3) Marka Lambang
Marka lambang adalah tanda yang mengandung arti
tertentu untuk menyatakan peringatan, perintah, dan
larangan untuk melengkapi atau menegaskan maksud
yang telah disampaikan oleh
rambu lalu lintas atau tanda lalu
lintas lainnya. Beberapa jalan
utama dengan lalu lintas tinggi,
mempunyai lajur-lajur yang
disediakan untuk digunakan
kendaraan-kendaraan tertentu,
misalnya lajur khusus bus atau jalan
khusus bus. Ataupun Lajur-lajur
untuk tujuan lain yang khusus
termasuk lajur-lajur sepeda dan
lajur untuk kendaraan tidak bermotor lain seperti bendi dan
lain sebagainya. Contoh marka lambang sebagai berikut:
Marka Tulisan Pada Zona Selamat Sekolah, Marka Lambang
pada Ruang Henti Khusus Sepeda Motor.
4) Garis Marka Melintang (Zebra Cross)
Garis marka melintang ini
biasanya mudah ditemui di
lampu–lampu lalu lintas, atau di
daerah yang ada zebra cross.
Garis ini merupakan sebuah
tanda yang digunakan sebagai pembatas jarak aman
untuk berhenti, guna memberi kesempatan kepada para
penyebrang jalan. Biasanya marka ini yang sering dilanggar
oleh pengendara terutama pengendara sepeda motor.
5) Garis Marka Kuning (Yellow Box Junction)
Marka yellow box junction ini biasanya terletak di
persimpangan yang memiliki banyak
akses jalan untuk keluar masuk
kendaraan. Garis marka ini berfungsi
untuk melarang semua kendaraan untuk
berhenti di dalam kotak kuning tersebut.
Hal ini dilakukan untuk mencegah arus
lintas yang padat yang bisa
menyebabkan kemacetan.
Page 95
D. Manfaat Mematuhi Tata Tertib Lalu Lintas
Setiap orang memiliki hak yang
sama dalam menggunakan fasilitas
yang disediakan pemerintah,
terutama fasilitas untuk menggunakan
jalan umum atau jalan raya. Semua
diatur dalam undang-undang nomor
22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan
angkutan jalan, tidak semua
peraturan ditaati masyarakat, bahkan
tidak semua masyarakat mengetahui
peraturan yang dibuat pemerintah khususnya undang-undang lalu
lintas.
1. Tiba di tempat dengan Selamat
Mematuhi tata tertib lalu lintas adalah salah satu aspek
keselamatan yang diwajibkan pihak kepolisian agar pengendara
selamat sampai di tujuan. Pelanggaran atas rambu-rambu di
jalan raya bisa berdampak buruk, baik bagi pengemudi,
maupun penumpang. Dari mulai terjadi kecelakaan, terlambat
sekolah atau kerja, sampai perselisihan dengan pengendara lain.
2. Mencegah Kemacetan Lalu Lintas
Anda pernah melihat tanda panah terbalik membentuk
huruf U? Coba bayangkan, kalau semua pengemudi
mengabaikan rambu tersebut, mereka akan berputar arah di
lokasi terlarang sehingga membahayakan pengemudi dari arah
seberang. Dampak yang lebih parah, bisa menimbulkan
kemacetan lalu lintas. Pasalnya, ketika berputar balik, otomatis
menghalangi laju kendaraan dari belakang. Efek macet pun
dapat terjadi ketika pengemudi berhenti di kawasan dilarang
parkir. Deretan kendaraan di tepi jalan, menjadikan jalur semakin
sempit. Karena itu, mobil harus mengantre panjang agar bisa
melewati.
3. Terhindar dari Kecelakaan Lalu Lintas
Ketertiban berlalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu
lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan
kewajiban setiap pengguna jalan (Pasal 1 Angka 32 UU Nomor 22
Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan) tertib berlalu
lintas tentunya akan mengurangi angka kecelakaan
(Kompasiana, 2019).
Page 96
RANGKUMAN
1. Aspek-aspek ketertiban: Pemahaman terhadap peraturan lalu
lintas yang termuat dalam UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
dijadikan oleh pengendara sebagai pedoman saat di jalan raya,
Tanggung jawab atas keselamatan baik pada diri sendiri maupun
orang lain akan terwujud jika didukung dengan rasa saling
menghargai sesama pengguna jalan raya, kehati-hatian dalam
berlalu lintas dapat terwujud dengan adanya rasa ketenangan
jiwa yang selalu siap dan tidak lengah dengan kondisi jalan raya
saat mengendarai kendaraan bermotor.
2. Rambu lalu lintas: rambu peringatan, rambu petunjuk, rambu
larangan, rambu perintah, rambu papan tambahan
Marka jalan: Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di
permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi
peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis
melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk
mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan
lalu lintas.
