The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ichwanultaufiqnasution476, 2021-04-22 04:23:39

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

101898-LAILATUL FURQONIYAH-FSH.PDF ( Konsep Keluarga Sakinah )

BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Profil Responden Masyarakat Desa Gumeng

Data penelitian dalam skripsi ini didasarkan pada hasil angket dengan 32

orang responden dari masing-masing single parent yang menjadi responden dan

dari 32 orang single parent tersebut akan diambil 5 orang secara random sampling

untuk menjadi informan dalam wawancara.

Pada bagian pertama ini, terlebih dahulu penulis kemukakan mengenai

profil responden dari beberapa aspek berikut: jenis kelamin, usia, jenjang

pendidikan, status perkawinan, asal daerah suami atau istri dan pekerjaan.

Penyajian dan uraian identitas responden diharapkan dapat memberikan gambaran

yang cukup jelas tentang karakter responden dan kaitannya dengan masalah-

masalah tujuan penelitian. Berikut ini tabel-tabel tentang profil responden.

Tabel 4. 1

Responden Menurut Jenis Kelamin

No Alternatif Jawaban F %

1 Laki-laki 4 12.5%

2 Perempuan 28 87.5%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

42

43

Tabel selanjutnya penulis akan mencoba memperlihatkan usia responden,

karena faktor usia dapat menentukan pola fikir dan skala kematangan seseorang

dalam berfikir dan mengambil sikap. Oleh karena itu, menjadi penting untuk

diketahui usia responden.

Tabel 4. 2

Responden Menurut Usia

No Alternatif Jawaban F %

1 26-30 tahun 2 6.25%

2 31-35 tahun 2 6.25%

3 36-40 tahun 6 18.75%

4 41-45 tahun 6 18.75%

5 46-50 tahun 5 15.63%

6 Diatas 50 tahun 11 34.38%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel di atas dapat diketahui, bahwa 34.38% responden berusia diatas 50
tahun. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden berusia diatas 50
tahun.

Profil responden berdasarkan status perkawinan mayoritas responden adalah
janda. Sedangkan responden yang duda hanya empat responden. Hal ini terbukti dari

44

responden yang janda adalah 28 responden atau 87.5% sedangkan yang duda hanya 4

responden atau 12.5%. Secara jelas dapat di lihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. 3

Responden Menurut Status Perkawinan

No Alternatif Jawaban F %

1 Duda 4 12.5%
2 Janda 28 87.5%
32 100
Jumlah

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Selanjutnya mengenai tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada tabel

di bawah ini:

Tabel 4. 4

Responden Menurut Tingkat Pendidikan

No Alternatif Jawaban F %

1 SD 20 62.5%

2 SMP/MTs 6 18.75%

3 SMA/MA 4 12.5%

4 Perguruan Tinggi 2 6.25%

Jumlah 32 100%

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

45

Tabel 4. 2 menunjukkan bahwa mayoritas (62,5%) responden lulusan

pendidikan sekolah dasar, sedangkan responden yang menyelesaikan pendikan

sekolah menengah pertama hanya 18,75% dan yang paling sedikit pendidikan

responden yang sampai perguruan tinggi mencapai 6,25%. Hal ini menunjukkan

bahwa pendidikan responden lebih di dominasi oleh tamatan sekolah dasar.

Dalam tabel berikutnya penulis akan memperlihatkan asal daerah suami atau

istri responden.

Tabel 4. 5

Responden Menurut Asal Daerah

No Alternatif Jawaban F %

1 Penduduk asli 25 78.13%

2 Warga pendatang 7 21.88%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel 4.4 di atas memperlihatkan, bahwa 78,13% responden adalah
penduduk asli Desa Gumeng dimana penelitian dilakukan. 21,88% responden yang
berasal dari luar desa. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Gumeng lebih
didominasi oleh penduduk asli.

Tabel selanjutnya disajikan guna mendapatkan informasi tentang asal daerah
responden pendatang.

46

Tabel 4. 6

Responden Menurut Asal Daerah sebagai Pendatang

No Alternatif Jawaban F%
1 Dari asal kecamatan yang sama 3 42.86%

2 Dari asal kabupaten/kodya yang sama 2 28.57%

3 Dari asal provinsi yang sama 2 28.57%
4 Dari asal Provinsi yang berbeda 00

Jumlah 7 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel 4.5 terlihat bahwa 42,86% responden adalah pendatang di Desa

Gumeng kebanyakan berasal dari kecamatan yang sama yaitu Kecamatan Bungah,

sedangkan yang berasal dari provinsi yang sama hanya 28,57% yakni Jawa Timur.

Data ini menunjukkan bahwa para pendatang di Desa Gumeng didominasi oleh

kecamatan yang sama.

Dalam tabel berikutnya akan diketahui seberapa banyak responden yang

memiliki pekerjaan tetap.

Tabel 4. 7

Responden Menurut Status Bekerja

No Alternatif Jawaban F %
65.63%
1 Memiliki pekerjaan tetap 21
0
2 Baru memiliki pekerjaan tetap 0 34.38%

3 Tidak mempunyai pekerjaan tetap 11 100

Jumlah 32

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

47

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, 65,63% responden memiliki pekerjaan tetap,

sedangkan responden yang tidak memiliki pekerjaan tetap sekitar 34,38%. Dari data

diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa responden atau masyarakat Desa Gumeng

memiliki pekerjaan tetap.

Tabel berikutnya, penulis mencoba untuk memperlihatkan jenis pekerjaan

responden.

Tabel 4. 8

Responden Menurut Jenis Pekerjaan

No Alternatif Jawaban F%

1 Perdagangan 11 52.38%

2 Pengusaha 1 4.76%

3 Bangunan 1 4.76%

4 Pendidikan 2 9.52%

5 Buruh Konveksi 1 4.76%

6 Pembantu Rumah Tangga 3 14.29%

7 Pegawai Kelurahan 1 4.76%

8 Marbot 1 4.76%

Jumlah 21 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Berdasarkan jenis pekerjaan responden, ternyata responden lebih banyak
(52,38%) bekerja sebagai pedagang, dan 14,29% responden berprofesi sebagai

48

pembantu rumah tangga. Sementara itu, sangat sedikit jumlah responden yang bekerja

untuk sektor formal. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Gumeng

mayoritas bekerja di sektor perdagangan yang dekat dengan tradisi masyarakat desa.

Tabel selanjutnya masih ada kaitannya dengan pekerjaan yaitu, pekerjaan

sampingan.

