The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by karyadosen, 2024-01-28 18:43:23

Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama

Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama

44 Ni Nyoman Karmini masing tokoh. Artinya, sebelumnya telah dilakukan identifikasi perwatakan tokoh dengan menggunakan prinsip pengulangan dan pengumpulan seperti dijelaskan di atas. Dalam hal ini, tidak perlu memperbandingkan semua data kedirian tokoh, melainkan terbatas pada hal-hal yang mengandung unsur kemiripan dan pertentangan yang merupakan ciri-ciri menonjol. Data kedirian tokoh yang diperbandingkan dapat disajikan dalam bentuk tabel. Namun, perlu diingat bahwa pertentangan tokoh dalam sifat tertentu, tidaklah berada dalam pengertian ekstrem, positif dan negatif, seperti sifat sumarah, pasrah, sentimentalis, dan lain-lain. Biasanya, pertentangan itu lebih merupakan sesuatu yang menunjukkan kadar, gradasi, atau intensitas, sehingga tokoh yang satu bisa dikatakan lebih intensif dibandingkan tokoh yang lainnya dalam pemilikan sikap tertentu atau dalam hal menyikapi ciri tertentu. Oleh karena itu, jika mempergunakan alat penskalaan sikap, pembuatan alat (observasi) pertentangan itu haruslah yang menunjukkan tingkatantingkatan intensitas. Masing-masing tingkatan itu dapat diberi skor (jadi, mirip dengan skala Likert), misalnya dengan skor 5  1 yang menunjukkan kutub yang paling intensif ke yang sebaliknya, atau 1  5 jika pertentangannya dibalik. Misalnya, mempertentangkan Sri dengan Tun perihal ciri sumarah dan kesukaan pada tembang Jawa, dapat dibuat skala sikap yang wujudnya sebagai berikut. (1) sangat sumarah  sumarah  agak sumarah  kurang sumarah  sama sekali tidak sumarah. (2) sangat suka dan sangat menjiwai  suka dan menjiwai  agak suka dan agak menjiwai  tidak suka dan tidak menjiwai  sama sekali tidak suka dan tidak menjiwai. 2.3.2 Tema 2.3.2.1 Hakikat Tema Pembaca cerita (novel) tidak semata-mata mencari dan menikmati kehebatan cerita. Pembaca biasanya segera dihadapkan pada pertanyaan: apa yang sebenarnya ingin diungkapkan pengarang lewat ceritanya? atau makna apakah yang dikandung sebuah novel di balik cerita yang disajikannya? Hal-hal yang dipertanyakan itu tidak diungkapkan secara eksplisit sehingga memerlukan suatu penafsiran. Mempertanyakan makna sebuah karya sastra, sebenarnya berarti mempertanyakan tema sebuah karya sastra. Sebenarnya setiap karya sastra mempunyai tema. Namun, untuk menentukan tema sebuah karya sastra tidaklah mudah. Tema berbeda dengan topik. Topik berarti pokok pembicaraan. Stanton (1965:88) dan Kenny (1966:20) menyatakan tema adalah


45 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Stanton (1965:21) menyatakan juga bahwa tema dapat bersinonim dengan ide utama (central idea) dan tujuan utama (central purpose). Menurut Hartoko dan Rahmanto (1986:142), tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaanpersamaan atau perbedaan-perbedaan. Dan, Karmini (2000:18) menyatakan tema adalah gagasan sentral yang menjadi dasar tolak penyusunan karangan dan yang sekaligus menjadi sasaran/tujuan karangan itu. Yang menjadi unsur gagasan sentral (tema) adalah topik dan tujuan. Untuk dapat menetapkan tema sebuah karya sastra dengan tepat tentulah disimpulkan dari keseluruhan cerita, yakni dengan memahami ceritanya, mencari kejelasan ide-ide, perwatakan, peristiwa-peristiwa-konflik, dan latar (Nurgiyantoro, 1995:85). Tema biasanya dibawakan oleh tokoh utama cerita. Oleh karena itu, tema dapat dipertanyakan kepada tokoh utama cerita (Karmini, 2008:253). Namun, perlu diketahui bahwa ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel), yang dapat dianggap sebagai tema-tema tambahan. Lalu, bagaimana caranya menentukan tema utamanya? Untuk menentukan tema sebuah cerita haruslah dengan membaca keseluruhan cerita secara langsung. Dalam pembacaan novel harus ditemukan kejelasan tentang tokoh dan penokohannya/ perwatakannya, situasi dan alur ceritanya. Dapat pula dilakukan dengan bertanya: apakah motivasi tokoh?, apakah problemanya?, bagaimana perwatakannya? bagaimana sikap dan pandangannya terhadap permasalahan itu? apa (dan bagaimana cara) yang dipikir, dirasa dan dilakukannya? dan bagaimana keputusan yang diambilnya? Dengan kata lain, tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya sastra bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat “mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwakonflik-situasi tertentu, termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain, karena hal-hal tersebut haruslah bersifat mendukung kejelasan tema yang ingin disampaikan. Tema menjadi dasar pengembangan cerita, maka ia harus bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Menjajaki tema cerita sangat tepat dilakukan dengan menyusuri konflik sentral, karena konflik sentral akan menjurus kepada sesuatu yang hendak dicari. Namun, perlu juga diingat bahwa mencari tema pada karyakarya nonkonvensional dengan konsep seperti itu, mungkin tidak akan menekan pada muaranya, sebab tema fiksi nonkonvensional terbentang luas di belakang/di balik apa yang tersurat dan dapat


46 Ni Nyoman Karmini ditafsirkan menurut keterampilan masing-masing. Berkaitan dengan uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa dalam tema tercakup persoalan dan tujuan atau amanat pengarang kepada pembaca. Dapat pula dikatakan tema adalah dasar cerita. Dasar cerita ini ditentukan sebelumnya oleh pengarang guna mengembangkan ceritanya. Ceritanya harus setia mengikuti dasar cerita yang ditetapkan sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik, seperti penokohan, pelataran, penyudutpandangan diusahakan mencerminkan dasar cerita. Namun, dalam pengembangan cerita bisa saja melempas dari kerangka pikiran semula, karena ide-ide cerita dapat berkembang sesuai “kemauannya” sendiri. Hal ini dapat diartikan bahwa dasar utama cerita sekaligus berarti tujuan utama cerita. Untuk memperjelas masalah tema, diberikan contoh dari sebuah novel Salah Asuhan karya Abdul Muis (Nurgiyantoro, 1995:67). Ada banyak makna yang dapat disarikan dari novel itu. Makna yang dimaksud hanya untuk menyebut yang terpenting saja, yaitu (1) masalah kawin paksaHanafi dipaksa kawin dengan Rafiah oleh ibunya, dengan alasan semacam “balas jasa” karena ayah Rafiah telah membiayai sekolah Hanafi, di samping keduanya masih sepupu; (2) masalah penolakan “payung” (kebangsaan) sendiriHanafi lebih suka menjadi warga bangsa (negara) belanda daripada tetap sebagai warga bangsa Indonesia karena hal itu dianggapnya lebih bergengsi dan mencerminkan status sosial; (3) masalah perkawinan antarbangsa, perkawinan campuran antara Barat dan TimurHanafi kawin dengan Corrie de Busye, setelah sebelumnya menceraikan Rafiah, dan hal itu (ditambah dengan makna kedua) menyebabkan mereka tersisih sehingga memicu munculnya banyak masalah atau konflik; (4) kesalahan mendidik anak dapat berakibat fatalHanafi oleh ibunya disekolahkan secara Barat, maksudnya agar lebih maju. Namun ternyata ia menjadi bersikap sombong, kebarat-baratan, bahkan lebih bersikap kebarat-baratan daripada orang Barat sendiri, dan amat memandang rendah bangsa sendiri. Lalu makna yang manakah memiliki kriteria tertentu yang dapat dianggap sebagai makna pokok atau tema pokok novel Salah Asuhan itu? Berikut ini juga diberikan contoh yang diambil dari sastra tradisional Bali Geguritan Dreman. Ada beberapa makna yang dapat disarikan dari geguritan itu. Makna yang dimaksud hanya untuk menyebut yang terpenting saja, yaitu (1) kebahagiaan perkawinanI Suanggadarmi (istri pertama) dan I Wijasantun (istri kedua) menikah dengan I Jatiraga (suami) atas dasar cinta; (2) poligamiI Jatiraga (suami) mempunyai istri dua orang, yaitu I Suanggadarmi (istri


47 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama pertama) dan I Wijasantun (istri kedua). Dalam kehidupan berpoligami, tentu sulit mewujudkan keadilan dalam banyak hal; (3) perkawinan sebuah pengabdianI Suanggadarmi (istri pertama) tetap mengabdi kepada suaminya walaupun ia sering difitnah oleh I Wijasantun (istri kedua) dan suaminya lebih cenderung menyayangi I Wijasantun, sebab bagi I Suanggadarmi sebagai seorang istri yang sah dinikahi secara agama, ia tetap setia atas janji sebuah pernikahan sampai tiba saatnya meninggalkan dunia fana; (4) kesabaran, kesetiaan disertai iman kuat akhirnya memperoleh kebahagiaanI Suanggadarmi yang setia terhadap janji sebuah pernikahan tetap mengabdi kepada suaminya, walau sering difitnah, sering diperlakukan tidak baik oleh I Wijasantun (madunya), ia tetap menyayangi dan menganggap I Wijasantun sebagai adik. Setelah madu dan suaminya meninggal, roh mereka disiksa di neraka. I Suanggadarmi pun akhirnya meninggal, dan karena perilaku baiknya selama hidup di dunia, ia mendapat tempat di sorga. Akan tetapi, sebelum ia menempati sorga, atas permohonannya kepada Hyang Indra ia mendapat izin untuk menolong suaminya (I Jatiraga) dari neraka dan bersamasama menempati sorga. Lalu makna yang manakah memiliki kriteria tertentu yang dapat dianggap sebagai makna pokok atau tema pokok Geguritan Dreman? Untuk menentukan makna pokok sebuah karya sastra (novel), sangat perlu menoleh kembali pada pengertian makna pokok atau tema itu sendiri. Untuk menentukan tema sebuah karya fiksi, haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, bukan hanya dari bagian-bagian cerita. Tema sebagai makna pokok sebuah karya fiksi tidak secara sengaja disembunyikan, melainkan justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita, maka dari itu dengan sendirinya tema “tersembunyi” di balik cerita yang mendukungnya. Sebagai sebuah makna, tema tidak dilukiskan secara langsung atau khusus. Eksistensi dan kehadiran tema terimplisit dan merasuki keseluruhan cerita. Itu sebabnya tema tidak dilukiskan secara langsung, dan itu pula salah satu penyebab tema tidak mudah ditafsirkan. Syarat untuk dapat menafsirkan tema adalah pemahaman terhadap keseluruhan cerita. Akan tetapi, ada kalanya ada kalimat-kalimat alinea-alinea, atau percakapan tertentu yang dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengandung tema pokok. Berdasarkan uraian di atas, yakni makna utama merasuki keseluruhan cerita, maka manakah yang dapat dikatakan sebagai tema pokok dari tema-tema yang terdapat dalam novel Salah Asuhan? Apakah makna pertama tentang kawin paksa seperti yang


48 Ni Nyoman Karmini dikatakan secara umum tentang tema karya-karya Balai Pustaka? Tampaknya bukan sebab makna itu hanya sebagian kecil dari makna keseluruhan peristiwa dalam cerita yang panjang. Apakah makna kedua tentang penolakan kebangsaan sendiri merupakan tema pokok? Tampaknya juga bukan, sebab hal itu hanya muncul dalam kaitannya dengan persyaratan pelaksanaan perkawinan antara Timur-Barat dan masih banyak makna lain yang tidak tersiratkan. Apakah makna ketiga tentang perkawinan Timur-Barat merupakan tema pokok? Masalah ini walaupun memicu timbulnya berbagai peristiwa-konflik, tampaknya juga bukan merupakan tema pokok/ utama, sebab masih ada makna-makna lain yang tidak tercakup di dalamnyatermasuk masalah kawin paksa, yang tidak seperti umumnya novel pada waktu itu, tidak menimbulkan sikap antipati pembaca, dan bahkan sebaliknya. Makna yang keempat tentang kesalahan mendidik anak. Tema ini kiranya memiliki kemungkinan terbesar untuk dinyatakan sebagai tema utama. Hal itu disebabkan oleh berbagai peristiwa-konflik berawal dan disebabkan sikap Hanafi yang kebarat-baratan dan memandang rendah bangsa sendiri. Karena sikapnya inilah, ia memperlakukan Rapiah dan ibunya sebagai budak, rela mencampakkan “payung”nyasuatu hal yang dianggap kurang baik saat itukarena dikonotasikan sebagai lambang kekolotan, demi cintanya kepada gadis Indo, Corrie, yang dianggap dapat mengangkat martabat dirinya setingkat dengan bangsa Eropa yang dikonotasikan sebagai lambang kemodernan. Lalu manakah yang dapat dikatakan sebagai tema pokok dari tema-tema yang terdapat dalam Geguritan Dreman? Apakah makna pertama tentang kebahagiaan perkawinan? Tampaknya bukan sebab makna itu hanya sebagian kecil dari makna keseluruhan peristiwa dalam cerita yang panjang. Apakah makna kedua tentang poligami? Tampaknya juga bukan, sebab masalah itu hanya muncul dalam kaitannya sebagai pelancar jalan cerita dan sebagai pemicu timbulnya berbagai peristiwa-konflik. Oleh karena itu, tampaknya juga bukan merupakan tema pokok/utama. Apakah makna ketiga tentang perkawinan sebuah pengabdian? Tampaknya juga bukan, sebab dalam sebuah ikatan perkawinan memang diperlukan sebuah pengabdian, baik pengabdian terhadap sebuah janji pernikahan, terhadap suami atau istri, maupun terhadap keluarga. Pengabdian diperlukan untuk sebuah kebahagiaan hidup dalam berumah tangga. Akan tetapi, masalah ini mungkin merupakan salah satu jalan mengarah ke tema pokok tetapi belum merupakan tema pokok. Kalau begitu, apakah makna keempat tentang kesabaran, kesetiaan disertai iman kuat akhirnya memperoleh kebahagiaan? Tampaknya


49 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama tema ini memiliki kemungkinan terbesar menjadi tema pokok/tema utama. Hal itu disebabkan oleh berbagai peristiwa-konflik berawal dan disebabkan oleh sikap I Suanggadarmi yang selalu sabar, selalu setia (dalam arti luas) serta disertai iman yang kuat. Ia selalu bisa bersabar menghadapi segala perilaku buruk madunya terhadap dirinya, selalu setia melayani kebutuhan suaminya walau suaminya lebih menyayangi madunya, serta imannya tidak pernah tergoyahkan walau cobaan apapun yang menimpa dirinya. Ia punya keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk suatu kebaikan demi pahala baik untuk kehidupan yang akan datang. Dan, pada akhir cerita dilukiskan bahwa pahala baik dimaksud diperoleh oleh I Suanggadarmi, yakni ia memperoleh tempat di sorga setelah ia meninggal, sedangkan madunya (I Wijasantun) disiksa di neraka. Peristiwa yang dialami sang tokoh sejalan dengan pernyataan “perbuatan baik berpahala baik, perbuatan buruk berpahala buruk atau tidak baik”. Dan apa yang dialami sang tokoh berkaitan dengan hukum karma phala, yang merupakan salah satu bagian dari lima keyakinan dalam ajaran Hindu yang disebut panca çrada (Karmini, 2008:257). 2.3.2.2 Kategori tema Tema dapat dikategorikan ke dalam beberapa kategori. Dalam tulisan ini, kategori tema yang dibahas hanyalah kategori yang berdasarkan dikhotomis, yaitu tema tradisional dan nontradisional; serta kategori tema berdasarkan tingkat keutamaannya, yaitu ada tema utama dan tema tambahan. 1) Tema Tradisional dan nontradisional Tema tradisional dimaksudkan adalah tema yang telah lama digunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Pernyataan-pernyataan tema yang bersifat tradisional, misalnya berbunyi: (1) kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan; (2) tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga; (3) tindak kebenaran atau kejahatan akan memetik hasilnya; (4) cinta sejati menuntut pengorbanan; (5) kawan sejati adalah di masa duka; (6) setelah menderita, baru teringat Tuhan; (7) berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; dan lain-lain. Walau banyak variasinya, tema tradisional selalu ada kaitannya dengan masalah kebenaran dan kejahatan (Meredith & Fitzgerald, 1972:66 dalam Nurgiyantoro, 1995:78). Tema tradisional adalah tema yang universal dan digemari oleh orang-orang dari berbagai kalangan, di mana pun, dan kapan


