Transformasi Budaya 90 I Nyoman Suaka ini, kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan. Kemiskinan harus dilawan dengan metode pendidikan yang tepat guna. Pemerintah melalui dinas pendidikan dan semua pihak agar berpartisipasi aktif sehinga terbangun nilai-nilai pendidikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi. Perlawanan melawan kemapanan pendidikan telah diperjuangkan SD Muhammadiyah lewat Laskar Pelangi dengan menarik dan mengelitik, tanpa emosi mengoreksi ketimpangan realita pendidikan. Komersialisasi untuk meraih keuntungan sebagai ciri budaya pop dapat terwujud dalam film ini. Asumsi yang menyebutkan film tentang pendidikan dan budaya tidak laku dipasaran, akhirnya berbalik karena mampu meraih keuntungan dalam waktu relatif singkat. Bagi kalangan pendidik, novel dan film ini memberikan inspirasi yang mendalam tentang dedikasi dua orang guru yang tidak tersentuh materi. Inilah potret pahlawan tanpa tanda jasa itu. Makna pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak bukan sekadar memberikan instruksi atau komando. Setiap anak memiliki kemampuan yang apabila diberi kesempatan akan tumbuh menjadi sebuah prestasi yang cemerlang. Tokoh-tokoh dalam novel ini mampu mengobarkan semangat baru untuk mengarungi kesulitan dalam memempuh dunia pendidikan. Dalam konteks budaya populer, industri perfilman sering diasumsikan mengikuti selera pasar. Tuntutan selera pasar tersebut semakin terbuka lebar karena film ini diputar kembali di stasiun televisi seperti RCTI dan SCTV. Bahkan penulis mencatat, SCTV telah dua kali menayangkan film tersebut, terkhir bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, 31 Agustus 2011. Tayangan di kedua stasiun televisi itu mampu menyedot iklan yang cukup banyak. Hal ini membuktikan bahwa hiburan TV itu tidak lepas dari sifat komersialisasi, seiring dengan identitas yang melekat pada identitas budaya populer. Sebagai gambaran beberapa perusahaan yang mengiklankan produknya dalam tayangan Laskar Pelangi di SCTV, tampak pada tabel berikut.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 91 I Nyoman Suaka Tayangan Iklan dalam Laskar Pelangi di SCTV No Jenis Produk Nama Produk 1 Minuman Pocari Sweat 2 Minuman Ale – ale 3 Minuman Local Tea Mustika Ratu 4 Minuman Buavita 5 Minuman Double Dutch 6 Makanan Permen Gula –gula 7 Makanan Mie Sedap 8 Sabun Cuci Sunlight 9 Sabun Cuci Daia 10 Pasta Gigi Close Up 11 Shampo Clear 12 Shampo Sunsilk 13 Pengharum Cucian Molto 14 Sabun Mandi Shen Sui 15 Perusahan/ Jasa Taman Impian Jaya Ancol 16 Perusahan / Jasa Pertamina 17 Perusahan / Jasa Bank Muamalat 18 Perusahaan / Jasa Telkomsel Siaga 19 Obat Oskadon Sumber : Laskar Pelangi SCTV, 31 Agustus 2011. Berdasarkan pengamatan penulis, beberapa perusahan yang mengiklankan produknya itu menyisipkan ucapan,” Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 syawal 1432 Hijriyah, mohon maaf lahir batin.” Perusahan itu, seperti pocari sweat dengan bintang iklan Irfan Bahdim (pemain sepak bola), mie sedap, telkomsel siaga, dan Pertamina. Setiap jeda iklan, tayangan iklan ucapan selamat itu diulang-ulang. Dalam konteks ini akan berlaku dalil bahwa, semakin banyak iklan yang dijaring, semakin banyak keuntungan yang diraih. Tercatat 20 merek dagang diiklankan setiap jeda laskar Pelangi di
Transformasi Budaya 92 I Nyoman Suaka SCTV dan kemudian diulang lagi pada jeda berikutnya. Film Laskar Pelangi yang berdurasi 2 jam, setelah ditayangkan di SCTV menjadi molor, 2,5 jam karena diisi tayangan iklan tadi. Dengan demikian, waktu 30 menit menjadi durasi untuk promosi berbagai produk tadi. Dari sisi komersialisasi, penayangan Laskar Pelangi di televisi swasta cukup berhasil meraih keuntungan. Hal ini berbeda dengan film yang diputar di bioskop yang tidak ada iklannya, kecuali pada bagian akhir cerita ditayangkan sepintas informasi beberapa logo dari sebuah produk. Hal ini sering dikategorikan sebagai iklan terselubung. Usai cerita film Laskar Pelangi juga tampak beberapa logo perusahaan dan pihak- pihak terkait yang mendukung pembuatan film. Informasi tersebut sebagai ucapan terima kasih, tidak berisi narasi yang bersifat untuk mempengaruhi penonton. Sangat berbeda dengan iklan televisi yang jelas-jelas mengajak pemirsa untuk menggunakan produk yang sedang diiklankan. Filmisasi Laskar Pelangi di televisi swasta dapat mengganggu pemahaman cerita secara utuh. Sebab, konsentrasi penonton bisa terpecah, ketika tiba-tiba ditayangkan iklan. Apalagi iklan dalam satu jeda mencapai 20 produk. Bagi penonton yang tingkat pendidikannya rendah, bisa saja mengaburkan pemahaman antara iklan dengan cerita. Sebab waktu jeda itu tidak ada tanda – tanda khusus, seperi tayangan berita, dialog, acara kuis atau lainnya. Ucapan bernada permakluman biasanya di sampaikan presenter dengan kata-kata kurang lebih,” ...pemirsa, jangan kemana- mana setelah iklan berikut ini.” Dalam sinetron hal tersebut tidak akan didapatkan, maka dari itu banyak penonton yang kecewa. Mengatasi kekecewaan itu, ada baiknya menyontoh siaran TVRI era 70-an dengan menyiapkan durasi khusus iklan selama 30 menit. TVRI mempunyai mata acara, Mana Suka dan Siaran Niaga dengan katakata bijak, teliti sebelum membeli. Kini, TVRI satu-satunya TV milik pemerintah tidak diizinkan lagi menayangkan iklan. Pengaruh iklan cukup besar terhadap masyarakat, sehingga dikhawatirkan mengarah kepada gaya hidup konsumtif.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 93 Sukses atau tidaknya produk budaya massa itu di pasar, bergantung kepada nilai jual produk yang dapat menampilkan budaya pop yang penuh glamour. Namun nilai komersial yang mengikuti kecenderungan seperti itu (budaya pop yang glamour) tidak berlaku dalam cerita Laskar Pelangi. Membludaknya penonton baik yang di Jakarta maupun di daerah- daerah, dalam sepuluh hari saja mencapai 1,1 juta orang penonton, laporan (Jawa Pos, 7 Oktober 2008) membuktikan bahwa masyarakat Indonesia mulai membuka diri.
94 Novel Cyber dalam film Surat Kecil untuk Tuhan 1. Sastra Cyber Kata cyber berarti maya. Sastra cyber atau cyber sastra merupakan sastra yang lahir sebagai dampak perkembangan teknologi informasi. Sastra zaman dulu bersifat lisan dan kemudian berkembang sastra tulisan. Jika sastra tulisan sebelumnya menggunakan koran dan majalah sebagai mediumnya, sastra cyber mediumnya elektronik (internet). Dibandingkan sastra koran atau majalah, dalam sastra cyber, penulis mengalami kemudahan di dalam pemunculan karyanya di hadapan pembaca karena tidak ada seleksi yang ketat seperti halnya sastra di media cetak. Kemungkinan besar medium elektronik sebagai sarana pengungkapan ekspresi seseorang akan mengalahkan dan menggeser medium yang ada sebelumnya. Berkembangnya teknologi terutama internet berpengaruh besar terhadap dunia sastra. Sastra merupakan bagian dari kebudayaan suatu bangsa. Kebudayaan suatu bangsa tentu akan mudah berkembang, seiring dengan berkembangnya teknologi. Teknologi internet mulai dimanfaatkan untuk membantu perkembangan sastra dengan lebih baik, termasuk oleh Agnes Davonar, pengarang novel Surat Kecil untuk Tuhan. Internet dengan sendirinya memberi ruang baru bagi Agnes untuk
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 95 berkarya. Sebelum media ini muncul, koran dan majalah adalah media yang digunakan penulis untuk menyalurkan bakat atau hobinya. Namun, terbatasnya ruang dan seleksi yang ketat oleh redaktur, media tersebut belum banyak membantu penulis muda. Salah satu novel karya Agnes Davonar yang mengungkapkan kehidupan nyata adalah Surat Kecil untuk Tuhan, yang mengisahkan tentang perjuangan hidup seorang remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika dalam melawan kanker jaringan lunak (rabdomiosarkoma). Awalnya kisah Surat Kecil untuk Tuhan ditulis di dalam blog Agnes Davonar yang dibaca lebih dari 350.000 pengunjung. Banyak pembaca blognya yang memuji cerita tersebut. Karena banyaknya pembaca yang terinspirasi oleh kisah Keke, maka kisah dalam sastra cyber ini dicetak dalam bentuk novel yang terjual lebih dari 30.000 buah dalam waktu dua bulan. Novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, serta diterbitkan di Taiwan mencetak sukses penjualan yang sama. Seperti halnya di blog yang mengundang banyak pembaca, novelnya pun laris di pasaran. Terlebih lagi, setelah tampil di sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta. Banyaknya orang yang terinspirasi dari kisah ini, maka pada 7 Juli 2011 novel Surat Kecil untuk Tuhan dirilis untuk dijadikan sebuah film yang disutradarai oleh Harris Nizam dan dibintangi oleh Dinda Hauw dan Alex Komang. Sastra cyber akan memiliki peluang dan harapan semakin cerah di Indonesia. Sastra cyber memberikan kesempatan yang luas, tidak saja bagi penulis untuk menulis karya sastra, tetapi juga pada pembaca untuk melakukan apresiasi sastra secara leluasa. Namun, kehadirannya telah membawa polemik yang cukup ramai. Hal tersebut disebabkan masih ada yang membedakan sastra dari segi medianya. Ada sastra majalah, koran, dan cyber. Sastra majalah dan koran dianggap lebih baik atau lebih tinggi mutunya daripada sastra cyber. Hal ini disebabkan sebuah karya yang terbit dalam kedua media tersebut harus melewati seleksi yang ketat (Widayati, 2012). Sastra cyber sudah muncul beberapa tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 2001. Kehadirannya ditengarai dengan terbitnya buku Graffiti Gratitude pada tanggal 9 Mei 2001. Graffiti Gratitude
Transformasi Budaya 96 I Nyoman Suaka merupakan buku antalogi puisi cyber. Penerbitan antalogi tersebut dimotori oleh Sutan Iwan Soekri Munaf, Nanang Suryadi, Nunuk Suraja, Tulus Widjarnako, Cunong, dan Medy Loekito. Mereka tergabung dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Kemunculan sastra cyber dalam kancah kesusastraan Indonesia. Menurut Widayati (2012) ditanggapi dan diapresiasi secara berbeda-beda. Bahkan, hal ini sempat menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Di satu pihak ada yang menyambut secara positif, tetapi di pihak lain ada yang menyambutnya secara negatif. Disambut secara positif karena kehadiran sastra cyber dapat dengan mudah dan cepat diakses oleh kalangan yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain itu, kehadiran sastra cyber melalui media internet memberi peluang bagi penulis yang bergiat di bidang sastra untuk memberikan sumbangsihnya, baik berupa karya maupun pemikiran-pemikiran, tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra. Disambut negatif karena sastra cyber dianggap tidak lebih dari sekadar upaya mainmain saja. Sastra ini juga dikatakan sebagai sastra yang kualitasnya sangat kurang dan tidak memberikan kemajuan yang berarti dalam khazanah kesusasteraan Indonesia. Hadirnya sastra cyber melalui media elektronik sebaiknya jangan dipandang sebelah mata. Bagaimanapun juga tidak adil jika semua karya yang ditulis melalui media tersebut diklaim sebagai tulisan yang tidak bermutu. Seharusnya, sastra cyber tetap dapat diterima secara positif karena mau tidak mau, sastra tersebut akan ikut menentukan perkembangan sastra Indonesia. Melalui media elektronik diharapkan paling tidak untuk ke depannya akan memunculkan banyak kemungkinan baru yang dilakukan oleh para penulis. Dikatakan oleh Suryadi (dalam Situmorang, 2004:9) bahwa jika selama ini para sastrawan hanya menampilkan karyanya pada buku, majalah, koran—yang berwujud kertas—maka saat ini ditemukan karya-karya mereka yang tersebar di media internet. Sebuah media maya yang menghubungkan satu komputer dengan berjuta-juta komputer lainnya.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 97 2. Komentar Sastra Cyber Di kalangan sastrawan Indonesia sempat muncul pendapat pro dan kontra tentang sastra cyber. Redaktur sastra surat kabar Republika Herfanda mengatakan bahwa sastra yang dituangkan melalui media cyber cenderung hanyalah sebagai ”tong sampah.” Dikatakan demikian, karena menurutnya sastra cyber merupakan karya-karya yang tidak tertampung atau ditolak oleh media sastra cetak (2001). Lebih lanjut dikatakan bahwa media cyber membuka ruang yang luas bagi tumbuhnya sastra alternatif yang ”memberontak” terhadap kemapanan – terhadap estetika yang lazim—dan bukan hanya menjadi media duplikasi dari tradisi sastra cetak. Sebab di sanalah tempat bagi semangat dan kebebasan kreatif, yang seliar-liarnya sekalipun, yang selama ini tidak mendapat tempat selayaknya di media sastra cetak, baik di rubrik sastra koran, majalah sastra, maupun antalogi sastra. Pernyataan kritis tersebut ditulis Herfanda dalam salah artikel dengan judul ”Puisi Cyber, Genre atau Tong Sampah”. Tentang sastra cyber, Maman S. Mahayana (dalam Situmorang, 2004:62) menyatakan bahwa kualitas penyair-penyair cyber masih dipertanyakan, sebagian masih tergolong sebagai penulis yang baik, belum sebagai penyair. Kemudian Juniarso Ridwan, seorang penyair dari Bandung, (dalam Situmorang, 2004:255) menanggapi pernik-pernik yang tampak pada sastra cyber, seperti background, backsound, dan variasi yang terdapat pada kata-kata. Ia mengatakan bahwa apa artinya loncatan-loncatan huruf, selain memperlihatkan kecanggihan teknologi digital. Apa pengaruhnya suara-suara musik yang secara esensial tidak terkait dengan teks yang muncul, selain hanya untuk konsumsi telinga yang secara historis-biologis sulit untuk melakukan korespondensi makna. Berkaitan dengan pernyataan Herfanda, Sutardji C. Bachri, Maman S. Mahayana, dan Juniarso Ridwan di atas timbul reaksi dari berbagai pihak, antara lain dari Sutan Iwan Soekri Munaf (2004:95). Ia mengatakan bahwa penilaian yang dilakukan Ahmadun adalah penilaian yang terburu-buru. Ahmadun hanya memberikan sampel yang terbatas dan rentang waktu yang pendek sehingga perlu dipertanyakan kesahihan penilaian itu. Lebih lanjut dikatakan
