The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayarahmi94, 2020-09-15 02:50:15

Smart City Melalui Pengembangan E-Book Bimbingan Kelompok Menggunakan Teknik Modeling Dalam Peningkatan Kebermaknaan Hidup Remaja Guna Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Keywords: Smart City,Bimbingan Kelompok,Teknik Modeling,Kebermaknaan Hidup,Pelanggaran Lalu Lintas

Page i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat, taufik,
hidayah dan inayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan
“Smart City Melalui Pengembangan E-Book Bimbingan Kelompok
Menggunakan Teknik Modeling dalam Peningkatan Kebermaknaan
Hidup Remaja Guna Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas”. Sholawat
serta salam semoga tercurah untuk Baginda Nabi Besar Muhammad
Saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyyah menuju zaman
modern saat ini.

E-Book ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan
oleh Guru BK/Konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan dan
konseling untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas. E-Book ini memuat beberapa
mekanisme layanan bimbingan dan konseling yang mencakup tujuan,
indikator keberhasilan, waktu, langkah-langkah, materi, rangkuman,
tugas dan evaluasi. Semoga panduan ini dapat digunakan oleh Guru
BK/Konselor untuk membantu siswa dalam layanan bimbingan dan
konseling.

Penulis sudah berusaha untuk menyelesaikan E-Book ini dengan
sebaik-baiknya, jika masih ditemui kesalahan, kekurangan dan
kelemahan dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik dan
saran dari pembaca demi kesempurnaan panduan ini.

Padang, …… September 2020

Penulis

Page i

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................... ii

TINJAUAN UMUM ................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

B. Panduan Layanan ........................................................................... 4

C. Deskripsi Panduan ........................................................................... 6

D. Landasan Penyusunan E-Book ...................................................... 6

E. Tujuan Penggunaan E-Book .......................................................... 7

F. Pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator .............................. 8

G. Susunan Materi ................................................................................ 8

H. Petunjuk Umum E-Book.................................................................... 8

I. Rencana Pelaksanaan Layanan .................................................. 10

Materi 1 : Remaja dan Kebermaknaan Hidup

A. RPL....................................................................................................... 12

B. Materi ................................................................................................. 19

C. Rangkuman....................................................................................... 27

D. Lampiran ........................................................................................... 28

E. Daftar Pustaka .................................................................................. 32

F. Daftar Gambar ................................................................................. 33

Materi 2 : Remaja dan Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

A. RPL....................................................................................................... 34

B. Materi ................................................................................................. 41

C. Rangkuman....................................................................................... 51

D. Lampiran ........................................................................................... 52

E. Daftar Pustaka .................................................................................. 56

F. Daftar Gambar ................................................................................. 57

Materi 3 : Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Tindakan Terhadap

Kematian

A. RPL....................................................................................................... 58

B. Materi ................................................................................................. 65

C. Rangkuman....................................................................................... 71

D. Lampiran ........................................................................................... 72

E. Daftar Pustaka .................................................................................. 76

F. Daftar Gambar ................................................................................. 77

Page ii

Materi 4 : Ketertiban Lalu Lintas dan Kebermaknaan Hidup 78
A. RPL....................................................................................................... 85
B. Materi ................................................................................................. 96
C. Rangkuman....................................................................................... 97
D. Lampiran ........................................................................................... 101
E. Daftar Pustaka .................................................................................. 102
F. Daftar Gambar .................................................................................
103
Materi 5 : Kepatuhan Berlalu Lintas dan Kebermaknaan Hidup 110
A. RPL....................................................................................................... 117
B. Materi ................................................................................................. 118
C. Rangkuman....................................................................................... 122
D. Lampiran ........................................................................................... 123
E. Daftar Pustaka .................................................................................. 124
F. Daftar Gambar ................................................................................. 125

PENUTUP .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

Page iii

TINJAUAN UMUM

A. Latar Belakang Masalah
Kualitas hidup yang baik dan membahagiakan adalah

keinginan semua orang, salah satunya dapat difasilitasi dengan
pemanfaatan teknologi dan komunikasi yang tepat guna.
Pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi satu hal yang sangat
diharapkan masyarakat perkotaan untuk mewujudkan kota sebagai
tempat yang nyaman dan sehat. Sebagaimana diketahui, bahwa
sebagian besar penduduk Indonesia yaitu (56,7%) saat ini hidup di
perkotaan dan angka ini akan mencapai 60.0% pada tahun 2025
(Badan Pusat Statistik, 2017). Mereka dihadapkan pada beragam
permasalahan perkotaan yang mengganggu kualitas hidup dan
kehidupan, yang muncul akibat keberadaan lingkungan yang
padat, kumuh, tidak terawat, transportasi yang padat dan tidak
beraturan, lingkungan sosial yang kurang aman dan kondusif; serta
situasi eknonomi yang tidak menentu. Berbagai masalah ini apabila
dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik akan berdampak pada
kualitas hidup sehat dalam arti luas. Untuk menyelesaikan masalah
dan mewujudkan kota yang aman dan nyaman bagi penduduknya,
diperlukan upaya dan solusi cerdas untuk penyelesaian masalah
dapat dilakukan dengan penerapan dan kolaborasi ekosistem
digital yang masuk ke dalam konsep Smart City yang saat ini banyak
menjadi impian kota-kota besar di Indonesia untuk diterapkan.
Konsep ini dianggap sebagai solusi dalam mengatasi berbagai
persoalan.

Smart city sudah diimplementasikan di berbagai kota di dunia
dan terbukti mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara
cepat pula. Informasi tersebut juga dapat dimanfaatkan pemerintah
untuk menciptakan kenyamanan, keamanan dan ketertiban serta
kehidupan yang lebih baik. Smart city (kota cerdas) adalah kota
yang masyarakatnya mampu mengelola sumber daya dengan
efisien, dalam arti “mampu memaksimalkan investasi sumberdaya
manusia, transportasi, dan infrastruktur teknologi informasi untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kenyamanan hidup”
(Caragliu, Del, & Nijkamp, 2009).

Namun, pesatnya kemajuan masyarakat modern saat ini tidak
hanya membawa dampak positif bagi pendidikan ataupun
perkembangan siswa tetapi juga beberapa membawa banyak
keprihatinan yang menyertai di dalamnya, salah satunya terkait

Page 1

dengan dunia remaja. Berdasarkan tinjauan teori perkembangan,
usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan
yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek
kognitif, emosi dan sosial. Sebagian remaja mampu mengatasi
transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi
mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial
(Sitihang et al., 2013).

Beberapa berita di koran, televisi ataupun berbagai media
semakin marak memberitakan tingkah laku remaja yang semakin
menimbulkan keprihatinan serta perubahan gaya hidup yang
mengkhawatirkan (Anggriany, 2006). Termasuk dalam hal ketertiban
berlalu lintas, banyak dari kalangan remaja yang bersikap kurang
peduli terhadap tata tertib berlalu lintas serta menganggap bahwa
apabila berkendara dengan mematuhi lalu lintas dianggap sesuatu
yang kampungan tanpa memikirkan dampak yang akan dialami
apabila melanggar lalu lintas.

Remaja sebagai generasi milenial seharusnya telah memiliki
pendidikan lebih baik dan terbiasa dengan teknologi, percaya diri,
bekerja dengan kreatif dan mempunyai semangat mencapai suatu
tujuan, namun dalam kenyataannya generasi milenial juga memiliki
beberapa kelemahan yaitu : 1) berorientasi kepada produk, serba
instan dan memandang semua pekerjaan dipermudah oleh
teknologi, kurang menghargai proses, kurang memiliki semangat
juang dan kurang tangguh menghadapi permasalahan, 2) kurang
mematuhi etika yang sudah mapan, 3) permisif, terbuka terhadap
perubahan, tidak jarang berlebihan dalam menginterpretasi sesuatu
yang selama ini dianggap tabu dan akhirnya menjadi hal yang
biasa, 4) keterampilan sosial rendah dan terkesan kurang beretika
dan tidak terlatih berkomunikasi secara langsung (Firman, 2018). Di
Indonesia pelanggaran lalu lintas masih menjadi permasalahan di
kalangan masyarakat karena banyaknya usia produktif yang
menjadi korban kecelakaan khususnya para remaja.

Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu keadaan di mana
terjadi ketidaksesuaian antara aturan dan pelaksanaan, aturan
dalam hal ini adalah hukum yang telah ditetapkan dan disepakati
oleh negara sebagai undang-undang yang berlaku secara sah,
sedangkan pelaksanaannya adalah manusia atau masyarakat
suatu negara yang terikat oleh hukum tersebut (Sadono, 2015). Hal

Page 2

ini tertuang dalam UU RI Nomor 22 Tahun 2009, yang di dalamnya
berisi tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Beberapa bentuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh
kalangan remaja diantaranya: 1) berkendara dengan cara yang
membahayakan ketertiban atau keamanan lalu lintas (Rakhman,
2016), 2) mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak dapat
memperlihatkan administrasi (Rakhmani, 2013), 3) membiarkan
kendaraan bermotor dikemudikan oleh orang lain yang tidak
memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) (Umi Enggarsasi, 2017), 4)
mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang
ditentukan, menerobos lampu lalu lintas, berkendara zigzag dengan
kecepatan tinggi, tidak melengkapi alat keselamatan seperti halnya
tidak menggunakan helmet, spion, dan lampu-lampu kendaraan
(Sadono, 2015).

