40 Sinetron Sitti Nurbaya: Versi Klasik dan Modern Novel Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli yang tergolong karya sastra bermutu tinggi (high culture) sangat menarik perhatian para pelaku budaya populer. Novel ini pernah difilmkan tahun 1941 dan beberapa kali disinetronkan. Novel Sitti Nurbaya pernah diadaptasi menjadi sinetron oleh sutradara Dedi Setiadi dan penulis skenario Asrul Sani. Sinetron tersebut ditayangkan TVRI Stasiun Pusat Jakarta tanggal 7, 14, 21, dan 28 September 1991, setiap malam Minggu. Tayangan tersebut kemudian diputar ulang keesokannya setiap Minggu siang selama empat episode (Kompas, 5 September 1991). Tayangan ini diputar kembali setiap Minggu malam pukul 24.00 WIB selama Januari 2011 di TVRI Pusat Jakarta. Novel Sitti Nurbaya kemudian kembali disinetronkan oleh sutradara Dedy Armand dengan penulis skenario Encep Masduki produksi MD Intertaiment. Sinetron versi baru itu tetap mengambil judul Sitti Nurbaya ditayangkan Trans TV tanggal 10, 17, 24 dan 31 Desember 2004. Sinetron ini kemudian menjadi komoditi eksport karena ditayangkan di stasiun TV 3 Malaysia pada tanggal 6, 7, 8, dan 9 Oktober 2008. Stasiun TPI juga menayangkan sinetron Sitti Nurbaya garapan sutradara Rizal Putra Sirait dan penulis skenario, Siswanto dengan versi berbeda pada tanggal 28 November 2007. Sinetron yang diproduksi PT Laura Film ini ditayangkan dalam paket acara Sinema Asyik TPI. Berangkat dari sumber naskah yang sama yakni novel Sitti Nurbaya, ternyata setelah disinetronkan, menimbulkan protes dan rasa tidak puas di kalangan pemirsa. TVRI yang merupakan stasiun
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 41 I Nyoman Suaka milik pemerintah ini tetap konsisten mempertahankan kualitas cerita sebagai novel berkualitas tinggi dalam kesusastraan Indonesia modern angkatan Balai Pustaka. Novel karya Marah Rusli terbit pertama kali tahun 1928 sangat terkenal di masyarakat dan sampai tahun 2008 telah mengalami cetak ulang ke-48 kali. Begitu populernya cerita Sitti Nurbaya, sehingga tetap menarik untuk diteliti. Banyak peneliti sastra yang telah menggarap novel ini dari berbagai teori. Namun, kajian Sitti Nurbaya berdasarkan analisis budaya populer dalam media televisi seperti yang diperjuangkan oleh penggagas cultural studies yang berpusat di Universitas Brimmingham Inggris, sepanjang pengetahuan penulis belum ada yang menelitinya. Penelitian Sitti Nurbaya dalam bentuk sinetron ini didasarkan pula atas pertimbangan bahwa, tayangan sinetron di televisi sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Pertimbangan lain adalah sinetron Sitti Nurbaya versi TVRI dan Trans TV ini sempat mengundang polemik di media massa. Sutradara dan produser sinetron ini mendapat pujian dan cacian, bahkan sampai ditantang berkelahi oleh pemirsa. Pemirsa lainnya mengancam agar menghentikan tayangan sinetron Sitti Nurbaya karena dinilai merendahkan martabat warga Minangkabau. Cerita novel Sitti Nurbaya sangat melegenda dan bersifat monumental di hati masyarakat Indonesia yang pluralistik. Kisah klasik ini mengungkapkan persoalan kehidupan yang sangat kompleks menyangkut politik kolonial, adat budaya Minangkabau, kearifan lokal, dan perjuangan feminisme yang sangat relevan dibahas dalam konteks kekinian. Stokes (2007:7) mengatakan, teks-teks media adalah bagian dari dunia kita, merupakan fenomena sosial dan kerapkali menjadi Gusti Randa sebagai Samsulbahri (Dok. TVRI)
Transformasi Budaya 42 I Nyoman Suaka perdebatan tentang masyarakat. Teks-teks media tidak saja dalam bentuk buku, surat kabar dan majalah, tetapi dalam dunia budaya pop termasuk, film, televisi, videotape, VCD, dan CD. Sesuai dengan topik tulisan ini, maka dalam pembahasan iini akan dipaparkan mengenai sebuah novel yang ditransformasi menjadi sinetron untuk selanjutnya dikaji dari sudut budaya populer. 1. Kisah Klasik Mengkaji dua versi sinetron Sitti Nurbaya (TVRI dan Trans TV) merupakan dokumen sosial dan budaya yang mencerminkan kehidupan sekelompok masyarakat Indonesia. Sebagai corak narasi yang multitafsir, sinetron Sitti Nurbaya mengungkapkan banyak hal tentang budaya dan masyarakat di sekitarnya. Sinetron suatu bangsa mencerminkan mentalitas bangsa itu sendiri, sebab dalam sinetron dapat dilihat tentang narasi-narasi kejujuran, pengkhianatan, anarki, demokrasi, propaganda, kesetiaan, kepalsuan, tragedi, komedi, imajinasi, dan romantisme. Narasi-narasi tersebut dapat disimak dalam dua versi sinetron Sitti Nurbaya. Namun, perbedaannya terletak pada kualitas sinteron itu yang dilatari oleh kepentingan dan ideologi masing-masing media untuk mencapai tujuannya. Dalam tayangan sinetron Sitti Nurbaya Trans TV tergambar betapa dangkal, sederhana, dan bahkan mengorbankan logika cerita. Kehidupan yang dilukiskan tanpa kedalaman, serba cepat (super instan), sering tampak konyol dan aneh. Sukses dan kaya bisa diraih dalam sekejap, seperti Datuk Maringgih, Sutan Mahmud dan kakaknya Fatimah seperti permainan tukang sulap. Penyelesaian masalah dilakukan secara serampangan di luar logika dengan intrikintrik yang tidak masuk akal. Hal ini dilakukan oleh tokoh-tokoh Samsulbahri, Ria, Ema, Sitti Nurbaya dengan dukungan temanteman sekelasnya. Di sisi lain, tokoh-tokoh sinetron Trans TV itu, semakin membenarkan asumsi yang sering disampaikan kritikus budaya populer, bahwa sinetron Indonesia kini sedang meniru budaya Amerika dengan Hollywood sebagai “pabrik impian”. Bintangbintang Hollywood kini menjadi kiblat selera dan rujukan gaya
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 43 hidup artis-artis Indonesia, yang menampilkan fantasi kemewahan dan kecantikan yang sulit dijangkau. Sinetron produksi MD Intertainment ini, menjadi semacam “pabrik mimpi” tempat menyalurkan impian akan kehidupan yang serba indah dan serba gemerlapan bagi penonton di Indonesia. Penampilan seperti itu, menurut Ami Prijono, dimaksudkan untuk memenuhi konsumsi mimpi. Tidak saja mimpi penonton tetapi justru mimpi produsernya (Ibrahim, 2007:179) Bintang-bintang bertampang komersial dan kisah yang tidak jauh dari percintaan kelas menengah dilatari rumah dan mobil, menunjukkan kualitas para kreatornya untuk memenuhi tuntutan konsumen budaya pop dan kapitalisme. Konsumen budaya pop umumnya bersifat pasif, selera rendah, terhibur, tidak mau berpikir berat dan cerita mudah dicerna. Sinetron dianggap sebagai komoditi atau barang dagangan. Sinetron sebagai produk budaya untuk dikonsumsi masyarakat justru dianggap berhasil kalau sinetron tersebut sanggup tampil sebagai hiburan komersial bagi penonton. Dengan demikian, sinetron sebagai program televisi dianggap untuk membunuh waktu luang dan untuk menghindar dari kerasnya persoalan kehidupan sehari-hari. Novia Kolopaking sebagai Sitti Nurbaya (Dok. TVRI)
Transformasi Budaya 44 I Nyoman Suaka Sinetron sebagai media komunikasi antara sutradara dan publik belum berfungsi dialogis (dua arah), yaitu terciptanya dialog komunitas sinetron yang saling memberdayakan. Sinetron Sitti Nurbaya versi Trans TV sebagai media artistik dan kritik sosial belum berhasil memerankan fungsinya karena sinetron ini belum mampu mengadaptasi inti cerita novel. Justru sebaliknya terkesan dipaksakan untuk kepuasan selera publik budaya pop dan pemilik modal. Pada sinetron yang sama versi TVRI, justru berhasil memotret realitas kehidupan menjadi dialog kemanusiaan yang humanistik. Sinetron Sitti Nurbaya arahan sutradara Dedi Setiadi ini mampu menjadi media perjuangan mengenai penderitaan, isu-isu etnis, kolonialisme, subkultur dan feminisme yang hidup di tanah air pada jamanya. Perjuangan isi-isu strategis itu masih tampak pada masa kini. Sinetron TVRI ini merupakan bentuk hegemoni halus pemerintah dengan memperjuangkan ideologi leluhur bangsa serta sebagai warisan budaya. Datuk Maringgih diperankan oleh HM Damsyik, sesuai dengan pelukisan dalam novel (Dok. TVRI)
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 45 Konsep ideologi media ini, tiada lain adalah melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara dan menjaga stabiltas dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai satu kesatuan daerah teritorial. Dalam hal ini dapat dibuktikan dengan inti cerita sinetron Sitti Nurbaya yang mengangkat budaya lokal dengan segala adat dan tradisi leluhur masyarakat Minangkabau. Melalui tema-tema seperti itu, TVRI telah berpartisipasi dalam mengangkat tradisi lokal dan kearifan lokal sebagai warisan budaya bangsa. Dengan demikian, warga Minangkabau, sebagai salah satu suku di Indonesia, akan merasa dihormati dan dihargai oleh pemerintah pusat sehingga dapat terjaga keutuhan NKRI. Akan tetapi dalam perkembangannya, seiring dengan munculnya televisi-televisi swasta muncul sinetron format baru, seperti sinetron Sitti Nurbaya produksi Trans TV. Sinetron ini bersifat komersial dan mempertontonkan kemewahan hidup. Sinetron semacam ini kurang memperhatikan dampak moral dan sikap hidup para penontonnya. Logika cerita, latar cerita, dan dialog antartokoh diabaikan dengan menonjolkan penampilan bintang-bintang cantik, seksi, dan tampan. Dengan perubahan seperti itu diyakini oleh Sutan Mahmud dan keluarga Samsulbahri (Dok. TVRI)
Transformasi Budaya 46 I Nyoman Suaka para produser dan sutradara akan mampu berkompetisi untuk mendapatkan iklan. Tayangan sinetron versi Trans TV dengan tema-tema seperti itu, merupakan langkah penyesuaian diri dengan keinginan pemilik modal televisi atau produser yang menginginkan agar mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Programnya juga menyesuaikan dengan selera pasar untuk menarik perhatian masyarakat. Semakin banyak jumlah pemirsa, maka rating atau jumlah penonton akan meningkat pula. Bagi pengelola televisi, rating akan sangat berpengaruh untuk mendapatkan iklan sehingga keuntungan akan meningkat pula. Dengan demikian, ideologi yang mendasari penayangan seperti itu adalah ideologi ekonomi yang bersifat komersial dengan mengorbankan unsur-unsur budaya lokal. Sebab, nilai-nilai budaya tradisi ini dinilai kurang menjanjikan untuk meraih keuntungan. 2. Ideologi Budaya Walaupun sinetron versti Trans TV antirealitas, ternyata sinetron semacam itu bukan dijauhi, namun dicari penggemarnya. Mengkaji fenomena seperti itu dapat dilihat dari sudut pandang posmodernisme budaya populer. Ciri budaya Populer era posmodernisme yang ditayangkan melalui media visual memberi penekanan pada gaya, tontonan, efek dan citraan khusus dengan mengorbankan isi, karakter, substansi, narasi dan kritik sosial (Strinati, 2007:262). Sinetron Sitti Nurbaya versi Trans TV sangat jelas mewakili ciri-ciri budaya populer itu karena menonjolkan gaya hidup, mengharapkan penonton sebanyak-banyaknya dengan tujuan mampu meraih iklan dan pencitraan tubuh melalui kecantikan dan ketampanan. Sinetron ini mengorbankan isi karena menyimpang dari teks novel, karakter tokoh mengikuti selera jaman, substansi cerita tidak realistis dan narasinya dibuat rumit untuk membikin penonton penasaran. Dilihat dari penonton, Sitti Nurbaya Trans TV dapat disaksikan dengan santai, tidak perlu berpikir serius, bahkan dapat disaksikan dengan bercanda. Tidak harus diikuti secara berkelanjutan. Melewatkan beberapa episode tidak akan menemui permasalahan, karena bukan cerita yang penting. Penonton sangat tertarik dengan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 47 bintang-bintang yang tampan dan cantik bahkan banyak yang mengidolakannya, walaupun perannya itu merupakan kepurapuraan dan jauh dari realitas. Formula ceritanya sengaja dibuat rumit, asalkan terjadi percintaan, kekerasan, dan seksual. Sinetron seperti itu tidak saja memuaskan penonton, tetapi juga memuaskan produser, pengelola stasiun televisi dan pemasang iklan. Mereka ini tergolong pelaku-pelaku budaya populer untuk memenuhi tuntutan komersialisme. Secara umum budaya populer berkembang dengan mengikuti indutrialisasi dan urbanisasi (Storey, 1993:16). Selain bersifat komersialisme, budaya populer itu tidak mengakui perbedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah. Para penganut postmodernis mengklaim bahwa seluruh kebudayaan sekarang adalah postmodernism culture. Tidak mengherankan, Frederick Jameson (1991:9) mengatakan ciri utama posmoderisme adalah munculnya bentuk baru kedataran dan kedangkalan, sebuah bentuk baru kecintaan akan permukaan. Menganalisis kedua versi sinetron tersebut, dalam konteks budaya populer tidak ada sebagai pemenang dan pecundang. Masalahnya kedua pengelola televisi dan termasuk produsernya sudah berusaha memberikan hiburan, sedangkan yang menang adalah penganut kapitalisme, pemilik modal dan selera pasar (konsumen). Mengenai selera pemirsa diserahkan pada publik penonton. Budaya populer posmodernisme dapat juga dilihat sebagai sebuah kecenderungan politik kebudayaan, yaitu bagaimana soal kebuduyaan bersinggungan dengan soal kekuasaan seperti politik ekonomi, politik hiburan, Politik ekonomi dapat diartikan bahwa, kebudayaan posmodernisme tidak dapat dilepaskan dari politik kapitalisme yang di dalamnya berkembang masyarakat konsumer. Menurut Pilliang (1999:88), dalam kapitalisme, segala bentuk hasil produksi dan reproduksi dijadikan komoditi, untuk dipasarkan dengan tujuan mencari keuntungan. Kekuatan produksi, dalam hal ini sinetron Sitti Nurbaya Trans TV dibentuk dalam kaitan bukan nilai seni dan dan nilai guna, akan tetapi untuk mencari nilai-nilai lebih (profit) dan nilai tukar (exchange value) dengan produk iklan.
