The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Naufal Dani, 2020-11-12 04:47:45

Metode Kerja Pelaksanaan Jembatan

Metode Kerja Pelaksanaan Jembatan

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

b. Vinil

Lapisan vinil mampu memberikan perlindungan apabila dipasang diatas pelapis dasar

kaya seng. Meskipun demikian penggunaan yang berhasil tergantung pada

penggunaan yang tepat, dan perlindungan kembali tersebut akan menimbulkan

masalah kalau kita tidak mengenal tipe yang pasti vinil yang dipakai, dan suatu

formulasi yang sesuai tidak tersedia untuk pengecatan ulang. Ada dua perbedaan

dasar dari campuran dasar pelapisan di pasar yang belum tentu sesuai satu sama lain

dan kedua-duanya dipasarkan sebagai vinil. Hanya pelaksanaan dengan

penyemprotan yang mungkin. .

c. Karet Khlorinal
Lapisan karet khlorinal tersedia keduanya pada 'high build' dan lapisan pengisi dan ini
harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan tiap pabrikannya. Cepat kering,
gampang dicat kembali dan tahan terhadap pengaruh air serta dilingkungan industri.
Bahan ini sesuai untuk dilaksanakan baik dengan sikat, semprot ataupun roller, tetapi
yang terbaik dengan cara penyemprotan.

d. Epoxy
Jenis dua pak epoxy adalah tepat untuk lapisan high build dan mempunyai ketahanan
yang tinggi terhadap pengaruh air. Bahan ini memerlukan banyak perhatian dalam
pengecatan kembali untuk memperoleh adhesi yang cukup untuk pada penutup/atas
atau seluruh sistem pelapisan penutup/atas terhadap permukaan lapisan yang telah
ada.

e. Galvanisasi
Galvanisasi komponen yang lebih berat dan lebih panjang, seperti halnya pada gelagar
baja pada jembatan, mungkin menjadi pertimbangan ekonomi sebagai alternatif yang
menarik daripada bentuk-bentuk lain dari perawatan dan perlindungan baja.
Pertimbangan yang diperlukan jika galvanisasi digunakan :
 hilangnya kecembungan (camber) gelagar
 perubahan bentuk yang dihasilkan dari cara celup panas galvanisasi dan metoda

pengkoreksiannya
 memerlukan penutup pada sambungan-sambungan yang harus dilakukan

pengelasan dilapangan
 kemungkinan terjadinya perbedaan warna apabila sebuah gelagar dicelupkan dua

kali, dimana batas panjang dari kolam galvanisasi membatasi gelagar yang
tercelup separuh dari panjang gelagar pada setiap pencelupan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 11

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

 membuat alir kembali dari mur dan baut setelah galvanisasi
 perbaikan kerusakan terhadap galvanisasi yang disebabkan karena operasi

pengangkatan dan pemasangan.

4.5. PENANGANAN DAN PENYIMPANAN PEKERJAAN BAJA

Selama pengangkutan baja dari bengkel fabrikasi ke lapangan, sangat memerlukan
perhatian untuk menghindari kerusakan. Bagian-bagian fabrikasi mungkin menjadi
mudah rusak karena kurang hati-hati penanganan dan penyimpanannya. Pemuatan
dan penurunan dari kendaraan, pengangkatan dan berbagai aspek dalam
penggangkutan dan penggudangan harus diawasi ketat.
Untuk penggudangan sementara, komponen baja biasanya diletakkan di atas ganjal
yang kuat, kering dan mudah dijangkau. Komponen tersebut harus ditempatkan pada
tempat yang tidak terkena air, dan terlindung dari cipratan lumpur, jika tidak cat
pelindung akan menjadi rusak sehingga perlu pekerjaan extra untuk membersihkan
dan menyiapkan perawatan perlindungan cat di lapangan.
Fabrikator pekerjaan baja harus menyediakan suatu diagram yang menunjukkan
pemberian tanda yang benar dari semua koirrponen dan bagian (segmen-segmen
gelagar, bentang, komponen atau sisi hulu dan hilir, bagian atas dan bawah, dan
sebagainya), dimana pemberian tanda tersebut harus sesuai dengan pemberian tanda
pada komponen dalam kenyataan, dan dengan daftar pengiriman fabrikator. Setiap
bagian sebaiknya juga ditandai dengan beratnya, terutama bita menyangkut
komponen-komponen yang berat. Jika mungkin, pengiriman harus dibuat dengan
urutan perlunya masing-masing komponen oleh kontraktor yang melaksanakan
pemasangan pekerjaan baja.

4.6. PEMASANGAN STRUKTUR BAJA

Bagian ini berkaitan dengan jembatan kecil hingga sedang. Jembatan ini dapat
dipasang dengan teknik yang sederhana dengan menggunakan alat yang tersedia.
Untuk jembatan yang besar, metoda pemasangannya biasanya sudah merupakan
bagian dari perencanaan, dan penggunaan peratatan dan teknik khusus dibutuhkan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 12

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

4.6.1 PEMASANGAN GELEGAR

Gelegar dapat juga langsung diangkat pada posisinya dengan mobil keran sepanjang
sisi jembatan apabila kondisi tanahnya memungkinkan, dengan keran/derek yang tepat
posisi pada sekitar posisi penyangga, atau dengan flying fox. Kalau menggunakan
flying fox, gelagar pengangkat harus diletakkan diantara fox dan getagar utama untuk
memungkinkan perkiraan pengangkatan vertikal pada gelagar utama. Untuk
komponen-komponen yang lebih kecil gelagar pengangkat tidak diperlukan. Untuk
komponen yang lebih kecil gelagar pengangkat tidak diperlukan.
Peluncuran dari gelagar selain memerlukan perancah juga suatu balok peluncur
sementara untuk membawa rel guna keperluan kereta (troleys) atau peluncur/roller
dimana gelagar digerakkan. Dengan gelagar menerus diatas dua atau lebih bentang
memungkinkan (dengan pemasangan rol diatas pangkal jembatan dan pilar) untuk
meluncurkan gelagar-balok tanpa menggunakan perancah. Metoda peluncuran
haruslah benar-benar dirinci penuh dan harus disetujui dahulu oleh Engineer sebelum
diijinkan untuk digunakan.
Titik-titik pengangkatan biasanya ditentukan untuk gelagar baja dan baja tersebut
harus dilindungi ditempat, dimana tali pengikat (sling) ditempelkan sehingga dengan
demikian lapisan pelindung tidak rusak. Pengadaan pegangan untuk mengangkat
(lifting lug) akan mengurangi kerusakan pada permukaan yang dicat.
Bilamana gelagar telah difabrikasi sebagai bentang yang lengkap, ia dapat langsung
diturunkan kebawah pada baut penahan dan pelat landasan (bearing plate) yang telah
dipasang sementara dalam posisi yang telah ditentukan. Bilamana gelagar disambung
in-situ, perancah akan diperlukan guna menyokong sambungan atau mungkin bagian
gelagar yang lengkap, tergantung dari metoda yang ditentukan perencana.
Pondasi perancah harus dibuat kuat dan dilindungi dari kerusakan oleh sampah dan
penggerusan bila di dalam sungai, atau lalu lintas apabila di atas jalan.
Konstruksi perancah harus secara teratur diperiksa dari tanda-tanda penurunan, dan
semua kesalahan dikoreksi sebelum pemasangan baut atau pengelasan struktur utama
dimulai.
Komponen-komponen harus dipasang bersama-sama tanpa regangan berlebihan
(strain) atau perubahan bentuk/distortion yang tak semestinya, dan harus dikoreksi
ketepatan memanjang, vertikal dan melintang dan dengan garis tengah dari jembatan.
Penyediaan dongkrak, tali dan atau baji diperlukan untuk mengatur sambungan
bilamana perlu dalam 3 (tiga) bidang, untuk persiapan pengelasan, pembautan dan
pengencangan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 13

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

Selama pemindahan gelagar satu per satu pada posisinya dan sampai gelagar tersebut
telah dihubungkan oleh gelagar melintang dan penguatnya, mereka harus ditahan
dengan batang (strut) secara kencang dan atau dengan tali agar tidak terguling. Kayu
atau kerangka baja dirancang untuk mencegah gerakan memanjang dan penggulingan
dari gelagar dan menghubungkan pada bangunan bawah adalah sesuai untuk tujuan
ini. Kerangka harus didirikan dengan suatu cara sehingga mudah dibongkar dan harus
ditempatkan ditempat yang bisa menyangga sepenuhnya gelagar sebelum alat (tackle)
pengangkat diambil.
Gelagar panjang yang langsing perlu pengkakuan samping sementara sewaktu
diangkat dan diletakkan pada posisinya sampai penguat melintang dikencangkan.
Suatu sistem rangka horizontal dengan menggunakan batang gesper putar dan batang
penahan (strut) dapat dipasang pada masing-masing sisi dari gelagar untuk maksud
ini.

4.6.2 PEMASANGAN RANGKA (TRUSS ERECTION)

Petunjuk pemasangan tersedia untuk masing-masing bentuk jembatan rangka yang
berbeda saat ini digunakan diseluruh Indonesia. Petunjuk ini menjelaskan secara rinci
metoda pemasangan dan aspek-aspek dari konstruksi sesuai dengan bentuk rangka
yang digunakan.
Pada umumnya, rangka dapat dibentuk dan diluncurkan pada posisi atau dibangun
sebagai suatu kantilever dari salah satu kepala jembatan. Bentang jembatan dari
Australia sepanjang 80 m dan 100 m dirancang untuk dipasang sebagai dua kali
setengah bentang. Pada setiap kemungkinan, bentang angker dan kentledge (beban
mati sebagai ballas) diperlukan untuk menjamin kestabilan.
Semua tipe jembatan rangka (selain jembatan rangka Australia yang berukuran 80 m
atau 100 m) dapat dipasang dari salah satu tebing pada peluncur (roller) pemasangan
yang ditumpu diatas perancah dan didongkrak kebawah ketempat landasan yang
permanen. Pilihan lain jembatan rangka dapat dipasang pada perancah dan
didongkrak turun pada landasan permanen diikuti penyelesaian perakitannya dan
pengecoran dari lantai beton ditempat (in-situ). Sangat penting untuk penggunaan
perancah pada sungai harus diperhitungkan dengan hati-hati karena kehilangan atau
kerusakan terhadap perancah dapat berarti suatu konsekwensi hilangnya sebagian dari
keseluruhan struktur (bangunan). Ini terutama penting selama pelaksanaan dalam
musim penghujan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 14

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

4.6.3 PERKUATAN MELINTANG (CROSS-BRACING)

Perkuatan melintang mungkin dipadang pada bidang horizontal antara flens rangka
atau gelagar box (box girders) atau dalam bidang vertikal antara gelagar yang
berdekatan. Konstruksi dapat terdiri dari bentuk-bentuk struktural, gelagar pelat
fabrikasi atau sistem bentuk segitiga.
Konstruksi ini biasanya dirakit dengan pengelasan atau dengan baut berkekuatan
tinggi (high strenght bolts) atau segera pengencang khusus yang dilakukan setelah
pemasangan gelagar. Sampai saat itu gelagar harus dilindungi terhadap ketidak-
stabilan lateral (ke samping) dan dalam kasus gelagar panjang yang langsing, tekuk
(buckling) menyamping terhadap beban luar.
Gelagar box baja (steel box girders) memerlukan penguat dalam (internal bracing)
yang permanen untuk mendukung badan (web) yang ramping, dan penguat melintang
yang kuat guna menahan terhadap torsi selama pembebanan, pengangkutan dan
pemasangan. Dalam perencanaan diperbolehkan untuk membongkar penguat kedua
seperti tsb diatas setelah flens artas ditahan ke samping oleh lantai jembatan, tetapi
hal ini dipandang tidak ekonomis.
Kemudahan untuk pengencangan penguat melintang dapat diadakan dengan
menggantung suatu kurungan (cage) dari sebuah keran, sebuah truk yang diberi
platform, sebuah panggung tetap (fixed platform) pada perancah yang didukung dari
bangunan utama. Bilamana penguat melintang harus dilas, perlindungan terhadap
angin dan hujan harus disediakan pada perancah tersebut.

4.7 PENYAMBUNGAN DI LAPANGAN

Karena alasan pengangkutan, pemasangan, dimensi ataupun berat, maka
penyambungan konstruksi baja tidak dilakukan di pabrik melainkan harus
dilakukan di lapangan. Seperti juga apabila dilakukan di pabrik, maka
penyambungan di lapangan harus memenuhi standar sebagaimana ditentukan
dalam spesifikasi teknis.

