau 69
3 Sejarah Film, Film Sejarah
16. Ibnu Rusyd dan Semangat Anti Kekerasan 77
17. Kala Majid Majidi Menafsirkan Nabi Muhammad 83
18. Sang Mujahid Seni Indonesia 90
19. Sang Pencerah: Kisah Sang Panutan Bangsa 95
20. Lesbumi, Jembatan Ulama-Seniman 99
21. Sang Murabbi: Mozaik Kehidupan Sang Guru 103
4 Refleksi Atas Film Bernafaskan Islam
22. Membaca (Sinema) Indonesia dari Banda Aceh:
Refleksi Akhir Tahun 2012 111
23. Jaka Sembung dan Dunia Islam 123
24. Harimau Tjampa: Kelindan
Pencak Silat dengan Islam 128
25. Belajar dari Yasmin Ahmad 133
26. Bercermin pada Orked 138
27. Benarkah Kemiskinan Mengancam?
(Belajar Arif dari Beberapa Film) 141
28. Lima Film Berlatar Ramadan 146
Sumber Tulisan 153
Tentang Penulis 155
Tentang Tim Penyusun 157
SINEMA DAN
PENGETAHUAN
PENGANTAR KOMITE FILM
DEWAN KESENIAN JAKARTA
Lima tahun setelah Lumiére bersaudara memutar
L’arrivée d’un train en gare de La Ciotat (Arrival of a Train at La
Ciotat) di ruang Salon Inden dalam Grand Café, Paris pada 28
Desember 1895, bioskop tiba di Batavia. Tepatnya, di Tanah
Abang, dibawa oleh seorang pengusaha bernama Talbot. Sejarah
sinema kita rupanya tak terlalu jauh awalnya dari pemutaran
berkarcis pertama di dunia medium baru ini.
Pada pemutaran di Grand Café itu, orang-orang
berlompatan, terguncang, melihat gambar kereta api tiba,
bergerak, seolah ke arah mereka. Reaksi ini adalah gambaran
betapa pikiran manusia guncang ketika mengalami sesuatu yang
belum pernah ada dalam benak manusia sebelum penemuan
kamera dan proyektor untuk menembakkan gambar bergerak:
“gambar hidup”. Tak ada makhluk semacam itu sebelumnya,
pikiran manusia saat itu tak bisa memahami segera bahwa yang
bergerak di layar itu adalah “imaji”, atau “realitas kedua”.
Sedang di Tanah Abang, lima tahun setelah itu, di sebuah
bangsal berdinding gedek dan beratap seng yang dipancang di
tanah lapang, warga kelas satu (orang Belanda) hingga warga kelas
kambing (kaum pribumi) sama-sama terpana oleh sihir gambar
viii !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
hidup serupa. Film yang diputar adalah dokumenter bisu, bertajuk
(jika diterjemah): “Sri Baginda Maharatu Belanda bersama
Pangeran Hertog Hendrik memasuki Ibu Kota Belanda, Den
Haag”. Adegan yang biasa-biasa saja, jadi terasa luar biasa saat itu.
Warga Hindia Belanda melihat Ratu mereka secara “hidup”, di
hadapan mereka.
Dalam lima tahun antara peristiwa di Grand Café, Paris
dengan pemutaran di Tanah Abang, alam pikir manusia sedang
belajar konsep “film” atau “sinema”. Para seniman visual pun,
bersama para aktor teater dan musisi (selama beberapa dekade
pertama sejarah film dunia, medium ini hanya gambar bergerak,
dan musik latar mengiringi secara live) harus mencerna lagi
bagaimana keahlian mereka tampil berkelindan dengan film. Jika
kita melompat lagi ke seputar masa pendudukan Jepang dan masa-
masa Revolusi hingga tahun-tahun dinamis 1950-an, kita pun ikut
nongkrong di daerah Pasar Senen, mengikuti percakapan penuh
semangat antara para “seniman Pasar Senen”, antara lain, tentang
neorealisme dalam film-film Italia.
Percakapan-percakapan malam di Pasar Senen itu,
sebagaimana sebagian tercatat dalam buku Keajaiban Pasar Senen
karya Misbach Yusa Biran, adalah salah satu bentuk lalulintas
percakapan yang membentuk serta menyusun pengetahuan
bersama di Indonesia tentang film. Tentu saja, bentuk lain dari
lalulintas percakapan atau diskursus tentang film kita adalah
berbagai tulisan di media massa tentang film. Usmar Ismail dan
Asrul Sani adalah dua pemikir film yang awal, yang kemudian
diikuti oleh para pemikir film kemudian seperti D.A. Peransi, D.
Djajakusuma, Salim Said, JB. Kristanto, Gotot Prakosa, Marselli
Sumarno, Seno Gumira Ajidarma, dan Garin Nugroho. Tentu ada
banyak sekali percakapan tentang film di luar produksi gagasan
dari para pemikir film yang tersebut itu —apalagi di zaman blog
dan vlog kini.
-'#"!%(+%#(/"#0"1%2.%# ix
Percakapan gagasan-gagasan, diskursus, apalagi yang
terstruktur dan sistematis, yang bersifat kritis, adalah bagian
penting dalam membangun pengetahuan yang semakin maju
tentang film dan perfilman. Komite Film DKJ menganggap perlu
ada upaya melajukan pengetahuan tentang film dan perfilman di
Indonesia. Itulah yang mendasari penyusunan program-program
regular Kineforum selama ini. Para pengelola Kineforum percaya
bahwa film adalah wahana membangun pengetahuan tentang film
dan tentang masyarakat.
Program Kineforum pun dirancang untuk mencakup
kegiatan pemutaran film yang terkurasi, terbingkai secara tematik,
diskusi, dan sebagainya. Film ditonton, dan dibicarakan. Dalam
percakapan, ada perjumpaan perspektif, di samping perjumpaan
informasi. Baik film-film terpilih yang diputar maupun
percakapan tentang film itu bisa jadi wahana pengetahuan tentang
estetika, teknik, gaya, konstruksi isi, sistem simbol, juga sistem
kepercayaan yang mendasari baik penciptaan maupun pembacaan
sebuah karya sinematik.
Dalam semangat itulah, kami mencanang program
penerbitan enam buku dalam naungan seri penerbitan Wacana
Sinema. Keenam buku ini terdiri dari dua buah kumpulan tulisan
bersifat ulasan dan esai tentang film, dua buah penelitian tentang
komunitas film dan perilaku penonton film Indonesia, sebuah
direktori festival film di Indonesia dan di dunia (sebuah edisi
revisi), dan sebuah disertasi bersifat teoritik-akademik yang
dipertanggungjawabkan di Belanda tentang perfilman Indonesia.
Buku Mencari Film Madani, Sinema dan Dunia Islam ini
adalah kumpulan tulisan Ekky Imanjaya dengan tema khusus
tentang seluk-beluk “film Islam” dan berbagai derivasi istilahnya
(“film dakwah”, “film Islami”, dan sebagainya). Ekky Imanjaya
sejak awal 2000-an berkarir sebagai wartawan dan kritikus film,
lalu menekuni studi film hingga meraih gelar master di
Amsterdam, Belanda, dan doktoral di Bristol, Inggris. Kumpulan
x !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
ini menjadi unik sekaligus penting dalam konteks tumbuhnya
genre film religius di dalam perfilman kita dari masa ke masa.
Genre tersebut tumbuh berkelindan dengan kepelikan politik
identitas dan komodifikasi religiusitas dalam budaya populer di
Indonesia. Sementara, masih jarang yang membahas soal ini dari
“dalam”. Ekky menawarkan perspektif yang kadang sangat
personal berpijak dari pengalamannya aktif di dunia dakwah
semasa mudanya.
Semoga buku ini bisa menciptakan percakapan-percakapan
baru, bergairah, dan menyumbang keping-keping pengetahuan
lebih maju tentang perfilman Indonesia.
Jakarta, 17 Oktober 2019
Hikmat Darmawan, Ketua
Lulu Ratna, Sekretaris
Agni Ariatama, Anggota
Prima Rusdi, Anggota
SEKAPUR SIRIH
Assalamualaikum,
Buku dalam bentuk kumpulan tulisan adalah hal yang
penting dilakukan. Tak hanya untuk keperluan arsip pribadi,
namun juga untuk menjadi bukti dan jejak bagi catatan sejarah di
masa depan. Beberapa penulis senior ternama juga
mengumpulkan karya-karya kritik film mereka. Sebut saja Roger
Ebert (di antaranya, The Great Movies 1-3, 2002, 2005, 2010; Your
Movie Sucks, 2007), J.B. Kristanto (Nonton Film, Nonton Indonesia,
2002), dan yang terkiwari, karya Hikmat Darmawan (Keseriusan
dan Kebermainan serta Dokter Rusia dan Pasien Inggris, 2018).
