MODEL 6 LEMBAR 2
88
89
Hasil Pengisian Kuesioner
Berdasarkan tabulasi hasil kuisioner yang diisi oleh 174 pemilih pada simulasi
tahap awal 21 Juni 2021 dengan menggunakan google formulir, dapat didata sejumlah
temuan seperti berikut ini:
90
Dari kuesioner yang disebar kepada pemilih yang berpartisipasi dalam
simulasi enam model desain surat suara, sebagian besar di antara mereka menilai
desain surat suara, khususnya secara ukuran surat suara dinilai sudah cukup
proporsional atau cukup, tidak terlalu besar maupun kecil. Sikap ini disampaikan
oleh 61 persen responden pemilih yang berpartisipasi dalam acara simulasi.
Mayoritas responden dalam simulasi desain enam surat suara juga menilai
saat menggunakan enam desain ini, mereka mengaku tidak mengalami kesulitan
yang berarti. Hal ini disampaikan oleh 78 persen responden yang mengisi kuesioner
setelah melakukan simulasi dengan menggunakan keenam model desain surat suara.
91
Jika dibandingkan dengan keenam surat suara yang disimulasikan, dari enam
surat suara tersebut, surat suara model 1dinilai tingkat kesulitannya paling rendah.
Sebanyak 29 orang dari peserta simulasi menyebutkan model 1 ini tidak terlalu sulit,
namun tetap memerlukan waktu untuk bisa memahami desain model 1 ini. Sebab,
secara jumlah, model 1 ini paling sedikit karena hanya ada satu surat suara untuk
semua pemilu.
Memang hal ini berdampak pada cara pemberian suara dengan menuliskan
angka pada surat suara untuk semua jenis Pemilu. Artinya, pemilih harus
menggunakan alat tulis untuk menuliskannya pilihannya. Pemilu Presiden di bagian
atas, dan Pemilu anggota DPD ada di bagian bawah. Sementara untuk Pemilu DPR,
DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota digabungkan dalam satu kolom partai.
Secara umum keenam desain model surat suara ini memang lebih mudah
dipahami dan lebih sederhana, namun jika diperbandingkan, tingkat kesulitan paling
tinggi tertuju pada model desain surat suara 6. Surat suara model keenam ini terdiri
dari dua surat suara, yang merupakan penggabungan antara surat suara presiden
dan wakil presiden, DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota sementara
surat suara DPD terpisah. Tata cara pemberian suara dengan cara menyilang pada
deretan angka-angka yang disediakan.
92
Namun, secara umum dapat disimpulkan bahwa tata cara pemberian suara
untuk seluruh model dinilai tidak terlalu sulit, meskipun harus diakui memerlukan
durasi waktu bagi pemilih untuk membiasakan diri dengan desain surat suara yang
menggabungkan beberapa Pemilu. Sebanyak 71 persen responden mengaku tidak
terlalu sulit memahami desain 6 surat suara ini, hanya persoalan waktu yang menjadi
variabel pengaruh bagi pemilih dalam menentukan pilihannya ketika menghadapi
kerta surat suara di TPS.
93
Selain menilai desain surat suara yang lebih merasa tidak sulit memahami
keenam desain surat suara tersebut, responden juga merespons soal tata cara
pemberian suara. Sebagian besar responden (68 persen) lebih memilih pemberian
suara dengan cara mencoblos dibandingkan cara menulis ataupun mencontreng.
Kemudian terkait jumlah surat suara, sebagian besar responden cenderung
lebih nyaman dengan desain berjumlah dua surat suara. Hal ini disampaikan oleh
40 persen responden yang mengikuti simulasi untuk mengetahui apa kelemahan
dan kelebihan dari enam desain surat suara yang disiapkan oleh KPU.
Sementara responden pemilih yang cenderung lebih memilih satu surat suara dengan
penggabungan semua jenis Pemilu (Presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota) dipilih oleh kurang lebih 34 persen responden. Sisanya, sebanyak
26 persen lebih tetap memilih lima surat suara seperti yang diterapkan di Pemilu
2019.