50 Ni Nyoman Karmini pun. Hal itu terlihat misalnya pada cerita Ramayana, Mahabharata, yang amat digemari sejak dahulu; dalam cerita Melayu lama, seperti hikayat-hikayat; serta dalam novel kesastraan awal kebangkitan sastra Indonesia modern, seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Pilih; demikian juga karya-karya novel berikutnya, seperti Harimau! Harimau!, Maut dan Cinta, Perjanjian dengan Maut, dan sebagainya. Tema ini juga tercermin dalam sastra zaman Yunani klasik, seperti Oedipus sang Raja; Oedipus di Kolonus; dan Antigon (ketiganya karya Sophocles); juga tercermin dalam karya Shakespeare, seperti Hamlet; Romeo and Juliet; Madame Bovary karya Gustave Flaubert; Uncle’s Tom Cabin karya Harriet Betcher Stowe, dan lain-lain. Selain tema tradisional, ada pula karya sastra bertemakan nontradisional. Tema karya ini mungkin saja tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan mungkin mengesalkan, mengecewakan, dan yang sejenisnya. Pembaca fiksi, pada umumnya berharap bahwa yang baik, yang jujur, yang bercinta atau semua tokoh protagonis pada akhirnya mengalami kemenangan, kejayaan. Sebaliknya, tokoh jahat atau tokoh antagonis pada akhirnya mendapat imbalan yang sesuai. Jika yang terjadi adalah sebaliknya misalnya yang baik dikalahkan, yang jahat menang, maka pembaca mungkin akan “menggugat” walau hanya secara afeksi, padahal dalam realitas kehidupan mungkin sekali hal itu terjadi, misalnya seorang koruptor selamat dari hukuman; penyalahgunaan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil; penggusuran rakyat kecil seenaknya, dan lain-lain. Pelaku atau otak pelaku kesewenangwenangan itu tetap saja berjaya, sementara rakyat kecil tetap sebagai kelompok yang dikalahkan dan jarang ada seorang hero yang membantunya. Sebagai contoh tema karya sastra yang melawan arus adalah “kejujuran menyebabkan kehancuran” tercermin dalam novel Kemelut Hidup karya Ramadhan K.H. Tokoh Abdulrahman adalah seorang pejabat kepala kantor, seorang yang jujur, disiplin, anti korupsi, dan lain-lain yang sejenis dengan yang serba baik, justru tidak disenangi oleh anak buahnya sendiri. Keluarganya pun berantakan (anaknya jadi pelacur dan istrinya menyeleweng), yang secara langsung atau pun tidak langsung disebabkan oleh kejujuran sang tokoh yang tak mau korupsi walau kesempatan itu ada, dan walau kondisi ekonomi keluarga sangat memprihatinkan. Barangkali, pembaca (yang idealis) mengharapkan tokoh Abdulrahman akhirnya hidup senang dan berkecukupan, sebagai “imbalan” atas sifat-sifat baiknya, tetapi hal itu tidak terjadi, bahkan kehidupannya semakin terlunta-lunta sejak


51 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama pensiun. Bukankah hal seperti ini cermin keadaan yang sebenarnya di dunia nyata dan banyak ditemukan di masyarakat? 2) Tema Utama dan Tema Tambahan Sebuah novel kemungkinan memiliki tema lebih dari satu atau lebih dari satu interpretasi. Hal ini menyebabkan sulit menentukan tema pokok cerita atau tema mayor (makna pokok cerita yang menjadi dasar cerita). Menentukan tema pokok pada hakikatnya merupakan aktivitas memilih, mempertimbangkan, dan menilai, di antara sejumlah makna yang ditafsirkan ada dalam karya sastra bersangkutan. Makna pokok cerita ada pada sebagian besar cerita bukan pada bagian-bagian tertentu dari cerita. Makna cerita pada bagian tertentu dapat dikatakan sebagai makna bagian atau makna tambahan. Maknamakna tambahan inilah yang disebut sebagai tema tambahan atau tema minor. Tema tambahan ini merupakan tema yang mendukung dan mempertegas eksistensi makna utama sebuah cerita. Atau, tema utama merangkum berbagai makna tambahan dalam sebuah cerita. 2.3.2.3 Cara Menafsirkan Tema Untuk dapat menentukan tema pokok haruslah dilakukan penafsiran berdasarkan fakta-fakta yang ada yang secara keseluruhan membangun sebuah cerita. Dapat dimulai dengan memahami cerita, mencari kejelasan ide perwatakan, peristiwa-peristiwa-konflik, dan latar. Tokoh utama biasanya dibebani tugas. Oleh karena itu, perlu memahami keadaan ini. Selain cara itu, disertai pula dengan menemukan konflik sentral yang ada dalam cerita, sebab konflik berhubungan erat dengan tema. Tentang hal ini dapat dimulai dengan mempertanyakan: masalah apakah yang dihadapi sang tokoh utama? Siapa saja yang terlibat dalam masalah itu? Berkaitan dengan cara menentukan dan menafsirkan tema sebuah novel, Stanton (1965:22-23) mengemukakan sejumlah kriteria (dalam Nurgiyantoro, 1995:87). Pertama, untuk menafsirkan tema hendaknya mempertimbangkan tiap detail cerita yang menonjol, sebab pada umumnya pada detail-detail itulah ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang. Kedua, menafsirkan tema hendaknya tidak bertentangan dengan tiap detail cerita. Hal ini harus dilakukan, sebab novel merupakan wadah pengungkapan keyakinan, kebenaran, ide, gagasan, sikap dan pandangan hidup sang pengarang, dan hal itu semua sebagai sesuatu yang ingin disampaikannya. Ketiga, menafsirkan tema hendaknya tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak dinyatakan dalam novel, baik secara langsung maupun


52 Ni Nyoman Karmini tidak langsung. Tema tidak dapat didasarkan suatu perkiraan, sesuatu yang dibayangkan ada dalam cerita, atau informasi lain yang kurang dapat dipercaya. Keempat, penafsiran tema haruslah mendasarkan diri pada bukti-bukti yang secara langsung ada (berupa kata-kata yang ada dalam novel) maupun tidak langsung atau yang disarankan dalam cerita (“hanya” berupa penafsiran terhadap kata-kata yang ada). 2.3.3 Plot/Alur 2.3.3.1 Hakikat Plot Plot merupakan unsur penting bahkan ada yang menganggap unsur terpenting di antara berbagai unsur fiksi. Masalah linearitas struktur penyajian peristiwa dalam karya fiksi banyak dijadikan objek kajian. Hal ini cukup beralasan sebab kejelasan plot, kejelasan kaitan antarperistiwa mempermudah permahaman terhadap cerita yang ditampilkan. Kejelasan plot berarti kejelasan cerita, kesederhanaan plot berarti kemudahan cerita untuk dimengerti. Sebaliknya, plot yang kompleks, ruwet, dan sulit dikenali hubungan kausalitasnya menyebabkan cerita sulit dipahami. Plot sering disamakan dengan jalan cerita. Sebenarnya hal itu kurang tepat. Plot memang mengandung jalan cerita, tetapi plot tidak sama dengan jalan cerita, sebab dalam plot ada hubungan sebabakibat. Perhatikan contoh berikut ini. Beberapa orang dosen yang mengajar pagi jam pertama sudah seringkali menyindir, bahkan ada yang lebih dari sekedar itu, Nita yang terlalu sering datang terlambat. Jika diinterval dengan waktu, keterlambatannya berkisar antara 5 sampai 30 menit. Herannya, Nita sendiri seperti tak acuh. Maka, tak jarang dosen yang rajin mempertimbangkan faktor nonakademis akan mempertimbangkan sekali lagi kelulusannya. Hari Senin yang lalu pun ia terlambat hampir 25 menit. Ternyata hal itu telah diduga oleh sang dosen yang jatahnya mengajar jam 7.00 untuk kelasnya. Karena, pada malam harinya, menjelang tengah malam, suatu hal yang lain dari biasanya, sang dosen yang keluar rumah mencari angin segar, melihat Nita berjalan rapat dan nyaris menggelendot dengan seorang pria di seberang jalan. Pemandangan seperti itu, dengan tokoh yang sama, bukan barang baru baginya (Nurgiyantoro, 1995:111-112). Berkaitan dengan itu, Forster (1927) menyatakan plot adalah peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Stanton (1965) menyatakan plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Kenny (1966) menyatakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan


53 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat. Karmini (2000:18) juga menyatakan alur atau plot adalah rangkaian kejadian atau peristiwa dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Berdasarkan pengertian plot seperti itu, maka peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam fiksi haruslah diolah dan disiasati secara kreatif sehingga menjadi sesuatu yang indah dan menarik. Kegiatan ini bagi pengarang disebut kegiatan pengembangan plot atau pemplotan atau pengaluran. Kegiatan ini meliputi kegiatan memilih peristiwa yang akan diceritakan dan kegiatan menata peristiwa ke dalam struktur-linear fiksi. Hal inilah yang menjadi objek pembicaraan dalam naratologi. Menurut Abrams (1981:61), naratologi membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan wacana naratif, bagaimana menyiasati peristiwa-peristiwa cerita ke dalam sebuah bentuk yang bernama plot. Abrams membedakan antara cerita dengan plot. Menurutnya, plot sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, sebagaimana terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu. Penyajian peristiwa-peristiwa itu atau penyajian aksi-aksi (actions) tokoh, baik verbal maupun non verbal dalam sebuah karya bersifat linear. Akan tetapi, antara peristiwa yang dikemukakan sebelumnya atau sesudahnya belum tentu berhubungan langsung secara logis-bersebab-akibat. Pengolahan struktur cerita, penataan peristiwa-peristiwa selalu dalam kaitannya dengan pencarian efekefek tertentu. Misalnya, untuk menjaga suspense cerita, untuk mencari efek kejutan, atau kompleksitas struktur. Struktur karya naratif yang kompleks memiliki hubungan yang saling mengait antarberbagai peristiwa dan tokoh, namun tidak diceritakan secara eksplisit, biasanya menawarkan lebih banyak kemungkinan dan karenanya lebih menantang, dan inilah antara lain “tugas” para penelaah untuk menjelaskan fungsi dan efek pemilihan struktur tersebut ke dalam alur pemikiran atau pemahaman yang lebih sederhana (dalam Nurgiyantoro, 1995:113-114). Peristiwa-peristiwa cerita dan atau plot dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku yang ditampilkan dalam cerita tak lain dari perbuatan dan tingkah laku para tokoh, baik bersifat verbal maupun fisik, baik bersifat fisik maupun batin. Plot merupakan cerminan, bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Akan tetapi, tidak semua tingkah laku kehidupan manusia


54 Ni Nyoman Karmini boleh disebut plot. Kejadian, tingkah laku atau perbuatan kehidupan manusia bersifat plot jika bersifat khas, mengandung unsur konflik, saling berkaitan dan yang terpenting adalah menarik untuk diceritakan dan bersifat dramatik. Plot bersifat misterius dan intelektual menurut Foster (1970). Plot menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Hal inilah yang mendorong pembaca untuk mengetahui kejadian-kejadian berikutnya. Akan tetapi cara menampilkannya tentu disiasati, misalnya dengan hanya dituturkan sedikit demi sedikit, sengaja “memisahkan” peristiwa-peristiwa yang berhubungan logis-langsung atau menunda (menyem-bunyikan) pembeberan sesuatu yang menjadi kunci permasalahan. Hal seperti inilah disebut misterius oleh Foster. Oleh karena plot bersifat misterius, maka untuk memahaminya diperlukan kemampuan intelektual. Intelektual diperlukan sebab ada plot yang berstruktur ruwet dan kompleks. 2.3.3.2 Peristiwa, Konflik, Klimaks Peristiwa, konflik, klimaks merupakan tiga unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah plot cerita. Eksistensi, kualitas dan kemenarikan plot ditentukan oleh ketiga unsur tersebut. Oleh karena itu, berikut ini dibahas lebih rinci mengenai ketiga unsur dimaksud. 1) Peristiwa Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg, 1992:150). Dalam pengembangan plot diperlukan peristiwa-peristiwa. Peristiwa dapat dibedakan jenisnya, yaitu peristiwa fungsional, peristiwa kaitan, dan peristiwa acuan (Luxemburg, 1992:151-152). Peristiwa fungsional adalah peristiwa yang menentukan atau mempengaruhi perkembangan plot. Urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi. Peristiwa fungsional harus ada dalam cerita dan peristiwa fungsional diketahui setelah adanya gambaran keseluruhan cerita. Peristiwa kaitan adalah peristiwa yang mengaitkan peristiwa-peristiwa fungsional. Peristiwa kaitan kurang mempengaruhi perkembangan plot. Artinya, walau peristiwa ini ditiadakan, pembaca masih dapat memahami inti cerita secara keseluruhan. Peristiwa kaitan dapat juga disebut peristiwa selingan yang fungsinya dapat mengendorkan ketegangan pembaca. Dan, peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh terhadap perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain. Misalnya, berhubungan


55 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama dengan perwatakan atau suasana yang melingkupi batin sang tokoh. Dalam hal ini bukan alur atau peristiwa penting yang diceritakan melainkan dilukiskan bagaimana suasana alam dan batin sang tokoh. Misalnya, muncul berbagai peristiwa tertentu dalam batin sang tokoh yang akan mengalami kejadian tertentu. Peristiwa acuan kadangkadang memberi isyarat tentang sesuatu yang akan terjadi. 2) Konflik Konflik merupakan unsur esensial dalam pengembangan plot. Pengembangan plot dipengaruhi oleh wujud dan isi konflik. Konflik berkaitan erat dengan peristiwa dan dapat saling menyebabkan terjadinya sesuatu. Konflik pada hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk peristiwa dalam cerita dapat berupa peristiwa fisik atau peristiwa batin. Oleh karena itu, bentuk konflik dapat dibedakan menjadi konflik fisik dan konflik batin, konflik eksternal dan konflik internal (Stanton, 1965:16 dalam Nurgiyantoro, 1995:124). Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam, mungkin dengan lingkungan manusia. Dengan demikian, konflik eksternal dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu konflik fisik (physical conflict) dan konflik sosial (social conflict). Konflik fisik (physical conflict) disebut juga konflik elemental, yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya, konflik atau permasalahan yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir besar, kemarau panjang, gunung meletus, dan sebagainya. Konflik sosial (social conflict) adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia atau akibat adanya hubungan antarmanusia. Misalnya, masalah perburuhan, percekcokan, peperangan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya. Sebaliknya, konflik internal (konflik kejiwaan) adalah konflik yang terjadi dalam diri seorang tokoh. Misalnya, pertentangan dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, dan sebagainya. Namun, di sini ditegaskan bahwa kedua konflik tersebut saling berkaitan, saling menyebabkan terjadinya sesuatu, dan dapat pula terjadi bersamaan. Artinya, konflik-konflik itu dapat sekaligus terjadi dan dialami oleh seorang tokoh cerita dalam waktu bersamaan, walau tingkat intensitasnya mungkin tidak sama. Tingkat kompleksitas konflik yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi, dalam banyak hal, menentukan kualitas, intensitas, dan kemenarikan karya itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa menulis cerita pada dasarnya adalah membangun dan atau mengembangkan konflik. Konflik


56 Ni Nyoman Karmini itu dapat ditemukan, dicari, diimajinasikan, dan dikembangkan berdasarkan konflik yang dapat ditemui di dunia nyata. Konflik internal dan eksternal yang terdapat dalam sebuah karya fiksi, wujud dan tingkat kefungsiannya bermacam-macam. Konflik-konflik itu dapat berfungsi sebagai konflik utama dan dapat pula sebagai sub-subkonflik (konflik-konflik tambahan). Konflik utama atau konflik sentral merupakan inti plot, inti struktur cerita, yang sekaligus merupakan pusat pengembangan plot karya yang bersangkutan. Sebaliknya, tiap konflik tambahan harus bersifat mendukung. Oleh karena itu, disebut pula konflik pendukung. Konflik pendukung mempertegas kehadiran dan eksistensi konflik utama, konflik sentral (central conflict), dan dengan sendirinya dapat berupa konflik internal dan konflik eksternal atau keduanya sekaligus. Konflik utama, mungkin berupa “pertentangan” antara kesetiaan dengan pengkhianatan, cinta kekasih dengan cinta tanah air atau cinta yang lainnya, kejujuran dengan keculasan, perjuangan tanpa pamrih dengan penuh pamrih, kebaikan dengan kejahatan, keberanian dengan ketakutan, kesucian moral dengan kebejatan moral, perasaan religiusitas dengan tidak religiusitas, peperangan dengan cinta perdamaian, dan sebagainya. Konflik utama berkaitan erat dengan makna yang ingin disampaikan pengarang (tema utama cerita). Usaha menemukan dan memahami konflik utama sebuah cerita sangat membantu untuk menemukan dan memahami makna yang dikandungnya. Konflik utama internal pada umumnya dialami oleh tokoh utama cerita (tokoh protagonis). Hal itu dapat ditemukan pada karya-karya yang bersudut pandang orang pertama (gaya aku), misalnya pada sastra modern (novel): Di Bawah Lindungan Kakbah (HAMKA), Pada Sebuah Kapal (Nh.Dini), Atheis (Akhdiat Kartamiharja); Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis) pada sastra tradisional Bali (geguritan): Diah Sawitri (Wayan Djapa), I Dreman (tokoh I Suanggadarmi), Damayanti (Wayan Djapa), dan lain-lainnya. Konflik utama eksternal juga dialami dan disebabkan oleh adanya pertentangan antartokoh utama (tokoh protagonis dengan tokoh antagonis). Pertentangan dan berbagai konflik inilah yang membawa cerita sampai ke klimaks. Sebuah karya dikatakan berkonflik utama internal maupun eksternal, sebenarnya dilihat dari konflik yang mendominasi, sedangkan pada kenyataannya keduanya pasti akan sama-sama muncul dalam sebuah cerita. Misalnya, tokoh Guru Isa dalam Jalan Tak Ada Ujung. Guru Isa mengalami trauma “rasa takut”. Ini berarti ia lebih merasakan konflik internal daripada konflik eksternal. Rasa takutnya


