Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
dikompetisikan di festival ini. Penonton lokal Banyumas dapat melihat diri mereka
sendiri melalui film, sedangkan penonton di luar Banyumas mendapatkan gambaran
mengenai kehidupan orang-orang di Banyumas melalui film-film lokal yang diputar
di festival ini. Penonton FFP 2015 dapat menemukan ‘local content’ atau issue-issue
lokal seputar Banyumas Raya.
Selain itu, dalam memaknai festival film terdapat dua jenis penonton, yakni
penonton yang menghadiri festival untuk menonton film dan penonton yang
mengadiri festival untuk menikmatinya sebagai sebuah event. Penonton yang
menghadiri festival untuk menonton film memiliki ketertarikan yang besar terhadap
film. Penonton jenis ini biasanya berasal dari komunitas film atau pegiat film yang
telah terliterasi. Konsentrasi tinggi saat menonton, lokasi menonton, menonton film
secara penuh, banyaknya jumlah film yang ditonton, dan pemaknaan terhadap film
melalui elemen-elemennya seperti pengambilan gambar, latar suara, pewarnaan,
dan editing merupakan pola konsumsi yang nampak pada penonton yang datang
ke festival film karena kekuatan dari film-film yang diputar. Festival film juga
memungkinkan penontonnya untuk datang menikmati festival sebagai sebuah event.
Penonton memanfaatkan festival film untuk mengisi waktu luang dengan hiburan
film ataupun untuk berkumpul bersama teman dan menambah kenalan baru. Festival
film yang menjadi titik temu berbagai komunitas dan pecinta film juga dimanfaatkan
untuk saling bertukar informasi dan memperluas jaringan antar komunitas. Selain
itu, FFP juga dimaknai sebagai ajang unjuk gigi bagi sekolah-sekolah yang filmnya
lolos menjadi finalis. Penonton-penonton pelajar memenuhi ruang pemutaran untuk
mendukung film dari sekolahnya dan merayakan FFP sebagai peristiwa bergengsi
baginya dan bagi sekolahnya.
Terakhir, untuk penelitian sejenis sebaiknya peneliti dapat melakukan
pendekatan yang lebih baik dengan informan sehingga lebih banyak lagi informasi
yang bisa digali. Pembatasan masalah yang jelas dan juga ketegasan dalam reduksi
data akan membuat penelitian menjadi lebih jelas dan tidak jauh melebar. Masih
banyak hal yang menarik untuk dilihat dari festival ini. Untuk penelitian selanjutnya,
bisa dikaji topik-topik yang lebih spesifik seperti pemetaan penonton dari setiap
kabupaten, ataupun resepsi makna dari penonton FFP terhadap film-film lokal yang
diputar di festival ini.
132
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
REPRESENTASI MEME SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY)
DI MEDIA SOSIAL:
Sebuah Analisis Semiotika pada Kasus Kontra RUU Pilkada
2014 di Twitter Melalui Tagar #ShameOnYouSBY
Cyntia Ayu Hera Pratami Wibowo
Tagar #ShameOnYouSBY lahir sebagai ekspresi kekecewaan rakyat yang
merasa direbut haknya untuk memilih Kepala Daerah-nya sendiri, dan merasa
ditinggalkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sosok yang menurut mereka
dapat membalikkan keadaan, serta figur dari demokrasi itu sendiri. SBY yang kala
itu sedang berada di New York, Amerika Serikat untuk menghadiri pelbagai sidang
di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai Ketua Umum Partai, seakan tidak
mempunyai kuasa untuk menahkodai partainya, dan di ujung masa jabatannya
sebagai Presiden Indonesia malah memiliki andil besar dalam kemunduran
demokrasi. Namun, jika melihat secara obyektif, bukan hanya tagar #ShameOnYouSBY,
idealnya, tagar-tagar lain harusnya juga bermunculan untuk mengkritik Koalisi Merah
Putih yang memiliki tendensi balas dendam atas kekalahan capres yang diusungnya,
dan Koalisi Gotong Royong yang terbukti gagal membangun komunikasi politik
dengan partai lain, terutama Partai Demokrat.
Sempat menjadi fenomena di media sosial twitter dengan menduduki
peringkat 1 trending topics world wide pada akhir tahun 2014 lalu, Tagar
#ShameOnYouSBY muncul dengan berisikan meme-meme provokatif atas tokoh
SBY, Mantan Presiden ke-6 Republik Indonesia, yang digambarkan melalui berbagai
tanda baik verbal maupun non verbal. Pilihan tanda (sign) dalam komunikasi menjadi
sangat mendasar dalam menciptakan makna-makna tertentu, dan dalam hal ini
adalah yang dihadirkan pada meme-meme tersebut. Meme yang muncul terkait
dengan SBY melalui tagar #ShameOnYouSBY menyuguhkan makna dan tanda yang
secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk sosok SBY. Penggambaran
yang secara terus menerus dilakukan para pembuat meme pada akhirnya akan
merepresentasikan sosok SBY dibenak khalayak. Untuk itu, penelitian ini memilih
untuk meneliti representasi SBY di media sosial, tempat dimana tagar ini lahir, yaitu
twitter. Analisis yang dilakukan terutama pada bagaimana hubungan antara gambar,
teks, dan makna yang terhubung satu sama lain untuk membentuk pesan sosial,
pesan politik, emosi publik, atau sekedar membuat humor yang menghibur. Peneliti
menguji lima sampel meme yang tersebar lewat tagar #ShameOnYouSBY di twitter
dan menghubungkan antara gambar, teks, dan makna menggunakan semiotika yang
133
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
dijabarkan ke dalam bentuk tabel pemaknaan. Berdasarkan hasil dari proses semiosis
tersebut, penelitian ini menemukan bahwa para pembuat meme yang berpartisipasi
dalam tagar tersebut memiliki kecenderungan yang sama, yaitu menghina. Sosok
SBY direpresentasikan secara negatif, namun dengan cara yang menarik. Untuk
penelitian selanjutnya, disarankan agar penelitian sejenis ini dikembangkan pada
penelitian yang lebih mendalam khususnya terkait dengan teknik pembuatan meme.
134
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
RISET JURUSAN - MAHASISWA:
TEORI DAN
MEDIA SOSIAL
135
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
136
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
PANORAMA KOMUNIKASI:
GAGASAN, RELEVANSI DAN APLIKASINYA
Dr. Budi Irawanto, dkk
Penelitian ini merupakan pelacakan terhadap sejumlah teori komunikasi
untuk menangkap gagasan pokoknya, menemukan relevansinya dan menunjukkan
aplikasinya terutama dalam konteks masyarakat Indonesia. Penelitian ini didorong
oleh temuan riset yang dilakukan oleh Tim Jurusan Ilmu Komunikasi pada 2014
yang mengindikasikan kesulitan mahasiswa komunikasi dalam memahami teori
komunikasi dan harapan mereka pada buku teks teori komunikasi yang menyajikan
contoh kasus atau fenomena dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Oleh
karenanya, penelitian ini berupaya mendeskripsikan argumen pokok teori komunikasi
berserta kritik yang menyertainya serta mendiskusikan signifikasi teori-teori
komunikasi itu dalam menganalisa gejala komunikasi di Indonesia
Setidaknya ada tiga temuan penting penelitian ini, antara lain: pertama,
teori komunikasi lahir dari konteks perdebatan intelektual di Barat yang tidak jarang
merupakan gugatan (kritik) terhadap pandangan teoritis sebelumnya, namun juga
menjadi upaya penyempurnaan teori sebelumnya. Perdebatan itu berakar pada
perbedaan dalam melihat dan memaknai fenomena komunikasi dari sudut pandang
tertentu maupun perbedaan dalam menyodorkan bukti-bukti bagi pengkonstruksian
teori tersebut. Kedua, teori komunikasi sesungguhnya merupakan ikhtiar untuk
memahami fenomena komunikasi dengan segala kompleksitasnya mulai dari tataran
individu, kelompok, publik, organisasi hingga masyarakat. Karena itu, teori komunikasi
senantiasa berkembang secara dinamis seiring dengan perubahan yang berlangsung
dalam masyarakat terutama yang dipicu oleh perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi. Ketiga, teori komunikasi telah melahirkan serangkaian penelitian
yang membuktikan atau memperkuat tesis yang dibangun oleh teori itu. Penelitian
tersebut secara inovatif menggunakan beragam metode agar mampu menangkap
fenomena komunikasi secara tuntas serta mempertajam daya analitik teori tersebut
dalam memberikan eksplanasi terhadap fenomena komunikasi yang diteliti.
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yang mengidentifikasi
sejumlah teori, terutama yang berasal dari teks berbahasa Inggris. Ada sekitar delapan
teori komunikasi yang berhasil diidentifikasi, antara lain: teori negosiasi muka, teori
kelompok bisu, teori pandangan interaksional, teori narasi, teori budaya organisasi,
teori informasi organisasi, teori ekologi media dan teori kultivasi. Bertolak dari
137
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
delapan teori komunikasi tersebut, maka dilakukan pelacakan data berupa kasus
empiris yang relevan dengan teori yang diulas lewat pemberitaan media massa.
Di samping itu, pengumpulan data juga dilakukan pada situs berbasis video seperti
YouTube sebagai sumber informasi yang tidak bisa diabaikan dalam masyarakat
yang berbasis budaya visual.
Simpulan penting yang bisa ditarik dari penelitian ini adalah teori-teori
komunikasi tersebut memberikan penjelasan konseptual terhadap gejala komunikasi
di berbagai tataran (individu, kelompok, organisasi, publik, dan masyarakat) serta
memiliki akarnya pada perdebatan intelektual maupun kondisi masyarakat yang
melatarinya Di samping itu, kemampuan eksplanatif teori ternyata memerlukan
dukungan riset yang sistematis sehingga tampak relevansi teori komunikasi tersebut
sekaligus menjadi bukti empiris pengaplikasiannya.
Penelitian ini masih terbatas pada pelacakan terhadap teori-teori komunikasi
yang dirumuskan dalam konteks masyarakat Barat (Amerika) dan belum menggali
khasanah teori dengan perspektif Asia atau bahkan Asia Tenggara. Kendatipun teori
yang dirumuskan dalam masyarakat Barat dalam beberapa hal memiliki relevansinya
dalam masyarakat Indonesia, teori-teori komunikasi itu tetap menyimpan bias pada
kondisi masyarakat Barat. Di samping itu, tidak semua teori komunikasi mampu
menginspirasi pelbagai riset dengan keragaman objek penelitiannya maupun
konteks yang bervariasi. Dengan demikian, penting dilakukan pelacakan terhadap
teori yang memiliki konteks maupun perspektif yang berakar pada masyarakat Asia
(termasuk Asia Tenggara) agar fenomena komunikasi yang ada di masyarakat Asia
bisa terbaca secara konseptual. Begitu pula, riset komunikasi lebih bervariasi dan
imajinatif diperlukan untuk menakar relevansi atau signifikansi teori yang memiliki
basis pada kondisi yang ada dalam masyarakat.
