The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ichwanultaufiqnasution476, 2021-04-22 04:23:39

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

KONSEP KELUARGA SAKINAH
MENURUT KELUARGA SINGLE PARENT
(Studi Kasus di Desa Gumeng Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik)

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum

untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :
Lailatul Furqoniyah

107044102006

KONSENTRASI PERADILAN AGAMA
PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M

KONSEP KELUARGA SAKINAH
MENURUT KELUARGA SINGLE PARENT
(Studi Kasus di Desa Gumeng Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik)

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum

Sebagai salah satu syarat memperoleh
Gelar Sarjana Syari’ah (S.Sy)

Oleh :
Lailatul Furqoniyah

107044102006

Di Bawah Bimbingan,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs.Abu Tamrin, SH., M.Hum Mukmin Rauf, M.A
NIP. 196509081995031001 NIP. 150281979

KONSENTRASI PERADILAN AGAMA
PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAK A RTA
1432 H/2011 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul KONSEP KELUARGA SAKINAH MENURUT
KELUARGA SINGLE PARENT (Studi Kasus di Desa Gumeng Kecamatan
Bungah Kabupaten Gresik), telah diajukan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas
Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 21 Juni 2011.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar strata
satu, yaitu Sarjana Syariah (S.Sy) pada Prodi Ahwal al-Syakhsiyyah dengan
Konsentrasi Peradilan Agama.

Jakarta, 21 Juni 2011
Mengesahkan,

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. DR. H. Muhammad. Amin Suma, SH, MA, MM
NIP. 195505051982031012

PANITIA UJIAN

Ketua : Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, MA
NIP. 195003061976031001

Sekertaris : Hj. Rosdiana, MA
NIP. 196906102003122001

Pembimbing I : Drs. Abu Tamrin, SH., M. Hum
NIP. 196509081995031001

Pembimbing II : Mu’min Rauf, MA
NIP. 150281979

Penguji I : Dr. Djawahir Hejazziey, SH, MA
NIP. 195510151979031002

Penguji II : Hotnidah Nasution, MA
NIP. 197106301997032002

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata I (S1) di Unversitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua Sumber yang penulis gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika Suatu saat terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya, maka
saya bersedia menerima sanksi yang berada di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 15 Juni 2011

Lailatul Furqoniyah
107044102006

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya, terucap dengan tulus dan ikhlas Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn tiada
henti karena dapat terselesaikannya penulisan skripsi ini. Salawat seiring salam
semoga selalu tercurah limpahkan atas insan pilihan Tuhan khātamul anbiyā’i
walmursalīn Muhammad SAW.

Dengan setulus hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh
dari kesempurnaan . Namun demikian, skripsi ini hasil usaha dan upaya yang
maksimal dari penulis. Tidak sedikit hambatan, cobaan dan kesulitan yang ditemui.
Banyak hal yang tidak dapat dihadirkan oleh penulis didalamnya karena keterbatasan
pengetahuan dan waktu. Namun patut disyukuri karena banyak pengalaman yang
didapat dalam penulisan skripsi ini.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada
semua pihak:

1. Bapak Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM. Dekan Fakultas
Syariah dan Hukum serta para pembantu dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA. Ketua Program Studi Ahwal Al-
Syakhsiyyah dan ibu Hj. Rosdiana, MA. Sekretaris Program Studi Ahwal Al-
Syakhsiyyah.

iii

3. Bapak Drs. Abu Tamrin, SH., M.Hum, dan bapak Mu’min Rauf, MA yang
telah membimbing, memberikan arahan dan meluangkan waktu dengan penuh
keikhlasan dan kesabaran.

4. Seluruh dosen dan civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

5. Pimpinan dan seluruh karyawan perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

6. Bapak Lurah dan para Staf serta Masyarakat Desa Gumeng Kecamatan
Bungah, Kabupaten Gresik yang telah meluangkan waktu disela-sela
kesibukannya untuk memberikan arahan dan informasi kepada penulis.

7. Kedua orang tua tercinta H. Munawir Chozin dan Hj. Abidah yang senantiasa
mendidik, membantu, mendukung dan melimpahkan kasih sayang serta do’a
yang tiada henti.

8. Seluruh kakak, Farid Fahmi, Ida Farida, S. Pdi, Amiruddin Fachri, S. Si, adik
Amirotul Khoiriyah dan keponakan tersayang Muhammad Zidan Fahmi dan
Muhammad Noval Syarif Fachrudin yang selalu memberikan semangat serta
dukungan, baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.

9. Dr. K. H. Hamdan Rasyid, MA dan Hj. Uswatun Hasanah, S.Ag. selaku
paman dan bibi, saya haturkan terima kasih karena telah merawat dan
mendidik penulis di kota Jakarta ini dan sudah menjadi orang tua kedua bagi
penulis.

iv

10. Habiby Aswin Suhendra yang selalu memberikan motivasi dan semangat
kepada penulis dalam proses penulisan skripsi

11. Teman-temanku tercinta, teman-teman seperjuangan di Peradilan Agama B
angkatan 2007, semuanya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang
senantiasa menebarkan benih-benih keceriaan dalam bingkai kebersamaan.
Semoga ukhuwah dan pertemanan yang kita jalin berjalan dengan baik
selamanya

12. Semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya, atas jasa bantuan semua pihak baik berupa moril dan materiil,

sampai detik ini penulis panjatkan do’a, semoga Allah memberikan balasan yang
berlipat dan menjadikannya amal jariyah yang tidak pernah berhenti mengalir hingga
yaum al-akhir. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan para pembaca umumnya. Semoga Allah senantiasa memberikan
kemudahan bagi kita semua dalam menjalani hari esok. Amin.

Jakarta, 15 Juni 2011

( Penulis )

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. iii

DAFTAR ISI............................................................................................................ viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah.......................................... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 6

D. Review Studi Terdahulu.............................................................. 7

E. Metode Penelitian........................................................................ 8

F. Pedoman Penulisan ..................................................................... 11

G. Sistematika Penulisan ................................................................. 11

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH

DAN SINGLE PARENT

A. Keluarga Sakinah ........................................................................ 13

1. Pengertian Keluarga Sakinah ................................................ 13

2. Tujuan dan Hakekat Keluarga Sakinah................................. 15

3. Ciri-ciri Keluarga Sakinah .................................................... 17

4. Upaya Membentuk Keluarga Sakinah .................................. 22

B. Single Parent............................................................................... 23

1. Pengertian Single Parent....................................................... 23

2. Eksistensi Single Parent........................................................ 27

3. Dampak Berstatus Single Parent .......................................... 29

viii

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG DESA GUMENG

A. Letak Geografis Desa Gumeng ................................................... 34

B. Keadaaan Demografis ................................................................. 35

C. Keadaan Ekonomi, Sosiologi dan Kependudukan ...................... 37

D. Kasus Perceraian yang terjadi di Desa Gumeng tahun 2010 ...... 40

BAB IV ANALISIS KONSEP KELUARGA SAKINAH MENURUT

KELUARGA SINGLE PARENT

A. Profil Responden Desa Gumeng ................................................. 42

B. Sejarah Pernikahan Pelaku Single Parent di Desa Gumeng ...... 50

C. Suasana Keharmonisan Dalam Rumah Tangga .......................... 52

D. Kehidupan Rumah Tangga Setelah Perceraian ........................... 64

E. Analisis Data ............................................................................... 71

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 79

B. Saran............................................................................................ 80

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkawinan merupakan perjanjian yang mengikat antara laki-laki dan

perempuan untuk menghalalkan hubungan biologis antara kedua belah pihak
dengan sukarela berdasarkan syariat Islam. Kerelaan kedua belah pihak
merupakan suatu modal utama untuk mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga
yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara yang diridhoi Allah
SWT. Perkawinan sebagai basis suatu masyarakat yang baik dan teratur, sebab
perkawinan tidak hanya dipertalikan oleh ikatan lahir saja, tetapi juga dengan
ikatan batin yang diharapkan dapat melahirkan keturunan yang sholih, sholihah
dan berkualitas menuju terwujudnya rumah tangga bahagia1.

