140 tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan. Perubahan itu bisa mengalami penciutan, penambahan (perluasan) dan perubahan dengan sejumlah variasi. Sapardi Djoko Damono (2005) memiliki istilah alih wahana untuk maksud yang sama, namun istilah ini memiliki cakupan yang lebih luas dari ekranisasi. Ekranisasi merupakan perubahan menuju layar putih, sedangkan alih wahana bisa dari berbagai karya seni ke jenis karya seni lain. Walaupun demikian istilah ahih wahana tidak bertentangan dengan makna dan konsep dasar dalam ekranisasi. Menurut Damono (2005) bahwa alih wahana merupakan perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain. Alih wahana yang dimaksudkan di sini berbeda dengan terjemahan. Terjemahan atau penerjemahan adalah pengalihan karya sastra dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sedangkan alih wahana adalah pengubahan karya sastra atau kesenian menjadi jenis kesenian yang lain. Dia mencontohkan karya sastra diubah menjadi film, drama dan tari. Alih wahana juga bisa terjadi dari film menjadi novel atau puisi yang lahir dari lukisan atau lagu dan sebaliknya. Selanjutnya Damono menyebutkan di dalam alih wahana akan terjadi perubahan, dengan kata lain, akan tampak perbedaan antara karya yang satu dan karya hasil alih wahana tersebut. Alih wahana ke film, misalnya, unsur-unsur novel seperti tokoh, latar, dan alur harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain (Suseno dalam Jurnal Sastra Stainu, edisi Maret 2010). Di dalam ekranisasi, peralihan media dari karya sastra ke media film berpengaruh pula pada berubahnya hasil yang bermediakan bahasa atau kata-kata kedalam film yang bermediakan gambar audiovisual. Jika didalam novel penggambaran atau pelukisan dilakukan dengan menggunakan media kata-kata atau bahasa, dalam film diwujudkan melalui gambar gambar bergerak yang menghadirkan suatu rangkaian peristiwa. Perbedaan media dua karya seni memiliki karakteristik yang berbeda pula. Menurut Suseno (2010) bahasa sebagai medium karya sastra memiliki sifat keterbukaan sehingga proses mental
141 lebih banyak terjadi. Bahasa yang digunakan memungkinkan memberi ruang yang luas bagi pembaca untuk menafsirkan dan mengimajinasi segala sesuatu yang diungkapkan oleh teks sastra tersebut. Sedangkan media gambar memiliki keterbatasan. Gambar yang disajikan merupakan satu bentuk absolut yang bersifat paket. Penonton menerima gambar tersebut dan hampir tidak tersedia ruang baginya untuk megimajinasi gambar yang ditontonnya. Faktor lain yang berpengaruh adalah durasi waktu dalam penikmatan film. Terbatasnya waktu memberikan pengaruh tersendiri dalam proses peneriman dan pembayangan. Selain perubahan bentuk, ekranisasi juga merupakan transformasi kerja. Eneste (1991) menyebutkan dalam proses penciptaan novel merupakan kerja atau kreasi individu, sedangkan film merupakan kerja tim atau kelompok. Novel merupakan hasil perseorangan yang melibatkan pengalaman, pemikiran, ide dan lain lain, sedangkan film merupakan hasil kerja bersama yang meliputi penulis skenario, sutradara, aktor, juru kamera, penata artistik, dan lain lain. Dengan demikian ekranisasi juga dapat dikatakan sebagai proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatu yang dihasilkan secara bersama sama atau gotongroyong. Suseno (2010) mengatakan salah satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita dalam sastra untuk memenuhi tuntutan transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur sastra, seperti alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adnya proses penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film. Lebih lanjut Suseno menyebutkan beberapa alasan dalam penciutan atau pemotongan unsur cerita sastra, yaitu. 1. Adegan maupun tokoh tertentu dalam karya sastra tidak diperlukan atau tidak penting ditampilkan dalam film. Hal ini tidak terlepas dari pertimbangan tujuan dan durasi waktu penayangan. 2. Alasan mengganggu yaitu adanya anggapan atau alasan sineas bahwa menghadirkan unsur-unsur tersebut justru dapat
142 mengganggu cerita di dalam film. 3. Adanya keterbatasan teknis film atau media film bahwa tidak semua bagian adegan atau cerita dalam karya sastra dapat dihadirkan di dalam film. Hal ini terkait dengan sifat yang dimiliki oleh kedua medium tersebut, yakni bahasa dan gambar (audiovisual). 4. Alasan penonton atau audien. Hal ini juga berkaitan dengan persoalan durasi waktu . Selain penciutan, proses transformasi sastra ke bentuk film juga terjadi penambahan (perluasan). Proses penambahan ini bisa terjadi pada ranah cerita, alur, penokohan, latar, maupun suasana. Selain penciutan dan penambahan juga sering terjadi variasi variasi yag memngkinkan terjadi dalam proses transformasi sastra ke film. Terjadinya variasi dalam transformasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti media yang digunakan, persolan penonton, dan durasi waktu pemutaran. 2. Sikap Kritis Sutradara Untuk mengetahui bagaimana sebaiknya transformasi karya sastra ke film dan sinetron, penulis melakukan wawancara dengan sutradara Putu Wijaya. Wawancara ini dilakukan secara tertulis melalui surat yang telah dilengkapi kuisioner (daftar pertanyaan) tertanggal 20 Juli 2009. Kuisioner tersebut diserahkan dalam suatu pertemuan antara penulis dengan Putu Wijaya (narasumber) di Pusat Bahasa Jakarta. Beberapa hari kemudian penulis menerima balasan dari narasumber. Dipilihnya Putu Wijaya sebagai narasumber karena ia adalah seorang sastrawan, dramawan, budayawan, penulis skenario, aktor film dan sinetron serta sutradara. Sebagai sastrawan ia tergolong serba bisa, menulis naskah drama, novel, cerita pendek, esei, bahkan puisi. Sejak SMA Putu Wijaya sudah aktif berteater, selepas SMA bergabung dengan bengkel teater Rendra, lalu teater Arifin C. Noer, hingga mendirikan teater sendiri, yaitu teater Mandiri. Sejak itu praktis ia menjadi motor teater Mandiri, menulis naskah sekaligus menyutradarainya. Ia juga menulis skenario dan menyutradarai sejumlah film. Belakangan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 143 dia terjun menggarap beberapa sinetron. Meski aktivitasnya kian berjubel, ia tak pernah berhenti menulis. Di sela-sela latihan teater, di perjalanan suatu tempat, di dalam taksi, di ruang tunggu sebuah seminar, di bandara, di peron stasiun kereta api, dimana saja berada Putu memanfaatkan waktu untuk menulis. Itu sebabnya ia tergolong dari sedikit sastrawan kita yang amat produktif. Putu Wijaya lahir di Tabanan, anak bungsu dari I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati, keluarga bangsawan di Puri Anom. Sebagai keluarga puri, Putu mestinya hidup nyaman seperti umumnya bangsawan. Namun ia lahir di zaman sulit, zaman Jepang, yang juga menimpa keluarga Puri Anom. Harta kekayaan, khususnya tanah, harus diserahkan kepada pemerintah Jepang dengan harga murah. Bukan hanya itu, kesulitan juga terjadi setelah Indonesia merdeka. Gerakan Landreform menyergap tanah dan sawahnya. Kondisi buruk yang tidak pandang bulu ini memengaruhi Putu kecil hingga ketika remaja dan apalagi dewasa. Perspektifnya terhadap Bali berbeda dengan cara pandang orang Bali umumnya. Khusus trauma Landreform, Putu mengakui selalu menimbulkan “bayangan hitam” setiap ia pulang ke Bali. Puri baginya menjadi tempat yang justru membawanya masuk ke dunia murung, sakit, sedih, tak berdaya, takut dan sejenisnya. Tidak ada “rumah” yang membuatnya betah dan karena itu terus mengembara, mencari jati diri, membongkar, mempertanyakan realitas melalui karya-karyanya. Jalan kesenimanan Putu Wijaya terbuka lebar setelah ia sekolah di SMA Negeri Singaraja. Di sana Putu berguru kepada I Gede Dharna, pemimpin sebuah kelompok drama di Singaraja kala itu. Di Singaraja pulalah Putu menikmati sejumlah pergelaran yang dimainkan tokoh-tokoh drama dari Yogyakarta, seperti Motinggo Busye, Nizar, dan Nasjah Djamin yang pentas ke Singaraja. Intensitas dan keseriusannya memasuki drama dan seni umumnya dikentalkan di Yogyakarta ketika Putu kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, ASDRAFI dan ASRI. Di Yogyakarta itulah ia bergabung dengan Bengkel Teater (1967) dan tampil sebagai aktor dalam pentas “Minikata” dan ”Oedipus sang Raja“ yang disutradarai Rendra. Menjelang tahun 70-an hijrah ke Jakarta, bergabung dengan teater kecil Arifin C. Noer (1970), lalu mendirikan
Transformasi Budaya 144 I Nyoman Suaka teater Mandiri tempatnya berteater hingga sekarang ini. Tamat dari Fakultas Hukum UGM, Putu tidak pulang ke Bali. Pengalaman sebagai mahasiswa di Yogyakarta sedikit banyak tampak dalam novel Bila Malam Bertambah Malam. Setelah ia ke Jakarta, “menjadikan” Bali sebagai “masa silam” terlihat pula dalam novel Telegram, Pabrik, Stasiun, juga drama-dramanya: Aduh, Dag Dig Dug, dan Edan hingga sejumlah cerpen dan monolog yang ditulis tahun-tahun kemudian. Karya-karya itu menurut Sri Rahayu Prihatmi (Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang) mencerminkan perjalanan sekaligus pencarian diri di tengah kenangan pada masa silam dan semerawutnya kehidupan masa kini. Putu menempuh studi di Fakultas Hukum, tetapi tidak bekerja di lembaga hukum. Ini gejala menarik. Akan tetapi sebagaimana tampak dalam banyak karyanya dan ini juga diakui Putu, lewat cerita dan drama ia bisa melakukan semacam advokasi buat mereka yang tidak berdaya, sekaligus mempertanyakan apa itu” kebenaran”. Itu berarti, pendidikan yang diterima Putu langsung tak langsung turut mempengaruhi karyanya. Setiap sastrawan umumnya seorang pembaca. Meski Putu pernah mengaku tak banyak membaca, nyatanya sejak SMP sudah mengenal hampir semua sastrawan Pujangga Baru. Ia juga menyukai cerita-cerita pertualangan Karl May, komik wayang, Tarzan, ceritacerita binatang, cerita Don Kisot. Ia juga membaca karya terjemahan karya-karya William Saroyan, Boris Pasternak, dan John Steinbeck membuatnya amat terkesan. Kalau kita perhatikan sejumlah bacaannya yang bercorak (wayang, tarzan, dan cerita binatang) dan pertualangan (karya Karl May), adalah logis bila karya-karya Putu tampil serba menerabas berbagai ketidakmungkinan. Dalam dongeng dan pertualangan, apapun bisa terjadi. Tak tercatat berapa banyak sebenarnya karya Putu Wijaya. Namun setidaknya lebih dari 30 novel, 40 drama, 500 cerpen, dan puluhan monolog telah lahir dari kegelisahannya. Beberapa kritikus dan peneliti merespons karya-karyanya dalam bentuk esei, makalah, bahkan penelitian (skripsi, tesis, dan disertasi). Di IKIP dan fakultas sastra, karya-karya Putu termasuk bahan utama perkuliahan. Di kelompok-kelompok teater, baik di sekolah, kampus, maupun
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 145 sanggar, karya-karya Putu sering menjadi langganan untuk materi pentasnya. Karena karyanya juga dibaca dan ditelaah peneliti asing, beberapa karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Belanda, Inggris, Rusia, Prancis, Jepang, Arab, dan Thailand. Selain menulis, bermain peran, dan menyutradarai, Putu pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Ekspres, Tempo (1971–1979) dan kemudian Zaman (1979–1985). Sempat pula menjadi pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia juga mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika (1974), mengikuti Festival Teater Nancy, Prancis (1975), Festival Horizonte III di Berlin (1985), dosen/ sutradara tamu di Amerika (1985–1988) atas undangan Full Bright, mementaskan Gerr (Geez) dan Aum (Roar) di Madison, New York City, membawa Yel dalam KIAS (1991), mendapat fellowship dari The Japan Fondation (1991–1992) untuk menulis novel sekaligus sebagai tamu di Universitas Kyoto. Sebagai seniman yang produktif dan menunjukkan kualitas yang membanggakan, Putu menggondol sejumlah penghargaan bergengsi, baik dalam sastra maupun teater dan film. Tahun 1980, Ratu Sirikit Thailand menganugerahkan penghargaan SEA Write Award dan Pemerintah Indonesia menghormatinya dengan memberikan Anugerah Seni pada tahun 1991. Sementara itu, tiga skenario filmnya, antara lain Perawan Desa, Kembang Kertas, dan Ramadan dan Ramona, mendapatkan Piala Citra dari Festival Film Indonesia (FFI). Selain berhasil dalam sastra dan teater, Putu Wijaya cukup menuai sukses dalam film dan sinetron. Ia menulis skenario/ menyutradarai tiga film layar lebar (Cas Cis Cus, Zig-zag, dan Plong) dan menggarap Dukun Palsu (13 episode), Pas (52 episode) None (39 episode ), Warteg (20 episode), dan Jari-Jari Cinta yang ditayangkan televisi swasta di negeri ini. Karya-karya sinetronnya diproduksi oleh Putu Wijaya Mandiri Production. Menyimak riwayat hidup Putu Wijaya seperti di atas, maka pemikiran dan pandangan dia tentang transformasi budaya dari karya sastra ke film dan sinetron layak mendapat perhatian. Berikut petikan wawancara dalam bentuk dialog antara penulis dengan Putu Wijaya.