4.7.1 UMUM

Bagian-bagian baja dapat disambung pada tempatnya apakah dengan baut berkuatan
tinggi (high strength friction grip) atau dengan pengelasan di lapangan. Penggunaan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 15

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

sistem pengelasan di lapangan memerlukan tersedianya operator las yang terlatih dan
pengawas lapangan yang sesuai kualifikasinya.

4.7.2 BAUT BERKEKUATAN TINGGI (HIGH STRENGH BOLTS)

a. Umum
Baut berkekuatan tinggi dapat diklasififcasikan atas dua tipe, yaitu tipe "friction grip"
dengan tanpa geseran dan tipe "bearing" dimana suatu geseran awal diperkenankan.
Umumnya sambungan dengan baut dari kebanyakan elemen struktur jembatan modern
direncanakan berdasarkan sambungan pegangan gesek (friction grip). Baja yang
digunakan pada baut adalah campuran khusus (alloy) yang akan menahan tekanan
yang lebih tinggi daripada baja strukturaf dan akan memanjang (elangated} sebefum
kerusakan. Mur dibuat dari bahan yang cocok dan cincin penutup (washer} khusus
dibuat dari baja diperkeras untuk menahan kelecetan sewaktu baut dikencangkan.
Tegangan daripada baut akan timbul karena gesekan antara bagian-bagian
sambungan dan gesekan ini dapat memindahkan gaya melalui sambungan. Bilamana
tegangan di dalam baut dan koefisien gesekan antara pelat-pelat diketahui, maka gaya
yang dapat dipindahkan tanpa mengakibatkan gerakan bagian-bagian yang disambung
dapat dihitung. Semua sambungan baut friction grip dengan kekuatan tinggi bekerja
menurut prinsip umum ini, tidak tergantung pada jumlah dan susunan baut dalam
sambungan.
Semakin tinggi gaya pengekleman atau gaya tegang yang ditimbulkan oleh baut dan
semakin tinggi. gesekan antara komponen, semakin besar gaya yang dapat
dipindahkan antara bagian dari sambungan. Untuk menerapkan prinsip ini pada suatu
tingkatan praktis, perencana memperkirakan suatu batas lebih rendah dari tegangan
baut dan suatu nilai yang dapat diterima untuk koefisien gesekan diantara permukaan
yang bertemu.
Tegangan baut minimum yang harus dicapai untuk diameter baut yang berbeda
biasanya disebutkan dalam Spesifikasi Teknik pelaksanaan jembatan. Koefisien
gesekan diantara permukaan yang bersinggungan dari konstruksi baja dalam kondisi
tertentu dapat diketahui. Dengan pengencangan baut secara tepat dan mengikuti
spesifikasi teknik dengan selalu menjaga permukaan kontak yang bersih dari kotoran,
tidak ada karat, lemak, dan sebagainya, baut akan memindahkan gaya sesuai yang
diharapkan perencana.
Baut yang telah dikencangkan penuh tidak boleh digunakan kembali sebagai baut
friction grip dan harus segera dibuang.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 16

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

b. Baut-baut Berkekuatan Tinggi
Baut dengan kekuatan tinggi dikencangkan dengan salah satu dari tiga cara – “Ring
Penunjuk Beban” (Load Indicating Washer Method}, "Putar Sebagian" (Part-Turn
Method} atau "Cara Kontrol Torsi" (Torque Control Method}.
Hal yang sangat penting bahwa seluruh daerah permukaan-permukaan yang
bersinggungan pada semua sambungan harus diperkasar oleh sikat kawat yang kuat
(atau metoda yang sejenis) dan arah dari penyikatan harus melintang (across}
flens/atau badan (web} dari bagian yang disambung.

c. Pengencangan Baut dengan Metoda Ring Penunjuk Beban (Load
Indicating Washer Method)

Pada metoda ring penunjuk beban, baut dipasang dengan ring penunjuk berindikasi
beban di bawah kepala baut dengan arah menghadap kepala baut dan suatu ring yang
diperkeras ditempatkan dibawah mur. Baut dan mur harus benar-benar dilumasi untuk
menjamin bahwa ring penunjuk beban dapat betul-betul rapat ketika dikencangkan.
Apabila pelumasan ulang diperlukan, bagian itu harus dibersihkan dan suatu minyak
dengan bertekanan kuat, lemak atau lilin digunakan. Permukaan yang bersinggungan
harus dijaga tetap bersih dan bila ada minyak harus segera dibersihkan dengan
menggunakan pelarut yang sesuai.
Lubang yang digunakan pada semua sambungan harus dipaskan benar, sebelum baut
dimasukkan (dengan menggunakan pasak atau drifts yang sesuai). Baut mula-mula
dikencangkan dengan tangan dengan menggunakan suatu kunci pas (spanner).
Pengencangan dengan tangan, adalah pengencangan yang dicapai oleh usaha penuh
dari seorang manusia dengan menggunakan sebuah kunci pas.
Pengencangan akhir tidak boleh dilakukan sebelum semua sambungan menuruti
persyaratan mengenai lawan lendut, sambungan-sambungan telah pas dilaksanakan.
Baut akhirnya dikencangkan dengan kunci khusus yang telah ditentukan.
Pengencangan dilakukan dengan memutar mur dan bukan kepala baut (kepala baut
mungkin perlu ditahan guna mencegah putaran). Tiap baut dikencangkan sampai celah
(gap) yang diukur pada alat ring penunjuk beban berada pada suatu kisaran (range)
yang ditetapkan sebelumnya (biasanya 0.15 mm sampai 0.25 mm). Celah (gap) ini
harus diperiksa dengan menggunakan pengukur celah (feeler gauge). Tegangan harus
diberikan secara merata dan hati-hati pada masing-rnasing baut dalam sambungan.
Pengencangan harus dimulai pada baut-baut sebelah dalam (pusat) dan bergerak
keluar.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 17

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

d. Pengencangan Baut dengan Metoda Putar Sebagian (Part Turn
Method)

Dalam metoda putar sebagian, bagian komponen mula-mula dibuat agar
bersinggungan dengan dekat, yang disebut kondisi rapat kencang (snug tight) dengan
tangan atau dengan pengaruh kunci Inggris (impact wrenches). Setelah semua baut
pada sambungan rapat kencang, tiap baut diberi suatu pengencangan akhir.
Pengencangan akhir untuk diameter dan panjang baut yang biasa adalah suatu
tambahan setengah putaran dari mur terhadap baut.

e. Pengencangan Baut dengan Metoda Kontrol Torsi (Torque Control)
Pengencangan baut dengan Metoda Kontrol Torsi tidak teliti dibandingkan dengan
metoda Ring Penunjuk Beban. Perubahan yang sangat kecil dalam koefisien gesekan
dari ulir (threads) yang dapat berpengaruh besar terhadap tegangan baut. Kerusakan
ulir atau baut-baut yang berbeda dapat menyebabkan hasil pengencangan (tensioning)
tidak akurat. Apabila panjang baut yang satah digunakan baut mencapai akhir dari ulir,
torsi akan dicapai oleh indikator, padahal baut masih belum kencang. Dalam hal baut
digalvanisasi, tegangan yang diperlukan mungkin tidak tercapai kesemuanya dan baut
akan rusak karena~puntiran yang dihasilkan oleh torsi yang diberikan. Baut biasanya
dikirim dengan mur yang dilumasi bila metoda ini digunakan.
Pengencangan dengan metoda Kontrol Torsi dapat mernberikan suatu hasil yang salah
untuk baut yang digalvanisasi.

4.7.3 PENGELASAN DI LAPANGAN

Prosedur pengelasan di lapangan dan umumnya sama dengan pengelasan di bengkel.
Namun demikian situasi pekerjaan menimbulkan kesulitan-kesulitan khusus. Biasanya,
digunakan pengelasan lengkung (arc) dengan tangan karena peralatan yang mudah
dibawa.
Prosedur harus dipilih dimana perubahan bentuk dan tegangan penyusutan sisa (residual
shrinkage stresses) dibuat sekecil mungkin. Ini memerlukan suatu urutan pengerjaan
dimana pemberian panas dibuat seimbang kira-kira ditengah-tengah kemungkinan
pergerakan. Pada beberapa kasus dua orang tukang las dapat bekerja pada sisi-sisi
yang berlawanan untuk mengerjakan satu sambungan. Elektroda rendah hidrogen
digunakan untuk sambungan dimana tambahan ductilitas diperlukan.
Kerapkali prosedur pengelasan dapat dibuat bervariasi (untuk meningkatkan kualitas
pengelasan dan mengurangi distorsi) setelah beberapa sambungan telah selesai

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 18

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab IV Bangunan Baja

diadakan dan diperiksa. Sambungan yang diperkirakan besar penyusutannya harus
dibuat pertama kali bilamana anggota yang disambung mempunyai sedikit tahanan
(restraint).
Steiger yang disediakan untuk pengelas harus mencapai standar yang tinggi karena
seorang pengelas cukup lama bekerja pada suatu sambungan. Sebagai konsekuensinya
perlu suatu steiger yang memadai dan aman guna memperoleh suatu standar hasil
pekerjaan yang tinggi.
Lemari pengering yang dapat dibawa (untuk menjamin bahwa elektroda tetap kering)
mungkin diperlukan dekat tempat bekerja, tergantung daripada tipe dari elektroda dan
jarak dari penyimpanan elektroda utama. Pelindungan terhadap cuaca dapat
meningkatkan kecepatan dan kualitas pekerjaan ditempat untuk waktu yang lama,
dengan melindungi pengelas dan pelaksanaan pengelasan dari hujan dan angin.
Perlengkapan klem yang terdiri dari potongan baja sudut yang berlobang, klem baut, baut
panjang, pasak dan baji sangat berguna untuk menarik ke dalam dan meluruskan
anggota-anggota sebelum diadakan pengelasan.

4.7.4 PERUBAHAN CAT GALVANISED

Bilamana perawatan perlindungan dari bagian-bagian baja (pengecatan atau galvanisasi)
telah rusak selama penanganan atau pemasangan, harus diadakan perbaikan sesuai
dengan persyaratan dalam Spesifikasi Teknik. Beberapa jembatan direncanakan untuk
diberi lapisan akhir pengecatan sesudah pemasangan, dimana baja hanya dilapisi suatu
lapis dasar (primer) sebelum pemasangan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) IV - 19

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

BAB V
TEKNIK PEMASANGAN BANGUNAN ATAS BAJA

5.1 UMUM

Bab ini menjelaskan mengenai tipe bangunan atas baja yang digunakan di Indonesia.
Sebagai tambahan dijelaskan mengenai konfigurasi dan lebar bentang yang berbeda,
bermacam-macam komponen dan perbedaan-perbedaan versi yang lama dan yang
baru.
Metoda pemasangan dari tiap-tiap tipe jembatan dijelaskan dan masing-masing
diterangkan keuntungan dan kerugiannya.
Penggunaan kelas A, B atau C untuk menunjukkan lebarnya struktur yang biasa untuk
semua tipe jembatan rangka.

 Jembatan kelas A mempunyai 2 jalur dengan suatu jalan kendaraan
yang lebarnya 7,0 m dengan 1,0 m untuk pejalan kaki pada tiap sisi;

 Jembatan kelas B adalah 2 jalur dengan jalan kendaraan 6,0 m dengan
kerb 0,5 meter pada kedua sisi tetapi tanpa pemisah pejalan kaki;

 Jembatan kelas C mempunyai jalan kendaraan selebar 4,5 m dengan
kerb 0,5 meter pada kedua sisinya tetapi tanpa pejalan kaki.

5.2 JEMBATAN RANGKA AUSTRALIA

Jembatan rangka Australia sistem (Transfield atau Transbakrie) terdiri dari komponen-
komponen baja standar yang dibuat dengan teliti yang dirakit dengan mempergunakan
baut untuk membentuk bentang jembatan dari bentang 35 meter sampai 60 meter pada
rancangan through-truss.

5.2.1 JEMBATAN RANGKA TETAP (PERMANEN)

a. Umum
Bentang-bentang permanen yang disediakan dalam 3 (tiga) kelas - A, B dan C, dengan
perbedaan konfigurasi dalam lebar jalan dan kerb/pejalan kaki. Bentang dalam semua
kelas mempunyai lantai beton bertulang komposit. Gambar 10.1, 10.2 dan 10.3 secara
berurutan disimpulkan masing-masing potongan melintang kelas A, B dan C.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-1

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Jembatan ini dilengkapi dengan landasan, penahan lateral seismis, bantalan penahan,
sandaran, baja perkuatan sudut lantai, peralatan untuk digunakan dalam perakitan
komponen menjadi bentang jembatan dan Panduan Pemasangan.
Komponen-komponen telah diberi tanda dengan jelas untuk memungkinkan
pemasangan yang berurutan sesuai yang ditunjukkan dalam Gambar Pemasangan.
Komponeri-komponen dengan tanda sama dapat saling ditukar. Tidak ada komponen-
komponen yang beratnya lebih dari 1,5 ton dan perakitan dapat dilakukan dengan
peralatan tangan (hand tools) yang disediakan bersama dengan bentang jembatan.