Tabel 4. 9

Responden Menurut Pekerjaan Sampingan

No Alternatif Jawaban F%

1 Iya, memiliki pekerjaan sampingan 1 5.3%
2 Tidak memiliki pekerjaan sampingan 18 94.74%
19 100
Jumlah

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa 94.74% responden tidak memiliki pekerjaan
sampingan sedangkan yang memiliki pekerjaan sampingan hanya 5.3% responden
memiliki pekerjaan sampingan. Dari data di atas dapat diketahui hampir seluruh
responden tidak mempunyai pekerjaan sampingan.

Tabel berikutnya penulis mencoba menyajikan informasi tentang penghasilan
responden dalam satu bulan.

49

Tabel 4.10

Responden Menurut Penghasilan Perbulan

No Alternatif Jawaban F%

1 < Rp. 500.000 1 4.76%
2 Rp. 500.001 – Rp. 1.000.000 9 42.86%
3 Rp. 1.000.001 – Rp. 1.500.000 4 19.05%
4 Rp. 1.500.001 – Rp. 2.000.000 2 9.52%
5 Rp. 2.000.001 – Rp. 2.500.000 3 14.29%
6 Rp. 2.500.001 – Rp. 3.000.000 1 4.76%
7 Rp. 3.000.001 – Rp. 3.500.000
8 Rp. 3.500.001 – Rp. 4.000.000
9 Rp. 4.000.001 – Rp. 4.500.000

10 > Rp. 4.500.001 1 4.76%

Jumlah 21 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel di atas, mayoritas responden berpenghasilan tiap bulan dari
pekerjaan yang dilakukan untuk menghidupi keluarga mereka adalah sebesar 42,86%
yang berpenghasilan lima ratus sampai satu juta. 4 (empat) responden yang
berpenghasilan satu sampai satu juta setengah sebesar 19,05%. Dan hanya satu orang
responden yang berpenghasilan diatas empat juta setengah atau 4,76%.

50

B. Sejarah Pernikahan

Beberapa tabel berikut menyajikan informasi mengenai sejarah

perkawinan responden.

Tabel 4.11

Status Responden pada Saat Pernikahan Dahulu

No Alternatif Jawaban F%

1 Gadis/ Perjaka 26 81.25%

2 Janda/ Duda cerai mati 5 15.63%

3 Janda/ Duda cerai hidup 1 3.13%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel 4.11 menunjukkan, bahwa 81.25% responden pada saat pernikahan
dahulu berstatus gadis atau perjaka, sedangkan 18.75% responden pada saat
pernikahan dahulu sudah pernah menikah atau sudah tidak gadis atau perjaka.
Dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat Desa Gumeng menikah pada saat
masih gadis atau perjaka.

Tabel berikutnya menyajikan informasi tentang sejarah pernikahan dari
segi dijodohkan atau pilihan sendiri dalam memilih pasangan hidup.

51

Tabel 4.12

Status Responden pada Saat Pernikahan Dahulu

No Alternatif Jawaban F%

1 Dipilihkan/dijodohkan 19 59.38%

2 Memilih sendiri 13 40.63%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa 59.38% responden dijodohkan oleh
orang tua atau keluarganya, dan 40.63% responden memilih sendiri dalam
menentukan pasangan hidupnya. Dari tabel ini dapat diketahui bahwa kebanyakan
responden dijodohkan oleh orang tua atau keluarganya. Tabel selanjutnya menyajikan
informasi tentang status administrasi pernikahan.

Tabel 4.13

Responden Menurut Status Administrasi Pernikahan

No Alternatif Jawaban F%

1 Dicatatkan di KUA 12 37.5%

2 Nikah sirri (menurut agama saja) 20 62.5%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

52

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa, 62.5% responden menikah melalui jalur
agama saja sedangkan 37.5% responden secara resmi dan tercatat di KUA. Dari
sini dapat diketahui bahwa pada umumnya masyarakat Desa Gumeng melakukan
pernikahan secara agama saja.

C. Suasana Keharmonisan dalam Keluarga Rumah Tangga

Beberapa tabel berikut mendeskripsikan tentang suasana keharmonisan

keluarga sewaktu dulu berumah tangga.

Tabel 4.14

Tingkatan Keharmonisan antara Suami/ Istri Saat

Pernikahan Dahulu

No Alternatif Jawaban F%

1 Sangat tidak harmonis 00

2 Tidak harmonis 5 15.63%

3 Kurang harmonis 1 3.13%

4 Agak harmonis 00

5 Cukup harmonis 4 12.5%

6 Harmonis 12 37.5%

7 Sangat harmonis 10 31.25%

8 Tidak tahu 00

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

53

Dari tabel di atas, terlihat bahwa 37.5% responden menyatakan bahwa

pernikahan mereka tergolong harmonis, sedangkan 15.63% responden mengalami

ketidak harmonisan dalam rumah tangganya. Data ini menunjukkan bahwa sebagian

besar keluarga responden berada dalam suasana keharmonisan.

Tabel berikutnya menyajikan informasi tentang suasana rasa sayang

responden terhadap pasangannya dahulu.

Tabel 4.15

Tingkatan Rasa Sayang Responden terhadap Pasangannya

Saat Pernikahan Dahulu

No Alternatif Jawaban F%

1 Berkurang/ memudar 2 6.25%

2 Masih seperti dulu 24 75%

3 Semakin sayang 1 3.13%

4 Tidak tahu 5 15.63%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel 4.15 menjelaskan bahwa, 75% responden menyatakan masih seperti
dahulu atau tidak mengalami perubahan rasa sayangnya terhadap pasangannya pada
saat pernikahannya yang dahulu. 15.63% responden menyatakan tidak tahu
bagaimana rasa sayangnya terhadap pasangannya, dan 6.25% responden mengatakan
rasa sayang mereka berkurang atau memudar. Dari data ini dapat diketahui bahwa

54

mayoritas responden berada pada situasi rasa sayangnya masih seperti dulu terhadap

mantan pasangan hidupnya.

Tabel selanjutnya memberikan informasi tentang suasana rasa cinta responden

terhadap pasangannya.

Tabel 4.16

Tingkatan Rasa Cinta Responden terhadap Pasangannya Saat

Pernikahan Dahulu

No Alternatif Jawaban F%

1 Berkurang/ memudar 4 12.5%

2 Masih seperti dulu 23 71.88%

3 Semakin cinta 2 6.25%

4 Tidak tahu 3 9.38%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel di atas, memberikan informasi tentang rasa cinta yang dialami
responden sewaktu pernikahannya dahulu. 71.88% responden menyatakan suasana
rasa cinta terhadap pasangannya masih seperti dulu. 12.5% responden mengatakan
berkurang atau memudar terhadap mantan pasangannya. Dari data ini terlihat bahwa
responden yang mempunyai rasa cinta terhadap mantan pasangannya, merasakan
cintanya masih seperti dulu.