Jika mengacu keenam desain surat suara yang dikaji oleh KPU, model 3, 5 ,
dan 6 relatif memenuhi syarat yang disampaikan oleh sebagain besar pemilih, yakni
terdiri dari dua surat suara. Perbedaan ketiganya lebih ke model penggabungannya.
Model 3, dua surat suara yang merupakan gabungan antara surat suara presiden
dan wakil presiden, DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Sementara
surat suara DPD terpisah dan cara pemberian suara dengan menuliskan angka
pilihan pada surat suara.
Model 5 relatif sama dengan Model 3, namun bedanya hanya di tata cara
pemberian suara. Jika Model 3 dengan cara ditulis, Model 5 dengan cara dicoblos
dengan disertai daftar nama calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota. Sementara Model 6, dengan dua surat suara yang merupakan
gabungan antara surat suara pemilihan presiden, DPR, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota sementara surat suara DPD terpisah. Namun tata caranya dengan
menyilang menyilang pada deretan angka-angka yang disediakan. Jadi ketiga model
dengan dua surat suara ini perbedaan besarnya lebih pada tata cara pemberian
suara.
94
Menariknya, ketika ditanya lebih detail soal isi surat suara, terutama soal
daftar calon yang tertulis di surat suara atau bilik suara, pendapat responden
cenderung terbelah. Sebanyak 49 persen mengaku tidak mengalami kesulitan untuk
mengenali dan membaca daftar nama-bama calon dalam Daftar Calon Tetap (DCT)
yang ada di TPS. Namun, sebaliknya, separuh lainnya (51 persen) menyatakan
mengalami kesulitan untuk membaca dan mengenali nama-nama yang masuk dalam
daftar calon legislatif.
Kecenderungan sikap responden yang terbelah soal tingkat kesulitan
mengenali dan membaca daftar calon di surat suara atau TPS ini lebih banyak
dipengaruhi oleh ukuran dari Daftar Calon Tetap yang tersedia. Sebanyak 44 persen
95
responden menilai ukurannya terlalu kecil, sehingga pemilih sulit mengenali.
Sebaliknya, sebanyak 41 persen responden lainnya menilainya sudah cukup
ukurannya atau sudah proporsional.
Survei terhadap responden juga menangkap usulan responden soal lokasi
penempelan Daftar Calon Tetap (DCT). Sebagian besar responden (48 persen) lebih
menginginkan DCT ditempel di dua titik, yakni di papan pengumuman di luar TPS
dan ditempel di dalam bilik suara. Hal ini demi kepentingan untuk memudahkan
pemilih. Setidaknya sebelum masuk bilik suara, pemilih bisa melihat DCT. Hal yang
sama ketika pemilih sudah masuk di bilik suara, ia juga bisa melihat DCT sebelum
memastikan pilihannya.
Hal ini penting untuk memberi referensi bagi pemilih sebab sudah menjadi
perilaku secara umum tingkat pengenalan terhadap nama-nama yang ada di DCT
tergolong rendah. Tidak semua calon yang ada di DCT dikenali oleh pemilih. Dengan
menempel di dua titik, setidaknya bisa memberikan tambahan referensi bagi pemilih.
