The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by B2P2TOOT Tawangmangu, 2020-09-03 00:45:30

Sambiloto

Sambiloto

Gambar 8. Cara panen Sambiloto

Pemilihan dan penggunaan wadah saat panen juga
penting dan harus memiliki ukuran yang cocok sehingga
memudahkan dibawa oleh pemanen waktu bergerak
di kebun. Dalam penggunaan wadah (menggunakan
keranjang yang tidak merusak hasil panen) saat panen perlu
memperhatikan hal sebagai berikut;
1. Mengisi wadah sesuai kapasitasnya,
2. Menyusun hasil pemetikan/pemanenan dalam wadah

penampung dengan cara yang baik dan benar agar tidak
mudah rusak,
3. Menutup wadah penampung dengan baik agar tidak
terkontaminasi atau tercecer,
4. Meletakkan hasil panen di wadah penampungan,
lapang/tempat pengumpulan yang bersih, terhindar

40 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

dari sinar matahari langsung dan hujan, terlindung dari
pencemaran fisik, kimia dan biologis.

2. Pascapanen

Pascapanen adalah rangkaian kegiatan yang dimulai dari
pengumpulan hasil panen, proses penanganan pascapanen
hingga produk siap dihantarkan ke proses berikutnya atau
ke konsumen. Prinsip dasar penanganan pascapanen yaitu
rangkaian kegiatan setelah panen dilakukan dalam tahapan
dan waktu sesingkat mungkin untuk menghantarkan
produk dari lahan produksi ke tangan konsumen atau tahap
berikutnya dalam keadaan segar dan baik. Di samping itu
diupayakan agar produk sesedikit mungkin kontak fisik atau
dipindahtangankan.

Penanganan dan pengelolaan pascapanen tanaman obat
dilakukan terutama untuk menghindari kerugian-kerugian
yang mungkin timbul akibat perlakuan prapanen, panen
dan pascapanen yang kurang tepat. Hal-hal yang dapat
mengakibatkan kerugian, misalnya terjadinya perubahan
sifat zat yang terdapat dalam tanaman, perlakuan dan cara
panen yang tidak tepat, masalah daerah produksi yang
menyangkut keadaan iklim dan lingkungan, teknologi
pascapanen yang diterapkan, limbah, serta masalah sosial-
ekonomi dan budaya. Tujuan pengelolaan pascapanen
tanaman obat dapat dirangkum sebagai berikut (Siswanto,
2004):

1. Mencegah kerugian karena perlakuan prapanen yang
tidak tepat.

2. Menghindari kerusakan akibat waktu dan cara panen
yang tidak tepat.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 41

3. Mengurangi kerusakan pada saat pengumpulan,
pengemasan, dan pengangkutan saat pendistribusian
hasil panen.

4. Menghindari kerusakan karena penerapan teknologi
pascapanen yang kurang tepat.

5. Terjaminnya suplai bahan baku produksi tanaman obat
meskipun tidak pada musimnya.

6. Pengolahan limbah yang dapat memberikan nilai
tambah bagi produsen simplisia.

7. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
dan menjamin kelestariannya.

Rangkaian kegiatan penanganan dan pengelolaan
pascapanen sambiloto meliputi ; sortasi basah, pencucian,
pelayuan, perajangan, sortasi kering, pembersihan,
pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan.
Secara detail proses ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Sortasi Basah

Sortasi basah dilakukan terhadap bahan yang
masih segar untuk memisahkan atau membuang bahan
pencemar lain berupa tanah, kotoran, daun yang busuk,
atau tanaman lain yang terikut dari proses panen. Untuk
memperoleh simplisia berkualitas maka sortasi basah
ini harus dilakukan dengan cermat agar bahan benar-
benar bebas dari kotoran dan bahan organik asing lain
yang mencemari.

Dalam sortasi basah juga dilakukan perompesan
(trimming) yaitu kegiatan memisahkan atau membuang
bagian produk yang tidak diinginkan seperti memotong

42 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

tangkai, akar, dan bagian tertentu yang tidak diperlukan.
Perompesan sebaiknya menggunakan cara dan alat yang
tidak merusak produk dan menyediakan wadah/tempat
untuk menampung sampah/sisa-sisa bagian tanaman
yang dibuang.

2. Pencucian

Tanah dan kotoran yang tidak dapat dihilangkan
pada saat sortasi basah dapat dibersihkan pada saat
pencucian. Pencucian juga berfungsi untuk menurunkan
jumlah mikroba yang menyebabkan pembusukan
dan penampilan simplisia tidak menarik. Pencucian
dilakukan terutama pada simplisia yang berada dalam
tanah dan dekat tanah, termasuk sambiloto karena
mempunyai daun yang dipanen, melekat dan dekat
dengan permukaan tanah.

Pencucian bahan dilakukan dalam bak pencuci
atau dalam keranjang pencuci di bawah air mengalir
yang berasal dari sumber air yang bersih. Kegiatan ini
dilakukan secara bertingkat sampai air pencuci jernih.
Lakukan proses pencucian secara hati-hati agar daun
atau bahan tidak rusak karena kerusakan bahan akan
memicu proses pembusukan. Segera setelah bahan
dicuci maka harus dilakukan penirisan di dalam rak
peniris sampai air bekas pencucian hilang. Penirisan
sebaiknya dilakukan di tempat yang teduh dengan
aerasi yang baik. Dari hasil penelitian sebelumnya herba
sambiloto dapat dibiarkan layu dalam rak penirisan
selama 2-3 hari agar terjadi fermentasi yang memacu
peningkatan kadar andrografolid ( jokopriambodo,
2004).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 43

Gambar 9. Proses pencucian berঞngkat
dengan sumber air PAM

3. Penirisan

Setelah dicuci, bahan simplisia ditiriskan dengan
cara dihamparkan diatas tikar atau alas lain yang
berlubang dan diletakkan diatas rak yang bersih.
Penirisan dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan kandungan air di permukaan bahan
dan dilakukan sesegera mungkin sehabis pencucian,
dan bahan sesering mungkin dibolak balik agar air
cepat menetes dan menguap. Penirisan dilakukan pada
tempat yang teduh dan terhidar dari sinar matahari
langsung serta mendapatkan aliran udara yang cukup
agar terhindar dari fermentsi dan pembusukan.

44 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Gambar 10. Penirisan bahan pada rak
peniris di ruang beraerasi baik

4. Perajangan
Setelah bahan dilayukan di rak peniris selama 2-3

hari, maka dilakukan pengubahan bentuk dengan
perajangan atau pemotongan dengan ukuran panjang
lebih kurang 5 cm. Kegiatan ini bertujuan agar diperoleh
ukuran simplisia yang lebih kecil sehingga mudah
dilakukan pengolahan lebih lanjut. Pisau perajang harus
terbuat dari stainless stell karena bersifat inert (tidak
bereaksi dengan bahan).

5. Pengeringan
Pengeringan sambiloto dapat dilakukan dengan

cara mekanis menggunakan oven pengering atau secara
alamiah di bawah sinar matahari. Untuk pengeringan
dengan oven bahan langsung dimasukkan dalam mesin
dan suhu diatur tidak lebih dari 500C. Sedangkan
pengeringan dengan sinar matahari dapat dilakukan

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 45

dalam rak pengering atau di atas tambir. Dalam
proses pengeringan bahan harus sering dibolak-balik
agar diperoleh kering secara serentak. Pengeringan
dihentikan setelah bahan cukup kering dengan kadar air
10-11%, secara fisik ditandai dengan mudah dipatahkan
batang dan daunnya jika diremas langsung hancur.
Dalam proses pengeringan tersebut dapat dilakukan
kegiatan sortasi untuk memisahkan atau membuang
pencemar baik organik maupun an-organik yang terikut
selama proses pengolahan maupun pengeringan.

Teknik pengeringan simplisia dengan cara pelayuan/
diangin-anginkan dulu selanjutnya digunakan alat
pengering (blower) atau dijemur akan memberikan
rendemen lebih tinggi dibandingkan langsung
dikeringkan dengan blower atau matahari, yaitu
diperoleh rendemen 50,9-51,5% lebih tinggi. Kandungan
andrografolid ekstrak dari pengeringan langsung hanya
mencapai 0,8 – 0,9% (Ma’mun et al., 2004).

Pengeringan merupakan kegiatan untuk menurun-
kan kadar air sampai pada kondisi keseimbangan
(equilibrium moisture content), sehingga aman untuk
disimpan, karena aman dari kerusakan mikrobiologis,
enzimatis dan kimiawi. Tujuan pengeringan adalah
menurunkan kadar air sehingga bahan menjadi lebih
awet dan memudahkan pada proses berikutnya.
Pengeringan harus dilakukan secara baik, karena
akan mempengaruhi mutu dan zat berkhasiat yang
terkandung didalamnya. Dengan pengeringan yang baik
akan dihasilkan produk dengan kadar berkhasiat yang
stabil dan mempunyai penampilan fisik yang bagus,

46 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

bila dilakukan tidak dengan baik maka akan dihasilkan
produk yang tidak memenuhi syarat yang diharapkan.

Pengeringan dilakukan sesuai dengan pedoman dan
dengan menggunakan perlengkapan kerja standar oleh
petugas terlatih dan sehat. Pengeringan dapat dilakukan
dengan berbagai cara, antara lain;

a. Penjemuran dengan sinar matahari, merupakan
proses pengeringan sederhana dan murah, karena
matahari tersedia sepanjang tahun dan tidak
memerlukan peralatan khusus. Pengeringan dapat
dilakukan di atas alas dari terpal plastik, tikar,
anyaman bambu, atau lantai semen/ubin yang
bersih dan bebas dari pencemaran.

