Sebuah Misi
S ore itu aku masih terpaku duduk di depan pintu. Raut
wajah Ayah Laila masih terbayang di benakku. Dia
sangat tidak suka saat aku pertanyakan mengapa dia
tidak mau menyekolahkan Laila.
“Lagi mikirin apa sih?” suara Nadya mengagetkanku. Dia
baru saja pulang. Entah ke mana pula dia hari ini. Aku belum
menjawab apa pun. Nadya sudah kembali menimpali.
“Laila lagi?” Nadya mencoba menebak apa yang aku
pikirkan. Aku hanya mengangguk.
“Kenapa?” tanya Nadya sambil membuka sepatu ketsnya.
“Hari ini aku bertemu ayahnya, dan sepertinya kata‐
kataku menyinggung perasaanya,” jawabku. Dan raut wajah
ayah Laila kembali terbayang. Nadya hanya mengerutkan
dahinya. Tidak paham. Bagaimana bisa seseorang yang baru
kenal bisa langsung menyinggung perasaan.
“Memangnya kamu membahas apa?” tanya Nadya lagi.
“Tentang mengapa Laila tidak disekolahkan,” jawabku.
Nadya hanya geleng‐geleng.
“Bagaimana bisa kamu bertanya hal yang begitu pribadi
saat baru bertemu seseorang. Padahal sebelumnya kita
sudah tahu dari Bapak Kepala Sekolah, kalau sebelumnya
sekolah sudah berusaha keras membujuk orang tua Laila agar
menyekolahkan anaknya. Jelas sekali mereka punya alasan
berat yang tidak mampu mereka jelaskan. Dan kamu
Binar Mata Laila | 43
langsung pertanyakan itu. Ya, jelaslah dia marah,” jelas Nadya
panjang lebar.
“Aku cuma gereget, anaknya punya minat sekolah yang
tinggi, ayahnya tahu itu tapi mengapa dia tidak sekolahkan
anaknya?” jawabku membela diri.
“Tapi tak begitu juga kali, baru juga kenal,” tambah
Nadya lagi. Nadya benar. Sudah pasti mereka punya alasan
kuat yang tidak bisa mereka ungkapkan dan pertanyaanku
tadi terkesan menyudutkan.
Selesai shalat Magrib, aku masih memikirkan Laila. Laila
harus sekolah tahun ajaran baru kali ini. Kasihan sekali gadis
kecil itu kalau sampai selamanya tidak pernah menyentuh
jenjang sekolah. Namun, bagaimana dengan orang tuanya.
Kalau sebelumnya kepala sekolah saja gagal meyakinkan
orang tua Laila. Lalu bagaimana bagaimana dengan ku?
Aku masih sibuk dengan pikiran‐pikiranku sendiri. Wajah
Laila yang berbinar dengan mata bulatnya dan wajah muram
ayah Laila silih berganti muncul di hadapanku. Membuatku
pusing sendiri.
“Arghh,” tanpa sadar aku berteriak sambil mengacak‐
acak rambutku sendiri. Nadya yang sedang asyik mengerjakan
sesuatu dengan laptopnya menjadi kaget.
“Jangan bilang kalau kamu masih memikirkan hal tadi,”
kata Nadya.
Tentu saja aku masih memikirkan hal itu.
“Sudah, dari pada kamu stres dan gila, teriak‐teriak
seperti itu, mending begini, angap saja kamu sekarang punya
misi. Misi kamu adalah membuat Laila sekolah di tahun ajaran
44 | Velly Syafriani
baru besok. Maka sekarang siapkan visi kamu untuk
mencapai misi itu. Udah, simpel kan?” tambah Nadya lagi.
Sebuah misi? Nadya terkadang bisa diandalkan juga.
Benar, sebuah misi. Dan aku harus menyusun visi.
“Tapi apakah aku bisa?” aku kembali mengacak
rambutku. Merasa tidak yakin.
“Kalau tidak yakin, ya sudah, ngapain pusing?” Nadya
menimpali lagi.
“Maksud kamu, ya sudah, aku biarkan Laila selamanya
seperti itu?” aku langsung berdiri, tidak terima.
“Kan kamu sendiri yang tidak yakin?” Nadya
membalikkan lagi pertanyaanku.
“Ok. Kita tidak tahu, karena belum mencoba. Meskipun
sepertinya ini sulit, kita harus semangat,” ucapku. Aku tiba‐
tiba mendapat energi positif yang tertular dari Nadya.
Nadya hanya tersenyum melihat tingkahku yang berdiri
dengan tatapan semangat dan tangan dikepalkan.
“Kamu sedang menulis apa sih?” tanyaku yang kali ini
tertarik dengan apa yang dikerjakan guru olahraga itu.
Bisanya sangat jarang dia serius apalagi bekerja dengan
laptop.
“Rahasia,” katanya. Dia langsung menutup laptopnya.
“Ini misi aku oke? Udah, kamu fokus ke misi kamu saja,”
katanya sambil menjauh dariku. Sejak kapan gadis ini punya
rahasia.
Binar Mata Laila | 45
46 | Velly Syafriani
Bingkisan untuk Laila
M enjalani hari‐hari seperti biasanya. Sekolah,
mengajar dan sesekali ikut kegiatan
kemasyarakatan. Melihat prosesi pernikahan atau
mengikuti kegiatan gotong royong. Aku dan Nadya telah
membaur dengan masyarakat Nagari Kubang Tinggi.
Namun, ada yang tidak biasa belakangan ini. Laila tidak
lagi muncul. Laila biasanya selalu hadir di saat jam
ektrakurikulerku. Di saat hari balai. Sekarang sudah hampir
dua minggu. Aku tidak lagi melihat gadis kecil bermata bulat
itu. Aku merasakan ada yang hilang.
Beberapa spekulasi muncul di benakku. Mungkinkah ayah
Laila begitu marah karena pertanyaanku waktu itu. Atau
sesuatu yang buruk telah terjadi pada keluarga Laila.
Aku menuju balai berharap bisa menemui gadis itu di
sana. Bisa jadi selama dua minggu belakangan Laila dan
ayahnya tetap datang ke balai, tetapi Laila tidak
diperbolehkan lagi datang ke sekolah. Aku melayangkan
pandangan ke sekeliling, suasana balai tergolong ramai.
Sangat sulit juga mengenali Laila dan ayahnya di antara
orang‐orang yang berlalu lalang.
Hampir setengah jam memantau di keramaian, aku tidak
melihat Laila dan ayahnya. Mungkin mereka benar‐benar
tidak datang hari ini. Aku kembali bergegas meninggalkan
balai karena jam ekstrakurikulerku akan segera dimulai.
Namun, sebelumnya mataku tertarik pada barisan pakaian
Binar Mata Laila | 47
anak‐anak yang digantung satu‐satunya pedagang pakaian di
balai ini. Stelan anak perempuan dengan gambar pichacu
menarik perhatianku.
Sudah sangat sore ketika aku meninggalkan kelas. Aku
masih berharap Laila akan datang. Dengan langkah lunglai
tidak bersemangat, aku menuju rumah. Rupanya ada Nadya
dan dua orang temannya.Nadya memang selalu penuh
kejutan. Kedua temannya adalah petugas medis dari
Puskesmas Pembantu atau Pustu di Nagari Kubang Tinggi.
Aku sempat berkenalan dengan mereka. Mereka juga berasal
dari luar Nagari Kubang Tinggi. Nadya sepertinya merancang
sesuatu bersama mereka. Mungkin ini ada kaitanya dengan
misi rahasia Nadya semalam.
Selepas shalat Isya, aku menyiapkan sebuah bingkisan
untuk Laila. Baju kaos bergambar pichacu yang kubeli tadi
siang di balai. Aku membelinya 2 pasang dengan warna yang
berbeda. Aku juga membeli sendal jepit dan ikat rambut.
Semuanya kumasukkan ke dalam kotak tempat teko kaca
yang kubeli tempo hari. Bagian luarnya kubungkus dengan
kertas kado bermotif bunga.
“Buat Laila?” tanya Nadya sambil makan satai yang baru
saja dibelinya. Dia makan lahap sekali.