Transformasi Budaya 48 I Nyoman Suaka 3. Strategi Budaya Proses transformasi dari teks novel menjadi sinetron dimaksudkan untuk menjadikan novel Sitti Nurbaya karya marah Rusli sebagai sesuatu yang memiliki nilai tukar. Kondisi ini, menurut Adorno (dalam Pilliang 1999:88), merupakan satu bentuk nyata pencerahan palsu kapitalisme. Kapitalisme, seperti produser sinetron dan pengelola televisi, memproduksi acara untuk kebutuhan penonton. Akan tetapi, penonton yang dimaksud adalah penonton yang telah dirasionalisasikan dalam sistem ekonomi. Rasionalisasi ini melalui usaha penyusunan cerita, latar, penokohan, konflik, dan dialog untuk memuaskan selera penonton. Pada kenyataannya, komodifikasi tidak saja menunjuk pada barang-barang kebutuhan konsumer, akan tetapi telah merambat pada bidang seni dan kebudayaan pada umumnya. Usaha yang dilakukan masyarakat kapitalisme pada kebudayaan adalah menjadikan produk patuh pada hukum komoditi kapitalisme yang kemudian menghasilkan kebudyaan industri (culture industry) seperti sinetron. Menurut Adorno (Pilliang 1999,89), kebudayaan industri merupakan satu bentuk dehumanaisasi lewat kebudayaan. Rasionalisasi dan komodifikasi kebudayaan sebagai satu manifestasi dari pencerahan palsu tidak saja menghambat aspirasi dan kreativitas individu, tetapi lebih buruk menghapus mimpi-mimpi manusia akan kebebasan dan kebahagiaan sesungguhnya. Perubahan teks budaya dari novel Sitti Nurbaya ke teks audio visual berupa sinetron disebabkan arus globalisasi teknologi informasi. Kondisi ini tidak saja secara fisik, tetapi juga secara sikap mental, dilihat dari pemirsa yang cenderung menikmati budaya global melalui penampilan dan pencitraan diri para aktor dan aktrisnya dalam tayangan sinetron. Sitti Nurbaya yang berkisah tentang kebudayaan lokal khususnya Minangkabau, ditampilkan oleh Trans TV dengan pendekatan budaya global. Pendekatan budaya global dalam sinetron dan film Indonesia berkiblat ke Amerika melalui impian Hollywood dan penampilan Erasia, artis-artis cantik bertubuh peranakan Eropa-Asia. Hal seperti ini menjadi menarik karena muncul fenomena glokalisasi budaya yaitu percampuran budaya global dan budaya lokal. Istilah glokalisasi berasal dari
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 49 Sitti Nurbaya Berwajah Peranakan Erasia (Eropa Asia), diperankan oleh Nia Ramadani. (Dok. Trans TV) pengertian penglokalan atau lokalisasi yang global. Strategi glokalisasi ini mengacu pada suatu cara pandang global yang diadaptasi untuk kondisi-kondisi lokal. Dengan glokalisasi ini sekaligus berlangsung tanpa henti proses penglokalan budaya global atau pengglobalan budaya lokal. Dengan demikian akan terjadi proses saling pengaruh, saling memberi, saling melengkapi antara budaya lokal dan budaya global. Persilangan budaya ini kemudian melahirkan budaya hibrid (hybrid culture) atau budaya cangkokan melalui budaya kemasan televisi. Budaya glokalisasi ini merupakan jalan tengah bagi Indonesia karena tidak mungkin lagi menolak pengaruh budaya asing karena kekuatan imperialisme media yang sangat dahsyat. Kualitas tayangan sinetron Sitti Nurbaya antara TVRI dengan Trans TV tidak bisa dilepaskan dari ideologi budaya populer. Stasiun TVRI adalah satu-satunya televisi di Indonesia milik pemerintah sedangkan Trans TV adalah milik swasta. TVRI yang berada di bawah pemerintah, segala programnya berusaha menyesuaikan dengan program pemerintah. Tayangan sinetron Sitti Nurbaya Trans TV menyesuaikan dengan keinginan penikmat budaya popoler dan pemilik modal yang mengharapkan agar modalnya kembali dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Program-program siarannya juga menyesuaikan dengan selera pasar untuk menarik perhatian masyarakat. Semakin banyak jumlah pemirsa, maka rating atau angka-angka jumlah penonton yang didapatkan dari hasil survei akan meningkat pula. Bagi pengelola televisi, rating sangat berpengaruh
Transformasi Budaya 50 I Nyoman Suaka untuk mendapatkan iklan. Sebagai televisi swasta, Trans TV hendaknya tidak hanya bersifat komersialisasi semata, tetapi tetap memperhatikan fungsi media sebagai media hiburan, informasi, dan edukasi. Sinetron yang disuguhkan agar dapat menyeimbangkan ketiga fungsi tersebut, bukan hanya mencari rating tinggi dengan menjerumuskan masyarakat melalui tayangan sinetron yang tidak realistis, seperti adegan seks, kekerasan, vulgar, dan kehidupan mewah. TVRI sebagai televisi milik pemerintah yang kini telah menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) agar tetap berkomitmen dengan visinya melestarikan warisan budaya luhur bangsa. Kecenderungan sinetron mengikuti arus globalisasi (kebudayaan global) melalui impian Hollywood dengan bintangbintang bertampang Erasia (Eropa-Asia) perlu dikaji kembali. Kedua kutub budaya ini jangan dipertentangkan, tetapi bersinergi untuk memunculkan fenomena baru, yaitu budaya glokalisasi (global-lokal). Strategi glokalisasi ini sebagai cara pandang global yang diadaptasi untuk kondisi-kondisi lokal. Di samping itu, melalui glokalisasi itu sinetron-sinetron Indonesia yang bercerita budaya lokal digarap dengan baik untuk menembus kebudayaan global sehingga diakui dunia internasional.
51 Memperebutkan Sukreni Gadis Bali Setelah Gagal dalam Film Novel Sukreni Gadis Bali karya Anak Agung Panji Tisna memiliki catatan menarik ketika disinetronkan. Novel ini menjadi rebutan, seperti novel Azab dan Sengsara, antara pihak TVRI dengan pihak Esa Promotion sehingga sempat dimediasi oleh penerbit Balai Pustaka. Peranan Balai Pustaka tidak bisa dianggap enteng. Apabila penerbit tidak mau memberi izin, maka pihak yang berebut pun tidak bisa berkutik, tegas Kabid Penerbitan Perum Balai Pustaka, Drs. Harjana HP (Sarinah No. 262/2-15 November 1992). Menurut Hardjana yang juga novelis itu, pihak TVRI sudah meminta izin sejumlah naskah Balai Pustaka untuk disinetronkan, seperti Sukreni Gadis Bali, I Swasta Setahun di Bedahulu, dan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karangan Hamka. Namun novel yang disebutkan terakhir itu, hak penerbitannya tidak lagi dipegang oleh Balai Pustaka. Agar segalanya berjalan aman dan resmi, maka pihak Balai Pustaka telah menyiapkan konsep kontrak untuk siap ditandatangani oleh TVRI dan Balai Pustaka dalam upaya penyinetronan karya-karya terbitan Balai Pustaka. Terkait rencana sinetronisasi Sukreni Gadis Bali itu, pihak Esa Promotion mendatangi Balai Pustaka membawa surat penyerahan hak dari Anak Agung Made
Transformasi Budaya 52 I Nyoman Suaka Ngurah, salah seorang putra Anak Agung Panji Tisna. Anak Agung Made Ngurah itu tidak ikut menandatangani surat penyerahan hak yang diberikan kepada pihak TVRI. Sejumlah media massa ketika itu memberitakan, dalam perebutan hak penayangan, TVRI sebagai pihak yang kalah bersaing, Akan tetapi, pihak TVRI juga punya surat yang lebih kuat yakni surat penyerahan yang ditandatangani oleh tiga orang ahli waris Anak Agung Panji Tisna, tidak termasuk Anak Agung Made Ngurah (Sarinah, No. 262/2-15 November 1992). Setelah melalui proses yang cukup lama, sinetron Sukreni Gadis Bali berhasil ditayangkan di RCTI tahun 1993 dalam enam episode setiap minggu. Tayangan sinetron ini kurang mendapat perhatian dari pemirsa, berbeda halnya dengan sinteron Sitti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Azab dan Sengsara, dan Salah Asuhan yang mendapat perhatian luas di tengah masyarakat. Sinetron Sukreni Gadis Bali kurang menggarap kearifan lokal dan adat budaya Bali, sebagai latar cerita Bali tempo dulu. Justru ada adegan yag terasa ganjil ketika di rumah Sukreni dijumpai beberapa ekor kambing berkeliaran. Pemandangan ini tidak lazim bagi masyarakat Bali di era tahun 1920-an karena masyarakat tidak biasa memelihara kambing waktu itu. 1. Skenario Film Jauh sebelumnya, sekitar tahun 1954, Panji Tisna mempersiapkan sebuah skenario film yang berjudul Jiwa Seragam. Minatnya pada film didorong oleh putraya yang telah menyelesaikan pelajaran di bidang film di Bombay India. Sebagai oleh-oleh untuk ayahnya, Anak Agung Made Dipa membawa sebuah roman karya Piere Lecomte du Nouy yang berjudul “Nasib Manusia.” Panji Tisna sangat terpukau oleh roman itu sampai membaca berkali-kali. Pada waktu itu, dia sudah membeli peralatan film sendiri karena berniat membuat film dari cerita novel Sukreni Gadis Bali, karyanya sendiri. Peralatan film tersebut dibelinya di Eropa ketika mengantarkan putranya, Anak Agung Udayana kuliah di Fakultas Pertanian. Sebelumnya tahun 1949, Panji Tisna sempat ke Eropa atas undangan STICUSA, suatu organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama seni dan kebudayaan antara Belanda dan Indonesia.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 53 Menurut hasil wawancara koresponden Sarinah di Bali, Yon Ks, film Sukreni Gadis Bali menghabiskan biaya sangat besar sekitar Rp720 juta (tahun 1992). Uang sebanyak itu selain berasal dari pinjaman juga hasil dari penjualan sebagian tanah yang dimilikinya. Ternyata film ini mendapat sensor yang ketat dari pusat. Pihak lembaga sensor kurang memahami ide Anank Agung Panji Tisna. Walaupun film ini sempat beredar, terlalu banyak adegan yang kena sensor. Selain sensor pusat, sensor daerah pun kurang berkenan dengan film ini. Akhirnya Panji Tisna menilai film yang dibuat bersama anaknya Anak Agng Made Dipa itu tidak layak lagi ditonton. Banyak adegan dipotong, digunting oleh lembaga sensor sehingga ceritanya tidak menarik lagi. Dalam tulisan yang dimuat majalah Sarinah itu, film yang disutradarainya sendiri dengan ilustrasi musik yang disusunnya sendiri dihancurleburkan oleh “musuh-musuh“nya. Panji Tisna tidak bisa memahami alasan penyensorannya. Adegan yang menggambarkan anak-anak tak bersepatu dan adegan tajen (aduan ayam) kena sensor. Menurut Panji Tisna, orang-orang yang berada di sekitar gubernur waktu itu berusaha keras agar film tersebut dilarang. Akhirnya penonton tidak bisa menikmati film tersebut sesuai dengan apa yang diimaksud sutradaranya. Panji Tisna yang merupakan pengarang novel itu sangat sedih karena ia bukan simpatisan partai. Ia menjadi korban perselisihan antarpartai waktu itu. Hatinya bergerak, tidak saja karena kerugian materil yang dideritanya, tetapi juga kekejaman oleh orang-orang partai yang tidak ber-Tuhan. Mereka itu telah berlaku sewenang-wenang terhadap karyanya. Keinginan luhur Panji Tisna untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam novelnya tersebut untuk ditularkan melalui seni perfilman tidak kesampaian secara utuh, karena banyak terkena tajamnya gunting sensor, baik sensor pusat maupun di daerah, Begitu banyaknya guntingan sensor sampai-sampai Panji Tisna mengambil kesimpulan bahwa film Sukreni Gadis Bali tidak layak ditayangkan dan tidak layak sebagai tontonan film yang bernuansa sosial kultural dan pendidikan. Ironisnya, Panji Tisna sendiri belum memahami latar belakang yang sebenarnya, mengapa karya seni film tersebut banyak sekali terkena guntingan sensor.