Transformasi Budaya 98 I Nyoman Suaka bahwa sebagai sarana, dunia cyber pada akhirnya sebagaimana alam nyata, akan memberikan ujian tersendiri bagi penyair maupun sastrawan. Hanya penyair dan sastrawan teruji di dunia cyber yang akan menghasilkan karya ”berbunyi”. Tentu saja ”berbunyi” di sini mempunyai batasan sendiri yang disepakati masyarakat dunia cyber (Widayati, 2012) Asep Sambodja dalam Efendi (2008:164) berpendapat bahwa meskipun sastra cyber dicap sebagai “anak haram”, ataupun ”tong sampah” dalam sastra Indonesia, sastra cyber tetap memiliki hak hidup yang sama dengan sastra lainnya. Dikatakan lebih lanjut bahwa kehidupan sastra Indonesia masih terbelenggu dalam kanonisasi, masih tergantung pada kata pemegang otoritas. Pemegang otoritas sastra Indonesia pertama di Indonesia adalah pemerintah kolonial Belanda yang pada awalnya membentuk Komisi Bacaan Rakyat yang kemudian diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka sebagai milik Belanda dan pemegang otoritas berjalan dalam kurun yang cukup lama, yaitu hampir satu abad sejak tahun 1900. Pendapat jalan damai dilontarkan Anggoro (dalam Widayati, 2012) yang mengatakan bahwa sastra cyber telah lahir dan tidak bisa ditolak kehadirannya dalam kancah kesusastraan Indonesia modern. Menurutnya perdebatan-perdebatan yang muncul, apakah itu pro atau kontra telah tercatat sebagai aksi sejarah munculnya media alternatif baru penyaluran karya sastra via internet. Dengan demikian karya sastra, apapun medianya perlu mendapat perlakuan yang sama dari pemerhati dan peneliti sastra. Tidak perlu ada “anak haram” terhadap karya sastra karena hal ini akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Tindakan yang perlu dilakukan saat ini adalah memperlakukan jenis karya sastra apapun secara adil. Tidak perlu lagi membedakan antara sastra koran, sastra majalah, sastra lisan, sastra buku atau sastra elektronik. Semua jenis sastra ini pada dasarnya dapat masuk ke dalam sejarah sastra dan dikaji berdasarkan teori-teori sastra yang telah mapan. 3. Sinopsis Surat Kecil untuk Tuhan Seorang anak remaja yang bernama Gita Sesa Wanda Cantika yang biasa dipanggil Keke lahir pada tanggal 19 Juni 1991. Ia
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 99 merupakan remaja aktif yang duduk di kelas 2 SMP. Sejak kecil ia mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi dan model. Bakatnya itu sudah tampak sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD), bahkan ia sempat menjadi penyanyi cilik yang sudah mempunyai album sendiri. Setelah perceraian orang tuanya, ia hidup bersama ayah dan kedua kakaknya. Kehidupannya penuh dengan kebahagiaan karena perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Suatu pagi dia terbangun dengan mata memerah kemudian hidungnya berdarah. Ayahnya membawa dia ke Prof. Lukman seorang dokter untuk diperiksa, Awalnya dia pikir, Keke hanya flu biasa. Akan tetapi, setelah melalui pemeriksaan laboratorium Keke dinyatakan positif terserang kanker jaringan lunak (rabdomiosarkoma). Kanker itu terus berkembang dalam waktu singkat. Ayah Keke merahasiakan kanker itu, sebab ia takut bila Keke tahu harus dioperasi sehingga kehilangan sebagian wajah kirinya. Di wajah Keke mulai tumbuh benjolan lunak sebesar bola tenis dan perlahan sebesar buah kelapa. Keke menangis, tapi tak ada yang mau memberi tahu apa sebenarnya penyakit yang ada di wajahnya. Keke jalani hidupnya senormal mungkin, namun kanker itu menghalangi langkahnya, Ia tetap tegar tidak ingin menangis dan berpikir tidak sakit. Berbagai jenis pengobatan sudah dicoba di daerah Jawa dan Bali. Pada usaha terakhir ayahnya mendapat informasi tentang seorang haji yang bisa melenyapkan segala penyakit. Pada saat bertemu dengan haji itulah akhirnya Keke mengetahui bahwa dirinya terserang kanker. Rasa sedih yang sangat dalam ia rasakan, kecurigaannya kini mendapatkan jawaban yang menyakitkan. Ayah Keke mendapat informasi tentang Profesor Mukhlis yang sudah berpengalaman 20 tahun menangani kasus kanker. Ia pun akhirnya mendapatkan pengobatan di sana dengan proses kemoterapi. Setelah menjalani pengobatan melalui kemoterapi, perjuangan Keke dan keluarga berbuah manis. Tim medis berhasil menyelamatkannya dari kanker ganas itu. Sukacita dirasakan oleh keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar Keke.
Transformasi Budaya 100 I Nyoman Suaka Kanker yang pernah ada itu muncul kembali. Ayah Keke langsung membawa Keke untuk bertemu dengan Prof. Mukhlis. Keke disarankan untuk menjalani proses kemoterapi lagi, namun pihak rumah sakit tidak memberikan izin berobat kepadanya. Hingga pada akhirnya ayah Keke meminta bantuan kepada salah satu pejabat daerah yang ia kenal sehingga Keke mendapatkan izin berobat. Proses kemoterapi kembali ia jalani. Tubuh Keke sudah tidak bisa lagi menerima suntikan. Akhirnya dokter menggunakan cara lain, yaitu memasukkan selang kecil ke dalam tubuh Keke melalui lubang hidung, kemudian cairan obat itu di keluarkan di dalam. Begitu menyakitkan pengobatan yang Keke lalui, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalaninya. Setelah proses pengobatan yang begitu menyakitkan, Keke mendapat kenyataan pahit bahwa Prof. Mukhlis tidak dapat melenyapkan kanker itu seperti dahulu. Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengajak Keke berobat ke Singapura. Dokter spesialis kanker di sana mengatakan bahwa Keke harus dioperasi. Ayahnya tidak menyetujui operasi, dan memutuskan untuk mengajak Keke kembali ke Indonesia. Di Indonesia Keke hanya mendapatkan pengobatan yang sejenis dengan kemoterapi. Pengobatan ini dilakukan di rumah di bawah pengawasan Prof. Mukhlis. Keke menjalani kehidupannya senormal mungkin, namun kanker itu terus-menerus berkembang. Bahkan menyebar ke seluruh organ tubuh Keke. Pada akhirnya Keke mengalami koma yang berkepanjangan. Dalam keadaan tidak sadar,kan diri ia bermimpi bertemu dengan kakak cantik yang pernah ia jumpai dalam mimpi terdahulu saat ia sakit. Kakak itu adalah seorang malaikat. Keke merasa senang tinggal bersamanya. Akan tetapi, malaikat itu mengingatkan Keke untuk berpamitan kepada ayah sebelum ia tinggal selamanya di istana malaikat itu. Sebelum Keke kembali untuk bertemu dengan ayahnya, ia menulis surat yang akan dititipkan kepada kakak itu. Tulisan yang ada dalam suratnya itu ia berikan judul “Surat Kecil untuk Tuhan.”
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 101 I Nyoman Suaka SURAT KECIL UNTUK TUHAN Tuhan . . . Andai aku bisa kembali Aku tidak ingin ada tangisan didunia ini Tuhan . . . Andai aku bisa kembali Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku terjadi pada orang lain Tuhan . . . Bolehkan aku menulis surat kecil untuk-Mu Tuhan . . . Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu Tuhan . . . Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya Tuhan . . . Izinkanlah rambutku kembali tumbuh agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya Tuhan . . . Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi Agar aku bisa memberikan kebahagiaan kepada ayah dan sahabatsahabatku Tuhan . . . Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa Agar aku bisa memberikan arti hidup kepada siapapun yang mengenalku Tuhan . . . Surat kecilku ini Adalah surat terakhir dalam hidupku Andai aku bisa kembali . . . Ke dunia yang Kau berikan padaku Setelah menulis dan memberikan surat kepada malaikat itu, Keke kembali menemui ayahnya. Keke sadar dari koma, ia meminta maaf karena belum berpamitan sebelum pergi. Akhirnya keluarga dan orang-orang yang berada di sekitarnya mengerti dan mulai mengikhlaskan kepergiannya. Keke menghembuskan nafas terakhirnya diiringi aroma bunga melati pada tanggal 25 Desember 2006. 4. Tema dan Amanat Novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar bertemakan perjuangan seorang gadis remaja untuk melawan penyakit
Transformasi Budaya 102 I Nyoman Suaka kanker. Kanker ini yang menyebabkan ia meninggal di usia 15 tahun. Berikut kutipan-kutipan yang mendukung cerita tersebut. “Sebenarnya aku sangat malu pergi ke sekolah dalam keadaan seperti itu, tapi aku tidak punya pilihan selain harus terus memperjuangkan hidupku” (hlm. 51). “Saat obat itu mulai bereaksi, perutku terasa mual dan ingin muntah. Prof. Mukhlis mengatakan ini hanya reaksi dari obat itu. Dengan sekuat tenaga aku harus bertahan untuk beberapa hari dari rasa sakit itu. Rasa sakit itu sesungguhnya membuat aku terasa lemah dan ingin menangis. Belum lagi rasa dingin yang terus menusuk seluruh tubuhku. Aku bahagia dan terus berjuang bersama orangorang yang aku cintai yang selalu ada di sampingku” (hlm. 85). “Ternyata mimisan itu bukan terjadi sekali dalam hariku. Bahkan, setiap hari hidungku mengeluarkan darah saat beraktivitas. Bahkan ketika aku tidur ia bisa keluar secara alami. Entah sampai kapan aku harus merahasiakan hal ini kepada teman-temanku. Tetapi sepandai-pandainya aku menutupinya, ayah akhirnya tetap tahu akan keadaanku karena setiap saat ia selalu memantauku. Sampai suatu ketika, apa yang aku takutkan terjadi” (hlm. 110). “Ketika jarum suntik itu menyentuh kulitku dan memasukkan cairan obat-obatan keras, aku mulai mengantuk. Beberapa saat kemudian tubuhku menggigil, wajahku membengkak dan membuat aku kesulitan untuk bergerak. Rasanya sakit sekali, tubuhku terasa lemas dan aku tidak melihat dengan jelas cahaya di mataku. Entah mengapa aku tidak bisa tertidur saat itu. Aku berteriak kecil ketika jarum suntik itu kembali menusuk bagian lengan kananku. Cairan ini lebih menyakitkan, terlebih ketika perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku sungguh kesakitan, mataku berlinang air mata. Tanganku gemetar, tubuhku bergerak tak kuasa menahan rasa dingin itu. Ketika tubuhku kembali tenang akhirnya aku tertidur” (hlm. 135). “Kanker ini mengganas ke bagian radang mulutku, hingga menjalar ke tenggorokanku dan terus menyebar hingga mendekati jantungku. Akibatnya aku merasakan kesakitan luar biasa ketika hendak makan. Untuk bicara pun kini semakin sulit, yang paling kukeluhkan adalah saat menarik nafas, keadaanku serasa berenang
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 103 dalam sebuah kolam untuk mencari oksigen” (hlm. 137). “Sejak bangun pagi aku merasa kakiku mati rasa sehingga aku hanya bisa terbaring di kamar. Kalau aku tidak bangun, maka aku akan gagal dalam ujian. Saat aku paksakan kakiku berjalan, kakiku tak menurut. Ingin rasanya aku menangis. Akhirnya aku digendong oleh pak Iyus untuk mengikuti ujian di sekolah” (hlm. 189). “Kanker dalam tubuhku menyebar ke seluruh organ tubuhku, mulai dari kepalaku yang terus tertekan, hidungku yang mulai kehilangan kepekaan, serta paru-paruku yang terus mengeras dan terasa sulit bernafas” (hlm. 203). “Tiga hari lamanya aku mengalami koma tanpa pernah bangun. Dan ketika aku terbangun dari mimpiku, perlahan kubuka mataku, seluruh keluargaku ada di sampingku. Aku masih ingin mengatakan beberapa hal, namun suaraku mulai hilang dari mulutku. Aku kesulitan untuk berkata-kata dan mengapa di saat seperti ini aku hanya menangis. Dengan sekuat tenaga aku menggunakan jariku untuk menulis, Tuhan maha besar membiarkan tanganku yang lumpuh dapat bergerak. Tuhan mengizinkan aku untuk menulis, walaupun tulisan yang mampu kusampaikan hanya, rukun dan bahagialah ketika Keke pergi. Tulisan itu menjadi harapan terakhirku. Setelah seluruh keluarga mengikhaskan aku untuk pergi, air mata menjadi tanda terakhirku” (hlm. 211–212). Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca melalui tulisan-tulisannya. Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca dan pendengar, di dalam karya sastra modern. Amanat biasanya tersirat sedangkan di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat (Siswanto, 2008: 161–162). Amanat yang disampaikan oleh pengarang dalam novel Surat Kecil untuk Tuhan adalah: 1. Jangan mudah menyerah menjalani hidup, meskipun banyak cobaan yang harus kita lalui. 2. Selama masih mampu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersekolah. Karena pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan mendatang.
