Binar Mata Laila | i
Binar Mata Laila
Penulis: Velly Syafriani
ISBN
Editor: Khoirun Nisak
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2019
vi, 86 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Maret 2019
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Persembahan
Buku pertama ini kupersembahkan
untuk kedua orang tuaku yang sangat kusayangi Ibu
Yunida dan Papa Damril.
Terima kasih telah mendukung dan memperjuangkan
masa depanku meski kita melaluinya dengan tertatih.
Untuk cinta pertama dan terakhirku Febri Rozi.
Terima kasih telah mendampingi dan mencintaiku
sampai saat ini, kita memang baru dipertemukan 10
tahun terakhir dan aku berharap semoga cinta kita
tetap satu hingga akhir.
Untuk harta berhargaku Lindzy Maylanna dan Lindzy
Malikha Azeera
Mimpi kalian adalah tujuan yang akan mama
perjuangkan.
Untuk saudara-saudaraku Yusra Meita, Yazid
Abdullah dan Usi Febriani
Semoga untuk selamanya kita selalu ingat bahwa
darah lebih kental dari air.
Binar Mata Laila | iii
Prakata
P uji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan taufik‐Nya
sehingga penulis berhasil menyelesaikan penulisan
buku pertama ini.
Buku ini bercerita tentang kisah seorang guru sekolah
dasar di daerah terpencil yang bernama Bu Guru Elly. Bu Guru
Elly berjuang meyakinkan orang tua gadis kecil bernama Laila.
Mata Laila selalu berbinar menyaksikan pembelajaran Bu
Guru Elly dari balik jendela. Laila sangat ingin sekolah. Namun,
orang tua Laila tidak mau menyekolahkan Laila dengan
berbagai alasan. Kisah perjuangan Bu Guru Elly ini penulis
tuangkan dalam buku yang berjudul Binar Mata Laila.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang
tua, suami, kepala sekolah dan para guru di SMP N 47
Sijunjung dan semua pihak yang telah membantu penulis.
Tanpa dukungan dan bantuan mereka, buku ini tidak akan
ada.
Masih banyak kekurangan dari buku ini. Maka saran dan
masukan yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Demikian saja, selamat membaca.
Sumpur Kudus, Februari 2019
Velly Syafriani, S.Pd.
iv | Velly Syafriani
Daftar Isi
Persembahan ............................................................................. iii
Prakata ....................................................................................... iv
Daftar Isi ..................................................................................... v
1. Menjemput Impian ........................................................ 1
2. Gadis Tomboy Itu Bernama Nadya .............................. 5
3. Perjalanan Mendebarkan............................................. 9
4. Pagi Pertama di Kubang Tinggi .................................. 13
5. Sekolah Sunyi .............................................................. 17
6. Ekstrakurikuler Menggambar ..................................... 19
7. Hari Balai ...................................................................... 21
8. Binar Mata di Balik Jendela ......................................... 25
9. Gadis Kecil Itu Bernama Laila .................................... 29
10. Tiga Krayon .................................................................. 31
11. Payo Kariang ............................................................... 35
12. Pria dengan Ambuang di Kepala ............................... 39
13. Sebuah Misi ................................................................ 43
14. Bingkisan untuk Laila ................................................. 47
15. Taratak Baru ................................................................ 51
16. Tauke Gambir .............................................................. 61
Binar Mata Laila | v
17. Pemilik Mata Bulat Itu Terluka .................................. 65
18. Hampir Menyerah ...................................................... 69
19. Drama di Ladang Gambir ............................................ 73
20. Pasrah dalam Doa ....................................................... 81
21. Senyum Cerah Gadis Kecil Berseragam .................... 83
Profil Penulis ............................................................................ 85
vi | Velly Syafriani
Menjemput Impian
S inar matahari menyusup lewat jendela kamarku yang
terbuka lebar. Pengap udara malam berganti sejuknya
udara pagi. Aku menatap diriku sendiri. Berdiri tegap di
depan cermin, dengan pakaian korpri. Rok dan jilbab
berwarna biru tua. Sebuah papan nama dan lambang korpri
tersemat di jilbabku. Hari ini adalah hari bersejarah dalam
hidupku. Hari yang paling dinantikan setelah perjuangan
panjang.
“Elly,” sebuah suara mengagetkanku. Suara ibu yang
tiba‐tiba muncul dari balik pintu kamar. Ibu menatap
penampilanku. Sejenak wanita terbaik dalam hidupku itu
terdiam. Hanya matanya yang berbicara. Dan mata itu mulai
terlihat basah.
Aku menghampiri ibu dan memeluknya erat. Ibu semakin
terisak. Aku tahu apa yang dirasakan ibu. Ibu menangis, tetapi
aku tahu pasti kalau ibu sangat bahagia.
Hari ini adalah hari penerimaan SK CPNS. Selembar kertas
yang akan mengobati segala jerih perjuangan. Perjuangan
kuliah dan perjuangan mengikuti tes PNS.
Aku keluar dari rumah. Di halaman rumah kulihat ayah.
Laki‐laki terhebat yang telah mengantarkanku meraih impian.
Laki‐laki sederhana dengan kepercayaan diri luar biasa. Dia
tahu dia tidak punya segalanya, tetapi dia begitu yakin bisa
mangantarkan putrinya meraih segala impian. Bagi ayah,
Binar Mata Laila | 1
asalkan ada kemauan yang kuat segala keterbatasan pasti
akan tenggelam.
Dengan motor Astrea Grand, aku diantar ayah menuju
kantor bupati. Tempat di mana SK akan diserahkan. Ayah
memang tidak sama dengan ibu. Kalau ibu terlalu mudah
menebak isi hatinya. Sedih dan bahagianya ibu terlihat jelas.
Tetapi ayah, dia adalah sosok yang sulit menggambarkan
perasaan. Seperti saat ini. Ayah hanya diam. Namun, aku tahu
ayah sangat bahagia. Buktinya dia sangat bersemangat.
Sangat pagi sekali ayah sudah memanaskan motor. Bahkan
untuk baju yang dipakainya hari ini. Ayah meminta ibu untuk
menyetrikanya. Padahal biasanya ayah tidak peduli dengan
penampilannya.
Ayah memang seperti sosok yang tidak mudah disentuh
oleh anak‐anaknya. Namun, kami selalu tahu dalam diamnya
ayah sangat peduli dan menyayangi kami.
Sepanjang perjalanan anganku berputar surut ke masa
lalu. Saat di mana perjuangan yang membuahkan hasil ini
dimulai. Ayah dan ibuku hanya orang biasa. Mereka berdua
bukan orang yang berpendidikan tinggi. Keduanya bahkan
tidak tamat sekolah dasar. Kami juga bukan orang yang
berada jika ditinjau dari segi ekonomi. Masa kecilku
kuhabiskan di sebuah rumah kayu sederhana. Hidup
seadanya.
Berjuang dari nol. Kedua orang tuaku bahu membahu
mewujudkan satu per satu cita‐cita mereka. Ayahku seorang
peternak ikan. Dan ibuku bertani di sawah. Mereka berdua
berbagi porsi tanggung jawab.
2 | Velly Syafriani
Dari awal masuk sekolah dasar hingga menamatkan
perguruan tinggi, keduanya mendukung penuh setiap
langkahku. Dan aku pun tidak ingin mengkhianati usaha
mereka. Setiap akhir semester saat sekolah, aku hadiahi
mereka dengan menjadi peringkat terbaik di kelas. Begitupun
saat kuliah, setiap akhir semester kupersembahkan IP
terbaikku. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk mengobati
lelah mereka.
Tidak ada keluh mereka yang terdengar di telingaku.
Meskipun terkadang kulihat wajah khawatir mereka tidak
bisa disembunyikan.
Seperti hari itu. Saat pendaftaran masuk ke perguruan
tinggi. Aku lihat ada sedikit keraguan di wajah ayah. Ayah
mungkin sedang menimbang, apakah dia mampu
mengantarkanku sampai akhir. Karena kuliah jauh berbeda
dengan sekolah. Apalagi saat kuliah kami sudah berbeda
kota. Ayah mungkin sedang menimbang biaya kuliah dan
biaya hidupku selama kuliah.