Perkawinan menurut pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkawinan merupakan unit terkecil dari suatu masyarakat sudah menjadi
suatu keharusan adanya hubungan antara unsur-unsur dalam berkeluarga yang di
dalamnya tercipta hubungan yang harmonis, sejuk dan nyaman, penuh dengan

1 BP4, Tuntunan Praktis Rumah Tangga Bahagia (Surabaya: BP4, 2005), h. 8

1

2

rasa kasih sayang sehingga keluarga mendapatkan ketenangan dan ketentraman
yang sering disebut sakinah, mawadah wa rahmah.

Keluarga yang baik menurut pandangan Islam biasa disebut dengan istilah
keluarga sakinah. Ciri utama keluarga ini adalah adanya cinta kasih yang
permanen antara suami dan istri. Hal ini bertolak dari prinsip perkawinan yang
Mitsaqan Ghalizha (Q.S. an-Nisa / 4 ; 21), yaitu perjanjian yang teguh untuk
saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Ciri ini juga dibangun atas dasar
prinsip bahwa membangun keluarga adalah amanat yang masing-masing pihak
terikat untuk menjalankannya sesuai dengan ajaran Allah SWT. Selain itu
keluarga sakinah pada dasarnya memperhatikan prinsip terutama saling
membantu dan melengkapi dalam pembagian tugas antara suami dan istri dalam
urusan keluarga maupun urusan publik sesuai kesepakatan bersama. Dalam Islam,
setiap manusia diakui sebagai pemimpin yang masing-masing harus
mempertanggung jawabkannya kepada suami atau sebaliknya2.

Berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits, keluarga sakinah merupakan impian
dan harapan setiap muslim yang melangsungkan perkawinan dalam rangka
melakukan pembinaan keluarga. Demikian pula dalam keluarga terdapat
peraturan-peraturan baik rinci maupun global yang mengatur individu maupun
keseluruhannya sebagai satu kesatuan. Islam memberikan ajaran agar rumah
tangga menjadi surga yang dapat menciptakan ketentraman, ketenangan dan
kebahagiaan dalam upaya mengantisipasi pengaruh budaya dari luar yang negatif.

2 Fuaduddin, Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam (Jakarta: LKA&J, SP, 1999), h. 8

3

Desa Gumeng yang terletak di wilayah Kecamatan Bungah Kabupaten
Gresik Provinsi Jawa Timur. Desa Gumeng adalah daerah yang terdiri dari 10 RT
dan 5 RW, terletak 20,5 km dari pemerintahan kota Gresik. Dengan jumlah
penduduk sebanyak 2.215 jiwa.

Pada awalnya masyarakat Desa Gumeng Kecamatan Bungah Kabupaten
Gresik menganggap keluarga sakinah diwujudkan oleh keluarga yang utuh. Hal
ini berarti orang yang berstatus single parent atau orang tua tunggal belum bisa
menciptakan keluarga yang sakinah, tetapi di desa tersebut terdapat duda atau
janda yang membentuk keluarganya sendirian tanpa adanya pasangan. Hasil
temuan penulis terhadap keluarga single parent di desa Gumeng sampai tahun
2009, sebanyak 28 orang, dan pada tahun 2010 bertambah 4 (empat) orang,
sehingga totalnya sampai saat ini sebanyak 32 orang.

Ketika seseorang memutuskan untuk berstatus sebagai single parent, pada
saat itu sebenarnya ia telah membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya.
Keputusan itu sendiri semestinya didasari oleh kesadaran bahwa akan banyak
konsekuensi yang mesti dihadapi. Lagi pula, tak jarang status single parent
mendapat cemooh dari masyarakat. Meski tak sedikit yang sudah dapat menerima
dengan tangan terbuka.

Apapun alasannya, status single parent atau orang tua tunggal, memiliki
resiko dan beban yang berat dibanding orang tua lengkap. Karena pada umumnya
rumah tangga dijalani oleh dua orang, ketika hanya dijalani oleh satu orang
tentunya beban dua orang melebur menjadi satu. Mereka harus melakukan

4

semuanya sendiri, mulai dari pengasuhan, urusan rumah tangga, hingga area
pribadi. Belum lagi beban yang diterima ketika menyandang predikat single
parent.

Namun saat ini, anggapan demikian sudah mulai luntur bahkan tidak ada.
Single parent atau orang tua tunggal adalah fenomena yang makin dianggap biasa
dalam masyarakat modern. Bagi yang terpaksa mengalaminya, entah karena
bercerai atau pasangan hidupnya meninggal, tak perlu terpuruk lama-lama karena
bisa belajar dari banyak hal. Dari bacaan, media massa, atau dari orang yang
mengalaminya.

Hal ini pertama disebabkan semakin bertambahnya orang yang berpredikat
single parent yang mempunyai kemampuan memberikan kebahagiaan,
ketenangan dan kedamaian keluarganya, sehingga mampu mewujudkan keluarga
yang sakinah. Kedua, tidak sedikit pula keluarga utuh belum mampu mewujudkan
keluarga yang sakinah, bahkan kondisi rumah tangganya lebih buruk
dibandingkan dengan keluarga tidak utuh. Sementara di desa Gumeng terdapat
pula suami istri yang harmonis yang belum mampu memberikan lingkungan yang
mampu menstimulasi anak menjadi cerdas bila mereka tak memiliki kesadaran,
pengetahuan, dan fasilitas untuk menjadikan anaknya seperti itu. Oleh karena itu,
jika dilihat dari segi positifnya ketika masih berstatus menikah, karena terlalu
sibuk bertengkar, suami dan istri jadi tak sempat memikirkan anak. Sekarang
setelah berstatus orang tua tunggal mereka justru bisa mencurahkan perhatiannya
untuk anak.

5

Kedua alasan di atas yang dapat menyebabkan masyarakat setempat
mempunyai pendapat bahwa orang yang berpredikat status single parent menjadi
hal yang lumrah dan biasa.

Atas latar belakang permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk
meneliti tentang pembentukan keluarga sakinah pada orang tua tunggal dengan
mengangkat tema “KONSEP KELUARGA SAKINAH MENURUT
KELUARGA SINGLE PARENT (Studi Kasus di Desa Gumeng Kecamatan
Bungah Kabupaten Gresik)”.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah.
Mengingat luasnya masalah tentang keluarga sakinah, maka pada
pembahasan skripsi ini, penulis membatasi hanya menyangkut konsep
keluarga sakinah menurut keluarga single parent di Desa Gumeng kecamatan
Bungah Kabupaten Gresik. Penulis hanya meneliti terhadap 32 orang, baik
janda maupun duda yang ditinggal mati atau karena perceraian di Desa
Gumeng.
2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang dan batasan permasalahan di atas, maka
pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimanakah upaya pelaku single parent atau orang tua tunggal dalam
membentuk keluarga sakinah?

6

b. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi oleh single parent dalam
membentuk keluarga sakinah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1. Tujuan Penelitian.
Sebagaimana rumusan masalah di atas, maka maksud dan tujuan
penelitian yang penulis teliti ini adalah:
a. Untuk mengetahui upaya pelaku single parent atau orang tua tunggal
dalam membentuk keluarga sakinah.
b. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi oleh single
parent dalam membentuk keluarga sakinah.
2. Manfaat Penelitian
a. Teoritis.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan
secara teoritik mengenai permasalahan keluarga sakinah yang dibentuk
oleh status single parent dan diharapkan dapat dijadikan pertimbangan
dan menambah referensi peneliti selanjutnya.
b. Praktis.
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dan penjelasan bahwa keluarga sakinah tidak hanya dibentuk
oleh keluarga utuh, tetapi juga dapat dibentuk oleh seorang berstatus
single parent. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat dijadikan wacana

7

pengetahuan para akademisi khususnya dan masyarakat pada umumnya
sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut dalam karya ilmiah yang
lain.

