The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Naufal Dani, 2020-11-12 04:47:45

Metode Kerja Pelaksanaan Jembatan

Metode Kerja Pelaksanaan Jembatan

PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE

(PINESKPEERKJTAUARNLAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN)

MODUL
SIB – 11 : METODA KERJA

PELAKSANAAN PEKERJAAN
JEMBATAN

2006
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA

PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN
KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)

MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Dalam rangka pelaksanaan proyek jembatan, maka Modul Methode Kerja
Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan merupakan bagian yang sangat penting, agar
seluruh jajaran pelaksana mampu memahami dalam melaksanakan langkah-
langkah prosedur pelaksanaan konstruksi jembatan sesuai dengan kaidah dan
ketentuan yang berlaku.

Penyamaan persepsi atas standar prosedur dalam pelaksanaan proyek
diperlukan agar proyek dapat terlaksana sesuai dengan batasan waktu, biaya dan
mutu. Oleh karena itu dalam modul ini telah dijabarkan beberapa methode
pelakasanaan jembatan yang mengacu beberapa referensi dan ketentuan yang
tercantum dalam spesifikasi jembatan pada umumnya.

Modul Methode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan menyajikan dasar-dasar
methode pelaksanaan jembatan baik untuk proyek skala menengah maupun
skala besar, sehingga akan bermanfaat untuk semua segmen yang memerlukan,
agar pelaksanaan jembatan dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien.

Telah dicoba membatasi materi modul methode Pelaksanaan Jembatan agar
sesuai dan optimal dengan batasan waktu yang tersedia dalam pelatihan. Namun
untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dan jelas bagi peserta,
akhirnya ditetapkan cakupan materi modul sebagaimana terlampir.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -i-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -ii-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan
Jembatan (Site Inspector of Bridges)

MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu membuat pelaporan yang mendukung
pelaksanaan aktivitas pengendalian, pengawasan, pemantauan, dan pengambilan
keputusan.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :
Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:
1. Mengawasi pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2. Membaca Data Geoteknik
3. Mengawasi penggunaan Bahan Jembatan
4. Membaca Gambar
5. Mengawasi penggunaan Alat-alat Berat
6. Mengawasi pelaksanaan Pengukuran dan Pematokan
7. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Tanah
8. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Beton
9. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan

Jembatan
10. Mengawasi pelaksanaan Pemeliharaan Jembatan Darurat dan Pengaturan

Lalu Lintas
11. Mengawasi pelaksanaan Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan
12. Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -iii-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

NOMOR DAN JUDUL MODUL : SIB - 11 Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan
Jembatan

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah modul ini dipelajari, peserta memahami proses pelaksanaan proyek
jembatan serta mampu melakukan langkah kegiatan berkaitan dengan
pelaksanaan jembatan mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan proyek.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Mengawasi pelaksanaan pematokan pada pelaksanaan pekerjaan

pembangunan jembatan.
2. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan pondasi.
3. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi beton.
4. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan bangunan baja.
5. Menjelaskan teknik pemasangan bangunan atas baja.
6. Mengawasi pelaksanaan pemasangan landasan dan sambungan-

sambungan.
7. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan perlindungan saluran air dan tanggul.
8. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan jalan pendekat/oprit.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -iv-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

LEMBAR TUJUAN ii

DAFTAR ISI iv

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN INSPEKTOR

LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN (Site Inspector of Bridge) viii

DAFTAR MODUL ix

PANDUAN INSTRUKTUR x

BAB I PEMATOKAN PADA PELAKSANAAN
PEKERJAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN
1.1 PENDAHULUAN I-1
1.2 PENGUKURAN HORIZONTAL I-1
I-1
1.2.1 Sistem Kontrol Garis I-1
1.2.2 Sistem Koordinat I-2
1.3 PENGUKURAN VERTIKAL I-2
1.4 TITIK-TITIK KONTROL SURVEI I-2
1.5 PENENTUAN ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR I-3
1.5.1 Umum I-3
1.5.2 Tiang Pancang I-3
1.5.3 Telapak Pondasi dan Beton kopel Tiang
(Footings and Pile Caps) I-4
1.5.4 Kolom-kolom I-4
1.5.5 Balok Melintang Ujung (Crosshead) I-5
1.5.6 Landasan I-5
1.5.7 Balok dan Gelegar I-5
1.5.8 Lantai dan Parapet Jembatan (Tembok
Sedada) I-6

BAB II PEKERJAAN PONDASI II-1
2.1 UMUM II-1
2.2 PONDASI LANGSUNG (SPREAD FOOTING) II-2
2.2.1 Umum II-2
2.2.2 Tanah II-2
2.2.3 Batuan II-3
2.2.4 Pekerjaan Perapihan (Trimming) dan Persiapan II-3
2.3 PONDASI TIANG II-6
2.3.1 Umum II-7
2.3.2 Peralatan Pemancangan II-13
2.3.3 Tiang Pancang Beton II-22
2.3.4 Tiang Pancang Baja II-29
2.3.5 Tiang Yang Dipancang II-32
2.3.6 Tiang Yang Dibor dan Dicor Setempat II-40
2.3.7 Tanah Yang Sulit dan Halangan-Halangan II-43

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -v-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

2.4.PONDASI CAISSON II-44
2.4.1 Umum II-44
2.4.2 Beton Yang Dicor Setempat II-44

BAB III KONSTRUKSI BETON III-1
3.1 UMUM III-1
3.2 ACUAN DAN PERANCAH III-1
3.2.1 Umum III-1
3.2.2 Acuan III-1
3.2.3 Sambungan(Joint) III-12
3.2.4 Perancah III-13
3.3 PENULANGAN III-14
3.3.1 Bahan-bahan III-14
3.3.2 Pengiriman Baja III-14
3.3.3 Penumpukan di Lokasi III-14
3.3.4 Pembengkokan di Lokasi III-15
3.3.5 Pembersihan Sebelum Mengecor Dalam Acuan III-15
3.3.6 Pelekatan, Penjangkaran dan Penyambungan III-15
3.3.7 Selimut (Penutup) Penulangan III-16
3.3.8Penempatan dan Pengikatan III-17
3.3.9Pengelasan Titik Untuk Penulangan III-18
3.4 PENGECORAN BETON III-19
3.4.1 Pengecoran beton di bawah air III-23
3.4.2 Pemadatan Beton III-24
3.4.3 Penyelesaian Permukaan Beton III-26
3.4.4 Perawatan Beton III-30
3.4.5 Kualitas Beton III-35
3.4.6 Sambungan (Joint) III-36
3.5 BETON PRATEKAN III-43
3.5.1 Umum III-44
3.5.2 Saluran (ducting) Untuk Tendon Prategang III-44
3.5.3 Tendon dan Penjangkaran III-45
3.5.4 Penegangan III-47
3.5.5 Tindakan Pengamanan III-53
3.5.6 Grouting III-54
3.5.7 Penanganan dan Penyimpanan Gelegar dan
Unit Lantai Pra-tekan Pracetak III-56
3.5.8 Detail-detail Praktis III-57
3.6 GROUT YANG CACAT III-64
3.6.1 Umum III-64
3.6.2 Cara-cara Perbaikan III-64

BAB IV BANGUNAN BAJA IV-1
4.1 FABRIKASI PEKERJAAN BAJA IV-1
4.1.1 Umum IV-1
4.1.2 Gambar-Gambar IV-1
4.1.3 Prosedur Fabrikasi IV-1
4.2 PENGELASAN IV-4
4.2.1 Umum IV-4
4.2.2 Pemanasan Pendahuluan IV-4

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -vi-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

4.2.3 Perubahan Bentuk (Distorsi) IV-4
4.2.4 Kualifikasi Operator Pengelasan IV-5
4.2.5 Kualifikasi Prosedur Pengelasan IV-5
4.2.6 Elektroda-Elektroda IV-6
4.2.7 Pemeriksaan dan Perbaikan-perbaikan
IV-7
Pengelasan
4.3 PEMERIKSAAN PADA PEKERJAAN BAJA IV-7
FABRIKASI IV-8
IV-8
4.3.1 Umum IV-8
4.3.2 Pemeriksaan Pengelasan IV-9
4.3.3 Kerusakan-Kerusakan Dalam Pengelasan IV-9
4.4 PERAWATAN PERLINDUNGAN BAJA IV-9
4.4.1 Umum IV-9
4.4.2 Persiapan Permukaan IV-10
4.4.3 Pelapis Dasar (Primer) IV-10
4.4.4 Pelapis Bawah (Undercoats)
4.4.5 Penyelesaian Akhir (Lapisan penutup/atas) IV-12
4.5 PENANGANAN DAN PENYIMPANAN PEKERJAAN IV-12
IV-13
BAJA IV-14
4.6 PEMASANGAN STRUKTUR BAJA IV-15
IV-15
4.6.1 Pemasangan Gelegar IV-15
4.6.2 Pemasangan Rangka (Truss Erection)
4.6.3 Perkuatan Melintang (Cross-bracing) IV-16
4.7PENYAMBUNGAN DI LAPANGAN IV-18
4.7.1 Umum IV-19
4.7.2 Baut Berkekuatan Tinggi (High Strengh
V-1
Bolts) V-1
4.7.3 Pengelasan di Lapangan V-1
4.7.4 Perubahan Cat Galvanized V-1
V-18
BAB V TEKNIK PEMASANGAN BANGUNAN ATAS BAJA V-27
5.1 UMUM V-31
5.2 JEMBATAN RANGKA AUSTRALIA V-32
5.2.1 Jembatan Rangka Tetap (Permanen) V-34
5.2.2 Jembatan Rangka Permanen Khusus V-35
5.2.3 Rangka Semi Permanen V-37
5.3 JEMBATAN GELAGAR AUSTRALIA
5.3.1 Umum V-39
5.3.2 Komponen-Komponen V-39
5.3.3 Metoda-Metoda Pemasangan V-41
5.3.4 Persoalan-Persoalan Umum V-42
5.4. JEMBATAN RANGKA BELANDA (HOLLANDIA V-51
KLOOS) V-51
5.4.1 Umum V-51
5.4.2 Komponen-Komponen V-59
5.4.3 Cara Pemasangan
5.4.4 Persoalan Umum -vii-
5.5 JEMBATAN RANGKA AUSTRIA
5.5.1 Rangka Permanen
5.5.2 Rangka Semi Permanen

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

5.6 PERBANDINGAN JEMBATAN RANGKA PERMANEN

AUSTRALIA, BELANDA DAN AUSTRIA V-61

5.7. JEMBATAN SEMENTARA (TRANSPANEL DAN V-61
V-61
MABEY PANEL) V-62
V-67
5.7.1 Umum
VI-1
5.7.2 Jembatan Transpanel Australia VI-1
VI-1
5.7.3 Jembatan Mabey dan Johnson VI-2

