Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
puncak tiang harus dibuang dan penulangan dipotong secukupnya. Pada
pemancangan yang sangat keras, bagian sepanjang 1 meter dari puncak mungkin
terpengaruh. Batang-batang tulangan pada masing-masing bagian harus dilas ujung
(butt welded), dan suatu batang tulangan yang berdiameter 12 atau 16 mm dilas fillet
pada batang tulangan atas dan bawah. Daerah di antara tiang-tiang kemudian dibentuk
(formed up) dan beton dicor. Kelemahan pada sistem penyambungan ini adalah tiang
bagian atas harus ditopang secara tepat dan kaku hingga sambungan cukup kuat, dan
tiang yang diperpanjang tidak dapat dipancang hingga sambungan memiliki kekuatan
tekan yang disyaratkan di dalam Spesifikasi Teknik.
Penggunaan batang pasak tunggal dan lubang (recess) untuk penyambungan tidak
disarankan. Sambungan tekan sederhana ini tidak dapat menahan kecenderungan
satu segmen tiang bergeser keluar garis jika menemui halangan, dan tidak dapat
meneruskan momen lewat sambungan.
Gambar 2.15 - Sambungan Tiang Pancang Beton
2.3.4 TIANG PANCANG BAJA
a. Umum
Tiang baja mempunyai keuntungan yaitu kuat dan ringan untuk ditangani, mempunyai
kemampuan daya dukung tekan (kompresif) yang tinggi bila dipancang pada lapisan
tanah keras, dan mampu dipancang dengan keras untuk penetrasi yang dalam hingga
mencapai . lapisan dukung, atau untuk mendapatkan daya dukung tahanan geser yang
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 29
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
tinggi. Biaya per meter lebih tinggi daripada tiang beton pracetak. Mudah dipotong atau
diperpanjang untuk menyesuaikan dengan variasi ke dalaman lapisan dukung (bearing
stratum).
Pipa dapat dipancang dengan ujung terbuka atau tertutup. Tiang yang harus
mendukung beban tekan tinggi biasanya dipancang dengan ujung tertutup. Tiang
dengan ujung terbuka mungkin mempunyai pelat penguat yang ditambahkan pada
ujung tiang ( pada bagian dalam atau bagian luarnya) jika diperkirakan akan terdapat
lapisan yang sulit ditembus pada waktu pemancangan.
Tiang yang akan diisi dengan beton dipasang dengan ujung tertutup, dan pengisian
beton pada pipa baja dilakukan setelah selesai pemancangan. Pipa baja biasanya
ditinggalkan di dalam tanah sebagai bagian dari tiang yang permanen (tetap).
b. Fabrikasi
Pipa baja biasanya disediakan dalam bentuk jadi. Pipa dibentuk tanpa lipatan, dilas
spiral atau dilas tangkup. Jika perlu panjang dapat disambung sebelum pemancangan
dan ukuran panjang tambahan dapat disambung dengan mudah sesuai kebutuhan.
Untuk membuat suatu tiang dengan ujung tertutup, pipa tiang sering dipotong dan dilas
sehingga membentuk ujung runcing, seperti terlihat pada Gambar 2.16.
Gambar 2.16 - Fabrikasi ujung tertutup pada tiang
c. Penyambungan
Penyambungan antara potongan tiang baja memerlukan pengelasan standar tinggi,
dan harus dilakukan oleh tukang las yang bersertifikat. Pengelasan harus diuji secara
visual dan dengan cara 'non destructive'.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 30
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Biasanya perlu memotong 300 mm hingga 500 mm dari puncak bagian tiang yang
dipancang, untuk meratakan ujungnya dan untuk membuang bagian baja keras yang
sukar dilas.
Tidak ada masalah pada penyambungan pipa baja, yang penting hanya pengelasan
dan waktu yang digunakan untuk mengelas sambungan bukan merupakan gangguan
yang berarti bagi pemancangan. Akan tetapi penting untuk menahan/memegang pipa
sambungan tiang pada alinemen yang benar ketika pengelasan berlangsung,dan untuk
mempertahankan celah (gap) yang tepat. Peralatan penahan ditempat (jigs and
fixtures) harus digunakan untuk mencapai hal ini. Potongan-potorigan batang
penulangan (kira-kira sepanjang 200 mm) yang dilas sebagai pegangan (lugs) di dalam
pipa akan menandai perpanjangan dan tiang yang telah dipancang. Sambungan yang
dilas harus mampu meneruskan momen penuh dalam tiang (dan untuk pipa baja)
biasanya merupakan las ujung penetrasi penuh di sekeliling permukaan pipa.
Dua contoh tipikal sambungan tiang baja seperti terlihat pada Gambar 2.17.
Gambar 2.17 - Tipikal Sambungan Tiang Baja
d. Pengecoran Dalam Tiang
Sebagian besar pekerjaan tiang pancang pada proyek jembatan adalah pipa baja yang
dipancang di dalam tanah dan kemudian diisi dengan beton. Suatu jalinan penulangan
(reinforcing cage) ditempatkan di dalam pipa sebelum pengecoran. Batang-batang
penulangan akan keluar di atas permukaan pemotongan tiang dan berfungsi untuk
mengikat tiang pada kepala jembatan atau cap pilar.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 31
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Seringkali tidak praktis memadatkan beton dengan getaran pada bagian bawah tiang
yang dicor di tempat. Beton pada bagian atas setinggi 2 atau 3 meter dari puncak
harus dipadatkan dengan menggunakan cara penggetaran yang biasa dilakukan.
Penulangan harus diletakan di tengah pipa dengan selimut yang disyaratkan. Hal ini
dapat dicapai dengan menempatkan pengatur jarak (spacer) yang sesuai pada bagian
luar jalinan penulangan. Perhatikan bahwa pengatur jarak tersebut mungkin akan
berputar pada waktu jalinan diturunkan kedalam tiang. Pengatur jarak harus dipasang
setiap 90° di sekeliling jalinan penulangan, dan harus diberi jarak antara setiap 2 atau
2,5 meter menurut arah memanjang tiang.
2.3.5 TIANG YANG DIPANCANG
a. Umum
Baik alat pancang bergerak (mobile) maupun tetap untuk pemancangan tiang lazim
digunakan di Indonesia. Jenis penumbuk yang paling sering digunakan adalah
penumbuk diesel. Penumbuk jatuh bebas jarang digunakan untuk memasang tiang
yang tetap pada proyek jembatan.
Tiang pancang kepala jembatan (abutment) sering dipancang sebelum dilakukan
penghamparan tanah/bahan pengisi untuk timbunan oprit. Hal ini merupakan praktek
yang buruk, dan dapat menimbulkan pengurangan kapasitas daya dukung tiang yang
berarti..
Bahan timbunan (embankment) sulit dipadatkan dengan benar di sekitar tiang dalam
kelompok (hal ini sangat sukar untuk dicapai, terutama pada daerah di bawah kepala
jembatan itu sendiri), bahan timbunan akan turun (settle) di sekeliling tiang.
Penurunan ini akan menyebabkan tarikan ke bawah (downdrag) pada tiang, sebagai
tambahan beban vertikal pada tiang akibat beban dari bangunan. Harus diusahakan
agar bahan timbunan dihampar secepat mungkin untuk menghindari masalah ini. Jika
bahan pengisi timbunan dalam jumlah besar akan ditempatkan pada kepala
jembatan, harus dipertimbangkan pembebanan pendahuluan dari timbunan dengan
bahan tambahan (setinggi 2 atau 3 meter). Bahan ini kemudian di tinggal ditempat
selama beberapa bulan untuk mempercepat penurunan timbunan, dan bahan
tambahan kemudian dipindahkan sebelum pemancangan tiang.
b. Penempatan (Pitching)
Catatan lain mengenai penanganan dan penempatan tiang terdapat pada Bab 2.3.1
dan 2.3.3.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 32
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Pengawas (Konsultan Supervisi) harus memeriksa pangaturan tiang secara bebas
tidak tergantung pada Kontraktor.
Sebaiknya suatu lubang dangkal digali pada lokasi tiap tiang untuk memudahkan
penentuan posisi dari ujung (tip) tiang pada waktu penempatan tiang.
Bilamana tiang dipancang dengan kemiringan yang curam, penumbuk akan cenderung
menggulingkan kerangka (frame) tiang pada waktu penempatan karena letaknya yang
tinggi pada pemandu (leader). Dalam hal demikian, stabilitas dari kerangka harus di
periksa dan, jika perlu, ditambahkan pemberat pada bagian depan kerangka (baja atau
beton), atau kerangka diikat dengan rantai pada bagian depan.
Jika dipakai suatu sistem pemandu gantung, yaitu di mana pemandu digantungkan dari
pengait (hook) pada crane, seperangkat tali penahan (guy wire) dan katrol tipe tirfor
harus dipakai untuk menempatkan ujung pemandu secara tepat. Tali penahan harus
dipasang dengan erat pada angker yang sesuai. Tali dapat dipakai untuk memperbaiki
secukupnya kemiringan tiang pada tahap-tahap awal pemancangan.
Tiang beton dengan panjang hingga 15 meter dapat ditempatkan dengan memakai tali
tunggal pada titik ketiga dari ujung.
Setelah tiang ditempatkan dan berada pada posisinya di bawah penumbuk, pengawas
harus memeriksa tiang itu untuk kemiringan atau ketegakannya. Ini dapat dilakukan
dengan memakai sifat datar (spirit level) panjang dan unting-unting.
c. Prosedur Pemancangan
Pada tahap awal pemancangan tiang pancang beton bertulang, pukulan penumbuk
(hammer) harus dikendalikan sehingga menghasilkan penetrasi per pukulan tidak lebih
dari 60 mm. Pukulan yang berat dalam tanah lunak dapat menyebabkan retak (tension
Cracking). Dengan bertambahnya ketahanan (resistance), pukulan harus diperbesar
dengan memelihara penetrasi kira-kira 50 mm per pukulan sampai pukulan maximum
yang diizinkan dicapai.
Pemancangan dilanjutkan sampai tiang mencapai penurunan (set) yang ditentukan dan
sampai ujung tiang mencapai kedalaman rencana atau seperti yang dilakukan pada
tiang percobaan, pemancangan dilanjutkan sampai tiang mencapai nominal refusal.
Menurut ketentuan Spesifikasi Teknik, ini berarti penetrasi tidak lebih dari 25 mm untuk
20 pukulan beruntun dengan tenaga pemancangan yang ditentukan. Untuk
mendapatkan dudukan kokoh pada batuan, refusal (penolakan) untuk tiang baja sering
diambil sebagai penetrasi netto 6mm atau kurang untuk 5 pukulan terakhir.
Jika tiang telah dipancang hingga 1 meter dari tanah dan tidak ada tanda-tanda
bahwa penurunan yang diharapkan tidak akan terjadi maka pemancangan harus
dihentikan dan sisa tiang dibiarkan di atas permukaan tanah untuk memungkinkan
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 33
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
penyambungan (splicing) dengan mudah. Jika tiang terlihat perlu ditinggikan ke atas,
maka pemancangan dapat dilanjutkan dengan memakai dolly atau follower.
Seringkali pemancangan dihentikan (misalnya untuk memasang sambungan). Jika
pemancangan dilanjutkan, penetrasi per pukulan mungkin jauh lebih kecil dari pada
saat pemancangan terhenti. Tekanan pori, yang melicinkan tiang sudah berkurang
sehingga pemancangan kembali menjadi sulit. Tidak ada alasan untuk memperbesar
pukulan melebihi dl atas maksimum yang diizinkan. Setelah jumlah pukulan yang
cukup, tiang biasanya akan bergerak kembali. Dengan penumbuk diesel, waktu yang
tertunda dalam mengatasi daya lawan adalah sangat kecil.
Setiap usaha harus dilakukan untuk menghindari terhentinya pemancangan.
Pengukuran penurunan ("set") harus dilakukan pada akhir pemancangan, dan bukan
setelah pemancangan istirahat untuk waktu yang panjang.
d. Pemancangan
Beberapa catatan pada pengoperasian pemancangan tiang terdapat di bawah ini:
Tiang pancang miring yang dipancang dari pemandu (leader) biasanya bergerak
ke arah kemirinyan yang lebih datar dari pada kemiringan pada saat
penempatan. Jika hal ini terjadi, lebih balk mengantisipasi arahnya dan
menyesuaikan arah penempatannya (pitch) sebelum dipancang. Tiang pancang
beton sama sekali tidak boleh ditarik untuk memperbaiki deviasi dari kemiringan
rencana. Tiang pancang harus dicabut dan dipancang kembali, jika perlu
dilakukan tindakan perbaikan.
Gambar-gambar menunjukkan lokasi rencana tiang miring (raker pile) di sisi
bawah beton kopel tiang (pile cap). Titik di mana tiang miring masuk ke tanah
tergantung pada perbedaan tinggi sisi bawah beton kopel tiang dan permukaan
tanah, dan kemiringan tiang (lihat Gambar 2.18).
