The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayarahmi94, 2020-09-15 02:50:15

Smart City Melalui Pengembangan E-Book Bimbingan Kelompok Menggunakan Teknik Modeling Dalam Peningkatan Kebermaknaan Hidup Remaja Guna Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Keywords: Smart City,Bimbingan Kelompok,Teknik Modeling,Kebermaknaan Hidup,Pelanggaran Lalu Lintas

Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang

dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh karena itu

masalah kenakalan remaja termasuk pelanggaran lalu lintas

seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus

untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik

beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi

kenakalan di kalangan remaja (Sumara et al., 2017).

C. Faktor Pelanggaran Lalu Lintas

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya

pelanggaran lalu lintas, faktor tersebut antara lain adalah

paradigma berpikir masyarakat instan di zaman modern, mulai

lunturnya sensitivitas dalam berkendara, dan minimnya etika

berkendara untuk tertib, saling menghormati, saling menghargai,

yang mengakibatkan semakin hilangnya rasa kepemilikan akan

sesuatu. Semakin banyak kendaraan akan semakin tinggi potensi

terjadinya kecelakaan. Faktor terjadinya kecelakaan antara lain

faktor pengendara, kendaraan, jalan, lingkungan dan penyebab

terbesar adalah karena

kesalahan dan kecerobohan

yang dilakukan oleh

pengendara (Melasari, 2017).

Faktor-faktor di atas

mempunyai hubungan sebab

akibat yang saling berkaitan

antara satu dengan yang lain.

Faktor tersebut dapat

disederhanakan menjadi tiga faktor utama penyebab pelanggaran

lalu lintas yaitu.

1) Faktor Manusia

Penyebab pelanggaraan

dan kecelakaan lalu lintas

paling banyak disebabkan oleh

manusia, yang mencangkup

psikologi manusia, sistem indra

seperti penglihatan,

pendengaran dan

pengetahuan tentang tata

cara lalu lintas. Faktor manusia

merupakan hal paling dominan

Page 45

dalam kecelakaan, hampir semua kejadian kecelakaan didahului

dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Serta pelanggaran

dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan

terhadap arti aturan berlaku ataupun tidak melihat ketentuan

yang diberlakukan (Hasan, 2018).

Faktor manusia ini ditentukan oleh beberapa indikator yang

membentuk sikap dan perilakunya di jalan raya (Ikhsan, 2009:02),

diantaranya:

a) Mental

Mental dan perilaku yang membudaya dari pengguna

jalan merupakan salah satu faktor utama yang sangat

berpengaruh terhadap situasi lalu lintas. etika, sopan-santun,

toleransi antar pengguna jalan, kematangan dalam

pengendalian emosi serta kepedulian pengguna jalan di jalan

raya akan menimbulkan sebuah iteraksi yang dapat mewarnai

situasi lalu lintas berupa hasil yang positif seperti terciptanya

keamanan, keselamatan dan kelancaran lalu lintas maupun

dampak negatif yang

dapat menimbulkan

kesemrawutan,

kemacetan, pelanggaran

dan kecelakaan lalu lintas,

sehingga mentalitas

pengguna jalan

merupakan suatu hal

yang pondamental dalam

mewujudkan situasi lalu

lintas yang baik. Hal ini

dapat berpengaruh

terhadap kepribadian yaitu bagaimana individu bereaksi

terhadap situasi sosial. meliputi, marah, pencarian sensasi dan

cemas (Agung, 2014).

Mental dan perilaku pengguna jalan merupakan suatu

cerminan budaya berlalulintas, hal ini tidak dapat dibentuk

secara instant oleh suatu lembaga tertentu, baik itu lembaga

pendidikan maupun lembaga lainnya, tetapi terbentuk secara

berkesinambungan mulai kehidupan sehari-hari dalam

keluarga, lingkungan dan situasi lalu lintas yang kasat mata

Page 46

secara keseharian selalu

terlihat oleh pengguna

jalan sehingga membentuk

kultur mentalitas berlalu

lintas seseorang.

b) Pengetahuan

Dalam menciptakan

dan memelihara

keamanan, keselamatan,

ketertiban serta kelancaran

lalu lintas, telah dilakukan

pengaturan yang disesuaikan dengan perkembangan situasi

lalu lintas yang ada dengan mempertimbangkan

perkembangan teknologi di bidang transportasi baik yang

berhubungan dengan kendaraan, sarana dan prasarana jalan

serta dampak lingkungan lainnya dalam bentuk suatu aturan

yang tegas dan jelas serta telah melalui roses sosialisai secara

bertahap sehingga dapat dijadikan pedoman dalam

berinteraksi di jalan raya.

Setiap pengguna jalan wajib memahami setiap aturan

yang telah dibakukan secara formal baik dalam bentuk

Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, Perda dan

aturan lainnya sehingga terdapat satu persepsi dalam pola

tindak dan pola pikir dalam berinteraksi di jalan raya.

Perbedaan tingkat pengetahuan dan atau pemahaman

terhadap aturan yang berlaku mengakibatkan suatu

kesenjangan yang berpotensi memunculkan permasalahan

dalam berlalu lintas, baik antar pengguna jalan itu sendiri

maupun antara pengguna jalan dengan aparat yang bertugas

untuk melaksanakan penegakkan hukum di jalan raya.

Selain pemahaman terhadap pengetahuan tentang

peraturan perundang-undangan yang berlaku, pengetahuan

tentang karakteristik kendaraan merupakan suatu hal yang

tidak dapat diabaikan, setiap kendaraan memiliki karakteristik

yang berbeda dalam penanganannya, pengetahuan

terhadap karakteristik kendaraan sangat berpengaruh

terhadap operasional kendaraan di jalan raya yang secara

otomatis akan berpengaruh pula terhadap situasi lalu lintas

jalan raya, pengetahuan tentang karakteristik kendaraan bisa

Page 47

didapat dengan mempelajari buku manual kendaraan tersebut

serta dengan mempelajari karakter kendaraan secara langsung

(fisik).

c) Keterampilan

Kemampuan dalam mengendalikan

(mengendarai/mengemudi) kendaraan baik kendaraan

bermotor maupun kendaraan tidak bermotor di jalan raya akan

berpengaruh besar terhadap situasi lalu lintas, keterampilan

mengendalikan kendaraan merupakan suatu keharusan yang

mutlak demi keamanan, keselamatan, ketertiban dan

kelancaraan lalu lintas baik bagi pengemudi/ pengendara

kendaraan tersebut maupun pengguna jalan lainnya.

Lisensi terhadap kemampuan dalam mengendalikan

kendaraan di wujudkan secara formal melalui Surat Izin

Mengemudi yang di keluarkan oleh SATPAS Polri sesuai dengan

peruntukan kendaraan bermotor yang dikemudikan/dikendarai

oleh pengguna jalan sesuai dengan Peraturan Pemerintah

Nomor 44 tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi Bab

VII tentang Pengemudi.

Keterampilan mengendalikan kendaraan baik

kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor

diperoleh melalui serangkaian pelatihan sebelum mengajukan

Lisensi keterampilannya (SIM), secara formal khusus untuk

kendaraan bermotor setiap pemohon SIM diwajibkan telah

memiliki ketrampilan mengemudikan kendaraan bermotor yang

dapat diperoleh baik melalui lembaga pendidikan dan

pelatihan mengemudi maupun tidak melalui lembaga

pendidikan dan pelatihan mengemudi yang berarti pemohon

telah melalui proses pelatihan keterampilan sebelum dilanjutkan

proses pengujian keterampilannya untuk mendapatkan SIM.

2) Faktor Kendaraan

Kendaraan merupakan salah satu faktor utama yang secara

langsung terlibat dalam dinamika lalu lintas jalan raya dengan

dikendalikan oleh manusia, interaksi antara manusia dan

kendaraan dalam satu kesatuan gerak di jalan raya memerlukan

penanganan khusus baik terhadap mental, pengetahuan dan

keterampilan pengemudi maupun kesiapan (layak jalan)

kendaraan tersebut untuk dioperasionalkan di jalan raya.