57 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama menyebabkan ia menjadi impoten. Dan memang intensitasnya ditingkatkan lagi oleh adanya konflik eksternal, yakni istrinya (Fatimah) mengambil anak angkat, atau saat mengetahui secara langsung istrinya selingkuh dengan Hazil, seorang pemuda pejuang yang sekaligus temannya. Ketika Guru Isa berdamai dengan rasa takutnya, rasa takut dan impotennya hilang. Hal itu juga disebabkan oleh adanya konflik eksternal, yakni ketika Guru Isa disiksa oleh penjajah karena ia tidak mau mengaku/membocorkan keberadaan para pejuang. Konflik eksternal dimaksud direaksi secara internal oleh Guru Isa. Di pihak lain, Hazil lebih mengalami konflik eksternal karena kejadian dan konflik yang dialaminya lebih banyak berkaitan dengan kekerasan, perjuangan melawan penjajah. Demikian juga hubungannya dengan Fatimah, yakni munculnya hubungan cinta di antara keduanya sehingga terjadi cinta segi tiga. Perasaan berdosa atau berkhianat kepada kawan (Guru Isa) tidak begitu dirasakannya. Hal itu dianggapnya biasa apalagi pada zaman perang sehingga tidak menimbulkan konflik batin pada Hazil sebagaimana dialami oleh Guru Isa. 3) Klimaks Konflik dan klimaks merupakan hal yang amat penting dalam struktur plot dan keduanya merupakan unsur utama plot pada karya fiksi. Konflik demi konflik, baik internal maupun eksternal, jika telah mencapai titik puncak menyebabkan terjadinya klimaks. Dengan demikian, ada kaitan erat dan logis antara konflik dan klimaks. Klimaks terjadi jika ada konflik. Namun, tidak semua konflik harus mencapai klimaks sebab tidak semua konflik harus mempunyai penyelesaian. Hal itu terjadi karena harus dilihat konflik itu merupakan konflik utama atau konflik tambahan (sebuah konflik yang disebabkan oleh tokoh tambahan). Sebuah konflik akan menjadi klimaks atau tidak, diselesaikan atau tidak, dipengaruhi oleh sikap, kemauan, dan tujuan pokok pengarang dalam membangun konflik sesuai dengan tuntutan dan koherensi cerita. Klimaks adalah saat konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi dan saat itu tidak dapat dihindari kejadiannya. Artinya, berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita, peristiwa dan saat itu memang harus terjadi. Klimaks sangat menentukan perkembangan plot dan merupakan titik pertemuan antara dua hal yang dipertentangkan dan menentukan permasalahan (konflik itu) akan diselesaikan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa dalam klimaks “nasib” tokoh utama (protagonis dan antagonis) ditentukan. Klimak memang sulit ditentukan. Dalam sebuah cerita


58 Ni Nyoman Karmini mungkin terdapat lebih dari satu klimaks, bergantung pada “jumlah” konflik yang dibangun. Oleh karena itu, kemungkinan konflik-konflik pendukung juga memiliki potensi untuk sampai ke klimaks. Hal ini berbeda dengan cerpen yang hanya menampilkan satu konflik utama. Namun, perlu diketahui bahwa klimaks (utama) pada sebuah cerita terdapat pada konflik utama dan hal itu diperankan oleh tokoh utama cerita. Berdasarkan uraian di atas coba pertimbangkan klimaks novel Jalan Tak Ada Ujung (tentu harus membaca terlebih dahulu karyanya). Pertama, apakah pada saat Guru Isa membaca surat kabar yang memberitakan bahwa para pelempar geranat tertangkap sehingga ia jatuh pingsan; atau kedua, pada saat ia disiksa oleh polisi militer; atau ketiga, justru pada saat ia menyadari kesembuhan impotennya? Ketiga peristiwa itu sangat mempengaruhi konflik dalam diri Guru Isa dan pengembangan plot cerita. Peristiwa pertama menyebabkan Guru Isa merasa damai dengan rasa takutnya, hilang rasa takutnya. Peristiwa kedua menyebabkan keberaniannya muncul (impotennya sembuh), dan peristiwa ketiga erat kaitannya dengan peristiwa kedua yang menyebabkan Guru Isa kehilangan rasa takut dan impotennya yang menyebabkan ia berani menatap hari esok dengan penuh harapan. Di mana pula letak klimaks novel Pada Sebuah Kapal? Pertama, apakah saat Sri mendengar bahwa kekasihnya Saputro meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat terbang; atau saat Sri selingkuh dengan Michel, seorang kapten kapal yang ditumpanginya, yang ternyata dicintai dan mencintainya, yang secara kebetulan mempunyai latar belakang kehidupan rumah tangga yang sama dengan Sri; ataukah saat peristiwa yang lain? Di mana pula letaknya klimaks Geguritan I Dreman? Apakah saat keributan terjadi karena dipicu perilaku buruk I Wijasantun (istri kedua) terhadap I Suanggadarmi (istri pertama); atau saat keributan semakin sering terjadi dengan I Suanggadarmi bahkan juga dengan I Jatiraga (suami) akibat perilaku buruk I Wijasantun; ataukah saat para tokoh utama (protagonis dan antagonis) meninggal, roh I Wijasantun dan I Jatiraga disiksa di neraka dan roh I Suanggadarmi berubah menjadi sangat cantik dan dijemput oleh para bidadari diajak ke sorga (Meru Emas)? Di mana pula letak klimaks Geguritan Diah Sawitri? Apakah saat sayembara Sawitri tidak ada yang menghadiri, yang kemudian Sawitri harus mencari calon suaminya sendiri dan ternyata calon suaminya hanya berusia masih setahun lagi; atau setelah menikah, Sawitri selalu mengingat hari kematian suaminya (Satyawan); atau


59 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama setelah Satyawan meninggal, Sawitri selalu berusaha mengikuti perjalanan Hyang Yama yang membawa roh suaminya dengan disertai ucapan-ucapan arif bijaksana sesuai ajaran sastra (baca agama); atau saat anugerah-anugerah Hyang Yama kepada Sawitri semuanya terwujud? Menentukan klimaks tentu memerlukan berbagai pertimbangan, kejelian, dan kekritisan dalam membaca karya bersangkutan. Penentuan sebuah klimaks cerita, sama seperti aspek-aspek yang lainnya, orang dapat saja berbeda pendapat. 2.3.3.3 Kaidah Pemplotan Novel merupakan karya sastra bersifat imajiner dan kreatif. Sifat kreativitas itu, antara lain dapat dilihat dari kebebasan pengarang untuk mengemukakan/ menciptakan: cerita, peristiwa, konflik, tokoh, dan lain-lain yang termasuk ke dalam aspek “material” fiksi, dengan teknik dan gaya yang paling disukai. Adanya unsur kreativitas inilah pengarang dimungkinan menciptakan karya baru, asli yang belum pernah dikemukakan sebelumnya. Adanya kebaruan dan keaslian menyangkut apa yang ingin dikemukakan dan bagaimana cara mengemukakannya, bagi struktural dipandang sebagai kriteria yang penting untuk menilai keberhasilan karya bersangkutan. Masalah kreativitas, kebaruan, keaslian dapat juga menyangkut masalah pengembangan plot. Pengarang memiliki kebebasan dalam memilih untuk mengembangkan plot, membangun konflik, menyiasati peristiwa, dan sebagainya dengan selera estetisnya, karena pengarang tidak mau “menjiplak” apalagi menciptakan “stereotip”. Jika hal ini terjadi, berarti pengarang kehilangan dirinya sendiri. Dalam karya yang tergolong konvensional, kebebasan itu bukannya tanpa “aturan”. Ada semacam aturan, ketentuan, atau kaidah pengembangan plot (the laws of plot) yang perlu dipertimbangkan. Akan tetapi, aturan itu bukan “harga mati”, sebab penyimpangan terhadap sesuatu yang mengkonvensi merupakan sesuatu yang wajar, bahkan dapat dikatakan perubahan itu merupakan sesuatu yang esensial dalam karya inkonvensional. Kaidah-kaidah pemplotan, meliputi: masalah plausibilitas (Plausibility), adanya rasa ingin tahu (suspense), adanya unsur kejutan (surprise), dan adanya kepaduan (unity) (Kenny, 1966:19-22; Nurgiyantoro, 1995:130). 1) Plausibilitas Plausibilitas menyaran pada suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Plot harus memiliki sifat plausibel, dapat dipercaya oleh pembaca yang juga merupakan hal yang esensial pada


60 Ni Nyoman Karmini karya fiksi, khususnya karya konvensional. Masalah yang muncul, bagaimanakah sebuah karya yang dikatakan memiliki plausibilitas? Plausibilitas mungkin dikaitkan dengan realitas kehidupan, sesuatu yang ada dan terjadi di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah cerita mencerminkan realitas kehidupan, sesuai atau tidak bertentangan dengan sifat-sifat dalam kehidupan faktual, atau dapat dikatakan dapat diterima secara faktual (tentu saja hal itu dengan menggunakan kriteria realitas). Pengertian realitas ini menyaran pada sesuatu yang kompleks, mungkin realitas faktual, mungkin realitas imajiner, dan mungkin pula perpaduan antara keduanya. Kejadian yang hanya bersifat realitas imajiner dapat menjadi “tidak masuk akal” jika semata-mata diukur dengan kriteria realitas faktual. Padahal, yang perlu diingat adalah bahwa karya sastra berinti-hakikat karya yang bersifat kreatif-imajiner. Artinya, unsur kreativitas dan imajiner itu justru menduduki posisi yang diutamakan. Sebuah karya sastra dikatakan memiliki sifat plausibel jika para tokoh cerita, dunia tokoh, serta peristiwa-peristiwa yang dikemukakan mungkin saja dapat terjadi (Stanton, 1965:13). Untuk itu, sebuah cerita haruslah memiliki sifat konsisten, karena sifat ini merupakan suatu yang esensial dalam cerita. Tokoh-tokoh cerita harus ditampilkan secara konsisten sehingga mudah diimajinasikan, jika tokoh yang ditampilkan tidak konsisten dalam penyifatan dan penyikapannya akan sulit diimajinasikan. Misalnya: tindakan, tingkah laku tokoh sesuai dengan cara berpikir dan bersikap, sesuai dengan kepribadian dan motivasinya. Tokoh seperti ini adalah tokoh yang konsisten sehingga akan mudah diimajinasikan, dan ini berarti bersifat plausibel. Jika terjadi perubahan pada diri sang tokoh, perubahan itu haruslah dapat dipertanggungjawabkan dari hubungan sebab akibat. Berkaitan dengan masalah plausibilitas, yang dipersoalkan bukan pertanyaan ini: “Apakah seseorang mempunyai tingkah laku seperti yang dilakukan oleh tokoh cerita?, melainkan pertanyaan “Apakah seseorang dalam situasi tertentu akan bertindak seperti yang dilakukan oleh tokoh cerita itu? Atau “Apakah jika seseorang berada dalam persoalan dan situasi seperti yang dialami tokoh cerita akan bertindak seperti yang dilakukan sang tokoh itu? Sebuah cerita dikatakan memiliki plausibilitas jika memiliki kebenaran untuk dirinya sendiri. Artinya, sesuai dengan tuntutan cerita dan tidak bersifat meragukan. Plausibilitas cerita tidak berarti cerita harus merupakan tiruan dari realitas belaka, melainkan lebih disebabkan ia memiliki koherensi pengalaman kehidupan. Pengalaman kehidupan akan tampak koheren jika saling berkaitan. Padahal dalam realitas kehidupan, sering ditemukan berbagai pengalaman baru


61 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama yang mungkin tidak berkaitan satu sama lainnya. Ini berarti bahwa realitas kehidupan yang dialami justru lebih misterius, variatif dan kurang koheren daripada kehidupan yang ada di dunia fiksi. Karya fiksi jika mempertahankan adanya unsur koherensi dan konsistensi, maka karya fiksi tidak mungkin menampilkan berbagai pengalaman dan kejadian yang tidak berkaitan. Namun, para dramawan pada masa Yunani klasik sering menurunkan dewa ke panggung untuk membantu memecahkan persoalan yang di hadapi sang tokoh. Dewa dianggap “orang” yang serba mengetahui, maka apa yang dikatakannya dianggap benar. Dewa penolong itu dalam istilah sastra disebut deux ex machina. Istilah deux ex machina berasal dari bahasa Latin yang berarti a god from machina, yang diindonesiakan sebagai “dewa dari langit” atau “dewa turun dari langit”. Cerita-cerita lama, baik dari Jawa maupun dari Bali, banyak memanfaatkan jasa dewa, seperti Dewa Narada atau Hyang Narada untuk keperluan yang sama. Misalnya dalam cerita Panji, Batara Narada “diturunkan” untuk memberi petunjuk kepada Candra Kirana dalam pengembaraannya mencari kekasihnya, Panji Asmarabangun. Dalam Geguritan Diah Sawitri “diturunkan” Hyang Narada untuk membantu Sawitri mengetahui bahwa suaminya akan mati dalam usia muda atau mati dalam usia setahun perkawinannya, dan “diturunkan” pula Hyang Yama, yang memberi lima anugerah kepada Sawitri (salah satunya suaminya yang telah meninggal dihidupkan kembali dan dianugerahi usia panjang) akibat keberhasilan Sawitri melakukan satya dan patibrata yang menyebabkan kehidupannya dan keturunannya mencapai kehidupan yang damai dan sejahtera. Dan satu contoh lagi dari Geguritan Damayanti. Dalam keputusasaannya, Damayanti hendak memilih mati karena dalam pengembaraannya dia tidak segera menemukan suaminya (Prabu Nala), maka “diturunkan” beberapa orang-orang suci yang memberitahu Damayanti bahwa ia akan bertemu lagi dengan suaminya. Pemberitahuan ini memberi kekuatan kepada Damayanti untuk melanjutkan pengembaraannya untuk mencari suaminya. Dewasa ini, deux ex machina digunakan dalam pengertian sebagai penggunaan cara-cara yang tampak dipaksakan sehingga kurang masuk akal, rendah kadar plausibilitasnya. Ia dipergunakan pengarang yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan plot ceritanya (Abrams, 1981:41). Jika ada peristiwa ditampilkan begitu saja tanpa ada kaitannya dengan peristiwa yang lainnya atau tanpa ada latar yang memperkuatnya akan menjadi kurang koheren, kurang berkait secara logis, kurang kadar plausibilitasnya, maka dapat dikatakan mengandung unsur deux ex machina. Misalnya,


62 Ni Nyoman Karmini peristiwa Hanafi digigit anjing gila dalam Salah Asuhan. Hal ini dapat dianggap kurang berkaitan dengan peristiwa yang lain, kurang logis, dan mengandung unsur deux ex machina. Peristiwa ini sematamata ditampilkan untuk mempertemukan Hanafi dengan Corrie de Busye di Jakarta. Peristiwa itu dikatakan kurang logis, kurang kuat karena tidak disertai peristiwa atau informasi yang memperkuat atau sebagai latarnya. Andaikata kejadian itu disertai keadaan latar yang kuat, misalnya dengan menceritakan bahwa di kota Padang sedang berjangkit penyakit gila anjing, atau sering ada anjing gila berkeliaran, maka kejadian yang menimpa Hanafi tentulah logis dan karenanya bersifat plausibel. 2) Suspense Cerita yang baik dan menarik adalah cerita yang mampu membangkitkan suspense, membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Suspense merupakan hal yang esensial dalam plot. Suspense menyara pada adanya harapan yang belum pasti pada pembaca terhadapa akhir sebuah cerita (Kenny, 1966:21), atau suspense menyaran pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang diberi simpati oleh pembaca (Abrams, 1981:138). Suspense tidak sematamata berurusan dengan perasaan ketidaktahuan pembaca terhadap kelanjutan cerita, melainkan lebih dari itu, yaitu adanya kesadaran diri yang seolah-olah terlibat di dalam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan dialami tokoh cerita. Unsur Suspense akan mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca untuk setia mengikuti cerita, mencari jawab rasa ingin tahu terhadap kelanjutan dan akhir cerita. Suspense yang mampu menarik, memotivasi, dan mengikat pembaca untuk mengikuti kelanjutan ceritanya, itu disebabkan oleh adanya foreshadowing. Foreshadowing merupakan penampilan peristiwa tertentu yang bersifat mendahului, namun ditampilkan secara tidak langsung dengan peristiwa yang akan dikemukakan kemudian. Foreshadowing dapat dipandang semacam pertanda akan terjadinya peristiwa atau konflik yang lebih besar atau lebih serius. Pertanda, pembayangan atau barangkali semacam isyarat atau semacam firasat itu, dalam cerita tradisional sering berupa mimpi-mimpi tertentu, kejadian-kejadian tertentu, atau tanda-tanda tertentu yang dipandang orang (dari kelompok tertentu) sebagai suatu isyarat, firasat tentang bakal terjadi suatu bencana. Misalnya, dalam novel Sitti Nurbaya. Nurbaya mengalami mimpi menjelang perpisahannya dengan Samsul Bahri yang akan pergi ke Jakarta