“Iya. Kasihan Laila, sepertinya tidak punya banyak
pakaian,” jawabku. Karena setiap kali bertemu gadis kecil itu
pasti memakai pakaian yang sama.
“Kapan mau diberikan?” tanya Nadya lagi.
“Tidak tahu. Sebab sudah hampir 2 minggu Laila tidak
datang ke balai lagi,” jawabku lesu. Bagaimana kalau untuk
selamanya Laila tidak pernah muncul lagi.
48 | Velly Syafriani
“Bagaimana kalau kita ke rumahnya?” Nadya mulai
mengeluarkan ide briliannya. Aku menatap Nadya dengan
tidak yakin.
“Tapi kita kan tidak tahu di mana rumahnya,” jawabku
lagi.
“Percuma kamu punya teman seorang Nadya. Serahkan
sama aku. Kalau rumahnya Laila seperti yang kamu ceritakan
tempo hari. Sepertinya aku tahu jalan ke sana.” Nadya benar‐
benar semangat.
Sebelumnya aku memang pernah bertanya kepada Bapak
Kepala Sekolah tentang tempat tinggal Laila. Mereka tinggal
jauh di pinggir hutan. Butuh waktu 2 jam perjalanan untuk
sampai ke rumah mereka. Jalanannya masih jalan setapak.
Tidak bisa dilalui kendaraan.
Ide Nadya ada benarnya juga. Anggap saja ini salah satu
visi untuk mencapai misi. Melakukan pendekatan dengan
kunjungan rumah. Siapa tahu hati orang tua Laila tergerak
melihat besarnya usaha kami.
Lagi pula aku sangat penasaran dengan kehidupan Laila
seperti apa ibunya, saudaranya dan bagaimana dia menjalani
kehidupannya sehari‐hari. Sesuatu yang selama ini selalu aku
cari tahu terutama lewat Bapak Kepala Sekolah.
Dengan datang langsung ke rumahnya mungkin
semuanya akan terlihat jelas. Juga mengenai alasan orang tua
Laila yang tidak mau menyekolahkannya.
“Minggu pagi, kita berangkat, oke?” tanya Nadya. Jiwa
petualangnya mulai muncul. Nadya begitu semangat
membayangkan perjalanan yang akan kami lalui. Apalagi kali
ini aku bersamanya. Sudah sering kali Nadya mengajakku
Binar Mata Laila | 49
pergi bersama. Tetapi aku selalu menolak. Aku memang tidak
terlalu menyukai petualangan. Jalan‐jalan, hiking dan
sebagainya. Aku lebih suka di rumah saja, berdiam diri sambil
melukis.
Memiliki sahabat seperti Nadya memang menyenangkan.
Orangnya bersikap apa adanya. Baik hati, bisa diandalkan dan
tidak banyak mengeluh. Baginya selalu ada jalan keluar untuk
setiap masalah. Beruntungnya aku ketika dipertemukan
dengan Nadya di sini.
50 | Velly Syafriani
Taratak Baru
M inggu pagi yang cerah, sangat mendukung untuk
memulai petualangan hari ini. Menemui Laila dan
melihat bagaimana kehidupannya. Juga untuk
melancarkan misi, tahun ajaran baru, Laila sudah harus
sekolah.
Aku masih menunggu Nadya, entah apa rencananya hari
ini, yang jelas pagi sekali dia sudah keluar rumah. Sambil
menunggu Nadya aku mengepak semua barang‐barang yang
aku butuhkan hari ini. Tidak ketinggalan bingkisan yang telah
aku siapkan. Akan aku berikan langsung pada Laila hari ini.
Dengan style ala‐ala Nadya, celana gunung, baju kaos,
topi dan sepatu kets, aku sudah siap berpetualang hari ini.
“Elly, lets go,” terdengar teriakan Nadya dari luar diiringi
deru motor trail. Aku membuka pintu rumah. Tawaku pecah
saat melihat Nadya. Ready dengan motor trail, entah dari
mana dia mendapatkannya.
“Kamu yakin, kita berangkat dengan ini?” tanyaku.
Sebelumnya yang aku tahu jalanan ke sana belum bisa dilalui
kendaraan.
“Tenang, serahkan sama Nadya,” jawabnya penuh
keyakinan.
Aku mengikuti apa kata Nadya, yang jelas hari ini harus
bertemu Laila.
“Kamu dapat motor dari mana?” tanyaku penasaran.
Binar Mata Laila | 51
“Mudahlah, tidak usah dipikirkan. Percumakan Nadya
teman kamu ini gabung sama IPNKT, kalau tidak bisa minjam
motor?” katanya lagi dengan bangga.
Nadya memang telah bergabung pada kelompok pemuda
pemudi Nagari Kubang Tinggi. Namanya IPNKT (Ikatan
Pemuda Nagari Kubang Tinggi). Mereka punya program
bagus‐bagus. Seperti pembuatan Lubuk Larangan. Atau
menghandle kepanitiaan pada acara 17 Agustus‐an dan
kegiatan Ramadan. Kelompok yang bagus.
Kami mulai menelusuri jalan setapak yang belum
terjamah roda kendaraan itu. Dan gadis super bernama Nadya
ini memaksakan motor trail yang kami kendarai melewatinya.
Jalanan kecil, licin, dan penuh lumpur.
“Tenang, percaya sama Nadya,” katanya saat aku mulai
berteriak‐teriak ketakutan di jok belakang. Bagaimana aku
bisa tenang. Jantungku hampir copot. Benar‐benar ngeri,
baru saja memulai perjalanan, sudah terlihat menyeramkan.
Jalannya longsor dan di bawahnya disambut jurang yang
dalam.
Belum lagi saat melawati beberapa jembatan darurat
yang membelah sungai. Aku sengaja turun. Tidak berani
dibonceng Nadya. Aku benar‐benar pesimis kali ini. Tidak
mungkin akan sampai dengan menggunakan motor.
“Sudah, jangan mengeluh. Laila yang masih kecil aja
melewati jalur ini setiap minggunya, masak kamu kalah?” kata
Nadya mengingatkanku pada Laila. Pantas saja Laila begitu
kelelahan ketika sampai di nagari. Aku saja yang baru melalui
separuh perjalanan, sudah ingin meyerah. Bagaimana dengan
Laila yang menempuh jalur ini pulang pergi. Aku merasa
52 | Velly Syafriani
kasihan dengan gadis kecil itu. Aku tidak boleh menyerah.
Hari ini harus bisa bertemu dengannya.
“Oke, ayo lanjut lagi!” Kali ini aku yang menyemangati
Nadya.
“Kalau kita jalan kaki kapan sampainya, kalau seperti ini
paling satu jam kita sampai,” tambah Nadya lagi. Tidak
banyak yang bisa kuperbuat. Selain hanya bergantung kuat
pada Nadya dan memejamkan mata sambil berdoa.
Satu jam perjalanan tanpa jeda. Kami akhirnya sampai
juga. Kami memandang sekeliling. Tidak banyak rumah yang
kami temui, hanya sekitar lima buah rumah. Terlihat hanya
berupa taratak. Taratak adalah bahasa Minang yang artinya
perkampungan yang awalnya didiami untuk dijadikan tempat
tinggal kelompok yang masih bertali darah.
Dan rumah‐rumah itupun dibangun berdekatan dengan
ladang gambir mereka. Tidak jauh dari rumah mereka ada
kampaan.
Rumah‐rumah panggung beratapkan daun rumbia dilapisi
ijuk dan berdindingkan bambu yang dianyam menyambut
kami. Aku turun dari motor. Aku hampir linglung, karena
terus‐terusan terguncang sepanjang perjalanan. Aku
memandang sekeliling. Sunyi, tidak ada seorang pun.
Aku masih menikmati suasana di taratak. Benar‐benar
sunyi. Hanya suara burung, gemercik air sungai dan suara
dedaunan yang tertiup angin yang terdengar.
Melayangkan pandangan ke sekeliling. sebuah
pemandangan indah terpampang. Panorama di bawah
taratak. Barisan sawah‐sawah dengan sengkedan yang masih
menghijau. Terlihat begitu indah saat dibelah aliran sungai
Binar Mata Laila | 53
jernih di antaranya. Sejenak kami terpana. Sedikit mengobati
rasa lelah perjalanan yang baru saja kami tempuh.
