The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayarahmi94, 2020-09-15 02:50:15

Smart City Melalui Pengembangan E-Book Bimbingan Kelompok Menggunakan Teknik Modeling Dalam Peningkatan Kebermaknaan Hidup Remaja Guna Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

E-Book yang telah disusun berguna untuk meningkatkan kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang mana nantinya bisa digunakan oleh Guru BK. E-Book ini berisi mengenai deskripsi panduan, kegunaan panduan, pemetaan kompetensi dasar dan indikator, susunan materi, petunjuk umum panduan dan rencana pelaksanaan layanan.

Keywords: Smart City,Bimbingan Kelompok,Teknik Modeling,Kebermaknaan Hidup,Pelanggaran Lalu Lintas

3) Marka Lambang
Marka lambang adalah tanda yang mengandung arti

tertentu untuk menyatakan peringatan, perintah, dan
larangan untuk melengkapi atau menegaskan maksud

yang telah disampaikan oleh
rambu lalu lintas atau tanda lalu
lintas lainnya. Beberapa jalan
utama dengan lalu lintas tinggi,
mempunyai lajur-lajur yang
disediakan untuk digunakan
kendaraan-kendaraan tertentu,
misalnya lajur khusus bus atau jalan
khusus bus. Ataupun Lajur-lajur
untuk tujuan lain yang khusus
termasuk lajur-lajur sepeda dan
lajur untuk kendaraan tidak bermotor lain seperti bendi dan
lain sebagainya. Contoh marka lambang sebagai berikut:
Marka Tulisan Pada Zona Selamat Sekolah, Marka Lambang
pada Ruang Henti Khusus Sepeda Motor.
4) Garis Marka Melintang (Zebra Cross)
Garis marka melintang ini
biasanya mudah ditemui di
lampu–lampu lalu lintas, atau di
daerah yang ada zebra cross.
Garis ini merupakan sebuah
tanda yang digunakan sebagai pembatas jarak aman
untuk berhenti, guna memberi kesempatan kepada para
penyebrang jalan. Biasanya marka ini yang sering dilanggar
oleh pengendara terutama pengendara sepeda motor.
5) Garis Marka Kuning (Yellow Box Junction)
Marka yellow box junction ini biasanya terletak di
persimpangan yang memiliki banyak
akses jalan untuk keluar masuk
kendaraan. Garis marka ini berfungsi
untuk melarang semua kendaraan untuk
berhenti di dalam kotak kuning tersebut.
Hal ini dilakukan untuk mencegah arus
lintas yang padat yang bisa
menyebabkan kemacetan.

Page 95

D. Manfaat Mematuhi Tata Tertib Lalu Lintas

Setiap orang memiliki hak yang

sama dalam menggunakan fasilitas

yang disediakan pemerintah,

terutama fasilitas untuk menggunakan

jalan umum atau jalan raya. Semua

diatur dalam undang-undang nomor

22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan

angkutan jalan, tidak semua

peraturan ditaati masyarakat, bahkan

tidak semua masyarakat mengetahui

peraturan yang dibuat pemerintah khususnya undang-undang lalu

lintas.

1. Tiba di tempat dengan Selamat

Mematuhi tata tertib lalu lintas adalah salah satu aspek

keselamatan yang diwajibkan pihak kepolisian agar pengendara

selamat sampai di tujuan. Pelanggaran atas rambu-rambu di

jalan raya bisa berdampak buruk, baik bagi pengemudi,

maupun penumpang. Dari mulai terjadi kecelakaan, terlambat

sekolah atau kerja, sampai perselisihan dengan pengendara lain.

2. Mencegah Kemacetan Lalu Lintas

Anda pernah melihat tanda panah terbalik membentuk

huruf U? Coba bayangkan, kalau semua pengemudi

mengabaikan rambu tersebut, mereka akan berputar arah di

lokasi terlarang sehingga membahayakan pengemudi dari arah

seberang. Dampak yang lebih parah, bisa menimbulkan

kemacetan lalu lintas. Pasalnya, ketika berputar balik, otomatis

menghalangi laju kendaraan dari belakang. Efek macet pun

dapat terjadi ketika pengemudi berhenti di kawasan dilarang

parkir. Deretan kendaraan di tepi jalan, menjadikan jalur semakin

sempit. Karena itu, mobil harus mengantre panjang agar bisa

melewati.

3. Terhindar dari Kecelakaan Lalu Lintas

Ketertiban berlalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu

lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan

kewajiban setiap pengguna jalan (Pasal 1 Angka 32 UU Nomor 22

Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan) tertib berlalu

lintas tentunya akan mengurangi angka kecelakaan

(Kompasiana, 2019).

Page 96

RANGKUMAN

1. Aspek-aspek ketertiban: Pemahaman terhadap peraturan lalu
lintas yang termuat dalam UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
dijadikan oleh pengendara sebagai pedoman saat di jalan raya,
Tanggung jawab atas keselamatan baik pada diri sendiri maupun
orang lain akan terwujud jika didukung dengan rasa saling
menghargai sesama pengguna jalan raya, kehati-hatian dalam
berlalu lintas dapat terwujud dengan adanya rasa ketenangan
jiwa yang selalu siap dan tidak lengah dengan kondisi jalan raya
saat mengendarai kendaraan bermotor.

