The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by B2P2TOOT Tawangmangu, 2020-09-03 00:45:30

Sambiloto

Sambiloto

SAMBILOTO
(Andrographis paniculata Nees.)

Si Pahit yang
Semakin Melejit

Diterbitkan oleh :
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Jl. Raya Lawu No. 11 Tawangmangu, Karanganyar Jawa Tengah 57792
Telp. (0271) 697010 Faks. (0271) 697451

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak buku
sebagian atau seluruhnya tanpa izin dari Balai Besar Litbang Tanaman Obat
dan Obat Tradisional, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI

SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees.) "Si Pahit yang Semakin
Melejit”
Copyright © 2017

Penasehat : Kepala Badan Litbang Kesehatan
Penanggung jawab : Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat

Penyusun dan Obat Tradisional
: Yuli Widiyastuti

Kontributor dari Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional:
Prof. Dr. Asep Gana Suganda, Apt.
Prof. Dr. Bambang Prajoga, M.S., Apt.
Ir. M. Januwati, M.S.
Dr. Ir. Yul Bahar
Dr. dr. Setyo Raharjo, M.Kes.
Dr. Irmanida Batubara

Editor dari Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional:
Prof. Dr. Ervizal A.M. Zuhud, M.S
Prof. Dr. Amri Bachtiar, Apt.
Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA
Dra. Nani Sukasediati, MS, Apt.
Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt.
Usman Siswanto, Ph.D.
Indah Yuning Prapti, SKM., M.Kes.
Amalia Damayanti, M.Si.

Foto : Yuli Widiyastuti, M. Bakti Samsu Adi
Desain dan Layout : Antonius Febrian Pulung N.

Cetakan pertama: Desember 2017

ii SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Sambutan
Kepala B2P2TOOT

Puji syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena atas karuniaNya buku “Sambiloto (Andrographis
paniculata Nees.) Si Pahit yang Semakin Melejit” ini dapat
terwujud. Buku ini merupakan kajian atas hasil penelitian
yang telah dilakukan pada tumbuhan sambiloto, baik yang
dilaksanakan di Indonesia maupun dari luar negeri. Aspek
penelitian yang dikaji meliputi penelitian hulu terkait botani,
taksonomi, budidaya sampai penelitian ke arah hilir terkait uji
pra-klinik dan uji klinik. Penerbitan buku ini sebagai salah satu
produk diseminasi informasi untuk memberikan sumbangsih
Ilmu Pengetahuan di bidang Tumbuhan Obat kepada masyarakat
luas yang diterbitkan oleh B2P2TOOT, dengan kontributor dari
anggota Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional
(Pokja TOOT), yaitu organisasi ilmiah mengenai Tumbuhan
Obat.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO iii

Pokja TOOT merupakan salah satu perhimpunan institusi
pelaksana litbang tanaman obat yang diketuai oleh Kepala
B2P2TOOT yang diharapkanmampu mewujudkan suatu output
yang jelas dan tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah
berupa prosiding maupun jurnal saja. Hasil penelitian yang
dilaksanakan harus mampu menjadi daya ungkit pengembangan
pemanfaatan tanaman obat dalam upaya kesehatan. Untuk itu,
selain bisa memberikan masukan kebijakan pada pemerintah,
penelitian juga harus mampu menghasilkan desain atau
prototype yang dapat digunakan oleh industri serta informasi
sahih yang secara mudah bisa diakses oleh masyarakat
sehubungan dengan pemanfaatan tanaman obat dan obat
tradisional.

Dalam rangka menyediakan informasi hasil penelitian yang
sahih, maka terbitlah buku Sambiloto Si Pahit yang Semakin
Melejit, yang merupakan kumpulan informasi hasil penelitian
hulu hilir yang dapat dijadikan pedoman untuk pengembangan
pemanfaatan sambiloto. Mengapa dipilih sambiloto, tentunya
dengan mempertimbangkan bahwa sambiloto merupakan
salah satu tumbuhan obat yang umum digunakan sebagai
obat tradisional dan jamu. Di samping itu simplisia sambiloto
merupakan salah satu dari 5 simplisia terbesar yang digunakan
sebagai bahan baku industri jamu. Tentunya ke depan akan
disusun buku-buku lain untuk komoditas tanaman obat lainnya
yang telah dibahas dalam Seminar Tumbuhan Obat Indonesia.

Buku ini disusun oleh tim B2P2TOOT, dengan melibatkan
anggota Pokja TOOT sebagai kontributor dan reviewer utama.
Untuk itu pada kesempatan ini, kami sangat berterima kasih
atas jerih payah tim penyusun, kontributor dan reviewer atas

iv SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

terbitnya buku ini. Tak lupa jika buku ini masih ada kekurangan
dan kesalahan, kami dengan terbuka menerima saran, masukan
dan koreksi demi sempurnanya buku ini di waktu yang
akan datang. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat untuk
pengembangan tumbuhan obat dan kesehatan masyarakat
Indonesia.

Tawangmangu, Oktober 2017
Kepala,

Lucie Widowati

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO v

vi SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Kata Pengantar

Memulai sebuah penelitian tanaman obat ibarat membuka
kotak pandora yang tiada pernah habis untuk senantiasa digali
dan diteliti. Kekayaan tumbuhan obat di tanah air yang sangat
besar tidak saja menantang untuk dimanfaatkan tetapi lebih dari
itu, harus bisa dikembangkan guna memperoleh benefit, baik
untuk kesehatan maupun untuk keuntungan ekonomi. Dengan
demikian peran penelitian menjadi strategis karena tidak saja
menyediakan basis data atas kemanfaatan suatu tanaman obat,
namun juga mampu membuka potensinya sehingga memberi
peluang bagi komersialisasi produk.

Tumbuhan obat saat ini menjadi komoditi prioritas di
berbagai sektor termasuk lembaga penelitian dan Perguruan
Tinggi. Tumbuhan obat Indonesia merupakan komoditas yang
memiliki nilai keunggulan komparatif dan daya saing baik di
level regional maupun internasional. Pekerjaan rumah kita
yang terberat adalah mampu menyediakan informasi yang

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO vii

komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai
bahan untuk pemanfaatan dan pengembangan tumbuhan obat.
Tujuan dari penyusunan buku ini selain untuk menyebarkan
hasil-hasil penelitian adalah memberikan gambaran kemajuan
riset tumbuhan obat khususnya sambiloto sebagai dasar untuk
penelitian lanjut atau untuk pemanfaatan, baik promotif,
preventif maupun kuratif.

