5. Seperangkat aturan yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis ilmiah,
seperti pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang digunakan dan
penyebutan sumber data atau informan, merupakan pengertian dari...
A. Norma atau kode etik
B. Informasi tambahan sebagai pelengkap
C. Surat pernyataan keaslian
D. Pengetahuan dasar tentang masalah atau isu
Soal Esai
1. Apa saja sumber yang bisa dijadikan referensi dalam penulisan karya ilmiah?
2. Apa saja struktur sistematika dalam penulisan karya tulis ilmiah?
3. Metodologi penelitian apa saja yang dapat digunakan dalam menulis karya tulis
ilmiah?
4. Sebutkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat karya tulis ilmiah!
5. Jelaskan mengapa penulis harus jujur dan tidak boleh plagiat dalam menulis sebuah
karya tulis ilmiah!
39
STRUKTUR BABIV
Struktur BAB 4 adalah sebagai berikut :
CAPAIAN PROSES HAKIKAT MENUIS
PEMBELAJARAAN TAHAPAN
BERPIKIR KRITIS
EVALUASI LESSON DAN REFLEKTIF
PEMBELAJARAAN LEARNED
4309
BAB IV
Capaian Pembelajaraan : Menulis Karya Ilmiah
Dengan Berpikir
• Mahasiswa mampu memahami cara menulis Kritis, Analisis,
Karya ilmiah dengan berpikir kritis, analisis, dan dan Sintetis
Sintetis.
Pendekatan Proses dalam menulis karya
ilmiah dengan berpikir kritis, Analisis
dan Sintetis
Pendekatan Proses yang perlu diperhatikan dalam Menulis Karya Ilmiah dengan berpikir
kritis, Analisis dan Sintesis adalah:
1. Membuat persiapan dan perencanaan dengan segala aspek yang akan dibahas dalam
karya ilmiah.
2. Mencari bahan penulisan dari berbagai sumberdan memilah bahan pustaka sesuai cara
berfikir kritis, analisis dan sintetis.
3. Membuat konsep hakikat menulis, berfikir kritis dan reflektif dan materi ilmiah yang
didapat dari bimbingan dosen.
4. Memperbaiki ide dengan berfokus pada kebutuhan pembaca dengan bantuan teman
untuk melakukan penilaian.
5. Menyunting karangan untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi.
Dari ke-6 pendekatan di atas pendekatan proses dalam menulis karya ilmiah dengan
berfikir kritis, analis dan sintetis adalah:
• Pertama mahasiswa membuat persiapan maupun perencanaan dengan merencanakan
segala aspek dari apa yang akan dibahas dan dikaji dalam karya Ilmiah.
41
• Kedua mahasiswa menyiapkan dan mencari bahan penulisan melalui perpustakaan,
memanfaatkan internet, kelola dan pilah-pilah bahan pustaka dengan materi yang
merujuk pada berpikir kritis,analisis dan sintesis dalam karya ilmiah.
• Ketiga mahasiswa membuat draf tentang hakikat menulis, berpikir kritis dan reflektif
serta pelajaran yang dapat diambil dari bahan materi karya ilmiah dengan bimbingan
dosen.
• Keempat mahasiswa memperbaiki ide dalam karangan karya tulis ilmiah yang berfokus
pada penambahan, pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan
pembaca, berbagi pengalaman tentang draf kasar dengan berbagai teman untuk
menemukan apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan.
• Kelima mahasiswa menyunting atau memperbaiki dan mengevaluasi perubahan-
perubahan aspek mekanik karangan, memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan
kesalahan menarik yang dilakukan guna meminimalisir kesalahan yang terjadi.
• Keenam mahasiswa mempubliskasikan karya ilmiah sesuai dengan media publikasi
yang ditujuagar karya ilmiah lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
42
M
Hakikat Menulis
Menurut Targian (1982 : 21 ), menulis adalah usaha yang diupayakan agar selalu konsisten
untuk menghasilkan sebuah karya tulisan yang membawahi ide, pemikiran, gagasan, dan
pikiran seorang penulis sendiri melalui kegiatan yang di lakukan (dalam Targian, Henry Guntur,
1994).
Menulis yaitu gambaran yang mencerminkan bagian dari ilmu pengetahuan, pengalaman
maupun penelitian yang dimiliki penulis yang bisa kita rasakan melaluihasil tulisannya. Menulis
juga dapat di artikan sebagai kegiatan penyampaian pesansecara tertulis berupa gagasan, ide,
perasaan, atau informasi untuk di bagikan pada orang lain. Terdapat empat unsur yang
dilibatkan dalam kegiatan menulis, yaitu menulis sebagai penyampai pesan , pesan atau isi
tulisan, medium tulisan, pembaca sebagai penerima pesan dari penulis. Fungsi dan tujuan
kegiatan menulissebagai sebuah prilaku berbahasa, yaitu sebagai betikut :
1. Personal
2. Interaksional
3. Informatif
4. Instrumental
5. Hauristik dan estetik
Komplek sitasnya menulis terdapat dalam keharusan penulis untuk memiliki kemampuan
menyusun sebuah ide sistematis dan rasional, serta di sajikan ke dalam Bahasa tulis dengan
kaidah penulisan lainnya. Kegiatan kompleks inilah yang merupakan aspek dari keterampilan
berbahasa menulis. Manfaat menulis sangat besar dalam meningkatkan kreatifitas untuk
membuat suatu karya.
Selain itu bermanfaat juga untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri dalam menyajikan
suatu informasi kedalam bentuk tulisan. Namun, faktanya masih jarang orang yang mau
menulis, alasannya karena tidak mengetahui bagaimana dan kegunaannya dalam menulis
merupakan penyebab mengapa orang yang mau menulishanya sedikit. Namun alasan tersebut
bukanlah alasan yang sebenarnya, alasan yang sebenarnya yaitu terletak pada wawasan
terhadap belajar menulis yang m,asih rendah, sehingga menciptakan berbagai
43
macam sangka atau mitos-mitos menulis. Menulis sangat mempengaruhi kemampuan
berbahasa lainnya, seperti menyimak, merupakan keterampilan Bahasa yang mempengaruhi
dan di pengaruhi.
Berpikir Kritis dan Reflektif
a. Berfikir kritis dan reflek (spontan)
Salah satu bagian dari sistem interaktif dan aktivitas mental yaitu keterampilan
berpikir kritis dan spontan yang di gunakan untuk mentafsirkan dan menyimpulkan
berbagai jenis pengalaman dan informasi.
b. Mengajar anak berfikir Kritis dan Reflektif
Memberikan pertanyaan saja tanpa mengajar atau menjelaskan dalam proses belajar,
karena kebanyakan strategi menguji kemapuan siswa. Keterampilan berpikir reflketif
yang terbaik diajarkan melalui pemodelan dan dipandu oleh guru, bukan dengan
mempertanyakan, tapi pengalaman yang harus mendahului analisis (dalam Beyer, 1987).
Pemodelan yaitu teknik membaca antara baris dengan menggunakan nada dan suara yang
keras. Pendekatan konstruktif dalam belajar pada anak-anak akan membantu
dalammenafsirkan makna yang di dasari dengan menganilisis pengalaman yang mereka
alami sebemlumnya. Berikut ini merupakan tujuan berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
a. Memudahkan guru dalam menentukan atau menetapkan kemampuanberpikir bahwa
siswa mampu berpikir secara kritis.
b. Mendeskripsikan bagaimana kemapuan berpikir spontan mengenai masalah yang
dihadapi.
c. Dapat memberikan contoh yang baik kepada siswa.
c. Strategi pengajaran keterampilan berpikir kritis
Berikut hal-hal yang dilibatkan dalam pembelajarn strategi untukmendorong
anak-anak agar berpikir kritis, yaitu :
a. Pemodelan prilaku yang ditentukan oleh guru.
b. Menyajikan pembelajaran yang koopratif pada siswa
44
d. Pola Elemen
Pola elemen di dasari oleh Apa, Mengapa, dan Bagaimana. Namun sebelum melakukannya,
kita harus mengakui bahwa tulisan reflektif adalah subjek sekolah dan diklaim bahwa
menulis refleksi adalah bukti pemikiran reflektif. “dalam konteks akademik, berpikir
reflektif biasanya melibatkan :
a. Melihat kembali pada suatu peristiwa yang terjadi, sehingga mampu dijadikan ide
atau objek.
b. Menganalisis peristiwa atau gagasan dengan cara berpikir secara mendalam dan dari
prespektif yang berbeda.
c. Memikirkan dengan hati-hati atau tentang ide atau kejadian yang sangat penting.
Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari kita semua berpikir refelktif. Namun, tidak
untuk tolak ukur yang sama sepertipenulisan reflektif di tingakt universitas.
Pelajaran yang Dapat Diambil (Lesson Learned)
Simpulan dari berpikir kritis adalah suatu gagasan dalam penulisan karya tulis ilmiah
yang di dasari oleh permasalahan yang di sajikan melalui kajian yang diambil dari tulisan yang
digunakan.