Saya sekadar ingin mengikuti jejak mereka. Karena saya
percaya, bahwa bagaimana pun, film tidak hanya sekadar hiburan.
Dengan melihat ulasan-ulasan film sepanjang sejarah
(kontemporer), sedikit banyak pembaca akan terbawa untuk
melihat dinamika perubahan zaman dan dunia saat film-film itu
diproduksi dan diedarkan, dari segi politik, budaya, ekonomi, dan
sebagainya.
Sebenarnya, saya pernah juga membukukan tulisan-tulisan
seputar ulasan film, di antaranya dalam buku Layar Persia dan A to
xii !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
Z about Indonesian Film. Namun itu sudah lama sekali, dan belum
terbit lagi karya baru sejenis sejak 2008.
Walau antologi ini pada hakikatnya adalah merangkum
tulisan saya dalam rentang waktu sekitar 10 tahun (2008-2018),
ada pola yang bisa dibaca. Pertama, ulasan seputar film-film yang
merepresentasikan masalah umat Islam secara khusus. Kedua,
film-film tentang dinamika dunia Islam secara global. Ketiga,
“Film Islami” bergenre popular. Keempat, film tentang sejarah
dan sejarah film, termasuk biopic. Terakhir, “Film Islami” sebagai
kritik sosial.
Perjalanan tulisan-tulisan saya ini cukup panjang, dan saya
berterima kasih kepada berbagai media yang sudah memuatnya:
RumahFilm.org (Hikmat Darmawan, Eric Sasono, Krisnadi
Yuliawan, Asmayani Kusrini, Ifan Ismail, Coky Fauzi), DetikHot
(khususnya Mumu Aloha), Islam Indonesia (khususnya Hendi
Johari), majalah ESQ Life, majalah Madina (Hikmat Darmawan,
lagi), Tirto.id, dan Islami.co. Sebagian tulisan ini sedikit disunting
ulang dan dimodifikasi agar tetap terasa aktual dan kontekstual
dengan, mengutip istilah sekarang, “anak zaman now” yang
kekinian.
Tentu saja buku ini jauh dari sempurna. Ada banyak film
penting yang belum atau luput diulas. Sebut saja Mata Tertutup,
Mencari Hilal, dan Emak Ingin Naik Haji. Juga film-film terbaik
duet maut sutradara Chaerul Umam dan penulis skenario Asrul
Sani (Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan
Dakwah). Atau kurang mendalamnya kajian atas salah satu film
terfavorit sepanjang masa saya, Kantata Takwa. Pun dengan
fenomena representasi muslim global dan kosmopolitan semacam
Haji Backpacker, La Tahzan, atau film dari karya Asma Nadia
(seperti Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler: Love Sparks
in Korea) dan semesta Hanum-Rangga (dwilogi 99 Cahaya di
Langit Eropa, dwilogi Bulan Terbelah di Langit Amerika, dan
Hanum & Rangga: Faith and the City). Semoga lain kali terlaksana.
-'#"!%(+%#(/-""#30%"/1.%&2(-.'&%'#2 xiii
Saya juga berupaya membahas keterwakilan umat dan dunia
Islam secara merata, mulai dari menengok ke Nahdhatul Ulama
(misalnya dengan mengkaji sejarah Lesbumi dan film Sang Kiai),
Muhammadiyah (misalnya melalui film Sang Pencerah), hingga
gerakan tarbiyah/PKS (film Sang Murabbi).
Terakhir, saya ingin berterima kasih kepada seluruh jajaran
Komite Film Dewan Kesenian Jakarta dan tim Seri Wacana
Sinema, yang telah memberi kesempatan menerbitkan kumpulan
tulisan ini, sehingga bisa mempermudah akses ke pembaca.
Khususnya Hikmat Darmawan (Ketua Komite Film), Ifan Ismail
(Penyunting), Gayatri (Kordinator Seri). Mohon maaf, saya tak
bisa sebutkan satu persatu karena keterbatasan halaman.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
Jakarta, 9 Oktober 2019
Dr. Ekky Imanjaya
PENGANTAR
Lebih Sedikit
Berceramah,
Lebih Sedikit
Simbol, Lebih Baik
Film sebagai Teologi Diam
ISTILAH “Teologi Diam” saya kutip dari seorang ahli
Islam di Amerika Serikat, Oludamini Ogunnaike. Bagi
Ogunnaike, seni sebenarnya juga adalah cara mengetahui Tuhan:
bukan dengan wacana atau ceramah-ceramah, melainkan dengan
merasakan tanda-tanda-Nya melalui keindahan yang mengambil
bentuk ciptaan-ciptaan-Nya. Kata Titus Burckhardt, “...
sebagaimana suatu forma mental, yakni dogma atau doktrin, bisa
menjadi refleksi memadai—meski terbatas—akan Kebenaran
Ilahiah, demikian juga bentuk inderawi dapat melacak kembali
suatu kebenaran atau realitas yang melampaui, baik forma
inderawi maupun dataran pemikiran.” Dalam mistisisme Islam,
memang segala ciptaan Tuhan disebut sebagai “tajalliyat”
(“pancaran/manifestasi/teophany”) Penciptanya.
Dalam Alquran, Dia sendiri menyebut ciptaan-ciptaan-Nya
sebagai tanda-tanda Diri-Nya. “Akan kami tunjukkan tanda-tanda
Kami di horison (alam semesta) dan pada diri mereka (manusia)
sehingga jelas bagi mereka bahwa Dialah Sang Kebenaran.”
(Alquran, Surat Fussilat: 53) Lebih dari itu, seperti diungkap
dalam salah satu hadis, “Allah itu indah dan mencintai
keindahan.” Maka Dia pun “...membubuhkan keindahan (ihsan)
*"4'2(-"+'3'1(4"/&"$#"0&%!#1%%2&5 xv
kepada segala (ciptaan-Nya)”. Oleh karena itu, seperti dikatakan
oleh Plato, “Keindahan adalah pancaran Kebenaran (dengan ‘K’
besar).”
Maka, seperti dikatakan Ogunnaike, dia lebih suka
mengajak non-muslim yang ingin mengetahui Islam, bukan
dengan menyuruhnya baca buku ini-itu, atau mendengarkan
ceramah ini-itu, melainkan dengan mengajaknya menikmati
karya-karya seni Islam. Membuatnya mendengarkan keindahan
tilawah Alquran, membawanya melihat keindahan Masjid Syaikh
Lutfullah di Iran, atau membaca puisi-puisi Rumi atau Ibnu al-
Farid. Atau, saya bisa menambahkan, dengan mengajaknya
merasakan keindahan budaya kehidupan muslim tradisional
sehari-hari yang masih diwarnai spiritualitas, harmoni, toleransi,
moralitas dan hubungan batin dengan manusia dan alam.
Ogunnaike memang tak menyebut film. Tapi, tak pelak, film
adalah wahana pengungkapan keindahan juga. Yakni, yang antara
lain mengambil bentuk penghormatan kepada autentisitas, karena
superfisialitas hanya merampas keindahan yang lahir dari
sentuhan ketuhanan atas segala sesuatu. Apalagi film-film (yang
dibuat dengan menonjolkan aspek) seni. Baik seni peran—yang
mampu menggambarkan kerumitan (intricacies) manusia—seni
fotografi, maupun seni bercerita, serta mengungkapkan
kompleksitas kehidupan makhluk manusia yang penuh warna.
Tanpa harus nyinyir kepada kandungan verbal sebuah film—
karena jika digarap dengan proporsional dan artistik, bahkan
dialog verbal bisa menjadi karya seni—maka film yang dibuat
dengan kepercayaan kepada kekuatan seni, keindahan, dan
autentisitas sesungguhnya adalah suatu film dakwah. Poin yang
ingin saya sampaikan di sini adalah, tak harus sebuah film dakwah
didefinisikan sebagai film yang secara verbal menonjolkan simbol-
simbol dan mencekokkan dogma-dogma atau doktrin-doktrin
ajaran Islam. Apalagi sampai menjadi nyinyir. Kenyinyiran verbal
justru bisa menjadikannya banal, kehilangan keindahan dan,
xvi !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
karena itu, justru kehilangan sifat dakwahnya yang paling
penting. Apalagi udara di sekitar kita sudah terlalu penuh sesak
dengan ceramah dan wacana verbal keagamaan model begini.
