Bahasa Sanskerta I
Widya Suksma
1
Awal Peradaban Suku Bangsa Arya
3000 Tahun Sebelum Masehi
2
Wilayah India pertama yang dimasuki adalah
India Barat Laut (Lembah Sungai Sindhu) yaitu
daerah Panjab (sekarang: Punjab) menyusun
kitab suci Veda yang pertama yaitu Ṛg Veda
(Ārya berperang dengan suku bangsa Dravida). 3
4
Bahasa Sanskerta, sekaligus bangsa/orang Ārya diduga berasal
dari wilayah Rusia Selatan/sebelah utara pegunungan Kaukasus.
5
Tahun 3000 SM nenek moyang sebuah suku bangsa yang
disebut Ārya, di sekitar daerah sungai Donau ( di utara
pegunungan Kaukasus) pergi ke semenanjung Balkan.
Semenanjung Balkan sekarang adalah:
- Yunani
- Bulgaria
- Albania
- Kroasia
- Rumania
- Yugo dan Slavia
Dari Semenanjung Balkan pergi ke Barat membawa
bahasa:
- Yunani
- Rumania
- Jerman
- Inggris
- dsb. 6
Dari semenanjung Balkan pergi ke Timur membawa bahasa:
- Persia
- Hatti
- Kurdi
- Sanskerta
- dsb.
Asia kecil (sekarang: Turki) menyusuri pantai Laut Hitam
melalui daerah selatan danau Wan dan Urnia sampai di Iran
(menyusun kitab suci Avesta). Sebagian menetap, sebagian lagi ±
th. 2000 – 1500 SM pergi ke timur, masuk wilayah India.
Wilayah India pertama yang dimasuki adalah India Barat Laut
(Lembah Sungai Sindhu) daerah Panjab (sekarang: Punjab)
menyusun kitab suci Veda yaitu Ṛg Veda (Ārya perang dengan
Dravida)
± th. 1500 SM datang juga bangsa Ārya menuju bagian Timur dan
Tenggara India (Lembah Sungai Gaṅgā dan Yamunā) daerah
Do’ab (Arya diterima baik oleh Dravida)
7
Jaman itu ada 3 bahasa di India:
1. Vedic Sanskrit
• Bahasa kitab suci Veda
2. Classical Sanskrit
• Bahasa untuk karya sastra vīracarita
(Rāmāyana, Mahābhārata), Purāṇa, Smṛti,
Darśaṇa.
3. Prakṛtabhāsā
• Bahasa-bahasa rakyat/daerah seperti:
- Bahasa Pali (Buddha)
- Bahasa Magadhi (Jaina)
- Bahasa Gujarat
- Bahasa Benggali
- Bahasa Tamil
- Bahasa Dravida, dll.
8
Bahasa Pali
digunakan sebagai
bahasa pengantar
Agama Buddha,
itu semua
ada alasannya.
Bahasa Pali
adalah bahasa
rakyat kebanyakan
dan sudah
berkembang lama.
9
10
Guna mempelajari bahasa Sanskerta:
(1) menggali serta memahami ajaran agama dan
sebagainya dari sumber aslinya.
(2) dapat menganalisis kata dalam BSk secara
etimologis, misal:
● tīrthayātrā ← tīrtha + yātrā: tīrtha ‘tempat 11
permandian suci’, yātrā ‘perjalanan’
tīrthayātrā ‘perjalanan ke tempat
(permandian) suci’.
● purwadaksina (di Bali) ← pradakṣiṇa ←
pra + dakṣiṇa: pra ‘ke depan; di depan’,
dakṣiṇa ‘kanan’
pradakṣiṇa ‘bergerak memutar ke
depan dengan menempatkan sesuatu
tetap di sebelah kanan’.