1. Hakikat menulis artikel sama dengan menulis karya tulis ilmiah
Artikel dan karya tulis ilmiah, secara kaidah dan aturan format penulisan hakikatnya
sama. Walaupun terdapat perkembangan ide yang dilakukan olehpenulis, ide haruslah
tetap orisinil Karena dalam dunia akademis penulis dilarang meniru karya lain. Dalam
menulis artikel maupun karya tulis ilmiah, jika terdapat bahan dari sumber lain, maka
sumber tersebut harus dicantumkan dan bahanyang diambil dari sumber lain tersebut
penulisannya harus di paraflasekan atau diubah ke gaya Bahasa kita sendiri. Serta
menyadari bahwa penulis tau aturan penulisan. Kasus yang banyak teerjadi yaitu lupa
mencantumkan referensi yang dijadikan rujukan ketika proses menulis. Maka dari itu,
pada kegiatan belajar ini para peserta didik maupun pendidik harus mampu memahami
manfaat yang diambil saat menulis karya tulis ilmiah.
435
2. Sebagai media untuk belajar menulis
Terdapat proses yang dihadapi oleh penulis sehingga penulis berhasil untuk mampu mahir
dan bisa mendeskripsikan ide dan pikiran serta gagasan yang di kuasai.Semangat menulis
akan tumbuh, jika mampu memaparkan ide dengan bentuk tulisan yang menarik dan
mendalam.
3. Lebih bersikap sabar dalam menghadapi kritikan dan lebih berhati-hatidalam
beretika melalui tulisan saat menulis
Penulis harus bersikap sabar ddalam menerima berbagai masukan dan saran yang
diberikan pada karya tulis ilmiahnya, karena bagaimanapun karya tulisyang dibuat
terdapat kritikandan masukan didalamnya. Dalam menyajikan ide gagasan yang asli pada
suatu karya tulis ilmiah, bergantung pada ciri khas penulis dalam menggunakan
gagasannya.
4. Menambah pengetahuan tentang Bahasa
Sebagai penulis baru, harus menambah pengetahuannya dalam menulis sesuai kaidah
Bahasa tulis yang disajikan dalam kaidah EYD (ejaan yang disempurnakan).
5. Menambah pengetahuan, inspirasi, memperluas wawasan danmemotivasi untuk selalu
rajin membaca dan menambah informasi
Menyajikan tulisan yang berbobot dan berkualitas, sehingga tulisan yang disajikan dapat
bermanfaat bagi masyarakat mampu memberikan motivasi bagi penulis untuk selalu
berkarya.
436
Evalusi Pembelajaran
Soal Pilihan Ganda
1. Menulis adalah usaha yang diupayakan agar selalu konsisten untuk menghasilkan
sebuah karya tulisan yang membawahi, pengertian di atas merupakan pengertian
tokoh…
A. Bill gates
B. Tarigan
C. The liang gie
D. Lasa hs
2. Berikut yang tidak termasuk fungsi dan tujuan kegiatan menulis sebagai sebuah
prilaku berbahasa adalah…
A. Personal
B. Interaksional
C. Informative
D. Formatif
3. Menulis dapat diartikan sebagai upaya menuangkan pikiran, ilmu, ide gagasan dan
pengalaman hidup dari si penulis dalam bahasa tulis, pengertian diaatasmerupakan
pengertian dari tokoh...
A. Tarigan
B. Suyitno
C. Anang yb
D. Abdurrahman
4. Mengubah keyakinan pembaca Menanamkan, pemahaman sesuatu terhadap
pembaca, berikut adalah tujuan menulis menurut ahli yaitu...
A. Tarigan
B. Horiston 437
C. Syafie’ie
D. Kbbi
5. Menulis adalah menuangkan ide ke dalam suatu bentuk visual, merupakan
pengertian menulis menurut ahli...
A. Abdurrahman
B. Lerner
C. Gebhartd dan Dawn Rodrigues
D. Saleh abbs
Soal Esai
1. Tuliskan keadaan sekarang terkait pandemi covid ini dengan minimal2paragraf!
2. Sebutkan pengertian menulis menurut beberapa ahli (minial 3 tokoh)!
3. Bagaimana cara mengajar anak agar bisa berfikir secara kritis dan reflektis?
4. Sebutkan dan jelaskan strategi agar seorang anak dapat mengubah pola pikirnya
menjadi kritis!
5. Sebagai guru,tentu nya kita ingin mempunya murid yang dapat menulis denganbaik,lalu
bagaimana peran guru dalam mengembangkan minat tulis dalam peserta didik? jelaskan
dan berikan 2 contoh!
438
STRUKTUR BABV
Struktur bab 5 adalah sebagai berikut :
CAPAIAN PROSES TATA TULIS
PEMBELAJARAAN TAHAPAN EJAAN
PENYUNTINGAN TANDA BACA
PENOMORAN EVALUASI
PEMBELAJARAN
439
BAB V Tata Tulis, Ejaan,
dan Tanda Baca
Capaian Pembelajaraan : Penyuntingan dan
Penomoran Pada
• Mahasiswa mampu mengetahui bagaimanatata
tulis, ejaan, tanda baca penyuntingan, dan Karya Ilmiah
penomoran dalam karya ilmiah
Pendekatan Proses dalam Tata Tulis,
Ejaan,Dan Tanda Baca Penyuntingan Dan
Penomoran Pada Karya Ilmiah
Pendekatan proses yang perlu diperhatikan dalam Tata tulis, ejaan, dan tanda baca
penyuntingan dan penomoran pada karya ilmiah adalah:
1. Berpedoman dan merujuk pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dalam
pemakaian bahasa tulis secara baik dan benar.
2. Memahami tentang pemakaian jenis huruf, tanda baca, dan ragam kata dalam ejaan
yang benar sesuai kaidah yang baik dan benar.
3. Memahami tata cara penyuntingan suatu naskah dan penomoran dalam karya ilmiah
dengan memperhatikan pedoman penulisan karya ilmiah yang baik dan benar.
4. Belajar membuat sesuatu karya tulis yang menerapkan kaidah penulisan yang baik dan
benar, sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
5. Belajar menyunting suatu naskah karangan dengan membaca dan memeriksa penyajian
secara tata tulis, ejaan, tanda baca, dan isi dari naskah karangan tersebut.
6. Belajar menentukan penomoran suatu karya ilmiah dengan memperhatikan poin sesuai
Bahasa Indonesia tertentu sesuai dengan aturan urutan nomor halaman.
50
Dari ke-6 proses di atas pendekatan proses untuk materi tata tulis, ejaan, tanda baca
penyuntingan dan penomoran pada karya ilmiah:
• Pertama mahasiswa menyiapkan dan mencari bahan penulisan dengan berpedoman dan
merujuk pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
• Kedua mahasiswa membuat draf tentang pemakaian jenis huruf, tanda baca, dan ragam
kata dalam ejaan dengan bimbingan dosen.
• Ketiga mahasiswa membuat draf penyuntingan suatu naskah dan penomoran dalam karya
ilmiah dengan bimbingan dosen.
• Keempat mahasiswa merevisi pemakaian jenis huruf, tanda baca, dan ragam kata dalam
ejaan dalam draf perlu diperiksa dan dicermati, mahasiswa bertukar pikiran atau diskusi
kecil untuk menghilangkan bagian yang kurang tepat atau menambah yang kurang.
• Kelima mahasiswa menyunting atau mengoreksi kesalahan-kesalahan secara teknis dengan
bimbingan dosen dan membenarkan kesalahan tersebut.
• Keenam mahasiswa menentukan penomoran suatu karya ilmiah secara teknis dengan
bimbingan dosen.
51
Tata Tulis
Bahasa menjadi alat komunikasi ilmu, bertukar pikiran dan
menjual gagasan. Karya tulis ilmiah menjadikan bahasa sebagai alat.
Selain bahasa yang digunakan harus baik dan benar, karya tulis ilmiah
juga perlu menggunakan bahasa yang sesuai dengan Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). PUEBI terdiri dari pemakaian huruf,
penulisan kata, pemakaian tanda baca, serta penulisan unsur serapan. Karya tulis yang
memenuhi ketentuan secara sistematis terlahir dari penulis yang tidak hanya menguasai
penggunaan PUEBI saja, tetapi dari penulis yang memenuhi ketentuan dalam sistem penulisan
ilmiah. Ketentuan tersebut berkaitan dengan tata bagaimana penulis membuat kutipan,
membuat catatan kaki, serta menyusun daftar pustaka.
Ejaan
Berdasarkan KBBI V Daring, “ejaan adalah kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi
(kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda
baca.” Keterangan ini menjelaskan bahwa ejaan hanya berhubungan dengan penulisan kata,
tanda baca dan pemakaain huruf. Kaidah pemilihan kata atau penyusunan kalimat tidak
termasuk ke dalam ejaan.
a. Di sebagai awalan dan preposisi
Adapun penggunaan di- sebagai awalan kata, seperti pada kata kerja panggil dengan
tidak terdapat akhiran ataupun menggunakan akhiran –i, atau -kan.
