3) Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
1) Meminta siswa merasakan apa 1) Peserta layanan merespon
yang dirasakan setelah secara seksama.
menirukan contoh dari model
yang telah diberikan.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang
peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan
mengulang perilaku yang pada model yang telah
ditemukan pada model yang diberikan.
telah diberikan dengan benar.
3) Mengarahkan anggota untuk 3) Peserta layanan
mengaitkan video yang mengaitkan video yang
diberikan dengan keadaan diri diberikan dengan keadaan
masing-masing. diri masing-masing.
4) Membantu peserta layanan 4) Peserta layanan
untuk mengemukakan mengemukakan
pemahaman yang dimiliki pemahaman mengenai
mengenai topik memahami arti topik memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada pelanggaran lalu lintas
remaja. pada remaja.
5) Mengarahkan kegiatan Tanya 5) Peserta layanan bertanya
jawab antar anggota kelompok mengenai hal-hal yang
yang belum dipahami mengenai belum dipahami.
topik memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada
remaja.
6) Mengajak peserta layanan 6) Peserta layanan berdiskusi
untuk berdiskusi mengenai mengenai model dan
model dan materi yang telah materi yang telah diberikan
diberikan.
7) Menafsirkan penjelasan dari 7) Peserta layanan
peserta layanan sesuai dengan memperhatikan dan
keadaan diri peserta layanan. menyimak secara seksama.
8) Mengarahkan peserta layanan 8) Peserta layanan mengisi
untuk mengisi lembar kerja lembar kerja kelompok
kelompok.
4) Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta layanan 1) Peserta layanan mengambil
mengambil keputusan dari keputusan mengenai topik
topik memahami arti memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada pelanggaran lalu lintas
remaja. pada remaja.
2) Memberikan dukungan dan 2) Peserta layanan menerima
penguatan kepada peserta dukungan dan penguatan.
layanan terhadap keputusan
yang diambil dari topik
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 47
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
memahami arti pelanggaran
lalu lintas pada remaja.
3) Mengemukakan bahwa 3) Peserta layanan
kegiatan akan segera diakhiri. memperhatikan dan
menyimak secara seksama.
4) Meminta anggota kelompok 4) Peserta layanan
mengemukakan kesan dan mengemukakan kesan dan
pesan. pesan.
5) Doa Penutup 5) Peserta layanan berdoa
bersama
6) Mengakhiri kegiatan dengan 6) Peserta layanan menjawab
mengucapkan terima kasih dan salam.
salam.
P. Evaluasi
1) Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
melalui pengamatan selama
mengikuti kegiatan layanan
untuk memperoleh gambaran
tentang aktivitas anggota
kelompok dan efektivitas
layanan yang telah
diselenggarakan.
2) Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti
layanan antara lain.
1) Menilai perubahan perilaku
anggota kelompok saat
mengikuti layanan
2) Peserta layanan mengisi
lembar evaluasi dan lembar
refleksi untuk mengetahui
pemahaman dan perasaan
peserta layanan setelah
melaksanakan layanan.
Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor
…………………………… …………………………
NIP. NIP.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 48
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Materi 2
Memahami Arti Pelanggaran Lalu Lintas Pada Remaja
A. Arti Lalu Lintas
Pengembangan lalu lintas
yang ditata sedemikian rupa
dalam satu kesatuan sistem
dilakukan dengan
mengintegrasikan dan
mendominasikan unsur yang
terdiri dari jaringan
transportasi jalan kendaraan
beserta dengan
pengemudinya, peraturan-peraturan dan metode yang sedemikian rupa
sehingga terwujud totalitas yang utuh, berdayaguna dan berhasil.
Kata “lalu lintas” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah
berjalan hilir mudik, berhubungan dengan perjalanan (kendaraan dsb).
Sedangkan pengertian lalu lintas menurut Pasal 1 Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas
jalan, sebagai prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah
kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dengan fasilitas
pendukungnya.(Ardiyasa, 2003). Menurut Muhammad Ali, lalu lintas
adalah berjalan, bolak balik, perjalanan di jalan. Ramdlon Naning juga
menguraikan pengertian tentang lalu lintas yaitu gerak pindah manusia
dengan atau tanpa alat penggerak dari satu tempat ke tempat lain.
Tinjauan utama dari peraturan lalu lintas adalah untuk mempertinggi
mutu kelancaran dan keamanan dari semua lalu lintas di jalan-jalan.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 49
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Berdasarkan pengertian dan definisi-definisi di atas dapat
diartikan bahwa lalu lintas ialah setiap hal yang berhubungan dengan
sarana jalan umum sebagai sarana utama untuk tujuan yang ingin
dicapai. Lalu lintas juga dapat diartikan sebagai hubungan antara
manusia dengan atau tanpa disertai alat penggerak dari suatu tempat
ke tempat lain dengan menggunakan jalan sebagai ruang geraknya.
B. Arti Pelanggaran Lalu Lintas
Banyak sekali dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan
pelanggaran lalu lintas, mulai dari yang ringan hingga yang berat .
Pelanggaran lalu lintas terjadi dimana-mana, baik dikota-kota besar
maupun kota-kota kecil dalam berbagai macam bentuk. Pelaku
pelanggaran lalu lintas mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia,
berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa
perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi distereotipekan pada figur
tertentu. Setiap generasi dapat melakukan perilaku pelanggaran lalu
lintas.
Selama ini belum banyak disadari bahwa pelanggaran lalu lintas
merupakan salah satu jenis tindak pidana. Suatu pelanggaran
dikatakan termasuk tindak pidana bila pelanggaran itu memenuhi
semua unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana tersebut adalah
perbuatan manusia yang mampu bertanggung jawab, perbuatan itu
melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan, dan diancam dengan
pidana.
