peningkatan aktivitas sitotoksik limfosit terhadap sel
kanker, yang mungkin berkontribusi sebagai antikanker
yang tidak langsung.
Hasil uji antitumor andrografolid in vivo terhadap
B16FO dan HT-29 membawa pada kesimpulan bahwa
andrografolid berpotensi untuk dikembangkan lebih
lanjut sebagai obat antikanker. Hasil penelitian yang
senada disampaikan juga oleh Kumar et al., (2004)
yang melaporkan aktivitas sitotoksik ekstrak metanol
sambiloto dan hasil fraksinasinya pada sel kanker kolon
manusia (HT29), serta uji aktivitas immunostimulan
dari ekstrak total dan ekstrak hasil fraksinasi. Uji
aktivitas penghambatan pertumbuhan sel kanker kolon
HT29 dari ekstrak metanol sambiloto menunjukkan
nilai GI50 sebesar 10 μg/mL, sedang hasil fraksinasinya
yaitu ekstrak petrolium eter dan diklorometan berturut-
turut menunjukkan GI50 sebesar 46 dan 10 μg/mL,
sedang fraksi air tidak menunjukkan efek inhibitor
terhadap sel HT29. Aktifitas immunostimulan ekstrak
dilakukan dengan mengukur proliferasi HPBLs,
hasilnya ekstrak metanol pada konsentrasi 2,5 μg/mL
menaikan proliferasi HPBLs sebesar 18%, sedangkan
aktivitas ekstrak petrolium eter, diklorometan dan
air berturut-turut meningkatkan proliferasi HPBLs
sebesar 18, 52 dan 4%. Dari data ini disimpulkan bahwa
senyawa sitotoksik dan immunostimulan terkonsentrasi
pada fraksi diklorometan. Hasil pemisahan lebih
lanjut fraksi diklorometan, diperoleh tiga senyawa
yaitu andrografolid, 14-deoksiandrografolid dan
14-deoksi-11,12-didehidroandrografolid. Ketiga isolat
90 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
ini diuji aktivitasnya terhadap delapan macam sel
kanker manusia yang meliputi kanker payudara (NCI/
ADR-RES), SSP (U251), kolon (SW620), paru (H522),
melanoma (M14), ovari (SKOV3), prostat (DU145) dan
ginjal (A498). Andrografolid menunjukan efek sitotoksik
paling kuat terhadap delapan sel kanker tersebut,
memiliki nilai GI50 pada range 10 sampai 28 μM,
sedangkan senyawa 14-deoksiandrografolid memiliki
aktivitas yang moderat pada sel NCI/ADR-RES dan
A498, dan tidak menunjukkan aktivitas terhadap enam
sel kanker yang lain, sementara senyawa 14-deoksi-
11,12-didehidroandrografolid tidak aktif terhadap
semua sel kanker yang digunakan. Untuk aktivitas
immunostimulan, ketiga senyawa pada konsentrasi 1
μM menunjukkan kenaikan proliferasi HPBLs yang
moderat.
Tahun berikutnya Cheung et al., (2005) melaporkan
juga aktivitas ekstrak sambiloto dan kandungannya
sebagai inhibitor pertumbuhan sel leukemia manusia
HL-60, dengan IC50 untuk ekstrak sebesar 14,01 μg/mL,
sedang IC50 untuk kandungan kimianya, andrografolid
2,42 μg/mL, deoksiandrografolid 39,27 μg/mL.
Sedangkan neoandrografolid disimpulkan tidak aktif.
Penelitian lebih jauh terkait dengan mekanisme aktivitas
inhibisinya secara molekular, dilaporkan bahwa ekstrak
sambiloto dan andrografolid dapat menginduksi
penghentian siklus sel.
Yu et al., (2013) mempelajari efek andrografolid
terhadap kanker antiparmonal pada 12 model mencit
tumor paru yang diinduksi oleh faktor pertumbuhan
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 91
endotel vaskular manusia A 165 (hVEGF-A165). Hasilnya
menunjukkan bahwa andrographolid secara signifikan
mengurangi ekspresi hVEGF-A165 dibandingkan dengan
kelompok tiruan sel Clara di paru-paru. Selain itu,
andrografolid juga menurunkan pembentukan tumor
dengan mengurangi ekspresi VEGF, EGFR, Cyclin A,
dan Cyclin B pada tingkat transkripsi dan translasi. Hasil
ini menunjukkan bahwa pengobatan andrografolid pada
ekspresi berlebihan VEGF dapat menahan siklus sel,
yang menyebabkan tumor paru pada tikus transgenik.
Penghambatan VEGF oleh andrografolid mungkin
merupakan metode yang berguna untuk kemoprevensi
kanker paru.
3. Hasil Uji klinis
Melchior et al., (2000) melaporkan hasil uji klinik
ekstrak sambiloto terstandar (Kan Jang) untuk tujuan kuratif
infeksi saluran pernapasan bagian atas tanpa komplikasi
(uncomplicated upper-respiratory tract infection). Pilot study
melibatkan 46 pasien, dan uji klinik fase tiga dengan
melibatkan 179 pasien, sifat uji randomized double-blind,
placebo-controlled parallel group clinical trials. Untuk uji pilot,
bahan uji diberikan tiga kali sehari, minimal untuk tiga
hari, dan maksimal delapan hari, sedangkan untuk uji fase
tiga diberikan tiga kali sehari untuk jangka waktu tiga hari.
Total dosis yang diberikan perhari, mengandung sekitar
50-60 mg andrografolid dan deoksiandrografolid. Hasilnya
menunjukkan, penurunan simptom penyakit (seperti
sakit otot, batuk, sakit kepala, gangguan pada hidung,
kerongkongan, mata, temperatur) pada pasien yang diberi
92 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
ekstrak sambiloto bermakna dibanding dengan pasien yang
diberi placebo. Dilaporkan juga, pada kedua uji, perbaikan
gejala pada kerongkongan hasilnya sangat bermakna.
Hasil uji klinik lain dilaporkan oleh Gabrielian et al.,
(2002). Peneliti ini menggunakan produk ekstrak sambiloto
(Kan Jang) seperti yang dikerjakan Melchior et al., (2000).
Uji dilakukan untuk tujuan kuratif infeksi akut pada saluran
pernapasan atas termasuk sinusitis. Uji bersifat double blind,
placebo-controlled study, yang melibatkan 95 pasien yang
diberi sediaan ekstrak sambiloto, dan 90 pasien yang diberi
sediaan placebo. Sediaan ekstrak sambiloto atau placebo
diberikan untuk jangka waktu lima hari, sehari tiga kali
empat tablet. Simptom yang diukur meliputi temperatur,
sakit kepala, sakit otot, simptom pada kerongkongan, pada
hidung, mata, batuk, dan kondisi badan secara umum. Hasil
uji menunjukkan penurunan simptom penyakit dengan
signifikasi tinggi pada pasien yang diberi sediaan ekstrak
sambiloto dibanding dengan yang diberi sediaan placebo.
Disimpulkan bahwa sediaan Kan Jang, menunjukkan efek
positif pada penanganan infeksi akut saluran pernapasan
atas dan meringankan simptom inflamasi karena sinusitis,
serta dilaporkan toleransi tubuh pasien terhadap sediaan
adalah baik. Sediaan ekstrak sambiloto yang digunakan
mengandung 85 mg ekstrak sambiloto terstandar, yang
eqivalen dengan 5 mg andrografolid.
Suatu uji klinik acak tersamar ganda telah dilakukan
dengan membandingkan serbuk andrographidis herba dan
tetrasiklin pada pengobatan diare akut dan disentri basileri.
Penderita (n=200) menerima kapsul andrographidis herba
(500 mL) secara oral, 4 kali sehari selama 3 hari. Sambiloto
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 93
menurunkan frekuensi dan jumlah feses dibandingkan
dengan tetrasiklin (Gupta et al., 1993).
Dalam sebuah percobaan oleh Yin dan Guo (1993), pada
pasien diare bakteri akut diobati dengan dosis total 500 mg
andrografolid yang terbagi atas tiga periode dosis per hari
selama enam hari (2,5-3,0 mg/kg berat badan). Terdapat
66 orang dari 80 pasien yang dirawat di sebuah Rumah
Sakit menunjukkan angka kesembuhan 82,5%. Tujuh pasien
tambahan merespon baik pada pengobatan dan hanya tujuh
pasien (8,8%) tidak merespon baik. Efektivitas pengobatan
ini dikonfirmasi melalui tes laboratorium dari sampel tinja
pasien.
Laporan lain disampaikan Saxena et al., (2010), yang
melakukan uji klinik untuk pasien yang mengalami infeksi
saluran pernapasan atas tanpa komplikasi, seperti yang
dilakukan Melchior et al., (2000). Saxena menggunakan
sediaan KalmCold, berupa kapsul mengandung ekstrak
sambiloto terstandar 100 mg (eqivalen dengan sekitar 30 mg
andrografolid), sehari dua kali setelah sarapan dan makan
malam ( jadi total 200 mg sehari, eqivalen dengan 60 mg
andrografolid, mirip dengan dosis yang diberikan Melchior
et al., (2000). Hasilnya dilaporkan, KalmCold efektif dalam
mengurangi simptom karena infeksi saluran pernapasan
atas yang tanpa komplikasi.