Page 48

Faktor kendaraan yang sering terjadi adalah ban pecah, rem

tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, keadaan peralatan

kendaraan yang seharusnya telah diganti dan berbagai

penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat

berhubungan dengan teknologi yang digunakan, perawatan

yang dilakukan terhadap kendaraan tersebut. Maka dari itu

adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan

bermotor secara teratur (Umi Enggarsasi, 2017).

3) Faktor Kondisi Jalan

Hal ini berhubungan dengan kecepatan rencana jalan, pagar

pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya media jalan,

dan jarak pandang serta kondisi permukaan jalan. Jalan yang

rusak atau berlubang sangat

membahayakan pengguna

jalan terutama bagi sepeda

motor. Faktor jalan dapat

dikurangi dengan rekayasa

jalan sehingga dapat

mempengaruhi tingkah laku

para pengguna jalan dan

mengurangi tindakan yang

membahayakan

keselamatan dalam berlalu

lintas (Tua, 2014).

4) Faktor Keadaan Alam

Pelanggaran lalu lintas yang disebabkan karena faktor keadaan

alam atau lingkungan biasanya terjadi dalam keadaan yang

tidak terduga. Ketika

hujan turun, maka

pada umumnya semua

kendaraan

akan menambah laju

kendaraannya

sehingga pelanggaran

lalu lintas akan sangat

mungkin terjadi.

Misalnya seseorang

pengendara motor

yang takut terkena air

Page 49

hujan sehingga tidak segan-seganmemilih jalan pintas baik

dengan melanggar rambu lalu lintas atau tetap mematuhi

peraturan yang ada.

Terlihat dari keempat faktor di atas, faktor penyebab

pelanggaran lalu lintas yang paling tinggi adalah faktor manusia

hal ini dikarenakan berkaitan erat dengan etika, tingkah laku, dan

cara berkendara. Bentuk pelanggaran sendiri merupakan bagian

dari kelalaian seseorang dalam bertindak dan mengambil

keputusan yang tergesa-gesa. Mereka khususnya disini para siswa

lebih mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan umum.

D. Bentuk-bentuk Pelanggaran Lalu Lintas pada Remaja

Tingginya angka kecelakaan di Indonesia disebabkan karena

pengemudi tidak hati-hati saat berkendara. Mereka juga kerap kali

tidak memakai pengaman dan melanggar lampu lalu lintas. Meski

berbagai aturan sudah dikeluarkan untuk membuat situasi lalu lintas

tetap kondusif, pada kenyataannya masih saja banyak pengguna

jalan yang tidak mengindahkan aturan-aturan tersebut yang

seringkali terjadi kecelakaan yang membuat orang lain terluka atau

bahkan tewas.

Memahami peraturan

lalu lintas tentu akan

membuat Anda

terhindar dari

kecelakaan dan

denda. Berikut ini

beberapa bentuk

pelanggaran lalu lintas

yang sering dilakukan

oleh kalangan remaja

khususnya pelajar

diantaranya:

1. Menggunakan jalan dengan cara yang dapat merintangi

membahayakan ketertiban atau keamanan lalu lintas atau yang

mungkin menimbulkan kerusakan pada jalan.

2. Mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak dapat

memperlihatkan surat ijin mengemudi (SIM), STNK, Surat Tanda Uji

Kendaraan (STUJ) yang sah atau tanda bukti lainnya sesuai

peraturan yang berlaku atau dapat memperlihatkan tetapi masa

berlakunya sudah kadaluwarsa.

Page 50

3. Membiarkan atau memperkenakan kendaraan bermotor
dikemudikan oleh orang lain yang tidak memiliki SIM.

4. Tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan lalu
lintas jalan tentang penomoran, penerangan, peralatan,
perlengkapan, pemuatan kendaraan dan syarat
penggandengan dengan kendaraan lain.

5. Membiarkan kendaraan bermotor yang ada di jalan tanpa
dilengkapi plat tanda nomor kendaraan yang sah, sesuai dengan
surat tanda nomor kendaraan yang bersangkutan.

6. Pelanggaran terhadap perintah yang diberikan oleh petugas
pengatur lalulintas jalan, rambu-rambu atau tanda yang yang
ada di permukaan jalan.

7. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tentang ukuran dan
muatan yang diijinkan.

8. Memodifikasi motor sehingga tidak sesuai standar
9. Tidak menggunakan helm standar nasional Indonesia
10. Mengemudikan kendaraan bermotor berbalapan di jalan
11. Mengendari dengan merokok
12. Mengendarai sepeda motor dengan menggunakan headset

maupun ponsel.
13. Menyalip kendaraan yang ada di depan tanpa lampu sen atau

menerobos lampu merah (Agung, 2014).

Page 51

RANGKUMAN

1. Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu pelanggaran aturan
lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan
berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan pengguna
jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja yang
melalukan pelanggaran itu sendiri.

2. Faktor-faktor pelanggaran lalu lintas, faktor manusia, faktor
kendaraan, faktor kondisi jalan

3. Beberapa bentuk pelanggaran lalu lintas pada remaja berupa
tidak memakai helm, tidak membawa sim/stnk, melanggar
rambu lalu lintas, menerobos traffict light, menaikkan sepeda di
trotoar, berkendara melebihi batas kecepatan, berbonceng
tiga

Page 52

Lampiran.2.1

LEMBAR TUGAS KELOMPOK

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari Topik remaja dan pencegahan pelanggaran lalu lintas yang
telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan
mengetahui tat tertib berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda
dan apa saja yang harus Ananda lakukan agar dapat mencegah
pelanggaran lalu lintas?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Page 53

Lampiran.2.2

LEMBAR evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Menurut penilaian ananda, apakah pelanggaran lalu lintas saat ini
masih didominasi oleh remaja ? mengapa?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

2. Amatilah keadaan sekitar ananda, simpulkan apakah para
remaja telah mematuhi peraturan lalu lintas dengan baik di jalan
raya?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………

Page 54

3. Kiat apakah yang bisa ananda usulkan untuk dapat mencegah
pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

-----Selamat Bekerja----

Page 55

Lampiran.2.3

LEMBAR REFLEKSI

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!

Gambar 17 :
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………

Page 56

DAFTAR PUSTAKA

Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.

Anggriany, N. (2006). Motif sosial dan kebermaknaan hidup remaja
Pagaralam. Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
11(21). https://doi.org/10.20885/psikologika.vol11.iss21.art5

Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.

Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.
Hasan, R. (2018). KESADARAN HUKUM BERLALU LINTAS PADA PESERTA

DIDIK KELAS XI SMK NEGERI 2 KOTA TERNATE. 1, 41–46.
Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang

membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.
Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.
Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.
Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.
Surya, D. H. (2017b). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
Berkenderaan di Sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Askara Public, 1(1), 30–46.
Susanto, L., Dutto, D., Sn, S., Si, M., Sylvia, M., Sn, S., Studi, P., Komunikasi,
D., Seni, F., & Petra, U. K. (n.d.). Perancangan Kampanye Sosial
Modifikasi Baju Seragam SMA saat Kelulusan. 1–12.
Tua, P. M. (2014). Penegakan hukum terhadap penyelenggara jalan
yang rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di wilayah
hukum kepolisian resor kota Pekanbaru. Jurnal JOM Fakultas Hukum,
I(2), 1–15.
Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Page 57