Penjemuran dilakukan dengan menyebarkan
bahan secara merata pada bidang penjemuran, dan
secara periodik dilakukan pembalikan bahan agar
pengeringan merata dan bahan tidak mengalami
keretakan. Saat dikeringkan, bahan jangan ditumpuk
terlalu tebal, tetapi diratakan supaya bahan kering
merata.

b. Pengeringan dengan tipe rak/kabinet, pengering
ini mempunyai bentuk persegi atau bulat yang
didalamnya terdapat rak-rak, dan dipanaskan
dengan menggunakan listrik.

c. Pengeringan dengan oven listrik, kelebihannya
dapat mengatur temperatur dan lama pengeringan,
serta pembuangan uap air.

d. Pengeringan dengan solar driyer dengan energi
kombinasi, terdiri dari ruang pengering sebagai

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 47

pengumpul panas tenaga surya, solar collector, rak
pengering, pemanas tambahan (tungku biomasa),
dan pintu transparan (efek pemanasan ini seperti
pemanasan dalam rumah kaca).

6. Sortasi Kering

Sortasi kering dilakukan untuk mencegah
tercampurnya simplisia sambiloto dengan simplisia
lain (benda asing dan kotoran) yang terbawa dan tidak
diinginkan. Prinsip sortasi kering sama dengan sortasi
basah, tetapi dilakukan saat simplisia telah kering,
sebelum dilakukan pengemasan.

Kegiatan sortasi kering dilakukan untuk lebih
menjamin simplisia benar-benar bebas dari benda asing
sehingga aman untuk digunakan sebagai bahan obat.
Kegiatan ini dapat dilakukan secara manual atau dengan
mekanis, dan dapat dipadukan dengan kegiatan grading
(pengkelasan) sebelum dilakukan pengemasan.

7. Pengemasan

Bahan yang telah kering harus segera dikemas jika
tidak langsung digunakan. Pengemasan merupakan
kegiatan untuk mewadahi dan/atau membungkus sesuai
dengan karakteristik produk. Pengemasan produk
tanaman obat dapat dilakukan secara manual maupun
mekanis tergantung dari jumlah dan jenis produk.
Pengemasan sangat berpengaruh pada mutu simpisia
sambiloto, dan ini terkait dengan kegiatan proses
pengangkutan dan penyimpanan. Lakukan pemilihan
bahan pengemasan yang tidak mudah rusak dan tahan

48 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

lama, seperti kertas semen atau kantong plastik. Sebelum
pengemasan, simplisia daun juga dapat dilakukan
pengempaan (pressing) sehingga memudahkan dalam
pengemasan.

8. Penyimpanan

Penyimpanan merupakan kegiatan untuk
mengamankan produk sebelum diproses atau dikirim.
Kondisi wadah, ruang, suhu, kelembaban dan atmosfer
penyimpanan disesuaikan dengan karakteristik produk
dan tujuan penyimpanan. Penyimpanan dilakukan di
tempat bersih, kering beraerasi dan ventilasi baik, serta
terhindar dari sinar matahari langsung. Penyimpanan
simplisia kering dilakukan pada rak-rak kayu dan tidak
boleh langsung ditempatkan di lantai.

Dalam penyim-
panan, bahan disusun
dan ditata berdasarkan
konsep FIFO (First In
FirstOut), artinya bahan
yang pertama masuk
ke penyimpanan harus
yang keluar pertama
kali juga. Titik kritis
kegiatan penyimpanan
yaitu :

1) menyiapkan ruang
penyimpanan,

Gambar 11. Pengemasan dan
penyimpanan simplisia sambiloto

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 49

2) melakukan pencatatan keluar/masuk produk dan
lokasi penyimpanannya,

3) melakukan pencatatan data suhu, kelembaban dan
komposisi atmosfer serta data loading (kegiatan
bongkar muat dari gudang penyimpanan)

50 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 5

Kandungan Kimia dan Profil Fitokimia



1. Kandungan Kimia

Berbagai riset fitokimia untuk mengungkap kandungan
senyawa aktif sambiloto sudah sangat banyak dilakukan,
baik dari luar negeri maupun berbagai lembaga riset dalam
negeri. Hasil riset fitokimia telah menemukan berbagai jenis
senyawa kimia baik yang telah diuji aktivitasnya maupun
yang belum diketahui efek biologinya di tingkat hewan coba
maupun ke manusia langsung.

Rao et al., (2004) berhasil mengisolasi 23 senyawa
kimia dari herba sambiloto yang meliputi golongan
flavonoid, andrografolid dan asam fenolat, yaitu 5, 7, 2’,
3’ - tetrametoksiflavanon, 5 - hidroksi, 7,2’3’-trimetoksiflavon,
 - sitosterol, andrografolid, 14 - deoksi - 11, 12 -
dedihidroandrografolid, 14 - deoksiandrografolid,
7 - O - metildihidrowogonin, dihidroskulkapflavon I,
7-O-metilwogonin, 5-hidroksi-7,8,2’, 5’-tetrametoksiflavon,
5-hidroksi-7,8,2’,3’-tetrametoksiflavon, 5 - hidroksi - 7, 2’,
6’ - trimetoksiflavon, 12’ - metileter - skulkapflavon, asam
sinamat, asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat,
7 - O - metil - wogonin - 5 - glukosida, skulkapflavon
I–2’-glukosida,14-deoksi-15-isopropiliden-11,12-didehidro-
andrografolid, 14 - deoksi - 11- hidroksiandrografolid,
neoandrografolid, dan androhrafosid.

Andrografolid mudah larut dalam metanol, etanol,
piridin, asam asetat dan aseton, tapi sedikit larut dalam eter
dan air. Titik leleh dari komponen ini adalah 228 – 2300C
dan dalam metanol memiliki  maks pada 223 nm. Analisis
andrografolid dapat dilakukan dengan Kromatografi Lapis
Tipis, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan Kristalisasi
(Wongkittipong et al., 2000; Rajani et al., 2000).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 53

Kandungan andrografolid sambiloto dari beberapa
lokasi 0.95%-2% dari berat kering (Sabu et al., 2001; Raina
et al., 2007; Patarapanich et al., 2007; Sharma, et al., 2009;
Pandey & Mandal 2010; Mamatha 2011). Kandungan
dipengaruhi lokasi penanaman (geografi), musim tumbuh,
genetik tanaman dan variasi somaklonal (Koobkokkruad et
al., 2008; Pandey & Mandal 2010). Umur dan waktu panen
dan stadium tumbuh juga mempengaruhi mutu bahan aktif
(Bhan et al., 2006). Pada umur tanaman 30-120 hari diperoleh
andrografolid 0.25%-3.02% (Parasher et al., 2011). Tetapi pada
keadaan yang optimum kandungan andrografolid mencapai
5-7% (Bhan et al., 2006).

Chen et al., (2006) berhasil mengisolasi 12 senyawa
flavon dari sambiloto, yang meliputi (1) 7-metoksiwogonin,
(2) 7-metoksi-dihidrowogonin, (3) 5-hidroksi-7, 8, 2’,
5’- tetrametoksiflavon, (4) 2’-metoksileter skullkaflavon, (5) 5 -
hidroksi - 7, 8, 2’, 3’ - tetrametoksiflavon, (6) 5, 4’ - dihidroksi-7,
8, 2’, 3’ - tetrametoksiflavon, (7) dihidroskullkaflavon,
(8) 5, 7, 8-trimetoksidihidroflavon, (9) 5, 2’ - dihidroksi
- 7, 8 - dimetoksiflavon, (10) andrografidin C, (11) 5, 7,
4’-trihidroksiflavon dan (12) 5, 7, 3’, 4’-tetrahidoksiflavon.

Kulyal et al., (2010) melaporkan enam senyawa
kelompok andrografolid dan tiga senyawa neoandrografolid
yang berhasil di isolasi dari Andrographis paniculata.
Kelompok andrografolid meliputi (1) andrografolid,
(2) 14-deoksi-11, 12-didehidroandrografolid, (3) 14 -
deoksiandrografolid, (4) 3, 14 - dideoksiandrografolid,
(5) 14 - deoksi - 11 - oksoandrografolid, (6) 14 - deoksi -
12-hidroksiandrografolid. Sedangkan senyawa kelompok

54 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

neoandrografolid, meliputi (1) neoandrografolid, (2)
andrografisid, (3) 14-deoksiandrografisid.

Tan et al., (2016), telah melakukan isolasi kandungan
kimia pada empat organ tumbuhan Andrographis paniculata
(daun, akar, biji dan batang). Hasilnya dilaporkan, dari daun
diperoleh (1) andrografolid, (2) 14-deoksiandrografolid,
(3) 14-deoksi-12-hidroksiandrografolid, (4) -sitosterol,
(5) stigmasterol dan (5) klorofil. Dari akar didapat (1)
-sitosterol, (2) stigmasterol, (3) 5, 2’-dihidroksi-7,8-
dimetoksiflavon, (4) ester trans-sinamat rantai panjang, (5)
ester -sitosterol dengan asam lemak, sementara dari bijinya
didapat (1) -sitosterol, (2) monogalaktosil diasilgliserol, (3)
lupeol, (4) triasilgliserol. Dari batangnya didapat senyawa
14-deoksiandrografolid. Dilaporkan juga senyawa ester
trans-sinamat rantai panjang, ester -sitosterol dengan
asam lemak, monogalaktosil diasilgliserol, lupeol dan
triasilgliserol untuk pertama kalinya dilaporkan dapat di
isolasi dari Andrographis paniculata.