Transformasi Budaya 146 I Nyoman Suaka Penulis : Bagaimana tanggapan anda terhadap perkembangan karya sastra yang ditransformasi menjadi film atau sinetron? Putu Wijaya : Itu sangat baik akan membantu apresiasi dan sosialisasi sastra pada masyarakat. Penulis : Apakah film/sinetron tersebut tidak merugikan pengarang karena pengarang telah bersusah ayah berkarya, sedangkan sutradara mengambil cerita yang sudah ada? Putu Wijaya : Tidak bisa ditempuh prosedur yang benar seperti harus ada izin dari pengarang dan pengarang mendapat imbalan semestinya. Perubahan-perubahan atau tambahan dalam film yang berbeda dengan novelnya harus mendapat persetujuan pengarang karena menyangkut hak cipta yang dilindungi oleh hukum. Penulis : Apa dampak positif, bagi pengarang novel yang karyanya difilmkan? Putu Wijaya : Menambah publikasi dan mendapat honor. Penulis : Dampak positif bagi sutradara? Putu Wijaya : Novel yang sudah dikenal mendapat jaminan penontonnya akan lebih luas. Sutradara akan lebih memahami keindonesiaan karena segi cerita termasuk amat lemah, dalam dunia sinetron karena tidak diserahkan atau ditangani oleh yang ahli. Penulis : Dampak positif bagi penonton/pemirsa? Putu Wijaya : Moral cerita akan lebih bertanggung jawab. Kecerdasan penonton akan dihargai, tidak seperti sekarang. Penulis : Sebaliknya apa dampak negatif transformasi novel ke film bagi pengarang? Putu Wijaya : Mungkin orang memilih film/sinetron sebab menghemat waktu. Berarti novel tidak akan dibaca, apalagi kalau film atau sinetronnya buruk atau gagal. Penulis : Bagi sutradara? Putu Wijaya : Sebenarnya tidak ada, kecuali sutradara tidak memilih novel itu karena tidak suka tetapi diminta oleh produser. Akibatnya novel bisa dirusak disesuaikan dengan seleranya. Penulis : Bagi pemirsa? Putu Wijaya : Novel yang diubah pesan moralnya akan bergeser. Nilai sastranya bisa hilang karena kepentingan bisnis. Penulis : Bagaimana sebaiknya proses penggarapan novel ke sinetron
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 147 agar bisa diterima oleh pengarang dan pemirsa? Putu Wijaya : Agar dilakukan diskusi yang mendalam antara penulispenulis skenario, produser, dan sutradara. Hal ini sudah dilakukan dalam penggarapan novel Sitti Nurbaya ke sinetron tayangan TVRI. (Putu Wijaya sangat memuji kualitas sinetron Sitti Nurbaya TVRI. Dibandingkan versi yang lain, sinetron Sitti Nurbaya tayangan TVRI yang paling baik karena sinetron tersebut mampu mempertahankan alur cerita, karakter tokoh, dan latar cerita aslinya). Penulis : Bagaimana dengan kualitas Sinteron Sitti Nurbaya tayangan Trans TV. Putu Wijaya : Dalam sinteron Sitti Nurbaya tayangan Trans TV, terjadi perubahan alur, karakter tokoh, dan latar cerita. Perubahan itu merupakan hasil interpretasi penulis skenario. Interpretasi tersebut dapat dilakukan asalkan konsepnya tidak merusak benang merah atau pesan moral novel Sitti Nurbaya. Kalau konsepnya sangat bertentangan dengan novel aslinya, hal tersebut melanggar hak cipta dan menipu masyarakat. Penulis : Agar tidak melanggar hak cipta dan menipu masyarakat, apa yang harus dilakukan? Putu Wijaya : Dalam sinetron atau film agar dicantumkan kata-kata, mendapat inspirasi dari ... atau adaptasi dari... Hal ini pun harus dengan persetujuan penulis atau ahli warisnya. Penulis : Apakah penting keterlibatan pengarang atau ahli warisnya? Putu Wijaya : Penting. Terutama soal hak cipta dan aspek bisnisnya. Keterlibatan pengarang atau ahli warisnya sangat penting karena menyangkut hak cipta dan aspek bisnisnya. Penulis : Ada sinetron yang tidak sesuai dengan cerita asli dalam buku. Hanya mengambil nama besar judul novel tersebut, bagaimana pendapat anda? Putu Wijaya : Kalau itu terjadi dengan persetujuan pengarang tidak apa. Tetapi kalau tidak, itu kriminalitas, dapat dituntut karena menipu penonton. Sebuah ilustrasi, penggarapan novel Sitti Nurbaya ke dalam sinetron oleh sutradara Dedi Setiadi dan Dedy Armand, berdasarkan pengamatan penulis telah mendapat persetujuan dari ahli warisnya, sebab pengarang Marah Rusli ketika itu telah almarhum. Dalam tayangan TVRI, divisualisasikan nama Ruslan Rusli sebagai ahli
Transformasi Budaya 148 I Nyoman Suaka waris pengarang. Dalam proses pengarapan sinetron Sitti Nurbaya versi modern, pihak produser dan Direktur Utama Trans TV, Ishadi ketika itu, telah memperoleh persetujuan dari ahli waris pengarang (Ruslan Rusli dan Hary Rusli). Pada kesempatan lain, Putu Wijaya pengarang novel dan cerpen yang sangat produktif ini mengajak agar masyarakat bersikap kritis terhadap tayangan sinetron dan film. Sebab, mereka yang memproduksi sinetron ini lebih mementingkan agar produknya laku, bukan produknya bermutu. Masyarakat juga dihimbau jangan cepat panik karena adegan dalam sinetron dan film merupakan hasil rekayasa teknologi (Bali Post, 30 November 2009). ”Jangan menonton sinetron yang merusak moral. Bila perlu buat surat pembaca untuk menyampaikan keluhan itu di media massa serta lakukan demonstrasi. Kalau kompak tidak menonton, maka sinetron tersebut tidak akan laku sehingga sutradara dan produser akan rugi,” ujar Putu Wijaya ketika dialog interaktif di depan mahasiswa dan dosen IKIP Saraswati Tabanan, Kamis, 26 November 2009. Kepada penulis Putu Wijaya mengatakan, tidak ada sutradara dan produser yang mau rugi. Akhirnya alur cerita dibuat sedemikian Sastrawan Putu Wijaya bersama Penulis (Dok. Pribadi)
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 149 rupa untuk menambah ketegangan penonton dengan adegan pukulan berdarah serta romantis berlebihan. Adegan dalam film penuh rekayasa sebagai hasil teknologi dengan memanfaatkan trik kamera. Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat jangan cepat resah dan panik ketika menonton film atau sinetron. 3. Sikap Kritis Sastrawan Selain dengan sastrawan Putu Wijaya, penulis juga melakukan wawancara dengan sastrawan Taufik Ismail sebagai narasumber, Sabtu 24 Januari 2009 di sebuah hotel tempatnya menginap di Denpasar. Taufik Ismail yang meraih Doktor Honoris Causa bidang Pendidikan Sastra di Universitas Negeri Yogyakarta ini merasa sangat gembira karya sastra diadaptasi ke dalam cerita sinetron atau film. Menyaksikan sinetron diharapkan dapat mengetahui nilai-nilai yang ada dalam sastra, seperti nilai luhur, kerja keras, solidaritas, kejujuran, dan penderitaan. Ketika ditanya, apakah sinetron tersebut tidak merugikan novel yang telah bersusah payah disusun oleh pengarangnya? Taufik mengatakan, belum tentu. Kalau digarap dengan baik sesuai dengan roh ceritanya, maka akan membantu perkembangan sastra di Indonesia. Sebaliknya, kalau digarap asal-asalan, keluar dari konteks cerita maka akan mengganggu bahkan merusak novel tersebut. Mengenai dampak positif dan negatif novel disinetronkan, Taufik yang juga redaktur senior Majalah Sastra Horison, Jakarta ini mengatakan, dampak postifnya akan memperkenalkan sastra lebih luas ke masyarakat sehingga nilai-nilai luhur karya sastra dapat dinikmati oleh masyarakat. Dampak negatifnya, apabila para sutradara tidak menggunakan kontribusi nilai-nilai tadi melalui televisi. Sebab, hal yang utama dilakukan pengelola televisi adalah mengejar rating untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dengan rating yang tinggi akan mendatangkan iklan yang banyak, sehingga mampu memuaskan pemegang saham televisi dan pemilik modal, kata Taufik Ismail. Terkait dengan sinetron Sitti Nurbaya yang diadopsi dari novel Sitti Nurbaya, Taufik mengatakan mutu karya sastra harus dipertahankan dengan memperhatikan masalah-masalah isi
Transformasi Budaya 150 I Nyoman Suaka cerita, tema, alur, latar dan penokohan agar digarap secara baik dengan melibatkan mereka yang paham dengan sastra. Selama ini banyak pengelola televisi tidak memahami dan membaca sastra sehingga sinetron keluar dari naskah aslinya. Senada dengan pendapat Putu Wijaya, Taufik mengatakan, penggarapan novel ke sinetron agar melibatkan pengarangnya atau ahli warisnya. Untuk mempertahankan mutu karya sastra dalam sinetron, tidak cukup dengan melibatkan sastrawan dan ahli warisnya, tetapi juga kritikus sastra, akademisi dan guru sastra. Ketika ditanya, sinetron Sitti Nurbaya yang menyimpang dari cerita aslinya dengan menambah tokoh baru, seperti tayangan Trans TV, Taufik menilai, hal tersebut sangat memprihatinkan. Kalau mau menambah tokoh atau unsur lainnya, lebih baik membuat cerita yang baru. ”Jangan menumpang kemasyhuran pengarang dengan meminjam nama besar pengarang kemudian ditumpangi oleh halhal yang berbau komersial. Saya tidak rela,” ujar Taufik Ismail. Ia menambahkan, sebaiknya sutradara menghargai cerita karya pengarang, bukan seenaknya untuk memenuhi tuntutan selera anak muda dan gaya zaman modern. Sebab nilai-nilai tradisional yang tercermin dalam sastra itu perlu disampaikan kepada generasi muda. Banyak nilai-nilai tradisional yang masih relevan untuk masa kini seperti nilai kejujuran, kesederhanaan dan solidaritas. Keterbatasan dan kesulitan hidup yang dialami generasi muda terdahulu perlu diketahui dan dihayati oleh generasi sekarang. Versi cerita yang lama diapresiasi untuk bekal kehidupan bukan mengubah ceritanya. Sehubungan hal tersebut, Taufik mengajak sastrawan agar memberikan masukan dan semangat dalam penggarapan novel ke sinetron. Untuk itu diperlukan ruang diskusi agar tidak menyimpang dengan cerita asli, dan kreativitas sutradara perlu ditingkatkan. Penyadaran yang lebih penting lagi, menurut Taufik adalah, menumbuhkan budaya malu. Malu mengadopsi karya orang lain hanya untuk meraih keuntungan dan ketenaran, serta hanya untuk memenuhi selera kapitalis.
