The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mencari Film Madani Sinema dan Dunia Islam (Ekky Imanjaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmpwarga, 2022-09-09 08:05:52

Mencari Film Madani Sinema dan Dunia Islam (Ekky Imanjaya) (z-lib.org)

Mencari Film Madani Sinema dan Dunia Islam (Ekky Imanjaya) (z-lib.org)

3 %&1.(/;-(+%&'(8?(/"-%#1&"# 67

Bogor, yang membuat film Pesantren Bukan Sarang Teroris. Dalam
rangka membuat filmnya, Ilham yang baru mondok delapan bulan
itu  bersilaturahmi mewawancarai pemimpin gereja GSJA, Eben
Haezar.

Film favorit kedua saya adalah Tripunk: Santri Punk. Film
karya tim Pesantren Nahdlatul Ulum, Maros, Sulawesi Selatan,
itu berpusat pada Sauki Al Gazali, seorang santri yang juga
nongkrong dengan anak punk di pinggir jalan. Berawal dari rasa
kesepian Sauki di malam tahun baru, ia bertemu komunitas punk,
dan ia pun menjadi bagian dari mereka. Tentu saja hal ini menjadi
pro kontra. Tidak hanya karena banyak yang menganggap akhlak
anak-anak punk ini banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,
tapi mereka juga dicap negatif. Pula, ditakutkan akan
mencemarkan nama baik pesantren. Tapi tak sedikit kawan Sauki
di pesantren yang tidak mempermasalahkan itu. Sauki sendiri
merasa bahwa ia menyerap nilai-nilai positif teman barunya itu, di
antaranya semangat saling menghargai, mencintai, dan kompak. 

Film-film lainnya tak jauh dari semangat mencoba
memahami dan menghargai perbedaan kelompok lain. Misalnya
terhadap kaum Kejawen Kaki Turki di Selok
(Cilacap) dalam Dhewek Be Islam (“kami juga muslim”) oleh
Pesantren Al-Ihya Ulumaddin, Cilacap, atau satu keluarga yang
anggotanya punya tiga agama yang berbeda dalam  Harmoni
Sutarji  oleh Pesantren Darul Ma’arif, Lamongan. Ada juga
Sasambat  buatan  tim Pesantren Madinah Rasul Babakan,
Cirebon, yang mengangkat tradisi lokal pemanggilan makhluk
halus  yang acap disalahpahami sebagai perbuatan syirik.
Lalu  Shalawat, buatan Pesantren Qothrotul Falah, Lebak
(Banten), yang mengangkat salawat berbahasa Sunda atau Jawa,
termasuk mewawancara Mang Jalong, seniman salawat bahasa
daerah. Sayangnya, bagian salawat berbahasa lokalnya sendiri
kurang dieksplorasi mendalam. 

68 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%

Film-film itu diputar di berbagai pesantren, sekolah umum,
komunitas masyarakat, dan bahkan di lapas, hingga sampai ke
Palu dan Ambon, serta London. “Apresiasi sangat tinggi, terutama
soal idenya yang mengangkat komunitas yang berbeda.
Bagaimana santri mau mendatangi gereja, komunitas kejawen,
kelompok yang beda aliran, itu sungguh luar biasa,“ jelas
Suraji. ”Rencana ke depan, penyelenggara akan membuka master
class di beberapa kota yang bisa diikuti pesantren secara terbuka.”

Semoga kaum santri, sebagai  salah satu
stakeholder perfilman, makin dilibatkan—atau melibatkan diri—
dalam kultur film Indonesia, baik pembuatan, konsumsi, maupun
kritik film. Semoga makin banyak santri yang mengambil
produksi film sebagai bagian dari dakwah kreatif. Agar mereka
mendapatkan tempat dan suaranya tersendiri dalam industri film
kita, dan agar kurangnya pengetahuan tentang pesantren makin
terobati oleh karya dari perspektif “orang dalam”.

Pabrikultur.com
16 Juli 2019

Dua Garis Biru dan
Bagaimana Jikalau

S ubuh pagi itu saya bangun, dan beberapa
adegan Dua Garis Biru yang saya tonton malam
sebelumnya, masih terngiang-ngiang mencengkeram
benak. Masih segar dalam ingatan, tidak hanya adegannya, tapi
bahasa audio-visualnya (misalnya, kapan kamera diam dan kapan
bergerak) dan unsur-unsur dalam layar (mise-en-scene) yang
sekilas mungkin terkesan remeh namun turut menentukan
pemaknaan: ondel-ondel, stroberi, lagu Jikalau-nya Naif, sampai
bahkan suara dari GPS, “Jalan buntu. Putar balik”.
Semua adegan itu berlompatan dalam benak saya dan
mengerucut ke satu dan hanya satu pertanyaan “what if ”
(“seandainya”): “Bagaimana jika putri saya mengalami apa yang
dialami Dara, hamil di luar nikah di saat masih sekolah?”
Bagaimana jika putri saya, yang ceria, bersahabat, penuh
percaya diri, dan punya segudang impian, kemudian harus
dibebani dengan problematika berat: menjadi gunjingan
sekitar, potensi terpapar hal-hal buruk dari segi kesehatan akibat
hamil di usia dini, potensi harus kawin muda dan terbatasnya
eksplorasi kehidupan dari perspektif remaja karena harus
mengasuh anak, dan… kemungkinan mengubur semua

70 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%

impiannya yang sudah ia bangun sedari kecil? Masa depan suram?
Bukti kegagalan menjadi orang tua? Saat menonton, sahabat saya
yang nobar di samping saya punya concern yang serupa. Baginya,
dan bagi saya juga, film ini bisa menjadi semacam film horor.

Bagaimana jikalau?
Oh ya, sebagai penyegar ingatan, film ini adalah kisah Bima
dan Dara, dua siswa SMA jelang ujian kelulusan, yang asyik
berpacaran, lalu “kecelakaan”. Bima prestasi akademisnya buruk,
tinggal di gang, dan berasal dari keluarga religius berekonomi pas-
pasan. Sebaliknya, Dara anak cemerlang, juara kelas, dan berasal
dari keluarga menengah atas yang punya kolam renang di halaman
belakang, serta tidak terlalu agamis. Dari sini saja sudah terbayang
bagaimana konflik demi konflik akan terjadi.
Agak “gagal paham” bagi saya kalau ada pendapat yang
menyatakan film ini “berbahaya” karena dianggap menganjurkan
seks bebas. Apalagi bagi yang sudah menonton. Karena tidak ada
adegan erotis apapun dalam film ini. Adegan “kecelakaan” itu
hanya terjadi di lima menit pertama, itu pun tidak diperlihatkan
sama sekali. Sebaliknya, film ini menunjukkan dampak-dampak
buruk hamil di usia remaja. Juga tampil diskursus terkait
kesehatan reproduksi. Bisa dibilang, ini sebuah pendidikan seks—
bedakan dengan “pengajaran seks”—yang amat baik, dan bisa
menjadi pemicu diskusi antara orang tua dengan anak-anak ABG-
nya.
Tapi, saya maklum jika isu “pendidikan seks” seperti
kesehatan reproduksi, masih terasa tabu di Indonesia, walau amat
penting dilakukan. Di sekolah putri saya di Bristol, Inggris, yang
adalah negara maju, isu ini juga cukup sensitif. Saat wacana ini
hendak  diperkenalkan ke anak kelas 3 SD, saya ikut rapat
sosialisasinya. Pada taraf SD, tujuannya supaya anak-anak tahu
nama-nama organ tubuh, perbedaan tubuh pria dan wanita, dan
sebagainya supaya mereka tidak memperbolehkan orang lain
(selain lingkaran dalam keluarga yang terpercaya dan dokter jika

+.%(0%&'-(4'&.(+%#(4%0%'!%#%(<'3 %* %. 71

mesti diperiksa) melihat dan menyentuh bagian-bagian intim
mereka. Tiba-tiba seorang emak-emak gempal bertato berdiri dan
setengah menghardik, “Apa-apaan ini? Anak saya terlampau kecil
untuk paham soal ini. Apakah ini tidak terlalu dini?” Namun,
sekarang pelajaran itu menjadi wajib, di bagian biologi, walau
cuma beberapa pertemuan dan hanya membahas hal-hal
mendasar saja.

Kembali ke Dua Garis Biru.
Penggambaran Jakarta adalah hal lain yang menarik. Saat
saya mengulas Eliana-Eliana dan Rindu Kami Pada-Mu dalam
tesis S-2, saya memakai istilah “pintu belakang Jakarta”
(meminjam istilah Mas Seno Gumira Ajidarma saat memberikan
kata pengantar untuk buku skenario Eliana Eliana) dan “mental
landscape”.
“Pintu belakang” yang dimaksud adalah sisi lain Jakarta
yang (kala itu) jarang diperlihatkan di sinema Indonesia: suasana
mal yang mau tutup, perkampungan kumuh, pasar tradisional,
dan sebagainya. Sedangkan “mental landscape” adalah sebuah
lanskap yang tidak hanya menggambarkan gedung fisik dan kota
besar yang mati dan tanpa nama, namun, mengutip Asrul Sani,
“Jakarta yang memotret hidup, pandangan, dan aspirasi dari
penduduk Jakarta kelas-kelas tertentu”1, bukan yang
mengesankan Jakarta yang “penuh kekosongan akan hal-hal
spiritual”, dengan karakter yang stereotipikal dan tidak
menangkap kondisi dan situasi masyarakat urban yang
sebenarnya.  Dalam istilah Jacques Decornoy: Jakarta yang
menjadi kota dengan identitas abstrak. Andre Bazin mempunyai
istilah lain: “Vitalitas Spiritual” dari sebuah kota. Saat membela
Voyage to Italy  karya Roberto Rossellini, Bazin menyatakan
bahwa, walaupun tidak disyut di lokasi yang sebenarnya, kota
Naples di film itu tidak palsu karena punya kualitas dari keutuhan

1 Indonesian Film Panorama, Moch. Jufri (ed.), 1992: 21

72 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%

(the quality of wholeness) dari sebuah kota dan disaring dari
kesadaran dan perilaku karakter utamanya2. Dan karena itulah
Bazin menjuluki Rosselini sebagai “seorang seniman dengan
vitalitas spiritual yang langka”. Pendek kata: kota yang tergambar
adalah kota yang menggarisbawahi pencapaian dan kemajuan
manusia.