Transformasi Budaya 104 I Nyoman Suaka 3. Jangan pernah mengeluh dan marah karena situasi kehidupan yang sedang kita jalani, perbanyaklah bersyukur. 4. Jangan pernah bersikap sombong, karena kesombongan akan mendatangkan sebuah kehancuran. 5. Proses Kreatif Agnes Davonar merupakan gabungan nama antara kakak beradik yang lahir dari sebuah keluarga dengan kondisi berkecukupan pada awalnya. Keduanya merupakan anak dari pasangan Ng Bui Cui (ayah) dan Bong Nien Chin (ibu). Agnes lahir di Jakarta 8 Oktober 1986 sedangkan Davonar lahir di Jakarta, 7 Agustus 1989. Mereka adalah dua saudara yang besar dalam lingkungan seni. Sang ayah berprofesi sebagai seniman pembuat tulisan kaligrafi Cina, sedangkan ibunya kerap membantu penghasilan keluarga dengan membuat berbagai macam kue penganan kecil. Agnes sendiri mengenyam pendidikan SD hingga SMA di Pelita, Jakarta Barat. Setelah lulus SMA, Agnes kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Bina Nusantara, Jurusan Sastra Mandarin. Sedangkan Teddy yang usianya lebih muda tiga tahun, menempuh pendidikan di SD Pelita. Selepas menamatkan pendidikan SD-nya, Teddy melanjutkan ke SMP dan SMA Bhinneka, Jakarta. Keduanya memiliki hobi yang sama yakni menyukai olahraga. Tapi kelihaian menulis tekah mengantarkan keduanya sebagai penulis muda berbakat dalam jajaran sastra Indonesia. Agnes Davonar menyebutnya sebagai novelis dan cerpenis cyber atau online. Dalam pelacakan di internet menyebutkan bahwa orang tua Agnes, Ng Bui Cui sebenarnya berasal dari Taiwan dan hijrah ke Indonesia pada tahun 1980-an. Di Kalimantan, tepatnya di daerah Singkawang, ia bertemu dengan wanita yang kemudian dinikahinya. Lahirlah anak sulung, Angel Li pada tahun 1984. Dua tahun kemudian, Agnes pun lahir ke dunia di Pontianak. Saat Agnes duduk di bangku kelas 1 SD, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan memulai kehidupan baru sambil sang ayah kembali menjual tulisan kaligrafi Cina buatannya. Barulah pada tahun 1989, Teddy Li lahir di
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 105 Jakarta. Awalnya, kehidupan keluarga disokong oleh pekerjaan sang ayah menjual kaligrafi Cina. Kondisi keuangan yang awalnya tercukupi dengan penghasilan sang ayah, lantas berubah drastis. Ayah mereka mulai sakit-sakitan. Namun, sang ayah sendiri tak pernah menunjukkan tubuhnya yang sakit kepada keluarganya. Hingga akhirnya tahun 2002, sang ayah divonis menderita penyakit kanker paru-paru yang sudah kronis. Seiring berjalannya waktu, kondisi tubuh Ng Bui Cui tak mengalami perbaikan. Sebaliknya, ia justru semakin tak berdaya melawan penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuhnya. Namun, pihak keluarga justru tak menyangka sebelumnya lantaran sang ayah yang selalu memperlihatkan tubuhnya seakan-akan masih sehat. Mereka justru yakin kondisi tubuh ayahnya akan mencapai kesembuhan. Kenyataan justru berkata lain, tiga bulan setelah itu, nyawa sang ayah akhirnya menyerah terhadap penyakitnya yang semakin mengganas. Selain menyisakan kepedihan yang teramat dalam, kepergian sang ayah juga cukup menggoyahkan keuangan keluarga. Tulang punggung keluarga tak lagi ada di sisi mereka. Istri yang sekaligus ibu dari Agnes dan Teddy pun berusaha keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Keahlian membuat tulisan kaligrafi Cina tak menurun kepada ketiga anaknya. Sehingga, ketiga anaknya tersebut tak mampu melanjutkan bisnis peninggalan sang ayah. Alhasil, ibunya lantas berusaha menghidupi ketiga anaknya dengan menjajakan kue penganan kecil buatannya. Kebiasaan itu terpaksa dijalani agar mereka dapat hidup sepeninggal sang ayah. Kondisi keuangan yang semakin goyah ternyata harus berakibat buruk pada pendidikan Agnes yang harus berhenti kuliah di semester 2. Ketiadaan biaya untuk membayar kuliah yang cukup mahal menjadi alasan utama Agnes keluar dari kuliahnya. Berhenti kuliah memang membuat Agnes tak kuasa menahan rasa sedihnya. Namun, tak ada lagi sisa uang yang dapat dipergunakan untuk membayar kuliah di Universitas Bina Nusantara. Ketiga kakak beradik, Angel, Agnes dan Teddy lantas bertekad untuk mencari penghasilan demi membantu kehidupan keluarga. Begitu pula yang dilakukan oleh ibu mereka dengan memutuskan menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita
Transformasi Budaya 106 I Nyoman Suaka (TKW) di Taiwan. Merasa kebutuhan keluarga tak tercukupi dengan hanya menjual penganan kecil, sang ibu akhirnya bekerja di negeri seberang. Di Taiwan, sang ibu bekerja sebagai seorang perawat seorang kakek renta. Penghasilannya dapat mencukupi kehidupan ketiga anaknya yang ditinggal di Jakarta. Sejak akhir tahun 2002 hingga 2005, sang ibu merantau di Taiwan. Setiap bulan, sang ibu selalu mengirimkan hasil kerjanya di Taiwan. Di Jakarta sendiri, Agnes yang sudah putus kuliah lantas berusaha mencari pekerjaan. Teddy yang masih duduk di bangku SMA pun melakukan hal yang sama. Meski, keahlian menulis petuah dalam kaligrafi Cina tidak dimiliki Agnes dan Teddy, kepiawaian seni menulis ternyata telah menjadi bakat terpendam kedua kakak beradik ini. Terlebih lagi, selepas sang ayah meninggal. Meninggalnya sang ayah adalah inspirasi untuk menulis bagi Agnes Davonar. Agnes dan Teddy mulai menulis di internet melalui blog Friendster yang mereka buat sendiri. Tulisan novel atau cerita dimasukkan ke dalam blog, Teddy mengakui bahwa tulisan mereka merupakan hasil pengalaman kehidupan pribadi dan orang lain. Dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang, puluhan cerita diposting ke blog. Seiring waktu semakin banyaknya tulisan yang mereka masukkan ke dalam blog, semakin banyak pula orang yang membaca hasil tulisan keduanya. Dalam waktu 6 bulan, mereka sudah menghasilkan 12 cerpen dan 1 novel online. Sejak awal, Agnes dan Teddy sepakat untuk mengusung nama Agnes Davonar sebagai nama gabungan keduanya. Titik ledak ketenaran Agnes Davonar terjadi saat menelurkan novel online kontroversial yang menceritakan kisah sebuah lagu yang dibuat oleh sosok gadis bernama Geby yang bunuh diri karena patah hati (Ratnadi, 2015). Blog Friendster milik Agnes Davonar mampu meraih peringkat pertama yang paling banyak dikunjungi orang dari sebuah web top100.com. Cerita yang menarik dengan gaya penulisan khas anak muda sudah menjadi ciri khas karya Agnes Davonar. Nama Agnes Davonar menjadi bahan perbincangan di forum-forum dunia maya. Ketenaran lantas mulai diraihnya setelah menerbitkan novel keduanya bertajuk Surat Kecil untuk Tuhan pada pertengahan tahun 2008. Novel yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 107 Keke yang telah meninggal akibat penyakit kanker. Novel ini menjadi best seller, tidak hanya di dalam negeri saja, bahkan di Taiwan novel itu laris di pasaran. Saat menulis novel perdananya tersebut, Agnes dan Teddy tak jarang menitikkan air mata karena kesedihan yang sangat tergambar jelas dari kisah nyata itu. Apalagi, kanker juga pernah merenggut sang ayah, yang sangat mereka cintai. Bagi Agnes dan Teddy, inspirasi yang datang dari meninggalnya sang ayah karena kanker telah menjadi inspirasi dan motivasi yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan yang mulai diraihnya saat ini. Tak hanya itu saja, perjalanan hidup yang sempat menghantarkan Agnes dan Teddy dalam sebuah kondisi yang kekurangan dan kemudian diubah menjadi kehidupan yang sangat mencukupi, merupakan sebuah mukjizat dari Tuhan. Mereka tak pernah membayangkan hanya dalam waktu tak lebih dari dua tahun dapat mengeluarkan dua novel yang sukses dalam hal tingkat penjualan. Tujuan pengarang membuat karya sastra bermacammacam. Ada yang sekadar ingin menyampaikan keadaan hatinya, lingkungannya, atau negaranya. Ada juga karya sastra dibuat sebagai kritikan maupun persetujuan atas sesuatu yang terjadi di tengah masyarakat. Tapi ada pula karya sastra yang dibuat karena pesanan seseorang, lembaga, atau organisasi. Awalnya, Agnes dan Teddy menulis novel dan berusaha menawarkan ke berbagai penerbit agar mendapatkan penghasilan tambahan guna membantu penghidupan keluarga. Tapi, dari sekian kali menawarkan hasil tulisan, seluruhnya ditolak oleh pihak penerbit. Kegagalan demi kegagalan selalu menjadi ujung yang mengecewakan bagi keduanya. Menulis novel demi mendapatkan uang adalah kesalahan yang sangat besar bagi mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah tujuan menulis pada tahun 2001 dan menetapkan tujuan mereka, yaitu menulis untuk menginspirasi dan memotivasi orang banyak. Oleh karena itu, hasil karya Agnes Davonar memberikan inspirasi karena mengungkapkan penderitaan hidup orang lain.