BAB VI LANDASAN SAMBUNGAN-SAMBUNGAN VII-1
6.1 UMUM VII-1
6.2 LANDASAN VII-1
6.3 SAMBUNGAN VII-2
VII-3
BAB VII PERLINDUNGAN SALURAN AIR DAN TANGGUNG
7.1 UMUM VIII-1
7.2 BRONJONG VIII-1
7.3 PENEMPATAN (PENAMBALAN) BATU VIII-2
7.4 TIANG TURAP VIII-2
VIII-2
BAB VIII JALAN PENDEKAT/OPRIT
8.1 UMUM
8.2 BAHAN-BAHAN
8.3 PEMADATAN
8.4 PELAPISAN ASPAL

RANGKUMAN

DAFTAR PUSTAKA

HAND OUT

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -viii-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN

JEMBATAN (Site Inspector of Bridge)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Inspektor Lapangan
Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge) dibakukan dalam
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah
ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Inspektor Lapangan
Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge) unit-unit tersebut
menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing
Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang
menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari
setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan
kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan
kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka
berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang
harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Inspektor Lapangan
Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -ix-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Inspektur Lapangan Pekerjaan Jembatan
Site Inspector of Bridge (SIB)
Nomor Kode
Modul SIB – 01 Judul Modul

1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2 SIB – 02 Membaca Data Geoteknik

3 SIB – 03 Bahan Jembatan

4 SIB – 04 Membaca Gambar

5 SIB – 05 Alat Berat

6 SIB – 06 Pengukuran dan Pematokan

7 SIB – 07 Pekerjaan Tanah

8 SIB – 08 Pekerjaan Beton

9 SIB – 09 Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan

10 SIB – 10 Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas

11 SIB – 11 Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan
Jembatan

12 SIB – 12 Teknik Pelaporan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -x-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

Seri / Judul SIB / 11 – METODE KERJA PELAKSANAAN
Deskripsi PEKERJAAN JEMBATAN

Modul ini membicarakan mengenai metode kerja
pelaksanaan jembatan dengan menyajikan dasar-dasar
metode pelaksanaan jembatan maupun penjabaran
beberapa metode pelaksanaan jem-batan.
Modul ini menguraikan komponen-komponen dari proses
pe-kerjaan pembangunan jembatan secara utuh sesuai
dengan urutannya, dengan cakupan pembahasan yang
cukup luas, mulai dari adminis-trasi proyek termasuk
dokumen proyek, penyusunan program dan jadwal
pelaksanaan serta penyiapan lokasi, pengendalian dan
pemeriksaan mutu bahan, penyim-panan bahan, dan lain
sebaga-inya sampai mengenai pengu-kuran, pekerjaan
pondasi , tiang, juga teknik pemasangan ba-ngunan
jembatan, serta konstruksi beton.

Tempat kegiatan Di dalam ruang kelas, lengkap dengan fasilitas yag
Waktu kegiatan diperlukan

4 JP atau 180 menit

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -xi-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah : Pembukaan

 Menjelaskan tujuan instruksional  Mengikuti penjelasan TIU OHP.

(TIU dan TIK) dan TIK dengan tekun dan

 Merangsang motivasi peserta de- aktif

ngan pertanyaan ataupun penga-  Mengajukan pertanyaan a-

lamannya dalam melakukan pe- pabila ada yang kurang jelas

kerjaan jembatan

Waktu : 5 menit

2. Ceramah : Bab I, Pematokan pada
pelaksanaan pekrjaan pembangunan
jembatan

Memberi penjelasan, uraian atau ba-  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
hasan mencakup beberapa hal : hasan instruk-tur

 Titik kotrol, ulasan singkat tentang  Mengajukan pertanyaan a-
pentingnya titik–titik kontrol pabila ada yang kurang jelas

 Pengukuran horizontal  Mencatat hal-hal yang perlu
 Pengukuran vertikal
 Titik-titik kontrol survey
 Penentuan elemen struktur

Waktu : 15 menit

3. Ceramah : Bab II, Pekerjaan Pon-
dasi

Memberi penjelasan, bahasan atau  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
uraian mengenai pekerjaan pondasi : hasan ataupun uraian ins-
truktur dengan tekun
 Beberapa kesalahan yang harus
dihindari  Mengajukan pertanyaan a-
pabila ada yang kurang jelas
 Pondasi langsung : gambaran
umum pondasi langsung, maslah  Mencatat hal-hal yang perlu
tanah, batuan, trimming dsb,  Mengikuti diskusi yang dila-
termasuk tabel-tabel
kukan instruktur
 Pondasi tiang :
- Masalah umum : pengang-
kutan, persiapan, pematokan,
penempatan tiang pancang,
dsb. termasuk rumus-rumus
- Peralatan pemancangan
- Tiang pancang beton
- Tiang pancang baja
- Tiang yang dipancang

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -xii-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

- Tiang yang dibor dan dicor
setempat

- Tanah yang sulit
 Pondasi Caison

- Ulasan singkat tentang pon-
dasi caison

- Beton yang dicor setempat

Waktu : 45 menit

4. Ceramah : Bab III, Pekerjaan

beton

 Mengikuti penjelasan, ba- OHP.

Memberi penjelasan, bahasan atau hasan ataupun uraian ins-

uraian mengenai konstruksi beton, truktur dengan tekun

mencakup dintaranya :  Mengajukan pertanyaan a-

 Acuan dan perancah pabila ada yang kurang jelas

 Penulangan, diantaranya bahan-  Mencatat hal-hal yang perlu

bahan, pembengkokan di lapang-  Mengikuti diskusi yang dila-

an, penutupo penulangan kukan instruktur

 Pengecoran beton, cara-cara

pengecoran, pemadatan beton,

penyelesaian permukaan, pera-

watan, kualitas beton

 Beton pratekan, diantaranya sa-

luran/ducting,penjangkaran, pe-

negangan, tindakan pengamanan

Waktu : 45 menit

5. Ceramah : Bab IV, Bangunan baja

Memberi penjelasan, uraian, bahas-  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
an, mengenai bangunan baja, men- hasan ataupun uraian ins-
cakup : truktur dengan tekun
 Fabrikasi pekerjaan baja
 Pengelasan  Mengajukan pertanyaan a-
 Pemeriksaan pabila ada yang kurang jelas
 Perawatan perlindungan baja
 Pemasangan struktur baja  Mencatat hal-hal yang perlu
 Penyambungan di lapangan  Mengikuti diskusi yang dila-

kukan instruktur

Waktu : 30 menit

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -xiii-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

6. Ceramah : Bab V, Teknik pema-

sangan bangunan atas

baja  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.

hasan ataupun uraian ins-

Memberikan bahasan, uraian atau- truktur dengan tekun

pun penjelasan mengenai teknik pe-  Mengajukan pertanyaan a-

masangan bangunan atas baja, dian- pabila ada yang kurang jelas

taranya :

 Jembatan rangka Australia :

- Jembatan rangka tetap  Mencatat hal-hal yang perlu

- Jembatan rangka permanen  Mengikuti diskusi yang dila-

khusus kukan instruktur

- Rangka semi permanen

 Jembatan gelagar Australia

 Jembatan rangka Belanda

 Jembatan rangka Austria

 Perbandingan : jembatan rangka

permanen Australia, Belanda dan

Austria

 Jembatan sementara (transpanel

dan mabey panel)

Waktu : 20 menit

7. Ceramah : Bab VI, Landasan dan
sambungan-sambungan

Memberi penjelasan, uraian atau  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
bahasan mengenai Landasan dan hasan ataupun uraian ins-
Sambungan-sambungan, mencakup : truktur dengan tekun
 Landasan
 Sambungan, antara lain bahan.  Mengajukan pertanyaan a-
pabila ada yang kurang jelas
Pemadatan, pelapisan aspal.
 Mencatat hal-hal yang perlu
Waktu : 10 menit  Mengikuti diskusi yang dila-

kukan instruktur

8. Ceramah : Bab VII, Perlindungan
saluran air dan tanggul

Memberi penjelasan maupun uraian  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
tentang perlindungan saluran air dan hasan ataupun uraian ins-
tanggual : truktur dengan tekun
 Bronjong
 Penempatan/penambalkan batu  Mengajukan pertanyaan a-
 Tiang turap pabila ada yang kurang jelas

 Mencatat hal-hal yang perlu

Waktu : 5 menit.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -xiv-

Modul SIB-11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Kata Pengantar

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

9. Ceramah : Bab VIII, Jalan
pendekat/oprit

Memberi penjelasan maupun uraian  Mengikuti penjelasan, ba- OHP.
tentang jalan pendekat/oprit : hasan ataupun uraian ins-
 Bahan-bahan truktur dengan tekun
 Pemadatan
 Pelapisan aspal  Mengajukan pertanyaan a-
pabila ada yang kurang jelas
Waktu : 5 menit.
 Mencatat hal-hal yang perlu

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) -xv-

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

BAB I
PEMATOKAN PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN

PEMBANGUNAN JEMBATAN

1.1 PENDAHULUAN

Seluruh elemen-elemen struktur suatu jembatan pada pelaksanaan pekerjaan
pembangunan jembatan harus berada pada posisi yang benar. Untuk memindahkan
suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di lapangan, maka
dibutuhkan :
 Sejumtah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada suatu sistem koordinat

yang tetap;
 Dalam perencanaan jembatan harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama.
Titik-titik kontrol sementara setempat dapat ditentukan di sekitar lokasi jembatan dengan
melakukan pengukuran baik vertikal maupun horizontal dan dari titik-titik kontrol tersebut
posisi akhir dari elemen struktur dapat ditetapkan..
Apabila terdapat ketidak-jelasan informasi pada gambar rencana yang menimbulkan
keraguan interpretasi, maka pengawas Lapangan harus menghubungi perencananya
untuk mendapatkan kejelasan. Kontraktor bertanggung-jawab dalam penentuan dan
pematokan secara keseluruhan, sedang pengawas lapangan harus memastikan bahwa
Kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta telah menyiapkan titik-titik kontrol
yang dipasang.

1.2 PENGUKURAN HORISONTAL

Pengukuran horisontal didasarkan baik pada sistem kontrol garis ataupun sistem
koordinat, namun bila dibutuhkan dapat merupakan kombinasi dari kedua sistem di atas.

1.2.1 SISTEM KONTROL GARIS

Dalam sistem ini penentuan pengukuran didasarkan pada sistem referensi garis, dalam
hal ini biasanya digunakan garis tengah Jembatan. Garis kontrol offset dapat pula
digunakan.
Titik-titik utama (key points) ditentukan dari pengikatan, titik-titik kontrol offset serta
pengukuran jarak langsung dan pengukuran sudut sepanjang garis referensi.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-1

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

Garis-garis kontrol tidak perlu harus lurus, dapat berbentuk lingkaran atau lengkungan
spiral. Dalam hal ini, suatu perhitungan data-data koordinat kritis, pengikatan, landasan
serta lengkungan harus tercakup dan tertera pada gambar alinemen.