Contohnya sebagai berikut:
Dipanggil , dipanggilkan, dipanggili
Ditanamkan, ditanami
Penggunaan di- sebagai awalan dan memiliki lawan kata dengan me-
52
sebagai awalan. Di ialah awalan yang harus disusun, jika terdapat lawan bentuknya dengan
awalan me-.
Contohnya:
Dipanggil memanggil
Dipanggilkan memanggilkan
Dipanggili memanggili
Kata awalan di- yang menunjukan “keterangan tempat” disebut juga preposisi,
dicantumkan terpisah dengan kata tempat yang dicantumkan setelahnya. Awalan di jenis ini
memiliki kedudukan kata. Contohnya, Di BandUNg. Di RUMah. Awalan di- yang diikuti oleh
kata lain seperti sana, sini, mana, atas, tengah, bawah, samping, belakang, ditulis secara
terpisah seperti pada saat kata tempat mengikutinya. Contohnya, di belakang, di atas, di
sebelah. Awalan di- berpasangan dengan awalan ke-.
Contoh sebagai berikut:
Di sana - ke sana - dari sana Di
mana - ke mana - dari mana
b. Pun sebagai Partikel
Partikel pun dapat ditulis serangkai dan terpisah. Adapun perbedaannya sebagai berikut:
No. Perbedaan Contoh
Pun yang di tulis serangkai dikategorikan sebagai
kata tugas yang digunakan untuk menghubungkan meskIPUN sedang tidak baik-baik saja,
kita harUS tetap professional
1 kata dalam suatu kalimat dan termasuk ke dalam menjalankan tUGas.
klitikan, seperti kata walaupun, maupun,
kendatipun. kekasih, sahabat dan teman pUN
diajaknya. (sahabat dan teman JUga)
sebagai partikel, dikategorikan sebagai satuan Diselesaikan sekarang pUN tidak akan
2 beRGUNA, SUdah terlambat. (walaUPUN
diselesaikan).
kata yang bersinonim dengan kata juga.
Pun sebagai partikel, menjadi sama dengan kata-
3
kata yang menyatakan perlawanan.
53
c. Penulisan Kata Gabung
No. Kata Gabungan Contoh
Kembang desa, kamar tiDUR,
Kata majemuk, bagian-bagiannya yang ditulis terpisah jantUNG hati, bUAH tangan.
1 BUKU cerita-lama, Anak-istri
biasa disebut gabungan kata yang lazim. Seperti pada kata matahari
Agar mempertegas kaitan antar unsur pada kata, dapat
2
diberi tanda hubung (-).
Pada kata yang ditulis serangkai dapat dikatakan sebagai
3
gabungan kata
Terdapat dua unsur bahasa, yaitu unsur yang selalu tercantum beriringan dengan
kombinasi unsur lain dan ada pula unsur yang hanya tercantum berbentuk penggabungan
atau tidak dapat berdiri sendir dalam penggunaannya. Seperti pada kata poliandri,
pRAMUSaji, dll.
Jika kata yang mendekati berawalan huruf kapital, maka, pada penggabungan antar
unsurnya ditambahkan garis hubung (-). Seperti pada kata non-Indonesia.
d. Pemakaian Huruf Kapital
Penggunaan huruf kapital pada awal kata menandai pemberian gelar pada seseorang
atas dasar kehormatan yang berasal dari keturunan atau gelar keagamaan yang dianut.
Contohnya, Bendara Raden Mas HerjUNo Darpito, SULtan hamenGKUBUWana X
HamENGKUBUWana merupakan gelar pada kesultanan daerah Istimewa Yogyakarta, yang
sebut juga GKR MangKUBUMI.
Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEBI),
penulisan sapaan atau gelar yang diakronimkan yaitu :
Dr. = Doktor,
dr. = Dokter,
Ir. – InsinyUR,
M.A. = Master of Art,
Ny. = Nyonya,
Prof. = Profesor. 54
Gelar tersebut diberi titik dibelakang huruf singkatannya.
Tanda Baca
a. Tanda baca titik (.)
1 Digunakan di bagian akhir pada kalimat yang bukan merupakan suatu seruan dan
pertanyaan. Seperti pada kalimat, KaKAKKU pergi ke Palembang.
Namun pada bagian akhir suatu kalimat yang telah dicantumkan tanda baca titik,
maka tidak perlu dicantumkan kembali. Seperti penggunaan tanda baca titik dalam
akronim gelar pada kalimat JURNal ini diserahkan kepada Dr. Djoko, M.Pd.
2 Penggunaan tanda baca titik setelah huruf ataupun angka yang dicantumkan pada
bagian daftar, bagan, dan ikhtisar. Seperti pada contoh berikut:
a) XII. Departemen Keuangan
XIII. Direktorat Jenderal Pajak
1.1 Direktorat Pajak Kendaraan
6.2 ….
2. 3. Penanda Khusus
Bagian Inti Paragraf
Deskripsi
3.2.2 Gambar
Diagram
Tabel
Apabila huruf atau angka merupakan akhir dalam deretannya, maka tidak perlu
menggunakan tanda baca titik.
3 Pemisah antara angka jam dengan menit serta detik yang menandakan waktu
menggunakan tanda baca titik. Seperti pada contoh Jam 3.14.51 (hal tersebut
menandakan jam 3 lewat 14 menit 51 detik atau pukul 3, 14 menit, 51 detik).
55
Selain itu, untuk menuliskan waktu dalam bentuk angka terdapat cara lain, yaitu pada
keterangan pagi, siang, atau malam dapat diberikan pada angka dengan sistem
12. Seperti, pukul 4.12 sore. Selain itu juga dapat dengan sistem 24. Seperti, pUKUl
22.30.
4 Penggunaan tanda baca titik dalam memisahkan bagian angka dengan kata jam, kata
menit, dan kata detik sebagai penanda jarak waktu. Seperti, 3.31.13 jam (3 jam, 31
menit, 13 detik)
5 Penggunaan tanda baca titik dalam sistem penulisan daftar pustaka yang berfungsi
sebagai pemisah antara nama pengarang, judul tanpa tanda baca, dan tempat
penerbitan buku. Seperti pada contoh berikut:
Dirga, Hamas. 1920. Morfosintaksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Sahabat
Pena.
6 Penggunaan tanda baca titik sebagai pemisah antara bilangan sebagai penanda
jumlah. Seperti, saMPUL ini berisikan 12.300 kertas.
7 Penggunaan tanda baca titik sebagai pembedaan angka ribuan, kelipatan, dan desimal
seperti $ 150. 450,55 atau 9,800m
8 Penggunaan tanda baca titik dalam penulisan singkatan menggunakan tanda titik.
Seperti, Nadia Calista A.P
Namun, ketentuan tersebut tidak berlaku pada hal-hal sebagai berikut:
1. Angka yang tidak menunjukkan jumlah, seperti penulisan tahun 1999.
2. Bagian akhir dari judul suatu karangan, seperti berikut:
Acara KUNJUngan Menteri Pendidikan Nasional BENTUK dan KedAULatan (Bab I UUD)
Salah ASUHan
3. Bagian belakang nama, alamat dan tanggal surat. Seperti berikut:
Yth. KeTUA RT 8
Gang Belimbing 30
BandUNg
56
b. Tanda baca koma (,)
1 Penggunaan tanda baca koma sebagai pemisah pada rincian atau erutan bilangan.
Seperti, Saya makan roti, ayam, dan SAYUR.
2 Penggunaan tanda baca koma sebagai pemisah antara dua klausa yang setelahnya
mencantumkan kata tetapi, sedangkan, melainkan, serta KECUAli. Seperti pada
kalimat berikut:
Dia bukan lari dari masalah, melainkan butuh waktu sendiri.
Saya sudah hadir, tetapi pulang lebih dulu.
3 Penggunaan tanda baca koma sebagai pemisah antara anak kalimat yang dicantumkan
lebih dulu dari induk kalimat. Seperti pada kalimat berikut:
KalAU ada UANgnya, saya akan beli.
4 Ungkapan yang menghubungkan dua kalimat yang terletak pada awal kalimat, diberi
tanda baca koma pada kata setelahnya, seperti oleh karena ITU, dengan demikian,
jadi, meskipUN begitU, dan seHUBUNg dengan ITU (tidak berlaku pada awal paragraf.)
Adapun contohnya sebagai berikut:
Ia berasal dari keluarga sederhana. MeskipUN begitU, Dia selalu rajin belajar.
5 Tanda baca koma sebagai pemisah kata seruan seperti, ADUH, wah, dll. Dan kata
sapaan. Contoh:
Ya, ada apa?
ADUH, kakiku sakit!
6 Tanda baca koma, sebagai pemisah kutipan langsung. Contoh:
Kata Dinda, “Aku suka makan sosis.”
7 Tanda baca koma sebagai pemisah kutipan langsung yang mengiringi dan diakhir
dengan tanda baca tanya dan seru. Contoh:
“Dimana Rumah Nadia?” tanya Fikri.