D. Study Review.
Penelitian terdahulu adalah kajian kritis terhadap beberapa hasil penelitian

atau buku-buku yang terbit sebelumnya, tinjauan ini diperlukan untuk
menegaskan, melihat kelebihan dan kelemahan berbagai teori yang digunakan
penulis lain dalam pengkajian permasalahan yang sama.

Berikut adalah peneliti terdahulu yang mengkaji permasalahan tentang
keluarga sakinah, yaitu:
1. Skripsi Haerul Anwar (204044103037) dengan judul ”Kafaa’ah dalam

Perkawinan sebagai Pembentukan Keluarga Sakinah (Studi Kasus di Desa
Kemang Kabupaten Bogor)”. Jurusan: PA/ Syariah dan Hukum/ 2009 M.
Skripsi ini membahas keluarga sakinah yang dibentuk atas dasar kafa’ah
artinya pasangan tersebut harus mempunyai kesepahaman akan makna
kehidupan rumah tangga yang mencakup karakteristiknya, kebutuhan fisik,
dan rohani serta pendidikan anak untuk masa depan.
2. Skripsi Riana Maruti (104044201479) dengan judul ”Pengaruh Perkawinan di
Bawah Umur Terhadap Pembentukan Keluarga Sakinah (Studi Pada
Kecamatan Cakung Jakarta Timur)”. Jurusan: AKI/ Syariah dan Hukum/ 2009
M. Skripsi ini membahas tentang pelaksanaan perkawinan di bawah umur

8

yang tidak sesuai dengan KHI pasal 15 ayat 1 yang membahas tentang
perkawinan hanya boleh dilakukan oleh calon mempelai yang telah mencapai
umur yang ditetapkan dalam pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan
calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun. Namun dalam Islam tidak
ada ketegasan secara konseptual dalam pembatasan usia perkawinan.

E. Metodologi Penelitian.
Untuk mengkaji permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini, penulis

mempergunakan bentuk penelitian kuantitatif, sedangkan metode yang digunakan
adalah metode deskriptif analisis, yang penulis peroleh melalui:
1. Sumber Data

a. Data Primer
Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data primer dalam
penelitian ini adalah perangkat desa setempat yang memberikan informasi
mengenai subjek yang akan diteliti dan peneliti juga melakukan
penyebaran angket dan wawancara terhadap pelaku yang berstatus single
parent.
b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diambil dari sumber kedua,
dengan kata lain data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya.

9

Dalam hal ini peneliti memperoleh informasi dari buku-buku panduan,
dokumen-dokumen yang berkaitan dengan fokus penelitian serta berbagai
literatur yang relevan dengan pembahasan penelitian3.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi dari studi ini adalah masyarakat Desa Gumeng yang berstatus
single parent baik yang lama maupun yang baru, dengan jumlah populasi
sebesar 32 jiwa.
b. Sampel dari studi ini diambil 5 orang, dengan menggunakan random
sampling.
3. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian lazimnya dikenal tiga jenis
pengumpul data, yaitu observasi, interview dan studi dokumentasi.

Adapun teknik pengumpul data tersebut adalah:
a. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan suatu objek dengan
sistematika fenomena yang diselidiki, sedangkan menurut
Koentjaraningrat pengamatan merupakan metode yang pertama digunakan
dalam melakukan penelitian ilmiah4. Dalam hal ini peneliti mengadakan
observasi terhadap suami atau istri yang berpredikat single parent dalam
membentuk keluarga sakinah dengan menggunakan instrument angket.

3 Sarjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Yogyakarta: UI-Press, 1986), h. 21-66
4Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 28

10

b. Interview
Interview adalah suatu proses tanya jawab lisan terdiri dari dua orang atau
lebih berhadapan secara fisik yang satu dapat melihat muka yang lain dan
mendengar dengan telinga sendiri dan suaranya. Dalam interview dapat
diketahui ekspresi muka, gerak gerik tubuh yang dapat dicheck dengan
pertanyaan verbal. Dengan interview dapat diketahui tingkat penguasaan
materi. Interview juga berfungsi sebagai metode primer apabila berfungsi
sebagai metode utama dalam pengumpulan data, sebagai metode
pelengkap apabila dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang
belum dapat diperoleh dengan metode lain dan sebagai kriterium
(pengukur) apabila dipergunakan untuk meyakinkan/mengukur suatu
kebenaran informasi. Oleh karena itu peneliti melakukan interview
terhadap pihak yang bersangkutan, dalam hal ini suami atau istri yang
berpredikat single parent.

c. Studi Dokumentasi
Menurut Irawan, studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data
yang ditujukan kepada subyek penelitian. Dokumen dapat berupa catatan
pribadi, surat pribadi, buku harian, laporan kerja, notulen rapat, catatan
kasus dan lain sebagainya5. Peneliti menggunakan metode dokumentasi
ini untuk mendapatkan data serta informasi dari buku, majalah, koran atau
dari internet yang berkaitan dengan single parent.

5 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula
(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002), h.100

11

4. Teknik Pengolahan Data
Seluruh data yang penulis peroleh dari wawancara, angket dan pustaka

diseleksi dan disusun, setelah itu penulis melakukan klasifikasi data, yaitu
usaha menggolong-golongkan data berdasarkan kategori tertentu. Setelah
data-data yang ada diklasifikasikan, lalu diadakan analisa data, dalam hal ini
data yang dikumpulkan penulis adalah data kualitatif kemudian diolah
menjadi data kuantitatif, maka teknik yang digunakan adalah metode statistik
deskriptif yang akan disajikan dalam bentuk uraian dan tabel.

Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat,
tujuannya adalah untuk membuat deskriptif, gambaran atau lukisan yang
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antara fenomena yang diselidiki.

F. Pedoman Penulisan
Sedangkan dalam penyusunan skripsi ini, teknik penulisan berpedoman

pada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah, terbitan tahun 2007.

G. Sistematika Pembahasan
Secara sistematis, dalam penyusunan skripsi ini penulis membaginya

kedalam lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab. Oleh
karena itu penulis mengklasifikasikan permasalahan dengan sistematika penulisan
sebagai berikut:

12

BAB I Menjelaskan beberapa permasalahan yang melatar belakangi serta
urgensi dilakukannya penelitian. Dalam bab ini juga berisi latar
belakang, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, study review, pedoman penulisan dan sistematika
pembahasan.

BAB II Membahas tinjauan umum tentang keluarga sakinah dan single parent.
Pada bab ini penulis membahas keluarga sakinah, yang terdiri dari:
pengertian, tujuan dan hakikat keluarga sakinah, ciri-ciri keluarga
sakinah, upaya membentuk keluarga sakinah. Kemudian single parent
yang terdiri dari: pengertian, eksistensi,dan dampak berstatus single
parent.

BAB III Membahas tentang tinjauan umum Desa Gumeng Kecamatan Bungah
Kabupaten Gresik yang terdiri dari: letak geografis, keadaan
demografis, keadaan ekonomi, sosiologi dan kependudukan, serta
kasus perceraian dan single parent yang terjadi di Desa Gumeng tahun
2010.

BAB IV Mengulas tentang analisis konsep keluarga sakinah menurut keluarga
single parent yang terdiri dari: profil responden, sejarah pernikahan
pelaku single parent, suasana keharmonisan dalam rumah tangga,
kehidupan setelah perceraian, dan analisa data.

BAB V Penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari penulis mengenai
masalah yang dibahas.