63 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama untuk melanjutkan sekolah. Mimpi itu merupakan isyarat akan terjadi bencana di antara keduanya, dan belakangan bencana itu terjadi. Dalam cerita tradisional Bali, yakni dalam Geguritan JayapranaLayonsari juga ada isyarat seperti itu. Sebelum Jayaprana dibunuh, Layonsari bermimpi rumahnya dilanda banjir besar (belabar agung) dan kemudian mimpinya terjadi yakni suaminya dibunuh oleh Patih Saunggaling atas perintah Raja. Foreshadowing yang berupa isyarat atau tanda-tanda atau kejadian semacam itu juga terjadi dalam Geguritan Damayanti. Isyarat dimaksud terjadi pada saat akan sembahyang, Prabu Nala lupa membasuh kakinya. Pada saat itulah Hyang Kali berkesempatan merasuki tubuhnya, yang telah ditunggutunggunya selama 12 tahun. Dan Hyang Kali mengendalikan Prabu Nala sehingga terjadilah bencana besar, sampai Nala kehilangan kerajaan dan keluarganya cerai berai akibat judi. Demikianlah, sebagaimana dikatakan oleh Forster (dalam Nurgiyantoro, 1995:135) bahwa plot bersifat misterius. Kejadian penting tidak dikemukakan sekaligus di awal cerita atau dalam sebuah satuan cerita. konflik disampaikan sedikit demi sedikit yang intensitasnya semakin meningkat. Hal ini merupakan suatu cara untuk mempertahankan suspense cerita. 3) Surprise Plot yang menarik harus memberikan Surprise, kejutan, sesuatu yang bersifat mengejutkan. Plot dikatakan memberikan kejutan apabila yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca (Abrams, 1981:138). Dengan demikian, dikatakan Surprise jika dalam karya fiksi itu terdapat suatu penyimpangan, pelanggaran atau pertentangan antara apa yang ditampilkan dalam cerita dengan apa yang telah menjadi “kebiasaan” dalam berkarya. Dengan kata lain, sesuatu yang telah mentradisi, yang telah mengkonvensi dalam penulisan karya fiksi, disimpangi, atau dilanggar dalam penulisan karya fiksi itu. Sesuatu yang bersifat bertentangan itu dapat menyangkut berbagai aspek pembangun karya fiksi. Misalnya sesuatu yang diceritakan, peristiwa-peristiwa, penokohan, cara berpikir-berasadan-bereaksi para tokoh cerita, cara pengucapan, gaya bahasa, dan sebagainya. Novel Belenggu (Armyn Pane) misalnya. Bagi pembaca pada awal penerbitannya, novel tersebut benar-benar mengejutkan karena sifat kontradiktifnya, menelanjangi kehidupan rumah tangga tokoh terpandang, berbau porno, tidak mendidik, menampilkan tokoh terpandang yang tak pantas diteladani, ditambah


64 Ni Nyoman Karmini lagi cara pengucapannya yang lain daripada cara-cara sebelumnya atau ceritanya meloncat-loncat tak jelas (yang belakangan dikenal menganut aliran stream of consciousness, yang kesemuanya menyulitkan dan sekaligus mengejutkan pembaca yang belum siap menerima karya yang seavant garde (karya perintis/pelopor) itu. Pendek kata, Belenggu tampil dengan sama sekali melanggar harapan pembaca yang masih terkondisi oleh aturan. 4) Kesatupaduan Plot sebuah karya fiksi, harus memiliki sifat kesatupaduan, keutuhan, unity. Kesatupaduan menyaran pada pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik, atau seluruh pengalaman kehidupan yang hendak dikomunikasikan, memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Ada benang merah yang menghubungkannya sehingga terasa ada satu kesatuan yang utuh dan padu. Plot memiliki struktur peristiwa yang utuh, oleh karena itu disebut pula an artistic whole (Abrams, 1981:138). 2.3.3.4 Tahap-tahap Plot Secara teoretis, plot dapat dikembangkan ke dalam tahap-tahap tertentu secara kronologis. Namun, dalam prakteknya atau langkah “operasionalnya”, pengarang tidak selamanya tunduk pada teori itu. Secara teoretis-kronologis tahap-tahap pengembangan struktur plot menurut Aristoteles terdiri atas tahap awal (beginning), tahap tengah (midle), dan tahap akhir (end) (Abrams, 1981:138). Tahap awal disebut sebagai tahap pengenalan, yang berisi sejumlah informasi penting berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan dalam tahap-tahap berikutnya. Misalnya, berupa penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama tempat, suasana alam, waktu kejadian, dan lain-lain, yang pada dasarnya berupa pengenalan setting. Selain itu, tahap juga digunakan untuk meperkenalkan tokoh cerita, mungkin berwujud deskripsi fisik bahkan juga disinggung perwatakannya. Fungsi pokok tahap awal adalah memberikan informasi dan penjelasan seperlunya berkaitan dengan latar dan penokohan. Tahap tengah disebut juga tahap pertikaian, menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat, semakin menegangkan. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal (konflik yang terjadi dalam diri seorang tokoh), dan konflik eksternal (konflik antartokoh, antara tokoh protagonis dengan tokoh antagonis, dan


65 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama dengan kekuatan antagonis (antagonistic force), atau keduanya sekaligus. Kiranya perlu ditambahkan di sini, bahwa kekuatan antagonis (antagonistic force) adalah berupa penyebab konflik yang tidak dilakukan oleh seorang tokoh (Altenbernd dan Lewis, 1966:59; Nurgiyantoro, 1995:179; Karmini, 2008:235). Pada tahap tengah ini pula ditampilkan konflik (utama) yang telah mencapai titik intensitas tertinggi. Pada bagain ini merupakan bagian terpanjang dan terpenting dari sebuah karya fiksi, sebab bagian ini merupakan bagian inti cerita. Pada bagian ini, tokoh memainkan perannya, peristiwa penting diceritakan, konflik berkembang semakin meruncing, menegangkan, dan mencapai klimaks, dan di sini pula tema pokok cerita diungkapkan. Tahap akhir disebut juga sebagai tahap peleraian, menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Bagian ini berisi bagaimana kesudahan sebuah cerita. Aristoteles (dalam Nurgiyantoro, 1995:146) menyatakan bahwa penyelesaian cerita dibedakan ke dalam dua macam kemungkinan, yaitu kebahagiaan (happy end) dan kesedihan (sad end). Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan atau dengan kesedihan. Masih ada cerita yang sudah diakhiri, namun berupa penyelesaian yang belum selesai. Misalnya, apakah Belenggu berakhir dengan kebahagiaan? Akan tetapi, bukankah Tono ditinggalkan oleh istrinya dan teman wanitanya?, Apakah Belenggu berakhir dengan kesedihan? Akan tetapi, bukankah Tono terbebas dari belenggu jiwanya dan bertekad berkompensasi secara aktif? Berkaitan dengan itu, Nurgiyantoro (1995:148) mengemukakan dua kategori penyelesaian cerita, yaitu penyelesaian tertutup dan penyelesaian terbuka. Penyelesaian tertutup menunjuk pada keadaan akhir sebuah cerita yang memang sudah selesai, sesuai tuntutan logika cerita. Dan, sesuai logika cerita itu pula para tokoh cerita telah menerima “nasib” sesuai peran yang disandangnya. Penyelesaian cerita telah ditentukan secara pasti oleh si pengarang. Misalnya, tokoh utama cerita dimatikan semua, seperti dalam novel Sitti Nurbaya, Di Bawah Lindungan Kakbah, Tenggelamnya Kapal van Der Wicjk. Penyelesaian terbuka menunjuk pada akhir cerita yang masih menggantung, yang sebenarnya masih belum berakhir sebab sesuai logika cerita, cerita masih potensial untuk dilanjutkan, konflik belum sepenuhnya diselesaikan, dan tokoh cerita belum ditentukan “nasibnya” sesuai peran yang disandangnya. di sini pembaca diberi kesempatan untuk “turut” memikirkan, mengimajinasikan, dan mengkreasikan penyelesaiannya. Pembaca diberi kebebasan untuk mengisi “ruang kosong” itu sesuai pemahamannya. Pembagian plot di atas didasarkan pada urutan kelompok


66 Ni Nyoman Karmini kejadian/peristiwa. Untuk menambah wawasan, kiranya sangat perlu dikutipkan pembagian plot menurut S.Tasrif (Mochtar Lubis, 1978:10; Karmini, 2000:19). Tasrif menyatakan setiap cerita dapat dibagi menjadi lima bagian. (1) Situation, yaitu pengarang mulai melukiskan suatu keadaan, berisi pelukisan dan pengenalan siatuasi latar dan tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lainnya terutama berfungsi untuk meladastumpui cerita. (2) Generating circumstances, yaitu peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak, peristiwa yang menyulut konflik mulai dimunculkan. (3) Rising action, yaitu keadaan atau kejadian mulai memuncak, konflik yang muncul semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya sehingga semakin mencekam dan menegangkan serta semakin tidak dapat dihindari. (4) Climax, yaitu peristiwa/kejadian mencapai puncak. (5) Denoument, yaitu pengarang memberikan pemecahan permasalahan dari semua peristiwa, ketegangan cerita dikendorkan serta cerita diakhiri. Pembagian rangkaian peristiwa di atas, menurut saya cukup memadai, namun tidak menutup kemungkinan yang lain. Tahaptahap pemplotan di atas dapat digambarkan dalam bentuk gambar (diagram). Diagram dimaksud biasanya didasarkan pada urutan kejadian atau konflik secara kronologis. Jadi, diagram itu sebenarnya lebih menggambarkan struktur plot jenis progresif/kronologis. Perhatikan diagram kronologis-teoretis-konvensional di bawah ini. Apakah suatu karya sastra alur/plotnya harus demikian? Tentu saja tidak. Pengarang boleh saja melakukan kreativitasnya Climax Rising Action Generating Circumstances Denoument Situation Awal Tengah Akhir


67 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama sendiri dalam mewujudkan plot ceritanya. Hanya saja, suatu cerita baru dikatakan lengkap bila terdiri atas lima tahapan kejadian atau peristiwa seperti disebutkan di atas. Jika pengerang melukiskan kejadian atau peristiwa seperti tersebut di atas, maka cerita tersebut dikatakan mempunyai alur/plot kronologis/tradisional/ progresif, sedangkan jika pengarang melukiskan kejadian atau peristiwa dari puncak atau klimaks kemudian barulah tahapan lainnya, maka cerita itu dikatakan memiliki alur/plot sorot balik (flash back). Hubungan antara tahapan alur menimbulkan proporsi, artinya terdapat bagian yang satu diceritakan dalam proporsi ang berbeda dengan bagian yang lainnya. Di samping itu, antara tahapan-tahapan itu ada yang dihubungkan dengan ikatan yang kuat dan ada pula yang longgar. Alur yang tahapannya diikat dengan longgar disebut alur longgar, sedangkan yang diikat kuat/erat disebut alur erat. Pada alur erat, biasanya jumlah pelakunya sedikit sehingga lebih sering berhubungan dan membentuk jaringan yang rapat. Namun, dilihat dari fungsinya, alur/plot dapat dibedakan atas: alur utama, yaitu alur yang berisi cerita utama/pokok, dan alur sampingan, yaitu alur yang merupakan bingkai cerita, yakni segala peristiwa kecil yang melingkari peristiwa-peristiwa pokok yang membangun cerita. Sering pula alur sampingan ini berada pada cerita induk. Unsur alur yang penting adalah konflik dan klimaks. Konflik dalam sebuah fiksi terdiri atas konflik internal dan konflik eksternal atau gabungan dari keduanya. Di antara konflik-konflik kecil yang ada dalam cerita terdapat konflik sentral/utama/pokok. Konflik dimaksud dapat berupa konflik-konflik internal atau konflik-konflik eksternal yang sangat mempengaruhi cerita. Klimaks cerita adalah saat-saat konflik menjadi sangat hebat dan jalan ke luar harus ditemukan. Kadang-kdang klimaks utama merupakan kejadian yang mengherankan dan kadang-kadang sukar diidentifikasikan sebab bagian-bagian konflik dalam cerita mempunyai klimaks tersendiri. Suatu kenyataan terjadi bahwa bila konflik sentral muncul dalam beberapa penggalan cerita, boleh jadi menimbulkan kesukaran untuk menemukan klimaks utama. 2.3.4 Latar atau Landas Tumpu atau Setting 2.3.4.1 Pengertian dan Hakikat Latar Latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175), sedangkan Stanton (1965) mengelompokkan latar, tokoh dan plot ke dalam fakta (cerita) sebab ketiganya akan dihadapi dan dapat diimajinasikan oleh para pembaca


68 Ni Nyoman Karmini secara faktual, jika membaca cerita fiksi. Ketiga hal itu secara konkret langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku penderita kejadian-kejadian yang bersebab-akibat, dan itu semua perlu pijakan, di mana, dan kapan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas untuk memberikan kesan realitas kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah “mengoperasikan” daya imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar sehingga merasa lebih akrab dan merasa menemukan sesuatu yang sebenarnya menjadi bagian dirinya. Hal ini akan terjadi jika latar mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan perwatakannya ke dalam cerita. Latar yang menunjuk pada tempat: di kota, di desa, di hotel, jalan, kamar, dan lain-lain, serta latar yang berurusan dengan waktu, seperti tahun, tanggal, siang, malam, bulan purnama, saat gerimis di awal bulan. Latar tempat maupun latar waktu dapat dikategorikan latar fisik (physical setting). Latar yang berkaitan dengan tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat bersangkutan disebut latar spiritual (spiritual setting). Latar fisik dan latar spiritual biasanya hadir bersamaan dalam fiksi Indonesia. Hal ini dapat memperkuat kehadiran, kejelasan, dan kekhususan latar fisik bersangkutan. 2.3.4.2 Latar Netral dan Latar Tipikal Latar netral adalah latar yang tidak mendeskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar. Latar seperti ini tidak bersifat fungsional, tidak terjalin secara komprehensif dengan unsur fiksi. Namun, latar seperti ini tidak berarti melemahkan karya fiksi bersangkutan, sebab mungkin saja pengarang ingin menekankan pada alur atau penokohan. Latar tipikal adalah latar yang menonjolkan sifat khas latar bersangkutan, baik menyangkut tempat, waktu, maupun sosial. Misalnya, dalam Pangakuan Pariyem, dapat dirasakan lingkungan sosial masyarakat Jawa yang dominan, hanya untuk masyarakat Jawa tidak bisa untuk masyarakat yang lainnya. Demikian juga dalam Geguritan Dreman, yang dominan mengungkapkan lingkungan sosial masyarakat Hindu di Bali. Latar tipikal digarap dengan teliti dan hati-hati oleh pengarang supaya pembaca terkesan realistis, terlihat sungguh diangkat dari peristiwa faktual. Latar tipikal sangat meyakinkan dan memberikan kesan