“Tutup pintu itu sekarang!” perintannya.
8 Pemisah antara nama, nama jalan, dan nama wilayah. Contoh:
Sdri. Nabilla, Gang Cendana 7, Surabaya.
57
9 Pemisah nama yang dibalik pada bagian daftar pustaka. Seperti:
Fokker, A.A. 1980. Sintaksis Indoneia. Jakarta: Pradnya Pramita.
10 Pemisah pada bagian dalam catatan. Contoh:
Junaidi, Agus Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pustaka Media, 1954), hlm 78.
11 Pemisah nama orang dengan singkatan namanya, nama keluarga, dan singkatan gelar
yang dimilikinya. Seperti,
A. Simorangkir, S.H. Ny. Natalia, P.A.AGUNg Indrawan, S.E.
12 Pemisah angka dengan bagian angka desimal. Seperti:
45,5 m, 90,0 kg, dan Rp 600,57.
13 Tanda baca koma sebagai pengapit keterangan yang bersifat tidak terbatasi.
Contoh: Teman saya, Mira , baik sekali.
14 Memberi pengertian atas kata bagian awal kalimat. Contoh:
Atas perhatian Bapak, saya UCapkan terima kasih.
c. Tanda titik koma (;)
1 Tanda baca yang berfungsi memisahkan kata yang setara dalam kalimat majemuk.
Seperti:
Syarat untuk diterima banTUAn pendidikan di lembaga ini:
a) Memiliki warga negara Indonesia;
b) Sedang bERKULIAh;
c) Sehat jasmani dan rohani;
d) Berasal dari KELUArga yang KURANg mampU.
2 Pemisah unsur atau kalimat. Contoh:
Saya membeli panci, sendok dan piring; topi, baJU, dan dasi; ikan, ayam, dan
daging.
d. Tanda titik dua (:)
1 Digunakan sebagai pemisah antara pernyataan dan uraian. Contoh:
Saya memerlUKAN alat TULis: pULpen, pensil, dan BUKU TULis.
158
Catatan: Apabila kata terdiri dari pelengkap dan berupa pernyataan, maka tidak
perlu menggunakan tanda baca. Contoh:
Saya memerlUKAN pULpen, pensil, dan BUKU TULis.
2 Tanda baca titik dua, memisahkan pada setelah kata atau ungkapan yang
memerlukan tanda baca titik dua. Contoh:
a) KETUA Karang Taruna : Friska
Sekretaris Karang Taruna : Bayu
Bendahara Karang Taruna : Ana
b) Tempat Rapat : RUANg 424, KampUS B Gedong
Pembawa Acara : Namira
Hari, tanggal : 10 Desember 2020
WaktU : 08.00-11.00 WIB
3 Tanda baca titik dua, digunakan pada percakapan dalam dialog naskah drama sebagai
pemisah antara nama dan percakapan. Contoh:
Adam :”Pakai sendalKU, Gin.”
Gina :”Ok, Gin.”
Adam :”Tapi, jangan sampai pUTUS ya!”
4 Pemisah antara tahun dan halaman pada daftar pustaka, serta ungkapan dan angka.
Contoh:
Batavia, XII, No. 10/2010:10
Surat Undangan: 5
e. Tanda baca hubung (-)
1 Suatu suku kata yang dipisahkan oleh pergantian garis disambungkan dengan tanda
hubung. Contoh:
Supaya kita lebih banyak referensi kita harus rajin ba-ca buku……
2 Untuk menghubungkan kata yang terpisah oleh baris. Contoh:
Ada cara yang baru untuk meng-UKUR tinggi badan.
Ukuran baru ini memudahkan kita me-nGUKUR tinggi badan.
159
Penyambung kata ulang. Misalnya:
Adik-adik bermain-main layang-layang.
3 Tanda baca yang menghubungkan huruf dan angka. Contoh:
10-5-2020
c-e-l-a-n-a
4 Memperjelas ungkapan suatu kata. Contoh:
Ber-kontransi
Tiga-pULUH RIBUAn (30x 1.000)
Kerja-keras-dan-kesetiakawanan sosial (kerja keras dan kesetiakawanan sosial)
5 Tanda baca penghubung sebagai perangkai kata.
a) Se- dihubungkan dengan kata yang didahului huruf kapital.
b) Ke- dihubungkan dengan angka,
c) Angka dihubungkan dengan -an,
d) Kata atau imbuhan dihubungkan dengan singkatan berhuruf kapital,
e) Dihubungkan dengan kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
f) Menggabung kata berupa kesatuan
Contoh:
Se-Kabupaten
Ulang tahun ke-9
Tahun 1980-an
6 Perangkai unsur dua bahasa berbeda. Contoh:
Di-upload
Di-download
f. Tanda baca pisah ( - )
1 Pemisah pada bagian kata yang disisipkan untuk memberi penjelesan. Contoh:
Berpendapat ITU-hak seluruh rakyat-Indonesia.
2 Keterangan aposisi yang ditegaskan dengan tanda baca penghubung. Contoh:
Gerakan Utama Bahasa Indonesia-amanat 60
Sumpah Pemuda-harus terus dibangun dan ditingkatkan.
3 Penghubung dua bilangan atau kata. Contoh:
Tahun 1999-2010
Blitar-Jakarta
Catatan: a) Untuk memisahkan keterangan tambahan pada akhir kalimat dapat
menggunakan tanda pisah tunggal. Contoh:
saya memerlukan vitamin-E, B dan D.
g. Tanda baca tanya (?)
1 Tanda baca tanya dicantumkan pada bagian akhir kalimat tanya. Contoh:
KaMU letakan pULpen di mana? Di lemari, BUKAn?
2 Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Contoh:
Saya dilahirkan pada taHUN 1880 (?).
Uang 5 miliar rupih (?) hilang.
h. Tanda baca seru (!)
Sebagai akhir kalimat seruan. Contoh:
Indah sekali pemandangan ini!
Airnya dingin sekali!
i. Tanda baca elipsis (…)
Sebagai tanda baca yang digunakan untuk menyambungkan kalimat yang terputus.
Contoh: Dengan begitU …, mari kita pergi.
Tanda baca elipsis dicantumkan pada kalimat yang dihilangkan.
j. Tanda baca petik (“ “)
Sebagai tanda yang mengapit percakpan di dalamnya. Contoh:
1
Kakek berkata, “IBU akan pULang hari ini.”
1671
2 Mengapit judul suatu karangan. Contoh:
Puisi “GURUKU” pada halaman 9 buku itu.
3 Mengapit kata yang merupakan istilah. Contoh:
Penelitian dilakukan dengan teknik “Uji dan ralat” saja.
k. Tanda baca petik tunggal (‘ ‘)
1 Mengapit kalimat yang terdapat dalam kutipan. Contoh:
Adik berkata, “Dimana mainan ‘ngeng-ngeng’ aku?”
2 Mengapit ungkapan tertentu. Contoh:
Terbaik ‘paling baik’
3 Mengapit bahasa asing dan daerah. Contoh:
Love ‘cinta’
Gusti ‘TUHAN’
l. Tanda baca kurung ( ( ) )
1 Mengapit suatu penjelasan. Contoh:
Saya belum memiliki STNK (Surat Tanda Nomor Kepemilikan)
Untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat
menggunakan tanda kurung. Contoh:
Sebelum melangsungkan pernikahan saya melakukan Siraman (prosesi adat
sebelUM menikah UNTUk membersikan diri dari hal-hal yang tidak baik)
2 Mengapit rincian dalam huruf atau angka. Contoh:
Faktor bahan pangan menyangkut (a) transportasi, (b) kelangkaan, dan (c) biaya.
Catatan: Mengapit huruf atau angka yang dirincikan. Contoh:
Kemarin Ibu saya membeli
a) DURIAn,
b) Markisa, dan
c) Kesemek.
1672
m. Tanda baca kurung siku ( [ ] )
1 Mengapit bagian yang salah dalam penulisan.Contoh:
Pangeran mem[a]nggil permaisuri.
Saya meminta tolong [kepada] bapak.
2 Mengapit keterangan. Contoh:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab I [lihat
halaman 55-60]) perlu dijelaskan di sini.
n. Tanda baca garis miring (/)
1 Memisahkan nama, nomor yang harus ditulisberdampingan. Contoh:
No. 10/KH/2010/2011
Jalan Kramat IV/10 taHUN ajaran 2008/2009
2 Sebagai pengganti kata tiap. Contoh:
Diberikan lewat saya/anda ‘diberikan lewat saya ataU anda’
Harga Rp 2.200,00/lembar ‘harganya Rp 1.200,00 tiap lembar’
(//) sebagai intonasi dalam penulisan.
o. Tanda baca penyingkat apostrof (‘)
Tanda baca sebagai penyingkat. Contoh:
Saya ‘kan dia. (‘kan: bUKAN)
Pagi ‘lah tiba. (‘lah: telah)
23 JanUARI ‘09. (‘09: 2009)
63
Penyuntingan
Dalam proses penyuntingan seseorang harus membaca dan meninjau kembali isi suatu
naskah, supaya naskah tersebut dapat diterbitkan dan layak dibaca oleh khalayak luas.