Pintu‐pintu rumah itu tertutup. Mungkin penghuninya
sedang ada di ladang. Hanya satu jendela yang terbuka di
antara 5 rumah tersebut. Aku berjalan menaiki tangga kayu
rumah itu dan mulai mengetuk pintu.
“Assalamualaikum,” ucapku. Tidak ada jawaban. Aku
mengulanginya sampai beberapa kali. Masih tidak ada
jawaban. Aku memandang Nadya. Nadya memberiku isyarat
untuk mengulanginya lagi.
Tiba‐tiba aku mendengar langkah kaki kecil di atas lantai
kayu menuju pintu. Daun pintu terbuka. Dan perlahan aku
bisa melihat pemilik langkah kaki kecil itu. Laila, gadis yang
kami cari.
“Siapa, La?” tanya seseorang dari dalam rumah. Laila
masih terpaku tanpa sepatah kata pun. Otaknya mungkin
masih mencerna pertanyaan yang ada di pikirannya. Mengapa
kami ada di sini.
Laila berlari menuju sumber suara. Sebuah bilik
sederhana dengan dinding pembatas seadanya. Aku dan
Nadya masih berdiri di tempat. Dari dalam bilik keluar Laila
bersama seorang wanita paruh baya. Kaki kirinya seperti tidak
bisa diinjakkan ke lantai. Kaki itu terlihat bengkak dan
membiru. Laila membantu sosok itu, semampunya.
“Oh..Silakan masuk!” katanya ramah. Aku dan Nadya
masuk dan duduk, masih di dekat pintu.
Aku memandang sekeliling ruangan. Rumah itu
membuatku kembali bernostalgia. Karena dulu, dulu sekali
54 | Velly Syafriani
saat aku dan orang tuaku belum punya apa‐apa. Kami juga
memulai dengan rumah seperti ini.
Cuma bedanya, rumah kami dulu tidak punya pembatas
sama sekali. Hanya ruangan lepas yang multifungsi. Siang
menjadi ruang tamu dan ruang makan sedangkan malam hari
menjadi kamar tidur. Di siang hari kasur akan digulung ibuku
dan diletakkan di atas pagu. Pagu adalah loteng sederhana
yang terbuat dari beberapa helai papan yang diletakkan di
atas langit‐langit rumah.
Rumah ini hanya berukuran 4x5 m. Dindingnya yang
terbuat dari anyaman bambu terlihat sudah tua dan usang.
Dinding itu dilapisi kertas karung semen. Mungkin untuk
mengurangi udara dingin yang berhembus dari luar.
Saat memandang dinding berlapis kertas karung semen
itu, aku menemukan sesuatu yang membuatku merasa. Wow.
Dinding itu penuh dengan gambar terbuat dari krayon. Ada
gambar pohon, binatang, dan gambar pemandangan alam.
Lagi‐lagi aku kembali bernostalgia. Saat sebelum sekolah
dasar dulu. Usia 6 tahunan, karena tidak masuk sekolah TK.
Aku lebih suka belajar menulis sendiri. Dengan bekal
sebatang pensil aku menuangkan apa saja yang ingin aku tulis
di sepanjang dinding.
Laila pun sepertinya melakukan hal sama. Setelah aku
perhatikan lagi gambar itu hanya memiliki 3 warna saja.
Merah, kuning, dan hijau. Aku tidak bisa menyembunyikan
senyumanku. Ini pasti hasil karya Laila, dari karyon yang
kuberikan tempo hari.
“Silakan diminum airnya,” kata ibu Laila membuyarkan
lamunanku.
Binar Mata Laila | 55
“Maaf hanya ini yang kami punya,” tambahnya lagi.
Aku dan Nadya meminum air putih yang diberikan ibu
Laila.
“Kaki Ibu kenapa?” Nadya sepertinya sudah tidak sabar
ingin tahu. Sedari tadi Nadya menatap kaki ibu itu dan
sepertinya ibu itu menahan sakit luar bisa.
“Oh ini. Saya juga tidak tahu. Awalnya hanya tertusuk
duri biasa saat berladang setelah durinya saya keluarkan tiba‐
tiba jadi membengkak,” katanya.
Sepertinya kaki ibu itu terkena infeksi. Bisa jadi pada saat
mengeluarkan duri, dia memakai peniti atau jarum pentul
yang tidak steril.
“Sudah pernah diobati, Bu?” tanya Nadya lagi.
“Belum. Saya tidak kuat berjalan pergi ke Pustu,” jawab
ibu itu. Benar sekali, perjalanan ke nagari memakan waktu 2
jam dengan berjalan kaki. Itu dengan kaki yang sehat. Kalau
kaki sakit seperti ini bagaimana bisa ibu itu melewati medan
yang sulit. Nadya sepertinya memikirkan cara untuk
membantu ibu itu.
“Maaf, ada perlu apa, Ibu‐Ibu berdua mengunjungi
kami?” tanya ibu Laila kemudian.
“Oh, ini. Kami...” aku gelagapan sendiri.
“Kami hanya mau mengunjungi Laila Bu,” tambahku lagi.
Laila yang duduk di dekat ibunya, sedari tadi terus
memandangi kami dengan malu‐malu.
“Ibu mengenal anak saya?” tanya ibu Laila.
“Oh. Itu. Begini. Laila sering datang ke kelas saya,
mengamati saya mengajar. Jadi kami...”
56 | Velly Syafriani
“Bu guru mau membujuk kami untuk menyekolahkan
Laila?” potongnya langsung. Nada suaranya mulai terdengar
tidak ramah. Sama seperti nada suara ayah Laila waktu itu.
“Maaf kalau Ibu tidak berkenan dengan tujuan kami,”
tambahku lagi dengan suara lirih.
Sejenak suasana tampak hening. Laila pun hanya
menunduk. Aku paham sekali bagaimana perasaan gadis kecil
itu. Harapannya untuk sekolah benar‐benar sudah pupus.
Sepertinya kedua orang tua Laila susah untuk diyakinkan.
“Tahun lalu pun juga begini Bu Guru, ada beberapa orang
guru datang meminta kami untuk menyekolahkan Laila,” ibu
Laila kembali membuka pembicaraan, matanya terlihat
berkaca‐kaca.
“Kami bukannya tidak mau, tapi keadaan benar‐benar
memaksa kami,” tambahnya lagi. Kali ini bulir‐bulir bening
yang sedari tadi ditahannya mulai meleleh.
“Bu Guru bisa lihat sendiri keadaan kami, semuanya serba
susah, jangankan untuk sekolah, untuk makan saja kadang
ada kadang tidak,” tambahnya lagi. Kali ini air mataku yang
meleleh. Aku paham keadaannya. Karena dulu pun
kehidupanku tidak jauh berbeda dari mereka.
“Kalaupun ada yang mau menjamin semua biaya sekolah
Laila, lokasi tempat tinggal kami juga sangat jauh, bagaimana
Laila bisa pergi ke sekolah. Apalagi sekarang saya benar‐
benar tidak bisa membantu ayah Laila bekerja,” ibu itu
memandangi kakinya.
“Maaf kalau Ibu tidak berkenan dengan kedatangan
kami. Ibu percaya sama kami. Kami akan menyediakan biaya
sekolah Laila dan segala keperluannya. Untuk tempat tinggal,
Binar Mata Laila | 57
Laila bisa tinggal bersama kami. Seminggu sekali Laila bisa
pulang bertemu Ibu,” kataku.
“Saya tidak bisa melakukan apa pun. Sebab segala
keputusan ada di tangan ayah Laila,” tambah ibu itu lagi.
Kami hanya mengangguk. Ayah Laila memang sedang tidak
ada di rumah. Dia sedang mengambil daun gambir ke ladang
sebelah. Dia mungkin akan pulang sore hari. Jadi tidak
mungkin menunggunya.
Aku menyodorkan bingkisan yang telah aku siapkan
untuk Laila.
“Ini kami bawakan untuk Laila,” kataku.
“Saya tidak bisa menerima Bu,” ibu Laila menolak.
