Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 30
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Swt karena berkat rahmat, taufik,
hidayah dan inayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan “E-
Book Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling
Setting Kelompok Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja”. Sholawat
serta salam semoga tercurah untuk Baginda Nabi Besar Muhammad Saw
yang telah membawa kita dari zaman jahiliyyah menuju zaman modern
saat ini.
E-Book ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh
Guru BK/Konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling
untuk meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran
lalu lintas melalui teknik modeling setting kelompok. E-book ini memuat
beberapa mekanisme layanan bimbingan dan konseling yang mencakup
tujuan, indikator keberhasilan, waktu, langkah-langkah, materi,
rangkuman, tugas dan evaluasi. Semoga e-book ini dapat digunakan oleh
Guru BK/Konselor untuk membantu siswa dalam layanan bimbingan dan
konseling.
Penulis sudah berusaha untuk menyelesaikan e-book ini dengan
sebaik-baiknya, jika masih ditemui kesalahan, kekurangan dan kelemahan
dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan e-book ini.
Padang, …… April 2021
Penulis
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok i
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................... ii
TINJAUAN UMUM ......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................ 1
B. Panduan Layanan ....................................................... 4
C. Deskripsi Panduan ..................................................... 6
D. Landasan Penyusunan Panduan ............................... 7
E. Tujuan Penggunaan Panduan ................................... 8
F. Pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator ............. 9
G. Susunan Materi .......................................................... 9
H. Petunjuk Umum Panduan .......................................... 10
I. Rencana Pelaksanaan Layanan ................................. 13
Materi 1 : Remaja dan Self Regulation
A. RPL .............................................................................. 12
B. Materi .......................................................................... 19
C. Rangkuman ................................................................. 27
D. Lampiran .................................................................... 28
Materi 2 : Memahami Arti Pelanggaran Lalu Lintas pada Remaja
A. RPL .............................................................................. 44
B. Materi .......................................................................... 49
C. Rangkuman ................................................................. 51
D. Lampiran .................................................................... 59
Materi 3 : Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Self Regulation Remaja
dalam Menghadapinya
A. RPL .............................................................................. 63
B. Materi .......................................................................... 63
C. Rangkuman ................................................................. 70
D. Lampiran .................................................................... 72
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok ii
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Materi 4 : Kiat meningkatkan Self regulation remaja dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas
A. RPL .............................................................................. 74
B. Materi .......................................................................... 75
C. Rangkuman ................................................................. 82
D. Lampiran .................................................................... 83
PENUTUP ....................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 86
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok iii
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Tinjauan Umum
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendukung
perkembangan alat transportasi secara pesat, sehingga menyebabkan
laju pertumbuhan kendaraan semakin meningkat. Sepeda motor banyak
dipilih masyarakat sebagai moda angkutan karena selain kemudahan
aksesnya, harganya lebih terjangkau. Meningkatanya kepemilikan
sepeda motor tidak diimbangi dengan meningkatnya kesadaran akan
keselamatan lalu lintas. Populasi sepeda motor yang makin besar
mendorong peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas.
Di Indonesia cedera kecelakaan lalu lintas dan kematian yang
menjadii masalah serius (Djaja et al., 2016). Kecelakaan lalu lintas
sebagian besar diakibatkan oleh pengendara yang melanggar aturan
lalu lintas. Dari jumlah korban kecelakaan, urutan pertama paling
banyak dialami oleh para remaja dan dewasa muda (Yogatama, 2013).
WHO mencatat 1.2 juta orang meninggal setiap tahunnya dalam
kecelakaan lalu lintas dan 50 juta orang korban kecelakaan lalu lintas
mengalami luka serius maupun catat tetap. Kecelakaan lalu lintas jalan
adalah penyebab utama kematian di kalangan anak muda, berusia 15
sampai 29 tahun, dan 73% adalah laki-laki (WHO, 2016). Deery dan
Flides (1999) dalam Agung (2014) mengatakan bahwa remaja sangat
berpotensi menjadi pengendara beresiko. Remaja cenderung mengadopsi
cara berkendara penuh risiko dibandingkan orangtua (Handayani et al.,
2017).
Beberapa bentuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh
kalangan remaja diantaranya: 1) berkendara dengan cara yang
membahayakan ketertiban atau keamanan lalu lintas (Rakhman, 2016),
2) mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak dapat
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 1
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
memperlihatkan administrasi (Rakhmani, 2013), 3) membiarkan
kendaraan bermotor dikemudikan oleh orang lain yang tidak memiliki
Surat Izin Mengemudi (SIM) (Umi Enggarsasi, 2017), 4) mengendarai
kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan, menerobos lampu
lalu lintas, berkendara zigzag dengan kecepatan tinggi, tidak
melengkapi alat keselamatan seperti halnya tidak menggunakan
helmet, spion, dan lampu-lampu kendaraan (Sadono, 2015a).
Ketaatan dalam berlalu lintas memerlukan regulasi diri untuk
membentuk perilaku remaja. Hal ini sesuai dengan pendapat Suhendra,
Neviyarni dan Ahmad (2016) menyatakan pergaulan siswa di
sekolah maupun di luar sekolah mempengaruhi siswa dalam
mencapai prestasinya, oleh karena itu perlu pengaturan diri bagi siswa
agar mampu fokus menggapai cita-citanya dan tidak terpengaruh oleh
lingkungan yang tidak baik. Maka, dengan adanya pengaturan diri/
regulasi diri seorang siswa akan mampu untuk membentuk seorang
siswa yang taat akan peraturan berlalu lintas. Dalam prosesnya,
regulasi diri memiliki relevansi terhadap bidang pendidikan yaitu
bidang pemahaman mengenai bagaimana peserta didik melatih perilaku
mereka sendiri yang akan berdampak pada meningkatnya keberhasilan
individu dalam pendidikan dan juga mempengaruhi keberhasilan di
dalam hubungan sosial. Kemudian, Florez (2011) memaparkan dengan
adanya regulasi diri, seseorang akan mampu untuk mengatur
pikiran, emosi, dan perilaku seseorang untuk menuju kesuksesan di
lingkungan sekolah, pekerjaan, dan kehidupannya. Jadi, setiap individu
memiliki kemampuan untuk mengatur diri dan mempunyai tanggung
jawab masing-masing untuk selalu berada pada jalur kebaikan sebagai
upaya mencapai tujuannya dalam lingkungan pendidikan.
Tingginya pelanggaran lalu lintas yang terjadi di kalangan remaja
menggambarkan bahwa kurangnya pengaturan diri/regulasi diri pada
remaja, adanya regulasi diri remaja mampu mengontrol diri sendri,
pikiran, perasaan dan tindakan agar terencana secara
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 2
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
berkesinambungan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan (Santrock,
2007). Guru BK atau Konselor memegang peranan penting dalam
meningkatkan kemampuan regulasi diri siswa dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas. Namun yang terjadi di lapangan, pelaksanaan
bimbingan konseling hanya membahas permasalahan belajar, karir,
pribadi dan penyesuaian diri siswa (Firman et al., 2018), sedikit dari
pada Guru BK atau Konselor membahas tentang pentingnya regulasi
diri dalam hal pencegahan pelanggaran lalu lintas pasa remaja.
Upaya yang dapat dilakukan oleh Guru BK salah satunya dengan
menggunakan teknik modeling setting kelompok. Modeling merupakan
salah satu teknik dalam pendekatan behavioristik yang memandang
bahwa segala tingkah laku manusia merupakan hasil belajar dan hasil
interaksi dengan lingkungan sekitar atau dunia luar (Ernawati & Afdal,
2018). Pembentukan atau pengubahan perilaku dilakukan melalui
observasi dengan model atau contoh. Teknik ini menekankan pada
penambahan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, yang
melibatkan proses kognitif, bukan sekedar menirukan atau mengulangi
apa yang dilakukan oleh model (orang lain) (Damayanti & Aeni, 2016).
