!"!4%$%(C-'#"!%D('#+;#"-'%(+%&'(4%#+%(%$"2 117
Lantas, bagaimana jalan keluar atau titik temunya? Fozan
Santa menyatakan, “Kita amat sangat perlu belajar kembali pada
sejarah (interaksi) sosial-politik Nabi Muhammad periode
Mekkah, bukan semata mahir menjiplak formalitas personal dan
legalistik yang sudah mapan pada periode Madinah.” Sedangkan
Reza menyatakan, sebaiknya syariat dikembalikan pada makna
harfiahnya, yaitu jalan menuju Tuhan. “Jalan menuju Tuhan
ditempuh dengan pendidikan dan etika. Etika yang mengatur
hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan
dengan alam, semua ada dalam syariat agama. Hukuman adalah
pilihan akhir yang harus diterapkan setelah pendidikan dan etika
diperkenalkan,” jelasnya.
Bagi penyelenggara FFA, hukuman adalah sarana, bukan
tujuan, dari penegakan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran
Islam. Sehingga yang sebaiknya dilakukan adalah gerakan
penyadaran dan pemahaman, bukan sesuatu yang menakutkan
dan dipaksakan. Jalannya adalah pendidikan, sejarah, dan etika,
yang merupakan bagian dari kebudayaan. Gerakan kultural
itulah, agaknya, yang tengah mereka perjuangkan. Salah satunya
lewat Festival Film Arab. Jika tidak, maka yang terjadi akan
seperti simbol FFA, sebuah pohon kurma di Masjid Raya, yang
pada akhirnya hanya menjadi hiasan artifisial belaka.
2. Merayakan Film di Negeri Tanpa Bioskop
Sepanjang tahun 2011, tidak banyak saya ke luar kota. Beberapa di
antaranya adalah ke Banda Aceh dan Serang. Keduanya
mempunyai, setidaknya, satu persamaan: tidak ada bioskop. Dan
ada banyak sekali kota-kota, baik di Jawa atau di luar Jawa, yang
tidak memiliki bioskop.4 Mungkin itu salah satu alasan mengapa
4 Data penonton dapat diakses di: http:// lmindonesia.or.id/movie/viewers
118 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
film terlaris kita, Laskar Pelangi, meraup lebih dari 5 juta
penonton, yang sebenarnya hanyalah sekitar 2,5 % total penduduk
Indonesia. Kita berhadapan dengan persoalan distribusi dan
eksibisi.
Bioskop penting tidak saja sebagai sebuah tempat untuk
menonton film dengan fasilitas khusus, tapi juga untuk membuka
ruang publik tempat masyarakat bertemu, berapresiasi, dan
berinteraksi secara sosial. Festival Film Arab yang dicetuskan
Sekolah Menulis Dokarim adalah salah satu upaya membuka
bioskop. Mereka menyulap kantor mereka, Episentrum Ulee
Kareng, menjadi ruang publik yang nyaman untuk para penonton.
Menurut Fozan Santa, sang kepala sekolah, setelah bioskop-
bioskop resmi lenyap di Aceh, konsentrasi penonton kritis serta
pengamat kebudayaan hari ini berpindah ruang ke meja-meja di
kedai minum untuk merayakan keramaian dan keragaman
pemikiran. “Tidak mudah memang menyelenggarakan kembali
sebuah bioskop resmi saat ini, untuk aktivitas menonton dan
menemukan inspirasi kebudayaan dari balik sorot proyektor film,”
ujarnya.
Fozan menjelaskan, terjadi pergeseran pemahaman pasca
konflik dan tsunami terhadap “ruang gelap komunal” menjadi
“ruang sunyi personal”. Itu pula yang membikin orang kini lebih
senang dan nyaman menonton televisi atau bioskop-keluarga
(home-theater) karena di sana gelap-terang bukan lagi soal yang
berarti untuk simbol baik dan buruk.
Bisnis bioskop di Banda Aceh menurun sejak 1989. Sejak
konflik meningkat, sekitar tahun 2000-an, makin banyak yang
jarang keluar malam, sedangkan warung kopi yang buka siang-
malam pun banyak tutup. Saat bencana tsunami pada Desember
2004, bioskop terakhir pun tutup.
Walhasil, rakyat Aceh yang budayanya kental dengan audio
visual dan tradisi lisan, tidak hanya sekadar haus tontonan, namun
juga rindu “perayaan sosial”. Sebab, menurut Fozan, selama ini,
!"!4%$%(C-'#"!%D('#+;#"-'%(+%&'(4%#+%(%$"2 119
mereka hanya bisa menonton VCD sendiri atau bersama keluarga
di rumah. Padahal, umumnya, masyarakat Aceh suka keramaian
dan hiburan, suka berkumpul meski tak melulu menonton
bioskop. Karena itulah, banyak warung kopi yang memasang layar
besar untuk menonton pertandingan sepak bola beramai-ramai.
Dan karena itulah FFA dibanjiri penonton dari berbagai penjuru.
Bagaimana kemungkinan membuka bisnis bioskop?
Menurut Reza Idria, setelah tsunami, ada banyak sektor modal
yang bangkit, namun tidak ada lagi yang mau berinvestasi di
bidang ini karena ada larangan bercampur laki-laki dan
perempuan di tempat gelap. Namun, jika ada regulasi yang jelas
dari pemerintah tentang aturan bagi penyelenggara dan penonton
bioskop maka sepertinya peluang keuntungan bagi yang bersedia
investasi, sangatlah besar.
Tetapi, rupanya absennya gedung bioskop tidak lantas
membuat mereka berdiam diri dari melakukan perayaan sosial
dan kultural. Ada beberapa geliat di bidang distribusi dan eksibisi.
Beberapa di antaranya adalah serial film Eumpang Breuh, dan
acara TV Eng Ong.
Eumpang Breuh (yang bermakna “karung beras”) adalah
sebuah drama komedi yang digagas oleh grup lawak setempat,
Tuha Ban Lahee. Mereka memproduksi filmnya sendiri dan
mengedarkannya sendiri dalam bentuk kepingan VCD. Episode
pertama, “Preman Gampong”, dirilis Agustus 2006 dan laris
hingga 25 ribu keping. Episode kedua, “Yusniar Dara Gampong”
laku 40 ribu. Dan yang ketiga, “Cinta Bang Kapluk”, melonjak
hingga 70 ribu.5 Ratusan orang antri panjang hanya untuk
membelinya, dan para “distributor” biasanya membayar lunas di
muka, dengan uang tunai berkarung-karung. Episode keempat
5 http://www.acehfeature.org/index.php/site/detailartikel/586/Eumpang≠ Breuh/ (URL
tidak dapat diakses pada 1 Oktober 2019)
120 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
(“Raket bak Pisang”), kelima (“Kaoy Haji Uma”), dan seterusnya
hingga nomor sembilan masih juga diproduksi.
Eumpang Breuh adalah kisah perjuangan Joni Kapluk
mendapatkan Yusniar sebagai kekasih: kaya, cantik, dan anak
tunggal Haji Uma yang galak. Intinya sebenarnya kisah pencarian
jodoh dan konflik dengan calon mertua yang disajikan dengan
gaya komedi slapstick.6 Film seri ini disutradarai Imran Abdoe
alias Ayah Doe dan diproduseri oleh Din Keramik sebagai
Produser. Sebelum dan, umumnya, setelah suksesnya Eumpang
Breuh ini, bermunculan produksi lokal bertema komedi, dengan
jaringan distribusi dan eksibisi lokal pula.
TV Eng Ong agak berbeda. Kegiatan yang digagas oleh
Episentrum Ulee Kareng bekerja sama dengan beberapa institusi,
itu sebenarnya adalah semacam ajang kampanye sosial ke rakyat
Aceh, misalnya tentang peran perempuan, dan isu sosial lainnya.
Umumnya, acara ini disutradarai Akmal M. Roem dengan
berbagai penutur dengan pendekatan komedi.7 Panggungnya
berbentuk televisi raksasa bermerek Episentrum, dan dua orang
berperan sebagai reporter televisi,8 berakting penuh improvisasi.
Ribuan orang menghadiri dan tertawa bersama.9 Yang paling
menarik adalah segmen roadshow ke pemirsa, atau tepatnya
penonton, mengingat mereka merasa benar-benar masuk televisi.
Misalnya, pada pertengahan September 2011, mereka pentas
dengan tema “Perempuan dan Perdamaian” di seantero
Kabupaten Aceh Besar, antara lain di Kantho, Lampuuk,
Indrapuri, dan Siem. Kali ini, mereka bekerja sama dengan Koalisi
Perempuan dan UN Women. Di kesempatan lain, Desember
6 ì Eumpang Breuh: Grup Lawak Kawakan dan Film Komedi Terpopuler di Acehî ,
acehdalamsejarah.blogspot.com, n.d., http://acehdalamsejarah.blogspot.com/2011/08/
eumpang≠b reuh≠g rup≠ lawak≠ kawakan≠ dan_15.html (diakses pada 1 Oktober 2019)
7 Contoh naskah bisa dibaca di: http://aamovi.wordpress.com/2009/04/01/naskah≠ tv≠
engo≠ ng/
8 Contohnya bisa dicek di: http://www.youtube.com/watch?v=7≠ LL5TuuoiI
9 Foto≠f oto bisa dilihat di: https://www.facebook.com/media/
set/?set=a.124019374337124.22503.124014454337616&type=1
!"!4%$%(C-'#"!%D('#+;#"-'%(+%&'(4%#+%(%$"2 121
2009, mereka melawat Aceh Selatan, di Kecamatan Sawang,
Tapaktuan, Bakongan dan Kluet Timur, dengan tema
perdamaian, kesehatan reproduksi dan kampanye anti HIV/
AIDS, khususnya soal penyembuhan trauma. Acara yang
diprakarsai Komunitas Tikar Pandan ini merupakan bagian dari
kampanye trauma healing dan kesehatan.