69 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama mendalam kepada pembaca. Biasanya latar muncul pada semua bagian penggalan cerita, dan pembaca tidak begitu memperhatikan karena lebih terpusat pada jalan ceritanya. Kadang-kadang ditemukan bahwa latar banyak mempengaruhi penokohan dan kadang-kadang membentuk tema. Pada banyak novel, latar membentuk suasana emosional tokoh cerita, misalnya cuaca yang ada di lingkungan tokoh memberi pengaruh terhadap perasaan tokoh. Namun, Perlu diketahui dan diingat bahwa pada novel absurd, latar tidak terlalu dihiraukan penulis, bahkan sering sukar diketahui suatu cerita itu di mana dan kapan terjadinya. Tampaknya yang penting adalah kejadian itu terjadi, malah pada beberapa cerpen Putu Wijaya, peristiwanya berlangsung dalam mimpi. 2.3.5 Sudut Pandang (Point of View) atau Pusat Pengisahan Sudut pandang, point of view, viewpoint, merupakan salah satu unsur fiksi, yang menurut Stanton digolongkan sebagai sarana cerita, literary device. Sudut pandang sama maknanya dengan pusat pengisahan, focus of narration. Untuk istilah sudut pandang, Genette (1980:89) menawarkan istilah fokalisasi, focalisation, yang lebih dekat berhubungan dengan pengisahan. Genette menggunakan istilah fokalisasi, focalisation adalah untuk merangkum sekaligus menghindari adanya konotasi-konotasi spesifik istilah-istilah visi, vission (menurut Pouillon dan Todorov), field (menurut Blin) dan sudut pandang, point of view (menurut Lubbock). Visi atau aspek itu sendiri oleh Pouillon dan Todorov dibedakan ke dalam tiga kategori: vission from behind, vission with, dan vission from without, yang masing-masing menyaran pada pengertian narator lebih tahu daripada tokoh, narator sama tahunya dengan tokoh, dan narator kurang tahu dibanding tokoh. Sudut pandang (Lubbock) dan field (Blin) sama artinya dengan vission with. Fokalisasi artinya menyaran pada pengertian adanya hubungan antara unsur-unsur peristiwa dengan visi yang disajikan kepada pembaca (Luxemburg, dkk., 1992:131). Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi (Abrams, 1981:142). Dengan demikian, pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang dalam sebuah fiksi mempermasalahkan: siapa yang menceritakan, atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Pemilihan bentuk


70 Ni Nyoman Karmini persona yang digunakan mempengaruhi perkembangan cerita, masalah yang diceritakan, kebebasan dan keterbatasan, ketajaman, ketelitian, dan keobjektifan terhadap hal-hal yang diceritakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sudut pandang merupakan masalah teknis, yaitu teknik yang digunakan pengarang untuk menyampaikan maksudnya atau tujuannya kepada pembaca. Sudut pandang dapat dibedakan secara garis besarnya ke dalam dua macam, yaitu persona pertama, first-person, gaya “aku”, dan persona ketiga, third-person, gaya “dia”. Atau, menurut Brook dan Warren (Karmini, 2000:22), sudut pandang dibedakan dengan sebutan: (1) narator bertindak sebagai tokoh dalam cerita, yang meliputi: sebagai tokoh utama yang menceritakan ceritanya; dan sebagai tokoh minor yang menceritakan kisah tokoh utama; (2) narator bertindak bukan sebagai tokoh dalam cerita, yang meliputi: pengarang sebagai orang ketiga yang mengisahkan cerita dan menyusupi pikiran serta perasaan tokoh utama, dan pengarang dalam menceritakan cerita itu hanya sebagai peninjau saja. Jadi pada dasarnya, pengarang ikut bermain dan tidak ikut bermain dalam cerita. Kedua posisi ini memiliki kekuatan dan kelemahan. Bila pengarang sebagai pemain, sebagai orang pertama, maka keuntungannya adalah pembaca dapat mengenal keseluruhan pengalaman pelaku yang bersangkutan. Di samping itu, pengarang dapat memancing keingintahuan pembaca mengenai cerita dengan jalan menyembunyikan jalan pikiran si tokoh. Sebaliknya, kelemahannya adalah pembaca tidak banyak mengetahui tentang apa yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tempat yang lain. Sebaliknya, bila pengarang sebagai tokoh ketiga dan sebagai narator, maka kelemahannya adalah biasanya pembaca hanya mengenal jalan pikiran tokoh secara terbatas, walaupun tokoh itu tokoh utama. Keuntungannya adalah pembaca biasanya dapat mengetahui jalan pikiran tokoh itu tentang tokoh utama. Jika pengarang sebagai narator, maka keuntungan paling penting adalah ia dapat menjelaskan dan memberikan komentar segala peristiwa secara langsung. Inilah sebabnya pengarang dewasa ini lebih banyak memilih cara ini. Dengan sebagai pengamat atau peninjau mereka dapat menceritakan beberapa tokoh secara serempak. Manakala seorang pengarang berada di luar cerita dan bertindak sebagai pencerita, maka terdapat dua kemungkinan cara pengarang menyampaikan ceritanya, yakni pertama, bertindak subjektif dan kedua, bertindak objektif. Akan tetapi, bila pengarang sebagai orang pertama yang ikut bermain dalam cerita, maka dengan sendirinya ia bertindak secara subjektif. Bertindak subjektif artinya


71 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama secara langsung memberikan pertimbangan atau menginterpretasikan tokoh-tokoh cerita. Bertindak objektif artinya pengarang tidak banyak mengomentari buah pikiran dan perasaan tokoh-tokoh cerita, melainkan memperlihatkan tingkah laku dan tindak tanduk tokoh-tokoh. Pikiran dan perasaan tokoh dapat diketahui dari dialog-dialog tokoh-tokoh itu sendiri. Jadi, dalam fiksi yang bersifat objektif, pengarang lebih bersifat mempelihatkan (show) daripada menceritakan (tell). Sebagai contoh, misalnya ada pembajakan pesawat terbang yang dilakukan oleh beberapa orang dengan motivasi politik. Para penumpang dan seluruh awak pesawat dijadikan sandera. Para persona yang terlibat dalam peristiwa itu antara lain: penumpang, pilot dan awak pesawat, pembajak, polisi antiteroris, pihak pemerintah, dan bahkan orang luar. Bila hal itu diceritakan, bagaimana wujud ceritanya, bagaimana pelukisan tingkah laku dan perasaan tokoh, bagaimana keobjektifannya, bagaimana kadar keterbatasan dan ketakterbatasannya, akan bergantung dari persona mana, sudut pandang siapa, cerita itu ditulis. Jika sudut pandang cerita diungkap dari sudut penumpang, artinya narator sebagai penumpang. Cerita mungkin saja menonjolkan perasaan mereka sebagai sandera. Mereka membenci pembajak, namun takut berbuat, sangat mengharapkan pertolongan polisi antiteroris, atau bahkan mengharapkan pemerintah memenuhi tuntutan pembajak. Penumpang tidak bebas bergerak, maka mereka pun tidak banyak tahu hal-hal dan kejadian di luar pesawat. Oleh karena itu deskripsi tentang hal itu pasti tidak teliti. Mereka lebih banyak tahu hal-hal dalam pesawat, sikap dan tingkah laku pembajak, maka deskripsi tentang hal itu tentu lebih tajam dan teliti daripada jika hal yang sama dilukiskan oleh orang luar. Namun, berhubung penumpang adalah orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa pembajakan itu, sikap dan pandangannya pastilah kurang objektif. Sebaliknya, orang yang di luar pesawat, di pihak lain, akan lebih banyak mengetahui hal-hal yang juga di luar pesawat, misalnya, bagaimana reaksi pemerintah, keluarga penumpang, persiapan petugas keamanan, dan berbagai kesibukan lain. Dengan demikian, jika sudut pandang cerita diangkat dari orang luar, misalnya wartawan, pengetahuan dan deskripsi segala sesuatu yang di luar pesawat tentu lebih rinci dan teliti, yang tidak dapat dilakukan oleh orang yang berada dalam pesawat. Demikian pula halnya jika sudut pandangnya dari pembajak, polisi, atau bahkan orang yang kurang langsung berhubungan. Semua hal itu menuntut aktualisasi masalah yang berkaitan langsung dengan kepentingan masing-masing orang.


72 Ni Nyoman Karmini Namun, biasanya orang yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa itu justru dapat melihat dan menuturkannya secara objektif. 2.3.6 Gaya Bahasa Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra. Sastra dikatakan ingin menyampaikan sesuatu, mendialogkan sesuatu, dan sesuatu tersebut hanya dapat dikomunikasikan lewat sarana bahasa. Bahasa dalam sastra pun mengemban fungsi utamanya, yaitu fungsi komunikatif (Nurgiyantoro, 1995:272). Sastra, khususnya fiksi, sering disebut “dunia dalam kemungkinan”, “dunia dalam kata”. Hal itu disebabkan “dunia” yang diciptakan, dibangun, ditawarkan, diabstraksikan, dan sekaligus ditafsirkan lewat kata-kata, lewat bahasa. Apa yang dikatakan pengarang dan apa penafsiran pembaca, mau tak mau harus bersangkut paut dengan bahasa. Struktur novel dan segala sesuatu yang dikomunikasikan senantiasa dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa pengarang. Untuk memperoleh efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga tampil dengan sosok yang berbeda dengan bahasa nonsastra. Bahasa sastra merupakan sebuah fenomena. Bahasa sastra perlu diakui eksistensinya, keberadaannya, sebab ia menawarkan sebuah fenomena yang lain. Beberapa ciri bahasa sastra, yakni bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra, khususnya bahasa ilmiah, yang rasional dan denotatif. Namun, perlu diingat bahwa bahasa sastra tidak mungkin secara mutlak menyaran pada makna konotatif tanpa melibatkan makna denotatif. Sebaliknya, makna konotatif pun banyak digunakan dalam bahasa yang lain yang tidak tergolong karya kreatif, seperti penggunaan bentuk-bentuk metafora tertentu yang justru dapat memperjelas makna yang dimaksud daripada bahasa yang lugas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam bahasa sastra kadar emosi dan makna konotasilah yang lebih dominan. Hal itu disebabkan oleh adanya tujuan estetik di samping adanya penuturan sesuatu secara tidak langsung. Perlu juga diingat bahwa masih ada ciri yang lain yang berkaitan dengan bahasa sastra, yaitu ciri deotomatisasi. Ciri deotomatisasi (menurut kaum Formalis Rusia) adalah penggunaan bahasa yang menyimpang dari cara penuturan yang otomatis, rutin, biasa, dan wajar. Penuturan dalam sastra selalu diusahakan dengan cara lain, cara baru, cara yang belum pernah dipergunakan orang. Sastra mengutamakan keaslian pengucapan, dan untuk memperoleh cara itu mungkin sampai menggunakan bentuk penyimpangan,


73 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama deviasi (deviation) kebahasaan. Unsur kebaruan dan keaslian merupakan suatu hal yang menentukan nilai sebuah karya sastra. Kaum Formalis menyatakan bahwa penyimpangan dari sesuatu yang wajar itu merupakan proses sastra yang mendasar (Teeuw, 1984:131). Penggunaan bahasa kias merupakan salah satu bentuk penyimpangan (penyimpangan semantik). Akan tetapi, bukan merupakan ciri khas bahasa sastra sebab dalam penuturan nonsastra pun banyak digunakan. Perbedaannya adalah terletak pada penggunaan bahasa kias pada penuturan sehari-hari bertujuan untuk mempercepat pengertian, misalnya terlihat pada penggunaan ungkapan-ungkapan yang telah lazim. Sebaliknya, penggunaan bahasa konotatif itu justru memperlambat pemahaman, berefek mengasingkan karena bentukbentuk yang dipergunakan baru, atau lain dari yang telah biasa (Luxemburg, 1992:6). Penyimpangan dalam bahasa sastra dapat dilihat secara sinkronik, penyimpangan dari bahasa sehari-hari, dan secara diakronik, penyimpangan dari karya sastra sebelumnya. Unsur kebahasaan yang disimpangi dapat bermacam-macam: misalnya penyimpangan makna, leksikal, struktur, dialek, grafologi, dll. Pengarang melakukan penyimpangan kebahasaan tentu untuk memperoleh efek keindahan, di samping mengedepankan, mengaktualkan sesuatu yang dituturkan, sebab dengan cara itu dipandang lebih pas. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa bahasa sastra bersifat dinamis, terbuka terhadap adanya kemungkinan penyimpangan dan pembaharuan, namun tidak mengabaikan fungsi komunikatifnya. Perlu diingat bahwa kebebasan menyimpangi bahasa sastra tentu ada batasnya. Artinya, fungsi komunikatif bahasa hanya akan efektif jika sebuah penuturan masih tunduk dan “memanfaatkan” konvensi bahasa itu. Penyimpangan yang ekstrem berdampak tidak dapat dipahaminya karya sastra bersangkutan. Di samping hal itu, perlu juga diingat bahwa makna dalam sastra memang bukan makna pertama, melainkan lebih bersifat second-order semiotic system (Culler, 1977), lebih menyaran pada makna tingkat kedua. Maksudnya, ia tidak persis sama dengan makna konvensional, melainkan lebih menyaran pada makna intensional, makna tambahan, tetapi tetap mendasarkan pada sistem makna primer, yang konvensional. Perlu diingat pula bahwa yang membedakan karya itu menjadi sastra, fiksi atau puisi dengan yang bukan sastra, adalah konvensi, yaitu konvensi kesastraan, konteks, bahkan harapan pembaca, bukan karena unsur kebahasaannya. Hal itu dinyatakan oleh Pratt (1977) lewat Teeuw (1984:82-83) bahwa masalah kelitereran (literariness) tidak ditentukan oleh ciri khas pemakaian bahasa, melainkan oleh


74 Ni Nyoman Karmini ciri khas situasi pemakaian bahasa tersebut. Organisasi estetik sebuah teks tergantung pada konteks pemakaian, situasi wacana di mana tuturan itu terjadi. Jika hanya dilihat dari segi kebahasaan saja, tampaknya bahasa sastra tidak terlalu berbeda dengan bahasa ceritaalamiah, seperti yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas, tampaknya tidaklah mudah mencirikan bahasa sastra walau kita sendiri mengakui eksistensinya. Pencirian yang dilakukan haruslah mendasarkan diri dan atau mempertimbangkan konteks di samping juga ciri-ciri struktur kebahasaan dan atau gaya bahasa yang terdapat pada karya bersangkutan. Unsur manakah yang paling menentukan? Jawabnya, dari sudut pendekatan mana (objektif atau pragmatik) kita melakukannya. 2.3.6.1 Stile dan Stilistika Stile (gaya bahasa) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakannya. Stile ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan, seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi, dan lain-lain. Stile mengandung makna menyaran pada pengertian cara penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu, dan sebagainya. Stile bermacam-macam sifatnya, tergantung pada konteks di mana dipergunakan, tergantung selera pengarang, dan juga tergantung apa tujuan penuturan itu. Itu sebabnya, ia akan menjadi stile (bahasa) sastra karena memang ditulis dalam konteks kesastraan, ditambah tujuan untuk menonjolkan efek keindahan. Seorang penulis jika menulis dalam konteks yang berbeda, misalnya dalam konteks sastra-fiksi dan makalah ilmiah, mau tidak mau akan menggunakan gaya yang berbeda pula. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa stile pada hakikatnya merupakan teknik, teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Teknik itu sendiri, merupakan suatu bentuk pilihan, dan pilihan itu dapat dilihat pada bentuk ungkapan bahasa, seperti yang digunakan dalam sebuah karya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa stile sebuah karya ditentukan oleh adanya konteks, bentuk, dan tujuan yang pasti. Bentuk ungkapan kebahasaan dalam sebuah novel menawarkan dua macam bentuk eksistensi yang saling berkaitan, yakni sebagai sebuah fiksi dan sebagai sebuah teks, yang menurut pernyataan Lodge berlaku sebagai “pembuat fiksi” (fiction-maker) dan sebagai “pembuat teks” (text-maker). Sebagai pembuat fiksi, berarti pengarang bekerja dengan sarana bahasa (berhubungan dengan bagaimana cara


75 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama (seseorang) mengatakan sesuatu, sedangkan sebagai pembuat teks berarti pengarang bekerja dalam bahasa (berhubungan dengan apa yang akan dikatakan oleh seseorang). Stile merupakan struktur lahir, yakni bentuk performansi kebahasaan seorang pengarang. Stile merupakan pernyataan lahiriah dari sesuatu yang bersifat batiniah. Jika dikaitkan dengan teori kebahasaan Saussure, yaitu yang membedakan antara langue dengan parole, maka stile merupakan bentuk parole. Langue merupakan sistem kaidah yang berlaku dalam suatu bahasa, sedangkan parole merupakan penggunaan dan perwujudan sistem, seleksi terhadap sistem, yang dipergunakan pengarang (penutur) sesuai konteks dan atau situasi. Parole adalah bentuk performansi kebahasaan yang telah melewati proses seleksi dari keseluruhan bentuk kebahasaan. Untuk melakukan pilihan terhadap suatu bentuk performansi kebahasaan, pengarang tentu saja telah memiliki kompetensi terhadap bahasa yang bersangkutan, dan itulah langue. Dengan demikian, stile sama dengan bentuk parole sesuai teori kebahasaan Saussure Langue dan parole-nya Saussure berkesesuaian dengan deep structure (struktur batin) dan surface structure (struktur lahir)-nya teori Chomsky, yang dapat pula identik dengan pembedaan antara unsur isi dan bentuk dalam stile. Struktur lahir adalah wujud bahasa yang kongkret, bentuk perwujudan bahasa, yang dapat diobservasi, sedangkan struktur batin merupakan makna abstrak dari kalimat bersangkutan, merupakan struktur makna yang ingin diungkapkan. Membaca baris-baris kalimat dalam novel berarti berhadapan dengan struktur lahir, dengan bentuk performansi kebahasaan pengarang. Dengan demikian, stile merupakan struktur lahir menurut teori Chomsky. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa stile atau struktur lahir merupakan sebuah teknik, yaitu teknik pengungkapan struktur batin. Struktur batin yang sama dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk struktur lahir, sebab makna bersifat konstan, sedang bentuk dapat bervariasi (Fowler, 1977:11), bergantung pada selera pengarang. Misalnya kalimat: “Isak tangisnya mengiringi ungkapan rasa harunya” “Perasaan harunya diungkapkan lewat isak tangis” “Lewat menangis, ia mengungkapkan rasa harunya” “Ungkapan rasa harunya ditumpahkan lewat tangisannya” Kalimat-kalimat di atas memiliki batin yang sama, walau struktur lahirnya berbeda. Dengan demikian kalimat-kalimat di atas dapat dikatakan memiliki stile yang berbeda.