AB

Gambar 12. Senyawa andrograpolid (A); dan neo andrograpolid (B)

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 55

2. Profil Fitokimia

a. Parameter Mutu Simplisia

Standarisasi simplisia sambiloto dilakukan untuk
menjamin kualitas bahan, keamanan, dan konsistensinya
biladijadikanproduk.Standarisasidilakukanberdasarkan
sifat fisik, kandungan kimia serta kandungan mikroba
dan kapang dalam suatu bahan. Secara fisik, kebenaran
botani perlu ditentukan dengan mengamati morfologi,
aroma, dan rasa bahan, dalam hal ini rasa dari sambiloto
adalah pahit khas sambiloto. Dengan kata lain,
standarisasi biasanya meliputi autentikasi bahan,
pemeriksaan parameter fisik, evaluasi sidik jari dan
senyawa penanda, pengujian mikrobiologi, residu
pestisida, residu logam berat hingga pengujian
bioaktivitas. Tabel 1 memperlihatkan berbagai parameter
standar ekstrak herba sambiloto yang dipersyaratkan
oleh Badan POM selaku otoritas yang melakukan
pengawasan mutu obat tradisional dan bahan baku obat
tradisional.

Menurut WHO (World Health Organization)
dalam WHO Monographs on Selected Medicinal Plants
menyatakan bahwa identifikasi mengenai herba
sambiloto dilakukan melalui uji identitas umum. Uji
identitas umum meliputi uji makroskopis, mikroskopik,
analisis kimiawi, dan analisis kromatigrafi lapis tipis.
Secara organoleptik sambiloto memiliki bau khas dan
rasa yang sangat pahit. Karakteristik mikroskopiknya
adalah daun epidermis atasnya tidak memiliki stomata,
trikoma kelenjar, uniseluler dan multiseluler trikoma

56 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

langka, cystoliths cukup besar; lithocysts besar (27-30 pM
tebal, 96-210 m panjang dan hingga 49 m lebar); sel-
sel palisade kolumnar; collenchyma di pelepah bawah
epidermis; sel parenkim spons; ikatan pembuluh
xilem mengalami lignifikasi di bagian atas dan floem
mengalami lignifikasi di bagian bawah; spiral, scalariform
dan retikular kapal. Daun epidermis bawah: lapisan sel
bergelombang berdinding; stomata diasitik; trikoma
dengan diameter hingga 36 m dan panjang 180 m dan
terdapat cistolis. Batang: epidermis memiliki trikoma
kelenjar dan non-kelenjar. Collenchyma padat di sudut-
sudut batang; parenkim mengandung khloroplastids.
Endodermis terdiri dari lapisan sel berdinding tebal.
Kayu dengan spiral, scalariform dan pembuluh xilem;
empulur terdiri dari sel-sel parenkim besar, kristal
asikular kecil dari kalsium oksalat terjadi pada empulur
dan korteks sel batang dan daun (WHO, 2002).

Tabel 1. Bilangan parameter ekstrak untuk sambiloto
(Sampurno, 2003)

Parameter (%) Nilai

1. Rendemen 9,59 – 10,20
2. Kandungan kimia (flavonoid total) -
3. Kadar minyak atsiri 19,79 –26,51
4. Susut pengeringan 4,21 – 4,65
5. Bobot jenis 0,83 –0,84
6. Kadar air 3,94 – 4,13
7. Kadar abu total 0,06 – 0,97
8. Kadar abu larut asam 0,01 –0,04
9. Kadar senyawa larut air -
10. Kadar senyawa larut etanol -

11. Sisa pelarut Negatif

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 57

12. Residu pestisida Pb dan Cd negatif
13. Cemaran logam berat Negatif
14. Cemaran Aflatoxin -
15. Cemaran mikroorganisme Bakteri patogen
negatif Angka
lempeng total < 10
ko/g Angka kapang
dan khamir < 10
ko/g.

Sambiloto yang akan digunakan untuk menjadi
bahan baku obat harus bebas dari mikroba yang
berbahaya. Kandungan total diterpena laktonnya harus
tidak kurang dari 6% yang ditentukan berdasarkan kadar
andrografolid. Kandungan bahan organik asing tidak
lebih dari 2%, kandungan abu larut asam tidak lebih
dari 2%, bahan terekstraksi larut air tidak kurang dari
18%, bahan terekstraksi larut alkohol tidak kurang dari
13% menggunakan etanol 85%, kadar air kurang dari 10%,
kandungan residu pestisida aldrin dan dieldrin tidak
lebih dari 0,05 mg/kg, serta kadar logam berat harus
lebih kecil dari yang dipersyaratkan di tiap negara.

b. Profil Fitokimia

Profiling kromatografi sambiloto menggunakan
sidik jari kromatografi lapis tipis telah ditetapkan oleh
Shofa et al., (2017). Proses profiling ini dilakukan dengan
cara mempreparasi sampel yaitu sebanyak 1 g simplisia
sambiloto ditambahkan 10 ml metanol dan disonikasi
selama 30 menit. Selanjutnya campuran disaring dan
filtrat digunakan sebagai larutan uji. Yang digunakan
sebagai standar pembanding adalah Larutan standar

58 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

andrografolid yang dibuat dengan konsentrasi 1000
μg/mL dalam metanol. Pelat KLT silika gel 60F 254
digunakan sebagai fase diam, dan larutan pengembang
berupa Kloroform-metanol (9,5: 0,5). Sejumlah 15 μL
larutan sampel dan standar diaplikasikan pada pelat KLT
dalam bentuk pita dengan lebar 8 mm dengan jarak antar
pita 5 mm, 10 mm dari sisi bawah, dan 5 mm dari sisi atas
pelat. Larutan pengembang diletakkan ke dalam bejana
Twin trough chamber dan dijenuhkan selama 30menit.
Setelah itu, pelat yang telah berisi sampel dan standar
dimasukkan ke dalam bejana yang telah dijenuhkan.
Proses kromatografi dilakukan hingga larutan
pengembang berjarak 80 mm dari posisi aplikasi
sampel. Pelat kemudian diambil dari bejana dan
dideteksi pita yang muncul di bawah lampu UV 254nm.
Kemudian pelat disemprot dengan larutan pewarna.
Larutan pewarna dibuat dengan cara 10 mL asam sulfat
pekat ditambahkan pada campuran 170 mL metanol
dan 20 mL asam asetat glasial, kemudian campuran
tersebut ditambahkan dengan 1 mL anisaldehida.
Setelah pelat disemprot dengan larutan pewarna, pelat
dikeringkan dalam oven 1050C selama 10 menit. Pita
yang muncul dideteksi pada sinar tampak.

Si Pahit yang Semakin Melejit A
SAMBILOTO 59

B

Gambar 13. Sidik jari KLT sambiloto dengan deteksi (a) UV 254 nm
dan (b) disemprot menggunakan pereaksi anisaldehida dilihat di
bawah sinar tampak (Shofa et al., 2017)

Keterangan :

Lajur Sampel

1 Andrografolid
2 Daun sambiloto (Bogor, Jawa Barat)
3 Batang sambiloto (Bogor, Jawa Barat)
4 Akar sambiloto (Bogor, Jawa Barat)
5 Daun sambiloto (Sleman, Daerah Istimewa

Yogyakarta)
6 Batang sambiloto (Sleman, Daerah Istimewa

Yogyakarta)
7 Akar sambiloto (Sleman, Daerah Istimewa

Yogyakarta)
8 Daun sambiloto (Solo, Jawa Tengah)
9 Batang sambiloto (Solo, Jawa Tengah)
10 Akar sambiloto (Solo, Jawa Tengah)
11 Daun sambiloto (Sukoharjo, Jawa Tengah)
12 Batang sambiloto (Sukoharjo, Jawa Tengah)
13 Akar sambiloto (Sukoharjo, Jawa Tengah)
14 Daun sambiloto (Boyolali, Jawa Tengah)
15 Batang sambiloto (Boyolali, Jawa Tengah)
16 Akar sambiloto (Boyolali, Jawa Tengah)

60 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Identifikasi dapat dilakukan dengan membanding-
kan hasil dengan sidikjari KLT pembanding untuk
sambiloto (Gambar 13). Tambahan pita dengan intensitas
lemah mungkin dapat terjadi. Deteksi menggunakan
UV 254 nm maupun pereaksi anisaldehida, sampel
sambiloto akan memperlihatkan pita berwarna hitam
(UV 254 nm) dan ungu gelap (anisaldehida) (Rf ~ 0,1) yang
merupakan pita andrografolid. Kadar andrografolid
pada daun sambiloto ditemukan paling tinggi pada
bagian daun, sedang di bagian batang dan paling kecil
pada bagian akarnya.

Marker profiling sambiloto menggunakan
kromatografi lapis tipis kinerja tinggi (KLTKT) juga
telah dilakukan oleh Mukherjee et al., (2006). Bagian
tanaman sambiloto adalah bagian yang berada di atas
tanah seperti batang dan daun. Bahan yang sudah
kering diekstraksi dengan metanol menggunakan
peralatan Soxhlet selama 18 jam. Ekstrak dipekatkan
dengan rotavapor dan dikeringkan dengan vakum.
Rendemen ekstrak yang diperoleh sebesar 13,8%.
Ekstrak dilarukan dalam metanol (1mg/mL) beserta
marker berupa andrografolid selanjutnya diaplikasikan
pada KLTKT. KLTKT menggunakan silika gel 60F 254
sebagai fase diam dan fase gerak kloroform: metanol.
Elusi menggunakan twin-trough chamber. Setelah elusi
selesai, hasil discan menggunakan Camag TLC scanner
3 dan data diproses menggunakan software WinCATS.