Uji klinis untuk membandingkan keampuhan Herba
Andrographidis, co-trimoxazole (Sulfamethoxazole +
trimethoprim) dan norfloksasin telah dilakukan dalam
pencegahan infeksi saluran kemih yang disebabkan
gelombang kejut ekstrakorporeal lithotripsi. Pasien
menerima 5 hari terapi baik dengan Herba Andrographidis
94 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
(4 tablet 250 mg, tiga kali Harian), kotrimoksazol (2 tablet
25mg, dua kali sehari) dan norfloksasin (1 tablet 200mg,
dua kali sehari). Setelah 1 bulan pengobatan, hasil urinalisis
100 pasien menunjukkan bahwa pyuria, hematuria dan
proteinuria berkurang di semua kelompok perlakuan, dan
tidak ada perbedaan yang signifikan antara tiga perlakuan
(Muangman et al., 1995).
Agarwal et al., (2005) melakukan studi klinik untuk
melihat efek samping dan toleransi bubuk kering herba
Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees, pada 20 pasien yang
sudah didiagnosis dengan diabetes mellitus tipe 2 dan
menjalani perawatan di klinik diabetes, Hospital Universiti
Sains Malaysia (USM). Pasien diberi bubuk A. paniculata
yang dimulai dengan 600 mg setiap hari, secara bertahap
meningkat hingga maksimum 1,8 g setiap hari, selama 12
minggu. Parameter ukuran berupa berat badan, tekanan
darah, uji fungsi hati, uji fungsi ginjal, enzim jantung,
hemogram, elektrolit serum, glukosa darah puasa, HbA1c,
kolesterol darah, trigliserida serum dan kadar hormon
darah (triiodotinronin, tiroksin, tirotropin, insulin, puasa
kortisol). Tidak satupun parameter yang disebutkan di atas
menunjukkan perubahan yang signifikan selama pengujian,
kecuali penurunan HbA1c sebesar 5,46% (p <0,01) dan
kadar insulin sebesar 20,93% (p <0,003). Kesimpulannya,
A. paniculata bubuk tidak menunjukkan adanya efek
samping yang signifikan berdasarkan parameter yang
diamati dalam penelitian ini namun secara signifikan
menurunkan HbA1c dan insulin serum puasa pada pasien
diabetes tipe 2.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 95
4. Keamaan
a. Kontraindikasi
Herba sambiloto dapat menyebabkan alergi
pada pasien yang peka terhadap famili Acanthaceae.
Herba sambiloto sebaiknya tidak dikonsumsi oleh ibu
hamil dan menyusui, serta tidak diberikan pada anak-
anak tanpa pengawasan tenaga medis (Kementerian
Kesehatan, 1989).
b. Peringatan
Ekstrak sambiloto berpotensi menimbulkan
anafilaksis, sehingga sebaiknya tidak diberikan dalam
bentuk injeksi (Handa and Sharma, 1990; Chang and
But, 1986). Herba sambiloto memiliki aktifitas abortifum
(Handa and Sharma, 1990; Yin et al., 1991). Andrografolid
(zat aktif sambiloto) memiliki efek antifertilitas terhadap
mencit betina (Hancke, 1997), adanya aktifitas abortif
terhadap mencit dan kelinci bunting (Zoha et al., 1989),
juga adanya efek nyata terhadap terminasi (berakhirnya)
kehamilan pada mencit saat awal implantasi,
pertengahan, maupun stadium akhir kehamilan (Zoha
et al., 1989). Ekstrak daun sambiloto juga menurunkan
ketebalan lapisan endometrium, menyebabkan hemoragi
pada endometrium dan struktur blastosis abnormal (kolaps),
serta memperlambat implantasi dan perkembangan
blastosis (Panossian et al., 1999).
c. Efek yang tidak diinginkan
Ekstrak sambiloto dengan dosis 75, 150 dan 225 mg/
mencit/hari selama masa organogenesis, yaitu hari ke-6
96 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
hingga 13 kebuntingan, menunjukkan bahwa ekstrak
daun sambiloto menyebabkan cacat kaki bengkok,
kelainan costae (costa tambahan dan costae berfusi), serta
menghambat penulangan metacarpus, metatarsus dan
vertebrae caudales (Setyawati, 2003). Herba sambiloto
sebaiknya tidak dikonsumsi pada masa menyusui
(Kementerian Kesehatan, 1989).
d. Interaksi
Sambiloto mempunyai efek sebagai antiplatelet,
sehingga dimungkinkan terjadinya interaksi dengan
obat-obat antiplatelet dan antikoagulasi (Setyawati,
2006). Ekstrak herba sambiloto memiliki efek sinergis
dengan isoniazid (Kementerian Kesehatan, 1989).
Chien et al., (2010), mempelajari efek farmakokinetik
interaksi obat dan menemukan bahwa pembersihan
teofilin meningkat secara signifikan serta daerah di
bawah kurva konsentrasi waktu (AUC=Concentration
time curve) berkurang secara signifikan, baik yang
diberikan andrografolid maupun ekstrak A. paniculata
pada kelompok pemberian teofilin dosis rendah (1 mg/
kg). Eliminasi waktu paruh (t1/2) dan waktu tinggal
rata-rata (MRT) teofilin dapat dipersingkat, masing-
masing sebesar 14% dan 17% pada kelompok pemberian
andrograpolid yang diberi teofilin dosis tinggi 5 mg/kg.
Beberapa komponen herbal yang terkandung dalam
ekstrak A. paniculata dapat berinteraksi dengan teofilin
dan menghambat eliminasi ketika teofilin itu diberikan
pada dosis tinggi.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 97
e. Toksisitas
Ekstrak daun sambiloto yang diberikan secara
subkutan pada kelinci dengan dosis 10 mL/kg bb tidak
memberikan efek toksik (Setyawati, 2006). Pemberian
per oral suspensi serbuk daun 2 g/kg, suspensi ekstrak
alkohol 2,4 g/kg atau andrografolid 3 g/kg, tidak
memperlihatkan efek toksik pada mencit jantan ataupun
betina (Dutta and Sukkul, 1982). Pemberian suspensi
serbuk daun sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg selama
4 minggu pada mencit, memperlihatkan hasil yang tidak
berbeda dengan hewan kontrol serta menunjukkan tidak
adanya pengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan,
organ visceral mayor, kesuburan ataupun teratogenik.
Pemberian per oral serbuk daun dengan dosis 50, 100 dan
150 mg/kg selama 14 minggu pada tikus memperlihatkan
tidak adanya efek toksik, namun, tikus yang menerima
dosis 150 mg/kg memperlihatkan lambatnya kecepatan
pertumbuhan (Dutta and Sukkul, 1982). Uji toksisitas
akut terhadap ekstrak alkohol 50% sambiloto dengan
dosis 15 g/kg pada mencit, tidak memperlihatkan
adanya efek toksik. LD50 ekstrak yang diberikan per
oral maupun subkutan lebih dari 15 g/kg bb sedangkan
secara intraperitoneal 14,98 g/kg (Dhammanpakorn and
Chaichanthippayuth, 1989).
Chandrasekaran et al., (2009) melaporkan hasil
uji toksisitas terhadap gene dari ekstrak sambiloto
terstandar KalmColdTM. Dengan menggunakan tiga
macam uji genotoksisitas in vitro yang berbeda (Ames
test, Chromosome Aberration/CA test, dan Micronucleus/
MN test) menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto tidak
98 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
menginduksi mutasi pada Ames test dengan ada atau
tanpa S9 pada Salmonella typhimurium mutans strain
TA98 dan TAMix. Pada uji CA dan MN, produk ini tidak
menginduksi klastogenisitas pada kultur Chinese Hamster
Ovary Cells (CHO-K1) in vitro dengan kata lain produk ini
aman terhadap gene (genetoxically safe), sementara hasil
uji toksisitas akut pada tikus betina menunjukkan, pada
dosis 5.000 mg/kg bb tidak menimbulkan efek toksik
apapun.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 99
100 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
BAB 7
Aspek Ekonomi dan
Pengembangan Produk
1. Rantai distribusi
Sambiloto merupakan simplisia yang cukup banyak
digunakan sebagai bahan baku jamu dari level Industri
Besar sampai pedagang jamu racikan dan jamu gendong.
Data jumlah kebutuhan riil simplisia sambiloto sangat sulit
diperoleh karena sangat fluktuatif. Kebutuhan simplisia
sambiloto umumnya dipasok oleh petani pengumpul dari
hasil pemanenan tanaman liar yang berasal dari hutan,
kebun, pinggir jalan atau lahan kosong. Petani pengumpul
melakukan proses panen dan pascapanen sambiloto dengan
teknik sederhana tanpa target kualitas. Hasil pengolahan
berupa simplisia dengan mutu yang tidak jelas akan dipasok
ke pengepul tingkat pertama yang berlokasi di Desa atau
Kecamatan. Kualitas simplisia sambiloto yang tidak baku
disebabkan umur panen dan kondisi tumbuhan pada saat
panen tidak diketahui. Pengumpulan atau panen oleh
petani hanya sebatas pengetahuan petani umumnya tidak
memperhatikan kondisi fisiologis tanaman.