Buku review tumbuhan obat ini akan dibuat berseri untuk
tumbuhan obat yang pernah menjadi topik seminar nasional
maupun internasional yang pernah diselenggarakan oleh
Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional (Pokja
TOOT) dengan institusi anggotanya. Hampir 100 spesies lebih
tumbuhan obat Indonesia pernah dijadikan topik seminar
dalam 20 tahun ini. Tentunya informasi yang telah dihasilkan
dari setiap aspek untuk setiap jenis tumbuhan obat sangat
berharga sebagai data awal pengembangan tumbuhan tersebut.
Penyusunan buku ini berdasarkan penggalian dan penelusuran
informasi baik yang berasal dari media tulis maupun elektronik.
Hasil riset tidak hanya dibatasi yang berasal dari dalam negeri
namun juga hasil penelitian yang dilakukan di luar negeri.

Perkembangan dunia riset sangat pesat, berbagai informasi
yang terhimpun dalam buku ini tentunya masih sangat
terbatas. Meskipun demikian, pada kesempatan ini penyusun
menyampaikan terima kasih kepada semua anggota Dewan
Pembina Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional
(Pokja TOOT) baik yang berkontribusi aktif maupun sebagai
editor sehingga buku ini dapat terwujud. Akhir kata, semoga
buku ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Tawangmangu, Oktober 2017

Penyusun

viii SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Daftar Isi

Sambutan Kepala B2P2TOOT........................................................ iii

Kata Pengantar..................................................................................... vii

Daftar Isi ............................................................................................... ix

Bab I. Pendahuluan ...................................................................... 1

Bab II. Botani dan Ekologi .......................................................... 7
1 Botani............................................................................. 9
2. Keanekaragaman ........................................................ 10
3. Ekologi dan Distribusi............................................... 13

4. Persyaratan tumbuh .................................................. 16

Bab III. Budidaya ............................................................................. 19

1. Perbanyakan Tanaman/Pembibitan ..................... 22

2. Varitas Unggul Sambiloto ........................................ 25

3. Teknis Budidaya ........................................................ 25
4. Hama dan Penyakit.................................................... 31

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO ix

Bab IV. Panen dan Pascapanen.................................................... 35
1. Panen ............................................................................. 38
2. Pascapanen................................................................... 41

Bab V. Kandungan Kimia dan Profil Fitokimia..................... 51
1. Kandungan Kimia ...................................................... 53
2. Profil Fitokimia ........................................................... 56

Bab VI. Penggunaan secara Tradisional, Hasil Uji
Manfaat dan Keamanan.................................................. 65
1. Penggunaan secara tradisional ............................... 67
2. Hasil Uji Manfaat........................................................ 73
3. Hasil Uji Klinis............................................................. 92
4. Keamanan..................................................................... 96

Bab VII. Aspek Ekonomi dan Pengembangan Produk .......... 101
1. Rantai Distribusi ......................................................... 103
2. Produk Komersial....................................................... 106
3. Pengembangan produk ............................................ 109

Bab VIII. Rekomendasi ..................................................................... 111
Daftar Pustaka...................................................................................... 113

x SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 1

Pendahuluan



Sambiloto mungkin bukan nama yang akrab di telinga
sebagian masyarakat Indonesia, tetapi di Jawa, khususnya
Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama ini sudah tidak asing
lagi. Sambiloto sering memperoleh stigma buruk bagi anak-
anak karena rasanya yang sangat pahit. Tanaman yang sering
tumbuh liar di bawah hutan jati ini, konon merupakan rajanya
rasa pahit. Bisa dibayangkan bagaimana jika sambiloto diberikan
kepada seorang pasien dalam bentuk rebusan yang harus
diminum. Alih-alih akan merasakan manfaat bagi kesehatannya,
si pasien lebih sering merasakan mual yang diakibatkan rasa
pahit yang amat sangat. Namun bagi lidah orang Jawa yang
terbiasa dengan jamu, rasa pahit sambiloto justru menimbulkan
ketagihan. Untuk itulah maka di Jawa dikenal ada ramuan jamu
“pahitan” yang bahan baku utamanya adalah sambiloto dengan
kegunaan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan nafsu
makan.

Sambiloto sejatinya merupakan tanaman asli dari India, dan
kemudian tumbuh tersebar di banyak negara tropis termasuk
Indonesia. Tanaman ini di beberapa tempat dianggap sebagai
gulma, karena tumbuh liar di ladang jagung, tebu, di dekat
areal persawahan dan tegalan. Sampai saat ini usaha budidaya
sambiloto belum banyak dilakukan, sebagian besar kebutuhan
bahan baku untuk industri jamu maupun kosmetik masih
mengandalan pengumpulan dari tanaman liar. Kendala utama
usaha budidaya adalah teknologi tepat guna dan jaminan pasar
yang belum tersedia secara terbuka.

Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan salah
satu tanaman obat herbal yang banyak dibutuhkan dalam
industri obat tradisional di Indonesia. Cukup banyak klaim

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 3

yang menunjukkan manfaat sambiloto dalam pengobatan
tradisional, seperti untuk meningkatkan ketahanan tubuh
terhadap infeksi kuman, anti diare, gangguan lever, dan anti
bakteri. Oleh karena itu Badan POM memasukkan tanaman ini
sebagai tanaman unggulan untuk dikembangkan dalam industri
obat tradisional (Sampurno, 2003). Pemilihan tanaman obat
unggulan didasarkan pada beberapa kriteria, yaitu (1) merupakan
tanaman obat yang tumbuh baik di Indonesia, (2) telah dikenal
khasiat dan keamanannya berdasarkan pengalaman secara
turun temurun dan atau telah dibuktikan berdasarkan penelitian
ilmiah, dan (3) memiliki potensi ekonomi yang prospektif.

Dalam industri obat tradisional Indonesia, sambiloto
dimanfaatkan untuk berbagai produk, seperti jamu anti
inflamasi, obat penurun tekanan darah, diabetes, pegal linu
dan lain sebagainya. Perkembangan pemanfaatan sambiloto
di Indonesia dalam produk jamu terus meningkat, kebutuhan
sambiloto sebagai bahan baku untuk industri obat tradisional
(IOT) saja sampai tahun 2006 mencapai 33.47 ton simplisia
atau setara 709.60 ton bobot segar per tahun (Sunardi 2008).
Kebutuhan terus meningkat, sehingga pada tahun 2008
mencapai 7.716,432 ton (BPS, 2012). Jumlah ini belum termasuk
untuk bahan baku industri kecil obat tradisional (IKOT). Guna
mencukupi kebutuhan industri, maka target pengembangan
produksi 2011-2012 sesuai laju peningkatan produksi nasional
4.13% dari 8.489 ton per tahun (Bahar, 2012). Bahkan kebutuhan
dunia akan sambiloto saat ini ada peningkatan, sejalan dengan
peningkatan laju produksi obat herbal dengan bahan baku
sambiloto 5-15% (Xiaorui, 2003).