138
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
MEDIA BARU DALAM RAGAM LOKUS DAN PERSPEKTIF:
Studi Literatur Institusi, Produksi, Konten, dan
Akses Media Baru
Wisnu Martha Adiputra, M. Si., dkk
Kemunculan dan perkembangan media baru memberikan konsekuensi
logis para pemahaman ilmu komunikasi dan kajian media. Di satu sisi media baru
memperkaya lokus dan perspektif keilmuan, di sisi yang lain mengembangkan ilmu
komunikasi dan kajian media menjadi lebih luas dan semakin terkait dengan ilmu
yang lain, terutama psikologi, studi ekonomi politik dan teknologi informasi dan
komunikasi.
Lokus lama ilmu komunikasi dan kajian media tetap menjadi wilayah yang
penting ketika dikaitkan dengan media baru. Fenomena ini terlihat dari kajian
periklanan dan kehumasan yang semakin berelasi dengan media baru. Demikian
pula dengan produksi konten berita dan konten fiksi yang semakin dibahas dengan
mendalam ketika media baru digunakan dengan ekstensif. Kemampuan individu
menyebarkan informasi yang bersifat sindiran melalui meme misalnya, sedikit banyak
memperkuat fungsi memberikan informasi dan menghibur dari media.
Selain itu, lokus baru ilmu komunikasi dan kajian media juga lahir sebagai
akibat perkembangan media baru yang sangat cepat. Kajian mengenai komunitas fan
misalnya, kemampuan pengguna mengakses, menganalisis, sekaligus memberikan
tafsir baru atas teks awal yang didapatkan menjadikan relasi produsen teks dengan
pengakses semakin intim dan dekat, namun juga problematik. Sebagai akibat
perkembangan media baru studi audiens perlu ditinjau kembali dan dikembangkan
agar lebih kaya dan mendalam. Studi game adalah salah satu lokus keilmuan baru
yang kini semakin menarik perhatian untuk dikaji mengingat popularitas sekaligus
penetrasi teks media baru ini semakin tinggi di masyarakat. Keberagaman pemaknaan
gamer atas satu teks game misalnya, memerlukan banyak pengetahuan baru agar
bisa dijelaskan dengan lebih mendalam.
Melalui riset ini perspektif yang sejak awal digunakan semakin penting,
misalnya saja perspektif politik untuk melihat penerapan prinsip keterbukaan
informasi publik ketika suatu lembaga publik telah menggunakan internet. Perspektif
sosiokultural juga masih digunakan untuk mengamati fenomena media baru,
misalnya saja pengaruh konteks lokalitas budaya dalam penggunaan media sosial.
139
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Walau demikian, perkembangan media baru juga turut mendorong perspektif
baru untuk digunakan dalam melihat fenomena ilmu komunikasi dan kajian media.
Aspek terpenting adalah pada produsen pesan terinstitusi yang semakin intens
menerapkan perspektif strukturasi misalnya, agen dan struktur dalam produksi,
distribusi, dan akses teks pada media baru sulit untuk diamati secara monolit.
Perspektif yang bervisi untuk mengamati media baru secara makro cenderung tidak
memadai untuk mengamati kasus-kasus terkini dari penggunaan media baru. Bentuk
new economy seperti yang dijelaskan oleh Manuel Castells misalnya, dapat dengan
mudah diamati pada para aktivis media sosial yang menunjukkan tegangan antara
agen dan struktur ketika konsekuensi tindakan informasional hadir pada konteks
lokal. Diharapkan hasil penelitian ini semakin mendorong antusiasme pembelajar
untuk memperdalam kajian media baru sekaligus memberikan pemahaman pada
kondisi kontemporer secara akademis maupun strategis.
140
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
URGENSI LITERASI DIGITAL UNTUK PELAJAR SMA
Penelitian Survei Tingkat Literasi Digital Pelajar
Sekolah Menengah Atas-Negeri di
Daerah Istimewa Yogyakarta
Rezha Rosita Amalia
Perkembangan internet sebagai media digital membawa banyak pengaruh
terhadap kehidupan manusia. Salah satu contoh pengaruh negatif internet bagi
kehidupan sosial (merujuk pada kehidupan fisik), yakni manusia menjadi kecanduan
dan terlalu bergantung dengan teknologi komunikasi yang terhubung dengan
internet, sehingga seringkali manusia lupa untuk bersosialisasi dan berkomunikasi
dengan sesama manusia secara langsung. Namun demikian, di sisi lain internet juga
memiliki pengaruh positif yang dapat dirasakan manusia ialah semakin luasnya
jaringan komunikasi yang dapat dilakukan. Manusia menjadi terhubung satu dengan
lainnya di berbagai belahan dunia dengan mudah karena internet. Kemunculan media
sosial dan aplikasi sosial lainnya membuat manusia dipermudah dalam mencari
informasi serta menjalin komunikasi.
Implikasi dari hal tersebut ialah muncul dan berkembangnya masyarakat
digital. Masyarakat digital merupakan sekumpulan individu yang memiliki kesamaan
minat atau visi yang sama, kemudian terhubung melalui internet. Sebagai masyarakat
digital, setiap individu di dalamnya memiliki karakter, yakni memiliki e-skill dan
literasi digital. Kedua kemampuan ini sama-sama menuntut manusia untuk trampil
dalam penggunaan teknologi digital, seperti pengoprasian komputer, smartphone,
dan lainnya yang terhubung dengan internet. Namun demikian, di dalam litersi
digital, manusia tidak hanya dituntut untuk menguasai penggunaan teknologi
secara teknis semata, tetapi juga manusia dituntut untuk mampu memahami pesan
atau informasi yang disampaikan lewat internet secara kritis, dan manusia mampu
menjalin hubungan sosial serta berpartisipasi dalam masyarakat lewat internet.
Untuk menjalin hubungan sosial lewat internet, manusia perlu menerapkan netiket
(nettiquette=netter ettiqutte), yakni aturan yang perlu ditaati oleh masyarakat digital
ketika tengah berinteraksi satu sama lain (Pratama, 2014: 76). Netiket inilah yang
kadang dilupakan oleh masyarakat digital, termasuk pelajar di tingkat menengah
atas yang masuk dalam kategori digital natives.
Untuk itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat literasi digital
pelajar menengah atas. Penelitian difokuskan pada pelajar SMA Negeri di Daerah
141
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Istimeway Yogyakarta dengan berbagai pertimbangan. Metode yang digunakan
untuk penelitian kali ini ialah metode survei, di mana peneliti menggunakan kuesioner
sebagai instrumen penelitiannya. Peneliti menyasar setiap wilayah (kotamadya dan
kabupaten) di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengambil sampel pelajar
di dua SMA Negeri berbeda di masing-masing wilayah.
Dari hasil penelitian diperoleh temuan yang menunjukkan bahwa
kemampuan teknis pelajar SMA Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah masuk
dalam kategori mahir. Pelajar sudah menguasai penggunaan beragam perangkat
teknologi keras dan lunak. Smartphone menjadi perangkat teknologi keras yang
paling banyak dikuasai, sementara web browser menjadi perangkat teknologi lunak
yang paling banyak dikuasai. Sementara pada kemampuan menggunakan internet
secara aktif dan seimbang diketahui bahwa pelajar cenderung menggunakannya
untuk berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun diketahui juga bahwa penguasaan
fungsi media internet sebagai media mencari informasi, media belajar dan media
hiburan sudah baik. Sebaliknya, kemampuan menggunakan internet secara advanced
masih cenderung kurang.
Pada komponen pemahaman kritis, diketahui bahwa pemahaman pelajar
sudah baik. Mereka mampu menganalisis, mengevaluasi, dan melakukan sintesis
terhadap konten yang disajikan internet. Begitu pula dengan pengetahuan mereka
tentang netiket.Terlihat bahwa pelajar cenderung tidak mengakses dan menyebarkan
konten pornografi ataupun kekerasan. Akan tetapi dari hasil temuan terlihat
bahwa kesadaran mereka untuk mengakses dan menyebarkan file bajakan masih
kurang. Sementara perilaku pelajar selama menggunakan internet terlihat bahwa
cukup banyak yang cenderung memanfaatkan kemudahan yang diberikan, seperti
penggunaan kolom menu search, membaca thread, dan membaca daftar FAQ.
Pada kemampuan berkomunikasi dan berpatisipasi juga terlihat bahwa
pelajar sudah cenderung aktif menggunakan media sosial. Dari hasil penelitian,
facebook masih mejadi primadona. Dalam membangun relasi sosial secara
keseluruhan pelajar sudah menyadari dan menerapkan netiket, meskipun dari hasil
temuan terlihat bahwa penggunaan kata atau istilah vulgar bukan menjadi persoalan
bagi beberapa di antara mereka. Hasil ini perlu menjadi koreksi berbagai pihak agar
mereka mampu membangun relasi dengan berkomunikasi yang baik dan sehat. Dari
hasil temuann diketahui bawa pelajar sudah mulai menyadari bahwa perubahan
sosial dapat dilakukan dengan berpartisipasi dalam internet melalui gerakan sosial
online. Gerakan sosial online online yang cenderung diikuti ialah Earth Hour Indonesia.
Sementara pada penggunaan metode kolaboratif, terlihat bahwa metode media sites
142
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
like cenderung menjadi piliha mereka. Dalam memproduksi dan mengkreasi konten
diketahui bahwa pelajar cenderung menggunakan jejaring sosial dibandingkan
milis atau forum.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ialah tingkatan literasi digital
pelajar SMA Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah berada di tingkat
advanced. Secara keseluruhan dapat diketahui dari penelitian bahwa kemampuan
teknis, pemahaman kritis dan kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi
pelajar SMA Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah sangat baik. Peneliti
merekomendasikan kepada peneliti selanjutanya untuk memperdalam bahasan
topik literasi digital terutama pada aspek atau komponen pemahaman kritis dan
komunikasi serta berpartisipasi. Penelitian dua aspek ini disarankan agar lebih
diperdalam menggunakan metode kualitatif, sehing data dan informasi yang dapat
digali lebih bervariasi dan mendalam. Akan ada banyak temuan menarik jika peneliti
lain mengembangkannya, sehingga mampu melengkapi hasil temuan penelitian ini.
143
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
RATIH TV DAN IN FM SEBAGAI
MEDIA KEHUMASAN PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN
M. Awwaludin Jamil
Penelitian ini dilakukan untuk mencoba mengetahui bagaimana Humas
Pemkab Kebumen memanfaatkan In Fm dan Ratih TV menjadi saluran komunikasi
humas pemerintah daerah. Seperti kita tahu bahwa In Fm dan Ratih TV mulanya
memang merupakan lembaga penyiaran milik pemerintah Kabupaten Kebumen yang
notabene digunakan sebagai media ‘corong’ pemerintah daerah, pengelolaannya
pun berada dibawah kewenangan Bagian Humas Pemkab Kebumen sehingga
bisa dikatakan bahwa kedua media tersebut merupakan media Humas Pemkab
Kebumen. Seiring dengan diberundangkannya undang-undang No 32 Tahun 2002
Tentang Penyiaran telah membuat status In Fm dan Ratih TV dari yang semula
lembaga penyiaran pemerintah daerah berubah menjadi lembaga penyiaran publik
lokal, perubahan ini membawa konsekuensi bahwa kepemilikan In Fm dan Ratih
TV tidak lagi berada dibawah Pemkab Kebumen,karena lembaga penyiaran publik
lokal merupakan lembaga yang netral dan independen. Maka dari itu peneliti ingin
mengetahui bagaimana praktik pemanfaatan Humas Pemkab Kebumen terhadap
In Fm dan Ratih TV sebagai saluran komunikasi humas pemerintah daerah setelah
menjadi lembaga penyiaran publik, mengingat pernah adanya hubungan menejerial
diantara kedua lembaga tersebut. Kemudian, apakah lembaga penyiaran publik lokal
tersebut mampu menjaga aspek indepensitas dan netralitas sebagai ruang publik
bagi masyarakat Kebumen, dan mampu menjadi media penyalur aspirasi publik.