Gambar 5. 1 - Jembatan Rangka Permanen Australia Kelas A

Gambar 5.2 - Jembatan Rangka Permanen Australia Kelas B

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-2

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5.3 - Jembatan Rangka Permanen Australia Kelas C

Sistem ini telah dirancang untuk memungkinkan pemasangan ditempat secara
berurutan dengan pengerjaan kantilever dari satu tebing, atau dorongan dengan
metoda peluncuran bentang tunggal (SSL) tanpa menggunakan perancah di sungai.
Kedua metoda ini untuk pemasangan bentang jembatan rangka dijelaskan dalam
Panduan Pemasangan. Keduanya memerlukan sebuah bentang standar sebagai suatu
bentang angker dan baja penghubung yang disediakan pada sistem ini. Metoda ini
memerlukan peralatan peluncuran khusus selain baja penghubung (linking steel).
Metoda lain dari perakitan dan pemasangan seperti kantilever sebagian atau
pemasangan pada perancah dapat juga dilakukan. Prinsip-prinsip yang diberikan untuk
metoda yang dijelaskan dalam Panduan Pemasangan dapat diterapkan dalam kasus
tersebut.
Konstruksi lantai beton dan pemasangan landasan dan penahan lateral seismis dan
bantalan penahan juga dijelaskan dalam Panduan Pemasangan.
Sistem jembatan ini direncanakan mempunyai ciri pemeliharaan yang rendah. Untuk
maksud ini semua pekerjaan baja dan baut-baut digalvanisir dan landasannya adalah
elastomer. Prosedur-prosedur dasar pemeliharaan yang dijelaskan dalam Manual
Pemasangan.

Kriteria Desain Peraturan Muatan untuk Jembatan, Jalan Raya No.12/1970
Pembebanan : (diperbaiki 1988) Direktorat Jenderal Bina Marga, Indonesia.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-3

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Lalu-Lintas: Kelas A dan B dua jalur dibebani penuh ditambah satu jalur
dibebani sebagian. Pembebanan D-garis (tambah kejut) atau
Trotoar : Pembebanan T-titik (100 %)
Sandaran: Kelas C satu jalur dibebani penuh, Pembebanan D (tambah
Angin: kejut) atau T (100%)
Gempa: Kelas A 500 kg /M2 satu meter lebar tiap sisi
Arus: Kelas B dan C - nol
Temperatur: 100 kg/m
100 kg/m2
Region 1 sesuai Spesifikasi 12/1988 (C = 0,3)
Bangunan atas dianggap bebas di atas muka banjir
± 15°C

Spesifikasi Desain
Spesifikasi Perencanaan Jembatan 1976 NAASRA
Spesifikasi Standar untuk Jembatan Jalan Raya.1983 AASHTO
Kepala jembatan, pilar
Kepala jembatan dan pilar harus dirancang terhadap gaya-gaya yang timbul dari
bentang baja dan efek-efek lain, dan dibangun sesuai dengan ukuran landasan dan
dimensi-dimensi bentang. Gaya-gaya relevan serta detail-detail diberiKan pada
Panduan Pemasangan.

b. Komponen-Komponen
Ada 4 macam seri komponen-komponen yang berbeda digunakan untuk jembatan
rangka Australia. Salah satu yaitu seri H hanya digunakan untuk jembatan-jembatan
rangka baja khusus yang permanen (Permanent Special Truss Bridges), lihat Bab
5.2.2. Tiga macam yang lain yaitu komponen-komponen seri "L", "S" dan "M"
digunakan untuk konfigurasi-konfigurasi yang berbeda pada jembatan rangka
permanen. Ada beberapa bentang yang menggunakan komponen-komponen MM,
yang dipasok melalui Kontrak-kontrak dengan PT. Trans Bakrie.
Perbedaan-perbedaan yang utama dari seri-seri komponen L/M/S adalah dalam
sifat-sifat bagian dari anggota-anggota utamanya. Ukuran meningkat dari M ke S
ke L. Ada komponen-komponen yang berbeda untuk masing-masing seri yang
berbeda Dan secara umum komponennya tidak dapat saling dipertukarkan antara
seri-seri yang berbeda.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-4

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Tabel 5.1 menunjukkan bentangan-bentangan dimana tiap-tiap seri digunakan :

Tabel 7. 1 - Bentangan untuk Seri Jembatan Rangka

Seri Bentang

Seri - L A50, A55, A60, B60
Seri - S
A35, A40, A45
Seri - M B45, B50, B55
Seri - H C55, C60
B35,1340
C35,C40, C45, C50

A80, A100

B80, B100

Dalam kebanyakan kasus, kode komponen diawali dengan M, L atau S untuk
mengidentifikasi seri-seri komponennya. Perhatikan bahwa hal ini tidak berlaku
pada komponen EP (pemasangan) yang dapat dibedakan oleh jumlah, sebagai
contoh penghubung batang bawah untuk seri rangka M ke M adalah EP 48,
sedangkan untuk komponen yang sama seri rangka M ke L adalah EP 57.
Sebagai tambahan, komponen-komponen yang identik untuk semua seri rangka
jembatan sebagai contoh FSB (form work support beam/balok pendukung acuan)
atau THDB (holding down bolt/baut penahan) tidak diberi awalan tambahan
dengan M, L, atau S.

Tabel 5.2 - Sistem Pemberian Nama Komponen-komponen Jembatan Rangka

Kode Uraian Awalan
*
C Batang tepi memanjang *
X Gelagar melintang *
D Diagonal
B Penguat, Balok melintang (atas) *
G Pelat buhul (Pelat Pertemuan) *

S Pelat Penyambung
BA Pemasang landasan (kiri dan kanan)
RB Landasan karet ateu Bantalan
DA Siku Pelindung Lantai
FP Pelat untuk Pejalan Kaki
FSB Balok Penyangga Acuan
R Pagar (Railing)
THDB Baut Penahan
LS Penahan Lateral
TP Plat Pengisi
SP Plat Pengisi

EP Komponen untuk Pemasangan (termasuk pula
Komponen-komponen sementara)

Kolom ke 3 Tabel 5.2, dan Tabel 5.3 menunjukkan komponen-komponen mana diberi
awalan (dengan simbol '*').

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-5

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

c. Metode Pemasangan
i. Umum
Bagian ini menjelaskan berbagai cara pemasangan untuk jembatan rangka
permanen. Metoda-metoda ini pada dasarnya dijelaskan dalam Manual
Pemasangan. Kebanyakan informasi berikut didasarkan dari "Buku Pegangan
Pengawas Jembatan" yang dipersiapkan untuk Direktorat Jenderal Bina Marga
pada Proyek Jembatan Baja Indonesia Australia.
Pemilihan dari metoda pemasangan harus dipertimbangkan dengan seksama.

ii. Perancah
Metoda ini mungkin paling biasa dan dapat digunakan untuk struktur bentang
tunggal ataupun lebih dari satu bentang (multi). Penyangga sementara
digunakan sewaktu bangunan atas sedang dirakit. Mereka ditempatkan pada
dasar sungai antara bangunan bawah seperti diperlihatkan dalam Gambar 10.4.
Perancah harus dibongkar setelah pemasangan selesai dan sebelum
pengecoran lantai beton. Ini memungkinkan bangunan atas untuk melendut
sesuai yang direncanakan ketika lantai selesai di cor.

Gambar 7.4 - Pemasangan di atas Perancah

Metoda ini mempunyai sejumlah keuntungan untuk kebanyakan tempat.
Keuntungan yang terbesar adalah bahwa tidak diperlukan pemakaian bentang
angker, alat-alat penghubung dan kentledge (counter weight) yang diperlukan
pada cara peluncuran ataupun cara kantilever bagian per bagian.

Sebagai tambahan, tidak diperlukan peralatan angkat yang berat karena
komponen yang terberat hanyalah 1,5 ton. la adalah suatu metoda padat karya
dengan peralatan angkat yang diperlukan minimum.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-6

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Dibeberapa tempat, jembatan yang ada dapat digunakan sebagai dasar-guna
menyokong perancah dan disini biaya yang dikeluarkan berkurang.
Salah satu kerugian ialah bahwa suatu jembatan perancah biasanya diperlukan
untuk dipasang melintang sungai, yang menimbulkan gangguan kepada kapal
yang melayari sungai. Umumnya, suatu pilar perancah atau rangka pendukung
dipasang pada tiap gelagar melintang dengan jarak kurang lebih 5 meter.
Sebagai tambahan, ada suatu kemungkinan satu perancah dapat turun akibat
beban dari rangka, jika tidak ditopang. Satu pilar perancah jembatan kelas A
harus mendukung kurang lebih 10 ton beban mati untuk rangka baja.
Pemasangan perancah menyeberangi sebuah sungai sebelum atau selama
musim penghujan harus dengan hati-hati dipertimbangkan sebab aliran sungai
dapat menghancurkan perancah dan sebagian rangka yang telah diselesaikan.

Kebutuhan peralatan pemasangan
Peralatan pemasangan berikut ini diperlukan dengan rangka baja utama :

1. Manual Pemasangan
2. Gambar-gambar rencana pemasangan
3. Dongkrak Hidrolik kapasitas 25, 100 dan 150 ton
4. Kotak Peralatan (guna merakit pekerjaan baja dan alat penghubung).
Sebagai tambahan terhadap peralatan di atas, Kontraktor harus menyediakan
dan memasang item-item sebagai berikut :
a. Material untuk menopang perancah
b. Paling sedikit 2 (dua) tackle untuk menaikkan komponen-komponen

pada posisinya
c. Peralatan untuk menarik komponen-komponen baja dari tebing keatas

perancah
d. Pelat Dongkrak dan kayu pengisi digunakan dalam penurunan bentang
e. Landasan kayu sementara

iii. K a n t i l e v e r S e b a g i a n D e m i S e b a g i a n
Pemasangan kantilever sebagian demi sebagian terdiri dari penyetelan
berurutan dari suatu bentang jembatan rangka dari satu kepala jembatan atau
pilar ke kepala jembatan dan pilar diseberang, dengan menambah dan
memasang sampai mencapai komponen-komponen mencapai peletakan di
seberang. Prosedur kantilever statis ini memerlukan suatu bentang angker dan
baja penghubung.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-7

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Perancah tidak diperlukan dan jalan untuk memasang komponen selanjutnya
dapat dilakukan dengan mempergunakan bagian-bagian rangka baja yang telah
terpasang.
Sistem pemasangan kantilever mempunyai banyak keuntungan karena
peralatan pemasangan yang sederhana dengan tidak ada bagian-bagian yang
bergerak, dan ruang yang diperlukan untuk perakitan di atas tebing hanya
diperlukan sesuai dengan panjangnya bentang angker. Sebaliknya, ini
memerlukan peralatan untuk menarik atau mengerek komponen-komponen
keluar menyeberangi sungai dan pengangkatan dan menyokongnya ditempat di
atas air. Ini adalah suatu metoda pemasangan yang hanya memerlukan suatu
jumlah peralatan mekanis yang kecil seperti kerekan tangan, batang pendorong,
blok-blok katrol dan takel-takel. Keran dapat pula digunakan untuk mempercepat
waktu pemasangan bila sebuah ponton tersedia. Metoda pemasangan umum
ditunjukkan pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5 - Konstruksi Kantilever Dipasang Sebagian Demi Sebagian

Tempat yang dibutuhkan
Tempat yang bebas diperlukan dibelakang kepala jembatan untuk memasang
pekerjaan baja harus cukup besar untuk memuat bentang angker yang berkisar
dari 30,0 meter sampai 60,0 meter panjangnya dengan kelipatan 5,0 meter.
Lahan yang diperlukan dapat dibatasi pada panjang bentangan angker ditambah
tempat bekerja disekitarnya.
Sebagai patokan, tempat bekerja harus sekitar 3 meter lebih lebar daripada
bentangan angker yang digunakan dan 10 meter lebih panjang daripada panjang
bentangan angker.

Tempat harus dibentuk dan dibuat rata sehingga paling sedikit setinggi kepala
jembatan dan tidak lebih tinggi daripada ketinggian akhir jalan raya.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-8

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Penopang landasan sementara
Krib kayu yang memadai digunakan pada tiap-tiap landasan untuk bantalan ujung
angker dari bentang kantilever pada kepala jembatan atau pilar selama
pemasangan. Bantalan kayu dipasang langsung di atas posisi landasan akhir.