108 Dinamika Sinetron: Antara Kultural dan Industrial Banyak sekali keluhan, kecaman, bahkan protes dari masyarakat ditujukan kepada TV swasta karena rendahnya kualitas tayangan sinetron, seperti tidak mendidik, merusak moral, tidak kreatif, menampilkan kemewahan, dan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Dampak sinetron terhadap gaya hidup remaja masa kini sering kali menjadi sorotan publik. Dalam hal ini jarang ditemukan saluran TV swasta menayangkan sinetron yang bersifat mendidik dan mencerdaskan. Tayangan sinetron itu diisi dengan sinetron-sinetron berbau seksual, hantu, adegan sadis dan pergaulan bebas. Walaupun tayangan itu dikemas secara estetis, tetapi pesan moralnya diabaikan dan tidak memenuhi kaidah kesopanan masyarakat Indonesia. Penilaian buruk terhadap sinetron TV swasta ini dapat dikaitkan dengan pidato Rob Allyn, pemimpin perusahaan film di Sydney, Australia, dalam Forum Asia Pasifik Media Forum (APMF) di Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, 3 Juni 2010, yang mengatakan bahwa televisi Indonesia belum mampu mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukannya, program televisi di Indonesia hanya menggambarkan kehidupan kota. Padahal masyarakat Indonesia sendiri masih sebagian besar menempati kawasan perdesaan. “Program televisi Indonesia tidak relevan dengan situasi yang berlangsung di Indonesia,” kritik Allyn (Jawa Pos, 4 Juni 2010). 1. Adegan Kekerasan Akibat buruk tayangan sinetron, Bupati Bengkalis H. Syamsurizal mengajak orang tua untuk melarang anak-anaknya menonton sinetron di televisi, khususnya sinetron remaja. Larangan tersebut untuk mencegah dampak negatif terhadap perkembangan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 109 psikologi anak (Riau Info, 11 Maret 2008). Pernyataan keras bupati ini didasarkan atas temuan para peneliti dari delapan belas perguruan tinggi di Indonesia tentang sinetron yang menyebutkan bahwa kekerasan menjadi urutan pertama dalam adegan sinetron remaja. Kekerasan tidak lagi sekadar memunculkan konflik, tetapi menjadi kekerasan itu sendiri (Suaka, 2013). Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa hampir setengah kekerasan yang ditayangkan di televisi (44,52 persen) merupakan kekerasan psikologis. Kekerasan itu dilakukan melalui tindakan mengancam, memaki-maki, mengejek, melecehkan, memarahi, memelototi, dan membentak. Urutan terbesar kedua adalah kekerasan fisik (22,82 persen), dan kekerasan relasional (9,97 persen). Jenis-jenis kekerasan ini mengakibatkan rusaknya hubungan antarkarakter dan antarkomunitas yang tercermin lewat perilaku mempergunjingkan, memfitnah, atau menyebarkan desasdesus. Adegan dalam sinetron tersebut tidak baik ditonton oleh anak-anak karena mereka akan menirunya. Pelaku kekerasan di sinetron tersebut adalah kebanyakan remaja (51 persen), korban kekerasan itu juga remaja (66 persen). Penelitian dampak buruk sinetron tersebut melibatkan 67 orang periset dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Para peneliti menganalisis isi 92 judul sinetron remaja selama periode 2006–2007. Jumlah episode sinetron yang diteliti sebanyak 362 episode dengan total durasi 464 jam. Dampak buruk lainnya, menurut Bupati Bengkalis Syamsurizal, sinetron remaja juga tidak mendidik. Bupati mencontohkan, sekolah dijadikan tempat pacaran. Para siswa memakai pakaian ketat dan seksi. Sekolah bukan sebagai tempat belajar sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, agar mental dan sikap anak tidak rusak, bupati melarang anak-anak menonton sinetron, khususnya sinetron remaja. Dalam diskusi tentang Sinetron, Film, dan Pertelevisian di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta terungkap bahwa dunia film dan sinetron di televisi sudah mengalami kemunduran, baik dari segi cerita maupun moral (Warta, No. 4, Oktober-Desember 2006). Dalam diskusi tersebut, Leila S. Chudori merasa prihatin,
Transformasi Budaya 110 I Nyoman Suaka tidak puas dan marah terhadap fenomena persinetronan di televisi. Banyak sinetron dinilainya terlalu vulgar dan tidak lazim dalam menampilkan berbagai persoalan kehidupan untuk dijadikan konsumsi tontonan anak-anak dan remaja. Menurut Chudori, sejak dibubarkannya Depertemen Penerangan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, muncul kebebasan dan situasi yang lebih sehat. Namun, kondisi tersebut hanyalah pergulatan sekitar produser, sutradara, dan penulis skenario. Justru masalah yang dihadapi para sineas sekarang adalah rating. Nyawa kehidupan sebuah tayangan di televisi ada pada kekuasaan rating yang sengaja dibuat untuk memancing iklan. Mereka diharuskan untuk mengejar rating. Mutu dan kualitas tidak berfungsi lagi ketika produk sudah ditonton masyarakat. Hal ini yang membuat masyarakat semakin bodoh dengan suguhan-suguhan yang tidak rasional, penuh mimpi, dan menjerat mental lebih konsumtif. Dalam kesempatan diskusi itu sutradara dan aktor, Deddy Mizwar menilai, bahwa pada dasarnya televisi lahir dari sebuah ideologi kapitalisme. Ideologi ini merupakan indikator penting yang memicu lahirnya sinetron-sinetron murahan yang lebih bersifat merusak dibandingkan mendidik. “Apapun yang terjadi selama itu yang sifatnya menguntungkan akan dia jual. Televisi tidak akan bertanggung jawab pada moral masyarakat. Para sineas tidak akan pernah bisa membenahinya. Dalam hal ini tidak perlu lagi membicarakan kebijakan-kebijakan, yang penting kita harus berbuat dan berkarya memperbaiki situasi tersebut,” ujar Deddy Mizwar (Warta, No. 4 Oktober-Desember 2006). Keprihatinan dari berbagai pihak tentang dunia sinetron di Indonesia, seperti dipaparkan di atas karena di antara mereka belum terjadi persepsi yang sama. Di satu pihak, mereka menginginkan sinetron yang berkualitas sesuai dengan realitas, mendidik, dan mampu meningkatkan moral masyarakat, khususnya generasi muda. Akan tetapi di pihak lain, khususnya dari media televisi dan yang terkait mengharapkan tontonan mereka diminati masyarakat, tanpa mengutamakan kualitas. Ukuran mereka adalah rating karena rating ini mampu meraih iklan.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 111 I Nyoman Suaka Survei rating ini ternyata diskriminatif, yakni hanya mengambil sampel di kota-kota besar, sedangkan pemirsa di Indonesia tersebar di berbagai daerah dan pelosok-pelosok desa. Ratusan juta penduduk Indonesia itu tidak terwakili sebagai sampel dalam survei rating karena dianggap dari masyarakat kelas bawah. Mereka ini, dinilai memiliki peranan kecil terhadap konsumsi iklan yang ditayangkan di televisi. Dalam hal ini membicarakan rating identik dengan iklan karena media televisi bersifat komersial yang sebagian besar keuntungannya tersebut bersumber dari iklan. Ideologi kapitalisme media melalui sinetron bergerak secara halus karena disajikan dalam bentuk hiburan. Namun, di balik hiburan itu tanpa terasa masyarakat telah digiring untuk hidup konsumerisme melalui adegan-adegan kehidupan mewah dalam sinetron dan selingan iklan. 2. Citra Wanita Dalam hal menyaksikan sinetron di TV swasta, khalayak betulbetul disuguhi hiburan, bukan pencerahan. Penampilan fisik para pemain adalah tokoh-tokoh yang cantik dan tampan. Kecantikan wajah serta citra tubuh ini tampak seperti gadis Indo keturunan Eropa dengan pakaian ketat yang seksi. Terkait dengan penampilan ini, Berger (dalam Ibrahim Ed, 1997:313) mengatakan bahwa citra tubuh wanita Indonesia peranakan Eropa Asia (Erasia) dalam filmfilm Indonesia adalah untuk memuaskan para penonton pria. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan penampilan seperti itu, penonton merasa memiliki dan dapat “menikmati” citra tubuh wanita. Representasi tubuh wanita Erasia dalam film-film Indonesia dengan kisah dan setting Indonesia menggambarkan suatu jenis kecantikan glamour yang khas. Kecantikan yang merona karena pancaran kebahagiaannya. Kecantikan yang tidak bisa dimiliki oleh mereka yang tidak mempunyai warna kulit, bentuk tubuh, wajah yang serasi, serta citra yang membuat mayoritas wanita penonton film Indonesia merasa tidak berdaya karena mereka bukan Indo atau setidaknya bertampang Indo.
Transformasi Budaya 112 I Nyoman Suaka Menurut Sunindyo (dalam Ibrahim, 1987:312) dunia film Indonesia ternyata tidak bebas dari kontrol ideologi tentang penggunaan wanita berdarah campuran (bertampang Erasia). Walaupun banyak sutradara Indonesia mengatakan bahwa pemilihan artis yang berdarah Erasia merupakan wewenang produser dan tidak ada kaitannya dengan gambaran kecantikan masyarakat. Mereka setidaknya mengklaim bahwa keputusan seperti itu dibuat untuk alasan-alasan komersial. Film-film komersial Indonesia terjebak dengan sistem bintang bukan sistem aktor. Mengutip pendapat Sunindyo, Ibrahim (1987:313) mencatat bahwa para sutradara dan penulis skenario sudah sejak lama memenuhi keinginan produser memakai artis yang lebih menguntungkan dibandingkan artis yang lebih mengindonesia. Pada tahun 1983, Ami Prijono menyutradarai film Roro Mendut, sebuah film yang diangkat dari novel karya Mangunwijaya yang mengisahkan tentang legenda tradisional. Namun, film ini dalam beberapa hal berbeda dengan novelnya, termasuk penampilan fisik wanita Mendut. Dalam novelnya digambarkan bahwa Mendut, seorang wanita Jawa yang berasal dari daerah pesisir. Mangunwijaya menggambarkan Mendut sebagai wanita berkulit kayu jati muda atau hitam manis. Perumpamaan ini menunjukan Mendut adalah sosok wanita cantik berkulit hitam. Namun, dalam filmnya, Mendut dimainkan oleh Meriam Bellina yang berkulit putih Erasia. Terkait dengan citra tubuh wanita dalam budaya populer, Baudrillard (dalam Ibrahim, 2007:45) menyebutkan bahwa tubuh muncul sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk menjual komoditas dan jasa, sekaligus sebagai suatu objek yang dengan sendirinya dikonsumsi. Agar bisa digunakan sebagai objek untuk menjual berbagai hal, tubuh harus direka ulang oleh pemiliknya dan dilihat secara artistik dibandingkan secara fungsional. Pencitraan tubuh wanita dalam sinetron TV swasta sangat menonjol karena menampilkan aura seksi. Mereka dikonstruksi oleh sinetron yang kelihatan alami, tetapi sesungguhnya tidak bisa lepas dari hegemoni budaya yang berorientasi kapitalistik. Konstruksi aura dan citra tubuh dalam sinetron itu ikut membentuk dan mengubah cita rasa budaya di kalangan anak
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 113 muda, terutama tentang tubuh yang ideal. Dengan cara demikian, dapat dipahami bahwa teks budaya populer tentang tubuh dan citra diri tidak bisa dilepaskan dari pentas budaya populer yang terkomersialkan. Citra tubuh para aktris mengikuti busana model kekinian. Mereka berkulit putih dengan busana ketat. Ketika di sekolah sebagai latar cerita mereka menggunakan seragam lengkap atributnya, tetapi ujung bajunya dibiarkan di luar dan memakai rok pendek. Penampilan tokoh lewat pencitraan diri ini bertujuan untuk mengundang pemenuhan selera budaya konsumen. Daya tarik konsumen itu kurang berhasil kalau menggunakan tokoh wanita yang berpenampilan tradisional perdesaan. 3. Kualitas Kultural dan Industrial Memperhatikan fenomena tayangan sinetron TVRI dan TV swasta, maka secara kualitas dapat dibedakan menjadi tayangan dengan format berkualitas industrial dan berkualitas kultural. Stasiun Televisi swasta mewakili kualitas industrial, sedangkan stasiun TVRI mewakili kualitas kultural. Program berkualitas industrial adalah program yang menampilkan gaya hidup yang ideal, yakni menurut ukuran bisnis dan gaya yang sangat elitis borjuis disertai adegan erotis dan kekerasan. Gaya hidup semacam ini umumnya disukai oleh penonton Indonesia, terutama generasi mudanya. Mereka ingin keluar dari situasi sosial yang barang kali kurang baik. Ketika menyaksikan sinetron di televisi swasta tersebut, pemirsa merasa lega karena seolah-olah dirinya mengalami sesuatu yang sangat mengairahkan sebagaimana artis yang muncul dalam program yang ditontonnya. Isi sinetron tidak penting, yang lebih penting dan menarik adalah penampilan artis yang cantik dan tampan dengan pakaian model terakhir serta latar belakang kemewahan. Kemewahan, seperti busana, aksesoris, mobil, sampai rumah mewah diperoleh dengan mudah. Padahal yang tampak itu adalah rekayasa-rekayasa, kepalsuan, dan kebohongan. Pemirsa terbius dengan tontotan tersebut sehingga pemirsa tidak bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang direkayasa. Manipulasi-manipulasi visual program industrial budaya seperti ini mampu merebut hati
Transformasi Budaya 114 I Nyoman Suaka banyak pemirsa yang hanya ingin menghibur diri. Mereka tidak mau susah-susah berpikir dan ingin lepas dari realitas hidup yang penuh dengan kesulitan. Sinetron-sinetron tayangan versi TVRI digolongkan ke dalam format kualitas kultural. Program berkualitas kultural ini membutuhkan pemikiran dan perenungan ketika dinikmati oleh pemirsanya. Program semacam ini diminati oleh pemirsa yang berlatar belakang intelektual dan yang tahu menghargai waktu untuk menonton sebuah program yang baik. Menurut Wibowo (2007:235), program televisi berkualitas kultural tidak menimbulkan katarsis dalam diri penonton, tetapi justru mengganggu hati nurani dan pikiran kritis penonton untuk terlibat dalam permasalahan yang disajikan. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa keterlibatan pemirsa secara tidak langsung mendapatkan informasi, pemahaman, dan pengetahuan yang diperlukan untuk menambah wawasan pemirsa. Dengan menyaksikan sinetron TVRI, pemirsa akan dapat menambah wawasan, perenungan diri dan pencerahan. Hal ini sangat bertentangan dengan tayangan yang berkualitas industrial. Pemirsa tidak akan memperoleh pandangan yang memperluas wawasan, selain hiburan-hiburan dan mimpi. Stasiun televisi, seperti yang dikatakan Wibowo (2007:233- 234), sebenarnya tidak menjual kualitas program, tetapi menjual penonton yang menyukai program. Oleh karena jumlah penonton yang banyak akan menghasilkan rating yang tinggi. Dengan demikian tidak mengherankan apabila kemudian program yang ditayangkan di stasiun televisi belum tentu program yang berkulitas baik. Dalam hal ini terkadang kualitas isinya jelek, tetapi mampu bertahan, selama banyak penonton karena tinggi ratingnya. Dalam hal ini, stasiun televisi swasta yang sangat berorientasi komersial akan memilih program-program yang memiliki rating tinggi. Sinetron semacam itu akan menguntungkan produser, pengelola stasiun televisi, pemasang iklan, dan penonton kebanyakan. Masalah selera sangat ditentukan oleh kelompok programer yang mengandaikan akan dapat meraih keuntungan iklan dari sinetron. Oleh karena itu, sebelum ditayangkan, pihak programer
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 115 akan melakukan promosi dengan bintang-bintang yang tampan dan cantik. Struktur ceritanya dibuat rumit, dan pelik dengan alur sorot balik (flash back). Dalam kerumitan cerita itu yang penting terjadi percintaan, tindak kekerasan, dan tangis yang berlebihan. Penampilan artis memamerkan kecantikan dan kemewahan. Menanggapi keadaan seperti itu, sastrawan, Taufik Ismail, dalam wawancara dengan penulis menyarankan agar adaptasi novel dilakukan dengan mempertahankan ide asli cerita. “Kalau, membuat konteks baru, apalagi sangat menyimpang, maka lebih baik jangan menggunakan judul sinetron dan nama-nama tokoh yang sama. Buatlah cerita hasil kreativitas sendiri dengan inovasi-inovasi yang segar!” ujarnya. Model-model sinetron murahan dalam konteks budaya populer sering disebut sebagai sampah budaya. Sinetron seperti ini sangat tergantung dari pemirsa. Hal ini apabila dilihat dari perspektif pemirsa, tampak telah terjadi pergeseran pemirsa. Pendapat Ibrahim (2007:177-178) dapat dijadikan rujukan penyebab diminatinya sinetron atau film yang bersifat komersial. 1. Pergeseran selera dan budaya anak muda Indonesia yang sedang mengalami revolusi mendasar. Romantika percintaan dan kisah-kisah yang memenuhi selera anak muda saat ini biasanya tidak jauh dari protret percintaan kelas menengah dan mimpi yang serba indah. 2. Rendahnya kemampuan apresiasi sebagian besar kalangan terhadap film atau sinetron kategori serius. Karakteristik umum publik penonton Indonesia dengan tingkat pendidikan dan budaya baca yang rendah, belum membuat publik menjadi penonton yang melek dan kritis terhadap produk budaya visual yang mereka tonton. Tontonan hanya dijadikan sekadar hiburan untuk membunuh waktu dan menyenangkan, dibandingkan media edukasi. 3. Kurangnya dukungan kebijakan pemerintah terhadap peningkatan apresiasi film dibandingkan di negera lain, seperti India dan Iran. Pemerintah setempat sangat serius memberdayakan insan perfilman dan masyarakat penontonnya. Kedudukan film Indoensia semata-mata dianggap sebagai
Transformasi Budaya 116 I Nyoman Suaka komoditas atau barang dagangan. Film sebagai produk budaya untuk konsumsi masyarakat, justru dianggap berhasil kalau, ia sanggup tampil sebagai hiburan komersial bagi penonton. Walaupun analisis Ibrahim itu ditujukan untuk film, tetapi sinetron sebagai film televisi, juga mengalami hal yang sama. Permasalahan, pergeseran selera dapat dilihat dari generasi muda itu sendiri. Pergeseran selera anak muda juga dirasakan saat membaca novel yang diadaptasi ke sinetron. Mereka mengalami kesulitan memahami isi cerita baik dalam teknik penceritaan, kosakata, maupun gaya bahasa pengarang, Oleh karena cara-cara pengungkapan pengarang itu sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Kondisi tersebut semakin parah disebabkan rendahnya minat baca generasi muda. Ukuran kualitas sangat berlainan antara program yang berkualitas kultural dengan industrial. Sinetron yang digolongkan ke dalam format program industrial merupakan tayangan hiburan untuk kesenangan penonton. Namun, sinetron yang digolongkan ke dalam program kultural merupakan tayangan yang tidak saja menghibur, tetapi dapat menambah pengetahuan dan wawasan penonton.