1.2.2 SISTEM KOORDINAT

Dalam sistem ini, titik-titik utama harus ditentukan koordinatnya. Untuk menentukan
posisi koordinat-koordinat tersebut di lapangan, dilakukan pengukuran jarak dari titik
kontrol hasil survei yang dihitung berdasarkan pada ordinat arah Utara-Timur.

1.3 PENGUKURAN VERTIKAL

Ketinggian permukaan tanah dapat diukur dari titik Bench Mark. Bench Marks
mengendali bangunan dapat di tempatkan pada lokal atau pada gabungan datum.
Geometri vertikal garis kontrol biasanya telah ditentukan. Data-data ini memerinci
rangkaian. titik-titik tangen vertikal, ketinggian dan kemiringan permukaan akhir.
Pengukuran lengkung vertikal sering diabaikan jika lengkungan vertikal normal dan
dikurangi dengan ketinggian yang diukur pada interval-interval pendek sepanjang garis-
garis rencana.

1.4 TITIK-TITIK KONTROL SURVEI

Suatu jaringan titik kontrol survei ditentukan untuk mencakup seluruh daerah proyek, dan
ditempatkan pada posisi yang tepat di dalam lokasi pekerjaan konstruksi. Jarak antar
titik-titik kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter.
Titik-titik kontrol survei sebaiknya berada dekat dengan lokasi jembatan tetapi bebas dari
area kegiatan, hal ini dimaksud untuk menghindari kemungkinan adanya pergeseran
posisi akibat aktivitas pekerjaan termasuk pengoperasian dari peralatan. Untuk itu letak
titik-titik kontrol tersebut harus selalu dicek secara teratur. Perubahan letak titik kontrol
juga dapat terjadi pada dasar tanah seperti pada daerah pasang surut dan tanah, pada
timbunan pelapisan tanah yang mudah mampat atau proses dalam tanah itu sendiri,
seperti proses yang terjadi akibat besarnya variasi kadar kelembaban.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-2

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

1.5 PENENTUAN ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR

Letak dari elemen-elemen utama seperti kepala jembatan, pilar, dan bangunan atas
ditentukan berdasarkan pada sistem referensi yang digunakan.
Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap pilar dan kepala jembatan. Letak dan
jarak offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali di lapangan dan
untuk menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak pilar dan kepala
jembatan selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu.
Letak elemen-elemen kecil lain seperti kereb, parapet, galian drainase ditentukan
berdasarkan pada letak elemen-elemen utama dengan mempertimbang kan pengukuran.
Penempatan dan pematokan letak etemen-elemen utama yang telah ditentukan harus
diperiksa. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan oleh Staf
Engineer dengan menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan peralatan yang
digunakan pada saat penempatan dan pematokan awal

1.5.1. UMUM

Bagi Kontraktor yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya
sendiri, dianjurkan untuk menggunakan methoda lain yang berbeda dengan methoda
yang telah digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan. Untuk menghindari
kesalahan dari ketidak-tepatan identifikasi patok, ketidak-tepatan penandaan atau
kesalahan dalam melaksanakan survei, maka pengukuran jarak dan beda tinggi
dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan dari titik awal suatu sisi sampai pada titik
akhir pada sisi yang lain, kemudian diikatkan pada titik kontrol hasil survei pertama.
Pemeriksaan ini tidak diperkenankan dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik
akhir saja atau dari 2 titik akhir pada sisi yang terpisah.
Prinsip dasar pekerjaan survei harus selalu digunakan, terutama untuk jarak yang
besar. Peralatan harus mengukur dengan akurat dan sudut diukur pada sisi muka
kanan dan muka kiri. Peralatan survei yang digunakan dianjurkan untuk diperiksa
secara teratur untuk mempertahankan ketelitian dan ketepatannya. Dalam pengukuran,
diusahakan agar jarak muka sama dengan jarak belakang jika memungkinkan.

1.5.2.TIANG PANCANG

Penentuan dan pematokan posisi pondasi merupakan pekerjaan yang paling kritis.
Beberapa unsur-unsur penting seperti jarak antara beton kopel tiang (pile cap) harus

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-3

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

selalu diperiksa ulang sesuai dengan ukuran bangunan atas, sebelum pekerjaan
konstruksi dimulai, terutama bila bangunan atas tidak horizontal.
Hal terpenting yang harus diperhatikan, apabila posisi garis kontrol terletak di luar garis
tengah Jembatan. Perlu diperhatikan bahwa sudut kemiringan diputar dari garis yang
benar terutama bila kemiringan berada di antara 40° dan 50°. Lokasi tiang pancang
terletak pada satu bidang di sisi bawah dari beton kopel tiang atau kepala jembatan.
Oleh karena itu pada pematokan tiang pancang, maka posisi tiang pancang
dipermukaan atau kerangka tiang pancang harus diukur dan disesuaikan, untuk
mendapatkan perbedaan antara bagian bawah beton kopel atau kepala jembatan dan
permukaan asli atau kerangka tiang pancang.
Kontrol posisi tiang pancang sulit dilakukan setelah pemancangan, dalam menentukan
ketepatan posisinya dibutuhkan letak awal dari pergeseran tiang pancang, untuk
memastikan bahwa posisi pancang tetap pada posisi semula. Pergeseran tiang
pancang cenderung bergerak searah dengan kemiringan pada waktu pemancangan
dan seringkali bertambah sesuai kemiringannya. Penyesuaian untuk tiang miring dalam
kelompok tiang dapat dibenarkan, untuk mengurangi resiko tiang terlalu dekat pada
tepi beton kopel tiang yang akan mengakibatkan beton kopel tiang diperbesar.
Pemancangan tiang miring pertama kali dapat digunakan untuk memeriksa seberapa
besar pergeseran dari kemiringan rencana.

1.5.3.TELAPAK PONDASI DAN BETON KOPEL TIANG (FOOTINGS
AND PILE CAPS)

Posisi garis-garis referensi harus tetap terletak pada telapak pondasi. atau pada garis
poros beton kopel dan garis-garis poros kolom. Setelah pemancangan tiang dilakukan,
titik referensi yang telah ditentukan sebelumnya harus diperiksa kembali untuk
memastikan bahwa titik-titik tersebut tidak mengalami gangguan.
Acuan untuk pangkal atau ujung dari kolom harus ditentukan secara tepat dan akurat.
Bila pangkal kolom terletak pada posisi yang tepat dan akurat, maka ketegakan kolom
dapat dikontrol langsung dari pangkal.

1.5.4. KOLOM-KOLOM

Ketegakan dapat dikontrol dari pangkal kolom yang dibuat secara akurat, seperti
yang telah diterangkan di atas atau dengan unting-unting atau bila mungkin dapat
dilakukan dengan Theodolit dari 2 arah.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-4

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

'Spirit level' sebaiknya tidak digunakan untuk memeriksa ketegak-lurusan.Unting-
unting yang digantungkan sepanjang tinggi kolom adalah cara yang terbaik untuk
mendapatkan hasil kontrol dan bahkan dapat digunakan untuk konstruksi kolom yang
mengecil ujungnya.
Ketinggian kolom juga dapat dikontrol dengan pita ukur atau dengan cara
pengukuran beda tinggi (levelling).

1.5.5. BALOK MELINTANG UJUNG (CROSSHEAD)

Posisi horizontal Crosshead dapat ditentukan dari titik-titik tetap di puncak kolom
menggunakan koordinat-koordinat atau dari posisi garis poros yang ditransfer dari
dasar dengan menggunakan Theodolit.
Acuan soffit ditentukan dengan menggunakan sipat-datar dan bak ukur, dengan
memperhitungkan penurunan dan lendutan dari perancah dan acuan.
Tiang penyangga (Pedestals) landasan kadang-kadang dicor monolit dengan balok
melintang, tetapi karena toleransi yang kecil untuk menempatkan pedestal, lebih baik
pengecorannya dilakukan setelah balok melintang. Bila lubang penyambung akan
ditempatkan pada balok melintang, lubang tersebut harus diperiksa secara teliti
dengan menggunakan pengukuran langsung dari pilar kepilar untuk menjamin
ketepatan balok.
Kecuali pada keadaan khusus, permukaan atas dari dasar landasan harus rata.
Pengurangan ketinggian dari dasar landasan untuk mendukung gelegar beton
pratekan mungkin perlu penyesuaian terhadap perbedaan talk terduga dari lengkung
gelegar (hog).

1.5.6. LANDASAN

Landasan ditempatkan secara tepat pada dasarnya yang telah diberi tanda garis
tengah. Beberapa perencanaan mensyaratkan balok atau gelegar didukung pada
landasan sementara. Penentuan landasan sementara dilakukan dengan cara yang
sama seperti landasan yang tetap.

1.5.7. BALOK DAN GELEGAR

Titik-titik untuk penentuan dan pematokan balok dipindahkan dari permukaan tanah ke
balok melintang (crosshead).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-5

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab I Pematokan Pada Pelaks
Pek Pembangunan Jembatan

Untuk gelegar segmental yang post-tension pada perancah, profil awal harus diberi
keterangan pada Gambar guna menyediakan profil rencana setelah penegangan.
Bangunan-bangunan atas yang dicor setempat ditentukan dan dipatok dari posisi tetap
pada balok melintang pada kolom-kolom. Untuk kontrol ketinggian pada gelegar box
yang dicor setempat, grid dibuat pada acuan soffit yang disesuaikan sambil memasang
bak ukur pada titik-titik kisi. Harus diperhitungkan penurunan dan lendutan acuan dan
perancah.