BAB II
TINJAUAN UMUM
TENTANG KELUARGA SAKINAH DAN SINGLE PARENT

A. Keluarga Sakinah
1. Pengertian Keluarga Sakinah
Keluarga sakinah terdiri dari dua kata, yaitu kata keluarga dan sakinah.
Keluarga dalam istilah fiqh disebut Usrah atau Qirabah yang telah menjadi
bahasa Indonesia yakni kerabat.1 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
keluarga adalah sanak saudara.2 Sedangkan kata sakinah dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah damai, tempat yang aman dan damai.3 Sakinah
berasal dari kata “Sakana, Yaskunu, Sakinatan” yang berarti rasa tentram,
aman dan damai. Menurut Cyril Glasse kata sakinah menandakan ketenangan
dan kedamaian.4 Sedangkan M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata
sakinah berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak. Jadi keluarga

1 Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Ilmu Fiqh, (Jakarta:
Departemen Agama, 1984/1985), Jilid II, Cet. Ke-2, h. 156

2 Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Modern, (Jakarta: Pustaka Amani, tt), h. 175
3 Poewadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), h. 851
4 Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Penerjemah Ghufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1991), cet. Ke-2, h. 351

13

14

sakinah adalah keluarga yang mampu menciptakan suasana kehidupan
berkeluarga yang tentram, dinamis dan aktif, yang asih, asah dan asuh.5

Firman Allah QS. Ar-Rum 30: 21.

                               

) ‫ (الروم‬                     

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir”.

Dalam Hadits riwayat Ad-Dailami dari Anas menyatakan:

‫اِ َذا َا َرا َدالله ُبِاَ ْه ِل بَيْ ِت خَْي ًرافََق َه ُه ْن فِي الدِّيْنِ َو َوَّقرَهُ ْن َص ِغْيرَ ُهنْ َكبِْيرَهُنْ َو َر َزَّق ُه ْن اَل ّرِ ْزقَ فِي‬
َ‫َهعِْيشَِت ِه ْن َوالْقَصْ َد فِي نَفَقَاَتهِنْ َوَب َصرَ ُه ْن عُُي ْىَب ُهنْ فََيتُ ْىبُ ْىا ِهْنهَا َواِ َذا َا َرادَِبهِنْ َغْي َر َذِل َك َت َر َكهُنْ َه َولا‬

)‫(الديلوي عن انس‬

Artinya: “Tatkala Allah menghendaki anggota keluarga menjadi baik, maka Dia
memahamkan mereka tentang agama, mereka saling menghargai; yang muda
menghormati yang tua, Dia memberi rizki dalam kehidupan mereka, hemat
dalam pembelanjaan mereka, dan mereka saling menyadari kekurangan-
kekurangan lantas mereka memperbaikinya. Dan apabila Dia menghendaki
sebaliknya, maka Dia meninggalkan mereka dalam keadaan merana”(HR. Ad-
Dailami dari Anas).

Ayat dan hadits tersebut menjelaskan bahwa keluarga sakinah merupakan

impian dan harapan setiap muslim yang melangsungkan perkawinan dalam

rangka melakukan pembinaan keluarga. Demikian pula dalam keluarga terdapat

peraturan-peraturan baik yang rinci maupun global yang mengatur individu

5Asrofi dan M. Thohir, Keluarga Sakinah dalam Tradisi Islam Jawa (Yogyakarta: Arindo
Nusa Media, 2006), h. 3

15

maupun keseluruhannya sebagai kesatuan. Islam memberikan ajaran agar rumah
tangga menjadi surga yang dapat menciptakan ketentraman, ketenangan dan
kebahagiaan. Dalam upaya mengantisipasi pengaruh budaya luar yang negatif.
Inilah ciri khas keluarga sakinah yang Islami. Mereka (suami-istri) berserikat
dalam rumah tangga itu untuk berkhidmat kepada aturan dan beribadah kepada
Allah SWT.6

Seiring dengan pengertian tersebut, keluarga sakinah didefinisikan sebagai
keluarga yang dibina atas ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat
hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih
sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta
mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan
akhlakul karimah dengan baik.7

2. Tujuan dan Hakikat Keluarga Sakinah
Keluarga sakinah yang penuh diliputi suasana kasih sayang, cinta

mencintai antar sesama anggota keluarga adalah menjadi idaman setiap orang
yang menikah. Dimana hal itu akan tercapai jika masing-masing pihak suami
maupun istri dapat melaksanakan kewajiban dan hak secara seimbang, serasi dan

6Cahyadi Takariawan, Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami (Surakarta: Intermedia Cetakan
III, 2001), h. 37

7Asrofi dan M. Thohir, Keluarga Sakinah Dalam Tradisi Islam Jawa (Yogyakarta: Arindo
Nusa Media, 2006), h. 11

16

selaras. Selain dalam menjalani kehidupan rumah tangga dilandasi nilai-nilai
agama dan dapat menerapkan akhlakul karimah.

Kehidupan rumah tangga sakinah memiliki tujuan mulia di sisi Allah
SWT, yakni untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah SWT sehingga dapat
hidup bahagia di dunia dan lebih-lebih di akhirat. Untuk mendapatkan limpahan
rahmat dan ridho Allah SWT, maka rumah tangga atau keluarga tersebut
setidaknya memenuhi lima syarat, yakni:
a. Anggota keluarga itu taat menjalankan agamanya.
b. Yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda.
c. Pembiayaan keluarga itu harus berasal dari rizki yang halal.
d. Hemat dalam pembelanjaan dan penggunaan harta.
e. Cepat mohon ampun dan bertaubat bila ada kesalahan dan kehilafan serta

saling maaf memaafkan sesama manusia.
Rumah tangga yang Islami adalah rumah tangga yang laksana surga bagi

setiap penghuninya, tempat istirahat melepas lelah, tempat bersenda gurau yang
diliputi rasa bahagia, aman dan tenteram.

Rumah tangga yang sakinah, baik secara lahir maupun batin dapat
merasakan ketentraman, kedamaian dimana segala hajat lahir dan batin terpenuhi
secara seimbang, serasi dan selaras. Kebutuhan batin yaitu dengan adanya
suasana keagamaan dalam keluarga serta pengamalan akhlakul karimah oleh

17

setiap anggota keluarga, komunikasi yang baik antara suami,istri dan anak-anak.
Kebutuhan lahir terpenuhi juga materi baik sandang, pangan, papan dan lain-lain.8

3. Ciri-ciri Keluarga Sakinah
Keluarga dapat dikatakan keluarga yang sakinah jika mempunyai ciri-ciri

sebagai berikut:9
a. Pembentukan rumah tangga

Ketika menyetujui pembentukan rumah tangga, suami dan istri bukan sekedar
ingin melampiaskan kebutuhan seksual mereka, namun tujuan utamanya
adalah saling melengkapi dan menyempurnakan, memenuhi panggilan fitrah
dan sunnah, menjalin persahabatan dan kasih sayang, serta meraih ketenangan
dan ketentraman insani. Dalam memilih jodoh, standar dan tolak-ukur Islam
lebih menitik beratkan pada sisi keimanan dan ketakwaan.
b. Tujuan pembentukan rumah tangga.
Tujuan utamanya melaju di jalan yang telah digariskan Allah dan senantiasa
mengharapkan keridhaan-Nya.
c. Lingkungan.