Pengepul menerima simplisia dengan segala jenis
kualitas. Pengepul melakukan peningkatan kualitas dengan
menjemur kembali simplisia untuk mendapatkan kadar air
tertentu, rumah pengepul umumnya memiliki halaman
depan dan belakang untuk menjemur. Koprasi jamu
Indonesia di Sukohardjo mendapat bantuan alat pengering
yang dipasang di salah satu UMOT yang produknya sudah
terdaftar. Alat pengering ini dapat dimanfaatkan oleh
anggota koperasi dengan menyumbang biaya pemeliharaan.
Pengepul melakukan sortasi dengan berbagai cara, menampi,
mengayak, memeriksa jamur dengan mata memperbaiki
penampilan dengan cara merajang, memotong
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 103
Pengepul atau pemasok, baik pengepul besar/modern
maupun tradisional, mereka sudah mempunyai pelanggan
yang membutuhkan simplisia. Sistem distribusi dibangun
secara tradisional berdasarkan permintaan langsung
maupun titip jual. Beberapa pengepul kecil memasok dalam
jumlah kecil ke pasar-pasar dengan sistem langsung dan
bisa kembali jika tidak laku dalam kurun waktu perjanjian.
Pengepul tingkat pertama yang umumnya berada di wilayah
Desa atau Kecamatan memiliki jaringan pemasok dari
wilayah di sekitarnya. Pemasok umumnya menjual hasil
penanaman ataupun pengumpulan tanaman liar dalam
bentuk kering dengan kualitas rendah.
Pengepul tingkat pertama umumnya memasarkan
simplisianya dalam jaringan pasokan yang dibangun atas
dasar kepercayaan. Jaringan pemasaran pengepul tingkat
pertama meliputi pedagang pasar simplisia, pengepul tingkat
kedua (pedagang besar simplisia), pengecer, pedagang
jamu racikan, atau juga langsung ke Industri Jamu. Sistem
pembayaran berdasarkan kesepakatan, antara lain cash and
carry (pembayaran langsung), konsinyasi (pembayaran
setelah barang habis), atau tempo (sebulan atau dua bulan
setelah pengiriman).
104 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Gambaran jaringan distribusi simplisia sambiloto dapat
dilihat pada Gambar 14 berikut.
Gambar 14. Pola distribusi simplisia sambiloto
Harga simplisia sambiloto sangat bervariasi berdasarkan
mutu barang dan juga fluktuatif berdasarkan musim atau
ketersediaan stok bahan. Pada tingkat pengepul, simplisia
sambiloto dengan kualitas biasa yang berasal dari petani
dipatok harga sebesar Rp. 5.000,- sampai Rp. 7.000,-/kg.
Harga sambiloto dengan kualitas bagus (ditandai warna hijau
segar) yang dijual di pasar simplisia bervariasi antara Rp.
20.000,- sampai Rp. 25.000,-. Selanjutnya harga pasokan
ke Industri Jamu sangat bervariasi tergantung dari jumlah
kebutuhan dan kualitas yang ditetapkan. Harga simplisia
berbeda pada setiap level rantai distribusi dan tidak ada
kejelasan informasi. Hal ini tentu sangat mengganggu
proses produksi petani karena selain jumlah kebutuhan
yang tidak tentu harga produkpun tidak diketahui dengan
pasti. Keadaan ini kemungkinan yang menyebabkan petani
enggan menanam sambiloto.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 105
2. Produk komersial
Sambiloto merupakan tanaman obat yang telah
dikembangkan menjadi produk herbal dan suplemen
kesehatan secara global. Di Indonesia sambiloto
diperdagangkan dalam bentuk simplisia, serbuk, ekstrak,
jamu, dan ekstrak herbal terstandar. Simplisia sangat
mudah dijumpai di pasar simplisia maupun di pasar umum
yang menjual bahan-bahan jamu. Ekstrak sambiloto hanya
diproduksi oleh industri ektrak tanaman obat dan selain
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagian diekspor
ke luar negeri. Produk jamu dan herbal dari sambiloto dapat
ditemukan di toko dan apotek secara mudah.
Beberapa produk sambiloto yang telah memperoleh ijin
edar dari BPOM disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 2. Daftar produk sambiloto yang telah memperoleh
ijin edar
No No. Registrasi Bentuk sediaan Nama Perusahaan
1 TR163394211 Kapsul Sambiloto PT Mahkotadewa
(17-01-2017) Indonesia
2 TR062355591 Sambiloto Kota Jakarta Utara, DKI
Jakarta
(07-11-2016) Kemasan: Dus, Botol PT. Citra Deli
30&60 kapsul Kreasitama
3 TR163392871 Sambiloto Kab. Tangerang, Banten
CV. Green Zone Herbal
(16-05-2016) Kemasan: Dus, Botol@ Kab. Tangerang, Banten
30&50 kapsul @ 500
mg
106 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
4 TR062356961 Sambiloto PT INDUSTRI JAMU
BOROBUDUR
Kemasan: Botol @
30, 60, 100 Kapsul @ Kab. Semarang, Jawa
550mg Tengah
5 TR103221531 Sambiloto UD PJ BISMA SEHAT
(29-12-2015) Kemasan: Sachet @ Kab. Sukoharjo, Jawa
1000 gram Tengah
PT LIZA HERBAL
6 TR053348841 Sambiloto INTERNATIONAL
Kota Bogor, Jawa Barat
(05-10-2015) Kemasan: Botol @45 PT CITRA DELI
kapsul KREASITAMA
Kab. Tangerang, Banten
7 TR042539651 SAMBILOTO PT LIZA HERBAL
INTERNATIONAL
(09-09-2015) Kemasan: Botol @ 60 Kota Bogor, Jawa Barat
kaplet
UD RACHMA SARI
8 TR103319231 EKSTRAK
(25-08-2015) SAMBILOTO
Kemasan: Botol @ 30
kapsul
9 TR103309711 SAMBILOTO
(14-06-2015) Kemasan: Dus, Botol @ Kab. Sukoharjo, Jawa
10 TR152386521 60 kapsul Tengah
(15-05-2015) HERBANA PT DELTOMED
SAMBILOTO LABORATORIES
11 TR043331981
(20-01-2014) Kemasan: Botol @ 60 Kab. Wonogiri, Jawa
dan 100 kapsul Tengah
12 TR043336711 HERBACURE PT TERAPI ALAM
(20-01-2014) SAMBILOTO NABATI
13 TR133373451 Kemasan: Botol @ 40, Banten, Banten
(16-10-2013) 90 & 500 kapsul PT TERAPI ALAM
HERBACURE NABATI
SAMBILOTO
Kemasan: Blister @ 4 Banten, Banten
kapsul @ 200 mg
SAMBILOTO PT HERBA UTAMA
(ANDROGRAPHIS Kab. Bekasi, Jawa Barat
PANICULATA)
Kemasan: Botol @ 45
kapsul
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 107
14 TR133372921 SAMBILOTO CV NATURAFIT
(29-08-2013) Kemasan: Botol @ 30, THIBBUNNABAWI
50, 60 & 100 kapsul Kab. Sragen, Jawa
15 TR132372971 Tengah
(29-08-2013)
SAMBILOTO PT INDUSTRI JAMU
16 TR133373001 Kemasan: Dus, 10 strip BOROBUDUR
@ 5 kapsul Kab. Semarang, Jawa
Tengah
KAPSUL SAMBILOTO CV GRIYA AN NUR
(29-08-2013) Kemasan: Dus, Botol @ Kota Bekasi, Jawa Barat
50 kapsul @ 500 mg
17 TR133372371 SL SAMBILOTO CV NATURAFIT
(26-07-2013) EKSTRAK THIBBUNNABAWI
Kemasan: Dus,Botol Kab. Sragen, Jawa
@ 30,50 kapsul @ 500 Tengah
mg
18 TR032323071 SAMBILOTO PT JAMU IBOE JAYA
(12-06-2013) Kemasan: Dus, Botol @ Kab. Sidoarjo, Jawa
19 TR133368571 30 kapsul Timur
(13-03-2013) KAPSUL SAMBILOTO CV AL-GHUROBA`
AL GHUROBA
20 TR123364761 Kab. Sukoharjo, Jawa
(24-09-2012) Kemasan: Botol @ 60 Tengah
kapsul
21 TR053348451
(17-09-2012) SAMBILOTO CV TOGA
Kemasan: Botol @ 50 NUSANTARA
22 TR123362621 kapsul Kota Bekasi, Jawa Barat
(30-01-2012)
SM (SAMBILOTO) PJ SHINSE TAN
KAPSUL Kota Semarang, Jawa
Kemasan: Botol 60 Tengah
kapsul @ 500 mg
SAMBILOTO HS PT HERBAL SALAM
Kemasan: Dos, botol @ Kab. Bekasi, Jawa Barat
30 kapsul
Sumber: Direktorat Obat Asli, BPOM RI
108 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
3. Pengembangan produk
Daun sambiloto di China termasuk fitofarmaka dan
telah menjadi industri besar utama, dikenal dengan nama
Chuang–xin-lian telah diketahui mengandung beberapa
senyawa, yaitu (1) 14-Deoxyandrografolid untuk obat infeksi
lambung, (2) andrografolid untuk obat gangguan pernafasan,
(3) neoandrografolid untuk obat ginjal dan (4) 14-deoxy-11,
12 Deoxyandrografolid untuk pengobatan lepra. Selain
itu produk berupa ekstrak didehydro andrografolid total
dan lacton total berupa tablet serta sediaan injeksi dari
deoxyandrografolid telah menjadi produk yang berkembang
pesat (Xiao Peigen dalam Vijesekera, 1991). Berbagai produk
komersial sambiloto antara lain :
AB
Gambar 15. Bentuk sediaan herbal sambiloto, A. Tingtur; B. Sirup
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 109
AB
Gambar 16. Sediaan herbal sambiloto, A. Tablet; B. ঞncture
110 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Rekomendasi
Dari hasil kajian literatur atas hasil penelitian dan review
tanaman sambiloto maka dapat direkomendasikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Sambiloto merupakan tanaman obat yang cukup besar
digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, namun
perolehan bahan sebagian besar masih bergantung dari
pemanenan tanaman liar. Untuk itu aplikasi teknik budidaya
yang berskala ekonomi berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan sangat penting untuk segera dilakukan.