Untuk melihat fenomena tersebut dalam penelitian ini peneliti menggunakan
metode studi kasus kualitatif dimana metode tersebut dianggap mampu
memberikan pembahasan data yang mendalam tentang suatu kasus yang spesifik.
Sedangkan metode penelitian kualitatif sendiri merupakan prosedur penelitian yang
menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang dapat diamati. Adapun data dalam penelitian ini akan diperoleh
melalui wawancara mendalam dengan pihak Ratih TV dan In Fm, observasi langsung
terhadap program siaran kehumasan baik di In Fm maupun Ratih TV dan analisis
dokumen-dokumen tentang penyiaran Ratih TV dan In Fm.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya peneliti menemukan beberapa hal
yakni: 1) Bahwasannya perubahan status baik In Fm dan Ratih TV menjadi lembaga
penyiaran publik lokal nampaknya masih setengah hati, hal ini dapat diilihat dari
144
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Perbup No 28 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Lembaga Penyiaran Publik
Lokal Kabupaten Kebumen yang menyatakan sementara belum diangakatnya dewan
pengawas dan dewan direksi sesuai amanat Perda guna kelancaran pengelolaan
Ratih TV dan Radio In Fm maka kordinasi tentang penyelanggaraan Ratih TV dan In
Fm ada di kewenangan di Kabag Humas dan Protokol, disitu dapat kita lihat bahwa
ternyata secara struktural In FM dan Ratih TV masih belum independen. 2) Belum
adanya dewan pengawas yang ditetapkan oleh Bupati Kebumen atas usulan dari
DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Kebumen setelah dilakukan
uji kepatutan dan kelayakan secara terbuka atas masukan pemerintah daerah dan/
atau masyarakat. Berdasarkan Perda No 10 dan 11Tahun 2009Tentang Pembentukan
Lembaga Penyiaran Publik Lokal Radio danTelevisi Kabupaten Kebumen. Jadi Dewan
Pengawas yang ada sekarang merupakan hasil dari penunjukan Kabag Humas.
3) Belum adanya Dewan Direksi yang diangkat menurut ketentuan UU penyiaran
maupun Perda lembaga penyiaran publik lokal. Jadi sifatnya juga penunjukan.
4) Sebagian besar posisi strategis baik di In Fm dan Ratih TV diisi oleh Pegawai
Negeri Sipil yang notabene juga merupakan staf Bagian Humas dan Protokol Setda
Kabupaten Kebumen. 5) Disamping dari APBD sumber pendanaan berasal dari
iklan layanan masyarakat, akan tetapi dalam prakteknya pendapatan tersebut wajib
disetorkan ke kas Pemkab Kebumen.
Untuk penelitian selanjutnya dapat difokuskan untuk melihat seberapa besar
kefektifan penggunaan media penyiaran publik lokal sebaga saluran komunikasi
humas pemerintah daerah. Jadi, dalam penelitian selanjutnya data, pembahasan dan
analisis nantinya akan difokuskas untuk melihat seberapa besar tingkat efektifitas
media penyiaran publik lokal sebagai saluran komunikasi humas pemerintah daerah
dan dampaknya terhadap masyarakat.
145
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
POLA KERJASAMA TELEVISI LOKAL BERJARINGAN:
Studi Kasus iNews TV Semarang
Dimeitrianus Aninditya P
Bisnis televisi lokal di Indonesia pernah menjadi sebuah tren, banyak televisi
lokal yang muncul terutama setelah ditetapkannya UU no 32 tahun 2002 tentang
penyiaran. Namun begitu, banyak televisi lokal yang akhirnya malah bangkrut dan
hilang begitu saja. Beberapa yang masih bertahan menoba untuk menggandeng
stasiun televisi yang berada di Jakarta untuk berjaringan, beberapa mencoba
berjaringan dengan televisi lokal di daerah lain, dan yang lain mencoba mencari
pemasok program acara. Beberapa cara tersebut dinilai cukup membantu dan bisa
menyelamatkan bisnis televisi lokal di Indonesia.
Salah satunya adalah Pro TV semarang yang akhirnya menjadi iNews TV
Semarang. iNews TV Semarang merupakan sebuah stasiun televisi yang berjaringan
dengan televisi lokal Jakarta yaitu iNews TV Jakarta. iNews TV merupakan sebuah
jaringan televisi terbesar di Indonesia. Tidak hanya sebagai pemasok program tetapi
juga sebagian besar saham dimiliki oleh jaringan Global Telekomunikasi Terpadu
yang adalah pemilik saham dari induk jaringan iNews TV.
Pola kerjasama berjaringan yang dianut dalam iNews TV Semarang ini adalah
sistem owned & operated, karena induk jaringan dan anggota jaringan berada dalam
satu perusahaan. Penelitian ini mengungkapkan apa saja kerjasama yang dijalin
dalam pola berjaringan ini. Untuk meneliti dan menganalisis fenomena ini digunakan
metode studi kasus. Data-data yang diperoleh untuk studi kasus dapat diambil dari
apa saja dan dari semua pihak yang bersangkutan.
Dari hasil penelitian dapat ditemukan bahwa iNews TV Semarang walaupun
berjaringan, masih berjuang secara mandiri dalam hal pendanaan. iNews TV Semarang
hanya mendapat pemasukkan dari iklan pada slot tayang lokal yang diberikan oleh
induk jaringan. Menarik pengiklan untuk mengiklankan produknya di tv lokal cukup
sulit, hal ini jugalah yang menjadi kendala bagi iNews TV Semarang, padahal dari
situlah satu-satunya pendapatan mereka. Induk jaringan dalam iNews TV memang
memberikan bantuan dana kepada anggota jaringannya, namun pinjaman dana itu
hanya seperti‘hutang’yang jika sudah ada uang yang masuk, anggota jaringan harus
mengganti uang yang telah mereka pinjam sebelumnya.
146
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Selain dalam hal keuangan, kerjasama berjaringan yang terjadi dalam iNews
TV Semarang adalah dalam hal peralatan dan teknologi. Bantuan dari jaringan
diberikan dalam hal penguatan transmisi. Transmisi yang dipergunakan iNews TV
Semarang dapat menghasilkn gambar yang lebih jernih dibanding stasiun tv lokal
lain yang ada di Semarang. Hal ini dikarenakan transmisi yang dipergunakan iNews
TV Semarang memiliki spesifikasi yang lebih baik daripada tv lokal lainnya. Untuk
peralatan, memang dibantu oleh induk jaringan, terutama untuk alat-alat yang
memiliki spesifikasi tinggi yang tidak bisa didapatkan di daerah. Namun, bantuan
itu biasanya sifatnya untuk pembaruan, untuk keadaan mendesak dan penting
biasanya tim teknik dari iNews TV Semarang dituntut sekreatif mungkin untuk dapat
mengatasi masalah tersebut.
Untuk penelitian selanjutnya yang memiliki tema serupa, peneliti
merekomendasikan untuk fokus pada salah satu bidang kerjasamanya saja
(kepemilikan, isi kerjasama, SDM, keuangan, atau manajemen medianya).
147
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
148
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
RISET JURUSAN - MAHASISWA:
STUDI KAWASAN
149
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
150
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
LOKALISASI DAN INSTITUSIONALISASI NORMA HAM
DI ASIA TENGGARA
Drs. Muhadi Sugiono, M.A, Atin Prabandari, M.A (IR),
Novie Lucky Andriyani, Muhammad Abie Zaidannas Suhud
Ditandatanganinya Piagam ASEAN pada tahun 2009 menandai era baru
dalam sejarah perkembangan norma hak asasi manusia (HAM) di Asia Tenggara.
Pasalnya,ASEANmemiliki catatan sejarah HAM yang kurang baik seringkali dikaitkan
sebagai entitas yang menentang penerimaan norma HAM. Walaupun demikian,
norma HAM dimasukkan sebagai nilai yang mendasari proses regionalisme di
Asia Tenggara melalu pembangunan Komunitas ASEAN tahun 2015. Lebih dari
itu, Piagam ASEAN tidak hanya meletakkan HAM dalam tatanan normatif dengan
mengamanatkan pendirian badan HAM di ASEAN yang diwujudkan melalui ASEAN
Intergovernmental Comission of Human Rights (AICHR).
Walaupun ASEAN telah berhasil membangun norma HAM dalam tatanan
normatif dan praktis, terdapat kesenjangan antara norma yang telah terbangun
dengan proses institusionalisasi HAM di Asia Tenggara. Berdirinya AICHR seringkali
masihterbenturdengan mekanisme-mekanisme yang ada di ASEAN seperti prinsip
non-intervensi dan konsensus sehingga fungsi AICHR masih terhitung terbatas
jika dibandingkan institusi HAM lainnya. Dari fakta-fakta yang ada dapat dilihat
bahwa implikasi institusional dari pembangunan norma HAM di Asia Tenggara
masih sangat rendah jika dibandingkan dengan penempatan norma HAM dalam
dokumen-dokumenresmiASEAN yangmenempatkannormaHAMsebagaisalah satu
nilai dasar yang melandasi organisasi ASEAN.
Penelitian ini akan melihat bagaimana perkembangan norma HAM di Asia
Tenggara berjalan sehingga terbentuk sebuah institusi HAM di bawah mekanisme
ASEAN. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan“mengapa terdapatkesenjangandi
antara lokalisasi norma dengan institusionalisasi HAM di Asia Tenggara?”dengan
melihat proses lokalisasi norma HAM di Asia Tenggara serta bagaimana norma
HAM direfleksikan dalam mekanisme ASEAN. Penelitian akan dilakukan dengan
metode kualitatif dengan menelaah sumber-sumber primer lewat wawancara serta
studi literatur, dokumen resmi dan pidato pejabat ASEAN yang berkaitan dengan
proses lokalisasi norma HAM di Asia Tenggara.
151
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdebatan norma HAMASEAN antara
paradigma universalis dengan partikularis telah bergeser meskipun masih dirasakan
pada sebagian besar negara anggota ASEAN. Paradigma HAM dalam ranah
universalisme atau relativis partikularisme sudah tidak menjadi perdebatan utama.
Perdebatan lebih diarahkan pada proses sosialisasi untuk norm-building maupun
standard-setting dalam rangka mengimplementasikan HAM yang sesuai dengan
piagam ASEAN dan kepentingan nasional masing-masing negara.
Setiap negara memiliki pandangan tersendiri terhadap norma hak asasi
manusia dan upaya melokalisasikannya. Proses lokalisasi dan “norm-building” hak
asasimanusiadiwilayah Asia Tenggara baik secara regional maupun nasional menitik
beratkan pada aspek sosial dan kolektif dengan latar belakang historis, budaya, dan
agama. Momentum awal diterimanya norma hak asasi manusia ditandai dengan
adanya Deklarasi Bangkok tahun 1993 yang selanjutnya memunculkan gagasan
untuk menginstitusionalisasikan norma HAM.