Bantalan bentang angker
Ujung akhir dari bentangan angker memerlukan penyangga pada dua landasan
yang dibelakang di atas krib kayu atau bantalan-bantalan beton sementara yang
direncanakan sesuai dengan kondisi tanah.

Penghubung dengan bentang angker
Bentang angker akan terdiri dari suatu bentang rangka standar yang
dihubungkan pada bentangan tetap untuk pemasangan melalui susunan
Universal-Frame Erection Link Set, lihat Gambar 7.6 dan 7.7. Tergantung dari
panjang bentang yang sedang dibangun dan panjang bentang angker, akan
perlu penambahan beban imbangan (counter weight) untuk mengimbangi aksi
pengaruh guling dari bentang kantilever. Detail dari berat counter weight
diberikan dalam gambar rencana pemasangan.

Gambar 5.6 - Bentang Angker untuk Pemasangan Kantilever

Gambar 5.7 - Bentang Angker dan Pasangan Penghubung

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V-9

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Keperluan peralatan pemasangan
Peralatan pemasangan yang berikut diperlukan dengan rangka baja utama :

1. Petunjuk Pemasangan
2. Gambar Rencana Konstruksi
3. Bentang rangka angker
4. Peralatan penyambung pemasangan (linking steel) termasuk besi

penguat untuk batang tepi bila diperlukan
5. Peralatan penguat beban imbangan (kentledge brace kit)
6. Dongkrak Hidrolik yang kapasitas 25, 100 dan 150 ton
7. Kit peralatan (untuk menyetel semua pekerjaan baja dan alat.

penyambung).

Sebagai tambahan terhadap peralatan di atas, Kontraktor perlu menyediakan
dan memasang item-item sebagai berikut :

a. Kerangka penyokong atau krib kayu sebagai bantalan sementara pada
pelat landasan bentang permanen (kentledge platform)

b. Panggung beban imbangan (kentledge) untuk ujung akhir bentangan
rangka angker.

c. Bahan-bahan yang sesuai untuk counter weight. Sebagai contoh
kantong-kantong pasir dalam karung, blok beton, komponen-komponen
baja, batuan dan sebagainya, tetapi apapun yang digunakan harus
diketahui beratnya.

d. Pelat dongkrak dan ganjal kayu yang digunakan pada penurunan
bentang.

e. Peralatan penarikan komponen-komponen baja dari pinggir
menyeberangi dengan alat pengangkat untuk memasang komponen-
komponen pada tempatnya.

f. Landasan kayu sementara.

Penarikan dan Pengangkatan
Komponen-komponen yang telah berada di tebing, sewaktu akan dipasang pada
lokasi sambungan yang ditentukan harus ditarik dan diangkat. Ini mungkin harus
dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada keadaan medan di lapangan.
Metoda-metoda yang telah digunakan termasuk :

 Akses dari jembatan berdekatan yang ada, dengan menggunakan
sebuah keran kecil.

 Rakit yang dibuat dari drum @ 200 liter.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 10

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

 Kabel-kabel flying fox yang digantung diantara batang penguat atas
bentangan.

 Menarik (menyeret) komponen-komponen sepanjang lantai pekerjaan
baja yang selesai sebagian, di atas bantalan kayu sementara. Rol-rol
harus digunakan untuk menghindari kerusakan dari komponen-
komponen.

Setelah dalam garis posisi akhir, komponen harus diangkat pada posisinya.
Bermacam metoda tersedia, termasuk sebuah tiang derik diikatkan pada akhir
dari sebagian jembatan yang telah terpasang:
Bagaimanapun, diharapkan bahwa 2 kerangka pengangkatan sederhana yang di
pabrikasi dari bagian-bagian baja ringan, dipasang pada akhir batang atas tiap
sisi dengan mempergunakan baut melalui lubang-lubang drainase dalam
sayapnya. Penggunaan dalam kombinasi dengan blok rantai atau kerekan
tangan, kerangka ini untuk dioperasikan dan dapat digerakkan sepanjang
bentang sewaktu perakitan dilaksanakan.

iv. Peluncuran Bentang Tunggal
Dengan metoda pemasangan ini, bentang rangka dirakit secara lengkap pada
tebing dan didorong keluar pada posisinya dengan menggunakan bentang
angker dan beban imbangan (counter weight). Tidak diperlukan perancah pada
penyeberangan karena bentang didesain untuk kantilever penuh. Konsep umum
dilihat pada Gambar 5.8 dan 5.9.
Metoda ini cocok untuk bentang tunggal atau bentang pertama dari jembatan
bentang banyak. Ini khusus cocok untuk tempat-tempat jembatan bentang
tunggal yang tidak dapat dipasang di atas perancah.
Tidak semua tempat jembatan sesuai untuk sistem ini karena diperlukan suatu
daerah pemasangan yang lebih panjang pada tebing dimana peluncuran
dilaksanakan, dibandingkan dengan metoda kantilever sebagian demi sebagian
dimana tidak diperlukan tempat pemasangan di atas tebing sungai selain
daripada yang telah ditentukan sebelumnya untuk pemasangan bentang angker.
Tempat tambahan pada oprit perlu untuk peluncuran panjang bentang tunggal
dikarenakan perlunya rel untuk peluncuran yang harus dibuat untuk menampung
bentang utama dan bentang angker.
Tempat yang diperlukan pada tebing sungai tergantung pada panjang bentang
utama dan bentang angker ditambah tempat untuk bekerja disekeliling bentang.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 11

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5.8 - Konstruksi untuk Peluncuran Bentangan Tunggal

Tergantung dari panjangnya bentang yang sedang dibangun dan panjangnya
bentang angker, mungkin diperlukan untuk menambah beban pengimbang
(counter weight) untuk melawan guling dari bentang kantilever.

Keperluan peralatan pemasangan
Peralatan pemasangan yang berikut diperlukan dengan rangka baja utama :

1. Petunjuk pemasangan
2. Gambar rencana konstruksi
3. Bentang rangka angker (anchor truss span)
4. Kit penghubung pemasangan (linking steel)
5. Kit penguat kentledge (kentledge bracing kit)
6. Balok peluncuran dengan rol depan dan belakang
7. Kit peralatan (untuk perakitan semua pekerjaan baja) .

Sebagai tambahan peralatan di atas, Kontraktor perlu memasok dan memasang
item-item sebagai berikut :

a. Lintasan untuk roller yang diletakkan diatas balok beton atau baja pada
ujung akhir bentang untuk tempat peluncuran.

b. Bantalan dongkrak beton dibelakang kepala jembatan.
c. Kerekan-kerekan untuk penarikan dan penahan
d. Panggung beban pengimbang (kentledge) untuk ujung akhir bentangan

rangka angker.
e. Bahan-bahan yang cocok untuk beban pengimbang (counter weight).

Sebagai contoh pasir yang dibungkus karung, blok beton, komponen-
komponen baja, batuan dan lain-lain. Tetapi apapun yang digunakan harus
diketahui beratnya.
f. Pelat untuk alat dongkrak dan ganjal untuk digunakan pada operasi
pekerjaan penurunan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 12

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

g. Peralatan penarik komponen-komponen baja dari tebing menyeberangi
sungai dan mengangkat pada posisinya.

h. Landasan kayu sementara.

Gambar 5.9 - Peluncuran Bentang Tunggal

v. Metoda Kombinasi
Ada beberapa alternatip (pilihan) kombinasi-kombinasi dari kemungkinan
metoda-metoda pemasangan ini, walaupun ini jarang dipakai.
Ada kemungkinan untuk memasang bagian-bagian dari bentang di atas
perancah dan kemudian dengan sistem kantilever sisa bagian dari bentang,
menggunakan beban pengimbang (counter weight) untuk menjaga
kestabilan. Juga dimungkinkan untuk meluncurkan sebagian dan memasang
sebagian dengan menggunakan konstruksi kantilever bagian demi bagian.

d. Variasi
Komponen-komponen standar yang tersedia pada bermacam-macam sistim
jembatan Australia dapat digunakan untuk bermacam-macam bentuk
jembatan dan kriteria perencanaan, seperti alternatif spesifikasi
pembebanan, lantai-lantai kayu atau bentang-bentang menerus.
Pilihan satu-satunya yang tersedia dalam jembatan Rangka Baja Permanen
adalah bahwa maksimum 3 buah pipa PVC diameter 150 mm dapat
dipasang pada kerb dari jembatan kelas A.
"Variasi" yang lain adalah jembatan seri MM (bentang 35, 40 dan 45 m) yang
dihasilkan oleh Trans Bakrie mempunyai lantai baja gelombang dan ditutup
dengan pelat beton bertulang setebal 100 mm sebagai pengganti lantai
beton bertulang setebal yang lebih umum yang bersifat komposit dengan
rangka baja 270 mm (kelas A), 250 mm (kelas B) atau 230 mm (kelas C -
nominal).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 13

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

e. Persoalan-persoalan Umum
Persoalan-persoalan di bawah ini telah banyak mendapat perhatian dalam
pelaksanaan pekerjaan jembatan rangka baja:

Pengencangan Baut
Hal yang sangat penting adalah pengencangan semua baut diselesaikan sebelum
lantai beton dicor. Kesalahan pelaksanaan pekerjaan ini akan mengakibatkan
kehilangan camber (lawan lendut) dari struktur. Ijin pengecoran lantai tidak akan
diberikan sebelum sertifikat pengencangan baut diberikan.
Celah (renggang) seperti terlihat oleh cincin indikasi beban harus diantara 0,15
mm dan 0,25 mm. Kalau baut-baut dikencangkan sampai kerenggangan kurang
dari 0,15 mm ada kemungkinan bahwa baut akan rusak. Lihat Gambar 10.9, 10.10
untuk detailnya.

Gambar 5.10 - Baut Setelah Pengencangan

Pengencangan harus dimulai ditengah-tengah sekumpulan baut dan bergerak
keluar seperti diperlihatkan pada Gambar 5.11.
Sewaktu pelaksanaan pengencangan Kepala tiap-tiap baut harus ditandai untuk
memperlihatkan bahwa ia telah dirancangkan dengan benar.
Setiap baut yang sudah dikencangkan harus tidak digunakan kembali dan baut,
mur dan cincin penunjuk beban harus dibuang dan diganti dari cadangan.
Penggunaan kembali baut-baut yang telah dipakai tidak diperbolehkan.
Pengencangan dengan torsimeter tidak digunakan untuk mengencangkan baut-
baut friction grip pada sistem jembatan ini, Karena tidak ada hubungan antara
besarnya angker puntiran dan jarak seperti terlihat oleh ring penunjuk beban (Load
Indicating washer).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 14

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5. 11 - Urut-Urutan Pengencangan Baut Tipikal

Penentuan as landasan
Jarak horisontal memanjang landasan dari as ke as dari kepala jembatan ke kepala
jembatan atau kepala jembatan ke pilar harus diperiksa terhadap salah satu gambar
rencana berikut :
TD01 Jembatan rangka seri S Kelas A
TD02 Jembatan rangka seri L Kelas A
TD03 Jembatam rangka seri M Kelas B
TD04 Jembatan rangka seri S Kelas B
TD05 Jembatan rangka seri L Kelas B
TD06 Jembatan rangka seri M Kelas C
TD07 Jembatan rangka seri S Kelas C

Telah dijumpai pada banyak kasus bahwa panjang nominal bentangan atau jarak-
jarak horisontal diperlihatkan pada gambar rencana penentuan gelagar melintang
yang telah dirinci dengan benar untuk jarak antara landasan.
Kaiau dimensi ini tidak benar akan berakibat fatal dalam suatu konfigurasi bentang
banyak karena jarak antara bangunan-bangunan atas akan menjadi terlalu besar
dan baja penghubung tidak akan pas pada celah diantara dua rangka jembatan.

Konstruksi lantai perletakan (bearing plinth) diatas pilar dan kepala jembatan
Permukaan pendukung plat kolom (bearing plinth) tidak boleh kurang dari yang
diperlihatkan pada gambar detail landasan dan penahan seismik Karena kalau
tidak, akan mendapatkan kesulitan pada waktu pemasangan dongkrak hidrolis di
bawah bentang.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 15

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Kualitas beton pada plat lantai jembatan
Jembatan rangka Australia telah dirancang menggunakan lantai beton bertulang
komposit. Pelat beton dihubungkan dengan rangka baja melalui pendukung
geser (shear stud) dilas pada gelagar-gelagar melintang. Sangatlah penting
bahwa mutu dari beton pada plat lantai harus paling tidak sama dengan yang
diperhitungkan oleh perencana.