Istilah pelanggaran
berasal dari dasar kata
“langgar”. Pelanggaran
(overtreding; violation;
contravention) secara
terminologi berarti
perbuatan yang dilarang
dan diancam pidana oleh
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 50
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
undang-undang pidana dan ditentukan lebih ringan pidananya daripada
kejahatan (Hamzah, 2009). Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu
pelanggaran aturan lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan
keamanan berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan pengguna
jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja yang melalukan
pelanggaran itu sendiri (Surya, 2017).
Pengertian lalu lintas dalam kaitannya dengan lalu lintas jalan,
Ramdlon Naning menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
pelanggaran lalu lintas jalan adalah perbuatan atau tindakan yang
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-
undangan lalu lintas.
Pelanggaran yang dimaksud di atas adalah pelanggaran yang
sebagaimana diatur dalam Pasal 105 Undang-undang Nomor 22 Tahun
2009 yang berbunyi : 1. Berperilaku tertib dan/atau 2. Mencegah hal-hal
yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan
lalu lintas dan angkutan jalan atau yang dapat menimbulkan kerusakan
jalan.
Dari semua kendaraan yang melintas di jalan raya, kendaraan
bermotor roda dua atau sepeda motor mempunyai resiko lebih tinggi
dalam menyumbang kejadian kecelakaan lalu lintas. Cedera tak sengaja
akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih banyak menyebabkan
kematian di bandingkan dengan tipe cedera yang lainnya. Jumlah
kecelakaan lalu lintas akibat
dari kendaraan bermotor
dengan jenis kendaraan
sepeda motor mengalami
kenaikan dari tahu ke tahun
daripada jenis kendaraan
lainnya seperti mobil
penumpang, bus, mobil truk
(JKM, 2013).
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 51
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
C. Jenis Pelanggaran Lalu Lintas di Kalangan Remaja
Pada kenyataannya,
peraturan lalu lintas masih
banyak dilanggar oleh
masyarakat, terutama oleh
kalangan remaja atau pelajar.
Adanya pelanggaran lalu lintas
menunjukkan kurang
dipatuhinya Undang-Undang
Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan dengan baik oleh masyarakat (Fatmaningsih et al., 2018).
Tentunya bukan tanpa alasan undang-undang menentukan perlunya
batasan minimal usia, sebab umumnya usia remaja masih memiliki
karakter yang labil atau belum memahami etika dan aturan dalam
berlalu lintas dengan baik. Pada masa ini, kebanyakan dari mereka
lebih mengedepankan sifat individualisme dan egoisme yang tinggi dan
sering tidak memperdulikan hak orang lain di jalan (Purwanti &
Natanael, 2016).
Pemahaman dan kematangan psikologis yang kurang matang
atau masih labil ini di usia remaja akan beresiko menyebabkan
kecelakaan saat berkendara. Kondisi psikologis seseorang pada saat
remaja memiliki karakteristik yang labil, sulit dikendalikan, melawan
dan memberontak, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, agresif, mudah
terangsang serta memiliki loyalitas yang tinggi (Sarwono, 2006).
Pada survey yang dilakukan di 182 negara itu, Indonesia
menempati urutan kelima dalam peringkat Negara dengan korba tewas
terbanyak akibat kecelakaan lalu lintas. Diatas Indonsia, Negara-negara
lain dengan jumlah korban tewas kecelakaan lalu lintas adalah Cina,
India, Nigeria, dan Brazil. Kecelakaan lalu lintas melibatkan anak usia
remaja tergolong besar. Hal ini, ini terjadi karena mayoritas para
pelanggar lalu lintas yang cenderung ugal- ugalan dijalan adalah oknum
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 52
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
remaja dan pemuda (Ratnasari et al., 2014).
Unicef (2012) melaporkan bahwa remaja usia 10 sampai dengan
19 tahun berjumlah 1,2 milyar sedunia dimana bahwa setiap tahun rata-
rata 1,4 juta remaja mengalami kecelakaan di jalanan. Masalah perilaku
berlalu lintas sudah merupakan suatu fenomena yang umum terjadi di
kota-kota besar bahkan di negara-negara yang sedang berkembang,
termasuk Indonesia. Padatnya lalu lintas di sekitar tanpa didukung oleh
sarana yang baik dan kurangnya kesadaran masyarakat akan disiplin
berlalu lintas dapat memicu timbulnya berbagai pelanggaran dan
ketidakdisiplinan sehingga terjadi kecelakaan. Kebanyakan remaja
mengendarai kendaraan
bermotor tidak pernah mem-
perhatikan keselamatan
berkendaraan baik bagi
dirinya maupun orang lain
disekitarnya (Debora, 2019).
Di berbagai kota di
Indonesia kecelakaan lalu
lintas yang sering kali
terjadi adalah kecelakaan
sepeda motor dimana pengendaranya kebanyakan adalah para remaja
sekolah yang suka kebut-kebutan, menyelip-nyelip kendaraan yang ada
disekitarnya, hingga menerobos lampu merah karena tidak adanya
kesabaran dalam menunggu lampu hijau, ketiadaan pemilikan SIM
(Surat Ijin Mengemudi), tidak adanya kelengkapan surat-surat
kendaraan, melanggar marka jalan, hingga melawan arus (Purwanti &
Natanael, 2016).
Meski berbagai aturan telah dikeluarkan untuk menertibkan para
pengendara, namun pada kenyataannya masih banyak pengguna
terutama para remaja tidak mengindahkan aturan-aturan yang
ditetapkan, tak jarang kelalaian tersebut merugikan tak hanya para
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 53
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
pengguna melainkan orang lain. Berikut ini beberapa pelanggaran yang
sering terjadi dan dilakukan oleh para remaja.
1. Menerobos lampu merah
Lampu lalu lintas atau traffic light merupakan sebuah
komponen vital pengaturan lalu lintas. Namun ironisnya,
pelanggaran terhadap lampu lintas ini justru menempati urutan
pertama sebagai jenis pelanggaran yang paling sering dilakukan
pengguna kendaraan bermotor. Sedang terburu-buru serta tidak
melihat lampu sudah berganti warna, adalah beberapa alasan yang
sering terlontar dari si pelanggar.