Pemetaan daerah-daerah potensial sebagai sentra
pengembangan budidaya sambiloto juga perlu dilakukan
mengingat tumbuhan ini tergolong kosmopolit yang mudah
tersebar dan tumbuh di berbagai tempat.
2. Teknologi pasca panen sambiloto yang mampu menjamin
peningkatan mutu simplisia juga harus dikembangkan
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 111
dan dapat diaplikasikan di level petani. Saat ini karena
minimnya pengetahuan dan kemampuan petani, produksi
sambiloto hanya berbasis teknik tradisional tanpa sentuhan
kegiatan pengelolaan yang baik. Mulai dari proses panen
sampai penyimpanan di level pengepul, sambiloto tidak
memperoleh intervensi teknologi sehingga mutu masih
sangat rendah dan beragam dari satu lokasi ke lokasi, atau
dari satu pengepul ke pengepul lainnya.
3. Informasi pasar yang tidak terbuka terkait jumlah, mutu
dan siapa pengguna sambiloto sangat membuat petani
mengalami kendala memasarkan hasil produksi. Dengan
demikian perlu diatur tata niaga yang jelas atas hasil produksi
petani yang pada akhirnya juga akan mendorong minat
petani untuk mau mengembangkan budidaya sambiloto.
4. Informasi hasil penelitian farmakologi yang sangat beragam
dapat dijadikan acuan pengembangan produk sambiloto
yang mampu menjawab permintaan pasar. Sambiloto masih
memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk
kosmetika berbasis herbal di masa yang akan datang. Riset
awal yang membuktikan adanya efek anti-virus dapat dikaji
lanjut untuk menghasilkan produk obat-obat baru anti-
viral.
112 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Daftar Pustaka
Agarwal R., Siti Amrah S., and Mafauzy M., 2005. Open Label
Clinical Trial to Study Adverse Effects and Tolerance to
Dry Powder of the Aerial Part of Andrographis paniculata
inPatients Type 2 Diabetes Mellitus. Malaysia Jurnal
Medicinal Science. 122(1): 13-19
Aldi, Y., Sugiarso N.C., Andreanus A. S. dan Ranti A.S., 1996. Uji
efek antistaminergik dari tanaman samiloto. Bull. Warta
TOI, I3(1): 17 – 19.
Aspan, R., 2004. Pengembangan pemanfaatan obat bahan alam
dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Prosiding
Seminar Nasional XXV Tumbuhan Obat Indonesia. Hal
: 8 – 15.
Awang K., Abdullah N. H., Hadi A. H., and Fong Y. S., 2012.
Cardiovascular activity of labdane diterpenes from
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 113
Andrographis paniculata in isolated rat hearts, Journal of
Biomedicine and Biotechnology, 2012, Article ID 876458, 5
pages, 2012. View at Publisher
Backer C.A.D. Sc and Van Den Brink R.C.B., 1968. Flora of Java
(Spermatophytes only) Vol III. Wolters-Noordhoff N.V.-
Groningen, The Netherlands.
Bhattacharya S., S.Puri,A.Jamwal,and S. Sharma, 2012. “Studies
on seed germination and seedling growth in Kalmegh
(Andrographis paniculata Wall. Ex Nees) under abiotic
stress conditions,” International Journal of Science,
Environment and Technology, 1(3): 197–204
Bombardelli, E., 1991. Technologies for processing of medicinal
plants. In The Medicinal plant industry. CRC press. Florida,
USA. P: 85 – 98
Boopathi C.A, 2000. Andrographis SPP.: A Source of Bitter
Compounds For Medicinal Use, Ancient Science of Life,
19(3&4): 164-168.
Borhanuddin M., Shamsuzzoha M., HussainA. H. Hypoglycaemic
effects of Andrographis paniculata Nees on non-diabetic
rabbits. Bangladesh Medical Research Council Bulletin.
1994;20(1):24–26.
Cara Pembuatan Simplisia, 1987. Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan, Jakarta.
Cahyaningsih, U. dan A. Rohimat. 2002. Diferensiasi leukosit
darah ayam yang diinfeksi Eimeria tenella, setelah
pemberian serbuk sambiloto (Andrographis paniculata
114 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Nees) pada pakan. Makalah Seminar Kongres
Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia XIV di Mataram,
8 – 9 Oktober 2002.
Cahyaningsih, U., Setiawan K. dan Ekastuti D.R., 2003.
Perbandingan gambaran diferensiasi leukosit ayam
setelah pemberian sambiloto (Andrographis paniculata
Nees) dosis bertingkat dengan koksidiostat. Prosiding
Seminar Nasional XXIV Tumbuhan Obat Indonesia, di
Jakarta, 19 - 20 September 2003. hal :245 -257.
Cahyaningsih, U., Kustiningsih, H., Maryeni, D.K., dan Suharto,
W., 2004. Pengaruh pemberian Androcox sebagai anti
coccidia herbal terhadap gejala klinik dan bobot badab
pada perternakan ayam pedaging di desa Petir, kec.
Darmaga, Bogor. Makalah Seminar Nasional XI, Persada
, di Bogor, 5 Juni 2004.
Cahyaningsih, U. dan Sirhadi, S., 2006. Pengaruh pemberian
serbuk daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
melalui pakan terhadap jumlah skizon, makrogamet,
mikrogamet dan ookista Eimeria tenella pada sekum
ayam. Prosiding Seminar Nasional XXVIII Tumbuhan
Obat Indonesia di Bogor, 15 – 16 September 2005.
Calabrese, C., Berman, S.H., Babish, J.G., Ma, X., Shinto, L., Dorr,
M., Wells, K., Wenner, C.A., and Standish, L.J., 2000. A
phase I trial of andrografolid in HIV positive patients
and normal volunteers. Phytother Res. Aug;14(5):333-8
Chandrasekaran, C.V., Thiagarajan, P., Sundarajan, K., Goudar,
K.S., Deepak, M., Murali, B., Allan, J. J., and Argawal,
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 115
A., 2009. Evaluation of genotoxic potential and acute
oral toxicity of standardized extract of Andrographis
paniculata (KalmColdTM), Food and Chemical Toxicology,
47, 1892-1902.
Chang, H.M. and But, P.P.H., eds. 1986. Pharmacology and
applications of Chinese materia medica. Vol. 1. Singapore,
World Scientific p: 918–928
Chang, R.S. and Yeung, H.W., 1988. Inhibition of growth of
human immunodeficiency virus in vitro by crude
extracts of Chinese medicinal herbs. Antiviral Research,
1988, 9: 163–175.
Chang, R.S., Ding, L., Chen, G.Q., Pan, Q.C„ Zhao, Z.L. and
Smith, K.M., 1991. Dehydroandrografolid succinic
acid monoester as an inhibitor against the human
immunodeficiency virus (43225). Proceedings of the Society
of Experimental Biology and Medicine, 197:59–66.
Chang, R., and Shihman, 1991. Dehydroandrografolid Succinic
Acid Monoester as an Inhibitor against the Human
Immunodeficiency Virus. Experimental Bology and
Medicine, Volume: 197: 59-66
Cheung, H.Y., S.H. Cheung, J. Li, C.S. Cheung, W.P. Lai, W.F.
Fong, F.M. Leung. 2005, Andrografolid isolated from
Andrographis paniculata induces cell cycle arrest and
mitochondrial-mediated apoptosis in human leukemic
HL-60 cells, Planta Medica, 71, 1106-1111.
Chien, C.F., Wu, Y.T., Lee, W.C., Lin, L.C., and Tsai, T.H., 2010.
Herb-drug interaction of Andrographis paniculata
116 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
extract and andrografolid on the pharmacokinetics of
theophylline in rats. Chem Biol Interact, 184: 458-46.