8 Hasan Basri, Membina Keluarga Sakinah, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996). Cet. Ke-4, h. 16
9Ali Qaimi, Single Parent Peran Ganda Ibu dalam Mendidik Anak (Bogor: Cahaya, 2003), h.
15-18

18

Dalam keluarga, upaya yang senantiasa digalakkan adalah memelihara
suasana penuh kasih sayang dan masing-masing anggota menjalankan
tugasnya masing-masing secara sempurna. Lingkungan rumah tangga
merupakan tempat yang cocok bagi pertumbuhan, ketenangan, pendidikan,
dan kebahagiaan para anggotanya.

d. Hubungan antara kedua pasangan.
Dalam rumah tangga, suami istri berupaya saling melengkapi dan
menyempurnakan. Mereka berusaha untuk saling menyediakan sarana bagi
perkembangan dan pertumbuhan sesama anggotanya.

e. Hubungan dengan anak-anak.
Orang tua menganggap anak-anak mereka sebagai bagian dari dirinya. Asas
dan dasar hubungan yang dibangun dengan anak-anak mereka adalah
penghormatan, penjagaan hak-hak, pendidikan dan bimbingan yang layak,
pemurnian kasih dan sayang, serta pengawasan terhadap akhlak dan perilaku
anak-anak.

f. Duduk bersama.
Orang tua senantiasa siap duduk bersama dan berbincang dengan anak-
anaknya, menjawab berbagai pertanyaan mereka, serta senantiasa berupaya
untuk saling memahami dan menciptakan hubungan yang mesra. Manakala
berada di samping ayah dan ibunya, anak-anak akan merasa aman dan bangga.
Mereka percaya bahwa keberadaan ayah dan ibu adalah kebahagiaan. Bahkan

19

mereka akan senantiasa berharap agar kedua orang tuanya selalu berada di
sampingnya dan jauh dari perselisihan, pertikaian, dan perbantahan.
g. Kerjasama dan saling membantu.
Masing-masing keluarga memiliki perasaan bahwa yang baik bagi dirinya
adalah baik bagi yang lain. Persahabatan antar mereka adalah persahabatan
yang murni, tanpa pamrih, sangat kuat dan erat. Aktivitas dan tindakan mereka
masing-masing bertujuan untuk kerelaan dan kebahagiaan yang lain, bukan
untuk mengganggu dan saling melimpahkan beban. Kasih sayang mereka
tanpa pamrih.
h. Upaya untuk kepentingan bersama.
Saling berupaya untuk memenuhi keinginan pasangannya yang sejalan dengan
syari’at dan saling memperhatikan selera masing-masing, saling menjaga dan
memperhatikan serta selalu bermusyawarah yang berkaitan dengan masalah
yang sifatnya untuk kepentingan bersama.
Disamping itu, yang menjadi karakteristik dari keluarga sakinah antara lain:
a. Adanya ketenangan jiwa yang ditandai dengan ketaqwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa;
b. Adanya hubungan yang harmonis antara individu dengan individu yang lain
dan antara individu dengan masyarakat;
c. Terjamin kesehatan jasmani dan rohani serta sosial;
d. Cukup sandang, pangan dan papan;
e. Adanya jaminan hukum terutama hak asasi manusia;

20

f. Tersedianya pelayanan pendidikan yang wajar;
g. Adanya jaminan hari tua;
h. Tersedianya fasilitas rekreasi yang wajar.

Berdasarkan pengertian yang dirumuskan oleh BP4, maka dapat diuraikan
bahwa ciri-ciri keluarga sakinah itu adalah:
a. Keluarga dibina atas perkawinan yang sah.
b. Keluarga mampu memahami hajat hidup baik secara materiil maupun spiritual

yang layak.
c. Keluarga mampu menciptakan suasana cinta kasih dan kasih sayang antar

sesama anggota.
d. Keluarga mampu menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan,

ketaqwaan, amal shaleh, dan akhlakul karimah.
e. Keluarga mampu mendidik anak dan remaja minimal sampai dengan sekolah

menengah umum.
f. Kehidupan sosial ekonomi keluarga mampu mencapai tingkat yang memadai

sesuai dengan ukuran masyarakat yang maju dan mandiri.10
Keluarga sakinah terdiri dari beberapa tingkatan yang memiliki karakter

tersendiri / khusus, yaitu:11
1) Keluarga Sakinah I

10 Danuri, Pertambahan Penduduk dan Kehidupan Keluarga, (Yogyakarta: LPPK IKIP,
1976), h. 19

11 Ahmad Sutarmadi, Memberdayakan Keluarga Sakinah Menuju Indonesia 2020, (Surabaya:
BP4, 1997), h. 25-27

21

a. Tidak ada penyimpangan terhadap peraturan syariat dan UUP No. 1 / 74.
b. Keluarga memiliki surat nikah.
c. Mempunyai perangkat sholat.
d. Terpenuhinya kebutuhan makanan pokok.
e. Keluarga memiliki buku agama.
f. Memiliki al-Qur’an.
g. Memiliki Ijazah SD.
h. Tersedia tempat tinggal sekalipun kontrak.
i. Memiliki dua pasang pakaian yang pantas.
2) Keluarga Sakinah II
a. Menurunkan angka perceraian.
b. Meningkatkan penghasilan keluarga melebihi kebutuhan pokok.
c. Memiliki ijazah SLTP.
d. Banyaknya keluarga yang memiliki rumah sendiri meskipun sederhana.
e. Banyaknya keluarga yang ikut kegiatan sosial dan keagamaan.
f. Dapat memenuhi empat sehat lima sempurna.
3) Keluarga Sakinah III
a. Meningkatnya keluarga dan gairah keagamaan di masjid maupun di

keluarga.
b. Keluarga aktif menjadi pengaruh kegiatan keagamaan dan sosial

kemasyarakatan.
c. Meningkatnya kesehatan masyarakat.

22

d. Keluarga utuh tidak cerai.
e. Memiliki ijazah SLTA.
f. Meningkatnya pengeluaran shadaqah.
g. Meningkatnya pengeluaran qurban.
4) Keluarga Sakinah IV
a. Banyaknya anggota keluarga yang telah melaksanakan haji.
b. Makin meningkatnya tokoh agama dan tokoh organisasi dalam keluarga.
c. Makin meningkatnya jumlah wakif.
d. Makin meningkatnya kemampuan masyarakat dalam memahami ajaran

agama.
e. Keluarga mampu mengembangkan ajaran agama.
f. Banyaknya anggota keluarga yang memiliki ijazah sarjana.
g. Masyarakat berakhlakul karimah.
h. Tumbuh berkembangnya perasaan cinta dan kasih sayang dalam anggota

masyarakat.
i. Keluarga yang didalamnya tumbuh cinta kasih.

4. Upaya Membentuk Keluarga Sakinah
Dalam suatu perjalanan rumah tangga tidak selalu berisikan senyum dan

tawa, tetapi sesekali pasti terdapat perselisihan antara suami dan istri. Karena
itulah, ketika hendak melangkah ke jenjang perkawinan dianjurkan untuk memilih
jodoh yang baik (soleh atau solehah), hal ini tidak lain hanya untuk bertujuan

23

dalam membina perkawinan yang bahagia, sakinah, dan harmonis. Untuk itu,
dalam upaya membina keluarga yang sakinah perlu diperhatikan berbagai aspek
secara menyeluruh, di antaranya peranan masing-masing suami dan istri, baik
yang individual maupun yang dimiliki bersama.12

Namun selain mengetahui peranan masing-masing suami dan istri,
terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membentuk keluarga
sakinah, yaitu:13
a. Saling pengertian
b. Saling sabar
c. Saling terbuka
d. Toleransi
e. Kasih sayang
f. Komunikasi
g. Adanya kerjasama

B. Single Parent
1. Pengertian Single Parent.
Single parent adalah orang tua tunggal artinya orang tua yang
mengurusi rumah tangganya sendirian tanpa adanya pasangan, karena
berbagai macam alasan. Menjadi single parent mungkin bukan pilihan setiap

12Dedi Junaedi, Bimbingan Perkawinan Membina Keluarga Sakinah Menurut al-Qur’an dan
as-Sunnah (Jakarta: Akademika Pressindo, edisi pertama, 2003), h. 220

13Ali Qaimi, Single Parent Peran Ganda Ibu dalam Mendidik Anak, (Bogor: Cahaya, 2003),
h. 187

24

orang. Adakalanya status itu disandang karena keadaan terpaksa. Diperlukan
energi yang besar untuk merangkap berbagai tugas karena harus menanggung
beban pendidikan dan beban emosional yang seharusnya dipikul bersama
pasangannya yang memerlukan konsentrasi dan perencanaan. Dan ini terasa
berat apabila hanya ditanggung oleh satu orang saja.

Sedangkan Pudjibudo mengungkapkan bahwa single parent adalah
seseorang yang menjadi orang tua tunggal karena pasangannya meninggal dunia,
bercerai dan juga seseorang yang memutuskan untuk memiliki anak tanpa adanya
ikatan perkawinan. Menjadi orang tua tunggal berarti ia harus memposisikan
dirinya sebagai seorang ayah dan ibu dalam waktu bersamaan, kedua peran
tersebut menjadikan orang tua tunggal harus mandiri secara finansial maupun
secara mental.