151 Transformasi Budaya dari Novel ke Audiovisual Penampilan kembali novel ke dalam bentuk audiovisual (film dan sinetron) mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Menurut Eneste (1991:60), proses perubahan ini disebut ekranisasi. Ekranasi adalah pemindahan atau pengangkatan novel ke dalam film. Pengangkatan novel ke dalam film yang diistilahkan ekranasi oleh Eneste itu akan dijadikan rujukan, walaupun perubahan itu dalam bentuk sinetron. Kata sinetron adalah singkatan dari dua kata, yaitu kata sinema dan kata elektronika. Istilah sinema bersinonim dengan film, sedangkan istilah elektronika berlaku, baik pada film maupun televisi. Sinetron juga populer disebut FTV (film televisi) Media utama dalam novel adalah kata-kata. Pengarang bercerita dengan media kata-kata, segala sesuatunya disampaikan dengan kata-kata. Alur, latar, penokohan, gaya bercerita dan gaya bahasa dibangun dengan kata-kata. Transformasi novel ke sinetron (audiovisual) berarti terjadinya perubahan pada alat-alat atau media yang dipakai. Sutradara sinetron mengubah kata-kata menjadi dunia gambar yang bergerak berkelanjutan. Di dalam sinetron, seperti cerita, alur, latar, penokohan, dan gaya diungkapkan dengan gambargambar bergerak. Apa yang diungkapkan atau dilukiskan dengan kata-kata, harus diterjemahkan dengan dunia gambar-gambar. Selain proses perubahan dari kata-kata ke gambar-gambar, Bluestone dalam (Eneste, 1991), juga menyebutkan terjadi perubahan pada proses penggarapan. Novel adalah kreasi individual pengarangnya dan merupakan hasil kerja perseorangan. Seseorang yang mempunyai pengalaman, pemikiran, ide, atau hal lain dapat saja menuliskannya di atas kertas sehingga terwujud sebuah novel yang siap dibaca orang lain. Tidak demikian pembuatan sinetron.
Transformasi Budaya 152 I Nyoman Suaka Sinetron sebagai industri budaya merupakan hasil kerja gotong royong. Bagus tidaknya sebuah sinetron, banyak bergantung kepada keharmonisan kerja unit-unit di dalamnya, seperti produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, dan para pemain. 1. Membaca Novel Menonton Sinetron Membaca sebuah karya novel adalah suatu proses mental. Kata-kata yang ditulis pengarang akan menimbulkan imajinasi bagi yang membacanya. Tidak demikian halnya ketika menonton sinetron. Penonton disuguhi gambar-gambar hidup, konkret dan visual, seakan-akan penonton sedang menyaksikan barang-barang atau benda sesungguhnya. Seseorang bisa membaca novel sewaktuwaktu, sedang menonton sinetron di televisi hanya bisa pada jamjam tertentu. Memperhatikan berbagai perbedaan antara novel dengan sinetron tersebut di atas, maka transformasi novel Siti Nurbaya ke sinetron seperti yang banyak di singgung dalam buku ini mengalami proses perubahan yang meliputi: (1). Proses perubahan dari dunia kata-kata ke dunia gambar-gambar; (2). Proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatu yang dihasilkan secara bergotong royong; dan (3). Proses perubahan pada proses penikmatan yakni dari membaca menjadi menonton. Penikmatnya sendiri berubah dari pembaca menjadi penonton. Transformasi Siti Nurbaya ke sinetron dalam bentuk ekranisasi itu, mengakibatkan perubahan yang meliputi, penciutan, penambahan dan perubahan bervariasi. Dalam pandangan cultural studies, perubahan ini identik dengan transposisi budaya. Ketiga hal ini akan dikaji secara komparatif dengan teks sumber adalah novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Struktur instrinsik dan ekstrinsik novel dikaitkan dengan sinetron Siti Nurbaya produksi TVRI dan dengan sinetron Siti Nurbaya ditayangkan Trans TV untuk mengetahui hasil transformasi budaya.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 153 2. Alur, Latar, dan Penokohan Kedua sinetron ini ditayangkan dalam waktu berbeda dengan selisih waktu cukup lama (13 tahun). Sinetron TVRI ditayangkan tanggal 7, 14, 21 dan 29 bulan September 1991 selama empat episode dan Trans TV bulan Oktober 2004 selama empat episode. Masing-masing produser mengakui, sinetron Siti Nurbaya yang diproduksinya itu merupakan adaptasi dari novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Kedua produser ini telah mendapat izin dari ahli waris pengarang, Ruslan Rusli dan Harry Rusli. Kedua orang ini masing-masing sebagai anak dan cucu-cucu Marah Rusli (Suara Karya Minggu IV, Februari 1991) Dengan demikian, produser dan sutradara telah memberikan apresiasi positif terhadap novel Sitti Nurbaya dan pengarangnya. Perbedaan dari kedua tayangan tersebut adalah, sinetron TVRI mempertahankan cerita asli termasuk penggunaan judul novel dengan lengkap yakni Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, sedangkan tayangan Trans TV sangat menyimpang dari konteks cerita aslinya, termasuk tidak menyebutkan subjudul, Kasih Tak Sampai. Tayangan Sinetron TVRI merupakan representasi dari tokoh Sitti Nurbaya zaman klasik, sedangkan tayangan Trans TV adalah Sitti Nurbaya zaman kekinian. Unsur-unsur novel seperti alur, latar, penokohan tidak banyak berubah setelah divisualisasikan dalam sinetron TVRI. Hal ini sangat bertentangan dengan sinetron Trans TV yang banyak mengalami perubahan dari sumber cerita. Unsur-unsur novel tetap ada, namun tidak lagi memperhatikan ide dasar cerita aslinya. Dalam pandangan teori inerteks, dapat disebutkan bahwa TVRI melakukan kegiatan apresiasi (menghargai) teks sumber sedangkan Trans TV melakukan dekonstruksi teks. Kedua sinetron menggunakan alur konvensional yakni, jalan cerita dimulai perkenalan, peristiwa bergerak, klimaks, antiklimaks dan penyelesaian. Ketegangan cerita dengan intrik-intrik konflik terjadi di kedua sinetron. Namun, intrik-intrik konflik yang berlikuliku sangat terasa dalam tayangan Sitti Nurbaya Trans TV. Konflik antartokoh yang diceritakan menang, kemudian kalah, yang kalah kemudian menang dan yang menang kemudian kalah demikian
Transformasi Budaya 154 I Nyoman Suaka sebaliknya, berulang kali terjadi sehingga membosankan. Tokoh Samsulbahri melawan Datuk Maringgih dan komplotannya untuk memperebutkan Sitti Nurbaya mengalami ketegangan sangat tinggi. Peneliti menyaksikan, konflik antartokoh utama ini selalu memunculkan ide-ide baru untuk dapat mengalahkan lawannya. Setelah kalah, lalu membuat ide baru untuk menyerang lawan dan berhasil. Keberhasilan itu tidak dirasakan terlalu lama, karena muncul lagi konflik baru sehingga mendapat serangan dan kalah. Tokoh yang kalah berupaya menyusun strategi baru untuk mengalahkan lawan dan menang yang sifatnya sementara. Intrik-intrik ini membuat pemirsa penasaraan untuk mengikuti alur cerita selanjutnya. Hal ini sebagai strategi sutradara untuk membujuk pemirsa agar tidak memindahkan saluran televisi yang sedang ditontonnya. Dari psikologis pemirsa, tayangan alur seperti itu akan merasakan kedekataan pribadi pemirsa secara fanatik dengan tokoh cerita. Umumnya, psikologis pemirsa dapat dibedakan menjadi perasaan simpati dan antipati. Pemirsa bersimpati terhadap tokoh yang baik dan sebaliknya antipati terhadap tokoh yang jahat. Perasaan simpati dan antipati ini tidak saja berpihak kepada tokoh utama tetapi juga kepada tokoh-tokoh pendukungnnya. Dalam hal ini, untuk tayangan Trans TV simpati pemirsa muncul kepada tokoh-tokoh Samsulbahri, Sitti Nurbaya, Bagindo Sulaeman, Sutan Mahmud, Arifin dan Bahtiar. Untuk perasaan antipati ditujukan kepada Datuk Maringgih, Fatimah, Ria, Ema, Dulloh, dan Gundul. Alur konflik dalam sinetron tayangan TVRI, terjadi sangat tajam namun tidak berliku-liku seperti tayangan Trans TV. Bahkan tokoh utama, seperti Samsulbahri dan Siti Nurbaya yang sempat menang tidak merasakan kemenangan. Hal ini terjadi ketika, Siti Nurbaya menjauhi Datuk Maringgih kemudian pergi ke Batavia menemui kekasihnya. Tiba di Batavia, belum sempat mencurahkan perasaan bahagianya berdua, tiba-tiba Siti Nurbaya harus kembali ke Padang karena dituduh merampas kekayaan Datuk Maringgih. Sebelum tiba di Batavia, masih dalam perjalanan di kapal, Siti Nurbaya sempat disakiti hendak dibuang ke laut oleh orang suruhan Datuk Maringgih.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 155 Alur cerita sinetron Sitti Nurbaya TVRI mengalir begitu saja. Di tengah cerita hampir tidak ada kesempatan balas dendam antartokoh. Alur seperti ini berbeda dengan tayangan Trans TV yang berkali-kali melakukan balas dendam antartokoh. Ketika Samsulbahri pulang dari Batavia karena liburan dan Siti Nurbaya sudah menjadi istri Datuk Maringgih, berdua sempat menumpahkan rindunya di malam hari yang gelap. Hal ini dilihat langsung oleh Datuk Maringgih, sehingga terjadi perkelahian. Samsulbahri tidak sempat membela diri. Ia telah dituduh melanggar norma adat karena telah menganggu istri orang sehingga tidak terjadi pembalasan. Ayahnya, Sutan Mahmud sebagai penghulu ingin menegakkan aturan, siapa yang salah harus dihukum, walaupun yang salah itu anak sendiri. Samsulbahri akhirnya diusir dari rumahnya. Perasaannya melawan Datuk Maringgih selalu ada, tetapi baru terlaksana di akhir cerita. Latar cerita sinetron TVRI amat kompleks terjadi di berbagai tempat, seperti di Padang, Batavia, pelabuhan Bukit Tinggi. Keberagaman latar cerita ini tidak saja dilihat dari letak geografis yang berjauhan, tetapi latar waktu dan suasana yang mendukung cerita sinetron ini. Latar waktu zaman dulu di awal tahun 1990- an tidak mungkin didapat, tetapi sutradara Dedi Setiadi dan pihak Produser TVRI, berusaha keras menghadirkan dalam wujud suasana tempo dulu. Menyaksikan sinetron tayangan TVRI ini, seakan-akan pemirsa diajak mengetahui suasana kehidupan masyarakat masa lampau, hampir satu abad yang lalu khususnya yang terjadi di Minangkabau, Sumatra Barat. Tidak saja kehidupan tokoh-tokoh cerita tetapi pemirsa diajak memahami tatanan nilai sosial budaya masyarakat Sumatra Barat. Melalui penggambaran latar, penonton sinetron Siti Nurbaya versi TVRI diajak mengenal berbagai sistem kehidupan seperti kehidupan pedagang, agama, tradisi, budaya, transportasi, percintaan, sampai kehidupan politik kolonial. Sinetron ini sangat kaya dengan sisi-sisi kehidupan salah satu bagian wilayah di Indonesia ini yang berjuang mengatasi tradisi menuju modernisasi. Dalam sinetron Trans TV, hanya ada satu latar tempat dan dengan latar suasananya, yakni kota metropolitan Jakarta masa kini. Kota Jakarta ditampilkan