Pemeriksaan konsep terlebih dahulu perlu dilakukan sebelum konsep diketik, Agar kata atau
kalimat yang kurang sesuai dan tidak perlu dapat disunting kembali.
Konsep yang diperiksa meliputi Memeriksa penyajian dan isi karangan
tergolong dalam pengeditan bahasa yang dipakainya. Perbedaan naskah
yang bahasanya baik dan tidak baik terletak pada waktunya. Naskah yang
bahasanya baik membutuhkan waktu 15 menit per halaman, sedangkan
naskah yang bahasanya tidak begitu baik membutuhkan waktu 30 menit atau 1 jam per
halaman.
Dalam penerbitan buku di Indonesia, pembantu editor biasanya adalah seseorang
penyunting naskah atau kopieditor. Tugas penyunting naskah menurut (Eneste, 20015:9)
adalah:
a. Menyunting naskah dari segi (ejaan, diksi, dan struktur kalimat);
b. Memperbaiki naskah dengan persetujuan penulis/pengarang;
c. Membuat naskah enak dibaca (memperhatikan keterbacaan naskah);
d. Membaca dan mengoreksi cetak coba (pruf).
Terdapat kewajiban dan hak bagi seorang penyunting.
a. Kewajiban Penyunting
1) Mengatur bahasa naskah.
2) Menjalankan tugas secara profesional.
3) Penyuntingan harus dilakukan sedetail mungkin dari kata per kata sampai lambang
per lambang. Seorang penyunting juga harus jujur kepada semua orang
tanpa terkecuali. 64
b. Hak Penyunting
1) Menyematkan namanya dalam suatu naskah.
2) Mendapat naskah yang sudah diselesaikan dan upah atas kerja kerasnya.
Hak dan wewenang penyunting yaitu menata bahasa, tetapi beberapa hal ini
tidakdapat dilakukan tanpa seijin penulis.
1) Mengganti judul naskah.
2) Mengganti jalan pikiran penulis naskah.
3) Tanpa alasan yang jelas penyunting tidak boleh mengganti kata-kata yang
digunakan dalam naskah.
4) Gaya penunilsan tidak boleh diubah oleh penyunting.
Penomoran
Penempatan penomoran pada karya tulis ilmiah harus tepat. Berikut penjelasannya:
a. Angka yang digunakan
Angka Romawi kecil, angka Romawi besar dan angka Arab biasa digunakan
untuk penomoran pada karya tulis ilmiah. Penomoran halanan, judul, halaman yang
bertajukprakata, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar bagan,
daftar skema, daftar singkatan dan lambang menggunakan angka
Romawi kecil (i, ii, iii, iv, v). Untuk penomoran tajuk bab
pendahuluan, tajuk bab analisis, dan tajuk bab simpulan
menggunakan angka Romawi besar (I, II, III, IV, V).
Sedangkan penomoran halaman- halaman naskah mulai bab pendahuluan sampai
dengan halaman terakhir dan untuk menomori nama-nama tabel, grafik, bagan, dan
skema menggunakan angka Arab (1, 2, 3, 4, 5).
65
Nomor urut yang digunakan pada semua tabel, gambar dan persamaan dalam karya tulis
ilmiah adalah angka biasa. Nomor pada tiap tabel, gambar dan persamaan penempatannya
pada sisi kanan.
b. Letak Penomoran
Angka Romawi kecil yang letaknya di bawah, tepat di tengah-tengah
digunakan untuk halaman, judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik,
daftar bagan, daftarskema, daftar singkatan, dan lambang. Angka Arab yang
letaknya di bawah, tepat di tengah-tengah digunakan untuk
halaman yang bertajuk bab pendahuluan, bab analisis, bab
simpulan, daftar pustaka, indeks, dan lampiran. Angka Arab
yang letaknya di atas, tepat di tengah-tengah digunakan untuk halaman
selanjutnya.
c. Penomoran Anak Bab
Angka Arab sistem digital digunakan untuk menomori anak bab dan
subanak bab. Titik seperti (1.1, 1.2, 2.1, 2.2.1, 2.2.2, 3.1, 3,2) tidak diberikan
pada angka terakhir digital. Angka digital tidak lebih dari tiga angka.
Penomoran a, b, c, setelahnya 1), 2), 3), selanjutnya a), b), c), dan
seterusnya.digunakan untuk penomoran yang selanjutnya.
66
Evalusi Pembelajaran
Soal Pilihan Ganda
1. Sebuah karya tulis ilmiah,. menjadikan bahasa sebagai alat untuk …
A. Komunikasi
B. Bertukar pikiran
C. Menciptakan gagasan
D. Semuanya benar
2. Selain bahasa yang digunakan harus baik dam benar. Karya tulis ilmiah juga perlu
menggunakan bahasa yang sesuai dengan …
A. Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia
B. Bahasa Indonesia yang baik dan benar
C. Bahasa Indonesia yang Baku
D. Bahasa yang Ilmiah
3. Tanda baca titik di gunakan pada saat ...
A. Setelah koma
B. Setelah tanda petik dua
C. Di bagian akhir kalimat yang bukan merupakan suatu seruan dan pertanyaan.
D. Pada akhir kalimat.
4. Apa yang disebut dengan ejaan ?
A. Kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi,.kata, kalimat dan sebagainya.
B. Ejaan adalah sebuah cara untuk menentukan bunyi
C. Kadiah pemilihan kata
D. Kaidah pemilihan tanda baca.
5. Ada berapa unsur bahasa ?
A. Terdapat satu unsur bahasa
B. Terdapat dua unsur bahasa 67
C. Terdapat tiga unsur bahasa
D. Terdapat empat unsur bahasa
Soal Esai
1. Pada sebuah karya ilmiah hal-hal apa saja yang harus dimuat dan di
perhatikan didalamnya ?
2. Jelaskan serta berikan contohnya penulisan kata gabung !
3. Berikan contoh penggunaan Tanda Titik Dua sebagai pemisah antara
pernyataan danuraian !
4. Mengapa penomoran pada sebuah Karya Tulis Ilmiah harus selalu tepat ?
Jelaskandan berikan contoh pembahasan nya !
5. Sebutkan dan jelaskan Hak dan kewajiban bagiseorang Penyunting !
68
STRUKTUR BABVI
Struktur BAB 6 adalah sebagai berikut :
CAPAIAN PROSES TOPIK
PEMBELAJARAAN TAHAPAN
STUDI BAHAN
EVALUASI PENGORGANISASIA PUSTAKA
PEMBELAJARAN N/PENGONSEPAN
639
BAB VI
Capaian Pembelajaraan : Pemilihan Topik Dan
Bahan Penulisan
• Mahasiswa mampu memahami pemilihan topik Sumber Pustaka
dan bahan penulisan sumber pustaka
Pendekatan Proses dalam Memilih Topik
dan Bahan Penulisan Sumber Pustaka
Pendekatan proses yang perlu diperhatikan dalam memilih topik dan bahan penulisan
sumber pustaka adalah:
1. Mencari beberapa referensi topik sesuai dengan keinginan.
2. Memilah beberapa topik yang sudah disortir (sudah memenuhi syarat pemilihan
topik).
3. Menentukan topik sesuai yang diinginkan dari beberapa topik yang sudah dipilih.
4. Memilih bahan penulisan dan sumber pustaka sesuai topik yang sudah dipilih.
5. Membatasi setiap bahan penulisan dan sumber pustaka, agar tidak meluas dan tetap
fokus sesuai topik.
Dari ke-5 proses di atas pendekatan proses untuk memilih topik dan bahan penulisan
sumber pustaka adalah:
• Pertama, mahasiswa mencari beberapa referensi topik dari beberapa buku sesuai tema.
• Kedua, dari beberapa buku yang telah diperoleh, kemudian mahasiswa memilah agar lebih
spesifik misalkan dari 20 topik dipilih yang terbaik menjadi 5 topik referensi yang
memenuhi syarat sesuai tema yang dipilih.
• Ketiga, mahasiswa langsung menentukan topik pilihan terbaik dari beberapa referensi
yang tadi telah dicari dari referensinya.
70
• Keempat, mahasiswa mulai mencari sumber bahan penulisan dan sumber pustaka
yangsesuai dengan topik terpilih.
• Kelima, mahasiswa membatasi bahan penulisan dan sumber penulisan agar
pembahasan tidak terlalu luas dan membuat kabur pokok permasalahan yg telah
ditentukan.