3. Manfaat tertib berlalu lintas : tiba di tempat dengan selamat,
mencegah kemacetan lalu lintas, terhindar dari kecelakaan lalu
lintas
Page 97
Lampiran.4.1
LEMBAR TUGAS KELOMPOK
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari ketertiban lalu lintas dan kebermaknaan hidup yang telah
dibahas, jelaskan mengapa ananda harus memahami dan mengetahui
tata tertib berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda dan apa
saja yang harus ananda lakukan agar dapat menjadi pelajar yang
produktif tanpa melanggar lalu lintas?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Page 98
Lampiran.4.2
LEMBAR evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menyadarkan
masyarakat khususnya remaja agar dapat tertib berlalu lintas ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
2. Menurut ananda, bagaimana tingkat kesadaran masyarakat
terhadap rambu lalu lintas, traffic light dan marka jalan ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
Page 99
3. Menurut ananda, mengapa dilapangan masih banyak remaja
yang belum bisa tertib berlalu lintas ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
4. Hubungkan keterkaitan antara ketertiban berlalu lintas dengan
kebermaknaan hidup ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
Page 100
Lampiran.4.3
LEMBAR REFLEKSI
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
ananda. Bahkan kerahasiaan ananda akan terjamin. Ananda tidak
perlu menuliskan identitas ananda. Selamat bekerja!
Gambar 51:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Page 101
DAFTAR PUSTAKA
Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).
Hidayat, T., Yani, A., & Barata, J. . (2005). Buku petunjuk tata cara berlalu
lintas (Highway Code) di Indonesia. Direktorat Jendral Perhubungan
Darat, Departemen Perhubungan.
Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.
Page 102
Gambar 26 DAFTAR GAMBAR
Gambar 27 https://www.batamxinwen.com/wp-
Gambar 28-32 content/uploads/2018/05/Screenshot_20180504-
120907-640x360.png
Gambar 33 https://harianterbit.co/wp-
content/uploads/2019/01/Tertib-Lalu-Lintas.jpg
Gambar 34 https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F
%2Fhumaspolresbantul.blogspot.com%2F2014%2F08
Gambar 35-45 %2Farti-dan-lambang-rambu-lalu-lintas.html&psig=
Gambar 46 https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F
%2Fgosulsel.com%2F2016%2F07%2F10%2Fkecelakaa
Gambar 47 n-lalu-lintas-di-wajo-tewaskan-pengendara-
Gambar 48 motormio%2F&psig=
Gambar 49 https://s0.bukalapak.com/img/05225493631/large/
Gambar 50 READY_Stock_New_Rambu___rambu_Lalu_Lintas_K
ecepatan_Maksimal.png
Gambar 51 data:image/jpeg;base64,
http://www.nusantara-
sakti.com/upload/images/Garis%20henti%20pada
%20persimpangan%20jalan%201%20arah%20denga
n%203%20lajur.png
https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images
data:image/jpeg;base64
https://cdn-
radar.jawapos.com/uploads/radarsolo/news/2019/
01/04/abaikan-rambu-lalu-lintas-pengendara-
nekat-putar-balik_m_111720.jpg
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
Page 103
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
A. Komponen Layanan Layanan dasar dan
B. Bidang Layanan Pribadi
C. Topik Layanan Kepatuhan Berlalu Lintas
D. Fungsi Layanan Kebermaknaan Hidup
E. Materi Layanan Pemahaman
1. Tema Kepatuhan Berlalu Lintas dan
2. Sub Tema Kebermaknaan Hidup
a) Pengertian Kepatuhan Berlalu
3. Sumber
F. Tujuan Layanan Lintas
b) Dimensi Kepatuhan
1. Tujuan Umum c) Faktor-faktor yang
2. Tujuan Khusus Mempengaruhi Kepatuhan
Berlalu Lintas
d) Upaya dalam meningkatkan
kepatuhan berlalu lintas
Terlampir
Agar peserta layanan dapat
mengetahui dan memahami
tentang kepatuhan berlalu lintas
dengan baik dalam
pencegahan pelanggaran lalu
lintas.
1. Setelah diskusi mengenai
pengertian kepatuhan lalu
lintas melalui model yang
diberikan siswa mampu
melatih diri untk menjadi siswa
yang patuh dalam berlalu
lintas.
2. Setelah memiliki informasi-
informasi baru mengenai
dimensi kepatuhan siswa
mampu mengemukakan tiga
Page 104
dimensi kepatuhan
3. Setelah mendengarkan
penjelasan mengenai faktor
yang mempengaruhi
kepatuhan berlalu lintas siswa
mampu mengaitkan materi
faktor kepatuhan berlalu lintas
dengan pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
4. Setelah membahas mengenai
kiat patuh berlalu lintas siswa
mampu menentukan sikap
dalam pencegahan
pelanggaran lalu lintas.
G. Model Konseling Teknik Modeling setting
H. Sasaran Layanan
I. Waktu kelompok
J. Tanggal Pelaksanaan
K. Tempat Pelaksanaan Siswa SMK
L. Metode/Teknik
M. Media/Alat 2x45 menit
N. Pelaksana Layanan -
Ruangan bimbingan kelompok
Ceramah, diskusi, tanya jawab
dan penugasan
“Panduan Peningkatan
Kebermaknaan Hidup dalam
Pencegahan Pelanggaran Lalu
Lintas menggunakan Teknik
Modeling Setting Kelompok”
Guru BK/ Konselor/ Pemimpin
Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan
Kegiatan Guru BK/ Pemimpin Kegiatan Peserta didik/
Kelompok Peserta Layanan
1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta 1) Peserta layanan membentuk
layanan untuk duduk duduk melingkar.
melingkar dengan
mengatur jarak tempat
duduk.