Buku Ekky Imanjaya ini, salah seorang di antara tak banyak
ahli tentang perfilman, dan pengamat tekun apa yang disebut
sebagai film-film dakwah atau film-film Islam, ini merupakan
uraian yang amat baik dan mencerahkan tentang industri film
dakwah dan, yang lebih penting lagi, tentang apa yang harus
diupayakan agar sebuah film dapat disebut sebagai film dakwah
atau film Islam. Yakni, film yang paling baik untuk mencapai
sasaran pencerahan dan penebaran kebaikan bagi para
penikmatnya. Yang meski bertumpu pada drama sebagai ramuan
utamanya, tak mengajak orang cuma bermimpi, apalagi cuma
terpaku pada simbol-simbol yang lebih sering asing dan lepas dari
kenyataan, melainkan berurat berakar pada masalah-masalah riil
yang lahir dari dan mengungkapkan kehidupan sehari-hari yang
nyata dalam lokalitas dan budaya Islam tempatan. Dan justru
karena itu, sebuah film Islam bukan saja bisa menyentuh perasaan
penontonnya dan menawarkan kontribusi konkret dan positif
pada masyarakat, melainkan justru menampilkan keindahan
kehidupan manusia dengan segala pernak-perniknya yang yang
menawan. Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh Ekky sebagai
Film (Islam) Madani. Film, yang bisa jadi tipis simbol-simbol
keislaman, tapi menyampaikan nilai-nilai keadaban (civility)
Islam, yang memang lebih mungkin diungkapkan dalam nilai-
nilai intrinsik dan autentik ketimbang simbol-simbol yang
berjarak: tentang pentingnya moralitas, harmoni, toleransi,
keramahan pada manusia dan alam, serta apresiasi kepada
keindahan (ihsan). Dan, untuk ini, kita perlu menyampaikan
terima kasih dan selamat untuk Ekky atas karya pentingnya ini.
!"#$"%&'"(#%
FMeinlcmari
Madani
Sinema dan Dunia Islam
PENGANTAR WACANA
Mengapa Film?
Mengapa Film Madani?
DI akhir dekade pertama 2000-an, saat situs
RumahFilm.org masih aktif, kami memproduksi beberapa stiker.
Salah satunya adalah kutipan dari sutradara Arifin C. Noer, yang
isinya, kurang lebih, “Sekarang ini, tidak ada yang lebih tepat
untuk menggambarkan keruwetan zaman selain sinema”.
Pernyataan ini senafas dengan argumen Slavoj Žižek dalam film
dokumenternya yang mengasyikkan, The Pervert’s Guide to
Cinema:
“In order to understand today’s world, we need cinema, literally. It’s
only in cinema that we get that crucial dimension which we are not
ready to confront in our reality. If you are looking for what is in reality
more real that reality itself, look into the cinematic fiction…. Cinema
is the art of appearances, it tells us something about reality itself. It
tells us something about how reality constitutes itself.“
(“Untuk memahami dunia saat ini, kita perlu sinema, secara
harfiah. Hanya dalam sinemalah kita mendapatkan dimensi
krusial yang tidak siap kita hadapi dalam realitas kita. Jika Anda
mencari apa yang sebenarnya lebih nyata daripada realitas itu
sendiri, lihatlah fiksi sinematis.... Sinema adalah seni
xx !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
penampilan, ia memberitahu kita sesuatu tentang realitas itu
sendiri. Ia memberi tahu kita tentang bagaimana realitas
membentuk dirinya sendiri.”)
— Slavoj Žižek, The Pervert’s Guide to Cinema, 2006
Jika film ditonton (dan kemudian “dibaca” alias ditafsirkan) oleh
penonton aktif, maka kita akan mendapatkan banyak hal, mulai
dari pemaknaan hingga sebagian pemahaman tentang jiwa zaman
atau kondisi sosial masyarakat saat film itu diproduksi dan
diedarkan. Tak hanya “film seni” atau “film idealis” (apapun
definisinya itu), film popular juga tak kalah pentingnya.
“Film genre”, begitu biasanya film populer ini disebut,
adalah sebuah kategorisasi atas film-film yang punya pakem,
format, tipe, gaya yang ciri yang sama, sebagaimana tercantum
dalam FilmSite.org. Orang kebanyakan sering menyebutnya
dengan, misalnya, “film horor”, “film komedi romantis”, “film
biografi”, “film olahraga”, “film pahlawan super”, “film science
fiction”, dan sebagainya. Karl Heider, dalam bukunya Indonesian
Cinema: National Culture on Screen (1991), mengatakan bahwa,
dalam konteks ini, film populer lebih penting daripada film auteur.
“The most useful films for a cultural analysis are the genre films, while
the ‘best’ films from a cinematographic standpoint are the auteur
films which have been deliberately distanced from their cultural
roots.”
(“Film yang paling berguna untuk analisa budaya adalah film
bergenre (popular), sedangkan film ‘terbaik’ dari sudut pandang
sinematografi adalah film auteur yang dengan sengaja berjarak
dari akar budaya mereka.”)
— Heider, 1991:6
Mengapa “film Islam”? Dengan perspektif di atas, sebagai
penonton aktif, kita bisa meneropong di balik keseruan dan
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxi
keasyikan sebuah film dengan melihat pada beberapa cuil
gambaran tentang masyarakat muslim atau dunia Islam, seperti
yang akan saya jabarkan di tulisan berikutnya. Dengan begitu,
film akan turut menyumbangkan sedikit pemahaman tentang
dinamika yang terjadi.
Semoga pembaca buku ini bisa membaca ulasan-ulasan di
sini dengan bingkai dan konteks yang saya tulis di atas.
Film Bertema Islam dan Dunia Islam: Film Madani
Berbicara hubungan antara ajaran Islam dan sinema, biasanya
tidak sedikit yang mengaitkannya dengan definisi. Banyak istilah
untuk ini: Film Islam, Film Islami (bersifat keislaman), Film
Profetik, Film Dakwah, dan sebagainya.
Secara singkat, bagi saya, setidaknya ada dua kategori
tentang film bernafaskan Islam. Pertama, film yang “islami”
adalah yang mengandung nilai-nilai keislaman secara universal,
walau tidak secara langsung menyatakan simbol keislaman.
Kedua, film yang merepresentasikan dan bercerita tentang umat
Islam dan segala permasalahan khasnya.
Yang pertama bisa disebut Film Profetik. Istilah ini dikutip
dari terma Sastra Profetik dari budayawan Kuntowijoyo
(alm.). Bagi Kuntowijoyo, dalam Islam tidak boleh ada istilah
“seni untuk seni”, tetapi seni harus bertujuan, bertendensi. Tokoh
Muhammadiyah ini kemudian menafsirkan ayat tentang Umat
Terbaik (Khairu Ummah) dengan ta’muruna bil’ma’ruf (mengajak
kepada yang ma’ruf/kebaikan, humanisasi), tanhauna `anil
munkar (mencegah kemungkaran, liberasi), wa tu’minuna billah
(dan beriman kepada Allah, transendensi). Ketiga unsur ini harus
ada dalam sebuah karya, termasuk film. Bagi Pak Kunto, Sastra
Profetik adalah sastra yang mengikuti tradisi kerasulan, yang
“ingin meniru perbuatan Nabi, Sang Prophet”, (Maklumat Sastra
xxii !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
Profetik, hal. 8), dan yang “berani berhadap-hadapan dengan
manusia dan realitas sosial, dengan menyodorkan kritik
terhadapnya” (Maklumat Sastra Profetik, hal. 2). Nilai-nilai
keislaman terinternalisasi ke dalam diri setiap muslim,
tereksternalisasi dalam perbuatan, dan terobyektivikasi dalam
karya-karyanya.
Karena unsur humanisasi, liberasi, dan transendensi itulah
saya menolak beberapa film yang walaupun jelas-jelas
mengandung simbol dan wacana keislaman tetapi tidak
mengandung semangat `amar ma’ruf dan nahi munkar.
Bagi Kuntowijoyo, setiap perilaku seorang Muslim adalah
keislaman, zikir, dan ibadah. Setiap karya yang mengandung
ketiga unsur di atas layak disebut karya profetik, walaupun tidak
ada simbol keislaman sedikit pun. Senafas dengan itu, saya sendiri
menerjemahkannya dengan pernyataan bahwa Film Islami adalah
yang hendak menyampaikan sebuah pesan, memperkaya batin,
menggerakkan (ke arah yang lebih baik), dan memberikan
pencerahan dan penyadaran. Cirinya, sehabis menonton,
penonton pulang membawa sesuatu untuk dipikirkan atau
didiskusikan. Misalnya, terjadi dialog antara suami istri selepas
menonton Leila karya Dariush Mehrjui yang berbicara tentang
seorang istri yang mandul dan desakan sosial kepada suaminya
untuk punya anak dengan cara poligami.
Dengan begitu, semua film yang mengandung karakteristik
di atas, yang ditafsirkan sejalan dan mengandung nilai-nilai Islam
yang universal, adalah Film Islami.
Dalam Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas: Esai-
esai Politik dan Budaya (2002), Kuntowijoyo menekankan bahwa
sastra dan seni populer (termasuk film di dalamnya) dituntut
untuk “setia pada realitas”, dan punya fungsi sosial (hal. 16-17).