Pada dasarnya ada tiga kemungkinan mengapa seseorang menjadi single
parent:14
a. Karena kematian.

Ketika menjadi orang tua tunggal karena kematian, ada nasehat dan
dukungan dari lingkungan sekitar mereka. Kematian orang tua secara tiba-tiba
membuat anggota-anggota keluarga terguncang hebat. Musibah itu sering
menimbulkan kesedihan, rasa berdosa bercampur jengkel. Perasaan duka
adalah emosi empati sambil mengarahkan pikiran anak agar dapat

14 http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id 57-19

25

menyesuaikan diri dengan kenyataan sehingga denyut dan irama kehidupan
keluarga kembali normal dalam waktu yang tidak terlalu lama.
b. Karena perceraian.

Menjadi orang tua tunggal karena perceraian setidaknya bukan secara
tiba-tiba, ada kemungkinan orang tua sudah memikirkan dan sudah ada
persiapan yang cukup sebelum bercerai. Tetapi apabila mereka memilih untuk
bercerai dari pasangannya dengan alasan tertentu mungkin itulah pilihan,
diperlukan suatu keberanian untuk berpisah dengan pasangan hidup, apalagi
disertai dengan komitmen untuk tidak menikah lagi. Tentunya ada berbagai
alasan mengapa mereka lebih memilih untuk berpisah, bisa juga karena tabiat
pasangan akan merusak pola asuh atau kepribadian anak. Misalkan karakter
pasangan yang pemabuk, pemukul, atau pemarah. Mungkin perceraian,
hubungan cinta yang berakhir dengan permusuhan, akan dirasakan semua
orang sebagai sebuah derita berat. Sekalipun kesalahan bersumber dari kedua
belah pihak, tak seorang pun mengharapkan demikian. Karena adanya unsur
perusak dalam perceraian ini, banyak analisa sosial menunjukkan adanya
persamaan antara penyesuaian perceraian dan kematian.15

Bagi beberapa keluarga, perceraian dianggap putusan yang paling baik
untuk mengakhiri rasa tertekan, rasa takut, cemas, dan ketidaktentraman.
Seperti Marget Mead katakan, “Setiap saat kita mendambakan kebahagiaan,

15Willian J. Goode, Sosiologi Keluarga, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), h. 197

26

rukun dengan anak-anak, tetapi kita mempunyai hak untuk mengakhiri suatu
perkawinan bila mendatangkan bencana dan ketidaktentraman”.16
c. Karena pilihan yang meliputi:
1) Mereka mengangkat anak.
2) Memilih kebutuhan untuk mengasuh anak tapi tidak ingin punya

pasangan.
3) Ingin menyalurkan kebutuhan untuk mencintai namun tidak mau ribet

memiliki pasangan.
4) Karena hamil diluar nikah terus memutuskan untuk jadi orang tua tunggal

saja.
Orang yang memilih secara sadar gaya hidup single parent biasa memiliki
alasan pembenaran yang kuat, namun dua unsur utama yang mencolok adalah
kemandirian pribadi dan pengasuhan anak. Mereka memiliki kemandirian yang
kuat secara finansial dan emosional, dan kurang percaya dengan lembaga
perkawinan sebagai tempat yang aman bagi hak-haknya sebagai individu. Hidup
berpasangan hanya akan mengganggu kebebasan pribadinya, sementara mereka
yakin dalam dalam hal pengasuhan anak justru lebih efektif bila dijalankan
sendiri.17
Memilih single parent sebagai jalan pembebasan pribadipun sejatinya
mengikatkan kebebasannya pada sesuatu yang dianggap bernilai entah itu anak

16Save M. Dagun, Psikologi Keluarga, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 136
17http://www.blpost.co.id/blpost cetak/2003/12/28/kl.

27

atau kebebasan itu sendiri. Kebebasan sejati bukan berarti bisa melakukan sesuka
hati atau tak terikat oleh apa dan siapapun, ternyata justru kebebasan untuk
memberikan diri. Sebelum memilih gaya hidup single parent, dibutuhkan
kematangan dan pertimbangan sebijak mungkin bahwa pilihan ini bukan sekedar
di dorong egoisme atau trend semata karena ada pribadi lain yang juga memiliki
perasaan, pikiran, dan kebebasan sendiri, yakni anak-anak.

Apapun pilihannya yang terpenting adalah komitmen untuk memberikan
diri secara bebas terhadap apa yang dipandangnya sebagai bernilai.

2. Eksistensi Single Parent
Ketika seseorang memutuskan untuk tidak menikah dan menjadi single

parent, pada saat itu sebenarnya ia telah membuat sebuah keputusan besar dalam
hidupnya. Keputusan itu sendiri mestinya didasari oleh kesadaran bahwa akan
banyak konsekuensi yang mesti dihadapi, apalagi tak jarang status single parent
mendapat cemooh dari masyarakat. Meski tak sedikit yang sudah dapat menerima
dengan tangan terbuka.18

Tidak jarang pula masyarakat memberikan penilaian miring pada orang
yang tidak memiliki pasangan saat pergi berdua atau menjalin hubungan dengan
lawan jenis. Pada wanita penilaian itu seringkali lebih tajam. Bagi kebanyakan
orang, penilaian itu menjadi hambatan untuk berhubungan denga siapa saja.

18http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id 57-19

28

Kini, ada kecenderungan masyarakat modern bisa menerima fenomena
orang tua tunggal atau single parent karena pasangan meninggal atau bercerai
sebagai hal yang biasa. Meski begitu, sebaiknya orang dewasa tidak menganggap
enteng dampak psikologisnya terhadap anak yang baru saja ditinggal salah satu
orang tuanya.

Menjadi orang tua tunggal kebanyakan adalah lebih merupakan pilihan
nasib. Sama sekali tidak tepat dinyatakan sebagai trend. Hal ini bukan sesuatu
yang patut dibanggakan karena menjadikan status orang tua tunggal sehingga
kecenderungan dapat memberi pengaruh yang kurang baik. Lagi pula, bagaimana
dapat dinyatakan sebagai sesuatu trend bila sebagian besar yang mengalaminya
mengambil keputusan tersebut lebih karena situasi kondisi yang seringkali di luar
kendali dan harapannya sehingga memaksa untuk mengambil keputusan yang
dirasa baik. Kemudian bagaimana bisa disebut trend di masyarakat yang masih
menjunjung tinggi norma sosial jika kenyataannya ada nasib yang harus dijalani
karena pilihannya sudah sangat terbatas.19

Di negara Barat atau Eropa, rumah tinggal yang lebih kecil saat ini banyak
dibangun dan makin terjangkau karena makin banyak orang yang hidup sendirian.
Dan dengan meningkatnya jumlah orang tua tunggal, diramalkan bahwa nyaris
4,5 juta rumah kecil yang baru akan diperlukan di awal abad berikutnya.

19Ali Qaimi, Single Parent Peran Ganda Ibu Dalam Mendidik Anak, h. 61

29

Sementara di Inggris, total keluarga dengan orang tua tunggal diperkirakan 1,7
juta.20

Pada umumnya single parent sangat serius dalam hal pengasuhan anak
sebagai prioritas hidupnya, karena merasa terbebas dari urusan-urusan yang
berhubungan dengan keterikatan akibat perkawinan. Namun demikian, mereka
lupa bahwa setiap hubungan antar pribadi selalu mengandung potensi konflik.
Hubungannya dengan anak pun tak terbatas dari masalah, hubungannya dengan
orang lain kendati tanpa perkawinan tetap saja berdampak bagi dirinya. Orang
terus menerus menghubungkan dengan manusia lain melalui benang-benang
halus. Hubungan antar manusia akan memuncak dalam hubungan cinta, disitu
manusia dengan suka rela membiarkan dirinya diikat dan mengikatkan diri
dengan yang lain.