117 Tayangan Televisi dalam Cerita Sinetron Bujuk Rayu Iklan Televisi pada hakikatnya adalah sebuah fenomena kultural, sekaligus medium tempat aktivitas budaya menjamah kita di dalam rumah. Televisi merupakan aktivitas industri dari sebentuk teknologi. Pandangan yang amat singkat tersebut melihat pada masalah kontrol dari kekuasaan perusahaanperusahaan televisi, globalisasi, dan implikasi perubahan teknologi terhadap masyarakat (khalayak). Dalam konteks ini objek studinya menyangkut implikasi-implikasi terhadap industri televisi, terutama perdebatan tentang penyiaran layanan masyarakat dan layanan komersial. Pendapat lain menyebutkan bahwa televisi adalah benda yang mempunyai pengaruh dahsyat terhadap masyarakat. Kalau programnya buruk, maka televisi disebut sebagai sampah budaya rendah (Burton, 2007:8). Dengan bahasa yang puitis, Burton (2007:283) menyebutkan bahwa, Televisi mempunyai citra dan gagasan tentang guru sebaik gagasan tentang pendidikan, televisi mempunyai citra dan gagasan tentang tentara sebaik angkatan perang, dan televisi mempunyai citra dan gagasan tentang juru rawat sebaik rumah sakit. Pandangan indah seperti ini tampaknya didasarkan atas respons dari khalayak yang mememberikan pencitraan luar biasa terhadap program-program televisi. Masyarakat dimanjakan dengan program-program televisi yang menghibur, sebagai pengisi waktu luang, dan sampai melupakan pekerjaan pokoknya. Pakar komunikasi, Effendi dalam bukunya, Dimensi-dimensi Komunikasi (1986) menyebutkan, televisi merupakan perpaduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Pada televisi terdapat unsur radio dan unsur film. Media televisi memiliki sifat audio
Transformasi Budaya 118 I Nyoman Suaka visual yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap jiwa pemirsa karena gambar yang ditayangkan terlihat hidup seolah-olah nyata. Berbeda dengan sifat radio yang hanya didengar (audio) dan media cetak hanya dilihat (visual). Memperhatikan kehebatan televisi sebagai ”kotak ajaib” hampir semua jenis tayangannya menarik untuk didiskusikan. Namun sebagai media dengan visi informatif, mendidik, dan menghibur sehingga fokus pembahasan ditujukan pada tayangan sinetron dan iklan dengan topik, ”Tayangan Media Televisi dalam Cerita Sinetron Rayuan Iklan,” Tidak sedikit keluhan dari masyarakat bahwa sinetron dan iklan, hidup berdampingan, tetapi tidak mendidik. Keduanya memanjakan pemirsa, mengajar anak-anak hidup mewah, konsumtif, serba instan, tidak mau bersusah payah. 1. Khalayak Pemirsa Sebagai sebuah industri, televisi sangat bergantung pada keberadaan khalayak. Hal ini disebabkan bahwa sebagian besar pendapatan televisi swasta bersumber dari iklan. Perusahaan pengiklan, menurut Panjaitan dan Iqbal (2006:21), hanya mau atau cenderung beriklan pada suatu stasiun atau program acara jika diketahui jumlah penontonnya banyak. Sebaliknya, tanpa penonton yang banyak suatu stasiun televisi terancam bangkrut. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi dari khlayak secara konkret, dilakukan penelitian tentang perilaku khalayak televisi, yakni TAM (Televison Audience Measurement). Penelitian itu dilakukan oleh sebuah lembaga riset internasional yang bernama Nielsen Media Research (NMR). Lembaga riset khalayak ini menghasilkan data berupa rating. Berbagai data rating yang dikeluarkan oleh NMR ini ditindaklanjuti oleh stasiun televisi dengan sejumlah tindakan yang konkret dan cepat. Program yang memiliki rating kecil banyak yang dihentikan dan segera diganti oleh para pengelola televisi. Salah satu caranya, yaitu menduplikasi program-program yang terbukti mendapatkan angka rating yang tinggi di stasiun trelevisi lain. Beberapa contoh program yang mengalami duplikasi, seperti sinetron bertema cinta remaja, sinetron hantu dan alam gaib, acara
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 119 gosip, mistik, selebritis, kriminal, dan acara lawak. Jika suatu program acara televisi mendapat rating yang tinggi dari lembaga riset dan banyak iklannya, maka stasiun televisi lain akan segera menayangkan program serupa dengan harapan mendapatkan iklan yang banyak juga. Jika tidak, stasiun televisi tersebut atau program acaranya, dirasakan tidak layak untuk bisa bertahan. Dengan pertimbangan iklan inilah rating tiba-tiba menjadi sebuah sabda yang harus dituruti dalam sebuah perayaan ritual industri (Panjaitan dan Iqbal, 2006:22). Akibat bertumpu pada rating sebagai alat kontrol dan standardisasi utama, maka menurut Nugroho (1998:99), industri televisi terjebak pada pola pikir, “yang penting sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya.” Nugroho, seorang sutradara dan pengamat film (1998:91– 92), mengatakan bahwa rating menjadi sebuah pola pikir utama yang seakan-akan memaksa semua orang untuk menggunakannya. Akibatnya, muncul ungkapan, ”Seruling cukong berdasar rating menentukan lagu yang dimainkan.” Hal ini telah menembus semua tingkat pengambilan keputusan dan sering kali mengabaikan kualitas, termasuk estetika, sosial, dan psikologis penonton. Pergulatan dengan angka-angka rating dari hasil riset itu, identik dengan minat masyarakat terhadap suatu program. Direktur Utama Trans TV, Ishadi S.K. mengatakan bahwa sebuah program yang memiliki rating audience share yang tinggi berarti sangat digemari penonton dan umumnya menarik pemasang iklan. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Direktur Pemberitaan Trans TV, Riza Primadi, yang mengatakan bahwa rating merupakan alasan utama ditayangkannya sebuah program acara. Meskipun acara dikatakan jelek, tidak mendidik, tetapi bagaiamana pun, hal itu merupakam bentuk keinginan masyarakat sendiri. ”Ketika acara ini jelek, tetapi ratingnya tinggi, artinya apa? Ya enggak tahu ya, orang-orang suka kok. Orang suka nggak tahu alasannya kenapa? Kalau dia pengkritik atau penonton enggak suka, ya enggak suka saja,” ujar Primadi dalam wawancaranya dalam buku, Matinya Rating Televisi Sebuah Ilusi Netralitas (2006:32–33). Kepercayaan kepada rating yang dihasilkan lembaga riset telah dianggap sebagai suatu yang lazim di kalangan orang televisi.
Transformasi Budaya 120 I Nyoman Suaka Seandainya ada kritik terhadap teks-teks budaya rendahan terhadap televisi, maka yang dijadikan alasan adalah rating. Rating dijadikan sebagai representasi selera masyarakat sehingga para pengkritiknya akan segera dikatakan sebagai orang yang sedang mengkritik mekanisme pasar (Subiakto, dalam artikelnya berjudul, “Intelektual dan Media Massa” dimuat harian Kompas, 2 Oktober 2003). Direktur Utama Trans TV, Ishadi S.K. adalah orang yang sangat gigih melakukan pembelaan terhadap tayangan televisi saat perdebatan masalah khalayak. Ia memberikan pembelaaan terhadap televisi karena sebelumnya diprotes oleh Direktur Pendidikan Sekolah Menengah Umum, Suharlan, seperti berturut-turut dimuat Kompas, 26 Agustus 2003, 8 September 2003, dan 3 Oktober 2003. Perdebatan yang kemudian menjadi polemik dalam kurun waktu dua bulan itu cukup seru. Direktur Utama Trans TV sebagai satusatunya orang yang disalahkan. Ishadi, dalam artikel yang berjudul “Televisi Swasta dan Jajak Pendapat” (Kompas, 8 September 2003) mengatakan bahwa metode sistematis sampling yang digunakan dalam pencarian angka rating sudah tepat dan baik. Data rating itu layak dinyatakan sebagai hal yang mewakili sebagian besar penonton televisi di kota-kota yang diteliti. Riset seperti itu dapat memotret isi siaran televisi atau secara seketika bisa menghitung dengan tepat berapa banyak penonton sebuah acara pada suatu jam dalam kurun waktu tertentu. Di samping itu, Direktur Utama Trans TV, Ishadi S.K. menambahkan, televisi harus dilihat sebagai sebuah industri yang sangat berorientasi pada jumlah penonton terbesar. Oleh karena jumlah penonton inilah yang bisa dibawa dan ditawarkan kepada pemasang iklan. Menurut Ishadi, ketika suatu program acara memiliki rating tinggi, itu artinya banyak orang yang menyukai (Panjaitan dan Iqbal, 2006:47). 2. Aspek Ekonomi dan Politik Media Pendekatan ekonomi dan politik terhadap budaya televisi sebagai titik pijakannya adalah para produsen media massa. Mereka merupakan pelaku-pelaku bisnis yang lebih fokus dalam menciptakan keuntungan dan menjual “khalayak” ke para pengiklan. MacDonald
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 121 I Nyoman Suaka menuduh budaya massa dan media sebagai parasit bahkan kanker bagi budaya tinggi. Hubungan antara keduanya, dalam bahasa MacDonald, tidaklah “seperti antara daun dan ranting”, melainkan seperti “antara ulat dan daun.” Keduanya semata-mata bersifat eksploitatif yang hanya menguntungkan satu pihak, justru dengan cara merugikan pihak lain (Budiman, 2002:116). Gejala seperti itu dapat dirasakan dalam sinetronisasi novel Sitti Nurbaya. Sebagai produk budaya massa, melalui pemanfaatan teknologi, sinetron ini tak ubahnya seperti yang diistilahkan MacDonald sebagai parasit bagi budaya tinggi. Novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, terbitan Balai Pustaka, mewakili produk sastra (budaya) tinggi yang memiliki hubungan dengan sinetron Sitti Nurbaya TVRI dan Trans TV karena tayangannya merupakan adaptasi dari novel tersebut. Namun, hubungan antara keduanya tidak persis sama seperti yang dimaksud MacDonald. Hubungan novel Sitti Nurbaya dengan sinetron versi TVRI, saling melengkapi, mendukung dan saling memperkaya apresiasi pembaca/pemirsa terhadap kedua produk budaya tersebut. Hubungan antara sinetron TVRI dengan pengarang dan novel, ibarat ranting dengan daun, bukan parasit apalagi kanker bagi sastra tinggi, Sitti Nurbaya. Parasit ibarat kanker ini ditemukan pada hubungan antara salah satu televisi swasta dengan sinetron Sitti Nurbaya. Hubungan keduanya tidak sebagai daun dengan ranting tetapi bagaikan ulat dengan daun. Ulat sebagai khewan parasit dapat merusak daun. Konotasi ulat ini tiada lain adalah stasiun televisi atau rumah produksi, yang merusak kualitas sastra novel Sitti Nurbaya melalui tayangan sinetron tersebut. Pihak rumah produksi telah mengeksploitasi teks Sitti Nurbaya ke dalam sinetron untuk menguntungkan pihakpihak tertentu dengan mengorbankan pihak lain seperti pengarang, pemerhati sastra serta merusak kandungan isi novel itu sendiri. Di pihak lain, Leo Lowenthal (1984:7) mengatakan bahwa produk-produk artistik makin kehilangan karakter spontanitas dan tengah digantikan oleh fenomena budaya populer. Ia sendiri pada prinsipnya cenderung lebih memandang budaya populer sebagai counter concept (menentang konsep) dari seni. Dalam pandangan Lowenthal, budaya populer adalah sebuah hasil reproduksi realitas
Transformasi Budaya 122 I Nyoman Suaka yang telah dimanipulasi. Seni adalah kreasi individual dan dialami oleh individu-individu, sedangkan budaya populer hanya repetisirepetisi dari hal-hal yang sudah ada melalui penggunaan alat-alat yang dipinjam dari seni. Produk-produk budaya populer tidak memiliki satu pun ciri seni atau budaya tinggi. Merosotnya karakter individual dalam proses-proses kerja mekanis, menurut Lowenthal membawa akibat munculnya budaya populer yang menggantikan budaya tinggi (Budiman, 2002:116–117). Gagasan Gans tentang budaya populer itu membuktikan bahwa sinetron Sitti Nurbaya berorientasi untuk mencari keuntungan dengan memanfaatkan karya sastra novel sebagai bagian dari budaya tinggi. Tayangan tersebut mendapat iklan dan sponsor untuk membiayai produksi, termasuk keuntungan di luar itu yang diperoleh pihak produser. Kreativitas semu itu kemudian merugikan khalayak karena pemirsa kecewa. Akibatnya, muncul sikap emosional dengan ancaman agar Trans TV menghentikan tayangan sinetron Sitti Nurbaya. Sinetron Trans TV yang merupakan produk budaya populer telah mengecewakan khalayak. Dampak lebih luas pada masyarakat bahwa tingkat apresiasi sastranya menjadi terganggu karena sinetron tersebut berorientasi ekonomi, bukan berorientasi pada kebudayaan. Dampak yang lebih parah lagi, sinetron Trans TV ini merusak totalitas estetika novel Sitti Nurbaya karena terlepas dari dinamika sosial, budaya, dan politik lokal Sumatra Barat awal tahun 1990-an. Dengan demikian, sinetron Sitti Nurbaya versi Trans TV dilihat sebagai gejala kultural, tidak memiliki sumber kreasi sendiri. Dalam hal ini hanya bentuk-bentuk pengulangan, peniruan, deformasi, bahkan memanipulasi bentuk-bentuk kreasi novel Sitti Nurbaya dan sinetron versi TVRI yang telah ada lebih dahulu. Sinetron versi Trans TV dapat berpengaruh buruk terhadap khalayak karena menayangkan adegan seks, kejahatan, dan kekerasan. Halhal tersebut merupakan ciri utama produk budaya populer yang diminati permisa. Pada tayangan sinetron versi Trans TV disebarkan pula mimpi-mimpi yang indah tentang kemewahan dan kecantikan yang sangat berbeda dari kenyataan. Pengaruh-pengaruh buruk semacam itu dihadirkan produsen budaya populer ke dalam media massa kemudian diserap oleh massa yang mengonsumsinya.