Capaian penting proses institusionalisasi HAM di Asia Tenggara selanjutnya
diwujudkan lewat pencanangan Piagam ASEAN pada tahun 2007. Proses
institusionalisasi norma HAM di Asia Tenggara juga tidak bisa dilepaskan dari
konstelasi politik regional dan domestik negara- negara ASEAN. Dalam tatanan
domestik, institusionalisasi norma HAM terwujud dalam
bentuk institusi HAM nasional pada beberapa negara anggota ASEAN.
Dalam lingkup regional, keberhasilan proses awal institusionalisasi ditandai dengan
berdirinya ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) pada 2009
dan dilanjutkan dengan ASEAN Human Rights Declarations (AHRD) pada 2012.
Pasca didirikannya AICHR, proses institusionaliasi norma HAM untuk
mencapai institusi yang lebih kuat dan kredibel masih terkendala oleh banyaknya
kepentingan negara di dalam tubuh AICHR. Hingga saat ini AICHR masih memiliki
kemampuanyangterbatasdalam menangani masalah-masalah HAM di kawasan Asia
Tenggara. Walaupun demikian, fakta bahwa isu HAM telah masuk ke dalam agenda
ASEAN perlu diapresiasi sebagai salah satu capaian penting dalam membangun
penguatan norma HAM di Asia Tenggara melalui mekanisme ASEAN. Selain itu,
peran elemen masyarakat sipil sangat berperan dalam keberhasilan proses
lokalisasi dan institusionalisasi norma HAM di Asia tenggara dengan harapan
berdirinya Pengadilan HAM ASEAN nantinya.
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa terdapat kesenjangan antara lokalisasi
HAM di negara-negara ASEAN dengan proses institusionalisasi norma HAM di
bawah mekanisme ASEAN. Kesenjangan ini terlihat dari bagaimana masyarakat
152
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
sipil di lingkup domestik berperan aktif dalam mempromosikan norma HAM dan
melakukan advokasi dalam menegakkan ham serta secara konsisten memprotes
pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara. Sementara itu,
Institusi HAM di tingkat regional mengalami kemajuan yang lambat karena memiliki
wewenang yang terbatas dan sarat akan kepentingan negara anggota. Walaupun
kemajuannya berjalan lambat, komponen masyarakat sipil melalui lembaga-lembaga
non-pemerintah masih secara aktif mendorong terbentuknya institusi HAM regional
yang lebih kuat dalam bentuk pengadilan HAM ASEAN yang memiliki Konvensi
HAM ASEAN sebagai dasar hukumnya.
153
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
PERAN AKTOR TRANSNASIONAL DALAM MEMBANGUN
“IMAGE” DAN “BRANDING” NEGARA DALAM HUBUNGAN
INTERNASIONAL
Dra. Siti Daulah Khoiriati, MA., Rochdi Mohan Nazala, MSA.,M. Litt., Putri
Rakhmadani Nur Rimbawati, Diakonia Pungkassari
Riset yang bertema “Aktivisme Transnasional daalam Membangun
„Image” dan „Branding”Negara dalam Hubungan Internasional”ini mengkaji fenomena
aktivisme transnasional dalam hubungan internasional yang dilakukan oleh aktor-
aktor non-negara dalam tataran konseptual dan empiris. Aktivisme transnasional
dalam hal ini dimaknai sebagai aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok
secara lintas negara yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang
tertentu (Tarrow: 2005). Melalui penelitian ini dikaji secara mendalam bagaimana
aktor-aktor non-negara berperan secara transnasional dalam membangun “image”
dan “branding” negara untuk suatu kepentingan tertentu di dalam hubungan
internasional, terutama kepentingan ekeonomi dan pengembangan budaya sebagai
bagian dari diplomasi publik.
Pada bagian awal dilakukan kajian pada tataran teoritis (konseptualisasi)
mengenai aktivisme transnasional, dengan mengupas mengenai apa; mengapa
dan bagaimana aktivisme transnasional dilakukan oleh aktor transnasional untuk
mendukung kepentingan negara dalam dua hal yaitu: (1) membangun suatu
gambaran tertentu (image) yang dikehendaki untuk mempengaruhi persepsi negara
lain; dan (2) untuk membentuk identitas tertetu (branding) yang akan ditampilkan
oleh suatu negara dalam hubungan internasional dan terhadap suatu negara tertentu.
Untuk mencapai kepentingan-kepentingan tersebut, actor-aktor transnasinal
berperan menjalankan diplomasi publik secara transnasional.
Menggunakan kerangka teoritis yang terbangun dari penelitian pendahuluan
yang menjadi riset payung (yang dituangkan dalam temuan penelitian), penelitian
dilanjutkan dengan studi kasus dari pengalaman empiris. Kajian empiris dilakukan
oleh dua orang mahasiswa yang menghasilkan penelitian dalam bentuk thesis
pascasarjana (S2). Adapun riset empiris yang dilakukan mengambil dua tema yaitu
pertama, mengenai peran media Voice of America (VOA) dalam pembentukan image
Amerika dimata publik Indonesia; dan kedua, mengenai peran Institute Francais
d’Indonesie (IFI) dalam pembentukan nation branding Perancis di Indonesia. Temuan
dari kedua penelitian tersebut memperkuat konseptualisasi yang dikerjakan dalam
154
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
riset payung dan menjadi kajian yang memperkaya khazanah studi hubungan
internasional dalam perspektif transnasionalisme.
Pada tataran teoritis atau konseptual, penelitian ini menunjukkan bahwa
studi hubungan internasional telah mengalami perkembangan yang signifikan di
era globalisasi, dimana hubungan transnasional yang di inisiasi oleh aktor-aktor
non-negara turut berperan penting dalam membantu menyelesaikan berbagai
persoalan. Isu utama dalam hubungan internasional bukan hanya persoalan politik
dan keamanan, tapi juga meliputi isu-isu ekonomi, perdagangan, hubungan social
dan budaya. Kompleksitas isu-isu tersebut telah menjadikan peran Negara tidak
cukup memadai, sehingga membutuhkan dukungan aktor transnasional dalam
menjalankan diplomasi publik.
VOA Indonesia adalah affiliates based media, maka VOA menjalin
hubungan yang sangat erat dengan ratusan media yang bekerja sama dengan
VOA, baik radio, TV maupun new
media. VOA memiliki peran yang cukup besar dalam mencitrakan Amerika,
yaitu “to inform, engage, dan connect people”. Menginformasikan (to inform),
merupakan peran media yang penting dan strategis dalam menginformasikan
berbagai kegiatan dan pemberitaan. Peran“untukterlibat” (to engage) mencerminkan
prioritas utama dalam dialog dengan pemirsa, pendengar, dan pembaca VOA,
mendengarkan apa yang mereka katakan, dan mendorong mereka untuk berbagi
dengan VOA termasuk dalam konten program. Peran“untuk menghubungkan orang”
(to connect people) mengacu dalam membantu penonton jaringan dengan
satu sama lain untuk berbagi informasi dan ide-ide sesuai dengan minat mereka.
Peran aktor transnasional dalam membangun image dilakukan dengan cara
diplomasi publik melalui mediaVOA. Peran VOA membangun image AS di mata publik
Indonesia melalui cara konten program VOA dan media afiliasi. Peran VOA sebagai
kepanjangan tangan Amerika tersebut berhasil membangun image “freedom dan
democracy” kepada publik Indonesia. Citra Amerika yang terdapat dalam misi BBG
tersebut bertujuan ingin memajukan kebebasan berekspresi serta kebebasan pers,
baik untuk mendorong kebebasan dan demokrasi. Mengapa harus kebebasan dan
demokrasi dalam pernyataan tersebut? Karena strategi berbicara kepada dunia
dan Undang-undang yang memungkinkan membuat jelas bahwa kebebasan dan
demokrasi adalah tujuan jangka panjang dari usaha Amerika. Dengan menempatkan
kata-kata dalam misi media jaringan tersebut, pernyataan jelas dari Amerika dan para
pemangku kepentingan dan kekuasaan bahwa dengan “freedom and democracy”
menunjukkan mengapa Amerika ada.
155
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Di dalam bidang budaya, IFI bertujuan untuk memberikan akses
kepada masyarakat Indonesia untuk lebih mengenal Prancis. Selain itu juga
memberikan ruang kepada seniman Indonesia untuk berkarya dan lebih dapat
mengaktualisasikan diri. Peran yang lain adalah menjadi jembatan bagi seniman
Prancis dan seniman Indonesia untuk bertemu dan melakukan kolaborasi. IFI menjadi
semacam media bagi proyek-proyek seni kedua negara. Tujuan program- program
IFI, baik program kebudayaan maupun program dalam bidang keilmuan adalah
membangun kerjasama yang efektif.
Berbagai program yang diselenggarakan oleh IFI membentuk suatu kerangka
besar dalam menampilkan citra Prancis di Indonesia. Citra yang ingin ditampilkan
oleh Prancis di mata publik Indonesia adalah Prancis yang hebat dan dekat. Ketika
sesuatu dipandang hebat, ada semacam eksklusivitas yang membuat orang tidak
berani mendekat. Prancis ingin memberikan kesan bahwa walaupun Prancis hebat
tetapi Prancis tidak eksklusif. Prancis dekat dengan masyarakat dan bisa dijangkau
oleh seluruh lapisan masyarakat.
Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah, bahwa masih terbuka
peluang yang sangat luas untuk melakukan penelitian mengenai hubungan
transnasional di berbagai bidang sebagai bagian dari penelitian HI. Secara
keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa studi hubungan internasional
telah mengalami perkembangan yang luas di era globalisasi, dimana hubungan
transnasional yang di inisiasi oleh aktor-aktor non-negara turut berperan penting
dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan. Disamping itu, keterlibatan
aktor-aktor non-negara juga membawa isu-isu baru dalam hubungan internasional
yang tidak hanya menyangkut konflik dan perang, seperti isu yang terkait dengan
budaya, perdagangan, hubungan sosial dan sebagainya.
156
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
SECURITY COMPLEX ANTARA INDONESIA - AUSTRALIA DAN
PENGARUHNYA TERHADAP DINAMIKA HUBUNGAN KEDUA
NEGARA
Dr. Siti Muti’ah Setiawati, MA., Drs. Dafri Agussalim, MA.
Rifa Fatharani, Muhammad Angga Krisna
Sudah banyak penelitian yang mencoba menjelaskan mengapa fenomena
hubungan Indonesia dan Australia seperti roller coaster, mengalami pasang surut
secara dinamis dari waktu ke waktu. Sayangnya, beberapa kajian tersebut umumnya
hanya melihat dari sisi kebijakan satu negara terhadap negara lain secara sepihak.
Hampir tidak ada penelitian yang mencoba melihat akar masalah tersebut pada
aspek security complex atau pattern of amity and enmity diantara kedua negara ini.
Penelitian ini memfokuskan perhatiannya pada dinamika aspek amity dan enmity
dari kedua negara tersebut.