Dua Garis Biru, dalam konteks ini, berhasil menyajikan
“mental landscape” dengan mengeksplorasi ruang-ruang kumuh,
seperti perumahan, jembatan, dan gang-gang sempit yang selalu
dilalui motor. Dalam beberapa adegan ketika para tokoh utama
melewati gang-gang itu, tampak pemetaan tipologi penduduk dan
tradisi di antara mereka. Misalnya, terbetik berbagai problematika
rumah tangga dan perkara keuangan. Juga keguyuban yang masih
terjaga, seperti tercermin saat salah satu warga ada yang wafat.
Namun tidak hanya kelas bawah, film ini juga menggambarkan
sisi kelas atas.

Singkatnya, Ini adalah salah satu film Indonesia
terbaik tahun ini yang saya tonton sejauh ini. Dan adegan-adegan
itu masih saja bergentayangan dalam benak saya. 

Bagaimana jikalau….

Jikalau telah datang waktu yang dinanti
Kupasti bahagiakan dirimu seorang
Kuharap dikau sabar menunggu.

— Jikalau, Naif

2 What is Cinema? Volume II, Andre Bazin, 1972: 98≠ 99



3

Sejarah Film,
Film Sejarah



RumahFilm.org
25 Februari 2009

Ibnu Rusyd
dan Semangat
Anti Kekerasan

“Wahyu hanya bisa ditafsirkan dengan studi…”

— Ibnu Rusyd

K ekerasan dan terorisme atas nama Islam adalah
fenomena yang tak habis dibahas dan
dicemaskan. Di dalam negeri misalnya, ada film seperti 3 Doa 3
Cinta, Long Road to Heaven, dan Mata Tertutup yang bercerita
seputar fenomena ini. Di luar negeri, ada film semacam My Name
is Khan, Khuda Kay Liye, dan Kandahar.
Namun, sutradara senior Mesir, Youssef Chahine, yang
begitu khawatir dengan gejala menguatnya gerakan fanatisme
buta, membuat film bertema serupa dengan cara yang menarik. 
Youssef yang Kristiani ini mengetengahkan persoalan pelik ini
dengan jalan kembali ke masa keemasan Islam, yaitu masa
Andalusia di Spanyol, sembari meminjam biografi Ibnu Rusyd
(Averroes), “raksasa” pemikir yang menginspirasi peradaban Barat
modern. Agaknya, sang sutradara asal Mesir itu ingin menyatakan
bahwa bahkan di era yang penuh damai dan merupakan salah satu
masa puncak ilmu pengetahuan dan kesejahteraan rakyat pun

78 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

masih ada ancaman bahaya laten terorisme dan kejumudan. Saat
itu, Andalusia adalah salah satu pusat peradaban dunia, dan
tempat yang subur untuk tumbuhnya multi budaya dan
kerukunan umat beragama seperti Muslim, Yahudi, Kristen, dan
Gipsi.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, Ibnu Rusyd (1126-1198)
adalah salah satu tokoh besar dalam peradaban Islam. Ia dikenal
sebagai  filsuf Islam paling cemerlang dan humanis. Tapi
sebenarnya, ia lebih dari itu: ia juga seorang Hakim Agung,
astronom, matematikawan, fisikawan, dan pakar kedokteran.
Salah satu sumbangannya sebagai fakih (ahli fikih) adalah
rangkaian kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid yang
memuat fikih empat mazhab para Imam Besar aliran Sunni, yang
menandakan semangat toleransi dan pluralitas (kemajemukan
aliran pemikiran). Di bidang filsafat, ia menyatakan kedekatan
dan kerjasama antara hukum Islam dengan filsafat, lewat Fasl Al-
Maqal Wa Taqrir Ma Baina Al-Syariah Wa Al-Hikmah Min Al-
Ittisal  (“Makalah Penentu tentang Hubungan antara Syariah
dengan Falsafah”). Di buku itu, ia menegaskan bahwa tak ada
pertentangan antara wahyu dan akal, antara agama dan ilmu,
antara syariah dan filsafat; dan pemikiran kritis adalah syarat
untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Dan yang paling kontroversial adalah buku Tahafut Al-
Tahafut (“Kerancuan di atas Kerancuan”), yang merupakan kritik
terhadap al-Ghazali (1058-1111), khususnya atas buku Tahaful Al-
Falasifah (“Kerancuan Filsafat”), yang otomatis membela Ibnu
Sina (Avicenna) (980–1037) dan Al Farabi (Al-Pharabious) (870-
950).

Tapi, bagi peradaban Barat, Ibnu Rusyd lebih dari itu. Ia
adalah jembatan bagi terciptanya Abad Pencerahan (Renaissance),
karena ia adalah penerjemah dan komentator terbaik Aristoteles,
sosok yang nyaris terlupakan di masa itu, di samping filsafat
Yunani dan Romawi kuno lainnya. Ia dikenal dengan sebutan

'4#.(&.-:+(+%#(-"!%#0%1(%#1'(3"3"&%-%# 79

“Sang Komentator”. Filsuf Barat seperti Thomas Aquinas adalah
termasuk yang terpengaruh dengan pemikirannya. ”Averroisme”,
sebuah tradisi filsafat berdasarkan metodenya, terus berlanjut di
Eropa hingga abad ke-17.

Film  Destiny karya Youssef Chahine diawali dengan
ditangkapnya seorang Kristen oleh penguasa di selaran Prancis
karena ketahuan menerjemahkan karya-karya “terlarang”. Ia
dibakar hidup-hidup di muka umum. Di tengah kesakitannya
ditelan api, ia menyuruh Josef, anaknya, ke Spanyol, tepatnya ke
Kordoba, untuk menemui sang filsuf Ibnu Rusyd di wilayah
Andalusia. Maka bertemulah si anak dengan Ibnu Rusyd, sang
penasehat Khalifah dan Hakim Agung, yang senang berkumpul
dengan keluarga Gipsi Spanyol pimpinan penyanyi jalanan
Marwan. Di sana, berkumpul juga Nasser anak sulung khalifah
yang pengikut setia sang filsuf dan putra mahkota, juga Abdallah
atau Burhan, adiknya yang hobi berpesta dan berdansa.

Rupanya, saat itu ada sekelompok aliran tertentu yang ingin
berkuasa dengan dalih agama. Mereka mempunyai cara untuk
mencuci otak anggotanya untuk menjadi militan dan jumud, lalu
hanya mau mendengarkan petuah pemimpinnya, Syeikh Said.
Bagi mereka, misalnya, musik dan tarian adalah haram. Tapi,
tujuan utama adalah, seperti terlihat di film ini, berkuasanya sang
Syeikh, bukan urusan ideologis atau teologis. Dan mereka pun
merekrut si bungsu Abdallah, dan mulai merecoki kuliah-kuliah
Ibnu Rusyd. Simak adegan berikut ini, yang dimulai ketika Ibnu
Rusyd sedang memberikan kuliah:

Ibnu Rusyd: Ada seorang pemalas bodoh yang baru belajar dua
ayat Alquran, dan kemudian bertingkah sebagai seorang
pemborong kebenaran ilahiah. Apakah dia seorang yang saleh?
Pemahaman yang hakiki terhadap ayat-ayat suci membutuhkan
refleksi, riset, dan kerja tahunan. Jika kita percaya pada orang yang
menganggap dirinya jenius itu, kita mengabaikan ayat ini: “Dan di

80 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang
tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa
pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu
akan memperoleh azab yang menghinakan.” (cat: Alquran surat
Lukman ayat 6) Tak seorang pun yang dapat mengklaim
kebenaran utuh”.

Pengikut Syeikh Said: Tidak juga Khalifah Mansyur?

Ibnu Rusyd: Imam Malik berkata, sambil menunjuk makam
Rasulullah, “Semua orang bisa dipertanyakan kecuali orang yang
ada di situ.” Imam Syafii berkata, “Sebuah opini yang benar bisa
jadi terlihat salah, dan sebaliknya.”

Pengikut Syeikh Said: Alquran itu sudah jelas. Apakah Anda
menghasut untuk meragukannya?

Ibnu Rusyd: Nabi bersabda, “Jika Anda mencari kebenaran, Anda
akan punya dua bagian: jika itu mengarah pada kesalahan, ia akan
diberikan imbalan.  Maka katakanlah, ‘Wahai Tuhanku,
berikanlah aku ilmu…’.”

Pengikut Syeikh Said (memotong): Ilmu? Bagaimana dengan
iman?

Ibnu Rusyd: Apakah Anda sedang menggugat Tuhan?

Kemudian Ibnu Rusyd pun menutup dialog dengan pernyataan
akhir, “Wahyu hanya bisa ditafsirkan dengan studi”.

Namun, masalahnya, semakin lama pengaruh sekte keras itu
semakin lebar, sampai ke tingkat aksi. Saat Abdallah diselamatkan
dari pengaruh kaum militan, dalam pertahanannya ia hanya

'4#.(&.-:+(+%#(-"!%#0%1(%#1'(3"3"&%-%# 81

menjawab dengan mengutip ayat-ayat Alquran yang terkesan
keras. Ibnu Rusyd berkomentar, “Kamu cuma mengulang apa
yang orang lain ucapkan. Kamu baca puisi dan Alquran, lalu
sudah merasa menjadi seorang akademisi? Tahu apa kamu tentang
astronomi, filsafat, dan sebagainya? Apakah kamu cukup tahu
tentang cinta? Tentang hidup? Tentang keadilan? Sehingga itu
cukup untuk membuatmu berkata bahwa kamu sedang
menyebarkan firman Tuhan?” Lantas Ibnu Rusyd mengeluh,
“Mengapa aku tetap menulis, tetapi ide-ideku tak pernah sampai
ke orang-orang?”

Kejumudan, kebuntuan pemikiran, hilangnya daya kritis
akibat metode cuci otak dan bi laa kaifa (“tanpa-pertanyaan-
mengapa”) adalah salah satu sebabnya. Karena itulah, karakter
Ibnu Rusyd, di film yang diputar di Cannes 1997 itu, menawarkan
dialog tentang hubungan akal dan wahyu, yang sebenarnya adalah
intisari dari kitabnya, Fashl Maqal:

Wahyu ditujukan bagi mereka yang diberkahi akal. Itulah
umat manusia. Hukum Ilahi menggabungkan wahyu dengan akal.
Ini termasuk menentukan sebab dan akibat, wahana dan tujuan.
Wahyu meliputi akal, dan akal meliputi wahyu … beberapa anak
merancukan antara agama dan ketidaktahuan. Beberapa orang
dewasa menjadikan ketidaktahuan menjadi agama … terdakwa
muda kita itu diarahkan menuju kebinasaan. Tanpa disadari,
mereka dipaksa sesat….

