3"0'0'2%#(<%)%&(/%#%2' 17
tahun penjara dan selama 20 tahun dilarang membuat film,
menulis skenario, memberikan wawancara dalam bentuk apapun
kepada pers Iran dan asing, serta dicekal ke luar negeri kecuali
untuk berhaji dan alasan kesehatan. Walau Panahi melakukan
banding, ditambah banyak tekanan dari aktivis film luar negeri,
pada 15 Oktober 2011, pengadilan memperkuat keputusan
hukuman dan pencekalan itu.
Tidak sedikit tokoh perfilman asing yang membela Panahi
dengan alasan kebebasan berkreasi dan berpendapat. Di
antaranya sutradara Ken Loach, Walter Saller, Olivier Assayas,
Abbas Kiarostami, serta kritikus film Roger Ebert dan Jonathan
Rosenbaum.
Institusi besar yang ikut mendukung dibebaskannya
Panahi, di antaranya, adalah Federation of European Film
Directors, European Film Academy, Asia Pacific Screen
Awards, Network for the Promotion of Asian Cinema,
International Film Festival Rotterdam, National Society of Film
Critics. Tentu saja sineas lokal Iran menjadi yang paling pertama
memprotes penahanan itu.
Di Hollywood, pada 30 April 2010, sederet sutradara dan
aktor menandatangani surat permintaan pembebasan Panahi,
di antaranya Paul Thomas Anderson, Joel dan Ethan
Coen, Francis Ford Coppola, Jonathan Demme, Robert De Niro,
Jim Jarmusch, Ang Lee, Richard Linklater, Terrence
Malick, Michael Moore, Robert Redford, Martin Scorsese, Steven
Soderbergh, Steven Spielberg, dan Oliver Stone. Pada 23
Desember 2010, Amnesty International memobilisasi petisi
daring yang digawangi Paul Haggis dan Nazanin Boniaga. Petisi
itu ditandatangani banyak tokoh seperti Sean Penn, Susan
Sarandon, dan Martin Scorsese.
Hukuman dan pencekalan itu tak mampu meredam ide dan
semangat Panahi untuk membuat film. Maka, sambil menunggu
keputusan banding, bersama Mojtaba Mirtahmasb (Kepala
18 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
Asosiasi Sutradara Dokumenter Iran), ia membuat film
dokumenter In Film Nist (bahasa Farsi yang artinya “ini bukan
film”). Film ini dibuat dengan modal 3.200 euro dan disyut
dengan perangkat seadanya. Sebagian menggunakan kamera
digital dan sebagian lagi bahkan menggunakan iPhone. Judulnya
terinspirasi dari lukisan René Magritte, The Treachery of Images.
Isinya begitu “sederhana”: Panahi berinteraksi dengan tetangga,
berbicara soal film-film yang ia pernah buat, termasuk film yang
sedang dalam proses saat ia ditangkap. Juga merekam kegiatannya
merawat iguana. Cannes Film Festival mendukung Panahi dan
Rasoulof dengan cara memutar film ini pada 9 Mei 2011. Film ini
diselundupkan diam-diam lewat media USB flash drive yang
disembunyikan dalam sebuah kue ke Cannes. Pihak festival baru
mengumumkan bahwa film ini akan diputar di festival bergengsi
itu sepuluh hari sebelum festival berlangsung sebagai surprise film.
Film kedua pasca pencekalan adalah Closed Curtain, yang ia
buat secara diam-diam bersama filmmaker Kambuzia Partovi
berikut lima orang kru. Ini adalah kolaborasi kelima mereka
setelah The Second Look, The Fish, The Circle dan Border Cafe.
Panahi tidak saja berhasil menyelesaikan film ini, walau diawali
dengan depresi, dan menyelundupkannya ke Berlin Film Festival
2013, tapi juga menyabet penghargaan skenario terbaik. Tentu
saja hal ini mendapat protes keras dari Iran. Isi protes menyatakan
bahwa penghargaan itu tidak pantas karena sang pembuatnya
sedang dilarang membuat film di Iran, dan tentunya menjadikan
film itu sebuah karya ilegal, mengingat pembuatan film harus
melewati izin resmi negara. Direktur Berlin Film Festival, Dieter
Kosslick yang mendukung Panahi, meminta pemerintah Iran
mengizinkannya hadir ke Berlin. Tentu saja ditolak. Yang
menarik, walau pemerintah Iran akhirnya juga mencekal Partovi
dan bintang film Maryam Moqadam untuk mempromosikan film
ini, khususnya di festival film Karlovy Vary di Republik Ceko, tapi
3"0'0'2%#(<%)%&(/%#%2' 19
putri Panahi, Solmaz, hadir mewakili Closed Curtain. Bahkan
Pahani sendiri berhasil ”dihadirkan” di sana melalui Skype.
Lepas dari posisi politiknya, yang layak direnungkan adalah:
Jafar Panahi terus berjuang dan bergulat dengan ide-ide dan
semangatnya membuat film, dan mengongkretkannya. Hal ini
lebih baik dan produktif daripada sekadar berkeluh kesah, serta
menyalahkan orang lain (atau malah diri sendiri). Dan
kegigihannya—tentu dengan bahan bakar keberanian dan sifat
keras kepalanya—berbuah karya nyata, bergema lebih luas, dan
menggerakkan banyak orang (besar) bersimpati padanya,
melewati batas-batas geografis dan, barangkali, ideologis. Persis
seperti kata Soedjatmoko, “Ide itu punya kaki.”
ESQ Life
Juni 2014
A Separation
Rollercoaster
tanpa Laga
A Separation, film karya Asghar Farhadi tahun
2011 ini membahas isu sensitif: perceraian.
Menariknya, tidak ada yang karakter yang hitam-putih atau secara
tegas benar-salah. Penonton diombang-ambingkan dalam dilema
moral dan pilihan etis yang tak mudah, bagai makan buah
simalakama: dimakan ayah mati, tak dimakan ibu mati.
Alkisah, Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moaadi)
bertekad untuk bercerai setelah menikah selama empat belas
tahun. Dari tindak tanduk dan raut wajah keduanya, kita bisa
menduga pasangan ini sesungguhnya masih saling cinta. Alasan
perceraian cukup pelik: Simin mendesak Nader untuk pergi
keluar Iran karena ia merasa mereka tak punya masa depan di
negerinya, khususnya demi putri mereka, Temeh (Sarina Farhadi).
Visa yang mereka usahakan dengan susah payah sebentar lagi
akan habis. Masalahnya, Nader tak mau berangkat karena ingin
merawat ayahnya (Ali-Ashgar Shahbazi) yang sudah sepuh dan
menderita Alzheimer. Maka, Nader pun mempersilakan istri dan
anaknya pergi, dan memilih bercerai. Masalahnya: Temeh baru
berusia 11 tahun sehingga hak asuh otomatis di tangan Nader, dan
tidak bisa begitu saja pergi keluar negeri.
&;**"&$;%-1"&(1%#/%(*%0% 21
Persoalan makin ruwet ketika Nader mempekerjakan
Razieh (Sareh Bayat) yang tengah hamil empat bulan, sebagai
pembantu rumah tangga pulang hari untuk merawat sang ayah.
Sebuah keteledoran terjadi. Sang ayah nyaris celaka. Nader yang
marah besar mengusir Razieh dengan alasan itu dan juga
menuduhnya mencuri uang. Tentu saja Razieh tak terima tuduhan
itu. Ia melawan. Dorong mendorong terjadi, Razieh terjatuh, dan
keguguran.
Houjat (Shahab Hosseini), suami Razieh yang berangasan
dan baru saja dipecat dari pekerjaan—dan kebetulan banyak
hutang—menggugat Nader dengan tuduhan pembunuhan ke
kantor polisi. Selebihnya, silahkan menonton sendiri, karena
sudah ada DVD orisinalnya.
Bagaikan The Raid, film ini bisa mengajak batin dan pikiran
kita naik rollercoaster. Setiap 5-10 menit durasi selalu saja ada hal
yang menegangkan dan mencekam penonton. Bedanya, semua
dilakukan nyaris tanpa dar der dor atau adu jotos. Padahal ini film
drama tentang kehidupan rumah tangga “orang biasa-biasa” saja.
A Separation adalah film Iran pertama yang meraih piala Oscar. Ia
dinobatkan menjadi Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy
Awards 2012 lalu. Selangkah lebih maju dari Children of Heaven
yang “hanya” menjadi nominasi di kategori yang sama. Lebih jauh
lagi, ia dinominasikan di kategori Skenario Asli Terbaik, yang
kalah oleh Woody Allen lewat film Midnight in Paris. Film ini juga
dinominasikan di British Academy of Film and Television Arts
(BAFTA), Oscar versi Inggris. Namun, ia berjaya di Berlinale
Film Festival dan menyabet tiga piala sekaligus.
Perjuangan Asghar sebagai sutradara dan penulis skenario
lumayan berat. Ia sempat dilarang membuat film oleh
Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam selama 10 hari, karena
berpidato di The House of Cinema Film Festival menyuarakan
dukungan kepada sineas Bahman Ghobadi yang dicekal dan Jafar
Panahi yang dipenjara.
22 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
Tahun 2013, Asghar kembali membuat film, The Past, yang
melibatkan aktris Prancis Bérénice Bejo. Film ini sukses menyabet
penghargaan Aktris Terbaik dan Prize of the Ecumenical Jury di
Cannes 2013, dinominasikan mendapatkan Palem Emas di
Cannes tahun yang sama, dan juga nominasi Film Berbahasa
Asing Terbaik di Golden Globes.
ESQ Life
Januari 2017
Tentang Berperang
di Medan Juang
B erperang dalam Islam adalah salah satu hal yang
paling sering disalahpahami oleh banyak pihak.
Misalnya, mitos buruk tentang betapa kejam dan haus
kekuasaannya penguasa muslim. Memang, dalam sejarah umat
Islam, peperangan besar dan kecil acap terjadi. Seperti halnya
sejarah manusia dan kemanusiaan, kadang kaum muslim menang,
kadang kalah. Dalam perspektif Islam, salah satu tujuan
peperangan adalah futuh atau pembebasan. Yang paling terkenal
adalah futuh Mekkah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah,
dan Pembebasan Masjidil Aqsa yang dipimpin Umar bin Khattab.
Satu lagi yang terkenal adalah Pembebasan Yerusalem, sebagai
kota suci tiga agama besar, oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Dalam Islam, Hak Asasi Manusia (HAM) dan rasa
kemanusiaan dijunjung tinggi dalam bentuk etika peperangan.
Misalnya, dalam peperangan seorang muslim dilarang membakar
rumah-rumah ibadah agama lain, membunuh anak-anak, merusak
lingkungan, dan sebagainya.