Salah satu momen puncak pelanggaran lalu lintas yang sering
kita dapati dan dilakukan oleh para siswa-siswi tingkat akhir adalah
menjelang kelulusan ujian negara di mana banyak siswa-siswi yang
mengekspresikan kelegaan mereka dengan corat-coret baju
seragam dan trek-trekan atau konvoi yang dilakukan untuk
menyambut kelulusan. Aksi tersebut beberapa berdampak negatif
seperti trek-trekan atau pawai yang menimbulkan aksi ugal-ugalan
di jalan raya yang bisa membahayakan pengguna jalan lain
(Susanto et al., n.d.). Hal ini menggambarkan lemahnya kesadaran
masyarakat khususnya remaja tehadap peraturan berlalu lintas.
Padahal pendidikan keselamatan berlalu lintas sendiri tidak henti-
hentinya diberikan oleh pihak kepolisian, guna mengingatkan dan
menanamkan budaya keselamatan dalam berdisiplin berlalu lintas
khususnya para siswa.

Akibat dari pelanggaran lalu lintas adalah kecelakaan lalu
lintas yang sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini
dibuktikan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan “pembunuh
nomor tiga” dunia setelah penyakit jantung dan TBC (Agung, 2014).
Data WHO tahun 2016 mencatat 1,2 juta orang meninggal setiap
tahunnya dalam kecelakaan lalu lintas dan 50 juta menjadi
penyebab utama kematian dikalangan anak muda berusia 15
sampai 29 tahun (Handayani et al., 2017).

Data Korps Lalu Lintas Republik Indonesia menyebutkan
bahwa setiap tahun terdapat 28.000-38.000 orang meningggal
akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Jumlah tersebut membuat

Page 3

Indonesia berada diperingkat ketiga negara dengan rasio tertinggi
akibat kecelakaan lalu lintas (Rudi, 2017). Kasus kecelakaan lalu
lintas di Indonesia sendiri terus mengalami peningkatan dari tahun
2015 sampai tahun 2018.

Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) dikutip dari
republika juga mencatat bahwa terdapat kenaikan jumlah
kecelakaan lalu lintas (lakalantas) dan pelanggaran lalu lintas
disepanjang tahun 2018. Kapolda Sumbar menyebutkan jumlah
lakalantas di tahun 2018 sebanyak 2.912 kasus naik 17% dibanding
pada tahun 2017 sebanyak 2.862 kasus. Sedangkan jumlah
pelanggaran lalu lintas mengalami kenaikan sebesar 22,23% yaitu
tahun 2018 sebanyak 123.256 kasus lebih besar dibandingkan pada
tahun 2017 sebanyak 101.003 kasus (Republika 2019).

Data pelanggaran lalu lintas di Provinsi Sumatera Barat
khususnya Kota Padang selain meningkat juga didominasi oleh
kalangan pelajar, ini dibuktikan dari data yang dikutip dari
Antaranews Sumbar yang menyatakan bahwa pelanggaran lalu
lintas paling banyak didominasi oleh kalangan pelajar atau
mahasiswa hal ini sesuai dengan pernyataan Kapolda Sumbar yang
mengatakan rata-rata korban pelanggaran lalu lintas di tahun 2019
saat ini masih didominasi oleh para generasi millenial atau yang
berusia 17-35 tahun dikarenakan tidak mematuhi aturan lalu lintas
saat berkendara (Primadoni, 2019).

Fenomena di atas menggambarkan bahwa kurangnya arti
kebermaknaan hidup pada diri remaja, dikarenakan kebermaknaan
hidup sendiri adalah penghayatan individu sejauh mana hidupnya
berguna dan berarti (Bastaman, 2007). Kebermaknaan hidup sendiri
dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan menjadi orang yang
berguna bagi orang lain apakah itu anak, pasangan hidup,
keluarga dekat, komunitas, negara dan umat manusia (Anggriany,
2006). Pentingnya kebermaknaan hidup bagi siswa akan dapat
mengarahkan perilakunya kearah yang lebih baik. Namun,
hilangnya makna hidup akan membuat remaja tidak memiliki arah
dan tujuan yang jelas dalam hidupnya, mereka tidak tahu apa yang
harus dilakukan (Mazaya & Supradewi, 2011), kehilangan minat,
bosan, merasa hidupnya tak berarti dan apatis (Ghozali, 2019).

Page 4

B. Panduan layanan
1. Rasional
Gambaran awal dalam pengembangan E-Book dilihat dari
fenomena yang ada di lapangan dan urgensi dari bimbingan
dan konseling itu sendiri yang berguna untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat
dilihat bahwa masih ada siswa mempunyai kebermaknaan hidup
berada pada kategori rendah. Hal ini bisa saja menjadi
penyebab siswa melakukan pelanggaran lalu lintas yang dapat
membahayakan diri siswa itu sendiri maupun pengguna jalan
lain.
E-Book bimbingan kelompok disusun agar bias digunakan
oleh Guru BK/Konselor untuk meningkatkan kebermaknaan hidup
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas siswa. E-Book ini
diharapkan juga bias memberikan pemahaman kepada siswa
tentang pentingnya untuk melakukan peningkatan
kebermaknaan hidup dan memahami bahaya dari pelanggaran
lalu lintas itu sendiri.
2. Deskripsi
E-Book ini dapat dimanfaatkan oleh Guru BK/Konselor untuk
mengembangkan dan meningkatkan wawasan, pengetahuan
dan keterampilan peserta untuk meningkatkan pengetahuan
dan selanjutnya menjadi fasilitator dalam melakukan layanan
bimbingan dam konseling setting kelompok untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas.
3. Prasyarat
E-Book ini dapat digunakan Guru BK untuk penyelenggara-
an layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas.
4. Waktu Pelaksanaan
Layanan ini dilaksanakan selam 45 menit per pertemuan.
Pertemuan dalam panduan ini sebanyak 5 kali, artinya 5 x 45.
5. Kelengkapan
E-Book layanan ini dilengkapi dengan lampiran berupa :
a. RPL
b. Materi

Page 5

c. Lembar tugas kelompok
d. Lembar evaluasi
e. Lembar refleksi sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang

dijalankan per materi.
6. Petunjuk Penggunaan

Sebelum menggunakan E-Book ini, peserta perlu
memperhatikan beberapa petunjuk berikut :
a. Bacalah dengan cermat panduan ini. Setiap bagian yang

terdapat pada panduan ini merupakan keterampilan dan
pengetahuan yang peserta perlukan untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas.
b. Apabila mengalami kesulitan dalam proses memahami
materi, peserta dapat mendiskusikannya dengan teman-
teman atau mengkonsultasikannya dengan fasilitator.
c. Setiap tugas yang terdapat pada setiap panduan ini, harus
dikerjakan dengan jujur dan tanggungjawab.
d. Jika peserta telah menguasai secara tuntas semua kegiatan
dalam panduan ini, lakukan penerapan dalam kehidupan
sehari-hari.
7. Langkah-langkah Bimbingan Kelompok menggunakan Teknik
Modeling

Adapun langkah-langkah bimbingan kelompok
menggunkan teknik modeling sebagai berikut :
a. Tahap Perhatian (Attention)

Pada tahap ini, ditekankan pada pembentukan
perhatian peserta kelompok pada perilaku atau tindakan
yang dilkakukan oleh model yang akan ditiru.
b. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan ( Retention Proceses)

Pada tahap ini peserta kelompok memperhatikan dan
merekam peristiwa yang diberikan dalam ingatannya.
Dengan cara ini peserta kelompok dapat melakukan
tindakan tersebut apabila diperlukan atau diinginkan.
c. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

Pada tahap ini, setelah peserta kelompok mengetahui
atau mempelajari suatu tingkah laku yang dilihat, peserta
kelompok juga dapat menunjukkan kemampuannya atau
menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
d. Tahap Penguatan (Motivation)