Transformasi Budaya 54 I Nyoman Suaka Di samping itu, Anak Agung Panji Tisna juga mengembangkan ide, gagasan dan cita-citanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai sastrawan yakni melalui media pertunjukan seni perfilman dengan mendirikan gedung bioskop yang dberi nama “Maya.” Latar belakang yang melandasi pemikirannya untuk mendirikan bioskop bukan semata-mata ingin memutar modal finansialnya dengan meraup keuntungaan yang setinggi-tingginya untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan pendirian bioskop tersebut lebih dititikberatkan pada tujuan-tujuan bersifat idealisme (Gorda, 2006 : 67). Panji Tisna mengharapkan kehadiran bioskop di tengahtengah Kota Singaraja agar masyarakat memperoleh hiburan yang bernuansa seni budaya dan pengetahuan di dalam menghadapi kehidupan ini. Dari hiburan yang bernuansa seni budaya diharapkan masyarakat akan menyimak dan memahami serta menghayati makna tentang nilai-nilai etika dan estetika yang luhur. Bioskop Maya yang didirikan Panji Tisna sebagai media komunikasi budaya sangat digandrungi masyarakat Buleleng dari tahun 1955–1958. Mengingat persaingan yang sangat ketat dan masyarakat lebih tertarik dengan televisi, video, akhirnya bioskop Maya tidak mampu menghadapi persaingan. Hal yang sama dialami juga usaha perbioskopan di daerah di tanah air. 2. Sastrawan Pujangga Baru Panji Tisna satu-satunya putra Bali yang tergolong pengarang angkatan Pujangga Baru. Ia dilahirkan tanggal 11 Februari 1908 di Singaraja, Bali Utara. Sebagai putra sulung Raja Buleleng yang kesepuluh dari pasangan Anak Agung Jelantik dengan istrinya Mekele Jro Rengga. Panji Tisna memiliki empat saudara, yaitu dua orang kakak perempuan dan dua adik laki-laki. Bersama kedua adiknya, Panji Tisna menyenangi kesenian, seperti nenek dan ayahnya. Ibunya turut membentuk diri Panji Tisna baik dengan dendangan lagu ketika sedang tidur, maupun menuturkan dongeng anak-anak yang berisi pendidikan budi pekerti. Mereka bertiga menyenangi gamelan, kekawin, dan musik khusunya Panji Tisna yang gemar bermain biola. Novel-novel karya Panji Tisna, antara lain Ni Rawit Ceti Penjual
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 55 Orang, I Swasta Setahun di Bedahulu, Sukreni Gadis Bali, dan Ni Made Widiadi. Kepada sastrawan Gerson Poyk asal Kupang, Anak Agung Panji Tisna pernah mengatakan, “Saya menulis karena sesuatu karena ada alasan. Saya bukan pengarang.” (Kompas, Jumat 9 Juni 1978). Ucapan merendah ini, menurut Gerson Poyk, menulis karena ada alasan, maksudnya “alasan moral.” Panji Tisna tidak saja tercatat sebagai sastrawan Indonesia, tetapi juga pernah terjun di bidang politik dan pemerintahan ketika itu. Ia pernah menjadi anggota parlemen Negara Indoneia Timur (NIT). Tahun 1950 terpilih sebagai anggota DPR-RIS dan kemudian dilanjutkan menjadi anggota DPR RI. Mengenang berpulangnya sastrawan ini, Gerson Poyk menulis dengan bahasa puitis, yakni. “Panji Tisna mengarang beberapa karya-karyanya di tengah-tengah kebun jeruk yang buahnya selalu bergelantungan matang, diusap oleh angin dari laut utara Pulau Bali. Di lengkung langit selatan, ada gunung-gunung yang membawa inspirasi dari Danau Bedugul, Buyan, dan Tamblingan yang jaraknya hanya 15 atau 20 kilometer dari Singaraja. Alangkah terpusat dan limpahnya segala rahmat Tuhan di daerah kelahiran sang sastrawan ini. Ketika itu kami mengobrol sambil makan jeruk, sementara halaman yang dikitari pohon-pohon jeruk, juru tiknya sedang mengetik novelnya dengan cara membaca keras lebih dulu barulah mengetik dan mengetik” (Kompas, 9 Juni 1978). Sebagai keturunan raja, seyogyanya memangku jabatan raja, warisan orang tuanya. Akan tetapi, berkali-kali ia menolak pengangkatan itu. Pada tahun 1939 ayahnya memahami apa yag menjadi keinginan Panji Tisna untuk menjadi orang biasa saja. Ia tidak ingin menjadi raja. Ketika kembali dari Jawa karena kegagalan sekolahnya, Panji Tisna pernah membantu ayahnya menjadi sekretaris pribadi yang dilakukannya setengah hati, sehingga pada tahun 1929 diberhentikan oleh ayahnya. Kemudian ia ditugaskan ke Lombok untuk mengurus perusahaan angkutan. Tahun 1935 Panji Tisna kembali ke Singaraja untuk merintis usaha ekspor kopra dan sapi. Usulannya ditolak oleh ayahnya (Sinar Harapan, 14 Juni 1978). Sejak muda Panji Tisna memiliki pandangan jauh ke depan. Itulah sebabnya, ia tdak mau berkerja sebagai pegawai kolonial. Ia
Transformasi Budaya 56 I Nyoman Suaka sangat terpengaruh pandangan Dr. Soetomo (pimpinan organisasi Budi Utomo) tentang dunia pergerakan kemerdekaan. Bahkan, ia menganggap dirinya sebagai “anak” Dr. Soetomo yang pernah datang berkunjung kepadanya di Denpasar. Demikian juga kunjungankunjungan Bung Karno ke Singaraja waktu itu selalu diikutinya. Oleh Karena itu, Anak Agung Panji Tisna sangat dibenci oleh Belanda. Kebencian Belanda dilontarkan dengan jalan memfitnah Panji Tisna. Kontrolir Belanda di Singaraja Dr. Luring mengatakan bahwa Panji Tisna hendak meracuni ayahnya. Tuduhan sangat menyakitkan hati sehingga Panji Tisna mengasingkan diri. Dari pengasingan itulah Panji Tisna melahirkan karya-karyanya. Dari ketidakadilan Belanda yang ditimpakan kepada dirinya tercetus buah pikirannya dalam bentuk novel Ni Rawit Ceti Penjual Orang. Dalam novel tersebut tergambar pemberontakan jiwa Panji Tisna. Setahun kemudian, ia menyaksikan pertikaian agama mengenai persoalan warisan dan kuburan. Dari peristiwa yang disaksikan itu lahir novel Sukreni Gadis Bali. Setelah novel itu terbit, Panji Tisna mengalami kesedihan. Dua orang anaknya meninggal. Atas nasihat seorang dokter, ia beristirahat di Kintamani sebuah daerah yang sejuk di pinggir Danau Batur. Di sanalah lahir novel yang berjudul I Swasta Setahun di Bedahulu. Satu-satunya putra Panji Tisna yang meneruskan bakat kepengarangannya, yakni Anak Agung Made Udayana yang kuliah di Fakultas Kedokteran di Jerman. Salah satu karyanya adalah I Bontot dan I Kuse yang menceritakan penggambaran dua anak-anak Bali. Cerita ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa Jepang. Dalam bahasa Denmark diterbitkan oleh Jespersen di Kopenhagen tahun 1960, sedangkan dalam bahasa Jerman terbit pada tahun 1959. 3. Sinopsis Sukreni Gadis Bali Dikisahkan, Men Negara berasal dari Karangasem, ujung timur Pulau Bali. Ia meninggalkan kampungnya itu menuju daerah Singaraja (Bali Utara) karena suatu persoalan dengan suaminya. Mula-mula ia menumpang di rumah seorang Haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Negara rajin bekerja
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 57 dan hemat, ia kemudian dapat memiliki kebun sendiri. Ketika pergi dari Karangasem, ia meninggalkan seorang anak yang baru berusia delapan bulan. Di tempat baru, ia melahirkan dua orang anak bernama I Negari yang berparas cantik. Putrinya itu menarik perhatian para pekerja pemetik kelapa untuk singgah di warungya. Di samping itu, Men Negara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu. Di antara mereka yang datang ke warung Men Negara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. Tak luput dari semua itu ibunya, mengharapkan agar anak gadisnya itu dapat memikat hati I Gde Swamba akan menjadi suaminya. Suatu ketika, datanglah seorang manteri polisi bernama I Gusti Made Tusan ke daerah itu. Sebagai manteri polisi, ia disegani dan ditakuti penduduk karena banyak kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Keberhasilan menumpas kriminal ini berkat kerja samanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Pada suatu siang, hampir saja Men Negara harus berurusan dengan I Gusti Made Aseman karena I Made Aseman mengetahui bahwa Men Negara telah memotong babi tanpa surat izin dari yang berwenang. I Made Aseman sangat berharap agar Men Negara dipenjarakan di Kota Singaraja karena kesalahannya itu. Jika Men Negara masuk penjara, para pemetik kelapa akan pindah ke warung iparnya untuk berbelanja. Selama ini warung Men Negara selalu ramai pembeli. Namun, apa yang diharapkan I Made Aseman sia-sia belaka karena tuannya, I Gusti Made Tusan telah terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negari. Suatu hari, I Gde Swamba dan para pemetik kelapa sedang makan dan minum di warung Men Nagara. Tanpa sepengetahuan mereka, datang seorang gadis bernama Luh Sukreni ke warung Men Negara. Ia mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangia yang telah beralih agama, masuk agama Kristen. Menurut hukuam adat di daerah ini, jika seorang anak beralih agama lain, baginya tidak ada hak untuk menerima harta warisan. Namun kedatangan Luh Sukreni itu justru membuat Men Negara dan Ni Negari iri hati karena melihat kecantikan Sukreni. Terlebih lagi Sukreni dengan bahasa yang sopan dan lembut itu
Transformasi Budaya 58 I Nyoman Suaka menanyakan I Gde Swamba. Ketika itu manteri polisi juga tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukreni sebagai wanita simpanannya. Kemudian dibuat siasat agar keinginan Menteri Polisi terpenuhi untuk mendekati Sukreni. Pada kedatanganya yang kedua, Luh Sukreni kembali menanyakan I Gde Swamba di warung Men Negara. Namun orang yang dicarinya tak ada. Dengan ramah dan senyum manis, ibu dan anaknya menerima Luh Sukreni bahkan mereka memintanya untuk bermalam di warungnya sampai I Gde Swamba tiba. Tanpa prasangka buruk, Sukreni menerima tawaran itu. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu, hampir-hampir tak berhasil tetapi…”. Begitulah komentar I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana. Betapa terkejutnya Men Negara ketika I Negari, anaknya tidak bersama I Sudiana teman seperjalanan Luh Sukreni, Sudiana mengatakan bahwa Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Sukreni tidak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Men Negara sangat menyesal karena ia telah mengorbankan anaknya sendiri. Sukreni tidak mau kembali ke kampungnya. Ia sangat malu apabila kejadian itu diketahui oleh ayahnya dan orang-orang di kampungnya. Ia mengembara entah kemana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian. Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat dengan manteri polisi, I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam. Rupanya takdir telah menentukan Sukreni dapat bertemu kembali I Gde Swamba. Semua itu berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja karena telah memukul I Negara sampai tak sadarkan diri. I Gde Swamba berjanji akan mengurus dan membiayai anaknya itu. I Gustam ternyata tumbuh dengan perangai dan tabiat yang kasar. Sewaktu berusia dua belas tahun, ia sudah berani memukul kepala
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 59 ibunya. Setelah dewasa, ia berani pula mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Di dalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari tahanan lainnya. Pelajaran itu didapat dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan. Keluar dari penjara, I Gustam membentuk sebuah kelompok. I Sintung yang ketika di dalam penjara sebagai gurunya, kini bertekuk lutut di bawah perintah I Gustam. Kelompok ini tak segansegan membunuh siapa saja yang menentang perintahnya. Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun rencana itu sudah diketahui lebih awal oleh aparat keamanan. Perampokan di warung Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. Manteri polisi ini tidak mengenal bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka ketika I Gustam hampir putus asa karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan tewas. 4. Arja Teater Tradisional Sukreni Gadis Bali merupakan karya sastra angkatan Pujangga Baru yang berlatar daerah Bali Utara. Isinya pun tidak jauh dari menceritakan adat dan budaya Bali karena pengarangnya sendiri memang berasal dari Bali. Novel ini banyak mengandung unsur kasih sayang, didaktis, adat istiadat, dan agama. Tema yang diangkat dalam novel Sukreni Gadis Bali adalah perempuan dan hukum karma. Perempuan-perempuan Bali pada masa itu masih dipandang amat rendah terutama oleh kalangan bangsawan, belum mengenal gerakan feminisme seperti sekarang ini. Tema yang menarik ini tidak saja diangkat ke dalam layar lebar dan layar kaca, tetapi juga sering dipentaskan dalam kesenian arja (drama tari) Bali dan drama modern yang ditayangkan TVRI Denpasar. Arja ini dimainkan oleh Sanggar Geoks, digarap oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia seorang dosen di Institut Seni Indonesia