Sejalan dengan itu, sutradara Chaerul Umam menyatakan
bahwa Film Islami adalah film yang “cerita dan pengadeganannya
tidak meresahkan orang beriman”. Artinya, selama cerita dan
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxiii
adegan bernafaskan nilai-nilai keislaman (kejujuran, tanggung
jawab, disiplin, keadilan, menjaga kebersihan, dll.), maka itu
sudah cukup.
Slogan Nurcholish Madjid tentang “tidak terjebak pada
simbol” adalah hal yang menarik. Karena, banyak film atau karya
lainnya yang sepertinya memakai ciri-ciri keislaman, tetapi
ceritanya justru tidak berciri demikian. Misalnya, ada sinetron
yang terkesan Islam, tetapi kok tokoh hajinya berakhlak buruk dan
tidak ada perkembangan karakter. Sebut saja Haji
Medit (SCTV), Tukang Bubur Naik Haji (RCTI), Ustad Foto Copy
(SCTV), dan Islam KTP (SCTV), yang semuanya, mengutip
sebuah pernyataan sikap LSM Masyarakat TV Sehat Indonesia
(MTSI), “…menggunakan judul dengan terminologi islami, tapi
isi dan jalan ceritanya jauh dari perilaku islami”.
Film Perempuan Berkalung Sorban yang saya ulas panjang
lebar di buku ini, misalnya, menceritakan tentang pesantren dan
umat Islam yang tak ramah terhadap perempuan, namun
solusinya bukanlah Islam yang ramah terhadap perempuan
(misalnya seperti yang “didakwahkan” lewat buku karya Fatima
Mernissi, Ali Asghar Engineer, atau Annemarie Schimmel), tetapi
karya-karya “kiri”. Jika film itu diputar di sebuah komunitas yang
tidak paham Islam dan konteks besarnya, maka kemungkinan
besar akan terjadi salah paham, dan muncul kesimpulan bahwa
ajaran Islam memang benar-benar misoginis (benci terhadap
wanita).
Definisi kedua adalah film yang bercerita tentang Umat
Islam dan permasalahan khasnya. Sejauh ini, banyak dari film-
film yang dianggap islami sekadar berkutat pada susahnya
mencari jodoh yang islami dan poligami. Padahal, jika kita
percaya bahwa film adalah sebuah alat untuk bercerita, maka akan
banyak kisah yang kita temukan, seputar salat, puasa Ramadan,
hari Lebaran, haji, hingga kecenderungan ke arah terorisme.
xxiv !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
Beberapa film yang menceritakan problematika yang khas
umat Islam misalnya adalah Sang Murabbi (tentang syeikhul
tarbiyah yang melahirkan PK/PKS dan otokritik terhadap
DPR), Five Broken Cameras (perlawanan seorang juru kamera
sebuah kampung di Palestina terhadap penjajahan Israel), East is
East (upaya pembauran keluarga imigran awal asal Pakistan di
Inggris), My Name is Khan (isu terorisme global), Khuda Kay Liye/
In the Name of God (terorisme global dan Islam garis keras), serta
film-film seputar kehidupan pesantren (seperti 3 Doa 3 Cinta).
Untuk sinetron dan miniseri televisi, ada My Jihad (BBC-1).
Sementara itu, ada juga film-film yang bernada positif
terhadap sejarah dan tokoh Islam, namun tidak dibuat oleh
seorang muslim. Misalnya Kingdom of Heaven (menampilkan
tokoh sejarah Salahuddin Al-Ayyubi), dan Destiny (tentang
pergulatan Ibnu Rusyd di Andalusia). Atau PK yang mengkritisi
praktik keberagamaan umat, termasuk umat Islam, tanpa
merendahkan ajaran agamanya sendiri.
Di buku ini, saya fokus pada definisi kedua, yaitu film-film
yang memang sengaja mempresentasikan umat Islam dan dunia
Islam dengan berbagai cerita dan problematika khasnya.
Belakangan, saya mendengar, dan setuju dengan istilah
“Film Madani”. Istilah ini digunakan pertama kali saat Jakarta
International Film Festival 2009, ketika para redaktur
RumahFilm.org ikut serta dalam mengorganisasi sebuah sub-
program bertema “Film Madani”. Hampir 10 tahun kemudian,
lahirlah Festival Film Madani yang berlangsung pada tanggal
17-21 Oktober 2018. Saya termasuk di dalam board member-nya
bersama, di antaranya, Mas Putut Wijanarko, Mas Garin
Nugroho, Hikmat Darmawan, dan Mbak Inaya Wahid. “Festival
memang menampilkan film yang berfokus pada kisah-kisah yang
berakar dari nilai-nilai Islam, tetapi ada yang tersirat di baliknya,
yaitu mengenai kemanusiaan,” ungkap Krisnadi Yuliawan,
direktur festival, seperti yang disitir berbagai media, di antaranya
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxv
Republika. ”Kepada publik, Madani menawarkan platform baru
untuk menonton film berkualitas yang menunjukkan perjuangan,
harapan, air mata, dan keindahan hidup dari beragam komunitas
muslim di seluruh dunia,” imbuhnya. Intinya, Festival Film
Madani adalah, seperti tertera dalam semboyannya, “Merayakan
Keberagaman Dunia Muslim”, dan menjadi etalase bagi cerita-
cerita umat Islam baru yang berubah, dan bahwa tidak ada tafsir
tunggal terhadap ajaran Islam. Kata kuncinya adalah “Living
Islam” (seperti yang pernah dibahas oleh, antara lain, Akbar S.
Ahmed dan Magnus Marsden), yaitu bagaimana kebudayaan,
nilai-nilai, dan ritual keislaman dihayati dan dihidupkan oleh
pemeluknya.
Secara etimologi, istilah “Madani” sendiri satu akar dengan
din (agama, jalan hidup), madaniyah/tamadun (peradaban), dan
madina (kota). Salah satu penafsirannya adalah civil atau civilized
(beradab). Istilah ini menjadi populer, salah satunya, karena
tokoh-tokoh seperti Anwar Ibrahim, Nurcholish Madjid, Dawam
Rahardjo, Bachtiar Effendi, menerjemahkan Civil Society menjadi
“Masyarakat Madani”, yaitu masyarakat yang beradab,
berkeadaban, berperadaban. Adalah Anwar Ibrahim yang hadir
dalam forum ilmiah di Festival Istiqlal pada 26 September 1995
yang memperkenalkan terjemahan Civil Society itu menjadi
“Masyarakat Madani”.
Kembali ke dunia film. Bagi saya, “Film Madani” dalam
Festival Film Madani ini sejalan dengan definisi kedua di atas,
yaitu “film-film yang bercerita tentang umat Islam dan
permasalahan khasnya”, tentang Living Islam. Temanya adalah
“kemusliman” dan seluk beluk bagaimana menjalani kehidupan
sebagai seorang muslim.
Berbicara soal “representasi umat Islam”, berikut saya bahas
lebih mendalam seputar konsep “representasi” dalam sinema.
xxvi !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
Film: Antara Menangkap Realitas
dan Representasi Kenyataan
Film manakah yang sungguh-sungguh berhasil menangkap
realitas Islam dan umatnya? Bagi Geert Wilders, Fitna adalah
jawabannya. Bagi Hanung Bramantyo dan Presiden RI saat itu di
tahun 2008, Susilo Bambang Yudhoyono, jelas Ayat-Ayat Cinta.
Yang pertama menunjukkan Islam yang bengis dan haus darah,
yang kedua menunjukkan Islam yang rahmatan lil’alamin.
Keduanya mengklaim sebagai pengungkap Islam yang
sebenarnya. Polemik seperti ini selalu hadir dalam media apa pun.
Di dekade 1990-an, majalah Tempo mengangkat tema utama
dengan judul “Nabi pun Berdamai dengan Yahudi”; tak lama
kemudian majalah Sabili memberikan perlawanan dengan
melempar tajuk “Nabi pun Mengusir Yahudi”.
Yang mana yang benar? Pertanyaan di atas saya ubah:
“apakah mungkin sebuah film menangkap kenyataan apa
adanya?”. Dalam skala yang lebih luas, banyak kritikus dan
akademisi film, dari dalam dan luar negeri, mengungkapkan
fenomena kegagalan film Indonesia dalam menangkap kenyataan
dan keseharian—wajah keindonesiaan—bangsa Indonesia.
Tapi, sekali lagi, benarkah film dapat menangkap kenyataan
apa adanya? Ternyata tidak sesederhana itu. Mengutip Christine
Gledhill dalam Genre and Gender: The Case of Soap Opera (Hall,
Stuart (Ed.), 2003: 346), “Realita yang mana? Realita apa?