DAFTAR GAMBAR

Gambar 7 https://www.google.com/search?q=gambar+harga+diri
Gambar 8 &safe=strict&sxsrf
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
Gambar 9 ww.kompasiana.com%2Ftetikusliterasi%2F5a12820afcf681
32de5a88b3%2Fpengemudi-dibawah-umur&psig
Gambar 10 https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
Gambar 11 ww.headline.co.id%2F9456%2Fnekat-konvoi-kelulusan-di-
Gambar 12 tengah-pandemi-puluhan-siswa-siswi-sma-di-
probolinggo-diamankan-polisi%2F&psig
Gambar 13 https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
Gambar 14 https://assetsa1.kompasiana.com/items/album/2015/10/
Gambar 15 25/2015-10-25-23-24-00-562d097e527a61890affd604.jpg
Gambar 16 https://asset.kompas.com/crops/F1WetiUVbfTIx1VoYGMn
6xEdxYw=/195x0:780x390/750x500/data/photo/2014/01/0
Gambar 17 7/1415542Hujan-sepeda-motor780x390.jpg

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fw
ww.inibalikpapan.com%2Fberkendara-sambil-
mendengarkan-musik-menelpon-dan-merokok-
terancam-masuk-bui-dan denda
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

Page 58

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN

A. Komponen Layanan Layanan dasar
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan
D. Fungsi Layanan Tindakan terhadap Kematian
E. Materi Layanan Pemahaman

1. Tema Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan
2. Sub Tema Tindakan terhadap Kematian
a) Akibat Pelanggaran Lalu Lintas
3. Sumber
F. Tujuan Layanan dan tindakan terhadap kematian
b) Pengaruh Pelanggaran Lalu Lintas
1. Tujuan Umum
Terhadap Potensi Kecelakaan
2. Tujuan khusus c) Upaya Mengatasi Pelanggaran

Lalu Lintas
Terlampir

Agar peserta layanan dapat
mengetahui dan memahami akibat
pelanggaran lalu lintas dan
tindakan terhadap kematian

1) Setelah diskusi mengenai akibat
pelanggaran lalu lintas dan
tindakan terhadap kematian
melalui model yang diberikan,
siswa mampu mencegah diri dari
melanggar peraturan lalu lintas

2) Setelah memiliki informasi-
informasi baru melalui model
yang diberikan mengenai
pengaruh pelanggaran lalu lintas
terhadap potensi kecelakaan,
siswa mampu mengemukakan
faktor pengaruh angka kematian
akibat kecelakaan lalu lintas

Page 59

3) Setelah mendengarkan

penjelasan mengenai upaya

mengatasi pelanggaran lalu lintas

siswa mampu mengaitkan materi

dengan pencegahan

pelanggaran lalu lintas.

4) Setelah mengaitkan materi akibat

pelanggaran lalu lintas dan

tindakan terhadap kematian

siswa mampu menentukan sikap

dalam pencegahan

pelanggaran lalu lintas.

G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok
H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu 2x45 menit
J. Tanggal Pelaksanaan -
K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok
L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab dan
penugasan

M. Media/Alat “Panduan Peningkatan

Kebermaknaan Hidup dalam

Pencegahan Pelanggaran Lalu

Lintas menggunakan Teknik

Modeling Setting Kelompok”

N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin

Kelompok.

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Page 60

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/

Kelompok Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk

layanan untuk duduk duduk melingkar.

melingkar dengan

mengatur jarak tempat

duduk.

2) Peserta layanan merespon

2) Menyapa dengan kalimat pemimpin kelompok dengan

yang membuat peserta semangat.

layanan bersemangat.

3) Menjawab salam.

3) Mengucapkan salam.

4) Peserta layanan merespon

4) Ucapan selamat datang dengan semangat.

dan terimakasih atas

kehadiran anggota

kelompok.

5) Peserta layanan berdo`a

5) Memulai pertemuan bersama.

dengan membaca do`a.

6) Peserta layanan

6) Menjelaskan tentang mendengarkan dengan

layanan konseling dengan seksama.

teknik modeling setting

kelompok. 7) Peserta layanan

7) Menjelaskan tujuan mendengarkan dengan

pelaksanaan teknik seksama.

modeling

8) Semua peserta saling

8) Perkenalan dengan memperkenalkan diri.

semua anggota

kelompok.

9) Semua Peserta layanan

9) Menampilkan permainan mengikuti permainan

keakraban (rangkaian rangkaian nama.

nama).

10)Peserta layanan merespon

10)Pemimpin kelompok pertanyaan pemimpin

menanyakan kesiapan kelompok dengan baik.

peserta layanan dalam

melaksanakan tugas. 11) Peserta layanan merespon

11)Membahas suasana yang pemimpin kelompok sesuai

Page 61

terjadi. dengan suasana yang terjadi.

12) Peserta layanan merespon

dan menjawab pertanyaan

12)Memberikan pertanyaan pemimpin kelompok.

terbuka mengenai topik

akibat pelanggaran lalu 13) Peserta layanan

lintas dan tindakan mendengarkan dan

terhadap kematian. memperhatian secara

seksama

13)Meminta anggota

kelompok untuk

memperhatikan apa yang

harus dipelajari nantinya 14) Peserta layanan

sebelum model diberikan menonton video secara

seksama.

14)Pemimpin kelompok

menayangkan video yang

berkaitan dengan akibat 15) Peserta layanan

pelanggaran lalu lintas. memperhatikan dan

mendengarkan secara

15)Mengingatkan anggota seksama.

bahwa kegiatan akan

segera memasuki tahap

selanjutnya

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)

1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan

yang akan ditempuh mendengarkan dan

pada tahap berikutnya. memperhatian secara

seksama.

2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan

mengamati apakah para merespon dan

peserta sudah siap masuk menjawab penawaran

pada tahap selanjutnya. dari pemimpin kelompok

3) Meningkatkan 3) Peserta layanan

kemampuan keikutsertaan memperhatikan dan

anggota. Kalau perlu mendengarkan secara

kembali kebeberapa seksama.

aspek tahapan

sebelumnya jika

diperlukan.

4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan

mengarahkan jalannya mendengarkan dan

pembahasan topik akibat merespon secara seksama.

Page 62

pelanggaran lalu lintas

dan tindakan terhadap

kematian.

5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan

memberikan pendapat mengemukakan pendapat

masing-masing terhadap mengenai video yang telah

video yang diberikan. diberikan.

3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan

saling peduli, menghargai mendengarkan dan

pendapat antar peserta merespon secara seksama.

layanan.

2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang
peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan
mengulang perilaku yang pada model yang telah
ditemukan pada model diberikan.
yang telah diberikan.

3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan mengaitkan
untuk mengaitkan video video yang diberikan dengan
yang diberikan dengan keadaan diri masing-masing.
keadaan diri masing-
masing

4) Membantu peserta 4) Peserta layanan

layanan untuk mengemukakan pemahaman

mengemukakan mengenai topik akibat

pemahaman yang dimiliki pelanggaran lalu lintas dan

mengenai topik akibat tindakan terhadap kematian.

pelanggaran lalu lintas

dan tindakan terhadap

kematian.

5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya

tanya jawab antar mengenai hal-hal yang belum

anggota kelompok yang dipahami.

belum dipahami

mengenai topik akibat

pelanggaran lalu lintas

dan tindakan terhadap

kematian.

6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan membahas

layanan untuk mendalami topik remaja dan

Page 63

topik remaja dan kebermaknaan hidup.

kebermaknaan hidup

secara mendalam.

7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan

dari peserta layanan memperhatikan dan

sesuai dengan keadaan menyimak secara seksama.

diri peserta layanan.

8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.
4. Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta 1) Peserta layanan mengambil

layanan mangambil keputusan mengenai topik

keputusan dari topik akibat pelanggaran lalu lintas

akibat pelanggaran lalu dan tindakan terhadap

lintas dan tindakan kematian.

terhadap kematian.

2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima

dan penguatan kepada dukungan dan penguatan.

peserta layanan terhadap

keputusan yang diambil

dari topik akibat

pelanggaran lalu lintas

dan tindakan terhadap

kematian.

3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan

terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan

aspek yang ditemukan menyimak secara seksama

oleh peserta layanan di

dalam kelompok.

4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan

kegiatan akan segera mendengarkan dengan

diakhiri seksama.