Permasalahannya, di film ini, sang Khalifah Mansyur
adalah sosok yang egois dan menelantarkan kedua anaknya.
Sementara pengaruh Syeikh Said begitu kuat, hingga membuat
istana memutuskan membakar buku-buku Ibnu Rusyd yang
dianggap memecah belah negeri dan menyesatkan pikiran anak
muda. Maka perjuangan pun dimulai: bagaimana menyelamatkan
buku-buku itu? Salah satunya adalah membawanya ke Mesir, ke
pesantren Al-Razi, salah satu nama besar Islam lainnya. Ia

82 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

berkata, “Saya tidak selalu sependapat dengan Ibnu Rusyd. Tapi
mengingat kondisi seperti ini, adalah tugas saya untuk
menyelamatkan buku-bukunya.”

Josef, orang Kristen dari Prancis itu, kembali ke negerinya
membawa buku-buku sang filsuf, walau ia merasa berat untuk
pulang kampung. Baginya, Kordoba adalah negerinya yang kedua,
karena “di mana ada pengetahuan, di situlah tanah air kita.
Dan  kebodohan adalah tempat yang asing”. Karena itulah,
Andalusia, baginya adalah “tanah humanisme dan cinta”,
mengingat sebagian besar Eropa kala itu ada dalam masa
kegelapan dan kemunduran.

Dan kita tahu bahwa, walau buku-buku dibakar, tapi, seperti
yang dilansir adik sang Khalifah dan menjadi catatan penutup
film ini, “Buah-buah pikiran itu punya sayap, dan tak seorang pun
yang dapat mencegah mereka untuk terbang.” Sayangnya, pikiran-
pikiran jumud yang pro-kekerasan juga punya sayap. Dan kaum
moderat-humanis pun berlomba-lomba dengan ide-ide buruk
yang makin berkembang biak itu. Hingga sekarang.

RumahFilm.org
25 Februari 2009

Kala Majid Majidi
Menafsirkan
Nabi Muhammad

B agaimana seorang Majid Majidi, sutradara besar
Iran yang acap mengangkat tema anak-anak—
antara lain lewat Children of Heaven, Color of Paradise, dan
Baran—dan problematika keluarga kelas menengah ke bawah—
Pedar dan Song of Sparrows—menafsirkan kisah hidup Nabi
Muhammad, manusia paling paripurna dan mulia? Sepenting apa
film Muhammad: The Messenger of God (2015) ini, dan mengapa
film ini kurang disambut secara komersial, bahkan tak masuk
seleksi unggulan Film Asing Terbaik Academy Awards?
Kisahnya bermula dari semangat dakwah di industri film
global dan melawan Islamofobia di Barat, khususnya sesudah
kasus kartun Nabi di Denmark—yang membuat Majidi menarik
film Willow Tree (2005) dari festival film di Denmark sebagai aksi
protes. Majidi, yang filmnya Children of Heaven dinominasikan
dalam kategori Film Asing Terbaik Academy Awards, ingin
menggarisbawahi bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang

84 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

welas asih, bahkan jauh sebelum beliau menikah pada usia 25
tahun dan diangkat menjadi Nabi pada umur 40 tahun. 

Untuk tujuan itulah Majidi membentuk tim impian kelas
dunia: Vittorio Storaro sebagai sinematografer (peraih Oscar
untuk Apocalypse Now [1979], Reds [1981], dan The Last Emperor
[1987]) dan musisi andal A.R. Rahman (peraih Oscar, Grammy
Awards, dan Golden Globe untuk film  Slumdog Millionaire
[2009]).

Republik Islam Iran mendukung penuh ide Majidi. Ia pun
mulai menyiapkan produksi film ini sejak 2007 dan selesai
menulis naskahnya—bersama Kambuzia Partovi—dua tahun
kemudian. Pada 2011, Shahrak Sinamai Nour, sebuah daerah di
antara jalan tol Teheran-Qum, disulap menjadi setting kota
Mekkah (dan Madinah) tahun 570-an. Sebagian kecil adegan lain
diambil di Afrika Selatan. 

Pembangunan set yang dirancang semirip mungkin dengan
situasi zaman Muhammad hidup ini tak lepas dari peran tim
internasional, yang antara lain terdiri dari perancang produksi
Miljen Kreka Kljakovic, serta perancang kostum Michael
O’Connor dan Seyed Mohsen Shahebrahimi. Hasilnya, film ini
menjadi film termahal dalam sejarah sinema Iran dalam lima
tahun terakhir, dengan ongkos produksi sekitar 50 juta dolar AS.

Untuk mendapatkan gambaran tentang masa lalu sang Nabi,
dan menyamakan persepsi demi menghindari konflik, Majidi
meminta masukan para ulama Syiah dan Sunni sebagai penasihat,
dari Aljazair, Maroko, Lebanon, dan Irak. Pada tahap akhir,
Majidi juga berkonsultasi dengan Ayatullah Ali Khamenei selaku
pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ali Al-Sistani, Ayatullah Wahid
Khorasani, dan filsuf Iran Ayatullah Jawadi Amuli, serta kalangan
Sunni seperti Hayrettin Karaman dari Turki.

Namun, tetap saja, fatwa yang melarang film ini
bermunculan. Dekan Fakultas Teologi Universitas Al-Azhar,
Kairo, Abdul Fatah Al-Awari, misalnya, melarang film ini karena

3 %* %(!% <'+(!% <'+'(!"#%)-'&3 %#(#%4'(!.2%!!%+ 85

dianggap “merendahkan” kesucian sang utusan Tuhan. Mufti
Agung Arab Saudi Abdul Aziz bin Abdullah Al-Shaykh mengutuk
film ini karena terkesan “menghina” Nabi dan “melemahkan peran
penting” yang dimainkannya dalam Islam. Organisasi Liga
Muslim Dunia, yang diwakili Abdullah bin Abdulmohsen Al-
Turki, terutama mengkritisi penggambaran fisik Nabi. Di India,
Raza Academy juga mengeluarkan fatwa melarang film ini.
Walhasil, film ini agak susah di pasaran, tetapi versi ilegalnya
muncul di dunia maya.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, bagaimana kisah seorang
Nabi Besar, bukan rakyat biasa yang menjadi karakter langganan
di film-film Majidi, hadir dalam semesta pikiran dan karya Majid
Majidi? 

Kisah Nabi Muhammad dalam film pertama dari rencana
trilogi ini dituturkan sejak lahirnya dan berakhir saat ia berusia
sekitar tiga belas tahun kala berdagang ke Suriah dan bertemu
Pendeta Bahira. Kemahiran Majidi yang spesialis film anak
membuat film ini lihai mengemas kisah dan bahasa audio visual
seorang Muhammad kecil. Karena ada larangan penggambaran
Nabi, maka tiap adegan Muhammad kecil, wajah dan tubuhnya
dibaluri cahaya yang menyilaukan mata, kecuali bagian kaki dan
tangan.  Saat balita dan menjelang remaja, Nabi tak pernah
diperlihatkan wajahnya, hanya dari belakang terlihat sosoknya
yang berambut gondrong dan berbusana serba putih cemerlang.
Untuk suara, ada sedikit dialog yang diucapkan, yang tak
terdengar tapi digantikan dengan teks. Namun, khusus untuk
suara, ada beberapa bagian yang bisa multitafsir, yaitu saat surat
Al-Fiil (“Gajah”) dilantunkan dan menjadi pengantar untuk kilas-
balik ke era kelahiran. Apakah itu dimaksudkan sebagai suara
sang Nabi ataukah sang narator, Abu Thalib?

Sebagai sineas yang karya-karyanya kental dengan
pendekatan neorealis, Majidi acap memunculkan karakter-
karakter sederhana dari kalangan rakyat jelata. Tak terkecuali,

86 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

dalam film yang dinarasikan oleh karakter Abu Thalib ini. Selain
menceritakan narasi besar, seperti serangan Pasukan Gajah milik
Abrahah, penguasa Habasyah (Etiopia), Majidi juga mengisahkan
narasi kecil dari manusia-manusia biasa di sekitarnya. Misalnya,
kisah Halimatus Sa’diah dan suaminya Hamzah, inang asal Badui,
dan Tsuwaibah, budak milik Abu Lahab yang dilarang menyusui
Muhammad yang masih bayi. Bahkan kisah Aminah, bunda sang
Nabi, diceritakan secara manusiawi yang merasakan
kesengsaraan. Misalnya, saat ia kebingungan tak bisa
memproduksi ASI dan tak boleh mendapatkan inang karena
dilarang oleh iparnya, Abu Lahab dan istrinya, Jamilah. Aminah
juga harus terpisah dari anaknya untuk dibawa ke dusun Badui,
menghindari ancaman kaum Yahudi pimpinan Samuel. Dan, saat
ada serangan Pasukan Gajah, pada saat mengungsi dan panik,
Aminah yang hamil tua tetap bertahan walau terlihat cemas,
meski sudah diajak Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib.

Penafsiran Sejarah Nabi

Sebagaimana misi utamanya mempromosikan Rasulullah yang
welas asih, film berdurasi nyaris tiga jam ini menggambarkan
Muhammad kecil sebagai sosok penuh kasih sayang, khususnya
kepada para budak dan golongan tertindas.  Ia dikisahkan
mencegah seorang ayah yang hendak menguburkan hidup-hidup
putrinya yang baru lahir—sebuah tradisi yang wajar saat itu.
Muhammad kecil bahkan berdialog dengan Abu Lahab—paman
dan orang yang paling memusuhinya—agar Tsuwaibah,
budaknya yang sempat menyusuinya, untuk dibebaskan dan
berjanji bahwa kelak ia akan membayar tebusannya. Sifat mulia
ini, sepertinya, diturunkan dari kakeknya, sang pemimpin klan
Bani Hasyim dan Penjaga Kakbah yang, seperti direpresentasikan
dalam film, tak hanya mengundang orang kaya dan kaum elit tapi

3 %* %(!% <'+(!% <'+'(!"#%)-'&3 %#(#%4'(!.2%!!%+ 87

juga memberi makan fakir miskin untuk menyambut kelahiran
sang cucu, walaupun hal ini melawan arus tradisi saat itu.