Profiling sambiloto menggunakan KLTKT dilakukan
oleh Srivasta et al., (2004). Kondisi yang digunakan sedikit
berbeda. Ekstrak heksana (10 mg/mL dalam heksana),

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 61

ekstrak kloroform (20 mg/mL dalam kloroform), ekstrak
metanol (20 mg/0,5 mL dalam metanol) dan ekstrak air
(20 mg/0,25 mL air) diinjeksikan pada pelat silika gel 60
F254. Kecepatan injeksi 10 s/μL; Volume injeksi, 3 μL;
lebar pita , 5 mm; ruang antara dua band, 5 mm; posisi
awal, 10 mm; dan jarak dari bawah, 15 mm. Fase gerak
yang digunakan berbeda, yaitu ekstrak heksana dengan
toluena: etil asetat (85:15), ekstrak kloroform dengan
kloroform: metanol (92:8), ekstrak metanol dengan
kloroform: toluena: metanol (60: 25:15), dan ekstrak
air dengan kloroform: metanol: etil asetat (80:20:10).
Komponen awalnya divisualisasikan di bawah sinar
UV, pelat kemudian disempot dengan larutan yang
mengandung 1 g vanilin dalam 100 mL asam sulfat:
etanol (5:95, v/v) dan dipanaskan sampai 110-120 ° C
selama 15-20 menit kemudian deteksi dilakukan pada
540 nm.

Selain menggunakan kromatografi lapis tipis,
profiling menggunakan sidik jari kromatografi lainnya
telah dilakukan oleh Dong et al., (2009) menggunakan
kromatografi cairan kinerja tinggi (KCKT/HPLC) yang
dibantu dengan analisis hierarchical clustering. Metode
yang dikembangkan ini dilakukan dengan sebelumnya
menyiapkan sampel sambiloto dengan cara ekstraksi 2
gram sambiloto dengan 40 mL etanol 90% pada water
bath selama 4 jam di suhu 60oC sebanyak tiga kali.
Semua filtrat dikumpulkan dan sebanyak 3 mL fitrat
dievaporasi dengan nitrogen. Residu yang didapat
dilarutkan dengan 2,5 mL metanol 50% dan disaring
menggunakan membran 0.45 μm. Larutan ini kemudian

62 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

diinjeksikan pada KCKT. Kondisi KCKT yang digunakan
adalah menggunakan dua pompa, detektor UV, injektor
manual dengan sample loop. Kolom yang digunakan VP
ODS (150 mm x 4.6 mm i.d. 5 μm), sampel diinjeksi
pada kondisi ruang sebanyak 20 μL dan detektor pada
panjang gelombang 254 nm. Fase gerak yang digunakan
mengandung 0.20% asam format dalam air (A) dan 0.1%
asam format dalam asetonitril (B) menggunakan elusi
gradien. Program elusi gradiennya adalah 20-40% (B)
pada waktu 0-30 menit, 40-85% (B) pada waktu 30-55
menit dan 85%B pada waktu 55-60 menit. Laju alir yang
digunakan adalah 1.0mL/menit.

Profiling simplisia dengan HPLC lainnya juga dapat
menggunakan model Shimadzu LC-8A instrumen
gradien HPLC, dilengkapi dengan dua pompa LC-
8A dikendalikan oleh modul CBM-10 interface, dan
fotodioda detektor array SPD-M10Avp (Srivasta et al.,
2004). Analisis dilakukan pada kolom Merck RP18e
Chromolith reverse-fase kolom (100 × 4,6 mm i.d). Untuk
injeksi ke dalam sistem HPLC, ekstrak yang digunakan
adalah ekstrak heksana (20 mg/mL dalam heksana),
ekstrak kloroform (10 mg/mL dalam kloroform), ekstrak
metanol (40 mg/mL dalam metanol) dan ekstrak air (40
mg/mL dalam air). Volume injeksi adalah 10 μL untuk
semua kasus. Semua ekstrak terdeteksi pada panjang
gelombang UV dari 220 nm; debit adalah 1,2 mL/menit
dalam semua kasus. Fase gerak yang digunakan untuk
ekstrak yang berbeda adalah sebagai berikut: ekstrak
heksana (asetonitril: air, 50:50), kloroform, metanol, dan
ekstrak air (asetonitril: air, 25:75).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 63

Kontrol kualitas secara kuantitatif untuk sambiloto
telah dilakukan oleh Yang et al., (2012). Senyawa kimia
penanda yang digunakannya adalah andrografolid,
dehidroandrografolid, deoksiandrografolid dan
neoandrografolid. Untuk menghilangkan sinyal yang
tumpang tindih pada geseran kimia 4,5-5,6 ppm pada
analisis ini digunakan asam fluroasetat-d. Persiapan
sampel dilakukan dengan melarutkan sampel dengan
0,45 mL metanol-d4 dan dimasukkan ke dalam tabung
NMR 5 mm, kemudian larutan IS-metanol d4 0,05mL,
0,2 mL asam trifluoroasetat d dan ditambahkan 0,1
mL deterium oksidan. Sinyal dari internal standar
(IS) pada  5,53 ppm, sinyal andrografolid pada  4,64
ppm, sinyal dehidroandrografolid pada  4,74 ppm,
sinyal deoksiandrografolid pada  4,61 ppm, dan sinyal
neoandrografolid pada  4,58 ppm. Kandungan tiap
senyawa ditentukan berdasarkan rumus mX = (AX/
AIS)×(mIS/MWIS)×MWX, dimana mIS adalah kadar
internal standar (IS), Ax dan AIS adalah integral, dan
MWIS dan MWx adalah bobot molekul.

64 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

BAB 6

Penggunaan secara Tradisional,
Hasil Uji Manfaat dan Keamanan



1. Penggunaan secara tradisional

Secara tradisional sambiloto digunakan untuk mengatasi
dan mengobati berbagai penyakit dan keluhan kesehatan.
Karena rasa pahitnya sambiloto sering digunakan untuk
mengatasi gatal-gatal sampai penyakit gula atau kencing
manis. Daun sambiloto diketahui memiliki khasiat untuk
mengurangi rasa sakit akibat gigitan ular dan serangga,
dikombinasi dengan kumis kucing (Ortosiphon aristatus) pada
penyembuhan kencing manis, rebusannya untuk mengatasi
demam, gatal kulit, desentri, tifus, kolera, gangguan saluran
nafas, bengkak kaki, vitiligo dan wasir. Kegunaan lain adalah
untuk gangguan saluran cerna, tekanan darah tinggi, encok,
raja singa, sakit haid, gangguan hati dan penyakit kuning.

Kloppenburg. Versteegh (1988), mengungkapkan
berbagai kegunaan sambiloto secara tradisional yang
diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap
masyarakat khususnya pada suku Sunda di masa sebelum
kemerdekaan. Sambiloto digunakan untuk mengurangi
rasa sakit akibat gigitan ular dan serangga, dikombinasi
dengan kumis kucing (Ortosiphon aristatus) digunakan pada
penyembuhan kencing manis, rebusannya digunakan
pada mengatasi demam, gatal kulit, desentri, tifus, kolera,
gangguan saluran nafas, bengkak kaki, vitiligo dan wasir.
Kegunaan lain adalah untuk gangguan saluran cerna,
tekanan darah tinggi, encok, raja singa, sakit haid, gangguan
hati dan penyakit kuning.

Beberapa ramuan sambiloto yang berhasil dicatat oleh
Ny. Kloppenburg (1988) yaitu:

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 67

1. Luka akibat gigitan hewan berbisa

Segenggam penuh daun sambiloto, dicuci
bersih dan ditumbuk halus dalam lumpang porselen
kemudian ditambah air satu gelas anggur, dan disaring
menggunakan kain bersih. Minum cairan hasil saringan
dan ampasnya ditaruh di bagian tubuh yang luka.

2. Radang usus buntu

Tumbuk halus sebanyak 20 lembar daun sambiloto,
dan ditambah satu gelas air kemudian diperas dengan
kain bersih. Minum semua cairan hasil perasan, dan
ampasnya digunakan sebagai tapal pada bagian perut
yang sakit.

3. Meningkatkan atau merangsang nafsu makan

Cuci bersih 10 lembar daun sambiloto, rebus
dengan 2 gelas air sampai mendidih dan air rebusan
tinggal setengahnya. Dinginkan air rebusan dan saring
kemudian diminum sekaligus.

4. Demam akibat luka yang menular

Remas-remas atau tumbuk segenggam penuh daun
sambiloto dan tambahkan satu sloki air matang, saring
cairannya dan minum 2 kali sehari sama banyak. Ampas
hasil penyaringan dibuat tapal pada bagian yang sakit
dan diganti kalau sudah jadi panas.

5. Demam akibat borok di dalam perut

Tumbuk 20 lembar daun sambiloto, tambahkan
satu sloki air, peras cairan dengan sepotong kain bersih,
dan minum air perasan sekaligus. Lakukan pengobatan
berturut-turut selama 14 hari. Jika seminggu setelah

68 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

pengobatan terasa sudah ada perbaikan maka dosis
dikurangi menjadi setengahnya yaitu 10 daun saja.
Ampas sisa perasan di gunakan sebagai tapal.