Alternatif ruang publik lainnya adalah Gerobak Bioskop,
sebuah perangkat layar tancap yang dihibahkan Komunitas
Ruang Rupa kepada Episentrum Ulee Kareng pada 28 November
2011. Perangkat tersebut terdiri dari media player, sound system,
komputer laptop untuk operator, dan proyektor beserta layarnya.
Di negeri tanpa gedung bioskop, rakyat Aceh tak kehilangan
kreativitasnya menciptakan sistem distribusi dan eksibisi baru,
untuk menciptakan ruang publik yang menampung rakyatnya
menjalani perayaan sosial sembari mengapresiasi budaya lisan dan
audio visual yang sudah lama ada dalam tradisi mereka. Dan
komedi adalah pilihan mereka, mungkin mengingat riwayat
mereka yang lama didera konflik dan bencana.
Moda produksi dan distribusi ini juga diterapkan di Nias
dengan serial Ono Sitefuyu. Di tempat yang juga nir-bioskop ini,
VCD Ono Sitefuyu beredar hingga sebelas episode. Hingga Juli
2011, Ono Sitefuyu telah terjual hingga 220.000 kopi hanya di
Pulau Nias saja.10 Seperti disebutkan dalam buku Menjegal Film
Indonesia (2012):
Suksesnya Eumpang Breuh dan Ono Sitefuyu mencerminkan
kekuatan komunitas dan akar yang kuat dalam pembuatan karya
film. Patut diakui, bahwa faktor terisolasinya komunitas ini dari
ekspos produk budaya pop global (dalam hal ini: Hollywood)
semestinya cukup berperan dalam membangun minat
masyarakat. Jika masyarakat kedua daerah itu sejak awal
10 ì Film Berbahasa Daerah Diminatiî , Kompas Online, 4 Juli 2011, dan ì Masyarakat Batak
di Jambi Sulit Dapatkan Film VCD ë Anak Sasadaí î , Batak Pos, 14 Juli 2011
122 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
terekspos kepada Hollywood, apakah film-film daerah ini akan
sesukses sekarang? Sulit diketahui jawabannya.
Dan tiba-tiba saya teringat dengan masyarakat menengah ke atas
yang mengeluh karena tak bisa menonton Harry Potter dan
Transformers di pertengahan tahun 2012 ini, hingga ada yang
berinisiatif menonton sendiri sampai ke Singapura.
Islam Indonesia
28 Januari 2014
Jaka Sembung
dan Dunia Islam
Adakah keduanya memiliki keterkaitan?
J ika kita menengok kajian film dan media tentang
hubungan film dan (dunia) Islam, agak langka
orang membahas judul seperti Laskar Pelangi, Rindu Kami Pada-
Mu, Bukan Cinta Biasa, film eksperimental seperti Kantata Takwa,
terlebih film bergenre fantasi dan laga semacam Merantau, film-
film silat karya Djajakusuma seperti Harimau Tjampa, dan
seri film Jaka Sembung. Tapi saya menemukan ada keterkaitan
antara film Jaka Sembung dengan dunia Islam.
Jaka Sembung dan dunia Islam? Ya, tentu saja. Tapi sebelum
membahas kaitan keduanya, saya hendak menggarisbawahi
fenomena film-film kelas B produksi kurun 1979-1995 yang
diedarkan lagi dalam bentuk DVD di negara-negara Barat.
Sebenarnya sudah beberapa kali saya menulis soal ini, namun ada
baiknya saya ulangi kembali.
Film-film Indonesia yang “beruntung” itu adalah film-film
populer 1980-an yang masuk dalam kategori “film eksploitasi”—
124 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
sederhananya, film berbujet rendah dengan banyak adegan
kekerasan dan/atau sensual. Di Indonesia, elit budaya dan
pemerintah tidak terlalu ambil peduli dengan film-film semacam
ini, karena “politik selera” mereka berfokus pada pencarian “wajah
Indonesia yang sebenarnya”, yang menyebabkan film dengan
pendekatan non-realis tidak dianggap masuk dalam kategori
“resmi” film Indonesia—misalnya dalam bentuk tidak pernah
diperhitungkan di FFI, atau tidak pernah menjadi duta resmi
Indonesia ke berbagai festival film dunia.
Namun ternyata film-film seperti ini banyak penggemarnya,
baik dalam maupun luar negeri, dan menjadi subkultur tersendiri.
Kanal distribusi dan eksibisinya alternatif, seperti layar tancap,
edaran VCD murah, dan distribusi DVD asing. Uniknya, justru
film “tak penting” seperti ini yang laku di pasar film internasional,
sejak 1982. Pengedar di Barat melabeli film jenis ini dengan istilah
“cult films”. Di antaranya: Ratu Ilmu Hitam, Pasukan Berani Mati,
Golok Setan, Perempuan di Sarang Sindikat, Pengabdi Setan, dan
seri film Jaka Sembung, yang acap diberi label “Crazy Indonesia”
oleh fans. Mari kita bahas yang tersebut terakhir, Jaka Sembung,
berkaitan dengan dunia Islam.
Di luar negeri, seri film Jaka Sembung, yaitu Jaka Sembung
Sang Penakluk alias The Warrior (Sisworo Gautama Putra,
1981), Si Buta dan Jaka Sembung alias The Warrior and the Blind
Swordsman (Dasri Jacob, 1983), dan Bajing Ireng dan Jaka Sembung
alias The Warrior and the Ninja (Tjut Djalil, 1983), mempunyai
banyak penggemar di dunia maya, di antaranya di AVManiacs—di
samping banyak diulas di berbagai e-fanzine dan blog. Beberapa
resensi di Barat menghubungkannya dengan keislaman.
Misalnya, Brian Harris, dari Yahoo Contributor Network, memberi
judul resensinya dengan “Islamic Pinoy Action Exploitation”
(walau, tentu saja, film ini bukan “Pinoy” alias dari Filipina), dan
<%3 %(-"!4.#0(+%#(+.#'%('-* %! 125
menjelaskan bahwa pertarungan “ilmu hitam Jawa” melawan
“Islam” sebagai salah satu elemen paling menarik, di samping
adegan laga dengan mannequin yang terlihat gamblang dan adegan
kepala/tangan yang terputus dan tersambung kembali berkat ajian
“Rawa Rontek”. Di akhir tulisan, ia memberikan komentar:
“CULT ACTION GOLD!” Sedangkan di Eccentric Cinema, Brian
Lindsey menulis istilah yang agak bombastis: “The Warrior is an
Indonesian Islamic martial arts mayhem.”
Mari kita bahas film pertama, yaitu Jaka Sembung Sang
Penakluk. Film hasil adaptasi komik karya Djair pertengahan
1960-an ini memang kental dengan semangat keislaman. Cerita
berfokus pada Parmin Sutawinata yang lahir tahun 1602,
bertepatan dengan lahirnya VOC. Parmin berasal dari
Kandanghaur dan berguru di Gunung Sembung. Ia
direpresentasikan sebagai pembela kaum lemah melawan penjajah
Belanda di abad ke-17. Karl Heider menamakan genre film
semacam ini dengan istilah “genre Kumpeni”. Bersama kawan-
kawannya yang rajin salat dan berdoa, Jaka tinggal di sebuah
kompleks yang mirip pesantren. Uniknya, dalam versi DVD, si
peracik tidak menghapus adegan dan dubbing doa dan zikir
dengan menyebut nama “Allah”, walau disulihsuarakan dengan
agak aneh—misalnya, ucapan takbir dan salam salat dalam bahasa
Inggris—termasuk di saat-saat kritis sang jagoan. Saat Surti,
kekasihnya, hendak menyetopnya melawan penjajah, ia berkata
dalam dubbing berbahasa Inggris, “Biarlah Allah yang
menentukan takdirku”, lalu tetap maju ke medan laga.
Bahkan, saat melawan Ki Item yang digjaya, Jaka dalam
keadaan buta lalu disihir menjadi seekor babi hitam. Babi buta itu
berlari dikejar anjing yang berlomba menggigitinya. Saat serdadu
Belanda ingin mengejar dan membunuhnya, Ki Item mencegah
mereka seraya mengingatkan bahwa mayoritas penduduk di sana
adalah muslim, dan mereka memperlakukan babi dengan buruk.
126 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
Oleh karena itu, tak perlu susah payah lagi menangkap Parmin—
tentu ini menjadi kritikan, karena seharam dan senajis apapun
babi (dan anjing), kita sebaiknya memperlakukan mereka
selayaknya makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Tentu saja, ada upaya untuk membingkai film ini lebih
“ramah” penonton Barat, baik dari produsernya maupun
distributornya. Maka, istilah “voodoo”, “Caligula”, dan “Mata
Hari” pun hadir dalam film ini. Ada adegan yang mirip dengan
adegan ikonik Samson dan Delilah, serta penyaliban ala Yesus
seperti di film Ben Hur, lengkap dengan adegan memberikan air
minum untuk sang protagonis. Dan, yang menarik,
tentu score musik pembukanya, yang mencampur nuansa Sunda
dengan musik instrumentalia ala “Spaghetti Western”, semacam
trilogi The Man With No Name dan Django.