2. Tidak menggunakan helm
UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan
sudah mengatur
mengenai kewajiban
pengendara untuk
penggunaan helm
berstandar Nasional
Indonesia (SNI). Bahkan
dalam UU tersebut
dengan jelas tertera pula
sanksi jika pengemudi
tidak mengenai helm, maka ia bisa dipidana dengan pidana
kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak
Rp250.000. Namun, pada prakteknya, lagi-lagi aturan ini sering
diabaikan. Rata-rata beralasan, mereka enggan menggunakan helm
karena jarak tempuh yang dekat serta merasa tidak nyaman.
3. Tidak menyalakan lampu kendaraan
Pasal 107 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa pengemudi
kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan
bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisi
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 54
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
tertentu. Kemudian pada ayat kedua dinyatakan pengemudi sepeda
motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari. Pelanggaran
sering terjadi, terutama untuk kewajiban menyalakan lampu di siang
hari. Rendahnya tingkat kedisiplinan pengguna jalan atau mungkin
kurangnya sosialisasi khususnya untuk lampu di siang hari bisa
menjadi penyebab seringnya aturan ini dilanggar.
4. Tidak membawa surat kelengkapan berkendara
Aksi tilang yang dilakukan pihak kepolisian juga sering terjadi
terhadap pengendara yang tidak membawa surat-surat berkendara
seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) serta Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK). Berbagai operasi yang tengah gencar dilakukan
aparat acapkali mendapati pelanggaran semacam itu. Banyak
diantara mereka yang belum memiliki SIM karena belum cukup usia,
namun memaksakan diri untuk mengendarai sepeda motor. Hal ini
tentunya bisa membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang
lain.
5. Melawan arus
Di kota-kota
besar seperti Jakarta,
para pengendara
sepeda motor acapkali
bersikap seenaknya di
jalanan dengan
“melawan arus”.
Mereka seolah tutup
mata dengan adanya pengendara lain yang berjalan berlawanan arah
dengan mereka. Beberapa peristiwa kecelakaan yang membahayakan
tak membuat jera para pengendara motor lainnya. Contohnya,
seorang pengendara motor nekad untuk melawan arus akibat
menghindari razia. Akibatnya, istrinya tewas karena jatuh terpental.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 55
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Di beberapa titik jalan lainnya di Ibukota, aksi nekad ini juga
seringkali terjadi.
6. Melanggar rambu-rambu lalu lintas
Pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas acapkali
terjadi. Parkir di bawah rambu dilarang parkir serta berhenti di
depan tanda larangan stop sudah menjadi aktivitas yang sering
dilakukan. Padahal menurut ketentuan pasal 287 ayat (1) UU No.22
tahun 2009, jenis
pelanggaran tersebut bisa
terancam hukuman
pidana kurungan paling
lama 2 bulan atau denda
paling banyak Rp500.000.
Namun, nyatanya
aturan ini seperti tanpa
taring. Mengatasi hal
tersebut, pihak kepolisian
juga tengah gencar melakukan penertiban dengan memberikan
sanksi kepada pelanggar, seperti melakukan gembok roda,
pengembosan ban dan bahkan langsung melakukan penderekan.
7. Menerobos jalur busway
Maraknya kecelakaan akibat aksi nekad pengendara yang
masuk ke jalur busway juga tidak membuat pengendara lainnya jera.
Begitu penjagaan dari para petugas mengendur, tindakan
indisipliner ini akan kembali berulang. Padahal sanksi yang
dikenakan untuk pelanggaran ini juga tidak ringan. Alasan
menembus kemacetan seringkali dilontarkan para pelaku
pelanggaran tersebut.
8. Penggunaan kendaraan yang tidak memperhatikan aspek
keselamatan
Saat ini banyak sekali pengendara yang memodifikasikan
kendaraannya namun tidak sesuai dengan standar keamanan.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 56
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Mengendarai motor dengan muatan lebih juga masuk dalam kategori
ini. Banyak peristiwa kecelakaan karena pengemudi memaksakan
kendaraannya dijejali dengan jumlah penumpang yang tidak sesuai
kapasitas.
9. Tidak menggunakan spion
Pentingnya kesadaran menggunakan kaca spion saat
berkendara seringkali diabaikan. Padahal kaca spion dapat
membantu pengemudi untuk memastikan bahwa kondisi saat itu
kondusif untuk membelokkan kendaraan. Hal ini juga berguna untuk
meminimalisir terjadinya kecelakaan. Berdasarkan Undang-Undang
No. 2 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285 ayat 1,
pengendara akan ditilang atau didenda sebesar Rp250.000 jika
kendaraannya tidak dilengkapi dengan kaca spion.
10. Berkendara melewati trotoar
Seyogyanya trotoar merupakan tempat bagi pejalan kaki.
Namun nyatanya, hak pejalan kaki juga diserobot oleh para
pengendara motor. Dengan tanpa merasa bersalah, mereka
mengendarai kendaraannya diatas trotoar sehingga memaksa
pejalan kaki untuk mengalah dengan alasan menghindari
kemacetan. Untuk mengantispasi hal tersebut, saat ini banyak
kampanye uang
menyerukan
pengembalian trotoar
sebagai sarana bagi para
pejalan kaki.
11. Mengemudikan
Kendaraan Sambil
Menelepon
Kebiasaan menggunakan telepon genggam (handphone) saat
berkendara. Kegiatan tersebut sangat berbahaya karena
mengakibatkan konsentrasi kita terpecah sehingga mengurangi
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 57
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
reaksi saat terjadi hal-hal tak terduga. Kebiasaan seperti ini di
lakukan karena penggilan telepon lebih penting. UU LLAJ No 22
Tahun 2009 melarang pengendara kendaraan bermotor berkendara
sambil melakukan aktivitas sampingan yang bisa merusak
konsentrasi. Aturannya terdapat dalam Pasal 106 ayat (1)
menyatakan bahwa setiap pengendara wajib berkendara dengan
penuh konsentrasi dan secara wajar. Jika anda mengalami
kecelakaan akibat keteledoran pengendara yang bertelepon maka
anda bisa menuntut pelaku penyebab kecelakaan tersebut dengan
melaporkannya ke polisi.