Transformasi Budaya 156 I Nyoman Suaka dengan hiruk-pikuk lalu lintas, persaingan bisnis, percintaan dunia remaja di lingkungan sekolah serta keterlibatan seorang pengusaha sukses, Datuk Maringgih dengan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya dengan memengaruhi penguasa dan pengusaha Sutan Mahmud. Tokoh Siti Nurbaya dalam novel adalah seorang gadis cantik yang berpikiran maju dan pemberontak. Ia merupakan tokoh fiksi yang memperjuangkan emansipasi wanita seperti halnya Raden Ajeng Kartini dalam dunia fakta. Ia mengikuti pendidikan di sekolah Belanda di Padang, sedangkan teman-teman sebayanya hanya tinggal di rumah tidak diizinkan bersekolah. Siti Nurbaya berjuang melawan sistem perkawinan dengan menolak perjodohan orang tua. Tokoh muda ini menginginkan agar perkawinan dilakukan atas dasar cinta, suka-sama suka sesama pasangan. Ia menentang perkawinan poligami yang waktu itu merupakan hal yang biasa bagi seorang suami beristri lebih dari satu. Perjuangan ini mendapat hambatan, justru dari orang tuanya sendiri. Ia tidak tega melihat kesengsaraan ayahnya yang jatuh sakit akibat tekanan dari Datuk Maringgih. Siti Nurbaya akhirnya menikah dengan laki-laki tua yang licik dan kejam, semata-mata untuk menyelamatkan ayahnya. Walaupun telah menjadi isteri yang sah, ia selalu memberontak dengan menyebutkan kejahatankejahatan suaminya terhadap keluarganya. Bahkan ia sempat mengusir suaminya secara paksa, memukul dengan kayu, walaupun ia saat itu sedang berduka karena ayahnya meninggal. Tokoh ini secara konsisten memperjuangkan ketidakadilan yang menimpa nasib dirinya dan kaum wanita lainnya. Salah satu tokoh yang mempunyai prinsip sama dengan Siti Nurbaya adalah, Siti Alimah, sepupunya. Anak dari Ahmad Maulana ini mempertanyakan mengenai kedudukan seorang wanita. Sepupunya ini sering diajak memperbincangkan tentang nasib kaum perempuan. Mereka berpendapat sama, ingin mengangkat nasib perempuan, menentang perkawinan, melawan poligami, tak ingin dimadu. Siti Alimah sendiri dalam percakapan itu, menceritakan proses perceraian dengan suaminya. Ia lebih suka dipukul, dikurung
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 157 dan dihinakan daripada dimadu. Digambarkannya bahwa, perceraian itu terjadi di tengah pasar, setelah terjadi pertengkaran yang disusul dengan caci maki Siti Alimah terhadap suaminya di depan orang banyak. Perceraian itu disebabkan perkawinan suaminya dengan perempuan kaya raya. Ia sendiri merasakan bukan seorang perempuan berada sehingga tidak bisa mendampingi suaminya dengan sebaik-baiknya. Dibandingkan dengan tokoh laki-laki lainnya dalam sinetron itu seperti Samsulbahri, Bagindo Sulaeman dan Sutan Mahmud, tindakan dan pandangan Siti Nurbaya dan Siti Alimah, jelas lebih tegas. Kedua perempuan ini memiliki pandangan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan, dan mereka berani melaksanakannya. Dalam sinetron, Siti Nurbaya sebagai tokoh protagonis tampaknya tidak mendapat bantuan sepatutnya dari Samsulbahri, yang memberi kesan sebagai pemuda konyol. Bantuan itu justru datang dari Siti Alimah, yang mendesak agar Siti Nurbaya segera menyusul kekasihnya ke Batavia. Saudara sepupunya itu, ikut mempersiapkan segala keperluan dalam kondisi menegangkan karena dimatai-matai oleh Pendekar Lima. Hal ini membuktikan bahwa Siti Alimah tidak ingin sepupunya itu dimadu, apalagi dengan lelaki tua yang sangat licik, yaitu Datuk Maringgih. Tokoh yang sangat kontroversial adalah Samsulbahri dan Datuk Maringgih. Di awal tayangan sinetron, Samsulbahri adalah sosok anak muda yang terpelajar dan disegani oleh teman-temannya seperti Bahtiar dan Arifin. Siti Nurbaya juga kagum karena ia adalah siswa yang cerdas di kelasnya. Akan tetapi di pertengahan cerita, ciri kaum intelektual itu menjadi loyo dan ia sering frustasi. Beberapa kali, Samsulbahri melakukan percobaan bunuh diri, mendengar kekasihnya direbut oleh Datuk Maringgih. Sifat seperti ini, jauh dari sifat terdidik karena tidak ada usaha lain untuk memisahkan kekasihnya itu dengan Datuk Maringgih. Samsulbahri yang diperankan Gusti Randa berpakaian model pemuda Belanda. Setelah tamat sekolah di Kota Padang, ia melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran Batavia. Ketika kisah sinetron ini dimulai Samsulbahri berumur 15 tahun dan Siti
Transformasi Budaya 158 I Nyoman Suaka Nurbaya berumur 13 tahun. Tokoh Siti Nurbaya dalam kesehariannya di sekolah mengenakan gaun seperti nona Belanda. Muda-mudi ini bukan saja satu sekolah, tetapi juga bertetangga. Hubungan mereka sangat erat, juga orang tuanya, sangat erat bagaikan saudara kandung. Ketika Samsulbahri akan berangkat merantau, pasangan remaja ini menyadari di antara mereka terdapat perasaan cinta. Mereka saling berjanji, kelak setelah Samsulbahri merebut profesi dokternya, akan segera pulang ke Padang untuk memperistri Siti Nurbaya. Samsubahri, si pemuda idaman adalah tokoh yang mudah menyerah. Ia tidak berbuat apapun ketika kekasihnya dalam kesulitan menghadapi rongrongan Datuk Maringgih. Ia justru menangis meraung-raung sambil melakukan percobaan bunuh diri ketika mendengar kabar bahwa kekasihnya telah kawin dengan laki-laki tua itu. Samsulbahri memang gagal bunuh diri, tetapi berusaha menghilangkan nyawanya sendiri dengan masuk dinas mileter sebagai tentara Belanda. Ia pun harus meninggalkan sekolah dokternya untuk bergabung dengan serdadu Belanda. Perbuatan ini sangat konyol sebagai pemuda yang punya harapan masa depan. Dalam sinetron, ditayangkan Samsulbahri dalam asrama militer Belanda berpakaian seragam tentara lengkap dengan memelihara kumis tebal. Ia berpangkat Letnan dan berganti nama menjadi Letnan Mas. Ia dipuji oleh atasannya karena keberaniannnya melebihi dari tentara Belanda sendiri. Oleh karena itu, ia dipilih untuk memimpin psaukan Belanda dalam perang belasting di Padang. Dalam suasana hati frustasi teringat dengan kekasih dan orang tuanya, ia berperang melawan bangsanya sendiri. Arena perang itu dijadikan dalih untuk bertemu dengan Datuk Maringgih. Dalam pertempuran itu, keduanya berkelahi. Datuk Maringgih mengetahui yang dilawan itu ternyata Samsulbahri. Ia pun sangat marah sambil menghunuskan pedangnya, dan mengatakan Samsulbahri adalah “anjing belanda.” Perkembangan karakter seperti inilah menimbulkan pertanyaan di hati pemirsa. Samsulbahri begitu goyah hatinya, tidak memiliki pendirian tetap sebagai pemuda yang terpelajar. Ia menjadi antek-antek Belanda sehingga memberi contoh yang tidak
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 159 baik bagi masyarakat Indonesia yang saat itu sedang berperang melawan kolonialisme Belanda. Karakternya begitu rapuh, berpihak pada Belanda dan memusuhi bangsanya sendiri. Memasuki dinas militer, merupakan sikap yang perlu dipertanyakan, sebab ketika itu kekasihnya sudah meninggal. Kalau atas dasar cinta, cinta itu tidak mungkin didapat kembali. Hal ini merupakan sikap yang tidak realistis. 3. Instrinsik dan Ekstrinsik Memperhatikan tayangan sinetron TVRI ini, sedapat mungkin harus dikembalikan pada konteks cerita aslinya. Sebab, penggarapan sinetron itu, menurut sutradara Dedi Setiadi, tetap mempertahankan certa aselinya (Kompas, 7 September 1991). Dengan demikian, upaya tersebut tidak cukup dengan memahami secara intrinsik novel tersebut, tetapi juga memahami unsur ekstrinsiknya. Novel ini diterbitkan tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka. Di dalam tayangan sinetron juga ditampilkan ucapan terima kasih kepada penerbit Balai Pustaka karena telah mengizinkan novel tersebut diangkat ke dalam layar sinetron. Maka dari itu cukup relevan dikaji sejarah pendirian Balai Pustaka untuk mengungkapkan peristiwa di balik tokoh kontroversial Samsulbahri dan Datuk Maringgih. Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de Volkslectuur) didirikan pada tanggal 22 September 1917. Lembaga ini berawal dari komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (Commissie voor de Inlandche School en Volkslectuur) yang berdiri tahun 1908. Pendirian komisi ini sesungguhnya sebagai realisasi politik etis Belanda. Selain masalah politik, lembaga ini juga bertujuan untuk membendung pengaruh bacaan yang diterbitkan pihak swasta ketika itu. Secara sepihak pemerintah Belanda menyebutnya sebagai saudagar kitab yang kurang suci hatinya, penerbit tidak bertanggung jawab, agitator dan karya-karyanya sebagai bacaan liar (Mahayana dalam makalah, “Nasionalisme dalam Novel Awal Balai Pustaka: Studi kasus Sitti Nurbaya,” Jakarta, 16 Juni 2004). Alisyahbana (1992:20) yang pernah menjadi redaktur Balai
Transformasi Budaya 160 I Nyoman Suaka Pustaka menyatakan, Balai Pustaka didirikan untuk memberi bacaan kepada orang-orang yang sudah pandai membaca, yang tamat sekolah rendah dan lain-lain. Di samping itu, pendirian lembaga ini untuk memberikan bacaan yang membimbing mereka supaya jangan terlampau tertarik kepada aliran-aliran sosialisme atau nasionalisme yang lambat laun toh agak menentang pihak Belanda. Di dalam perspektif sejarah kesusastraan Indonesia, Balai Pustaka memiliki kedudukan yang sangat penting, walaupun di dalamnya dilatarbelakangi oleh persoalan politik untuk kepentingan politik kolonial Belanda. Dalam buku, Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka (1992), memuat sejumlah artikel. Secara jelas artikel tersebut menempatkan Balai Pustaka dalam peranannya sebagai lembaga penerbitan buku-buku sastra khususnya, dan buku-buku pelajaran umumnya. Dengan demikian, tidak dapat disangkal jasa Balai Pustaka dalam melahirkan sastrawan dan kritikus sastra Indonesia, sekaligus juga dalam mengembangkan kesusastraan Indonesia modern (Mahayana, 2004). Balai Pustaka sebagai lembaga kolonial, tentu saja segala sesuatunya dibangun untuk mendukung politik kolonial. Mahayana menanyakan, bagaimana mungkin Balai Pustaka sebagai lembaga yang didirikan untuk kepentingan politik kolonial belanda, dapat menerbitkan karya sastra yang mengangkat persoalan nasionalisme atau kebangsaaan? Di sinilah sastra memainkan peranan pentingnya. Ketika surat kabar dibungkam secara ketat, ketika masyarakat dibungkam untuk tidak membicarakan kebangsaan, sastra justru mengangkatnya dalam kemasan lain. Sastra menyampaikan gagasan atau ideologi pengarangnya secara terselubung dan dibungkus secara halus, seperti yang dilakukan Marah Rusli dalam karyanya, Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai (1922). Pengarang Marah Rusli, menurut peneliti cukup piawai dalam menuangkan kisah Sitti Nurbaya, Ia tampaknya menyiasati penokohan Samsulbahri kalau dikaitkan dengan politik kolonial Belanda melalui aturan-aturan yang dikeluarkan Balai Pustaka. Salah satu aturan dimaksud adalah dilarang membahas nasionalisme atau kebangsaan. Peran yang mestinya ditampilkan oleh Samsulbahri