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 34
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Gambar 2.18 - Penyesuaian Ketinggian Tiang untuk Tiang Miring
Pada tanah kering biasanya dipersiapkan daerah kerja yang datar pada lokasi
pilar. Titik masuk tiap tiang kemudian dapat dipatok dengan mudah. Untuk
beton kopel tiang di dalam tanah, sebaiknya diusahakan penggalian hingga sisi
bawah beton kopel tiang, sebelum pemancangan dimulai. Akan tetapi, bila ini
tidak mungkin dan tanah tetap tidak rata, titik masuk (point of entry) dapat
dipatok setelah menentukan tinggi permukaan asli.
Pada waktu pemancangan tiang miring dari tongkang/ponton (barge), lokasi
dapat ditentukan dengan menggunakan theodolite untuk menentukan garis, dan
sebaiknya peralatan pengukuran jarak elektronis (electronic distance
measuring-EDM) untuk lokasinya. Jika peralatan EDM tidak tersedia, dapat
digunakan pita ukur atau pita baja dengan koreksi yang sesuai untuk suhu,
lendutan (sag) dan sebagainya, sehingga ketepatannya dapat dijamin.
Panjang yang diukur dari tiang yang miring dalam arah garis tengah
longitudinal, harus dihitung untuk ketinggian di mana dilakukan pengukuran.
Untuk tiang yang miring secara melintang terhadap garis tengah, posisi dari
theodolit pada base line harus dihitung untuk ketinggihan tiang yang ditentukan
sebelumnya. Bilamana memancang dari tongkang/ponton, tiang disetel dengan
beratnya didukung oleh tongkang. Bila ujung tiang (toe) diturunkan pada dasar
sungai, tongkang akan terangkat karena berpindahnya beban dari tongkang ke
tiang. Posisi tiang pada permukaan harus diperiksa sebelum pemancangan
dimulai.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 35
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Naik turunnya tongkang akibat pengaruh pasang surut dapat juga merubah
kemiringan tiang pada tahap-tahap awal pemancangan. Oleh karena itu sampai
tiang tertanam dengan baik, kemiringan harus diperiksa secara teratur dan
dikoreksi dengan cara menggeser tongkang/ ponton. Pada waktu yang sama,
posisi tiang harus diperiksa dengan pengukuran.
Tiang pancang pada tebing yang curam sering bergerak kearah sungai. Jika hal
ini terjadi, tiang harus ditempatkan agak miring untuk mengimbangi gerakan ini.
Perhatian khusus diberikan sebelum dan selama penumbukan pertama
sehingga ketepatan pemancangan dapat dijamin. Sumbu penumbukan harus
konsentris dengan sumbu tiang yang ditempatkan. Oleh karena itu kerangka
tiang harus dipelihara dalam kondisi yang baik, dan pengarah penumbuk harus
selurus mungkin pada keseluruhan panjangnya.
Bila tiang keluar dari arahnya pada tahap-tahap awal pemancangan, keadaan
ini dapat diperbaiki dengan sedikit memindahkan kerangka tiang. Dengan tiang
beton, prosedur ini sebaiknya tidak dilakukan setelah beberapa pukulan
pertama penumbuk, karena tiang dapat retak dengan mudah dalam posisi ini.
Koreksi mungkin dilakukan dengan menggunakan tali pemandu atau pengikat
dalam arah yang benar, tetapi bila tiang terlalu keluar garis/arah, prosedur yang
biasa dilakukan adalah mencabutnya, mengisi lubang dengan pasir atau bahan
serupa (dengan memadatlcan bahan lapis demi lapis) dan mencoba
memancangnya lagi dengan sudut yang benar. Biasanya ada kecenderungan
tiang akan mengikuti lubang lama.
Jika cara di atas kurang memuaskan, atau tiang tidak dapat dicabut (tidak
terdapat peralatan untuk pencabutan, atau tiang telah dipancang terlalu dalam
untuk dapat dicabut) yang praktis yang biasa adalah dengan memancang tiang
lain di samping tiang pertama dan memperpanjang pile cap.
Pada jenis tanah tertentu, terutama bila butiran berukuran kasar, tidak kedap air
(pervious) dan jenuh, tiang akan tampak terdorong ke atas dengan perlawanan
yang diperlukan. Akan tetapi setetah jangka waktu yang pendek (dibawah 24
jam), tiang akan kehilangan sampai 40 persen dari perlawanannya untuk
pemancangan. Hal ini disebabkan oleh pemadatan material di sekitar tiang pada
waktu pemancangan, tetapi bila pemancangan dihentikan material
berkesempatan menyerap air dan menyesuaikan diri kembali. Jika ini terjadi,
tiang harus dipancang kembali. Oleh karena itu praktek yang baik bila kondisi
demikian diperkirakan akan terjadi, adalah dengan cara menghentikan
pemancangan dan menunggu 12 hingga 18 jam sebelum dicoba kembali. Jika
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 36
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
tiang tidak bergerak dengan beberapa pukulan pertama penumbuk, dapat
dianggap bahwa situasi di atas tidak terjadi.
Jika terdapat keraguan mengenai kemampuan tiang untuk mendukung beban,
pengawas harus menginstruksikan pengujian beban. Hal ini penting, terutama
bila belum pernah dilakukan uji tiang, baik pada waktu tahap perencanaan atau
sebelum dimulainya pemasangan tiang tetap (lihat Bab 2.1.5)
Dalam situasi tertentu, tiang dapat terangkat kembali (rebound) untuk suatu
panjang yang perlu diperhatikan, sampai 300 mm atau lebih. Hal ini mungkin
disebabkan oleh pemancangan melalui aquifer. Pada situasi demikian, cara
pemancangan tiang harus dirubah. Satu atau dua pukulan pada tiang harus
diikuti oleh masa tunggu sampai tekanan pori tersebar pada saat mana dapat
dilakukan satu atau dua pukulan lagi. Proses ini harus dilanjutlcan sampai ujung
tiang telah menembus batas bawah dari aquifer.
Bilamana memancang tiang beton, pukulan penumbuk pada tahap awal
pemancangan harus demikian sehingga penetrasi pada tiap pukulan tidak lebih
dari 50 mm. Pukulan keras pada tanah lunak akan menghasilkan retakan akibat
tegangan tarik. Hal ini kadang-kadang dapat ditandai dengan adanya kepulan
debu kira-kira sepertiga dari panjang tiang diukur dari puncak tiang.
Pakailah packing yang sesuai dan memadai pada topi (helmet) dan periksa
packing sebelum memancang masing-masing tiang. Gantilah packing bila perlu.
Jika terdapat tanda-tanda keretakan tiang, pemancangan harus dihentikan. Jika
ada keraguan mengenai besarnya keretakan, dapat diuji dengan menuang
seember air di atas retakan tersebut, sementara dilakukan pukulan terhadap
tiang. Bila air keluar dari retakan, diikuti oleh adukan cair (slurry), hal ini
menandakan bahwa retakan cukup serius sehingga pemancangan harus
dihentikan.
Pengamatan terhadap tiang setelah ditempatkan, dapat dicapai dengan salah
satu oari dua cara. Cara yang lebih mudah adalah dengan membidik lewat dua
tali vertikal yang digantung di dekat tempat itu. Ini akan menunjukkan bahwa
tiang tetap vertikal tetapi tidak menjamin pengalihan (displacement) lateral.
Cara yang lebih tepat adalah dengan pembidikan melalui dua theodolit yang
dipasang saling tegak lurus. Ini akan memperingatkan bila tiang beralih dari
vertikal atau bergeser secara lateral.
Pergeseran (drifting) dari tiang dapat diperbaiki dengan penyemprotan (jetting),
tetapi pada umumnya tidak dapat dikoreksi tanpa menimbulkan kerusakan pada
tiang.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 37
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Tiang Beton pratekan dan tiang beton bertulang khususnya sulit untuk
dipancang melalui pasir. Gerakan membilas dengan semprotan air dari pipa
yang tertanam dalam tiang atau yang dipaksa turun di samping tiang,
memudahkan masuknya tiang ke dalam tanah. Akan tetapi, penyemprotan tidak
efektif pada tanah lempung dan tanah kelempungan.
Penyemprotan hanya dapat digunakan bilamana dimungkinkan mendapat
volume besar air di permukaan, dan pada umumnya menimbulkan lokasi yang
kurang rapi.
Penyemprotan harus merata untuk mencegah ujung tiang keluar dari arah garis.
Lebih baik memakai pipa semprot pada setiap sisi, dari pada memakai pipa
tunggal. Pipa semprot harus berdiameter 37.5 mm hingga 50 mm, berakhir
pada ujung (nozzle) atau fishtail yang mempunyai potongan melintang lebih
kecil.
Jika penyemprotan pra-pengeboran di pakai, pastikan bahwa ujung tiang
mempunyai dudukan yang baik dengan perlawanan tanah yang memadai pada
ujungnya sebelum memakai tenaga pemancangan penuh.
Pemancangan dan penyemprotan tidak boleh dilakukan secara bersamaan.
Keamanan pekerjaan harus diperhatikan setiap saat pada waktu pemancangan.
Khususnya hal-hal berikut ini harus di perhatikan :
o Pakailah helm keamanan setiap saat pada saat pelaksanaan pemancangan.
Hal ini sangat penting untuk personil yang mencatat penetrasi dan
penurunan akhir.
o Pastikan dengan seksama sambungan yang dipilin dan baut dikerjakan
dengan benar, atau baji yang dipakai untuk memasang tiang pada trip atau
penumbuk. JANGAN MENGGUNAKAN PENJEPIT TALI. Ikatkan baut pin
sehingga tidak lepas.
o Pastikan bahwa tangga akses dan panggung dalam kondisi baik.
o Bila menggantung penumbuk pada pemandu, pastikan bahwa cukup
disokong oleh balok atau pengikat tali kawat baja atau cara lain yang
ditentukan oleh pabrik, meskipun tali katrol masih terpasang pada
penumbuk.
o Bila menempatkan tiang, harus diingat bahwa pengangkatannya berat dan
agak sulit, dan harus dijamin keselamatan pekerja setiap saat.
Bila sejumlah tiang harus dipancang dalam kelompok, pemancangan tiang
pertama akan mempengaruhi pemancangan tiang berikutnya. Hal ini khusus
berlaku bila tiang dipancang dalam pasir padat. Pada kondisi demikian, tiap
tiang yang dipancang akan tertanam lebih dangkal dari pada tiang
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 38
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
sebelumnya. Pada umumnya pemancangan kelompok tiang dalam tanah pasir
harus dimulai dengan tiang yang paling dekat pada pusat kelompok,
kemudian berlanjut semakin keluar.
e. Tiang Percobaan
Tiang percobaan adalah tiang yang dipancang sebelum tiang tetap untuk mengetahui
bagaimana perilaku tiang tetap pada waktu pemancangan. Informasi dari tiang
percobaan dapat membantu perencana dalam melengkapi keterangan pemboran dan
penyondiran. Tiang percobaan yang dipancang pada awal kontrak dapat memberi
keterangan kepada engineer dan Kontraktor mengenai panjang tiang yang
direncanakan. Hal ini penting terutama pada waktu tiang beton akan dicetak di tempat.
Tiang percobaan dapat mamastikan panjang pencetakan landasan tiang-tiang dan
apakah diperlukan tambahan panjang untuk penyambungan.
Tiang percobaan seringkali merupakan tiang permanen yang pertama. Kontraktor akan
dibayar sesuai dengan harga satuan untuk pemancangan tiang, dan sebagai extra
untuk pemancangan tambahan yang melebihi permukaan rencana nominal, serta
sambungan dan sebagainya bila diperlukan.
Bila tiang uji tersembul ke atas di atas kedalaman perkiraan akan terjadi penghematan
biaya yang besar untuk pembuatan serta penempatan tiang-tiang sisa.
Bila tiang masuk melebihi kedalaman yang diperkirakan, banyak waktu yang dihemat
dengan meniadakan keperluan penyambungan tiap tiang, karena tiang dapat dicetak
dengan ukuran yang lebih panjang (sampai maksimum 15 meter).
Jelas bahwa penghematan tersebut akan tercapai hanya bila tiang uji ditafsirkan
dengan benar, dan tiang-tiang lainnya berperilaku sama seperti tiang uji.
Bila informasi pengeboran dan penyondiran konsisten pada lokasi itu, Tabel 3.5 dapat
dijadikan pedoman untuk interpretasi tiang percobaan. Harus diingat bahwa untuk tiang
yang dipancang dalam kelompok, tiang pertama akan masuk paling dalam sedangkan
sisanya akan mencuat keatas pada kedalaman lebih dangkal.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 39
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Tabel 2.5 - Interpretasi Tiang Uji
R.L. Ujung dari Jarak dari Ujung Tiang hingga Tindakan yang disarankan
Tiang Kontrak R.L.
Pertimbangkan kembali informasi
Jauh Lebih dari 15 m pengeboran dari jenis Pondasi.
dibawah
Kontrak R.L. 5 sampai 15 m Periksa informasi pengeboran. Jika
kedalaman tambahan dapat dijelas-kan,
1 sampai 5 m ambil ujung tiang percobaan sebagai
Kontrak baru.
