MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
DI SEKOLAH DASAR
Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan
1. prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata
tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. (Pasal 1 ayat [1]).
2. Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 2.
memiliki hak ekonomi untuk melakukan: a. Penerbitan ciptaan; b. Penggandaan
ciptaan dalam segala bentuknya; c. Penerjemahan ciptaan; d. Pengadaptasian,
pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan; e. pendistribusian ciptaan
atau salinannya; f. Pertunjukan Ciptaan; g. Pengumuman ciptaan; h. Komunikasi
ciptaan; dan i. Penyewaan ciptaan. (Pasal 9 ayat [1]).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang 3. Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/
atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (Pasal 113 ayat [3]).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) yang 4. dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). (Pasal 113 ayat [4]).
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
DI SEKOLAH DASAR
Jusmawati, S.Pd., M.Pd.
Satriawati, S.Pd., M.Pd.
Irman R, S.Pd., M.Pd.
Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd.
Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar
© Jusmawati, dkk.
viii + 96 halaman; 15.5 x 23 cm.
ISBN: 978-623-261-137-5
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh
isi buku ini dalam bentuk apapun juga tanpa izin tertulis dari penerbit.
Cetakan I, November 2020.
Penulis : Jusmawati, S.Pd., M.Pd.
Satriawati, S.Pd., M.Pd.
Editor Irman R, S.Pd., M.Pd.
Sampul Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd.
Layout Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd.
: Akhiruddin, S.Pd., M.Pd.
: M. Hakim
: Chairi
Diterbitkan oleh:
Penerbit Samudra Biru (Anggota IKAPI)
Jln. Jomblangan Gg. Ontoseno B.15 RT 12/30
Banguntapan Bantul DI Yogyakarta
Email: [email protected]
Website: www.samudrabiru.co.id
WA/Call: 0812-2607-5872
PRAKATA
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, berkat petunjuk dan kehendak-Nya jualah sehingga buku
yang berjudul Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar dapat
terwujud di depan pembaca. Salam dan taslim semoga tercurahkan
kepada para Nabi, para Rasul, dan keluarganya serta orang-orang
yang salih, dan secara khusus kepada Nabi Muhammad SAW, Rasul
Allah yang telah berjihad dalam upaya menyebarkan kebenaran
dan mengamalkan kebajikan. Jihad dalam hal ini mengandung
arti yang luas, tidak hanya berperan secara fisik, tetapi juga
segala upaya yang dilakukan manusia demi kemaslahatan umat
yang dilandasi keikhlasan dan hanya mengharap rida Allah SWT,
termasuk menulis dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, Insya
Allah.
Dalam era industrialisasi, bangsa Indonesia membulatkan
tekadnya untuk mengembangkan budaya belajar yang menjadi
prasyarat berkembangnya budaya ilmu pengetahuan dan tek-
nologi.
Buku ini berisikan model-model pembelajaran yang baik
diterapkan di sekolah dasar, buku ini disusun untuk membantu
dalam memahami pengetahuan keaktifan belajar. Dalam buku
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar v
ini tidak sedikit hambatan yang tim penulis hadapi, namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan buku
ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang
tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga buku ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca.
Tentunya, tiada gading yang tak retak, sejumlah kelemahan
tentu melekat di dalam penulisan ini. Dengan penuh suka hati
dan tangan terbuka penulis menanti kritik dan saran dari pada
handai taulan, para pemikir dan pemerhati pendidikan terhadap
segala salah, cacat, dan cela buku ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa selalu membimbing kita semua dalam meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia.
Makassar, 14 September 2020
Penulis
vi Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
DAFTAR ISI
PRAKATA............................................................................................. v
DAFTAR ISI...................................................................................... vii
BAB I
PEMBELAJARAN................................................................................. 1
A..Belajar .................................................................................................1
B..Pembelajaran.................................................................................... 5
C.. Ciri–Ciri Pembelajaran..................................................................13
BAB II
HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK.................................................... 15
A.. Hasil Belajar.....................................................................................15
B.. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik....................17
C.. Unsur-Unsur Hasil belajar............................................................18
D.. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar.................20
BAB III
MODEL PEMBELAJARAN.................................................................23
A.. Pengertian Model Pembelajaran................................................ 23
B.. Jenis-Jenis Model Pembelajaran................................................ 25
BAB IV
METODE PEMBELAJARAN............................................................... 51
A.. Pengertian Metode Pembelajaran...............................................51
B.. Macam-Macam Metode Pembelajaran..................................... 52
C.. Fungsi Metode Belajar..................................................................62
D.. Tujuan Metode Pembelajaran..................................................... 63
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar vii
BAB V
MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING........................................ 65
A.. Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem Solving.65
B.. Indikator Model Pembelajaran Creative Problem Solving...66
BAB VI
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA........................77
A..Pakemi.............................................................................................. 79
B..CTL.................................................................................................... 79
C.. Metode Collaborative Learning..................................................80
D.. Metode Quantum Learning..........................................................80
E.. Metode Realistic Mathematics Education (RME)....................81
DAFTAR PUSTAKA............................................................................83
INDEKS..............................................................................................85
TENTANG PENULIS.......................................................................... 91
viii Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
BAB I
PEMBELAJARAN
A. Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks karena melibatkan
ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Kompleksitas
belajar tersebut dapat berasal dari dua subjek yaitu guru dan
siswa. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, yakni
proses mental dalam menghadapi bahan pembelajaran dalam
berbagai keadaan. Dari segi guru, proses belajar adalah perilaku
belajar tentang suatu hal.
Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang di
tandai dengan adanya perubahan pada individu baik dari bentuk
perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap atau tingkah laku,
keterampilan, kecakapan, mental, kemampuan dan aspek–aspek
lainnya yang ada pada individu belajar.
Kata belajar Menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2011 : 5)
adalah “proses perubahan tingkah laku pada peserta didik akibat
adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui
pengalaman dan latihan”. Perubahan ini terjadi secara menyeluruh,
menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 1
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 9), Beberapa ahli
psikologi dan pendidikan telah mendefinisikan belajar sebagai
berikut :
1. Skinner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku,
pada saat orang belajar, maka responnya akan lebih baik.
Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun,
guru memperhatikan stimulus yang diskriminatif dan
penggunaan penguatan.
2. Gagne berpendapat bahwa belajar adalah proses kognitif
yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati
pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
3. Belajar menurut Piaget meliputi tiga fase yaitu fase
eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep
(Dimyati dan Mudjiono, 2006 :13-14) berpendapat bahwa
Pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu
melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan.
Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan
adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek
semakin berkembang.
Menurut Jihad Asep dan Haris Abdul (2012:2), Beberapa ahli
psikologi dan pendidikan telah mendefinisikan belajar sebagai
berikut:
1. Menurut Sudjana 1996 (Jihad Asep dan Haris Abdul, 2012: 2)
“Balajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil
proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk
seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan
tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta
2 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
perubahan aspek-aspek yang ada pada indivudu yang
belajar” .
2. Menurut Slameto 2003 (Jihad Asep dan Haris Abdul,
2012: 3) mengemukakan bawa belajar merupakan
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Baharuddin (2015:20) mendefenisikan proses “belajar adalah
serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang
sedang belajar”. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi
secara mental dan tidak dapat diamati. Oleh karena itu proses belajar
hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang
yang berbeda dengan sebelumnya. Perubahan perilaku tersebut bisa
dalam hal pengetahuan, afektif, maupun psikomotoriknya.
Menurut Skinner ( 1985 ) memberikan definisi belajar adalah
“Learning is a process of progressive behavior adaption”. Yaitu
bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang
bersifat progresif.
Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 ) memberikan
definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as
a result of practice”. Ini berarti bahwa – bahwa belajar membawa
perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat
dari latihan (practice).
Dalam bukunya Walker “Conditioning and instrumental
learning” ( 1967 ). Belajar adalah perubahan perbuatan sebagai
akibat dari pengalaman. Perubahan orang dapat memperoleh, baik
kebiasaan–kebiasaan yang buruk maupun kebiasaan yang baik.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 3
C.T. Morgan dalam introduction to psychology ( 1961 ). Belajar
adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku
sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu.
Sementara itu, Darsono (2000: 14) mengemukakan bahwa
belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada individu
berkat adanya interaksi antara individu dengan yang lain, di
antara individu dengan lingkungannya. Faktor lingkungan sangat
mempengaruhi dalam proses belajar. Perubahan tingkah laku
seseorang terjadi akibat interaksi dengan orang lain. Proses belajar
pada anak sangat dipengaruhi dari pihak keluarga, pergaulan
sekolah, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya
dengan lingkungan” (Ibrahim dan Syaodih, 1996 :3).
Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses
mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu,
proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui
berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami
sesuatu yang dipelajari.
Berdasarkan pendapat para ahli maka dapat disimpulkan
bahwa belajar merupakan suatu perubahan pengetahuan,
keterampilan, kecakapan, kebiasaan, sikap dan tingkah laku
sebagai hasil pengalamannya sendiri. Seseorang yang belajar maka
responnya akan lebih baik.
4 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
Adapun ciri-ciri belajar sebagai berikut:
1. Adanya kemampuan baru atau adanya perubahan tingkah
laku bersipat pengetahuan (kognitif) keterampilan
(psikomotorik), maupun nilai dan sikap (apektif)
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan
mantap atau dapat disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus
dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan
lingkungan
4. Perubahan tidak semata-mata oleh pertumbuhan pisik/
dewasa, tidak karena kelelahan, penyakit ataupun
pengaruh obat-obatan.
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang
menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas belajar,
yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan
sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa.
tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku
yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya
proses belajar.
B. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik
agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran
adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 5
Salah satu pengertian pembelajararan dikemukakan oleh
Gagne (1977) yaitu pembelajaran adalah seperangkat peristiwa-
peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa
proses belajar yang bersifat internal. Lebih lanjut, Gagne (1985)
mengemukakan teorinya lebih lengkap dengan mengatakan bahwa
pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi
eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan,
mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat
dalam setiap peristiwa belajar.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip
dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi
yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar
peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga
mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif),
juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif),
serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik,
namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai
pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan
pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar
dengan peserta didik.
Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari
motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang
memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang
mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada
keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat
diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui
proses belajar.