Ada dua pertanyaan utama yang ingin dijawab; pertama bagaimana security
complex (pattern of amity and enmity) antara Indonesia dan Australia berlangsung
selama ini? Kedua, apa hubungan karakter security complex yang demikian itu
dengan dinamika hubungan kedua negara selama ini? Argumen utama yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah bahwa karakter security complex atau
the pattern of amity and enmity antara kedua negara lebih diwarnai dan didominasi
oleh aspek enmity (permusuhan) ketimbang aspek amity-nya (kerjasama).The pattern
of amity and enmity antara kedua negara ini relatif bersifat persisten, tidak terlalu
banyak terpengaruh oleh perubahan lingkungan politik internal dan eksternal dari
masing-masing negara tersebut. Adanya perbedaan dan benturan aspek amity dan
enmity ini menjadi faktor penting yang menyebabkan perbedaaan sikap dan perilaku
(kebijakan luar negeri) satu negara terhadap negara lainnya, yang pada akhirnya
mempengaruhi dinamikan hubungan keduanya dari waktu ke waktu.
Aspek amity dan enmity dalam hubungan Indonesia – Australia terdapat di
hampir semua bidang: politik, ekonomi, sosial dan budaya dan keamanan. Dinamika
tumbuh dan berkembangnya aspek amity dan enmity kedua negara ini terkait dengan
erat dengan faktor sejarah masa lampau, letak geografis, perbedaan sistem politik,
ekonomi, sosial dan budaya serta etnik dan ras, perbedaan ideologi serta sengketa
perbatasan, baik yang bersifat negatif maupun yang bersifat positif, serta distribusi
kekuasaan (distribution of power) diantara negara-negara atau di kawasan tersebut
157
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Sulit disangkal bahwa salah satu penyebab munculnya berbagai kontroversi
dalam hubungan Indonesia – Australia selama ini adalah kenyataan adanya
perbedaan yang sangat kontras di hampir semua bidang kehidupan diantara kedua
bangsa dan negara ini; ideologi, sistem politik, sosial, ekonomi, hukum, budaya,
dan tentu saja juga tujuan dan kepentingan nasional masing-masing. Perbedaan-
perbedaan yang kontras ini telah menyulitkan kedua bangsa dan negara untuk
saling berkomunikasi dan memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing
di berbagai bidang, walaupun keduanya menyadari bahwa mereka sebenarnya
saling membutuhkan. Berbagai hambatan dan kesulitan untuk saling pengertian
tersebut telah coba diatasi oleh kedua bangsa melalui berbagai program. Misalnya
melakukan dan mengembangkan hubungan ekonomi dan perdagangan, pendidikan,
sosial dan budaya dan bahkan hubungan politik dan keamanan. Tetapi berbagai
upaya tersebut belumlah membawa hasil seperti yang diharapkan. Sementara itu,
tuntutan dan kebutuhan agar hubungan kedua negara harus terus berjalan semakin
menguat, tidak boleh terhenti oleh adanya perbedaan-perbedaan dan kesulitan saling
memahami tersebut. Akibatnya, keinginan untuk menjalin hubungan baik dan saling
menguntungkan diantara kedua negara “terpaksa” hanya didasarkan pada asumsi-
asumsi dan harapan-harapan bahwa masing-masing pihak akan dapat mengerti dan
memahami kepentingan masing-masing yang saling berbeda tersebut.
Masyarakat dan Pemerintah Australia selalu berasumsi dan berharap bahwa
seharusnya bangsa dan Pemerintah Indonesia dapat memahami setiap apa yang
mereka lakukan beserta nilai-nilai yang mendasarinya. Sebaliknya, pemerintah
dan bangsa Indonesia juga selalu berharap dan berasumsi bahwa masyarakat dan
Pemerintah Australia seharusnya dapat memahami perasaan dan nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat Indonesia. Australia diharapkan dapat lebih sensitif
terhadap perasaan bangsa Indonesia, menghormati prinsip-prinsip bertetangga
baik menurut standar Indonesia tentunya.
Selain karakter dasar yang penuh dengan sensitivitas dan ganjalan serta
potensi positif, dari dinamika hubungan kedua negara yang telah diuraikan di atas
juga menunjukkan beberapa karakter penting yang selalu melekat dan mewarnai
hubungan Indonesia dan Australia. Pertama, masalah hubungan kedua negara
umumnya selalu berpangkal pada masalah yang ada dan berkembang di dalam
negeri Indonesia sendiri. Tidak pernah hubungan kedua negara ini terganggu
misalnya karena Indonesia menggugat, mengkritik, atau menyerang secara fisik
Australia terlebih dahulu. Kedua, masalah tersebut paling sering dimunculkan atau
berasal dari masyarakat (individual atau kelompok) bukan dari dan oleh pemerintah
kedua belah pihak. Di tingkat pemerintahan pada umumnya sikap Australia relatif
158
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
lebih akomodatif terhadap Indonesia dibandingkan ditingkat masyarakatnya.
Ketiga, kebanyakan dari persoalan yang muncul terhadap hubungan kedua negara
disebabkan oleh kegagalam kedua belah pihak untuk saling memahami satu sama
lain (kegagalan komunikasi) bukan disebabkan oleh sesuatu yang benar-benar
dapat membahayakan eksistensi dan kedaulatan kedua negara. Faktor emosi sesaat
jauh lebih dominan dibandingkan pemikiran rasional untuk proyeksi kepentingan
jangka panjang kedua negara. Keempat, khususnya dikaitkan dengan fenomena
seperti dijelaskan di poin ketiga, bahwa kedua negara sesungguhnya menyadari
bahwa potensi yang dikandung dalam hubungan baik kedua negara amat besar
bagi kepentingan nasional (di berbagai bidang) masing-masing. Dan oleh karena
itu, diakui atau tidak, kedua negara ini sebenarnya juga menyadari bahwa mereka
saling membutuhkan satu sama lain.
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter security
complex atau the pattern of amity and enmity antara antara Indonesia dan Australia
terjalin sangat kompleks. Kedua negara sama-sama mempunyai aspek amity dan
enmity terhadap satu sama lainnya. The pattern of amity and enmity antara kedua
negara ini relatif bersifat persisten, tidak terlalu banyak terpengaruh oleh perubahan
lingkungan politik internal dan eksternal dari masing-masing negara tersebut.
Sesungguhnya secara totalitas aspek amity antara kedua negara jauh lebih
dominan dari pada aspek enmitynya. Walaupun demikian, setidaknya dipermukaan
atau di mata publik, hubungan kedua negara tersebut lebih diwarnai dan didominasi
oleh ekspresi aspek enmity (permusuhan) ketimbang aspek amity-nya (kerjasama).
Adanya perbedaan dan benturan aspek amity dan enmity ini menjadi faktor penting
yang menyebabkan perbedaaan sikap dan perilaku (kebijakan luar negeri) satu negara
terhadap negara lainnya, yang pada akhirnya mempengaruhi dinamikan hubungan
keduanya dari waktu ke waktu.
159
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
REGIME ON WATER SECURITY IN GREATER MEKONG
Paska B. Darmawan
Mekong river is the biggest river in Southeast Asia and a transboundary
river shared by six countries, which are Cambodia, Lao, Myanmar, Thailand, Vietnam,
and China. The Mekong is now reflecting serious challenges to water security in its
surrounding countries. The overexploitation of the river through the development
of hydropower dams, for example, clearly threatens the sustainability of the Mekong
area. This issue constitutes serious challenge for people living in surrounding region,
as more than 80 million people depend upon the Mekong River for resources ranging
from drinking water, fish, transport and irrigation water (Goh, 2010). Problems over
water access can potentially trigger conflicts between countries, which in turn will
lead into a bigger problem.
Mekong River Commission (MRC) as the only regime concerning on water
security in the region is currently under pressure to overcome the multiple layers of
water-related problem that currently occur in the region. In addition, the burden of
MRC in addressing the issue becomes heavier because of the transboundary nature
of this issue.Thus, this research aims to assess the extent of work MRC has done in
addressing water issue in Greater Mekong, and later on, to give directives for MRC
for improving its works in managing water and bridging the differences between
member countries. The work of MRC, therefore, is important to be analysed to
determine the next steps that should be taken by this organisation.
From this research we can see that, despite its many agreements regarding
water management, MRC has not been able to solve the prolonged environmental
issue. There are three fatal loopholes that have been identified in this paper. The first
one would be its lackluster regulation on tributary area. As one of the most highly
developed areas in the basin, the tributaries need specific regulation to preserve its
water and other natural resource. However, The agreement fails to bring up specific
legal foundation in managing the development of tributary area as it only requires
the member states to notify the Joint Committee before starting a project. Second,
it lacks definitive conflict resolution mechanism, as the agreement only states that
MRC would make every effort to resolve the issue without describing any detailed
steps on how it would resolve it. Lastly, the commission also has limited enforcement
towards its member states as it has no punishment mechanism for its members.
160
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
From those limitations, this research offers several directives for the
commission to finally to achieve its goals in creating sustainability and water security
in the area. First, MRC needs to create specific regulation on tributary area. The lack
of regulation on tributary area becomes a huge loophole for MRC, as this area is very
vital for region. Second, MRC needs to establish clear and legally-binding disputes
and differences resolution mechanism, as the current provision on disputes and
differences mechanism has been proven to be incapable in addressing the problem
between member states. Third, MRC here should increase its enforcement power
by creating a punishment mechanism that would lead to compliance among the
member states. Lastly, the Commission has to start persuading China to cooperate
intensively with MRC. It is important for water management in the region as China
has major control over this issue, that the compliance of China is necessary to finally
solve the problem.
161
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
PERAN AKTOR TRANSNASIONAL DALAM
MEMBANGUN COUNTRY BRAND :
Industri Jam Swiss Membangun Country Brand
“Swiss Global Enterprise”
Rizky Damayanti Putri
Era globalisasi semakin mengukuhkan posisi perusahaan transnasional
sebagai salah satu pemain penting dalam ekonomi internasional. Negara pun harus
mengakui apabila tidak bisa menafikan fakta perusahaan transnasional yang memiliki
kemampuan khas, dimana pada dasarnya adalah mencari profit, telah berkontribusi
menggerakkan roda ekonomi global. Di lain sisi, globalisasi juga telah menyatukan
pasar dunia, sehingga setiap aktor ekonomi internasional harus bersaing dengan
setiap aktor di antara mereka. Akibatnya, kompetisi yang terjadi memaksa negara
menemukan cara untuk menonjolkan dirinya dan tetap menjadi perhatian masyarakat
internasional demi mempertahankan daya saingnya di level global. Kebutuhan
untuk memperkenalkan dan mempromosikan diri tersebutlah membuat upaya
dalam nation branding, kini menjadi jauh lebih signifikan. Belum lagi masifnya alur
informasi, memaksa negara mampu membangun brand yang kuat demi membuat
aktor internasional lainnya mudah mengindentifikasi. Dengan kata lain, kini soft power
yang oleh Joseph Nye disebut sebagai kemampuan untuk mendapatkan apa yang
dikehendaki menggunakan daya tarik atas keunggulan budaya, ekonomi, kebijakan
publik, dan lainnya, menjadi lebih relevan untuk dioptimalkan dalam menghadapi
konstelasi hubungan internasional.