Transformasi Budaya 60 I Nyoman Suaka Denpasar dan dipentaskan Minggu, 10 Februari 2008 malam di Puri Buleleng, tempat kelahiran pengarang Anak Agung Panji Tisna. Pementasan ini didukung oleh seorang pemain dari daerah Gianyar Bali, sekaligus memperingati 100 tahun kelahiran pujangga Panji Tisna (11 Februari 1908 – 11 Februari 2008). Kesenian arja adalah bentuk teater tradisional Bali yang paling lengkap. Di dalamnya berisi gabungan dari gerak tari, tembang (vokal) dan gerak (akting). Setiap pemain tampil dengan menari, berakting sampai berdialog dengan menggunakan tembang-tembang yang kadang-kadang dipadukan dengan bahasa lisan. Menurut I Wayan Dibia, arja dengan tembang-tembangnya itu memang bisa menggugah bahkan terasa sampai mengiris-iris hati penonton. Unsur paling penting dalam arja adalah tembang, apalagi diiringi suara suling mendayu adalah alat yang ampuh untuk membuat penonton larut dalam perasaan tokoh-tokoh dalam cerita arja. Dari awal sampai akhir pementasan, arja ini memukau penonton. Bukan saja karena kesenian ini tergolong jarang tampil, tetapi karena cerita yang dibawakan adalah Sukreni Gadis Bali dari novel karya Panji Tisna keturunan Raja Buleleng. Berbeda dengan alur cerita novel, adegan awal diceritakan ketika Sukreni yang baru saja diperkosa oleh I Gusti Made Tusan, seorang manteri polisi di Singaraja. Arja ini tidak saja mengandalkan dialog antarperan, tetapi juga dengan tembang-tembang yang mengiris hati didukung gerak tari yang lemah-gemulai. Adegan Sukreni yang larut dalam penyesalan dan kekecewaan itu mampu menarik empati penonton. Wayan Dibia menilai, kisah Sukreni Gadis Bali memang mirip dengan kisah-kisah arja pada umumnya. Selain itu, pesan yang dikandung dalam cerita itu masih relevan dengan kehidupan masyarakat di zaman modern ini. Wartawan Adnyana Ole (Bali Post Edisi no. 169), menulis bahwa pementasan itu mendapat sambutan hangat dari penikmat seni dan keluarga puri. Cerita novel dalam arja itu diolah dengan pembabakan yang amat sederhana. Setelah Sukreni diperkosa, muncul Men Negara dan anaknya. Melalui dua tokoh itu, alur dalam novel dipaparkan kepada penonton yang diselingi dengan humor. Dalam konteks ini, menurut penulis, sutradara memilih menggunakan alur flash back. Walaupun pementasan dalam
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 61 I Nyoman Suaka kesenian tradisional seperti arja yang umumnya menggunakan alur konvensional, dengan alur flash back ini mampu memukau penonton. Di awal pementasan, penonton dibuat penasaran, apa yang akan terjadi, penonton akan bertanya dalam hati mengapa persitiwa itu muncul. Tidak lagi bersifat konvensional yanag selalu diawali dengan perkenalan masing-masing tokoh, peristiwa bergerak, klimaks (puncak cerita), antiklimaks dan penyelesaian (cerita tamat). Alur dalam novel mengisahkan, tragedi pemerkosan Sukreni oleh I Gusti Made Tusan, terjadi pada babak-babak akhir cerita. Adegan yang menarik dalam arja juga adalah ketika Sukreni “dijual” kepada I Gusti Made Tusan sehingga membuat Men Negara menjadi kaya. Pada babak berikutnya, muncul Gustam dengan dua pengikutnya. Gustam adalah anak Sukreni hasil dari perbuatan dengan Tusan. Pada babak berikutnya muncul Tusan dengan pengikutnya hendak melakukan operasi penangkapan terhadap pencuri. Terjadi perkelahian antara Tusan dengan Gustam, dan keduanya meninggal. Pada saat itu muncul Men Negara dengan penyesalan yang mendalam dengan mengucapkan kata “karma pala” yaitu “hasil dari perbuatan” untuk menyampaikan pesan dari novel tersebut.
62 FILM SANG PENARI : Tragedi Komunis Pada Kesenian Ronggeng 1. Nilai-nilai Tradisi Masyarakat Dukuh Paruk di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah beranggapan bahwa penduduknya akan tertimpa musibah kalau tanpa kehadiran seorang ronggeng. Bahkan seorang penduduk Dukuh Paruk, tidak mau meninggal, sebelum bertayub (menari) dengan ronggeng. Hal ini membuktikan betapa kuatnya nilai tradisi kesenian ronggeng yang diwariskan oleh leluhur mereka, yakni Ki Secamenggala. Masyarakat Dukuh Paruk merasa berdosa besar kalau tidak dapat melestarikan ronggeng tersebut. Ki Secamenggala akan menolak di alam kubur nanti jika keturunannya tidak bisa melestarikan kesenian ronggeng. Masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah telah lama mengenal kesenian ronggeng. Akan tetapi ronggeng di Dukuh Paruk, merupakan peristiwa yang sangat khas dan penting. Di dukuh itu seorang wanita yang akan menjadi penari ronggeng, harus pandai nembang, menari dan wajib menjalani tiga tahapan upacara. Ketiga tahapan upacara itu adalah, 1). penyerahan dan pengesahan calon ronggeng, sebagai anak dukun ronggeng, 2). Pembersihan diri calon ronggeng di depan makam leluhur, dan 3). Upacara malam bukak klambu, yakni upacara sayembara melepas keperawanan (virginitas) calon ronggeng. Pengungkapan nilai-nilai tradisi itu diungkapkan oleh pengarang Ahmad Tohari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Novel Ronggeng Dukuh Paruk selanjutnya disingkat (RDP) mengisahkan perjalanan hidup seorang ronggeng bernama Srintil di Dukuh Paruk sebuah dusun kecil di Desa Tinggar Jaya, Kecamatan Jati
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 63 Lawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Di Dukuh Paruk, ronggeng bukan sekadar sebagai salah satu bentuk kesenian, melainkan sebagai simbol status sosial dan semangat hidup masyarakat yang bersifat sakral. Novel ini kembali terkenal setelah ditransformasikan ke bentuk film dengan judul Sang Penari. Salah satu kekuatan film ini adalah dengan munculnya peristiwa politik G.30 S yang dalam novel tidak begitu tampak. Nilai-nilai lokal yang bersifat tradisi dalam novel dan film Sang Penari mencerminkan karya seni itu tidak dapat dilepaskan dari konteks nilai sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Untuk membahas kedua teks budaya yakni teks novel RDP dengan film SP dapat dikaji dari teori intertekstualitas. Menurut Julia Kristeva, istilah intertektualitas merupakan satu konsep kunci dari paham strukturalisme yang sekaligus menantang model berpikir struktur, sinkronik, dan bersistem dari paham strukturalis. Apa yang dilihat Kristeva dalam sebuah teks atau karya seni, tidaklah sesederhana relasi-relasi antara bentuk dan makna atau penanda (signifier) dan petanda (signified), seperti yang dipertahankan oleh semiotika konvensional. Sebaliknya, Kristeva melihat pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam analisis teks (Pilliang, 1999:121). Mengutip pendapat Kristeva, Pilliang (1999:121) mengatakan bahwa sebuah teks atau karya seni dibuat dalam ruang dan waktu yang konkret. Oleh karena itu, mesti ada relasi-relasi antara satu teks atau karya seni dengan teks yang sebelumnya di dalam garis waktu. Kristeva, pemikir postrukturalis Perancis ini melihat bahwa satu teks atau karya seni tidak berdiri sendiri, tidak mempunyai landasan atau kriteria dalam dirinya sendiri, dan tidak otonom. Pengarang Novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari dan Cover Film Sang Penari (Sumber, http://www.geogle.com/url?)
Transformasi Budaya 64 I Nyoman Suaka Istilah intertekstualisme merupakan pengembangan lebih lanjut oleh Kristeva dari istilah aslinya dialogism yang dikembangkan oleh Mikhail Bakhtin, asal Rusia. Di dalam beberapa karyanya, Bakhtin mengkritik strategi intelektual dan pendekatan formalisme dalam seni, baik formalisme Rusia maupun formalisme Eropa. Pendekatan formalisme ini menganggap karya seni tidak mempunyai landasan sosial yang memadai, kecuali penampakan teks atau karyanya sendiri. Makna suatu teks atau karya itu sendiri bukan pada relasi-relasi yang internal di dalam teks atau karya itu sendiri, bahkan juga bukan pada pancaran jiwa atau suara seniman sendiri (Pilliang, 1999:122). Dengan mengambil inspirasi dari konsep dialogism Bakhtin, Kristeva menggunakan istilah intertekstualisme untuk menjelaskan kesalingtergantungan suatu teks dengan teks-teks sebelumnya. Sebuah teks bukanlah fenomena kebudayaan yang berdiri sendiri dan bersifat otonom. Teks tersebut eksis berdasarkan relasi-trelasi atau kriteria-kriteria yang internal pada dirinya sendiri, tanpa dilatarbelakangi oleh sesuatu yang eksternal. Akan tetapi, sebuah permainan dan mosaik dari kutian-kutipan dan dari teks-teks yang mendahuluinya. Apabila mengikuti pendapat Bakthin dan Kristeva itu, maka kajian transformasi novel RDP ke film SP merupakan teks-teks yang saling ketergantungan. Relasi-relasi antarkedua teks sangat menonjol. Tidak saja secara internal dalam teks, tetapi juga secara eksternal menyangkut ekspresi pengarang, obsesi sutradara dan produser, serta relasinya dengan realitas kehidupan masyarakat, baik pada era klasik, modern maupun postmodern. Teks novel RDP sebagai teks asli kemudian diadaptasi oleh sutradara Ifa Ifansyah ke teks visual dalam wujud film yang masing-masing ditayangkan di bioskop dan televisi. Sutradara film tersebut sangat jelas dan tegas menyebutkan teks visual yang dihasilkan itu terinspirasi dari teks novel RDP karya Ahmad Tohari. Di samping itu, secara administratif terbukti bahwa kedua teks ini tidak berdiri sendiri. Namun, relasi antarteks itu pada akhirnya menghasilkan teks baru. Meskipun sinetron film SP ingin mempertahankan ide cerita, tetapi dijumpai dekonstruksi
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 65 dan apresiasi teks dari cerita aslinya Adanya teks-teks budaya versi baru itu, menurut Kristeva (Pilliang, 1999:123), teks atau karya seni merupakan ruang tempat silang menyilangnya kutipan-kutipan. Pembaca atau pemirsa juga merupakan ruang tempat berinteraksinya kutipan-kutipan. Intertektualitas merupakan pelintasan dari satu sitem tanda ke sistem tanda yang lain yang disitilahkan dengan transposisi. Untuk menjelaskan pelintasan ini, Kristeva (dalam Pilliang, 1999:123- 125) mengungkapkan transopsisi secara panjang lebar. Beberapa konsep pelintasan antarteks menurut Piliang, sebagai berikut. a. Dekonstruksi, yaitu pelintasan teks berupa perusakan dengan jalan menghapus, mencoret atau menyilang bagian dari sistem tanda teks referensi. b. Distorsi, yaitu pelintasan teks dengan merusak berupa pengubahan, yakni dengan maksud politis yang bersifat mempermainkan tanda dari teks referensi untuk tujuan kritis, sinisme, atau sekadar lelucon. c. Apresiasi, yaitu pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya bukan untuk tujuan perusakan, tetapi penghargaan dan bersifat mengenang kembali (bernostalgia). Sistem tanda atau referensi tersebut diapresiasi, dilestarikan, atau diterjemahkan ke dalam konteks kebudayaan kontemporer. 2. Legenda Penari Ronggeng Terinspirasi dari RDP (1982) karya Ahmad Tohari, Ifa Ifansyah mengangkat legenda penari ronggeng ini ke ranah film. Bercerita mengenai kisah cinta dua anak manusia, Rasus dan Srintil, Sang Penari mengawali kisahnya pada tahun 1953 saat mereka berdua masih sangat belia di kampung yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk. Di sinilah ronggeng menjadi sesuatu hal yang sangat diagungkan dengan ritualnya sebagai suatu warisan yang harus dilestarikan. Hal ini sekaligus sebagai persembahan kepada leluhur kampung di setiap pertunjukannya. Begitu pula dengan sang penari ronggeng, penduduk kampung percaya bahwa tidak semua orang bisa menjadi penari ronggeng, karena diyakini bahwa leluhur mereka sendirilah yang akan memilih dan menentukan siapa yang berhak.