“Ini hanya sekadar oleh‐oleh untuk Laila Bu, tidak ada
kaitannya dengan pembicaraan kita tadi,” tambahku lagi.
Mungkin ibu itu merasa berat menerimanya. Karena dia tidak
bisa menjanjikan apa‐apa.
Aku dan Nadya meninggalkan taratak. Meninggalkan
Laila dan ibunya dalam kesunyian. Kami hanya saling
membisu sepanjang perjalanan pulang. Sibuk dengan pikiran
masing‐masing.
“Aku tidak habis pikir, ternyata kehidupan mereka
separah itu,” Nadya akhirnya buka suara. Nadya yang
merupakan orang kota dan terbiasa dengan keramaian
mungkin merasa sangat miris melihat kehidupan keluarga
Laila.
Tinggal jauh di tepi hutan. Jauh dari pusat keramaian.
Jangankan untuk mendapatkan hiburan dari TV atau radio.
Bermain dengan tetangga pun tidak bisa. Di taratak itu, Laila
tidak punya teman sebaya. Sehari‐hari dia hanya
58 | Velly Syafriani
menghabiskan waktu sendiri, atau terkadang menemani ibu
atau ayahnya ke ladang gambir.
“Memikirkannya saja, aku yang sesak. Bagaimana Laila
melewati hari‐harinya di sana,” tambah Nadya lagi. Aku masih
membisu. Meskipun kehidupanku dulu hampir sama dengan
Laila. Tetapi tidak separah itu. Rumah kami tidak terasing dan
terpencil seperti rumah Laila. Setidaknya aku masih memiliki
dua atau tiga orang teman yang mengisi masa kecilku.
“Kita benar‐benar harus bisa membuat Laila sekolah
tahun ajaran baru besok. Dan langkah pertama yang harus
segera kita lakukan adalah menyelamatkan ibunya terlebih
dahulu,” tambah Nadya lagi. Aku hanya menganguk, tidak
mampu bersuara.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat. Mungkin
karena pikiran kami tidak pada tempatnya. Tanpa terasa kami
sudah sampai kembali di pusat nagari.
Binar Mata Laila | 59
60 | Velly Syafriani
Tauke Gambir
W aktu pun tetap berlalu. Tahun ajaran baru
semakin dekat. Sedangakan usahaku belum
mengalami kemajuan. Aku perlu bicara dengan
ayah Laila kali ini. Karena segala keputusan ada di tangannya.
Aku kembali menelusuri balai berharap sosok yang aku
cari ada di sana. Tetapi, sama dengan hari‐hari balai
sebelumnya Laila dan ayahnya tidak terlihat.
Aku berjalan menemui tauke gambir, tempat biasa ayah
Laila menjual gambir. Aku menghampiri pria bertubuh agak
gemuk itu. Dia sedang sibuk menghitung uang. Tauke gambir
ini juga bukan warga asli Nagari Kubang Tinggi. Sekali
seminggu dia datang ke Nagari Kubang Tinggi dengan
membawa mobil bak terbuka dengan beberapa orang anak
buahnya.
Karena hanya ada satu tauke besar, jadi harga gambir
bergantung padanya. Para petani gambir pun tidak punya
pilihan, karena biasanya mereka sudah meminjam uang
terlebih dahulu sebagai bekal mangampo selama seminggu.
Nanti setelah gambir selesai diolah, akan langsung diberikan
pada tauke. Kalau ada kelebihan uang setelah dipotong
hutang, berarti itulah yang diterima para petani. Jadi mereka
sudah terikat pada satu tauke.
“Maaf Pak mau tanya. Bapak‐bapak dengan anak
perempuan kecil yang biasanya menjual gambir sama Bapak.
Binar Mata Laila | 61
Apakah ada datang hari ini?” tanyaku memberanikan diri pada
tauke gambir itu.
“Oo maksud Bu Guru, Pak Sudir? Tidak Bu Guru, dia hanya
titip gambir lewat anaknya saja tadi,” jawab tauke itu, sambil
tetap menghitung uang di tanganya. Anaknya? Berarti kakak
laki‐laki Laila.
Kemarin sebelum beranjak pulang ibu Laila memang
sempat bercerita tentang kakak‐kakak Laila. Laila adalah anak
bungsu dari empat bersaudara. Dua kakak perempuannya
telah berkeluarga. Jadi dua dari lima rumah yang berjajar di
taratak kemaren adalah milik kakak perempuan Laila. Mereka
harus menikah muda tanpa pernah menyentuh jenjang
pendidikan. Jadi kalau aku tidak bisa meyakinkan orang tua
Laila untuk menyekolahkanya. Sudah pasti Laila akan
bernasib sama dengan kedua kakak perempuannya.
Sedangkan kakak laki‐laki Laila satu‐satunya, juga tidak
pernah sekolah. Dia harus membantu Ayah mereka
mangampo. Aku mencari‐cari sosoknya di antara pengunjung
pasar. Dari cerita ibu Laila kemaren, putranya itu berusia
sekitar 17 tahun.
Aku mendapatinya sedang berada di depan penjual
beras. Ternyata dia menggantikan tugas ayahnya untuk
berbelanja kebutuhan pokok juga. Aku mendekatinya.
Aku mengajaknya bicara di luar balai. Dia sepertinya anak
laki‐laki yang baik. Bertanggungjawab. Jarang kita temui anak
laki‐laki seusianya mau berbelanja kebutuhan keluarga di
pasar. Dia sepertinya pendiam. Namanya Irwan.
“Kenapa sekarang ayahmu jarang datang ke balai?
tanyaku membuka pembicaraan. Dia yang tadi menunduk,
mengangkat kepalanya.
62 | Velly Syafriani
“Sekarang gambir tidak terlalu banyak, jadi Ayah
menyuruh saya saja yang mengantarnya ke balai,” jawabnya.
Ada kekhawatiran dalam nada bicarannya. Gambir memang
tidak selamanya bisa diolah. Ada kalanya daun gambir akan
habis dan harus menunggu beberapa bulan untuk bisa
diambil lagi dan diolah. Jadi bisanya petani gambir pindah dari
ladang gambir satu ke ladang yang lainnya.
Aku menunjukkan keprihatinanku. Ternyata dia juga bisa
bercerita banyak hal. Dia ceritakan bagaimana susahnya
kehidupan mereka dari minggu ke minggu. Seperti kali ini dia
hanya dapat sedikit uang dari penjualan gambir. Sehingga
hanya dapat untuk pembeli beras.
“Saya tahu maksud Bu Guru baik terhadap adik saya. Saya
juga sangat ingin adik saya tidak bernasib sama dengan kami,
kakak‐kakaknya,” katanya kemudian saat aku bahas tentang
Laila.
“Tetapi sekarang ada begitu banyak beban yang
ditanggung ayah, sehingga baginya yang terpenting sekarang
adalah bagaimana kami tetap terus hidup. Ayah tidak punya
pemikiran lain, apalagi untuk sekolah,” tambahnya lagi.
“Saya akan menjamin semua biaya sekolah Laila,”
jawabku. Dia diam sejenak.
“Tetapi bagi ayah menyekolah anak tidak sesederhana
itu,” katanya lagi. Aku kembali diam.
Laki‐laki itu pamit. Dia mengambil ambuangnya dan
meletakkan di kepala. Ambuang itu tidak memiliki banyak isi,
hanya sekarung kecil beras, tidak ada yang lainnya. Aku
menyuruhnya untuk menunggu sejenak. Aku masuk kembali
Binar Mata Laila | 63
ke dalam balai, membeli sesuatu untuk menambah isi
ambuangnya.
“Terima kasih Buk Guru,” katanya. Dia tampak terharu
ketika aku memasukkan dua buah kantong ke dalam
ambuangnya. Satu kantong berisi barang‐barang harian dan
yang satunya lagi khusus untuk Laila. aku membelikan Laila
buku gambar dan perlengkapan menggambar. Semoga bisa
mengisi hari‐hari gadis kecil itu di tarataknya yang sunyi.