Kualitas dari penahan lateral beton
Masalah yang harus diperhatikan bahwa penahan seismikdan penahan lateral
harus dilaksanakan seperti ditunjukkan dalam Gambar Rencana, karena
konstruksi ini adalah vital terhadap struktur bila terjadi suatu gempa bumi. Beton
yang digunakan pada penahan ini harus kualitas balk.
Jarak antara karet dan beton harus dipenuhi dengan persyaratan dalam Gambar
seperti terlihat pada Gambar 5.12.

Gambar 5.12 - Ruang Bebas pada Penahan Lateral dan Seismik

Penundaan pengecoran sebagian beton sampai selesainya pemasangan
rangka
Disarankan bahwa tembok belakang dari kepala jembatan atau pilar tidak
diselesaikan pada ketinggian yang penuh sampai lantai jembatan dicor dan rangka
dipasang di atas landasan yang permanen.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 16

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Penulangan yang menonjol dari bagian bawah dinding harus tidak dibengkokkan
karena dapat menyebabkan bengkokan tajam yang mungkin menjadi titik lemah
yang potensial.
Perhatikan bahwa tinggi tembok belakang telah dirancang berdasarkan ketebalan
aspal beton 50 mm. Perubahan pada ketebalan lapisan aspal harus disesuaikan
dengan perubahan ketinggian tembok belakang abutment (kepala jembatan).

Kerusakan pada komponen disebabkan penyimpanan dan penanganan yang
buruk
Hilang atau rusaknya komponen-komponen harus diganti dengan cadangan yang
biasanya memerlukan waktu lama. Pada beberapa kasus, pekerjaan di lapangan
akan terhenti. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan yang seksama pada semua
komponen sewaktu diterima di lapangan untuk menentukan apakah ada
komponen-komponen yang hilang atau rusak.
Komponen-komponen jembatan harus diperlakukan, diangkat dan disimpan
sedemikian sehingga menghindari kerusakan dan kelebihan tegangan atau
kerusakan pada treatment perlindungannya (cat galvanicanya).
Sebelumnya komponen-komponen baja tiba di lapangan, suatu tempat yang
berukuran sesuai (untuk menampung semua baja) harus dipersiapkan untuk
menerima semua komponen-komponen bila barang datang di lapangan. Tempat
tersebut kalau mungkin harus dekat dengan jembatan di lapangan untuk
menghilangkan penanganan rangkap (double handed).
Semua komponen ditumpuk diletakkan diatas ganjal kayu, diatas tanah yang rata
dan bebas dari tanah. Komponen bagian H disimpan dengan badan berdiri. Hal ini
dapat dilihat pada Petunjuk Pemasangan untuk cara-cara penumpukan
komponen. Komponen-komponen yang lebih kecil, seperti pelat buhul dan pelat-
pelat penyambung, harus ditumpuk dalam ikatan rapi di atas permukaan tanah
diatas ganjal kayu dan tidak lepas-lepas (berserakan) diatas tanah.
Pipa pegangan tangan harus (hand rail) harus ditumpuk diatas ganjal kayu dan
ditopang dengan suatu cara agar pipa tidak akan bengkok.
Baut-baut, landasan dan penutup lantai (deck seats) harus disimpan dalam ruang
yang berpenutup, pada bangunan yang kecil bila memungkinkan. Apabila baut,
mur dan cincin periutup dibiarkan lepas diatas tanah, barang tersebut akan
mmudah hilang. Agar dicatat semua baut, mur dan cincin penutup harus dijaga
tetap kering sampai pada saat pemasangan baut. Hal ini untuk menjaga agar
gemuk pelumas tidak tercuci habis.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 17

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Semua alat-alat yang dipinjam selama jangka waktu proyek, harus disimpan pada
tempat yang telah disediakan.
Komponen-komponen sering disimpan diluar lokasi dan dibawa dengan jumlah
yang lebih kecil ke lapangan selama pemasangan. Persyaratan untuk
penyimpanan sementara yang berdekatan dengan letak jembatan di lapangan
adalah identik dengan tempat penyimpanan utama. Kontraktor tidak diijinkan untuk
menimbun komponen-komponen yang dapat mengakibatkan kerusakan pada
komponen-komponen atau bungkus-bungkus pelindung.

Penggunaan perancah dengan kantilever bagian demi bagian adalah metoda
yang lebih cocok.
Kontraktor sering memilih metoda perancah meskipun metode pemasangan
kantilever lebih baik, lebih mudah dan lebih cepat.
Penggunaan perancah diatas lembah sungai yang dalam atau menyeberangi
sungai yang banyak lalu lintas air tidak dapat dibenarkan.
Apabila metode kantilever digunakan, maka Kontraktor akan memerlukan
komponen-komponen yang cukup untuk bentang angker yang sesuai. Kalau tidak
tersedia bentang angker yang terpisah, bentang permanen dapat dijadikan
bentang angker sementara meskipun komponen ini diambil dari lokasi lain. Perlu
dicatat bahwa baut pada suatu bentangan angker tidak memakai cincin penunjuk
beban dan cukup hanya dikencangkan dengan tangan.
Apabila suatu unit kran kecil dapat diperoleh guna pemasangan kantilever, proses
dapat dapat dipercepat. Beberapa unit kereta peluncur tempel pengangkat telah
dipakai dan merupakan pemecahan yang bagus, karena kran-kran kecil sering
sukar diperoleh.

Pendongkrakan turun pada landasan permanen
Rangka Australia mempunyai suatu sistem landasan yang berbeda daripada
jembatan rangka Belanda, rangka baja Australia tidak boleh didongkrak turun
diatas landasan permanen sebelum lantai beton telah dicor. Tidak demikian
halnya untuk jembatan rangka Belanda.

5.2.2 JEMBATAN RANGKA PERMANEN KHUSUS

a. Umum
Bentang-bentang jembatan rangka permanen Khusus tersedia dalam dua kelas A dan B
yang dibedakan karena konfigurasi lebar jalan raya dan kerb/pejalan kaki. Bentang-

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 18

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

bentang pada kedua kelas tersebut mempunyai lantai beton yang terdiri dari lembaran
baja propil dengan suatu permukaan lapis aus beton. Ditunjukkan dalam Gambar 7.13
dan 7.14 untuk potongan melintang Kelas A dan B berturut-turut.

Gambar 5.13 - Jembatan Rangka Permanen (Tetap) Khusus Kelas A

Gambar 5.14 - Jembatan Rangka Permanen Khusus Kelas B

Jembatan ini dilengkapi dengan landasan, peredam getaran lateral dan seismik, pagar
sandaran, lantai baja propil dan siku penguat lantai jembatan, alat dan peralatan yang
digunakan pada pemasangan komponen-komponen, dan Panduan Pemasangan.
Hanya bentang 80 m dan 100 m pada setiap kelas yang tersedia dewasa ini.
Bentang-bentang untuk jembatan rangka khusus permanen yang tersedia dapat
bervariasi dengan kelipatan 6,67 m.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 19

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Komponen-komponen ditandai dengan jelas untuk memungkinkan perakitan sesuai

urutan yang terlihat pada Gambar Rencana. Komponen dengan tanda yang sama dapat

saling ditukar. Tidak ada komponen dengan berat lebih dari 3 ton dan perakitan

dilakukan dengan peralatan manual yang disediakan dengan bentang jembatan.

Sistem ini sudah dirancang untuk memungkinkan pemasangan bentang-bentang

dengan konstruksi kantilever setengah bentang ditempat. Ini termasuk metoda sebagian

demi sebagian konstruksi kantilever dari dua buah setengah bentang dari tebing sungai

yang berlawanan atau dari dua pilar yang berdekatan dalam suatu jembatan bentang

banyak, dan penyambungan ditengah dari kedua setengah bentang. Masing-masing

setengah bentang memerlukan bentang angker pada kelas yang sama yang dibangun

dari komponen-komponen seri L. Baja penghubung yang mampu menyambung

bentang-bentang jembatan rangka seri L, disediakan dalam sistem MI. Landasan

pemasangan yang dapat disesuaikan (adjustable erection bearing) untuk

memungkinkan alinemen dari setengah bentang untuk penyambungan juga disediakan.

Meskipun hanya metoda-metoda diatas yang diuraikan pada Buku Panduan

pemasangan, metoda-metoda lain tentang pemasangan seperti pemasangan pada

perancah dapat dikerjakan. Prinsip yang berlaku untuk metoda yang diuraikan pada

Buku Panduan Pemasangan dapat diterapkan pada kasus-kasus ini.

Konstruksi lantai dan perakitan landasan-landasan dan peredam lateral seismik dan

bantalan penahan juga diuraikan pada Buku Panduan Pemasangan.

Sistem jembatan direncanakan mempunyai jembatan berkarakteristik pemeliharaan

rendah. Untuk maksud ini semua pekerjaan baja dan baut-baut digalvanisasi dan

landasannya elastomerik. Namun demikian prosedur pemeliharaan dasar diuraikan

pada Buku Panduan Pemasangan.

Panduan Pemasangan meliputi lokasi nama dan jumlah komponen untuk semua

bentang A 80 (A 100, B 80 dan B 100), bersama-sama dengan uraian komponen-

komponennya, pemasangan baut, perakitan dan metoda pemasangan setengah

kantilever.

Bilamana bentang jembatan rangka standar digunakan sebagai 'jalan pendekat' pada

bentang jembatan rangka khusus, petunjuk khusus akan diberikan termasuk cara

pemasangannya.

Kriteria Desain

Pembebanan : Peraturan muatan untuk Jembatan Jalan Raya No.12/1970

(diperbaiki 1988) Direktorat Jenderal Bina Marga, Indonesia.

Lalu-Lintas: Kelas A dan B dua jalur dibebani penuh ditambah satu jalur

dibebani sebagian, Pembebanan D-garis (tambah kejut) atau

Pembebanan T-titik (100 %)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 20

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Trotoar : Kelas C satu jalur dibebani penuh, Pembebanan D (tambah kejut)
atau T (100%)
Sandaran: Kelas A 500 kg/m2 satu meter lebar tiap sisi
Angin: Kelas B dan C - nol
Gempa: 100 Kg/m
Arus: 100 kg/m2
Temperatur: Region 1 sesuai Spesifikasi 12/1988 (C = 0,3)
Bangunan atas dianggap bebas di atas muka banjir
± 15°C

Spesifikasi Desain
Syarat-syarat perencanaan jembatan 1976 NAASRA
Syarat-syarat standar untuk Pembangunan Jalan jembatan 1983 AASHTO

Kepala jembatan, pilar
Kepala jembatan dan pilar akan didesain terhadap gaya-gaya yang muncul dari
bentang-bentang baja dan pengaruh lain, dan dibangun sesuai dengan dimensi-dimensi
landasan dan bentang. Gaya-gaya yang relevan dan detail untuk berbagai bentang
diberikan dalam bentuk gambar dalam Panduan Pemasangan.

b. Komponen-komponen
Keempat macam bentuk Rangka Khusus dirakit dari Komponen-komponen yang diberi
nama sebagai komponen seri H. Komponen ini telah didesain khusus untuk gaya-gaya
yang cukup besar yang timbul dalam bentang-bentang panjang ini.

c. Metoda-metoda Pemasangan
i. Umum
Bagian ini mencakup berbagai metoda pemasangan untuk jembatan rangka
permanen khusus. Metoda-metoda ini diuraikan berdasarkan dari Buku Panduan
Pemasangan.
Harus diketahui bahwa tidak mungkin menggunakan pemasangan konstruksi
kantilever sebagian demi sebagian dari salah satu ujung saja pada jembatan rangka
tipe ini. Ini disebabkan karena bagian-bagian yang lebih berat yang digunakan pada
komponen-komponen seri H, dan akan berakibat kelebihan tegangan yang
disebabkan ujung jembatan rangka akan menerima beban mati jembatan rangka.
Pemilihan metoda pemasangan harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 21

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

ii. Perancah
Lihat Bab 10.2.1 c.ii tentang detail umum pemasangan jembatan rangka.
Diharapkan ini akan menjadi metoda pemasangan yang digunakan untuk semua
bentang tunggal dan kebanyakan struktur dua bentang. Perbedaan utama diantara
jembatan rangka permanen dan jembatan Rangka Permanen Khusus ketika
menggunakan perancah adalah beban pada rangka pendukung perancah (falsework
trestles) lebih tinggi. Beban mati tipikal berkisar 27 ton, untuk satu pendukung
perancah (untuk bentang A 100) dan Konsultan Supervisi harus -menjamin bahwa
perancah dirancang dan dibangun untuk menyangga beban-beban dengan ukuran
ini.