5) Meminta anggota 5) Peserta layanan

kelompok mengemukakan mengemukakan kesan dan

kesan dan pesan. pesan.

6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
Page 64

bersama

7) Mengakhiri kegiatan

dengan mengucapkan 7) Peserta layanan menjawab

terima kasih dan salam. salam.

P. Evaluasi Penilaian proses dilakukan
1. Evaluasi Proses
melalui pengamatan selama
2. Evaluasi Hasil
mengikuti kegiatan layanan
Mengetahui
Koordinator BK, untuk memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

layanan yang telah

diselenggarakan.

Evaluasi setelah mengikuti

layanan antara lain.

1) Mengamati perubahan

perilaku peserta layanan

2) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan lembar

refleksi untuk mengetahui

pemahaman dan perasaan

peserta layanan setelah

melaksanakan layanan.

…………………………..…

Guru BK/Konselor

…………………………… …………………………
NIP. NIP.

Page 65

MATERI 3

AKIBAT PELANGGARAN LALU
LINTAS DAN TINDAKAN
TERHADAP KEMATIAN

A. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Tindakan Terhadap Kematian

Kecelakaan lalu lintas

merupakan salah satu masalah

kesehatan masyarakat yang

mempengaruhi semua sektor

kehidupan, kecelakaan lalu

lintas tidak hanya

menyebabkan kematian dan

kerusakan kendaraan bermotor,

tetapi juga telah

mengakibatkan penyakit yang

serius dan kecacatan (Sahabudin et al., 2011). Kecelakaan lalu lintas

di Indonesia oleh World Health Organisation (WHO) dinilai menjadi

pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan

tubercolosis/TBC.

WHO juga mencatat terdapat 1,2 juta orang meninggal setiap

tahunnya dalam kecelakaan lalu lintas dan 50 juta orang korban

kecelakaan lalu lintas mengalami luka serius maupun cacat tetap

(WHO, 2011). Kecelakaan lalu lintas juga menjadi penyebab utama

kematian anak di dunia, dengan dengan rentang usia 10 sampai

dengan 24 tahun. (Badan Intelejen Negara, 2012). Pada survey yang

dilakukan di 182 negara, Indonesia menempati urutan kelima dalam

peringkat negara dengan korban tewas terbanyak akibat

kecelakaan lalu lintas(Ratnasari et al., 2014).

Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara

menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan (Melasari, 2017).

Kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan luka- luka hingga

kematian pada manusia (Dewi & Zain, 2016).

Kecelakaan lalu lintas melibatkan anak usia remaja tergolong

besar. Berdasarkan data Korlantas Polri mengenai pelanggaran lalu

Page 66

lintas dengan jumlah

kecelakaan terbanyak di

Indonesia didominasi yang

oleh kelompok umur 15-19

tahun (Izadi, 2019).

Hal ini, ini terjadi

karena mayoritas para

pelanggar lalu lintas yang

cenderung ugal-ugalan

dijalan adalah oknum

remaja dan pemuda

(Ratnasari et al., 2014). Walaupun siswa tingkat pengetahuannya

tinggi, mereka juga memiliki sikap melanggar yang tinggi. Hal ini

karena pengetahuan yang mereka miliki tidak menunjang mereka

untuk berperilaku tidak melanggar. Selain kematian yang menjadi

akibat fatal dari pelanggaran lalu lintas ada beberapa hal menjadi

dampak dari pelanggaran lalu lintas, diantaranya :

1. Tingginya angka kecelakaan lalu lintas baik pada persimpangan

lampu lalu lintas maupun pada jalan raya

2. Keselamatan para pengendara dan para pejalan kaki menjadi

terancam

3. Kemacetan lalu lintas akibat dari masyarakat yang tidak

mematuhi peraturan lalu lintas dengan baik dan tepat

4. Kebiasaan melanggar peraturan lalu lintas yang biasa kemudian

menjadi budaya melanggar peraturan (Rakhmani, 2013).

E. Pengaruh Pelanggran Lalu Lintas Terhadap Potensi Kecelakaan

1. Pelanggaran Lampu dan Rambu Lalu Lintas

Pelanggaran

lampu dan rambu

merupakan faktor yang

berpengaruh paling

besar terhadap potensi

kecelakaan lalu lintas

pada remaja

pengendara sepeda

motor di Kota Surakarta,

yaitu sebesar 39.51%. Hal

ini sejalan dengan

penelitian Marsaid

Page 67

(2013), pengendara tidak tertib beresiko 0.227 kali menyebabkan

kejadian meninggal pada kecelakaan lalu lintas. Marsaid (2013)

menyatakan bahwa pelanggaran terhadap rambu dan lampu

lalu lintas berperan dalam menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Kendala utama yang dihadapi dalam peningkatan keselamatan

jalan adalah rendahnya disiplin masyarakat dalam berlalu lintas,

kurangnya kedisiplinan ini menjadi salah satu faktor yang memicu

terjadinya kecelakaan.

Banyaknya peristiwa kecelakaan yang diawali dengan

pelanggaran lalu lintas, terutama pelanggaran rambu dan lampu

lalu lintas. Menurut data dari kepolisian faktor pelanggaran yang

dilakukan oleh pengemudi yang kurang tertib berlalu lintas ini

mencapai lebih dari 80% dari penyebab kecelakaan lalu lintas

(Kartika, 2009).

2. Kecepatan Tinggi

Pengaruh kecepatan tinggi terhadap potensi kecelakaan

lalu lintas pada remaja pengendara sepeda motor adalah

13.69%. Penelitian Ali dkk (2014) menunjukkan bahwa melewati

batas kecepatan merupakan

pelanggaran yang paling sering

dilakukan pengendara remaja

sebesar 22.5%.

Mengebut merupakan hal

yang sangat berpotensi

menyebabkan tingginya

keparahan korban kecelakaan.

Kecepatan sebuah kendaraan

akan mempengaruhi waktu

yang tersedia bagi pengendara

untuk mengadakan reaksi

terhadap perubahan dalam lingkungannya di samping dampak

lainnya baik merupakan akibat langsung (direct impact) maupun

akibat tidak langsung (indirect impact) (Marsaid. Hidayat, 2013).

Perbedaan antara kecepatan mempengaruhi frekuensi

pengemudi menyalip kendaraan di depan maupun untuk

mengurangi kecepatan di belakang kendaraan tersebut. Dalam

kondisi bertumbukan, kecepatan mempengaruhi tingkat

kecelakaan dan kerusakan yang diakibatkan oleh tabrakan.

Page 68

Mengendarai dengan kecepatan tinggi akan menghasilkan

energi yang tinggi bila bertabrakan, sehingga dampak yang

ditimbulkan juga semakin parah (Kartika, 2009).

Kecepatan tinggi

meningkatkan peluang terjadinya

kecelakaan dan tingkat

keparahan dari konsekuensi

kecelakaan tersebut. Kecepatan

yang berlebihan adalah

kecepatan yang lebih tinggi dari

kecepatan yang diizinkan oleh

kondisi lalu lintas dan jalan. Hal ini

memberikan pengertian yang sangat relatif bagi pengemudi,

dan sesungguhnya batas kecepatan tidak akan diperlukan

seandainya pengemudi dapat menyesuaikan dengan kondisi di

lapangan tanpa adanya peraturan kecepatan (Simarmata,

2008).

3. Mengantuk

Pengendara yang mengantuk akan berkurang staminanya

jika mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 80 km/jam

selama 2 jam tanpa berhenti. Banyaknya kecelakaan yang

disebabkan pengendara mengantuk dikarenakan pengendara

sepeda motor pada umumnya tidak merasa bahwa dirinya

mengantuk, seringkali mereka memaksakan dirinya untuk tetap

mengendarai motor (Kartika, 2009).