Menurut siapa?”. Lebih jauh, “Bukan dunia materi yang membawa
makna, tapi sistem bahasa atau sistem apapun yang kita gunakan
untuk merepresentasikan konsep kita,” kata Stuart Hall (2003:
25). Manusia sebagai aktor sosial-lah yang membangun makna.
Cerita di dalam film adalah konstruksi pembuatnya yang memilih
realitas-realitas tertentu untuk dimasukkan ke dalam karyanya,
dan penonton pun memproduksi makna. Proses itu terjadi dalam
sebuah sistem bahasa (dalam hal ini, bahasa film). Maka, di dalam
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxvii
dunia fiksi seperti film, “realitas” selalu berupa konstruksi-
konstruksi (Hall (Ed.), 2003: 360), termasuk di dalam genre realis
atau dokumenter sekali pun.
Nah, saya, mengadaptasi Stuart Hall, berpendapat bahwa
istilah “Islam”, “Umat Islam”, atau “Santri” yang sudah termediasi
sesungguhnya adalah penanda kultural yang mengkonstruksi—
dan bukan merefleksikan—definisi, makna, dan identitas muslim
dan keislaman (Hall (Ed.), 2003: 346). Oleh karena itu, dalam
buku ini saya tidak lagi membanding-bandingkan antara film
dengan kejadian nyata—dan karenanya tidak pula memusingkan
mana film yang lebih dekat kepada kenyataan hakiki—tetapi
memilih fokus pada film itu sendiri sebagai sebuah sistem bahasa
yang bisa dimaknai dan ditafsirkan.
Bagaimana representasi dunia santri (dan umat Islam pada
umumnya) dalam film Indonesia? Buku kumpulan tulisan ini
hendak mengkaji representasi umat Islam di Indonesia dan dunia
Islam pada umumnya. Artinya, yang diulas adalah film-film yang
menggambarkan komunitas Muslim yang kental dengan simbol
dan wacana keislaman, minimal bernafaskan dan berlatar
belakang budaya Islam.
Representasi Dunia Islam dalam Layar
Film-film yang merepresentasikan umat Islam dan aplikasi
ajarannya (tidak hanya syariat tapi juga nilai-nilai seperti etika,
kebersamaan/ukhuwah, gotong royong) secara langsung atau
tidak langsung adalah sebuah media jihad, perjuangan.
Nurcholish Madjid pernah menyatakan bahwa dimensi jihad
tidak hanya jihad melawan ( fight against), tetapi yang juga tak
kalah penting adalah jihad untuk (fight for). Kuntowijoyo sendiri
menyatakan bahwa salah satu kriteria proses objektifikasi artinya
“tidak lagi berpikir kawan-lawan, tetapi perhatian ditujukan pada
xxviii !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
permasalahan bersama bangsa”, seperti yang ditulisnya dalam
“Objektifikasi, Agenda Reformasi Ideologi” (Kuntowijoyo, 2002:
213).
Dan film-film termaksud tidak sekadar berjuang melawan,
tetapi juga berjuang demi nilai-nilai spiritual yang lebih besar dan
mulia, seperti keadilan, kesetaraan, dan cinta.
Kritik terhadap ì Film Islamiî
Para anggota redaksi di RumahFilm.org (tempat saya menulis
kritik film sepanjang 2007-2010) banyak memberikan kritik
terhadap film-film yang dianggap islami. Misalnya, terlalu
berkutat pada permasalahan pribadi, masalah seputar perjodohan,
dan poligami. Padahal ada lebih banyak cerita yang bisa
dikisahkan. Sementara itu, ada film yang banyak mengandung
ajaran Islam secara eksplisit, namun acap tak dianggap “Film
Islami”, sebut saja Laskar Pelangi, Bukan Cinta Biasa, dan Rindu
Kami Pada-Mu.
Hal lain yang dikritik oleh saya dan kawan-kawan
di RumahFilm.org adalah tesa yang kerap muncul bahwa
kemiskinan bisa diatasi dengan kesuksesan individual (sekolah
S-2 ke luar negeri, misalnya). Tesa ini, yang kemudian sering
berkelindan dengan semangat pesannya sehingga dianggap
sebagai “film inspiratif ”, memang ada benarnya, tapi tidak
menyelesaikan persoalan kemiskinan secara umum. Kami percaya
bahwa lawan kemiskinan adalah keadilan, salah satunya adalah
penghapusan tindak korupsi. Karena itu, film
seperti Ketika dan Alangkah Lucunya Negeri Ini karya Deddy
Mizwar menjadi penting untuk disebut.
Film penting lainnya adalah kolaborasi sutradara Chaerul
Umam dengan penulis skenario Asrul Sani, seperti Titian
Serambut Dibelah Tujuh dan Nada dan Dakwah yang
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxix
mengadvokasi pembaharuan Islam dalam banyak isu, termasuk
isu pembebasan tanah dan kejumudan umat.
Contoh lain adalah Kantata Takwa, Laskar Pelangi, dan
Bukan Cinta Biasa yang umumnya tidak dipandang sebagai film
Islam(i), namun patut diulas. Di sini, akan saya paparkan dua yang
pertama.
Kantata Takwa layak memenuhi teori Sastra Profetik (atau
Film Profetik) Kuntowijoyo. Ini adalah salah satu puncak
pencapaian dari pertemuan film, teater, musik, idealisme,
perjuangan, dan nilai keislaman. Eros Djarot menyatakan bahwa
inilah wahana yang “…menempatkan seni pada posisi yang
sebenarnya”. Rendra menyatakan bahwa inilah gerakan budaya
perlawanan.
Bergenre—mengutip pengistilahan Eros—”eksperimental
puitis”, film ini sejak awal sudah bernafaskan perlawanan terhadap
Orde Baru dengan semangat tauhid. Para seniman itu, bagi saya
adalah mujahid yang sedang berjuang dan melaksanakan kalimat
tertinggi dalam keimanan lewat kalimat “tidak ada tuhan kecuali
Tuhan Yang Esa!”. Tauhid bermula dari penidakan, penyangkalan,
penolakan, dan itu yang mereka lakukan. Mereka telah berhasil
melakukan internalisasi-eksternalisasi-objektifikasi. Hasilnya:
lagu-lagu, puisi-puisi, dialog, dan konser akbar. Menurut Eros,
dan saya setuju, puisi-puisi Rendra adalah cerminan dari isi
Alquran.
Keislaman mereka juga diverbalkan. Dalam rapat
pembentukan gerakan itu, Rendra dengan tegas menyatakan
bahwa mereka tidak berjuang secara sekuler yang mengikuti
kehendak manusia, tapi juga kehendak Tuhan. Dan “takwa”
adalah dasar, pusat dan puncak. Para anggotanya pun menjelaskan
hubungan takwa dan karyanya. Yockie Suryoprayogo, sambil
memainkan piano di atas mobil yang berjalan di sekitar Bundaran
HI, menyatakan bahwa ”takwa adalah tujuan terakhir”. Semua
xxx !"#$%&'()'*!(!%+%#',(-'#"!%(+%#(+.#'%('-*%!
berbicara, kecuali Iwan Fals yang menunjukkan langkah nyata
dari kalimat tauhid: berjuang dan turun ke rakyat jelata.
Jilbab yang dikenakan sang penyaksi (dan kemudian
muncul puluhan lainnya di akhir film) adalah politik identitas.
Pada awal 1990-an, jilbab adalah simbol perlawanan. Di masa itu,
banyak terjadi kasus pelarangan pemakaian jilbab. Dan, ndilalah,
jenis jilbabnya adalah jilbab panjang yang lazim dikenakan para
perempuan pergerakan atau akhwat harakah (dari tarbiyah, yang
saya tahu) yang saat itu baru mulai marak di kampus-kampus
sekuler dan sekolah negeri.
Kedua, Laskar Pelangi. Diadopsi dari novel laris Andrea
Hirata, banyak orang tidak asing dengan isinya. “Saya bahagia
sekaligus sedih menyaksikan film ini,” ungkap Ketua Umum PP
Muhammadiyah kala itu, Dr. Din Syamsuddin, seusai
menontonnya. “Sedih karena ada sekolah Muhammadiyah yang
bernasib seperti itu. Bahagia karena ada sosok seperti Pak Harfan
dan Ibu Muslimah,” ungkapnya. Dia pun tak segan mengajak
segenap warga Muhammadiyah dan para pejabat termasuk
presiden untuk menontonnya, agar bisa mengambil pelajaran
darinya.
Film ini berhasil mengangkat kisah dua mujahid pendidikan
dan juga perjuangan kesepuluh muridnya yang begitu mencintai
ilmu pengetahuan. Adaptasinya lentur dan diizinkan bebas oleh
penulis novelnya, sehingga memunculkan, misalnya, karakter
yang diperankan Slamet Rahardjo yang berperan menjadi
pengamat dari luar Belitong.
