The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh Guru BK/Konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas melalui teknik modeling setting kelompok. E-book ini memuat beberapa mekanisme layanan bimbingan dan konseling yang mencakup tujuan, indikator keberhasilan, waktu, langkah-langkah, materi, rangkuman, tugas dan evaluasi. Semoga e-book ini dapat digunakan oleh Guru BK/Konselor untuk membantu siswa dalam layanan bimbingan dan konseling.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayarahmi94, 2021-09-18 09:33:47

E-Book pencegahan pelanggaran lalu lintas melalui teknik modeling setting kelompok dalam peningkatan self regulation remaja2

E-Book ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh Guru BK/Konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas melalui teknik modeling setting kelompok. E-book ini memuat beberapa mekanisme layanan bimbingan dan konseling yang mencakup tujuan, indikator keberhasilan, waktu, langkah-langkah, materi, rangkuman, tugas dan evaluasi. Semoga e-book ini dapat digunakan oleh Guru BK/Konselor untuk membantu siswa dalam layanan bimbingan dan konseling.

Keywords: Pelanggaran lalu lintas,teknik modeling setting kelompok,self regulation

3) Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Meminta siswa merasakan apa 1) Peserta layanan merespon

yang dirasakan setelah secara seksama.

menirukan contoh dari model

yang telah diberikan.

2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang

peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan

mengulang perilaku yang pada model yang telah

ditemukan pada model yang diberikan.

telah diberikan dengan benar.

3) Mengarahkan anggota untuk 3) Peserta layanan

mengaitkan video yang mengaitkan video yang

diberikan dengan keadaan diri diberikan dengan keadaan

masing-masing. diri masing-masing.

4) Membantu peserta layanan 4) Peserta layanan

untuk mengemukakan mengemukakan

pemahaman yang dimiliki pemahaman mengenai

mengenai topik memahami arti topik memahami arti

pelanggaran lalu lintas pada pelanggaran lalu lintas

remaja. pada remaja.

5) Mengarahkan kegiatan Tanya 5) Peserta layanan bertanya

jawab antar anggota kelompok mengenai hal-hal yang

yang belum dipahami mengenai belum dipahami.

topik memahami arti

pelanggaran lalu lintas pada

remaja.

6) Mengajak peserta layanan 6) Peserta layanan berdiskusi

untuk berdiskusi mengenai mengenai model dan

model dan materi yang telah materi yang telah diberikan

diberikan.

7) Menafsirkan penjelasan dari 7) Peserta layanan

peserta layanan sesuai dengan memperhatikan dan

keadaan diri peserta layanan. menyimak secara seksama.

8) Mengarahkan peserta layanan 8) Peserta layanan mengisi

untuk mengisi lembar kerja lembar kerja kelompok

kelompok.

4) Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta layanan 1) Peserta layanan mengambil

mengambil keputusan dari keputusan mengenai topik

topik memahami arti memahami arti

pelanggaran lalu lintas pada pelanggaran lalu lintas

remaja. pada remaja.

2) Memberikan dukungan dan 2) Peserta layanan menerima

penguatan kepada peserta dukungan dan penguatan.

layanan terhadap keputusan

yang diambil dari topik

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 47
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

memahami arti pelanggaran

lalu lintas pada remaja.

3) Mengemukakan bahwa 3) Peserta layanan

kegiatan akan segera diakhiri. memperhatikan dan

menyimak secara seksama.

4) Meminta anggota kelompok 4) Peserta layanan

mengemukakan kesan dan mengemukakan kesan dan

pesan. pesan.

5) Doa Penutup 5) Peserta layanan berdoa

bersama

6) Mengakhiri kegiatan dengan 6) Peserta layanan menjawab

mengucapkan terima kasih dan salam.

salam.

P. Evaluasi

1) Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan

melalui pengamatan selama

mengikuti kegiatan layanan

untuk memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

layanan yang telah

diselenggarakan.

2) Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti

layanan antara lain.

1) Menilai perubahan perilaku

anggota kelompok saat

mengikuti layanan

2) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan lembar

refleksi untuk mengetahui

pemahaman dan perasaan

peserta layanan setelah

melaksanakan layanan.

Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor

…………………………… …………………………
NIP. NIP.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 48
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Materi 2

Memahami Arti Pelanggaran Lalu Lintas Pada Remaja

A. Arti Lalu Lintas

Pengembangan lalu lintas

yang ditata sedemikian rupa

dalam satu kesatuan sistem

dilakukan dengan

mengintegrasikan dan

mendominasikan unsur yang

terdiri dari jaringan

transportasi jalan kendaraan

beserta dengan

pengemudinya, peraturan-peraturan dan metode yang sedemikian rupa

sehingga terwujud totalitas yang utuh, berdayaguna dan berhasil.

Kata “lalu lintas” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah

berjalan hilir mudik, berhubungan dengan perjalanan (kendaraan dsb).

Sedangkan pengertian lalu lintas menurut Pasal 1 Undang-Undang

Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas

jalan, sebagai prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah

kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dengan fasilitas

pendukungnya.(Ardiyasa, 2003). Menurut Muhammad Ali, lalu lintas

adalah berjalan, bolak balik, perjalanan di jalan. Ramdlon Naning juga

menguraikan pengertian tentang lalu lintas yaitu gerak pindah manusia

dengan atau tanpa alat penggerak dari satu tempat ke tempat lain.

Tinjauan utama dari peraturan lalu lintas adalah untuk mempertinggi

mutu kelancaran dan keamanan dari semua lalu lintas di jalan-jalan.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 49
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Berdasarkan pengertian dan definisi-definisi di atas dapat

diartikan bahwa lalu lintas ialah setiap hal yang berhubungan dengan

sarana jalan umum sebagai sarana utama untuk tujuan yang ingin

dicapai. Lalu lintas juga dapat diartikan sebagai hubungan antara

manusia dengan atau tanpa disertai alat penggerak dari suatu tempat

ke tempat lain dengan menggunakan jalan sebagai ruang geraknya.

B. Arti Pelanggaran Lalu Lintas

Banyak sekali dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan

pelanggaran lalu lintas, mulai dari yang ringan hingga yang berat .