6. Sakit mata

Rebus 20 lembar daun sambiloto dengan 2 gelas air
sampai mendidih, kemudian dinginkan. Gunakan air
hasil rebusan sebagai pencuci mata setelah hangat kuku.

7. Kudis

R1/ Lima lembar daun urat dan 7 lembar daun
sambiloto, direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
dan air rebusan tinggal setengahnya. Saring air rebusan
dan biarkan hangat kuku untuk diminum sekaligus.

R2/ Daun sambiloto ditumbuk halus dan
ditambahkan belerang kemudian ditempelkan pada
bagian yang sakit.

8. Sakit gula

Dua puluh lembar daun sambiloto dan 20 lembar
daun kumis kucing direbus dengan 2 gelas air sampai
mendidih dan air rebusan tinggal setengahnya. Saring
dan dinginkan, minum 2 x sehari.

9. Thypus

Tujuh belas lembar daun sambiloto ditumbuk halus
dan ditambahkan satu sloki air dan diperas. Hasil perasan
diminum 3 kali sehari. Untuk anak-anak gunakan 10-
15 lembar daun dan diminum 2 kali sehari. Untuk
mengurangi demam, daun sambiloto diremas-remas
dalam air dan airnya digunakan untuk mengompres.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 69

Dalam buku Obat Asli Indonesia yang disusun oleh Seno
Sastroamidjojo (1965), sambiloto digunakan dalam beberapa
ramuan untuk pengobatan beberapa jenis penyakit yang
ternyata juga merujuk pada formula yang ditulis oleh Ny.
Kloppenburg. Beberapa jenis penyakit tersebut antara lain
luka karena gigitan ular, demam karena gigitan serangga,
gatal-gatal, dan tipus. Sambiloto dalam buku ini disebut
juga berkhasiat sebagai obat disentri yaitu dengan membuat
infus 1:20 daun sambiloto yang ditambah kulit jeruk dan
ketumbar, dengan dosis 2-3 x @ 50 atau 60 cc.

Penggunaan sambiloto dalam ramuan jamu empiris
sudah banyak dibukukan, selain buku yang ditulis oleh
Ny. Kloppenburg, dan Obat Asli Indonesia ada juga yang
cukup dikenal adalah Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang
(Mardisiswojo dan Raajakmangunsudarso, 1987). Formula
jamu sambiloto yang ada dalam buku Cabe Puyang sangat
beragam. Sambiloto nampaknya merupakan bahan ramuan
yang cukup penting dan memiliki beragam manfaat. Contoh
formula dalam buku ini antara lain:

1. Ramuan Amandel

Daun sambiloto seperempat genggam, daun kumis
kucing sepertiga genggam, daun galing seperlima
genggam, kulit batang duwet 2 jari, gula enau 3 jari,
dicuci dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air
bersih 4 gelas sehingga hanya tinggal kira-kira 3/4 nya;
sesudah dingin disaring lalu diminum (3 x sehari 3/4
gelas).

2. Biduren

Daun sambiloto 1/2 genggam, dicuci lalu direbus
dengan air bersih 3 gelas sehingga hanya tinggal kira-

70 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

kira 3/4-nya; suam-suam kuku disaring lalu diminum
dengan madu seperlunya (2 x sehari @ 3/4 gelas)

3. Borok

Daun sambiloto 1/4 genggam, daun sudamala 1/4
genggam, daun asam yang masih muda 1/3 genggam,
belerang sebesar biji melinjo, tawas sebesar biji asam,
dicuci lalu ditumbuk halus-halus, diremas dengan
minyak kayu putih 2 sendok teh, minyak jangkung 1
sendok makan, dan minyak kelapa 4 sendok makan,
dipanaskan sebentar, untuk menurap borok (2 x sehari
@ sebanyak yang diperlukan). Tiap-tiap kali akan
dipergunakan dihangatkan sebentar.

4. Digigit binatang berbisa

Daun sambiloto 30 lembar, daun ngokilo 5 lembar,
daun ketumbar 10 lembar, daun ketumbal 8 lembar,
kayu sintok 3/4 jari, garam sebesar biji asam, dicuci lalu
ditumbuk halus-halus, diberi air masak 6 sendok makan,
diperas dan disaring, airnya diminum, ampasnya untuk
menurap luka bekas gigitan/sengatan lalu dibebat (2 x
sehari @ 3 sendok makan).

5. Kencing manis

Daun sambiloto 1/3 genggam, daun kumis kucing
1/3 genggam, butrawali 3/4 jari, dicuci dan dipotong-
potong seperlunya, direbus dengan air bersih 3 gelas
sehingga hanya tinggal kira-kira 3/4-nya, sesudah dingin
disaring, diminum sesudah makan (2-3 kali sehari, 3/4
gelas).

Ramuan empiris yang berhasil diinventarisasi dari
berbagai suku di Indonesia pada Riset Tumbuhan Obat dan

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 71

Jamu yang diselenggarakan pada tahun 2012, sambiloto
digunakan untuk 27 indikasi penyakit. Jenis dan gejala
penyakit yang disebutkan oleh informan (Battra) dari
penggunaan sambiloto yaitu untuk kencing manis, malaria,
sakit kuku, sakit kulit, ramuan pasca melahirkan, maag,
penyakit perut, sakit kuning, paru-paru, demam, keputihan,
kanker payudara, kanker rahim, susah buang air kecil,
darah tinggi, kolesterol, asma, penyakit dalam, batuk, sakit
kuning/lever, usus buntu, batu ginjal, flu, pegal linu, obat
kuat, penambah darah dan stroke (Kementerian Kesehatan,
2012). Sedangkan hasil dari Riset Tumbuhan Obat dan
Jamu 2015, berhasil menginventarisasi sebanyak 39 jenis
indikasi penyakit yang menggunakan sambiloto dalam
ramuannya. Informan atau Battra menyebutkan sambiloto
digunakan untuk penyakit: malaria, rematik, asam urat,
tumor/kanker, penyakit kelamin, maag, pegal linu/capek,
campak, wasir/ambein, kencing manis, sakit kulit, sakit
pinggang, sakit kuning, panas dalam, demam, batuk, flu/
masuk angin, sakit jantung, gangguan buang air kecil, sesak
nafas, amandel, TBC, cedera tulang, keracunan, sakit mata,
sakit telinga, kolesterol, darah tinggi, darah rendah, tipus,
gangguan haid, HIV/AIDS, berak darah, perawatan pra dan
pasca melahirkan, pembengkakan getah bening, gangguan
kesuburan/infertilitas, stroke/lumpuh, dan gangguan
kebugaran (Kementerian Kesehatan, 2015). Hasil Ristoja
baik yang diselenggarakan tahun 2012 dan 2015, sebagian
besar menyebutkan penggunaan sambiloto untuk gejala
penyakit yang hampir sama. Perbedaan penggunaan yang
menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah adanya informasi
informan (Battra) yang menyebut sambiloto digunakan

72 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

untuk HIV/AIDS. Indikasi ini tentu saja bukan berdasarkan
pada informasi empiris turun temurun tetapi kemungkinan
adalah daya kreasi dari Battra bersangkutan berdasarkan
kajian literatur. Namun demikian hal ini menarik untuk
diteliti lebih jauh atas manfaatnya menggunakan pendekatan
epidemiologi klinik.

2. Hasil uji manfaat (farmakologi)

Berdasarkan pada khasiat empiris yang sangat beragam,
penelitian uji khasiat daun atau herba sambiloto sangat
beragam pula. Berbagai bentuk sediaan herba sambiloto
mulai dari ekstrak, infus maupun isolat kandungan
senyawa aktif sambiloto, telah diuji secara farmakologi
untuk berbagai indikasi. Uji khasiat yang telah dilakukan
pada herba sambiloto antara lain sebagai antiinflamasi,
antipiretik, analgesik, diuretik, anti bengkak, antivirus,
anti malaria, antifungi, stomatik hipotensi, antihipertensi,
hipoglikemia, anti hiperglikemia, hepatoprotektif, abortif,
vermisida, sedatif, anti tumor, anti HIV dan ekspektoran.

a. Antidiabetes

Secara empiris sambiloto banyak dimanfaatkan
untuk mengatasi gejala sakit gula atau diabetes.
Penggunaan sambiloto sebagai antidiabetes barangkali
lebih disebabkan akan rasa pahitnya sehingga masyarakat
percaya dapat menurunkan kadar gula darah. Penelitian
ilmiah atas manfaat sambiloto sebagai antidiabetes
sudah dilakukan sejak lama dan rata-rata memberikan
hasil yang positif. Pengujian efek antidiabetes dilakukan
baik dalam bentuk infusa, ekstrak sampai ke isolat

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 73

aktif dari herba atau daun sambiloto. Berbagai hasil
kajian tersebut dapat digunakan sebagai referensi
pengembangan pemanfaatan sambiloto sebagai obat
antidiabetes.

Subramanian et al., (2008) melaporkan hasil uji
efek inhibisi ekstrak sambiloto, andrografolid dan
acarbose (sebagai kontrol positif) terhadap aktivitas
enzim -glukosidase ragi dan -amilase babi secara in
vitro dan in vivo. Ekstrak sambiloto dan andrografolid
menunjukkan aktivitas inhibisi terhadap aktivitas
kedua enzim tersebut. IC50 untuk ekstrak sambiloto,
andrografolid dan akarbose terhadap -glukosidase
berturut-turut adalah 17,2; 11 dan 6,2 mg/mL. Sedangkan
IC50 terhadap -amilase berturut-turut 50,9; 11,3 dan
14,9 mg/mL. Hasil uji in vivo (uji toleransi karbohidrat)
menggunakan tikus diabetes menunjukan ekstrak
sambiloto maupun andrografolid secara bermakna
(P<0,05) mengurangi kadar glukosa darah pada tikus
yang diberi pati atau sukrosa per-oral.