3. Dampak berstatus Single Parent.
Banyak sekali pengaruh yang menimpa keluarga dan anak-anak pasca

kematian atau pasca perceraian sehingga berstatus single parent. Kejadian
tersebut dapat berpengaruh secara mental dan kejiwaan baik terhadap pelaku
single parent maupun terhadap anak-anaknya.

Adapun dampak terhadap pelaku dan keluarga dalam hal ini anak-
anaknya, yaitu:

20Abror Suryasoemirat, Wanita Single Parent yang Berhasil, (Jakarta: EDSA Mahkota,
2007), h. 2-4

30

a. Pelaku
Para orang tua tunggal kadangkala masih dianggap sebagai orang

dewasa yang mementingkan diri dan menempatkan kepentingan sendiri dari
pada anak-anak, dan mereka dapat dicap sebagai orang yang tidak mau
mencari kerja ketika mereka dapat meminta santunan tunjangan sosial.21

Bagi orang yang bisa meraih segalanya dalam hidupnya, baik
ekonomi, karir, harta dan wibawa sangat perfeksionis, tetapi menurut Siti
Murdiana, psikolog keluarga, tidak akan bisa tampil dalam dua karakter di
hadapan anak-anaknya. Ibu memerankan sosok ayah atau sebaliknya ayah
memerankan sosok ibu, demi memberi kepuasan batin pada anaknya. Posisi
itu tidak bisa saling mengganti, ayah tetaplah sebagai figur ayah dan ibu tetap
seorang ibu meskipun ibu atau bapak terkadang mampu menggantikan posisi
bapak atau ibu. Tetapi apa dia mampu memberi kasih sayang layaknya
seorang bapak? Pastilah rasa dan sentuhannya akan berbeda.22

Berat, hanya satu kata yang bisa mewakili gambaran perjuangan para
status single parent. Ketika pasangan pergi baik karena bercerai atau
meninggal, semua beban tiba-tiba terkumpul di pundaknya. Tanggung jawab
materi dan tugas mendidik anak tampaknya belum cukup. Ada beban lain dari
lingkungan tentang stigma negatif seorang janda atau duda.
b. Keluarga atau anak.

21 Abror Suryasoemirat, Wanita Single Parent yang Berhasil, (Jakarta: EDSA Mahkota,
(Jakarta: EDSA Mahkota,
2007), h. 8
22 Abror Suryasoemirat, Wanita Single Parent yang Berhasil,

2007), h. 22

31

Menurut Lifina Dewi, M.Psi, Psikolog dari Universitas Indonesia,
dampak psikologis yang dihadapi anak dipengaruhi oleh beberapa hal,
kepribadian dan gender si anak, serta bagaimana penghayatan si ibu terhadap
peran yang dijalaninya. Pada anak-anak yang memiliki sikap tegar atau cuek
mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat, tetapi untuk anak yang sensitif pasti
akan terjadi perubahan perilaku, misalnya menjadi pemurung atau suka
menangis diam-diam, hal ini biasanya terjadi pada anak yang orang tuanya
bercerai.23

Single parent dapat menjadi suatu pilihan atau keterpaksaan.
Kebanyakan yang terjadi di masyarakat adalah menjadi single parent terberi,
artinya karena suami meninggal dunia. Tetapi kalau kemudian wanita memilih
untuk bercerai dari suami dengan alasan tertentu mungkin itulah pilihan.
Diperlukan suatu keberanian untuk berpisah dengan pasangan hidup, apalagi
disertai dengan komitmen untuk tidak menikah kembali.

Pola asuh yang diberikan single parent kepada anak bergantung pada
sejauh mana pemahaman orang tua itu sendiri. Ketika tidak ada pasangan
untuk berbagi fungsi, single parent cenderung membentuk sikap kemandirian
kepada anaknya. Pembagian tugas atau job sharing akan mendidik anak untuk
mandiri dan prihatin.

Banyak single parent yang ingin dibilang sukses dalam merawat anak.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ukuran sukses setiap orang berbeda-

23 www.kompas.com

32

beda. Meskipun tampaknya sepintas sama sebetulnya penghayatan setiap
orang terhadap sukses sangat subjektif. Tergantung pada apa yang menjadi
fokus suksesnya, ada yang meletakkan kesuksesan pada pendidikan anak, ada
pula orang yang sudah merasakan sukses kalau si anak tidak neko-neko,
misalnya bergaul di lingkungan positif, tidak memakai narkoba, bersikap baik
di rumah, punya prestasi tertentu. Ada banyak hal yang diperlukan untuk bisa
dicapai anak, terutama agar ia bisa tumbuh menjadi dirinya sendiri secara
baik, sehat, utuh dan seimbang, dengan self esteem (konsep diri) yang positif,
menghargai diri sendiri secara baik, dan mampu bersosialisasi dengan baik
juga. Yang lebih utama adalah anak yakin bahwa ia dicintai oleh orang
tuanya.

Meskipun begitu, ada kebutuhan anak yang tidak bisa terjawab oleh
seorang ibu, haruslah dengan kehadiran sosok bapak, atau sebaliknya.
Walaupun orang tua dapat memberikan kasih sayang, memberi nafkah, dapat
menyekolahkan atau bahkan secara kasat mata dia tidak memiliki kekurangan
atau kecacatan, bahkan sangat perfeksionis.24

Akan tetapi, dampak yang akan timbul sangatlah berat bagi sang anak.
Tidak ada manusia yang bisa meng-cover segalanya dalam hidupnya. Jika
salah satu figur hilang, akan ada perkembangan yang tidak seimbang atau
pincang. Peran ayah dan ibu masing-masing berbeda. Meskipun secara

24Ibid, h. 22-23

33

material ibu bisa menjadi ayah, tapi secara psikologi, anak tetap tidak bisa
menerimanya.

Sedangkan pengaruh pasca kematian atau pasca perceraian terhadap
keluarga adalah sebagai berikut:25
1) Ketidak seimbangan jiwa, sebagian orang yang ditinggal dapat mengalami

penderitaan semacam: depresi, suka berhayal, kegelisahan dan
sebagainya.
2) Problem perasaan, ia bisa menjadi sensitif dan mudah menangis, dengki
pada orang lain, malu dan rendah diri, dingin dan pesimis, terlalu senang
dan tertawa berlebihan, merasa berdosa atas perbuatan sendiri, dan
berbagai gangguan emosional lainnya.
3) Menimbulkan kesulitan, sebagian anak lantaran tak mampu menanggung
beban derita, menjadi sering mencari-cari alasan, suka mengada-ada,
sering marah-marah, suka melawan dan membantah.
4) Kerusakan akhlak, pasca kematian atau pasca perceraian dapat
menimbulkan perubahan pada akhlak dan etika anak sehingga muncul
berbagai sikap dan perbuatan tidak terpuji.
5) Menimbulkan berbagai kelainan, seperti mengigau, berjalan-jalan saat
tidur, gugup dan tergesa-gesa, pelupa, bengong, was-was, dan seterusnya.

25Ali Qaimi, Single Parent Peran Ganda Ibu Dalam Mendidik Anak, h. 62-63

BAB III
TINJAUAN UMUM PROFIL DESA GUMENG

A. Letak Geografis

Secara Geografis, Desa Gumeng merupakan bagian dari wilayah

Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Desa Gumeng adalah daerah yang terdiri

dari 10 RT dan 5 RW. Desa Gumeng terletak 20,5 km dari pemerintahan kota

Gresik. Desa Gumeng mempunyai penduduk sebanyak 2.215 jiwa dengan jumlah

kepala keluarga 457. Luas wilayah Desa Gumeng adalah 251.140 Ha, saling

berbatasan dengan: : Berbatasan dengan Desa Ngawen
o Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Legowo
o Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Kisik
o Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Kemangi
o Sebelah Barat

Tabel 3.1

Luas Wilayah Desa Gumeng Menurut Jenis Penggunaan Tanah (Ha)

Tanah Tanah Tanah Bangunan / Hutan Lain- Jumlah
Sawah Tambak Kering Pekarangan Negara lain

- 66,15 33,00 5,40 - 146,88 251,41

Sumber data : Kantor Desa Gumeng Tahun 2010

Data dari tabel di atas, menjelaskan bahwa di Desa Gumeng wilayah yang
lebih luas adalah tanah untuk lain-lain dibandingkan dengan tanah tambak seluas
66,15 ha.