Pengendara yang

mengantuk pada umumnya

disebabkan karena mereka

kurang istirahat, misalnya

kerja lembur dan belum

sempat tidur namun

memaksakan untuk pulang

dengan mengendarai

motornya. Faktor mengantuk

dapat juga disebabkan

karena pengendara sepeda motor terus-menerus menghirup gas

karbon dari hasil pembakaran kendaraan lain. Hasil pembakaran

kendaraan bermotor mengandung karbon yang dapat

Page 69

mempengaruhi daya kerja otak sehingga menimbulkan efek

mengantuk (Raymond 2008, dalam Marsaid 2013).

4. Perilaku Berbahya yang Tidak Lazim

Melintasi trotoar dan membonceng penumpang lebih dari

satu, melakukan maneuver yang berbahaya, kebut-kebutan

merupakan pelanggaran yang berbahaya dan berpotensi

kecelakaan lalu lintas.

F. Upaya Mengatasi Pelanggaran Lalu Lintas

Ketika seseorang sedang mengemudikan kendaraan

bermotor di jalan raya, mereka mengharapkan semoga tidak

terjadi gangguan kendaraan atau hal-hal yang tidak diinginkan

seperti halnya macet, mogok atau kecelakaan mereka berharap

agar sampai pada tujuan dengan selamat. Untuk menghindari

hal-hal yang tidak diinginkan bagi pengemudi kendaraan

bermotor, para pengemudi dianjurkan terlebih dahulu untuk

mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawa dalam dan

dipersiapkan sebelum perjalanan. Untuk itu (Dharmawan 1988: 6)

mengemukakan yang perlu

diperhatikan bagi

pengendara sepeda motor

diantaranya:

1. Pastikan arah yang akan

dituju dan ingatkan jalan

terdekat yang boleh

ditempuh sepeda motor

(tidak terlarang untuk

sepeda motor).

2. Kondisi kesehatan harus cukup baik (tidak sakit, tidak dalam

keadaan mabuk).

3. periksalah kondisi motor dalam keadaan baik dan layak pakai

serta periksa volume bahan bakar.

4. Siapkan surat-surat yang diperlukan dalam perjalanan (SIM,

STNK) dan lain-lain.

5. periksa semua peralatan sepeda motor (terutama rem dan

lampu- lampu).

6. Untuk menghindari kecelakaan yang fatal pakailah helm untuk

anda dan orang yang akan anda bonceng.

7. Berjalanlah di jalan yang diperuntukan sepeda motor dengan

kecepatan yang pantas (tidak ngebut).

Page 70

8. Bila akan berhenti, membelok dan mendahului kendaraan
lainnya, berikan aba-aba yang sempurna dan dalam jarak
yang cukup memberikan kesempatan menghindar untuk
kendaraan lainnya.

9. Untuk menjaga kesehatan anda dari tiupan angin kencang,
pakailah baju/jaket yang tebal atau penutup dada khusus.
Dari beberapa petunjuk tersebut diatas, para pemakai

jalan harus dapat mementingkan kepentingan umum saat
mengendarai sepeda motor karena sering kali kecelakaan yang
terjadi akibat pengemudi melaju dengan kecepatan tinggi di luar
batas ketentuan yang berlaku. Untuk itu (Hadiman 1991:13)
mengemukakan batas kecepatan yang sesuai sebagai berikut.
a. Di dalam kota

1) Mobil bis maximum 55 Km/jam.
2) Mobil gerobak maximum 40 Km/jam.
3) Dengan gandengan maximum 40 Km/jam.
4)
b. Di luar kota
1) Mobil bis dan mobil gerobak maximum 70 Km/jam.
2) Pakai gandengan maximum 50 Km/jam.
c. Di dalam kota yang ramai
Dapat ditetapkan untuk ketiga jenis tersebut maximum 40
Km/jam.
d. Di daerah khusus ibu kota
1) Kecepatan maximum 60 Km/jam di jalan-jalan utama.
2) Kecapatan maximum 45 Km/jam di jalan-jalan ekonomi.
3) Kecepatan maxim um 30 Km/jam di jalan-jalan lingkungan.

Dengan petunjuk di atas tersebut para pengemudi harus
memahami batas ketentuan dalam mengemudi, sehingga
pemakai jalan yang lain tidak merasa terganggu bahkan
kecelakaan dapat dihindari.

Page 71

RANGKUMAN

1. Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh
pengendara menyebabkan meningkatnya jumlah
kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan
luka- luka hingga kematian pada manusia.

2. Pengaruh pelanggran lalu lintas terhadap potensi
kecelakaan yaitu, pelanggaran lampu dan rambu lalu
lintas, kecepatan tinggi, mengantuk, perilaku berbahaya
yang tak lazim

3. Upaya mengatasi pelanggaran lalu lintas, pastikan arah
yang akan dituju dan ingatkan jalan terdekat yang boleh
ditempuh sepeda motor, Kondisi kesehatan harus cukup
baik, periksalah kondisi motor dalam keadaan baik dan
layak pakai serta periksa volume bahan bakar, Siapkan
surat-surat yang diperlukan dalam perjalanan (SIM, STNK)
dan lain-lain, periksa semua peralatan sepeda motor, Untuk
menghindari kecelakaan yang fatal pakailah helm untuk
anda dan orang yang akan anda bonceng, Berjalanlah di
jalan yang diperuntukan sepeda motor dengan kecepatan
yang pantas, Bila akan berhenti, membelok dan
mendahului kendaraan lainnya, berikan aba-aba yang
sempurna dan dalam jarak yang cukup memberikan
kesempatan menghindar untuk kendaraan lainnya, Untuk
menjaga kesehatan anda dari tiupan angin kencang,
pakailah baju/jaket yang tebal atau penutup dada khusus.

Page 72

Lampiran.3.1

LEMBAR TUGAS KELOMPOK

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari topik akibat pelanggaran lalu lintas dan tindakan terhadap
kematian yang telah dibahas, jelaskan mengapa ananda harus
memahami dan mengetahui akibat pelanggaran lalu lintas dalam
kegiatan sehari-hari?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Page 73

Lampiran.3.2

LEMBAR evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman ananda !

1. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk
mencegah tingginya potensi pelanggaran lalu lintas oleh remaja
khususnya ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

2. Menurut pendapat ananda, mengapa tingkat kecelakaan lalu lintas
lebih didominasi oleh kalangan remaja?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

Page 74

3. Apa kritik dan saran ananda terhadap penanganan pelanggaran
lalu lintas kepada berbagai pihak yang terkait?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………

Page 75

Lampiran.3.3

LEMBAR REFLEKSI

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!

Gambar 25:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………

Page 76

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.

Izadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Marsaid. Hidayat, M. A. (2013). Faktor yang berhubungan dengan
kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor di
wilayah polres kabupaten Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan.

Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.

Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.

Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas
motor sulut king community (SKC) Manado. 24.

Sahabudin, Wartatmo, H., & Kuschitawati, S. (2011). Pengendara sebagai
faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas sepeda motor tahun
2010. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, 27(2), 94–100.