Pelanggaran lalu lintas terjadi dimana-mana, baik dikota-kota besar

maupun kota-kota kecil dalam berbagai macam bentuk. Pelaku

pelanggaran lalu lintas mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia,

berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa

perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi distereotipekan pada figur

tertentu. Setiap generasi dapat melakukan perilaku pelanggaran lalu

lintas.

Selama ini belum banyak disadari bahwa pelanggaran lalu lintas

merupakan salah satu jenis tindak pidana. Suatu pelanggaran

dikatakan termasuk tindak pidana bila pelanggaran itu memenuhi

semua unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana tersebut adalah

perbuatan manusia yang mampu bertanggung jawab, perbuatan itu

melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan, dan diancam dengan

pidana.

Istilah pelanggaran

berasal dari dasar kata

“langgar”. Pelanggaran

(overtreding; violation;

contravention) secara

terminologi berarti

perbuatan yang dilarang

dan diancam pidana oleh

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 50
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

undang-undang pidana dan ditentukan lebih ringan pidananya daripada

kejahatan (Hamzah, 2009). Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu

pelanggaran aturan lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan

keamanan berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan pengguna

jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja yang melalukan

pelanggaran itu sendiri (Surya, 2017).

Pengertian lalu lintas dalam kaitannya dengan lalu lintas jalan,

Ramdlon Naning menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan

pelanggaran lalu lintas jalan adalah perbuatan atau tindakan yang

bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-

undangan lalu lintas.

Pelanggaran yang dimaksud di atas adalah pelanggaran yang

sebagaimana diatur dalam Pasal 105 Undang-undang Nomor 22 Tahun

2009 yang berbunyi : 1. Berperilaku tertib dan/atau 2. Mencegah hal-hal

yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan

lalu lintas dan angkutan jalan atau yang dapat menimbulkan kerusakan

jalan.

Dari semua kendaraan yang melintas di jalan raya, kendaraan

bermotor roda dua atau sepeda motor mempunyai resiko lebih tinggi

dalam menyumbang kejadian kecelakaan lalu lintas. Cedera tak sengaja

akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih banyak menyebabkan

kematian di bandingkan dengan tipe cedera yang lainnya. Jumlah

kecelakaan lalu lintas akibat

dari kendaraan bermotor

dengan jenis kendaraan

sepeda motor mengalami

kenaikan dari tahu ke tahun

daripada jenis kendaraan

lainnya seperti mobil

penumpang, bus, mobil truk

(JKM, 2013).

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 51
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

C. Jenis Pelanggaran Lalu Lintas di Kalangan Remaja

Pada kenyataannya,

peraturan lalu lintas masih

banyak dilanggar oleh

masyarakat, terutama oleh

kalangan remaja atau pelajar.

Adanya pelanggaran lalu lintas

menunjukkan kurang

dipatuhinya Undang-Undang

Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan dengan baik oleh masyarakat (Fatmaningsih et al., 2018).

Tentunya bukan tanpa alasan undang-undang menentukan perlunya

batasan minimal usia, sebab umumnya usia remaja masih memiliki

karakter yang labil atau belum memahami etika dan aturan dalam

berlalu lintas dengan baik. Pada masa ini, kebanyakan dari mereka

lebih mengedepankan sifat individualisme dan egoisme yang tinggi dan

sering tidak memperdulikan hak orang lain di jalan (Purwanti &

Natanael, 2016).

Pemahaman dan kematangan psikologis yang kurang matang

atau masih labil ini di usia remaja akan beresiko menyebabkan

kecelakaan saat berkendara. Kondisi psikologis seseorang pada saat

remaja memiliki karakteristik yang labil, sulit dikendalikan, melawan

dan memberontak, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, agresif, mudah

terangsang serta memiliki loyalitas yang tinggi (Sarwono, 2006).

Pada survey yang dilakukan di 182 negara itu, Indonesia

menempati urutan kelima dalam peringkat Negara dengan korba tewas

terbanyak akibat kecelakaan lalu lintas. Diatas Indonsia, Negara-negara

lain dengan jumlah korban tewas kecelakaan lalu lintas adalah Cina,

India, Nigeria, dan Brazil. Kecelakaan lalu lintas melibatkan anak usia

remaja tergolong besar. Hal ini, ini terjadi karena mayoritas para

pelanggar lalu lintas yang cenderung ugal- ugalan dijalan adalah oknum

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 52
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

remaja dan pemuda (Ratnasari et al., 2014).
Unicef (2012) melaporkan bahwa remaja usia 10 sampai dengan

19 tahun berjumlah 1,2 milyar sedunia dimana bahwa setiap tahun rata-
rata 1,4 juta remaja mengalami kecelakaan di jalanan. Masalah perilaku
berlalu lintas sudah merupakan suatu fenomena yang umum terjadi di
kota-kota besar bahkan di negara-negara yang sedang berkembang,
termasuk Indonesia. Padatnya lalu lintas di sekitar tanpa didukung oleh
sarana yang baik dan kurangnya kesadaran masyarakat akan disiplin
berlalu lintas dapat memicu timbulnya berbagai pelanggaran dan
ketidakdisiplinan sehingga terjadi kecelakaan. Kebanyakan remaja

mengendarai kendaraan
bermotor tidak pernah mem-
perhatikan keselamatan
berkendaraan baik bagi
dirinya maupun orang lain
disekitarnya (Debora, 2019).

Di berbagai kota di
Indonesia kecelakaan lalu
lintas yang sering kali
terjadi adalah kecelakaan
sepeda motor dimana pengendaranya kebanyakan adalah para remaja
sekolah yang suka kebut-kebutan, menyelip-nyelip kendaraan yang ada
disekitarnya, hingga menerobos lampu merah karena tidak adanya
kesabaran dalam menunggu lampu hijau, ketiadaan pemilikan SIM
(Surat Ijin Mengemudi), tidak adanya kelengkapan surat-surat
kendaraan, melanggar marka jalan, hingga melawan arus (Purwanti &
Natanael, 2016).
Meski berbagai aturan telah dikeluarkan untuk menertibkan para
pengendara, namun pada kenyataannya masih banyak pengguna
terutama para remaja tidak mengindahkan aturan-aturan yang
ditetapkan, tak jarang kelalaian tersebut merugikan tak hanya para

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 53
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

pengguna melainkan orang lain. Berikut ini beberapa pelanggaran yang

sering terjadi dan dilakukan oleh para remaja.