2. Rambu lalu lintas: rambu peringatan, rambu petunjuk, rambu
larangan, rambu perintah, rambu papan tambahan
Marka jalan: Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di
permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi
peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis
melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk
mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan
lalu lintas.

3. Manfaat tertib berlalu lintas : tiba di tempat dengan selamat,
mencegah kemacetan lalu lintas, terhindar dari kecelakaan lalu
lintas

Page 97

Lampiran.4.1

LEMBAR TUGAS KELOMPOK

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari ketertiban lalu lintas dan kebermaknaan hidup yang telah
dibahas, jelaskan mengapa ananda harus memahami dan mengetahui
tata tertib berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda dan apa
saja yang harus ananda lakukan agar dapat menjadi pelajar yang
produktif tanpa melanggar lalu lintas?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Page 98

Lampiran.4.2

LEMBAR evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menyadarkan
masyarakat khususnya remaja agar dapat tertib berlalu lintas ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

2. Menurut ananda, bagaimana tingkat kesadaran masyarakat
terhadap rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

Page 99

3. Menurut ananda, mengapa dilapangan masih banyak remaja
yang belum bisa tertib berlalu lintas ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

4. Hubungkan keterkaitan antara ketertiban berlalu lintas dengan
kebermaknaan hidup ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

Page 100

Lampiran.4.3

LEMBAR REFLEKSI

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. Ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!

Gambar 51:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………

Page 101

DAFTAR PUSTAKA

Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).

Hidayat, T., Yani, A., & Barata, J. . (2005). Buku petunjuk tata cara berlalu
lintas (Highway Code) di Indonesia. Direktorat Jendral Perhubungan
Darat, Departemen Perhubungan.

Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.

Page 102

Gambar 26 DAFTAR GAMBAR

Gambar 27 https://www.batamxinwen.com/wp-
Gambar 28-32 content/uploads/2018/05/Screenshot_20180504-
120907-640x360.png
Gambar 33 https://harianterbit.co/wp-
content/uploads/2019/01/Tertib-Lalu-Lintas.jpg
Gambar 34 https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F
%2Fhumaspolresbantul.blogspot.com%2F2014%2F08
Gambar 35-45 %2Farti-dan-lambang-rambu-lalu-lintas.html&psig=
Gambar 46 https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F
%2Fgosulsel.com%2F2016%2F07%2F10%2Fkecelakaa
Gambar 47 n-lalu-lintas-di-wajo-tewaskan-pengendara-
Gambar 48 motormio%2F&psig=
Gambar 49 https://s0.bukalapak.com/img/05225493631/large/
Gambar 50 READY_Stock_New_Rambu___rambu_Lalu_Lintas_K
ecepatan_Maksimal.png
Gambar 51 data:image/jpeg;base64,
http://www.nusantara-
sakti.com/upload/images/Garis%20henti%20pada
%20persimpangan%20jalan%201%20arah%20denga
n%203%20lajur.png
https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
data:image/jpeg;base64
https://cdn-
radar.jawapos.com/uploads/radarsolo/news/2019/
01/04/abaikan-rambu-lalu-lintas-pengendara-
nekat-putar-balik_m_111720.jpg
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

Page 103

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN

A. Komponen Layanan Layanan dasar dan
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Kepatuhan Berlalu Lintas
D. Fungsi Layanan Kebermaknaan Hidup
E. Materi Layanan Pemahaman

1. Tema Kepatuhan Berlalu Lintas dan
2. Sub Tema Kebermaknaan Hidup
a) Pengertian Kepatuhan Berlalu
3. Sumber
F. Tujuan Layanan Lintas
b) Dimensi Kepatuhan
1. Tujuan Umum c) Faktor-faktor yang

2. Tujuan Khusus Mempengaruhi Kepatuhan
Berlalu Lintas
d) Upaya dalam meningkatkan
kepatuhan berlalu lintas
Terlampir

Agar peserta layanan dapat

mengetahui dan memahami

tentang kepatuhan berlalu lintas

dengan baik dalam

pencegahan pelanggaran lalu

lintas.

1. Setelah diskusi mengenai

pengertian kepatuhan lalu

lintas melalui model yang

diberikan siswa mampu

melatih diri untk menjadi siswa

yang patuh dalam berlalu

lintas.

2. Setelah memiliki informasi-

informasi baru mengenai

dimensi kepatuhan siswa

mampu mengemukakan tiga

Page 104

dimensi kepatuhan

3. Setelah mendengarkan

penjelasan mengenai faktor

yang mempengaruhi

kepatuhan berlalu lintas siswa

mampu mengaitkan materi

faktor kepatuhan berlalu lintas

dengan pencegahan

pelanggaran lalu lintas.