4 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Yusron et al., (2004) melaporkan bahwa bahan baku
sambiloto untuk industri obat tradisional diambil dari
tumbuhan liar dengan kondisi lingkungan yang sangat
beragam. Hal ini yang menyebabkan mutu simplisia yang
dihasilkan sangat beragam pula. Mutu simplisia yang dipanen
di Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah, bahkan belum
bisa memenuhi standar mutu Materia Medika Indonesia
(MMI). Saat ini sambiloto telah ditetapkan sebagai tanaman
obat yang dikembangkan sebagai obat fitofarmaka. Salah
satu syarat obat fitofarmaka adalah bahan yang digunakan
dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Untuk itu perlu
dukungan ketersediaan teknologi yang cukup, agar dapat
dihasilkan simplisia dan ekstrak terstandar. Teknologi tersebut
harus mencakup dari penyediaan bibit sampai dengan pasca
panen. Penerapan teknik budidaya yang baku diharapkan dapat
menyediakan bahan baku dalam jumlah yang memadai, mutu
sesuai standar, dan kontinyuitas pasokan bahan baku dapat
dijamin.

Berbagai klaim khasiat tanaman ini untuk pengobatan
telah diteliti dengan baik di dalam negeri maupun di manca
negara, sebagai contoh suatu penelitian menyebutkan bahwa
sambiloto dapat digunakan untuk menurunkan kolesterol.
Di Indonesia angka kematian akibat penyakit degeneratif
cenderung mengalami peningkatan, dikarenakan penyakit
jantung koroner yang disebabkan arterosklerosis, karena kadar
kolestrol darah yang tinggi disamping proses oksidasi lipid darah
terutama lipoprotein densitas rendah (LDL-kolestrol). Obat-
obatan yang tersedia pada umumnya mahal dan efek samping
yang tidak ringan. Hasil penelitian yang lain, diantaranya untuk
meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi kuman, anti

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 5

diabet, anti diare, anti demam, anti fertilitas, gangguan lever
dan anti bakteri. Sambiloto dapat meningkatkan aktivitas
fagositosis sel limfosit, sehingga dapat mengendalikan virus.
Sambiloto juga berperan sebagai imunostimulan (Puri et al.,
1993 dan Hadisahputra et al., 2005). Sambiloto telah lama
berkembang di India dan Sri Lanka (Gamble, 1956), di India
telah digunakan untuk dispepsia, desentri, malaria, infeksi
pernafasan dan antidote gigitan ular (Kirtikar dan Basu, 1975;
Chopra et al., 1980).

Berdasarkan pada berbagai hasil riset atas kemanfaatan dan
keamanan sambiloto baik yang dilakukan di dalam maupun
di luar negeri, maka tanaman ini memiliki peluang untuk
semakin dikembangkan. Produk sambiloto saat ini masih
didominasi dalam bentuk produk herbal atau jamu, namun
tidak menutup kemungkinan atas aspek khasiat yang sangat
beragam, sambiloto bisa dikembangkan menjadi produk-produk
komersial lain, yaitu kosmetika, pestisida alami, antiseptik dan
nutraceutical.

6 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 2

Botani dan Ekologi



1. Botani

Sistematika

Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) memiliki
sistematika sebagai berikut :

Divisi : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Solanaceae
Familia : Acanthaceae
Genus : Andrographis
Species : Andrographis paniculata Nees. (Backer,

1965)

Sinonim

Justicia latebrosa Russ., J. paniculata Burm.f., J. stricta Lam.Ex
Steud (de Padua et al., 1999)

Nama daerah

Sumatera: Ampadu (Minangkabau), pepaitan (Melayu). Jawa:
Bidara, sadilata, sambiloto, takila ( Jawa), ki oray, ki peurat, takilo
(Sunda) (Heyne, 1987).

Nama asing

Inggris : Green chireta, King of bitter, India : Kalmegh (de
Padua et al., 1999)

Diskripsi

Sambiloto merupakan tumbuhan dengan perawakan
terna tegak, sangat pahit, tinggi 40-90 cm. Percabangan

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 9

banyak dengan letak berhadapan (simpodial), cabang
berbentuk segi empat gundul. Daun tunggal, helaian
berbentuk lanset, ujung dan pangkal daun runcing sampai
agak runcing, tepi daun rata, panjang 3-12 cm, lebar 1-3
cm, tangkai daun 0,25-0,50 cm, daun bagian ujung sebagai
daun pelindung. Susunan bunga majemuk malai, tegak,
bercabang-cabang, tangkai bunga 3-7 mm, kelopak bunga
3-4 mm. Bunga berbibir, tabung mahkota lurus, panjang
6 mm, cuping mahkota kurang-lebih sama dengan tabung
mahkota, bibir atas berwarna putih berujung kuning
panjang 7-8 mm, bibir bawah berbentuk pasak, berwarna
ungu, panjang rata-rata 6 mm. Kepala sari sempit melebar
di bagian pangkal, panjang 6 mm. Buah kapsul, berbentuk
lanset memipih, membuka secara longitudinal, ujung
tajam, berambut kelenjar pendek, panjang rata-rata 1,75 cm,
lebar 3,5-4 mm, biji 3-7 buah (Backer, 1965).

2. Keanekaragaman

Sambiloto merupakan tanaman yang hampir tidak
memiliki banyak keragaman morfologi. Perbedaan fenotipik
lebih didasarkan pada ukuran dari pada bentuk atau
karakter morfologinya. Dari hasil penelitian Pujiasmanto
(2007), perbedaan tinggi tempat hampir tidak berpengaruh
terhadap perubahan karakter morfologi sambiloto, namun
berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Pada
dataran rendah (<400 m dpl) dan dataran tinggi (> 800
m dpl), pertumbuhan tinggi sambiloto jauh berkurang
dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh di dataran
menengah atau sedang (400-800 m dpl).

10 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Terdapat beberapa pendapat terkait jumlah spesies
dalam genus Andrographis. Oleh Patidar et al., (2011),
disebutkan terdapat 19 spesies dalam genus Andrographis,
sedangkan oleh Niranjan et al., (2010), terdapat 28 spesies,
oleh Boopathi (2000) disebutkan sebanyak 40 spesies dan
Parixit et al., (2012) menyebutkan ada 44 spesies. Sampai
saat ini jumlah spesies yang pasti dalam genus Andrographis
ini masih belum jelas dan masih terbuka peluang untuk
ditemukan spesies-spesies baru. Jumlah kromosom dari
tanaman Andrographis paniculata adalah 25 (gametophytik)
(Saggoo et al., 1986) dan 50 (sporophytic) (Roy et al., 1988).
Perbedaan genetik pada tanaman sambiloto akan sangat
bermanfaat dalam menghasilkan strain strain unggul.