Selain itu, dilihat dari segi pelaksanaan layanan bimbingan kelompok
mengalami keterbatasan baik dari segi waktu yang tersedia maupun
sumber pembelajaran yang digunakan.
Dengan kondisi demikian guru BK membutuhkan media
pembelajaran berupa panduan, sehingga dalam pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok lebih terarah dan mampu mencegah terjadinya
masalah dan membantu dalam pengentasan masalah, khususnya
permasalahan pelanggaran lalu lintas. Mengacu pada fenomena
tersebut, Guru BK memiliki peranan penting dalam mengembangan
kepribadian siswa (Yulfitri et al., 2014). Termasuk dalam hal
meningkatkan regulasi diri dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas
pada remaja.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 3
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
B. E-Book layanan
1. Rasional
Gambaran awal dalam pengembangan e-book dilihat dari
fenomena yang ada di lapangan dan urgensi dari bimbingan dan
konseling setting kelompok itu sendiri yang berguna untuk
meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran
lalu lintas. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat
bahwa masih ada siswa mempunyai self regulation berada pada
kategori rendah. Hal ini bisa saja menjadi penyebab siswa
melakukan pelanggaran lalu lintas yang dapat membahayakan diri
siswa itu sendiri maupun pengguna jalan lain.
E-book teknik modeling setting kelompok disusun agar bisa
digunakan oleh Guru BK/Konselor untuk meningkatkan self
regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas. E-book
ini diharapkan juga bisa memberikan pemahaman kepada siswa
tentang pentingnya untuk melakukan peningkatan self regulation
dan memahami bahaya dari pelanggaran lalu lintas itu sendiri.
2. Deskripsi
E-book ini dapat dimanfaatkan oleh Guru BK/Konselor untuk
mengembangkan dan meningkatkan wawasan, pengetahuan dan
keterampilan untuk meningkatkan pengetahuan dan selanjutnya
menjadi fasilitator dalam melakukan layanan bimbingan dam
konseling menggunakan teknik modeling setting kelompok untuk
meningkatkan self regulation dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas.
3. Prasyarat
Pengembangan e-book ini dapat digunakan Guru BK untuk
penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling menggunakan
teknik modeling setting kelompok untuk meningkatkan self
regulation dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 4
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
4. Waktu Pelaksanaan
E-book ini dilaksanakan selam 45 menit per pertemuan.
Pertemuan dalam panduan ini sebanyak 4 kali, artinya 4 x 45.
5. Kelengkapan
E-book ini dilengkapi dengan lampiran berupa :
a. RPL
b. Materi
c. Lembar tugas kelompok
d. Lembar evaluasi
e. Lembar refleksi sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang
dijalankan per materi.
6. Petunjuk Penggunaan
Sebelum menggunakan e-book ini, peserta perlu
memperhatikan beberapa petunjuk berikut :
a. Bacalah dengan cermat e-book ini. Setiap bagian yang terdapat
pada e-book ini merupakan keterampilan dan pengetahuan yang
peserta perlukan untuk meningkatkan self regulation remaja
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
b. Apabila mengalami kesulitan dalam proses memahami materi,
peserta dapat mendiskusikannya dengan teman-teman atau
mengkonsultasikannya dengan fasilitator.
c. Setiap tugas yang terdapat pada setiap e-book ini, harus
dikerjakan dengan jujur dan tanggungjawab.
d. Jika peserta telah menguasai secara tuntas semua kegiatan
dalam e-book ini, lakukan penerapan dalam kehidupan sehari-
hari.
7. Langkah-langkah Teknik Modeling Setting Kelompok
Adapun langkah-langkah teknik modeling setting kelompok
sebagai berikut :
a. Tahap Perhatian (Attention)
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 5
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Pada tahap ini, ditekankan pada pembentukan perhatian
peserta kelompok pada perilaku atau tindakan yang dilkakukan
oleh model yang akan ditiru.
b. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan ( Retention Proceses)
Pada tahap ini peserta kelompok memperhatikan dan
merekam peristiwa yang diberikan dalam ingatannya. Dengan
cara ini peserta kelompok dapat melakukan tindakan tersebut
apabila diperlukan atau diinginkan.
c. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
Pada tahap ini, setelah peserta kelompok mengetahui atau
mempelajari suatu tingkah laku yang dilihat, peserta kelompok
juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa
yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
d. Tahap Penguatan (Motivation)
Pada tahap ini konselor memberikan penguatan kepada
peserta kelompok seberapa mampu peserta kelompok akan
melakukan peniruan dengan pemberian motivasi yang dapat
memacu keinginan peserta kelompok untuk mencontoh perilaku
yang telah dimodelkan dan untuk memenuhi tahapan belajarnya.
C. Deskripsi E-book
Bahan ajar merupakan bagian pokok pada pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar yang memudahkan pendidik dan peserta didik
menguasai kompetensi yang perlu dikuasai, sehingga perlu disusun dan
dirancang secara sistematis . Bahan ajar memiliki berbagai bentuk,
salah satunya yaitu electronic book atau buku digital yang dianggap
sesuai dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. E-book
berisi informasi digital berwujud teks, gambar, video dan audio yang
terkemas dalam satu file yang dapat dibuka menggunakan komputer,
handphone android maupun perangkat elektronik lainnya. Bahan ajar e-
book diharapkan memudahkan peserta didik dalam memahami materi
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 6
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
(Rahmawati & Susanti, 2019). Dalam hal ini e-book yang telah disusun
berguna untuk meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru
BK. Pengembangan e-book ini berisi mengenai deskripsi e-book,
kegunaan e-book, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan
materi, petunjuk umum e-book dan rencana pelaksanaan layanan.
Isi ataupun materi e-book terdiri dari remaja dan self regulation,
memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja, Akibat
Pelanggaran Lalu Lintas dan Self Regulation Remaja dalam
Menghadapinya, kiat meningkatkan self regulation remaja dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas. Keempat materi masing-masing
kegiatan terdiri dari tujuan, indikator keberhasilan, waktu, langkah-
langkah, materi, rangkuman, tugas, evaluasi, daftar dan penutup yang
berada dibagian akhir e-book.
D. Landasan Penyusunan E-book
Penyusunan e-book untuk meningkatkan self regulation remaja
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas, dilandasi oleh (1) landasan
teoritis yang berkaitan dengan penggunaan e-book pelaksanaan layanan
untuk meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas dan (2) fakta yang terjadi.
1. Landasan teoritis
Landasan teoritis, yaitu berisikan tentang hal-hal sebagai
berikut.
a. Sebelum melaksanakan suatu layanan Guru BK/Konselor perlu
membuat rancangan. Rancangan tersebut disusun secara
sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu
tertentu. Penyusunan rancangan ini memegang peran penting
dalam keberhasilan pelaksanaan layanan. Rancangan ini harus
disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga apa yang menjadi
tujuan pembelajaran layanan dapat tercapai (Ma & Shek 2013).
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 7
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
b. Salah satu bentuk rancangan yang dapat digunakan oleh Guru
BK/Konselor yaitu buku panduan. Mulyasa (2004) menyatakan
bahwa panduan merupakan alat atau sarana belajar yang berisi
materi, metode, dan cara untuk mengevaluasi yang dirancang
sistematis dan menarik untuk mencapai tujuan pemberian
layanan yang diharapkan.
c. Kesuksesan pemberian layanan bimbingan dan konseling di
sekolah salah satunya dapat dipengaruhi oleh metode yang
diberikan oleh Guru BK/Konselor, penggunaan media yang tepat
dapat membantu Guru BK/Konselor dalam memberikan layanan
yang menarik dan menyenangkan serta efektif.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka e-book ini dapat
digunakan dalam pelaksanaan layanan karena berisi beberapa
rancangan layanan yang disertai dengan materi, lembar evaluasi
serta lembar refleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Sehingga dengan penggunaan pengembangan e-book setting
kelompok menggunakan teknik modeling ini diharapkan Guru
BK/Konselor dapat membantu meningkatkan self regulation remaja
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
2. Fakta di lapangan berupa hasil penelitian yang dilakukan, sebagai
berikut.
a. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa self
regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas
tergolong rendah.
b. Masih ada Guru BK/Konselor yang belum mampu merumuskan
bentuk e-book pelaksanaan layanan yang sesuai dengan kaidah-
kaidahnya, sementara e-book pelaksanaan layanan sangat
membantu dalam pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan dan
konseling.