Namun, di dunia modern, ketika film menjadi alat
propaganda yang paling mujarab dan paling membius pikiran
manusia, banyak citra negatif terbingkai terhadap ajaran Islam
24 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
dan aksi peperangan yang dilakukan muslim. Apalagi dengan
banyak fenomena terorisme mengatasnamakan Islam, yang
dilakukan dengan kejam dan penuh kekerasan. Salah satu film
yang paling terkenal adalah True Lies yang sempat beredar
sebentar sebelum ditarik dari peredaran. Serial televisi seperti
NCIS dan Law and Order juga acap memperlihatkan wajah jelek
Islam dalam hal peperangan.
Tapi, cukup banyak juga film yang memperlihatkan
bagaimana umat Islam berperang dengan beradab dan bertujuan
mulia. Misalnya Kingdom of Heaven yang memandang positif
tokoh Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan Yerusalem.
Dalam The Message alias Al-Risalah (Moustapha Akkad, 1976)
yang menjadi semacam tontonan wajib aktivis dakwah kampus
era 1980-an, digambarkan bagaimana Rasulullah memberikan
teladan dan menjadi panutan bagaimana menjadi pemimpin
perang. Digambarkan pasukan para Sahabat berperang dengan
rapi dan taat pada panglimanya, Hamzah, di Perang Badar. Dan
juga bagaimana, ketika tak mengikuti nasihat Rasulullah untuk
mengejar nafsu duniawi, pasukan muslim berceraiberai dan kalah
di Perang Uhud. Tentu kita semua mafhum bahwa sejarah
mencatat perjuangan Rasulullah berhasil mengubah jazirah Arab,
dan kemudian menyebar ke segala penjuru untuk membangun
dunia yang lebih beradab, berkemanusiaan, dan berketuhanan.
Hal lainnya seputar perang adalah tujuannya membebaskan
manusia dari ketertindasan. Dalam konteks Indonesia,
peperangan merebut dan mempertahankan Indonesia juga
dilakukan oleh kelompok santri dan aktivis muslim. Yang paling
fenomenal adalah Resolusi Jihad yang difatwakan oleh pendiri
NU, K.H. Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945 di Surabaya
untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda. Isinya,
“membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib
bagi setiap individu.” Hasilnya adalah pertempuran besar 10
1"#1%#0(4"&/"&%#0(+'(!"+%#(<.%#0 25
November. Hal ini, antara lain, tergambar dalam Sang Kiai (Rako
Prijanto, 2013). Untuk mengenang dan memperingati fenomena
ini, sejak 2015, tanggal 22 November ditetapkan oleh Presiden
Joko Widodo sebagai Hari Santri Nasional.
Film ber-setting peperangan di Nusantara yang melibatkan
unsur jihad adalah Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Singa
Karawang Bekasi (Nurul Berry, 2003). Yang pertama adalah salah
satu film terbaik Indonesia sepanjang masa yang juga diputar di
Cannes; mengisahkan Cut Nyak Dhien yang didampingi putrinya
Cut Gambang dan seorang penyair yang melantunkan sajak-sajak,
termasuk di antaranya Hikayat Perang Sabil, untuk mengobarkan
semangat para mujahidin. Sedangkan Singa Karawang Bekasi
berlatar kembalinya Belanda yang membonceng pasukan Sekutu,
dan mengisahkan perjuangan K.H. Noer Ali, pemimpin Laskar
Hizbullah dan ulama pendiri pesantren, yang terkenal lewat
perjuangannya di Perang Sasak Kapuk dan Pembantaian
Rawagede.
Berikut adalah beberapa film yang memperlihatkan
bagaimana etika perang ditegakkan dan semangat membela
agama dikobarkan dengan benar.
Kingdom of Heaven (Sir Ridley Scott, 2005)
Shalahuddin Al-Ayyubi, salah satu pemimpin perang terbaik
dalam sejarah, digambarkan dengan positif dalam Kingdom of
Heaven. Di situ, Saladin, demikian lisan Barat menyebutnya,
diperlihatkan sebagai figur yang berakhlak budiman. Di adegan
negosiasi di penghujung film, Balian dari Ibelin, panglima dari
kaum kristiani, menyatakan kekhawatirannya apakah
kemenangan kaum muslim di Jerusalam berpotensi memicu
pembantaian kaum kristiani sebagai pembalasan atas
pembantaian atas kaum Muslim di Perang Salib I hampir seratus
tahun lalu. Saladin hanya tersenyum dan menjawab, ”aku Saladin,
26 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri kristiani, bawa pasukan
dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak akan ada
pembunuhan,” katanya.
Shalahuddin Yusuf bin Ayyub, dalam film ini, digambarkan
bertoleransi tinggi, beradab, dan penuh rasa perikemanusiaan.
Dalam setiap pertempuran, pesannya selalu sama, “minimalkan
pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”.
Tawanan diperlakukan secara terhormat dan manusiawi, tidak
membuat mereka haus dan lapar.
“Persahabatan”-nya dengan musuh terbesarnya, Raja
Richard I—Raja Inggris yang mengobarkan Perang Salib III yang
dijuluki The Lion Heart—juga legendaris. Kepada Richard—
satu-satunya raja yang pernah memukul mundur pasukan
muslim—Shala-huddin mengirimkan tabib terbaiknya ketika
Richard jatuh sakit. Saat itu memang dunia Islam memimpin
dunia sains dan teknologi termasuk kedokteran.
Sang Kiai (Rako Prijanto, 2013)
Berkisah tentang perjuangan Hadratus Syeikh K.H. Hasyim
Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama, sejak zaman penjajahan Jepang
yang kejam hingga melawan Belanda yang hendak kembali
menduduki Indonesia. Di era Jepang, Sang Kiai menolak
menyembah matahari, sebagaimana ritual orang Jepang
umumnya, kemudian ditangkap dan dipenjara karena
penolakannya. Tapi justru di situlah terlihat betapa kharismanya
begitu kuat atas para santrinya, yang selalu datang berbondong-
bondong ke penjara untuk melakukan dzikir bersama.
Inilah perlawanan khas santri. Tahlilan menjadi senjata
ampuh. Ratusan santri duduk damai dan melakukan tahlilan di
setiap penjara tempat Mbah Hasyim ditahan. Strategi lain adalah
diplomasi: berpura-pura bekerja sama demi memanfaatkan
fasilitas Jepang untuk membela kyai dan mempersiapkan
kemerdekaan. Termasuk strategi membentuk laskar militer
1"#1%#0(4"&/"&%#0(+'(!"+%#(<.%#0 27
Hizbullah yang berbasis pesantren, untuk membedakan diri dari
laskar Heiho bikinan Jepang.
Sedangkan saat Belanda kembali, Kyai Hasyim memberikan
fatwa wajib hukumnya membela tanah air bagi setiap muslim
dalam radius tertentu, dan yang gugur dianggap syahid. Hal ini
dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan Sukarno. Hari
dikeluarkannya fatwa itu, 22 Oktober, dinyatakan oleh Presiden
Joko Widodo sebagai Hari Santri Nasional pada 2015. Saking
hebatnya dampak fatwa tersebut, semangat perlawanan
memuncak hingga terjadi pertempuran Surabaya pada 10
November 1945, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari
Pahlawan.
Juga digambarkan besarnya rasa hormat kepada Sang Kiai.
Para pejuang Hizbullah diperlihatkan meminta restu dan
mencium tangannya sebelum maju ke medan laga. Bung Tomo,
sebelum melakukan pidatonya yang historis itu, sowan ke Kyai
Hasyim, yang lalu menasihatinya untuk “memulai dan
mengakhiri pidato dengan menyebut kebesaran Allah”. Niat
sowan serupa juga sempat hendak dilakukan perwakilan Jenderal
Sudirman, namun tak sampai terlaksana karena Kyai Hasyim
terburu wafat. Rupanya Jenderal Sudirman—seorang pemimpin
yang juga berjiwa Islami dan berafiliasi ke Muhammadiyah—
mengutus perwakilannya untuk meminta Kyai Hasyim
menelurkan fatwa sejenis, walau tidak sempat terwujud.
Sayangnya, film ini tidak terlalu dalam mengeksplorasi proses
pembuatan fatwa penting dan momen pengumumannya.
Sementara, strategi diplomasi Mbah Hasyim adalah dengan
bersedia ditunjuk menjadi ketua Masyumi (Majelis Syuro
Muslimin Indonesia), yang diwakili oleh anaknya, K.H. Wahid
Hasyim. Banyak yang kecewa dengan langkah ini karena lembaga
ini adalah bentukan Jepang dan disinyalir hanya untuk
kepentingan propaganda. Namun ternyata langkah itu berdampak
pada batalnya rencana merekrut santri menjadi tentara Heiho dan
28 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
malah berhasil membentuk Laskar Hizbullah yang kelak sangat
berpengaruh dalam peristiwa Perang Surabaya. Ia juga menolak
permintaan Hussein Jayadiningrat, kepala Shumbu (departemen
agama bentukan Jepang), yang menyuruhnya mengutip ayat-ayat
suci untuk meningkatkan produksi dan pengumpulan hasil bumi
demi kepentingan perang Jepang. Sebelumnya, ia membuat
kebijakan agar seluruh pesantren bercocok tanam dan berdagang,
agar bisa independen dan tak tergantung dari pihak luar.
Film ini diganjar dengan penghargaan Film Terbaik,
Sutradara Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Penata
Suara Terbaik, di ajang Festival Film Indonesia 2013.
Five Broken Cameras (Emad Burnat dan Guy Davidi, 2011)
Ini film yang agak berbeda dari film lainnya yang dibahas di sini.
Berformat dokumenter, dan berkisah tentang perjuangan manusia
biasa melawan teror negara Israel dengan cara sederhana:
merekam semua kezaliman itu untuk diperlihatkan kepada dunia,
walau nyawa taruhannya. Mirip dengan semangat Michael Moore
di Amerika Serikat. Di sini tak ada narasi besar macam “zionisme
versus jihad/intifadah”, tak ada kata-kata bela Al-Quds. Ini adalah
sebuah kecintaan seorang anak dusun kepada kamera, dan
bagaimana ia ingin mengabadikan segala hal yang mengancam
desa tercintanya ketika kampung halamannya dipagari dan
disusutkan secara ilegal. Sebuah kecintaan yang membuatnya
berani merekam segala kejadian, dengan risiko besar, termasuk
ditembak dan disiksa di penjara selama lima tahun, sampai
melawan tentara zionis yang ingin memperlebar tanah
pendudukan di depan pintu rumahnya sendiri.
Mengapa ia terus merekam, walau bahaya mengintainya?