Saksinya terdapat dalam Pasal 283 UU No. 22 Tahun 2009 yang
berbunyi, “ Setiap orang yang
mengemudikan kendaraan
bermotor di jalan secara tidak
wajar dan melakukan kegiatan
lain atau dipengaruhi oleh
suatu
keadaanyangmengakibatkan
gangguan konsentrasi dalam
mengemudi di jalan
sebagaimana dimaksud dalam
pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga)
bulan atau denda paling banyak Rp 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu
Rupiah)."
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 58
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 2.1 22.1
Lembar Tugas Kelompok
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari Topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja yang
telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan
mengetahui beberapa jenis pelanggaran lalu lintas dalam kegiatan sehari-
hari ananda dan apa saja yang harus Ananda lakukan agar dapat
mencegah pelanggaran lalu lintas?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 59
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 2.2
Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Setelah membahas mengenai arti pelanggaran lalu lintas dikalangan
remaja, menurut ananda apakah remaja saat ini dapat menjadi
generasi tertib berlalu lintas ? jelaskan dan berikan contoh?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
2. Tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja
membuat resah lingkungan masyarakat, menurut ananda hal apa
saja yang dapat ananda lakukan untuk mencegah tingginya tingkat
pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja ?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 60
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 2.3
Lembar Refleksi
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 61
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
MATERI III
AKIBAT PELANGGARAN LALU LINTAS
DAN SELF REGULATION REMAJA
DALAM MENGHADAPINYA
A. AKIBAT PELANGGARAN LALU
LINTAS
B. FAKTOR PENYEBAB
PELANGGARAN LALU LINTAS
C. KENDALA BERKEMBANGNYA SELF
REGULATION PADA REMAJA
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 62
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Materi 3
Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Self Regulation Remaja
dalam Menghadapinya
A. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas
Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh
pengendara menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan (Melasari,
2017). Di negara maju, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
utama kematian untuk semua kelompok umur (Enggarsasi & Sa’diyah,
2017). Terjadinya pelanggar an lalu lintas salah satunya didasari oleh
keberanian untuk melanggar
karena adanya mentalitas
bahwa setiap masalah dapat
diselesaikan secara “damai”
dengan Polantas, adanya
budaya menerabas dan
pudarnya budaya malu
bahkan bagi sebagian orang
menjadi kebanggan
tersendiri apabila dapat mengelabui Polantas atau melanggar rambu-
rambu lalu lintas (Hendratno, 2009: 501), dan juga akibat kelalaian
pengemudi sendiri. Berbagai pelanggaran lalu lintas sangat sering kita
lihat di berbagai tempat, bukan hanya terjadi di pemberhentian lampu
merah saja. Bisa saja terjadi di trotoar, zebracros dan bahkan
kesalahan tersebut dilakukan bukan di sengaja.
Perilaku ketidakdisiplinan dalam berlalulintas seperti
mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan,
menerobos lampu lalu lintas, melewati marka pembatas jalan, tidak
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 63
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
melengkapi alat keselamatan seperti halnya tidak menggunakan
helmet, spion, lampu- lampu kendaraan, ketidaklengkapan surat- surat
kendaraan bermotor, tidak taat membayar pajak, menggunakan
kendaraan tidak layak pakai (Sadono, 2015). UU No 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Undang-undang
baru ini mengatur lebih tegas tentang jalan raya. Kemunculan undang-
undang baru ini tentu saja menerbitkan sebuah harapan terciptanya
lalu lintas yang tertib dan ramah bagi para pengguna jalan.
Kecelakaan lalu lintas sendiri dapat menyebabkan luka-luka
hingga kematian pada manusia (Dewi & Zain, 2016). Kecelakaan lalu
lintas tidak hanya menyebabkan kematian dan kerusakan kendaraan
bermotor, tetapi juga telah mengakibatkan penyakit yang serius dan
kecacatan. Banyak dari remaja yang belum mengetahui konsekuensi
yang jelas dari pelanggaran lalu lintas itu sendiri. Mereka juga kurang
merasa adanya manfaat yang baik yang diperoleh bila tidak melanggar
lalu lintas.
B. Faktor Penyebab Pelanggaran Lalu Lintas
Pelanggaran lalu lintas masih sering terjadi baik di kota besar
sampai wilayah pedesaan. Padahal pemerintah sudah menetapkan
aturan-aturan dalam berkendara, tapi masih ada saja yang melanggar
aturan tersebut. Kebanyakan pelanggaran itu terjadi karena unsur
kesengajaan untuk
melanggar hingga
ketidaktahuan atau pura-
pura tidak tahu terhadap
aturan yang berlaku.
Beberapa faktor yang bisa
menyebabkan pelanggaran
lalu lintas ataupun
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 64
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
kecelakaan di jalan raya itu terjadi, yaitu: faktor human error atau
kesalahan manusia, faktor mechanical failure atau kesalahan teknis
kendaraan, faktor kondisi jalanan, dan faktor cuaca (Enggarsasi &
Sa’diyah, 2017). Selain itu masih ada beberapa faktor
penyebab pelanggaran lalu lintas. Berikut ulasan selengkapnya.
1. Kurangnya kesadaran dan perilaku masyarakat
Perilaku yang membudaya dari pengguna jalan merupakan
salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kondisi lalu
lintas. Seperti etika, toleransi antar pengguna jalan dan kematangan
dalam pengendalian emosi terbilang masih rendah. Kemudian
perilaku berkendara yang hanya patuh jika ada polisi. Kalau polisi
tak terlihat, langsung tancap gas sampai melanggar aturan yang ada.
Cuek dengan keselamatan orang lain dalam berkendara juga
termasuk dalam kesadaran yang minim. Jalan raya nggak cuma
dipakai satu atau dua orang saja, tapi semua orang berhak
menggunakannya. Setiap pengguna jalan harus punya rasa tanggung
jawab demi keselamatan
orang lain juga.