4. Setelah membahas mengenai

kiat patuh berlalu lintas siswa

mampu menentukan sikap

dalam pencegahan

pelanggaran lalu lintas.

G. Model Konseling Teknik Modeling setting
H. Sasaran Layanan
I. Waktu kelompok
J. Tanggal Pelaksanaan
K. Tempat Pelaksanaan Siswa SMK
L. Metode/Teknik
M. Media/Alat 2x45 menit

N. Pelaksana Layanan -

Ruangan bimbingan kelompok

Ceramah, diskusi, tanya jawab

dan penugasan

“Panduan Peningkatan

Kebermaknaan Hidup dalam

Pencegahan Pelanggaran Lalu

Lintas menggunakan Teknik

Modeling Setting Kelompok”

Guru BK/ Konselor/ Pemimpin

Kelompok.

O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan

Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/

Kelompok Peserta Layanan

1. Tahap Perhatian (Attention)

1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk

layanan untuk duduk duduk melingkar.

melingkar dengan

mengatur jarak tempat

duduk.

Page 105

2) Menyapa dengan kalimat 2) Peserta layanan merespon

yang membuat peserta pemimpin kelompok dengan

layanan bersemangat. semangat.

3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.

4) Ucapan selamat datang 4) Peserta layanan merespon

dan terimakasih atas dengan semangat.

kehadiran anggota

kelompok.

5) Memulai pertemuan 5) Peserta layanan berdo`a

dengan membaca do`a. bersama.

6) Menjelaskan tentang 6) Peserta layanan
dengan
layanan konseling dengan mendengarkan
layanan
teknik modeling setting seksama. dengan

kelompok.

7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta

pelaksanaan teknik mendengarkan

modeling seksama.

8) Perkenalan dengan 8) Semua peserta saling
semua anggota memperkenalkan diri.
kelompok.

9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan

keakraban (rangkaian mengikuti permainan

nama). rangkaian nama.

10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan merespon

menanyakan kesiapan pertanyaan pemimpin

peserta layanan dalam kelompok dengan baik.

melaksanakan tugas.

11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan merespon

terjadi. pemimpin kelompok sesuai

dengan suasana yang

terjadi.

12)Memberikan pertanyaan 12)Peserta layanan merespon

terbuka mengenai topik dan menjawab pertanyaan

kepatuhan berlalu lintas pemimpin kelompok.

dan kebermaknaan hidup.

Page 106

13)Meminta anggota 13)Peserta layanan
dan
kelompok untuk mendengarkan
secara
memperhatikan apa yang memperhatian

harus dipelajari nantinya seksama

sebelum model diberikan

14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan menonton

menayangkan video yang video secara seksama.

berkaitan dengan

kepatuhan berlalu lintas.

15)Mengingatkan anggota 15)Peserta layanan

bahwa kegiatan akan memperhatikan dan

segera memasuki tahap mendengarkan secara

selanjutnya seksama.

2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)

1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan

yang akan ditempuh mendengarkan dan

pada tahap berikutnya. memperhatian secara

seksama.

2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan

mengamati apakah para merespon dan

peserta sudah siap masuk menjawab penawaran

pada tahap selanjutnya. dari pemimpin

kelompok

3) Meningkatkan

kemampuan keikutsertaan 3) Peserta layanan

anggota. Kalau perlu memperhatikan dan

kembali kebeberapa mendengarkan secara

aspek tahapan seksama.

sebelumnya jika

diperlukan.

4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan

mengarahkan jalannya mendengarkan dan

pembahasan topik remaja merespon secara seksama.

dan kebermaknaan hidup.

5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan

memberikan pendapat mengemukakan pendapat

masing-masing terhadap mengenai video yang telah

video yang diberikan. diberikan.

3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)

1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan

saling peduli, menghargai mendengarkan dan

pendapat antar peserta merespon secara seksama.

Page 107

layanan.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang

peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan
mengulang perilaku yang pada model yang telah
ditemukan pada model diberikan.
yang telah diberikan.

3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan mengaitkan
untuk mengaitkan video video yang diberikan
yang diberikan dengan dengan keadaan diri
keadaan diri masing- masing-masing.
masing

4) Membantu peserta 4) Peserta layanan

layanan untuk mengemukakan

mengemukakan pemahaman mengenai

pemahaman yang dimiliki topik remaja dan

mengenai topik kebermaknaan hidup.

kepatuhan berlalu lintas

dan kebermaknaan hidup.

5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya

tanya jawab antar mengenai hal-hal yang

anggota kelompok yang belum dipahami.

belum dipahami

mengenai topik

kepatuhan berlalu lintas

dan kebermaknaan hidup.

6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan membahas

layanan untuk mendalami topik kepatuhan berlalu

topik kepatuhan berlalu lintas.

lintas dan kebermaknaan

hidup secara mendalam.

7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan

dari peserta layanan memperhatikan dan

sesuai dengan keadaan menyimak secara seksama.

diri peserta layanan.

8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.

