e-Modul 3
KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN
_____________________________________________
Nur Anisa
Dewi Endah Nur’Aini
Lailatus Sangadah
A. Pengantar
Berbicara tentang pendidikan, sudah barang tentu ada banyak hal yang perlu
diperhatikan. Berhadapan dengan anak dalam jumlah yang banyak membutuhkan
strategi khusus untuk menanganinya. Terlebih lagi, anak datang dari berbagai macam
latar belakang mulai dari perbedaan kognitif, letak geografis, kondisi sosial, dan
budaya yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Inilah yang dinamakan
dengan diferensiasi anak. Keberagaman ini akan menjadi tantangan bagi para guru
untuk selalu memperhatikan setiap kebutuhan dan potensi anak. Intensitas perhatian
yang diberikan juga akan berpengaruh terhadap cara pandang dan minat belajar anak.
Guru yang memberikan kesan positif kepada anak, akan lebih mudah mengenali
potensi dan harapan anak, sehingga mengerti bagaiamana tindakan yang harus
dilakukan.
Selain memberikan perhatian, guru juga harus menunjukkan keahlian dan
profesionalitasnya baik saat pelajaran di kelas maupun kegiatan di luar kelas yang
memungkinkan guru dengan anak bertemu. Guru sebagai suri tauladan, dan anak
adalah seorang duplikator ulung. Perilaku guru akan menentukan bagaimana cara
pandang anak terhadap figur panutan dan esensi pendidikan.
Tidak hanya kemampuan memahami anak saja, guru juga harus memiliki keahlian
dalam menyampaikan materi. Maka dari itu, manajemen strategi pembelajaran
merupakan modal penting untuk memastikan anak dapat mengikuti pembelajaran
dengan mudah. Tidak hanya itu saja, guru juga harus pandai-pandai memilih strategi
pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Jika tidak, maka akan terjadi
kontradiktif antara guru dengan anak. Misalnya, guru yang dihadapkan dengan anak
yang hiperaktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, namun guru mengajar mereka
dengan metode ceramah dan mengerjakan tugas-tugas. Maka, anak tidak akan tertarik
mengikuti pembelajaran karena merasa bosan dan akan mematikan kreatifitas anak,
karena pada dasarnya strategi pembelajaran dirancang untuk mewujudkan anak yang
aktif, kreatif, mandiri, memiliki kemampuan analisis tinggi dan mampu mengatasi
masalah yang dihadapi.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan strategi pembelajaran
untuk mengakomodasi anak yang berdiferensiasi menurut Maryam, S.A., (2021) yaitu
1) diferensiasi konten yakni memetakan kebutuhan anak beradasarkan kemampuan IQ,
tingkat pemahaman dan keterampilan yang dimiliki anak, dan minat anak terhadap
materi pembelajaran, 2) diferensiasi proses, yakni dengan memepertimbangkan apakah
anak dapat belajar secara mandiri atau berkelompok, sekaligus memetakan anak mana
yang membutuhkan pendampingan khusus dari guru, 3) diferensiasi produk, yakni
luaran dari kegiatan belajar anak untuk menentukan assesmen ketercapaian tujuan
pembelajaran. Luaran ini dapat berupa hasta karya, penemuan-penemuan baru, strategi
pemecahan masalah, kemampuan bercerita, dan lain sebagaianya yang berhubungan
dengan tema yang diajarkan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran sangat
berpengaruh terhadap tingkat penerimaan dan prestasi anak. Dengan demikian, guru
diperkenankan untuk menggunakan lebih dari satu metode untuk memastikan anak
dapat menerima dengan baik.
B. Petunjuk
Strategi pembelajaran diperlukan untuk memudahkan guru ketika mengajar dan
membantu anak memahami konsep pembelajaran dengan mudah. Oleh karena itu
strategi pembelajaran menduduki posisi yang sangat penting untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang optimal. Sehubungan dengan itu, maka lakukanlah kegiatan
berikut:
20
1. Bacalah stimulan materi berikut dengan cermat, dan lakukan analisis terkait
fenomena sehari-hari.
2. Kerjakanlah tugas-tugas yang mengikuti sebagai bentuk implementasi dari
penguasaan Anda terhadap materi yang telah dipelajari
3. Berlatihlah mengerjakan soal-soal latihan secara mandiri yang telah disediakan.
C. Tujuan
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan pembaca mampu memiliki kompetensi
sebagai berikut.
1. Menjelaskan hakikat strategi pembelajaran untuk anak usia dini
2. Mengidentifikasi landasan teori strategi pembelajaran untuk anak usia dini
3. Menyimpulkan karakteristik strategi pembelajaran untuk anak usia dini
4. Mengimplementasikan prinsip-prinsip dalam merancang strategi pembelajaran
untuk anak usia dini
5. Membuat kesimpulan mengenai trend strategi pembelajaran abad 21 untuk anak
usia dini.
D. Kegiatan Belajar
1. Pendalaman Materi
a. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari bahasa latin strategia yang berarti seni menggunakan
rencana guna mencapai tujuan. Pada mulanya, istilah strategi digunakan
dikalangan militer yang berhubungan dengan cara untuk mengidentifikasi,
melakukan navigasi, dan perlawanan terhadap musuh (Asrori, 2016). Strategi ini
diperlukan untuk menganalisis segala kemungkinan yang akan dihadapi sekaligus
mencari jalan keluar. Penentuan strategi harus didahului dengan mengidentifikasi
masalah, jumlah personil, keadaan musuh, keadaan lapangan, kekuatan senjata,
dan teknik perlawanan. Namun, dewasa ini istilah strategi banyak digunakan
dalam kajian ilmu-ilmu lain, termasuk ilmu pendidikan. Dalam bidang ini, strategi
pembelajaran didefinisikan sebagai rangkaian pola mengajar yang digunakan oleh
guru ketika mengajar anak dari awal hingga akhir pembelajaran (Sutama, 2019).
Berdasarkan definisi tersebut, maka seorang guru harus pandai-pandai
memilih strategi yang tepat sebelum mengajar. Pemilihan strategi ini harus
disesuaikan dengan tingkatan anak, capaian kompetensi, kebutuhan dan minat
anak. Pertimbangan ini penting dilakukan untuk mengetahui kondisi anak
sehingga mudah untuk mewujudkan tujuan belajar yang efektif dan efisien.
Tidak hanya menyusun rancangan pembelajaran yang ideal, guru juga harus
memperhatikan esensi dari pendidikan tersebut. Saat ini, implementasi kurikulum
2013 diarahkan pada pengembangan sikap, wawasan, dan keterampilan.
Pembentukan sikap diarahkan untuk membangun kemampuan fungsi eksekutif
yang ditandai dengan (1) kemampuan memori kerja otak untuk mengatur,
kemampuan mempertahankan, dan mengelola informasi dalam waktu yang
singkat, (2) fleksibilitas mental yang membantu mempertahankan respon dari
tuntutan yang berbeda dalam waktu yang singkat, (3) kontrol diri dalam hal
menentukan prioritas (Sutama, 2019). Pengembangan wawasan bertujuan untuk
membangun kecakapan berifikir tingkat tinggi pada anak. Pengembangan
keterampilan bertujuan untuk membentuk kecakapan anak dalam berfikir analisis,
logis, dan kreatif dalam memecahkan masalah (Sutama, 2019).
Gerlach & Ely dalam (Darmansyah, 2012) menjelaskan bahwa strategi
pembelajaran merupakan cara yang digunakan dalam lingkup pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran yang meliputi sifat, ruang lingkup, dan rangkaian
kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat
diartikan sebagai rangkaian aktivitas anak ketika belajar dan aktivitas guru ketika
mengajar (Prisma et al., n.d.). Dalam hal ini, strategi pembelajaran telah dirancang
dengan runut setiap tahap aktivitasnya yang ditulis dalam bentuk rancangan
pembelajaran (RPP).
Anitah (2010) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran mengacu pada: (a)
Strategi utama merupakan cara yang digunakan untuk memahami materi
pembelajaran dengan mudah. (2) Strategi kognitif dan metkognitif. Strategi
22
kognitif merupakan cara yang digunakan untuk mengingat dan memahami materi
dalam jangka waktu yang lama. Strategi metakognitif merupakan usaha secara
sadar yang bertujuan untuk monitotring anak selama proses pembelajaran
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
strategi pembelajaran merupakan aktivitas yang dilakukan oleh guru ketika
mengajar di kelas. Di dalamnya memuat model, metode, dan teknik pembelajaran
yang bertujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan optimal.
b. Landasan Teori Strategi Pembelajaran
Anitah (2010) mengemukakan ada tiga landasan teori untuk merancang
strategi pembelajaran yaitu sebagai berikut. (a) Konsep belajar bermakna dari
Ausubel. (b) Discovery Learning dari Bruner. (c) Peristiwa belajar menurut Gagne.
Agar lebih memahami ketiga landasan teori untuk merancang strategi
pembelajaran, berikut uraiannya.
Konsep belajar bermakna menitiberatkan interaksi aktif antara guru dengan
anak untuk membangun pemahaman secara runut atau disebut dengan meaningfull
verbal learning. Model Ausubel ini menekankan ekspositori dalam menyampaikan
materi. Guru menjelaskan secara eksplisit konsep secara umum, penjelasan materi,
dan langkah-langkah pegerjaan tugas. Model ini mengajarkan anak untuk
memahami konsep secara matang sebelum melakukan uji coba dan mengatasi
masalah. Guru menggunakan strategi advance organizer (pemandu awal) untuk
membangkitkan skema pemahaman anak dan menggali pengetahuan yang telah
dimilki sebagai kerangka memahami informasi. Advance organizer ini dapat
diterapkan pada bidang studi apapun.
Teori Bruner ini mengasumsikan bahwa belajar akan lebih efektif apabila anak
menemukan sendiri konsepnya. Menurut Bruner, kegiatan ini dapat mengasah
kemampuan berfikir kritis dan membangkitkan semangat belajar anak. Adapun
kegiatan yang dapat dilakukan yaitu melakukan eksperimen-eksperimen, kemudian
mengamati hal-hal baru yang terjadi, dan mendeskripsikan sebab akibat dari
kejadian tersebut. Kegiatan ini dapat melatih kecerdasan intuitif anak.
Gagne mengembangkan tahapan belajar sebagai berikut. (1) Menumbuhkan
semangat untuk menarik perhatian anak. (2) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
(3) Menyampaikan pengetahuan awal. (4) Memberikan stimulus kepada anak. (5)
Membimbing anak belajar. (6) Menerima respon anak. (7) Memberikan balikan
terhadap respon anak. (8) Melakukan assesmen. (9) Memberikan penguatan
pemahaman anak.
c. Kriteria untuk Mengembangkan Strategi Pembelanjaran
Pengembangan strategi pembelajaran sebaiknya memperhatikan beberapa
kriteria, di antaranya adalah sebagai berikut. (a) Kriteria tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran hendaknya mencakup perkembangan anak dari segi kognitif,
psikomotorik, sosial emosional, bahasa, seni, dan moral anak. (b) Karakteristik
anak. Guru hendaknya membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan usia
dan tingkat pemahaman anak, termasuk juga belajar kelompok atau individu.
Analisis ini sebagai modal awal guru untuk memahami karakter anak sehingga akan
memudahakan merancang pembelajaran. (c) Karakteristik tempat. Tempat belajar
akan menentukan ketepatan dengan materi pembelajaran yang akan berpengaruh
terhadap semangat anak. Belajar dapat dilakukan di dalam ruangan maupun di luar
ruangan sesuai dengan konteks pembelajaran. Misalnya, guru akan mengajak anak
bermain estafet air, maka tempat yang cocok adalah di luar ruangan untuk
menghindari lantai basah yang membahayakan guru dan anak. (d) Karakteristik
tema dan media pembelajaran. Sebelum bertemu anak, guru hendaknya menelaah
terlebih dahulu materi yang akan disampaikan, kemudian menyiapkan media
pembelajaran yang diperlukan. Media ini akan membantu anak memahami materi
dengan mudah dan membangkitkan semangat anak karena pembelajaran tidak
monoton. (e) Karakteristik pola belajar yang akan digunakan ketika mengajar. Guru
harus memikirkan bagaimana cara menggunakan media pembelajaran agar materi
dapat tersampaikan dan anak mampu memahami materi dengan baik. Instruksi
yang jelas akan menentukan kualitas tugas anak.