Semua itu tergolong
ke dalam kesadaran
masyarakat dalam
berkendara yang masih
minim. Perlu diketahui,
respons dan interaksi yang
positif dari pengguna jalan bisa menciptakan kondisi lalu lintas lebih
kondusif, aman dan nyaman.
2. Pengetahuan Soal Marka, Rambu dan Peraturan yang Minim
Menjadi salah satu faktor utama penyebab pelanggaran lalu
lintas adalah minimnya pengetahuan soal aturan, marka hingga
rambu-rambu yang ada. Kurangnya kesadaran untuk mencari tahu
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 65
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
arti dari marka, rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku
membuat pelanggaran terus terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya
kalau bikin SIM jangan mau yang instan. Dengan mengikuti semua
prosedur dalam bikin SIM, setidaknya pengetahuan soal aturan,
marka dan rambu-rambu lalu lintas bisa kembali dipahami.
3. Kebiasaan Mencari Jalan Pintas
Kebanyakan orang melanggar rambu-rambu lalu lintas karena
sudah terbiasa mencari jalan pintas. Kebiasaan ini semakin
didukung dengan alasan "lebih cepat sampai tujuan". Tak jarang
muncul pemikiran kalau adanya rambu lalu lintas justru
menghambat perjalanan mereka, yang akhirnya kebiasaan itu jadi
pembenaran diri. Aturan-aturan yang ada pun dianggap tidak
perlu. Kebiasaan seperti ini sebenarnya membuat para pelanggar
nekat melawan aturan yang akhirnya mempersulit diri sendiri.
4. Fenomena ikut-ikutan pengendara lain
Faktor yang mendorong seseorang melanggar aturan rambu
lalu lintas disebabkan
adanya konformitas. Hal ini
merupakan perubahan
perilaku seseorang untuk
mengikuti orang lain yang
menurutnya benar alias
suka ikut-ikutan. Pernah
lihat kan gerombolan
pemotor yang masuk jalur
busway? Biasanya itu terjadi karena ada satu ada dua orang yang
jadi pelopor masuk ke jalur terlarang itu. Kemudian disusul oleh
pengendara lain, akhirnya jalur busway dipenuhi oleh para pemotor.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 66
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
5. Kondisi jalan
Berbagai kondisi jalan juga menjadi salah satu penyebab
terjadinya pelanggaran. Seperti jalan yang rusak, kurangnya marka
atau rambu-rambu lalu lintas, alat pengawas atau pengamanan jalan
serta fasilitas pendukung lainnya. Di kota-kota besar mungkin faktor
ini jarang ditemui. Lain hal dengan di pedesaan atau kawasan
lainnya, mungkin masih ada kondisi jalan yang tidak
memadai. Namun semua itu bisa dikurangi dengan rekayasa jalan
sehingga dapat memengaruhi tingkah laku para pengguna jalan,
mengurangi serta mencegah tindakan yang membahayakan
keselamatan dalam berlalu lintas. Dalam berkendara, kita tidak
perlu mengenal situasi jalan aman atau tidak dari polisi, jauh atau
dekat bahkan penting atau tidak dalam melengkapi syarat
keamanan dalam berkendara. Sebagaimana aturan lalu lintas itu
dibuat, sudah sepatutnya untuk dipatuhi demi alasan keselamatan
dan kenyamanan dalam berlalu lintas.
C. Kendala Berkembangnya Self Regulation Pada Remaja
Self regulation dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana
seseorang melakukan strategi dengan meregulasi kognisi,
metakognisi, dan motivasi. Apabila seorang remaja memiliki self
regulated yang tinggi maka ia mampu merencanakan kegiatan sehari-
hari, mampu mengatur diri, serta dapat memonitor kegiatannya, dan
melakukan evaluasi kegiatannya. Sebaliknya, apabila seorang remaja
memiliki self regulated yang rendah maka ia akan kesulitan untuk
membuat suatuperencanaan kegiatan sehari-hari, kesulitan mengatur
diri, kesulitan mengontrol kegiatannya, dan kesulitan dalam
mengevaluasi kegiatan.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang kurang
mampu untuk mengembangkan self regulation.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 67
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
1. Kurangnya pengalaman belajar dari lingkungan sosial adalah
faktor yang pertama yang menyebabkan kegagalan seseorang
dalam mengembangkan self regulation. Seringkali mereka
mengalami kesulitan untuk mengembangkan self regulation
disebabkan mereka tumbuh di rumah atau lingkungan yang tidak
mengajarkan mereka untuk melakukan self regulation, tidak
diberikan contoh, atau pun tidak diberikan reward (Brody,
Stoneman, Flor, 1996 dalam Boekaerts, 2000).
2. Batasan kedua yang menghambat seseorang dalam
mengembangkan kemampuan self regulation bersumber dari dalam
dirinya yaitu adanya sikap apatis
(disinterest). Hal ini disebabkan
dalam menggunakan teknik-
teknik self regulation yang efektif
dibutuhkan atisipasi, konsentrasi,
usaha, self reflection yang cermat.
Sebagai contohnya, kebanyakan
guru akan melaporkan bahwa
murid-murid yang tidak aktif di
kelas akan menunjukkan prestasi
yang kurang dan jarang
mengumpulkan tugas-tugas yang
diterimanya (Steinberg, Brown, Dornbusch, 1996 dalam Boekaerts,
2000).
3. Gangguan suasana hati, seperti mania atau depresi adalah batasan
ketiga yang dapat menyebabkan tidak berkembangnya self
regulation. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami depresi
cenderung menunjukkan perilaku menyalahkan diri sendiri, salah
dalam mempersepsikan hasil perilaku mereka, bersikap negatif
(Bandura, 1991 dalam Boekaerts, 2000).
4. Batasan yang keempat yang sering dihubungkan dengan kurang
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 68
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
berkembangnya self regulation adalah adanya learning disabilities,
seperti masalah kurang mampu konsentrasi, mengingat, membaca
dan menulis (Borkowski & Thorpe, 1994 dalam Boekaerts, 2000).