Dan, menariknya, saat masih berupa trailer, adegan doa-doa
ditiadakan. Ada adegan ketika Surti gundah karena Parmin
ditangkap, ia diberi nasihat ayahnya dengan pernyataan,
“Bertawakal-lah pada Allah”. Namun di trailer, dialog ini diubah
menjadi, “Sepertinya kau meremehkan Jaka, Surti”. Semangat
sekularisasi ini tentu saja untuk melabel DVD ini dengan istilah
“cult movies” dan memasarkannya ke penggila film eksploitasi dan
cult di Barat, sebuah upaya yang diistilahkan oleh Mathijs dan
Sexton dengan sebutan “Meta-Cult”.
Uniknya, banyak yang percaya bahwa Jaka Sembung itu
adalah tokoh nyata. Maka, ada orang yang mengaitkannya dengan
silsilah Obama dan Sunan Gunung Jati. Bahkan ada seorang
wartawan majalah mistik bertapa di Gunung Sembung untuk
berjumpa dengan arwahnya, dan sebagainya. Padahal menurut
Djair, pengarangnya, Jaka Sembung murni tokoh fiktif yang
kebetulan dekat dengan kondisi sosial budaya masyarakatnya.
Almarhum Djair menegaskannya pada sebuah seminar
budayawan di Taman Ismail Marzuki tahun 1983 (Kompas, 12
Juli 2007).
<%3 %(-"!4.#0(+%#(+.#'%('-* %! 127
Namun bukan berarti dari pihak pembuatnya sendiri tidak
ada upaya untuk menjadikan film ini seakan-akan “nyata”. Ketika
diedarkan pada tahun 1981, promo tagline-nya berbunyi, “Untuk
pertama kalinya ilmu Rawa Rontek difilemkan!!!”
Islam Indonesia
26 Juli 2017
Harimau Tjampa
Kelindan
Pencak Silat
dengan Islam
Dari loso pencak silat hingga
kontroversi adegan syur
J auh sebelum Merantau dan dwilogi The Raid
melambungkan nama Iko Uwais, film silat sudah
lama diproduksi di Indonesia. Salah satunya adalah Harimau
Tjampa (1953). Sutradaranya, Djadoeg Djajakusuma, adalah salah
satu pendiri Perfini bersama Usmar Ismail di tahun 1950, yang
dianggap perintis pembuatan film-film dengan kru dan cerita khas
Indonesia. Ia acap mengangkat tema tradisional dan kedaerahan,
seperti di Tjambuk Api (1958), Lahirnja Gatotkatja (1960), Bima
Kroda (1967), dan Malin Kundang (1971).
Di film Harimau Tjampa, misalnya, banyak terselip budaya
Minang, dari budaya oralnya (petatah-petitih) hingga upacara
pernikahan. Dan jika dalam The Raid ada Iko Uwais yang menang
beberapa kejuaraan silat, di film ini ada Malin Maradjo,
pesilat berprestasi di PON II 1951.
Film berdurasi 97 menit ini penting dalam beberapa hal:
pertama, banyak akademisi meyakini bahwa ini adalah salah satu
3"*'#+%#(/"#$%3(-'*%1(+"#0%#('-*%! 129
film pertama yang serius mengangkat budaya dan tradisi
Minangkabau—khususnya lewat silat dan nilai-nilai filosofi
keislaman yang dikandungnya. Kedua, terkait kontroversi seputar
adegan sensual yang dilakukan aktrisnya, Nurnaningsih, yang
dianggap sebagai adegan sensual pertama dalam film nasional.
Mari kita bahas yang pertama dulu.
Film yang mempertontonkan banyak pertarungan ala “Silek
Kumango” ini dipercantik dengan paduan suara tanpa alat musik,
mirip nasyid, yang menjadi narasi pembuka:
Kisah lama, kami ulangi, masa Kumpeni nan berkuasa
Keras perintah pajak dan rodi, harimau tjampa, nama cerita
Hamba sujud memohon kami
Mohon kami tuan ajari
Oh sengsaranya hidupku
Musik tradisional di film ini begitu ciamik, sehingga penata
musiknya, G.R.W. Sinsu, mendapat penghargaan di Festival Film
Asia 1955.
Berlatar tahun 1930-an, film peraih Citra untuk Skenario
Terbaik (oleh Surjosumanto) di FFI 1955 itu bercerita tentang
Lukman, yang berniat membalas dendam kematian ayahnya
dengan cara mencari dan belajar kepada guru silat. Awalnya, ia
mendatangi Datuk Langit, tapi rupanya sang Kepala Negeri itu
meminta imbalan yang tak bisa ia jangkau. Akhirnya, ia bertemu
dengan Saleh dan berguru padanya.
Padepokan silat di Kampung Pauh itu terasa sangat
menjunjung akhlak dan nilai keislaman. Mereka berkumpul di
masjid, selalu salat berjamaah, dan belajar rendah hati. Karena itu,
dari awal, sang guru mempertanyakan movitasi Lukman belajar.
“Kalau tidak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah,”
ujarnya. Ia menasehati agar ilmunya tidak digunakan
sembarangan, kecuali hanya untuk pertahanan diri.
130 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
Di sinilah perkara dimulai. Lukman sangat temperamental
dan mudah terpancing, hingga beberapa kali janjinya dilanggar.
“Apa yang aku katakan? Mandi di bawah-bawah, menyauk di hilir-
hilir. Ingat Lukman, masih belum ada kata putus lagi. Kau masih
ingat akan janjimu atau tidak, Man?” tegas Saleh. Lukman
menjelaskan bahwa ia dituduh mencuri air dan pertarungan itu
tidak disengaja, dan berjanji takkan silat lagi.
Setelah beberapa kali terjebak dalam “tobat sambal”—alias
mengulangi lagi dan lagi, akhirnya ia melawan teman
seperguruannya. Ia pun diusir dari padepokan. Karena frustrasi, ia
berjudi dan berkelahi lagi. Kali ini alasannya karena lawannya
menghalang-halangi percintaannya dengan Kiah. Sang lawan pun
tertusuk pisaunya sendiri. Lukman, lagi-lagi, minta tolong
gurunya. Gurunya menolak dan menasehati agar ia menyerahkan
diri. “Tangan mencencang, bahu memikul. Kamu tak usah lari,
Lukman. Supaya kamu mendapat pelajaran yang lebih baik,”
ujarnya. Maka Lukman pun dipenjara. Masalah baru muncul: di
penjara ia mendapat info soal pembunuh ayahnya, di samping
berita bahwaa Kiah akan dikawin paksa oleh orang yang sama,
dan ia pun bertekad kabur dan membalas dendam.
Saya sepakat dengan David Hanan, akademisi film dari
Universitas Monash, Melbourne, yang menggarisbawahi
bahwa Harimau Tjampa bukan sekadar cerita balas dendam, tapi
menjelajahi praktik dan filsafat pencak silat dan hubungannya
dengan nilai-nilai keislaman. Di film itu digambarkan bahwa
Lukman mudah terprovokasi, kurang bisa mengendalikan emosi.
Karena itu, kata Hanan, ia juga harus berlatih diri untuk
mendapatkan nilai ketekunan dan pengekangan diri serta, yang
terpenting: “tunggu sabar”.
Film yang dibuat kala Usmar masih berkuliah di UCLA itu
dipenuhi adegan laga nan ciamik, serta peribahasa khas Minang.
Misalnya, “Telah kering sumur kau timba,” atau, “Lebih baik mati
berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai.” Yang
3"*'#+%#(/"#$%3(-'*%1(+"#0%#('-*%! 131
menarik, ada adegan asyrokol, yaitu ritual berdiri “menyambut
Rasulullah” saat upacara Maulid Nabi, yang biasa dilakukan saat
salawatan oleh kaum “Islam tradisionalis”. Hal ini menarik, karena
dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat yang
biasanya diasosiasikan dengan “Islam pembaharuan”.
Sayangnya, nilai-nilai yang hendak dikomunikasikan sang
sutradara terganggu oleh adegan Kiah (Nurnaningsih) setengah
bugil selama beberapa detik. Akibatnya, sebagian penonton lebih
mencurahkan tenaga dan pikirannya memprotes adegan itu, dan
tak ambil peduli dengan cerita dan hal lainnya. Karena
keterbatasan bahan dan data, saya belum menemukan rincian
bentuk protes terhadap Perfini, Djajakusuma, atau Usmar Ismail
(produser), atau lembaga sensor yang meluluskannya. Reaksi
penonton lebih menyoroti sang aktris yang dianggap melanggar
nilai kepatutan. Mungkin juga, karena Nur, nama panggilannya,
melawan balik pandangan masyarakat tahun 1950-an itu dengan
opini-opini liberal yang sebelumnya belum pernah ada. Nur yang
asli Wonokromo, Surabaya, itu menyatakan, “Saya tidak akan
memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan
pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian
Indonesia.”
Akibatnya, banyak penonton protes. Seorang penggemar,
misalnya, menulis surat pembaca di majalah Kencana edisi no.
II./1954, yang menyatakan keprihatinannya dan menyuruh Nur
sadar. Tulisnya:
Achirul kalam saya anjurkan kepada saudari bahwa perjuangan
saudari yang sedemikian itu menurut keyakinan saya akan
menjatuhkan kepopuleran saudari sebagai bintang film. Saya
berdo’a moga-moga saudari insyaf pada apa yang telah saudari
perjuangkan itu, sehingga mengakibatkan kegemparan
masyarakat.
132 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
Tak lama setelah itu, beberapa majalah memuat foto seronoknya.
Bahkan foto bugil selebriti yang juga turut bermain di
film Krisis karya Usmar Ismail itu, tersebar di berbagai kalangan,
bersama gambar Titien Sumarni dan Netty Herawati.