Ambil ujung tiang percobaan sebagai
Kontrak RL baru.
Mendekati Dibawah 1 m sampai diatas 1 m Tidak ada perubahan pada Kontrak R.L.
Kontrak R.L.
Diatas 1 sampai 3 m Ambil ujung tiang percobaan sebagai
Kontrak RL baru.
Jauh diatas Pemancangan minimal pada Ambil ujung tiang percobaan sebagai
Kontrak R.L. bahan – 5 m Kontrak RL baru.
Kurang dari 5 m pemancangan Periksa informasi pengeboran.
pada bahan Pertimbangkan kembali jenis pondasi.
2.3.6 TIANG YANG DIBOR DAN DICOR SETEMPAT
a. Umum
Tiang yang dibor adalah tiang yang tidak dipancang (non-displacement), yang
dipasang dengan cara membuang tanah melalui suatu proses pengeboran (lihat Bab
2.3.2.c.ii), kemudian membuat tiang dengan pengecoran beton, atau bahan bangunan
lain, di dalam lubang bor. Bentuk yang paling sederhana yaitu mengebor lubang tanpa
dilapis kemudian mengisinya dengan beton. Akan tetapi seringkali akan timbul masalah
(misalnya kondisi tanah sulit, adanya air dan sebagainya), dan lubang harus diperkuat
sebelum pengecoran, biasanya dengan pemasangan pipa baja.
Pemasangan tiang yang dibor membutuhkan peralatan khusus, dan kebanyakan
pekerjaan ini di sub-kontrakkan kepada kontraktor spesialis pengeboran pondasi.
Terdapat dua sumber permasalahan utama pada tiang yang dibor.
Persoalan pertama adalah pembuatan bored pile pada lokasi tanah yang mudah
longsor. Persoalan ini dapat diatasi dengan memasang pelapis (liner) atau membor
dengan menggunakan cairan pemboran seperti bentonite. Cara pertama lebih umum
digunakan di Indonesia.
Yang kedua adalah pembuatan bored pile pada lokasi tanah yang mengandung batuan
besar. Dalam hal ini penggeboran tidak akan dapat menembus batuan dan diperlukan
sejenis pahat batuan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 40
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
Pada tanah yang stabil, suatu lubang yang tidak dilapisi dapat dibor dengan tangan
atau bor mesin.
Jika diperlukan perkuatan, jalinan tulangan ringan dipasang dalam lubang kemudian
dicor dengan beton. Pada beberapa jenis tanah diperlukan casing untuk mendukung
sisi lubang bor.
Atas dasar pertimbangan ekonomi dan kebutuhan mendapatkan hambatan lekat (skin
friction) pada tiang (shaft), biasanya casing akan dicabut pada saat pengecoran atau
sesudahnya. Prosedur ini memerlukan perhatian dan pengerjaan yang sungguh-
sungguh untuk mencegah beton terangkat oleh casing yang dapat menimbulkan
rongga dalam shaft atau masuknya longsoran tanah.
Penulangan pada tiang yang dibor perlu untuk melawan gaya angkat tiang. Jarak
(spacing) antara batang tulangan harus cukup besar sehingga dapat dijamin bahwa
beton tidak terhambat di antara batang.
b. Pengeboran
Berbagai jenis ember (bucket) tersedia untuk dipakai dengan peralatan bor putar. Jenis
standar biasanya mempunyai bukaan berbentuk pisau sekop yang dilengkapi dengan
gigi yang keluar. Ember untuk batu-batuan mempunyai bukaan besar yang dirancang
untuk mengambil batuan yang dipecah oleh naik turunnya alat pemotong (chopping bit)
pada kelly. Seringkali alat bor diluncurkan dari crane, dan suatu alat berbentuk roket
dengan pemecah yang berat digunakan untuk memecah batuan dengan cara
menjatuhkannya pada batuan. Cara lain adalah dengan menggunakan bor khusus
dengan gigi pemotong batu. Cara terakhir ini lebih mahal dan memerlukan unit
penggerak lebih kuat untuk pengeboran.
Meskipun tiang yang dibor dapat dipasang dengan kemiringan, terdapat masalah bila
bor meleset keluar garis di luar ujung pipa. Hal ini akan membuat penarikan bor sulit
dilakukan. Tiang yang dibor biasanya dipasang secara vertikal.
c. Penggalian
Penggalian pada tiang yang dibor biasanya merupakan bagian integral dari proses
pengeboran pada saat mengebor tanah. Tanah dihilangkan dari mata bor spiral dengan
memutarkannya setelah alat ditarik dari tanah. Mata bor menerus akan mengangkut
tanah dari ujung bor ke permukaan tanah tanpa mengganggu proses pengeboran.
Penggalian batuan biasanya dilakukan dengan tangan atau dengan menggunakan alat-
alat yang dipasang khusus.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 41
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
d. Dasar yang Diperlebar
Beberapa sistem tiang yang dibor memungkinkan dasar tiang diperlebar setelah
pengeboran selesai. Dasar tiang yang diperlebar menambah kapasitas daya dukung
tiang pada fondasi, terutama pada lempung keras (stiff) dan batuan lemah.
Pelebaran dapat dilakukan dengan penggalian tangan atau dengan menggunakan alat
yang dipasang khusus pada mesin bor, yang dilewatkan melalui tabung dan
diameternya mengembang sewaktu menggali di bawah ujung (toe) dari tiang.
Selanjutnya alat dapat ditarik dan dicabut dari tiang. Dasar yang diperlebar di bawah
biasanya diisi beton masif (massa).
e. Rock Socket
Pada lapisan tanah keras, pengeboran dengan mata bor mungkin kurang dapat
dilakukan sehingga perlu digunakan pahat batu khusus untuk mendapatkan penetrasi
yang cukup. Suatu rock socket memberikan tahanan yang tinggi terhadap gaya lateral
dan mungkin diperlukan pada keadaan tertentu (lihat Gambar 2.19).
Gambar 2.19 - Rock Socket untuk Tiang yang Dibor
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 42
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
2.3.7 TANAH YANG SULIT DAN HALANGAN-HALANGAN
a. Tanah Seragam (Uniform) Yang Keras
Lapisan batuan lempung (claystone) dan beberapa shale yang dapat dibor dengan
mudah, mungkin sukar untuk dipancang. Dalam hal demikian pengeboran
pendahuluan (pre-boring), merupakan prasyarat pemancangan tiang.
b. Kerikil
Kerikil aluvial atau kerikil berlapis lempung-pasir mungkin sukar ditembus dengan
tiang pancang, dan mungkin memerlukan pemboran pendahuluan dengan peralatan
khusus dan penggunaan pelindung (casing) sementara atau yang dapat ditinggal
pada lubang untuk mencapai kedalaman yang diperlukan. Bahan tersebut mungkin
juga memerlukan pemecahan khusus untuk pemancangan, misalnya perubahan tiang
pancang beton menjadi baja, atau penggunaan tiang dicor setempat (cast-in-situ)
c. Pasir
Pasir murni dapat merupakan bahan yang paling sukar ditembus dengan tiang
pancang. Metoda penyemprotan (jetting piles) tiang mungkin satu-satunya pemecahan
untuk mencapai kedalaman yang ditentukan.
d. Kayu yang Tertanam
Adanya balok kayu yang tertanam di dalam tanah diketahui bila terjadi tiang naik
kembali pada waktu pemancangan. Kayu tersebut perlu dipindahkan atau dapat
dipecah dengan pahat (chisel) baja yang berat. Dalam kondisi tertentu, kayu dapat
dipecahkan dengan ledakan kecil. Pilihan terakhir adalah memindahkan tiang pondasi
untuk menghindari halangan tersebut.
e. Floater (Batuan yang Terpisah)
Floater adalah batuan keras terpisah yang bukan bagian dari strata itu. Jalan untuk
mengatasi halangan ini adalah sama dengan untuk kayu yang tertanam.
f. Gaya Geser Negatif (Down Drag)
Gaya geser negatif terjadi pada tiang setelah pemancangan bilamana tanah
disekitarnya turun relatif terhadap tiang. Biasanya penurunan dapat bertambah bila
timbunan pada embankment ditambah setelah pemancangan tiang melalui
embankment itu selesai. Gaya geser negatif dapat juga terjadi jika permukaan air
tanah turun. Gaya geser negatif cenderung mengurangi kapasitas beban maksimum
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 43
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
yang diizinkan pada tiang. Penimbunan tanah pada kepala jembatan harus
diselesaikan jauh sebelum pemancangan tiang.
g. Terangkat (Heave)
Pemancangan tiang dalam kelompok dapat menyebabkan permukaan tanah terangkat,
selain itu akan menyebabkan uplift pada tiang akibat pemancangan dari tiang-tiang di
sampingnya.
Pemeriksaan ketinggian harus dilakukan pada tiap tiang setelah pemancangan dan
sekali lagi setelah pemancangan tiang-tiang yang berdekatan. Bila ada tiang yang
terangkat dengan ketinggian yang berarti, tiang itu harus dipancang kembali sesuai
dengan kedalaman aslinya.
2.4. PONDASI CAISSON
Pondasi sumuran adalah suatu bangunan yang merupakan bagian dari pekerjaan
permanen dan terdiri atas satu atau lebih sumur vertikal. Pondasi ini terbuat dari baja,
beton bertulang, atau bagian-bagian beton pracetak yang ditegangkan secara bertahap
menjadi satu.
2.4.2. UMUM
Beton biasanya digunakan karena beratnya dapat membantu menurunkan struktur ini
sampai pada kedalaman yang diperlukan.
Sebagian besar pondasi caisson di Indonesia berupa konstruksi beton yang dicor di
tempat dengan dinding yang relatif tebal menurut segmen-segmen dengan ukuran
tinggi 1,5 hingga 2,5 meter, diameter luar 2,5 meter dan diturunkan dengan menggali
sedikit demi sedikit di bawah dasarnya. Berat beton pada sumuran memberikan gaya
vertikal untuk mengatasi gesekan (friction) antara tanah dengan beton, dan dengan
demikian caisson dapat turun.
2.4.3 BETON YANG DICOR SETEMPAT
a. Pematokan
Ketepatan pematokan pada sumuran sangat penting karena tempat yang digunakan
oleh sumuran sangat besar. Akibat kesalahan pematokan, bersama-sama dengan
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 44
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
kemiringan yang terjadi pada waktu sumuran diturunkan, dapat menyebabkan sumuran
itu berada di luar daerah kepala jembatan atau pilar. Hal ini merupakan tambahan
pekerjaan untuk memperbesar kepala jembatan atau pilar, dan akan meneruskan
beban vertikal dari bangunan atas kepada bangunan bawah secara eksentris.
Garis tengah memanjang jembatan dan garis tengah melintang dari sumuran harus
ditentukan dan dioffset sejauh jarak tertentu untuk memastikan bahwa titik-titik
referensi tersebut tidak terganggu pada saat pembangunan sumuran.
Harus diperhatikan penentuan letak tiap segmen untuk memastikan bahwa segmen
baru akan mempunyai alinemen yang benar sepanjang sumbu vertikal. Hal ini
penting terutama pada waktu suatu segmen ditambahkan pada sumuran yang tidak
(keluar dari) vertikal. Secara ideal, kemiringan ini harus diperbaiki sebelum
penambahan segmen berikutnya.
b. Penggalian Pendahuluan
Setelah pekerjaan pematokan selesai, dilakukan penggalian pendahuluan untuk
memberikan jalan awal melalui mana sumuran akan diturunkan. Sisi-sisi galian ini
harus sedapat mungkin vertikal.
c. Pencetakan Segmen-segmen Beton
Cukup banyak bagian beton yang harus dicetak terlebih dahulu untuk memungkinkan
sumuran dapat mulai turun. Balok kayu harus ditempatkan secara radial (keluar dari
pusat) di bawah sisi miring (cutting edge) sumuran, dan segmen-segmen beton
ditambahkan sampai balok dekat pusat sumuran mulai terangkat.
Permukaan luar dari beton harus dibuat sehalus mungkin.
d. Penggalian
Bila sumuran akan diturunkan dan dipasang di daratan, pembuatan cincin sumuran
dilakukan di atas acuan kayu yang dapat dilepas jika penurunan akan dimulai. Struktur
dibuat di atas tanah sampai kayu penyangga (yang diatur secara radial/terpusat)
memperlihatkan tanda-tanda terangkat. Pengambilan kayu kemudian dilakukan dengan
urutan berselang-seling (staggered) untuk menghindari penurunan yang tidak merata,
dan dilakukan secara hati-hati karena gerakan yang tiba-tiba dari kayu dapat
membahayakan. Penggalian dilanjutkan dengan tangan sehingga sumuran turun
secara merata pada seluruh bidang luasnya.
Dalam hal sumuran diturunkan dalam air, sumuran harus dibuat sebagian, kemudian
diluncurkan dan ditempatkan pada posisi yang benar. Sumuran kecil dapat dibuat pada
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 45
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
perancah bangunan di lokasi, kemudian diturunkan ke air menggunakan suspension
tackle agar proses penurunan dapat dikendalikan.