“Mendaftarlah!” ucap ayah.
Ayah memang tidak banyak bicara. Satu kata ayah itu saja
kuartikan, berjuanglah untuk dapat duduk di bangku kuliah.
Ayah sudah memutuskan. Mungkin dengan
pertimbangan yang matang. Aku harus berjuang. Tahun ini
harus dapat kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Karena
bagaimanapun, univesitas negeri biayanya akan jauh lebih
terjangkau dibanding kuliah di universitas swasta.
Aku tidak mengikuti bimbingan belajar apapun untuk
mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Aku hanya
membeli buku kumpulan soal dan belajar sendiri di rumah.
Binar Mata Laila | 3
Dengan usaha dan doa dari orang tua. Namaku keluar di
salah satu koran waktu itu. Sebagai peserta yang lulus seleksi.
Empat tahun kulalui dengan segala suka dukanya. Sampai
saat wisuda. Meskipun sapi habis terjual. Sawah yang baru
saja dibeli orang tuaku harus tergadai. Semuanya terbayar
saat aku memakai baju toga wisuda. Aku masih ingat senyum
keduanya di foto wisudaku. Bagaimanapun, bagi mereka ini
seperti mimpi. Sebelumnya belum ada dalam silsilah keluarga
kami yang sekolah tinggi apalagi sampai ke perguruan tinggi.
Semoga aku bisa “mambangkik batang tarandam” di keluarga
kami.
Selesai wisuda perjuangan belum berakhir. Justru
perjuangan baru akan dimulai lagi. Aku mengikuti seleksi
penerimaan PNS di tahun yang sama dengan kelulusannku.
Melalui segala rintangannya. Mulai dari pendaftaran,
mengantarkan berkas lamaran langsung, mengambil nomor
ujian dan tes tertulis dua kali. Semuanya aku lalui bersama
ayah. Ayah selalu menemaniku dengan Astrea Grandnya.
Alhamdulillah aku lulus. Tidak terkira bagimana bahagianya
aku dan orang tuaku.
Motor tua ayah sudah berhenti. Ternyata kami sudah
sampai di halaman kantor bupati. Aku berpamitan pada ayah.
Memasuki gedung kantor bupati menuju aula, tempat acara
dilaksanakan. Kalaulah boleh mengajak serta orang tua
kedalam ruangan itu. Akan kugandeng tangan ayah dengan
bangganya.
4 | Velly Syafriani
Gadis Tomboy Itu
Bernama Nadya
S etelah SK CPNS diterima, aku segera menghampiri
ayah. Mata ayah berkaca‐kaca, saat melihat namaku
tertera di kertas itu lengkap dengan tempat tugasku.
Babak baru kehidupanku akan dimulai.
Aku bersama ayah menuju Kantor Dinas Pendidikan,
untuk menanyakan lokasi tempat tugasku. Saat pertama kali
bertanya dengan salah seorang staf di Dinas Pendidikan
mereka langsung memberikan jawaban yang seolah‐olah
mengambarkan daerah tersebut sangat jauh, akses ke sana
sulit dan gambaran‐gambaran menakutkan lainnya. Bagiku
tidak masalah, karena tekadku sudah bulat. Di mana pun itu,
aku akan mengabdi sepenuh hati. Mewujudkan mimpi anak‐
anak di sana.
“Oh, iya, Ibu punya teman yang sama‐sama akan berdinas
di sana,” tambah staf Dinas Pendidikan itu lagi, sambil
menunjuk seorang gadis yang sedang duduk di depan ruang
tamu Dinas Pendidikan. Aku menatap gadis itu. Gadis yang
sempat berpapasan denganku di kantor bupati beberapa kali.
Penampilannya lain dari yang lain. Meskipun memakai rok dan
jilbab, namun kesan tomboi dan agak kelaki‐lakian melekat
padanya. Dia tidak memakai sepatu layaknya seorang gadis.
Stelan korprinya dia padukan dengan sepatu olah raga. Aku
berjalan menghampiri gadis itu.
Binar Mata Laila | 5
“Hai,” sapaku. Dia mengangkat wajahnya.
“Apakah kamu juga ditempatkan di SD 8 Kubang Tinggi?”
tanyaku. Dia mengangguk. Aku menyodorkan tanganku.
“Nadya,” jawabnya. Sambil menjabat tanganku. Suaranya
terdengar khas.
Sejak hari itu aku dan Nadya menjadi akrab. Mungkin
karena kami sekarang memiliki tujuan yang sama. Nadya
berasal dari kota. Keluarganya cukup mampu, orang tuanya
berasal dari keluarga yang berada. Tapi Nadya jauh dari kesan
sombong. Bahkan dia sama sekali tidak manja. Segalanya dia
lakukan sendiri.
Seperti saat ini. Saat kami mancari tahu tentang Nagari
Kubang Tinggi, tempat dinas kami nantinya. Dengan
mengendarai motor milik Nadya kami memiliki rencana untuk
meninjau lokasi tempat dinas kami hari ini.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam langkah kami
terhenti. Saat mendapati bahwa jalan menuju Nagari Kubang
Tinggi, daerah yang kami tuju tidak bisa dilalui motor biasa.
“Ke atas sana harus pakai motor trail, kalau motor bebek
tidak bisa,” kata seorang tukang ojek, yang memang khusus
untuk ke Nagari Kubang Tinggi. Ternyata segala gambaran
yang diberikan staf Dinas Pendidikan waktu itu benar adanya.
Kubang Tinggi adalah sebuah nagari di perbukitan yang
berjarak kurang lebih 78 km dari pusat kabupaten. Masih
tergolong daerah terpencil.
“Kamu tidak masalah kan?” tanya Nadya. Aku tersenyum.
Mana mungkin aku menganggap ini sebagai suatu masalah.
Karena ini semua adalah hasil dari jerih payah. Berapa banyak
6 | Velly Syafriani
wisudawan dan wisudawati di luaran sana menginginkan
posisi ini.
“Aku malah mengkhawatirkan kamu,” godaku pada
Nadya. Karena pasti akan sangat sulit baginya. Beralih
kehidupan dari kota dengan segala kemudahannya ke nagari
terpencil dengan akses yang susah.
“Kamu bercanda, aku memilih ikut tes PNS di sini, justru
karena ini,” jawabnya. Gadis itu melayangkan pandangan
jauh, menelusuri jalan tanah berliku yang licin. Dia tersenyum
membayangkan petualangan yang menantinya di depan.
Binar Mata Laila | 7
8 | Velly Syafriani
Perjalanan Mendebarkan
T ibalah saatnya di mana semua akan dimulai. Hari ini aku
akan berangkat ke Nagari Kubang Tinggi. Karena Senin
besok sudah harus mulai mengajar. Aku sudah
mempersiapkan semuanya jauh‐jauh hari. Semua barang‐
barang memang sudah dikirim terlebih dahulu. Dengan mobil
bak terbuka, yang hanya lewat satu kali seminggu yaitu di hari
Rabu.
Ibuku sudah mulai cemas. Bahkan dari kemarin. Raut
wajahnya tampak sedih. Sedangkan ayahku. Meskipun
terlihat biasa saja. Tapi mungkin dialah yang paling cemas
saat ini. Biasanya ke manapun aku pergi selalu dengan ayah.
Saat pertama kali kuliah ke kota, aku ditemani ayah. Saat
mengikuti tes PNS aku juga selalu ditemani ayah.
“Jangan lupa kirim kabar kalau perlu titip surat kepada
siapa saja yang turun ke bawah,” kata ibu. Aku tersenyum.
Seperti zaman dahulu saja. Tapi sepertinya memang harus
lewat surat untuk berkirim kabar, karena katanya tidak ada
sinyal di sana.
Aku menyalami tangan keduanya dan segera berpamitan.
“Kalau sudah liburan aku pasti pulang,” kataku
menenangkan ibu yang sudah mulai menangis.
“Jaga diri di kampung orang,” pesan ayahku singkat. Aku
hanya mengangguk.
Aku berangkat bersama Nadya dengan naik angkutan
umum. Hinga akhirnya kami sampai di jalan yang tidak bisa
Binar Mata Laila | 9
dilalui kendaraan biasa. Hami harus naik ojek. Menempuh
perjalanan selama 4‐5 jam. Para tukang ojek yang mangkal di
simpang jalan ini memang khusus untuk menuju Nagari
Kubang Tinggi.