Sebagai contoh, seorang anak dengan learning disabilities
menetapkan goal academic yang lebih rendah dibandingkan dengan
anak-anak normal, memiliki masalah dalam mengontrol
dorongannya, dan kurang akurat dalam menilai kemampuan yang
mereka miliki.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 69
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 3.1
Lembar Tugas Kelompok
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik akibat pelanggaran lalu lintas dan self regulation remaja
dalam menghadapinya yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada
harus memahami dan mengetahui self regulation dalam berlalu lintas ?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 70
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 3.2
Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Pembahasan mengenai akibat pelanggaran lalu lintas dan self
regulation remaja dalam menghadapinya, menurut ananda
bagaiamana self regulation remaja dalam berlalu lintas, apakah telah
sesuai ? jelaskan !
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
2. Bahaya akibat melanggar peraturan berlalu lintas telah ananda
pelajari, apa manfaat yang ananda dapatkan serta saran untuk para
remaja dalam berlalu lintas ?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 71
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 3.3
Lembar Refleksi
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 72
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
MATERI IV
KIAT MENINGKATKAN SELF REGULATION
REMAJA DALAM PENCEGAHAN
PELANGGARAN LALU LINTAS
A. MANFAAT MEMATUHI PERATURAN
BERLALU LINTAS
B. FAKTOR PENYEBAB MENURUNNYA
SELF REGULATION
C. KIAT MENINGKATKAN SELF
REGULATION PADA REMAJA
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 73
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Materi 4
Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas
A. Manfaat Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas
Perilaku tertib berlalu
lintas merupakan sama halnya
dengan prilaku disiplin berlalu
lintas yang mempunyai kesamaan
yaitu aturan yang harus dipatuhi.
Tertib merupakan teratur dan
rapi yang tidak lain juga sopan
dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Selanjutnya lalu lintas
berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan bahwa
lalu lintas merupakan gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas
yang tidak lain ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang
diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang
yang berupa jalan dan fasilitas pendukung. Mengenai ketertiban berlalu
lintas menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan
bahwa ketertiban berlalu lintas adalah suatu keadaan berlalu lintas
yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban
setiap pengguna jalan.
Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan
perundangan menyangkut arah lalu lintas, prioritas menggunakan
jalan, lajur lalu lintas, jalur lalu lintas dan pengendalian arus di
persimpangan. Perilaku pengendara lalu lintas yang mempengaruhi
perilaku berlalu lintas yang diatur dalam Undang-Undang No.22 tahun
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 74
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
2009 pasal 105 huruf (a) dan (b) yang berisi setiap orang yang
menggunakana jalan.
Adapun beberapa manfaat yang didapat ketika mematuhi
perarturan berlalu lintas, sebagai berikut :
1. Tiba di tempat dengan Selamat
Mematuhi tata tertib lalu lintas adalah salah satu aspek
keselamatan yang diwajibkan pihak kepolisian agar pengendara
selamat sampai di tujuan. Pelanggaran atas rambu-rambu di jalan
raya bisa berdampak buruk, baik bagi pengemudi, maupun
penumpang. Dari mulai terjadi kecelakaan, terlambat sekolah atau
kerja, sampai perselisihan dengan pengendara lain.
2. Mencegah Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas yang terjadi dapat membuat Anda
akan mengalami berbagai kerugian, salah satunya yakni rugi waktu
karena Anda akan berjalan dengan kecepatan yang sangat rendah.
Contohnya di jalan raya pernahkah anda melihat tanda panah
terbalik membentuk huruf U? Coba bayangkan, kalau semua
pengemudi mengabaikan rambu tersebut, mereka akan berputar
arah di lokasi terlarang sehingga membahayakan pengemudi dari
arah seberang. Dampak yang lebih parah, bisa menimbulkan
kemacetan lalu lintas. Pasalnya, ketika berputar balik, otomatis
menghalangi laju kendaraan dari belakang. Efek macet pun dapat
terjadi ketika
pengemudi berhenti di
kawasan dilarang
parkir. Deretan
kendaraan di tepi
jalan, menjadikan jalur
semakin sempit.
Karena itu, mobil
harus mengantre
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 75
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
panjang agar bisa melewati.
3. Terhindar dari Kecelakaan Lalu Lintas
Ketertiban berlalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu
lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan
kewajiban setiap pengguna jalan (Pasal 1 Angka 32 UU Nomor 22
Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan) tertib berlalu
lintas tentunya akan mengurangi angka kecelakaan
(Kompasiana, 2019).
4. Menjaga Keselematan Diri
dan Orang Lain
Kasus kecelakaan
akibat pelanggaran rambu-
rambu lalu lintas paling
kerap terjadi. Pengemudi
sebagai pemakai jalan
adalah salah satu bagian
utama dalam terjadinya
kecelakaan. Pengemudi mempunyai peran sebagai bagian dari mesin
dengan mengendarai, mengemudikan, mempercepat, memperlambat,
mengerem, dan menghentikan kendaraan.
Keselamatan di jalan raya adalah hal yang utama. Tak ayal
lagi, siapapun yang berada di jalan raya bertanggung jawab atas
keselamatan diri sendiri maupun orang lain, terlebih bagi
pengendara mobil dan motor. Mereka lah yang lebih sering menjadi
berbagai penyebab kecelakaan lalu lintas akibat tidak
mengutamakan sikap berhati-hati atau mematuhi aturan lalu lintas
di jalanan. Beberapa hal yang perlu dilakukan saat berada di jalan
raya yaitu
a. Berhati-hati (baik pejalan kaki dan yang berkendaraan bermotor)
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 76
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
b. Tidak bersikap emosional di jalan raya yang bisa mengganggu
konsentrasi para pengguna jalan lainnya
c. Saling menghormati antar para pengguna jalan raya
d. Mematuhi peraturan lalu lintas dan tentunya tidak melanggar
regulasi yang ada
e. Mendahulukan pengguna jalan secara berjenjang kebawah di
area tanpa rambu-rambu di jalan (dalam artian pengendara
mobil mendahulukan pengendara motor, sepeda dan pejalan kaki.