Page 105
2) Menyapa dengan kalimat 2) Peserta layanan merespon
yang membuat peserta pemimpin kelompok dengan
layanan bersemangat. semangat.
3) Mengucapkan salam. 3) Menjawab salam.
4) Ucapan selamat datang 4) Peserta layanan merespon
dan terimakasih atas dengan semangat.
kehadiran anggota
kelompok.
5) Memulai pertemuan 5) Peserta layanan berdo`a
dengan membaca do`a. bersama.
6) Menjelaskan tentang 6) Peserta layanan
dengan
layanan konseling dengan mendengarkan
layanan
teknik modeling setting seksama. dengan
kelompok.
7) Menjelaskan tujuan 7) Peserta
pelaksanaan teknik mendengarkan
modeling seksama.
8) Perkenalan dengan 8) Semua peserta saling
semua anggota memperkenalkan diri.
kelompok.
9) Menampilkan permainan 9) Semua Peserta layanan
keakraban (rangkaian mengikuti permainan
nama). rangkaian nama.
10)Pemimpin kelompok 10)Peserta layanan merespon
menanyakan kesiapan pertanyaan pemimpin
peserta layanan dalam kelompok dengan baik.
melaksanakan tugas.
11)Membahas suasana yang 11)Peserta layanan merespon
terjadi. pemimpin kelompok sesuai
dengan suasana yang
terjadi.
12)Memberikan pertanyaan 12)Peserta layanan merespon
terbuka mengenai topik dan menjawab pertanyaan
kepatuhan berlalu lintas pemimpin kelompok.
dan kebermaknaan hidup.
Page 106
13)Meminta anggota 13)Peserta layanan
dan
kelompok untuk mendengarkan
secara
memperhatikan apa yang memperhatian
harus dipelajari nantinya seksama
sebelum model diberikan
14)Pemimpin kelompok 14)Peserta layanan menonton
menayangkan video yang video secara seksama.
berkaitan dengan
kepatuhan berlalu lintas.
15)Mengingatkan anggota 15)Peserta layanan
bahwa kegiatan akan memperhatikan dan
segera memasuki tahap mendengarkan secara
selanjutnya seksama.
2. Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes)
1) Menjelaskan kegiatan 1) Peserta layanan
yang akan ditempuh mendengarkan dan
pada tahap berikutnya. memperhatian secara
seksama.
2) Menawarkan sambil 2) Peserta layanan
mengamati apakah para merespon dan
peserta sudah siap masuk menjawab penawaran
pada tahap selanjutnya. dari pemimpin
kelompok
3) Meningkatkan
kemampuan keikutsertaan 3) Peserta layanan
anggota. Kalau perlu memperhatikan dan
kembali kebeberapa mendengarkan secara
aspek tahapan seksama.
sebelumnya jika
diperlukan.
4) Menegaskan dan 4) Peserta layanan
mengarahkan jalannya mendengarkan dan
pembahasan topik remaja merespon secara seksama.
dan kebermaknaan hidup.
5) meminta anggota untuk 5) Peserta layanan
memberikan pendapat mengemukakan pendapat
masing-masing terhadap mengenai video yang telah
video yang diberikan. diberikan.
3. Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction)
1) Mendorong kerjasama, 1) Peserta layanan
saling peduli, menghargai mendengarkan dan
pendapat antar peserta merespon secara seksama.
Page 107
layanan.
2) Mengajak, mengarahkan 2) Peserta layanan mengulang
peserta layanan untuk perilaku yang ditemukan
mengulang perilaku yang pada model yang telah
ditemukan pada model diberikan.
yang telah diberikan.
3) Mengarahkan anggota 3) Peserta layanan mengaitkan
untuk mengaitkan video video yang diberikan
yang diberikan dengan dengan keadaan diri
keadaan diri masing- masing-masing.
masing
4) Membantu peserta 4) Peserta layanan
layanan untuk mengemukakan
mengemukakan pemahaman mengenai
pemahaman yang dimiliki topik remaja dan
mengenai topik kebermaknaan hidup.
kepatuhan berlalu lintas
dan kebermaknaan hidup.
5) Mengarahkan kegiatan 5) Peserta layanan bertanya
tanya jawab antar mengenai hal-hal yang
anggota kelompok yang belum dipahami.
belum dipahami
mengenai topik
kepatuhan berlalu lintas
dan kebermaknaan hidup.
6) Mengarahkan peserta 6) Peserta layanan membahas
layanan untuk mendalami topik kepatuhan berlalu
topik kepatuhan berlalu lintas.
lintas dan kebermaknaan
hidup secara mendalam.
7) Menafsirkan penjelasan 7) Peserta layanan
dari peserta layanan memperhatikan dan
sesuai dengan keadaan menyimak secara seksama.
diri peserta layanan.
8) Mengarahkan peserta 8) Peserta layanan mengisi
layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok
lembar kerja kelompok.
4. Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta 1) Peserta layanan mengambil
layanan mangambil keputusan mengenai topik
Page 108
keputusan dari topik kepatuhan berlalu lintas dan
kepatuhan berlalu lintas kebermaknaan hidup.
dan kebermaknaan hidup.