Keanekaragaman genetik sambiloto sangat kecil (Sabu
et al., 2001; Maison et al., 2005; Sakuanrungsirikul et al.,
2008; Latoo et al., 2008; Pandey dan Mandal, 2010; Wijarat
et al., 2012), hal ini disebabkan karena tanaman ini tergolong
penyerbukan sendiri atau self-pollinated (Latoo et al., 2006;
Wijarat et al., 2012). Hasil ekplorasi yang telah dilakukan
di India ditemukan 20 aksesi (Bhan et al., 2008), sedang di
Indonesia dari P. Jawa hanya 11 aksesi ( Januwati et al., 2004)

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 11

A BD
C

Gambar 1. Perawakan dan berbagai bagian tanaman sambiloto,
A. Tanaman, B. Bunga, C. Buah, D. Pucuk tanaman

Penelitian terkait karakterisasi variasi intraspesifik dari
dua puluh lima aksesi Andrographis paniculata Wall. Ex Nees
telah dilakukan oleh Maison et al., (2005). Sebanyak 25
aksesi sambiloto yang dikumpulkan dari berbagai wilayah
geografis di Thailand dan satu dari Laos, dikarakterisasi
secara morfologi dan dilakukan analisis molekuler
menggunakan teknik RAPD dan SSCP. Karakter morfologi
dan variasi kadar lakton total di antara aksesi diukur pada
waktu pembungaan 50% yang tumbuh dengan kondisi
lingkungan yang seragam. Analisis kluster UPGMA terhadap
semua aksesi menghasilkan 4 kelompok utama berdasarkan
18 karakter morfologi. Analisis RAPD mampu membedakan
5 kelompok dengan nilai koefisien kesamaan 0,82,
menggunakan 247 pita yang dihasilkan dari 14 amplifikasi
primer yang dipisahkan oleh Gel poliakrilamida. Hasil

12 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

penelitian menunjukkan bahwa karakter morfologi dan
hasil analisis RAPD dari semua aksesi tidak sesuai dan
tidak berkorelasi dengan wilayah geografis koleksi dan
hasil senyawa aktif. Analisis SSCP menunjukkan sedikit
polimorfisme atas amplifikasi aksesi spesifik. Penanda gen
CPS1-2, IDH1, IDH2 dan IPI bersifat monomorfik dan hanya
2 alel yang terdeteksi untuk CAT danCPS1-1genes.

3. Ekologi dan distribusi

Andrographis paniculata kemungkinan merupakan
tanaman asli dari India, tetapi telah diperkenalkan dan
dibudidayakan sebagai tanaman obat di berbagai belahan
Asia termasuk Indo-China, China, Thailand, Semenanjung
Malaysia, Indonesia, Filipina dan Australia. Sekarang
sambiloto telah banyak dibudidayakan di sebagian besar
wilayah tersebut. Tanaman ini juga telah diperkenalkan,
sebagai tanaman hias di Hindia Barat dan Amerika Tengah.

Pada literatur lain disebutkan bahwa sambiloto termasuk
golongan terna setahun yang merupakan tanaman asli dari
Peninsular India dan Srilanka (Lattoo et al., 2006, Mishra
et al., 2007; Jarukamjorn dan Nemoto, 2008). Tanaman ini
tumbuh alami di Asia Tenggara, Pakistan dan Indonesia, dan
ditanam secara luas di China dan Thailand, India bagian
timur dan barat, dan Mauritius (Mishra et al., 2007). Saat ini
sambiloto ditemukan banyak tumbuh di India, semenanjung
Malaya dan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sambiloto
di India dapat tumbuh di daerah subtropis, pada ketinggian
1-700 m di atas permukaan laut (dpl). Di daerah sub-tropis
sambiloto masih dapat tumbuh walaupun melewati musim
salju, dan tetap hidup sampai umur 130 HST (hari setelah

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 13

tanam). Di Indonesia sambiloto tumbuh mulai dari dataran
rendah di pesisir laut sampai dataran tinggi hingga 1600
m dpl ( Januwati et al., 2006). Tanaman ini mudah tumbuh
dan ditemukan di kebun-kebun desa, pinggir jalan, tempat
sampah, lokasi berpasir terbuka dan lapangan, namun juga
toleran dengan curah hujan tinggi dan tahan terhadap
naungan. Sambiloto yang tumbuh di bawah hutan jati dapat
tumbuh subur meskipun hanya menerima 10-20% dari
cahaya matahari.

Gambar 2. Sambiloto tumbuh di tanah berbatu di
pegunungan Karzt Pantai Parang Gupito Wonogiri

14 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Gambar 3. Sambiloto tumbuh di pekarangan rumah

Gambar 4. Budidaya sambiloto di keঞnggian 1.200 m
dpl (Kebun Tanaman Obat, B2P2TO2T)

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 15

4. Persyaratan tumbuh

Pertumbuhan dan produksi tanaman dalam suatu
ekosistem pertanian tergantung pada interaksi antara
sistem biologis dan lingkungan fisik dimana tanaman itu
tumbuh. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman antara lain
iklim meliputi cahaya, curah hujan, suhu udara, lingkungan
atmosfer (CO2, O2, kelembaban) dan lingkungan perakaran
(keadaan fisik, kimia dan air tanah). Oleh karena itu apabila
kondisi lingkungan tersebut kurang sesuai bagi pertumbuhan
tanaman perlu dilakukan modifikasi sehingga dicapai suatu
tingkat toleransi yang diinginkan. Berikut persyaratan
tumbuh sambiloto untuk dapat mencapai pertumbuhan
dan produksi yang optimal.

a. Iklim

Secara umum lingkungan tumbuh dengan tipe iklim
A, B dan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson
dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun adalah
sesuai untuk membudidayakan tanaman sambiloto.
Oleh Januwati (2005), persyaratan iklim wilayah
pengembangan sambiloto dengan pertimbangan mutu
dan produktivitas simplisia adalah daerah dengan iklim
A dan B, dan di daerah tipe iklim C harus ditambah
penyiraman apabila tidak turun hujan (tingkat
kebutuhan air setara 4 mm/hari). Tetapi pada keadaan
kelebihan air dapat menurunkan produksi sampai 30,8%
dan kekurangan air akan menurunkan produksi sampai
26,7%.