Pengertian Pembelajaran akan dibahas mengenai definisi
dan pengertian pembelajaran secara umum dan menurut para
6 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
ahli. Pengertian pembelajaran secara umum adalah proses
interaksi antara peserta didik atau siswa dengan pendidik atau
guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang
meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Definisi
pembelajaran juga bisa diartikan sebagai suatu proses oleh guru
atau tenaga didik untuk membantu murid atau peserta didik agar
dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran memiliki makna yang berbeda dengan
belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun
oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang
dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat
meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan
baru.
Pembelajaran juga menjadi sebuah upaya meningkatkan
penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Hal ini tentu
berbeda dengan pengertian belajar, yang dapat diartikan sebagai
sebuah upaya untuk memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih,
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman.
Bisa disimpulkan bahwa definisi pembelajaran adalah
sebuah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik.
Sedangkan definisi lain menyatakan bahwa pembelajaran
merupakan sebuah bantuan yang diberikan pendidik agar dapat
terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan
pada peserta didik.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 7
Pengertian Pembelajaran Menurut Para Ahli Pendidikan
selengkapnya:
1. Menurut Gagne (1977)
Pengertian pembelajaran menurut Gagne adalah seperangkat
peristiwa-peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung
beberapa proses belajar yang bersifat internal.
2. Menurut Munif Chatib
Pembelajaran merupakan proses tranfer ilmu dua arah,
antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima
informasi.
3. Menurut Warsita
Arti pembelajaran menurut Warsita merupakan suatau usaha
untuk membuat peserta didik belajar atau suatu kegiatan untuk
membelajarkan peserta didik.
4. Menurut Gagne dan Briggs (1979)
Pengertian pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan
untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian
peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk
mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa
yang bersifat internal.
5. Menurut Sugandi, dkk (2004)
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction
yang berarti self instruction (dari internal) dan external instructions
(dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat eksternal antara lain
datang dari guru yang disebut pengajaran. Dalam pembelajaran
yang bersifat eksternal, prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya
akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran.
8 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
6. Menurut Achjar Chalil
Menurut Chalil, pembelajaran merupakan suatu proses
interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar.
7. Menurut UU No. 20 Tahun 2003
Pengertian pembelajaran menurut Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
8. Menurut David Ausubel
Teori belajar yaitu teori belajar bermakna, belajar dapat
diklasifikasikan dalam dua dimensi yaitu: Dimensi yang
berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran
disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan.
Dan dimensi yang menyangkut cara bagaimana siswa dapat
mengabaikan informasi pada struktur kognitif yang ada. Struktur
kognitif adalah fakta, konsep, dan generalisasinya yang telah
dipelajari dan diingat siswa.
9. Menurut G.A Kimbleg
Pengertian pembelajaran menurut Kimbleg adalah sebuah
perubahan kekal secara relatif dalam keupayaan kelakukan akibat
latihan yang diperkukuh.
10. Menurut Syaiful Sagala (2009)
Pengertian pembelajaran adalah membelajarkan siswa
menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang
merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak
guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta didik.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 9
11. Menurut Corey
Pengertian pembelajaran adalah suatu proses dimana
lingkungan seeorang secara disengaja dikelola untuk memung-
kinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus
atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
12. Menurut Sudjana
Definisi pembelajaran menurut Sudjana dapat diartikan
sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk
menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatif antara dua
pihak yaitu antara peserta didik sebagai warga belajar dan pendidik
sebagai sumber belajar yang melakukan kegiatan membelajarkan.
13. Menurut Rahil Mahyuddin
Pengertian pembelajaran adalah perubahan tingkah laku
yang melibatkan ketrampilan kognitif yaitu penguasaan ilmu dan
perkembangan kemahiran intelek.
14. Menurut Briggs
Arti pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang
mempengaruhi belajar sedemikian rupa sehingga si belajar itu
memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan
lingkungan.
15. Menurut Oemar Hamalik
Pembelajaran merupakan kombinasi yang tertata meliputi
segala unsur manusiawi, perlengkapan, fasilitas, prosedur yang
saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan dari pembelajaran.
Terdapat tiga rumusan yang dianggap penting tentang
pembelajaran yaitu:
10 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
a. Pembelajaran merupakan upaya dalam mengorgani-
sasikan lingkungan pendidikan untuk menciptakan
situasi dan kondisi belajar bagi siswa.
b. Pembelajaran merupakan upaya penting dalam
mempersiapkan siswa untuk menjadi warga masyarakat
yang baik dan diharapkan.
c. Pembelajaran merupakan proses dalam membantu siswa
untuk menghadapi kehidupan atau terjun di lingkungan
masyarakat.
16. Menurut Dimyati dan Mudjiono
Pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terprogram
dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar aktif,
yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
17. Menurut Trianto
Definisi pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia
yang kompleks yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.
Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk
interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman
hidup. Sedangkan pembelajaran dalam makna kompleks adalah
usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya
“mengarahkan interaksi siswa dengan sumber lainnya” dalam
rangkan mencapai tujuan yang diharapkan.
18. Menurut Knowles
Pengertian pembelajaran menurut Knowles adalah suatu
cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 11
19. Menurut Arifin (2010)
Pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang
sistematis dan sistemik yang bersifat interaktif dan komunikatif
antara pendidik (guru) dengan siswa, sumber belajar, dan
lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan
terjadinya tindakan belajar siswa.