Umamaheswari et al., (2007) melaporkan bahwa hasil
uji antihiperglikemia pada 'Ilogen-Excel', suatu formula
herbal Ayurvedic (mengandung 8 komponen: Curcuma
longa, Strychnos potatorum, Salacia oblonga, Tinospora
cordifolia, Vetivelia zizanioides, Coscinium fenestratum,
Andrographis paniculata dan Mimosa pudica), yang
diberikan secara oral pada tikus diabetes yang diinduksi
streptozotocin (STZ) (45 mg/kg bb). Pemberian 'Ilogen-
Excel' secara oral (50 mg/kg dan 100 mg/kg) selama
60 hari dapat menurunkan kadar glukosa darah secara
signifikan dan meningkatkan kadar insulin plasma,

74 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

glikogen hati dan total hemoglobin. Pemberian 'Ilogen-
Excel' juga menurunkan kadar hemoglobin glikosilasi,
zat reaktif asam thiobarbiturat plasma, hidroperoksida,
ceruloplasmin dan vitamin E pada tikus diabetes. Efek
pada dosis 100 mg/kg lebih menonjol dari pada 50 mg/
kg dan membawa kembali semua parameter ke tingkat
normal.

Ekstrak etanol dari seluruh bagian tanaman sambiloto
telah ditemukan efektif sebagai antihiperglikemia dan
mengurangi stres oksidatif pada tikus diabetes (Zhang
and Tan, 2000; Yu et al., 2003). Sedangkan Reyes et al.,
(2006) mempelajari efek dari sambiloto di "cyclicity
estrus" tikus diabetes induksi aloksan dan menemukan
bahwa potensi antidiabetes dari sambiloto bisa
mengembalikan gangguan siklus estrus di tikus diabetes.
Pemberian oral dari andrografolid menurunkan
kadar glukosa plasma tikus diabetes yang diinduksi
streptozotocin. Selanjutnya Borhanuddin et al., (1994)
melaporkan efek hipoglikemik ekstrak air sambiloto
pada dosis 10 mg/kg bb memberikan pengaruh yang
signifikan (P <0,001) pada kelinci percobaan.

b. Antimalaria

Di beberapa daerah endemis malaria di Indonesia,
masyarakat lokal banyak yang menggunakan sambiloto
untuk pengobatan malaria. Konsumsi herba sambiloto
bahkan juga dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah
malaria (profilaksis). Penelitian untuk menguji aktivitas
sambiloto dan senyawa aktifnya sebagai antimalaria
menunjukkan bahwa penggunaan herba sambiloto
secara umum positif baik secara in vitro maupun in vivo.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 75

Ekstrak etanol 50% dari herbasambiloto mampu
menghambat pertumbuhan Plasmodium berghei baik
secara in vitro (100mg/mL) dan secara in vivo pada tikus
setelah pemberian intragastrik dengan dosis 1g/kg bb
(Misra et al., 1991). Pemberian ekstrak kasar 1-butanol,
kloroform atau etanol dari herba sambiloto pada
Mastomys natalensis mampu menghambat pertumbuhan
P. berghei pada dosis 1-2 g/kg bb. Andrografolid
(5 mg/kg bb) dan neoandrografolid (2,5 mg/kg bb) juga
efektif bila diberikan secara in vivo (Misra et al., 1992).

Dua et al., (2004) melaporkan empat senyawa
xanton yang di isolasi dari akar sambiloto, meliputi
1,8-dihidroksi-3,7-dimetoksixanton, 4,8-dihidroksi-2,7-
dimetoksixanton, 1,2 dihidroksi-6,8-dimetoksixanton
dan 3,7,8-trimetoksi-1-hidroksixanton. Senyawa xanton
ini telah diuji aktivitasnya sebagai antimalaria terhadap
Plasmodium falciparum. Hasil uji menunjukkan 1,2-
dihidroksi-6,8-dimetoksixanton memiliki aktivitas
yang paling kuat dengan IC50 sebesar 4 μg/mL. Xanton
yang memiliki gugus 2-hidroksi pada strukturnya
memiliki potensi yang lebih baik, sementara untuk
xanton dengan gugus hidroksi pada posisi 1,4 atau
8 menunjukkan aktivitas yang sangat lemah. Uji
sensitivitas antimalaria in vivo senyawa tersebut pada
mencit Swiss Albino menggunakan Plasmodium berghei,
dengan Peters’ 4-day test menyebabkan penurunan 62%
parasitemia setelah pemberian dosis 30 mg/kg bb. Uji
sitotoksisitas terhadap sel mamalia, 1,2 - dihidroksi-
6,8-dimetoksixanton memiliki IC50> 32 μg/mL (tidak
menunjukkan efek sitotoksik).

76 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Ekstrak metanol sambiloto menunjukkan aktivitas
antimalaria terhadap Plasmodium berghei. Ekstrak
menunjukkan penghambatan perkalian dari parasit.
Ekstrak ini juga efektif dalam membunuh cacing filaria
yang menghambat saluran getah bening di dalam
tubuh, menyebabkan pembengkakan gross yang
disebut elephantiasis. Ekstrak kloroform sambiloto
menunjukkan hambatan pertumbuhan parasit pada
dosis rendah 0,05 mg/dosis obat mL dalam masa
inkubasi 24 jam dibandingkan dengan ekstrak metanol
sambiloto dosis obat 2,5 mg/mL di bawah waktu
inkubasi 48 jam. Penulis juga menemukan efek dalam
studi in vivo. Dilaporkan pula adanya penghambatan
aktivitas anti-malaria terhadap Plasmodium falciparum (in
vitro) menggunakan dehidrogenase laktat (LDH) assay.
(Dua et al., 2004)

c. Antimikroba

Ekstrak metanol 50% dari daun sambiloto

disebutkan mampu menghambat pertumbuhan Proteus

vulgaris in vitro (Nakanishi et al., 1965). Namun, uji

terhadap bubuk kering dari herba sambiloto terhadap

E. coli, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi atau

spesies Shigella tidak menunjukkan efek (Leelarasamee,

1990). Pemberian andrografolid intragastrik (100mg/

kgbb.) terhadap tikus menurunkan pereduksi ragi

yang direkayasa oleh pembuat bir (Madav et al., 1995).

Pemberian deoxyandrografolidida intragastrik,

andrografolid, neoandrografolid atau 11,12-didehidro-

14-deoksi danrografolid (100mg/kg bb.) terhadap

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 77

tikus atau kelinci mengurangi pyrexia yang diinduksi
2,4-dinitrophenol atau endotoksin (Deng, 1982).

Herba Andrographiis memiliki aktivitas antidiare
in situ. Ekstrak etanol, kloroform atau 1-butanol dari
seluruh bagian atas tanaman (300 mg/mL) menghambat
respons sekresi enterotoksin E. coli yang diinduksi
sebagai penyebab sindrom diare - pada uji loop ileum
kelinci dan kelinci percobaan. Mekanisme kerja melalui
2 jalur. Pertama melalui penghambatan respons usus
terhadap enterotoksin termolabil, yang dikenal melalui
aktivitas memacu enzim adenilat siklase. Kedua, dengan
menghambat sekresi enterotoksin termostabil dari
E. Coli melalui aktivitas enzim guanilat siklase (Gupta,
1993; Gupta, 1990). Kandungan diterpene lakton yaitu
andrografolid dan neoandrografolid, menunjukkan
aktivitas menghambat pengeluaran enterotoksin E.
coli penyebab diare, secara in vivo. Andrografolid (1mg
per loop) sama aktifnya dengan loperamida saat diuji
terhadap diare yang diadsorpsi dengan E. coli enterotoksin
dan lebih efektif daripada loperamida saat diuji
terhadap enterotoksin penyebab diare yang termostabil
(Zaidan et al., 2005). Inkubasi makrofag murine dengan
andrografolid (1-50mmol/l) menghambat akumulasi
nitrit bakteri yang diinduksi endotoksin dengan cara
konsentrasi dan time dependent. Analisis Western Blot
menunjukkan bahwa andrografolid menghambat
ekspresi isoform inducible dari nitric oxide synthase
yang terkait dengan syok peredam akibat endotoksin
(Chiou, 1998).

78 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

d. Immunostimulan

Ekstrak etanol dan andrografolid dari A. paniculata
dapat menginduksi stimulasi antibodi secara
signifikan, serta penundaan respon DTH (Delayed Type
Hypersensitivity) terhadap sel darah merah domba
(SRBC) pada tikus. Sambiloto juga merangsang respon
imun nonspesifik hewan coba yang diukur dalam bentuk
fagositosis migrasi makrofag (MMI) dari 14C-leusin yang
diberi label Escherichia coli dan proliferasi limfosit limpa.
Stimulasi respon imun antigen spesifik dan nonspesifik
lebih baik pada ekstrak, dibandingkan andrographilid.
Diduga bahwa pada ekstrak etanol sambiloto terdapat
senyawa lain yang dapat berkontribusi terhadap
imunostimulasi (Puri, 1993).