1.5.8. LANTAI DAN PARAPET JEMBATAN (TEMBOK SEDADA)

Pengukuran horisontal lantai ditentukan dari garis tengah jembatan yang ditransfer
ketempat yang sesuai pada pekerjaan tetap seperti balok melintang (cross head),
dinding, pelat lantai dan sebagainya.
Profil vertikal lantai jembatan yang menggunakan balok pratekan dapat berbeda dari
profil rencana yang disebabkan karena faktor-faktor seperti umur segmen-segmen, waktu
pelaksanaan dan kondisi cuaca. Untuk mendapatkan profil lantai yang benar, mungkin
perlu menyesuaikan ketinggian lantai rencana untuk memperhitungkan perbedaan
lengkungan bawah dari nilai rencana, dengan menyesuaikan tinggi dasar dilandasan atau
merubah tebal pelat lantai. Setiap usulan penyesuaian harus disetujui Engineer.
Jika profil vertikal lantai tidak sesuai dengan profil rencana, mungkin perlu penyesuaian
terhadap ketebalan kerb dan parapet untuk memperbaiki penampilannya.
Penyesuaian terhadap rangkak jangka panjang dan lendutan akibat penyusutan harus
dibuat karena hal ini cukup berarti.
Pada waktu membuat kerb dan parapet sebaiknya memperpanjang dan meluruskan
acuan sejauh mungkin melewati sambungan pelaksanaan, sehingga garis dan ketinggian
yang ditentukan berdasarkan perhitungan dapat diperiksa secara visual.
Kerb dan parapet sebaiknya tidak ditentukan dan dipatok terlebih dahulu sampai acuan
dan perancah untuk soffit lantai telah dibongkar dan telah ada penurunan yang terjadi.
Garis-garis harus dievaluasi secara visual. Suatu pemeriksaan dapat menemukan
kesalahan penentuan atau pematokan. Suatu 'aturan tidak tertulis' menyatakan bahwa
jika garis atau lengkungan tampak salah, kemungkinannya memang demikian.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) I-6

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

BAB II
PEKERJAAN PONDASI

2.1 UMUM

Kapasitas jembatan mendukung lalu-lintas berat dan menahan gangguan banjir dan
sebagainya sangat tergantung pada kekuatan pondasinya. Pada jembatan-jembatan
sederhana, kadang-kadang diizinkan adanya penurunan kecil, penurunan besar pada
pilar atau kepala jembatan akan menyebabkan tegangan yang berlebihan dan
kerusakan pada unsur-unsur jembatan. Kalau jembatan telah direncanakan sebagai
bangunan menerus, penurunan bangunan bawah akan mengakibatkan membaliknya
tegangan pada gelegar dan lantai jembatan. Penurunan yang berlebihan, akan
mengakibatkan kerusakan pada bangunan.
Salah satu pekerjaan yang terpenting dalam pembuatan jembatan adalah membangun
pondasi-pondasi yang kuat, suatu pekerjaan yang memerlukan perhatian khusus pada
tiap tahapan pekerjaan pondasi sebuah jembatan. Semua langkah pencegahan harus
diambil pada saat pelaksanaan, supaya tidak timbul kesalahan pada umur pelayanan
jembatan. Harus diingat bahwa sekali jembatan dibuka untuk lalu-lintas umum,
perbaikan atau perkekuatan pondasi sulit dilaksanakan.
Kesalahan yang harus dihindari termasuk:
 pemancangan tiang pancang geser (friction piles) pada kedalaman yang kurang;
 pemancangan tiang secara berlebihan pada batuan;
 penggunaan tenaga pemancangan berlebih pada waktu menembus tanah yang

relatif lunak, akan mengakibatkan retaknya tiang beton;
 kerusakan terhadap tiang beton yang disebabkan penanganan, penempatan dan

pemancangan yang salah;
 karatnya tiang baja tanpa perlindungan disebabkan oleh air tanah yang agresif

atau keadaan tanah itu sendiri;
 karat pada tulangan disebabkan kurangnya selimut beton;
 ketidak stabilan pada pilar atau kepala lembatan disebabkan oleh air berkecepatan

tinggi yang mengikis material disekitar pilar atau telapak pondasi;
 terdapat bagian beton yang lemah pada waktu pelaksanaan atau bahan asing yang

terdapat pada waktu pencetakan tiang setempat (in-situ);
 kelalaian dalam perawatan perlindungan pada tiang kayu yang dapat dimakan

rayap dan serangga air;
 penggeseran pondasi akibat pergerakan tanah;

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 1

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

 penurunan atau perputaran pondasi langsung disebabkan kurangnya daya dukung
atau kurangnya pembuangan material lepas atau material tidak sesuai;

 keruntuhan dari tiang yang disebabkan tekanan negatif (down-drag) akibat
penurunan timbunan di belakang kepala jembatan;

 keruntuhan oleh tersumbatnya sambungan muai oleh bahan asing, atau kerusakan
(failure) dari landasan jembatan, menyebabkan tegangan yang berlebihan (over
stress) dalam bangunan bawah.

2.2. PONDASI LANGSUNG (SPREAD FOOTING)

Pondasi langsung, pada prinsipnya menyebarkan beban secara langsung pada dasar
galian yang kedalamannya relatif kecil, ini berbeda dengan pondasi tiang pancang yang
meneruskan beban pada tanah.

2.2.1 Umum

Dari data geoteknis yang ada, perencana menentukan suatu kapasitas daya dukung dari
tanah atau batuan: Kapasitas ini biasanya ditunjukan dalam Gambar. Berdasarkan nilai
tersebut, ukuran pondasi langsung dihitung. Pelaksana jembatan kemudian mempunyai
tanggung jawab untuk mencek bahwa dasar pondasi di mana akan dibangun pondasi
langsung tersebut memenuhi perkiraan perencana mengenai daya dukungnya.
Sebagai pedoman untuk pendataan di lapangan, cara-cara penentuan praktis dalam
memperkirakan daya dukung dari tanah pasir, lempung dan batuan diberikan pada Tabel
2.2.1, 2.2.2 dan 2.2.3.
Harus ditekankan bahwa penentuan nilai tidak digunakan untuk keperluan perencanaan
jembatan.

2.2.2 TANAH

Mungkin diperlukan penyesuaian terhadap tekanan yang diizinkan (bearing pressure)
dengan memperhitungkan pengaruh air tanah, kemiringan pada tempat bersebelahan
(adjacent slope), beban miring atau eksentris dan lapisan tanah lunak di bawah.
Jika terdapat tanah dengan kekuatan lebih rendah (sangat lunak hingga keras dan
sangat lepas hingga padat sedang), penurunan mungkin merupakan kriteria yang
menentukan didalam perencanaan dan bukannya daya dukung.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 2

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Peralatan kecil, seperti alat pengukur gaya geser tanah (shear vane) saku atau
penetrometer saku dapat bermanfaat dalam menilai sifat tanah kohesif.

2.2.3 BATUAN

Nilai-nilai yang diberikan pada Tabel 2.2.3 adalah untuk batuan yang tidak utuh dan pada
umumnya tanpa cacat (defect). Nilai-nilai tersebut harus diberi pengurangan untuk
memperhitungkan siar lempung, daerah tapukan (zona highly weathered) dan
patahan (fracturing). Tekanan yang dipikul (Bearing pressure) sebesar yang
diberikan dalam Tabel harus dipakai bersamaan dengan "unconfined compressive
test" dan percobaan pembebanan titik (point load test).

2.2.4. PEKERJAAN PERAPIHAN (TRIMMING) DAN PERSIAPAN

Penggalian dilakukan sekurang-kurangnya 150 mm ke dalam lapisan padat (solid
strata). Setelah dasarnya diratakan dan pinggir galian dipotong sesuai ukuran pada
gambar, dasarnya disapu dan disemprot agar dapat diperiksa. Pada tahap ini, untuk
telapak (footing) dengan pembebanan besar harus diambil contoh (core) di bawah
dasarnya untuk diperiksa. Kedalaman yang disarankan adalah 1 ,5 kali ukuran
terkecil dari telapak (footing) itu. Ini dapat dilengkapi dengan lubang bor berdiameter
kecil untuk mengambil kerokan tanah. Bila mutu batuan diragukan, mungkin
diperlukan pengujian tekan (compression test) pada contoh core. Pada umumnya,
makin berat pembebanan pada footing makin diperlukan pengujian.
Siar lempung yang tampak pada batuan harus dibersihkan dan diganti dengan beton
masif. Jika bahan bermutu rendah harus dibuang dari satu bagian telapak, dasar dari
telapak harus dibentuk tangga (stepped) secara vertikal, bagian tangga diisi dengan
beton masif.
Suatu lapisan "campuran" dari beton masif, setebal 50 mm, diletakkan menutupi
dasar galian telapak untuk membentuk permukaan datar yang bersih dari mana
dimulai pelaksanaan. Untuk pengeringan galian harus diberi bak penampungan
(sump) di bawah permukaan telapak. Kalau bahan pondasi tidak dapat runtuh,
telapak dapat dicor langsung pada sisi-sisi galian. Dalam hal ini perlu diperhatikan
pelaksanaan galian untuk mencegah retak berlebihan.
Bila pondasi langsung harus dikunci (keyed) pada bahan pondasi untuk mencegah
longsor, maka harus dicor langsung pada sisi galian.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 3

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Tindakan pencegahan harus diambil untuk menghindari longsoran bahan galian atau
oprit atau tercucinya bahan oleh air hujan ke dalam galian, terlebih setelah tulangan
dipasang. Jika acuan digunakan penuh sekeliling pondasi langsung, lapisan beton
"campuran" harus dilaksanakan secara tepat menurut bentuk, garis dan tinggi.
Setelah itu acuan samping dapat diletakan dengan rapat pada tepi lapisan beton
campuran. Praktek ini dapat mempercepat pelaksanaan dan mengurangi hilangnya
adukan pada dasar acuan pada waktu pengecoran.

Tabel 2.1 - Bahan Non-kohesif (Kerikil dan Pasir Bersih)

Bearing

Kepadatan Ketentuan Praktis untuk Identifikasi Lapangan Pressure
yang Diizinkan

(kPa)

Sangat Hampir tanpa perlawanan terhadap penyekopan 50
Lepas
Mudah dipenetrasi dengan batang 12mm yang ditekan 50 hingga 100

dengan tangan.

Perlawanan kecil terhadap penyekopan.

Padat Mudah dipenetrasi dengan batang 12mm yang 100 hingga

sedang dipancang dengan penumbukan 2 kg. 200
Ada perlawanan terhadap penyekopan.

Padat Penetrasi sukar dengan batang 12mm hingga 300mm, 200 hingga

dipancang dengan penumbuk 2 kg. 350
Palu tangan diperlukan untuk penggalian.

Sangat Penetrasi hanya sampai 75mrn yang dipancang 350 hingga
padat dengan penurnbuk 2 kg. 600

Alat bermesin diperlukan untuk penggalian.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 4

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Tabel 2.2 - Bahan Kohesif (Lanau, Lempung, Lempung Berpasir)

Bearing

Konsistensi Ketentuan Praktis untuk Identifikasi Lapangan Pressure
yang Diixinkan

(kPa)

Sangat Mudah dibentuk dengan jari. Bekas sepatu jelas 25
lunak tampak pada permukaan.

Palu geologi dapat mudah ditekan masuk sampai
tangkainya.

Lunak Penetrasi mudah oleh ibu jari. Dibentuk dengan 25 hingga 50

menggunakan tekanan.
Bekas sepatu agak tampak pada permukaan.

Palu geologi dapat ditekan masuk sampai 30mm atau
40mm.

Tidak kaku Sukar dibentuk dengan jari, palu geologi dapat ditekan 50 hingga 100
masuk sampai 10 mm.

Penetrasi sedikit dengan sekop tangan.