“Saya juga berterima kasih banyak karena Buk Guru telah
mengirim petugas kesehatan ke rumah kami. Sehingga Ibu
saya mendapat pengobatan dan sekarang sudah mulai
membaik,” katanya lagi. Matanya terlihat berkaca‐kaca. Aku
hanya terheran. Oh mungkin Nadya. Aku menjadi ingat
Nadya. Ternyata inilah misi rahasia Nadya selama ini. Bekerja
sama dengan petugas kesehatan, membantu warga yang
membutuhkan terutama di daerah yang sulit dijangkau. Gadis
itu memang sangat cepat tanggap dan luar biasa.
64 | Velly Syafriani
Pemilik Mata Bulat Itu
Terluka
R abu siang seperti biasa aku melaksanakan
ekstrakurikuler menggambar. Hari ini aku akan mulai
mengajarkan siswaku melukis dengan menggunakan
cat air di atas kanvas.
Baru beberapa menit berjalan. Aku melihat sosok gadis
kecil dengan baju kaos bergambar pichacu muncul dari pintu
masuk. Dia Laila. Aku tidak menyangka dia akan hadir. Sebab
beberapa minggu belakangan dia tidak muncul lagi. Aku
tersenyum ke arahnya, dia pun malu‐malu membalas
senyumku.
Hari ini dia terlihat cantik dengan memakai baju dan
sendal baru yang aku belikan. Rambutnya pun terlihat cantik
karena diikat. Tanpa berkata apa pun, aku membawakan
sebuah kursi ke arahnya. Dia pun mulai duduk dengan malu‐
malu. Sepanjang pembelajaran, terlihat sekali kalau Laila
sangat tertarik dengan apa yang aku jelaskan. Binar matanya
semakin bersinar. Aku bisa banyangkan, jika Laila benar‐benar
sekolah, dia pasti akan termasuk kelompok anak yang cerdas.
Setelah kegiatan usai dan para siswaku pulang, Laila
masih duduk di tempatnya. Aku menghampirinya.
“Bagaimana kabar ibu, Laila?” sapaku membuka
keheningan. Dia masih saja diam. Aku kembali tersenyum.
Sejauh ini aku belum pernah mendengar suara Laila.
Binar Mata Laila | 65
“Apakah ibu Laila sudah sehat?” tanyaku lagi.
Kali ini dia menjawab, tetapi hanya dengan anggukan.
Aku mendekatinya. Dia terlihat salah tingkah. Gadis kecil ini
benar‐benar lucu.
“Laila suka menggambar juga kan? Laila bisa
menggambar sepuasnya di buku gambar yang Ibu berikan
kemarin. Kalau sudah habis, nanti Ibu belikan lagi,” kataku
membuka kebekuan suasana. Laila hanya mengangguk.
“Laila,” sebuah suara tiba‐tiba mengagetkan kami
berdua. Pemilik suara itu adalah ayah Laila. Laila turun dari
tempat duduknya, segera menghampiri pria itu.
“Apa kabar Pak?” sapaku sambil menyodorkan tangan.
Pria itu menyambut jabat tanganku. Setelah itu dia
meletakkan ambuang yang sedari tadi menempel di
kepalanya. Aku ingin mencairkan suasana sebab terakhir kali
kami bertemu susananya tidak mengenakkan.
“Baik Bu Guru,” katanya.
“Saya ke sini ingin bicara dengan Bu Guru,” tambahnya
lagi.
“Saya berterima kasih banyak karena Bu Guru peduli
dengan kami, peduli dengan Laila, dan juga peduli dengan
istri saya. Berkat bantuan Bu Guru istri saya telah mendapat
pertolongan untuk mengobati sakit kakinya. Saya juga
berterima kasih atas barang‐barang pemberian Bu Guru untuk
Laila. Laila sangat senang menggambar, setiap hari dia asyik
dengan buku gambar dan krayon yang Bu Guru berikan. Tapi
ada satu hal yang ingin saya sampaikan ...” katanya
menggantung. Sejenak dia diam. Berusaha merangkai kata
yang pas sebelum akhirnya diucapkan.
66 | Velly Syafriani
“Laila tidak akan pernah sekolah Bu,” tambahnya datar.
Aku terkejut. Laila yang sedari tadi berdiri di samping
ayahnya. Hanya menunduk. Aku tahu dia pasti sangat
kecewa.
“Tapi Pak ...” kataku.
“Istri saya mungin sudah menjelaskan panjang lebar
kepada Ibu mengenai alasan kami,” tambahnya lagi.
“Iya, benar. Tapi saya akan bantu Bapak, saya akan jamin
semuanya,” kataku.
“Bu Guru, saya mohon. Saya mohon Ibu tidak menambah
beban pikiran saya. Menjalani hidup seperti ini saja bagi saya
sudah sangat berat. Saya tidak ingin menambah beban
pikiran dengan rengekan Laila yang ingin sekolah. Karena
bagi saya menyekolahkan Laila itu mustahil. Bagi kami
sekolah itu adalah barang mewah,” katanya lagi.
Aku semakin terkejut dengan penjelasan ayah Laila. Aku
tidak percaya, kalau apa yang aku lakukan pada Laila,
ternyata menambah beban ayahnya.
Aku masih diam mematung. Mencoba mencerna kata
demi kata apa yang diucapkan ayah Laila.
“Maaf Bu Guru, kami harus pamit, setelah ini ke depan
saya tidak akan izinkan Laila pergi main ke sekolah ini lagi,”
ucapnya.
Dia segera mengambil ambuangnya dan meraih tangan
Laila, lalu pergi. Laila memandangiku dengan mata berkaca‐
kaca. Mata bulat itu terlihat mendung.
Binar Mata Laila | 67
68 | Velly Syafriani
Hampir Menyerah
M eskipun sudah sehari berlalu sejak pertemuan
dengan ayah Laila, namun kata‐katanya masih saja
membuatku shock tidak percaya. Bagaimana bisa
di zaman sekarang ini masih ada orang beranggapan bahwa
sekolah adalah barang mewah. Aku rasanya mau menyerah
saja. Ayah Laila seperinya sangat sulit untuk diyakinkan.
Aku benar‐benar lesu dan tidak bersemangat. Rasanya
tidak ada lagi harapan.
“Kamu baru saja mulai, mana mungkin langsung berhasil,
iya kan?” Nadya menggodaku. Aku masih diam tidak
bergeming di atas kasurku. Rasanya malas melakukan apa
pun. Semangatku sudah hilang.
“Setiap orang itu berbeda. Ada yang bisa diyakinkan
dengan satu kali ajakan saja. Dan ada yang butuh beberapa
kali ajakan dengan berbagai alasan baru bisa diyakinkan. Jadi
sekarang yang harus kita lakukan adalah membuka pikiran
ayah Laila secara perlahan. Membuatnya berpikir bahwa
menyekolahkan anak bukanlah beban. Dan sekolah bukanlah
barang mewah saat sekarang ini. Tetapi adalah kebutuhan
pokok, ” tambah Nadya lagi.
“Sepertinya aku sudah kehabisan cara,” jawabku sambil
duduk dan menopangkan dagu di lutut.
“Kita perlu pergi ke taratak lagi, kita perlu bicara 4 mata
dengan ayah Laila. Kamu harus siapkan kata‐kata paling
menyentuh untuk meyakinkannya kali ini,” tambah Nadya.
Binar Mata Laila | 69
“Ayo, semangat. Tahun ajaran baru semakin dekat. Kamu
mau Laila benar‐benar tidak akan sekolah selamanya?”
tambah Nadya sambil duduk dan menyentuh pundakku.
“Tentu saja tidak,” jawabku spontan dengan nada sedikit
tinggi.
“Makanya, ayo semangat,” gadis itu sekarang malah
mengguncang‐guncang bahuku.
“Oke,” jawabku sambil mengepalkan tangan. Nadya
benar, ini baru awal. Tidak mungkin mengubah persepsi
seseorang hanya dengan satu kedipan mata.
“Kapan kita akan berangkat? Aku akan meminjam motor
trail lagi,” kata Nadya. Oh tidak.
“Kita jalan kaki saja,” jawabku sambil tersenyum ke arah
Nadya. Aku tidak ingin lagi merasakan perjalanan paling
menakutkan itu.