Penggalian harus berlangsung secara seragam sekeliling sumuran. Kontraktor harus
memastikan bahwa telah cukup diadakan pengaturan untuk mengangkut tanah dari
dalam sumuran. Jalan naik (ramp) dan jalan setapak yang sesuai harus disediakan.
Lebih baik bila material dapat diangkut ke daerah pembuangan tanpa penanganan dua
kali.
Penggalian berlebihan di bawah ujung sumuran harus dihindari. Penggalian Material
hanya diperlukan secukupnya untuk memungkinkan sumuran turun.
Cara penggalian yang biasa dilakukan dengan menggunakan tenaga manual serta
sistem tali dan ember (buchket) untuk menggali bagian dalam sumuran. Pemompaan
air dari sumuran dilakukan dengan menggunakan pompa yang memadai yang
diletakkan di atas sumuran.
Ketegakan (verticality) dari sumuran harus selalu diperhatikan, terutama pada tahap
awal, oleh karena lebih mudah meluruskannya daripada bila sumuran telah semakin
dalam. Jika sumuran miring ke satu sisi, galian harus dilakukan pada sisi yang tinggi
sampai sumbu sudah lurus lagi, tetapi harus dijaga agar sumuran tidak terguling dari
sisi ke sisi lain karena koreksi yang berlebihan dari kemiringan-kemiringan kecil.
Alinemen sumbu yang benar pada tiap-tiap penambahan ketinggian diperoleh dengan
pematokan yang tepat.
Sumuran kadang-kadang dilaksanakan dengan mula-mula menggali lobang hingga
kedalaman yang diperlukan. Cincin Sumuran kemudian dibentuk pada kedua sisinya
dan digunakan untuk membuat lantai kerja dan beton cyclop. Satu masalah yang
berhubungan dengan cara ini adalah memastikan stabilitas tebing galian pada saat
pekerja sedang bekerja di dalam lobang galian.
Jika lubang digali dengan hati-hati untuk memperkecil kemungkinan longsor, tidak
perlu membentuk bagian luar sumuran, dan beton dapat dicor langsung pada galian.
Cara ini lebih dikehendaki daripada membentuk bagian luar sumuran dan pengisian
(backfilling) ruang antara sumuran dan tanah.
Dalam beberapa kasus telah dijumpai bahwa konstraktor menggali fondasi sumuran
pada batuan keras. Pada kondisi demikian harus dipertimbangkan jenis fondasi
telapak, yang dikunci pada batuan dengan kunci geser atau dengan menggunakan
batang dowel, akan lebih mudah daripada membuat sumuran pada batuan.
Pengawas harus memastikan bahwa dasar sumuran telah diperiksa kedatarannya pada
saat penggalian telah selesai, dan sebelum pengecoran beton dimulai oleh kontraktor.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 46
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab II Pekerjaan Pondasi
e. Pengeluaran Air
Pengeluaran air harus dilakukan dengan menggunakan pompa dengan kondisi yang
baik. Penting diperhatikan bahwa pembuangan air harus cukup jauh dari sumuran
untuk mencegah erosi di luar sumuran. Talang, pipa, atau lebih baik selang yang lentur
digunakan untuk mengalirkan air ke luar. Kontraktor harus memiliki sekurangnya
sebuah pompa cadangan untuk menjaga terhadap terjadinya kerusakan.
g. Menambah Segmen Beton
Segmen tambahan digunakan bila diperlukan, untuk memberikan beban vertikal
tambahan atau pada saat sumuran hampir mendekati perrnukaan tanah yang ada.
Penulangan harus dibuat menerus sepanjang ketinggian sumuran dan batang tulangan
dengan panjang secukupnya harus dibiarkan keluar segmen untuk memungkinkan
penyambungan batang berikutnya dengan baik.
Konstruksi sambungan antar segmen harus dibentuk sehingga tidak terjadi alinemen
yang salah antara bidang atas dan bawah. Hal ini memerlukan standar acuan yang
lebih tinggi dari pada yang biasa digunakan dalam pembuatan sumuran.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) II - 47
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
BAB III
KONSTRUKSI BETON
3.1 UMUM
Bab ini meliputi aspek-aspek mengenai beton dari persiapan acuan dan pemasangan
penulangan pada posisinya sampai pengecoran dan perawatan beton pada acuannya.
3.2. ACUAN DAN PERANCAH
Plastisitas beton muda memungkinkan beton itu untuk dibentuk menjadi suatu bentuk
struktur yang diinginkan. Adanya ketidak tepatan atau kegagalan acuan akan terlihat
pada struktur beton yang dihasilkan. Oleh karena itu penting untuk merancang dan
membuat acuan yang akurat sehingga ukuran, bentuk, posisi dan penyelesaian struktur
yang dicor dapat dicapai.
3.2.1. UMUM
Acuan sendiri adalah bangunan sementara yang diperlukan untuk memikul, selain
beratnya sendiri, beban dan tekanan dari beton baru yang diletakkan dan beban-beban
konstruksi seperti: bahan-bahan, peralatan dan pekerja. Acuan harus dirancang dan
dibangun untuk memikul semua beban ini tanpa adanya kerusakan atau lendutan yang
berlebihan.
3.2.2 ACUAN
a. Perencanaan
Sekali beban telah diperhitungkan, acuan direncanakan dengan menggunakan metode
perencanaan kayu konvensional. Bila sifat-sifat kayu tidak diketahui, perkiraan dari
tegangan-tegangan yang diijinkan, modulus elastisitas, dan sebagainya harus dibuat.
Disayangkan bahwa akan terdapat kemungkinan ketidak tepatan yang tinggi kecuali
jika golongan kayu diketahui.
Perencanaan harus dilaksanakan berdasarkan Peraturan Perencanaan Jembatan Bina
Marga yang baru atau NI - 5 (PKKI 1961 ) Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 1
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
b. Bahan-bahan
Kualitas dari bahan acuan akan menentukan suatu tingkat kualitas dan penyelesaian
beton seperti bentuk, penyelesaian akhir permukaan dan sebagainya.
Acuan untuk permukaan yang terlihat (bagian depan kepala jembatan, beton pinggir
jalan, bagian luar tembok sayap dan sejenisnya) harus dilapis plywood:
Kayu yang dipakai sebagai penopang dan penjepit bermacam-macam kualitasnya dan
sering terlalu kecil ukurannya untuk mengatasi kelebihan lendutan.
Kontraktor tidak sering menggunakan suatu sistem penguat acuan (untuk menahan
gaya horizontal dalam acuan) tetapi mengandalkan pada penopang luar.
c. Konstruksi
Langkah pertama pada pembuatan acuan adalah: Kontraktor harus menyiapkan dan
menyerahkan satu set gambar kerja kepada Konsultan Supervisi.
Kontraktor harus memperhatikan ketentuan pada Spesifikasi Teknik sehubungan
dengan:
Material
Desain
Persiapan acuan untuk pengecoran
Pembongkaran acuan
Penyelesaian beton yang tampak/expose
Pemeriksaan terhadap acuan
Persetujuan yang diperlukan sebelum pengecoran, pembongkaran
acuan dan sebagainya.
Gambar-gambar pelaksanaan harus terperinci (di mana dapat diterapkan) :
Nilai-nilai asumsi dari beban hidup
Kecepatan pengecoran beton dan urutannya
Suhu beton
Tinggi jatuh beton kedalam acuan
Berat dari peralatan bergerak yang beroperasi
Diagram lawan lendut
Material acuan
Ukuran, panjang, toleransi dan detail sambungan
Angker, penopang dan penguat
Penyesuaian lapangan dan acuan pada waktu pengecoran beton
Penahan air, keyway dan insert yang diperlukan untuk pemasangan
kemudian daripada bahan pelaksanaan.
Perancah kerja dan jembatan kerja
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 2
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Weephole atau lubang vibrator dimana perlu
Screed dan grade strip dan pendukungnya
Pelat pembongkar, dimana pembongkaran dapat merusak beton.
Detail dari ikatan dan spreader, termasuk pembongkarannya
Lubang pembersihan dan lubang sementara untuk pengecoran beton.
Sambungan pelaksanaan, sambungan kontrol dan sambungan
pemuaian
Strip alur untuk sudut-sudut yang tampak
Penyediaan fondasi untuk acuan, misalnya pelat alas
Lapisan acuan atau lapisan khusus
Catatan mengenai saluran dan pipa yang tertanam
Detail dari penopang
Penyediaan khusus untuk keamanan dan perlindungan dari debu,
matahari, api dan sebagainya.
d. Pengawasan
Pekerjaan pengawas termasuk empat kategori:
1 . Pengendalian - Pengawas harus memastikan bahwa semua acuan dibuat
sesuai dengan Spesifikasi Teknik dan gambar pelaksanaan, dan ia harus
memeriksa bahwa semua ukuran masuk dalam batas-batas toleransi yang
diijinkan.
2. Perencanaan - Kontraktor harus merencanakan pekerjaan sehingga dapat
tercapai program yang efisien dari perakitan, pengecoran, pembongkaran dan
pemasangan kembali, dan Konsultan Supervisi harus memeriksa usul-usul
Kontraktor.
3. Keamanan - Pengawas harus memastikan bahwa Kontraktor mengambil
tindakan keamanan yang cukup untuk melindungi pekerja. Beberapa
kekurangan yang dapat menimbulkan kegagalan acuan adalah sebagai berikut:
Pembongkaran acuan atau penopang yang terlalu dini
Penguat yang kurang memadai
Kegagalan untuk mengontrol tingkat pengecoran beton pada acuan yang
dalam
Kegagalan untuk mengatur pengecoran beton pada acuan horizontal
secara benar, untuk mencegah pembebanan yang tidak seimbang
Kegagalan memeriksa footing perancah untuk mencegah penurunan
pada tanah yang tidak stabil.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 3
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Kegagalan memeriksa acuan pada waktu pengecoran untuk mendeteksi
adanya lendutan abnormal atau tanda-tanda akan terjadinya kegagalan
mendatang.
Kegagalan persiapan terhadap tekanan lateral pada acuan.
Penopang tidak lurus/tegak
Kurang persiapan terhadap gaya pengangkatan (uplift)
Kawat/tali yang rusak pada pengikat atau penopang
Kegagalan memeriksa apabila gambar-gambar ditafsirkan dengan benar
Under design
4. Pengerjaan - Selain ketepatan ukuran secara umum dan keamanan, beberapa
hal mengenai pengerjaan yang perlu diperhatikan adalah:
Ruas sambungan atau sambungan pada selubung, panel kayu lapis dan
penguat harus berselang-seling.
Harus terdapat jumlah dan tempat yang benar dari batang pengikat atau
penjepit.
Batang pengikat atau penjepit harus dikencangkan dengan benar karena
penggetar beton dapat mudah melepaskan sambungan yang diikat
Penyambungan penopang dan penahan pada joint, stringer dan wales
harus cukup untuk melawan gaya angkat (uplift) atau puntiran pada
sambungan.
Lapisan penutup acuan harus dipasang sebelum penempatan
penulangan dan tidak boleh digunakan dalam jumlah sedemikian rupa
sehingga mengenai batang tulangan.
Bulkhead untuk ruas sambungan sebaiknya dibuat dengan membelah
bulkhead pada garis arah penulangan yang melaluinya sehingga tiap
bagian bulkhead dapat diletakkan dan diambil secara terpisah.
Insert dengan pengecilan ujungnya yang membentuk keyway pada
sambungan susut harus dibiarkan tetap ditempat pada waktu acuan
dibongkar, dan diambil setelah beton telah dirawat secukupnya.
Insert kayu untuk treatment arsitektur harus dibelah sebagian dengan
gergaji sehingga memungkinkan pemuaian/mengembang (swelling)
tanpa memberi tekanan pada beton.
Pembebanan pada pelat baru harus dihindari pada hari pertama setelah
pengecoran.
Acuan tidak boleh diperlakukan dengan kasar atau dibebani berlebih jika
hendak dipakai kembali.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 4
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Untuk mempermudah pengambilannya, pengecilan pada insert harus
sekurangnya 1 banding 10.
e. Persiapan Acuan Untuk Beton
Pembersihan
Segala debu, adukan, serpihan kayu, serbuk gergaji dan sebagainya harus dibuang
dari acuan sebelum pengecoran dimulai. Jika dasar acuan tidak dapat dijangkau, harus
disediakan lubang-lubang pembersih pada titik-titik yang sesuai sehingga dapat
dilakukan pembersihan tersebut. Suatu semprotan udara atau air seringkali dapat
dipakai secara efektif untuk menghilangkan kotoran. Semua lubang pembersih tersebut
harus ditutup dengan hati-hati setelah membersihkan acuan.
Pemakaian Bahan Pelepas (Minyak Acuan)
Sebagian besar bahan acuan memerlukan lapisan bahan pelepas pada permukaan
yang akan terkena beton. Berikut adalah persyaratan untuk bahan pelepas:
Dapat bertindak sebagai campuran pemisah untuk memudahkan pelepasan
acuan dengan mudah tanpa lekatan beton pada permukaannya.