iii. Kantilever Sebagian Demi Sebagian
Bentang-bentang Jembatan Rangka permanen khusus serlng digunakan sebagai
bagian dari pembangunan jembatan bentang menerus menyeberangi sungai yang
lebar dan dipadati lalu-lintas, dimana penggunaan perancah untuk membangun
bentang utama tak mungkin.
Jembatan rangka khusus ini telah dirancang untuk dipasang dengan menggunakan
metoda kantilever sebagian demi sebagian seperti ditunjukKan pada Gambar 7.15.
Seperti diterangkan diatas, metoda pemasangannya berbeda dengan metode yang
digunakan untuk jembatan rangka permanen dengan bentang lebih pendek. Beban
mati dari komponen-komponen seri H yang lebih berat tidak memungkinkan
pelaksanaan kantilever hanya dari satu ujung. Karenanya rangka dipasang dengan
metoda kantilever setengah bentang, yaitu dengan memajukan pada saat yang
sama kedua akhir ujung bentang dan bertemu ditengah-tengah bentang. Masing-
masing setengah bentang dihubungkan kembali menjadi rangka seri L, apakah
sebagai bentang angker atau sebagai bagian dari bangunan permanen. Perlu
dicatat bahwa bentang seri M atau S tidak dapat digunakan sebagai bentang angker
untuk jembatan jenis ini karena komponen-komponen jembatan tidak cukup berat
untuk menerima tegangan yang terjadi selama pelaksanaan. konsep umum dapat
dilihat pada Gambar 10.16.
Sewaktu kedua bentang berternu ditengah-tengah, ujung akhir dari setengah
bentang didongkrak keatas (dan kesamping bila perlu) untuk memungkinkan
susunan batang tengah dan diagonal disetel untuk dipasang pada sambungan
ditengah bentang.
Bentang kemudian didongkrak turun diatas penyangga sementara, sampai lantai
beton sudah dicor kemudian bentang diletakkan pada landasan-landasan
permanen.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 22

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5.15 - Konstruksi Kantilever Bagian Demi Bagian

Gambar 5.16 - Konstruksi Kantilever Setengah Bentang

iv. Metoda Kombinasi
Suatu kombinasi perancah dan metoda kantilever sebagian demi sebagian yang
dikerjakan dari kedua ujung dapat digunakan.

d. Persoalan-persoalan Umum dengan Pemasangan Rangka Khusus
Persoalan-persoalan umum seperti yang telah diuraikan pada Bab 10.2.1 .d juga dapat
berlaku pada rangka khusus.
Sebagai tambahan ada beberapa hal khusus pada bentang jembatan rangka khusus
karena bentang yang lebih panjang.

 Kebutuhan untuk menyediakan suatu sambungan muai tengah pada
sistem lantai yang berarti bahwa stringer pada sambungan muai dan
gelagar-gelagar melintang dalam (inner cross girder) umumnya tidak
dapat dibalik (reversible).

 Stringer untuk jembatan kelas A harus dipasang setelah sambungan
ditengah bentang jembatan rangka telah diselesaikan, jembatan
diletakkan pada keempat titik landasan dan penghubung bentang angker
dilepas. Stringer untuk jembatan kelas B dapat dipasang sewaktu
pemasangan berlangsung.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 23

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

 Pelat-pelat buhul dalam dan luar pada sambungan-sambungan batang
atas tidak dapat saling ditukar.

 Sebelum memasang landasan-landasan pemasangan khusus erection
bearing harus diperiksa untuk menjamin gerakan bebas dari landasan
diatas bantalan neoprene. Gambar 10.17 menunjuk perincian detail
landasan ini.

 Harus berhati-hati untuk melindungi bantalan neoprene dan permukaan
teflon dan baja anti karat dari kotoran dan goresan karena permukaan
tersebut sangat rapuh dan kerusakan pada permukaan itu
menyebabkan seluruh unit tidak dapat digunakan.

 Semua landasan harus dipasang sehingga demountable arm menunjuk
kearah as jalan.

 Semua landasan pemasangan harus dilengkapi dengan klim
pembawanya .(transport damps), dan harus dipasang pada waktu tidak
digunakan.

 Batas gerakan dari landasan pemasangan adalah ± 50 mm kesamping
dan + 75 mm Kearah memanjang. Kelebihan gerakan melampaui batas
ini akan memerlukan penyetelan kembali landasan.

 Bila bentang angker seri L yang berukuran 35 meter digunakan beban
pengimbang tambahan diperlukan seperti terdapat dalam Gambar
rencana.

Gambar 5.17 - Landasan Pemasangan - Jembatan Rangka Khusus

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 24

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

 Penurunan bentang mencapai ketinggian sampai 1,4 meter dan prosedur
penurunan bertahap diperlukan. Pendongkrakan harus berlangsung
perlahan-lahan dengan pengendalian yang balk pada setiap waktu.

 Sambungan pelaksanaan pengecoran lantai beton dibentuk melintang
pada lantai tepat diatas rusuk lantai baja sekitar 1 ,8 meter dari gelagar
melintang. Sambungan ini harus dipasang acuan dan penggunaan
sambungan pelaksanaan yang tidak memakai acuan tidak
diperkenankan.

 Perhatian khusus harus diberikan pada detail pengisian lantai pada pilar
Karena detail ini sangat berbeda dari yang bisa digunakan pada
jembatan-jembatan rangka permanen. Pengisi lantai dapat dilihat pada
Gambar 5.18.

Gambar 5.18 - Pengisi Lantai

 Jumlah baut pada jembatan seri H jauh lebih besar daripada jembatan
seri-L : 60A:7600; 100A:18800.

 Landasan perlu ditentukan dengan sangat tepat, biasanya ± 1 mm.
 Pendongkrakan dibawah bentang oprit harus dilakukan dengan dongkrak

yang diletakkan dibawah pelat pengkaku jika tidak dapat menyebabkan
kerusakan pada flens dari batang tepi.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 25

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

 Tidak satupun komponen pada panel penutup dari rangka harus
dirapatkan sampai semua komponen berada pada posisinya sebab akan
perlu penyesuaian kecil dengan dongkrak.

 Landasan pemasangan harus dikunci setelah bentang dipasang untuk
penutupan dengan menggunakan pengisi kayu dan pengunci dongkrak.
Penempatan komponen pada panel penutup (tengah bentang) mungkin
mengakibatkan jembatan bergerak pada landasan pemasangan karena
landasan teflon itu mempunyai gesekan yang sangat rendah.

 Jembatan seri-H tidak dirancang untuk permukaan aspal. Ini akan
menambah beban mati (dan juga mengurangi kapasitas beban hidup).
Tambahan lagi, sambungan akan memerlukan pemasangan berbeda.

 Offset lawan lendut yang terdapat di dalam Panduan hanyalah perkiraan,
karena adanya perbedaan pada lawan lendut (misalnya, Kontraktor
mungkin tidak mengencangkan semua baut secara penuh pada bentang,
sehingga lawan lendut berbeda dari yang diberikan). Nilai offset penutup
mungkin akan lebih tepat - lihat detail pada Gambar.

 Penutup pada sambungan lantai pertengahan bentang (lihat Gambar
5.19.) sangat penting dan tidak boleh ditiadakan. Penutup ini tidak
disediakan pada pekerjaan baja dari Australia. ,

Gambar 5.19 - Sambungan Lantai Pertengahan Bentang

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 26

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

 Channel lantai adalah Komponen struktural dan tidak boleh ditiadakan
(lihat Gambar 5.19).

 Baut baja penghubung pada batang tepi atas (tipe 13120) terlalu panjang
dan memerlukan empat (4) baja tambahan untuk menjamin bahwa
beban terdapat pada batang baut dan bukan pada ulirnya.

 Pada jembatan Kelas A bentang 100 m, pada ujung lempeng gusset
(LG4Y) dan seri L mendekati rangka bentang harus tulangan dengan
tambahan lempeng gusset. Tambahan lempeng gusset disediakan untuk
maksud ini, dan tidak harus dipindahkan setelah pemasangan.

5.2.3 RANGKA SEMI PERMANEN

a. Umum
Sistem jembatan rangka terdiri atas komponen baja standar yang dibuat dengan tepat
(presisi), yang dirakit dengan sistem baut untuk membentuk bentang jembatan desain
rangka through type (lantai dibawah) dari 30 sampai 60 meter.
Jembatan tersebut dilengkapi dengan landasan, penahan lateral seismik dan karet
penahan, sandaran, alat-alat dan peralatan yang akan dipergunakan dalam perakitan
komponen-komponen menjadi bentang jembatan, dan dengan Panduan Perakitan.
Bentang yang diuraikan dalam Panduan Perakitan adalah kelas S.P (Semi Permanen).
Bentang ini berjalur tunggal, bentang 30 m, 35 m, 40 m, 50 m, 55 m dan 60m. Ini di
disain pada semua kasus dengan lantai kayu tetapi dapat disediakan untuk lantai beton.
Perhatikan Gambar 10.20 dan 10.21 untuk detail dari potongan melintang.
Komponen-komponen ditandai dengan jelas untuk dapat dirakit dengan urutan seperti
ditunjukkan dalarn gambar. Komponen-komponen yang bertanda sama dapat ditukar-
tukar (interchangeable). Tidak ada komponen yang beratnya melebihi 0.55 ton dan
perakitan dapat dilakukan dengan peralatan tangan (hand tools) yang disediakan
bersamaan dengan material rangka baja.
Sistem ini sudah dirancang untuk dapat dilakukan bertahap dengan sistem kantilever
dari satu tebing, tanpa menggunakan perancah disungai. Metoda ini diuraikan pada
Panduan Pemasangan dan ini memerlukan penggunaan suatu bentang standar sebagai
bentang angker dan baja penghubung (linking steel).
Dua cara pemasangan/konstruksi kantilever yang lain yaitu peluncuran jalur tunggal
(single lane launch - SSL) dan multi span launch (MSL) tersedia dengan sistem
jembatan. Kedua-duanya perlu peralatan peluncuran khusus selain baja penghubung,
dan mengijinkan perakitan pada tebing dan peluncuran menyeberangi sungai. Dalam
hal ini, petunjuk-petunjuk diperlukan dari Konsultan Perencana.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 27

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5.20 – Jembatan Rangka Semi Permanen dengan Lantai Kayu

Gambar 5.21 - Jembatan Rangka Semi Permanen dengan Lantai Beton

Metoda-metoda lain untuk perakitan seperti perakitan dengan semi kantilever atau
perakitan diatas perancah dapat juga dilakukan. Prinsip-prinsip dasar metoda yang
dijelaskan dalam buku Manual Pemasangan akan dapat juga dilakukan dalam kasus-
kasus ini.
Konstruksi dari lantai kayu serta lantai seng gelombang dengan penutup beton
termasuk pemasangannya pada gelagar dijelaskan dan diperinci. Pemasangan

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 28

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

landasan dan penahan lateral serta peredam juga diuraikan dalam Panduan
Pemasangan.
Sistem jembatan ini direncanakan hanya perlu sedikit pemeliharaan. Untuk maksud ini
pekerjaan baja serta baut semuanya digalvanisasi dan landasan adalah elastomerik.
Namun prosedur pemeliharaan mendasar telah diuraikan di dalam Panduan
Pemasangan.
Pada Panduan Pemasangan terdapat Gambar, lokasi dan jumlah komponen serta
material dan komponen-komponennya, pembautan dan perakitan, dan cara
pemasangan kantilever.

Kriteria Desain

Pembebanan: Peraturan Muatan untuk Jembatan Jalan Raya No. 12/1970 (diperbaiki

1988) Direktorat Jenderal Bina Marga, Indonesia.

Lalu-lintas: Satu jalur penuh pembebanan D-70 % (ditambah kejut) atau

pembebanan T-70 %.

Trotoar: Tidak ada

Sandaran: 100 kg/ m2

Angin: 100 kb/m2

Gempa: Daerah 1 seperti Spesifikasi 12/1988 (C = 0,3)

Sungai: Bangunan atas dianggap bebas diatas permukaan banjir

Suhu: ± 15 0C

Spesifikasi Desain
Spesifikasi Perencanaan Jembatan 1976 NAASRA
Spesifikasi Standar Jembatan Jalan Raya 1983 AASHTO

Kepala-kepala jembatan, pilar-pilar
Kepala jembatan, pilar-pilar harus dirancang terhadap gaya-gaya yang timbul dari
bentang baja dan pengaruh gaya-gaya lainnya, dan dibangun dengan landasan yang
sesual dan dimensi-dimensi bentang. Gaya-gaya yang relevan dan rincian-rincian untuk
bermacam bentang dalam bentuk gambar rencana terdapat dalam Panduan
Pemasangan.

b. Komponen-komponen
Komponen jembatan rangka untuk semua bentang kelas SP berdasarkan atas
komponen-komponen Seri M (lihat Bab 7.2.1.b).