24
d. Prinsip-prinsip Strategi Pembelajaran
Untuk mewujudkan tujuan belajar yang optimal, ada beberapa prinsip yang
harus diperhatikan ketika merancang strategi pembelajaran di antaranya adalah
sebagai berikut: (a) berorientasi pada kompetensi yang hendak dicapai, (b)
aktivitas, (c) individualistis, (d) integritas, (e) interaktif dan menyenangkan, dan
(f) menantang.
Pembelajaran merupakan aktivitas yang memiliki tujuan tertentu. Oleh karena
itu, guru harus memikirkan terlebih dahulu tujuan dari pembelajaran yang akan
dilakakukan. Selain itu, guru juga harus memerhatikan esensi dari pendidikan agar
materi yang disampaikan tidak hanya sekedar teori saja, tetapi juga bermanfaat
bagi kehidupan sehari-hari anak. Suatu pembelajaran akan dianggap berhasil
apabila telah mencapai tujuan yang diinginkan. Maka dari itu, guru harus yakin
dalam menentukan tujuan pembelajaran sebelum memberikan pelayanan
berkualitas untuk anak.
Aktivitas belajar bukan hanya semata-mata untuk mengetahui dan
mengahafal teori saja, melainkan proses menggali pengalaman melalui berbagai
aktivitas yang memungkinkan anak untuk berpikir analistis dan problem solving.
Maka dari itu, diperlukan konsep pembelajaran kontekstual untuk menumbuhkan
long term memory sekaligus kecakapan berpikir tingkat tinggi pada anak.
Orientasi pembelajaran berpusat pada pengembangan individu anak. Semakin
tinggi standart komptensi yang ditetapkan guru, maka akan semakin tinggi kualitas
anak. Belajar bukan hanya menampung infomasi dari berbagai sumber kemudian
mengingatnya untuk menjawab soal ujian. Strategi pembelajaran yang
berintegritas adalah yang mencakup enam aspek perkembangan yakni kognitif,
psikomotorik, bahasa, seni, nilai agama dan moral, serta sosial dan emosional
anak.
Salah satu trend pembelajaran yang sedang digencarakan sekarang adalah
pendidikan karakter. Dalam hal ini, pembelajaran anak tidak hanya untuk
meningkatkan intelegensi saja, tetapi juga mengajarkan anak untuk bersikap jujur,
sopan santun, tanggung jawab, dan tenggang rasa.
Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 bab IV pasal 19 menjelaskan
bahwa proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, dan memotivasi anak didik untuk berpartisipasi aktif,
berprakarasa, kreatif, mandiri sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik
serta psikologis anak.
Mengajar bukan sekedar transfer informasi dari guru kepada anak, melainkan
di dalamnya harus ada interaksi aktif antara guru dengan anak atau anak dengan
anak. Aktivitas ini akan melatih mental sekaligus jiwa sosial anak. Guru
semaksimal mungkin membangun kedekatan dengan anak agar anak merasa
nyaman.
Belajar juga termasuk mengatur lingkungan kelas, penataan tempat duduk
dan penataan anak agar tercipta kondisi menyenangkan dan tidak menegangkan.
Manajemen ini penting dilakukan untuk memastikan anak benar-benar nyaman
sehingga mudah menerima materi pembelajaran.
Menantang memiliki arti bahwa pembelajaran harus memancing anak
berpikir kritis dan kreatif untuk menstimulus kerja otak secara maksimal.
Pembelajaran yang menantang bagi anak dapat dilakukan melalui pengamatan dan
eksperimen yang memungkinan anak bereksplorasi dan menemukan suatu konsep
baru.
e. Pentingnya Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran tidak akan jauh dari kehidupan guru. Meskipun tidak
dinyatakan secara tertulis, namun secara tidak langsung guru telah menggunakan
strategi yang dirancang secara autodidak selama mengajar. Hal ini dapat terjadi
karena guru melihat situasi pelajar di dalam kelas sehingga guru harus sekreatif
mungkin untuk mengelola kelas dan anak. Hal ini tentunya akan berlanjut ke
pertanyaan apakah strategi pembelajaran akan menjamin keberhasilan dalam
belajar?
26
Perlu diketahui bahwa ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan
belajar. Termasuk didalamnya tenaga pendidik, kurikulum, anak, psikologi guru
dan anak, manajemen kelas dan masih banyak lagi. Akan tetapi, strategi
pembelajaran sebagai salah satu cara terstruktur yang dibuat guna menunjang
tujuan pembelajaran, karena di dalamnya memuat model, metode, dan teknik
pembelajaran. Lingkup kajian yang begitu luas ini memposisikan strategi
pembelajaran sebagai hal krusial yang harus ada dalam pendidikan.
Pendapat ini sesuai dengan pernyataan Weinstein dan Mayer di Wittrock
(dalam Darmansyah, 2012) yang menjelaskan bahwa pendidik harus pandai
memilih strategi pembelajaran. Pemilihan strategi yang tepat akan membantu anak
dalam memeroleh rentetan informasi, mengolah informasi, memetakan masalah,
dan menemukan suatu konsep baru sehingga akan berpengaruh terhadap
kebermaknaan belajar. Ia juga mengatakan bahwa mengajar yang baik adalah
bagaimana memudahkan anak untuk mendapatkan long term memory, kecakapan
berpikir, mengaitkan materi belajar dengan kehidupan sehari-hari dan memotivasi
diri sendiri untuk belajar.
Kegiatan belajar akan terjadi jika anak memperoleh informasi baru baik yang
didapatkan dari guru maupun hasil aktivitas mandiri dan dapat menggunakannya
dalam kehidupan sehari-hari jika diperlukan.
f. Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini Abad 21
Perkembangan IPTEKS di era digital ini menuntut adanya reorientasi dalam
pembelajaran, termasuk untuk anak usia dini. Pembelajaran harus mampu
mengubah mindset capaian perkembangan anak melalui pembelajaran dari yang
lower order menuju ke higher order thinking skills. Hal ini agar anak memiliki
kesiapan dalam beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan IPTEKS yang
sangat cepat. Tuntutan perkembangan IPTEKS yang begitu cepat membawa
konsekwensi pada perubahan mindset penbelajaran. Reorientasi pembelajaran
bukanlah pada proses menghafal fakta, tetapi mengarah pada keterampilan
berpikir yang lebih tinggi (higher order thinking skills).
Keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), adalah sebuah konsep reformasi
pendidikan yang didasarkan pada taksonomi pembelajaran (seperti taksonomi
Bloom). Idenya adalah bahwa beberapa jenis pembelajaran membutuhkan lebih
banyak pemrosesan kognitif dari pada yang lain, tetapi juga memiliki manfaat
yang lebih umum. Dalam taksonomi Bloom misalnya, keterampilan yang
melibatkan analisis, evaluasi, dan sintesis (penciptaan pengetahuan baru)
dianggap memiliki tingkat yang lebih tinggi dari pada pembelajaran fakta dan
konsep yang memerlukan metode pembelajaran dan pengajaran yang berbeda.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Thomas dan Thorne 2009) bahwa berpikir
tingkat tinggi melibatkan pembelajaran keterampilan menghakimi yang kompleks
seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah. Berpikir tingkat tinggi lebih sulit
untuk dipelajari atau diajarkan tetapi juga lebih berharga karena keterampilan
seperti itu lebih mungkin digunakan dalam situasi baru (yaitu, situasi selain
keterampilan itu dipelajari).
Pemikiran tingkat tinggi melibatkan pembelajaran keterampilan penilaian
yang kompleks seperti pemikiran kritis dan pemecahan masalah. Pemikiran
tingkat tinggi lebih sulit untuk dipelajari atau diajarkan tetapi juga lebih berharga
karena keterampilan seperti itu lebih mungkin digunakan dalam situasi baru (yaitu,
situasi selain yang dipelajari ketika keterampilan itu dipelajari).
Sementara Lewis A (1993) mengemukakan bahwa Higher Order Thinking
terjadi ketika seseorang mencari informasi baru dengan cara menggali informasi
melalui pengalamannya yang tersimpan dalam memorinya sehingga dapat
mengatur ulang dan memperluas informasi baru untuk mencapai tujuan atau
menemukan kemungkinan jawaban dalam situasi yang membingungkan. Higher
Order Thinking meliputi pemikiran kritis, pemikiran logis, reflektif, metakognitif,
dan berpikir kreatif (King, Goodson 2000). Pemikiran kritis, pemikiran logis,
reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif diaktifkan saat individu menghadapi
permasalah yang tidak biasa, terdapat ketidakpastian, memunculkan berbagai
pertanyaan, atau membuat dilema. Higher Order Thinking menghasilkan suatu
keputusan yang telah dihasilkan melalui pengetahuan yang tersedia atau
28
pengalaman yang dimilikinya. Urutan atau tingkatan paling rendah dalam Higher
Order Thinking yaitu: diskriminasi, penerapan sederhana dan analisis, serta
strategi kognitif yang dikaikan dengan pengetahuan sebelumnya tentang konten
materi pelajaran.
King, Goodson (2000) berpendapat bahwa terdapat beberapa konsep utama
yang relevan dengan proses berpikir tingkat tinggi harus diikuti, berdasarkan tiga
asumsi tentang berpikir dan belajar. Pertama, tingkat berpikir tidak dapat
dipisahkan dari tingkat pembelajaran; mereka melibatkan interdependen, beberapa
komponen dan tingkat. Kedua, apakah berpikir dapat dipelajari atau tidak tanpa
isi materi pelajaran hanyalah titik teoretis. Dalam kehidupan nyata, anak akan
mempelajari konten dalam pengalaman komunitas dan sekolah, tidak peduli apa
yang disimpulkan oleh para ahli teori, dan konsep serta kosa kata yang mereka
pelajari di tahun sebelumnya akan membantu mereka mempelajari keterampilan
berpikir tingkat tinggi dan konten baru di tahun mendatang. Ketiga, berpikir
tingkat tinggi melibatkan berbagai proses berpikir yang diterapkan pada situasi
kompleks dan memiliki banyak variabel
Pendapat di atas menjelaskan terkait dengan beberapa konsep utama yang
relevan dengan proses Higher Order Thinking berdasarkan pada tiga asumsi
tentang berpikir dan belajar, yaitu: pertama, tingkat berpikir tidak bisa terlepas
dari tingkat pembelajaran; tingkat berpikir dan pembelajaran saling
ketergantungan dan melibatkan beberapa komponen; kedua, berpikir bisa
dipelajari tanpa konten materi pelajaran hanya sebuah titik teoritis yang dalam
kehidupan nyata ditunjukkan saat anak akan belajar suatu konten baik di
masyarakat maupun pengalaman di sekolah, hal tersebut akan membantu anak
untuk mempelajari keterampilan Higher Order Thinking dan konten baru di masa
mendatang; ketiga, Higher Order Thinking melibatkan berbagai proses berpikir
yang diterapkan pada situasi yang kompleks dan memiliki banyak variabel.
Proses Higher Order Thinking meliputi lima unsur, yaitu: keterampilan
memecahkan masalah (problem solving), keterampilan bertanya (inquiry skills),
kemampuan bernalar (reasoning skills), keterampilan berkomunikasi
(communication skills) dan keterampilan konseptualisasi (conseptualizing skills).