Kaku Penetrasi dengan kuku ibu jari. Tidak dapat dibentuk 100 hingga
jari.Palu geologi ujung yang tajam membuat dapat 200

menandai tanah.
Palu tangan perlu untuk penggalian.

Sangat Menandai dengan kuku ibu jari sulit. Pukulan dengan 200 hingga
kaku
palu geologi dapat sedikit menandai. 400

Alat bermesin perlu untuk penggalian.

Keras 400

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 5

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Tabel 2.3 - Batuan

Descripsi Ketentuan Praktis untuk Identifikasi Lapangan Bearing
Pressure

yang

Diizinkan
(kPa)

Sangat Bahan hancur dengan pukulan palu geologi yang 1500
lunak sedang.

Dapat dikelupas dengan pisau.

Lunak Terjadi lekukan 1 mm sampai 3 rnm dengan pukulan 1500 hingga
palu geolo-gi (ujung tajam yang sedang. Dapat 2500

dikupas dan digaruk dengan pisau)

Keras Contoh yang dipegang dengan tangan dapat dipecah 2500 hingga

dengan ujung palu dari palu geologi dengan satu 3500

pukulan sedang.
Tidak dapat dikerok atau dikupas dengan pisau.

Sangat Contoh yang dipegang dengan tangan dapat dipecah 3500 hingga

keras dengan ujung palu dari palu geologi dengan lebih dari 5000
satu pukulan.

Sangat Contoh yang dipegang dengan tangan memerlukan 5000

keras beberapa pukulan dengan palu geologi untuk
Sekali memecah bahan yang utuh.

Catatan: Banyak variable dapat mempengaruhi bearing pressure pada batuan

yang dibatukan. Karena itu, tabel ini harus dipergunakan dengan
bijaksana.

2.3 PONDASI TIANG

Pekerjaan tiang pancang memerlukan perlakuan yang khusus dimulai dari
pengangkutan, penyimpanan, pengangkatan, penempatan dan pemancangan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 6

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

2.3.1 UMUM

a. Pengangkutan
Pengangkutan tiang pancang pipa baja biasanya tidak menjadi masalah di Indonesia.
Tiang pancang pipa baja pada umumnya disediakan dalam ukuran panjang 6 meter,
karena dapat disambung di lokasi dengan mudah dengan cara pengelasan.
Tiang pancang beton tersedia dalam berbagai ukuran panjang. Ukuran panjang 15
meter memerlukan penggunaan semi-trailer untuk pengangkutan, karena tiang ini
harus ditopang pada titik seperempat atau seperlima panjang. Terdapat seri tiang yang
lain yang tersedia dalam ukuran panjang 8 meter sebagai segmen atas dan segmen
bawah. Segmen atas biasanya mempunyai pelat baja untuk penyambungan dengan
segmen bawah. Lihat juga Bab 6.3.3.d tentang detail penanganan dan penyimpanan
tiang beton.

b. Persiapan pemasangan tiang
Lokasi di mana tiang akan dipancang harus dipersiapkan sedatar mungkin, khususnya
bila menggunakan crane ber-roda rantai yang dilengkapi dengan pemandu tiang.
Permukaan tanah harus cukup kuat agar dapat dibebani oleh crane atau alat lain yang
akan digunakan untuk penempatan dan pemancangan ataupun pemboran tiang.
Jika tiang akan dipasang di atas air, harus dipertimbangkan pembuatan dermaga
kerja berbentuk jari-jari untuk pemancangan tiang.
Bila pemancangan tiang akan dilakukan dari ponton, penting untuk menempatkan
posisi jangkar yang cocok, yaitu pada tebing sungai atau dengan jangkar yang
dibenamkan di dalam air, untuk mengendalikan posisi ponton secara tepat. Sebagai
tambahan, perlu suatu cara penempatan posisi pemandu (leaders) bebas dari posisi
ponton. Harus diperhitungkan pula pengaruh pasang surut, terutama pada
pemancangan tiang miring.

c. Pematokan Tiang
Pada waktu pematokan pondasi tiang di darat, garis dasar (baseline) harus
ditempatkan di luar daerah yang dipakai oleh tiang. Baseline harus ditentukan dengan
suatu cara yang memungkinkan pemeriksaan tiang pada waktu pemancangan. Garis
tengah di dalam daerah tiang dapat diragukan pada waktu pemancangan telah dimulai,
oleh karena kemungkinan patok terganggu gerakan alat serta pengangkatan (heaving)
tanah.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 7

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Pemancangan tiang di atas air merupakan masalah yang berbeda. Jika pemancangan
dilakukan dari perancah yang telah dipancang terdahulu, garis tengah dapat ditetapkan
pada perancah.
Jika tiang dipancang dari ponton, penetapan posisi tiang menjadi lebih sulit. Hal ini dapat
dilakukan dengan menetapkan garis dasar (baseline) pada sebagian bangunan atau
pada tebing, dengan sudut siku-siku terhadap garis tengah jembatan. Posisi tiang
kemudian dapat ditentukan dengan menggunakan dua buah pita baja untuk garis dasar
dalam bentuk segitiga siku-siku. Salah satu pita digunakan untuk mengukur jarak
berantai, dan yang lainnya mengukur hypotenusa (sisi miring). Titik potong atau puncak
(apex) dari segitiga adalah posisi tiang yang akan dipancang.
Seringkali perlu menggunakan juru ukur, misalnya jika jarak rantai terlalu besar, jika
ada halangan atau tidak mungkin menetapkan suatu garis dasar untuk pengerjaan
selanjutnya. Dalam hal demikian, lokasi tiang ditentukan dengan menggunakan
theodolit dan peralatan EDM atau cara lain pengukuran berantai.

d. Penanganan dan Penempatan Tiang Pancang
Setelah persiapan untuk pemancangan selesai, tiang diangkut ke posisi di mana akan
dipancang kemudian, ditempatkan dengan mobil crane atau ditarik ke posisi dengan
tackle yang sesuai. Pada waktu memindahkan tiang dengan cara menarik, tali harus
bebas dari ikatan, kerangka pemancang dan halangan lain. Tiang harus diperiksa
posisinya terhadap pemandu; harus diturunkan hingga menopang pada permukaan
tanah. Dalam hal tiang yang panjang mungkin perlu membuat lubang dalam tanah
untuk meletakan ujung (toe) dari tiang sehingga terdapat ruang cukup pada kepala
tiang untuk memasukan dan menjalankan penumbuk. Penumbuk selanjutnya harus
ditempatkan pada posisinya dalam pemandu untuk persiapan pemancangan. Harus
diperhatikan bahwa tiang tidak rusak dikenai oleh pemandu. Gandar atau peralatan lain
untuk memasang penumbuk dalam pemandu harus tetap.

e. Kapasitas Tiang
Ada beberapa cara meramalkan kapasitas batas tiang antara lain adalah dengan
Percobaan Pembebanan seperti yang diuraikan dalam Bab 2.3.1.f. dan dengan
menggunakan Rumus Dinamis, yang diuraikan dalam Bab 2.3.1.g.
Akan tetapi dalam tiap kasus, perlu mengaitkan perkiraan kapasitas batas terhadap
beban rencana pada tiang. Nilai dari beban rencana maksimum pada setiap tiang
harus diberikan pada gambar rencana. Pengawas (Supervising Engineer) harus
memilih faktor keamanan yang sesuai untuk diterapkan pada kapasitas akhir dan
memeriksa apakah lebih besar dari pada beban rencana.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 8

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Pemilihan faktor keamanan bergantung pada jenis rumus dinamis yang dipakai, dan
fungsi bangunan. Bangunan sementara dapat dilaksanakan dengan faktor keamanan
yang lebih rendah dari pada bangunan tetap.
Faktor keamanan dari 3 hingga 6 diberikan untuk Rumus Denmark yang digunakan di
dalam Spesifikasi Teknik. Beberapa peraturan perencanaan mensyaratkan nilai-nilai
minimum 2,5 atau 3,0 untuk rumus dinamis dan 2,0 untuk pengujian beban dalam
jumlah yang cukup telah dilaksanakan.

f. Percobaan Pembebanan
Percobaan Pembebanan di lokasi dilakukan pada tiang untuk memastikan kapasitas
daya dukung. Percobaan pembebanan dapat juga dilakukan pada tiang uji pada waktu
tahap perencanaan untuk memeriksa kapasitas perkiraan.
Tanah kohesi dan non-kohesi sifat-sifatnya akan berubah oleh adanya pemancangan
tiang pancang. Pada tanah lempung adanya gangguan ini akan menyebabkan
terjadinya pembentukan kembali (remoulding) dan kehilangan kekuatan. Dengan
berjalannya waktu, sebagian besar kekuatan akan kembali dan oleh karena itu
pengujian beban harus dilakukan beberapa minggu setelah tiang dipancang. Pada
tanah pasir, suatu kondisi sementara akan terjadi di mana tahanan berlebih
(resistance) akan terjadi. Akan tetapi tahanan berlebih tersebut akan hilang beberapa
waktu setelah pemancangan, biasanya beberapa hari setelah pemancangan.
Tiang dapat diberi beban percobaan dengan salah satu cara di bawah ini:
 Beban mati dalam bentuk pemberat (kentledge) yang langsung ditambahkan pada

tiang.
 Pendongkrakan terhadap beban mati yang didukung di atas tiang.
 Pendongkrakan terhadap balok mellntang yang dl angker pada dua tiang

disampingnya.
 Pendongkrakan terhadap balok melintang yang di angker pada batu oleh kabel

prategang yang di-grout pada batuan di luar tiang.
Dua dari cara tersebut di atas ditunjukan dalam Gambar 3.1

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 9

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.1 - Pengujian Beban pada Tiang

Pengukuran gerakan tiang dilakukan dengan mengikat pada suatu titik refrensi tetap.
Dukungan untuk titik referensi agar ditempatkan di luar daerah tanah yang dapat
dipengaruhi oleh gerakan tiang. Jarak yang paling besar antara 5 kali diameter tiang
atau 2.5 meter dari tiang yang akan diuji, kadang-kadang dipakai sebagai jarak
minimum lokasi pendukung dari tiang. Dalam tiap hal, titik referensi harus diperiksa
dengan pengukuran sifat datar bebas selama berlangsungnya pengujian pembebanan.
Ada beberapa metoda percobaan pembebanan yang berbeda, saat ini digunakan.
ASTM D 1143 menjelaskan, percobaan yang paling umum yaitu percobaan
pembebanan 'slow maintained'. Dengan prosedur ini percobaan beban diberikan dalam
delapan kali penambahan yang sama besar, hingga mencapai dua kali beban rencana.
Data Waktu vs Penurunan diperoleh untuk tiap-tiap penambahan beban. Tiap
tambahan dipertahankan sampai tingkat penurunan kurang dari 2,5 mm per jam, atau
untuk 2 jam, yang mana terjadi lebih dahulu. Beban akhir (dua kali beban rencana)
dipertahankan sampai 24 jam. Pengurangan beban juga dilakukan dengan cara sedikit
demi sedikit.
Beban batas tiang diambil sebagai beban di mana kemiringan kurva Beban Penurunan
menjadi hampir vertikal, seperti ditunjukan pada Gambar 2.2