Majidi memang punya tafsiran yang agak berbeda dari arus
utama seputar tokoh-tokoh utama di sekitar Nabi.  Pertama,
tentang alasan bayi Muhammad harus mendapat ibu susu. Yang
diajukan, bukan karena tradisi Arab saat itu mengirim bayi-bayi
mereka ke dusun untuk disusui, melainkan karena kondisi
Aminah yang tak bisa memproduksi ASI. Dengan begitu, Aminah
terasa sangat manusiawi; ditambah ia terlihat berat hati melepas
anaknya ke kampung halaman Halimah. Kedua, kakek dan paman
Nabi, Abdul Muthalib dan Abu Thalib, digambarkan sebagai
sosok yang  hanif  (lurus, masih terhitung monoteis), tak
menyembah berhala, dan sangat saleh. Dalam upacara penamaan
cucunya, ia lebih memilih memegang Hajar Aswad, bukan
berhala. Bahkan sang kakek mengajarinya bertawaf mengitari
Kakbah sambil menegaskan niatnya lurus untuk tak menyembah
berhala. Hal ini secara tak langsung menegasikan pendapat
banyak kalangan yang menyatakan Abdul Muthalib dan Abu
Thalib mati dalam keadaan kafir karena belum sempat
bersyahadat.

Kisah lain yang baru saya tahu adalah kisah Tsuwaibah.
Dikisahkan Muhammad mengobati sang ibu susu Halimah dan
menyingkirkan dukun musyrik, yang menyebabkannya menjadi
target penculikan. Juga soal panen di Yatsrib dan Muhammad
cilik yang sakit panas. 

Saya juga baru  ngeh  bahwa Nabi sering menghabiskan
waktunya di Yatsrib, yang kelak menjadi pusat pemerintahan
umat Islam era itu, demi menghindari kejaran rahib Yahudi.
Peristiwa lain yang saya baru tahu adalah tentang kunjungan ke
sebuah desa nelayan penyembah berhala. Dikisahkan, dengan izin
Tuhan, ombak seperti mengamuk, tetapi membawa rezeki dari
laut.

88 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Versi Majidi juga menyoroti kisah intrik keluarga besar, atau
katakanlah, sibling rivalry—di samping persaingan antar-klan
antara Bani Hasyim dan Bani Umaiyah. Abu Lahab, Abu Jahal,
dan Abu Sufyan sesungguhnya adalah paman-paman Nabi alias
saudara Abdullah sang ayah, sama seperti Hamzah dan Abu
Thalib. Dikisahkan bagaimana mereka cemburu dengan Aminah,
sang janda dari anak emas Abdul Muthalib bernama Abdullah,
apalagi saat itu ia sedang hamil tua. Sebagai para tetua, paman-
paman Nabi menolak mengakui kekuasaan ilahiah sang Nabi,
walau dalam hatinya mengakui kebenaran risalahnya. Di
kedengkian ini juga ada faktor rasa sebal Abu Lahab yang
dianaktirikan karena menikah dengan wanita dari Bani Umaiyah.
Karena itu, ia menolak mengirimkan budaknya untuk menyusui
sang keponakan.

Dan tentu saja, urusan dapur alias perekonomian.
Bagaimana mungkin berhala-berhala yang menjadi sumber
pendapatan para tetua Mekkah harus dicoret dari ritual
keagamaan? Embargo ekonomi yang diprakarsai Abu Sofyan—
yang dikenal dengan istilah “Tahun Duka Cita” karena wafatnya
dua tokoh penting dalam dakwah awal Rasulullah—makin
menggarisbawahi perkara politik dan ekonomi. Dan jangan lupa,
serangan Pasukan Gajah untuk menghancurkan Kakbah juga
berakar dari urusan perebutan kekuatan ekonomi berskala global. 

Tak Sekadar Fatwa

Bagi saya, Muhammad: The Messenger of God adalah kompromi
yang sempurna antara daya kreatif seni dan hukum syariat. Majid
Majidi sudah terlatih sejak 1980-an untuk mengakali film agar
tidak melanggar aturan agama yang ketat. Sebuah film yang tak
hanya puitis, tetapi juga membuat haru karena kita ditarik ke

3 %* %(!% <'+(!% <'+'(!"#%)-'&3 %#(#%4'(!.2%!!%+ 89

semesta lain: Mekkah pada tahun 570-an; era kanak-kanak
Rasulullah.

Seperti sudah saya sebut, muncul beragam reaksi yang
mengharamkan film ini dengan pelbagai pertimbangan. Plus,
fakta bahwa pembuatnya adalah seorang warga Iran yang
beraliran Syiah dan didukung penuh oleh negaranya, seakan-akan
makin menambah daftar “dosa” film ini. Namun, membaca
beberapa ulasan, tak sedikit pula yang tersentuh. Muhammad: The
Messenger of God adalah film pertama tentang Nabi sejak Ar-
Risalah (The Messenger)yang disutradarai Moustapha Akkad pada
1976. Beberapa resensi menyatakan Muhammad: The Messenger of
God begitu puitis dan emosional, khususnya bagi pecinta Nabi,
dalam menghadirkan sang junjungan dipresentasikan secara
visual, meski tetap tak memperlihatkan wajah. Bukan lagi sekadar
huruf “Muhammad” dalam lingkaran, seperti dalam banyak
komik religi.

Perbedaan pandangan yang melahirkan fatwa ini terjadi
karena, mengutip Lesley Hazleton (penulis The First Muslim),
kaum Sunni punya aturan lebih ketat soal penggambaran
Rasulullah. Muhammad: The Messenger of God akhirnya berbuah
balasan. Seperti dilansir  Hollywood Reporter  dan  The
Guardian pada 2013, Alnoor Holdings, sebuah tim dari Qatar,
menggandeng produser The Lord of the Rings dan Matrix, Barrie
Osborne, untuk membuat film tandingan, di bawah pimpinan
ulama besar Yusuf Qardhawi. Film berbujet 150 juta dolar AS ini
untuk sementara berjudul  The Messenger of Peace, dan akan
mengangkat sisi manusiawi sang Nabi.

Syukurlah balasannya adalah film juga, bukan sekadar
protes dan fatwa.

Islam Indonesia
19 Maret 2014

Sang Mujahid
Film Indonesia

Mengenal lebih dekat salah satu sutradara
legendaris Indonesia, yang dijuluki Bapak
Film Indonesia: Usmar Ismail.

S etiap tanggal 30 Maret, Hari Film Nasional
dirayakan, nama Usmar Ismail sudah tentu
disebut-sebut kembali. Di hari itu, pada tahun 1950, Usmar yang
kala itu berusia 29 tahun mulai membuat film ketiganya, Darah
dan Doa (atau Long March), yang selalu dianggapnya sebagai film
pertamanya, bersama perusahaan yang ia dirikan sendiri, Perfini.
Banyak sekali kisah-kisah yang sudah diceritakan tentang
Bapak Film Indonesia itu. Apalagi yang masih tersisa untuk
dibahas?
Saya hendak menyajikan dua hal: pikiran Usmar Ismail
tentang film dan keislaman yang ia tulis sendiri, serta pandangan
dua tokoh perfilman tentang Usmar. Usmar Ismail memang punya
banyak talenta dan jabatan: dramawan, sineas, wartawan,
intelektual, penyair, politikus, Ketua Umum Lesbumi, hingga,
uniknya, pemilik klub malam pertama di Jakarta. Salah satu yang
membuatnya “abadi” selain karya-karyanya dalam bentuk film,

-%#0(!.<%2'+()'*!('#+;#"-'% 91

puisi, dan naskah drama, adalah kebiasaannya menulis di media.
Jika kita senang film, atau hobi mencari buku bekas, tentu akrab
dengan buku  Usmar Ismail Mengupas Film.  Bahkan saat ia
mendapatkan beasiswa ke UCLA, ia rajin menulis ke surat kabar,
termasuk soal pertemuannya dengan para sutradara Hollywood
seperti Elia Kazan.

Sebagai Ketua Umum Lesbumi (lihat tulisan Lesbumi,
Jembatan Ulama-Seniman di buku ini), Usmar acap menulis atau
berpidato tentang konsep keislaman dan kesenian. Salah satunya
adalah ”Film sebagai Media Dakwah” yang dimuat di Pembina, 8
September 1965. Di sini, Usmar menyatakan bahwa sebagai hasil
karya teknik dan komunikasi massa, film dipakai untuk banyak
hal. Ujung-ujungnya adalah “seni untuk dolar” dan “seni untuk
rakyat” yang intinya adalah materialisme. Namun, film juga bisa
dijadikan media dalam berdakwah dan, dalam istilahnya, “media
perjuangan”. Jika yang terakhir yang diambil, maka, tulisnya,
ulama harus memusatkan perhatian untuk “mencari dan
menyelidiki secara sadar rahasia selera penonton umumnya dan
bagaimana cara-cara untuk memberikan kepuasan kepada selera
itu”. Sementara, para penulis muslim juga harus menyadari dan
menghayati sumber-sumber ilham dari Alquran dan sunnah
Rasulullah sebagai sumber inspirasi, di samping keterampilan
menulis skenario.

Di tulisan lainnya,  ”Siapa yang Najis: Film atau
Pembikinnya?”, Usmar, yang membuat film mahakaryanya Lewat
Djam Malam (1954) kala berusia 33 tahun itu, membantah
pendapat yang menyatakan bahwa film adalah barang haram. Bagi
Usmar, film itu netral, tidak najis atau haram. Pembuatnyalah
yang mengarahkan kadar najis dan keharamannya. Dan Usmar
menegaskan bahwa tugas film adalah untuk mengajar penonton
yang jumlahnya jutaan itu untuk menyukai kebenaran. Tidak
terlalu penting apakah caranya dengan tertawa atau menangis,
atau tersenyum.