Dapat bertindak sebagai penutup (sealer) sehingga mencegah acuan
menyerap air beton.
Tidak akan melunturkan atau merubah bentuk permukaan beton.
Tidak akan meninggalkan bahan pada permukaan yang akan mencegah
adhesi (lekatan) dari plester, cat atau bahan lain yang diberikan kemudian.
Tidak akan mengurangi umur efektif dari acuan.
Terdapat beberapa bahan seperti pelapis plastik yang tidak memerlukan bahan
pelepas, dan bahan lain yang hanya memerlukan pembasahan untuk memudahkan
pelepasan. Akan tetapi untuk sebagian besar bahan akan lebih mudah bila memakai
bahan pelepas yang sesuai.
Jenis jenis Bahan Pelepas
Bahan pelepas (juga dikenal sebagai minyak acuan atau minyak cetakan) pada
umumnya berupa minyak murni (neat oil), krem cetakan (air yang diemulsi menjadi
wahana minyak), emulsi yang larut air (minyak yang diemulsi menjadi wahana air) atau
minyak murni (neat oil) dengan bahan tambahan (bahan surfacing atau wetting).
Minyak acuan yang terdapat di pasaran untuk acuan kayu harus mampu menembus
kayu secukupnya, dengan hanya meninggalkan bekas yang sedikit berminyak pada
permukaan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 5
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Kayu keras dapat mengandung tannin sehingga menyebabkan pengerasan tertunda
(retarded). Bila kondisi ini terlihat, dapat diperbaiki dengan memberikan bilasan semen
sebelum menggunakan lapisan minyak acuan.
Selain minyak acuan yang dijual bebas, minyak diesel atau minyak linseed yang diberi
minyak tanah dapat dipakai untuk acuan kayu lapis. Kayu lapis dapat diberi lapisan
shellac, pernis, produk dengan dasar resin, atau campuran plastik yang hampir
seluruhnya menghilangkan air dari kayu lapis, sehingga mencegah serat naik. Lapisan
demikian hanya memerlukan pemberian minyak yang sedikit.
Acuan Baja
Minyak acuan yang dapat digunakan dengan baik pada kayu mungkin tidak selalu
cocok untuk acuan baja. Minyak acuan dengan dasar parafin, dan minyak berdasar
minyak bumi (petroleum) dicampur dengan minyak sintetis, silikon atau grafit, telah
berhasil digunakan dengan baik.
Pemberian Lapisan
Lapisan permukaan harus diberikan pada permukaan yang bersih dan halus dengan
cara-cara seperti dirol, disemprot, dilap dan sebagainya, tergantung pada jenis
pelapisnya. Penutupan harus secara penuh dan seragam untuk pelepasan dan
penampilan yang baik. Tidak diperbolehkan adanya lapisan berlebih untuk melunturi
beton. Minyak acuan yang sangat encer tidak boleh dipakai dalam cuaca panas pada
acuan vertikal yang kedap air seperti baja karena minyak cenderung mengalir,
mengakibatkan adhesi dipuncak dan minyak berlebih pada bagian bawah.
Bilamana mungkin, acuan harus dilapisi sebelum pemasangan. Jika hal ini tidak
mungkin, pemberian lapisan harus mendahului penempatan penulangan sehingga baja
bebas dari bahan pelapis. Permukaan beton pada sambungan pelaksanaan juga harus
bebas dari minyak acuan.
f. Penyesuaian Acuan
Sebelum Pengecoran :
1 . Alat-alat harus dipasang pada acuan yang ditopang dan ditempat lain
seperlunya, untuk memudahkan deteksi dan pengukuran gerakan pada acuan
pada waktu pengecoran.
2. Baji yang dipakai untuk alinemen akhir sebelum pengecoran harus dipasang
tetap pada posisinya (misalnya dengan pemakuan) setelah pemeriksaan akhir.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 6
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
3. Peralatan penyesuaian (baji atau dongkrak) harus disediakan untuk
memungkinkan alinemen kembali atau penyesuaian kembali pada perancah bila
terjadi penurunan atau pergeseran yang berlebih.
Biasanya akan sangat sulit/hampir tidak mungkin untuk meluruskan kembali pada
acuan yang mengandung beton.
Pada Waktu dan Setelah Pengecoran
Kerataan (level), lawan lendut dan ketegakan dari acuan harus selalu diperiksa serta
harus segera dibuat - penyesuaian-penyesuaian. Pada waktu pengecoran, penting
untuk menugaskan seorang tukang kayu untuk selalu memperhatikan acuannya,
mengencangkan baji, menyesuaikan penguat dan mencari titik-titik lemah. la harus
dapat bertindak cepat bila terjadi keadaan darurat.
Bila pada waktu pengecoran terjadi kelemahan dan perancah mengalami penurunan
berlebih atau perubahan bentuk sebelum kelemahan dapat dikoreksi, pekerjaan harus
dihentikan, bangunan yang terpengaruh harus dipindahkan bila rusak, dan kemudian
perancah harus diperkuat.
g. Penyelesaian luar Acuan
Biasanya akan ekonomis bila bahan struktur acuan disiapkan juga untuk penyelesaian
permukaan. Jika diperlukan ciri-ciri khusus seperti kehalusan, pola, tekstur, detail kecil
dan sebagainya yang diperlukan pada penyelesaian, harus memperhatikan dengan
benar pemilihan material acuan dan konstruksi acuan.
Permukaan kontak sangat penting pada penyelesaian luar acuan. Bahan pelapis atau
selubung yang dipakai menentukan ciri-ciri permukaan.
Permukaan Halus
Kebanyakan bahan penutup dan pelapis tersedia dengan kelas yang cukup halus untuk
dapat membentuk permukaan beton yang bebas noda. Pilihan yang tepat akan minyak
acuan atau pelapis sangat penting untuk menghasilkan kehalusan yang diinginkan.
Jika permukaan harus bebas dari bekas-bekas penutup, sambungan antara papan
atau panel harus diisi atau ditutup. Hampir tidak mungkin untuk menghilangkan bekas-
bekas yang terjadi oleh penyambungan panel yang halus dari acuan. Jika acuan atau
pelapis dapat menutupi seluruh jarak antara sambungan kontrol, sambungan antara
unit-unit akan kurang terlihat.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 7
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
h. Lantai Acuan Gelegar Baja
Suatu metode yang dapat diterima yang menggunakan sistem bentuk pengikatan
dimana komponen yang terdekat dengan permukaan beton dapat diambil dan lubang
yang terbentuk diisi dengan beton seperti terlihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 - Sistim Bentuk Kerb Yang Dapat Diterima
Suatu metode umumn tetapi tidak memuaskan untuk acuan kerb bergantung pada
gelegar baja jembatan seperti terlihat pada Gambar 3.2
Metode ini tidak boleh digunakan seperti halnya kawat yang menghubungkan
permukaan beton ke 'shear connector' menjadikan sebagai jalan rembesan
kelembaban ke dalam beton dan akan terjadi karbonisasi beton dan membuat korosi
pada penulangan lantai kendaraan.
Gambar 3.2 – Sistim acuan kerb yang salah III - 8
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
i. Bahan untuk Acuan
(a) Kayu lapis (plywood) tahan air untuk pemakaian luar (exterior) adalah bahan
acuan kayu yang terbaik. Biasanya permukaan bahan ini mempunyai plastik
sehingga menghasilkan permukaan yang halus dan mempunyai ketahanan.
Dengan cara penggunaan yang hati-hati bahan ini dapat dipakai kembali hingga
20 kali. Plywood harus diluruskan dengan alur pada papan luar tegak lurus
terhadap stud atau sambungan untuk kekuatan dan kekakuan yang maksimum.
(b) Papan kayu juga dipakai sebagai permukaan acuan tetapi tidak menghasilkan
permukaan yang baik pada beton setelah dilepas. Papan yang digunakan di
Indonesia sering mempunyai lebar tidak seragam dan sulit untuk ditutup (seal).
(c) Acuan kayu tepi. Acuan tepi yang non-struktural dapat digunakan pada acuan
kayu bangunan (struktural). Tipe demikian termasuk hard board kayu ( 6 mm )
dan lapis tahan air yang dipakukan pada papan penahan dengan paku kepala
datar. Ini merupakan alternatif yang praktis untuk (a) diatas bilamana papan
kayu dipakai untuk acuan pelat lantai.
(d) Papan Partikel Tahan air (200 mm). Bahan ini lebih murah daripada acuan lapis
tetapi jumlah pemakaian kembali sangat terbatas. Seharusnya tidak dipakai
untuk acuan permukaan yang tampak, dimana diperlukan penyelesaian
permukaan yang halus.
(e) Acuan Baja. Sering kali dibuat dengan sasaran tertentu (purpose built) di mana
diharapkan pemakaian kembali dalam frekwensi yang besar, sampai 200 kali
atau lebih, dan biayanya dapat seimbang. Bila penyelesaian permukaannya
diutamakan, baja tersebut harus disemprot (blast) dengan ringan dan dirawat
untuk mencegah berkaratnya baja.
Baja atau pelat untuk acuan masih mempunyai lendutan, yang semakin besar oleh
pemakaian yang berulang-ulang. Baja memantulkan dengan jelas faktor-faktor seperti
jarak antara stud, las tack, las pelat, angka/huruf yang dicat atau ditulis pada
permukaan, dan setelah pemakaian kembali juga pola serpihan sisik pabrik akan
tampak pada beton. Hal demikian lebih jelas terlihat bilamana cahaya menyinari
permukaan beton atau dipantulkan dari air.
Untuk mendapatkan hasil yang balk, detail praktis berikut harus diperhatikan:
Lembaran dengan bentang bersih lebih dari 300 mm disarankan untuk tidak
digunakan pada pekerjaan yang dituntut berkualitas baik.
Pengelasan harus sesedikit mungkin.
Semua pengelasan harus dilakukan dengan batang las berkualitas sangat ringan.
Pengelasan dilakukan dengan urutan yang memperkecil distorsi.
Perlu diingat bahwa lembaran atau pelat baja tidak selalu datar sama sekali.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 9
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Perekatan di antara acuan baja sulit dilakukan. Mungkin perlu menggunakan pita
perekat dari karet.
Perlu digunakan larutan pelepas (release agent) yang mencegah karat.
Beberapa macam panel baja serbaguna tersedia di pasaran. Salah satu jenis adalah
panel acuan dinding dan pelat serba guna, terdiri dari kayu lapis disisipkan dalam
rangka baja dan yang dapat diganti. Sistem ini telah banyak digunakan pada konstruksi
dinding penahan tanah dan cocok digunakan untuk pembentukan daerah yang luas,
datar, tidak terganggu di mana sambungan diperbolehkan.
j. Melepaskan dan Menggunakan Kembali Acuan
Acuan sebaiknya dibuat dalam bentuk panel-panel untuk memudahkan penanganannya.
Acuan harus diberi cukup baji dan pita untuk memudahkan pembongkaran sehingga
dapat dilakukan tanpa merusak beton. Bila mungkin, acuan harus tetap lurus pada saat
digunakan kembali.
k. Pengikat Acuan (ties)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan terhadap pengikat acuan adalah :
Persyaratan kekuatan
Perkiraan pemakaian kembali
Kemudahan serta kecepatan memasang dan membongkar
Pengaruh penyelesaian permukaan.
Pengikat acuan harus dilepas sama sekali, atau tidak boleh meninggalkan sisa bagian
logam dalam batas 40 mm dari permukaan, atau dalam batas selimut beton yang
disyaratkan, diambil yang lebih besar. Pengikat acuan yang lazim (tipikal) dapat dilihat
pada Gambar 3.3
Pada permukaan lebar seperti pada tembok penahan atau pilar, pengikat harus diberi
jarak antara yang teratur supaya tampak simetris.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 10
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.3 - Pengikat Acuan Tipikal
l. Larutan Pelepas (release agent)
Acuan harus dilumuri secara tipis, larutan pelepas sebelum atau sesudah acuan itu
dipasang, tetapi harus sebelum pemasangan tulangan. Minyak untuk acuan tidak boleh
mengenai tulangan atau permukaan beton pada konstruksi sambungan. Hanya minyak
dan pelumas yang telah disetujui kesesuaiannya dapat digunakan untuk acuan beton.
Sebagian besar minyak dan pelumas untuk pemakaian umum tidak dapat digunakan
karena mengandung zat yang dapat merusak beton.
Harus dihindari pemakaian minyak acuan yang terlalu banyak karena ini dapat
menyebabkan penumpukan minyak pada beberapa bagian acuan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 11
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
m. Pembongkaran dan Pembersihan
Acuan tidak boleh dibongkar sampai beton telah mencapai kekuatan yang disyaratkan,
yang ditentukan melalui pengujian, atau setelah melampaui jangka waktu tertentu.
Acuan harus selalu dibersihkan, diminyaki dan ditumpuk dengan hati-hati pada waktu
tidak dipakai. Dengan cara yang sama, peralatan acuan lainnya harus diperiksa
terhadap adanya kerusakan, harus diminyaki dan disimpan dalam drum-drum.