Transformasi Budaya 66 I Nyoman Suaka Srintil, dengan kemampuan menari dan wajah yang ayu, kemudian membuat para sesepuh Dukuh Paruk percaya bahwa dirinya adalah titisan ronggeng. Prisila Nasution sebagai Srintil dalam Film Sang Penari. ( Sumber, http://ardnas20.fik.wordspress.com/2011/11/Sang Penari.jpg). Cerita diawali pada tahun 1953 ketika Dukuh Paruk hidup dengan seorang penari ronggeng Surti (diperankan Happy Salma). Suasana penduduk amat riang, dan termasuk masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Selanjutnya muncul peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng Surti. Musibah ini merupakan peristiwa penting yang menyebabkan Srintil tertarik ingin menjadi ronggeng. Perasaan itu sebagai wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini diketahui oleh Sakarya (diperankan Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Kartareja, awalnya tidak begitu tertarik sehingga membuatnya tidak datang untuk ngibing pertama dengan Srintil. Adegan ini sangat menarik diperankan Prisila Nasution dengan wajah muramnya karena kecewa tidak mendapat pasangan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 67 menari. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari, tetapi berhasrat besar untuk menjadi ronggeng terkenal. Bermula dari sini Sang Penari selanjutnya membawa kita untuk lebih mengenal tentang apa dan bagaimana sebenarnya ronggeng dilestarikan, dan bahkan diagungkan. Tugas, kewajiban, dan tanggung jawab seorang ronggeng tidak mudah. Bahkan memerlukan pengorbanan akan kepentingan pribadinya demi menjadi seorang penari ronggeng sebagai wujud baktinya untuk orang-orang di desa dan terutama nama baik Dukuh Paruk. Menjadi ronggeng tidak hanya pentas menari, namun juga harus mengikuti kemamuan sang dukun ronggeng. Keadaan memprihatinkan yang harus dialami Srintil sebagai ronggeng ini menempatkan Rasus pada sebuah kegalauan. Ia merasa cintanya telah dirampas secara paksa tanpa perlawanan. Hingga akhirnya di dalam keputusasaan, ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi tentara. Film ini kemudian bergerak ke dalam situasi yang semakin rumit, tentang bagaimana perasaan Srintil yang lambat laun merasa bahwa apa yang ia jalani bukanlah apa yang ia inginkan I Nyoman Oka Antara, artis dari Bali sebagai Rasus dalam Film Sang Penari. ( Sumber, http://ardnas20.fik.wordspress.com/2011/11/Sang Penari.jpg).
Transformasi Budaya 68 I Nyoman Suaka dan bertentangan dengan hasratnya untuk hidup bersama Rasus. Apalagi zaman telah berubah ke masa-masa kelam Indonesia, saat banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban untuk kepentingan golongan tertentu dengan hanya iming-iming kesejahteraan. Tahun 1965, zaman telah berubah, Dukuh Paruk mengalami perkembangan yang pesat karena pementasan ronggeng. Di saat inilah Rasus kembali ke dukuhnya dengan sebuah dilema antara loyalitas sebagai wujud dharma bakti kepada negara karena sebagai prajurit atau cintanya kepada Srintil. Dalam fase penceritaan inilah Sang Penari terlihat cukup berani mengungkapkan masa kelabu dalam sejarah Indonesia di era 1960. Sang Penari sukses memasukkan visi sebuah partai ke desa termasuk kepada kelompok kesenian ronggeng. Sutradara sepertinya ingin menunjukkan sebuah potret buram pascatragedi 1965 yang sampai sekarang masih menjadi sisi gelap kehidupan berkebangsaan di Indonesia. PascaG.30 S pemerintah di bawah rezim Orde Baru melakukan gerakan pembersihan terhadap semua unsur yang dinyatakan terlibat dalam tragedi berdarah tersebut. Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Sebaliknya, seluruh warga menyukai kesenian ronggeng sebab ronggeng adalah tradisi budaya yang begitu mengakar di hati masyarakat baik bagi orang tua maupun anak-anak dan remaja. Rasus dalam adegan film sempat berujar dengan logat banyumasan bahwa, “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” Ucapan itu sebagai antipati Rasus terhadap dunia ronggeng. Namun, kemauan Srintil tidak bisa dicegah sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu ternyata bertolak belakang karena Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil, dalam acara bukak klambu yang dipimpin dukun ronggeng Nyai Kartareja (Dewi Irawan). Srintil sukses menjadi ronggeng sedangkan Rasus lari dari kekecewaan tradisi tersebut. Ia masuk menjadi tentara sebagai pesuruh, karena tidak tahu baca tulis. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih berani sekaligus belajar membaca. Jiwa Rasus berkembang seiring berkembangnya kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bahar (Lukman Sardi) se-
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 69 orang kader partai yang ingin mencari simpati dengan janji-janji mengangkat kesejahteraan petani, termasuk kesenian ronggeng. Pak Bahar seorang tokoh partai sangat ahli berpidato, menggunakan pentas ronggeng Dukuh Paruk menjadi “ronggeng rakyat” sebagai bentuk propaganda. Mereka mendapat upah-upah yang tinggi, perangkat pengeras suara, kain dan perlengkapan lainnya untuk Srintil dan para penabuh calung. Bantuan itu datangnya dari partai untuk merekrut massa. Visualisasi dalam film tampak pintu masuk ke Dukuh Paruk dihiasi lambang dan slogan partai. Namun, sayangnya tidak bisa dibaca oleh warga karena tidak mengenal huruf. Tembangtembang pengiring tarian diubah menjadi syair-syair berisi slogan partai. Mereka sulit menolak keterlibatan partai karena merasa terikat semacam utang budi atas kebaikan-kebaikan Bahar. Titik puncak dari kondisi tersebut ketika ratusan orang penonton partai mabuk dan kemudian beramai-ramai membuat kerusuhan dengan merusak tanaman padi dan memporak-porandakan situs keramat leluhur mereka Ki Secamenggala. Rusaknya makam keramat itu menyebabkan warga Dukuh Paruk emosi dan marah sehingga kembali terseret dalam arus politik. Pedukuhan kecil ini divonis terlibat usaha perongrongan negara. Kelompok ronggeng dan penabuh calungnya, termasuk penari Srintil ditangkap dan didiskriminasi sebagai eks tapol (tahanan politik). 3. Latar Politis Dibandingkan cerita novel RDP, yang menonjol dari film ini adalah visualisasi kejadian tahun 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel sangat puas dengan film tersebut (diskusi Ahmad Tohari di Balai Bahasa Yogjakarta, 17 Juni 2013). Ia sendiri dalam novel RDP (1982) tidak membuat deskripsi yang jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk. Dalam visualisasi diperlihatkan beberapa adegan yang mendukung latar gerakan komunis seperti, pemakaian topi para petani dicat warna merah, pemakaian sabit atau arit, ungkapan ‘dewan revolusi.’ Selain itu, salah satu rumah warga bagian atapnya ditulis dengan kata USDEK, dan keterlibatan tentara dalam menumpas mereka
Transformasi Budaya 70 I Nyoman Suaka yang dituduh terlibat komunis. Dalam buku Ensiklopedia Sejarah dan Budaya (2009) disebutkan, kata USDEK terkait dengan Manifesto Politik (Manipol) yang diungkapkan oleh Presiden Soekarno pada pidato tanggal 17 Agustus 1959. Istilah USDEK sendiri merupakan singkatan dari Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpim dan Kepribadian Indonesia. Pidato ini terkenal dengan Manipol Usdek sebagai ideologi resmi dan haluan negara waktu itu (2009:246). Ideologi ini disosialisasikan ke masyarakat luas dan dalam film dapat dibaca pada atap rumah dengan mengecat bagian-bagian genteng warna putih sehingga membentuk kata USDEK. Tokoh Bahar selaku kader partai juga melarang persembahan sesajen sebelum pementasan ronggeng karena kelompok kesenian ini sangat yakin dengan leluhur mereka. Pandangan tersebut berseberangan dengan paham partai. Para petani di dukuh itu diintimidasi dan dijanjikan akan mendapat bagian tanah kalau mengikuti garis partai. Sampai akhir episode, janji itu tak pernah terwujud. Dalam konteks novel, cerita bernuansa politik itu samar-samar, hanya disebutkan, pencuri dan perampok masuk ke Dukuh Paruk menjarah harta penduduk. Rasus kemudian oleh komandannya disuruh pulang mengamankan kampungnya, menangkap perampok-perampok tersebut. Adegan G30 S PKI inilah kelebihan film SP, walaupun dalam pelukisannya tidak sehebat film Pengkhianatan G.30 S/PKI. Akan tetapi cukup menggelitik dan menghibur untuk mengungkapkan sejarah bangsa Indonesia masa lalu, terutama ideologi partai memasuki perdesaan lewat kesenian dan warung-warung kopi. Satu-satunya film yang khusus membicarakan peristiwa gerakan 30 September 1965 adalah film yang berjudul Pengkhiantan G30 S/PKI karya sutradara Arifin C. Noor. Klimaks dari film ini adalah tentang cerita kekejaman PKI yang melakukan pembunuhan terhadap enam jenderal dan satu perwira menengah. Latar malam mencekam ketika pasukan Cakrabirawa turun perlahan dari truk mengepung rumah para jenderal. Adegan lain yang sangat sadis ketika para jenderal diseret ke tempat penyiksaan di daerah Lubang Buaya.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 71 I Nyoman Suaka Era tahun 1980-an film Pengkhianatan G 30 S/PKI wajib ditonton oleh generasi muda terutama para pelajar. Berulangulang tanpa henti setiap malam tanggal 30 September kembali film proyek pemerintah itu ditayangkan di layar kaca televisi, berdurasi hampir empat jam. Film kolosal produksi pemerintah Orde Baru itu mengangkat tokoh Soeharto sebagai panglima Kostrad yang mengambil alih keamanan dan melakukan pembersihan terhadap partai komunis di Indonesia, termasuk pembubaran PKI dan ormasormasnya. Walaupun film SP tidak menyentuh peristiwa di ibu kota negara, Jakarta, tetapi dampak pembersihan orang-orang komunis ini sangat dirasakan di Dukuh Paruk. Tokoh-tokoh desa termasuk pimpinan kesenian dan penari ronggeng Srintil ditangkap dinaikkan ke truk untuk diinterogasi di suatu tempat. Mereka sendiri tidak tahu apa-apa karena kebanyakan grup kesenian ini tidak tahu baca tulis. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan harapan penonton agar Rasus bertemu dengan Srintil dan tahanan lainnya. Barangkali penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati di tembak. Kemudian, latar cerita berubah ke Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah peristiwa G. 30 S/PKI. Rasus menemukan Srintil meronggeng di pasar. Ia mengamen bersama Sakum. Penonton bisa saja memberi tafsiran bahwa di akhir cerita Srintil akan menikah dengan Rasus karena telah bertemu di Pasar Dawuan. Rasus sukses menjadi tentara, Srintil selamat dari korban pembersihan PKI. Sehingga wajar kalau keduanya dipertemukan menjadi suami istri. Seakan tidak terjadi apa-apa pada masa sebelumnya, kedua tokoh ini berpisah kembali. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan desa menuju kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang membuat galau penonton. Kalau saja, Rasus menikah dengan Srintil, fakta akan berbicara lain. Sebab haram bagi tentara menikah dengan wanita yang dianggap terlibat partai terlarang, kalau tidak mau dipecat dari kesatuannya. Peristiwa lainnya yang memperkuat alur cerita film adalah kerusuhan di Kecamatan Dawuan menjelang tahun 1965. Peristiwa itu erat kaitannya dengan intrik-intrik politik yang didalangi