1. Menerobos lampu merah

Lampu lalu lintas atau traffic light merupakan sebuah

komponen vital pengaturan lalu lintas. Namun ironisnya,

pelanggaran terhadap lampu lintas ini justru menempati urutan

pertama sebagai jenis pelanggaran yang paling sering dilakukan

pengguna kendaraan bermotor. Sedang terburu-buru serta tidak

melihat lampu sudah berganti warna, adalah beberapa alasan yang

sering terlontar dari si pelanggar.

2. Tidak menggunakan helm

UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan

sudah mengatur

mengenai kewajiban

pengendara untuk

penggunaan helm

berstandar Nasional

Indonesia (SNI). Bahkan

dalam UU tersebut

dengan jelas tertera pula

sanksi jika pengemudi

tidak mengenai helm, maka ia bisa dipidana dengan pidana

kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak

Rp250.000. Namun, pada prakteknya, lagi-lagi aturan ini sering

diabaikan. Rata-rata beralasan, mereka enggan menggunakan helm

karena jarak tempuh yang dekat serta merasa tidak nyaman.

3. Tidak menyalakan lampu kendaraan

Pasal 107 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa pengemudi

kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan

bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisi

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 54
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

tertentu. Kemudian pada ayat kedua dinyatakan pengemudi sepeda

motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari. Pelanggaran

sering terjadi, terutama untuk kewajiban menyalakan lampu di siang

hari. Rendahnya tingkat kedisiplinan pengguna jalan atau mungkin

kurangnya sosialisasi khususnya untuk lampu di siang hari bisa

menjadi penyebab seringnya aturan ini dilanggar.

4. Tidak membawa surat kelengkapan berkendara

Aksi tilang yang dilakukan pihak kepolisian juga sering terjadi

terhadap pengendara yang tidak membawa surat-surat berkendara

seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) serta Surat Tanda Nomor

Kendaraan (STNK). Berbagai operasi yang tengah gencar dilakukan

aparat acapkali mendapati pelanggaran semacam itu. Banyak

diantara mereka yang belum memiliki SIM karena belum cukup usia,

namun memaksakan diri untuk mengendarai sepeda motor. Hal ini

tentunya bisa membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang

lain.

5. Melawan arus

Di kota-kota

besar seperti Jakarta,

para pengendara

sepeda motor acapkali

bersikap seenaknya di

jalanan dengan

“melawan arus”.

Mereka seolah tutup

mata dengan adanya pengendara lain yang berjalan berlawanan arah

dengan mereka. Beberapa peristiwa kecelakaan yang membahayakan

tak membuat jera para pengendara motor lainnya. Contohnya,

seorang pengendara motor nekad untuk melawan arus akibat

menghindari razia. Akibatnya, istrinya tewas karena jatuh terpental.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 55
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Di beberapa titik jalan lainnya di Ibukota, aksi nekad ini juga

seringkali terjadi.

6. Melanggar rambu-rambu lalu lintas

Pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas acapkali

terjadi. Parkir di bawah rambu dilarang parkir serta berhenti di

depan tanda larangan stop sudah menjadi aktivitas yang sering

dilakukan. Padahal menurut ketentuan pasal 287 ayat (1) UU No.22

tahun 2009, jenis

pelanggaran tersebut bisa

terancam hukuman

pidana kurungan paling

lama 2 bulan atau denda

paling banyak Rp500.000.

Namun, nyatanya

aturan ini seperti tanpa

taring. Mengatasi hal

tersebut, pihak kepolisian

juga tengah gencar melakukan penertiban dengan memberikan

sanksi kepada pelanggar, seperti melakukan gembok roda,

pengembosan ban dan bahkan langsung melakukan penderekan.

7. Menerobos jalur busway

Maraknya kecelakaan akibat aksi nekad pengendara yang

masuk ke jalur busway juga tidak membuat pengendara lainnya jera.

Begitu penjagaan dari para petugas mengendur, tindakan

indisipliner ini akan kembali berulang. Padahal sanksi yang

dikenakan untuk pelanggaran ini juga tidak ringan. Alasan

menembus kemacetan seringkali dilontarkan para pelaku

pelanggaran tersebut.

8. Penggunaan kendaraan yang tidak memperhatikan aspek

keselamatan

Saat ini banyak sekali pengendara yang memodifikasikan

kendaraannya namun tidak sesuai dengan standar keamanan.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 56
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Mengendarai motor dengan muatan lebih juga masuk dalam kategori

ini. Banyak peristiwa kecelakaan karena pengemudi memaksakan

kendaraannya dijejali dengan jumlah penumpang yang tidak sesuai

kapasitas.

9. Tidak menggunakan spion

Pentingnya kesadaran menggunakan kaca spion saat

berkendara seringkali diabaikan. Padahal kaca spion dapat

membantu pengemudi untuk memastikan bahwa kondisi saat itu

kondusif untuk membelokkan kendaraan. Hal ini juga berguna untuk

meminimalisir terjadinya kecelakaan. Berdasarkan Undang-Undang

No. 2 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285 ayat 1,

pengendara akan ditilang atau didenda sebesar Rp250.000 jika

kendaraannya tidak dilengkapi dengan kaca spion.

10. Berkendara melewati trotoar

Seyogyanya trotoar merupakan tempat bagi pejalan kaki.

Namun nyatanya, hak pejalan kaki juga diserobot oleh para

pengendara motor. Dengan tanpa merasa bersalah, mereka

mengendarai kendaraannya diatas trotoar sehingga memaksa

pejalan kaki untuk mengalah dengan alasan menghindari

kemacetan. Untuk mengantispasi hal tersebut, saat ini banyak

kampanye uang

menyerukan

pengembalian trotoar

sebagai sarana bagi para

pejalan kaki.