Dan mengapa ia memilih untuk memegang kamera, bukan secara
aktif turun ke jalan seperti penduduk desa lainnya? Emad
menerangkan di dalam film:
1"#1%#0(4"&/"&%#0(+'(!"+%#(<.%#0 29
“Proses penyembuhan merupakan tantangan dalam hidup. Ia
adalah korban dari kewajiban tunggal. Dengan semangat
penyembuhan, Anda menolak penindasan. Tapi ketika aku
terluka berulang-ulang, saya lupa dengan luka yang mengatur
hidup saya. Luka yang terlupakan tidak dapat disembuhkan.
Maka saya membuat film untuk sembuh. Saya tahu mereka bisa
mengetuk pintu saya setiap saat. Tapi aku akan tetap terus
syuting. Ini membantu saya berhadapan dengan kehidupan. Dan
bertahan hidup.”
Inilah jihad. Dan lima kamera yang rusak berat, akibat dihajar
penjajah, adalah saksinya.
RumahFilm.org
September 2007
Muallaf
Brian dan Sepasang
Gadis Ronin
H us! Hati-hati bicara! Banyak pengikut
[disebutlah salah satu aliran dalam Islam] di
sekitar sini,” ungkap Ana (Sharifah Amani) kepada adiknya, Ani
(Sharifah Aleysha), dan guru sang adik, Brian (Brian Yap), saat
berdiskusi bebas tentang penafsiran kitab suci. Itu adalah salah
satu adegan dari film terbaru Yasmin Ahmad, Muallaf.
Adegan lain tak kalah nakal. Miss Siva memukuli Ani di
depan kelas. Guru sekolah Katolik itu tak tahan karena Ani sering
mengucapkan kutipan dan nomor-nomor yang tak jelas artinya.
Puncaknya, saat ia menyuruh seisi kelas menggambar gajah, Ani
malah menggambar bunga. Saat dirotan, Ani meneriakkan
berulang-kali sebuah nomor: “seratus lima” dan “satu”. Tak
banyak yang memahami Ani, gadis yang mengikuti kakaknya,
Ana atau Rohana, kabur dari rumah memprotes kelakuan ayah
mereka. Alhasil, Ani membuat orang sekitarnya takut dengan
tingkah anehnya. Misalnya, nomor di atas adalah penafsirannya
atas perintah guru, yaitu nomor ayat pertama dari surat nomor
105, yaitu Al-Fiil (”Gajah”) dalam Alquran. Sedang kalimat-
kalimat yang dianggap igauan dari mulut Ani adalah ucapan
terkenal para agamawan, mulai dari Tao Te Ching hingga Santo
4&'%#(+%#(-"/%-%#0(0%+'-(&;#'# 31
Agustinus. Hanya Brian yang memahami Ani. Brian, seorang
Tionghoa pendiam, juga sedang melakukan pendekatan pada
Ana.
Ana dan Ani adalah sebuah proses pencarian ketuhanan.
Keduanya belajar agama, mulai dari sosiologi agama hingga
perbandingan agama, selayak para ronin: bebas dari madzhab
(aliran). Ronin adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk merujuk
para “samurai tak bertuan”. Diterjemah secara bebas, ronin bisa
juga menggambarkan para intelektual bebas, yang mandiri dan
tak ikut golongan apa pun dalam mengembangkan pikiran
mereka. Walau Ana dan Ani sadar bahwa mereka butuh guru, dan
ilmu mereka tidak memadai untuk menafsirkan ajaran-ajaran
agama, tetapi mereka tetap mencari Tuhan secara independen.
“Setiap orang sedang mencari Tuhan dalam caranya sendiri,”
tegas sang kepala sekolah, seorang berdarah India. Demikianlah
pula keadaan Brian, seorang Tionghoa yang bermasalah dengan
ibunya dan karenanya tak lagi ke gereja. “Biasanya, orang yang
jauh dari tuhannya adalah orang yang sedang bermasalah dengan
sesuatu,” tegur Ana, halus. Tapi Brian sesungguhnya adalah
sesama musafir—seperti juga Ana dan Ani—dalam perjalanan
mencari Tuhan.
Muallaf adalah film yang sensitif, sedikit ofensif, dan agak
nakal. Film ini melakukan kritik sosial secara subversif. Tapi
justru itulah kekuatan film ini: keberanian. Tengoklah gambaran
sang Datuk, ayah Ana dan Ani, yang menganggap najis ludah
anjing tapi tak merasa bersalah jika mabuk dan bermaksiat.
Tipikal masyarakat Melayu (termasuk Indonesia)? Atau tengoklah
juga indahnya sebuah adegan two shots saat seorang kyai Melayu
berbaju koko putih bersatu padu bersama pendeta India berbaju
putih bersih. Atau, lihat saja imaji pembuka film ini yang berupa
tulisan basmalah—ciri khas film Yasmin—yang kali ini dalam
aksara Tionghoa. Semua menyuratkan keberanian Yasmin
menyatakan sikapnya dalam film ini. Dalam sebuah isu yang lebih
32 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
trivial, kesediaan Sharifah Amani untuk digunduli habis
kepalanya demi film ini, sempat jadi kontroversi di sebagian
kalangan konservatif Malaysia. Ada fatwa bahwa haram bagi
perempuan menggunduli rambutnya.
Tapi, hemat saya, Yasmin tak keluar batas. Ia hanya
menunjukkan fenomena pluralitas agama yang sebenarnya. Kita
bisa bergaul dengan penganut agama lain, bahkan mempelajari
agama mereka, tanpa meninggalkan hakikat agama sendiri,
apalagi mencampuradukkan dengan ajaran agama lain. Pesan
pluralisme ini bisa bersembunyi, misalnya, dalam permainan kata
dan nama “Siva” dan “Rohani”.
Logika dalaman film ini kuat. Alasan masa lalu yang
menghantui tokoh utama sungguh tajam. Ani yang digunduli dan
Brian kecil yang ditelanjangi di depan umum, menunjukkan
gumpalan rasa malu dan, akhirnya, dendam kepada orang tua
mereka. Dalam konteks ini, isu memaafkan mencuat lagi, seperti
pada Gubra. Inilah film Yasmin yang paling sarat dengan pesan,
penuh dialog, dan lebih berat daripada trilogi Orked (Sepet,
Gubra, dan Mukhsin; “Orked” adalah nama tokoh utama trilogi
itu, yang diperankan oleh Sharifah Amani). Mungkin karena
“beban misi”, film ini menjadi lebih berat dan sensitif. Setelah isu
pembaruan etnis dalam film-film terdahulunya, untuk pertama
kalinya Yasmin mengangkat tema agama. Tepatnya: agama yang
seharusnya membawa damai, cinta, dan cahaya.
ESQ Life
Januari 2017
Never Leave Me
Pengungsi Anak-Anak
Suriah dalam Layar Film
Kami datang untuk mengucapkan selamat berlibur,
Dan selama liburan, kami bertanya kepada Anda,
Mengapa kita tidak memiliki hari libur atau dekorasi?
Oh, Dunia,
Tanah saya terbakar,
Tanah saya dicuri kebebasannya
Tanah saya kecil, seperti saya, tanah saya kecil.
Berikan kedamaian kepada kami kembali
Berikan masa kecil kami kembali
A nak perempuan mungil itu bernyanyi di pentas
seni di sebuah penampungan pengungsi
sekaligus panti asuhan anak-anak Suriah di Sanliurfa, sebuah kota
di Turki selatan. Para penonton cilik pun, yang kebanyakan
adalah anak yatim dan/atau piatu atau terpisah dari orang tuanya,
bertepuk tangan riang gembira, menyemangati penyanyi cilik itu.
Tak lama, seorang rapper kecil dengan kumis buatan, dengan
penuh percaya diri, mengisi acara. Saat itulah Isa, sang tokoh
utama kita, hadir dengan wajah yang nyaris tanpa ekspresi.
Never Leave Me (judul bahasa Turki: Bırakma Beni, 2017),
film terbaru sutradara asal Bosnia, Aida Begić, berkisah tentang
anak-anak pengungsi yang sama-sama merasakan pahitnya perang
34 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
di Suriah dan terpisah dari orang tua. Semua karakter itu
dimainkan oleh pengungsi Suriah sungguhan. Anak-anak
pengungsi itu diminta Aida Begić memerankan tokoh yang
kisahnya mirip dengan yang mereka alami di dunia nyata. Terasa
sekali emosi dan penghayatan para pemainnya. Mereka baru saja
kehilangan orang tua dan kehidupan normal, terasing di negeri
lain berbahasa lain. Dan tentu saja, mereka bergelut di tengah
suasana tak nyaman di tempat pengungsian: beradaptasi dengan
keadaan, walau itu artinya menyakiti teman-temannya untuk
bertahan hidup, atau tetap mempertahankan kepolosan kanak-
kanak yang hakikatnya adalah dunia bermain.
Metode memakai aktor non-profesional dan melihat dunia
dari kacamata anak-anak untuk memberikan kritik sosial budaya,
sekilas mirip dengan ciri-ciri film pendekatan neorealisme yang
diterapkan oleh film Iran pasca 1997, khususnya Majid Majidi,
Jafar Panahi, dan keluarga Makhmalbaf. Semangat Aida dalam
film ini yang terasa transnasional—seorang Bosnia melihat
pengungsi Syiria di Turki--juga sekilas mirip dengan, misalnya
Kandahar (Mohsen Makhmalbaf, 2001) atau Blackboard (Samira
Makhmalbaf, 2000) terkait pengungsi Afghanistan dan suku
Kurdi. Tapi ada yang lain dari film yang menjadi duta Bosnia-
Herzegovina di Academy Awards 2019 ini.
Pertama, Aida mengalami sendiri kejadian yang serupa
dialami oleh aktor-aktor ciliknya. Ia juga penyintas perang. Saat
remaja, Bosnia dilanda perang (atau tepatnya: pembantaian) dari
negeri tetangganya. Ia juga mengalami luka dan kehilangan, yang
tertuangkan juga melalui film-film sebelumnya seperti Djeca
(Children of Sarajevo, 2012) dan Snijeg (Snow, 2008). Pengalaman
itu menjadi nilai lebih saat mengarahkan dan melakukan riset
mendalam tentang isu pengungsi Suriah. Bersama Yetim Project,
Aida hidup bersama dan berteman dengan para pengungsi dan
yatim piatu Suriah di Turki selama setahun, khususnya di daerah
Gaziantep, Şanlıurfa, Hatay dan Akçakale. Hasil dari lokakarya
/"#0.#0-'(%#%3=%#%3(-.&'%2(+%*%!(*%:%&()'*! 35
dan wawancara ratusan anak yatim, berikut kisah-kisah tentang
perasaan, mimpi, dan harapan mereka, disarikan menjadi skenario
film ini.