Transformasi Budaya 72 I Nyoman Suaka oleh partai terlarang, PKI. Pihak-pihak tertentu dengan sengaja memanfaatkan, penari ronggeng Srintil dan rombongannya sebagai alat propaganda PKI. Mereka sama sekali tidak menyadari, karena keluguan dan kepolosannya. Ketika pemberontakan PKI dapat digagalkan, Srintil dan rombongannya dinyatakan terlibat. Dalam cerita RDP, Srintil terpaksa harus mendekam di penjara. Mengenai cerita dalam novel yang tidak kuat unsur politisnya, Ahmad Tohari kepada penulis mengatakan, hal tersebut telah disensor oleh penerbit ketika itu. Hampir 40 halaman cerita tentang peristiwa PKI dihilangkan. Pengarang ini sempat dipanggil pihak Kopkamtib yang waktu itu dipimpin Laksamana Sudomo untuk mempertanggungjawabkan novelnya. Ia dituduh terlibat partai komunis. Namun ia menolak tuduhan itu. “Siapa yang memberi jaminan bahwa anda tidak terlibat PKI,“ tanya Sudomo. “Abdurrahman Wahid,” sahut Ahmad Tohari. Mendengar jawaban itu akhirnya ia dibebaskan. Padahal, Ahmad Tohari secara jujur mengatakan tidak mengenal Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Hanya waktu itu ia mengetahui bahwa Gus Dur adalah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ditakuti oleh pemerintah. Pernyataan Ahmad Tohari itu diungkapkan dalam dialog interaktif dengan mahasiswa dan dosen IKIP Saraswati Tabanan, di Balai Bahasa Yogyakarta, 17 Juni 2013. 4. Dekonstruksi dan Apresiasi RDP dan Sang Penari mengemukakan cerita tentang masyarakat perdesaan tempo dulu. Masyarakat Dukuh Paruk yang amat tradisional sangat percaya dengan mitos yang terkait dengan kesenian ronggeng. Ahmad Tohari dalam menampilkan tokoh-tokohnya tidak pernah lepas dengan pengaruh-pengaruh lingkungan yang mengelilinginya. Hal ini terbukti, kuburan keramat Ki Secamenggala sukar dipisahkan dari kehidupan masyarakat Dukuh Paruk. Ucapan cabul, sumpah serapah, dan hadirnya seorang ronggeng lengkap dengan calungnya (gamelan) merupakan akar budaya yang hidup di Dukuh Paruk. Kebudayaan tradisional ini ingin dipertahankan dan dilestarikan oleh tokoh Srintil, Kartareja, Sakarya, dan Dower.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 73 Tokoh Srintil sangat taat dengan tradisi yang berlaku di desanya. Ketaatannya pada tradisi, menuntut pengorbanan yang paling berharga pada dirinya dengan melakukan upacara “bukak klambu”. Upacara itu sebagai persyaratan menjadi seorang ronggeng. Munculnya tokoh Kartareja beserta istri yang berperan sebagai dukun ronggeng membuat alur cerita semakin hidup. Melalui tokoh ini segala persyaratan dan perlengkapan ronggeng dipersiapkan. Kedua suami istri itu mempunyai andil yang besar dalam mengorbitkan Srintil menjadi ronggeng terkenal. Tanpa dukungan tokoh ini, mungkin Srintil tidak akan menjadi penari ronggeng. Tokoh Sakarya yang berperan sebagai pemangku di Dukuh Paruk, merupakan figur seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab. Segala tindakannya menjadi suri teladan sehingga ia sangat disegani. Sakarya berusaha menjaga dan melestarikan keaslian Dukuh Paruk dengan kesenian ronggeng lengkap gamelan, dan sumpah serapahnya. Tokoh ini tidak ingin mati sebelum melihat Dukuh Paruk kembali mempunyai ronggeng. Hal ini jelas tampak dalam kutipan berikut. “... Pokoknya Dukuh Paruk akan kembali mempunyai ronggeng. Bukankah begitu Kang.” “... Eh, ya. Memang begitu. Kita yang tua-tua dari pedukuhan ini tak ingin mati sebelum melihat Dukuh Paruk kembali seperti aslinya dulu. Bahkan aku takut arwah Ki Secamanggala akan menolakku di kubur nanti bila aku tidak melestarikan ronggeng di pedukuhan ini....” (RDP, hlm.18). Pada sisi lain muncul gugatan dari tokoh muda, Rasus. Adat istiadat dan tradisi yang berlaku di Dukuh Paruk, khususnya tradisi ronggeng dinilainya tidak bisa diterima secara logika. Untuk itu, akhirnya tokoh ini pergi meninggalkan Dukuh Paruk. Melalui tokoh Rasus, novel RDP ingin menceritakan anak muda yang sedang mencari jati dirinya. Semua itu ia peroleh setelah keluar dari desanya. Dari situ Rasus dapat menilai secara kritis apa yang terjadi di kampungnya sendiri. Pengalaman yang paling menarik yang dialami tokoh Rasus adalah perkenalan dengan segala tantangan yang ditemukannya di luar Dukuh Paruk. Rasus pun merasa heran,
Transformasi Budaya 74 I Nyoman Suaka ternyata ada nilai yang tak pernah dikenalnya selama di pedukuhan Dukuh Paruk seperti kata “dosa”. Perhatikan kutipan berikut. “... Kata “dosa” sendiri baru kudengar setelah aku meninggalkan Dukuh Paruk (RDP, hlm. 135). Dengan demikian dikatakan bahwa, tradisi kesenian ronggeng dengan segala aturan upacara “buka klambu,” gurauan cabul, dan nafsu syahwat, merupakan bagian dari dosa itu sendiri. Paling tidak hal ini ditinjau dari sudut pandang agama, sebagai latar sosial religius cerita RDP. Kata “dosa” di Dukuh Paruk, versi tokoh Rasus seakan lenyap dari bumi ditenggelamkan oleh hingar-bingarnya dunia ronggeng yang mengundang nafsu syahwat para pria dewasa. Memperhatikan karakter tokoh dalam RDP tampak dua hal yang amat mendasar. Beberapa tokoh ingin melestarikan adat istiadat dan tradisi Dukuh Paruk sehingga aktivitas mereka itu dapat digolongkan sebagai apresiasi budaya. Tokoh lainnya yang dimotori oleh Rasus sering kali bersikap kritis. Sikapnya itu digolongkan pada dekonstruksi budaya. Tentunya, kedua golongan ini tidak berakhir hanya pada dikotomi antara apresiasi dan dekonstruksi budaya. Pengarang Ahmad Tohari, melalui cerita RDP yang indah memikat itu telah menambah wawasan kita, tentang nilai-nilai kehidupan yang dibalut dalam tradisi dan mitos tidak mudah goyah, walaupun gempuran budaya baru telah memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Selain yang telah dipaparkan di atas, dan mencermati adegan dalam film SP, ditemukan apresiasi budaya dalam hal budaya politik terutama gerakan G. 30 S PKI. Dalam transformasi teks, hal ini diistilahkan dengan apresiasi, yaitu sikap menghargai, melestarikan mengenang kembali untuk bernostalgia lewat teks. Nuansa politik ini sangat kental dirasakan dalam adegan film, tetapi sangat kurang jelas dalam novel. Budaya politik menyusup masuk ke Dukuh Paruk dengan hadirnya tokoh Bahar. Beberapa kali tokoh partai ini muncul di desa seperti di warung, pertunjukkan ronggeng dan di depan para petani. Dia menghasut rakyat agar mau bergabung dengan dirinya dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik. Demikian juga pendukung kesenian ronggeng, yang tak tahu apa-apa tentang politik akhinya ikut terseret, kemudian dituduh sebagai partisipan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 75 komunis. Naskah asli versi Ahmad Tohari memang sesuai seperti dalam film. Dalam RDP edisi tahun 2003 diterbitkan kembali satu bab yang selama ini disensor karena menceritakan gerakan PKI. Waktu itu Kompas dan penerbit Gramedia tidak mau menerbitkannya. Bagian yang disensor itu kini diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Honolulu University Press pada tahun 1999, dalam antologi Silenced Voices (Tohari, 2013). Sebagai film yang memotret pascatragedi 1965. Sang Penari tergolong cukup berani karena sang sutradara menampilkan adegan pembantaian massal yang dilakukan tentara terhadap masyarakat yang diindikasikan terlibat partai komunis. Mengenai hal tersebut, pengarang Ahmad Tohari mengaku tidak seberani Ifa Ifansyah dalam melukiskan pembunuhan massal tersebut. “Novel ini saya tulis tahun 1980-an, saya takut jika menulis terlalu vulgar, bisa-bisa peluru menembus kepala saya, “ ujar Tohari (Subagyo, Kompas 9 Januari 2014). Berdasarkan kajian intertekstual, ternyata film SP merupakan dekonstruksi yang bersifat apresiasi terhadap novel RDP. Dekontruksi maksudnya pelintasan sistem tanda karena, beberapa adegan dalam novel dihapus, dicoret atau disilang seperti bayangan Rasus terhadap Srintil yang menganggap Srintil itu adalah ibunya (emak). Emaknya yang cantik itu telah meninggal waktu Rasus kecil. Menurut penuturan warga, emaknya itu dilarikan oleh mantri kesehatan karena ingin diperisteri. Namun warga lain mengatakan, emaknya telah meninggal, tetapi tidak diketahui kuburannya. Dengan kegalauan itu, Rasus menumpahkan rasa kasih sayangnya kepada Srintil. Dengan demikian terasa wajar dalam adegan percintaan, Rasus tidak berani “nakal” terhadap Srintil, walaupun kesempatan untuk itu terbuka. Bayangan kepada Emak ini sangat penting diketahui pembaca novel, maka dari itu, dalam judul novel RDP berisi sub judul, Catatan Buat Emak pada cover buku. Dengan demikian, tidak mungkin didapatkan cerita film yang sama persis dengan novel. Apalagi di bagian akhir film SP, tertulis, “terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh paruk”. Dengan kalimat itu, sutradara tidak sedang memfilmkan novel tersebut, tetapi mengambil inspirasi dari novel.
Transformasi Budaya 76 I Nyoman Suaka Transformasi teks novel RDP ke teks Film SP mengalami transposisi teks. Transposisi itu berupa dekonstruksi dan apresiasi teks. Dekonstruksi dilakukan oleh sutradara untuk menyesuaikan cerita agar memenuhi kriteria film karena terbatasnya waktu dibandingkan penceritaan dalam novel. Adegan ini salah satunya ditemukan pada tokoh Emak (ibu Rasus) yang tidak muncul dalam film. Dalam novel disinggung bahwa Srintil adalah bayangan Emak, menurut Rasus. Dalam kehidupan Rasus, ia tidak hanya menyintai Srintil tetapi juga emaknya yang telah lama menghilang. Sejak kecil ditinggal sehingga Rasus berusaha mencari kemana-mana namun tidak bertemu. Hanya pada Srintil, Rasus menumpahkan kerinduannya, karena pada diri kekasihnya ini tampak bayangan ibunya. Film Sang Penari mampu menarik perhatian penonton karena sutradara menunjukkan sikap apresiatif terhadap teks novel RDP. Film ini mampu memvisulisasikan adegan-adegan yang bersifat menghargai teks untuk mengenang kembali perisitwa-peristiwa zaman itu, seperti peristiwa G 30 S, pembantaian massal dan menyusupnya ideologi partai pada kelompok kesenian ronggeng. Peristiwa sejarah kelabu bangsa Indonesia itu tidak tampak secara jelas pada teks novel, khususnya novel RDP terbitan 1993 dan sebelumnya. Dengan demikian bagi penonton film SP akan mendapat pencerahan dan wawasan baru tentang cerita RDP yang asli karena novel ini sempat disensor oleh penerbit demi keamanan pemerintahan Orde Baru waktu itu.