11. Mengemudikan

Kendaraan Sambil

Menelepon

Kebiasaan menggunakan telepon genggam (handphone) saat

berkendara. Kegiatan tersebut sangat berbahaya karena

mengakibatkan konsentrasi kita terpecah sehingga mengurangi

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 57
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

reaksi saat terjadi hal-hal tak terduga. Kebiasaan seperti ini di

lakukan karena penggilan telepon lebih penting. UU LLAJ No 22

Tahun 2009 melarang pengendara kendaraan bermotor berkendara

sambil melakukan aktivitas sampingan yang bisa merusak

konsentrasi. Aturannya terdapat dalam Pasal 106 ayat (1)

menyatakan bahwa setiap pengendara wajib berkendara dengan

penuh konsentrasi dan secara wajar. Jika anda mengalami

kecelakaan akibat keteledoran pengendara yang bertelepon maka

anda bisa menuntut pelaku penyebab kecelakaan tersebut dengan

melaporkannya ke polisi.

Saksinya terdapat dalam Pasal 283 UU No. 22 Tahun 2009 yang

berbunyi, “ Setiap orang yang

mengemudikan kendaraan

bermotor di jalan secara tidak

wajar dan melakukan kegiatan

lain atau dipengaruhi oleh

suatu

keadaanyangmengakibatkan

gangguan konsentrasi dalam

mengemudi di jalan

sebagaimana dimaksud dalam

pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga)

bulan atau denda paling banyak Rp 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu

Rupiah)."

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 58
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 2.1 22.1

Lembar Tugas Kelompok

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari Topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja yang

telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan
mengetahui beberapa jenis pelanggaran lalu lintas dalam kegiatan sehari-
hari ananda dan apa saja yang harus Ananda lakukan agar dapat
mencegah pelanggaran lalu lintas?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 59
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 2.2

Lembar Evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Setelah membahas mengenai arti pelanggaran lalu lintas dikalangan
remaja, menurut ananda apakah remaja saat ini dapat menjadi
generasi tertib berlalu lintas ? jelaskan dan berikan contoh?

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

2. Tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja
membuat resah lingkungan masyarakat, menurut ananda hal apa
saja yang dapat ananda lakukan untuk mencegah tingginya tingkat
pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja ?

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 60
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 2.3

Lembar Refleksi

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 61
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

MATERI III
AKIBAT PELANGGARAN LALU LINTAS

DAN SELF REGULATION REMAJA

DALAM MENGHADAPINYA

A. AKIBAT PELANGGARAN LALU
LINTAS

B. FAKTOR PENYEBAB
PELANGGARAN LALU LINTAS

C. KENDALA BERKEMBANGNYA SELF
REGULATION PADA REMAJA

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 62
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Materi 3

Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Self Regulation Remaja
dalam Menghadapinya

A. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas

Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh

pengendara menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan (Melasari,

2017). Di negara maju, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab

utama kematian untuk semua kelompok umur (Enggarsasi & Sa’diyah,

2017). Terjadinya pelanggar an lalu lintas salah satunya didasari oleh

keberanian untuk melanggar

karena adanya mentalitas

bahwa setiap masalah dapat

diselesaikan secara “damai”

dengan Polantas, adanya

budaya menerabas dan

pudarnya budaya malu

bahkan bagi sebagian orang

menjadi kebanggan

tersendiri apabila dapat mengelabui Polantas atau melanggar rambu-

rambu lalu lintas (Hendratno, 2009: 501), dan juga akibat kelalaian

pengemudi sendiri. Berbagai pelanggaran lalu lintas sangat sering kita

lihat di berbagai tempat, bukan hanya terjadi di pemberhentian lampu

merah saja. Bisa saja terjadi di trotoar, zebracros dan bahkan

kesalahan tersebut dilakukan bukan di sengaja.

Perilaku ketidakdisiplinan dalam berlalulintas seperti
mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan,
menerobos lampu lalu lintas, melewati marka pembatas jalan, tidak

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 63
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

melengkapi alat keselamatan seperti halnya tidak menggunakan
helmet, spion, lampu- lampu kendaraan, ketidaklengkapan surat- surat
kendaraan bermotor, tidak taat membayar pajak, menggunakan
kendaraan tidak layak pakai (Sadono, 2015). UU No 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Undang-undang
baru ini mengatur lebih tegas tentang jalan raya. Kemunculan undang-
undang baru ini tentu saja menerbitkan sebuah harapan terciptanya
lalu lintas yang tertib dan ramah bagi para pengguna jalan.

Kecelakaan lalu lintas sendiri dapat menyebabkan luka-luka
hingga kematian pada manusia (Dewi & Zain, 2016). Kecelakaan lalu
lintas tidak hanya menyebabkan kematian dan kerusakan kendaraan
bermotor, tetapi juga telah mengakibatkan penyakit yang serius dan
kecacatan. Banyak dari remaja yang belum mengetahui konsekuensi
yang jelas dari pelanggaran lalu lintas itu sendiri. Mereka juga kurang
merasa adanya manfaat yang baik yang diperoleh bila tidak melanggar
lalu lintas.
B. Faktor Penyebab Pelanggaran Lalu Lintas

Pelanggaran lalu lintas masih sering terjadi baik di kota besar

sampai wilayah pedesaan. Padahal pemerintah sudah menetapkan

aturan-aturan dalam berkendara, tapi masih ada saja yang melanggar

aturan tersebut. Kebanyakan pelanggaran itu terjadi karena unsur

kesengajaan untuk

melanggar hingga

ketidaktahuan atau pura-

pura tidak tahu terhadap

aturan yang berlaku.

Beberapa faktor yang bisa

menyebabkan pelanggaran

lalu lintas ataupun

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 64
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

kecelakaan di jalan raya itu terjadi, yaitu: faktor human error atau
kesalahan manusia, faktor mechanical failure atau kesalahan teknis
kendaraan, faktor kondisi jalanan, dan faktor cuaca (Enggarsasi &
Sa’diyah, 2017). Selain itu masih ada beberapa faktor
penyebab pelanggaran lalu lintas. Berikut ulasan selengkapnya.