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 161 I Nyoman Suaka sebagai tokoh muda, tidak menyimpang dari kebijaksanaan pemerintah Belanda. Tokoh ini tidak mengobarkan semangat perang atas nama nasionalisme, tetapi berada di posisi politik yang berlawanan. Secara halus disajikan dalam sinetron, Samsulbahri tidak secara ksatrya berperang karena ia sadar, kekasih dan ibunya telah meninggal. Hanya satu hal yang dicari adalah kematian, sebagai bentuk kesetiaan dan janji sehidup semati yang diucapkan dulu bersama kekasihnya. Siti Nurbaya telah meninggal dan ia pun ikut menyusul untuk membayar janjinya itu. Dalam perang belasting yang sedang berkecamuk, ditayangkan tokoh Samsulbahri tidak satupun melepas tembakan, kecuali hanya ditujukan kepada Datuk Maringgih. Ia menerobos medan perang karena dari jauh kelihatan Datuk Maringgih bersama Pendekar Lima. Ia tidak kelihatan berperang, pada hal musuh ada di depan dan di sampingnya. Tayangan menegangkan ini membuktikan bahwa Samsulbahri bukan mengkhianati bangsanya, tetapi hanya membalas dendam terhadap Datuk Maringgih atas kematian Siti Nurbaya sehingga kasihnya tak sampai. Mengenai peran Datuk Maringgih yang sempat mengobarkan semangat perang dan dianggap pahlawan oleh masyarakat Minang, ternyata tindakannya itu tak lebih dari upaya mencari perhatian. Dalam adegan perang, secara jelas ditayangkan, Datuk Maringgih tidak pernah berada di depan. Bersama Pendekar Lima, ia hanya mengacung-acungkan pedangnya tanda menyerbu. Akan tetapi ia sendiri berada di belakang dan tampak ketakutan. Seringkali ia mencoba menghindar dan melarikan diri, mau lari dari tanggung jawab, bersembunyi di semak-semak. Karakter liciknya kembali muncul dan ia ketakutan karena dalam posisi terjepit, perang sedang berkecamuk. Ia kemudian dihadang oleh Samsulbahri. Dalam keadaan panik dan terjepit, Datuk Maringgih tidak bisa berkelit. Ia akhirnya ditembak oleh Samsulbahri ketika perang dahsyat antartokoh itu. Bergabungnya Datuk Maringgih ke gelanggang perang karena secara pribadi ia merasa dirugikan oleh kenaikan pajak sebagai pemicu perang tersebut. Ia memilki kekayaan serta perusahaan
Transformasi Budaya 162 I Nyoman Suaka yang banyak sehingga mengeluarkan uang yang banyak pula untuk membayar pajak. Hal ini sangat dirasakan oleh pengusaha yang kikir semacam Datuk Maringgih. Sebelumnya, ia ikut pertemuan bersama alim ulama, cerdik cendekia serta para saudagar di Minangkabau untuk membahas kenaikan pajak itu. Dalam beberapa kali pertemuan disepakati, tidak ada jalan lain kecuali berperang untuk melawan kekejaman pemerintah kolonial Belanda di Padang. 4. Kajian Komparatif Dilihat secara komparatif, tayangan TVRI tersebut sangat bertentangan dengan tayangan Trans TV, walaupun sama-sama mengambil novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli sebagai sumber cerita. Sinetron Sitti Nurbaya Trans TV yang juga diputar ulang oleh stasiun TV 3 Malaysia berbeda jauh dengan cerita aslinya seperti yang ditulis dalam novel. Alur cerita, latar serta penokohan sinetron Trans TV ini merupakan terobosan baru dari penulis skenario dan sutradara Dedy Armand. Setelah menyaksikan tayangan ini, baik ketika menonton langsung di Trans TV dan menyaksikan dalam tayangan CD, ternyata hanya satu tokoh yang dipertahankan sesuai dengan karakter dalam novel yaitu Datuk Maringgih. Tokoh tua ini diperankan Anwar Fuady dengan karakter khasnya, seorang saudagar yang ingin merebut Siti Nurbaya. Dalam dialog antartokoh, ia masih menggunakan bahasa logat Minangkabau. Tokoh-tokoh lainnya berbahasa Indonesia modern, termasuk bahasa gaul seperti halnya bahasa di kalangan anak muda metropolitan Jakarta. Secara fisik, tokoh Datuk Maringgih Trans TV, tidak pantas disebut Datuk, sebab tokoh ini berpenampilan modern, memakai jas, dasi, dan sepatu. Sebutan datuk ini hanya berlaku di Minangkabau yang diberikan kepada penghulu adat dan merupakan tokoh panutan di masyarakat. Penggunaan kata datuk di depan Maringgih dalam novel Sitti Nurbaya dan sinetron TVRI, sudah dijelaskan oleh pengarang dan sutradara bahwa datuk itu hanya panggilan saja. Tidak ada hubungannya dengan gelar penghulu adat yang sangat dihormati masyarakat. Jadi, karakter Datuk Maringgih betul-betul digambarkan sebagai orang yang gila pangkat dan gila hormat.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 163 Maka dari itu, wajar muncul protes di masyarakat Padang, ketika sinetron TVRI ini ditayangkan, karena sifat dan tingkah laku Datuk Maringgih tidak sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Dalam novel, gambaran bentuk fisik tubuh Datuk Maringgih, adalah lelaki tua kurus, agak bungkuk bagaikan udang dan wajahnya bekas cacar. Penggambaran ini sesuai dengan Datuk Maringgih TVRI yang diperankan oleh HM Damsyik, sedangkan tokoh yang sama di Trans TV yang diperankan Anwar Fuady tidak dijumpai ciri-ciri tersebut. Postur badannya tegap dan sehat tersirat penampilannya sebagai pengusaha kaya dan sukses dalam menjalankan bisnisnya. Semua tokoh di sinetron Trans TV dilihat dari penampilannya tidak pantas dan tidak mewakili nama-nama Datuk Maringgih, Samsulbahri, Siti Nurbaya, Bagindo Sulaeman, Sutan Mahmud dan lain-lain. Sebab, nama-nama itu adalah nama-nama khas yang ada di Minangkabau dan terkait dengan sistem sosial masyarakat setempat. Sebutan Datuk, Sutan, Sitti, dan Bagindo di depan namanama tadi mengandung makna tersendiri sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Panggilan Sitti di depan nama Nurbaya, pun mengandung makna. Nama Sitti itu, merupakan anak dari perkawinan Sutan Mahmud, orang bangsawan dengan istrinya, orang biasa. Kalau lakilaki bangsawan kawin dengan perempuan bangsawan, anak yang lahir akan dipanggil puteri atau puti. Dengan demikian, mengkaji tokoh-tokoh sinetron Trans TV, antara nama-nama dengan latar cerita tidak memiliki relevansi. Penayangan sinetron ini merusak dan mengacaukan sistem nilai masyarakat Minangkabau dan membodohi penonton. Dalam permasalahan ini, akhirnya kembali pada kasus sebutan “Datuk” pada Datuk Maringgih yang hanya bersifat, panggilan saja. Artinya nama-nama tokoh sinetron Trans TV, walaupun sama dengan novel aslinya, tidak ada hubungan sama sekali dengan masyarakat Minangkabau. Latar cerita tidak pernah bermain di Padang, Sumatra Barat. Nama daerah ini yang sesuai dengan latar cerita asli, hanya disebut sekali dan sambil lalu saja. Ketika, Sutan Mahmud mendapat kenaikan jabatan menjadi kepala dinas di sebuah instansi pemerintah, ia
Transformasi Budaya 164 I Nyoman Suaka di pindahkan ke Padang. Ia bersama istri dan anaknya Samsulbahri bergegas akan meninggalkan Jakarta menuju Padang. Namun, Samsulbahri memilih tidak ikut karena ingin menyelamatkan kekasihnya. Masalah yang dihadapi Samsulbahri tidak saja dengan kekasihnya tetapi juga ingin membantu ayah Siti Nurbaya yang saat itu sedang disiksa oleh Datuk Maringgih. Sutan Mahmud dan istri panik karena anaknya menghilang, sehingga mereka tidak jadi berangkat ke Padang. Jabatan sebagai kepala dinas di Padang akhirnya dipegang oleh pejabat lain. Tokoh Datuk Maringgih Trans TV lebih kejam, sadis dan vulgar dibandingkan tokoh yang sama dalam tayangan TVRI. Karakter vulgar tampak ketika ia berhasil menyekap seorang gadis, Heny, sebagai jaminan karena orang tuanya tidak mampu membayar hutang. Dalam kamar, Heny meronta kesakitan dan tidak mampu menolak karena diperkosa Datuk Maringgih. Tayangan ini mengandung pornografi sebab tampak Datuk Maringgih keluar dari kamar, dalam keadaan kancing bajunya terlepas semua, seakan-akan baru saja menyelesaikan adegan ranjang. Heny yang saat meronta karena diperkosa itu didengar oleh ayah dan ibunya dari luar yang saat itu sedang disiksa oleh anak buah Datuk Maringgih. Tayangan ini sangat vulgar dan tidak beretika. Tayangan mengandung pornografi ini tidak dijumpai dalam sinetron Sitti Nurbaya TVRI. Karakter Samsulbahri dalam novel dan sinetron TVRI berjiwa lemah dan mudah frustasi, tetapi dalam sinetron Trans TV sangat hiperaktif. Ia begitu mudah jatuh cinta kepada Ria, Siti Nurbaya dan Ida. Awalnya, ia mencintai Ida, seorang gadis yang dijumpai di diskotik. Samsulbahri berkenalan dan langsung merayu gadis itu tentang bibirnya yang seksi, hidungnya yang mancung serta suaranya yang mirip penyanyi terkenal Ciline Dion. Rayuannya yang gombal itu akhirnya membawa masalah, karena dia salah menyebutkan nama gadis itu. Dipanggil Ema, ternyata Ida. Gadis tersebut yang meluruskan kesalahan itu. “Saya bukan Ema tapi Ida,” ujar gadis itu. Samsulbahri akhirnya tersipu malu, menyesali kesalahannya. Samsulbahri tidak serius memperhatiksan pelajaran, berbeda halnya dengan tokoh ini di TVRI yang tergolong sebagai pemuda
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 165 cerdas. Berkali-kali, Siti Nurbaya menasihati agar segera masuk kelas, ia tidak menghiraukannya dan lebih asyik di luar kelas. Ia juga tidak mengerjakan PR matematika, akhirnya dibantu oleh Siti Nurbaya dengan membuat dua buku PR. Satu buku PR untuk dirinya, satu buku PR lagi khusus untuk Samsulbahri. Pemuda ini, di awal cerita tidak menaruh perhatian pada Siti Nurbaya, berbeda halnya dalam cerita sinetron TVRI yang diceritakan sejak remaja, keduanya sudah saling mencintai. Samsulbahri dalam sinetron Trans TV lebih tertarik dengan Ria Permata Sari, yang merupakan siswi baru di sekolah itu. Siswi baru ini tak kalah cantiknya dengan Siti Nurbaya. Kelebihannya, Ria pintar bergaul sehingga teman di kelasnya pun menaruh perhatian padanya. Akhirnya Samsulbahri bersaing untuk memperebutkan cinta Ria. Akibat sifat yang hiperaktif itu, Samsulbahri memenangkan persaingan itu sehingga mendapatkan Ria. Tokoh Siti Nurbaya di sinetron TVRI dan Trans TV mengalami penderitaan yang hampir sama. Sumber masalah adalah ayahnya yang sama-sama tidak mampu membayar hutang kepada Datuk Maringgih. Perbedaanya adalah, dalam sinetron Trans TV, hutanghutangnya itu banyak yang fiktif, sedangkan sinetron TVRI, secara sengaja Bagindo Sulaeman meminjam uang untuk membangkitkan usahanya. Setelah itu, menyusul perusahaannya dihancurkan dengan cara-cara kekerasan. Bagindo Sulaeman versi TVRI sakit parah dan kemudian meninggal akibat memikirkan hutang serta memikirkan nasib anaknya, sedangkan versi Trans TV, Bagindo Sulaeman sakit lumpuh. Bagian pinggang sampai ke kaki tidak bisa digerakkan. Untuk berjuang menyelamatkan anaknya, ia menggunakan kursi roda. Walaupun kedua tokoh ini sama-sama meninggal, namun peran Bagindo Sulaeman di Trans TV lebih aktif dan penceritaannya lebih lama dibandingkan tokoh yang sama di TVRI. Ia sempat melawan Datuk Maringgih dalam keadaan lemah karena duduk di kursi roda. Akibatnya, lawannya itu jatuh, kakinya keseleo. Datuk Maringgih berjalan menggunakan tongkat dan tertatih-tatih. Di sini muncul emosi penonton, sebab tokoh yang dalam keadaan lemah masih