Dari rangkaian alur berpikir tersebut, kemudian muncul pertanyaan, “Lalu
bagaimana peran aktor transnasional dalam membangun country brand?”. Dan demi
melakukan assesment atas isu tersebut, maka digunakan pengalaman empiris
dari nation branding Negara Swiss yang membangun country brand “Swiss Global
Enterprise”, khususnya untuk menjelaskan“Bagaimana peran industri jam membangun
country brand “Swiss Global Enterprise”?”. Industri jam dipilih menjadi prototype
karena merupakan industri yang menjadi salah satu keunggulan sekaligus kekhasan
Swiss. Dimana Simon Anholt cenderung menyebutnya sebagai usaha menciptakan
competitive identity. Pada gilirannya, penelitian dilakukan dengan menggunakan
metode penelitian kualitatif, dimana menampilkan data sekunder dari penelitian
kuantitatif terdahulu yang diinterpretasikan oleh peneliti dalam kerangka konsep
besar“nation branding”. Ini mengakibatkan penelitian ini tetap berpijak pada metode
162
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
penelitian kualitatif yang berupaya memahami fenomena berdasarkan realitas
sosial, yaitu melihat dunia sebagaimana adanya, dan menjelaskannya dengan
menggunakan perspektif transnasional dalam konteks hubungan internasional.
Penelitian ini pun mendeskripsikan apabila pemasaran produk yang
melampirkan brand-nya sebagai bagian dari aktivitas komersil oleh perusahaan
transnasional, berdasarkan penelitian atas efek country of origin, ternyata
merefleksikan suatu citra brand tertentu yang berbanding lurus dengan citra negara
asal perusahaan. Dari sana nampak bahwa terdapat hubungan timbal balik antara
persepsi atas nilai simbolik produk internasional sebagai bagian dari karakteristik
khas suatu negara dengan citra negara atas country brand tertentu. Hal ini dapat
terjadi karena brand dari sebuah produk tidak hanya mengidentifikasi identitas dan
menjadi informasi produk bagi konsumen. Namun brand image juga menjadi alat
dari upaya nation branding. Maksudnya, pada realita sosial yang ada, refleksi atas
brand image produk internasional oleh para konsumen justru diasosiasikan terhadap
negara asal perusahaan transnasional atau home country, bukan terhadap perusahaan
transnasionalnya.
Dalam konteks industri jam Swiss, perusahaan transnasionalnya telah menjadi
kepanjangan tangan dari Pemerintah Swiss untuk membangun kepercayaan publik
atas citra juga reputasi negaranya. Brand image atas“Swiss Made”di produk jam-jam
buatan perusahaan Swiss dipercaya publik memang memiliki kualitas terbaik di
industri jam dunia. Hal ini pun dikuatkan oleh usaha-usaha Pemerintah Swiss untuk
menjaga standarisasi dari “Swiss Made, sehingga persepsi konsumen terhadap
produksi jam Swiss sebagai produk jam terbaik tetap terjaga. Pada gilirannya,
kepercayaan publik tersebut terasosiasikan terhadap citra dan reputasi Negara Swiss
yang suportif terhadap pengusaha dan ideal sebagai lokasi bisnis. Akhirnya, dengan
komitmen Pemerintah Swiss dalam nation branding, CB “Swiss Global Enterprise”
terbukti dengan profil ekonomi Swiss, utamanya di bidang ekspor, impor, dan investasi
yang cemerlang. Akhirnya dapat dipahami apabila nation branding, memang bagian
dari upaya negara membangun competitive identity untuk mencapai kepentingan
nasionalnya. Dimana fenomena ini adalah bentuk lain dari soft power.
Penelitian ini masih jauh dari kata komprehensif, oleh karena itu,
harapannya pada penelitian selanjutnya, dilakukan penelitian secara kuantitatif
untuk menganalisis efek country of origin. Misalnya dengan menggunakan quesi-
eksperimental, dimana melibatkan konsumen secara langsung untuk memahami
keterkaitan antara brand image produk internasional dengan country image negara
tertentu. Selain itu diperlukan juga penajaman dalam menginterpretasikan data
163
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
kuantitatif yang telah ada untuk menjelaskan konsep competitive identity dalam
kaitannya digunakan sebagai sarana mencapai kepentingan nasional secara soft
power.
164
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
RISET JURUSAN - MAHASISWA:
PEMBANGUNAN
MASYARAKAT
165
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
166
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
STRATEGI PERUSAHAAN DALAM PENGEMBANGAN
MASYARAKAT DI WILAYAH PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Dr. Krisdyatmiko dan Danang Arif Darmawan, S. Sos., MA
Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR)
telah menjadi bagian penting dalam pengembangan masyarakat (PM), khususnya
di wilayah seputar perusahaan. Dalam melakukan tanggung jawab sosialnya,
perusahaan mempunyai wilayah PM yang biasanya disebut dengan ring. Penetapan
wilayah PM ini didasarkan jarak, dampak dan keberadaan aset perusahaan.
Perusahaan tentu harus menyesuaikan program-program PM dengan konteks
masyarakat yang dihadapinya agar program dapat terlaksana dengan baik menuju
kepada kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi perusahaan dalam
pelaksanaan program PM, apakah telah sesuai dengan karakteristik masyarakat
di mana perusahaan itu berada. Wilayah penelitian dipilih dalam dua kategori,
perdesaan dan perkotaan. Wilayah PM di perdesaan dilakukan oleh JOB Pertamina
Talisman Jambi Merang, sedangkan wilayah Perkotaan dilakukan oleh PT. Holcim
Tbk Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan lokasi penelitian
di wilayah PM PT. Holcim Tbk di Kabupaten Cilacap – Jawa Tengah dan JOB Jambi
Merang di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur – Jambi
serta Kabupaten Musi Banyuasin - Sumatera Selatan. Teknik pengumpulan data
dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul dilakukan
analisis dengan menggunakan model dari Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatakelola perusahaan dalam PM
menjadi faktor pembeda dari dua perusahaan tersebut. PT. Holcim memiliki struktur
organisasi pengelola program PM yang lebih tertata dibanding JOB Talisman. Di PT.
Holcim, kegiatan PM di bawah koordinasi community relation officers coordinator
(CRO) yang merupkan bawahan dari general administration and community relation.
CRO officer memimpin empat orang CRO, sehinngga total ada enam orang yang
bertanggung jawab sebagai pengelola, seluruhnya merupakan staf tetap perusahaan.
Sementara di JOB Talisman, dikoordinir oleh external relation coordinator (ER) yang
merupakan bawahan dari general service head sebagai bagian dari business support
manager. ER coordinator memimpin enam community development ofiicer (CDO)
sehingga total ada sembilan pengelola CSR, tetapi keenam CDO adalah staf kontrak
yang bekerja dengan sistem back to back.
167
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Kedua perusahaan telah melakukan pemetaan sosial (social mapping) untuk
mengidentifikasi potensi dan kebutuhan masyarakat. Tetapi, dalam perencanaan
program sebagai tindak lanjut hasil pemetaan sosial ini, Holcim lebih partisipatif
dibanding JOB Talisman. Holcim mengadakan forum komunikasi masyarakat (FKM)
yang melibatkan berbagai aktor strategis di masyarakat, sementara JOB hanya
mengandalkan stakeholder meeting dan pertemuan bulanan yang masih terbatas
melibatkan para elit lokal. Mengacu pada perspektif Matarrita-Cascante dan Brennan,
kedua perusahaan ada dalam kategori directed (diarahkan) dalam implementasi
pengembangan masyarakat.
Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) menjadi pilihan jenis program Holcim
di daerah perkotaan. Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan sulam merupakan pilihan
JOB di daerah perdesaan. Program-progran dari kedua perusahaan ini fokus pada
perempuan. Ada empat pilar dalam Posdaya (pendidikan, kesehatan, lingkungan
dan ekonomi), di mana pilar ekonomi dimaksudkan untuk mengembangkan
perekonomian melalui berbagai jenis usaha yang dikelola kelompok dan rumah
tangga. Pilihan ini selaras dengan karakteristik masyarakat perkotaan yang basis
penghidupannya pada produksi, perdagangan dan jasa. Di sisi lain, JOB masih
memiliki keterbatasan dalam perumusan program di daerah perdesaan yang basis
penghidupannya adalah perkebunan (karet dan kelapa sawit). Toga, meskipun
berkaitan dengan pertanian/perkebunan, tetapi masih lemah daya dukungnya dalam
mengembangkan penghidupan berkelanjutan, karena masih kecil skala usahanya
dan masih terbatas di enam desa dari total 22 desa yang menjadi sasaran program
PM JOB Talisman.
168
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
KONTRIBUSI ACADEMIC, BUSINESS, GOVERNMENT,
COMMUNITY (ABGC)
DALAM MANAJEMEN SAMPAH DI TPA PIYUNGAN
Dra. Ambar Teguh Sulistyani, M.Si
Konsep ideal Kartamantul dalam manajemen sampah diTPA Piyungan, adalah
sanitary control landfill. Akan tetapi teknologi pengolahan sampah dengan konsep
tersebut berbiaya operasional sangat mahal, yaitu mencapai Rp 10.000.000.000,00 -
Rp 16.000.000.000,00 sehingga tidak sebanding dengan perolehan retribusi sampah
dari tiga kabupaten kota yang relatif kecil yaitu hanya mencapai Rp3.192.644.874,00.
Dengan pendapatan retribusi yang sangat rendah, serta sharing kabupaten/kota
yang kecil maka tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan operasional manajemen
sampah dengan sanitary control landfill secara sempurna. Di samping itu manajemen
3R (reuse, reduce, recycle) juga tidak dapat dilakukan, karena banyak keterbatasan
resources, sumber daya manusia dan teknologi. Untuk itulah diperlukan kontribusi
dari pihak akademisi, swasta, pemerintah, dan masyarakat (academic, business,
government and community/ABGC). Penelitian ini menjawab tentang bagaimana
kontribusi ABGC dalam manajemen sampah dengan konsep 3R di TPA Piyungan.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan action reseach, dan social engineering,
dengan peneliti secara aktif melakukan pendampingan di masyarakat, melakukan
pendekatan kepada pemerintah dan swasta.
Dari sejumlah kontribusi yang diberikan oleh akademisi, sektor swasta,
pemerintah dan masyarakat dalam manajemen sampah dengan konsep 3 R dapat
disimpulkan bahwa: 1). Bentuk program aksi memiliki sifat langsung maupun tidak
langsung dalam manajemen sampah di TPA Piyungan. 2). Dilihat dari katagori
kontribusi dapat dibedakan menjadi perilaku preventif dan kuratif. 3). Realisasi
kontribusi dari pihak akademik adalah perencanaan perubahan, demplot-pioneering,
transformasi, training, konstruksi perubahan, organisasi, pengenalan dan alih
teknologi, networking, promosi dan advokasi. Realisasi kontribusi pihak swasta
adalah pengurangan volume sampah untuk diambil nilai ekonomi secara langsung
oleh pengepul, dan perkuatan masyarakat dengan membeli produkpupuk organi.
Kontribusi pemerintah khususnya BLH Kabupaten Bantul adalah memperbesar
kapasitas masyarakat, alih teknologi, networking, training, promosi, supporting
msyarakat dalam mengelola sampah.
169
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
Kontribusi masyarakat dalam manajemen sampah dengan konsep 3 R di TPA
Piyungan dibagi menjadi dua, yaitu kontribusi langsung oleh para pemulung dengan
memilah memilih sampah bernilai ekonomi untuk dijual sehingga mengurangi
volume sampah. Sedangakan kedua masyarakat desa Sitimulyo yang secara kuratif
mengikuti program advolasi pihak akademisi dalam mengubah perilaku terhadap
sampah. Dengan demikian jenis kontribusinya yang bersifat changes capability
(kesanggupan berubah), kecakapan teknis, pelayanan masyarakat, mengembangkan
kreativitas, dalam pemakaian kembali, pemusnahan dan mendaur ulang sampah.