4. Tahap Penguatan (Motivation)

1) Membantu peserta 1) Peserta layanan mengambil

layanan mangambil keputusan mengenai topik

Page 108

keputusan dari topik kepatuhan berlalu lintas dan

kepatuhan berlalu lintas kebermaknaan hidup.

dan kebermaknaan hidup.

2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima

dan penguatan kepada dukungan dan penguatan.

peserta layanan terhadap

keputusan yang diambil

dari topik kepatuhan

berlalu lintas dan

kebermaknaan hidup.

3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan

terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan

aspek yang ditemukan menyimak secara seksama

oleh peserta layanan di

dalam kelompok.

4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan

kegiatan akan segera mendengarkan dengan

diakhiri seksama

5) Meminta anggota

kelompok mengemukakan 5) Peserta layanan

kesan dan pesan. mengemukakan kesan dan

pesan.

6) Doa Penutup

6) Peserta layanan berdoa

7) Mengakhiri kegiatan bersama

dengan mengucapkan

terima kasih dan salam. 7) Peserta layanan menjawab

salam.

P. Evaluasi

1. Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
2. Evaluasi Hasil
melalui pengamatan untuk

memperoleh gambaran

tentang aktivitas anggota

kelompok dan efektivitas

layanan yang telah

diselenggarakan.

Evaluasi setelah mengikuti

layanan antara lain.

1) Menilai perubahan

perilaku anggota

Page 109

kelompok saat mengikuti

layanan

2) Peserta layanan mengisi

lembar evaluasi dan

lembar refleksi untuk

mengetahui pemahaman

dan perasaan peserta

layanan setelah

melaksanakan layanan.

…………………………..…

Mengetahui Guru BK/Konselor
Koordinator BK,
…………………………
…………………………… NIP.
NIP.

Page 110

MATERI 5

KEPATUHAN BERLALU
LINTAS DAN

KEBERMAKNAAN HIDUP

A. Pengertian Kepatuhan Berlalu Lintas

Baron, Branscombe,

dan Byrne (Sarwono &

Meinarno, 2012)

mengatakan kepatuhan

adalah salah satu jenis

pengaruh sosial dimana

suatu kelompok atau

individu mematuhi dan

mentaati permintaan

pemegang otoritas guna untuk melakukan tingkah laku tertentu.

Kepatuhan juga bersifat taat, tunduk dan patuh pada suatu

perintah maupun aturan. Bentuk dari kepatuhan yaitu sikap patuh

individu ataupun kelompok kepada pemegang otoritas. Kepatuhan

yaitu individu mengubah tingkah laku dan sikap untuk mengikuti

perintah atau permintaan orang lain. Upaya individu dalam

mengubah tingkah lakunya karena permintaan orang lain juga

merupakan bentuk dari kepatuhan (Feldman, 2003). Setiap individu

memiliki tujuan atau alasan dari sikapnya yang patuh pada perintah.

Warga Negara yang baik merupakan warga Negara yang bersedia

untuk mentaati serta mematuhi hukum atau aturan di negaranya.

Berdasarkan penjelasan teori di atas, kepatuhan yaitu

perubahan dari perilaku dan sikap individu yang disebabkan

adanya permintaan untuk patuh dan tunduk terhadap aturan.

Kepatuhan berlalu lintas adalah suatu bentuk kepatuhan

hukum di mana tingkah laku terbentuk melalui serangkaian proses

yang menunjukkan patuh dan tertib kepada aturan norma sosial

(Kulanthayan et al., 2000). Kepatuhan terhadap hukum merupakan

semua aktivitas yang dinilai sesuai dengan aturan, kebijakan

Page 111

perundang-undangan. Perundang-undangan yang mengatur
tentang aturan lalu lintas yaitu (Undang-undang republik indonesia
nomor 22, 2009). Godwin Tunde, et al. (2012) menyatakan bahwa
kepatuhan berlalu lintas merupakan suatu tindakan pengguna jalan
dalam bentuk ketaatan terhadap aturan yang bertujuan untuk
membimbing pengguna jalan untuk mematuhi aturan agar terhindar
dari konflik antar pengguna jalan, mencegah dan mengurangi
angka kecelakaan lalu lintas. Individu yang tidak mematuhi aturan
lalu lintas akan mendapatkan hukuman berupa peringatan lisan dan
sanksi tilang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

Kepatuhan berlalu lintas merupakan bentuk sikap patuh
terhadap aturan lalu lintas. Aturan tersebut digunakan untuk
membimbing pengguna jalan agar patuh terhadap aturan sehingga
berdampak positif untuk pengguna jalan dan mengurangi peristiwa
seperti kecelakaan lalu lintas (Ucho et al., 2016).