Transformasi Budaya 166 I Nyoman Suaka dapat mengalahkan tokoh yang kuat dan sedang berkuasa. Dalam keadaan itu, Datuk Maringgih merasakan penderitaannya sebab selama ini ia selalu menjadi tokoh yang menang. Untuk mengobati keseleo itu, ia mencari dukun pijat di kota itu, bukan berobat ke dokter. Hal ini menandakan bahwa, Datuk Maringgih adalah orang yang kikir. Bagindo Sulaeman di kedua versi sinetron itu sama-sama menyaksikan upacara pernikahan anaknya dengan Datuk Maringgih. Hal yang membedakan, dalam versi Trans TV, Bagindo Sulaeman terpaksa dipanggil sebab tidak ada wali yang mewakili keluarga Siti Nurbaya mengesahkan perkawinan tersebut. Ia datang dalam keadaan sakit tidak bisa berbicara dan duduk di kursi roda. Ketika ditanya oleh penghulu, ia diam saja. Dari tangannya diambil secarik kertas tentang surat kuasa yang merekomendasikan pernikahan anaknya tersebut. Pada episode tayangan berikutnya, kemudian terungkap bahwa surat kuasa itu dibuat oleh orang suruhan Datuk Maringgih dengan merekayasa isi dan tanda tangannya. Perbuatan itu dilakukan untuk memperlancar acara pernikahan dan menyenangkan hati majikannya. Akhirnya perkawinan itu dinyatakan sah, walaupun dalam hati Siti Nurbaya tetap memberontak karena tidak mungkin ayahnya berbuat seperti itu. Upacara perkawinan Siti Nurbaya dengan Datuk Maringgih versi TVRI berlangsung secara adat Minang. Tidak saja hadir Bagindo Sulaeman dan istri, tetapi juga Sutan Mahmud dan istri, Kusir Ali serta para ulama dan undangan lainnya. Tokoh Bagindo Sulaeman tampak lesu dan tak berdaya menyaksikan perkawinan anaknya yang masih muda, cantik dengan laki-laki tua. Demikian juga tokoh Sutan Mahmud ayah Samsulbahri, sebagai pejabat di daerah itu merasakan hal yang sama. Semua tokoh duduk bengong, ibu Siti Nurbaya menangis, seakan-akan tidak mampu melawan ketidakadilan yang diperbuat Datuk Maringgih. Walaupun duduk berdampingan dalam upacara perkawinan itu, namun Siti Nurbaya berbalik badan dan merunduk, sedangkan Datuk Maringgih tersenyum tanda kemenangan. Datuk Maringgih versi Trans TV, tidak pernah dapat menaklukkan Siti Nurbaya, kendatipun sudah berstatus pasangan suami
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 167 istri. Selalu ada upaya Siti Nurbaya untuk menjauh dari suaminya. Ia selalu menolak suaminya bila duduk berdekatan, padahal Datuk Maringgih sudah sangat rindu bertemu isterinya. Beberapa kali, ia mengunci diri dalam kamar sehingga membuat bingung suaminya. Untuk membujuk agar bisa membukakan pintu sangat sulit sehingga Datuk Maringgih sering membuat akal. Suatu hari, ayah Siti Nurbaya dalam keadaan lemah dipanggil paksa. Di depan kamar, ia disiksa dengan maksud agar Siti Nurbaya mau keluar. Mendengar suara jeritan kesakitan, Siti Nurbaya akhirnya keluar menemui ayahnya, sekaligus juga bertemu suaminya. Siti Nurbaya diberikan kesempatan untuk menumpahkan kasih sayangnya kepada ayahnya karena lama tidak bertemu. Dengan cara ini, Datuk Maringgih akan dapat mendekati Siti Nurbaya layaknya suami istri. Namun, gagal karena tekanan batin yang dirasakan Siti Nurbaya terlalu berat. Justru, ia kembali ke kamar dan memikirkan akan kabur dari rumah suaminya. Hubungan suami istri, Datuk Maringgih dengan Siti Nurbaya, hampir sama dalam dua versi sinetron tersebut. Keduanya merupakan perkawinan tidak harmonis karena perkawinan itu sepihak. Siti Nurbaya terpaksa melakukan itu karena semata-mata ingin menyelamatkan ayahnya. Dua versi sinetron tersebut memberikan alasan yang sama yakni, kasih sayang kepada orang tua terlalu besar sehingga Siti Nurbaya rela berkorban. Perkembangan watak tokoh-tokoh utama mengalami perbedaan yang amat prinsip kalau membandingkan kedua sinetron tersebut secara interteks. Tokoh Samsulbahri, Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya dalam sinetron versi Trans TV, tetap konsisten dengan pendiriannya semula. Samsulbahri berjuang keras mendapatkan cinta Siti Nurbaya. Kedua tokoh ini saling mencintai, walaupun banyak tantangan dan hambatan berat yang dihadapi. Tokoh Datuk Maringgih menghancurkan cita-cita dan cinta kedua anak muda itu dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya. Ia pun gagal dan tewas ditembak oleh pengawalnya, Dulloh dan Gundul karena rekayasa Sasmulbahri. Di akhir cerita sinteron versi Trans TV, Siti Nurbaya diracun oleh anak buah Datuk Maringgih. Ia membeli kue yang sebelumnya
Transformasi Budaya 168 I Nyoman Suaka telah dipesan oleh Dulloh, kemudian meninggal. Episode ini mirip dengan cerita aslinya dalam novel karya Marah Rusli dan juga sama dengan sinetron versi TVRI. Setelah berhasil mengalahkan Datuk Maringgih Trans TV, Samsulbahri langsung menuju kuburan Siti Nurbaya. Di sana ia bersembahyang dan minta maaf karena tidak berhasil membantu kekasihnya. Ia juga mendoakan agar arwah kekasihnya itu tenang dan bahagia di alam sorga. Selesai berdoa, Samsulbahri merasakan dirinya tidak berguna lagi dalam hidup ini, karena telah ditinggal oleh orang sangat dicintainya. Ia kemudian menyuntikkan zat berbahaya ke lengannya, karena ingin bunuh diri. Dalam sekejap, Samsulbahri meninggal dengan wajah senyum bahagia. Arwahnya dijemput oleh arwah Siti Nurbaya. Keduanya bertemu di sorga berpelukan erat menyiratkan kebahagiaan. Dalam tayangan sinetron versi Trans TV diceritakan, kedua pasangan kekasih ini melangsungkan perkawinan dengan pakaian adat khas Minangkabau, tanpa dihadiri penghulu dan undangan lainnya. Hanya di bagian akhir cerita, kisah ini mendekati latar cerita aslinya yakni menampilkan busana penganten khas Minangkabau. Itupun peristiwanya di sorga, alam lain dari realitas kehidupan ini. 5. Perubahan karakter Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, tokoh-tokoh utama dalam sinetron versi TVRI, mengalami perubahan karakter. Datuk Maringgih di akhir cerita tampak sebagai seorang jagoan karena berpihak pada rakyat untuk turut menentang kebijakan Belanda dalam hal pajak. Sebaliknya, Samsulbahri menjadi tokoh pengkhianat karena berpihak pada Belanda untuk menyerang bangsanya sendiri. Akan tetapi kalau dikaji lebih jauh, perubahan karakter terebut tidak secara total menyangkut prinsip hidup tokoh. Samsulbahri, misalnya berperang untuk mencari kematian bukan kemenangan. Dalam perang pajak itu terlibat Datuk Maringgih. Medan perang itu dijadikan ajang balas dendam untuk membunuh Datuk Maringgih. Bukti ketidakseriusannya berperang karena ia berada dalam posisi tidak diperhitungkan dalam militer Belanda. Beberapa kali, ia berhasil menumpas perlawanan rakyat di Aceh, tetapi tidak pernah mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Berbeda halnya dengan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 169 tentara asli Belanda yang sangat mendapat perhatian dari atasan dalam hal kenaikan jabatan. Samsubahri sangat kecewa dengan ketidakadilan itu, sehingga dia memilih, asal ikut perang saja. Bukti lainnya, sebelum berperang, ia sempat berziarah ke makam Siti Nurbaya dan ibunya. Kepada penjaga kubur ia memberi uang sambil berpesan agar merawat makam tersebut. Dengan demikian, ia tetap mencintai keluarganya dan masyarakat setempat, bukan mengkhianati perjuangan rakyat Padang. Tokoh Datuk Maringgih versi TVRI mengutamakan kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat. Ia ikut mengobarkan perang, karena tidak ingin mengeluarkan uang banyak untuk membayar pajak. Datuk Maringgih adalah saudagar kaya dan memiliki banyak perusahaan, sehingga wajar kalau dikenai pajak lebih banyak dari rakyat biasa. Perubahan karakter tidak total itu juga tampak dalam medan perang. Datuk Mringgih dan pengawalnya itu tidak pernah ada di depan, layaknya seperti jagoan. Ia justru sangat licik, berada di barisan paling belakang saat rakyat berperang melawan musuh. Seringkali wajah Datuk Maringgih ketakutan dan salah tingkah ingin melarikan diri ke luar medan perang. Ia juga bersembunyi di balik semak-semak, ingin menyelamatkan diri. Dengan demikian, perubahan karakter pada tokoh ini bersifat semu sama halnya dengan perubahan karakter Samsulbahri. Berdasarkan kajian interteks antara novel Siti Nurbaya dengan sinetron Sinetron Siti Nurbaya TVRI dan dengan sinetron Siti Nurbaya Trans TV, maka dapat ditentukan perbedaan tayangan, seperti tabel berikut. No. Unsur Cerita TVRI Trans TV 1. 2. Ide cerita Alur Cerita Cerita tentang kehidupan masyarakat Minang tempo dulu Konflik cerita tajam dan realistis Cerita tentang kehidupan masyarakat modern Jakarta Konflik cerita dengan tipu daya, penuh rekayasa.
Transformasi Budaya 170 I Nyoman Suaka 3. 4. Latar Cerita Penokohan cerita Padang, Sumatra Barat, Batavia, awal tahun 1990-an. Latar suasana, kolonial zaman penjajahan Belanda. Karakter tokoh utama kontroversial. Pemakaian busana dan bahasa sesuai dengan adat dan logat bahasa Minangkabau Jakarta dan sekitarnya, tahun 2004. Latar suasana zaman modern, kehidupan kota metropolitan Jakarta. Karakter tokoh utama konsisten. Pemakaian busana bergaya modern. Bahasa dialek Jakarta, kecuali Datuk Maringgih berlogat Minangkabau
171 Daftar Pustaka Adhitama, Toeti. 1983. “Ragam Lisan Lewat Radio dan Televisi,” dalam Kongres Bahasa Indonesia III. Jakarta: Depdikbud. Ahmadi, Anas. 2012. Sastra Lisan dan Psikologi. Surabaya: Unesa University Press. Amir, Adriyetti. 2013. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. Rif, Yovantara dan Wisnu Prasetyo Utomo (ed.). 2015. Orde Media: Kajian televisi dan media di Indonesia parca-Orde Baru. Yogyakarta: Insist dan Remotivi. Barker, Chris. 2005. Cultural Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Batuah, Syafei Rajo. 1964. “Di Balik Tirai Salah Asuhan” dalam Pustaka dan Budaya, November–Desember 1964. Berns, Elizabeth dan Tom. 1973. Sociology of Literature and Drama. London: Penguin Education. Bluestone, George. 1966. Novels Into Film. Berkeley & Los Angeles: University of California. Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra. Budianta, Melani. 2008. “Representasi kaum Pinggiran dan Kapitalisme,” dalam Foulcher, K. dan A. Day (Ed.) Sastra Indonesia Modern: Kritik Postkolonial. Jakarta: Obor dan KITLV. Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. Choudori, Leila S. 2006. “Sinetron, Film dan Pertelevisian, “ dalam Warta no. 4 Oktober-Desember. Jakarta: Pusdok Sastra HB. Jassin. Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa. Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. Damono, Sapardi Djoko. 2002. Penelitian Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa. Dananjaya, James. 1984. Folklore Indonesia. Jakarta: Grafiti Pers. Davonar, Agnes. 2008. Surat Kecil untuk Tuhan. Jakarta: Inandra Publisher. Effendi, S. 2006. Dimensi-dimensi Komunikasi. Yogyakarta : Armico. Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Flores: Nusa Indah.