Unsur-unsur tersebut saling terkait satu sama lain sehingga merupakan cara
mendasar dalam belajar matematika (Elena Bodrova, Deborah J. Leong 2010).
Berpikir dan menggunakan pengetahuan matematika dianggap penting dalam
pendidikan matematika. Akan tetapi banyak ditemukan permasalahan anak dalam
belajar matematika berasal dari kelemahan mereka dalam satu atau lebih
keterampilan tersebut. Anak-anak diharapkan dapat meningkatkan pengembangan
keterampilan Higher Order Thinking dan menggunakannya untuk membangun
pengetahuan matematisnya agar dapat dipergunakan dalam menjalani
kehidupannya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Higher
Order Thinking merupakan suatu proses berpikir mendalam yang meliputi
keterampilan berpikir kritis, berpikir inovatif dan kreatif, keterampilan dalam
melakukan kolaborasi/networking dan keterampilan mengkomunikasikan.
Keterampilan berpikir kritis ditandai dengan kemampuan mempertanyakan,
membandingkan, menganalisis dan menilai/mengevaluasi. Keterampilan berpikir
inovatif dan kreatif ditandai dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
baru, memiliki strategi pemecahan masalah secara multi cara. Keterampilan
kolaborasi ditandai dengan kemampuan bekerja sama dan membangun jejaring
dalam memecahkan masalah. Keterampilan mengkomunikasikan ditandai dengan
kemampuan anak dalam menyampaikan ide, gagasan, informasi secara efektif
melalui berbagai cara.
Belakangan ini, konsep higher order thinking skills tidak hanya fokus pada
keterampilan berpikir, tetapi mengarah juga pada ranah perkembangan lainnya
yaitu afektif dan psikomotor. Pada ranah afektif, capaian perkembangan meliputi
5 tahap yaitu menerima, merespon, menilai, mengorganisasikan/
menginternalisasikan dan yang tertinggi adalah aktualisasi. Sementara pada ranah
30
psikomotor juga terdiri dari lima tahapan mulai dari mempertanyakan, melakukan
eksperimen, mengasosiasikan sampai pada keterampilan mengkomunikasikan.
Gambar 3.1. Taxonomi Bloom (Nesbit 2007)
Ketiga ranah tersebut dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan
tujuan/indikator capaian perkembangan anak dengan mengadopsi kata kerja
operassional pada masing-masing tahap. Hal ini sangat urgen dilakukan, agar guru
memiliki acuan dalam mengembangkan tujuan, materi, kegiatan dan evaluasi
pembelajaran. Semakin tinggi capaian perkembangan anak pada masing-masing
ranah tersebut, maka upaya untuk mengembangkan higher order thinking skills
akan mudah diakomodasi dalam pembelajaran sehari-hari.
Tantangan bagi pendidik PAUD di era digital ini adalah bagaimana
menyesuaikan layanan kepada anak agar sesuai dengan kompetensi abad 21 dan
era sosial 5.0. Layanan PAUD diharapkan dapat memicu potensi dan kemampuan
anak dalam hal kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kreativitas
dan inovasi kolaborasi dan membangun jejaring serta berkomunikasi (Kemdikbud
2017). Sementara kompetensi yang signifikan dikembangkan pada anak di era
sosial 5.0 meliputi: (a) pemecahan masalah dan penciptaan nilai (b) perbedaan, (c)
desentralisasi, (d) ketahanan, (e) pendidikan keberlanjutan dengan teknologi &
harmoni dengan lingkungan. Hal ini dapat dicapai jika sejak dini anak dilatih dan
dibiasakan menggunakan higher order thinking skills dalam kehidupan mereka
sehari-hari, (Faulinda, Nastiti, 2020).
Jadi dalam hal ini, ada upaya agar manusia tidak terjajah oleh teknologi
buatan manusia itu sendiri, tetapi bagaimana menyeimbangkannya dan bahkan
termasuk pada lingkungan.
Gambar 3.2. HOTS dan Kompetensi Abad 21 (Sutama doc).
Perkembangan IPTEKS yang semakin cepat berdampak pada kehidupan
sosial masyarakat. Dampak positif yang ditimbulkan adalah: (1) munculnya model
bisnis, pekerjaan dan profesi-profesi baru, (2) menjadi solusi terbaik untuk
menghasilkan produk. Dampak negatif trend society 5.0 ini yaitu: (1) banyak jenis
pekerjaan dan profesi lama yang hilang (2) lingkungan yang terancam, (3)
terdistorsinya para SDM yang tidak unggul, berkompeten serta kemampuan
beradaptasi lemah. Pola bisnis baru bukan lagi dilakukan secara langsung, tetapi
lebih banyak mengandalkan perangkat dan jaringan media sosial. Oleh karena itu,
lapangan pekerjaan yang dulu ada, sekarang sudah passing out. Contoh: bisnis
warung telepon yang sempat jaya tahun 90 an, sekarang sudah menghilang.
Tukang foto keliling sudah beralih ke swafoto, dan bahkan mungkin lapangan
pekerjaan yang sekarang ada, pada era berikutnya sudah tidak ada lagi. Hal ini
tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik dalam menyiapkan generasi
muda agar bisa beradaptasi dan eksis di masa yang akan datang. Pendidik harus
menyiapkan anak untuk hidup mandiri pada 20 tahun yang akan datang. Pendidik
anak usia dini, memiliki wawasan yang luas dan mendalam mengenai trend
perkembangan yang jauh ke depan. Jadi kemampuan memprediksi masa depan
32
menjadi bagian integral bagi guru, agar dapat memberikan layanan prima pada
anak.
Dengan mengacu pada hal tersebut, yang bisa disiapkan dan difasilitasi adalah
kompetensi-kompetensi yang dapat memberikan kesiapan pada anak untuk
berhadapan dengan perubahan yang sangat pesat. Faulinda, dkk.(2020)
mengemukakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki di abad 21 ini meliputi:
leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence,
enterpreneurship, global citizenship, problem solving, team-working.
Leadership merupakan kemampuan untuk berani mengambil keputusan kuat
terhadap tantangan dan siap dalam situasi apapun. Pemimpin harus mampu
melakukan analisis terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang
ada dan akan dihadapinya bersama tim kerjanya.
Digital literacy menekankan pada kemampuan untuk menguasaai dan terbiasa
dengan teknologi digital, bukan hanya sebagai pengguna tetapi justru produktif di
bidang digital. Berhadapan dengan big data, sudah menjadi menu sehari-hari. Oleh
karena itu melek teknologi informasi sudah menjadi suatu keharusan dalam
kehidupan sehari-hari.
Communication menekankan pada kemampuan berkomunikasi secara multi
bahasa. Hal ini diperlukan, karena sekat-sekat antar bangsa dan negara sudah
sangat transparan dan mengglobal. Penguasaan multi bahasa akan memudahkan
kita dalam menyampaikan ide, gagasan dan bahkan produk inovatif secara luas.
Komunikasi bukan hanya pada penguasaan terhadap berbagai Bahasa, namun juga
terkait dengan kemampuan anak menyampaikan ide dan gagasannya dengan
kalimat yang terstruktur dan disampaikan secara sistematis, sehingga orang yang
mendengarkan menjadi lebih mudah memahami maksud dari apa yang
disampaikan oleh anak. Kemampuan ini juga dapat mengindikasikan kecerdasan
dalam berbahasa serta kepercayaan diri pada anak.
Emotional intelligence mengarah pada bagaimana kita dapat mengendalikan
dan mengelola diri agar tetap eksis dalam pergaulan global, tanpa meninggalkan
karakteristik internal kepribadian. Hidup dalam kebhinekaan menjadi sesuatu
fenomena dan harus segera melepaskan ekslusivitas dan ego sektoral.
Enterpreneurship menekankan pada prinsip kewirausahaan. Sikap hidup
kewirausahaan bukanlah semata-mata berbisnis praktis, tetapi memiliki jiwa
kewirausaan. Sikap hidup yang dimaksud adalah bersifat inovatif, suka bermain
dan bereksperimen dengan ide-ide, kreatif, dan suka pada tantangan.
Global citizenship mengarah pada bagaimana menjadi warga dunia yang
baik. Warga dunia yang adaptif tanpa meningkalkan budaya dan kearifan lokal.
Sebagai warga dunia, harus dapat bersosialisasi, menghargai perbedaan,
membangun jaringan kerja (networking), bekerjasama dan mematuhi aturan
bersama. Dalam hal ini dinamika bermasyarakat secara global harus tetap dijaga.
Problem solving merupakan kompetensi untuk berpikir kritis dan mampu
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Anak dibiasakan untuk
terbiasa memecahkan masalahnya sendiri mulai dari yang sederhana sampai pada
masalah yang lebih kompleks. Sebagai pemecah masalah, kemampuan untuk
mengidentifikasi masalah, melakukan analisis masalah, menemukan alaternatif
pemecahan masalah dan mengambil keputusan untuk memilih dan menentukan
strategi pemecahan masalah yang rasional.
Team-working, merupakan kemampuan untuk membangun jaringan kerja,
dan bekerjasama dalam suatu tim kerja yang kohesif dalam menyelesaikan suatu
permasalahan atau proyek. Kekompakan dalam kerja tim menjadi sesuatu yang
sangat penting dikembangkan, karena ke depan tidak bisa lagi bekerja secara
ekslusif-individualis tetapi memerlukan kolaborasi dan jaringan kerja yang luas
bahkan lintas negara. Oleh karena itu pengembangan wawasan global perlu
dikembangkan sejak usia dini tetapi tetap berbasis pada kearifan lokal.
Tantangan baru ini tentu berimbas pada penyelenggaraan pendidikan anak
usia dini. Guru akan berhadapan dengan “smart society), sehingga bentuk
layanannya akan berubah dan harus meninggalkan zona nyamannya selama ini,
baik mulai dari segi perencanaan, pelaksanaan pembelajaran sampai pada
evaluasi. Guru harus berupaya agar anak usia dini memiliki prospek dan
34
kemampuan beradaptasi serta memiliki eksistensi ke depan. Oleh karena itu sejak
usia dini, anak diberi peluang untuk mengembangkan berbagai kompetensinya
melalui open ended play.
g. Pembelajaran Berbasis Open Ended Play untuk Anak Usia Dini
Bermain merupakan strategi utama dalam pembelajaran untuk anak usia dini.
Melalui pengalaman anak usia dini anak-anak, ketika otak berkembang pesat, anak
memiliki kesempatan terbaik untuk mendukung pengembangan keterampilan
hidup yang kritis ini. Sejak lahir hingga usia 5 tahun, otak anak-anak secara harfiah
membentuk jaringan sinapsis kompleks yang bertahan sepanjang hidup mereka,
dan sangat mempengaruhi kinerja sosial, emosional, fisik, dan kognitif mereka.
Permainan berakhir terbuka: terletak di sebelah kiri kontinum dan melibatkan
pengalaman bermain di mana guru memberikan materi yang sugestif kepada anak-
anak tentang konsep keanekaragaman hayati, dan dengan keterlibatan dan
interaksi minimal memungkinkan mereka untuk memeriksa dan mengeksplorasi
materi sebagai dasar untuk belajar tentang konsep (Mackenzie, Amy Cutter, Susan
Edwards 2014).
Bahan-bahan/peralatan bermain terbuka memungkinkan anak-anak untuk
membuat pilihan, mengekspresikan kreativitas dan mendukung kemandirian
mereka. Bahan-bahan tersebut dimanipulasi secara terbuka dan tidak memiliki
penggunaan yang ditentukan sebelumnya. Balok dapat berupa mobil, telepon,
kursi boneka, bar es krim atau sejumlah hal lain yang sedang dimainkan. Melalui
pengalaman-pengalaman inilah anak-anak dapat belajar terbaik.