Dan hasilnya adalah film Never Leave Me ini, yang berkisah
tentang Isa (14), Ahmed (11), dan Motaz (10). Isa baru saja
kehilangan ibunya, menyusul ayahnya yang tewas karena
serangan bom sewaktu mereka berkendara. Aktornya, Isa
Demlakhi, juga mengalami tragedi serupa itu. Motaz (Motaz Faez
Basha) bercita-cita ingin bernyanyi di acara pencari bakat. Konon
semenjak menikah lagi dan meninggalkannya, ibu Motaz berada
di Istanbul. Motaz berharap dengan tampil di acara pencari bakat,
sang ibu akan melihatnya dan mengajaknya tinggal bersama.
Sedangkan Ahmad (Ahmad Husrom) yang ceriwis, rindu dengan
ayahnya sehingga acap berdelusi melihat sang ayah.
Kedua, jika dalam beberapa film Iran ditekankan
pentingnya pendidikan (Children of Heaven, Blackboard, Buddha
Collapsed out of Shame) dan ada semangat pergi ke sekolah, film
ini justru sebaliknya. Isa, Ahmad, dan Motaz, selalu bolos sekolah
(dan, karenanya, acap dimarahi oleh ibu asrama) untuk mencari
nafkah dengan berjualan tisu di wilayah Balıklıgöl yang eksotis.
Tak ada yang peduli dengan anak-anak jalanan ini. Tapi mereka
giat bekerja. Tujuannya: pergi ke kota Adana, mengantarkan
Motaz ke ajang lomba menyanyi. Tapi Isa rupanya punya motif
lain: ia punya utang yang harus dibayar secepatnya ke Karaca,
seorang gangster jalanan.
Anak-anak tetaplah anak-anak dengan berbagai
karakteristiknya, walau di tengah guncangan pasca perang. Ada
Tukka, yang ingin membeli sepasang merpati untuk adiknya
tetapi uangnya selalu kurang. Ada seorang perempuan ABG yang
kasar dan tak mau bergabung dengan anak jalanan lainnya, tapi
sebenarnya baik hati. Dan, mengingat aktor-aktornya adalah juga
pengungsi perang dan yatim piatu, emosinya tertransfer kuat
hingga ke penonton. Silakan lihat bagaimana reaksi para
36 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
pemainnya saat adegan Ahmad, yang sempat menghilang secara
misterius, tiba-tiba muncul kembali.
Dan lagu yang didendangkan biduan cilik di pentas seni itu,
menjadi jiwa bagi film ini, dan boleh jadi, menghantui pikiran
hingga terbawa pulang.
Never Leave Me menjadi film pembuka Madani Film
Festival, sebuah festival film dunia Islam, yang berlangsung di
Jakarta pada 17-21 Oktober 2018.
ESQ Life
Januari 2017
Aida Begic,
Sineas Bosnia Pembela
Anak Yatim Piatu
S aya masih remaja ketika Sarajevo diserang. Jadi,
saya mengenali diri saya, teman-teman saya,
keluarga saya di wajah anak-anak Suriah itu,” ungkap Aida Begić
kepada Daily Sabah (18/06 2017) saat diwawancara mengenai film
terbarunya, Never Leave Me.
Aida memang begitu terlibat dalam film ini. Ia tinggal
bersama anak-anak pengungsi yang yatim dan/atau piatu sembari
mendengarkan kisah-kisah mereka. “Anak-anak ini, dan keluarga
mereka… adalah pahlawan saya. Mereka mengajariku tentang
daya, tentang keberanian, tentang cinta,” imbuhnya.
Pengungsi anak-anak Suriah yang tak punya ayah dan ibu
itulah yang menjadi dorongan utamanya membuat film
transnasional: seorang sineas Bosnia yang membuat film di Turki,
tentang pengungsi Suriah. Aida melihat bahwa anak-anak dan
remaja yatim piatu di Bosnia acap tidak mendapatkan perhatian
dari masyarakat dan kesepian hingga membuat mereka jatuh pada
38 89(-"!"-1%()'*!(+%#(+.#'%('-*%!
narkoba dan kriminalitas. Dia ingin melakukan sesuatu. Ketika
melakukan penelitian untuk film Children of Sarajevo (2012), Aida
menyimpulkan bahwa 90% remaja nakal adalah anak-anak yang
kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya selama perang.
Karena itu, ia acap menyatakan bahwa film terbarunya itu sebagai
bagian dari Yetim Project pimpinan Besir Dernegi yang bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran atas anak yatim piatu dan
kebutuhan-kebutuhan mereka di berbagai penjuru dunia.
Fakta bahwa sebagian anak-anak itu berakhir di jalanan,
menambah daftar prihatinnya. “Ini adalah film tentang anak-anak
yang kita semua lihat setiap hari di jalanan kota-kota kita, tapi
tetap tidak terlihat oleh kita. Penderitaan, kemiskinan, dan
kesepian mereka menjadi jubah tembus pandang yang
menyembunyikan mereka dari mata dunia kita yang kejam,”
tulisnya di katalog Edinburgh Film Festival tahun lalu. Ia
sebenarnya tak hanya berkisah tentang korban perang Suriah, tapi
juga tentang Isa, Ahmad, dan Motaz dari berbagai perang yang
ada di segala penjuru dunia.
Adapun tentang lokasi syutingnya di Turki, Aida
menyatakan, Turki, yang menampung 4 juta pengungsi, dipilih
karena rasa hormatnya kepada negara itu dalam menangani anak-
anak itu.
Semangat diaspora dan nuansa globalisasi begitu kentara
baik dalam film maupun dalam proses produksi. Tentu tidak
mudah. “Kami memiliki kru yang datang dari tiga belas negara.
Saya mengarahkan film di mana orang berbicara dua bahasa yang
saya tak pahami. Tapi tetap saja, kita semua berfungsi sebagai satu
organisme. Proses ini membuat saya kembali berharap pada
kemanusiaan dan keyakinan bahwa kita mampu memecahkan
dinding di antara kita, hanya jika kita mau,” tulisnya di katalog itu.
Tema besar Never Leave Me berkesinambungan dengan
kedua film sebelumnya yang bercerita tentang warisan perang.
Snow (2008) berkisah tentang konflik pasca perang dari mata para
%'+%(4"0'$5(-'#"%-(4;-#'%(/"!4"*%(%#%3(:%1'!(/'%1. 39
perempuan di desa Zvornik, Bosnia timur, yang ditinggal mati
suami mereka yang gugur. Sedangkan Children of Sarajevo
(2012) berfokus pada sepasang muda bersaudara, Rahima dan
Nedim, yang kehilangan orang tua mereka saat perang Bosnia,
dan mencoba bertahan hidup dengan menjadi koki sebuah
restoran. Ketiga film panjang itu menjadi duta Bosnia untuk
dikirim ke Academy Awards kategori Film Asing Terbaik.
Aida, yang menjadi tamu pada Madani Film Festival 2018,
lahir di Sarajevo, 9 Mei 1976. Dia lulusan Jurusan Penyutradaraan
di Sarajevo Academy of Performing Arts. Setelah lulus, ia pun
mengajar di almamaternya selama tujuh belas tahun, dan
sekarang dia menjadi Ketua Jurusannya. Film tugas akhirnya,
Prvo smrtno iskustvo (First Death Experience) diputar di The
Cinéfondation Official Selection, sebuah inisiatif pencarian bakat
baru Cannes Film Festival. Film pertamanya, Snow, diputar
perdana di Cannes 2008 dan meraih the Critic Week Grand Prix,
di samping tiga puluh penghargaan bergengsi lainya. Pada 2009, ia
mendirikan FilmHouse. Film panjang keduanya, Djeca (Children
of Sarajevo) diputar premiere di program Un Certain Regard,
Official Selection of the Cannes Film Festival 2012 dan meraih
Special Distinction of the Jury. Aida lantas menulis skenario dan
mengarahkan film pendek Album, sebagai bagian dari omnibus
Bridges of Sarajevo, yang diputar perdana di Special Screening,
Cannes. Ia juga memproduseri film dokumenter panjang 100
Million Dollar House karya Rešad Kulenović.
Pada 17-21 Oktober 2018, ia menjadi tamu istimewa di
Madani Film Festival, Jakarta. Aida hadir dalam pemutaran
pembukaan dan kemudian memberikan masterclass sebagai
bagian dari program festival.
2
Film Madani
dan Representasi
Muslim Indonesia
RumahFilm.org
25 Februari 2009
Posisi Ideologis
dan Representasi
Perempuan
Berkalung Sorban
Membela atau Merusak Nama Islam?
Maaf jika ada yang tidak berkenan. Peringatan keras bagi
yang punya pemikiran anti kebebasan: “silakan jauhi film
ini daripada nanti Anda sakit hati.”
— dari blog Hanung Bramantyo
F ilm Hanung Bramantyo, Perempuan Berkalung
Sorban atau PBS (2009), memicu kontroversi.
Dua kelompok saling menjadi oposisi. Kelompok anti-PBS, sebut
saja begitu, menyatakan bahwa film ini sesat menyesatkan,
menjelek-jelekkan pesantren dan Islam secara umum, bagian dari
propaganda Islam Liberal. Mereka menyerukan supaya film ini
jangan ditonton, dan bahkan ada yang berniat untuk
memboikotnya secara jama’i. Sebagian ulama dan tokoh Islam
menyerukan hal itu tanpa menontonnya terlebih dulu; sebuah
pengulangan kesalahan yang pernah dilakukan Abdullah
Gymnastiar saat “mengharamkan” film Buruan Cium Gue. Tapi
44 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
ada juga yang sudah menontonnya dan bersuara, di antaranya
emosional.
Sineas senior yang akrab dengan representasi keislaman
dalam sinema, Chaerul Umam (Al-Kautsar, Titian Serambut
Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah) dan Deddy Mizwar (Kiamat
Sudah Dekat, serial TV Para Pencari Tuhan), ada di kubu ini, walau
pun bukan dalam bandul terekstrimnya. Dalam beberapa media,
Deddy Mizwar menyatakan, bahwa cerita yang disajikan dalam
film itu sangat menyudutkan Islam: fikih-fikih Islam yang
dihadirkan dalam PBS cenderung tidak jelas serta memiliki
penafsiran sepihak saja. Senafas dengan itu, Chaerul menyatakan
adanya ketidakseimbangan (imbalance) dalam film tersebut.
Bagaimana kisah buruk kyai dan pesantren yang di-blow up secara
sepihak, sedangkan pesantren dan kyai yang bagus tidak disentuh
(Tribun Batam, 14/2).