20. Menurut Sanjaya (2011)
Definisi pembelajaran menurut Sanjaya merupakan suatu
sistem yang kompleks yang keberhasilannya dapat dilihat dari
dua aspek yaitu aspek produk dan aspek proses. Keberhasilan
pembelajaran dilihat dari sisi produk adalah keberhasilan siswa
mengenai hasil yang diperoleh dengan mengabaikan proses
pembelajaran.
21. Menurut Slavin
Pembelajaran didefinisikan oleh Slavin sebagai sebuah
perubahan tingkah laku individu yang disebabkan oleh
pengalaman.
22. Menurut Woolfolk
Menurut Woolfolk, pembelajaran berlaku apabila sesuatu
pengalaman secara relatifnya menghasilkan perubahan kekal
dalam pengetahuan dan tingkah laku.
23. Menurut Crow & Crow
Pengertian pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses
pemerolehan tabiat, pengetahuan dan sikap.
24. Menurut Komalasari (2013)
Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses
membelajarkan pembelajar yang direncanakan, dilaksanakan
12 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
dan dievaluasi secara sistematis agar pembelajar dapat mencapai
tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.
25. Menurut Syah (2010)
Pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah upaya yang
dilakukan seseorang agar orang lain belajar.
26. Menurut Wikipedia
Pengertian pembelajaran menurut situs Wikipedia adalah sebuah
proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
C. Ciri–Ciri Pembelajaran
Terdapat beberapa ciri-ciri dan karakteristik menurut
Sugandi, dkk (2000) di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan
secara sistematis.
2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan
motivasi siswa dalam belajar.
3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang
menarik dan menantang bagi siswa.
4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar
yang tepat dan menarik.
5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang
aman dan menyenangkan bagi siswa.
6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima
pelajaran baik secara fisik maupun psikologis.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 13
14 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
BAB II
HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
A. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan tujuan yang akan dicapai dari
suatu kegiatan pembelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah peserta didik yang
berhasil menguasai kompetensi yang diharapkan. Parta (2011)
berpendapat sama bahwa hasil belajar yang dicapai peserta didik
dapat dikelompokkan dalam tiga katagori, yaitu domain kognitif,
afektif, dan psikomotor. Secara lebih terperinci dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1. Domain kognitif terdiri dari: pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehension), aplikasi atau penggunaan
prinsip atau metode pada situasi yang baru, analisis,
sintesis dan evaluasi.
2. Domain kemampuan sikap (affective) terdiri dari me-
nerima atau memperhatikan, merespons, penghargaan,
mengorganisasikan dan mempribadi (mewatak).
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 15
3. Domain Psikomotorik terdiri dari: menirukan, manipu-
lasi, keseksamaan (precision), artikulasi (articulation) dan
naturalisasi.
Pendapat di atas senada dengan pendapat Benyamin S.
Bloom bahwa tiga ranah (domain) hasil belajar adalah kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa
ranah kognitif (berpikir) berkenaan dengan hasil belajar
intelektual (olah pikir) dari sederhana sampai yang kompleks.
Bloom mengklasifikasikan tujuan kognitif dalam enam jenjang,
yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension),
aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan
evaluasi (evaluation). Dijelaskan juga bahwa pada tahun 2001 Lorin
Anderson dan Krathwohl merevisi enam jenjang tujuan kognitif
tersebut menjadi kemampuan mengingat (remember), memahami
(understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze),
mengevaluasi (evaluate), dan berkreasi (create), yang selanjutnya
lebih dikenal dengan revisi taksonomi Bloom.
Hasil belajar adalah hasil dari siswa setelah melakukan
serangkaian kegiatan belajar yang kemudian dievaluasi dengan
ujian. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar
siswa berupa nilai.
Menurut Sudirman (2014:46) Hasil belajar adalah
kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar
individu dalam belajar.
Menurut Sudjana (2001:22) mengemukakan bahwa hasil
belajar adalah:
16 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan
mengetahui prestasi belajar siswa, seorang guru dapat menentukan
kedudukannya dalam kelas, apakah siswa tersebut termasuk
kedalam kategori siswa yang pandai, sedang atau kurang.
Sedangkan menurut Eko Putro Widoyoko (2009:1),
mengemukakan bahwa hasil belajar terkait dengan pengukuran,
kemudian akan terjadi suatu penelitian dan menuju evaluasi baik
menggunakan tes maupun non-tes. Pengukuran, penilaian dan
evaluasi bersifat hirarki. Evaluasi didahului dengan penilaian
(Asessment), sedangkan penilaian didahului dengan pengukuran.
Berdasarkan pengertian hasil belajar diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup ranah afektif,
kognitif dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui
kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data
pendidikan yang akan menunjukan tingkat kemampuan siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
B. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik
Jika pada prinsip belajar antara lain belajar harus menjangkau
banyak segi, baik segi penerapan konsep, pemahaman konsep,
menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan
konsep, hasil belajar diperoleh berkat pengalaman melakukan
suatu kegiatan dan belajar merupakan suatu kegiatan yang
mempunyai tujuan yang sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh
setiap Peserta didik maka dalam kegiatan belajar Peserta didik
harus memenuhi prinsip-prinsip belajar tersebut dengan cara
misalkan menggunakan metode dan media yang menarik yang
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 17
sesuai dengan materi dan keadaan Peserta didik, yang dapat
merangsang Peserta didik untuk belajar dengan aktif tanpa
paksaan dan tanpa merasakan kejenuhan saat belajar, sehingga
belajar seperti terasa bermain, dan setiap Peserta didik dapat ikut
serta secara aktif belajar didalamnya.