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 123 Sinetron tersebut tidak saja merusak karya novelnya, tetapi juga menciptakan khalayak yang bersifat pasif. Khalayak muda tergoda oleh bujukan yang ditawarkan melalui teknik-teknik persuasi melalui media. Sutradara tampaknya mengharapkan perhatian khalayak bukan daya apresiasi melainkan daya resepsinya. Hal ini tampak pada latar suasana pembelajaran di sekolah versi sinetron Trans TV. Hubungan antara guru dengan murid lebih sering bercanda walaupun sedang membahas pelajaran. Dalam hal ini Samsulbahri, Bahtiar, Arifin, Sitti Nurbaya, dan Ria adalah siswa satu sekolah SMA di Jakarta. Tokoh-tokoh ini dengan teman-teman sekelasnya tidak pernah serius mengikuti pelajaran. Pembicaraannya seputar percintaan segi tiga di sekolah itu, yakni antara Sitti Nurbaya, Samsulbahri dengan Ria. Hubungan ini bertambah seru karena muncul tokoh lain yang meramaikan percintaan itu dengan gosip-gosip antartokoh. Situasi sekolah seperti itu, memunculkan pemikiran pasif dari khalayak. Sebagaimana lembaga pendidikan, semestinya kegiatan di sekolah difokuskan pada pendidikan dan pengajaran, bukan percintaan. Dinas Pendidikan, kalangan pendidik dan siswa dalam dunia realitas bisa tersinggung dengan tayangan itu karena dapat menimbulkan citra negatif terhadap lembaga pendidikan. Kalaupun ada adegan siswa belajar di perpustakaan dan adegan belajar berkelompok di rumah, tetapi pembicaraannya kembali pada masalah percintaan. Mereka belajar tidak membahas pelajaran, tetapi menggosipkan teman dan menyusun strategi untuk merusak percintaan temannya. Sekitar 70 persen dari seluruh tayangan, berupa cerita bermain dengan latar siswa, yakni tidak tidak terkait dengan peningkatan mutu pendidikan. Sebuah ilustrasi untuk mendukung pernyataan tersebut adalah saat Samsulbahri dipenjarakan karena melarikan Sitti Nurbaya. Sebagai bentuk simpati dari teman sekolahnya, mereka berkunjung ke lembaga pemasyarakatan (LP) tempat Samsulbahri ditahan. Kelompok siswa ini sempat membuat kejahatan untuk menyelamatkan Samsulbahri. Salah satu siswa menekan tombol bel di penjara, isyarat ada kebakaran. Akhirnya, bunyi sirene maraung-raung. Pegawai dan petugas LP panik sehingga berhamburan keluar kantor. Kesempatan
Transformasi Budaya 124 I Nyoman Suaka itu akhirnya dipergunakan Samsulbahri untuk meloloskan diri dari penjara dan ia berhasil. Adegan-adegan seperti itu justru dinilai wajar oleh produser walaupun bertentangan dengan visi dunia pendidikan. Novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli sebenarnya menjadi objek yang menarik untuk diadaptasi sebagai sinetron. Hal ini sejalan dengan pendapat Walter Benyamin (dalam Pilliang, 2007:129) yang menyebutkan bahwa karya seni pada dasarnya sah saja direproduksi karena teknologi memungkinkan untuk itu. Oleh karena melalui teknik produksi, realitas tidak saja dapat direproduksi, akan tetapi juga dengan sangat sempurna dapat disimulasi. Dalam hal ini tidak hanya realitas yang dapat disimulasi, tetapi juga fantasi. Istilah simulasi digunakan oleh Baudrillard untuk menerangkan hubungan-hubungan produksi, komunikasi, dan konsumsi dalam masyarakat kapitalis konsumer Barat yang dicirikan oleh overproduksi, overkomunikasi dan overkonsumsi melalui media massa, iklan, supermarket, dan industri hiburan. Akan tetapi, istilah simulasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan mutakhir masyarakat kapitalis Barat yang disebut masyarakat postindustri atau masyarakat konsumer. Di dalam masyarakat konsumer Barat, overproduksi, overkomunikasi, dan overkonsumsi adalah cara baru untuk memperoleh kekuasaan. Masyarakat konsumer, menurut Baudrillard, telah meninggalkan model kekuasaan Marxisme. Model kekuasaan yang dimaksudkan itu sebenarnya terkait dengan diskursus kekuasaan yang dikembangkan oleh Foucault. Ia sendiri melihat kekuasaan itu tidak mengalir dari pusat (penguasa) ke pinggiran, tetapi dari kelompokkelompok sosial ekonomi ke massa yang lebih besar dan heterogen (Pilliang, 2007:131). Menurut Foucault, masyarakat tidak lagi dikuasai oleh kelas sosial yang tunggal, tetapi oleh kelompok-kelompok budaya yang heterogen, plural, dan saling bersaing untuk memperoleh hegemoni. Hal senada juga disampaikan Baudrillard (dalam Pilliang, 2007:131) bahwa masyarakat kapitalis Barat kini tengah berada dalam akhir era sosial. Dalam hal ini tidak ada lagi kelas sosial, yang ada hanyalah massa. Massa ini menempatkan diri mereka di dalam
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 125 diskursus “mayoritas yang diam”. Kebutuhan massa ini bukanlah kekuasaan untuk mendominasi, memperjuangkan ideologi leluhur, menguasai teritorial, tetapi kekuasaan untuk mengekspresikan seks, produk, kesenangan, gaya penampilan, wajah, rambut, warna kuku, dan sebagainya. Dalam kaitan ini yang diperjuangkan massa adalah diferensi melalui konsumsi (informasi, hiburan, tontonan, dan kesenangan). Pandangan Baudrillard dan Faucoult di atas sangat relevan kalau dihubungkan dengan kekuasaan dan politik media untuk menganalisis sinetron. Sinetron Sitti Nurbaya, baik versi TVRI maupun Trans TV merupakan reproduksi dari novel karya Marah Rusli. Reproduksi tersebut dilakukan dengan teknik mekanis melalui teknik simulasi baik simulasi realitas maupun fantasi. Simulasi sesuai konsep Baudrillard, yakni menghasilkan tayangan dalam bentuk audiovisual, sehingga menjadi tontonan yang menarik. Sinetron tersebut disaksikan jutaan orang pemirsa (overkonsumsi), ditayangkan ke seluruh Indonesia (overkomunikasi), dan ditayangkan berulang-ulang (overproduksi). Khusus untuk penayangan ulang ini, Sinetron Sitti Nurbaya versi TVRI ditayangkan ulang Minggu siang, selama September 1991. Demikian juga sinteron Sitti Nurbaya versi Trans TV, ditayangkan ulang di TV 3 Malaysia, Senin, 6 Oktober 2008, Selasa, 7 Oktober 2008, Rabu, 8 Oktober 2008 dan Kamis, 9 Okober 2008. Dengan demikian,konsep kapitaslisme Barat dengan overproduksi, overkonsumsi, dan overkomunikasi terbukti dalam analisis sinetron ini. Hal yang membedakan kedua sinetron tersebut adalah bahwa produksi TVRI masih bersifat politik kekuasaan. Selanjutnya, untuk memperkuat pendapat Foucault, sinetron TVRI ini datangnya dari penguasa, dalam hal ini pemerintah, sedangkan versi Trans TV dari pengusaha. Sinetron Sitti Nurbaya TVRI merupakan bentuk hegemoni pemerintah dengan memperjuangkan ideologi leluhur bangsa serta penguasaan teritorial negara. Konsep ideologi leluhur ini tiada lain adalah melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa seperti visi TVRI. Visi menjaga persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai satu kesatuan daerah
Transformasi Budaya 126 I Nyoman Suaka teritorial. Konsep Faucoult di atas identik dengan perjuangan TVRI sebagai satu-satunya televisi milik pemerintah Indonesia. Dengan demikian, sinetron Sitti Nurbaya sebagai salah satu program siaran TVRI menjadi alat kekuasaan penguasa Orde Baru waktu itu terutama dalam pelestarian budaya bangsa dan kekuasaan wilayah secara teritorial. Pelaku budaya populer dalam sinetron tidak berdaya dengan ideologi politik media yang didasari atas sifat kapitalisme budaya populer. Produser Sinetron Sitti Nurbaya versi TVRI mempertahankan kualitas cerita sinetron, yakni sejalan dengan visi media yang menayangkannya. Konsistensi tersebut tidak mampu dipertahankan produser ketika berhadapan dengan kekuatan media televisi lain yang menayangkan Sitti Nurbaya. Setelah pindah kerja dari TVRI, Ishadi kemudian menjadi Direktur Utama Trans TV bekerja sama dengan rumah produksi MD Intertainment menghasilkan sinetron Sitti Nurbaya gaya modern di Trans TV. Sebagai sebuah televisi swasta, kualitas tayangan sinetron Trans TV disesuaikan dengan selera pasar untuk mendapatkan keuntungan. Walaupun keuntungan diraih dengan banyaknya iklan menyertai sinetron tersebut, tetapi pemirsa mengecamnya karena sinetron itu dijuluki sebagai budaya tandingan. Strategi yang diambil pihak Trans TV, menurut penulis adalah untuk memenuhi tuntunan budaya populer sebagai bagian dari kapitalisme agar mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti cukup banyak pemasang iklan yang menyiarkan produknya di sela-sela tayangan tersebut. Akan tetapi, di sisi lain dapat menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional, khususnya nilai-nilai adat istiadat dan budaya Minangkabau. Demikian juga bagi pemirsa awam, sinetron Sitti Nurbaya versi Trans TV itu terasa menarik untuk dinikmati sebagai hiburan tanpa memperhatikan nilai-nilai karya sastra sebagai sumber cerita. Menurut penulis, sinetron tersebut kurang mendidik, menampilkan kemewahan di luar logika, bernilai kekerasan, mengandung pornografi, mengacaukan pemahaman terhadap novel aslinya dan merusak tatanan nilai-nilai sosial budaya Minangkabau. Sinetronisasi novel Sitti Nurbaya versi Trans TV itu memunculkan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 127 pencitraan buruk terhadap karya Marah Rusli, mengaburkan apresiasi siswa, di samping menimbulkan penafsiran yang keliru tentang realitas kehidupan masyarakat. Oleh karena, baik sastra maupun sinetron merupakan cermin kehidupan yang dapat diapresiasi oleh masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik. Upaya sinetronisasi karya sastra seperti Sitti Nurbaya ini merupakan ide yang sangat cemerlang. Namun, upaya itu agar tetap mempertahankan konteks asli cerita agar generasi mendatang memiliki pemahaman yang utuh atas karya sastra tersebut. Kalaupun menggunakan sumber cerita yang sama, nama-nama tokoh dan judul sinetron hendaknya diubah. Jangan menggunakan tokoh dan judul yang sudah ada, apalagi adaptasi itu karya yang sangat terkenal, seperti Sitti Nurbaya. Dalam hal ini produser justru kurang kreatif sehingga tetap mempertahankan nama-nama itu, sebagai modal awal untuk menarik perhatian pemirsa dan para pengiklan. 3. Sinetron dan Komersialisasi Gejala sinetronisasi novel Sitti Nurbaya dalam berbagai versi (TVRI, Trans TV, dan TPI, serta TV 7) bertujuan mendapatkan keuntungan, yakni melalui penjaringan iklan dan pencapaian rating dengan memasuki kawasan kesusastraan. Kecuali TVRI, penjaringan iklan agak terselubung karena menurut aturan, televisi pemerintah ini tidak diizinkan menyiarkan iklan. Pendanaan sinetron Sitti Nurbaya di TVRI bersumber dari Bank Rakyat Indonesia dan Pemda Sumatra Barat, termasuk TVRI sendiri. Lembaga penyandang dana itu dicantumkan dalam tayangan sinetron pada setiap episode, yaitu berupa ucapan terima kasih. Berbeda halnya dengan Trans TV, setiap beberapa menit tayangan sinetron, diselingi iklan secara tiba-tiba. Tayangan iklan ini dinilai sangat mengganggu konsenterasi pemirsa dan terkadang menjengkelkan. Pemirsa harus dapat menerima dan memaklumi gangguan tersebut karena iklan itu merupakan sumber pendapatan untuk biaya produksi. Muh Labib, dalam artikelnya yang berjudul, “Potret Sinetron Indonesia: Antara Virtual dan Realitas Sosial” (2002) menyebutkan bahwa tayangan sinetron di televisi merupakan sebuah pertarungan
Transformasi Budaya 128 I Nyoman Suaka antara dua kekuatan sosial yang dominan, yaitu modal ekonomi (economy capital) dan modal kebudayaan (cultural capital). Namun, arus besar sinetron saat ini menunjukkan bahwa kedua kekuatan dominan dalam ruang sosial layar kaca itu tidaklah berdampingan di sebuah wilayah otonomi. Kenyataannya, modal ekonomi mendominasi wilayah pemilik modal kebudayaan. Pendapat Muh Labib itu, kalau dikaitkan dengan sinetron Sitti Nurbaya versi TVRI justru berbalik. Kedua kekuatan tadi, modal ekonomi dan modal kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Akan tetapi, modal kebudayaan menjadi prioritas utama kemudian didukung oleh modal ekonomi. Kondisi ini sesuai dengan misi perjuangan TVRI sebagai lembaga penyiaran milik pemerintah yang ikut bertanggung jawab dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Di samping itu juga untuk menangkal pengaruh-pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Kemudian pada awal tahun 1990-an mulai berdiri televisi-televisi swasta di Jakarta yang banyak menayangkan film-film impor sehingga dikhawatirkan berdampak buruk terhadap sikap dan mental pemirsa di tanah air. Dua kekuatan sinetronisasi karya sastra antara modal ekonomi dan modal kebudayaan perlu bersinergi. Oleh karena sinetronisasi tersebut, karya sastra akan memiliki konsumen baru sebagai perluasan wilayah kreatif yang sejalan dengan kemajuan teknologi pertelevisian. Pihak pengelola televisi dapat mencari keuntungan dari penayangan sinetron dengan ikut menyosialisasikan karya sastra. Dengan demikian, modal ekonomi dan modal kebudayaan yang mendukung produksi sinetron itu tak ada satupun dikorbankan. Asalkan, penayangan sinetron yang bersumber dari karya sastra itu digarap dengan serius, mempertimbangkan aspek karya sastra dan memperhatikan hati nurani pengarang yang tercermin dalam karyanya.