Kelompok pro-PBS tak habis-habisnya heran: apa yang salah
dengan film ini? Mengapa tokoh agama semacam MUI harus ikut
campur dan bahkan melarang-larang film ini? Mengapa kita tak
boleh mengkritisi ajaran agama? Kira-kira begitu sederet
komentar mereka. Di antara mereka menyatakan bahwa film ini
bagus karena mengkritik praktik-praktik yang menyalahi ajaran
Islam yang sebenarnya. “Apakah salah kalau menggambarkan
Islam dengan buruk dalam sebuah film?” demikian salah seorang
pengguna Facebook bertanya pada saya. Justru, bagi mereka, film
ini berani membongkar kasus-kasus penindasan perempuan, dan
kebejatan moral oknum pesantren khususnya kyai dan anak kyai,
yang selama ini kenyataannya memang terjadi.
Tulisan ini berusaha membaca PBS tanpa harus mengikuti
polarisasi pemikiran dua kubu yang semakin berjarak sejak jaman
FPI versus Ahmadiyah atau pro-kontra RUU Pornografi. Dari
awal saya menyatakan, misalnya dalam artikel “Ayat-Ayat
Misoginis” di majalah Azzikra edisi Februari 2009, bahwa film ini
gagal dalam menyampaikan pesan awalnya dan malah menjadi
/;-'-'('+";*;0'-(+%#(&"/&"-"#1%-'(/"&"!/.%#(4"&3 %*.#0(-;&4%# 45
efek bumerang. Tapi saya merasa harus menulis lagi hal ini dengan
sedikit lebih dalam. Kali ini dengan dua pendekatan: “Status
Ideologis” dan “Representasi”.
“Status Ideologis” adalah posisi sutradara dalam
memandang film ini. Saya percaya bahwa Hanung sahabat saya itu
mempunyai niat mulia saat membuat film ini, dan itu jauh dari
semangat merusak nama Islam. Sedangkan “Representasi”
membahas tentang apa-apa yang terlihat dan terdengar di layar
perak. “Status Ideologis” berkutat pada masalah “apa maunya
sutradara”, sedangkan “Representasi” pada “apa maunya film ini?”.
Yang pertama mengkaji permasalahan epistemologis (yang
mencakup filsafat ilmu dan logika), yaitu “bagaimana
pengetahuan itu bisa dicapai”, sedangkan yang kedua adalah
persoalan ontologis seputar film dan (keterwakilan) realitas pada
media film.
Status Ideologis
Saya berkhayal, kalau bukan Hanung Bramantyo—yang kala itu
sudah menelurkan film berlatar masyarakat muslim semacam
Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Doa yang Mengancam—apakah film
PBS akan menuai polemik sebesar ini?
Saya percaya Hanung punya idealisme tertentu—baik isu
Islam atau pun gender—saat mengerjakan film ini. Tidak ada niat
untuk menjelek-jelekkan citra Islam, prasangka baik saya padanya.
Seperti tersebut di pendahuluan, saya menjadi saksi mata saat
syukuran AAC, Hanung dengan suara bergetar menahan haru
menyatakan bahwa sudah lama ia ingin memenuhi wasiat ibunya
yang mengharapkannya membuat film tentang agama.
Kepada pers, ia menyatakan, “Saya ini seorang Muslim. Di
film itu, saya sama sekali tak mengkritik Islam, Alquran, ataupun
hadis.” Baginya, PBS adalah otokritik terhadap umat Islam,
46 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
terutama keluarga yang kerap menggunakan Alquran dan hadis
secara salah untuk memaksakan kehendaknya kepada anak-anak
mereka. PBS, menurutnya, menggarisbawahi gagasan bahwa
dalam Islam, kedudukan antara perempuan dan laki-laki adalah
setara. “Pesan itu ditampilkan oleh sosok Khudori,” tutur Hanung
yang menilai bahwa kekhawatiran sebagian kalangan bahwa film
PBS akan merusak pikiran umat Islam sangat tak beralasan.
“Umat Islam ‘kan sudah pada cerdas,” tambahnya.
Namun, justru itulah permasalahannya. Jika pembuatnya
adalah sosok yang antipati terhadap Islam atau pesantren,
mungkin film ini bisa “dimaklumi” jika mengandung banyak
pencitraan yang buruk terhadap pesantren tanpa ada upaya
membela atau menawarkan Islam alternatif yang dianggap ideal.
Tapi ini film Hanung. Dia kadung dianggap sebagai seorang
sutradara “spesialis” pembuat “Film Islam”, dengan asumsi dia
pun akan ingin “membela” Islam. Walhasil, film ini berefek
bumerang: awalnya diniatkan untuk “memperjuangkan hak-hak
muslimah” malah terkesan menjadi film yang menggambarkan
Islam kejam dan benci terhadap perempuan. Dan memang, film
ini kental dengan penafsiran bahwa ajaran agama penuh dengan
ayat dan fatwa misoginis.
Hanung menyatakan bahwa ia mengangkat pesantren yang
sudah hadir ditafsirkan Abidah El Khalieqy pada novelnya.
Kepada pers, ia mengungkapkan bahwa PBS ibaratnya membayar
utang pada masyarakat khususnya kaum perempuan yang kecewa
pada film AAC. “Film ini adalah utang saya pada kaum
perempuan yang sebelumnya kecewa dengan film AAC yang
dianggap sangat berpihak pada poligami,” ujarnya dalam
konferensi pers usai menonton PBS bersama Menteri
Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta dan para aktivis
perempuan (10/2/2009). Kantor berita Antara menyatakan
bahwa Hanung mengatakan banyak protes yang ditujukan
/;-'-'('+";*;0'-(+%#(&"/&"-"#1%-'(/"&"!/.%#(4"&3 %*.#0(-;&4%# 47
padanya di balik kesuksesan film AAC di mana ia bertindak
sebagai sutradara. Sebagian besar yang memprotes adalah
perempuan yang menganggap Hanung pro pada poligami dan
AAC mencerminkan budaya patriarki yang merugikan kaum
perempuan. “Oleh karena itu saya membuat film ini untuk
meletakkan kembali bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki
adalah sejajar, manusia hanya dibedakan dari tingkat
keimanannya dan bukan dari jenis kelaminnya,” ujarnya. Jadi,
niatnya adalah menyeimbangkan, atau tepatnya, “meralat” AAC.
Juga mengikuti penafsiran Abidah sang penulis novel.
Jadi, di mana sebenarnya letak status ideologis Hanung? Apa
pandangan dan posisinya terhadap, di antaranya, budaya patriarki,
poligami, dan pesantren? Yang di AAC atau PBS? AAC dan PBS
dalam konteks ini seperti adalah dua kubu yang berlawanan. Yang
satu berwajah malaikat, yang satu seolah-olah berkelakuan Iblis.
Dan seakan-akan ada relasi nasikh-mansukh, penafsiran AAC
dihapus oleh PBS. Mungkin, sekilas keduanya menjadi seimbang:
ada Islam sejuk, ada Islam “ganas”. Nyatanya persoalan tidak
sesederhana itu. Persoalan keterwakilan dua realitas ini akan
dibahas di bagian lain, tentu saja. Tapi, bagi saya, ada problematika
ideologis: pada PBS, Hanung ada di posisi yang mana? Yang
memandang Islam sebagai wajah damai atau wajah penindas?
Kalau ternyata yang pertama, mengapa tidak ada satu pun tanda-
tanda Islam yang membebaskan di film itu? Mengapa
menawarkan solusi non-Islam seperti novel Bumi Manusia
bersama karya sastra dan pemikiran lain, tanpa ada penawaran
penafsiran Islam yang mengkritisi karakter-karakter antagonis,
seperti misalnya The Tao of Islam karya Sachiko Murata atau
feminis berlatar islami macam Fatimah Mernissi dan Asghar Ali
Engineer? Jika niatnya menyatakan Islam yang ramah perempuan,
mengapa tidak ada penafsiran gender dan perlawanan signifikan
dari Islam yang “sebenarnya”? Mengutip Emha Ainun Nadjib,
48 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
untuk nahi munkar (mencegah kemungkaran) tentu harus tahu
munkar-nya baru kemudian di-nahi. Nah, dalam konteks PBS,
mana bagian nahi-nya?
Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa Hanung gagap (bahkan
gagal) dalam menuturkan gagasannya? Atau ini adalah sebuah
ayat bagaimana Hanung memahami agamanya? Untuk yang
terakhir, agaknya saya akan dianggap terlalu lancang dan
keterlaluan jika menghakiminya.
Representasi
Mazhab realisme, menurut Roy Armes, mengandung tiga tujuan:
memaparkan realitas apa adanya, imitasi realitas, dan
mempertanyakan realitas. Agaknya, yang terakhir ini adalah
pilihan PBS. Tentu saja, dalam film, realitas ini adalah “realitas”,
karena terkonstruksi, dipilih, dipilah, diracik dengan gaya dan
formula tertentu, baru disajikan. Belum lagi status fiksi yang
melekat padanya. Realitas apa, yang mana, menurut siapa?
Jawabannya adalah “realitas” yang terepresentasi dalam film.
Yang menarik, setelah menonton bersama, Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta menyatakan bahwa
orang yang mengkritik kurang paham persoalan. “Mereka
sebenarnya membela Islam, jika Islam tidak seperti itu
sebenarnya. Perempuan sering ditindas. Tapi padahal Islam tidak
menindas perempuan,” ujarnya (10/2/2009). Menurut Ibu
Menteri, dalam film itu digambarkan apa jadinya ketika ajaran
Islam tidak dijalankan dengan baik dan dipahami secara keliru.
“Ada yang keliru dalam memahami ajaran Islam, nilai-nilai
Islam. Kalau saya menganggap ajaran saya mengajarkan
kedamaian, kebaikan, keharmonisan, ya itulah yang seharusnya.
Dan film itu tidak menggambarkan apa yang diajarkan oleh agama
Islam,” tandas putri proklamator Bung Hatta ini.
/;-'-'('+";*;0'-(+%#(&"/&"-"#1%-'(/"&"!/.%#(4"&3 %*.#0(-;&4%# 49
Pernyataan ini menarik, berhubungan dengan teori
representasi. Mari periksa ulang pernyataan Ibu Menteri: “dan
film itu tidak menggambarkan apa yang diajarkan oleh agama
Islam”. Lantas apa yang digambarkan film itu? Tepatnya: apa yang
direpresentasikan film itu? Pesantren yang menindas perempuan,
Islam yang menekan dan mengekang kaum wanita. Adakah di
sana Islam yang membela dan membebaskan perempuan? Tidak
ada.
Dalam pernyataannya yang disitir pers, dan dinyatakan di
atas, Hanung menyatakan bahwa PBS justru menekankan bahwa
pada Islam, kedudukan antara perempuan dan laki-laki adalah
setara, dan pesan itu ditampilkan oleh karakter Khudori.