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 10

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.2 - Tipikal Kurva Beban lawan Penurunan

g. Rumus Dinamis
Telah dikembangkan banyak rumus untuk meramalkan batas daya dukung tiang pada
waktu pemancangan di lokasi. Tidak ada satupun rumus yang dapat diandalkan terus
menerus, atau untuk suatu kisaran daya dukung tiang.
Kebanyakan rumus praktis tiang pancang merupakan penyederhanaan dari persamaan
umum dan mengandung sejumlah "konstanta" dan koefisien empiris.
Cara tradisional meramalkan daya dukung tiang dengan cara dinamis adalah dengan
memancang tiang, mencatat sejarah pemancangan dan mengadakan percobaan
pembebanan. Akhir-akhir ini cara menginstrumentasi tiang dan melakukan perhitungan
kompleks menggunakan komputer sewaktu pemancangan dilaksanakan, memberikan
suatu alternatif yang balk.
Setelah batas daya dukung tiang dihitung, suatu faktor keamanan yang sesuai dipilih
untuk menentukan perkiraan kapasitas kerja. Pilihan angka keamanan dapat
ditanyakan dan sedapat mungkin ditentukan oleh Perencana.
Rumus Denmark kadang disyaratkan untuk menghitung batas daya dukung tiang.
Rumus ini dikenal sebagai salah satu rumus yang diandalkan untuk meramalkan batas
daya dukung tiang.
Batas daya dukung dapat dihitung sebagai berikut:

dimana: Ru = batas daya dukung dalam kilo Newton
Wr = Berat penumbuk dalam Newton

(9,81 x massa penumbuk dalam Kilogram)
H = tinggi jatuh bebas penumbuk dalam m.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 11

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

e = efisiensi jatuh penumbuk
E = Modulus Elastisitas bahan tiang pancang (dalam Mega Pascal)
Ip = Panjang tiang dalam meter
A = Luas penampang melintang tiang dalam milimeter persegi
s = Penurunan akhir tiang dalam milimeter tiap pukulan dari rata-

rata 10 pukulan pancang beruntun, atau 5 pukulan uji kembali
penuh yang pertama
so = Penurunan sementara yang diperbolehkan dalam milimeter,
seperti dihitung dari rumus di atas.
Untuk penumbuk diesel atau uap, tenaga penumbuk (dalam Newton meter atau
Joule) dapat dipakai untuk hasil perkalian WrxH. Nilai Ip adalah panjang sebenarnya
tiang untuk panjang yang lebih besar dari pada dua puluh kali ukuran penampang
melintang tiang. Untuk tiang lebih pendek Ip adalah dua puluh kali nilai ukuran
penampang melintang tiang. A untuk tiang pipa baja adalah luas pipa baja.
Nilai koefisien e dan E, tergantung pada jenis peralatan yang dipakai tiang miring,
menurut syarat Teknik adalah:
e = 0,75 untuk penumbuk jatuh bebas.
e = 0,90 untuk penumbuk uap.
e = 0,95 untuk penumbuk diesel.
E = 21 .000 MPa (2.1 x 105 kg/cm2) untuk tiang beton
E = 210.000 MPa (2.1 x 106 /kg/cm2)untuk tiang baja
Rumus ini adalah untuk pemancangan vertikal. Bila tiang dipancang dengan
kemiringan harus diperhitungkan pengurangan gaya vertikal penumbuk dan
kehilangan akibat gesekan antara penumbuk dan pemandu (leads).
Suatu perkiraan yang rasional untuk koefisien gesekan adalah 0.10.
Harga netto dari Wr adalah : Wr x (Cos[arctan(1/R)]-0,1 x Sin[arctan(1/R))] untuk
tiang yang dipancang dengan kemiringan 1 dibanding R. Ini dijelaskan dalam
Gambar 2-3.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 12

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.3 - Pengurangan W, untuk kemiringan 1 berbanding R

Contoh, tiang dipancang dengan kemiringan 1 berbanding 10 (1 horizontal sampai 10
vertikal) nilai Wr adalah 0,985 kali berat penumbuk sebenarnya..

2.3.2. PERALATAN PEMANCANGAN

a. Pemilihan Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk pemancangan tiang baja, beton atau kayu pada
dasarnya sama.
Pada umumnya, peralatan dasar terdiri atas:
(i) kerangka pemancangan tiang untuk menyangga (menopang) pemandu

(leader);
(ii) pemandu untuk menyangga tiang pancang dan memberi arah pada waktu

pemancangan;
(iii) penumbuk - dari jenis jatuh bebas, uap atau udara bertekanan atau tenaga

diesel;
(iv) Topi tiang (helmet) yang juga diarahkan, untuk memindahkan pukulan

penumbuk pada tiang;
(v) Katrol atau crane untuk mengangkat tiang pada posisinya dan mengangkat

penumbuk.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 13

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Peralatan yang bergerak umumnya dipakai untuk pemancangan tiang di darat meskipun
kerangka tiang juga masih digunakan pada beberapa kondisi.

i. Kerangka Tiang Tetap (Stationary Pile Frame)
Kerangka tiang terdiri atas menara dengan satu set pemandu (leader) dan katrol.
Biasanya memerlukan biaya (modal) kecil tetapi pemasangan agak kaku, demikian pula
pemindahan dan pengoperasiannya sehingga tingkat kemajuannya lambat. Pemandu
harus cukup tinggi untuk memegang tiang, penumbuk dan ruang bebas untuk tinggi
jatuh.
Kerangka dapat terbuat dari kayu atau baja dan seringkali dibuat atas pesanan untuk
pekerjaan tertentu. Pemandu harus tetap untuk pemancangan vertikal atau dengan sudut
kemiringan atau dapat diatur untuk memungkinkan keduanya. Tali digunakan untuk
memasang dan menstabilkan menara di atas posisi tiang dan memegang pemandu
(leader) di tempat pada waktu pemancangan.

ii. Crane yang bergerak (Mobile) dengan Pemandu (Leader) yang menggantung
Sistem ini biasanya terdiri atas crane dengan roda rantai dan satu set pemandu tiang
pancang baja atau pengarah yang digantung pada tiang (boom). Dasar dari pemandu
(guides) diikat pada crane dengan lengan (stay) yang dapat disetel. Crane harus dapat
menempatkan penumbuk tiang dalam pemandu dan mengangkat serta menempatkan
tiang di bawah penumbuk. Ini biasanya memerlukan crane besar karena pemandu, tiang
dan penumbuk semuanya harus diangkat ke dalam posisinya.
Gambar 2.4 menunjukan gambar dari peralatan pemancang tiang yang bergerak (mobile
pile-driver) yang umum dipakai.
Tiang diletakkan di bawah penumbuk dengan pemandu terletak di tanah pada penopang
kayu. Unit ini dapat berdiri sendiri. Dalam beberapa hal, dan untuk keamanan
pelaksanaan, terutama dengan tiang yang panjang, mobil crane kedua digunakan untuk
membantu mengangkat tiang dalam posisinya di bawah penumbuk. Pemancang tiang
dengan roda rantai dapat juga dioperasikan dari ponton (tongkang), dengan rodanya
dibaut atau dirantai pada geladak.
Pada pengoperasian penumbuk diesel dengan pemandu miring yang menggantung
pemandu harus mempunyai cukup kekakuan untuk mencegah bengkok (disebabkan
berat penumbuk) pada waktu penumbuk mencapai titik tengah pemandu, jika tidak,
mekanisme tidak bekerja.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 14

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

iii. Penumbuk Tiang Pancang
Tanpa memandang jenis tiang pancang, harus digunakan penumbuk yang cukup besar
untuk mengatasi inersia dari tiang pancang untuk pemancangan yang efisien dan
ekonomis sebagian besar tenaga kinetis harus tersedia, untuk memancang tiang ke
dalam tanah setelah dikurangi kehilangan akibat pukulan (impact) dan sebab lain.
Penumbuk jatuh bebas dan diesel adalah jenis yang paling sering dipakai.

Gambar 2.4 - Keran dengan Pemandu Menggantung

Penumbuk Jatuh Bebas (Drop Hammers)
Penumbuk jatuh bebas memerlukan biaya modal yang rendah dan hampir tanpa
pemeliharaan. Masukan tenaga dihitung sebagai hasil perkalian berat penumbuk,
tinggi jatuh dan faktor efisiensi, yang tergantung pada cara pengoperasian
penumbuk. Operasi penarikan pelatuk yang kira-kira menyerupai suatu yang jatuh
bebas dari penumbuk lebih efesien dari pada jatuh bebas dari katrol.
Penumbuk terbuat dalam berbagai bentuk dan dibuat dari blok besar besi cor atau
baja atau bagian baja laminasi, yang memungkinkan penyesuaian berat penumbuk
dengan mengurangi atau menambah pelat.
Beberapa penumbuk dipandu oleh selot yang dicor pada sisi blok, yang lainnya dari
tonjolan di belakang yang masuk tepat di antara pengarah pemandu (leader guides).
Untuk yang disebut terakhir, dua "keeper" kayu horisontal dimasukan rapat kedalam
dua lubang yang dicor dalam tonjolan belakang. Kadang-kadang dipergunakan pelat
baja dan baut penahan.
Penumbuk jatuh bebas tersedia dalam bermacam ukuran dari 0,5 sampai 8 ton.
Pilihan akhir tergantung pada berat dan ukuran tiang yang akan dipancang.
Penumbuk digantung dengan tali yang dipasang di atas, diangkat pada ketinggian
yang ditentukan dan dijatuhkan pada kepala tiang.
Tiap penumbuk harus diberi tanda yang menunjukan beratnya.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 15

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Perbandingan antara berat penumbuk jatuh bebas dengan berat tiang pancang yang
disarankan untuk tiang baja dan beton bertulang adalah sebagai berikut:
• Tiang pancang dengan berat sampai 7,5 ton perbandingan penumbuk dengan

tiang minimum dua pertiga.
• Tiang 7,5 hingga 12 ton perbandingan penumbuk dengan tiang minimum satu

perdua.
Untuk tiang pancang beton bertulang dengan berat hingga 7,5 ton, hasil perkalian jarak
jatuh bebas penumbuk dalam meter dan berat penumbuk dalam ton tidak boleh melebihi
5 ton meter. Untuk tiang baja dan beton yang lebih berat, tenaga maksimum dapat
ditentukan oleh Engineer.
Untuk tiang pancang kayu dan beton pratekan, berat penumbuk jatuh bebas harus
mendekati berat tiang pancang.