77 Film Laskar Pelangi: Layar Perak dan Layar Kaca Babak baru perkembangan kesusastraan Indonesia ini sebagai bagian dari kebudayaan populer, belum mendapat perhatian yang cukup dari peneliti sastra. Kajian-kajian terhadap novel sampai saat ini masih berpusat pada analisis teks. Padahal perkembangan kesusastraan Indonesia meningkat pesat, merambah ke film (layar perak), televisi (layar kaca) dan internet melalui kemasan budaya populer. Kebudayaan populer adalah teks-teks publik yang umum dan tersebar luas. Makna dan praktik-praktiknya dihadirkan oleh khalayak populer. Sebagai sebuah kategori politik, budaya populer adalah situs kekuasaan dari perebutan makna. Budaya populer melintasi batas-batas kekuasaan kultural dan menelanjangi karakter arbiter klasifikasi kultural dengan cara menantang konsep tinggi/ rendah (Baker, 2005:510). Budaya populer ini umumnya disamakan dengan budaya massa. Menurut Ratna (2005: 593-594), budaya massa berkaitan dengan cara produksi, jadi lebih dekat dengan benda material. Budaya populer berkaitan dengan cara pemanfaatannya secara luas, jadi berkaitan dengan masyarakat banyak seperti sastra populer atau lagu populer. Budaya mas-
Transformasi Budaya 78 I Nyoman Suaka sa dihasilkan melalui teknik industri produksi massa dan dipasarkan bagi kepentingan konsumen secara massal. Orientasi budaya massa lebih mengutamakan uang. Oleh karena itu, budaya massa dilihat sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera rendah, kurang memiliki tantangan intelektual. Konsumen budaya massa bersifat pasif, konsumen budaya populer lebih aktif. 1. Budaya Populer Signifikasi sosial budaya populer di zaman modern dapat dipetakan berdasarkan bagaimana budaya populer itu diidentifikasikan melalui gagasan budaya massa. Lahirnya media massa maupun semakin meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan telah menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan sekaligus perdebatan yang masih ada sampai sekarang. Menurut Strinati (2007:3), perkembangan gagasan budaya populer terkait dengan perselisihan atas makna dan interpretasi yang mendahului menjadi tampak menonjol dalam perdebatan soal budaya massa. Selanjutnya Strinati (2007:4) menyatakan, secara khusus ada, tiga tema atau argumen saling terkait menjadi inti teori budaya populer pada abad keduapuluh, yakni. a. Apa atau siapa yang menentukan budaya populer? Dari mana datangnya budaya populer? Apakah ia lahir dari orang awam sendiri sebagai salah satu bentuk ekspresi mandiri atas kepentingan mereka dari berbagai bentuk pengalaman mereka, ataukah budaya populer itu dipaksakan dari atas oleh mereka yang sedang berkuasa sebagai salah satu bentuk kontrol sosial? Apakah budaya populer muncul dari orang awam, kalangan bawah, atau turun dari para elite, kalangan atas ataukah itu semata merupakan suatu persoalan interaksi dari keduanya? b. Berkenaan dengan pengaruh komersialisasi dan industrialisasi terhadap budaya populer. Apakah lahirnya budaya dalam berbagai bentuk komoditas berarti bahwa kriteria nilai-nilai keuntungan dan nilai jual lebih penting dari kualitas, keindahan, integritas dan tantangan intelektual? Ataukah semakin
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 79 banyaknya pasar universal bagi budaya populer menjamin bahwa budaya tersebut benar-benar populer karena budaya ini menyediakan komoditas yang benar-benar dibutuhkan orang kebanyakan? Siapa yang menang jika budaya populer dibuat secara industri dan dijual sesuai dengan kriteria nilai jual dan nilai keuntungan, perdagangan atau kualitas? c. Menyangkut peran ideologis budaya populer. Apakah budaya populer memang diperuntukkan untuk mengindoktrinasi orang kebanyakan, memaksa mereka dan mengikuti gagasan maupun nilai-nilai yang memastikan dominasi terus menerus mereka yang memiliki kedudukan istimewa yang menguasai mereka. Ataukah ini merupakan pembrontakan dan pembangkangan terhadap aturan sosial umum. Apakah budaya populer ini mengekspresikan perlawanan terhadap mereka yang berkuasa, dengan cara berapapun tidak terasa, halus, dan belum berkembang, dan merupakan subversi caracara berpikir dan bertindak yang dominan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang masih banyak dibicarakan sampai sekarang dalam kajian budaya populer. Namun masalahmasalah tersebut, mendapat perhatian yang sistematis dan penting dalam berbagai pendekatan soal budaya massa. Benyamin dalam Strinati (2007:4–5) menyebutkan, kebudayaan nyaris dapat diproduksi secara tidak terbatas disebabkan perkembangan teknikteknik produksi industri yang menimbulkan banyak persoalan dalam hal gagasan-gagasan tradisional mengenai peranan budaya dan seni dalam masyarakat. Sejalan dengan pandangan budaya pop diatas, Storey (2007:2) menyebutkan, budaya dalam pandangan cultural studies lebih didefinisikan secara politis ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies, bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit yaitu sebagai objek keadiluhungan estetis, juga bukan dalam pengertian sempit yaitu estetik, intelektual dan spiritual melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.
Transformasi Budaya 80 I Nyoman Suaka Alih wacana novel ke dalam kebudayaan populer tentang kajian film memerlukan pemahaman intertekstualitas. Di satu sisi teks tertulis dalam wacana novel dan di sisi lain teks visualisasi dalam media film. Dalam pandangan cultural studies, teks tidak tertutup hanya pada teks tertulis, tetapi meluas pada teks-teks hasil produksi teknologi. Dengan demikian teori interteks amat relevan untuk mengkaji karya sastra yang didaur ulang ke dalam kebudayaan populer. Atas dasar kompetensi pembaca, khususnya pembaca maha tahu, maka lahir teori antarteks. Teori ini mendefinisikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Secara etimologis, teks itu sendiri pun sudah berarti jaringan atau tenunan. Produksi makna terjadi melalui interteks, melalui oposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata persamaan, melainkan juga pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi. Menurut Barthes (1977:159) pluralisme makna dalam interteks bukan sebagai akibat ambiguitas, melainkan sebagai hakikat tenunannya. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak ada teks tanpa interteks. Usaha untuk mencari asal-usul teks merupakan kegagalan sebab dalam interteks tidak ada sumber dan pengaruh. Interteks memungkinkan terjadinya teks plural, dan dengan demikian merupakan indikator utama pluralitas budaya. Stokes (2007:7) mengatakan, teks-teks media adalah bagian dari dunia kita, merupakan fenomena sosial dan kerapkali menjadi perdebatan tentang masyarakat. Teks-teks media tidak saja dalam bentuk buku, surat kabar dan majalah, tetapi dalam dunia budaya pop termasuk, film, televisi, videotape, VCD, dan CD. Sesuai dengan topik tulisan ini, maka dalam pembahasan berikut akan dipaparkan mengenai sebuah novel yang diadaptasi menjadi film untuk selanjutnya dikaji dari sudut budaya populer. 2. Novel ke Film Laskar Pelangi adalah judul sebuah film sebagai bagian dari produk kebudayaan massa dan kebudayaan populer. Film
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 81 I Nyoman Suaka yang diangkat dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini sarat dengan pesan-pesan pendidikan, nilai-nilai optimisme, kesederhanaan serta kejujuran yang luar biasa. Film ini disutradarai Riri Riza dengan penulis skenario Salman Arsito, mengisahkan perjuangan hidup orang-orang yang menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang dapat menyelamatkan hidup manusia dengan latar belakang Pulau Belitung yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia. Dikisahkan di film ini, perjuangan dua guru SD Muhammadiyah dan sepuluh muridnya untuk bertahan dalam mendapatkan pendidikan di Pulau Belitung pertengahan tahun 1970-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah dan Pak Harfan serta sembilan murid yang menunggu di sekolah yang terletak di Desa Gantong, Belitung. Jika tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke-10 murid itu diberi nama Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah dengan menjalin kisah yang tak terlupakan. Pak Harfan dan Bu Mus, guru SD Belitong dalam film Laskar Pelangi.
Transformasi Budaya 82 I Nyoman Suaka Lima tahun bersama, Ibu Mus, Pak Harfan dan ke-10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing-masing berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal, Lintang, dan Mahar dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka. Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Pak Harfan mendadak meninggal dunia dan Lintang sebagai anak pertama harus meninggalkan sekolah serta menjadi nelayan karena ayahnya tidak kembali dari melaut. Sepuluh anggota Laskar Pelangi diperoleh melalui seleksi alami di Belitung. Jadi, pemeran anak-anak dalam film ini memang asli Belitung. Mereka adalah Zulfani (pemeran Ikal), Dian (Lintang), Suharyadi Syah Ramadan (Trapani), Yogi Nugraha (Kucai), Febriansyah (Borek), Suhendri alias A Hen (A Kiong), Muhamad Syukur (Syahdan), Dewi Ratih Ayu Savitri (Sahara), Yepri Yanuar (Harum), Marchella El Jolla Kondo (Flo) dan Levina (A Ling). Meski semua pemain anak-anak itu baru pertama kali berakting di depan kamera, namun seni peran mereka yang polos dan apa adanya justru menjadi kelebihan film ini. Guna memperkuat cerita Laskar Pelangi, film ini pun menyertakan sederet pemain andal, yakni Cut Mini, Ikranagara, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Ario Bayu, Mathias Muchus, Rieke Dyah Pitaloka, Robby Tumewu, Alex Komang, dan Jajang C. Noer. Sebagaimana prosesnya, film ini dibuat berdasarkan sebuah novel yang memiliki banyak pembaca setia. Seperti halnya kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, kisah Laskar Pelangi yang kemudian dibuat versi layar lebar ini sejak awal perbincangan antara pro dan kontra. Sebagian besar pembaca setia novel ini menolak dan memprotes rencana pembuatan film ini karena khawatir hasilnya tak seindah cerita di dalam buku. Pecinta novel itu merasa sangat khawatir kisah mengharukan dan luar biasa itu tidak terangkat ke layar lebar. Riri Riza sudah berusaha keras menyampaikan pesan moral dari novelnya. Melalui jalinan cerita, penokohan, dan juga suasana pada masa berlatar
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 83 belakang tahun 1970-an itu, Riri Riza membangun kisah Laskar Pelangi dengan amat menyentuh. Ia memaparkan ironi tentang pendidikan di Indonesia lewat kisah pilu Lintang yang putus sekolah, kemauan keras Ikal untuk mengejar mimpi, dan semangat Muslimah mendapatkan murid di tengah ancaman sekolah yang akan ditutup. Pemerataan pendidikan untuk anak-anak di daerah pesisir dan pembangunan yang berkeadilan hingga jauh ke pelosok desa adalah sebagian pesan yang tersampaikan secara gamblang. Di sisi lain, kehadiran tokoh Harfan dan Muslimah seolah sindiran pada para pemimpin dan politisi negeri ini. Para pemimpin yang seharusnya lebih banyak memberi daripada menerima, yang lebih banyak menolong rakyat, bukan justru menggerogoti uang rakyat dengan cara korupsi. Nilai-nilai seperti gotong-royong dan kebersamaan yang dilakukan Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) dan masyarakat Belitung membantu SD Muhammadiyah juga menjadi contoh positif untuk masyarakat zaman sekarang yang kerap mementingkan diri sendiri dan bersaing satu sama lain. Lebih jauh lagi, lewat tokoh Ikal, Lintang, dan Mahar, film Laskar Pelangi ini memberi inspirasi, mengajar tentang semangat pantang menyerah, kesetiaan, persahabatan, dan cinta yang universal. Sutradara menyajikan film ini dengan cara membuka cakrawala bahwa harapan masih ada sepanjang orang terus berupaya mencapainya, tanpa mengenal putus asa. Dari sisi gambar, film ini juga memberi latar suasana baru perfilman Indonesia dengan diangkatnya Belitung sebagai sebuah pulau di Indonesia yang sangat indah. Pemandangan alam dan laut Belitung yang asri cukup menyegarkan mata penonton yang selama ini sering dijejali sinema berlokasi di kawasan Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit dan kehidupan mewah. Demikian juga sinetron berlatar pendidikan yang ditayangkan di televisi selama ini sangat bertentangan dengan konsep-konsep pendidikan karena mengumbar percintaan penampilan glamour dan mewah. Hal ini sama sekali tidak dapat disaksikan dalam Laskar Pelangi. Novel dan film adalah dua medium yang berbeda, sekaligus memiliki ciri khas masing-masing. Novel memberi kebebasan