Namun, kemudian diketahui bahwa itu adalah hasil rekayasa
teknik montage saja, di masa ketika belum ada Photoshop atau
software lain yang canggih, atau budaya viral internet.
Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga? Untungnya
tidak. Dalam konteks hari ini, film ini tetap dihormati dan
diapresiasi sebagai film klasik yang berharga. Bahkan, beberapa
akademisi dengan serius mengulasnya. David Hanan, misalnya,
melestarikannya untuk kepentingan pendidikan, memberikan
subtitles, dan mengulasnya dalam kertas kerja akademik. Juga, ia
sedang menyusun buku yang di antaranya menganalisa film
ini. Salah satunya lewat kuliah umum yang diunggah di Vimeo.
com, berjudul “Cultural Specificity in Indonesian Film - Two
Films From West Sumatra”.
Islam Indonesia
24 Februari 2014
Belajar dari
Yasmin Ahmad
Satu episode dari hidup seorang
sutradara religius asal negeri jiran
J ika kita pernah menonton film-film arahan
sutradara Malaysia, Yasmin Ahmad (wafat 5 Juli
2009), sepertinya akan sulit melupakan gaya ceritanya yang
sederhana namun mengalir lancar, disertai humor dan komentar
sosialnya yang terkadang pedas tapi “bergizi”. Siapakah Yasmin
Ahmad?
Yasmin adalah seorang penulis skenario—yang semuanya ia
kerjakan di Sayan, Bali—sekaligus sutradara film dan iklan.
Karyanya rata-rata mendapat sambutan di Malaysia sekaligus
diterima di berbagai festival kelas dunia. Ia pemenang Best Asian
Film Award di Tokyo (2005); iklan garapannya, Percintaan Tan
Hong Ming, mendapatkan Gold Winner di Cannes Lions
International Advertising Festival 2008; film Mukhsin mendapat
penghargaan “Grand Prix of the Generation Kplus International
Jury” persembahan Deutsches Kinderhilfswerk (organisasi sosial
anak-anak di Jerman) untuk Film Fitur Terbaik, dan “Generation
134 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
Kplus Children’s Jury Awards Special Mention” di Berlinale, 2007.
Terakhir, ia dianugerahi gelar sutradara terbaik atas
film Muallaf di Asia Pacific Film Festival, 2010. Ia sendiri
diberikan program retrospektif di Tokyo International Film
Festival, Oktober 2006. Intinya, Yasmin sukses baik di ajang
komersial maupun festival yang semuanya bergengsi.
Soal prestasi-prestasinya tersebut, kepada saya,
saat mewawancarainya pada 2007 untuk RumahFilm.org, ia
menyatakan tak memiliki formula yang khusus. “Saya membuat
film agar manusia merasakan sesuatu,” ujarnya, seraya mengutip
Pablo Neruda, “I want my poetry to be like bread, everybody can eat
it,” dan juga mengutip Shintaro Tanikawa, “Aku tak mau pembaca
karya-karyaku menganalisa puisiku. Aku mau puisiku seperti
makanan buat mereka dan aku berharap mereka menikmatinya
saat mencicipinya.” Yasmin memang bersandar pada keduanya. Ia
menganggap mereka “…lebih hebat dari pembuat film seni yang
membosankan”.
Dalam banyak kesempatan, ia berkata bahwa sineas
hendaknya tidak membuat film khusus untuk festival film. “Jika
niat Anda murni, jika Anda menerapkan keterampilan Anda
dengan maksud untuk mengamati kemanusiaan dan, pada
akhirnya, Tuhan, seringkali sesuatu yang kuat akan muncul.”
Yasmin, yang dibuatkan doodle-nya oleh Google Malaysia di hari
ulang tahunnya pada 5 Januari 2014 lalu, menggarisbawahi
pentingnya kejujuran di atas ambisi mendapatkan penghargaan
dan memenuhi selera juri festival bergengsi. Di satu kesempatan,
ia berkata, ”Lakukan apa yang kamu yakini. Penghargaan akan
datang dengan sendirinya sebagai balasannya….”
Kepada saya, Yasmin menyatakan tiga tujuannya membuat
film: lebih memahami Tuhan, lebih memahami diri sendiri, dan
menghibur orang tua dan teman-temannya. Karena itulah, untuk
alasan pertama, ia selalu mengawali setiap filmnya dengan lafal
bismillahirrahmaanirrahiim (“dengan nama Allah yang Maha
4"*%<%&(+%&'(:%-!'#(%2!%+ 135
Pengasih dan Maha Penyayang”), yang uniknya, dituliskan dalam
berbagai bahasa dan aksara, sesuai dengan etnis dan budaya yang
tampil dalam filmnya kali itu.
Hal lain yang ia nyatakan penting adalah memosisikan diri
sebagai pengamat kemanusiaan. “Barangkali, pada akhirnya, tidak
ada yang namanya orang kreatif. Yang ada hanyalah para
pengamat yang tajam dengan hati yang sensitif.” Di lain tulisan, ia
menyatakan bahwa ia tidak benar-benar kreatif, tapi, “…hanya
mengumpulkan memori sendiri dan ingatan orang lain.” Walau
memosisikan dirinya sebagai tukang cerita belaka (storyteller), tapi
kemampuan observasi dengan hati adalah kuncinya. Ia
menegaskan, “Cara untuk mulai menulis adalah sama sekali
bukan dengan mulai menulis, tapi dengan hidup.”
Kembali ke soal ucapan bismillah tadi. Semangat religiusnya
yang terpancar lewat akhlak kesehariannya yang ramah dan
rendah hati, menjadi bagian penting dari proses kreatifnya.
Penafsirannya terhadap nilai-nilai agama yang kadang berbeda
sering dianggap kontroversial dan membuatnya dicerca beberapa
kelompok Islam di Malaysia. Namun, jika tidak merasa salah, ia
akan percaya diri dan berani untuk terus menyuarakannya. Dan,
rupanya ia tidak ambil pusing untuk terikut larut dalam debat
kusir pembelaan atau penghujatan karyanya, baik yang
melibatkan kritikus ataupun kelompok-kelompok agama.
Saat ada seorang Muslimah yang menyuratinya karena resah
terhadap isu dilarangnya yoga, ia menjawab:
Saya tak tahu mau berkata apa. Andai saja saya tahu apa yang
Rasulullah saw. akan katakan tentang yoga dan film-film saya.
Seseorang menulis di blog saya bahwa saya tidak boleh
mengucapkan ‘alhamdulillah’ karena saya tidak memakai hijab.
Saya bilang ke mereka, kalau saya tak boleh mengucapkannya,
lantas saya tak akan bisa membaca Al-Fatihah, dan jika saya tak
bisa membaca Al-Fatihah, lantas saya tak bisa salat, dan jika saya
136 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
tak bisa salat, saya akan sangat sangat sedih dan tersesat/
kehilangan. Mengapa mereka menghakimi orang dengan
mudahnya? Apakah mereka berpikir bahwa mereka akan
mendapatkan kesenangan dari Allah jika mengutuk sesama
Muslim seperti itu? Dan mengapa mereka harus berkomentar
tanpa nama?
Oh, well, Allah Maha Tahu.
Setiap filmnya mengandung semangat multikulturalisme,
pembauran, dan kebersamaan. Misalnya, karakter Orked dalam
trilogi Sepet-Gubra-Mukhsin, digambarkan menggemari budaya
Cina dan bersekolah di sekolah Cina, karena, “…saya sudah bisa
bahasa Melayu.” Atau di Talentime dan Mukhsin yang diperkaya
budaya dan bahasa tanah India, tepatnya Tamil. Yasmin juga
melakukan otokritik terhadap bangsanya sendiri. Di Muallaf, ada
adegan seorang datuk yang peminum tetapi tidak mau
bersentuhan dengan anjing—kritik keras terhadap standar ganda:
anjing dianggap najis tapi miras tidak? Atau tokoh protagonis dan
keluarganya yang sering digambarkan disfungsional dan aneh
oleh sekelilingnya namun nyatanya bahagia; sementara
sebaliknya, seperti terlihat di Mukhsin, tetangganya yang sering
bergunjing menjelek-jelekkan keluarga Orked rupanya diam-diam
ditinggal suaminya menikah lagi.
Spritualitas Yasmin terpancar dalam keseharian dan film-
filmnya. Dari dua kali bertemu langsung, yang terakhir saat ia
menjadi juri seksi Generation di Berlinale Film Festival 2008,
terasa ia mendengarkan dan menghormati lawan bicaranya,
menganggapnya sejajar. Bahkan saat saya ke Kuala Lumpur di
pertengahan 2008 dan tak sempat menemuinya, Yasmin sendiri
yang menelpon saya. Di film, ia beberapa kali mengutip Rumi,
misalnya, di Gubra, yang ditutup dengan kutipan, “Lampunya
berbeda, tetapi cahayanya satu.”
Saat ke Jepang, ia menyempatkan diri ziarah ke makam
Yasujiro Ozu, sutradara favoritnya sepanjang masa. Di batu nisan
4"*%<%&(+%&'(:%-!'#(%2!%+ 137
sutradara Tokyo Story itu ia menemukan karakter kanji yang
dalam lafal Cina-nya dibaca “wu”, yang artinya “ketiadaan”
(“nothingness”). Ia lantas menulis di blognya, “Jika kita ‘nothing’,
kita bisa menjadi bagian dari ’everything’.”
Dan beberapa bulan sebelum wafat, Yasmin memakai foto
batu nisan ini sebagai screen saver di komputernya. Untuk
almarhumah, Al-Fatihah.