Permainan yang bersifat terbuka memungkinkan anak untuk mengeksplorasi
bahan dan peralatan bermainnya secara aktif (Semlin 2018). Permainan terbuka
memberi peluang kepada mereka untuk memecahkan masalah sesuai dengan
imajinasinya, dengan berbagai cara dan alternatif pemecahannya. Sesuai dengan
tahapan bermain bahwa anak berada pada bermain manipulatif dan bermain
konstruktif, anak dapat merefleksikan ide-idenya secara kreatif. Hal ini dapat
memicu berkembangnya higher order thinking skills pada anak (Sutama, dkk.
2021). Penerapan open ended play, dapat membantu anak mengembangkan
imajinasinya, dan kemampuan berpikir simbolis dan abstrak, sehingga dapat
merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif anak (Tanumiharjo 2016).
Alasan lain pentingnya menerapkan open ended play adalah karena (1)
mampu menyediakan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide dan konsep; (2)
mampu menciptakan lingkungan minim stress untuk anak; dan (3) membantu
anak mengembangkan social dan emotional intelligence (Wijayanti 2021). Lebih
lanjut dikemukakan bahwa melalui open ended play, anak dapat melakukan
eksplorasi, mengetes ide dan konsep melalui trial and error. Open ended play
menyediakan lingkungan bermain yang minim stress membuat anak-anak merasa
tidak takut untuk membuat kesalahan. Ketakutan terhadap kesalahan menjadi
penghalang terbesar bagi anak (maupun orang dewasa) untuk belajar. Selain itu
anak memiliki ruang untuk bisa mengambil resiko dalam mempelajari hal baru
tanpa harus takut akan berbuat kesalahan karena tidak ada salah dan benar dalam
konsep bermain ini. Anak-anak juga akan lebih banyak berkomunikasi, karena
mereka akan belajar membaca emosi anak lain dan memberikan respon yang
pantas. Anak-anak juga bisa mengeksplor berbagai macam emosi dengan bermain
peran dan saat anak-anak merespon berbagai emosi dari teman bermainnya,
mereka mengembangkan emotional intelligence. Hal ini membuat anak belajar
bereaksi dengan baik di berbagai macam situasi, yang bisa membantu mengurangi
resiko stress dan depresi di masa depan.
Open ended play juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk
memanipulasi objek belajarnya secara maksimal (Montessory 2014). Anak
memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bekerjasama untuk
mengembangkan networking secara intensif. Objek belajar sebaiknya dikelola
agar memungkinkan anak untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis
melalui proses comparing, bersifat problem solving dan memberi kesempatan
kepada anak untuk mengkomunikasikan pengalaman dan hasil belajarnya melalui
berbagai cara seperti dengan kata/kalimat sederhana, gambar, grafik dan lain
sebagainya.
36
Penerapan open ended play strategy memberikan kesempatan kepada anak
untuk meningkatkan daya imajinasi, keterampilan kognitif seperti memori kerja,
fleksibelitas kognitif dan self regulation. Sebagaimana dikemukakan oleh
Rymanowicz bahwa “… eksplorasi terbuka dan bebas memainkan peran yang
sangat penting dalam pembelajaran. Ketika kita memberi anak kebebasan dan
kesempatan untuk mengeksplorasi, mencipta, gagal, dan menilai kembali, kita
membantu mereka membentuk koneksi di otak” (Rymanowicz 2015).
Model pembelajaran berbasis open ended play ternyata efektif untuk memicu
dan mengembangkan higher order thinking skills pada anak kelompok B Taman
Kanak-kanak (Sutama, I Wayan 2018). Thomas and Thorne (2009)
mengemukakan bahwa berpikir tingkat tinggi melibatkan pembelajaran
keterampilan yang kompleks seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk dipelajari atau diajarkan tetapi juga lebih
berharga karena keterampilan seperti itu lebih mungkin digunakan dalam situasi
baru (yaitu, situasi selain keterampilan itu dipelajari). Berpikir tingkat tinggi
terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan
dalam memori dan saling berhubungan dan/atau menyusun ulang dan memperluas
informasi ini untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan jawaban yang
mungkin dalam situasi yang membingungkan (Lewis A 1993). Higher Order
Thinking meliputi pemikiran kritis, pemikiran logis, reflektif, metakognitif, dan
berpikir kreatif (King, Goodson 2000). Hak tersebut diaktifkan saat individu
menghadapi permasalah yang tidak biasa, terdapat ketidakpastian, memunculkan
berbagai pertanyaan, atau membuat dilema. Higher Order Thinking menghasilkan
suatu keputusan yang telah dihasilkan melalui pengetahuan yang tersedia atau
pengalaman yang dimilikinya. Seperti melakukan diskriminasi, penerapan
sederhana dan analisis, serta strategi kognitif yang dikaitkan dengan pengetahuan
sebelumnya tentang konten materi pelajaran.
Proses pembelajaran yang melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
memerlukan kejelasan komunikasi yang khusus sehingga akan mengurangi
kerancuan dan kebingungan serta dapat memperbaiki sikap anak tentang tugas
berpikir (Thomas dan Thorne 2009). Rencana pelajaran sebaiknya meliputi
pemodelan keterampilan berpikir, contoh pemikiran terapan, dan adaptasi untuk
beragam kebutuhan anak (memberi dukungan di awal pelajaran dan secara
bertahap mengharuskan anak untuk beroperasi secara mandiri).
Strategi pembelajaran yang digunakan dapat memberikan pengalaman belajar
yang bermakna mencakup latihan, elaborasi, organisasi, dan metakognisi.
Pembelajaran sebaiknya dirancang secara khusus sehingga dapat mengembangkan
HOTS melalui open ended play. Agar penenerapan open ended play dapat optimal,
maka anak dibiasakan berhadapan dengan masalah (problem based learning).
Eksplorasi masalah dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan
evaluatif. Selanjutnya anak mencari alternatif penyelesaian masalah secara kreatif
melalui sebuah proyek (project based learning). Dalam mengerjakan proyek anak
perlu membangun jaringan kerja (bekerjasama) dan berkolaborasi dengan teman
lainnya, sehingga muncul beragam muatan pendidikan seperti bagaimana
bekerjasama dengan teman, belajar menghargai perbedaan pendapat, dan
membuat sesuatu yang baru (inovatif), serta menghasilkan produk yang beragam.
Contoh: Anak dihadapkan pada permasalahan seperti dalam gambar berikut ini.
Gambar 3.3 Alur PBL dan PjBL dalam Open Ended Play (sutama doc).
Pertanyaan yang diajukan oleh guru dan/atau anak tentang dilema, masalah
baru, dan pendekatan baru harus menghasilkan jawaban yang belum pernah
dipelajari (Sutama, I Wayan 2017). Umpan balik yang tulus yang memberikan
informasi segera, spesifik, dan korektif harus memberi tahu anak tentang
38
kemajuan mereka. Kegiatan kelompok kecil seperti tanya jawab, bimbingan/tutor
sebaya, dan pembelajaran kooperatif dapat efektif dalam pengembangan
keterampilan berpikir. Kegiatan harus melibatkan tugas yang menantang,
dorongan guru untuk tetap pada tugas, dan umpan balik yang berkelanjutan
tentang kemajuan kelompok. Komunikasi dan instruksi yang dimediasi komputer
dapat memberikan akses ke sumber data jarak jauh dan memungkinkan kolaborasi
dengan anak di lokasi lain. Ini bisa efektif dalam membangun keterampilan di
bidang analogi verbal, pemikiran logis, dan penalaran induktif/deduktif. Strategi
yang efektif untuk memicu higher order thinking skills pada anak usia dini adalah
melalui open ended play. Melalui permainan yang bersifat terbuka, anak memiliki
kebebasan untuk memanipulasi material/bahan dan peralatan bermain, dan secara
bersamaan anak akan menghadapi masalah dalam permainannya. Permasalahan
ini akan menuntut anak untuk bertanya-tanya, dan mencari solusinya secara kreatif
(Mackenzie, Amy Cutter, Susan Edwards 2014). Pemecahan masalah akan
memerlukan kolaborasi dengan teman-temannya manakala anak tidak mampu
memecahkannya sendiri, atau anak yang bersebelahan berupaya untuk
membantunya.
Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa jika dalam
pembelajaran anak usia dini menerapkan strategi bermain yang bersifat terbuka,
(open ended play), dengan didukung oleh berbagai peralatan bermain (toys) yang
dapat dimanipulatif maka anak akan dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, kreativitas, kemampuan bekerjasama dan berkomunikasi. Kompetensi ini
sangat diperlukan pada abad 21 dan era society 5.0. Selain itu dalam open ended
play berbasis masalah dan proyek secara tidak langsung akan mendekatkan pada
unsur sains, teknologi, engeneering, seni dan matematika (STEAM). Dari unsur
sains bahwa content knowlegde yang diangkat dari masing-masing tema/subtema
akan melibatkan anak untuk mengeksplorasi materi sains, misalnya “mengapa
jembatan itu rusak?” Anak-anak akan mengeksplorasi jawabannya melalui
kemampuan berpikir kritisnya. Dari unsur teknologi, anak-anak akan mencari
solusi terhadap permasalahan yang ada. Unsur engenering akan muncul manakala
anak-anak membuat rancang bangun mengenai strategi pemecahan masalah yang
diambilnya (sekaligus melatih anak untuk mengambil keputusan). Sementara
unsur seni, anak akan membuat proyeknya dengan mengekspresikan
kreativitasnya secara kreatif dengan memadukan antara loese parts dengan
berbagai bentuk dan warna. Untuk unsur matematika, anak mengeksplorasi
berbagai bentuk geometri dan sifat-sifatnya dan bagaimana hal tersebut kemudian
dikombinasikan sehingga menjadi hasil proyek mereka.
2. Forum Diskusi
Saudara, untuk memperkuat pemahaman terhadap materi belajar tersebut,
cobalah diskusikan permasalahan berikut ini:
a. Strategi pembelajaran menurut beberapa ahli, lalu simpulkan dengan bahasa
kalian sendiri
b. Uraikan strategi pembelajaran yang tepat untuk diterapakan sesuai kebutuhan
pendidikan abad 21
c. Analis hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat penerapan strategi
pembelajaran
3. Tugas Terstruktur
Saudara, untuk memperluas wawasan saudara mengenai strategi pembelajaran
untuk anak usia dini, lakukanlah hal-hal berikut ini.
a. Tanyakan kepada orang tua bagaimana harapannya terhadap pembelajaran
untuk anak usia dini.
b. Lakukan pengamatan bagaimana orang tua mengintervensi belajar anak
sehari-hari.
c. Bandingkan antara persepsi dan perilaku membelajarkan anak oleh guru di
lembaga PAUD.
40
d. Buatlah kesimpulan bagaimana pendidik dan orang tua dalam
membelajarkan anak, dan apakah sudah sesuai dengan tuntutan kompetensi
abad 21.
4. Evaluasi
Untuk mengukur penguasaan Anda terhadap materi pada e-Modul 3 ini,
silakan saudara menjawab soal-soal latihan berikut ini.
Petunjuk Pengerjaan Soal
Jawablah soal-soal di bawah ini dengan memilih opsi jawaban yang paling tepat
berikut ini.
1. Apa pengertian stretegi pembelajaran?
A. Rangkaian ktivitas yang dilakukan oleh guru ketika mengajar di kelas
B. Gaya belajar guru dan anak
C. Kumpulan materi pelajaran
D. Cara mengajar guru ketika di dalam kelas
2. Hal apa yang harus dipertimbangkan sebelum merancang strategi
pembelajaran?