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 29

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

c. Cara-cara Perakitan
i. Umum
Bagian ini menjelaskan metoda pemasangan yang dimungkinkan untuk jembatan
rangka semi permanen. Metoda-metoda ini semua dasarnya diuraikan dalam
Panduan Pemasangan.
Pemilihan metoda pemasangan harus dipertimbangkan dengan seksama.

ii. Perancah
Petunjuk pada Bab 7.2.1 .c.ii untuk detail umum mengenai pemasangan perancah
jembatan rangka.

iii. Kantilever Sebagian Demi Sebagian
Petunjuk pada Bab 7.2.1 c.iii untuk detail umum mengenai pemasangan kantilever
jembatan rangka dengan metoda sebagian demi sebagian.

iv. Peluncuran
Petunjuk pada Bab 5.2.1.c.iv untuk detail umum mengenai pemasangan jembatan
rangka dengan cara peluncuran bentang tunggal.

v. Metoda Kombinasi
Ada beberapa kombinasi-kombinasi mengenai metoda pemasangan yang mungkin,
tetapi jarang digunakan.
Adalah mungkin untuk erection sebagian bentang di atas perancah dan kemudian
kantilever sebagian sisa bentangnya dan menggunakan beban pengimbang sesuai
keperluan untuK mempertahankan kestabilan. Ada juga kemungkinan untuk
meluncurkan sebagian bentang dan sebagian lain dibangun menggunakan
konstruksi kantilever sebagian demi sebagian.

d. Pilihan
Jembatan rangka semi permanen dapat dibangun dengan lantai kayu maupun lantai
beton bertulang.

i. Lantai Kayu
Lantai kayu terdiri dari papan kayu dipasang secara tranversal diantara balok-balok
memanjang dengan lajur jalan dan kerb Plan kayu.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 30

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Lantai kayu dipasang setelah bentang sudah selesai dan didudukkan pada bantalan
kayu sementara.
Kayu untuk lantai tidak disediakan bersamaan dengan rangka baja tetapi diadakan
oleh Kontraktor. Baut-baut untuk sambungan lantai kayu telah disediakan. Stringer
baja dan gelagar melintang yang disediakan telah dilobangi, untuk pemasangan
baut lantai kayu.
Papan-papan kayu harus dikeringkan dan harus dicampur dengan kreosot atau
pengawet kayu lainnya yang cocok.

ii. Lantai Beton
Alternatif pemakaian lantai untuk jembatan rangka semi permanen dapat dilakukan
dengan menggunakan lantai seng gelombang dengan diletakkan secara transversal
diantara balok-balok memanjang, dengan pelat beton bertulang penutup untuk
menyebarkan beban-beban roda pada lantai.
Komponen-komponen untuk alternatif lantai seperti tersebut diatas (seng
gelombang, baut-baut pengikat lantai, pelat-pelat kerb, siku-siku pelindung lantai
dan pipa-pipa pembuang) disediakan untuk Kontraktor.
Gambar rencana yang menunjukkan secara rinci penulangan lantai beton juga
disediakan.
Sambungan pengecoran pada lantai beton harus dibuat cetakannya melintang pada
lantai tepat diatas rusuk lantai baja kira-kira 12 m dari gelagar melintang.
Sambungan harus dibentuk dan penggunaan konstruksi sambungan pengecoran
yang tidak dibentuk tidak diperbolehkan.
Pemasangan lantai baja dan pengecoran lantai beton dilakukan sewaktu bentang
didudukkan diatas bantalan kayu sementara sebelum landasan-landasan permanen
dipasang.

e. Persoalan-persoalan Umum
Persoalan-persoalan umum seperti diuraikan pada Bab 7.2.1 e juga dapat digunakan
untuk seri-seri jembatan ini.

5.3 JEMBATAN GELAGAR AUSTRALIA

Jembatan gelagar Australia terdiri dari komponen-komponen baja standar yang dibuat
dengan tepat dirakit dengan pembautan bersama yang membentuk bentang jembatan
dari jembatan gelagar pelat baja komposit dari 20 sampai 30 meter.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 31

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

5.3.1 UMUM

Gelagar disediakan dalam tiga kelas A, B dan C. untuk membedakan konfigurasi lebar
jalan/kerb/trotoar. Jembatan ini menggunakan lantai beton bertulang komposit. Lihat
Gambar 7.22, 7.23 dan 7.24 untuk potongan melintang Kelas A, B dan C.
Jembatan ini disediakan lengkap dengan landasan-landasan, penahan lateral seismik,
bantalan penahan, pagar dan besi siku penguat lantai dan alat dan peralatan yang
digunakan untuk pemasangan komponen-komponen menjadi bentang-bentang
jembatan, dan Panduan Pemasangan.
Komponen-komponen ditandai dengan jelas untuk dapat dirakit dengan urutan yang
ditunjukkan dalam Gambar rencana. Komponen-komponen dengan tanda yang sama
dapat saling ditukar. Tidak ada komponen yang beratnya melebihi 2,4 ton dan perakitan
dilakukan dengan peralatan tangan. Semua sambungan-sambungan di lapangan
dilakukan dengan sistem baut.

Gambar 5.22 – Jembatan Gelagar Permanen Kelas A

Gambar 5.23 – Jembatan Gelagar Permanen Kelas B V - 32

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Gambar 5.24 – Jembatan Gelagar Permanen Kelas C

Sistem jembatan gelagar Australia ini direncanakan dengan biaya pemeliharaan rendah.
Untuk tujuan ini semus pekerjaan baja dan baut-baut digalvanisasi dan landasan-
landasan adalah elastomerik. Namun demikian prosedur dasar pemeliharaan diuraikan
pada Panduan Pemasangan.
Panduan Pemasangan mencakup pula gambar, lokasi dan jumlah komponen-komponen
bersama dengan diskripsi bahan dan komponen-komponen, pembautan dan perakitan
dan metoda pemasangan.
Komponen-komponen standar yang tersedia disesuaikan untuk cakupan yang luas dan
bermacam bentuk jembatan dan kriteria perencanaan seperti untuk kelas A,B atau C
dan spesifikasi pembebanan alternatif.

Kriteria Desain

Pembebanan: Peraturan Muatan untuk Jembatan Jalan Raya No. 12/1970 (diperbaiki

1988) Direktorat Jenderal Bina Marga, Indonesia.

Lalu-lintas: Kelas A dan kelas B - dua jalur dibebani penuh ditambah satu jalur

dibebani sebagian, Pembebanan D-garis (tambah kejut) atau

Pembebanan T-titik (100%)

Kelas C satu jalur dibebani penuh, Pembebanan D (tambah kejut), atau

T (100 %)

Trotoar: Kelas A 500 kg/m2 1 (satu) meter lebar untuk tiap sisi.

Kelas B dan kelas C - nol

Pagar: 100 kg/m

Angin: 100 kg/m2

Gempa: Region 1 sesuai Spesifikasi 12/1988 (C = 0,3)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 33

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Sungai: Bangunan atas dianggap bebas diatas muka banjir
Suhu: ± 15 0C

Spesifikasi Desain
Spesifikasi Perencanaan Jembatan 1976 - NAASRA
Spesifikasi Standar Jembatan Jalan Raya 1983 AASHTO

5.3.2 KOMPONEN-KOMPONEN

Sistem pemberian nomor yang digunakan untuk jembatan gelagar Australia sama
dengan yang digunakan untuk jembatan rangka. Tabel 10.3 memberikan daftar kode
dan artinya. Perlu diketahui bahwa tidak ada huruf penunjuk kelas jembatan.

Tabel 5.3 - Sistem Pemberian Nama untuk Komponen-Komponen Jembatan

Gelagar

Kode Uraian

G Segmen-segmen Gelagar
F Kerangka Penguat
GS Pelat Penyambung
GR Pegangan Tangan
GRB Landasan
GHDB Baut Penahan
SB Penahan Lateral
GDA Siku Penguat Lantai ,
GFP Pelat Trotoar

SP Pipa Pembuang

Panduan pemasangan berisi suatu daftar dari tiap komponen yang diperlukan untuk
perakitan dan pemasangan bentang gelagar. Segmen-segmen gelagar (G) yang
digunakan untuk bentang 25, 30 dan 35 meter mempunyai akhiran berturut-turut 1,2
dan 3. Komponen-komponen lain tidak mudah untuk dibedakan dan harus dibuat
rujukan (referensi) terhadap daftar alat-alat.
Alat-alat pada kotak peralatan dan dongkrak 50 dan 100 ton dipinjamkan kepada
Kontraktor untuk pemasangan tiap-tiap jembatan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 34

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

5.3.3 METODA-METODA PEMASANGAN

a. Umum
Bagian ini mencakup metoda pemasangan untuk jembatan dengan gelagar permanen.
Metoda-metoda ini diuraikan dalam Panduan Pemasangan.
Peralatan Pemasangan yang Diperlukan
Berikut peralatan pemasangan yang diperlukan dengan pekerjaan baja utama :

1. Panduan Pemasangan
2. Gambar Rencana Konstruksi
3. Dongkrak hidraulis dengan kapasitas 50 atau 100 ton (100 ton hanya

diperlukan untuk bentang-bentang A 25, A 30 dan B 30)
4. Kit peralatan (untuk merakit pekerjaan baja dan peralatan

penyambung/link set).
Sebagai tambahan pada peralatan-peralatan diatas Kontraktor perlu menyediakan dan
memasang item-item berikut:

a. Bahan-bahan untuk perancah
b. Paling sedikit 2 blok rantai (chain block) untuk menaikkan/ mengangkat

komponen-komponen pada tempatnya
c. Metoda untuk menarik komponen baja dari tebing keatas perancah
d. Pelat alat dongkrak dan ganjal untuk digunakan dalam penurunan

bentang
e. Landasan kayu sementara

b. Perancah
Metoda ini adalah metoda yang paling sering digunakan. Ini mungkin dapat digunakan
untuk struktur bentang tunggal atau ganda. Penyangga-penyangga sementara
digunakan, sementara bangunan atas sedang dirakit. Penyangga ditempatkan pada
tempat-tempat untuk menyangga tiap segmen gelagar.
Setelah pemasangan selesai dan sebelum lantai beton dicor perancah harus sudah
dibongkar. Ini memungkinkan bangunan atas supaya melendut seperti yabg
direncanakan jika lantai dicor. Acuan untuk lantai beton tidak perlu didukung oleh
perancah.
Di banyak lokasi, jembatan yang sudah ada dapat digunakan sebagai dasar untuk
pendukung perancah sehingga dapat mengurangi biaya pemasangan.
Salah satu kelemahannya adalah bahwa perancah jembatan dibangun menyeberangi
sungai, sehingga menimbulkan gangguan terhadap lalu-lintas sungai. Sebagai
tambahan ada kemungkinan perancah mengalami penurunan Karena beban dari
gelagar jembatan bila tidak disokong dengan balk. Sebuah pilar perancah untuk

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 35

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

bentang jembatan gelagar 30 meter kelas A, harus mendukung beban mati 9 ton
bilamana tiang perancah jembatan dipasang dekat ujung akhir tiap segmen gelagar.
Pemasangan perancah menyeberangi sungai sebelum atau selama musim hujan harus
dipertimbangkan dengan balk karena aliran sungai dapat menghancurkan perancah dan
bagian-bagian bentang jembatan gelagar yang sebagian telah selesai.
Komponen-komponen sering ditarik sepanjang tanah pada perancah dan pengawas
harus menjamin bahwa operasi ini dilaksanakan dengan suatu cara sehingga tidak
menyebabkan kerusakan pada lapisan penutup (galvanized) dari elemen-elemen
gelegar.
Praktek pemasangan gelagar dan penyokong pada penyangga sementara diatas tingkat
perletakan (sebelum pelaksanaan kepala jembatan) bukan pertimbangan yang baik.
Adanya gelagar membuat sangat sulit untuk memasang dengan benar perletakan plinth
dari kepala jembatan dan aspek pengamanan untuk penyangga gelagar untuk
pertimbangan jangka waktu tertentu memerlukan pertimbangan yang benar.

c. Pengangkatan
Kontraktor-kontraktor yang mudah memperoleh alat kran dapat merakit segmen-segmen
gelagar menjadi suatu gelagar yang komplit dan dapat mengangkat gelagar langsung
pada posisinya. Berat gelagar kelas A dengan panjang 20, 25 dan 30 meter berturut-turut
adalah 3,3 ton, 5,3 ton dan 7,9 ton.
Gelagar hanya akan diangkat pada titik pengangkatan seperti diperlihatkan dalam
Panduan Pemasangan. Konsultan Supervisi harus menjamin bahwa hanya peralatan
pengangkatan yang cocok (shackles, pengikat dan lain-lain) digunakan.
Gelagar yang dipasang pertama harus disangga dibawah flens/atas untuk menghindari
penggulingan sampai gelegar Kedua ditempatkan dan kerangka penguat (bracing frame)
dipasang. Gelegar berikutnya dinaikkan pada posisinya dan kerangka penguat dipasang.

d. Peluncuran

Kalau gelegar dipasang dengan metode peluncuran, dua gelagar dirakit pada satu tebing

dan diluncurkan diatas penyeberangan sebagai suatu pasangan terikat tanpa perlu

perancah dalam penyeberangan. Pasangan yang kedua dari gelagar dapat digunakan

sebagai suatu angker (pemberat) sewaktu peluncuran.