1. Kurangnya kesadaran dan perilaku masyarakat

Perilaku yang membudaya dari pengguna jalan merupakan

salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kondisi lalu

lintas. Seperti etika, toleransi antar pengguna jalan dan kematangan

dalam pengendalian emosi terbilang masih rendah. Kemudian

perilaku berkendara yang hanya patuh jika ada polisi. Kalau polisi

tak terlihat, langsung tancap gas sampai melanggar aturan yang ada.

Cuek dengan keselamatan orang lain dalam berkendara juga

termasuk dalam kesadaran yang minim. Jalan raya nggak cuma

dipakai satu atau dua orang saja, tapi semua orang berhak

menggunakannya. Setiap pengguna jalan harus punya rasa tanggung

jawab demi keselamatan

orang lain juga.

Semua itu tergolong

ke dalam kesadaran

masyarakat dalam

berkendara yang masih

minim. Perlu diketahui,

respons dan interaksi yang

positif dari pengguna jalan bisa menciptakan kondisi lalu lintas lebih

kondusif, aman dan nyaman.

2. Pengetahuan Soal Marka, Rambu dan Peraturan yang Minim

Menjadi salah satu faktor utama penyebab pelanggaran lalu

lintas adalah minimnya pengetahuan soal aturan, marka hingga

rambu-rambu yang ada. Kurangnya kesadaran untuk mencari tahu

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 65
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

arti dari marka, rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku

membuat pelanggaran terus terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya

kalau bikin SIM jangan mau yang instan. Dengan mengikuti semua

prosedur dalam bikin SIM, setidaknya pengetahuan soal aturan,

marka dan rambu-rambu lalu lintas bisa kembali dipahami.

3. Kebiasaan Mencari Jalan Pintas

Kebanyakan orang melanggar rambu-rambu lalu lintas karena

sudah terbiasa mencari jalan pintas. Kebiasaan ini semakin

didukung dengan alasan "lebih cepat sampai tujuan". Tak jarang

muncul pemikiran kalau adanya rambu lalu lintas justru

menghambat perjalanan mereka, yang akhirnya kebiasaan itu jadi

pembenaran diri. Aturan-aturan yang ada pun dianggap tidak

perlu. Kebiasaan seperti ini sebenarnya membuat para pelanggar

nekat melawan aturan yang akhirnya mempersulit diri sendiri.

4. Fenomena ikut-ikutan pengendara lain
Faktor yang mendorong seseorang melanggar aturan rambu

lalu lintas disebabkan

adanya konformitas. Hal ini

merupakan perubahan

perilaku seseorang untuk

mengikuti orang lain yang

menurutnya benar alias

suka ikut-ikutan. Pernah

lihat kan gerombolan

pemotor yang masuk jalur

busway? Biasanya itu terjadi karena ada satu ada dua orang yang

jadi pelopor masuk ke jalur terlarang itu. Kemudian disusul oleh

pengendara lain, akhirnya jalur busway dipenuhi oleh para pemotor.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 66
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

5. Kondisi jalan
Berbagai kondisi jalan juga menjadi salah satu penyebab

terjadinya pelanggaran. Seperti jalan yang rusak, kurangnya marka
atau rambu-rambu lalu lintas, alat pengawas atau pengamanan jalan
serta fasilitas pendukung lainnya. Di kota-kota besar mungkin faktor
ini jarang ditemui. Lain hal dengan di pedesaan atau kawasan
lainnya, mungkin masih ada kondisi jalan yang tidak
memadai. Namun semua itu bisa dikurangi dengan rekayasa jalan
sehingga dapat memengaruhi tingkah laku para pengguna jalan,
mengurangi serta mencegah tindakan yang membahayakan
keselamatan dalam berlalu lintas. Dalam berkendara, kita tidak
perlu mengenal situasi jalan aman atau tidak dari polisi, jauh atau
dekat bahkan penting atau tidak dalam melengkapi syarat
keamanan dalam berkendara. Sebagaimana aturan lalu lintas itu
dibuat, sudah sepatutnya untuk dipatuhi demi alasan keselamatan
dan kenyamanan dalam berlalu lintas.
C. Kendala Berkembangnya Self Regulation Pada Remaja

Self regulation dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana
seseorang melakukan strategi dengan meregulasi kognisi,
metakognisi, dan motivasi. Apabila seorang remaja memiliki self
regulated yang tinggi maka ia mampu merencanakan kegiatan sehari-
hari, mampu mengatur diri, serta dapat memonitor kegiatannya, dan
melakukan evaluasi kegiatannya. Sebaliknya, apabila seorang remaja
memiliki self regulated yang rendah maka ia akan kesulitan untuk
membuat suatuperencanaan kegiatan sehari-hari, kesulitan mengatur
diri, kesulitan mengontrol kegiatannya, dan kesulitan dalam
mengevaluasi kegiatan.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang kurang
mampu untuk mengembangkan self regulation.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 67
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

1. Kurangnya pengalaman belajar dari lingkungan sosial adalah
faktor yang pertama yang menyebabkan kegagalan seseorang
dalam mengembangkan self regulation. Seringkali mereka
mengalami kesulitan untuk mengembangkan self regulation
disebabkan mereka tumbuh di rumah atau lingkungan yang tidak
mengajarkan mereka untuk melakukan self regulation, tidak
diberikan contoh, atau pun tidak diberikan reward (Brody,
Stoneman, Flor, 1996 dalam Boekaerts, 2000).

2. Batasan kedua yang menghambat seseorang dalam
mengembangkan kemampuan self regulation bersumber dari dalam
dirinya yaitu adanya sikap apatis
(disinterest). Hal ini disebabkan
dalam menggunakan teknik-
teknik self regulation yang efektif
dibutuhkan atisipasi, konsentrasi,
usaha, self reflection yang cermat.
Sebagai contohnya, kebanyakan
guru akan melaporkan bahwa
murid-murid yang tidak aktif di
kelas akan menunjukkan prestasi
yang kurang dan jarang
mengumpulkan tugas-tugas yang
diterimanya (Steinberg, Brown, Dornbusch, 1996 dalam Boekaerts,
2000).

3. Gangguan suasana hati, seperti mania atau depresi adalah batasan
ketiga yang dapat menyebabkan tidak berkembangnya self
regulation. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami depresi
cenderung menunjukkan perilaku menyalahkan diri sendiri, salah
dalam mempersepsikan hasil perilaku mereka, bersikap negatif
(Bandura, 1991 dalam Boekaerts, 2000).