Kami baru saja selesai makan malam ketika ada
seseorang yang mengetuk pintu. Aku memandang Nadya.
Sudah pasti itu tamu Nadya. Karena dia yang punya lebih
banyak teman. Nadya membuka pintu.
“Elly ada yang mencari kamu,” teriak Nadya. Siapa yang
menacariku malam‐malam begini. Lagipula aku tidak punya
terlalu banyak teman. Aku berjalan ke arah pintu. Ternyata
Irwan. Kakak laki‐laki Laila. Aku mengajaknya duduk di teras.
“Maaf mengganggu Bu Guru malam‐malam begini, saya
hanya mau menyerahkan ini sama Bu Guru,” katanya sambil
menyodorkan kantong plastik hitam berisi buku gambar.
Buku gambar yang dulu pernah aku titip sama Irwan untuk
Laila.
70 | Velly Syafriani
Aku membuka satu per satu halaman buku gambar itu.
Aku benar‐benar takjub. Buku gambar yang dulu kosong, kini
penuh dengan gambar. Gambar hasil karya gadis kecil itu.
Aku banar‐benar tidak percaya, kalau gambar itu dibuat
oleh gadis kecil usia 8 tahun. Gadis kecil yang belum
tersentuh pendidikan di sekolah. Bagaimana bisa dia
menggambarkan apa yang ada di sekitarnya dengan begitu
luar biasa. Pemandangan alam di tarataknya, gambar‐gambar
binatang kecil yang ditemuinya di ladang gambir. Semua
halaman buku gambar itu penuh. Dan setiap kali
membalikkan buku gambar itu aku benar‐benar dibuat kagum
oleh Laila. Belum lagi, cara dia memberikan warna benar‐
benar pas. Aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku. Ini
adalah natural talent. Bakat alami. Sayang sekali kalau bakat
itu tidak dikembangkan.
“Saya akan membantu Bu Guru untuk meyakinkan ayah
saya. Setelah saya melihat sendiri bagaimana bahagia Laila
setiap hari menggambar. Saya juga berpikir kalau adik saya
harus disekolahkan. Adik saya berbakat dan bakat itu harus
dikembangkan,” kata Irwan. Aku terharu mendengar ucapan
Irwan. Aku menatapnya sambil tersenyum.
Setidaknya sekarang aku tidak sendiri, untuk meyakinkan
ayah Laila. Sudah ada kakaknya. Aku semakin memantapkan
hati untuk menemui Pak Sudir hari Minggu besok ke taratak.
Bicara empat mata.
Binar Mata Laila | 71
72 | Velly Syafriani
Drama di Ladang Gambir
M inggu pagi yang ditunggu akhirnya datang juga.
Aku sudah bersiap‐siap dari semalam. Menyusun
barang‐barang keperluan selama perjalanan ke
taratak. Dan yang paling penting adalah persiapan kata‐kata
yang akan aku sampaikan pada ayah Laila. Kata‐kata paling
menyentuh untuk meyakinkan ayah Laila. Dengan tekad, hari
ini harus berhasil.
Aku dan Nadya memulai perjalanan. Sesuai dengan
kesepakatan. Tidak menggunakan motor, tetapi dengan jalan
kaki. Aku selalu ketinggalan di belakang Nadya. Napasku
sudah ngos‐ngosan. Sedangkan Nadya terlihat begitu santai.
Tentu saja, medan ini belum seberapa baginya. Dia pernah
mendaki gunung yang medannya jauh lebih sulit dari ini.
“Oh ya, soal pengobatan kaki ibunya Laila. Bagaimana
kamu bisa melakukannya?” tanyaku saat berhenti sejenak
setelah menempuh separuh perjalanan.
“Oh itu, aku cuma menyampaikan keadaan ibu Laila pada
petugas kesehatan Pustu. Sisanya mereka sendiri yang
mengurus,” jawab Nadya.
“Mereka juga sama dengan kamu, memperjuangkan
sesuatu sesuai bidangnya,” tambah Nadya.
“Dari semuanya kamulah yang luar biasa,” kataku pada
Nadya sambil tersenyum padanya.
Tiga jam perjalanan kami lalui. Akhirnya kami sampai juga
di taratak. Suasananya tetap sama seperti waktu kedatangan
Binar Mata Laila | 73
kami pertama kali, sunyi. Kali ini jauh lebih sunyi, karena tidak
ada satu pun jendela atau pintu rumah yang terbuka.
Aku memandang ke belakang rumah Laila. Ada asap dari
arah ladang gambir di dekat kampaan. Mungkin saja Laila ada
di sana mengikuti orang tuanya mangampo.
Kami melangkah perlahan menuju kamapaan yang ada di
tengah ladang gambir. Ladang gambir itu terletak di tepi
bukit dengan kemiringan 450. Kami lewat di sela‐sela rumpun
gambir. Melewati jalan menanjak.
Kami sampai di depan tempat pengolahan gambir itu.
Sebuah bangunan dengan kolong di bawahnya. Dua ekor
anjing yang diikat di bawah kolong terlihat heboh melihat
kedatangan kami.
Seseorang muncul dari pintu yang memang terbuka.
Ternyata ibu Laila. Dia menatap kami dengan tatapan tak
percaya. Gadis pemilik mata bulat itu pun juga muncul dari
belakang ibunya. Aku tersenyum kepadanya. Betapa aku
rindu tatapan mata itu.
Kami menaiki tangga menuju kampaan setelah ibu Laila
menyuruh kami masuk. Ini pertama kalinya aku masuk
kampaan lagi, setelah sekian lama. Dulu waktu kecil aku juga
sering ke kampaan, karena kakekku juga berladang gambir.
Nadya terlihat melongo, mamandang sekeliling ruangan.
Semua ini baru baginya.
Hanya ada sedikit ruang tersisa untuk kami duduk.
Selebihnya ruangan itu dipenuhi dengan peralatan
mangampo. Asap memenuhi ruangan. Karena ibu Laila
memang sedang merebus daun dan ranting gambir di atas
sebuah kancah dengan tungku kayu. Kancah adalah kuali
74 | Velly Syafriani
dengan ukuran yang sangat besar. Daun dan ranting gambir
itu berada di dalam kopuak. Kopuak adalah sebuah alat
berbentuk lingkaran yang bagian atas dan bawahnya terbuka,
dan biasanya terbuat dari kulit pohon Tarok.
Udara di dalam kampaan memang cukup panas, karena
sangat dekat dengan tungku.
“Saya berterima kasih, berkat Bu Guru hari itu kaki saya
diobati,” ibu Laila membuka pembicaraan, sambil
menyuguhkan kami air putih. Aku dan Nadya hanya
tersenyum. Sepertinya kaki ibu Laila telah membaik. Tidak
terlihat bengkak dan membiru lagi, dia sudah dapat berjalan
seperti biasa tanpa merasa kesakitan.
Laila sekarang juga tidak canggung lagi duduk bersama
kami. Biasanya dia selalu sembunyi di belakang ibunya. Aku
memandang sekeliling mencari keberadaan ayah Laila.
“Ayah Laila bersama kakaknya sedang mengambil daun
gambir,” jawab ibunya.
“Ooh,” jawabku.
“Terima kasih Bu Guru sudah begitu baik pada Laila.
Buku‐buku yang Bu Guru kirimkan, tidak pernah lepas dari
tangan Laila. Saya sangat senang Bu Guru. Dan saya sudah
pikirkan matang‐matang. Saya ingin menyekolahkan Laila,”
kata ibu Laila.
“Ibu serius?” tanyaku semangat sambil meraih telapak
tangannya. Benar‐benar tidak percaya dengan apa yang
dikatakannya. Kemarin kakaknya dan sekarang ibunya.
“Saya sudah melihat bagimana Laila begitu semangat
membolak balik dan mencoret serta menggambar buku‐buku
yang Bu Guru berikan. Saya belum pernah melihat Laila
Binar Mata Laila | 75
sebahagia ini,” tambahnya lagi. Laila yang ikut duduk
bersama kami, tampak tersenyum senang.
“Tapi...” ucap ibu Laila ragu.