Pemilihan 12 aktor cilik non-profesional yang asli Belitong,
dan pemilihan lokasi syuting di Belitong membuat film ini
berhasil menghadirkan “Lanskap Mental”. Alasan utama
pemilihan dua belas aktor cilik asli Belitong adalah untuk
menegaskan warna lokalitas. “Saya tak bisa membayangkan
bagaimana kalau karakternya dimainkan oleh anak dari Jakarta,”
ujar Mira Lesmana, produser film ini. Tujuan kedua adalah
!"#0%/%()'*!6(!"#/"0#%0/%#()1'*%!&(!7%+$%#'%6 xxxi
menggali potensi bakat di luar Jakarta, karena Mira percaya bahwa
bakat besar sejatinya ada di semua tempat. Hasilnya, penonton
teryakinkan oleh keotentikan peristiwa-peristiwa film ini.
Inilah representasi pendidikan kita di wilayah terpencil, dan
juga keterwakilan warga Muhammadiyah dalam film Indonesia.
Wallahu a’lam.
Modi kasi dari beberapa tulisan
termasuk ì Wajah Islam dan Umatnya
dalam Film Indonesiaî , dimuat
di harian Seputar Indonesia,
20 Oktober 2008.
1
Semesta Film
dan Dunia Islam
Islam Indonesia
7 Januari 2014
Sinema,
Isu Agama,
dan Dunia Islam
Pengaruh lm bukan saja terkait seni
semata, namun juga berkelindan dengan
bisnis, politik, dan bahkan agama.
F ilm punya interaksi dan posisi yang cukup unik
dengan isu-isu sosial, politik, dan budaya. Ia
mempunyai banyak fungsi dan tujuan, mulai dari alat berekspresi,
berkreasi, penyalur gagasan (film sebagai seni), menjual tema-
tema tertentu (film sebagai bisnis), wahana komunikasi (film
sebagai alat propaganda), dan tentu saja irisan ketiganya. Tak
terkecuali saat bersentuhan dengan topik agama dan kehidupan
beragama pemeluknya.
Bahkan sejarah hubungan antara film dan isu-isu
keagamaan sudah hampir setua umur film itu sendiri. Film The
Birth of a Nation (D.W. Griffith, 1915) menjadi kontroversial
karena—spoiler alert—berpihak pada kelompok rasis Ku Klux
Klan yang berbasis agama dan merendahkan kaum Afro-
Amerika—dan, walaupun laris manis, dilarang diputar di kota-
kota besar seperti Los Angeles dan Chicago. Atau The Jazz
Singer (Alan Crosland, 1927), “film bicara” pertama, yang
4 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
mengisahkan seorang penyanyi yang dilanda dilema antara debut
pertamanya di Broadway dengan harapan orang tuanya untuk
memimpin nyanyian di sinagoga. Sedangkan Metropolis (Fritz
Lang, 1927) kental dengan semangat khotbah dan penantian Ratu
Adil yang sangat biblikal.
Tahun 2014 saja, setidaknya ada dua kisah nabi versi
Perjanjian Lama yang difilmkan dengan bujet super mahal: Noah
(Nabi Nuh, diperankan Russell Crowe) oleh Darren Aronofksy
(sutradara Black Swan) dan Exodus oleh Sir Ridley Scott
(sutradara Kingdom of Heaven dan Black Hawk Down) tentang
kisah Nabi Musa yang diperankan oleh Christian Bale. Bagaimana
dengan umat Islam dan Indonesia? Tentu saja yang legendaris
adalah film Ar-Risalah alias The Message (1977) karya sutradara/
produser Moustapha Akkad (juga menyutradarai Lion of the
Desert) yang di Hollywood lebih dikenal lewat film franchise
Halloween-nya. Film ini adalah semacam film wajib bagi aktivis
dakwah kampus tahun 1980-an dan 1990-an. Dan, tentu
saja biopic Nabi Muhammad SAW karya sutradara Iran terkenal
Majid Majidi. Di Indonesia, Majid Majidi dikenal lewat film
Children of Heaven (1997) yang saya bahas di tulisan lain di buku
ini.
Di Indonesia, salah satu peretas tema ini adalah Asrul Sani,
baik sebagai sutradara melalui film antara lain Titian Serambut
Dibelah Tudjuh (1959), Tauhid (1964), Para Perintis Kemerdekaan
(1977) maupun sebagai penulis skenario lewat film antara lain Al-
Kautsar (1977) dan Nada dan Dakwah (1991). Di masa
Reformasi, pasca 1998, agaknya Hanung Bramantyo yang sering
mengangkat topik ini, di antaranya lewat Ayat-Ayat Cinta (2008)
atau AAC, Perempuan Berkalung Sorban (2009), dan Sang Pencerah
(2010)—walau tentu saja ada film religius sebelumnya semacam
Rindu Kami PadaMu (2004) dan Untuk Rena (2004). Kebetulan
saya hadir di konferensi pers Ayat-Ayat Cinta, dan menyaksikan
Hanung bergetar terharu karena ada orang non-muslim yang sudi
-'#"!%5('-.(%0%!%5(+%#(+.#'%('-*%! 5
membiayai film itu, sembari bersyukur karena akhirnya ia
menunaikan pesan ibunya untuk “memfilmkan agamamu”.
Singkat cerita, AAC memicu tumbuhnya tren “Film Islami” dan
juga kajian terhadapnya. Novelis Habiburrahman El Shirazy
termasuk yang aktif menulis skenario dan bahkan menyutradarai
film. Tak sedikit pula epigon alias pengikut yang terkadang
mutunya pas-pasan. Salah satu puncak tren film Islami, namun
berkualitas, barangkali, adalah Sang Kiai (2013), film biografi
tokoh pendiri NU Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari, yang
berjaya di FFI tahun yang sama.
Tentu kita juga tak boleh melupakan film-film tentang Wali
Songo, tokoh komik Jaka Sembung atau sebagian film Rhoma
Irama. Dari pendekatan seni, ada Kantata Takwa yang menurut
saya adalah salah satu film terbaik Indonesia sepanjang masa. Juga
film seperti Laskar Pelangi yang tidak diberi cap “Islami” layak
dikaji sebagai film yang mengangkat representasi problematika
umat Islam, dalam hal ini Muhammadiyah di Belitung. Atau
bahkan film semacam Bukan Cinta Biasa (2009) yang mengangkat
problem rocker tua yang dikejar masa lalunya.
Sebagaimana disebut di atas, sineas yang menggarap karya
bertema keislaman atau representasi umat Islam mempunyai
fungsi sebagai seniman, pebisnis, dan pendakwah (propagandis)
sekaligus. Ketiga elemen ini mau tidak mau harus hadir bersama
dalam sebuah tim pembuat film, dengan derajat persentase yang
berbeda-beda antara ketiganya.
Pada dasarnya, film adalah alat ampuh bercerita. Begitu
banyak cerita yang sudah diangkat ke layar lebar. Sayangnya, jauh
lebih banyak lagi kisah-kisah dari dunia Islam yang belum
terangkat dan teradaptasi ke dalam format film.
DetikHot
11 November 2010
In the Name of God
Pernyataan
Politik yang Keras
tapi Menghibur
A khirnya film Khuda Kay Liye/In The Name of God
(2007) karya sutradara Pakistan, Shoaib
Mansoor diputar di bioskop reguler di Indonesia, pada 2010. Film
yang diputar di Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2008
ini cukup unik posisinya. Ia tidak hanya film yang laris manis di
negerinya dan mencapai nilai box-office tertinggi kedua dalam
sejarah sinema Pakistan hingga tahun 2010, tetapi juga menang
dan diputar di banyak festival film dunia—di antaranya
memenangkan penghargaan Silver Pyramid pada 31st Cairo
International Film Festival, dan meraih Audience Award pada
Fukuoka International Film Festival 2008. Diakui secara
komersial sekaligus kualitas. Dan inilah film Pakistan pertama
yang diputar di India.
Film ini berlokasi di Pakistan, Inggris, Amerika Serikat, dan
Afghanistan. Berkisah tentang abang-adik (Sarmad dan Mansoor,
dimainkan oleh Fawad Khan dan Shaan) yang sukses dalam
/"&#:%1%%#(/;*'1'3(:%#0(3"&%-(1%/'(!"#02'4.& 7
industri musik, namun terpisah jalan. Si abang meneruskan kuliah
S-2 musik di AS, dan bertemu dengan jodohnya di sana, Janie
(Austin Marie Sayre).