4. Batasan yang keempat yang sering dihubungkan dengan kurang

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 68
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

berkembangnya self regulation adalah adanya learning disabilities,
seperti masalah kurang mampu konsentrasi, mengingat, membaca
dan menulis (Borkowski & Thorpe, 1994 dalam Boekaerts, 2000).
Sebagai contoh, seorang anak dengan learning disabilities
menetapkan goal academic yang lebih rendah dibandingkan dengan
anak-anak normal, memiliki masalah dalam mengontrol
dorongannya, dan kurang akurat dalam menilai kemampuan yang
mereka miliki.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 69
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 3.1

Lembar Tugas Kelompok

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik akibat pelanggaran lalu lintas dan self regulation remaja
dalam menghadapinya yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada
harus memahami dan mengetahui self regulation dalam berlalu lintas ?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 70
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 3.2

Lembar Evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Pembahasan mengenai akibat pelanggaran lalu lintas dan self
regulation remaja dalam menghadapinya, menurut ananda
bagaiamana self regulation remaja dalam berlalu lintas, apakah telah
sesuai ? jelaskan !

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

2. Bahaya akibat melanggar peraturan berlalu lintas telah ananda
pelajari, apa manfaat yang ananda dapatkan serta saran untuk para
remaja dalam berlalu lintas ?

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 71
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 3.3

Lembar Refleksi

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 72
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

MATERI IV

KIAT MENINGKATKAN SELF REGULATION

REMAJA DALAM PENCEGAHAN
PELANGGARAN LALU LINTAS

A. MANFAAT MEMATUHI PERATURAN
BERLALU LINTAS

B. FAKTOR PENYEBAB MENURUNNYA

SELF REGULATION
C. KIAT MENINGKATKAN SELF

REGULATION PADA REMAJA

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 73
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Materi 4

Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

A. Manfaat Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas
Perilaku tertib berlalu

lintas merupakan sama halnya
dengan prilaku disiplin berlalu
lintas yang mempunyai kesamaan
yaitu aturan yang harus dipatuhi.
Tertib merupakan teratur dan
rapi yang tidak lain juga sopan
dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Selanjutnya lalu lintas
berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan bahwa
lalu lintas merupakan gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas
yang tidak lain ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang
diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang
yang berupa jalan dan fasilitas pendukung. Mengenai ketertiban berlalu
lintas menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan
bahwa ketertiban berlalu lintas adalah suatu keadaan berlalu lintas
yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban
setiap pengguna jalan.

Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan
perundangan menyangkut arah lalu lintas, prioritas menggunakan
jalan, lajur lalu lintas, jalur lalu lintas dan pengendalian arus di
persimpangan. Perilaku pengendara lalu lintas yang mempengaruhi
perilaku berlalu lintas yang diatur dalam Undang-Undang No.22 tahun

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 74
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

2009 pasal 105 huruf (a) dan (b) yang berisi setiap orang yang

menggunakana jalan.

Adapun beberapa manfaat yang didapat ketika mematuhi

perarturan berlalu lintas, sebagai berikut :

1. Tiba di tempat dengan Selamat

Mematuhi tata tertib lalu lintas adalah salah satu aspek

keselamatan yang diwajibkan pihak kepolisian agar pengendara

selamat sampai di tujuan. Pelanggaran atas rambu-rambu di jalan

raya bisa berdampak buruk, baik bagi pengemudi, maupun

penumpang. Dari mulai terjadi kecelakaan, terlambat sekolah atau

kerja, sampai perselisihan dengan pengendara lain.

2. Mencegah Kemacetan Lalu Lintas

Kemacetan lalu lintas yang terjadi dapat membuat Anda

akan mengalami berbagai kerugian, salah satunya yakni rugi waktu

karena Anda akan berjalan dengan kecepatan yang sangat rendah.

Contohnya di jalan raya pernahkah anda melihat tanda panah

terbalik membentuk huruf U? Coba bayangkan, kalau semua

pengemudi mengabaikan rambu tersebut, mereka akan berputar

arah di lokasi terlarang sehingga membahayakan pengemudi dari

arah seberang. Dampak yang lebih parah, bisa menimbulkan

kemacetan lalu lintas. Pasalnya, ketika berputar balik, otomatis

menghalangi laju kendaraan dari belakang. Efek macet pun dapat

terjadi ketika

pengemudi berhenti di

kawasan dilarang

parkir. Deretan

kendaraan di tepi

jalan, menjadikan jalur

semakin sempit.

Karena itu, mobil

harus mengantre

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 75
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

panjang agar bisa melewati.
3. Terhindar dari Kecelakaan Lalu Lintas

Ketertiban berlalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu
lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan
kewajiban setiap pengguna jalan (Pasal 1 Angka 32 UU Nomor 22
Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan) tertib berlalu
lintas tentunya akan mengurangi angka kecelakaan
(Kompasiana, 2019).
4. Menjaga Keselematan Diri
dan Orang Lain

Kasus kecelakaan
akibat pelanggaran rambu-
rambu lalu lintas paling
kerap terjadi. Pengemudi
sebagai pemakai jalan
adalah salah satu bagian
utama dalam terjadinya
kecelakaan. Pengemudi mempunyai peran sebagai bagian dari mesin
dengan mengendarai, mengemudikan, mempercepat, memperlambat,
mengerem, dan menghentikan kendaraan.