Pertanyaannya, dalam PBS, ayat dan dalil Islam yang mana yang
menyatakan kesetaraan gender itu? Tokoh Khudori, yang
berpotensi menjadi pahlawan, tidak melakukan pembelaan yang
kuat dan proporsional. Ia lemah; lebih lemah dari tokoh Fahri di
AAC. Film itu benar-benar menggambarkan pesantren dan kyai
yang, dalam istilah Meutia (dan Hanung pula) “keliru dalam
memahami ajaran Islam”. Tentu saja, kita mengetahui bahwa itu
Islam yang keliru. Tapi, di film itu, adakah perspektif Islam lain
yang “meluruskan” kekeliruan dan kesalahan itu? Adakah
representasi Islam di film itu yang menyatakan bahwa itu keliru
dan meluruskannya? Tidak ada. Kebebasan wanita diperoleh
dengan cara direbut. Jalurnya melalui ilmu pengetahuan, sastra,
buku, dan wawasan yang kebetulan berasal dari luar Islam. Mau
tak mau, kita harus menyatakan bahwa itulah representasi Islam
dan pesantren di PBS: Islam yang tak hanya zalim kepada
perempuan, tetapi juga anti-intelektual.
“Lho tapi itu kan kasus yang salah?” demikian mungkin ada
yang bertahan. Atau dalam istilah Bu Menteri, “mereka
sebenarnya membela Islam, jika Islam tidak seperti itu
sebenarnya”. Betul. Tapi, apakah dialog seperti itu ada dalam PBS?
Di scene atau dialog yang mana letak pembelaannya? Adakah
50 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
penggambaran Islam “yang benar”? Ada, memang, tapi lemah dan
tak signifikan, serta tak bisa membendung (generalisasi)
pencitraan buruk pesantren.
Secara gampangannya begini: seandainya film ini diputar di
Berlin atau New York, bagaimana kira-kira pandangan orang-
orang bule itu terhadap Islam? Sebuah pesantren yang ramahkah?
Islam yang membebaskankah? Islam yang “benar”-kah? Kalau
kita putar di lingkungan pesantren, apakah film ini dekat dengan
kehidupan mereka, atau dengan kata lain: apakah PBS
merepresentasikan mereka? Kalau selo, silakan saja tur keliling
pesantren, di Jombang atau Jawa Timur. (Oh ya, di Jombang saya
rasa tidak ada pantai, tapi ini soal lain).
Pamungkas
Singkat kata, film ini secara ideologis, epistemologis dan
ontologis, bermasalah. Hanung sebenarnya pro-Islam yang
membebaskan dan ramah perempuan. Namun dari film PBS,
sengaja tak sengaja, muncul tafsir yang sama sekali berlawanan
darinya. Nyaris tak ada representasi Islam yang membebaskan
dan ramah perempuan dalam film ini. Sederhananya, pesan dari
sutradara (pendekatan posisi ideologis) tidak tersampaikan
sebagaimana mestinya, dan filmnya sendiri (pendekatan
representasi) tidak membuka banyak ruang untuk keterwakilan
Islam yang, mengutip Meutia, “sebenarnya”.
Dan, pernyataan Hanung dalam blognya justru
kontraproduktif dan menegaskan ambiguitas posisi ideologisnya
yang terepresentasi dalam PBS. Dari sikap “Islam adalah wacana
dan wahana pembebasan”, meleset menjadi “pilih kebebasan, atau
pilih Islam? Karena tidak ada pilihan kebebasan dalam Islam,
apalagi bagi kaum perempuan”. Karena justru kaum yang protes
itu adalah kaum yang percaya bahwa Islam adalah jalan
/;-'-'('+";*;0'-(+%#(&"/&"-"#1%-'(/"&"!/.%#(4"&3 %*.#0(-;&4%# 51
pembebasan, sama persis seperti niat Hanung semula. Dalam
kasus ini, hadis “sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya”
tidak terejawantah.
Wallahua’lam.
DetikHot
21 Juni 2010
3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta
Bukan Sekadar
Film Cinta
Beda Agama
J ika yang muslim lelakinya, ada yang bolehin
menikah dengan non-Muslim, ada juga yang tidak.
Nah, kalau yang Islam pihak perempuan, makin banyak yang
tidak membolehkan. Tapi, saya saja sudah setua ini belum tahu
jawabannya,” kata sang paman kepada Rosid.
Sepasang kekasih dengan perbedaan mencolok: si pria,
muslim keturunan Arab dengan keluarga yang tradisi keislaman
dan kearabannya kuat. Si perempuan, etnis Manado, beragama
Katolik dari keluarga yang taat. Apakah hubungan mereka akan
berakhir dengan bahagia? Begitulah premis dari film 3 Hati Dua
Dunia, Satu Cinta karya Benni Setiawan (2013). Dari sini saja kita
bakal tahu ada masalah besar yang dihadapi mereka.
Diadaptasi dari dua novel karya Ben Sohib, The Da Peci Code
dan Balada Rosid dan Delia, problem dan halangan cinta beda
agama bercampur isu etnisitas pun menguat dalam film ini.
Lazimnya diketahui, kebanyakan muslim keturunan Arab di
Indonesia seperti Rosid (Reza Rahadian) tidak hanya selektif
dalam memilih pasangan: tidak hanya seagama, tapi juga idealnya
satu suku bangsa. Mereka pun punya tradisi yang cukup berbeda
dengan komunitas muslim lainnya. Sementara keluarga Delia
4.3 %#(-"3 %+%&()'*!($'#1%(4"+%(%0%!% 53
(Laura Basuki) berdarah Manado, lengkap dengan identitas
kalung salib dan lukisan The Last Supper super gede di ruang
makan. Adakah yang lebih rumit dari ini?
Ternyata ada. Keduanya sepakat untuk terus melanjutkan
hubungan dan memberontak dengan lembut tapi pasti. Rosid yang
kribo ini memang dikenal berbeda. Misalnya, dia tidak mau
memakai peci dan baju koko karena merasa itu bukan ajaran
agama tapi sekadar tradisi nenek moyang. Padahal keduanya
adalah atribut wajib bagi kaum Arab. Gaya Rosid yang berbeda
dengan kaum mayoritasnya ini pun dianggap sesat. Ia kemudian
didemo banyak orang.
Di sini kita disodori kisah (dan kritik seputar) orang-orang
yang berbuat kekerasan atas nama agama hanya karena sang lawan
dianggap berbeda. Atau, bagaimana perbedaan keyakinan dan
tradisi bisa memecah atau menyatukan, tergantung bagaimana
penyikapan. Misalnya, Delia tertarik dengan tari Zapin, lalu ia
pun menari bersama para pria. Di mata yang lain, aksi Delia ini
menjadi sesuatu yang aneh karena ia bercampur dengan yang
bukan muhrim.
Kedua orang tua Delia dan Rosid, mengatasnamakan iman,
ingin memisahkan keduanya. Keluarga Rosid melakukan apa saja,
termasuk praktik yang berpotensi syirik. Salah satu yang sulit
untuk ditolak adalah rencana menjodohkan Rosid dengan Nabila
(Arumi Bachsin), anak asal Bosnia yang diadopsi salah satu
pamannya. Memang antara Rosid dan Nabila lalu terjadi
keakraban, karena keduanya suka puisi. Sedangkan keluarga Delia
(kedua orang tua Rosid memanggilnya dengan: Delila) hendak
mengirimnya kuliah di Amerika, sesuai keinginan Delia sebelum
bertemu Rosid.
Jadi, bagaimana posisi film ini terhadap isu nikah beda
agama yang cukup sensitif ini? Kehati-hatian adalah jalan keluar,
dan menjadi alternatif bagi penggambaran “manusia satu
dimensi”. Film yang awalnya berjudul Komidi Putar ini tidak
54 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
hanya sekadar bercerita tentang pasangan beda agama, tetapi juga
menelusuri tradisi, perbedaan antara budaya dan agama, dan juga
kecintaan akan puisi.
Puisi? Ya! Sejak awal, dipaparkan Rosid sebagai sang penyair
dan Rendra adalah panutannya. Lihat saja, di rumahnya ada
banyak sekali foto Rendra (di samping Benyamin Sueb). Puisi-
puisi Si Burung Merak ini menghiasi. Ketika ditanya memangnya
ada orang yang mau jadi penyair setelah Rendra, dengan tegas
Rosid menjawab, “Ada! Saya!”
Boleh dibilang film ini juga bagian dari penghormatan
terhadap almarhum budayawan Rendra. Tapi berbeda dengan
Rangga di Ada Apa dengan Cinta? yang pendiam dan serius, Rosid
sebaliknya, ia kocak dan slengekan. Hal lain adalah nilai-nilai
kekeluargaan. Lihatlah Mansyur (Rasyid Karim) sang ayah yang
sangat keras menentang, tetapi begitu cinta dengan putranya.
Sebaliknya, walau mbalelo, Rosid selalu ingin mengabdi pada ayah
ibunya. Salah satunya adalah dengan membuatkan dan deklamasi
puisi bagi keduanya. Sedangkan Muzna (Henidar Amroe), sang
ibu, selalu berada di tengah-tengah, walau sebenarnya tidak setuju
dengan hubungan “terlarang” itu.
Film ini menegaskan akting Reza Rahadian yang “spesialis
bikin haru” (ingat Alangkah Lucunya Negeri Ini dan Emak Ingin
Naik Haji). Tidak kalah, Laura Basuki juga bermain apik. Jadi,
siap-siap untuk tertawa dan menangis. Sayup-sayup, terdengar
suara Rosid membacakan puisi Surat Kepada Bunda untuk ibunya.
Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.
Madina
3 Doa 3 Cinta
Jendela Dunia
Bernama Pesantren
N urman Hakim, sutradara yang santri itu,
membuat film tentang dunia yang pernah
diakrabinya. Hasilnya, sebuah jendela melihat Indonesia.
Film yang baik adalah film yang menawarkan gagasan dari
cerita di dalamnya, tempat kita dapat melihat banyak hal tentang
Indonesia. 3 Doa 3 Cinta adalah film semacam itu. Tergambar
sangat jelas sejak menit pertama, bahwa Nurman Hakim,
sutradara sekaligus penulis skenario, hendak menolak anggapan
bahwa Islam identik dengan kekerasan, lewat penggambaran
wajah Islam yang ramah dan tersenyum. Sebuah representasi dari
citra mayoritas umat Islam di Indonesia yang mulai tertutupi
dalam liputan media oleh pekikan kaum Islam garis keras yang
hiruk pikuk.
Adegan pertama film ini gamblang menggambarkan itu.
Dua orang kyai menafsirkan ayat yang “sensitif ”: “wa lan tardho
ankal yahudu wa laan-Nashara…” (“Tak akan rela orang Yahudi
dan Nasrani....”). Tokoh Romo kyai, pengasuh pondok pesantren
Al-Hakim menyatakan bahwa ayat itu hanya untuk kaum Yahudi
dan Nasrani yang memerangi kita. Sedangkan seorang kyai
56 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
radikal menyatakan bahwa itu adalah ayat perang. Dan isu itu pun
mewacana bersama kisah lainnya.