76 Ni Nyoman Karmini Stile atau wujud performansi kebahasaan dalam sebuah fiksi dihadirkan melalui proses seleksi dari berbagai bentuk linguistik yang berlaku dalam sistem bahasa itu. Dalam hal ini, pengarang memiliki kebebasan yang luas untuk mengekspresikan struktur maknanya ke dalam struktur lahir yang dianggap paling efektif. Pemilihan bentuk struktur lahir bisa sampai pada berbagai bentuk penyimpangan, bahkan mungkin ”distorsi” dari pemakaian bahasa yang wajar. Namun, perlu diketahui bahwa pemilihan wujud struktur lahir yang sesuai dengan selera” tersebut tidak selamanya dilakukan secara sadar oleh pengarang, karena hal itu seolah-olah telah terjadi secara otomatis, seolah-olah telah menjadi bagian dirinya. Fowler (1977:21) menyatakan bentuk-bentuk konstruksi yang dipilihnya, mencerminkan pola pikirnya. Stilistika (stylistics) menyaran pada pengertian studi tentang stile, yaitu studi yang menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya (Leech & Short, 1981:13). Kajian stilistika dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa, wujud performansi kebahasaan, tidak hanya terbatas pada sastra. Namun, biasanya lebih banyak ditujukan kepada sastra sebab stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra (Chapman, 1973:13). Analisis stilistika bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa, bahasa yang digunakan itu memperlihatkan penyimpangan, dan bagaimana pengarang menggunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Chapman, 1973:15). Dengan demikian, stilistika merupakan sebuah metode analisis karya sastra (Abrams, 1981:192). Metode analisis ini akan menjadi penting karena dapat memberikan informasi tentang karakteristik khusus sebuah karya. Tanda-tanda stilistika itu sendiri dapat berupa: fonologi, misalnya pola suara ucapan dan irama; sintaksis, misalnya jenis struktur kalimat; leksikal, misalnya pengguaan kata abstrak atau kongkret, frekuensi penggunaan kata benda, kerja, sifat; dan penggunaan bahasa figuratif, misalnya bentuk-bentuk pemajasan, permainan struktur, pencitraan, dan sebagainya. 2.3.6.2 Stile dan Nada Membaca sebuah novel biasanya akan merasakan sebuah nada (dan suasana) tertentu tersirat dari novel tersebut, khususnya yang disebabkan oleh efek pemilihan ungkapan bahasa. Sebuah novel mungkin menyiratkan nada intim, santai, simpatik, sedangkan yang lain mungkin menampilkan romantis, mengharukan, dan sentimental, atau kasar dan sinis. Pemilihan ungkapan tertentu dalam suasana cerita tertentu akan membangkitkan nada yang tertentu pula.


77 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama Nada (tone), nada pengarang (authorial tone), dalam pengertian yang luas, dapat diartikan sebagai pendirian atau sikap yang diambil pengarang (tersirat, implied author) terhadap pembaca dan terhadap masalah yang dikemukakan. Kenny (1966:57,69) menyatakan bahwa nada merupakan ekspresi sikap, sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan dan terhadap pembaca dan juga menyatakan bahwa stile adalah sarana, sedangkan nada adalah tujuan. Salah satu kontribusi penting dari stile adalah untuk membangkitkan nada. Jika dalam sebuah karya fiksi, pengarang mengekspresikan sikapnya, baik terhadap masalah maupun pembaca, maka pembaca pun dapat pula memberikan reaksi yang sama. Artinya, pembaca dapat menanggapi sikap pengarang yang terekspresikan dalam karya itu dengan sikapnya sendiri. Akan tetapi, dalam “komunikasi rahasia” antara pengarang dan pembaca, biasanya ada keseimbangan antara sikap yang diekspresikan pengarang dengan sikap yang diperoleh pembaca, jika situasi pembaca merupakan cerminan citra pengarang. Keseimbangan tersebut dilukiskan oleh Leech & Short (1981:281) dilukiskan dalam bentuk gambar berikut ini. Pengarang Pembaca (tersirat) (tersirat) Pesan Sikap pengarang yang ditujukan kepada pembaca dan masalah yang diceritakan, mungkin saja berbeda-beda antara novel yang satu dengan novel yang lainnya. Misalnya, terasa intim, santai, tidak formal-formalan, dll. Sikap pengarang terhadap tokoh dan atau tindakan tokoh, mungkin juga berbeda-beda antara novel yang satu dengan novel yang lainnya. Misalnya, Ahmad Tohari tampak mengejek dan menertawakan kebodohan warga Dukuh Paruk dalam serial Ronggeng Dukuh Paruk, sebagai kebodohan langgeng, kemelaratan dan keterbelakangan, sumpah serapah cabul, dll. Ironinya, warga Dukuh Paruk sendiri justru tidak merasakan kenistaan itu, maka jangankan mereka sadar akan kebodohannya, disadarkan pun tidak mungkin mau. Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratan, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit serta sumpah serapah cabul menjadi bagiannya yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit kecil di tengah Dukuh Paruk yang dikelilingi amparan sawah berbatas kaki langit, tak seorang pun penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling kecil sekalipun. Dukuh Paruk yang karena kebodohannya tak pernah menolak nasib yang diberikan alam. (Ronggeng Dukuh Paruk, 1986:125)


78 Ni Nyoman Karmini Pemajasan merupakan tanda-tanda stilistika yang berupa bahasa figuratif yang menjadikan sebuah lukisan hidup, berjiwa, dan indah. Penggunaan bahasa figuratif oleh pengarang merupakan kelebihan seorang pengarang dalam memadu kata dengan kata, memilih kata-kata dan perbandingan-perbandingan yang tepat untuk memberi bentuk keindahan pada lukisan dalam sebuah karya sastra. Bahasa yang digunakan oleh pengarang untuk mencapai keindahan dalam karya sastra adalah penggunaan kata-kata kiasan, sindiran, perbandingan, dan sebagainya yang biasa disebut gaya bahasa. Tiaptiap pengarang berbeda gaya bahasanya. Gaya bahasa pujangga lama berbeda dengan gaya bahasa pujangga baru. Yang sama adalah bahwa gaya bahasa itulah yang menimbulkan keindahan dalam karya sastra. Gaya bahasa pada garis besarnya dapat dibedakan atas: gaya bahasa perbandingan; gaya bahasa sindiran; gaya bahasa penegasan; dan gaya bahasa pertentangan. Gaya bahasa perbandingan, meliputi: (1) metafora (gaya membandingkan satu benda dengan benda lainnya, yang mempunyai sifat yang sama), (2) personifikasi (gaya menghidupkan benda mati), (3) asosiasi (gaya membandingkan dengan benda yang sudah disebutkan), (4) alegori (gaya perbandingan utuh), (5) parabel (gaya yang terkandung dalam keseluruhan cerita, misalnya terkandung pedoman hidup dalam cerita), (6) simbolik (gaya dengan benda-benda sebagai lambang), (7) tropen (gaya yang memakai kata yang tepat dan sejajar maknanya dengan pengertian dimaksud), (8) metonimia (sebuah nama berasosiasi dengan benda untuk mengganti benda yang dimaksudkan), (9) litotes (menggunakan kata yang berlawanan artinya dengan yang dimaksud), (10) sinekdhoke (meliputi pars pro totosebagian untuk seluruh dan totem pro parteseluruh untuk sebagian), (11) eufemisme (ungkapan pelembut), (12) hiperbolisme (ungkapan pengeras sehingga menimbulkan arti hebat), (13) alusio (memakai ungkapan yang sudah lazim), (14) antonomasia (memakai panggilan sesuai cirinya), (15) perifrasis (gaya penguraian). Gaya bahasa sindiran: (1) ironi (menggunakan kata sebaliknya dengan maksud menyindir), (2) sinisme (lebih kasar dari ironi), (3) sarkasme (ungkapan terkasar biasanya dikeluarkan oleh orang marah). Gaya bahasa penegasan: (1) pleonasme (ungkapan yang berlebihan), (2) repetisi (pengulangan untuk menegaskan, biasanya dalam prosa ), (3) paralelisme (pengulangan, biasanya dalam puisi: anafora (pengulangan di awal kalimat) dan epifora (pengulangan


79 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama akhir kalimat), (4) tautologi (mengulang beberapa kata atau bisa dengan sinonimnya), (5) klimaks (ungkapan makin menghebat), (6) antiklimaks (kebalikan klimaks), (7) inversi (mementingkan predikat daripada isi), (8) elipsi (gaya dengan tidak menyebut subjek atau predikatnya sebab tela diketahui), (9) retoris (gaya dengan kalimat tanya tapi tidak bertanya), (10) koreksio (gaya pembetulan kembali), (11) asindeton (menyebut benda berturut-turut tanpa kata penghubung), (12) polisindeton (kebalikan asindeton), (13) interupsi (gaya menggunakan sisipan di tengah kalimat pokok), (14) eksklamio (menggunakan kata seru untuk menegaskan), (15) enumerasio (gaya pelukisan peristiwa satu persatu sehingga tampak keseluruhan), (16) praterito (sesuatu dirahasiakan dan pembaca dibiarkan mengungkapkannya). Gaya bahasa pertentangan: (1) paradoks (seolah-olah ada pertentangan tetapi sebenarnya tidak sebab objek berbeda), (2) antitesa (ungkapan dengan kata yang berlawanan artinya), (3) kontradiksio in terminis (ungkapan yang semula bertentangan tetapi selanjutnya disangkal), (4) anakhronisme (ungkapan yang menunjukkan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan sejarah). Cobalah buat sebuah contoh majas untuk masing-masing gaya bahasa yang telah disebutkan di atas! 2.4 JENIS-JENIS FIKSI Novel dan cerpen merupakan kategori formal fiksi. Tetapi dalam kategori semacam ini dapat pula dibuat kategori lain berdasarkan sudut pandangan tertentu, misalnya dari segi teknik (seperti alegori), dan segi isi (seperti sain fiksi), berdasarkan tema (eksistensialis), atau merupakan kombinasi dari semuanya. Pengkategorian ini penting bagi: (1) mahasiswa, yakni untuk pengkajian Sejarah Sastra; (2) para kritikus sastra, yakni untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kajian mereka, misal dalam membandingkan dua karya sastra akan lebih baik jika yang dibandingkan dua karya yang sama-sama naturalis dibandingkan dengan perbandingan dua karya sastra yang satu naturalis dan yang lainnya romantik; (3) pihak pembaca atau penikmat fiksi, dengan mengetahui kategori akan memberi peluang untuk mengetahui dan menyadari bahwa suatu karya sastra, apapun bentuknya, dibuat dengan suatu cara kerja tertentu dan dengan tujuan tertentu, sehingga mereka dapat memahami dan menyenanginya. Hal ini penting, agar orang tidak mengeluh bahwa ”mangga kok tidak sama rasanya dengan durian”. Pengkategorian ini tidaklah dimaksudkan untuk memberikan suatu pembedaan yang tegas antara satu bentuk dengan bentuk


80 Ni Nyoman Karmini yang lainnya, tetapi setidak-tidaknya hanya untuk memperlihatkan bagaimana suatu kategori mempunyai suatu kaitan dengan yang lain, dan mengapa seorang pengarang memilih menulis yang satu dan bukan yang lain. Misalnya seorang pengarang yang memilih menulis cerita detektif tidak berarti bahwa ia mempunyai pengalaman dalam melakukan berbagai kejahatan atau menyenangi kejahatan, tetapi ia senang menulis cerita detektif karena cerita itu mempunyai bentuk dan daya tarik tersendiri. Cerita detektif berisi serentetan penemuan suatu kunci pemecahan masalah yang secara cermat disusun dari satu bagian ke bagian lainnya, dan setiap bagian itu selalu memancing keingintahuan pembaca. Walaupun cerita kriminal sering menonjolkan kejahatan dan sedikit memperlihatkan moral dan akal sehat, namun, karena peristiwa-peristiwa semacam itu memang ada dan punya kaitan dengan kehidupan, orang senang membacanya. Demikian juga halnya dengan membaca jenis fiksi lainnya seperti novel-novel romantis, realis, eksistensialis, dilakukan karena di dalamnya dapat dilihat berbagai jenis kehidupan dan berbagai jenis pengalaman. Berbagai jenis pengalaman dapat dijumpai dalam berbagai jenis fiksi karena ia dilahirkan atas hasil pengalaman itu pula, baik berupa pengalaman batin maupun lahir. Yang menyangkut pengalaman batin adalah pikiran dan perasaan. Pikiran merupakan sesuatu yang terkendali, lebih tenang, sedangkan perasaan lebih bergejolak, lebih sukar dikontrol, lebih agresif. Pengalaman yang lebih bersifat lahiriah meliputi fenomena fisik atau fakta-fakta yang berhubungan dengan apa yang dilihat, didengar, diraba oleh seseorang; dan tingkah laku yang tidak teramati. Dari fenomena ini yang banyak memberi pengaruh terhadapnya, yakni kekuasaan dan hukum yang melingkupinya, antara lain berupa pengetahuan, ekonomi, politik, moral, dan agama. Perhatikan diagram di bawah ini. Pengalaman Pengalaman batin Pengalaman lahir Emosi dan insting Pikiran Fenomena fisik dan tingkah laku terhadap yang lain yang teramati Kekuasaan dan hukum, emosi dan pikiran terhadap yang lain yang tidak teramati


81 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama Unsur-unsur itu tidak selalu berimbang bagi setiap individu dan juga tidak sama penonjolannya pada waktu-waktu tertentu. Bagi seseorang, emosi lebih berpengaruh dalam mengambil keputusan, sementara orang lain lebih mengutamakan pikiran. Pada suatu ketika seseorang dipengaruhi oleh gejolak emosi yang kuat, pada waktu lain unsur kekuasaan dan hukum lebih diutamakan dalam mengambil keputusan atau tindakan. Pengaruh pengalaman batiniah dan lahiriah ini tercernin pada setiap tindak-tanduk seseorang. Dan bila ia seorang pengarang akan mempengaruhi dan menentukan bentuk karya sastra yang akan dilahirkan. Misalnya: fiksi realistik terlahir dari pengalaman yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat faktual dari tingkah laku manusia, fiksi romantik menggambarkan perjuangan emosi pribadi dan desakan dan luar; naturalis dan proletarian menggambarkan fakta-fakta yang keji yang tidak dapat diterima oleh moral dan akal sehat; fiksi ghotik menggambarkan tentang cerita horor, fakta yang disajikan memancing kengerian dan melahirkan mimpi yang menakutkan. Kategori lain, yakni yang menggambarlcan fakta yang tidak dapat dikatakan aktual dan benar-benar ada, seperti alegori, simbolisme, ekspresionisme merupakan penggambaran fakta-fakta yang berhubungan dengan kekuasaan seperti hukum, moral dan politik; fiksi sain dan utopia memperlihatkan arah hukum material dengan penggambaran dan kreasi yang tinggi sehingga sesuatu yang digambarkan itu bagaikan betul-betul terjadi; fiksi satire merupakan penggambaran tentang pertentangan antara institusi atau manusia yang kelihatan secara lahiriah dengan kekuasaan yang berada di belakangnya, dan disampaikan dengan cercaan yang menyenangkan; fiksi eksistensialis merupakan penggambaran tentang kehidupan yang tidak masuk akal, tak dapat diterima, dan bahkan tidak pernah terjadi, tokoh-tokohnya dihadapkan kepada sesuatu yang gelap dan dilontarkan ke dunia absurd. Demikianlah pengkategorian fiksi sangat berhubungan dengan pengalaman manusia, karena memang fiksi selalu saja berbicara tentang pengalaman manusia; tentang cara berpikir, cara berbuat, cara mengendalikan emosi, cara menghadapi lingkungannya, dan cara menghadapi Tuhannya. Agar lebih jelas di bawah ini dibicarakan satu persatu jenis fiksi tersebut. 1) Romantik Romantik dan realisme merupakan sepasang istilah yang paling banyak digunakan dalam kajian fiksi. Keduanya merupakan perkataan yang ambiguitas, karena keduanya menyangkut soal