Motor yang mereka gunakan juga bukan motor biasa.
Tapi motor trail. Agar lebih nyaman bagi penumpang di
belakang. Motor trail itu telah dimodifikasi. Karena sejatinya
jok untuk penumpang motor trail sangat‐sangat tipis
dibanding jok depannya.
Jalanan yang kami tempuh memang bukan jalur biasa.
Jalan perbukitan dengan pesawangan yang panjang.
Sepanjang perjalanan kita tidak akan menemukan perumahan
penduduk. Hanya hutan belantara. Bahkan beberapa bagian
titik sangat curam dan rawan longsor.
Tidak ada kerikil apalagi aspal. Hanya tanah kuning. Kalau
cuaca panas tidak ada masalah. Namun, ketika turun hujan,
jalanan berubah menjadi sangat licin. Dan jalan ini hanya bisa
dilewati kendaraan roda empat jenis tertentu.
Satu jam perjalanan, walaupun hanya duduk di jok
penumpang rasanya tetap melelahkan. Bahkan di bagian‐
bagian tertetu kami harus turun dan ikut mendorong karena
roda terbenam dalam beceknya tanah kuning. Jalan ini
sepertinya sangat tidak aman. Terutama bagi perempuan.
Untung aku selalu beriringan dengan Nadya.
Setelah lebih dari lima jam perjalanan akhirnya kami
sampai. Menemukan rumah pertama di Nagari Kubang Tinggi.
Ternyata apa yang kami temui di luar dugaan karena di dalam
perkampungan, perumahannya cukup padat. Tidak seperti
bayangan kami. Mungkin karena ini pusat nagari bagi mereka.
10 | Velly Syafriani
Kami langsung menuju sekolah. Katanya Bapak Kepala
Sekolah telah menunggu kami. Kami memang pernah
bertemu Bapak Kepala Sekolah di Dinas Pendidikan, saat
mengurus surat‐menyurat berkaitan dengan keaktifan
sebagai CPNS.
Memasuki lokasi sekolah. Aku dan Nadya terpana. Tidak
seperti bayangan kami di awal. Sekolahnya cukup bagus.
Bangunannya ada 7 ruangan. Enam ruang kelas dan satu
rungan serba guna. Sudah permanen. Halamannya penuh
dengan rumput hijau. Dan bunga‐bunga di pinggirnya. Pagar
sekolahnya meskipun belum permanen. Namun, cukup rapi.
Terbuat dari potongan bilah bambu yang diberi cat warna
warni. Kepala sekolahnya pasti sosok yang hebat. Mampu
mengondisikan sekolah terpencil di perbukitan ini sama
halnya dengan sekolah‐sekolah di luaran sana.
Kami disambut Bapak Kepala Sekolah. Bapak Julius.
Orangnya sangat ramah. Usianya mungkin sudah memasuki
50‐an. Dari wajahnya terlihat bahwa dia seorang yang
berwibawa dan dekat dengan agama.
Tempat tinggal kami memang sengaja disediakan di
belakang sekolah. Sebuah perumahan guru. Meskipun
bangunannya tidak permanen tetapi cukup bagus. Ada 3
deretan perumahan yang saling berdampingan. Belum ada
yang terisi. Karena sebelumnya belum ada guru yang berasal
dari luar nagari. Guru‐guru sebelumnya adalah penduduk asli
yang memiliki tempat tinggal yang tidak jauh dari sekolah.
Aku dan Nadya mengisi perumahan yang sama.
Bangunan yang paling ujung. Listrik memang sudah masuk ke
Binar Mata Laila | 11
nagari ini. Baru beberapa tahun yang lalu. Namun, sinyal
untuh telepon seluler memang belum ada.
“Tapi ada satu tempat di nagari ini, yang bisa dijangkau
jaringan telepon. Nanti kalau Bu Guru benar‐benar butuh
komunikasi ke luar, saya bisa bantu,” tambah Bapak Kepala
Sekolah. Aku dan Nadya tersenyum. Sepertinya bakal
menarik.
12 | Velly Syafriani
Pagi Pertama
di Kubang Tinggi
P erumahan yang kami tempati cukup sederhana. Hanya
sebuah ruangan berukuran 4x3 m. Di sana disediakan
dua buah ranjang dan dua buah lemari kecil. Sebuah
meja makan. Dan di belakang ada dapur mini. Tidak ada ruang
tamu. Hanya ada teras dan dua buah kursi di depan.
Aku dan Nadya sibuk membereskan barang‐barang dan
menata peralatan yang ada di dalam ruangan. Hari ini benar‐
benar melelahkan. Setelah shalat Isya dan makan malam kami
langsung tertidur.
Aku terbangun dari tidurku ketika kulihat jam di dinding
menunjukkan angka 4 dini hari. Udara di sini begitu dingin.
Jauh lebih dingin dibanding di rumahku. Mungkin karena
daerah ini daerah perbukitan. Aku mencoba untuk tidur
kembali. Namun mata tak jua kunjung terpejam. Mungkin ini
adalah isyarat dari‐Nya, agar aku meluangkan waktu untuk
dua rakaat tahajud.
Aku menatap Nadya, yang tertidur pulas di ranjangnya.
Aku merasa tidak tega juga membangunkan Nadya, mungkin
dia sangat kelelahan. Aku turun dari ranjang dan melangkah
perlahan menuju kamar mandi. Hanya kamar mandi
sederhana, dengan sebuah ember kecil dan diberi dinding
dengan terpal hitam. Ada rasa takut juga menghantui karena
kamar mandi itu sama sekali tidak memiliki atap.
Binar Mata Laila | 13
Setelah selesai tahajud, aku lanjutkan dengan membaca
Alquran. Suaraku ternyata membangunkan Nadya.
“Kamu sudah bangun, kenapa tidak membangunkanku?”
tanyanya dengan mata masih setengah tertutup.
“Aku lihat tadi tidurmu nyenyak sekali, jadinya aku tidak
tega,” jawabku sambil tersenyum ke arah Nadya.
Hari mulai pagi. Aku membuka jendela lebar‐lebar. Masih
sunyi. Hanya suara beberapa burung yang terdengar
bersahutan. Tidak ada suara deru motor. Tidak ada hiruk
pikuk orang di jalanan. Semua terlihat sepi. Selain karena
perumahan penduduk jauh dari lokasi sekolah, jalanan
kampung pun jauh di depan.
Aku menghirup udara pagi dalam‐dalam. Benar‐benar
oksigen murni tanpa ada sedikit pun karbondioksida
meracuni. Aku melihat Nadya di halaman depan. Gadis
tomboy itu sedang melakukan gerakan senam sederhana.
Nadya memang guru olahraga. Aku menghampirinya.
“Kita bisa panjang umur kalau terus tinggal di sini,” kata
Nadya. Sambil menghirup udara dengan napas panjang. Aku
hanya tersenyum. Nadya benar, nagari ini benar‐benar
tenang, sunyi, sejuk, dan hijau sejauh mata memandang.
Sangat mendamaikan jiwa.
Aku dan Nadya berjalan menelusuri jalan setapak di
depan sekolah. Kami berpapasan dengan beberapa orang
penduduk. Mereka sangat ramah. Sebagian besar yang kami
temui adalah kaum ibu dan para gadis.
Di dekat pemukiman yang sedikit padat, ada juga warung
harian. Meskipun kecil tetapi sepertinya menjual kebutuhan
14 | Velly Syafriani
harian yang dibutuhkan. Kami berhenti di sebuah warung
yang menjual sarapan pagi.
“Bapak‐bapaknya hanya turun dari ‘kampaan’ seminggu
sekali Bu Guru,” kata ibu pemilik warung saat kami
menanyakan tentang keberadaan para bapak. ‘Kampaan’
adalah gubuk‐gubuk di tengah ladang gambir yang
merupakan tempat pengolahan daun gambir.
Mata pencarian utama warga di Nagari Kubang Tinggi ini
memang berladang gambir. Sepanjang mata memandang di
lereng‐lereng tepi bukit yang terlihat hanya tanaman gambir.