96
Saran-saran
Terkait dengan simulasi terhadap desain surat suara, pemilih memberikan
masukan-masukan terhadap desain dan ukuran surat suara, tata cara pemberian
suara serta daftar calon tetap yang terdapat di dalam bilik TPS. Adapun saran dan
masukan tersebut sebagian besar hampir sama antara satu sama lainnya, berikut
disampaikan kompilasi garis besar masukan atau saran tersebut, seperti yang ada
dalam rangkuman berikut ini
97
98
Hasil Wawancara Pemilih
Untuk mendapatkan masukan dan pendapat yang lebih mendalam, maka
terhadap beberapa orang pada setiap TPS dilakukan wawancara tatap muka yang
menggunakan menggunakan pedoman wawancara. Tujuannya untuk menggali lebih
detil terhadap desain dan ukuran surat suara, tata cara pemberian suara, dan DCT
yang berada di TPS. Berikut disajikan hasil wawancara dari tiap-tiap TPS, sebagai
berikut:
99
Gambar 12
Surat Suara Model 1 di Simulasi TPS 1 KPU 21 Juni 2021
MODEL 1
100
101
Kesimpulan Penggunaan Surat Suara Model 1
a. Mekanisme pemberian suara dengan cara menulis menggunakan pulpen perlu
memperhatikan beberapa hal :
1) Kapasitas kemampuan pemilih dalam membaca dan menulis, khususnya
pada pemilih yang berada di daerah pedalaman atau minim pengetahuan
2) Cara penulisan yang berpotensi mirip seperti tulisan angka 1 dengan angka
7, angka 2 dengan angka 3
3) Potensi perbedaan hasil pembacaan penulisan angka oleh beberapa pihak
4) Kolom untuk menuliskan nomor urut pada setiap jenis Pemilu dibuat berbeda,
misalkan adanya perbedaan warna di setiap jenis Pemilu.
5) Ukuran kolom untuk menuliskan nomor urut untuk jenis Pemilu DPR dan
DPRD
b. Proses pembukaan dan pelipatan surat suara jauh lebih mudah dan efisien
c. Penyederhanaan surat suara perlu juga memperhatikan jika terjadi perselisihan
hasil dan/atau PSU pada salah satu atau lebih jenis Pemilu, sedangkan dalam satu
surat terdapat lima jenis Pemilu
d. Penempelan DCT pada bilik suara dinilai tidak efisien karena terlalu kecil dan
sulit dibaca
e. Desain surat suara perlu dibuat dengan membagi bagian pemilu nasional dan
pemilu daerah
f. DCT yang ditempelkan pada bilik suara hanya memungkinkan untuk pasangan
calon presiden dan wakil presiden, untuk legislatif terlalu rumit.
g. Perlu disediakan DCT yang ditempel pada papan pengumuman, sehingga tulisan
lebih besar terlihat.
h. Perlu diperhatikan kolom tempat pemberian tanda bagi pemilih yang hanya
memilih partai politik.
102
Gambar 13
Surat Suara Model 2 di Simulasi TPS 2 KPU 21 Juni 2021
MODEL 2
103
104
Kesimpulan Penggunaan Surat Suara Model 2
a. Ukuran surat suara untuk Pemilu 2024 dinilai sudah sesuai, tidak besar dan tidak
kecil serta dinilai cukup membantu pemilih untuk membuka dan melipat surat
suara
b. Penyederhanaan surat suara sangat membantu pemilih, dengan catatan;
1) Pemilih harus melihat DCT
2) Menuliskan nomor urut calon membutuhkan waktu yang lebih lama
c. Tata cara pemberian surat suara dengan menuliskan nomor urut calon merupakan
hal baru dalam proses pemilu. Diperlukan sosialisasi yang masif kepada pemilih
untuk dapat memahami informasi yang tersaji di DCT. Namun dengan catatan,
pemilih memiliki keragaman tulisan yang mungkin sulit dipahami
d. Agar memudahkan pemilih, DCT perlu diperbesar karena beberapa orang
berpandangan dengan ditempel di bilik suara sudah sangat memudahkan. Namun
DCT terlalu kecil, sulit dibaca nama calon dan pemilih kesulitan membedakan
masing-masing jenis Pemilu.