A. Ide materi pelajaran yang akan disampaikan
B. Cara menyampaikan materi agar efektif untuk anak
C. Mempertimbangkan latar belakang anak termasuk minat dan kebutuhan
anak
D. Mempertimbangkan tingkat kesulitas materi
3. Mengapa guru harus merancang strategi pembelajaran sebelum mengajar?
A. Supaya guru lebih yakin ketika menyampaikan materi
B. Memenuhi kebutuhan administrasi sekolah
C. Menarik perhatian anak sehingga anak akan lebih betah berada di dalam
kelas
D. Membantu anak dalam mengolah rententan informasi dengan baik serta
meningkatkan kecakapan berpikir anak
4. Bagaimana cara agar strategi pembelajaran dapat meningkatkan kecakapan
berpikir kritis anak ?
A. Selalu menggunakan puzzle atau teka-teki saat belajar
B. Menjelaskan kepada anak rentetan hubungan sebab akibat saat belajar
C. Mengajak anak melakukan kegiatan eksperimen dan pengamatan untuk
membentuk konsep baru
D. Mengajak anak melakukan kegiatan kokurikuler dan membuat laporan
5. Menurut pendapat anda, bagaimana kedudukan strategi dalam proses belajar
mengajar?
A. Strategi menjamin keberhasilan pembelajaran
B. Strategi menentukan anak mampu belajar dengan mudah sesuai
rancangan yang telah ditetapkan
C. Strategi menentuka cara berpikir dan bertindak guru saat mengajar
D. Tanpa strategi, pendidik akan kesulitan saat mengajar
E. Daftar Rujukan
Anitah, (2010). Strategi Pembelajaran. PBIN4301-M1
Asrori, M. (2016). Pengertian, Tujuan Dan Ruang Lingkup Akuntansi Sektor
Pemerintah. Madrasah, 6(2), 26. https://www.researchgate.net
Darmansyah. (2012). Strategi Pembelajaran. Padang. hlm.3
Elena Bodrova, PhD, Deborah J. Leong, PhD. 2010. “Curriculum and Play in Early
Child Development.” Encyclopedia on Early Childhood Development.
Faulinda Ely Nastiti, Aghni Rizqi Nimal Abdu. 2020. “Kajian: Kesiapan Pendidikan
Indonesia Menghadapi Era Society 5.0.” Neliti 5(1).
Kemdikbud, pengelola web. 2017. “Pendidikan Karakter Dorong Tumbuhnya
Kompetensi Anak Abad 21.” Kemendikbud. Diambil
(https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/06/pendidikan-karakter-dorong-
tumbuhnya-kompetensi-anak-abad-21).
King, Goodson, Rohani. 2000. 2000. “Higher Order Thinking Skills (Definitions,
Teaching, & Assesment).” in Assessment & Evaluation Educational Services
Program. A publication of the Educational Services Program, now known as the
Center for Advancement of Learning and Assessment.
42
Lewis A, Smith D. 1993. “Defining Higher Order Thinking.” Theory Into Practice
32(Issue 3: Teaching for Higher Order Thinkin).
Mackenzie, Amy Cutter, Susan Edwards, Deborah Moore and Wendy Boyd. 2014.
Young Children’s Play and Environmental Education in Early Childhood
Education. New York: Springer Cham Heidelberg.
Maryam, S.A., 2021. Stategi Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi.
https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/stategi-pelaksanaan-
pembelajaran-berdiferensiasi/. Diakases pada 21 September 2021
Montessory. 2014. A Parent’s Guide To Raising A Curious And Responsible Human
Being.
Nesbit. 2007. “Image:BloomsCognitiveDomain.PNG, Public Domain.” King of
Hearts.
Prisma, I. P. A., Kunci, K., Pembelajaran, S., & Dini, U. (n.d.). Nuraeni. 2(2), 143–
153.
Rymanowicz, Kylie. 2015. “No Title.” Michigan State University Extension.
Diambil
(https://www.canr.msu.edu/news/out_of_the_box_playing_with_empty_boxes_is
_not_only_fun_its_educational)).
Semlin, Brian. 2018. “Open-Ended Play: What it is and How it Benefits Your
Child.” Strictly Briks. Diambil 8 Desember 2021
(https://strictlybriks.com/blog/open-ended-play-what-it-is-and-how-it-benefits-
your-child/).
Sutama, (2019). Bagaimana Meningkatkan Higher Order Thinking Skills Anak Usia
Dini?. Malang: Intelegensia Media
Sutama, I Wayan, Dkk. 2017. No TitlePeningkatan Keterampilan Bertanya Melalui
Penerapan Pendekatan Saintifik pada anak usia 3-4 Tahun di PAUD/TK Tunas
Harapan Blitar. Malang.
Sutama, I Wayan, Dkk. 2018. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Higer
Order Thinking Skills (HOTS) untuk Anak Usia 5-6 Tahun. Malang.
sutama, I Wayan., dkk. 2021. “Pengembangan E-Modul ‘Bagaimana Merancang dan
Melaksanakan Pembelajaran untuk Memicu HOTS Anak Usia Dini melalui Open
Ended Play’ Berbasis Ncesoft Flip Book Maker e.” seling 7(1).
Tanumiharjo, Virginia. 2016. “Open Ended Play.” Diambil 24 Agustus 2021
(https://sites.google.com/site/duniabermainattaya/bundabelajar/catatan-rumah-
main-anak/openendedplay).
Thomas, A., dan G. Thorne. 2009. “How to Increase Higher Order Thinking,
Metairie, LA: Center for Development and Learning.”
Wijayanti, Damar. 2021. “Jangan Merasa Bersalah Membiarkan Anak Main
Sendiri.” Woot Woot Toys. Diambil 24 Agustus 2021
(ttps://wootwoottoys.com/author/damar/).
44
e-Modul 4
KONSEP DASAR PENDEKATAN PEMBELAJARAN
___________________________________________________________________________
I Wayan Sutama
A. Pengantar
Saudara, pada e-Modul 4 ini akan dikaji pengenai pendekatan pembelajaran untuk
anak usia dini. Beragam pendekatan pembelajaran pernah dan sedang dilaksanakan
dalam pembelajaran baik secara umum maupun secara khusus untuk suatu jenjang
pendidikan. Pada tahun 1980-an berkembang Pendekatan Keterampilan Proses dan
Pendekatan Cara belajar Anak Aktif (CBSA). Selain itu juga berkembang pendekatan
Inquiry, Pendekatan Discovery, Pendekatan Kontekstual dan lain sebagainya.
Bagaimana sebenarnya hakikat pendekatan pembelajaran, mengapa guru harus
memilih pendekatan pembelajaran, dan jenis pendekatan pembelajaran yang manakah
relevan untuk pendidikan anak usia dini? Semua pertanyaan itu akan dikaji pada e-
Modul 2 ini, dan anda diharapkan mengikuti seluruh proses kegiatan belajar pada
bagian ini.
B. Petunjuk
Untuk memberikan pengalaman belajar yang luas dan mendalam, mengenai
pendekatan pembelajaran untuk anak usia dini silakan anda ikuti setiap kegiatan yang
ada di e-Modul 4 ini. Yang pertama, silakan anda baca materi yang sudah disediakan.
Selanjutnya, silakan saudara berdiskusi dengan teman sejawat mengenai
topik/masakah yang sudah disediakan, dan laporkan hasilnya ke
[email protected] dalam bentuk file word atau aplikasi lainnya yang setara.
Setelah itu, anda akan disediakan sebuah video pembelajaran, dan tugas Anda adalah
menganalisis video tersebut ditinjau dari jenis pendekatan yang digunakannya.
Selanjutnya silakan saudara untuk menjawab soal-soal evaluasi untuk mengukur
capaian belajar Anda.
C. Tujuan
Stetelah selasai mengikuti seluruh kegiatan belajar di e-Modul 4 ini, Anda
diharapkan memiliki wawasan mengenai hal-hal berikut.
1. Menjelaskan konsep dasar pendekatan pembelajaran secara umum.
2. Memberikan rasional mengapa guru perlu memilih dan menerapkan pendekatan
dalam pembelajaran untuk anak usia dini.
3. Menganalisis jenis pendekatan pembelajaran untuk anak usia dini.
4. Menganalisis jenis pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam sebuah kasus
pembelajaran.
5. Membandingkan berbagai jenis pendekatan pembelajaran untuk anak usia dini.
D. Kegiatan belajar
1. Pendalaman Materi
a. Konsep Dasar Pendekatan Pembelajaran
Saudara, dalam praktik di lapangan, banyak sekali terjadi kerancuan antara
pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran. Ragam istilah itu sering
digunakan secara bergantian dalam konteks yang sama. Misalnya metode CBSA,
strategi pembelajaran kontekstual dan lain sebagainya. Untuk menghindari hal
tersebut, pada bagian ini akan dibahas mengenai hakikat, dan jenis pendekatan
pembelajaran baik secara umum, maupun khusus untuk pendidikan anak uysia
dini.
Pendekatan pembelajaran merupakan pandangan atau sudut pandang berupa
rencana awal untuk menentukan pelaksanaan proses pembelajaran dalam
menerapkan perlakuan (tindakan kelas) yang akan digunakan dalam kegiatan
belajar-mengajar (Thabroni 2020). Kalau dianalisis dari pendapat ini, pendekatan
46
pembelajaran mengarah pada bagaimana cara pandang guru terhadap mindset
pembelajaran yang akan dikelolanya. Ibarat orang memakai kaca mata hijau dalam
memandang alam sekitarnya, nuansanya akan tampak kehijau-hijauan. Demikian
pula ketika warna kaca mata yang digunakan berwarna kuning, maka lingkungan
akan tampak kekuning-kuningan. Jadi dalam hal ini jika guru menekankan pada
pembelajaran yang mengarahkan anak untuk belajar yang sesuai dengan
lingkungannya, maka yang digunakan adalah pendekatan kontekstual, karena
sesuai dengan konteks lingkungan anak. Jika guru menghendaki arah
pembelajaran yang dimulai dari eksplorasi karakteristik khusus dari suatu
benda/fenomena kemudian direduksi dan disintesis menjadi suatu temuan umum,
maka guru menggunakan pendekatan induktif dalam pembelajarannya. Dengan
demikian, dalam pendekatan pembelajaran belumlah menyangkut mengenai
langkah-langkah prosedural dalam pembelajaran, tetapi masih berupa pola umum
dari arah pembelajaran itu sendiri.
Thabroni (2020) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis pendekatan
pembelajaran, di antaranya adalah pendekatan kontekstual, ekspositori, deduktif,
induktif, konstruktivistik, pemecahan masalah, saintifik. Pendekatan kontekstual
mengarah pada pola umu pembelajaran yang menekankan pada eksplorasi obyek
belajar yang ada di lingkungan. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa
lingkungan fisik, sosial maupun budaya. Pendekatan ekspositori digunakan
manakala arah/pola umum pembelajaran mengarah pada penjelasan terhadap
sesuatu yang sifatnya informatif. Pendekatan deduktif jika proses pembelajaran
berawal dari eksplorasi suatu fenomena yang bersifat umum dan selanjutnya
dianalisis ke hal-hal yang lebih rinci/spesifik. Pendekatan induktif merupakan
kebalikan dari pendekatan deduktif, yaitu proses eksplorasi dari hal-hal yang
bersifat khusus/spesifik dan digeneralisasikan ke hal-hal yang bersifat umum
(generalisasi/teori). Pendekatan konstruktivistik, jika pembelajaran mengarah
pada proses mengkonstruksi pengalaman belajar dengan cara melakukan asimilasi
dan akomodasi. Pendekatan pemecahan masalah digunakan jika guru mengawali
pembelajaran dengan mengeksplorasi masalah dan dicari permasalahannya secara
kreatif oleh anak. Pendekatan saintifik digunakan jika proses pembelajaran
mengikuti proses ilmiah melalui pengamatan, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar dan mengkomunikasikan.
b. Jenis Pendekatan Pembelajaran AUD
1) Pendekatan Tematik Integratif
Dalam kurikulum PAUD tahun 2013 ditekankan bahwa pembelajaran untuk
anak usia dini menggunakan pendekatan tematik integratif. Pembelajaran tematik
integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai
kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam sebuah tema tertentu.
Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual dekat dengan
dunia anak dan ada dalam kehidupan sehari-hari (Hidayah, 2015). Sementara
Trisdiono (2013) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran tematik
integratif merupakan pembelajaran yang memadukan kecakapan dan kompetensi
inter, multi, antar, dan trans mata pelajaran. Keterpaduan kecakapan dan
kompetensi bermuara pada kesiapan anak menghadapi tantangan dalam kehidupan
nyata. Dalam konteks PAUD, mata pelajaran disetarakan dengan bidang
pengembangan yang meliputi Nilai Agama dan Moral, Sosial, Kognitif, Bahasa,
Fisik-motorik dan Seni. Pengembangan 6 bidang ini sifatnya terpadu, dan saling
memiliki keterkaitan. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan
pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang pengembangan untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Keterpaduan dalam
pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan
aspek belajar. Hal ini sesuai dengan karakteristik perkembangan anak yang
bersifat utuh dan terpadu. Pada masa usia dini, anak melihat sesuatu sebagai satu
keutuhan (holistic) perkembangan fisiknya tidak pernah dapat dipisahkan dengan
perkembangan mental, sosial, dan emosional.
48
NAM
SENI anak SOSEM
berkembang KOGNITIF
FISIK- pada aspek
MOTORIK
BAHASA
Gambar 4.1. Konsep Perkembangan Anak yang bersifat Holistik
(Sumber: Sutama)
Oleh karena itu, tema yang dieksplorasi dalam pembelajaran untuk anak usia
dini juga mengintegrasikan capaian perkembangan pada keenam aspek
perkembangan tersebut. Hal ini bertujuan agar apa yang dipelajari oleh anak
memiliki kebermaknaan dalam kehipannya sehari-hari. Dengan demikian anak
menjadi berpikiran holistik, dan dapat meninjau dan/atau memecahkan masalah
dari berbagai sudut pandang/aspek.
seni NAM SOSEM
kognitif
fisik TEMA
motorik
bahasa
Gambar 4.2. Konsep Pembelajaran Tematik (Sumber: Sutama)
2) Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian
rupa agar anak secara aktif membangun kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan melalui tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
menalar, dan mengomunikasikan (PAUD Jateng, 2021). Sementara itu Rahardjo
(2019) menggemukakan bahwa pendekatan saintifik adalah pendekatan atau
membangun pola pikir dan daya nalar anak melalui kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Anak
menggunakan seluruh inderanya untuk mengamati sesuatu (fenomena, fakta,
masalah). Misalnya, anak mengamati dua buah tanaman yang sama tetapi berbeda
kondisinya. Yang satu merupakan tanaman yang masih segar sementara yang
lainnya sudah hampir kering dan layu. Anak dengan cermat mengamatinya, dan
dalam proses pengamatan tersebut dimungkinkan anak mempertanyakan
fenomena tersebut, “mengapa tanaman ini layu sementara yang satunya lagi masih
segar? Untuk menjawab rasa ingin tahunya tersebut, anak mengumpulkan
informasi dari orang lain. Dalam mengumpulkan informasi, anak dapat
menanyakan hal tersebut, atau bisa juga melalui percobaan atau eksperimen.
Temuannya tersebut kemudian dikaitkan dengan hal-hal lain yang terjadi di
sekitarnya. Kegiatan ini disebut sebagai menalar. Tindak belajar berikutnya adalah
anak mengkomunikasikan temuannya kepada orang lain, bisa dalam bentuk lisan,
tertulis, dalam bentuk gambar atau grafik, sesuai dengan kemampuan dan minat
anak.
Urgensi diterapkannya pendekatan saintifik dalam pembelajaran antara lin
sebagai berikut. (a) Mendorong anak agar memiliki kemampuan berpikir kritis,
analitis, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah. (b) Memberikan
pengalaman belajar yang lebih bermakna kepada anak dengan mendorong anak
melakukan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. (c) Mendorong anak mencari tahu
dari berbagai sumber melalui observasi dan bukan hanya diberitahu ((PAUD
Jateng 2021). Dengan demikian, iimplementasi pendekatan saintifik dalam
pembelajaran anak usia dini, dapat memberikan pengalaman belajar yang
bermakna seperti seorang saintis, yang mengeksplorasi lingkungannya dengan
prinsip kerja ilmiah, walaupun dalam konteks bermain. Dalam hal ini orang tua
50
dan guru memiliki peran yang sangat penting, karena akan mengkondisikan
aktivitas bermain anak yang bertujuan agar anak belajar melalui bermain yang
menyenangkan dan menantang.
3) Pendekatan TPACK
TPACK adalah sebuah kerangka konseptual yang memperlihatkan hubungan
antara tiga pengetahuan yang harus dikuasai oleh guru, yaitu pengetahuan
teknologi, pedagogik, dan konten agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan
efektif dan efisien (Suryawati dalam Ima Ulin Nuha, Misno A. Latief 2020).
Dalam melaksanakan pembelajaran, di era digital ini harus memiliki kompetensi
di bidang teknologi (melek teknologi). Hal ini karena sumber belajar banyak
tersedia di media online. Selain itu guru juga harus mampu menerapkan
pembelajaran berbasis teknologi. Kemampuan pedagogik mengarah pada
penguasaan strategi pembelajaran yang mendidik, sesuai dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan anak. Sementara penguasaan isi pemebelajaran
secara luas dan mendalam akan mempermudah guru untuk mengorgasisasikan
kegiatan pembelajaran, sehingga anak mampu mengeksplorasi lingkungannya,
baik berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur dan generalisasi/teori. Guru harus
mampu mengorganisasikan pembelajaran sehingga anak dapat menguasai
beragam jenis isi pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
TPACK (Technological, Pedagogical, Content Knowledge) adalah sebuah
framework (kerangka kerja) dalam mendesain model pembelajaran baru dengan
menggabungkan tiga aspek utama yaitu teknologi, pedagogi dan
konten/materi pengetahuan (ontologis) (Quddus 2019). Lebih jauh dikemukakan
bahwa dalam mengimplementasikan TPACK dalam pembelajaran guru harus
memadukan 3 hal yaitu isi/materi pembelajaran, pedagogik dan teknologi.
Pengintegrasian ini sangat dimungkinkan di era digital ini, karena pemanfaatan
teknologi dalam pembelajaran dapat berarti luas, yaitu sebagai model blanded
learning. Dalam konteks blanded learning, tidak saja pengintegrasian secara dalam
jaringan dan luar jaringan, tetapi juga sebagai sumber belajar, media belajar dan
bahkan evaluasi pun sekarang berbasis teknologi.
Gambar 4.3. Pengintegrasian untur TPACK dalam pembelajaran (Quddus 2019).
Perkembangan smart phone, smart TV, dan berbagai social media sangat
membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Permasalahannya adalah, mampukah guru menjadi creator dalam teknologi atau
malah sebaliknya hanya sebagai konsumen teknologi? Jadi mengelola
pembelajaran abad 21 harus mengarah pada digitalisasi pembelajaran. Dengan
demikian, guru adalah pemain dalam bidang teknologi, bukan malah sebagai
konsumen. Guru harus kreatif mengembangkan ide-idenya menggunakan
berbagai sarana teknologi untuk menjadikan pembelajaran yang dikelolanya
menjadi lebih efektif, efisien dan menantang serta menyenangkan bagi anak.
2. Forum Diskusi
Saudara, pada formun diskusi ini, silakan membentuk kelompok beranggotakan
maksimal 4 orang. Topik diskusi kali ini adalah sebagai berikut.
a. Mengapa pendekatan tematik integratif sesuai untuk anak usia dini?
52
b. Benarkah bahwa komponen dalam pendekatan saintifik dilaksanakan secara
berurutan mulai dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar dan
mengkomunikasikan? Silakan beri argumentasi dan contoh-contoh yang relevan
terkait dengan konsep yang anda sepakati.
c. Bagaimana mengubah mindset guru yang menjadikan dirinya sebagai pengguna
teknologi dalam pembelajaran menjadi pencipta (kreator) pembelajaran berbasis
teknologi?
d. Berilah contoh langkah-langkah pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan
tematik integratif, saintifik dan TPACK dalam pembelajaran untuk anak usia dini!
Setelah berdiskusi secara kelompok kecil, presentasikan hasil diskusi Anda pada
pertemuan pleno (diskusi kelas). Selanjutnya, kesimpulan dari diskusi tersebut anda
unggah ke e mail [email protected] .
3. Tugas Terstruktur
Pada kegiatan belajar 3 ini, secara inddividual Anda akan menganalisis sebuah
video pembelajaran, ditinjau dari jenis pendekatan yang digunakannya. Video yang
dianalisis sebagai berikut.
Video 1.
Link: https://drive.google.com/file/d/1Aotq6UEIrPg-
qZ7oFsMWxCv2r8izLmS7/view?usp=sharing
Bagaimana menurut saudara mengenai video tersebut, apakah berorientasi pada satu
pendekatan atau merupakan perpaduan dari beberapa pendekatan pembelajaran?
Adakah bagian-bagian dari pembelajaran tersebut yang dapat anda perbaiki sehingga
mencerminkan implementasi pendekatan pembelajaran yang anda pilih? Jika ada
silakan saudara perbaiki menjadi sebuah skenario pemebelajaran yang diperbaharui,
dan unggah hasil tugas terstruktur ini ke [email protected] . Selamat belajar
dan semoga sukses.
4. Evaluasi
Jawablah soal-soal di bawah ini dengan memilih salah satu pilihan jawaban yang
tersedia.
1. Di antara pernyataan berikut ini yang menggambarkan hakikat pendekatan dalam
pembelajaran adalah….
A. langkah-langkah prosedural dalam pembelajaran
B. cara pandang guru terhadap pembelajaran
C. kumpulan beberapa strategi pembelajaran
D. metode yang digunakan untuk mengaktifkan anak dalam belajar
E. muatan pembelajaran yang memicu munculnya pembelajaran bermakna
2. Bu Irna hendak mengajak anak-anak mempelajari tentang ayam. Jika ia hendak
menerapkan pendekatan tematik integratif, maka kegiatan yang dirancang
mengarah pada….
A. mengeksplorasi jenis, manfaat, cara merawat dan anatomi tubuh ayam
B. kegiatan proyek membuat kandang ayam dari lose part yang tersedia
C. mengamati ayam dan memberi makan dengan kesungguhan hati sebagai
wujud syukur atas ciptaan tuhan
D. menonton video tentang ayam, tanya jawab mengenai manfaat ayam serta
membuat kolase dari bulu ayam
E. bercerita tentang ayam yang bersahabat dengan kucing, dan mereka saling
menolong manakala ada bahaya
3. Pendekatan saintifik mencakup aktivitas mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar dan mengkomunikasikan, sebab dengan pendekatan saintifik
anak-anak berlatih mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif,
kolaboratif dan komunikatif. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka pilihan
berikut yang paling benar adalah…
A. pernyataan benar, alasan benar dan ada hubungan sebab-akibat
B. pernyataan benar, alasan benar tetapi tidak ada hubungan sebab-akibat
C. pernyataan benar dan alasan salah.
D. pernyataan salah dan alasan benar
54
E. pernyataan dan alasan semuanya salah.
4. Blended learning merupakan salah satu bentuk penerapan pendekatan TPACK,
sebab melalui TPACK guru menerapkan teknologi untuk menunjang kemampuan
mendidik dan menyampaikan materi ajar.
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka pilihan berikut yang paling benar adalah…
A. pernyataan benar, alasan benar dan ada hubungan sebab-akibat
B. pernyataan benar, alasan benar tetapi tidak ada hubungan sebab-akibat
C. pernyataan benar dan alasan salah.
D. pernyataan salah dan alasan benar
E. pernyataan dan alasan semuanya salah.
5. Di antara fenomena pembelajaran yang merupakan kombinasi dari pendekatan
tematik integratif dan TPACK adalah….