Dalam bahasa setempat pekerjaan mengolah tanaman
gambir atau Uncharia gambier Robx ini dikenal dengan istilah
‘mangampo’.
Binar Mata Laila | 15
16 | Velly Syafriani
Sekolah Sunyi
S enin pagi hari pertama ke sekolah. Hari ini kami akan
bertemu teman‐teman baru sesama guru. Dengan para
siswa. Seperti apa wajah‐wajah mereka. Ada rasa
gugup tersendiri yang aku rasakan. Meskipun kuliah di
jurusan keguruan dan sudah pernah praktik lapangan di
sekolah, rasa gugup itu tetap ada.
Aku melihat Nadya bolak balik melihat dirinya di kaca.
Sebuah kaca kecil yang ada di atas lemari pakaiannya.
“Kamu kenapa Nad?” tanyaku sambil minum teh dan
sarapan roti.
“Kok rasanya gugup juga ya,” jawabnya. Aku hanya
tersenyum. Gadis paling percaya diri seperti Nadya juga bisa
gugup.
Berjalan di lorong kelas, suasananya masih sepi. Tidak
seperti sekolahku waktu praktik lapangan dulu. Ada banyak
siswa berseliweran. Berlarian dan kejar‐kejaran. Sangat ramai.
Tapi di sini hanya beberapa siswa saja yang terlihat. Mungkin
karena masih terlalu pagi.
Mereka yang berpapasan dengan kami terlihat malu‐
malu. Hanya tersenyum menunduk. Tidak ada teriakan atau
suara ribut khas anak SD. Sunyi.
“Memang seperti ini Bu, siswa seluruhnya hanya 58
orang, masing‐masing kelas hanya rata‐rata 10 orang siswa
bahkan ada yang kurang,” kata Bu Riri, guru kelas VI yang
memang orang asli Nagari Kubang Tinggi.
Binar Mata Laila | 17
Saat upacara bendera juga tampak hening dan khidmat.
Tidak ada kesulitan sama sekali saat mengatur anak‐anak
berbaris. Karena jumlah mereka yang sangat sedikit. Hanya
kelas 1 dan kelas 2 yang perlu bimbingan. Itupun mereka tidak
banyak mengeluarkan suara. Bapak Kepala Sekolah sebagai
pembina upacara memperkenalkan aku dan Nadya kepada
anak‐anak dan juga kepada majelis guru. Majelis guru hanya 5
orang. Jadi biasanya Bapak Kepala Sekolah juga mengajar,
masuk ke kelas. Karena kekurangangan guru.
Aku bertanya‐tanya, mengapa jumlah siswanya sangat
sedikit. Apakah memang hanya sebanyak itu anak usia
sekolah di nagari ini. Padahal kalau dilihat, nagarinya cukup
luas. Meskipun letak perumahannya menyebar.
“Sebenarnya anak usia sekolah banyak. Namun,
kebanyakan dari orang tua enggan menyekolahkan anaknya
dengan berbagai alasan, terutama bagi mereka yang tinggal
di pinggiran nagari,” kata Bapak Kepala Sekolah saat
kutanyakan perihal jumlah siswa yang sedikit.
“Pemahaman mereka tentang sekolah masih kurang.
Dengan kehadiran Bu Guru berdua di sini yang masih muda,
kami berharap mampu menarik orang tua untuk
menyekolahkan anak mereka,” tambah Bapak Kepala Sekolah
lagi. Aku dan Nadya saling berpandangan. Misi pertama dari
Bapak Kepala Sekolah. Di hari pertama berdinas.
18 | Velly Syafriani
Ekstrakurikuler
Menggambar
A ku memulai aktivitas mengajar. Mendapat tugas
mengajar siswa kelas 1. Siswanya hanya sembilan
orang. Dua orang laki‐laki dan tujuh orang
perempuan. Siswa yang sembilan orang sangat tidak
sebanding dengan kelas yang mampu menampung dua puluh
orang atau bahkan lebih. Kelas terkesan sangat sunyi. Apalagi
siswa kelas 1 yang masih malu‐malu dan takut.
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan bagiku adalah
perbandingan siswa laki‐laki dan perempuan. Siswa
perempuan jauh lebih banyak dari laki‐laki. Tidak hanya di
kelas 1, tetapi secara keseluruhan. Siswa perempuan
jumlahnya lebih dari 65%.
Pagi ini aku akan mengajarkan mereka membuat gambar
kolase dengan bahan biji‐bijian. Sebelumnya telah aku
tugaskan membawa biji‐bijian apa saja yang mereka temukan
di rumah atau di pekarangan. Semuanya membawa apa yang
aku tugaskan. Bahkan dalam jumlah yang sangat banyak.
Aku guru kelas. Namun, lebih senang dengan mata
pelajaran seni pada waktu masih sekolah. Aku suka
menggambar dan melukis. Menggambar apa saja.
Pemandangan atau anime. Aku ingin membuka
ekstrakurikuler menggambar. Bapak Kepala sekolah sangat
senang. Bahkan segala kebutuhan yang diperlukan akan
disediakan sekolah.
Binar Mata Laila | 19
Di antara siswa‐siswa ini pasti ada yang punya bakat.
Bakat mereka harus dikembangkan. Lagi pula banyak ajang
yang bisa diikuti anak yang berkaitan dengan menggambar
dan melukis. Seperti desain poster pada saat FLS2N. Kalau
seandainya bakat mereka diasah pasti akan muncul bibit‐bibit
dari Nagari Kubang Tinggi.
Aku telah menjaring mereka yang ingin ikut
ekstrakurikuler menggambar. Ada 15 orang yang menurutku
berbakat. Sesuai dengan tes menggambar awal yang aku
berikan. Ekstrakurikuler akan aku berikan setiap hari Rabu
siang.
Nadya sebagai guru olahraga juga punya programnya
sendiri.
“Bagaimana kalau aku buat klub pencinta alam?” tanya
Nadya, saat aku mengutarakan niatku mengadakan
ekstrakurikuler menggambar. Aku hanya mengangguk setuju.
Sangat sesuai dengan hobi petualang Nadya.
“Katanya banyak tempat bagus di sekitar sini yang harus
dieksplor,” tambah Nadya lagi dengan semangat. Meskipun
baru hampir satu minggu di sini Nadya sudah banyak tahu
tentang segala sesuatu mengenai Nagari Kubang Tinggi.
Setiap hari sepulang sekolah, gadis tomboi itu selalu
melanglang buana. Bahkan tanpa sepengetahuanku. Dia
memang tidak bisa diam. Sangat berbeda denganku yang dari
dulu memang hanya lebih banyak menghabiskan waktu
sendiri. Melukis.
Aku dan Nadya hanya berharap semoga apa yang kami
lakukan dapat menarik minat para orang tua untuk
menyekolahkan anak mereka. Sehingga sekolah yang sudah
susah payah didirikan ini menjadi ramai. Memiliki banyak
siswa.
20 | Velly Syafriani
Hari Balai
H ari ini hari Rabu. Jalanan di depan sekolah terlihat
ramai. Banyak orang berlalu lalang. Aku hanya
menatap dari pintu kelas.
“Hari ini hari ‘balai’ Bu Guru,” ucap salah seorang
siswaku. Saat aku terheran‐heran melihat keramaian di balik
pagar sekolah. ‘Balai’ artinya: pakan atau pasar.
“Kalau Bu Guru mau belanja, di sana banyak penjualnya,
tempatnya juga tidak jauh,” tambahnya lagi. Aku hanya
tersenyum. Sepertinya aku harus mengunjungi ‘balai’.
Bagi siswa‐siswa di sekolahku hari ‘balai’ mendatangkan
kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Jajan mereka memang
lebih banyak disaat hari ‘balai’ dibanding biasanya. Disaat jam
istirahat pun Bapak Kepala Sekolah mengizinkan mereka
berbelanja ke ‘balai’, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Anak‐
anak lebih bebas berbelanja di sana.
Sepulang sekolah aku dan Nadya berjalan menuju ‘balai’.
Meskipun sudah siang namun tetap ramai. Sepertinya seluruh
penduduk nagari keluar. Terutama kaum bapak. Bapak‐bapak
yang jarang kami temui di hari biasa. Baru kami temui hari ini.
Karena hari ini adalah hari mereka turun dari ladang gambir.
Ya, mereka hanya pulang seminggu sekali. Di hari balai.
Mereka akan menjual gambir hasil kerja mereka selama
seminggu sebelumnya.
Tauke‐tauke gambir juga banyak berlalu lalang. Mereka
siap membeli gambir yang dibawa para bapak. Namun,
Binar Mata Laila | 21
mereka biasanya sudah memiliki langganan tetap. Bahkan
terkadang mereka telah memberikan modal awal untuk para
petani gambir. Sehingga saat penjualan, para petani gambir
harus menjual pada mereka. Istilahnya adalah ‘induak samang’
atau induk semang.
Setelah mendapatkan uang hasil penjualan gambir,
mereka juga langsung berbelanja kebutuhan untuk seminggu
ke depan. Untuk mereka sendiri atau untuk anak istri mereka
di rumah.
Para pedagang yang berjualan di ‘balai’ sebagian besar
datang dari luar. Mereka sengaja menyewa mobil bak terbuka
bersama‐sama. Biasanya barang dagangan mereka adalah
berupa pakaian, kebutuhan pokok atau barang pecah belah
dan mainan anak. Harga dagangan mereka ketika sampai di
Nagari Kubang Tinggi menjadi jauh lebih mahal. Tetapi para
pembeli sepertinya memaklumi. Perjuangan mereka untuk
sampai ke sini penuh perjuangan. Mereka bahkan berangkat
dari bawah saat dini hari. Menempuh perjalanan paling
mendebarkan selama 5 jam lebih. Kadang bahkan harus turun
tangan untuk mendorong mobil, jika mobil terperosok ke
dalam lubang.
Sedangkan untuk kebutuhan lainnya. Seperti sayuran,
cabai, buah dan lauk pauk, kebanyakan pedagangnya adalah
penduduk asli dari Nagari Kubang Tinggi. Mereka menjual
hasil bumi masing‐masing. Aku dan Nadya membeli beberapa
sayuran dan buah serta ikan untuk persediaan selama
seminggu kedepan. Kami bisa menumpangkannya di kulkas
milik Bapak Kepala Sekolah.
22 | Velly Syafriani
‘Balai’ ini tidak terlalu luas. Dari ujung‐keujung kita bisa
saling melihat. Tidak seperti pasar di luaran sana. Kalau di luar
sana tidak bergandengan dengan orang tua, kita bisa hilang.
Aku pernah mengalaminya dulu. Waktu mengikuti ayah
berjualan ikan di pasar. Aku hilang dari ayah. Aku tersenyum
sendiri mengingat kejadian lucu itu. Ah, ayah, aku tiba‐tiba
merindukan laki‐laki yang terlihat dingin. Namun, sangat
perhatian itu.
Hari ‘balai’ berlangsung sampai jam 4 sore, khusus untuk
pedagang yang datang dari luar nagari. Namun, kalau
pedagang yang penduduk asli, bahkan ada yang jualan
sampai malam hari. Terutama untuk yang menjual makanan.
Seperti satai dan bakso. Hari ‘balai’ sepertinya benar‐benar
hari bahagianya penduduk Nagari Kubang Tinggi. Para gadis
pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk mengintai pria
yang mereka taksir. Karena para pria muda pun sama dengan
para bapak, mereka sibuk ‘mangampo’ dan hanya turun di
hari ‘balai’.
Satu hal lagi, ternyata tidak hanya pria muda, anak laki‐
laki usia sekolah pun banyak yang ikut bapak mereka pergi
‘mangampo’. Mereka memang tidak melakukan pekerjaan
orang dewasa. Mereka hanya menemani, sekadar menggiring
anjing atau menangkap burung. Jadi inilah alasannya
mengapa siswaku yang laki‐laki sangat sedikit.
Para orang tua memang lebih menanamkan tanggung
jawab kepada anak laki‐laki. Karena merekalah nantinya yang
akan menanggung kehidupan keluarga mereka. Dari dini
mereka sudah mengajari anak laki‐laki mereka berladang.
Tinggal di ‘kampaan’ dan memelajari cara pengolahan gambir.
Binar Mata Laila | 23
Saat mereka memasuki usia remaja, biasanya mereka
telah memulai profesi mereka. ‘Mangampo’ dan menghasilkan
uang sendiri. Setelah merasa mampu, mereka akan menikah
dengan gadis pujaan hati mereka. Jadi di Nagari Kubang
Tinggi ini kasus pernikahan dini paling banyak terjadi.
Sehingga gadis‐gadis seusiaku dan Nadya kebanyakan telah
memiliki anak yang cukup besar bahkan ada yang sudah
duduk di kelas 1 SD.
24 | Velly Syafriani
Binar Mata di Balik Jendela
S epulang dari ‘balai’ aku langsung menuju ke sekolah.
Hari ini adalah hari pertamaku memulai ekstrakurikuler
menggambar. Ada 15 orang siswa yang telah
menungguku di ruangan. Hari ini aku akan memberikan
mereka kesempatan menggambar bebas. Dengan peralatan
buku gambar, pensil dan krayon yang memang difasilitasi
sekolah. Dengan diberi kesempatan menggambar bebas akan
terlihat bakat mereka akan mengarah kemana, apakah lebih
suka menggambar pemandangan, menggambar wajah,
menggambar model pakaian, atau menggambar rumah.
Aku baru saja selesai menunjukkan teknik‐teknik
pewarnaan gambar dengan menggunakan krayon ketika
seorang gadis kecil berusia 6 tahunan mengintip perlahan
dari balik jendela kaca kelas. Dia sepertinya berjinjijt. Karena
jendelanya cukup tinggi. Hanya mata ke atas yang terlihat. Dia
begitu serius, matanya sampai berbinar saat melihat gambar
yang ku tempel di papan tulis. Gambar pemandangan yang
kulukis sendiri dan baru saja selesai aku warnai.
Cukup lama juga gadis kecil itu mengintip pembelajaran
kami dari balik jendela. Aku hanya membiarkannya. Takutnya
kalau aku tegur, dia akan lari.
Saat siswaku asyik menggambar. Aku malah sibuk
memperhatikan pemilik mata bulat yang masih mengintip
kami. Dia mulai berjalan ke arah pintu. Aku pura‐pura tidak
melihat. Kali ini dia berani melongokkan kepalanya
Binar Mata Laila | 25
memandang ke seluruh kelas. Aku memandanginya. Dia
memakai baju kaos dan celana pendek selutut. Kakinya penuh
dengan lumpur yang hampir mengering. Dia tidak memakai
alas kaki. Baju kaos bergambar Pichacu yang dipakainya
terlihat sangat lusuh. Warnanya sudah tidak jelas lagi, apakah
itu warna kuning atau cokelat kehitaman. Rambutnya ikal
sebahu. Dia memiliki wajah bulat dengan mata bak purnama.
Mata yang indah.
Aku sengaja tidak menyapa. Takut mengagetkannya.
Siswaku juga tidak merasa risih dengan kehadiran gadis kecil
berambut ikal itu. Seolah telah terbiasa.
Cukup lama gadis itu memperhatikan siswaku yang
sedang mewarnai gambar yang mereka buat dengan krayon.
Dia sepertinya benar‐benar tertarik dengan apa yang
dilakukan para siswaku. Tanpa dia sadari dia sudah masuk ke
kelas dan berdiri di depan meja paling depan dekat dengan
pintu. Matanya tidak pernah lepas dari krayon yang sedang
digoreskan siswaku pada gambar yang dibuatnya.
Gadis itu begitu terpana. Warna‐warni karyon yang
menggores kertas putih itu begitu menarik baginya. Sama
halnya dengan tatapan anak‐anak seusianya di luaran sana,
saat diberikan android dan memainkan game yang ada di
dalamnya. Mata bulat itu tidak berkedip. Dia terpukau.
Aku mencoba mendekat perlahan menuju meja paling
depan. Aku ingin menyapanya. Awalnya dia tidak menyadari
kehadiranku, karena masih terpesona dengan krayon. Melihat
kedatanganku. Dia langsung memutar badannya dan lari. Aku
juga jadi kaget sendiri. Tidak menyangka reaksinya akan
seperti itu.