“Ibu tidak usah cemas, seperti janji saya waktu itu. Semua
perlengkapan dan biaya sekolah Laila saya akan tanggung.
Untuk tempat tinggal, Laila bisa tinggal bersama kami. Sekali
seminggu Laila bisa pulang bertemu Ibu,” potongku
semangat.
“Terima kasih banyak Bu Guru, tetapi yang menjadi
masalah sekarang adalah ayah Laila masih tidak berobah
dengan pendiriannya,” jawab ibu Laila lesu. Kami semua
hanya tertunduk. Tetapi setidaknya sekarang aku dan Nadya
hanya perlu meyakinkan satu orang lagi. Hari ini harus tuntas.
Kami harus bisa meyakinkan ayah Laila.
“Kita akan sama‐sama meyakinkan ayah Laila Bu,”
jawabku, menguatkannya.
Kami menunggu ayah Laila kembali. Karena dia sedang
mengambil daun gambir di ladang yang lain, jadi memang
cukup lama menunggu.
Nadya tidak membuang kesempatan, dia terlihat antusias
mengikuti ibu Laila. Bertanya segala hal tentang pengolahan
gambir. Setelah air rebusan daun gambir berubah
kecokelatan. Ibu Laila memadamkan api tungku. Tahap
selanjutnya adalah mengekstraksi getah yang ada pada daun
gambir dengan alat berupa kaci. Kacik adalah alat pres
sederhana yang digunakan untuk mengeluarkan getah
gambir yang selesai direbus. Biasanya terbuat dari dua buah
papan.
76 | Velly Syafriani
Pekerjaaan ini harus dilakukan pria dewasa. Karena
membutuhkan tenaga ekstra agar getah gambir terekstraksi
secara sempurna. Air hasil ekstraksi akan dialirkan ke paraku .
Di dalam paraku akan terjadi proses pengendapan.
Sementara Nadya sibuk mengikuti ibu Laila sampai ke
bawah kolong kampaan karena di sana lah letak paraku.
Paraku adalah bak penampungan sederhana yang terbuat
dari papan. Aku menunjukkan buku baru yang kubawa tadi
pada Laila. Buku cerita anak‐anak bergambar.
“Terima kasih Bu Guru,” ucapnya. Baru kali ini aku
mendengar suaranya. Aku tersenyum dan kami mulai akrab.
Sudah hampir tengah hari, ayah laila belum juga muncul.
Langit terlihat sedikit mendung, sepertinya akan turun hujan.
Aku dan Laila menuruni tangga menuju bagian kolong
kampaan. Terlihat ibu Laila sedang mencetak endapan getah
gambir yang mengandung katechin dengan menggunakan
cupak. Cupak adalah seruas bambu kecil yang yang dipotong
kedua ujungnya yang digunakan untuk mencetak getah
gambir. Dan di salah satu ujungnya disiapkan alat penekan
agar dapat mengeluarkan gambir dengan mudah.
Di sampingnya, Nadya membantu menyusun gambir yang
sudah dicetak di atas sebuah samia. Samia adalah anyaman
bambu tempat mengeringkan gambir.
Samia yang telah penuh dengan gambir akan diletakkan
di bawah terik matahari. Agar segera mengering. Gambir
kering itulah yang akan dijual per kilogram kepada tauke.
Pengolahannya sangat rumit dan memakan waktu serta
banyak tenaga. Terkadang tidak sebanding dengan harga
jualnya. Kalau sedang jayanya, harga gambir bisa mencapai
Binar Mata Laila | 77
seratus ribu per kilogram. Namun, seperti sekarang ini,
harganya jauh merosot hanya dua puluh ribu per kilogram.
Kalau dipikir‐pikir terkadang hal ini terjadi karena ulah
petani sendiri. Ada beberapa petani nakal yang ingin
mendapatkan keuntungan banyak. Mereka mencurangi
proses pengolahan gambirnya dengan menambahkan tanah
liat kuning ke dalam endapan getah gambir dan
mencampurnya. Kalau sudah demikian kualitas gambir
produksi nagari tentu akan turun. Orang‐orang tidak percaya
lagi. Akhirnya harga jual jatuh. Akibat ulah beberapa orang itu
semua petani gambir merasakan dampaknya.
Aku baru saja membantu Nadya mengangkat samia untuk
dibawa ke tempat yang kena sinar matahari. Agar gambir
dapat mengering. Dari kejauhan aku melihat dua orang pria
dengan ambuang di kepalanya. Ambuang itu penuh dengan
daun dan ranting gambir. Suara dua ekor anjing mereka
kembali heboh. Melihat kedatangan tuan meraka.
Keduanya meletakkan ambuang mereka di dekat tangga
kampaan. Kakak laki‐laki Laila terlihat senyum ke arah kami,
sedangkan ayah laila hanya diam. Dari tatapannya terlihat
sepertinya ayah Laila, tidak menyukai kehadiran kami. Dia
langsung membalikkan badannya.
“Pak, kita harus bicara,” kataku mencegah langkahnya.
Tidak ada jawaban. Laila berlari menghampiri ibunya.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Bu Guru,”
jawabnya. Dia terlihat sangat lelah. Keringat terlihat
membasahi bajunya. Aku mencoba bicara dengan nada
rendah.
78 | Velly Syafriani
“Pak, Bapak dengarkan dulu penjelasan Bu Guru ini.
Kasihan Laila Pak. Laila benar‐benar ingin sekolah. Bapak lihat
sendirikan bagaimana bahagianya Laila mendapatkan buku‐
buku dari Bu Guru.” Kali ini Ibu Laila yang bersuara.
“APA PUN ITU, KEPUTUSANKU TETAP SAMA. LAILA
TIDAK AKAN SEKOLAH,” suara ayah Laila terlihat meninggi.
Dia marah. Dia kembali menatapku, tatapannya penuh
kemarahan. Laila terlihat ketakutan mendengar suara
ayahnya. Laila memeluk ibunya.
“Bu Guru, tolong berhenti sampai di sini. Jangan ganggu
kami lagi. Biarkan kami menjalani hidup, seperti yang biasa
kami jalani. Menyekolahkan anak itu bukan perkara mudah,”
tambahnya lagi.
“Mengapa Bapak begitu takut membuat suatu
keputusan. Keputusan yang akan membawa perubahan,”
kataku memberanikan diri.
“Bu Guru...” potongnya
“Pak, saya berusaha keras seperti ini bukan tanpa alasan.
Saya tahu betul anak Bapak benar‐benar ingin sekolah. Anak
Bapak pintar, punya bakat luar biasa. Dia punya mimpi.
Sangat disayangkan kalau mimpi itu hanya terkubur sampai di
taratak ini. Jujur saya katakan pada Bapak. Saya dulu juga
bukan orang serba berkecukupan. Nasib saya hampir sama
dengan Laila. Tapi saya masih beruntung memiliki ayah yang
punya keberanian mengambil keputusan besar. Bahwa
anaknya harus lebih baik kehidupannya dari dia sendiri.
Sehingga dia berjuang mati‐matian menyekolahkan saya.
Hingga saya bisa seperti sekarang.” Suaraku mulai bergetar,
emosiku mulai meluap. Hening sejenak, Nadya
menghampiriku. Mataku mulai berkaca‐kaca. Laila terlihat
terisak dalam pelukan ibunya.
Binar Mata Laila | 79
“Setelah SD akan ada SMP selanjutnya SMA. Atau bisa
saja setelahnya Laila akan minta kuliah. Sebelum saya
membuat kecewa nantinya. Lebih baik saya tidak mulai,”
tambah ayah Laila dingin.
“Ketakutan Bapak terlalu besar, untuk sesuatu yang
belum Bapak mulai,” jawabku datar. Ayah Laila hanya diam,
mematung.
Aku mengambil tas ranselku dan beranjak pergi. Nadya
berlari mengikutiku. Kami mulai menuruni ladang gambir.
Meninggalkan semuanya dalam kebisuan.
Hujan mulai turun. Kami terus menelusuri jalan pulang.
Aku dan Nadya tidak saling bicara. Kali ini langkah kakiku
tidak terkontrol. Aku bahkan tidak menyadari Nadya
tertinggal di belakang.