2) Memberikan dukungan 2) Peserta layanan menerima
dan penguatan kepada dukungan dan penguatan.
peserta layanan terhadap
keputusan yang diambil
dari topik kepatuhan
berlalu lintas dan
kebermaknaan hidup.
3) Memberikan penguatan 3) Peserta layanan
terhadap terhadap aspek- memperhatikan dan
aspek yang ditemukan menyimak secara seksama
oleh peserta layanan di
dalam kelompok.
4) Mengemukakan bahwa 4) Peserta layanan
kegiatan akan segera mendengarkan dengan
diakhiri seksama
5) Meminta anggota
kelompok mengemukakan 5) Peserta layanan
kesan dan pesan. mengemukakan kesan dan
pesan.
6) Doa Penutup
6) Peserta layanan berdoa
7) Mengakhiri kegiatan bersama
dengan mengucapkan
terima kasih dan salam. 7) Peserta layanan menjawab
salam.
P. Evaluasi
1. Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan
2. Evaluasi Hasil
melalui pengamatan untuk
memperoleh gambaran
tentang aktivitas anggota
kelompok dan efektivitas
layanan yang telah
diselenggarakan.
Evaluasi setelah mengikuti
layanan antara lain.
1) Menilai perubahan
perilaku anggota
Page 109
kelompok saat mengikuti
layanan
2) Peserta layanan mengisi
lembar evaluasi dan
lembar refleksi untuk
mengetahui pemahaman
dan perasaan peserta
layanan setelah
melaksanakan layanan.
…………………………..…
Mengetahui Guru BK/Konselor
Koordinator BK,
…………………………
…………………………… NIP.
NIP.
Page 110
MATERI 5
KEPATUHAN BERLALU
LINTAS DAN
KEBERMAKNAAN HIDUP
A. Pengertian Kepatuhan Berlalu Lintas
Baron, Branscombe,
dan Byrne (Sarwono &
Meinarno, 2012)
mengatakan kepatuhan
adalah salah satu jenis
pengaruh sosial dimana
suatu kelompok atau
individu mematuhi dan
mentaati permintaan
pemegang otoritas guna untuk melakukan tingkah laku tertentu.
Kepatuhan juga bersifat taat, tunduk dan patuh pada suatu
perintah maupun aturan. Bentuk dari kepatuhan yaitu sikap patuh
individu ataupun kelompok kepada pemegang otoritas. Kepatuhan
yaitu individu mengubah tingkah laku dan sikap untuk mengikuti
perintah atau permintaan orang lain. Upaya individu dalam
mengubah tingkah lakunya karena permintaan orang lain juga
merupakan bentuk dari kepatuhan (Feldman, 2003). Setiap individu
memiliki tujuan atau alasan dari sikapnya yang patuh pada perintah.
Warga Negara yang baik merupakan warga Negara yang bersedia
untuk mentaati serta mematuhi hukum atau aturan di negaranya.
Berdasarkan penjelasan teori di atas, kepatuhan yaitu
perubahan dari perilaku dan sikap individu yang disebabkan
adanya permintaan untuk patuh dan tunduk terhadap aturan.
Kepatuhan berlalu lintas adalah suatu bentuk kepatuhan
hukum di mana tingkah laku terbentuk melalui serangkaian proses
yang menunjukkan patuh dan tertib kepada aturan norma sosial
(Kulanthayan et al., 2000). Kepatuhan terhadap hukum merupakan
semua aktivitas yang dinilai sesuai dengan aturan, kebijakan
Page 111
perundang-undangan. Perundang-undangan yang mengatur
tentang aturan lalu lintas yaitu (Undang-undang republik indonesia
nomor 22, 2009). Godwin Tunde, et al. (2012) menyatakan bahwa
kepatuhan berlalu lintas merupakan suatu tindakan pengguna jalan
dalam bentuk ketaatan terhadap aturan yang bertujuan untuk
membimbing pengguna jalan untuk mematuhi aturan agar terhindar
dari konflik antar pengguna jalan, mencegah dan mengurangi
angka kecelakaan lalu lintas. Individu yang tidak mematuhi aturan
lalu lintas akan mendapatkan hukuman berupa peringatan lisan dan
sanksi tilang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.
Kepatuhan berlalu lintas merupakan bentuk sikap patuh
terhadap aturan lalu lintas. Aturan tersebut digunakan untuk
membimbing pengguna jalan agar patuh terhadap aturan sehingga
berdampak positif untuk pengguna jalan dan mengurangi peristiwa
seperti kecelakaan lalu lintas (Ucho et al., 2016).
Adapun tata cara berlalu lintas berdasarkan buku panduan
praktis yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
(2005) yaitu sebagai berikut.
1. Ketertiban dan keselamatan yaitu setiap individu diwajibkan
untuk tertib dan mencegah perbuatan yang dapat
mengganggu dan membahayakan keselamatan dan
keamanan sehingga dapat menimbulkan kerugian jalan.
2. Pengendara sepeda motor wajib mematuhi beberapa
ketentuan seperti mematuhi marka jalan, rambu-rambu lalu
lintas, gerakan lalu lintas, pemberian alat untuk isyarat lalu lintas,
alat untuk berhenti dan parkir, kemudian peringatan dalam
bentuk bunyi (klakson) dan sinar (lampu), kecepatan minimal
dan maksimal, serta tata cara dalam pengandengan dan tata
cara penempelan dengan kendaraan lain.