Si adik mendalami ajaran garis keras dan bergabung dengan
kelompok radikal mirip Taliban pimpinan Maulana Tahiri
(Rasheed Naz). Si abang bernasib sial karena berada di AS saat
peristiwa WTC—dia ditahan dan diinterogasi oleh pihak
berwajib AS yang sok tahu. Si adik yang kini mengamini dan
menjalani aliran garis keras, menikahi sepupunya, Mary (Iman
Ali) perempuan London yang dijebak ayahnya yang tidak ingin
Mary menikahi non-muslim (padahal sang ayah sendiri kumpul
kebo dengan bule non-muslim di sana).
Film ini memberi pernyataan yang cukup keras seputar
Peristiwa 9/11, baik kepada “Barat” maupun kepada umat Islam
sebagai otokritik. Kepada AS, ia memprotes betapa tingginya
buruk sangka—sekaligus rendahnya pemahaman—kebanyakan
warga AS, apalagi aparatnya, terhadap orang muslim. Salah
satunya tergambar dalam kesoktahuan seorang interogator yang
menyangka jimat (isim)—”pegangan” yang dimiliki sebagian
muslim—sebagai sebuah peta karena ada angka 9 dan 11, dan
sialnya si empunya tidak memahami isinya (sesuatu yang juga
wajar).
Tetapi, kritik tajam justru dialamatkan kepada umat Islam
sendiri. Misalnya, bagaimana pemahaman yang picik membuat
orang merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya di
berbagai bidang. Sebut saja perihal pengharaman musik, hak-hak
perempuan (dalam hal ini, kawin paksa), dan atribut identitas
seperti jenggot dan cara berpakaian.
Salah satu adegan menarik yang menancap di memori saya
adalah ketika seorang ulama besar bernama Maulana Wali
(Naseeruddin Shah) bersaksi dalam persidangan resmi perihal
hukum Islam. Ketika membahas hukum musik, sang ulama
membuka pernyataannya dengan, “Saya punya banyak argumen
8 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
yang berhubungan dengan musik, tapi saya akan mengajukan satu
saja, satu hal yang mencakup semua argumen.”
Lalu, dia berkata, “Katakan, berapa banyak utusan Tuhan?”
Jawab jaksa, “124 ribu.”
Sang kiai dengan lembut melanjutkan, “Dan, dari sekian
banyak itu berapa yang diberi anugerah dengan kitab? Hanya
empat. Dan keempatnya juga diberi-Nya mukjizat. Mukjizat Nabi
kita adalah Alquran itu sendiri. Musa bisa membelah lautan
menjadi dua. Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati. Dan
apa mukjizat Daud? Musik. Suara yang merdu dan kehebatannya
bermain banyak instrumen musik, yang membuat gunung ikut
bernyanyi, berbagai burung dari penjuru dunia bersegera
menghampiri suaranya. Tengoklah Mazmur, maka Anda akan
menemukan detil skala musik dan alat musik yang beliau mainkan
untuk memuji Tuhan.”
Ruang sidang hening. Sang ustad melanjutkan, “Apakah
logis jika Tuhan memilih benda yang najis (impure) sebagai alat
memuja-Nya? Dan, apakah Dia akan menganugerahkan salah satu
Rasul yang paling Ia cintai dengan sesuatu yang kotor?”
Ia pun menyambung dengan contoh dari Rasulullah.
“Apakah mungkin Nabi kita membenci musik tapi bertanya pada
istrinya Aisyah, ‘Suku yang sedang mengadakan pesta pernikahan
ini sangat menggemari musik. Apakah kamu telah mengirim para
penyanyi wanita untuk bernyanyi dalam upacara perkawinannya?’
Apakah Rasul kita membenci musik tapi juga memuji Abu Musa
Asyari yang sedang melantunkan Alquran dengan berkata,
‘Sepertinya Allah telah meletakkan harpa Daud a.s. di dalam
tenggorokanmu’?”
Di kali yang lain, sang kiai ini juga menggarisbawahi untuk
tidak mencampuradukkan antara agama dan budaya—dengan
kata lain: ibadah dan muamalah. Dengan pernyataan keras ini,
Shoaib pun terkena teror oleh penganut garis keras. Bahkan ia
diancam bunuh karena mempromosikan kehalalan musik dan
/"&#:%1%%#(/;*'1'3(:%#0(3"&%-(1%/'(!"#02'4.& 9
perkawinan beda agama. Tak kurang dari Perdana Menteri
Pakistan sendiri yang turun tangan memerintahkan menjaga
keamanannya. Tapi, ia tetap berjuang di jalur yang dianggapnya
benar.
Inilah film yang dengan lihai memasukkan unsur
propaganda dan menjadi alat pernyataan politik, media
komunikasi, tapi diracik dengan skenario dan sinematografi yang
ciamik, berikut lagu-lagu yang menawan. Salah satu adegan
favorit saya adalah ketika tokoh Mansoor bermain piano dengan
gaya Pakistan, mahasiswa lain mengikuti iramanya dengan alat
musik dan gaya masing-masing budaya. Sebuah contoh menarik
dari multikulturalisme.
Pesan moralnya, membuat film yang bermutu, punya
pernyataan (politik/personal), dan sekaligus laku bukanlah hal
yang tak mungkin.
Islam Indonesia
7 Februari 2014
East is East
Isu Pembauran
dan Jalan Tengah
Apakah memang Timur tak akan pernah
bisa bertemu dengan Barat?
H idup di perantauan, apalagi menetap dalam
waktu lama di negara “Barat”, punya
dinamikanya sendiri bagi keluarga muslim, mulai dari yang
bersifat teknis (seperti jadwal salat yang bergerak maju mundur,
puasa di musim panas yang berdurasi 18 jam, sampai mencari
daging halal) hingga yang mendasar seperti krisis identitas,
rasisme, dan gegar budaya lainnya.
East is East adalah sebuah film produksi tahun 1999 yang
mengisahkan isu-isu tersebut dengan jenaka tapi dalam makna.
Bujet produksinya rendah (hanya 1,9 juta poundsterling) namun
sukses meraup pendapatan 10 juta poundsterling di Britania Raya.
Film yang dilarang di Mesir ini hasil adaptasi dari produksi
panggung populer yang ditulis Ayub Khan Din berdasarkan
pengalaman hidup sang penulis sendiri yang hidup di tengah
keluarga multikultural—skenario filmnya pun ia tulis sendiri—
dan meraih British Independent Film Award dan London Critics’
'-.(/"!4%.&%#(+%#(<%*%#(1"#0%2 11
Circle Film Award pada tahun yang sama. Dibesut oleh Damien
O’Donnell—yang juga meraih banyak penghargaan berkat film
ini—East is East bercerita tentang keluarga Jahangir
“George” Khan yang tinggal di Salford (tak jauh dari
Manchester), Inggris Utara, tahun 1971. George adalah seorang
imigran asal Islamabad, Pakistan, yang menikah dengan Ella,
perempuan Katolik berdarah Irlandia, dan mengelola restoran fish
and chip. Mereka dikaruniai enam putra dan satu putri yang lahir
dan tumbuh di Inggris: Nazir alias Nigel (25 tahun), Abdul alias
Arthur (23), Tariq alias Tony (21), Maneer alias Gandhi (19),
Saleem alias Picasso (17), Meenah (14) dan Sajid “Spaz” (11).
George sendiri sudah ada di Inggris sejak 1937.
Sang ayah ingin anak-anaknya mengikuti tradisi Islam-
Pakistan seperti yang dianutnya, dan mewajibkan mereka ke
masjid setiap Jumat. Masalahnya, sebagian besar anaknya punya
pikiran dan gaya hidup sendiri seputar cara berpakaian, makanan,
agama, menghabiskan waktu luang, dan bergaul dengan lawan
jenis. Maka persoalan demi persoalan pun muncul dalam
racikan yang jenaka namun cerdas dan tajam. Nazir, si sulung
yang gay, kabur dari rumah karena menolak dijodohkan; si bungsu
Sajid takut disunat; Maneer diam-diam makan daging
babi. Diperumit juga oleh rencana sang ayah yang hendak
menikahkan Abdul dan Tariq—ganteng, hobi dugem, dan
berpacaran dengan bule (Stella Moorhouse)—dengan sesama
orang Pakistan—Nighat dan Nushaaba yang dianggap kurang
menarik—secara diam-diam dan sepihak. Hanya Maneer yang
mengikuti aturan ketat sang ayah.
Ibu mereka membela anak-anaknya dari sang ayah yang
acap memaksakan kehendak (dengan kredo “ini baik untukmu;
aku lebih tahu darimu”), tidak dialogis, dan sering menerapkan
hukuman yang keras. “Anak-anak bermasalah karena kamu tidak
mendengarkan mereka,” tegas Ella. Tapi ia selalu gagal karena
suaminya selalu mengancam untuk membawa istri pertamanya
12 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
dari Pakistan. Di samping itu, menurut klaim George, perkara ini
merupakan urusan agama yang belum tentu dimengerti non-
muslim.