16 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

b. Ketinggian tempat

Ketinggian tempat yang optimum bagi
pertumbuhan dan produksi sambiloto adalah dari
daerah pantai sampai ketinggian 600 m dpl. Tinggi
tempat ini erat hubungannya dengan suhu yang juga
sangat berpengaruh terhadap berbagai proses fisiologi
tanaman dan akan mempengaruhi produksi ambiloto.
Meskipun demikian, budidaya di ketinggian lebih
dari 1.000 m dpl juga masih dimungkinkan dengan
produktivitas rendah.

c. Intensitas cahaya

Selama pertumbuhan tanaman sambiloto menghendaki
banyak sinar matahari. Namun demikian tanaman
ini masih tumbuh dan berproduksi dengan baik pada
kondisi ternaungi sampai 30%. Tetapi jika budidaya
dilakukan dengan kondisi naungan diatas 30%, mutu
simplisia sambiloto cenderung menurun.

d. Jenis tanah

Sambiloto mampu tumbuh hampir pada semua jenis
tanah. Pada habitat alamnya, sambiloto ditemui di
hutan-hutan pada kondisi solum tanah yang dangkal.
Namun demikian, untuk menghasilkan produksi yang
maksimal, diperlukan kondisi tanah yang subur, seperti
Andosol dan Latosol. Di Indonesia, sambiloto lebih
sering dijumpai tumbuh di tanah-tanah kering di daerah
berbatu di tepi pantai.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 17

18 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 3

Budidaya



Sambiloto tergolong tanaman terna (semak) yang tumbuh
di berbagai habitat, seperti pinggiran sawah, kebun, atau hutan.
Di India bunga dan buah bisa dijumpai pada bulan Oktober
atau antara Maret sampai Juli. Di Australia bunga dan buah
antara bulan Nopember sampai Juni, sedang di Indonesia bunga
dan buah dapat ditemukan sepanjang tahun. Pada dasarnya
sambiloto tidak memerlukan penanganan khusus untuk proses
budidayanya. Sebagai tanaman liar, justru lebih sering ditemukan
tumbuh dengan subur tanpa perawatan dibandingkan ketika
dibudidayakan. Tanaman ini meskipun tergolong hari netral
(neutral day plant), namun jika dibudidayakan pada musim
penghujan antara November-Februari, cenderung lebih cepat
menghasilkan bunga dibandingkan ketika ditanam pada musim
kemarau.

Fase kritis budidaya tanaman sambiloto ada pada proses
pembibitan dan transplanting. Keterlambatan pemindahan bibit
dari pesemaian ke lahan menyebabkan tanaman memerlukan
fase adaptasi yang mengakibatkan tanaman menjadi terhambat
pertumbuhannya untuk jangka waktu tertentu. Keadaan ini
ditandai dengan berhentinya pertumbuhan dan daun menjadi
berwarna ungu karena stress. Jika proses transplanting berjalan
dengan baik, maka tanaman akan segera tumbuh dengan subur
seperti jika tanaman ini tumbuh alami secara liar.

Budidaya sambiloto dapat dilakukan pada lahan di dataran
rendah sampai tinggi, tetapi pada dataran tinggi akan terjadi
penurunan produksi, yaitu di dataran rendah (10 – 300 m)
sampai menengah (300 – 600 m) dapat diperoleh bobot kering
herba 19,7 – 104,3 g/tanaman, sedangkan di dataran tinggi
(600 – 1500 m dpl.) hanya menghasilkan 5,3 g/tanaman

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 21

( Januwati et al., 2003). Sebagai bahan tanaman dapat digunakan
biji dan stek, tetapi jenis bahan tanaman tersebut mempengaruhi
produksi bibit simplisia. Bibit dari stek hanya menghasilkan
17.5% dari produksi bibit dari biji, yakni 77,56 g dibandingkan
441,67 g/tanaman (Yusron dan Januwati, 2005).

Produksi optimal dapat diperoleh dari penanaman yang
dilakukan tanpa naungan atau dengan naungan sedang (tingkat
naungan 0-35%). Mutu simplisia dari budidaya tanpa naungan
diperoleh kadar sari larut air sekitar 23,25 -23,9 %. dan mutu
simplisia terbaik pada naungan ringan /sedang (tingkat naungan
20-35%) diperoleh 26,46%. Produksi simplisia pada tingkat
naungan 0, (20-25%), (30-35%) dan (40-45%) adalah 23,43; 18,79;
19,47 dan 11,38 g/tanaman. Atau pada kondisi naungan berat
produksi simplisia hanya diperoleh setengahnya dari tanaman
tanpa naungan ( Januwati dan Yusron, 2005).

Untuk menghasilkan simplisia sambiloto yang bermutu dan
memenuhi persyaratan standar serta memiliki produktivitas
biomasa tinggi perlu mengacu pada sistem budidaya yang baik
(Good Agriculture Practices = GAP). Adapun tahap-tahap kegiatan
budidaya sambiloto adalah sebagai berikut:

1. Perbanyakan tanaman/pembibitan

Tanaman sambiloto umumnya diperbanyak secara
generatif, dengan menggunakan biji, meskipun dapat pula
diperbanyak melalui setek. Perbanyakan tanaman melalui
biji harus memperhatikan beberapa hal antara lain tingkat
kemasakan biji. Untuk memperoleh biji yang viable harus
dipanen dari buah yang masak fisiologis dan dari tanaman
yang memiliki pertumbuhan bagus, bebas hama penyakit

22 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

dan berproduksi tinggi. Buah sambiloto juga tidak boleh
dipanen lewat umur, karena buah sambiloto berjenis buah
kotak yang akan pecah jika buah masak dan kering. Buah
masak fisiologis ditandai dengan buah yang bernas, penuh,
keras, dan berwarna kecoklatan. Buah yang sudah dipanen
segera dikeringkan di bawah sinar matahari pada wadah
tertutup, agar jika buah pecah, biji masih tertampung
dalam wadah. Selanjutnya kulit buah disingkirkan, dan biji
dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan kedap udara.

Tanaman sambiloto mulai menghasilkan buah sampai
masak fisiologis dalam waktu 26 hari setelah antesis (HAS),
dimana berat kering dan vigor benih maksimum. Pada
penyimpanan benih sampai 3 bulan, daya kecambah
benih meningkat, keadaan ini mengindikasikan bahwa
benih sambiloto mempunyai masa dorman. Biji sambiloto
mengalami dormansi sekitar 3 bulan (Hasanah et al., 2005).
Biji sambiloto termasuk benih ortodoks, dengan kulit biji
yang keras dengan permukaan yang tidak rata, dan dapat
disimpan dalam jangka lama (Gambar 5).

Pesemaian dari biji, dilakukan dengan cara merendam
biji terlebih dahulu selama 24 jam dan kemudian dikeringkan
sebelum disemaikan. Perkecambahan akan terjadi 7-10
hari kemudian. Benih siap dipindahkan ke polifag kecil
dengan media tanam campuran dari tanah, pasir dan pupuk
kandang. Benih siap dipindah ke lapang setelah 21 hari.
Benih dari setek umumnya akan lebih cepat berbunga
dibandingkan benih dari biji. Pada saat di persemaian, benih
sebaiknya disiram 2 kali sehari, yakni pagi dan sore hari dan
tempat penyemaian harus cukup naungannya.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 23

Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan
merundukkan cabang-cabang ke permukaan tanah,
kemudian pada bagian ruas batang ditimbun tanah.
Penimbunan dilakukan antara 1-2 bulan dan kemudian
akan tumbuh perakarannya. Selanjutnya batang yang sudah
berakar dipotong dan disemaikan dalam polifag untuk
menjadi bahan penanaman. Bibit dapat pula diperoleh dari
setek, yang diambil dari 3 ruas pucuk tanaman yang sudah
berumur 1 tahun. Bibit setek siap ditanam di lapangan
setelah berumur 15 hari.