71
Topik
1. Pemilihan Topik
Topik merupakan pembicaraan utama. Topik berada disekitar kita, seperti masalah
pendidikan, persoalan kemasyarakatan, akuntansi, hukum, pariwisata, teknik lingkungan, dan
lain-lain. Keraf (1989:111) mengatakan bahwa, penyusun karangan ilmiah lebih baik menulis
sesuatu yang menarik perhatian menggunakan persoalan yang sahih-sahih. Berkaitan dengan
isi pernyataan itu, hal-hal berikut dapat diperhatikan dalam menggunakan akurat sang
penyusun karangan ilmiah.
a. Topik yang digunakan harus mudah didapat, contohnya dapat menggunakan pengalaman
kita atau orang lain.
b. Topik yang diangkat haruslah topik yang menarik perhatian khalayak umum.
c. Jangan menggunakan topik permasalahan dengan lingkup yang luas.
d. Topik yang digunakan harus didukung oleh data yang bersifat aktual dan objektif.
e. Hindari topik dengan teori ilmiah yang masih baru.
f. Topik yang digunakan harus memiliki sumber referensi.
2. Pembatasan Topik dan Penentuan Judul
Apabila topik telah dipengaruhi menggunakan ketentuan tertentu, tinggal anda mengkaji
sekali lagi; tentang kebenaran topik yang akan diteliti. Hal yang pertama kali wajib dibentuk
sang seseorang penulis karya tulis ilmiah adalah judul penelitian. Dari judul tadi penulis telah
mulai memikirkan apa-apa yang hendak ditulis pada karya sastra tulis itu. Judul itu akan
sebagai pemandu dan pengendali juga pada aktivitas menciptakan atau menyusun bagian-
bagian terperinci. Oleh karena itu, perlu sekali dipengaruhi judul karya tulis itu terlebih
dahulu sebelum kita menulis isinya.
Dalam memilih judul, kita selalu berorientasi dalam isi karya tulis yang hendak kita
untuk itu. Persoalan dan pertarungan yang hendak diungkapkan pada pada karya tulis 72
itu perlu lebih kentara dipahami. Berdasarkan hal tadi, terdapat 2 hal yang perlu
diperhatikan.
Pertama, judul tadi dihubungkan menggunakan problem atau hal-hal yang sangat
disenangi sang penulis itu sendiri. Hal-hal yang disenangi tadi tentu saja menciptakan
penulisnya akan bergairah mengerjakannya. Apabila judul tadi disenangi, persentase potensi
penyelesaian tentu saja lebih akbar bila dibandingkan menggunakan judul seperti hal-hal yang
bukan disenangi. Apabila kita menyenangi bidang olahraga, tentusaja kita akan bergairah
sekali bila judul yang kita pilih itu merupakan kasus olahraga. Kedua, judul yang dihubungkan
juga menggunakan masalah atau hal-hal yang telah dikuasai, pada hal bahwa masalah itu wajib
sahih-sahih dikuasai sang calon penulis itu.Hal itu berati bahwa masalah itu telah diketahui
secara luas sang penulis. Penguasaan materi itu adalah kapital terbesar menjadi awal
keberhasilan penulisan karya tulis tadi. Jadi, seseorang penulis wajib menguasai apa yang
sedang dihadapinya itu.
Dua hal tersebut, yaitu dua sisi mata uang yang bisa dipisahkan satu dan lainnya.apabila
keliru satu sisinya itu terdapat, tentu keagiatan penulisan karya tulis akan membuat apa- apa
yang diinginkan itu. Dengan berpedoman dalam 2 hal tadi, judul telah bisa dirumuskan
menggunakan baik.
Judul yang sangat disenangi dan dikuasai seorang merupakan judul yang memiliki
interaksi erat menggunakan aktivitas sehari-hari. Seorang guru, umpamanya, tentu saja
sangat menyenangi hal-hal yang berkaitan menggunakan global pendidikan atau pengajaran,
penggunaan indera peraga, ketepatan ketika pembelajaran, keberhasilan evaluasi, serta hal-
hal yang setara menggunakan itu. Agar wujud dominasi masalah yang dikemukakan itu bisa
lebih bisa meyakinkan kita, judul tersebut wajib menampakan ruang lingkup yang terlihat dan
tidak terlalu luas. Oleh karena itu, judul yang dipilih wajib diperhitungkan menggunakan
keluasan ruang lingkup persoalanny.
Salah satu cara buat mempersempit ruang lingkup judul itu merupakan menggunakan
memperbanyak istilah pada pada konstituen atau frasa. Untuk sekedar tahu kasus itu, berikut
adalah diberikan model.
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia Baku
Bahasa Baku Indonesia Baku Masa Kini 73
Dari gugusan istilah pada atas itu terlihat bahwa makin pola istilah yangg digunakan
pada suatu frasa atau konstituen itu makin sempit ruang makna yang dikandungnya. Ruang
lingkup “Bahasa Indonesia” lebih luas cakupan maknanya daripada istilah “ekonomi Indonesia”.
Ruang lingkup makna “Bahasa Indonesia Baku” lebih luas cakupan maknanya daripada ungkapan
“Bahasa Baku Indonesia Baku Masa Kini”. Jadi, makin panjang sebuah judul makin sempit ruang
lingkup makna yang dikandungnya.
Penentuan judul karangan ilmiah bisa dilakukan menggunakan metode pertanyaan
5W+1H. Namun bukan seluruh pertanyaan itu wajib dipakai dalam menentukan sebuah judul.
Mungkin, pertanyaan tersebut perlu dikurangi atau ditambah menggunakanpertanyaan lain.
Perthatikan model penentuan judul menggunakan cara berikut ini:
a Langkah pertama, bertanya menggunakan kasus apa dengan jawaban yang anda temui
beragam. Anda tentu menentukan kasus yang terdekat yang sangat menarik. Contoh
masalahnya merupakan:
• Bahasa anak usia lima tahun.
• Teks Negosiasi.
• Amanat pada Novel
b Setelah masalahnya dipengaruhi, anda bisa bertanya menggunakan mengapa, jawaban
yang bisa ada buat pernyataan ini merupakan:
• Perkembangan
• Pengaruh
• Analisis
c Dapat pula istilah-istilah itu permanen, jika judul yang dibentuk bukan berupa kalimat.
2 pernyataan tersebut, anda mempunyai judul menjadi berikut. Perkembangan Bahasa
Anak
• Pengaruh Metode Langsung terhadap Teks Negosiasi
• Analisis Amanat pada Novel
d Agar karangan ilmiah bisa berpijak dalam suatu kasus yang terbatas dan ruang lingkup
yang sempit, judul karangan ilmiah wajib dibatasi lagi, contohnya menggunakan nama
suatu lokasi. Pertanyaan berapa, dimana, apa serta siapa yang akan menaruh jawaban
mengenai loka objek yang sedang diteliti, contohnya; 74
• Usia 4 tahun
• Kelas X pada Sekolah Menengah Kejuruan Mahadika tiga Jakarta tiga. Bumi Karya
Tere Liye
e Setelah memakai pertanyaan 5W+1H, selanjutnya Anda mempunyai judul karangan
ilmiah, yaitu;
• “Perkembangan Bahasa Anak Usia 4 Tahun”
• “Pengaruh Metode Langsung Terhadap Teks Negosiasi Kelas X pada Sekolah
Menengah Kejuruan Mahadika tiga Jakarta”
• “Analisis Amanat pada Novel Bumi Karya Tere Liye”.
Studi Bahan Pustaka
Perpustakaan biasanya menyediakan aneka macam koleksi sumber dengan beragam
bentuk media, misalnya media cetak dan media audio visual. Hal yang harus diperhatikan dalam
mencari bahan pustaka di perpusatakaan adalah sebagai berikut:
1. Mencari BukuMenggunakan Online Catalog dan Card Catalog
Pencarian sumber referensi menggunakan online catalog dapat diakses melalui komputer.
Yang harus dipehatikan adalah mencari judul yang relevan dengan tulisan yang sedang ditulis.
2. Memeriksa Bahan-Bahan Pustaka yang Telah Diperoleh
Kita wajib mempelajari data-data tadi apakah sinkron atau tidak menggunakan topik yang
kita gunakan. Cara mempelajari bahan pustaka tadi merupakan:
1. Mengatur bahan bacaan.
2. Membaca dengan selektif.
3. Membaca disertai rasa bertanggung jawab.
4. Membaca secara kritis.
75
3. Membuat Catatan
Membuat catatan dengan merujuk pada kartu indeks.
4. Memparafrasakan
Dalam menciptakan tulisan, kita mampu memparafrasakan bacaan yang relevan dengan
tulisan yang sedang ditulis.
5. Membuat Kutipan
Dalam mengutip, kita wajib memparafrasakan bacaan yang kita ambil dari sumberlain dengan
menggunakan bahasa sendiri, agar terhindar dari plagiarisme
Pengumpuan Data
Apabila judul karangan ilmiah dan ragangannya telah pada setujui sang pembimbing atau
sang pimpinan forum pendidikan tinggi yang terkait, penyusunan telah bisa mulai
mengumpulkan data. Hal yang wajib dilakukan adalah mencari data yang relevan. Bisa
dilakukan dengan mengumpulkan dengan data kepustakaan atau terjun ke lapangan dengan
melalui pengamatan, wawancara, dan eksperimen.