George digambarkan sebagai sosok yang lebih
mengutamakan pencitraan dan gengsi, khususnya di hadapan
sesama jamaah masjidnya. Tentu George mencintai keluarganya
dan ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, tapi dengan
caranya sendiri yang tak dimengerti oleh anak-anaknya yang
sudah ter-sibghah (terwarnai) tradisi kehidupan “Barat”. Ia sama
sekali menutup komunikasi dua arah dengan anak-anaknya, dan
hanya memberi hadiah benda seperti jam tangan sebagai hadiah
pernikahan. Sebaliknya, anak-anaknya—sudah terbaratkan
sebagai sebuah proses wajar—merasakan manuver ayahnya
adalah pemaksaan yang otoriter. “Saya bukan orang Pakistan,
Ayah. Saya lahir di sini,” tukas Tariq.
Judul film ini, berikut sekuelnya, dikutip dari
pernyataan sastrawan Rudyard Kipling: ”Oh East is East, and West
is West, and never the twain shall meet” (“Timur adalah Timur, dan
Barat adalah Barat, dan keduanya tak akan pernah bertemu”)
dalam puisinya, The Ballad of East and West. Pertanyaannya:
benarkah demikian?
Tiba-tiba saya teringat dengan Tariq Ramadan, salah satu
pelopor integrasi Islam dengan Barat. Ia menulis beberapa buku
seputar isu ini, di antaranya To Be a European Muslim: A Study of
Islamic Sources in the European Context (2001)—diterjemahkan
menjadi Teologi Dialog Islam-Barat: Pengalaman Seorang Muslim
Eropa—Islam, the West, and the Challenge of Modernity (2002),
dan The Future of Islam in Europe (2003). Cucu Hassan al-Banna,
pendiri Ikhwanul Muslimin, ini menggarisbawahi dua kutub
seperti yang terlukis di film: antara berperilaku ”Barat” secara
total seperti layaknya orang Eropa “asli”, atau hidup seperti tinggal
di negara asalnya alias menciptakan “negara dalam negara”. Dia
pun mencoba merumuskan asimilasi dan negosiasi, antara mana
'-.(/"!4%.&%#(+%#(<%*%#(1"#0%2 13
yang bisa dinegosiasi (aspek kultural) dengan yang prinsip agama
(yang tak bisa diubah). Intinya: jalan tengah. “Saya seorang warga
Eropa, yang tumbuh di Eropa. Saya tidak mengingkari
akar kemusliman saya, tetapi saya pun tidak akan menjelek-
jelekkan Eropa,” ungkap Tariq. Ia bahkan melontarkan apa yang
disebutnya sebagai “upaya menemukan identitas Muslim Eropa
yang independen”. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Muslim
Eropa adalah, “Memisahkan prinsip-prinsip Islam dari budaya
tanah kelahirannya, dan membumikan nilai-nilai itu ke dalam
realitas budaya Eropa Barat.” Sekilas agak mirip pendapat Gus
Dur dengan konsep Pribumisasi Islam-nya, atau sekarang yang
dikenal dengan istilah “Islam Nusantara” di kalangan Nahdliyin.
Tariq yakin, dengan berkembangnya komunitas Muslim Eropa
yang mencapai lebih dari 15 juta saat ini, sudah saatnya
meninggalkan gagasan bahwa Islam secara frontal berlawanan
dengan Barat. “Saya yakin dapat memadukan hal-hal yang tidak
bertentangan dengan agama saya ke dalam identitas diri saya
(sebagai Muslim Eropa),” katanya, “Dan ini adalah sebuah
revolusi.”
Menjadi Muslim Eropa hanya salah satu agenda saja. Ada isu
lain yang tak kalah penting: bagaimana dialog budaya bisa
digerakkan dengan semangat melanjutkan konsep “toleransi”
menjadi “koeksistensi”, seperti yang tercermin dalam
bukunya, Muslims In France: The Way Towards Coexistence.
Toleransi, sederhananya, adalah bersikap “silakan lakukan apa saja
asal jangan ganggu keyakinan saya”. Sedangkan koeksistensi
adalah sikap “kita memang berbeda, tapi mari bekerja sama”.
Tidak sekadar saling menghormati dan menghargai perbedaan,
namun juga menyinergikan keduanya dalam bersintesa dan bahu
membahu dalam hal-hal yang disepakati bersama.
Kembali ke film. Lebih dari 40 tahun kemudian (sejak setting
tahun kejadian film ini, 1971), tentu sudah banyak perubahan.
Warga Eropa, khususnya Inggris, banyak yang lebih menerima
14 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
kehadiran komunitas muslim. Bahkan banyak pendapat bahwa
Inggris adalah negara paling ramah terhadap perkembangan Islam
di Eropa. Namun persoalan pembauran—dan perbenturan dan
dialog antara dua budaya, juga antara nilai lokal dan Islam
kosmopolitan—masih terjadi di Barat. Dinamika isu-isu ini terus
diabadikan dalam format sinema. Tidak hanya di kalangan umat
Islam Eropa, tapi juga kelompok lainnya. Misalnya, Gurinder
Chadha yang membuat film Bend it Like Beckham dan Bride and
Prejudice. Film East is East ini sendiri punya sekuel yang
berjudul West is West (Andy De Emmony, 2010), namun
sayangnya tak sesukses film pertama.
Islam Indonesia
11 Maret 2014
Kegigihan
Jafar Panahi
Seorang sineas yang tak pernah
menyerah melahirkan karya kendati
dalam situasi terpenjara.
I de itu punya kaki, kata Soedjatmoko, seorang
intelektual Indonesia dan mantan rektor
Universitas PBB (1980-1987) di Tokyo. Sineas Iran, Jafar Panahi,
membuktikan kata-kata tersebut. Panahi memang luar biasa. Kala
ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara dan dua puluh tahun
pencekalan keluar negeri—termasuk tak boleh membuat film—ia
masih bisa membuat dua film. Saat pemerintah Iran memutuskan
untuk menahannya, protes bermunculan dari berbagai penjuru
dunia, termasuk dari aktor Sean Penn dan sutradara Steven
Spielberg.
Tulisan ini bukan hendak membela posisi politik Jafar
Panahi yang memang secara terang-terangan menentang
pemerintah Iran lewat aktivitasnya dalam Green Movement,
sebuah gerakan yang menuntut Presiden Mahmoud Ahmadinejad
turun dari kursi kepemimpinan. Artikel ini lebih hendak
mengedepankan bagaimana ide, idealisme, dan semangat
16 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
berkarya seorang pembuat film tak bisa dibendung hanya dengan
cara “dirumahkan”.
Sekadar info bagi yang belum familiar dengan Jafar Panahi:
film pertamanya, The White Balloon (1995) mendapatkan
penghargaan Camera d’Or pada 1995 Cannes Film Festival. Film
lainnya adalah The Mirror (1997) yang meraih Golden Leopard
Award di Locarno Film Festival dan Golden Tulip di Istanbul
Film Festival, The Circle (2000) yang memenangkan Golden
Lion Award di Venice Film Festival, Crimson Gold (2003) yang
diganjar Gold Hugo di Chicago International Film
Festival, dan Offside (2006) yang menjuarai Silver Berlin Bear di
Berlin Film Festival. Pada 2002, ia sempat menjadi tamu di
Jakarta International Film Festival.
Pada tanggal 1 Maret 2010, Panahi digerebek di rumahnya
saat menghadiri perjamuan makan malam. Bersama istri, anak,
dan kelimabelas tamu pribadinya, ia dikirim ke rutan Evin.
Mereka dituduh sedang menggodok pembuatan film propaganda
yang mendukung oposisi, Mir Hossein Mousavi—sebuah
tuduhan yang disanggah oleh Panahi, yang menyatakan bahwa ia
hanya membicarakan proyek film seputar nasib sebuah keluarga
pasca-pemilu. Sebagian besar dibebaskan 48 jam kemudian.
Setelah ditahan tujuh belas hari, rekan sesama pegiat film yang
hadir, Mohammad Rasoulof dan Mehdi Pourmussa, dibebaskan.
Sedangkan Panahi baru bebas 25 hari kemudian dengan jaminan,
tanpa ada vonis hukuman yang jelas.
Setelah melalui proses hukum, pada 14 April 2010,
Kementerian Budaya dan Panduan Islam Iran menyatakan bahwa
Panahi bersalah karena berusaha “membuat dokumenter tentang
perselisihan seputar terpilihnya kembali Presiden Mahmoud
Ahmadinejad”. Ia dianggap “berkumpul dan bekerja sama ingin
menghancurkan sistem keamanan negara dan membuat karya
propaganda melawan Republik Islam Iran”. Baru setelah delapan
bulan kemudian, tanggal 20 Desember 2010, Panahi divonis 6