Keselamatan di jalan raya adalah hal yang utama. Tak ayal
lagi, siapapun yang berada di jalan raya bertanggung jawab atas
keselamatan diri sendiri maupun orang lain, terlebih bagi
pengendara mobil dan motor. Mereka lah yang lebih sering menjadi
berbagai penyebab kecelakaan lalu lintas akibat tidak
mengutamakan sikap berhati-hati atau mematuhi aturan lalu lintas
di jalanan. Beberapa hal yang perlu dilakukan saat berada di jalan
raya yaitu
a. Berhati-hati (baik pejalan kaki dan yang berkendaraan bermotor)

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 76
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

b. Tidak bersikap emosional di jalan raya yang bisa mengganggu
konsentrasi para pengguna jalan lainnya

c. Saling menghormati antar para pengguna jalan raya
d. Mematuhi peraturan lalu lintas dan tentunya tidak melanggar

regulasi yang ada
e. Mendahulukan pengguna jalan secara berjenjang kebawah di

area tanpa rambu-rambu di jalan (dalam artian pengendara
mobil mendahulukan pengendara motor, sepeda dan pejalan kaki.
Sementara, pengendara motor mendahulukan pengendara sepeda
dan pejalan kaki dan begitu seterusnya).
B. Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam Pencegahan
Pelanggaran Lalu Lintas
Setiap orang akan berusaha untuk meregulasi fungsi dirinya
dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Winne, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Oleh karena itu yang
membedakan hanyalah efektivitas dari self regulation itu sendiri. Pada
waktu seseorang mampu mengembangkan kemampuan self regulation
secara optimal, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat
dicapai secara optimal. Sebaliknya pada saat seseorang kurang mampu
mengembangkan kemampuan self regulation dalam dirinya, maka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya tidak dapat dicapai secara
optimal. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulation ini bisa
disebabkan oleh kurang berkembangnya salah satu fase dalam proses
self regulation terutama pada fase forethought dan performance control
yang tidak efektif (Bandura, 1991; Zimmerman, 1998 dalam Boekaerts,
2000).
Berdasarkan perspektif social cognitive, proses self regulation
digambarkan dalam tiga fase perputaran : Fase forethought
(perencanaan), performance or volitional control (pelaksanaan), self
reflection (proses evaluasi). Fase forethought berkaitan dengan proses-
proses yang berpengaruh yang mendahului usaha untuk bertindak dan

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 77
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

juga meliputi proses dalam menentukan tahap-tahap untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkannya. Fase performance or volitional control

meliputi proses-proses yang terjadi selama seseorang bertindak dalam

upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya.

Fase self reflection meliputi proses yang terjadi setelah seseorang

melakukan upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan

pengaruh dari respon (feedback) terhadap pengalamannya yang

kemudian akan memberikan pengaruh pada fase forethought dalam

menetapkan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilaksanakannya.

Ketiga fase tersebut terus menerus berulang dan membentuk

suatu siklus. Secara ringkas proses yang terjadi dalam ketiga fase

tersebut sebagai berikut :

1. Fase Forethought Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat

dalam fase Forethought:

a. Task Analysis, yang menjadi inti task analysis meliputi

penentuan tujuan (goal setting) dan strategic planning. Goal

Setting dapat diartikan sebagai penetapan / penentuan hasil

belajar yang ingin dicapai oleh seorang siswa, misalnya

memecahkan persoalan matematika selama proses belajar

berlangsung (Locke & Lathan, 1990 dalam Boekaerts, 2000).

Goal system dari seseorang yang mampu melakukan self

regulation tersusun

secara bertahap.

Proses tersebut

dilakukan sebagai

regulator untuk

mencapai tujuan yang

sama dengan hasil

yang pernah dicapai.

Bentuk kedua dari

task analysis adalah

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 78
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

strategic planning. Strategi ini merupakan suatu proses dan
tindakan seseorang yang bertujuan dan diarahkan untuk
memperoleh dan menunjukkan suatu keterampilan yang dapat
digunakannya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkannya. (Zimmerman, 1989 dalam Boekaerts, 2000).
Strategi yang dipilih secara tepat dapat meningkatkan
performance dengan mengembangkan kognitif, mengontrol
affect, dan mengarahkan kegiatan motorik (Pressley &
Wolloshyn, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Perencanaan dan
pemilihan strategi membutuhkan penyesuaian yang terus
menerus karena adanya perubahan-perubahan baik dalam diri
siswa itu sendiri ataupun dari kondisi lingkungan tersebut
dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang sama
dengan hasil yang pernah dicapai.
b. Self Motivation Beliefs, yang menjadi dasar task analysis dan
strategic planning adalah self motivation beliefs yang meliputi
self eficacy, outcome expectation, intrinsic interest or valuing,
dan goal orientation. Self eficacy merujuk pada keyakinan
seseorang terhadap kemampuannya untuk memiliki
performance yang optimal untuk mencapai tujuannya,
sementara outcomes expectation merujuk pada harapan
seseorang tentang pencapaian suatu hasil dari upaya yang telah
dilakukannya (Bandura, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Sebagai
contoh, self eficacy yang mempengaruhi goal setting adalah
sebagai berikut: semakin mampu seseorang meyakini
kemampuan mereka sendiri, maka akan semakin tinggi tujuan
yang mereka tetapkan dan semakin mantap ia akan bertahan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya (Bandura,
1991; Locke & Latham, 1990 dalam Boekaerts, 2000).

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 79
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

2. Fase Performance / Volitional control

a. Self Control Proses self control seperti self instruction, imagery,

attention focusing, dan task strategies, membantu siswa

menfokuskan pada tugas yang dihadapinya dan

mengoptimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkannya. Salah satu perilaku yang dapat diamati pada

saat seseorang sedang berada di fase ini adalah saat anak

mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak

memperlihatkan verbalisasi dalam mengingat rumus-rumus

matematika (self

instruction),

mencoba untuk

membentuk suatu

gambaran mental

secara utuh

misalnya dengan

cara melakukan

proses encoding

(imagery) ataupun

mencoba berbagai teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat

dengan mudah menghapalkan rumus-rumus matematika

tersebut (attention focusing).

b. Self Observation Proses Self observing, mengacu pada

penelusuran seseorang terhadap aspek-aspek yang spesifik dari

performance yang mereka tampilkan, kondisi sekelilingnya, dan

akibat yang dihasilkannya (Zimmerman & Paulsen, 1995 dalam

Boekaerts, 2000). Penetapan tujuan yang dilakukan pada fase

forethought mempermudah self observation, karena tujuannya

terfokus pada proses yang spesifik dan terhadap kejadian di

sekelilingnya.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 80
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