172 Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra Wadah Pebelajaran dan Pengembangan Sastra. Yogyakarta: Ramadhan Press. Fadlilah dan Elfiadi 1997. Metamorfosa. Padang: Pustaka Pilar Utama. Fiske, John. 2011. Understanding Populer Culture. Diterjemahkan Mahyudin. Yogyakarta: Jalasutra. Foulcher, Keith. 1991. Pujangga Baru: Kesusatraan dan Nasionalisme Indonesia 1933–1942. Jakarta: PT Girimukti Pasaka. Fuller, Andy. 2001. Sastra dan Politik Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma. Yogyakarta: Insist Press. Gorda, IGN. 2006. Anak Agung Panji Tisna Raja Buleleng, Budayawan, Pendidik dan Pelopor Pariwisata. Denpasar: Asta Brata Bali. Graaf, de H.J. 1989. Terbunuhnya Kapten Tack Kemelut di Kartasura Abad XVII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Ibrahim, Idi Subandy (peny.). 1997. Litestyle Ectasy Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra Ibrahim, Idi Subandy. 2007. Budaya Populer sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra. Ishadi, S.K. 2003. “Televisi Swasta dan Jajak Pendapat.” Dalam Kompas 8 September. Ismail, Usmar. 1983 Usmar Ismail Mengupas Film. Jakarta: Sinar Harapan. Kahn, Joel S. 2016. Kultur, multikultur, Poskultur. Yogyakarta: Indes Publishing. Karkono. 2013. “Alih Wacana Cerita-cerita Rakyat Indonesia ke Film dan Drama,” dalam Mengurai Tradisi Lisan Merajut Pendidikan Karakter. Tabanan: IKIP Sarsawati. Kayam, Umar. 1980. “Kreativitas Seni dan Masyarakat,” Horison, XV/ 12: Jakarta. Majoindo, Aman Datuk. 1997. Si Dul Anak Sekolahan. Jakarta: Balai Pustaka. Mihardja, Akhdiat K. 1998. Polemik Kebudayaan Pokok Pikiran. Jakarta: Balai Pustaka. Moeis, Abdoel. 2007. Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka. Moeis, Abdoel. 1982. Surapati. Jakarta: Balai Pustaka. Moeis, Abdoel. 1982. Robert Anak Surapati. Jakarta: Balai Pustaka Nasution, Zulkarnain. 1976. “Kampus Biru di Mata Orang Kampus,” Sinar
173 Harapan, 10 Desember hlm. 10 Natawijaya, Rochman (ed). 1979. Pembinaan dan pengembangan Kurikulum Alat Peraga dan Komunikasi. Jakarta: Depdikbud. Oktorino, Nino. Dkk. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi. Ole, Adnyana. 2008.” Memberi Hidup Baru pada Kesenian Arja “ dalam Bali Post No. 169 Thn 60. Denpasar. PaEni, Mukhlis. 2013.” Folklore Menapak Tradisi Melintas Zaman.” Makalah dalam Kongres Internasional Folklore Asia, 7–9 Juni 2013 di Universitas Negeri Yogyakarta. Panjaitan, Erica dan Dhani Iqbal. 2006. Matinya Rating Televisi Ilusi Sebuah Netralitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat. Tamasya Melampaui BatasBatas Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra. Pramono, Dedi. 2011. Naga Bonar Asrul Sani dalam Kajian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Poyk, Gerson. 1978. “In Memoriam Anak Agung Panji Tisna” dalam Kompas, 9 Juni Thn XIII, no. 274. Ratna, I Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, I Nyoman Kuta. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fakta dan Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Renggani, Titik. 2014. Drama Radio Penulisan dan Pementasan. Yogyakarta: Ombak. Ricklefs. M.C. 1983. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rusli, Marah. 2008. Sitti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka. Rustapa, dkk. 1979. Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920– 1950. Jakarta: Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa, Depdikbud. Sarjono, Parniti. 1996. “Dari Karya Sastra Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis ke Sinetron Salah Asuhan Tayangan SCTV.” Makalah yang disampaikan dalam Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora III UGM Yogyakarta Sarumpaet, Riris K. 1977. Istilah Drama dan Teater. Jakarta: FSUI Sati, Tulis Sutan. 1994. Sengsara Membawa Nikmat. Jakarta: Balai Pustaka. Satoto, Soediro. 2012. Analisis Drama dan Teater 1. Yogyakarta: Ombak
174 Semboja, Asep. 2008. ”Peta Politik Sastra Indonesia (1908–2008)”. Dalam Anwar Efendi (Ed.). Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara wacana. Set, Sony. 2008. Menjadi Perancang Program TV Profesional. Yogyakarta: Andy Offset. Siregar, Mirari. 1995. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Situmorang, Saut (Ed.). 2000. Cyber Grafiti: Polemik Sastra Cyberpunk. Bandung: Angkasa. Siswiyanti, Frida dan Yuni Pratiwi. 2014. Teori Drama dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Ombak. Stokes, Jane. 2007. How To Do Media and Cultural Studies. Yogyakarta: Bentang Budaya. Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra. Strinati, Dominic. 2007. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang. Suaka, I N. 2013. Sastra Sinetron dalam Ideologi Budaya Populer. Denpasar: Udayana University Press. Suaka, I N. 2014. Analisis Sastra: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ombak. Suaka, I N. 2015. Kawin Campur: Konflik Sastra dan Budaya, Yogyakarta: Ombak. Subyantoro. 2013. Pembelajaran Bercerita. Model Bercerita Untuk Meningkatkan Emosi dalam Bersastra. Yogyakarta: Ombak. Sujiman, Panuti (Editor). 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: PT Gramedia Suhandang, Kristadi. 1973. Public Relations Perusahaan. Bandung: Karya Nusantara. Sunarto. 2009. Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Suseno. WS. 2011 “Filmisasi Karya Sastra Indonesia: Kajian Ekranisasi pada Cerpen dan film Tentang Dia (http://bensuseno. Wordpress. com/2010/02/22 Diunduh 21 Mei 2015). Susiana, Rudi dan Cepi Riana. 2007. Media Pembelajaran : Wacana Prima. Suwondo, dkk. 1997. Biografi Pengarang Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud. Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indonesia 1. Flores: Nusa Indah. Tisna, I Gusti Nyoman Panji. 2002. Sukreni Gadis Bali. Jakarta: Balai Pustaka.
175 Tohari, Ahmad. 1982. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT. Gramedia. Triwardani, Reni dan Obed Bima Wicandra. 2007. “Kajian Kritis Praktek Anak Menonton Film Kartun di Televisi dalam Aktivitas Keseharian di Banyuwangi.” Dalam Jurnal Desain Komunikasi Visual vol. 9 No. 1. Januari. Udayana, I Dewa Gede Alit. 2010. Pesan-pesan Kebijaksanaan Bali Klasik dalam Dongeng, Lagu, Syair dan Pertanda Alam. Denpasar: Pustaka Bali Post. Wardoyo. Sobur. 1993. “Guru Sastra sebagai Penangkal Dampak Negatif TV,” dalam Kompas 30 Mei. Wellek, Rene and Austin Warren. 1989. Theory of Literature. Harmondsworth: Penguin. Wibowo, Fred. 2007. Kebudayaan Menggugat. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Widayati, Sri. 2012. Sastra Cyber dan Sejarah sastra Indonesia dalam http://sriwidayati 59 blogspot.com. Yusuf, Iwan Awaludin. 2008. “Menyoal Sinetron Sampah di Televisi,” dalam Media, Jurnalisme dan Budaya Populer (Masduki dan Muzayin Nazaruddin, Ed). Yogjakarta: Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Yon. KS. 1992. “Anak Agung Panji Tisna dan Sukreni,” dalam Sarinah No. 262/2-15 November 1992. Jakarta. Dokumen VCD, Internet, Surat kabar, dan Majalah Video Compact Disk (VCD) 3 keping Sinetron Sitti Nurbaya Produksi MD Intertaiment. Diunduh melalui internet tayangan TV 3 Malaaysia.270 Dr. I Nyoman Suaka, M. Hum. Digital Video Disk (DVD) 4 keping Sinetron Sitti Nurbaya Produksi TVRI Pusat Jakarta. http://www.trans7.co.id/forum-trans7/viewtopic.php/t=2054 http://renjanaorganizer.multiply.com/journal/item/65/ http:// ardnas 20.fik.wordpress.com/2011/11/Sang Penari.jpg. Bali Post. 30 Oktober 2002 Bintang Timur, 15 September 1963 Buletin Warta, thn VIII, 2007. Famili. No. 63, 7–21 Februari 1983. Femina. 3–9 Februari 1994. Harian Rakyat, No. 2383, tahun IX, 4 Juli 1959.
176 Intisari, thn 1, No. 1 tanggal 17 Agutus 1963 Jawa Pos, 4 Juni 2010, 7 Oktober 2008. Kompas, 21 Mei 1974, 21 Juni 1972, 13 Juni 1973, 9 Juni 1978, 5 September 1991. Sarinah. No. 262/2-15 November 1992. Suara Karya Minggu, 21 Desember 1989, tahun 16 No. 799. Suara Pembaharuan, 21 Maret 1988, ahun 2 No. 396. Tempo, 7 Agustus 1971, 12 Pebruari 1994 Wiyata Mandala, 26 September 2008
177 INDEKS A Abdoel Moeis 8, 10, 11, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 173 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 72, 110 Achmad Nugraha 29 Adhitama 131, 171 Adorno 48 Agnes Davonar 94, 95, 101, 104, 106, 107 Agus Wijoyono 29 Ahmad Tohari 5, 39, 62, 63, 64, 65, 69, 72, 74, 75 Akhdiat Kartamihardja 7 Akhir Moeis 25, 26 Albert co Betawi 16 Alex Komang 82, 95 Alex Latif 35 Alex Soeprapto 21 Alfiadi 1 Alih wacana 80 Alwi AS 29 Aman Datuk Majoindo 8, 10 Amerika 4, 42, 48, 145 Ami Prijono 11, 15, 21, 22, 43, 112, 137 Anak Agung Panji Tisna 8, 51–56 Anak Agung Jelantik 54 Anak Agung Made Dipa 52 Anak Agung Made Ngurah 51, 52 Anak Agung Made Udayana 52, 56 Andhi Ashar 21 Andrea Hirata 6, 81, 84, 88, 89 Antara Bumi dan Langit 5 Arab 32, 33, 145 Arief Rivan 29 Arifin C. Noor 70 Ario Bayu 82 Arja vii, 59, 60, 173 Armin Pane 5 Arswendo Atmowiloto 9 Arthur Tobing 35 Asep Sambodja 98 Atheis 7 Azab dan Sengsara vii, 8, 14, 29, 34, 35, 38, 39, 51, 52, 174 B bahasa Cina 19, 95 bahasa Denmark 56 bahasa Inggris 9, 19, 75 bahasa Jepang 19, 56 bahasa Kazakh 19 bahasa Kirgis 19 bahasa Melayu Betawi 16 bahasa Rusia 19 bahasa Spanyol 9 Bakhtin 64 Balai Pustaka 7, 11, 18, 21, 27, 35, 38, 41, 51, 98, 121, 159, 160, 172, 173 Bali 8, 14, 19, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 59, 60, 67, 99, 108, 133, 135, 136, 143, 144, 148, 172, 173, 174, 175 Bandung 3, 16, 97, 109, 174 Banyumas 39, 62, 63 Barthes, R. 80 Batavia lihat Jakarta Baudrillard, J. 112, 124, 125 Belanda 2, 3, 11, 15, 18, 19, 20, 21, 25, 26, 27, 28, 33, 52, 56, 98, 145, 156, 157–162, 168, 169, 170 Belitung 81, 82, 83, 84, 86, 88 Bengkalis 108, 109 Bengkel Teater 143 Berata Subawa 133 Berger, P. 111 Berlin 145 BHR Tanjung 29 Bila Malam Bertambah Malam 144 bioskop Maya 54 Bluestone 151, 171 Boejang Bingoeng 10 Bong Nien Chin 104 Borris Pasternak 1, 2, 144 budaya massa 77, 78, 79, 93, 121 budaya pop 7, 42–44, 79, 80, 89, 90, 93 budaya rendah 47, 117 Budianta 10, 171 Bukit Barisan 36 Bukittinggi 18, 35, 155 C Carisa Putri 22 cerpen (cerita pendek) 1, 6, 106, 144, 148 Cibatu 26 counter concept 121 cultural studies 41, 79, 80, 152 Cut Mini 82
178 D Danau Batur 56 Darah dan Doa 2, 3, 6 Darah Mahkota Ronggeng 5 Dari Boedak Djadi Radja 16 David O. Selzenick 1 Deddy Mizwar 110 Dedi Setiadi 9, 40, 44, 147, 155, 159 Dedy Armand 22, 40, 147, 162 De Graaf 19 dekonstruksi 13, 64, 74, 75, 76, 153 Denpasar ii Desa Gantong 81 Desy Ratnasari 29 Dewan Film Indonesia 6 Dewi Irawan 68 dialogism 64 Diana Yusuf 35 Dicky Zulkarnaen 21 Dinda Hauw 95 Dolly Marten 20, 137 dominant reading 131 drama 1, 5, 59, 137, 140, 142, 143, 144 Drewes, J. 22, 27 Dukuh Paruk 5, 14, 39, 62, 63, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 175 Dukun Palsu 145 E Edward Linggar 17 Edwar Pesta Sirait 34 ekranisasi 11, 12, 139, 140, 141, 151, 152 Encep Masduki 9, 40 Eneste, P. 5, 11, 87, 139, 141, 151, 171 Erasia 48, 49, 50, 111, 112 Erawati Tulis 30 Ernest Hemingway 1, 4 Eropa 19, 22, 24, 27, 48, 49, 50, 52, 64, 111 F Fadlilah 1, 7, 172 feminisme 13, 41, 44, 59 Festival Sinetron Indonesia 11, 20 Fifi Young 21 formalisme 64 Frederick Jameson 47 G Garut 25, 28 Gerson Poyk 55 Gianyar 60 Gita Sesa Wanda Cantika 95, 98 globalisasi 48, 50, 117, 129 glokalisasi 48, 49, 50 Graffiti Gratitude 95 Gusti Randa 41, 157 H Hadyansah 1 Hamka 8, 17, 51 Happy Salma 66 Harjana HP 51 Harris Nizam 95 Harry Potter 1 Hary Rusli 148 HB Jassin 17, 109 hegemoni 44, 112, 124, 125 Herfanda 97 Heuveldrop 3, 4 high culture 9, 40 Hilman Hariwijaya 7, 8 HM Damsyik 44, 163 Hollywood 1, 4, 42, 48, 50 H. Syamsurizal 108 I I Bontot dan I Kuse 56 Ibrahim, I.S. 43, 111, 112, 115, 116, 172 Ida Iasha 20, 22, 23, 137 Ifa Ifansyah 5, 64, 65, 75 I Gusti Ngurah Raka 143 Ikranagara 82 India 52, 115 Indonesia 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 13, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 24, 27, 30, 35, 41, 42, 43, 45, 48, 49, 50, 52, 55, 68, 70, 71, 76, 77, 81, 83, 84, 88, 89, 93, 95, 96, 97, 98, 100, 104, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 115, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 132, 135, 136, 137, 138, 143, 145, 149, 155, 159, 160, 162, 171, 172 Institut Kesenian Jakarta 145 Institut Seni Indonesia 59 Iqbal 118, 119, 120, 173 Iran 115 Ishadi S.K. 119, 120, 126, 148, 172 I Wayan Dibia 59, 60 J Jajang C. Noer 82 Jakarta 3, 6, 9, 10, 19, 20, 24, 28, 32, 37,
179 40, 71, 83, 88, 89, 93, 104, 105, 106, 109, 123, 128, 142, 143, 144, 145, 149, 155, 159, 162, 164, 169, 170 Jambi 35 Jari-Jari Cinta 145 Jawa 2, 3, 4, 17, 18, 25, 27, 35, 39, 55, 62, 63, 89, 93, 99, 108, 112, 133, 176 Jawa Barat 2, 3, 4, 25 Jawa Tengah 39, 62, 63 Jawa Timur 133 Jean Austin 1 Jenderal Naga Bonar 12 Jerman 2, 56 Jespersen 56 John Grisham 1 John Steinbeck 144 Juniarso Ridwan 97 K Kalimantan 104 kapitalisme 10, 43, 47, 48, 110, 111, 126 Karangasem 56, 57 Karkono 1, 172 Karl May 144 Kartini, R.A. 156 kearifan lokal 13, 41, 45, 52, 163 Kintamani 56 Klapper 130, 131 konsumerisme 111 Kopenhagen 56 kotak ajaib 118, 134 Kristeva, J. 63, 64, 65 Kupang 55 L Lampung 133 Landreform 143 Landung Simatupang 66 Laskar Pelangi 6, 7, 14, 77, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 172 Lawson 87 Leila S. Chudori 22, 109, 171 Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) 17 Lembaga Penyiaran Publik 50 Leo Lowenthal 121, 122 Linda Bong 16, 17 Louisa May Alcott 1 Lubang Buaya 70 Lukman Sardi 68, 82 Lutung Kasarung 3 M MacDonald 120, 121 Madiun 2, 3 Malam Jahanam 5 Malaysia 9, 40, 125, 162 Maman S. Mahayana 97 Mangunwijaya 112 Manikebu (Manifesto Kebudayaan) 17 Manipol (Manifesto Politik) 5, 70 Marah Rusli 8, 9, 22, 40, 41, 121, 124, 125, 127, 147, 152, 153, 160, 162, 168 Margaret Mitchell 1 Marga T 7 Mario Puzo 1 Marissa Haque 20, 21 Marxisme 124 materialisme 10 Mathias Muchus 82 Medan 33, 35, 37, 168 Mekele Jro Rengga 54 Mekel Erwati 143 Melati Van Java 16 Merari Siregar 8 metropolitan 10, 155, 162, 170 Minangkabau 13, 19, 29, 30, 41, 45, 48, 126, 155, 162, 163, 168, 170 Mira W 7 Motinggo Busye 5, 143 Muh Labib 127, 128 M. Yusach Biran 139 N Nahdlatul Ulama (NU) 72 Nancy 145 Nasjah Djamin 143 Natawijaya 132, 173 Negara Indoneia Timur 55 Negara Kesatuan Republik Indonesia 45, 125 negotiated reading 131 Ng Bui Cui 104, 105 Nielsen Media Research 118 nilai sosial budaya 63, 126, 155 Ni Rawit Ceti Penjual Orang 54, 56 Negara Indonesia Timur (NIT) 55 Nizar 143 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 45, 125 November 1828 12 Nugroho, G. 119 Nusantara 45, 104, 105, 125, 174
180 O Oedipus sang Raja 143 opera soap 9 Opera Van Java 9 oppositional reading 131 Orde Baru 68, 71, 76, 126, 171 P Padang 24, 31, 33, 35, 36, 154, 155, 156, 157, 158, 162, 163, 164, 169, 170 Padang Sidempuan 35 Panjaitan 118, 119, 120, 173 Pengkhiantan G30 S/PKI 70 peristiwa G 30 S 5, 76 Perjanjian Renville 2 Persatuan Produser Film Indonesia 16 Piala Oscar 1 Pilliang, Y.A. 47, 48, 63, 64, 65, 124 politik Etis 20 politik lokal 122 Pontianak 104 posmodernisme 46, 47, 131 Pramoedya Ananta Toer 17, 19 Pramono 12, 173 Prancis 19, 22, 87, 145 Prapat 35 Prisila Nasution 66 Puri Anom 143 Puri Buleleng 60 Putu Wijaya iv, 139, 142, 143, 144, 145, 146, 147, 148, 149, 150 R Raja Inal Siregar 35 Rano Karno 10 Ratna, I N.K. 77, 173 RCTI 10, 52, 90 reader oriented theory 131 Rendra, W.S. 142, 143 Reynold Surbakti 35 Ricklefs, M.C. 19, 173 Rieke Dyah Pitaloka 82 Rima Melati 21 Riri Riza 81, 82, 83 Rita Zahara 20, 23 Riza Primadi 119 Robby Tumewu 82 Robert Zemeckis 1 Ronggeng Dukuh Paruk 5, 39, 62, 63, 175 Rowling, J.K. 1, 2 Ruslan Rusli 147, 148, 153 Ruth Pellupesi 21 S Salah Asuhan 8, 10, 11, 14, 15, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 52, 136, 137, 171, 172, 173 Sally Marcelina 35 Salman Arsito 81 Sandy Nayoan 29, 30 Sang Penari 5, 6, 63, 65, 66, 67, 68, 72, 75, 76, 175 Sani, Asrul 9, 15, 21, 22, 23, 24, 29, 40, 139, 173 Sapardi Djoko Damono 140 Sarekat Islam 18, 26 Sarinande Film 15 Sarjono 10, 173 Sarwono 26 Sastra cyber 94, 95 sastra Indonesia 8, 11, 13, 24, 30, 96, 98, 104, 130, 132, 135, 138, 160, 175 SCTV 10, 20, 90, 91, 92, 173 Semarang 25, 27, 144 Sengsara Membawa Nikmat iii, vii, 8, 14, 29, 30, 34, 52, 136, 137, 173 Septian Dwi Cahyono 29 Shahnaz Haque 20, 22, 23, 137 Siantar 35 Sibolga 35 Si Doel Anak Betawi 8, 10 Si Doel Anak Modern 10 Si Doel Anak Sekolahan 10 Silenced Voices 75 Si Midun 29, 30 Sinema Asyik 9, 40 sinetron 1, 4, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 20, 21, 22, 23, 24, 29, 30, 34, 35, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 52, 64, 83, 88, 92, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 118, 121, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 130, 131, 132, 135, 136, 137, 138, 139, 142, 145, 146, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 155, 157, 158, 159, 161, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 168, 169 Singaraja 8, 54, 55, 56, 57, 58, 60, 143 Singkawang 104 Sipirok 34, 35, 36, 37 Siswanto 9, 40, 103 Sitor Situmorang 2 Sitti Nurbaya 8, 9, 13, 22, 29, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 52, 121, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 147, 148, 149, 150, 153, 154,
181 159, 160, 162, 164, 173, 175 Sjuman Djaya 10 Slamet Rahardjo 66, 82, 83 Soeharto 71 Soetomo 56 Solok 21, 22 STICUSA 52 Stokes 41, 80, 174 Strinati 46, 78, 79, 174 Sukarno 2, 3, 5 Sukreni Gadis Bali 8, 14, 51, 52, 53, 55, 56, 59, 60, 136, 174 Sumarjo, J. 38, 130 Sumatra Barat 18, 21, 22, 24, 127, 132, 133, 137, 155, 163, 170 Sumatra Utara 35 Sunda 3, 4 Sunindyo 112 Surabaya 109, 171 Surapati 15, 16, 17, 18, 19, 20, 172 Surat Kecil untuk Tuhan 94, 95, 98, 100, 103, 106, 171 Suseno 140, 141, 174 Sutardji C. Bachri 97 T Tabanan 72, 143, 148, 172, 178 Taiwan 95, 104, 106, 107 Tanjuk Priok 33 Tantawi Panggabean 35 Tapanuli 34, 36 tapol (tahan politik) 69 Taufik Ismail iv, 115, 149, 150 teater Mandiri 142, 143 Teeuw, A. 21, 27 Teguh Karya 12 telenovela 9 Tenggelamnya Kapal Van der Wijk 8, 51 Tentara Nasional Indonesia 2 Thailand 145 Tidar Jaya Film 15, 16 Tina Melinda 29 Tinggar Jaya 62 Tiongkok 2 Tio Pakusadewo 68 Tora Sudiro 82, 86 TPI 9, 40, 127 transformasi 2, 3, 10, 11, 13, 14, 22, 48, 64, 74, 80, 139, 141, 142, 145, 146, 152 transposisi 9, 13, 65, 76, 152 Trans TV 9, 13, 40, 41, 42, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 119, 120, 121, 122, 123, 125, 126, 127, 147, 148, 150, 152, 153, 154, 155, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 168, 169 Tulis Sutan Sati 8, 29, 30 Tuty Daswipatri 35 TV 3 9, 40, 162, 175 TV 7 9, 127 TVRI 9, 13, 29, 30, 35, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 49, 50, 51, 52, 59, 92, 113, 114, 121, 122, 125, 126, 127, 128, 131, 147, 152, 153, 154, 155, 159, 162, 163, 164, 165, 166, 168, 169 U Umberto Eco 1 Universitas Bina Nusantara 104, 105 Universitas Brimmingham 41 Universitas Gadjah Mada 143 Universitas Kyoto 145 Universitas Leiden 21, 27 Universitas Res Publica 17 Untung Surapati 16 USDEK 5, 6, 69, 70 Usmar Ismail 2, 6, 139, 172 V Volkslectuur 21, 22, 24, 25, 26, 27, 159. Lihat juga Balai Pustaka W Wibowo, F. 114, 175 William Saroyan 144 Wiggers, F. 16 Winstom Groom 1 Y Yogyakarta 3, 5, 72, 109, 143, 144, 149, 171, 172, 173, 174, 175, 178 Yon Ks 53 Yos Mare 135 Yusuf, I.A. 8, 35, 175 Z Zulkifli Chan 35
182 TENTANG PENULIS Dr. I Nyoman Suaka, M.Si., kelahiran Desa Tegal Mengkeb di wilayah Kabupaten Tabanan Bali, 31 Desember 1962. Alumnus Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Unversitas Udayana tahun 1986 ini, setelah tamat diangkat menjadi dosen Kopertis Wlayah VIII Denpasar diperkerjakan di IKIP Saraswati Tabanan. Pernah menjadi Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada tahun 2010 diangkat menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni sampai sekarang. Menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 pada Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Udayana. Selain sebagai pengajar, pernah menjadi wartawan di Denpasar. Tercatat juga sebagai guru di SMK dan SMA di lingkungan Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Tabanan dan menjadi Kepala Sekolah SMA Saraswati 1 Tabanan. Beberapa kali meraih penghargaan, sebagai Juara I Dosen Berprestasi Tingkat Kopertis VIII, Bali, NTB, NTT tahun 2014. Juara III Nasional Sayembara Penulisan Buku Bacaan dan dua kali sebagai juara I tingkat provinsi dalam lomba yang sama, Juara II lomba penulisan esai sastra Provinsi Bali, serta juara I lomba resensi buku tingkat Provinsi Bali. Beberapa kali meraih dana hibah penelitian dari Kemenristek Dikti. Beberapa buku hasil karyanya telah terbit, Menjaga Lingkungan Menuju Desa Wisata (Analisa Yogyakarta), Satu Bumi Satu Keluarga (Adinda Kinasih Yogyakarta), 25 Naskah Terbaik Mengulas Karya Sastra Depdiknas Jakarta (bersama rekan), Dinamika Kesusastraan Indonesia (Balai Bahasa Denpasar), Sastra Sinetron dalam Ideologi Budaya Populer (Udayana University Press), Analisis Sastra Teori dan Aplikasi (penerbit Ombak Yogyakarta) dan Kawin Campur Konflik Sastra dan Budaya (Ombak Yogyakarta).
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan deposit budaya dalam bentuk karya sastra yang perlu diolah. Deposit ini merupakan mata tambang utama dalam ekonomi kreatif yang tiada habisnya. Masalah utamanya ialah deposit budaya dalam bentuk karya-karya sastra itu tidak terpelihara/tidak terjaga dengan baik. Di pihak lain sumber daya manusia yang menjadi mediator bagi pengembangannya dalam ekonomi kreatif belum disiapkan secara serius dan optimal, kata lain dari sangat kurang jumlahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terhadap pembangunan kebudayaan khususnya terhadap indutri budaya masih sangat rendah. Buku ini menggugah kesadaran kita betapa pentingnya karyakarya sastra diolah menjadi sebuah produk industri berupa film dan sinetron. Karya kreatif seperti ini tidak hanya berguna sebagai upaya alih media semata–mata, tetapi juga lebih dari itu ia berdampak ekonomi, karena melalui produk industri budaya tersebut, secara langsung akan menghasilkan nilai tambah. Dr. Mukhlis PaEni Ketua Lembaga Sensor Film RI Periode 2009–2015