82 Ni Nyoman Karmini teknik dan sekaligus merupakan dasar filosofis. Romantik secara filosofis merupakan ketidaksenangan terhadap kehidupan modem yang materialis, kaku, dan kasar dan kemudian lari dari kehidupan modern itu dengan membentuk dunia yang lain, biasanya dengan mengagungkan alam, emosi dan pribadi. Fiksi romantik biasanya meramu bahan cerita tentang masa lampau, atau sesuatu tentang alam yang indah dan jauh entah di mana. Tokoh utamanya seperti memiliki fisik dan mental yang terbelah, yang mudah dibawa hanyut oleh gelora cinta birahi atau oleh luapan kebencian, pemberontakan atau ketakutan. 2) Realisme Realisme merupakan lawan dari romantik, yaitu suatu karya yang menggambarkan tentang dunia kini dengan segala keadaan dan kenyataan yang dimilikinya, sehingga kadang-kadang ia bagaikan bukan sebuah karya fiksi. Sesungguhnya dia dapat juga digolongkan ke dalam fiksi karena walaupun ia mengungkapkan sesuatu realitas, namun, masih memanfaatkan imajinasi dan kreativitas. Kemampuan pengarang melukiskan peristiwa dan orang-orang sampai pada yang sekecil-kecilnya, menyebabkan pembaca merasakan sebagai sesuatu yang faktual, yang sungguh-sungguh terjadi. 3) Ghotik Merupakan suatu karya fiksi yang menceritakan tentang horor, kekerasan, kekacauan, kematian, keajaiban, supernatural, kuburan keramat, hantu gentayangan, dan tentang berbagai keanehan dan keajaiban alam. Fiksi ghotik cenderung untuk menimbulkan atau menciptakan suatu sensasi, namun, ía masih merupakan karya yang digarap dengan serius dengan suatu tujuan tertentu. Edgar Allen Poe merupakan pengarang ghotik yang terkenal, sedangkan Frankenstein karya Mazy Shelley adalah novel ghotik yang paling terkenal. 4) Naturalisme Pada akhir abad ke-19, bentuk fiksi realisme yang mulai populer adalah naturalisme. Para penganut paham ini percaya bahwa kemajuan ilmu pengetahuan alam seharusnya diterapkan dalam fiksi. Bila ilmu pengetahuan diciptakan melalui suatu pandangan yang objektik maka naturalisme pun menggunakan objektivitas sebagai prinsip dasar. Karya fiksi naturalisme mengungkapkan segala sesuatu tanpa harus ada bagian yang disembunyikan, segala kelebihan dan kekurangan dipaparkan. Misal: tentang kehidupan seksual, tentang kemiskinan, tentang pengaruh narkotika. Para penganut naturalis


83 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama percaya bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh fisik, jiwa, ekonomi, kondisi sosial yang tidak dapat dikontrol oleh pribadi yang bersangkutan, tetapi sebagian ditentukan oleh kondisi lingkungan. Kemiskinan misalnya, dengan mudah dapat dijelaskan sebabsebab yang menimbulkannya tetapi untuk menyatakan sebab-sebab kemiskinan itu sering kali mendapat tantangan dari penguasa, sehingga pengarang hanya menceritakan kemiskinan itu sebagaimana adanya. Emile Zola merupakan pengarang naturalisme yang terkemuka. 5) Proletarian Bila tema-tema fiksi naturalisme yang dinyatakan dalam bentuk tersirat atau implisit dijadikan eksplisit, maka fiksi yang dihasilkannya adalah fiksi proletarian atau disebut novel protes sosial. Fiksi jenis ini menggambarkan tentang segala bentuk kepincangan dan ketidakadilan serta mengemukakan cara-cara pemecahan masalah atau jalan ke luar. Pada umumnya, jalan ke luar yang dianjurkan adalah sosialisme. 6) Alegori Alegori adalah suatu dramatisasi dari suatu pernyataan yang kompleks tentang politik, agama, dan moral, dll. melalui tokohtokoh tertentu seperti binatang, atau dengan menyebut pelaku-pelaku seperti Si Tamak, Si Korup, Si Alim, dsb. Biasanya fiksi semacam ini ada1ah dengan tujuan melakukan pendidikan. 7) Simbolisme Antara alegori dengan simbolisme hampir tidak dapat dilakukan pembedaan yang tajam. Kita barangkali hanya dapat mengatakan bahwa alegori mengajak kita untuk melakukan sesuatu dengan mengingatkan kita tentang kebenaran yang telah kita ketahui tetapi sukar kita sadari, sedangkan simbolisme adalah mengajak kita untuk mengerti dengan mengetengahkan persoalan dengan cara yang baru. Penokohan fiksi simbolisme biasanya kelihatan lebih hidup dari- padah fiksi alegori. Alegori menyampaikan ide melalui bentuk-bentuk fisik dan nama, sedangkan simbolisme walaupun juga menggunakan unsur-unsur luar, namun, lebih menekankan kaitan dengan perasaan dan cara berpikir tokoh-tokoh yang ikut membentuk pribadi tokoh. 8) Satire Satire merupakan karya karikatur dengan melebih-lebihkan sesuatu, dengan menggunakan kecerdasan dan daya kritis untuk


84 Ni Nyoman Karmini menggambarkan tentang orang atau lembaga yang absurd, yang diperlihatkan atau dikatakan berbeda dengan kenyataan. Betapapun satire merupakan humor, namun biasanya diciptakan secara serius dan dengan tujuan tertentu. Hasilnya memang bisa pedas, tajam, atau pahit dirasakan oleh yang merasa dikenai oleh karikatur itu. Pada umumnya banyak novel yang memasukkan unsur satire ke dalamnya terutama untuk mengecam kepincangan dan ketidakadilan. 9) Fiksi Sains (Science fiction) Fiksi sains adalah semacam karangan yang dibuat berlandaskan prinsip ilmu pengetahuan atau berdasarkan inspirasi yang ditimbulkan oleh suatu penemuan ilmu pengetahuan misalnya tentang penerbangan di angkasa luar, atau kehidupan di dasar laut, atau mengenai makhluk raksasa dari planet lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, fiksi sains in melahirkan cerita-cerita detektif yang memiliki plot yang selalu terkait pada logika prinsip sains, dan berakhir dengan penyelesaian persoalan. 10) Utopia Fiksi utopia mempunyai hubungan erat dengan fiksi sains. Karangan semacam ini menyangkut tentang gambaran masyarakat yang bertolak dari idealisme politik dan ekonomi pengarangnya. Pengarang melalui karyanya menggambarkan masa depan sebagaimana yang diangankan atau sebagaimana yang dicita-citakannya. 11) Ekspresionisme Ekspresionisme dalam karya sastra adalah suatu teknik pengungkapan pikiran dan perasaan dengan memanfaafkan psikologi. Pada kenyataannya cara berpikir, cara berbuat, dan cara merasa seseorang seringkali dibentuk oleh apa yang berada di alam bawah sadarnya dan dimunculkan dalam bentuk lain yang bagaikan hasil mimpi dan lamunan. Aliran ekspresionisme ini ingin menggenggam intisari kenyataan yang ada di dalam lingkungan kehidupan yang kemudian diolah di dalam pikiran dan perasaan sedemikian rupa kemudian dijelmakan dalam bentuk yang berbeda dengan kenyataan yang dialami oleh pancaindera. Aliran ini menentang pendapat bahwa seni adalah tiruan alam sebagaimana yang dianut oleh pengikut aliran impresionisme. Aliran ekspresionisme sering pula disebut dengan aliran surealisme. Di Indonesia, aliran ini lebih banyak kelihatan dalam karya-karya puisi dibandingkan dengan prosa/fiksi. Di dalam puisi Chairil Anwar, Rendra, Sutarji. Danarto, dll. kita jumpai penerapan aliran ekspresionisme ini, bahkan pada dasarnya


85 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama hampir sebagian besar karya puisi dewasa ini merupakan bentuk ekspresionisme, karena hakikat penciptaan puisi itu sendiri adalah ekspresif. Semua pengalaman lahiriah diproses di dalam wadah kejiwaan dan kemudian dikeluarkan dalam bentuk yang lain yang lebih pekat yang disebut dengan puisi. Dalam karya prosa, aliran ekspresionisme sudah banyak dimanfaatkan Misal dalam karya-karya cerpen Budi Dharma, cerpen dan novel Putu Wijaya, Iwan Simatupang. Mulai karya-karya tersebut kita menemui peristiwa-peristiwa yang seperti aneh, tidak masuk akal, plot kacau, tokoh absurd. Aliran ekspresionisme memang lebih mengutamakan ekspresi yang sangat individual sifatnya daripada keterikatan dengan kenyataan alamiah, sehingga produknya seolaholah hasil mimpi dan lamunan kosong. Aliran ini mempunyai tempat tersendiri dalam khasanah sastra. 12) Psikologi Prinsip pokok fiksi ini adalah eksplorasi segi-segi pemikiran dan kejiwaan tokoh-tokoh utama cerita, terutama menyangkut alam pikiran pada tingkat yang lebih dalam, di tingkat alam bawah sadar. Fiksi ini biasanya menggunakan teknik yang disebut aruss kesadaran (Stream of conciousness) yaitu istilah yang dilansir oleh William James pada tahun 1890 untuk menguraikan tentang lepasnya hubungan alur impresi, ide, ingatan, dan sesuai yang membentuk alam sadar manusia. Munculnya aliran ini disebabkan timbulnya keyakinan bahwa perkembangan dan kemajuan masyarakat di zaman modern ini tidaklah semata-mata diukur dari kemajuan material tetapi juga oleh segi-segi kerohanian/kejiwaan. Kemajuanmodernisasi dan teknologi dalam segala segi kehidupan manusia tamnpaknya bermula dari sikap kejiwaan dan berakhir pula pada segi kejiwaan. Tidak jarang manusia dalam mengejar kebutuhan kebendaan akhirnya kandas dan akhirnya menemukan dirinya terbelenggu oleh suatu konflik mentalitas. Dalam dunia sastra, pengarang lebih banyak menggunakan psikologi-analisis. Psikologi ini menganut teori adanya dorongan bawah sadar yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Pelopor psiko-analisis adalah Sigmun Freud. Prinsip-prinsip psikologi ini sebagai berikut. (1) Lapisan kejiwaan yang paling dalam adalah lapisan bawah sadar (libido) atau daya hidup yang berbentuk dorongan seksual dan perasaan-perasaan lain yang mendorong manusia mencari kesenangan dan kegairahan. (2) Pengalaman-pengalaman semasa dalam kandungan dan masa


86 Ni Nyoman Karmini bayi banyak memberi pengaruh terhadap sikap hidup pada masa dewasa. (3) Sebuah pikiran, betapapun kelihatan tidak berarti, masih tetap penting bila dihubungkan dengan daerah bawah sadar. (4) Konflik emosi pada dasarnya adalah konflik antara perasaan bawah sadar dengan keinginan-keinginan yang muncul dan luar. (5) Emosi itu sendiri bersifat dwirasa: benci dan sayang saling berbaur. Seorang laki-laki yang membenci wanita sekaligus juga karena tertarik kepadanya. (6) Sebagian konflik emosi bisa diendapkan atau disublimasikan, maka ia akan menjadi konflik emosi di dasarjiwa yang menyerupai neurosis. Menurut Freud (1923), dalam hipotesisnya dirumuskan bahwa seluk beluk jiwa manusia tersusun atas tiga tingkat, yakni id (libido atau dorongan), ego (peraturan secara sadar antara id dan realitas luar), superego (penuntun moral dan aspirasi seseorang). Id tidak bisa dimusnahkan tetapi hanya dapat dikawal: di dalam tidur ia bisa menjelma kembali tetapi hanya sebagian saja. Ego biasanya mengawal dan menekan dorongan id yang kuat, mengubah sifatnya jika ia menjelma ke tingkat alam sadar. Superego berfungsi sebagai lapisan yang menolak sesuatu yang melanggar prinsip moral, yang menyebabkan seseorang merasa malu atau memuji sesuatu yang dianggap baik. Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil antara ketiga unsur itu, akan memperoleh struktur watak manusia biasa. Di samping memanfaatkan psikologi analisis, para pengarang juga menggunakan teori-teori psikologi dari Jung dengan teorinya ketaksadaran (collective subconscius) dan Adler dengan teorinya rasa rendah diri (inferiority comflex). Pengarang Indonesia yang mampu membawa psikologi ke dalam karyanya adalah Armyn Pane dalam karyanya Belenggu, Akhdiat Kartamiharja dalam karyanya Atheis, Toha Muchtar dalam karyanya Pulang, Mochtar Lubis dalam karyanya Harimau-Harimau, Iwan Simatupang dalam karyanya Merahnya Merah. 13) Eksistensialisme Fiksi ini merupakan fiksi yang memperhatikan dan menerapkan filsafat eksistensialis. Filsafat ini mengajarkan bahwa kehidupan seseorang berlangsung menurut wujudnya sendiri. Filsafat eksistensialis ini sebenarnya bukan merupakan suatu aliran filsafat yang bulat, tunggal dan jelas, tetapi bernaung di bawah berbagai aliran yang kadang-kadang saling berlawanan. Yang sering diikuti eksistensialis adalah yang dianut atau yang dipelopori oleh filsuf


87 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama Jean Paul Sartre. Pandangan pokok aliran filsafat ini adalah bahwa segala sesuatu mempribadi sifatnya. Setiap ada usaha untuk menuangkan suatu kenyataan ke dalam suatu sistem tertentu ke dalam suatu kategorikategori merupakan perkosaan terhadap kenyataan, karena kenyataan itu bersifat konkret dan individual. Manusia harus dipandang sebagai suatu kenyataan yang individual dengan watak dan sifatnya tertentu. Setiap langkah perjalanan hidup manusia itu merupakan pengalaman yang hanya satu kali saja terjadi, dan tidak dapat diulangi dan dijiplak kembali. Kehidupan ini tidak dapat ditangkap dan dipahami dengan hukum atau objektivitas yang beku, tetapi ia hanya dapat dipahami atau dihayati dalam refleksinya sendiri. Hanya subjektivitas yang merupakan eksistensi yang benar, dan ia tidak dapat dirumuskan atau dimasukkan ke dalam konsep yang umum. Dan akhirnya manusia yang konkret itu hanya dapat dimengerti sedalam-dalamnya dalam hubungannya yang paling pribadi dengan Tuhannya, dalam dialognya dengan Tuhannya. Manusia pada dasarnya ingin mengenal pribadinya/dirinya, namun, ía tidak pernah berhasil untuk itu. Ia tidak yakin dengan kediriannya sendiri. Bila ia memandang atau berhubungan dengan orang lain, katakanlah ia mencintai orang lain, namun, ia akan menyadari bahwa ía hanya melihat suatu eksistensi pribadi yang lain. Dan ia tak pernah yakin bahwa orang itu akan mencintainya. Bila manusia itu memandang dunianya/lingkungannya ia hanya menemukan sesuatu yang semu, suatu sandiwara, suatu absurd yang masing-masing tidak tunduk dengan aturan tertentu. Dalam fiksi eksistensialis yang sering diterapkan adalah penekanan terhadap sikap kemandirian seseorang, orang yang mementingkan diri sendiri, orang-orang yang gagal menjalin hubungan kerja sama dengan orang lain, orang-orang yang diselimuti kegelapan, ketakutan yang berlebihan, orang yang terombangambing dari satu pilihan ke pilihan yang lain, orang-orang yang tidak kerasan hidup di dunia ini, orang yang suka iseng dan memencilkan diri. Contoh novel yang menerapkan aliran eksistensialis ini adalah novel Proses karya Kafka dan Penyakit Pes karya Albert Camus. Di Indonesia kita jumpai Jalan Tak Ada Ujung karya Muchtar Lubis. Di samping itu, patut pula disebut bahwa Chairil dalam beberapa puisinya memperlihatkan penerapan aliran ini. 14) Autobiografi dan Biografi Fiksi mi merupakan karya fiksi yang memperbincangkan tentang perjalanan hidup sendiri (autobiografi) dan tentang orang