E. Tujuan Penggunaan E-book
Adapun tujuan penggunaan e-book ini yaitu sebagai berikut.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 8
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
1. E-Book ini diharapkan dapat membantu Guru BK/Konselor dalam
meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan layanan
bimbingan kelompok di sekolah.
2. E-Book yang telah disusun, dapat dijadikan media bagi Guru
BK/Konselor saat memberikan layanan bimbingan konseling setting
kelompok menggunakan teknik modeling kepada siswa yang secara
khusus untuk meningkatkan self regulation dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
F. Pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi dasar dalam e-book ini merujuk pada sejumlah
kemampuan (pemahaman) yang harus dikuasai oleh siswa sebagai
rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam pengembangan e-book
pencegahan pelanggaran lalu lintas melaui teknik modeling setting
kelompok dalam peningkatan self regulation remaja. Indikator
kompetensi merupakan perilaku yang dapat diukur atau diobservasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang
menjadi acuan penilaian dalam e-book ini. Acuan yang dipakai, yaitu
siswa dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam
meningkatkan self regulation agar tidak melakukan pelanggaran lalu
lintas dijalan raya.
G. Susunan Materi
Susunan materi yang akan dibahas dalam panduan ini, yaitu
sebagai berikut.
1. Remaja dan Self Regulation
2. Memahami Arti Pelanggaran Lalu Lintas Pada Remaja
3. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas Dan Self Regulation Remaja Dalam
Menghadapinya
4. Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja Dalam Pencegahan
Pelanggaran Lalu Lintas
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 9
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
H. Petunjuk Umum E-Book
E-Book pelaksanaan layanan ini memuat serangkaian kegiatan
yang disusun sedemikian rupa, sehingga guru BK/Konselor dapat
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa
secara kelompok. Selain itu agar memudahkan siswa untuk menguasai
unit materi secara sistematis dan bertahap, guna mencapai tujuan dari
e-book pelaksanaan layanan tersebut.
Penyampaian setiap bagian pokok bahasan dilakukan dalam
periode waktu yang berurutan, karena setiap bagian saling berkaitan.
Materi dari setiap bagian dapat diperkaya atau dimodifikasi sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan yang sedang atau yang akan
terjadi berdasarkan kondisi masalah di sekolah. Terkait dengan proses
penyelenggaraan layanan yang baik, maka pada e-book tersebut
dilengkapi evaluasi.
Secara bertahap, hal-hal yang harus dilakukan oleh guru
BK/Konselor dalam menggunakan panduan adalah sebagai berikut.
1. Guru BK/Konselor sebagai pemimpin kelompok terlebih dahulu
membaca panduan yang tersedia.
2. Guru BK/Konselor menjadikan panduan layanan sebagai sumber
informasi untuk meningkatkan self regulation remaja dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas.
3. Guru BK/Konselor membimbing siswa agar tidak kesulitan dalam
mempelajari materi di dalam e-book.
4. Guru BK/Konselor membimbing siswa untuk melengkapi keperluan
dalam memperlajari materi e-book.
5. Guru BK/Konselor memotivasi siswa untuk mencari sumber
pembelajaran lain, seperti buku-buku pendukung dan sumber
relevan di internet.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 10
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
6. Guru BK/Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengajukan pertanyaan.
7. Guru BK/Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk saling
mengembangkan perasaan, pikiran, wawasan dan sumbang saran
kepada anggota kelompok.
8. Guru BK/Konselor menilai kemajuan belajar siswa dengan
menggunakan lembar evaluasi dan lembar refleksi untuk melihat
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 11
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
1. PENGERTIAN DAN
PERKEMBANGAN REMAJA
2. TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
3. PENGERTIAN SELF REGULATION
4. ASPEK-ASPEK SELF REGULATION
5. FAKTOR SELF REGULATON
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 12
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Rencana Pelaksanaan Layanan
A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan
C. Topik Layanan Pribadi
D. Fungsi Layanan Remaja dan Self Regulation
E. Materi Layanan Pemahaman
1. Tema Remaja dan Self Regulation
2. Sub Tema a) Pengertian dan Perkembangan
3. Sumber Remaja
F. Tujuan Layanan b) Pengertian Self Regulation
c) Aspek-aspek Self Regulation
1. Tujuan Umum d) Faktor-faktor Self Regulation
2. Tujuan Khusus Terlampir
G. Model Konseling Agar peserta layanan dapat
memahami dan mengetahui tentang
remaja dan Self Regulation
1) Setelah membahas mengenai
pengertian remaja dan Self
Regulation melalui model yang
diberikan, siswa mampu
mengemukakan pengertian remaja
dengan tepat.
2) Setelah memperhatikan
pembahasan mengenai remaja dan
Self Regulation dan merekam
peristiwa/model yang diberikan,
siswa mampu melakukan contoh
dari model tersebut.
3) Setelah memperoleh informasi
melalui video yang ditayangkan
dan dapat menirukan model yang
diberikan, siswa dapat
memproyeksikan perilaku di
kehidupan sehari-hari.
4) Setelah siswa dapat
menjelaskan/memberikan contoh
tentang Self Regulation remaja,
siswa memperoleh penguatan
berupa pujian atau sesuatu yang
menyenangkan.
Teknik Modeling setting kelompok
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 13
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu 2x45 menit
J. Tanggal Pelaksanaan -
K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok
L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab dan
penugasan
M. Media/Alat “Pengembangan E-Book Pencegahan
Pelanggaran Lalu Lintas Melalui
Teknik Modeling Setting Kelompok
dalam Meningkatkan Self Regulation
Remaja”
N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan
Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/
Kelompok Peserta Layanan
1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk
layanan untuk duduk 'duduk melingkar.
melingkar dengan 2) Peserta layanan merespon
mengatur jarak tempat pemimpin kelompok dengan
duduk. semangat.
2) Menyapa dengan kalimat
yang membuat peserta 3) Menjawab salam.
layanan bersemangat.
4) Peserta layanan merespon
3) Mengucapkan salam. dengan semangat.
4) Ucapan selamat datang dan 5) Peserta layanan berdo`a
terimakasih atas kehadiran bersama.
layanan
anggota kelompok. 6) Peserta dengan
5) Memulai pertemuan mendengarkan layanan
dengan
dengan membaca do`a. seksama.
6) Menjelaskan tentang
layanan konseling dengan 7) Peserta
teknik modeling setting mendengarkan
kelompok. seksama.
7) Menjelaskan tujuan 8) Semua peserta saling
pelaksanaan teknik memperkenalkan diri.
modeling setting kelompok
9) Semua Peserta layanan
8) Perkenalan dengan semua mengikuti permainan
anggota kelompok. rangkaian nama.
9) Menampilkan permainan 14
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
keakraban (rangkaian 10)Peserta layanan merespon
nama). pertanyaan pemimpin
kelompok dengan baik.
10) Pemimpin kelompok
menanyakan kesiapan 11)Peserta layanan merespon
peserta layanan dalam pemimpin kelompok sesuai
melaksanakan tugas. dengan suasana yang terjadi.
11) Membahas suasana yang 12)Peserta layanan merespon dan
terjadi. menjawab pertanyaan
pemimpin kelompok.