Pemberian ekstrak etanol secara intragastrik
dosis 25 mg/kg bb atau andrografolid dosis 1 mg/
kg bb pada mencit AKR, menstimulasi produksi anti
bodi. Kombinasi ekstrak terstandar yang mengandung
andrografolid 60 mg/hari dengan akar tumbuhan
Eleutherococcus senticosus 120 mg/hari pada 180 pasien
penderita infeksi saluran napas atas setelah 36 jam,
memberikan simptom perbaikan (Coon and Ernst,
2004).

e. Antioksidan

Verma dan Vinayak (2007) melakukan penelitian
untuk melihat efek dari ekstrak air A. paniculata pada
sistem pertahanan antioksidan pada limfoma tikus AKR
di hati. Ekstrak air sambiloto dalam dosis yang berbeda,
secara signifikan menyebabkan peningkatan katalase,
superoksida dismutase dan glutathione-s-transferase.

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 79

Trivedi et al., (2007) mempelajari pengaruh
andrografolid pada hepatoseluler sistem pertahanan
antioksidan dan peroksidasi lipid tikus kontrol, tikus
yang diobati dengan hexachlorocyclohexane (BHC),
andrografolid dan BHC. Aktivitas glutathione (GSH),
glutathione-s-transferase (GST), glutathione reduktase
(GR), glutathione peroxidase (GSH-Px), gamma-
glutamyl transpeptidase (gamma-GTP), superoksida
dismutase (SOD), katalase (CAT) dan lipid peroksidasi
(PUT), ditetapkan menggunakan spektrofotometri. BHC
model eksperimen membentuk tumor hati ireversibel
pada tikus jantan. Aktivitas GSH, GR, GSH-Px, SOD
dan CAT menunjukkan peningkatan signifikan (P
0,05), sementara gamma-GTP dan GST menunjukkan
penurunan yang signifikan (P 0,05) pada tikus yang
diberi andrografolid dibandingkan dengan tikus yang
hanya diberi BHC.

Sheeja et al., (2006) melakukan penelitian terhadap
efek antioksidan dan anti-inflamasi ekstrak metanol
sambiloto secara in vitro. Ditemukan adanya aktivitas
menghambat pembentukan oksigen radikal bebas
seperti superoksida (32%), radikal hidroksil (80%),
peroksidasi lipid (80%) dan oksida nitrat (42,8%) secara
in vitro. Dalam studi in vivo menggunakan model tikus
BALB/c menunjukkan penghambatan yang signifikan
dalam phorbol-12-miristat-13-asetat (PMA) yang
diinduksi superoksida (32,4%) dan formasi oksida nitrat
(65,3%).

Tripathi dan Kamat (2007) meneliti ekstrak air
sambiloto untuk aktivitas antioksidan menggunakan

80 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

hati tikus organel subselular sebagai sistem model dan
menemukan bahwa ekstrak sambiloto menunjukkan
aktivitas sebagai agen antiradikal yang ampuh melawan
berbagai patofisiologi oksidan.

f. Hepatoprotektor

Herba sambiloto dan andrografolidnya memiliki
aktivitas antihepatotoksik secara in vitro dan in vivo.
Pemberian ekstrak metanol dari herba sambiloto (861.3
mg/kg bb) pada tikus mengurangi hepatotoksisitas
yang disebabkan oleh karbon tetraklorida (CCl4), dan
perubahan histopatologis hati yang diinduksi CCl4.
Pemberian andrografolidida intraperitoneal (100 mg/
kg bb) terhadap tikus menghambat peningkatan SGOT,
SGPT, bilirubin dan trigliserida hepatik (Handa and
Sharma, 1990). Selanjutnya pemberian ekstrak metanol
herba sambiloto (500 mg/kg bb) secara i.p pada tikus
juga menekan peningkatan aktivitas SGOT, SGPT, alkali
fosfatase dan bilirubin (Sharma et al., 1991).

Ekstrak air daun sambiloto dosis 12 mg/kg bb pada
tikus galur Swiss selama 8 bulan mampu menurunkan
parameter SGPT dan SGOT dibandingkan tikus yang
diberi perlakuan heksa-kloro-sikloheksan sehingga
ekstrak sambiloto mampu mencegah kerusakan hati
(Trivedi adn Rawal, 1998). Pada penelitian lain dinyatakan
bahwa pemberian ekstrak air sambiloto pada mencit
dengan dosis 10, 20, dan 30 mg menunjukkan adanya
peningkatan aktivitas katalase superoksida, dismutase
dan glutation S Transferase pada liver dari mencit
(Verma and Vinayak, 2007). Pemberian dekok sambiloto

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 81

pada penderita infeksi hepatitis dilaporkan mengurangi
gejala sakit (Thanangbul and Chaichantipayut, 1985).

Penggunaan andrografolid pada dosis 0,75-12
mg/kg bb menunjukkan aktivitas hepatoprotektif
terhadap tikus yang diinduksi dengan parasetamol
(Visen et al., 1993). Efek hepatoprotektif andrografolid
ditunjukkan dengan adanya hambatan kerja racun
dari karbontetraklorid, parasetamol dan galaktosamin,
senyawa yang dapat menginduksi toksisitas pada
kultur hati tikus. Andrografolid juga menunjukkan
efek hepatopathy protektif pada tikus yang diinduksi
karbon tetraklorida. Aktivitas hepatoprotektif dari
andrografolid berhubungan dengan aktivitas enzim
metabolik tertentu. Efek penghambatan ekstrak tanaman
dan andrografolid pada aktivitas sitokrom P450s (CYPs)
juga dilakukan dengan menggunakan tikus model dan
mikrosom hati manusia (Chao and Lin, 2012).

Sheng et al., (2006) menemukan bahwa konsumsi
andrografolid muncul menumpuk di seluruh
organ dalam tersebut. Setelah 48 jam, konsentrasi
andrografolid berlabel adalah 20,9; 14,9; 11,1; 10,9; 8,6;
7,9; 5,6; 5,1; 5,1 dan 3,2% di otak, limpa, jantung, paru-
paru, rectum, ginjal, hati, uterus, ovarium dan usus.
Penyerapan dan ekskresi adalah cepat yaitu 80% telah
dihapus dalam waktu delapan jam dan 90% dalam
waktu 48 jam melalui ginjal (urine) dan G.I. sistem. Para
peneliti menyimpulkan bahwa tanaman adalah obat
yang berguna untuk pengobatan hepatitis infektif.

82 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

g. Anti-inflamasi

Aktivitas antiinflamasi deoksiandrografolid,
andrografolid, neoandrografolid atau 11, 12 - didehidro-
deoksiandrografolid secara intragastrik terhadap
tikus menghambat peningkatan permeabilitas kapiler
atau peritoneal yang diinduksi oleh asam xilena atau
asam asetat, dan mengurangi eksudasi akut pada
granulokista Selye yang diperlakukan dengan
minyak kapas. Dari penelitian diketahui 11,
12-didehidrodeoksiandrografolid memiliki aktivitas
antiinflamasi yang paling manjur secara in vivo.
Peradangan yang disebabkan oleh histamin, dimetil
bensen dan adrenalin secara signifikan dikurangi dengan
dehydroandrografolid diikuti oleh neoandrografolid
dan andrografolid (Chang and But, 1991).

Yin dan Guo (1993) melaporkan bahwa tindakan
anti-inflamasi dari dehydroandrografolid adalah karena
efeknya pada peningkatan sintesis dan pelepasan
hormon andrenocorticotrophic (ACTH) dari kelenjar
hipofisis dari otak tersebut. ACTH merangsang
kelenjar adrenal untuk membuat kortisol, agen anti-
inflamasi alami. Kelompok penelitian lain menemukan
andrografolid untuk menghambat edema sampai 60%
pada konsentrasi 200 mg/kg bb dan 62,7% pada 400
mg/kg bb dalam tiga jam. Liu et al., 2007 menemukan
bahwa pemberian oral neoandrografolid (100-150
mg/kg bb) mengurangi peningkatan permeabilitas
pembuluh darah (diinduksi oleh asam asetat) pada tikus.
Neoandrografolid pada konsentrasi (30-90 M) secara
signifikan (P <0,05) menghambat produksi oksida nitrat

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 83

(NO) dan prostaglandin E (2) dalam lipopolisakarida
bakteri (LPS) makrofag distimulasi murine tanpa
menginduksi sitotoksisitas. Studi mereka menunjukkan
bahwa sifat anti-inflamasi neoandrografolid mungkin
timbul dari penghambatan iNOS dan COX-2 melalui
penghambatan aktivasi MAPKs p38.