88 Ni Nyoman Karmini lain (biografi). Autobiografi maupun biografi sering ditulis dalam bentuk karya fiksi yang menggunakan bahan mentah riwayat hidup kemudian dibumbui sedemikian rupa sehingga menjadi suatu karya fiksi. Sitor Situmorang Penyair Danau Toba yang ditulis oleh Sitor Situmorang sendiri merupakan contoh fiksi ini. Demikianlah berbagai jenis fiksi yang satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan dan persamaan. Namun, penerapan jenis atau aliran tersebut di dalam prakteknya tidaklah berdiri sendiri. Dalam suatu novel bisa saja terlihat dua atau tiga aliran, novel yang lain lebih menonjoilcan satu aliran tertentu, sementara yang lain lagi mungkin tidak dapat atau sukar ditentukan ke dalam jenis mana karya itu dapat digolongkan. 2.5 FIKSI SERIUS DAN FIKSI POPULER Dalam kenyataannya, fiksi serius dan fiksi populer memang ada dan muncul secara alamiah disebabkan adanya kepentingan dan tujuan yang berbeda dari pengarang yang menciptakan karyanya dan pembaca memilih apa yang mau dibacanya. Dari pengarang dan pembaca, istilah fiksi serius dan fiksi populer ini tidak terlalu dipersoalkan. Tetapi dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar khususnya pengajaran sastra di sekolah maupun perguruan tinggi, istilah tersebut mempunyai kepentingan khusus. Perlunya perbedaan karakter fiksi serius dengan karakter fiksi populer di sekolah dan perguruan tinggi, setidak-tidaknya disebabkan oleh tiga hal sebagai berikut. 1) Para pengajar perlu melakukan pemilihan terhadap karya sastra yang harus menjadi bahan kajian dalam proses belajar mengajar, dan dalam melakukan pilihan tersebut guru memilih bacaan yang dinilai baik untuk pembinaan apresiasi sastra dan pembinaan kepribadian subjek didik 2) Para guru perlu menjelaskan tujuan dan teknik penulisan suatu karya sastra. Untuk karya-karya yang ditulis dengan teknik yang sederhana dan dengan tujuan yang diragukan itikad baiknya untuk pembinaan dan pengembangan sastra, maka pembaca atau para murid dapat saja melakukan telaah sendiri dalam artian tidak perlu bimbingan. 3) Melalui kajian sastra yang ditulis dengan serius oleh sastrawan yang berdedikasi dalam bidangnya memberi peluang untuk telaah kelemahan dan kekuatannya, dan dapat dijadikan pegangan atau acuan bagi kepentingan pembinaan apresiasi dan kajian sastra secara luas. Istilah karya fiksi serius dan fiksi populer banyak orang yang tidak mengetahuinya. Orang lebth banyak mengetahui karya sastra


89 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama yang baik dan karya sastra yang kurang baik atau komersil. Di Indonesia pernah dikenal istilah roman picisan untuk menyebut novel populer ini, kemudian istilah ini berganti dengan istilah hiburan di sekitar tahun 1960-an, kemudian pada tahun 1970-an yang digunakan adalah istilah populer. Istilah serius dalam novel memang jarang didengar, yang sering digunakan adalah istilah bermutu. Banyak orang menghargai karya serius sebagai tipe sastra yang lebih baik tetapi sedikit yang ingin membacanya. Hal ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang apa yang dikatakan baik dan apa yang disenangi untuk dibaca. Misalnya, orang tahu bahwa tidak ada nilai-nilai yang dapat diperoleh dari membaca cerita komik tetapi toh orang tetap membacanya dan menyenanginya. Fiksi serius nampaknya sebagai sebuah khotbah yang lebih banyak mengajarkan kita tentang banyak hal daripada memberi kesenangan atau kenikmatan. Sesungguhnya fiksi serius juga memberikan kesenangan bagi orang-orang yang menyenanginya dan yang membacanya karena ia menyenangi fiksi-fiksi jenis itu dengan tujuantujuan dan yang amat pribadi sifafnya. Walaupun banyak orang yang tidak dapat memperoleh kesenangan terhadap sesuatu yang sulit dipelajari, namun, tetap saja ada orang yang dapat berbuat demikian. Bukankah mendaki gunung itu rumit dan sulit, tetapi toh ada yang senang terhadap keadaan demikian. Sebab kerumitan dan kesulitan itu melahirkan tantangan dan menuntut perhatian, dan kemudian dapat menghasilkan suatu kesenangan tentu saja hal itu terjadi bila dituntun oleh suatu tujuan tertentu yang mungkin pribadi sifatnya. Fiksi serius menuntut kemampuan membaca teliti dan membaca ulang secara teliti pula. Kesenangan dan pemahaman tentang hakikat sastra akan dapat diraih dengan bertahap. Jarang sekali orang memahami secara komplit suatu cerita manakala tiak membacanya minimal dua kali, bahkan harus ditambahkan lagi dengan memikirkan kembali dan menelaah sebelum kita memperoleh manfaat atau hikmah yang lebih banyak. Dengan menyatakan bahwa fiksi serius memberikan tantangan yang kompleks dan berbagai macam ide tidak berarti mentolelir kesulitan. Lebih dari itu, tidak semua fiksi menyampaikan ide atau pesan yang kompleks, sedangkan kita memang terkadang ingin mendapatkan sesuatu dari karya yang kita baca lebih dari hanya untuk kesenangan. Bila suatu saat kita menghadapi karya yang sulit/rumit dengan problem yang mungkin baru sama sekali, justru menimbulkan keingintahuan kita mengapa karya itu menjadi sesuatu yang rumit dan kompleks. Secara pokok kehadiran karya serius adalah untuk memberi


90 Ni Nyoman Karmini peluang bagi pembaca mengimajinasikan dan memahami pengalaman manusia. Untuk mengetahui mengapa hal itu melahirkan sesuatu yang sulit dan kompleks, kita mesti ingat bahwa pengalaman manusia itu tidak semata-mata sebagai sesuatu rangkaian peristiwa tetapi menyangkut perasaan dan sikap yang mempengaruhinya. Misalnya, dua wanita yang menghadapi hal yang sama, mencntai pria yang sama, bekerja pada tempat yang sama, namu keduanya akan memiliki pengalaman yang amat berbeda karena keduanya pasti memiliki alam pemikiran dan perasaan yang berbeda. Oleh karena itu, pembahasan sastra tidak mungkin menjadi sesuatu yang sangat sederhana. Karya sastra yang meneropong kehidupan manusia dengan mendalam akan menghasilkan karya serius, yang tidak bakal dipahami hanya dengan membaca sepintas lalu saja. Bagaimana halnya dengan karya sastra populer? Karya sastra populer juga berbicara tentang manusia. Tetapi tidak menampilkan analisis dan perhjatian yang lebih terpusat dan mendalam, dan disajikan dengan cara yang sederhana agar mudah dibaca dan dipahami. Mengapa ada perbedaan antara fiksi serius dengan fiksi populer? Hal ini disebabkan karena pembaca membuat atau menciptakan berbagai level dan jenis karya sastra. Ada karya yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang, ada yang menampilkan tentang moral, ada tentang filsafat, ada juga yang menampilkan kebolehannya dalam menampilkan teknik mengarang, dll. Apakah perbedaan antara fiksi serius dengan fiksi populer? Pertanyaan ini mengundang diskusi yang panjang. Sumardjo (1982) menyatakan bahwa disebut fiksi populer karena karya tersebut baik tema, cara penyajiannya, teknik, bahasa, maupun gaya meniru pola umum yang sedang digemari masyarakat pembacanya. Fiksi serius (Sumardjo tidak menggunakan istilah ini) merupakan karya yang lebih menitikberatkan pada keunikan karya, kebaruan, kedalaman. Novel populer memang memiliki kecenderungan untuk bercorak seragam yang menyesuaikan diri dengan selera pembaca menurut kurun waktu tertentu. Pada awal tahun 1960-an novel populer sangat sukses yang dipelopori oleb Motinggo Busye. Gaya bercerita Motinggo yang lincah dengan menampilkan adegan-adegan panas tampaknya menjadi bacaan yang menyenangkan banyak orang, ditambah lagi dengan gambar kulit yang merangsang. Pada tahun 1970-an, Marga T. dan Ashadi Siregar memulai debut baru. Mereka memilih pengungkapan tentang remaja dan kehidupan kampus dengan gaya dan bahasa yang disesuaikan dengan selera pembaca. Pembaca novel populer nampaknya lebih banyak daripada pembaca novel serius. Dalam hal ini, kita tidak mempermasalahkan


91 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama kualitas pembacanya. Yang jelas, karya sastra sudah mendapat tempat di hati pembacanya. Hal ini juga menimbulkan suatu kebanggaan tersendiri bagi guru/dosen bahasa dan sastra Indonesia. Kebanggaan itu sekaligus mengundang tantangan pula agar novel-novel serius pada gilirannya akan mendapat tempat yang baik pula di hati pembacanya. Robert Stanton (1965) mengemukakan perbedaan antara fiksi serius dengan fiksi populer yang kira-kira sama dengan Jakob Sumardjo. Dikatakannya bahwa tidak ada perbedaan yang tajam antara keduanya. Sungguhpun demikian antara keduanya terdapat perbedaan atau setidak-tidaknya dirasakan adanya perbedaanperbedaan. Perbedaan antara fiksi serius dengan fiksi populer setidaktidaknya menyangkut tiga hal. 1) Ide dan pengolahan ide. Dalam fiksi serius umumnya kita akan menjumpai berbagai ide yang berupa pengalaman hidup manusia yang spesifik atau setidak-tidaknya jarang dijumpai. Bila sering dijumpai maka analisisnya sangat dalam dan tajam. Dalam karya fiksi populer yang dipersoalkan atau yang diungkapkan adalah masalah-masalah yang umumnya kita lihat, kita alami, atau sering kita baca. Bahkan di dalam beberapa novel yang terbit dalam kurun yang sama menunjukkan persamaan-persamaan. Misalnya tentang kehidupan muda-mudi, tentang cinta monyet kenakalan remaja, atau masalah-masalah lain yang hangat pada waktu tertentu. Fiksi-fiksi serius mungkin saja mengungkapkan peristiwa dengan setting jauh di masa lampau atau suatu peristiwa yang sukar diketahui kapan terjadinya. 2) Kemudahan pemahaman. Fiksi serius lebih sukar dipahami. Bila ia dibaca hanya satu kali mungkin belum terasa keindahannya, kemanfaatannya atau mutunya. Setelah dibaca dua tiga kali, baru tampak dan terasa nilai-nilai di dalamnya, baik nilai estetika maupun nilai-nilai didaktiknya. Fiksi populer mempunyai sifat mudah dipahami. Hal ini terjadi baik karena problemnya amat dikenal atau hidup di lingkungan pembaca atau karena kesederhanaan struktur dan gaya bahasa, plot dan jabaran-jabaran karakter pelakupelakunya. Kemudahan pemahaman dapat pula terjadi di dalam membaca fiksi populer karena pengarangnya tidak begitu banyak memanfaatkan ilmu psikologi dan filsafat di dalam penggarapan karyanya. 3) Fungsi hiburan dan kegunaan. Fiksi populer ditinjau dan segi bentuk lebih menyenangkan


92 Ni Nyoman Karmini dibandingkan dengan fiksi senius. Ukurannya menarik (pada umumnya menggunakan ukuran saku), gambar kulitnya menyala, bahasanya lincah dengan dialog-dialog masa kini yang menyenangkan. Jadi fiksi populer lebih menyenangkan, sedangkan fiksi serius lebih baik disebabkan ía mengajarkan kita tentang banyak hal. Dalam kenyataan bahwa buku-buku yang sangat laris (best selling novels) sebagian besar adalah karyakarya populer (Robert Stanton:1965). Novel-novel populer mempunyai kecenderungan sebagai karya-karya komersil dapat dilihat dari judul-judul yang mengundang banyak pembeli khususnya remaja. Sebagai ilustrasi berikut mi ditampilkan judul-judul novel hanya sebagai contoh yang terbit tahun 1970- an atau awal 1980-an: Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, Kembang Padang Kelabu, Puspa Indah Taman Hati, Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Semau Gue, Sok Nyentrik, Cowok Komersil, Ranjang Siang Ranjang Malam, Musim Bercinta, Permainan Bulan Desember, Gersang tapi Damai, Istriku Sayang Istriku Jalang, Kekasih yang Hilang, Impian Semusim, Seorang Janda, Terminal Cinta Terakhir, Selembut Senyum Duka, Berlalu dalam Suny, Wajah-Wajah Cinta, Bukan Aku Tak Mencintai, Benang-Benang Kusut, Bukan Impian Semusim, Gema Sebuah Hati, Pahit Manisnya Cinta, Surat Bersampul Kelabu, Napas Perempuan, Kembang-Kembang Pelastik, Istriku Sayang, Bil Malam Bertambah Malam, Kabut Cinta, Bukan Salahmu Ronald, Tembang Senja Permata Hati, AlI Topan, Calon Menantu, Arjuna Mencari Cinta, Penghuni Hutan Perigi, Lembutnya Dosa Kotornya Cinta, Tinggalkanku Sendiri, Dosa Jatuh Cinta, Kasih Sayang, Jalan Terbuka, Mayat-Mayat Merangsang, Bayang-bayang Baur, Warisan Sang Jagoan, Frustrasi Puncak Gunung, Marini dan Alat Cinta, Gadisku di Masa Lalu, Jantera Lepas, Peragawati, Incognito, Mencari Sorga, Janda Duta Besar, Berandal Tengik, Di Balik Bintang Cemerlang, Mendung Tak Sepenuh Hati, Orang Buangan, Rumahku adalah Istanaku, Retno Lestari, Ketika Hati Bernyanyi, Musafir-Musafir Cinta, Dunia Tak Bermusim, Terbangnya Punai, Cinta Tak Pernah Berhutang, Maut dan Cinta, Lima Tahun dengan Susi, Lucy My Ling, Dia Tidak Setia, Wanita-Wanita Sepi Hati, Gadis Manja Madona, Kribo, Corina, Mercy Hitam, Mama Kuterima Duka Ini, Kekasih-Kekasih Gelap, Pelangi di Musim Bunga, Seribu Langit Jakarta, Pagar Ayu, Kemelut Hidup, Keluarga Permana, Ali Topan Kesandung Cinta, Gali Lobang Gila Lobang, Kubikin Dia Cemburu, Pelangi


93 Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama di Mataram, Lagu Cinta Untuk Sopia, Di Balik Mendung Kelabu, Dosen Muda Jatuh Cinta, Akhir Derita Awal Mesra, Senja Kelabu, Cumbuan Sabana, Sang Juita, Bulan Merah Saga, Di Cintamu Kutermangu, Ketika Cinta Harus Memilih, Kasih Seangat Matahari, Senja di Jalan Beraga, Detik-Detik Cinta Menyentuh, Tiga Wajah Gedongan, Kemetut Tiga Cinta, Lingkaran Cinta. Pahit Cinta Manisnya Cinta, Aku Ini Pelacak Cinta, Selamat Tinggal Masa Remaja, Putih Bunga Belantara Jakarta, Liku-liku Laki-Laki, Genta Sejuta Cinta, Cinta Bersemi di Kabut Badai, Izinkan Kami Bercinta, Venico Cewek Rebutan, Renjana, Seikat Kembang Merah, Andaikan Serai Berbunga, Di sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Seuntai Lara Buat Lia Natalia, Sekuntum Duri, Api Cinta Yang Membara, Terjebak Cinta, Bungalow di Pinggir Bukit, Cowok Picisan, Ledakan Cinta, Hitam Belantara Jakarta, Mekar dan Laju, Salah Karnar, Pengkhianat Cinta, Saat Melangkah Bersama, Senjummu adalah Tangisku, Lingkaran Cinta, Kemilau Kemuning Senja. Sebenarnya masih banyak contoh yang lain. Namun, dari judul-judul di atas, dapat dirasakan masalah atau tema yang digunakannya. Masalah cinta remaja merupakan masalah yang populer. Eksploitasi kata cinta ini saja sudah memperlihatkan kemungkinan sifat komersilnya. Novel-novel tersebut mempunyai tempat tersendiri di hati pembaca. Ia hadir karena kemauan pembaca. Sehingga memungkinkan ada pengarang memilih menulis novel seperti itu. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa di antara mereka itu ada dalam latihan atau proses mematangkan diri untuk menulis novel serius sebagai penulis dalam arti yang sesungguhnya. Memang setiap orang merdeka dalam memilih apa yang harus dibacanya. Yang jelas, membaca itu—apapun motifnya— membuat kehidupan kita bertambah baik dan bertambak kaya dengan berbagai ide dan pengetahuan. Namun, jika pembaca tidak mengubah bahan bacaannya dari yang nilainya rendah ke bacaan yang nilainya tinggi, maka nilai bacaan yang dapat dipetiknya sangat sedikit. Untuk mencapai tingkatan membaca yang lebih baik; dalam artian, ia mampu memilih bacaan yang baik memang memerlukan waktu. Pengetahuan, pendidikan, dan pengalaman membaca yang bersangkutan sangat menentukan dalam menciptakan kearifan memilih bahan bacaan. Pengetahuan tentang noma-norma bacaan yang baik itu perlu dimiliki. Pada umumnya novel atau fiksi yang baik harus memiliki segi kriteria pokok, yaitu norma estetis, norma sastra, dan norma moral.


Click to View FlipBook Version