12) Memberikan pertanyaan 13)Peserta layanan
terbuka mengenai topik mendengarkan dan
remaja dan Self Regulation.
memperhatian secara seksama
14)Peserta layanan menonton
13) Meminta anggota kelompok video secara seksama.
untuk memperhatikan apa
yang harus dipelajari
nantinya sebelum model
diberikan
14) Pemimpin kelompok
menayangkan video yang 15)Peserta layanan
berkaitan dengan remaja memperhatikan dan
dan Self Regulation.
mendengarkan secara
15) Mengingatkan anggota seksama.
bahwa kegiatan akan
segera memasuki tahap
selanjutnya
2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)
1) Menjelaskan kegiatan yang 1) Peserta layanan mendengarkan
akan ditempuh pada tahap dan memperhatian secara
berikutnya. seksama.
2) Peserta layanan merespon dan
2) Menawarkan sambil menjawab penawaran dari
mengamati apakah para pemimpin kelompok
peserta sudah siap masuk 3) Peserta layanan
pada tahap selanjutnya. memperhatikan model yang
3) Meminta siswa untuk diberikan.
memperhatikan dan 4) Peserta layanan menirukan
merekam peristiwa/model contoh dari model yang telah
yang diberikan. diberikan.
4) Meminta siswa untuk
menirukan contoh dari
model yang telah diberikan
melalui video yang
ditayangkan.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 15
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
1) Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
1) Meminta siswa merasakan 1) Peserta layanan merespon
apa yang dirasakan setelah secara seksama.
menirukan contoh dari
model yang telah diberikan.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang
peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan pada
mengulang perilaku yang model yang telah diberikan.
ditemukan pada model yang
telah diberikan dengan 3) Peserta layanan mengaitkan
benar. video yang diberikan dengan
3) Mengarahkan anggota keadaan diri masing-masing.
untuk mengaitkan video
yang diberikan dengan 4) Peserta layanan
keadaan diri masing- mengemukakan pemahaman
mengenai topik remaja dan Self
masing.
4) Membantu peserta layanan Regulation
untuk mengemukakan
pemahaman yang dimiliki 5) Peserta layanan bertanya
mengenai topik remaja dan mengenai hal-hal yang belum
Self Regulation.
dipahami.
5) Mengarahkan kegiatan
Tanya jawab antar anggota
kelompok yang belum 6) Peserta layanan berdiskusi
dipahami mengenai topik mengenai model dan materi
remaja dan Self Regulation. yang telah diberikan
6) Mengajak peserta layanan
untuk berdiskusi mengenai 7) Peserta layanan
model dan materi yang memperhatikan dan menyimak
telah diberikan. secara seksama.
7) Menafsirkan penjelasan
dari peserta layanan sesuai 8) Peserta layanan mengisi lembar
dengan keadaan diri peserta kerja kelompok
layanan.
8) Mengarahkan peserta
layanan untuk mengisi
lembar kerja kelompok.
2) Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta layanan 1) Peserta layanan mengambil
mengambil keputusan dari keputusan mengenai topik
topik remaja dan Self remaja dan Self Regulation.
Regulation..
2) Peserta layanan menerima
2) Memberikan dukungan dan dukungan dan penguatan.
penguatan kepada peserta
layanan terhadap
keputusan yang diambil
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 16
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
dari topik remaja dan Self 3) Peserta layanan
Regulation.
memperhatikan dan
3) Mengemukakan bahwa menyimak secara seksama.
kegiatan akan segera 4) Peserta layanan
diakhiri mengemukakan kesan dan
4) Meminta anggota kelompok pesan.
mengemukakan kesan dan 5) Peserta layanan berdoa
pesan. bersama
6) Peserta layanan menjawab
5) Doa Penutup salam.
6) Mengakhiri kegiatan
dengan mengucapkan
terima kasih dan salam.
P. Evaluasi
1) Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
melalui pengamatan selama
mengikuti kegiatan layanan
untuk memperoleh gambaran
tentang aktivitas anggota
kelompok dan efektivitas
layanan yang telah
diselenggarakan.
2) Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti
layanan antara lain.
1) Menilai perubahan perilaku
anggota kelompok saat
mengikuti layanan
2) Peserta layanan mengisi
lembar evaluasi dan lembar
refleksi untuk mengetahui
pemahaman dan perasaan
peserta layanan setelah
melaksanakan layanan.
Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor
…………………………… …………………………
NIP. NIP.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 17
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
MATERI
1
Remaja dan Self Regulation
A. Pengertian dan Ciri-ciri Remaja
1. Pengertian Remaja
Tidak mudah untuk
mendefinisikan remaja
secara tepat, karena banyak
sekali sudut pandang yang
dapat digunakan dalam
mendefinisikan remaja.
Kata “remaja” berasal dari
bahasa Latin adolescene
berarti to grow atau to grow
maturity (Golinko, 1984, Rice, 1990 dalam Jahja, 2011). Banyak
tokoh yang memberikan definisi remaja, seperti De Brun
mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa
kanak-kanak dan dewasa. Masa remaja dimulai dari umur 10 atau
12 tahun dan berakhir pada umur 18 sampai 22 tahun (Santrock,
2003). Hurlock (2009:221) menjelaskan “Masa remaja merupakan
masa yang sangat berhubungan pada penentuan kehidupan di masa
depan”. Fase remaja yang diawali dengan matangnya organ-organ
fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi. Remaja adalah masa
peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak
lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum
cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari
pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan
melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan
(Sumara et al., 2017). Berbagai aspek perubahan yang dialami oleh
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 18
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
remaja dapat menjadi situasi-situasi krisis dalam kehidupan
remaja, Hall (dalam Santrock, 2007) menyebutkan bahwa masa
remaja merupakan masa badai dan tekanan akibat jiwa yang penuh
dengan gejolak emosi, yaitu masa pergolakan yang dipenuhi konflik
sebagai akibat perubahan suasana hati, fisik, kognitif dan
psikososial (Herdiyanto & Karinadan, 2019).
Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya
banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri
remaja. Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan
oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas yaitu
permasalahan yang menyangkut emosional karena remaja awal
mengalami tahap transisi awal dari anak-anak menuju dewasa.
Sedangkan pada remaja
yang telah melewati masa
pubertas (remaja tengah
dan akhir) permasalahn
fisik yang dimiliki yang
biasanya tidak sesuai
dengan bentuk ideal yang
diinginkan (Sihotang &
Yusuf, 2013).
Selain itu remaja juga harus menghadapi perubahan-
perubahan suasana hati, fisik, kognitif, dan psikososial, remaja juga
harus menyelesaikan tugas pokoknya, yakni mempersiapkan diri
untuk memasuki masa dewasa. Setiap remaja diharapkan dapat
mengendalikan dan memiliki pengaturan diri yang baik agar tidak
memiliki kesulitan dalam menghadapi berbagai masalah di periode
berikutnya (Gunarsa, 2010).
Pada periode transisi tersebut, remaja dituntut untuk
mampu menghadapi berbagai perubahan situasi baru yang
memengaruhinya. Hurlock (2004) memandang konsekuensi
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 19
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
terhadap banyaknya situasi baru pada remaja menimbulkan suatu
usaha penyesuaian diri yang melibatkan aspek emosi remaja.
Remaja dianggap perlu mengendalikan diri baik terhadap pikiran,
perilaku dan emosi dalam berbagai situasi krisis yang dihadapinya.
Remaja harus menyadari sifat dasar emosinya dan mampu
menempuh strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mengelola
emosinya (Santrock, 2007). Adapun strategi untuk menyelesaikan
masalah baik terhadap berbagai pikiran, perasaan, dan perilaku
agar dapat meraih tujuan disebut dengan regulasi diri.
2. Ciri-ciri Remaja
Seperti halnya pada semua periode yang penting, sela
rentang kehidupan masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang
membedakannya dengan periode sebelumnya dan sesudahnya.
Masa remaja ini, selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja
maupun orangtuanya. Menurut Sidik Jatmika,8 kesulitan itu
berangkat dari fenomena remaja sendiri dengan beberapa perilaku
khusus; yakni:
a) Remaja mulai
menyampaikan kebe-
basannya dan hak-
nya untuk me-
ngemukakan pen-
dapatnya sendiri.