Page 77

Gambar 18 DAFTAR GAMBAR

Gambar 19 https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2
Gambar 20 F%2Fhumaspolresbantul.blogspot.com%2F2014%2F
Gambar 21 08%2Farti-dan-lambang-rambu-lalu-
Gambar 22 lintas.html&psig
Gambar 23 https://imgx.gridoto.com/crop/0x0:1280x720/700x
Gambar 24 465/photo/gridoto/2017/10/18/3155569595.jpg
https://cdn2.tstatic.net/pontianak/foto/bank/ima
Gambar 25 ges/lalu-lintas_20180115_165936.jpg
https://www.baritopost.co.id/wp-
content/uploads/2018/10/kebut.jpg
https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2
F%2Firsadefensivedriving.blogspot.com
data:image/jpeg;base64
https://www.wahanahonda.com/assets/upload/b
erita/BERITA_1539240008_982e3bf687cfc517fec1e1
738469deee.jpg
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

Page 78

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN

A. Komponen Layanan Layanan dasar dan
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Ketertiban Lalu Lintas
D. Fungsi Layanan Kebermaknaan Hidup
E. Materi Layanan Pemahaman

1. Tema Ketertiban Lalu Lintas dan
Kebermaknaan Hidup
2. Sub Tema
a) Pengertian Ketertiban Lalu
3. Sumber Lintas
F. Tujuan Layanan
b) Mengenal Rambu lalu lintas,
1. Tujuan Umum Traffic Light, Marka Jalan

2. Tujuan khusus c) Manfaat Mematuhi Tata Tertib
Lalu Lintas

Terlampir

Agar peserta layanan dapat
mengetahui dan memahami
Ketertiban Lalu Lintas dan
Kebermaknaan Hidup
1) Setelah diskusi mengenai

pengertian ketertiban lalu
lintas melalui model yang
diberikan siswa mampu
melatih diri untuk menjadi
siswa yang tertib dalam
berlalu lintas.
2) Setelah memiliki informasi-
informasi baru mengenai
Rambu lalu lintas, Traffic Light,
Marka Jalan melalui model
yang diberikan siswa mampu
mencegah diri dari

Page 79

melanggar rambu lalu lintas,

Traffic Light dan Marka Jalan

di jalan raya

3) Setelah mendengarkan

penjelasan mengenai

manfaat mematuhi tata tertib

lalu lintas siswa mampu

mengemukakan manfaat

tertib berlalu lintas dalam

pencegahan pelanggaran

lalu lintas.

4) Setelah mengaitkan materi

ketertiban lalu lintas dan

kebermaknaan hidup siswa

mampu menentukan sikap

dalam pencegahan

pelanggaran lalu lintas

G. Model Konseling Teknik Modeling setting

kelompok

H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu
J. Tanggal Pelaksanaan 2x45 menit
K. Tempat Pelaksanaan
L. Metode/Teknik -

M. Media/Alat Ruangan bimbingan kelompok

Ceramah, diskusi, tanya jawab

dan penugasan

“Panduan Peningkatan

Kebermaknaan Hidup dalam

Pencegahan Pelanggaran Lalu

Lintas menggunakan Teknik

Modeling Setting Kelompok”

N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Page 80

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/

Kelompok Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan
layanan untuk duduk membentuk duduk
melingkar melingkar.
mengatur jarak dengan
duduk. tempat

2) Menyapa dengan kalimat 2) Peserta layanan merespon

yang membuat peserta pemimpin kelompok

layanan bersemangat. dengan semangat.

3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.

4) Ucapan selamat datang 4) Peserta layanan merespon

dan terimakasih atas dengan semangat.

kehadiran anggota

kelompok.

5) Memulai pertemuan 5) Peserta layanan berdo`a

dengan membaca do`a. bersama.

6) Menjelaskan tentang 6) Peserta layanan
dengan
layanan konseling dengan mendengarkan
layanan
teknik modeling setting seksama. dengan

kelompok.

7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta

pelaksanaan teknik mendengarkan

modeling seksama.

8) Perkenalan dengan 8) Semua peserta saling
semua anggota memperkenalkan diri.
kelompok.

9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan

keakraban (rangkaian mengikuti permainan

nama). rangkaian nama.

10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan merespon

menanyakan kesiapan pertanyaan pemimpin

peserta layanan dalam kelompok dengan baik.

melaksanakan tugas.

Page 81

11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan merespon

terjadi. pemimpin kelompok

sesuai dengan suasana

yang terjadi.

12)Memberikan pertanyaan 12)Peserta layanan merespon

terbuka mengenai topik dan menjawab

ketertiban lalu lintas dan pertanyaan pemimpin

kebermaknaan hidup. kelompok.

13)Meminta anggota 13)Peserta layanan
dan
kelompok untuk mendengarkan
secara
memperhatikan apa yang memperhatian

harus dipelajari nantinya seksama

sebelum model diberikan

14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan

menayangkan video yang menonton video secara

berkaitan dengan ketertib seksama.

an lalu lintas.

15)Mengingatkan anggota 14)Peserta layanan

bahwa kegiatan akan memperhatikan dan

segera memasuki tahap mendengarkan secara

selanjutnya seksama.

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)

1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan

yang akan ditempuh mendengarkan dan

pada tahap berikutnya. memperhatian secara

seksama.

2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan

mengamati apakah para merespon dan

peserta sudah siap masuk menjawab

pada tahap selanjutnya. penawaran dari

pemimpin kelompok

3) Meningkatkan

kemampuan keikutsertaan 3) Peserta layanan

anggota. Kalau perlu memperhatikan dan

kembali kebeberapa mendengarkan secara

aspek tahapan seksama.

sebelumnya jika

diperlukan.

4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan

mengarahkan jalannya mendengarkan dan

Page 82

pembahasan topik merespon secara
seksama.
ketertiban lalu lintas dan

kebermaknaan hidup.

5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan

memberikan pendapat mengemukakan

masing-masing terhadap pendapat mengenai

video yang diberikan. video yang telah

diberikan.

3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan

saling peduli, menghargai mendengarkan dan

pendapat antar peserta merespon secara

layanan. seksama.

2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan

peserta layanan untuk mengulang perilaku yang

mengulang perilaku yang ditemukan pada model

ditemukan pada model yang telah diberikan.

yang telah diberikan.

3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan

untuk mengaitkan video mengaitkan video yang

yang diberikan dengan diberikan dengan

keadaan diri masing- keadaan diri masing-

masing masing.

4) Membantu peserta 4) Peserta layanan

layanan untuk mengemukakan

mengemukakan pemahaman mengenai

pemahaman yang dimiliki topik ketertiban lalu lintas

mengenai topik ketertiban dan kebermaknaan hidup.

lalu lintas dan

kebermaknaan hidup.

5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya

tanya jawab antar mengenai hal-hal yang

anggota kelompok yang belum dipahami.

belum dipahami

mengenai topik ketertiban

lalu lintas dan

kebermaknaan hidup.

6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan

layanan untuk mendalami membahas topik remaja

Page 83

topik remaja dan dan kebermaknaan hidup.

kebermaknaan hidup

secara mendalam.

7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan

dari peserta layanan memperhatikan dan

sesuai dengan keadaan menyimak secara

diri peserta layanan. seksama.

8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.

4. Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta 1) Peserta layanan

layanan mangambil mengambil keputusan

keputusan dari topik mengenai topik ketertiban

ketertiban lalu lintas dan lalu lintas dan

kebermaknaan hidup. kebermaknaan hidup.

2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima

dan penguatan kepada dukungan dan

peserta layanan terhadap penguatan.

keputusan yang diambil

dari topik ketertiban lalu

lintas dan kebermaknaan

hidup.

3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan

terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan

aspek yang ditemukan menyimak secara

oleh peserta layanan di seksama

dalam kelompok.

4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan

kegiatan akan segera mendengarkan dengan

diakhiri seksama

5) Meminta anggota 5) Peserta layanan

kelompok mengemukakan mengemukakan kesan

kesan dan pesan. dan pesan.

6) Doa Penutup 6) Peserta layanan berdoa
bersama

Page 84

7) Mengakhiri kegiatan 7) Peserta layanan

dengan mengucapkan menjawab salam.

terima kasih dan salam.

P. Evaluasi

1. Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
2. Evaluasi Hasil
melalui pengamatan untuk

memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

layanan yang telah

diselenggarakan.

Evaluasi setelah mengikuti

layanan antara lain.

3) Menilai perubahan

perilaku anggota

kelompok saat

mengikuti layanan

4) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan

lembar refleksi untuk

mengetahui

pemahaman dan

perasaan peserta

layanan setelah

melaksanakan layanan.

Mengetahui …………………………..…
Koordinator BK, Guru BK/Konselor

…………………………… …………………………
NIP. NIP.