3. Setiap pengendara wajib menunjukkan dan memiliki surat tanda
kendaraan bermotor (STNK) serta wajib memiliki surat ijin
mengemudi (SIM).
4. Pengendara atau penumpang kendaraan bermotor wajib
menggunakan helm yang memenuh standar nasional indonesia
(SNI).
5. Pengendara sepeda motor wajib menyalakan lampu baik siang
atau malam hari.
Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa
kepatuhan berlalu lintas yaitu suatu sikap dan tingkah laku yang
Page 112
telah terbentuk melalui berbagai proses yang berkaitan dengan
ketertiban dan ketaatan terhadap aturan berlalu lintas dimana
individu yang melanggar aturan akan mendapatkan peringatan
atau sanksi dari pemegang otoritas.
B. Dimensi Kepatuhan
Kelmann (Ali, 2009), menyatakan bahwa terdapat tiga dimensi
individu mematuhi aturan yaitu sebagai berikut.
1. Compliance merupakan bentuk kepatuhan yang
mengharapkan sebuah imbalan atau menghindari hukuman
terhadap tingkah laku yang dikerjakan.
2. Identification merupakan patuh terhadap hukum karena adanya
hubungan yang baik antara pemegang otoritas dan individu
dimana tergantung pada baik atau buruknya hubungan atau
interaksi.
3. Internalization merupakan kepatuhan hukum yang disebabkan
adanya imbalan dan secara intrinsik hukum atau aturan yang
berlaku sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.
Kepatuhan memiliki dua dimensi (Hartono, 2006) yaitu:
1. Sikap terdiri dari belief yaitu adanya kepercayaan antara
individu terhadap orang lain dan accept merupakan sikap
menerima terhadap tuntutan orang lain.
2. Perilaku terdiri dari act
merupakan tindakan
seseorang untuk
melakukan perintah atau
permintaan orang lain.
Blass (Kusumadewi, et al.,
2012) mengungkapkan
bahwa karakteristik orang
yang patuh dibagi
menjadi tiga yaitu.
1. Mempercayai (belief) yaitu adanya pelepasan penilaian pribadi.
2. Menerima (accept) yaitu penerimaan terhadap tuntutan orang
lain.
Berdasarkan penjelasan dari teori di atas dapat dikatakan
bahwa kepatuhan berlalu lintas termasuk kepatuhan terhadap
hukum dan terdapat tiga dimensi individu dalam mematuhi hukum
yaitu compliance, identification, dan internalization.
Page 113
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Berlalu Lintas
Safitri & Rahman (2013) mengungkapkan bahwa faktor yang
mempengaruhi individu terhadap kepatuhan berlalu lintas yaitu
1. Individu patuh disebabkan adanya rasa takut akan sanksi yang
diberikan oleh petugas kepolisian bila melanggar peraturan lalu
lintas.
2. Kesadaran diri terhadap keselamatan lalu lintas antar pengguna
jalan. Artinya individu sadar bahwa mentaati peraturan lalu lintas
merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
3. Sikap yang saling menghormati antar pengguna jalan untuk
menciptakan ketertiban dalam berlalu lintas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas
(Rakhmani, 2013) terdiri dari.
1. Pemahaman pengendara terkait aturan tata tertib lalu lintas.
2. Sikap dan perilaku pengendara terkait kepatuhan tata tertib lalu
lintas.
3. Adanya program tilang serta efektivitasnya.
Faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan hingga mengakibatkan
terjadinya kecelakaan dalam berlalu lintas (Wulandari, 2015) terdiri
dari:
1. Faktor Manusia
Manusia sebagai pengguna jalan yang memiliki peran
penting dalam berlangsungnya
ketertiban lalu lintas. Sikap dan
perilaku manusia dapat di
tentukan oleh :
a. Mental dan perilaku
Mental dan perilaku
pengguna jalan yang
memberikan pengaruh
terhadap ketertiban dan
keselamatan individu dalam berlalu
lintas. Pengguna jalan yang memiliki etika yang baik
berdampak positif dalam membangun ketertiban lalu lintas
seperti mampu mengontrol emosi pada saat berkendara dan
memiliki toleransi antar pengguna jalan.
b. Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan sebuah domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Page 114
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat
mendasari seseorang untuk berperilaku dan pengetahuan
juga sangat bermanfaat bagi seseorang untuk berperilaku
(Muryatma, 2017).
Pengguna jalan wajib memiliki pengetahuan terkait
aturan lalu lintas. Perbedaan tingkat pemahaman dan
pengetahuan dapat menjadikan permasalahan antar
pengguna jalan ataupun aparat penegak hukum.
c. Ketrampilan
Keterampilan dan pengalaman berkendara juga
merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi
keselamatan dari pengendara sepeda motor berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Gineung Utari pada tahun
2010 menunjukkan hasil masa berkendara mempunyai
hubungan dengan perilaku keselamatan berkendara
sehingga tingkat penguasaan, pengetahuan serta
keterampilan seseorang dalam pekerjaannya yang dapat
diukur dari pengalaman, pemahaman, maupun
keterampilan yang dimiliki (Muryatma, 2017). Apabila
kemampuan pada diri seseorang mengenai berkendara
yang aman sangat baik aman maka kejadian kecelakaan
lalu lintas dapat diminimalkan. (Utari, 2010).