Tidak terhindarkan,
ini dapat mencipta-
kan ketegangan dan
perselisihan, dan biasa menjauhkan remaja dari keluarganya.
b) Remaja lebih mudah dipengaruhi oleh teman-temannya
daripada ketika mereka masih kanak-kanak. Ini berarti bahwa
pengaruh orangtua semakin lemah. Anak remaja berperilaku
dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 20
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
dengan perilaku dan
kesenangan
keluarga. Contoh-
contoh yang umum
adalah dalam hal
mode pakaian,
potongan rambut,
kesenangan musik
yang kesemuanya
harus mutakhir.
c) Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik
pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual
yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan
menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.
d) Remaja sering menjadi terlalu percaya diri (over confidence) dan
ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat,
mengakibatkan sulit menerima nasihat dan pengarahan
oangtua.
Selanjutnya Sidik Jatmika, menjelaskan adanya kesulitan
yang sering dialami kaum remaja yang betapapun menjemukan
bagi mereka dan orangtua, medrupakan bagian yang normal dari
perkembangan remaja itu sendiri. Beberapa kesulitan atau bahaya
yang mungkin dialami kaum remaja antara lain:
a) Variasi kondisi kejiwaan. Suatu saat mungkin ia terlihat
pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri, tetapi pada saat
yang lain terlihat sebaliknya, periang, berseri-seri dan yakin.
Perilaku yang sulit ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah
sesuatu yang abnormal.hal ini hanyalah perlu diprihatinkan
dan menjadi kewaspadaan bersama manakala telah
menjerumuskan remaja dalam kesulitan-kesulitan di sekolah
atau kesulitan dengan teman-temannya.
b) Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba. Hal ini merupakan
sesuatu yang normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 21
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
bangkitnya rasa birahi adalah normal dan sehat. Ingat, perilaku
tertarik pada seks sendiri juga merupakan cirri yang normal
pada
perkembangan
masa remaja. Rasa
ingin tahu seksual
dan birahi jelas
menimbulkan
bentuk-bentuk
perilaku seksual.
c) Membolos.
d) Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong,
kejam dan menunjukkan perilaku agresif. Sebabnya mungkin
bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya.
Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk
teman, dan pendisiplinan yang salah dari orangtua, terutama
bila terlalu keras atau terlalu lunak – dan sering tidak ada
sama sekali.
e) Penyalahgunaan obat bius.
f) Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang adalah
skizofrenia (setengah gila hingga gila beneran).
Dari berbagai penjelasan di atas, dapatlah dipahami tentang
berbagai ciri yang menjadi kekhususan remaja. Ciri-ciri tersebut
adalah :
a) Masa remaja sebagai periode yang penting
Pada periode remaja, baik akibat langsung maupun akibat
jangka panjang tetaplah penting. Perkembangan fisik yang
begitu cepat disertai dengan cepatnya perkembangan mental,
terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan ini
menimbulkan perlunya penyesuaian mental serta perlunya
membentuk sikap, nilai, dan minat baru.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 22
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
b) Masa remaja sebagai periode peralihan
Pada fase ini, remaja bukan lagi seorang anak dan bukan juga
orang dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti anak-anak, ia
akan diajari untuk bertindak sesuai dengan umurnya. Kalau
remaja berusaha berperilaku sebagaimana orang dewasa,
remaja seringkali dituduh terlalu besar ukurannya dan
dimarahi karena mencoba bertindak seperti orang dewasa. Di
lain pihak, status remaja yang tidak jelas ini juga
menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya
untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola
perilaku, nilai, dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
c) Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa
remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal
masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat,
perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau
perubahan fisik menurun, maka perubahan sikap dan perilaku
juga menurun.
e) Masa remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode
perkembangan mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun
masalah masa remaja sering menjadi persoalan yang sulit
diatasi baik oleh
anak laki-laki
maupun anak
perempuan.
Ketidakmampuan
mereka untuk
mengatasi sendiri
masalahnya menurut
cara yang mereka
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 23
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
yakini, banyak
remaja akhirnya
menemukan bahwa
penyelesaiannya
tidak selalu sesuai
dengan harapan
mereka.
f) Masa remaja sebagai
masa mencari identitas
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri terhadap
kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan
perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas
diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-
teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Status remaja
yang mendua ini menimbulkan suatu dilema yang menyebabkan
remaja mengalami “krisis identitas” atau masalah-masalah
identitas-ego pada remaja.
g) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan stereotip budaya bahwa remaja suka berbuat
semaunya sendiri atau “semau gue”, yang tidak dapat dipercaya
dan cenderung berperilaku merusak, menyebabkan orang
dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan
remaja yang takut bertanggung jawab dan bersikap tidak
simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
h) Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Masa remaja cenderung memandang kehidupan melalui
kacamata berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri
dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan
sebagaimana adanya, terlebih dalam hal harapan dan cita-cita.
Harapan dan cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi
dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya,
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 24
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari
awal masa remaja. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila
orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil
mencapai tujuan yang telah ditetapkannya sendiri.
i) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja
menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun
dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir
dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa
ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai
memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan
status dewasa, yaitu
merokok, minum-
minuman keras,
menggunakan obat-
obatan, dan terlibat
dalam perbuatan seks
bebas yang cukup
meresahkan. Mereka
menganggap bahwa
perilaku yang seperti ini akan memberikan citra yang sesuai
dengan yang diharapkan mereka.
Selanjutnya, Jahja mengemukakan bahwa masa remaja
adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi
perubahan yang cepat baik secra fisik, maupun psikologis. Ada
beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja yang
sekaligus sebagai ciri-ciri masa remaja yaitu :
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 25
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
a) Peningkatan emosional
yang terjadi secara cepat
pada masa remaja awal
yang dikenal sebagai
masa storm & stress.
Peningkatan emosional
ini merupakan hasil dari
perubahan fisik
terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi
kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa
remaja berada dalam kondisi bari yang berbeda dari masa-masa
yang sebelumnya. Pada fase ini banyak tuntutan dan tekanan
yang ditujukan kepada remaja, misalnya mereka diharapkan
untuk tidak lagi bertingkah laku seperti anak-anak, mereka
harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab. Kemandirian dan
tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu,
dan akan tampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-
awal masa kuliah di Perguruan Tinggi.
b) Perubahan yang cepat secara fisik juga disertai dengan
kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat
remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka
sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik
perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan
sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi
badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh
terhadap konsep diri remaja.
c) Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan
hubungannya dengan orang lain. Selama masa remaja banyak
hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-
kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih
matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 26
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk
dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang
lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungannya
dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya
dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga
dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
d) Perubahan nilai, di mana apa yang mereka anggap penting pada
masa kanak-kanak menjadi kurang penting, karena telah
mendekati dewasa.
e) Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi
perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan
kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab
yang menyertai kebebasan itu, serta meragukan kemampuan
mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab itu.
Selanjutnya dilengkapi pula oleh Gunarsa & Gunarsa, dan
Mappiare, dalam menjelaskan ciri-ciri remaja sebagai berikut :
a) Masa remaja awal.
Biasanya duduk di
bangku Sekolah
Menengah Pertama,
dengan ciri-ciri: 1)
tidak stabil
keadaannya, lebih
emosional, 2)
mempunyai banyak
masalah, 3) masa yang kritis, 4) mulai tertarik pada lawan
jenis, 5) munculnya rasa kurang percaya diri, dan 6) suka
mengembangkan pikiran baru, gelisah, suka berkhayal dan
suka menyendiri.
b) Masa remaja madya (pertengahan). Biasanya duduk di bangku
Sekolah Menengah Atas dengan ciri-ciri: 1) sangat
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 27
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
membutuhkan teman, 2) cenderung bersifat narsistik/kecintaan
pada diri sendiri, 3) berada dalam kondisi keresahan dan
kebingungan, karena pertentangan yang terjadi dalam diri, 4)
berkenginan besar mencoba segala hal yang belum
diketahuinya, dan 5) keinginan menjelajah ke alam sekitar yang
lebih luas.
c) Masa remaja akhir. Ditandai dengan ciri-ciri: 1) aspek-aspek
psikis dan fisiknya mulai stabil, 2) meningkatnya berfikir
realistis, memiliki sikap pandang yang sudah baik, 3) lebih
matang dalam cara menghadapi masalah, 4) ketenangan
emosional bertambah, lebih mampu menguasai perasaan, 5)
sudah terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi,
dan 6) lebih banyak perhatian terhadap lamabang-lambang
kematangan. Berdasarkan pendapat para ahli yang telah
dikemukakan dapatlah disimpulkan bahwa masa remaja berada
pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya
tampak sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti
orang dewasa remaja gagal menunjukan kedewasaannya.