105
Gambar 14
Surat Suara Model 3 di Simulasi TPS 3 KPU 21 Juni 2021
MODEL 3 LEMBAR 1
106
107
MODEL 3 LEMBAR 2
108
109
110
Kesimpulan Menggunakan Surat Suara Model 3
a. Ukuran surat suara dianggap sudah pas, sehingga memudahkan pemilih untuk
membuka dan melipat kembali surat suara. Kesulitan yang dihadapi pemilih
adalah karena menggunakan sarung tangan plastik
b. Metode Pemilu dengan melakukan menulisan nomor pasangan calon sebagian
dianggap mempermudah dan dapat meringkas surat suara, namun ada pula yang
berpendapat bagi beberapa orang di daerah tertentu yang masih kesulitan dalam
baca tulis maka akan cukup menyulitkan.
c. Penempatan DCT dalam bilik suara dapat mempermudah dalam menentukan
pilihan apabila ukuran huruf dibuat lebih besar agar dapat terlihat dengan jelas,
namun hal tersebut juga akan berdampak pada ukuran bilik suara.
d. Apabila terjadi sengketa di salah satu atau lebih jenis Pemilu yang putusannya
mengharuskan Pemilu Ulang, akan berpotensi pemilih menandai pada jenis
Pemilu lain yang ada dalam surat suara tersebut, yang tidak dilakukan Pemilu
ulang.
111
Gambar 15
Surat Suara Model 4 di Simulasi TPS 4 KPU 21 Juni 2021
MODEL 4
112
113
Kesimpulan Menggunakan Surat Suara Model 4
a. Ukuran surat suara model 4 untuk Pemilu 2024 sudah efesien karena telah
menggabungkan 5 jenis Pemilu
b. Penyederhanaan surat suara dapat mengurangi jumlah kertas dan biaya
c. Surat suara model 4 dapat mudah dilipat namun ukurannya masih cukup besar
sehingga sedikit kesulitan saat memasukkan ke dalam kotak suara
d. Pemilih perlu lebih cermat dalam memberikan suara, karena untuk jenis Pemilu
legislatif daftarnya lebih kecil dari sebelumnya, dan perlu pembedaan yang lebih
jelas antara jenis pemilu legislatif antar tingkatan.
e. DCT dapat dicetak dalam ukuran yang lebih besar dari yang telah ditempel di
papan pengumuman.
114
Gambar 16
Surat Suara Model 5 di Simulasi TPS 5 KPU 21 Juni 2021
MODEL 5 LEMBAR 1
115
116
MODEL 5 LEMBAR 2
117
118
119
Kesimpulan Menggunakan Surat Suara Model 5
a. Dengan menerapkan 2 (dua) surat suara pada simulasi pemberian suara pada
surat suara untuk pemilihan umum tahun 2024 perlu dilakukan sosialisasi yang
masif dan waktu yang cukup lama sebelum hari pemungutan suara kepada calon
pemilih di TPS.
b. metode pemberian suara dengan cara mencoblos masih cukup relevan untuk
diterapkan.
c. pemilih perlu lebih cermat dalam memberikan suara, karena untuk jenis Pemilu
DPRD Provinsi/Kabupaten daftarnya lebih kecil dari sebelumnya, dan perlu
pembedaan yang lebih jelas antara jenis Pemilu DPRD Provinsi/Kabupaten antar
tingkatan.
d. DCT dapat dicetak dalam ukuran yang lebih besar dari yang telah ditempel di
papan pengumuman.
e. ukuran surat suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPRD
Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota sudah cukup proposional akan tetapi perlu
diberikan tanda yang indentik terhadap surat suara tersebut agar mudah
dibedakan antara masing-masing jenis Pemilunya.
120
Gambar 17
Surat Suara Model 6 di Simulasi TPS 6 KPU 21 Juni 2021
MODEL 6 LEMBAR 1
121
122
MODEL 6 LEMBAR 2
123
124
Kesimpulan Menggunakan Surat Suara Model 6
a. Ukuran surat suara untuk Pemilu 2024 sebaiknya dapat dipertimbangkan kembali
apakah dengan menyederhanakan jumlah surat suaranya .
b. Penyederhanaan surat suara sangat membantu pemilih dan juga menghemat
waktu saat memberikan suara.
c. Tata cara pemberian surat suara dengan model surat suara yang tersedia.
d. Perlu mempertimbangkan apakah DCT dalam bilik perlu diperbesar atau
memperbesar biliknya
e. Perlu sosialisasi secara masif terhadap ketentuan yang baru apabila opsi pada
TPS 6 dipilih
125
KESIMPULAN SIMULASI 6 MODEL DESAIN SURAT SUARA
Berdasarkan simulasi yang dilakukan terhadap 6 (enam) model surat suara,
sebagian besar pemilih berpandangan bahwa penyederhanaan surat suara dapat
diterima dalam rangka memudahkan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya.