Chiou, W.F., Lin, J.J., Chen, C.F., 1998. Andrografolid suppresses
the expression of inducible nitric oxide synthase in
macrophages and restores the vasoconstriction in rat
aorta treated with lipopolysaccharide. British Journal of
Pharmacology, 125:327–334
Chopra, R.N., 1980. Glossary of Indian medicinal plants. New
Delhi: Council for Scientific and Industrial Research; p.
18.
Clarke, C.B., 1882. Oleaceae, dalam Hooker JD (Ed.): The Flora of
British India. Periodical Expert Book Agency, New Delhi,
India, vol. 3 part 9, h. 590-618
Coon, J.T. and Ernst, E., 2004. Andrographis paniculata in the
Treatment of Upper Respiratory Tract Infections: A
Systemic Review of Safety and Efficacy, Planta Med, 70:
293-298.
De Padua L.S., Bunyapraphatsara N. and Lemmons R.H.M.J.,
(eds) 1999. Plant Resources of South-East Asia 12.
Medicinal and poisonous plants 1, Prosea Foundation,
Bogor, h. 119-123.
Deng, W., 1982. Comparison of pharmacological effect of four
andrografolids. Chinese Pharmaceutical Bulletin, 17:195–
198.
Diniati, D. dan Darusman, L.K., 2005. Kultur kalus tanaman
sambiloto (Andrographis paniculata Nees) : produksi
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 117
bahan aktif. Laporan Hasil Penelitian Dosen Muda. Jur.
Budidaya Pertanian, Faperta, IPB.
Dong, H., Zhang Z., Yu J, Liu Y, Xu F, 2009. Chemical
Fingerprinting of Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees
by HPLC and Hierarchical Clustering Analysis. Journal of
Chromatographic Science. 47: 931-935
Dhammanpakorn P, C Chaichanthippayuth, 1989. Acute and
subchronic toxicology studies of Andrographis paniculata in
rats and mice., Abst the 8th Symp, Faculty of Pharmacy,
Chulalongkorn University Bangkok, Thailand.
Dhar, M L, Dhar, M M, Dhawan, BN, Mehrotra, BN, and Ray, C,
1968. Screening of Indian plants for biological activity: I,
Indian Journal of Experimental Biology, 6(4): 232–247
Djiwanti, R.S. dan Supriadi. 2008. Determinasi nematoda
parasit Aphelenchoides sp. penyebab penyakit hawar
daun sambiloto 72 (Andrographis paniculata). Jurnal Littri
14(2): 61-66.
Djiwanti, R.S. and Supriadi. 2003. Leaf blotch disease of
Aphelenchoides sp. on sambiloto (king of bitter) and its
possible control. Proc. of the International Symposium
on Biomedicines. Bogor Agricultural University, 18-19
September 2003 : 169-174.
Dong H., Zhang Z., Yu J, Liu Y, Xu F, 2009. Chemical
Fingerprinting of Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees
by HPLC and Hierarchical Clustering Analysis. Journal of
Chromatographic Science. 47: 931-935
118 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Dua V.K, Ojha V.P, Roy R, Joshi BC, Valecha N, UshaDevi C,
Bhatnagar M.C, Sharma V.P, Subbarao S.K, 2004.
Anti-malarial activity of some xanthones isolated
from the roots of Andrographis paniculata. Journal of
Ethnopharmacology, 95( 2–3): 247-251
Dutta A, NC Sukul, 1982. Filaricidal properties of Wide Herb.
Andrographis paniculata., J. Helminthol, 56: 81-84
Dzulkarnain, B., M.W. Winarno dan S. Sundari. 1996. Penelitian
pendahuluan efek infus daun sambiloto terhadap
Plasmodium berghei pada mencit. Bull. Warta Tumbuhan
Obat Indonesia, 3(1): 26 – 28.
Emmyzar, R. Suryadi, M. Iskandar, dan Ngadimin. 1996.
Pengaruh dosis pupuk NPK dan umur panen terhadap
pertumbuhan dan produksi terna tanaman Sambiloto.
Bul. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 3(1): 31-32.
Gabrielian, E.S., A.K. Shukarian, G.I. Goukasova, G.L.
Chandanian, A.G. Panossian, G. Wikman, H. Wagner.
2002, A double-blind, placebo-controlled study of
Andrographis paniculata fixed combination Kan Jang in
the treatment of acute upper resoiratory tract infection
including sinusitis, Phytomedicine, 9: 589-597
Gamble, J.S., 1956. Flora of Presidency of Madras, Vol. 2, Botanical
Survey of India, Calcuta. p. 1048.
George M, Pandalai K.M., 1949. Investigations on plant
antibiotics. Part IV. Further search for antibiotic
substances in Indian medicinal plants. Indian Journal of
Medical Research, 37:169–181. 29.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 119
Gupta S, MA Choudhry, JNC Yadava, V Srivastava and JS Tandon,
1990. Antidiarrhoeal Activity of Diterpen of Andrographis
paniculata Against E. Coli Enterotoxin In Vitro Model,
International J. Crude Drug Research, 28: 273-283.
Gupta S, JNS Yadava, and JS Tandon, 1993. Antisecretory
(Antidiarrhoeal) Activity of Indian Medicinal Plants
Againt E. Coli Enterotoxin-Induce Secretion in Rabit
and Guinea Pig Ileal Loop Models, International J.
Pharmacognosy, 31: 198-204.
Gupta, R. 1991. Agrotechnology of medicinal plants Industry.
CRC press Florida. USA. p: 43 – 57.
Gupta, S., M.A. Choundhry, J.N.S. Yadava, V. Srivastava and J.
S. Tandon. 1990. Antidiarrheal activity of diterpenes
Andrographis paniculata Nees (Kalmegh) against
Escherichia colli entertoxin in vivo models. Jour. Crude
Drug Res 28/4: 273 – 283.
Guo, Z.L.1994. The effects of Andrographis paniculata Nees in
alleviating the myocardial ischemic reperfusion injury.
Jour. Tongji Med.Univ. P : 49 – 51.
Hancke J, 1997. Reproductive toxicity study ofAndrographis paniculata
extract by oral administration to pregnant Sprague-Dawley
rats. Santiago, Pontifica Universidad Catolica deChile
Handa SS and A Sharma, 1990. Hepatoprotective Activity of
Andrografolid from Andrographis paniculata Againts
Carbon Tetrachloride, Indian J. Med. Res. 92: 276-283.
Hooker JD and BD Jackson, 1895. Index Kewensis, vol. 1, Clarendon
Press, Oxford.
120 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Heyne K, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid III, Terjemahan
Badan Litbang Departemen Kehutanan, Yayasan Sarana
Wana Jaya, Jakarta
Handa, S.S., and SharmaA., 1990. Hepatoproctetive activity
Andrographis paniculata Nees against carbontetraclorida.
Indian Jour.Med.Res. 92: 276– 283.
Hadisahputra,S., U. Zein, A. Saragih, M. Fauzi, dan R. Mahruzar.
2005. Pengembangan sambiloto (Andrographis paniculata
Nees) sebagai antimalaria. Laporan Hasil Penelitian
Kerjasama Departeman Farmasi FMIPA, U.S.U.; Fakultas
Kedokteran, U.S.U.; R.S.U. Panyambungan – Madina
Medan dengan BPOM. 72 hal.
Hasanah, M., D. Rusmin, Melati dan Sukarman. 2005. Teknik
produksi dan penanganan benih sambiloto. Laporan Teknis
Balittro. 30 hal.
Huang L. Y. 1987. The effects of andrografolid on experimental
blood deficiency of cardiac muscle, Chinese Herbal
Medicine, 18: 26–28.
Http:// www. pionerherbs. com. 2000. Andrographis paniculata.
Pioneer Enterprise, Mumbai. India.
Januwati, M., M. Yusron, E. R. Pribadi, S. Wahyuni dan Ma’mun.
2003. Modifikasi lingkungan mikro untuk meningkatkan
mutu simplisia sambiloto. dalam Karaterisasi mutu
simplisia untuk produksi ekstrak sambiloto sebagai
penurun kadar lipid darah. Laporan Akhir Proyek
PAATP. Balittro. 36 hal.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 121
Januwati, M.dan M. Yusron. 2004. Produksi dan mutu simplisia
sambiloto (Andrographis paniculata Nees) pada beberapa
tingkat naungan. Makalah Seminar Nasional XXVI
Tumbuhan Obat Indonesia, di Padang, 7 – 8 September
2004.
Januwati, M. dan Nurmaslahah. 2008. Pengaruh tingkat
pemberian air pada tiga aksesi sambiloto (Andrographis
paniculata Nees) terhadap mutu dan produksi simplisia.
Jurnal Littri 14(2) : 54-60.
Januwati, M., Supriadi, M. Yusron, E.R. Pribadi, S. Wahyuni,
Setiawan, dan W.J. Priambodo. 2005. Modifikasi
lingkungan mikro untuk meningkatkan mutu simplisia
sambiloto. Laporan Teknis Penelitian. Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat. 84-94.