34

35

B. Keadaan Demografis

Pemerintahan kantor Desa Gumeng dipimpin oleh seorang Kepala Desa

dibantu oleh beberapa stafnya dan dibantu oleh 10 Kepala Rukun Tetangga atau 5

Rukun Warga.

Berdasarkan data monografis Desa Gumeng tahun 2010 tercatat ada 2.215

jiwa yang mendiami kelurahan Desa Gumeng dengan persentase jenis kelamin

laki-laki 1.130 jiwa dan perempuan 1.085 jiwa. Jumlah kepala keluarga (KK) 457

KK dengan perincian data sebagai berikut:

NO RT/RW Tabel 3.2

Jumlah Penduduk Berdasarkan KK Jumlah
365
Jumlah Jiwa 251
KK 112
123
Laki-laki Perempuan 99
316
1 RT. 1 RW. 1 73 195 170 176
389
2 RT. 2 RW. 1 49 121 130 250
134
3 RT. 1 RW. 2 25 53 59 2.215

4 RT. 2 RW. 2 24 65 58

5 RT. 1 RW. 3 25 49 50

6 RT. 2 RW. 3 61 160 156

7 RT. 1 RW. 4 32 88 88

8 RT. 2 RW. 4 77 203 186

9 RT. 1 RW. 5 56 128 122

10 RT. 2 RW. 5 35 68 66

Jumlah 457 1.130 1.085

Sumber Data : Kantor Desa Gumeng Tahun 2010

36

Berikut ini adalah tabel data mengenai jumlah jiwa berdasarkan klasifikasi

usia, yaitu:

Table 3.3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Usia

No Klasifikasi Usia Jumlah Jiwa %
1 04 – 06 253 orang 11,42%

2 07 -1 2 426 orang 19,23%

3 13 – 15 329 orang 14,85%
4 20 – 26 526 orang 23,75%
5 27 – 40 438 orang 19,77%

4 40 ke atas 243 orang 10,97%

Jumlah 2.215 100%

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng Tahun 2010

Pencatatan atau pendataan penduduk di kantor Desa Gumeng berpedoman

pada register yang telah ada, antara lain register datang, pindah, lahir, meninggal

dunia. Sehingga untuk pencatatan atau pendaftaran selalu mengacu kepada

register yang berlaku. Sedangkan penduduk Desa Gumeng menurut jenis kelamin

sebagaimana tabel berikut:

Tabel 3.4

Penduduk Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Orang Persentase

1 Laki-Laki 1.130 51.02%

2 Perempuan 1.085 48.98%

Jumlah Seluruh Jiwa 2.215 100%

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng Tahun 2010

37

C. Keadaan Ekonomi, Sosiologi dan Kependudukan

1. Bidang Ekonomi

Perkembangan perokonomian di wilayah Desa Gumeng, dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 3.5

Penduduk Menurut Jenis Profesi / Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Orang Persentase

1 Nelayan 182 21.48%

2 Industri 39 4.60%

3 Proyek / Tukang Batu 42 4.96%

4 Guru 49 5.79%

5 Wiraswasta 313 36.95%

6 Karyawan 140 16.52%

7 Pegawai Negeri Sipil 9 1.06%

8 Perawat / Bidan / Dokter 7 0.83%

9 Petani / Petambak 61 7.20%

10 POLRI 1 0.12%

11 Penjahit 4 0.47%

Jumlah 847 100%

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng Tahun 2010

38

2. Bidang Keagamaan

Dalam bidang keagamaan seluruh warga Desa Gumeng adalah beragama

Islam. Untuk mendukung pelaksanaan ibadah di Desa Gumeng tersedia fasilitas-

fasillitas ibadah sebagai berikut:

No Sarana Peribadatan Tabel 3.6 Keterangan
Sarana Peribadatan

Jumlah

1 Masjid 1 unit Berfungsi/Baik
2 Mushalah 3 unit Berfungsi/Baik

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng

Masjid merupakan tempat ibadah, tempat masyarakat berbagi dalam
ilmu agama dan tempat perkumpulan pengajian-pengajian. Ini menunjukkan
bahwa masjid merupakan salah satu tempat perkumpulan warga untuk tahlilan
dan acara-acara keagamaan.

3. Bidang Pendidikan
Fasilitas pendidikan di Desa Gumeng, khususnya pendidikan dasar dan

pendidikan tingkat sekolah menengah pertama cukup memadai. Adapun sarana
pendidikan yang ada sebagai berikut:

39

Tabel 3.7

Jumlah Sarana Pendidikan di Desa Gumeng

SD/MI SMP/MTs SMA/Aliyah

No Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Keterangan

1- 1 - 1 - -

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng

Di samping pendidikan formal, di Desa Gumeng terdapat pendidikan non
formal yaitu Taman Pendidikan Al-Qur’an. Warga Desa Gumeng kebanyakan

hanya menyelesaikan sekolah dasar. Ini terbukti dari data yang diperoleh di Desa

Gumeng sebagai berikut:

Tabel 3.8

Jumlah Tingkatan Sekolah yang Diselesaikan

No Pendidikan Jumlah Orang Persentase

1 Sekolah Dasar/ Madrasah 754 36.80%

Ibtidaiyah

2 SMP/ Madrasah Tsanawiyah 632 30.84%

3 SMA/ Madrasah Aliyah 574 28.01%

4 Perguruan Tinggi 89 4.34%

Jumlah 2.049 100%

Sumber Data: Kantor Desa Gumeng

40

Berdasarkan tabel di atas, mayoritas masyarakat Desa Gumeng
mengenyam bangku pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa
Gumeng sudah memiliki perhatian yang cukup baik terhadap pendidikan.

Dalam hal tingkat pendidikan, dan adanya kegiatan belajar mengajar ini
disukseskan dengan adanya sarana pendidikan yang cukup memadai dengan
kualitas yang cukup baik.

4. Bidang Kesehatan
Dalam meningkatkan pengetahuan dan kehidupan masyarakat di bidang

kesehatan telah dilaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. Mengadakan kegiatan kerja bakti dalam rangka meningkatkan kesehatan

lingkungan.
b. Membentuk POSYANDU untuk meningkatkan gizi dan pemeliharaan

kesehatan anak.

D. Kasus Perceraian di Desa Gumeng pada Tahun 2010

No. Desa Tabel 3.9 Rujuk Jumlah
Daftar NTCR 15
Nikah Talak Cerai 52
29
1 Sidomukti 15 - --

2 Mojopurogede 50 2 --

3 Mojopurowetan 28 1 --

41

4 Melirang 63 2 - - 65

5 Sidorejo 12 - - - 12

6 Masangan 28 - 1 - 29

7 Sukowati 15 - - - 15

8 Bungah 68 - 1 - 69

9 Sukorejo 16 - - - 16

10 Bedanten 33 2 - - 35

11 Watuagung 32 - - - 32

12 Kramat 24 - - - 24

13 Tanjung Widoro 48 1 2- 51

14 Sungonlegowo 62 3 1- 66

15 Indrodelik 32 - - - 32

16 Kisik 21 - 1 - 22

17 Abar-abir 22 - - - s22

18 Sidokumpul 18 1 - - 19

19 Raciwetan 9 - -- 9

20 Pegundan 11 - - - 11

21 Kemangi 19 1 2- 22

22 Gumeng 43 3 1- 47

Jumlah 669 16 9 - 694

Sumber Data: Daftar NTCR KUA Kecamatan Bungah pada tahun 2010


Click to View FlipBook Version