Page 6

Pada tahap ini konselor memberikan penguatan
kepada peserta kelompok seberapa mampu peserta
kelompok akan melakukan peniruan dengan pemberian
motivasi yang dapat memacu keinginan peserta kelompok
untuk mencontoh perilaku yang telah dimodelkan dan untuk
memenuhi tahapan belajarnya.
C. Deskripsi Panduan
E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas
yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi
mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan
kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum
panduan dan rencana pelaksanaan layanan.
Isi ataupun materi E-Book terdiri dari remaja dan
kebermaknaan hidup, remaja dan pencegahan pelanggaran lalu
lintas, akibat pelanggaran lalu lintas dan tindakan terhadap
kematian/penderitaan, ketertiban berlalu lintas dan kebermaknaan
hidup, kepatuhan berlalu lintas dan kebermaknaan hidup. Kelima
materi masing-masing kegiatan terdiri dari tujuan, indikator
keberhasilan, waktu, langkah-langkah, materi, rangkuman, tugas,
evaluasi, daftar dan penutup yang berada dibagian akhir
panduan.
D. Landasan Penyusunan E-Book
Penyusunan E-Book untuk meningkatkan kebermaknaan
hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas, dilandasi oleh
(1) landasan teoritis yang berkaitan dengan penggunaan panduan
pelaksanaan layanan untuk meningkatkan kebermaknaan hidup
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas siswa dan (2) fakta
yang terjadi.
1. Landasan teoritis

Landasan teoritis, yaitu berisikan tentang hal-hal sebagai
berikut.

a. Sebelum melaksanakan suatu layanan Guru BK/Konselor perlu
membuat rancangan. Rancangan tersebut disusun secara
sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu
tertentu. Penyusunan rancangan ini memegang peran penting
dalam keberhasilan pelaksanaan layanan. Rancangan ini
harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga apa

Page 7

yang menjadi tujuan pembelajaran layanan dapat tercapai
(Ma & Shek 2013).
b. Salah satu bentuk rancangan yang dapat digunakan oleh
Guru BK/Konselor yaitu panduan dalam bentuk E-Book.
Mulyasa (2004) menyatakan bahwa panduan merupakan alat
atau sarana belajar yang berisi materi, metode, dan cara
untuk mengevaluasi yang dirancang sistematis dan menarik
untuk mencapai tujuan pemberian layanan yang diharapkan.
E-Book sendiri merupakan suatu buku yang berbentuk digital
atau elektronik dimana berisi informasi atau panduan yang
hanya bisa dibuka dan dibaca melalui perangkat elektronik
seperti computer, tablet dan smartphone.
c. Kesuksesan pemberian layanan bimbingan dan konseling di
sekolah salah satunya dapat dipengaruhi oleh metode yang
diberikan oleh Guru BK/Konselor, penggunaan media yang
tepat dapat membantu Guru BK/Konselor dalam memberikan
layanan yang menarik dan menyenangkan serta efektif.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka E-Book ini dapat
digunakan dalam pelaksanaan layanan karena berisi beberapa
rancangan layanan yang disertai dengan materi, lembar
evaluasi serta lembar refleksi yang disesuaikan dengan
kebutuhan siswa. Sehingga dengan penggunaan E-Book
layanan bimbingan kelompok ini diharapkan Guru BK/Konselor
dapat membantu meningkatkan kebermaknaan hidup siswa
dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
2. Fakta di lapangan berupa hasil penelitian yang dilakukan,

sebagai berikut.
a. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa

kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas siswa tergolong rendah.
b. Masih ada Guru BK/Konselor yang belum mampu
merumuskan bentuk panduan pelaksanaan layanan yang
sesuai dengan kaidah-kaidahnya, sementara panduan
pelaksanaan layanan sangat membantu dalam
pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan dan konseling.
E. Tujuan Penggunaan E-Book
Adapun tujuan penggunaan E-Book ini yaitu sebagai berikut.

Page 8

a. E-Book ini diharapkan dapat membantu Guru BK/Konselor
dalam meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan
layanan bimbingan kelompok di sekolah.

b. E-Book yang telah disusun, dapat dijadikan media bagi Guru
BK/Konselor saat memberikan layanan bimbingan kelompok
kepada siswa yang secara khusus untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu
lintas.

F. Pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi dasar dalam E-Book ini merujuk pada sejumlah

kemampuan (pemahaman) yang harus dikuasai oleh siswa sebagai
rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam panduan
peningkatan kebermaknaan hidup dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas siswa. Indikator kompetensi merupakan
perilaku yang dapat diukur atau diobservasi untuk menunjukkan
ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian dalam panduan ini. Acuan yang dipakai, yaitu siswa
dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam
meningkatkan kebermaknaan hidup agar tidak melakukan
pelanggaran lalu lintas dijalan raya.
G. Susunan Materi

Susunan materi yang akan dibahas dalam panduan ini, yaitu
sebagai berikut.

1. Remaja dan Kebermaknaan Hidup
2. Remaja dan Pelanggaran Lalu Lintas
3. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Tindakan Terhadap

Kematian/Penderitaan
4. Ketertiban Lalu Lintas dan Kebermaknaan Hidup
5. Kepatuhan Berlalu Lintas dan Kebermaknaan Hidup
H. Petunjuk Umum E-Book

Panduan pelaksanaan layanan ini memuat serangkaian
kegiatan yang disusun sedemikian rupa, sehingga guru BK/Konselor
dapat menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling
kepada siswa secara kelompok. Selain itu agar memudahkan siswa
untuk menguasai unit materi secara sistematis dan bertahap, guna
mencapai tujuan dari panduan pelaksanaan layanan tersebut.

Penyampaian setiap bagian pokok bahasan dilakukan dalam
periode waktu yang berurutan, karena setiap bagian saling
berkaitan. Materi dari setiap bagian dapat diperkaya atau

Page 9

dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang
sedang atau yang akan terjadi berdasarkan kondisi masalah di
sekolah. Terkait dengan proses penyelenggaraan layanan yang
baik, maka pada panduan tersebut dilengkapi evaluasi.

Secara bertahap, hal-hal yang harus dilakukan oleh guru
BK/Konselor dalam menggunakan E-Book adalah sebagai berikut.
a. Guru BK/Konselor sebagai pemimpin kelompok terlebih dahulu

membaca panduan yang tersedia.
b. Guru BK/Konselor menjadikan E-Book layanan sebagai sumber

informasi untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam
pencegahan pelanggaran lalu lintas.
c. Guru BK/Konselor membimbing siswa agar tidak kesulitan dalam
mempelajari materi di dalam panduan.
d. Guru BK/Konselor membimbing siswa untuk melengkapi
keperluan dalam memperlajari materi E-Book.
e. Guru BK/Konselor memotivasi siswa untuk mencari sumber
pembelajaran lain, seperti buku-buku pendukung dan sumber
relevan di internet.
f. Guru BK/Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengajukan pertanyaan.
g. Guru BK/Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk
saling mengembangkan perasaan, pikiran, wawasan dan
sumbang saran kepada anggota kelompok.
h. Guru BK/Konselor menilai kemajuan belajar siswa dengan
menggunakan lembar evaluasi dan lembar refleksi untuk melihat
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Format Rencana Pelaksanaan Layanan

A. Komponen Layanan
B. Bidang Layanan
C. Topik Layanan
D. Fungsi Layanan
E. Materi Layanan

1. Tema
2. Sub Tema
3. Sumber
F. Tujuan Layanan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan khusus
G. Model Konseling

Page 10

H. Sasaran Layanan

I. Waktu

J. Tanggal Pelaksanaan

K. Tempat Pelaksanaan

L. Metode/Teknik

M. Media/Alat

N. Pelaksana Layanan

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta

Kelompok didik/

Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention

Processes)

3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor

Reproduction)

4. Tahap Penguatan (Motivation)

P. Evaluasi

1) Evaluasi Proses

2) Evaluasi Hasil

I. Rencana Pelaksanaan Layanan

Berikut adalah tabel kegiatan yang sesuai dengan rencana

layanan bimbingan kelompok. Sebagai referensi singkat, setiap

rencana layanan menguraikan judul dari kegiatan, tujuan kegiatan

untuk siswa, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan

dan alat bantu yang diperlukan/materi yang dibutuhkan untuk

melakukan aktivitas, sebagian besar telah dijelaskan dalam

panduan pelaksanaan layanan.

Setelah referensi singkat ini, tahap pembelajaran untuk setiap

kegiatan kemudian dijelaskan, termasuk kegiatan pembukaan,

kegiatan inti dan kegiatan penutup. Panduan ini akan digunakan

oleh Guru BK/Konselor untuk merencanakan layanan bimbingan

dan konseling setting kelompok untuk meningkatkan kebermaknaan

hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas siswa melalui

teknik modeling.

Page 11

KETERANGAN KEGIATAN

No Materi Waktu

1 Remaja dan Kebermaknaan Hidup 2 x 45 Menit

2 Remaja dan Pencegahan Pelanggaran 2 x 45 Menit

Lalu Lintas

3 Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan 2 x 45 Menit

Tindakan Terhadap

Kematian/Penderitaan

4 Ketertiban Lalu Lintas dan Kebermaknaan 2 x 45 Menit

Hidup

5 Kepatuhan Berlalu Lintas dan 2 x 45 Menit

Kebermaknaan Hidup

Page 12

Page 1

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN

A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Remaja dan Kebermaknaan Hidup
D. Fungsi Layanan Pemahaman
E. Materi Layanan
Remaja dan kebermaknaan hidup
1. Tema a) Pengertian Remaja
2. Sub Tema b) Pengertian Kebermaknaan Hidup
c) Aspek-aspek Kebermaknaan
3. Sumber
F. Tujuan Layanan Hidup
d) Faktor-faktor Kebermaknaan
1. Tujuan Umum
Hidup
2. Tujuan Khusus e) Upaya Meningkatkan

Kebermaknaan Hidup
Terlampir

Agar peserta layanan dapat

memahami dan mengetahui

tentang remaja dan kebermaknaan

hidup.