Pengalamannya mengenai alam dewasa masih belum banyak
karena ia sering terlihat pada remaja adanya kegelisahan,
pertentangan, kebingungan, dan konflik pada diri sendiri.
Bagaimana remaja memandang peristiwa yang dialami akan
menentukan perilakunya dalam menghadapi peristiwa-
peristiwa tersebut.
B. Tugas Perkembangan Remaja
Salah satu periode dalam rentang kehidupan ialah (fase) remaja.
Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat
diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Untuk dapat
melakukan sosialisasi dengan baik, remaja harus menjalankan tugas-
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 28
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
tugas perkembangan pada
usinya dengan baik. Apabila
tugas pekembangan sosial ini
dapat dilakukan dengan baik,
remaja tidak akan mengalami
kesulitan dalam kehidupan
sosialnya serta akan membawa
kebahagiaan dan kesuksesan
dalam menuntaskan tugas
perkembangan untuk fase-fase berikutnya. Sebaliknya, manakala
remaja gagal menjalankan tugas-tugas perkembangannya akan
membawa akibat negatif dalam kehidupan sosial fase-fase berikutnya,
menyebabkan ketidakbahagiaan pada remaja yang bersangkutan,
menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam
menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
William Kay, sebagaimana dikutip Yudrik Jahja mengemukakan
tugas-tugas perkembangan masa remaja sebagai berikut: 1) Menerima
fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya. 2) Mencapai
kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai
otoritas. 3) Mengembangkan ketrampilan komunikasi interpersonal dan
bergaul dengan teman sebaya, baik secara individual maupun kelompok.
4) Menemukan manusia model yang dijadikan identitas pribadinya. 5)
Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuannya sendiri. Memeperkuat self-control (kemampuan
mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah
hidup. 7) Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri
(sikap/perilaku) kekanak-kanakan.
Selanjutnya, dalam membahas tujuan tugas perkembangan
remaja, Jahja mengemukakan pendapat Luella Cole yang
mengklasifikasikannya ke dalam sembilan kategori, yaitu: 1)
Kematangan emosional. 2) Pemantapan minat-minat heteroseksual. 3)
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 29
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Kematangan sosial. 4) Emansipasi dari control keluarga. 5) Kematangan
intelektual. 6) Memilih pekerjaan. 7) Menggunakan waktu senggang
secara tepat. 8) Memiliki falsafah hidup. 9) Identifikasi diri
Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst
sebagaimana dikutip Gunarsa, sebagai berikut: 1) Menerima kenyataan
terjadinya perubahan fisik yang dialaminya dan dapat melakukan peran
sesuai dengan jenisnya secara efektif dan merasa puas terhadap
keadaan tersebut. 2) Belajar memiliki peranan sosial dengan teman
sebaya, baik teman sejenis maupun lawan jenis sesuai dengan jenis
kelamin masing-masing. 3) Mencapai kebebasan dari ketergantungan
terhadap orangtua dan orang dewasa lainnya. 4) Mengembangkan
kecakapan intelektual dan konsep-konsep tentang kehidupan
bermasyarakat. 5) Mencari
jaminan bahwa suatu saat
harus mampu berdiri sendiri
dalam bidang ekonomi guna
mencapai kebebasan ekonomi.
6) Mempersiapkan diri untuk
menentukan suatu pekerjaan
yang sesuai dengan bakat dan kesanggupannya. 7) Memahami dan
mampu bertingkah laku yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai
dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku. 8) Memperoleh
informasi tentang pernikahan dan mempersiapkan diri untuk
berkeluarga. 9) Mendapatkan penilaian bahwa dirinya mampu bersikap
tepat sesuai dengan pandangan ilmiah.
Mengingat tugas-tugas perkembangan tersebut sangat kompleks
dan relatif berat bagi remaja, maka untuk dapat melaksanakan tugas-
tugas tersebut dengan baik, remaja masih sangat membutuhkan
bimbingan dan pengarahan supaya dapat mengambil langkah yang
tepat sesuai dengan kondisinya. Di samping tugas-tugas perkembangan,
remaja masih mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang tentu saja
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 30
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
menuntut pemenuhan secepatnya sesuai darah mudanya yang
bergejolak. Kebutuhan-kebutuhan tersebut, menurut Edward,
sebagaimana dikutip Hafsah, adalah meliputi: 1) kebutuhan untuk
mencapai sesuatu, 2) kebutuhan akan rasa superior, ingin menonjol,
ingin terkenal, 3) kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan, 4)
kebutuhan akan keteraturan, 5) kebutuhan akan adanya kebebasan
untuk menentukan sikap sesuai dengan kehendaknya, 6) kebutuhan
untuk menciptakan hubungan persahabatan, 7) adanya keinginan ikut
berempati, 8) kebutuhan mencari bantuan dan simpati, 9) keinginan
menguasai tetapi tidak ingin dikuasai, 10) menganggap diri sendiri
rendah, 11) adanya kesediaan untuk membantu orang lain, 12)
kebutuhan adanya variasi
dalam kehidupan, 13) adanya
keuletan dalam
melaksanakan tugas, 14)
kebutuhan untuk betgaul
dengan lawan jenis, dan 15)
adanya sikap suka
mengkritik orang lain.
Intensitas kebutuhan-
kebutuhan di atas tidak semua sama antara individu yang satu dengan
yang lain, karena kondisi pribadi yang berbeda, situasi lingkungan yang
berlainan, dan ada individu yang ingin segera kebutuhannya terpenuhi,
namun kenyataannya banyak yang tidak terpenuhi.
Dari uraian ini nampak bahwa tugas perkembangan dan
kebutuhan merupakan sesuatu yang muncul pada periode tertentu
dalam rentang kehidupan remaja. Apabila tugas dan kebutuhan dapat
terpenuhi, maka membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam
menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Sebaliknya
apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada remaja
yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 31
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan
peridode-periode berikutnya.
Menurut Elida Prayitno (2006:53) tugas-tugas perkembangan
remaja yang amat penting adalah mampu membina hubungan baru
yang lebih matang dengan teman sebaya, menerima keadaan dirinya,
memahami peran seks/jenis kelamin, mengembangkan kemandirian
secara ekonomi, mengembangkan tanggung jawab pribadi dan sosial,
mandiri secara emosi, mengembangkan keterampilan intelektual,
menerapkan filsafat hidup atau nilai sistem etika bertingkah laku, dan
mempersiapkan diri untuk berkarir. Sedangkan menurut Havighurst
(dalam Elida Prayitno, 2006) tugas-tugas perkembangan remaja yang
berkembang sempurna dapat memperlihatkan berbagai kemampuan
yaitu sebagai hasil dari pencapaian tugas-tugas perkembangan remaja.
