The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar by Jusmawati, S.Pd., M.Pd., Satriawati, S.Pd., M.Pd., Irman R, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd., Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd. (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by airyos1973, 2022-02-14 22:43:03

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar by Jusmawati, S.Pd., M.Pd., Satriawati, S.Pd., M.Pd., Irman R, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd., Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd. (z-lib.org)

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar by Jusmawati, S.Pd., M.Pd., Satriawati, S.Pd., M.Pd., Irman R, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Abdul Rahman, M.Pd., Prof. Dr. Nurdin Arsyad, M.Pd. (z-lib.org)

b. Menunjuk beberapa murid untuk mempelajari skenario
dalam waktu beberapa hari sebelum KBM.

c. Guru membentuk kelompok murid yang anggotanya 5
orang.

d. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin
dicapai.

e. Memanggil para murid yang sudah ditunjuk untuk
melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.

f. Masing-masing murid berada di kelompoknya sambil
mengamati skenario yang sedang diperagakan.

g. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing murid
diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan
masing-masing kelompok.

h. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil
kesimpulannya.

i. Guru memberikan kesimpulan secara umum.

j. Evaluasi.

43. Talking Stick
Tahapan pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan tongkat,

sajian materi pokok, murid mebaca materi lengkap pada wacana,
guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada murid
dan murid yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari
guru, tongkat diberikan kepad murid lain dan guru memberikan
petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-
refleksi-evaluasi.

44. Snowball Throwing
Tahapannya adalah: Informasi materi secara umum,

42 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas
membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap
kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok
lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan,
refleksi dan evaluasi.

Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil

masing-masing ketua kelompok untuk memberikan
penjelasan tentang materi.
c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya
masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang
disampaikan oleh guru kepada temannya.
d. Kemudian masing-masing murid diberikan satu lembar
kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja
yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh
ketua kelompok.
e. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat
seperti bola dan dilempar dari satu murid ke murid yang
lain selama ± 15 menit.
f. Setelah murid dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan
kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan
yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara
bergantian.
g. Evaluasi.
h. Penutup

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 43

45. Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi,

sajian materi, murid mengembangkannya dan menjelaskan
lagi ke murid lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi. Murid
mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya.

Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi.
c. Memberikan kesempatan murid untuk menjelaskan

kepada murid lainnya misalnya melalui bagan/peta
konsep.
d. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari murid.
e. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu

46. Course Review
Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian

materi, tanya jawab untuk pemantapan, murid atau kelompok
menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak,
guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, murid yang
punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru
berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan murid
menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian
reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

47. MDR (Multi Discourse Representation)
DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada

pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi
dengan setting kelas dan kerja kelompok. Tahapannya adalah:
persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.

44 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

48. Inside-Outside-Circle
IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran

kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana murid
saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan
pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Tahapannya
adalah: Separuh dari jumlah murid membentuk lingkaran kecil
menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar
menghadap ke dalam, murid yang berhadapan berbagi informasi
secara bersamaan, murid yang berada di lingkran luar berputar
keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan
seterusnya.

49. Tebak Kata
Langkah-langkah :

a. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau
materi ± 45 menit.

b. Guru menyuruh murid berdiri berpasangan di depan
kelas

c. Seorang murid diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm
yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang murid
yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5 x 2 cm yang
isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan
di dahi atau diselipkan ditelinga. Murid yang membawa
kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis
didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang
dimaksud dalam kartu 10 x 10 cm. Jawaban tepat bila
sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan tsb.

d. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu)
maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 45

waktu yang telah ditetapkan, murid boleh mengarahkan
dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi
jawabannya.

50. MEA (Means-Ends Analysis)
Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran

dengan pemecahan masalah dengan tahapan: sajikan materi
dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristik,
elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana,
identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli
koneksivitas, pilih strategi solusi

51. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
Tahapannya adalah (C) koneksi informasi lama-baru

dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi,
(R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E)
mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

52. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat

mengembangkan meta kognitif murid, yaitu dengan menugaskan
murid untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat,
dengan tahapan: Survey dengan mencermati teks bacaan dan
mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat
pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan
bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari
jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan
(catat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang
menyeluruh

53. MID (Meaningful Instructional Design)
Model ini adalah pembnelajaran yang mengutamakan

46 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat
kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis.
Tahapannya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang
terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-
ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3)
production melalui ekspresi-apresiasi konsep

54. KUASAI
Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap

berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai
dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-
menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata
kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan
Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

55. DLPS (Double Loop Problem Solving)
DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan

masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab)
utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban
untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah
tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan
munculnya masalah tersebut.

Tahapannya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi
tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal
lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai
maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal,
mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang
telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi,
identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan
implementasi solusi utama.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 47

56. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu

membaca dan menulis secara koperatif – kelompok. Tahapannya
adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru
memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan
ajar, murid bekerja sama (membaca bergantian, menemukan
kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian
menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok,
refleksi.

Langkah-langkah:

a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara
heterogen.

b. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik
pembelajaran.

c. Murid bekerja sama saling membacakan dan menemukan
ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/
kliping dan ditulis pada selembar kertas.

d. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.

e. Guru membuat kesimpulan bersama

Model Pembelajaran adalah semua rentetan presentasi
materi yang terdiri dari semua faktor mulai dari pra, sedang dan
pasca pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik. Dengan
berbagai instrumen yang dipakai secara tidak langsung maupun
langsung dalam aktivitas belajar mengajar.

Model pembelajaran bisa dikatakan sebagai strategi atau pola
yang dimanfaatkan untuk membuat kurikulum, pengarahan bagi
pengajar dan menyusun materi siswa di kelas. Sehingga siswa bisa
lebih efektif dan efisien dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

48 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Dalam perjalanannya model pembelajaran memiliki berbagai
metode untuk dimanfaatkan sebagai strategi pembelajaran. Ketika
melihat dari hakikatnya learning model memiliki sejumlah makna
yang luas dari istilah seperti prosedur/pendekatan, strategi,
metode maupun teknik & taktik pembelajaran.

Berdasarkan Joyce dan Weil (1986:14-15) Model pembelajaran
merupakan sebuah strategi dan metode pada aktivitas pembelajaran
yang didalamnya terdapat empat komponen, yakni:

a. Syntax (Sintaks)
Sintak adalah langkah, fase atau phasing dalam model

pembelajaran yang mana didalamnya menerangkan tentang tata
cara penerapan yang dapat digambarkan secara konkret.

b. The social system (Sistem sosial)
Model pembelajaran dituntut untuk bisa mengungkapkan

fakta akurat tentang pengaruhnya kepada pendidik dan peserta
didik saat aktivitas pembelajaran. Pada sistem sosial ini pendidik
bertugas sebagai pembimbing, penyedia, sumber pertanyaan dan
pengetahuan.

c. Principle of reaction (Prinsip Reaksi)
Ini adalah suatu komponen yang mana bagaimana cara

pendidik dalam memperlakukan peserta didiknya. Ada pula hal
lain yang perlu dilakukan adalah bagaimana seorang pendidik
harus dapat merespon tentang apa yang peserta didik lakukan.

d. Support System (Sistem Pendukung)
Terdapat tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam

sistem pendukung, yakni:

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 49

1) Bahan
2) Fasilitas/Sarana
3) Instrumen yang bisa dipakai untuk mendukung model

pembelajaran.

Fungsi dari model pembelajaran sendiri adalah sebagai
panduan bagi pendidik saat melakukan aktivitas pembelajaran.

Ini berarti ketika model pembelajaran diterapkan maka
model pembelajaran akan menjadi instrumen bagi para pendidik
untuk menggerakan aktivitas pembelajaran. Adapun fungsi lain
dari model pembelajaran adalah untuk panduan bagi pencipta
desain pembelajaran dan pendidik untuk menentukan strategi dan
pelaksanaan kegiatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa
diraih dengan sukses.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Terminologi model pembelajaran memiliki beberapa
ciri khusus yang membedakan antara metode dan strategi
pembelajaran dalam pendidikan, diantaranya adalah:
a. Landasan teori rasional dan matang yang dirancang oleh

para ahli
b. Mempunyai visi dan misi pembelajaran yang jelas
c. Memiliki rancangan pembelajaran yang matang, ini

bertujuan agar proses belajar dapat dilakukan dengan
powerful.
d. Membuat lingkungan belajar yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran, sehingga proses belajar bisa dilaksanakan
dengan optimal.

50 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

BAB IV
METODE PEMBELAJARAN

A. Pengertian Metode Pembelajaran
Proses penyampaian materi pendidikan kepada peserta didik

yang dilakukan secara sistematis dan teratur oleh tenaga pengajar
atau guru.

Pendapat lain mengatakan, metode pembelajaran adalah
suatu strategi atau taktik dalam melaksanakan kegiatan belajar
dan mengajar di kelas yang diaplikasikan oleh tenaga pengajar
sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai
dengan baik.

Seorang guru harus bisa menerapkan metode yang tepat
dalam kegiatan belajar-mengajar, sesuai dengan karakter para
siswanya. Dengan begitu, proses belajar-mengajar menjadi lebih
menyenangkan dan siswa dapat menyerap pelajaran dengan lebih
mudah.

Metode Pembelajaran Menurut Para Ahli Agar lebih
memahami apa itu metode pembelajaran, maka kita dapat
merujuk pada pendapat para ahli berikut ini:

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 51

1. Hasby Ashydiqih
Menurut Hasby Ashydiqih, metode pembelajaran adalah

seperangkat cara yang dilakukan guna mencapai tujuan tertentu
dalam proses pembelajaran.

2. Abdurrahman Ginting
Menurut Abdurrahman Ginting, metode pembelajaran

adalah cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai
prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya
terkait lainnya supaya terjadi proses pembelajaran pada diri
siswa.

3. Ahmadi
Menurut Ahmadi, metode pembelajaran adalah suatu

pengetahuan tentang beberapa cara mengajar yang dipergunakan
oleh guru atau instruktur.

4. Nana Sudjana
Menurut Nana Sudjana, metode pembelajaran adalah

cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan siswa pada saat berlangsungnya proses belajar dan
mengajar.

5. Sobri Sutikno
Menurut Sobri Sutikno, metode pembelajaran adalah cara-

cara dalam menyajikan materi pelajaran yang diberikan kepada
murid agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam
upaya untuk mencapai tujuan.

B. Macam-Macam Metode Pembelajaran
Tenaga pengajar harus mengetahui metode pengajaran mana

yang paling efektif dalam menyampaikan materi pelajaran kepada

52 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

peserta didik. Adapun macam-macam metode pembelajaran
adalah sebagai berikut:

1. Metode Ceramah
Metode ini merupakan cara konvensional, yaitu dengan

menyampaikan informasi secara lisan kepada siswa. Metode
ceramah dianggap sebagai metode yang paling praktis dan
ekonomis, namun terdapat beberapa kekurangan di dalamnya.

Kekurangan:
a. Peserta didik lebih pasif karena hanya mendengarkan

pengjar.
b. Kegiatan belajar mengajar cenderung membosankan.
c. Beberapa siswa yang lebih menyukai belajar visual akan

kesulitan menerima pelajaran.
d. Proses pengajaran lebih fokus pada pengertian kata-kata

saja.

Kelebihan:
a. Tenaga pengajar dapat mengendalikan kelas sepenuhnya.
b. Mendorong siswa agar berusaha melatih fokus.
c. Proses pembelajaran lebih mudah dilakukan.
d. Kegiatan belajar dapat diikuti banyak peserta didik.

2. Metode Pembelajaran Diskusi
Metode diskusi adalah suatu metode pengajaran

yang mengedepankan aktivitas diskusi siswa dalam belajar
memecahkan masalah. Metode ini dilakukan dengan membentuk
kelompok diskusi untuk membahas suatu masalah.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 53

Kelebihan:
a. Mendorong siswa berpikir kritis.
b. Mendorong siswa untuk menyampaikan pendapatnya.
c. Melatih siswa tentang toleransi dan menghargai pendapat

orang lain.

Kekurangan:
a. Cenderung didominasi siswa yang suka berbicara.
b. Diperlukan cara formal dalam menyampaikan pendapat.
c. Tema di dalam diskusi biasanya terbatas.
d. Hanya cocok untuk kelompok kecil.

3. Metode Demonstrasi
Ini adalah metode pengajaran yang dilakukan dengan

cara bentuk praktikum sehingga siswa melihat langsung apa
yang sedang dipelajari. Metode ini biasanya lebih menarik dan
membuat siswa lebih fokus terhadap materi pelajaran.

Kelebihan:
a. Informasi lebih mudah dimengerti karena melalui praktik

langsung.
b. Dapat meminimalisir kemungkinan kesalahan pengertian

karena bukti konkret terlihat.
c. Siswa lebih mudah memahami informasi yang

disampaikan pengajar.

Kekurangan:
a. Tidak semua materi pelajaran dapat didemonstrasikan.

54 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

b. Tenaga pengajar harus orang yang sangat paham
mengenai materi yang diajarkan.

c. Hanya efektif bila siswa tidak terlalu banyak

4. Metode Ceramah Plus
Mirip dengan metode ceramah pada umumnya, namun

disertai dengan metode lain dalam penyampaian materi pelajaran.
Misalnya;

a. Metode ceramah plus tanya jawab.
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas.
c. Metode ceramah plus demostransi dan latihan.

5. Metode Pembelajaran Resitasi
Metode ini mengharuskan para siswa membuat suatu resume

mengenai materi yang sudah disampaikan oleh pengajar. Resume
tersebut dituliskan di dalam kertas dengan menggunakan kata-
kata sendiri dari para murid.

Kelebihan:
a. Mendorong siswa untuk melatih cara menulis yang baik.
b. Siswa cenderung lebih mengingat materi pelajaran yang

disampaikan guru.
c. Melatih siswa untuk bertanggungjawab dan mengambil

inisiatif.

Kekurangan:
a. Beberapa siswa mencontek resume milik temannya, atau

dikerjakan oleh orang lain.
b. Sulit untuk mengevaluasi apakah siswa benar-benar

memahami resume yang telah dibuatnya.
Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 55

6. Metode Eksperimen
Metode eksperimen dilakukan dengan kegiatan praktikum

atau percobaan lab sehingga siswa dapat melihat materi pelajaran
secara langsung.

Kelebihan:
a. Siswa dapat bereksplorasi dan mengembangkan diri

melalui percobaannya.
b. Membuat siswa berpikir bahwa materi pelajaran dapat

dibuktikan dengan percaobaan.
c. Menghasilkan siswa yang memiliki jiwa peneliti untuk

pengembangan keilmuan.

Kekurangan:
a. Siswa tidak dapat melakukan eksperimen bila kekurangan

alat.
b. Tidak semua materi pelajaran dapat dilakukan dengan

metode percobaan.
c. Kegiatan metode ini hanya dapat dilakukan pada bidang

studi tertentu dan dalam waktu yang terbatas.

7. Metode Karya Wisata
Ini adalah metode belajar dengan memanfaatkan lingkungan

atau tempat-tempat tertentu yang memiliki sumber ilmu bagi
siswa. Metode ini harus mendapat pengawasan langsung dari guru.

Kelebihan:
a. Memanfaatkan interaksi langsung dengan lingkungan

alam dan tempat-tempat tertentu.
b. Kegiatan pengajaran lebih menyenangkan dan menarik.

56 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

c. Merangsang siswa untuk lebih kreatif dalam berpikir dan
menyampaikan pendapat.

Kekurangan:
a. Membutuhkan biaya yang cukup besar.
b. Kegiatan harus direncanakan dengan matang.
c. Harus melalui persetujuan dari banyak pihak, baik pihak

sekolah, orang tua, dan pihak lainnya.
d. Faktor keselamatan menjadi hal yang sangat penting

untuk diperhatikan.
e. Banyak siswa yang lebih mengutamakan tujuan rekreasi

ketimbang tujuan pembelajaran.

8. Metode Latihan
Metode latihan atau training adalah metode pengajaran

yang dilakukan dengan cara melatih keterampilan (soft skill) para
siswa dengan cara merancang, membuat, atau memanfaatkan
sesuatu.

Kelebihan:
a. Dapat melatih kecakapan motorik dan kognitif siswa.
b. Dapat melatih kreativitas di dalam diri para siswa.
c. Dapat melatih fokus, kecepatan, dan ketelitian siswa.

Kekurangan:
a. Beberapa siswa yang tidak berminat akan sulit beradap-

tasi.
b. Adanya kemungkinan menghambat bakat lain yang

terdapat dalam diri siswa.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 57

c. Dapat membuat siswa bosan karena kegiatan ini
membutuhkan waktu yang cukup lama.

9. Metode Perancangan
Pada metode ini, siswa dirangsang untuk mampu membuat

suatu proyek yang nantinya akan diteliti.
Kelebihan:
a. Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mampu
memecahkan masalah.
b. Melatih siswa untuk dapat mengintegrasikan
pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terpadu.

Kekurangan:
a. Hanya dapat dilakukan ketika ada event perlombaan.
b. Membutuhkan tenaga pengajar khusus untuk merencanakan

dan melaksanakan kegiatan.
c. Membutuhkan sumber daya dan fasilitas yang cukup

besar.

10. Metode Debat
Dalam metode ini, siswa saling beradu argumentasi,

baik secara perorangan maupun berkelompok. Debat tersebut
dilakukan secara formal dengan aturan tertentu dimana
tujuannya untuk membahas suatu permasalahan dan cara
penyelesaian masalah.

Kelebihan:
a. Melatih kerjasama dan kerja kelompok para siswa.
b. Melatih siswa untuk menyampaikan dan memper-

tahankan argumentasinya.

58 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

c. Mendorong siswa untuk mencari informasi untuk
memperkuat argumentasinya.

d. Melatih kemampuan menyampaikan pendapat dan rasa
percaya diri siswa.

Kekurangan:
a. Seringkali menimbulkan argumentasi yang tidak ada

penyelesaiannya.
b. Hanya siswa tertentu saja yang melakukan kegiatan

debat.
c. Pendapat yang disampaikan seringkali tidak memiliki

intisari dan hanya berisi sanggahan.

11. Metode Skrip Kooperatif
Metode pembelajaran ini memasangkan siswa dan menuntut

siswa untuk menyampaikan intisari dari materi pelajaran secara
lisan. Pada akhir sesi, guru akan memberikan kesimpulan dari
pokok materi pelajaran.

Kelebihan:
a. Melatih siswa dalam mendengarkan, menyimpulkan,

dan menyampaikan intisari dari materi.
b. Melatih siswa untuk lebih berani dan percaya diri di

dalam kelas.
c. Siswa lebih aktif berpartisipasi secara keseluruhan.

Kekurangan:
a. Metode ini hanya dapat diterapkan pada bidang studi

tertentu.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 59

b. Hanya bisa dilakukan dengan dua group dan dua orang
berpasangan.

12. Metode Pembelajaran Mind Maping
Metode ini menerapkan cara berpikir yang runtun

terhadap suatu permasalahan, bagaimana terjadinya masalah,
dan bagaimana penyelesaiannya. Dengan metode ini, siswa
dapat meningkatkan daya analisis dan berpikir kritis sehingga
memahami masalah dari awal hingga akhir.

Kelebihan:
a. Metode pembelajaran ini dianggap lebih efektif dan

efisien.
b. Munculnya ide baru yang digambarkan dalam diagram.
c. Alur berpikir siswa lebih efektif sehingga bermanfaat

bagi kehidupannya.

Kekurangan:
a. Dibutuhkan pengetahuan dengan banyak membaca

sebelum membuat mapping.
b. Tidak semua siswa dapat terlibat dalam kegiatan.
c. Beberapa detail informasi mungkin akan hilang dari

dalam mapping.
d. Kemungkinan besar orang lain tidak mengerti mind

mapping yang dibuat temannya karena hanya berisi poin
inti.

13. Metode Pembelajaran Inquiry
Metode pembelajaran ini dapat mendorong para siswa

untuk menyadari apa saja yang telah diperoleh selama belajar.

60 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Dalam metode ini melibatkan intelektual dan mendorong siswa
memahami bahwa apa yang telah dipelajari adalah sesuatu yang
berharga.

14. Metode Pembelajaran Discovery
Metode discovery dilakukan dengan cara mengembangkan

cara belajar siswa aktif, mandiri, dan memiliki pemahaman
yang lebih baik. Dalam hal ini, siswa mencari jawaban terhadap
pertanyaannya sendiri sehingga mengingatnya lebih baik.

Kelebihan:
a. Mengembangkan kemampuan kognitif siswa.
b. Siswa dapat berpikir lebih luas dan lebih mandiri.
c. Meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri siswa

melalui penemuan yang dilakukannya.
d. Meningkatkan hubungan timbal-balik antara siswa dan

guru.

Kekurangan:
a. Metode ini hanya cocok untuk kelas yang kecil.
b. Siswa harus memiliki persiapan metal dalam proses belajar.
c. Siswa lebih memperdulikan penemuannya ketimbang

memperhatikan keterampilan dan sikap.
d. Tidak semua penemuan dapat memecahkan masalah.

15. Metode Berbagi Peran
Metode pembalajaran dengan cara berbagi peran (role

playing) dilakukan dengan melibatkan siswa untuk memerankan
suatu karakter atau situasi tertentu. Metode ini dapat melatih
komunikasi siswa dalam berinteraksi dengan orang lain.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 61

Kelebihan:
a. Siswa dapat mempraktikkan materi pelajaran secara

langsung.
b. Melatih rasa percaya diri siswa dengan melakukan peran

tertentu di depan kelas.
c. Siswa lebih memahami materi pelajaran.

Kekurangan:
a. Sebagian siswa tidak menyukai metode seperti ini.
b. Siswa yang introvert umumnya sulit mengikuti metode

role playing.

C. Fungsi Metode Belajar
Metode dalam kegiatan belajar memiliki fungsi tertentu.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, berikut ini
adalah beberapa fungsi metode belajar:

1. Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Motivasi adalah suatu dorongan di dalam diri seseorang

untuk melakukan sesuatu, baik secara sadar maupun tidak
sadar. Motivasi sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar
mengajar.

Suatu metode belajar dapat berperan sebagai alat
motivasi dari luar (ekstrinsik) kepada siswa. Dengan begitu,
maka siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan
baik.

2. Sebagai Strategi Pembelajaran
Setiap siswa dalam kelas memiliki tingkat intelegensi yang

berbeda-beda, meskipun kelas tersebut diisi oleh siswa terbaik.

62 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Kemampuan intelegensi para siswa tersebut akan mempengaruhi
kemampuan mereka dalam menyerap pelajaran yang disampaikan
oleh guru.

Dengan menerapkan metode belajar tertentu, setiap siswa
dalam satu kelas dapat menangkap ilmu yang disampaikan
oleh pengajar dengan baik. Dengan begitu, setiap guru harus
mengetahui metode pembelajaran terbaik yang dapat diterapkan
pada setiap kelas.

3. Sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan
Metode belajar berperan sebagai fasilitas pendidikan yang

berfungsi untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada
peserta didik. Dengan kata lain, metode pembelajaran adalah suatu
alat agar siswa dapat mencapai tujuan belajar.

Penyampaian materi pelajaran tanpa memperhatikan metode
belajar dapat mengurangi nilai dari kegiatan belajar mengajar itu
sendiri. Selain siswa menjadi kurang termotivasi, tanpa adanya
metode pembelajaran akan membuat pengajar kesulitan dalam
menyampaikan materi pendidikan sehingga tujuan pengajaran
tidak tercapai.

D. Tujuan Metode Pembelajaran
Pada dasarnya tujuan utama metode pembelajaran adalah

untuk membantu mengembangkan kemampuan siswa secara
individu sehingga mampu menyelesaikan masalahnya. Adapun
beberapa tujuan metode belajar adalah sebagai berikut:

1. Untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
individualnya sehingga dapat mengatasi permasalahan-
nya dengan terobosan solusi alternatif.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 63

2. Untuk membantu proses belajar mengajar sehingga
pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan
dengan cara terbaik.

3. Untuk membantu menemukan, menguji, dan menyusun
data yang dibutuhkan dalam upaya pengembangan
disiplin suatu ilmu.

4. Untuk memudahkan proses pembelajaran dengan hasil
yang baik sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai.

5. Untuk menghantarkan sebuah pembelajaran ke arah
yang ideal dengan tepat, cepat, dan sesuai dengan yang
diharapkan.

6. Agar proses pembelajaran dapat berjalan dalam suasana
menyenangkan dan penuh motivasi sehingga materi
pembelajaran lebih mudah dimengerti oleh siswa.

64 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

BAB V
MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING

A. Pengertian Model Pembelajaran Creative Problem
Solving
Model Pembelajaran Creative Problem Solving – Menurut

Karen Pepkin (2009: 3), “Model pembelajaran Creative
Problem Solving (CPS) adalah suatu metode pembelajaran
yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan ketrampilan
memecahkan masalah, yang diikuti dengan penguatan
keterampilan”. Sedangkan Menurut Pepkin (Muslich, 2007:
221),“creative problem solving adalah ketika dihadapkan
dengan suatu pertanyaan atau permasalahan, siswa dapat
melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih
dan mengembangkan tanggapannya’’. Tidak hanya dengan cara
menghafal tanpa dipikir, keterampilan memecahkan masalah
memperluas proses berpikir.

Dari pengertian model pembelajaran Creative Problem
Solving (CPS) di atas dapat disimpulkan bahwa model Creative
Problem Solving (CPS) adalah model pembelajaran yang
menekankan kepada keterampilan berpikir siswa untuk

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 65

menyelesaikan masalah serta mengembangkan ide-ide yang
diperoleh untuk diungkapkan serta tidak menghafal.

Tujuan Model Pembelajarann Creative Problem Solving
Model Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu model
pembelajaran yang berpusat pada keterampilan pemecahan
masalah, yang diikuti dengan penguatan kreatifitas.
Tujuan model Creative Problem Solving (CPS) menurut
Hudojo (2008: 155) adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar
pada hasil belajar, keaktifan dan keterampilan berpikir dan proses
siswa. Adapun tujuan model creative problem solving sebagai
berikut:
Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan
kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali
hasilnya.
Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah
intrinsik bagi siswa.
Potensi intelektual siswa meningkat.
Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan
melalui proses melakukan penemuan.

B. Indikator Model Pembelajaran Creative Problem Solving
Metode CPS dalam pembelajaran Matematika dapat diukur

melalui beberapa indikator. Indikator merupakan sasaran yang
akan dicapai dalam proses pembelajaran tersebut. Indikator
Menurut Pepkin (2012:63) adalah Siswa mampu menyatakan
urutan langkah-langkah pemecahan masalah. Artinya siswa
dapat membuat langkah-langkah proses pemecahan masalah
dengan memperkirakan keadaan konteks soal.

66 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Adapun langkah-langkah dari metode pembelajaran
Creative Problem Solving (CPS) Menurut Pepkin (2009: 221)
adalah sebagai berikut:

1. Klarifikasi masalah
Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada

siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami
tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan.

2. Brainstorming / Pengungkapan pendapat
Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan

pendapat tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah.

3. Evaluasi dan pemilihan
Pada tahap evaluasi dan pemilihan, setiap kelompok

mendiskusikan pendapat atau strategi mana yang cocok untuk
menyelesaikan masalah.

4. Implementasi
Pada tahap ini siswa menentukaan strategi mana yang dapat

diambil untuk menyelesaikan maslah, kemudian menerapkannya
sampai menemukan penyelesian dari masalah tersebut.

Kelebihan dan kelemahan model Creative Problem Solving
Kelebihan model Creative Problem Solving Pepkin (2012)
adalah :
1. Siswa memiliki keterampilan memecahkan masalah.
2. Merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa

secara kreatif, rasional, logis, dan menyeluruh.
3. Pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan

kehidupan, khususnya dunia kerja.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 67

4. Menimbulkan keberanian pada diri siswa untuk
mengemukakan pendapat dan ide-idenya.

Kelemahan model Creative Problem Solving Menurut Pepkin
(2012) adalah :

1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya
sesuai dengan tingkat berpikir siswa itu tidak mudah.

2. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan
dan menerima informasi dari guru menjadi belajar yang
banyak berpikir untuk memecahkan permasalahan
secara individu maupun kelompok yang kadang-kadang
memerlukan berbagai sumber belajar merupakan
tantangan atau bahkan kesulitan bagi siswa.

3. Proses pembelajaran memerlukan waktu yang lama.

4. Kurang sistematis apabila metode ini diterapkan untuk
menyampaikan bahan baru.

5. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan
bagian integral dari proses belajar mengajar fisika di
sekolah (Tao dalam Suma, 2006). Pengajaran dengan
model pembelajaran pemecahan masalah di sekolah
dapat membantu siswa mempelajari konsep-konsep dan
prinsip-prinsip utama sehingga mampu menerapkannya
untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-
hari.

Larson (dalam Suma 2006), menyatakan secara
umum tujuan pengajaran pemecahan masalah adalah untuk
meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain sebagai
tujuan, pemecahan masalah merupakan sarana memperdalam
pemahaman konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama, serta

68 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

membantu pebelajar untuk menerapkan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip itu pada berbagai persoalan (Tao dalam Suma,
2006). Pemecahan masalah juga dianggap sebagai metode
pembelajaran, di mana siswa berlatih memecahkan persoalan.
Persoalan dapat datang dari guru, suatu fenomena tertentu atau
persoalan sehari-hari yang dijumpai siswa.

Menurut Taylor (dalam Suyanto dkk., 2001) problem solving
mengembangkan kemampuan anak mengambil keputusan.
Ada empat jenis pengetahuan yang dikembangkan dalam
diri siswa melalui problem solving (Copley dalam Suyanto et
al., 2001). Keempat pengetahuan tersebut ialah (1) deklaratif
knowledge, (2) procedural knowledge, (3) schematic knowledge,
dan (4) metacognitive knowledge. Declaratif knowledge adalah
pengetahuan tentang fakta, terminologi, atau prinsip. Siswa
mengetahui berbagai hal yang tidak ia ketahui setelah memecahkan
masalah. Procedural knowledge adalah pengetahuan tentang
prosedur atau cara. Schematic knowledge adalah skema tentang
cara yang telah ditempuh dan dimiliki siswa setelah memecahkan
persoalan. Metacognitive knowledge yakni memikirkan kembali
hal-hal yang sudah dipikirkan sehingga seseorang bertanggung
jawab terhadap apa yang dipikirkannya.

Model pembelajaran pemecahan masalah dalam hal ini
model pembelajaran pemecahan masalah kreatif (creative problem
solving) adalah suatu model pembelajaran yang melakukan
pemusatan pada pengajaran pemecahan masalah dan keterampilan
memecahkan masalah, yang diikuti dengan penguatan ketrampilan
memecahkan masalah tersebut (Pepkin, 2004). Ketika dihadapkan
dengan suatu permasalahan, siswa dapat melakukan keterampilan
memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 69

tanggapannya. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir,
keterampilan memecahkan masalah memperluas proses berpikir.
Tyler (dalam Redhana, 2002) berpendapat bahwa pengalaman
atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan
masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa.
Berpikir kritis diperlukan dalam rangka memecahkan suatu
permasalahan sehingga diperoleh keputusan yang cepat dan tepat.

Menurut Mitchell dan Kowalik (dalam Irma, 2008) crative
problem solving adalah suatu cara berpikir dan bertindak dalam
memecahkan suatu permasalahan. Kreatif (creative) adalah
suatu ide dasar yang bersifat asli (orisinil), inovatif, efektif, dan
komplek untuk menghasilkan suatu solusi yang memiliki nilai dan
relevansi. Masalah (problem) adalah kesenjangan antara situasi
nyata dengan kondisi yang diinginkan, situasi yang memiliki
tantangan, dan mengkonfrontasikan individu atau kelompok
untuk menemukan jawaban. Pemecahan (solving) dalam hal ini
pemecahan masalah adalah penemuan jawaban dari masalah
yang dihadapi. Jadi creative problem solving adalah suatu proses,
metode atau sistem untuk mendekati suatu masalah dengan cara
yang efektif dan efisien.

Menurut Lavonen et al. (dalam Irma, 2008) keistimewaan dari
model pembelajaran creative problem solving adalah menempatkan
siswa pada situasi yang nyata, karena masalah yang dikemukaan
merupakan tipe masalah yang ill defined, komplek dan bermakna,
dengan pemecahan yang kreatif dari siswa. Hal ini sejalan dengan
riset di bidang pendidikan yang menunjukkan bahwa sebuah teknik
yang efektif untuk mengembangkan keterampilan pemecahan
masalah (problem solving) adalah dengan membiarkan siswa

70 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

untuk menghadapi masalah-masalah yang terkait dengan isu-isu
kompleks (ill-defined problem) sesering dan sedini mungkin yang
terkait dengan bidangnya King dan Kitchener (dalam Irma, 2008)
. Siswa dapat bekerja dalam tim (kelompok), berkolaborasi dan
menunjukkan sikap yang profesional dalam mengkonfrontasikan
masalah dengan situasi nyata yang seluas-luasnya

Suatu soal yang dianggap sebagai “masalah” adalah
soal yang memerlukan keaslian berpikir tanpa adanya contoh
penyelesaian sebelumnya. Masalah berbeda dengan soal latihan.
Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya,
karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang
ditanyakan, dan biasanya telah ada contoh soal. Pada masalah siswa
tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik
dan tertantang untuk menyelesaikannya. Siswa menggunakan
segenap pemikiran, memilih strategi pemecahannya, dan
memproses hingga menemukan penyelesaian dari suatu masalah
(Suyitno dalam Nuriana, TT. 2012).

Masalah diberikan di awal pembelajaran, sehingga terkadang
siswa belum memiliki informasi yang lengkap untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Namun demikian siswa harus menyelesaikan
masalah dengan menggunakan solusi yang terbaik dari data yang
tersedia. Siswa akan berusaha mengaitkan prinsip atau konsep
fisika yang terkait untuk memecahkan permasalahan. Apabila ada
konsep yang belum mereka peroleh sebelumnya yang berkaitan
dengan pemecahan masalah, maka konsep itu akan dipelajari
sendiri oleh siswa secara mandiri, sehingga siswa akan menjadi
lebih ingat terhadap konsep yang mereka pelajari sendiri tersebut.
Tipe dari proses yang melalui banyak tahapan ini (multistaged
process) merupakan karateristik dari model pembelajaran creative

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 71

problem solving. Menurut Deluca, 1993; Fisher, 1990; Welch dan
Lim, 2000 (dalam Lavonen dkk., 2002) tahapan tersebut adalah
(1) merumuskan masalah, (2) mengaitkan masalah dengan dunia
nyata, (3) meletakkan tujuan, (4) mengumpulkan banyak ide-ide,
(5) mengevaluasi ide, (6) memilih dan menentukan solusi, dan
(7) mengecek serta mengevaluasi hasil pemecahan masalah atau
solusi.

Segi-segi yang sangat penting dalam memecahkan masalah
adalah konstruksi tentang gambaran masalah. Sedangkan
tingkat kesuksesannya ditentukan oleh cara pengorganisasian
pengetahuan. Untuk menyusun gambaran masalah (problem
construction) seseorang harus memahami empat aspek masalah,
yaitu; (1) initial state, (2) goal state, (3) operator, serta (4)
keterbatasan dan kekuatan seseorang dalam mengatasi masalah
Nirwana (dalam Irma, 2008) Initial state merupakan pemahaman
yang komprehensip tentang kondisi saat mengalami masalah.
Goal state merupakan hasil yang ingin dicapai oleh seseorang
yang memecahkan masalah. Sedangkan operator adalah tindakan
dalam memecahkan masalah. Kemampuan dan keterbatasan
yang dimaksud adalah ketersediaan dan kemampuan dalam
menggambarkan seluruh informasi yang diketahui tentang
masalah. (Irma, 2008)

Adapun proses dari model pembelajaran pemecahan masalah
kreatif (creative problem solving), terdiri dari langkah-langkah
sebagai berikut.

1. Klarifikasi Masalah
Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada

siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami
tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan. Klarifikasi

72 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

masalah diperlukan karena penyelesaian terhadap suatu masalah
sangat tergantung pada pemahaman terhadap masalah itu sendiri.
Sekali masalah berhasil dirumuskan maka langkah berikutnya
dapat dilalui dengan mudah.

2. Pengungkapan Pendapat
Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan

pendapat tentang berbagai macam solusi/penyelesaian masalah.
Siswa berusaha untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian
masalah. Untuk itu setiap siswa harus kreatif, berpikir secara
divergen, dan memiliki daya temu yang tinggi.

3. Evaluasi dan Pemilihan
Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok

mendiskusikan pendapat-pendapat atau solusi mana yang
cocok untuk menyelesaikan masalah. Siswa meninjau kembali
pendapatnya dengan memberikan penjelasan dari setiap pendapat
yang diungkapkan, dengan demikian dapat dicoret strategi/
cara/penyelesaian yang kurang relevan. Pada tahap ini siswa
menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang kritis, selektif,
dengan berpikir secara konvergen. Siswa memilih alternatif terbaik
yang digunakan sebagai solusi.

4. Implementasi
Pada tahap ini siswa menentukan solusi mana yang dapat

diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya
sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut.

Secara umun sintaks model pembelajaran CPS adalah sebagai
berikut.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 73

Tabel 5.1 Sintaks Model Pembelajaran CPS

Fase Prinsip Reaksi
Klarifikasi Masalah
1. Memberikan penjelasan kepada
Pengungkapan Pendapat siswa apabila mengalami
kesulitan tentang masalah yang
diajukan.
a. Siswa mengklarifikasi
masalah dan merumuskan
masalah dalam kalimat
sederhana.
b. Guru membantu
memberikan penjelasan
kepada siswa apabila
mengalami kesulitan tentang
masalah yang diajukan agar
siswa dapat memahami
tentang penyelesaian seperti
apa yang diharapkan.

1. Mengungkapkan pendapat
tentang berbagai macam
strategi penyelesaian masalah.
a. Mengungkapkan pendapat
tentang berbagai macam
strategi penyelesaian
masalah.

74 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Evaluasi dan Pemilihan 1. Setiap kelompok
Implementasi mendiskusikan pendapat-
pendapat yang cocok untuk
menyelesaikan masalah.
a. Siswa meninjau kembali
pendapatnya dengan
memberikan penjelasan
dari setiap pendapat yang
diungkapkan dengan
demikian dapat dicoret
strategi/cara/penyelesaian
yang kurang relevan

2. Memilih alternatif terbaik yang
digunakan sebagai solusi.
a. Siswa menggunakan
pertimbangan-
pertimbangan yang kritis,
selektif, dengan berpikir
secara konvergen.
b. Siswa memilih alternatif
terbaik yang digunakan
sebagai solusi.

1. Menentukan strategi mana
yang dapat diambil untuk
menyelesaikan masalah,
kemudian menerapkannya
sampai menemukan
penyelesaian dari masalah
tersebut.

a. Siswa mengimplementasikan
pendapat yang dipilih untuk
diterapkan sampai ditemukan
pemecahan msalah yang
diharapkan.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 75

Secara umum fundamental dari pemecahan masalah
kreatif (creative problem solving) adalah keseimbangan yang
dinamis antara pemikiran divergen dan konvergen (Dorval,
1999). Dalam model pembelajaran creative problem solving,
siswa dilatih untuk memikirkan berbagai macam solusi yang
mungkin dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah,
mengumpulkannya, dan akhirnya menemukan satu fokus solusi
yang tepat untuk diimplementasikan dalam memecahkan suatu
masalah secara kreatif.

76 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

BAB VI
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

MATEMATIKA

Guru yang professional adalah mengerti cara memberikan
pelajaran anak sd dengan baik. Mereka dapat menyampaikan
materi secara maksimal kepada siswa sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Untuk dapat
mencapai tujuan tersebut memang bukan hal yang mudah. Hal
ini mengingat bahwa anak sekolah dasar masih berada tahap yang
masih kecil sekali. Kadangkala, ketika pembelajaran berlangsung,
masih ada anak yang keluyuran di luar kelas atau menjahili
temannya.

Oleh karena itulah, guru perlu memiliki sifat sabar dan
mempelajari model-model pembelajaran anak sekolah dasar.
Mengajar sekolah anak dasar bukanlah hal yang mudah. Guru
perlu sabar karena ini akan memengaruhi perkembangan siswa itu
sendiri. Jika guru sering memperlihatkan kekerasan, maka siswa
akan berkarakter sama dengan si pendidik. Akan tetapi, kalau
kita mengajarkan sesuatu dengan cara yang baik, maka karakter
mereka juga akan baik pula. Hal ini juga berlaku dalam proses
pembelajaran pada anak sekolah dasar di dalam kelas. Saat seorang

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 77

guru memperlihatkan wajah seram di kelas, maka suasana belajar
jadi menyeramkan. Berbeda dengan ketika guru tersebut selalu
terlihat ramah dan tersenyum kepada siswa-siswanya. Guru perlu
menciptakan suasana yang menyenangkan agar siswa tidak merasa
terbebani. Akan lebih bagus lagi jika guru juga menyampaikan
materi dengan metode pembelajaran yang interaktif.

Model pembelajaran anak sd juga bisa dikatakan sebagai
desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan
lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan siswa
untuk bisa berinteraksi dengan aktif yang akan membuat mereka
mengalami pengembangan diri.

Kompetensi Yang Diharapkan Memahami peserta didik
dengan:

1. Memanfaatkan prinsip perkembangan kognitif
2. Memanfaatkan prinsip kepribadian
3. Mengidentifikasi peserta didik
4. Mengidentifikasi gaya belajar visual, auditif, dan

kinestesik
5. Membedakan teori belajar behavior, kognitif, kontruktivis

dan sosial
6. Mendeskripsikn strategi pembelajaran

Model Pembelajaran Anak Sekolah Dasar Model pembelajaran
yang digunakan untuk anak SD harus disesuaikan dengan materi dan
tingkat pendidikan yang dihadapi. Model pembelajaran mengenai
pelajaran anak SD biasanya lebih bersifat menyenangkan. Di bawah
ini adalah kecenderungan model pembelajaran matematika:

78 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

A. Pakemi
Pakemi adalah singkatan dari pendidikan aktif kreatif dan

menyenangkan islami. Model ini menuntut anak agar bisa aktif
dan kreatif dan menanamkan nilai-nilai keislaman.

B. CTL
CTL atau Contekstual Teaching Learning adalah sebuah pem-

belajaran yang terdiri dari sejumlah kegiatan seperti konstruktivisme,
bertanya, inkuiri, pemodelan, masyarakat belajar, refleksi serta
penilaian. Metode ini menuntut anak juga untuk berpikir kreatif
dengan membangun sendiri materi yang akan mereka dapatkan.

Konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi,
2002).

Tujuan komponen utama CTL:

1. Konstruktivisme
Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman

baru berdasar pada pengetahuan awal.

Pembelajaran harus dikemas menjadi proses
“mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.

2. Menemukan
Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman

dan Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis.

3. Bertanya
Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai

kemampuan berpikir siswa.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 79

Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam
pembelajaran yang berbasis inquiry.

4. Masyarakat belajar
Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar,

Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri,
Tukar pengalaman dan berbagi ide.

5. Pemodelan
Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir,

bekerja dan belajar. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar
siswa mengerjakannya

6. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa,

Penilaian produk (kinerja), dan Tugas-tugas yang relevan dan
kontekstual.

7. Refleksi
Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, Mencatat

apa yang telah dipelajari, Diskusi kelompok.

C. Metode Collaborative Learning
Metode ini disebut juga dengan belajar kolaboratif adalah

kegiatan kelompok yang bekerja sama untuk memecahkan suatu
masalah secara bersama untuk menempuh satu tujuan.

D. Metode Quantum Learning
Metode ini adalah metode yang bisa diandalkan untuk

menanggulangi masalah yang paling sulit untuk diselesaikan di
sekolah, yaitu kebosanan siswa.

80 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

E. Metode Realistic Mathematics Education (RME)
Lima Karakteristik Utama dari Pendekatan RME
1. Menggunakan pengalaman siswa di dalam kehidupan
sehari- hari
2. Mengubah realita ke dalam model, kemudian mengubah
model melalui matematisasi vertikal sebelum sampai
kepada bentuk formal
3. Menggunakan keaktifan siswa
4. Dalam mewujudkan matematika pada diri siswa
diperlukan adanya diskusi, tanya-jawab
5. Adanya keterjalinan konsep dengan konsep, topik
dengan topik sehingga pembelajaran matematika lebih
holistik dari pada parsial (Ruseffendi, 2003).

Teknik-Teknik Bimbingan Untuk Anak SD bisa dilakukan
dengan sejumlah cara yakni :

1. Teknik Individual
Directive Counseling : konselor akan membuka jalan

pemecahanan yang dihadapi oleh anak
Non-Directive Counseling : Prosedur ini yaitu pelayanan

bimbingan difokuskan untuk anak-anak yang bermasalah.
Elective Counseling : Dengan menggunakan teknik ini,

pelayanan sendiri tidak dipusatkan pada pembimbing atau
si klien, namun masalah yang dihadapi itulah yang perlu
ditangani.

Jadi, memang banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan
untuk melakukan memberikan pelajaran anak SD. Ingat, bahwa
anak sekolah dasar masih bersifat anak-anak dan tidak bisa

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 81

dikeraskan. Sekali-kali, berikanlah mereka suatu reward jika
mereka bisa meraih ranking atau hasil yang bagus dengan
membelikan mereka sebuah tas anak atau berbagai hadiah
lainnya yang akan membuat mereka menjadi lebih bersemangat.
Ketika mereka bersemangat, pendidik pun akan lebih mudah
memberikan pelajaran anak SD.

82 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, Mulyo Rahardjo. 2012. Model pembelajaran inovatif.
Yoogyakarta: gava media

Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :
Rineka cipta.

Hasibuan J.J. dan Moedjiono. 2006. Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Hidayati, dkk.2008.Pembelajaran Pendidikan SD.Jakarta:
Departemen Nasional.

Isjoni. (2009). Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Mufarrokah, Anissatul. 2009. Strategi belajar mengajar.
Yogyakarta: TERAS

Nasution. (2011). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rusman, 2011. Model-Model Pembelajaran; mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta: rajawali Press.

Slameto,2003 Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Jakarta: Rineka Cipta.

Suryosubroto, B. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah.
Jakarta: PT Rineka Cipta.

Susanto, Ahmad. (2013). Teori Belajar Dan Pembelajaran di Sekolah
Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 83

84 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

INDEKS

A Comprehension 15, 16
Constructive 27
Achjar Chalil 8 Course Review 44
Aduktif 31 Create 16
Afektif 1, 3, 6, 15, 16, 17, 18, 20 Crow & Crow 12
Affective 15
Allah Swt V D
Amin Suyitno 24
Analysis 16 Dahlan 24
Analyze 16 David Ausubel 9
Apply 16 Debat 41, 58
Arifin 11 Deskripsi 5, 24, 31
Arikunto 18 Dimyati 2, 11, 83
Articulation 16 Diskusi 31, 32, 33, 34, 36, 37,
Artikulasi 34
Asessment 17 38, 41, 53, 54, 55, 81
Auditif 78 Divergen 73, 76
Authentic Assessment 27
E
B
Efektif 12, 24, 27, 31, 35, 39, 47,
Bangsa V 48, 52, 54, 60, 70
Behavior 3, 78
Briggs 8, 10 Efesien 12
Eko Putro Widoyoko 17
C Eksplorasi 2, 27, 28, 31
Empiric 31
Clark 21 Evaluasi 17, 19, 42, 43, 67, 73,

75

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 85

Evaluate 16 27, 28, 33, 34, 35, 37, 38,
Evaluation 16 44, 45, 46, 53, 54, 58, 60,
66, 68, 71, 72
F Inquiry 27, 60
Intelek 2, 10
Fakta 9, 28, 47, 49, 69 Intellectual 36, 39
Fasilitas 10, 23, 58, 63 Interaksi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,
Fisik V, 13, 18, 20, 22, 36 10, 11, 16, 18, 29, 30, 39,
Flipped Classroom 38 56
Internal 6, 8, 39
G
J
Gagne 2, 5, 6, 7, 8
Guru 1, 2, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 17, Jihad V, 2, 3