Cf. prasavya
(3) Dapat memperbaiki kesalahan / kekeliruan 12
terjemahan, misal:
● agama ← āgama:
~ a ‘tidak’, gam ‘bergerak’ berjalan
agama ‘tidak bergerak/berubah ‘
langgeng
ā ‘mendekat ke arah..., sampai ke ...’, gam
‘bergerak, berjalan’, āgama
‘bergerak/berjalan mendekat ke arah ...’.
● Tat tvam asi ‘Engkau adalah dia’ (tat ‘dia,
itu’; tvam ‘engkau’; asi ‘adalah’) : sering
kali diartikan dengan
‘Aku adalah engkau’ / ‘Engkau adalah aku’ ;
dan sebagainya.
● Desa kala patra: lazimnya diartikan dengan
‘Tempat, waktu, dan keadaan’.
Sepatutnya,
deśa kāla pātra
tempat pelaku
waktu
Tempat, waktu, dan pelaku (aktor/aktris)
13
14
Pengertian tentang Istilah Sanskerta
Pendekatan Etimologis 15
Kata Sanskerta (B.I) , Saṁskṛta (B.Skt)
Saṁskṛta < Sam-s-kṛ (a.k.k.kl.I)
kṛ skṛ jika mendapat preposisi
sam-, pari-, nis-, dan upa-.
Misalnya kata : saṁskāra ‘penyucian’, pariṣkṛta ‘telah
disiapkan, terhiasi’, niskṛta ‘dikeluarkan, dibuang’,
upaskṛta ‘dilengkapi dengan, diatur, dipersiapkan’.
(cf. upākara ‘bantuan, persiapan’)
sam- ‘lengkap, bersama-sama’
kṛ ‘membuat, mengerjakan, menyusun’.
kṛta (past passive participle) yang sudah atau ‘telah
dikerjakan/dilakukan/disusun’.
Saṁskṛta “telah dikerjakan/disusun secara lengkap/
sempurna”.
Penggunaan Sebagai Terminologi
Dalam Mahābhāsya (Patañjali, ± 150 BC) ada istilah-istilah :
a) Vaidikībhāṣā:
b) sebuah Ragam sastra / susastra (termasuk dari Catur Veda,
±2500 BC)
c) Laukikībhāṣā
[Mānuṣībhāṣā] : Ragam bahasa sehari-hari dikalangan
brahmana/sarjana.
Laukikibhāṣā setelah dibenahi, menjadi
Saṁskṛta/Saṁskṛtabhāṣā juga.
~ Saṁskṛta Vaidikībhāṣā
Laukikībhāṣā
~ Di kalangan rakyat di daerah-daerah muncul bahasa Prakerta 16
(Prakṛtabhāṣā)
Dalam perkembangannya di Indonesia,
BSk. dibedakan menjadi 3 versi:
1) BSK Weda (Vedic Sanskrit) / Daivivak :
digunakan dalam Weda;
2) BSK klasik (Classical Sanskrit) : digunakan
dalam Rāmāyana, Mahābhārata, Purāṇa, Smṛti,
Darśaṇa.
3) BSK Campuran (Hybrid Sanskrit) / Archipelago
Sanskrit (BSk. Kepulauan / Nusantara) :
digunakan dalam Stuti dan Stawa.
17
Bahasa Sanskerta
a. Klasifikasi Genetis : Rumpun Indo-Eropa
b. Klasifikasi Tipologis : Bahasa berfleksi
c. Klasifikasi Areal : (?)
d. Klasifikasi Sosiolinguistik : Bahasa klasik
18
Saṁskṛta
•Istilah Saṁskṛta dengan arti ‘bahasa Sanskerta’ untuk pertama kali
digunakan dalam kitab Rāmāyaṇa (Sundarakāṇḍa, 30, 17-18) (Sharma,
1985: 2), dalam syair yang berbunyi,
“ahaṁ hyatitanuścaiva vānaraśca viśeṣataḥ,
vācaṁ codāhariṣyāmi mānuṣīm iha saṁskṛtām;
yadi vācaṁ pradāsyāmi dvijātir iva saṁskṛtām,
rāvaṇaṁ manyamānā māṁ sitā bhitā bhaviṣyati.”