55

Tabel berikut menggambarkan suasana keharmonisan rumah tanga.

Tabel 4.17

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Silang Pendapat

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 16 50%

2 Pernah 3-4 kali 8 25%

3 Pernah 5-6 kali 3 9.38%

4 Pernah 7-8 kali 1 3.13%

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 3 9.38%

9 Tidak pernah 1 3.13%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel di atas, memperlihatkan 96.88% responden menyatakan bahwa pernah
terjadi silang pendapat dalam keluarganya yang dahulu dan tidak dapat dihitung
seberapa banyak terjadi silang pendapat dengan pasangannya. 3.13% responden
mengaku tidak pernah terjadi silang pendapat di antara pasangannya sewaktu

56

pernikahan yang dahulu. Tabel selanjutnya memaparkan informasi tentang keluarga

responden dalam kasus pertengkaran adu mulut

Tabel 4.18

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Pertengkaran Adu Mulut

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 10 31.25%

2 Pernah 3-4 kali 10 31.25%

3 Pernah 5-6 kali 4 12.5%

4 Pernah 7-8 kali 2 6.25%

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 3 9.38%

9 Tidak pernah 3 9.38%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel 4.18 di atas, mengisyaratkan bahwa 90.63% responden pernah
mengalami pertengkaran adu mulut dan tidak bisa dihitung berapa kali mereka
bertengkar adu mulut sehingga dapat mengganggu keharmonisan keluarga. 9.38%

57

responden tidak pernah mengalami pertengkaran adu mulut dan kualitas

keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Tabel selanjutnya memaparkan informasi tentang keluarga responden dalam

kasus kekerasan fisik.

Tabel 4.19

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Kekerasan Fisik

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 9 28.13%

2 Pernah 3-4 kali 00

3 Pernah 5-6 kali 00

4 Pernah 7-8 kali 00

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 00

9 Tidak pernah 23 71.86%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

58

Menurut tabel 4.19 dapat diketahui, bahwa 71.86% responden tidak pernah

mengalami kekerasan fisik dan 28.13% responden pernah mengalami kekerasan

dalam kehidupan rumah tangganya sewaktu dahulu.

Tabel selanjutnya menyajikan informasi tentang keluarga responden dalam

kasus pisah ranjang.

Tabel 4.20

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Pisah Ranjang

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 5 15.63%

2 Pernah 3-4 kali 00

3 Pernah 5-6 kali 1 3.13%

4 Pernah 7-8 kali 00

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 00

9 Tidak pernah 26 81.25%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

59

Dari tabel di atas, terlihat bahwa 81.25% responden tidak pernah mengalami

pisah ranjang dengan pasangannya yang dahulu, sedangkan 18.75% responden pernah

mengalami pisah ranjang dengan pasangannya dahulu.

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang suasana keharmonisan keluarga

responden dalam kasus pisah rumah.

Tabel 4.21

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Pisah Rumah

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 5 15.63%

2 Pernah 3-4 kali 00

3 Pernah 5-6 kali 00

4 Pernah 7-8 kali 00

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 00

9 Tidak pernah 27 84.38%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel 4.21 di atas, terlihat bahwa, 84.38% responden tidak pernah
mengalami pisah rumah dan 15.63% responden pernah mengalami pisah rumah.

60

Tabel selanjutnya menyajikan informasi tentang keluarga responden dalam

kasus terjadinya talak 1-2.

Tabel 4.22

Pengalaman Responden tentang Keharmonisan Keluarga dalam

Kasus Terjadinya Talak 1-2

No Alternatif Jawaban F%

1 Pernah 1-2 kali 7 21.88%

2 Pernah 3-4 kali 00

3 Pernah 5-6 kali 00

4 Pernah 7-8 kali 00

5 Pernah 9-10 kali 00

6 Pernah 11-12 kali 00

7 Pernah 13-14 kali 00

8 Tidak terhitung 00

9 Tidak pernah 25 78.13%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari tabel di atas, diketahui bahwa 78.13% responden mengaku tidak pernah
terjadi talak 1-2 dengan pasangannya yang dahulu, sedangkan 21.88% responden
mengaku pernah terjadi talak 1-2 dengan pasangannya dahulu.

61

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang silang pendapat jika pernah terjadi.

Tabel 4.23

Silang Pendapat Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F %
6.45%
1 Kecemburuan 2
0
2 Kehadiran orang ketiga 0 0
16.13%
3 Tidak punya keturunan 0 77.42%
100
4 Kekurangan ekonomi 5

5 Perbedaan Pendapat 24

Jumlah 31

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang pertengkaran adu mulut jika pernah terjadi.

Tabel 4.24

Pertengkaran Adu Mulut Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F%

1 Kecemburuan 1 3.45%

2 Kehadiran orang ketiga 1 3.45%

3 Tidak punya keturunan 00

4 Kekurangan ekonomi 9 31.03%

5 Perbedaan Pendapat 18 62.07%

Jumlah 29 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

62

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang kekerasan fisik jika pernah terjadi.

Tabel 4.25

Kekerasan Fisik Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F%

1 Kecemburuan 1 11.11%

2 Kehadiran orang ketiga 1 11.11%
3 Tidak punya keturunan 00
4 Kekurangan ekonomi 00
5 Perbedaan Pendapat 7 77.77%

Jumlah 9 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang pisah ranjang jika pernah terjadi.

Tabel 4.26

Pisah Ranjang Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F%

1 Kecemburuan 00

2 Kehadiran orang ketiga 2 33.33%

3 Tidak punya keturunan 00

4 Kekurangan ekonomi 00

5 Perbedaan Pendapat 4 66.66%

Jumlah 6 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

63

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang pisah rumah jika pernah terjadi.

Tabel 4.27

Pisah Rumah Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F%

1 Kecemburuan 00

2 Kehadiran orang ketiga 1 20%
3 Tidak punya keturunan 00
4 Kekurangan ekonomi 1 20%
5 Perbedaan Pendapat 3 60%

Jumlah 5 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang talak 1-2 jika pernah terjadi.

Tabel 4.28

Talak 1-2 Jika Pernah Terjadi

No Alternatif Jawaban F%

1 Kecemburuan 00
2 Kehadiran orang ketiga 1 14.29%
3 Tidak punya keturunan 00
4 Kekurangan ekonomi 2 28.57%
5 Perbedaan Pendapat 4 57.14%

Jumlah 7 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

64

D. Kehidupan Rumah Tangga setelah Perceraian.

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang lamanya penyesuaian diri setelah

bercerai.

Tabel 4.29

Lamanya Penyesuaian Diri setelah Bercerai

No Alternatif Jawaban F%

1 Kurang dari satu bulan 5 15.63%

2 1-5 bulan 15 46.88%

3 6-10 bulan 7 21.88%

4 Lebih dari 10 bulan 5 15.63%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang perbedaan yang di rasa dari

sebelum dan setelah bercerai.

Tabel 4.30

Perasaan yang Dirasa Dari Sebelum dan Setelah Bercerai

No Alternatif Jawaban F%

1 Kesepian 26 81.25%

2 Senang 00

3 Biasa saja 6 18.75%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

65

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang tingkatan hambatan yang dialami

single parent.

Tabel 4.31

Tingkatan Hambatan yang Dialami Single Parent

No Alternatif Jawaban F%

1 Sangat banyak 10 31.25%

2 Banyak 13 40.63%

3 Tidak banyak 7 21.88%

4 Biasa saja 2 6.25%

5 Tidak menjawab 00

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang single parent dalam yang merawat

anak.

Tabel 4.32

Merawat Anak

No Alternatif Jawaban F%

1 Sendiri 22 68.75%

2 Bersama keluarga 10 31.25%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

66

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang faktor hambatan yang dialami

single parent dalam membina keluarga.

Tabel 4.33

Faktor Hambatan yang dialami Single Parent

No Alternatif Jawaban F%

1 Ekonomi 14 43.75%

2 Pendidikan anak 8 25%

3 Kebutuhan biologis 2 6.25%

4 Gunjingan masyarakat 4 12.5%

5 Mengurus anak sendirian 4 12.5%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dari data di atas, disimpulkan bahwa hambatan yang paling banyak
dihadapi oleh seorang single parent adalah masalah ekonomi yakni sebesar
43.75%. Itu juga yang dituturkan oleh Ibu Halimatus Sa’diyah: “Hambatan yang
paling besar adalah ekonomi mbak, saya harus memberi nafkah anak-anak
sendiri karena dulunya suami saya yang bekerja”

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang yang membiayai kehidupan single
parent setelah bercerai.

67

Tabel 4.34

Pembiayaan Hidup setelah Perceraian

No Alternatif Jawaban F %
1 Sendiri 31 96.88%

2 Mantan suami/istri 0 0
3.13%
3 Orangtua 1
100
Jumlah 32
Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Tabel 4.34 di atas, menjelaskan bahwa yang membiayai kehidupan single

parent setelah putusnya perkawinan adalah sendiri yakni sebesar 96.88% dan yang

mengaku masih di biayai orang tua adalah 3.13% responden.

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang hubungan single parent dengan

mantan mertua.

Tabel 4.35

Hubungan dengan Mantan Mertua

No Alternatif Jawaban F%
1 Sangat baik 5 15.63%

2 Baik 13 40.63%

3 Tidak baik 5 15.63%

4 Biasa saja 8 25%

5 Tidak menjawab 1 3.13%

Jumlah 32 100
Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

68

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang keinginan single parent untuk

menikah.

Tabel 4.36

Keinginan Single Parent untuk Menikah

No Alternatif Jawaban F%

1 Iya 6 18.75%

2 Tidak 20 62.5%

3 Belum tahu 6 18.75%

Jumlah 32 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Dapat diketahui dari tabel ini, bahwa 62.5% responden tidak menginginkan
untuk menikah lagi karena fokus utamanya sekarang adalah anak. Seperti yang
dituturkan oleh Ibu Halimatus Sa’diyah “Saya sudah mulai terbiasa dengan keadaan
saya dan tidak memikirkan untuk menikah lagi, saya lebih fokus pada anak-anak
dulu, lagi pula umur saya juga tidak pantas untuk menikah lagi mbak.”

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang alasan yang menyebabkan single
parent untuk menikah lagi.

69

Tabel 4.37

Alasan yang Menyebabkan untuk Menikah Lagi

No Alternatif Jawaban F%

1 Anak 00

2 Ekonomi 3 25%

3 Kebutuhan biologis 4 33.33%

4 Usia 3 25%

5 Teman berbagi 2 16.67%

Jumlah 12 100

Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

Kebanyakan responden yang menjawab faktor yang menyebabkan untuk

menikah lagi karena kebutuhan biologis adalah sebesar 33.33% responden. Seperti
yang dituturkan Bapak Joko Badruddin “Iya mbak, pengen banget saya nikah lagi.

Apalagi umur saya juga masih tergolong masih muda. Berat, kalau sudah
menyangkut kebutuhan biologis.”

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang anak yang mengizinkan bapak/ibu

menikah lagi.

Tabel 4.38

Anak yang Mengizinkan Bapak/Ibu Menikah Lagi

No Alternatif Jawaban F%

1 Iya 8 80%

2 Tidak 2 20%

Jumlah 10 100
Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

70

Tabel selanjutnya, menjelaskan tentang alasan anak yang mengizinkan

bapak/ibu menikah lagi.

Tabel 4.39

Alasan Anak Mengizinkan Bapak/Ibu Menikah Lagi

No Alternatif Jawaban F%

1 Ekonomi 2 25%
2 Kepribadian yang baik 3 37.5%
3 Fisik 0
4 Kasihan orang tua 3 0
8 37.5%
Jumlah
Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan 100

Tabel selanjutnya menjelaskan tentang respon masyarakat sekitar tentang

status single parent.

Tabel 4.40

Respon Masyarakat Sekitar tentang Status Single Parent

No Alternatif Jawaban F%

1 Sangat Baik 5 15.63%

2 Baik 14 43.75%

3 Tidak baik 6 18.75%

4 Biasa saja 7 21.88%

5 Tidak menjawab 00

Jumlah 32 100
Keterangan: Data diolah dari hasil survei lapangan

71

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa respon masyarakat terhadap mereka
yang berstatus single parent sangatlah baik. Dari data di atas, anggapan baik
itu melebihi 60% dari total responden. 7 atau 21,88% saja yang menganggap
biasa-biasa saja dan sedikit sekali yang beranggapan negatif.

E. Analisis Data
Mengacu pada beberapa inti permasalahan yang telah dirumuskan pada

bagian terdahulu, maka ada beberapa poin temuan penelitian yang perlu
dielaborasi secara lebih mendetail. Permasalahan tersebut adalah. Pertama,
makna keluarga sakinah menurut pelaku single parent. Kedua. Hambatan yang
dihadapi pelaku single parent. Ketiga. Upaya single parent dalam membentuk
keluarga sakinah.
1. Makna Keluarga Sakinah Bagi Pelaku Single Parent

Seperti yang telah diketahui di awal bahwa makna keluarga sakinah
adalah keluarga yang dibina atas ikatan perkawinan yang sah, mampu
memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang,
diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya
dengan selaras, serasi serta mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai
keimanan, ketakwaan, dan akhlakul karimah dengan baik.

Berdasarkan hasil penelitian, para pelaku single parent sebenarnya
mengetahui makna keluarga sakinah walaupun keadaan pelaku bisa dibilang
keluarga tak utuh. Menurut mereka makna keluarga sakinah adalah keluarga

72

yang aman, nyaman, tentram, damai dan pastinya bahagia. Namun dalam
pembentukannya tidak langsung bisa membentuk keluarga sakinah, mereka
harus mampu beradaptasi dengan kondisi mereka yang tentunya butuh waktu
penyesuaian diri karena memang harus berperan ganda dalam mengurus
rumah tangga dan anak-anak.

Bagi keluarga yang masa pernikahannya masih dibilang sangat muda
atau katakanlah berumah tangga hanya waktu singkat, mereka belum
merasakan sepenuhnya akan keluarga yang bahagia. Jadi makna keluarga
sakinah bagi mereka adalah bahagia. Seperti yang dikatakan Ibu Kholishoh,
menurut dia keluarga sakinah adalah keluarga yang bahagia, walaupun tidak
mengerti hakikat dari makna keluarga sakinah yang sebenarnya. Sebelum
berstatus single parent, keluarganya selalu diliputi konflik yang disebabkan
ketidak cocokan antar pasangan, hal ini yang menyebabkan ibu Kholishoh
kesulitan dalam menguraikan makna keluarga sakinah. Tetapi yang terpenting
adalah tetap berusaha untuk membuat keluarganya bahagia.

Lain halnya dengan keluarga yang usia pernikahannya bisa dibilang
sudah lama, mereka lebih mengetahui makna keluarga sakinah yang
sebenarnya. Walaupun status mereka single parent yang dikarenakan baik
perceraian atau kematian, setidaknya mereka merasakan waktu yang cukup
lama dalam membina keluarga yang utuh.

Sudah sewajarnya pembentukan keluarga sakinah dalam keluarga yang
tidak utuh, dalam hal ini keluarga sakinah yang dibentuk oleh single parent,

73

tidak bisa langsung terbentuk, karena mereka perlu waktu untuk beradaptasi
dengan keadaan keluarganya yang sebelumnya lengkap. Bagi mereka yang
berstatus single parent dengan usia pernikahan mereka yang tergolong lama,
mereka lebih mampu mengarahkan keluarganya untuk beradaptasi dengan
kondisi keluarga mereka yang tidak utuh lagi. Sehingga mereka lebih
mengetahui makna keluarga sakinah dibandingkan dengan keluarga yang usia
pernikahannya pendek. Menurut mereka makna keluarga sakinah adalah
keluarga yang tenang, tentram, nyaman dan bahagia serta didalamnya terdapat
kasih sayang antara anggota keluarga walaupun keluarga mereka sudah tidak
lengkap setidaknya mengetahui peran masing-masing anggota keluarga.

Kalau menurut pengertian keluarga sakinah, maka 32 responden diatas
sudah menjadi keluarga sakinah karena mayoritas mereka sudah mampu
menciptakan suasana kehidupan yang tentram, aktif, asih, asah dan asuh
dalam membina dan mengurus rumah tangga walaupun berstatus single
parent.

2. Hambatan-hambatan yang Dihadapi Pelaku Single Parent
Dari hasil penelitian mengenai keluarga sakinah yang dibentuk oleh single

parent bahwa keluarga sakinah tidak hanya dibentuk oleh keluarga yang utuh,
tetapi keluarga yang tak utuh pun dapat membentuk keluarga sakinah dengan
berbagai metode yang mereka terapkan, seperti 5 informan dan 32 responden
yang berstatus single parent tersebut. Dari hasil penelitian, prosentase janda yang

74

berstatus single parent lebih banyak dibandingkan duda yang berstatus single
parent.

Dalam menghadapi kondisi yang dialami, para informan dan mayoritas
responden sebanyak 22 atau 68,75% dari total responden penulis, lebih
mengutamakan kepentingan mengurus sendiri anak-anak, tidak hanya single
parent janda, tapi mereka yang berpredikat duda pun lebih memprioritaskan anak,
karena seorang single parent menaruh hubungan terpenting pada relasinya yaitu
dengan anak yang diasuhnya. Nilai tertinggi dalam hidupnya jika ia mampu
memberikan semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan oleh anak. Tanggung
jawab orang tua kepada anak adalah memberikan yang terbaik bagi anak, bukan
bagi dirinya sendiri.

Menjadi orang tua tunggal atau single parent dalam sebuah rumah tangga
tentu tidaklah mudah, terlebih yang disebabkan pasangan yang meninggal dunia
atau bercerai. Hasil penelitian penulis, sebanyak 26 atau 81,25% responden
merasa sangat kesepian karena kehilangan pasangannya. Tidak hanya itu, mereka
harus berperan dua sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu harus menjadi
layaknya seorang ayah untuk menafkahi keluarga sekaligus menjadi ibu bagi
anak-anak mereka, serta harus mengemban tanggung jawab mendidik dan
merawat anak sendirian tanpa adanya pasangan.

Dalam penelitian, telah ditemukan bahwa hambatan yang dialami single
parent duda dan janda berbeda dalam menghadapi kondisi mereka, tentunya
tingkatan hambatan yang dialami pelaku single parent sangatlah banyak sekali,

75

sebanyak 23 responden yang mengalami demikian. Walaupun banyak hambatan,
22 atau 68,75% responden berstatus single parent mengurus sendiri anak-anak
mereka. Hanya 10 atau 31, 25% responden yang merawat anak dititipkan bersama
keluarga. Penulis meneliti bahwa, Faktor-faktor yang menjadi hambatan bagi
pelaku single parent dalam membentuk keluarga sakinah adalah karena persoalan
ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, hasil penelitian penulis,
ditemukan sebanyak 14 atau 43,75% responden yang mengalami hambatan
karena factor ekonomi tersebut. Sebanyak 8 atau 25% responden mengalami
kendala yang disebabkan faktor pendidikan anak, hanya 2 atau 6,25% responden
berkendala karena persoalan kebutuhan biologis dan 4 atau 12,5% responden
yang mengalami kendala karena gunjingan masyarakat, juga 4 atau 12,5%
terkendala karena mengurusi anaknya sendiri.

Memang dalam kondisi single parent, ibu lebih mengalami kesulitan
konkret dalam menangani rumah tangga, seperti dalam masalah ekonomi dan
pendidik anak, juga gunjingan dari masyarakat setempat yang biasanya lebih
condong menyorot status wanita yang single parent apalagi karena perceraian.
Sementara bagi ayah, ia mengalami kesulitan dalam taraf berfikir, merenungi
dirinya bagaimana menghadapi situasi demikian yang mungkin sebelumnya tidak
pernah mereka rasakan, seperti harus mencuci, memasak, merawat anak dan
mencari uang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Maka dari pemaparan diatas, penulis berpendapat bahwa, tidak bisa
dipungkiri untuk menjadi seorang single parent pasti mengalami salah satu dari

76

masalah-masalah yang penulis sebutkan diatas, namun mayoritas single parent
yang penulis teliti, setelah putusnya perkawinan, mereka tetap mampu membiyai
hidup sendiri dan mengurus keluarganya.

3. Upaya status Single Parent dalam membentuk keluarga sakinah
Stigma masyarakat mengenai status single parent masih diproyeksikan

sebagai hal yang tabu dan kadang kala masih dianggap sebagai orang dewasa
yang mementingkan dirinya sendiri dan menempatkan kepentingannya dari pada
anak. Namun anggapan demikian sekarang sudah mulai luntur meskipun ada yang
beranggapan demikian tapi hanya sebatas pasca kematian atau perceraian,
sehingga tidak selamanya dicap masyarakat sebagai hal yang negatif hingga
akhirnya mereka peduli dan menerima terhadap keadaan status single parent.

Menjadi single parent mungkin bukan pilihan setiap orang, ada kalanya
status itu disandang karena keadaan terpaksa. Namun dari penelitian, 6 atau
18,75% responden tidak semuanya ingin berstatus single parent untuk selamanya.
Selebihnya, sebanyak 20 atau 62,5% responden tidak mau menikah lagi tetapi
lebih fokus mendidik anak-anak mereka. Menurut informan hal itu dipengaruhi
oleh faktor usia dan faktor kebutuhan. Bagi mereka yang ingin melepas statusnya
untuk menikah lagi, tentunya melalui pertimbangan usia yang masih pantas dan
kebutuhan biologis dan faktor ekonomi keluarga, serta mempertimbangkan karena
faktor anak. seperti yang menjadi pertimbangan bapak Joko Badruddin, yang
memiliki keinginan untuk menikah lagi karena tidak sanggup untuk selamanya

77

menjadi single parent dan anaknya yang masih memerlukan kasih sayang dari
seorang ibu.

Pembentukan keluarga sakinah dalam sebuah keluarga tidak lepas dari
peranan masing-masing suami atau istri dan tentunya dalam sebuah keluarga yang
utuh. Tidak jauh berbeda, status single parent yang kondisinya mulai membaik
atau lebih stabil, pastinya akan beradaptasi dengan keadaanya dan akan
mengarahkan keluarga sesuai dengan metode mereka untuk menjadi keluarga
yang sakinah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi seorang single parent memang
tidaklah mudah. Salah satu persoalannya adalah mengatur waktu antar mencari
nafkah dan mengawasi keseharian anak. Bekerja yang dekat dengan tempat
tinggal juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut,
sehingga orang tua dapat mengawasi anak selama waktu istirahat, hal ini seperti
ibu Halimatus Sa’diyah lakukan, ia memilih pulang pada waktu dhuhur setelah
pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga untuk mengontrol anaknya,
meskipun anak sudah memperoleh pendidikan di sekolah. Tetapi pendidikan
keluarga pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Hal tersebut wajib dilakukan karena hubungan orang tua dengan anaknya
dalam hubungan edukatif mengandung dua unsur dasar, yaitu kasih sayang
kepada anak-anaknya dan tanggung jawab mendidik anak-anaknya. Tanggung
jawab orang tua dalam mengupayakan anak-anaknya adalah merupakan

78

tanggung jawab yang besar dan sangat penting, sebab tanggung jawab itu dimulai
sejak masa kelahiran sampai dewasa yang wajib memikul segala kewajiban.
Dengan demikian, semuanya berarti mengarahkan usahanya untuk membina anak
dengan segala kekhususan dan keistimewaannya.

Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa upaya orang tua adalah
menyiapkan dan membantu anak-anaknya yang belum dewasa menjadi anak
anak yang dewasa dengan kedewasaan yang normatif. Orang tua mengharapkan
anak-anaknya dengan kesadaran dan kerelaaan hati mengikuti aktivitas yang
diprakarsainya, karena dia menyadari bahwa hal itu memang sangat penting
untuk dirinya. Oleh karena itu orang tua harus menjadi orang yang baik dan
benar terlebih dahulu baik menyangkut pemikiran, pemahaman maupun
menyangkut sikap dan perbuatan, sebelum ia memberikan pendidikan terhadap
anak-anaknya. Orang tua harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk
menjadi orang tua yang baik, benar dan bijak. Baru setelah itu, para orang tua
bisa dengan benar dan baik dalam mendidik anak.

Di dalam mendidik anak, tentunya tidak lepas dari sikap komunikasi
terhadap anak yang pastinya komunikasi yang baik dalam hal ini komunikasi
yang disesuaikan dengan usia anak. Kalau usia anak masih belum dewasa
tentunya harus dengan bahasa yang mudah dimengerti anak sekaligus sikap yang
baik. Seperti yang dilakukan para informan dan responden dalam mendidik anak-
anaknya.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data pada bagian sebelumnya, terdapat dua

kesimpulan utama, yaitu;
1. Bahwa upaya single parent atau orang tua tunggal dalam membentuk keluarga

sakinah adalah melalui pendekatan agama, menyisihkan waktu untuk bersama
keluarga, saling terbuka, saling menghargai dan pengertian, kerjasama dan
komunikasi. Namun untuk mencapai hal tersebut pastinya orang tua tunggal
harus mampu berperan ganda yaitu mengatur waktu secara efisien antara
keluarga dan kerja.
2. Sedangkan hambatan-hambatan yang dihadapi single parent dalam
membentuk keluarga sakinah adalah karena faktor ekonomi untuk
menghidupi kehidupan sehari-hari dan untuk pendidikan anak yang kadang
kala sulit bagi pelaku single parent untuk membiayai pendidikan anak-
anaknya. Juga berkenaan kebutuhan biologis bagi pelaku single parent. Tidak
sedikit masyarakat yang memberikan penilaian miring mengenai status single
parent, hal ini berakibat kurang maksimal bagi pelaku single parent untuk
mengurusi rumah tangga dan mendidik anak-anaknya.

79

80

B. Saran
1. Bagi pelaku menjadi seorang single parent tidak lah mudah, sudah pasti ada
resiko dan beban berat yang harus diemban. Oleh karena itu, seorang single
parent harus sadar akan kebutuhan-kebutuhan keluarga, bisa menyesuaikan
diri dan menerima diri sebagai single parent apa adanya dan harus bisa
berperan ganda sebagai kepala rumah tangga untuk memahami dan memenuhi
kebutuhan hidup keluarga dan mengurus pendidikan anak-anak.
2. Berstatus single parent adakalanya datang secara tiba-tiba dan tidak
dikehendaki, baik karena perceraian atau kematian. Oleh karena itu,
masyarakat justru harus peduli dan menerima keadaan status single parent,
jika perlu menjadi pendamping untuk memberi dukungan, karena penilaian
miring dan anggapan tabu terhadap status single parent justru akan
mengucilkan mereka dari kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku :

Ali, Muhammad. Kamus Lengkap Bahasa Modern. Jakarta: Pustaka Amani, tt.

Ashshofa, Burhan. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Asrofi dan Thohir, Muhammad. Keluarga Sakinah Dalam Tradisi Islam Jawa.
Yogyakarta: Arindo Nusa Media, 2006.

BP4. Tuntunan Praktis Rumah Tangga. Surabaya: BP4, 2005.

Dagun, Save M. Psikologi Keluarga. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.

Danuri. Pertambahan Penduduk dan Kehidupan Keluarga. Yogyakarta: LPPK
IKIP, 1976.

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Ilmu Fiqh, jilid II,
cet.II.Jakarta: Departemen Agama, 1984/1985.

Fuaduddin. Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam. Jakarta: LKAJ. SP, 1999.
Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam. Penerjemah Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada, 1991.

Goode, Willian J. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007.

Hasan Basri, Membina Keluarga Sakinah, cet.IV. Jakarta: Pustaka Antara, 1996.

Junaedi, Dedi. Bimbingan Perkawinan Membina Keluarga Sakinah Menurut al-
Qur’an Dan as-Sunnah, cet.I. Jakarta: Akademika Pressindo, 2003.

Poewadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.

Qaimi, Ali. Single Parent Peran Ganda Ibu Dalam Mendidik Anak. Bogor:
Cahaya, 2003.

Soekanto,Sarjono. Pengantar Penelitian Hukum. Yogyakarta: UI-Press, 1986.

Sukandarrumidi. Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002.

Suryasoemirat, Abror. Wanita Single Parent Yang Berhasil. Jakarta: EDSA
Mahkota, 2007.

Sutarmadi, Ahmad. Memberdayakan Keluarga Sakinah Menuju Indonesia 2020,
Surabaya: BP4, 1997.

Takariawan, Cahyadi. Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami, cet.III. Surakarta:
Intermedia, 2001.

Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.

Internet:
http://www.blpost.co.id/blpost cetak/2003/12/28/kl.
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id57-19.
http://www.kompas.com

Nama : Halimatus Sa’diyah
Hari : Sabtu, 11 Juni 2011
Waktu : 07.14 WIB
Tempat : Di rumah Halimatus Sa’diyah
Alamat : Jl. Pelabuhan Rt. 01/02 Gumeng

1. Berapa tahun anda menikah?
Saya menikah selama 25 tahun

2. Apakah anda berstatus single parent dikarenakan kematian atau
perceraian?
Saya berstatus single parent karena kematian mbak.

3. Berapa tahun berstatus single parent?
Sudah lama saya menjadi single parent, kalau di hitung-hitung sekitar 8 tahun
mbak.

4. Bagaimana kondisi keluarga sebelum berstatus single parent?
Keluarga saya dulunya sangat bahagia dan dikaruniai 4 orang anak. Saya hanya
sebagai ibu rumah tangga dan bapak yang kerja. Beliau kerja di proyek sebagai
kuli bangunannya, meskipun mungkin bisa dikatakan hidup pas-pas-an tapi
keluarga saya sangat bahagia, mungkin kalau namanya rumah tangga ya mesti ada
namanya bertengkar mbak tapi masih bisa kami selesaikan dan bapak juga bukan
orang yang ringan tangan. Kita tidak pernah berpisah jauh karena bapak kerjanya
paling jauh di Surabaya.

5. Bagaimana kondisi keluarga setelah berstatus single parent?
Semenjak suami saya meninggal, awalnya saya merasa kehilangan dan berat.
Tidak jauh berbeda dengan keadaan saya, anak-anakpun juga merasa kehilangan,
anak yang terakhir sampai waktu bapaknya meninggal umur 7,5 tahun. Kemudian
yang kakaknya saat setelah kematian ayahnya sempat minder dengan temannya
dan cenderung tertutup

6. Apa saja hambatan yang anda hadapi sebagai seorang single parent?
Hambatan yang paling besar adalah ekonomi mbak, saya harus memberi nafkah
anak-anak sendiri karena dulunya suami saya yang bekerja, tetapi seiring
berjalannya waktu, saya mulai berfikir tidak bisa terus-terusan begini saya harus
bekerja demi anak-anak.

7. Apa makna keluarga sakinah menurut pelaku?
Arti keluarga sakinah menurut saya ya tidak pernah bertengkar, bahagia. Tapi
bukan berarti sama sekali tidak pernah bertengkar lho! Ya terkadang ada
pertengkaran tapi masih bisa diatasi

8. Bagaimana upaya single parent dalam membentuk keluarga sakinah?
Walaupun saya saat ini bekerja saya harus menyempatkan untuk komunikasi
dengan anak-anak, hal ini saya lakukan agar mereka tidak minder, bisa bersikap
terbuka dan setiap mengalami kejadian biar dia cerita yang jelas dia saya ajari
untuk menempatkan keluarganya yang pertama.

9. Apakah bapak/ibu berkeinginan untuk menikah lagi?
Saya sudah mulai terbiasa dengan keadaan saya dan tidak memikirkan untuk
menikah lagi, saya lebih fokus pada anak-anak dulu, lagi pula umur saya juga
tidak pantas untuk menikah lagi mbak.

10. Bagaimana respon masyarakat terhadap status anda yang sebagai single
parent?
Alhamdulillah mbak, respon masyarakat disini terhadap saya dan anak-anak saya
sangatlah baik. Bahkan anak saya yang terakhir mendapat biaya sekolah dari
santunan anak yatim dan disini ada yang namanya HAYA (Himpunan Anak
Yatim.)

Pewawancara Yang diwawancarai
Lailatul Furqoniyah Halimatus Sa’diyah

Nama : Joko Badruddin
Hari : Sabtu, 11 Juni 2011
Waktu : 09.30 WIB
Tempat : Di rumah
Alamat : Jl. Kauman No.5 Rt. 02/04 Gumeng

1. Berapa tahun anda menikah?
Saya menikah hanya sekitar 1,5 tahun saja

2. Apakah anda berstatus single parent dikarenakan kematian atau
perceraian?
Perceraian, mungkin istri saya ninggalin saya karena masalah ekonomi tapi nggak
tahulah mbak, dia juga orangnya pada dasarnya kecentilan.