3. Fase Self Reflection
a. Self Judgement Self judgement meliputi self evaluation terhadap
performance yang ditampilkannya dalam upaya mencapai tujuan
dan menjelaskan penyebab yang signifikan terhadap hasil yang
dicapainya. Self evaluation mengarah pada upaya untuk
membanding informasi yang diperolehnya melalui self monitoring
dengan standar atau tujuan yang telah ditetapkan pada fase
forethought.
b. Self Reaction Proses yang kedua yang terjadi pada fase ini adalah
self reaction yang terus menerus akan memperngaruhi fase
forethought dan seringkali berdampak pada performance yang
ditampilkannya di masa mendatang terhadap tujuan yang
ditetapkannya (Susanto, 2006) .
Dengan terpenuhinya ketiga fase tersebut, diharapkan para

remaja dapat mengetahui dan meningkatkan self regulation pada diri
mereka.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 81
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 4.1

Lembar Tugas Kelompok

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik kiat meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada
harus memahami dan mengetahui kiat meningkatkan self regulation
remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 82
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 4.2

Lembar Evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Setelah mengamati keadaan lalu lintas di jalan ray apa kritik dan
saran yang dapat Ananda berikan kepada pihak kepolisian dalam
ketertiban berlalu lintas !

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

2. Setelah mengetahui arti self regulation dan pelanggaran lalu lintas,
menurut Ananda bagaimana saran Ananda sebagai generasi masa
depan untuk dapat meningkatkan self regulation dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas disaat ini?

……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 83
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Lampiran 4.3

Lembar Refleksi

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 84
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

PENUTUP
Demikian E-book ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan oleh Guru
BK/Konselor untuk membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas. Panduan ini membahas petunjuk
penggunaan yang perlu dipahami oleh Guru BK/Konselor agar bisa
membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 85
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

DAFTAR PUSTAKA

Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.

Damayanti, R., & Aeni, T. (2016). Efektivitas konseling behavioral dengan
teknik modeling untuk mengatasi perilaku agresif pada peserta didik
SMP Negeri 07 Bandar Lampung. Konseli: Jurnal Bimbingan Dan
Konseling, 03(1), 1–10.

Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression di
Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.

Djaja, S., Widyastuti, R., Tobing, K., Lasut, D., & Irianto, J. (2016).
Description of traffic accident in indonesia , year 2010-2014. Jurnal
Ekologi Kesehatan, 15(1), 30–42.

Enggarsasi, U., & Sa’diyah, N. K. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor
penyebab kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Ernawati, R., & Afdal. (2018). Peningkatan disiplin siswa dalam menaati
tata tertib dengan menggunakan teknik modeling melalui layanan
penguasaan konten di SMPN 49 Jakarta pada siswa kelas 8 tahun
ajaran 2018-2019. Jurnal Selaras: Kajian Bimbingan Dan Konseling
Serta Psikologi Pendidikan, 1(2), 81–95.

Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of Guidance
and Counseling : Theory and Application, 7(1).

Firman, Karneli, Y., & Harikoa, R. (2018). Improving students’ moral logical
thinking and preventing violent acts through group counseling in senior
high schools. Advance Science Letters, 1(24), 24–26.

Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 86
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).

Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan pada
remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks Teknik Sipil, 838–
843.

Herdiyanto, Y. K., & Karinadan, N. K. G. (2019). Perbedaan regulasi diri
ditinjau dari urutan kelahiran dan jenis kelamin remaja bali. Jurnal
Psikologi Udayana, 6(1),
849–858.

https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/47152/28331

Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang ( Studi
Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.

Purwanti, & Natanael. (2016). Video Animasi Stop Motion Sebagai Media
Pembelajaran Pada Kampanye Pengenalan Tertib Berlalu Lintas Bagi
Remaja Pengendara Sepeda Motor. Jurnal Widyakala, 3.

Rahmawati, S., & Susanti. (2019). Pengembangan Bahan Ajar E-Book Pada
Mata Pelajaran Praktikum Akuntansi Lembaga Berbasis Kontekstual
Untuk SMK. Jurnal Pendidikan Akuntansi, 7(3), 383–391.

Rakhman, M. Y. N. (2016). Reproduksi Pelanggaran Peraturan Lalu Lintas
yang Dilakukakan oleh Pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota
Surakarta.

Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.

Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas motor
sulut king community (SKC) Manado. 24.

Sadono, S. (2015a). Budaya Kajian Fenomenologis atas Masyarakat
Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI. Ilmu Komunikasi
Dan Bisnis, 01, 58–70.

Sadono, S. (2015b). Budaya tertib berlalu lintas kajian fenomenologis atas
masyarakat pengendara sepeda motor di kota bandung. 151(september
2016), 10–17. https://doi.org/10.1145/3132847.3132886

Santrock, J. W. (2007). Remaja (Edisi Kesebelas) Terjemahan oleh
Benectine Widyasinta. Erlangga.

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 87
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja

Sari, D. P. (2014). Mengembangkan kemampuan self regulation, ranah
kognitif, motivasi dan metakognisi. Delta-Pi: Jurnal Matematika Dan
Pendidikan Matematika, 3, 16–39.

Sihotang, N., & Yusuf, A. M. (2013). Pengaruh Layanan Bimbingan
Kelompok Terhadap Pencapaian Tugas Perkembangan Remaja Awal
dalam Aspek Kemandirian Emosional ( Studi Eksperimen di SMP
Frater Padang ). Jurnal Konselor, 2(4).

Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.

Surya, D. H. (2017). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang di
kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan berkenderaan
di sekolah menengah kejuruan negeri pertanian terpadu Provinsi Riau
). Jurnal Akasara Public, 1, 30–46.

Susanto, H. (2006). Mengembangkan kemampuan self regulation untuk
meningkatkan keberhasilan akademik siswa. Jurnal Pendidikan
Penabur, 07, 64–71.
http://www.academia.edu/download/34838935/Hal.64-
71_Mengembangkan_Self_Regulation.pdf

Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan kecelakaan
lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Yulfitri, F., Marjohan, M., & Sano, A. (2014). Konformitas internalisasi
siswa terhadap peraturan sekolah dan implikasinya dalam layanan
bimbingan dan konseling. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 2(1), 36.
https://doi.org/10.29210/111800

Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 88
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja


Click to View FlipBook Version