A. Bu Tuti mengajak anak mengeksplorasi habitat dan proses
perkembangbiakan katak melalui video pembelajaran
B. Bu Tuti menjelaskan bagian-bagian tubuh buaya melalui media laptop
C. Pak Andi memberi kesempatan kepada anak untuk mempelajari tumbuh-
tumbuhan yang ada di sekitar kelas dan mengabadikan proses pengamatan
anak melalui camera video
D. Bu Ana mengajak anak-anak membuat batik jumputan dengan teknik finger
painting melalui contoh video yang ditayangkan.
E. Anak melakukan senam gembira sebagai bentuk kegiatan icce breaking
dengan memutar video model senam dan anak-anak menirukan gerakannya.
E. Daftar Rujukan
Hidayah, Nurul. 2015. “Pembelajaran Tematik Integratif Di Sekolah Dasar.” Terampil
2(1).
Ima Ulin Nuha, Misno A. Latief, Nanik Yuliati. 2020. “Analisis Technological
Pedagogical And Content Knowledge (Tpack) Calon Guru Paud Angkatan
Tahun 2015 Di Universitas Jember.” Jurnal Edukasi Vii(2):13–16.
Paud Jateng. 2021. “Pengertian Pendekatan Saintifik Paud Kurikulum 2013.” Paud
Jateng. Diambil (Https://Www.Paud.Id/).
Quddus, Abdul. 2019. “Implementasi Technological Pedagogical Content Knowledge
(Tpack) Dalam Pendidikan Profesi Guru (Ppg) Pai Lptk Uin Mataram.” J U R N
A L T A T S Q I 17(2).
Rahardjo, Maria Melita. 2019. “Implementasi Pendekatan Saintifik Sebagai
Pembentuk Keterampilan Proses Sains Anak Usia Dini.” Jurnal Pendidikan Dan
Kebudayaan 9(2).
Thabroni, Gamal. 2020. “Pendekatan Pembelajaran: Pengertian, Ciri, Macam &
Jenis.” Serupa.Id. Diambil (Https://Serupa.Id/Pendekatan-Pembelajaran/).
Trisdiono, Harli. 2013. “Pembelajaran Terpadu Pada Sekolah Dasar.” Lpmp D.I.
Yogyakarta.
56
e-Modul 5
MODEL PEMBELAJARAN
_____________________________________________
Wuri Astuti
Laili Nur Andriani
Nanda Sugesti
A. Pengantar
Pandemi Corona Virus Disease atau bisa disebut dengan Covid-19 merupakan
sindrom pernapasan akut berat coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Covid-19 merupakan
virus yang menyerang sistem pernapasan dengan gejala demam, batuk, pilek, sakit
tenggorokan, sesak nafas, letih dan lesu. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan China
pada akhir tahun 2019 dan telah menyebar ke seluruh belahan dunia termasuk
Indonesia. Pada akhirnya adanya wabah pandemi Covid-19 ini tidak hanya berimbas
pada kesehatan tetapi juga berimbas terhadap dunia pendidikan dan keberlangsungan
kegiatan belajar mengajar yang ada di Indonesia. Berbagai jenjang pendidikan
merasakan dampak yang sangat buruk dengan adanya penyebaran COVID ini
khususnya PAUD.
Pendidikan yang semula dengan metode tatap muka di semua lembaga pendidikan,
kini diubah menjadi pembelajaran daring/online dan dilaksanakan dari rumah masing
- masing untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran virus COVID - 19 ini.
Pembelajaran saat ini telah bergeser, yakni tak terbatas ruang dan waktu ataupun topik
pembelajaran. Materi pembelajaran yang selama ini disampaikan oleh guru sebatas
ruang kelas sudah tak relevan dan tak lagi menjadi trend. Namun penetapan kebijakan
belajar dengan sistem daring tersebut tentu menyebabkan perubahan sistem
pembelajaran di Taman Kanak-kanak, yang belum diketahui dampaknya terhadap
pencapaian perkembangan anak.
Hal di atas tentu menimbulkan banyak problematika khususnya pelaksanaan
pembelajaran bagi anak usia dini. Anak usia dini adalah tahapan dalam masa emas yang
memerlukan pelayanan lebih, secara khusus dan membutuhkan bimbingan langsung
dibandingkan dengan jenjang pendidikan lain.
Dunia anak merupakan dunia bermain yang cenderung melibatkan anak
berinteraksi langsung, bertatap muka langsung dan terlibat dalam beberapa banyak
kegiatan. Tatap muka langsung ini akan memberikan motivasi - motivasi yang sangat
membantu perkembangan bagi anak. Pendidikan AUD adalah pendidikan yang
memiliki peranan strategis untuk mengembangkan potensi awal bagi anak, untuk
memenuhi tumbuh kembang anak agar anak memiliki pondasi dan kesiapan dalam
mengikuti pendidikan dalam jenjang selanjutnya.
Oleh karena itu, pendidik perlu mempersiapkan dan mendiskusikan tentang
strategi, metode, model pendekatan pembelajaran seperti apa yang dapat membantu
anak dalam mengembangkan aspek-aspek perkembangan serta potensi anak meskipun
dalam keadaan pembatasan kegiatan seperti yang dirasakan sekarang ini.
B. Petunjuk
Mahasiswa/i PGPAUD yang terhormat, di era pandemi Covid-19 ini, lebih banyak
menuntut adanya pengembangan model pembelajaran tanpa tersekat oleh ruang dan
waktu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis berupaya untuk membantu
mahasiswa/i untuk menentukan dan mengembangkan model pembelajaran yang tepat
bagi anak agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka ikutilah kegiatan belajar 1 berikut ini dengan alur sebagai berikut.
1. Bacalah stimulan materi berikut dengan cermat dan lakukan analisis terkait
fenomena sehari-hari.
2. Kerjakanlah tugas-tugas yang mengikuti sebagai bentuk implementasi dari
penguasaan Anda terhadap materi yang telah dipelajari
3. Berlatihlah mengerjakan soal-soal latihan secara mandiri yang telah disediakan.
58
C. Tujuan
Setelah mengikuti kegiatan belajar 1, peserta diharapkan memiliki kompetensi
berikut ini.
1. Diharapkan memperoleh wawasan dan keterampilan dalam merancang dan
mengembangkan model pembelajaran yang efektif di era pandemi Covid-19.
2. Melakukan refleksi dan evaluasi terhadap model pembelajaran pada lembaga
pendidikan anak usia dini.
3. Menciptakan gagasan model pembelajaran berdasarkan refleksi dan evaluasi
terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan di PAUD.
D. Kegiatan Belajar
1. Pendalaman Materi
a. Konsep Dasar Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran diambil dari dua suku kata, yaitu model dan
pembelajaran. Masing-masing kata tersebut memiliki makna yang berbeda-beda,
dimana Model diartikan sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk
mempresentasikan sesuatu hal yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk
yang lebih komprehensif. Sedangkan pembelajaran dimaknai sebagai usaha sadar
dari seorang guru/pendidik untuk membelajarkan anaknya (mengarahkan interaksi
anak dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
yang diharapkan.
Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana
atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana
pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan
membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Sedangkan konsep model
pembelajaran menurut Trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial.
Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam
kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan anak agar tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat di atas, Dick and Carey
(1985) juga menyebutkan bahwa model pembelajaran itu adalah adalah suatu set
materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk
menimbulkan hasil belajar pada anak.
Berdasarkan penadapat dan penjelasan dari beberapa ahli tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu objek atau konsep yang
digunakan sebagai pedoman dalam membentuk kurikulum, merencanakan
pembelajaran kelas atau pembelajaran tutorial yang mengacu pada tujuan
pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran,
dan pengelolaan kelas yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan
hasil belajar pada anak.
Ada beberapa alasan tentang pentingnya pengembangan model pembelajaran,
yaitu: a) model pembelajaran yang efektif sangat membantu dalam proses
pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran lebih mudah tercapai, b) model
pembelajaran dapat memberikan informasi yang berguna bagi anak dalam proses
pembelajarannya, c) variasi model pembelajaran yang menarik dan inovatif dapat
memberikan gairah belajar anak, menghindari rasa bosan, dan akan berimplikasi
pada minat serta motivasi anak dalam mengikuti proses pembelajaran, d)
mengembangkan ragam model pembelajaran sangat urgen karena adanya
perbedaan karakteristik, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan cara belajar para anak,
sehingga pendidik perlu menyesuaikan model pembelajaran dengan karakter anak,
e) kemampuan dosen/guru dalam menggunakan model pembelajaran pun beragam,
dan mereka tidak terpaku hanya pada model tertentu, dan f) tuntutan bagi
dosen/guru profesional memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam
menjalankan tugas/profesinya.
60
Perlu diketahui bahwa ada beberapa ciri-ciri dari model pembelajaran yang
dapat dijadikan acuan untuk merancang suatu model pembelajaran, yaitu:
a. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
b. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
c. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.
d. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah
pembelajaran (syntax); (2) adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial;
dan (4) sistem pendudkung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman
praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
e. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak
tersebut meliputi: (1) Dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat
diukur; (2) Dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
f. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model
pembelajaran yang dipilihnya.
Adapun fungsi model pembelajaran yang harus diketahui sebagai berikut: a)
Pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan kegiatan pembelajaran. b) Pedoman bagi dosen/ guru dalam
melaksanakan pembelajaran sehingga dosen/guru dapat menentukan langkah dan
segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pembelajaran tersebut. c) Memudahkan para
dosen/ guru dalam membelajarkan para muridnya guna mencapai tujuan yang
ditetapkannya. d) Membantu anak memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai-
nilai, cara berfikir, dan belajar bagaimana belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Berikut ini merupakan jenis-jenis model pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran di PAUD
1) Model Pembelajaran Proyek (Project Based Learning)
Project Based learning merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang
menekankan aktivitas anak didik dalam mengaplikasikan pengetahuan yang
dimilikinya untuk mengerjakan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk
tertentu yang otentik dan secara open ended yang dapat didasarkan pada sebuah
masalah. (Boss dan Kraus dalam Abidin, 2007:167).), Penerapan teori
konstruktivistik pada pembelajaran di lembaga PAUD dapat terlihat pada proses
pembelajaran proyek. Adapun manfaat yang didapatkan oleh anak didik ketika
pembelajaran proyek diterapkan dalam pembelajaran yaitu: 1) Motivasi belajar
anak dapat meningkat, 2) kemampuan anak dalam memecahkan masalah dapat
meningkat, 3) Pembelajaran proyek selain dapat dilakukan secara individual juga
dapat dilakukan secara berkelompok, sehingga dapat meningkatkan kemampuan
anak berkolaborasi, 4) Meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola sumber
belajar, karena saat menyelesaikan sebuah proyek anak akan belajar bertanggung
jawab memanfaatkan sumber belajar yang ada disekitarnya dan diperlukan untuk
penyelesaian proyek yang dibuatnya (Titu, 2015:179).
Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran proyek menurut The
George Lucas Educational Foundation (2005: 52) adalah :
1) Start With The Essential Question.
Guru memulai pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan penting kepada
anak didik. Pertanyaan yang diajukan tersebut merupakan pertanyaan yang dapat
memberikan penugasan kepada anak didik untuk melakukan suatu aktivitas.
Contoh: “Coba Tebak, apa ya yang akan terjadi jika warna merah dicampur
dengan warna biru?”. Pertanyaan tersebut mengandung penugasan untuk anak
didik agar melakukan percobaan warna. Topik penugasan yang diberikan guru
disesuaikan dengan dunia nyata yang relevan dengan kehidupan dan usia anak
didik. Topik juga disesuaikan dengan tema pembelajaran. Setelah guru
memberikan pertanyaan, maka ajak anak didik untuk melakukan investigasi
mendalam tentang topik pertanyaannya.