129 Sinetron sebagai Media Alternatif Pembelajaran Sastra Kemajuan teknologi informasi membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga fasilitas multimedia yang dapat membuat pembelajaran lebih menarik, visual dan interaktif. Dengan adanya perkembangan tersebut, maka proses pembelajaran tradisional konvensional yang terjadi dalam ruangan kelas pada era desentralisasi dan globalisasi ini pelan, namun pasti akan mengalami perubahan bentuk. Berbagai teknologi dan aplikasi tercipta dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Dalam konteks yang lebih luas, teknologi informasi merangkum semua aspek yang berhubungan dengan mesin komputer dan komunikasi serta teknik yang digunakan untuk menangkap, mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, mengantar dan mempersembahkan suatu bentuk informasi. Komputer yang mengendalikan semua bentuk ide dan informasi memainkan peranan yang sangat penting (Munir dalam Sa’ud, 2009:1983). 1. Media Pembelajaran Teknologi informasi dan komunikasi yang sangat memasyarakat adalah televisi. Hampir semua rumah tangga di Indonesia memiliki pesawat televisi. Jumlah stasiun televisi di tanah air terus meningkat, terutama stasiun televisi lokal. Menu siarannya sangat variatif dengan jam siaran dari pagi sampai larut malam bahkan banyak televisi nasional yang bersiaran 24 jam penuh setiap hari. Kalau dicermati dengan seksama, menu-menu siaran tersebut sangat menarik untuk dijadikan sumber belajar. Akan tetapi, peluang tersebut jarang dimanfaatkan oleh para guru dan siswa padahal
Transformasi Budaya 130 I Nyoman Suaka informasi yang ditayangkan di televisi dapat dijadikan bahan ajar, terutama dalam mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Permasalahan lain, seringkali televisi dinilai mengganggu aktivitas belajar para siswa. Dengan siaran yang menarik, para siswa akhirnya lupa akan tugas-tugas belajar karena lebih sering berada di depan televisi dibandingkan membaca buku dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya di rumah. Televisi membuat para siswa malas dan manja untuk belajar, karena tertarik menonton sinetron (sinema elektronika). Tayangan sinetron di televisi banyak mengambil latar percintaan di kalangan anak muda sebaya SMA. Penampilan para artis dan aktor yang cantik, tampan, gagah, kaya, pakai mobil mewah sangat digandrungi oleh anak-anak muda. Tayangan seperti ini dapat mempengaruhi sikap dan mental para siswa yang ingin hidup mewah tanpa bersusah payah seperti dalam sinetron. Walaupun demikian, di sisi lain sinetron seperti ini perlu diapresiasi oleh para guru, orang tua dan siswa untuk dijadikan bahan ajar dalam mendukug pembelajaran sastra Indonesia. Klapper dalam tulisannya mengenai The Social Effect of Man Communications, mengemukakan bahwa setiap manusia yang hidup di tengah-tengah masyarakat, lembaga-lembaga sosial adalah subjek berbagai pengaruh termasuk mass communications (pers, film, radio, televisi). Walaupun demikian, Klapper melaporkan hasil penelitiannya bahwa, media massa bukanlah agent of change dari pendapat dan sikap yang sudah ada pada auidence, terutama bila hal itu sudah berurat-akar. Oleh karena itu, Klapper menegaskan pendapatnya bahwa media massa tidak mempunyai begitu kekuatan untuk merubah dan membentuk pendapat dan sikap. Media massa pengaruhnya lebih brsifat memperkuat pendapat, padangan dan sikap yang sudah ada (Suhandang, 1973:105-107). Menurut Sumarjo (1991:91), manusia makin dibebani oleh informasi yang diterimanya bertubi-tubi, baik disukai maupun tidak. Informasi datang terus menerus tanpa sempat dipilih, apalagi diproses. Sebaiknya dia lebih sukar menyampaikan informasi kepada pihak lain atau orang ramai. Televisi menjadi pusat kehidupan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika 131 I Nyoman Suaka keluarga dan informasi yang diterima hanya dapat dipilih sampai batas tertentu. Semua mata dan perhatian ditujukan ke arah TV dan penggunaan waktu ditentukan oleh acara TV. Birokrasi dapat mengatur acara TV, tetapi tidak berdaya terhadap ruahan pesan dari TV negara tetangga atau negara lain yang jauh. Daya khayal menjadi kurang berkembang, karena televisi memberi gambaraan siap-suap. Pernyataan sedikit berbeda dari Klapper diungkapkan oleh Adhitama, penyiar senior TVRI, bahwa media massa umumnya termasuk media elektronik banyak memengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat, lebih-lebih kalau jangkauan siaran itu demikan luas. Mutu kebudayaan dapat ditingkatkan atau sebaliknya dirusak olehnya (1983:303). Jameson pakar teori budaya populer menyebutkan, televisi sebagai unsur penting dalam pembentukan budaya pascamodern. Era pascamodern ditandai antara lain oleh membesarnya pengaruh teknologi terhadap dunia seni, termasuk sastra. Pada mulanya sastra hanya disampaikan secara oral, digeser oleh sastra media cetak. Kini sastra elektronik lewat televisi mulai meluas pengaruhnya dengan kehadiran antena parabola dan satelit komunikasi (Kompas, 30 Mei 1993). Dalam teori kritik aliran posmodernisme dikenal beberapa pendekatan yang dapat membantu anak didik menguasai dampak negatif tayangan TV, yakni reader oriented theory. Teori ini berangkat dari keyakinan bahwa sebuah karya fiksi tidak hanya dihidupkan oleh imajinasi dan penalaran pembaca. Sehubungan dengan hal tersebut, John Fiske dalam bukunya, Television Culture menyarankan tiga tahap yang patut dilaksanakan dalam membaca teks yakni, dominant reading, oppositional reading, dan negotiated reading (Wardoyo, 1993). Tahapan teori tersebut dapat dijadikan panduan untuk menonton tayangan sinetron adegan kekerasan dengan langkahlangkah sebagai berikut. Petama, anak-anak dapat dimita untuk menelaah, mengapa tokoh utama dalam sinetron terebut sampai tega melakukan tindakan kekerasan? Kedua, anak-anak dilatih untuk melawan film tersebut dengan mendiskusikan, betapa tidak
Transformasi Budaya 132 I Nyoman Suaka sesuainya perilaku tokoh itu untuk diterapkan pada kehidupan nyata. Ketiga, kepada anak-anak ditanyakan, apakah mungkin kita berkompromi (negotiated) dengan perilaku tersebut? Televisi sebagai media pendidikan telah diakui secara luas oleh para pakar pendidikan karena tekevisi sebagai alat peraga dalam memperlancar proses pembelajaran. Natawijaya (1979:217) mengatakan, TV dapat digunakan sebagai sumber belajar dengan beberapa keuntungan. 1. TV merupakan alat yang dapat menarik perhatian anak-anak. 2. Siaran TV umumnya sangat realistis terutama yang diambil dari kehidupan masyarakat dalam film. 3. Bersifat langsung dan banyak kejadian-kejadian mutakhir yang dapat disajikan. 4. TV dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Berangkat dari keuntungan-keuntungan tersebut dan tinjauan pusataka di atas, maka pembahasan dalam karya tulis ini akan difokuskan pada tayangan sinetron, sebab sinetron merupakan film televisi. Cerita sinetron tersebut merupakan karya sastra yang diauidovisualkan yang sering mendapat tanggapan pro dan kontra di hati pemirsa. Pembelajaran sastra Indonesia kurang menarik karena bersifat kognitif. Di sisi lain, sinetron banyak mengambil latar cerita tentang kehidupan anak-anak SMA/SMK sehingga menarik dijadikan bahan ajar utuk mendukung pembelajaran sastra Indonesia. Kekhawatiran para orang tua dan guru tentang dampak negatif tayangan sinetron menjadi perhatian para pemegang kebijakan. Beberapa instansi pemerintah, seperti Kanwil Depdikbud pernah mengeluarkan instruksi untuk menghindari dampak buruk tayangan televisi. Menyimak pemberitaan media masa, baik pusat maupun daerah, sekitar tahun 1986 banyak instansi yang mengeluarkan instruksi jam belajar. Kanwil Depdikbud Sumatra Barat pernah menyerukan agar orang tua berani mematikan pesawat televisi antara pukul 19.30 sampai pukul 21.30 setiap malam. Pada jamjam seperti itulah biasanya paket tayangan TV swasta amat menarik sehingga memikat perhatian anak dan pelajar (Suaka, 2013:83).
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 133 Lain di Sumatra Barat, lain pula di Lampung. Gubernur Lampung waktu itu langsung menginstruksikan kepada bawahannya dan masyarakat luas tentang JBA (Jam Belajar Anak). Instruksi tersebut berisi anjuran agar para orang tua dengan disiplin dapat mengarahkan, membimbing, dan mengawasi putra-putrinya untuk menggunakan waktu belajar dari pukul 19.30 sampai pukul 21.30 setiap malam. Hal ini dimaksudkan untuk memacu budaya belajar agar menjadi kebiasaan yang baku. Seruan Gubernur Lampung tertanggal 15 Juli 1996 ini bertujuan supaya ancaman yang mengganggu konsentrasi siswa belajar dapat dihindari dengan mematikan pesawat TV. Bagaimanakah hasilnya? Apakah orang tua seketika mematikan pesawat televisinya? Hasilnya kurang memuaskan. Sebab instruksi Gubernur Lampung yang digodok berdasarkan usulan Kanwil Depdikbud kurang disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat, sehingga tidak bisa dilaksanakan oleh para orang tua. Mereka tetap saja memutar televisinya pada saat anak-anak seharusnya belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, di Provinsi Jawa Timur sempat muncul pendapat pro dan kontra dengan aturan mematikan TV pada jam belajar anak. Akan tetapi, dengan niat yang baik dan tujuan yang mulia demi peningkatan kualitas sumber daya manusia, Pemda setempat dikabarkan terus maju pantang mundur. Di Bali, tidak terdengar adanya instruksi seperti itu. Namun, Kakanwil Depdikbud waktu itu, Berata Subawa sudah sering menghimbau agar para orang tua mengasuh anak-anaknya saat menonton acara televisi. Mana yang layak mereka tonton dan mana yang tidak pantas. Memperhatikan gebrakan para pejabat di atas, tentu sangat tidak diinginkan oleh para pengelola stasiun televisi. Sebab, mereka ingin menjaring pemirsa sebanyak-banyaknya dan seluas luasnya dengan menghadirkan mata acara yang menarik. Dalam bentuk iklan layanan masyarakat, salah satu stasiun televisi sering menghimbau agar orang tua mendampingi anak anaknya saat menonton. Iklan layanan tersebut kurang lebih berbunyi: ... Dampingi Putra-putri anda saat menonton televisi. Berilah penjelasan sehubungan dengan acara yang disaksikannya.