3. Berapa tahun berstatus single parent?
Sekitar 3 tahun yang lalu saya menjadi seorang single parent

4. Bagaimana kondisi keluarga sebelum berstatus single parent?
Sebenarnya saya tidak menginginkan bercerai karena kita sudah punya 1 anak.
Tetapi menurutnya ekonomi saya kurang bisa diandalkan dan dia sering kali
menuntut lebih dan sudah tidak menghormati saya sebagai suaminya. Apalagi
setelah anak saya lahir pun sikapnya pun sama. Sering sekali kita bertengkar adu
mulut, silang pendapat saja dan sampai akhirnya hubungan perkawinan kita tidak
bisa diselamatkan lagi dan kami memilih untuk bercerai.

5. Bagaimana kondisi keluarga setelah berstatus single parent?
Sekarang saya sendiri yang mengurusi anak saya itu dibantu orang tua sementara
saya kerja. Sedangkan keadaan Irfan saat ditinggal ibunya masih berumur 6 bulan
jadi belum tahu apa-apa, saya kasihan ke dia, sesekali dia menanyakan ibunya
saya bingung menjawab. Tetapi sekarang saya dan anak saya sudah terbiasa,
untungnya anak saya termasuk anak yang cuek jadi dia tidak merasa minder.

6. Apa saja hambatan yang anda hadapi sebagai seorang single parent?
Hambatannya paling membesarkan dan merawat si Irfan tapi dia juga masih kecil
dan belum terlalu membutuhkan uang untuk sekolahnya. Susah lho mbak ternyata
ngurus anak sendiri, meskipun juga ngurusinnya dibantu orang tua.

7. Apa makna keluarga sakinah menurut pelaku?
Saya kurang faham tentang Keluarga Sakinah, yang saya tahu arti keluarga
sakinah ya bahagia, cuman itu.

8. Bagaimana upaya single parent dalam membentuk keluarga sakinah?
Untuk mengatasi kesedihan saya sempatkan untuk selalu menjadi teman mainnya,
untungnya tempat saya kerja tidak jauh jadi tiap jam istirahat saya sempatkan
pulang untuk mengontrol anak saya, walaupun sudah bersama nenek kakeknya.
Tidak jarang kalau libur kerja saya ajak main diluar maksudnya di taman bermain.

9. Apakah bapak/ibu berkeinginan untuk menikah lagi?
Iya mbak, pengen banget saya nikah lagi. Apalagi umur saya juga masih
tergolong masih muda. Berat, kalau sudah menyangkut kebutuhan biologis.
Hehehehehe.

10. Bagaimana respon masyarakat terhadap status anda yang sebagai single
parent?
Responnya biasa lah mbak yang namanya kita ini duda karena bercerai pasti
awal-awal masa perceraian dulu tanggapannya miring, tapi sekarang mereka biasa
saja sama saya.

Pewawancara Yang diwawancarai
Lailatul Furqoniyah Joko Badruddin

Nama : Ahmad Fadhli
Hari : Sabtu, 11 Juni 2011
Waktu : 12.44 WIB
Tempat : Di rumah Ahmad Fadhli
Alamat : Jl. Kauman No. 7 Rt.01/03 Gumeng Bungah Gresik

1. Berapa tahun anda menikah?
34 tahun saya menikah mbak.

2. Apakah anda berstatus single parent dikarenakan kematian atau
perceraian?
Istri saya meninggal dunia

3. Berapa tahun berstatus single parent?
Sudah 10 tahun saya menjadi seorang single parent

4. Bagaimana kondisi keluarga sebelum berstatus single parent?
Sebelum istri saya meninggal, bisa dibilang keluarga kami bahagia. Walaupun
pekerjaan saya hanya sebagai marbot di Masjid ini, tapi alhamdulillah kebutuhan
keluarga masih tercukupi meskipun saya mempunyai 4 orang anak.

5. Bagaimana kondisi keluarga setelah berstatus single parent?
Sejak istri saya meninggal kehidupan keluarga berubah, saya harus mengurusi dan
mendidik anak-anak ya harus mencuci pakaian, memasak dan sebagainya.
Alhadulillah anak saya yang paling sulung sangat tanggung jawab terhadap

keluarga, ia bekerja dan tidak neko-neko. Jadi setidaknya bisa membantu
menghidupi keluarga. Pada saat ibunya meninggal, kondisi anak-anak sempat
berubah, minder, tertutup dan sering menyendiri. Apalagi yang paling bungsu saat
ditinggal ibunya masih berumur 7 setengah tahun, setiap kali dia diajak ibu-ibu
tetangga langsung ikut tidak seperti biasanya disaat ibunya masih hidup mungkin
kangen sama ibunya. Alhamdulillah sekarang saya dan keluarga sudah menerima
dan terbiasa dengan kehidupan saya saat ini. Anak-anak sudah mulai terbuka,
apapun yang dia alami dia ceritakan.
6. Apa saja hambatan yang anda hadapi sebagai seorang single parent?
Saya harus bisa menempatkan saya artinya saya harus bisa berperan ganda.
Kadang saya harus berperan sebagai seorang ibu ya harus masak, mencuci, dan
merawat anak-anak. Disatu sisi saya harus berperan sebagai seorang ayah yang
harus mencari nafkah untuk anak-anaknya.
7. Apa makna keluarga sakinah menurut pelaku?
Keluarga sakinah itu ya keluarga yang bahagia, tentram, dan yang namanya
rumah tangga pasti ada selisih faham diantara pasangan suami istri itu tapi
mereka harus bisa untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan sebaik-
baiknya, juga masing-masing pasangan harus saling menghormati.
8. Bagaimana upaya single parent dalam membentuk keluarga sakinah?
Yang jelas saya selalu memperhatikan mereka (anak-anak), ya seperti
kesehatannya dan pastinya komunikasi. Alhamdulillah anak-anak saya penurut
dan tidak neko-neko. Selalu saya ajarkan kerjasama dan saling membantu dengan

pembagian tugas. Sampai saat ini saya belum memikirkan tentang pernikahan,
saya belum tahu yamg jelas anak-anak yang saya utamakan.
9. Apakah bapak/ibu berkeinginan untuk menikah lagi?
Tidak mbak, saya sudah bahagia dengan keadaan saya sekarang. Yang terpenting
anak-anak saya bahagia.
10. Bagaimana respon masyarakat terhadap status anda yang sebagai single
parent?
Baik, rasa bertetangga mereka erat. Awal-awal saya sebagai duda, kadang kala
mereka mengirimi saya dan anak-anak makanan. Alhamdulillah. Hehehe.

Pewawancara Yang diwawancarai
Lailatul Furqoniyah Ahmad Fadhli


Click to View FlipBook Version