Gambar 5. Profil keragaan
benih sambiloto

Gambar 6. Bibit sambiloto
siap tanam

24 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

2 . Varitas Unggul Sambiloto

Karakterisasi dari 11 nomor aksesi hasil eksplorasi
yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
telah dilakukan oleh Balittro. Berdasarkan morfologi
tanaman (karakter kualitatif) hampir sama, demikian juga
berdasarkan sifat ketahanan terhadap penyakit Sclerotium.
Tanaman mempunyai daun hijau, batang persegi berwarna
hijau, bunga berbentuk tabung, mahkota bunga berwarna
putih dengan spot ungu pada bibir mahkota, kelopak bunga
berwarna hijau dengan jumlah 5 buah. Buah sambiloto
berwarna hijau sangat muda, keungunan dan coklat setelah
masak. Sifat buah dehiscent (pecah dengan sendirinya dan
melontarkan biji didalamnya) pada buah yang telah tua/
kering. Biji berwarna coklat terang (Wahyuni et al., 2005).

3. Teknis Budidaya

a. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilakukan agar diperoleh tanah
yang gembur dengan cara menggarpu dan mencangkul
tanah sedalam ± 30 cm. Tanah hendaknya dibersihkan
dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar
lapuk. Saluran drainase harus diperhatikan, terutama
pada lahan yang datar jangan sampai terjadi genangan
(drainase kurang baik). Pembuatan dan pemeliharaan
drainase dimaksudkan untuk menghindari ber-
kembangnya penyakit tanaman.

b. Penanaman

Untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman
yang maksimal, jarak tanam yang dianjurkan adalah

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 25

40 x 50 cm, atau 30 x 40 cm, atau disesuaikan dengan
tingkat kesuburan tanah. Penanaman dapat dilakukan
pada bedengan maupun guludan, yang disesuaikan
dengan kondisi lahan. Penanaman menjadi sangat
penting karena bibit sambiloto umumnya sulit
dipidahkan dari pesemaian. Penanaman harus
seminimal mungkin merusak perakaran bibit sambiloto
untuk mencegah terjadinya stagnasi pertumbuhan
dengan gejala bibit menjadi kerdil dan daun berubah
warna menjadi ungu. Untuk menjamin pertumbuhan
awal yang baik, secara hati-hati plastik polibag dibuka
dan bibit langsung dimasukkan ke dalam lubang tanam
kemudian ditimbun dengan tanah sambil dipadatkan.

c. Pemupukan

Pemupukan yang dianjurkan meliputi pupuk
kandang, Urea, SP-36 dan KCl. Pupuk kandang diberikan
seminggu sebelum tanam. Dosis pupuk kandang
anjuran berkisar antara 10-20 ton/ha, disesuaikan
dengan tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang miskin
dan kurang gembur, dianjurkan untuk memberikan
pupuk kandang lebih banyak. Dosis pupuk buatan
yang dianjurkan adalah 100-200 kg Urea, 150 kg SP-
36, dan 100-200 kg KCl per hektar. Pupuk SP-36 dan
KCl diberikan pada saat tanam, sedang Urea diberikan
dua kali, yakni pada umur 1 dan 2 bulan setelah tanam,
masing-masing setengah dosis.

Pada penelitian pemupukan dinyatakan bahwa
pemberian pupuk N, P dan K dalam bentuk Urea, SP-
36 dan KCl dengan dosis masing-masing 150-200 kg

26 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

dan 10 ton pupuk kandang/ha, menghasilkan simplisia
dengan kadar sari larut air 20,68 – 26,69 % dan produksi
simplisia kering 1200-1500 kg/ha. Rekomendasi dosis
pemupukan harus mempertimbangkan kesuburan
tanah dan tipe iklimnya (Yusron dan Januwati, 2004;
Januwati et al., 2005).

Pada tanah yang kurang subur, melakukan
pemupukan dan pemberian EM4 dapat meningkatkan
kesuburan dan hasil sambiloto. Hasil penelitian
menunjukan bahwa tidak terdapat interaksi antara
dosis pupuk kandang sapi dan konsentrasi EM4. Dosis
pupuk kandang sapi 600 g/polifag dan EM4 sebesar
30 mL/L adalah dosis optimal untuk meningkatkan
pertumbuhan dan produksi sambiloto.

Selanjutnya Emmyzar et al., (1996) melaporkan
bahwa kuantitas simplisia daun sambiloto tertinggi
diperoleh dari pemupukan dengan dosis 100 kg Urea +
100 kg TSP + 50 kg KCl setiap hektar pada jarak tanam 40
cm x 20 cm. Sebagai sumber hara N ternyata penggunaan
pupuk ZA lebih efektif dibandingkan dengan pupuk
Urea, karena dari pupuk ZA selain mengandung unsur N
juga S, sehingga aktivitas khlorophyl daun bisa optimal
(Utami et al., 1996). Untuk dapat menghasilkan mutu
simplisia yang baik, maka peranan hara P dan K perlu
dikaji. Mutu simplisia dipengaruhi juga waktu panen
dan cara pembuatan simplisia.

d. Pengairan

Pengairan menjadi salah satu faktor budidaya
yang sangat menentukan pertumbuhan dan produksi

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 27

tanaman. Sambiloto termasuk tanaman yang toleran
terhadap kekeringan meskipun pada awal masa
pertumbuhan, tanaman ini memerlukan ketersediaan
air yang mencukupi.

Pengembangan budidaya sambiloto agar
memperoleh hasil produksi dan mutu simplisia yang
tinggi, membutuhkan persyaratan iklim A dan B.
Penanaman pada wilayah dengan iklim tipe C harus
ditambah penyiraman apabila tidak turun hujan (tingkat
kebutuhan air setara 4 mm/hari). Namun demikian, pada
keadaan kelebihan air, produksi sambiloto dapat turun
sampai 30,8% dan kekurangan air akan menurunkan
produksi sampai 26,7% ( Januwati et al., 2005).

Januwati et al., (2004) menyampaikan bahwa
produksi dan mutu simplisia sambiloto dipengaruhi
oleh tingkat kelembaban tanah/media tumbuh. Pada
tingkat pemberian air 4 mm/hari diperoleh produksi
dan mutu tertinggi yaitu tingkat produksi 6,39 g/
tanaman dan kadar sari larut air 12,63%. Kelebihan air
menurunkan produksi sampai 30,83% dan kekurangan
air dapat menurunkan produksi sampai 26,72%. Taksasi
produksi simplisia pada panen pertama (2 BST) dari
tingkat pemberian air 4 mm/hari diperoleh produksi
357,84 kg/ha dan tertinggi diperoleh dari tingkat
pemberian air 5 mm/hari sebesar 363,44 kg/ha simplisia.
Penurunan produksi simplisia pada tingkat pemberian
air 2 mm/hari adalah 26,72% dan pada 6 mm/hari
sampai 30,83%, dibandingkan produksi simplisia pada
tingkat pemberian air 4 mm/hari.