Dengan demikian perkembangan remaja yang berkembang
sempurna yaitu ditandai dengan fisiknya yang sudah semakin kuat dan
semakin menarik, sudah mulai mampu berpikir abstrak dan
memecahkan masalah yang bersifat hipotetis, memiliki emosi yang
menggelora/semangat yang membara, memiliki hubungan sosial yang
semakin menunjukkan sikap toleransi kepada semua orang terlebih
kepada sesama kelompok remajanya, bahasa yang dimiliki remaja sudah
semakin kompleks, bakat khusus yang dimilikinya sudah dapat
menunjukan kemampuan luar biasa. Remaja juga sudah menyadari
akan pentingnya nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pegangan
hidupnnya (Sihotang & Yusuf, 2013). Pada akhirnya setiap remaja
diharapkan dapat mengendalikan dan memiliki pengaturan diri yang
baik agar tidak memiliki kesulitan dalam menghadapi berbagai masalah
di periode berikutnya (Gunarsa, 2010).
C. Pengertian Self Regulation
Self regulation pertama kali dikenalkan oleh Bandura. Menurut
Bandura (dalam Feist dan Gregory, 2010) regulasi diri adalah
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 32
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
bagaimana manusia mampu
mengatur dirinya sendiri,
mempengaruhi tingkah lakunya
dengan cara mengatur lingkungan,
menciptakan dukungan kognitif,
serta mengadakan konsekuensi
bagi tingkah lakunya sendiri.
Maksud konsekuensi di atas adalah
bagaimana manusia mampu mengevaluasi diri baik itu secara positif
maupun secara negatif. Self regulation atau pengaturan diri juga
merupakan proses proaktif dimana individu secara konsisten mengatur
dan mengelola pikiran, emosi, perilaku dan lingkungan mereka untuk
mencapai tujuan akademik (Boekaerts & Corno, 2005; Zimmerman,
2000; dalam Ramdass, 2011). Proses self regulation terdiri dari tiga
tahapan yaitu observasi diri, penilaian diri serta reaksi diri (Sari, 2014).
Regulasi diri dapat mengarahkan individu dalam mencapai
tujuan. Hasil penelitian Galinsky (dalam Florez, 2011) mengungkapkan
regulating one’s thinking, emotions, and behavior is critical for success in
school, work, and life. Dengan adanya regulasi diri, seseorang akan
mampu untuk mengatur pikiran, emosinya dan perilaku seseorang
untuk menuju kesuksesan di lingkungan sekolah, pekerjaan dan
kehidupannya.
Senada dengan itu, Schunk (dalam Susanto, 2006) menjelaskan
regulasi diri adalah kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
Kemudian, Santrock (2007) juga menyatakan bahwa regulasi diri
merujuk pada pikiran, perasaan dan tindakan yang terencana oleh diri
dan terjadi secara berkesinambungan sesuai dengan upaya pencapaian
tujuan. Individu melakukan regulasi diri dengan mengamati,
mempertimbangkan, memberi ganjaran atau hukuman terhadap dirinya
sendiri. Siswa yang aktif tentunya harus memiliki regulasi diri.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 33
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Menurut pandangan Pressley (dalam Santrock, 2007) kunci dalam
pendidikan adalah membantu para siswa untuk mempelajari
berbagai strategi yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Para
pemikir yang baik memiliki kebiasaan buruk menggunakan strategi
(artinya, mereka memiliki pengetahuan metakognisi mengenai strategi-
strategi). Pemahaman mengenai kapan dan dimana harus menggunakan
strategi, sering kali berasal dari kemampuan orang yang belajar untuk
memonitor situasi belajarnya. Namun, Pressley berpendapat
keterampilan ini dapat diajarkan. Ketika para siswa diberi instruksi
mengenai strategi-strategi yang baru, mereka sering kali dapat
menerapkan strategi-strategi tersebut bagi dirinya. Dengan
terlaksananya strategi tersebut siswa dikatakan mampu meregulasi diri.
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Self
Regulation
Terdapat dua faktor yang
mempengaruhi regulasi diri yaitu
faktor eksternal dan faktor
internal. Bandura (dalam
Alwisol, 2007) mengatakan
bahwa tingkah laku manusia
dalam regulasi diri adalah hasil
pengaruh resiprokal faktor
eksternal dan internal.
1. Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua
cara, yaitu sebagai berikut.
a. Standar
Faktor eksternal memberikan standar untuk mengevaluasi
tingkah laku kita sendiri. Standar itu tidaklah semata-mata
berasal dari daya-daya internal saja namun juga berasal dari
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 34
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
faktor-faktor lingkungan yang berinteraksi dengan faktor
pribadi juga turut membentuk standar pengevaluasian individu
tersebut.
b. Penguatan
Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk
penguatan. Standar tingkah laku biasanya bekerja sama ketika
orang dapat mencapai standar tingkah laku tertentu, perlu
penguatan agar tingkah laku semacam itu menjadi pilihan untuk
dilakukan lagi.
2. Faktor Internal
dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal
berinteraksi dengan faktor
internal dalam pengaturan
diri sendiri. Bandura
mengemukakan tiga
bentuk pengaruh internal,
yaitu sebagai berikut.
a. Observasi diri (self observation)
Dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan,
kuantitas penampilan, orisinalitas tingkah laku diri, dan
seterusnya. Observasi diri terhadap performa yang sudah
dilakukan. Manusia sanggup memonitor penampilan meskipun
tidak lengkap atau akurat. Kemudian, memilih dengan selektif
sejumlah aspek perilaku dan mengabaikan aspek lainnya yang
dipertahankan biasanya sesuai dengan konsep diri.
b. Proses penilaian (judgmental process)
Proses penilaian bergantung pada empat hal: standar
pribadi, performa-performa acuan, nilai aktivitas, dan
penyempurnaan performa. Standar pribadi adalah proses
evaluasi yang terbatas. Sebagian besar aktivitas harus dinilai
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 35
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
dengan membandingkan ukuran eksternal, bisa berupa norma
standar perbandingan sosial, perbandingan dengan orang lain,
atau perbandingan kolektif. Dari kebanyakkan aktivitas, individu
mengevaluasi performa dengan membandingkannya kepada
standar acuan.
Di samping standar pribadi dan standar acuan, proses
penilaian juga bergantung pada keseluruhan nilai yang
didapatkan dalam sebuah aktivitas. Akhirnya, regulasi diri juga
bergantung pada cara individu mencari penyebab-penyebab
tingkah laku demi menyempurnakan performa.
c. Reaksi diri (self response)
Manusia merespon positif atau negatif perilaku mereka
tergantung kepada bagaimana perilaku ini diukur dan apa
standar pribadinya. Bandura meyakini bahwa manusia
menggunakan strategi reaktif dan proaktif untuk mengatur
dirinya. Maksudnya, manusia berupaya secara reaktif untuk
mereduksi pertentangan antara pencapaian dan tujuan, dan
setelah berhasil menghilangkannya, mereka secara proaktif
menetapkan tujuan baru yang lebih tinggi.
Berdasarkan hasil uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
faktor- faktor yang mempengaruhi regulasi diri seseorang ada
dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal
terdiri dari standar dan penguatan, sedangkan faktor internal
terdiri dari observasi diri (self observation), proses penilaian
(judgmental process), dan reaksi diri (self response).
E. Aspek-aspek Self Regulation
Friedman (2006) menyatakan regulasi diri adalah proses
dimana seseorang dapat mengatur pencapaian dan aksi mereka sendiri
yaitu dalam menentukan target untuk diri mereka, mengevaluasi
kesuksesan mereka saat mencapai target tersebut, dan memberikan
penghargaan pada diri mereka sendiri karena telah mencapai tujuan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 36
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
tersebut. Konstruk regulasi diri menitikberatkan pada kontrol internal
perilaku.
Proses regulasi diri menurut Friedman (2006) memiliki relevansi
yang luas dengan banyak bidang terutama bidang kesehatan dan
pendidikan, yang merupakan bidang pemahaman, mengenai bagaimana
orang melatih kontrol perilaku mereka sendiri akan berdampak pada
meningkatnya keberhasilan masyarakat dalam pengajaran dan
kesehatan. Menurut Schunk dan Zimmerman (2011) menyatakan
bahwa self regulation mencakup tiga aspek.