26 | Velly Syafriani
Aku memperhatikannya dari teras kelas. Gadis kecil itu
lari ke arah ‘balai’. Kaki‐kaki kecilnya yang tanpa alas kaki
seolah terbiasa berlari menembus rerumputan.
“Bu Guru melihat apa?” tanya Humaira, salah seorang
siswiku.
“Anak kecil tadi,” jawabku dengan mata masih menatap
ke arah hilangnya gadis kecil itu.
“Oo, dia sering main ke sini Bu, terutama kalau sedang
hari ‘balai’, rumahnya jauuuh di tepi hutan,” tambah Humaira
lagi.
Aku menatap Humaira, dari intonasinya menyebutkan
kata jauh. Sepertinya memang sangat jauh.
Binar Mata Laila | 27
28 | Velly Syafriani
Gadis Kecil Itu Bernama Laila
A ku memasuki ruang serba guna sekolah. Ruangan
berukuran 9x15 m itu disulap oleh Bapak Kepala
Sekolah dan majelis guru menjadi 5 ruangan dengan
sekat terbuat dari tripleks. Di samping kanan ada ruangan
kepala sekolah yang berdampingan dengan ruangan tata
usaha. Di tengah ada ruangan majelis guru. Dan di samping
kiri ada ruangan shalat dan ruang UKS. Meskipun demikian
semuanya tertata rapi.
Bapak Julius, benar‐benar sosok kepala sekolah yang
sempurna. Dia selalu memberikan contoh terlebih dahulu
sebelum memberikan perintah kepada orang lain. Pagi sekali
Bapak Julius telah sampai di sekolah. Dia sendiri yang memilih
sampah jika ada sampah yang berserakan atau menyiram
tanaman. Selain itu, orangnya juga sangat religius. Hampir
tidak pernah dia meninggalkan shalat Duhanya. Dia juga
sering puasa Senin dan Kamis. Dan yang paling penting dia
sangat berwibawa dan kebapakan.
“Bagaimana perasaan Bu Elly, setelah dua minggu tinggal
di sini?” tanya Bapak Kepala Sekolah saat aku sedang
mempersiapkan media pembelajaran yang akan aku ajarkan.
“Senang Pak, ada banyak hal baru yang ditemukan di sini
dan tidak ada di tepat lain,” jawabku sambil tersenyum.
“Kapan‐kapan akan saya ajak Bu Elly dan Nadya
menjelajahi seluruh bagian nagari. Nagari ini masih luas.
Beberapa penduduk ada juga yang bermukim jauuuh di tepi
hutan,” tambah Bapak Kepala Sekolah.
Binar Mata Laila | 29
Mendengar kata jauh yang diucapkan Bapak Kepala
Sekolah, aku menjadi teringat ucapan siswiku kemarin. Soal
tempat tinggal gadis kecil yang kemarin mengintip
pembelajaranku dari balik jendela.
“Oh iya Pak, kemarin saat ekstrakurikuler menggambar
ada anak perempuan kecil berambut ikal sebahu yang ikut
memperhatikan pembelajaran saya dari balik jendela. Kata
anak‐anak dia sering datang ke sekolah. Apakah Bapak tahu
anak perempuan itu?” tanyaku.
“Oo, Laila, iya Bapak kenal,” jawab Bapak Kepala
Sekolah. Jadi nama gadis kecil itu Laila.
“Itu adalah salah satu anak perempuan usia sekolah yang
orang tuanya tidak mau menyekolahkan anaknya. Usianya
sudah 8 tahun seharusnya sekarang sudah duduk di kelas 1,”
tambah Bapak Kepala Sekolah lagi. Aku tercengang kukira
umurnya baru 6 tahun karena tubuhnya yang kecil. Ternyata
sudah 8 tahun.
“Kami sudah melakukan berbagai macam cara membujuk
orang tuanya agar mau menyekolahkan Laila. Tetapi kami
gagal. Orang tuanya sangat sulit diyakinkan tentang
pentingnya pendidikan. Padahal Laila ingin sekali
bersekolah,” kata Bapak Kepala Sekolah lagi.
Aku sependapat dengan Bapak Kepala Sekolah. Dari
tatapannya kemarin aku juga menangkap hal yang sama. Dia
sangat ingin sekolah. Ada juga sebagian anak yang memiliki
orang tua yang tidak mau menyekolahkannya, dia biasa saja.
Namun, Laila sepertinya berbeda. Dia punya keinginan untuk
sekolah yang tinggi. Kasihan juga.
Tiba‐tiba aku menjadi tertarik dengan Laila. Ingin tahu
lebih banyak tentang Laila, orang tuanya dan tempat
tinggalnya.
30 | Velly Syafriani
Tiga Krayon
R abu siang ini, saat ekstrakurikuler aku menjelaskan
tentang menggambar dengan perspektif kepada
siswaku. Hanya perspektif sederhana, setidaknya
mereka mengetahui cara menggambar bahwa benda yang
jauh harus digambar lebih kecil dan benda yang dekat harus
digambar lebih besar. Aku mencontohnya di kertas karton
yang kutempel di papan tulis. Menggambar pemandangan
dengan latar gunung dan jalan. Semakin ke ujung jalanannya
semakin kecil.
Aku begitu fokus menjelaskan, begitu juga dengan
siswaku, begitu fokus memperhatikan gambar yang kubuat.
Tanpa kami sadari gadis kecil bermata bulat yang minggu
kemarin mengintip kami datang lagi. Entah sejak kapan dia
ada di sana. Sampai dia tertidur dengan posisi duduk
bersandar di dekat pintu.
Aku menugaskan siswaku membuat gambar di buku
gambar mereka masing‐masing. Menggambar pemandangan
dengan perspektif yang benar.
Aku memperhatikan gadis kecil itu. Karena dia tertidur,
aku begitu leluasa memandanginya. Baju yang dipakainya
masih sama dengan yang dipakainya minggu lalu. Baju kaos
bergambar Pichacu. Baju itu benar‐benar lusuh. Kali ini dia
memakai sendal jepit yang sudah hampir putus. Kakinya
masih penuh lumpur, tetapi sudah mengering. Rambut
ikalnya seperti tidak pernah tersentuh sampo, sudah hampir
Binar Mata Laila | 31
gimbal. Aku mendekatinya dengan perlahan. Takut
membuatnya terbangun. Dia pasti akan kabur lagi. Sepertinya
gadis kecil itu benar‐benar kelelahan, sampai‐sampai suara
riuh para siswaku tidak membuatnya terbangun. Aku
menyentuh bahu kecilnya, mencoba membangunkan. Benar‐
benar tidak tega melihatnya tertidur sambil duduk di lantai.
“Laila,” panggilku lirih. Dia perlahan membuka matanya.
Dan terkejut ketika mendapatiku duduk tepat di depannya.
Dia mencoba untuk berdiri dan mungkin ingin kabur lagi. Aku
memegang pergelangan tangannya.
“Laila, mau masuk kelas?” tanyaku. Dia hanya membisu,
bola mata bulatnya bergerak liar ke sekeliling kelas.
Mengamati siswaku yang sedang menggambar.
“Kalau Laila mau belajar, Laila boleh kok masuk ke kelas
Ibu,” tawarku. Dia masih tetap diam. Dan terus
memandangiku. Tatapannya seolah ingin memberi penguatan
‘benarkah’. Aku tersenyum.
Aku ingin membuatnya nyaman. Kutinggalkan dia
beberapa langkah. Dia mulai memberanikan diri berdiri di
meja paling depan dan mengamati siswaku menggambar.
Sama seperti minggu kemarin, Laila seperti terhipnotis saat
krayon berwarna warni yang dipakai siswaku manggores
buku gambar yang baru saja mereka lukis.
Tidak lama berselang seseorang memanggil nama Laila
dari balik pagar sekolah. Laila segera menoleh ke arah suara.
Terlihat seorang pria dengan perawakan kurus tinggi yang
sedang membawa ambuang di atas kepalanya. Ambuang
adalah sejenis keranjang rotan atau bambu dengan tinggi
kira‐kira 1,2 m berbentuk kerucut yang dipotong ujungnya,
32 | Velly Syafriani
biasanya digunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan
ranting‐ranting gambir yang sudah dipotong. Namun,
terkadang para petani gambir juga menggunakan ambuang
untuk mengangkut gambir mereka.