Walaupun ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa penggunaan surat suara
seperti pada saat Pemilu serentak tahun 2019, hal ini dikarenakan penyederhanaan
surat suara merupakan perubahan yang mendasar.
Untuk itu, sebagai perubahan yang mendasar diperlukan sosialisasi yang cukup
masif serta waktu yang cukup panjang agar diketahui oleh pemilih. Selain persoalan
sosialisasi, ada beberapa catatan dari pemilih atau peserta simulasi terkait dengan
penyederhanaan suara suara, yaitu:
1. Pemilih yang terdaftar sebagai pemilih pindahan yang berdasarkan ketentuan
tidak dapat memilih untuk semua jenis Pemilu.
2. Apabila ada perintah penghitungan suara ulang dan hanya satu jenis Pemilu
tertentu atau tidak semua jenis Pemilu, maka perlu diatur mekanisme
penghitungannya
3. Kondisi apabila salah satu surat suara tidak sah atau hilang maka akan berakibat
kepada keseluruhan Pemilu tersebut.
Memperhatikan pendapat – pendapat yang disampaikan oleh pemilih atau peserta
simulasi surat surat suara, maka desain surat suara dan tata cara pemberian suara
yang diharapkan sebagai berikut:
1. Penyederhanaan surat suara dengan menggunakan dua surat suara lebih diminati
oleh pemilih dengan kombinasi surat suara pertama Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden, Anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Surat
Suara kedua berisi Pemilu anggota DPD RI.
2. Perlu dilakukan pembedaan terhadap masing-masing jenis Pemilu, sehingga
tidak terjadi kesalahan dalam memberikan suara/pilihan.
3. Surat suara yang cenderung disukai pemilih adalah surat suara yang nama calon.
4. Tata cara pemberian suara dilakukan dengan model mencoblos karena pemilih
sudah terbiasa dengan hal tersebut. Mencoblos dianggap tata cara yang lebih
mudah diantara pilihan yang lain dan dapat dilakukan oleh semua kalangan
masyarakat pemilih.
5. Model mencoblos juga mengurangi resiko salah tafsir pada saat penghitungan
suara karena bisa dilihat pada sisi dalam dan sisi luar dari surat suara.
6. Daftar pasangan calon atau daftar calon tetap dapat ditempel di dalam bilik suara
dan papan pengumuman.
SIMULASI TIGA MODEL DESAIN SURAT SUARA DI TIGA PROVINSI
Guna melakukan pengujian perubahan desain surat suara untuk Pemilu Tahun
2024, KPU mengadakan simulasi pemungutan dan penghitungan suara dengan
126
desain surat suara dan formulir yang disederhanakan untuk Pemilu 2024. Harapannya,
KPU dapat mengetahui kesulitan yang dialami oleh pemilih dengan setiap model
dalam memilih calon.
Desain Pemilu serentak lima surat suara sedikit banyak berkontribusi terhadap
kesulitan pemilih dalam memberikan suaranya. Dalam surat suara Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden dengan terdapat gambar pasangan calon tentunya memudahkan
pemilih. Situasi berbeda dengan surat suara Pemilu legislatif yang hanya berisikan
simbol partai dan nama-nama calon anggota legislatif dengan desain surat suara
yang cukup besar.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, perlu dikaji kembali dari aspek teknis
dan regulasi serta menata ulang bagaimana desain surat suara yang tepat untuk
digunakan dalam Pemilu serentak yang akan diselenggarakan di tahun 2024, yang
menerapkan prinsip memudahkan Pemilih, akurasi dalam penghitungan suara dan
efisiensi dalam penyelenggaraan Pemilu sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
Pemilu, serta memudahkan dan meringankan beban kerja penyelenggara Pemilu
khususnya KPPS.