3.2.3 SAMBUNGAN (JOINT)
Sambungan antara panel acuan harus rapat air. Jika tidak, kemungkinan akan terjadi
kehilangan kelembaban yang mengakibatkan keropos (honey comb) pada permukaan
beton.
Detail sambungan harus memperhitungkan hal-hal sebagai berikut:
(a) Merekat pinggir kayu lapis (plywood) dengan perekat dan menekan rapat-rapat
sambungan satu sama lain.
(b) Penggunaan pita pengisi sambungan atau produk paten lainnya yang sesuai, yang
menekan secara keras pada rakitan acuan dan oleh karena itu menutupi setiap
ketidak teraturan kecil pada bidang batas.
(c) Bergeraknya konstruksi acuan tersebut akibat tekanan pengerasan beton tidak
boleh merenggangkan sambungan.
(d) Ujung panel yang menonjol harus diperkaku secara merata, sehingga salah satu
sisi sambungan tidak melendut lebih dari yang lainnya pada waktu pengecoran.
Pita (tape) pengisi harus bersifat tidak menyerap (non-absorbent) dengan busa sel
tertutup. Pita dapat mempunyai perekat pada satu sisi dengan penutup kertas atau
plastik. Pemasangan pita pengisi yang umum terdapat pada Gambar 3.4
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 12
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
CORRECT POSITIONING OF FILLER TAPES
Gambar 3.4 - Pemasangan tape pengisi yang umum
3.2.4 PERANCAH
Persoalan-persoalan (kekurangan yang terdapat pada desain perancah) sering
berhubungan dengan persoalan pondasi. Konsultan Supervisi harus memastikan
bahwa Kontraktor telah merinci pada gambar rencana perancah cara pemindahan
beban dari perancah ke dalam tanah.
Perancah pada tanah lanau sungai harus dibangun sedemikian rupa sehingga tidak
melebihi daya dukung dari lanau. Hal ini memerlukan penggunaan pondasi mat yang
besar atau bahkan pondasi tiang. Kontraktor diminta harus memikirkan cara
pembuatan perancah pada tahap awal proyek, sehingga dapat mengambil manfaat
dari adanya peralatan yang dibawa ke lokasi untuk keperluan pemasangan kepala
jembatan atau tiang pilar.
Lendutan berlebih pada perancah adalah umum, dan Konsultan Supervisi harus
memastikan bahwa ukuran serta jarak antara dari komponen perancah telah
diperiksa dengan cukup. la harus memastikan bahwa Kontraktor memenuhi
Spesifikasi Teknik dalam hal ini. Tanggung jawab untuk desain dan pemasangan
perancah yang benar. berada dipihak Kontraktor, tetapi Konsultan Supervisi dapat
membantu dengan mengadakan pemeriksaan terhadap usulan-usulan Kontraktor.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 13
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
3.3. PENULANGAN
Penulangan pada konstruksi beton adalah berupa bahan baja yang harus
memenuhi ketentuan mengenai bahan.
3.3.1. BAHAN-BAHAN
Penulangan untuk jembatan biasanya dipasok sesuai dengan persyaratan di dalam
AASHTO M 311 M (ASTM A 615).
Penulangan lain disediakan sesuai dengan persyaratan dari standar berikut:
ASSHTO M 225 (ASTM A 496) Deformed Steel Wire for Concrete Reinforcement
AASHTO M 32 (ASTM A 82) Cold Drawn Steel Wire for Concrete Reinforcement
AASHTO M 55 (ASTM A 185) Welded Steel Wire Fabric for Concrete Reinforcement
Baja tulangan yang digunakan harus bebas dari kerak lepas, adukan, karat lepas
atau tebal, atau bahan melekat lainnya.
Meskipun batang ulir lebih baik daripada batang polos untuk penulangan kebanyakan
proyek di Indonesia menggunakan batang polos untuk semua penulangan.
Penggunaan batang polos untuk ukuran sampai dengan dan termasuk diameter
berukuran 10 mm dapat diterima.
3.3.2 PENGIRIMAN BAJA
Sebelum pengiriman diterima, harus diperiksa hal-hal berikut:
• Diameter, bentuk, kuantitas tiap jenis, dan jenis bahan yang benar.
• Kerusakan pada batang pada waktu penanganan dan pengangkutan.
• Kebersihan dan kondisi karat.
3.3.3. PENUMPUKAN DI LOKASI
Semua penulangan harus ditumpuk bebas dari tanah pada kayu atau rak dengan
cukup penopang untuk menghindari pembengkokan dan pemuntiran. Harus dicegah
adanya lumpur, minyak, cat dan lain-lain. Penumpukan harus diatur menurut ukuran
dan panjang dengan semua batang yang serupa diberi label dan dikelompokkan
bersama.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 14
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
3.3.4. PEMBENGKOKAN DI LOKASI
Pembengkokan harus dilakukan secara perlahan-lahan dengan gerakan yang lambat
dan teratur. Pemanasan batang untuk memudahkan pembengkokan hanya boleh
dilakukan dengan persetujuan Engineer. Ukuran yang ditentukan harus dipenuhi,
dengan toleransi tertentu.
3.3.5. PEMBERSIHAN SEBELUM MENGECOR DALAM ACUAN
Karat permukaan yang ringan atau cacat ringan tidak merupakan masalah sehubungan
dengan pelekatan pada beton. Akan tetapi karat permukaan yang berat, seperti yang
diakibatkan oleh penumpukan pada tanah untuk jangka waktu lama, harus dihilangkan
sebelum dipakai. Batang dengan karat yang parah dan dalam tidak boleh dipakai.
3.3.6. PELEKATAN, PENJANGKARAN DAN PENYAMBUNGAN
Efektifnya beton bertulang tergantung pada pelekatan yang memadai antara beton dan
penulangan baja sehingga tegangan dapat dipindahkan dari beton ke baja. Pelekatan
yang baik dapat dicapai dengan memadatkan beton di sekitar batang penulangan yang
bersih. Beton kekuatan lebih tinggi biasanya mempunyai pelekatan baja lebih baik, dan
ulir pada bentuk batang baja tersebut (batang ini disebut batang ulir) meningkatkan
pelekatannya. Batang ulir dapat memiliki kira-kira dua kali kekuatan pelekatan dari
batang biasa, sehingga sebagian besar baja penulangan yang digunakan seharusnya
merupakan batang ulir.
Kawat tarik keras (hard drawn wire) yang dipakai anyaman adalah sangat halus, tetapi
pelekatan dengan jenis penulangan ini jarang kritis, karena jarak yang kecil di antara
kawat menyilang biasanya maksimum 200 mm.
Batang penulangan biasanya diteruskan melewati daerah tegangan tarik dalam
komponen struktur untuk menjamin bahwa batang mempunyai kontak yang cukup
dengan beton di luar daerah tegangan, sehingga kekuatan pelekatan yang memuaskan
dapat berkembang. Jika sulit untuk meneruskan panjang batang, bengkokan atau kait
digunakan untuk mengembangkan pelekatan dengan beton.
Pada pekerjaan beton bertulang, batang-batang tulangan biasanya harus digabungkan
atau disambung untuk menjamin kesinambungan pada seluruh bangunan. Hal ini
memungkinkan perubahan terhadap ukuran batang atau perubahan arah yang harus
dibuat dan juga memastikan pemindahan gaya tarik pada penulangan. Pada dinding
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 15
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
yang tinggi, batang biasanya disambung untuk menghindari adanya batang vertikal
berukuran panjang tanpa sokongan. Hal tersebut sukar ditangani pada waktu membuat
pondasi langsung dan bagian bawah dinding.
Pada umumnya, batang-batang harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat
menghindari sambungan yang diadakan pada titik-titik tegangan maksimum.
Sambungan harus berselang-seling di mana mungkin.
Batang-batang yang disambung dengan lewatan harus overlap dengan jarak tertentu.
Spesifikasi Teknik biasanya menyatakan bahwa panjang lewatan harus sejumlah
tertentu diameter batang biasanya sekitar 40 kali diameter batang. Jika batang
dikaitkan, panjang lewatan dapat dikurangi.
Batang yang lewat harus diikat satu sama lain dengan menggunakan kawat pengikat
biasa berdiameter sekitar 1,6 mm.
Batang-batang dapat juga disambung dengan menggunakan penghubung mekanis
yang mempunyai suatu keuntungan yaitu mengurangi padatnya baja pada tempat
overlap. Peralatan tersebut relatif mahal dan jarang dipakai di Indonesia.
3.3.7. SELIMUT (PENUTUP) PENULANGAN
Tebal selimut beton yang memadai pada penulangan sangat penting bagi kekuatan
struktur jangka panjang pada jembatan. Karat baja tulangan sering terlihat pada dasar
pelat lantai yang berhubungan dengan jembatan baru.
Beton di luar penulangan melindungi baja dari pengkaratan atau bahan kimia. Tebal
selimut yang diperlukan tergantung pada sifat penampilan dan sifat dari unsur
struktural.
Bila tidak ada informasi lain, selimut untuk pondasi telapak harus minimum 50 mm,
balok minimum 40 mm dan pelat minimum 30 mm. Jika terdapat nilai yang lain pada
Gambar Rencana, nilai tersebut tentunya yang harus diikuti.
Cara yang paling sederhana serta murah untuk menjamin selimut yang cukup adalah
untuk menggunakan blok pengatur jarak dari beton. Ini dapat dibuat dengan sisa beton
dan kawat pengikat yang dapat diikatkan pada baja horizontal atau vertikal (lihat
Gambar 3.5)
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 16
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.5 - Block Pengatur Jarak Beton
Tanggung jawab atas cukupnya selimut. beton pada baja terletak pada Konsuttan
Supervisi. Spesifikasi Teknik cukup jelas dalam hal ini, dan pihak Konsultan Supervisi
harus memeriksa aspek konstruksi beton.
Kontraktor tidak diperbolehkan melakukan pengecoran beton sebelum diadakan suatu
pemeriksaan pra-pengecoran yang lengkap, sampai segala kelemahan dilihat dan
diperbaiki serta persetujuan Engineer diperoleh untuk berlangsungnya pengecoran.
3.3.8. PENEMPATAN DAN PENGIKATAN
Penulangan harus ditempatkan dan diikat sehingga :
Selimut beton minimum yang disyaratkan, dihasilkan pada semua
muka.
Batang tulangan tidak akan tergeser oleh pekerja yang berjalan di atas
baja, atau oleh pengecoran beton dan kegiatan pemadatan.
Batang tulangan tidak akan berpindah tempat oleh pengapungan dari
pembentuk rongga
Jarak antara (spacing) dan posisi batang tulangan dapat dipenuhi.
Kawat pengikat harus berdiameter sekitar 1 ,6 mm. Biasanya tidak perlu mengikat tiap
titik pertemuan penulangan, tiap dua titik pertemuan biasanya sudah cukup.
Untuk mendapatkan selimut beton yang benar, pengatur jarak (spacer) yang berukuran
sesuai atau dudukan batang tulangan ("bar chair") harus diikat kencang di tempat
kawat. Dudukan dapat dibuat dari plastik (lihat Gambar 5.6) atau blok beton
berkekuatan tinggi dan padat, dipracetak dengan kawat ikatan untuk pengikatan yang
kencang. Cara pengikatan harus sedemikian rupa sehingga pada waktu penggetaran,
pengatur jarak yang diletakan pada acuan vertikal tidak dapat berputar pada batang di
mana pengatur itu diikat. Jenis pengatur jarak bundar dalam keadaan tertentu dapat
mencegah terjadinya hal ini.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 17
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.6 - Dudukan Batang Plastik untuk Penulangan
Dudukan batang-tulangan (bar chair) dengan penutup (cap), ataupun tanpa penutup,
atau yang terbuat dari kawat hanya boleh dipakai pada beton yang telah dicor, dan
bukan terhadap permukaan yang terbuka terhadap cuaca atau air tanah. Sebaiknya
pemakaian dudukan tersebut dihindari, jika mungkin.
Beberapa dudukan batang plastik berbentuk silinder tertutup mencegah pemadatan
penuh beton di dalam dan di sekitar dudukan itu sendiri, harus dihindari.
Praktek merentangkan kawat pengikat dari tulangan atau penghubung geser (shear
connector) ke bagian luar acuan yang tersebar luas fetapi tidak diperbolehkan dalam
Spesifikasi Teknik. Kawat pengikat akan berkarat dan memungkinkan air masuk beton
dan mempercepat tulangan berkarat serta mengakibatkan pengikisan/ pengelupasan
dari beton.
Jika tulangan akan tertanam sebagian dalam beton, Kontraktor harus memastikan
bahwa terdapat cukup ruang di sekitar batang yang akan ditanam pada pengecoran
kemudian, agar beton dapat menutupi batang secara penuh. Hal ini penting pada
tulangan melintang dan seringkali merupakan masalah pada pengecoran dinding dan
kereb.