Keterpaduan kontribusi empat pihak ini telah menghasilkan keberagaman inovasi
dalam manajemen sampah dengan konsep 3 R di sekitar TPA Piyungan.
Kontribusi ABGC masih sangat terbatas, khususnya SDM yang terlalu sedikit
sehingga pendampingan yang dilakukan tidak optimal. Terlalu sedikit akademisi,
pemerintah, swasta dan masyarakat yang bersedia mengimpelemntasikan
ilmu dan teknologi serta hasil penelitian kepada masyarakat secara langsung.
Perguruan tinggi lebih besar bobot teoritisnya, sedangkan birokrat lebih besar
administratifnya sedangkan swasta lebih banyak mengejar keuntungan dan
masyarakat memiliki ketergantungan sehingga inisiatif dari ABGC masih sangat
terbatas untuk menerapkan manajemen 3R dalam pengurangan sampah. Keadaan
ini hendaknya segera diperbaiki dengan sistem pembelajaran perguruan tinggi
yang mengintegrasikan antara teori dan praktik, dengan memperbanyak dosen
dan mashasiswa untuk menggiatkan riset kelas integratif (pendidikan, penelitian
dan pengabdian), birokrat untuk melakukan pendampingan dengan menambah
bobot program dengan implikasi teknis bukan sekedar administratif, swasta dengan
meningkatkan CSR dan masyarakat dengan memperluas perubahan perilaku 3R.
170
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
DAMPAK KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
(PLTU) PT. SUMBER SEGARA PRIMADAYA (S2P) CILACAP
TERHADAP “BEDOL DESO” MASYARAKAT PERUMAHAN
KARANGKANDIR
Drs. Andreas Soeroso, MA
Peran Negara dalam memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakatnya
adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, maka pemerintah senantiasa membangun
pembangkit pembangkit listrik yang baru, salah satunya adalah PLTU S2P Cilacap.
Guna keperluan Negara atau pemerintah pusat tersebut Pemerintah Daerah
mengubah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kawasan PLTU dari Kawasan
Pemukiman menjadi Kawasan Industri pada tahun 1997. Perubahan status kawasan
tersebut telah menyebabkan Perumahan Griya Kencana Permai yang telah dibangun
lebih dahulu menjadi masalah karena tidak sesuai dengan peruntukannya yaitu
perumahan berada di kawasan industri, berawal dari sinilah konflik terjadi dan
berbagai akar permasalahan konflik muncul.
Teori Konflik menjadi salah satu pilihan teori yang digunakan untuk
memahami akar permasalahan konflik yang ada. Karena konflik telah berlangsung
lama, maka untuk menggali permasalahan yang ada, digunakan metode deskripsi
mendalam (Thick Discription) metodeini mampu untuk menggali akar permasalahan
konflik yang ada. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Karangkandri Kecamatan
Kesugihan Kabupaten Cilacap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal dari permasalahan konflik adalah
kebutuhan akan listrik oleh pemerintah yang menyebabkan terjadinya perubahan
RTRW kabupaten Cilacap. Konflik mengemuka akibat polusi dampak penurunan
kualitas lingkungan bagi masyarakat sekitar. Ada dua kecenderungan yang terjadi
diatara pihak yang berkonflik. Kedua hal tersebut adalah sebagai berikot :
Kedudukan atau posisi PLTUS2P semakin hari semakin kuat, dikarenakan :
1. Sebagai industry yang menguasai hajat hidup orang banyak, karena listrik telah
menjadi kebutuhan pokok semua orang.
2. Kegiatan PLTU tidak bisa berhenti dengan alasan apapun, termasuk perbaikan
cerobong yang masih hitam walaupun memakai tehnologi IPI.
3. PLTU ini ‘Enclave’ untuk masyarakat sekitarnya karena tenaga kerja berasal
dari China, hamper semua tenaga asing bekerja sebagai tenaga tehnis dalam
171
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
menjalankan mesin PLTU. Tenaga Indonesia sebagai tenaga dalam bidang
administrasi atau menejemen.
4. Membutuhkan lahan untuk perluasan PLTU, dan hal itu akan mengambil lahan
masyarakat di desa Karang Kandri.
Kondisi Masyarakat sekitar semakin lemah karena:
1. Masyarakat tidak bisa masuk sebagai tenaga tehnik di PLTU tersebut, karena
Sumber Daya Manusia tidak memenuhi kualifikasi untuk mengoperasionalkan
mesin dengan tehnologi tinggi.
2. Buangan limbah air panas ke laut masih relative panas berkisar 50 derajat
Celsius, sehingga membunuh biota laut, khususnyaa dalam proses berkembang
biak.
3. Sebagian tanah disekitar PLTU sudah dibeli dari petani, walaupun sampai saat
ini masih dapat mengolahnya. Pada suatu waktu dibutuhkan guna perluasan
lahan, maka mereka akan kehilangan sumber pendapatan dari sawah mereka.
172
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
MODEL PENGEMBANGAN MASYARAKAT
MENUJU PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN:
Studi di Kalurahan Lomanis
Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap
Dra. Agnes Sunartiningsih, M.Si
Menjadi kesadaran bersama bahwa pengembangan masyarakat tidak hanya
merupakan tanggung jawab bisnis, melainkan juga tanggung jawab bersama antara
bisnis, negara dan masyarakat. Hubungan antara perusahaan dan pemerintah
daerah serta hubungan antara perusahaan dan masyarakat menjadi titik penting
untuk mewujudkan perkembangan masyarakat menuju penghidupan berkelanjutan.
Penghidupan berekelanjutan menjadi sangat penting untuk dikaji lebih jauh dalam
rangka memahami sampai seberapa jauh komitmen moral dari stake holders
dalam mewujudkan CSR yang kemudian terimplementasi dalam realitaskehidupan
masyarakat. Pertanyaan dalam penelitian ini kemudian dapat dirumuskan sebagai
berikut : “Bagaimanakah Model Pengembangan Masyarakat yang dikendaki
Stakeholder untuk menuju penghidupan yang berkelanjutan ?”
Temuan lapangan tentang Model Pengembangan Masyarakat menuju
penghidupan berkelanutan adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan masyarakat adalah kegiatan yang menempatkan manusia/
masyarakat sebagai sentral atau pusat perhatian. Masyarakat diharapkan
dapat mengorganisir diri untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhannya,
kemudian dapat merencanakan dan mengimplementasikan rencana yang
sudah dibuat secara bersama - sama. Kegiatan ini apabila dapat dilakukan
secara terus menerus maka dapat menjadikan pengembangan masyarakat
tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan.
2. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya pendampingan terhadap
masyarakat agar mereka mampu mendefinisikan dan merumuskan kebutuhan
mereka, memahami persoalan atau problem individual maupun persoalan
masyarakat secara umum, kemudian mampu membuat perencanaan sendiri
dalam rangka menjawab kebutuhan dan menyelesaikan permasalahan yang
ada.
3. Kalurahan Lomanis yang berada kawasan Industri mendapatkan program
pendampingan dari beberapa perusahaan dalam rangka implementasi program
CSRnya. Masing – masing perusahaan maupun pemerintah lokal yang ada
sebagai pemangku kepentingan memiliki model pengembangan masyarakat
173
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
yang berbeda walaupun tujuan mereka sama yaitu pengembangan masyarakat
yang dapat berkelanjutan.
4. PT. Holcim Cilacap lebih menekankan pentingnya menemukan Kompetensi Inti
yang ada di dalam masyarakat yang merupakan kombinasi dari potensi lokal dan
sumberdaya manusia yang ada. Apabila ini bisa dicapai maka pengembangan
masyarakat akan dapat tetap berjalan secara berkelanjutan. Program-
program CSR yang dilaksanakan oleh PT Holcim Cilacap bukan hanya sekedar
menyelesaikan masalah yang ada dalam masyarakat melalui kegiatan-kegiatan
yang lazim dilakukan oleh kebanyakan perusahaan. Program dan kegiatan
yang dilaksanakan selama ini merupakan perpaduan dan pengembangan ide,
gagasan, pengetahuan, ketrampilan dari proses interaksi antara staf perusahaan
yang mengelola CSR dengan masyarakat. PT. Pertamina RU IV menekankan
pada perlunya pengembangan potensi ekonomi yang dominan misal dalam
lingkup yang lebih luas ingin Cilacap sebagai lumbung padi Jawa Tengah.
Sedangkan untuk pimpinan lokal yang ada model pengembangan masyarakat
yang dikehendaki adalah yang dapat menumbuhkan kemandirian ekonomi
masayarakat dengan tetap mengakomodasi modal sosial yang berkembang
di dalam masyarakat.
Dengan berpijak pada hasil penelitian tersebut maka rekomendasi yang dapat
diberikan
1. A dalah : perlunya pengembangan potensi ekonomi dalam pengembangan
masyarakat dan program – program CSR dari Perusahaan diupayakan
untuk dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat. Untuk itu
perlu dicermati dalam pelaksanaan program CSR agar dapat menghindari
permasalahan – permasalahan misalnya yang berkaitan dengan pemerataan
bantuan, terkikisnya modal sosial yang selama ini sudah eksis di dalam
masyarakat karena sifat individual yang semakin menonjol. Untuk penelitian
selanjutnya sangat menarik untuk mencermati tingkat keberdayaan masyarakat
dari adanya program CSR ini, sehingga dapat menjadi evaluasi terhadap
implementasi CSR selama ini.
174
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
KEWIRALEMBAGAAN DI ARAS KONFLIK:
Institutional Entrepreneurship KSU FKMP Manunggal dalam
Pengembangan Masyarakat di Desa Karangwuni,
Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo
Eka Zuni Lusi Astuti, S.Sos., M.A
Fenomena konflik rencana penambangan pasir besi di pesisir selatan
Kabupaten Kulon Progo dapat ditelisik dari sudut pandang konflik, politik, sosial dan
ekonomi. Penelitian ini mencoba melihat fenomena tersebut dari sudut pandang
sosial, yaitu program communiy development PT JMI kepada masyarakat Desa
Karangwuni melalui KSU FKMP Manunggal. Dalam rangka menjalankan program
community development, PT JMI menginisiasi sembilan koperasi serba usaha di
sembilan desa yang ada di wilayah kontrak karya rencana penambangan pasir besi.
Dari sembilan koperasi, hanya ada satu koperasi, yaitu KSU FKMP Manunggal di Desa
Karangwuni, yang mampu bertahan, selebihnya vakum atau mengalami disfungsi.
Menjadi menarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan koperasi ini dapat
bertahan dan berhasil melakukan pengembangan masyarakat. Penelitian ini berusaha
untuk mengetahui bagaimana strategi KSU FKMP Manunggal dalam pengembangan
masyarakat di Desa Karangwuni. Tujuannya adalah, untuk mengidentifikasi strategi
KSU FKMP Manunggal dan sinergi antar aktor yang ada dalam pengembangan
masyarakat Desa Karangwuni serta mengidentifikasi inovasi-inovasi yang dilakukan
KSU FKMP Manunggal dalam memanfaatkan program communitydevelopment PT JMI.