Terlebih lagi pada pembelajaran kelas awal, pada kelas awal
penanaman konsep harus benar-benar dipehatikan, karena sangat
mempengaruhi pada pemahaman-upemahaman pada jenjang
berikutnya, sehingga tidak terjadi kesalahan pada masa berikutnya
berakibat fatal.
Pembelajaran pada kelas awal khususnya pada kelas 1 dan
2 Sekolah Dasar, sebaiknya juga mengikuti keadaan Peserta
didiknya. Jean Piaget mengemukakan belajar akan lebih berhasil
apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif
peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan objek fisik, ditunjang oleh
interaksi dengan temannya dan dibantu oleh pndidik. Pendidik
hendaknya memberikan rangsangan kepada peserta didik agar
mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif mencari dan
menerima berbagai hal dari lingkungan.
C. Unsur-Unsur Hasil belajar
Arikunto (2003:17) mengemukakan juga bahwa ada tiga
ranah atau domain besar, yang terletak pada tingkatan kedua yang
selanjutnya disebut taksonomi yaitu ranah kognitif, ranah afektif,
dan ranah psikomotor.
Dalam sumber yang sama, Arikunto (2003:17) menjabarkan
kata operasional dalam tiga ranah atau domain besar sebagai
berikut:
18 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
1. Cognitive Domain
a. Pengetahuan
b. Pemahaman
c. Aplikasi
d. Analisis
e. Sintesis
f. Evaluasi
2. Affective Domain
a. Receiving Menanya, memilih, mendeskripsikan, mengi-
kuti, memberikan, mengidentifikasi, menyebutkan,
menunjuk, dan menjawab.
b. Responding Menjawab, membantu, mendiskusikan,
menghormati, melakukan, membaca, memberikan,
menghafal, melaporkan, memilih menceritakan, dan
menulis.
c. Valuing Melengkapi, menggambarkan, membedakan,
menerangkan, mengikuti, membentuk, mengundang,
menggabungkan, mengusulkan, membaca, melaporkan,
bekerjasama, mengambil bagian.
d. Organization Mengubah, mengatur, menggabungkan,
membandingkan, melengkapi, mengidentifikasikan,
menerangkan, mempertahankan, menggeneralisasikan,
mengintegrasikan.
e. Characterization By Value Or Value Compleks Membeda-
kan, mempengaruhi, menerapkan, mengusulkan, mem-
peragakan, mendengarkan, dan memodifikasikan.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 19
3. Psycomotor Domain
a. Mascular or motor skills. Mempertontonkan gerak,
menunjukkan hasil, melompat, menggerakan
b. Manipulation of material or object Mereparasi, menyusun,
membersihkan, menggeser, memindahkan
c. Neuromuscular coordination Mengamati, menerapkan,
memadukan, menghubungkan, menarik, menggunakan.
Sedangkan menurut Sudjana (2008:22) menyatakan bahwa:
dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan,
baik tujuan kulikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan
klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis
besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotor
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar seluruh kecakapan yang mencakup ranak kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotor yang diperoleh melalui proses
belajar mengajar di sekolah dinyatakan dengan angka dan diukur
dengan menggunakan tes hasil belajar dan pengamatan guru.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Shabri (2005), hasil belajar yang dicapai siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari lingkungan
dan faktor yang datang dari diri siswa. Faktor yang datang dari diri
siswa seperti kemampuan belajar (intelegensi), motivasi belajar,
minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,
faktor fisik dan psikis.
Aini (2001) berpendapat bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu faktor dari luar diri siswa dan faktor dari diri siswa. Faktor
20 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
pada diri siswa ini diantaranya faktor emosi dan mood. Siswa
yang mengalami hambatan pemenuhan kebutuhan emosi, maka
ia dapat mengalami “kecemasan” sebagai gejala utama yang
dirasakan.
Sedangkan menurut Clark (dalam Shabri, 2005)
mengemukakan bahwa: Hasil belajar siswa disekolah 70%
dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh
lingkungan. Artinya, selain faktor dari dalam diri siswa sendiri,
masih ada faktor-faktor di luar dirinya yang dapat menentukan
atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Salah satu
lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil
belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran
juga dipengaruhi oleh karakteristik kelas. Variabel karakteristik
kelas antara lain:
1. Ukuran kelas (Class size). Artinya, banyak sedikitnya
jumlah siswa yang belajar. Ukuran yang biasanya
digunakan adalah 1:40, artinya, seorang guru melayani
40 orang siswa. Diduga makin besar jumlah siswa yang
harus dilayani guru dalam satu kelas maka makin rendah
kualitas pengajarannya, demikian pula sebaliknya.
2. Suasana belajar. Suasana belajar yang demokratis akan
memberi peluang mencapai hasil belajar yang optimal,
dibandingkan dengan suasana yang kaku, disiplin yang
ketat dengan otoritas yang ada pada guru. Dalam suasana
belajar yang demokratis ada kebebasan siswa belajar,
mengajukan pendapat, berdialog dengan teman sekelas,
dan lain-lain.