Adapun tata cara berlalu lintas berdasarkan buku panduan
praktis yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
(2005) yaitu sebagai berikut.
1. Ketertiban dan keselamatan yaitu setiap individu diwajibkan

untuk tertib dan mencegah perbuatan yang dapat
mengganggu dan membahayakan keselamatan dan
keamanan sehingga dapat menimbulkan kerugian jalan.
2. Pengendara sepeda motor wajib mematuhi beberapa
ketentuan seperti mematuhi marka jalan, rambu-rambu lalu
lintas, gerakan lalu lintas, pemberian alat untuk isyarat lalu lintas,
alat untuk berhenti dan parkir, kemudian peringatan dalam
bentuk bunyi (klakson) dan sinar (lampu), kecepatan minimal
dan maksimal, serta tata cara dalam pengandengan dan tata
cara penempelan dengan kendaraan lain.
3. Setiap pengendara wajib menunjukkan dan memiliki surat tanda
kendaraan bermotor (STNK) serta wajib memiliki surat ijin
mengemudi (SIM).
4. Pengendara atau penumpang kendaraan bermotor wajib
menggunakan helm yang memenuh standar nasional indonesia
(SNI).
5. Pengendara sepeda motor wajib menyalakan lampu baik siang
atau malam hari.

Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa
kepatuhan berlalu lintas yaitu suatu sikap dan tingkah laku yang

Page 112

telah terbentuk melalui berbagai proses yang berkaitan dengan
ketertiban dan ketaatan terhadap aturan berlalu lintas dimana
individu yang melanggar aturan akan mendapatkan peringatan
atau sanksi dari pemegang otoritas.

B. Dimensi Kepatuhan

Kelmann (Ali, 2009), menyatakan bahwa terdapat tiga dimensi

individu mematuhi aturan yaitu sebagai berikut.

1. Compliance merupakan bentuk kepatuhan yang

mengharapkan sebuah imbalan atau menghindari hukuman

terhadap tingkah laku yang dikerjakan.

2. Identification merupakan patuh terhadap hukum karena adanya

hubungan yang baik antara pemegang otoritas dan individu

dimana tergantung pada baik atau buruknya hubungan atau

interaksi.

3. Internalization merupakan kepatuhan hukum yang disebabkan

adanya imbalan dan secara intrinsik hukum atau aturan yang

berlaku sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.

Kepatuhan memiliki dua dimensi (Hartono, 2006) yaitu:

1. Sikap terdiri dari belief yaitu adanya kepercayaan antara

individu terhadap orang lain dan accept merupakan sikap

menerima terhadap tuntutan orang lain.

2. Perilaku terdiri dari act

merupakan tindakan

seseorang untuk

melakukan perintah atau

permintaan orang lain.

Blass (Kusumadewi, et al.,

2012) mengungkapkan

bahwa karakteristik orang

yang patuh dibagi

menjadi tiga yaitu.

1. Mempercayai (belief) yaitu adanya pelepasan penilaian pribadi.

2. Menerima (accept) yaitu penerimaan terhadap tuntutan orang

lain.

Berdasarkan penjelasan dari teori di atas dapat dikatakan

bahwa kepatuhan berlalu lintas termasuk kepatuhan terhadap

hukum dan terdapat tiga dimensi individu dalam mematuhi hukum

yaitu compliance, identification, dan internalization.

Page 113

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Berlalu Lintas
Safitri & Rahman (2013) mengungkapkan bahwa faktor yang

mempengaruhi individu terhadap kepatuhan berlalu lintas yaitu
1. Individu patuh disebabkan adanya rasa takut akan sanksi yang

diberikan oleh petugas kepolisian bila melanggar peraturan lalu
lintas.
2. Kesadaran diri terhadap keselamatan lalu lintas antar pengguna
jalan. Artinya individu sadar bahwa mentaati peraturan lalu lintas
merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
3. Sikap yang saling menghormati antar pengguna jalan untuk
menciptakan ketertiban dalam berlalu lintas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas
(Rakhmani, 2013) terdiri dari.
1. Pemahaman pengendara terkait aturan tata tertib lalu lintas.
2. Sikap dan perilaku pengendara terkait kepatuhan tata tertib lalu
lintas.
3. Adanya program tilang serta efektivitasnya.
Faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan hingga mengakibatkan
terjadinya kecelakaan dalam berlalu lintas (Wulandari, 2015) terdiri
dari:
1. Faktor Manusia

Manusia sebagai pengguna jalan yang memiliki peran
penting dalam berlangsungnya
ketertiban lalu lintas. Sikap dan
perilaku manusia dapat di
tentukan oleh :
a. Mental dan perilaku

Mental dan perilaku
pengguna jalan yang
memberikan pengaruh
terhadap ketertiban dan
keselamatan individu dalam berlalu
lintas. Pengguna jalan yang memiliki etika yang baik
berdampak positif dalam membangun ketertiban lalu lintas
seperti mampu mengontrol emosi pada saat berkendara dan
memiliki toleransi antar pengguna jalan.
b. Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan sebuah domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.

Page 114

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat
mendasari seseorang untuk berperilaku dan pengetahuan
juga sangat bermanfaat bagi seseorang untuk berperilaku
(Muryatma, 2017).