92 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Usmar sendiri adalah teladan yang baik bagi teori-teorinya
sendiri. Ia membuat film dengan segala perjuangan dan
pergumulannya antara mencari tahu selera penonton,
idealismenya, dan upaya mendapatkan keuntungan dari sana
untuk perusahaannya, Perfini. Maka, jadilah film Tamu Agung
(1955), komedi satir yang menyindir fenomena politik menjelang
Pemilu 1955, pemilu pertama dalam sejarah Indonesia, tanpa
melukai pihak yang dikritiknya. Film ini menyamakan politikus
dengan tukang obat. Genre komedi sindiran ini diteruskan oleh
Nya’ Abbas Akub, salah satu muridnya. Film Tiga Dara (1956),
yang  meledak kala itu, adalah pencarian Usmar seputar film
musikal yang mengindonesia. Sedangkan Krisis (1953)—yang
materi filmnya sudah rusak—menjadi film terlaris Indonesia
kedua setelah Terang Boelan (1937),  hingga dibuatkan
sekuelnya,  Lagi-Lagi Krisis  (1955). Bahkan, dalam film
komersilnya, ia masih menyelipkan kritik seputar krisis
perumahan dan korupsi. Kelak, Nya’ Abbas Akub
membuat  Cintaku di Rumah Susun  (1987) yang bernuansa
mirip Krisis, dan juga sukses secara komersial.

Kenapa film-film Usmar hingga saat ini masih menarik dan
masih relevan? Budayawan Umar Kayam punya pendapat
menarik. Hal ini diungkapnya saat berdiskusi di Kineklub UGM
pada September 1987 dan dimuat di harian Kedaulatan Rakyat
(21/9/1987). Pertama, itu karena karya-karya Usmar memiliki
kedalaman dan ada sesuatu yang ingin disampaikan. Dan tidak
dihidangkan secara mentah, tapi diracik dan dikemas secara
artistik. Kedua, terasa adanya kesungguhan dalam film-filmnya
yang dirasakan penontonnya. “Ada niat mencoba menggali suatu
sisi sehingga membuat film sederhana sekalipun tetap menarik,”
jelas Kayam. Hal lainnya, masih menurut Umar Kayam, Usmar
adalah seorang yang “berani bertaruh”. Misalnya, tanpa modal
besar dari cukong besar dan tak bergantung pada “uang panas”,

-%#0(!.<%2'+()'*!('#+;#"-'% 93

alias uang yang secara cepat dituntut untuk terus diputar, di mana
pemodal mengharapkan modalnya cepat kembali.

Gayus Siagian punya cerita lain lagi. Kritikus film senior
sahabat dekat Usmar itu menulis di majalah B.Y. Sport & Film edisi
23 Maret 1974 dengan judul ”Dramawan, Cineast & Star Maker”.
Ia mengungkapkan hubungan akrab dua insan seni beda agama
dan bidang: Usmar dan Cornel Simanjuntak. Mereka bertemu di
markas Keimin Bunka Shidoso atau Pusat Kebudayaan era
Jepang, di daerah Harmoni, Jakarta. Ini adalah institusi budaya
tempat penguasa Jepang mengumpulkan para seniman lokal
berbagai bidang, seperti Sanusi Pane, Armijn Pane, Sumanto,
Amir Pasaribu, Oto dan Agus Djaya.  Di masa itu, Usmar
membuat syair-syair untuk lagu gubahan Cornel, baik propaganda
pesanan Jepang atau kolaborasi seni dan patriotis seperti ”Pada
Pahlawan” dan “Teguh Kukuh Berlapis Baja”. Yang paling terkenal
mungkin adalah ”Tjitra” yang dipublikasikan pertama kali di
majalah Djawa Baroe pada Desember 1943. Sajak dan lagu itu
lantas difilmkan pada tahun 1946 (ini film kedua Usmar
sebelum Darah dan Doa) dan didaur ulang di Singapura dengan
judul Bajangan di Waktu Fadjar (yang VCD-nya bisa dibeli di
Malaysia). 

Lagu itu lantas menjadi nama piala dan lagu tema Festival
Film Indonesia. Beberapa hari setelah kemerdekaan, para seniman
banyak membuat gerakan budaya. Usmar dan Cornel masuk
dalam sebuah kelompok sandiwara keliling bernama Seniman
Merdeka, dan acap naik truk ke berbagai penjuru Jakarta untuk
mengobarkan semangat anti penjajah bersama Rosihan Anwar,
Hamidy Djamil, Suryo Sumanto, Djajakusuma, dan banyak lagi.
Saat Ibukota Negara pindah ke Jogjakarta (4 Januari 1946 – 27
Desember 1949), Usmar turut pindah dan masuk militer. Cornel,
yang terluka akibat perang melawan pasukan Gurkha di Malang,
akhirnya berhasil diselundupkan ke Jogjakarta lewat Karawang.

94 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Keduanya bertemu lagi dan berkolaborasi menciptakan ”Pada
Pahlawan” dan “Teguh Kukuh Berlapis Baja”. Sayang, tak lama
kemudian pencipta lagu ”Tanah Tumpah Darah” dan ”Maju Tak
Gentar” itu meninggal pada September 1946 karena TBC. Usmar
pun berduka.

Gayus yang juga menulis skenario untuk Perfini itu,
menyatakan bahwa kelebihan Usmar lainnya adalah menemukan
dan membesarkan bakat baru. Dari bidang akting, ada Bambang
Hermanto, Alcaff, dan Lenny Marlina. Dari bidang produksi,
ada Djajakusuma, Sumardjono, W. Sihombing, Misbach Jusa
Biran, dan Nya’ Abbas Akub. Semua itu sulit terjadi kalau tak ada
sifat-sifat kepemimpinan dalam dirinya, seperti yang ditulis
Gayus:

Sifat yang paling menonjol pada Usmar adalah ketekunan,
kemauan keras untuk   melaksanakan gagasan-gagasannya dan
kesederhanaannya. Dia dapat memupuk dan memelihara sense of
belonging dan rasa solidaritas di kalangan pembantu-pembantunya
yang dia pandang dan perlakukan sebagai rekan dan teman,
bukan sebagai bawahan, tanpa kehilangan kewibawaan…

DetikHot
7 September 2010

Sang Pencerah

Kisah Sang
Panutan Bangsa

S ejarah membuat orang bijak, begitu pepatah
lama berkata. Tetapi, menurut filsuf Jean-Paul
Sartre, manusia dikutuk untuk terus memilih selama dia hidup.
Dan Sang Pencerah yang disutradarai dan skenarionya ditulis oleh
Hanung Bramantyo ini juga mengalaminya.
Tidak. Saya tidak bilang kalau film ini jelek. Bahkan, selain
Catatan Akhir Sekolah dan Get Married!, film ini termasuk karya
Hanung yang terbaik dalam dekade pertama ia berkarya.
Mungkin karena temanya, Jogja dan Muhammadiyah, dekat
dengan sang sutradara.
Lihat saja, film berdurasi 112 menit ini berhasil meyakinkan
penontonnya untuk menikmati Yogyakarta di akhir abad ke-19.
Tentu, selain sang sutradara, departemen wardrobe (Retno
Damayanti) dan art (Allan Sebastian) sangat berjasa dalam hal
ini. Lihat saja bagaimana Kebun Raya Bogor disulap menjadi
Malioboro beserta tugunya. Atau, yang paling spektakuler, adalah
bagaimana mereka membangun replika Kakbah satu banding satu
untuk adegan tawaf kala haji dengan begitu meyakinkan,
ditambah footage orang berhaji tempo dulu. 

96 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Atau, dalam soal make-up (Jerry Octavianus), bagaimana
sang istri, Siti Walidah, baik yang diperankan Marsya Natika atau
Zaskia Adya Mecca menjadi berkulit sawo matang. Tya Subiakto
yang menggawangi music scoring juga turut menyumbangkan
atmosfer yang signifikan.

Satu lagi yang bersinar adalah penata sinematografi Faozan
“Pao” Rizal yang mempersembahkan karya terbaiknya. Para
pemain pada umumnya, khususnya Lukman Sardi dan Ikhsan
Idol yang menjadi K.H. Ahmad Dahlan, tampil cemerlang. Juga
aktor lainnya seperti Slamet Rahardjo Djarot dan Giring Nidji.

Kisah berfokus pada sejarah hidup pendiri Muhammadiyah,
K.H Ahmad Dahlan, sejak lahir hingga mendirikan
Muhammadiyah pada 12 November 1912. Ia, beserta lima
muridnya—Sudjak, Fachrudin, Hisyam, Syarkawi, dan Abdul
Ghani—berada pada masa maraknya praktik ritual yang
melenceng dari kemurnian ajaran Islam. Atau sebaliknya,
bagaimana kala itu sebuah sekolah Islam dianggap haram
memakai bangku dan meja dengan alasan itu semua inovasi kafir.

Dan sejarah menunjukkan fungsinya, bagaimana ia menjadi
cermin betapa kurangnya Indonesia kiwari akan sosok panutan
yang patut diteladani. Juga bahwa sejak dulu hingga sekarang,
praktik kekerasan atas nama agama berlangsung. Masa itu, saling
menuding “kafir” adalah hal biasa, sedangkan pembaruan
dianggap sesuatu yang mengancam. Misalnya saja bagaimana
Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang menjadi
mujaddid (“pembaharu”) kala itu dituduh sesat hanya karena
menerbitkan jurnal Al-Manar dari Paris. Padahal jurnal Al-
Urwatul Utsqa yang juga mereka kelola, dapat diterima. 

Yang  menarik lainnya, kiai kita ini bisa menguasai medan
dakwah (lihat adegan di sekolah Belanda) atau menggunakan cara
dakwah yang dianggap nyeleneh, bahkan mungkin hingga kini
(misalnya, mengajarkan agama dengan biola, atau memakai
perumpamaan agama dengan musik), dan tidak hanya

3'-%2(-%#0(/%#.1%#(4%#0-% 97

mengajarkan toleransi, tetapi juga koeksistensi alias bekerja sama
dengan yang tidak sealiran.

Tentu saja, membuat biopic tokoh sekaliber K.H. Ahmad
Dahlan, tidak mudah. Hanung cukup berhasil mengatasinya.
Khususnya atas berbagai masalah sensitif yang menyangkut Sri
Sultan Hamengku Buwono hingga muslim beraliran tradisional.