Madina
Januari 2008
Bercermin
pada Orked
D i sela-sela adegan-adegan yang meletupkan tawa
ikhlas dan lepas pada film Mukhsin, ada sebuah
adegan yang sedikit aneh. Seluruh keluarga Orked (tokoh utama,
seorang gadis 10 tahun) plus dua pembantu mereka terbengong-
bengong menatap sesuatu di tanah. Kamera bergerak perlahan,
dan berhenti pada tukang kebun yang nyeletuk, “Bujang, betul kau
ini memang pencemar budaya!” Cut to gambar berikutnya:
rupanya yang dikomentari adalah si Bujang, kucing kesayangan
Orked, yang “membunuh” seekor anak ayam.
Tentu saja penonton tertawa atas absurdnya hubungan
antara komentar dan yang dikomentari. Tapi yang mengerti
konteks ucapan itu, akan tertawa lebih lepas lagi. Mukhsin adalah
salah satu mutiara yang paling menghibur di dalam Jakarta
International Film Festival (JiFfest 2007, 7-16 Desember 2007).
Film ini adalah yang ketiga dari trilogi Orked (sebelumnya, Sepet
dan Gubra) karya sutradara Malaysia, Yasmin Ahmad. Dua film
sebelumnya diserang habis-habisan oleh pers Melayu, dianggap
melanggar banyak tabu budaya Melayu. Film pertama Yasmin,
Sepet sempat disebut “pencemar budaya”. Nah, Yasmin membalas
label itu dengan adegan Bujang.
4"&$"&!'#(/%+%(;&3"+ 139
Kontroversi Yasmin adalah sebuah cermin sebentuk
ketegangan hubungan masyarakat Islam dan budaya pop. Kita
tahu, terutama di Malaysia, Melayu identik dengan Islam. Namun,
persamaan ini pun sebetulnya mengandung masalah. Baik
“Melayu” atau “Islam”, keduanya adalah definisi yang masih terus
bergerak. Mengidentikkan keduanya jelas problematis juga,
karena dalam kata “Melayu” lebih banyak terdapat nuansa “adat
istiadat”.
Yasmin sendiri, dalam wawancara dalam Rumahfilm.org,
mengaku bahwa ia membuat film untuk mencari Tuhan. Salah
satu ciri khas Yasmin adalah memulai filmnya dengan lafal
basmalah yang muncul secara kreatif. Dalam film terbarunya,
Muallaf, lafal basmalah itu muncul dalam tulisan Cina! Namun
Yasmin juga adalah seorang yang berani mengangkat wajah
Malaysia yang sedang berubah, dan karena itu menantang
bayangan yang telah ajeg tentang identitas Malaysia/Melayu.
Cercaan, pencekalan, bermacam tuduhan yang menimpa Yasmin
jadi sesuatu yang tak mengejutkan, sebetulnya.
Sepet bercerita percintaan seorang gadis Melayu, Orked
(dewasa, diperankan Sharifah Amani), dengan seorang pemuda
Cina, Jason (Ng Choo Seong). Topik ini saja sudah kontroversial
bagi Malaysia. Dalam sekuelnya, Gubra, ada adegan kecil di awal
film: seorang marbut sedang menuju musala yang ia urus, suatu
subuh, berpapasan dengan seekor anjing kecil, dan bermain-main
dengannya. Adegan ini pun jadi kontroversi. Mukhsin diseru agar
tak diputar, karena bisa membawa masalah sosial kebebasan
seksual di kalangan remaja Malaysia, oleh Persatuan Kebangsaan
Pelajar Islam Malaysia.
Muallaf, yang menggambarkan Sharifah Amani
menggunduli kepalanya, memancing kehebohan lagi. Mufti
Selangor, Datuk Mohd Tamyis Abdul Majid, menyatakan haram
seorang perempuan menggunduli kepalanya. Muallaf sendiri
menggambarkan isu keagamaan secara lebih langsung: keresahan
140 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
religius dua tokoh muslim dan seorang Cina Kristen. Semua isu
non-film ini membuat film-film Yasmin masih tak sepenuhnya
dihargai di negerinya sendiri.
Selama 2006-2007, lima festival film internasional
mengadakan retrospeksi karya-karya Yasmin. Mereka adalah The
Tokyo International Film Festival (2006), penghormatan khusus
di University of Hawaii (2006), Osaka Asian Film Festival (2007),
The Thessaloniki International Film Festival di Yunani (2007),
dan The Golden Horse International Film Festival di Taipei
(2007). Sebagian tokoh pencerca Yasmin di Malaysia menepis
penghargaan internasional pada film-film Yasmin sebagai bersifat
politis.
Tapi marilah kita lihat filmnya sendiri. Paling tidak, di
JiFfest 2007 lalu, Mukhsin diputar tiga kali. Selalu penuh. Dari
penonton ABG hingga paruh baya, semua tertawa dan terharu. Di
dalam film itu, kita lihat ada Nina Simone dan keroncong, juga
lafal basmalah: dengan menyebut nama Allah. Bukankah ini mirip
dengan wajah Islam yang kita alami sehari-hari?
RumahFilm.org
November 2008
Benarkah
Kemiskinan
Mengancam?
(Belajar Arif dari Beberapa Film)
Hidup sederhana
Gak punya apa-apa tapi banyak cinta
Hidup bermewah-mewahan
Punya segalanya tapi sengsara
Seperti para koruptor
Seperti para koruptor
— “Seperti Para Koruptor”, Slank
D i Kompas edisi hari Minggu, 5 Oktober 2008, ada
artikel dengan judul menarik: “Ketika
Kemiskinan Mengancam”. Itulah judul resensi film Doa yang
Mengancam, karya mutakhir Hanung Bramantyo. Benarkah
kemiskinan adalah ancaman? Ataukah mentalitas dan tanggapan
masyarakat terhadap kemiskinan yang justru merupakan
ancaman? Saya tergelitik ingin memeriksa tesa dalam tulisan itu
melalui representasi persoalan kemiskinan di film-film Indonesia
lain.
Jelas sekali kemiskinan tergambar dalam Laskar Pelangi
(Riri Riza, 2008). Tapi, apakah ia menjadi sebuah ancaman yang
membuat orang yang mengalaminya bergidik ketakutan? Tidak
142 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
terlihat ada keluhan apa pun dari kedua belas anak Belitong itu,
maupun para guru dan orang tua. Itu karena prinsip “hidup
adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-
banyaknya”, benar-benar diterapkan dalam hidup mereka. Dan,
mereka siap berkorban apapun demi cita-cita dan harapan yang
jauh lebih mulia bahkan daripada diri mereka sendiri.
Mereka sadar, kemiskinan harus dijalani, dan hanya dengan
pendidikan mereka bisa mengatasinya. Karena itulah, alih-alih
menjadi buruh atau nelayan membantu meringankan beban orang
tua, mereka (didorong untuk) terus bersekolah—hal yang aneh
pada saat itu. “Buat apa sekolah, kalau akhirnya jadi buruh juga,”
celetuk seorang pegawai PN Timah di awal film.
Toh, kemiskinan tidak serta merta membuat hidup mereka
lantas jadi ”tak putus dirundung malang” dan serba nelangsa.
Serba kekurangan, banyak halangan dan rintangan, tentu saja
hadir senantiasa. Tapi tampaklah para tokoh utama Laskar Pelangi
tak menyerah, bersitahan menghadapi kemiskinan itu dengan
terus bersekolah. Minimal, dengan terus percaya bahwa sekolah
adalah penting untuk keluar dari kemiskinan itu.
Badut-Badut Kota (Ucik Supra, 1993) adalah salah satu
contoh film terbaik tentang bagaimana manusia modern
Indonesia menyiasati kemiskinan. Sang tokoh utama, Dedi (Dede
Yusuf) dan Menul (Ayu Azhari), begitu bijak dan sabar dalam
menghadapi keserbakekurangan hidup—termasuk dimarahi Bu
Kapten, si pemilik rumah kontrakan, di depan banyak orang
karena menunggak bayar. Mereka masih memiliki humor. Anak
mereka memanggil Dedi dengan “Daddy”, plesetan namanya yang
juga kata Inggris untuk “ayah”. Jika ingin bermesraan, Dedi dan
Menul memakai istilah “pusing”. Dedi jadi badut Ancol, sekadar
untuk bertahan hidup. Dia masih terus berakhlak mulia, bahkan
tetap jujur mengembalikan dompet seorang kaya. Justru kejujuran
itu yang membawanya pada pintu rezeki. Yang menarik adalah
sosok filsuf nyentrik, rekannya membadut yang menyatakan
4"#%&3 %2(3"!'-3'#%#(!"#0%#$ %!6 143
dengan sok merenung dan sok getir bahwa, “Sungguh keterlaluan!
Sungguh keterlaluan kemiskinan kita!” Tetapi ia menyatakan
bahwa usaha untuk keluar dari kondisi prihatin itu adalah
dengan… tetap berpikir. Ada humor di situ, seperti di sekujur
film, yang membuat mereka kuat menghadapi kemiskinan.
Humor juga sering jadi jurus sutradara Sjumandjaja dalam
menggambarkan benteng pertahanan terhadap gempuran
kemiskinan, seperti di seri film Si Doel-nya. Namun dalam Si
Mamad (Sjumandjaja, 1973), suasana lebih serius. Film ini juga
bercerita tokoh miskin yang tetap mempertahankan kejujuran
dan nilai-nilai moral. Sebagai pegawai negeri (di masa awal Orde
Baru), Mamad (Mang Udel) adalah satu-satunya orang yang tidak
korupsi di kantornya. Hingga suatu saat istrinya hamil muda, dan
ia terpaksa mencuri barang kecil-kecilan seperti ATK (alat tulis
kantor).