Tidak hanya lewat adegan berkata-kata, Nurman
menyingkap sisi kemanusiaan para santri dan ustadz lewat adegan
demi adegan, tanpa perlu menutup-nutupi kekurangan dan
kelemahan mereka. Misalnya, ada penggambaran pengajar atau
santri senior yang kemayu dan memang ternyata menyukai
sesama lelaki. Atau beberapa santri yang enggan dan mengantuk
bila mengaji dan salat Subuh. Atau saat santri pria ereksi di pagi
hari.
Pengalaman hidup sang sutradara tiga tahun nyantri di
Semarang membuat film ini berhasil menelusuri berbagai kisah di
pesantren. Menu utamanya adalah petualangan trio Huda
(Nicolas Saputra), Syahid (Yoga Bagus Satatagama), dan Rian
(Yoga Pratama) yang acap menyelinap keluar pesantren untuk
dugem di Pasar Malam.
Penonton bisa melihatnya dari sisi nilai-nilai keluarga.
Tentang Huda yang selalu bertanya mengapa ia “dibuang” ke
pesantren oleh ibunya, dan melakukan apapun untuk mencari
sang bunda, termasuk minta tolong cewek matre pedangdut amatir,
Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo). Rian berasal dari keluarga
berantakan akibat perceraian. Sedangkan Syahid yang berasal dari
keluarga miskin harus merawat sang ayah yang sakit keras dan
butuh banyak biaya, dan tak punya pilihan kecuali menjual sawah
mereka. Syahid pula yang paling tahan mengaji diam-diam pada si
kyai jihad, dan karena kepahitan hidupnya bersedia jadi calon
pembom bunuh diri.
Menarik juga memerhatikan kamera handycam hadiah ulang
tahun sang mama buat Rian. Kamera itulah yang merekam
banyak mozaik kegiatan, sepotong demi sepotong: dari
mengintip gadis salehah idola dari balik “tembok ratapan”, casting
Dona Satelit, hingga latihan militer kaum Islam militan.
Dikaitkan dengan klimaks yang tiba-tiba mengenaskan, rekaman-
<"#+"*%(+.#'%(4"&#%!%(/"-%#1&"# 57
rekaman itu seolah hendak mengkritisi anggapan bahwa apa yang
terekam dan terpampang pada layar kamera adalah realitas apa
adanya, sehingga dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Kritik ini diarahkan pada citra negatif serba gebyah uyah
tentang Islam dan kekerasan. Juga berbagai tayangan di televisi—
gosip, berita kriminal, dan lain-lain—yang secara epistemologis
diamini sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal, kamera
mengikuti gagasan orang yang memegangnya, yang menangkap
kenyataan sepotong-sepotong sesuai arahan sutradara atau
petunjuk skenario. Hasilnya, sebuah kesimpulan gegabah yang
mencerminkan kebodohan intel kita.
Banyak bagian dari film ini bekerja cukup baik. Bagian art,
khususnya, berhasil meyakinkan orang bahwa kisah ini
mengambil waktu beberapa bulan sebelum 11 September 2001
dengan memakai properti yang tepat, semacam uang kertas masa
itu, jam dinding berdesain bayi dengan slogan “No Problem”,
hingga logo “SCTV Ngetop” versi lawas. Djadug Ferianto juga
berhasil meracik musik-musik yang bersumber dari salawatan
tradisional (mengingatkan pada ilustrasi musik dalam Harimau
Tjampa-nya Djajakusuma, atau Al-Kautsar karya Chaerul Umam/
Asrul Sani) sehingga berhasil memperkuat atmosfer pesantrenan.
Film ini mengobati rindu keterwakilan umat Islam
tradisional dan pesantren di pentas film nasional. Sudah lama film
Indonesia yang bermutu tidak mengangkat kehidupan di
pesantren, apalagi pesantren tradisional seperti Tebuireng atau
Pabelan. Paling tidak, Pabelan menjadi tempat syuting setelah
sekitar 30 tahun sebelumnya dipakai untuk Al-Kautsar.
Pengakuan mutu juga melekat pada film ini. Ia terpilih ikut
serta di Festival Film Pusan. Juga, dari tujuh nominasi FFI 2008,
Yoga Pratama mendapat Piala Citra untuk kategori Pemeran
Pembantu Pria Terbaik. Tak buruk untuk sebuah film yang sangat
kental menampilkan dunia pesantren yang selama ini tercitrakan
kumuh, terbelakang, dan malah kadang dianggap “sarang teroris”.
ESQ Life
Februari 2018
Film Genre
Rasa Islam
F ilm Horor Islami? Memangnya ada? Pertanyaan
ini acap diucapkan. Kalau mau diperluas lagi:
adakah, atau mungkinkah, film bernuansa islami dengan genre
populer seperti horor atau science fiction, atau bahkan western
(koboi)?
Pasalnya, biasanya istilah “Film Islam” selalu diidentikkan
dengan genre drama atau melodrama, baik untuk segala umur
atau dewasa, biasanya yang mengandung nilai-nilai inspiratif atau
motivasional. Atau biopic tokoh seperti Hasyim Asy’ari (Sang
Kiai), Ahmad Dahlan (Sang Pencerah), Agus Salim (Moonrise Over
Egypt), dan Tjokroaminoto (Guru Bangsa Tjokroaminoto). Seolah-
olah pembuat Film Islami kurang mengeksplorasi genre-genre
populer, katakanlah film laga atau fantasi. Selain itu, cerita-cerita
Islami dari sumber-sumber utama (baik metafora atau pun kisah
nabi atau hikmah lainnya) juga jarang diangkat.
Agama lain, misalnya Kristen, cukup sering mengangkat
kisah-kisah biblikal. Misalnya, tentang Sepuluh Wabah di Mesir
saja ada banyak versi, mulai dari yang klasik dan berdasarkan
kisah Nabi Musa (seperti karya klasik The Ten Commandments)
hingga yang horor seperti The Reaping (2017). Atau film
)'*!(0"#&"(&%-%('-*%! 59
petualangan/keluarga dan laga seperti Die Hard dan Home Alone
yang diakhiri dengan perayaan Natal. Atau betapa kisah-kisah
pengusiran setan (exorcism) selalu melibatkan pendeta.
Bagaimana dengan film bernuansa Islami di Indonesia dan
sekitarnya? Adakah yang bergenre populer?
Dr. Saiful Bahri MA., ustadz muda lulusan Kajian Alquran
Universitas al-Azhar punya metode menarik terkait penafsiran
Alquran. Dalam acara Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya
(KIBAR) pada tanggal 11 November 2011 di Sheffield, ia
mengkaji kisah Nabi Musa dengan pendekatan bahasa audio-
visual yang sangat kuat. Bahkan saat mengulas surat Al-Falaq, dia
menggarisbawahi bahwa surat pendek ini “bergenre” horor,
karena berkisah tentang tukang sihir, tenung, dan kejahatan
malam. Dengan pendekatan ini, imajinasi saya, saat
mendengarkan, langsung mengaitkan kisah Ashabul Kahfi yang,
sepertinya, boleh jadi bisa dikategorikan bergenre sci-fi karena
bercerita tentang perjalanan waktu dan bertemu dengan
peradaban futuristik. Artinya, sesungguhnya ada potensi
mengangkat kisah islami, termasuk dalam referensi utama
khazanah keislaman, menjadi bahasa audio visual dalam
pendekatan popular. Sebelum membahas lebih lanjut, kita kaji
sedikit definisi “Film Genre” dan “Film Islami”.
ì Film Genreî dan ì Film Islamiî
”Genre” adalah pengulangan ciri dan pola serta tema dan motif
yang sama atau familiar. Menurut laman Filmsite.org, “film genre”
adalah sebuah kategorisasi film-film yang punya pakem, format,
tipe, gaya yang ciri yang sama. Jadi, agak ganjil kalau film terbaik
Oscar tahun 2018, The Shape of Water, dibilang meniru film
bergenre sama seperti Let Me Hear You Whisper, The Shape
Between Us, atau Splash.
60 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
Selama ini kita mengenal genre seperti laga, fantasi, sci-fi,
misteri, komedi, olahraga, pahlawan super, dan masih banyak lagi.
Untuk sci-fi saja, ada bermacam-macam, mulai dari film monster,
perjalanan antar ruang dan waktu, alien dan ruang angkasa,
hingga dunia futuristis. Dan tidak tertutup kemungkinan ada
percampuran antar genre.
Sedangkan definisi “Film Islam” atau “Film Islami” juga
bermacam-macam. Tapi, untuk tulisan ini, saya akan merujuk
pada kisah-kisah yang menceritakan komunitas muslim dengan
permasalahannya yang khas, seperti ibadah, syariat, dan akhlak.
Horor
Di era Orde Baru, film-film hantu biasanya diakhiri dengan
kemunculan ulama atau tokoh agama lain yang mengalahkan
setannya. Setelah Reformasi, peran kyai dan agama dihilangkan,
karena sineas kita terinspirasi horor Jepang, Korea, dan Thailand
yang lebih menekankan visual horror (horor melalui penampakan
dan desain suaranya), bukan narrative horror (horor karena
ceritanya).
Film horor dengan unsur keislaman yang kuat ada pada film
Malaysia, Munafik (2016). Di sini, metode ruqyah yang syar’i
dipraktikkan untuk mengatasi kesurupan. Untuk pertama kalinya
diketengahkan satu sosok yang ada dalam kisah-kisah keislaman
menjelang kiamat, yaitu Dajjal, yang di Barat disebut dengan
Antichrist. “Satu lagi hamba Allah yang akan datang. Dia adalah
keturunan Iblis dan dia akan sesatkan umat Rasulullah dan
berpaling dari Alquran. Dia adalah… Dajjaaaal!”. Satu lagi
problematika khas seorang muslim adalah bagaimana susahnya
menerima suratan takdir yang sangat pahit, walau pun ia seorang
ustad. Film ini dibuat dengan biaya 5 milyar rupiah dan mendapat
keuntungan hingga 62 milyar. Salah satu faktor kesuksesannya,
)'*!(0"#&"(&%-%('-*%! 61
saya duga, adalah kedekatan cerita dengan keseharian
penontonnya.
Di Indonesia, ada beberapa film tentang kesurupan, namun
sedikit yang memakai metode ruqyah secara gamblang. Salah
satunya, lepas dari urusan kualitas, adalah Ruqyah: The Exorcism
(2017) dibesut oleh pembuat Jelangkung, Jose Purnomo.
Spesialiasi di film horor membuat Jose paham dengan bahasa
audio visual horror khas Asia. Klaim “diangkat dari kisah nyata”
ditujukan untuk membuat penonton merasakan kedekatan
dengan cerita.