Persoalan mendasar adalah bagaimana memaparkan
kemuliaan karakter K.H. Ahmad Dahlan yang santun dan toleran,
dengan visinya untuk pembaruan agama yang mau tidak mau, saat
itu melawan pandangan mayoritas muslim Jawa tanpa memancing
reaksi panas. Kala itu beliau melawan ajaran yang tercampur
dengan mistik kejawen—istilah populer di masanya adalah TBC:
“Takhayul”, “Bid’ah”, “Churafat”. Juga bahkan, harus berhadapan
dengan Masjid Agung Kauman yang tradisionalis dan mewakili
aliran resmi kesultanan Yogyakarta.  Walhasil, sedikit sekali
pembahasan mendalam tentang bagaimana K.H. Ahmad Dahlan
menjelaskan beda 11 dan 23 rakaat dalam salat Tarawih, atau soal
Yasinan dan tahlilan, atau mengucapkan gelar Sayyidina
(“Tuanku”) sebelum nama Nabi Muhammad atau tidak. Tentu
akan menarik melihatnya mengatasi perbedaan dengan akhlak
mulianya.

Pernah saya mendengar berita akan ada adegan tentang
Dahlan muda—yang masih bernama Muhammad Darwis—
melakukan perjalanan laut ke Mekkah untuk berhaji. Di sana, dia
bertemu dan bersahabat dengan cendekiawan yang nantinya
mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari. Dan
bagaimana kelak keduanya, bersama Agus Salim, berguru pada
orang yang sama, imam beraliran mazhab Syafi’iyah di Masjidil
Haram asal Indonesia bernama Ahmad Khatib. Sayang adegan ini
tidak ada.

Hal lain yang mengganjal adalah ide bahwa nasionalisme
K.H. Ahmad Dahlan makin menyala kala ia bersentuhan dan
menjadi anggota Boedi Oetomo. Saya bisa memahami betapa

98 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Boedi Oetomo sangat penting dalam mencerahkan pemikiran
kebangsaannya, bahkan sampai bertemu dan berdiskusi dengan
dr. Wahidin Sudirohusodo. Namun mungkin akan lebih tajam jika
juga diceritakan persinggungannya dengan SI, organisasi bervisi
kebangsaan yang lahir lebih dulu daripada Boedi Oetomo dan
berasal dari berbagai etnis dan suku seluruh Nusantara, bukan
hanya Jawa.

Tapi saya bisa memaklumi. Hanung harus memilih bagian
mana yang dimasukkan dan mana yang dibuang. Adegan dialog
tentang barang kafir, atau “hidupi Muhammadiyah, jangan hidup
dari Muhammadiyah” memang ada. Tetapi ada hal-hal sensitif
yang kurang diangkat. Dan masalah lainnya adalah tentang
bahan-bahan seputar pribadinya, khususnya saat masih bernama
Muhammad Darwis, yang cukup langka. Mungkin, catatan
tentang kiprah K.H. Dahlan di SI juga masih minim. Tentu ini
menjadi catatan tersendiri urusan kearsipan di negeri ini.

Yang mungkin lebih disayangkan, ada penyederhanaan soal
mengapa Islam di Jawa mempraktikkan mistisme dan sinkretisme.
Di awal film, ada pernyataan semua itu karena Syekh Siti Jenar.
Bagi yang mengkaji sejarah agama di Nusantara tentu tahu bahwa
kondisinya tidak sesederhana itu. Karena, Wali Songo juga
mengajarkan tasawuf, dan bahkan ada teori bahwa Islam di abad
pertengahan yang masuk dari Gujarat di India dengan pendekatan
tasawuf, kemudian banyak terselewengkan atau disalahtafsirkan
dan berbaur dengan ajaran lokal. Intinya, bukan tokohnya, tapi
salah tangkapnya itulah yang menjadi sumber masalah.

Bagaimanapun, Sang Pencerah adalah sebuah film sejarah
yang dibuat dengan layak dengan nilai produksi di atas rata-rata.
Sekali lagi, film ini juga menjadikan sejarah sebagai pelajaran di
masa kini. Mengutip sejarawan Kuntowijoyo, “Sejarah itu seperti
spiral, dia akan terus berulang tetapi selalu maju ke depan.” Kita
melihat spiral itu: toleransi, koeksistensi, kekerasan berbalut
agama, dan semangat perubahan yang kurang.

Islam Indonesia
20 Januari 2014

Lesbumi, Jembatan
Ulama-Seniman

Bagaimana para seniman berkiprah
di lingkaran kaum nahdliyin

S ejarah itu seperti spiral, selalu berulang dan
selalu maju ke depan,” kata sejarawan
Kuntowijoyo. Ia benar, khususnya dalam konteks kaitan film dan
seni budaya pada umumnya dengan umat Islam di Indonesia.
Hingga kini, masih banyak isu seputar sinema dan umat Islam
yang sebenarnya sudah terjadi di—dan sekadar pengulangan
dari—masa lalu. Contoh paling tepat untuk mengilustrasikannya
adalah sepak terjang Lembaga Seniman Budayawan Muslim
Indonesia (Lesbumi) milik Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi
yang kurang didalami pengkaji film dan keislaman ini yang
memulai wacana seputar Islam dan seni-budaya di Indonesia.
Salah satu akademisi yang menulis hal ini adalah Choirotun
Chisaan, misalnya  dalam kumpulan tulisan  Heirs to World
Culture: Being Indonesian, 1950-1965 suntingan Jennifer Lindsey
dan Maya H.T. Liem—bisa diunduh gratis di situs KITLV—dan

100 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

buku Lesbumi, Strategi Politik Kebudayaan. Artikel ini berhutang
pada kedua buku itu.

Lesbumi didirikan di Bandung pada 28 Maret 1962 dengan
ketua umum pertamanya Jamaludin Malik, yang acap disebut
“Bapak Industri Film Indonesia” dan orang nomor satu Persari
(Perseroan Artis Indonesia). Di Lesbumi berkumpul para tokoh
film: Usmar Ismail (“Bapak Film Indonesia”), Asrul Sani (pemikir
kebudayaan kelas wahid dan sineas/penulis skenario andal),
hingga Misbach Yusa Biran (sejarawan, penulis, filmmaker) yang
menjabat sebagai Ketua Komda Jakarta, salah satu cabang
Lesbumi paling aktif saat itu.

Mengapa tokoh besar seperti Usmar Ismail dan Asrul Sani,
yang dari tulisan-tulisannya tidak terlalu “Nahdliyin”,  mau
bergabung dan bekerja dalam naungan Lesbumi? Pak Misbach,
saat saya silaturahmi ke rumahnya, menyatakan bahwa organisasi
kebudayaan ini adalah yang terbesar yang mampu menandingi
kiprah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyar) dan LKN (Lembaga
Kebudayaan Nasional), serta PKI secara umum. Saat itu, gerakan
kiri dengan slogan “politik adalah panglima” menghantam siapa
saja yang tidak sehaluan dengannya dengan cap “anti revolusi”
dan semacamnya, termasuk memboikot film-film Hollywood.
Mereka sangat merajalela, khususnya setelah Masyumi, partai
Islam terbesar, dan Partai Sosialis Indonesia, dibubarkan Sukarno
pada Agustus 1960. “Saya bukan orang NU, tapi karena saya anti
komunis, saya bergabung ke Lesbumi,” jelas Pak Misbach kepada
saya.

Intinya, Lesbumi yang kental dengan spirit humanisme
religius, menolak semangat “seni untuk seni” dan “politik sebagai
panglima”. Alih-alih berkiblat pada “isme” tertentu, mereka
menyatakan ”agama sebagai kesatuan yang merupakan pengikat
dan memberi bentuk batin kesatuan kebudayaan.” Tapi ada lagi
yang tak kalah penting: Lesbumi menjadi jembatan antara
seniman (yang curiga bahwa agama akan membatasi,

*"-4.!'5(<"!4%1%#(.*%!%=-"#'!%# 101

menghambat, dan menghakimi karya-karya mereka) dengan
ulama (yang resah atas kebebasan para seniman yang ditakutkan
akan kebablasan). Lesbumi lahir saat fiqh seni belum diformulakan
pada kaum nahdliyin. Ia adalah sebuah paradoks. Pada saat yang
bersamaan dianggap “penanda kemodernan penting” di tubuh
NU, namun ada juga yang menganggapnya “kurang menjaga
martabat NU”.

Kala itu, seni budaya adalah ranah baru dalam tubuh Islam
tradisional, dan Islam secara umum. Usaha menjadi jembatan ini
adalah jalan bagi terwujudnya misi  terpenting Lesbumi: 
pendefinisian “agama” sebagai unsur mutlak dalam  nation-
building  yang sedang dijalankan pemerintahan waktu itu,
khususnya di bidang kebudayaan. Karena itulah, dalam
Musyawarah Besar I Lesbumi pada 1962, mereka
perlu menggarisbawahi “demi kepentingan bangsa dan agama,
para ulama, seniman, dan budayawan muslimin Indonesia
memelihara hubungan yang sebaik-baiknya”. Usmar Ismail, dalam
ajang itu, menegaskan bahwa kewajiban pertama mereka adalah,
”…mengikis habis syak-wasangka dan prasangka antara kaum
alim ulama dan kaum seniman muslimin,” seraya mengingatkan
peserta muktabar bahwa kegairahan daya cipta seniman harus
disalurkan dengan jalan yang sesuai dengan ajaran Islam “dengan
tiada memaksakan suatu kehendak terhadap mereka atau pun
memperkosa perasaan kebebasan yang mutlak mereka rasakan
untuk mencari kebenaran hakiki”. 

Sementara itu, di acara yang sama, Asrul Sani
menggarisbawahi bahwa  kaum  nahdliyin  harus mempelajari
bahasa kaum seniman, yaitu bahasa kebudayaan. Lebih dari itu,
Asrul juga mengajak anggotanya “menciptakan karyawan-
karyawan teater dan film yang berjiwa Islam.” Artinya, bisa dua
hal, “Sekalipun kami seniman, kami muslim!” dan, “Mari, para
seniman, miliki jiwa Islam.”

102 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

Lesbumi, sebagai gerakan politik budaya, telah memulai
diskursus-diskursus penting ini, dari urusan halal-haram hingga
pandangan-dunia. Di awal 1960-an, ia juga sudah menegaskan
bahwa kaum seniman dan budayawan seharusnya bisa lebih
berperan penting dalam pembangunan bangsa dan agama.
Dan para tokoh pentingnya berasal dari dunia perfilman. Mari
kita lihat dan renungkan kondisi hari ini: berapa sering wacana
(juga praktik kreativitas) film dan budaya pop dianggap penting
di kalangan agamawan, atau sebaliknya? Berapa banyak diskusi
soal film dan budaya dan agama melewati perihal fikih-syariat,
atau topik-topik kontroversial?