Page 85

MATERI 4

KETERTIBAN LALU LINTAS
DAN KEBERMAKNAAN HIDUP

A. Pengertian Ketertiban Lalu Lintas

Tata tertib lalu lintas ditujukan untuk mewujudkan, mendukung,

dan memelihara keamanan, keselamatan, ketertiban, dan

kelancaran lalu lintas. Berbagai tindak penertiban terus diupayakan

para polisi lalu lintas demi mewujudkan ketertiban lalu lintas dan

kenyamanan berkendara, serta keselamatan para pengguna jalan

raya, baik melalui razia kelengkapan berkendara, kelayakan

mengemudi, serta kegiatan-

kegiatan diskusi umum dengan

tujuan meningkatkan ketertiban

dalam berlalu lintas.

Pada usia remaja, ketaatan

pada peraturan lalu lintas

diharapkan timbul dari diri remaja

sendiri. Remaja diharapkan

menyadari mengapa harus

mentaati peraturan lalu lintas. Anak

usia sekolah perlu mendapatkan

pendidikan tentang keamanan dan

keselamatan berlalu lintas sejak dini,

dengan membekali pengetahuan dan peraturan lalu lintas pada

usia sekolah sehingga dapat menumbuhkan kesadaran tertib dan

disiplin berlalu-lintas. Masa ini dianggap paling rawan dibandingkan

dengan fase-fase perkembangan lainnya,dan merupakansuatu

masa perkembangan yang berada diantara masa kanak-kanak dan

dewasa.

B. Aspek-aspek ketertiban Lalu lintas

Ketertiban lalu lintas dapat dilihat dari empat aspek sebagai

berikut:

1. Pemahaman terhadap peraturan lalu lintas yang termuat dalam

UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dijadikan oleh pengendara

sebagai pedoman saat di jalan raya. UU Lalu Lintas dan Angkutan

Page 86

Jalan berisikan

mengenai apa yang

boleh dilakukan

(perintah) dan apa

yang tidak boleh

dilakukan (larangan)

bagi penggu- na jalan

saat berkendara motor.

2. Tanggung jawab atas

keselamatan baik

pada diri sendiri maupun orang lain akan terwujud jika didukung

dengan rasa saling menghargai se- sama pengguna jalan raya.

3. kehati-hatian dalam berlalu lintas dapat terwujud dengan adanya

rasa ketenangan jiwa yang selalu siap dan tidak lengah dengan

kondisi jalan raya saat mengendarai kendaraan bermotor. Kehati-

hatian dapat terlihat pada sikap konsentrasi saat berkendara di

jalan raya.

4. kesiapan diri dan kondisi kendaraan harus tetap ter- jaga dan

diperiksa terlebih dahulu agar tidak membahayakan pengemudi

saat berkendara di jalan raya(Fatmaningsih et al., 2018).

C. Mengenal Rambu Lalu Lintas, Traffic Light dan Marka Jalan

1. Rambu Lalu Lintas
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum.

Segala hal ada aturannya, termasuk juga aturan dalam berlalu
lintas. Untuk itulah diperlukan adanya rambu–rambu yang
mengatur lalu lintas. Meskipun sudah ada polisi yang juga
mengatur ketertiban lalu lintas, namun keberadaan rambu lalu
lintas ini masih sangat penting. Karena tidak setiap saat Polisi
dapat berada di jalan raya untuk mengatur lalu lintas.

Keberadaan rambu lalu lintas wajib ditaati. Karena, hal ini
menyangkut keselamatan berkendara para pengguna jalan.
Apabila tidak mentaati rambu lalu lintas, bukan mustahil jika
kecelakaan terjadi. Rambu lalu lintas adalah bagian perlengkapan
jalan yang berupa lambing, huruf, angka, kalimat atau perpaduan yang
berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah atau petunjuk bagi
pengguna jalan (Rosanti & Fuad, 2015).

Biasanya tiap-tiap tipe rambu lalu lintas tersebut dibedakan
bersama warna background mencolok. Adapaun jenis-jenis
rambu lalu lintas pada jalan raya tersebut adalah :
a) Rambu Peringatan

Page 87

b) Rambu Petunjuk.
c) Rambu Larangan.
d) Rambu Perintah
e) Rambu Papan Tambahan

1) Rambu Lalu Lintas Peringatan

Rambu peringatan

biasanya dipasang terhadap titik-

titik atau wilayah yang

berbahaya. Berguna untuk beri

tambahan peringatan kepada

pengguna jalan raya lalu lintas

bahwa ada mungkin suasana

berbahaya dan berpotensi

bahaya agar para pengemudi/

pengguna jalan raya waspada

dalam mobilisasi kendaraannya.

Rambu peringatan

misalnya: Rambu lintasan kereta api, persimpangan, jalan licin,

tebing/jalan longsor, jalan bergelombang, jalan menyempit,

penyeberangan pejalan kaki dll. Rambu tanda peringatan lalu

lintas atau pada raya ini biasanya memakai backgound warna

kuning bersama bentuk “wajik atau bujur sangkar” dengan

tulisan berwarna hitam yang terpasang secara diagonal

(Hidayat et al., 2005).

2) Rambu Lalu Lintas Petunjuk

Rambu petunjuk merupakan

rambu lalu lintas yang bertujuan

untuk beri tambahan anjuran atau

keterangan kepada pengemudi/

pengguna jalan atau pemakai

jalan lainnya, tentang arah yang

mesti ditempuh atau letak suatu

kota atau tempat populer/

instalasi/ instansi/ fasum mutlak

yang akan dituju lengkap bersama

dengan nama dan anjuran arah

letak dimana wilayah selanjutnya

berada (Hidayat et al., 2005).

Page 88

Rambu lalu

lintas petunjuk di

Indonesia

mempunyai

background warna

hijau atau biru

mencolok bersama

dengan postingan

dan tanda putih,

mempunyai bentuk

persegi panjang bersama dengan ukuran besar, gara-gara

secara lazim dipasang terhadap tempat yang tinggi di sedang

jalan raya besar untuk menarik perhatian para pengguna

jalan raya supaya pemakaian dampak retro reflektif mesti

untuk rambu anjuran ini.

3) Rambu Lalu Lintas Larangan

Rambu Larangan ini dipasang untuk melarang

pengguna jalan raya atau arus pergerakan rambu lalu lintas

tertentu. Misalnya Semua kendaraan dilarang lewat, rambu

larangan berhenti, rambu dilarang mendahului, rambu

larangan membunyikan isyarat suara dll. Rambu larangan

umumnya miliki background wana putih atau merah bersama

pemakaian garis tepi/ list merah kecuali papan rambu

memakai background warna putih. Secara umum Rambu

larangan berwujud lingkaran, tetapi terhadap rambu larangan

khusus tidak selamanya berwujud lingkaran (Hidayat et al.,

2005).

4) Rambu Lalu Lintas

Perintah

Rambu

perintah ini

dimaksudkan

untuk mewajibkan

pengguna jalan

raya dan arus

pergerakan

selanjutnya lintas spesifik agar mengikuti sinyal yang telah

dipasang, misalnya: rambu perintah memasuki lajur yang

ditunjuk sesuai arah anak panah, rambu batas minimum

Page 89

kecepatan kendaraan

yang diperbolehkan, rambu

perintah bagi type

kendaraan spesifik untuk

lewat lajur dan/atau jalan

tertentu. Rambu perintah

berbentuk bundar

berwarna biru dengan

lambang atau tulisan

berwarna putih serta merah untuk garis serong sebagai

batas akhir perintah (Hidayat et al., 2005).

5) Rambu Lalu Lintas Papan Tambahan

Seperti namanya, rambu papan tambahan

digunakan untuk menambahkan informasi tertentu kepada

pengguna jalan. Rambu ini umumnya dipasang

berdampingan dengan rambu lainnya. Sehingga, nantinya

akan menciptakan kesatuan makna tertentu.