Penumbuk Diesel (Diesel Hammers)
Penumbuk diesel mempunyai pengeluaran modal awal yang tinggi dan memerlukan
pemeliharaan, tetapi dengan tingkat pemancangan 45-60 pukulan per menit biasanya
lebih cepat dan lebih ekonomis untuk pekerjaan besar. Panjang stroke/pukulan
berbanding lurus dengan perlawanan tiang. Semakin sulit pemancangan semakin besar
tenaga yang dikeluarkan oleh penumbuk. Perllancangan pada tanah yang sangat lunak
dapat merupakan masalah karena kurang daya dukung ketahanan berarti penumbuk
tidak dapat mengaktifkan dirinya kembali. Dalam hal demikian penurnbuk diangkat dan
dijatuhkan dengan crane hingga menjumpai tanah yang cukup keras untuk
menggerakan/ mengaktifkan penumbuk.
Penumbuk diesel mempunyai silinder vertikal yang terbuka di atas di mana suatu ram
bergerak ke atas dan ke bawah. Di ujung bawah terdapat dudukan (anvil). Peralatan
penunjang termasuk tangki bahan bakar, pompa bahan baku, alat tripping dan (pada
beberapa jenis) radiator (water jacket) air untuk mendinginkan silinder. Cara bekerja
penumbuk diesel dijelaskan dalam sebagian besar buku pedoman dan digambarkan
pada Gambar 2.5. Beberapa penumbuk mempunyai kemampuan/merubah masukan
energi dengan menyemprotkan persediaan bahan bakar.
Ukuran penumbuk yang disarankan untuk penumbuk diesel ditentukan dengan memilih
penumbuk dengan berat ram sekurang-kurangnya sepertiga berat tiang yang dipancang.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 16

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.5 - Pengoperasian Penumbuk Diesel

Suatu daftar ciri-ciri penumbuk yang berjenis biasa diberikan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 - Ciri-ciri dari Penumbuk Tiang

Massa dari Energi Pukulan Tingkat Pemukulan

Buatan Tipe Rarn (N-m) Maksimum
D12 (kg) 31 000 (Pukulan per menit)
Delmag 55 000
(Jerman) D22 1 250 40 - 60

Kobe 2 700 40 - 60
(Jepang)
Mitsubishi D30 3 000 33 000 - 75 000 39 - 60
(Jepang)
D36 3 600 42 000 - 102 000 37 - 53

K13 1 300 37 000 40 - 60

K25 2 500 75 000 39 - 60

K35 3 500 105 000 39 - 60

K45 4 500 135 000 39 - 60

M14 1 350 36 000 42 - 60

M23 2 295 60 000 42 ~ 60

M33 3 290 88 500 40 - 60

M43 4 290 1 1 6 000 40 - 60

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 17

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

iv. Topi dan Dollies
Topi
Topi adalah blok baja yang digunakan untuk melindungi kepala tiang pada waktu
memancang. Paking secukupnya diletakkan pada ujung atas topi sebagai bantalan
antara penumbuk dan tiang, dan mendistribusi tumbukan pada seluruh luas kepala
tiang. Ini biasanya disebut 'cap block' meskipun kadang-kadang disebut 'dolly' (lihat
di bawah untuk arti lain dari dolly).
Topi dibuat sesuai dengan jenis tiang yang dipancang dan terdiri atas pelat baja
horizontal setebal 50 mm dengan sisi kotak baja tebal 25 mm diteruskan 300 mm di
atas dan di bawah pelat pukulan (strike plate). Topi harus agak longgar pada tiang
untuk menghindari timbulnya tegangan pada tiang bila tiang berputar pada waktu
pemancangan. Rongga atas kotak/box diisi penuh dengan kayu keras, blok
Novasteen atau Micarta dengan serat ujung terbuka terhadap penumbuk.
Penempatan kayu tidak boleh demikian rupa sehingga penumbuk jatuh tegak lurus
pada serat ujung, yang menyebabkan potongan kayu dapat berpencaran seperti
peluru kecil.
Perlindungan untuk kepala tiang beton dapat diberikan oleh lapisan setebal 50
hingga 75 mm. Ini dapat berupa papan oregon atau pinus atau papan kayu lunak
yang serupa, gulungan tali manila, lapisan sabuk karet, karung goni, karung dari
serbuk gergaji atau lapisan caneite. Tergantung pada lama dan kekuatan tumbukan,
pakking mungkin memerlukan penggantian setelah pemancangan tiap tiang. Tiang
baja atau kayu tidak memerlukan paking pada kepala tiang.
Topi harus mempunyai pegangan pengangkat yang sesuai, guna kemudahan
pemasangan dan pemindahan.
Susunan cap block dan topi yang umum untuk tiang beton terlihat dalam Gambar 2.6.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 18

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.6. - Cap Blok dan Topi Untuk Tiang Beton Pracetak

Dolly

Dolly atau follower adalah sambungan sementara pada tiang untuk memungkinkannya
dipancang di bawah air atau di bawah tanah. Dolly dipasang pada topi di puncak tiang
dan dibuat dari kayu keras (hardword) bulat atau dari baja. Sedapat mungkin
penggunaan dolly harus dihindari karena terjadinya kehilangan tenaga pada dolly dengan
sambungan tiang, dan sendi "bergerak" dapat menyebabkan kehilangan pengendalian
arah.
Beberapa pemandu tiang mempunyai tempat untuk memasang sambungan pendek di
bawah dasar pemandu untuk memungkinkan topi dan penumbuk bergerak ke bawah
melampaui batas normal geraknya. Hal ini dilakukan hanya bila dianggap bahwa tiang
dapat mencapai penurunan (set) yang ditentukan sebelum menembus tanah terlalu
dalam untuk dapat disambung.

v. Peralatan Penyemprot Air
Peralatan penyemprot air dapat digunakan untuk membantu penetrasi tiang dalam tanah
pasir padat.
Pipa baja ditekan masuk di samping tiang, pada saat tiang dipancang, serta dihubungkan
dengan sumber air. Pipa biasanya berdiameter 30 hingga 50 mm dengan nozzle 10
hingga 15 mm pada ujung bawahnya.
Penyemprot (Jet) ditempatkan pada ujung tiang untuk menggemburkan tanah .di bawah
tiang sehingga memungkinkan tiang menembus tanah dengan berat sendiri atau dengan
pemancangan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 19

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Pipa dapat dipasang sentris ke dalam tiang beton pracetak untuk mengarahkan air
kepada empat (4) jet, satu pada tiap sisi pada ujung yang mengecil (tapered point). Pipa
diberi bengkokan 90° kira-kira satu meter di bawah kepala tiang untuk penyediaan air
bertekanan kepada jet.
Penyemprotan harus dihentikan kira-kira 0,5 m di atas kedudukan ujung akhir dan saat
tiang dipancang pada posisi akhir.
Tingkat aliran air yang cocok untuk penyemprotan sebesar 7.5 liter per detik per nozzle
pada tekanan 70 kPa diukur pada nozzle.

b. Pengeboran Awal (Pre-boring)
Pengeboran awal lubang dengan bor mekanis sekarang merupakan prosedur biasa
untuk membantu pondasi tiang pada kedalaman yang ditentukan dan untuk
mendapatkan ketepatan lebih besar dalam pemancangan. Kegiatan pengeboran
harus dilakukan dengan ketepatan letak, arah vertikal dan kemiringan dan untuk
kedalaman yang telah ditentukan. Diameter lubang tidak boleh lebih besar dari pada
ukuran diagonal tiang dikurangi 50 mm. Pengeboran melebihi kedalaman (over
depth) harus dihindari. Kedalaman akhir mungkin harus ditentukan dengan
percobaan. Tujuannya adalah mencapai kalendering yang ditentukan, bilamana
ujung tiang mencapai kedalaman yang direncanakan. Lazimnya pengeboran awal
berhenti satu meter di atas kedalaman ujung tiang rencana. Pada akhir
pemancangan, lubang-lubang di sekeliling tiang diisi pasir bersih, diisi menggunakan
sekop, sambil disemprot atau digenangi air.

c. Alat Untuk Tiang yang Dicor di tempat

i. Tiang yang Dipancang dan Dicor Ditempat
Peralatan untuk pemancangan dan peralatan yang digunakan untuk tiang yang
dicor setempat serupa dalam beberapa hal dengan jenis yang telah dijelaskan
tetapi seringkali dibuat modifikasi untuk menyesuaikan dengan persyaratan
khusus dari jenis yang digunakan untuk tiang yang berbeda pabrik.
Pipa pancang terbuat dari komponen berat, biasanya dirancang untuk dipancang
dari atas oleh penumbuk jatuh atau diesel, tetapi tiang Franki dipancang
menggunakan penumbuk jatuh internal. Pemandu (Leader) dari kerangka tiang
sering disesuaikan untuk memasukan pengarah (guide) untuk wadah
pengecoran.
Tiang selubung baja, yang dirancang untuk diisi beton, lebih efektif bila
dipancang dengan penumbuk yang beroperasi dari atas dari pada oleh penumbuk

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 20

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

jatuh bebas internal yang bekerja pada beton penyumbat di dasar. Selain itu tiang
pancang yang dipancangkan dari atas dapat dipancang dengan ujung terbuka,
yang dapat mengurangi daya dukung ujung (end bearing resistance) pada waktu
pemancangan.

ii. Tiang yang Dibor dan Dicor Setempat
Peralatan pengeboran biasanya dinaikan di atas crane atau truck tetapi kadang-
kadang dipergunakan juga peralatan yang dinaikan di atas tongkang/ponton
(barge) atau sled khusus. Kedalaman lubang dibatasi oleh panjang "kelly bar"
(batang yang menyangga alat penggali pada dasar lubang), sehingga biasanya
diambil nilai kedalaman maksimum 50 m.
Kedalaman dan diameter lubang yang dapat dibor tergantung pada sistem
pengeboran yang dipakai dan tenaga peralatan bornya. Penggali berputar (rotary)
dengan memakai mata bor dan ember bor (drilling bucket) adalah cara yang
paling cepat dan ekonomis bila keadaan tanahnya memungkinkan. Cara ini cocok
untuk memasang tiang yang dibor dalam tanah lempung dan dapat dipakai untuk
penggalian terbuka (open) atau dilapisi (lined), atau untuk penggunaan bentonite
pada batuan lunak dan pada bahan selain batuan.
Berbagai jenis bucket tersedia untuk pemakaian dengan bor berputar (rotary)
jenis standar mempunyai bukaan pisau sekop (scoop blade) dengan gigi yang
keluar (projecting). Bucket batuan mempunyai bukaan besar yang direncanakan
untuk mengambil batuan yang pecah akibat tumbukan alat pemotong (chopping
bit) pada kelly bar.
Dasar yang diperlebar dapat dipotong dengan memutar belling bucket di dalam
lubang berpinggiran lurus yang telah dibor sebelurnnya.
Peralatan pengeboran dengan putaran khusus diperlukan untuk pengeboran pada
batuan. Suatu pilihan lain adalah peralatan kabel (cable tool), yang menggunakan
pahat batu, ember penciduk (bailing) untuk membuang bahan-bahan cair (slurry)
dan penciduk bercengkeram (dam shell grabs) (alat menggali dan menciduk).
Terdapat beberapa jenis peralatan tersedia yang dapat disesuaikan dengan
penggunaannya, dan peralatan demikian mempunyai keuntungan yaitu dapat
beroperasi pada penggalian yang dalam.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 21