Ketrampilan dapat diartikan sebagai kemampuan
individu dalam mengendalikan kendaraannya. Pengendara
yang telah mengikuti serangkaian pelatihan maka akan
mengikuti ujian untuk memperoleh SIM.
2. Faktor Kendaraan
Kendaraan yaitu alat penggerak yang kendalikan oleh
manusia. Kendaraan yang lebih dominan di jalan raya dan
menimbulkan situasi atau iklim lalu lintas. Sehingga dapat
dikatakan bahwa kuantitas kendaraan disetiap tahunnya
meningkat yang mengakibatkan permasalahan arus lalu lintas.
Kualitas kendaraan juga penting diperhatikan seperti merawat
fungsi mesin, rem, kaca sepion dan alat-alat lainnya untuk
mewujudkan keamanan dan keselamatan pengendara yang
menjadi faktor utama dalam berlalu lintas.
3. Faktor Jalan
Jalan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan
berlalu lintas. Jalan yang telah beroperasi dilengkapi dengan
Page 115
prasarana jalan. Hal tersebut telah diuraikan (Undang-undang
republik indonesia nomor 22, 2009) yaitu “Setiap jalan umum
wajib dilengkapi dengan perlengkapan yang berupa:
a. Rambu-rambu lalu lintas
b. Marka jalan
c. Pemberian alat untuk isyarat lalu lintas
d. Penerangan jalan
e. Alat untuk pengendali dan pengamanan pada pengguna
jalan
f. Alat pengawasan dan pengamanan jalan
g. Fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat
h. Fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan
baik yang berada di jalan dan di luar badan jalan.
4. Faktor Lingkungan
Lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk
perilaku pengendara untuk
patuh berlalu lintas.
Lingkungan juga sebagai
sumber informasi bagi
pengendara dalam
membentuk budaya tertib
berlalu lintas.
Berdasarkan penjelasan
di atas dapat disimpulkan
faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas yaitu pemahaman
pengendara terhadap tata tertib lalu lintas, sikap dan perilaku
pengendara terkait aturan tata tertib lalu lintas, dan adanya
program tilang serta efektivitasnya.
D. Upaya dalam Meningkatkan Kepatuhan Remaja dalam Berlalu Lintas
Menyikapi akan bahaya dan banyaknya pelanggaran lalu lintas
di kalangan remaja, berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan
dalam meningkatkan kepatuhan remaja dalam berlalu lintas :
1. Motivasi keselamatan
Kesadaran masyarakat akan pentingnya sikap patuh
terhadap tata tertib lalulintas, dapat dilakukan dengan
memotivasi untuk menciptakan kondisi aman dan selama di jalan
pada saat berkendara, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi
pengendara lain. Mendefinisikan motif keselamatan adalah
Page 116
kecenderungan mencari jaminan, keamanan dan perlindungan.
Berkaitan dengan keselamatan diri para pengendara motor yang
mempunyai suatu kebutuhan yang diarahkan kepada
keselamatan diri pada saat mengendarai motor, dan juga
keselamatan pengguna jalan lain. Apabila setiap orang
mempunyai motivasi keselamatan diri maka akan terjadi motivasi
keselamatan bersama.
2. Melakukan Tindakan Langsung (Tilang)
Tindakan langsung (tilang) yang dikenakan terhadap pelaku
pelanggaran yang terjadi di jalan raya dapat dijadikan
peringatan bagi pengguna jalan yang mau coba-coba untuk
melakukan pelanggaran. Program tilang diharapkan dapat
merupakan program yang efektif yang dapat digunakan sebagai
proses pembelajaran dalam rangka mewujudkan sikap tertib lalu
lintas di jalan raya. Program tilang sebenarnya dapat diberlakukan
bagi siapa saja sebagai pengguna jalan raya, namun khususnya
bagi para remaja yang berjiwa muda, dan bersemangat tinggi
kadang mempunyai ambisi dan keberanian yang lebih dibanding
para pengguna jalan dewasa.
Remaja sebagai pemuda generasi penerus bangsa patut
untuk diajarkan sikap disiplin dan patuh terhadap tata tertip lalu
lintas. Jika mereka melakukan pelanggaran maka tidak bisa
dibiarkan saja, dan perlu dilakukan tindakan.
Betapa penting kesadaran untuk patuh berlalu lintas ini bagi
pengendara kendaraan bermotor, karena tanpa kesadaran itu,
pelanggaran akan dapat terjadi dimana- mana, kapan saja dan
oleh siapa saja. Jika kesadaran akan sikap patuh berlalu lintas itu
sudah tumbuh dalam diri seseorang, tentunya ia akan selalu
mematuhi etika berkendara di jalan, mematuhi tata tertib lalu lintas,
baik ada petungas polantas, maupun tidaka ada petugas yang
sedang berjaga. Jika kesadaran itu belum tumbuh, biasanya para
pengendara hanya akan mematuhi tata tertib lalu lintas pada saat
ada petugas yang berjaga, namun begitu tidak dijaga, akan terjadi
pelanggaran lagi.