Metode pemasangan ini memerlukan penggunaan roller dan pelat penyambung yang

harus difabrikasi dan disediakan oleh Kontraktor. Kontraktor harus mempersiapkan dan

menyerahkan gambar detail komponen-komponen dan metode yang diusulkan untuk

dipakai. .

Metode ini tidak biasa dipakai.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 36

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

5.3.4 PERSOALAN-PERSOALAN UMUM

Persoalan berikut perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan jembatan gelagar baja.
Sesuai Bab 5.2.1.e.

Pengencangan baut
Adalah benar-benar penting bahwa semua pengencangan baut diselesaikan sebelum
lantai-lantai beton dicor. Kesalahan mengerjakan hal ini akan mengakibatkan kehilangan
lawan lendut (camber) struktur. Ijin untuk pengecoran lantai tidak akan diberikan sampai
sertifikat pengencangan baut diberikan.
Kerenggangan yang terlihat Ring Penunjuk Beban harus diantara 0,15 mm dan 0,25 mm.
Apabila baut dikencangkan hingga Kerenggangan kurang dari 0,15 mm ada kemungkinan
bahwa baut akan rusak.
Sewaktu proses pengencangan baut berlangsung kepala tiap baut harus ditandai untuk
menunjukkan bahwa la telah dikencangkan dengan benar.
Baut yang telah dikencangkan tidak boleh digunakan kembali, dan baut, mur dan ring
penunjuk beban dibuang dan diganti dari cadangan. Praktek untuk menggunakan kembali
baut-baut yang telah dipakai harus dilarang.
Pengencangan dengan kunci Inggeris tidak boleh dilakukan untuk mengencangkan baut
tipe geser dalam seri jembatan ini karena tidak ada hubungan antara suatu puntiran dan
kerenggangan seperti ditunjukkan pada Ring Penunjuk Beban.

Penentuan as perletakan
Jarak datar memanjang perletakan as ke as dari kepala jembatan ke kepala jembatan
atau kepala jembatan ke pilar harus diperiksa terhadap Gambar rencana.

Konstruksi lantai perletakan (bearing plinth) pada pilar dan kepala jembatan
Ketinggian bearing plinth tidak boleh kurang dari yang ditunjukkan dalam gambar rencana
detail perletakan dan bantalan penahan seismik karena jika tidak, mungkin akan
mendapatkan kesulitan sewaktu penyetelan dongkrak hidraulik di bawah gelagar.

Kualitas beton pada pelat lantai
Jembatan gelagar Australia telah dirancang menggunakan lantai beton bertulang
komposit. Pelat lantai dihubungkan dengan gelagar baja melalui paku-paku geser (shear
stud) yang dilas pada gelagar. Sangatlah penting bahwa kualitas beton di plat lantai harus
paling sedikit sama balk dengan asumsi yang dibuat oleh perencana.
Petunjuk secara rinci untuk pekerjaan ini diberikan pada Bab mengenai produksi beton
dan konstruksi.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 37

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Kualitas yang rendah dari beton penahan lateral
Adalah penting bahwa kedua penahan/peredam lateral dan seismik dibuat seperti
diterangkan pada Gambar rencana Karena landasan-landasan ini penting terhadap
struktur keseluruhan bila muncul suatu gempa. Beton yang digunakan harus kualitas
yang baik.
Jarak di antara permukaan karet dan beton harus menurut persyaratan Gambar.

Penundaan pengecoran beton sampai pemasangan gelagar diselesaikan
Dianjurkan bahwa dinding belakang dari kepala jembatan atau pilar tidak diselesaikan
pada ketinggian penuh sampai lantai jembatan telah dicor dan penyetelan gelagar diatas
landasan permanennya selesai.
Penulangan yang menonjol dari bagian bawah tembok tidak usah dibengkokkan
sedemikian sehingga menyebabkan kekusutan yang menjadi titik lemah yang potensial.
Perhatikan bahwa ketinggian dinding belakang telah dirancang berdasarkan ketebalan
lapisan beton aspal setebal 50 mm. Adanya variasi dari ketebalan lapisan ini harus
disesuaikan agar sebanding dengan perubahan ketinggian tembok kepala jembatan
(abutment).
Penyebab kerusakan komponen-komponen dari penyimpanan dan penanganan yang
kurang baik
Hilangnya atau rusaknya komponen-komponen biasanya harus diganti dengan komponen
cadangan yang memakan waktu lama. Dalam banyak kasus, pekerjaan di lapangan akan
terhenti. Karenanya pengawasan yang baik diperlukan terhadap semua komponen-
komponen ketika diterima di lapangan untuk menentukan apakah ada kehilangan atau
kerusakan komponen- komponen.
Komponen-komponen harus diperlakukan, diangkat dan disimpan sedemikian sehingga
menghindari kerusakan, dan kelebihan tegangan atau kerusakan pada perawatan
protektif.
Sebelum kornponen-komponen baja tiba di lapangan, suatu tempat yang cocok
ukurannya (untuk menampung semua baja) harus disiapkan untuk menerima semua
komponen-komponen pada waktu datang di lapangan. Tempat harus sedekat mungkin
dengan lokasi jembatan untuk menghindari penanganan rangkap dari bahan (double
handling) yang tidak tak perlu.
Semua komponen-komponen harus ditumpuk di lapangan, pada ganjal kayu, rata dan
bebas diatas tanah. Komponen H (H section) harus disimpan dengan badan vertikal.
Petunjuk mengenai detail penumpukan terdapat pada Panduan Pemasangan.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 38

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Komponen-komponen yang lebih kecil, seperti pelat-pelat buhul dan pelat penyambung
harus ditumpuk dengan rapi diatas permukaan tanah diatas suatu ganjal dan tidak
terlepas-lepas.
Pipa pegangan tangan (hand rail) harus ditumpuk diatas ganjal kayu dan diganjal dengan
suatu cara sehingga pipa tidak akan menjadi bengkok. Baut-baut, perletakan dan deck
seals harus ditumpuk dalam ruang berpenutup, dalam bangunan bila mungkin.
Bila baut-baut, mur, ring-ring dibiarkan di atas tanah akan mudah hilang. Perhatikan
bahwa semua baut-baut, mur dan ring-ring dipertahankan kering sampai saat
pemasangan baut-baut. Ini dilakukan untuk mencegah agar lilin pelumas tidak tercuci.
Semua peralatan yang disediakan sebagai pinjaman selama proyek harus disimpan
dalam suatu tempat yang aman pada tempat yang telah disediakan.
Komponen-komponen sering disimpan di luar lapangan dan dibawa dalam jumlah sedikit-
sedikit kelapangan selama pemasangan. Persyaratan-persyaratan untuk penyimpanan
sementara yang berdekatan dengan jembatan di lapangan juga harus sesuai dengan
yang digunakan untuk penyimpanan utama. Kontraktor tidak diperkenankan untuk
menumpuk dengan suatu cara sehingga menyebabkan kerusakan terhadap komponen-
komponen atau cat galvanisednya.

5.4 JEMBATAN RANGKA BELANDA (HOLLANDIA KLOOS)

Sistem jembatan rangka Belanda (Hollandia Kloos) terdiri dari komponen-komponen
baja standar dibuat dengan tepat (presisi) yang dirakit dengan baut sehingga
membentuk bentang jembatan yang direncanakan sebagai rangka through type (lantai
dibawah) dari panjang 40 sampai 105 meter.
Bentang-bentang permanen disediakan dalam 3 kelas A, B can C yang dibedakan
dalam konfigurasi lebar jalan dan kerb/trotoar. Bentang pada semua kelas mempunyai
lantai beton bertulang komposit. Petunjuk pada Gambar 7.25 mengenai detail-detail
tipikal dari penampang melintang.

5.4.1 UMUM

Jembatan ini disediakan lengkap dengan perletakan, pagar-pagar (railing), siku
penguat lantai dan alat-alat dan peralatan yang dipergunakan dalam perakitan
komponen-komponen menjadi bentang jembatan.
Komponen-komponen ditandai dengan jelas untuk memungkinkan perakitan menurut
urutan yang ditunjukkan dalam Gambar rencana. Komponen-komponen yang sama
tandanya dapat dipertukarkan. Tidak ada Komponen yang beratnya melebihi 1,8 ton

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 39

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

untuk jembatan dengan bentang sampai dengan panjang 60 meter. Perakitan
dilakukan dengan peralatan tangan (hand rails) yang tersedia bersamaan dengan
komponen jembatan lainnya.

Gambar 5.25 - Jembatan Rangka Belanda (Hollandia Kloss)

Sistem ini telah dirancang untuk memungkinkan perakitan bertahap dengan kantilever
dari satu tebing tanpa memakai perancah di sungai. Metoda pemasangan dijelaskan
dalam Panduan Pemasangan. Diperlukan penggunaan bentang standar sebagai
bentang angker dan pekerjaan baja penghubung (linking steel) yang disediakan dengan
sistem ini.
Metode-metode lain mengenai perakitan dan pemasangan seperti pemasangan diatas
perancah dapat dilaksanakan. Prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan pada semua
kasus ini diuraikan dalam Panduan Pemasangan.
Pembangunan lantai beton dan perakitan perletakan juga dijelaskan dalam Manual
Pemasangan.
Sistem jembatan ini direncanakan dengan karakteristik biaya pemeliharaan rendah.
Untuk maksud itu semua pekerjaan baja dan baut-baut digalvanisasi dan perletakan
adalah elastomerik.

Kriteria Desain
Pembebanan: Peraturan Muatan untuk Jembatan Jalan Raya No 12/1970 (diperbaiki

1988) Direktorat Jenderal Bina Marga, Indonesia.
Lalu-lintas: Kelas A dan B dua jalur dibebani penuh ditambah beban sebagian,

Pembebanan D-garis (tambah kejut) atau Pembebanan T-titik (100 %)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 40

Modul SIB 11 : Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Bab V Teknik Pemasangan
Bangunan Atas Baja

Trotoar: Kelas C satu jalur dibebani penuh, Pembebanan C (tambah kejut) atau
T (100 %)
Pagar: Kelas A dan B. 500 kg/m2 satu meter lebar tiap sisi.
Angin: Kelas C nol.
Gempa: 100 kg/m
Sungai: 100 kg/m2
Suhu: Region 1 sesuai Spesifikasi 12/1988 (C= 0,3)
Region atas dianggap bebas diatas muka banjir
± 15°C

Spesifikasi Desain
Spesifikasi Perencanaan untuk jembatan baja, Konsep 1978 dikeluarkan oleh Bina
Marga.
Peraturan Penjelasan struktural, dari American Welding Society, AWS-D-1.1-83.
Bangunan atas jembatan dianggap sebagai struktur bangunan yang ditumpu bebas dan
direncanakan dengan metode-metode elastis dan lawan lendut yang cukup dengan
maksud untuk mengimbangi 150 % lendutan total beban mati.
Sambungan-sambungan baut direncanakan sebagai sambungan-sambungan tipe gesek
(friction type) tetapi juga dapat diperiksa sebagai sambungan-sambungan tipe landasan
(bearing type). Semua baut-baut yang digunakan pada sambungan-sambungan ini
ditentukan kualitas, jenis 1, kekuatan baut sesuai dengan ASTM designation A 325.

5.4.2 KOMPONEN-KOMPONEN

Sistem pemberian tanada komponen-komponen pada jembatan Belanda berdasarkan
suatu sistem numerik.
Komponen-komponen tidak dapat diidentifikasi dari nomor-nomor bagian komponen
selain dari akhiran untuk menunjukkan kiri atau kanan. Sistem penomoran dibuat
demikian sehingga secara umum mengikuti urutan pemasangan, yakni pemasangan
dimulai dari 1 (satu), Balok Melintang dan dilanjutkan kurang lebih sesuai dengan
urutannya.
Sejumlah komponen-komponen yang diperlukan sebagai bagian dari sistem
penghubung (link set) dan ini ditandai sebagai seri "500", sebagai contoh 509 adalah
Batang Atas.

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB) V - 41


Click to View FlipBook Version