Artinya,
‘Saya hanyalah seekor kera berbadan amat kecil, di sini perlu
mengucapkan bahasa Sanskerta yang digunakan oleh para
manusia; (sebab) jika saya memberikan (mengucapkan)
bahasa Sanskerta seperti seorang Brahmana, [tentu] Sita akan
mengira Rawana menyamar menjadi aku [Hanuman] dan akan
menjadi takut’
19
20
21
Bahasa Sanskerta: Bahasa Berfleksi
Berfleksi : adanya modifikasi pada akar kata
kerja atau kata dasar suatu kata benda karena
memperoleh unsur-unsur tata bahasa.
Akibatnya : Kalimat/wacananya terdiri atas kata-
kata yang :
a. Merupakan hasil bentukan / perubahan
karena :
1) Deklinasi, atau
2) Konjugasi
22
b. Berbentuk tetap (indeclinable), yakni :
1) Adverbia : atah ‘karena itu’,
adya ‘hari ini’,
na ‘tidak’,
iva ‘sebagai’, dsb,
2) Konjungsi : ca ‘dan’, tu ‘tetapi’,
vā ‘atau’, dsb,
3) Interjeksi : he ‘hai’, bhoh ‘oh’,
dhik ‘cis’, dsb,
4) Preposisi : ud- ‘ke atas’, ni- ‘di bawah’, ava- ‘di
bawah’ dsb
23
24
Konjugasi / Tasrifan Kata Kerja
(Conjugation) Gambaran Umum
Konjugasi : sebuah perubahan yang dilakukan
terhadap suatu akar kata kerja dengan selalu
harus memperhatikan faktor-faktor yang telah
ditetapkan sehingga tercapai bentuk-bentuk
kata kerja yang siap (layak) digunakan dalam
tatanan kalimat atau wacana lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi : 25
1. Orang (persona, person)
a. Or. I (uttamapuruṣa)
b. Or. II (madhyamapuruṣa)
c. Or. III (prathamapuruṣa)
2. Jumlah (number)
a. Singularis (ekavacana) : satu
b. Dualis (dvivacana) : dua
c. Pluralis (bahuvacana) : banyak/lebih dari dua
3. Bentuk kata kerja
a. Parasmaipadam : aktif transitif
b. Ātmanepadam : intransitif
c. Pasif
4. Modus (cara/lagu pengucapan kalimat sesuai isi dari
kalimat)
a. Indikatif : kata kerja biasa/menunjukkan apa adanya.
b. Optatif : kata kerja pengharapan.
c. Imperatif : kata kerja perintah.
5. Tempo (waktu, tenses)
a. Presen : waktu sekarang
b. Imperfektum : waktu lampau
c. Futurum : waktu yang akan datang
d. Perfektum : waktu ‘selesai’
e. Aoristus : semacam waktu lampau
26
6. Kelas akar kata kerja
a. Golongan bertema
1) Kl. I : bhū-class / bhvādigaṇa / a class
2) Kl. IV : div-class / divādigaṇa / ya class
3) Kl. VI : tud-clas / tudādigaṇa / á class
4) Kl. X : “cur- class” / curādigaṇa / “aya
class”
b. Golongan tidak bertema
1) Kl. II : ad-class / adādigaṇa / root class
2) Kl. III : hu-class / hvādigaṇa / na class
3) Kl. V : su-class / svādigaṇa / nu class
4) Kl. VII : rudh-class / rudhādigaṇa / nasal
class
5) Kl. VIII : tan-class / tanādigaṇa / u class
6) Kl. IX : kri-class / kryādigaṇa / nā class
27
Contoh Format Tabel Konjugasi
JUMLAH SINGULARIS DUALIS PLURALIS
ORANG ……………………..
ORANG I ………………….. ……………………..
ORANG II ……………………… ………………….. ……………………..
ORANG III ……………………… ………………….. ……………………..