Pria itu berjalan ke arah sekolah. Tanpa sepatah kata pun
Laila bergegas menuju pria itu. Sebelum Laila berlari aku
sempat menyodorkan 3 batang krayon ke dalam
genggamannya. Mata bulat itu terlihat bersinar melihat
krayon merah, hijau, dan kuning yang kini ada dalam
genggamannya. Laila tersenyum ke arahku.
Aku masih mengamati Laila dari teras kelas. Kaki‐kaki
kecilnya berlari mengikuti langkah pria kurus tinggi yang baru
saja memanggilnya. Melihat mereka berdua aku merasa
bernostalgia dengan masa kecilku sendiri.
Dulu aku juga seperti itu. Mengikuti Ayah ke manapun
ayah pergi. Saat ayah membongkar kolam untuk memanen
ikan aku pun juga ikut serta. walaupun ujung‐ujungnya hanya
sekadar main lumpur. Tidak membantu sama sekali. Justru
membuat pekerjaan ayah bertambah karena harus
memandikanku setelahnya. Begitu juga saat ayah menjual
ikan di pasar aku juga selalu ikut. Aku masih ingat saat ayah
memboncengku dengan sepeda ontelnya menuju ke pasar
dan kedua kakiku sengaja diikatkan ayah ke depan agar tidak
diputar jari‐jari sepeda. Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
Nadya baru pulang ketika aku selesai mandi. Entah ke
mana saja guru olahraga tomboi itu seharian ini. Sepatunya
penuh lumpur basah.
“Sayang sekali kamu tidak ikut aku hari ini, anak‐anak
mengajakku ke tempat yang wow, luar biasa meskipun jauh
Binar Mata Laila | 33
tapi semuanya terbayar kalau sudah sampai di sana.” Tanpa
ditanya Nadya menjelaskan pengalaman pertamanya
melaksanakan ekstrakurikuler pencinta alam.
“Kemana sih?” tanyaku.
“Tempatnya cukup jauh kalau dengan jalan kaki, tetapi
kalau sudah sampai di sana kamu bakal disambut air terjun
super indah,” ekspresi Nadya manggambarkan seolah‐olah
dia masih di depan air terjun itu.
“Kamu cuma bareng anak‐anak?” tanyaku. Sebab terlalu
bahaya juga jika cuma Nadya orang dewasanya.
“Ya nggaklah, ada banyak yang pergi, anggota karang
taruna sama ketua pemudanya juga ikut,” jawab Nadya.
Nadya benar‐benar luar biasa, dalam waktu dua minggu
dia sudah memiliki banyak teman. Mulai dari anggota karang
taruna bahkan sampai ketua pemuda. Nadya memang
gampang akrab dengan siapa saja. Dia sangat pintar bergaul.
“Kalau kamu, dapat pengalaman luar biasa apa hari ini?”
tanya Nadya sambil mengambil handuk dan bersiap untuk
mandi.
“Aku bertemu kembali dengan gadis kecil yang kemarin
mengintip pembelajaranku dari balik jendela,” jawabku. Aku
kembali teringat dengan tatapan takjup mata Laila saat
krayon warna warni menggores halaman putih buku gambar.
“Lalu apa spesialnya?” tanya Nadya heran sambil
mengangkat bahu dan berjalan menuju kamar mandi. Nadya
mungkin tidak bisa menangkap dimana spesialnya Laila.
Namun, bagiku laila begitu spesial. Karena kami sepertinya
sama‐sama melalui kisah masa kecil yang sama.
34 | Velly Syafriani
Payo Kariang
M inggu pagi, aku dan Nadya berkunjung ke rumah
Bapak Wali Nagari Kubang Tinggi. Bapak Wali
memang sengaja mengundang kami ke rumahnya.
Setelah sebelumnya kami juga sudah pernah bertamu ke
kantornya. Melapor sebagai warga baru.
Bapak Wali dan istrinya banyak bercerita tetang asal usul
nama Nagari Kubang Tinggi. Kubang artinya tanah lekuk yang
berisi genangan air dan lumpur. Jadi dulu daerah ini
berbentuk kubangan berisi genangan air dan lumpur
meskipun letaknya di ketinggian. Sehingga nagari ini dinamai
Nagari Kubang Tinggi.
Nagarinya cukup luas, jumlah penduduknya juga banyak.
Satu nagari saja terbagi menjadi beberapa jorong. Namun,
karena letaknya menyebar jadi terkesan sunyi.
Masih ada beberapa kepala keluarga yang tinggal jauh
bahkan ke tepi hutan dekat dengan ladang gambir mereka.
Untuk sampai ke pusat nagari mereka perlu menempuh jalan
kaki sampai 2 jam. Mereka tidak mau dipindahkan dengan
alasan mata pencarian mereka ada di sana. Dan kebanyakan
anak‐anak merekalah yang tidak sekolah.
Dari keterangan Bapak Wali Nagari kami juga mengetahui
bahwa masih banyak penduduk Nagari Kubang Tinggi yang
buta huruf. Dahulu sebelum ada SD di Kubang Tinggi, mereka
yang ingin sekolah harus ke luar nagari. Mencari sekolah
terdekat. Bagi yang memiliki sanak saudara di luar Nagari
Binar Mata Laila | 35
Kubang Tinggi, mereka bisa menumpang di rumah sanak
saudara mereka. Namun, bagi yang tidak punya, terpaksa
harus kos atau ngontrak. Jadi sangat mustahil bagi anak‐anak
usia sekolah dasar melakukan hal tersebut. Sehingga banyak
yang memutuskan untuk tidak sekolah.
Namun, sekarang perlahan, tetapi pasti pemerintah
nagari juga sedang menggalakkan program paket A. Guna
membebaskan buta aksara di Nagari Kubang Tinggi. Jadi
memang tidak heran jika sampai sekarang pun masih banyak
orang tua yang bersikeras tidak ingin menyekolahkan anak
mereka.
Sangat miris mendengarnya. Mudah‐mudahan dengan
adanya SD N 8 Kubang Tinggi secara betahap bisa membuat
warga yang masih buta huruf menjadi melek aksara.
Aku dan Nadya berpikir, masih banyak hal yang harus
kami lakukan. Dan semuanya tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Dan tidak juga bisa kami lakukan sendirian.
Butuh kerja sama dengan banyak pihak. Setidaknya kita
berusaha.
Bapak Wali Nagari juga menunjukkan pada kami, satu‐
satunya tempat yang dapat dijangkau oleh sinyal telepon
seluler. Orang‐orang menyebut tempat itu dengan ‘Payo
Kariang’. ‘Payo’ sama dengan paya dalam bahasa Indonesia
artinya rawa dan ‘kariang’ artinya kering. Jadi tempat ini
dulunya adalah rawa dan sekarang sudah mengering. Berupa
tanah lapang tanpa ada pepohonan.
Beberapa orang anak muda dan para tauke gambir
terlihat sedang menggunakan telepon seluler mereka. Hanya
untuk menelepon atau sekedar SMS. Karena hanya sebatas
36 | Velly Syafriani
itu jaringan yang ada. Kualitas sinyalnya pun tidak terlalu
bagus.
Aku dan Nadya mencari posisi dengan sinyal terkuat.
Seperti dugaanku. Ada SMS masuk bertubi‐tubi. Semuanya
dari ibu. Nadya juga sama. SMS dengan nada kecemasan.
Padahal sebelumnya, waktu pertama kali sampai di Nagari
Kubang Tinggi aku pernah menitip surat lewat Bapak Kepala
Sekolah. Kebetulan Bapak Kepala Sekolah ke luar nagari
karena harus pergi ke kantor Dinas Pendidikan. Sepucuk surat
untuk orang tuaku yang mengabarkan kalau aku baik‐baik
saja.
Tentu saja itu belum cukup untuk ibu. Sebelum
mendengar suara ku. Aku segera menelepon ibu. Meski
dengan suara terputus‐putus, setidaknya bisa mengobati rasa
rindu mendengar suara ibu. Sedangkan ayah. Seperti biasa.