3. Fasilitas dan sumber belajar yang tersedia. Kelas harus
diusahakan ebagai laboratorium belajar bagi siswa.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 21
Artinya, kelas harus menyediakan sumber-sumber
belajar seperti buku pelajaran, alat peraga, dan lain-lain.
Dari informasi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar
siswa yaitu:
1. Faktor pada diri siswa diantaranya intelegensi, kecemasan
(emosi), motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan
kebiasaan belajar, ketekunan, dan faktor fisik dan psikis.
2. Faktor dliuar diri siswa, seperti ukuran kelas, suasana
belajar (termasuk di dalamnya guru), fasilitsa, dan
sumber belajar yang tersedia.
22 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
BAB III
MODEL PEMBELAJARAN
A. Pengertian Model Pembelajaran
Di bawah ini akan dibahas apa saja definisi dan pengertian
model pembelajaran, baik secara umum maupun menurut para
ahli.
Pengertian model pembelajaran secara umum adalah suatu
cara atau teknik penyajian sistematis yang digunakan oleh guru
dalam mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar
tercapai tujuan dari sebuah pembelajaran.
Definisi model pembelajaran yang lebih singkat merupakan
suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran bisa juga diartikan sebagai seluruh
rangkaian penyajian materi yang meliputi segala aspek sebelum,
sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta
segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau
tidak langsung dalam proses belajar mengajar.
Pengertian model pembelajaran menurut pendapat para ahli
selengkapnya.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 23
1. Menurut Dahlan
Pengertian model pembelajaran adalah rencana atau pola
yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi
pengajaran dan memberi petunjuk pada pengajar di kelas dalam
setting pengajaran atau setting lainnya.
Tiap model mengajar yang dipilih haruslah mengungkapkan
berbagai realitas yang sesuai dengan situasi kelas dan macam
pandangan hidup, yang dihasilkan dari kerjasama guru dan murid.
2. Menurut Amin Suyitno
Arti model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-
langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan guru agar tujuan
atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat
dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.
3. Menurut Syafaruddin, Irwan Nasution
Model pembelajaran adalah deskripsi dari lingkungan
pembelajaran yang bergerak dari perencanaan kurikulum, mata
pelajaran, bagian-bagian dari pelajaran untuk merangcang materi
pelajaran, buku latihan kerja, program, dan bantuan kompetensi
untuk program pembelajaran.
Dengan kata lain, model pembelajaran adalah bantuan alat-
alat yang mempermudah siswa dalam belajar. Jadi, keberadaan
model pembelajaran berfungsi membantu siswa memperoleh
informasi, gagasan, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir dan
pengertian yang diekspresikan mereka.
4. Menurut Supriyono
Sebuah model pembelajaran adalah sebuah rencana atau pola
yang mengorganisasi pembelajaran dalam kelas dan menunjukkan
cara penggunaan materi pembelajaran.
24 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
5. Menurut Joyce dalam Trianto
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola
yang digunakan di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan
untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.
6. Menurut Syaiful Sagala
Definisimodelpembelajaranadalahkerangkakonseptualyang
menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
7. Menurut Joyce
Joyce berpendapat bahwa setiap model mengarahkan kita
dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik
mencapai tujuan pembelajaran.
8. Menurut Slavin
Model pembelajaran adalah suatu acuan kepada suatu
pendekatan pembelajaran termasuk tujuannya, sintaksnya,
lingkungannya, dan sistem pengelolaanya.
9. Menurut Trianto
Model pembelajaran merupakan pendekatan yang luas
dan menyeluruh serta dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan
pembelajarannya, sintaks (pola urutannya), dan sifat lingkungan
belajarnya.
B. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
Ada berbagai jenis model pembelajaran, baik yang bersifat
kekinian maupun klasikal, jenis model pembelajaran akan berbagi
56 contoh model pembelajaran terbaru yang bisa Anda aplikasikan.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 25
1. Koperatif (CL, Cooperative Learning)
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia
sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang
lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pemberian
tugas, dan rasa senasib.
Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok
secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi
(sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab.
Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi
karena koperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan
belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan
pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling
membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, dan
memahami materi secara mendalam.
Alur pembelajaran koperatif adalah : informasi, pengarahan-
strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok,
presentasi hasil kelompok, dan membuat laporan.
2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai
dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang
terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling),
sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan,
motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan
suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan.
Prinsip pembelajaran kontekstual adalah : siswa melakukan
dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan
pengembangan kemampuan sosialisasi.
26 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
Ada 7 indikator pembelajarn kontekstual sehingga bisa
dibedakan dengan model lainnya, yaitu :
a. Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian
kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-
rambu, contoh).
b. Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun,
mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri,
generalisasi).
c. Learning community (seluruh siswa berpartisipasi dalam
belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on,
mencoba, mengerjakan).
d. Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur,
generalisasi, menemukan.
e. Constructive (membangun pemahaman sendiri,
mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis).
f. Reflection (review, rangkuman, tindak lanjut).
g. Authentic assessment (penilaian selama proses dan
sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap
aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian
seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan
berbagai cara).
3. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural
yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika
disampaikan dengan cara pembelajaran langsung.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 27
Alurnya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan
prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan
evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau
ekspositori (ceramah bervariasi).
4. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based
Learning)
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu
persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya.
Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma).
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah.
Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan
untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah
otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang
kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana
kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan
menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal. Indikator
model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis),
interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, sintesis,
generalisasi, dan inkuiri.
5. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Sigmund
Freud di Belanda dengan pola guided reinvention dalam
mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematics,
yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip,
algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan
persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi
28 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengembangan
matematika).
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas
(kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-
informal dalam konteks melalui refleksi, informal ke formal),
inter-internment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep),
interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan
bimbingan (dari guru dalam penemuan).
6. Team-Work
Sebuah model pembelajaran terpadu yang memfokuskan
diri pada pengembangan karakter kerja-sama, saling percaya, dan
kolaborasi antar individu.
Guru sebagai pembina wajib untuk menekankan pentingnya
aspek dan cara bekerja sama yang baik demi mencapai tujuan
bersama.
7. Problem Posing
Bentuk lain dari problem solving adalah problem posing,
yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu
merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih
simpel sehingga mudah dipahami.
Alurnya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi
kekeliruan, cari alternatif, menyusun soal-pertanyaan.
8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya
pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan
berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi
jawab, fluency).
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 29
Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide,
kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing,
keterbukaan, dan sosialisasi.
Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan
metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh
jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta
untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut.
Dengan demikian model pembelajaran ini lebih
mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk
pola pikir, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara
matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan
peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan
dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimbingan (sedikit
demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian
pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan
pengarahan, membuat kesimpulan.
9. Probing-Prompting
ModepembelajaranProbing-Promptingadalahpembelajaran
dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang
sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir
yang mengakitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya
dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
Selanjutnya siswa mengkonstruksikan konsep-prinsip-
aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan
baru tidak diberitahukan.
30 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan
dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau
tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar
dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses
tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun
demikian bisa dibiasakan.
Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya
serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara
menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa,
sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria.
Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena
salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.
10. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif
secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian
eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif).
Eksplorasi berarti menggali pengetahuan, eksplanasi berarti
menghenalkan konsep baru dan alternatif pemecahan, dan aplikasi
berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.
11. Examples Non Examples
Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan
ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP,
dengan petunjuk guru sebagai fasilitator pendidikan peserta didik
mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi,
presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan
refleksi.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 31
12. Numbered Heads Together
NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif
dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan
tiap peserta didik memiliki nomor tertentu, berikan persoalan
materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap
peserta didik tidak sama sesuai dengan nomor peserta didik,
tiap peserta didik dengan nomor sama mendapat tugas yang
sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok
dengan nomnor peserta didik yang sama sesuai tugas masing-
masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat
skor perkembangan tiap peserta didik, umumkan hasil kuis dan
beri reward.
13. Cooperative Script
Metode belajar dimana peserta didik bekerja berpasangan
dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari
materi yang dipelajari (Danserau cs., 1985).
14. Time Token
Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan
mengembangkan ketrampilan sosial agar peserta didik tidak
mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.
15. Keliling Kelompok
Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok
mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka
dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya
Caranya :
a. Salah satu peserta didik dalam masing-masing kelompok
menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya
mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
32 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
b. Peserta didik berikutnya juga ikut memberikan
kontribusi-nya
c. Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan
arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.
16. Two Stay Two Stray
Ini adalah salah satu model pembelajaran yang cukup
terkenal. Cara melakukannya adalah sebagai berikut :
Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah
4 (empat) orang. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing
menjadi tamu kedua kelompok yang lain
Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas
membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.
Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri
dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain Kelompok
mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.
17. Student Teams Achievement – Divisions (STAD)
STAD adalah salah suatu model pembelajaran koperatif
dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5
orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif,
sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas,
kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik
atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan
reward.
18. Jigsaw (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)
Model pembelajaran ini termasuk koperatif dengan sintaks
seperti berikut ini : Pengarahan, informasi bahan ajar, buat
kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 33
beberapa bagian sesuai dengan banyak peserta didik dalam
kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian
tertentu, tiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli
sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama
dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada
kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan
evaluasi, refleksi.
19. Quiz
Model pembelajaran dengan memberikan quiz kepada
siswa, baik berkelompok maupun individu. Cara ini sangat baik
untuk menumbuhkan semangat bersaing dengan sehat.
20. Artikulasi
Artikulasi adalah mode pembelajaran dengan alur:
penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok
berpasangan sebangku, salah satu peserta didik menyampaikan
materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian
bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru sebagai
fasilitator pendidikan membimbing peserta didik untuk
menyimpulkan.
21. Mind Mapping
Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan
awal murid. Tahapannya adalah: informasi kompetensi, sajian
permasalahan terbuka, murid berkelompok untuk menanggapi
dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil
diskusi kelompok, murid membuat ksimpulan dari hasil setiap
kelompok, evaluasi dan refleksi.