Jarukamjorn, K dan Nemoto, N. 2008. Pharmacological Aspect
of Andrographis paniculata on Health and Its Major
Diterpenoid Constituent Andrografolid. Jepang, Journal
of Health Sciences. 54: 370-381.
Jokopriyambodo, W. 2004. Standarisasi tanaman obat sambiloto
(Andrographis paniculata Nees). Makalah Simposium I
Hasil Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Badan
Litbangkes, di Jakarta, 20 - 21 Desember 2004.
Kemala, S., Sudiarto, E.R. Pribadi, JT. Yuhono, M. Yusron, L.
Mauludi, M. Rahardjo, B. Waskito, dan H. Nurhayati.
2004. Studi serapan, pasokan dan pemanfaatan tanaman
obat di Indonesia. Laporan Teknis Penelitian. Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 187-247.
122 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Kirtikar, K.R. and Basu B.D., 1975.Indian Medical plants. Vol III,
Bishen Singh Mahendra Pal Singh, New Delhi, p. 1884-
1886.
Kumar, R.A., K. Sridevi, N.V. Kumar, S. Nanduri, S. Rajagopal. 2004,
Anticancer and immunostimulatory compounds from
Andrographis paniculata, Journal of Ethnopharmacology, 92,
291-295
Lattoo SK, Khan S, Dhar AK, Choudhary OK, Gupta KK and
Sharma PR, 2006. Genetics and mechanism of induced
male sterility in Andrographis panicu/ala (Burm. f.) Nees
and its significance. Current Science. 91(4-25):515-519.
Leelarasamee A., 1990. Undetectable antibacterial activity of
Andrographis paniculata (Burm) Wall. ex Nees. Journal of
the Medical Association of Thailand, 73:299–304.
Madav S., Tripathi H.C., Tandan and Mishra S.K., 1995. Analgesic
and antiulcerogenic effects of andrografolid. Indian
Journal of Pharmaceutical Science, 57:121–125.
Maison T, Volkaert H, Boonprakob U, Paisooksantivatana Y,
2005. Genetic diversity of Andrographis paniculata Wall.
ex Nees as revealed by morphological characters and
molecular markers, Kasetsart. J. Nat. Sci. 39:388-399
Ma’mun, B.S. Sembiring, F. Manoi dan Abdulgani. 2004.
Standarisasi simplisia dan ektrak pekat terstandar
tanaman sambiloto. Laporan Teknis Balittro. 9 hal.
Ma’mun, B.S. Sembiring, F. Manoi dan Abdulgani. 2005. Teknik
pembuatan dan penyimpanan ekstrak terstandar
sambiloto. Laporan Teknis Balittro. 20 hal.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 123
Materia Medika Indonesia, Jilid 3, 1983. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Melchior, J.,A.A. Spasov, O.V. Ostrovskij,A.E. Bulanov, G.Wikman.
2000, Double-blind, placebo-controlled pilot and
Phase III study of activity of standardized Andrographis
paniculata Herba Nees extract fixed combination
(Kan jang) in the treatment of uncomplicated upper-
respiratory tract infection, Phytomedicine,7: 341-350
Misra P., Pal N.L., Guru P.Y., Katiyar J.C., and Tandon J.S.,
1991. Antimalarial activity of traditional plants against
erythrocytic stages of Plasmodium berghei. International
Journal of Pharmacognosy, 29:19–23. 43.
Misra P, Pal N.L., Guru P.Y., Katiyar J.C., Srivasta V., and Tandon
J.S., 1992. Antimalarial activity of Andrographis paniculata
(Kalmegh) against Plasmodium berghei NK 65 in Mastomys
natalensis. International Journal of Pharmacognosy, 30:263–
274.
Mishra K, Dash AP, Swain BK, Dey N, 2009. Anti-malarial
activities of Andrographis paniculata and Hedyotis
corymbosa extracts and their combination with
curcumin, Malarial Journal 8:1-9
Muangman V, Viseshsindh V., Ratana-Olarn K., Buadilok S.,
1995. The usage of Andrographis paniculata following
extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Journal of
the Medical Association of Thailand, 78:310–313
Mukherjee, PK Wahile A, Kumar V, Rai S, Mukherjee K, Saho
BP, 2006. Marker Profiling of Botanicals Used for
124 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Hepatoprotection in Indian System of Medicine. Drug
Information Journal. 40:131-13
Nakanishi, K., Sasaki S.I., Kiang A.K., Goh J., Kakisawa H.,
Ohashi M., Goto M., Watanabe J.M., Yokotani H.,
Matsumura C. and Togashi M., 1965. Phytochemical
survey of Malaysian plants: preliminary chemical and
pharmacological screening. Chemical and Pharmaceutical
Bulletin, 13: 882–890.
Nazimudeen, S.K., Ramaswamy, S. and Kameswaran, L., 1978.
Effect of Andrographis paniculata on Snake Venom
Induced Death and Its Mechanism. Indian Journal of
Pharmaceutical Sciences, 40: 132-133.
Niranjan A., S. K. Tewari, and A. Lehri, 2010. Biological activities
of Kalmegh (Andrographis paniculataNees) and its active
principles-A review,Indian Journal of Natural Products and
Resources,1(2): 125–135.
Nugroho, Y.A., B. Nuratmi dan W. Winarno. 2000. Sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) tumbuhan obat Indonesia
yang aman. Prosiding Kongres Nasional Obat Tradisional
Indonesia Simposium Penelitian Bahan Obat Alami X,
di Surabaya, 20 – 22 Nopember 2000. hal : 150 – 157.
Nugroho, Y. A dan Nafrialdi. 2001. Sambiloto (Andrographis
paniculata Nees) tumbuhan obat Indonesia penurun
kadar lipid darah. Prosiding Seminar Nasional
Tumbuhan Obat Nasional XIX, di Bogor. Hal : 353 –357.
Otake T et al., 1995. Screening of Indonesian plant extracts for
anti-human immunodefi- ciency virus type 1 (HIV-1)
activity. Phytotherapy Research, 9:6–10.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 125
Pandey AK and MandaI AK. 2010. Variation in morphological
characteristics and andrografolid content in Andrographis
paniculata (Burm.f) Nees of Central India. Iranica J of
Energy & Environment. 1(2): 165-169
Panossian A, Kochikian A, E Gabrielian, R Muradian,H Stepanian,
F Arsenian, and H Wagner, 1999. Effect of Andrographis
paniculata Extract on Progesterone in Blood Plasma
ofPregnant Rats, Phytomedicine, 6(3): 157-164
Parixit B., C. Bharath, N. Rajarajeshwari, and S. Ganapaty, 2012.
The genus Andrographis—a review,International Journal
of Pharmaceutical Sciences,4(1):1835–1856.
Patarapanich C., Laungcholatan S., Mahaverawat N.,
Chaichantipayuth C., and Pummangura C., 2007.
HPLC determination of active diterpene lactones from
Andrographis paniculata Nees. lanted in various seasons
and regions in Thailand. Thai J. Pharm. Sci. 31: 91-99
Patidar S., A. S. Gontia, A. Upadhyay, and P. S. Nayak, 2011.
Biochemical constituents in Kalmegh (Andrographis
paniculata Nees.) under various row spacing’s and
nitrogen levels, World Applied Sciences Journal,15(8): 1095–
1099.
Pramono, S. 2000. Herbs, Health food and Dietary supplement
in Indonesia. dalam Kebutuhan tanaman obat untuk
bahan baku obat tradional dan suplemen makanan
pada industri obat tradional. P.T. Alomampa Persada.
Makalah Temu bisnis Pengembangan Jejaring Kerja
Agribisnis Tanaman Rempah dan Obat mendukung
Otonomi Daerah. Sukabumi, 24 Oktober 2003.
126 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Pribadi, E.R. dan M. Januwati. 2005. Usahatani sambiloto
pada polatanam monokultur dan tumpangsari dengan
jagung. Laporan Teknis Balittro. 9 hal.
Pujiasmanto B, Moenandir J, Bahri S, Kuswanto, 2017. Kajian
Agroekologi dan Morfologi Sambiloto (Andrographis
paniculata Nees.) pada Berbagai Habitat, Biodiversitas,
8(4): 326-329.
Puri, A., R. Saxena, R.P. Saxena and K.C. Saxena. 1993.
Immunostimulant agents from Andrographis paniculata
Nees. J. Natural Products 56(7): 995 – 999.
Rahayuningsih, S. dan Supriadi. 2002. Penyakit busuk pangkal
batang (Sclerotium sp.) pada sambiloto. Pros. Seminar
dan Pameran Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXIII, 25-
26 Maret 2003, Fakultas Farmasi Universitas Pancasila,
Jakarta.