20, 21, 22, 23, 24, 29, 30, K
31, 34, 36, 37, 38, 40, 41,
42, 43, 44, 48, 51, 52, 55, Kebajikan V
56, 59, 61, 62, 63, 68, 69, Kecakapan 1, 2, 4, 20, 57
77, 78, 79, 80 Kemahiran 5, 7, 10
Kemampuan 1, 5, 6, 7, 15, 16,
H
17, 20, 21, 27, 28, 30, 36,
Heterogen 26, 32, 33, 36, 37, 58, 61, 62, 63, 67, 68, 69,
48 72, 80
Kerjasama 24, 39, 58
I Keterampilan 1, 2, 4, 5, 6, 24,
37, 57, 58, 61, 65, 66, 67,
Ide 30, 39, 44, 46, 47, 48, 60, 69, 70, 79, 80
65, 68, 70, 72, 80 Keterbukaan 30, 39
Kimbleg 9
Ilmu V, 5, 7, 8, 10, 48, 56, 62, Kinestesik 78
63 Knowledge 15, 16, 69
Knowles 11
Implementasi 67, 73, 75 Kognitif 1, 2, 5, 6, 9, 10, 15, 16,
Improve 39 17, 18, 20, 30, 46, 47, 57,
Individu 1, 2, 3, 4, 12, 16, 29, 61, 78

34, 63, 68, 70
Indonesia Ii, V, Vi
Industrialisasi V
Informasi 2, 7, 8, 9, 22, 24, 26,

86 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Komalasari 12 69, 70, 78, 80
Kompetensi 15, 24, 27, 31, 34, Model V, 23, 24, 25, 26, 27, 28,

37, 38, 40, 41, 42, 44, 45 29, 30, 31, 33, 36, 41, 49,
Konsep 2, 9, 17, 18, 26, 27, 28, 50, 65, 66, 67, 68, 69, 70,
71, 72, 73, 76, 77, 78, 81
29, 30, 31, 35, 38, 39, 40, Modeling 27
44, 46, 47, 68, 71, 81 Mudjiono 2, 11, 83
Kontrukstivisme 79 Muhammad Saw V
Kontruktivis 78 Munif Chatib 8
Konvergen 73, 75, 76
Kooperatif 31 N
Krathwohl 16
Kreatif 39, 56, 67, 69, 70, 72, Nabi V
73, 75, 76, 79 Naturalisasi 16

L O

Larson 68 Oemar Hamalik 10
Learning Community 27 Optimal 21, 28, 50
Lingkungan 2, 4, 5, 6, 7, 9, 10,
P
11, 12, 18, 20, 21, 24, 25,
50, 56, 78 Pandai 17, 37
Lorin Anderson 16 Pembelajaran Iv, V, Vii, Viii, 5,

M 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 18,
23, 25, 26, 27, 28, 29, 30,
Manusiawi 10 31, 34, 37, 39, 46, 47, 48,
Masalah 70, 71, 72, 74 50, 51, 52, 53, 55, 60, 61,
Melihat 4, 49, 54, 55 62, 63, 65, 66, 74, 78, 79,
Memahami V, 4, 16, 26, 46, 47, 83, 84
Pengalaman 1, 3, 4, 7, 11, 12,
51, 54, 55, 60, 62, 67, 72, 17, 23, 25, 26, 47, 70, 79,
74 80, 81
Mengamati 4, 36, 42 Pengetahuan V, 1, 2, 3, 4, 5, 7,
Mental 1, 3 12, 15, 16, 26, 30, 31, 34,
Metode 15, 17, 28, 30, 49, 50, 37, 39, 48, 49, 52, 58, 60,
51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 69, 72, 79, 80
58, 60, 62, 63, 65, 66, 68,

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 87

Penguasaan 5, 7, 10 Siswa 1, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13,
Performance 3 16, 17, 20, 21, 22, 24, 26,
Perlengkapan 10 27, 28, 30, 31, 34, 38, 48,
Phasing 49 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57,
Practice 3 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64,
Precision 16 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71,
Problem Posing 29 72, 73, 74, 76, 77, 78, 79,
Produk 11, 12, 30, 80 80, 81
Professional 77
Psikologis 13 Slavin 12, 25, 37
Psikomotorik 1, 5, 16, 17 Snowball Throwing 42
Psikomotorik 16 Solusi 38, 46, 47, 63, 70, 71, 72,
Psychology 4
73, 75, 76
Q Sosial 26, 29, 32, 49, 78
Stimulasi 2
Quantum Viii, 40, 80 Strategi 26, 46, 48, 49, 50, 51,
Questioning 27
Quiz 34 67, 71, 73, 74, 75, 78
Student Teams Achievement 33
R Sudirman 16
Sudjana 2, 10, 16, 20, 52
Rahil Mahyuddin 10 Sugandi 8, 13
Rasul V Sugandi, Dkk 8, 13
Reciprocal Learning 35 Supriyono 24
Reflection 27 Syah 12
Remember 16 Syaiful Sagala 9, 25
Synthesis 16

S T

Sanjaya 12 Tabiat 5, 7, 12
Scramble 37 Taksonomi Bloom 16
Sd 78, 81, 82, 83 Talking Stick 42
Sekolah Iv, V, 18, 78, 83, 84, 87 Team-Work 29
Sikap 1, 2, 4, 5, 6, 7, 12, 15, 20, Tebak Kata 45
Tingkah Laku 1, 2, 3, 4, 5, 7, 10,
22, 58, 61, 71
Sintaks 49, 74 12

88 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

Treffinger 39
Trianto 11, 25
Tugas 5, 26, 32, 36, 37, 39, 40,

43, 55, 80
Tuhan V, Vi

V

Visual 53, 78
Visualization 36, 39

W

Warsita 8
Wikipedia 13
Woolfolk 12

Y

Yogyakarta Iv

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 89

90 Jusmawati, S.Pd., M.Pd., dkk.

TENTANG PENULIS

Jusmawati, S.Pd., M.Pd., lahir di Tanete Harapan,
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 03 April
1990. sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Buah
hati dari pasangan Mashudi dan Muliati. Penulis
menyelesaikan pendidikan program sarjana pada
tahun 2008-2012 di jurusan Pendidikan Matematika Fakultas
Tarbiah Universitas Islam Negeri Makassar lulus dengan gelar S.
Pd. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan program
pascasarjana di Universitas Negeri Makassar Program Studi
Pendidikan Matematika kekhususan Pendidikan Matematika
Sekolah dengan gelar M.Pd. Penulis memulai karir sebagai dosen
pada Program Studi PGSD STKIP Mega Rezky Makassar (Universitas
Megarezky).

Model-Model Pembelajaran di Sekolah Dasar 91


Click to View FlipBook Version