Page 117
RANGKUMAN
1. Kepatuhan berlalu lintas yaitu suatu sikap dan tingkah laku
yang telah terbentuk melalui berbagai proses yang berkaitan
dengan ketertiban dan ketaatan terhadap aturan berlalu
lintas dimana individu yang melanggar aturan akan
mendapatkan peringatan atau sanksi dari pemegang
otoritas.
2. Kepatuhan berlalu lintas termasuk kepatuhan terhadap
hukum dan terdapat tiga dimensi individu dalam mematuhi
hukum yaitu compliance, identification, dan internalization.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berlalu lintas
yaitu pemahaman pengendara terhadap tata tertib lalu
lintas, sikap dan perilaku pengendara terkait aturan tata tertib
lalu lintas, dan adanya program tilang serta efektivitasnya.
4. Upaya dalam meningkatkan kepatuhan remaja dalam
berlalu lintas: Motivasi keselamatan, Melakukan Tindakan
Langsung (Tilang)
Page 118
Lampiran.5.1
LEMBAR TUGAS KELOMPOK
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik kepatuhan berlalu lintas dan kebermaknaan hidup yang
telah dibahas, jelaskan mengapa ananda harus mematuhi peraturan
berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari ananda dan apa saja upaya
yang harus Ananda lakukan agar mempunyai kepatuhan dan
kebermaknaan hidup yang baik?
JAWAB
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
……………………………………………………………………...
-----Selamat Bekerja----
Page 119
Lampiran.5.2
LEMBAR evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Amatilah keadaan jalan raya disekitar ananda, simpulkan apakah
masyarakat khususnya para remaja telah mematuhi peraturan
lalu lintas dengan baik dan benar?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
2. Menurut penilaianmu, apakah kepatuhan lalu lintas berpengaruh
dalam meningkatkan kebermaknaan hidup seseorang ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
Page 120
3. Saran apakah yang bisa kamu usulkan kepada pihak kepolisian
supaya dapat meningkatkan kepatuhan berlalu lintas dikalangan
masyarakat ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
4. Bagaimana upaya Ananda dalam meningkatkan kepatuhan
berlalu lintas dalam kehidupan sehari-hari ?
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
……………………………………………………………………………………………
………………………....
-----Selamat Bekerja----
Page 121
Lampiran.5.3
LEMBAR REFLEKSI
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√)
pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut
merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan
BK. Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya
dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai
Ananda. Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak
perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
Gambar 55:
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Page 122
DAFTAR PUSTAKA
Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.
Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.
Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).
Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).
Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan
pada remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks
IIzadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Muryatma, N. M. (2017). Hubungan antara faktor keselamatan
berkendara dengan perilaku keselamatan berkendara. Jurnal
Promkes, 5(2), 155–166.
Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.
Sadono, S. (2015). BUDAYA TERTIB BERLALU-LINTAS Kajian Fenomenologis
atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI.
Ilmu Komunikasi Dan Bisnis, 01, 58–70.
Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.
Page 123
DAFTAR GAMBAR
Gambar 51 https://i1.wp.com/ntmcpolri.info/wp-
Gambar 52 content/uploads/2020/01/Ilustrasi-Operasi-Lalu-
Gambar 53 Lintas.png?resize=1024%2C720&ssl=1
Gambar 54
Gambar 55 https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQC1W
WTagqIfu179eqXSkg-X5d3rytabyUHQQ&usqp=CAU
https://3.bp.blogspot.com/-
ndiQzlxKG28/VI59oU42OsI/AAAAAAAABFk/eaihOyrz3
Bo/s1600/xs.jpg
https://awsimages.detik.net.id/customthumb/2013/0
9/23/10/helmsma.jpg?w=700&q=90
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
Page 124
PENUTUP
Demikian E-Book ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan
oleh Guru BK/Konselor untuk membantu siswa meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
E-Book ini membahas petunjuk penggunaan yang perlu dipahami
oleh Guru BK/Konselor agar bisa membantu siswa meningkatkan
kebermaknaan hidup dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.
Page 125
DAFTAR PUSTAKA
Agung, I. M. (2014). Model perilaku pengendara berisiko pada remaja.
Jurnal Psikologi Integratif, 2(2), 35–41.
Anggriany, N. (2006). Motif sosial dan kebermaknaan hidup remaja
Pagaralam. Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
11(21). https://doi.org/10.20885/psikologika.vol11.iss21.art5
Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu
lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.
Bastaman, H. D. (1996). Meraih hidup bermakna kisah pribadi dengan
pengalaman tragis. Paramadina.
Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi “psikologi untuk menemukan makna
hidup dan meraih hidup bermakna” (Budiyono (ed.)). PT. Raja
Grafindo Persada.
Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku
berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan
lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression
di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.
Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).
Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan
kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling : Theory and Application, 7(1).
Firman. (2018). Pendekatan konseling sebaya tepat guna untuk generasi
milenial dalam perubahan sosial budaya. 1.
Frankl, V. (2003). Man’s search for meaning: an introduction to
logotherapy edisi terjemahan. Kreasi Wacana.
Ghozali, M. (2019). Hubungan konsep diri dan self sontrol dengan
kebermaknaan hidup. Indonesian Psychological Research, 01(01),
11–24.
Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.
Page 126
Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).
Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan
pada remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks Teknik
Sipil, 838–843.