Rambu papan tambahan berfungsi untuk

memberikan informasi tambahan terkait kondisi tertentu

pada setiap jalan, informasi tersebut seperti peringatan

ataupun himbauan terhadap pemberlakuan rambu lalu

lintas pada peraturan tertentu. Rambu papan tambahan

biasanya berbentuk persegi panjang dengan warna dasar

putih serta tulisan dan symbol berwarna hitam. Papan

tambahan ditempatkan dengan jarak 5 sentimeter sampai

dengan 10 sentimeter dari sisi terbawah daun rambu

dengan ketentuan lebar papan tambahan secara vertikal

tidak melebihi sisi daun rambu.

Adapun persyaratan rambu papan tambahan

sebagai berikut:

a) Papan tambahan menggunakan warna dasar putih

dengan tulisan dan bingkai berwarna hitam.

b) Papan tambahan tidak boleh menyatakan suatu

keterangan yang tidak berkaitan dengan rambunya

sendiri.

c) Pesan yang termuat dalam papan tambahan harus

bersifat khusus, singkat, jelas dan mudah serta cepat

dimengerti oleh pengguna jalan

Page 90

d) Ukuran perbandingan papan tambahan antara
panjang dan lebar adalah 1 : 2.

g

6) Rambu Lalu Lintas Sementara

Rambu lalu lintas sementara adalah rambu yang

dipasang dan berlaku hanya beberapa saat atau insidentil

sesuai dengan kepentingan sementara terhadap saat

tertentu, ditaruh setiap waktu dan bisa dipindah-pindahkan,

misalnya di zona konstruksi. Sifat dari rambu sementara ini

perintah dan larangan yang dijaga oleh Petugas dari

Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rambu sementara

memuat informasi seperti jalan rusak, pekerjaan jalan,

perubahan lalu lintas secara tiba–tiba, tidak berfungsinya

alat pemberi isyarat lalu lintas, pemberian prioritas pada

pengguna jalan, bencana alam, kecelakaan lalu lintas,

kegiatan keagamaan, kegiatan kenegaraan, kegiatan

olahraga, serta kegiatan budaya.

Rambu sementara harus memenuhi ketentuan dibuat

dalam bentuk konstruksi yang dapat dipindahkan, jadi

bukan rambu permanen.

Pemasangan rambu

sementara ini sifatnya

berbatas waktu, sesuai

dengan kegiatan yang terjadi.

7) Batas Kecepatan

Batas kecepatan

merupakan “larangan” yang

ditunjukkan dengan batas kecepatan maksimum yang

ditunjukkan dengan rambu. Maksimum batas kecepatan di

jalan nasional adalah 100 km/jam bila anda memasuki

daerah dengan kecepatan

tersebut terutama

dibeberapa ruas jalan Tol ,

anda akan melihat rambu

yang sama seperti di bawah,

yang menunjukkan pada

anda batas kecepatan

maksimum pada daerah itu.

Page 91

2. Alat Pemberi Isyarat Lalu

Lintas/ Traffic Light ( APILL)

Pengertian alat

pemberi isyarat lalu lintas

menurut UU No. 22 Tahun 2009

adalah perangkat elektronik

yang menggunakan isyarat

lampu yang dapat dilengkapi

dengan isyarat bunyi untuk

mengatur Lalu Lintas orang dan / atau kendaraan
dipersimpangan atau pada ruas jalan. APILL berfungsi

mengatur, baik kendaraan maupun pejalan kaki, yang terdiri
dari :
a) Lampu tiga warna ( merah,

kuning, hijau)
Lampu tiga warna ini

digunakan untuk mengatur
kendaraan. Lampu tiga warna
dapat dipasang dalam posisi
vartikal atau horisontal.

Apabila dipasang vertikal susunan
lampu dari atas kebawah dengan urutan
merah, kuning dan hijau. Sedangkan
kalau di pasang horisontal, susunan
lampu dari kiri ke kanan menurut arah
lalu lintas dengan urutan merah, kuning
dan hijau. Dan lampu tiga warna
tersebut dapat dilengkapi dengan
lampu warna merah dan atau hijau yang memancarkan cahaya
berupa tanda panah.

MERAH berarti berhenti. Tunggu di belakang garis
berhenti warna putih melintang pada jalan yang memakai
lampu isyarat tersebut.

Panah merah berarti anda tidak boleh jalan ke arah panah
itu dan harus menunggu di belakang garis henti.
Pengemudi dapat langsung belok kiri pada setiap

persimpangan jalan, kecuali ditentukan lain oleh rambu-rambu
atau APILL pengatur belok kiri.
KUNING berarti berhenti pada garis tanda berhenti. Anda

hanya boleh jalan melintasi suatu garis berhenti kalau anda
sudah terlalu dekat.

Page 92

Panah hijau berarti anda boleh jalan ke arah panah
itu. Panah itu berarti lalu lintas yang berlawanan harus
berhenti untuk membiarkan anda jalan.
HIJAU berarti anda boleh jalan terus atau boleh
membelok ke kiri atau ke kanan.
b) Lampu dua warna ( merah, hijau )

Lampu dua warna, terdiri dari warna
merah dan hijau. Lampu ini digunakan untuk
mengatur kendaraan dan atau pejalan kaki.
Lampu dua warna dapat dipasang dalam
posisi vartikel atau horisontal. Bila dipasang
dalam bentuk vartikel maka susunan lampu dari atas kebawah
adalah warna merah dan hijau. Sedangkan bila dipasang
secara horisontal maka susunan lampu dari kiri
ke kanan menurut arah lalu lintas dengan
urutan merah kemudian hijau.
c) Lampu satu warna ( kuning berkelip-kelip )

Lampu satu warna, yaitu berwarna
kuning atau merah. Lampu ini digunakan
untuk memberikan peringatan bahaya kepada pemakai jalan.
Lampu satu warna ini dapat dipasang dalam posisi vartikel
atau horisontal.
3. Marka Jalan

Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di
permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi
peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis
melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk
mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah
kepentingan lalu lintas.
a) Macam-macam Marka Jalan

1) Marka Membujur
Marka membujur adalah tanda

yang sejajar dengan sumbu jalan. Marka
ini berfungsi sebagai mengarahkan lalu
lintas, memperingatkan akan adanya
marka lain di depan dan memisahkan
lajur atau jalur.

Garis utuh tunggal : merupakan larangan bagi
kendaraan melintasi garis tersebut.

Page 93

Garis tunggal terputus-putus :
garis yang membagi arus lalu
lintas dan dapat dilintasi oleh
kendaraan untuk menyalip.
Garis ganda utuh putih : Tanda
harus mengambil sebelah kiri
jalur rangkap. Anda tidak
boleh melintasi garis tersebut
untuk melewati kendaraan
maupun membelok.
Garis ganda putih dengan garis
utuh dekat anda. Anda harus
ambil sebelah kiri garis utuh ini
dan jangan melintasinya untuk melewati.

Garis ganda putih dengan garis terputus-putus lebih
dekat dengan anda. Anda boleh melintasi garis ini
untuk melewati bila jalan di depan aman.
Garis putih ini sering digunakan untuk memisahkan
lajur lalu lintas yang menuju ke arah yang sama.
Anda dapat pindah dari satu lajur ke lajur lain bila
anda memberi isyarat dan
aman untuk berpindah lajur.
Tapi pastikan untuk tetap
selama mungkin di dalam
satu lajur yang bermarka.
Tetaplah berada di sebelah
kiri kecuali waktu melewati.
Bila ada kendaraan yang akan
pindah ke lajur lain anda harus
memberi jalan pada lalu lintas di lajur
itu, Hal yang sama berlaku, bila di
sana tidak terdapat marka lajur
tetapi dua garis lalu lintas.
2) Marka Serong
Marka serong berupa garis utuh
dilarang dilintas kendaraan dan untuk
menyatakan pemberitahuan awal atau
akhir pemisah jalan.

Page 94


Click to View FlipBook Version