Transformasi Budaya 84 I Nyoman Suaka pembacanya untuk berimajinasi, sedangkan dalam film imajinasi itu dibatasi oleh durasi waktu dan skenario film yang tentu saja tidak bisa disamakan dengan seluruh jalan cerita novel. Dalam novel, ada banyak kisah yang saling terkait satu sama lain yang dituliskan Andrea Hirata, sehingga memindahkan cerita setebal 529 halaman memang bukan hal yang mudah. Andrea menuliskan detail-detail kejadian yang saling berkaitan yang tampaknya membuat penulis naskah Salman Aristo kesulitan untuk memindahkannya ke medium film. Dalam filmnya, terlihat sekali sang sutradara dan penulis naskah ingin memasukkan semua detail cerita dalam novel. Hasilnya adalah cuplikan-cuplikan cerita dalam novel yang semuanya dijejalkan dalam film. Misalnya adegan Flo tiba-tiba menghilang dan ditemukan di sebuah rawa-rawa atau kisah Laskar Pelangi lainnya yang belum digali lebih dalam. Bagi penonton yang sudah membaca novelnya, mungkin menyaksikan film ini tidak terlalu kesulitan. Akan tetapi, bagi penonton yang belum membaca novelnya akan kesulitan karena ada bagian-bagian yang hilang atau bahkan bagian yang berdiri sendiri dan tidak sejalan dengan cerita di adegan sebelumnya. Terlepas dari itu, secara keseluruhan, film ini mewarnai dunia perfilman Indonesia setahun terakhir yang dipenuhi cerita-cerita cinta dan hantu. Film ini dapat menjadi sebuah tontonan yang berkesan bagi penonton lewat pesan-pesan moralnya tersampaikan dengan baik. Lebih dari itu, semangat pantang menyerah anakanak dan guru di SD Muhammadiyah Gantong diharapkan dapat menginspirasi penonton di tengah kehidupan nyata yang penuh beban persoalan. Senyum dan warna-warni pelangi di wajah anakanak Belitung itu memberi secercah harapan akan datangnya masa depan lebih cerah apabila seseorang mau berusaha. 3. Dokumen Budaya Membaca novel dan menyimak film ini lebih jauh, menimbulkan kesan sebagai sebuah dokumen budaya yang disajikan secara halus namun sangat menggelitik. Perlawanan melalui konteks budaya
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 85 populer ini dimaksud adalah perjuangan melawan ketidakadilan pendidikan antara pendidikan swasta di sebuah kampung (SD Muhammadyah) dengan pendidikan pemerintah (SD PN Timah). Diskriminasi pendidikan tersebut tampak dalam beberapa hal, sebagai berikut. No. SD Muhammadyah SD PN Timah 1. 2. 3. 4. 5. Gedung rusak, atap bocor, hampir roboh, lantai tanah jorok karena malam hari jadi kandang kambing Tenaga guru tiga orang, berstatus honor dan tidak digaji. Orang tua siswa pernah memberikan beras 15 kg. Siswa tidak membayar alias gratis. Sarana pendidikan hampir tidak ada, memanfaatkan alam seperti potongan lidi dan atlas yang lusuh dan robek, serta lingkungan Tidak memiliki pakaian seragam, baju kotor, robek, tanpa kancing, alas kaki seadanya, tanpa sepatu Tidak mendapat perhatian dari pemerintah, diancam akan ditutup. Gedung permanen, bertingkat, fasilitas lengkap dengan taman indah tertata rapi Tenaga guru lengkap dan digaji tetap setiap bulan. Siswa dikenai uang SPP. Sarana pendidikan lengkap, setiap siswa diberikan kalkulator gratis, laboratorium lengkap. Memiliki pakaian seragam 5 jenis dipakai pada hari-hari tertentu secara bergiliran. Perhatian pemerintah sangat besar baik dari segi dana maupun sarana. Walaupun dengan kondisi seperti itu, siswa dan guru-guru SD Muhammadiyah tidak pernah berkecil hati. Padahal, sekolah SD PN Timah lokasinya tidak jauh dengan mereka. Dalam beberapa hal, SD Muhammadiyah karena memiliki siswa sedikit terpaksa harus mengikuti ulangan umum di SD PN Timah. Sebuah pemandangan yang sangat kontradiktif dan menyesakkan dada. Pemandangan mengharukan itu tampak kembali berulang-ulang seperti pada perayaan 17 Agustus dan lomba cerdas cermat antar SD di kota kecamatan. Kesederhanaan, keluguan, kejujuran dan tidak rendah diri seperti yang ditanamkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tampak pada anak-anak Laskar Pelangi.
Transformasi Budaya 86 I Nyoman Suaka Perjuangan melawan ketidakadilan itu tidak dilakukan secara brutal, seperti demo anarkis yang kita saksikan selama ini, tetapi secara diam-diam memberikan makna mendalam agar pemerintah juga memberikan perhatian pada sekolah kampung, tidak saja pada sekolah negeri. Laskar Pelangi menunjukkan prestasi yang gemilang. Juara I dalam karnaval 17 Agustus dan diakhir cerita sebagai juara I cerdas cermat. Mereka mampu mengalahkan siswasiswi dari sekolah lain yang selama ini mendapat fasilitas serba berkecukupan dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Perjuangan SD Muhammadiyah dengan segela keterbatasannya akhirnya dihargai oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat. Kutipan berikut ini menunjukkan pengakuan tersebut: “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan arwah baru dalam karnaval ini. Mereka telah mencanangkan suatu standar baru yang semakin kompetitif pada mutu festival ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontatnitas dan totalitas yang menggagumkan sebagai suatu manifestasi penghargaan dari mereka terhadap seni pertunjukkan itu sendiri. Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang. Oleh karena itu, dewan juri tidak punya pilihan lain selain menanugerahkan penghargaan sebagai penampilan seni terbaik tahun ini kepada SD Muhammadyah” (Hirata, 2008:246- 247) Selain prestasi nonakademik, siswa SD kampung ini juga meraih juara I lomba cerdas cermat yang sebelumnya sempat diragukan oleh dewan juri. Lintang yang jago Matematika bersama Mahar dan Ical mengumpulkan nilai tertinggi mengalahkan SDSD negeri di Belitung. Pada soal terakhir yang amat menentukan, Lintang menjawab soal matematika yang cukup sukar itu dengan benar. Namun disalahkan oleh anggota tim juri. Suasana lomba sempat kacau dan panik. Seorang guru SD Belitung yang diperankan Tora Sudiro sempat mengacungkan tangan tanda interupsi. Tora kemudian membenarkan jawaban Lintang karena ia sebelumnya sempat juga menghitung. Dewan juri tetap meragukan jawaban itu. Lintang anak nelayan itu kecewa sembari minta menjawab di
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 87 papan tulis, tentang cara memecahkan hitungan itu. Akhirnya juri meminta maaf karena Lintang benar. SD Muhammadiyah keluar sebagai juara pertama. Pada saat itu Tora, guru negeri itu menilai, SD Muhammadiyah memang sekolah bermartabat. Salah seorang siswa SD negeri, Flo atas keinginan dan restu orang tuanya akhirnya pindah ke sekolah Muhammadiyah bergabung dengan Laskar Pelangi. Pemindahan novel ke layar film mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Perubahan ini, menurut Eneste (1991:60) disebut dengan ekranasi (Ecran dalam bahasa Prancis berarti layar). Unsur-unsur novel, seperti alur, latar, penokohan, dan gaya, oleh pengarang dibangun dengan kata-kata. Alat utama novel adalah kata-kata, segala sesuatu disampaikan dengan katakata. Alihwacana novel ke film berarti terjadi perubahan pada alat-alat yang dipakai, yakni mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Di dalam film, cerita alur, latar, penokohan dan gaya diungkapkan melalui gambargambar yang bergerak berkelanjutan. Pada proses penggarapannya pun terjadi perubahan. Novel adalah kreasi individual dan merupakan hasil kerja perseorangan, sedangkan film merupakan hasil kerja gotong royong. Bermutu atau tidaknya sebuah film banyak bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit di dalamnya, seperti produser, penulis kenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain dan lain-lain. Terkait dengan itu, Lawson (1964:211) menyebutkan, membaca sebuah karya novel adalah suatu proses mental. Katakata yang ditulis pengarang akan menimbulkan imajinasi bagi yang membacanya dan selanjutnya mengerti apa yang hendak disampaikan pengarang. Tidak demikian dengan film. Penonton film disuguhi gambar-gambar hidup, konkret dan visual, seakanakan penonton menyaksikan barang-barang atau benda-benda yang sesungguhnya. Dengan demikian ekranasi berarti terjadi perubahan pada proses penikmatan, yakni dari membaca menjadi menonton. Penikmatnya sendiri berubah dari pembaca menjadi penonton. Ditinjau dari perspektif budaya populer, penggarapan novel Laskar Pelangi ke dalam film merupakan ide yang sangat kreatif.
Transformasi Budaya 88 I Nyoman Suaka Usaha tersebut juga perlu disambut baik sebab memerlukan waktu, tenaga dan dana yang amat besar, berbeda halnya dengan penggarapan sinetron di televisi. Melalui film tersebut, sekaligus dapat meningkatkan popularitas novelnya karena tidak sedikit pembaca kecewa membaca novel tersebut. Banyak dijumpai katakata dalam bahasa latin untuk menyebut nama-nama tanaman, pohon dan lingkungan sekitar Pulau Belitung. Padahal nama-nama untuk istilah itu telah ada sebutan khas Melayu atau Indonesia. Hal ini berbeda dengan gaya penulisan Tohari dalam novel-novelnya yang mengungkapkan masalah sama dengan bahasa-bahasa khas setempat, sebagai salah satu keunggulan gaya berceritanya. Apa yang ditulis Andrea Hirata bertentangan dengan tokoh cerita tingkat usia anak-anak yang belum paham istilah latin. Kelemahan itu dalam film tidak tampak sehingga dapat menutupi kekurangan pengarang. Adaptasi novel ke dalam film selalu memunculkan pertanyaan, sejauh mana sang sutradara dan penulis skenario, mampu mempertahankan cerita aslinya? Dalam kasus Laskar Pelangi, sutradara Riri Reza cukup gemilang karena menghasilkan film yang bermutu. Bahkan cerita dalam film lebih indah dan lebih menarik dari teks aslinya. Penulis novel Andrea Hirata mengaku sangat puas dan takjub setelah menonton yang merupakan adaptasi dari buku karangannya. “Terus terang bagi saya Laskar Pelangi adalah sebuah memoir, sebuah kisah masa kecil dalam film. Ini yang sulit saya gambarkan bagaimana kebahagiaan saya,” kata Andrea Hirata dalam acara konfrensi pers peluncuran film Laskar Pelangi di Jakarta (Mandala, 26 September 2008). Kebahagiaan dan kepuasan itu terbalik dengan yang dirasakan oleh pengarang-pengarang novel yang telah disebutkan di awal tadi yang penuh kekecewaan dan ketidakpuasan. 4. Industri Hiburan Dalam konteks budaya populer, industri perfilman sering diasumsikan mengikuti selera pasar. Sukses atau tidaknya produk itu di pasar, bergantung kepada nilai jual produk yang dapat me-
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 89 nampilkan budaya pop yang penuh glamour. Namun nilai komersial yang mengkuti kecenderungan seperti itu (budaya pop yang glamour) terbantah oleh film Laskar Pelangi. Membludaknya penonton baik di Jakarta maupun di daerah-daerah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia mulai membuka diri terhadap film di luar tematema percintaan, perselingkuhan, horor, dan komedi. Tema-tema seperti itu identik dengan selera konsumen budaya pop. Asumsi selama ini bahwa produk industri hiburan yang sarat nilai kultural edukatif seperti Laskar Pelangi, pasti ditolak pasar, gagal menggaet penonton (konsumen). Siapa yang mengejar komersialisasi dan popularitas akan meraih untung dan yang menentang kecendrungan itu akan buntung. Asumsi tersebut terbantahkan, sebab dengan satu juta orang penonton saja, menurut Produser Laskar Pelangi Mira Lesmana, biaya produksi sudah balik modal (Jawa Pos, 7 Oktober 2008). Dalam 10 hari di awal pemutaran film ini, penonton sudah mencapai 1,1 juta orang. Itupun baru penonton di Jakarta belum terhitung penonton hari ke-11 dan selanjutnya serta penonton di daerah-daerah. Beberapa kepala sekolah dan guru di Denpasar mewajibkan siswanya menonton film ini seperti di sekolah lingkungan Muhammadyah. Hal ini berarti keuntungan semakin banyak. Masyarakat tampaknya kian sadar bahwa mereka membutuhkan hiburan di layar lebar yang memiliki unsur budaya serta kaya pesan-pesan moral dan pendidikan. Mereka sudah terlalu lama dijejali hiburan picisan yang serba instan dan komersial sebagai pemenuhan budaya populer. Setiap hari, mereka digiring dan dipaksa untuk menonton tayangan hiburan, kehidupan mewah, kisah-kisah romantis yang antirealitas di televisi. Film Laskar Pelangi yang diadopsi dari novel judul sama karya Andrea Hirata mampu menolak asumsi kecenderungan budaya pop yang menampilkan tema-tema percintaan, kemewahan dan antirealitas. Film ini mampu membantah simbol budaya pop yang mengikuti kecenderungan popularitas dan kehidupan serba glamour oleh tokoh-tokoh manusia, sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, dan takwa. Dalam konteks cerita