Hasan, R. (2018). KESADARAN HUKUM BERLALU LINTAS PADA PESERTA
DIDIK KELAS XI SMK NEGERI 2 KOTA TERNATE. 1, 41–46.
Hidayat, T., Yani, A., & Barata, J. . (2005). Buku petunjuk tata cara berlalu
lintas (Highway Code) di Indonesia. Direktorat Jendral Perhubungan
Darat, Departemen Perhubungan.
Isnaningtyas, T. (2013). PROSES PENCARIAN KEBERMAKNAAN HIDUP
PADA.
Izadi, G. gholib. (2019). Strategi meningkatkan ketertiban berlalu lintas
pada kalangan pelajar remaja. In Universitas lampung (Vol. 53, Issue
9). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Jayanti, N. (2019). Konseling Logoterapi Dalam Penetapan Tujuan Hidup
Remaja Broken home. Jurnal Konseli, 06(1), 75–82.
Marsaid. Hidayat, M. A. (2013). Faktor yang berhubungan dengan
kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor di
wilayah polres kabupaten Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan.
Mazaya, K., & Supradewi, R. (2011). Konsep diri dan kebermaknaan
hidup pada remaja di panti asuhan. Jurnal Proyeksi, 6(2), 103–112.
Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang
membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang (
Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal
Teknologi, 7(1), 101–110.
Mirzawati, N. (n.d.). Kebermaknaan Hidup pada ODHA (Orang dengan
HIV AIDS) Wanita di Bukittinggi. 113–125.
Muryatma, N. M. (2017). Hubungan antara faktor keselamatan
berkendara dengan perilaku keselamatan berkendara. Jurnal
Promkes, 5(2), 155–166.
Primadoni. (2019). Kapolda sumbar sebutkan pelanggaran lalu lintas
didominasi generasi millenial. Covesia Archipelago.
Page 127
Rakhman, M. Y. N. (2016). Reproduksi Pelanggaran Peraturan Lalu Lintas
yang Dilakukakan oleh Pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota
Surakarta.
Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal
Sociodev, 2(1), 1–7.
Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik
remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas
motor sulut king community (SKC) Manado. 24.
Rice, F. P. (2001). The adolescent: development, relationship, and
culture. A Pearson Education Company.
Rosanti, A., & Fuad, F. (2015). Budaya hukum balap liar di Ibukota. Lex
Jurnalica, 12(1), 65–78.
Rudi, A. (2017). Kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia
tertinggi di dunia. In Kompas.com.
Rusly Effendi, & Lolo, P. A. (1989). Asas-asas hukum pidana. Lembaga
Percetakan dan Penerbit Umi.
Sadono, S. (2015). BUDAYA TERTIB BERLALU-LINTAS Kajian Fenomenologis
atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI.
Ilmu Komunikasi Dan Bisnis, 01, 58–70.
Sahabudin, Wartatmo, H., & Kuschitawati, S. (2011). Pengendara sebagai
faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas sepeda motor tahun
2010. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, 27(2), 94–100.
Setyarini, Riris & Atamimi, N. (2011). Self-esteem dan makna hidup pada
pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Jurnal Psikologi, 38(2), 176–184.
Sitihang, N., Yusuf, A. M., & Daharnis. (2013). Pengaruh layanan
bimbingan kelompok terhadap pencapaian tugas perkembangan
remaja awal dalam aspek kemandirian emosional ( Studi
eksperimen di SMP Frater Padang ). Jurnal Konselor, 2(4), 1–7.
Suari, A. A. S., & Hizkia, D. (2014). Kebermaknaan Hidup pada Anak
Pidana di Bali. 1(2), 322–334.
Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, M. B. (2017). Kenakalan remaja dan
penanganannya. Jurnal Penelitian Dan PPM, 4, 129–389.
Page 128
Sumato. (2006). Kajian psikologis kebermaknaan hidup. Buletin Psikologi,
14(2), 115–135.
Surya, D. H. (2017a). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
berkenderaan di sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Akasara Public, 1, 30–46.
Surya, D. H. (2017b). Tinjauan kriminologi terhadap prilaku menyimpang
di kalangan remaja ( studi kasus pelanggaran kelengkapan
Berkenderaan di Sekolah menengah kejuruan negeri pertanian
terpadu Provinsi Riau ). Jurnal Askara Public, 1(1), 30–46.
Susanto, L., Dutto, D., Sn, S., Si, M., Sylvia, M., Sn, S., Studi, P., Komunikasi,
D., Seni, F., & Petra, U. K. (n.d.). Perancangan Kampanye Sosial
Modifikasi Baju Seragam SMA saat Kelulusan. 1–12.
Thaha, H., & Rustan, E. (2017). Orientasi religiusitas dan efikasi diri dalam
hubungannya dengan kebermaknaan pendidikan agama islam
pada mahasiswa IAIN Palopo. Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat,
13(2), 163–179.
Tua, P. M. (2014). Penegakan hukum terhadap penyelenggara jalan
yang rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di wilayah
hukum kepolisian resor kota Pekanbaru. Jurnal JOM Fakultas Hukum,
I(2), 1–15.
Umi Enggarsasi, N. K. S. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan
kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.
Utomo, H. R. P., & Meiyuntari, T. (2015). Kebermaknaan hidup, kestabilan
emosi dan depresi. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 4(03), 274–
287.
Page 129