Thriller Religi
Thriller adalah saudara dekat horor: sama-sama membuat
penontonnya merasakan campur aduk emosi bak naik rollercoaster.
Biasanya, ceritanya mengajak penonton berteka-teki memecahkan
misteri yang terkait kriminal atau spionase. Pesantren Impian (Ifa
Isfansyah, 2016) adalah film pertama yang mengklaim bergenre
“thriller religi” di Indonesia. Diangkat dari novel Asma Nadia, film
berkisah tentang sepuluh wanita dengan berbagai latar belakang
yang mendapatkan undangan misterius untuk menetap di
Pesantren Impian, di sebuah tempat terpencil. Gus Budiman,
pendirinya, menyatakan tujuannya untuk memberikan
rehabilitasi bagi para peserta yang punya masa lampau yang
kelam. Dan terjadilah serentetan kematian misterius yang
meneror para santriwati ini.
Laga/Silat
Islam dan silat bak dua sisi mata uang yang sama. Surau dan Silek
(Arief Malinmudo, 2017) adalah buktinya. Film ini kental dengan
62 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
salat, silek (silat), dan salawat. Selain itu, ada unsur olahraganya
(seperti pola Karate Kid), berlatar sebuah kompetisi atau
pertandingan. Ada juga unsur keluarga yang menggali makna
silek, budaya Minang, dan keislaman. “Lahir mencari teman, batin
mencari Tuhan”, itu prinsipnya. Film berfokus pada Adi, anak
yatim yang ingin menjadi anak saleh dan mendoakan almarhum
ayahnya. Dan ia ingin memenangkan pertandingan silat dari
Hardi, yang sebelumnya mengalahkannya dengan cara curang.
Namun, berbagai rintangan menghalanginya, dari mencari guru
pengganti hingga jadwal yang bentrok dengan ujian sekolah.
Sebelumnya ada film Yasmine (2014), hasil kerjasama
Brunei, Indonesia, dan Malaysia. Juga Merantau (2009), film
pertama sutradara The Raid, Gareth Evans, walau pesannya lebih
universal dan tidak langsung mengutip ajaran Islam.
Futuristik
Film dengan latar masa depan masih sedikit diproduksi di
Indonesia, apalagi yang bernafaskan Islam. Di Malaysia,
kelompok nasyid Raihan membuat film Syukur 21 (2001) yang
berlatar tahun 2021. Digambarkan, masa depan yang tak jauh itu
dihiasi oleh berbagai gawai dan teknologi canggih. Film 3: Alif
Lam Mim (Anggy Umbara, 2015) adalah contoh dari perpaduan
antara film futuristik dengan laga. Berlatar Jakarta di tahun 2036
yang kembali tentram setelah berakhirnya perang saudara di
tahun 2026. Kisahnya tentang Alif, Lam, dan Mim, sahabat sejak
berguru di padepokan silat Al-Ikhlas, yang mempunyai jalannya
masing-masing: menjadi aparat negara, pengurus padepokan yang
dicurigai terkait aksi terorisme, dan jurnalis. Ketiganya
dipertemukan kembali setelah ledakan bom di sebuah kafe.
)'*!(0"#&"(&%-%('-*%! 63
Komedi (Romantis)
Cukup banyak film bergenre komedi yang berbalut Islam. Salah
satunya adalah dwilogi Bukan Cinta Biasa (Benny Setiawan, 2009
dan 2011) yang mengisahkan hubungan ayah dengan putrinya.
Sang ayah tidak sadar kalau ia punya anak, karena masa lalunya
sebagai rocker dan penuh pergaulan bebas. Pertemuannya dengan
sang anak yang sudah remaja itu membuatnya berubah sedikit
demi sedikit karena “tausyiah” sang anak, di samping ia juga mau
menjadi panutan bagi putrinya. 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta yang
sempat saya ulas di artikel sebelumnya, adalah salah komedi religi
terbaik Indonesia dan diganjar Piala Citra, termasuk Film dan
Sutradara Terbaik.
Yang cukup terbaru adalah komedi romantis Insya Allah Sah
(2017), masih dari sutradara yang sama. Saya termasuk yang
kurang sreg dengan cerita dan penokohannya karena bagi saya
Raka—tokoh utamanya yang seharusnya mendapat simpati
penonton—adalah sosok yang terlalu kepo (ingin tahu urusan
orang), sotoy (sok tahu), dan ceriwis dalam mencampuri akhlak
orang lain, seolah-olah tidak ada pekerjaan lain yang lebih
penting. Lepas dari itu, film ini laku, dan ada sekuelnya.
Islam Indonesia
5 Mei 2014
Festival Film Santri 2013
Kartu Pos dari
10 Pesantren
Ketidaktahuan adalah sumber dari
ketidakmengertian, dan itu berujung pada
sikap saling curiga serta memusuhi. Terkait
konteks tersebut, Festival Film Santri
merupakan ajang yang sangat penting.
L ima tahun lalu, pernah digelar suatu ajang yang
bertajuk Festival Film Santri 2013 (FFS 2013).
Kendati ajang ini sudah berlalu, namun saya melihat FFS 2013
sangat penting dan masih relevan hingga saat ini. Bahkan
sepertinya akan terus menjadi isu signifikan, selama dinamika
dan dialog antara agama dan budaya masih berlangsung.
Ada beberapa faktor yang menjadikan FFS 2013 memiliki
posisi penting. Pertama, konten FFS 2013 memiliki muatan
toleransi dan koeksistensi serta menghargai keragaman. Kedua,
penggagasnya adalah para santri, sehingga penonton secara
langsung tak langsung mendapatkan gambaran mengenai isi
kepala “orang pesantren”, yang kadang dianggap sarang teroris
dan label negatif lainnya. FFS 2013 juga menjadi cermin
bagaimana para santri memahami pluralitas dan perbedaan.
Ketiga, film-film yang ada dalam FFS 2013 bisa menjadi duta dan
representasi ke dunia internasional bahwa masih sangat banyak
3 %&1.(/;-(+%&'(8?(/"-%#1&"# 65
pesantren yang membawa visi dan misi perdamaian, koeksistensi,
dan toleransi.
Alhamdulillah, dalam suatu kesempatan, Suraji, Program
Officer dari Search for Common Ground/SFCG, mengatakan
kepada saya bahwa festival ini akan diselenggarakan bukan hanya
tahun ini saja. Rencananya FFS akan menjadi ajang tahunan yang
dikelola lebih baik lagi.
FFS ini dibuat berkat kerja sama antara SFCG, The Wahid
Institute, dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat (P3M). Mereka mendatangi beberapa pesantren,
menggelar lokakarya pembuatan film dokumenter selama tiga
hari, dan mengundang para peserta untuk mengikuti perlombaan
film pendeknya. Hasilnya, sebagai ajang perdana dan dibuat oleh
pegiat amatir yang baru belajar produksi, cukup luar biasa. Ada 21
film yang dikirim, lantas mengerucut menjadi 10 besar, dan
akhirnya terpilihlah 3 film terbaik. Tiga film pilihan dewan juri
itu adalah Kuda Lumping (Juara 1), Tata Cara Tante Cora (juara
2), Mimpi Sang Santri Mujaji (Juara 3). Namun ketujuh film
lainnya tak kalah penting. Dewan juri terdiri dari Endah
Sulistianti (Direktur Eagle Award Program MetroTV). Kisno
Ardi (pegiat dokumenter dari Yogyakarta), dan Ian White
( filmmaker yang punya reputasi internasional). Kesepuluh
pesantren itu adalah Ponpes As-Shidiqiyah (Tangerang),
Qothrotul Falah (Lebak), Al-Ghazali (Bogor), Baitul Hikmah
(Tasikmalaya), Raudlatul Banat (Cirebon), Al-Ihya Ulumuddin
(Cilacap), Al-Muayyad (Surakarta), Darul Ma’Arif (Lamongan),
Nahdlatul Ulum, (Maros, Sulawesi Selatan), dan Pesantren
Sabilul Hasanah (Banyuasin, Sumatera Selatan).
Kuda Lumping karya tim Pesantren Sabilul Hasanah,
Banyuasin, Sumatera Selatan, berkisah tentang Susi, santriwati
dari Jawa yang dulunya adalah penari kuda lumping. Film ini
bercerita tentang dinamika interaksi antara ajaran Islam dengan
budaya lokal yang dianggap kurang islami (karena ada aksi
66 >9()'*!(!%+%#'(+%#(&"/&"-"#1%-'(!.-*'!('#+;#"-'%
kesurupan dan mabuk-mabukan). Selain Susi, beberapa
narasumber juga dihadirkan untuk menjelaskan dialog kultural
ini.
Film terbaik kedua, Tata Cara Tante Cora (tim Pesantren
Nahdlatul Ulum, Maros, Sulawesi Selatan) menggarisbawahi
hubungan harmonis dua mazhab Islam, khususnya antara ajaran
pesantren dengan aliran yang dianut Tante Cora, si ibu pemilik
kantin. Tante Cora adalah anggota jamaah Tarekat Khalwatiyah
yang dikatakan mempunyai beberapa perbedaan. Tak hanya
melihat kedua sisi, tim produksi film juga mengambil gambar
adegan ritual kelompok sufistik itu.
Pemenang ketiga, Mimpi Sang Santri Mujaji ini kocak dan
sangat dekat dengan keseharian banyak orang. Adalah seorang
Ahmad Mujaji yang bermimpi untuk menjadi seperti K.H.
Zainuddin MZ, tapi acap di-bully teman-temannya karena perkara
fisik (sakit mata dan sakit kulit). Sang sutradara mewawancarai
kedua belah pihak. Yang menarik, berbagai ejekan fisik itu tak
membuat Mujaji jatuh mental dan terpancing emosinya. Hal
“seolah remeh tapi serius” ini menegaskan bahwa santri juga
manusia yang tak lepas dari hal-hal buruk.
Film lainnya tak kalah menarik, yang semuanya membahas
tentang semangat toleransi dan upaya saling memahami dan
menghargai. Favorit saya adalah Satu Alamat dan Santri Punk.
Satu Alamat berawal dari Nisa, santriwati asal Pesantren Al-
Muayyad, Solo, yang menemukan hal menarik: sebuah masjid dan
gereja yang tidak hanya berdampingan, tapi juga berbagi
alamat. Itulah Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ)
Joyodiningratan. Mereka saling menghargai dan memutuskan
meniadakan bedug dan lonceng. Yang menarik lagi, para
santriwati berjilbab itu masuk ke dalam gereja pertama kali dan
mengamati ibadah ritual di sana. “Dan itu keren!” kata mereka.
Peserta lain yang juga punya pengalaman masuk gereja
pertama kali adalah Ilham Kurniawan dari Pesantren Al-Ghazaly,