Untuk memahami hal tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan deskriptif interpretatif supaya peneliti dapat memasuki dunia
informan, melakukan interaksi dengan informan, dan memahami fenomena yang
diteliti dengan menggunakan sudut pandang informan. Penelitian ini berlokasi
di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo. Informan berasal
dari pengurus dan anggota KSU FKMP Manunggal, Tim Lokal, masyarakat Desa
Karangwuni, Pemerintah Desa Karangwuni, PT JMI, Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil
Menengah, dan Bidang Pertambangan Dinas Perindustrian dan ESDM.
Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yang dapat disimpulkan bahwa
KSU FKMP Manunggal dapat bertahan dan berhasil mengembangkan masyarakat
karena melaksanakan praktik institutional entrepreneurship atau kewiralembagaan.
Kinerja KSU FKMP Manunggal tidak sekedar untuk menghasilkan uang, namun juga
berorientasi pada pengembangan kelembagaan. Pengembangan kelembagaan yang
175
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
dimaksud adalah, pertama, upaya koperasi supaya dapat diterima oleh masyarakat
yang hidup di tengah pusaran konflik pasir besi dan ketidakpercayaan kepada PT JMI
serta mendorong partisipasi masyarakat di dalam berbagai kegiatan koperasi. Kedua,
upaya dalam menjalin hubungan baik dengan masyarakat baik yang pro maupun
kontra terhadap keberadaan PT JMI. Ketiga, upaya dalam menjalin hubungan baik
dengan PT JMI dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo. Keempat, upaya
dalam mempersiapkan masyarakat Desa Karangwuni, terutama yang terdampak
penambangan pasir besi, untuk melakukan alih profesi dari pertanian lahan pantai
ke pertanian sawah, sektor perdagangan atau jasa. Koperasi yang diinisiasi oleh PT
JMI sebagai program community development sekaligus untuk meredam konflik yang
ada, berhasil melahirkan wiralembagawan (institutional entrepreneur). Keberhasilan
KSU FKMP Manunggal ini ditentukan oleh kapasitas wiralembagawan pengurus
koperasi yang tidak sekedar menjalankan koperasi namun memiliki kesamaan visi
yaitu menciptakan kehidupan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Karangwuni ketika
PT JMI beroperasi dan setelah PT JMI meninggalkan Desa Karangwuni. Kapasitas
kewiralembagaan inilah yang menghasilkan kinerja wiralembagawan sehingga terjadi
modifikasi terhadap peran dan fungsi koperasi yang semula ditujukan sebagai wadah
penyalur program-program community development PT JMI.
Tak ada gading yang tak retak, banyak kekurangan dalam penelitian ini. Masih
banyak celah yang perlu digali pada praktik kewiralembagaan KSU FKMP Manunggal,
terutama upayanya dalam mempersiapkan masyarakat Desa Karangwuni untuk alih
fungsi profesi dan menciptakan kehidupan berkelanjutan. Penelitian selanjutnya
dapat menggali dan mengidentifikasi aktor-aktor potensial untuk regenerasi
wiralembagawan. Praktik kewiralembagaan, tidak akan bertahan tanpa adanya
regenerasi wiralembagawan.
176
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
PROSES PEMBERDAYAAN KELOMPOK PENJUAL JAMU:
Studi Kasus Penguatan Kelembagaan Kelompok Penjual
Jamu Jati Husada Mulya Binaan PT. Pertamina TBBM
Rewulu dalam Menghadapi Tantangan Integrasi Ekonomi
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
Nitya Saputri Rizal
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana proses pemberdayaan
kelompok penjual jamu Jati Husada Mulya (JHM) binaan PT. Pertamina TBBM Rewulu
dalam menghadapi tantangan integrasi ekonomi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
Metode penelitian yang digunakan sebagai dasar dari pelaksanaan penelitian ini
adalah metode kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk memahami secara
mendalam mengenai sebuah fenomena yang belum diketahui atau sudah diketahui
dengan informasi yang sangat sedikit. Metode penelitian kualitatif menggunakan
pendekatan yang kontekstual dengan perkembangan yang ada di lapangan, sehingga
akan menghasilkan data yang lebih menyeluruh dan lengkap. Dengan menggunakan
metode kualitatif ini, peneliti dapat memahami dan mengikuti alur kejadian secara
menyeluruh.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tentang proses pemberdayaan
kelompok jamu Jati Husada Mulya di Dusun watu Desa Argomulyo, Kecamatan
Sedayu, Kabupaten Bantul. Fokus penelitian ini adalah pada proses pemberdayaan
melalui penguatan kelembagaan kelompok penjual jamu Desa Argomulyo,
Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul dalam menghadapai tantangan kompetisi
dalam integrasi ekonomi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Penelitian ini melihat mulai dari
tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi program pemberdayaan
yang dilakukan dalam menghadapi tantangan integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN
2015. Penelitian ini juga melihat sejauh mana perhatian PT. Pertamina TBBM Rewulu
terhadap tantangan integrasi ekonomi Masyarakat Ekonomi ASEAN, sekaligus melihat
kesadaran perusahan terhadap tantangan yang dialami oleh kelompok binaannya.
Selain itu, peneliti juga mengambil beberapa narasumber dari pengurus dan anggota
kelompok jamu Jati Husada Mulya binaan CSR PT. Pertamina TBBM.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa CSR PT. Pertamina Rewulu dalam
melakuakn kegiatan pemberdayaannya menggunakan pemberdayaan berbasis
kelompok, Dipilihnya pendekatan berbasis kelompok, dengan harapan manfaat dari
fasilitasi pemberdayaan yang dilakukan oleh CSR Pertamina Rewulu dapat dirasakan
177
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
tidak hanya oleh perorangan tapi juga secara kelompok. Dengan begitu diharapkan
dapat tercipat distribusi manfaat yang merata kepada semua anggota kelompok.
Sehingga dapat memajukan sekaligus individu dan kelompok dalam menghadapi
gempuran persaingan eksistensi maupun persaingan profuk lokal dan international
yang ada dari tantangan MEA 2015. Selain itu, dalam proses pemberdayaannya, CSR
Pertamina Rewulu menekankan pentingnya partisipasi aktif anggota dalam setiap
tahapan pemberdayaan, mulai dari identifikasi masalah, perencanaan program,
pelaksanaan program, hingga evaluasi program. Dalam penentuan program
pemberdayaan, juga berdasarkan potensi kelompok dan lingkungan. Program
yang telah dilaksanakan antara lain, Pengembangan Inovasi Produk dan Pemberian
Kelengkapan Peralatan Produksi, Sertifikasi Produk dan Pembentukan Badan
Hukum Koperasi, Penguatan Manajemen Usaha Kelompok, dan Pembentukan Kader
Kelompok untuk Mampu Menyebarkan Informasi Secara Mandiri.
Seluruh program yang telah dilaksanakan sekaligus menjadi persiapan
kelompok dalam menghadapi tantangan MEA 2015, walaupun pihak CSR PT
Pertamina Rewulu belum menyadari tantangan dari MEA 2015 dan hanya menyadari
symbol-simbol umum MEA 2015. Namun demikian, CSR Pertamina rewulu memiliki
tujuan pemberdayaan agar terciptanya kelompok yang mandiri dan mampu
membuat kelompok yang awalnya powerless menjadi powerfull untuk bisa berdiri
secara mandiri mampu mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan hidupnya
sendiri. Dalam jangka panjangnya, diharapkan kelompok binaan ini dapat menjadi
Industri Rumah Tangga besar dimana para anggota nya yang sekarang mendapat
binaan dari CSR Pertamina Rewulu dapat menjadi direksinya dan mampu membuka
lapangan pekerjaan bagi masyarakat lain.
Pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat melihat bagaimana
perkembangan kelompok ketika MEA 2015 telah berlangsung. Apakah dengan proses
pemberdayaan yang telah dilakukan oleh CSR Pertamina Rewulu sekarang ini, telah
mampu membuat kelompok bertahan dan sukses dalam arus MEA yang akan dimulai
begitu berakhirnya tahun 2015 ini. Ditambah dengan adanya rencana melepaskan
kelompok Jati Husada Mulya dari binaan CSR Pertamina pada tahun depan. Sangat
menarik untuk melihat apakah kelompok ini mampu menghadapi gempuran MEA
2015 tanpa adanya campur tangan dari CSR Pertamina Rewulu.
178
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
RISET UNGGULAN
PUSAT KAJIAN
179
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
180
Sinopsis Research Days Fisipol UGM 2015
PENGUATAN SIMPUL PENGETAHUAN LOKAL BAGI TATA
KELOLA SUMBER DAYA EKSTRAKTIF
Research Centre for Politics and Government (PolGov)
Jurusan Politik dan Pemerintahan
Riset ini bertujuan untuk mengembangkan simpul pengetahuan yang
mampu menjembatani, mendorong dan mendayagunakan pengetahuan lokal agar
terserap dan mempengaruhi proses kebijakan dalam tata kelola sumberdaya. Riset
ini dilatarbelakangi fakta bahwa kebijakan publik dalam pengelolaan sumberdaya
alam terlalu didominasi oleh nalar teknokrasi.
Sementara itu, secara metodologi dan substansi, pengetahuan lokal
dipandang bukan hasil dari upaya “ilmiah” dan arena itu tidak sah disebut sebagai
“evidence”(bukti). Padahal, ketika tatakelola sumberdaya sarat akan konflik
mengingat nature industri yang menimbulkan eksternalitas negatif maupun positif.
Ketika narasi pengetahuan lokal termarjinalkan, kepentingan masyarakat lokal pun
terabaikan.
Sebagai riset aksi, terdapat kegiatan yang merupakan upaya
mendokumentasikan berbagai mekanisme lokal yang selama ini dipraktikkan
oleh masyarakat terkait tatakelola sumberdaya. Selain itu, riset ini ditindaklanjuti
oleh kegiatan pilot fasilitasi untuk mengembangkan simpul pengetahuan
(knowledge hub) bagi para aktivis di empat kabupaten tersebut. Simpul inilah yang
akan difasilitasi agar menjadi wahana sharing dan komunikasi dengan pembuat
kebijakan. Hasil yang ingin dicapai adalah adanya inklusi dari proses policymaking
terhadap pengetahuan-pengetahuan lokal tersebut.
Selain membangun simpul pengetahuan, kegiatan riset aksi ini juga
meliputi promosi inklusi pengetahuan lokal di kalangan pengambil kebijakan di
empat kabupaten lokasi program. Ini didukung oleh strategi komunikasi lainnya
yakni desiminasi hasil riset, desiminasi policybrief hingga pertemuan local leader
forum. Kegiatan terakhir diharapkan bisa menjadi ruang belajar dan berbagi praktik
baik diantara empat daerah mengenai inklusi dan adopsi pengetahuan lokal dalam
proses dan produk kebijakan publik.
Bertolak dari tujuan dan kegiatan-kegiatan program di atas, dari riset
aksi ini diharapkan bisa memberi tiga kontribusi strategis. Pertama, substansi
kebijakan publik menjadi lebih pro-masyarakat da relevan dengan konteks. Kedua,
legitimasi kebijakan meningkat sebab proses-prosesnya lebih partisipatif ketika
181