Raina ,A.P., Gupta,V., Sivaraj, N., and Dutta, M., 2007. Andrographis
paniculata (Burm. f.) Wall. ex Nees (kalmegh), a traditional
hepatoprotective drug from India, Genet Resour Crop
Evol, DOI 10.1007/s10722-012-9953-0
Rajagopal, S., R. Ajayakumar, D.S. Deevi, C. Satyanarayana,
R. Rajagopalan. 2003. Andrografolid, a potential
cancer therapeutic agent isolated from Andrographis
paniculata,Journa of Experimental Therapeutics and
Oncology, 3: 147-158
Rao, Y.K., G. Vimalamma, C.V. Rao, Y.M. Tzeng, 2004. Flavonoid
and andrografolids from Andrographis paniculata,
Phytochemistry, 65: 2317-2321
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 127
Reddy VL, Reddy SM, Ravikanth V, Krishnaiah P, Goud TV,
Rao TP, Ram TS, Gonnade RG, Bhadbhade M, and
Venkateswarlu Y, 2005. A new bis-andrografolid ether
from Andrographis paniculata Nees and evaluation of
anti-HIV activity. Nat Prod Res.19(3): 223-30
Reyes B.A.S., Bautista N.D., Tanquilit, N.C., Anunciado,
R.V., Leung, A.B., Sanches, G.C., Magtoto, R.L.,
Castronuevo, P., Tsukamura H., and Maeda, K.I., 2006,
Anti-diabetic potentials of Momordica charantia and
Andrographis paniculata Nees. and their effects on estrous
cyclicity of alloxan-induced diabetic rats, Journal of
Ethnopharmacology, 105(1-2): pp.196- 200
Roy S. K. and P. Datta, 1988. Chromosomal biotypes
of Andrographis paniculata in India and
Bangladesh,Cytologia,.53(2):.369–378.
Sabu, K.K., P. Padmesh and S. Seeni, 2001. Intraspecific
variation in active principle content and isozymes of
Andrographis paniculata Nees (Kalmegh) : a traditional
hepatoprotective medicinal herb of India. J. Med. Aroma
Pl. Sci. 23: 637-647
Saggoo M. and S. Bir, 1986. Meiotic studies in certain members
of family Acanthaceae from South India, The Journal of
the Indian Botanical Society, 65(3): 310–315.
Sakuanrungsirikul S, Jetana A, Buddanoi P, Dithachaiyawong
J (2008). Intraspecific variability assessment of
Andrographis paniculata collections using molecular
markers. In: Chomchalow N, Chantrasmi V (eds) Acta
128 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Hortculturae 786: International workshop on medicinal
and aromatic plants, Chaing Mai, Thailand, ISHS, pp
283-286
Sampurno, 1999. Pengembangan dan Pemanfatan Tumbuhan
Obat Indonesia, Makalah disampaikan ada Seminar
Nasional Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia,
Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan,
Fakultas Kehutanan IPB, 28 April 1999 Bogor.
Samy R. P, Thwi M. M, Gopalakrishnakone P., Ignacimuthu
S., 2008. Ethnobotanical survey of folk plants for the
treatment of snakebites in Southern part of Tamilnadu,
India , Journal of Ethnopharmacology,Februari.
Sembiring, B. Br. 2007. Status teknologi pasca panen sambiloto
(Andrographis paniculata Nees). Perkembangan Teknologi
Tanaman Rempah dan Obat, XIX (2) : 135- 145.
Setyawati I, 2001. Pengaruh Ekstrak Daun Sambiloto Andrographis
Paniculata terhadap Implantasi dan Perkembangan
Embrio Mencit, Tesis, UGM, Yogyakarta, hal.48
Setyawati I, 2006. Perkembangan Skeleton Fetus mencit (Mus
musculus L.) setelah Pemberian Ekstrak daun Sambiloto
(Andrographis paniculata Nees.), ejornal unud, http://
ejournal.unud.ac.id/.pdf.
Shamsuzzoha M., Rahman M. S., Ahmed M. M., and Islam A.
K., 1978. Antifertility effect in mice of medicinal plant of
family acanthaceae, The Lancet, vol. 2(8095) 900.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 129
Sharma A, Singh RT, Sehgal V, Handa SS. 1991. Antihepatotoxic
activity of some plants used in herbal formulations.
Fitoterapia, 1991; 62: 131.
Shofa I, Puwakusumah ED, Rafi M, 2017. Sambiloto. Rafi M,
Heryanto R, Septaningsih DA. Atlas Kromatografi Lapis
Tipis Tumbuhan Obat Indonesia Volume 1. IPB Press,
Bogor, Indonesia
Sittisomwong N, J Penchata , S Chivapat, E Wangmad, P
Kagsdmon, C Chuntarachaya, and P Suwanturi, 1989.
Toxicology of Andrographis paniculata Wall.ex. Nees. The J.
Pharm Sci., 14(2):109-17.
Saxena, R.C., R. Singh, P. Kumar, S.C. Yadav, M.P.S. Negi, V.S.
Saxena, A.J. Joshua, V. Vijayabalaji, K.S. Goudar, K.
Venkateshwarlu, A. Amit. 2010, A randomized double
blind placebo controlled clinical evaluation of extract
of Andrographis paniculata (KalmColdTM) in patients
with uncomplicated upper respiratory tract infection,
Phytomedicine, 17, 178-185.
Solikin dan Dewi Ayu Lestari, 2008. Hama dan Penyakit
Tanaman Sambiloto. UPT Balai Konservasi Tumbuhan
Kebun Raya Purwodadi-LIPI. Pasuruan - Jawa Timur.
Srivastava A, Misra H, Verma RK, Gupta MM, 2004. Chemical
Fingerprinting of Andrographis paniculata using HPLC,
HPTLC, and Densitometry. Phytochemical Analysis.
15:280-285
Subramanian, R., M.Z. Asmawi, A. Sadikun, 2008, In vitro
-glucosidase and -amylase enzyme inhibitory effects
130 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
of Andrographis paniculata extract and andrografolid,
Acta Biochimica Polonica, 55(2): 391-398
Sugati Sjamsuhidajat, S., Wiryowidagdo, S., Sasanti, R. &
Winarno, W., 1999. Andrographis paniculata (Burm.f.)
Wallich ex NeesIn: de Padua, L.S., Bunyapraphatsara,
N. and Lemmens, R.H.M.J. (Editors). Plant Resources
of South-East Asia No. 12(1): Medicinal and poisonous
plants 1. Backhuys Publisher, Leiden, The Netherlands,
p.119-123
Sukrasno. 2003. Pengembangan ekstrak herba sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) menjadi fitofarmaka
sebagai anti neoplasma. Laporan Penelitian Kerjasama
FMIPA – ITB dengan BPOM. 35 hal.
Sunardi,2008.Teknikpembibitansambilotountukmenghasilkan
bibit yang standar. Buletin Teknik Pertanian, 13:37-39
Sutjiatmo, A.B. dan N.C. Sugiarso. 1996. Studi perbanyakan
vegetatif pada tanaman sambiloto. Bull. Warta TOI III/
3 : 35 – 37.
Trivedi N and UM Rawal, 1998. Effect of Aqueous Extract of
Andrographis paniculata on Liver Tumor, Ind. J. Pharm,
30: 318-322.
Thanangkul B and C Chaichantipayut, 1985. Double Blind Study
of Andrographis paniculata Nees and Tetracycline in Acute
Diarrhoea and Bacillary Dysentery, Remathibodi Medical
Journal, 8: 57-61.
Thai Herbal Pharmacopoeia, vol. 4, 1995. Prachachon Co, Bangkok.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 131
Thamlikitkul, V., Dechatiwongse, T. And Theerapong, S.
1991. Efficacy of Andrographis paniculata Nees for
pharyngotosillitis in adults. J. Med. Assoc. Thai 74 : 437
– 442.
Umamaheswari S, Mainzen Prince PS, 2007. Antihyperglycaemic
effect of :Illogen-Excel’, an ayuverdic herbal formulation
in streptozotocin-induced diabetes mellitus. Acta Po
Pharm. 64 (1): 53-61.
Utami NW, Hartutiningsih, Siregar M, Panggabean G., 1996.
Upaya meningkatkan probuktivitas sambiloto dengan
penambahan pupuk nitrogen, Warta Tumbuhan Obat
Indonesia, 3(1): 11-13.
Vademikum Bahan Obat Alam, 1989. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Vanhaelen, M., J. Lejoly., M. Hanocq and L. Molle. 1991. Climate
and geographical aspects of medicinal plant contituents.
In The Medicinal Plant Industry. CRC press Florida,
USA. p: 59 – 76.
Verma N and MVinayak, 2007.AntioxidantAction of Andrographis
paniculata on Lymphoma, Molecular Biology Rep., Sep.5.
Vijesekera, R.O.B. 1991. Plant derived Medicines and Their role
In Global Health. In The Medicinal Plant Industry. CRC
Press, Florida, USA. pp.1-8.
Visen PK, B Shukla, GK Patnaik, and BN Dhawan, 1993.
Andrografolid Protects Rat Hepatocytes Against
Paracetamol-Induced Damage, J. Ethnopharmacol., 40(2):
131-6.
132 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Wahyuni, S., N. Bermawie, Meinarti, SDI., M. Yusron dan
M. Januwati. 2003. Ekstraksi DNA pada beberapa
tanaman rempah dan obat. Makalah disampaikan
pada Simposium Penelitian Bahan Obat Alami XI, di
Bandung, 16 – 17 Oktober 2003.
Wahyuni, S., Hobir , Meinarti, SDI dan Supriadi. 2005. Seleksi
dan evaluasi sambiloto untuk mendapatkan nomor
unggul. Laporan Teknis Balittro. 35 h.