28 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

e. Pemeliharaan

Pemeliharaan perlu dilakukan agar tanaman dapat
tumbuh dengan baik. Penyiangan dilakukan seperlunya
disesuaikan dengan kondisi perkembangan gulma. Guna
mencegah pertumbuhan gulma yang akan mengganggu
tanaman, disarankan menutup bedengan dengan
plastik hitam perak. Pemberian mulsa plastik selain
mampu mencegah pertumbuhan gulma yang lebat,
juga akan menjaga lingkungan perakaran tanaman agar
tetap lembab dan hangat sehingga proses absorbsi hara
lebih baik. Disamping itu, drainase perlu juga dipelihara
untuk menghindari terjadinya genangan air.

f. Pola Tanam

Cara budidaya sambiloto bisa dilakukan secara
monokultur maupun tumpangsari, misalnya dengan
jagung. Produksi simplisia yang diperoleh sebesar 3.94
ton/ha (monokultur), 2.29 ton/ha (tumpangsari dengan
jagung dengan jarak tanam 150 cm x 20 cm), dan
1.87 ton/ha (tumpangsari dengan jarak tanam jagung
120 cm x 20 cm). Mutu simplisia berdasarkan kadar
larut alkohol berkisar 12,95 – 14.81 %, dan secara
monokultur diperoleh 14.16-15.80%. Tambahan produksi
jagung pada pola tumpangsari ini diperoleh 3,3-4,2
ton/ha pipilan kering (Yusron et al., 2005). Aplikasi
penelitian ini yaitu dalam pengembangan sambiloto
dapat ditanam dibawah tegakan kelapa, buah-buahan,
sayuran dan palawija asal tingkat naungannya dibawah
35%, dimana mutu dan produktivitas optimum masih
dapat tercapai.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 29

Usaha tani dari polatanam secara monokultur
maupun tumpangsari dengan jagung tersebut,
mempunyai kelayakan B/C-ratio >1, artinya dalam
budidaya sambiloto akan menguntungkan. Pada
polatanam monokultur, tumpangsari dengan jagung
(pada jarak tanam jagung 150cm x 20cm, 120cm x 20cm,
90cm x 20cm) berturut-turut B/C rationya adalah 1,27;
1,11; 1,28 dan 1,45. Karena kebutuhan bibit yang besar
(pada monokultur diperlukan 80.000 bibit, padahal
harganya Rp. 300,-/tanaman), maka penyediaan bibit
menjadi cukup besar porsinya terhadap biaya budidaya
yaitu 65, 50, 45 dan 35% dari total modal (bibit + pupuk
+ upah kerja). Apabila pengadaan bibit dapat dilakukan
oleh petani sendiri, maka biaya produksi dapat ditekan
biayanya, dan usahatani sambiloto akan lebih prospektif
(Pribadi dan Januwati, 2005).

Gambar 7. Pola tanam sambiloto,
A. Tumpangsari dengan jagung, B. Monokultur

30 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

4. Hama dan penyakit

Tanaman sambiloto dapat pula diserang hama dan
penyakit seperti tanaman pada umumnya, walaupun
disisi lain tanaman sambiloto sendiri merupakan tanaman
bersifat pestisida hayati. Serangan hama dan penyakit pada
tanaman sambiloto dapat mencapai 90 % dengan tingkat
kerusakan mencapai 92 persen. Oleh sebab itu keberadaan
hama penyakit pada lahan tanaman budidaya sambiloto
perlu dikendalikan agar tanaman yang dibudidayakan dapat
tumbuh dan berproduksi secara optimal. Beberapa hama
dan penyakit yang dapat menyerang tanaman sambiloto
seperti Jenis hama meliputi Deloyala guttata, Lamprosoma sp.,
Stenodema trispinosum, Leptysma marginicollis, Bemisia tabaci,
Myzus persicae dan Famili Pseudococcidae, Aphis spp.; jenis
penyakit meliputi jamur Sclerotium sp. dan Phytopthora sp.

a. Hama

Beberapa jenis hama yang menyerang tanaman
sambiloto adalah:

1. Kutu daun (Aphis spp.)

Aphis spp. atau Aphis gossypii biasa dikenal dengan
kutu daun yang termasuk dalam famili Aphididae.
Sifatnya polifag dan kosmopolitan yaitu dapat
memakan segala tanaman dan tersebar di seluruh
dunia. Tanaman inangnya bermacam-macam,
antara lain kapas, semangka, kentang, cabai, terung,
bunga sepatu dan jeruk. Warna kutu ini hijau tua
sampai hitam atau kuning coklat. Gejala serangannya
menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi
kerdil dan batang memutar (memilin), daun menjadi

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 31

keriting dan berwarna kuning. Pengendalian kutu
daun ini dengan dua cara yaitu:

(1) secara alami, yaitu dengan cara memasukkan
musuh alaminya, antara lain lembing, lalat dan
jenis Coccinellidae;

(2) menggunakan pestisida organik, berupa
campuran bawang putih, bawang merah,
cabe rawit, daun mimba, daun tomat, merica,
dan sambiloto itu sendiri. Jika hama masih
tetap menyerang setelah disemprot, maka
penyemprotannya dapat diulang setiap 7-14 hari
sekali.

2. Kutu daun kecil (Deloyala guttata)

Deloyala guttata, sejenis kutu dengan ukuran
sangat kecil 5 mm, kutu dewasa memakan daun
sambiloto dan penyerangan lebih sering terjadi
pada musim penghujan. Cara pencegahan sama
dengan hama lainnya.

3. Kutu daun putih (Pseudococcidae)

Hama ini seperti kutu putih Mealybugs,
berkembang biak dengan baik pada kondisi lembab
dan awal musim kemarau. Hama ini menghisap
cairan tanaman dan bagian tanaman seperti daun,
batang, ranting, tangkai dan sebagainya. Hama
ini dapat dikontrol dengan cara menggunakan
biocontrol agent seperti Verticillium lecanii atau
dengan menggunakan kain secara manual, hama
tersebut dibersihkan dari tangkai atau bagian
tanaman yang diserang. Pengendalian hama jenis

32 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

ini dapat menggunakan penyemprotan dengan
cairan detergen dengan konsentrasi berkisar antara
5-10%.

b. Penyakit

Sambiloto yang dibudidayakan maupun yang
tumbuh liar juga tidak lepas dari serangan penyakit.
Akibat serangan bisa mengakibatkan kematian tanaman
dalam jumlah besar karena umumnya mudah sekali
menyebar. Beberapa jenis penyakit yang menyerang
sambiloto adalah:

1. Sclerotium sp.

Seringkali menyerang sambiloto sehingga
menyebabkan tanaman menjadi layu. Serangan
sering terjadi di musim penghujan, sehingga
kelembaban lingkungan mempercepat serangan
penyakit ini. Pencegahan penyakit ini dengan
menyiram tanaman sambiloto dengan bubuk
cengkeh atau eugenol, sehingga serangan Sclerotium
sp dapat ditekan seminimal mungkin.