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

2.3.3. TIANG PANCANG BETON

a. Umum
Beton dapat disesuaikan untuk penggunaan yang luas pada jenis-jenis tiang. Beton
dapat dipakai dalam bentuk pracetak pada tiang pancang atau dipakai pada tiang yang
dibor. Beton yang padat dan mampat dapat tahan terhadap pemancangan yang keras,
dan menahan serangan zat-zat agresif dalam tanah atau di air. Akan tetapi pada tiang
pracetak, beton cenderung mengalami kerusakan (yang mungkin tidak terlihat) pada
kondisi pemancangan yang keras. Beton yang lemah pada tiang yang dicor in-situ
kemungkinan akan hancur bila terdapat bahan-bahan agresif di dalam tanah atau air.
Suatu kerugian lain dari tiang beton adalah sulitnya untuk disambung dibandingkan
dengan pipa baja. Pada sebagian besar proyek-proyek, panjang tiang yang diperlukan
tidak diketahui sampai pemancangan sebenarnya berlangsung. Tiang yang perlu
diperpanjang biasanya tidak dapat diselesaikan sampai ada sambungan baru yang
dicor dan dirawat (sekurang-kurangnya 20 hari) dan tiang dapat dipancang kembali.

b. Pembuatan Tiang
Tiang dapat dicetak pada landasan dengan menggunakan acuan pinggir yang dapat
dibongkar dari bahan kayu atau baja. Jenis landasan dan pilihan bahan untuk acuan
pinggir tergantung pada jumlah tiang yang akan dicetak. Dasar pencetakan tiang harus
ditempatkan pada tanah yang kokoh untuk mencegah melenturnya tiang pada waktu
dan sesudah pengecoran: Suatu landasan beton masif sering digunakan. Susunan ini
terlihat pada Gambar 3.7
Pangkal tiang (stop end) harus dibuat benar-benar tegak lurus pada sumbu tiang untuk
menjamin distribusi yang merata dari pukulan penumbuk pada waktu pemancangan.
Penggetar digunakan untuk mendapatkan kepadatan yang teliti pada beton, dan beton
di antara penahan baja (bearer) atas dan adukan beton harus dikerjakan
menggunakan alat 'pemotong' untuk meniadakan bercak-bercak keropos (honey
comb).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 22

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.7 - Susunan Pencetakan untuk Tiang Beton

Jika tiang dicor dengan acuan samping dari kayu, acuan harus dibongkar sesegera
mungkin dan perawatan basah dengan menggunakan penyemprotan air dan karung
dipertahankan untuk jangka waktu tujuh hari. Segera setelah pengujian kekuatan tekan
pada kubus beton menunjukan bahwa tiang cukup kuat untuk diangkat, tiang harus
dimiringkan secara hati-hati dengan batang pengungkit dan diganjal dengan baji untuk
melepaskan lekatan antara tiang dengan landasan. Tali pengangkat (lifting sling) atau
baut pegangan dapat dipasang dan tiang diangkat untuk pengangkutan ke tempat
penumpukkan. Pekerjaan pemiringan dan pengangkatan harus dilakukan dengan
sangat berhati-hati karena tiang masih mempunyai kekuatan rendah, dan retakan atau
awal retakan yang terjadi pada tahap ini akan membesar akibat tegangan pada saat
pemancangan.
Tiang harus ditandai dengan jelas dengan suatu nomor referensi, dengan panjang dan
tanggal pengecoran pada waktu atau sebelum pengangkutan, untuk menjamin bahwa
pemancangan dilakukan dengan urutan yang benar.
Tiang harus dilindungi dari matahari dengan cara menutupi tumpukan tiang
menggunakan terpal atau lembaran lain.

c. Tiang Pancang Beton Pratekan Pracetak
Tiang pancang beton pratekan pracetak sering dipakai pada proyek-proyek. Tiang
pancang beton pratekan biasanya ditegangkan dengan pemberian tegangan tekan
pada saat dilepas (induced compressive stress at relase) sebesar antara 4 dan 11
MPa (40-110 kg/cm2).
Panjang standar dari tiang tersebut adalah dari 6 meter .hingga 20 meter, berdiameter
hingga 600 mm. Penyambungan (splicing) dari tiang tersebut dilakukan dengan pelat
baja pada ujung bagian yang akan disambung.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 23

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

d. Penanganan dan Penyimpanan
Tiang beton bertulang harus diangkat atau dipindahkan dari posisi datar (horizontal)
dengan cara mengangkat pada dua titik yang ditandai dengan jelas sejauh seperlima
panjangnya dari tiap ujung (atau posisi lain yang ditetapkan dalam Gambar). Tiang
harus ditangani secara hati-hati tanpa benturan gerakan tiba-tiba. Biasanya perlu
petunjuk khusus untuk penanganan dan penumpukan tiang yang sangat panjang
(lebih dari 15 meter).
Tiang tidak boleh ditumpuk lebih dari tiga lapis dan harus diperhatikan agar tidak terjadi
penurunan tanah lebih-lebih pada waktu musim hujan. Tiang harus dipisahkan satu
sama lain oleh penahan (bearers} yang diletakkan tegak lurus di atas tiang bawahnya.
Tiang harus ditopang di bawah titik angkat pada waktu diangkat, dan bila tiang akan
ditumpuk satu di atas yang lainnya untuk transport (atau penyimpanan), penting bahwa
pembungkus (packer) kayu ditempatkan secara vertikal satu di atas yang lainnya. Ini
akan meniadakan retak akibat tegangan pada tiang (tiang-tiang) bawah akibat lenturan,
seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.8.
Tiang dengan panjang berbeda tidak boleh ditumpuk bersama-sama. Tiang beton
bertulang harus dipindahkan atau ditumpuk dengan kedua sisi berlainan vertikal atau
horisontal. Crane mobil atau peralatan lain yang sesuai dipergunakan untuk
memindahkan tiang dari lokasi penumpukan tiang ke lokasi jembatan untuk
penempatan dan pemancangan, dengan cara menyangga pada dua titik selama
perjalanan seperti dijelaskan di atas.

Gambar 2.8 - Penumpukkan Tiang Beton

Sebelum pengangkatan, tiang pancang beton diberi tanda pada interval 250
mm. Tiang pendek, dengan panjang kurang dari 15 m, ditempatkan pada
posisinya dari titik ketiga teratas, dengan ujung bawah tiang (toe) menopang

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 24

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

pada tanah, dengan berhati-hati agar toe dari tiang tidak membentur atau
mengenai permukaan tanah yang tidak rata. Tiang yang panjang diangkat dari
kedua titik kelima, kecuali jika diberi petunjuk yang lain. Ujung toe tidak
mengenai tanah dan berangsur-angsur diturunkan sampai tiang hampir tegak.
Tali ujung dipakai untuk menghindari benturan dengan kerangka atau
pemandu (leader). Pengangkatan terakhir harus dilakukan dengan bantuan tali
baja pada tiang dekat kepala. Untuk tiang yang sangat panjang, suatu halter
dengan desain yang sesuai mungkin diperlukan. Dalam hal ini gambar-gambar
akan disediakan oleh Pimpro/Engineer.

e. Penyambungan dan Perpanjangan
Terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk memperpanjang tiang pancang
beton. Memperpanjang tiang setelah pemancangan selesai adalah cara yang paling
mudah, karena sambungan tidak perlu menahan tegangan yang besar yang ditemui
selama pemancangan. Panjang sambungan normal untuk penulangan dan
pekerjaan beton biasa dapat digunakan.
Jika tiang akan dipancang lebih dalam setelah penyambungan, sambungan harus
dapat menahan tegangan tekan dan torsi yang terdapat pada waktu pemancangan
dan harus mampu meneruskan (transmit) momen di dalam tiang melewati
sambungan. Meskipun sejumlah sambungan buatan pabrik telah dikembangkan
(misalnya sambungan Herkules "jenis sekrup"), sambungan tersebut tidak lazim
dipakai di Indonesia. Cara yang paling umum untuk penyambungan tiang adalah
pemakaian lengan baja di atas dan di bawah tempat sambungan. Beberapa tiang
mempunyai pelat baja yang tertanam di dalam beton yang memungkinkan
penyambungan mudah dilakukan dengan cara mengelas pelat pada segmen atas
dan bawah dari tiang. Praktek ini tidak lazim untuk tiang yang difabrikasi di lokasi.
Keuntungan dari pada lengan baja atau pelat yang dilas adalah bahwa tiang dapat
dipancang dalam waktu singkat setelah penyambungan selesai. Penting untuk
diperhatikan bahwa kedua muka yang bertemu harus cocok satu sama lain sedekat
mungkin pada bidang yang sama. Penggunaan lengan baja dan merekatkan epoxy
akan menutupi/mengkompensasikan kekurangcocokan tersebut.
Lebih baik (bila menggunakan lengan baja), untuk memasukan dan merekat (epoxy)
batang dowel ke dalam lubang yang dibor pada bagian atas dan bawah dari tiang. Hal
ini akan memungkinkan terjadinya perpindahan (transfer) momen lewat sambungan,
sesuai dengan anggapan perencana.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 25

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.9, 2.10, 2.11, 2.12, 2.13 dan 2.14 memperlihatkan cara lain penyambungan
tiang pancang beton.

Gambar 2.9 - Detail Tipikal Sambungan Tiang Pancang Pratekan

Gambar 2.10 - Detail Tipikal Sambungan Tiang Pancang Pratekan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 26

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.11 - Tipikal Sambungan Tiang Pancang Beton

Gambar 2.12 - Tipikal Sambungan Tiang Pancang Beton

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 27

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi

Gambar 2.13 - Tipikal Sambungan Tiang Pancang Beton

Gambar 2.14 - Tipikal Sambungan Tiang Pancang Beton

Bilamana penyambungan harus dilakukan dengan cara membobok beton dan
menyambung tulangan bagian atas dengan bagian bawah, maka penting untuk
diperiksa dengan teliti yaitu daerah di dekat kepala tiang yang telah dipancang, apakah
ada kerusakan. Jika keretakan dan pecahan telah terjadi, beton di atas 0.5 meter dari

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 28


Click to View FlipBook Version