Madina
edisi November 2008

Sang Murabbi

Mozaik Kehidupan
Sang Guru

A khirnya, inilah film yang merepresentasikan
tarbiyah, sebuah gerakan dakwah yang jadi cikal
bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak tanggung-tanggung,
Sang Murabbi (2008), demikian judulnya, mengusung genre biopic
(film biografi) yang waktu itu masih jarang diambil pembuat film
Indonesia.
Sang tokoh adalah ustadz K.H. Rahmat Abdullah, yang oleh
banyak orang dinilai memenuhi kriteria ucapan Ali bin Abi
Thalib, bahwa “sebaik-baik orang, apabila orang melihatnya, akan
mengingatkan pada Allah”. Kalimat itu disitir Tifatul Sembiring,
Presiden PKS saat itu, di akhir film. Lewat jalan hidup Rahmat
Abdullah, penonton diajak menapaktilasi jalan dakwah jalur
tarbiyah, dari usaha retasan pada 1980-an, terbentuknya partai,
hingga wafatnya pada 15 Juni 2005.
Ada niat untuk mengangkat keteladanan sang ustadz
(diperankan Sutan Reinaldy), dan keharuan segera menyeruak
saat melihat beberapa adegan penuh hikmah. Identifikasi diri dan
proyeksi penonton pada sang karakter menimbulkan rasa simpati
yang membuat penonton hanyut dalam perilaku dan untaian kata
penuh hikmah, khususnya bagi para aktivis dakwah model

104 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

tarbiyah. Bagi yang sempat kenal dengan sang ustadz, mafhum
belaka gaya bicara sang ustadz sehari-hari, yang penuh metafor,
perumpamaan, dan nasihat, walau sering tak kekurangan humor
juga. Misalnya, saat menerima keluhan salah seorang binaannya,
yang risau melihat semangat mengaji kader PKS turun dan lebih
sibuk “berpolitik”. Kata ustadz Rahmat, monyet yang sedang naik
pohon dan kena angin kencang akan memegang kuat-kuat
pohonnya, supaya tak jatuh. Tapi, cobalah kena angin sepoi-sepoi
sejuk, mengantuklah si monyet, dan lepaslah pegangannya, lalu
jatuh dari pohon. Atau ketika istrinya (diperankan Astri Ivo)
melaporkan tak ada lagi persediaan beras dan ustadz sedang tak
punya uang. Ustadz, dengan gaya khas Betawinya, menenangkan
si istri, “Kalau sumur kering, berarti sebentar lagi hujan.”

Sayang, penyutradaraan dan skenario tidak begitu lihai
dalam hal pacing atau birama cerita. Banyak scene yang kendor di
tengah-tengah sehingga emosi penonton tidak terus-menerus
dibingkai dan digiring, sehingga terasa berjarak. Sebenarnya,
jarak memang salah satu syarat untuk membuat film politik penuh
kritik a la Brechtian yang dingin. Memang, kritik serta otokritik
juga hadir di sana sini, khususnya lekat pada karakter yang
diperankan Neno Warisman. Ia dengan dramatis memberi
monolog otokritik tentang peran para abi atau ayah, “Bukankah
Syeikh al-Banna sekali pun menyiapkan makan pagi buat anak-
anaknya?”

Atau, ini yang menarik, perihal aktivis dakwah yang menjadi
anggota parlemen. “Apa yang membuat dunia ini lebih menarik
dari dakwah itu sendiri? Apakah ini yang dikehendaki perjuangan
ini?” jerit sang tokoh, menangisi para aktivis dakwah yang
dikalahkan oleh jabatan dan harta. Adegan akhir memperlihatkan
selembar foto mobil mewah dibuang ke tong sampah dan dibakar,
sebuah simbol keberpihakan. Sebenarnya, dari sub-judulnya,
“Mencari Spirit yang Hilang”, penonton sudah disiapkan untuk
otokritik ini.

!;A%'3(3"2'+./%#(-%#0(0.&. 105

Tapi, kritikan di film ini masih terasa setengah hati.
Mungkin karena masih banyak hal yang tak diungkapkan.
Misalnya, tidak begitu dijelaskan alasan dan momen Ustadz
Rahmat bergerak dalam harakah, atau mengapa memilih metode
amniah (gerakan rahasia, bawah tanah). Tak tergambar pula
gesekan politik dengan rezim Orde Baru. Tragedi berdarah
Tanjung Priok, yang sepertinya berpengaruh besar pada dakwah
ustadz dan kawan-kawan, juga dikisahkan sambil lalu. “Mengapa
itu yang ditonjolkan, bukan yang ini?” ungkap beberapa
penonton. Pertanyaan wajar, sebagaimana Adam Malik
memprotes Max Havelaar karya Fons Rademaker dengan
ungkapan, “Saya kenal asisten residen Lebak, dan dia tidak seperti
itu!” Tapi, itulah pilihan sutradara dan penulis skenario untuk
memilih beberapa realita sebagai representasi Sang Murabbi.
Bagaimanapun, film, walau diangkat dari kisah nyata, adalah
rekonstruksi. Pilihan itu prerogatif dan otonom dari sang sineas.
Sebagaimana para penonton secara otonom juga berhak
menafsirkannya.

Ada upaya mendekatkan diri ke genre realisme. Misalnya
dengan mengambil beberapa elemen neorealisme, seperti
penggunaan aktor non-profesional yang sebagian besar
kesehariannya tidak jauh dari cerita nyata sang ustadz. Bahkan
sosok seperti Mabruri dan Muhammad Yulius bermain sebagai
diri mereka sendiri, sebagai jurnalis majalah islami. Belum lagi
beberapa foto dan footages dokumenter, dan testimoni para
petinggi partai.

Di beberapa adegan, kamera sengaja mengambil pantulan
cermin, sebagai simbol bahwa film ini cermin realitas. Tapi, sekali
lagi, film adalah representasi, rekonstruksi kreasi, dan seleksi sang
pembuat film. Bahkan, terkesan bahwa film karya Zul Ardhia ini
akhirnya hanya mozaik-mozaik kehidupan belaka. Setiap menit
tertentu ada stop motion, lantas fade out. Memang tak mudah

106 @9(-"<%&%2()'*!5()'*!(-"<%&%2

membuat sinema biografis seorang tokoh yang menggambarkan
secara utuh kepribadiannya.

Setidaknya, sudah ada usaha konkret dari gerakan tarbiyah
dalam wilayah budaya pop macam begini. Tidak lagi terlalu sibuk
menjadi hakim yang sedikit-sedikit “Prit halal! Prit haram!” dan
berkutat pada soal fikih atau pembuatan film yang “syar’i” (“sesuai
syariah”). Tetapi kali ini memilih berkarya.

Film ini bukan sekadar ajang kangenan, seperti pernyataan
dalam dialog beberapa karakter di sana, tapi sebuah optimisme
bahwa membangun sosok inspiratif seperti K.H. Rahmat
Abdullah bukan sesuatu yang mustahil di negeri ini. Sebuah sosok
yang bijak, bersih, tegas, idealis, sekaligus jenaka ala orang Betawi.
Sekaligus, film ini, menyitir tagline-nya, sedang mencari spirit
panutan yang hilang—atau paling tidak, sedang ketlingsut entah di
mana.

Hilang, tapi bukan tidak mungkin ditemukan dan dibentuk
lagi. Syaratnya, seperti yang diulang-ulang sang ustadz: shobron
‘ala shobron. Sabar di atas sabar.



4

Refleksi Atas Film
Bernafaskan Islam



RumahFilm.org
25 Februari 2009

Membaca (Sinema)
Indonesia dari
Banda Aceh

Re eksi Akhir Tahun 2012

P ada tanggal 5-7 Desember 2012, saya ke Banda
Aceh atas undangan Fozan Santa, Rektor
Sekolah Menulis Dokarim, Banda Aceh. Tujuan utamanya adalah
untuk menjadi salah satu pembicara di diskusi “Lokal Aceh, Lokal
Arab: Meneguhkan Citra Islam dalam Budaya Lokal” pada malam
pembukaan Festival Film Arab ke-3 (FFA), yang digelar 6-10
Desember di markas mereka, Episentrum, Ulee Kareng, Banda
Aceh. Malam itu, sekitar dua ratus penonton membanjiri gedung
yang disulap menjadi bioskop dua layar. Walau cuma 2 malam,
setelah banyak ngobrol dengan Fozan dan juga aktivis lainnya
seperti Reza Idria dan Azhari Aiyub, saya merenungi banyak hal,
bermula dari kondisi sinema di negeri tanpa bioskop ini, hingga
budaya populer dan penegakan syariat Islam di sana.
Tentu saja berbagai opini di tulisan ini tidak imbang, karena
menggelontorkan ide-ide dari satu pihak saja. Mereka mungkin

112 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!

hanya minoritas. Saya hanya sekadar memberikan ruang untuk
berdialog bagi mereka.

Inilah refleksi akhir tahun saya.

1. Aceh, Arab, Islam, Indonesia

“Ini jaman boeroek boeat pikeran dan imajinasi. Siapa bilang Arab
itoe Atjeh –Kata Dokarim”

— tulisan di belakang kaos resmi Festival Film Arab 2011, Banda Aceh

Di Banda Aceh, bagi banyak orang, Arab dan Islam tampaknya tak
terpisahkan. Arab adalah Islam, dan Islam adalah Arab, dan
mengadopsi segala yang datang dari Arab tampaknya adalah
sebuah keharusan. Tengoklah sebuah pertanyaan sesaat setelah
pemutaran film pembuka FFA, Captain Abu Raid, “Saya kira, film
tadi tidak menggambarkan Arab, malah lebih dekat dengan gaya
Prancis. Dan mengapa masih dibahas soal Arab dan Islam? Arab
itu ya Islam, karena Islam datang dari sana.” Ketika saya hendak
menjawab, si penanya sudah ngeloyor pergi, tak membuka jalan
dialog.