1) Setelah membahas mengenai

pengertian remaja melalui model

yang diberikan, siswa mampu

mengemukakan pengertian

remaja dengan tepat.

2) Setelah memiliki sumber

mengenai pengertian

kebermaknaan hidup, siswa

mampu menemukan minimal

tiga makna hidup untuk dirinya

dengan tepat.

3) Setelah memperoleh informasi

melalui video yang ditayangkan

mengenai aspek-aspek

Page 12

kebermaknaan hidup siswa

mampu mengaitkan kelima

aspek kebermaknaan hidup

dalam kehidupan sehari-hari.

4) Setelah mendengarkan

penjelasan melalui model yang

diberikan mengenai faktor-faktor

kebermaknaan hidup siswa

mampu menjelaskan cara

meningkatkan kebermaknaan

hidup yang baik.

5) Setelah berdiskusi mengenai

upaya peningkatan

kebermaknaan hidup siswa

dapat menjelaskan cara melatih

diri agar memiliki kebermaknaan

hidup yang tepat agar dapat

mencegah pelanggaran lalu

lintas di jalan raya.

6) Setelah membuat pilihan

mengenai peningkatan

kebermaknaan hidup siswa

mampu menentukan sikap

dalam peningkatan

kebermaknaan hidup.

G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok
H. Sasaran Layanan
I. Waktu Siswa SMK
J. Tanggal Pelaksanaan
K. Tempat Pelaksanaan 2x45 menit
L. Metode/Teknik
-
M. Media/Alat
Ruangan bimbingan kelompok
N. Pelaksana Layanan
Ceramah, diskusi, tanya jawab dan

penugasan

“Panduan Peningkatan

Kebermaknaan Hidup dalam

Pencegahan Pelanggaran Lalu

Lintas menggunakan Teknik

Modeling Setting Kelompok”

Guru BK/ Konselor/ Pemimpin

Kelompok.

Page 13

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/

Kelompok Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk

layanan untuk duduk duduk melingkar.

melingkar dengan

mengatur jarak tempat

duduk.

2) Peserta layanan merespon

2) Menyapa dengan kalimat pemimpin kelompok dengan

yang membuat peserta semangat.

layanan bersemangat.

3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.

4) Ucapan selamat datang 4) Peserta layanan merespon
dengan semangat.

dan terimakasih atas

kehadiran anggota

kelompok.

5) Memulai pertemuan 5) Peserta layanan berdo`a
bersama.

dengan membaca do`a.

6) Menjelaskan tentang 6) Peserta layanan
mendengarkan dengan
seksama.
layanan konseling dengan

teknik modeling setting

kelompok. 7) Peserta layanan
mendengarkan dengan
7) Menjelaskan tujuan seksama.

pelaksanaan teknik

modeling

8) Perkenalan dengan 8) Semua peserta saling
semua anggota memperkenalkan diri.
kelompok.

9) Semua Peserta layanan

9) Menampilkan permainan mengikuti permainan
keakraban (rangkaian
rangkaian nama.

Page 14

nama).

10)Peserta layanan merespon

10)Pemimpin kelompok pertanyaan pemimpin

menanyakan kesiapan kelompok dengan baik.

peserta layanan dalam

melaksanakan tugas. 11)Peserta layanan merespon
pemimpin kelompok sesuai
11)Membahas suasana yang dengan suasana yang terjadi.

terjadi. 12)Peserta layanan merespon
dan menjawab pertanyaan
12)Memberikan pertanyaan pemimpin kelompok.

terbuka mengenai topik

remaja dan

kebermaknaan hidup.

13)Meminta anggota 13)Peserta layanan
mendengarkan dan
kelompok untuk memperhatian
seksama secara
memperhatikan apa yang

harus dipelajari nantinya

sebelum model diberikan

14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan menonton

menayangkan video yang video secara seksama.

berkaitan dengan

kebermanknaan hidup.

15)Mengingatkan anggota 15)Peserta layanan

bahwa kegiatan akan memperhatikan dan

segera memasuki tahap mendengarkan secara

selanjutnya seksama.

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)

1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan

yang akan ditempuh mendengarkan dan

pada tahap berikutnya. memperhatian secara

seksama.

2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan

mengamati apakah para merespon dan

peserta sudah siap masuk menjawab penawaran

pada tahap selanjutnya. dari pemimpin kelompok

3) Meningkatkan 3) Peserta layanan
dan
kemampuan keikutsertaan memperhatikan
Page 15

anggota. Kalau perlu mendengarkan secara

kembali kebeberapa seksama.

aspek tahapan

sebelumnya jika

diperlukan.

4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan

mengarahkan jalannya mendengarkan dan

pembahasan topik remaja merespon secara seksama.

dan kebermaknaan hidup.

5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan

memberikan pendapat mengemukakan pendapat

masing-masing terhadap mengenai video yang telah

video yang diberikan. diberikan.

3) Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan

saling peduli, menghargai mendengarkan dan merespon

pendapat antar peserta secara seksama.

layanan.

2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang

peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan

mengulang perilaku yang pada model yang telah

ditemukan pada model diberikan.

yang telah diberikan.

3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan mengaitkan
untuk mengaitkan video video yang diberikan dengan
yang diberikan dengan keadaan diri masing-masing.
keadaan diri masing-
masing

4) Membantu peserta 4) Peserta layanan

layanan untuk mengemukakan pemahaman

mengemukakan mengenai topik remaja dan

pemahaman yang dimiliki kebermaknaan hidup.

mengenai topik remaja

dan kebermaknaan hidup.

Page 16

5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya

Tanya jawab antar mengenai hal-hal yang belum

anggota kelompok yang dipahami.

belum dipahami

mengenai topik remaja

dan kebermaknaan hidup.

6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan membahas

layanan untuk mendalami topik remaja dan

topik remaja dan kebermaknaan hidup.

kebermaknaan hidup

secara mendalam.

7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan

dari peserta layanan memperhatikan dan

sesuai dengan keadaan menyimak secara seksama.

diri peserta layanan.

8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi

layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok

lembar kerja kelompok.

4) Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta 1) Peserta layanan mengambil

layanan mangambil keputusan mengenai topik

keputusan dari topik remaja dan kebermaknaan

remaja dan hidup.

kebermaknaan hidup. 2) Peserta layanan menerima

2) Memberikan dukungan dukungan dan penguatan.

dan penguatan kepada

peserta layanan terhadap

keputusan yang diambil

dari topik remaja dan

kebermaknaan hidup.

3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan

terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan

aspek yang ditemukan menyimak secara seksama

oleh peserta layanan di

dalam kelompok.

4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan

kegiatan akan segera mendengarkan dengan

diakhiri seksama

Page 17

5) Meminta anggota 5) Peserta layanan

kelompok mengemukakan mengemukakan kesan dan

kesan dan pesan. pesan.

6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
bersama

7) Mengakhiri kegiatan

dengan mengucapkan 7) Peserta layanan menjawab
salam.
terima kasih dan salam.

P. Evaluasi

1) Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan

melalui pengamatan selama

mengikuti kegiatan layanan

untuk memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

layanan yang telah

diselenggarakan.

2) Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti

layanan antara lain.

1) Menilai perubahan perilaku

anggota kelompok saat

mengikuti layanan

2) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan lembar

refleksi untuk mengetahui

pemahaman dan

perasaan peserta layanan

setelah melaksanakan

layanan.

Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor

…………………………… …………………………
NIP. NIP.

Page 18

MATERI 1

REMAJA DAN
KEBERMAKNAAN HIDUP

A. Pengertian Remaja
Usia remaja adalah

masa saat terjadinya
perubahan-perubahan yang
cepat, termasuk perubahan
fundamental dalam aspek
kognitif, emosi dan sosial.
Dalam masa ini banyak ahli
psikologi seperti Hurlock
memberi label bagi masa
remaja sebagai fase penuh
konflik dan fase penuh penentangan, yang menurut Hawari disebut
fase pencarian jati diri. Lebih jauh dijelaskan oleh Hall bahwa masa
remaja merupakan masa topan dan badai, dimana pada masa
tersebut timbul gejolak dalam diri akibat pertentangan nilai-nilai
akibat kebudayaan yang makin modern (Surya, 2017b).

Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik,
namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada
kondisi psikis, fisiologis, dan sosial (Sitihang et al., 2013). Pada
perkembangannya, menurut Monks (2009) remaja dibagi menjadi
tiga tahapan: remaja awal (12-15 tahun), remaja madya (15-18
tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun). Pada tahapan remaja awal,
remaja belum mampu menginternalisasikan nilai-nilai yang ada
pada dirinya dan masyarakatnya. Hal itu disebabkan karena pada
masa ini remaja masih memiliki emosi yang labil dan memperhatikan
citra diri. Sehingga, pencarian akan suatu yang dianggap penting
dan bernilai baru dialami pada masa remaja madya antara umur 15
tahun hingga 18 tahun. Pada masa ini, remaja mencari dan
menemukan standar nilai yang ada. Sedangkan pada tahapan
remaja akhir remaja telah mengembangkan nilai dan makna
hidupnya.

Page 19

Hal ini sejalan dengan pendapat Bastaman (2007) bahwa

penghayatan remaja terhadap kehidupan yang bermakna akan

tampak pada kehidupan remaja yang penuh semangat dan gairah

hidup serta memiliki tujuan hidup sehingga remaja akan memiliki

kegiatan-kegiatan yang terarah. Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-

hari akan menjadi sumber kepuasan dan kesenangan bagi remaja

sehingga dikerjakan dengan semangat dan tanggungjawab, yang

menjadi masalah bagi setiap orang adalah bagaimana cara

memperoleh kebermaknaan hidup di tengah lajunya percepatan

perubahan akibat modernisasi seperti sekarang ini. Makin mendalam

penghayatan seseorang terhadap perihal kehidupan, makin

bermaknalah kehidupannya.

B. Pengertian Kebermaknaan Hidup

Menurut Frankl, selain manusia tidak ada makhluk yang

diharubirukan oleh persoalan makna dari keberadaannya. Setiap

manusia, tidak peduli siapapun dan sebagai apapun dia, pada satu

titik pasti akan mempertanyakan apa arti dan makna dari hidup

yang dijalaninya. Pencarian akan makna inilah yang menjadi pusat

dari dinamika kepribadian manusia. Keinginan akan arti atau makna

dalam hidup ini merupakan kekuatan motivasional yang mendasar

dalam diri manusia (Suari & Hizkia,

2014).

Frankl mengungkapkan bahwa
kebermaknaan hidup adalah
keadaan yang menunjukkan sejauh
mana seseorang telah mengalami
dan menghayati kepentingan
keberadaan hidupnya menurut sudut pandang dirinya sendiri,
makna hidup bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan
dalam hidup dan adanya alasan mengapa seseorang harus tetap
hidup (Frankl, 2003). Kebermaknaan hidup sendiri dapat diwujudkan
dalam sebuah keinginan menjadi orang yang berguna bagi orang
lain apakah itu anak, pasangan hidup, keluarga dekat, komunitas,
negara dan bahkan umat manusia (Anggriany, 2006).

Makna hidup bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan
menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan
berharga (Thaha & Rustan, 2017). Lebih lanjut V. Frankl (2003)
menyebutkan bahwa makna hidup sebagai sesuatu hal yang

Page 20

bersifat personal, dan bisa berubah seiring berjalannya waktu

maupun perubahan situasi dalam kehidupannya. Menurut Frankl

individu dituntun oleh kata hatinya untuk secara intuitif

mendapatkan kebermaknaan yang sebenarnya, meskipun

lingkungan mendesak dengan pengaruh yang kuat dalam

penciptaan dan pemenuhan akan kebermaknaan hidup, hal itu
sangat tergantung pada sikap pribadi masing‐masing (Sumato,

2006). Terlebih pada masa remaja mereka memiliki tugas

perkembangan yaitu mencari identitas dirinya, akan sangat

kebingungan ketika ia tidak mampu menyelesaikan tugas

perkembangan tersebut sehingga yang terjadi ia akan kehilangan

atau kebingungan akan jati dirinya sendiri (Jayanti, 2019).

Hal ini sejalan dengan pendapat Bandura dalam teori

kognitifnya yang menyatakan bahwa pemaknaan individu terhadap

pengaruh lingkungan akan sangat menentukan perilaku yang

dilakukan individu nantinya. Hal ini berarti bahwa individu memiliki

peran aktif untuk menghadapi hidup yang ditunjukkan dengan cara

individu bereaksi terhadap setiap kejadian dalam hidupnya (Rice,

2001). Makna hidup didefinisikan dalam tiga istilah, yaitu.

1. Purpose centered definitions, yaitu setiap orang punya tujuan

hidup dan nilai-nilai personal. Makna didapatkan ketika individu

mencoba untuk membuat nilai-nilai personal. Makna hidup

berfungsi sebagai motivasi, mengacu pada pencapaian individu

terhadap tujuan hidupnya.

2. Significance centered definitions, seseorang memperoleh makna

hidup ketika dapat memahami informasi atau pesan yang

didapat dari hidupnya. Makna hidup tercipta ketika seseorang

menginterpretasikan pengalaman-pengalamannya menjadi

tujuan dan arti hidup.

3. Multifaceted definitions, merupakan kombinasi dimensi afeksi

dengan motivasi dan kognitif. Makna diartikan sebagai

kemampuan untuk merasakan keteraturan dan

keterhubungannya dengan eksistensi individu dalam mengejar

dan mencapai tujuan. Individu yang percaya hidupnya bermakna

memiliki tujuan yang jelas dan mengisinya dengan afeksi yang

hangat (Setyarini, Riris & Atamimi, 2011).

Kehendak untuk hidup secara bermakna merupakan motivasi

utama pada diri manusia. Hasrat inilah yang memotivasi orang untuk

bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan penting yang

Page 21

lain dengan tujuan agar hidupnya menjadi berharga dan dihayati
secara bermakna (Bastaman, 2007: 43). Remaja yang mampu
menghayati kehidupan bermakna akan mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara menyadari pembatasan-
pembatasan lingkungan namun tetap dapat menentukan
perbuatan yang paling baik bagi dirinya serta menyadari pula
bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri
(Anggawati, 2008).

May (Young, 2011; Corey, 2013) menyatakan bahwa
ketidakbermaknaan dapat membuat pertumbuhan pribadi tidak
berkembang ke arah yang maksimal. Hal ini dapat membuat
manusia tidak tahu bagaimana cara untuk berproses menjadi lebih
baik (Isnaningtyas, 2013). Sedangkan remaja yang tidak berhasil
menemukan makna hidupnya akan mengalami penghayatan hidup
tanpa makna (meaningless) yang dicirikan sebagai remaja yang
kehilangan arah, kehilangan minat, bosan, merasa hidupnya tak
berarti dan apatis. Hal yang demikian bila dibiarkan secara terus
menerus akan menjelma dalam konpensasi yang berlebihan seperti
berusaha selalu mencari kenikmatan dan kesenangan, kehilangan
arah. Makna hidupnya diperlukan bagi para remaja agar tidak
terjerumus oleh pengaruh dari lingkungan pergaulannya yang salah
(Bastaman, 2004). Selain itu, remaja tersebut akan mengalami
kekecewaan dan kehampaan yang dapat menimbulkan gangguan
perasaan dan menghambat penyesuaian dirinya dan prestasi
belajarnya (Kurniawan & Widyana, 2014).

Pengertian di atas dapat dimaknai bahwa kebermaknaan
hidup adalah kualitas penghayatan seberapa besar individu dapat
mengembangkan potensi yang ada dalam diri dan seberapa tinggi
individu membuat hidupnya bermakna dengan potensi-potensi
yang ia miliki.
C. Aspek-Aspek Kebermakaan Hidup

Crumbaugh & Maholich (Koeswara, 1992) menjelaskan
bahwa terdapat lima komponen kebermaknaan hidup, yaitu
(Anggriany, 2006) :
1. Makna hidup

Makna hidup adalah segala sesuatu yang dianggap penting
dan berharga bagi seseorang dan memberi nilai khusus, serta
dapat dijadikan sebagai tujuan hidup bagi individu tersebut.

Page 22

2. Kepuasan hidup
Kepuasaan hidup adalah penilaian seseorang terhadap hidup
yang dijalaninya, sejauh mana ia mampu menikmati dan
merasakan kepuasan dalam hidup dan segala aktivitas yang
telah dilakukan (Suari & Hizkia, 2014).

3. Kebebasan berkehendak
Kebebasan adalah perasaan mampu mengendalikan hidupnya
secara bertanggung jawab.

4. Sikap terhadap kematian
Sikap terhadap kematian adalah pandangan dan kesiapan
seseorang terhadap kematian yang dihadapi oleh manusia

5. Kepantasan hidup
Kepantasan hidup adalah penilaian seseorang terhadap
hidupnya, sejauh mana individu merasa bahwa apa yang telah
dialami dalam hidup adalah sebagai sesuatu hal yang wajar .
Aspek di atas menggambarkan bahwa individu yang mampu

menerima setiap keadaan dalam kehidupannya kemudian
menghadapinya dengan sikap
positif dengan memaknainya
sebagai sebuah hal yang selalu
berputar, maka individu tersebut
akan mampu mengendalikan rasa
penderitaan yang berlebihan
dalam menghadapi hal tersebut.
Makna hidup dapat ditemukan
dalam kehidupan itu sendiri,

bagaimanapun buruknya kehidupan tersebut. Makna hidup tidak
hanya ditemukan pada kehidupan yang menyenangkan saja tetapi
juga pada kehidupan yang menyedihkan, asalkan kita dapat
mengambil hikmah dari setiap proses kehidupan maka kita dapat
memaknai kehidupan tersebut.
D. Faktor-faktor Kebermaknaan Hidup

Bastaman (1996) mengungkapakan bahwa ada tiga faktor
yang mempengaruhi kebermaknaan hidup yaitu.
1. Creatives values (nilai-nilai kreatif), yang diwujudkan dalam

aktifitas yang kreatif dan produktif seperti kegiatan berkarya,
bekerja, melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik‐baiknya
dengan penuh tanggung jawab. Melalui karya dan kerja individu

Page 23

dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara

bermakna (Bastaman, 1996).

2. Experimental values (nilai-nilai pengalaman), yaitu keyakinan dan

penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan,

keimanan, keagamaan, serta cinta kasih. Menghayati dan

meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti dalam

hidupnya. Telah banyak orang yang merasa menemukan arti

hidup dari agama yang diyakininya, atau ada individu yang

menghabiskan sebagian besar usianya untuk menekuni cabang

seni tertentu.

Cinta kasih dapat menjadikan pula seseorang menghayati

perasaan berarti dalam hidupnya. Dengan mencintai dan merasa

dicintai, seseorang akan merasakan hidupnya penuh dengan

pengalaman hidup yang membahagiakan. Nilai-nilai

pengalaman dapat memberikan makna sebanyak nilai-nilai daya

cipta. Ada kemugkinan individu untuk memenuhi arti kehidupan

dengan mengalami berbagai segi

kehidupan secara intensif

meskipun individu tersebut tidak

melakukan tindakan-tindakan

yang produktif (Jayanti, 2019).

3. Attitudinal values (nilai-nilai

bersikap), yaitu menerima dengan

penuh ketabahan, kesabaran,

dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin

dihindari, seperti sakit yang tak dapat disembuhkan, kematian,

dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar

dilakukan secara maksimal. Sikap menerima dengan penuh ikhlas

dan tabah hal-hal tragis yang tidak mungkin dihindari dapat

mengubah pandangan yang semula diwarnai permasalahan

semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna

dan hikmah dari penderitaan itu. Permasalahan memang akan

dapat memberikan makna dan guna apabila individu dapat

mengubah sikap terhadap permasalahan itu menjadi lebih baik

lagi (Utomo & Meiyuntari, 2015).

E. Upaya meningkatkan kebermaknaan hidup

Manusia di dalam semua situasi kehidupannya senantiasa

memiliki kesempatan untuk mewujudkan nilai atau makna

kehidupannya. Melalui tindakan atau kegiatan aktif dan

Page 24

produktifnya manusia (Mirzawati, n.d.). Ada beberapa upaya yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan kebermaknaan hidup, yaitu.
1. Pemahaman pribadi dan pengubahan sikap

Upaya ini adalah untuk mengenali keunggulan-keunggulan
dan kelemahan-kelemahan pribadi, menyadari keinginan dari
masa kecil hingga sekarang serta memahami kebutuhan-
kebutuhan apa yang mendasari keinginan- keinginan itu,
merumuskan secara lebih jelas dan nyata hal-hal yang diinginkan
untuk masa mendatang serta menyusun rencana secara realistis
untuk mencapainya.
2. Kegiatan Terarah

Kegiatan terarah merupakan upaya yang dilakukan secara
sengaja dan sadar berupa pengembangan potensi (bakat,
kemampuan dan keterampilan) positif serta pemanfaatan relasi
antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna, tujuan hidup.
3. Pengakraban hubungan

Pengakraban hubungan yaitu berusaha untuk menjalin
hubungan akrab seorang pribadi dengan pribadi yang lain
sedemikian rupa sehingga dihayati sebagai hubungan yang
dekat, mendalam, saling percaya dan saling memahami.
Jadi terdapat semacam dukungan sosial. Seseorang dengan cara
ini merasa dirinya berharga dan bermakna, baik bagi dirinya
sendiri maupun bagi orang lain, karena hal ini merupakan salah
satu sumber makna bagi manusia.
4. Pendalaman tri nilai

Tri nilai di sini adalah
pendalaman nilai-nilai kreatif
yaitu dengan memberikan
sesuatu yang berharga bagi
kehidupan. Pendalaman nilai-
nilai penghayatan, berkaitan
dengan individu mencoba
memahami, meyakini dan
menghayati berbagai nilai
yang ada dalam kehidupan,
seperti keindahan, kebijakan,
keimanan, kebajikan dan cinta kasih. Pendalaman nilai-nilai
bersikap yakni memberi kesempatan kepada seseorang untuk
mengambil sikap yang tepat terhadap kondisi dan peristiwa yang

Page 25

hadir dalam kehidupannya. Dengan mengambil sikap yang tepat
maka beban pengalaman tragis akan berkurang, bahkan
mungkin peristiwa itu dapat memberikan pengalaman yang
berharga dan menimbulkan makna tertentu yang dalam sehari-
hari disebut dengan hikmah.
5. Ibadah

Ibadah dalam pengertian umum adalah segala kegiatan
untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan
mencegah diri dari hal-hal yang dilarang-Nya menurut ketentuan
agama. Sedangkan dalam pengertian khusus ibadah adalah
ritual untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui cara yang
diajarkan dalam agama.

Dengan kata lain bahwa individu yang mampu menerima
setiap keadaan dalam kehidupannya kemudian menghadapinya
dengan sikap positif dengan memaknainya sebagai sebuah hal
yang selalu berputar, maka individu tersebut akan mampu
mengendalikan rasa penderitaan yang berlebihan dalam
menghadapi hal tersebut. Makna hidup dapat ditemukan dalam
kehidupan itu sendiri, bagaimapun buruknya kehidupan tersebut.
Makna hidup tidak hanya ditemukan pada kehidupan yang
menyenangkan saja tetapi juga pada kehidupan yang
menyedihkan, asalkan kita dapat mengambil hikmah dari setiap
proses kehidupan maka kita dapat memaknai kehidupan tersebut.

Page 26

RANGKUMAN

1. Usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-
perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental
dalam aspek kognitif, emosi dan sosial.

2. Kebermaknaan hidup merupakan keadaan yang menunjukkan
sejauh mana seseorang telah mengalami dan menghayati
kepentingan keberadaan hidupnya menurut sudut pandang
dirinya sendiri, makna hidup bermula dari adanya sebuah visi
kehidupan, harapan dalam hidup dan adanya alasan
mengapa seseorang harus tetap hidup.

3. Aspek kebermaknaan hidup berupa makna hidup, kepuasan
hidup, kebebasan berkehendak, sikap terhadap kematian dan
kepantasan hidup

4. Faktor-faktor kebermaknaan hidup, creatives values (nilai-nilai
kreatif), experimental values (nilai-nilai pengalaman), dan
attitudinal values (nilai-nilai bersikap).

5. Upaya dalam peningkatan kebermaknaan hidup berupa,
pemahaman pribadi dan pengubahan sikap, kegiatan terarah,
pengakraban hubungan, pendalaman tri nilai, ibadah.

Page 27

Lampiran.1.1

LEMBAR TUGAS KELOMPOK

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari Topik remaja dan kebermaknaan hidup yang telah dibahas,
jelaskan mengapa ananda harus mempunyai kebermaknaan hidup
dalam kegiatan sehari-hari ananda dan apa saja yang harus ananda
lakukan agar mempunyai kebermaknaan hidup yang baik?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja---- Page 28

Lampiran.1.2

LEMBAR evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Setelah membahas mengenai pengertian remaja, menurut ananda
apakah peran remaja di dalam masyarakat sudah sesuai dengan
norma yang berlaku ? jelaskan dan berikan contoh?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
………………………………………………………………………………………

2. Munculnya berbagai macam kenalakan yang dilakukan remaja
saat ini, menggambarkan kurangnya kebermaknaan hidup dalam
diri remaja. Padahal remaja merupakan generasi penerus bangsa.
Dari fenomena diatas kebermaknaan hidup seperti apa yang
seharusnya dimiliki oleh remaja agar dapat menjadi produktif?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
………………………………………………………………………………………

3. Beberapa ahli psikologi memberi label bagi remaja sebagai fase
penuh konflik dan penuh tantangan, bedasarkan hal tersebut
bagaimana upaya ananda untuk meningkatkan kebermaknaan
hidup pada usia remaja?

Page 29

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

4. Setelah memahami arti remaja dan kebermaknaan hidup, apa
kesimpulan yang ananda dapatkan ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

-----Selamat Bekerja----

Page 30

Lampiran.1.3

LEMBAR REFLEKSI

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
Ananda. Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak
perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

Gambar 6:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………

Page 31

DAFTAR PUSTAKA

Anggriany, N. (2006). Motif sosial dan kebermaknaan hidup remaja
Pagaralam. Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
11(21). https://doi.org/10.20885/psikologika.vol11.iss21.art5

Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna kisah pribadi dengan
pengalaman tragis. Paramadina.

Frankl, V. (2003). Man’s search for meaning: an introduction to
logotherapy edisi terjemahan. Kreasi Wacana.

Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan.
Isnaningtyas, T. (2013). PROSES PENCARIAN KEBERMAKNAAN HIDUP

PADA.
Jayanti, N. (2019). Konseling Logoterapi Dalam Penetapan Tujuan Hidup

Remaja Broken home. Jurnal Konseli, 06(1), 75–82.
Mirzawati, N. (n.d.). Kebermaknaan Hidup pada ODHA (Orang dengan

HIV AIDS) Wanita di Bukittinggi. 113–125.
Rice, F. P. (2001). The adolescent: development, relationship, and

culture. A Pearson Education Company.
Setyarini, Riris & Atamimi, N. (2011). Self-esteem dan makna hidup pada

pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Jurnal Psikologi, 38(2), 176–184.
Sitihang, N., Yusuf, A. M., & Daharnis. (2013). Pengaruh layanan

bimbingan kelompok terhadap pencapaian tugas perkembangan
remaja awal dalam aspek kemandirian emosional ( Studi
eksperimen di SMP Frater Padang ). Jurnal Konselor, 2(4), 1–7.
Suari, A. A. S., & Hizkia, D. (2014). Kebermaknaan Hidup pada Anak
Pidana di Bali. 1(2), 322–334.
Sumato. (2006). Kajian psikologis kebermaknaan hidup. Buletin Psikologi,
14(2), 115–135.
Surya, D. H. (2017a). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
berkenderaan di sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Akasara Public, 1, 30–46.
Thaha, H., & Rustan, E. (2017). Orientasi religiusitas dan efikasi diri dalam
hubungannya dengan kebermaknaan pendidikan agama islam
pada mahasiswa IAIN Palopo. Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat,
13(2), 163–179.
Utomo, H. R. P., & Meiyuntari, T. (2015). Kebermaknaan hidup, kestabilan
emosi dan depresi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 4(03), 274–
287.

Page 32

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 https://meldalialestari.files.wordpress.com/2016/12/19f7c-
sekolah.jpg?w=620

Gambar 2 https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Flsfc
Gambar 3 ogito.org%2Fcatatan-singkat-tentang-pentingnya-makna-
Gambar 4 hidup%2F&psig=AOvVaw3er6VCARd9HIDBnX-
Gambar 5 9aNoj&ust=1594384437479000&source=images&cd=vfe&v
Gambar 6 ed=0CAIQjRxqFwoTCLC2qYSXwOoCFQAAAAAdAAAAABA
D
https://cdn0-production-images-
kly.akamaized.net/REV8ffWZ3aIDmQJX61bXFpVlQ-
I=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/
kly-
mediaproduction/medias/2782989/original/009359400_155
5645943-iStock-1009803562.jpg
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fhot
.liputan6.com%2Fread%2F4106514%2F50-kata-singkat-
penuh-makna-beri-inspirasi-
hidup&psig=AOvVaw2_TF8uhrAuwL0h9MeQwNIr&ust=1595
467313782000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqF
woTCLDO06vc3-oCFQAAAAAdAAAAABAK
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Ftwit
ter.com%2Fagaragar_offic%2Fstatus%2F7433714041422233
61%3Flang%3Dfa&psig=AOvVaw1BBdVki5WT80_G5fMSA0ZL
&ust=1595467744454000&source=images&cd=vfe&ved=0C
AIQjRxqFwoTCID91vLa3-oCFQAAAAAdAAAAABAD
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

Page 33

Page 34

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN

A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Remaja dan pelanggaran lalu lintas
D. Fungsi Layanan Pemahaman
E. Materi Layanan
Remaja dan pelanggaran lalu lintas
1. Tema a) Pengertian Pelanggaran Lalu
2. Sub Tema
Lintas
3. Sumber b) Remaja dan Pelanggaran Lalu
F. Tujuan Layanan
Lintas
1. Tujuan Umum c) Faktor-faktor Pelanggaran Lalu

2. Tujuan khusus Lintas
d) Bentuk-bentuk Pelanggaran Lalu

Lintas Pada Remaja
Terlampir

Agar peserta layanan dapat

mengetahui dan memahami

tentang remaja dan pelanggaran

lalu lintas.

1) Setelah berdiskusi mengenai

pengertian pelanggaran lalu

lintas melalui model yang

diberikan siswa mampu

mengarahkan dirinya untuk

menjadi siswa yang taat dalam

berlalu lintas

2) Setelah memiliki informasi-

informasi baru melalui model

yang diberikan mengenai remaja

dan pelanggaran lalu lintas siswa

mampu melatih diri untuk tidak

melanggar lalu lintas di jalan raya.

3) Setelah mendengarkan

penjelasan mengenai faktor-

Page 35

faktor pelanggaran lalu lintas

siswa mampu mengemukakan

faktor-faktor pelanggaran lalu

lintas dalam pencegahan

pelanggaran lalu lintas.

4) Setelah membahas mengenai

bentuk-bentuk pelanggaran lalu

lintas pada remaja melalui model

yang diberikan, siswa mampu

menentukan sikap dalam

pencegahan pelanggaran lalu

lintas.

G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok

H. Sasaran Layanan Siswa SMK

I. Waktu 2x45 menit

J. Tanggal Pelaksanaan -

K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok

L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab dan

penugasan

M. Media/Alat “Panduan Peningkatan

Kebermaknaan Hidup dalam

Pencegahan Pelanggaran Lalu

Lintas menggunakan Teknik

Modeling Setting Kelompok”

N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin

Kelompok.

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/

Kelompok Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

1) Mengarahkan peserta layanan 1) Peserta layanan

untuk duduk melingkar dengan membentuk duduk

mengatur jarak tempat duduk. melingkar.

2) Menyapa dengan kalimat 2) Peserta layanan
pemimpin
yang membuat peserta merespon
dengan
layanan bersemangat. kelompok

3) Mengucapkan salam. semangat.
3) Menjawab salam.

Page 36

4) Ucapan selamat datang dan 4) Peserta layanan

terimakasih atas kehadiran merespon dengan

anggota kelompok. semangat.

5) Memulai pertemuan dengan 5) Peserta layanan berdo`a

membaca do`a. bersama.

6) Menjelaskan tentang layanan 6) Peserta layanan

konseling dengan teknik mendengarkan dengan

modeling setting kelompok. seksama.

7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta layanan

pelaksanaan teknik modeling mendengarkan dengan

seksama.

8) Perkenalan dengan semua 8) Semua peserta saling

anggota kelompok. memperkenalkan diri.

9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan

keakraban (rangkaian nama). mengikuti permainan

rangkaian nama.

10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan

menanyakan kesiapan peserta merespon pertanyaan

layanan dalam melaksanakan pemimpin kelompok

tugas. dengan baik.

11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan

terjadi. merespon pemimpin

kelompok sesuai dengan

suasana yang terjadi.

12)Memberikan pertanyaan 12)Peserta layanan

terbuka mengenai topik remaja merespon dan

dan pelanggaran lalu lintas. menjawab pertanyaan

pemimpin kelompok.

13)Meminta anggota kelompok 13)Peserta layanan

untuk memperhatikan apa mendengarkan dan

yang harus dipelajari nantinya memperhatikan secara

sebelum model diberikan seksama

14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan

menayangkan video yang menonton video secara

berkaitan dengan seksama.

Page 37

pelanggaran lalu lintas.

15)Mengingatkan anggota 15)Peserta layanan

bahwa kegiatan akan segera memperhatikan dan

memasuki tahap selanjutnya mendengarkan secara

seksama.

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)

1) Menjelaskan kegiatan yang 1) Peserta layanan

akan ditempuh pada tahap mendengarkan dan

berikutnya. memperhatian secara

seksama.

2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan

mengamati apakah para merespon dan

peserta sudah siap masuk menjawab

pada tahap selanjutnya. penawaran dari

pemimpin kelompok

3) Meningkatkan kemampuan 3) Peserta layanan

keikutsertaan anggota. Kalau memperhatikan dan

perlu kembali kebeberapa mendengarkan secara

aspek tahapan sebelumnya seksama.

jika diperlukan.

4) Peserta layanan

4) Menegaskan dan mendengarkan dan

mengarahkan jalannya merespon secara

pembahasan topik remaja dan seksama.

pelanggaran lalu lintas.

5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan

memberikan pendapat mengemukakan

masing-masing terhadap video pendapat mengenai

yang diberikan. video yang telah

diberikan.

Page 38

3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Mendorong kerjasama, saling 1) Peserta layanan

peduli, menghargai pendapat mendengarkan dan

antar peserta layanan. merespon secara

seksama.

2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan

peserta layanan untuk mengulang perilaku yang

mengulang perilaku yang ditemukan pada model

ditemukan pada model yang yang telah diberikan.

telah diberikan.

3) Mengarahkan anggota untuk 3) Peserta layanan

mengaitkan video yang mengaitkan video yang

diberikan dengan keadaan diri diberikan dengan

masing-masing keadaan diri masing-

masing.

4) Membantu peserta layanan 4) Peserta layanan

untuk mengemukakan mengemukakan

pemahaman yang dimiliki pemahaman mengenai

mengenai topik remaja dan topik remaja dan

pelanggaran lalu lintas. pelanggaran lalu lintas.

5) Mengarahkan kegiatan tanya 5) Peserta layanan bertanya

jawab antar anggota mengenai hal-hal yang

kelompok yang belum belum dipahami.

dipahami mengenai topik

remaja dan pelanggaran lalu

lintas.

6) Mengarahkan peserta layanan 6) Peserta layanan

untuk mendalami topik remaja membahas topik remaja

dan pelanggaran lalu lintas dan pelanggaran lalu

secara mendalam. lintas.

7) Menafsirkan penjelasan dari 7) Peserta layanan

peserta layanan sesuai dengan memperhatikan dan

keadaan diri peserta layanan. menyimak secara

seksama.

8) Mengarahkan peserta layanan 8) Peserta layanan mengisi

untuk mengisi lembar kerja lembar kerja kelompok

kelompok.

Page 39

4. Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta layanan 1) Peserta layanan

mangambil keputusan dari mengambil keputusan

topik remaja dan pelanggaran mengenai topik remaja

lalu lintas. dan pelanggaran lalu

lintas.

2) Memberikan dukungan dan 2) Peserta layanan

penguatan kepada peserta menerima dukungan dan

layanan terhadap keputusan penguatan.

yang diambil dari topik remaja

dan pelanggaran lalu lintas.

3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan

terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan

aspek yang ditemukan oleh menyimak secara

peserta layanan di dalam seksama

kelompok.

4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan
dengan
kegiatan akan segera diakhiri mendengarkan

seksama

5) Meminta anggota kelompok 5) Peserta layanan
mengemukakan kesan dan
pesan. mengemukakan kesan

dan pesan.

6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
bersama

7) Mengakhiri kegiatan dengan 7) Peserta layanan
mengucapkan terima kasih
dan salam. menjawab salam.

P. Evaluasi Penilaian proses dilakukan
1. Evaluasi Proses

melalui pengamatan

selama mengikuti

kegiatan layanan untuk

memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

Page 40

layanan yang telah

diselenggarakan.

2. Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti

Mengetahui : layanan antara lain.
Koordinator BK,
…………………………………… 1) Menilai perubahan
NIP.
perilaku anggota

kelompok saat mengikuti

layanan

2) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan

lembar refleksi untuk

mengetahui

pemahaman dan

perasaan peserta

layanan setelah

melaksanakan layanan.

Padang, 2020

Guru BK,

………………………………
NIP.

Page 41

MATERI 2

REMAJA DAN PENCEGAHAN
PELANGGARAN LALU LINTAS

A. Pengertian Pelanggaran Lalu Lintas

Istilah pelanggaran

berasal dari dasar kata

“langgar”. Pelanggaran

(overtreding; violation;

contravention) secara

terminologi berarti perbuatan

yang dilarang dan diancam

pidana oleh undang-undang

pidana dan ditentukan lebih

ringan pidananya daripada

kejahatan (Hamzah, 2009).

Selama ini belum banyak disadari bahwa pelanggaranlalu

lintas merupakan salah satu jenis tindak pidana, suatu pelanggaran

dikatakan termasuk tindak pidana bila pelanggaran itu memenuhi

semua unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana tersebut

adalah perbuatan manusia yang mampu bertanggung jawab,

perbuatan itu melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan, dan

diancam dengan pidana (Ardiyasa, 2003).

Rusli Eff endy dan Poppy Andi Lolo menyatakan bahwa

pelanggaran adalah delik undang-undang (wetschending) yaitu

perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui

setelah ada undang-undang yang menentukannya (Rusly Effendi &

Lolo, 1989). Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu pelanggaran

aturan lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan

keamanan berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan

pengguna jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja

yang melalukan pelanggaran itu sendiri (Surya, 2017a).

Kata “lalu lintas” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah

berjalan hilir mudik, berhubungan dengan perjalanan (kendaraan

dsb). Sedangkan pengertian lalu lintas dalam 1 angka 2 UU lalu lintas

yaitu gerak kendaraan dan orang diruang lalu lintas jalan (Ardiyasa,

Page 42

2003). pengertian lalu lintas dalam brosur penyuluhan hukum VIII
tentang pelaksanaan lalu lintas yang diterbitkan oleh Direktorat
Jendral Pembinaan Badan Peradilan Umum Depertemen Kehakiman
edisi 1 tahun 1993 yaitu “pelanggaran lalu lintas adalah setiap
pelanggaran yang dilakukan oleh pemakai jalan baik terhadap
rambu-rambu lalu lintas maupun dalam cara mengemudi jalan.
Orang yang menggunakan kendaraan bermotor maupun pejalan
kaki”.

Mengingat pentingnya ketertiban lalu lintas demi kelancaran
dan keselamatan para pengguna jalan pada umumnya, maka perlu
diupayakan tumbuhnya semangat untuk menaati aturan, semangat
untuk menjaga ketertiban, dan menghormati hak orang lain dalam
berlalu lintas.
B. Remaja dan Pelanggaran Lalu Lintas

Di antara berbagai kemajuan masyarakat modern sekarang
ini, terdapat banyak pula keprihatinan yang menyertai, salah
satunya terkait dengan dunia remaja. Berita di koran, televisi
ataupun berbagai media semakin marak memberitakan tingkah
laku remaja yang semakin menimbulkan keprihatinan, melalui
media masaa dan fasilitas modern remaja semakin terkondisikan
mengikuti gaya hidup konsumtif
serta hedonis (Anggriany, 2006).
Remaja seharusnya diarahkan
pada hal-hal positif berupa
kegiatan-kegiatan yang kreatif
dan produktif adalah penting.
Jika tidak, dikhawatirkan para
remaja dapat terjerumus dalam
kegiatan atau perilaku negatif,
misalnya mencoba merokok
dan narkoba, melanggar aturan lalu lintas, dan lain sebagainya
(Soekanto, 2007).

Remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa awal. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat
dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup
matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola
hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan
melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekhawatiran

Page 43

serta perasaan yang tidak

menyenangkan bagi

lingkungannya,

orangtuanya. Kesalahan

yang diperbuat para

remaja hanya akan

menyenangkan teman

sebayanya. Hal ini karena

mereka semua memang

sama-sama masih dalam masa mencari identitas (Sumara et al.,

2017).

Pada masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang

meliputi kognitif, sosial, emosi dan kepribadian. Perubahan yang

terjadi pada remaja menjadi ciri khas pada masa remaja, seperti,

agresif, berani, kurang memperhitungkan risiko, emosi kurang stabil

dan idealis. Ciri khas remaja tidak hanya tercermin dalam

pergaulan sehari-hari, namun juga dalam berkendaraan yang

cenderung berisiko (Agung, 2014). Kebanyakan remaja

mengendarai kendaraan bermotor tidak pernah memperhatikan

keselamatan berkendaraan baik bagi dirinya maupun orang lain

disekitarnya (Debora, 2019).

Remaja sangat berpotensi menjadi pengendara beresiko,

remaja cenderung mengadopsi cara berkendaraan penuh risiko

dibandingkan orangtua (Deery & Flides,1999). Hal ini terbukti di

lapangan banyak dilihat remaja-remaja yang berkendara secara

agresif, dan penuh resiko, misalkan menyalip kendaraan yang ada

di depan tanpa lampu sen atau menerobos lampu merah.

Pengendara berisiko sangat berbahaya bagi dirinya dan orang

lain. Hal ini karena berpotensi menimbulkan kecelakaaan yang

dapat berdampak pada risiko kematian(Agung, 2014).

Salah satu momen puncak pelanggaran lalu lintas yang

sering didapati dan dilakukan oleh para remaja tingkat akhir

adalah menjelang kelulusan ujian negara di mana banyak siswa-

siswi yang mengekspresikan kelegaan mereka dengan corat-coret

baju seragam dan trek-trekan atau konvoi yang dilakukan untuk

menyambut kelulusan. Aksi tersebut beberapa berdampak negatif

seperti trek-trekan atau pawai yang menimbulkan aksi ugal-ugalan

di jalan raya yang bisa membahayakan pengguna jalan lain

(Susanto et al., n.d.).

Page 44


Click to View FlipBook Version