Dalam rangka melakukan kajian penggunaan surat suara, maka dilaksanakan
kegiatan simulasi pemungutan dan penghitungan dengan penyederhanaan surat
suara yang berdasarkan kajian terdahulu ditetapkan 3 (tiga) draft surat suara yaitu:
127
Sebelum dilaksanakan kegiatan simulasi, sehari sebelum pelaksanaan kegiatan
pemungutan suara, KPPS yang bertugas di kedua TPS diberikan bimbingan teknis
tentang tata cara pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara oleh sekretariat
KPU.
Dalam pelaksanaan simulasi surat suara ini, pemilih diberikan panduan atau
tata cara pemberian suara melalui video yang diputar berulang di tenda tempat
Pemilih menunggu.
Setelah selesai memberikan pilihan suara, selanjutnya pemilih diminta untuk
mengisi link kuisioner yang berisi pertanyaan terkait atau dilakukan wawancara
oleh panitia kepada pemilih yang telah memberikan pilihan pada surat suara.
Kegiatan Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara dengan desain Surat
Suara dan Formulir yang disederhanakan untuk Pemilu Tahun 2024 dilakukan di
3 KPU Provinsi yaitu :
1. KPU Provinsi Sulawesi Utara, Tanggal 20 November 2021;
2. KPU Provinsi Bali, Tanggal 2 Desember 2021;
3. KPU Provinsi Sulawesi Utara, Tanggal 15 Desember 2021.
Metode simulasi dilakukan dengan membuat 2 TPS dengan desain surat suara
yang berbeda di masing-masing TPS. Kemudian pemilih diberikan desain surat
suara 1 di TPS pertama, kemudian pemilih langsung diarahkan ke TPS kedua untuk
memberikan suara dengan desain surat suara 2.
Metode ini dilakukan dengan tujuan agar 1 orang pemilih dapat merasakan
pengalaman memberikan hak pilih dengan 2 surat suara yang berbeda. Adapun
untuk daftar pemilihnya ditetapkan sebanyak 100 orang yang terdiri dari karyawan
KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota sekitar, Bawaslu Provinsi, Perwakilan Partai
Politik, NGO di bidang kepemiluan, dan Media/ wartawan serta Mahasiswa Universitas.
Pemungutan Suara dilakukan dengan Metode TPS pada umumnya, TPS
didesain dengan alat kelengkapannya yang terdiri dari kotak suara, bilik suara, alat
coblos, Surat suara dan DCT yang ditempel di papan pengumuman. Kemudian di
titik antara masuk dan keluar bilik ditempatkan panitia yang bertugas untuk memindai
barcode yang digunakan pemilih, tujuannya untuk mengukur waktu yang dibutuhkan
pemilih dalam memberikan pilihan.
Terakhir, untuk mendapatkan masukan terhadap desain surat suara tersebut,
maka ada petugas yang mengingatkan pemilih untuk mengisi kuisioner online yang
telah disediakan atau melakukan wawancara terhadap beberapa pemilih untuk
menggali masukan dan saran terhadap desain surat suara tersebut.
SIMULASI DI KPU PROVINSI SULAWESI UTARA 20 NOVEMBER 2021
Kegiatan simulasi pemungutan dan penghitungan suara dengan desain surat
suara dan formulir yang disederhanakan untuk Pemilu 2024 di KPU Provinsi Sulawesi
Utara menggunakan 2 Model Surat Suara, yaitu;
128
Gambar 18
Model 3 Lembar Surat Suara Simulasi Sulawesi Utara
LEMBAR 1
129
130
LEMBAR 2
131
132
LEMBAR 3
133
134
Gambar 19
Model 2 Lembar Surat Suara Simulasi Sulawesi Utara
LEMBAR 1
135
136
LEMBAR 2
137