Pengorganisasian/Pengonsepan
Apabila data telah terhimpun, penyusun harus menyeleksi data kembali. Penyusun wajib
mengklasifikasikan data dari jenis, sifat, atau bentuk. Penyusun memilih data yang kemudian
akan digunakan. Jadi, penyusunan wajib memasak dan menganalisi data yang terdapat
menggunakan metode yang dipengaruhi. Misalnya, bila penelitian bersifat kuantitatif, data
diolah serta dianalisis menggunakan teknik statistik. Selanjutnya, penyusun bisa mulai
mengolah karangan ilmiah dengan menggunakan urutan pada rancangan yang digunakan.
76
Evalusi Pembelajaran
Soal Pilihan Ganda
1. Salah satu unsur penting dalam karangan ilmiah adalah pemilihan topik. Adapun
tujuan dari pemilihan topik adalah...
a. Agar memudahkan penilitian dalam mencari sumber.
b. Agar terap fokus terhadap sejarah yang akan diteliti.
c. Untuk menentujan siapa yang ingin diteliti.
d. Agar mengetahui tempat yang diteliti.
e. Untuk melengkapi syarat dalam penelitian karangan ilmiah.
2. Hal yang perlu dicantumkan pada bab pendahuluan sebuah karya karangan ilmiah
adalah...
a. Tujuan penelitian.
b. Instrumen penelitian.
c. Langkah langkah penelitian.
d. Teknik pengumpulan data.
e. Daftar riwayat hidup.
3. Ketika hendak melakuian karangan ilmiah, langkah pertama yang dilakukan
adalah...
a. Heristik.
b. Interpretasi.
c. Verifikasi.
d. Historiografi.
e. Menentukan topik.
4. Penulisan daftar pustaka yang benar adalah...
a. R. A. Kartini. 1987. Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai pustaka.
b. Keraf Gorrys: 1985. Argumentasi dan Narasi. Ende Flores: Pustaka Jaya.
77
c. Gorrys keraf. 1985. Ende Flores: Nusa Indah 1971.
d. Kridalaksana. Harimukti dan Kentjano. Joko, Seminar Bahasa Indonesia 1968.
Argumentasi dan Narasi. Ende Flores Pustaka Jaya.
e. Rosidi Ayip 1977. Laut Biru Langit Biru, Pustaka Jaya. Jakarta.
5. Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan topik penelitian adalah…
a. Topik yang diteliti harus umum.
b. Topik yang diteliti harus mengikuti yang sudah ada.
c. Topik yang diteliti harus unik dan belum ada satupun yang menelitinya.
d. Topik yang diteliti harus berkaitan dengan lingkungan.
e. Topik yang diteliti harus sesuai.
Soal Esai
1. Apabila data telah terhimpun, penyusun harus menyeleksi data kembali.
Jelaskan pengonsepan data yang telah terhimpun!
2. Buatlah contoh karangan ilmiah yang bisa berpijak dalam suara kasus yang terbatas
dan ruang lingkungnya sempit!
3. Sebutkan cara untuk mempelajari bahan pustaka!
4. Jelaskan dan berikan contoh cara cara pembatasan topik!
5. Sebutkan hal yang harus diperhatikan dalam mencari bahan pustaka
di perpustakaan!
78
STRUKTUR BABVII
Struktur BAB 7 adalah sebagai berikut :
CAPAIAN PROSES PARAGRAF NARASI
PEMBELAJARAAN TAHAPAN
PARAGRAF PARAGRAF PARAGRAF
PERSUASI ARGUMENTASI DESKRIPSI
PARAGRAF EVALUASI
EKSPOSISI PEMBELAJARAN
739
BAB VII
Capaian Pembelajaraan : Ragam
Mahasiswa mampu memahami ragam paragraf Paragraf
Pendekatan Proses dalam
Ragam Paragraf
Pendekatan proses yang perlu diperhatikan dalam memahami dan mengidentifikasikan
ragam paragraf adalah:
1. Membaca pengertian dari setiap ragam paragraf dengan cermat.
2. Mencermati setiap bagian dan perbedaan dari setiap ragam paragraf.
3. Memahami dengan baik setiap unsur yang terdapat dalam ragam paragraf.
4. Mengidentifikasi setiap ciri yang membedakan setiap paragraf dengan paragraf
yang lain.
5. Memahami tentang ragam paragraf (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi,
danpersuasi).
6. Memahami ciri-ciri, dan jenis-jenis ragam pargaraf (narasi, deskripsi,
eksposisi,argumentasi, dan persuasi).
7. Dapat mengidentifikasi ragam paragraf (narasi, deskripsi, eksposisi,
argumentasi,dan persuasi).
8. Dapat menerapkan penggunaan dari ragam paragraf pada suatu karya ilmiah.
Dari ke-8 proses di atas pendekatan proses untuk memahami dan mengidentifikasikan
ragam paragraf adalah:
• Pertama, mahasiswa mencari buku referensi mengenai ragam paragraf, kemudian
membaca pengertian dari setiap macam paragraf dengar cermat.
80
• Kedua, mahasiswa mencermati setiap bagian pengertian dan perbedaannya dari
setiap ragam paragraf (paragraf narasi, deskripsi, ekposisi, argumentasi, dan
persuasi).
• Ketiga, mahasiswa memahami dengan teliti setiap unsur yang terdapat dalam setiap
paragraf sehingga mahasiswa benar benar paham ciri khas dari setiap ragam
paragraf.
• Keempat, mahasiswa mengidentifikasi setiap ciri khas dari setiap paragraf
sehingga mahasiswa dapat mengetahui perbedaan setiap paragraf satu dengan
paragraf yang lain.
• Kelima, setelah mahasiswa mengetahui setiap perbedaan paragraf satu dengan
paragraf lain, setiap ciri, jenis dan unsur yang memenuhi syarat dalam setiap ragam
paragraf mahasiswa diharapkan sudah dapat mengidentikasikannya setiap paragraf
dengan benar.
• Keenam, setelah mahasiswa memahami semua yang menjadi persyaratan dalam
menyusun paragraf, maka mahasiswa dapat menerapkannya dan mulai menulis
sebuah paragraf yang baik.
81
Paragraf Narasi
Paragraf narasi berisi cerita yang menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa
berdasarkan urutan waktu disebut paragraf narasi.
1. Ciri-ciri Paragraf Narasi
Pada sebuah narasi terdapat susunan kronologis, alur, dan konfiks. Adanya sebuah alur dalam
cerita, akan membangun teks narasi. Tanpa kehadiran konfiks, alur tidak akan terasa menarik.
Menurut Atar Semi (2003:31), ada beberapa ciri dalam suatu narasi, yaitu:
a) Berdasarkan kronologisnya, terdapat penekanan susunan.
b) Paragraf berisi cerita mengenai suatu peristiwa atau apa yang dialami oleh penulis.
c) Peristiwa yang disampaikan sungguh terjadi, bukan fiksi.
d) Berdasarkan pada konfiks.
e) Terdapat nilai estetika di dalamnya.
Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Atar Semi. Menurut Keraf,
paragraf narasi lebih memunculkan tokoh atau pelaku di dalamnya.
2. Jenis-jenis Paragraf Narasi
Jenis-jenis paragraf narasi dapat diketahui, sebagai berikut:
a) Narasi Informatif, suatu paragraf yang memiliki tujuan memperluas pengetahuan
pembaca mengenai kisah seseorang melalui penyampaian informasi yang tepat. Salah
satu yang termasuk ke dalam narasi ini adalah surat kabar.
b) Narasi Ekspositorik, paragraf yang ditulis secara detail berdasarkan kejadian yang
sesungguhnya, menonjolkan hanya satupelaku saja, dan menceritakan hal kecil sampai hal
yang terakhir kali terjadi dalam hidup pelaku. Paragraf ini memiliki ketentuan yaitu,
menggunakan bahasa yang logis, tidak memiliki unsur yang dapat membangkitkan citra
seseorang, bersifat objektif, dan berisikan fakta. Salah satu yang termasuk ke dalam
narasi ini adalah biografi. Adapaun contoh narasi ekspositorik yaitu, biografi BJ
Habibie dalam buku Habibie & AinUn.
82
c) Narasi Artistik, narasi ini memiliki cara penyampaian melalui sebuah amanat
tersembunyi. Salah satu yang termasuk ke dalam narasi ini adalah cerpen.
d) Narasi Sugestif, narasi yang bersifat sugestif, berdasarkan hasil imajinasi penulis,
dengan meminta pembaca untuk mengahati jalan cerita, sehingga pembaca seolah ikut
merasakan kejadian yang disampaikan. Salah satu yang termasuk ke dalam narasi ini
adalah dongeng. Adapaun contoh narasi sugestif, yaitu dongeng Bawang PUTIH Bawang
Merah.