Transformasi Budaya 134 I Nyoman Suaka 2. Siswa dan Orang Tua Maksud baik dan bijak pengelola TV tersebut, sepatutnya dihargai oleh para orang tua. Bukan dengan jalan menekan tombol supaya TV mati, hanya untuk memenuhi instruksi pejabat. Banyak juga orang tua yang enggan dan malas menjelaskan tayangan TV, padahal putranya bertanya sehubungan acara yang ditontonnya. Antaranak dan orang tua justru sering ribut dalam menentukan dan memilih acara karena memiliki kesenangan yang berbeda. Orang tua akhirnya mengalah. Wujud kekalahan itu, terpaksa digantikan dengan membeli pesawat TV baru sehingga sekarang, banyak rumah tangga yang memiliki TV lebih dari satu. Terkait dengan keterlibatan orang tua saat anak menonton acara televisi, harian Kompas belum lama ini mengadakan survei tentang masalah tersebut. Dari 900 orang tua yang disurvei, ternyata 37,8 persen yang membiarkan anak-anaknya menonton, 27,4 persen kadang-kadang membiarkan anaknya menonton dan 34,8 persen orang tua mengatur anaknya menonton. Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa anak-anaknya suka menonton TV baik film khusus anak-anak maupun film untuk orang dewasa. Apa yang ditontonnya itu tidak mudah lenyap dari ingatannya. Mulai dari halhal yang lucu sampai yang bersifat sadistis dan brutal. Berdasarkan hasil survei tersebut, peran orang tua perlu ditingkatkan lagi untuk mencegah dampak buruk tayangan “kotak ajaib” itu tidak saja sekadar menjelaskan tayangan itu, tetapi juga mendiskusikan bersama putra-putrinya. Misalnya, adegan kekerasan di TV. Diskusi dapat dilakukan dengan, pertama, anak-anak dapat diminta untuk memperhatikan, mengapa tokoh utama dalam film tersebut sampai melakukan tindakan kekerasan. Kedua anak-anak dilatih untuk mendiskusikan dan melawan karakter tokoh tersebut, betapa tidak sesuainya perilaku tokoh tersebut dengan kehidupan nyata. Ketiga, kepada anak anak ditanyakan, apakah mungkin kita menyetujui perilaku jahat seperti itu. Media televisi diharapkan mampu memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada anak-anak. Fungsi tuntunan yang bersifat mendidik ini, tidak bisa dicerna oleh anak-anak sehingga perlu didampingi oleh orang tua. Dengan demikian, tayangan televisi yang
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 135 banyak digembar-gemborkan berdampak buruk terhadap anakanak, ternyata di sisi lain banyak manfaat positifnya. Paling tidak, anak-anak akan bertambah pengetahuan dan wawasannya, bersikap lebih kritis berdaya apresiasi, dan fantasi. Semua itu merupakan sesuatu yang mahal nilainya bagi anak-anak untuk bekal menapaki masa depannya. Penayangan program sinetron ditelevisi sering mendapat sorotan dari pemirsanya karena dinilai kurang mendidik dan melanggar etika kesopanan. Sinetron tentang pendidikan sempat dikeluhkan oleh Yos Mare yang beralamat di Perumnas Monangmaning Denpasar Barat dalam kolom “Surat Pembaca” yang dimuat Bali Post, Rabu 30 Oktober 2002. Mare sangat kesal dengan sinetron sekolah, seperti “Pernikahan Dini”, “Gadis Penakluk”, “Cinta SMU”, dan lainnya. Mulai dari cara berpakaian, tubuh bertato dan sikap ugal-ugalan siswa yang sangat tidak sesuai dengan dunia pendidikan, ditampilkan dalam sinetron itu. Terlepas dari kritik terhadap penataan artistik sinetron tersebut, sebenarnya tayangan seperti itu dapat dijadikan media pengajaran sastra. Tulisan ini tidak ingin memperpanjang “Surat Pembaca” tersebut karena memang demikian adanya. Penulis ingin melihat bahwa tayangan sinetron itu sebenarnya sangat membantu guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Pengajaran sastra yang begitu lesu bisa dibangkitkan dengan mengimbau siswa agar menonton sinetron di televisi. Imbauan ini, akan disambut gembira oleh peserta didik karena mereka kesehariannya sudah terbiasa lama-lama di depan pesawat televisi. Dalam pembelajaran sastra terdapat hal-hal yang prinsip yang harus diajarkan guru, seperti alur cerita, konflik tokoh, latar cerita, tema, amanat, dan gaya bahasa. Selain memahami materimateri tersebut secara teoretis, siswa setingkat SMU diharapkan memahami secara analitis. Untuk itu, guru sastra dapat memancing siswa untuk menceritakan sinetron “Pernikahan Dini”, “Cinta SMU” dan “Gadis Penakluk” yang ditonton siswa. Berawal dari sini guru bisa melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti siapa pelaku cerita, bagaimana konflik antartokoh, konflik batin tokoh itu sendiri, dimana cerita itu terjadi, bagaimana alur ceritanya, apa tema
Transformasi Budaya 136 I Nyoman Suaka serta amanat sinetron tersebut, dan banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat mengarahkan siswa sesuai konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Dalam kurikulum yang berbasis kompetensi, konsep CBSA masih relevan untuk ditetapkan. Dengan bimbingan guru, para siswa dapat berdiskusi serius terhadap pokok pembicaraan dalam sinetron. Misalnya, ketika membahas tentang alur dan tokoh cerita, guru sastra dapat menjelaskan bagaimana tokoh Gunawan dan Dini, serta tokoh ibu dan bapak mereka yang mereka tonton dalam sinetron “Pernikahan Dini” tersebut. Selain itu, guru juga dapat menjelaskan tentang macam-macam tokoh baik protagonis, tokoh figuran, karakter tokoh, dan penggambaran tokoh. Demikian juga untuk membicarakan alur cerita dan jenis-jenis alur. Hakikat belajar sastra adalah mengakrabi karya sastra jika dikaitkan dengan hakikat belajar itu yang apresiatif dengan karya sastra. Program sinetron bisa menjadi alternatif yang baik untuk belajar sastra. Selain hemat juga mudah karena setiap hari tayangan sinetron pasti muncul di televisi. Menonton sinetron ini bukan hal yang prioritas, melainkan hanya sebagai alternatif media pengajaran sastra sebab yang jauh lebih penting adalah siswa membaca karya sastra itu sendiri. Mengingat budaya baca siswa di tanah air sangat rendah, kegiatan menonton sinetron dapat membantu tugas guru sastra di sekolah. 3. Sastra Indonesia Alternatif Cerita sinetron berlatar Siswa SMA yang disinggung diatas merupakan cerita rekaan baru. Pada tahun 1993 sampai 1996 banyak produser dan sutradara mengambil karya sastra roman dijadikan sinetron. Sebut saja roman Siti Nurbaya, Sengsara MembawaNikmat, Salah Asuhan, dan Sukreni Gadis Bali. Roman-roman ini merupakan bacaan wajib siswa di sekolah dalam pengajaran sastra. Produksi sinetron ini pun mendapat dukungan dari Pemda setempat yang dijadikan latar cerita sinetron tersebut. Departemen Penerangan (kini dilikuidasi) ketika itu memberi andil yang besar untuk membangkitkan khazanah kebudayaan
Dari Karya Sastra ke Film dan Sinema Elektronika I Nyoman Suaka 137 melalui penayangan sinetron yang diangkat dari karya sastra. Pemda Sumatra Barat dikabarkan memberikan dana sebesar Rp40 juta untuk menyukseskan produksi sinetron “Salah Asuhan.” Dana sejumlah itu amat besar saat itu. Berkat dukungan sutradara Ami Prijono, aktor Dolly Marten, aktris Ida Iasha, Shahnaz Haque, dan Pemda Sumatra Barat, sinetron “Salah Asuhan” meraih prestasi sebagai sinetron terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia tahun 1994 (Suaka, 2004:87). Sinetron yang berasal dari roman atau novel ini tentu lebih meringankan lagi tugas guru sastra. Bahkan banyak siswa belum membaca roman itu, akhirnya mengetahui melalui tayangan sinetron. Kalau saja keduanya dapat dilakukan, membaca romannya dan menonton sinetronnya, apresiasi sastra siswa akan menjadi lebih utuh. Sayanganya tayangan-tayangan sinetron di era Reformasi sekarang ini, hampir tidak ada mengangkat hasil kesusastraan Indonesia. Banyak buku roman, novel, dan drama yang beredar di pasaran sangat layak dijadikan sinetron untuk mengulang kesuksesan sinetron “Salah Asuhan”, “Siti Nurbaya”, “Sengsara Membawa Nikmat”, dan lain-lain. Produser tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang mahal untuk membeli naskah sinetron karena ceritanya sudah tersedia dalam bentuk buku. Usaha seperti itu akan memberikan manfaat yang cukup positif. Secara tidak langsung sinetron tersebut akan menggairahkan pembelajaran sastra di ruang kelas. Televisi yang sering dijadikaan “kambing hitam” bagi menurunnya prestasi belajar siswa, justru dapat dijadikan media yang komunikatif untuk tumbuhnya apresiasi sastra siswa. Suasana komunikatif dalam pembelajaran sastra dikelas jarang sekali terjadi. Yang sering terjadi adalah proses belajar mengajar satu arah yang sifatnya monoton dari guru ke siswa saja. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama dan berlarutlarut sehingga melahirkan kejenuhan siswa di kelas. Untuk mencairkan suasana itu, guru dapat mengalihkan perhatian siswa dengan tayangan sinetron. Siswa akan lebih responsif karena apa yang diajarkan guru bersinggungan dengan hiburan yang dinikmatinya di rumah. Penggunaan tayangan televisi sebagai alterntif pengajaran sastra, tentu saja membawa
Transformasi Budaya 138 I Nyoman Suaka konsekuensi bagi guru. Guru sastra harus mengorbankan waktunya ikut serta menikmati tayangan sinetron. Tidak cukup itu saja, guru sastra juga harus membuat catatan-catatan kecil yang berkaitan dengan sinetron tersebut. Catatan-catatan ringan ini kemudian harus dihubungkan dengan materi yang akan diajarkan di kelas. Mengingat semaraknya tayangan sinetron, guru dan siswa harus membuat kesepakatan terlebih dahulu. Sinetron apa?, ditayangkan di stasiun TV mana?, jam berapa penayangannya?, dan kesepakatan lainnya. Dengan demikian, setelah mereka bertemu di ruang kelas, semua sudah siap menghadapi proses pembelajaran. Untuk guru bahasa dan sastra Indonesia, harus konsisten dengan kesepatakan yang telah dibuat sebelumnya dengan para siswa. Di luar sinetron yang ditayangkan televisi, bahan ajar sinetron dalam bentuk CD/DVD juga banyak terdapat di pasaran. Dengan demikian tidak diperlukan lagi kesepakatan, karena guru dapat mengisi jam-jam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan suasana kelas yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Tayangan sinetron dapat diputar di dalam kelas sehingga kosentrasi belajar siswa akan meningkat karena disuguhkan cerita yang visualisasinya menarik, sebagai pengganti gurunya bercerita. Apresiasi yang dapat dilakukan dengan menyimak secara baik, memberikan tanggapan atau komentar terhadap tayangan tersebut serta menolak atau menyetujui tentang cerita yang disajikan. Terkait dengan teori sastra, guru dapat mengajukan pertanyaan tentang unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik pada cerita sinetron tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi baik sebagai sumber belajar maupun media pembelajaran merupakan salah satu cara yang diharapkan efektif menanggulangi kelemahan pembelajaran yang masih bersifat konvensinal. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tingkat SMA, pemanfaatan tayangan sinetron televisi akan menimbulkan interaksi pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan antara guru dengan siswa. Melalui interaksi tersebut akan mendukung pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif.
139 Analisis Kritis Sutradara dan Sastrawan 1. Sastra dan Film Seiring Sejalan Hubungan sastra dengan film sejak dulu seiring sejalan. Hal ini tampak pada kreator yang berperan ganda baik sebagai sastrawan maupun sebagai penulis skenario dan sutradara, seperti Asrul Sani, Usmar Ismail, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, dan M. Yusach Biran. Filmisasi dan sinetronisasi karya sastra sampai saat ini sering menyisakan persoalan. Penonton dan pemirsa sering membandingkan cerita film dan sinetron dengan yang ada di buku. Banyak pihak yang menganggap rendah kualitas film hasil transformasi dari novel. Bahkan muncul anggapan cerita dalam film melenceng dari novelnya. Film dan sinetron tidak mampu menangkap inti cerita dari karya sastra sehingga ceritanya berbeda dalam novel. Lebih keras lagi, muncul juga anggapan bahwa film telah merusak citra karya sastra. Kekecewaan itu bukan saja dari penonton, tetapi juga dari penulis novel. Dalam hal ini, kajian ekranisasi diharapkan mampu menjembatani perdebatan dan pertikaian anggapan serta justifikasi bahwa film telah merusak citra cerita karya sastra, di seputaran persoalan transformasi karya sastra ke film. Hasil sebuah transformasi tentu saja tidak sama persis dengan teks sumbernya. Persoalan ini terkait dengan ketaatan dalam mentransformasi sebuah karya menjadi karya yang lain kelaziman yang muncul dalam sebuah transformasi adalah adanya perubahan dan penyesuaian. Perubahan bentuk atau struktur akan menyesuaikan dengan media yang dipakai dalam transformasi tersebut. Transformasi dari karya sastra ke bentuk film dikenal dengan istilah ekranisasi (Eneste, 1991). Ekranisasi adalah pelayarputihan atau pemindahan/pengangkatan Eneste menyebutkan bahwa pemindahan dari novel ke layar putih mau