Pengguna jalan wajib memiliki pengetahuan terkait
aturan lalu lintas. Perbedaan tingkat pemahaman dan
pengetahuan dapat menjadikan permasalahan antar
pengguna jalan ataupun aparat penegak hukum.
c. Ketrampilan

Keterampilan dan pengalaman berkendara juga
merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi
keselamatan dari pengendara sepeda motor berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Gineung Utari pada tahun
2010 menunjukkan hasil masa berkendara mempunyai
hubungan dengan perilaku keselamatan berkendara
sehingga tingkat penguasaan, pengetahuan serta
keterampilan seseorang dalam pekerjaannya yang dapat
diukur dari pengalaman, pemahaman, maupun
keterampilan yang dimiliki (Muryatma, 2017). Apabila
kemampuan pada diri seseorang mengenai berkendara
yang aman sangat baik aman maka kejadian kecelakaan
lalu lintas dapat diminimalkan. (Utari, 2010).

Ketrampilan dapat diartikan sebagai kemampuan
individu dalam mengendalikan kendaraannya. Pengendara
yang telah mengikuti serangkaian pelatihan maka akan
mengikuti ujian untuk memperoleh SIM.
2. Faktor Kendaraan
Kendaraan yaitu alat penggerak yang kendalikan oleh
manusia. Kendaraan yang lebih dominan di jalan raya dan
menimbulkan situasi atau iklim lalu lintas. Sehingga dapat
dikatakan bahwa kuantitas kendaraan disetiap tahunnya
meningkat yang mengakibatkan permasalahan arus lalu lintas.
Kualitas kendaraan juga penting diperhatikan seperti merawat
fungsi mesin, rem, kaca sepion dan alat-alat lainnya untuk
mewujudkan keamanan dan keselamatan pengendara yang
menjadi faktor utama dalam berlalu lintas.
3. Faktor Jalan
Jalan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan
berlalu lintas. Jalan yang telah beroperasi dilengkapi dengan

Page 115

prasarana jalan. Hal tersebut telah diuraikan (Undang-undang

republik indonesia nomor 22, 2009) yaitu “Setiap jalan umum

wajib dilengkapi dengan perlengkapan yang berupa:

a. Rambu-rambu lalu lintas

b. Marka jalan

c. Pemberian alat untuk isyarat lalu lintas

d. Penerangan jalan

e. Alat untuk pengendali dan pengamanan pada pengguna

jalan

f. Alat pengawasan dan pengamanan jalan

g. Fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat

h. Fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan

baik yang berada di jalan dan di luar badan jalan.

4. Faktor Lingkungan

Lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk

perilaku pengendara untuk

patuh berlalu lintas.

Lingkungan juga sebagai

sumber informasi bagi

pengendara dalam

membentuk budaya tertib

berlalu lintas.

Berdasarkan penjelasan

di atas dapat disimpulkan

faktor-faktor yang

mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas yaitu pemahaman

pengendara terhadap tata tertib lalu lintas, sikap dan perilaku

pengendara terkait aturan tata tertib lalu lintas, dan adanya

program tilang serta efektivitasnya.

D. Upaya dalam Meningkatkan Kepatuhan Remaja dalam Berlalu Lintas

Menyikapi akan bahaya dan banyaknya pelanggaran lalu lintas

di kalangan remaja, berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan

dalam meningkatkan kepatuhan remaja dalam berlalu lintas :

1. Motivasi keselamatan

Kesadaran masyarakat akan pentingnya sikap patuh

terhadap tata tertib lalulintas, dapat dilakukan dengan

memotivasi untuk menciptakan kondisi aman dan selama di jalan

pada saat berkendara, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi

pengendara lain. Mendefinisikan motif keselamatan adalah

Page 116

kecenderungan mencari jaminan, keamanan dan perlindungan.
Berkaitan dengan keselamatan diri para pengendara motor yang
mempunyai suatu kebutuhan yang diarahkan kepada
keselamatan diri pada saat mengendarai motor, dan juga
keselamatan pengguna jalan lain. Apabila setiap orang
mempunyai motivasi keselamatan diri maka akan terjadi motivasi
keselamatan bersama.
2. Melakukan Tindakan Langsung (Tilang)

Tindakan langsung (tilang) yang dikenakan terhadap pelaku
pelanggaran yang terjadi di jalan raya dapat dijadikan
peringatan bagi pengguna jalan yang mau coba-coba untuk
melakukan pelanggaran. Program tilang diharapkan dapat
merupakan program yang efektif yang dapat digunakan sebagai
proses pembelajaran dalam rangka mewujudkan sikap tertib lalu
lintas di jalan raya. Program tilang sebenarnya dapat diberlakukan
bagi siapa saja sebagai pengguna jalan raya, namun khususnya
bagi para remaja yang berjiwa muda, dan bersemangat tinggi
kadang mempunyai ambisi dan keberanian yang lebih dibanding
para pengguna jalan dewasa.

Remaja sebagai pemuda generasi penerus bangsa patut
untuk diajarkan sikap disiplin dan patuh terhadap tata tertip lalu
lintas. Jika mereka melakukan pelanggaran maka tidak bisa
dibiarkan saja, dan perlu dilakukan tindakan.