Sebelum pertanyaan itu, saya melakukan presentasi singkat
tentang teori representasi. Pada kesempatan itu, saya menyatakan
bahwa festival film semacam ini penting untuk melihat
representasi berbagai budaya Arab yang tak tunggal (tidak satu
agama, tidak satu mazhab, tidak satu ideologi, dan sebagainya)
lewat film. Teori representasi membuat orang kritis bertanya,
“Realitas yang mana? Realitas apa? Realitas menurut siapa?”
Karena film adalah produk budaya, maka dinamika kultural
kondisi sebuah bangsa diproyeksikan dalam film. Dan setting
lokasi kisah Captain Abu Raid, kota Amman, jauh lebih moderat
dan memperlihatkan seorang wanita tanpa jilbab menjadi pilot.

!"!4%$%(C-'#"!%D('#+;#"-'%(+%&'(4%#+%(%$"2 113

Sangat berbeda dari Arab Saudi, misalnya, yang kala itu masih
melarang perempuan menyetir mobil.

Tapi, rupanya, penjelasan saya tidak mempan. Buktinya,
muncul pertanyaan seperti di atas. Juga, ada pertanyaan dari
seorang intelektual lokal yang menjadi pembicara di sebelah saya.
Katanya, kurang lebih, film tidak bisa dijadikan pijakan untuk
menjadi sebuah referensi dalam kebudayaan, karena tidak bisa
memotret realitas. Buktinya, film The Corruptor buatan Hong
Kong, kota yang terkenal dengan komisi anti korupsi yang tegas
dan sukses. Pun dengan film-film Arab di festival ini, katanya,
tidak bisa dijadikan patokan bahwa itulah patokan budaya Arab
“yang sebenarnya”. Tentu saja, pernyataan ini benar, tapi juga
sekaligus naif. Karena dengan pendekatan teori Representasi
(atau teori kajian kebudayaan lainnya), film dan sinema dapat
dipandang sebagai representasi satu versi dari kenyataan/
kebudayaan. Sehingga, mungkin agak berlebihan jika
mengharapkan film hanya/harus menampilkan masyarakat
dengan sebenar-benarnya. Dan satu lagi, apakah Arab “yang
sebenarnya”? Ada Mesir, Yordania, Suriah, Qatar, dan Uni Emirat
Arab, dan lain-lain. Masing-masing mempunyai karakteristik
kultural yang berbeda-beda termasuk ideologi yang beragam,
termasuk berbagai mazhab Islam, sosialisme, sekularisme, dan
sebagainya.

Tapi itulah yang terjadi. Arab itu Islam dan Islam itu Arab.
Dan, segala dari Arab (Saudi) harus diadaptasi, termasuk di
antaranya: syariat Islam dengan penafsiran tertentu. Juga
misalnya penanaman pohon kurma di depan Masjid Raya. Inilah
kekhawatiran sebagian kelompok di Banda Aceh: kecenderungan
Arabisasi tanpa dialog. Karena itulah, kaos penyelenggara festival
ini punya pernyataan yang keras, yang dikutip dari Do Karim,
tokoh budayawan Aceh, yang menjadi nama sekolah mereka. Dan
karena itu pula, slogan festival mereka adalah “sinoe Aceh sideh
Arab, sinoe sideh hana rab” (“di sini Aceh di sana Arab, di sini di

114 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!

sana tidak dekat”). Bagi penyelenggara festival, Arab mungkin
lebih tua dari Islam, tapi Islam jauh lebih luas dan lebih universal
daripada Arab. Film adalah sarana yang efektif untuk
menunjukkan hal itu. Ada teori populer di kalangan orang Aceh
yang memang masih terbuka untuk didebat dan mungkin juga
setengah bercanda, bahwa “Arab” adalah salah satu saja dari
budaya yang membentuk “ACEH”, yaitu huruf awalnya.
Sementara masih ada unsur pembentuk lainnya selain A(rab),
yaitu C(ina), E(ropa), dan H(industan).

Fozan Santa, rektor Sekolah Menulis Dokarim menyatakan,
“Arabisasi dalam hal ini cuma proses penetrasi simbolik sebuah
budaya tua sekaligus cermin galau kita saat hendak menemukan
model dan bentuk kebudayaan Islam kontemporer.” Penanaman
pohon kurma—yang kemudian gagal berbuah dan layu sebelum
menghijau—adalah sebuah contoh menarik, betapa sia-sia usaha
adopsi kebudayaan tanpa tahu konteks (tanah, cuaca, kadar air) di
Aceh. Pun dengan urusan kebudayaan, politik, dan hukum.

Reza Idria, salah seorang fasilitator institusi ini, menyatakan
bahwa FAA adalah medium memperkenalkan situasi sehari-hari
di Timur Tengah, dari persoalan rumah tangga, politik, agama
dan sebagainya, menjadi lebih ringkas lewat visualisasi film. “Ini
memang dilakukan sebagai upaya untuk menangkis bayangan
ideal tentang Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab
sebagai tempat suci dan teladan bagi pelaksanaan syariat Islam di
Aceh. Karena ternyata melalui film orang dapat melihat problem-
problem yang terjadi di Aceh juga dialami dalam keseharian
masyarakat Arab. Jadi tidak benar dengan membungkus tubuh
orang, melarang orang berkumpul antara laki-laki dan
perempuan, mencambuk, bersorban, dan lain-lain bisa
menyelesaikan kebutuhan riil masyarakat,” jelas Reza yang baru
saja menyelesaikan S-2 di Universitas Leiden, dan sekarang
sedang studi S-3 di Universitas Harvard.

!"!4%$%(C-'#"!%D('#+;#"-'%(+%&'(4%#+%(%$"2 115

Di balik festival film itu, ada problema yang lebih besar, yang
kurang lebih berkaitan dengan isu “Arab-adalah-Islam” di atas:
bagaimana hukum Islam diterapkan dengan—menurut beberapa
kalangan—cara legalistis, formalistis, birokratis, dan simbolis.
Sejauh ini, sudah diterapkan syariat Islam yang berkaitan dengan
moralitas, misalnya hukuman bagi pemabuk, penjudi, orang yang
ber-khalwat (berduaan dengan bukan mahram)—di antaranya
hukum cambuk1 yang terselenggara sejak 2001. Hal-hal ini diatur
melalui Qanun atau Peraturan Daerah Syariat Islam, No. 11/2002
tentang pelaksanaan syariat bidang aqidah dan ibadah, No.
12/2003 tentang khamr (minuman keras), No. 13/2003 tentang
maisir (judi), dan No. 14/2003 tentang khalwat. Sejak 2009, ada
sebuah RUU baru, tepatnya Qanun (Peraturan Daerah) tentang
Jinayat (Pidana Islam) dan Hukum Acara Jinayat, diserahkan oleh
DPRD Aceh, namun tak kunjung ditandatangani Gubernur,
sebuah hukum yang—kabarnya—di dalamnya ada hukuman
potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi pezina yang telah
menikah.

Fozan menyatakan bahwa sejauh ini, penerapan syariat
Islam kurang efektif. “Kalau cambuk atau penjara sejauh ini tidak
juga membebaskan manusia dari perilaku buruk, apa lantas
hukum Islam atau hukum (negara) modern gagal membawa
kemaslahatan umat? Jadi apa makna slogan-slogan ‘Islam adalah
solusi’, ‘Syariat Islam akan membawa kedamaian’?” Menurut
Fozan, penegakan hukum semacam itu adalah proses pengerdilan
universalitas nilai Islam. Ia melanjutkan, “Semua hal harus punya
cap stempel formal syariat. Dari makanan sampai wisata. Dari
bank sampai jurnalisme. Sementara ini kalau kita bicara syariat
Islam kita cenderung memahami fikih/hukum Islam. Maka Islam
jadi sempit. Cuma urusan ini boleh itu tidak. Kalau sudah hukum

1 ì Amnesty Internasional Minta Hukuman Cambuk di Aceh Dicabutî , Republika.co.id, 22
Mei 2011, http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/05/22/lll3uo≠
amnesty≠ internasional≠ minta≠ hukuman≠ cambuk≠ di≠ aceh≠ dicabut

116 B9(&")*"3-'(%1%-()'*!(4"&#%)%-3%#('-*%!

cambuk dijalankan, seolah sah kita merasa beragama Islam
walaupun si terhukum sudah lebih dulu masuk penjara dalam
tempo lama sebelum dicambuk. Rentan konflik horizontal. Jadi
seolah-olah siapa saja ingin beraktivitas dan berusaha di Aceh hari
ini mesti pakai emblem syariat. Siapa tahu nanti ada ‘salon syariat’,
‘warkop syariat’, ‘wisata syariat’, ‘maraton syariat’, ‘ayam tangkap
syariat’ (menu populer di Aceh), dan sebagainya.”

Pernah terjadi penangkapan dan penggundulan anak-anak
punk karena dianggap tidak berpakaian dan berpikiran Islami—
bahkan dihukum diceburkan ke sungai. Reza dan Azhari
menyatakan bahwa anak-anak punk itu sebenarnya melawan
balik: kelompok mereka sekarang sudah ada sepuluh geng.
Ternyata, tidak hanya punker yang “membangkang”. Telah terjadi
semacam civil disobedience dengan cara tidak benar-benar
menjalankan aturan, bahkan mengakalinya2. Reza dan Azhari
memberi contoh tentang konser God Bless yang mewajibkan
penontonnya harus terpisah pria dan wanita. “Ketika sudah
masuk, mereka berbaur lagi di dalam.” Atau, ketika penjual
hamburger dilarang untuk berjualan di atas pukul dua belas
malam, karena dianggap mengundang muda-mudi “mojok
berduaan”3. “Mereka akan pergi, tapi dua tiga hari lagi akan
kembali ke tempat semula”. Padahal warga tidak bermaksud untuk
membangkang terhadap syariat Islam. Menurut Reza, “…yang
membangkang dan menolak adalah terhadap formulasi dan
interpretasi hukum lokal yang diberi label syariat oleh otoritas
namun dalam kenyataan juga berlaku sangat parsial, politis, dan
tidak sesuai dengan prinsip maqashid syari’ah (‘tujuan syariat’) itu
sendiri.”

2 ì Apa Kabar Syariat Islam?î , Serambinews.com, 28 November 2011, http://aceh.
tribunnews.com/2011/11/28/apa≠ kabar≠ syariat≠ islam

3 http://beritasore.com/2010/12/06/nasib≠ syariat≠ islam≠ di≠ negeri≠ serambi≠ mekah/
(URL tidak dapat diakses pada 1 Oktober 2019)


Click to View FlipBook Version