Dia tetap tidak akan bersuara. Meskipun rindunya
membuncah dan rasa penasarannya menggunung. Ayah bisa
menjaga perasaannya. Namun, aku yakin setelah ini ayah
akan menghujani ibu dengan pertanyaan‐pertanyaan tentang
kabarku. Ayah memang selalu seperti itu. Aku
merindukannya.
Ada situasi lain yang membuatku merasakan kebahagian
tersendiri di sini. Hubungan keakraban. Bahkan di saat kita
berkomunikasi jarak jauh tetapi tetap berkumpul bersama di
satu titik. Disaat seperti ini pun ada kehangatan yang tercipta.
Jika sinyal tiba‐tiba hilang. Justru membangun komunikasi
dengan orang‐orang terdekat. Saling bercerita.
Bagiku dan Nadya tentu saja ini jalan perkenalan dengan
seseorang yang baru ditemui. Sama seperti waktu dulu. Saat
Binar Mata Laila | 37
belum ada telepon seluler. Orang‐orang antre untuk
menelepon di wartel. Justru pada saat antre itulah.
Komunikasi‐komunikasi terbangun dengan orang‐orang baru.
Bahkan tidak jarang ada yang menemukan jodoh mereka saat
sedang sama‐sama antre.
Sama halnya dengan di sini. Menurut Bapak Wali Nagari
setiap Rabu malam. Tempat ini ramai oleh pemuda dan
pemudi. Sehingga nagari memfasilitasi dengan memberikan
penerangan yang bagus dan juga tempat‐tempat duduk.
Bahkan di hari‐hari spesial tertentu Payo Kariang juga
dijadikan tempat pertunjukan seni dan perlombaan. Satu titik
yang dijadikan titik kumpul untuk penduduk Nagari Kubang
Tinggi.
38 | Velly Syafriani
Pria dengan Ambuang
di Kepala
A ku sedang berjalan di dalam ‘balai’ menemui
pedangang mainan anak‐anak. Minggu lalu aku ada
pesan barang kepadanya. Bukan mainan. Tetapi
buku. Jadi, karena tidak ada pedagang yang menjual buku di
‘balai’. Aku meminta tolong kepada pedang mainan itu untuk
membelikan buku‐buku pesananku. Kebetulan di pusat
kabupaten toko mainannya berdampingan dengan toko
buku.
Memang sudah menjadi kebiasaan juga. Bagi yang
membutuhkan barang‐barang yang tidak tersedia di balai kita
dapat memesannya. Tetapi tentu saja harganya menjadi
sangat mahal. Karena itu bukan barang dagangan mereka.
Bagiku tidak masalah, yang penting aku mendapatkan buku‐
buku yang kuinginkan. Aku memesan buku‐buku mewarnai
yang bisanya dipakai anak TK. Sebagai referensi bagi siswaku
saat ekstrakurikuler menggambar.
Aku baru saja akan beranjak ke luar balai tiba‐tiba mataku
menangkap sosok pria kurus tinggi dengan ambuang di
kepalanya.
Pria itu sedang bertransaksi dengan seorang tauke
gambir. Dia baru saja menjual gambirnya. Dan menerima
beberapa lembar rupiah dari tauke. Pria itu sangat tidak
asing. Benar saja. Aku melihat ke arah samping pria itu. Gadis
Binar Mata Laila | 39
kecil bermata bulat yang selalu mencuri perhatianku
beberapa hari belakangan ini, sedang berdiri tegak di sana.
Bajunya masih sama. Persis sama dengan minggu‐minggu
sebelumnya. Baju kaos dengan gambar Pichacu yang lusuh.
Tentu saja, dia adalah Laila.
Aku sengaja mengalihkan pandanganku ke arah lain dan
pura‐pura sibuk menawar beberapa barang pecah belah yang
sebenanya tidak aku butuhkan. Suasana balai tidak terlalu
ramai. Jadi bisa saja Laila mengenaliku. Aku ingin tahu lebih
banyak tentang Laila. Aku ingin tahu, apa saja yang dilakukan
gadis itu di balai.
Laila masih mengekori pria dengan ambuang di kepalanya
itu. Ambuang itu kini tampak kosong. Pria itu terlihat membeli
beberapa kebutuhan harian seperti beras dan minyak goreng.
Terlihat juga pria itu membelikan sebungkus kerupuk dan
memberikannya pada Laila. Gadis kecil itu tampak riang.
Sebuah kebahagian besar baginya, meskipun hanya
sebungkus kerupuk seharga seribuan. Mataku berkaca‐kaca
haru.
Aku kembali ingat diriku 17 tahun lalu. Sama seperti Laila.
Mengikuti ayah berbelanja kebutuhan pokok setelah ikan‐
ikan ayah habis terjual. Namun, kebahagiaanku waktu itu
adalah saat ayah membelikanku makanan pisang molen.
Kantong berisi pisang molen itu akan terus aku tenteng
sendiri, sambil mengikuti ayah. Rasanya luar biasa bahagia
mengingat semua itu. Mengapa semua kisah Laila selalu
mengingatkan tentang kisahku sendiri.
Aku terbawa suasana. Sehingga tidak menyadari bahwa
jam ekstrakurikulerku akan dimulai. Aku berbegas menuju
40 | Velly Syafriani
sekolah. Setelah sebelumnya membayar sebuah teko kaca
milik pedangang pecah belah. Aku harus membelinya, karena
dari tadi pura‐pura menawar sebagai alasan, kasihan juga
pedagangnya.
Sesampai di kelas, para siswaku telah menunggu. Aku
membagikan buku‐buku yang baru saja kubeli. Hari ini aku
akan mengajarkan mereka teknik mewarnai dengan gradasi.
Gradasi warna adalah perubahan dari satu warna ke warna
lainnya secara bertahap atau disebut juga transisi warna.
Aku baru saja menjelaskan 2 teknik membuat gradasi
dengan menggunakan krayon. Gradasi warna gelap ke terang
dan gradasi terang kegelap. Keduanya penting bagi siswaku.
Salah satunya bisa diaplikasikan saat menggambar
pemandangan. Membedakan warna daun tua dan pucuknya,
harus memakai gradasi warna hijau. Siswaku harus tahu.
Aku begitu fokus menjelaskan, bahkan sambil
mencontohkan dengan gambar yang kubuat sendiri di karton
yang kutempel di papan tulis. Siswaku juga sangat fokus.
Tanpa kami sadari lagi, Laila sudah ada di antara kami.
Gadis kecil itu masih menggenggam kerupuk di
tangannya. Dia tidak lagi canggung. Masuk ke kelas dan
memperhatikan siswaku yang duduk di meja paling depan
dekat dengan pintu. Dia asyik sendiri. Sambil sesekali
memandangiku. Aku tersenyum.
Siswaku juga tidak merasa terganggu dengan kehadiran
Laila. Dia hanya melihat tanpa sedikit pun bersuara.
Tidak lama kemudian seseorang memanggil Laila. Laila
segera menoleh ke arah halaman sekolah. Terlihat di
Binar Mata Laila | 41
halaman, pria dengan ambuang di kepala. Pria itu berdiri di
teras kelas. Aku menghampirinya.
“Maafkan anak saya Buk Guru, jika telah mengganggu,”
katanya. Pria dengan ambuang di kepala itu adalah ayah Laila.
“Laila sama sekali tidak mengganggu Pak,” jawabku.
“Laila memang sangat suka sekolah, jadi kalau saya
sedang berbelanja di balai dia sering menghilang sendiri, tau‐
taunya sudah sampai di sini. Sekali lagi saya minta maaf Bu
Guru,” tambah pria itu. Cara bicaranya terlihat sopan.
“Kami pulang dulu Bu Guru,” katanya lagi sambil
melangkah dan menggandeng tangan Laila.
“Pak,” kataku.
“Kalau Bapak tahu Laila sangat suka sekolah, mengapa
bapak tidak menyekolahkannya,” tambahku lagi. Kata‐kataku
menghentikan langkahnya. Dia berhenti dan menoleh ke
arahku. Tanpa kata, hanya tatapan. Dia tidak menyukai
kalimat terakhirku.
42 | Velly Syafriani