28
Contoh Tabel Konjugasi Akar Kata Kerja Klas I “Pat”
dalam Presen Indikatif Parasmaipadam
125 43 6
JUMLAH SINGULARIS DUALIS PLURALIS
ORANG
ORANG I …………………mi …………….vaḥ ………………maḥ
ORANG II ………………….si ……………thaḥ ………………..tha
ORANG III …………………..ti ……………..taḥ …………………nti
A.T.O. 29
Tasrifan / Konjugasi Kata Kerja
30
31
32
33
34
35
Contoh Konjugasi / Tasrifan
1. Konjugasi akar kata kerja klas I pat (jatuh)
dalam Presen Indikatif Parasmaipadam
Or. Singularis Dualis Pluralis
1 patāmi patāvaḥ patāmaḥ
2 patasi patathaḥ patatha
3 patati patataḥ patanti
2. Konjugasi akar kata kerja klas I pat (jatuh)
dalam Presen Indikatif Ātmanepadam
Or. Singularis Dualis Pluralis Perhatikan
1 pate patāvahe patāmahe perbedaannya
2 patase patethe patadhve
3 patate patete patante 36
Kata Ganti Orang Dan Predikatnya
(Untuk Subjek Dalam p.i.p)
I. Ahaṁ carāmi (saya sendiri pergi)
Āvāṁ carāvaḥ (saya berdua pergi)
Vayaṁ carāmaḥ (saya semua pergi)
II. Tvaṁ carasi (kamu sendiri pergi)
Yuvāṁ carathaḥ (kamu berdua pergi)
Yūyaṁ caratha (kamu semua pergi)
37
III. Saḥ carati (dia sendiri(laki-laki)pergi)
Sā carati (dia sendiri(wanita)pergi)
Tad carati (dia sendiri(benda)pergi)
Tau carataḥ (dia berdua(laki-laki)pergi)
Te carataḥ (dia berdua(wanita)pergi)
Te carataḥ (dia berdua (benda)pergi)
Te caranti (mereka(laki-laki)pergi)
Tāḥ caranti (mereka(wanita)pergi)
Tāni caranti (mereka(benda)pergi)
38
Pasangan Antara Subjek Dan Predikat Dalam
Presens Indikatif Parasmaipadam
(Predikatnya Berdasarkan a.k.k.k. I : vad berbicara)
39
Perubahan Vokal Guna dan Vṛddhi
a ā i ī u ūṛ ṝ ḷ
al
aā e o ar āl
ā āi āu ār
Bentuk Guna
Mengubah akar kata kerja menjadi bentuk “guna” perlu
tahu :
a. Suku kata berat
b. Suku kata ringan
40
Maka didapatkan : 41
1. Ringan terbuka
Suku kata vokal pendek
Contoh : ji
2. Ringan tertutup
Suku kata vokal pendek ditutup satu konsonan
Contoh : pat
3. Berat terbuka
Suku kata vokal panjang
Contoh : nī
4. Berat tertutup
a. Suku kata vokal panjang ditutup satu konsonan
Contoh : jīv
b. Suku kata vokal pendek ditutup dua konsonan
atau lebih
Contoh : cint
Deklinasi (Declension)
Gambaran Umum
Deklinasi : perubahan (fleksi) yang dilakukan terhadap
(a) kata benda, (b) adjektiva, (c) pronomina dan sejumlah
kata lain yang di deklinasikan seperti pronomina, (d) kata
bilangan, dan (e) sejumlah bentuk kata kerja
pertumbuhan dengan tujuan untuk mendapat bentuk-
bentuk yang siap (layak) digunakan dalam tatanan
kalimat atau wacana lain.
Contoh kata benda (nomina, noun) : deva (m) ‘dewa,
raja’, phala (n) ‘buah, hasil’, guru (m) ‘guru’
Contoh adjektiva (kata sifat) : dīrgha ‘panjang’, kṛṣṇa
‘hitam’, śveta ‘putih’
Contoh adjektiva verbal : pūrṇa ‘penuh’, tyakta
‘tertinggalkan’, labdha ‘tercapai’
42
~Contoh pronomina (kata ganti) : mad/asmad ‘saya’,
tvad/yusmad ‘engkau’, tad/ta ‘dia, itu’.