Betapa penting kesadaran untuk patuh berlalu lintas ini bagi
pengendara kendaraan bermotor, karena tanpa kesadaran itu,
pelanggaran akan dapat terjadi dimana- mana, kapan saja dan
oleh siapa saja. Jika kesadaran akan sikap patuh berlalu lintas itu
sudah tumbuh dalam diri seseorang, tentunya ia akan selalu
mematuhi etika berkendara di jalan, mematuhi tata tertib lalu lintas,
baik ada petungas polantas, maupun tidaka ada petugas yang
sedang berjaga. Jika kesadaran itu belum tumbuh, biasanya para
pengendara hanya akan mematuhi tata tertib lalu lintas pada saat
ada petugas yang berjaga, namun begitu tidak dijaga, akan terjadi
pelanggaran lagi.

Page 117

RANGKUMAN

1. Kepatuhan berlalu lintas yaitu suatu sikap dan tingkah laku
yang telah terbentuk melalui berbagai proses yang berkaitan
dengan ketertiban dan ketaatan terhadap aturan berlalu
lintas dimana individu yang melanggar aturan akan
mendapatkan peringatan atau sanksi dari pemegang
otoritas.

2. Kepatuhan berlalu lintas termasuk kepatuhan terhadap
hukum dan terdapat tiga dimensi individu dalam mematuhi
hukum yaitu compliance, identification, dan internalization.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas
yaitu pemahaman pengendara terhadap tata tertib lalu
lintas, sikap dan perilaku pengendara terkait aturan tata tertib
lalu lintas, dan adanya program tilang serta efektivitasnya.

4. Upaya dalam meningkatkan kepatuhan remaja dalam
berlalu lintas: Motivasi keselamatan, Melakukan Tindakan
Langsung (Tilang)

Page 118

Lampiran.5.1

LEMBAR TUGAS KELOMPOK

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari topik kepatuhan berlalu lintas dan kebermaknaan hidup yang
telah dibahas, jelaskan mengapa ananda harus mematuhi peraturan
berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda dan apa saja upaya
yang harus Ananda lakukan agar mempunyai kepatuhan dan
kebermaknaan hidup yang baik?

JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...

-----Selamat Bekerja----

Page 119

Lampiran.5.2

LEMBAR evaluasi

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Amatilah keadaan jalan raya disekitar ananda, simpulkan apakah
masyarakat khususnya para remaja telah mematuhi peraturan
lalu lintas dengan baik dan benar?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

2. Menurut penilaianmu, apakah kepatuhan lalu lintas berpengaruh
dalam meningkatkan kebermaknaan hidup seseorang ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

Page 120

3. Saran apakah yang bisa kamu usulkan kepada pihak kepolisian
supaya dapat meningkatkan kepatuhan berlalu lintas dikalangan
masyarakat ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

4. Bagaimana upaya Ananda dalam meningkatkan kepatuhan
berlalu lintas dalam kehidupan sehari-hari ?

……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....

-----Selamat Bekerja----

Page 121

Lampiran.5.3

LEMBAR REFLEKSI

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
Ananda. Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak
perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

Gambar 55:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………

Page 122

DAFTAR PUSTAKA

Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.

Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.

Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).

Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).
Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan
pada remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks

IIzadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Muryatma, N. M. (2017). Hubungan antara faktor keselamatan
berkendara dengan perilaku keselamatan berkendara. Jurnal
Promkes, 5(2), 155–166.

Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.

Sadono, S. (2015). BUDAYA TERTIB BERLALU-LINTAS Kajian Fenomenologis
atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI.
Ilmu Komunikasi Dan Bisnis, 01, 58–70.

Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Page 123

DAFTAR GAMBAR

Gambar 51 https://i1.wp.com/ntmcpolri.info/wp-

Gambar 52 content/uploads/2020/01/Ilustrasi-Operasi-Lalu-

Gambar 53 Lintas.png?resize=1024%2C720&ssl=1
Gambar 54
Gambar 55 https://encrypted-

tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQC1W

WTagqIfu179eqXSkg-X5d3rytabyUHQQ&usqp=CAU

https://3.bp.blogspot.com/-
ndiQzlxKG28/VI59oU42OsI/AAAAAAAABFk/eaihOyrz3
Bo/s1600/xs.jpg
https://awsimages.detik.net.id/customthumb/2013/0
9/23/10/helmsma.jpg?w=700&q=90
https://ikm.pt-medan.go.id/skh

Page 124

PENUTUP

Demikian E-Book ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan
oleh Guru BK/Konselor untuk membantu siswa meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
E-Book ini membahas petunjuk penggunaan yang perlu dipahami
oleh Guru BK/Konselor agar bisa membantu siswa meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.

Page 125

DAFTAR PUSTAKA

Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.

Anggriany, N. (2006). Motif sosial dan kebermaknaan hidup remaja
Pagaralam. Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
11(21). https://doi.org/10.20885/psikologika.vol11.iss21.art5

Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.

Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna kisah pribadi dengan
pengalaman tragis. Paramadina.

Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi “psikologi untuk menemukan makna
hidup dan meraih hidup bermakna” (Budiyono (ed.)). PT. Raja
Grafindo Persada.

Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.

Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).

Firman. (2018). Pendekatan konseling sebaya tepat guna untuk generasi
milenial dalam perubahan sosial budaya. 1.

Frankl, V. (2003). Man’s search for meaning: an introduction to
logotherapy edisi terjemahan. Kreasi Wacana.

Ghozali, M. (2019). Hubungan konsep diri dan self sontrol dengan
kebermaknaan hidup. Indonesian Psychological Research, 01(01),
11–24.

Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.

Page 126

Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).
Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan
pada remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks Teknik
Sipil, 838–843.

Hasan, R. (2018). KESADARAN HUKUM BERLALU LINTAS PADA PESERTA
DIDIK KELAS XI SMK NEGERI 2 KOTA TERNATE. 1, 41–46.

Hidayat, T., Yani, A., & Barata, J. . (2005). Buku petunjuk tata cara berlalu
lintas (Highway Code) di Indonesia. Direktorat Jendral Perhubungan
Darat, Departemen Perhubungan.

Isnaningtyas, T. (2013). PROSES PENCARIAN KEBERMAKNAAN HIDUP
PADA.

Izadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Jayanti, N. (2019). Konseling Logoterapi Dalam Penetapan Tujuan Hidup
Remaja Broken home. Jurnal Konseli, 06(1), 75–82.

Marsaid. Hidayat, M. A. (2013). Faktor yang berhubungan dengan
kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor di
wilayah polres kabupaten Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan.

Mazaya, K., & Supradewi, R. (2011). Konsep diri dan kebermaknaan
hidup pada remaja di panti asuhan. Jurnal Proyeksi, 6(2), 103–112.

Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.

Mirzawati, N. (n.d.). Kebermaknaan Hidup pada ODHA (Orang dengan
HIV AIDS) Wanita di Bukittinggi. 113–125.

Muryatma, N. M. (2017). Hubungan antara faktor keselamatan
berkendara dengan perilaku keselamatan berkendara. Jurnal
Promkes, 5(2), 155–166.

Primadoni. (2019). Kapolda sumbar sebutkan pelanggaran lalu lintas
didominasi generasi millenial. Covesia Archipelago.

Page 127

Rakhman, M. Y. N. (2016). Reproduksi Pelanggaran Peraturan Lalu Lintas
yang Dilakukakan oleh Pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota
Surakarta.

Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.

Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas
motor sulut king community (SKC) Manado. 24.

Rice, F. P. (2001). The adolescent: development, relationship, and
culture. A Pearson Education Company.

Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.

Rudi, A. (2017). Kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia
tertinggi di dunia. In Kompas.com.

Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.

Sadono, S. (2015). BUDAYA TERTIB BERLALU-LINTAS Kajian Fenomenologis
atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI.
Ilmu Komunikasi Dan Bisnis, 01, 58–70.

Sahabudin, Wartatmo, H., & Kuschitawati, S. (2011). Pengendara sebagai
faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas sepeda motor tahun
2010. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, 27(2), 94–100.

Setyarini, Riris & Atamimi, N. (2011). Self-esteem dan makna hidup pada
pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Jurnal Psikologi, 38(2), 176–184.

Sitihang, N., Yusuf, A. M., & Daharnis. (2013). Pengaruh layanan
bimbingan kelompok terhadap pencapaian tugas perkembangan
remaja awal dalam aspek kemandirian emosional ( Studi
eksperimen di SMP Frater Padang ). Jurnal Konselor, 2(4), 1–7.

Suari, A. A. S., & Hizkia, D. (2014). Kebermaknaan Hidup pada Anak
Pidana di Bali. 1(2), 322–334.

Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.

Page 128

Sumato. (2006). Kajian psikologis kebermaknaan hidup. Buletin Psikologi,
14(2), 115–135.

Surya, D. H. (2017a). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
berkenderaan di sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Akasara Public, 1, 30–46.

Surya, D. H. (2017b). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
Berkenderaan di Sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Askara Public, 1(1), 30–46.

Susanto, L., Dutto, D., Sn, S., Si, M., Sylvia, M., Sn, S., Studi, P., Komunikasi,
D., Seni, F., & Petra, U. K. (n.d.). Perancangan Kampanye Sosial
Modifikasi Baju Seragam SMA saat Kelulusan. 1–12.

Thaha, H., & Rustan, E. (2017). Orientasi religiusitas dan efikasi diri dalam
hubungannya dengan kebermaknaan pendidikan agama islam
pada mahasiswa IAIN Palopo. Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat,
13(2), 163–179.

Tua, P. M. (2014). Penegakan hukum terhadap penyelenggara jalan
yang rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di wilayah
hukum kepolisian resor kota Pekanbaru. Jurnal JOM Fakultas Hukum,
I(2), 1–15.

Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Utomo, H. R. P., & Meiyuntari, T. (2015). Kebermaknaan hidup, kestabilan
emosi dan depresi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 4(03), 274–
287.

Page 129


Click to View FlipBook Version