Wahile A, Kumar V, Rai S, Mukherjee K, Saho BP, 2006. Marker
Profiling of Botanicals Used for Hepatoprotection in
Indian System of Medicine. Drug Information Journal.
40:131-139
Wang D and Zhao H, 1993. Experimental studies on prevention
of atherosclerotic arterial stenosis and restenosis after
angioplasty with Andrographis paniculata Nees and Fish
Oil, Journal of Tongji Medical University, 13(4): 193–198.
Wang W., Zhao H. Y., and Xiang S. Q., 1997. Effects of Andrographis
paniculata component on nitric oxide, endothelin and
lipid peroxidation in experimental atherosclerotic
rabbits, Zhongguo Zhong Xi Yi Jie He Za Zhi, 17(9): 547–549.
View at Google Scholar. View at Scopus.
Wibudi, A., B. Kiranadi, A. Winarto, W. Manalu, dan S. Suyono.
2005. Mekanisme kerja sambiloto (Andrographis
paniculata Nees) sebagai antidibetik. Disertasi Pasca
Sarjana, IPB. Bogor.
Widiyastuti, Y. 2004. Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat
Komersial, PT. Trubus Agriwidya, Jakarta.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 133
Wijarat P, Keeratinijakal V, Toojinda T, Vanavichit A and
Tragoonrung, S. 2012. 76 Genetic evaluation of
Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees revealed by
SSR, AFLP and RAPD markers. J. of Medicinal Plants
Research. 6(14): 2777-2788.
Wijesekera, R.O.B. 1991. Plant derived medicines and their role
in global health. . In The Medicinal Plant Industry. CRC
press Florida, USA. p: 1 – 18.
Winantari, A.N., M. Aristia, I.I. Panigoro dan Kartini. 2004.
Karakteristik fisik tablet ekstrak sambiloto – kumis
kucing dengan menggunakan desintegran kombinasi
Primojel* dan Avicel* PH 102 dibuat secara cetak
langsung. Prosiding Seminar Nasional XXV Tumbuhan
Obat Indonesia di Tawangmangu, 27 – 28 April 2004.
hal : 784 – 799.
Williamson E, S Driver, K Baxter, 2009.Stockley’s Herbal Medicines
InteractionsA guide to the interactions of herbal medicines,
dietary supplements and nutraceuticals with conventional
medicines, Pharmaceutical Press, London
William JS, Stephan RT, Vera SB, Dean AR, Hua M, Xun Z and
Tom T., 2013. Andrographis paniculata Extract (HMPL-
004) for Active Ulcerative Colitis. Am J Gastroenterol,
108:90–98
WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, vol. 2, 2002. World
Health Organization, Geneva.
Xiaorui Z., 2003. Regulatory situation of herbal medicines: A
worldwide review. Tradit Med Program. 1–45.
134 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Yang M, Wang J, Kong L, 2012. Quantitative analysis of four
major diterpenoid in Andrographis paniculata by 1H NMR
and its application for quality control of commercial
preparation. Journal of Pharmaceutical and Biomedical
Analysis. 70:87-93
Yin XJ, DX Liu, HC Way, and Y Zhou, 1991. A study on the
mutagenicity of 102 raw pharmaceuticals used in Chinese
traditional medicine. Mutation Research, 260:73–82
Yin J and Guo L, 1993. Contamporary Traditional Chinese Medicine,
Beijing: Xie Yuan.
Yu B.-C., Hung C.-R., Chen W.-C., Cheng J.-T. Antihyperglycemic
effect of andrografolid in streptozotocin-induced
diabetic rats. Planta Medica. 2003;69(12):1075–1079.
Yu-Tang T, Hsiao-Ling C, Hsin-Chung T, Shang-Hsun Y,
Yi-Chun C and Chuan-Mu C, 2013. Evidence based
Complementary and Alternative Medicine, 2013.
Therapeutic Potential of Andrografolid Isolated from
the Leaves of Andrographis paniculata Nees for Treating
Lung Adenocarcinomas. Published online Aug 20.
Yulita, I. 2002. Efektivitas daun jambu biji (Psidium guajava
L.), daun sirih (Piper bittle L.) dan daun sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) untuk pencegahan dan
pengobatan pada ikan lele dumbo (Clarias sp.) yang
diinfeksi dengan bakteri (Aeromonas hydrophila L). Skripsi
Budidaya Perairan. Fak. Perikanan dan Ilmu Kelautan.
IPB. Bogor. 128 hal.
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 135
Yusron, M., M. Januwati dan Jokopriyambodo, W. 2004. Keragaan
mutu simplisia sambiloto (Andrographis paniculata
Nees) pada beberapa kondisi agroekologi. Prosiding
Seminar Nasional XXV Tumbuhan Obat Indonesia di
Tawangmangu, 27 – 28 April 2004. hal : 722 – 727.
Yusron, M. dan M. Januwati. 2004. Pengaruh kondisi agroekologi
terhadap produksi dan mutu simplisia sambiloto
(Andrographis paniculata Nees). Makalah Seminar
Nasional XXVI Tumbuhan Obat Indonesia, di Padang,
7 – 8 September 2004.
Yusron, M. dan M. Januwati. 2005. Pengaruh mulsa plastik
terhadap produksi dan mutu simplisia sambiloto
(Andrographis paniculata Nees). Makalah Seminar
Nasional XXVII Tumbuhan Obat Indonesia, di Batu, 15
– 16 Maret 2005.
Yusron, M. dan M. Januwati. 2006. Pengaruh jenis bahan tanam
dan dosis pupuk bio terhadap produksi dan mutu
simplisia sambiloto (Andrographis paniculata Nees).
Prosiding Seminar Nasional XXVII Tumbuhan Obat
Indonesia, di Bogor, 15 – 16 September 2005.
Yusron, M., Gusmaeni dan M. Januwati. 2006. Pengaruh tingkat
pemupukan terhadap produksi dan mutu sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) pada beberapa polatanam
jagung. Laporan Akhir Penelitian 2005. Balittro.
Yusron, M. dan M. Januwati. 2004a. Pengaruh kondisi
agroekologi terhadap produksi dan mutu simplisia
sambiloto (Andrographis paniculata). Prosiding Seminar
136 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit
Nasional XXVI Tumbuhan Obat Indonesia, Padang, 7-8
September 2004 : 211- 216.
Yusron, M. dan M. Januwati. 2004b. Pengaruh pemupukan P dan
K terhadap produksi dan mutu sambiloto (Andrographis
paniculata Nees). Makalah disampaikan pada Seminar
Indonesian Biopharmaca Exhibition Congress,
Yogyakarta, 24 Agustus 2004. 8 hal.
Yusron, M., Gusmaini, dan M. Januwati. 2006a. Produksi dan
mutu sambiloto pada pola monokultur dan tumpangsari.
Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Tanaman
Obat Menuju Kemandirian Masyarakat dalam
Pengobatan Keluarga, Jakarta, 7 September 2006. 92-97.
Yusron, M., Gusmaini, dan M. Januwati. 2006b. Pengaruh tingkat
pemupukan terhadap mutu dan produksi sambiloto.
Laporan Teknis Penelitian, Buku 2. Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat. 11-24.
Yusron, M., Gusmaini, dan M. Januwati. 2007. Pengaruh
polatanam sambiloto – jagung serta dosis pupuk organik
dalam alam terhadap produksi dan mutu sambiloto
(Andrographis paniculata Nees). Jurnal Littri 13 (4) : 147-
154.
Zaidan MRS, AN Rain, AR Badrul, A Adlin, A Norazah, and I
Zakiah, 2005. In Vitro Screening of Five Local Medicinal
Plants for Antibacterial Activity Using Disc Diffusion
Method, Trop. Biomed, 22(2): 165-170
Zhang C. Y., Tan B. K. H., 1997. Mechanisms of cardiovascular
activity of Andrographis paniculata in the anaesthetized
Si Pahit yang Semakin Melejit SAMBILOTO 137
rat. Journal of Ethnopharmacology.1997;56(2):97–101. doi:
10.1016/S0378-8741(97)01509-2.
Zhang X. F., Tan B. K. H., 2000. Antihyperglycaemic and anti-
oxidant properties of Andrographis paniculata in normal
and diabetic rats. Clinical and Experimental Pharmacology
and Physiology. 27(5-6):358–363.
Zhao and Fang W., 1990. Protective effects of Andrographis
paniculata Nees on post-infarction myocardium in
experimental dogs, Journal of Tongji Medical University,
10(4): 212–217.
Zoha MS, AH Hussain and SA Choudhury, 1989. Antifertility
Effect of Andrographispaniculata in Mice, Bangladesh
Med.Res.Counc.Bull. 15(1): 34
Zainuddin, D., 2003. Pengaruh pemberian tumbuhan obat buah
mengkudu dan sambiloto terhadap pertumbuhan ayam
kampung. Prosiding Seminar POKJANAS TOI XXIII di
Jakarta, 25 – 26 Maret 2003 : 331 – 338.
138 SAMBILOTO Si Pahit yang Semakin Melejit