3.3.9. PENGELASAN TITIK UNTUK PENULANGAN
Penggunaan pengelasan titik untuk mengencangkan tulangan harus sesedikit mungkin,
atau lebih baik dihindari sama sekali. Cara ini harus mendapat persetujuan Engineer
terlebih dahulu.
Akan tetapi pengelasan titik seringkali dapat memudahkan pemasangan, misalnya
pada prefabrikasi jalinan (cage) tulangan yang besar. Dalam hal demikian-jika
pengelasan disetujui las harus digunakan pada daerah tegangan rendah dari batang
yang jauh dari pembengkokan, dan dilakukan oleh operator las yang berkualifikasi, dan
sesuai persyaratan ANSI/AWS D1.4 Peraturan Pengelasan Bangunan - Baja
Penulangan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 18
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
3.4 PENGECORAN BETON
Bab ini meliputi beberapa aspek pengecoran beton secara lebih detail dan menyajikan
beberapa gagasan yang akan membantu sehingga mutu pekerjaan beton dapat
bertambah baik.
Cara-cara Pengecoran
a. Umum
Pada waktu beton dicor harus dijamin bahwa :
1 . Acuan dan penulangan tidak rusak atau berpindah tempat, dan
2. Beton tidak terpisah (segregasi)
Beberapa prosedur pengecoran yang salah tetapi sering dipakai, bersama dengan cara
yang benar dapat terlihat pada Gambar 3.7, 3.8 dan 3.9. Kesemuanya ini cenderung
mengakibatkan pemisahan pada material beton.
Berikut terdapat ringkasan dari beberapa hal yang penting untuk diingat pada waktu
pelaksanaan pengecoran :
(i) Beton harus dicor secara vertikal dan sedekat mungkin pada posisi akhirnya. Jika
perlu penghampar beton, hal ini harus dilakukan dengan sekop dan bukan
dengan membuaf beton mengalir.
(ii) Beton tidak diperbolehkan dituang ke dalam acuan dari ketinggian berlebih
karena dapat menimbulkan kerusakan dan pemisahan. Ketinggian jatuh harus
sekecil mungkin dan bila melebihi 2 meter, mungkin perlu suatu talang/saluran
jatuh.
(iii) Pengecoran beton harus dimulai dari sudut acuan dan dari titik terendah bila
permukaannya miring.
(iv) Setiap tuangan beton harus dicor mengarah ke deposit sebelumnya, bukan
menjauhinya.
(v) Beton harus dituang menurut lapisan horizontal dan tiap lapisan dipadatkan
sebelum penuangan lapisan berikutnya. Setiap lapis harus dicor dalam suatu
pekerjaan yang menerus dan sebelum pengerasan lapisan terdahulu.
Ketebalan tiap lapisan tergantung pada ukuran dan bentuk dari bagian beton itu,
jarak antara penulangan, kekentalan (konsistensi) beton dan cara pemadatan.
Pada .pekerjaan beton bertulang, lapisan-lapisan pada umumnya mempunyai
ketebalan 300 mm, dan untuk beton masif tebal 500 mm.
(vi) Jika lapisan beton tidak dapat dicor sebelum pengerasan lapisan sebelumnya,
seperti pada pagi hari setelah semalam beristirahat, harus dibuat suatu konstruksi
sambungan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 19
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
(vii) Beton tidak boleh dicor pada saat hujan lebat tanpa pelindung di atasnya, jika
tidak, permukaan semen akan tercuci oleh hujan.
(viii) Pada pengecoran dinding menerus di mana lapisan mendatar dapat membuat
sambungan mengeras, beton harus dicor dengan ketebalan penuh dengan
permukaan miring.
Gambar 3.7 - Penanganan dan pengangkutan beton menghindari pemisahan
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 20
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.8 - Penempatan Beton
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 21
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.9 - Pengecoran pada Acuan yang Dalam dan Ramping
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 22
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
3.4.1. PENGECORAN BETON DI BAWAH AIR
Beton dapat dicor di bawah air dengan pemompaan atau menggunakan tremie (lihat
Gambar 8.10).
Tremie adalah pipa kedap air berdiameter 150-300 mm dengan hopper dipuncak dan
katup atau alat lain di dasarnya yang mencegah air sekitarnya bercampur dengan
beton pada pengecoran awal. Dasar pipa harus terletak pada pondasi pada waktu
pengecoran awal dilakukan dan pipa serta hopper harus sepenuhnya terisi oleh beton
sebelum katup dasar dibuka untuk pengecoran pertama beton. Ujung bawah tremie
harus selalu berada di bawah permukaan beton yang makin meninggi setiap saat.
Tremie harus mampu membuat gerakan terkendali pada ujung cor dalam arah lateral
dan vertikal serta harus dapat diturunkan dengan cepat tiap saat untuk mengurangi
tingkat pengecoran beton. Aliran beton dapat diatur dengan menyesuaikan kedalaman
di mana ujung cor diletakan di bawah permukaan beton yang sudah dicor.
Beton tremie harus dicor secara kontinue. Bila terhenti atau dasar tremie secara tidak
sengaja naik di atas permukaan beton, pengecoran harus dihentikan. Beton kurang
baik yang terdapat pada bagian atas pengecoran harus dibuang, setelah mengeras,
sebelum dilakukan pengecoran tambahan di atasnya. Hal ini memerlukan tenaga
penyelam di tempat yang tidak dapat dikeringkan. Untuk beton tremie dibutuhkan
campuran kaya semen (biasanya beton mutu K225) dengan slump kira-kira 180 mm.
Slump tinggi ini perlu untuk memudahkan aliran beton dalam tremie dan mengisi acuan
dengan penuh, terutama melalui penulangan yang ada. Penggetaran tidak boleh
dilakukan karena dapat mengakibatkan pemisahan dalam beton atau bercampurnya
beton kurang baik di atas, yang masih berhubungan dengan air.
Lapisan atas beton yang dicor dengan pipa tremie di bawah air biasanya bermutu
rendah dan harus dibuang dengan cara menghancurkan beton padat, setelah kering,
sebelum pengecoran diteruskan.
Di mana beton harus dicor pada pondasi yang tertutup air dangkal, pengecoran dimulai
pada salah satu sudut dan air dipindahkan oleh muka beton yang semakin maju.
Jika air mengalir melalui pondasi, air harus dialihkan atau pondasi dipenuhi dan
diperlakukan sebagai pengecoran di bawah air. Cara yang berhasil untuk menyalurkan
aliran melalui dasar adalah memasang pipa pada celah dan menyalurkan pipa melalui
sisi pondasi.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 23
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Gambar 3.10 - Pengecoran Dibawah Air
3.4.2 PEMADATAN BETON
a. Umum
Hanya pekerja berpengalaman yang dapat menggunakan penggetar. Pengawasan
ketat dan instruksi yang jelas harus diberikan pada operator. Mungkin perlu memberi
pelatihan khusus bagi operator penggetar.
Hal-hal berikut harus ditekankan:
Pemilihan ukuran penggetar yang sesuai dengan pekerjaan. Terlalu kecil mungkin
kurang efektif; bila terlalu besar dapat mencegah penetrasi efektif pada tempat
dengan penulangan yang rapat.
"Jari-jari pengaruh" vibrator berdiameter 60 mm dalam kondisi kerja yang baik
hanya sekitar 300 mm. Jadi harus ditempatkan dengan jarak antara (spacing)
kurang dari 600 mm untuk menjamin pemadatan penuh.
Hindari kerusakan pada acuan kayu. Vibrator dapat dilengkapi dengan topi
(penutup) karet untuk mengurangi kerusakan pada acuan tetapi pencegahan paling
baik adalah mempekerjakan operator yang berpengalaman dalam penggunaan
vibrator.
Getaran akan melepaskan ikatan acuan dan alat pengikat lainnya. Kontra mur dan
pasak pengaman dipakai untuk mencegah hal demikian. Pada waktu pengecoran
beton satu atau dua pekerja harus memeriksa acuan secara menerus (kontinu)
untuk tanda-tanda bahaya, pergerakan, bocoran dsb. Mesin Vibrator kecil berbahan
bakar bensin harus dicegah terguling dengan mengikat atau cara lain.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 24
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Kepala Penggetar harus dimasukan secara vertikal, dipegang selama 10 hingga 20
detik sampai gelembung udara hilang, kemudian diangkat keluar dengan perlahan.
Pada waktu mengecor secara berlapis, penggetar harus menembus kira-kira 150
mm dalam lapisan sebelumnya untuk memastikan sambungan yang baik antara
lapisan yang berdekatan.
Penggetar cadangan (vibrator standby), dalam kondisi dapat bekerja, harus siap
dipakai jika ada penggetar yang rusak.
b. Pemadatan dengan Tangan
Cara-cara pemadatan biasa terdiri atas pemadat batang, pengetokan dan penyekopan
dengan alat yang memadai. Cara pemadatan ini biasanya lebih rendah mutunya dari
pada pemadatan yang diperoleh dengan penggetar (vibrator).
c. Penggetaran
Meskipun pemadatan dengan tangan dapat menghasilkan hasil yang memuaskan
untuk tujuan-tujuan tertentu, pemakaian vibrator memungkinkan penggunaan
campuran yang lebih kering, dan menghasilkan kekuatan lebih tinggi dan pengurangan
penyusutan untuk proporsi campuran tertentu.
Vibrator Dalam (Immersion)
Jenis vibrator ini dapat digerakkan secara mekanis, listrik atau dengan tekanan udara
(pneumatic). Vibrator pneumatic mempunyai gerakan yang aman dan fleksibel, tetapi
bila motor udara kompresi relatif tidak efisien dan mahal pemeliharaannya, mungkin
tidak ekonomis kecuali bila kompresor sedang dipakai ditempat lain juga. Motor listrik
beroperasi dengan kecepatan konstan dan mudah dibawa, tetapi memerlukan
penyediaan listrik yang memadai dan dapat diandalkan.
Vibrator dalam (kadang-kadang disebut sebagai vibrator internal atau poker) mungkin
merupakan jenis vibrator yang paling efisien karena menggetar beton secara langsung.
Vibrator ini tersedia dengan diameter kepala berukuran antara 25 mm hingga 150 mm,
kepala berdiameter 25 mm paling sesuai untuk bagian-bagian dengan penulangan,
sedang kepala berukuran 60 - 70 mm merupakan jenis yang paling umum yang dapat
dipakai untuk segala keperluan.
Getaran ditimbulkan dari tangkai (shaft) eksentris yang berputar di dalam kepala
vibrator. Vibrator harus diperiksa secara teratur dengan peralatan khusus atau dengan
membandingkan keefektifannya pada beton di samping vibrator yang telah diketahui
memuaskan.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 25
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Penggetaran beton harus dilakukan secara sistematis. Beton harus dituang menurut
lapisan-lapisan tipis dan vibrator diperbolehkan menembus tiap lapis secara
menyeluruh. Kepala vibrator harus dimasukkan secara vertikal pada titik-titik yang
berjarak antara 500 mm, dan kemudian ditarik dengan perlahan untuk menutup lubang
yang terjadi oleh vibrator. Lama penggetaran pada titik manapun tidak boleh melewati
saat di mana adukan mulai mengumpul pada permukaan, biasanya 5 hingga 15 detik.
Sebagai aturan umum, vibrator tidak boleh mendekati acuan lebih dekat dari 100 mm,
untuk mendapatkan penampilan seragam. Bila mengenai acuan, suatu goresan dapat
terjadi dan acuan dapat rusak. Pada bagian-bagian tipis, pemadatan diperoieh dengan
memakai vibrator secara miring atau mendatar.
Vibrator Acuan
Vibrator acuan atau vibrator luar, dipasang dengan kencang pada bagian luar acuan
menggunakan klem, dan memberi oskilasi atau gerakan bergoyang pada acuan.
Bentuk vibrator ini sesuai untuk bagian yang kecil atau sempit dan bagian dengan
banyak penulangan di mana sulit untuk memasukkan vibrator dalam. Seringkali vibrator
ini dipakai bersamaan dengan vibrator poker untuk suatu derajat ketelitian pemadatan
dan penyelesaian permukaan yang baik dan padat.
Vibrator acuan lebih banyak memakai energi daripada vibrator dalam, karena energi
diserap oleh acuan.
Acuan harus sangat kaku sehingga dapat menahan oskilasi, dan sudut-sudut harus
sangat rapat untuk mencegah hilangnya adukan semen. Penggunaan vibrator acuan
biasanya dibatasi untuk acuan baja.
Beton harus dicor secara menerus (kontinue) menurut lapisan-lapisan tipis (dengan
ketebalan sekitar 500 mm) pada waktu acuan tetap digetarkan. Dengan cara ini,
lubang-lubang udara dapat dihilangkan pada saat beton bertambah tinggi. Untuk
menjamin bahwa beton mempunyai kontak yang cukup dengan acuan samping dekat
puncak ketinggian, disarankan untuk menggunakan vibrator dalam untuk 500 mm
paling atas bila ruangannya mengijinkan.