Sementara, pengendara motor mendahulukan pengendara sepeda
dan pejalan kaki dan begitu seterusnya).
B. Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam Pencegahan
Pelanggaran Lalu Lintas
Setiap orang akan berusaha untuk meregulasi fungsi dirinya
dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Winne, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Oleh karena itu yang
membedakan hanyalah efektivitas dari self regulation itu sendiri. Pada
waktu seseorang mampu mengembangkan kemampuan self regulation
secara optimal, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat
dicapai secara optimal. Sebaliknya pada saat seseorang kurang mampu
mengembangkan kemampuan self regulation dalam dirinya, maka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya tidak dapat dicapai secara
optimal. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulation ini bisa
disebabkan oleh kurang berkembangnya salah satu fase dalam proses
self regulation terutama pada fase forethought dan performance control
yang tidak efektif (Bandura, 1991; Zimmerman, 1998 dalam Boekaerts,
2000).
Berdasarkan perspektif social cognitive, proses self regulation
digambarkan dalam tiga fase perputaran : Fase forethought
(perencanaan), performance or volitional control (pelaksanaan), self
reflection (proses evaluasi). Fase forethought berkaitan dengan proses-
proses yang berpengaruh yang mendahului usaha untuk bertindak dan
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 77
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
juga meliputi proses dalam menentukan tahap-tahap untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkannya. Fase performance or volitional control
meliputi proses-proses yang terjadi selama seseorang bertindak dalam
upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya.
Fase self reflection meliputi proses yang terjadi setelah seseorang
melakukan upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan
pengaruh dari respon (feedback) terhadap pengalamannya yang
kemudian akan memberikan pengaruh pada fase forethought dalam
menetapkan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilaksanakannya.
Ketiga fase tersebut terus menerus berulang dan membentuk
suatu siklus. Secara ringkas proses yang terjadi dalam ketiga fase
tersebut sebagai berikut :
1. Fase Forethought Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat
dalam fase Forethought:
a. Task Analysis, yang menjadi inti task analysis meliputi
penentuan tujuan (goal setting) dan strategic planning. Goal
Setting dapat diartikan sebagai penetapan / penentuan hasil
belajar yang ingin dicapai oleh seorang siswa, misalnya
memecahkan persoalan matematika selama proses belajar
berlangsung (Locke & Lathan, 1990 dalam Boekaerts, 2000).
Goal system dari seseorang yang mampu melakukan self
regulation tersusun
secara bertahap.
Proses tersebut
dilakukan sebagai
regulator untuk
mencapai tujuan yang
sama dengan hasil
yang pernah dicapai.
Bentuk kedua dari
task analysis adalah
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 78
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
strategic planning. Strategi ini merupakan suatu proses dan
tindakan seseorang yang bertujuan dan diarahkan untuk
memperoleh dan menunjukkan suatu keterampilan yang dapat
digunakannya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkannya. (Zimmerman, 1989 dalam Boekaerts, 2000).
Strategi yang dipilih secara tepat dapat meningkatkan
performance dengan mengembangkan kognitif, mengontrol
affect, dan mengarahkan kegiatan motorik (Pressley &
Wolloshyn, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Perencanaan dan
pemilihan strategi membutuhkan penyesuaian yang terus
menerus karena adanya perubahan-perubahan baik dalam diri
siswa itu sendiri ataupun dari kondisi lingkungan tersebut
dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang sama
dengan hasil yang pernah dicapai.
b. Self Motivation Beliefs, yang menjadi dasar task analysis dan
strategic planning adalah self motivation beliefs yang meliputi
self eficacy, outcome expectation, intrinsic interest or valuing,
dan goal orientation. Self eficacy merujuk pada keyakinan
seseorang terhadap kemampuannya untuk memiliki
performance yang optimal untuk mencapai tujuannya,
sementara outcomes expectation merujuk pada harapan
seseorang tentang pencapaian suatu hasil dari upaya yang telah
dilakukannya (Bandura, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Sebagai
contoh, self eficacy yang mempengaruhi goal setting adalah
sebagai berikut: semakin mampu seseorang meyakini
kemampuan mereka sendiri, maka akan semakin tinggi tujuan
yang mereka tetapkan dan semakin mantap ia akan bertahan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya (Bandura,
1991; Locke & Latham, 1990 dalam Boekaerts, 2000).
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 79
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
2. Fase Performance / Volitional control
a. Self Control Proses self control seperti self instruction, imagery,
attention focusing, dan task strategies, membantu siswa
menfokuskan pada tugas yang dihadapinya dan
mengoptimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkannya. Salah satu perilaku yang dapat diamati pada
saat seseorang sedang berada di fase ini adalah saat anak
mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak
memperlihatkan verbalisasi dalam mengingat rumus-rumus
matematika (self
instruction),
mencoba untuk
membentuk suatu
gambaran mental
secara utuh
misalnya dengan
cara melakukan
proses encoding
(imagery) ataupun
mencoba berbagai teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat
dengan mudah menghapalkan rumus-rumus matematika
tersebut (attention focusing).
b. Self Observation Proses Self observing, mengacu pada
penelusuran seseorang terhadap aspek-aspek yang spesifik dari
performance yang mereka tampilkan, kondisi sekelilingnya, dan
akibat yang dihasilkannya (Zimmerman & Paulsen, 1995 dalam
Boekaerts, 2000). Penetapan tujuan yang dilakukan pada fase
forethought mempermudah self observation, karena tujuannya
terfokus pada proses yang spesifik dan terhadap kejadian di
sekelilingnya.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 80
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
3. Fase Self Reflection
a. Self Judgement Self judgement meliputi self evaluation terhadap
performance yang ditampilkannya dalam upaya mencapai tujuan
dan menjelaskan penyebab yang signifikan terhadap hasil yang
dicapainya. Self evaluation mengarah pada upaya untuk
membanding informasi yang diperolehnya melalui self monitoring
dengan standar atau tujuan yang telah ditetapkan pada fase
forethought.
b. Self Reaction Proses yang kedua yang terjadi pada fase ini adalah
self reaction yang terus menerus akan memperngaruhi fase
forethought dan seringkali berdampak pada performance yang
ditampilkannya di masa mendatang terhadap tujuan yang
ditetapkannya (Susanto, 2006) .