Tidak peduli dengan hujan yang semakin lebat dan
membuatku basah kuyup. Aku tetap berjalan. Bahkan aku
mengabaikan ajakan Nadya untuk berteduk sejenak.
Tubuhku masih bergetar, aku terbawa emosi. Tidak
disangka akan sesulit ini. Air mataku jatuh bersamaan dengan
hujan yang kian deras. Aku tidak habis pikir dengan jalan
pikiran ayah Laila. Bagaimana dia terlalu mencemaskan
banyak hal dan tidak peka sama sekali dengan keinginan
anaknya. Sekarang ini, asalkan ada kemauan, pemerintah
pasti akan membantu mencarikan jalan keluarnya.
Perjalanan pulang sepertinya kulalui dengan sangat
singkat. Tanpa disadari aku dan Nadya telah sampai kembali
di rumah. Semuanya telah kandas. Sama sekali tidak ada
harapan. Besok sudah mulai ujian kenaikan kelas. Setelah
liburan, tahun ajaran baru akan dimulai. Tahun ajaran baru,
tetap tanpa Laila.
80 | Velly Syafriani
Pasrah dalam Doa
A ku membuka mataku perlahan. Seolah baru
terbangun dari tidur panjang. Aku mendapati diriku
tidak sedang tertidur di rumah guru yang biasa aku
dan Nadya tempati. Aku memandang ke sekeliling. Ruangan
serba hijau. Aku melihat pergelangan tanganku. Terlihat
jarum infus menancap di sana dan terhubung dengan
kantong infus yang menggantung di tonggaknya.
Aku melihat ibu dan ayah berjalan ke arahku. Aku masih
belum mengerti apa yang terjadi.
“Kamu sudah bangun Sayang,” tanya ibu mengampiriku
dan menggenggam jemariku. Wajahnya terlihat sangat
khawatir. Begitu juga dengan ayah. Meski tidak berkata apa
pun, semua tergambar jelas pada raut wajahnya.
“Kamu demam tinggi, makanya dirawat di sini,” kata ibu
menjawab semua tanya di wajahku.
Perlahan aku mulai mengingat semuanya. Sejak pulang
dalam hujan dari ladang gambir, aku memang merasa tidak
enak badan. Ternyata memang sangat parah. Aku bahkan
sampai tidak menyadari telah sampai ke pusat kabupaten dan
dirawat di rumah sakit.
“Siapa yang membawaku ke sini Ibu?” tanyaku. Aku
sangat penasaran, bagaimana aku melewati 5 jam perjalanan
menempuh Medan yang sangat luar bisa itu.
“Nadya bersama dua orang temannya, katanya petugas
kesehatan dari Nagari Kubang Tinggi, dengan ambulans,”
Binar Mata Laila | 81
jawab ibu. Aku tersenyum sendiri. Demamku pasti sangat
tinggi sekali, sehingga sampai tidak sadar hingga telah sampai
di sini.
Aku mencari keberadaan Nadya. Gadis tomboi itu tiba‐
tiba muncul dari balik pintu. Aku tersenyum ke arahnya. Pasti
dia sangat kesusahan saat merawatku dan membawaku ke
rumah sakit.
“Terima kasih ya, Nad,” kataku. Gadis itu tersenyum.
“Sepertinya kamu memang tidak bisa untuk diajak
berpetualang,” kata Nadya. Nadya memang benar. Fisikku
memang tidak sekuat Nadya yang tahan banting. Aku terlalu
rapuh.
Aku kembali teringat perjalanan pulang setelah kembali
dari taratak tempat tinggal Laila. Berjalan menembus hujan,
sehingga akhirnya membuat aku tepar juga.
“Aku jadi ingat Laila. Gadis kecil itu pasti sangat sedih
sekarang. Seminggu lagi tahun ajaran baru, dan dia tetap
tidak bisa sekolah,” gumamku.
“Kamu sudah berusaha, sekarang pulihkan saja
kesehatanmu dulu. Jangan pikirkan yang lainnya. Semoga
ucapan kamu yang terakhir dapat menyadarkan ayah Laila,”
kata Nadya.
Aku hanya menganguk, dengan kondisi seperti sekarang
ini, aku hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ada keajaiban
yang akan menyadarkan ayah Laila.
82 | Velly Syafriani
Senyum Cerah Gadis Kecil
Berseragam
H ari ini hari pertama sekolah di tahun ajaran baru. Aku
telah kembali ke Nagari Kubang Tinggi setelah dua
minggu dirawat di Rumah Sakit. Liburan kali ini hanya
aku habiskan di rumah sakit.
Aku berbaris di samping Nadya pada upacara bendera
pagi ini. Di depan kami sudah berbaris dengan rapi siswa‐siswi
kami. Juga siswa‐siswi kami kelas 1 baru.
Aku belum seratus persen pulih. Pandangan mataku yang
sebelah kiri sedikit kabur. Ayah telah membuatkan kaca mata
untukku. Tetapi aku belum terbiasa memakainya.
Dari depan lapangan upacara aku mengamati satu per
satu wajah‐wajah baru itu dari depan. Ada sekitar 15 orang
siswa kelas 1 baru. Tatapanku berhenti pada gadis kecil
dengan mata bulatnya yang berbinar. Laila, gadis kecil itu
tersenyum ke arahku. Aku tidak percaya dengan apa yang
kulihat. Laila benar‐benar berbeda. Dengan seragam merah
putih lengkap dan jilbab putih yang menutupi rambut ikalnya.
Laila terlihat jauh berbeda. Bagaimana bisa? Aku masih tidak
percaya. Aku mengucek mataku berkali‐kali. Gadis kecil itu
memang Laila.
Aku memandang ke arah Nadya, seolah menyampaikan
apa yang kulihat. Nadya mengangguk angguk seolah
meyakinkanku, kalau gadis kecil itu benar‐benar Laila.
Binar Mata Laila | 83
“Kita banyak mengucapkan terima kasih kepada Ibu‐Ibu
guru kita yang baru. Yang telah berjuang keras untuk
memajukan sekolah kita. Berjuang keras meyakinkan para
orang tua, agar mau menyekolahkan anak‐anak mereka.
Sehingga kita berharap tidak ada lagi anak‐anak kita yang
tidak mengenyam pendidikan,” kata Bapak Kepala Sekolah
dalam amanatnya. Diiringi tepuk tangan para siswa dan guru.
Aku merasa terharu dan mataku mulai berkaca‐kaca lagi.
Dari balik pagar kulihat beberapa orang tua siswa kelas 1
mengamati jalannya upacara. Hari ini hari pertama mereka
mengantarkan anak‐anak ke sekolah. Di antara mereka aku
melihat sosok pria kurus tinggi dan seorang wanita yang
begitu kukenal, Pak Sudir dan istrinya. Mereka tersenyum ke
arahku. Aku membalas senyum mereka.
Sebenarnya semua orang tua ingin yang terbaik untuk
anak‐anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin masa depan
anak mereka hancur. Mereka pasti menginginkan masa depan
anak‐anak mereka jauh lebih baik dari hidup mereka yang
sekarang. Namun, terkadang mereka dihadapkan dalam
pilihan yang sulit. Dan mereka membutuhkan orang‐orang
untuk menguatkan mereka.
Sudah sekian lama melakukan upacara bendera. Namun,
kali ini suasanya benar‐benar beda. Aku masih tidak bisa
menyembunyikan perasaanku. Haru.
Di atas sana langit begitu cerah. Biru tanpa awan.
Matahari pagi bersinar hangat. Sehangat hati ku. Dan secerah
tatapan mata Laila.
84 | Velly Syafriani
Profil Penulis
VELLY SYAFRIANI. Lahir di Solok Bio‐
Bio, kabupaten Lima Puluh Kota pada
tanggal 22 Juli 1986. Saat ini mengajar di
SMP N 47 Sijunjung, sejak tahun 2010.
Pendidikan terakhir S1 Pendidikan
Biologi, Universitas Negeri Pa dang.
Hobi menulis sejak masa SMA. Buku
ini adalah karya pertamanya. Penulis dapat
dihubungi di [email protected]
Binar Mata Laila | 85
86 | Velly Syafriani