Contoh Paragraf Narasi
24 Oktober 2018, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku sedang duduk di sebuah
kereta. Sekitar satu jam lagi, aku akan tiba di Jakarta. Aku akan segera bertemu kakak
perempuanku yang sudah berhasil kabur dan bebas dari ayah yang terus
memanfaatkanku untuk kepentingan bisnisnya. Aku akan segera hidup bebas. Kereta
Argo Bromo yang ku tumpangi berhenti perlahan. Kereta tengah melakukan
pemberhentian sementara di Stasiun Cikampek. Aku berniat untuk pergi ke kamar
mandi. Namun,langkahku terhenti ketika melihat sosok yang ku benci muncul di ujung
gerbong 5, gerbong tempat aku berdiri saat ini. Pria bertubuh 191 cm itu
menyunggingkan senyum sinis ke arah ku, seakan berkata, ‘tertangkap kau.’ Secara
sepontan aku menarik tas ranselku dan berlari ke arah gerbong 4. Aku berlari secepat
yang ku bisa. Jelas, semua mata langsung tertuju padaku. Aku memutuskan untuk turun
dari gerbong kereta. Keputusan yang ku ambil, salah besar. Seorang pria, sigap
menangkap tubuhku saat aku keluar dari pintu gerbong kereta. Aku tertangkap oleh
para ajudan, ayahku. Setelah sempat membrontak, seseorang berhasil menyuntikkan
obat penenang pada tangan kananku. Penglihatanku kabur, hingga aku terbangun, di
kamarku sendiri. Aku mendesah kesal, aku gagal kabur lagi kali ini.
Paragraf Deskripsi
Isi paragraf yang membuat pembaca merasakan atau melihat objek yang 83
dijabarkan atau digambarkan oleh penulis disebut paragraf deskripsi.
1. Ciri-ciri Paragraf Deskripsi
a. Menggunakan kata atau frasa yang merupakan makna keadaan atau sifat.
b. Mempengaruhi emosi pembaca dengan melibatkan kesan alat indra.
c. Memberikan gambaran yang jelas.
d. Memberikan kesan yang membuat pembaca merasakan apa yang dijabarkan.
e. Memuat segala hal, tempat, pelaku, dan hal yang ada dalam suatu peristiwa.
2. Jenis-jenis Paragraf Deskripsi
a. Paragraf Deskripsi Spasial
Pengambaran pada objek tertentu, seperti benda, area, atau suatu tempat
melalui ke dalam paragraf disebut dengan paragraf deskripsi spasial.
Contoh Paragraf Deskripsi Spasial
Salah bjek wisata yang memiliki keindahan nan romantis ialah La n Bajo.
I kota dari kab aten Manggarai Barat ini terletak di g barat Flores.
k yang dip kano men kkan bahwa mata pencaharian p setempat
memang berada di atas l .
b. Paragraf Deskripsi Subjektif
Pengambaran pada objek tertentu, berupa penafsiran atau kesan yang
dirakan penulis terhadap suatu hal disebut dengan paragraf deskripsi subjektif.
Contoh Paragraf Deskripsi Subjektif
yang mpangi tiba. Setelah mendapatkan tempat d segera
memasang headset dan meMUtar radio yang ada di gawai Seperti biasa,
berjalan c lambat.Namanya ga Jakarta, enggak macet enggak asik. Jalan yang
lewati memiliki lebar yang c dilewati d mobil dan sat kendaraan
84
bermotor. Selama kemacetan, yang ihat hanya motor yang berlal
menyalip yang angi dengan rag Saat dipemberhentian pertama, persis
di depan se h perkantoran, banyak p mpang yang memas Ada yang si
mengabari istirnya memberikan kabar gembira akan gaji yang b saja , pria
yang melihat ke l jendela sembari mendengarkan MUsik di headset, dan seorang
ib -ib yang si dengan barang bawaannya. Benar-benar penampakkan jam p ang
kerja.
c. Paragraf Deskripsi Objektif
Penggambaran pada objek sesuai dengan yang sebenarnya terjadi disebut
paragraf deskripsi objektif
Contoh Paragraf Deskripsi Objektif
S Babakan me akan lokasi wisata kamp g betawi yang terletak di daerah
Jakarta Selatan. Set babakan menghadirkan wisata kesenian dan daya betawi
yang dapat dinikmati oleh seMUa kalangan. Adap wisata yang terdapat di dalam
kawasan Set Babakan ialah Wisata Air yai Dana S Babakan, Wisata inerdi
mana dalam kawasan S Babakan banyak sekali penj makanan khas betawi dan
seMUa penj nya mer akan p asli kawasan S babakan.
d. Paragraf Deskripsi Waktu
Pengambaran pada objek yang dijabarkan berdasarkan waktu kejadian disebut
paragraf deskripsi waktu.
e. Pola Tematis
Bentuk pengembangan pada penggambaran suatu peristiwa dalam suatu
paragraf di mana temanya diwakilkan oleh satu sampai dua kalimat disebut pola
tematis.
85
Contoh Paragraf Deskripsi
Masih jelas di memori, keindahan pemandangan Pantai Baron, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Gelombang air laut menyambutseakan mengajak untuk bermain air. Pasir, birunya laut,
dan karang yang terlihat estetik, membuatku betah berlama-lama disini. Sejauh mata
memandang, hanya pasir, lautan, dan bukit berbatu. Ku rasakan dinginnya air laut
menyelimuti kakiku. Tepi pantai tidak terlalu padat pengunjung. Ada yang tengah
berfoto, bermain pasir, bermain bola, dan saling berkejaran. Beberapa turis asing
menarik perhatian dengan melakukan pemotretan di pinggir pantai.
Paragraf Argumentasi
Paragraf yang berisikan suatu ungkapan ide atau pendapat dari penulis dilengkapidengan
fakta yang terjadi disebut paragraf Argumentasi.
Contoh Paragraf Argumentasi
Adap syarat MUtlak pada setiap aha pertanian, ya secara konsisten
mejaga kes an tanah. Kes an tanah akan BERKURAng pada saat proses
p n tanaman. N pengg aan tanah dan proses pemberian p akan
memperbaiki kes an tanah. Kita dapat meneladani kes an tanah yang ada di
h n. Karena, tanah di h n, dah s meski belUM dirawatoleh petani.
Paragraf Persuasi
Paragraf yang berisikan karangan dengan tujuan membujuk pembaca untuk melakukan
hal yang dijabarkan penulis disebut dengan paragraf persuasi.
86
Contoh Paragraf Persuasi
Perp takaan Nasional adalah tempat yang menyediakan bahan bacaan yang
dapat kita baca, bahkan kita pinjam. Bila kita men ngi perp takaan nasional,
kita dapat mebaca banyak BUKU, menonton film, sekal melihat pemandangan kota
Jakarta. Ada berbagai jenis p taka dalam Perp takaan Nasional. Kita dapat
menyelesaikan s, mencari referensi, dan menambah ilMU jika sering men ngi
perp stkaan. Sebaiknya, kita manfaatkan salah fasilitas yang disediakan oleh
pemerintah ini, belajar semaksimal MUngkin. Agar kita bisa mnejadi
masyarakat yang cerdas.
Paragraf Eksposisi
Paragraf yang menjabarkan mengenai hal yang betujuan untuk menambah wawasan
atau memberikan informasi disebut dengan paragraf eksposisi.
Contoh Paragraf Eksposisi
bit banyak d akan obat. N risi yang terkand g dalam h bit
antara lain, karbohidrat, protein, serat, vitamin C dan mineral, sod , magnes ,
besi, folat, dan kal . Selain b bit ga memiliki antioksi dan yang
bermanfaat men ngi peradangan. bit ga rendah lemak. bit
mamp mengatasi beberapa masalah pada t seperti mencegah kanker, baik bagi
penderita diabetes, mencegah p , men kan tekanan darah dan menjaga
kesehatan jan g.
87
Evalusi Pembelajaran
Soal Pilihan Ganda
1. Paragraf narasi yang ditulis secara detail berdasarkan kejadian yang sesungguhnya,
menonjolkan hanya satu pelaku saja dan menceritakan hal kecil sampai hal yang
terakhir kali terjadi dalam hidup pelaku disebut paragraf…
a. Narasi Informatif.
b. Narasi Ekspositorik.
c. Narasi Artistik.
d. Narasi Sugestif.
e. Deskripsi.
2. Ciri-ciri paragraf
1) Berdasarkan kronologisnya, terdapat penekanan susunan.
2) Berdasarkan pada konflik.
3) Berisikan suatu ungkapan.
4) Terdapat nilai estetika di dalamnya.
5) Memberikan gambaran yang jelas.
Yang merupakan ciri-ciri paragraf narasi adalah…
a. 1)-2)-5) d. 1)-2)-4)
b. 1)-3)-5) e. 1)-3)-4)
c. 1)-2)-3)
3. Penggambaran pada objek tertentu seperti benda, área atau suatu tempat melaluike
dalam paragraf disebut paragraf…
a. Deskripsi subjektif.
b. Deskripsi Objektif.
c. Deskripsi Spasial.
d. Deskripsi Waktu.
e. Pola Tematik.
838