Dengan terpenuhinya ketiga fase tersebut, diharapkan para
remaja dapat mengetahui dan meningkatkan self regulation pada diri
mereka.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 81
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 4.1
Lembar Tugas Kelompok
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik kiat meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada
harus memahami dan mengetahui kiat meningkatkan self regulation
remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 82
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 4.2
Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Setelah mengamati keadaan lalu lintas di jalan ray apa kritik dan
saran yang dapat Ananda berikan kepada pihak kepolisian dalam
ketertiban berlalu lintas !
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
2. Setelah mengetahui arti self regulation dan pelanggaran lalu lintas,
menurut Ananda bagaimana saran Ananda sebagai generasi masa
depan untuk dapat meningkatkan self regulation dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas disaat ini?
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 83
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Lampiran 4.3
Lembar Refleksi
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan
sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu
menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 84
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
PENUTUP
Demikian E-book ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan oleh Guru
BK/Konselor untuk membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas. Panduan ini membahas petunjuk
penggunaan yang perlu dipahami oleh Guru BK/Konselor agar bisa
membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 85
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
DAFTAR PUSTAKA
Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.
Damayanti, R., & Aeni, T. (2016). Efektivitas konseling behavioral dengan
teknik modeling untuk mengatasi perilaku agresif pada peserta didik
SMP Negeri 07 Bandar Lampung. Konseli: Jurnal Bimbingan Dan
Konseling, 03(1), 1–10.
Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression di
Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.
Djaja, S., Widyastuti, R., Tobing, K., Lasut, D., & Irianto, J. (2016).
Description of traffic accident in indonesia , year 2010-2014. Jurnal
Ekologi Kesehatan, 15(1), 30–42.
Enggarsasi, U., & Sa’diyah, N. K. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor
penyebab kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.
Ernawati, R., & Afdal. (2018). Peningkatan disiplin siswa dalam menaati
tata tertib dengan menggunakan teknik modeling melalui layanan
penguasaan konten di SMPN 49 Jakarta pada siswa kelas 8 tahun
ajaran 2018-2019. Jurnal Selaras: Kajian Bimbingan Dan Konseling
Serta Psikologi Pendidikan, 1(2), 81–95.
Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of Guidance
and Counseling : Theory and Application, 7(1).
Firman, Karneli, Y., & Harikoa, R. (2018). Improving students’ moral logical
thinking and preventing violent acts through group counseling in senior
high schools. Advance Science Letters, 1(24), 24–26.
Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 86
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).
Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan pada
remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks Teknik Sipil, 838–
843.
Herdiyanto, Y. K., & Karinadan, N. K. G. (2019). Perbedaan regulasi diri
ditinjau dari urutan kelahiran dan jenis kelamin remaja bali. Jurnal
Psikologi Udayana, 6(1),
849–858.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/47152/28331
Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang ( Studi
Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.
Purwanti, & Natanael. (2016). Video Animasi Stop Motion Sebagai Media
Pembelajaran Pada Kampanye Pengenalan Tertib Berlalu Lintas Bagi
Remaja Pengendara Sepeda Motor. Jurnal Widyakala, 3.
Rahmawati, S., & Susanti. (2019). Pengembangan Bahan Ajar E-Book Pada
Mata Pelajaran Praktikum Akuntansi Lembaga Berbasis Kontekstual
Untuk SMK. Jurnal Pendidikan Akuntansi, 7(3), 383–391.
Rakhman, M. Y. N. (2016). Reproduksi Pelanggaran Peraturan Lalu Lintas
yang Dilakukakan oleh Pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota
Surakarta.
Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.
Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas motor
sulut king community (SKC) Manado. 24.
Sadono, S. (2015a). Budaya Kajian Fenomenologis atas Masyarakat
Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI. Ilmu Komunikasi
Dan Bisnis, 01, 58–70.
Sadono, S. (2015b). Budaya tertib berlalu lintas kajian fenomenologis atas
masyarakat pengendara sepeda motor di kota bandung. 151(september
2016), 10–17. https://doi.org/10.1145/3132847.3132886
Santrock, J. W. (2007). Remaja (Edisi Kesebelas) Terjemahan oleh
Benectine Widyasinta. Erlangga.
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 87
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja
Sari, D. P. (2014). Mengembangkan kemampuan self regulation, ranah
kognitif, motivasi dan metakognisi. Delta-Pi: Jurnal Matematika Dan
Pendidikan Matematika, 3, 16–39.
Sihotang, N., & Yusuf, A. M. (2013). Pengaruh Layanan Bimbingan
Kelompok Terhadap Pencapaian Tugas Perkembangan Remaja Awal
dalam Aspek Kemandirian Emosional ( Studi Eksperimen di SMP
Frater Padang ). Jurnal Konselor, 2(4).
Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.
Surya, D. H. (2017). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang di
kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan berkenderaan
di sekolah menengah kejuruan negeri pertanian terpadu Provinsi Riau
). Jurnal Akasara Public, 1, 30–46.
Susanto, H. (2006). Mengembangkan kemampuan self regulation untuk
meningkatkan keberhasilan akademik siswa. Jurnal Pendidikan
Penabur, 07, 64–71.
http://www.academia.edu/download/34838935/Hal.64-
71_Mengembangkan_Self_Regulation.pdf
Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan kecelakaan
lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.
Yulfitri, F., Marjohan, M., & Sano, A. (2014). Konformitas internalisasi
siswa terhadap peraturan sekolah dan implikasinya dalam layanan
bimbingan dan konseling. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 2(1), 36.
https://doi.org/10.29210/111800
Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok 88
Dalam Peningkatan Self Regulation Remaja