2. Phytopthora sp.

Penyakit ini banyak menyerang pada musim
hujan dan menyebabkan tanaman diserang secara
menahun. Berkembang dengan baik terutama pada
tanah basah/ lembab. Gejala serangannya warna
daun memucat, kekuningan dan bercak coklat,
pertumbuhan tanaman yang diserang menjadi
kerdil, pangkal daun memerah dan tanaman
lambat laun menjadi mati. Pencegahannya dengan
cara memperhatikan sanitasi lingkungan tanaman

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 33

sambiloto, dan penyiangan dilakukan lebih sering
apabila banyak gulma yang tumbuh. Selain itu
drainase perlu dipelihara untuk menghindari
terjadinya genangan air.

34 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 4

Panen dan Pascapanen



Penanganan panen dan pascapanen merupakan salah
satu kunci keberhasilan untuk menjamin mutu dan daya
simpan produk tanaman obat. Kegiatan ini harus dilakukan
sesuai prinsip Penanganan Panen dan Pascapanen yang baik
(Good Handling Practices = GHP). Mengacu pada amanah UU
No 13 tahun 2010 tentang Hortikultura, pada Pasal 69 ayat 3
dinyatakan bahwa Usaha Panen dan Pascapanen dilakukan
melalui kegiatan panen dan pascapanen yang baik. Hal ini juga
telah ditindak lanjuti dengan terbitnya Permentan no 73/2013
tentang Pedoman Panen, Pascapanen dan Pengelolaan Bangsal
Pascapanen Hortikultura yang Baik (Good Handling Practices for
Horticulture and Good Horticulture Packing House Management).

Kandungan senyawa aktif tertinggi pada sambiloto
(andrografolid) terdapat pada daun, dan pada tanaman berumur
satu bulan, sementara biomasa tertinggi pada tanaman berumur
tiga bulan. Dalam hal ini penentuan saat panen dan penanganan
pascapanen sangat menentukan akan kualitas dan kandungan
aktif pada simplisianya. Tanaman obat pada umumnya memiliki
sifat khas terutama dalam hal pemanfaatannya berdasarkan
kandungan zat berkhasiat yang kadarnya sangat bervariasi.
Oleh karena itu, waktu dan cara panen yang tepat amat
menentukan kadar senyawa aktif atau zat berkhasiat pada
tanaman. Dari pengujian awal diketahui bahwa kualitas simplisia
sambiloto dipengaruhi oleh ekosistem tempat tumbuhnya.
Kadar sari yang larut dalam air dan alkohol sambiloto dari
daerah dataran rendah sampai sedang (200-800 m dpl.) dapat
menghasilkan mutu lebih tinggi dari standar mutu MMI.
Ekstrak dengan pelarut air menghasilkan rendemen tinggi
(15,6%) dibandingkan dengan pelarut alkohol (13,5%).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 37

1. Panen

Panen adalah rangkaian kegiatan pengambilan hasil
budidaya berdasarkan umur, waktu, dan cara sesuai dengan
sifat dan/atau karakter produk. Prinsip panen merupakan
upaya memanfaatkan hasil budidaya dengan cara tertentu
sesuai sifat dan/atau karakter tanaman. Hasil panen secepat
mungkin harus dilanjutkan ke proses pascapanen yang
baik, seperti dipindahkan ke tempat yang aman guna
meminimalisasi terjadinya susut/kerusakan. Disamping
itu diupayakan agar produk atau tanaman yang dipanen
sesedikit mungkin dipindahtangankan.

Tujuan pemanenan adalah untuk menjaga agar
kehilangan dan kerusakan hasil panen sekecil mungkin,
mempertahankan hasil panen dalam kondisi baik, dan
menyalurkan hasil panen ke proses berikutnya secepat
mungkin. Pada saat dilakukan pemanenan di kebun/lahan,
beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah; 1) penanganan
hati-hati terhadap hasil panen agar dapat dihasilkan
sambiloto dengan mutu baik, 2) kualitas dan kondisi produk
sangat tergantung pada ketepatan dan kecepatan proses
panen sampai pascapanen.

Pemanenan sambiloto dilakukan pada saat tumbuhan
mulai atau menjelang berbunga. Pada umur 2-3 bulan
dilakukan panen dengan memangkas batang utama
sambiloto, sekitar 10 cm dari permukaan tanah. Panen
berikutnya dilakukan setelah 2 bulan dari panen pertama.
Produksi sekitar 35 ton biomasa segar per Ha, atau 3-3,5 ton
simplisia per Ha. Biomasa yang telah dipanen dibersihkan,
daun dan batang yang telah dibersihkan kemudian dijemur

38 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

pada suhu 40-50oC, sampai kadar air 10%. Penyimpanan
bahan ditempatkan dalam wadah tertutup sehingga tingkat
kekeringannya tetap terjaga.

Daun sambiloto umumnya bertekstur lunak karena
kandungan airnya tinggi. Jika umur petik daun tidak sama
maka penanganan dan pengelolaan pascapanennya juga
berbeda. Daun yang dipanen muda biasanya dikeringkan
secara perlahan mengingat kandungan airnya tinggi,
yang memungkinkan reaksi enzimatis masih berlangsung
dengan cepat. Disamping itu jaringan yang dimiliki daun
muda masih sangat lunak sehingga mudah rusak. Sementara
daun-daun yang dipanen pada umur tua diberi perlakuan
khusus berupa pelayuan yang dilanjutkan dengan proses
pengeringan secara perlahan agar diperoleh warna yang
menarik.

Umur panen berpengaruh pada kandungan
andrografolid karena semakin tua umur tanaman maka
bagian batangnya akan lebih banyak dibandingkan
daunnya. Pada umur 1 bulan diperoleh kadar
andrografolid 1,50%. Di daerah Tawangmangu
(kelembaban rendah), dengan dikeringkan anginkan
selama 4 hari kadar androgropolidnya meningkat menjadi
1,52% (Priyambodo, 2004). Dari hasil analisa mutu
fitokimia simplisia, menunjukkan bahwa daun lebih bagus
dibandingkan batang (Yusron et al., 2004).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 39


Click to View FlipBook Version