Di situlah tragedi terjadi. Dirundung rasa bersalah yang
amat sangat, Mamad tak peduli lagi dengan kebutuhan hidup
keluarganya, bahkan ia mengaku ke atasannya bahwa dia korupsi
dan minta dihukum. Baginya, nilai-nilai moralitas dan
spiritualitas dijunjung di atas nilai materialistik—walau dunia
seolah tak peduli.
Gambaran lain yang sangat menarik tentang kemiskinan di
kota, bisa kita lihat pada Rindu Kami Pada-Mu (Garin Nugroho,
2004). Film ini dengan jelas menegaskan bahwa masyarakat
urban di perkampungan tidak saja mencoba menjalani hidup apa
adanya tanpa kenal lelah dan keluh, tetapi juga meninggikan
semangat solidaritas dan gotong royong. Misalnya, para tetangga
yang mau mudik menitipkan kunci rumah dan bahkan ayam
kepada pemilik warung dan penjaga masjid. Alih-alih saling
menjegal dan menyikut, mereka saling bantu dan saling tolong.
Sentilan-sentilan kritik sosial juga hadir. Misalnya, celetukan
bahwa orang-orang lebih suka menyepuh emas dan berbelanja
baju baru untuk berlebaran daripada mengeluarkan uang untuk
144 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
sumbangan pembangunan masjid. Kemiskinan tidak membuat
mereka nafsi-nafsi (egois), saling menginjak, atau mengubah watak
mereka menjadi makhluk pencari untung semata.
Nah, bagaimana dengan gambaran kemiskinan dalam Doa
yang Mengancam? Benarkah, di film terbaru Aming ini,
kemiskinan itu sungguh mengancam dan menjadi alasan untuk
melakukan hal-hal yang mengubah seseorang menjadi murtad,
penyembah setan, menjadi kriminal, menghalalkan segala cara,
pendek kata: menjadi jahat dan berlaku buruk?
Jika kita melihat paruh pertama, jawabannya: iya. Bagi
Madrim, sang tokoh utama, ia harus menjadi kaya raya agar bisa
mendapatkan kembali cinta Leha, istrinya. Juga, kaya raya dia
anggap solusi bagi seluruh persoalannya. Tetapi, setelah
kemiskinan menjadi kekayaan, dan uang berlimpah, apakah ia
mendapatkan kebahagiaan yang didapat? Apakah persoalannya
terselesaikan?
Ternyata, di paruh terakhir, penonton disuguhi sebuah
hikmah bahwa kebahagiaan spiritual lebih baik daripada
kebahagiaan material (uang, kekayaan), bahkan juga daripada
kebahagiaan emosional (cinta, dihormati, dihargai). Di film itu,
bukan kemiskinan yang menjadi ancaman yang sebenarnya. Saat
Madrim kaya raya, ia merasa hampa. Uang bukan jawaban. Justru
perenungan Madrim terhadap kemiskinan, dan kejadian-kejadian
aneh yang menimpanya, membuatnya melakukan semacam
perjalanan spiritual untuk meraih kebahagiaan yang lebih dari
sekadar kekayaan dan kekuasaan. Sebenarnya, ia rindu akan
istrinya, yang justru menjadi sumber awal segala cerita.
Masalahnya bukan terletak pada kondisi objektif
kemiskinan itu sendiri. Masalahnya ada pada respons, perilaku,
dan pandangan-dunia sang manusia terhadap fenomena bernama
kemiskinan. Jika manusianya punya visi-misi mulia yang ingin
dicapai, semisal ingin mempertahankan nilai-nilai luhur seperti
kejujuran, pengorbanan, dan mencari kebahagiaan hakiki, maka
4"#%&3 %2(3"!'-3'#%#(!"#0%#$ %!6 145
kemiskinan bukan sebuah ancaman. Atau jika sang pejalan
kehidupan itu bisa memaknai hidup—seperti diajarkan Victor
Frankl—atau lewat nilai-nilai seperti yang terpapar dalam film di
atas.
Ini sejalan dengan ide K.H. Jalaluddin Rahmat dalam
bukunya, Meraih Kebahagiaan. Intinya: bahagia atau menderita
itu pilihan. Musibah, seperti kehilangan anak, kebakaran rumah,
penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, pengkhianatan,
berasal dari luar dan sebuah keniscayaan atau realitas objektif.
Sementara, kebahagiaan bersifat subjektif. Orang miskin bisa
memilih apakah dia merasa tertekan atau bergembira dalam
kondisi yang sama.
Kita bisa belajar dari Dedi, Mamad, atau Ikal dan Lintang,
serta Pak Harfan dan Ibu Mus untuk soal ini.
ESQ Life
Juni 2015
Lima Film
Berlatar Ramadan
O mong-omong, apa saja ya, film nasional kita yang
bercerita seputar Ramadan, atau minimal
dengan latar belakang bulan suci itu?
Film adalah alat bercerita. Tentunya pertanyaan di atas
menjadi wajar, mengingat umat muslim adalah yang mayoritas di
Indonesia; tentunya banyak hal yang bisa dikisahkan. Bila kita
tilik, Ramadan adalah masa yang bisa mengubah kebiasaan—
menghentikan kebiasaan buruk, atau memulai kebiasaan baik
yang baru—dan bahkan kebijakan dalam tingkat nasional.
Memang tidak sedahsyat di tanah Arab di mana mereka
mengubah kebiasaan tidur dan beribadah, seakan “siang menjadi
malam dan malam menjadi siang”, tapi kurang lebih sama
semangat dan dinamikanya. Jutaan manusia mengubah pola
makan minum dan jam biologis, serta jadwal harian mereka di
bulan ini. Bangun dini hari untuk sahur, siang berlapar-lapar, dan
malam sehabis pulang kantor, salat Tarawih. Berbagai industri,
dari mal hingga hiburan, pun melihat peluang itu, lantas bersolek
untuk menjadi lebih saleh. Stasiun televisi berlomba-lomba
menyajikan program yang selaras dengan bulan puasa: banyak
yang mulai siaran sejak dini hari, dengan sinetron, komedi, dan
*'!%()'*!(4"&*%1%&(&%!%+%# 147
kuis religius. Puncaknya adalah hari-hari terakhir ketika banyak
orang pulang kampung, yang jika ditotal secara nasional bisa
memakan biaya triliunan rupiah.
Di dunia Barat, momen Natal dirayakan dan diangkat ke
berbagai jenis film layar lebar, mulai dari film keluarga semacam
Home Alone hingga film laga seperti Die Hard, dan juga
mengeksplorasi tokoh Sinterklas dan kisah-kisah magis
seputarnya. Bagaimana dengan Bulan Puasa? Kalau kita bahas
soal lagu rohani, acara televisi dari sinetron hingga kuis, tentu
bertebaran. Tetapi berbeda ceritanya jika kita membahas film
bioskop. Tak disangka tak dinyana, entah mengapa, sedikit sekali
film Indonesia yang “merekam” tradisi tahunan ini. Walau banyak
Film Islami, tapi entah kenapa nyaris tak satupun yang mencoba
menangkap momen-momen ritual ini. Justru para sutradara dan
produser yang selama ini tidak diasosiasikan dengan film
relijiuslah yang membuat film-film dengan latar belakang
Ramadan. Dan bulan Ramadan tidak sekadar tempelan saja,
tetapi merupakan bagian integral dari cerita, karena cerita-cerita
dalam film-film itu akan hilang konteksnya kalau setting-nya
diubah menjadi bulan lain.
Memang ada film yang secara selintas bernuansa Ramadan
atau malam takbiran (yang adalah hari terakhir Ramadan).
Misalnya film Cinta Suci Zahrana (Chaerul Umam, 2012),
Rembulan dan Matahari (Slamet Rahardjo, 1979), dan Boleh
Rujuk, Asal… (Maman Firmansjah, 1986). Tapi adegannya hanya
kurang dari 25% dari keseluruhan film dan bukan merupakan jiwa
dari cerita. Ada dua film yang kisahnya terjadi menjelang Idul
Fitri, alias masih di Bulan Puasa, tapi belum saya tonton karena
aksesnya susah didapat. Film itu berjudul Dosa Tak Berampun
(Usmar Ismail, 1951) dan Sangkar Emas (Fred Young, 1952).
Tapi, film yang benar-benar dengan setting Bulan Puasa, dan
menunjukkan dinamika ritual ibadah Ramadan (sahur, puasa,
tarawih, buka bersama) dan menjadikan Ramadan sebagai jiwa
148 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
dari film, hanya sedikit. Saya hanya menemukan empat film
panjang dan satu film pendek dalam proyek omnibus. Dan lebih
dari separuhnya adalah film anak-anak. Berikut film-film tersebut.
Mudik (Muchyar Syamas, 2011)
Suka tidak suka, film yang diproduseri Raam Punjabi ini cukup
melukiskan suasana bulan suci Ramadan. Lepas dari kuatnya
aroma sinetron—baik dari segi cerita yang cenderung dangkal,
berlebihan, banyak kebetulannya, pengadeganan apa adanya, para
karakter yang kurang berkembang, dan sinematografi pas-
pasan—tapi inilah film yang jiwanya adalah semangat mudik,
salah satu elemen yang menempel kuat di benak banyak muslim di
Nusantara. Di sini, kita bisa melihat detil-detil suasana khas,
misalnya fenomena warteg yang ditutupi tabir hingga calo di
terminal bis, hiruk pikuk kendaraan yang hendak pulang
kampung, kurma Arab yang dibeli di Tanah Abang, dan Jakarta
yang sepi saat Idul Fitri. Tentu, jangan berharap ini film dengan
pendekatan syiar dakwah seperti film religi. Fokusnya lebih
kepada eksplorasi dan olok-olok atas keseharian karakter-
karakternya—yang mungkin juga dialami banyak penonton.