Chiou et al., (2000) melaporkan efek yang signifikan
dari andrografolid pada ekspresi NO synthase terinduksi
(iNOS), mRNA, protein, dan aktivitas enzim dalam RAW
makrofag distimulasi dengan lipopolisakarida (LPS)
ditambah interferon-gamma (IFN-gamma). Dalam
kondisi ini, andrografolid (1-100 mikroM) menghambat
produksi NO secara dosis-tergantung dengan nilai
IC50 sebesar 17,4 +/- 1,1 pM. Semua temuan di atas
menunjukkan bahwa senyawa dan tanaman itu sendiri
memiliki efek anti-inflamasi yang signifikan.

h. Antipiretik (demam)

Sambiloto memiliki aktivitas sebagai penurun
deman (antipiretik). Pemberian ekstrak etanol herba
sambiloto (500 mg/kg bb.) secara intragastrik pada
tikus yang diinduksi demam dengan ragi, memiliki
aktivitas antipiretik, sebanding dengan pemberian
aspirin dosis 200 mg/kg bb. Peningkatan dosis ekstrak
hingga 600 mg/kg bb tidak menunjukkan efek toksik.
Pemberian andrografolid secara intragastrik (dosis
100 mg/kg bb.) pada tikus yang diinduksi demam oleh
ragi juga memiliki aktivitas antipiretik (Madav et al.,
1995). Aktivitas ini juga ditunjukkan pada pemberian
deoksiandrografolid, andrografolid, neoandrografolid

84 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

atau 11, 12, didehidra-14- deoksiandrografolid dosis
100 mg/kg bb. pada mencit, tikus atau kelinci yang
terinduksi demam oleh 2,4-dinitrifenol atau endotoksin
(Deng et al., 1982).

i. Kardiovaskular

Wu et al., (2008) melaporkan bahwa 2 flavon
andropaniculosin A dan andropaniculoside A ent-
labdane diterpenoids dari Andrographis paniculata
berpengaruh sebagai antiplatelet aggregatory dan
menyebabkan vasorelaksasi. Zhao dan Fang (1990)
melaporkan bahwa bubuk tanaman sambiloto dalam air
yang diberikan kepada anjing satu jam setelah terjadinya
infark miokard dengan pembentukkan trombus, dapat
menurunkan kerusakan yang terjadi pada otot jantung.

Andrographis paniculata menunjukkan efek terhadap
peningkatan waktu pembekuan darah, sebelum dan
setelah operasi. Ekstrak A. paniculata secara signifikan
mencegah penyempitan pembuluh darah, sehingga
mengurangi risiko penutupan pembuluh darah
berikutnya setelah prosedur angioplasti (Wang et
al., 11997). Beberapa studi telah dilakukan dengan
menggunakan hewan model untuk mengetahui efek
dari ekstrak air dan senyawa aktif A. paniculata, baik
sebelum dan setelah infark miokard eksperimental.
Ekstrak tanaman memberikan efek antihipertensi akibat
relaksasi otot polos di dinding pembuluh darah dan
mencegah konstraksi pembuluh darah serta membatasi
aliran darah dari jantung ke otak dan organ lainnya
(Huang, 1987).

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 85

Awang et al., (2012) menyampaikan bahwa ekstrak
diklorometana dari A. paniculata secara signifikan
mengurangi tekanan perfusi koroner mulai dari 24,5+3,0
mm Hg (P<0,05) hingga 29,4+8,5 mm Hg (P<0,05)
pada dosis 3 mg dan 1 mg, juga mengurangi denyut
jantung hingga 49,5+11,4 denyut/menit pada dosis 3 mg.
Penyempitan arteri yang disebabkan oleh kolesterol
tinggi dalam makanan dan oleh cedera pada lapisan
dalam pembuluh darah juga ditemukan berkurang oleh
A. paniculata (Wang and Zhao, 1993). Dilaporkan juga
bahwa A. paniculata mampu menurunkan kerusakan otot
jantung, yang diberikan kepada anjing satu jam setelah
pengembangan infark miokard (Zhao and Fang, 1990).
Temuan ini menyiratkan penggunaan menjanjikan
A. paniculata sebagai alternatif yang menguntungkan
untuk terapi kardiovaskular.

j. Anti-Virus

Telah dilakukan beberapa penelitian terkait
aktivitas herba sambiloto sebagai anti virus. Ekstrak air
panas dari bagian herba sambiloto mampu mengurangi
persentase sel H9 antigen positif HIV (Chang and Yeung,
1988). Dehydroandrografolid menghambat infeksi HIV-
1 dan HIV-1 (UCD123) pada sel H9 pada 1,6mg/mL dan
50mg/mL, dan juga menghambat infeksi HIV-1 pada
limfosit manusia pada 50mg/mL (Chang et al., 1991).
Ekstrak metanol daun mempertahankan pembentukan
sinsitiologi pada ko-kultur sel MOLT yang tidak
terinfeksi dan terinfeksi HIV (dosis efektif rata-rata
[ED50] 70mg/mL) (Otake et al., 1995).

86 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

Andrografolid mencegah penularan virus ke
sel lain dan menghentikan perkembangan penyakit
dengan memodifikasi sinyal seluler transduksi. Eter
bisandrografolid dan 6 komponen andrografolid yang
diisolasi dari seluruh bagian tanaman, ditemukan efektif
untuk anti-HIV dan juga memiliki aktivitas sitotoksik.
Dehydroandrografolid succinic acid monoester (DASM) telah
ditemukan untuk menjadi inhibitor terhadap HIV in
vitro (Chang et al., 1991).

k. Antidot (Anti-racun)

Aktivitas antidot atau anti racun melalui pemberian
injeksi i.p ekstrak etanol herba sambiloto (25 g/kg bb)
pada mencit yang diberi racun kobra terbukti mampu
memperpanjang waktu kejadian gagal pernafasan dan
kematian. Aktivitas anti racun dari ekstrak etanol herba
sambiloto telah diuji pada mencit yang diberi racun
dengan racun ular kobra diberikan secara i.p dengan
dosis 25 g/kgbb., menunjukkan mampu menunda
kegagalan pernafasan dan kematian mencit (Chang and
But, 1986).

Ekstrak etanol herba sambiloto mampu
menginduksi kontraksi ileum marmut pada konsentrasi
2 mg/mL. Efek kontraksi diakibatkan herba sambiloto
ditingkatkan oleh physostigmine dan dihambat oleh
atropin, tetapi tidak dirubah oleh antihistamin. Dari data
tersebut disampaikan bahwa ekstrak herba sambiloto
tidak memodifikasi aktivitas reseptor nikotin tetapi
memproduksi secara signifikan aktivitas muskarinik
yang dianggap sebagai aktivitas antiracun (Nazimudeen
et al., 1978)

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 87

Ekstrak sambiloto (7,2 mg/kg bb) dan fraksi
dimurnikan secara parsial (2,4 mg/kg bb) ketika diberikan
secara oral pada tikus percobaan yang diinjeksi dengan
racun ular berbisa secara subkutan (2,5-15 mg/kg bb)
menunjukkan efek menetralkan racun. Fraksi terisolasi
secara efektif menghambat efek toksik dari racun ular in
vitro daripada in vivo (Samy et al., 2008).

l. Antifertilitas

Banyak tanaman dilaporkan memiliki sifat
pengatur kesuburan dalam literatur India kuno (Chopra
et al., 1990). Banyak tanaman telah diuji untuk kegiatan
antifertilitas pada hewan (Dhar et al., 1968) dan beberapa
penelitian pada hewan telah melaporkan efek dari A.
paniculata pada reproduksi pria dan wanita. Laporan
awal dari pemberian oral bubuk batang A. paniculata
telah menunjukkan efek antifertilitas pada tikus Wistar
jantan, namun tidak berdampak pada kesuburan pada
tikus betina (Shamsuzzoha, 1978).

Bubuk daun kering sambiloto (20 mg bubuk/
kg bb.) yang diberikan kepada tikus jantan setiap hari
selama 60 hari, dapat menghentikan spermatogenesis
(pengembangan dan pematangan sel sperma)
(Shamsuzzoha et al., 1978). Studi dilakukan pada jaringan
plasenta manusia menunjukkan bahwa andrografolid
natrium suksinat efektif dalam menghambat produksi
progesteron manusia. Tidak ada efek merugikan
pada jaringan manusia normal lainnya, bahkan pada
dosis tertinggi yang diuji. Penelitian mengungkapkan
tanaman dan senyawanya adalah kontrasepsi alami
(Akbarsha et al., 1990).

88 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit

m. Antikanker (sitotoksik)

Rajagopal et al., (2003) melaporkan hasil penelitian
uji potensi senyawa andrografolid untuk antikanker. Uji
sitotoksik dilakukan dengan menggunakan sel kanker
manusia yang meliputi kanker payudara (MDA-MB-453,
MCF-7, T47D, MCF-7/ADR), kanker Sistem Syaraf
Pusat (U251, SF268, SNB19), kanker kolon (SW620,
HT29, HCT116, KM12, COLO205), kanker paru (A549,
NCI-H23, HOP62, MES-SA, MES-SA-DX5, H522),
melanoma (UACC62, A431, M14), kanker ovari (ES2,
SK0V3, OVCAR8, PA-1), kanker prostat (DU145, PC3),
kanker ginjal (ACHN, A498) dan leukemia (CCRF-CEM,
RPMI8226). Hasilnya, andrografolid menunjukkan
aktivitas sebagai inhibitor pertumbuhan berbagai
sel kanker yang digunakan dengan IC50 pada range
konsentrasi 5-15 μM, dan khusus untuk sel COLO205
ternyata lebih sensitif terhadap andrografolid dibanding
dengan sel kanker yang lain (IC50 lebih kecil dari 1 μM).

Dilaporkan juga proses selular andrografolid
dalam aktivitasnya sebagai inhibitor pertumbuhan sel
kanker. Andrografolid menunjukkan aktivitas pada
sel kanker dengan penghentian siklus pertumbuhan
sel pada fase G0/G1 melalui induksi p27 (protein yang
menginhibisi siklus pertumbuhan sel) dan pengurangan
ekspresi CDK4 (cyclin-dependent kinase 4). Dilaporkan
bahwa andrografolid memiliki juga aktivitas sebagai
immunostimulan melalui peningkatan proliferasi
limfosit dan produksi interleukin-2. Aktivitas lain
adalah meningkatkan produksi tumor necrosis factor-
dan ekspresi CD marker sehingga menghasilkan

Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 89


Click to View FlipBook Version