2) Design a Plan For The Project.
Guru dan anak didik berkolaborasi untuk merencanakan kegiatan proyek
yang akan dilaksanakan. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan
aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penting,
dengan cara menggabungkan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui
alat dan bahan yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan proyek.
3) Create a Schedule.
62
Pada tahapan ini, guru bersama anak didik bersama-sama menyusun jadwal
kegiatan penyelesaian proyek, yang meliputi penentuan alokasi waktu
penyelesaian proyek, membimbing anak untuk dapat menemukan cara-cara baru
dalam membuat proyeknya, dan meminta anak untuk memberikan alasan atau
penjelasan tentang cara yang dipilih anak untuk menyelesaikan proyeknya.
4) Monitor The Students and The Progress of The Project.
Guru memiliki tanggung jawab untuk memonitor anak didiknya selama
menyelesaikan proyek. Cara yang dapat dilakukan guru dalam memonitor anak
didiknya adalah dengan menjadi mentor bagi setiap aktivitas yang dilakukan anak
didiknya saat menyelesaikan proyek. Guru memfasilitasi disetiap proses
pelaksanaan proyek. Monitoring akan lebih efektif apabila saat melakukan
monitoring guru sudah membawa rubrik tentang hal apa saja yang harus
dimonitoring dari proses anak menyelesaikan proyeknya.
5) Assess The Outcome
Guru melakukan penilaian terhadap hasil belajar anak membuat sebuah
proyek. Penilaian yang dilakukan oleh guru digunakan untuk mengukur
ketercapaian tujuan pembelajaran, mengevaluasi kemajuan masing-masing
kemampuan anak didik, dan memberikan umpan balik terhadap pemahaman anak
didik terhadap materi yang sudah dipelajari melalui kegiatan proyek, dan dapat
digunakan oleh guru untuk menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6) Evaluate The Experience.
Pada tahapan akhir pembelajaran, guru dan anak didik bersama-sama
merefleksi terhadap pelaksanaan kegiatan proyek dan hasil proyek yang sudah
dilaksanakan. Proses refleksi dapat dilakukan secara individu maupun kelompok.
2) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Istilah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) diadopsi dari istilah Inggris
Problem Based Learning (PBL). Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai
diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri
dari menyajikan kepada anak situasi masalah yang autentik dan bermakna yang
dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan
inquiri (Trianto, 2010:91).
Menurut Arends (dalam Trianto, 2010:92-94) pengajaran berdasarkan
masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana anak mengerjakan
permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka
sendiri, mengembangkan inquiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,
mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Pembelajaran berdasarkan
masalah memiliki tujuan sebagai berikut:
a) Membantu anak mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan
pemecahan masalah.
b) Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
c) Menjadi pembelajar yang mandiri.
Menurut Tan (dalam Rusman, 2011:229) Pembelajaran Berbasis Masalah
merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PMB kemampuan berpikir
anak betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang
sistematis, sehingga anak dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat diasimpulkan bahwa
model Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan pembelajaran yang menyajikan
kepada anak situasi masalah yang autentik untuk diselesaikan dan dituntaskan
guna mengembangkan inquiri dan menambah pengetahuan anak.
3) Model Pembelajaran Kelompok (Cooperative Learning)
Model Pembelajaran kelompok atau Pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning) adalah model pembelajaran yang melibatkan partisipasi anak didik
dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi. Menurut
Saputra dan Rudyanto (2005: 49) Model Pembelajaran kelompok ini berbeda
maknanya dengan model penataan kelas kelompok. Pada model pembelajaran
kelompok, aktivitas anak dilakukan secara kelompok (kegiatan kelompok) tetapi
pada model penataan kelas kelompok hanya menekankan pada pengaturan tempat
64
duduk yang dikelompok-kelompokkan, tetapi kegiatan yang disajikan belum tentu
bersifat kegiatan kelompok, lebih sering bersifat individual. Pada hakekatnya,
metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran gotong-royong
yang konsepnya hampir tidak jauh berbeda dengan metode pembelajaran
kelompok. Dengan sistem pembelajran kooperatif akan memungkinkan guru
mengelola kelas dengan lebih efektif dan anak dapat saling membelajarkan sesama
anak lainnya. Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih
luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan anak, anak
dengan anak, dan anak dengan guru. Selain itu, dalam pembelajaran kooperatif,
proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada anak, tetapi anak didik
juga dapat saling membelajarkan sesama anak lainnya.
Model pembelajaran kelompok adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan pada kerjasama di antara anak dalam mengerjakan sesuatu
pekerjaan tetapi dengan petunjuk dan bimbingan yang tidak begitu maksimal dari
gurunya. Cooperative learning merupakan model pembelajaran yang telah dikenal
sejak lama, pada saat guru mendorong para anak untuk melakukan kerjasama
dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti diskusi atau pengajaran oleh teman
sebaya (peer teaching). Dalam melakukan proses belajar-mengajar guru tidak lagi
mendominasi, anak dituntut untuk berbagi informasi dengan anak yang lainnya
dan saling belajar mengajar sesama mereka (Isjoni, 2010: 17). Dengan kelompok
belajar memberikan kesempatan kepada anak secara aktif untuk mengungkapkan
sesuatu yang dipikirkan anak kepada teman, hal tersebut akan membantu anak
dalam melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian
pandangan mereka sendiri.
Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila: (1) guru
menekankan pentingnya usaha bersama di samping usaha secara individual, (2)
guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin
menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, (4) guru
menghendaki adanya pemerataan partisispasi aktif anak (5) guru menghendaki
kemampuan anak dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk memotivasi anak
berani mengemukakan pendapatnya, menghargai pendapat teman, dan saling
memberikan pendapat serta anak dapat bekerja sama dan saling tolong-menolong
mengatasi tugas yang dihadapinya. Model cooperative learning tidak hanya
unggul dalam membantu anak memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat
berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan
membantu teman. Dalam cooperative learning, anak terlibat aktif pada proses
pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi
dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi anak untuk meningkatkan
prestasi belajarnya.
Model pembelajaran ini sangat efektif digunakan di Pendidikan Anak Usia
Dini, karena antara guru dan anak saling komunikasi dan anak-anak mendapatkan
motivasi untuk belajar bertangggungjawab secara individual. Akan tetapi, guru
harus membimbing kelompok-kelompok belajar saat mengerjakan tugas mereka
dan menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau kelompok. Untuk
mendapatkan hasil pembelajaran yang lebih baik model pembelajaran ini dapat
dikembangkan dengan lebih bervariasi oleh guru yang bersangkutan.
b. Model Penataan Kelas di PAUD
Dalam penerapan model pembelajaran pada jenjang pendidikan anak usia dini,
guru perlu menyesuaikannya dengan penataan kelas yang digunakan di kelas
tempat guru tersebut mengajar. Penataan kelas akan dapat menentukan bagaimana
pengaturan atau strategi dalam menerapkan sebuah model pembelajaran tertentu.
Adapun beberapa model penataan kelas yang dilaksanakan di kelas-kelas
Pendidikan Anak Usia Dini, diantaranya adalah Model penataan kelas Klasikal,
Model penataan kelas Kelompok, Model penataan kelas Area, Model penataan
kelas Berdasarkan Sudut-sudut Kegiatan, dan Model penataan kelas sentra atau
yang dikenal dengan BCCT (Beyond Centre and Circle Time) (Astuti, W., 2017).
Model-model penataan kelas tersebut pada umumnya menggunakan langkah-
langkah yang relatif sama dalam sehari, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat,
66
dan kegiatan akhir atau penutup. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing model
penataan kelas yang umumnya digunakan di kelas pada jenjang PAUD.
1) Model Penataan Kelas Klasikal
Model penataan kelas klasikal adalah pola penataan kelas di mana dalam
waktu yang sama, kegiatan dilakukan oleh seluruh anak sama dalam satu kelas.
Model penataan kelas ini merupakan model penataan kelas yang paling awal
digunakan di TK, dengan sarana pembelajaran yang pada umumnya sangat
terbatas, serta kurang memperhatikan minat dan karakteristik setiap anak. Seiring
dengan perkembangan teori dan pengembangan model penataan kelas, model ini
sudah banyak ditinggalkan, Namun demikian tidak menutup kemungkinan bagi
guru untuk menerapkan penataan kelas klasikal bilamana kegiatan pembelajaran
yang disampaikan oleh guru sulit untuk diterapkan dengan model penataan kelas
yang lainnya.
Model penataan kelas ini sudah sangat lama digunakan, tetapi model ini masih
sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran anak usia dini. Walaupun
dalam model penataan kelas ini anak-anak tidak aktif dan hanya berpusat pada
pendidik, tetapi apabila sering diterapkan di awal pertemuan, anak-anak akan
mengingat dengan sendirinya, seperti mengajarkan doa. Apalagi anak-anak masih
memiliki semangat untuk belajar di awal pertemuan. Dengan demikian model
penataan kelas masih sangat efektif untuk digunakan di PAUD. Namun, seorang
pendidik juga harus memberikan pengalaman dan motivasi agar anak lebih efektif
dan produktif dalam proses pembelajaran.
2) Model Penataan Kelas Kelompok
Model penataan kelas kelompok merupakan model penataan kelas dimana
dalam satu kelas kursi dan meja anak-anak diatur menjadi beberapa kelompok.
Dalam setiap kelompok tersebut ada aktivitas yang berbeda, dan anak-anak nanti
akan moving (berpindah) mengerjakan aktivitas dari kelompok yang pertama, ke
kelompok yang kedua, ketiga dan seterusnya. Model penataan kelas kelompok ini
bukan berarti kegiatannya dilakukan secara berkelompok. Kegiatan yang disajikan
oleh guru dapat bersifat individual ataupun kelompok, hanya saja penataan tempat
duduk dan meja yang dikelopok-kelompokkan. Tujuannya agar anak dapat memilih
kegiatan yang mana yang lebih mereka sukai untuk mereka selesaikan lebih dahulu.
3) Model Penataan Kelas Area (Minat)
Model penataan kelas berdasarkan Area (Minat) lebih memberikan
kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri
sesuai dengan minatnya. Namun, anak-anak tetap harus berada di bawah
pengawasan pendidik, model penataan kelas ini mengajarkan cara bertanggung
jawab dengan merapikan permainannya setelah bermain, mandiri, kreatif,
sehingga anak dapat membuat kesimpulan sendiri dari setiap hal yang
dipelajarinya. Model penataan kelas ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya dan menekankan
prinsip, individualisasi pengalaman bagi setiap anak, membantu anak untuk
pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusat-pusat kegiatan serta peran serta
keluarga dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan melibatkan keluarga
dengan cara sebagai berikut.
a) Dilibatkan secara sukarela dalam kegiatan pembelajaran.
b) Bermitra dengan TK dalam membuat keputusan tentang anak.
c) Dapat berpatisipasi dalam kegiatan di TK.
d) Pembelajaran berdasarkan minat menggunakan 10 area, yakni: area
agama, balok, bahasa, drama, berhitung, atau matematika, IPA, seni atau
motorik, pasir dan air, membaca, dan manulis. Dalam satu hari kegiatan
pembelajaran dapat dibuka minimal empat area.
Sistem Area lebih menekankan pada belajar sambil bermain atau bermain
seraya belajar. Artinya, aspek pelajaran dikemas dalam bentuk permainan,
sehingga anak-anak belajar dengan cara bermain. Anak didik bermain sesuai
dengan minat masing-masing. Mereka berhak memilih area mana yang akan
dilakukan olehnya dari minimal empat area yang disesuaikan oleh guru dalam
setiap harinya. Meskipun anak didik berhak memilih, tetapi mereka diharapkan
68