Film berfokus pada Gunadi, anak desa yang mengadu nasib
di Jakarta tapi masih saja menganggur di tahun ketiganya. Lestari,
calon istrinya, menunggu untuk dinikahi. Tapi jangankan dana
nikah, ongkos mudik saja dia tidak punya. Sementara itu,
Kuncoro, bapak kosnya, juga pusing memilih mudik antara
Bukittinggi (tempat mertuanya) atau ke desanya di Jawa Tengah.
Suami dari Yustina itu digambarkan mata duitan dan selalu
menggencet anak kosnya, kecuali satu orang yang tukang
pengadu. Ada juga Iskandar, pejabat di Kementerian Sarana
Publik yang sudah tiga tahun tak pulang ke desanya di
Wonosalam, Jogjakarta. Singkat cerita, Gunadi ditolong rekan
kosnya mendapatkan kerja sebagai supir pribadi Iskandar.
Sebelumnya, ia narik taksi dan hampir menabrak Wulan, yang
*'!%()'*!(4"&*%1%&(&%!%+%# 149
baru saja selesai kawin kontraknya dengan pria asal Arab. Wulan
pun merasa berutang budi, tapi dengan cara yang ekstrem. Dia
“menculik” Gunadi dan memakai kendaraan milik sang majikan
untuk pelesir. Walhasil, Gunadi dipecat Iskandar, dan hanya
dikasih pesangon seperlunya. Lebaran sudah di depan mata, dan
ia belum punya uang untuk mudik, apalagi buat nikah. Bagaimana
Gunadi menyelesaikan problematika ini?
Seputih Cinta Melati (Ari Sihasale, 2014)
Inilah film yang nafasnya adalah bulan Ramadan. Dari ritual
ibadah keseharian hingga pesan moral untuk saling memaafkan,
tersaji di sini. Atmosfer Bulan Puasa, seperti pembacaan ayat suci
Alquran, buka puasa, dan sahur keliling lengkap dengan berbagai
kentongannya, cukup terasa. Dari awal, pasutri Ari Sihasale dan
Nia Zulkarnaen memang merencanakan film ini untuk liburan
Lebaran.
Film berfokus pada si cilik Melati dan abangnya, Rian.
Mereka bertemu Ivan dan Erik, dua narapidana buron dari
penjara, yang menolong mereka saat kaki Melati terjepit. Mereka
pun makin dekat, dan kedua bocah itu tak tahu identitas teman
barunya itu. Rian mengajari Erik cara memancing, dan Melati
mengajarkan Ivan menghafal Alquran. Masalahnya, Erik ingin
kabur dari sana, tapi Ivan sudah terlanjur akrab dengan Melati.
Sampai akhirnya penduduk sana tahu siapa mereka sebenarnya.
Rindu Kami Pada≠ Mu (Garin Nugroho, 2004)
Satu lagi film keluarga dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya.
Inilah film Garin yang “paling komunikatif”. Kisahnya terjadi di
bulan Ramadan di sebuah pasar tradisional pinggiran Jakarta
yang kumuh. Banyak karakter di dalam film ini, saling terkait dan
diikat oleh rasa kebersamaan sebuah perkampungan yang masih
menghidupkan semangat gotong royong. Ada Pak Haji Arif yang
masjidnya tak berkubah karena kurang dana. Ada seorang suami
150 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
yang bertobat dengan menjadi penjaga masjid. Istrinya kabur
karena tak tahan dipukuli, dan sejak itu anaknya selalu menggelar
sajadah kosong, berharap ibunya akan datang. Ada bocah yang
hidup dengan abangnya penjual telur asin dan mencari sosok ibu
dalam seorang karyawati bernama Cantik. Ada Rindu yang tuna
rungu dan terpisah dari abangnya karena bencana alam, dan
diangkat anak oleh penjaga warung. Semuanya bermuara pada
pencarian sosok ibu dan nilai-nilai keibuan, yang semuanya terjadi
di bulan Ramadan.
Menjelang Lebaran, banyak penduduk bersiap untuk pulang
kampung, dan menitipkan banyak hal—dari kunci rumah hingga
ayam jago—kepada orang-orang yang tidak mudik, seperti ke
marbut masjid dan ibu penjaga warung. Dan, karena salah satu
lokasi utamanya adalah masjid yang tak berkubah, banyak adegan
dilakukan di sini, termasuk salat wajib dan Tarawih berjamaah.
Dan, tentu, lagu Rindu Kami Pada-Mu dari Bimbo memperkuat
semangat religi yang menyayat hati.
Untuk Rena (Riri Riza, 2005)
Bulan Puasa, rumah panti asuhan, dan kisah tentang tragedi
tsumani di Aceh. Ketiganya saling berkaitan dalam film produksi
Miles Films ini. Berkisah tentang Rena dan “adik-adik”-nya di
Rumah Matahari, sebuah panti asuhan di luar kota Jakarta.
Mereka sangat kompak. Rena sangat protektif dan berupaya
mencegah para tetamu mengadopsi adik-adiknya yang lucu,
dengan cara membuat berbagai ulah nakal. Suatu hari, datanglah
tamu misterius, Yudha, ke sana dan menginap setiap akhir pekan.
Awalnya, Rena dan kawan-kawan agak curiga, menjaga jarak
seraya bertanya, “Apa maunya Oom Yudha rutin ke tempat kami?”
Tapi, lama-lama cair juga mereka. Karena Yudha orang yang
ramah dan ringan tangan, termasuk membantu memperbaiki
saluran air yang tersendat. Tapi pertanyaannya masih terngiang:
apa motif utama Yudha datang ke sana?
*'!%()'*!(4"&*%1%&(&%!%+%# 151
Film ini juga mengajarkan agar kita tidak melihat seseorang
dari tampilan fisik saja, tetapi juga kepribadiannya, dan agar tidak
berburuk sangka kepada orang lain.
3ll4 (Wisnu Surya Pratama, 2010)
Ini adalah film berdurasi kurang dari 8 menit yang ada dalam
kumpulan film pendek Belkibolang. Film yang disutradarai oleh
Wisnu “Kucing” Surya Pratama ini berkisah tentang sahur di hari
terakhir Ramadan. Dini hari itu, Ella, seorang pelacur asal
Surabaya, ngobrol dengan Pak Gendut, penjual bebek bakar asal
Madura dengan bahasa daerah masing-masing.
Di sini, profesi pelacur tidak dilihat hitam putih atau sesuatu
yang hina dina, tapi sebagai sosok manusiawi. Dia hari itu hendak
mudik, dengan membawa oleh-oleh uang untuk keluarganya, dan
kaca mata untuk ayahnya tercinta. Keluarganya tidak tahu profesi
Ella, kecuali hanya info bahwa ia bekerja di Jakarta dan Lebaran
pulang membawa rezeki. Seolah-oleh Ella punya dua identitas
yang saling bertolak belakang. Sebagai pekerja seks komersial, ia
genit dan merayu. Tapi sebagai anggota keluarga, ia mengubah
cara bicara—seperti ketika berbicara dengan ibunya di telepon—
dan busananya. Citranya juga berbalik ketika bersiap pulang
kampung: Ella sebagai seseorang perantau yang bertanggung
jawab menafkahi keluarga. Dan semua adegannya terjadi di satu
malam menjelang subuh, di bulan Ramadan.
Sebuah kritik atas konsumerisme, komersialisme, dan
materialisme yang sudah merajalela, dan bahkan jangan-jangan
tak mampu dibentengi oleh semangat Ramadan.
152 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!
SUMBER TULISAN
Pengantar Wacana: “Mengapa Film? Mengapa Film Islam?” modifikasi
dari beberapa tulisan termasuk “Wajah Islam dan Umatnya dalam
Film Indonesia 2008,” Seputar Indonesia, 20 Oktober 2008.
1. Semesta Film dan Dunia Islam
“Sinema, Isu Agama, dan Dunia Islam,” Islam Indonesia, 7 Januari 2014.
“In the Name of God: Pernyataan Politik yang Keras tapi Menghibur,”
DetikHot, 11 November 2010.
“East is East: Isu Pembauran, dan Jalan Tengah,” Islam Indonesia,
7 Februari 2014.
“Kegigihan Jafar Panahi,” Islam Indonesia, 11 Maret 2014.
“A Separation: Rollercoaster tanpa Laga,” ESQ Life, Juni 2014.
“Tentang berperang di Medan Juang,” ESQ Life, Januari 2017.
“Mualaf: Brian dan Sepasang Gadis Ronin,” RumahFilm.org,
1 Januari 2016.
“Never Leave Me: Pengungsi Anak-Anak Suriah dalam Layar Film,”
Islami.co, 16 Oktober 2018.
“Aida Begić, Sineas Bosnia Pembela Anak Yatim Piatu,” Islami.co,
15 Oktober 2018.
2. Film Islami dan Representasi Muslim Indonesia
“Posisi Ideologis dan Representasi Perempuan Berkalung Sorban:
Membela atau Merusak Nama Islam?,” RumahFilm.org,
25 Februari 2009.
“3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta: Bukan Sekadar Film Cinta
Beda Agama,” DetikHot, 21 Juni 2010.
“3 Doa 3 Cinta: Jendela Dunia Bernama Pesantren,” Madina
“Film Genre Rasa Islam,” ESQ Life, Februari 2018.