1. Metakognisi
Metakognisi adalah kemampuan individu dalam merencanakan,
mengorganisasikan atau mengatur, menginstruksikan diri,
memonitor dan melakukan evaluasi dalam aktivitas belajar.
2. Motivasi
Motivasi merupakan pendorong (drive) yang ada pada diri individu
yang mencakup persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi
otonomi yang dimiliki dalam aktivitas belajar. Motivasi merupakan
fungsi dari kebutuhan dasar untuk mengontrol dan berkaitan
dengan perasaan kompetensi yang dimiliki setiap individu.
3. Perilaku
Perilaku merupakan upaya individu untuk mengatur diri,
menyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan
lingkungan yang mendukung aktivitas belajar.
Berdasarkan hasil uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
regulasi diri memiliki tiga aspek yang ada di dalamnya yaitu
metakognisi, motivasi, dan perilaku. Siswa yang diasumsikan
termasuk kategori ‘self-regulated’ adalah siswa yang aktif dalam
proses belajar, baik secara metakognitif, motivasi, maupun perilaku.
Mereka menghasilkan gagasan, perasaan, dan tindakan untuk
mencapai tujuan belajar. Secara metakognitif mereka bisa memiliki
strategi tertentu yang efektif dalam memproses informasi.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 37
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Sedangkan motivasi berbicara tentang semangat belajar yang
sifatnya internal. Adapun perilaku yang ditampilkan adalah dalam
bentuk tindakan nyata dalam belajar.
Menurut Lewis (dalam Feldman, Papalia, dan Olds, 2009)
regulasi diri tumbuh bersamaan dengan perkembangan kesadaran
diri dan berbagai emosi evaluatif seperti empati, malu dan rasa
bersalah. Pertumbuhan regulasi diri membutuhkan kemampuan
untuk menunggu kepuasan. Pertumbuhan regulasi diri berkaitan
dengan pengukuran perkembangan nurani, seperti menolak godaan
dan membayar kesalahan. Kemudian, Ropp (dalam Feldman,
Papalia, dan Olds, 2009) menyatakan bahwa pada kebanyakan anak,
perkembangan utuh regulasi diri butuh waktu setidaknya tiga tahun.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 38
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 1.1
Lembar Tugas Kelompok
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari Topik remaja dan Self Regulation yang telah dibahas, jelaskan
mengapa ananda harus mempunyai Self Regulation dalam kegiatan sehari-
hari ananda dan apa saja yang harus ananda lakukan agar mempunyai Self
Regulation yang baik?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 39
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 1.2
Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Setelah membahas mengenai pengertian remaja, menurut ananda
apakah peran remaja di dalam masyarakat sudah sesuai dengan norma
yang berlaku ? jelaskan dan berikan contoh?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
2. Beberapa ahli psikologi memberi label bagi remaja sebagai fase penuh
konflik dan penuh tantangan, bedasarkan hal tersebut bagaimana
upaya ananda untuk meningkatkan self regulation pada usia remaja?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 40
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
3. Setelah memahami arti remaja dan Self Regulation, apa kesimpulan
yang ananda dapatkan ?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
-----Selamat Bekerja----
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 41
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 1.3
Lembar Refleksi
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 42
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
MATERI II
MEMAHAMI ARTI
PELANGGARAN LALU LINTAS
PADA REMAJA
1. ARTI LALU LINTAS
2.ARTI PELANGGARAN LALU LINTAS
3.JENIS PELANGGARAN LALU LINTAS DI
KALANGAN REMAJA
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 43
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan
C. Topik Layanan Pribadi
D. Fungsi Layanan Memahami Arti Pelanggaran Lalu
E. Materi Layanan Lintas Pada Remaja
Pemahaman
Tema
Memahami Arti Pelanggaran Lalu
Sub Tema Lintas Pada Remaja
Sumber a) Arti Lalu Lintas
F. Tujuan Layanan b) Arti Pelanggaran Lalu Lintas
c) Jenis Pelanggaran Lalu Lintas
Tujuan Umum
di Kalangan Remaja
Tujuan Khusus
Terlampir
Agar peserta layanan dapat
memahami arti pelanggaran lalu
lintas pada remaja
1) Setelah membahas mengenai
pengertian memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada
remaja melalui model yang
diberikan, siswa mampu
mengemukakan arti
pelanggaran lalu lintas dengan
tepat.
2) Setelah memperhatikan
pembahasan mengenai
memahami arti pelanggaran
lalu lintas pada remaja dan
merekam peristiwa/model yang
diberikan, siswa mampu
melakukan contoh dari model
tersebut.
3) Setelah memperoleh informasi
melalui video yang ditayangkan
dan dapat menirukan model
yang diberikan, siswa dapat
memproyeksikan perilaku di
kehidupan sehari-hari.
4) Setelah siswa dapat
menjelaskan/memberikan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 44
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
contoh tentang memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada
remaja, siswa memperoleh
penguatan berupa pujian atau
sesuatu yang menyenangkan.
G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok
H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu 2x45 menit
J. Tanggal Pelaksanaan -
K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok
L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab
dan penugasan
M. Media/Alat “E-Book Pencegahan Pelanggaran
Lalu Lintas Melalui Teknik
Modeling Setting Kelompok dalam
Meningkatkan Self Regulation
Remaja”
N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan
Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/
Kelompok Peserta Layanan
1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta layanan 1) Peserta layanan
untuk duduk melingkar membentuk 'duduk
dengan mengatur jarak tempat melingkar.
duduk.
2) Menyapa dengan kalimat yang 2) Peserta layanan merespon
membuat peserta layanan pemimpin kelompok dengan
bersemangat. semangat.
3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.
4) Ucapan selamat datang dan 4) Peserta layanan merespon
dengan semangat.
terimakasih atas kehadiran
anggota kelompok.
5) Memulai pertemuan dengan 5) Peserta layanan berdo`a
membaca do`a. bersama.
6) Menjelaskan tentang layanan 6) Peserta layanan
konseling dengan teknik mendengarkan dengan
modeling setting kelompok.
seksama.
7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta layanan
pelaksanaan teknik modeling
setting kelompok mendengarkan dengan
seksama.
8) Perkenalan dengan semua 8) Semua peserta saling
anggota kelompok. memperkenalkan diri.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 45
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan
keakraban (rangkaian nama). mengikuti permainan
rangkaian nama.
10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan merespon
menanyakan kesiapan peserta pertanyaan pemimpin
layanan dalam melaksanakan kelompok dengan baik.
tugas.
11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan merespon
pemimpin kelompok sesuai
terjadi. dengan suasana yang
terjadi.
12)Memberikan pertanyaan
12)Peserta layanan merespon
terbuka mengenai topik dan menjawab pertanyaan
pemimpin kelompok.
memahami arti pelanggaran
lalu lintas pada remaja
13)Meminta anggota kelompok 13)Peserta layanan
untuk memperhatikan apa yang mendengarkan dan
harus dipelajari nantinya memperhatian secara
sebelum model diberikan seksama
14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan menonton
menayangkan video yang video secara seksama.
berkaitan dengan memahami
arti pelanggaran lalu lintas
pada remaja.
15)Mengingatkan anggota bahwa 15)Peserta layanan
kegiatan akan segera memasuki memperhatikan dan
tahap selanjutnya mendengarkan secara
seksama.
2) Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)
1) Menjelaskan kegiatan yang 1) Peserta layanan
akan ditempuh pada tahap mendengarkan dan
berikutnya. memperhatian secara
seksama.
2) Menawarkan sambil mengamati 2) Peserta layanan merespon
apakah para peserta sudah siap dan menjawab penawaran
masuk pada tahap selanjutnya. dari pemimpin kelompok
3) Meminta siswa untuk 3) Peserta layanan
memperhatikan dan merekam memperhatikan model yang
peristiwa/model yang diberikan. diberikan.
4) Meminta siswa untuk 4) Peserta layanan menirukan
menirukan contoh dari model contoh dari model yang
yang telah diberikan melalui telah diberikan.
video yang ditayangkan.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 46
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja