Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang
dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh karena itu
masalah kenakalan remaja termasuk pelanggaran lalu lintas
seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus
untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik
beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi
kenakalan di kalangan remaja (Sumara et al., 2017).
C. Faktor Pelanggaran Lalu Lintas
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya
pelanggaran lalu lintas, faktor tersebut antara lain adalah
paradigma berpikir masyarakat instan di zaman modern, mulai
lunturnya sensitivitas dalam berkendara, dan minimnya etika
berkendara untuk tertib, saling menghormati, saling menghargai,
yang mengakibatkan semakin hilangnya rasa kepemilikan akan
sesuatu. Semakin banyak kendaraan akan semakin tinggi potensi
terjadinya kecelakaan. Faktor terjadinya kecelakaan antara lain
faktor pengendara, kendaraan, jalan, lingkungan dan penyebab
terbesar adalah karena
kesalahan dan kecerobohan
yang dilakukan oleh
pengendara (Melasari, 2017).
Faktor-faktor di atas
mempunyai hubungan sebab
akibat yang saling berkaitan
antara satu dengan yang lain.
Faktor tersebut dapat
disederhanakan menjadi tiga faktor utama penyebab pelanggaran
lalu lintas yaitu.
1) Faktor Manusia
Penyebab pelanggaraan
dan kecelakaan lalu lintas
paling banyak disebabkan oleh
manusia, yang mencangkup
psikologi manusia, sistem indra
seperti penglihatan,
pendengaran dan
pengetahuan tentang tata
cara lalu lintas. Faktor manusia
merupakan hal paling dominan
Page 45
dalam kecelakaan, hampir semua kejadian kecelakaan didahului
dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Serta pelanggaran
dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan
terhadap arti aturan berlaku ataupun tidak melihat ketentuan
yang diberlakukan (Hasan, 2018).
Faktor manusia ini ditentukan oleh beberapa indikator yang
membentuk sikap dan perilakunya di jalan raya (Ikhsan, 2009:02),
diantaranya:
a) Mental
Mental dan perilaku yang membudaya dari pengguna
jalan merupakan salah satu faktor utama yang sangat
berpengaruh terhadap situasi lalu lintas. etika, sopan-santun,
toleransi antar pengguna jalan, kematangan dalam
pengendalian emosi serta kepedulian pengguna jalan di jalan
raya akan menimbulkan sebuah iteraksi yang dapat mewarnai
situasi lalu lintas berupa hasil yang positif seperti terciptanya
keamanan, keselamatan dan kelancaran lalu lintas maupun
dampak negatif yang
dapat menimbulkan
kesemrawutan,
kemacetan, pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas,
sehingga mentalitas
pengguna jalan
merupakan suatu hal
yang pondamental dalam
mewujudkan situasi lalu
lintas yang baik. Hal ini
dapat berpengaruh
terhadap kepribadian yaitu bagaimana individu bereaksi
terhadap situasi sosial. meliputi, marah, pencarian sensasi dan
cemas (Agung, 2014).
Mental dan perilaku pengguna jalan merupakan suatu
cerminan budaya berlalulintas, hal ini tidak dapat dibentuk
secara instant oleh suatu lembaga tertentu, baik itu lembaga
pendidikan maupun lembaga lainnya, tetapi terbentuk secara
berkesinambungan mulai kehidupan sehari-hari dalam
keluarga, lingkungan dan situasi lalu lintas yang kasat mata
Page 46
secara keseharian selalu
terlihat oleh pengguna
jalan sehingga membentuk
kultur mentalitas berlalu
lintas seseorang.
b) Pengetahuan
Dalam menciptakan
dan memelihara
keamanan, keselamatan,
ketertiban serta kelancaran
lalu lintas, telah dilakukan
pengaturan yang disesuaikan dengan perkembangan situasi
lalu lintas yang ada dengan mempertimbangkan
perkembangan teknologi di bidang transportasi baik yang
berhubungan dengan kendaraan, sarana dan prasarana jalan
serta dampak lingkungan lainnya dalam bentuk suatu aturan
yang tegas dan jelas serta telah melalui roses sosialisai secara
bertahap sehingga dapat dijadikan pedoman dalam
berinteraksi di jalan raya.
Setiap pengguna jalan wajib memahami setiap aturan
yang telah dibakukan secara formal baik dalam bentuk
Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, Perda dan
aturan lainnya sehingga terdapat satu persepsi dalam pola
tindak dan pola pikir dalam berinteraksi di jalan raya.
Perbedaan tingkat pengetahuan dan atau pemahaman
terhadap aturan yang berlaku mengakibatkan suatu
kesenjangan yang berpotensi memunculkan permasalahan
dalam berlalu lintas, baik antar pengguna jalan itu sendiri
maupun antara pengguna jalan dengan aparat yang bertugas
untuk melaksanakan penegakkan hukum di jalan raya.
Selain pemahaman terhadap pengetahuan tentang
peraturan perundang-undangan yang berlaku, pengetahuan
tentang karakteristik kendaraan merupakan suatu hal yang
tidak dapat diabaikan, setiap kendaraan memiliki karakteristik
yang berbeda dalam penanganannya, pengetahuan
terhadap karakteristik kendaraan sangat berpengaruh
terhadap operasional kendaraan di jalan raya yang secara
otomatis akan berpengaruh pula terhadap situasi lalu lintas
jalan raya, pengetahuan tentang karakteristik kendaraan bisa
Page 47
didapat dengan mempelajari buku manual kendaraan tersebut
serta dengan mempelajari karakter kendaraan secara langsung
(fisik).
c) Keterampilan
Kemampuan dalam mengendalikan
(mengendarai/mengemudi) kendaraan baik kendaraan
bermotor maupun kendaraan tidak bermotor di jalan raya akan
berpengaruh besar terhadap situasi lalu lintas, keterampilan
mengendalikan kendaraan merupakan suatu keharusan yang
mutlak demi keamanan, keselamatan, ketertiban dan
kelancaraan lalu lintas baik bagi pengemudi/ pengendara
kendaraan tersebut maupun pengguna jalan lainnya.
Lisensi terhadap kemampuan dalam mengendalikan
kendaraan di wujudkan secara formal melalui Surat Izin
Mengemudi yang di keluarkan oleh SATPAS Polri sesuai dengan
peruntukan kendaraan bermotor yang dikemudikan/dikendarai
oleh pengguna jalan sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 44 tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi Bab
VII tentang Pengemudi.
Keterampilan mengendalikan kendaraan baik
kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor
diperoleh melalui serangkaian pelatihan sebelum mengajukan
Lisensi keterampilannya (SIM), secara formal khusus untuk
kendaraan bermotor setiap pemohon SIM diwajibkan telah
memiliki ketrampilan mengemudikan kendaraan bermotor yang
dapat diperoleh baik melalui lembaga pendidikan dan
pelatihan mengemudi maupun tidak melalui lembaga
pendidikan dan pelatihan mengemudi yang berarti pemohon
telah melalui proses pelatihan keterampilan sebelum dilanjutkan
proses pengujian keterampilannya untuk mendapatkan SIM.
2) Faktor Kendaraan
Kendaraan merupakan salah satu faktor utama yang secara
langsung terlibat dalam dinamika lalu lintas jalan raya dengan
dikendalikan oleh manusia, interaksi antara manusia dan
kendaraan dalam satu kesatuan gerak di jalan raya memerlukan
penanganan khusus baik terhadap mental, pengetahuan dan
keterampilan pengemudi maupun kesiapan (layak jalan)
kendaraan tersebut untuk dioperasionalkan di jalan raya.
Page 48
Faktor kendaraan yang sering terjadi adalah ban pecah, rem
tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, keadaan peralatan
kendaraan yang seharusnya telah diganti dan berbagai
penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat
berhubungan dengan teknologi yang digunakan, perawatan
yang dilakukan terhadap kendaraan tersebut. Maka dari itu
adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan
bermotor secara teratur (Umi Enggarsasi, 2017).
3) Faktor Kondisi Jalan
Hal ini berhubungan dengan kecepatan rencana jalan, pagar
pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya media jalan,
dan jarak pandang serta kondisi permukaan jalan. Jalan yang
rusak atau berlubang sangat
membahayakan pengguna
jalan terutama bagi sepeda
motor. Faktor jalan dapat
dikurangi dengan rekayasa
jalan sehingga dapat
mempengaruhi tingkah laku
para pengguna jalan dan
mengurangi tindakan yang
membahayakan
keselamatan dalam berlalu
lintas (Tua, 2014).
4) Faktor Keadaan Alam
Pelanggaran lalu lintas yang disebabkan karena faktor keadaan
alam atau lingkungan biasanya terjadi dalam keadaan yang
tidak terduga. Ketika
hujan turun, maka
pada umumnya semua
kendaraan
akan menambah laju
kendaraannya
sehingga pelanggaran
lalu lintas akan sangat
mungkin terjadi.
Misalnya seseorang
pengendara motor
yang takut terkena air
Page 49
hujan sehingga tidak segan-seganmemilih jalan pintas baik
dengan melanggar rambu lalu lintas atau tetap mematuhi
peraturan yang ada.
Terlihat dari keempat faktor di atas, faktor penyebab
pelanggaran lalu lintas yang paling tinggi adalah faktor manusia
hal ini dikarenakan berkaitan erat dengan etika, tingkah laku, dan
cara berkendara. Bentuk pelanggaran sendiri merupakan bagian
dari kelalaian seseorang dalam bertindak dan mengambil
keputusan yang tergesa-gesa. Mereka khususnya disini para siswa
lebih mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan umum.
D. Bentuk-bentuk Pelanggaran Lalu Lintas pada Remaja
Tingginya angka kecelakaan di Indonesia disebabkan karena
pengemudi tidak hati-hati saat berkendara. Mereka juga kerap kali
tidak memakai pengaman dan melanggar lampu lalu lintas. Meski
berbagai aturan sudah dikeluarkan untuk membuat situasi lalu lintas
tetap kondusif, pada kenyataannya masih saja banyak pengguna
jalan yang tidak mengindahkan aturan-aturan tersebut yang
seringkali terjadi kecelakaan yang membuat orang lain terluka atau
bahkan tewas.
Memahami peraturan
lalu lintas tentu akan
membuat Anda
terhindar dari
kecelakaan dan
denda. Berikut ini
beberapa bentuk
pelanggaran lalu lintas
yang sering dilakukan
oleh kalangan remaja
khususnya pelajar
diantaranya:
1. Menggunakan jalan dengan cara yang dapat merintangi
membahayakan ketertiban atau keamanan lalu lintas atau yang
mungkin menimbulkan kerusakan pada jalan.
2. Mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak dapat
memperlihatkan surat ijin mengemudi (SIM), STNK, Surat Tanda Uji
Kendaraan (STUJ) yang sah atau tanda bukti lainnya sesuai
peraturan yang berlaku atau dapat memperlihatkan tetapi masa
berlakunya sudah kadaluwarsa.
Page 50
3. Membiarkan atau memperkenakan kendaraan bermotor
dikemudikan oleh orang lain yang tidak memiliki SIM.
4. Tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan lalu
lintas jalan tentang penomoran, penerangan, peralatan,
perlengkapan, pemuatan kendaraan dan syarat
penggandengan dengan kendaraan lain.
5. Membiarkan kendaraan bermotor yang ada di jalan tanpa
dilengkapi plat tanda nomor kendaraan yang sah, sesuai dengan
surat tanda nomor kendaraan yang bersangkutan.
6. Pelanggaran terhadap perintah yang diberikan oleh petugas
pengatur lalulintas jalan, rambu-rambu atau tanda yang yang
ada di permukaan jalan.
7. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tentang ukuran dan
muatan yang diijinkan.
8. Memodifikasi motor sehingga tidak sesuai standar
9. Tidak menggunakan helm standar nasional Indonesia
10. Mengemudikan kendaraan bermotor berbalapan di jalan
11. Mengendari dengan merokok
12. Mengendarai sepeda motor dengan menggunakan headset
maupun ponsel.
13. Menyalip kendaraan yang ada di depan tanpa lampu sen atau
menerobos lampu merah (Agung, 2014).
Page 51
RANGKUMAN
1. Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu pelanggaran aturan
lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan
berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan pengguna
jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja yang
melalukan pelanggaran itu sendiri.
2. Faktor-faktor pelanggaran lalu lintas, faktor manusia, faktor
kendaraan, faktor kondisi jalan
3. Beberapa bentuk pelanggaran lalu lintas pada remaja berupa
tidak memakai helm, tidak membawa sim/stnk, melanggar
rambu lalu lintas, menerobos traffict light, menaikkan sepeda di
trotoar, berkendara melebihi batas kecepatan, berbonceng
tiga
Page 52
Lampiran.2.1
LEMBAR TUGAS KELOMPOK
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari Topik remaja dan pencegahan pelanggaran lalu lintas yang
telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan
mengetahui tat tertib berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda
dan apa saja yang harus Ananda lakukan agar dapat mencegah
pelanggaran lalu lintas?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Page 53
Lampiran.2.2
LEMBAR evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Menurut penilaian ananda, apakah pelanggaran lalu lintas saat ini
masih didominasi oleh remaja ? mengapa?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
2. Amatilah keadaan sekitar ananda, simpulkan apakah para
remaja telah mematuhi peraturan lalu lintas dengan baik di jalan
raya?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………
Page 54
3. Kiat apakah yang bisa ananda usulkan untuk dapat mencegah
pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
-----Selamat Bekerja----
Page 55
Lampiran.2.3
LEMBAR REFLEKSI
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!
Gambar 17 :
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Page 56
DAFTAR PUSTAKA
Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.
Anggriany, N. (2006). Motif sosial dan kebermaknaan hidup remaja
Pagaralam. Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
11(21). https://doi.org/10.20885/psikologika.vol11.iss21.art5
Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.
Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.
Hasan, R. (2018). KESADARAN HUKUM BERLALU LINTAS PADA PESERTA
DIDIK KELAS XI SMK NEGERI 2 KOTA TERNATE. 1, 41–46.
Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.
Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.
Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.
Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.
Surya, D. H. (2017b). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
Berkenderaan di Sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Askara Public, 1(1), 30–46.
Susanto, L., Dutto, D., Sn, S., Si, M., Sylvia, M., Sn, S., Studi, P., Komunikasi,
D., Seni, F., & Petra, U. K. (n.d.). Perancangan Kampanye Sosial
Modifikasi Baju Seragam SMA saat Kelulusan. 1–12.
Tua, P. M. (2014). Penegakan hukum terhadap penyelenggara jalan
yang rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di wilayah
hukum kepolisian resor kota Pekanbaru. Jurnal JOM Fakultas Hukum,
I(2), 1–15.
Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.
Page 57
DAFTAR GAMBAR
Gambar 7 https://www.google.com/search?q=gambar+harga+diri
Gambar 8 &safe=strict&sxsrf
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
Gambar 9 ww.kompasiana.com%2Ftetikusliterasi%2F5a12820afcf681
32de5a88b3%2Fpengemudi-dibawah-umur&psig
Gambar 10 https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
Gambar 11 ww.headline.co.id%2F9456%2Fnekat-konvoi-kelulusan-di-
Gambar 12 tengah-pandemi-puluhan-siswa-siswi-sma-di-
probolinggo-diamankan-polisi%2F&psig
Gambar 13 https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
Gambar 14 https://assetsa1.kompasiana.com/items/album/2015/10/
Gambar 15 25/2015-10-25-23-24-00-562d097e527a61890affd604.jpg
Gambar 16 https://asset.kompas.com/crops/F1WetiUVbfTIx1VoYGMn
6xEdxYw=/195x0:780x390/750x500/data/photo/2014/01/0
Gambar 17 7/1415542Hujan-sepeda-motor780x390.jpg
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
ww.inibalikpapan.com%2Fberkendara-sambil-
mendengarkan-musik-menelpon-dan-merokok-
terancam-masuk-bui-dan denda
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
Page 58
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan
D. Fungsi Layanan Tindakan terhadap Kematian
E. Materi Layanan Pemahaman
1. Tema Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan
2. Sub Tema Tindakan terhadap Kematian
a) Akibat Pelanggaran Lalu Lintas
3. Sumber
F. Tujuan Layanan dan tindakan terhadap kematian
b) Pengaruh Pelanggaran Lalu Lintas
1. Tujuan Umum
Terhadap Potensi Kecelakaan
2. Tujuan khusus c) Upaya Mengatasi Pelanggaran
Lalu Lintas
Terlampir
Agar peserta layanan dapat
mengetahui dan memahami akibat
pelanggaran lalu lintas dan
tindakan terhadap kematian
1) Setelah diskusi mengenai akibat
pelanggaran lalu lintas dan
tindakan terhadap kematian
melalui model yang diberikan,
siswa mampu mencegah diri dari
melanggar peraturan lalu lintas
2) Setelah memiliki informasi-
informasi baru melalui model
yang diberikan mengenai
pengaruh pelanggaran lalu lintas
terhadap potensi kecelakaan,
siswa mampu mengemukakan
faktor pengaruh angka kematian
akibat kecelakaan lalu lintas
Page 59
3) Setelah mendengarkan
penjelasan mengenai upaya
mengatasi pelanggaran lalu lintas
siswa mampu mengaitkan materi
dengan pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
4) Setelah mengaitkan materi akibat
pelanggaran lalu lintas dan
tindakan terhadap kematian
siswa mampu menentukan sikap
dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok
H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu 2x45 menit
J. Tanggal Pelaksanaan -
K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok
L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab dan
penugasan
M. Media/Alat “Panduan Peningkatan
Kebermaknaan Hidup dalam
Pencegahan Pelanggaran Lalu
Lintas menggunakan Teknik
Modeling Setting Kelompok”
N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan
Page 60
Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/
Kelompok Peserta Layanan
1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk
layanan untuk duduk duduk melingkar.
melingkar dengan
mengatur jarak tempat
duduk.
2) Peserta layanan merespon
2) Menyapa dengan kalimat pemimpin kelompok dengan
yang membuat peserta semangat.
layanan bersemangat.
3) Menjawab salam.
3) Mengucapkan salam.
4) Peserta layanan merespon
4) Ucapan selamat datang dengan semangat.
dan terimakasih atas
kehadiran anggota
kelompok.
5) Peserta layanan berdo`a
5) Memulai pertemuan bersama.
dengan membaca do`a.
6) Peserta layanan
6) Menjelaskan tentang mendengarkan dengan
layanan konseling dengan seksama.
teknik modeling setting
kelompok. 7) Peserta layanan
7) Menjelaskan tujuan mendengarkan dengan
pelaksanaan teknik seksama.
modeling
8) Semua peserta saling
8) Perkenalan dengan memperkenalkan diri.
semua anggota
kelompok.
9) Semua Peserta layanan
9) Menampilkan permainan mengikuti permainan
keakraban (rangkaian rangkaian nama.
nama).
10)Peserta layanan merespon
10)Pemimpin kelompok pertanyaan pemimpin
menanyakan kesiapan kelompok dengan baik.
peserta layanan dalam
melaksanakan tugas. 11) Peserta layanan merespon
11)Membahas suasana yang pemimpin kelompok sesuai
Page 61
terjadi. dengan suasana yang terjadi.
12) Peserta layanan merespon
dan menjawab pertanyaan
12)Memberikan pertanyaan pemimpin kelompok.
terbuka mengenai topik
akibat pelanggaran lalu 13) Peserta layanan
lintas dan tindakan mendengarkan dan
terhadap kematian. memperhatian secara
seksama
13)Meminta anggota
kelompok untuk
memperhatikan apa yang
harus dipelajari nantinya 14) Peserta layanan
sebelum model diberikan menonton video secara
seksama.
14)Pemimpin kelompok
menayangkan video yang
berkaitan dengan akibat 15) Peserta layanan
pelanggaran lalu lintas. memperhatikan dan
mendengarkan secara
15)Mengingatkan anggota seksama.
bahwa kegiatan akan
segera memasuki tahap
selanjutnya
2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)
1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan
yang akan ditempuh mendengarkan dan
pada tahap berikutnya. memperhatian secara
seksama.
2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan
mengamati apakah para merespon dan
peserta sudah siap masuk menjawab penawaran
pada tahap selanjutnya. dari pemimpin kelompok
3) Meningkatkan 3) Peserta layanan
kemampuan keikutsertaan memperhatikan dan
anggota. Kalau perlu mendengarkan secara
kembali kebeberapa seksama.
aspek tahapan
sebelumnya jika
diperlukan.
4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan
mengarahkan jalannya mendengarkan dan
pembahasan topik akibat merespon secara seksama.
Page 62
pelanggaran lalu lintas
dan tindakan terhadap
kematian.
5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan
memberikan pendapat mengemukakan pendapat
masing-masing terhadap mengenai video yang telah
video yang diberikan. diberikan.
3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan
saling peduli, menghargai mendengarkan dan
pendapat antar peserta merespon secara seksama.
layanan.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang
peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan
mengulang perilaku yang pada model yang telah
ditemukan pada model diberikan.
yang telah diberikan.
3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan mengaitkan
untuk mengaitkan video video yang diberikan dengan
yang diberikan dengan keadaan diri masing-masing.
keadaan diri masing-
masing
4) Membantu peserta 4) Peserta layanan
layanan untuk mengemukakan pemahaman
mengemukakan mengenai topik akibat
pemahaman yang dimiliki pelanggaran lalu lintas dan
mengenai topik akibat tindakan terhadap kematian.
pelanggaran lalu lintas
dan tindakan terhadap
kematian.
5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya
tanya jawab antar mengenai hal-hal yang belum
anggota kelompok yang dipahami.
belum dipahami
mengenai topik akibat
pelanggaran lalu lintas
dan tindakan terhadap
kematian.
6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan membahas
layanan untuk mendalami topik remaja dan
Page 63
topik remaja dan kebermaknaan hidup.
kebermaknaan hidup
secara mendalam.
7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan
dari peserta layanan memperhatikan dan
sesuai dengan keadaan menyimak secara seksama.
diri peserta layanan.
8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.
4. Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta 1) Peserta layanan mengambil
layanan mangambil keputusan mengenai topik
keputusan dari topik akibat pelanggaran lalu lintas
akibat pelanggaran lalu dan tindakan terhadap
lintas dan tindakan kematian.
terhadap kematian.
2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima
dan penguatan kepada dukungan dan penguatan.
peserta layanan terhadap
keputusan yang diambil
dari topik akibat
pelanggaran lalu lintas
dan tindakan terhadap
kematian.
3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan
terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan
aspek yang ditemukan menyimak secara seksama
oleh peserta layanan di
dalam kelompok.
4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan
kegiatan akan segera mendengarkan dengan
diakhiri seksama.
5) Meminta anggota 5) Peserta layanan
kelompok mengemukakan mengemukakan kesan dan
kesan dan pesan. pesan.
6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
Page 64
bersama
7) Mengakhiri kegiatan
dengan mengucapkan 7) Peserta layanan menjawab
terima kasih dan salam. salam.
P. Evaluasi Penilaian proses dilakukan
1. Evaluasi Proses
melalui pengamatan selama
2. Evaluasi Hasil
mengikuti kegiatan layanan
Mengetahui
Koordinator BK, untuk memperoleh gambaran
tentang aktivitas anggota
kelompok dan efektivitas
layanan yang telah
diselenggarakan.
Evaluasi setelah mengikuti
layanan antara lain.
1) Mengamati perubahan
perilaku peserta layanan
2) Peserta layanan mengisi
lembar evaluasi dan lembar
refleksi untuk mengetahui
pemahaman dan perasaan
peserta layanan setelah
melaksanakan layanan.
…………………………..…
Guru BK/Konselor
…………………………… …………………………
NIP. NIP.
Page 65
MATERI 3
AKIBAT PELANGGARAN LALU
LINTAS DAN TINDAKAN
TERHADAP KEMATIAN
A. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Tindakan Terhadap Kematian
Kecelakaan lalu lintas
merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang
mempengaruhi semua sektor
kehidupan, kecelakaan lalu
lintas tidak hanya
menyebabkan kematian dan
kerusakan kendaraan bermotor,
tetapi juga telah
mengakibatkan penyakit yang
serius dan kecacatan (Sahabudin et al., 2011). Kecelakaan lalu lintas
di Indonesia oleh World Health Organisation (WHO) dinilai menjadi
pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan
tubercolosis/TBC.
WHO juga mencatat terdapat 1,2 juta orang meninggal setiap
tahunnya dalam kecelakaan lalu lintas dan 50 juta orang korban
kecelakaan lalu lintas mengalami luka serius maupun cacat tetap
(WHO, 2011). Kecelakaan lalu lintas juga menjadi penyebab utama
kematian anak di dunia, dengan dengan rentang usia 10 sampai
dengan 24 tahun. (Badan Intelejen Negara, 2012). Pada survey yang
dilakukan di 182 negara, Indonesia menempati urutan kelima dalam
peringkat negara dengan korban tewas terbanyak akibat
kecelakaan lalu lintas(Ratnasari et al., 2014).
Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara
menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan (Melasari, 2017).
Kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan luka- luka hingga
kematian pada manusia (Dewi & Zain, 2016).
Kecelakaan lalu lintas melibatkan anak usia remaja tergolong
besar. Berdasarkan data Korlantas Polri mengenai pelanggaran lalu
Page 66
lintas dengan jumlah
kecelakaan terbanyak di
Indonesia didominasi yang
oleh kelompok umur 15-19
tahun (Izadi, 2019).
Hal ini, ini terjadi
karena mayoritas para
pelanggar lalu lintas yang
cenderung ugal-ugalan
dijalan adalah oknum
remaja dan pemuda
(Ratnasari et al., 2014). Walaupun siswa tingkat pengetahuannya
tinggi, mereka juga memiliki sikap melanggar yang tinggi. Hal ini
karena pengetahuan yang mereka miliki tidak menunjang mereka
untuk berperilaku tidak melanggar. Selain kematian yang menjadi
akibat fatal dari pelanggaran lalu lintas ada beberapa hal menjadi
dampak dari pelanggaran lalu lintas, diantaranya :
1. Tingginya angka kecelakaan lalu lintas baik pada persimpangan
lampu lalu lintas maupun pada jalan raya
2. Keselamatan para pengendara dan para pejalan kaki menjadi
terancam
3. Kemacetan lalu lintas akibat dari masyarakat yang tidak
mematuhi peraturan lalu lintas dengan baik dan tepat
4. Kebiasaan melanggar peraturan lalu lintas yang biasa kemudian
menjadi budaya melanggar peraturan (Rakhmani, 2013).
E. Pengaruh Pelanggran Lalu Lintas Terhadap Potensi Kecelakaan
1. Pelanggaran Lampu dan Rambu Lalu Lintas
Pelanggaran
lampu dan rambu
merupakan faktor yang
berpengaruh paling
besar terhadap potensi
kecelakaan lalu lintas
pada remaja
pengendara sepeda
motor di Kota Surakarta,
yaitu sebesar 39.51%. Hal
ini sejalan dengan
penelitian Marsaid
Page 67
(2013), pengendara tidak tertib beresiko 0.227 kali menyebabkan
kejadian meninggal pada kecelakaan lalu lintas. Marsaid (2013)
menyatakan bahwa pelanggaran terhadap rambu dan lampu
lalu lintas berperan dalam menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Kendala utama yang dihadapi dalam peningkatan keselamatan
jalan adalah rendahnya disiplin masyarakat dalam berlalu lintas,
kurangnya kedisiplinan ini menjadi salah satu faktor yang memicu
terjadinya kecelakaan.
Banyaknya peristiwa kecelakaan yang diawali dengan
pelanggaran lalu lintas, terutama pelanggaran rambu dan lampu
lalu lintas. Menurut data dari kepolisian faktor pelanggaran yang
dilakukan oleh pengemudi yang kurang tertib berlalu lintas ini
mencapai lebih dari 80% dari penyebab kecelakaan lalu lintas
(Kartika, 2009).
2. Kecepatan Tinggi
Pengaruh kecepatan tinggi terhadap potensi kecelakaan
lalu lintas pada remaja pengendara sepeda motor adalah
13.69%. Penelitian Ali dkk (2014) menunjukkan bahwa melewati
batas kecepatan merupakan
pelanggaran yang paling sering
dilakukan pengendara remaja
sebesar 22.5%.
Mengebut merupakan hal
yang sangat berpotensi
menyebabkan tingginya
keparahan korban kecelakaan.
Kecepatan sebuah kendaraan
akan mempengaruhi waktu
yang tersedia bagi pengendara
untuk mengadakan reaksi
terhadap perubahan dalam lingkungannya di samping dampak
lainnya baik merupakan akibat langsung (direct impact) maupun
akibat tidak langsung (indirect impact) (Marsaid. Hidayat, 2013).
Perbedaan antara kecepatan mempengaruhi frekuensi
pengemudi menyalip kendaraan di depan maupun untuk
mengurangi kecepatan di belakang kendaraan tersebut. Dalam
kondisi bertumbukan, kecepatan mempengaruhi tingkat
kecelakaan dan kerusakan yang diakibatkan oleh tabrakan.
Page 68
Mengendarai dengan kecepatan tinggi akan menghasilkan
energi yang tinggi bila bertabrakan, sehingga dampak yang
ditimbulkan juga semakin parah (Kartika, 2009).
Kecepatan tinggi
meningkatkan peluang terjadinya
kecelakaan dan tingkat
keparahan dari konsekuensi
kecelakaan tersebut. Kecepatan
yang berlebihan adalah
kecepatan yang lebih tinggi dari
kecepatan yang diizinkan oleh
kondisi lalu lintas dan jalan. Hal ini
memberikan pengertian yang sangat relatif bagi pengemudi,
dan sesungguhnya batas kecepatan tidak akan diperlukan
seandainya pengemudi dapat menyesuaikan dengan kondisi di
lapangan tanpa adanya peraturan kecepatan (Simarmata,
2008).
3. Mengantuk
Pengendara yang mengantuk akan berkurang staminanya
jika mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 80 km/jam
selama 2 jam tanpa berhenti. Banyaknya kecelakaan yang
disebabkan pengendara mengantuk dikarenakan pengendara
sepeda motor pada umumnya tidak merasa bahwa dirinya
mengantuk, seringkali mereka memaksakan dirinya untuk tetap
mengendarai motor (Kartika, 2009).
Pengendara yang
mengantuk pada umumnya
disebabkan karena mereka
kurang istirahat, misalnya
kerja lembur dan belum
sempat tidur namun
memaksakan untuk pulang
dengan mengendarai
motornya. Faktor mengantuk
dapat juga disebabkan
karena pengendara sepeda motor terus-menerus menghirup gas
karbon dari hasil pembakaran kendaraan lain. Hasil pembakaran
kendaraan bermotor mengandung karbon yang dapat
Page 69
mempengaruhi daya kerja otak sehingga menimbulkan efek
mengantuk (Raymond 2008, dalam Marsaid 2013).
4. Perilaku Berbahya yang Tidak Lazim
Melintasi trotoar dan membonceng penumpang lebih dari
satu, melakukan maneuver yang berbahaya, kebut-kebutan
merupakan pelanggaran yang berbahaya dan berpotensi
kecelakaan lalu lintas.
F. Upaya Mengatasi Pelanggaran Lalu Lintas
Ketika seseorang sedang mengemudikan kendaraan
bermotor di jalan raya, mereka mengharapkan semoga tidak
terjadi gangguan kendaraan atau hal-hal yang tidak diinginkan
seperti halnya macet, mogok atau kecelakaan mereka berharap
agar sampai pada tujuan dengan selamat. Untuk menghindari
hal-hal yang tidak diinginkan bagi pengemudi kendaraan
bermotor, para pengemudi dianjurkan terlebih dahulu untuk
mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawa dalam dan
dipersiapkan sebelum perjalanan. Untuk itu (Dharmawan 1988: 6)
mengemukakan yang perlu
diperhatikan bagi
pengendara sepeda motor
diantaranya:
1. Pastikan arah yang akan
dituju dan ingatkan jalan
terdekat yang boleh
ditempuh sepeda motor
(tidak terlarang untuk
sepeda motor).
2. Kondisi kesehatan harus cukup baik (tidak sakit, tidak dalam
keadaan mabuk).
3. periksalah kondisi motor dalam keadaan baik dan layak pakai
serta periksa volume bahan bakar.
4. Siapkan surat-surat yang diperlukan dalam perjalanan (SIM,
STNK) dan lain-lain.
5. periksa semua peralatan sepeda motor (terutama rem dan
lampu- lampu).
6. Untuk menghindari kecelakaan yang fatal pakailah helm untuk
anda dan orang yang akan anda bonceng.
7. Berjalanlah di jalan yang diperuntukan sepeda motor dengan
kecepatan yang pantas (tidak ngebut).
Page 70
8. Bila akan berhenti, membelok dan mendahului kendaraan
lainnya, berikan aba-aba yang sempurna dan dalam jarak
yang cukup memberikan kesempatan menghindar untuk
kendaraan lainnya.
9. Untuk menjaga kesehatan anda dari tiupan angin kencang,
pakailah baju/jaket yang tebal atau penutup dada khusus.
Dari beberapa petunjuk tersebut diatas, para pemakai
jalan harus dapat mementingkan kepentingan umum saat
mengendarai sepeda motor karena sering kali kecelakaan yang
terjadi akibat pengemudi melaju dengan kecepatan tinggi di luar
batas ketentuan yang berlaku. Untuk itu (Hadiman 1991:13)
mengemukakan batas kecepatan yang sesuai sebagai berikut.
a. Di dalam kota
1) Mobil bis maximum 55 Km/jam.
2) Mobil gerobak maximum 40 Km/jam.
3) Dengan gandengan maximum 40 Km/jam.
4)
b. Di luar kota
1) Mobil bis dan mobil gerobak maximum 70 Km/jam.
2) Pakai gandengan maximum 50 Km/jam.
c. Di dalam kota yang ramai
Dapat ditetapkan untuk ketiga jenis tersebut maximum 40
Km/jam.
d. Di daerah khusus ibu kota
1) Kecepatan maximum 60 Km/jam di jalan-jalan utama.
2) Kecapatan maximum 45 Km/jam di jalan-jalan ekonomi.
3) Kecepatan maxim um 30 Km/jam di jalan-jalan lingkungan.
Dengan petunjuk di atas tersebut para pengemudi harus
memahami batas ketentuan dalam mengemudi, sehingga
pemakai jalan yang lain tidak merasa terganggu bahkan
kecelakaan dapat dihindari.
Page 71
RANGKUMAN
1. Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh
pengendara menyebabkan meningkatnya jumlah
kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan
luka- luka hingga kematian pada manusia.
2. Pengaruh pelanggran lalu lintas terhadap potensi
kecelakaan yaitu, pelanggaran lampu dan rambu lalu
lintas, kecepatan tinggi, mengantuk, perilaku berbahaya
yang tak lazim
3. Upaya mengatasi pelanggaran lalu lintas, pastikan arah
yang akan dituju dan ingatkan jalan terdekat yang boleh
ditempuh sepeda motor, Kondisi kesehatan harus cukup
baik, periksalah kondisi motor dalam keadaan baik dan
layak pakai serta periksa volume bahan bakar, Siapkan
surat-surat yang diperlukan dalam perjalanan (SIM, STNK)
dan lain-lain, periksa semua peralatan sepeda motor, Untuk
menghindari kecelakaan yang fatal pakailah helm untuk
anda dan orang yang akan anda bonceng, Berjalanlah di
jalan yang diperuntukan sepeda motor dengan kecepatan
yang pantas, Bila akan berhenti, membelok dan
mendahului kendaraan lainnya, berikan aba-aba yang
sempurna dan dalam jarak yang cukup memberikan
kesempatan menghindar untuk kendaraan lainnya, Untuk
menjaga kesehatan anda dari tiupan angin kencang,
pakailah baju/jaket yang tebal atau penutup dada khusus.
Page 72
Lampiran.3.1
LEMBAR TUGAS KELOMPOK
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik akibat pelanggaran lalu lintas dan tindakan terhadap
kematian yang telah dibahas, jelaskan mengapa ananda harus
memahami dan mengetahui akibat pelanggaran lalu lintas dalam
kegiatan sehari-hari?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Page 73
Lampiran.3.2
LEMBAR evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman ananda !
1. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk
mencegah tingginya potensi pelanggaran lalu lintas oleh remaja
khususnya ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
2. Menurut pendapat ananda, mengapa tingkat kecelakaan lalu lintas
lebih didominasi oleh kalangan remaja?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
Page 74
3. Apa kritik dan saran ananda terhadap penanganan pelanggaran
lalu lintas kepada berbagai pihak yang terkait?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
Page 75
Lampiran.3.3
LEMBAR REFLEKSI
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!
Gambar 25:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Page 76
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.
Izadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Marsaid. Hidayat, M. A. (2013). Faktor yang berhubungan dengan
kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor di
wilayah polres kabupaten Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan.
Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.
Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.
Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas
motor sulut king community (SKC) Manado. 24.
Sahabudin, Wartatmo, H., & Kuschitawati, S. (2011). Pengendara sebagai
faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas sepeda motor tahun
2010. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, 27(2), 94–100.
Page 77
Gambar 18 DAFTAR GAMBAR
Gambar 19 https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2
Gambar 20 F%2Fhumaspolresbantul.blogspot.com%2F2014%2F
Gambar 21 08%2Farti-dan-lambang-rambu-lalu-
Gambar 22 lintas.html&psig
Gambar 23 https://imgx.gridoto.com/crop/0x0:1280x720/700x
Gambar 24 465/photo/gridoto/2017/10/18/3155569595.jpg
https://cdn2.tstatic.net/pontianak/foto/bank/ima
Gambar 25 ges/lalu-lintas_20180115_165936.jpg
https://www.baritopost.co.id/wp-
content/uploads/2018/10/kebut.jpg
https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2
F%2Firsadefensivedriving.blogspot.com
data:image/jpeg;base64
https://www.wahanahonda.com/assets/upload/b
erita/BERITA_1539240008_982e3bf687cfc517fec1e1
738469deee.jpg
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
Page 78
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
A. Komponen Layanan Layanan dasar dan
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Ketertiban Lalu Lintas
D. Fungsi Layanan Kebermaknaan Hidup
E. Materi Layanan Pemahaman
1. Tema Ketertiban Lalu Lintas dan
Kebermaknaan Hidup
2. Sub Tema
a) Pengertian Ketertiban Lalu
3. Sumber Lintas
F. Tujuan Layanan
b) Mengenal Rambu lalu lintas,
1. Tujuan Umum Traffic Light, Marka Jalan
2. Tujuan khusus c) Manfaat Mematuhi Tata Tertib
Lalu Lintas
Terlampir
Agar peserta layanan dapat
mengetahui dan memahami
Ketertiban Lalu Lintas dan
Kebermaknaan Hidup
1) Setelah diskusi mengenai
pengertian ketertiban lalu
lintas melalui model yang
diberikan siswa mampu
melatih diri untuk menjadi
siswa yang tertib dalam
berlalu lintas.
2) Setelah memiliki informasi-
informasi baru mengenai
Rambu lalu lintas, Traffic Light,
Marka Jalan melalui model
yang diberikan siswa mampu
mencegah diri dari
Page 79
melanggar rambu lalu lintas,
Traffic Light dan Marka Jalan
di jalan raya
3) Setelah mendengarkan
penjelasan mengenai
manfaat mematuhi tata tertib
lalu lintas siswa mampu
mengemukakan manfaat
tertib berlalu lintas dalam
pencegahan pelanggaran
lalu lintas.
4) Setelah mengaitkan materi
ketertiban lalu lintas dan
kebermaknaan hidup siswa
mampu menentukan sikap
dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas
G. Model Konseling Teknik Modeling setting
kelompok
H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu
J. Tanggal Pelaksanaan 2x45 menit
K. Tempat Pelaksanaan
L. Metode/Teknik -
M. Media/Alat Ruangan bimbingan kelompok
Ceramah, diskusi, tanya jawab
dan penugasan
“Panduan Peningkatan
Kebermaknaan Hidup dalam
Pencegahan Pelanggaran Lalu
Lintas menggunakan Teknik
Modeling Setting Kelompok”
N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan
Page 80
Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/
Kelompok Peserta Layanan
1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan
layanan untuk duduk membentuk duduk
melingkar melingkar.
mengatur jarak dengan
duduk. tempat
2) Menyapa dengan kalimat 2) Peserta layanan merespon
yang membuat peserta pemimpin kelompok
layanan bersemangat. dengan semangat.
3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.
4) Ucapan selamat datang 4) Peserta layanan merespon
dan terimakasih atas dengan semangat.
kehadiran anggota
kelompok.
5) Memulai pertemuan 5) Peserta layanan berdo`a
dengan membaca do`a. bersama.
6) Menjelaskan tentang 6) Peserta layanan
dengan
layanan konseling dengan mendengarkan
layanan
teknik modeling setting seksama. dengan
kelompok.
7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta
pelaksanaan teknik mendengarkan
modeling seksama.
8) Perkenalan dengan 8) Semua peserta saling
semua anggota memperkenalkan diri.
kelompok.
9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan
keakraban (rangkaian mengikuti permainan
nama). rangkaian nama.
10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan merespon
menanyakan kesiapan pertanyaan pemimpin
peserta layanan dalam kelompok dengan baik.
melaksanakan tugas.
Page 81
11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan merespon
terjadi. pemimpin kelompok
sesuai dengan suasana
yang terjadi.
12)Memberikan pertanyaan 12)Peserta layanan merespon
terbuka mengenai topik dan menjawab
ketertiban lalu lintas dan pertanyaan pemimpin
kebermaknaan hidup. kelompok.
13)Meminta anggota 13)Peserta layanan
dan
kelompok untuk mendengarkan
secara
memperhatikan apa yang memperhatian
harus dipelajari nantinya seksama
sebelum model diberikan
14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan
menayangkan video yang menonton video secara
berkaitan dengan ketertib seksama.
an lalu lintas.
15)Mengingatkan anggota 14)Peserta layanan
bahwa kegiatan akan memperhatikan dan
segera memasuki tahap mendengarkan secara
selanjutnya seksama.
2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)
1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan
yang akan ditempuh mendengarkan dan
pada tahap berikutnya. memperhatian secara
seksama.
2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan
mengamati apakah para merespon dan
peserta sudah siap masuk menjawab
pada tahap selanjutnya. penawaran dari
pemimpin kelompok
3) Meningkatkan
kemampuan keikutsertaan 3) Peserta layanan
anggota. Kalau perlu memperhatikan dan
kembali kebeberapa mendengarkan secara
aspek tahapan seksama.
sebelumnya jika
diperlukan.
4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan
mengarahkan jalannya mendengarkan dan
Page 82
pembahasan topik merespon secara
seksama.
ketertiban lalu lintas dan
kebermaknaan hidup.
5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan
memberikan pendapat mengemukakan
masing-masing terhadap pendapat mengenai
video yang diberikan. video yang telah
diberikan.
3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan
saling peduli, menghargai mendengarkan dan
pendapat antar peserta merespon secara
layanan. seksama.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan
peserta layanan untuk mengulang perilaku yang
mengulang perilaku yang ditemukan pada model
ditemukan pada model yang telah diberikan.
yang telah diberikan.
3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan
untuk mengaitkan video mengaitkan video yang
yang diberikan dengan diberikan dengan
keadaan diri masing- keadaan diri masing-
masing masing.
4) Membantu peserta 4) Peserta layanan
layanan untuk mengemukakan
mengemukakan pemahaman mengenai
pemahaman yang dimiliki topik ketertiban lalu lintas
mengenai topik ketertiban dan kebermaknaan hidup.
lalu lintas dan
kebermaknaan hidup.
5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya
tanya jawab antar mengenai hal-hal yang
anggota kelompok yang belum dipahami.
belum dipahami
mengenai topik ketertiban
lalu lintas dan
kebermaknaan hidup.
6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan
layanan untuk mendalami membahas topik remaja
Page 83
topik remaja dan dan kebermaknaan hidup.
kebermaknaan hidup
secara mendalam.
7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan
dari peserta layanan memperhatikan dan
sesuai dengan keadaan menyimak secara
diri peserta layanan. seksama.
8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.
4. Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta 1) Peserta layanan
layanan mangambil mengambil keputusan
keputusan dari topik mengenai topik ketertiban
ketertiban lalu lintas dan lalu lintas dan
kebermaknaan hidup. kebermaknaan hidup.
2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima
dan penguatan kepada dukungan dan
peserta layanan terhadap penguatan.
keputusan yang diambil
dari topik ketertiban lalu
lintas dan kebermaknaan
hidup.
3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan
terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan
aspek yang ditemukan menyimak secara
oleh peserta layanan di seksama
dalam kelompok.
4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan
kegiatan akan segera mendengarkan dengan
diakhiri seksama
5) Meminta anggota 5) Peserta layanan
kelompok mengemukakan mengemukakan kesan
kesan dan pesan. dan pesan.
6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
bersama
Page 84
7) Mengakhiri kegiatan 7) Peserta layanan
dengan mengucapkan menjawab salam.
terima kasih dan salam.
P. Evaluasi
1. Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
2. Evaluasi Hasil
melalui pengamatan untuk
memperoleh gambaran
tentang aktivitas anggota
kelompok dan efektivitas
layanan yang telah
diselenggarakan.
Evaluasi setelah mengikuti
layanan antara lain.
3) Menilai perubahan
perilaku anggota
kelompok saat
mengikuti layanan
4) Peserta layanan mengisi
lembar evaluasi dan
lembar refleksi untuk
mengetahui
pemahaman dan
perasaan peserta
layanan setelah
melaksanakan layanan.
Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor
…………………………… …………………………
NIP. NIP.
Page 85
MATERI 4
KETERTIBAN LALU LINTAS
DAN KEBERMAKNAAN HIDUP
A. Pengertian Ketertiban Lalu Lintas
Tata tertib lalu lintas ditujukan untuk mewujudkan, mendukung,
dan memelihara keamanan, keselamatan, ketertiban, dan
kelancaran lalu lintas. Berbagai tindak penertiban terus diupayakan
para polisi lalu lintas demi mewujudkan ketertiban lalu lintas dan
kenyamanan berkendara, serta keselamatan para pengguna jalan
raya, baik melalui razia kelengkapan berkendara, kelayakan
mengemudi, serta kegiatan-
kegiatan diskusi umum dengan
tujuan meningkatkan ketertiban
dalam berlalu lintas.
Pada usia remaja, ketaatan
pada peraturan lalu lintas
diharapkan timbul dari diri remaja
sendiri. Remaja diharapkan
menyadari mengapa harus
mentaati peraturan lalu lintas. Anak
usia sekolah perlu mendapatkan
pendidikan tentang keamanan dan
keselamatan berlalu lintas sejak dini,
dengan membekali pengetahuan dan peraturan lalu lintas pada
usia sekolah sehingga dapat menumbuhkan kesadaran tertib dan
disiplin berlalu-lintas. Masa ini dianggap paling rawan dibandingkan
dengan fase-fase perkembangan lainnya,dan merupakansuatu
masa perkembangan yang berada diantara masa kanak-kanak dan
dewasa.
B. Aspek-aspek ketertiban Lalu lintas
Ketertiban lalu lintas dapat dilihat dari empat aspek sebagai
berikut:
1. Pemahaman terhadap peraturan lalu lintas yang termuat dalam
UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dijadikan oleh pengendara
sebagai pedoman saat di jalan raya. UU Lalu Lintas dan Angkutan
Page 86
Jalan berisikan
mengenai apa yang
boleh dilakukan
(perintah) dan apa
yang tidak boleh
dilakukan (larangan)
bagi penggu- na jalan
saat berkendara motor.
2. Tanggung jawab atas
keselamatan baik
pada diri sendiri maupun orang lain akan terwujud jika didukung
dengan rasa saling menghargai se- sama pengguna jalan raya.
3. kehati-hatian dalam berlalu lintas dapat terwujud dengan adanya
rasa ketenangan jiwa yang selalu siap dan tidak lengah dengan
kondisi jalan raya saat mengendarai kendaraan bermotor. Kehati-
hatian dapat terlihat pada sikap konsentrasi saat berkendara di
jalan raya.
4. kesiapan diri dan kondisi kendaraan harus tetap ter- jaga dan
diperiksa terlebih dahulu agar tidak membahayakan pengemudi
saat berkendara di jalan raya(Fatmaningsih et al., 2018).
C. Mengenal Rambu Lalu Lintas, Traffic Light dan Marka Jalan
1. Rambu Lalu Lintas
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum.
Segala hal ada aturannya, termasuk juga aturan dalam berlalu
lintas. Untuk itulah diperlukan adanya rambu–rambu yang
mengatur lalu lintas. Meskipun sudah ada polisi yang juga
mengatur ketertiban lalu lintas, namun keberadaan rambu lalu
lintas ini masih sangat penting. Karena tidak setiap saat Polisi
dapat berada di jalan raya untuk mengatur lalu lintas.
Keberadaan rambu lalu lintas wajib ditaati. Karena, hal ini
menyangkut keselamatan berkendara para pengguna jalan.
Apabila tidak mentaati rambu lalu lintas, bukan mustahil jika
kecelakaan terjadi. Rambu lalu lintas adalah bagian perlengkapan
jalan yang berupa lambing, huruf, angka, kalimat atau perpaduan yang
berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah atau petunjuk bagi
pengguna jalan (Rosanti & Fuad, 2015).
Biasanya tiap-tiap tipe rambu lalu lintas tersebut dibedakan
bersama warna background mencolok. Adapaun jenis-jenis
rambu lalu lintas pada jalan raya tersebut adalah :
a) Rambu Peringatan
Page 87
b) Rambu Petunjuk.
c) Rambu Larangan.
d) Rambu Perintah
e) Rambu Papan Tambahan
1) Rambu Lalu Lintas Peringatan
Rambu peringatan
biasanya dipasang terhadap titik-
titik atau wilayah yang
berbahaya. Berguna untuk beri
tambahan peringatan kepada
pengguna jalan raya lalu lintas
bahwa ada mungkin suasana
berbahaya dan berpotensi
bahaya agar para pengemudi/
pengguna jalan raya waspada
dalam mobilisasi kendaraannya.
Rambu peringatan
misalnya: Rambu lintasan kereta api, persimpangan, jalan licin,
tebing/jalan longsor, jalan bergelombang, jalan menyempit,
penyeberangan pejalan kaki dll. Rambu tanda peringatan lalu
lintas atau pada raya ini biasanya memakai backgound warna
kuning bersama bentuk “wajik atau bujur sangkar” dengan
tulisan berwarna hitam yang terpasang secara diagonal
(Hidayat et al., 2005).
2) Rambu Lalu Lintas Petunjuk
Rambu petunjuk merupakan
rambu lalu lintas yang bertujuan
untuk beri tambahan anjuran atau
keterangan kepada pengemudi/
pengguna jalan atau pemakai
jalan lainnya, tentang arah yang
mesti ditempuh atau letak suatu
kota atau tempat populer/
instalasi/ instansi/ fasum mutlak
yang akan dituju lengkap bersama
dengan nama dan anjuran arah
letak dimana wilayah selanjutnya
berada (Hidayat et al., 2005).
Page 88
Rambu lalu
lintas petunjuk di
Indonesia
mempunyai
background warna
hijau atau biru
mencolok bersama
dengan postingan
dan tanda putih,
mempunyai bentuk
persegi panjang bersama dengan ukuran besar, gara-gara
secara lazim dipasang terhadap tempat yang tinggi di sedang
jalan raya besar untuk menarik perhatian para pengguna
jalan raya supaya pemakaian dampak retro reflektif mesti
untuk rambu anjuran ini.
3) Rambu Lalu Lintas Larangan
Rambu Larangan ini dipasang untuk melarang
pengguna jalan raya atau arus pergerakan rambu lalu lintas
tertentu. Misalnya Semua kendaraan dilarang lewat, rambu
larangan berhenti, rambu dilarang mendahului, rambu
larangan membunyikan isyarat suara dll. Rambu larangan
umumnya miliki background wana putih atau merah bersama
pemakaian garis tepi/ list merah kecuali papan rambu
memakai background warna putih. Secara umum Rambu
larangan berwujud lingkaran, tetapi terhadap rambu larangan
khusus tidak selamanya berwujud lingkaran (Hidayat et al.,
2005).
4) Rambu Lalu Lintas
Perintah
Rambu
perintah ini
dimaksudkan
untuk mewajibkan
pengguna jalan
raya dan arus
pergerakan
selanjutnya lintas spesifik agar mengikuti sinyal yang telah
dipasang, misalnya: rambu perintah memasuki lajur yang
ditunjuk sesuai arah anak panah, rambu batas minimum
Page 89
kecepatan kendaraan
yang diperbolehkan, rambu
perintah bagi type
kendaraan spesifik untuk
lewat lajur dan/atau jalan
tertentu. Rambu perintah
berbentuk bundar
berwarna biru dengan
lambang atau tulisan
berwarna putih serta merah untuk garis serong sebagai
batas akhir perintah (Hidayat et al., 2005).
5) Rambu Lalu Lintas Papan Tambahan
Seperti namanya, rambu papan tambahan
digunakan untuk menambahkan informasi tertentu kepada
pengguna jalan. Rambu ini umumnya dipasang
berdampingan dengan rambu lainnya. Sehingga, nantinya
akan menciptakan kesatuan makna tertentu.
Rambu papan tambahan berfungsi untuk
memberikan informasi tambahan terkait kondisi tertentu
pada setiap jalan, informasi tersebut seperti peringatan
ataupun himbauan terhadap pemberlakuan rambu lalu
lintas pada peraturan tertentu. Rambu papan tambahan
biasanya berbentuk persegi panjang dengan warna dasar
putih serta tulisan dan symbol berwarna hitam. Papan
tambahan ditempatkan dengan jarak 5 sentimeter sampai
dengan 10 sentimeter dari sisi terbawah daun rambu
dengan ketentuan lebar papan tambahan secara vertikal
tidak melebihi sisi daun rambu.
Adapun persyaratan rambu papan tambahan
sebagai berikut:
a) Papan tambahan menggunakan warna dasar putih
dengan tulisan dan bingkai berwarna hitam.
b) Papan tambahan tidak boleh menyatakan suatu
keterangan yang tidak berkaitan dengan rambunya
sendiri.
c) Pesan yang termuat dalam papan tambahan harus
bersifat khusus, singkat, jelas dan mudah serta cepat
dimengerti oleh pengguna jalan
Page 90
d) Ukuran perbandingan papan tambahan antara
panjang dan lebar adalah 1 : 2.
g
6) Rambu Lalu Lintas Sementara
Rambu lalu lintas sementara adalah rambu yang
dipasang dan berlaku hanya beberapa saat atau insidentil
sesuai dengan kepentingan sementara terhadap saat
tertentu, ditaruh setiap waktu dan bisa dipindah-pindahkan,
misalnya di zona konstruksi. Sifat dari rambu sementara ini
perintah dan larangan yang dijaga oleh Petugas dari
Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rambu sementara
memuat informasi seperti jalan rusak, pekerjaan jalan,
perubahan lalu lintas secara tiba–tiba, tidak berfungsinya
alat pemberi isyarat lalu lintas, pemberian prioritas pada
pengguna jalan, bencana alam, kecelakaan lalu lintas,
kegiatan keagamaan, kegiatan kenegaraan, kegiatan
olahraga, serta kegiatan budaya.
Rambu sementara harus memenuhi ketentuan dibuat
dalam bentuk konstruksi yang dapat dipindahkan, jadi
bukan rambu permanen.
Pemasangan rambu
sementara ini sifatnya
berbatas waktu, sesuai
dengan kegiatan yang terjadi.
7) Batas Kecepatan
Batas kecepatan
merupakan “larangan” yang
ditunjukkan dengan batas kecepatan maksimum yang
ditunjukkan dengan rambu. Maksimum batas kecepatan di
jalan nasional adalah 100 km/jam bila anda memasuki
daerah dengan kecepatan
tersebut terutama
dibeberapa ruas jalan Tol ,
anda akan melihat rambu
yang sama seperti di bawah,
yang menunjukkan pada
anda batas kecepatan
maksimum pada daerah itu.
Page 91
2. Alat Pemberi Isyarat Lalu
Lintas/ Traffic Light ( APILL)
Pengertian alat
pemberi isyarat lalu lintas
menurut UU No. 22 Tahun 2009
adalah perangkat elektronik
yang menggunakan isyarat
lampu yang dapat dilengkapi
dengan isyarat bunyi untuk
mengatur Lalu Lintas orang dan / atau kendaraan
dipersimpangan atau pada ruas jalan. APILL berfungsi
mengatur, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yang terdiri
dari :
a) Lampu tiga warna ( merah,
kuning, hijau)
Lampu tiga warna ini
digunakan untuk mengatur
kendaraan. Lampu tiga warna
dapat dipasang dalam posisi
vartikal atau horisontal.
Apabila dipasang vertikal susunan
lampu dari atas kebawah dengan urutan
merah, kuning dan hijau. Sedangkan
kalau di pasang horisontal, susunan
lampu dari kiri ke kanan menurut arah
lalu lintas dengan urutan merah, kuning
dan hijau. Dan lampu tiga warna
tersebut dapat dilengkapi dengan
lampu warna merah dan atau hijau yang memancarkan cahaya
berupa tanda panah.
MERAH berarti berhenti. Tunggu di belakang garis
berhenti warna putih melintang pada jalan yang memakai
lampu isyarat tersebut.
Panah merah berarti anda tidak boleh jalan ke arah panah
itu dan harus menunggu di belakang garis henti.
Pengemudi dapat langsung belok kiri pada setiap
persimpangan jalan, kecuali ditentukan lain oleh rambu-rambu
atau APILL pengatur belok kiri.
KUNING berarti berhenti pada garis tanda berhenti. Anda
hanya boleh jalan melintasi suatu garis berhenti kalau anda
sudah terlalu dekat.
Page 92
Panah hijau berarti anda boleh jalan ke arah panah
itu. Panah itu berarti lalu lintas yang berlawanan harus
berhenti untuk membiarkan anda jalan.
HIJAU berarti anda boleh jalan terus atau boleh
membelok ke kiri atau ke kanan.
b) Lampu dua warna ( merah, hijau )
Lampu dua warna, terdiri dari warna
merah dan hijau. Lampu ini digunakan untuk
mengatur kendaraan dan atau pejalan kaki.
Lampu dua warna dapat dipasang dalam
posisi vartikel atau horisontal. Bila dipasang
dalam bentuk vartikel maka susunan lampu dari atas kebawah
adalah warna merah dan hijau. Sedangkan bila dipasang
secara horisontal maka susunan lampu dari kiri
ke kanan menurut arah lalu lintas dengan
urutan merah kemudian hijau.
c) Lampu satu warna ( kuning berkelip-kelip )
Lampu satu warna, yaitu berwarna
kuning atau merah. Lampu ini digunakan
untuk memberikan peringatan bahaya kepada pemakai jalan.
Lampu satu warna ini dapat dipasang dalam posisi vartikel
atau horisontal.
3. Marka Jalan
Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di
permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi
peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis
melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk
mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah
kepentingan lalu lintas.
a) Macam-macam Marka Jalan
1) Marka Membujur
Marka membujur adalah tanda
yang sejajar dengan sumbu jalan. Marka
ini berfungsi sebagai mengarahkan lalu
lintas, memperingatkan akan adanya
marka lain di depan dan memisahkan
lajur atau jalur.
Garis utuh tunggal : merupakan larangan bagi
kendaraan melintasi garis tersebut.
Page 93
Garis tunggal terputus-putus :
garis yang membagi arus lalu
lintas dan dapat dilintasi oleh
kendaraan untuk menyalip.
Garis ganda utuh putih : Tanda
harus mengambil sebelah kiri
jalur rangkap. Anda tidak
boleh melintasi garis tersebut
untuk melewati kendaraan
maupun membelok.
Garis ganda putih dengan garis
utuh dekat anda. Anda harus
ambil sebelah kiri garis utuh ini
dan jangan melintasinya untuk melewati.
Garis ganda putih dengan garis terputus-putus lebih
dekat dengan anda. Anda boleh melintasi garis ini
untuk melewati bila jalan di depan aman.
Garis putih ini sering digunakan untuk memisahkan
lajur lalu lintas yang menuju ke arah yang sama.
Anda dapat pindah dari satu lajur ke lajur lain bila
anda memberi isyarat dan
aman untuk berpindah lajur.
Tapi pastikan untuk tetap
selama mungkin di dalam
satu lajur yang bermarka.
Tetaplah berada di sebelah
kiri kecuali waktu melewati.
Bila ada kendaraan yang akan
pindah ke lajur lain anda harus
memberi jalan pada lalu lintas di lajur
itu, Hal yang sama berlaku, bila di
sana tidak terdapat marka lajur
tetapi dua garis lalu lintas.
2) Marka Serong
Marka serong berupa garis utuh
dilarang dilintas kendaraan dan untuk
menyatakan pemberitahuan awal atau
akhir pemisah jalan.
Page 94