3.4.3. PENYELESAIAN PERMUKAAN BETON
a. Umum
Efisiensi dari proses pemeriksaan akan dinilai dari kondisi dan toleransi permukaan
akhir yang seharusnya bebas dari retak permukaan dan tidak mempunyai perbedaan
tekstur serta warna yang tampak jelas.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 26
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Untuk mendapatkan suatu permukaan beton tanpa acuan yang memuaskan perlu
diperhatikan hal-hal tersebut :
campuran beton yang diproporsi dengan baik
cara-cara pengadukan, dan pengecoran yang memadai akan memperkecil
pemisahan bahan beton
pemadatan yang memadai
teknik-teknik penyelesaian yang terkendali
perawatan yang memadai
Campuran beton harus sedemikian sehingga terdapat butir halus (semen dan pasir)
dalam jumlah secukupnya untuk memungkinkan penyerapan adukan sampai
permukaan dengan penggetaran dan sedikit usaha dengan memakai peralatan. Terlalu
banyak butir halus akan membuat penyelesaian yang lebih mudah tetapi akan
menimbulkan crazing permukaan, selain lebih mahal daripada campuran yang
proposinya baik. Terlalu banyak air dalam campuran (slump tinggi) akan menimbulkan
keterlambatan penyelesaian, selain menghasilkan lapisan adukan permukaan yang
lemah, sehingga mengakibatkan permukaan berdebu dan crazed yang mudah aus
serta terkikis (abrasi).
b. Penyelesaian
Tanpa memandang jenis penyelesaian permukaan yang diperlukan, beberapa
persyaratan pokok adalah :
Penyelesaian awal harus diselesaikan segera setelah pengecoran dan
penggetaran.
Penyelesaian akhir, penghalusan dan perataan harus ditunda hingga permukaan
telah siap - pekerjaan akhir juga hanya seperlunya untuk menghasilkan permukaan
yang disyaratkan.
Pekerjaan penyelesaian tidak boleh dilakukan pada tempat di mana terdapat banyak
air permukaan bebas.
c. Penyelesaian Awal
Langsung setelah pengecoran dan penggetaran, suatu papan perata (tepi lurus)
dipakai untuk meratakan beton secara cepat, papan perata digerakkan ke depan
dengan gerakan menggergaji dan sedemikian rupa sehingga beton selalu terdorong ke
depan papan. Beton dialihkan dengan sekop ke depan atau menjauhi bagian depan
papan seperlunya.
Setelah dilakukan perataan awal, tempat itu harus langsung diperiksa ulang
kedatarannya dengan papan perata lurus atau mal. Titik-titik tinggi dan rendah segera
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 27
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
diperbaiki. Titik tinggi diperbaiki dengan cara memotong permukaannya dengan cetok
atau alat serupa dan titik rendah yang kecil diratakan dengan adukan yang diambil dari
beton baru. Meskipun demikian pengerjaan permukaan yang berlebihan harus
dihindari, setiap usaha harus dilakukan untuk menjamin bahwa penyelesaian awal
menghasilkan kedataran permukaan dalam batas tolerensi yang ditentukan. Pekerjaan
penyelesaian berikut dilakukan hanya untuk menghilangkan ketidak sempurnaan kecil,
dan bukan untuk memperbaiki kelurusan permukaan.
Pekerja penyelesaian beton memakai peralatan khusus yang bervariasi, beberapa di
antaranya dibuat pabrik, tetapi banyak di antaranya yang berupa peralatan "buatan
rumah" yang khusus. Peralatan tersebut berupa alat strike-off, pinggiran lurus dan
penghalus. Untuk menghindari robeknya permukaan pada waktu penyelesaian akhir,
sebuah roller berlubang atau permukaan pelat dapat digunakan pada penyelesaian
awal untuk menekan agregat besar ke bawah permukaan. Hal in[ harus dilakukan
sedikit saja dan tidak pada beton slump tinggi, karena dapat mengakibatkan lapisan
permukaan yang kaya adukan yang mungkin akan craze dan berdebu.
Seringkali terjadi bahwa penyelesaian awal saja sudah cukup.
d. Penyelesaian Akhir
Pekerjaan penyelesaian berupa pinggiran, penyambungan, pencetokan dan penyapuan
harus ditunda selama mungkin. Mengerjakan permukaan terlalu awal akan membuat
suatu permukaan yang lemah dan mengakibatkan rembesan air dan semen ke
permukaan. Akan tetapi mengerjakan permukaan yang terlambat akan memerlukan
usaha penyelesaian yang lebih besar dan dapat menyebabkan hancurnya permukaan
beton.
Meskipun waktu penundaan yang tepat sangat penting untuk menghasilkan
penyelesaian yang baik, seringkali sukar untuk menentukan waktu yang tepat karena
hal itu tergantung beberapa variabel. Beberapa di antaranya adalah suhu dan umur
beton, jenis semen, jenis campuran tambahan dan kuantitas air, semen dan campuran
tambahan yang digunakan. Waktu penundaan tersebut juga tergantung pada kondisi
cuaca, kedalaman pengecoran, jenis agregat, jenis subgrade dan sebagainya.
Pada umumnya, penyelesaian dimulai ketika kilap (sheen) telah hilang dari permukaan
(dalam hal beton air entrained, terdapat hanya sedikit rembesan air dan tidak tampak
adanya kilapan sehingga mungkin menyelesaikan jenis beton ini setelah waktu
penundaan yang singkat). Dalam keadaan normal, beton dapat mendukung berat
seseorang pada waktu kilap telah hilang dari permukaan. Tetapi hal ini akan
meninggalkan bekas-bekas sedalam kurang lebih 5 mm, sehingga pekerja harus
menggunakan penutup (bantalan) kaki dan lutut untuk mendistribusi beratnya. Jika
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 28
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
digunakan peralatan bermesin, waktu penundaan dapat ditambah sehingga beton
dapat mendukung berat pekerja tanpa bekas yang berarti.
Catatan: 1 . Penyelesaian TIDAK boleh diusahakan pada tempat di mana
terdapat air permukaan yang bebas.
2. Semen TIDAK boleh digunakan untuk mengeringkan kelembaban
permukaan karena ini akan menyebabkan retakan permukaan
dikemudian hari.
Kedua praktek ini akan mengakibatkan permukaan yang berdebu, crazed dan kasar
dengan ketahanan terhadap abrasi dan Keausan yang sangat rendah. Dalam keadaan
cuaca yang panas, kering dan banyak angin, penguapan dan pengerasan dapat terjadi
terlalu cepat sehingga sukar mendapat penyelesaian yang memuaskan. Hal ini
khususnya berlaku untuk campuran kekuatan tinggi atau beton yang relatif tua. Untuk
menghindari retakan dan kesulitan penyelesaian beton yang keras, harus diambil
langkah pencegahan (sesuai Bab 3.4.5d).
e. Penghalusan
Setelah waktu penundaan yang diperlukan, dilakukan penghalusan pada permukaan,
biasanya dengan penghalus kayu. Penghalusan adalah pekerjaan menghaluskan
ketidak rataan pada permukaan setelah screeding. Maksudnya adalah untuk :
menekan agregat besar ke bawah permukaan
menghilangkan cacad pada permukaan
memberikan permukaan lebih padat dan pada kasus tertentu, permukaan lebih
halus
mempersiapkan permukaan untuk pekerjaan penyelesaian lain yaitu pencetokan,
penyapuan atau jenis penyelesaian untuk memperbagus permukaan
menutupi retakan kecil pada permukaan, yang terjadi pada waktu permukaan
mengering.
Penghalus tangan biasanya terbuat dari kayu. Penghalus kayu menghasilkan suatu
tekstur kasar yang sering dapat untuk penyelesaian akhir. Untuk memperbaiki
ketahanan terhadap gelincir, karung goni atau sapu kawat dapat ditarik secara ringan
pada permukaan.
Penghalus tangan dipegang datar pada permukaan dan digeser secara setengah
lingkaran untuk mengisi lubang-lubang, menghilangkan gumpalan-gumpalan dan
menghaluskan tonjolan-tonjolan.
Seringkali perlu untuk menghaluskan permukaan untuk kedua kalinya setelah terjadi
pengerasan, untuk memberikan tekstur akhir yang diinginkan pada beton. Tekstur yang
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 29
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
lebih rata dapat juga diperoleh dengan melanjutkan penghalusan kayu dengan sebuah
penghalus spons.
f. Trowelling
Trowelling baja dipergunakan untuk memperoleh permukaan yang halus, padat dan
keras. Jenis permukaan ini tahan dan mudah dibersihkan tetapi menjadi licin pada
waktu basah.
Penghalus bermotor akan mengurangi keperluan tenaga kerja dan waktu penyelesaian.
Penghalus motor dilakukan dengan piringan baja bulat yang berputar atau trowel
bermotor yang dipasang penghalus baja.
Setelah suatu waktu penundaan penghalusan selesai, trowelling baja dapat mulai.
Untuk trowelling pertama (dengan tangan atau mesin), pisau dari trowel harus rata
pada permukaan - jika miring akan terjadi alur-alur. Trowel tangan dipakai dengan
gerakan setengah lingkaran, setiap sapuan menutupi setengah dari sapuan
sebelumnya. Trowelling pertama dapat menghasilkan suatu permukaan yang cukup
balk, tetapi trowelling tambahan dapat dipakai untuk menambah kehalusan dan
kekerasan. Seharusnya terdapat waktu menunggu/penundaan dl antara tiap trowelling
dengan sapuan terakhir (biasanya yang kedua atau ketiga) dibuat dengan sebuah
trowel ramping. Tekanan diberikan pada trowel untuk memadatkan pasta dan bentuk
permukaan yang padat dan keras. Sapuan terakhir harus membuat suatu bunyi
berdentang ketika blade mengenai permukaan yang mengeras.
Trowel bermotor pertama harus diikuti oleh trowelling tangan untuk menghilangkan
bagian yang tidak rata dan menghaluskan daerah pada sudut-sudut atau dekat
halangan.
Jika diperlukan, pinggiran dan sambungan harus diulangi setelah trowelling untuk
memelihara keseragaman dan kelurusan garis.
Meskipun terdapat beberapa macam peralatan tangan dan mesin yang dirancang untuk
memperbaiki kecepatan dan kualitas pekerjaan pekerja penyelesaian beton, namun
diperlukan suatu derajat kekuatan, ketrampilan dan pengalaman untuk memberikan
penyelesaian yang bermutu.
3.4.4 PERAWATAN BETON
a. Umum
Setelah beton dicor dan dipadatkan, beton harus dilindungi serta dirawat dengan
memadai, sesuai dengan Spesifikasi Teknik.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 30
Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab III Konstruksi Beton
Tujuan perawatan adalah menahan kelembaban di dalam beton pada waktu semen
berhidrasi, dan oleh karena itu usahakan tercapai kekuatan struktur yang diinginkan
dan tingkat kekedapan (impermeabilitas) yang disyaratkan untuk ketahanannya.
Permukaan beton yang tidak dirawat akan terkikis lebih cepat dari pada yang dirawat,
dan dalam lingkungan agresif, permeabilitas tinggi dapat menyebabkan berkaratnya
penulangan. Perawatan yang kurang dapat menyebabkan pula penyusutan beton yang
lebih banyak.
Semua sifat-sifat beton seperti kekuatan, kerapatan air, ketahanan terhadap aus dan
stabilitas volume meningkat sesuai dengan umur beton selama terdapat kondisi yang
memadai untuk hidrasi yang berlanjut dari semen. Peningkatan itu berlangsung dengan
cepat pada umur awal tetapi berlanjut dengan lebih lambat untuk suatu masa yang tidak
dapat ditentukan.
Dua kondisi diperlukan:
adanya kelembaban
suhu yang memadai
Penguapan air beton yang baru dicor menyebabkan berhentinya proses hidrasi.
Kehilangan air juga dapat menyebabkan beton menyusut, sehingga menyebabkan
tegangan tarik pada permukaan yang mengering. Jika tegangan tersebut terjadi
sebelum beton memperoleh kekuatan yang cukup, dapat terjadi retakan pada
permukaan.
b. Cara-cara Perawatan
Penggenangan
Pada permukaan datar seperti perkerasan dan pelat lantai, beton dapat dirawat dengan
penggenangan. Tanggul-tanggul tanah atau lempung disekeliling permukaan beton
dapat menahan genangan air di dalam daerah tertutup itu. Penggenangan merupakan
suatu cara yang efisien untuk mencegah hilangnya lembab dari beton, dan juga efektif
untuk memelihara suhu yang seragam pada beton.
Penyemprotan
Penyemprotan yang kontinu dengan air juga merupakan suatu cara perawatan yang
baik. Jika penyemprotan dilakukan pada interval-interval, harus dijaga agar beton tidak
menggenang di antara interval pemberian air. Suatu semprotan air yang halus, yang
diberikan secara kontinu melalui sistem kepala pipa (Nozzle), memberikan persediaan
air yang konstan. Hal ini akan mencegah kemungkinan " crazing " atau retakan yang
terjadi oleh pergantian siklus basah dan kering. Kerugian dari penyemprotan adalah
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) III - 31