‐ Contoh kata lain yang dideklinasikan seperti
pronomina : ya ‘yang mana, siapa’, anya ‘yang lain,
kim/ka ‘siapakah ?’
~Contoh kata bilangan : eka ‘satu’, prathama ‘kesatu,
pertama’, ardha ‘setengah’ [Jenis; kt.bil. pokok/cardinal
number=eka…kt.bil.tingkat/ordinalnumber=prathama…
kt.bil.pecahan/partitive number=ardha].
~Contoh kata kerja pertumbuhan : bhavat/bhavant
‘sedang [telah] ada’, bhavamāna ‘sedang [telah] ada
(ātm), dṛśyamana ‘sedang [telah] terlihat’.
43
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Deklinasi
a. Kasus (case)
1. Nominatif (prathamāvibhakti) : subjek kalimat
2. Vokatif (Sambhodana) : tokoh/pihak yang dipanggil
atau diseru
3. Akusatif (Dvitīyāvibhakti) : objek kalimat
4. Instrumentalis (Tṛtīyāvibhakti) : keterangan alat
atau keterangan sebab.
5. Datif(Caturthāvibhakti) : pelengkap berkepentingan
6. Ablatif (Pañcamāvibhakti) : keterangan asal
7. Genitif (Saṣṭhāvibhakti) : keterangan posesif
8. Lokatif (Saptamāvibhakti) : keterangan tempat
44
b. Jumlah (Number)
1. Singularis : (bersifat) tunggal
2. Dualis : (bersifat) dua
3. Pluralis : (bersifat) lebih dari dua,
banyak/jamak
c. Jenis Kelamin
1. Maskulinum : jantan, laki-laki
2. Femininum : wanita, betina
3. Netrum : diluar jenis kelamin di atas ini
d. Bunyi akhir kata yang dideklinasikan
1. Vokal, misal : a, ā, i, ī, u, ū, ṛ
2. Konsonan, misal : c, t, n, s
45
Kasus
46
Contoh Format Tabel Deklinasi
No Kasus Singularis Dualis Pluralis
1 Nominatif ................. ……………. ..…………….
2 Vokatif ……………… ……………. ………………
3 Akusatif ……………… ……………. ………………
4 Instrumentalis ……………… ……………. ………………
5 Datif ……………… ……………. ……………...
6 Ablatif ……………… ……………. ………………
7 Genitif ……………… ……………. ………………
8 Lokatif ……………… ……………. ………………
47
Deklinasi Kata Benda
Deva (m) ‘Dewa’
No Kasus Singularis Dualis Pluralis
1 Nominatif devaḥ devau devāḥ
devau devāḥ
2 Vokatif deva devau devān
devābhyām devaiḥ
3 Akusatif devam devābhyām devebhyaḥ
devābhyām devebhyaḥ
4 Instrumentalis devena devayoḥ devānām
devayoḥ deveṣu
5 Datif devāya
6 Ablatif devāt
7 Genitif devasya
8 Lokatif deve
48
Deklinasi Kata Benda
Gaja (m) ‘Gajah’
No Kasus Singularis Dualis Pluralis
1 Nominatif gajaḥ gajau gajāḥ
gajau gajāḥ
2 Vokatif gaja gajau gajān
gajābhyām gajaiḥ
3 Akusatif gajam gajābhyām gajebhyaḥ
gajābhyām gajebhyaḥ
4 Instrumentalis gajena gajayoḥ gajānām
gajayoḥ gajeṣu
5 Datif gajāya
6 Ablatif gajāt
7 Genitif gajasya
8 Lokatif gaje
49
Penting !
Harus diperhatikan, apa Jenis Kelaminnya?
50