22. Make a Match Mencari Pasangan (Lorna Curran, 1994).
Guru sebagai fasilitator pendidikan menyiapkan kartu
34 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi
jawabannya, setiap murid mencari dan mendapatkan sebuah
kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap murid mencari
kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya murid yang
benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok,
untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama,
penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
Langkah-langkah: 1. Guru sebagai fasilitator pendidikan
menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau
topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian
kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Setiap murid
mendapat satu buah kartu. 3. Tiap murid memikirkan jawaban/
soal dari kartu yang dipegang.4. Setiap murid mencari pasangan
yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal
jawaban). 5. Setiap murid yang dapat mencocokkan kartunya
sebelum batas waktu diberi poin. 6. Setelah satu babak kartu
dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari
sebelumnya 7. Demikian seterusnya. 8. Kesimpulan/penutup.
23. Reciprocal Learning
Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa
dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu
bagaimana murid belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi
diri. Sedangkan Resnik (1999) mengatakan bahwa belajar
efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya,
representasi, hipotesis. Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna
Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal,
yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-
modul, membaca-merangkum.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 35
24. SAVI
Model pembelajaran SAVI menekankan bahwa belajar
haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki murid.
Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic
yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di
mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory
yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui
mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi,
mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang
bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui
mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca,
menggunakan media dan alat peraga; Intellectual yang bermakna
bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir
(minds-on) dan belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran
dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki,
mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi,
memecahkan masalah, dan menerapkan.
25. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan murid
heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah
memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk
kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok
kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok,
suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi
permainan (games) yaitu dengan cara guru sebagai fasilitator
pendidikan bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada
sajian guyonan.
Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok
sehuingga terjadi diskusi kelas. Jika waktunya memungkinkan
36 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam
rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport.
26. TAI (Team Assisted Individual)
Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan
Individual dalam Kelompok (Bidak) dengan karateristirk bahwa
(Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada murid. Oleh
karena itu murid harus membangun pengetahuan tidak menerima
bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-murid adalah
negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Tahapan Bidak menurut
Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan
bahan ajar berupak modul, (2) murid belajar kelompok dengan
dibantu oleh murid pandai anggota kelompok secara individual,
saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3)
penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.
27. Demonstrative Model
Pembelajaran ini khusus untuk materi yang memerlukan
peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi
kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi
tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk murid
atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas,
penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
28. Explicit Instruction
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi
yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah
bertahap. Tahapannya adalah: sajian informasi kompetensi,
mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,
membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan
balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 37
29. Scramble
Tahapannya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan
ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi,
membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, murid
berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk
jawaban yang cocok.
30. Flipped Classroom
Guru menyiapkan bahan dan materi pelajaran untuk
dipelajari siswa sebelum hari H. Pada saat pertemuan, guru hanya
memberikan refleksi dan penguatan.
31. Picture and Picture
Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan
gambar kegiatan berkaitan dengan materi, murid (wakil)
mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi
urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi
bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
32. Cooperative Script
Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana
materi bahan ajar, murid mempelajari wacana dan membuat
rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain
menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
33. LAPS-Heuristik
Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat
tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS (Logan Avenue
Problem Solving) dengan kata lain apa masalahnya : adakah
alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana
sebaiknya mengerjakannya. Tahapan: pemahaman masalah,
rencana, solusi, dan pengecekan.
38 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
34. Improve
Improve singkatan dari Introducing new concept,
Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing
difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment.
Tahapannya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan
konsep, murid latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-
pengayaan-interaksi.
35. Treffinger
Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan
pengetahuan siap. Tahapan: keterbukaan-urun ide-penguatan,
penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-
pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui
pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama,
kebebasan-terbuka, reward.
36. VAK (Visualization, Auditory, Kinetics)
Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran
akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas,
dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah
dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut
sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen
dengan kinesthetic.
37. AIR (Auditory, Intellectual, Repetition)
Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya
hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna
pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara murid dilatih
melalui pemberian tugas atau quis.
38. Kumon
Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan,
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 39
kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan.
Tahapansnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap murid
selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung
dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah
guru membimbing.
39. Quantum
Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan
musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana
kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling
menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna,
semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha murid
diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat , alami-
dengan dunia realitas murid, namai-buat generalisasi sampai
konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi
dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan
reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.
40. Think Pair and Share (Frank Lyman, 1985)
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan
tahapans: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan
kepada murid dan murid bekerja kelompok dengan cara
berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi
kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap
murid, umumkan hasil kuis dan berikan reward.
Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang
ingin dicapai
b. Murid diminta untuk berfikir tentang materi/
permasalahan yang disampaikan guru.
40 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.
c. Murid diminta berpasangan dengan teman sebelahnya
(kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran
masing-masing.
d. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok
mengemukakan hasil diskusinya.
e. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan
pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah
materi yang belum diungkapkan para murid.
f. Guru memberi kesimpulan.
41. Debat
Debat adalah model pembelajaran dengan sintaks: bagi
kelas menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, murid
membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing
kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah
satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya
begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat
kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.
42. Role Playing
Tahapan dari model pembelajaran ini adalah: guru
menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa murid
untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok
murid, penyampaian kompetensi, menunjuk murid untuk
melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok murid
membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil
kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.
Langkah-langkah:
a. Guru menyusun/ menyiapkan skenario yang akan
ditampilkan.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 41