“Festival Film Santri 2013: Kartu Pos dari 10 Pesantren,”
Islam Indonesia, 5 Mei 2014.
“Dua Garis Biru dan Bagaimana Jikalau,” Pabrikultur, 16 Juli 2019.
3. Sejarah Fim, Film Sejarah
“Ibnu Rusyd dan Semangat Anti Kekerasan,” Islam Indonesia, 18 Juli
2017.
“Kala Majid Majidi Menafsirkan Nabi Muhammad,” Tirto.id,
30 November 2017.
“Sang Mujahid Seni Indonesia,” Islam Indonesia, 19 Maret 2014.
“Sang Pencerah: Kisah Sang Panutan Bangsa,” DetikHot,
7 September 2010.
“Lesbumi, Jembatan Ulama-Seniman,” Islam Indonesia,
20 Januari 2014.
“Sang Murabbi: Sang Murabbi Mozaik Kehidupan Sang Guru,”
Madina, November 2008.
4. Refleksi Atas Film Bernafaskan Islam
“Membaca (Sinema) Indonesia dari Banda Aceh: Refleksi Akhir Tahun
2012,” RumahFilm.org, Januari 2013.
“Jaka Sembung dan Dunia Islam,” Islam Indonesia, 28 Januari 2014.
“Harimau Tjampa: Kelindan Pencak Silat dengan Islam,” Islam
Indonesia, 26 Juli 2017.
“Belajar dari Yasmin Ahmad,” Islam Indonesia, 24 Februari 2014.
“Bercermin pada Orked,” Madina, Januari 2008.
“Benarkah Kemiskinan Mengancam?” RumahFilm. November 2008.
“Lima Film Berlatar Ramadan,” ESQ Life, Juni 2015.
TENTANG PENULIS
DR. EKKY IMANJAYA adalah peneliti, kritikus film Indonesia, dan dosen
tetap di Prodi Film Universitas Bina Nusantara. Ekky baru saja menyelesaikan
studi doktoralnya di bidang Kajian Film di University of East Anglia di kota
Norwich, Inggris. Studinya dibiayai oleh Beasiswa DIKTI dan menghasilkan
tesis berjudul “The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation
Cinema”.
Ekky menjadi jurnalis sejak 1999 hingga 2007, berawal dari majalah
Suara Hidayatullah dan tabloid Aliansi Keadilan. Fokus meliput dan menulis
seputar film mulai tahun 2000 di situs daring Astaga!Layar.
Sebagai kritikus film, tahun 2007, beberapa saat sebelum berangkat ke
Belanda untuk menempuh studi S-2 di bidang Kajian Film di Universiteit van
Amsterdam, yang menelurkan tesis berjudul “The Backdoors of Jakarta:
Jakarta and Its Social Issues in Post-Reform Indonesian Cinema”, dia turut
membidani lahirnya situs RumahFilm.org, dan juga aktif di dalamnya, hingga
jurnal film daring itu bubar pada 2013. Bersama editor RumahFilm lainnya
(Eric Sasono, Hikmat Darmawan, Ifan Ismail), Ekky turut menulis di buku
Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia yang
disunting Eric Sasono, 2012. Ekky juga menulis resensi film dan buku seputar
film untuk DetikHot.com, Kompas, majalah Tempo, Rolling Stone Indonesia, dan
banyak lagi. Dia dinominasikan sebagai Kritikus Terbaik di Festival Film
Indonesia 2005 atas tulisannya di majalah D’Maestro. Ekky juga menulis
untuk media luar negeri seperti di Katalog Festival Film Taipei (2017),
Cinematheque Quarterly, Südostasien, dan Inside Indonesia. Dia juga menjadi
juri beberapa festival film seperti Festival Film Maya (2013-2015), Usmar
Ismail Awards (2017), dan Islamic Movie Days FEUI.
Sebagai akademisi, Ekky menulis di beberapa jurnal ilmiah dalam dan
luar negeri, termasuk Asian Cinema, Cinemaya, Jump Cut, Plaridel, dan
Cine-Excess. Ekky rajin mempresentasikan makalahnya, termasuk di salah satu
konferensi kajian film dan media terbesar di dunia, yaitu SCMS (2015) dan
MECCSA (2015). Ekky juga menjadi editor edisi Bahasa Indonesia untuk
buku Mau Dibawa Kemana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film
Indonesia (2011).
Tahun 2015, dia menjadi editor tamu untuk jurnal Filipina, Plaridel: A
Philippine Journal of Communication, Media, and Society, dengan tajuk “The
Bad, The Worse, and The Worst: The Significance of Indonesian Cult,
Exploitation, and B Movies”. Penghargaan lain yang pernah diraihnya selaku
akademisi adalah Student Award (UEA Engagement Awards) dan Public
Engagement Prizes (UEA Graduate School Prizes) tahun 2015 dari University
of East Anglia, dan Dosen Terbaik bidang General Studies di Universitas Bina
Nusantara (2011).
Saat di Inggris, Ekky membuat kolaborasi dan kegiatan seputar kajian
perfilman, seperti Workshop on Indonesian Cinema dan London Indonesian
Film Screenings tahun 2013 (bersama Ben Murtagh) dan 2015 (bersama Ben
Murtagh, Tito Imanda, Eric Sasono). Bersama Diani Citra, Kandidat Doktor
di Universitas Colombia, New York, dia menulis “Dissecting the Female Roles
in Indonesia’s Post Authoritarian Cinema: A Study of Demi Ucok by
Sammaria Simanjuntak” dalam buku Women Indonesian Filmmakers yang
disunting Yvonne Michalik (2013).
Buku populer yang pernah diterbitkannya, di antaranya, adalah Why
Not? Remaja Doyan Filsafat; Why Not? Remaja Doyan Nonton; dan Amsterdam
Surprises.
Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah kumpulan tulisan kritik filmnya
dari 2007 hingga 2018, yang berfokus pada film dan dunia Islam.
TENTANG TIM PENYUSUN
IFAN ISMAIL editor
Ifan Ismail baru sadar bahwa dia telah menyukai film sejak kecil, justru di
bangku kuliah. Lewat kegiatannya di unit mahasiswa Liga Film Mahasiswa
(LFM) di ITB, ia terbenam dalam dunia film dan menjajal banyak lini.
Pertama, tercebur di produksi film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) sebagai
tukang angkut dan pemotong bawang. Setelah itu terjun ke televisi dan
perfilman sebagai penulis skenario. Mulai dari acara komedi Extravaganza
hingga ke film Habibie & Ainun dan Sultan Agung. Profesi ini sempat
membawanya mengikuti residensi ASEAN in Residence yang diadakan
Kementerian Kebudayaan Thailand dan Kyoto Filmmakers Lab di Kyoto.
Keduanya di tahun 2014. Namun ia juga sempat mencicipi dunia kajian dan
kritik film melalui RumahFilm.org. Sejak itu tercebur di kolam yang lain lagi
sejak 2017, menjabat sebagai Koordinator Program kineforum, sebuah
program dan ruang putar alternatif di bawah Komite Film Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ). Hingga saat ini masih mengelola program kineforum dan
menulis skenario.
CHRISTY RATNA GAYATRI penyelaras bahasa
Seorang penulis buku, esai dan editor. Tinggal di Pamulang, Tangerang
Selatan. Lulusan jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,
Universitas Indonesia tahun 2004.
EKKY IMANJAYA Bagi Ekky Imanjaya, Film Madani adalah ì lm≠ lm
yang bercerita tentang Umat Islam dan
ì Sangat jarang, kalau tidak bisa permasalahan khasnyaî . Tentang ì living Islamî .
dibilang tidak ada, pembicaraan Tentang ì kemuslimanî dan seluk beluk bagaimana
mengenai Islam yang berkaitan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.
dengan lm. Seringkali malah Buku ini merupakan kumpulan tulisan dalam
dianggap tidak kompatibibel satu rentang waktu sekitar 10 tahun (2008≠ 2018),
dengan lainnya, meski faktanya dunia berbicara setidaknya lima hal: pertama, ulasan
Keislaman menjadi topik bagi banyak seputar lm yang merepresentasikan masalah
sekali tema lm, bahkan di umat Islam secara khusus. Kedua, lm tentang
Indonesia. Inisiatif yang diambil Mas dinamika dunia Islam secara global. Ketiga, ì Film
Ekky Imanjaya lewat buku ini Islamiî populer. Keempat, lm tentang sejarah dan
kemudian tidak hanya penting untuk sejarah lm, termasuk biopic. Terakhir, ì Film
membuka diskursus mengenai dunia Islamiî sebagai kritik sosial.
Keislaman dalam lm Indonesia, tapi
juga menjadi dokumentasi penting Seri Wacana Sinema
dalam mempelajari realita dunia Sebuah seri penerbitan Komite Film Dewan Kesenian
Islam di Indonesia.î Jakarta (DKJ), sebagai bagian dari upaya membangun
pengetahuan bersama tentang sinema di Indonesia. Seri
ó Inayah Wahid, pekerja seni penerbitan ini akan mencakup berbagai tema yang relevan
bagi per lman Indonesia. Tujuan penerbitan adalah
menyediakan rujukan teoritik hingga praktikal seputar
per lman, dan menciptakan percakapan≠ percakapan baru
tentang per lman di Indonesia maupun di dunia.
EDITOR Ifan Ismail
PENYELARAS BAHASA Christy Ratna Gayatri
PENGANTAR Dr. Haidar Bagir (Intelektual Muslim)
dkj.or.id @JakArtsCouncil
dewankesenianjakarta
Jl. Cikini Raya No.73
Jakarta Pusat, Indonesia